REPRESENTASI MAKNA
BIRRUL WALIDAIN
DALAM FILM
ADA SURGA DI RUMAHMU
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Oleh :
Faiz Febryan Hafara
NIM : 1111051000112
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 29 Desember 2015
ABSTRAK Nama: Faiz Febryan Hafara
Judul: Representasi Makna Birrul Walidain Dalam Film Ada Surga di Rumahmu
Film Ada Surga di Rumahmu merupakan film drama keluarga bertema religi yang sarat akan makna dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Film ini diangkat dari novel best seller karya Oka Aurora berdasarkan kisah nyata perjalanan hidup Ustadz Al-Habsyi yang memuat pesan dakwah birrul walidain. Film ini merupakan alternatif media dakwah bagi generasi muda yang semakin berkurang akhlaknya karena terkena dampak dari massifnya perubahan zaman di era globalisasi ini. Dalam film ini pesan yang ditekankan kepada generasi muda adalah untuk berbuat baik dan taat kepada orangtua.
Dari uraian di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk menemukan bagaimana makna denotasi, konotasi, dan mitos mengenai Birrul Walidain yang terdapat di dalam film Ada Surga di Rumahmu. Serta pesan moral apa yang terkandung di dalam film Ada Surga di Rumahmu.
Pasalnya film layar lebar di Indonesia saat ini masih sedikit yang menyajikan film dengan tema Birrul Walidain sebagai gagasan utama. Sehingga generasi muda saat ini kekurangan tuntunan dalam bagaimana mestinya berperilaku dan bertata krama khususnya kepada orangtua. Film Ada Surga di Rumahmu bisa menjadi khasanah yang memperkaya perfilman di Indonesia untuk menciptakan generasi muda yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang baik.
Film merupakan media yang cukup efektif dan efisien dalam berdakwah pada saat ini. Semiotika, sebagai salah satu metode yang digunakan sebagai pisau analisis mengenai makna dari tanda-tanda, sangat relevan dalam mengkaji berbagai pesan di dalam film. Penelitian ini menggunakan model semiotika Roland Barthes yang mengkaji pesan secara denotatif, konotatif, dan mitos dalam teorinya. Dengan teori tersebut peneliti dapat lebih memahami makna pesan yang terkadung dalam dialog, gambar dan gerak para pemain film Ada Surga di Rumahmu.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis, yaitu penelitian memberikan gambaran secara objektif, dengan menggambarkan pesan-pesan Birrul Walidain secara simbolik yang terdapat pada film Ada Surga di Rumahmu.
Hasil yang diperoleh peneliti meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos pada beberapa scene potongan gambar dalam beberapa bentuk birrul walidain yaitu patuh kepada orangtua, larangan melawan orangtua, pentingnya ridho orangtua, berbakti sejak dini, menafkahi orangtua, dan merawat orangtua. Pesan moral yang terkandung di dalam film ini di antaranya berbakti kepada orangtua, pentingnya ridho orangtua, larangam durhaka terhadap orangtua, dan hak orangtua dalam harta anaknya. Analisa peneliti, pesan utama yang digagaskan oleh sutradara dalam film Ada Surga di Rumahmu adalah pentingnya ridho orangtua.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang menciptakan siang dan malam, segala puji atas rahmat dan nikmat yang tiada terhitung jumlahnya. Juga
atas nikmat iman, ihsan, dan Islam yang paling utama. Tak lupa shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda kita Nabi Muhammad SAW,
yang telah membawa kita dari zaman yang gelap gulitanya kebodohan ke zaman yang penuh dengan cahaya kebenaran ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.
Dengan mengucapkan Alhamdulillah, maka selesai juga perjuangan
penulis dalam rangka menyelesaikan skripsi ini. Mengutip perkataan Lao Tzu: “The journey of a thousand miles begins with one step”, skripsi ini merupakan
sebuah langkah awal penulis dalam mengarungi panjangnya perjalanan hidup yang harus dilalui. Masih panjang perjalanan selepas Universitas, untuk itu penulis harus menyelesaikan skripsi ini sebagai sebuah langkah konkrit dalam
menjalani kehidupan yang sebenarnya.
Skripsi ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai gelar Sarjana. Dengan segala upaya dan doa, akhirnya penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Representasi Makna Birrul Walidain dalam Film Ada Surga di Rumahmu”.
1. Dr. Arief Subhan, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi, beserta Suparto, M.Ed, Ph.D selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik, Dra. Hj. Roudhonah, M.Ag selaku Wakil Dekan II Bidang Administrasi, dan Dr. Suhaimi, M.Si selaku
Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan.
2. Drs. Masran, M.A selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran
Islam serta Ibu Fita Faturokhmah, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
3. Dosen Pembimbing, Dr. Rulli Nasrullah, M.Si, atas nasihat dan
bimbingannya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.
4.
Drs. Jumroni, M. Si, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang senantiasa memberikan masukan-masukan dan nasihat dalam bidangakademik.
5. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang
pernah mengajar dan membagikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis. Semoga ilmu yang diberikan bermanfaat bagi penulis dan masyarakat nantinya.
6. Segenap staff dan karyawan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta. Terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya.
kasih sayang sepanjang usia yang tak terperi, serta semangat dan
motivasi yang tiada henti.
8. Kakak dan adik-adikku tercinta, Nurul Lita Anastina, Muhammad Nauval Kemal, Natasya Adistya Izzati, dan Muhammad Rhazwa Insan
Kamil yang telah memberikan perhatian dan semangat kepada penulis.
9. Drs. Mahrus Amin, selaku pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, serta semua teman-teman angkatan 34. Terima kasih atas ilmu dan pelajaran hidup yang telah diberikan. Hingga penulis bisa menjadi
seperti sekarang ini.
10.Sahabat seperjuangan, KPI D 2011, yang senantiasa mengisi dan
menemani masa-masa bahagia serta duka perjuangan penulis dalam menjalani perkuliahan. Semoga senantiasa diberi kesuksesan dan keberkahan.
11.Teman-teman KKN PELITA 2014 Desa Cikahuripan, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Ganjar, Alan, Faisal, Humaedi,
Mitra, Naufan, Dhani, Laili, Ahda, Ilma, Kiki, Dini, Danty, dan Lulu. Terima kasih telah mengajarkan kepada penulis setulus-tulusnya persahabatan serta seikhlas-ikhlasnya pengabdian yang tak terlupakan.
12.Keluarga besar basket Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, terima kasih atas segala prestasi yang terukir, masa-masa kebersamaan,
tetap menjaga kebersamaan dan terus mengukir prestasi demi nama
besar FIDKOM di kancah papan atas Universitas.
13.Password Community, atas kegilaan waktu bersamanya, Guspur, Jovita, Titis, Zai, Izzud, Ifud, Faisal, dan Puput. Ditunggu
petualangan-petualangan seru bersama kalian selanjutnya.
14.Serta kepada semua pihak yang secara tidak langsung telah membantu
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah membalas dengan sebaik-baiknya balasan atas apa yang telah kalian berikan. Aamiin.
Jakarta, 29 Desember 2015
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D.Manfaat Penelitian ... 7
E. Metodelogi Penelitian ... 8
F. Tinjauan Pustaka... 11
G.Sistematika Penulisan ... 13
BAB II LANDASAN TEORI A. Semiotika ... 15
1. Tinjauan Umum Semiotika ... 15
2. Konsep Semiotika Roland Barthes ... 18
B. Film ... 22
1. Pengertian Film... 22
2. Jenis dan Klasifikasi Film ... 24
3. Unsur-unsur Pembentuk Film ... 26
4. Teknik Pengambilan Gambar ... 28
5. Film Sebagai Media Representasi ... 31
6. Film Sebagai Media Dakwah ... 33
C. Tinjauan Umum Tentang Berbakti Kepada Orang Tua ... 36
1. Pengertian Akhlak ... 36
2. Pengertian Birrul Walidain ... 40
3. Kedudukan Birrul Walidain Dalam Islam ... 41
BAB III GAMBARAN UMUM FILM
A.Sinopsis Film Ada Surga di Rumahmu ... 44
B. Profil Sutradara Film Ada Surga di Rumahmu ... 45
C. Profil Pemain Film Ada Surga di Rumahmu ... 47
D.Tim Produksi Film Ada Surga di Rumahmu ... 51
E. Respon Masyarakat Terhadap Film Ada Surga di Rumahmu ... 52
BAB IV TEMUAN DAN HASIL PENELITIAN A.Makna Denotasi dan Konotasi Birrul Walidain dalam Film Ada Surga di Rumahmu ... 55
B. Pesan Moral Dalam Film Ada Surga di Rumahmu ... 78
C. Interpretasi Peneliti ... 81
BAB V KESIMPULAN A.Kesimpulan ... 84
B. Pesan dan Saran ... 85
DAFTAR PUSTAKA ... 87
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tim Produksi Film Ada Surga di Rumahmu ... 51
Tabel 4.1 Tabel Patuh Terhadap Orangtua ... 55
Tabel 4.2 Tabel Larangan Melawan Orangtua ... 59
Tabel 4.3 Tabel Pentingnya Ridho Orangtua ... 63
Tabel 4.4 Tabel Berbakti Sejak Dini ... 67
Tabel 4.5 Tabel Menafkahi Orangtua ... 71
Tabel 4.6 Tabel Merawat Orangtua ... 75
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Foto Aditya Gumay ... 46
Gambar 2 : Foto Husain Alatas ... 47
Gambar 3 : Foto Nina Septiani ... 48
Gambar 4 : Foto Zee Zee Sahab ... 49
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini media komunikasi berkembang dengan sangat pesat. Media komunikasi merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan
pesan dari komunikator kepada khalayak.1 Salah satu media yang berkembang secara signifikan saat ini adalah film. Film dalam pengertian sempit adalah
penyajian gambar lewat layar lebar, tetapi dalam pengertian lebih luas bisa juga termasuk yang disiarkan TV.2
Film dengan kemampuan daya visualnya yang didukung audio yang khas,
sangat efektif sebagai media hiburan dan juga sebagai media pendidikan dan penyuluhan. Dibandingkan dengan media cetak seperti buku atau novel, film
dinilai lebih efektif dan efisien karena tak membutuhkan waktu lebih dari 3 jam untuk dapat menonton satu film dari pada membaca satu buku atau novel yang memiliki beratus-ratus halaman.
Disamping itu film memiliki kekuatan besar dari segi estetika karena menjajarkan dialog, musik, pemandangan dan tindakan bersama-sama secara
visual dan naratif.3 Oleh sebab itu film memiliki daya tarik tersendiri untuk dinikmati oleh masyarakat dan film dinilai media paling efektif dalam
1
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 123
2Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 136
3
Marcel Danesi, Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi (Yogyakarta: Jalasutra, 2012), h. 100
menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya baik pesan sosial, budaya, politik, dan pesan lainnya.
Industri perfilman di Indonesia pada saat ini terus berkembang. Telah banyak film-film dengan berbagai genre yang ditunjang oleh teknologi komunikasi khususnya dalam bidang komunikasi massa yang semakin canggih,
selain itu juga diperankan oleh aktor dan aktris papan atas yang telah berhasil menarik perhatian khalayak. Dengan berbagai tema, semakin memperkaya sajian
film untuk masyarakat Indonesia. Salah satunya dalah film bertema religi.
Abad ke 21 sepertinya telah menjadi babak baru bagi kehidupan manusia, khususnya di negara berkembang, seperti Indonesia. Oleh karena pada masa itu
telah terjadi revolusi kehidupan hampir di semua sektornya. Diakui atau tidak, realitas tersebut menimbulkan pergeseran pada kebiasaan atau tradisi masyarakat
kita. Mungkin, lima atau enam tahun yang lalu, kita masih sering menjumpai pengajian mingguan, majelis-majelis ta’lim, dan sebagainya. Namun saat ini, sepertinya fenomena itu sudah menjadi barang langka dalam kehidupan kita.4
Dari pagi hingga petang – bahkan ada yang sampai malam hari – manusia bekerja dan mencari penghidupan. Sisa waktu mereka gunakan untuk beristirahat
dan mencari hiburan ala kadarnya – contoh, menonton televisi – untuk sekedar melepas kepenatan atas kesibukan yang telah dialaminya. Hampir saja tidak ada waktu untuk menghadiri forum pengajian dan semacamnya yang bersifat
komunal. Berangkat dari fenomena ini, model dakwah melalui tayangan film dan sinetron menjadi salah satu pilihan tepat untuk menjawab berbagai persoalan
4
Zaenal Arifin, Dakwah melalui Film dan Sinetron, (Yogyakarta: STAIN Purwokerto dam Unggu Religi, 2006), h.91-92
3
diatas karena dakwah dalam konteks ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya, tetapi juga menjadi media hiburan.5
Adalah Aditya Gumay seorang sutradara yang tidak asing lagi dalam industri film bertema religi. Sebelumnya ia pernah menyutradarai film: “Emak Ingin Naik Haji” (2009) dan juga “Umi Aminah” (2012).6 Di 2015 ini ia kembali
membuat film dengan nuansa islami yang begitu kental dengan judul “Ada Surga di Rumahmu”. Terinspirasi dari buku best seller Ada Surga di Rumahmu karya
Ustadz Al-Habsyi maka diangkatlah film ini ke layar lebar. Film drama-religi ini sarat dengan makna dan nilai-nilai kebaikan di dalamnya.
Pesan dakwah utama yang ingin disampaikan dalam film ini adalah
“Birrul Walidain” atau yang dalam bahasa Indonesia berarti berbakti atau berbuat baik terhadap orang tua. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Israa’ ayat 23
yang berbunyi:
ﺎَﻤُھ َﻼِﻛ ۡوَأ ٓﺎَﻤُھُﺪَﺣَأ َﺮَﺒِﻜۡﻟٱ َكَﺪﻨِﻋ ﱠﻦَﻐُﻠۡﺒَﯾ ﺎﱠﻣِإ ۚﺎًﻨ َٰﺴ ۡﺣِإ ِﻦۡﯾَﺪِﻟ َٰﻮۡﻟﭑِﺑَو ُهﺎﱠﯾِإ ٓ ﱠﻻِإ ْآوُﺪُﺒ ۡﻌَﺗ ﱠﻻَأ َﻚﱡﺑَر ٰﻰَﻀَﻗَو
ﺎ ٗﻤﯾِﺮَﻛ ٗﻻ ۡﻮَﻗ ﺎَﻤُﮭﱠﻟ ﻞُﻗَو ﺎَﻤُھ ۡﺮَﮭۡﻨَﺗ َﻻَو ّٖفُأ ٓﺎَﻤُﮭﱠﻟ ﻞُﻘَﺗ َﻼَﻓ
Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”7
5
Zaenal Arifin, Dakwah melalui Film dan Sinetron, (Yogyakarta: STAIN Purwokerto dam Unggu Religi, 2006), h.92-93
6
Film Indonesia, “Filmografi Aditya Gumay”, artikel diakses pada tanggal 13 Januari 2016 dari
http://filmindonesia.or.id/movie/name/nmp4b9bce4189230_aditya-gumay/filmography#.VpaoGbaLTIU
7
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: PT Syamil Cipta Media, 2005), h.284
Beberapa waktu lalu diberitakan di Tangerang seorang ibu berusia 90 tahun digugat Rp 1 miliar oleh anak kandungnya. Bukannya hidup nyaman dan
tenang dengan anak cucu, dia malah didugat oleh anak kandung dan menantunya sebesar Rp 1 miliar ke Pengadilan Negeri (PN) Tangerang atas kasus sengketa tanah. Janda delapan anak tersebut digugat anak keempatnya, Nurhana dan
suaminya Nurhakim. Selain gugatan materil sebesar Rp 1 miliar sebagai ganti rugi, Fatimah juga digugat untuk pergi dari lahan yang kini dijadikan tempat
tinggalnya.8
Ironis sekali melihat apa yang terjadi dalam sebagaian masyarakat kita yang mengalami krisis moral, etika dan budi pekerti. Sudah sepatutnya kita
membutuhkan tontonan bermutu yang akan menjadi tuntunan kita dalam bagaimana kita memposisikan diri dan bagaimana kita bertingkah laku terhadap
orang tua.
Yang menarik mengenai respon tentang film ini adalah belum genap seminggu sejak film yang diadaptasi dari buku Oka Aurora berdasarkan kisah
Ustadz Ahmad Alhabsyi itu tayang, sudah muncul rumor bahwa film ini merupakan produk Syiah. Ada Surga di Rumahmu dianggap beraliran Syiah. Adit,
selaku sutradara membantah dan menilai rumor tersebut mengada-ngada. Adit bukan tidak tahu adanya embusan konten Syiah itu berkaitan dengan Mizan yang memproduseri Ada Surga di Rumahmu. Kelompok penerbit buku dan film itu
8
Naomi Trisna, “Ibu 90 Tahun Digugat Rp 1 Miliar oleh Anak Kandungnya”, artikel diakses pada 21 April 2015 dari http://news.liputan6.com/read/2109268/ibu-90-tahun-digugat-rp-1-miliar-oleh-anak-kandungnya
5
disebut-sebut sebagai pentolan Syiah di Indonesia. Di matanya film itu bersifat universal.9
Ada juga yang menilai tuduhan adanya muatan konten syiah dalam film Ada Surga di Rumahmu bukan hanya berlatar belakang kebencian ideologis, namun juga salah satu upaya untuk menghancurkan umat Islam dari dalam atau
hanya didasarkan oleh persaingan bisnis semata.10
Terlepas isu yang beredar tentang film ini, kehadiran film ini harus
diapresiasi oleh seluruh masyarakat. Karena dalam industri perfilman, tema mengenai Birrul Walidain masih tergolong sedikit. Maka sudah saatnya masyarakat kita, khususnya industri perfilman Indonesia menciptakan film-film
yang bermutu dan bermoral sebagai warisan nilai-nilai sosial untuk menciptakan masyarakat yang berakhlak mulia. Sebagaimana salah satu fungsi komunikasi
menurut Harold D. Lasswell adalah melakukan transformasi warisan sosial kepada generasi berikutnya.11
Semiotika atau semiologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari tanda
(sign). Dalam kehidupan sehari-hari tanda muncul dalam bentuk yang beraneka ragam, bisa berwujud simbol, lambang, kode, ikon, isyarat, atau sinyal. Film
merupakan bidang kajian yang sangat relevan bagi analisis semiotika. Film dibangun dengan tanda-tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diinginkan. Rangkaian dalam film menciptakan imaji dengan
tanda-9
Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia, ”Sutradara Buktikan ‘Ada Surga di Rumahmu’ Bukan Film Syiah”, artikel diakses pada 21 April 2015 dari
http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150409161008-220-45455/sutradara-buktikan-ada-surga-di-rumahmu-bukan-film-syiah/
10
Warsa Tarsono, Madina Online, “Ada Apa di Balik Serangan Terhadap Film Ada Surga di Rumahmu?”, artikel diakses pada 21 April 2015 dari http://www.madinaonline.id/s5-review/ada-apa-di-balik-serangan-terhadap-film-ada-surga-di-rumahmu/
11
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h.59
tanda ikonis, yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu. Memang ciri gambar-gambar film adalah persamaannya dengan realitas yang ditunjuknya.
Gambar yang dinamis dalam film merupakan ikonis bagi realitas yang di notasikannya.12
Selain film yang menarik dan mampu menguras emosi penonton, dengan
kandungan Birrul Walidain di dalam film ini, film Ada Surga di Rumahmu merupakan film yang tepat untuk menciptakan umat muslim, khususnya generasi
muda, yang berakhlak karimah dan berbudi mulia. Mengingat semakin berkurangnya akhlak generasi muda akibat pergeseran budaya dampak dari massifnya globalisasi saat ini. Dengan latar belakang inilah yang membuat penulis
tertarik untuk mengambil penelitian dengan judul “Representasi Makna Birrul Walidain Dalam Film Ada Surga di Rumahmu”.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Peneliti membatasi penelitian ini dengan pengambilan beberapa adegan dalam film Ada Surga di Rumahmu, yang dianggap memiliki makna simbol pesan-pesan dakwah mengenai “Birrul Walidain” didalamnya baik secara
konotatif, denotatif, ataupun mitos.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang serta identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
7
a. Bagaimana makna denotasi, konotasi, dan mitos pesan dakwah mengenai “Birrul Walidain” yang terdapat dalam film Ada Surga di Rumahmu?
b. Apa pesan moral yang terkandung dalam film Ada Surga di Rumahmu?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui makna denotasi, konotasi, dan mitos pesan dakwah
mengenai “Birrul Walidain” yang terdapat dalam film Ada Surga di Rumahmu.
2. Untuk mengetahui pesan moral yang terkandung dalam film Ada Surga di Rumahmu.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan
serta literatur mengenai kajian semiotik, khususnya semiotika dalam film yang menggunakan pisau analisis model Roland Barthes.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi para teoritis, praktisi, dan aktivis dakwah, serta bagi para praktisi dalam aktivitas industri film untuk mempertahankan dan menyebarkan nilai-nilai
agama secara efektif dan efisien, agar semakin banyak film-film bertema religi yang menarik dan diminati masyarakat. Selain itu diharapkan hasil
terdapat dalam sebuah produk media massa, khususnya film dengan menggunakan analisis semiotik.
E. Metodologi Penelitian
1. Paradigma Penelitian
Paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu
distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi (perilaku yang di dalamnya ada konteks khusus atau dimensi waktu). Harmon
mendefinisikan paradigma sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berfikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas.13
Paradigma pada penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis, yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh,
kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif (reciprocal). Penelitian dilakukan pada obyek yang alamiah. Obyek yang alamiah adalah obyek yang tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran
peneliti tidak mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut.14
2. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,
13 Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), h.49
14
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2009),h.8
9
dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat
induktif/kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi.15
Sedangkan menurut Denzin dan Lincoln dalam Moleong (2007)
menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan
dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.16
3. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
semiotika. Semiotika merupakan disiplin ilmu yang mempelajari tanda (sign). Selain itu semiotika membedah hubungan antara tanda, simbol, dan makna.
Teori semiotika yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep semiotika Roland Barthes.
Dalam konsep Roland Barthes, tingkatan makna terbagi menjadi tiga.
Yang pertama adalah Denotasi, Konotasi, dan Mitos. Denotasi adalah penafsiran lambang-lambang makna terhadap realitas objek. Kemudian
makna konotasi atau pemaknaan tataran ke-dua, adalah pemaknaan yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada. Pemaknaan ini bersifat subjektif, tentunya terkait dengan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam presepsi
15 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2009), h.9
16
Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), h. 5
masing-masing subjek. Dan yang terakhir Barthes menambahkan mitos sebagai pelengkap konsep semiotikanya. Mitos adalah juga suatu pemaknaan
tataran ke-dua. Mitos adalah rujukan bersifat kultural atau bersumber dari budaya yang ada. Dengan kata lain mitos berfungsi sebagai deformasi dari lambang yang kemudian menghadirkan makna-makna tertentu dengan
berpijak pada nilai-nilai sejarah dan budaya masyarakat.
4. Objek dan Unit Analisis
Objek penelitian ini adalah film Ada Surga di Rumahmu karya Aditya Gumay. Sedangkan yang menjadi unit analisis penelitiannya adalah potongan gambar atau visual yang terdapat pada Film Ada Surga di Rumahmu dengan
mengacu kepada rumusan masalah.
5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, data-data dikumpulkan melalui observasi, yaitu mengamati langsung data-data yang sesuai dengan pertanyaan penelitian.
Adapun instrumen penelitiannya adalah:
1. Data Primer, berupa dokumen elektronik, file berbentuk video film Ada Surga di Rumahmu.
2. Data Sekunder, berupa dokumen pendukung yang tertulis, seperti
11
6. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja
dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan
apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.17 Setelah data primer dan sekunder terkumpul kemudian diklarifikasikan sesuai dengan pertanyaan
yang ada pada rumusan masalah, kemudian dilakukan analisis data dengan menggunakan teknik analisis semiotik Roland Barthes. Ia mengembangkan semiotik menjadi denotasi, konotasi dan mitos yang menghasilkan tanda
secara objektif untuk memahami makna tersirat dalam film Ada Surga di Rumahmu yang menjadi objek dalam penelitian ini.
F. Tinjauan Pustaka
Penelitian Terdahulu
Pada penelitian ini peneliti juga mengacu kepada skripsi yang memiliki
beberapa persamaan dengan penelitian ini sebagai referensi atau rujukan bagi penulis dalam merumuskan permasalahan. Penelitian sejenis mengenai kajian
semiotika di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, tidaklah sedikit.
Salah satunya adalah skripsi dengan judul “Analisis Semiotika Wajah Islam Dalam Film My Name Is Khan” karya Farouk Kahlil Gibran Bagawi
(106051001762). Pada skripsinya tersebut, Farouk mencoba memaparkan
17
Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), h. 248
gambaran Islam dan konstruksi pesan mengenai Islam yang terdapat dalam film tersebut. Penelitian ini juga menggunakan pisau analisis yang sama
dengan yang peneliti gunakan yaitu semiotika Roland Barthes. Namun dari segi kasus dan objek penelitiannya tetap berbeda.
Selain itu ada pula skripsi yang berjudul “Analisis Semiotika Apa Itu
Islam” karya Reza Rizqi Amirullah (208051000032). Skripsi tersebut membahas tentang makna semiotika dalam adegan dan teks dalam film Apa
Itu Islam menurut teori Roland Barthes. Penggunaan metode yang digunakan menjadikan skripsi ini sebagai acuan, namun tetap ada perbedaan dalam segi wacana yang dibangun dan objek penelitian.
Skripsi dengan judul “Representasi Gerakan Pembaharuan KH Ahmad Dahlan Dalam Film Sang Pencerah” karya Cory Carlinah (1110051000126) juga menjadi acuan peneliti. Kesamaan metode yang digunakan menjadi
alasan peneliti mengambil skripsi ini sebagai acuan. Skripsi tersebut mencoba memaparkan makna semiotika dalam adegan dan teks dalam film Sang
Pencerah dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes sebagai alat analisisnya. Tetap ada perbedaan dengan skripsi peneliti, yakni dalam wacana yang dibangun serta objek dalam skripsi ini.
Dan pada penelitian ini khususnya ingin mengkaji lebih jauh mengenai interpretasi Birrul Walidain atau berbakti kepada kedua orangtua yang
13
penelitian yang peneliti lakukan dalam membedah film ini dengan menggunakan pisau analisis semiotika Roland Barthes.
G. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembaca dalam melihat gambaran dan uraian mengenai pembahasan-pembahasan tertentu di dalam skripsi ini, maka dari itu,
peneliti menyusun sistematika penulisan ini ke dalam lima bab. Dalam bab-bab tersebut mengandung beberapa sub bab yang akan dipaparkan secara terperinci,
adapun sistematika penulisan dapat dilihat sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan, terdiri dari Latar Belakang Masalah, Batasan dan Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metodologi
Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Sistematika Penulisan.
BAB II : Landasan Teori, yang meliputi tinjauan umum semiotika
yang berisikan konsep dasar, semiotika film dan konsep semiotika Roland Barthes. Kemudian tinjauan umum tentang film yang berisi seputar definisi, jenis dan klasifikasi film, unsur-unsur pembentuk film, teknik pengambilan
gambar: sinematografi dan pergerakan kamera, film sebagai media representasi, dan film sebagai media dakwah. Serta tinjauan umum tentang Birrul Walidain atau berbakti kepada orangtua.
BAB III : Gambaran Umum Film Ada Surga di Rumahmu, tentang sinopsis film, profil Aditya Gumay selaku sutradara film Ada Surga di
Rumahmu, serta profil pemain dan kru produksi film.
Ada Surga di Rumahmu secara naratif yang menampilkan adegan per adegan serta pesan moral yang terdapat dalam film Ada Surga di Rumahmu.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Semiotika
1. Tinjauan Umum Semiotika
Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari kata yunani
Semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai suatu – yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya – dapat
dianggap mewakili yang lain. Tanda pada awalnya dimaknai sebagai suatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya asap menandai adanya api, sirene mobil yang keras meraung-raung menandai adanya
kebakaran di sudut kota.
Secara terminologis, semiotika dapat diintefikasikan sebagai ilmu
yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda.1 Analisis semiotika merupakan suatu pemaknaan lebih lanjut terhadap proses pencarian makna ‘berita di balik
berita’.
Sejak pertengahan abad ke-20, semiotika telah tumbuh menjadi
bidang kajian yang sungguh besar, melampaui di antaranya, kajian bahasa tubuh, bentuk-bentuk seni, wacana retoris, komunikasi visual, media, mitos, naratif, bahasa, artefak, isyarat, kontak mata, pakaian, iklan,
1 Indiwan Seto Wahyu Wibowo, Semiotika Komunikasi – Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi, (Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media, 2013), h. 7
makanan, upacara – pendeknya, semua yang digunakan, diciptakan , atau diadopsi oleh manusia untuk memproduksi makna. 2
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda (sign), berfungsinya tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. Dalam pandangan Zoest, segala
sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak
adanya peristiwa, struktur yang ditemukan dalam sesuatu, suatu kebiasaan, semua itu dapat disebut tanda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah
gejala mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkai bunga,
rambut uban, sikap diam membisu, gagap, berbicara cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk, bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan, semua itu dianggap
sebagai tanda.3
Menurut Saussure, tanda adalah kesatuan dari dua bidang yang
tidak dapat dipisahkan, seperti halnya selembar kertas. Di mana ada tanda, di sana ada sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh indra kita yang disebut
signifier, bidang penanda atau bentuk. Aspek lainnya disebut signified, bidang petanda atau konsep atau makna. Aspek kedua terkandung di
2
Marcel Danesi, Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi, (Yogyakarta: Jalasutra, 2012), h. 6
17
dalam aspek pertama. Jadi petanda merupakan konsep atau apa yang dipresentasikan oleh aspek pertama.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa penanda terletak pada tingkatan ungkapan (level of expression) dan mempunyai wujud atau merupakan bagian fisik seperti bunyi, huruf, kata, gambar, warna, objek, dan
sebagainya. Petanda terletak pada level of content (tingkatan isi atau gagasan) dari apa yang diungkapkan melalui tingkatan ungkapan.
Hubungan antara kedua unsur ini melahirkan makna. Tanda akan selalu mengacu pada (mewakili) sesuatu hal (benda) yang lain. Ini disebut referent. Lampu merah mengacu pada jalan berhenti. Wajah cerah
mengacu kepada kebahagiaan. Air mata mengacu pada kesedihan. Apabila hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam benak orang
yang melihat atau mendengar akan timbul pengertian.4
Charles Morris memudahkan kita memahami ruang lingkup kajian semiotika yang menaruh perhatian atas ilmu tentang tanda-tanda. Menurut
dia, kajian semiotika pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam tiga cabang penyelidikan (Branches of inquiry) yakni sintaktik, semantik dan
pragmatik.5
1. Sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax): suatu cabang penyelidikan semiotika yang mengkaji “hubungan formal di antara
satu tanda dengan tanda-tanda yang lain.” Dengan begitu hubungan-hubungan formal ini merupakan kaidah-kaidah yang mengendalikan
4
Sumbo Tinarbuko, Semiotika Komunikasi Visual, (Yogyakarta: Jalasutra, 2013), h.12-13 5
Indiwan Seto Wahyu Wibowo, Semiotika Komunikasi – Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi, (Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media, 2013), h. 5
tuturan dan iterpretasi, pengertian sintaktik kurang lebih adalah semacam ‘gramatika’.
2. Semantic (semantics): suatu cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari “hubungan di antara tanda-tanda dengan designate adalah tanda-tanda sebelum digunakan didalam tuturan tertentu.
3. Pragmatik (pragmatics): suatu cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari “hubungan di antara tanda-tanda dengan interpreter-interpreter atau para pemakainya” – pemakaian tanda-tanda.
Pragmatik secara khusus berurusan dengan aspek-aspek komunikasi, khususnya fungsi-fungsi situasional yang melatari tuturan.
2. Konsep Semiotika Roland Barthes
Barthes lahir di Cherbourg, Prancis, pada 12 November 1915 dan
meninggal di Paris pada 26 Maret 1980. Barthes adalah kritikus sastra dan social Prancis yang karya-karyanya tentang semiotika, studi formal tentang simbol dan tanda yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure, telah
membantu perkembangan strukturalisme sebagai salah satu gerakan intelektual yang penting pada abad kedua puluh. Barthes menempuh
pendidikan di universitas Paris. Setelah bekerja selama tujuh tahun (1952-1959) di Centre National de la Ecole Pratique des Hautes Etudes di Paris. Di sini, dia menawarkan sebuah seminar bertajuk “Sosiologi tanda,
simbol, dan representasi.” Pada 1976 dia terpilih menjadi orang pertama yang memegang pimpinan “semiologi sastra” di College de France.6
6
Roland Barthes, Membedah Mitos-mitos Budaya Massa, (Jalasutra: Yogyakarta, 2007), h. lviii
19
Pemikiran Barthes tentang semiotika dipengaruhi oleh Saussure. Kalau Saussure mengintrodusir istilah signifier dan signified berkenaan
dengan lambang-lambang atau teks dalam suatu paket pesan maka Barthes menggunakan istilah denotasi dan konotasi untuk menunjuk tingkatan-tingkatan makna.7 Bila Saussure hanya menekankan pada penandaan
dalam tataran denotatif, maka Roland Barthes menyempurnakan semiologi pada tingkat konotatif. Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan,
[image:32.595.105.510.249.582.2]yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat. Gambar Peta tanda Roland Barthes8
Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri
atas penanda (1) dan pertanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (I). Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur material: tanda “singa”, berkonotasi seperti harga diri,
kegarangan, dan keberanian.9 a. Makna Denotasi
8
Indiwan Seto Wahyu Wibowo, Semiotika Komunikasi – Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi, (Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media, 2013), h. 22
9 Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), h. 69 1. Signifier 2. Signified
3. Sign
I. SIGNIFIER II. SIGNIFIED III. SIGN
Langue (code)
MYTH
Makna denotasi adalah makna tingkat pertama yang bersifat objektif yang dapat diberikan terhadap lambang-lambang, yakni
mengaitkan secara langsung antara lambang dengan realitas atau gejala yang ditunjuk.10
Denotasi dalam pandangan barthes merupakan tataran pertama
yang maknanya bersifat eksplisit, langsung, dan pasti. Denotasi merupakan makna yang sebenar-benarnya, yang disepakati bersama
secara sosial, yang rujukannya pada realitas.11
Denotasi merupakan sistem imaji yang memiliki ‘aliran’ sintagmatis. Artinya pada lapisan denotasi bersifat sintagma yang
selalu identik dengan ujaran dan ‘wacana’ ikonik yang menaturalisasikan simbol-simbol.12
b. Makna Konotasi
Kemudian makna konotasi adalah makna-makna yang dapat diberikan pada lambang-lambang dengan mengacu pada nilai-nilai budaya yang karenanya berada pada tingkatan kedua.13
Tanda konotatif merupakan tanda yang penandanya mempunyai keterbukaan makna atau makna yang implisit, tidak langsung, dan
tidak pasti, artinya terbuka kemungkinan terhadap penafsiran-penafsiran baru. Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk
10 Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, (Yogyakarta: LkiS, 2007), h. 163
11Nawiroh Vera, Semiotika dalam Riset Komunikasi, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2014), h.28
12
21
mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.14
c. Makna Mitos
Yang menarik berkenaan dengan semiotika Roland Barthes adalah digunakan istilah mitos (myth), yakni rujukan bersifat kultural (bersumber dari budaya yang ada) yang digunakan untuk menjelaskan
gejala atau realitas yang ditunjuk dengan lambang-lambang yang ada dengan mengacu sejarah (di samping budaya).15
Mitos dalam pandangan Barthes berbeda dengan konsep mitos dalam arti umum. Barthes mengemukakan mitos adalah bahasa, maka mitos adalah sebuah sistem komunikasi dan mitos adalah sebuah
psean. Dalam uraiannya, ia mengemukakan bahwa mitos dalam pengertian khusus ini merupakan perkembangan dari konotasi.
Konotasi yang sudah terbentuk lama di masyarakat itulah mitos. Barthes juga mengatakan bahwa mitos merupakan sistem semiologis, yakni sistem tanda-tanda yang dimaknai manusia. Mitos dapat
dikatakan sebagai produk kelas sosial yang sudah memiliki suatu dominasi.16
Rumusan tentang signifikasi dan mitos dapat dilihat pada gambar berikut ini.
14 Nawiroh Vera, Semiotika dalam Riset Komunikasi, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2014), h.28
15
Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, (Yogyakarta: LkiS, 2007), h.164 16
Nawiroh Vera, Semiotika dalam Riset Komunikasi, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2014), h.28-29
Signifikansi Dua Tahap17
Dari gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa signifikansi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified yang disebut denotasi yaitu makna sebenarnya dari tanda. Sedangkan signifikansi tahap
kedua digunakan istilah konotasi, yaitu makna yang subjektif atau paling tidak, intersubjektif; yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui
mitos. Mitos merupakan lapisan pertanda dan makna yang paling dalam.18
B. Film
1. Pengertian Film
Undang-undang Perfilman No. 6 tahun 1992, Bab I, Pasal 1,
menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunkasi massa pandang dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita
17 Nawiroh Vera, Semiotika dalam Riset Komunikasi, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2014), h.30
18
Nawiroh Vera, Semiotika dalam Riset Komunikasi, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2014), h.30
First Order Second Order
Reality Sign Culture
Denotasi Signifier
Signified
Content
Frm Konotasi
Mitos
23
selluloid, pita video, piringan video dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam bentuk, jenis, ukuran, melalui kimiawi, proses
elektronik atau proses lainnya atau tanpa suara yang dapat dipertunjukkan dan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dan atau lainnya.19
Film merupakan salah satu media komunikasi massa. Dikatakan sebagai media komunikasi massa karena merupakana bentuk komunikasi
yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, dalam arti berjumlah banyak, tersebar dimana-mana, khalayaknya heterogen dan anonim, dan menimbulkan efek
tertentu. Film dan televisi memiliki kemiripan, terutama sifatnya yang audio visual, tetapi dalam proses penyampaian pada khalayak dan proses
produksinya agak sedikit berbeda.20
Pada tingkat penanda, film adalah teks yang memuat serangkaian citra fotografi yang mengakibatkan adanya ilusi gerak dan tindakan dalam
kehidupan nyata.pada tingkat petanda, film merupakan cermin kehidupan metaforis. Jelas bahwa topik film menjadi sangat pokok dalam semiotika
media karena di dalam genre film terdapat sistem signifikasi yang ditanggapi orang-orang masa kini dan melalui film mereka mencari rekreasi, inspirasi, dan wawasan pada tingkat interpretant.21
Media film memiliki keampuhan yang besar untuk mempengaruhi publik. Medium ini dapat menyajikan gambar-gambar atau peragaan
19 Askurifai Baksin, Membuat Film Indie itu Gampang, (Bandung: Katarsis, 2003), h. 6 20 Nawiroh Vera, Semiotika dalam Riset Komunikasi, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2014), h.91
21
Marcel Danesi, Pengantar Memahami Semiotika Media, (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), h. 134
gerak, termasuk suara. Teknologi baru yang hampir sejenis dengan film adalah kaset video dengan piringan (laser disc). Teknologi baru
mempunyai sifat praktis karena dengan menghubungkan melalui monitor televisi di rumah-rumah, kemudian muncul gambar dan sekaligus suaranya.22
2. Jenis dan Klasifikasi Film
a. Jenis-Jenis Film
Jika dilihat dari isinya, film dibedakan menjadi jenis film fiksi dan non fiksi. Sebagai contoh, untuk film non fiksi adalah film dokumenter yang menjelaskan tentang dokumentasi sebuah kejadian alam, flora, fauna maupun
manusia. Adapun penjelasan dari jenis-jenis film itu sebagai berikut:
1) Film Dokumenter adalah film yang menyajikan fakta berhubungan dengan
orang-orang, tokoh, peristiwa, dan lokasi yang nyata. Film dokumenter dapat digunakan untuk berbagai macam maksud dan tujuan seperti informasi atau berita, biografi, pengetahuan, pendidikan, sosial, politik
(propaganda), dan lain sebagainya.
2) Film fiksi adalah film yang menggunakan cerita rekaan di luar kejadian
nyata, terkait oleh plot, dan memiliki konsep pengadegaan yang telah dirancang sejak awal. Struktur cerita film juga terkait hukum kausalitas. Cerita fiksi juga seringkali diangkat dari kejadian nyara dengan
menggunakan beberapa cuplikan rekaman gambar dari peristiwa aslinya (fiksi-dokumenter).
22
Y.S. Gunadi dan Djony Heffan, Himpunan Istilah Komunikasi, (Jakarta: PT Grasido, 1998), h. 11-12
25
3) Film Experimental merupakan film yang berstruktur namun tidak berplot. Film ini tidak bercerita tentang apapun (anti-naratif) adegannya menantang
logika sebab-akibat (anti-rasionalitas).23 b. Klasifikasi Film
Menurut Himawan Pratista dalam buku Memahami Film-nya, metode
yang paling mudah dan sering digunakan untuk mengklasifikasi film adalah berdasarkan genre, yaitu klasifikasi dari sekelompok film yang memiliki
karakter atau pola sama (khas) sebagai berikut24:
1) Aksi, yaitu film yang berhubungan dengan adegan-adegan aksi fisik seru, menegangkan, berbahaya, dan nonstop dengan cerita yang cepat.
2) Drama, yaitu film yang kisahnya seringkali menggugah emosi, dramatik, dan mampu menguras air mata penontonnya. Tema umumnya mengangkat
isu-isu sosial, seperti kekerasan, ketidakadilan, masalah kejiawaan, penyakit, dan sebagainya.
3) Epik Sejarah, yaitu film dengan tema periode masa silam (sejarah) dengan
latar sebuah kerajaan, peristiwa, atau tokoh besar yang menjadi mitos, legenda, atau kisah biblical.
4) Fantasi, yaitu film yang berhubungan dengan tempat, peristiwa dan karakter yang tidak nyata, dengan menggunakan unsur magis, mitos, imajinasi, halusional, serta alam mimpi.
5) Fiksi Ilmiah, yaitu film yang berhubungan dengan teknologi dan kekuatan di luar jangkauan teknologi masa kini yang atificial.
23 Himawan Pratista, Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), cet. 1 h. 4-8
24
Himawan Pratista, Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), cet. 1, h. 13-20
6) Horror, yaitu film yang berhubungan dengan dimensi spiritual atau sisi gelap manusia.
7) Komedi, yaitu jenis film yang tujuannya menghibur dan memancing taw penonton.
8) Kriminal dan Gangster, yaitu film yang berhubungan dengan aksi-aksi
criminal dengan mengambil kisah kehidupan tokoh kriminal besar yang diinspirasi dari kisah nyata.
9) Musikal, yaitu film yang mengkombinasikan unsur musik, lagu, tari (dansa), serta gerak (koreografi).
10)Petualangan, yaitu film yang berkisah tentang perjalanan, eksplorasi, atau
ekspedisi ke suatu wilayah asing yang belum pernah tersentuh.
11)Perang, yaitu film yang mengangkat tema ketakutan serta teror yang
ditimbulkan oleh aksi perang dengan memperlihatkan kegigihan, dan perjuangan.
12)Western, yaitu film dengan tema seputar konflik antara pihak baik dan
jahat berisi aksi tembak-menembak, aksi berkuda dan aksi duel.
Film ini masuk dalam kategori film drama, mengingat sepanjang jalan
ceritanya menggugah emosi, dan mampu menguras air mata penonton.
3. Unsur-Unsur Pembentuk Film
Film secara umum dapat dibagi atas dua unsur pembentuk, yakni
unsur naratif dan unsur sinematik. Kedua unsur tersebut saling berinteraksi dan berkesinambungan satu dengan lainnya. Unsur naratif adalah bahan
27
Sedangkan unsur sinematik adalah cara (gaya) untuk mengolahnya. Sementara unsur sinematik atau gaya sinematik atau gaya sinematik
merupakan aspek-aspek teknis pembentuk film.
Unsur sinematik terdiri dari empat elemen pokok, yaitu: a) Mise-en-scene, yaitu segala hal yang berada di depan kamera.
b) Sinematografi, yaitu perlakuan terhadap kamera dan filmnya serta hubungan kamera dengan obyek yang diambil.
c) Editing, yakni transisi sebuah gambar (shot) ke gambar (shot) lainnya. d) Suara, yakni segala hal dalam film yang mampu kita tangkap melalui
indera pendengaran.25
Film juga mengandung unsur-unsur dramatik. Unsur dramatik dalam istilah lain disebut dramaturgi, yakni unsur-unsur yang dibutuhkan untuk melahirkan gerak dramatik pada cerita atau pada pikiran
penontonnya, antara lain: konflik, suspense, curiousity, dan surprise. Konflik merupakan suatu pertentangan yang terjadi dalam sebuah film misalnya, pertentangan antar tokoh. Suspense merupakan ketegangan yang
dapat menggiring penonton ikut berdebar menantikan adegan selannjutnya. Curiousity merupakan rasa ingin tahu atau penasaran
penonton terhadap jalannya cerita sehingga penonton terus mengikuti alur film sampai selesai. Surprise adalah kejutan. Kejutan ini biasanya digunakan pada alur film yang sulit ditebak.26
25 Himawan Pratista, Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), cet. 1, h. 1-2
26
Elizabeth Lutters, Kunci Sukses Menulis Skenario, (Jakarta: Grasindo, 2004), cet3, h. 100-103
4. Teknik Pengambilan Gambar
a. Sinematografi
Sinematografi adalah perlakuan terhadap kamera dan filmnya serta hubungan kamera dengan obyek yang diambil. Berikut ini adalah salah satu aspek framing yang terdapat dalam sinematografi, yakni jarak kamera
terhadap objek (type of shot), yaitu:27
1) Extreme long shot
Extreme long shot merupakan jarak kamera yang paling jauh dari
obyeknya. Teknik ini umumnya untuk menggambarkan sebuah obyek yang sangat jauh atau panorama yang luas.
2) Long Shot
Pada jarak long shot tubuh fisik manusia telah tampak jelas namun latar belakang masih dominan. Long shot sering kali digunakan
sebagai establishing shot, yakni shot pembuka sebelum digunakan shot-shot yang berjarak lebih dekat.
3) Medium Long Shot
Pada jarak ini tubuh manusia terlihat dari bawah lutut sampai ke atas. Tubuh fisik manusia dan lingkungan sekitar relatif seimbang.
4) Medium Shot
Pada jarak ini memperlihatkan tubuh manusia dari pinggang ke atas. Gestur serta ekspresi wajah mulai tampak. Sosok manusia mulai
dominan dalam frame.
27
Himawan Pratista, Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), cet. 1, h. 104-106
29
5) Medium Close-up
Pada jarak ini memperlihatkan tubuh manusia dari dada ke atas.
Sosok tubuh manusia mendominasi frame dan latar belakang tidak lagi dominan. Adegan percakapan normal biasanya menggunakan medium close-up.
6) Close-up
Umumnya memperlihatkan wajah, tangan, kaki, atau sebuah obyek
kecil lainnya. Teknik ini mampu memperlihatkan ekspresi wajah dengan jelas serta gestur yang mendetil. Close-up biasanya digunakan untuk adegan dialog yang lebih intim. Close-up juga memperlihatkan
sangat mendetil sebuah benda atau obyek. 7) Extreme Close-up
Pada jarak terdekat ini mampu memperlihatkan lebih mendetil bagian dari wajah, seperti telinga, mata hiudung, dan lainnya atau bagian dari sebuah obyek.
b. Pergerakan Kamera
Pergerakan kamera adalah istilah untuk memudahkan komunikasi
dengan operator kamera, yakni istilah untuk menyebut arah gerak kamera yang dimaksudkan. Disebut pergerakan kamera karena posisi perangkat kamera yang berubah dalam proses pengambilan gambar.
Pergerakan kamera, secara teknis sebenarnya variasinya tidak terhitung namun secara umum dapat dikelompokkan sebagai berikut:28
28
Himawan Pratista, Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), cet. 1, h. 108-110
1) Pan
Pan merupakan singakatn dari kata panorama. Istilah
panorama digunakan karena umumnya menggambarkan pemandangan (menyapu pandangan) secara luas. Pan adalah pergerakan kamera secara horizontal (kanan dan kiri) dengan posisi
kamera statis. 2) Tilting
Tilt merupakan pergerakan kamera secara vertikal
(atas-bawah atau (atas-bawah-atas) dengan posisi kamera statis. Tilt sering digunakan untuk memperlihatkan obyek yang tinggi atau raksasa di
depan seorang karakter (kamera), seperti misalnya gedung bertingkat, patung raksasa, atau obyek lainnya.
3) Tracking
Tracking shot atau dolly shot merupakan pergerakan kamera akibat perubahan posisi kamera secara horizontal.
Pergerakan dapat ke arah manapun sejauh masih menyentuh permukaan tanah. Pergerakan dapat bervariasi yakni, maju (track forward), melingkar, menyamping (track left/right) dan sering kali
menggunakan rel atau track. Tracking shot juga dapat dilakukan dengan menggunakan truk atau mobil.
4) Crane Shot
Crane shot adalah pergerakan kamera akibat perubahan
31
menggunakan alat crane yang mampu membawa kamera bersama operatornya sekaligus dan dapat bergerak turun dan naik hingga
beberapa meter. Crane shot umumnya menghasilkan efek high-angle dan sering digunakan untuk menggambarkan situasi lansekap luas, seperti kawasan kota, bangunan, areal taman, dan
sebagainya.
5. Film Sebagai Media Representasi
Menurut John Fiske, saat menampilkan objek peristiwa, gagasan, kelompok, atau seseorang paling tidak ada tiga proses yang dihadapi:29 1) Realitas
Pada level pertama adalah peristiwa yang ditandakan sebagai realitas. Bagaimana peristiwa itu dikonstruksi sebagai realitas oleh media.
Dalam bahasa gambar ini umumnya berhubungan dengan aspek seperti pakaian, lingkungan, ucapan, dan ekspresi. Di sini, realitas selalu siap ditandakan sebagai realitas.
2) Representasi
Pada level kedua, ketika kita memandang sesuatu sebagai realitas,
[image:44.595.104.514.207.594.2]pertanyaan berikutnya adalah bagaimana realitas itu digambarkan. Di sini, kita menggunakan perangkat secara teknis. Dalam bahasa gambar, alat teknis itu berupa kamera, pencahayaan, editing, atau
musik. Pemakaiaan kata-kata, kalimat, atau preposisi tertentu misalnya, membawa makna tertentu ketika diterima oleh khalayak.
29
Emriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: Lkis, 2001), h. 114
3) Ideologi
Pada level ketiga, bagaimana peristiwa tersebut diorganisir ke dalam
konvensi-konvensi yang diterima secara ideologis. Bagaimana kode-kode representasi dihubungkan dan diorganisasikan ke dalam koherensi sosial seperti kelas sosial, atau kepercayaan dominan yang
ada dalam masyarakat (patriarki, materialisme, kapitalisme, dan sebagainya).
Representasi berasal dari bahasa Inggris, representation, yang berarti
perwakilan, gambaran atau penggambaran. Secara sederhana, representasi dapat diartikan sebagai gambaran mengenai suatu hal yang terdapat dalam kehidupan yang digambarkan melalui suatu media.
Representasi menurut Chris Barker adalah kontruksi sosial yang mengharuskan kita mengeksplorasi pembentukan makna tekstual dan
menghendaki penyelidikan tentang cara dihasilkannya makna pada beragam konteks. Representasi dan makna budaya memiliki materialitas dan program televisi. Mereka diproduksi, ditampilkan, digunakan, dan
dipahami dalam konteks tertentu (Barker, 2004;9). Yasraf Amir Piliang (2003:28) menjelaskan, representasi pada dasarnya adalah sesuatu yang
hadir, namun menunjukkan sesuatu di luar dirinyalah yang dia coba hadirkan. Represntasi tidak menunjuk kepada dirinya sendiri, namun kepada orang lain.30
30
Nawiroh Vera, Semiotika dalam Riset Komunikasi, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2014), h.97
[image:45.595.105.514.212.590.2]33
Dalam film, ada pesan-pesan tertentu yang ingin disampaikan. Film berupaya menggambarkan mengenai suatu hal tertentu dalam
kehidupan sehari-hari kepada para penontonnya. Inilah upaya representasi dalam film yang ingin menyampaikan suatu nilai atau ideologi tertentu melalui adegan-adegan dan dialog-dialog yang ada didalamnya.
6. Film Sebagai Media Dakwah
Media ialah alat atau wahana yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. untuk itu komunikasi bermedia
(mediated communication) adalah komunikasi yang menggunakan saluran atau sarana untuk meneruskan suatu pesan kepada komunikan yang jauh tempatnya, dan atau banyak jumlahnya. Komunikasi bermedia di sebut
juga dengan komunikasi tak langsung (indirect communication) dan sebagai konsekuensinya arus balik pun tidak terjadi pada saat komunikasi
dilancarkan.31
Sedangkan secara etimologis, kata “dakwah” berasal dari Bahasa Arab, yakni berasal dari kata “da’a – yad’u – da’watan” yang berarti
seruan, ajakan, dan panggilan. Sementara itu, secara terminologis kata dakwah sangat beragam definisinya. Namun bisa disimpulkan bakwah
dakwah adalah sebuah proses atau kegiatan menyeru, mengajak – bisa juga diartikan dengan mengingatkan – dan menyebarluaskan ajaran agama Islam kepada seluruh umat manusia demi keselamatan dan
kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Dakwah dilakukan secara sadar,
sistematis, dan terarah oleh pelakunya, baik secara individual maupun kolektif.32
Media komunikasi dakwah banyak sekali jumlahnya mulai yang tradisional sampai yang modern misalnya kentongan, beduk, pagelaran kesenian, surat kabar, papan pengumuman, majalah, film, radio, dan
televisi. Dari semua itu, pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai media tulisan atau cetak, visual, aural, dan audiovisual. Untuk
mendapatkan sasaran dalam komunikasi dakwah, dengan memilih salah satu atau gabungan dari beberapa media, bergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan dakwah yang akan disampaikan serta teknik dakwah
yang akan digunakan.33
Pada masa kehidupan Nabi Muhammad saw, media yang paling
banyak digunakan adalah media auditif, yakni menyampaikan dakwah dengan lisan. Namun tidak boleh dilupakan bahwa sikap dan perilaku Nabi juga merupakan media dakwah secara visual yaitu dapat dilihat dan ditiru
oleh objek dakwah. Sejarah dakwah kemudian mencatat bukan hanya perkembangan materi dan objek dakwah, melainkan juga mencari
media-media dakwah yang efektif. Ada berupa media-media visual, auditif, audiovisual, buku, radio, televisi, drama dan sebagainya.34 Termasuk juga internet dan film.
Perbedaan yang mencolok dari model dakwah saat ini jika dibandingkan dengan model dakwah masa sebelumnya adalah pada
32 Zaenal Arifin, Dakwah melalui Film dan Sinetron, (Yogyakarta: STAIN Purwokerto Press dan Unggun Religi, 2006), h.39-43
33
35
metode dan media yang digunakannya. Kalau dulu, dakwah hanya dilakukan dengan komunikasi verbal, yakni model ceramah di podium
atau majelis taklim yang bersifat komunal saja. Akan tetapi, sekarang dakwah sudah dapat dilakukan dengan menggunakan media yang berbasis teknologi canggih atau media massa, baik media cetak yang berupa tulisan
maupun dengan media elektronik. Hal ini, seperti model ceramah atau dialog interaktif yang dilakukan melalui radio dan stasiun televisi, atau
bahkan hanya lewat sebuah tayangan sinetron dan film-film yang diputar di gedung-gedung pertunjukkan atau bioskop.35
Menurut Ali Aziz, Film, secara psikologis memiliki kecendrungan
yang unik dalam menyajikan pesan dalam menerangkan hal-hal yang masih samar, mengurangi keraguan dan lebih mudah untuk diingat.36
Kekuatan dan kemampuan film menjangkau banyak segmen sosial, lantas membuat para ahli beranggapan bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya. Dalam banyak penelitian tentang dampak
film terhadap masyarakat, hubungan antara film dan masyarakat selalu dipahami secara linear. Artinya, film selalu mempengaruhi dan
membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (massage) di baliknya, tanpa pernah berlaku sebaliknya. Kritik yang muncul terhadap prespektif ini didasarkan atas argumen bahwa film adalah potret masyarakat di mana
film itu dibuat. Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan
35
Zaenal Arifin, Dakwah melalui Film dan Sinetron, (Yogyakarta: STAIN Purwokerto Press dan Unggun Religi, 2006), h.69
berkembang dalam masyarakat, dan kemudian memproyeksikannya ke atas layar.37
Selain dapat memberikan hiburan untuk masyarakat, film juga dapat memberikan informasi dan edukasi. Oleh karena itu, film dapat digunakan sebagai media komunikasi dakwah ketika film dimanfaatkan
untuk menyampaikan pesan-pesan agama.38
C. Tinjauan Umum Tentang Berbakti Kepada Orang Tua
1. Pengertian Akhlak
Sebelum membahas tentang Birrul Walidain, maka terlebih dahulu
akan dijelaskan mengenai akhlak. Secara etimologi akhlak
(
قﻼﺧْأ
)
adalah
bentuk jamak dari khuluqun
(
ٌﻖُﻠُﺧ
)
yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan secara terminologi yang dikutip dari beberapa definisi akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia,sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta tidak
memerlukan dorongan dari luar.39
Di dalam Da’iratul Ma’arif dikatakan:
ُﺔﱠﯿِﺑَدَﻷْا ِن ﺎَﺴْﻧِﻹْا ُت ﺎَﻔِﺻ ﻰھ قﻼﺧَﻷَا
“Akhlak ialah sifat-sifat manusia yang terdidik”.
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan
37 Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009). H. 127 38
Bambang S. Ma’arif, Komunikasi Dakwah: Paradigma Untuk Aksi, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2010), h. 165
37
selalu ada padanya sifat itu dapat berupa perbuatan baik, disebut akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk, disebut akhlak yang tercela sesuai
dengan pembinaannya.40
Jadi dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya akhlak atau budi pekerti ialah suatu sifat yang sudah meresap dalam jiwa seseorang
sehingga membentuk kepribadian yang menyebabkan timbulnya berbagai perbuatan dengan cara spontan tanpa dibuat-buat dan tanpa melalui proses
pemikiran terlebih dahulu. Apabila dari kondisi tadi muncul suatu perilaku yang baik dan terpuji menurut pandangan syari’at dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti mulia dan sebaliknya apabila yang timbul
adalah perilaku yang buruk, maka disebutlah budi pekerti yang tercela. Di dalam melihat ukuran akhlak baik dan akhlak buruk dapat
dilihat dari beberapa sudut pandang, yaitu sebagai berikut:41 a. Pengaruh Adat Kebiasaan
Manusia dapat terpengaruh oleh adat istiadat golongan dan
bangsanya. Mereka melakukan sesuatu perbuatan dan menjauhi perbuatan lainnya. Adat istiadat dianggap baik apabila diikuti dan
ditanam dalam hati mereka menyalahi adat istiadat itu membawa kesucian. Apabila seorang dari mereka menyalahi adat istiadat, sangat dicela dan dianggap keluar dari golongan bangsanya. Maka ukuran
baik dan buruk menurut pandangan mereka adalah adat istiadat golongannya.
40
Asmaran As., Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada), h.1 41
M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h. 26-29
Dalam penyelidikan adat istiadat tidak dapat digunakan sebagai ukuran dan pertimbangan, karena sebagian perintah-perintahnya tidak
masuk akal dan setengah merugikannya. Banyak perbuatan-perbuatan yang salah, tetapi lain bangsa yang menyatakan kebaikannya; seperti mengubur anak perempuannya hidup-hidup dilakukan oleh sebagian
bangsa Arab pada zaman jahiliah. Mereka menganggap perbuatan itu tidak tercela dan tidak salah.
Berpegang adat istiadat itu meskipun tidak benar, ada juga faedahnya. Ada juga orang-orang yang tidak mau melanggar adat istiadat yang baik, banyak pula orang-orang yang tidak mau mencuri,
minum minuman keras karena mengikuti adat-istiadat, takut dari lingkungan mengecam dan mencemoohkannya.
b. Kebahagiaan (Hedonism)
Kebanyakan filsuf berpendapat bahwa tujuan akhir dari hidup dan kehidupan manusia ialah untuk mencapai kebahagiaan. Perbuatan
manusia dapat dikatakan baik bila ia mendatangkan kebahagaiaan, kenikmatan, dan kelezatan. Para pengikut aliran hedonism membagi
kebahagiaan menjadi dua, yaitu sebagai berikut. 1) Kebahagiaan diri (Egoistic Hedonism)
Pendapat ini mengatakan bahwa manusia hendaknya mencari
39
2) Kebahagiaan bersama (Universalistic Hedonism)
Paham ini menghendaki agar manusia mencari kebahagiaan yang
sebesar-besarnya untuk sesama manusia, bahkan untuk semua makhluk yang berperasaan. Untuk memberikan nilai terhadap suatu perbuatan bahwa ia baik atau buruk, yang perlu diperhatikan
adalah kesenangan dan kepedihan yang diakibatkan oleh perbuatan itu. Dalam hal ini bukan untuk diri sendiri tetapi untuk seluruh
makhluk yang ikut merasakan kenikmatan dari akibat perbuatan itu.
c. Intuisi (Intuition)
Intuisi merupakan kekuatan batin yang dapat mengenal sesuatu yang baik atau buruk dengan sekilas pandang tanpa melihat buah dan
akibatnya. Paham ini berpendapat bahwa tiap manusia itu mempunyai kekuatan batin sebagai suatu instrument yang dapat membedakan baik dan buruk.
d. Evolusi
Mereka yang mengikuti paham ini mengatakan bahwa segala
sesuatu yang ada di ala mini mengalami evolusi, yaitu berkembang dari apa adanya menuju kesempurnaannya. Menurut pandangan ini, nilai akhlak harus ikut berkembang sesuai dengan perkembangan
sosial dan budaya ini menyesatkan orang. Adanya pendapat (nilai) baru yang menjadi panutan masa itu, merupakan pendapat (nilai) yang
merupakan nilai yang universal dan hanya dipandang baik oleh seseorang atau sekelompok orang.
Sebagai umat Islam, pedoman utama sumber-sumber pengetahuan tentang akhlak baik dan buruk adalah dengan mengacu kepada Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Sudah sepatutnya kita mengimani keduanya. Karena
segala hal telah banyak dijelaskan di dalam kedua sumber utama tersebut. Berdasarkan penjelasan tentang akhlak di atas, maka Birrul Walidain merupakan akhlak yang terpuji. Birrul Walidain merupakan
akhlak terpuji karena merupakan suatu perilaku yang baik, tidak menentang adat istiadat, budaya, nilai sosial, dan terpuji menurut
pandangan syari’at agama Islam. 2. Pengertian Birrul Walidain
Birrul Walidain terdiri dari dua kata, yakni: Al-Birru dan
Al-Walidain. Al-Birru (
ﱡﺮِﺒﻟا
) memiliki makna baik, kebaikan, ketaatan,berakhlak baik; dikatakan juga dengan kumpulan kebaikan atau nama bagi
segala yang baik.42 Namun dalam konteks Birrul Walidain, maka makna kata yang lebih tepat adalah berbakti. Sebagaimana dengan hadits Nabi yang menjelaskan tentang Al-Birru berikut ini:
ﻢﻠﺳ و ﮫﯿﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ ﷲ لﻮﺳر ﺖﻟﺂﺳ
:
لﺎﻗ ﮫﻨﻋ ﷲ ﻰﺿر نﺎﻌﻤﺳ ﻦﺑ ساﻮﻨﻟا ﻦﻋ
نﺄﺋ ﺖھﺮﻛو
.
كرﺪﺻ ﻰﻓ كﺎﺣ ﺎﻣ ﻢﺛﻹاو
.
ﻖﻠﺨﻟا ﻦﺴﺣ ﺮﺒﻟا
:
لﺎﻘﻓ ﻢﺛﻹاو ﺮﺒﻟا ﻦﻋ
(
ﻢﻠﺴﻣ هاور
) .
سﺎﻨﻟا ﮫﯿﻠﻋ ﻊﻠﻄﯾ
Artinya : “Dari Nawwas ibn Sam’an RA berkata: Aku bertanya kepada Rasul Allah SAW tentang al-birr dan al-itsm. Nabi SAW menjawab: al-birr itu adalah berakhlak baik, sedangkan al-itsm adalah42
Ayat Dimyati, Hadits Arba’in: Masalah Aqidah, Syariah, & Akhlaq, (Bandung: Marja, 2001), h. 159
41
sesuatu yang tergores di dalam hatimu dan kamu tidak senang bila orang lain mengetahuinya. (HR. Muslim).” 43
Kata yang kedua adalah Walidain (
ﻦﯾﺪﻟاو
) yang memiliki maknakedua orang tua. Sehingga arti dari Birrul Walidain adalah berbakti
kepada orang tua.
3. Kedudukan Birrul Walidain Dalam Islam
Allah SWT berfirman didalam Surat Al-An’am ayat 151,
اﻮُﻠُﺘْﻘَﺗ ﻻَو ﺎًﻧﺎَﺴْﺣِإ ِﻦْﯾَﺪِﻟاَﻮْﻟﺎِﺑَو ﺎًﺌْﯿَﺷ ِﮫِﺑ اﻮُﻛِﺮْﺸُﺗ ﻻَأ ْﻢُﻜْﯿَﻠَﻋ ْﻢُﻜﱡﺑَر َمﱠﺮَﺣ ﺎَﻣ ُﻞْﺗَأ اْﻮَﻟﺎَﻌَﺗ ْﻞُﻗ
َﻦَﻄَﺑ ﺎَﻣَو ﺎَﮭْﻨِﻣ َﺮَﮭَظ ﺎَﻣ َﺶِﺣاَﻮَﻔْﻟا اﻮُﺑَﺮْﻘَﺗ ﻻَو ْﻢُھﺎ�