• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Suhu dan Waktu Pembiusan Bertahap Terhadap Keluusan Hidup Udang Windu Tambak (Penaeus monodon Fab) Selama Transportasi Sistem Kering

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Suhu dan Waktu Pembiusan Bertahap Terhadap Keluusan Hidup Udang Windu Tambak (Penaeus monodon Fab) Selama Transportasi Sistem Kering"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Vol. 13, No. 1, April 1999

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PEMBIUSAN BERTAHAP

TERHADAP KELULUSAN

UDANG WINDU TAMBAK

(Penaeus

Fab.) SELAMA TRANSPORTASI SISTEM

KERING

Study on the influence of Anasthesis Temperature and Time on Tiger

Shrimp Survival Rate in Dry Transportation System

R a h m a n S a m M a d e R u d y R Nitibaskara 4 ABSTRACT

The objective of this research is out the best temperature, and handling method for black tiger shrimp transportation with dry system. Anesthesis was applied in this research by adopting gradual cooling the rate of hour. Anesthesis was done at various temperatures 17, and 15°C) and and 20 minutes) with temperature in

The result showed that the survival rate of black tiger was by anesthesis temperature, but not by the time of cooling at the critical temperature. The optimum temperature for anesthesis was 15°C with the optimum length of time was minutes. Meanwhile the optimum temperature for transportation was gave the highest survival of the black tiger

shrimp (Penaeus Fab.).

Key words : Black Tiger Shrimp, Dry Transportation

terus meningkat pada

PENDAHULUAN mendatang. Untuk ikut

Dewasa ini, permintaan kan daya saing ekspor udang di pasar akan komoditas perikanan internasional, berbagai telah terutama udang dalam keadaan dilakukan, salah satu

semakin besar dan berkembang. Hal adalah perubahan ekspor udang ini menyebabkan persaingan bentuk beku atau segar

udang di pasar internasional menjadi dalam bentuk segar dan dirasakan keras dan ketat, Salah satu alasan penting

diramalkan persaingan ini akan pengeksporan udang dalam Staf Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan, FAPERI-UNRI Staf Jurusan Teknik Pertanian, FATETA-IPB

Staf Jurusan Teknologi dan FATETA-IPB

(2)

K

ETEKNIKAN ini adalah harganya yang dapat mencapai 3 hingga 4 kali harga udang (Suparno et al., 1994). Pasar Jepang, Eropa, dan Amerika

kan pasar potensial untuk jenis produk ini.

Untuk itu diperlukan teknologi yang sesuai dan tepat dengan tuntutan komoditi dan kondisi di Indonesia. Sayangnya, teknologi transportasi udang sejauh ini masih gunakan media air yang

berisiko tinggi, dan kurang (Suparno et 1994). Penelitian untuk mencari teknologi yang sesuai dilakukan.

Salah satu ekspor udang

dalam bentuk menjadi

yang tepat apabila kondisi optimalnya diketahui adalah dengan

sistem kering

media air) yaitu suhu yang dapat dilakukan dengan penurunan suhu secara bertaliap secara langsung (Wibowo, 1993; Suparno et al., 1994; Nitibaskara, 1996; Setiabudi et al., 1995). Dengan penanganan suhu

ini, udang dibuat

kondisi terbius dan

(Berka, 1986). Pada prinsipnya, untuk portasi dengan sistem kering ini

udang dalam keadaan

dan respirasi

sehingga daya di habitat hidupnya tinggi (Berka, 1986; Basyarie, 1990). Dari penelitian terdahulu telah diperoleh informasi bahwa penanganan windu sistem kering dengan suhu

telah menghasilkan suhu kritis bagi udang windu untuk dimanfaatkan dalam pembiusan yaitu suhu 19, 17, 15, 14, dan 12°C dengan waktu

pembiusan berkisar antara 10-20 (Wibowo, 1993;

Wibowo, 1993; Prasetyo, 1993 Nitibaskara, 1996).

Penelitian ini bertujuan mendapatkan suhu dan waktu

yang terbaik dan mempertahankan kelangsungan udang windu tambak media

air selama transportasi

menggunakan sistem pendinginan yang terkendali. Dari hasil penelitian ini dilakukan uji transportasi mengetahui efektifitas yang diperoleh mempertahankan

udang serbuk gergaji

METODOLOGI

Bahan dan Alat

yang dalam penelitian ini adalah

windu (Penaeus Fab.)

yang keadaan

sehat dan normal dengan ukuran 40 Kemasan yang digunakan adalah kotak

tipe rak dengan media penyimpanan serbuk gergaji. Peralatan yang digunakan peralatan untuk dan pengangkutan

udang, dan

udang, bak pembiusan udang, aerator uji transportasi udang. dan Prosedur Penelitian

Dalam penelitian dilakukan 3 percobaan, yaitu untuk

pengaruh suhu bertahap, pengaruh waktu pembiusan bertahap, dan uji transportasi yang terbatas pada uji penyimpanan.

Pada percobaan

(3)

Vol. 13, No. April 1999

digunakan meliputi:

bertahap, suhu pembiusan (15,

17, dan waktu dua

jam dan pada suhu kritisnya, ruang kemasan dan waktu uji transportasi 15 jam.

percobaan pengaruh waktu

perlakuan yang digunakan meliputi: pembiusan bertahap, pembiusan (suhu terbaik hasil

penelitian ), dua

jam pada kritis 10, 15, dan 20 ruang kemasan

dan transportasi (15 jam).

Sedangkan transportasi

berdasarkan percobaan 1

dan 2 dengan perlakuan pembiusan bertahap, pembiusan (suhu terbaik hasil litian waktu pembiusan (waktu terbaik hasil penelitian 2), suhu kemasan (1 waktu uji portasi 8 , 2 dan 24 jam).

Pada ketiga percobaan di

proses dengan

perosedur: udang

bak air

secara bertahap dengan kecepatan

tercapai yang diinginkan,

dipertahankan yang

ditetapkan.

.>

SUHU PEMBIUSAN

PERLAKUAN:

Suhu kemasan WAKTU

...

- Uji mortalitas (10, 15, 20

Suhu dan waktu

(15, 17,

Suhu pembiusan dan kemasan terbaik

Gambar Prosedur penelitian memperoleh terbaik

50

>-

Kontrol suhu Semi

Otomatik

UJI

jam)

Kontrol FUZZY

(1 jam)

Hasil uii terbaik

(4)

K

ETEKN KAN dipersiapkan serbuk gergaji

dengan 17°C dan kemasan tipe rak. Udang yang telah terbius (pingsan) seperti terlihat pada dimasukkan ke dalam kemasan yang telah diberi serbuk gergaji dan ditutup kembali dengan serbuk gergaji hingga kemasan penuh.

transportasi waktu yang telah ditetapkan pada ruang yang bersuhu 17°C.

transportasi maka dilakukan pembongkaran dan penyadaran dengan udang ke dalam air normal bersuhu 27 - dengan aerasi tinggi sampai udang sadar dan normal kembali.

Pengamatan

Pengamatan

dap aktivitas udang selama proses pembiusan, pengemasan, pem karan dan penyadaran, jumlah udang

yang dan serta waktu

yang diperlukan untuk normal kembali. Selain itu diamati pula suhu dalam kemasan selama transportasi. Penentuan Suhu dan Waktu Pembiusan Terbaik

Penentuan suhu dan waktu pembiusan terbaik dilakukan

sarkan aktivitas dan kondisi udang saat pembiusan, pengemasan, bongkaran, dan penyadaran serta

tingkat tertinggi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Suhu Pembiusan

Hasil percobaan pengaruh suhu pembiusan menunjukkan bahwa pembiusan udang windu tambak pada suhu 19°C dan 17°C

pada suhu kritisnya, relatif

berbeda. udang

terbius meronta kuat, belum bergerak sehingga dikhawatirkan masih dalam metabolisme tinggi yang akan mempengaruhi ketahanan udang (Basyarie, 1990). Sedangkan pembiusan pada suhu

15°C 10 pada

kritisnya, kondisi udang terbius tidak meronta, sudah

sudah fase

sehingga sudah

tenang dan tidak bergerak lagi dengan

respon Hal ini

proses pengemasan udang sudah berada tingkat

(Berka, 1986) Jika dilihat udang saat pembongkaran, pembiusan pada suhu 19°C dan 17°C juga relatif tidak berbeda, posisi udang sudah bergerak, dan meronta. Sewaktu dimasukkan ke air (0-5

untuk penyadaran, hanya gian kecil udang yang langsung tegak

dan lincah, saat pembongkaran masih tenang,

posisi dan tidak

meronta. Sewaktu dimasukkan ke air ke 2 dan 3 ) sebagian besar udang langsung sadar dan ' bergerak

(5)

13, No. 1, April 1999 responsif, dan gesit. Secara umum

ke 25 hingga 30 sudah normal. Untuk kelulusan

penyimpanan 15 jam, maka

pada suhu 15°C menghasilkan kelulusan paling tinggi yaitu pada suhu dan pada suhu 19°C.

Pengaruh Waktu Pembiusan

percobaan menunjuk-kan waktu pada kritis pembiusan 10, 15, dan 20 relatif tidak berbeda terhadap aktivitas dan kondisi udang

terbius, sudah

tidak meronta dan respon tidak ada. Fase udang terjadi pada kisaran suhu baik untuk waktu pada suhu kritis pembiusan

maupun 20 Untuk udang selama transportasi jam juga tidak

jukkan perbedaan yang nyata, yaitu

95% untuk waktu pada suhu kritis pembiusan 10 untuk 15

dan untuk 20

Perbedaan dalam

kecepatan udang sadar kern i . waktu pada kritis

pembiusan pada saat

dimasukkan ke dalam air ke 2 dan 3) sebagian besar udang

sadar dan berenang aktif dan sebagian kecil yang

Secara udang mulai

kembali 30 penyadaran. Untuk waktu pada kritis pembiusan 15 pada saat dimasukkan ke air ke 5) sekitar 50 udang berdiri dan berenang dengan aktif. Secara umum ke 30 hingga 35 sebagian besar udang sudah berdiri kokoh, aktif, dan berenang

dengan waktu

20 hanya sebagian kecil udang sudah stabil dan normal

(Jam)

18 Jam 21 Jam 24 Jam

(6)

kembali serta bergerak aktif pada ke 5 dan 7. Pada ke 35 hingga 40 sebagian besar udang sudah berdiri kokoh, aktif, responsif dan berenang dengan

Dari di

semakin cepat proses pembiusan maka semakin cepat udang sadar kembali dan yang dibutuhkan semakin sedikit. Sehingga pembiusan 10 pada suhu kritisnya adalah

Dari hasil transportasi tampaknya pembiusan bertahap pada

udang windu tambak pada suhu selama 10 pada suhu kritisnya dengan suhu ruang kemasan 17°C dan menggunakan kemasan rak mampu membuat udang dalam keadaan cukup kuat untuk transportasi hingga 18 jam dengan tingkat kelulusan

sampai dan 21 jam dengan kelulusan serta 24 jam dengan kelulusan Hasil

ini tampaknya

rakan mengingat dari penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya (Wibowo, 1993; Soekarto dan W ibowo, 1993; Prasetyo 1993) udang hanya dapat dipertahankan

sampai 19 jam saja dengan

60%. pembiusan

langsung seperti yang

kan oleh Wibowo dan Setiabudi (1995) pada suhu 18°C selama 15 menunjukkan sekitar 55% udang windu tambak dapat

tetap 16 jam,

dan 40% 19 dan 22 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penggunaan teknik pembiusan dengan penurunan bertahap, maka ketahanan

udang lebih tinggi daripada dengan pembiusan langsung pada suhu Dari hasil penelitian ini terlihat perubahan suhu kemasan yang disimpan pada ruang dengan suhu terkontrol pada 17°C

kecil, sehingga udang sudah tenang, tidak

bergerak, aktivitas metabolisme dan respirasi sehingga rapkan daya tahan udang cukup tinggi (Berka, 1986). Adanya bahan suhu yang besar diduga berpengaruh terhadap kelangsungan udang. Dengan suhu yang tinggi udang akan cepat sadar dan aktivitasnya tinggi. tinggi aktivitas udang, baik aktivitas fisik maupun metabolisme, berarti

tut ketersediaan oksigen yang tinggi. Karena di dalam media kering ketersediaan oksigen terbatas maka udang akan mengalami kekurangan oksigen dan berakibat kematian (Setiabudi et al., 1995).

(7)

13, No. 1, April 1999

Dari percobaan terlihat DAFTAR transportasi 24 jam, suhu

ruang kemasan relatif stabil dan dapat dipertahankan selama transportasi, yaitu berkisar antara hingga

(Gambar 2).

KESIMPULAN

1. Pembiusan dengan suhu

yang dilakukan secara bertahap (kecepatan penurunan suhu berpengaruh terhadap ketahanan udang windu tambak dalam media transportasi kering. terbaik dalam pembiusan bertahap

adalah suhu 15°C.

2. Waktu pembiusan dengan suhu yang dilakukan secara bertahap (kecepatan penurunan

suhu relatif tidak

berpengaruh terhadap keta-hanan udang windu tambak dalam media trans-portasi kering, tetapi waktu pernbiusan pada suhu kritis yang menghasilkan kondisi udang yang paling baik

transportasi adalah 10

3. Teknik pembiusan dengan penurunan suhu secara berta-hap (kecepatan penurunan suhu 5°C per jam) hingga suhu

15°C dan selama

10 dengan suhu ruang kemasan 17°C menghasilkan tingkat kelulusan

selama 18 jam, selama 2 1 jam, dan selama 24 jam. Dalam kondisi yang

tingkat kelulusan hidupnya dapat mencapai 100%.

Basyarie, A. 1990. Transportasi ikan Training Penang-kapan. Aklimatisasi Transportasi Ikan Lasut. Jakarta, 4-1 8 Desember 1990.

Berka, R. 1986. The transport of live fish. EIFAC Tech. Pap., FAO, Nitibaskara, R.R.

Imotilisasi dengan Suhu Bertahap untuk

Institut Pertanian Prasetyo. 1993.

untuk Transportasi Udang Secara Kering. Skripsi. Jurusan Mekanisasi Pertanian. Institut

Setiabudi, E., Y. Sudrajat, M.D. Erlina, dan S. Wibowo. 1995. Studi

pembiusan langsung dengan dalarn transpor-tasi sistim kering windu

(Penaeus Fab.).

Penelitian Peri-

kanan, (84) : 8-2 l .

Soekarto, S.T. dan S. Wibowo. 1993. Cara penanganan udang di luar air untuk transportasi

ekspor. Makalah Seminar Hasil-

Hasil IPB. 9

Februari 1993.

Suparno, J. Basmal, I. dan S. Wibowo. 1994.

(8)

Buletin

K

ETEKNIKAN

P

ERTANIAN

udang Wibowo, S. 1993. Sumberdaya

windu transportasi lobster

Fab.) transpor- ekspor. Peneli-

tasi sistim Peneli- Pe-

Pertanian. Depar-

Gambar

Gambar 1. Prosedur penelitian untilk memperoleh nilai terbaik
Gambar 2. Pola Perubahan Suhu Ruang Kemasan Selama Uji Transportasi

Referensi

Dokumen terkait

Karena pengontrolan hanya dapat menurunkan kapasitas (tidak pernah ak" men'mh2h kapasitas), sifat sistem pengontiolan yang dirancang ditujukan untuk mempft+alkal

"Keberhasilan Budidaya Udang Windu (Penaeus uzonodort Fab.) dalam Tambak Intensif yang Menggunakan Petak Perlakuan Air" yang dibimbing oleh Dr. Chairul

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pembiusan secara bertahap dan perubahan suhu dalam kemasan terhadap kelangsungan hidup bawal air tawar (

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pembiusan dengan suhu rendah secara bertahap terhadap kelulusan hidup bawal air tawar (Colossoma macropomum)

Studi penambahan fosfolipid pakan induk udang windu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kadar fosfolipid pakan yang optimal dalam pematangan induk udang

Dengan demikian pengamatan kualitas spermatozoa induk udang jantan asal perairan Sumbawa lebih baik dibanding dengan kuatitas induk udang asal perairan Banyuwangi

Dari hasil uji transportasi ini tampaknya pembiusan bertahap pada udang windu tambak pada suhu 15°C selama 10 menit pada suhu kritisnya dengan suhu ruang kemasan 17°C dan

Proposal penelitian untuk memeriksa parasit pada udang windu di tambak intensif BPBAP