AGAMA ISLAM DI SMA MUHAMMADIYAH 3 JAKARTA
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Oleh
Prasetyo Andi Sabarkah
NIM 109011000180
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF
HIDAYATULLAH
i Kata Kunci: Media Audio Visual, Hasil Belajar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran yaitu dengan menggunakan media audio visual dalam hal ini menggunakan film dokumenter tatacara Ibadah Haji terhadap hasil pembelajaran siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dan apakah ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode quasi eksperimen, penelitian ini dilakukan di SMA Muhammadiyah 3 Jakarta. Sampel penelitian berjumlah 26 untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Istrumen penelitian yang digunakan adalah berupa tes pilihan ganda sebanyak 20 soal yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Teknik analisa data menggunakan uji liliefors unutk menguji normalitas data, uji fisher untuk menguji homogenitas data, dan uji-t untuk menguji hipotesis. Hasil perhitungan menunjukan bahwa penelitian ini berdistribusi dan normal dan homogen.
(Documentary Procedures Hajj) Against Student Results In the Subject of Islamic Education in SMA 3 Jakarta Muhammadiyah.Keywords: Media Audio Visual, Learning Outcomes
This study aims to determine the effect of the use of learning media by using audio-visual media in this case using the documentary procedures for Hajj to the learning outcomes of students on the subjects of Islamic Education. And is there a difference in student learning outcomes between experimental class and control class.
The method used in this study is a quasi-experimental methods, this study was conducted in SMA Muhammadiyah 3 Jakarta. These samples included 26 for the experimental class and control class. Istrumen research is in the form of a multiple choice test of 20 questions that have been tested for validity and reliability. Data analysis technique using fatherly Liliefors test data normality test, Fisher test to test the homogeneity of the data, and the t-test to test the hypothesis. Calculation shows that this research and the normal distribution and homogeneous.
ii
Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah SWT Tuhan semesta alam
yang telah memberikan rahmat, nikmat, taufik dan hidayah-Nya yang sangat
besar yang salah satunya berupa kesempatan kepada penulis untuk
menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ Pengaruh Penggunaan Media Audio
Visual Terhadap Hasil Belajar Siswa”.
Sholawat beserta salam senantiasa selalu disampaikan kepada Nabi kita
Rasulullah SAW yang telah mengantarkan kita kepada jalan Allah SWT.
Semoga kita semua senantiasa diberi syafaat beliau dihari pembalasan nanti.
Dengan terselesaikannya skripsi ini tentu tidak terlepas dari bimbingan dan
dorongan berbagai pihak. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yaitu :
1. Ibu Nurlena Rifa'i, Ph. D. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Uin Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Dr. Abdul Majid Khon, M. Ag Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Marhamah Saleh, Lc. MA Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam
Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Seluruh Bapak/Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Agama Islam yang telah
memberikan ilmu yang berguna bagi diri pribadi selama perkuliahan.
5. Bapak Dimyati, MA selaku Dosen Pembimbing Akademik
6. Bapak M. Ramdon Dasuki, Lc. MA selaku Kepala Sekolah SMA
Muhammadiyah 3 Jakarta yang telah memberikan izin kepada penulis
untuk melakukan penelitian.
7. Bapak Mulyadi, SAg, Ibu Terra Sa‟adah, S.Pd, Husnul Khotimah, S.Pd.I
sebagai Guru Bidang ISMUBA di SMA Muhammadiyah 3 Jakarta, Bapak
iii
dan do‟a yang tak pernah putus sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini.
9. Calon Pendamping hidupku Nasrifah Rarasningtyas SE, dan adik-adikku
tersayang Rizki dan Sifa yang telah memberikan dorongan, semangat dan
motivasi tiada hentinya kepada penulis.
10.Untuk mba Siti Hadijah M. Si, Bude Nari, Pakde Ripno, dan seluruh
keluarga besar Sabar Sidik, terimakasih telah membantu dan memberikan
fasilitas kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
11.Untuk Sahabat-sahabatku Dwi Oktorianto SPd.I, Mardhaney SPd.I Ervina
Seli Rusiani SPd.I, Hazana Itriya Spd.I, Rifki Oktorio SE, Marhaban,
Yayan dan teman-teman seperjuangan yang lain terimakasih telah
memberikan semangat dan bantuan kepada penulis.
12.Serta semua pihak yang berjasa dalam penyusunan skripsi ini yang tidak
dapat disebutkan satu persatu. Penulis berharap semoga Allah memberikan
semoga Allah memberikan kebaikan dan padala kepada kita semua amiin
dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi semua
pihak yang membacanya. Amin ya Robbal „Alamin.
Jakarta, 20 Juli 2014
Penulis
iv HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
ABSTRAK... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iv
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR... viii
DAFTAR LAMPIRAN... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6
C. Pembatasan Masalah ... 7
D. Perumusan Masalah ... 7
E. Tujuan Penelitian ... 7
F. Kegunaan Penelitian ... 8
BAB II LANDASAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Media Audio Visual ... 9
1. Pengertian Media Audio Visual ... 9
2. Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Audio Visual... 12
3. Fungsi Media Audio Visual ... 12
4. Macam-Macam Media Audio Visual ... 13
5. Kelebihan dan Kekurangan Media Audio Visual ... 14
v
C. Hasil Belajar ... 24
1. Pengertian Hasil Belajar ... 24
2. Klasifikasi Hasil Belajar ... 26
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 28
D. Hasil Penelitian yang Relevan... 30
. E. Kerangka Berpikir ... 31
F. Hipotesis Penelitian ... 34
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan WaktuPenelitian ... 35
B. Metode dan Desain Penelitian ... 35
C. Variabel Penelitian ... 36
D. Populasi dan Sampel ... 37
E. Teknik Pengumpulan Data ... 38
F. Teknik Analisis Data... 56
1. Uji Normalitas ... 56
2. Uji Homogenitas ... 56
3. Pengujian Hipotesis ... 57
G. Hipotesis Statistika ... 57
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil SMA Muhammadiyah 3 Jakarta... 58
1. Sejarah SMA Muhammadiyah 3 Jakarta... 58
2. Visi dan Misi SMA Muhammadiyah 3 Jakarta ... 59
3. Guru dan Tenaga Kependidikan SMA Muhammadiyah 3 ... 59
4. Struktur Organisasi SMA Muhammadiyah 3 ... 60
vi
D. Pengujian Hipotesis ... 66
1. Uji Hipotesis Penelitian ... 66
2. Pembahasan Hasil Penelitian ... 66
E. Keterbatasan Penelitian ... 68
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Kesimpulan ... 70
B. Implikasi ... 71
C. Saran-saran ... 71
DAFTAR PUSTAKA ... 72
vii
Tabel 3.3 Hasil uji validitas instrumen 41
Tabel 3.4 Hasil uji reliabilitas tes 42
Tabel 3.5 Hasil uji taraf kesukaran instrumen soal 43
Tabel 3.6 Hasil uji daya pembeda 44
Tabel 3.7 Kisi-kisi instrumen test 44
Tabel 4.1 Jumlah Siswa Keseluruhan SMA Muhammadiyah 3 61
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelas Eksperimen 62
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelas Kontrol 62
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelas Eksperimen 63
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelas Kontrol 63
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol dan Eksperimen 65
Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelas Kontrol dan Eksperimen 65
viii
ix
Lampiran 3 : RPP Kelas Eksperimen Pertemuan Ke-3 85
Lampiran 4 : RPP Kelas Kontrol Pertemuan Ke-1 90
Lampiran 5 : RPP Kelas Kontrol Pertemuan Ke-2 94
Lampiran 6 : RPP Kelas Kontrol Pertemuan Ke-3 98
Lampiran 7 : Kisi-kisi soal ujicoba instrumen 102
Lampiran 8 : Soal Pretest dan Posttest 106
Lampiran 9 : Signifikansi Korelasi 109
Lampiran 10: Nilai Pretest Kelas Eksperimen 110
Lampiran 11: Nilai Pretest Kelas Kontrol 111
Lampiran 12: Nilai Posttest Kelas Eksperimen 112
Lampiran 13: Nilai Posttest Kelas Kontrol 113
Lampiran 14: Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Eksperimen 114
Lampiran 15: Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Kontrol 116
Lampiran 16: Distribusi Frekuensi Posttest Kelas Eksperimen 118
Lampiran 17: Distribusi Frekuensi Posttest Kelas Kontrol 120
Lampiran 18: Uji Normalitas Pretest Kelas Eksperimen 122
Lampiran 19: Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol 123
Lampiran 20: Uji Normalitas Posttest Kelas Eksperimen 124
Lampiran 21: Uji Normalitas Posttest Kelas Kontrol 125
Lampiran 22: Hasil Uji Homogenitas 126
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Memasuki zaman yang sedang berkembang kita harus cerdas dalam memanfaatkan segala sesuatunya, jangan sampai kita tidak bisa memanfaatkan
perkembangan zaman ini dengan hanya bergantung pada segala sesuatu yang
berasal dari masa lampau sehingga anda bisa disebut dengan jadul atau kurang
up to date. Perkembangan tersebut diantaranya berkaitan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana perkembangan itu
telah membawa perubahan diberbagai aspek kehidupan manusia, baik dalam
bidang ekonomi, sosial, budaya, maupun pendidikan.
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
"
مكنام يغ ام يف مكداوأ او لع
"Artinya : "Ajarkanlah anak-anak kalian apa yang ada di zaman ini maupun selain di zaman-zaman kalian".
Hadits di atas mengandung unsur perintah, dimana hadits tersebut
memiliki makna bahwa dalam proses pembelajaran tidak lepas dari konteks
perkembangan teknologi yang menyertainya.
Teknologi dalam pendidikan adalah penerapan teknologi terhadap
dalam usaha pendidikan. Teknologi tersebut dapat juga diterapkan terhadap
makanan, kesehatan, keuangan, pembuatan jadwal, pelaporan nilai, dan
lain-lain proses yang menunjang pendidikan dalam kerangka kelembagaan.
Teknologi dalam pendidikan tidak sama dengan teknologi pendidikan.1
Teknologi pendidikan mempunyai karakteristik tertentu yang sangat
relevan bagi kepentingan pendidikan. Teknologi pendidikan memungkinkan
adanya (1) penyebaran informasi secara luas, merata, cepat, seragam dan
terintegrasi, sehingga dengan demikian pesan dapat disampaikan sesuai dengan
isi yang dimaksud, (2) teknologi pendidikan dapat menyajikan materi secara
logis, ilmiah dan sistematis serta mampu melengkapi, menunjang, memperjelas
konsep-konsep, prinsip-prinsip atau proposisi materi pelajaran, (3) teknologi
pendidikan menjadi partner guru dalam rangka mewujudkan proses belajar
mengajar yang efektif, efisien dan produktif sesuai dengan kebutuhan dan
tuntutan anak didik, (4) teknologi pendidikan dapat dimanfaatkan sebagai
sumber belajar, dapat menyajikan materi secara lebih menarik, lebih-lebih jika
disertai dengan kemampuan memanfaatkannya.2
Di bidang pendidikan, peran guru untuk mendidik peserta didik menjadi
manusia yang selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar
budaya yang sangat penting dalam menentukan perjalanan generasi bangsa ini.
Guru dituntut menjadi pendidik yang bisa menjembatani
kepentingan-kepentingan itu. Tentu saja melalui usaha-usaha nyata yang bisa diterapkan
dalam mendidik peserta didiknya.3
Sebagaimana diketahui metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(PAI) selama ini secara umum tidak kunjung berubah. Pembelajaran secara
konvensional-tradisional dan monoton sehingga membosankan peserta didik.
Hal ini akan berdampak pada aktivitas belajar siswa. Sering sekali ditemukan
siswa tidak memusatkan perhatian dan pikirannya terhadap penjelasan yang
1 Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT, Definisi Teknologi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 1994), Cet. 2, h. 2-3.
2 Sudarwan Danim, Media Komunikasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), Cet. 3, h. 3-4.
diberikan guru didepan kelas, tidak konsentrasi, ngobrol atau mengerjakan
tugas pelajaran lain.
Selain itu, tugas utama guru adalah membelajarkan siswa, yaitu
mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya yang bersifat
kognitif, afektif dan psikomotorik dapat berkembang dengan maksimal.
Dengan belajar aktif yaitu melalui partisipasi dalam setiap kegiatan
pembelajaran, akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa
untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan
membentuk life skill ( kecakapan hidup). Sebagaimana Allah SWT berfirman
dalam surat An-Nahl ayat 125:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk".
Pada ayat tersebut mengandung tiga hal pokok yang berkaitan dengan
mengajar yang baik, pertama, guru harus bersikap bijaksana dalam
menyampaikan bahan ajaran kepada murid. Kedua, guru menggunakan cara
yang baik dan tepat dalam menyampaikan ajarannya yang dapat mengantarkan
kepada tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, guru membina sikap aktif siswa
Oleh karena itu, agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) tersebut perlu adanya
penyesuaian-penyesuaian, terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi proses pembelajaran sebagaimana kita ketahui proses
pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor internal dan faktor
eksternal, faktor internal merupakan kondisi internal siswa dalam memberikan
respon pembelajaran, sementara faktor eksternal adalah faktor-faktor yang
datang dari luar kondisi siswa seperti kurikulum, model belajar dan fasilitas
belajar. Fasilitas belajar di dalamnya termasuk media belajar yang berfungsi
memudahkan siswa untuk memahami suatu pelajaran, keberadaan teknologi di
lingkungan masyarakat pelajar dapat digunakan secara baik sebagai media
yang mempermudah proses pembelajaran.
Salah satu faktor eksternal adalah media pembelajaran yang perlu
dipahami oleh guru, sehingga mereka dapat menyampaikan materi
pembelajaran kepada siswa secara efisien dan efektif. Pada dasarnya fungsi
utama media pembelajaran adalah sebagai sumber belajar. Fungsi-fungsi yang
lain merupakan hasil pertimbangan pada kajian ciri-ciri umum yang
dimilikinya, bahasa yang dipakai menyampaikan pesan dan dampak atau efek
yang ditimbulkannya.4
Selain itu juga media dapat berfungsi sebagai sebuah solusi untuk
menghilangkan kejenuhan siswa dalam belajar, apalagi disaat jam-jam terakhir
sekolah yang merupakan jam rawan dalam mengajar dimana siswa sudah
merasa lelah dan bosan setelah belajar seharian semenjak tadi pagi.
Dunia pendidikan saat ini tidak luput dari teknologi modern, walaupun
masih sangat minim dan hanya beberapa sekolah saja mungkin yang sudah
menggunakan teknologi modern tapi paling tidak disetiap kelas sudah mulai
ada yang menggunakan LCD Viewer/proyektor. Penggunaan alat-alat modern
memang seharusnya sudah suatu kebiasaan yang diterapkan dalam dunia
pendidikan, sudah tidak saatnya guru mengajar dikelas hanya dengan bantuan
papan tulis dan spidol. Dengan perkembangan teknologi pada saat ini, seorang
guru harus bisa mempergunakan alat teknologi sebagai media pembelajaran
yang efektif, sehingga dengan berkembangnya teknologi pendidikan tersebut
menjadikan proses pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Khususnya pada usia anak-anak, pendidikan dengan menggunakan media
modern, sebut saja media elektronik tentunya akan lebih menarik perhatian
daripada yang didapatkan dari guru saja.
Guru tidaklah dipahami sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi dengan
posisinya sebagai peran penggiat dalam proses optimalisasi diri siswa untuk
menghasilkan perubahan perilaku yang relatif permanent (kualitas ideal) harus
mampu merencana dan mencipta sumber-sumber belajar lainnya sehingga
tercipta lingkungan belajar yang kondusif. Sumber-sumber belajar selain guru
inilah yang disebut sebagai penyalur atau penghubung pesan ajar yang
diadakan dan/atau diciptakan secara terencana oleh para guru atau pendidik,
biasanya dikenal sebagai “media pembelajaran”. Dengan demikian, komponen
-komponen komunikasi pembelajaran menjadi komunikator, komunikan, pesan,
dan media.5
Banyak guru yang memberikan pengajaran identik hanya dengan metode
ceramah, ini berdasarkan pengalaman penulis sulit untuk dicerna oleh siswa.
Lebih dari 2400 tahun yang lalu Confucius menyatakan bahwa “apa yang saya
dengar, saya lupa”,”apa yang saya lihat, saya ingat”,”apa yang saya lakukan,
saya paham”. Terdapat beberapa alasan yang kebanyakan orang cenderung
melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu alasan yang paling menarik
adalah perbedaan tingkat kecepatan bicara pengajar dengan tingkat kecepatan
kemampuan siswa mendengarkan.6
Selain hanya menggunakan metode ceramah, kebanyakan guru juga tidak
memanfaatkan media yang ada seperti proyektor dan laptop, sehingga yang
terjadi hanya kejenuhan yang didapatkan oleh siswa karena hanya
mendengarkan saja maka kira-kira hanya 20% saja informasi yang bisa
5 Ibid., h. 5.
diingatnya. Sehingga pada saat diberikan soal-soal untuk di jawab hanya siswa
yang memiliki intelejen tinggi saja yang dapat menjawab. Karena pengajaran
yang disampaikan kurang interaktif juga berdampak pada kurang aktifnya
siswa dalam menguasai materi atau bahan ajar yang diberikan guru. Hanya
sebagian kecil saja siswa yang memiliki minat dan kemampuan intelejen tinggi
saja yang aktif mencari, memahami materi dan mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan atau tugas dari guru yang lain hanya menunggu dan menyalin
jawaban temannya. Akhirnya dapat dipahami jika pada akhirnya siswa yang
mampu mencapai dan melampaui kriteria ketuntasan minimal (KKM) sangat
minim sekali.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, sebagai upaya pengembangan
dalam proses belajar mengajar lebih variatif, dalam proses pembelajaran perlu
adanya media pembelajaran, maka penulis bermaksud membahas dalam skripsi
ini, dengan judul "Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual (Film
Dokumenter Tatacara Ibadah Haji) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada
Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 3
Jakarta"
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diperoleh masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Kurangnya keterampilan guru dalam memanfaatkan media audio visual
yang berada di ruang multimedia.
2. Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran masih
konvensional dalam menyampaikan materi sehingga kurang menarik dan
kurang memberikan kontribusi yang maksimal terhadap aktivitas siswa.
3. Kurangnya aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar di kelas, siswa
hanya duduk manis mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru.
4. Hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam belum
C.
Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas dan mengingat luasnya permasalahan yang dibahas, maka penulis membatasi permasalahan yang ada
hanya pada penggunaan media audio visual yang masih kurang dimanfaatkan
oleh guru sehingga hasil belajar siswa dalam hal ini hanya pada aspek kognitif
masih rendah pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam atau biasa disebut
Al-Islam pada materi pokok "Ibadah Haji" pada siswa SMA Muhammadiyah
3 Jakarta kelas X.
D.
Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah
diuraikan di atas maka pokok permasalahan penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pelaksanaan penggunaan media audio visual dalam
pembelajaran PAI pada materi pokok "Ibadah Haji" di kelas X di SMA
Muhammadiyah 3 Jakarta?
2. Apakah hasil belajar PAI pada materi pokok "Ibadah Haji" dapat
ditingkatkan dengan penggunaan media audio visual di kelas X SMA
Muhammadiyah 3 Jakarta?
E.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang akan dicapai
dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengungkapkan implementasi penggunaan media audio visual
dalam pembelajaran PAI pada materi pokok "Ibadah Haji" di kelas X
SMA Muhammadiyah 3 Jakarta.
2. Untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar PAI pada materi pokok
"Ibadah Haji" dapat ditingkatkan dengan penggunaan media audio visual
F.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi: 1. Bagi Siswa
Siswa dapat memahami materi pelajaran dengan mudah, terutama
pada materi pokok "Ibadah Haji" dengan membuat siswa lebih aktif,
kreatif, dan inovatif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar serta
meningkatkan rasa syukur dan keimanan terhadap Allah SWT.
2. Bagi Guru
Sebagai khasanah ilmu pengetahuan guru dalam pemanfaatan media
audio visual dan sebagai upaya memperkaya pemahaman tentang
media audio visual sebagai salah satu variasi strategi pembelajaran
sehingga mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai praktik pembelajaran
secara nyata di sekolah dan sebagai bukti pengamalan dari ilmu yang
telah diperoleh selama pendidikan di perguruan tinggi.
4. Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai upaya untuk
perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran serta memberikan
sumbangan kepada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran
9
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Media Audio Visual
1. Pengertian Media Audio Visual
Istilah media audio visual merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita dimana kata media audio visual itu terdiri dari tiga kata yaitu media,
audio, dan visual. Adapun untuk lebih jelasnya peneliti jelaskan satu persatu,
yang pertama adalah media selanjutnya adalah audio dan terakhir adalah
visual.
Menurut Arif S. Sadiman, "Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari
pengirim ke penerima pesan".1
Menurut Association for Education and Communication Technology
(AECT) seperti dikutip Yusufhadi Miarso, "Media sebagai segala bentuk dan
saluran untuk proses transmisi informasi".2
1 Arief S. Sadiman, et. al, Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2006), h. 6.
Media yang berarti bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk
menyampaikan atau menyebar ide, gagasan, atau pendapat sehingga ide,
pendapat atau gagasan yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang
dituju. Apabila media itu membawa pesan atau informasi yang bertujuan
instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran, maka media itu
disebutmedia pembelajaran.3
Selain itu Yudhi Munadhi dalam bukunya media pembelajaran sebuah
pendekatan baru, juga mengatakan bahwa:
Kata media berasal dari Bahasa Latin, yakni medius yang secara harfiahnya berarti 'tengah', 'pengantar' atau 'perantara'. Dalam bahasa Arab, media disebut 'wasail' bentuk jama' dari 'wasilah' yakni sinonim al-wasth yang artinya juga 'tengah'. Kata 'tengah' itu sendiri berarti berada di antara dua sisi, maka disebut juga sebagai 'perantara' (wasilah) atau yang mengantarai kedua sisi tersebut. Karena posisinya berada di tengah ia bisa juga disebut sebagai pengantar atau penghubung, yakni mengantarkan atau menghubungkan atau menyalurkan sesuatu hal dari satu sisi ke sisi yang lainnya.4
Setelah melihat beberapa definisi di atas maka penulis dapat memahami
bahwa media menurut istilah para ahli banyak yang mengartikannya menurut
pemahamannya masing-masing, akan tetapi bila dilihat dari segi bahasa media
yang berarti perantara, pengantar, tengah, ataupun penghubung. Maka dari itu
menurut pemahaman penulis bahwa media itu merupakan sebuah perantara
atau pengantar yang digunakan untuk mengantarkan sesuatu yang bisa di antar,
sebagai sebuah wasilah atau perantara untuk menyampaikan sesuatu.
Menurut perkembangannya, dahulu media hanya dianggap sebagai alat
bantu mengajar guru (teaching aids). Dan alat bantu tersebut hanya berupa alat bantu visual, namun pada sekitar abad ke-20 pengaruh teknologi audio masuk
dan melengkapi alat bantu visual sehingga kita kenal adanya alat audio visual
atau audio visual aids (AVA).5
3 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h. 4. 4 Yudhi Munadi, Media Pembelajaran (sebuah pendekatan baru), (Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2008), Cet. 1, h. 6.
Menurut Save M. Dagun, "Audio adalah hal-hal yang berhubungan dengan
suara atau bunyi".6
Sedangkan Menurut Arief S. Sadiman, "Audio berkaitan dengan indera
pendengaran, pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam
lambang-lambang auditif, baik verbal (kedalam kata-kata/ bahasa lisan) maupun non
verbal".7
Menurut Save M. Dagun, "Visual adalah hal-hal yang berkaitan dengan
penglihatan; berfungsi sebagai penglihatan diterima melalui indera
penglihatan; dihasilkan atau terjadi sebagai gambaran dalam ingatan".8
Menurut Amir Hamzah, "Audio visual berasal dari kata audible dan
visible, audible yang artinya dapat didengar, visible artinya dapat dilihat".9 Menurut Soegarda, "Audio visual adalah alat peraga yang bisa ditangkap
dengan indra mata dan indra pendengaran yakni yang mempunyai unsur suara
dan unsur gambar".10
Sependapat dengan Soegarda Yudhi Munadi juga berpendapat bahwa,
"Media audio visual adalah media yang melibatkan indera pendengaran dan
penglihatan sekaligus dalam satu proses".11
Apabila dilihat dari beberapa definisi di atas maka Media Audio Visual
adalah sebuah perantara, wasilah, atau penghantar sebuah pesan atau
menyampaikan sesuatu, dimana dalam proses tersebut melibatkan dua indera
yaitu indera penglihatan dan indra pendengaran.
6 Save M. Dagun, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara (LPKN), 2006), h. 81.
7 Arief S. Sadiman, et. al, Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2006), h. 49.
8 M. Dagun, Op. cit., h. 1188.
9 Amir Hamzah Sulaeiman, Media Audio-Visual untuk Pengajaran, Penerangan, dan Penyuluhan, (Jakarta: PT. Gramedia, 1985), h. 11.
10 Soegarda Poerbakawatja H. A. H Harahap, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), h. 32.
2. Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Audio Visual
Media Audio Visual digunakan dalam upaya peningkatan atau
mempertinggi mutu proses kegiatan belajar mengajar. Agar dapat
mengoptimalkan peranan media pembelajaran yang digunakan untuk mencapai
tujuan pembelajaran, maka harus diperhatikan prinsip-prinsip penggunaannya.
Prinsip-prinsip penggunaan media audio visual yang dikemukakan oleh M. Basyirudin Usman dan Asnawir pada dasarnya ada 6, yaitu: (1) Penggunaan media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai bagian integral dari suatu sistem pengajaran, (2) Media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang digunakan dalam pemecahan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar, (3) Guru harus benar-benar menguasai teknik dari media pembelajaran yang digunakan, (4) Guru harus memperhitungkan untung ruginya penggunaan media pembelajaran, (5) Penggunaan media pengajaran harus diorganisir secara sistematis bukan sembarangan menggunakannya, (6) Jika suatu pokok bahasan memerlukan lebih dari satu macam media maka guru dapat memanfaatkan multimedia yang memperlancar proses belajar mengajar.12
3. Fungsi Media Audio Visual
Media merupakan salah satu ide yang sangat tepat dalam menyiasati
kejenuhan peserta didik karena pembelajaran dengan menggunakan media
dirasa cukup efektif dan dapat menggairahkan semangat mereka dalam
mengikuti jalannya proses belajar mengajar. Media audio visual mempunyai
berbagai macam fungsi, seperti yang dikatakan Yusuf Hadi Miarso, yaitu:
a. Media mampu memberikan rangsangan yang bervariasi pada otak, sehingga otak dapat berfungsi secara optimal;
b. Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para siswa;
c. Media dapat melampaui batas ruang kelas;
d. Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dan lingkungannya;
e. Media menghasilkan keseragaman pengamatan; f. Media membangkitkan keinginan dan minat baru;
g. Media membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar;
h. Media memberikan pengalaman yang integral dari sesuatu yang konkret maupun abstrak;
i. Media memberikan kesempatan siswa untuk belajar mandiri, pada tempat dan waktu serta kecepatan yang ditentukan sendiri;
j. Media dapat meningkatkan kemampuan ekspresi diri guru maupun siswa. 13
4. Macam-Macam Media Audio Visual
Media audio-visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur
gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena
meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua. Media ini dibagi lagi ke
dalam dua kategori sebagaimana dikatakan Syaiful Bahri, yaitu:
a. Audio-visual diam yaitu: media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti: film bingkai suara, film rangkai suara, dan cetak suara. b. Audio-visual gerak yaitu: media yang dapat menampilkan unsur suara dan
gambar yang bergerak seperti: film suara dan video-cassette, televisi, OHP, dan komputer.14
Berbicara masalah Audio Visual gerak sebagaimana yang telah dikutip di
atas, sehubungan peneliti yang lebih fokus kepada jenis audio visual gerak,
Berikut akan peneliti uraikan beberapa penjelasan tentang macam-macam
media audio visual gerak, sebagaimana dikatakan M. Basyirudin Usman dan
Asnawir, yaitu:
a. Film;
Film yang dimaksudkan disini adalah film sebagai alat audio visual untuk
pelajaran, penerangan dan penyuluhan. Banyak hal-hal yang dapat dijelaskan
melalui film.15
Selain itu Fatah Syukur juga mengemukakan bahwa, "Film merupakan
salah satu media yang dianggap efektif digunakan sebagai alat bantu
pengajaran." 16
Sebagaimana kutipan di atas Film dapat diputar didepan siswa dalam
rangka membantu siswa dalam proses belajar. Dengan film, dapat melengkapi
pengalaman-pengalaman dasar, memancing inspirasi baru, menarik perhatian,
13Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2004), h. 458-460.
14 Syaiful Bahri Djamarah, Azwan Zaian, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h.141
15M. Basyiruddin Usman dan H. Asnawir, Media Pembelajaran, (Jakarta: Delia Citra Utama, 2002), h. 95.
penyajiannya lebih baik karena mengandung nilai-nilai rekreasi, dapat
memperlihatkan perlakuan objek yang sebenarnya, menjelaskan hal-hal abstrak
dan lain-lain.
b. Televisi
Televisi dianggap barang mewah karena sulit dijangkau. Menurut Yusuf
Hadi Miarso, penggunaan TV dapat dilakukan dengan berbagai alternatif
sebagai berikut:
1) Televisi siaran, yaitu pemancaran melalui saluran televisi umum dengan bebas pancaran meluas atau tidak tertuju kearah tertentu dan bersifat terbuka, (open sircuit);
2) Televisi rangkaian tertutup yang panacarannya tidak dapat melalui kabel kuasial atau gelombang mikro diperlukan penerimaan khusus; 3) Televisi pengajaran dengan pelayanan tertentu (instructional TV
fixed service) yaitu sistem pemancaran dan penerimaan TV pada frekuensi istimewa yang khusus dialokasikan;
4) TV slow scan yaitu sistem pemancaran gambar mati secara bertahap dengan melalui saluran telepon atau radio biasa;
5) TV time shared yaitu rangkaian sistem yang satu-satunya saluran TV memancarkan, misalnya, 300 gambar mat kepada 300 penonton yang berlainan, masing-masing untuk 30 detik;
6) Tele black board, yaitu suatu tehnik yang dikembangkan oleh ITB yang bekerja sama dengan TH Delf yang mampu memancarkan secara serentak suara tulisan dan garis yang dibuat disebidang papan khusus.17
5. Kelebihan dan Kekurangan Media Audio Visual
Media Audio Visual telah hadir dan ikut berpartisipasi dalam dunia
pendidikan ini telah memiliki berbagai peranan dan kelebihan, namun
disamping itu terdapat pula kelemahan dari media audio visual tersebut,
Kelebihan Audio Visual sebagaimana yang dikatakan Amir Hamzah, yaitu:
a. Membuahkan hasil belajar lebih baik, karena semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan;
b. Siswa akan belajar lebih banyak daripada jika materi pelajaran disajikan hanya dengan stimulus dengar saja atau dengan stimulus pandang saja.18
17Ibid., h. 31.
Sedangkan, Kelemahan Audio Visual sebagaimana yang dikatakan Nana
Sudjana, yaitu:
a. Terlalu menekankan pentingnya materi (bahan-bahan audio visual) ketimbang proses pengembangannya, seperti: desain, prouksi, dan evaluasi;
b. Tetap memandang materi audio visual sebagai alat bantu guru dalam mengajar, sehingga keterpaduan antara bahan-bahan dan alat bantu tersebut diabaikan.19
Selain itu, Arief S, Sadiman juga mengatakan bahwa media audio visual memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
a. Perhatian sulit dikuasai, partisipasi siswa jarang dipraktikkan; b. Sifat komunikasinya hanya satu arah dan harus diimbangi dengan
pencarian umpan balik yang lain kurang mampu menampilkan detail dari objek yang disajikan secara sempurna.20
B.
Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam merupakan sebuah cabang ilmu yang sangat luas,
oleh karena itu sebelum membahas pengertian Pendidikan Agama Islam,
penulis akan terlebih dahulu mengemukakan arti pendidikan pada umumnya.
Ramayulis dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pendidikan Islam
mengatakan bahwa:
Istilah pendidikan berasal dari kata didik dengan memberinya awalan "pe" dan akhiran "kan" mengandung arti perbuatan (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan education yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan tarbiyah, yang berarti pendidikan.21
Selain itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "Pendidikan adalah
proses pengubahan sikap, dan tata laku seseorang, atau kelompok orang, dalam
19 Nana Sudjana, Teknologi Pengajaran, (Bandung : Sinar Baru Al-Gensindo, 2001), h. 58. 20Arief S. Sadiman, Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. 75.
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses,
cara, perbuatan mendidik."22
Nur Uhbiyati mengatakan bahwa:
Bilamana pendidikan kita artikan sebagai latihan mental, moral dan fisik (jasmaniah) yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas kewajiban dan tanggung jawab dalam masyarakat selaku hamba Allah, maka pendidikan berarti menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa tanggung jawab. Usaha kependidikan bagi manusia menyerupai makanan yang berfungsi memberikan vitamin bagi pertumbuhan manusia.23
Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa, "Pendidikan adalah bimbingan atau
pimpinan yang dilakukan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan
jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama".24
Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara, "Pendidikan yaitu tuntunan di
dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya pendidikan yaitu
menuntun kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai
manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan
kebahagian yang setinggi-tingginya".25
Menurut Dr Ahmad Tafsir, "Pendidikan adalah berbagai usaha yang
dilakukan oleh seseorang (pendidik) terhadap seseorang (anak didik) agar
tercapai perkembangan maksimal yang positif. Usaha itu banyak macamnya.
Satu diantaranya adalah dengan cara mengajarnya, yaitu mengembangkan
pengetahuan dan keterampilannya".26
Dari semua definisi itu dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah
sebuah istilah yang memiliki berbagai macam pengertian, bagi orang awam
mungkin pendidikan itu adalah mengajarkan murid di sekolah, melatih anak
untuk hidup sehat, mengajari sopan santun kepada orang yang lebih tua, dan
22
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, jilid IV,(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 326.
23 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam II, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999) Cet II, h. 12. 24Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-maarif, 1981), Cet. V, h. 19.
25Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), Cet. IV, h. 4.
lain-lain sudah cukup bagi orang awam semua hal itu dianggap sebagai
pendidikan mungkin bagi mereka "pendidikan ialah sekolah" sebenarnya
pendidikan ini sangat luas pengertiannya akan tetapi bila mendefinisikan
pendidikan dalam arti sempit saja maka pendidikan itu merupakan sebuah
usaha baik itu berupa bimbingan, pimpinan ataupun tuntutan sebagaimana
definisi di atas yang diberikan kepada siswa dimana usaha tersebut pada
dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengembangkan potensi siswa
sehingga menjadikan siswa tersebut lebih baik lagi dan berkembang secara
maksimal.
Seperti yang tercantum pada pengertian pendidikan menurut UU
SISDIKNAS No. 20 tahun 2003:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.27
Pendidikan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah pendidikan
agama Islam. Adapun kata Islam dalam istilah Pendidikan Islam menunjukkan
sikap pendidikan tertentu yaitu pendidikan yang memiliki warna-warna Islam.
Untuk memperoleh gambaran yang mengenai pendidikan agama Islam, berikut
ini beberapa defenisi mengenai pendidikan Agama Islam.
Menurut Ahmad Marimba, "Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan
jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada
terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam".28
Sedangkan menurut Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Islam memiliki arti berikut ini, yaitu:
Pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai
27 UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003, Pengertian Pendidikan.
suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat kelak.29
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan
Agama Islam adalah suatu proses bimbingan jasmani dan rohani yang
berlandaskan ajaran Islam dan dilakukan dengan kesadaran untuk
mengembangkan potensi anak menuju perkembangan yang maksimal, sehingga
terbentuk kepribadian yang memiliki nilai-nilai Islam.
2. Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam
Dasar atau fundamen dari suatu bangunan adalah bagian dari bangunan
yang menjadi sumber kekuatan dan keteguhan tetap berdirinya bangunan itu.
Pada suatu pohon dasar itu adalah akarnya.
Fungsinya sama dengan fundamen tadi, mengeratkan berdirinya pohon itu.
Demikian fungsi dari bangunan itu.Fungsinya ialah menjamin sehingga
"bangunan" pendidikan itu teguh berdirinya. Agar usaha-usah yang terlingkup
di dalam kegiatan pendidikan mempunyai sumber keteguhan, suatu sumber
keyakinan: Agar jalan menuju tujuan dapat tegas dan terlihat, tidak mudah
disampingkan oleh pengaruh-pengaruh luar. Singkat dan tegas dasar
pendidikan Islam ialah Firman Tuhan dan sunah Rasulullah SAW.30
Kalau pendidikan diibaratkan bangunan maka isi al-Qur'an dan haditslah
yang menjadi fundamen.
Dasar-dasar pendidikan agama Islam dapat ditinjau dari beberapa segi
memiliki dua dasar sebagaimana yang dikemukakan oleh Zuhairini, yaitu:
a. Dasar Religius
Yang dimaksud dengan dasar religius adalah dasar-dasar yang bersumber dari ajaran agama Islam yang tertera dalam al-Qur'an maupun al-hadits. Menurut ajaran Islam, bahwa melaksanakan pendidikan agama Islam adalah merupakan perintah dari Tuhan dan merupakan ibadah kepada-Nya;
29Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 1992), Cet. II, h. 86.
30
b. Dasar Yuridis Formal
Menurut Zuhairini dkk, yang dimaksud dengan Yuridis Formal pelaksanaan pendidikan agama Islam yang berasal dari perundang-undangan yang secara langsung atau tidak langsung dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama Islam, di sekolah ataupun di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia.31
Selain itu Abdul Majid dan Dian Andayani juga mengemukakan beberapa
dasar-dasar pendidikan agama islam, yaitu:
a. Dasar Ideal
Yang dimaksud dengan dasar ideal yakni dasar dari falsafah Negara: Pancasila, dimana sila yang pertama adalah ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mengandung pengertian, bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, atau tegasnya harus beragama.
b. Dasar Konsitusional/Struktural
Yang dimaksud dengan dasar konsitusioanl adalah dasar UUD tahun 2002 Pasal 29 ayat 1 dan 2, yang berbunyi sebagai berikut:
Negara berdasarkan atas Tuhan Yang Maha Esa
“Negara menjamin tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya ". Bunyi dari UUD di atas mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia harus beragama, dalam pengertian manusia yang hidup di bumi Indonesia adalah orang-orang yang mempunyai agama. Karena itu, umat beragama khususnya umat Islam dapat menjalankan agamanya sesuai ajaran Islam, maka diperlukan adanya pendidikan agama Islam.”
c. Dasar Operasional
Yang dimaksud dengan dasar operasional adalah dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah di Indonesia. Menurut Tap MPR nomor IV/MPR/1973. Tap MPR nomor IV/MPR/1978 danTap MPR nomor II/MPR/1983 tentang GBHN," yang pada pokontya dinyatakanbahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan kedalam kurikulum sekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas-universitas negeri. Atas dasar itulah, maka pendidikan agama Islam di Indonesia memiliki status dan landasan yang kuat dilindungi dan didukung oleh hukum serta peraturan perundang-undangan yang ada.
d. Dasar Psikologis
Yang dimaksud dasar psikologis yaitu dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan kehidupan bermasyarakat.Hal ini
31
didasarkan bahwa dalam hidupnya,manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dihadapkan pada hal-hal yang membuat hatinya tidak tenang dan tidak tentram sehingga memerlukan adanya pegangan hidup.32
3. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Semua manusia yang hidup di dunia ini selalu membutuhkan pegangan
hidup yang disebut agama, mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada satu
perasaan yang mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa, tempat untuk
berlindung, memohon dantempat mereka memohon pertolongan.
Mereka akan merasa tenang dan tentram hatinya apabila mereka dapat
mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Dari uaraian di atas jelaslah
bahwa untuk membuat hati tenang dan tentram ialah dengan jalan mendekatkan
diri kepada Tuhan.
Berbicara pendidikan agama Islam, baik makna maupun tujuannya
haruslah mengacu kepada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan
melupakan etika sosial dan moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga
dalam rangka menuai keberhasilan hidup di dunia bagi anak didik yang
kemudian akan mampu membuahkan kebaikan di akhirat kelak.
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mencapai suatu tujuan,
tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana peserta didik akan dibawa.
Tujuan pendidikan juga dapat membentuk perkembangan anak untuk mencapai
tingkat kedewasaan, baik bilogis maupun pedagogis.
Pendidikan memiliki tujuan sebagaimana yang dikemukakan oleh Abdul
Majid, yaitu:
Pendidikan agama Islam di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga mejadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.33
32
Abdul majid, Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004) Cet. I, h. 133.
33
Menurut Zakiah Daradjat, "Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang
berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari
kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya, yaitu
kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi "insan kamil" dengan pola
taqwa".34
Sedangkan Mahmud Yunus mengatakan bahwa:
Tujuan pendidikan agama adalah mendidik anak-anak, pemuda-pemudi maupun orang dewasa supaya menjadi seorang muslim sejati, beriman teguh, beramal saleh dan berakhlak mulia, sehingga ia menjadi salah seorang masyarakat yang sanggup hidup di atas kakinya sendiri, mengabdi kepada Allah dan berbakti kepada bangsa dan tanah airnya, bahkan sesama umat manusia.35
Dalam buku lainnya Mahmud Yunus mengatakan bahwa, "Tujuan
pendidikan Islam adalah menyiapkan anak-anak, supaya waktu dewasa kelak
mereka cakap melakukan pekerjaan dunia dan amalan akhirat, sehingga
tercipta kebahagiaan bersama dunia akhirat".36
Sedangkan Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa, "Tujuan pendidikan
Islam yang paling utama ialah beribadah dan taqarrub kepada Allah, dan kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia akhirat".37
Tujuan yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok
orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Karena itu pendidikan Islam, yaitu
sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang
melaksanakan pendidikan Islam.
Tujuan pendidikan Islam ada 4 macam, sebagaimana yang dikemukakan
oleh Nur Uhbiyati dkk, yaitu:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara yang lainnya. Tujuan ini meliputi aspek kemanusiaan seperti: sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini
34
Zakiah Daradjat dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 1992), Cet. II,, h. 29
35
Mahmud Yunus, Metode Khusus Pendidikan Agama, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1983), h. 13
36
Mahmud Yunus, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990), cet. 3, h. 10.
berbeda pada tingkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi, dengan kerangka yang sama. Bentuk insan kamil dengan pola takwa kepada Allah harus tergambar dalam pribadi sesorang yang sudah terdidik, walaupun dalam ukuran kecil dan mutu yang rendah, sesuai dengan tingkah-tingkah tersebut.
2. Tujuan Akhir
Pendidikan Islam ini berlangsung selama hidup, maka tujuan kahir akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir. Tujuan umum yang berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat menglami naik turun, bertambah dn berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan,memelihara dan memperthankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.
3. Tujuan Sementara
Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberis sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan instruksional yang dikembangkan menjadi Tujuan Instruksional Umum dan Tujuan Instruksional Khusus (TIU danTIK).
4. Tujuan Operasional
Tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional. Dalam pendidikan formal, tujuan ini disebut juga tujuan instruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi Tujuan Instruksional umum dan Tujuan Instruksional Khusus (TIU dan TIK). Tujuan instruksioanal ini merupakan tujuan pengajaran yang direncanakan dalam unit kegiatan pengajaran.38
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan
pendidikan Agama Islam adalah membimbing dan membentuk manusia
menjadi hamba Allah yang sholeh, teguh imannya, taat beribadah dan
berakhlak terpuji.
Oleh karena itu berbicara pendidikan agama Islam, baik makna maupun
tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak
dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai
ini juga dalamrangka menuai keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi
38
anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) diakhirat kelak.
Dengan demikian tujuan pendidikan merupakan pengamalan nilai-nilai
Islami yang hendak diwujudkan dalam pribadi muslim melalui proses akhir
yang dapat membuat peserta didik memiliki kepribadian Islami yang beriman,
bertakwa dan berilmu pengetahuan.
4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam sangat terperinci dan saling
berhubungan antara satu dengan yang lainnya sebagaimana dikatakan oleh
Abdul Majid dan Dian Andayani, yaitu:
Mata pelajaran pendidikan agama Islam itu secara keseluruhannya dalam lingkup Al-Qur’an dan al-hadis, keimanan, akhlak, fiqh/ibadah, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungan.39
Selain itu, Muhaimin juga mengemukakan bahwa, Ruang lingkup
Pendidikan Agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut, yaitu:
a. Al-Qur’an-Hadis
Merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti merupakan sumber akidah (keimanan), syariah, ibadah, muamalah, dan akhlak sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut.
b. Keimanan atau Aqidah
Merupakan akar atau pokok agama. Ibadah, muamalah dan akhlak bertitik tolak dari akidah, dalam arti sebagai manifestasi dan konsekuensi dari akidah (keimanan dan keyakinan hidup).
c. Akhlak
Merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt (ibadah dalam arti khas) dan hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya.
39
d. Fiqih/ibadah (syariah)
Merupakan sistem norma (aturan) yeang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan makhluk lainnya. Dalam hubungan dengan Allah diatur dalam ibadah dalam arti khas (thaharah, salat, zakat, puasa, dan haji) dan dalam hubungan dengan sesama manusia dan lainnya diatur dalam muamalah dalam arti luas.
e. Sejarah (tarikh)
Merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyariah (beribadah dan bermualah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidupannya yang dilandasi oleh akidah. 40
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.
22 Tahun 2006, "Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan,
keselarasan, dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT,
hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan diri
sendiri, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya".41
C.
Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, "Hasil belajar adalah penguasaan
pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran,
lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang telah diberikan oleh
guru".42
Menurut Oemar Hamalik, "Hasil belajar adalah apabila seseorang yang
telah belajar itu mengalami perubahan tingkah laku, misalnya dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti".43
40
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Upaya Mengefektifkan PAI di Sekolah), (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001), h. 80.
41
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 22 Tahun 2006, Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, h. 2, (http://bsnp
indonesia.org/id/?page_id=63/).
42
Tim Penyusun KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. 895.
43
Sedangkan menurut Syaiful Bahri, "Hasil belajar adalah perubahan yang
terjadi sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dicapai oleh individu dari
proses belajar".44
Berbeda lagi menurut Nana Sudjana, "Hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya".45
Disebutkan pula oleh Hamzah bahwa, "Seseorang yang telah mengalami
proses belajar dapat ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku sebagai
kriteria keberhasilan belajar pada diri seseorang yang belajar".46
Menurut Agus Supriyono, "Hasil belajar pada hakekatnya adalah
merupakan kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan,
sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,
sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan".47
Menurut Arikunto, "Hasil belajar adalah hasil setelah mengalami proses
belajar, dimana tingkah laku itu tampak dalam bentuk perbuatan yang dapat
diamati dan diukur".48
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar pada
intinya adalah sebuah perubahan dimana perubahan tersebut mencakup
berbagai aspek baik tingkah laku maupun kemampuan pengetahuan dan
keterampilan yang terjadi akibat proses belajar yang merubah siswa dari tidak
tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Dengan demikian menurut Sri Esti, "Hasil belajar yang harus dicapai
siswa, hendaknya menggunakanklasifikasi hasil belajar dari Benjamin Bloom,
44 Syaiful Bahri Djamarah, Azwan Zaian, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h.54.
45
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), h. 22.
46
Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, Analisis di Bidang Pendidikan , (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet. IV, h. 16.
47
Agus Supriyono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, Cet. II, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 5.
48
yang membagi hasil belajar kepada tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif dan
psikomotoris.49
2. Klasifikasi Hasil Belajar
Klasifikasi Hasil belajar merupakan salah satu hal penting sebagai
penunjang tercapainya tujuan pembelajaran sehingga Robert Gagne
memberikan kategori prestasi belajar yang harus dimiliki siswa setelah
dilakukan pembelajaran, yaitu:
a. Informasi Verbal
Yaitu tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang yang dapat diungkapkan melalui bahasa lisan maupun tertulis kepada orang lain. Siswa harus mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan baik yang bersifat praktis maupun teoritis.
b. Kemahiran Intelektual
Kemahiran intelektual menunjuk pada “knowing how”, yaitu
bagaimana seseorang berhububungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri.
c. Pengaruh Kegiatan Kognitif
Kemampuan yang dapat menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri, khususnya bila sedang belajar dan berfikir. Orang yang mampu mengatur dan mengarahkan aktivitas mentalnya sendiri dalam bidang kognitif akan dapat menggunakan semua konsep dan kaidah yang pernah dipelajari jauh lebih efisien dan efektif, daripada orang yang tidak berkemampuan demikian.
d. Sikap
Sikap tertentu seseorang terhadap objek e. Keterampilan Motorik
Yaitu seseorang yang mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu dengan mengadakan koordinasi antara gerak gerik berbagai anggota badan secara terpadu.50
Sedangkan Menurut Benjamin Bloom Klasifikasi Hasil Belajar terbagi atas
beberapa ranah, yaitu:
a. Ranah Kognitif (Cognitive domain / ranah cipta)
Adalah keberhasilan belajar yang diukur oleh taraf penguasaan intelektuallitas, keberhasilan ini biasanya dilihat dengan bertambahnya pengetahuan siswa, yang terbagi menjadi :
49
Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Grasindo, 2006), Cet. III, h. 211.
50
1) Pengetahuan (Knowledge) adalah ranah pengetahuan yang meliputi ingatan yang pernah dipelajari meliputi metode, kaidah, prinsip dan fakta.
2) Pemahaman (Comprehension) meliputi kemampuan untuk menangkap arti, yang dapat diketahui dengan kemampuan siswa dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan.
3) Penerapan (Application), kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Penerapan ini dapat meliputi hal-hal seperti aturan, metode, konsep, prinsip dan teori.
4) Analisis (Analysis), meliputi kemampuan untuk memilah bahan ke dalam bagian-bagian atau menyelesaikan sesuatu yang kompleks ke bagian yang lebih sederhana. Contohnya mengidentifikasikan bagian-bagian, menganalisa hubungan antar bagian-bagian dan membedakan antara fakta dan kesimpulan.
5) Sintetis (Syntesis), meletakkan bagian-bagian yang dihubungkan sehingga tercipta hal-hal yang baru.
6) Evaluasi (Evaluation), kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu.
b. Ranah Afektif (ranah rasa)
Adalah keberhasilan belajar yang diukur dalam taraf sikap dan nilai. Keberhasilan ini tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti berakhlaqul karimah, disiplin dan mentaati norma-norma yang baik, yang terdiri dari:
1) Penerimaan (Recieving), kesediaan siswa untuk memperhatikan tetapi masih berbentuk pasif
2) Partisipasi (Responding), siswa aktif dalam kegiatan
3) Penilaian/penentuan sikap(Valuing), kemampuan menilai sesuatu, dan membawa diri sesuai dengan penilaian tersebut 4) Organisasi (Organizing), kemampuan untuk membawa atau
mempersatukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antara nilai-nilai dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten
5) Pembentukan Pola Hidup (Characterization by value or value complex), yaitu kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sehingga dapat menjadi pegangan hidup. c. Psikomotorik (ranah karsa)
Adalah keberhasilan belajar dalam bentuk skill (keahlian) bisa dilihat dengan adanya siswa yang mampu mempraktekkan hasil belajar dalam bentuk yang tampak, yaitu meliputi:
1) Persepsi (Perceptio), dapat dilihat dari kemampuan untuk membedakan dua stimuli berdasarkan ciri-ciri masing-masing.
3) Gerakan terbimbing (Guided respons), melakukan gerakan sesuai dengan contoh yang diberikan.
4) Gerakan yang terbiasa (Mechanical respons),kemampuan melakukan gerakan dengan lancar tanpa memperhatikan contoh yang diberikan.
5) Gerakan yang kompleks (Complex respons), kemampuan melakukan beberapa gerakan dengan lancar, tepat dan efisien. 6) Penyesuaian pola gerakan (Adjusment), kemampuan
penyesuaian gerakan dengan kondisi setempat.
7) Kreativitas (Creativity), kemampuan melahirkan gerakan-gerakan baru. 51
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat
digolongkan menjadi tiga macam sebagaimana yang dikemukakan oleh Wasti
Sumanto, yaitu :
a. Faktor stimuli belajar
Yang dimaksud dengan stimuli belajar yaitu segala hal diluar individu
yang mendorong individu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan
belajar. Stimuli dalam hal ini mencakup materiil, penegasan, serta suasana
lingkungan eksternal yang harus diterima atau dipelajari oleh siswa.
b. Faktor metode belajar
Metode yang dipakai oleh guru sangat mempengaruhi metode belajar
yang dipakai oleh siswa. Dengan kata lain, metode yang dipakai guru
menimbulkan perbedaan yang berarti bagi proses belajar.
c. Faktor individual
Faktor individual sangat besar pengaruhnya terhadap belajar
seseorang.52
Wasti Sumanto juga menambahkan bahwa faktor-faktor individual itu
menyangkut beberapa hal, yaitu:
1) Kematangan 2) Usia
3) Perbedaan jenis kelamin
51
Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001), h. 23.
52
4) Pengalaman 5) Kapasitas mental
6) Kondisi kesehatan jasmani dan rohani 7) Motivasi53
Selain itu Yudhi Munadi mengatakan dalam bukunya bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi hasil belajar adalah:
a. Faktor Internal
1) Faktor Fisiologis
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan sebagainya, semuanya akan membantu dalam proses dan hasil belajar, siswa yang kekurangan gizi misalnya, ternyata kemampuan belajarnya berada dibawah siswa-siswa yang tidak kekurangan gizi, sebab mereka yang kekurangan gizi pada umumnya cenderung cepat lelah dan capek, cepat ngantuk dan akhirnya tidak mudah dalam menerima pelajaran.
Demiki