PEDOMAN
GERAKAN PEKERJA
PEREMPUAN
SEHAT PRODUKTIF
(GP2SP)
Kerjasama antara :
Kementerian Kesehatan RI
Kementerian Dalam Negeri RI
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI
Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan PA RI
Dewan Pimpinan Nasiona'i Asosiasi Pengusaha Indonesia
Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Pekerja
Seluruh Indonesia
JAKARTA
PEDOMAN
GERAKAN PEKERJA
PEREMPUAN
SEHAT PRODUKTIF
(GP2SP)
Kerjasama antara:
Kementerian Kesehatan
RI
Kementerian Dalam Negeri
RI
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
RI
Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan PA
RI
Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia
Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Pekerja
Seluruh Indonesia
JAKARTA
KeBepakiltan Bel'!iillllB
TENTANG GERAKAN PEKERJA PEREMPUAN SEHAT PRODUKTIF (GP2SP)
Dengan Rahmat Tuhan y。ョセ@ Maha Esa
Untuk mewujudkan pekerja perempua n yang sehat dan produktlf. kami yang benanda tangan di bawah ini sepakat rnendukun g terselenggaranya Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif [GP2SP) .
Jakart i'l . November セオ J2
Dir:jen Pcmbinaan dan Penga ... asall DepUli Bidang l)e ngarllslIlamtJan Ge nder ncrcnagakerjaan 'Sidang Polirik Sosial dan HukuOl
Kem4"nlel'ian lenaga Kerja dan Transmigras , H l KClI1clIlcrian PCJllberdaya;lII Pcn:ulpuan & Pcrlilldung-an An(lk Rr
セセ@
r-'Drs. A. セiオェ[@ Handaya , セis[@
Dewan Pirnpinan Nasiona] Dewa n Piml'inan PUS31
A,o,;,,; Pengusa h. I"d one,;. (APINDO ) I\unfcd cras; Scrik., P<kfrj. Seluruh Indoll.,i, (I\PSPI)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga buku Pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif ini selesai tersusun. Pedoman ini disusun dengan tujuan meningkatkan produktivitas kerja pekerja perempuan melalui perbaikan status gizi dan kesehatan.
Program pemenuhan kecukupan gizi bagi pekerja, pelayanan kesehatan reproduksi dan peningkatan pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja telah dilaksanakan di berbagai provinsi. Namun demikian agar pelaksanaan kegiatan berjalan lebih dinamis, perlu dilaksanakan suatu gerakan yang berkesinambungan serta memacu perusahaan agar lebih proaktif dalam upaya peningkatan status kesehatan dan gizi pekerja perempuan.
"Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif" (GP2SP) diarahkan untuk
mendukung target pencapaian Milenium Development Goals (MDG's) selain
itu diharapkan mampu meningkatkan partisipasi pihak pemerintah dan perusahaan serta menggali potensi yang ada di masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan dan gizi pekerja perempuan.
GP2SP ini merupakan revitalisasi dari "Gerakan Pekerja Wanita Sehat
Produktif" (GPWSP) yang disusun dan disepakati bersama oleh stakeholders
terkait antara lain Kemeterian Kesehatan RI, Kementerian Dalam Negeri RI, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak RI, Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia dan Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia.
Buku Pedoman GP2SP ini, disusun untuk para pengusaha dan pengelola serta organisasi ketenagakerjaan sebagai pegangan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada Tim Penyusun dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian pedoman ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga buku Pedoman GP2SP ini dapat bermanfaat bagi para pengelola di lapangan serta dapat meningkatkan derajat kesehatan pekerja perempuan .
Jakarta, 24 Agust 2012
Direktur j・ョ、・セ@ Bina Gizi dan KIA
JKementerian
,
r, dr. tySlamet -Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS
niセ@ 195305231980031006
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA
SAMBUTAN
MENTERI KESEHATAN REPUBIK INDONESIA
Peran perempuan dalam pembangunan nasional sangat penting dan strategis . Julmah pekerja perempuan di Indonesia meningkat setiap tahun dan derajat kesehatan serta status gili mereka harus mendapat perhatian serius. Perhatian terhadap perlindungan kesehatan dan keselamatan pekerja perempuan masih perlu ditingkatkan . Selain itu, perhatian perusahaan dan pengelola tempat kerja pada upaya meningkatkan derajat kesehatan dan status gili pekerja perempuan masih kurang. Hal ini dapat berdampak pada daya tahan, kemampuan, dan produktivitas pekerja perempuan . Untuk mendapatkan produktivitas tinggi diperlukan pekerja yang sehat dan produktif. Derajat kesehatan dan status gili pekerja perempuan yang tinggi akan berdampak pada produktivitas perempuan yang tinggi.
Program Peningkatan Produktivitas Pekerja Perempuan melalui Gerakan Pekerja Wanita Sehat Produktif (GPWSP) pernah dicanangkan tahun 1997 oleh Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu . Program ini sangat strategis, penting, dan bermanfaat bagi dunia usaha maupun bagi pekerja perempuan . Namun program tersebut belum berjalan seperti yang diharapkan. Oleh arena itu, Gerakan Pekerja Wanita Sehat Produktif perlu direvitalisasi dan
digalakkan kembai dengan nama Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
(GP2SPj . Revitalisasi ini diharapkan akan berdaya guna dan berdampak pada peningkatan derajat kesehatan dan produktivitas pekerja perempuan.
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif dilaksanakan secara terpadu, bertahap dan berkesinambungan, didukung oleh pihak swasta dan pihak
lainnya . Gerakan ini akan mendukung upaya pencapaian Millenium
DevelopmentGoals, peningkatan derajat kesehatan, peningkatan produktivitas pekerja perempuan, dan suksesnya pembangunan nasional.
Saya menyambut baik terbitnya Buku Pedoman GP2SP yang dimaksudkan untuk menjadi acuan dan pegangan para pengusaha, pengelola tempat kerja, dan organisasi ketenagakerjaan dalam melaksanakan GP2SP. Apresiasi saya sampaikan kepada Tim Penyusun dan semua pihak yang telah berperan daam penyusunan dan penerbitan buku ini.
Semog<l buku ini berm<lnf<lat bagi peningkatan derajat kese hatan serta status gizi pekerja perempuan Indonesia dan terwujudnya generasi muda Indonesia yang sehat .
Jakarta, 5 November 2012
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA
SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAl PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA
Seiring dengan perkembangan pembangunan di Indonesia dari tahun ke tahun jumlah angkatan kerja terus meningkat dan pada tahun-tahun ke depan diperkirakan angka angkatan kerja perempuan pun mengalami peningkatan, mereka bekerja hampir di semua sektor. Dalam berbagai segi pekerja perempuan memiliki beberapa keunggulan dibanding pekerja pria, namun disisi lain pekerja perempuan juga memiliki kelemahan dan kekurangan terutama berkaitan dengan struktur biologis dan psikologis. Walaupun perlindungan hak bagi tenaga kerja perempuan secara umum telah diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, pekerja perempuan harus menghadapi tantangan dunia kerja bukan saja secara budaya tetapi juga secara fisiko Dalam persaingan pasar yang semakin ketat, pekerja perempuan harus mampu menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan mempunyai produktivitas tinggi, hingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan daya saing di era globalisasi.
Gerakan pekerja perempuan sehat produktif (GP2SP) merupakan upaya bersama yang berkesinambungan baik dari Pemerintah, Pengusaha, Pekerja dan Masyarakat untuk berperan serta guna meningkatkan kepedulian dalam upaya memperbaiki kesehatan dan status gizi pekerja perempuan untuk mencapai produktivitas kerja yang maksimal.
Seiring dengan era otonomi daerah sa at ini, tentunya peran dari Kementerian Dalam Negeri sangatlah strategis yang merupakan sebagai koordinator penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional sebagaimana termaktub dalam Pasal 222 UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Maka dari itu, kami menghimbau kepada seluruh Gubernur, Bupati
dan Walikota untuk mendukung Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produtif (GP2SP) dan meningkatkan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan gerakan dimaksud.
Akhirnya, ucapan tenima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada semua pihak yang telah bekerja keras menyusun Pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP ) dan diharapkan pedoman ini dapat dijadikan referensi yang sangat berharga bagi semua pihak yang mempunyai kepedulian terhadap upaya perlindungan pekerja perempuan .
Jakarta, September 2012 DIREKTUR JENDERAL
PEMBINAAN masyarakatセan@ DESA,
Gerokan Pekerja Perempuan Sehot Produktif
SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.
Pembangunan bidang ketenagakerjaan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat . Salah satunya diwujudkan dalam
bentuk perlindungan terhadap pekerja perempuan. Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan telah diatur berbagai hak dan kewajiban mengenai pekerja perempuan termasuk didalamnya perlindungan fungsi reproduksi dan penanggulangan anemia gizi sehingga pekerja perempuan yang sekaligus juga sebagai ibu atau calon ibu rumah tangga dapat tetap terjaga kesehatan dan produktivitasnya.
Kementerian Tenaga Kerja Dan Transmigrasi RI. dalam hal ini Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan menyambut baik dan mendukung Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP) dengan harapan menjadi gerakan nasional yang berdampak lebih besar dan lebih berdaya guna bagi upaya peningkatan status kesehatan dan produktivitas pekerja perempuan. Disamping itu, dengan dilengkapi adanya Pedoman akan memberikan kejelasan mengenai peran dan tanggungjawab stakeholder sehingga GP2SP dapat dilaksanakan secara serentak, terkoordinasi terintegrasi, serta berkesinambungan.
Demikian, semoga apa yang kita niatkan bersama dalam meningkatkan derajat kesehatan pekerja perempuan diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amien!
Jakarta, Oktober 2012 Direktur Jenderal
Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan
..
,
Drs. A. Muji Handaya. MSi.
SAMBUTAN
DEPUTI BIDANG PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG POUTIK, SOSIAL DAN HUKUM
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME atas terbitnya Buku Pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP). Buku ini merupakan pedoman bagi kita semua dalam mendukung berbagai upaya peningkatan derajat kesehatan perempuan termasuk di dalamnya pemenuhan hakhak kesehatan dan hakhak reproduksi perempuan . Perempuan selain mempunyai fungsi produktif untuk mendapatkan penghasilan juga mempunyai fungsi reproduktif yang harus dipenuhi dan dilindungi agar tetap sehat juga dapat mempunyai generasi penerus yang berkualitas.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mendukung berbagai upaya untuk terus meningkatkan kualitas hidup manusia khususnya bagi pekerja perempuan. Penanganan berbagai isu seperti anemia , pemenuhan gizi pekerja, pelayanan kesehatan dan pelayanan kesehatan reproduksi termasuk di dalamnya penyediaan ruang asi, dan perlindungan terhadap resiko pekerjaan merupakan investasi bagi dunia usaha yang pada akhirnya akan memberikan profit/keuntungan bagi para pelaku dunia usaha itu sendiri .
Selain itu, kemitraan dan partisipasi dan lintas sektor, dunia usaha, swasta , dan masyarakat terkait akan semakin memperkokoh implementasi GP2SP sehingga akan mempercepat tercapainya tujuan peningkatan derajat kesehatan perempuan pekerja.
Sekali lagi kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas tersusunnya pedoman ini, semoga pedoman ini dapat menjadi acuan bagi kita semua untuk mewujudkan dan mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia pada umumnya dan perlindungan bagi perempuan pekerja pada khususnya , sebagai upaya peningkatan produktivitas kerja.
Jakarta, 3 Oktober 2012
Oeputi Bidang Pengarusutamaan Gender Bidang Politik Sosial dan Hukum
Drg Id Suselo Wulan, MM
SAMBUTAN
KETUA UMUM DEWAN PIMPINAN NASIONAL ASOSIASI PENGUSAHA INDONESIA (DPN APINDO)
Pembinaan dan pemberian pelayanan yang sebaikbaiknya kepada pekerja sangat bergantung atas kemauan baik dan ke sungguhan (goodwill dan commitment) pengusaha yang berhubungan langsung dan ikut bertanggungjawab atas kesejahteraan perempuan pekerja yang bekerja pada unit usahanya. Dalam rangka menunjang keberhasilan pembangunan nasional, perlu diupayakan peningkatan kualita s tenaga kerja, baik dan segi ketangguhan fi sik maupun keterampilan kerja . Bersamaan itu dalam rangka menghadapi era perdagangan bebas, dunia usaha harus dipacu dalam melakukan efi siensi, memupuk produktivitas dan memenuhi norma keselamatan dan kesehatan kerja .
Salah satu masalah yang secara reguler dihadapi oleh perempuan bekerja terkait dengan pelaksanaan fungsi reproduksi mereka berupa anemia atau kekurangan darah . Meskipun harga zat besi dan vitamin yang diperlukan untuk menanggulangi ma salah anemia tersebuttidak mahal, namun pelaksanaannya tergantung goodwill dan commitment dari pengusaha tersebut di atas.
APINDO sebagai wadah bagi para pengusaha dengan kon sentrasi kegiatan bidang sumberdaya manu sia dan hubungan industrial, senantiasa mendukung setiap upaya perbaikan derajat kesejahteraan tenaga kerja pada umumnya dan tenaga kerja perempuan pad a khususnya , termasuk usaha penanggulangan anemia gizi, mengingat jumlah tenaga kerja perempuan yang berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional makin meningkat dan peran khusu snya sebagai ibu dalam keluarga.
Berkaitan dengan hal tersebut APII\JDO menyambut baik diterbitkannya buku "Pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif'. Penerbitan buku ini sudah tentu akan sangat membantu dalam penyelenggaraan program di lapangan. Sehubungan itu APINDO sebagai penyalur aspirasi para pengusaha mengharapkan agar pelaksanaannya di tingkat perusahaan dapat berlangsung secara efektif dan efi sien. Kami berharap pedoman ini dapat cepat sampai di
tangan para pengusaha dan lembaga terkait baik swasta maupun pemerintah dan dapat segera dilaksanakan sehingga dapat bermanfaat bagi upaya pembinaan perempuan pekerja yang sehat dan produktif.
Jakarta, 17 September 2012
Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia 'i\if\PINDO)
Ketua Umum
Gerokan Pekerja Perempuan Sehat Produkti/
SAMBUTAN
KETUA UMUM DEWAN PIMPINAN PUSAT KONFEDERASI SERIKAT PEKERJA SELURUH INDONESIA
Assalamu'alaikum Wr.Wb
Dalam rangka menunjang keberhasilan Pembangunan dan menyongsong era globalisasi, dimana diharapkan dunia usaha dan pekerja untuk meningkatkan produktivitas dan me menu hi standar mutu dengan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Upaya tersebut terus dilakukan dengan cara berkesinambungan, terutama bagi pekerja/buruh perempuan yang harus mendapatkan perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja dalam melakukan pekerjaan di tempat kerja.
Tetapi secara kodrati sampai saat ini perempuan sebagai pekerja/buruh masih belum sepenuhnya mendapatkan hakhaknya sebagaimana mestinya . Selama ini Program Peningkatan Produktivitas Pekerja Perempuan Mandiri dan Penaggulangan Anemia Gizi ( kekurangan zat besi ) bagi pekerja/buruh perempuan yang telah berjalan merupakan program yang sangat strategis dan bermanfaat, baik bagi dunia usaha maupun pekerja/buruh perempuan itu sendiri . Namun untuk ke depan program tersebut perlu ditingkatkan segala aspek, meliputi komunikasi, informasi serta edukasi dalam rangka pemahaman, baik itu untuk seluruh pekerja/buruh, khususnya pekerja/buruh perempuan.
Bagi Serikat Pekerja/Serikat Buruh, hal ini merupakan momentum yang sangat strategis untuk dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja/ buruh khususnya perempuan, dimana peranan gizi bagi kesehatan tubuh sangat menentukan tingkat produktivitas, baik dalam kondisi haid maupun dalam kondisi hamil, melahirkan dan menyusui.
Karena itu pada tempatnyalah saya menyambut gembira atas diterbitkannya buku "Pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat dan Produktif", dan
bagi Tim Penyusun buku ini, saya ucapkan terima kasih dan semoga dapat bermanfaat bagi seluruh Pekerja/Buruh Perempuan.
Amin , sekian
Wassalamu'alaikum Wr.Wb
Jakarta, 24 September 2012
A.n . Serikat Pekerja/Serikat Buruh
Drs. H Sjukur Sarto, MS
Ketua Umum K SPSI
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
DAFTAR 151
Hal
KATA PENGANTAR ... ... ... ... ... ... ... ... .... ... ... ... .. ... .
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DAN DESA ... .... .... ... ... ... .... ... ... .... .... ... .... .... .. .... ... .. ... ... iii
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN SAMBUTAN DEPUTI BIDANG PENGARUSUTAMAAN GENDER SAMBUTAN KETUA UMUM DEWAN PIMPINAN NASIONAL SAMBUTAN KETUA UMUM DEWAN PIMPINAN PUSAT TRAI'JSMIGRASI R.I. ... ... ... ... ... .. ... ... ... ... .... ... v
BIDANG POLITIK, SOSIAL DAN HUKUM ... .. ... ... .. ... ... .. ... vi i ASOSIASI PENGUSAHA INDONESIA (DPI'J APINDO) ... ... .... ... ... ix
KONFEDERASI SERIKAT PEKERJA SELURUH INDONESIA ... .... ... ... ... ... xi
DAFTAR lSI ... ... .. ... ... ... ... .. ... ... ... ... .... .... .. ... .... .. .... .. ... xiii
BAB I PENDAHUlUAN 1 A. Latar Belakang ... ... ... ... ... .. ... .... .. ... ... ... .. .. ... ... 1
B. Tujuan ... .. ... ... ... .... .. ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. ... ... . 4
C. Sasaran ... ... ... ... .. .. ... ... .. ... .... ... ... ... ... 4
D. Pengertian ... .. .. ... ... .. .. .. .. ... ... .. ... .. ... ... .. .... ... 4
E. Landasan Hukum ... ... .. ... ... .... .. ... ... .... ... .... .. .. .... ... ... .. 6
BAB (( KEBIJAKAN DAN STRATEGI 7 A . Kebijakan ... ... ... ... ... ... ... ... ... 7
B. Strategi .. ... .. .. .... ... ... ... ... ... ... .. ... ... .. ... ... 7
BAB III PROGRAM GP2SP 9
A. Pemenuhan Kecukupan Gizi Pekerja Perempuan ... 9
B. Pemeriksaan Kesehatan Pekerja Perempuan ... 23
C. Pelayanan Kesehatan Reproduksi Pekerja Perempuan ... 25
D. Peningkatan Pemberian ASI selama Waktu Kerja di Tempat Kerja .. 27
BAB IV PENGORGANISASIAN, TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB ... 29
A. Organisasi ... 29
B. Tugas Dan Tanggungjawab ... 29
BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN GP2SP ... 33
A. Persiapan ... 33
B. Perencanaan ... .. ... .. ... ... .. ... .. ... .. ... 35
C. Penggerakan Pelaksanaan ... 38
BAB VI PEMBINAAN, PEMANTAUAN DAN EVALUASI ... 41
A. Pembinaan ... ... 41
B. Pemantauan ... .. ... .. ... .. ... .. ... .. ... .. .. 42
C. Evaluasi ... 44
BAB VII PENUTUP ... 45
DAFTAR SINGKATAN ... .... ... ... ... ... ... 46
LampiranIampiran ... 47
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
BABI PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kesehatan memegang peranan penting, tanpa kesehatan tidak
mungkin seseorang dapat meningkatkan produktivitas. Slogan
Health
is not everything but without health everything is nothing
merupakancerminan pentingnya kesehatan dalam pembangunan nasional utamanya dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Dalam era globalisasi kualitas sumberdaya manusia sangat menentukan, tanpa SDM yang memadai tidak akan mungkin memenangkan persaingan. Oleh karena itu kita perlu memantapkan dan meningkatkan pembangunan dengan mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas . Untuk mewujudkannya diperlukan kesehatan dan gizi yang optimal disamping pemenuhan hakhak reproduksinya .
UndangUndang No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 165 menyatakan bahwa Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan, dan pemulihan bagi tenaga kerja.
Jumlah angkatan kerja di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Data BPS tahun 2010 menunjukkan jumlah angkatan kerja telah mencapai 116,5 juta jiwa, 108,3 juta jiwa diantaranya telah bekerja dan 40,75 juta jiwa adalah pekerja perempuan (BPS, 2010) .
Program pemenuhan gizi bagi pekerja, pemeriksaan kesehatan pekerja perempuan, pelayanan kesehatan reproduksi pada pekerja perempuan dan peningkatan pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja, selain merupakan program untuk peningkatan produktivitas kerja, juga merupakan bagian dari kegiatan yang diarahkan untuk mendukung target
pencapaian Milenium Developmen Goals (MDG's) yang telah disepakati
dunia International yakni terkait dengan target MDG's nom or 1 yaitu penanggulangan kemiskinan, nomor 4 yaitu penurunan angka kematian anak serta nomor 5 yakni penurunan angka kematian ibu .
Derajat kesehatan dan status gizi bangsa Indonesia telah menunjukkan perbaikan pada berbagai indikator dampak kesehatan , seperti peningkatan umur harapan hidup, penurunan angka kematian ibu, penurunan angka
kematian bayi dan angka kematian balita serta penurunan prevalensi gizi anak balita (SDKI, 2007, Susenas, 2007). Namun demikian, kita juga masih dihadapkan pada masalah Kekurangan Energi Protein (KEP), Kekurangan Energi Kronik (KEK), dan Anemi Gizi Besi yang prevalensinya masih cukup tinggi serta mulai meningkatnya kasus overweight. Pada pekerja perempuan masalah tersebut memerlukan perhatian khusus karena masalah tersebut berdampak pada penurunan intelektualitas dan produktivitas yang akhirnya akan berdampak pada kualitas sumberdaya manusia dan pembangunan nasional.
Saat ini pekerja perempuan, bekerja hampir di semua sektor. Pekerja perempuan mempunyai peran ganda, selain menjadi pekerja, juga
mempunyai beban mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan
bertanggungjawab terhadap kualitas anak sebagai generasi penerus . Sesuai kodratnya, pekerja perempuan mengalami haid , kehamilan, melahirkan dan menyusui bayi . Kondisi ini memerlukan pemeliharaan dan perlindungan kesehatan yang baik, agar generasi penerus terjamin kesehatannya .
Pekerja perempuan di Indonesia dalam usia reproduksi mempunyai permasalahan kesehatan. Hasil studi menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada Wanita Usia Subur (WUS) sebesar 26,4% (SKRT, 2001) selain itu hasil penelltian di beberapa industri di Tangerang, Jakarta dan Depok memperlihatkan bahwa anemia pada pekerja perempuan menunjukan besaran antara 2442% . Padahal pekerja perempuan yang menderita a nemia, output kerjanya ratarata 5% lebih rendah serta kapasitas kerjanya per minggu ratarata 6.5 jam lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak anemia (Scholz, dkk, 1997; Untoro dkk, 1998). Anemia gizi besi juga mengakibatkan pekerja menjadi mudah sa kit, mudah terjadi kecelakaan sehingga angka absensi meningkat dan kemungkinan apabila hamil akan mempunyai risiko saat melahirkan serta melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah .
Permasalahan lainnya adalah tingkat pendidikan pekerja perempuan masih rendah. Data BPS tahun 2010 menunjukkan bahwa 50,37% berpendidikan SD ke bawah. Hal ini akan berpengaruh terhadap kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan gizi . Disamping lingkungan yang kurang menguntungkan dimana biasanya tinggal di pemukiman yang kurang memperhatikan sanitasi, memungkinkan pekerja tersebut mengalami penyakit infeksi yang kronis seperti malaria, TB(, dan kecacingan .
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produkti/
Mengingat hal tersebut di atas, pemerintah sejak tahun 1996 telah menanggulanginya dengan menurunkan prevalensi anemia gizi besi pada pekerja perempuan . Salah satu upayanya adalah Kerjasama antara Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan (Binawas) Departemen Tenaga Kerja dan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Mayarakat Departemen Kesehatan telah menyepakati upaya penanggulangan anemia gizi bagi pekerja Perempuan dengan dikeluarkannya Keputusan Bersama Nomor Kep 22/ BW/1996 dan Nomor 202/BM/DJ/BGM/II/1996 tanggal13 Pebruari 1996 tentang "Penanggulangan Anemia Gizi (Kekurangan Zat Besi) bagi Pekerja Perempuan".
Selain itu sejak tahun 1997 telah dicanangkan Gerakan Pekerja Wanita Sehat Produktif (GPWSP) . Gerakan ini lebih merupakan suatu upaya yang berkesinambungan baik dari pemerintah, masyarakat maupun pengusaha untuk mengupayakan peningkatan kesehatan pekerja perempuan .
Beberapa waktu terakhir, gerakan tersebut sudah tidak berjalan lagi. Oleh karena itu dipandang perlu untuk merevitalisasi atau menggalakkan kembali gerakan ini. Demikian juga dengan pedoman GPWSP yang telah ada sejak tahun 1997, perlu ditinjau ulang mengingat makin banyaknya permasalahan kesehatan pekerja perempuan dan banyaknya perubahan kebijakan di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Berdasarkan hal tersebut diatas dipandang perlu adanya pedoman GP2SP yang dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif di pusat, provinsi, kabupaten/kota dan perusahaan .
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Meningkatkan status kesehatan dan gizi pekerja perempuan untuk mencapai produktivitas kerja yang maksimal.
2. Tujuan Khusus
a. Terselenggaranya GP2SP di tempat kerja
b. Mendorong tercapainya pemberdayaan di tempat kerja dalam penyelengaraan GP2SP
c.
Mendorong pekerja untuk berperan aktif dalam pelaksanaan GP2SPd. Keterlibatan tim GP2SP dalam mendorong perusahaan dan pekerja untuk melaksanakan GP2SP
C. SASARAN
1. Sasaran langsung adalah seluruh pekerja perempuan dan pengusaha/
Pengelola/ Pengurus Perusahaan/tempat kerja.
2. Sasaran tidak langsung merupakan penggerak GP2SP yang berada di setiap jenjang admininstratif dalam bentuk Tim GP2SP, yang beranggotakan:
a. Pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota;
b. APINDO;
c. Serikat Pekerja/Serikat Buruh serta organisasi ketenagakerjaan lainnya;
d. PT. ASKES;
e. PT. JAMSOSTEK;
f. Stakeholder terkait
D. PENGERTIAN
1. Gerakan Pekerja Perempuan Sehat dan Produktif(GP2SP) merupakan
upaya dari pemerintah, masyarakat maupun pengusaha untuk menggalang dan berperan serta guna meningkatkan kepedulian dalam upaya memperbaiki kesehatan dan status gizi pekerja Perempuan sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja dan meningkatkan kualitas generasi penerus.
2. ASI Eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif
bagi bayi di Indonesia sejak bayi lahir sampai dengan bayi berumur 6 (enam) bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak berusia 2 (dua) tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai.
3. Anemia gizi besi adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan
cadangan besi dalam hati, sehingga jumlah hemoglobin darah menurun dibawah normal. Sebelum terjadi anemia gizi besi, diawali
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
lebih dulu dengan keadaan kurang gizi besi (KGB). Apabila cadangan besi dalam hati menurun tetapi belum parah, dan jumlah hemoglobin masih normal, maka seseorang dikatakan mengalami kurang gizi besi saja (tidak disertai anemia gizi besi). Keadaan kurang gizi besi yang berlanjut dan semakin parah akan mengakibatkan anemia gizi besi, dimana tubuh tidak lagi mempunyai cukup zat besi untuk membentuk hemoglobin yang diperlukan dalam selsel darah yang baru
4. Tablet Tambah Darah (HD) adalah suplemen zat gizi yang
mengandung minimal 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat
(sesuai rekomendasi WHO). TTO yang digunakan dapat berupa TTO
program, TTO Mandiri, TTO generik dan TTO dengan merek dagang.
5. Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan fisik, mental dan
sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman.
6. Produktivitas kerja merupakan suatu konsep yang menunjukkan
adanya kaitan output dengan input yang dibutuhkan seorang pekerja kerja untuk menghasilkan produk. Pengukuran produktivitas dilakukan dengan melihat jumlah output yang dihasilkan oleh setiap pekerja selama sebulan. Seorang pekerja dapat dikatakan produktif apabila ia mampu menghasilkan jumlah produk yang lebih banyak dibandingkan dengan pekerja lain dalam waktu yang sama .
7. Serikat pekerja/serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk
dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh.
8. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa
pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean.
9. Tempat Kerja adalah ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka , bergerak atau tetap di mana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber atau sumbersumber bahaya. Yang termasuk tempat kerja adalah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagianbagian atau berhubungan dengan tempat kerja tersebut.
10. Usia Produktif adalah usia ketika seseorang masih mampu bekerja
dan menghasilkan sesuatu, usia antara 1564 tahun.
E. LANDASAN HUKUM
1. UndangUndang No.1 Tahun 1970, tentang Keselamatan Kerja
2. UndangUndang No .23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak 3. UndangUndang No.13 Tahun 2003, tentang Ketenagakerjaan
4. UndangUndang No.32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah 5. UndangUndang No .36 Tahun 2009, tentang Kesehatan
6. Keputusan Bersama Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan (Binawas) Departemen Tenaga Kerja dan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Nomor Kep 22/BW/1996 dan Nomor 202/BM/ DJ/BGM/II/1996 tanggal 13 feb ruari 1996 tentang " Penanggulangan Anemia Gizi (Kekurangan Zat Besi) bagi Pekerja Perempuan
7. Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Kesehatan No 48/Men .PP/XII/2008, Nomor Per.27 / Men/XII/2008, Nomor 1177/ Menkes/PB/XII/2008 tentang Peningkatan Pemberian ASI Selama Kerja di Tempat Kerja.
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
BAB II
KEBIJAKAN DAN STRATEGI
A. KEBIJAKAN
1. Mendorong pekerja untuk berperan aktif dalam mewujudkan
kesehatan dirinya sehingga produktif
2. Mendorong pengusaha melaksanakan kewajiban dan memberikan hakhak pekerja dalam mewujudkan pekerja perempuan yang sehat dan produktif
3. Meningkatkan dukungan instansi terkait dan semua pemangku kepentingan (Pemerintah, Pengusaha, Pekerja, PT. Jamsostek, PT. ASKES, APINDO, Serikat Pekerja/Serikat Buruh) dalam pelaksanaan GP2SP.
4. Meningkatkan peran pemerintah pusat dan daerah dalam pembinaan dan pengawasan pelaksanaan GP2SP.
B. STRATEGI
Untuk terlaksananya GP2SP di setiap tempat kerja perlu didukung oleh
Tim GP2SP selaku penggerak di setiap jenjang administratif.
Adapun strategi penggerakannya sebagai berikut:
1. Mengintegrasikan GP2SP dalam program keselamatan dan kesehatan
kerja di tempat kerja;
2. Meningkatkan komitmen pengusaha, pekerja dan pemangku kepentingan dalam melaksanakan GP2SP
3. GP2SP dilakukan secara berkesinambungan dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada
4 . Menjadikan gerakan bersama yang terpadu dan saling
menguntungkan
5. Meningkatkan pemantauan, pembinaan dan evaluasi
BAB III PROGRAM GP2SP
Program GP2SP diarahkan pada pemenuhan kecukupan gizi pekerja perem-puan, pemeriksaan kesehatan pekerja peremperem-puan, pelayanan kesehatan re-produksi pekerja perempuan dan peningkatan pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja.
A. PEMENUHAN KECUKUPAN GIZI PEKERJA PEREMPUAN
Pekerja perempuan merupakan kelompok sasaran yang rawan terjadinya anemia gizi yang disebabkan oleh menstruasi, asupan gizi yang rendah, tingkat pengetahuan gizi yang kurang dan lain sebagainya. Kegiatan untuk pemenuhan kecukupan gizi pekerja perempuan melalui:
1. Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi pekerja perlu dilakukan, agar dapat menentukan kebutuhan gizi yang sesuai serta pemberian intervensi gizi bila diperlukan. Penilaian status gizi dapat dilakukan melalui :
a. Antropometri
Antropometri merupakan metode yang paling sering digunakan dalam penilaian status gizi. Metode ini menggunakan parameter berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Melalui kedua parameter tersebut, dapat dilakukan penghitungan Indeks Masa Tubuh (IMT) dengan rumus sebagai berikut :
IMT
= _ _ _ _b 」イ ⦅⦅⦅⦅⦅⦅⦅ セ⦅⦅ 。 エb。 、 」N ャiQ HZNNNN ォ ァ ZNNNZN I_ _ _
_
TinggiBadu n(m)xTinggiBad an(m)
Dari penghitungan IMT, dilakukan penilaian status gizi dengan klasifi kasi sebagai berikut :
IMT Status Gi zi
Gizi Kuran g
< 17.0
17 .0-18.5 Gizi Kurang
G izi Baik
18 .5 - 25. 0
Gizi Lebih
>27.0 - - Gizi Lebih
> 25.0 - 27. 0
Kategori
Sanga'tk';; u s
Kur us
Normal
Gemuk
Sa nga! Ge muk
Sumber: PUGS, 2005
Pengukuran IMT merupakan cara yang sederhana untuk menilai status gizi, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Cara ini hanya dapat diterapkan pada orang dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada perempuan hamil.
Agar status gizi pekerja perempuan di setiap perusahaan/ tempat kerja dapat terpantau , maka budayakan pengukuran berat badan pekerja perempuan secara rutin 1 (satu) bulan sekali .
Setelah diketahui klasifi kasi status gizi pekerja perempuan, intervensi yang tepat dapat diberikan dengan pengaturan menu makanan.
b. Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis merupakan metode untuk menilai status gizi masyarakat, didasarkan atas perubahanperubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi . Penggunaan
metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical
survey) . Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda kekurangan salah satu atau lebih zat gizi, dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut dan mukosa mulut atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiraid.
c.
Pemeriksaan BiofisikPemeriksaan biofi sik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan .
Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik, cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.
d. Pemeriksaan Biokimia
Pemeriksaan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh, antara lain: darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Pemeriksaan ini biasanya digunakan untuk pengukuran status gizi mikro. Pada umumnya yang dinilai adalah zat besi, vitamin, protein dan mineral.
2.
Kebutuhan Gizi Pekerja PerempuanKebutuhan gizi pekerja perempuan yang dimaksud meliputi kebutuhan gizi untuk sehari, selama bekerja (8 jam) dan dalam keadaan khusus.
a.
Kebutuhan Gizi sehari Pekerja PerempuanPerhitungan Kebutuhan gizi seorang pekerja dalam keadaan lingkungan normal (suhu, tekanan udara, kelembaban) dan tubuh dalam kondisi sehat/ normal maka kebutuhan gizi terutama energi dipengaruhi oleh : jenis aktivitas, usia, ukuran tubuh, jenis kelamin dan kondisi khusus (hamil, menyusui, lembur dan sa kit) serta faktor risiko lainnya di tempat kerja.
Kebutuhan gizi pekerja selama sehari dipenuhi oleh pekerja selama di rumah dan di tempat kerja.
Sebelum mengatur menu makanan, terlebih dahulu perlu diketahui status gizi pekerja, kemudian memperhitungkan kebutuhan energi per hari dengan mengacu pada lampiran .1.
• Aktivitas
Berat ringannya beban kerja yangditerima oleh seorang pekerja dapat digunakan untuk menentukan lamanya kemampuan melakukan pekerjaan sesuai dengan kapasitas kerjanya. Semakin berat beban kerja, sebaiknya semakin pendek waktu kerjanya agar terhindar dari kelelahan dan gangguan fi siologis yang berarti atau sebaliknya. Pengelompokan aku vitas atau beban kerja (ringan, sedang dan berat) berdasarkan proporsi waktu kerja mengacu pada FAO/WHO (1985) yang dimodifi kasi (WNPG VIII, 2004) sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel.1 Pengelompokan Aktivitas pada Perempuan dan LakiIaki Kelompok Aktivitas Jenis Kegiatan Faktor Aktivitas Ringan
•
LakiIaki•
Perem pua n75% dari waktu yang digunakan adalah untuk duduk atau berdiri dan 25% untuk
kegi ata n berdiri dan berpindah (m o ving)
1.58 145 Sedang
•
LakiIaki•
Perempuan25% waktu yang digunakan adalah untuk duduk atau berdiri dan 75% adalah untuk
kegiatan kerja khusus dalam bidang
pekerjaaannya. 1.67 1.55 Berat
•
•
LakiIaki Perempuan40% dari waktu yang digunakan adalah untuk duduk atau berdiri dan 60% untuk kegiatan kerja khusus dalam bidang pekerjaannya.
1.88 1.75
Sumber : Prosiding WNPG VIII, 2004
Contoh jenis aktivitas berdasarkan pengelompokan beban kerja dapat diuraikan sebagai berikut:
Beban kerja ringan: aktivitas kantor tanpa olahraga, aktivitas fisik yang tidak menguras tenaga, duduk memotong kedua ujung batang rokok (pada perempuan) Beban kerja sedang: bekerja dimana harus naik turun tangga, olahraga ringan, pekerjaan rumah tangga, berdiri mengisikan batang korek api ke dalam kotak (pada perempuan)
Beban kerja berat: pekerjaan lapangan, pekerjaan kuli bangunan, driller, ngeprek/ memecah batu (pada perempuan), berdiri mengangkat balok kayu
• Usia
Dengan bertambahnya umur, kebutuhan zat glzl seseorang relatif lebih rendah untuk tiap kilogram berat badannya.
• Ukuran tubuh (tinggi dan berat badan)
Makin besar ukuran tubuh, semakin besar kebutuhan gizinya. Kebutuhan zat gizi ditentukan terutama oleh komponen lemak dari berat badan.
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
[image:33.413.72.375.59.217.2]
-• Jenis kelamin
Kebutuhan zat gizi antara lakiIaki dan perempuan dewasa berbeda, terutama disebabkan oleh perbedaan komposisi tubuh (komponen lemak dan nonIemak) dan jenis aktivitasnya.
• Faktor lain penentu kebutuhan gizi yaitu:
Keadaan fi siologis; pada kondisi hamil dan menyusui
kebutuhan zat gizi meningkat dari keadaan biasa akibat meningkatnya metabolisme, konsumsi makanan untuk kebutuhan diri sendiri dan bayi yang dikandung serta persiapan produksi ASI
Keadaan khusus; seperti pada pemulihan kesehatan dan anemia maka kebutuhan zat gizi lebih besar dari keadaan biasanya.
Keadaan lingkungan kerja; seperti suhu ekstrim, tekanan udara, radiasi dan bahan kimia meningkatkan kebutuhan zat gizi.
[image:34.413.95.355.388.526.2]b. Kebutuhan Gizi Pekerja Perempuan selama Bekerja (8 jam) Setelah diketahui kebutuhan energi perhari, langkah selanjutnya adalah menentukan kebutuhan energi selama waktu kerja (8 jam) dengan asumsi keadaan lingkungan dalam keadaan normal (suhu, tekanan udara, kelembaban) dan tubuh dalam kondisi sehat/ normal, kebutuhan energi dan protein pekerja perempuan adalah sebagai berikut:
Tabel.2 Kebutuhan Energi dan Protein selama bekerja (8 jam)
Usia/jenls . Mセ Kebutuhan energi (kkal) Kebutuhan protein (I )
Perc mpu an
pekerjaan Perempuan
19· 29 tahun
R ingan 72 0 2 0
-
20Ber<'lot
Sedan g 760
20 860 , -3049 Tahun Rl ngan 20 Sedan g 680 20 720 20 Berat 820
S().o64 tahun
Rin g an 660 I 2 0
70 0 20Be- r a t
Sedang
8 00
J
20Sumber : AKG 2004
C. Kebutuhan Gizi Menurut Kondisi Khusus Pekerja Perempuan
1) Pekerja Perempuan Selama Hamil
Pekerja perempuan yang hamil membutuhkan tambahan energi untuk perkembangan janinnya . Perempuan yang berstatus gizi baik dengan tingkat aktivitas ringansedang membutuhkan kalori ekstra sebesar:
• 180 kkal/hari pada trimester I
• 300 kkal/hari pada trimester 2 dan 3
2) Pekerja Perempuan Selama Menyusui
Seorang pekerja perempuan yang sedang menyusui
membutuhkan energi tambahan untuk produksi ASI, energi yang perlu ditambahkan sebesar:
• 700 kkal/hari pada 6 bulan pertama • 550 kkal/hari pada 6 bulan berikutnya
3) Pekerja anemia gizi besi
Untuk pekerja anemia gizi besi diberikan suplemen tablet besi dengan dosis 60 mg 2 kali seminggu sampai anemia teratasi. Selain itu, pekerja dianjurkan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya zat besi seperti hati , daging, ikan, ayam, telur dan sayuran hijau. Khusus bagi pekerja perempuan, untuk mencegah anemia dianjurkan pemberian tablet tambah darah dengan dosis 60 mg per minggu selama 16 minggu setiap tahun . Selama masa haid diberikan 60 mg zat besi tiap hari.
4) Pekerja lembur, shift kerja
Bagi pekerja yang lembur selama 3 jam atau lebih perlu diberikan makanan dan minuman tambahan, berupa makanan selingan yang padat gizi. Hal ini berlaku pula bagi pekerja shift malam, termasuk pekerja perempuan yang bekerja antara pukul 23.0007.00. contohnya : bubur kacang hijau, teh manis dengan roti isi selai, tahu isi, dll
5) Lingkungan Kerja Yang Berisiko
• Pada tempat kerja dengan suhu tinggi perlu diperhatikan kebutuhan air dan elektrolit yang dapat diperoleh dari garam dan sari buah.
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
• Pekerja yang pekerjaannya menggunakan bahan kimia membutuhkan tambahan zat gizi.
• Pekerja yang berhubungan dengan bahan radiasi perlu ditambahkan makanan dan minuman yang mengandung Se dan Zn, seperti banyak terkandung pada daging, hati, kacangkacangan.
3. Penyediaan Makanan Bagi Pekerja Perempuan
Setelah mengetahui kebutuhan energi (kalori) sehari dan selama bekerja (8 jam), perlu dipikirkan cara memenuhi kebutuhan tersebut dalam menu pekerja seharihari. Karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, serta zat zat lain dalam tubuh perlu diperhati kan proporsinya agar seimbang (WNPG VIII, 2004), yaitu :
• Karbohidrat (5065% dari total energi) • Protein (1020% dari total energi)
• Lemak (2030% dari total energi)
Kebutuhan energi diterjemahkan ke dalam porsi bahan makanan seperti pada Lampiran 2. Pemberian makanan utama di tempat kerja dilakukan sa at istirahat (45 jam setelah kerja) diselingi pemberian kudapan (makanan selingan) .
Dalam penyediaan makanan bagi pekerja perlu memperhatikan langkahIangkah sebagai berikut:
a. Standar Porsi Makanan yang Memenuhi Kecukupan Gizi Pekerja
Standar porsi makanan bagi pekerja menurut usia dan kategori
aktivitas fi sik lihat lampiran.2
b. Perencanaan Menu Makanan bagi Pekerja selama Bekerja
Perencanaan menu pekerja merupakan serangkaian kegiatan menyusun hidangan dalam variasi yang serasi untuk memenuhi kebutuhan gizi pekerja. Tujuan perencanaan menu sebagai pedoman dalam kegiatan pengolahan, mengatur variasi dan kombinasi hidangan, menyesuaikan biaya yang tersedia, serta menghemat waktu dan tenaga . Perencanaan menu dilakukan
untuk beberapa hari atau yang disebut siklus menu, misalnya 5 hari atau 10 hari .
Penyusunan menu berdasarkan siklus menu berfungsi untuk : 1) Variasi dan kombinasi bahan makanan dapat diatur,
sehingga :
• Pekerja tidak bosan, karena terlalu sering menghidangkan jenis makanan tertentu
• Pada saat tertentu dapat dihidangkan makanan kesukaan yang menjadi makanan favorit bagi pekerja
• Dapat menanamkan kebiasaan menyukai berbagai macammacam makanan. Kebiasaan makan yang baik akan mengurangi resiko terjadinya masalah gizi .
2) Makanan yang disajikan dapat disusun sesua i dengan kebutuhan gizi pekerja. (Misalnya pada kondisi : Sakit, hamil atau menyusui)
3) Menu dapat disusun sesuai dengan biaya yang tersedia, sehingga :Mengurangi adanya kebocoran dana dan dapat menghindari pembelian bahan makanan yang terlalu banyak atau berlebihan
4) Waktu dan tenaga yang tersedia dapat digunakan sebaik-baiknya
5) Mengurangi beban mental, karena segala sesuatunya telah diatur jauh hari sebelumnya.
Contoh menu makanan bagi pekerja selama bekerja (8 jam) lihat lampiran 3.
c. Cara pengelolaan makanan
Dalam menyediakan makanan bagi pekerja ada beberapa hal yang perlu di pertimbangkan dalam menetapkan tatalaksana dan penyelenggaraan makanan bagi pekerja diantaranya:
1) Kerjasama perusahaan dengan pekerja (swakelola)
Perusahaan menyediakan sarana (tenaga, dana, peralatan, ruangan) dan pelaksanaan kegiatan dibebankan pada tenaga kerja.
Gerakon Pekerjo Perempuon Sehot Produktif
2) Diborongkan kepada pihak jasa boga
• Perusahaan hanya menyediakan ruang makan dan meja kursi saja. Dan sarana lain disediakan oleh jasa boga. Dengan demikian pihak jasaboga mengirim makanan jadi dalam jumlah besar.
• Perusahaan menyediakan dapur, ruang makan dan peralatannya. Pihakjasa boga mempekerjakan pegawainya untuk pemaskan makanan .
• Perusahaan menyediakan dapur, ruang makan, peralatan dan tenaga . Pihak jasa boga memanfaatkan sarana yang ada dengan ketentuan yang telah ditetapkan perusa haa n.
• Untuk ketiga cara tersebut, harus ada surat perjanjian resmi atas ketetapan yang telah disepakati. Unsur pengawasan kuatintas dan kualitas harus dari keduabelah pihak yang bersepakat .
3) Dengan kafetaria/ kantin
Pedagang yang telah mendapat izin dari perusahaan berkumpul disuatu tempat yang disediakan dan pekerja dapat menukar kupon dengan makanan yang dijajakan sesuai dengan keinginan.
4. Pencegahan dan penanggulangan Anemia Gizi Besi
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal, yang berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin (SE Menkes Nomor : 736a/Menkes/XI/1989), yaitu:
• Anak Balita : 11 gram%
• Anak Usia Sekolah : 12 gram% • Wanita Dewasa : 12 gram% • LakiIaki dewasa : 13 gram%
• Ibu Hamil: 11 gram%
• Ibu menyusui >3 bulan : 12 gram%
Penyakit gangguan gizi yang masih sering ditemukan di Indonesia dan merupakan masalah gizi utama salah satunya adalah anemia gizi besi (AGB) . Anemia gizi tidak hanya disebabkan oleh kekurangan besi tapi juga bisa disebabkan oleh kekurangan vitamin B12, tembaga, dan folat.
Masalah anemia gizi besi ini dihadapi pula oleh pekerja perempuan, masalah ini akan berdampak terhadap kematian ibu dan anak, rendahnya prestasi dan menurunnya produktivitas kerja. Oleh karena itu, upaya penanggulangan anemia defi siensi gizi bagi pekerja perempuan sangat penting dan mendasar. Upaya tersebut akan memberikan dampak positif bagi peningkatan produktivitas kerja. Dalam jangka panjang, perbaikan anemia defi siensi gizi pekerja perempuan akan memberikan sumbangan lahirnya anakanak Indonesia yang sehat dan cerdas.
Beberapa kemungkinan yang melatarbelakangi terjadinya anemia antara lain:
a. Kekurangan konsumsi akibat kurangnya daya beli masyarakat untuk mengkonsumsi sumber sumber zat besi, terutama dalam bentuk besihem.
• Secara alamiah, proses penyerapan besi di dalam tubuh sangat terbatas . Jika mengkonsumsi sumber zat besi dari protein nabati, yang bisa terserap hanya sekitar 12% saja, sedangkan jika berasal dari protein hewani, yang dapat terserap sekitar 1020%, hal ini dapat dikaitkan dengan ketersediaan biologik (bioavailability) sumber hewani yang lebih tinggi daripada sumber protein nabati.
• Makanan yang kava akan kandungan zat besi adalah makanan yang berasal dari hewani (seperti ikan, daging, hati, ayam, telur)
• Makanan nabati (dari tumbuhtumbuhan) misalnya sayuran hijau tua, walaupun kava akan zat besi, namun hanya sedikit yang bisa diserap dengan baik oleh usus akibat ketersediaan biologiknya (bioavailability) yang rendah. sumber besi dari nabati dapat diperoleh dari serealia tumbuk, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah .
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
• Pemenuhan gizi secara seimbang selain dengan memperhati kan jumlah besi yang terkandung dalam bahan makanan juga perlu diperhatikan kualitas besi di dalam makanan yang sering disebut sebagai ketersediaan biologik (biavailability). Oleh karena itu, menu makanan di Indonesia sebaiknya terdiri atas nasi, daging/ayam/ikan, kacangkacangan, serta sayuran dan buahbuahan .
b. Gangguan absorbsi
Gangguan absorbsi pada umumnya dapat terjadi ketika terjadi penyakitpenyakit yang berkaitan dengan gastro intestinal
c. Meningkatnya pengeluaran zat besi dari tubuh
Perdarahan atau kehilangan darah dapat menyebabkan anemia . Hal ini terjadi pada penderita:
• Kecacingan, Infeksi cacing tambang menyebabkan perdarahan pada dinding usus, meskipun sedikit, tetapi jika terjadi terus-menerus akan mengakibatkan hilangnya darah atau zat besi. • Malaria pada penderita Anemia Gizi Besi dapat memperberat
keadaan anemianya.
• Haid dan atau persalinan. Kehilangan darah pada waktu haid yang banyak dan atau persalinan berarti mengeluarkan zat besi yang ada dalam darah.
•
Perdarahan hebat•
Perdarahan akut (mendadak)•
Kecelakaan•
Pembedahan•
Pecah pembuluh darah•
Pendarahan kronik (menahun)•
Perdarahan hidung•
Wasir (hemoroid)•
Ulkus peptikum•
Kanker atau polip di saluran pencernaan•
Tumor ginjal atau kandung kemih.d. Meningkatnya kebutuhan tubuh akan zat besi
• Pada masa pertumbuhan seperti anakanak dan remaja, kebutuhan tubuh akan zat besi meningkat tajam.
• Pada masa kehamilan, kebutuhan zat besi meningkat karena zat besi diperlukan untuk pertumbuhan janin serta untuk kebutuhan ibu sendiri.
• Kebutuhan tubuh akan zat besi juga akan meningkat pada penderita penyakit menahun seperti TBC.
e. Berkurangnya pembentukan/produksi sel darah merah Zat gizi yang berperan dalam pembentukan Hb diantaranya besi, protein, piridoksin (Vitamin B6), asam folat dan vitamin B12 yang berperan sebagai katalisator dalam sintesis hem di dalam molekul Hb, vitamin C mempengaruhi absorbsi dan pelepasan besi dari transferin ke dalam jaringan tubuh, dan vitamin E mempengaruhi stabilitas membransel darah merah. selain itu, pembentukan sel darah merah dapat terhambat akibat adanya penyakit kronik.
f. Faktor keturunan
g. Meningkatnya penghancuran sel darah merah/sel darah merah prematurt, yang disebabkan karena :
• Pembesaran limpa
• Kerusakan mekanik pada sel darah merah
• Reaksi autoimun terhadap sel darah merah, meliputi :
Hemoglobinuria nokturnal paroksismal, S/erositosis herediter, Elliptositosis herediter
• Kekurangan G6PD • Penyakit sel sabit • Penyakit hemoglobin C
• Penyakit hemoglobin SC
• Penyakit hemoglobin E
• Thalasemia
Upaya penanggulangan anemia gizi bagi pekerja perempuan dilakukan melalui pemberian tablet tambah darah, obat cacing dan obat lainnya sesuai penyebabnya
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
a. Tata Cara Pelayanan:
• Selama masa haid diberikan TTO 60 mg tiap hari dan dianjurkan minum 1 (satu) tablet selama 10 (sepuluh) hari.
• Setiap calon pengantin wanita, dianjurkan mengkonsumsi TTO sebelum pernikahan dengan dosis seminggu sekali 1 (satu) tablet selama 16 minggu (SK Dirjen Pembinaan
Kesehatan Masyarakat Nomor: 1656/BM/DJ/BGM/
XI/97 tentang Penanggulangan Anemia Gizi untuk Calon Pengantin Wanita) .
• Wanita Usia Subur (WUS) dianjurkan minum TTD secara rutin dengan dosis 1 (satu) tablet setiap minggu.
• Ibu Hamil dianjurkan minum TTD dengan dosis 1 (satu) tablet setiap hari minimal 90 hari selama masa kehamilannya . Bila kadar Hb Ibu Hamil <11 gram%, diberikan 3 tablet sehari selama 90 hari kehamilannya, dan 42 hari setelah melahirkan.
• Ibu Nifas dianjurkan minum TTD dengan dosis 1 (satu) tablet setiap hari dan 2 (dua) Kapsul Vitamin A 200.000 IU selama nifas (42 hari setelah melahirkan).
• Untuk pekerja Anemia Gizi Besi diberikan TTD dengan dosis 60 mg 2x seminggu sampai anemia teratasi.
• Bagi pekerja yang menderita anemia karena kecacingan dapat diberikan obat cacing 3 hari sebelum mulai diberikan tablet tambah darah. Preparat yang digunakan adalah Pyrantel Pamoate dengan dosis tunggal 500 mg atau Mebendazole dengan dosis tunggal 500 mg atau preparat Albendazole dengan dosis tunggal 400 mg. Untuk mencegah timbulnya kecacingan, diberikan obat cacing setiap 6 (enam) bulan sekali.
• Bagi pekerja perempuan untuk mencegah anemia, dianjurkan pemberian TTD dengan dosis 60 mg per minggu selama 16 minggu setiap tahun.
b. Pengadaan Dan Oistribusi Tablet
• Pengadaan TTD dilakukan oleh perusahaan.
• DistribusiTTD kepada seluruh pekerja perempuandilakukan melaui klinik perusahaan atau sasaran lain.
SKEMA PEMBERIAN TABLET TAM BAH OARAH
PAOA GP2SP 01 TINGKAT PERUSAHAAN
Tablet besi ralat 1x per minggu, Haid : 2 3 perhari selama 10
Tablet besi ralat 1x per minggu selama 16 minggu, Haid : 1 x 1 sehari perhari selama 10 hari
,---,'---
---..
セ@
RUJUK
Cari penyebab
penyakit dan obat
•
, .
Hb > 12 g
%
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
[image:43.415.56.361.130.423.2]B. PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA PEREMPUAN
Pemeriksaan kesehatan bagi pekerja disesuaikan dengan jenis pajanan di tempat kerja. Pemeriksaan kesehatan ini berlaku bagi semua pekerja di lingkungan perusahaan baik pekerja tetap maupun kontrak yang meliputi :
1. Pemeriksaan Kesehatan Awal Bekerja
a) Pemeriksaan Kesehatan Pra kerja
Sebagai karyawan baru, pemeriksaan kesehatan dilakukan sebelum penempatan seorang calon pekerja pada suatu pekerjaan ya ng spesifi k
b) Pra Penempatan
Pemeriksaan kesehatan pra penempatan dilakukan pada seorang pekerja yang dipindahkan ke pekerjaan lain dengan faktor risiko yang berbeda dengan sebelumnya.
2. Pemeriksaan Kesehatan Selama Bekerja
a) Pemeriksan Kesehatan Berkala
Pemeriksaan kesehatan berkala menurut Permenakertrans Nomor 02/Men/1980 perlu dilakukan sekurangkurangnya sekali dalam setahun bagi pekerja perempuan termasuk pemeriksaan Hb.
b) Pemeriksaan Kesehatan Khusus
• Pemeriksaan kesehatan khusus dilakukan apabila ada suatu pajanan tertentu yang memerlukan pengamatan lebih, misalnya pekerja ditempat bising, debu/silica, suhu ekstrim dan bahan kimia . OSHA menetapkan daftar bahanbahan yang bila terdapat di tempat kerja, maka pekerjanya mutlak dllakukan pemeriksaan kesehatan khusus .
• Pekerja perempuan berusia 40 tahun ke atas perlu mendapatkan pemeriksaan kesehatan khusus terkait dengan risiko kesehatan pad a perempuan, seperti pemeriksaan Pap smear
3. Pemeriksaan Kesehatan Akhir Bekerja
a) Pemeriksaan Kesehatan Pasca penempatan
Pemeriksaan kesehatan ini dilakukan setelah pekerja selesai melaksanakan suatu tugas yang mengandung unsur yang berisiko terhadap kesehatan dan beralih ke tempat tugas yang lain .
b) Pemeriksaan Kesehatan Setelah Pensiun
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa semua aspek yang berhubungan dengan kesehatan pekerja selama masa pengabdiannya Pemeriksaan kesehatan pekerja perempuan yang perlu dilaksanakan secara rutin adalah pemeriksaan Hb dan pemeriksaan status gizi dengan pengukuran antropometri terutama penimbangan berat badan. Pemeriksaan Hb dan pengukuran antropometri bagi pekerja perempuan dapat dilakukan di poliklinik perusahaan atau bekerjasama dengan
fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Pendanaan untuk
pemeriksaan kesehatan disediakan oleh perusahaan atau program PT. Jamsostek, PT.ASKES dan Asuransi Kesehatan lainnya.
1. Penilaian status gizi dengan antropometri
• Dilakukan penimbangan berat badan secara rutin setiap bulan
• Berdasarkan hasil pengukuran berat badan hitung indeks masa tubuh pekerja perempuan, lakukan setiap bulan
• Nilai status gizi pekerja perempuan dengan menggunakan klasifi kasi IMT, lakukan setiap bulan
• Penilaian status gizi dilakukan oleh petugas/kader yang terlatih
2. Pelaksanaan Pemeriksaan Hb sebagai berikut:
a. Untuk mengevaluasi hasil kegiatan program GP2SP, dianjurkan pemeriksaan Hb dilakukan selang 4 {em pat) bulan sekali, sebelum dan sesudah pemberian tablet tambah darah . Dengan pemeriksaan Hb dapat ditapis penderita anemia gizi yang harus diberikan pengobatan secara khusus (kuratif) .
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif
• Bila ditemui pekerja dengan kadar Hb <12g%, pemeriksaan Hb dilakukan 1 (satu) bulan sekali untuk memantau perkembangan Hb sampai dengan Hb normal (Hb >12 g%) sambil dicari penyebabnya.
• Bilamana tidak ada peningkatan kadar Hb pada pemeriksaan ke II, agar dirujuk ke tingkat yang lebih tinggi atau Rumah Sakit.
• Bila ditemukan pekerja dengan kadar Hb <8 g%, perlu di rujuk ke tingkat yang lebih tinggi atau Rumah Sakit untuk mencari penyebab lainnya.
b. Metode yang digunakan untuk menentukan kadar Hb darah adalah metode Sahli atau Cyanmethemoglobin. Bila menggunakan metode Sahli, angka yang didapat perlu di konversi dengan faktor 1,13 kali. Contoh: hasil pemeriksaan Hb Sahli sebesar 10,5 g% dikonversi ke Hb Cyanmethemoglobin adalah 10,Sx1,13=11,9 g%
C. PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI PEKERJA PEREMPUAN
Pelayanan kesehatan reproduksi pekerja perempuan meliputi
pelayanan:
1. Sebelum hamil
a. Promosi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi
b. Pengetahuan tentang bahaya di tempat kerja yang berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi serta penanggulangannya
c.
Pemeriksaan kesehatan alat reproduksi. Pekerja perempuanyang berusia 40 tahun ke atas perlu mendapatkan pemeriksaan kesehatan khusus terkait dengan risiko kesehatan pada perempuan, seperti pemeriksaan Pap smear yang dilakukan minimall (satu) kali setahun.
d. Konseling mengenai;
• Infeksi Menular Seksual (IMS) • Infeksi Saluran Reproduksi (ISR)
• Gizi pekerja
e. Pemenuhan kecukupan gizi
f. Pemantauan BB/IMT
g. Pelayanan KB
h. Pemberian imunisasi TT bagi pekerja perempuan saat menjadi calon pengantin
2.
Saat
Hamil :a) Promosi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi dan tumbuh kembang janin
b) Pengaturan administratif terkait masalah ergonomi yang dapat mengganggu kehamilan, seperti bekerja sambil berdiri terlalu lama, mengangkat beban berat, shift malam, kerja lembur, dll c) Meningkatkan pengetahuan bahaya di tempat kerja yang
berpengaruh terhadap kehamilan serta penanggulangannya d) Penempatan pada tempat kerja yang sehat dan aman dari bahaya
yang mempengaruhi kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin
e) Pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali selama kehamilan
f) Pemenuhan kecukupan gizi pekerja saat hamil g) Konseling mengenai :
• Kehamilan
• Persiapan melahirkan • Pemenuhan Gizi ibu hamil
• ASI Eksklusif
h) Distribusi tablet tambah darah
3. Saat
Melahirkana) Konseling gizi ibu menyusui dan ASI Ekslusif
b) Jaminan untuk persalinan di fasiltas kesehatan oleh tenaga kesehatan.
c) Mendapatkan cuti melahirkan
d) Mendapatkan buku KIA
e) Mengikuti Program Perencanaan Persalinan dengan Pencegahan Komplikasi (P4K)
Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Praduktif
f) Mendapatkan jaminan penanganan bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayi
4. Pasca Melahirkan
a) Pelayanan KB pasca bersalin
b) Memberikan ASI eksklusif
c) Konseling menyusui
d) Pemberian 2 kapsul vitamin A selama nifas
e)