• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Ruang Terbuka Hijau dalam Pengendalian Kualitas Udara di DKI Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran Ruang Terbuka Hijau dalam Pengendalian Kualitas Udara di DKI Jakarta"

Copied!
305
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)

PERAN RUANG

TERBUKA HIJAU

DALAM

PENGENDALIAN KUALITAS UDARA

DI

DKI

JAKARTA

SRIHARTININGSIH

PURNOMOHADI

NRP.

89526

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT

PERTANIAN BOGOR

(12)

<

,

1%

.,

J PY. t

JUDUL

DISERTASI

:

PERAN RUANG TE~&KKA

HJJAU DALAM

PENGENDALIAN KUPnLITAS

UDMA

DI DKI JAKARTA

,' *

NAMA MAHASISWA

:

SRIHARTiNDJGSIH PURNOMOHADI

NOMOR POKOK

:

89526

DISETUJUI OLEH

Komisi Ijembimbing,

f. Dr.

Ir.

Herman

Ketua

(Prof. Dr.

Ir.

Ishemat Soeriane~ara)

(Dr.

Ir. Hidavat Pawitan)

Anggota

&

(Pr

of

.-

(Dr.

Ir.

H--

Sukarmadidiaia)

~ ~ g g o t a

Anggota

Ketua

Direktur

Program Studi Pengelolaan

Sumberdaya

Alam

dan

Lingkun

Program Pascasarjana

IPB

.

Ir. Edi Guhardja)

(13)

ABSTRACT

Interaction and firnctional relationship of urban green open space (UGOS) and air

qualify status of DKIJakarta was sfudied It was evident that progresses in urban transport

development, industrialization properties-housing estate development, and urban waste

disposaf have resulted in substantial increase in emission of air pollution. The UGOS is

realized as capable of intercepting @hysical adsorption, chemical adsorption, and chemical

continual adsorptions by various types of air pollutrmf).

Seven air pollutants, i e : CO, C02, NOx, SOX.

TSP,

HC and Pb were selected for

investigation. Emission of these air pollutants was m m e d to be originated only from

combustion o f f u l s (gasoline, oil, 1iqurfiedpeb.oleum gas

-

LPG. coal, coke,

and

urban solid

waste) by four main origrgrnal

sources of air pollutant (indusw, fransportation, household,

and urban waste burning) for a ten year period (1982-1991).

Some mathematical models were adopted and adjusted to the local environment in

assessing the vstemic interactions of all vkiables, which consist main& on the dispersion

models of air pollutants. Interception of air pollutants by the U W S was calculaied by using

various partial empirical models appropriate to each pollutant behawour, like SUR

(Seemingly Unrelated Regression) and Linier Simulation Equation Models.

The U W S of DKI-Jakarta consists of those under the management of the Jakarfa Park

Services ("RTH-Pertamanan"; which comprises of Urban

Parks,

TrafJic Greenbelts,

and

Urban Corridors), and those belonging to other partiedauthorities ("RiX-Lain'y; which

com'sts of State Forest Area and Other Vegetated

Land

in 1991, the U W S covers "only"

3.72% of the total area (24.61 h 2

of 661.26

km2).

This s t u 4 reveals that it peflorms

important interception roles through ihe air pollution emissions tramformation capacify into

their ambient st&usfrom all sources as follows: CO (2.55-5,42%), C02 (499-1 0.07%). NO,

(1,62-2.18%). S a (1,61-2,60%), TSP (0.71-0.88%). HC (1,87-2.38%) and Pb (1.68-4,53%).

To reach the 10% of U W S f o r DKI-Jukuria, which about three times of the existing size,

the interception capacify could be greater with quality and qrtantiv improvement. not

mentioning other supportibg efforts like mass tramportation, encouraging befter and proper

management from all sectors related

Knowing the U W S

wry

Iimited capacity in intercepting seven air pollutant mentioned

above, it revealed thaf the existing "RTH-Periamanan" must be enhanced to a better quality

(14)

RIWAYAT HIDUP

SRIHARTININGSM PURNOMOHADI, lahir di Banyuwangi pada tanggal

10

Januari

1945

dari ibu Kartini dan ayah Dihardjo Soerohadikoesoemo (Almarhum) sebagai

anak k e - l i i dari tujuh bersaudara.

Lulus

Sarjana

Muda (BAP), Akademi Arsitektur Pertamanan Pemerintah DCI-

Djakarta (AKAP DCI-DJAJA),

1968.

Diangkat sebagai Asisten Dosen Tata

Ifijau,

1966-

1968,

pada AKAP DCI-Djakarta. Tahun

1968-1970,

bekeja sebagai Pegawai Organik

bidang perencanaan arsitektur lansekap pada Proyek Pembangunan Gedung

MPRIDPR,

Ditjen Cipta

Kaqa,

Departemen Pekeqaan Umum

dan

Tenaga Listrik (F'UTL).

Menikah dengan

Ir.

Pumomohadi pada tahun

1969,

dikaruniai tiga

anak,

Prasetyoadi,

Dwinita Larasati, dan Tri Prasetyaningtyas. Tahun

1978

lulus Sarjana Arsitektur Lansekap

(Ir.)

Universitas TRISAKTI, Jakarta. Sejak

1970-1978,

bekeqa sebagai p e r e n d a r s i t e k

lansekap, khususnya dalam perencanaan lansekap permukiman~perumahan, Taman kota

di

Jawa dan Sumatera serta perencanaan "Intensive Use Zone" Taman Nasional dan

Landscape Bandara.

Pada tahun

1975

bekeqa sebagai Tenaga Administrasi, khususnya dalam p e ~ t i s a n

pembangunan Perpustakaan pada Sekolah Tinggi Arsitektur Pertamanan (STAPI),

Universitas

Trisakti

dan tahun

1976,

diangkat sebagai Tenaga Edukatif Tetap, sekamng

Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan

(FALTL),

Universitas Trisakti.

Karena sejak

1978

bekeja sebagai (calon) Pegawai Negeri Sipil, pada Kantor Menteri

Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (MN-PPLH), sekarang Kantor

Menteri Negara Lingkungan Hidup (MN-LH), maka sejak saat itu statusnya berubah

menjadi Tenaga Mukatif Tidak Tetap pada Fakultas yang sama hingga sekarang. Sebagai

PNS (sejak

1979)

sampai sekarang pada Kantor Sekretariat Negara

RI

(Unit Kantor

MN-

LH).

Tahun

1985

penulis lulus Magister Sains (MSi), bidang Pengelolaan Sumberdaya

(15)

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji syulcur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Mhha Esa, karena dengan petunjuk dan kehendak-Nya, akhirnya penelitian maupun penulisan disertasi ini dapat diselesaikan.

Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan khusus kepada Komisi Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Herman Haeruman Js. (Ketua), Prof. Dr. Ir. Ishemat Soerianegara, Prof. Dr. Ir. Lutfi Ibrahim Nasution, Dr. Ir. Hidayat Pawitan dan Dr. Ir. Harun Sukarmadidjaja (masing-masing sebagai Anggota), atas kesabaran dan

kesediaannya untuk menyisihkan waktu guna memberi saran, biibingan, sejak dimulainya penyusunan rencana penelitian, peIaksanaan penelitian hingga selesainya p e n u b disertasi

ini.

Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada Bapak Prof. Dr. Emil Salim, yang telah dan selaIu mendorong penulis untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang l e b i tinggi, serta atas bantuan yang telah diberikan

-

baik m o d maupun materii sejak b e l i ~ masih menjabat sebagai Menteri Negara KLH hinma saat ini. Terimakasih ditujukan kepada Bapak Prof. Dr. Didii Sastrapradja untuk bertindak selaku Penguji Luar Komisi bersama

Pejabat Pemerintah DKI Jakarta selaku pengelola dan penanggung jawab wilayah penelitian.

Terimakasih serta penghargaan juga penulis sampaikan kepada para Pejabat di lingkungan -or Menteri Negara Cigkungan Hidup, khususnya Bapak Ir. Sarwono Kusurnaatmadja, Bapak Sudarsono, SH., dan Bapak Ir. Atja Sugandhy, M.Sc., selaku atasan yang telah memberi ijin penulis untuk melanjutkan studi, serta atas dukungan m o d dan materiil baik langsung maupun tidak. Terimakasih juga penulis tujukan kepada semua rekan sekeja. Demikian pula kepada Mr. M. Ohta, JICA Chief Advisar, dan Mr. M. Hayakawa, dari Indonesia Environmental Management Center (EMC), Serpong, yang telah mernberi data dan informasi sebagai bahan studi banding, khususnya hasil penelitian semacam di beberapa kota besar di Jepang.

Terimakasih tak terhingga penulis hrjukan Kepada WakiI Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah DKI Jakarta. Bapak Ir. Tb. M. Rais, yang telah memberikan ijin lokasi penelitian, saran teknis-praktis, serta bantuan sebagian biaya penelitian pada saat

masih menjabat Ketua BAPPEDA DKI Jakarta

-

yang kemudian dilanjutkan oleh Bapak

ir. Erry Chayaridipura beserta seluruh jajarannya, antara lain Ir. Oloan Siregar, dll.

(16)

Hotman Silaen, Nesty Sidjabat. BAP.; juga kepada Ir. Sidharta, Kepala Dinas Pemetaan (DPPT) DKI Jakarta, beserta Drs. Arnin Sunarno d m Ir. Doddy Darmadja.

Kepada Ir. Yunani Kartawiria, Dra. Liliansasi dan Ir. Purwoto dari Pusat Pengkajian Permukhan Perkotaan dan Lingkungan (P4L), yang telah banyak memberikan data dan informasi yang amat penulis perlukan, juga diucapkan terimakasih. Terimakasii juga disampaikan kepada Ir. Untung Widodo dan Ir. Rudy Tambunan, MS., clan Dinas Tata Kota DKI, Ir. Bambang dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Dari ITB, kepada Dr. Ir. Mustikahadi Soedomo (alm.), Ketua Jurusan Teknik Ligkungan, dan Ir. Uton Rustan, MSc. atas saran-saran teknis dan ijin penggunaan hasil pengolahan data penelitiannya.

Ucapan terimakasii penulis sampaikan kepada siapa pun yang telah membantu kelancaran penelitian ini, diskusi dengan sesarna rekan, khususnya kepada Ir. B. E. Budhiyono, Dra. L i e s Sukartini, dan Ir. Budi Susetyo, yang sangat membantu dalarn pengolahan dan proses komputasi data, sampai kepada kritik dan saran-saran perbaikan, khususnya dalam penyusunan naskah disertssi

akhir.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada keluarga-keluarga yang dengan tulus M a s

telah memberikan "tumpangan-sementara" dengan segala fasiitas pendukung yang penulis pedukan di Bogor, keluarga Ir. Bambang Sudaryanto dan keluarga Drs. Dody Sutanto, pada waktu awal pendidikan dan keluarga Dr. Soenartono Adisoernarto pada saat akhir

penyusunan disertasi.

Akhimya kepada seluruh keluarga penulis sendiri, yang dengan penuh kesabaran dan kasih-sayang mendoakan dan menunggu keberhasilan perjuangan penulis dalam melanjutkan pendidikan ini, dimulai dari yang tercinta, Ibunda Kartini Dihardjo yang tidak

bosan-bosannya mendorong baik dengan doa maupun nasehat agar penulis tetap berteguh hati rnenghadapi segala tantangan untuk mencapai apa yang telah dicita-citakan sejak kecil,

untuk menjadi "guru*; kemudian kepada mertua penulis, Ibu dan Bapak Karsidii kakak dan ad& serta suami penulis, Ir. Pumomohadi; dan anak-anak tercinta, Tiyok, Tita dan Tiyas, atas pengorbanan yang telah mereka berikan selama ini.

Bogor, I 7 Desember I994

(17)

DAFTAR

IS1

ABSTRACT

RIWAYAT

HIDUP..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

. . .

.

. .

. .

.

.

.

.

. . . .

. . .

.

.

.

. .

. . .

. . .

. .

. . .

. . .

.

.

.

. . .

. . . .

.

. .

.

. .

.

.

.

.

.

.

. .

i

.

*

UCAPAN TERIMAKASM

.. ... . .. ..

...

... .

...

. . . .

.

. . . .

11

DAFTAR TSI..

.

. .

.. .

.

.

.

.

.

.

. .

. .

.

.

.

.

.

.

.

. .

.

.

. . .

. . .

-.

-.

.

.

. .

-.

-.

-.

. .

-.

-.

. .

.

.

-.

. .

.

.

.

.

.

.

.

...-. -.

.

.

-.

*.

.

. . .

.

.

.

.

.iv

DAFTAR TABEL

.

.

.

.

.

.

. .

. .

. .

.

.

.

.

.

.

.:

.

.

.

. . .

. .

. . . .

;.

.

.

.

. .

.

.

.

.

.

. . .

.

.

.

.

. . .

.

.

.

.

.

.

. . . .

. . .

.

.

.

.

.

.

.

.

.

. . .

.

.

.

.

.

.

.

ix

DAFTAR

GAMBAR

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

. . .

. .

. .

.

.

-.

-.

-.

-

-.

-.

. .

.

.

*.

-.

.

.

.

.

.

.

-

. .

.

. .

. .

. . .

.

.

. .

. .

.

-.

.

. .

.

.

.

.

.

.xi

. .

DAFTAR PETA..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

. . .

.

.

.

.

.

.

.

. . .

.

.

. . .

. .

. . .

- 1

.

.

-

DAFTAR FOTO

. . .

.

.

.

.

.

. .

.

.

.

.

.

.

. . .

. .

. . .

.

.

. .

. .

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

. .

.

.

.

.

.

.

.

. . . .

.

.

. . .

.

.

.

.

.

. . .

.

.

.

.

.

. . .

. .

. . .

. . . .

. .

.wl

DAFTAR

GRAFIK

.

. . .

.

.

. . .

.

.

.

. .

.

.

. .

.

.

.

.

. . .

. .

.

.

.

.

.

.

.

. . .

.

.

.

.

.

. . .

.

.

.

.

. .

.

.

.

. . .

.

.

.

. .

. . .

.

.

. .

.

.

.

. . .

. . ..

.

..

. . . .

. . . .

xiv

.

.

DAFTAR LAMPIRAN

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.. .

.

. .

.

.

. .

. . .

.

.

.

.

. . .

.

.

.

. .

.

. .

1

-PENDAHULUAN..

.

.

. .

.

.

.

*. A N .

-.

*

. -. . . .

.

.

.

.

.

.

. .

.

.

.

.

.

. . .

. .

.

.

.

.

.

.

.

.

. .

.

.

.

.

. . . .

.

.

.

. . .

. .

.

. . .

.

.

.

.

.

. .

.

.

.

.

. 1

1 . 1 Latar Belakang ... ...

...

... ...

... .

.

.

.

.

.

. .

.

. .

.

.

1

1 . 1 . 1 Kebijaksanaan di Bidang Lingkungan Hidup .... ...

...

... .... . ...

.

. .

.

.

.

1

1. I . 1.1 Kebijaksanaan Nasional ... ... ... ... ... ... ... ... . .... ...

.

1

1.1.1.2 Kebijaksanaan Daerah ... 3

.

* 1.1.2 Urgensi Peneht~an ... ...

...

...

.

... ... ...

...

... ... ... 5

1.2 Permasalahan . ...

. ...

... .

... . ...

. ...

. . . .

.

.

.

,

.

. .

.

.

. . .

.

. .

. . 6

1 . 2 . 1 Perkembangan Sumber Cemaran Udara .... .. . ... . .... .. ...

.

. . ... . . . . . . . . 7

1.2.1.1 Industri . . . .

. . .

.

.

. . . .. . .

. . .

.

.

. . .

. . . .

. .

.

. . .

.

, .

.

. . . , 7

1.2.1.2 Transportasi .

.

.

.

. .

.<.

.. ..

..

.

. . .

.. . .. .. .. .. .. . . .. . .

.

. . . 8

1.2.1.3 Rurnahtangga .

.

.

.

. -. .

.

.

. . .

.

. .

. .. . .

.

.

.

.

. .

.

.

.. . .

.

. .

.

. . .

. . .

. . . 9
(18)

1.2.2 Kontribusi Sumber Pencemar Terhadap Pencemaran Udara . .:.; ... I 1

...

1.2.3 Peran dan Posisi RTH dalarn Kerangka Umum Tata-Ruang Wilayah 12

..

1.3 Tujuan Penel~t~an ... 13

1.4 W a a t Peneliti an

...

13

I1

RONA

WILAYAH

PENELITIAN

...

.

.

... .

.

...

-16

2.1 Letak clan Geografi ... 16

2.2 Kependudukan ... 18

2.3 Ekonorni Regional ... 20

2.4 Transportasi .... d ... 23

2.5 Industri ... 26

2.6 Permukiman ... 27

2.7 Pemusnahan Sampah ... 28

..

2.8 Ruang Terbuka Wljau ... 29

2.8.1 RTH-Pertamanan ... 34

2.8.2 RTH-Lain ... 36

2.9 IMim dan Dinamika Atmosferik ... 36

2.9.1 Curah Hujan ... 3 7 2.9.2 Penyinaran Mitahari ... 40

2.9.3 Suhu Udara ... 40

2.9.4 Kelembaban Udara Nisbi ... 42

2.9.5 Tekanan Udara ... 42

... 2.9.6 Kecepatan dan Arah Angin 43 2.9.7 Tiggi Campuran (Mixing Height) ... 49

2.10 Konsumsi Bahan Bakar (BB) ... 49

2.1 1 Kualitas Udara ... 55

2.11.1 Emisi Cemaran Udara ... 55

2.1 1.2 Ambien Cemaran Udara ... 60

I11

KAJIAN

TEORETIS

...

62

3.1 Pencemaran Udara ... 62

3.1.1 Umum ... : ... 6 2 3.1.2 Jenis Cernaran Udara ... 63

3.1.3 Sumber Cemaran Udara ... 66

(19)

...

3.1.4.1 Karbon Monoksida (CO) 68

...

3.1.4.2 Nitrogen Oksida (NOx) 6 9

...

3.1.4.3 Belerang Oksida (SOx) 72

3.1.4.4 Hidrokarbon dan Oksidan Fotokimia (HC & OF) ... 73

... 3.1.4.5 Zarah 75 3.1.4.6 Logam Berat ... 77

... 3.1.5 Baku Mutu Lingkungan (BML) 80 3.1.5.1 Baku Mutu Emisi Cemaran Udara (BME-C U) ... 82

... 3.1.5.2 Baku Mutu Arnbien Cernaran Udara (BMA-CU) 87 ... 3.2 RTH dan Kualitas Udara 90 ... 3.2.1 Karakteristik Tumbuhan RTH 9 2 3.2.2 Mekanisme Perbaikan Kualitas Udara ... 94

... 3.2.2.1 Peran SOx, CO, dan NOx oleh RTH 95 3.2.2.2 Peredaman Zarah Debu oIeh RTH ... 95

3.2.2.3 Peredaman Zarah Tirnbal oleh RTH ... 95

3.3 Iklim dan Kualitas Udara ... 97

3.3.1 Dinarnika Atmosferik di Daerah Perkotaan ... 97

3.3.2 Faktor-faktor Meteorologi yang Mernpengaruhi Dispersi Cemaran ... Udara di f erkotaan 100 3.4 Rekayasa Pengendalian Pencemaran Udara ... 103

3.4.1 Pendekatan Teknologis ... 103

3.4.2 Pendekatan Kelembagaan ... 105

3.4.3 Pendekatan Ekonomi ... 107

...

IV METODE PENELITIAN

1 0 8

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 108

4.1.1 Lokasi Penelitian dan Wdayah Studi ... 108

4.1.2 Waktu Peneiitian ... 108

... 4.2 Kerangka Umum Penelitian 108

. .

4.2.1 Dasar Penukuan ... 108

4.2. I . 1 Sumber Cemaran Udara ... 109

4.2.1.2 Penerima Cemaran Udara ... 111

4.2.1.3 Pengendali Cemaran Udara ... 112

4.2.1.4 Dinamika Pembentukan Kualitas Udara Ambien ... 115

4.2.2 Asumsi-asumsi Umum ... 120

(20)

...

4.4 Sumber Data 125

. .

...

4.5 Anal~s~s Data 126

4.5.1 A d i s i s Data Dasar ... 133

4.5.1

.

1 Analisis Data Kependudukan dan Ekonomi Regional ... 133

4.5.1.2 Analisis Sumber Cemaran Udara ... 133

4.5.1.3 Analisis Faktor Emisi Cemaran Udara dari Sumbernya ... 134

4.5.1.4 Analisis Data RTH ... 134

4.5.1.5 Analisis Data l k l i dan Dinamika Atmosferik ... 136

4.5.1.6 Analisis Bobot dan Konsentrasi Ambien Cemaran Udara ... 138

... 4.5.1.7 Analisis Keruangan 138 4.5. I

.

8 Analisis Data Penunjang Lainnya ... 139

... 4.5.2 Analisis dan Sintesis Data Lanjutan 141 4.5.2.1 Analisis Emisi Cemaran Udara dari Swnbernya ... 141

4.5.2.2 Analisis Konsentrasi Dispersi Emisi Cemaran Udara ... I 4 2 4.5.2.3 Analisis Peredaman Cemaran Udara ... 143

4.5.2.4 Uji Korelasi Antara Peredaman Cemaran Udara Oleh RTH ... dan Keragaan RTH 148

...

V

HAS= DAN

PEMBAHASAN

157 ... 5.1 Dmamika Perubahan =putan Lahan 157 ... 5.2 Keperiadaan Ruang Terbuka Hijau 161 ... 5.2.1 RTH Kawasan Hutan 163 5.2.2 RTH Non Kawasan Hutan ... 166

5.2.2.1 RTH-Pertamanan ... 166

...

5.2.2.2 Lahan Bervegetasi Kayu Laimya 172

...

5.3 Status Kualitas Udara 173

. .

...

5.3.1 Ems1 Cemaran Udara 173

...

5.3.1.1 Bahasan Umum 173

...

5.3.1.2 Bahasan Masing-masing Jenis Cemaran Udara 183

...

5.3.2 Ambien Kualitas Udara 197

...

5.3.2.1 Bahasan Umum 197

...

5.3.2.2 Bahasan Masing-masing Jenis Cemaran Udara 203

...

5.3.3 Peredarnan Cemaran Udara Oleh Lingkungan 208

...

5.3.3.1 Nitrogen Oksida

-

208

...

5.3.3.2 Belerang Oksida 209

...

(21)

5.3.4 Peredaman Cernaran Udara Oleh RTH ... 2 I3 5.3.4.1 Bahasan Umum ...

.

.

... 213 5.3.4.2 Bahasan Masing-masing Jenis Cemaran Udara ... 217

5.4 Interaksi Antara Cemaran Udara dan RTH ... 230 ...

5.4.1 Bahasan Umurn 230

...

5.4.2 Pengendalian Kualitas Udara oleh RTH 231

VI

KESIMPULAN. SARAN. DAN IMPLIKASI

KEBUAKSANAAN

...

238

...

6.1 Kesimpulan 238

...

6.1.1 Kesimpulan Urnum 238

...

6.1.2 Kesimpulan Khusus 239

6.1.2.1 Status Ruang Terbuka Hijau ... 239 ...

6.1.2.2 Status Kualitas Udara 240

6.1.2.3 Peredaman Total Cemaran Udara Oleh Linglcungan ... 241

6.1.2.4 Peredaman Cemaran Udara Oleh RTH ... 242 6.1.2.5 Pwedaman Cemaran Udara Oleh Komponen Lingkungan .

...

Lain 243

6.2 Saran ... 243 ...

6.2.1 Saran Terapan 243

...

6.2.1.1 Pengendalian Pencemaran Udara 244

...

6.2.1.2 Pengelolaan RTH 251

.

.

...

6.2.2 Saran Penelltlan 253

...

6.2.2.1 Penelitian Tentang

RTH

254

6.2.2.2 Penelitian Tentang Pencemaran Udara ... 255

...

6.3 Implikasi Kebijaksanaan 255

...

DAFTAR PUSTAKA

...

.

.

-264

LAMPIRAN

(22)

DAFTAR TABEL

Cacah Penduduk dan C a d Keluarga di DKI Jakarta Tahun 1982-1983 ... 18 Cacah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di DKI Jakarta Tahun 1993 ... 18 Keragaan Indiitor Ekonomi Regional ... 21 Cacah Kendaraan Bemotor Menurut Jenis B e a n Bakar Utamanya ... 24 Lokasi dan Luas Real Estate di DKI Jakarta Tahun 1990 ... 27 Volume dan Komposisi Buangan Sampah di DKI Jakarta Tahun 1991 ... 28 Perkernbangan Luas Ruang Terbuka Hijau di DKI-Jakarta Selama Lingkup Walctu

Penelitian (1982- 1991) ... 31 Ringkasan Data Unsur-Unsur Iklirn d m Indikator Dinamika Atmosferik Rata-rata Bulanan dan Rata-rata Tahunan DKI Jakarta ... 38 Tinggi Campuran (Mixing Height) Wilayah Rata-rata Bulanan dan Rata-rata

Tahunan DKI Jakarta ... -49 Laju Pertumbuhan Rata-rata Tahunan Jumlah KonsumsilPenggunaan Bahan Bakar

(Semua Jenis Bahan Bakar oleh Semua Jenis Penggguna yang Diteliti) di DKI Jakarta, Selarna Lingkup Waktu Penelitian (1 982- 199 1) ... 54

...

Emisi Cemaran Udara Menurut Sumbernya di DKI-Jakarta Tahun 1991 56 Beberapa Has3 Penelitian Konsentrasi Dispersi Emisi Cemaran Udara di DKI

...

Jakarta Tahun 199 1 dan Baku Mutu (Ambang Batas) Emisi Cemaran Udara 57

Keragaan Konsentrasi Ambien Beberapa Jenis Cemaran Udara di DKI Jakarta Tahun 1991 ... 61 Persentase Total Pb dari Emisi BBM Kendaraan Bermotor ... 79 Balcu Mutu Ernisi Cemaran Udara Mewrut KepMen KLH No . KEP-

02fMENKLH/I/l 988 ... 85

Baku Mutu Emisi Gas Buangan Kendaraan Bermotor Menurut KepMen LH No .

KEP-35/MENLW10/1993 ... 86 Baku Mutu Udara Ambien Menurut KepMen KLH No . KEP-02/MENKLH/L/l988 ... 88 Baku Mutu Ambien Cemaran Udara Bagi DKI Jakarta Menurut Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah DKI Jakarta No

.

587 Tahun 1980 ... 89 Kriteria Jenis Tumbuhan Untuk Pembangunan RTH ... 92 Luas Keteduhan Beberapa Jenis Turnbuhan ... 93 Perubahan Unsur-unsur Iklim Di Kawasan Perkotaan ... 99
(23)

Taksonomi Kebijaksanaan Sehagai Perangkat Pengendali Pencemaran Ligkungan.

.. .

107

Distribusi Jenis Cemaran Udara Menurut Klasifikasi Konsentrasinya.

..

..

. . .

...

. . ..

...

139

Perubahan Komposisi Emisi dan Perubahan Luas RTH Pertamanan

....

.

.

. . .. .

...

...

..

....

153

Perubahan Komposisi Cemaran Udara Teredam (YO)..

..

..

..

. .. ..

...

... .. .. .

...

.. . .. .

.

.

. ... .

I54

Perubahan Komposisi Cemaran UWdTeredam (%) ... . ... .. . ... ....

. ..

...

..

,

...

.

155

D

i

Perubahan Pola Liputan Lahan Di DKI Jakarta Berdasarkan Penafsiran Citra Satelit

ands sat-

Tahun 1988-1992 ... ..

.. . .. .. ...

.. .. . .

. .

.. . .. .. . ...

.

.

.

. . .

. . .

.

. . .

161 Ringkasan Luas Ruang Terbuka Hijau di DKI Jakarta Tahun Tahun 1%9, 1982,

1991 dan 1993

...

162

Kawasan Hutan di DKI Jakarta Tahun 1993

...

...

.

... ... ...

. .

. .

164

Ringkasan Perhitungan Emisi Cemaran Udara Bersumber Dari Pembakaran Bahan

Bakar dan Perbandingan Hasil Penelitian Emisi Cemaran Udara Menurut Sumbernya di DKI Jakarta

.... .

.

.

. . .

.

.

. .

. . .

. . .

.

.

. .

. . .

. .

. . .

.

. . .

.

. . .

. . .

.

. . .

.

. . .

.

.

I76

Ringkasan Hasid Perhitungan Bobot dan Konsentrasi Emisi Cemaran Udara Berasal

dari Proses f embakaran Bahan Bakar di DKI Jakarta

-

Tahun 199 I ..

.

...

... .. ... ..

....

.

... 180

Ringkasan Hasil Perhitungan Bobot dan Konsentrasi Peredaman Cemaran Udara oleh Liigkungan

WTH

dan Komponen Lingkungan Lain) dan Oleh

RTH

di DKI Jakarta

-

Tahun 199 1.. . .

. . .

. .

.

. . .

.

.

.

.

.

.

. . .

. . .

. . .

.

. . . .

. . . .

.

.

. .

. . .

. . .

.

. . .

.

. . .

1 8 I

Ringkasan Data Bobot dan Konsentrasi Dispersi Cemaran Udara di DKI

Jakarta

-

Tahun 199 1..

. . . .

. .

.

. . .

. .

.

.

. . .

.

. .

. . .

. . .

. . .

. .

.

. .

. . .

.

. . .

. . .

.

.

. . .

. . .

.

. . .

. .

. . .

.

. . .

20 1

Status dan Keperiadaan Kualitas Udara ... ...

...

... ... ...

...

...

202 Pengaruh Kemampuan

RTH

(Luas 3,72% DKI) Meredam CU dari Total Emisi

(1982-1991) ... ...

.

...

... ...

. . ... . . .

202 Rangkurnan Data Hasil Penelitian Peran RTIf Dalarn Pengendalian Kualitas Udara Di DKI Jakarta (Khusus Tahun 1991)

.

..

. . .

.. .. .

. . . .

. .. ..

.

. .

. .

. .

.

. .

. .

.

. . . .

. . .

. . .

. . .

. .

. .

. . . .

.

. .

. . .

235
(24)

DAFTAR GAMBAR

WindRose Rata-rata/Dominan Bagi Seluruh Wilayah DKI Jakarta ... 45 Diagram Daur Fotolitik N& ... 70

...

Gangguan pada Daur Fotolitik NO2 oleh Hidrokarbon 75

Selang Ambang Batas dalam Penentuan Baku Mutu Lingkungan Berdasarkan

S f i t dan Status Kandungan Ben& di Lingkungan ... 81 ... Interaksi Sistemik Antar-Komponen Pembentuk Status Kualitas Udara 109 Peredaman Cernaran Udara (Transformasi Konsentrasi Emisi ke Konsentrasi

Ambien) ... 116 Bagan Alir Proses Interaksi Sistemik Pengelolaan Kualitas Udara di Metropolitan

Jakarta ... 122 Tahap-tahap Analisis Data Hubungan Fungsional Antara Pencemaran Udara dan

(25)

DAFTAR PETA

Wdayah Metropolitan JABOTABEK (Widayah Studi Ekstensif)

...

17

Wdayah Metropolitan DKI Jakarta (Wilayah Studi Intensif

...

17

Lokasi Sebaran RTH di DKI Jakarta Tahun I 9 9 1

.

1 9 9 3

...

33

Peta Isohyet Curah Hujan Rata-rata Tahunan

...

37

Peta Isothermal Suhu Udara Rata-rata Tahunan ... 41

Peta Isobar Tekanan Udara Rata-rata Tahunan

...

43

Peta Streamline Kecepatan &

Arah

Angin Rata-rata Bulan Januari ... 46

Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Februari

...

46 Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Maret ... 46 Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan April ... 46 Peta Streamhe Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Mei ... 47 Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan JUN ... 47

Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Juli ... 47

Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Agustus ... 47 Peta Streamline Keoepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan September ... 48

... Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-ratit Bulan Oktober 48

Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan November ... 48

...

Peta Streamtine Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Desernber 48

Citra Satelit

s and sat-

Liputan Lahan Wilayah Metropolitan JABOTABEK

Tahun 1988 ... 158

Citra Satelit

ands sat"

Liputan Lahan Wdayah Metropolitan JABOTABEK

Tahun 1992 ... 159

Citra Satelit

ands sat"

Perubahan Liputan Lahan W~Iayah Metropolitan

JABOTABEK Tahun 1988- 1992 ... 160

Peta IsopIeth CO ... 198

Peta Isopleth NOX ... 198

Peta Isopleth SOX ... 199

Peta Isopleth TSP ... 199

(26)

DAFTAR FOTO

Sebagian Kawasan Hutan Lindung Angke-Kapuk yang Berubah Status d m

Fungsinya, sedang Dueklamasi mtuk Pembangunan Kawasau Permukiman ... 163

"Taman Kota" Taman Gelanggang OIahraga Senayan, Jakarta Pusat ... 168

"Taman Kota" Taman Medan Merdeka (MONAS), Jakarta Pusat. ... 168 "Jalur Hijau Jalan" Median Jalan antara Hotel Indonesia dan Hotel Mandarin,

Jakarta ... 168 "Jalur Hijau Jalan" Kombinasi "Jalur Hijau JaIan" dan "Tanaman Pagar

Penyangga" bambu @mbusa sp.) dan glodogan (Polyalhea iongiyolia) di Kawasan Industri,

...

Jakarta. 169

"Jalur Hijau Kota" Jalur Kijau di Kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat ... 169 "Jalur Hijau Kota" Koridor Sepanjang Re1 Kereta Api di Daerah Guntur,

Jakarta Selatan ... 169 "'Laban Bervegetasi Kayu Lainnya", Pepohonan di Sekitar Rumah

(Karang Kitri) di Daerah Pinggiran, Jakarta Selatan ... I 7 2

"Lahan Bervegetasi Kayu L a i ~ y a " , Pepohonan Bervegetasi Kayu

di Tempat Pemakarnan Umum di Daerah Pmggiran, Jakarta Selatan ... 172

(27)

DAFTAR GRAFIK

Kurva Perkembangan Cacah Penduduk di DKI Jakarta Tahun 1941-1993

...

... 19 Persentase Pendatang Baru Menurut Daerah Asalnya di DKf Jakarta Tahun

I993 I 9

Niai Nominal PDRB DKI Jakarta Menurut Sektor Pembangunan yang

Dikelompokkan Ulang Tahun 1983

-

1990 Berdasarlcm Nilai Konstan 1983

. . .

. . .

. . .

22 Persentme Sumbangan Sektor Pembangunan yang Dikelompokkan Ulang

dalam Pembentukan PDRB DKI Jakarta Tahun 1983- 1990

. . .

. . .

.

.

.

.

.

.

.

. .

.

. . .

.

. . .

. . . .

.

.

. . .

22 Pertumbuhan PDRB DKI Jakarta Menurut Sektor Pembangunan yang

Dikelompokkan Ulang Tahun 1983-1990

... . .

. . .

.

. .

.

.

.

.

.

. . .

.

. . .

.

. .

.

.

. . .

. . .

.

. .

.

.

. . .

.

23 Sebaran Luas

RTH

Menurut Kotamadya

di

DKI Jakarta Tahun 1992/1993

. .

. .

... . .

.3 1

Sebaran Luas RTH Menurut Jenis RTH di DKI Jakarta Tahun 1992/1993

... . .. .. . .. . .. . .

.32 Kurva Perkembangan Luas RTH Menurut Jenis RTH di DKI Jakarta Tahun

1969-1993 ... .

... ...

...

...

. .

. . .

.

. . . ...

.

. 32 Kurva Perbandingan Perkembangan Luas RTH-Pertamanan dan RTH-Lain di

DKI Jakarta

.. ... . . . .. .

.... .

.. . ... ..

... .. .

. . .. .. .

.

.. .

.... ..

... . .. ..

. ... .. ..

. ..

..

.. ..

..

.

.

..

.

..

. . . .. . .. .. ...

. ..

. . ....

33 Histogram Jumlah Konsumsi BBM oleh Semua Pengguna Menurut Jenis BBM

di DKI Jakarta Tahun 1982- 1991

. .. . . .

.

.

. .

.

.

. . .

. .

. . .

.

. .

.

. .

. . .

. . . .

.

. . . .

. .

,

.

. . .

.

. . .

. . . .

. . .

.

. . .

.

. .

5 1

Histogram Jurnlah Konsumsi BBM oleh Semua Pengguna Menurut J e ~ s Pengguna BBM di DKI Jakarta Tahun 1982- 1991 . . .

. . .

.

. . .

. . .

.

.

. . . .

.

.

. . .

.

. .

.

. . .

.

. .

.

. . .

.

5 1

Histogram J u d a h Konsumsi Gas oleh Semua Pengguna Menurut J e ~ s Pengguna Gas di DKI Jakarta Tahun 1982- 199 1 . . .

. . .

.

.

.

. . .

.

.

. .

.

. . .

. . . .

.

. . .

. . .

.

.

52 Histogram Jumlah Konsumsi Batubara & Kokas oleh Semua Pengguna

Batubara & Kokas di DKI Jakarta Tahun 1982-199 1

. .

... .. . ..

. . .. .. .. . ...

... ..

.. . . .... ..

... . . .

. . .

52 Histogram J d a h Volume Pemusnahan Sampah diDKI Jakarta Tahun 1982-

1991 ... ... 53 Hubungan Antara Ukuran Zarah dengan Kecepatan Pengendapan Zarah di

Dalam Massa Udara Talc Bergerak pada Suhu 0°C dan Tekanan 760 mmHg

dan Rapat-Jenis Zarah 1 g/cm3

.

. . .

. . . .

.

.

. . .

.

. .

. . .

. . .

.

. .

. . .

. . .

. . .

. .

.

. . .

.

. .

.

. 77

Histogram Bobot Emisi Cemaran Udara Tahunan (CO, COz, NOX, SOX. TSP,

HC, dan

Pb)

di DKI Jakarta, Tahun 1982-1991 .... .... ... ...

.

... 182 Histogram Bobot Emisi Cemaran Udara Bulanan (CO, C02, NOx, SOX, TSP,
(28)

14 Histogram Bobot Emisi C @ Tahunan Menurut Sumbernya (1982-1991)

...

185 15 Histogram Bobot Emisi N& Tahunan Memuut Sumbernya (1982-1991)

...

188

Histogram B h t Emisi SOX Menurut S u m h y a (1982-1991)

...

189

...

Histogram Bobot Emisi TSP Menuxut Sumbernya (1982-1991) 190

Zfistogram Bobot Ernisi HC Tahunan Menurut Sumbernya (1982-1991)

...

192

...

Histogram Bobot Emisi Pb Tahunan Menurut Sumbernya (1982- 1991) 193

Jumlah PeqgmmdKonsumsi Bahan Bakar Total di DKI Jakarta

...

I94

Jumlah PenggunaanlKonsumsi Bahan Bakar Total di DKI Jakarta oleh Industri

...

194

Jumlah Penggunaan/Konsumsi Bahan Bakar Total di DKI Jakarta oleh

Kendaman Bermotor

...

194

Jurnlah Penggunaan/Konsumsi Bahan Bakar Total di DKI Jakarta oleh

Ru-

mahtangga

...

194

Ara. Pengendalian J u d a h Pengelolaan Samp ah

...

195

Kurva Bobot Emisi Tahunan

...

...

195

Kurva Konsentrasi Dispersi Emisi dan Tahunan

...

195

Kurva Bobot Peredaman oleh RTH Tahunan

...

196

Kurva Rata-Rata Bobot Peredaman oleh RTH perhektar Tahunan

...

196

...

Kurva Konsentrasi Dispersi Tahunan 196

...

Kurva Bobot Peredaman oleh

RTH

Terhadap Bobot Ambien Tahunan 196

Histogram Konsentrasi Ambien Tahunan NOx (1982- 199 1)

...

205

Histogram Konsentrasi Ambien Tahunan S& (1982- 199 1)

...

205

Histogram Konsentrasi Ambien Tahunan TSP (1982-1991)

...

207

Histogram Bobot Peredaman Total Tahunan NOx oleh Lingkungan di DKI

Jakarta

.

Tahun 1982-199 1

...

209

Histogram Bobot Peredaman Total Tahunan SOX oleh Lingktlngan

di

DKI

...

Jakarta

.

Tahun 1982- 199 1

...

.

.

.

210

Histogram Bobot Peredaman Total Tahunan TSP oleh Lingkungan di DKI

Jakarta

.

Tahun 1982-1991 ... 213

Histogram Bobot Peredaman Cemaran Udara Tahunan oleh

RTH

di DKI

Jakarta

.

Tahun 1982-1991 ... 214

Histogram Bobot Peredaman Canaran Udara ~ u l k a n oleh RTH di DKI

Jakarta

.

Tahun 199 1

...

214

Histogram Persen Bobot Peredaman Cemaran Udara Tahunan oleh RTH Terhadap Bobot Emisi Cemaran Udara Tahunan di DKI Jakarta-Tahun 1982-

(29)

38-B Histognun Persen Bobot Peredaman Cemaran Udara Bulanan oIeh RTH

Terhadap Bobot Emisi Cemaran Bulanan- di DKI Jakarta

-

Tahun 1991 ... 21 5

39-A Histogram Persen Bobot Peredaman Cemaran Udara Tahunan oleh

RTH

Terhadap Bobot Peredaman Cemaran Udara Tahunan oleh Lingkungan di DKI

Jakarta

-

Tahun 1982-1991

...

216

39-B Histogram Persen Bobot Peredaman Cemaran Udara Butanan oleh RTH

Terhadap Bobot Peredaman Cemaran Udara Bulanan oleh Liglclmgan di DKI

(30)

1 KEPENDUDUKAN

1-A Cacab Penduduk dan Cacah Keluarga di DKI Jakarta

1 -B Cacah Penduduk dan Cacah Keluarga di DKI Jakarta Tahun 194 1

-

1994.

Y

2 EKONOMI REGIONAL

2-A Nilai PDRB Menurut Sektor Panbangunan DKI Jakarta Tahun 1983-1990.

2-B Sumbangan W i - M a s i i Sektor Pembangunan dalam Pembentukan PDRB DKI Jakarta Tahun 1983-1990.

Persen Pertumbubm Ndai PDRB Menurut Sektor Pembangunan DKI Jakarta Tahun 1983- 1990.

Ndai PDRB Menurut Sektor Panbangunan yang DikelompokkanU1ang DKI

Jakarta Tahun 1983-1990.

Sumbangan Masing-Masii Sektor Pembangunan yang dikelompok-kanUlang dalam Pembemtukan PDRB DKI Jakarta Tahun 1983-1990.

Persen Pertumbuhan Ndai PDRB Menurut Sektor Pembangunan yang Dikelompokkan-Ulang DKI Jakarta Tahun 1983- 1990.

RUANG TERBUKA HUAU

Lams KumulatifRuang T h u k a fIijau di DKI Jakarta. Perkembangan Luas Ruang Terbuka Hijau di DKI Jakarta Pola PenggunaanLahan di DKI Jakarta Tahun 1991/1992.

Luas Kumutatif RTH-Pertarnanan (Taman, Jalur Hijau Jalaq dan Jalur Hijau Kota) di DKI Jakarta.

Perkembangan Luas RTH-Pertamanan (Taman, Jalur Hijau Jalan, dan Jalur Hijau Kota) di DKI Jakarta.

Jenis Tumbuhan Yang Banyak Digunakan Untuk Pembuatan Taman, Jalur Hijau Jalan, d m Ialur fiijau Kota di DKI Jakarta.

IKLIM

Curah Hujan Wilayah Rata-rata Bulanan dan Rata-rata Tahunan DKI Jakarta. Penyinaran Matahari Wilayah Rata-rata Bulanan dan Rata-rata Tahunan DKI Jakarta.

Suhu Udara Wilayah Rata-rata Bulanan d m Rata-rata Tahunan DKI Jakarta. Kelembaban Udara ?&sbi Wilayah Rata-rata Bulanan dan Rata-rata tahunan

(31)

Tekanan Udara Wilayah Rata-rata Bulanan d m Rata-rata Tahunan DKI

Jakarta.

Kecepatan Angin Witayah Rata-rata Bulanan dan Rata-rata Tahunan DKI Jakarta.

Wind Rose (Kecepatan Angin, Arah Angin dan Frekuensi Arah Angin)

Wdayah DKI Jakarta.

Kualitas Air Hujan di DKI Jakarta (Tahun 1983, 1984, dan 1985).

SUMBER CEMARAN UDARA

Cacah Industri PenggunaKonsumen Bahan Bakar di DKI Jakarta.

Perkembangan Cacah Industri PengguILalKonsurnen Baban Bakar di DKI Jakarta.

Cacah Industri, KeciI, Menengah, dan Besar di DKI Jakarta. Cacah Kendaraan bermotor yang Beroperasi di DKI Jakarta.

Perkembangan cacah Kendaraan Bermotor yang Beroperasi di DKI Jakarta. Cacah Rumahtangga Penggunakonsumen Bahan Bakar dan Jumlah & Rata- rata Volume Konmmsi Bahan Bakar di DKI Jakarta.

Perkembangan Cacah Rumahtangga PenggunaKonsumen Bahan Bakar d m

Jurnlah & Rata-rata Volume Konsumsi Bahan Bakar di DKI Jakarta. PENGGUNAAN / KONSUMSI BAHAN

B A K A R

Jumlah Peaggunaan/Konsumsi Bahan Bakar oleh Industri, Kendaraan Bemotor, m t a n g g a , dan Pemusnahan sampah di DKI Jakarta.

Rata-rata PenggmaanKonsumsi Bahan Bakar oleh Industri, Kendaraan Bemotor. Rumahtangga, dan Pembakaran Sampah di DM Jakarta.

J u d a h Konsumsi Bahan Bakar Minyak oleh Kemdaraan Berrnotor yang Beroperasi pada Kecepatan Rata-rata di dalam Kota di DKI Jakarta.

Rata-rata Konsumsi Bahan B a h r Minyak Per Unit Kendaraan Bennotor yang Beroperasi pada Kecepatan IZata-rata di dalam Kota di DKI Jakarta.

EMISI

CEMARAN

UDARA BERSUMBER DARI PEMBA-KARAN BAHAN BAKAR

Jumlah Emisi Cemaran Udara dari Industri, Kendaraan Bermotor, Rumahtangga, dan Pemusnahan Sampah di DiU Jakarta.

Faktor Emisi Cemaran Udara dari Lndustri, Kendaraan Bemotor, Rumahtangga, d m Pemusnahan Sampah di DKI Jakarta.

Jumlah Emisi Cemaran Udara dari Kendaraan Bermotor yang Beroperasi pada Kecepatan Rata-cata didalam Kota di DKI Jakarta.

Faktor Emisi Cemaran Udara dari Kendaraan Bermotor yang Beroperasi pada

(32)

8 DISPERSI CEMAIUN UDARA

DAN

PEREDAMAN CEMARAN UDARA.

8-A Ernisi dan Dispersi Cemaran Udara Bersumber dari Pembakaran Bahan Bakar

dan Peredaman Cemaran Udara oleh Lingkungan dan oleh RTH di DKI

Jakarta Tahun I99 1.

8-B Emisi dan Dispersi Cemaran Udara Bersumber dari Pembakaran Bahan Bakar

dan Peredaman Cemaran Udara oleh Liigkungan d m oleh RTH di DKI

(33)

BAB

I

PENDAHULUAN

Kepedulian pemerintah clan rakyat Indonesia terhadap permasalahan hgkungan tehh dirumuskan

secara

nyata

ke

dalam bentuk kebijaksanarm clan kesepakatau nasional sebagai-

mana tertuang di dalam beberapa

GBHN

%?lama

P d t a h a n Orde Baru. Di dalam

arahan

program Pembangunan Jangka Panjang 11

(PJP II)

yang dituaagkan di dalam G3HN 1993-

1998 (Bangun. 1993) clan arahan REPELiTA

VI,

lin- hidup ditempatkan pada

kedudukan yang penting

daa

strategis. Hampin di semua sektor pembangunan yang ditetapkan

di &am

GBHN

1993-1998 terdapat petunjuk mengenai perlunya wawasan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Nilai-nilai lingkamgan hidup mew& setiap kegiatan pemba-

ngunan yartg akan dil-

dalam

PJP

11. GBHN 1993-1998 clan REPELiTA

VI

bahkan telah menyinggung permcemanrn udara clan p U a n ~

Terbuka

Fiau (RTH).

Adapun kebijaksanaan mengenai penanganan lingkungan hidup, termasuk

pengendalian

pencemaran udara serta perlunya pembangunan dan pengelolaan RTH dan Taman Kota, yang

telah dituangkan dalam PELITA

VI,

antara lain adalah sebagai bedcut:

(I) Kebijkwman Fernbangunan Lingkungan Hidup:

(a) P- produksi limbah melalui

peningkatan

cfisiensi produksi dalam bidang

i n d u s e transportasi, energi dsb.; yang dimaksudkan

untuk mengurangi produksi limbah, termasuk emisi gas udara

(CU)

yang
(34)

(b) Pengelolaan dan pengendalian pencemaran udara di perkotaan dan kawasan industri, yang akan dikembangkan melalui upaya penurunan emisi CU dari setiap sum&

pencemar, pemilihan teknologi yang tepat, pembangunan RTH dan Taman Kota.

(c) Peningkatan pengelolaan Ialulintas kota, sehingga &pat mernperlanw ams kendaraan bermotor clan pengembangan sistem transportasi kota yang lebii efisien

dan

efekt* serta upaya pengembangan pemakaian sumber energi yang lebih bersih dan bersahabat dengan lingkungan.

(d) Pene&pan baku mutu lingkunean (BMLl, yaitu penetapan ambang batas tingkat pencemaran lingkwgan suatu daerah berdasarkan kemampuan lingkungan

untuk

menerhna beban pencemaran; termasuk BML-udara.

(2) Kebijaksanaan Penataan Ruang dan Pertanahan:

(a) P r o m penataan ruang diarahkan pula untuk mendukung pembangunan pertanian,

sehingga pemadbtan lahan subw tetap diprioritaskan untuk lahan usaha pertanian. Perkembangan sektor industri, perrnukiman, dan pembangunm prasarana jdan tidak

mengurangi lahan pertanian yang prod-.

(b) Penataan-ulang kawasan-kawasan yang mempunyai pot& pertumbuhan cepat,

tennasuk Wdayah Jabotabek.

(3) Kebijaksmaan Pembangunan Perkotaan dan Perdesaan:

(a) Mewujudkan lingkungan fisik dm sosial-ekonomi perkotaan yang b e s k a h s dan

terpebva serta rnampu mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

@) Program pengembangan prasiuana dan sarana dasar di pusat kegiatan nasional secara khusus diarahkan pada usaha peningkatan pengelolaan sistem transportasi dan

pengembangan sistem an- umum multimoda yang terpadu untuk mernpedanaw

arus lalu-lintas penumpang dan barang di dalam kota. Khsus untuk Wilayah

Jabotabek dan behempa kota metropolitan lainnya. pengembangan sarana mgkuiau

u m u m massal diprioritaskan. Prioritas pada penyiapan kawasan industri d& pusat

perrnukiman berupa penyediaan sarana dan prasarana yang mernadai.

(c) Program Penataan Ruaq, Pertanahan,

dan

Liigkungan Perkotaan diarahkan

untuk

(35)

dilaksanakan program penataan ruang, pertanahan, dan lingkungan perkotaan, yang

antara lain meliputi pembangunan RTH dan pemautapan luas RTH.

Khusus mengenai pernbangunan RTH, Menteri Dalarn Negeri telah mengeluarkan

Instruksi Menteri DaIam Negeri No. 14 Tahun 1988 tentang Penataan RTH I% Wdayah Perkotaan. Tentang upaya pengendalian emisi CU dari kendaraan bermotor, Menteri Negara

Liigkungan Hidup telah mengeluarkan Keputusan Menteri Negara Negara Lingkungan Hidup

No. KEP-35/MENLWOl/I993 tentang Ambang Batas Ernisi Gas Buang Kendaraan Bermotor.

Berkaitan dengan upaya pengendalian k u d t a s udara di Wilayah Provinsi D a d Khusus

bukota

@KI

Jakarta), Pemerintah DKI Jakarta telah menetapican berbagai kebijaksanaan yang

diimplementasikan dalam berbagai program yang menyangkut upaya penelcanan emisi CU dari

sumber-sumbemya, dan upaya perbaikan komponen-komponen lingkungan yang diyakini dapat

rnembantu perbaikan dan -tan M t a s udara

di

perkotaan. RFPELITA

M

DKI Jakarta telah memberi arahan mengenai ha1 tersebut, yakni:

(1) Pembanguan industri di DKI Jakarta diarahkan pada pengembangan iadustri yang

berteknologi tine dan akrab lin- serta terkwrdinasi dengan pengembangan industri di wilayah sekitarnya (Wilayah Jabotabek).

(2) Peningkatm upaya peIestarian h g s i

lingkungan

hidup sehingga Iebih mampu menjamin

penyelenggaraan pembangunan y a ~ g serasi dengan days d u h g alam

di

W~layrth DKI

Jakarta. Umuk keperluan itu akan dikembangkan dan ditegakkan p e n m a n permdkatam

lahan dan air serta pengendalian pencemaran, terrnasuk pencemaran udara, akiiat kegiatan

industti, transportasi, mmahtangga. dan pembangkit tenaga listrik.

(3) Untuk meningkatkan Mtas bgkungan, perhatian

khllsus

diberikan kepada peme-

liharaan dan pebtarian hutaa bakau di pantai utara, pelestarian flora dan fauna langka,

pernelhmm

dan

pelestarian ekosistem hutan bakau dan tennnbu karang di Kepulauan Seribu, pemingkatan clan pemantapan Hutan Kota, Tarnan Kota, dan RTH, s a t a
(36)

(4) Pengembangan sumberdaya manusia antara lain dilaksanakan rnelalui peningkatan

pengetahuan dan keterampilan dalam pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan i h u

& teknoiogi serta plestarian ihngsi liigkungan hidup.

Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 5 T a h n 1984 tentang Rencana Umurn Tata-Ruang

Daerah (RUTRD)

-

DKI Jakarta telah member= arahan yang berkaitan dengan pabangunan

dan pemantapan RTH dan upaya pemgendalian M t a s udara. Arahan ini juga telah dirinci clan

ditetapkan bagi kccamatan yang ada di DKI Jakarta, yang dituangkan dalam Rencana Bagian

Wilayah Kota (RBWK) DKI Jakarta Tahun 2005.

Berkaitan dengan upaya pembangunan dan pemantapan RTH dan peng&an kualitas udara, di dalam RUTRD tersebut telah ditetapkan lokasi-lokasi dan:

(1) Sebaran RTH

(2) Sebaran tapak-tapak yang diperuntukkan bagi pengembangan industri.

(3) Sebaran tap&-tapak yang diperuntukkan bagi pengembangan permukiman.

(4) Jalur jalan raya menurut h g s i n y a dan berdasarkan tingkat kepadatan lalulintas, yang

dinilai sebagai sumber utama emisi CU.

Sebagai implement& rencma-rencana tersebut di muka. khusus yang berkaitan dengan

pengendalian kualitas udara, P a e r i n t a h DKI Jakarta telah menyelenggarakan berbagai

program dan proyek serta berbagai studi tentang kualitas udara dan pemantapan RTH di DKI

J mantara lain:

(1) Program URBAIR (Urban Air Quality Management in Jakarta), yang dilaksanakan melalui kerjasama antara Pemerintah DKI Jakarta dengau No& Instirut fur Luftfwksning,

Nonvegia, dan lnstirure for Environmental S d e s , Negeri Belanda (Lorssen et at., 1993).

(2) First Jabotabek U r h Development Projecr, yang salah satu kegiatannya addah

studi

"Ternantauan dan Pengendalian Pencemar Udara Lalulintas An-tan Jalan Raya8' ( U A J R

Air Pollution Monitori'ng a d Control, 1994).

(3)

Studi-studi

tentang perancangan Taman Kota, fimgsi Taman Kota dan RTH, pernilihan

jenis tanaman untuk pembanguoan Taman Kota dan RTH, dsb.; yang di1dcsanaka.n oleh

Dinas Pertamanan DKI Jakarta clan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan

(37)

Beberapa penetapan kebijaksanaan seperti tersebut di muka telah diiiplementasikan

dengan didahului berbagai stud maupun aplikasi di lapangan, namun berhubung rnasih kompleksnya permadahan, antara lain: (1) Terbatasnya lahan sedangkan cacah penduduk

dengan segala kebutuhamya semakin meningkat secara tajam; sehingga pemenuhan kebutuhan

seolah selalu h a n g memadai karena berlomba dengan waktu dan (2) Masii kurangnya

apresiasi akan eksistensi RTH sebagai salah satu sarana kota yang mau talc m u hams ada

dalam ekosistem perkotaan, serta (3) Kurang konsistennya pelaIcsanaan peraturan dan peren-

canaan tata ruang, oIeh berbagai sebab, khususnya dalih demi bertmhuh-kembangnya sektor ekonomi, maka upaya keras Pemerintah Daerah DKI Jakarta tersebut menjadi nampak kurang

berhasil, meski dalu dicauangkan perlunya koordinasi kerja antardctoral, namun sulit

diaplikasikan.

1.1.2 Urgensi Penelitiau

Penelitian tentang 'Teran RTH Dalarn Pengendalian Kualitas Udara di DKI Jakarta" ini

d i a i penting karena:

(1) Penelitian tentang pencemaran udara dan pengendalian kualitas udara diniiai perlu

diletakkan dalam dimensi ruang dan waktu yang 1 6 3 1 tepat. Penelitian

ini

memcoba mengkaji secara komprehensif permasalahan pencemaran udara dan pengendatian kualitas

udara di DKI Jakarta d a b "dimemi wilayah" (tidak hanya meliput tapak-tapak tertentu

secara parsial) dengan "dimensi waktu jangka panjang

d m

shambung'' (tidak terbatas

hanya pada waktu-w&tu tertentu yang bersifjlt temporal dan diskret).

(2) KuaIitas udara ambien (KUA) yang terukur dan dapat dirasakan oleh indera sering h y a dilihat sebagai suatu 'Iceadaan yang ada" (given m e ) . Penelitian ini mencoba rnengkaji

hubungan fimgsiod RTH dan status W t a s udara (proses pembentukan keperiadaan

KUA melahi pendusuran dari sumber cemaran, CU yang diemisikan oleh setiap sumber

cemaran, proses dispersi emisi cemaran menjadi konsenaasi dispersi cemaran di' dalam

massa udara sesuai dengan perbedam kodigurasi d a y a h kota), dan proses peredaman

CU oleh lingkungan (khususnya

RTH),

yang m y a , terbentuk keragaan W t a s ambien yang mudah terukur (tidak hanya sekedar "'rnenguku? dan "memantau" keragaan KUA
(38)

(3) RTH (dan semua vegetasi hijau) di perkotaan lazairn diyakini sebagai "paru-paru kota" yang dianggap mampu mengatasi pennasalahan k d i t a s udara dan iklim perkotaan.

Penetitian ini mencoba mengkaji peran dan posisi RTH dalarn interaksi sistemik

"transformasi ernisi => ambien" CU di kota Jakarta secara obyektif dan rasional (bukan

karena alasan-alasan yang bemiifat emosional dan sentimental bahwa RTH itu penting

sebagai "paru-paru kota"). Penelitian ini diarahkan untuk mengenali "sifat-&at proses" interaksi antara tumbuhan pernbentuk RTH dengan keragaan

CU,

yakni apakah bersitat sinergistik (RTH dapat meredam

CU),

antagonistik

(RTH

justru rusak o h h CU), ataupun

netral (ada atau tidak a&

RTH,

tidak membawa

pen@

terhadap keragaan kuditas

udara).

Pennasalahan yang berkaitan erat dengan upaya pernbangunan dan pernantapan RTH,

pencemaran udara dan pengendalian Mtasudara di DKI Jakarta adalah:

(1) Perkembangan sumber CU.

Berkembang pesatnya pembangunan, di mana infrastmktur semakin banyak dan baik kuaiitasnya; menjadi daya tarik yang sangat h a t bagi pendatang baru pencari kerja

maupun investor dalam

usaha

membangun danlatau memperluas usahanya. Daw hubungan timbal-balik (cycle of ewnt) antara sektor ekonorni terhadap penduduk ini ti&

k j u n g pangkal. Semakin t i n m a m a a n akan ruang (lahan) untuk perurnahan

dan industri, penbgkatan sarana tmmportasi, di samping itu juga menhgkamya buangan

(limbah) merupakan indikator-indikator nyata

Semua

itu berm- pada peningkatan ragam dan j w h h konsumsi, khususnya bahan bakar (BB) oleh: (a) industri, mencakup

selwuh pabrik yang melakukan @ahran

BB;

(b) transportas< khususnya kendaman bermotor yang beroperasi di darat; dan (c) rumahtangga, yang -1rneng-

konsumsi

BB,

serta (d) semakin tingginya volume pemumahadpembakaran sampah; pada
(39)

(2) Kontribusi sumber pencemar terhadap pencemaran udara.

Setiap tahun terjadi peak&an fluktuasi kontribusi sumber pencemar udara bagi keempat sektor sebagai sumber BB utama di atas (1). Transformasi emisi menjadi KUA antara

lain adalah akibat adanya hubungan fingsional antara

RTH

dengan tujuh zat CU yang diteliti, khususnya di lokdi-lokasi di mana diduga terjadi konsentrasi-konsentmsi

pencemaran dalam distribusi spasial karena tidak meratanya pertumbuhan (empat sektor

tersebut di atas) pada bagian wilayah kota. Dengan diketahuinya hubungan fhngsional

dan lokasi-lokasi konsentrasi pencemaran yang banyak ditinggaLi/dilalui orang, maka dapat

diupayakan cara untuk menurunkan bahkan kalau mungkin menghilangkan

CU

yang

terkonsentrasi di Iokasi tersebut.

(3) Peran dan posisi RTH dalam kerangka umum Tata-Ruang Whyah (RUTR).

Lokasi persebaran serta luas RTH seprti apa adanya saat ini di berbagai wilayah kota

sangat beragam, karena meskipun semua telah diproyeksikan dalam rencana tata ruang,

akhimya karena ''perekrutan" lahan kota. beberapa RTH berubah fiangsi penggunaamya. Namun demikian, dalam RUTR 2005, Pemerintah Daerab DKZ Jakarta tetah kembali

memproyeksikan 1% dari has selumh wilayah DKI sebagai RTH yang tak dapat diganggu-gugat .

1 -2.1

Perkembangan sumber CU.

Ada empat sumber utama

CU

yang dapat dikenali di kota-kota besar, termasuk DKI Jakarta, yakni indm6 (pabrik-pabrik yang melakukan pembakaran BB

dan

pengolahan bahan baku produksi), transportasi (khususnya kendaraan beamotor), mmahtangga, dan

pemumahadpembakaran sampah kota. Oleh karena itu, penelitian ini memusatkan perhatian

pada emisi CU yang berasal dari keempat sumber utama CU tersebut, khususnya emisi CU yang berasal dari pembakaran BB.

Pada tahun 1991, cacah industri (kecil, menem&, dan besar) telah meningkat l e b i dari

tiga kaIi lipat dbandhgkan 1982, yaitu dari 1.036 buab di mgna 843 di antaranya memakai

(40)

kerosen dan rninyak plumas). Sedangkam penggunaan BBG dari 785 menjadi 2.534 buah.

Pernakaian batubara hanya meningkat dua kali lipat, dari 126 menjadi 268 buah. Sedang kokas

hanya sedikit meningkat, dari 1 18 menjadi 148 buah (lampiran 5-A1 data 5 4 3 ) .

Waiaupun rata-rata konsumsi BBM dan BB lainnya per tahun cendentng menu-run dari

tahun ke tahun

-

kecuali rata-rata konsurnsi gas yang cenderung meningkat (Lampiran

6-B),

namun totaf konsurnsi BB pada umumnya c e n d m g meningkat secara menco-Iok (Lampiran

6-A). Sebagai akibatnya, emisi CU yang berasal dari pembakaran BB oleh industri pun

rneningkat dari tahun ke tahun secara mencolok pula. Bahasan lebih terinci disajikan pada Bab

Sarana tnmsportasi yang tel& banyak diteliti dan rlinilai menjadi sumber bahan pencemar

udara paling utama di kota-kota besar adalah kenda~aan bermotor. Pertambahan kendaman

bermotor yang beroperasi (1982

-

1991) semakin meningkat dari 993.063 menjadi 1.657.497

buah di mana cacah kemlaraan yang menggunakan solar/diesel, premium, dan premix1 masing- rnasing meningkat dari 122,791 menjadi 220.740, 835.880 menjadi 1.369.855 dan 34.392

menjadi 66.902 buah (hmpilcan 5-B.l). Persen laju perkembangan masing-wing addah

6,78Wttahun; 5,920/8/tahun-, dan 7,7°/a/ttahun, sedang untuk semua jenis adaIah 6,06Wtahun

~~

5-B.2, Direktorat Lalulintas Metrojaya, 1992, 1993)

Peningkatan cacah kendaraan bermotor ini, khususnya terjadi tiga tahun terakhir pene-

h i a n (1988-1991), yang t e g g i addah penggunaan BB premix, dari 8,97U/a/ttahun (1988-

1989) menjadi 1 1,78°/oltahun (1989-1990),

dan

10, I6%/tahun (1990-1991).

Pada urnunmya jumlah konsumsi solar/diesel lebih banyak daripada jumlah konsumsi

premium dan premix, masing-masing sebanyak 2,14, 1,34; d m 0,29 miliar liter, dan jurnlah konsumsi pehunas untuk semua jems kendaraan adalah 491,43 juta liter (Lampiran 6-A. 1).

Sedangkan perkembangan rata-rata tahunan konsumsi BBM oleh kendaraan bennotor

tahun 1982- 199 1, tercatat masing-masing untuk solar/diesel, premium, premix addah 2,440/6/

(41)

raan bennotor. Untuk konsumsi pelumas masing-masing adalah 5,OlYoltahun; 4,88%/tahun;

dan 5,95O/dtahun, serta 5.0°/o/tahun bagi semua jenisflcelompok kendaraan bermotor.

Mencermati perkembangan cacah kendaraan bermotor yang beroperasi di DIU Jakarta dan perkembangan jumlah konsumsi BBM tersebut di muka dapat dipfakidan, bahwa total emisi

CU yang berasal dari kendaraan bermotor juga meningkat. Namun, peningkatan total emisi CU

ini

Iebih banyak disebabkan oleh bertambahnya cacah kendaraan bermotor yang beroperasi daripada disebabkan oleh bertambahnya total konsumsi BBh4, karena rata-rata konsumsi BBM

oleh semua jenis kendaman bermotor cendcmng sedikit menu- dari tahun ke tahun. Bahasan lebih terinci tentang peningkatan

ini

disajikan pada Bab I1 (Sub-Bab 2.10.3 dan 2.1 1. I).

CU

yang berasal dari mmakangga berupa emisi bahan buangan hasil pembakaran BB yang digunakan oleh nmmhtangga. Penelitian ini mengkaji jenis BB kerosen dan gas m e h e .

Konsumsi gas me& di. DKI Jakarta terdiri atas gas negara (Pengguna Gas NegadPGN)

y m g disalurksn melalui instalasi pipa gas aaringan permanen)

dari

"pabrik gas7' ke ntmah-

rumah pelanggan, dan liqunj7edpetroteum gas (LPG atau Elpiji) yang diiemas ddam tanki-

tanki gas. Data tentang cacah rumahtangga penggunalkonsumen BB (gas & kerosen), jumlah

volume konsurnsi BB, dan konsumsi rata-rata BB disajikan pada Lampiran 5-C. 1, dangkan

Lampiran 5 4 . 2 menyajikan perkembangan tahunan (O/dtah~n) selarna 1982-199 1.

Tahun 1991, dari 1.768.246 mmabangga yang

ada,

cacah penggma gas

(PGN

dan LPG) dan kerosen addah 55,18% (975.650 rumahtangga) dan 44,82% (792.596 rumah tangga). Per-

kernbangan rata--rats tahunan cacah penggunaan gas dan kerosen selartta 1982-1991 m i n g -

masing adalah 11,58

d m

1;850/dtahun. Tertinggi adalah rata-rata pen--

LPG

(11,66%) sedang PGN hanya 4,27?/o/tahun.

Jumlah volume konsumsi gas

dari

tahun ke tahun cenderung mmhgkat tajarn, yaitu dari

9,41 (1982) rnenjadi 339,98 juta kg (1991). Perkembangan rata-rata tahunan adalah sebesar

52,62%/tahun (1982-1991), sedang perkembangan rata-rata tahunan jumlah volume konsumsi

(42)

Laju perkembangan jumlah volume konsumsi gas jauh lebih tinggi daripada Iaju

perkembangan cacah penggunanya, artinya terjadi peningkatan volume konsumsi rata-rata dari

25.56 (1982) menjadi 348,47 kg/rumahtangga (1991). sedang rata-rata perkembangan

tahunannya adalah 36,989'0.

Konsumsi kerosen, baik cacah pengguna, vohrne dan rata-rata konsumsi tahunan per

pen- (konsunen). tidak menunjukkan peningkatan yang berarti, masiig-masing 1.85%/

tahun; 5,92%/tahm, dan 4,2%/tahun. Sedang rata-rata konsumsi adalah 1.269 liter/rumah-

tangga dari jumlah volrune konsumsi satu juta iier (199 1)

Dari bahasan di muka, dapatIah dikatakan bahwa pembakaran BB gas dan kerosen oleh

rumafitangga tergolong sebagai salah satu sumber

CU

yang talc &pat diabaikan begitu saja. Kecenderungan peningkatan cacah penggunakonsumen, jumlah volume konsumsi, dan

konsumsi rata-rata per rumahtangga ~ukup memberikan petunjuk, bahwa jumlah ernisi

CU

yang dihasilkan oleh kegiatan rumahtangga juga semakin meningkat dari t&un ke tahun.

Pertambahan penduduk dan perkembangan kegiatan perekonomian juga menyebabkan

semakin banyaknya buangan sampsh, baik dari rumahtangga, industri, maupun dari tempat-

tempat umum lainnya, termasuk pertokoan, pasar dsui perkantoran. Tahun 1991, buangan

sampih rata-rata mencapai 23.780 m3%, yang setara dengan 4.756 tonlhari Dinas Keber-

sihan DKI Jakarta 1989, I993 memperhitungkan bulk sampah sebesar 0,2 ton/m3. Pemusnahan sampah dari Kota Jakarta tahun 1982 baru 0,514 juta todtahun, yang meningkat

terus dari tahun ke tahun, sehingga tahun 1991, mencapai 1,665 juta ton/tahun. Iaju pening-

katan rata-rata tahunan buangan s a m p b selama kurun waktu 1982-1991 adalah !3,35%/ta-

hun. Dari data perkembangan buangan sarnpah ini, dayat &per- bahwa emisi cemaran

yang berasal dari proses pernusnahan/pembakaran sarnpah juga meningkat dari tahun Ice tahun

(43)

1

-2.2

Kontribusi

sumber

pencemar

terhadap pencemaran

udara.

Cacah penduduk DKI Jakarta pada tahun I993 addah 10-32 juta jiwa (Tabel 1 dan 2) dan

rata-rata kepadatannya mencapai 15.606 jiwakn2, terpadat Jakarta Pusat (34.235 jiwa/km2)

dan terjarang Jakarta Utara (9.917 jiwaflun2) (Kantor Statistik DKI Jakarta, 1991).

Pertumbuhan penduduk rata-rata selama 197 1

-

1980 adalah 3,93Ydtahun,

dan

selama

t

982- 1992 menurun menjadi 2,4lWtahun. Laju perhrmbuhan penduduk di DKI Jakarta ini tergo- long tinggi dibandingkan dengan rata-rata laju prtumbuhan penduduk Jawa-Bali dan rata-rata

nasional dalam waktu yang sama, yakni antara 1,65Ydtahun (1 980) dan 1,97%/tahun (1 990).

Sektor industri m u M c t u r dinilai sebagai War pendorong kuat bagi penhgkatan arus

urbanisasi juga bagi pelajo (comntwtw) dari daerah sekitar kota Jakarta (BOTAEEK), di mana

tahun 1993, menampung sampai rata-rata sebanyak 573.795 oranghati.

Di p h k lairk laju ptuznbuhan tahunan seldor-sektor komplernenter terhadap sektor

industri,

Gambar

Tabel I (Data lengkap pada Lampiran I-A). Kecenderungan pertumbuhan penduduk selama
Tabel 3 Keragaan lndikator Ekonomi Regional DKI Jakarta
Tabel 4 Cacah Kendaraan Bermotor
Tabel 5 Lokasi Dan Luas Real Estate
+7

Referensi

Dokumen terkait

Keberhasilan pemberdayaan yang dilakukan sekolah perempuan desa Sumberejo terihat dari penerapan setelah melakukan srangkaian kegaiatan dan materi yang berkaitan

MUMTAZ AHMAD KLINIK KESIHATAN BANDAR SP, JALAN BADLISHAH, 08000 SUNGAI PETANI, KEDAH. SUNGAI

Tabulasi Silang Hubungan Persepsi Penerapan Pembelajaran Metode Tutorial Dengan Kemandirian Belajar Mahasiswa Semester II Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar

Buy on Weakness : Harga berpotensi menguat namun diperkirakan akan terkoreksi untuk sementara Trading Buy : Harga diperkirakan bergerak fluktuatif dengan

[r]

,engingatkan kembali ke&#34;ada ibu tentang &#34;ers/nal $ygiene &#34;ada balita  dengan membiasakan kebiasaan 9u9i tangan setela$ melakukan aktiitas?.

yang mendapat pendidikan seks mengatakan tidak berhubungan seks sebelum usia

Sehubungan dengan itu, Lembaga Penelitian Univesitas Negeri Padang bekejasama dengan Pirnpinan Universitas, telah memfasilitasi peneliti untuk melaksanakan penelitian