SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.E.Sy)
DWI ASTUTI HANDAYANI PUTRI 1110046100040
KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH
PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM) FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
iv
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu syarat memperoleh gelar strata 1 (S1) di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti hasil karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi
yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 12 November 2014
v
Dwi Astuti Handayani Putri. NIM 1110046100040. ANALISIS AKAD
MURABAHAH MARJIN BERTINGKAT BERDASARKAN FATWA DSN-MUI
NO. 84/DSN-MUI.XII/2012. Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi
Muamalat, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 1435 H/
2014 M.
Bank Syariah Mandiri merupakan Bank Umum Syariah yang berfungsi
sebagai lembaga intermediasi dari surplus unit ke defisit unit. Kegiatan usaha yang
dilakukan oleh Bank Syariah Mandiri adalah menghimpun dana, menyalurkan dana
dan jasa. Dalam menyalurkan dana, Bank Syariah Mandiri melakukan kegiatan
pembiayaan yang salah satunya menggunakan akad murabahah marjin bertingkat.
Dengan akad murabahah marjin bertingkat, maka Bank Syariah Mandiri
mendapatkan marjin (keuntungan) dari transaksi tersebut. Aplikasi akad murabahah
marjin bertingkat dalam melakukan jual beli ini harus mematuhi peraturan fatwa
DSN-MUI No. 84/DSN-MUI/XII/2012 tentang Metode Pengakuan Keuntungan al
Tamwil bi al-Murabahah (Pembiayaan Murabahah) Di Lembaga Keuangan Syariah.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik penelitian yang
digunakan adalah content analysis dan metode pendekatan yang digunakan adalah
vi
kesesuaian akad murabahah marjin bertingkat berdasarkan dengan Fatwa DSN-MUI
No. 84/DSN-MUI/XII/2012 tentang Metode Pengakuan Keuntungan al Tamwil bi
al-Murabahah (Pembiayaan Murabahah) Di Lembaga Keuangan Syariah.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa isi akad murabahah terdiri atas
pendahuluan, isi, dan penutup. Adapun kesesuaian akad murabahah marjin bertingkat
di BSM pada fatwa adalah terdapat ketentuan yang belum terpenuhi, mengenai
kepemilikan objek akad murabahah marjin bertingkat.
Kata kunci : Akad, Murabahah Marjin Bertingkat, Fatwa DSN-MUI.
Pembimbing : Dr. Muhammad Maksum, M. Ag.
vii Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘aalamin. Segala puji
hanya untuk Sang Pemberi Kehidupan. Segala syukur senantiasa dipanjatkan kepada
Sang Pemberi Nafas, Allahu Rabbi. Atas segala nikmat dan karunia yang tak pernah
henti, selalu tercurah dalam izin-Nya menjalankan kehidupan ini. Atas segala
kebahagian, kasih sayang dan keberkahan dalam setiap tarikan nafas ini.
Alhamdulillah, atas segala izin dan ridho-Nya, peneliti dapat menyelesaikan
penelitian ini.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah untuk manusia penyelamat dunia,
Rasulullah SAW. Sang penyelamat dunia dari masa kegelapan dan masa kebodohan,
menjadi masa penuh cinta kasih dan dikelilingi ilmu pengetahuan.
Tak lupa dalam penulisan penelitian ini peneliti mendapatkan begitu banyak
dukungan, doa, bantuan materiil maupun non materiil dari pihak-pihak yang telah
membantu saya dalam menyelesaikan penelitian ini. Dalam kesempatan ini, dengan
viii
sekretaris program studi Muamalat atas waktu, ilmu dan kesempatan menimba
ilmu kepada peneliti.
3. Dr. Muhammad Maksum, M. Ag, MA, sebagai dosen pembimbing peneliti.
Terima kasih atas ilmu, bimbingan, arahan, nasihat, kesabaran dan keikhlasan
hati dalam membimbing peneliti. Semoga Bapak selalu diberikan kesehatan,
selalu diberikan limpahan keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT.
4. Segenap staff Perputakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, staff
Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan studi kepustakaan guna
menyelesaikan skripsi ini.
5. Financing Operation Division (FOD) PT. Bank Syariah Mandiri bagian Legal
Division, kepada Pak Agung selaku Kepala Bagian, dan staff beliau, Pak
Muammar dan Pak Mayo. Terima kasih atas kempatan untuk mendapat
bimbingan dan berbagi ilmu dengan peneliti. Semoga segala kebaikan selalu
dilimpahkan kepada Bapak dan keluarga.
6. Segenap dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
khususnya dosen program studi ilmu hukum, yang telah memberikan berbagai
macam disiplin ilmu pengetahuan dengan tulus dan ikhlas, semoga ilmu
ix
keikhlasan ini sebagai amal jariyah untuk beliau semua.
7. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Sumardji dan Ibunda Menik. Terima
kasih atas semua doa, dukungan materiil dan non materiil, kesabaran dan
keikhlasan sehingga menguatkan dan meyakinkan peneliti untuk
menyelesaikan kewajiban.
8. Kakak tercinta, Siti Solehah Ariani yang selalu jadi teladan peneliti. Terima
kasih atas ilmu keteguhan hati dan mental baja dalam hidup ini. Adik
tercantik, Rayhani Jastika yang selalu menghibur kepenatan.
9. Sahabat hati Naufal el Ramadhian yang selalu setia menemani tiap langkah
penulis untuk menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih atas segala doa
waktu, ilmu, dukungan, motivasi, bimbingan dan kesabaran.
10. Sahabat kebanggaan dan tercinta, Janitha Triana yang selalu mendoakan,
memotivasi, mendukung dan menjadi pelipur lara peneliti. Terima kasih
sahabat.
11. Sahabat-sahabat terhebat, acan tersayang, Nazahah Begum Suhaimi Khan,
Gita Regita Dahmaniar, dan Jiehan Faradillah. Terima kasih untuk motivasi,
doa dan kebersamaan kita.
12. Keluarga besar Perbankan Syariah FSH UIN Syahid, khususnya PS E
angkatan 2010. Terima kasih atas waktu kebersamaan dan berbagi ilmu.
x
14. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penulisan penelitian ini yang tidak
dapat peneliti sebutkan namanya satu per satu, namun tidak mengurangi rasa
hormat peneliti. Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan
keberkahan dalam hidup. Amin
Peneliti sadar bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu
besar harapan peneliti agar diberikan saran dan kririk yang membangun agar
terwujudnya ilmu pengetahuan yang lengkap dan sempurna. Semoga hasil penelitian
ini dapat memberikan manfaat untuk literatur khazanah ilmu pengetahuan. Amin
Jakarta, November 2014
xi
PERSETUJUAN PEMBIMBING ii
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI iii
LEMBAR PERNYATAAN iv
ABSTRAK v
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI xi
DAFTAR LAMPIRAN xv
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 5
C. Pembatasan Masalah 7
D. Perumusan Masalah 7
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 8
1. Tujuan Penelitian 8
xii
3. Jenis dan Sumber Data 10
4. Teknik Pengumpulan Data 10
5. Subjek-Objek Penelitian 11
6. Metode Analisis 11
G. Sistematika Penelitian 12
BAB II LANDASAN TEORI 15
A. Konsep Akad 15
1. Definisi Akad 15
2. Rukun dan Syarat Akad 17
3. Struktur Akad 20
4. Berakhirnya Akad 28
B. Konsep Murabahah 29
1. Definisi Murabahah 29
2. Sumber Hukum Murabahah 30
3. Rukun dan Syarat Murabahah 32
xiii
BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 40
A. Gambaran Umum Bank Syariah Mandiri 40
1. Sejarah Singkat 40
2. Visi dan misi perusahaan 42
3. Dewan komisaris 42
4. Dewan pengawas syariah 43
5. Direksi 43
6. Profil dan informasi kepemilikan saham 43
7. Produk dan jasa 44
8. Emas 45
9. Haji dan Umrah 45
10. Bagan organisasi 45
11. Penghargaan 45
B. Aplikasi Akad Murabahah Pada PT. Bank Syariah Mandiri 48
1. Klasifikasi akad 48
xiv
B. Analisis Struktur Akad 58
1. Bagian pembukaan akad 58
2. Bagian isi akad 66
3. Bagian penutup akad 75
C. Analisis akad berdasarkan Fatwa DSN-MUI No. 84/DSN-MUI/XII/2012 76
1. Ketentuan Umum 77
2. Ketentuan Hukum 87
3. Ketentuan khusus 88
BAB V PENUTUP 94
A. Kesimpulan 94
B. Saran 95
xv
1. Analisis struktur akad murabahah marjin bertingkat
2. Analisis akad murabahah marjin bertingkat dengan fatwa DSN-MUI
3. Fatwa DSN MUI No. 84/DSN-MUI/XII/2012
1
A. Latar Belakang Masalah
Praktik murabahah di perbankan syariah menghadapi kendala prinsip
syariah. Hal ini terjadi karena pada tanggal 7 Shafar 1433H atau 21 Desember
2012, Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan
fatwa No. 84/DSN-MUI/XII/2012 tentang metode pengakuan keuntungan al
tamwil bi al-murabahah (pembiayaan murabahah) di lembaga keuangan
syariah. Fatwa ini menetapkan dua metode pengakuan keuntungan
pembiayaan murabahah di lembaga keuangan syariah, yaitu metode
proporsional (thariqah mubasyirah) dan metode anuitas (thariqah hisab
al-tanazuliyyah/ thariqah al-tanaqushiyyah). Di dalam ketentuan khusus fatwa
disebutkan bahwa pengakuan keuntungan al-Tamwil bi al-Murabahah dalam
bisnis yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) boleh
dilakukan secara proporsional dan secara anuitas1.
Metode keuntungan anuitas merupakan produk dari teori keuangan
konvensional. Anuitas berarti jumlah pembayaran periodik yang tetap
1
besarannya dan di dalamnya sudah terhitung pelunasan hutang dan bunganya.
Sehingga dalam anuitas terdapat dua pihak, dimana salah satu meminjamkan
dana dan pihak lainnya berkewajiban membayar pinjaman atau sering disebut
dengan kreditur dan debitur. Di dalam rumus perhitungan anuitas, terdapat
unsur bunga untuk menghitung besaran angsuran. Hal ini wajar dilakukan
dalam ekonomi konvensional yang menganut sistem bunga, dan yang karena
sistem bunga tersebut menjadikan adanya nilai waktu uang atau yang sering
disebut dengan time value of money,yaitu dimana nilai uang hari ini tidak akan sama dengan nilai uang dimasa-masa berikutnya, sehingga nilai dan
kemampuan uang terus berubah-ubah2.
Metode keuntungan anuitas yang berbasis bunga tidak dapat
diterapkan pada lembaga keuangan syariah karena beberapa alasan. Pertama,
perbedaan mendasar operasional Bank Syariah dengan Bank Konvensional
adalah sistem pendapatan Bank Syariah tidak berbasis bunga (free interest
based) dalam seluruh kegiatan operasionalnya. Maka dalam mendapatkan
pendapatannya, Bank Syariah memperoleh dari nisbah bagi hasil, marjin
jual-beli dan pendapatan jasa (ujrah). Karena akad murabahah termasuk ke dalam
akad jual-beli, maka bentuk pendapatan yang diterima Bank Syariah berupa
marjin yang telah disebutkan diawal akad dan disetujui oleh nasabah.
2
Kedua, selain sistem operasional yang harus terbebas dari unsur bunga, hubungan antara Bank Syariah dengan nasabah pun berbeda. Akad
murabahah adalah akad jual beli antara Bank Syariah dengan nasabah, maka
tidak ada istilah kreditur atau debitur diantara kedua belah pihak. Sehingga,
Bank Syariah bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli yang
menyepakati keuntungan yang didapat oleh Bank Syariah. Karena
berdasarkan akad jual beli, maka penjual (Bank Syariah) berhak mendapatkan
keuntungan atas barang yang dijualnya dan nasabah pun tidak memiliki
hutang kepada Bank Syariah karena akadnya berdasarkan akad jual beli.
Berbeda kreditur dan debitur, yaitu kontrak utang-piutang dimana peminjam
berkewajiban untuk mengembalikan pinjamannya dalam waktu tertentu yang
telah disepakati. Karena berbentuk kontrak utang piutang, maka tidak ada
keuntungan atau penambahan dalam kontrak tersebut. Jika terdapat
penambahan dalam utang piutang, Islam menyebutnya dengan riba.
Riba merupakan unsur yang harus benar-benar dihindari oleh Bank
Syariah karena salah satu prinsip syariah yang harus ditaati lembaga keuangan
syariah. Berdasarkan Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah, Bank Syariah dalam melakukan kegiatan operasionalnya, tidak boleh
bertentangan dengan prinsip syariah3. Prinsip-prinsip syariah tersebut menjadi
pedoman kegiatan operasional Bank Syariah agar tidak keluar dari aturan
3
syariah dan untuk tetap berada pada jalur yang telah ditetapkan syariah.
Prinsip utama yang harus dianut oleh Bank Syariah dalam menjalankan
kegiatan operasionalnya adalah seluruh kegiatan dipastikan harus terbebas
dari unsur maghrib, yaitu terbebas dari maysir, gharar, haram, dzalim dan
riba. Maka dari itu, Bank Syariah sebagai bank yang harus terbebas dari
bunga atau riba4.
Adanya riba dalam bunga bank konvensional, para fuqaha telah
berselisih pendapat karena praktek bunga bank belum terjadi secara
institusional pada zaman Rasulullah. Akhirnya pada tanggal 16 Desember
2003, Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia mengambil keputusan fatwa
bahwa bunga bank termasuk kedalam riba nasiah, karena terjadi disebabkan
adanya penangguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya,
dengan demikian praktek pembungaan uang tersebut termasuk salah satu
bentuk riba dan hukumnya haram. Bahkan bunga pada praktek perbankan
konvensional lebih berat dikarenakan, riba merupakan tambahan yang
dikenakan kepada peminjam karena peminjam tidak dapat mengembalikan
pinjaman tepat waktu atau jatuh tempo, sedangkan bunga bank telah
disebutkan dan disepakati sejak terjadinya transaksi. Maka jelas unsur dzalim
sangat terlihat pada bunga bank.
4
Selain itu, salah satu perbedaan yang paling mendasar bagi Bank
Syariah dengan Bank Konvensional adalah dimana setiap transaksi yang
dilakukan meyakini adanya pertanggung jawaban berdimensi ganda, yaitu
duniawi dan ukhrawi karena dilandaskan pada hukum Islam. Sehingga untuk
menetapkan sah tidaknya suatu akad atau transaksi tidak hanya berdasarkan
hukum positif, tetapi dikuatkan dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan
syariah.
Pada praktik Bank Syariah, Bank yang menggunakan metode
keuntungan anuitas, menyebutnya dengan akad murabahah marjin bertingkat .
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, ada hal-hal yang menarik
mengenai metode keuntungan anuitas untuk dikaji. Dari aspek-aspek tersebut
diatas, maka peneliti tertarik untuk membahas masalah ini dari sudut pandang
yang spesifik dengan judul “Analisis Akad Murabahah Marjin Bertingkat
Dengan Prinsip-Prinsip Syariah Berdasarkan Fatwa DSN-MUI”. B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti mengidentifikasi
permasalahan-permasalahan, yaitu :
1. Sejak kapan pembiayaan murabahah marjin bertingkat mulai
beroperasional?
2. Apakah perbedaan metode keuntungan proporsional dengan metode
keuntungan anuitas?
4. Apakah perbedaan metode keuntungan anuitas lembaga keuangan syariah
dengan lembaga keuangan konvensional?
5. Apa faktor-faktor yang menyebabkan Bank Syariah mengubah akad
murabahah menjadi akad murabahah marjin bertingkat?
6. Apakah kerugian menjadi faktor utama yang mendasarinya?
7. Bagaimana tingkat keuntungan Bank Syariah setelah diberlakukannya
akad murabahah marjin bertingkat?
8. Bagaimana manajemen resiko pada akad murabahah marjin bertingkat?
9. Apakah akad murabahah marjin bertingkat mengurangi resiko gagal
bayar?
10. Bagaimana akuntansi pada murabahah marjin bertingkat?
11. Bagaimana respon nasabah menyikapi akad murabahah marjin
bertingkat?
12. Apakah akad murabahah marjin bertingkat memberikan win win solution
bagi nasabah dan Bank Syariah?
13. Apa motif nasabah memutuskan memilih akad murabahah marjin
bertingkat?
14. Bagaimana prosedur pembiayaan akad murabahah marjin bertingkat?
15. Apa saja syarat-syarat pembiayaan akad murabahah marjin bertingkat?
16. Siapa saja yang dapat melakukan akad murabahah marjin bertingkat?
17. Bagaimana jika nasabah telat atau tidak membayar angsuran pembiayaan?
19. Bagaimana likuiditas bank syariah jika terjadi gagal bayar (fraud) ? 20. Bagaimana jika nasabah pembiayaan meninggal dunia?
21. Bagaimana tentang perlindungan konsumen melindungi hak-hak nasabah?
C. Pembatasan Masalah
Mengingat masalah yang diangkat peneliti begitu luas lingkupannya,
maka peneliti perlu membatasi permasalahan yang akan dibahas agar masalah
lebih terfokus dan spesifik, serta untuk menghindari kemungkinan tumpang
tindih dengan masalah lain diluar penelitian, yaitu tekait dalam aplikasi akad
murabahah dengan marjin bertahap pada Bank Syariah Mandiri berdasarkan
fatwa DSN-MUI No. 84/DSN-MUI/XII/2012 tentang metode pengakuan
keuntungan al tamwil bi al-murabahah (pembiayaan murabahah) di lembaga
keuangan syariah.
D. Perumusan Masalah
Rumusan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana model penerapan akad murabahah marjin bertingkat pada
Bank Syariah Mandiri?
2. Apakah akad murabahah marjin bertahap sesuai dengan prinsip-prinsip
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dengan perumusan dan pembatasan masalah yang telah
dijelaskan sebelumnya, maka yang akan menjadi tujuan penelitian ini
dilakukan adalah :
a. Mengetahui dan menganalisa model penerapan akad murabahah
marjin bertingkat pada Bank Syariah Mandiri.
b. Mengetahui dan menganalisa kesesuaian akad murabahah dengan
marjin bertahap dengan prinsip-prinsip muamalah berdasarkan
fatwa-fatwa DSN MUI.
2. Manfaat penelitian
a. Manfaat akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan sebagai
pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, dan khususnya
mengenai struktur atau model penerapan akad dalam akad murabahah
dan kesesuaiannya dengan Fatwa DSN-MUI.
b. Manfaat praktis
Manfaat penelitian ini secara praktis agar dapat digunakan sebagai
informasi dan bahan masukan bagi praktisi Bank Syariah Mandiri
dalam menerapkan struktur atau model penerapan akad-akad syariah,
sehingga Bank Syariah Mandiri dapat terhindar dari hal-hal yang tidak
F. Metode Penelitian
Pengumpulan data merupakan bagian terpenting di dalam sebuah penelitian,
dalam hal ini sangat dibutuhkan data-data yang akurat serta relevan dalam
persoalan yang akan diteliti. Adapun data yang diperlukan menggunakan metode
sebagai berikut :
1. Pendekatan
Dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis
normatif. Pendekatan yuridis normatif adalah pendekatan hukum dengan
melihat peraturan-peraturan. Baik hukum primer maupun bahan hukum
sekunder atau pendekatan terhadap masalah dengan cara melihat dari segi
peraturan Undang-Undang yang berlaku5. Pada penelitian ini, peneliti
mengacu pada Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia
(DSN-MUI) No. 84/DSN-MUI/XII/2012 tentang metode pengakuan
keuntungan al tamwil bi al-murabahah (pembiayaan murabahah) di
lembaga keuangan syariah.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang tidak berdasarkan data-data angka, yang
menghasilkan data deskriptif.
5
3. Jenis dan Sumber Data
a. Jenis Data
Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu data primer (primary
resources)dan data sekunder (secondary resources).
1) Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari PT. Bank
Syariah Mandiri.
2) Data sekunder (secondary resources) merupakan sumber data
penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui
media perantara karena telah diolah terlebih dahulu oleh
pihak-pihak terkait.
b. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini berdasarkan orang individual dan
studi kepustakaan (library research). Studi kepustakaan (library
research) yaitu dengan mengumpulkan dan menganalisis data dari
berbagai sumber yang relevan dengan analisis yang akan digunakan.
4. Teknik Pengumpulan Data
Adapun instrumen-instrumen yang digunakan dalam rangka penelitian
ini adalah :
Merupakan salah satu pengambilan data dan informasi dengan
interaksi bahasa yang berlangsung antara dua orang melalui tatap
muka6. Dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara.
b. Studi dokumentasi
Studi dokumentasi, yaitu dengan membaca literatur yang relevan
dengan topik masalah dalam penelitian ini. Pengumpulan data
berasal dari dokumen Bank Syariah Mandiri yaitu dokumen berupa
kontrak akad murabahah marjin bertingkat.
c. Riset Kepustakaan
Yaitu dengan membaca jurnal dan mempelajari literatur yang
memuat teori-teori, konsep-konsep dan informasi yang diperoleh
sebagai landasan teori yang berkaitan dengan masalah penelitian.
5. Subjek-Objek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah PT. Bank Syariah Mandiri (BSM)
sedangkan objek penelitian ini adalah akad murabahah marjin bertingkat
pada Bank Syariah Mandiri (BSM).
6. Metode Analisis
a. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik content analysis.
Teknik conten analysis, untuk menghasilkan inferensi terhadap data
verbal dan simbolik yang dapat diulangi dan valid. Dimana analisis ini
6
berbentuk dokumen dan teks yang berupaya mengkuantifikasikan isi
menurut kategori yang sudah ditetapkan, suatu teknik untuk
mengambil kesimpulan dengan mengidentifikasi berbagai karakteristik
khusus suatu pesan secara objektif, sistematis, dan generalis. Analisis
isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan
mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam
media masa. Metode yang meliputi semua analisis mengenai isi teks,
tetapi disisi lain analisis isi juga digunakan untuk medeskripsikan
pendekatan analisis yang khusus7
b. Teknik Penulisan Laporan
Teknik penulisan laporan pada penelitian ini mengacu kepada buku
pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang diterbitkan pada tahun 2012.
G. Sistematika Penelitian
Untuk memudahkan penulisan skripsi ini, peneliti menetapkan suatu kerangka
dasar penulisan. Secara garis besar dapat memberikan gambaran sebagai
berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan secara garis besar mengenai latar belakang
masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah,
7
tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan kajian terdahulu, metode
penelitian, dan sistematika penelitian.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan mengenai teori-teori berdasarkan tinjauan pustaka
dan literatur yang terkait dengan pembahasan penelitian, standar
syariah, ketetapan Fatwa DSN-MUI serta review studi terdahulu.
BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG BANK SYARIAH MANDIRI
Dalam bab ini akan dijelaskan secara terperinci tentang Bank Syariah
Mandiri mengenai sejarah singkat, visi dan misi perusahaan, dewan
komisaris, dewan pengawas syariah (DPS), direksi, profil dan
kepemilikan saham, produk dan jasa, bagan organisai, penghargaan,
serta proses pra-akad murabahah marjin bertingkat Bank Syariah
Mandiri.
BAB IV ANALISIS AKAD MURABAHAH MARJIN BERTINGKAT
DENGAN PRINSIP-PRINSIP FIQH MUAMALAH BERDASARKAN
FATWA DSN-MUI
Analisis isi akad murabahah dan kesesuaiannya dengan Fatwa No.
84/DSN-MUI/XII/2012 tentang metode pengakuan keuntungan al
tamwil bi al-murabahah (pembiayaan murabahah) di lembaga
BAB V PENUTUP
Dalam bab ini akan disimpulkan jawaban dari perumusan masalah
yang ada dan disertai dengan pemberian saran-saran yang tepat
sehubungan dengan adanya permasalahan yang ditemukan selama
15
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Akad
Saat kekuatan penawaran dan kekuatan permintaan bertemu, maka
terjadilah transaksi antara kedua belah pihak. Namun, sebelum terjadi
transaksi, terdapat akad yang harus dipenuhi untuk terpenuhinya tingkat
kepuasan manusia tersebut. Maka dari itu, akad merupakan bagian terpenting
dalam sebuah transaksi.
1. Definisi Akad
Akad secara istilah berasal dari kata al-‘aqdu. Kata al-‘aqdu
merupakan bentuk jamak dari ‘aqada, ya’qidu, ‘aqdan yang berarti
meyimpul, membuhul, mengikat atau mengikat janji1.
Secara terminologi, akad memiliki arti umum (al-ma’na al-am) dan
khusus (al-ma’na al-khas)2. Adapun arti umum dari akad adalah “segala
sesuatu yang dikehendaki seseorang untuk dikerjakan, baik yang muncul
dari kehendaknya sendiri, seperti kehendak untuk wakaf, membebaskan
hutang, thalak, dan sumpah, maupun yang membutuhkan pada kehendak
1
A. Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah, (Jakarta: Gramedia, 2012), h. 129.
2
dua pihak dalam melakukannya, seperti jual beli, sewa menyewa,
perwakilan, dan gadai/jaminan”. Sedangkan arti khusus akad didefinisikan
dengan3 :
”Pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan Kabul (pernyataan
penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh
kepada objek perikatan.”
Menurut Wahbah Zuhaili, akad adalah ikatan antara dua hal, baik
ikatan secara nyata maupun ikatan secara maknawi, dari satu segi maupun
dua segi. Menurut istilah para ahli hukum Islam, aqad diartikan sebagai
hubungan antara ijab dan Kabul sesuai dengan kehendak syariat yang
menetapkan adanya pengaruh (akibat) hukum pada objek perikatan4.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
akad adalah kesepakatan antara para pihak untuk saling mengikatkan diri
dalam suatu perbuatan hukum tertentu sesuai dengan kehendak syariah.
Maka dari itu, setiap akad yang dilakukan harus terbebas dari unsur-unsur
yang telah ditetapkan oleh syar’i, yaitu Allah SWT dan Rasulullah, seperti
akad yang tidak terdapat unsur riba dan hal-hal yang dilarang lainnya.
3
Abdul Rahman Ghazaly, dkk, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), h.51.
4
Akad terbentuk karena adanya ijab dan qabul antara pihak-pihak yang melakukan kerjasama. Dengan melakukan akad, maka akan timbul akibat
hukum pada objek-objek akad. Jika akad jual-beli, maka akibat hukum
yang timbul pada objek akad adalah perpindahan hak atas kepemilikan
barang. Jika yang disepakati merupakan akad sewa-menyewa, maka akibat
hukum yang timbul pada objek akad adalah perpindahan atas manfaat
barang, bukan berpindah hak atas kepemilikan barang.
2. Rukun dan Syarat Akad
Akad harus memenuhi rukun dan syarat. Rukun adalah unsur-unsur
yang harus ada dan harus dipenuhi ketika akad berlangsung serta
merupakan esensi dari akad tersebut. Sedangkan syarat adalah sifat yang
melekat pada setiap rukun5. Menurut Jumhur Ulama yang termasuk
kepada rukun akad adalah6 :
a. Shighat (formulasi) ijab dapat diwujudkan dengan ucapan lisan,
tulisan, isyarat bagi mereka yang tidak mampu berbicara atau menulis,
sarana komunikasi modern, bahkan dengan perbuatan (bukan ucapan,
tulisan maupun isyarat) yang menunjukkan kerelaan kedua belah pihak
untuk melakukan suatu akad yang umumnya dikenal dengan
al-mu’athah.
5
Saefuddin Arif dan Azharudin Lathif, Kontrak Bisnis Syariah, (Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum, 2011), h. 27.
6
Ada 3 syarat yang harus dipenuhi agar suatu ijab dan qabul
dipandang sah, yaitu :
1) Ijab dan qabul harus secara jelas menunjukkan maksud kedua
belah pihak.
2) Antara ijab dan qabul harus selaras, dan
3) Antara ijab dan qabul harus muttashil (berkesinambungan), yakni
dilakukan dalam satu majelis ‘akad (tempat akad).
b. Pelaku akad disyaratkan harus seorang mukallaf (‘aqil baligh, berakal
sehat dan dewasa atau cakap hukum). Mengenai batasan umur pelaku
untuk keabsahan akad diserahkan kepada ‘urf atau peraturan
perundang-undangan yang dapat menjamin kemaslahatan para pihak.
c. Objek akad harus memenuhi 4 (empat) syarat :
1) Objek harus sudah ada secara konkret ketika akad dilakukan; atau
diperkirakan akan ada pada masa akan datang dalam akad-akad
tertentu seperti dalam akad salam, ishtishna’, ijarah dan
mudharabah.
2) Objek harus merupakan sesuatu yang menurut hukum Islam sah
dijadikan objek akad, yaitu harta yang dimiliki serta halal
dimanfaatkan (mutaqawwam).
3) Objek harus dapat diserahkan ketika terjadi akad, namun tidak
4) Objek harus jelas (dapat ditentukan, mu’ayyan) dan diketahui oleh
kedua belah pihak. Ketidakjelasan objek akad-selain ada larangan
Nabi untuk menjadikannya sebagai objek akad- mudah
menimbulkan persengketaan di kemudian hari, dan ini harus
dihindarkan. Mengenai penentuan kejelasan suatu objek akad ini,
adat istiadat (‘urf) mempunyai peranan yang penting.
Dari syarat pertama ulama mengecualikan empat macam akad :
salam, ishtishna’, ijarah, dan musaqah. Artinya keempat macam akad
ini tetap dinyatakan sah walaupun objek akad belum ada ketika terjadi
akad.
d. Maudhu ‘al-‘aqd atau tujuan akad merupakan salah satu bagian penting yang harus ada pada setiap akad. Yang dimaksud dengan
maudhu’ al-‘aqd adalah tujuan utama untuk apa akad itu dilakukan
(al-maqshad al-ashli alladzi syari’a al-‘aqd min ajlih). Menurut
hukum Islam, yang menentukan tujuan hukum akad adalah
al-musyarri’ (yang menetapkan syariah, yaitu Allah SWT). Dengan kata
lain, akibat hukum suatu akad hanya diketahui melalui syara’ dan
harus sejalan dengan kehendak syara’. Atas dasar itu , semua bentuk
akad yang tujuannya bertentangan dengan syara’ (hukum Islam)
adalah tidak sah dan karena itu tidak menimbulkan akibat hukum;
(khamr). Jika hal itu terjadi, dalam pandangan hukum Islam akibat hukumnya tidak tercapai. Tegasnya, menurut hukum Islam, jual beli
atas barang yang diharamkan tersebut tidak menyebabkan perpindahan
kepemilikan barang kepada pembeli dan kepemilikan harga barang
kepada penjual.
3. Struktur Akad
Dalam praktik penyusunan akad terdapat berbagai macam model
struktur akad. Akan tetapi, struktur akad atau perjanjian yang lazim
digunakan di Indonesia terdiri dari tiga bagian, yaitu pembukaan,
isi/materi, dan penutup. Pada masing-masing bagian terdiri sub bagian
yang selengkapnya dalah sebagai berikut :
a. Pada bagian pembukaan terdiri dari7 :
1) Tulisan Bismillahirrahmanirrahim dan terjemahannya
Tulisan basmalah dapat ditulis dengan menggunakan huruf arab
maupun latin. Tulisan ini memang tidak bersifat mutlak atau harus
ada (tergantung kebijakan). Akan tetapi, keberadaannya dalam
konteks akad syariah penting untuk mengingatkan para pihak akan
pentingnya memulai sesuatu dengan meluruskan niat hanya
semata-mata karena Allah SWT.
2) Ayat Al-Qur’an dan atau Hadits dan terjemahannya
7
Ayat Al-Qur’an dan atau Hadits serta terjemahannya yang ditulis
dalam akad adalah yang langsung berkaitan atau menjadi dalil
hukum akad tersebut.
3) Judul
Adalah menunjukkan dan sekaligus memberikan cakupan
pengertian [okok tentang hakekat isi suatu kontrak. Judul ditulis
dengan isi kesepakatan dan ditulis ditengah dengan menggunakan
huruf kapital.
4) Kepala akad
Terdiri atas judul, nomor, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun
dibuatnya akad tersebut.
5) Komparisasi
Adalah penyebutan dan penjelasan mengenai identitas para pihak
yang membuat akad/yang berkepentingan. Pada pihak dalam
perjanjian adalah : pihak-pihak yang langsung terlibat, terdiri atas
perorangan atau yang bersifat publik
6) Dasar diadakan akad (premisse)
Salah satu sahnya kontrak adalah bahwa kontrak tersebut dibuat
atas dasar/kausa yang halal. Kausa/dasar dalam suatu kontrak
biasanya dinyatakan sebagai keterangan pendahuluan mengenai
dasar atau sebab dibuatnya kontrak yang bersangkutan.
Dasar hukum diambil dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijtihad
(dalam konteks keindonesiaan adalah fatwa MUI). Di samping itu
juga diambilkan dari perundang-undangan positif di Indonesia baik
yang khusus mengatur hukum Islam maupun yang bersifat umum.
Dasar hukum ini ditulis dalam bagian akhir promise.
b. Menurut Azharudin Lathif dan Saefudin Arif pada bagian isi/materi
terdiri dari8:
1) Klausul definisi
Yaitu setiap kata/kalimat yang akan diatur/dituangkan dalam
kontrak diberikan batasan/arti atau maknanya agar nantinya tidak
menimbulkan salah pengertian dan tidak dapat ditafsirkan lain
serta agar para pihak jelas dan paham benar apa maksudnya.
2) Klausul obyek akad
Yaitu menetukan apa yang dijadikn obyek akad dengan
menyebutkannya secara jelas dan lengkap tentang nama barang,
wujud/jenisnya, letaknya, luas/banyaknya dan bukti yang
mendasari hak atas barang tersebut.
3) Klausul hak dan kewajiban
Yang menetukan hak dan kewajiban para pihak yang harus ditulis
secara tegas dan jelas serta terperinci apa saja yang menjadi hak
8
masing-masing dan tentang hal-hal apa yang wajib harus dilakukan
masing-masing pihak, secara seimbang dan timbal balik.
4) Klausul sanksi
Yaitu ketentuan yang mengatur pemberian sanksi akibat
pelanggaran dan atau kelalaian salah satu pihak dalam
melaksanakan isi kontrak yang berupa pelanggaran terhadap
kewajibannya.
5) Klausul spesifik
Yaitu pengaturan tentang hal-hal yang spesifik/khusus yang
dikehendaki pihak untuk dituangkan dalam akad.
6) Klausul pemilihan hukum dan domisili
Yaitu menentukkan hukum yang dipilih dalam melaksanakan dan
menyelesaikan perselisihan jikalau timbul serta domisli dimana
penyelesaian tersebut akan diselesaikan apabila terjadi sengketa
dimasa yang akan datang.
7) Klausul jaminan pemilikan
Yaitu untuk menjamin tertibnya pembayaran kembali/ atau
pelunasan Pokok Pembiayaan da margin serta biaya-biaya lainnya
Menurut A. Wangsawidjaja pada bagian isi/materi terdiri dari9 :
1) Klausul tentang jumlah pembiayaan
Adanya klausul tentang jumlah pembiayaan penting dicantumkan
dalam akad untuk menentukkan objek akad berupa besarnya
maksimum pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah kepada
nasabah penerima fasilitas.
2) Klausul jangka waktu pembiayaan
Dalam suatu akad pembiayaan mutlak harus dicantumkan adanya
jangka waktu pembiayaan atau jatuh tempo pembiayaan untuk
kepastian hukum timbulnya hak Bank untuk menuntut pelunasan
pembiayaan yang telah diberikan kepada nasabah.
3) Klausul tentang imbalan
Klausul tentang imbalan dalam akad pembiayaan merupakan hal
yang penting dan harus dicantumkan secara tegas, kecuali untuk
pinjaman tertentu yang tidak mensyaratkan adanya imbalan,
seperti qardh.
4) Klausul tentang representation and warranties
Keputusan pemberian pembiayaan oleh bank syariah didasarkan
pada analisis terhadap data yang disampaikan oleh nasabah kepada
bank, baik data keuangan maupun non-keuangan. Untuk menjamin
9
dan meyakinkan bank bahwa data yang disampaikan oleh nasabah
tersebut betul-betul valid dan benar, maka bank pada umumnya
mensyaratkan adanya klausul tentang jaminan (representation and
warranties).
5) Klausul tentang pre-disbursment atau conditions precedent
Klausul ini mengatur tentang syarat yang harus dipenuhi nasabah
sebelum pembiayaan direalisasikan, misalnya wajib
menyampaikan rician penggunaan dana, telah menandatangani
pengikatan agunan, agunan telah ditutup asuransinya, dan
sebagainya.
6) Klausul tentang affirmative covernant
Klausul ini mengatur tentang kewajiban-kewajiban nasabah
penerima fasilitas untuk melakukan hal-hal tertentu, agar bank
dapat melakukan pengawasan pasif terhadap kegiatan usaha
nasabah dan mengantisipasi risiko selama fasilitas pembiayaan
sebelum lunas.
7) Klausul tentang negativecovenant
Klausul ini memuat hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh
nasabah penerima fasilitas yang dapat merugikan dan/atau
menimbulkan kesulitan bagi bank selama perjanjian pembiayaan
berlaku.
Klausul ini menetukan suatu peristiwa yang apabila terjadi
memberikan hak kepada bank untuk mengakhiri fasilitas
pembiayaan secara sepihak dan untuk seketika dan sekaligus
managih seluruh outstanding pembiayaan.
9) Klausul tentang agunan pembiayaan dan asuransi barang agunan
dengan syarat banker’s clause
Klausul ini memuat informasi tentang agunan yang diserahkan
oleh nasabah penerima fasilitas kepada bank berikut jenis
pengikatannya, agunan pembiayaan dapat berupa barang tetap atau
barang bergerak. Barang agunan yang insurable wajib ditutup
asuransi dengan syarat banker’s clause oleh nasabah pada asuransi
syariah yang disetujui oleh bank dan biaya premi asuransi atas
beban nasabah.
10) Klausul tentang pemberian kuasa kepada Bank
Klausul kuasa (wakalah) ini memberikan hak kepada bank untuk
mendebit rekening giro dan/atau rekening nasabah penerima
fasilitas lainnya yang ada pada bank untuk pembayaran kewajiban
nasabah, misalnya imbalan, denda, biaya asuransi dan
ongkos-ongkos lainnya berkenaan dengan pembiayaan.
11) Klausul tentang hak-hak Bank melakukan pengawasan
Klausul ini memberikan kewenangan kepada bank untuk
terhadap pembiayaan yang diberikan, misalnya meminta laporan,
melakukan pemeriksaan di tempat (on the spot), memasuki
gudang, memeriksa pembukuan debitur, dan sebagainya.
12) Klausul tentang penyelesaian perselisihan
Klausul ini lazimnya menyatakan bahwa apabila terdapat
perselisihan dalam pelaksanaan akad pembiayaan maka akan
diselesaikan secara musyawarah dan mufakat terlebih dahulu.
Apabila tidak tercapai kesepakatan dalam musyawarah tersebut,
maka sengketa akan diselesaikan melalui peradilan umum,
peradilan agama, Badan Arbitrase, atau alternatif penyelesaian
sengketa.
13) Klausul lain-lain (miscellaneous)
Klausul ini memuat ketentuan-ketentuan lain yang disepakati
dalam perjanjian yang dibuat oleh para pihak, misalnya mengenai
alamat surat-menyurat antara nasabah dan bank.
c. Pada bagian penutup terdiri atas :
1) Pernyataan para pihak tentang tiadanya hal-hal yang membatalkan
akad
4. Berakhirnya Akad
Dalam konten hukum Islam, perjanjian yang dibuat oleh para pihak
akan berakhir jika dipenuhi tiga hal sebagai berikut10:
a. Berakhirnya masa berlaku perjanjian atau akad.
Biasanya dalam sebuah perjanjian telah ditentukan saat kapan suatu
perjanjian akan berakhir, sehingga dengan lampaunya waktu maka
secara otomatis perjanjian akan berakhir, kecuali kemudian ditentukan
lain oleh para pihak.
b. Dibatalkan oleh pihak-pihak yang berakad.
Hal ini biasanya terjadi jika ada salah satu pihak yang melanggar
ketentuan perjanjian, atau salah satu pihak mengetahui jika dalam
pembuatan perjanjian terdapat unsur kekhilafan atau penipuan.
Kekhilafan dapat menyangut obyek perjanjian (error in objecto),
maupun mengenai orangnya (error in persona).
c. Salah satu pihak yang berakad meninggal dunia.
Hal ini berlaku pada perikatan untuk berbuat sesuatu, yang
membutuhkan adanya kompetensi khas. Sedangkan jika perjanjian
dibuat dalam hal memberikan sesuatu, katakanlah dalam bentuk
uang/barang maka perjanjian tetap berlaku bagi ahli warisnya. Sebagai
contohnya ketika seseorang yang membuat perjanjian pinjam uang,
10
kemudian meninggal maka kewajiban untuk mengembalikan hutang
menjadi kewajiban ahli waris.
B. Konsep Murabahah
Dalam Islam, begitu banyak transaksi-transaksi ekonomi termasuk
didalamnya adalah akad murabahah. Akad murabahah merupakan salah satu
dari akad tijarah. Akad tijarah adalah akad yang bertujuan mencari
keuntungan akhirat, karena itu bukan merupakan akad bisnis11. Dengan alasan
itu, maka saat ini lembaga keuangan syariah banyak menggunakan akad
murabahah pada produk-produk lembaga keuangan syariah sebagai produk
unggulan yang dianggap jelas memberikan keuntungan bagi kedua belah
pihak.
1. Definisi Murabahah
Secara etimologi, dalam kamus Al-Muhith Murabahah berarti حْبرلا
yang bermakna kelebihan dan tambahan (keuntungan), yang berarti suatu
penjualan barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang
disepakati12.
Secara terminologi, para ulama terdahulu mendefinisikan murabahah
dengan jual beli dengan modal ditambah keuntungan yang diketahui13.
11
Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), h. 70.
12
Isnawati Rais dan Hasanuddin, Fiqh Muamalat Dan Aplikasinya Pada LKS, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2011), h. 87.
13
Menurut Adiwarman A. Karim, murabahah adalah akad jual beli barang
dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (marjin) yang
disepakati oleh penjual dan pembeli14.
Dalam kodifikasi produk perbankan syariah, akad murabahah adalah
transaksi jual beli suatu barang sebesar harga perolehan barang ditambah
dengan marjin yang disepakati oleh para pihak, dimana penjual
menginformasikan terlebih dahulu harga perolehan kepada pembeli15.
Sedangkan Undang-Undang Perbankan Syariah memberikan
penjelasan bahwa yang dimaksud dengan akad murabahah adalah akad
pembiayaan suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada
pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai
keuntungan yang disepakati16.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa murabahah adalah jual beli suatu
barang yang ditegaskan harga perolehan dan keuntungan (marjin) diawal
perjanjian sehingga para pihak mengetahui seluruh informasi dan
disepakati oleh para pihak.
2. Sumber Hukum Murabahah
a. Al-Qur’an
14
Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), h.113.
15
Huruf B Angka III.b Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Lampiran SEBI No. 10/31/DPbs.
16
1) Firman Allah Q.S An-Nisa: 29
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu…”
(Q.S An-Nisa: 29)
2) Firman Allah Q.S Al-Baqarah: 275
“... Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba…” (Q.S Al-Baqarah: 275)
b. Hadits
Dari Abu Saidal Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka”. (HR.
Al- Baihaqi dan Ibn Majah)
2) Hadits riwayat Ibn Majah
لاق مَّس مَّس هْيّع ها ىَّص َّبَّلا َّأ بْلا َّ ْيف ث اث
ر لجأ ىلإ عْيبْلا را مْلا
Nabi saw bersabda : “Ada tiga hal yang mengandung berkah : (1)
jual beli tidak secara tunai, (2) mukharadah (mudharabah), (3) mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga,
bukan untuk dijual.” (HR. Ibn Majah dari Suhaib)
3. Rukun dan Syarat Murabahah
Rukun akad murabahah yang disepakati oleh jumhur ulama adalah17 :
a. Ba’i (penjual)
b. Musytari (pembeli)
c. Mabi’ (barang/objek)
d. Tsaman (harga)
e. Sighat (ijab dan qabul)
17
Selain rukun yang harus dipenuhi dalam melakukan akad murabahah,
beberapa syarat juga harus dipenuhi dalam berlangsungnya akad
murabahah. Syarat-syarat murabahah adalah18 :
a. Harga awal harus diketahui oleh pihak pembeli, karena mengetahui
harga barang adalah salah satu syarat sahnya jual beli.
b. Keuntungan ba’i murabahah harus diketahui oleh semua pihak yang
terlibat.
c. Modal ba’i murabahah harus proporsional, seperti takaran, beban dan
jumlahnya.
Selain rukun dan syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan jual
beli murabahah, terdapat ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam
jual beli murabahah meliputi hal-hal berikut19
a. Jual beli murabahah harus dilakukan atas barang yang telah
dimiliki/hak kepemilikan telah berada di tangan penjual. Artinya
bahwa keuntungan dan resiko barang tersebut ada pada penjual
sebagai konsekuensi dari kepemilikan yang timbul dari akad yang sah.
b. Adanya kejelasan informasi mengenai besarnya modal (harga
pembelian/kulakan) dan biaya-biaya lain yang lazim dikeluarkan
dalam jual beli (capital outlay) pada suatu komoditi, semuanya harus
18
Isnawati Rais dan Hasanuddin, Fiqh Muamalat Dan Aplikasinya Pada LKS, h. 102.
19
diketahui oleh pembeli saat akad; dan ini merupakan salah satu syarat
sah murabahah.
c. Ada informasi yang jelas tentang keuntungan baik nominal maupun
persentase sehingga diketahui oleh pembeli sebagai salah satu syarat
sah murabahah.
d. Dalam sistem murabahah, penjual boleh menetapkan syarat kepada
pembeli untuk menjamin kerusakan yang tidak tampak pada barang,
tetapi lebih baik syarat seperti itu tidak ditetapkan, karena pengawasan
barang merupakan kewajiban penjual disamping untuk menjaga
kepercayaan.
e. Transaksi pertama (antara penjual dan pembeli pertama) haruslah sah,
jika tidak sah maka tidak boleh jual beli secara murabahah (antara
pembeli pertama yang menjadi penjual kedua dengan pembeli
murabahah), karena murabahah adalah jual beli dengan harga pertama
disertai tambahan keuntungan.
4. Aplikasi Murabahah Dalam Lembaga Keuangan Syariah
Aplikasi akad murabahah pada lembaga keuangan syariah terdapat pada
kegiatan usaha Bank Syariah dalam bentuk penyaluran dana atau pembiayaan.
Pembiayaan murabahah merupakan jenis pembiayaan yang sering
diaplikasikan dalam bank syariah, yang pada umumnya digunakan dalam
individu20. Dalam pembiayaan berdasarkan akad murabahah, Bank Syariah
bertindak sebagai penyedia dana dalam kegiatan transaksi murabahah dengan
nasabah21. Bank Syariah dapat membiayai sebagian atau seluruh harga
pembelian barang yang telah ada kesepakatan antara Bank Syariah dan
nasabahnya, dan akad pembiayaan murabahah telah ditandatangani oleh Bank
Syariah dan nasabah, maka Bank Syariah wajib menyediakan dana untuk
merealisasikan penyediaan barang yang dipesan nasabah22.
C. Standar Syariah
Dalam menjalankan kegiatan usaha produk dan jasa syariah, Bank
Syariah wajib tunduk pada prinsip syariah23. Prinsip Syariah adalah prinsip
hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan
oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang
syariah24. Sehingga dalam menjalankan seluruh kegiatan usahanya, Bank
Syariah harus berpedoman kepada fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan oleh
lembaga berwenang, dalam hal ini merupakan kewenangan Dewan Syariah
Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Ketentuan tersebut bersifat
memaksa dan tidak dapat menyimpang karena merupakan perintah
20
Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 140.
21
A. Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah, ( Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012), h.200.
22
A. Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah, h. 201.
23
Pasal 26 Ayat (1) Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah
24
Undang25. Apabila ketentuan tersebut dilanggar, maka akan dikenakan pidana
penjara dan pidana denda sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang26.
Maka dari itu penting bagi Bank Syariah untuk menjalankan kegiatan
usahanya berpedoman kepada fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan oleh
DSN-MUI, agar tetap sesuai dengan ketetapan syariah, karena Fatwa yang
dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia menjadi
indikator sesuai tidaknya produk Bank Syariah dengan prinsip syariah.
Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)
mengeluarkan Fatwa-Fatwa yang berkenaan dengan produk dan jasa pada
lembaga keuangan syariah. Diantara Fatwa-Fatwa tersebut menetapkan
ketetapan yang berkenaan dengan akad murabahah di lembaga keuangan
syariah khususnya pada Bank Syariah. Fatwa-fatwa yang mengatur tentang
akad murabahah tersebut adalah :
a. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang
Murabahah.
b. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang
Wakalah
c. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 13/DSN-MUI/IX/2000 tentang Uang
Muka Dalam Murabahah
25
Pasal 2 Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah
26
d. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 16/DSN-MUI/IX/2000 tentang
Diskon Dalam Murabahah
e. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 23/DSN-MUI/III/2002 tentang
Potongan Pelunasan Dalam Murabahah
f. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 46/DSN-MUI/II/2005 tentang
Potongan Tagihan Murabahah (khashm fi al-murabahah)
g. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 47/DSN-MUI/II/2005 tentang
Penyelesaian Piutang Murabahah Bagi Nasabah Tidak Mampu Membayar.
h. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 48/DSN-MUI/II/2005 tentang
Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah.
i. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 49/DSN-MUI/II/2005 tentang
Konversi Akad Murabahah.
j. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 84/DSN-MUI/XII/2012 tentang
Metode Pengakuan Keuntungan al Tamwil bi al-Murabahah (Pembiayaan
Murabahah) Di Lembaga Keuangan Syariah.
D. Ketetapan Fatwa DSN-MUI Mengenai Akad Murabahah Margin Bertingkat
Ketetapan mengenai akad murabahah marjin bertingkat diatur dalam
Fatwa DSN-MUI No. 84/DSN-MUI/XII/2012 tentang Metode Pengakuan
Keuntungan al-Tamwil bi al-Murabahah (Pembiayaan Murabahah) Di
Lembaga Keuangan Syariah. Dalam Fatwa tersebut terdapat 2 (dua) metode
yaitu metode pengakuan keuntungan secara proporsional dan metode
pengakuan keuntungan secara anuitas. Metode anuitas dalam praktek
perbankan syariah disebutkan dengan marjin bertingkat, yaitu karena tidak
samanya marjin pada angsuran satu dengan angsuran lainnya.
E. Tinjauan Kajian Terdahulu
Untuk mendukung materi dalam penelitian ini, berikut akan dipaparkan
beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan oleh :
1. Skripsi Maisaroh, S1 Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah Tahun
2012. Dengan judul skripsi “Kesesuaian Kontrak Murabahah Di Bank
BNI Syariah Dengan Fatwa DSN”. Pada skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif dan
perskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mekanisme
murabbahah di Bank BNI Syariah dan mengidentifikasi struktur dan
anatomi kontrak murabahah di Bank BNI Syariah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme dan substansi
kontrak murabahah pada Bank BNI Syariah sesuai dengan fatwa DSN
MUI No. 04/DSN-MUI/IV/200 dan peraturan Bank Indonesia (PBI).
2. Skripsi Ruri Siti Nurziah, S1 Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah
Tahun 2013. Dengan judul skripsi “Kesesuaian Akad Murabahah Di
skripsi ini adalah mengetahui kesesuaian penerapan fatwa DSN-MUI dan
peraturan terkait pada akad pembiayaan murabahah di Bank BCA Syariah.
Kesimpulan dari skripsi ini adalah masih terdapat ketidaksesuaian
pada struktur kontrak yang dibuat oleh Bank BCA Syariah. Ditinjau dari
proses realisasi pembiayaan murabahah terdapat ketidaksesuaian dengan
regulasi (Fatwa DSN-MUI dan PBI). Dan penerapan regulasi pada akad
pembiayaan murabahah masih ada ketidaksesuaian terkait pada denda.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah
mengkaji akad murabahah dengan prinsip-prinsip muamalah serta
mengetahui model penerapan akad murabahah dalam kegiatan
operasional Bank Syariah. Fatwa DSN-MUI menjadi pedoman bagi
peneliti untuk menentukan kesesuaian akad murabahah dengan
prinsip-prinsip muamalah.
Perbedaan penelitian ini dari penelitian sebelumnya adalah perbedaan
isu hukum yang menjadi permasalahan penelitian, yaitu pada penelitian
sebelumnya yang dikaji adalah akad murabahah dalam kegiatan
operasional Bank Syariah, sedangkan dalam penelitian ini menganalisis
akad murabahah marjin bertingkat dengan prinsip-prinsip muamalah
40
A. Gambaran Umum Bank Syariah Mandiri 1. Sejarah Singkat
Kehadiran BSM sejak tahun 1999, sesungguhnya merupakan hikmah
sekaligus berkah pasca krisis ekonomi dan moneter 1997-1998. Sebagaimana
diketahui, krisis ekonomi dan moneter sejak Juli 1997, yang disusul dengan
krisis multi-dimensi termasuk di panggung politik nasional, telah
menimbulkan beragam dampak negatif yang sangat hebat terhadap seluruh
sendi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dunia usaha. Dalam kondisi
tersebut, industri perbankan nasional yang didominasi oleh bank-bank
konvensional mengalami krisis luar biasa. Pemerintah akhirnya mengambil
tindakan dengan merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di
Indonesia.
Salah satu bank konvensional, PT Bank Susila Bakti (BSB) yang
dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang
Negara dan PT Mahkota Prestasi juga terkena dampak krisis. BSB berusaha
keluar dari situasi tersebut dengan melakukan upaya merger dengan beberapa
[image:55.612.108.540.96.533.2]Pada saat bersamaan, pemerintah melakukan
penggabungan (merger) empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya,
Bank Exim, dan Bapindo) menjadi satu bank baru bernama PT Bank Mandiri
(Persero) pada tanggal 31 Juli 1999. Kebijakan penggabungan tersebut juga
menempatkan dan menetapkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebagai
pemilik mayoritas baru BSB.
Sebagai tindak lanjut dari keputusan merger, Bank Mandiri melakukan
konsolidasi serta membentuk Tim Pengembangan Perbankan Syariah.
Pembentukan tim ini bertujuan untuk mengembangkan layanan perbankan
syariah di kelompok perusahaan Bank Mandiri, sebagai respon atas
diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum
untuk melayani transaksi syariah (dual banking system).
Tim Pengembangan Perbankan Syariah memandang bahwa
pemberlakuan UU tersebut merupakan momentum yang tepat untuk
melakukan konversi PT Bank Susila Bakti dari bank konvensional menjadi
bank syariah. Oleh karenanya, Tim Pengembangan Perbankan Syariah segera
mempersiapkan sistem dan infrastrukturnya, sehingga kegiatan usaha BSB
berubah dari bank konvensional menjadi bank yang beroperasi berdasarkan
prinsip syariah dengan nama PT Bank Syariah Mandiri sebagaimana
tercantum dalam Akta Notaris: Sutjipto, SH, No. 23 tanggal 8 September
Perubahan kegiatan usaha BSB menjadi bank umum syariah
dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia melalui SK Gubernur BI No.
1/24/ KEP.BI/1999, 25 Oktober 1999. Selanjutnya, melalui Surat Keputusan
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/ 1999, BI
menyetujui perubahan nama menjadi PT Bank Syariah Mandiri. Menyusul
pengukuhan dan pengakuan legal tersebut, PT Bank Syariah Mandiri secara
resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1
November 1999.
2. Visi dan Misi Perusahaan Visi
Memimpin pengembangan peradaban ekonomi yang mulia.
Misi
1. Mewujudkan pertumbuhan dan keuntungan di atas rata-rata industri
yang berkesinambungan.
2. Mengutamakan penghimpunan dana murah dan penyaluran
pembiayaan pada segmen UMKM.
3. Mengembangkan manajemen talenta dan lingkungan kerja yang sehat.
4. Meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
5. Mengembangkan nilai-nilai syariah universal
3. Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Ventje Raharjo
Bambang Widianto, P.hd
Ramzi A. Zuhdi
Komisaris : Agus Fuad
4. Dewan Pengawas Syariah
Ketua : Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA.
Anggota : Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec
Drs. H. Mohamad Hidayat, MBA, MH.
5. Direksi
Direktur Utama : Agus Sudiarto
Direktur : Achmad Syamsudin
Agus Dwi Handaya
Putu Rahwidhiyasa
Fahmi Ridho
6. Profil dan Informasi Kepemilikan Saham
a. Profil
Nama : PT. Bank Syariah Mandiri
Alamat : Wisma Mandiri I, Jl. MH. Thamrin No.5
Jakarta 10340 –
Indonesia
Telepon : (62-21) 2300 509, 3983 9000 (Hunting)
Faksimili : (62-21) 3983 2989
Tanggal Berdiri : 25 Oktober 1999
Tanggal Beroperasi : 1 November 1999
Modal Dasar : Rp
2.500.000.000.000,-Modal Disetor : Rp
1.489.021.935.000,-Kantor Layanan : 854 kantor, yang tersebar di 33 provinsi di
seluruh Indonesia
Jumlah Jaringan ATM : 909 ATM Syariah Mandiri, ATM Mandiri
11.454, ATM Bersama 53.722 unit (include
ATM Mandiri dan ATM BSM), ATM Prima
66.770 unit, EDC BCA 196.870 unit, ATM
BCA 10.596 dan Malaysia Electronic Payment
System (MEPS) 12.010 unit.
b. Kepemilikan Saham
1) PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. : 231.648.712 lembar saham
(99.999999%)
2) PT. Mandiri Sekuritas : 1 lembar saham (0.000001%)
7. Produk dan Jasa
a. Tabungan
b. Giro
c. Deposito
d. Layanan BSM Priority
f. Produk Jasa
8. Emas
9. Haji dan Umrah 10. Bagan Organisasi
[image:60.612.108.564.114.562.2]11. Penghargaan
Tabel 1.1 Daftar Penghargaan
NO NAMA
PENGHARGAAN
PEMBERI
PENGHARGAAN ATAS PRESTASI TANGGAL
1 Service Excellence
Award 2014
Majalah Infobank bekerjasama dengan Marketing Research
Penghargaan atas:
1. Best Customer
Indonesia (MRI) Service 2. Best Teller. 3. Best ATM. 4. Best Satpam
2
Service Quality Award
2014 Category: Sharia
Banking
Carre Customer Satisfaction & Loyalty dan Majalah Service Excellence
For Achieving Exceptional Total Service Quality Satisfaction Based on Customer Perception Survey SQ Index 2014
5 Juni 2014
3 Corporate Image
Award
Majalah Tempo Media Group bekerjasama dengan Frontier Consulting Group
Penghargaan atas pengukuran:
1. Quality: perhatian tinggi terhadap konsumen, produk dan jasa berkualitas tinggi, perusahaan dapat dipercaya dan perusahaan yang inovatif
2. Performance: perusahaan yang memiliki peluang untuk tumbuh dan dikelola dengan baik 3. Responsibility: Perusahaan yang peduli dengan lingkungan dan memiliki tanggung jawab social. 4. Attractiveness:
Perusahaan merupakan tempat kerja idaman, dan perusahaan memiliki karyawan berkualitas.
4 Indonesia Bank Loyalty
Award 2014
Infobank bekerja sama dengan Markplus Insight
The Best of Indonesian Bank Loyalty Champion 2014 Category: Saving Account, Islamic banking
26 Februari 2014
5
The Most Profitable
Islamic Full Fledge
Bank 2014 : Equity
IDR > 1 Triliun (BUKU
2)
Karim Business Consulting
Bank Syariah dengan kinerja terbaik dari sisi kinerja keuangan.
24 Februari 2014
6
The Most Efficient
Islamic Full Fledge
Bank 2014 : Equity
IDR > 1 Triliun (BUKU
2)
Karim Business Consulting
Bank Syariah dengan kinerja terbaik dari sisi kinerja keuangan.
24 Februari 2014
7
The Best Islamic Full
Pledge Bank 2014 :
Equity IDR > 1 Triliun
(BUKU 2)
Karim Business Consulting
Bank Syariah dengan kinerja terbaik dari sisi kinerja keuangan.
24 Februari 2014
8 The Best Islamic Bank
in Indonesia 2014 Euromoney
Penghargaan atas The Best Islamic Bank in Indonesia
13 Februari 2014
9 Top Brand Award 2014
Category Sharia Bank
Majalah Marketing bekerjasama dengan Frontier Consulting Group
In Recognition of
Outstanding Achievement in Building the Top Brand
B. Aplikasi Akad Murabahah Pada PT. Bank Syariah Mandiri (BSM)
1. Klasifikasi Akad Murabahah
Akad murabahah pada Bank Syariah Mandiri digunakan sebagai
produk dalam menyalurkan pembiayaan. Dalam melakukan pembiayaan
melalui akad murabahah, Bank Syariah Mandiri, dibedakan antara korporasi,
konsumer dan warung mikro. Untuk pembiyaan korporasi minimal dana
pembiayaan dimulai dari 30M yang harus dilakukan di kantor pusat Bank
Syariah Mandiri. Untuk pembiayaan konsumer minimal dana dimulai dari
ratusan juta sampai kurang dari 30M yang dapat dilakukan di kantor cabang
Bank Syariah Mandiri.
Untuk pembiayaan akad murabahah diatas Rp 250.000.000 diberikan
akta notariil atau yang bentuk akad atau perjanjiannya berbentuk akta notaris.
Untuk pembiayaan akad murabahah dibawah Rp 250.000.000, maka
diberikan akad atau kontrak dibawah tangan, yaitu akad yang dibuat oleh
pihak Bank Syariah Mandiri tanpa peran notaris.
10
Excellent Service
Experience Award 2014
Category Sharia Bank
Bisnis Indonesia bekerjasama dengan Carre
For Excellent Performance in Delivering Positive Customer Experience Based on Mystery Shopping Research ESEI 2014
2. Prosedur Proses Pembiayaan Akad Murabahah
a. Prosedur Proses Pembiayaan Akad Murabahah dibawah Rp
250.000.000
Terdapat tahapan-tahapan pra-akad yang harus dipenuhi
sebelum akad pembiayaan