Assalammualaikum.wr.wb
Terima Kasih Kepada Yang terhormat :
Dosen Pembimbing,
Ibu Linna Ismawati, SE., M.Si.
Dosen Penguji,
SKRIPSI
PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN DAN RASIO HUTANG
TERHADAP PERATAAN LABA PADA PERUSAHAAN
TEKSTIL DAN GARMEN YANG
TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA
The Influence of Firm Size and Ratio Of Debt To Income Smoothing in
the Textile and Garment Companies Listed in
Indonesia Stock Exchange
Disusun Ol
eh :
Sartika
21208027
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
Latar belakang
Perusahaan selalu menginginkan perolehan laba karena bersifat
menambah modal sendiri. Dengan kata lain, laba dapat diperoleh jika jumlah
penjualan lebih besar dari pada jumlah biaya operasi. Agar diperoleh laba yang
sesuai dengan jumlah yang diinginkan, maka perencanaan dan pengendalian
menjadi hal yang sangat penting dilakukan oleh pihak manajemen.
Perusahaan yang besar cenderung memiliki sumber permodalan yang
lebih banyak dan memiliki kemungkinan untuk bangkrut yang lebih kecil,
sehingga lebih mampu untuk memenuhi kewajiban finansialnya. Dengan kata
lain, perusahaan besar cenderung memiliki utang atau menggunakan dana
eksternal dalam jumlah yang lebih besar. Karena hutang yang besar
mengakibatkan risiko semakin meningkat. Jadi semakin besar hutang, maka
risiko yang ditanggung oleh pemilik modal juga akan semakin meningkat
(Widyaningdyah, 2001).
Rasio hutang
yang besar menyebabkan turunnya minat investor untuk
menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut, sehingga dapat memicu
adanya tindakan perataan laba, Apabila nilai indeks eckel menunjukkan angka
lebih kecil dari 1 (E < 1), dan sebaliknya untuk perusahaan yang tidak
FENOMENA PENELITIAN
rata-rata kedelapan perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia selama periode tahun 2006 hingga tahun 2010 terlihat bahwa ukuran
perusahaan selalu mengalami peningkatan dari tahun 2006-2010, Hal ini dikarenakan
laba bersih setelah pajak meningkat yang diperoleh dari jumlah penjualan lebih besar
dari pada jumlah biaya operasi menunjukan perusahaan memiliki kinerja yang baik
sehingga laba yang diperoleh perusahaan meningkat. Semakin besar laba semakin besar
pula ukuran perusahaan. Perusahaan yang besar cenderung memiliki sumber
permodalan yang lebih banyak dan memiliki kemungkinan untuk bangkrut yang lebih
kecil, sehingga lebih mampu untuk memenuhi kewajiban finansialnya.
Rata-rata Rasio hutang mengalami fluktuasi karena diperusahaan dengan mudah
memperoleh dana pinjaman eksternal mengingat tingkat suku bunga yang tinggi
semakin besar hutang maka risiko yang ditanggung oleh pemilik modal juga akan
semakin meningkat. Hutang yang besar mengakibatkan minat investor untuk
menanamkan modalnya pada perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan besar
cenderung memiliki utang atau menggunakan dana eksternal dalam jumlah yang lebih
besar.
Perusahaan melakukan perataan laba tahun 2008-2009 karena nilai indeks Eckel < 1
berdampak pada laba yang dipeoleh perusahaan sedikit tidak sesuai laba yang
Identifikasi masalah:
1.
Banyaknya hutang
mengakibatkan
turunnya investor
untuk menanamkan
modalnya.
2.
Perusahaan yang besar
memiliki dorongan
untukmelakukan
perataan laba
Rumusan Masalah :
1.
Bagaimana perkembangan ukuran
perusahaan pada perusahaan tekstil dan
garmen yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia
2. Bagaimana perkembangan rasio hutang
pada perusahaan tekstil dan garmen yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia
3. Bagaimana perkembangan perataan laba
pada perusahaan tekstil dan garmen yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia
4. Seberapa besar pengaruh ukuran
perusahaan terhadap perataan laba pada
perusahaan tekstil dan garmen yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Maksud Penelitian:
Untuk memperoleh informasi
mengenai pengaruh ukuran
perusahaan dan rasio hutang
terhadap perataan laba.
TUjuan Penelitian :
1.
Untuk mengetahui perkembangan ukuran
perusahaan pada perusahaan tekstil dan
garmen yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia.
2. Untuk mengetahui perkembangan rasio
hutang pada perusahaan tekstil dan garmen
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk mengetahui perkembangan perataan
laba pada perusahaan tekstil dan garmen
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
4. Untuk mengetahui besarnya pengaruh
ukuran perusahaan terhadap perataan laba
pada perusahaan tekstil dan garmen yang
terdaftar di BEI .
5. Untuk mengetahui besarnya pengaruh rasio
hutang terhadap perataan laba pada
perusahaan tekstil dan garmen yang
terdaftar di BEI.
KAJIAN PUSTAKA
1.
Menurut
Brigham dan Houston
(2001:117-119
),mengemukakan bahwa
: “
Ukuran perusahaan yaitu
rata
–
rata total penjualan bersih untuk tahun yang
bersangkutan sampai beberapa tahun
.”
2.
Menurut
Irham Fahmi (2011:62)
: “
Rasio Hutang adalah
mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan
utang
”.
3.
Menurut
Irham Fahmi (2011:8)
perataan laba (
Income
smoothing)
merupakan suatu tindakan yang dilakukan
Teori Penghubung
Hubungan Rasio Hutang
dengan Perataan Laba
Hubungan Ukuran Perusahaan
dengan Perataan Laba
Menurut
Herawaty (2005)
Menemukan
bukti bahwa perusahaan yang lebih besar
memiliki dorongan yang lebih besar pula
untuk
melakukan
perataan
laba
dibandingan dengan perusahaan yang
lebih kecil karena perusahaan yang lebih
besar menjadi subjek pemeriksaan.
Menurut
Sartono (2001)
rasio hutang
Kerangka Pemikiran
Ukuran Perusahaan
Logaritma natural dari
total penjualan
Brigham dan Houston,
(2001:117-119
)
Herawaty (2005)
Sartono (2001)
Rasio Hutang
Debt Equit Rasio (DER)
Total liabilities
Total
Shareholder’s
Equity
Irham Fahmi (2011:62)
Perataan Laba
Nilai Indeks Eckel
CV
△
S/CV
△
I
OBJEK DAN METODE Penelitian
Objek Penelitian
Ukuran perusahaan dan rasio hutang sebagai variabel bebas
(variabel independen).Perataan laba sebagai variabel terikat
(variabel dependen).
Penelitian dilakukan pada sektor perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2006-2010
Metode Penelitian
Metode Deskriptif dan Verifikatif dengan pendekatan kuantitatifOperasionalisasi Variabel
Variabel Independen (x1) : Ukuran perusahaan Variabel Independen (x2) : Rasio hutangVariabel Dependen (y) : Perataan laba
Sumber Data
Data SekunderTeknik Penentuan Data
Populasi8 perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2010. menggunakan laporan ICMD periode 2006-2010
Sampel
Laporan ICMD dari tahun 2006-2010 atau selama 5 tahun
Teknik Pengumpulan Data
Dokumentasi Studi Kepustakaan
Rancangan Analisis
-Uji Asumsi Klasik-Analisis Regresi Linier Berganda -Analisis Korelasi Pearson
-Koefisien Determinasi
Operasionalisasi Variabel
Variabel
Konsep VariabelIndikator
Skala
Ukuran
perusahaan
sebagai
variabel
Independen
pertama(X
1)
Rata
–
rata total penjualan bersih
untuk tahun yang bersangkutan
sampai beberapa tahun.
(Brigham dan
Houston,2001:117-119
).
Logaritma Natural (
Ln
)
dari Total Penjualan
R A S I O
Rasio
hutang
sebagai
variabel
Independen
kedua(X
2)
Mengukur seberapa besar
perusahaan dibiayai dengan
utang.
(Irham Fahmi 2011:62)
Total LiabilitiesT
otal
Shareholder’s
Equity
Debt Equity Ratio=
R A S I O
Perataan laba
sebagai variabel
Dependen
(Y)
Merupakan suatu tindakan
yang dilakukan dengan
mengubah informasi
pendapatan perusahaan tidak
sebagaimana mestinya, dan
itu dilakukan dengan tujuan
dan maksud tertentu.
(Irham Fahmi 2011:8)
Nilai Indeks Eckel
CV
△
S/CV
△
I
Analisis Verifikatif
A.
Uji Asumsi Klasik
2.
Uji Multikolinieritas
4.
Uji Autokorelasi
B.
Analisis Regresi Berganda
Y = a + b
1
X
1
+ b
2
X
2
C.
Analisis Korelasi Pearson
1.
Korelasi
ukuran perusahaan dengan perataan laba
2. Korelasi Rasio hutang Dengan Perataan laba
D.
Koefisien Determinasi
1.
Bila dilihat dari nominalnya rata-rata ukuran perusahaan pada perusahaan tekstil dan
garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia terus mengalami peningkatan hingga tahun
2010. Hal ini dikarenakan laba bersih setelah pajak meningkat yang diperoleh dari jumlah
penjualan lebih besar dari pada jumlah biaya operasi.
2.
Secara rata-rata Rasio Hutang pada perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia selama periode 2006-2010 mengalami fluktuasi , hanya pada tahun 2008
sempat mengalami penurunan sebagai akibat dari perusahaan lebih menggunakan modal
sendiri dari pada dana hutangnya pada tahun 2008.
3.
Secara rata-rata Perataan Laba pada perusahaan Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia selama periode tahun 2006-2010 mengalami Fluktuasi . Hanya saja krisis
keuangan global yang terjadi pada tahun 2008 mengakibatkan krisis kepercayaan investor
sehingga membuat rata-rata perataan laba pada perusahaan tekstil dan garmen yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia sempat mengalami penurunan. Sehingga berdampak pada
laba yang diperoleh perusahaan tidak sesuai yang diharapkan perusahaan oleh karena itu
perusahaan terdorong untuk melakukan praktik perataan laba.
4.
Ukuran Perusahaan hanya memberikan pengaruh sebesar 6,8% terhadap Perataan Laba
pada perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan memang
hasil pengujian menunjukkan bahwa Ukuran perusahaan berpengaruh tidak signifikan
terhadap Perataan Laba. Nilai koefisien regresi Ukuran Perusahaan yang bertanda negatif
mengindikasikan bahwa kenaikan Ukuran Perusahaan justru mengakibatkan perusahaan
melakukan perataan laba.
5.
Rasio Hutang hanya memberikan pengaruh sebesar 20,3% terhadap Perataan Laba pada
perusahaan Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, namun hasil
pengujian membuktikan bahwa Rasio Hutang berpengaruh signifkan terhadap Perataan
Laba. Nilai koefisien regresi Rasio Hutang yang bertanda positif mengindikasikan bahwa
kenaikan Rasio Hutang mengakibatkan perusahaan melakukan perataan laba.
1.
Bagi Perusahaan Tekstil dan Garmen, sebaiknya terus meningkatkan kinerja
perusahaannya terutama yang berkaitan dengan Ukuran Persahaan dan
Rasio Hutang sehingga dengan kinerja perusahaan yang baik akan
mendorong minat investor untuk menginvestasikan sahamnya pada
perusahaan tersebut. Karena dengan tingginya tingkat pengembalian aktiva
maka investor akan percaya bahwa perusahaan mampu memberikan tingkat
pengembalian saham yang diharapkan para investor .
2.
Bagi para investor, dalam menilai Rasio Hutang pada Perusahaan tekstil dan
garmen yang
Listing
di BEI hendaknya melihat besarnya Rasio Hutang
dijadikan dasar pertimbangan bagi investor untuk menanamkan modalnya
untuk keputusan investasi karena semakin tinggi tingkat Hutang maka
risiko yang ditanggung oleh pemilik modal juga akan meningkat.
3.
Bagi peneliti lain, hendaknya mempertimbangkan keterbatasan yang ada
dalam penelitian ini yaitu dengan memperpanjang periode penelitian dan
mengadakan penelitian dengan obyek penelitian yang berbeda.
TERIMA KASIH
PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN DAN RASIO HUTANG
TERHADAP PERATAAN LABA PADA PERUSAHAAN
TEKSTIL DAN GARMEN YANG
TERDAFTAR DI
BURSA EFEK INDONESIA
The Influence of Firm Size and Ratio Of Debt To Income Smoothing in the Textile and Garment Companies Listed in
Indonesia Stock Exchange
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Manajemen
Oleh :
SARTIKA 21208027
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
v
ABSTRAK
PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN DAN RASIO HUTANG TERHADAP PERATAAN LABA PADA PERUSAHAAN TEKSTIL DAN
GARMEN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Oleh : Sartika
Pembimbing : Linna Ismawati,SE.,M.Si
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran perusahaan, rasio hutang dan perataan laba, juga untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan dan rasio hutang terhadap perataan laba secara parsial pada perusahaan tekstil dan garmen.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan verifikatif. Sedangkan data yang digunakan adalah data sekunder yaitu laporan keuangan perusahaan tekstil dan garmen terdiri dari data tahun 2006-2010. Pengujian statistik yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda, uji asumsi klasik, analisis korelasi pearson, koefisien determinasi, uji t.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Secara parsial, ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap perataan laba, Sedangkan rasio hutang berpengaruh positif signifikan terhadap perataan laba.
iv
ABSTRACT
The Influence of Firm Size and the Ratio of Debt to Income Smoothing in the Textile and Garment Companies Listed in Indonesia Stock Exchange
By : Sartika
Guide : Linna Ismawati,SE.,M.Si
This research aims to determine the Firm Size, Ratio of Debt and Income Smoothing, also to know the ifluence of Firm Size and Ratio of Debt on Income Smoothingto partially in Textile and Garment Companies.
The method used is descriptive method and verifikatif. While the data used are secondary data that is financial statements Textile and Garment Companies Listed in Indonesia Stock Exchange for 2006-2010. Statistical test used is multiple linear regression analysis, the classical assumption test, pearson correlation analysis, coefficient of determination, t test.
The results showed that Partially, a significant negative effect of Firm Size on Income Smoothing, While the debt ratio is significantly positive effect on earnings smoothing.
vi
KATA PENGANTAR
Segala Puji serta syukur kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan Karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini yang berjudul:
Pengaruh Ukuran Perusahaan Dan Rasio Hutang Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Tekstil Dan Garmen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.
Tidak lupa pula shalawat dan salam penulis tujukan kepada Nabi Besar
Rasulullah Muhammad S.A.W yang telah berjuang membawa umat manusia
kepada fitrah yang benar dan jalan yang lurus.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati pada kesempatan ini
perkenankan penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada yang terhormat :
1. Bapak Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, Selaku Rektor Universitas Komputer
Indonesia.
2. Ibu Prof. Dr. Hj Umi Narimawati, Dra.,SE.,M.Si, Selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.
3. Ibu Linna Ismawati, SE.,M.Si, Selaku Ketua Program Studi Manajemen
vii
4. Ibu Linna Ismawati, SE.,M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah
membantu dalam memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh
kesabaran dan keikhlasan dalam penyusunan Skripsi ini.
5. Semua Dosen Fakultas Ekonomi Khususnya Manajemen terima kasih untuk
pengabdian serta ilmu yang telah diberikan kepada penulis, semoga ilmu
yang di ajarkan bisa bermanfaat untuk kehidupan penulis dan lingkungan
sekitar penulis.
6. Orang tuaku Tersayang Ibu Casyuti dan Bapak Ta’ali, Terimakasih atas
segala do’a, pengorbanan baik materil maupun moril serta dukungannya
sampai saat ini, semoga penulis menjadi anak yang soleha, berbakti kepada
kedua orang tua, sukses dalam hidup, dan bisa membalas budi baik kalian.
7. Serta kedua adik ku yang cantik-cantik Ulfa Hidayah dan Naila Maghfiroh, ,
Bersyukur dan bahagia bisa memiliki adik seperti kalian. Terimakasih untuk
do’a serta dukungannya.
8. Kakek Nenek, Keluarga besar semua, Terimakasih atas dukungannya.
9. Sahabatku Terkasih khususnya (The Jambuz) Tini, Cica, Eti, Nety, Sent,
Icha, Eris, Teman-temanku Mn-1 2008 Senang banget bisa ketemu kalian
semua,Terimakasih atas bantuan dan dukungannya. Merupakan hal yang
terindah bisa mengenal kalian semua,semoga persahabatan kita akan abadi
untuk selamanya.
10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis.
Penulis sangat menyadari bahwa penyusunan skripsi ini sangat jauh dari kata
viii
adalah hal yang menjadi kekurangan penulis. Oleh karenanya, kritik dan
saran yang membangun sangat diharapkan oleh penulis untuk perbaikan di
kemudian hari.
Akhirnya penulis panjatkan doa semoga Allah SWT memberikan
Taufik dan Hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.
Bandung, September 2012
Penulis
ix
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ... i PERNYATAAN KEASLIAN ... ii MOTTO ... iii ABSTRACT ... iv ABSTRAK ... v KATA PENGANTAR ... vi DAFTAR ISI ... ix DAFTAR GAMBAR ... xiii DAFTAR TABEL ... xiv DAFTAR LAMPIRAN ... xv BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah... 6
1.2.1 Identifikasi Masalah ... 6
1.2.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 6
1.3.1 Maksud Penelitian ... 6
1.3.2 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Kegunaan Penelitian ... 7
1.4.1 Kegunaan Praktis ... 7
1.4.2 Kegunaan Akademis ... 8
x
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
2.1Kajian Pustaka ... 10
2.1.1 Ukuran Perusahaan ... 10
2.1.1.1Pengertian Ukuran Perusahaan ... 10
2.1.2 Rasio Hutang ... 13
2.1.2.1Pengertian Rasio Hutang ... 13
2.1.2.2Tujuan dan Manfaat Rasio Hutang... 14
2.1.2.3Jenis-jenis Rasio Hutang ... 15
2.1.2.4Alasan Memilih Debt to Equity Ratio ... 17
2.1.3 Perataan Laba ... 18
2.1.3.1Pengertian Perataan Laba ... 18
2.1.3.2Sasaran Perataan Laba ... 20
2.1.3.3Terjadinya Perataan Laba ... 20
2.1.3.4Faktor- faktor Perataan Laba ... 21
2.1.4 Penelitian Terdahulu ... 23
2.2 Kerangka Pemikiran ... 26
2.2.1 Hubungan Ukuran Perusahaan dengan Perataan Laba ... 27
2.2.2 Hubungan Rasio Hutang dengan Perataan Laba ... 27
xi
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian ... 29
3.2 Metode Penelitian ... 30
3.2.1 Desain Penelitian... 31
3.2.2 Operasionalisasi Variabel ... 33
3.2.3 Sumber dan Teknik Penentuan Data ... 36
3.2.3.1Sumber Data ... 36
3.2.3.2Teknik Penentuan Data ... 37
3.2.4 Teknik Pengumpulan Data ... 39
3.2.5 Rancangan Analisis dan Pengujian Hipotesis ... 40
3.2.5.1Rancangan Analisis ... 40
3.2.5.2Pengujian Hipotesis ... 49
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 52
4.1.1 Sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI) ... 52
4.1.2 Sejarah Perusahaan Tekstil dan Garmen ... 53
4.1.3 Kegiatan Perusahaan ... 57
4.2 Analisis Deskriptif ... 59
4.2.1 Perkembangan Rata-rata Ukuran perusahaan Pada
Perusahaan Tekstil dan Garmen Yang Terdaftar Di Bursa
xii
4.2.2 Perkembangan Rasio hutang Pada Perusahaan Tekstil dan
Garmen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode
2006-2010 ... 60
4.2.3 Perkembangan Rata-rata perataan laba pada Perusahaan
Tekstil dan Garmen yang Terdaftar di BEI Periode
2006-2010 ... 62
4.3 Analisis Verifikatif ... 64
4.3.1 Pengaruh Ukuran perusahaan Secara Parsial
Terhadap Perataan laba ... 76
4.3.2 Pengaruh Rasio hutang Secara Parsial Terhadap
Perataan laba ... 78
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 81
5.2 Saran ... 83
DAFTAR PUSTAKA ... 85
LAMPIRAN
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Laporan keuangan merupakan suatu cerminan dari kondisi perusahaan.Di
dalam laporan keuangan terdapat informasi yang dibutuhkan oleh pihak yang
berkepentingan dengan perusahaan untuk dasar pembuatan keputusan ekonomi.
Informasi akuntansi yang berhubungan dengan kinerja perusahaan merupakan
kebutuhan yang paling mendasar pada proses pembuatan keputusan bagi investor.
Informasi laba merupakan informasi potensial yang terkandung dalam laporan
keuangan yang digunakan untuk menilai kinerja manajemen,membantu estimasi
laba yang representative dalam jangka panjang dan menaksir resiko investasi dan
kredit. Laba yang menjadi pertimbangan dalam mengukur kinerja manajemen
tanpa mempertimbangkan prosedur yang digunakan dalam menghasilkan
informasi tersebut akan mendorong manajemen melakukan perilaku yang tidak
semestinya ( disfunctional behavior). Tindakan manajer ini kadang bertentangan
dengan tujuan perusahaan.
Perataan laba merupakan praktik yang dilakukan manajer untuk
mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan dan meningkatkan kemampuan
manajer untuk meramalkan arus kas di masa mendatang. Usaha untuk mengurangi
fluktuasi laba adalah salah satu bentuk manipulasi laba agar laba suatu periode
tidak terlalu berbeda dengan jumlah laba periode sebelumnya. Pada intinya
2
menguntungkan bagi nilai saham serta penilaian kinerja manajer. Praktik perataan
laba yang disengaja dilakukan oleh perusahaan mengarah pada suatu tingkatan
yang diinginkan atas laba yang dilaporkan.
Hal ini menunjukkan bahwa laba adalah sesuatu yang paling
dipertimbangkan oleh investor untuk mengambil keputusan apakah akan
melakukan investasi atau tidak. Oleh karena itu, manajer berusaha memberikan
informasi yang akan meningkatkan nilai perusahaan dan kualitas manajemen di
mata investor.
Perusahaan selalu menginginkan perolehan laba bersih setelah pajak
karena bersifat menambah modal sendiri. Dengan kata lain, laba bersih dapat
diperoleh jika jumlah penjualan lebih besar dari pada jumlah biaya operasi. Agar
diperoleh laba bersih yang sesuai dengan jumlah yang diinginkan, maka
perencanaan dan pengendalian menjadi hal yang sangat penting dilakukan oleh
pihak manajemen.
Perusahaan yang besar cenderung memiliki sumber permodalan yang lebih
banyak dan memiliki kemungkinan untuk bangkrut yang lebih kecil, sehingga
lebih mampu untuk memenuhi kewajiban finansialnya. Dengan kata lain,
perusahaan besar cenderung memiliki utang atau menggunakan dana eksternal
dalam jumlah yang lebih besar.
Praktik Perataan laba merupakan fenomena yang umum dan dilakukan
banyak negara. Namun demikian, praktik perataan ini dilakukan dengan sengaja
3
Sebagai akibatnya, investor mungkin tidak memperoleh informasi yang
akurat yang memadai mengenai laba untuk mengevaluasi hasil dan risiko dari
portofolio mereka. Perataan laba (income smoothing) sering dinyatakan apakah
baik atau tidak, atau boleh atau tidak.
Perataan laba baik dilakukan jika dalam pelaksanaannya tidak melakukan
kecurangan yang disengaja (fraud). Ada yang berpendapat bahwa perataan laba
bukanlah suatu masalah dalam pelaporan keuangan karena memperbaiki
kemampuan laba untuk mencerminkan nilai ekonomi suatu perusahaan dan dinilai
oleh pasar tidak efisien.
Bila laba dimanipulasi maka rasio keuangan dalam laporan keuangan juga
akan dimanipulasi. Pada akhirnya, bila pengguna laporan keuangan menggunakan
informasi yang telah dimanipulasi untuk tujuan pengambilan keputusannya, maka
keputusan tersebut secara tidak langsung telah termanipulasi.
Disisi lain, laporan keuangan dimanfaatkan oleh investor dalam
pengambilan keputusan ekonominya. Hal ini berdasarkan alasan bahwa rasio
hutang menunjukkan efisiensi perusahaan memanfaatkan besarnya kepentingan
pemilik dalam rangka mengantisipasi hutang jangka panjang dan jangka pendek
perusahaan sehingga tidak akan mengganggu operasi perusahaan secara
keseluruhan dalam jangka panjang. Karena hutang yang besar mengakibatkan
rasio hutang menjadi besar yang mengakibatkan risiko semakin meningkat. Jadi
semakin besar hutang, maka risiko yang ditanggung oleh pemilik modal juga akan
4
Rasio hutang yang besar menyebabkan turunnya minat investor untuk
menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut, sehingga dapat memicu adanya
tindakan perataan laba.
Berikut merupakan tabel nilai rata-rata ukuran perusahaan, rasio hutang
dan perataan laba pada perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa
[image:41.595.103.521.339.468.2]Efek Indonesia periode 2006 sampai dengan 2010:
Tabel 1.1
Rata - Rata Ukuran perusahaan, Rasio hutang Dan Perataan laba Pada Perusahaan Tekstil dan garmen di BEI Periode 2006-2010
Tahun Ukuran perusahaan (Rp) Rasio Hutang(%) Perataan laba(%)
2006 857634 155,2 9,9
2007 1004646 170,5 6,3
2008 1068646 147,8 -1,5 2009 1658463 306,5 -17,4
2010 1736114 318,3 11,2
Sumber : ICMD, Data yang Diolah.
Pada Tabel terlihat secara rata-rata kedelapan perusahaan tekstil dan
garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2006 hingga
tahun 2010 terlihat bahwa ukuran perusahaan selalu mengalami peningkatan dari
tahun 2006-2010, Hal ini dikarenakan laba bersih setelah pajak meningkat yang
diperoleh dari jumlah penjualan lebih besar dari pada jumlah biaya operasi
menunjukan perusahaan memiliki kinerja yang baik sehingga laba yang diperoleh
perusahaan meningkat. Semakin besar laba semakin besar pula ukuran
5
lebih banyak dan memiliki kemungkinan untuk bangkrut yang lebih kecil,
sehingga lebih mampu untuk memenuhi kewajiban finansialnya.
Rata-rata Rasio hutang mengalami fluktuasi karena diperusahaan dengan
mudah memperoleh dana pinjaman eksternal mengingat tingkat suku bunga yang
tinggi semakin besar hutang maka risiko yang ditanggung oleh pemilik modal
juga akan semakin meningkat. Hutang yang besar mengakibatkan minat investor
untuk menanamkan modalnya pada perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan
besar cenderung memiliki utang atau menggunakan dana eksternal dalam jumlah
yang lebih besar. Perusahaan melakukan perataan laba tahun 2008-2009 karena
nilai indeks Eckel < 1 berdampak pada laba yang dipeoleh perusahaan sedikit
tidak sesuai laba yang diharapkan oleh karena itu perusahaan terdorong untuk
melakukan perataan laba agar investor tertarik untuk menanamkan modalnya.
Berdasarkan fenomena – fenomena diatas maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul:
“Pengaruh Ukuran Perusahaan Dan Rasio HutangTerhadap Perataan Laba
Pada Perusahaan Tekstil Dan Garmen Yang Terdaftar Di Bursa Efek
6
1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah 1.2.1 Identifikasi Masalah
1. Banyaknya hutang mengakibatkan turunnya investor untuk menanamkan
modalnya.
2. Perusahaan yang besar memiliki dorongan untuk melakukan perataan laba.
1.2.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan dalam latar belakang, maka
penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perkembangan ukuran perusahaan pada perusahaan tekstil dan
garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
2. Bagaimana perkembangan rasio hutang pada perusahaan tekstil dan
garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
3. Bagaimana perkembangan perataan laba pada perusahaan tekstil dan
garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
4. Seberapa besar pengaruh ukuran perusahaan terhadap perataan laba pada
perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
5. Seberapa besar pengaruh rasio hutang terhadap perataan laba pada
perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai
7
1.3.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perkembangan ukuran perusahaan pada perusahaan
tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk mengetahui perkembangan rasio hutang pada perusahaan tekstil dan
garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk mengetahui perkembangan perataan laba pada perusahaan tekstil
dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
4. Untuk mengetahui besarnya pengaruh ukuran perusahaan terhadap
perataan laba pada perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di BEI .
5. Untuk mengetahui besarnya pengaruh rasio hutang terhadap perataan laba
pada perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di BEI.
1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Praktis
1. Bagi Perusahaan/ Emiten
Sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam menentukan Perataan
Laba dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Dan diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menjelaskan secara
empiris tantang adanya praktik perataan laba yang merupakan usaha untuk
merekayasa laporan keuangan yang dilakukan perusahaan publik di
8
2. Bagi Investor dan Calon Investor
Diharapkan informasi yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini
dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan keputusan
investasi sehingga sebelum menanamkan modal atau investasi dan dapat
mempertimbangkan faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhinya.
1.4.2 Kegunaan Akademis
1. Para peneliti dapat digunakan sebagai informasi dan pengembangan untuk
penelitian selanjutnya, serta sebagai penambah khasanah baca bagi
mahasiswa.
2. Bagi Peneliti Lain
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
tambahan referensi bagi para peneliti lain yang melakukan penelitian
sejenis pada masa yang akan datang.
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk memperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan masalah
yang diteliti penulis mengadakan Penelitian di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada
perusahaan Tekstil dan Garmen 2006-2010.
Adapun jangka waktu dalam menyusun penelitian ini adalah kurang lebih
selama enam bulan, terhitung dari bulan Februari-Juli 2012. Berikut jadwal
9
Tabel 1.2
Jadwal Kegiatan Penelitian
No Jadwal Kegiatan
Bulan Februari-Juli 2012 Minggu
Ke
Minggu Ke
Minggu Ke
Minggu Ke
Minggu Ke
Minggu Ke 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pra survei:
a. Persiapan judul
b. Persiapan teori
c. Pengajuan judul penelitian
d. Menentukan tempat penelitian
2. Usulan penelitian
3. Pengumpulan data
4. Pengolahan data
5. Penyusunan laporan penelitian
10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Ukuran Perusahaan
2.1.1.1Pengertian Ukuran Perusahaan
Menurut Agus Sartono (2010;249), perusahaan besar yang sudah
well-established akan lebih mudah memperoleh modal di pasar modal dibanding
dengan perusahaan kecil. Karena kemudahan akses tersebut berarti perusahaan
besar memiliki fleksibilitas yang lebih besar pula.
Menurut Irham Fahmi (2011;2), semakin baik kualitas laporan keuangan
yang disajikan maka akan semakin menyakinkan pihak eksternal dalam melihat
kinerja keuangan perusahaan tersebut, yang otomatis tentunya pihak-pihak yang
berhubungan dengan perusahaan akan merasa puas dalam berbagai urusan dengan
perusahaan.
Perusahaan selalu menginginkan perolehan laba bersih setelah pajak
karena bersifat menambah modal sendiri. Dengan kata lain, laba bersih dapat
diperoleh jika jumlah penjualan lebih besar daripada jumlah biaya operasi. Agar
diperoleh laba bersih yang sesuai dengan jumlah yang diinginkan, maka
perencanaan dan pengendalian menjadi hal yang sangat penting dilakukan oleh
pihak manajemen.
Perusahaan yang berada pada pertumbuhan penjualan yang tinggi
11
pada perusahaan yang tingkat pertumbuhan penjualannya rendah kebutuhan
terhadap modal juga semakin kecil. Akan tetapi, jika dana dari sumber intern
sudah tidak mencukupi, maka tidak ada pilihan lain bagi perusahaan untuk
menggunakan dana yang berasal dari luar perusahaan, baik utang maupun dengan
mengeluarkan saham baru.
Perusahaan yang besar cenderung memiliki sumber permodalan yang lebih
banyak dan memiliki kemungkinan untuk bangkrut yang lebih kecil, sehingga
lebih mampu untuk memenuhi kewajiban finansialnya. Dengan kata lain,
perusahaan besar cenderung memiliki utang atau menggunakan dana eksternal
dalam jumlah yang lebih besar.
Menurut Bambang Riyanto (2008;299-300), suatu perusahaan yang besar
yang sahamnya tersebar sangat luas, setiap perluasan modal saham hanya akan
mempunyai pengaruh yang kecil terhadap kemungkinan hilangnya atau
tergesernya pengendalian dari pihak yang dominan terhadap perusahaan
bersangkutan.
Dengan demikian, maka perusahaan yang besar akan lebih berani
mengeluarkan saham baru dalam memenuhi kebutuhan untuk membiayai
pertumbuhan yang didasarkan pada penjualan, dibandingkan dengan perusahaan
yang kecil.
Menurut Agnes Sawir (2004;101-102) ukuran perusahaan dinyatakan
sebagai determinan dari struktur keuangan dalam hampir setiap studi untuk alasan
12
Pertama, ukuran perusahaan dapat menentukan tingkat kemudahan
perusahaan memperoleh dana dari pasar modal. Perusahaan kecil umumnya
kekurangan akses ke pasar modal yang terorganisir, baik untuk obligasi maupun
saham. Meskipun mereka memiliki akses, biaya peluncuran dari penjualan
sejumlah kecil sekuritas dapat menjadi penghambat. Jika penerbitan sekuritas
dapat dilakukan, sekuritas perusahaan kecil mungkin kurang dapat dipasarkan
sehingga membutuhkan penentuan harga sedemikian rupa agar investor
mendapatkan hasil yang memberikan return lebih tinggi secara signifikan.
Kedua, ukuran perusahaan menentukan kekuatan tawar-menawar dalam
kontrak keuangan. Perusahaan besar biasanya dapat memilih pendanaan dari
berbagai bentuk hutang, termasuk penawaran spesial yang lebih menguntungkan
dibandingkan yang ditawarkan perusahaan kecil. Semakin besar jumlah uang yang
digunakan, semakin besar kemungkinan kemungkinan pembuatan kontrak yang
dirancang sesuai dengan preferensi kedua pihak sebagai ganti dari penggunaan
kontrak standar hutang.
Ketiga, ada kemungkinan pengaruh skala dalam biaya dan return membuat
perusahaan yang lebih besar dapat memperoleh lebih banyak laba. Pada akhirnya,
ukuran perusahaan diikuti oleh karakteristik lain yang mempengaruhi struktur
keuangan. Karakteristik lain tersebut seperti perusahaan sering tidak mempunyai
staf khusus, tidak menggunakan rencana keuangan, dan tidak mengembangkan
13
Menurut Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (2001;117-119),
mengemukakan bahwa “Ukuran perusahaan yaitu rata–rata total penjualan bersih
untuk tahun yang bersangkutan sampai beberapa tahun.”
Dari berbagai penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ukuran
perusahaan merupakan nilai penjualan bersih suatu perusahaan pada suatu tahun
tertentu.
Dalam penelitian ini, ukuran perusahaan dinilai dengan penjualan bersih
perusahaan selama satu tahun tertentu. Mengingat nilai total penjualan yang cukup
besar, maka dalam pengukurannya dikonversikan dalam logaritma natural (Ln).
Dengan demikian perusahaan jenis ini lebih memilih untuk tidak
melakukan pengungkapan yang luas dan lengkap sebagaimana dilakukan oleh
perusahaan besar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat
kecenderungan semakin besar ukuran perusahaan akan semakin cenderung untuk
melakukan perataan laba.
2.1.2 Rasio Hutang
2.1.2.1Pengertian Rasio Hutang
Menurut Kasmir (2010;151) “Rasio solvabilitas atau leverage ratio
merupakan rasio yang digunakan untuk mengatur sejauh mana aktivitas
perusahaan dibiayai dengan utang”.
Sedangkan Menurut Irham Fahmi (2011;62) : “Rasio leverage adalah
mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang”.
Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan
14
perusahaan akan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk
melepaskan beban utang tersebut. Karena itu sebaiknya perusahaan harus
menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan dari mana sumber yang
dapat dipakai untuk membayar utang.
2.1.2.2Tujuan dan Manfaat Rasio Hutang
Menurut Kasmir (2010:153-154) tujuan perusahaan dengan menggunakan
rasio hutang (leverage) yakni :
1. Untuk mengetahui posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak
lainnya (kreditor).
2. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang
bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga).
3. Untuk menilai keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva tetap
dengan modal.
4. Untuk menilai seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.
5. Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap
pengelolaan aktiva.
6. Untuk menilai atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal
sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.
7. Untuk menilai berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih, terdapat
15
Sementara itu, manfaat rasio solvabilitas atau leverage ratio adalah :
1. Untuk menganalisis kemampuan posisi perusahaan terhadap kewajiban
kepada pihak lainnya.
2. Untuk menganalisis kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang
bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga).
3. Untuk menganalisis keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva
tetap dengan modal.
4. Untuk menganalisis seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.
5. Untuk menganalisis seberapa besar utang perusahaan berpengaruh
terhadap pengelolaan aktiva.
6. Untuk menganalisis atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal
sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.
7. Untuk menganalisis berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih ada
terdapat sekian kalinya modal sendiri.
2.1.2.3Jenis-jenis Rasio Hutang
Menurut Irham Fahmi (2011;127) jenis-jenis rasio yang ada dalam rasio
hutang (leverage) antara lainnya :
1. Debt to Total Assets atau Debt Ratio
Dimana rasio ini disebut juga sebagai rasio yang melihat perbandingan
utang perusahaan, yaitu diperoleh dari perbandingan utang perusahaan,
16
Rumus Debt to Total Assets atau Debt Ratio
2. Debt to equity ratio
Mengenai Debt to equity ratio ini Joel G.Siegel dan Jae K.Shim
mendefinisikannya sebagai “ukuran yang dipakai dalam menganalisis
laporan keuangan untuk memperlihatkan besarnya jaminan yang tersedia
untuk kreditor.” Rumus Debt to equity ratio
Keterangan : = Total Modal Sendiri
3. Time interest earned
Time interest earned disebut juga dengan rasio kelipatan. Rumus Time
interest earned :
Keterangan :
= Laba sebelum pajak
dan pajak
= Beban Bunga
4. Cash Flow Coverage
17
5. Long – Term Debt to Total Capitalization
Long – Term Debt to Total Capitalization disebut juga dengan utang
jangka panjang/total kapitalisasi.long term debt merupakan sumber dana
pinjaman yang bersumber dari utang jangka panjang, seperti obligasi dan
sejenisnya.
Rumus Long – Term Debt to Total Capitalization:
Keterangan : long term debt = Utang jangka panjang
6. Fixed Charge Coverage
Fixed Charge Coverage disebut juga dengan rasio menutup beban tetap.
Rumus :
7. Cash Flow Adequancy
Cash Flow Adequancy disebut juga dengan rasio kecukupan arus kas.
Rumus :
2.1.2.4Alasan Memilih Debt to Equity Ratio
Seperti diketahui, dalam menandai usahanya, perusahaan memiliki
beberapa sumber dana. Sumber-sumber dana yang dapat diperoleh adalah
18
Keputusan untuk memilih menggunakan modal sendiri atau modal
pinjaman haruslah digunakan beberapa perhitungan yang matang. Dalam hal ini
leverage ratio (rasio solvabilitas) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang. Artinya
besarnya jumlah utang yang digunakan perusahaan untuk membiayai kegiatan
usahanya jika dibandingkan dengan modal sendiri.
Bagi bank (kreditor), semakin besar rasio ini, akan semakin tidak
menguntungkan karena akan semakin besar rasio yang ditanggung atas kegagalan
yang mungkin terjadi diperusahaan. Namun, bagi perusahaan justru semakin besar
rasio akan semakin baik. Sebaliknya dengan rasio yang rendah, semakin tinggi
tingkat pendanaan yang disediakan pemilik dan semakin besar batas pengamanan
bagi peminjam jika terjadi kerugian atau penyusutan terhadap nilai aktiva. Rasio
ini juga memberikan petunjuk umum tentang kelayakan dan risiko keuangan
perusahaan.
Menurut Irham Fahmi (2011:128) Rumus Debt to equity ratio:
Keterangan : = Total Modal Sendiri
2.1.3 Perataan Laba
2.1.3.1Pengertian Perataan Laba
Menurut Irham Fahmi (2011;8) Income smoothing merupakan suatu
19
tidak sebagaimana mestinya, dan itu dilakukan dengan tujuan dan maksud
tertentu.
Laba yang berkualitas tinggi mencerminkan laba yang dapat dipertahankan
untuk jangka waktu yang panjang. Untuk bisa mencerminkan hal tersebut,
perusahaan melakukan perataan laba (income smoothing), dimana pada akhirnya
ditarik kesimpulan bahwa income smoothing merupakan proses manipulasi waktu
terjadinya laba secara sukarela oleh manajemen dengan motivasi tertentu, untuk
menekan variasi laba, agar laba yang dilaporkan sesuai dengan yang diinginkan,
guna mengurangi risiko pasar saham perusahaan, selama tidak menyimpang dari
prinsip akuntansi yang diterima secara umum.
Dengan melakukan income smoothing, investor melihat kinerja perusahaan
yang konsisten (stabil). Hal ini mengakibatkan pandangan yang bagus dari
investor mengenai perusahaan, yang secara tidak langsung menimbulkan
kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan. Untuk
mengetahui apakah suatu perusahaan dapat dikatakan melakukan praktik income
smoothing, dapat diidentifikasi dengan melihat nilai indeks eckel. Apabila nilai
indeks eckel menunjukkan angka lebih kecil dari 1 (E < 1), dan sebaliknya untuk
perusahaan yang tidak melakukan praktik tersebut.
Dengan kata lain, perusahaan yang melakukan perataan laba dapat dilihat
dari nilai covarian penjualan yang lebih besar dari covarian laba. Indeks eckel
dapat dihitung dengan rumus:
20
Keterangan :
CV = Koefisien variasi dari variabel,yaitu standar deviasi dibagi dengan nilai
yang diharapkan
△I = perubahan laba dalam satu periode
△s = perubahan penjualan dalam satu periode
Keterangan :
△x = perubahan laba (I) atau penjualan (S) antara tahun n dengan n-1
= rata-rata perubahan laba (I ) atau penjualan (S) antara tahun n dengan n-1
n = banyaknya tahun yang diamati
2.1.3.2Sasaran Perataan Laba
Sasaran perataan laba dapat dilakukan terhadap aktivitas-aktivitas yang
dapat digunakan oleh manajemen untuk mempengaruhi aliran data atau informasi.
Dengan kata lain, untuk menciptakan laporan keuangan yang sesuai yang
diinginkan, manajer dapat memasukkan informasi yang seharusnya dilaporkan
pada periode yang akan datang ke dalam laporan periode ini atau sebaliknya tidak
melaporkan informasi periode ini untuk dilaporkan pada periode yang akan
21
2.1.3.3Terjadinya Perataan Laba
Perataan laba dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
1. Manajemen dapat menentukan waktu terjadinya kejadian tertentu melalui
kebijakan yang dimiliki (misalnya biaya riset dan pengembangan) untuk
mengurangi variasi laba yang dilaporkan. Sebagai alternatif manajer juga
dapat menentukan waktu pengakuan kejadian tersebut. Jadi perataan laba
dapat dilakukan dengan pengendalian saat terjadinya atau saat pengakuan
suatu kejadian.
2. Mengubah metode akuntansi, dalam hal ini manajer dapat mengalokasikan
pendapatan atau biaya tertentu untuk beberapa periode akuntansi.
3. Manajer memiliki kebijakan sendiri dalam mengklasifikasikan pos-pos
laba rugi tertentu kedalam kategori berbeda. Contohnya pendapatan dan
biaya yang tidak berulang-ulang dapat diklasifikasikan sebagai ordinary /
extraordinary item untuk menimbulkan kesan yang lebih merata pada
ordinary income yang dilaporkan.
2.1.3.4Faktor- faktor Perataan Laba
Faktor-faktor pendorong perataan laba itu dapat dibedakan atas faktor
konsekuensi ekonomi dari pilihan akuntansi dan faktor-faktor laba, sehingga
perubahan akuntansi yang mempengaruhi angka-angka akuntansi akan
mempengaruhi kondisi itu. Kondisi yangterpengaruh oleh angka-angka akuntansi
itu misalnya pembayaran bonus dan harga saham. Selain faktor-faktor
22
angka-angka laba itu sendiri. Faktor-faktor laba adalah angka-angka yang dengan
sendirinya juga ikut mendorong perilaku perataan laba. Misalnya perbedaan
antara laba yang diharapkan dengan laba yang sesungguhnya. Perataan laba tidak
akan terjadi jika laba yang diharapkan tidak terlalu berbeda dengan laba yang
sesungguhnya. Sebaliknya semakin besar selisih antara laba yang diharapkan
dengan laba sesungguhnya, maka manajer akan semakin terdorong untuk
meratakan laba. Berdasarkan pengaruh perataan laba terhadap kekayaan
manajemen, maka dapat disimpulkan bahwa factor faktor pendorong perataan laba
merupakan cerminan dari berbagai upaya manajemen untuk menghindari konflik
dengan pihakpihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan. Perataan laba
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendorong manajer untuk
melakukan perataan laba. Banyak penelitian empiris terdahulu telah menguji
faktor-faktor tersebut dan temuan empiris yang didapat menunjukkan simpulan
yang belum sepakat, karena untuk beberapa factor masih disimpulkan
berpengaruh dan tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Berikut ini disajikan
penelitian-penelitian terdahulu yang meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi
[image:59.595.120.508.605.756.2]dan tidak mempengaruhi perataan laba:
Tabel 2.1
Faktor- faktor yang mempengaruhi perataan laba
No Faktor-faktor nya Peneliti (Tahun) 1 Besaran Perusahaan
-Total aktiva
Moses (1987)
2 Profitabilitas Archibald (1967); Ashari, dkk (1994); Carlson dan Chen Churamaiah (1997) 3 Kelompok Usaha Belkaoui dan Picur (1984); Albercht dan
Richardson (1990); Ashari, dkk (1994). 4 Kebangsaan Ashari, dkk (1994)
5 Harga Saham Ilmainir (1993) 6 Perbedaan laba aktual dan laba normal Ilmainir (1993) 7 Kebijakan akuntansi mengenai laba Ilmainir (1993)
23
2.1.4 Penelitian terdahulu
Dari uraian mengenai penelitian terdahulu diatas penulis akan
menggambarkan tabel studi empiris dalam penelitian ini untuk mempermudah
memahami persamaan dan perbedaan dengan penelitian sebelumnya, dapat dilihat
sebagai berikut:
Tabel 2.2
Tabel Penelitian Terdahulu
No. Nama Judul Jurnal Hasil Perbedaan Persamaan 1. Igan
Budiasih
Faktor-faktor yang
mempengaruhi praktik perataan laba.
Ukuranperusahaan,pr ofitabilitas,
dan dividend payout ratio berpengaruh positif signifikan terhadap praktik erataan laba.
Variabel X ada yang beda.
Variabel Y sama
2. Zulkarnaini Pengaruh ukuran perusahaan dan jenis industry terhadap praktik perataan laba pada perusahaan Go Public Di Indonesia.
Ukuran perusahaan dan jenis industry secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan dalam memprediksi
perusahaan yang melakukan praktik perataan laba.
Perusahaan yang diteliti berbeda.
Variabel X1
sama.
3. Deni linda wijayanti Sovi ismawati rahayu
Analisis perataan laba dan faktor-faktor yang mempengaruhinya .
Faktor-faktor yang diuji dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan,(total aktiva),profitabilitas,f inancial leverage dan harga saham.
Faktor yang diteliti berbeda.
Variabel X1
sama
4. Gusnadi Analisis pengaruh karakteristik perusahaan dan penerapan GCG terhadap tindakan praktik perataan laba.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perataan laba menunjukan bahwa faktor ukuran perusahaan tidak berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba.
Variabel X1
berbeda.
Variabel Y sama.
5. Juniarti Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perataan laba pada peruahaan GO PUBLIC.
Faktorbesaranperusa haan,profitabilitas dan sektor industri perusahaan tidak berpengaruh terhadap terjadinya tindakan perataan laba.
Variabel X berbeda
24
6 Zulfa Irawati dan
Anugerah Maya A
Analisis Perataan Laba (Income Smoothing): Faktor Yang Mempengaruhiny a Dan Pengaruhnya Terhadap Return Dan Risiko Saham Perusahaan Go Public Di Bursa Efek Jakarta
Profitabilitas dan
Leverage tidak berpengaruh terhadap perataan laba
yang sesuai dengan Juniarti dan Corolina (2005), Nurhayati (2006) dan Ratnawati (2006) namun Ashari et al (1994) untuk
Profitabilitas
menyatakan sebaliknya.
Variabel X berbeda
Variabel Y sama
7 Mohamad yusuf dan soraya
Faktor-faktor yang
mempengaruhi praktik perataan labapada
perusahaan asing dan non asing di indonesia
Diantara perusahaan asing dan non asing banyak melakukan praktik perataan laba
Variabel yang digunakan di X berbeda
Variabel Y yang digunakan sama
8 Alwan Sri Kustono The Theoretical Construction Of Income Smoothing measurement
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perataan laba menunjukan bahwa faktor ukuran perusahaan tidak berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba
Alat analisis yang
digunakan berbeda
25
2.2 Kerangka Pemikiran
2.2.1 Hubungan Ukuran Perusahaan dengan Perataan Laba
Ukuran Perusahaan yang berada pada pertumbuhan penjualan yang tinggi
membutuhkan dukungan modal yang semakin besar, demikian juga sebaliknya,
pada perusahaan yang tingkat pertumbuhan penjualannya rendah kebutuhan
terhadap modal juga semakin kecil. Akan tetapi, jika dana dari sumber intern
sudah tidak mencukupi, maka tidak ada pilihan lain bagi perusahaan untuk
menggunakan dana yang berasal dari luar perusahaan, baik utang maupun dengan
mengeluarkan saham baru. Laba yang menjadi pertimbangan dalam mengukur
kinerja manajemen yang digunakan dalam menghasilkan informasi tersebut akan
mendorong manajemen melakukan perilaku yang tidak semestinya (dysfunctional
behavior) tindakan manajer ini kadang bertentangan dengan tujuan perusahaan.
Dengan kata lain, perusahaan besar cenderung memiliki utang atau
menggunakan dana eksternal dalam jumlah yang lebih besar. Karena itu
perusahaan terdorong untuk melakukan perataan laba agar investor tertarik untuk
menanamkan modalnya.
Menurut Herawaty (2005) Menemukan bukti bahwa perusahaan yang
lebih besar memiliki dorongan yang lebih besar pula untuk melakukan perataan
laba dibandingan dengan perusahaan yang lebih kecil karena perusahaan yang
26
2.2.2 Hubungan Rasio Hutang dengan Perataan Laba
Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan
karena perusahaan akan masuk kategori extreme leverage (utang ekstrem) yaitu
perusahaan akan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk
melepaskan beban utang tersebut.maka dilakukannya perataan laba merupakan
suatu tindakan yang dilakukan dengan mengubah informasi pendapatan
perusahaan tidak sebagaimana mestinya, dan itu dilakukan dengan tujuan dan
maksud tertentu.
Bila laba dimanipulasi maka rasio keuangan dalam laporan keuangan juga
akan dimanipulasi. Pada akhirnya, bila pengguna laporan keuangan menggunakan
informasi yang telah dimanipulasi untuk tujuan pengambilan keputusannya, maka
keputusan tersebut secara tidak langsung telah termanipulasi.
Menurut Sartono (2001) rasio hutang menunjukan proposi penggunaan
utang untuk membiayai investasinya. Semakin besar utang perusahaan maka
semakin besar pula risiko yang dihadapi investor sehingga investor akan meminta
tingkat keuntungan yang semakin tinggi. Akibat kondisi tersebut perusahaan
27
Berdasarkan uraian diatas penulis akan menggambarkan bagan kerangka
[image:64.595.117.510.178.451.2]pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kerangka pemikiran yang didukung penelitian terdahulu
maka dapat digambarkan paradigma penelitian sebagai berikut :
Gambar 2.2 Paradigma Pemikiran
Investor
Laporan Keuangan Rasio Keuangan
Ukuran Perusahaan DER
Total Penjualan
Total Liabilities
Perataan Laba
Total Shareholder’s Equity
Ukuran Perusahaan
Logaritma natural dari total
penjualan
Brigham dan Houston,
(2001:117-119)
Rasio Hutang
Debt Equit Rasio (DER)
Total
Irham Fahmi (2011:62)
Perataan Laba Nilai Indeks Eckel
CV△S/CV△I
Irham Fahmi (2011:8) Herawaty (2005)
[image:64.595.113.526.510.715.2]28
2.3Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara yang harus diuji kebenarannya atas
suatu penelitian yang dilakukan agar dapat mempermudah dalam
menganalisis.Oleh karena itu, hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai
berikut :
1. Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap perataan laba pada perusahaan
tekstil dan garmen yang terdaftar di BEI pada periode 2006-2010.
2. Rasio hutang berpengaruh terhadap perataan laba pada perusahaan tekstil
52
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan
4.1.1 Sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI)
Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka.
Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan
tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh
pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC.
Kemudian pada tahun 1925 didirikan Bursa di Surabaya dan Semarang. Meskipun
pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar
modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode
kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh
beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari
pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi
yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagimana mestinya
dan semua bursa ditutup. Tetapi pada tanggal 10 Agustus 1977 pasar modal
kembali diaktifkan dan pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan
berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Saham pertama yang
diperdagangkan adalah saham PT Semen Cibinong. Tahun 1995, mulai
diberlakukan sistem JATS (Jakarta Automatic Trading System). Suatu system
perdagangan di lantai bursa yang secara otomatis me-match kan antara harga jual
53
manual. Misalnya dengan menggunakan “papan tulis” sebagai papan untuk
memasukkan harga jual dan beli saham. Perdagangan saham berubah menjadi
scripless trading, yaitu perdagangan saham tanpa warkat (bukti fisik
kepemilikkan saham)Lalu dengan seiring kemajuan teknologi, bursa kini
menggunakan sistem Remote Trading, yaitu sistem perdagangan jarak jauh.
Akhirnya Bursa Efek Jakarta melakukan merger dengan Bursa Efek Surabaya
pada akhir 2007 dan pada awal 2008 berubah nama menjadi Bursa Efek
Indonesia.
4.1.2 Sejarah Perusahaan Tekstil dan Garmen
1. PT. Sepatu Bata Tbk.
PT. Sepatu Bata, perusahaan terus meningkat. Perusahaan
menyediakan desain dan bahan-bahan kepada para sub-kontraktor pembuat
alas kaki. Perusahaan ini memanfaatkan sepenuhnya berbagai pelayanan
berharga yang disediakan berdasarkan ketentuan-ketentuan perjanjian
pelayanan teknik.
2. PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk
Didirikan di Bandung berdasarkan Akta No. 7 tanggal 1 Juli 1988 dan
Notaris Nany Sukarja, S. H. Akta Pendirian Perusahaan telah disahkan
oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.
C2-9967-HT.01.01.TH 1988 tanggal 31 Oktober 1988 serta diumumkan
dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 53 tanggal 2 Juli 1991,
tambahan No. 1851. Anggaran Dasar Perusahaan mengalami beberapa kali
54
Raharti Sudjardjati, SH, mengenai ketentuan jabatan komisaris dan direksi
perusahaan. Akta perubahan ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia sesuai Surat keputusan No.
C-1183-HT.01.04.TH.2000 tanggal 2 Februari 2000. Perusahaan berdomisili di
Jakarta dengan pabrik berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Kantor pusat
perusahaan beralamat di Gedung Dana Pensiun – Bank Mandiri Lt. 3A,Jl.
Tanjung Karang No. 3-4A, Jakarta. Jumlah karyawan perusahaan
sebanyak 3.624 karyawan pada tahun 2008 dan sebanyak 3.294 karyawan
pada tahun 2009.
3. PT. Delta Dunia Petroindo Tbk.
PT Delta Dunia Petroindo Tbk pada tanggal 26 November tahun 1990
berdiri dengan nama PT Daeyu Poleko Indonesia, dengan status PMA dan
setelah beberapa tahun kemudian, status perseroan berubah dari PMA
menjadi PMDN. Sebelum Berubah nama menjadi PT Delta Dunia
Petroindo, perseroan tersebut juga pernah berubah nama menjadi PT.
Daeyu Orchid Indonesia. Di dalam perjalanan perseroan, perseroan ini
pernah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2001.
4. PT Ever Shine Textile Industry Tbk.
Didirikan pada tahun 1974, bersama dengan dua anak perusahaannya, PT
Indo Yongtex Jaya dan PT Primarajuli Sukses, dikenal sebagai prosuden
tekstil terpadu di Indonesia yang memproduksi benang, kain, dan garmen.
PT Ever Shine Tex Tbk tercatat pada Bursa Efek Jakarta sejak tahun 1992.
55
Jepang dan Jerman, memproduksi benang bermutu terdiri dari benang
tekturized, benang twisted, benang nylon filament, kain tenun, kain rajut
dengan bahan baku nylon, polyester serta garmen. Mendapat sertifikasi
dari Marks & Spencer. Gemex Trading, Testex of Swiss Textile Testing
Institute, ISO 9002 dan Institue of International testing Association for
Apllied UV Protection.
5. PT. Indorama Synthetics, Tbk
Didirikan di Jakarta sesuai dengan Undang – Undang No. 1 tahun 1967
juncto Undang – Undang No.11 tahun 1970 tentang penanaman Modal
Asing berdasarkan akta perseroan “Perseroan Terbatas Indorama
Synthetics” No. 21 tanggal 3 April 1974, dihadapan Gustaaf Hoemala
Soangkeopon Loemban Tobing, SH. Notaris di Jakarta jis akta Pembetulan
No. 34 tanggal 26 Agustus 1974 dibuat dihadapan Maria Lidwina Indriani
Soepojo, SH, pengganti dari Gustaaf Hoemala Soangkeopon Loemban
Tobing, SH, notaris di Jakarta, yang telah memperoleh pengesahan dari
Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan keputusannya
No.Y.A.5/2/14 tanggal 3 Januari 1975 dan telah didaftarkan dalam buku
register di Pengadilan Negeri Jakarta, tanggal 24 Januari 1997, masing –
masing dibawah No.284 dan No.285 serta telah diumumkan dalam Berita
Negara Republik Indonesia No.8 tanggal 28 Januari 1975, tambahan
56
6. PT. Karwell Indonesia Tbk
Perusahaan ini pada saat tahun 2005 telah berdiri selama 28 tahun dengan
pabrik pertamanya di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) di Tanjung
Priok. Perseroan ini berorientasi pada pakaian jadi khusunya kemeja pria.
Pada tahun 1994 perseroan melakukan penawaran umum saham perdana
kepada masyarakat dan Tercatat Bursa Efek Jakarta. Selain itu perusahaan
juga bergerak pada bidang expor dan impor.
7. PT. Ricky Putra Globalindo Tbk
PT. Ricky Putra Globalindo Tbk berdiri pada tanggal 22 Desember 1987 di
Jakarta dan bergerak di bidang industri pemintalan benang, perajutan,
pakaian dalam pria, pakaian luar, unit usaha jasa, perdagangan umum dan
distribusi terpadu dari hulu hingga hilir. Semenjak pada tahun 2004,
perseroan telah berexpansi ke bisnis lisensi berbagai merk internasional.
8. PT. Indo Acidatama Tbk.
Pada awalnya, tahun 1983 perseroan bernama PT INDO ALKOHOL
UTAMA. Kemudian pada tahun 1986 berubah nama menjadi PT INDO
ACIDATAMA CHEMICAL INDUSTRY dengan ethanol sebagai produk
utama dan bergerak dalam industri agro kimia. Pada tahun 1987 dibangun
pabrik seluas 11 ha dengan kapasitas terpasang sebesar 18.000 kl
ethanol/tahun, acetid acid 12.000 ton/tahun, ethyl acetate sebesar 4.500
ton/tahun. Berbagai upaya modifikasi dan ekspansi dilakukan sehingga
dalam satu dasawarsa kapasitas produksi ethanol kami menjadi yang
57
melakukan merger dengan PT SARASA NUGRAHA Tbk serta tercatat di
Bursa Efek Indonesia dengan kode SRSN pada group Industri Dasar dan
Kimia. Pada Mei 2006, berubah menjadi PT INDO ACIDATAMA Tbk.
4.1.3 Kegiatan Perusahaan
Pada dasarnya manufaktur memiliki pengertian sebagai proses mengubah
bahan mentah menjadi produk jadi. Oleh karena itu, perusahaan manufaktur
merupakan perusahaan yang bergerak dengan melakukan proses p