• Tidak ada hasil yang ditemukan

“Aspek-Aspek Akhlak Yang Terdapat Dalam Surat Alinsan Ayat 23-26dan Aplikasinya Dalam Pendidikan Islam ”

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "“Aspek-Aspek Akhlak Yang Terdapat Dalam Surat Alinsan Ayat 23-26dan Aplikasinya Dalam Pendidikan Islam ”"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

i

“ASPEK-ASPEK AKHLAK YANG TERDAPAT DALAM SURAT

AL-INSAN AYAT 23-26DAN APLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM ”

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pdi)

Disusun oleh : Siti Humaeroh NIM : 108011000151

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

Nama NIM

Jurusan

Alamat

SitiHumaeroh 10801 1000151

Pendidikan Agama Islam

Jl. Cahaya Titis Rt. 02 Rw. 02 Tanah Baru Depok

MEIYYATAKAI\ DENGAIY SEST]NGGT]HI{YA

Balrwa skripsi

ini

yang berjudul "Aspek-Aspek Ahhlak yang terdapat

dalam Surat Al-Insan Ayat 23-26 dan Aplikasinya dalam Pendidikan Islam"

benar hasil karya sendiri dibawah bimbingan dosen :

Nama Pembimbing : Prof.Dr.H.Salman Harun, MA

NIP :19450612196510 1 001

Demikian Surat pernyataan

siap menerima segala konsekuensi karya sendiri.

ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya

apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil

Jakarta, 8 februari 2013

Yang Menyatakan,

(3)

P

:'

L4

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi berjudul Aspek-Aspek Akhlak yang terdapat dalam Surat

AI-fnsan ayat 23-26 dan Aplikasinya dalam Pendidikan Islam disusun

oleh Siti Humaeroh, Nomor Induk Mahasiswa 108011000151, Jurusan

Pendidikan Agama Islam, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus

dalam Ujian Munaqasah pada tanggal25 April 2013 di hadapan dewan penguji.

Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Sl (S.Pd.I) dalam bidang

Pendidikan Agama Islam.

Panitia Ujian Munaqasah

Ketua Panitia (Ketua JurusanlProgram Studi)

Bahrissalim. MA

NIP. 19680307 199803.1.002 Sekretari s (Sekretaris Jurusan/Prodi)

Drs. Sapiudin Shidiq" M.Ae

NrP. 19670328 200033 1.001

Penguji I

Dr. Anshori. LAL. MA.

NIP. 19570406 199403 1.001

Penguji II

Tanggal

Jakarta, 6 Mei 2013

Tanda Tangan

4,

lrdy

/"y"

[a

Dra. Eri Rossatria- M. Ag NrP. 19470717 1196608. 2.001

Itl

-6.zat,

(4)

S?rya yang bertanda tangan di

bawah ini,

Nama

,...S.tr.t..il.rlMaIg0.H.

T emp atlT gr. Lahir :,. .JAtglM. .

. . ZO

p

t.l

%_a....,..

NrM

:...lg.w.tlg.Qg!2r...._..

Jurusan/Prodi

,.

PA.l

DoseaPembimbing

dengan ini menyatakan bahwa sloipsi yatrgsaya

buat benar-benarhasitkarya sendiri tlan

saya beitanggungjawab secara akademis

aias apa yang siya

tulis-Pernyataan ini dibuat sebagai salah

satu.syarat.lfisuda

(5)

iii

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul “Aspek-Aspek Akhlak yang terdapat dalam Surat Al-Insan Ayat 23-26 dan Aplikasinya dalam Pendidikan Islam” yang disusun oleh Siti Humaeroh, NIM, 108011000151, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, 8 februari 2013

Yang Mengesahkan,

Pembimbing

(6)

iv

Nya, akhirnya penulisan skripsi yang berjudul Aspek-Aspek Akhlak yang

terdapat dalam Surat Al-Insan Ayat 23-26 dan Aplikasinya dalam Pendidikan

Islam ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam selalu saya sampaikan

keharibaan Nabi Muhammad Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikut beliau

hingga akhir zaman.

Penulis menyadari bahwa selama proses penulisan kaya ilmiah skripsi ini

dalam rangka mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Islam ini di UIN.Syarif

Hidayatullah Jakarta ini, banyak pihak yang telah membantu terselesaikan

penulisan skripsi ini. Maka dari itu penulis memberikan apresiasi yang setinggi-

tingginya sekaligus ucapan terima kasih. Adapun Apresiasi dan ucapan terima

kasih ini penulis khususkan kepada :

1. Prof.Dr.H.Rif’at Syauqi Nawawi, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan

Keguruan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk

menempuh pendidikan S1 di UIN.Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bahrissalim, MA dan Drs.Sapiudin Sidik, M.Ag, Ketua Jurusan

Pendidikan Agama Islam dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam

juga Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Pendidikan Agama Islam yang telah

memberikan bimbingan dan ilmu pengetahuannya selama menempuh

(7)

v

3. Prof.Dr.H.Salman Harun, MA, Dosen Pembimbing selama penulisan

Skripsi ini yang memberikan bimbingan, saran dan kritik selama

penulisan.

4. Tanenji, S.Ag, MA, Dosen Pembimbing Akademik Mahasiswa yang telah

memberikan motivasi dan saran kepada penulis selama menjadi

mahasiswa.

5. Kepala dan Staf Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,

Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Pasca Sarjana yang telah

memberikan pelayanan dan fasilitas kepada penulis dalam mencari

referensi.

6. Kepada kedua Orang Tua Bapak. Zaenal Abidin dan Ibu Henni Aselih

yang telah memberikan didikan, motivasi, doa dan kasih sayang kepada

penulis juga teruntuk, Mbak ku Dian Ika Sari, dan Adikku tersayang Siti

fahita, serta keponakan- keponakan ku tercinta.

7. Kepada Nenek dan Kakek ku tercinta Almrh. Hj. Hasanah dan H. Aselih

yang telah memotivasi dan memberikan doa kepada penulis selama

hidupnya, penulis selalu berdoa semoga nenek dan kakek tercinta selalu

mendapatkan rahmat dan maghfirah-Nya dialam sana. Juga Almrh nenek

dan kakek ku tersayang di. Pl. Ratu , yang telah memberikan doanya terus

menerus kepada penulis.

8. Kepada seluruh sahabat dan teman- teman dilingkungan UIN.Syarif

Hidayatullah Jakarta baik dari HMI.Komisariat Tarbiyah, IKMD ( Ikatan

(8)

vi

9. Kepada semua guru- guru penulis, baik di SDN Tanah Baru 03, dan

SMAN 6, yang secara khusus penulis hanturkan salam ta’dzhim kepada

beliau. Serta kepada Bpk dan Ibu Mertua yaitu Bpk. Mat Chotib dan Ibu

Dahlia yang telah memberikan Suport dan motivasi kepada penulis.

10.Kepada Suami ku tercinta Ahmad Fatoni yang selama ini menemani,

memotivasi serta memberikan kasih sayang dan perhatiannya kepada

penulis.

11.Seluruh teman- teman “VIDAMIN”, juga kepada semua pihak yang

penulis tidak sebutkan semua disini, penulis ucapkan terima kasih semoga

Allah Swt membalas kebaikan kalian semua.

Demikian ungkapan rasa terima kasih penulis yang dapat sampaikan,

semoga karya skripsi penulis ini dapat bermanfaat dan menambah

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ...i

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ...ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ...iv

ABSTRAK ...v

KATA PENGANTAR ...vi

DAFTAR ISI ...ix

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang Masalah ...1

B. Identifikasi masalah ...6

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah ...6

a. Pembatasan Masalah ...6

b. Perumusan Masalah ...6

D. Tujuan Penelitian ...7

E. Metodologi Penelitian ...7

BAB II TINJAUAN TEORITIS TENTANG PENDIDIKAN ISLAM ...9

A. Pengertian dan Tujuan Pendidkan Islam ...9

1. Pengertian Pendidikian ...9

2. Pengertian Pendidikan Menurut Istilah ...10

3. Tujuan Pendidikan Islam ...13

B. Dasar-Dasar Pendidikan Islam ...14

1. Al-Quran ...14

2. As-Sunnah ...16

3. Ijtihad ...16

C. Metode dan Pendekatan Dalam Pendidikan Islam ...17

(10)

x

A. Tafsir Surat al – Insan Ayat 23-26 ... B. Pandangan Para Mufassir Terhadap Surat al-Insan

ayat 23-27...28

C. Kandungan Surat al-Insan ...34

BAB IV ASPEK-ASPEKِ AKHLAK DALAM SURAT AL-INSAN DAN APLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM ...36

A. Aspek-Aspek Pendidikian dalam ASurat Al-Insan ayat 23-26 Kriteria yang menentukan A’spek pendidikan adalah dari Fi’il Amr (kata kerja) ...36

1. Sabar ...36

2. Dzikir ...37

3. Shalat Tahajud ...44

B. Aplikasi Pendidikan Dalam Surat Al-Insan Ayat 24-26 dalam Pendidikan Islam ...50

1. Aplikasi Sabar dalam Pendidikan ...50

2. Aplikasi Dzikir Dalam Pendidikan ...51

3. Aplikasi Shalat Malam (Qiyam al-Lail) dalam Pendidikan ...54

BAB V PENUTUP ...58

A. Kesimpulan ...58

B. Saran ...60

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut A. fatah Jalal, “Pendidikan merupakan upaya manusia yang diarahkan kepada manusia lain dengan harapan bahwa mereka ini, berkat pendidikan (pengajaran) itu kelak menjadi manusia yang baik, yang berbuat sebagaimana yang seharusnya diperbuat dan menjauhi apa yang tidak patut dilakukannya”.1 Syahidin berpendapat pula:

Manusia yang baru lahir dari perut ibunya masih sangat lemah, tidak berdaya dan tidak mengetahui apa-apa. Untuk menjadi hamba Allah yang selalu menyembah-Nya dengan tulus dan menjadi khalifah-Nya dimuka bumi, anak tersebut membutuhkan perawatan, bimbingan dan pengembangan segenap potensinya kepada tujuan yang benar. Ia harus dikembangkan segala potensinya kearah yang positif melalui proses pendidikan.2

Menurut zakiyah Darajat, “Manusia sebagai makhluk pedagogik membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik. Dengan potensi tersebut manusia mampu menjadi khalifah dibumi, pendukung dan pengembang kebudayaan. Ia dilengkapi dengan fitrah Allah berupa keterampilan yang dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia.”3

Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

1

Abdul Fatah Jalal,Azas-azas Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1998), h.11

2

Syahidin, Pendidikan Qur’ani Teori dan Aplikasi, (Jakarta: CV. Misaka Galiza 1990), h. 1

3

(12)





































(

:

87

)

Artinya: “dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan

hati, agar kamu bersyukur”. (Q.S Al-Nahl: 78).4Abu Ja’fan menafsirkan,

Maksud dari ayat ini adalah menurut tafsir Ath-Thabari bahwasannya Allah mengajari manusia apa yang sebelumnya tidak diketahui, yaitu sesudah Allah mengeluarkan dari perut ibu tanpa memahami dan mengetahui apapun, Allah mengkaruniakan manusia akal untuk memahami dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, Allah membuka mata untuk melihat apa yang tidak dilihat sebelumnya, dan memberikan telinga untuk mendengar suara-suara sehingga manusia dapat memahami perbincangan dari padanya, serta memberi mata untuk melihat berbagai sosok sehingga dapat saling mengenal dan membedakan, maksudnya adalah hati yang digunakan untuk mengenal segala sesuatu ,merekamnya, dan memikirkannya sehingga dapat memahaminya.

Lafadz  “ agar kamu bersyukur” maksudnya adalah agar

bersyukur kepada Allah dengan apa yang telah Allah berikan yaitu fitrah manusia berupa pendengaran, penglihatan, dan hati, sebelum Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, tetapi Allah memberi kalian ilmu dan akal setelah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian. 5

Nabi Muhammad SAW bersabda dalam haditsnya:

4

Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (semarang: CV Toha Putra, 1989), h. 413

5 Abu Ja’fan Muhammad bin Jarin Ath

(13)

3

Artinya: Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Setiap anak lahir (dalam keadaan) fitrah, Kedua orang tuanya (memiliki andil dalam) menjadikan

anak beragama Yahudi, Nasrani, atau bahkan beragama Majusikannya:. (HR. Muslim)6

Secara etimologi, kata fitrah berasal dari kata bahasa Arab yaitu ”Fitrah”

jamaknya ”Fitar” artinya perangai, tabiat, kejadian asli, agama, ciptaan. Fitrah juga terambil dari akar-akar kata ”al-Fathr” yang berarti belahan. Dari makna ini lahir makna-makna lain, antara lain ”pencipta” atau ”kejadian”.7

Berdasarkan hadits diatas, dapat dipahami bahwasanya Fitrah adalah potensi dasar beragama yang dibawa manusia sejak lahir dan bisa dipengaruhi oleh lingkungan diluar dari dirinya sendiri. Pada hakikatnya manusia diciptakan Allah dilengkapi dengan berbagai kelengkapan pada dirinya, fitrah merupakan ketetapan pemberian dari Allah berupa kekutan asli dan berada dalam kondisi lemah tak berdaya. Namun demikian fitrah itu tetap harus dipelihara dan dijaga. Sehingga peran lingkungan dan orang tua sangat penting dalam mengembangkan potensi seorang manusia. Potensi anak dikembangkan melalui proses pendidikan, Dalam proses pendidikan, manusia mampu membentuk kepribadiannya, mentransfer kebudayaannya dari suatu komunitas kepada komunitas yang lain, mengetahui nilai baik dan buruk dan lain sebagainya.

Dalam proses pendidikan fitrah yang telah dibawa sejak lahir akan dipengaruhi cukup besar oleh lingkungan. Fitrah tidak akan berkembang tanpa dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar.

Oleh sebab itu, dalam Islam setiap bayi yang baru lahir diazankan atau qamatkan, ini menunjukkan proses pendidikan anak sejak dini dari kedua orang tuanya, dimana lafaz tersebut akan menanamkan konsep keimanan dan menentukan kesuksesan dunia dan akherat. Tetapi setelah bayi diazankan atau diqamatkan harus ditindak lanjuti tidak hanya sebatas formalitas saja. Tindak lanjut tersebut berupa nilai-nilai pendidikan keimanan dan kesuksesan dunia dan

6

Imam Jamaludin Abdurrahman bin Abi Bakr al-Syuyuti, al-jami’ al-Shaghir Fi Ahadits al-basyir al-Nadzir, (Kairo: Dar al-Khatib al-Arabi, tt), h. 235

7

(14)

akhirat yang terkandung dalam makna azan. Oleh karena itu pendidikan islam bertugas membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan fitrah manusia tersebut sehingga terbentuk seseorang yang berkepribadian muslim.

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, “Potensi dasar tersebut yang lebih dikenal dengan fitrah harus terpelihara dan berkembang dengan baik. Sebab tugas pendidikan adalah menjadikan potensi dasar itu lebih berdaya guna, berfungsi secara wajar dan manusiawi. Potensi fitrah yang diberikan Allah itu, menurut Abdullah Nashih Ulwan sebagai “fitrah Tauhid” aqidah iman kepada Allah dan atas dasar kesucian yang tidak ternoda.”8

Menurut Syahidin:

Seiring dengan lajunya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, peranan pendidikan akan menjadi semakin penting. Karena disamping kemajuan ilmu pengetahuan yang menuntut sumber daya manusia yang berkualitas (khalifah Allah dibumi). Juga pendidikan berperan sebagai pengarah dari lajunya perkembangan pengetahuan itu sendiri, sehingga hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak akan merusak nilai manusia itu sendiri.9

Al-Qur’an sebagai tumpuan dasar kehidupan manusia dan sekaligus sumber ajaran Islam memuat begitu banyak segi kehidupan. Salah satu yang terpenting dalam ajaran Islam adalah pendidikan, yang merupakan faktor fundamental dalam kehidupan manusia. Sebab Rasullullah sendiri diutus oleh Allah untuk mengajarkan dan mendidik manusia untuk dapat mengenal Allah dan Rasulnya.

Menurut Zakiyah Darajat,

Dalam al-Qur’an terdapat banyak ajaran yang berisi prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu. Sebagai contoh dapat dibaca kisah Lukman ayat 12 sampai dengan ayat 19. Cerita itu mengariskan prinsip-prinsip materi pendidikan yang terdiri dari masalah iman, akhlak, ibadat, sosial dan ilmu pengetahuan. Ayat ini menceritakan tujuan hidup dan tentang nilai suatu kegiatan dan amal shaleh, itu berarti bahwa kegiatan pendidikan harus mendukung tujuan hidup tersebut. 10

Al-Qur’an dan terjemahan Departement Agama:

Al-Qur’an dan terjemahan department Agama, “Dengan memakai dasar

Al-Qur’an ini, maka pendidikan Islam harus mengarah kepada terciptanya manusia

yang seimbang antara kehidupan di dunia dan akhirat, dalam rangka beribadah

8

Abdullah Nashih Ulwan, Pemeliharaan Jiwa Anak, terjemah dari ushulut Tarbiyah islamiyah oleh Syihabuddin, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), h. 148

9

Syahidin. Op.Cit, h. 1

10

(15)

5

kepada Allah SWT sebagaimana yang telah ia gariskan kembali dalam

al-Qur’an.”11

Untuk membina kepribadian yang sejalan dengan fitrah menusia sebagaimana ditunjukan oleh AL-Qur’an dan Sunnah, diperlukan proses pendidikan yang terarah dan bertujuan untuk mengarahkan manusia kepada titik optimal kemampuannya. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai adalah terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia individual dan sosial serta hamba Allah yang mengabdikan diri kepada-Nya.

Dari uraian diatas yang penulis paparkan, disinilah penulis membahas Surat Al-Insan Ayat 23-26, dimana Allah dengan jelas memberikan pelajaran bagi manusia yang dapat menambah keimanan kepada kitab suci al-Qur’an sebagai wahyu Allah yang berisi ajaran-ajaran yang menuntun hidup dan kehidupan manusia kearah yang lebih baik.

Dalam Surat Al-Insan ayat 23-26 terdapat aspek-aspek pendidikan yang memiliki tiga tema sentral yang mengacu pada nilai-nilai Pendidikan, pertama

aspek pendidikan kesabaran. Hampir seluruh keadaan dan situasi manusia membutuhkan kesabaran, maka kita dituntut memiliki sifat sabar tersebut. Sejak sedini mungkin sifat sabar harus bisa ditanamkan dalam hati anak didik agar kelak mereka dapat menghadapi segala cobaan dan fenomena hidup ini dengan penuh kesabaran. Kedua aspek dzikir. Dzikir merupakan salah satu upaya mengenalkan kepada anak didik akan ke-Esa-an Allah SWT. Sehingga secara tidak langsung akan menimbulkan keimanan yang mendalam terhadap perkembangan jiwa anak didik. Dengan demikian perkembangan jiwanya tidak mudah terkontaminasi dengan perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya dan merusak imannya. Dan

ketiga, Aspek pendidikian shalat malam (qiyamul lail). Tujuan dari pendidikan shalat malam ialah salah satu upaya untuk mendidik manusia (anak didik) untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan sifat-sifat yang tercela, sehingga dengan demikian setiap amaliah yang dilakukannya itu semata-mata hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah SWT.

11

(16)

Berpijak dari uraian diatas, maka penulis mencoba untuk membahasnya dalam sebuah karya ilmiah dengan judul:

“ ASPEK-ASPEK AKHLAK YANG TERDAPAT DALAM SURAT

AL-INSAN AYAT 23-26 DAN APLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis mengidentifikasikan masalah yang berkaitan dengan judul yang akan dibahas dalam tulisan ini yaitu:

1. Penafsiran para ulama tafsir t5entang Q.S Al-Insan ayat 23-26

2. Aspek-aspek akhlak yang terkandung dalam Q.S Al-Insan ayat 23-26 3. Aplikasi pendidikan yang terdapat dalam Q.S Al-Insan ayat 23-26

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah

a. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, dan untuk lebih terarahnya pembahasan dalam skripsi ini, maka penulis membatasi permasalahan yang dibahas pada:

1. Aspek-Aspek akhlak yang terdapat dalam Q.S.Al-Insan ayat 23-26 2. Aplikasi pendidikan akhlak yang terdapat dalam Q.S Al-Insan ayat 23-26

b. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka penulis merumuskan masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini sebagai berikut:

(17)

7

2. Bagaimana mengaplikasikan Q.S al-Insan ayat: 23-26 dalam pendidikan Islam?

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian adalah :

1. Penulis ingin menjelaskan isi dari kandungan surat al-Insan ayat 23-26 yang memuat beberapa aspek akhlak

2. Penulis ingin menjelaskan dan menerapkan aplikasi pendidikan akhlak tersebut dalam pendidikan Islam

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Agar dapat memberi kontribusi pemikiran betapa pentingnya aspek sabar, shalat dan zikir dalam dunia pendidikan Islam terutama guru sebagai pendidik.

2. Agar dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat umum betapa pentingnya kesabaran, shalat setra zikir sebagai modal dasar dalam mengarungi bahtera kehidupan.

3. Untuk memberikan sumbangsih pemikiran terhadap khazanah ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan pendidikan Islam

E. Metodologi Penelitian 1. Sumber Bahan

(18)

a. Tafsir al-Misbah b. Tafsir Ath-Thabari

c. Buku-buku yang relevan dengan pembahassan skripsi ini. 2. Pengolahan data

Pengolahan data yang penulis lakukan adalah dengan cara membandingkan, menghubungkan dan kemudian diselaraskan serta diambil kesimpulan dari data yang terkumpul.

3. Analisis data

Nashrudin Baidan berpendapat:

Dalam menganalisis data yang telah terkumpul, penulis menggunakan metode tafsir tahlili, yaitu menefsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung didalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercangkup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecendrungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut.12

Yang meliputi pengertian kosakata, asbabun nuzul, serta kaitannya dengan ayat-ayat yang lain, baik sebelum maupun sesudahnya, setra pendapat yang disandarkan kepada Nabi maupun para sahabat dan para ahli tafsir.

4. Pedoman penulisan

Adapun pedoman penulisan skripsi ini, penulis berpegang kepada buku

“pedoman penulisan Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2011”. Yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

12

(19)

9 BAB II

TINJAUAN TEORITIS TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengertian dan Tujuan Pendidikan Islam 1. Pengertian Pendidikan

Dalam islam ada beberapa istilah yang digunakan untuk pendidikan, yaitu: yang pertama, kata tarbiyah yang berarti mengasuh, yang kedua kata ta’lim yang berarti mendidik, mengajarkan. Dan yang ke tiga kata ta’dib yang berarti mengajarkan.

Irsyad Djuwaeli mengungkapkan pendapat Fuad Abd Al-Baqy dalam bukunya: Al-Mu’jam Al-Mufahras Li alfadz Al-Qur’an Al-Karim “bahwa di dalaam Al-qur’an kata tarbiyah dengan berbagai kata yang serumpun dengannya diulang sebanyak lebih dari 872 kali. Kata tersebut pada mulanya

digunakan dalam arti “Insya al-syai” halan ila al-hadi al-tamam” yang artinya mengembangkan atau menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap sampai

pada batas yang sempurna”. 1

Istilah Tarbiyah, menurut para pendukungnya, berakar pada tiga kata:

Hery Noer Aly berpendapat, “Pertama, kata raba yarbu yang berarti bertambah dan tumbuh. Kedua, kata rabiya yarba yang berarti tumbuh dan berkembang. Ketiga, kata rabba yarubhu yang berarti memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga dan memelihara. Kata al-Rabb juga berasal dari kata tarbiyah

1

(20)

dan berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaannya secara berangsur-angsur.”2

Abudinata berpendapat,

Kata Rabb digunakan untuk menjelaskan berbagai hal, antara lain menerangkan salah satu sifat atau perbuatan Tuhan, misalnya Rabbul „alamiin yang berarti pemelihara, pendidik, penguasa, dan penjaga sekalian alam kata Rabb selain digunakan untuk arti sebagaimana diatas, digunakan pula untuk arti sebagaimana diatas, digunakan pula untuk arti yang objeknya lebih diperinci lagi, baik benda-benda yang bersifat fisik maupun non fisik. Dengan demikian pendidikan mengandung arti pemeliharaan terhadap seluruh makhluk Tuhan. 3

Menurut Irsyad Djuwaeli,

Sedangkan “kata Ta’lim yang berakar pada kata „allama yang digunakan khusus untuk ,enunjukan sesuatu yang dapat diulang dan diperbanyak sehingga menghasilkan bekas atau pengaruh pada diri seseorang”.4 kata “ta’lim” dengan berbagai kata yang serumpun dengannya di dalam Al-Qu’an desebut sebanyak 840 kali dan digunakan untuk arti bermacam-macam seperti digunakan Tuhan untuk menjelaskan pengetahuan-Nya yang diberikan kepada umat manusia, dan digunakan untuk menerangkan bahwa Tuhan maha mengetahui atas segaala sesuatu.5

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa tarbiyah merupakan upaya sadar akan pemeliharaan, pengembangan seluruh potensi diri manusia sesuai fitrahnya dan perlindungan menyeluruh terhadap hak-hak kemanusiaannya, sementara kata ta’lim mengesankan proses pemberian ilmu pengetahuan dan penyadaran akan fitrah dan tugas-tugas kemanusiaannya yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Sedangkan kata ta’dib mengesanka proses pembinaan kepribadian dan sikap moral serta etika dalam kehidupan.

Dengan demikian, ketiga kata tersebut pada dasarnya mengacu kepada pemeliharaan, perlindungan keseluruhan potensi diri manusia.

2. Pengertian Pendidikan Menurut Istilah

Istilah pendidikan semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu: Paedagogie yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian di

2

Hery noer Aly, Ilmu Pendidikian Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), Cet.2, h. 4

3

Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos wacana Ilmu, 1999), Cet.2,h. 6

4

Ibid, h. 7

5

(21)

11

terjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan Education yang berarti pendidikan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan tarbiyah yang berarti pendidikan.

Banyak para ahli berbeda versi dalam memberikan pengertian pendidikan namun pada dasarnya mempunyai maksud yang sama.

Abudinata berpendapat,

“Pendidikan adalah upaya yang dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia. Pendidikan tidak hanya bersifat pelaku pembangunan tetapi sering merupakan perjuangan pula. Pendidikan berarti memelihara hidup tumbuh kearah kemajuan, tidak boleh melanjutkan keadaan kemarin, pendidikan adalah usaha kebudayaan, ber asas peradaban, yakni melanjutkan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.”6

Sedangkan Ahmad D Marimba berpendapat bahwa:

Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusan ini Ahmad D Marimba, menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu:

1. Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar.

2. Ada pendidik. 3. Ada yang di didik.

4. Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut. 5. Dalam usaha tersebut tentu ada alat-alat yang digunakan.7

Dan menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 Th 2003

arti pendidikan adalah: “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar prserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara”. 8

6

Abudin Nata, Op.Cit, h. 9

7

Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1986), Cet.4, h. 19

8

(22)

Dari beberapa rumusan pendidikan diatas, dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja, seksama, terencana dan bertujuan. Yang dilaksanakan oleh orang dewasa, yang berarti memiliki bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan menyampaikan kepada anak didik. Dan apa yang diberikan kepada anak didik itu sedapat mungkin dapat menolong tugas dan perannya dimasyarakat dimana kelak mereka hidup.

Kemudian tentang rumusan pendidikan Islam, para ahli pun berbeda pendapat dalam merumuskannya, misalnya Muhammad Athiyah Al-abrasy memberikan pengertian pendidikan pendidikan Islam sebagaimana yang dikutip oleh Ramayulis bahwa: Tarbiyah islamiyah adalah upaya mempersiapkan manusia hidup dengan sempurna dan berbahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaannya,

mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya, baik dengan lisan atau tulisan”.9 Sementara menurut Prof. Dr.Omar Muhammad Al-Toumy, pendidikan islam diartikan sebagai” usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan. Prubahan itu dilandasi oleh nilai-nilai

Islam “. 10

Syahminan Zaini dalam bukunya prinsip-prinsip dasar konsepsi pendidikan

Islam memaparkan bahwa “pendidikan Islam ialah usaha mengembangkan fitrah

manusia dengan ajaran-ajaran Islam, agar terwujud (tercapai) kehidupan manusia

yang makmur dan bahagia “. 11

Sedangkan Ahmad D Marimba memberikan pengertian bahwa “ Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran

islam”. 12

9

Ramayulis, Ilmu pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), Cet. 1, h. 3-4

10

Omar Muhammad Al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, (jakarta: Bulan Bintang, 1979), cet. 1. H. 399

11

Syahminan Zaini, Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi pendidikan Islam, (jakarta: Kalam Mulia. 1986), cet. 1, h.4

12

(23)

13

Dari berbagai Devinisi diatas tentang pendidikan Islam terkandung hal-hal sebagai berikut:

1) Pendidikan Islam itu mempunyai dasar dan tujuan yang jelas, yang sesuai dengan ajaran Islam.

2) Pendidikan menurut Islam tidak terbatas sampai dewasa, tetapi sampai kita menutup mata.

3) Hakikat pendidikan Islam adalah merupakan untuk mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah manusia kearah titik maksimal perkembangan dan pertumbuhannya.

3. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan islam sasaran yang hendak dicapai oleh suatu aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia mesti mempunyai tujuan tertentu, sebab aktifitas yang tidak mempunyai tujuan adalah pekerjaan yang sia-sia.

Tujuan berfungsi untuk mengarahkan, mengontrol dan memudahkan efaluasi dan aktifitas. Karna itu tujuan suatu aktifitas haruslah dirumuskan dengan tegas dan jelas agar dapat mengarahkan, mengontrol dan mengevaluasi aktifitas tersebut

Banyak rumusan yang dikemukakan oleh para ahli tentang tujuan pendidikan Islam diantaranya:

Menurut Ramayulis berpendapat

Bahwa pendidikan Islam itu mempunyai dua tujuan, yaitu :

1. Tujuan keagamaan Maksudnya ialah beramal untuk akhirat, sehingga apabila ia menemui Tuhannya, ia telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan atasnya.

2. Tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan moderen dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup.13

Sedangkan Ali Ashraf mengatakan bahwa:

Pendidikan seharusnya bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia. Karena itu pendidikan seharusnya menyediakan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspek spiritual, intelektual, imaginatif, fisikal, ilmiah, linguistik baik secara

13

(24)

individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya.14

Selanjutnya menurut H.M Arifin, “Tujuan Pendidikan Islam adalah menanamkan taqwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam.”15

Dari beberapa rumusan diatas, penulis dapat nenyimpulkan beberapa tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam, yaitu:

1. Membina dan mengarahkan manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT sebagai bentuk manifestasi pengabdiannya sesuai dengan tugasnya sebagai khalifah.

2. Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia, sehinga ia tidak menyalahgunakan fungsinya sebagai khalifah.

3. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya sehingga ia memiliki ilmu, akhlak dan keterampilan yang semua ini dapat digunakan untuk menunjang kehidupan dan tugas kekhalifaannya.

4. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagaimana yang di idam-idamkan manusia pada umumnya.

B. Dasar-Dasar Pendidikan Islam

Dasar ilmu pendidikan Islam adalah islam dengan segala ajarannya. Ajaran itu bersumber pada al-qur’an, Sunnah Rasulullah SAW (selanjutnya disebut sunnah / hadits), dan ij’tihad ( hasil pikiran manusia) .

Dasar inilah yang membuat ilmu pendidikan disebut ilmu pendidikan Islam. Tanpa dasar ini, tidak akan ada ilmu pendidikan Islam.

1. Al-Quran

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah menjadi pedoman bagi umat Islam, dengan segala petunjuknya yang lengkap, meliputi seluruh aspek

14

Ali Ashraf, Horison Baru Pendidikan Islam, (jakarta: pustaka Firdaus, 1993), Cet. 3, h.2

15

(25)

15

kehidupan manusia dan bersifat universal. Nabi muhammad SAW sebagai pendidik pertama, (pada masa awal pertumbuhan Islam) telah menjadikan

Al-Qur’an sebagai dasar pendidikan Islam.

Kedudukan Al-Quran sebagai sumber pokok pendidikan Islam dapat dipahami dari ayat Al-Quran itu sendiri dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi:

















Artinya: Bacalah, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. (yang) menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajarkan

dengan pena. Mengajar manusia apa saja yang belum diketahuinya.

(Q.S Al-„Alaq: 1-5) 16

Ahmad Ibrahim Muhanna sebagai mana dikutib oleh Hery Noer Aly mengatakan:

Bahwa Al-Qur’an membahas berbagai aspek kehidupan manusia, dan pendidikan merupakan tema terpenting yang dibahasnya. Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkkan manusia. Hal itu tidak aneh mengingat Al-Qur’an merupakan kitab hidayah, dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya. Meskipun demikian, hubungan ayat-ayat nya dengan pendidikian tidak semua sama. Ada yang merupakan bagian fondasional dan ada yang merupakan bagian parsial. Dengan perkataan lain hubunganya dengan pendidikan ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. 17

Al-Qur’an diperuntukan bagi manusia untuk dijadikan pedoman hidupnya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila manusia merupakan tema sentral pembahasannya. Didalamnya diterangkan hakikat manusia siapa dirinya, dari mana ia berasal, dimana dia berada, untuk apa ia diciptakan, apa yang harus

16

Departemen Agama, Op. Cit, h.

17

(26)

dilakukannya, dan hendak kemana ia pergi. Karena masalah hakikat hidup, pandangan hidup, dan tujuan hidup memang merupakan masalah pendidikan. 2. As-Sunnah

Dasar yang kedua setelah Al-Qur’an adalah Sunnah Rasulullah, amalan yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW dalam proses perubahan sikap hidup sehari-hari tersebut menjadi dasar utama dan pertama pendidikan Islam setelah Al-Qur’an, karna Allah menjadikan Rasulullah sebagai teladan bagi umatnya.

Hery Noer Aly mengikuti perkataan Abdurrahman An-Nahlawi bahwa dalam lapangan pendidkan, sunnah mempunyai dua faedah :

1) Menjelaskan sistem pendidkan Islam sebagaimana terdapat di dalam

Al-Qur’an dan menerangkan hal-hal rinci yang tidak terdapat didalamnya. 2) Menggariskan metode-metode pendidkan yang dapat dipraktikan.18

Sunnah memang berkedudukan sebagai penjelas (tabyin) bagi Al-Qur’an. Karena pengalaman ajaran Al-Qur’an yang bersifat global (mujmal) sering kali sulit terlaksana tanpa penjelasannya. Karenanya Allah memerintahkan kepada manusia untuk mentaati Rasul dalam rangka ketaatan kepada-Nya.

3. Ijtihad

Menurut Zakiyah Darajat:

Ijtihad ialah istilah para fuqaha, yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh

ilmu yang dimiliki oleh ilmuan syari’at Islam untuk menetapkan/menentukan sesuatu syari’at Islam dalam hal-hal ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.19

Zakiyah Darajat mengatakan

Ijtihad dalam bidang pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Quran dan Sunnah yang diolah oleh akal yang sehat dari para ahli pendidikan islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi atau situasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru hasil ijtihad dikaitkan dengan ajaran islam dan kebutuhan hidup. 20

Ijtihad dibidang pendidikan ternyata semakin perlu, sebab ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagian besar bersifat pokok-pokok

18

Hary noer Aly, Op. Cit, h. 45

19

Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (jakarta: Bumi Aksara bekerja sama dengan Direktorat jendral pembinaan kelembagaan Agama Islam Depag, 1992), h.21

20

(27)

17

dan prinsipnya saja termasuk dalam aspek pendidikan. Sejak diturunkannya ajaran Islam sampai wafatnya nabi Muhammah SAW, islam telah tumbuh dan berkembang melalui ijtihad yang dituntut oleh perubahan situasi dan kondisi sosial yang tumbuh dan berkembang pula.

Dengan demikian untuk melengkapi dan merealisir ajaran Islam itu memang sangat dibutuhkan ijtihad, sebab globalisasi dari Al-qur’an dan Sunnah belum menjamin tujuan pendidikan islam dapat tercapai. Dalam hal ini, pemikiran para ahli pendidikan muslim adalah salah satu bentuk ijtihad dibidang pendidikan, yang bisa dijadikan salah satu rujukan bagi kaum muslimin dalam bidang pendidikan Islam.

C. Metode dan Pendekatan Dalam Pendidikan Islam 1. Metode Pendidikan Islam

Menurut Abiddin Nata, “Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata, yaitu kata meta yang berarti melalui dan kata hodos yang berarti jalan atau cara, dengan demikian metode berat jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.”21

Dr. Jalaluddin dan Dr. Usman Said dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam mengemukakan bahwa makna pokok dari pengertian metode itu sendiri antara lain adalah:

1) Metode pendidikan adalah cara yang digunakan untuk menjelaskan materi pendidikan kepada anak didik.

2) Cara yang digunakan merupakan cara yang tepat guna untuk menyampaikan materi pendidikan tertentu dalam kondisi tertentu.

3) Melalui cara itu diharapkan materi yang disampaikan mampu memberi kesan yang mendalam kepada diri anak didik.22

Selanjutnya jika metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada

21

Abiddin Nata, Op. Cit, h. 91

22

(28)

diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi islam. Selain itu metode dapat pula membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Ada beberapa metode dalam pendidikan Islam yang dikemukakan para ahli, diantaranya ialah:

a. Keteladanan

Pendidikan dengan teladan berarti pendidikan dengan memberikan contoh, baik berupa tingkah laku, sifat, cara berfikir dan sebagainya. Di dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukan kepentingan penggunaan teladan dalam pendidikan. Antara lain terlihat pada ayat-ayat yang mengemukakan pribadi-pribadi teladan seperti dibawah ini:

1) Pribadi Rasulullah SAW



…..



Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang

baik bagimu….. ( Q.S. Al-ahzab: 21)

2) Pribadi Nabi Ibrahim AS dan Umatnya.









…..

Artinya: Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada

ang-orang yang bersama dengan dia…. (Q.S. Al-Mumtahanah: 4)

Kepentingan penggunaan keteladanan juga terlihat dari teguran Allah terhadap orang-orang yang menyampaikan pesan itu Allah menjelaskan:

(29)

19

Artinya: hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu

mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. ( Q.S. As-Shaff: 2-3)

b. Pembiasaan

Yang dimaksud dengan pembiasaan ialah cara-cara bertindak yang persistent, uniform dan hampir-hampir otomatis (hampir-hampir tidak disadari oleh pelakunya)

Pembiasaan merupakan salah satu metode pendidikan yang sangat penting, terutama bagi anak-anak. Di dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang menunjuk kepada penggunaan metode pembiasaan. Diantaranya terdapat dalam surat An-Nur ayat 58-59 yang berbunyi:



















































 Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita)

yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu,

meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) Yaitu: sebelum

(30)

hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada

dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. mereka

melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain).

Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha

mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai

umur balig, Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang

sebelum mereka meminta. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya.

dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nur: 58-59) As-shabuni, Ahli Hukum Islam dan Studi Islam dari Mekkah mengatakan bahwa pada lahirnya perintah pada ayat tersebut diarahkan kepada anak-anak, tetapi pada hakikatnya diperuntukan bagi orang dewasa.

Menanamkan kebiasaan itu sulit dan kadang-kadang memerlukan waktu yang lama. Kesulitan itu disebabkan pada mulanya seseorang atau anak belum mengenal secara praktis sesuatu yang hendak dibiasakannya. Oleh sebab itu, dalam menanamkan kebiasaan diperlukan pengawasan. Pembiasaan hendaknya disertai dengan usaha membangkitkan kesadaran atau pengertian yang terus-menerus akan maksud dari tingkah laku yang dibiasakan. Sebab, pembiasaan digunakan bukan untuk memaksa peserta didik agar melakukan sesuatu secara otomatis seperti robot, melainkan agar ia dapat melaksanakan segala kebaikan dengan mudah tanpa merasa susah atau berhati-hati.

c. Pemberi Nasihat

Yang dimaksud dengan pemberi nasihat ialah penjelasan tentang kebenaran dan kemaslahatan dengan tujuan menghindarkan orang yang dinasihati dari bahaya serta menunjukannya kejalan yang mendatangkan kebahagiaan dan manfaat.

Banyak ayat di dalam Al-Quran yang mengilustrasikan tentang penggunaan metode member nasihat diantaranya:

(31)

21

Artinya:

Dan (ingatlah ketika Luqman berkata kepada anak-anaknya diwaktu dia

memberi pelajaran kepada anaknya. Hai anakku janganlah kamu

mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah

benar-benar kedzaliman yang besar. ( Q.S. Luqman: 13 )

Memberi nasihat merupakan salah satu metode penting dalam pendidikan Islam. Dengan metode ini pendidik dapat menanamkan pengaruh yang baik kedalam jiwa apabila digunakan dengan cara yang dapat mengetuk relung jiwa melalui pintunya yang tepat. Bahkan, dengan metode ini pendidik mempunyai kesempatan yang luas untuk mengarahkan peserta didik kepada berbagai kebaikan dan kemaslahatan serta kemajuan masyarakat dan umat.

d. Motivasi dan Intimidasi

Metode Motivasi dan Intimidasi telah digunakan masyarakat secara luas, orang tua terhadap pendidikan murid, bahkan masyarakat luas dalam interaksi antar sesamanya. Al-Qur’an ketika menggambarkan surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dan segala siksanya menggunakan metode ini. Demikian pula ketika menggunakan prinsip logis tentang keseimbangan antara balasan dan perbuatan.

Banyak ayat di dalam Al-Quran yang mengilustrasikan tentang penggunaan metode memberi nasihat diantaranya:

















Artinya:

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam,

supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa

(32)

(balasan) nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar

dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (Q.S. Al-Zalzalah: 6-8)

Motivasi dan intimidasi digunakan sesuai dengan perbedaan tabiat dan kadar kepatuhan manusia terhadap prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah islam, sebab pengaruh yang dihasilkan tiap-tiap metode itu tidaklah sama. Metode motivasi lebih baik ketimbang metode intimidasi. Penggunaan metode motivasi dengan apa yang dalam psikologi belajar disebut law of happiness, prinsip yang mengutamakan suasana menyenangkan dalam belajar. Ajaran Islam, kata Abdul Fattah Jalal, memberikan prioritas pada upaya menggugah suasana gembira dibanding dengan ancaman dan hukuman. Dalam pelaksanaan prinsip ini hendaknya guru atau pendidik tanggap akan adanya berbagai iklim dan kondisi yang dpahami peserta didik selama proses belajar mengajar.

e. Metode Persuasif

Yang dimaksud dengan metode persuasif adalah meyakinkan peserta didik tentang suatu ajaran dengan kekuatan akal. Metode ini dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah uslub al-iqma’ wa al-iqtina.

Penggunaan metode persuasif didasarkan atas pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal. Al-Qur’an sarat dengan contoh yang menunjukan penghargaan islam terhadap akal, serta memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan akal dalam menbedakan antara yang benar dan yang salah serta antara yang baik dan yang buruk. Seruan Allah kepada Rasul-Nya agar menyeru manusia dengan cara yang bijaksana, memberi pengajaran yang baik, dan berargumentasi secara baik, menunjukan kepentingan penggunaan metode ini.

(33)

23

diskusi secara benar dan konstruktif dalam menganalisis berbagai obyek yang didiskusikan.23

f. Metode Bercerita

Metode mendidik dengan bercerita yaitu dengan mengisahkan peristiwa sejarah manusia masa lampau yang menyangkut ketaatannya atau kemungkarannya dalam hidup terhadap printah Tuhan yang dibawa oleh nabi atau rasul yang hadir ditengah mereka. Misalnya sebuah ayat yang mengandung nilai pedagogies dalam sejarah digambarkan Tuhan sebagai berikut:





Artinya:

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al

Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya

adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (Q.S. Yusuf: 3)

g. Metode diskusi

Metode diskusi juga diperintahkan oleh Al-Qur’an dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian, dan sikap pengetahuan mereka terhadap suatu masalah. Perintah dalam hal ini adalah agar

kita mengajak kejalan yang benar dengan hikmah dan mau’idzah yang baik dan

membantah mereka dengan berdiskusi dengan cara paling baik.

                         23

(34)

Artinya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang

baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. ( Q.S. An-Nahl: 125)

Suatu diskusi baru dapat berjalan dengan baik bila dilakukan dengan persiapan dan bahan-bahannya yang cukup jelas, dengan pembicaraan yang berlangsung secara rasional, tidak didasarkan atas luapan emosi, dan lebih mengutamakan pada kesimpulan rasional dari pada kepentingan egoistis pribadi peserta. Diskusi ini bila diarahkan untuk tidak mengambil suatu kesimpulan

disebut ”dialog” yaitu sekedar memberitahukan tentang suatu masalah yang telah

lama dirasakan sebagai suatu permasalahan. Dalam dialog tidak ada yang menang atau yang kalah, masing-masing tetap berpegang pada pendiriannya, setuju tentang adanya perbedaan.

h. Metode tanya jawab

Metode tanya jawab juga merupakan salah satu metode yang sangat penting dalam pendidikan Islam. Metode ini sering dipakai oleh para nabi dan Rasul-rasul Allah dalam mengajarkan agama yang dibawanya kepada umatnya, bahkan ahli fikir atau filosof pun banyak mempergunakan metode tanya jawab.

Firman Allah yang menyatakan bahwa hendaknya kita bertanya kepada orang-orang yang ahli bila memang tidak mengetahui, seperti:









Artinya:

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak

mengetahui. (Q.S. An-Nahl: 43)

Adalah benar-benar mendorong anak didik untuk berani bertanya agar tidak sesat dijalan. Hal demikian pernah berkali-kali dilakukan oleh nabi dalam mengajarkan sesuatu pengertian atau pengetahuan tentang keimanan, keihsanan, serta masalah hukum syara’ dan lain sebagainya. 24

24

(35)

25

Demikianlah beberapa metode dalam pendidikan Islam yang banyak digunakan dalam proses pendidikan dewasa ini, banyak lagi metode-metode lain yang tidak diuraikan dalam tulisan ini seperti: metode ceramah, pemberian tugas (resitasi), demonstrasi dan eksperimen, bekerja kelompok, sosiodrama, karya wisata, latihan siap (drill), syistem regu (team teaching), dan pemecahan masalah (problem solving).

2. Pendekatan Dalam Pendidikan Islam

Pendekatan merupakan sarana penunjang dalam pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang di inginkan. Dalam hal ini akan dijabarkan beberapa pendekatan yang dapat memudahkan dalam menerapkan pendidikan agama bagi anak didik.

Adapun pendekatan-pendekatan itu antara lain:

a. Pendekatan emosional, yaitu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi anak dalam meyakini, memahami, dan menghayati ajaran agamanya.

b. Pendekatan rasional, yaitu usaha untuk memberikan peranan rasio (akal) dalam ajaran agama.

c. Pendekatan fungsional, yaitu menyajikan ajaran bagi anak dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan perkembangan.

d. Pendekatan pengalaman, yaitu memberikan pengalaman keagamaan pada anak dalam rangka penanaman nilai keagamaan.

e. Pendekatan pembiasaan, yaitu memberikan kesempatan pada anak untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya.25

Itulah macam-macam metode dan pendekatan dalam pendidkan Islam yang banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan dewasa ini, yang dapat penulis kemukakan dalam skripsi ini.

25

(36)

26 BAB III

TAFSIR SURAT AL-INSAN

A. Tafsir Surat al – Insan Ayat 23-26

1. Teks ayat dan terjemah surat al-Insan ayat 23-26























Artinya : “ Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur (23). Maka bersabarlah kamu untuk

(melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang

berdosa dan orang yang kafir di antar mereka, (24). Dan sebutlah nama

Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang, (25). Dan pada sebagian dari malam,

Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang

panjang dimalam hari”.(26)

2. Asbabun nuzul surat al-Insan ayat 23-26

(37)

27

Adapun latar belakang turunnya ayat ini adalah keadaan kaum musyrikin yang terus menerus menentang dan mendustakan dakwah Rasulullah SAW, yang mereka tidak mengerti akan hakikat dari dakwah tersebut. Sehingga mereka melakukan perlawanan bahkan penawaran (keduniaan) kepada Rasulullah SAW agar beliau menghentikan dakwahnya atau berhenti dari mencela mereka.

Allah mengingatkan kepada Nabi SAW dan kepada umatnya agar tidak mudah tergiur dengan bujukan dan rayuan itu, sebab nilai akidah dan perjuangan tidak dapat ditukar dengan kekayaan dunia.

Menurut Prof. Dr. Hamka dalam bukunya (tafsit al-Azhar), sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muqatil bahwa dua orang pemuka Quraisy sangat menolak dakwah Rasulullah, dan mempertahankan kemusyrikan itu. Kedua orang

tersebut adalah „Utbah bin Rabi’ah dan al-Walid bin al-Mughirah pernah mendatangi Nabi SAW, yang tujuannya keduanya adalah membujuk Nabi agar mengentikan dakwahnya ini. Bila ia menghentikan dakwah ini, perdamaian akan terjadi. Sebab hati meraka tidak akan disakiti lagi. Hantaman dan caci makiannya kepada berhala yang mereka sembah itu sangatlah menyinggung perasaan dan dapat menghilangkan rasa hormat orang kepada mereka. Padahal mereka sebagai pemuka-pemuka Quraisy adalah keseganan bangsa Arab seluruhnya.1

Prof. Dr. Quraisy Shihab, juga mengatakan yang sama dalam bukunya (Tafsir al-Misbah), bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan kedatangan tokoh

kaum musyrikin yakni „Utbah bin Rabi’ah yang menawarkan kepada Nabi

Muhammad SAW, agar berhenti melaksanakan dakwahnya. Sebagai imbalannya dia menjanjikan untuk mengawinkan beliau dengan anak gadisnya yang dikenal sangat cantik, sambil memberinya harta yang melimpah.2

Dalam riwayat lain yang dikemukakan oleh Abdul Razzaq, Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Qatadah bahwa dia menerima khabar tentang

Abu Jahal yang berkata : “Jika aku melihat Muhammad sedang shalat, aku akan injak tengkuknya”. Berkenaan dengan peristiwa itulah Allah SWT menurunkan

ayat ini.

1

Hamka, Tafsir al-Azhar, (Jakarta: PT Pustaka Panjimas, 1983), h. 283

2

(38)







Referensi

Dokumen terkait

Dalam Bahasa Arabmukjizat berasal dari kata ‘ajz yang berarti lemah, kebalikan dari qudrah(kuasa) sedangkan i’jaz berarti membuktikan kelemahan. Mu’jizadalah sesuatu yang

Kata spiritual (kata sifat dalam bahasa Inggris) menurut arti leksikelnya berasal dari kata dasar spirit yang berarti antara lain bagian nonmaterial dari manusia,

Kata Moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas adalah istilah manusiamenyebut ke manusia atau orang lainnya

diadakan dengan ta’zir". 11 Ta’zir berasal dari kata ‘azzara , yang menurut bahasa berarti mencela, sedangkan menurut istilah berarti peraturan-peraturan larangan yang

Secara etimologis, istilah aksiologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, terdiri dari kata “aksios” yang berarti nilai dan kata “logos” yang berarti teori. Jadi, aksiologi merupakan

Secara bahasa jinayah berasal dari kata ‘janaa dzanba yajniihi jinaayatan’ yang berarti melakukan dosa, kata dasar jinayah dijama’ kan karena ia mencakup banyak

Istilah Pamalayu berasal dari bahasa sastra Jawa kuno yang berarti perang melawan Melayu (Muljana, 1979: 104). Walaupun dari segi penggunaan bahasa mengandung indikasi peperangan,

Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa metode penelitian berasal dari kata Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos yang berarti cara atau menuju