• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP)"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN

GERAKAN PEKERJA

PEREMPUAN

SEHAT PRODUKTIF

(GP2SP)

Kerjasama antara :

Kementerian Kesehatan RI

Kementerian Dalam Negeri RI

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI

Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan PA RI

Dewan Pimpinan Nasiona'i Asosiasi Pengusaha Indonesia

Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Pekerja

Seluruh Indonesia

JAKARTA

(2)

PEDOMAN

GERAKAN PEKERJA

PEREMPUAN

SEHAT PRODUKTIF

(GP2SP)

Kerjasama antara:

Kementerian Kesehatan

RI

Kementerian Dalam Negeri

RI

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi

RI

Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan PA

RI

Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia

Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Pekerja

Seluruh Indonesia

JAKARTA

(3)
(4)

KeBepakiltan Bel'!iillllB

TENTANG GERAKAN PEKERJA PEREMPUAN SEHAT PRODUKTIF (GP2SP)

Dengan Rahmat Tuhan y。ョセ@ Maha Esa

Untuk mewujudkan pekerja perempua n yang sehat dan produktlf. kami yang benanda tangan di bawah ini sepakat rnendukun g terselenggaranya Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif [GP2SP) .

Jakart i'l . November セオ J2

Dir:jen Pcmbinaan dan Penga ... asall DepUli Bidang l)e ngarllslIlamtJan Ge nder ncrcnagakerjaan 'Sidang Polirik Sosial dan HukuOl

Kem4"nlel'ian lenaga Kerja dan Transmigras , H l KClI1clIlcrian PCJllberdaya;lII Pcn:ulpuan & Pcrlilldung-an An(lk Rr

セセ@

r-'

Drs. A. セiオェ[@ Handaya , セis[@

Dewan Pirnpinan Nasiona] Dewa n Piml'inan PUS31

A,o,;,,; Pengusa h. I"d one,;. (APINDO ) I\unfcd cras; Scrik., P<kfrj. Seluruh Indoll.,i, (I\PSPI)

(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga buku Pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif ini selesai tersusun. Pedoman ini disusun dengan tujuan meningkatkan produktivitas kerja pekerja perempuan melalui perbaikan status gizi dan kesehatan.

Program pemenuhan kecukupan gizi bagi pekerja, pelayanan kesehatan reproduksi dan peningkatan pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja telah dilaksanakan di berbagai provinsi. Namun demikian agar pelaksanaan kegiatan berjalan lebih dinamis, perlu dilaksanakan suatu gerakan yang berkesinambungan serta memacu perusahaan agar lebih proaktif dalam upaya peningkatan status kesehatan dan gizi pekerja perempuan.

"Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif" (GP2SP) diarahkan untuk

mendukung target pencapaian Milenium Development Goals (MDG's) selain

itu diharapkan mampu meningkatkan partisipasi pihak pemerintah dan perusahaan serta menggali potensi yang ada di masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan dan gizi pekerja perempuan.

GP2SP ini merupakan revitalisasi dari "Gerakan Pekerja Wanita Sehat

Produktif" (GPWSP) yang disusun dan disepakati bersama oleh stakeholders

terkait antara lain Kemeterian Kesehatan RI, Kementerian Dalam Negeri RI, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak RI, Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia dan Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia.

Buku Pedoman GP2SP ini, disusun untuk para pengusaha dan pengelola serta organisasi ketenagakerjaan sebagai pegangan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut.

(7)

Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada Tim Penyusun dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian pedoman ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga buku Pedoman GP2SP ini dapat bermanfaat bagi para pengelola di lapangan serta dapat meningkatkan derajat kesehatan pekerja perempuan .

Jakarta, 24 Agust 2012

Direktur j・ョ、・セ@ Bina Gizi dan KIA

JKementerian

,

r, dr. tySlamet -Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS

niセ@ 195305231980031006

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(8)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

SAMBUTAN

MENTERI KESEHATAN REPUBIK INDONESIA

Peran perempuan dalam pembangunan nasional sangat penting dan strategis . Julmah pekerja perempuan di Indonesia meningkat setiap tahun dan derajat kesehatan serta status gili mereka harus mendapat perhatian serius. Perhatian terhadap perlindungan kesehatan dan keselamatan pekerja perempuan masih perlu ditingkatkan . Selain itu, perhatian perusahaan dan pengelola tempat kerja pada upaya meningkatkan derajat kesehatan dan status gili pekerja perempuan masih kurang. Hal ini dapat berdampak pada daya tahan, kemampuan, dan produktivitas pekerja perempuan . Untuk mendapatkan produktivitas tinggi diperlukan pekerja yang sehat dan produktif. Derajat kesehatan dan status gili pekerja perempuan yang tinggi akan berdampak pada produktivitas perempuan yang tinggi.

Program Peningkatan Produktivitas Pekerja Perempuan melalui Gerakan Pekerja Wanita Sehat Produktif (GPWSP) pernah dicanangkan tahun 1997 oleh Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu . Program ini sangat strategis, penting, dan bermanfaat bagi dunia usaha maupun bagi pekerja perempuan . Namun program tersebut belum berjalan seperti yang diharapkan. Oleh arena itu, Gerakan Pekerja Wanita Sehat Produktif perlu direvitalisasi dan

digalakkan kembai dengan nama Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(GP2SPj . Revitalisasi ini diharapkan akan berdaya guna dan berdampak pada peningkatan derajat kesehatan dan produktivitas pekerja perempuan.

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif dilaksanakan secara terpadu, bertahap dan berkesinambungan, didukung oleh pihak swasta dan pihak

lainnya . Gerakan ini akan mendukung upaya pencapaian Millenium

DevelopmentGoals, peningkatan derajat kesehatan, peningkatan produktivitas pekerja perempuan, dan suksesnya pembangunan nasional.

(9)

Saya menyambut baik terbitnya Buku Pedoman GP2SP yang dimaksudkan untuk menjadi acuan dan pegangan para pengusaha, pengelola tempat kerja, dan organisasi ketenagakerjaan dalam melaksanakan GP2SP. Apresiasi saya sampaikan kepada Tim Penyusun dan semua pihak yang telah berperan daam penyusunan dan penerbitan buku ini.

Semog<l buku ini berm<lnf<lat bagi peningkatan derajat kese hatan serta status gizi pekerja perempuan Indonesia dan terwujudnya generasi muda Indonesia yang sehat .

Jakarta, 5 November 2012

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(10)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

SAMBUTAN

DIREKTUR JENDERAl PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA

Seiring dengan perkembangan pembangunan di Indonesia dari tahun ke tahun jumlah angkatan kerja terus meningkat dan pada tahun-tahun ke depan diperkirakan angka angkatan kerja perempuan pun mengalami peningkatan, mereka bekerja hampir di semua sektor. Dalam berbagai segi pekerja perempuan memiliki beberapa keunggulan dibanding pekerja pria, namun disisi lain pekerja perempuan juga memiliki kelemahan dan kekurangan terutama berkaitan dengan struktur biologis dan psikologis. Walaupun perlindungan hak bagi tenaga kerja perempuan secara umum telah diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, pekerja perempuan harus menghadapi tantangan dunia kerja bukan saja secara budaya tetapi juga secara fisiko Dalam persaingan pasar yang semakin ketat, pekerja perempuan harus mampu menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan mempunyai produktivitas tinggi, hingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan daya saing di era globalisasi.

Gerakan pekerja perempuan sehat produktif (GP2SP) merupakan upaya bersama yang berkesinambungan baik dari Pemerintah, Pengusaha, Pekerja dan Masyarakat untuk berperan serta guna meningkatkan kepedulian dalam upaya memperbaiki kesehatan dan status gizi pekerja perempuan untuk mencapai produktivitas kerja yang maksimal.

Seiring dengan era otonomi daerah sa at ini, tentunya peran dari Kementerian Dalam Negeri sangatlah strategis yang merupakan sebagai koordinator penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional sebagaimana termaktub dalam Pasal 222 UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Maka dari itu, kami menghimbau kepada seluruh Gubernur, Bupati

(11)

dan Walikota untuk mendukung Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produtif (GP2SP) dan meningkatkan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan gerakan dimaksud.

Akhirnya, ucapan tenima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada semua pihak yang telah bekerja keras menyusun Pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP ) dan diharapkan pedoman ini dapat dijadikan referensi yang sangat berharga bagi semua pihak yang mempunyai kepedulian terhadap upaya perlindungan pekerja perempuan .

Jakarta, September 2012 DIREKTUR JENDERAL

PEMBINAAN masyarakatセan@ DESA,

Gerokan Pekerja Perempuan Sehot Produktif

(12)

SAMBUTAN

DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

Pembangunan bidang ketenagakerjaan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat . Salah satunya diwujudkan dalam

bentuk perlindungan terhadap pekerja perempuan. Berdasarkan

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan telah diatur berbagai  hak  dan  kewajiban  mengenai  pekerja  perempuan  termasuk  didalamnya  perlindungan  fungsi  reproduksi  dan  penanggulangan  anemia  gizi  sehingga  pekerja  perempuan  yang  sekaligus  juga  sebagai  ibu  atau  calon  ibu  rumah  tangga  dapat tetap terjaga  kesehatan  dan  produktivitasnya. 

Kementerian  Tenaga  Kerja  Dan  Transmigrasi  RI.  dalam  hal  ini  Direktorat  Jenderal  Pembinaan  Pengawasan  Ketenagakerjaan  menyambut  baik  dan  mendukung  Gerakan  Pekerja  Perempuan  Sehat  Produktif  (GP2SP)  dengan  harapan  menjadi  gerakan  nasional  yang  berdampak  lebih  besar  dan  lebih  berdaya  guna  bagi  upaya  peningkatan  status  kesehatan  dan  produktivitas  pekerja perempuan. Disamping itu, dengan dilengkapi adanya  Pedoman akan  memberikan  kejelasan  mengenai  peran  dan  tanggungjawab  stakeholder  sehingga  GP2SP  dapat  dilaksanakan  secara  serentak,  terkoordinasi  terintegrasi, serta  berkesinambungan. 

Demikian,  semoga  apa  yang  kita  niatkan  bersama  dalam  meningkatkan  derajat  kesehatan  pekerja  perempuan  diridhoi  oleh  Tuhan  Yang  Maha  Esa.  Amien! 

Jakarta,  Oktober 2012   Direktur Jenderal  

Pembinaan  Pengawasan  Ketenagakerjaan  

..

,

Drs. A. Muji Handaya. MSi.

(13)
(14)

SAMBUTAN

DEPUTI BIDANG PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG POUTIK, SOSIAL DAN HUKUM

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME atas terbitnya Buku Pedoman  Gerakan  Pekerja  Perempuan  Sehat  Produktif  (GP2SP).  Buku  ini  merupakan  pedoman  bagi  kita  semua  dalam  mendukung  berbagai  upaya  peningkatan  derajat  kesehatan  perempuan  termasuk  di  dalamnya  pemenuhan  hak­hak  kesehatan dan hak­hak reproduksi perempuan . Perempuan selain mempunyai  fungsi  produktif  untuk  mendapatkan  penghasilan  juga  mempunyai  fungsi  reproduktif yang  harus  dipenuhi  dan  dilindungi  agar  tetap  sehat  juga  dapat  mempunyai generasi  penerus yang berkualitas. 

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mendukung  berbagai upaya  untuk terus meningkatkan  kualitas hidup manusia khususnya  bagi  pekerja  perempuan.  Penanganan  berbagai  isu  seperti  anemia ,  pemenuhan  gizi  pekerja,  pelayanan  kesehatan  dan  pelayanan  kesehatan  reproduksi  termasuk  di  dalamnya  penyediaan  ruang  asi,  dan  perlindungan  terhadap  resiko  pekerjaan  merupakan  investasi  bagi  dunia  usaha  yang  pada  akhirnya  akan  memberikan  profit/keuntungan  bagi  para  pelaku  dunia  usaha  itu sendiri . 

Selain  itu,  kemitraan  dan  partisipasi  dan  lintas  sektor,  dunia  usaha,  swasta ,  dan  masyarakat  terkait  akan  semakin  memperkokoh  implementasi  GP2SP  sehingga  akan  mempercepat  tercapainya  tujuan  peningkatan  derajat  kesehatan  perempuan pekerja. 

Sekali  lagi  kami  menyampaikan  apresiasi  dan  penghargaan  atas  tersusunnya  pedoman  ini,  semoga  pedoman  ini  dapat  menjadi  acuan  bagi  kita  semua  untuk  mewujudkan  dan  mendorong  peningkatan  kualitas  sumber  daya  manusia  pada  umumnya  dan  perlindungan  bagi  perempuan  pekerja  pada  khususnya , sebagai  upaya  peningkatan  produktivitas kerja. 

Jakarta,  3 Oktober 2012  

Oeputi  Bidang Pengarusutamaan  Gender   Bidang  Politik  Sosial  dan Hukum  

Drg Id Suselo Wulan, MM

(15)
(16)

SAMBUTAN

KETUA UMUM DEWAN PIMPINAN NASIONAL ASOSIASI PENGUSAHA INDONESIA (DPN APINDO)

Pembinaan  dan  pemberian  pelayanan  yang  sebaik­baiknya  kepada  pekerja  sangat  bergantung  atas  kemauan  baik  dan  ke sungguhan  (goodwill  dan  commitment)  pengusaha  yang  berhubungan  langsung  dan  ikut  bertanggungjawab  atas  kesejahteraan  perempuan  pekerja  yang  bekerja  pada  unit  usahanya.  Dalam  rangka  menunjang  keberhasilan  pembangunan  nasional,  perlu  diupayakan  peningkatan  kualita s  tenaga  kerja,  baik  dan  segi  ketangguhan  fi  sik  maupun  keterampilan  kerja .  Bersamaan  itu  dalam  rangka  menghadapi  era  perdagangan  bebas,  dunia  usaha  harus  dipacu  dalam  melakukan  efi  siensi,  memupuk  produktivitas  dan  memenuhi  norma  keselamatan  dan  kesehatan  kerja . 

Salah  satu  masalah  yang  secara  reguler  dihadapi  oleh  perempuan  bekerja  terkait  dengan  pelaksanaan  fungsi  reproduksi  mereka  berupa  anemia  atau  kekurangan darah . Meskipun harga zat besi dan vitamin yang diperlukan untuk  menanggulangi ma salah anemia tersebuttidak mahal, namun pelaksanaannya  tergantung goodwill dan commitment dari pengusaha tersebut di atas. 

APINDO  sebagai  wadah  bagi  para  pengusaha  dengan  kon sentrasi  kegiatan  bidang sumberdaya manu sia dan hubungan industrial, senantiasa mendukung  setiap upaya perbaikan derajat kesejahteraan tenaga kerja pada umumnya dan  tenaga  kerja  perempuan  pad a  khususnya ,  termasuk  usaha  penanggulangan  anemia  gizi,  mengingat jumlah  tenaga  kerja  perempuan  yang  berpartisipasi  aktif dalam  pembangunan  nasional  makin  meningkat  dan  peran  khusu snya  sebagai  ibu dalam keluarga. 

Berkaitan dengan hal tersebut APII\JDO  menyambut baik diterbitkannya buku  "Pedoman  Gerakan  Pekerja  Perempuan  Sehat  Produktif'.  Penerbitan  buku  ini  sudah  tentu  akan  sangat  membantu  dalam  penyelenggaraan  program  di  lapangan. Sehubungan  itu APINDO  sebagai  penyalur aspirasi  para  pengusaha  mengharapkan agar pelaksanaannya di tingkat perusahaan dapat berlangsung  secara  efektif dan efi sien.  Kami  berharap pedoman ini dapat cepat sampai di 

(17)

tangan  para  pengusaha dan lembaga terkait baik swasta  maupun pemerintah  dan  dapat  segera  dilaksanakan  sehingga  dapat  bermanfaat  bagi  upaya  pembinaan perempuan  pekerja yang sehat dan  produktif. 

Jakarta,  17 September 2012 

Dewan  Pimpinan  Nasional Asosiasi  Pengusaha  Indonesia  'i\if\PINDO) 

Ketua  Umum 

Gerokan Pekerja Perempuan Sehat Produkti/

(18)

SAMBUTAN

KETUA UMUM DEWAN PIMPINAN PUSAT KONFEDERASI SERIKAT PEKERJA SELURUH INDONESIA

Assalamu'alaikum  Wr.Wb 

Dalam rangka  menunjang keberhasilan  Pembangunan dan menyongsong era  globalisasi, dimana diharapkan dunia usaha  dan pekerja  untuk meningkatkan  produktivitas  dan  me menu hi  standar  mutu  dengan  melalui  peningkatan  kualitas  sumber daya  manusia.  Upaya  tersebut  terus  dilakukan  dengan  cara  berkesinambungan,  terutama  bagi  pekerja/buruh  perempuan  yang  harus  mendapatkan  perlindungan  terhadap  keselamatan  dan  kesehatan  kerja  dalam  melakukan pekerjaan  di  tempat kerja. 

Tetapi secara kodrati sampai saat ini perempuan sebagai pekerja/buruh masih  belum sepenuhnya  mendapatkan hak­haknya sebagaimana  mestinya .  Selama  ini  Program  Peningkatan  Produktivitas  Pekerja  Perempuan  Mandiri  dan  Penaggulangan  Anemia  Gizi  (  kekurangan  zat  besi  )  bagi  pekerja/buruh  perempuan  yang  telah  berjalan  merupakan  program  yang  sangat  strategis  dan  bermanfaat,  baik  bagi  dunia  usaha  maupun  pekerja/buruh  perempuan  itu  sendiri .  Namun  untuk  ke  depan  program  tersebut  perlu  ditingkatkan  segala  aspek,  meliputi  komunikasi,  informasi  serta  edukasi  dalam  rangka  pemahaman, baik itu untuk seluruh pekerja/buruh, khususnya  pekerja/buruh  perempuan. 

Bagi Serikat Pekerja/Serikat Buruh, hal ini merupakan momentum yang sangat  strategis untuk dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja/ buruh khususnya  perempuan,  dimana  peranan  gizi  bagi  kesehatan  tubuh  sangat  menentukan  tingkat  produktivitas,  baik  dalam  kondisi  haid  maupun  dalam  kondisi  hamil,  melahirkan dan  menyusui. 

Karena  itu pada  tempatnyalah saya  menyambut gembira atas diterbitkannya  buku  "Pedoman  Gerakan  Pekerja  Perempuan  Sehat  dan  Produktif",  dan 

(19)

bagi  Tim  Penyusun  buku  ini,  saya  ucapkan  terima  kasih  dan  semoga  dapat  bermanfaat bagi  seluruh  Pekerja/Buruh  Perempuan. 

Amin , sekian 

Wassalamu'alaikum Wr.Wb 

Jakarta, 24  September 2012 

A.n . Serikat  Pekerja/Serikat Buruh 

Drs. H Sjukur Sarto, MS

Ketua  Umum K SPSI 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(20)

DAFTAR 151

Hal  

KATA  PENGANTAR  ... ... ... ... ... ... ... ... .... ... ... ... .. ... .  

SAMBUTAN  DIREKTUR JENDERAL  PEMBERDAYAAN  MASYARAKAT  

DAN  DESA  ... .... .... ... ... ... .... ... ... .... .... ... .... .... .. .... ... .. ... ...  iii  

SAMBUTAN  DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN  PENGAWASAN   KETENAGAKERJAAN  KEMENTERIAN TENAGA KERJA  DAN   SAMBUTAN  DEPUTI  BIDANG  PENGARUSUTAMAAN  GENDER   SAMBUTAN  KETUA  UMUM  DEWAN  PIMPINAN  NASIONAL   SAMBUTAN  KETUA  UMUM DEWAN  PIMPINAN  PUSAT   TRAI'JSMIGRASI  R.I.  ... ... ... ... ... .. ... ... ... ... .... ...  v  

BIDANG  POLITIK, SOSIAL  DAN  HUKUM  ... .. ... ... .. ... ... .. ...  vi i   ASOSIASI  PENGUSAHA INDONESIA (DPI'J  APINDO)  ... ... .... ... ...  ix  

KONFEDERASI  SERIKAT  PEKERJA SELURUH  INDONESIA  ... .... ... ... ... ...  xi  

DAFTAR  lSI  ... ... .. ... ... ... ... .. ... ... ... ... .... .... .. ... .... .. .... .. ...  xiii  

BAB I PENDAHUlUAN 1   A. Latar Belakang  ... ... ... ... ... .. ... .... .. ... ... ... .. .. ... ...  1  

B.  Tujuan  ... .. ... ... ... .... .. ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. ... ... .  4  

C.  Sasaran  ... ... ... ... .. .. ... ... .. ... .... ... ... ... ...  4  

D.  Pengertian  ... .. .. ... ... .. .. .. .. ... ... .. ... .. ... ... .. .... ...  4  

E.  Landasan  Hukum  ... ... .. ... ... .... .. ... ... .... ... .... .. .. .... ... ... ..  6  

BAB (( KEBIJAKAN DAN STRATEGI 7 A .  Kebijakan  ... ... ... ... ... ... ... ... ...  7  

B.  Strategi  .. ... .. .. .... ... ... ... ... ... ... .. ... ... .. ... ...  7  

(21)

BAB III PROGRAM GP2SP 9

A.  Pemenuhan  Kecukupan Gizi  Pekerja  Perempuan  ...  9  

B.  Pemeriksaan  Kesehatan  Pekerja  Perempuan  ...  23  

C.  Pelayanan  Kesehatan  Reproduksi  Pekerja  Perempuan  ...  25  

D.  Peningkatan  Pemberian ASI  selama Waktu  Kerja  di Tempat Kerja  ..  27  

BAB IV PENGORGANISASIAN, TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB ... 29  

A.  Organisasi  ...  29  

B.  Tugas  Dan Tanggungjawab  ...  29  

BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN GP2SP ... 33  

A.  Persiapan  ...  33  

B.  Perencanaan  ... .. ... .. ... ... .. ... .. ... .. ...  35  

C.  Penggerakan  Pelaksanaan  ...  38  

BAB VI PEMBINAAN, PEMANTAUAN DAN EVALUASI ... 41  

A.  Pembinaan  ... ...  41  

B.  Pemantauan  ... .. ... .. ... .. ... .. ... .. ... .. ..  42  

C.  Evaluasi  ...  44  

BAB VII PENUTUP ... 45

DAFTAR SINGKATAN ... .... ... ... ... ... ... 46

Lampiran­Iampiran  ...  47  

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(22)

BABI PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kesehatan  memegang  peranan  penting,  tanpa  kesehatan  tidak 

mungkin  seseorang  dapat  meningkatkan  produktivitas.  Slogan 

Health

is not everything but without health everything is nothing

merupakan 

cerminan pentingnya kesehatan dalam pembangunan nasional  utamanya  dalam  upaya  meningkatkan  kualitas  sumberdaya  manusia.  Dalam  era  globalisasi  kualitas  sumberdaya  manusia  sangat  menentukan,  tanpa  SDM  yang memadai tidak akan  mungkin memenangkan persaingan. Oleh  karena  itu  kita  perlu  memantapkan  dan  meningkatkan  pembangunan  dengan  mewujudkan  sumberdaya  manusia  yang  berkualitas .  Untuk  mewujudkannya  diperlukan  kesehatan  dan  gizi  yang  optimal  disamping  pemenuhan hak­hak reproduksinya . 

Undang­Undang  No.36  tahun  2009  tentang  Kesehatan  pasal  165  menyatakan  bahwa  Pengelola  tempat  kerja  wajib  melakukan  segala  bentuk  upaya  kesehatan  melalui  upaya  pencegahan,  peningkatan,  pengobatan, dan  pemulihan  bagi  tenaga  kerja. 

Jumlah  angkatan  kerja  di  Indonesia  terus  meningkat  setiap  tahunnya.  Data BPS tahun 2010 menunjukkan jumlah angkatan kerja telah mencapai  116,5 juta jiwa,  108,3 juta jiwa  diantaranya  telah  bekerja  dan  40,75 juta  jiwa adalah  pekerja  perempuan (BPS, 2010) . 

Program  pemenuhan  gizi  bagi  pekerja,  pemeriksaan  kesehatan  pekerja  perempuan,  pelayanan  kesehatan  reproduksi  pada  pekerja  perempuan  dan  peningkatan  pemberian  ASI  selama  waktu  kerja  di  tempat  kerja,  selain  merupakan  program  untuk  peningkatan  produktivitas  kerja,  juga  merupakan bagian dari kegiatan yang diarahkan untuk mendukung target 

pencapaian Milenium Developmen Goals (MDG's)  yang  telah  disepakati 

dunia  International  yakni  terkait  dengan  target  MDG's  nom or  1  yaitu  penanggulangan  kemiskinan,  nomor 4  yaitu  penurunan  angka  kematian  anak serta nomor 5 yakni penurunan angka  kematian ibu . 

Derajat  kesehatan  dan  status  gizi  bangsa  Indonesia  telah  menunjukkan  perbaikan pada berbagai indikator dampak kesehatan , seperti peningkatan  umur harapan  hidup,  penurunan  angka  kematian  ibu,  penurunan  angka 

(23)

kematian  bayi  dan  angka  kematian  balita  serta  penurunan  prevalensi  gizi  anak  balita  (SDKI,  2007,  Susenas,  2007).  Namun  demikian,  kita  juga  masih  dihadapkan  pada  masalah  Kekurangan  Energi  Protein  (KEP),  Kekurangan  Energi  Kronik (KEK),  dan  Anemi  Gizi  Besi  yang  prevalensinya  masih  cukup  tinggi  serta  mulai  meningkatnya  kasus  overweight.  Pada  pekerja  perempuan  masalah  tersebut  memerlukan  perhatian  khusus  karena masalah tersebut berdampak pada penurunan intelektualitas dan  produktivitas yang  akhirnya  akan  berdampak  pada  kualitas  sumberdaya  manusia dan  pembangunan nasional. 

Saat  ini  pekerja  perempuan,  bekerja  hampir  di  semua  sektor.  Pekerja  perempuan  mempunyai  peran  ganda,  selain  menjadi  pekerja,  juga 

mempunyai  beban  mengerjakan  pekerjaan  rumah  tangga  dan 

bertanggungjawab  terhadap  kualitas  anak  sebagai  generasi  penerus .  Sesuai  kodratnya,  pekerja  perempuan  mengalami  haid ,  kehamilan,  melahirkan  dan  menyusui  bayi .  Kondisi  ini  memerlukan  pemeliharaan  dan  perlindungan  kesehatan  yang  baik,  agar  generasi  penerus  terjamin  kesehatannya . 

Pekerja  perempuan  di  Indonesia  dalam  usia  reproduksi  mempunyai  permasalahan  kesehatan.  Hasil  studi  menunjukkan  bahwa  prevalensi  anemia  pada Wanita Usia  Subur (WUS) sebesar 26,4% (SKRT,  2001) selain  itu hasil  penelltian di  beberapa  industri di  Tangerang, Jakarta  dan  Depok  memperlihatkan  bahwa  anemia  pada  pekerja  perempuan  menunjukan  besaran  antara  24­42% .  Padahal  pekerja  perempuan  yang  menderita  a nemia, output kerjanya rata­rata 5% lebih rendah serta kapasitas kerjanya  per  minggu  rata­rata  6.5  jam  lebih  rendah  dibandingkan  dengan  yang  tidak anemia (Scholz, dkk,  1997; Untoro dkk,  1998). Anemia gizi  besi juga  mengakibatkan  pekerja  menjadi  mudah  sa kit,  mudah  terjadi  kecelakaan  sehingga  angka  absensi  meningkat dan  kemungkinan apabila  hamil akan  mempunyai  risiko  saat  melahirkan  serta  melahirkan  bayi  dengan  Berat  Badan  Lahir Rendah . 

Permasalahan lainnya adalah tingkat pendidikan pekerja perempuan masih  rendah. Data BPS tahun 2010 menunjukkan bahwa 50,37% berpendidikan  SD  ke  bawah. Hal ini akan berpengaruh terhadap kurangnya pengetahuan  tentang  kesehatan  dan  gizi .  Disamping  lingkungan  yang  kurang  menguntungkan  dimana  biasanya  tinggal  di  pemukiman  yang  kurang  memperhatikan  sanitasi,  memungkinkan  pekerja  tersebut  mengalami  penyakit infeksi yang kronis  seperti  malaria, TB(, dan  kecacingan . 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produkti/

(24)

Mengingat  hal  tersebut  di  atas,  pemerintah  sejak  tahun  1996  telah  menanggulanginya  dengan  menurunkan  prevalensi  anemia  gizi  besi  pada  pekerja  perempuan . Salah  satu  upayanya  adalah  Kerjasama  antara  Direktur  Jenderal  Pembinaan  Hubungan  Industrial  dan  Pengawasan  Ketenagakerjaan  (Binawas)  Departemen  Tenaga  Kerja  dan  Direktur  Jenderal  Pembinaan  Kesehatan  Mayarakat  Departemen  Kesehatan  telah  menyepakati  upaya  penanggulangan  anemia  gizi  bagi  pekerja  Perempuan  dengan  dikeluarkannya  Keputusan  Bersama  Nomor  Kep  22/  BW/1996 dan  Nomor 202/BM/DJ/BGM/II/1996 tanggal13 Pebruari 1996  tentang "Penanggulangan Anemia Gizi  (Kekurangan Zat Besi)  bagi  Pekerja  Perempuan". 

Selain  itu  sejak  tahun  1997  telah  dicanangkan  Gerakan  Pekerja  Wanita  Sehat Produktif (GPWSP) . Gerakan ini lebih merupakan suatu  upaya yang  berkesinambungan baik dari pemerintah, masyarakat maupun pengusaha  untuk mengupayakan peningkatan kesehatan  pekerja  perempuan . 

Beberapa  waktu  terakhir,  gerakan  tersebut  sudah  tidak  berjalan  lagi.  Oleh  karena  itu dipandang perlu untuk merevitalisasi atau  menggalakkan  kembali  gerakan  ini.  Demikian  juga  dengan  pedoman  GPWSP  yang  telah  ada  sejak  tahun  1997,  perlu  ditinjau  ulang  mengingat  makin  banyaknya  permasalahan  kesehatan  pekerja  perempuan  dan  banyaknya  perubahan  kebijakan  di  Pusat,  Provinsi  dan  Kabupaten/Kota. 

Berdasarkan  hal  tersebut  diatas  dipandang  perlu  adanya  pedoman  GP2SP  yang  dapat  dijadikan  acuan  dalam  pelaksanaan  Gerakan  Pekerja  Perempuan  Sehat  Produktif  di  pusat,  provinsi,  kabupaten/kota  dan  perusahaan . 

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Meningkatkan  status  kesehatan  dan  gizi  pekerja  perempuan  untuk  mencapai  produktivitas kerja  yang  maksimal. 

2. Tujuan Khusus

a.   Terselenggaranya  GP2SP  di  tempat kerja 

b.   Mendorong  tercapainya  pemberdayaan  di  tempat  kerja  dalam  penyelengaraan GP2SP 

(25)

c.

Mendorong  pekerja  untuk  berperan  aktif  dalam  pelaksanaan  GP2SP 

d.   Keterlibatan  tim  GP2SP  dalam  mendorong  perusahaan  dan  pekerja  untuk melaksanakan GP2SP 

C. SASARAN

1. Sasaran  langsung adalah seluruh pekerja perempuan dan pengusaha/ 

Pengelola/ Pengurus  Perusahaan/tempat kerja. 

2.   Sasaran  tidak  langsung  merupakan  penggerak  GP2SP  yang  berada  di  setiap  jenjang  admininstratif  dalam  bentuk  Tim  GP2SP,  yang  beranggotakan: 

a.   Pemerintah  pusat,  provinsi dan  kabupaten/kota; 

b.   APINDO; 

c.   Serikat  Pekerja/Serikat  Buruh  serta  organisasi  ketenagakerjaan  lainnya; 

d.   PT.  ASKES; 

e.   PT.  JAMSOSTEK; 

f.   Stakeholder terkait 

D. PENGERTIAN

1. Gerakan Pekerja Perempuan Sehat dan Produktif(GP2SP) merupakan 

upaya  dari  pemerintah,  masyarakat  maupun  pengusaha  untuk  menggalang dan berperan serta guna meningkatkan kepedulian dalam  upaya  memperbaiki  kesehatan  dan  status  gizi  pekerja  Perempuan  sehingga  dapat meningkatkan  produktivitas  kerja  dan  meningkatkan  kualitas generasi  penerus. 

2.   ASI Eksklusif adalah  pemberian  Air  Susu  Ibu  (ASI)  secara  eksklusif 

bagi  bayi  di  Indonesia sejak bayi  lahir sampai dengan  bayi  berumur 6  (enam) bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak berusia 2 (dua)  tahun dengan  pemberian  makanan tambahan yang sesuai. 

3.   Anemia gizi besi adalah  suatu  keadaan  dimana  terjadi  penurunan 

cadangan  besi  dalam  hati,  sehingga  jumlah  hemoglobin  darah  menurun  dibawah  normal.  Sebelum  terjadi  anemia  gizi  besi,  diawali 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(26)

lebih  dulu  dengan  keadaan  kurang  gizi  besi  (KGB).  Apabila  cadangan  besi dalam hati menurun tetapi belum parah, dan jumlah hemoglobin  masih  normal, maka  seseorang dikatakan  mengalami  kurang gizi  besi  saja  (tidak  disertai  anemia  gizi  besi).  Keadaan  kurang  gizi  besi  yang  berlanjut  dan  semakin  parah  akan  mengakibatkan  anemia  gizi  besi,  dimana tubuh tidak lagi mempunyai cukup zat besi untuk membentuk  hemoglobin yang diperlukan dalam sel­sel darah yang baru 

4.   Tablet Tambah Darah (HD) adalah  suplemen  zat  gizi  yang 

mengandung  minimal  60  mg  besi  elemental  dan  0,25  mg asam  folat 

(sesuai  rekomendasi  WHO). TTO yang  digunakan  dapat  berupa TTO

program, TTO Mandiri, TTO generik dan TTO dengan  merek dagang. 

5.   Kesehatan Reproduksi adalah  suatu  keadaan  fisik,  mental  dan 

sosial  yang  utuh,  bukan  hanya  bebas  dari  penyakit  atau  kecacatan  dalam  segala  aspek  yang  berhubungan  dengan  sistem  reproduksi,  fungsi  serta  prosesnya.  Atau  suatu  keadaan  dimana  manusia  dapat  menikmati  kehidupan  seksualnya  serta  mampu  menjalankan  fungsi  dan  proses  reproduksinya  secara  sehat dan aman. 

6.   Produktivitas kerja merupakan  suatu  konsep  yang  menunjukkan 

adanya  kaitan  output  dengan  input  yang  dibutuhkan  seorang  pekerja  kerja  untuk  menghasilkan  produk.  Pengukuran  produktivitas  dilakukan  dengan  melihat jumlah  output yang  dihasilkan  oleh  setiap  pekerja  selama  sebulan.  Seorang  pekerja  dapat  dikatakan  produktif  apabila  ia  mampu  menghasilkan  jumlah  produk  yang  lebih  banyak  dibandingkan dengan pekerja  lain dalam waktu yang sama . 

7.   Serikat pekerja/serikat buruh adalah  organisasi  yang  dibentuk 

dari,  oleh,  dan  untuk  pekerja/buruh  baik  di  perusahaan  maupun  di  luar  perusahaan  yang  bersifat  bebas,  terbuka,  mandiri,  demokratis,  dan  bertanggung  jawab  guna  memperjuangkan,  membela  serta  melindungi  hak dan  kepentingan  pekerja/buruh. 

8.   Pengusaha adalah  orang  pribadi  atau  badan  dalam  bentuk  apa 

pun  yang  dalam  kegiatan  usaha  atau  pekerjaannya  menghasilkan  barang,  mengimpor  barang,  mengekspor  barang,  melakukan  usaha  perdagangan,  memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah  pabean,  melakukan  usaha  jasa,  atau  memanfaatkan  jasa  dari  luar  daerah  pabean. 

(27)

9.   Tempat Kerja adalah  ruangan  atau  lapangan,  tertutup  atau  terbuka ,  bergerak atau tetap di mana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki  untuk  keperluan  suatu  usaha  dan  di  mana  terdapat  sumber  atau  sumber­sumber  bahaya.  Yang  termasuk  tempat  kerja  adalah  semua  ruangan,  lapangan,  halaman  dan  sekelilingnya  yang  merupakan  bagian­bagian atau  berhubungan dengan tempat kerja  tersebut. 

10. Usia Produktif adalah  usia  ketika  seseorang  masih  mampu  bekerja 

dan menghasilkan sesuatu,  usia  antara  15­64 tahun. 

E. LANDASAN HUKUM

1.   Undang­Undang No.1 Tahun  1970, tentang Keselamatan  Kerja 

2.   Undang­Undang No .23  Tahun  2002,  tentang Perlindungan Anak  3.   Undang­Undang No.13 Tahun  2003, tentang Ketenagakerjaan 

4.   Undang­Undang No.32 Tahun  2004, tentang Pemerintahan  Daerah  5.   Undang­Undang No .36 Tahun  2009, tentang Kesehatan 

6.   Keputusan  Bersama  Direktur  Jenderal  Pembinaan  Hubungan  Industrial  dan  Pengawasan  Ketenagakerjaan  (Binawas)  Departemen  Tenaga  Kerja dan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan  Masyarakat  Departemen Kesehatan Nomor Kep 22/BW/1996 dan Nomor 202/BM/  DJ/BGM/II/1996 tanggal  13  feb ruari  1996 tentang " Penanggulangan  Anemia  Gizi  (Kekurangan Zat  Besi)  bagi  Pekerja  Perempuan 

7.   Peraturan  Bersama  Menteri  Negara  Pemberdayaan  Perempuan,  Menteri  Tenaga  Kerja  dan  Transmigrasi  dan  Menteri  Kesehatan  No  48/Men .PP/XII/2008,  Nomor  Per.27 /  Men/XII/2008,  Nomor  1177/  Menkes/PB/XII/2008  tentang  Peningkatan  Pemberian  ASI  Selama  Kerja  di Tempat Kerja. 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(28)

BAB II

KEBIJAKAN DAN STRATEGI

A. KEBIJAKAN

1. Mendorong  pekerja  untuk  berperan  aktif  dalam  mewujudkan 

kesehatan dirinya sehingga  produktif 

2.   Mendorong  pengusaha  melaksanakan  kewajiban  dan  memberikan  hak­hak  pekerja  dalam  mewujudkan  pekerja  perempuan  yang  sehat  dan produktif 

3.   Meningkatkan  dukungan  instansi  terkait  dan  semua  pemangku  kepentingan  (Pemerintah,  Pengusaha,  Pekerja,  PT.  Jamsostek,  PT.  ASKES,  APINDO,  Serikat  Pekerja/Serikat  Buruh)  dalam  pelaksanaan  GP2SP. 

4.   Meningkatkan peran pemerintah pusat dan daerah dalam pembinaan  dan pengawasan  pelaksanaan GP2SP. 

B. STRATEGI

Untuk  terlaksananya  GP2SP  di  setiap  tempat  kerja  perlu  didukung  oleh  

Tim GP2SP  selaku  penggerak di  setiap jenjang administratif.  

Adapun strategi penggerakannya sebagai  berikut:  

1. Mengintegrasikan GP2SP  dalam program keselamatan dan kesehatan 

kerja  di tempat kerja; 

2.   Meningkatkan  komitmen  pengusaha,  pekerja  dan  pemangku  kepentingan dalam  melaksanakan GP2SP 

3.   GP2SP  dilakukan secara  berkesinambungan  dengan  mengoptimalkan  sumber daya  yang  ada 

4 .   Menjadikan  gerakan  bersama  yang  terpadu  dan  saling 

menguntungkan 

5.   Meningkatkan pemantauan, pembinaan dan evaluasi 

(29)
(30)

BAB III PROGRAM GP2SP

Program  GP2SP  diarahkan  pada  pemenuhan  kecukupan  gizi  pekerja  perem-puan,  pemeriksaan  kesehatan  pekerja  peremperem-puan,  pelayanan  kesehatan  re-produksi  pekerja  perempuan dan  peningkatan  pemberian  ASI  selama  waktu  kerja  di tempat kerja. 

A. PEMENUHAN KECUKUPAN GIZI PEKERJA PEREMPUAN

Pekerja  perempuan merupakan kelompok sasaran yang rawan  terjadinya  anemia  gizi  yang  disebabkan  oleh  menstruasi,  asupan  gizi  yang  rendah,  tingkat pengetahuan gizi yang kurang dan lain sebagainya. Kegiatan untuk  pemenuhan  kecukupan gizi  pekerja  perempuan  melalui: 

1. Penilaian Status Gizi

Penilaian  status gizi  pekerja perlu dilakukan, agar dapat menentukan  kebutuhan  gizi  yang  sesuai  serta  pemberian  intervensi  gizi  bila  diperlukan.  Penilaian status gizi  dapat dilakukan melalui : 

a.   Antropometri 

Antropometri  merupakan  metode  yang  paling  sering  digunakan  dalam  penilaian  status gizi.  Metode ini  menggunakan  parameter  berat badan  (BB)  dan tinggi  badan  (TB).  Melalui  kedua  parameter  tersebut, dapat dilakukan penghitungan Indeks Masa Tubuh (IMT)  dengan  rumus sebagai  berikut : 

IMT

_ _ _ _b 」イ ⦅⦅⦅⦅⦅⦅⦅ セ⦅⦅ 。 エb。 、 」N ャiQ HZNNNN ォ ァ ZNNNZN I

_ _ _

_

TinggiBadu n(m)xTinggiBad an(m)

Dari  penghitungan  IMT,  dilakukan  penilaian  status  gizi  dengan  klasifi  kasi  sebagai  berikut : 

IMT  Status Gi zi

Gizi Kuran g

< 17.0

17 .0-18.5 Gizi Kurang

G izi Baik

18 .5 - 25. 0

Gizi Lebih

>27.0 - - Gizi Lebih

> 25.0 - 27. 0

Kategori  

Sanga'tk';; u s  

Kur us

Normal  

Gemuk  

Sa nga! Ge muk 

Sumber: PUGS, 2005

(31)

Pengukuran  IMT merupakan  cara  yang  sederhana  untuk  menilai  status  gizi,  khususnya  yang  berkaitan  dengan  kekurangan  dan  kelebihan  berat  badan.  Cara  ini  hanya  dapat  diterapkan  pada  orang  dewasa  berumur  >  18  tahun  dan  tidak  dapat  diterapkan  pada  perempuan  hamil. 

Agar status gizi  pekerja  perempuan di  setiap perusahaan/ tempat  kerja  dapat terpantau , maka  budayakan  pengukuran berat badan  pekerja  perempuan secara  rutin 1 (satu) bulan sekali . 

Setelah  diketahui  klasifi  kasi  status  gizi  pekerja  perempuan,  intervensi  yang  tepat  dapat  diberikan  dengan  pengaturan  menu  makanan. 

b.  Pemeriksaan  Klinis 

Pemeriksaan  klinis  merupakan  metode  untuk  menilai  status  gizi  masyarakat,  didasarkan  atas  perubahanperubahan  yang  terjadi  yang  dihubungkan  dengan  ketidakcukupan  zat  gizi .  Penggunaan 

metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical

survey) . Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat  tanda-tanda kekurangan salah satu atau lebih zat gizi, dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut dan mukosa mulut atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiraid.

c.

Pemeriksaan Biofisik

Pemeriksaan biofi sik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan .

Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik, cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.

d. Pemeriksaan Biokimia

Pemeriksaan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh, antara lain: darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Pemeriksaan ini biasanya digunakan untuk pengukuran status gizi mikro. Pada umumnya yang dinilai adalah zat besi, vitamin, protein dan mineral.

(32)

2.

Kebutuhan Gizi Pekerja Perempuan

Kebutuhan gizi pekerja perempuan yang dimaksud meliputi kebutuhan  gizi  untuk sehari, selama  bekerja  (8  jam) dan dalam  keadaan  khusus. 

a.

Kebutuhan Gizi sehari Pekerja Perempuan

Perhitungan  Kebutuhan  gizi  seorang  pekerja  dalam  keadaan  lingkungan normal (suhu, tekanan udara, kelembaban) dan tubuh  dalam  kondisi  sehat/  normal  maka  kebutuhan  gizi  terutama  energi  dipengaruhi oleh : jenis  aktivitas,  usia,  ukuran  tubuh, jenis  kelamin  dan  kondisi  khusus  (hamil,  menyusui,  lembur dan  sa kit)  serta  faktor risiko  lainnya di  tempat kerja. 

Kebutuhan  gizi  pekerja  selama  sehari  dipenuhi  oleh  pekerja  selama  di  rumah dan  di  tempat kerja.  

Sebelum  mengatur  menu  makanan,  terlebih  dahulu  perlu   diketahui  status  gizi  pekerja,  kemudian  memperhitungkan   kebutuhan energi  per hari dengan mengacu  pada  lampiran .1.  

• Aktivitas

Berat ringannya beban kerja yangditerima oleh seorang pekerja  dapat  digunakan  untuk  menentukan  lamanya  kemampuan  melakukan  pekerjaan  sesuai  dengan  kapasitas  kerjanya.  Semakin  berat beban  kerja, sebaiknya semakin  pendek waktu  kerjanya agar terhindar dari kelelahan dan gangguan fi siologis  yang  berarti  atau  sebaliknya.  Pengelompokan  aku  vitas  atau  beban  kerja  (ringan,  sedang  dan  berat)  berdasarkan  proporsi  waktu  kerja  mengacu  pada  FAO/WHO  (1985)  yang  dimodifi  kasi  (WNPG  VIII,  2004)  sebagaimana  dapat dilihat pada  tabel  berikut: 

(33)

Tabel.1  Pengelompokan Aktivitas pada  Perempuan dan  Laki­Iaki  Kelompok  Aktivitas  Jenis Kegiatan  Faktor Aktivitas  Ringan 

• 

Laki­Iaki 

Perem pua n 

75%  dari  waktu  yang  digunakan  adalah  untuk  duduk  atau  berdiri  dan  25%  untuk 

kegi ata n berdiri dan berpindah (m o ving)

1.58  145  Sedang 

• 

Laki­Iaki 

• 

Perempuan 

25%  waktu  yang  digunakan  adalah  untuk  duduk  atau  berdiri  dan  75%  adalah  untuk 

kegiatan  kerja  khusus  dalam  bidang 

pekerjaaannya.  1.67  1.55  Berat 

• 

• 

Laki­Iaki  Perempuan 

40%  dari  waktu  yang  digunakan  adalah  untuk  duduk  atau  berdiri  dan  60%  untuk  kegiatan  kerja  khusus  dalam  bidang  pekerjaannya. 

1.88  1.75 

­

Sumber : Prosiding WNPG  VIII,  2004 

Contoh  jenis  aktivitas  berdasarkan  pengelompokan  beban  kerja  dapat diuraikan sebagai  berikut: 

Beban  kerja  ringan:  aktivitas  kantor  tanpa  olahraga,  aktivitas  fisik  yang  tidak  menguras  tenaga,  duduk  memotong kedua  ujung batang rokok (pada  perempuan)  Beban  kerja  sedang:  bekerja  dimana  harus  naik  turun  tangga,  olahraga  ringan,  pekerjaan  rumah  tangga,  berdiri  mengisikan  batang  korek  api  ke  dalam  kotak  (pada  perempuan) 

Beban  kerja  berat:  pekerjaan  lapangan,  pekerjaan  kuli  bangunan,  driller,  ngeprek/  memecah  batu  (pada  perempuan),  berdiri mengangkat balok kayu 

Usia

Dengan  bertambahnya  umur,  kebutuhan  zat  glzl  seseorang  relatif lebih rendah  untuk tiap kilogram  berat badannya. 

• Ukuran tubuh (tinggi dan berat badan)

Makin besar ukuran tubuh, semakin  besar kebutuhan gizinya.  Kebutuhan  zat  gizi  ditentukan  terutama  oleh  komponen  lemak dari  berat badan. 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

[image:33.413.72.375.59.217.2]
(34)

­

-•   Jenis kelamin 

Kebutuhan  zat  gizi  antara  laki­Iaki  dan  perempuan  dewasa  berbeda,  terutama  disebabkan  oleh  perbedaan  komposisi  tubuh  (komponen  lemak  dan  non­Iemak)  dan  jenis  aktivitasnya. 

•   Faktor lain penentu kebutuhan gizi yaitu: 

Keadaan  fi siologis;  pada  kondisi  hamil  dan  menyusui 

kebutuhan  zat  gizi  meningkat  dari  keadaan  biasa  akibat  meningkatnya  metabolisme,  konsumsi  makanan  untuk  kebutuhan  diri  sendiri  dan  bayi  yang  dikandung  serta  persiapan  produksi ASI 

Keadaan  khusus;  seperti  pada  pemulihan  kesehatan  dan  anemia  maka  kebutuhan  zat  gizi  lebih  besar dari  keadaan  biasanya.  

Keadaan  lingkungan  kerja;  seperti  suhu  ekstrim,  tekanan   udara,  radiasi  dan  bahan  kimia  meningkatkan  kebutuhan   zat gizi.  

[image:34.413.95.355.388.526.2]

b.   Kebutuhan Gizi  Pekerja  Perempuan selama Bekerja (8 jam)  Setelah  diketahui  kebutuhan  energi  perhari,  langkah  selanjutnya  adalah menentukan kebutuhan energi selama waktu kerja  (8 jam)  dengan asumsi keadaan lingkungan dalam keadaan normal (suhu,  tekanan  udara,  kelembaban)  dan  tubuh  dalam  kondisi  sehat/  normal, kebutuhan energi dan protein pekerja perempuan adalah   sebagai  berikut:  

Tabel.2  Kebutuhan  Energi  dan  Protein selama  bekerja  (8 jam)  

Usia/jenls . Mセ Kebutuhan energi (kkal) Kebutuhan protein (I )

Perc mpu an

pekerjaan Perempuan

19· 29 tahun 

R ingan  72 0 2 0

-

20

Ber<'lot

Sedan g 760

20 860 , -30­49 Tahun  Rl ngan  20 Sedan g 680 20 720 20 Berat  820

S().o64 tahun

Rin g an  660 I  2 0

­

70 0 20

Be- r a t

Sedang

8 00

J

20

Sumber :  AKG  2004 

(35)

C. Kebutuhan Gizi Menurut Kondisi Khusus Pekerja Perempuan

1) Pekerja Perempuan Selama Hamil

Pekerja  perempuan  yang  hamil  membutuhkan  tambahan  energi  untuk  perkembangan  janinnya .  Perempuan  yang  berstatus  gizi  baik  dengan  tingkat  aktivitas  ringan­sedang  membutuhkan kalori  ekstra  sebesar: 

•   180 kkal/hari pada  trimester I 

•   300 kkal/hari pada  trimester 2 dan 3 

2) Pekerja Perempuan Selama Menyusui

Seorang  pekerja  perempuan  yang  sedang  menyusui 

membutuhkan  energi  tambahan  untuk  produksi  ASI,  energi  yang perlu  ditambahkan sebesar: 

•   700 kkal/hari pada  6 bulan  pertama  •   550 kkal/hari pada  6 bulan  berikutnya 

3) Pekerja anemia gizi besi

Untuk pekerja  anemia gizi  besi  diberikan  suplemen tablet besi  dengan  dosis  60  mg  2  kali  seminggu  sampai  anemia  teratasi.  Selain  itu,  pekerja  dianjurkan  mengkonsumsi  makanan  bergizi  seimbang yang  kaya  zat  besi  seperti  hati  , daging,  ikan,  ayam,  telur dan sayuran hijau. Khusus bagi pekerja perempuan, untuk  mencegah  anemia dianjurkan  pemberian tablet tambah darah  dengan  dosis  60  mg  per  minggu  selama  16  minggu  setiap  tahun . Selama  masa  haid diberikan  60  mg zat  besi  tiap hari. 

4) Pekerja lembur, shift kerja

Bagi  pekerja  yang  lembur  selama  3  jam  atau  lebih  perlu  diberikan makanan dan minuman tambahan, berupa makanan  selingan yang padat gizi. Hal ini berlaku pula bagi pekerja shift  malam,  termasuk  pekerja  perempuan  yang  bekerja  antara  pukul 23.00­07.00. contohnya : bubur kacang hijau, teh manis  dengan roti  isi  selai,  tahu  isi,  dll 

5) Lingkungan Kerja Yang Berisiko

•   Pada  tempat kerja  dengan  suhu  tinggi  perlu  diperhatikan  kebutuhan  air  dan  elektrolit  yang  dapat  diperoleh  dari  garam  dan  sari  buah. 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(36)

•   Pekerja  yang  pekerjaannya  menggunakan  bahan  kimia  membutuhkan tambahan zat gizi. 

•   Pekerja  yang  berhubungan  dengan  bahan  radiasi  perlu  ditambahkan  makanan  dan  minuman  yang  mengandung  Se  dan Zn,  seperti  banyak  terkandung  pada  daging,  hati,  kacang­kacangan. 

3. Penyediaan Makanan Bagi Pekerja Perempuan

Setelah  mengetahui  kebutuhan  energi  (kalori)  sehari  dan  selama  bekerja  (8 jam), perlu  dipikirkan cara  memenuhi kebutuhan  tersebut  dalam menu pekerja sehari­hari.  Karbohidrat, protein, lemak, vitamin  dan  mineral,  serta  zat  zat  lain  dalam  tubuh  perlu  diperhati  kan  proporsinya agar seimbang (WNPG  VIII,  2004), yaitu  : 

•   Karbohidrat (50­65% dari total energi)  •   Protein (10­20% dari total energi) 

•  Lemak (20­30% dari total energi) 

Kebutuhan  energi  diterjemahkan  ke  dalam  porsi  bahan  makanan  seperti pada  Lampiran 2. Pemberian  makanan  utama di  tempat kerja  dilakukan  sa at  istirahat  (4­5  jam  setelah  kerja)  diselingi  pemberian  kudapan  (makanan selingan) . 

Dalam  penyediaan  makanan  bagi  pekerja  perlu  memperhatikan  langkah­Iangkah sebagai  berikut: 

a. Standar Porsi Makanan yang Memenuhi Kecukupan Gizi Pekerja

Standar  porsi  makanan  bagi  pekerja  menurut  usia  dan  kategori 

aktivitas fi sik lihat lampiran.2 

b. Perencanaan Menu Makanan bagi Pekerja selama Bekerja

Perencanaan  menu  pekerja  merupakan  serangkaian  kegiatan  menyusun  hidangan  dalam  variasi  yang  serasi  untuk  memenuhi  kebutuhan  gizi  pekerja.  Tujuan  perencanaan  menu  sebagai  pedoman  dalam  kegiatan  pengolahan,  mengatur  variasi  dan  kombinasi  hidangan,  menyesuaikan  biaya  yang  tersedia,  serta  menghemat  waktu  dan  tenaga .  Perencanaan  menu  dilakukan 

(37)

untuk  beberapa  hari  atau  yang  disebut  siklus  menu,  misalnya  5  hari atau  10 hari . 

Penyusunan  menu berdasarkan  siklus menu berfungsi untuk :  1)  Variasi  dan  kombinasi  bahan  makanan  dapat  diatur, 

sehingga : 

•   Pekerja tidak bosan, karena terlalu sering menghidangkan  jenis makanan tertentu 

•   Pada  saat tertentu dapat dihidangkan  makanan kesukaan  yang  menjadi makanan favorit bagi  pekerja 

•   Dapat  menanamkan  kebiasaan  menyukai  berbagai  macam­macam  makanan.  Kebiasaan  makan  yang  baik  akan  mengurangi  resiko terjadinya  masalah gizi . 

2)   Makanan  yang  disajikan  dapat  disusun  sesua i  dengan  kebutuhan  gizi  pekerja.  (Misalnya  pada  kondisi  : Sakit,  hamil  atau menyusui) 

3)   Menu  dapat  disusun  sesuai  dengan  biaya  yang  tersedia,  sehingga :Mengurangi  adanya  kebocoran  dana  dan  dapat  menghindari  pembelian  bahan  makanan  yang terlalu  banyak  atau  berlebihan 

4)  Waktu  dan  tenaga  yang  tersedia  dapat  digunakan  sebaik-baiknya 

5)  Mengurangi  beban  mental,  karena  segala  sesuatunya  telah  diatur jauh hari sebelumnya.  

Contoh  menu  makanan  bagi  pekerja  selama  bekerja  (8  jam)   lihat lampiran 3.  

c. Cara pengelolaan makanan

Dalam  menyediakan  makanan  bagi  pekerja  ada  beberapa  hal  yang perlu di  pertimbangkan dalam menetapkan tatalaksana  dan  penyelenggaraan  makanan bagi  pekerja diantaranya: 

1)   Kerjasama  perusahaan dengan  pekerja  (swakelola) 

Perusahaan  menyediakan  sarana  (tenaga,  dana,  peralatan,  ruangan)  dan  pelaksanaan  kegiatan  dibebankan  pada  tenaga  kerja. 

Gerakon Pekerjo Perempuon Sehot Produktif

(38)

2)   Diborongkan kepada  pihak jasa  boga 

•   Perusahaan  hanya  menyediakan  ruang  makan  dan  meja  kursi  saja.  Dan  sarana  lain  disediakan  oleh  jasa  boga.  Dengan  demikian  pihak jasaboga  mengirim makanan jadi  dalam jumlah besar. 

•   Perusahaan  menyediakan  dapur,  ruang  makan  dan  peralatannya. Pihakjasa boga mempekerjakan pegawainya  untuk pemaskan makanan . 

•   Perusahaan  menyediakan dapur,  ruang makan,  peralatan  dan  tenaga .  Pihak  jasa  boga  memanfaatkan  sarana  yang  ada  dengan  ketentuan  yang  telah  ditetapkan  perusa haa n. 

•   Untuk  ketiga  cara  tersebut,  harus  ada  surat  perjanjian  resmi  atas  ketetapan  yang  telah  disepakati.  Unsur  pengawasan kuatintas dan kualitas harus dari keduabelah  pihak yang bersepakat . 

3)   Dengan  kafetaria/ kantin 

Pedagang  yang  telah  mendapat  izin  dari  perusahaan  berkumpul  disuatu  tempat  yang  disediakan  dan  pekerja  dapat menukar kupon dengan  makanan yang dijajakan sesuai  dengan keinginan. 

4. Pencegahan dan penanggulangan Anemia Gizi Besi

Anemia  adalah suatu  keadaan  dimana  kadar Hemoglobin  (Hb)  dalam  darah  kurang  dari  normal,  yang  berbeda  untuk  setiap  kelompok  umur dan jenis kelamin  (SE  Menkes Nomor : 736a/Menkes/XI/1989),  yaitu: 

•   Anak Balita  : 11 gram% 

•   Anak Usia Sekolah  : 12 gram%  •   Wanita  Dewasa  : 12 gram%  •   Laki­Iaki  dewasa  : 13 gram% 

•   Ibu Hamil: 11 gram% 

•   Ibu menyusui >3  bulan  : 12 gram% 

(39)

Penyakit gangguan gizi yang masih sering ditemukan di Indonesia dan  merupakan masalah gizi  utama salah satunya  adalah anemia gizi  besi  (AGB) . Anemia gizi  tidak hanya disebabkan oleh kekurangan  besi  tapi  juga  bisa  disebabkan  oleh  kekurangan  vitamin  B12,  tembaga,  dan  folat. 

Masalah  anemia  gizi  besi  ini  dihadapi  pula  oleh  pekerja  perempuan,  masalah  ini  akan  berdampak  terhadap  kematian  ibu  dan  anak,  rendahnya  prestasi dan menurunnya produktivitas kerja.  Oleh  karena  itu,  upaya  penanggulangan  anemia  defi  siensi  gizi  bagi  pekerja  perempuan  sangat  penting  dan  mendasar.  Upaya  tersebut  akan  memberikan  dampak  positif  bagi  peningkatan  produktivitas  kerja.  Dalam  jangka  panjang,  perbaikan  anemia  defi  siensi  gizi  pekerja  perempuan  akan  memberikan  sumbangan  lahirnya  anak­anak  Indonesia yang sehat dan  cerdas. 

Beberapa  kemungkinan  yang  melatarbelakangi  terjadinya  anemia  antara  lain: 

a.   Kekurangan  konsumsi  akibat  kurangnya  daya  beli  masyarakat  untuk  mengkonsumsi  sumber  sumber  zat  besi,  terutama  dalam  bentuk besi­hem. 

•   Secara alamiah, proses penyerapan besi di dalam tubuh sangat  terbatas .  Jika  mengkonsumsi  sumber  zat  besi  dari  protein  nabati, yang bisa  terserap hanya sekitar 1­2% saja,  sedangkan  jika  berasal  dari  protein  hewani,  yang  dapat terserap  sekitar  10­20%,  hal  ini  dapat dikaitkan  dengan  ketersediaan  biologik  (bioavailability)  sumber  hewani  yang  lebih  tinggi  daripada  sumber protein nabati. 

•   Makanan yang kava  akan  kandungan zat besi  adalah makanan  yang  berasal  dari  hewani  (seperti  ikan,  daging,  hati,  ayam,  telur) 

•   Makanan  nabati  (dari  tumbuh­tumbuhan)  misalnya  sayuran  hijau  tua,  walaupun  kava  akan  zat  besi,  namun hanya  sedikit  yang  bisa  diserap  dengan  baik  oleh  usus  akibat  ketersediaan  biologiknya  (bioavailability)  yang  rendah.  sumber  besi  dari  nabati  dapat  diperoleh  dari  serealia  tumbuk,  kacang-kacangan, sayuran  hijau dan  beberapa jenis buah . 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(40)

•   Pemenuhan gizi  secara  seimbang selain  dengan  memperhati  kan  jumlah besi  yang terkandung dalam bahan  makanan juga  perlu diperhatikan kualitas besi di dalam makanan yang sering  disebut  sebagai  ketersediaan  biologik  (biavailability).  Oleh  karena  itu, menu makanan di  Indonesia sebaiknya  terdiri atas  nasi,  daging/ayam/ikan,  kacang­kacangan,  serta  sayuran  dan  buah­buahan . 

b.   Gangguan absorbsi 

Gangguan  absorbsi  pada  umumnya  dapat  terjadi  ketika  terjadi  penyakit­penyakit yang berkaitan  dengan gastro intestinal 

c. Meningkatnya  pengeluaran  zat  besi  dari tubuh 

Perdarahan  atau  kehilangan  darah  dapat  menyebabkan  anemia .  Hal  ini terjadi  pada  penderita: 

•   Kecacingan, Infeksi cacing tambang menyebabkan perdarahan  pada  dinding usus,  meskipun sedikit, tetapi jika  terjadi terus-menerus akan mengakibatkan hilangnya darah atau zat  besi.  •   Malaria pada  penderita Anemia Gizi  Besi  dapat memperberat 

keadaan  anemianya. 

•   Haid  dan  atau  persalinan.  Kehilangan  darah  pada  waktu  haid  yang  banyak  dan  atau  persalinan  berarti  mengeluarkan  zat  besi  yang ada  dalam darah. 

Perdarahan hebat 

Perdarahan akut (mendadak) 

Kecelakaan 

Pembedahan 

Pecah  pembuluh darah 

Pendarahan  kronik (menahun) 

Perdarahan hidung 

Wasir (hemoroid) 

Ulkus  peptikum 

Kanker atau  polip di  saluran  pencernaan 

Tumor ginjal atau  kandung kemih. 
(41)

d.   Meningkatnya  kebutuhan tubuh akan  zat  besi 

•   Pada  masa  pertumbuhan  seperti  anak­anak  dan  remaja,  kebutuhan tubuh akan  zat  besi  meningkat tajam. 

•   Pada  masa  kehamilan,  kebutuhan  zat  besi  meningkat karena  zat  besi  diperlukan  untuk  pertumbuhan  janin  serta  untuk  kebutuhan ibu sendiri. 

•   Kebutuhan  tubuh  akan  zat  besi  juga  akan  meningkat  pada  penderita penyakit menahun seperti TBC. 

e.   Berkurangnya  pembentukan/produksi  sel  darah  merah  Zat  gizi  yang  berperan  dalam  pembentukan  Hb  diantaranya  besi,  protein, piridoksin (Vitamin  B6),  asam  folat dan vitamin  B12  yang  berperan sebagai katalisator dalam sintesis hem di dalam molekul  Hb,  vitamin  C mempengaruhi  absorbsi  dan  pelepasan  besi  dari  transferin ke  dalam jaringan tubuh, dan vitamin E mempengaruhi  stabilitas  membransel  darah  merah.  selain  itu,  pembentukan  sel  darah merah dapat terhambat akibat adanya  penyakit kronik. 

f.   Faktor keturunan 

g.   Meningkatnya  penghancuran  sel  darah  merah/sel  darah  merah  prematurt, yang disebabkan karena  : 

•   Pembesaran  limpa 

•   Kerusakan  mekanik pada  sel  darah  merah 

•   Reaksi  autoimun  terhadap  sel  darah  merah,  meliputi  : 

Hemoglobinuria nokturnal paroksismal, S/erositosis herediter, Elliptositosis herediter

•   Kekurangan  G6PD  •   Penyakit sel  sabit  •   Penyakit hemoglobin C 

•   Penyakit hemoglobin S­C 

•   Penyakit hemoglobin E 

•  Thalasemia 

Upaya  penanggulangan  anemia  gizi  bagi  pekerja  perempuan  dilakukan  melalui  pemberian  tablet  tambah  darah,  obat  cacing  dan  obat lainnya sesuai  penyebabnya 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(42)

a.  Tata  Cara  Pelayanan: 

•   Selama  masa  haid  diberikan  TTO  60  mg  tiap  hari  dan  dianjurkan minum 1 (satu) tablet selama  10 (sepuluh) hari. 

•   Setiap calon  pengantin wanita, dianjurkan mengkonsumsi  TTO  sebelum  pernikahan  dengan  dosis  seminggu  sekali  1  (satu)  tablet  selama  16  minggu  (SK  Dirjen  Pembinaan 

Kesehatan  Masyarakat  Nomor:  1656/BM/DJ/BGM/ 

XI/97  tentang  Penanggulangan  Anemia  Gizi  untuk  Calon  Pengantin Wanita) . 

•   Wanita  Usia  Subur  (WUS)  dianjurkan  minum  TTD  secara  rutin  dengan dosis 1 (satu) tablet setiap  minggu. 

•   Ibu  Hamil  dianjurkan  minum  TTD  dengan  dosis  1  (satu)  tablet  setiap  hari  minimal  90  hari  selama  masa  kehamilannya .  Bila  kadar  Hb  Ibu  Hamil  <11  gram%,  diberikan  3  tablet  sehari  selama  90  hari  kehamilannya,  dan 42  hari setelah  melahirkan. 

•   Ibu  Nifas  dianjurkan  minum  TTD  dengan  dosis  1  (satu)  tablet setiap hari dan 2 (dua)  Kapsul Vitamin A 200.000 IU  selama  nifas (42  hari setelah  melahirkan). 

•   Untuk  pekerja  Anemia  Gizi  Besi  diberikan  TTD  dengan  dosis 60 mg 2x  seminggu sampai anemia teratasi. 

•   Bagi  pekerja  yang  menderita  anemia  karena  kecacingan  dapat  diberikan  obat  cacing  3  hari  sebelum  mulai  diberikan  tablet  tambah  darah.  Preparat  yang  digunakan  adalah  Pyrantel  Pamoate  dengan  dosis  tunggal  500  mg  atau  Mebendazole  dengan  dosis  tunggal  500  mg  atau  preparat  Albendazole  dengan  dosis  tunggal  400  mg.  Untuk  mencegah  timbulnya  kecacingan,  diberikan  obat  cacing setiap 6 (enam)  bulan sekali. 

•   Bagi  pekerja  perempuan  untuk  mencegah  anemia,  dianjurkan  pemberian  TTD  dengan  dosis  60  mg  per  minggu selama  16 minggu setiap tahun. 

b.   Pengadaan  Dan  Oistribusi Tablet 

•   Pengadaan TTD  dilakukan  oleh  perusahaan. 

(43)

•   DistribusiTTD kepada seluruh pekerja perempuandilakukan  melaui klinik perusahaan atau sasaran  lain. 

SKEMA PEMBERIAN TABLET TAM BAH OARAH

PAOA GP2SP 01 TINGKAT PERUSAHAAN

Tablet  besi  ralat  1x  per minggu,  Haid  : 2 ­ 3  perhari selama  10 

Tablet  besi  ralat  1x  per minggu  selama  16  minggu, Haid  : 1 x  1 sehari  perhari  selama  10 hari 

,---,'---

---..

セ@

RUJUK

Cari  penyebab 

penyakit dan  obat 

, ­ ­ ­ .  

Hb  > 12 g 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

[image:43.415.56.361.130.423.2]
(44)

B. PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA PEREMPUAN

Pemeriksaan  kesehatan  bagi  pekerja  disesuaikan  dengan  jenis  pajanan  di  tempat  kerja.  Pemeriksaan  kesehatan  ini  berlaku  bagi  semua  pekerja  di  lingkungan  perusahaan  baik  pekerja  tetap  maupun  kontrak  yang  meliputi : 

1. Pemeriksaan Kesehatan Awal Bekerja

a)  Pemeriksaan  Kesehatan  Pra  kerja 

Sebagai  karyawan  baru,  pemeriksaan  kesehatan  dilakukan  sebelum penempatan seorang calon pekerja pada suatu pekerjaan  ya ng spesifi  k 

b)  Pra  Penempatan 

Pemeriksaan  kesehatan pra  penempatan dilakukan pada  seorang  pekerja  yang  dipindahkan  ke  pekerjaan  lain  dengan  faktor  risiko  yang  berbeda dengan sebelumnya. 

2. Pemeriksaan Kesehatan Selama Bekerja

a)  Pemeriksan  Kesehatan  Berkala 

Pemeriksaan  kesehatan  berkala  menurut  Permenakertrans  Nomor 02/Men/1980 perlu  dilakukan  sekurang­kurangnya  sekali  dalam  setahun  bagi  pekerja  perempuan  termasuk  pemeriksaan  Hb. 

b)  Pemeriksaan  Kesehatan  Khusus 

•   Pemeriksaan  kesehatan  khusus  dilakukan  apabila  ada  suatu  pajanan  tertentu  yang  memerlukan  pengamatan  lebih,  misalnya  pekerja  ditempat  bising,  debu/silica,  suhu  ekstrim  dan  bahan  kimia .  OSHA  menetapkan  daftar  bahan­bahan  yang  bila  terdapat  di  tempat  kerja,  maka  pekerjanya  mutlak  dllakukan  pemeriksaan  kesehatan  khusus . 

•   Pekerja  perempuan  berusia  40  tahun  ke  atas  perlu  mendapatkan  pemeriksaan  kesehatan  khusus terkait dengan  risiko  kesehatan  pad a  perempuan,  seperti  pemeriksaan  Pap  smear 

(45)

3. Pemeriksaan Kesehatan Akhir Bekerja

a)  Pemeriksaan  Kesehatan  Pasca  penempatan 

Pemeriksaan  kesehatan  ini  dilakukan  setelah  pekerja  selesai  melaksanakan suatu tugas yang mengandung unsur yang berisiko  terhadap kesehatan  dan  beralih  ke  tempat tugas yang lain . 

b)  Pemeriksaan  Kesehatan  Setelah  Pensiun 

Pemeriksaan  ini  dilakukan  untuk  memeriksa  semua  aspek  yang  berhubungan  dengan  kesehatan  pekerja  selama  masa  pengabdiannya  Pemeriksaan  kesehatan  pekerja  perempuan  yang  perlu  dilaksanakan  secara  rutin  adalah  pemeriksaan  Hb  dan  pemeriksaan  status  gizi  dengan  pengukuran  antropometri  terutama  penimbangan  berat  badan.  Pemeriksaan  Hb  dan  pengukuran  antropometri  bagi  pekerja  perempuan  dapat  dilakukan  di  poliklinik  perusahaan  atau  bekerjasama  dengan 

fasilitas  pelayanan  kesehatan  lainnya.  Pendanaan  untuk 

pemeriksaan kesehatan disediakan oleh perusahaan atau program  PT.  Jamsostek,  PT.ASKES  dan Asuransi  Kesehatan  lainnya. 

1.   Penilaian status gizi  dengan antropometri 

•   Dilakukan  penimbangan  berat  badan  secara  rutin  setiap  bulan 

•   Berdasarkan  hasil  pengukuran  berat badan  hitung indeks  masa  tubuh pekerja  perempuan,  lakukan setiap  bulan 

•   Nilai status gizi  pekerja perempuan dengan menggunakan  klasifi  kasi  IMT,  lakukan setiap bulan 

•   Penilaian  status  gizi  dilakukan  oleh  petugas/kader  yang  terlatih 

2.  Pelaksanaan  Pemeriksaan  Hb  sebagai  berikut: 

a.   Untuk  mengevaluasi  hasil  kegiatan  program  GP2SP,  dianjurkan  pemeriksaan  Hb  dilakukan  selang  4  {em pat)  bulan  sekali,  sebelum  dan  sesudah  pemberian  tablet  tambah  darah .  Dengan  pemeriksaan  Hb  dapat  ditapis  penderita  anemia  gizi  yang  harus  diberikan  pengobatan  secara  khusus  (kuratif) . 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif

(46)

•   Bila  ditemui  pekerja  dengan  kadar  Hb  <12g%,  pemeriksaan  Hb  dilakukan  1 (satu)  bulan sekali  untuk  memantau  perkembangan  Hb  sampai  dengan  Hb  normal (Hb >12 g%)  sambil dicari penyebabnya. 

•   Bilamana  tidak  ada  peningkatan  kadar  Hb  pada  pemeriksaan  ke  II,  agar  dirujuk  ke  tingkat  yang  lebih  tinggi atau  Rumah Sakit. 

•   Bila  ditemukan pekerja  dengan kadar Hb  <8 g%,  perlu  di  rujuk  ke  tingkat yang  lebih  tinggi  atau  Rumah  Sakit  untuk mencari penyebab lainnya. 

b.   Metode  yang  digunakan  untuk  menentukan  kadar  Hb  darah  adalah  metode  Sahli  atau  Cyanmethemoglobin.  Bila  menggunakan  metode  Sahli,  angka  yang  didapat  perlu  di  konversi  dengan  faktor  1,13  kali.  Contoh:  hasil  pemeriksaan  Hb  Sahli  sebesar  10,5  g%  dikonversi  ke  Hb  Cyanmethemoglobin adalah  10,Sx1,13=11,9 g% 

C. PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI PEKERJA PEREMPUAN

Pelayanan  kesehatan  reproduksi  pekerja  perempuan  meliputi 

pelayanan: 

1. Sebelum hamil

a.   Promosi dan edukasi  tentang kesehatan  reproduksi 

b.   Pengetahuan  tentang  bahaya  di  tempat  kerja  yang  berpengaruh  terhadap kesehatan  reproduksi serta  penanggulangannya 

c.

Pemeriksaan  kesehatan  alat  reproduksi.  Pekerja  perempuan 

yang  berusia  40 tahun  ke  atas  perlu  mendapatkan  pemeriksaan  kesehatan  khusus  terkait  dengan  risiko  kesehatan  pada  perempuan,  seperti  pemeriksaan  Pap  smear  yang  dilakukan  minimall (satu)  kali  setahun. 

d.   Konseling  mengenai; 

•   Infeksi  Menular Seksual  (IMS)  •   Infeksi Saluran  Reproduksi  (ISR) 

•   Gizi  pekerja 

(47)

e.   Pemenuhan kecukupan  gizi 

f.   Pemantauan  BB/IMT 

g.   Pelayanan  KB 

h.   Pemberian  imunisasi  TT  bagi  pekerja  perempuan  saat  menjadi  calon  pengantin 

2.

Saat

Hamil

a)  Promosi  dan  edukasi  tentang  kesehatan  reproduksi  dan  tumbuh  kembang janin 

b)  Pengaturan  administratif  terkait  masalah  ergonomi  yang  dapat  mengganggu  kehamilan,  seperti  bekerja  sambil  berdiri  terlalu  lama, mengangkat beban  berat, shift malam, kerja  lembur, dll  c)  Meningkatkan  pengetahuan  bahaya  di  tempat  kerja  yang 

berpengaruh terhadap kehamilan  serta  penanggulangannya  d)  Penempatan pada tempat kerja yang sehat dan aman dari bahaya 

yang  mempengaruhi  kesehatan  ibu  hamil  dan  perkembangan  janin  

e)  Pemeriksaan kehamilan  minimal 4 kali  selama  kehamilan  

f)  Pemenuhan  kecukupan  gizi  pekerja saat  hamil   g)  Konseling  mengenai :  

•   Kehamilan 

•   Persiapan  melahirkan  •   Pemenuhan Gizi  ibu  hamil 

•  ASI  Eksklusif  

h)  Distribusi tablet tambah darah  

3. Saat

Melahirkan

a)  Konseling gizi  ibu menyusui dan  ASI  Ekslusif 

b)  Jaminan  untuk  persalinan  di  fasiltas  kesehatan  oleh  tenaga  kesehatan. 

c)  Mendapatkan cuti melahirkan 

d)  Mendapatkan buku  KIA 

e)  Mengikuti  Program  Perencanaan  Persalinan  dengan  Pencegahan  Komplikasi  (P4K) 

Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Praduktif

(48)

f)   Mendapatkan  jaminan  penanganan  bila  terjadi  komplikasi  pada  ibu dan  bayi 

4.   Pasca  Melahirkan 

a)  Pelayanan  KB  pasca  bersalin 

b)  Memberikan ASI  eksklusif 

c)  Konseling  menyusui 

d)  Pemberian 2 kapsul vitamin A selama  nifas 

e) 

Gambar

Tabel.1 Pengelompokan Aktivitas pada Perempuan dan Laki­Iaki 
Tabel.2  Kebutuhan Energi dan Protein selama bekerja (8 jam)  
Tablet besi ralat 
Tabel.S Jadual perencanaan kegiatan GP2SP di Perusahaan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Bila dikaitkan dengan perilaku penggunaan kosmetik pemutih pada pekerja perempuan penyapu jalan, diperkirakan perilaku tersebut merupakan tindakan untuk mempertahankan

Tingginya tenaga kerja yang didominasi pekerja perempuan khususnya di sektor informal di perkotaan membutuhkan perhatian semua pihak yang concern terhadap isue-isue

tidak dapat menghindarikecenderungan pluralitas dari keberagaman angkatan kerja, khususnya tenaga kerja perempuan.. Pekerja perempuan adarah bagian sDM yang paoa sait

Kebutuhan calon pengantin perempuan yang paling sangat dibutuhkan adalah informasi pemeriksaan kesehatan sebelum menikah dan informasi tentang tanda bahaya selama

Selama ber tahun tahun Desa Druju menjadi penyumbang terbesar pengiriman pekerja migran indonesia perempuan di Kabupaten Malang, sehingga di Desa Druju banyak ditemukan

Persepsi hambatan dari pengalaman partisipan adanya stigma petugas kesehatan yang masih memberikan perlakuan berbeda dalam menangani pasien perempuan pekerja seks

Setiap pemeriksaan kesehatan atau pemeriksaan fisik secara rutin atau berkala, terapi fisik, test-test yang tidak berhubungan dengan pengobatan atau diagnosa kondisi

Aktifitas Perempuan Pekerja Di Ladang Gambir Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan terhadap perempuan yang berkerja di ladang gambir di kampung kalang tanah Nagari