PERAN RUANG
TERBUKA HIJAU
DALAM
PENGENDALIAN KUALITAS UDARA
DI
DKI
JAKARTA
SRIHARTININGSIH
PURNOMOHADI
NRP.
89526
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
<
,
1%.,
J PY. tJUDUL
DISERTASI
:
PERAN RUANG TE~&KKA
HJJAU DALAM
PENGENDALIAN KUPnLITAS
UDMA
DI DKI JAKARTA
,' *NAMA MAHASISWA
:
SRIHARTiNDJGSIH PURNOMOHADI
NOMOR POKOK
:
89526
DISETUJUI OLEH
Komisi Ijembimbing,
f. Dr.
Ir.
Herman
Ketua
(Prof. Dr.
Ir.
Ishemat Soeriane~ara)
(Dr.
Ir. Hidavat Pawitan)
Anggota
&
(Pr
of
.-
(Dr.
Ir.
H--
Sukarmadidiaia)
~ ~ g g o t a
Anggota
Ketua
Direktur
Program Studi Pengelolaan
Sumberdaya
Alam
dan
Lingkun
Program Pascasarjana
IPB
.
Ir. Edi Guhardja)
ABSTRACT
Interaction and firnctional relationship of urban green open space (UGOS) and air
qualify status of DKIJakarta was sfudied It was evident that progresses in urban transport
development, industrialization properties-housing estate development, and urban waste
disposaf have resulted in substantial increase in emission of air pollution. The UGOS is
realized as capable of intercepting @hysical adsorption, chemical adsorption, and chemical
continual adsorptions by various types of air pollutrmf).
Seven air pollutants, i e : CO, C02, NOx, SOX.
TSP,
HC and Pb were selected for
investigation. Emission of these air pollutants was m m e d to be originated only from
combustion o f f u l s (gasoline, oil, 1iqurfiedpeb.oleum gas
-
LPG. coal, coke,
and
urban solid
waste) by four main origrgrnal
sources of air pollutant (indusw, fransportation, household,
and urban waste burning) for a ten year period (1982-1991).
Some mathematical models were adopted and adjusted to the local environment in
assessing the vstemic interactions of all vkiables, which consist main& on the dispersion
models of air pollutants. Interception of air pollutants by the U W S was calculaied by using
various partial empirical models appropriate to each pollutant behawour, like SUR
(Seemingly Unrelated Regression) and Linier Simulation Equation Models.
The U W S of DKI-Jakarta consists of those under the management of the Jakarfa Park
Services ("RTH-Pertamanan"; which comprises of Urban
Parks,
TrafJic Greenbelts,
andUrban Corridors), and those belonging to other partiedauthorities ("RiX-Lain'y; which
com'sts of State Forest Area and Other Vegetated
Land
in 1991, the U W S covers "only"
3.72% of the total area (24.61 h 2
of 661.26
km2).
This s t u 4 reveals that it peflorms
important interception roles through ihe air pollution emissions tramformation capacify into
their ambient st&usfrom all sources as follows: CO (2.55-5,42%), C02 (499-1 0.07%). NO,
(1,62-2.18%). S a (1,61-2,60%), TSP (0.71-0.88%). HC (1,87-2.38%) and Pb (1.68-4,53%).
To reach the 10% of U W S f o r DKI-Jukuria, which about three times of the existing size,
the interception capacify could be greater with quality and qrtantiv improvement. not
mentioning other supportibg efforts like mass tramportation, encouraging befter and proper
management from all sectors related
Knowing the U W S
wry
Iimited capacity in intercepting seven air pollutant mentioned
above, it revealed thaf the existing "RTH-Periamanan" must be enhanced to a better quality
RIWAYAT HIDUP
SRIHARTININGSM PURNOMOHADI, lahir di Banyuwangi pada tanggal
10Januari
1945dari ibu Kartini dan ayah Dihardjo Soerohadikoesoemo (Almarhum) sebagai
anak k e - l i i dari tujuh bersaudara.
Lulus
Sarjana
Muda (BAP), Akademi Arsitektur Pertamanan Pemerintah DCI-
Djakarta (AKAP DCI-DJAJA),
1968.Diangkat sebagai Asisten Dosen Tata
Ifijau,
1966-1968,
pada AKAP DCI-Djakarta. Tahun
1968-1970,bekeja sebagai Pegawai Organik
bidang perencanaan arsitektur lansekap pada Proyek Pembangunan Gedung
MPRIDPR,
Ditjen Cipta
Kaqa,
Departemen Pekeqaan Umum
dan
Tenaga Listrik (F'UTL).
Menikah dengan
Ir.
Pumomohadi pada tahun
1969,dikaruniai tiga
anak,
Prasetyoadi,
Dwinita Larasati, dan Tri Prasetyaningtyas. Tahun
1978lulus Sarjana Arsitektur Lansekap
(Ir.)
Universitas TRISAKTI, Jakarta. Sejak
1970-1978,bekeqa sebagai p e r e n d a r s i t e k
lansekap, khususnya dalam perencanaan lansekap permukiman~perumahan, Taman kota
di
Jawa dan Sumatera serta perencanaan "Intensive Use Zone" Taman Nasional dan
Landscape Bandara.
Pada tahun
1975bekeqa sebagai Tenaga Administrasi, khususnya dalam p e ~ t i s a n
pembangunan Perpustakaan pada Sekolah Tinggi Arsitektur Pertamanan (STAPI),
Universitas
Trisakti
dan tahun
1976,diangkat sebagai Tenaga Edukatif Tetap, sekamng
Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan
(FALTL),
Universitas Trisakti.
Karena sejak
1978bekeja sebagai (calon) Pegawai Negeri Sipil, pada Kantor Menteri
Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (MN-PPLH), sekarang Kantor
Menteri Negara Lingkungan Hidup (MN-LH), maka sejak saat itu statusnya berubah
menjadi Tenaga Mukatif Tidak Tetap pada Fakultas yang sama hingga sekarang. Sebagai
PNS (sejak
1979)sampai sekarang pada Kantor Sekretariat Negara
RI
(Unit Kantor
MN-
LH).
Tahun
1985penulis lulus Magister Sains (MSi), bidang Pengelolaan Sumberdaya
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syulcur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Mhha Esa, karena dengan petunjuk dan kehendak-Nya, akhirnya penelitian maupun penulisan disertasi ini dapat diselesaikan.
Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan khusus kepada Komisi Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Herman Haeruman Js. (Ketua), Prof. Dr. Ir. Ishemat Soerianegara, Prof. Dr. Ir. Lutfi Ibrahim Nasution, Dr. Ir. Hidayat Pawitan dan Dr. Ir. Harun Sukarmadidjaja (masing-masing sebagai Anggota), atas kesabaran dan
kesediaannya untuk menyisihkan waktu guna memberi saran, biibingan, sejak dimulainya penyusunan rencana penelitian, peIaksanaan penelitian hingga selesainya p e n u b disertasi
ini.
Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada Bapak Prof. Dr. Emil Salim, yang telah dan selaIu mendorong penulis untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang l e b i tinggi, serta atas bantuan yang telah diberikan
-
baik m o d maupun materii sejak b e l i ~ masih menjabat sebagai Menteri Negara KLH hinma saat ini. Terimakasih ditujukan kepada Bapak Prof. Dr. Didii Sastrapradja untuk bertindak selaku Penguji Luar Komisi bersamaPejabat Pemerintah DKI Jakarta selaku pengelola dan penanggung jawab wilayah penelitian.
Terimakasih serta penghargaan juga penulis sampaikan kepada para Pejabat di lingkungan -or Menteri Negara Cigkungan Hidup, khususnya Bapak Ir. Sarwono Kusurnaatmadja, Bapak Sudarsono, SH., dan Bapak Ir. Atja Sugandhy, M.Sc., selaku atasan yang telah memberi ijin penulis untuk melanjutkan studi, serta atas dukungan m o d dan materiil baik langsung maupun tidak. Terimakasih juga penulis tujukan kepada semua rekan sekeja. Demikian pula kepada Mr. M. Ohta, JICA Chief Advisar, dan Mr. M. Hayakawa, dari Indonesia Environmental Management Center (EMC), Serpong, yang telah mernberi data dan informasi sebagai bahan studi banding, khususnya hasil penelitian semacam di beberapa kota besar di Jepang.
Terimakasih tak terhingga penulis hrjukan Kepada WakiI Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah DKI Jakarta. Bapak Ir. Tb. M. Rais, yang telah memberikan ijin lokasi penelitian, saran teknis-praktis, serta bantuan sebagian biaya penelitian pada saat
masih menjabat Ketua BAPPEDA DKI Jakarta
-
yang kemudian dilanjutkan oleh Bapakir. Erry Chayaridipura beserta seluruh jajarannya, antara lain Ir. Oloan Siregar, dll.
Hotman Silaen, Nesty Sidjabat. BAP.; juga kepada Ir. Sidharta, Kepala Dinas Pemetaan (DPPT) DKI Jakarta, beserta Drs. Arnin Sunarno d m Ir. Doddy Darmadja.
Kepada Ir. Yunani Kartawiria, Dra. Liliansasi dan Ir. Purwoto dari Pusat Pengkajian Permukhan Perkotaan dan Lingkungan (P4L), yang telah banyak memberikan data dan informasi yang amat penulis perlukan, juga diucapkan terimakasih. Terimakasii juga disampaikan kepada Ir. Untung Widodo dan Ir. Rudy Tambunan, MS., clan Dinas Tata Kota DKI, Ir. Bambang dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Dari ITB, kepada Dr. Ir. Mustikahadi Soedomo (alm.), Ketua Jurusan Teknik Ligkungan, dan Ir. Uton Rustan, MSc. atas saran-saran teknis dan ijin penggunaan hasil pengolahan data penelitiannya.
Ucapan terimakasii penulis sampaikan kepada siapa pun yang telah membantu kelancaran penelitian ini, diskusi dengan sesarna rekan, khususnya kepada Ir. B. E. Budhiyono, Dra. L i e s Sukartini, dan Ir. Budi Susetyo, yang sangat membantu dalarn pengolahan dan proses komputasi data, sampai kepada kritik dan saran-saran perbaikan, khususnya dalam penyusunan naskah disertssi
akhir.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada keluarga-keluarga yang dengan tulus M a s
telah memberikan "tumpangan-sementara" dengan segala fasiitas pendukung yang penulis pedukan di Bogor, keluarga Ir. Bambang Sudaryanto dan keluarga Drs. Dody Sutanto, pada waktu awal pendidikan dan keluarga Dr. Soenartono Adisoernarto pada saat akhir
penyusunan disertasi.
Akhimya kepada seluruh keluarga penulis sendiri, yang dengan penuh kesabaran dan kasih-sayang mendoakan dan menunggu keberhasilan perjuangan penulis dalam melanjutkan pendidikan ini, dimulai dari yang tercinta, Ibunda Kartini Dihardjo yang tidak
bosan-bosannya mendorong baik dengan doa maupun nasehat agar penulis tetap berteguh hati rnenghadapi segala tantangan untuk mencapai apa yang telah dicita-citakan sejak kecil,
untuk menjadi "guru*; kemudian kepada mertua penulis, Ibu dan Bapak Karsidii kakak dan ad& serta suami penulis, Ir. Pumomohadi; dan anak-anak tercinta, Tiyok, Tita dan Tiyas, atas pengorbanan yang telah mereka berikan selama ini.
Bogor, I 7 Desember I994
DAFTAR
IS1
ABSTRACT
RIWAYAT
HIDUP..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. . .
.
. .
. .
.
.
.
.
. . . .
. . .
.
.
.
. .
. . .
. . .
. .
. . .
. . .
.
.
.
. . .
. . . .
.
. .
.
. .
.
.
.
.
.
.
. .
i
.
*UCAPAN TERIMAKASM
.. ... . .. ..
...
... .
...
. . . .
.
. . . .
11DAFTAR TSI..
.
. .
.. .
.
.
.
.
.
.
. .
. .
.
.
.
.
.
.
.
. .
.
.
. . .
. . .
-.
-.
.
.
. .
-.
-.
-.
. .
-.
-.
. .
.
.
-.
. .
.
.
.
.
.
..
...-. -..
.
-.
*..
. . .
.
.
.
.
.iv
DAFTAR TABEL
.
.
.
.
.
.
. .
. .
. .
.
.
.
.
.
.
.:.
.
.
. . .
. .
. . . .
;..
.
.
. .
.
.
.
.
.
. . .
.
.
.
.
. . .
.
.
.
.
.
.
. . . .
. . .
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. . .
.
.
.
.
.
.
.
ix
DAFTAR
GAMBAR.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. . .
. .
. .
.
.
-.
-.
-.
-
-.
-.
. .
.
.
*.-.
.
.
.
.
.
.
-
. .
.
. .
. .
. . .
.
.
. .
. .
.
-.
.
. .
.
.
.
.
.
.xi
. .
DAFTAR PETA..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. . .
.
.
.
.
.
.
.
. . .
.
.
. . .
. .
. . .
- 1.
.
-
DAFTAR FOTO
. . .
.
.
.
.
.
. .
.
.
.
.
.
.
. . .
. .
. . .
.
.
. .
. .
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. .
.
.
.
.
.
.
.
. . . .
.
.
. . .
.
.
.
.
.
. . .
.
.
.
.
.
. . .
. .
. . .
. . . .
. .
.wlDAFTAR
GRAFIK
.
. . .
.
.
. . .
.
.
.
. .
.
.
. .
.
.
.
.
. . .
. .
.
.
.
.
.
.
.
. . .
.
.
.
.
.
. . .
.
.
.
.
. .
..
.. . .
.
.
.. .
. . .
.
.
. .
.
.
.
. . .
. . ..
.
..
. . . .
. . . .
xiv
.
.
DAFTAR LAMPIRAN
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.. .
.
. .
.
.
. .
. . .
.
.
.
.
. . .
.
.
.
. .
.
. .
1-PENDAHULUAN..
.
.
. .
.
.
.
*. A N .-.
*. -. . . .
.
.
.
.
.
.
. .
.
.
.
.
.
. . .
. .
.
.
.
.
.
.
.
.
. .
.
.
.
.
. . . .
.
.
.
. . .
. .
.
. . .
.
.
.
.
.
. .
.
.
.
.
. 1
1 . 1 Latar Belakang ... ...
...
... ...... .
..
..
.
. ..
. .
..
11 . 1 . 1 Kebijaksanaan di Bidang Lingkungan Hidup .... ...
...
... .... . ....
. ..
..
11. I . 1.1 Kebijaksanaan Nasional ... ... ... ... ... ... ... ... . .... ...
.
11.1.1.2 Kebijaksanaan Daerah ... 3
.
* 1.1.2 Urgensi Peneht~an ... ......
....
... ... ......
... ... ... 51.2 Permasalahan . ...
. ...
... .... . ...
. .... . . .
.
..
,.
. ..
.
. . .
.. .
. . 61 . 2 . 1 Perkembangan Sumber Cemaran Udara .... .. . ... . .... .. ...
.
. . ... . . . . . . . . 71.2.1.1 Industri . . . .
. . .
..
. . . .. . .. . .
..
. . .. . . .
. ..
. . ..
, ..
. . . , 71.2.1.2 Transportasi .
.
..
. ..<.
.. ....
.. . .
.. . .. .. .. .. .. . . .. . ..
. . . 81.2.1.3 Rurnahtangga .
.
..
. -. ..
.. . .
.. .
. .. . ..
..
.. .
..
.. . ..
. ..
. . .. . .
. . . 91.2.2 Kontribusi Sumber Pencemar Terhadap Pencemaran Udara . .:.; ... I 1
...
1.2.3 Peran dan Posisi RTH dalarn Kerangka Umum Tata-Ruang Wilayah 12
..
1.3 Tujuan Penel~t~an ... 13
1.4 W a a t Peneliti an
...
13I1
RONA
WILAYAH
PENELITIAN
...
.
.
... .
.
...
-16
2.1 Letak clan Geografi ... 16
2.2 Kependudukan ... 18
2.3 Ekonorni Regional ... 20
2.4 Transportasi .... d ... 23
2.5 Industri ... 26
2.6 Permukiman ... 27
2.7 Pemusnahan Sampah ... 28
..
2.8 Ruang Terbuka Wljau ... 292.8.1 RTH-Pertamanan ... 34
2.8.2 RTH-Lain ... 36
2.9 IMim dan Dinamika Atmosferik ... 36
2.9.1 Curah Hujan ... 3 7 2.9.2 Penyinaran Mitahari ... 40
2.9.3 Suhu Udara ... 40
2.9.4 Kelembaban Udara Nisbi ... 42
2.9.5 Tekanan Udara ... 42
... 2.9.6 Kecepatan dan Arah Angin 43 2.9.7 Tiggi Campuran (Mixing Height) ... 49
2.10 Konsumsi Bahan Bakar (BB) ... 49
2.1 1 Kualitas Udara ... 55
2.11.1 Emisi Cemaran Udara ... 55
2.1 1.2 Ambien Cemaran Udara ... 60
I11
KAJIAN
TEORETIS
...
62
3.1 Pencemaran Udara ... 62
3.1.1 Umum ... : ... 6 2 3.1.2 Jenis Cernaran Udara ... 63
3.1.3 Sumber Cemaran Udara ... 66
...
3.1.4.1 Karbon Monoksida (CO) 68
...
3.1.4.2 Nitrogen Oksida (NOx) 6 9
...
3.1.4.3 Belerang Oksida (SOx) 72
3.1.4.4 Hidrokarbon dan Oksidan Fotokimia (HC & OF) ... 73
... 3.1.4.5 Zarah 75 3.1.4.6 Logam Berat ... 77
... 3.1.5 Baku Mutu Lingkungan (BML) 80 3.1.5.1 Baku Mutu Emisi Cemaran Udara (BME-C U) ... 82
... 3.1.5.2 Baku Mutu Arnbien Cernaran Udara (BMA-CU) 87 ... 3.2 RTH dan Kualitas Udara 90 ... 3.2.1 Karakteristik Tumbuhan RTH 9 2 3.2.2 Mekanisme Perbaikan Kualitas Udara ... 94
... 3.2.2.1 Peran SOx, CO, dan NOx oleh RTH 95 3.2.2.2 Peredaman Zarah Debu oIeh RTH ... 95
3.2.2.3 Peredaman Zarah Tirnbal oleh RTH ... 95
3.3 Iklim dan Kualitas Udara ... 97
3.3.1 Dinarnika Atmosferik di Daerah Perkotaan ... 97
3.3.2 Faktor-faktor Meteorologi yang Mernpengaruhi Dispersi Cemaran ... Udara di f erkotaan 100 3.4 Rekayasa Pengendalian Pencemaran Udara ... 103
3.4.1 Pendekatan Teknologis ... 103
3.4.2 Pendekatan Kelembagaan ... 105
3.4.3 Pendekatan Ekonomi ... 107
...
IV METODE PENELITIAN
1 0 8
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 1084.1.1 Lokasi Penelitian dan Wdayah Studi ... 108
4.1.2 Waktu Peneiitian ... 108
... 4.2 Kerangka Umum Penelitian 108
. .
4.2.1 Dasar Penukuan ... 1084.2. I . 1 Sumber Cemaran Udara ... 109
4.2.1.2 Penerima Cemaran Udara ... 111
4.2.1.3 Pengendali Cemaran Udara ... 112
4.2.1.4 Dinamika Pembentukan Kualitas Udara Ambien ... 115
4.2.2 Asumsi-asumsi Umum ... 120
...
4.4 Sumber Data 125
. .
...4.5 Anal~s~s Data 126
4.5.1 A d i s i s Data Dasar ... 133
4.5.1
.
1 Analisis Data Kependudukan dan Ekonomi Regional ... 1334.5.1.2 Analisis Sumber Cemaran Udara ... 133
4.5.1.3 Analisis Faktor Emisi Cemaran Udara dari Sumbernya ... 134
4.5.1.4 Analisis Data RTH ... 134
4.5.1.5 Analisis Data l k l i dan Dinamika Atmosferik ... 136
4.5.1.6 Analisis Bobot dan Konsentrasi Ambien Cemaran Udara ... 138
... 4.5.1.7 Analisis Keruangan 138 4.5. I
.
8 Analisis Data Penunjang Lainnya ... 139... 4.5.2 Analisis dan Sintesis Data Lanjutan 141 4.5.2.1 Analisis Emisi Cemaran Udara dari Swnbernya ... 141
4.5.2.2 Analisis Konsentrasi Dispersi Emisi Cemaran Udara ... I 4 2 4.5.2.3 Analisis Peredaman Cemaran Udara ... 143
4.5.2.4 Uji Korelasi Antara Peredaman Cemaran Udara Oleh RTH ... dan Keragaan RTH 148
...
V
HAS= DAN
PEMBAHASAN
157 ... 5.1 Dmamika Perubahan =putan Lahan 157 ... 5.2 Keperiadaan Ruang Terbuka Hijau 161 ... 5.2.1 RTH Kawasan Hutan 163 5.2.2 RTH Non Kawasan Hutan ... 1665.2.2.1 RTH-Pertamanan ... 166
...
5.2.2.2 Lahan Bervegetasi Kayu Laimya 172
...
5.3 Status Kualitas Udara 173
. .
...
5.3.1 Ems1 Cemaran Udara 173
...
5.3.1.1 Bahasan Umum 173
...
5.3.1.2 Bahasan Masing-masing Jenis Cemaran Udara 183
...
5.3.2 Ambien Kualitas Udara 197
...
5.3.2.1 Bahasan Umum 197
...
5.3.2.2 Bahasan Masing-masing Jenis Cemaran Udara 203
...
5.3.3 Peredarnan Cemaran Udara Oleh Lingkungan 208
...
5.3.3.1 Nitrogen Oksida
-
208...
5.3.3.2 Belerang Oksida 209
...
5.3.4 Peredaman Cernaran Udara Oleh RTH ... 2 I3 5.3.4.1 Bahasan Umum ...
.
.
... 213 5.3.4.2 Bahasan Masing-masing Jenis Cemaran Udara ... 2175.4 Interaksi Antara Cemaran Udara dan RTH ... 230 ...
5.4.1 Bahasan Umurn 230
...
5.4.2 Pengendalian Kualitas Udara oleh RTH 231
VI
KESIMPULAN. SARAN. DAN IMPLIKASI
KEBUAKSANAAN
...
238
...6.1 Kesimpulan 238
...
6.1.1 Kesimpulan Urnum 238
...
6.1.2 Kesimpulan Khusus 239
6.1.2.1 Status Ruang Terbuka Hijau ... 239 ...
6.1.2.2 Status Kualitas Udara 240
6.1.2.3 Peredaman Total Cemaran Udara Oleh Linglcungan ... 241
6.1.2.4 Peredaman Cemaran Udara Oleh RTH ... 242 6.1.2.5 Pwedaman Cemaran Udara Oleh Komponen Lingkungan .
...
Lain 243
6.2 Saran ... 243 ...
6.2.1 Saran Terapan 243
...
6.2.1.1 Pengendalian Pencemaran Udara 244
...
6.2.1.2 Pengelolaan RTH 251
.
.
...6.2.2 Saran Penelltlan 253
...
6.2.2.1 Penelitian Tentang
RTH
2546.2.2.2 Penelitian Tentang Pencemaran Udara ... 255
...
6.3 Implikasi Kebijaksanaan 255
...
DAFTAR PUSTAKA
...
.
.
-264LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Cacah Penduduk dan C a d Keluarga di DKI Jakarta Tahun 1982-1983 ... 18 Cacah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di DKI Jakarta Tahun 1993 ... 18 Keragaan Indiitor Ekonomi Regional ... 21 Cacah Kendaraan Bemotor Menurut Jenis B e a n Bakar Utamanya ... 24 Lokasi dan Luas Real Estate di DKI Jakarta Tahun 1990 ... 27 Volume dan Komposisi Buangan Sampah di DKI Jakarta Tahun 1991 ... 28 Perkernbangan Luas Ruang Terbuka Hijau di DKI-Jakarta Selama Lingkup Walctu
Penelitian (1982- 1991) ... 31 Ringkasan Data Unsur-Unsur Iklirn d m Indikator Dinamika Atmosferik Rata-rata Bulanan dan Rata-rata Tahunan DKI Jakarta ... 38 Tinggi Campuran (Mixing Height) Wilayah Rata-rata Bulanan dan Rata-rata
Tahunan DKI Jakarta ... -49 Laju Pertumbuhan Rata-rata Tahunan Jumlah KonsumsilPenggunaan Bahan Bakar
(Semua Jenis Bahan Bakar oleh Semua Jenis Penggguna yang Diteliti) di DKI Jakarta, Selarna Lingkup Waktu Penelitian (1 982- 199 1) ... 54
...
Emisi Cemaran Udara Menurut Sumbernya di DKI-Jakarta Tahun 1991 56 Beberapa Has3 Penelitian Konsentrasi Dispersi Emisi Cemaran Udara di DKI
...
Jakarta Tahun 199 1 dan Baku Mutu (Ambang Batas) Emisi Cemaran Udara 57
Keragaan Konsentrasi Ambien Beberapa Jenis Cemaran Udara di DKI Jakarta Tahun 1991 ... 61 Persentase Total Pb dari Emisi BBM Kendaraan Bermotor ... 79 Balcu Mutu Ernisi Cemaran Udara Mewrut KepMen KLH No . KEP-
02fMENKLH/I/l 988 ... 85
Baku Mutu Emisi Gas Buangan Kendaraan Bermotor Menurut KepMen LH No .
KEP-35/MENLW10/1993 ... 86 Baku Mutu Udara Ambien Menurut KepMen KLH No . KEP-02/MENKLH/L/l988 ... 88 Baku Mutu Ambien Cemaran Udara Bagi DKI Jakarta Menurut Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah DKI Jakarta No
.
587 Tahun 1980 ... 89 Kriteria Jenis Tumbuhan Untuk Pembangunan RTH ... 92 Luas Keteduhan Beberapa Jenis Turnbuhan ... 93 Perubahan Unsur-unsur Iklim Di Kawasan Perkotaan ... 99Taksonomi Kebijaksanaan Sehagai Perangkat Pengendali Pencemaran Ligkungan.
.. .
107Distribusi Jenis Cemaran Udara Menurut Klasifikasi Konsentrasinya.
..
... . .
...
. . ..
...
139Perubahan Komposisi Emisi dan Perubahan Luas RTH Pertamanan
....
.
.. . .. .
...
...
..
....
153Perubahan Komposisi Cemaran Udara Teredam (YO)..
..
....
. .. ..
...
... .. .. .
...
.. . .. .
.
.
. ... .
I54Perubahan Komposisi Cemaran UWdTeredam (%) ... . ... .. . ... ....
. ..
.....
,...
.
155D
i
Perubahan Pola Liputan Lahan Di DKI Jakarta Berdasarkan Penafsiran Citra Satelitands sat-
Tahun 1988-1992 ... .... . .. .. ...
.. .. . .. .
.. . .. .. . ....
..
. . .. . .
.. . .
161 Ringkasan Luas Ruang Terbuka Hijau di DKI Jakarta Tahun Tahun 1%9, 1982,1991 dan 1993
...
162Kawasan Hutan di DKI Jakarta Tahun 1993
...
....
... ... .... .
. .
164Ringkasan Perhitungan Emisi Cemaran Udara Bersumber Dari Pembakaran Bahan
Bakar dan Perbandingan Hasil Penelitian Emisi Cemaran Udara Menurut Sumbernya di DKI Jakarta
.... .
..
. . .
..
. .. . .
. . ..
.
. .
. . .
. .. . .
.. . .
.. . .
. . .
.. . .
.
. . .
.
.
I76Ringkasan Hasid Perhitungan Bobot dan Konsentrasi Emisi Cemaran Udara Berasal
dari Proses f embakaran Bahan Bakar di DKI Jakarta
-
Tahun 199 I ...
...
... .. ... ..
....
.
... 180Ringkasan Hasil Perhitungan Bobot dan Konsentrasi Peredaman Cemaran Udara oleh Liigkungan
WTH
dan Komponen Lingkungan Lain) dan OlehRTH
di DKI Jakarta-
Tahun 199 1.. . .. . .
. ..
. . .
.
.
.
.
.
.
. . .
. . .
. . ..
. . . .
. . . ..
.. .
. . .. . .
.. . .
.
. . .
1 8 IRingkasan Data Bobot dan Konsentrasi Dispersi Cemaran Udara di DKI
Jakarta
-
Tahun 199 1... . . .
. ..
. . .
. .
.
.. . .
.
. .. . .
. . .. . .
. ..
. .. . .
.
. . .. . .
..
. . .. . .
.. . .
. .
. . .
.. . .
20 1Status dan Keperiadaan Kualitas Udara ... ...
...
... ... ......
...
202 Pengaruh KemampuanRTH
(Luas 3,72% DKI) Meredam CU dari Total Emisi(1982-1991) ... ...
.
...
... .... . ... . . .
202 Rangkurnan Data Hasil Penelitian Peran RTIf Dalarn Pengendalian Kualitas Udara Di DKI Jakarta (Khusus Tahun 1991).
... . .
.. .. .. . . .
. .. ...
. .
. .
. ..
. .. .
.. . . .
. . .
. . .. . .
. .. .
. . . .
.
. .. . .
235DAFTAR GAMBAR
WindRose Rata-rata/Dominan Bagi Seluruh Wilayah DKI Jakarta ... 45 Diagram Daur Fotolitik N& ... 70
...
Gangguan pada Daur Fotolitik NO2 oleh Hidrokarbon 75
Selang Ambang Batas dalam Penentuan Baku Mutu Lingkungan Berdasarkan
S f i t dan Status Kandungan Ben& di Lingkungan ... 81 ... Interaksi Sistemik Antar-Komponen Pembentuk Status Kualitas Udara 109 Peredaman Cernaran Udara (Transformasi Konsentrasi Emisi ke Konsentrasi
Ambien) ... 116 Bagan Alir Proses Interaksi Sistemik Pengelolaan Kualitas Udara di Metropolitan
Jakarta ... 122 Tahap-tahap Analisis Data Hubungan Fungsional Antara Pencemaran Udara dan
DAFTAR PETA
Wdayah Metropolitan JABOTABEK (Widayah Studi Ekstensif)
...
17Wdayah Metropolitan DKI Jakarta (Wilayah Studi Intensif
...
17Lokasi Sebaran RTH di DKI Jakarta Tahun I 9 9 1
.
1 9 9 3...
33Peta Isohyet Curah Hujan Rata-rata Tahunan
...
37Peta Isothermal Suhu Udara Rata-rata Tahunan ... 41
Peta Isobar Tekanan Udara Rata-rata Tahunan
...
43Peta Streamline Kecepatan &
Arah
Angin Rata-rata Bulan Januari ... 46Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Februari
...
46 Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Maret ... 46 Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan April ... 46 Peta Streamhe Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Mei ... 47 Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan JUN ... 47Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Juli ... 47
Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Agustus ... 47 Peta Streamline Keoepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan September ... 48
... Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-ratit Bulan Oktober 48
Peta Streamline Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan November ... 48
...
Peta Streamtine Kecepatan & Arah Angin Rata-rata Bulan Desernber 48Citra Satelit
s and sat-
Liputan Lahan Wilayah Metropolitan JABOTABEKTahun 1988 ... 158
Citra Satelit
ands sat"
Liputan Lahan Wdayah Metropolitan JABOTABEKTahun 1992 ... 159
Citra Satelit
ands sat"
Perubahan Liputan Lahan W~Iayah MetropolitanJABOTABEK Tahun 1988- 1992 ... 160
Peta IsopIeth CO ... 198
Peta Isopleth NOX ... 198
Peta Isopleth SOX ... 199
Peta Isopleth TSP ... 199
DAFTAR FOTO
Sebagian Kawasan Hutan Lindung Angke-Kapuk yang Berubah Status d m
Fungsinya, sedang Dueklamasi mtuk Pembangunan Kawasau Permukiman ... 163
"Taman Kota" Taman Gelanggang OIahraga Senayan, Jakarta Pusat ... 168
"Taman Kota" Taman Medan Merdeka (MONAS), Jakarta Pusat. ... 168 "Jalur Hijau Jalan" Median Jalan antara Hotel Indonesia dan Hotel Mandarin,
Jakarta ... 168 "Jalur Hijau Jalan" Kombinasi "Jalur Hijau JaIan" dan "Tanaman Pagar
Penyangga" bambu @mbusa sp.) dan glodogan (Polyalhea iongiyolia) di Kawasan Industri,
...
Jakarta. 169
"Jalur Hijau Kota" Jalur Kijau di Kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat ... 169 "Jalur Hijau Kota" Koridor Sepanjang Re1 Kereta Api di Daerah Guntur,
Jakarta Selatan ... 169 "'Laban Bervegetasi Kayu Lainnya", Pepohonan di Sekitar Rumah
(Karang Kitri) di Daerah Pinggiran, Jakarta Selatan ... I 7 2
"Lahan Bervegetasi Kayu L a i ~ y a " , Pepohonan Bervegetasi Kayu
di Tempat Pemakarnan Umum di Daerah Pmggiran, Jakarta Selatan ... 172
DAFTAR GRAFIK
Kurva Perkembangan Cacah Penduduk di DKI Jakarta Tahun 1941-1993
...
... 19 Persentase Pendatang Baru Menurut Daerah Asalnya di DKf Jakarta TahunI993 I 9
Niai Nominal PDRB DKI Jakarta Menurut Sektor Pembangunan yang
Dikelompokkan Ulang Tahun 1983
-
1990 Berdasarlcm Nilai Konstan 1983. . .
. . .. . .
22 Persentme Sumbangan Sektor Pembangunan yang Dikelompokkan Ulangdalam Pembentukan PDRB DKI Jakarta Tahun 1983- 1990
. . .
. . .
..
..
..
.
. .
.
. . .
.
. . .
. . . .
..
. . .
22 Pertumbuhan PDRB DKI Jakarta Menurut Sektor Pembangunan yangDikelompokkan Ulang Tahun 1983-1990
... . .
. . .
.
. .
.
..
.
.
. . .
.. . .
.. .
.
.. . .
. . .
.. .
.
.. . .
.
23 Sebaran LuasRTH
Menurut Kotamadyadi
DKI Jakarta Tahun 1992/1993. .
. .... . .
.3 1Sebaran Luas RTH Menurut Jenis RTH di DKI Jakarta Tahun 1992/1993
... . .. .. . .. . .. . .
.32 Kurva Perkembangan Luas RTH Menurut Jenis RTH di DKI Jakarta Tahun1969-1993 ... .
... ...
......
. .. . .
.
. . . ...
.
. 32 Kurva Perbandingan Perkembangan Luas RTH-Pertamanan dan RTH-Lain diDKI Jakarta
.. ... . . . .. .
.... ... . ... ..
... .. .. . .. .. .
... .
.... ..... . .. ..
. ... .. ... ..
.... ..
...
...
...
. . . .. . .. .. ...
. ... . ....
33 Histogram Jumlah Konsumsi BBM oleh Semua Pengguna Menurut Jenis BBMdi DKI Jakarta Tahun 1982- 1991
. .. . . .
..
. ..
.. . .
. .
. . ..
. ..
. .
. . .
. . . ..
. . . .. .
,.
. . .
.. . .
. . . .. . .
.
. . .
.. .
5 1Histogram Jurnlah Konsumsi BBM oleh Semua Pengguna Menurut J e ~ s Pengguna BBM di DKI Jakarta Tahun 1982- 1991 . . .
. . .
.. . .
. . ..
.. . . .
.
.
. . .
.. .
.. . .
.
. .
.
. . .
.
5 1Histogram J u d a h Konsumsi Gas oleh Semua Pengguna Menurut J e ~ s Pengguna Gas di DKI Jakarta Tahun 1982- 199 1 . . .
. . .
.
..
. . ..
.. .
.. . .
. . . .
.
. . .. . .
..
52 Histogram Jumlah Konsumsi Batubara & Kokas oleh Semua PenggunaBatubara & Kokas di DKI Jakarta Tahun 1982-199 1
. .
... .. . ... . .. .. .. . ...
... .... . . .... ..
... . . .. . .
52 Histogram J d a h Volume Pemusnahan Sampah diDKI Jakarta Tahun 1982-1991 ... ... 53 Hubungan Antara Ukuran Zarah dengan Kecepatan Pengendapan Zarah di
Dalam Massa Udara Talc Bergerak pada Suhu 0°C dan Tekanan 760 mmHg
dan Rapat-Jenis Zarah 1 g/cm3
.
. . .. . . .
..
. . ..
. .. . .
. . ..
. .. . .
. . .. . .
. ..
. . ..
. ..
. 77Histogram Bobot Emisi Cemaran Udara Tahunan (CO, COz, NOX, SOX. TSP,
HC, dan
Pb)
di DKI Jakarta, Tahun 1982-1991 .... .... ... ....
... 182 Histogram Bobot Emisi Cemaran Udara Bulanan (CO, C02, NOx, SOX, TSP,14 Histogram Bobot Emisi C @ Tahunan Menurut Sumbernya (1982-1991)
...
185 15 Histogram Bobot Emisi N& Tahunan Memuut Sumbernya (1982-1991)...
188Histogram B h t Emisi SOX Menurut S u m h y a (1982-1991)
...
189...
Histogram Bobot Emisi TSP Menuxut Sumbernya (1982-1991) 190Zfistogram Bobot Ernisi HC Tahunan Menurut Sumbernya (1982-1991)
...
192...
Histogram Bobot Emisi Pb Tahunan Menurut Sumbernya (1982- 1991) 193Jumlah PeqgmmdKonsumsi Bahan Bakar Total di DKI Jakarta
...
I94Jumlah PenggunaanlKonsumsi Bahan Bakar Total di DKI Jakarta oleh Industri
...
194Jumlah Penggunaan/Konsumsi Bahan Bakar Total di DKI Jakarta oleh
Kendaman Bermotor
...
194Jurnlah Penggunaan/Konsumsi Bahan Bakar Total di DKI Jakarta oleh
Ru-
mahtangga
...
194Ara. Pengendalian J u d a h Pengelolaan Samp ah
...
195Kurva Bobot Emisi Tahunan
...
...
195Kurva Konsentrasi Dispersi Emisi dan Tahunan
...
195Kurva Bobot Peredaman oleh RTH Tahunan
...
196Kurva Rata-Rata Bobot Peredaman oleh RTH perhektar Tahunan
...
196...
Kurva Konsentrasi Dispersi Tahunan 196
...
Kurva Bobot Peredaman olehRTH
Terhadap Bobot Ambien Tahunan 196Histogram Konsentrasi Ambien Tahunan NOx (1982- 199 1)
...
205Histogram Konsentrasi Ambien Tahunan S& (1982- 199 1)
...
205Histogram Konsentrasi Ambien Tahunan TSP (1982-1991)
...
207Histogram Bobot Peredaman Total Tahunan NOx oleh Lingkungan di DKI
Jakarta
.
Tahun 1982-199 1...
209Histogram Bobot Peredaman Total Tahunan SOX oleh Lingktlngan
di
DKI...
Jakarta.
Tahun 1982- 199 1...
.
.
.
210Histogram Bobot Peredaman Total Tahunan TSP oleh Lingkungan di DKI
Jakarta
.
Tahun 1982-1991 ... 213Histogram Bobot Peredaman Cemaran Udara Tahunan oleh
RTH
di DKIJakarta
.
Tahun 1982-1991 ... 214Histogram Bobot Peredaman Canaran Udara ~ u l k a n oleh RTH di DKI
Jakarta
.
Tahun 199 1...
214Histogram Persen Bobot Peredaman Cemaran Udara Tahunan oleh RTH Terhadap Bobot Emisi Cemaran Udara Tahunan di DKI Jakarta-Tahun 1982-
38-B Histognun Persen Bobot Peredaman Cemaran Udara Bulanan oIeh RTH
Terhadap Bobot Emisi Cemaran Bulanan- di DKI Jakarta
-
Tahun 1991 ... 21 539-A Histogram Persen Bobot Peredaman Cemaran Udara Tahunan oleh
RTH
Terhadap Bobot Peredaman Cemaran Udara Tahunan oleh Lingkungan di DKI
Jakarta
-
Tahun 1982-1991...
21639-B Histogram Persen Bobot Peredaman Cemaran Udara Butanan oleh RTH
Terhadap Bobot Peredaman Cemaran Udara Bulanan oleh Liglclmgan di DKI
1 KEPENDUDUKAN
1-A Cacab Penduduk dan Cacah Keluarga di DKI Jakarta
1 -B Cacah Penduduk dan Cacah Keluarga di DKI Jakarta Tahun 194 1
-
1994.Y
2 EKONOMI REGIONAL
2-A Nilai PDRB Menurut Sektor Panbangunan DKI Jakarta Tahun 1983-1990.
2-B Sumbangan W i - M a s i i Sektor Pembangunan dalam Pembentukan PDRB DKI Jakarta Tahun 1983-1990.
Persen Pertumbubm Ndai PDRB Menurut Sektor Pembangunan DKI Jakarta Tahun 1983- 1990.
Ndai PDRB Menurut Sektor Panbangunan yang DikelompokkanU1ang DKI
Jakarta Tahun 1983-1990.
Sumbangan Masing-Masii Sektor Pembangunan yang dikelompok-kanUlang dalam Pembemtukan PDRB DKI Jakarta Tahun 1983-1990.
Persen Pertumbuhan Ndai PDRB Menurut Sektor Pembangunan yang Dikelompokkan-Ulang DKI Jakarta Tahun 1983- 1990.
RUANG TERBUKA HUAU
Lams KumulatifRuang T h u k a fIijau di DKI Jakarta. Perkembangan Luas Ruang Terbuka Hijau di DKI Jakarta Pola PenggunaanLahan di DKI Jakarta Tahun 1991/1992.
Luas Kumutatif RTH-Pertarnanan (Taman, Jalur Hijau Jalaq dan Jalur Hijau Kota) di DKI Jakarta.
Perkembangan Luas RTH-Pertamanan (Taman, Jalur Hijau Jalan, dan Jalur Hijau Kota) di DKI Jakarta.
Jenis Tumbuhan Yang Banyak Digunakan Untuk Pembuatan Taman, Jalur Hijau Jalan, d m Ialur fiijau Kota di DKI Jakarta.
IKLIM
Curah Hujan Wilayah Rata-rata Bulanan dan Rata-rata Tahunan DKI Jakarta. Penyinaran Matahari Wilayah Rata-rata Bulanan dan Rata-rata Tahunan DKI Jakarta.
Suhu Udara Wilayah Rata-rata Bulanan d m Rata-rata Tahunan DKI Jakarta. Kelembaban Udara ?&sbi Wilayah Rata-rata Bulanan dan Rata-rata tahunan
Tekanan Udara Wilayah Rata-rata Bulanan d m Rata-rata Tahunan DKI
Jakarta.
Kecepatan Angin Witayah Rata-rata Bulanan dan Rata-rata Tahunan DKI Jakarta.
Wind Rose (Kecepatan Angin, Arah Angin dan Frekuensi Arah Angin)
Wdayah DKI Jakarta.
Kualitas Air Hujan di DKI Jakarta (Tahun 1983, 1984, dan 1985).
SUMBER CEMARAN UDARA
Cacah Industri PenggunaKonsumen Bahan Bakar di DKI Jakarta.
Perkembangan Cacah Industri PengguILalKonsurnen Baban Bakar di DKI Jakarta.
Cacah Industri, KeciI, Menengah, dan Besar di DKI Jakarta. Cacah Kendaraan bermotor yang Beroperasi di DKI Jakarta.
Perkembangan cacah Kendaraan Bermotor yang Beroperasi di DKI Jakarta. Cacah Rumahtangga Penggunakonsumen Bahan Bakar dan Jumlah & Rata- rata Volume Konmmsi Bahan Bakar di DKI Jakarta.
Perkembangan Cacah Rumahtangga PenggunaKonsumen Bahan Bakar d m
Jurnlah & Rata-rata Volume Konsumsi Bahan Bakar di DKI Jakarta. PENGGUNAAN / KONSUMSI BAHAN
B A K A R
Jumlah Peaggunaan/Konsumsi Bahan Bakar oleh Industri, Kendaraan Bemotor, m t a n g g a , dan Pemusnahan sampah di DKI Jakarta.
Rata-rata PenggmaanKonsumsi Bahan Bakar oleh Industri, Kendaraan Bemotor. Rumahtangga, dan Pembakaran Sampah di DM Jakarta.
J u d a h Konsumsi Bahan Bakar Minyak oleh Kemdaraan Berrnotor yang Beroperasi pada Kecepatan Rata-rata di dalam Kota di DKI Jakarta.
Rata-rata Konsumsi Bahan B a h r Minyak Per Unit Kendaraan Bennotor yang Beroperasi pada Kecepatan IZata-rata di dalam Kota di DKI Jakarta.
EMISI
CEMARAN
UDARA BERSUMBER DARI PEMBA-KARAN BAHAN BAKARJumlah Emisi Cemaran Udara dari Industri, Kendaraan Bermotor, Rumahtangga, dan Pemusnahan Sampah di DiU Jakarta.
Faktor Emisi Cemaran Udara dari Lndustri, Kendaraan Bemotor, Rumahtangga, d m Pemusnahan Sampah di DKI Jakarta.
Jumlah Emisi Cemaran Udara dari Kendaraan Bermotor yang Beroperasi pada Kecepatan Rata-cata didalam Kota di DKI Jakarta.
Faktor Emisi Cemaran Udara dari Kendaraan Bermotor yang Beroperasi pada
8 DISPERSI CEMAIUN UDARA
DAN
PEREDAMAN CEMARAN UDARA.8-A Ernisi dan Dispersi Cemaran Udara Bersumber dari Pembakaran Bahan Bakar
dan Peredaman Cemaran Udara oleh Lingkungan dan oleh RTH di DKI
Jakarta Tahun I99 1.
8-B Emisi dan Dispersi Cemaran Udara Bersumber dari Pembakaran Bahan Bakar
dan Peredaman Cemaran Udara oleh Liigkungan d m oleh RTH di DKI
BAB
I
PENDAHULUAN
Kepedulian pemerintah clan rakyat Indonesia terhadap permasalahan hgkungan tehh dirumuskan
secara
nyatake
dalam bentuk kebijaksanarm clan kesepakatau nasional sebagai-mana tertuang di dalam beberapa
GBHN
%?lama
P d t a h a n Orde Baru. Di dalamarahan
program Pembangunan Jangka Panjang 11
(PJP II)
yang dituaagkan di dalam G3HN 1993-1998 (Bangun. 1993) clan arahan REPELiTA
VI,
lin- hidup ditempatkan padakedudukan yang penting
daa
strategis. Hampin di semua sektor pembangunan yang ditetapkandi &am
GBHN
1993-1998 terdapat petunjuk mengenai perlunya wawasan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Nilai-nilai lingkamgan hidup mew& setiap kegiatan pemba-ngunan yartg akan dil-
dalam
PJP
11. GBHN 1993-1998 clan REPELiTAVI
bahkan telah menyinggung permcemanrn udara clan p U a n ~Terbuka
Fiau (RTH).Adapun kebijaksanaan mengenai penanganan lingkungan hidup, termasuk
pengendalian
pencemaran udara serta perlunya pembangunan dan pengelolaan RTH dan Taman Kota, yang
telah dituangkan dalam PELITA
VI,
antara lain adalah sebagai bedcut:(I) Kebijkwman Fernbangunan Lingkungan Hidup:
(a) P- produksi limbah melalui
peningkatan
cfisiensi produksi dalam bidangi n d u s e transportasi, energi dsb.; yang dimaksudkan
untuk mengurangi produksi limbah, termasuk emisi gas udara
(CU)
yang(b) Pengelolaan dan pengendalian pencemaran udara di perkotaan dan kawasan industri, yang akan dikembangkan melalui upaya penurunan emisi CU dari setiap sum&
pencemar, pemilihan teknologi yang tepat, pembangunan RTH dan Taman Kota.
(c) Peningkatan pengelolaan Ialulintas kota, sehingga &pat mernperlanw ams kendaraan bermotor clan pengembangan sistem transportasi kota yang lebii efisien
dan
efekt* serta upaya pengembangan pemakaian sumber energi yang lebih bersih dan bersahabat dengan lingkungan.(d) Pene&pan baku mutu lingkunean (BMLl, yaitu penetapan ambang batas tingkat pencemaran lingkwgan suatu daerah berdasarkan kemampuan lingkungan
untuk
menerhna beban pencemaran; termasuk BML-udara.
(2) Kebijaksanaan Penataan Ruang dan Pertanahan:
(a) P r o m penataan ruang diarahkan pula untuk mendukung pembangunan pertanian,
sehingga pemadbtan lahan subw tetap diprioritaskan untuk lahan usaha pertanian. Perkembangan sektor industri, perrnukiman, dan pembangunm prasarana jdan tidak
mengurangi lahan pertanian yang prod-.
(b) Penataan-ulang kawasan-kawasan yang mempunyai pot& pertumbuhan cepat,
tennasuk Wdayah Jabotabek.
(3) Kebijaksmaan Pembangunan Perkotaan dan Perdesaan:
(a) Mewujudkan lingkungan fisik dm sosial-ekonomi perkotaan yang b e s k a h s dan
terpebva serta rnampu mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
@) Program pengembangan prasiuana dan sarana dasar di pusat kegiatan nasional secara khusus diarahkan pada usaha peningkatan pengelolaan sistem transportasi dan
pengembangan sistem an- umum multimoda yang terpadu untuk mernpedanaw
arus lalu-lintas penumpang dan barang di dalam kota. Khsus untuk Wilayah
Jabotabek dan behempa kota metropolitan lainnya. pengembangan sarana mgkuiau
u m u m massal diprioritaskan. Prioritas pada penyiapan kawasan industri d& pusat
perrnukiman berupa penyediaan sarana dan prasarana yang mernadai.
(c) Program Penataan Ruaq, Pertanahan,
dan
Liigkungan Perkotaan diarahkanuntuk
dilaksanakan program penataan ruang, pertanahan, dan lingkungan perkotaan, yang
antara lain meliputi pembangunan RTH dan pemautapan luas RTH.
Khusus mengenai pernbangunan RTH, Menteri Dalarn Negeri telah mengeluarkan
Instruksi Menteri DaIam Negeri No. 14 Tahun 1988 tentang Penataan RTH I% Wdayah Perkotaan. Tentang upaya pengendalian emisi CU dari kendaraan bermotor, Menteri Negara
Liigkungan Hidup telah mengeluarkan Keputusan Menteri Negara Negara Lingkungan Hidup
No. KEP-35/MENLWOl/I993 tentang Ambang Batas Ernisi Gas Buang Kendaraan Bermotor.
Berkaitan dengan upaya pengendalian k u d t a s udara di Wilayah Provinsi D a d Khusus
bukota
@KI
Jakarta), Pemerintah DKI Jakarta telah menetapican berbagai kebijaksanaan yangdiimplementasikan dalam berbagai program yang menyangkut upaya penelcanan emisi CU dari
sumber-sumbemya, dan upaya perbaikan komponen-komponen lingkungan yang diyakini dapat
rnembantu perbaikan dan -tan M t a s udara
di
perkotaan. RFPELITAM
DKI Jakarta telah memberi arahan mengenai ha1 tersebut, yakni:(1) Pembanguan industri di DKI Jakarta diarahkan pada pengembangan iadustri yang
berteknologi tine dan akrab lin- serta terkwrdinasi dengan pengembangan industri di wilayah sekitarnya (Wilayah Jabotabek).
(2) Peningkatm upaya peIestarian h g s i
lingkungan
hidup sehingga Iebih mampu menjaminpenyelenggaraan pembangunan y a ~ g serasi dengan days d u h g alam
di
W~layrth DKIJakarta. Umuk keperluan itu akan dikembangkan dan ditegakkan p e n m a n permdkatam
lahan dan air serta pengendalian pencemaran, terrnasuk pencemaran udara, akiiat kegiatan
industti, transportasi, mmahtangga. dan pembangkit tenaga listrik.
(3) Untuk meningkatkan Mtas bgkungan, perhatian
khllsus
diberikan kepada peme-liharaan dan pebtarian hutaa bakau di pantai utara, pelestarian flora dan fauna langka,
pernelhmm
dan
pelestarian ekosistem hutan bakau dan tennnbu karang di Kepulauan Seribu, pemingkatan clan pemantapan Hutan Kota, Tarnan Kota, dan RTH, s a t a(4) Pengembangan sumberdaya manusia antara lain dilaksanakan rnelalui peningkatan
pengetahuan dan keterampilan dalam pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan i h u
& teknoiogi serta plestarian ihngsi liigkungan hidup.
Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 5 T a h n 1984 tentang Rencana Umurn Tata-Ruang
Daerah (RUTRD)
-
DKI Jakarta telah member= arahan yang berkaitan dengan pabangunandan pemantapan RTH dan upaya pemgendalian M t a s udara. Arahan ini juga telah dirinci clan
ditetapkan bagi kccamatan yang ada di DKI Jakarta, yang dituangkan dalam Rencana Bagian
Wilayah Kota (RBWK) DKI Jakarta Tahun 2005.
Berkaitan dengan upaya pembangunan dan pemantapan RTH dan peng&an kualitas udara, di dalam RUTRD tersebut telah ditetapkan lokasi-lokasi dan:
(1) Sebaran RTH
(2) Sebaran tapak-tapak yang diperuntukkan bagi pengembangan industri.
(3) Sebaran tap&-tapak yang diperuntukkan bagi pengembangan permukiman.
(4) Jalur jalan raya menurut h g s i n y a dan berdasarkan tingkat kepadatan lalulintas, yang
dinilai sebagai sumber utama emisi CU.
Sebagai implement& rencma-rencana tersebut di muka. khusus yang berkaitan dengan
pengendalian kualitas udara, P a e r i n t a h DKI Jakarta telah menyelenggarakan berbagai
program dan proyek serta berbagai studi tentang kualitas udara dan pemantapan RTH di DKI
J mantara lain:
(1) Program URBAIR (Urban Air Quality Management in Jakarta), yang dilaksanakan melalui kerjasama antara Pemerintah DKI Jakarta dengau No& Instirut fur Luftfwksning,
Nonvegia, dan lnstirure for Environmental S d e s , Negeri Belanda (Lorssen et at., 1993).
(2) First Jabotabek U r h Development Projecr, yang salah satu kegiatannya addah
studi
"Ternantauan dan Pengendalian Pencemar Udara Lalulintas An-tan Jalan Raya8' ( U A J R
Air Pollution Monitori'ng a d Control, 1994).
(3)
Studi-studi
tentang perancangan Taman Kota, fimgsi Taman Kota dan RTH, pernilihanjenis tanaman untuk pembanguoan Taman Kota dan RTH, dsb.; yang di1dcsanaka.n oleh
Dinas Pertamanan DKI Jakarta clan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan
Beberapa penetapan kebijaksanaan seperti tersebut di muka telah diiiplementasikan
dengan didahului berbagai stud maupun aplikasi di lapangan, namun berhubung rnasih kompleksnya permadahan, antara lain: (1) Terbatasnya lahan sedangkan cacah penduduk
dengan segala kebutuhamya semakin meningkat secara tajam; sehingga pemenuhan kebutuhan
seolah selalu h a n g memadai karena berlomba dengan waktu dan (2) Masii kurangnya
apresiasi akan eksistensi RTH sebagai salah satu sarana kota yang mau talc m u hams ada
dalam ekosistem perkotaan, serta (3) Kurang konsistennya pelaIcsanaan peraturan dan peren-
canaan tata ruang, oIeh berbagai sebab, khususnya dalih demi bertmhuh-kembangnya sektor ekonomi, maka upaya keras Pemerintah Daerah DKI Jakarta tersebut menjadi nampak kurang
berhasil, meski dalu dicauangkan perlunya koordinasi kerja antardctoral, namun sulit
diaplikasikan.
1.1.2 Urgensi Penelitiau
Penelitian tentang 'Teran RTH Dalarn Pengendalian Kualitas Udara di DKI Jakarta" ini
d i a i penting karena:
(1) Penelitian tentang pencemaran udara dan pengendalian kualitas udara diniiai perlu
diletakkan dalam dimensi ruang dan waktu yang 1 6 3 1 tepat. Penelitian
ini
memcoba mengkaji secara komprehensif permasalahan pencemaran udara dan pengendatian kualitasudara di DKI Jakarta d a b "dimemi wilayah" (tidak hanya meliput tapak-tapak tertentu
secara parsial) dengan "dimensi waktu jangka panjang
d m
shambung'' (tidak terbatashanya pada waktu-w&tu tertentu yang bersifjlt temporal dan diskret).
(2) KuaIitas udara ambien (KUA) yang terukur dan dapat dirasakan oleh indera sering h y a dilihat sebagai suatu 'Iceadaan yang ada" (given m e ) . Penelitian ini mencoba rnengkaji
hubungan fimgsiod RTH dan status W t a s udara (proses pembentukan keperiadaan
KUA melahi pendusuran dari sumber cemaran, CU yang diemisikan oleh setiap sumber
cemaran, proses dispersi emisi cemaran menjadi konsenaasi dispersi cemaran di' dalam
massa udara sesuai dengan perbedam kodigurasi d a y a h kota), dan proses peredaman
CU oleh lingkungan (khususnya
RTH),
yang m y a , terbentuk keragaan W t a s ambien yang mudah terukur (tidak hanya sekedar "'rnenguku? dan "memantau" keragaan KUA(3) RTH (dan semua vegetasi hijau) di perkotaan lazairn diyakini sebagai "paru-paru kota" yang dianggap mampu mengatasi pennasalahan k d i t a s udara dan iklim perkotaan.
Penetitian ini mencoba mengkaji peran dan posisi RTH dalarn interaksi sistemik
"transformasi ernisi => ambien" CU di kota Jakarta secara obyektif dan rasional (bukan
karena alasan-alasan yang bemiifat emosional dan sentimental bahwa RTH itu penting
sebagai "paru-paru kota"). Penelitian ini diarahkan untuk mengenali "sifat-&at proses" interaksi antara tumbuhan pernbentuk RTH dengan keragaan
CU,
yakni apakah bersitat sinergistik (RTH dapat meredamCU),
antagonistik(RTH
justru rusak o h h CU), ataupunnetral (ada atau tidak a&
RTH,
tidak membawapen@
terhadap keragaan kuditasudara).
Pennasalahan yang berkaitan erat dengan upaya pernbangunan dan pernantapan RTH,
pencemaran udara dan pengendalian Mtasudara di DKI Jakarta adalah:
(1) Perkembangan sumber CU.
Berkembang pesatnya pembangunan, di mana infrastmktur semakin banyak dan baik kuaiitasnya; menjadi daya tarik yang sangat h a t bagi pendatang baru pencari kerja
maupun investor dalam
usaha
membangun danlatau memperluas usahanya. Daw hubungan timbal-balik (cycle of ewnt) antara sektor ekonorni terhadap penduduk ini ti&k j u n g pangkal. Semakin t i n m a m a a n akan ruang (lahan) untuk perurnahan
dan industri, penbgkatan sarana tmmportasi, di samping itu juga menhgkamya buangan
(limbah) merupakan indikator-indikator nyata
Semua
itu berm- pada peningkatan ragam dan j w h h konsumsi, khususnya bahan bakar (BB) oleh: (a) industri, mencakupselwuh pabrik yang melakukan @ahran
BB;
(b) transportas< khususnya kendaman bermotor yang beroperasi di darat; dan (c) rumahtangga, yang -1rneng-konsumsi
BB,
serta (d) semakin tingginya volume pemumahadpembakaran sampah; pada(2) Kontribusi sumber pencemar terhadap pencemaran udara.
Setiap tahun terjadi peak&an fluktuasi kontribusi sumber pencemar udara bagi keempat sektor sebagai sumber BB utama di atas (1). Transformasi emisi menjadi KUA antara
lain adalah akibat adanya hubungan fingsional antara
RTH
dengan tujuh zat CU yang diteliti, khususnya di lokdi-lokasi di mana diduga terjadi konsentrasi-konsentmsipencemaran dalam distribusi spasial karena tidak meratanya pertumbuhan (empat sektor
tersebut di atas) pada bagian wilayah kota. Dengan diketahuinya hubungan fhngsional
dan lokasi-lokasi konsentrasi pencemaran yang banyak ditinggaLi/dilalui orang, maka dapat
diupayakan cara untuk menurunkan bahkan kalau mungkin menghilangkan
CU
yangterkonsentrasi di Iokasi tersebut.
(3) Peran dan posisi RTH dalam kerangka umum Tata-Ruang Whyah (RUTR).
Lokasi persebaran serta luas RTH seprti apa adanya saat ini di berbagai wilayah kota
sangat beragam, karena meskipun semua telah diproyeksikan dalam rencana tata ruang,
akhimya karena ''perekrutan" lahan kota. beberapa RTH berubah fiangsi penggunaamya. Namun demikian, dalam RUTR 2005, Pemerintah Daerab DKZ Jakarta tetah kembali
memproyeksikan 1% dari has selumh wilayah DKI sebagai RTH yang tak dapat diganggu-gugat .
1 -2.1
Perkembangan sumber CU.
Ada empat sumber utama
CU
yang dapat dikenali di kota-kota besar, termasuk DKI Jakarta, yakni indm6 (pabrik-pabrik yang melakukan pembakaran BBdan
pengolahan bahan baku produksi), transportasi (khususnya kendaraan beamotor), mmahtangga, danpemumahadpembakaran sampah kota. Oleh karena itu, penelitian ini memusatkan perhatian
pada emisi CU yang berasal dari keempat sumber utama CU tersebut, khususnya emisi CU yang berasal dari pembakaran BB.
Pada tahun 1991, cacah industri (kecil, menem&, dan besar) telah meningkat l e b i dari
tiga kaIi lipat dbandhgkan 1982, yaitu dari 1.036 buab di mgna 843 di antaranya memakai
kerosen dan rninyak plumas). Sedangkam penggunaan BBG dari 785 menjadi 2.534 buah.
Pernakaian batubara hanya meningkat dua kali lipat, dari 126 menjadi 268 buah. Sedang kokas
hanya sedikit meningkat, dari 1 18 menjadi 148 buah (lampiran 5-A1 data 5 4 3 ) .
Waiaupun rata-rata konsumsi BBM dan BB lainnya per tahun cendentng menu-run dari
tahun ke tahun
-
kecuali rata-rata konsurnsi gas yang cenderung meningkat (Lampiran6-B),
namun totaf konsurnsi BB pada umumnya c e n d m g meningkat secara menco-Iok (Lampiran
6-A). Sebagai akibatnya, emisi CU yang berasal dari pembakaran BB oleh industri pun
rneningkat dari tahun ke tahun secara mencolok pula. Bahasan lebih terinci disajikan pada Bab
Sarana tnmsportasi yang tel& banyak diteliti dan rlinilai menjadi sumber bahan pencemar
udara paling utama di kota-kota besar adalah kenda~aan bermotor. Pertambahan kendaman
bermotor yang beroperasi (1982
-
1991) semakin meningkat dari 993.063 menjadi 1.657.497buah di mana cacah kemlaraan yang menggunakan solar/diesel, premium, dan premix1 masing- rnasing meningkat dari 122,791 menjadi 220.740, 835.880 menjadi 1.369.855 dan 34.392
menjadi 66.902 buah (hmpilcan 5-B.l). Persen laju perkembangan masing-wing addah
6,78Wttahun; 5,920/8/tahun-, dan 7,7°/a/ttahun, sedang untuk semua jenis adaIah 6,06Wtahun
~~
5-B.2, Direktorat Lalulintas Metrojaya, 1992, 1993)Peningkatan cacah kendaraan bermotor ini, khususnya terjadi tiga tahun terakhir pene-
h i a n (1988-1991), yang t e g g i addah penggunaan BB premix, dari 8,97U/a/ttahun (1988-
1989) menjadi 1 1,78°/oltahun (1989-1990),
dan
10, I6%/tahun (1990-1991).Pada urnunmya jumlah konsumsi solar/diesel lebih banyak daripada jumlah konsumsi
premium dan premix, masing-masing sebanyak 2,14, 1,34; d m 0,29 miliar liter, dan jurnlah konsumsi pehunas untuk semua jems kendaraan adalah 491,43 juta liter (Lampiran 6-A. 1).
Sedangkan perkembangan rata-rata tahunan konsumsi BBM oleh kendaraan bennotor
tahun 1982- 199 1, tercatat masing-masing untuk solar/diesel, premium, premix addah 2,440/6/
raan bennotor. Untuk konsumsi pelumas masing-masing adalah 5,OlYoltahun; 4,88%/tahun;
dan 5,95O/dtahun, serta 5.0°/o/tahun bagi semua jenisflcelompok kendaraan bermotor.
Mencermati perkembangan cacah kendaraan bermotor yang beroperasi di DIU Jakarta dan perkembangan jumlah konsumsi BBM tersebut di muka dapat dipfakidan, bahwa total emisi
CU yang berasal dari kendaraan bermotor juga meningkat. Namun, peningkatan total emisi CU
ini
Iebih banyak disebabkan oleh bertambahnya cacah kendaraan bermotor yang beroperasi daripada disebabkan oleh bertambahnya total konsumsi BBh4, karena rata-rata konsumsi BBMoleh semua jenis kendaman bermotor cendcmng sedikit menu- dari tahun ke tahun. Bahasan lebih terinci tentang peningkatan
ini
disajikan pada Bab I1 (Sub-Bab 2.10.3 dan 2.1 1. I).CU
yang berasal dari mmakangga berupa emisi bahan buangan hasil pembakaran BB yang digunakan oleh nmmhtangga. Penelitian ini mengkaji jenis BB kerosen dan gas m e h e .Konsumsi gas me& di. DKI Jakarta terdiri atas gas negara (Pengguna Gas NegadPGN)
y m g disalurksn melalui instalasi pipa gas aaringan permanen)
dari
"pabrik gas7' ke ntmah-rumah pelanggan, dan liqunj7edpetroteum gas (LPG atau Elpiji) yang diiemas ddam tanki-
tanki gas. Data tentang cacah rumahtangga penggunalkonsumen BB (gas & kerosen), jumlah
volume konsurnsi BB, dan konsumsi rata-rata BB disajikan pada Lampiran 5-C. 1, dangkan
Lampiran 5 4 . 2 menyajikan perkembangan tahunan (O/dtah~n) selarna 1982-199 1.
Tahun 1991, dari 1.768.246 mmabangga yang
ada,
cacah penggma gas(PGN
dan LPG) dan kerosen addah 55,18% (975.650 rumahtangga) dan 44,82% (792.596 rumah tangga). Per-kernbangan rata--rats tahunan cacah penggunaan gas dan kerosen selartta 1982-1991 m i n g -
masing adalah 11,58
d m
1;850/dtahun. Tertinggi adalah rata-rata pen--LPG
(11,66%) sedang PGN hanya 4,27?/o/tahun.Jumlah volume konsumsi gas
dari
tahun ke tahun cenderung mmhgkat tajarn, yaitu dari9,41 (1982) rnenjadi 339,98 juta kg (1991). Perkembangan rata-rata tahunan adalah sebesar
52,62%/tahun (1982-1991), sedang perkembangan rata-rata tahunan jumlah volume konsumsi
Laju perkembangan jumlah volume konsumsi gas jauh lebih tinggi daripada Iaju
perkembangan cacah penggunanya, artinya terjadi peningkatan volume konsumsi rata-rata dari
25.56 (1982) menjadi 348,47 kg/rumahtangga (1991). sedang rata-rata perkembangan
tahunannya adalah 36,989'0.
Konsumsi kerosen, baik cacah pengguna, vohrne dan rata-rata konsumsi tahunan per
pen- (konsunen). tidak menunjukkan peningkatan yang berarti, masiig-masing 1.85%/
tahun; 5,92%/tahm, dan 4,2%/tahun. Sedang rata-rata konsumsi adalah 1.269 liter/rumah-
tangga dari jumlah volrune konsumsi satu juta iier (199 1)
Dari bahasan di muka, dapatIah dikatakan bahwa pembakaran BB gas dan kerosen oleh
rumafitangga tergolong sebagai salah satu sumber
CU
yang talc &pat diabaikan begitu saja. Kecenderungan peningkatan cacah penggunakonsumen, jumlah volume konsumsi, dankonsumsi rata-rata per rumahtangga ~ukup memberikan petunjuk, bahwa jumlah ernisi
CU
yang dihasilkan oleh kegiatan rumahtangga juga semakin meningkat dari t&un ke tahun.
Pertambahan penduduk dan perkembangan kegiatan perekonomian juga menyebabkan
semakin banyaknya buangan sampsh, baik dari rumahtangga, industri, maupun dari tempat-
tempat umum lainnya, termasuk pertokoan, pasar dsui perkantoran. Tahun 1991, buangan
sampih rata-rata mencapai 23.780 m3%, yang setara dengan 4.756 tonlhari Dinas Keber-
sihan DKI Jakarta 1989, I993 memperhitungkan bulk sampah sebesar 0,2 ton/m3. Pemusnahan sampah dari Kota Jakarta tahun 1982 baru 0,514 juta todtahun, yang meningkat
terus dari tahun ke tahun, sehingga tahun 1991, mencapai 1,665 juta ton/tahun. Iaju pening-
katan rata-rata tahunan buangan s a m p b selama kurun waktu 1982-1991 adalah !3,35%/ta-
hun. Dari data perkembangan buangan sarnpah ini, dayat &per- bahwa emisi cemaran
yang berasal dari proses pernusnahan/pembakaran sarnpah juga meningkat dari tahun Ice tahun
1
-2.2
Kontribusi
sumber
pencemar
terhadap pencemaran
udara.
Cacah penduduk DKI Jakarta pada tahun I993 addah 10-32 juta jiwa (Tabel 1 dan 2) dan
rata-rata kepadatannya mencapai 15.606 jiwakn2, terpadat Jakarta Pusat (34.235 jiwa/km2)
dan terjarang Jakarta Utara (9.917 jiwaflun2) (Kantor Statistik DKI Jakarta, 1991).
Pertumbuhan penduduk rata-rata selama 197 1
-
1980 adalah 3,93Ydtahun,dan
selamat
982- 1992 menurun menjadi 2,4lWtahun. Laju perhrmbuhan penduduk di DKI Jakarta ini tergo- long tinggi dibandingkan dengan rata-rata laju prtumbuhan penduduk Jawa-Bali dan rata-ratanasional dalam waktu yang sama, yakni antara 1,65Ydtahun (1 980) dan 1,97%/tahun (1 990).
Sektor industri m u M c t u r dinilai sebagai War pendorong kuat bagi penhgkatan arus
urbanisasi juga bagi pelajo (comntwtw) dari daerah sekitar kota Jakarta (BOTAEEK), di mana
tahun 1993, menampung sampai rata-rata sebanyak 573.795 oranghati.
Di p h k lairk laju ptuznbuhan tahunan seldor-sektor komplernenter terhadap sektor
industri,