• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual (FIlm Dokumenter Tatacara Ibadah Haji) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMA Muhammadiyah 3 Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual (FIlm Dokumenter Tatacara Ibadah Haji) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMA Muhammadiyah 3 Jakarta"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

AGAMA ISLAM DI SMA MUHAMMADIYAH 3 JAKARTA

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi

Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh

Prasetyo Andi Sabarkah

NIM 109011000180

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF

HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

i Kata Kunci: Media Audio Visual, Hasil Belajar

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran yaitu dengan menggunakan media audio visual dalam hal ini menggunakan film dokumenter tatacara Ibadah Haji terhadap hasil pembelajaran siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dan apakah ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode quasi eksperimen, penelitian ini dilakukan di SMA Muhammadiyah 3 Jakarta. Sampel penelitian berjumlah 26 untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Istrumen penelitian yang digunakan adalah berupa tes pilihan ganda sebanyak 20 soal yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Teknik analisa data menggunakan uji liliefors unutk menguji normalitas data, uji fisher untuk menguji homogenitas data, dan uji-t untuk menguji hipotesis. Hasil perhitungan menunjukan bahwa penelitian ini berdistribusi dan normal dan homogen.

(7)

(Documentary Procedures Hajj) Against Student Results In the Subject of Islamic Education in SMA 3 Jakarta Muhammadiyah.Keywords: Media Audio Visual, Learning Outcomes

This study aims to determine the effect of the use of learning media by using audio-visual media in this case using the documentary procedures for Hajj to the learning outcomes of students on the subjects of Islamic Education. And is there a difference in student learning outcomes between experimental class and control class.

The method used in this study is a quasi-experimental methods, this study was conducted in SMA Muhammadiyah 3 Jakarta. These samples included 26 for the experimental class and control class. Istrumen research is in the form of a multiple choice test of 20 questions that have been tested for validity and reliability. Data analysis technique using fatherly Liliefors test data normality test, Fisher test to test the homogeneity of the data, and the t-test to test the hypothesis. Calculation shows that this research and the normal distribution and homogeneous.

(8)

ii

Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah SWT Tuhan semesta alam

yang telah memberikan rahmat, nikmat, taufik dan hidayah-Nya yang sangat

besar yang salah satunya berupa kesempatan kepada penulis untuk

menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ Pengaruh Penggunaan Media Audio

Visual Terhadap Hasil Belajar Siswa”.

Sholawat beserta salam senantiasa selalu disampaikan kepada Nabi kita

Rasulullah SAW yang telah mengantarkan kita kepada jalan Allah SWT.

Semoga kita semua senantiasa diberi syafaat beliau dihari pembalasan nanti.

Dengan terselesaikannya skripsi ini tentu tidak terlepas dari bimbingan dan

dorongan berbagai pihak. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada semua pihak yaitu :

1. Ibu Nurlena Rifa'i, Ph. D. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Uin Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Dr. Abdul Majid Khon, M. Ag Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Marhamah Saleh, Lc. MA Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam

Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Seluruh Bapak/Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Agama Islam yang telah

memberikan ilmu yang berguna bagi diri pribadi selama perkuliahan.

5. Bapak Dimyati, MA selaku Dosen Pembimbing Akademik

6. Bapak M. Ramdon Dasuki, Lc. MA selaku Kepala Sekolah SMA

Muhammadiyah 3 Jakarta yang telah memberikan izin kepada penulis

untuk melakukan penelitian.

7. Bapak Mulyadi, SAg, Ibu Terra Sa‟adah, S.Pd, Husnul Khotimah, S.Pd.I

sebagai Guru Bidang ISMUBA di SMA Muhammadiyah 3 Jakarta, Bapak

(9)

iii

dan do‟a yang tak pernah putus sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini.

9. Calon Pendamping hidupku Nasrifah Rarasningtyas SE, dan adik-adikku

tersayang Rizki dan Sifa yang telah memberikan dorongan, semangat dan

motivasi tiada hentinya kepada penulis.

10.Untuk mba Siti Hadijah M. Si, Bude Nari, Pakde Ripno, dan seluruh

keluarga besar Sabar Sidik, terimakasih telah membantu dan memberikan

fasilitas kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

11.Untuk Sahabat-sahabatku Dwi Oktorianto SPd.I, Mardhaney SPd.I Ervina

Seli Rusiani SPd.I, Hazana Itriya Spd.I, Rifki Oktorio SE, Marhaban,

Yayan dan teman-teman seperjuangan yang lain terimakasih telah

memberikan semangat dan bantuan kepada penulis.

12.Serta semua pihak yang berjasa dalam penyusunan skripsi ini yang tidak

dapat disebutkan satu persatu. Penulis berharap semoga Allah memberikan

semoga Allah memberikan kebaikan dan padala kepada kita semua amiin

dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi semua

pihak yang membacanya. Amin ya Robbal „Alamin.

Jakarta, 20 Juli 2014

Penulis

(10)

iv HALAMAN JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

ABSTRAK... i

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI... iv

DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR GAMBAR... viii

DAFTAR LAMPIRAN... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah ... 7

D. Perumusan Masalah ... 7

E. Tujuan Penelitian ... 7

F. Kegunaan Penelitian ... 8

BAB II LANDASAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Media Audio Visual ... 9

1. Pengertian Media Audio Visual ... 9

2. Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Audio Visual... 12

3. Fungsi Media Audio Visual ... 12

4. Macam-Macam Media Audio Visual ... 13

5. Kelebihan dan Kekurangan Media Audio Visual ... 14

(11)

v

C. Hasil Belajar ... 24

1. Pengertian Hasil Belajar ... 24

2. Klasifikasi Hasil Belajar ... 26

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 28

D. Hasil Penelitian yang Relevan... 30

. E. Kerangka Berpikir ... 31

F. Hipotesis Penelitian ... 34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan WaktuPenelitian ... 35

B. Metode dan Desain Penelitian ... 35

C. Variabel Penelitian ... 36

D. Populasi dan Sampel ... 37

E. Teknik Pengumpulan Data ... 38

F. Teknik Analisis Data... 56

1. Uji Normalitas ... 56

2. Uji Homogenitas ... 56

3. Pengujian Hipotesis ... 57

G. Hipotesis Statistika ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil SMA Muhammadiyah 3 Jakarta... 58

1. Sejarah SMA Muhammadiyah 3 Jakarta... 58

2. Visi dan Misi SMA Muhammadiyah 3 Jakarta ... 59

3. Guru dan Tenaga Kependidikan SMA Muhammadiyah 3 ... 59

4. Struktur Organisasi SMA Muhammadiyah 3 ... 60

(12)

vi

D. Pengujian Hipotesis ... 66

1. Uji Hipotesis Penelitian ... 66

2. Pembahasan Hasil Penelitian ... 66

E. Keterbatasan Penelitian ... 68

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Kesimpulan ... 70

B. Implikasi ... 71

C. Saran-saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 72

(13)

vii

Tabel 3.3 Hasil uji validitas instrumen 41

Tabel 3.4 Hasil uji reliabilitas tes 42

Tabel 3.5 Hasil uji taraf kesukaran instrumen soal 43

Tabel 3.6 Hasil uji daya pembeda 44

Tabel 3.7 Kisi-kisi instrumen test 44

Tabel 4.1 Jumlah Siswa Keseluruhan SMA Muhammadiyah 3 61

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelas Eksperimen 62

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelas Kontrol 62

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelas Eksperimen 63

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelas Kontrol 63

Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol dan Eksperimen 65

Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelas Kontrol dan Eksperimen 65

(14)
[image:14.595.155.441.270.566.2]

viii

(15)

ix

Lampiran 3 : RPP Kelas Eksperimen Pertemuan Ke-3 85

Lampiran 4 : RPP Kelas Kontrol Pertemuan Ke-1 90

Lampiran 5 : RPP Kelas Kontrol Pertemuan Ke-2 94

Lampiran 6 : RPP Kelas Kontrol Pertemuan Ke-3 98

Lampiran 7 : Kisi-kisi soal ujicoba instrumen 102

Lampiran 8 : Soal Pretest dan Posttest 106

Lampiran 9 : Signifikansi Korelasi 109

Lampiran 10: Nilai Pretest Kelas Eksperimen 110

Lampiran 11: Nilai Pretest Kelas Kontrol 111

Lampiran 12: Nilai Posttest Kelas Eksperimen 112

Lampiran 13: Nilai Posttest Kelas Kontrol 113

Lampiran 14: Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Eksperimen 114

Lampiran 15: Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Kontrol 116

Lampiran 16: Distribusi Frekuensi Posttest Kelas Eksperimen 118

Lampiran 17: Distribusi Frekuensi Posttest Kelas Kontrol 120

Lampiran 18: Uji Normalitas Pretest Kelas Eksperimen 122

Lampiran 19: Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol 123

Lampiran 20: Uji Normalitas Posttest Kelas Eksperimen 124

Lampiran 21: Uji Normalitas Posttest Kelas Kontrol 125

Lampiran 22: Hasil Uji Homogenitas 126

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Memasuki zaman yang sedang berkembang kita harus cerdas dalam memanfaatkan segala sesuatunya, jangan sampai kita tidak bisa memanfaatkan

perkembangan zaman ini dengan hanya bergantung pada segala sesuatu yang

berasal dari masa lampau sehingga anda bisa disebut dengan jadul atau kurang

up to date. Perkembangan tersebut diantaranya berkaitan dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana perkembangan itu

telah membawa perubahan diberbagai aspek kehidupan manusia, baik dalam

bidang ekonomi, sosial, budaya, maupun pendidikan.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

"

مكنام يغ ام يف مكداوأ او لع

"

Artinya : "Ajarkanlah anak-anak kalian apa yang ada di zaman ini maupun selain di zaman-zaman kalian".

Hadits di atas mengandung unsur perintah, dimana hadits tersebut

memiliki makna bahwa dalam proses pembelajaran tidak lepas dari konteks

perkembangan teknologi yang menyertainya.

Teknologi dalam pendidikan adalah penerapan teknologi terhadap

(17)

dalam usaha pendidikan. Teknologi tersebut dapat juga diterapkan terhadap

makanan, kesehatan, keuangan, pembuatan jadwal, pelaporan nilai, dan

lain-lain proses yang menunjang pendidikan dalam kerangka kelembagaan.

Teknologi dalam pendidikan tidak sama dengan teknologi pendidikan.1

Teknologi pendidikan mempunyai karakteristik tertentu yang sangat

relevan bagi kepentingan pendidikan. Teknologi pendidikan memungkinkan

adanya (1) penyebaran informasi secara luas, merata, cepat, seragam dan

terintegrasi, sehingga dengan demikian pesan dapat disampaikan sesuai dengan

isi yang dimaksud, (2) teknologi pendidikan dapat menyajikan materi secara

logis, ilmiah dan sistematis serta mampu melengkapi, menunjang, memperjelas

konsep-konsep, prinsip-prinsip atau proposisi materi pelajaran, (3) teknologi

pendidikan menjadi partner guru dalam rangka mewujudkan proses belajar

mengajar yang efektif, efisien dan produktif sesuai dengan kebutuhan dan

tuntutan anak didik, (4) teknologi pendidikan dapat dimanfaatkan sebagai

sumber belajar, dapat menyajikan materi secara lebih menarik, lebih-lebih jika

disertai dengan kemampuan memanfaatkannya.2

Di bidang pendidikan, peran guru untuk mendidik peserta didik menjadi

manusia yang selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar

budaya yang sangat penting dalam menentukan perjalanan generasi bangsa ini.

Guru dituntut menjadi pendidik yang bisa menjembatani

kepentingan-kepentingan itu. Tentu saja melalui usaha-usaha nyata yang bisa diterapkan

dalam mendidik peserta didiknya.3

Sebagaimana diketahui metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam

(PAI) selama ini secara umum tidak kunjung berubah. Pembelajaran secara

konvensional-tradisional dan monoton sehingga membosankan peserta didik.

Hal ini akan berdampak pada aktivitas belajar siswa. Sering sekali ditemukan

siswa tidak memusatkan perhatian dan pikirannya terhadap penjelasan yang

1 Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT, Definisi Teknologi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 1994), Cet. 2, h. 2-3.

2 Sudarwan Danim, Media Komunikasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), Cet. 3, h. 3-4.

(18)

diberikan guru didepan kelas, tidak konsentrasi, ngobrol atau mengerjakan

tugas pelajaran lain.

Selain itu, tugas utama guru adalah membelajarkan siswa, yaitu

mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya yang bersifat

kognitif, afektif dan psikomotorik dapat berkembang dengan maksimal.

Dengan belajar aktif yaitu melalui partisipasi dalam setiap kegiatan

pembelajaran, akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa

untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan

membentuk life skill ( kecakapan hidup). Sebagaimana Allah SWT berfirman

dalam surat An-Nahl ayat 125:









"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk".

Pada ayat tersebut mengandung tiga hal pokok yang berkaitan dengan

mengajar yang baik, pertama, guru harus bersikap bijaksana dalam

menyampaikan bahan ajaran kepada murid. Kedua, guru menggunakan cara

yang baik dan tepat dalam menyampaikan ajarannya yang dapat mengantarkan

kepada tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, guru membina sikap aktif siswa

(19)

Oleh karena itu, agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan Ilmu

Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) tersebut perlu adanya

penyesuaian-penyesuaian, terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor yang

mempengaruhi proses pembelajaran sebagaimana kita ketahui proses

pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor internal dan faktor

eksternal, faktor internal merupakan kondisi internal siswa dalam memberikan

respon pembelajaran, sementara faktor eksternal adalah faktor-faktor yang

datang dari luar kondisi siswa seperti kurikulum, model belajar dan fasilitas

belajar. Fasilitas belajar di dalamnya termasuk media belajar yang berfungsi

memudahkan siswa untuk memahami suatu pelajaran, keberadaan teknologi di

lingkungan masyarakat pelajar dapat digunakan secara baik sebagai media

yang mempermudah proses pembelajaran.

Salah satu faktor eksternal adalah media pembelajaran yang perlu

dipahami oleh guru, sehingga mereka dapat menyampaikan materi

pembelajaran kepada siswa secara efisien dan efektif. Pada dasarnya fungsi

utama media pembelajaran adalah sebagai sumber belajar. Fungsi-fungsi yang

lain merupakan hasil pertimbangan pada kajian ciri-ciri umum yang

dimilikinya, bahasa yang dipakai menyampaikan pesan dan dampak atau efek

yang ditimbulkannya.4

Selain itu juga media dapat berfungsi sebagai sebuah solusi untuk

menghilangkan kejenuhan siswa dalam belajar, apalagi disaat jam-jam terakhir

sekolah yang merupakan jam rawan dalam mengajar dimana siswa sudah

merasa lelah dan bosan setelah belajar seharian semenjak tadi pagi.

Dunia pendidikan saat ini tidak luput dari teknologi modern, walaupun

masih sangat minim dan hanya beberapa sekolah saja mungkin yang sudah

menggunakan teknologi modern tapi paling tidak disetiap kelas sudah mulai

ada yang menggunakan LCD Viewer/proyektor. Penggunaan alat-alat modern

memang seharusnya sudah suatu kebiasaan yang diterapkan dalam dunia

pendidikan, sudah tidak saatnya guru mengajar dikelas hanya dengan bantuan

(20)

papan tulis dan spidol. Dengan perkembangan teknologi pada saat ini, seorang

guru harus bisa mempergunakan alat teknologi sebagai media pembelajaran

yang efektif, sehingga dengan berkembangnya teknologi pendidikan tersebut

menjadikan proses pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

Khususnya pada usia anak-anak, pendidikan dengan menggunakan media

modern, sebut saja media elektronik tentunya akan lebih menarik perhatian

daripada yang didapatkan dari guru saja.

Guru tidaklah dipahami sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi dengan

posisinya sebagai peran penggiat dalam proses optimalisasi diri siswa untuk

menghasilkan perubahan perilaku yang relatif permanent (kualitas ideal) harus

mampu merencana dan mencipta sumber-sumber belajar lainnya sehingga

tercipta lingkungan belajar yang kondusif. Sumber-sumber belajar selain guru

inilah yang disebut sebagai penyalur atau penghubung pesan ajar yang

diadakan dan/atau diciptakan secara terencana oleh para guru atau pendidik,

biasanya dikenal sebagai “media pembelajaran”. Dengan demikian, komponen

-komponen komunikasi pembelajaran menjadi komunikator, komunikan, pesan,

dan media.5

Banyak guru yang memberikan pengajaran identik hanya dengan metode

ceramah, ini berdasarkan pengalaman penulis sulit untuk dicerna oleh siswa.

Lebih dari 2400 tahun yang lalu Confucius menyatakan bahwa “apa yang saya

dengar, saya lupa”,”apa yang saya lihat, saya ingat”,”apa yang saya lakukan,

saya paham”. Terdapat beberapa alasan yang kebanyakan orang cenderung

melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu alasan yang paling menarik

adalah perbedaan tingkat kecepatan bicara pengajar dengan tingkat kecepatan

kemampuan siswa mendengarkan.6

Selain hanya menggunakan metode ceramah, kebanyakan guru juga tidak

memanfaatkan media yang ada seperti proyektor dan laptop, sehingga yang

terjadi hanya kejenuhan yang didapatkan oleh siswa karena hanya

mendengarkan saja maka kira-kira hanya 20% saja informasi yang bisa

5 Ibid., h. 5.

(21)

diingatnya. Sehingga pada saat diberikan soal-soal untuk di jawab hanya siswa

yang memiliki intelejen tinggi saja yang dapat menjawab. Karena pengajaran

yang disampaikan kurang interaktif juga berdampak pada kurang aktifnya

siswa dalam menguasai materi atau bahan ajar yang diberikan guru. Hanya

sebagian kecil saja siswa yang memiliki minat dan kemampuan intelejen tinggi

saja yang aktif mencari, memahami materi dan mampu menjawab

pertanyaan-pertanyaan atau tugas dari guru yang lain hanya menunggu dan menyalin

jawaban temannya. Akhirnya dapat dipahami jika pada akhirnya siswa yang

mampu mencapai dan melampaui kriteria ketuntasan minimal (KKM) sangat

minim sekali.

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, sebagai upaya pengembangan

dalam proses belajar mengajar lebih variatif, dalam proses pembelajaran perlu

adanya media pembelajaran, maka penulis bermaksud membahas dalam skripsi

ini, dengan judul "Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual (Film

Dokumenter Tatacara Ibadah Haji) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada

Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 3

Jakarta"

B.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diperoleh masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Kurangnya keterampilan guru dalam memanfaatkan media audio visual

yang berada di ruang multimedia.

2. Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran masih

konvensional dalam menyampaikan materi sehingga kurang menarik dan

kurang memberikan kontribusi yang maksimal terhadap aktivitas siswa.

3. Kurangnya aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar di kelas, siswa

hanya duduk manis mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru.

4. Hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam belum

(22)

C.

Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas dan mengingat luasnya permasalahan yang dibahas, maka penulis membatasi permasalahan yang ada

hanya pada penggunaan media audio visual yang masih kurang dimanfaatkan

oleh guru sehingga hasil belajar siswa dalam hal ini hanya pada aspek kognitif

masih rendah pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam atau biasa disebut

Al-Islam pada materi pokok "Ibadah Haji" pada siswa SMA Muhammadiyah

3 Jakarta kelas X.

D.

Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah

diuraikan di atas maka pokok permasalahan penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pelaksanaan penggunaan media audio visual dalam

pembelajaran PAI pada materi pokok "Ibadah Haji" di kelas X di SMA

Muhammadiyah 3 Jakarta?

2. Apakah hasil belajar PAI pada materi pokok "Ibadah Haji" dapat

ditingkatkan dengan penggunaan media audio visual di kelas X SMA

Muhammadiyah 3 Jakarta?

E.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang akan dicapai

dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengungkapkan implementasi penggunaan media audio visual

dalam pembelajaran PAI pada materi pokok "Ibadah Haji" di kelas X

SMA Muhammadiyah 3 Jakarta.

2. Untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar PAI pada materi pokok

"Ibadah Haji" dapat ditingkatkan dengan penggunaan media audio visual

(23)

F.

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi: 1. Bagi Siswa

Siswa dapat memahami materi pelajaran dengan mudah, terutama

pada materi pokok "Ibadah Haji" dengan membuat siswa lebih aktif,

kreatif, dan inovatif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar serta

meningkatkan rasa syukur dan keimanan terhadap Allah SWT.

2. Bagi Guru

Sebagai khasanah ilmu pengetahuan guru dalam pemanfaatan media

audio visual dan sebagai upaya memperkaya pemahaman tentang

media audio visual sebagai salah satu variasi strategi pembelajaran

sehingga mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

3. Bagi Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai praktik pembelajaran

secara nyata di sekolah dan sebagai bukti pengamalan dari ilmu yang

telah diperoleh selama pendidikan di perguruan tinggi.

4. Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai upaya untuk

perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran serta memberikan

sumbangan kepada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran

(24)

9

BAB II

KAJIAN TEORI

A.

Media Audio Visual

1. Pengertian Media Audio Visual

Istilah media audio visual merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita dimana kata media audio visual itu terdiri dari tiga kata yaitu media,

audio, dan visual. Adapun untuk lebih jelasnya peneliti jelaskan satu persatu,

yang pertama adalah media selanjutnya adalah audio dan terakhir adalah

visual.

Menurut Arif S. Sadiman, "Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari

pengirim ke penerima pesan".1

Menurut Association for Education and Communication Technology

(AECT) seperti dikutip Yusufhadi Miarso, "Media sebagai segala bentuk dan

saluran untuk proses transmisi informasi".2

1 Arief S. Sadiman, et. al, Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2006), h. 6.

(25)

Media yang berarti bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk

menyampaikan atau menyebar ide, gagasan, atau pendapat sehingga ide,

pendapat atau gagasan yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang

dituju. Apabila media itu membawa pesan atau informasi yang bertujuan

instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran, maka media itu

disebutmedia pembelajaran.3

Selain itu Yudhi Munadhi dalam bukunya media pembelajaran sebuah

pendekatan baru, juga mengatakan bahwa:

Kata media berasal dari Bahasa Latin, yakni medius yang secara harfiahnya berarti 'tengah', 'pengantar' atau 'perantara'. Dalam bahasa Arab, media disebut 'wasail' bentuk jama' dari 'wasilah' yakni sinonim al-wasth yang artinya juga 'tengah'. Kata 'tengah' itu sendiri berarti berada di antara dua sisi, maka disebut juga sebagai 'perantara' (wasilah) atau yang mengantarai kedua sisi tersebut. Karena posisinya berada di tengah ia bisa juga disebut sebagai pengantar atau penghubung, yakni mengantarkan atau menghubungkan atau menyalurkan sesuatu hal dari satu sisi ke sisi yang lainnya.4

Setelah melihat beberapa definisi di atas maka penulis dapat memahami

bahwa media menurut istilah para ahli banyak yang mengartikannya menurut

pemahamannya masing-masing, akan tetapi bila dilihat dari segi bahasa media

yang berarti perantara, pengantar, tengah, ataupun penghubung. Maka dari itu

menurut pemahaman penulis bahwa media itu merupakan sebuah perantara

atau pengantar yang digunakan untuk mengantarkan sesuatu yang bisa di antar,

sebagai sebuah wasilah atau perantara untuk menyampaikan sesuatu.

Menurut perkembangannya, dahulu media hanya dianggap sebagai alat

bantu mengajar guru (teaching aids). Dan alat bantu tersebut hanya berupa alat bantu visual, namun pada sekitar abad ke-20 pengaruh teknologi audio masuk

dan melengkapi alat bantu visual sehingga kita kenal adanya alat audio visual

atau audio visual aids (AVA).5

3 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h. 4. 4 Yudhi Munadi, Media Pembelajaran (sebuah pendekatan baru), (Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2008), Cet. 1, h. 6.

(26)

Menurut Save M. Dagun, "Audio adalah hal-hal yang berhubungan dengan

suara atau bunyi".6

Sedangkan Menurut Arief S. Sadiman, "Audio berkaitan dengan indera

pendengaran, pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam

lambang-lambang auditif, baik verbal (kedalam kata-kata/ bahasa lisan) maupun non

verbal".7

Menurut Save M. Dagun, "Visual adalah hal-hal yang berkaitan dengan

penglihatan; berfungsi sebagai penglihatan diterima melalui indera

penglihatan; dihasilkan atau terjadi sebagai gambaran dalam ingatan".8

Menurut Amir Hamzah, "Audio visual berasal dari kata audible dan

visible, audible yang artinya dapat didengar, visible artinya dapat dilihat".9 Menurut Soegarda, "Audio visual adalah alat peraga yang bisa ditangkap

dengan indra mata dan indra pendengaran yakni yang mempunyai unsur suara

dan unsur gambar".10

Sependapat dengan Soegarda Yudhi Munadi juga berpendapat bahwa,

"Media audio visual adalah media yang melibatkan indera pendengaran dan

penglihatan sekaligus dalam satu proses".11

Apabila dilihat dari beberapa definisi di atas maka Media Audio Visual

adalah sebuah perantara, wasilah, atau penghantar sebuah pesan atau

menyampaikan sesuatu, dimana dalam proses tersebut melibatkan dua indera

yaitu indera penglihatan dan indra pendengaran.

6 Save M. Dagun, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara (LPKN), 2006), h. 81.

7 Arief S. Sadiman, et. al, Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2006), h. 49.

8 M. Dagun, Op. cit., h. 1188.

9 Amir Hamzah Sulaeiman, Media Audio-Visual untuk Pengajaran, Penerangan, dan Penyuluhan, (Jakarta: PT. Gramedia, 1985), h. 11.

10 Soegarda Poerbakawatja H. A. H Harahap, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), h. 32.

(27)

2. Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Audio Visual

Media Audio Visual digunakan dalam upaya peningkatan atau

mempertinggi mutu proses kegiatan belajar mengajar. Agar dapat

mengoptimalkan peranan media pembelajaran yang digunakan untuk mencapai

tujuan pembelajaran, maka harus diperhatikan prinsip-prinsip penggunaannya.

Prinsip-prinsip penggunaan media audio visual yang dikemukakan oleh M. Basyirudin Usman dan Asnawir pada dasarnya ada 6, yaitu: (1) Penggunaan media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai bagian integral dari suatu sistem pengajaran, (2) Media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang digunakan dalam pemecahan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar, (3) Guru harus benar-benar menguasai teknik dari media pembelajaran yang digunakan, (4) Guru harus memperhitungkan untung ruginya penggunaan media pembelajaran, (5) Penggunaan media pengajaran harus diorganisir secara sistematis bukan sembarangan menggunakannya, (6) Jika suatu pokok bahasan memerlukan lebih dari satu macam media maka guru dapat memanfaatkan multimedia yang memperlancar proses belajar mengajar.12

3. Fungsi Media Audio Visual

Media merupakan salah satu ide yang sangat tepat dalam menyiasati

kejenuhan peserta didik karena pembelajaran dengan menggunakan media

dirasa cukup efektif dan dapat menggairahkan semangat mereka dalam

mengikuti jalannya proses belajar mengajar. Media audio visual mempunyai

berbagai macam fungsi, seperti yang dikatakan Yusuf Hadi Miarso, yaitu:

a. Media mampu memberikan rangsangan yang bervariasi pada otak, sehingga otak dapat berfungsi secara optimal;

b. Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para siswa;

c. Media dapat melampaui batas ruang kelas;

d. Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dan lingkungannya;

e. Media menghasilkan keseragaman pengamatan; f. Media membangkitkan keinginan dan minat baru;

g. Media membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar;

h. Media memberikan pengalaman yang integral dari sesuatu yang konkret maupun abstrak;

(28)

i. Media memberikan kesempatan siswa untuk belajar mandiri, pada tempat dan waktu serta kecepatan yang ditentukan sendiri;

j. Media dapat meningkatkan kemampuan ekspresi diri guru maupun siswa. 13

4. Macam-Macam Media Audio Visual

Media audio-visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur

gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena

meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua. Media ini dibagi lagi ke

dalam dua kategori sebagaimana dikatakan Syaiful Bahri, yaitu:

a. Audio-visual diam yaitu: media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti: film bingkai suara, film rangkai suara, dan cetak suara. b. Audio-visual gerak yaitu: media yang dapat menampilkan unsur suara dan

gambar yang bergerak seperti: film suara dan video-cassette, televisi, OHP, dan komputer.14

Berbicara masalah Audio Visual gerak sebagaimana yang telah dikutip di

atas, sehubungan peneliti yang lebih fokus kepada jenis audio visual gerak,

Berikut akan peneliti uraikan beberapa penjelasan tentang macam-macam

media audio visual gerak, sebagaimana dikatakan M. Basyirudin Usman dan

Asnawir, yaitu:

a. Film;

Film yang dimaksudkan disini adalah film sebagai alat audio visual untuk

pelajaran, penerangan dan penyuluhan. Banyak hal-hal yang dapat dijelaskan

melalui film.15

Selain itu Fatah Syukur juga mengemukakan bahwa, "Film merupakan

salah satu media yang dianggap efektif digunakan sebagai alat bantu

pengajaran." 16

Sebagaimana kutipan di atas Film dapat diputar didepan siswa dalam

rangka membantu siswa dalam proses belajar. Dengan film, dapat melengkapi

pengalaman-pengalaman dasar, memancing inspirasi baru, menarik perhatian,

13Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2004), h. 458-460.

14 Syaiful Bahri Djamarah, Azwan Zaian, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h.141

15M. Basyiruddin Usman dan H. Asnawir, Media Pembelajaran, (Jakarta: Delia Citra Utama, 2002), h. 95.

(29)

penyajiannya lebih baik karena mengandung nilai-nilai rekreasi, dapat

memperlihatkan perlakuan objek yang sebenarnya, menjelaskan hal-hal abstrak

dan lain-lain.

b. Televisi

Televisi dianggap barang mewah karena sulit dijangkau. Menurut Yusuf

Hadi Miarso, penggunaan TV dapat dilakukan dengan berbagai alternatif

sebagai berikut:

1) Televisi siaran, yaitu pemancaran melalui saluran televisi umum dengan bebas pancaran meluas atau tidak tertuju kearah tertentu dan bersifat terbuka, (open sircuit);

2) Televisi rangkaian tertutup yang panacarannya tidak dapat melalui kabel kuasial atau gelombang mikro diperlukan penerimaan khusus; 3) Televisi pengajaran dengan pelayanan tertentu (instructional TV

fixed service) yaitu sistem pemancaran dan penerimaan TV pada frekuensi istimewa yang khusus dialokasikan;

4) TV slow scan yaitu sistem pemancaran gambar mati secara bertahap dengan melalui saluran telepon atau radio biasa;

5) TV time shared yaitu rangkaian sistem yang satu-satunya saluran TV memancarkan, misalnya, 300 gambar mat kepada 300 penonton yang berlainan, masing-masing untuk 30 detik;

6) Tele black board, yaitu suatu tehnik yang dikembangkan oleh ITB yang bekerja sama dengan TH Delf yang mampu memancarkan secara serentak suara tulisan dan garis yang dibuat disebidang papan khusus.17

5. Kelebihan dan Kekurangan Media Audio Visual

Media Audio Visual telah hadir dan ikut berpartisipasi dalam dunia

pendidikan ini telah memiliki berbagai peranan dan kelebihan, namun

disamping itu terdapat pula kelemahan dari media audio visual tersebut,

Kelebihan Audio Visual sebagaimana yang dikatakan Amir Hamzah, yaitu:

a. Membuahkan hasil belajar lebih baik, karena semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan;

b. Siswa akan belajar lebih banyak daripada jika materi pelajaran disajikan hanya dengan stimulus dengar saja atau dengan stimulus pandang saja.18

17Ibid., h. 31.

(30)

Sedangkan, Kelemahan Audio Visual sebagaimana yang dikatakan Nana

Sudjana, yaitu:

a. Terlalu menekankan pentingnya materi (bahan-bahan audio visual) ketimbang proses pengembangannya, seperti: desain, prouksi, dan evaluasi;

b. Tetap memandang materi audio visual sebagai alat bantu guru dalam mengajar, sehingga keterpaduan antara bahan-bahan dan alat bantu tersebut diabaikan.19

Selain itu, Arief S, Sadiman juga mengatakan bahwa media audio visual memiliki beberapa kelemahan, yaitu:

a. Perhatian sulit dikuasai, partisipasi siswa jarang dipraktikkan; b. Sifat komunikasinya hanya satu arah dan harus diimbangi dengan

pencarian umpan balik yang lain kurang mampu menampilkan detail dari objek yang disajikan secara sempurna.20

B.

Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam merupakan sebuah cabang ilmu yang sangat luas,

oleh karena itu sebelum membahas pengertian Pendidikan Agama Islam,

penulis akan terlebih dahulu mengemukakan arti pendidikan pada umumnya.

Ramayulis dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pendidikan Islam

mengatakan bahwa:

Istilah pendidikan berasal dari kata didik dengan memberinya awalan "pe" dan akhiran "kan" mengandung arti perbuatan (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan education yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan tarbiyah, yang berarti pendidikan.21

Selain itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "Pendidikan adalah

proses pengubahan sikap, dan tata laku seseorang, atau kelompok orang, dalam

19 Nana Sudjana, Teknologi Pengajaran, (Bandung : Sinar Baru Al-Gensindo, 2001), h. 58. 20Arief S. Sadiman, Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. 75.

(31)

usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses,

cara, perbuatan mendidik."22

Nur Uhbiyati mengatakan bahwa:

Bilamana pendidikan kita artikan sebagai latihan mental, moral dan fisik (jasmaniah) yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas kewajiban dan tanggung jawab dalam masyarakat selaku hamba Allah, maka pendidikan berarti menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa tanggung jawab. Usaha kependidikan bagi manusia menyerupai makanan yang berfungsi memberikan vitamin bagi pertumbuhan manusia.23

Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa, "Pendidikan adalah bimbingan atau

pimpinan yang dilakukan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan

jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama".24

Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara, "Pendidikan yaitu tuntunan di

dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya pendidikan yaitu

menuntun kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai

manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan

kebahagian yang setinggi-tingginya".25

Menurut Dr Ahmad Tafsir, "Pendidikan adalah berbagai usaha yang

dilakukan oleh seseorang (pendidik) terhadap seseorang (anak didik) agar

tercapai perkembangan maksimal yang positif. Usaha itu banyak macamnya.

Satu diantaranya adalah dengan cara mengajarnya, yaitu mengembangkan

pengetahuan dan keterampilannya".26

Dari semua definisi itu dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah

sebuah istilah yang memiliki berbagai macam pengertian, bagi orang awam

mungkin pendidikan itu adalah mengajarkan murid di sekolah, melatih anak

untuk hidup sehat, mengajari sopan santun kepada orang yang lebih tua, dan

22

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, jilid IV,(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 326.

23 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam II, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999) Cet II, h. 12. 24Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-maarif, 1981), Cet. V, h. 19.

25Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), Cet. IV, h. 4.

(32)

lain-lain sudah cukup bagi orang awam semua hal itu dianggap sebagai

pendidikan mungkin bagi mereka "pendidikan ialah sekolah" sebenarnya

pendidikan ini sangat luas pengertiannya akan tetapi bila mendefinisikan

pendidikan dalam arti sempit saja maka pendidikan itu merupakan sebuah

usaha baik itu berupa bimbingan, pimpinan ataupun tuntutan sebagaimana

definisi di atas yang diberikan kepada siswa dimana usaha tersebut pada

dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengembangkan potensi siswa

sehingga menjadikan siswa tersebut lebih baik lagi dan berkembang secara

maksimal.

Seperti yang tercantum pada pengertian pendidikan menurut UU

SISDIKNAS No. 20 tahun 2003:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.27

Pendidikan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah pendidikan

agama Islam. Adapun kata Islam dalam istilah Pendidikan Islam menunjukkan

sikap pendidikan tertentu yaitu pendidikan yang memiliki warna-warna Islam.

Untuk memperoleh gambaran yang mengenai pendidikan agama Islam, berikut

ini beberapa defenisi mengenai pendidikan Agama Islam.

Menurut Ahmad Marimba, "Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan

jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada

terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam".28

Sedangkan menurut Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Islam memiliki arti berikut ini, yaitu:

Pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai

27 UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003, Pengertian Pendidikan.

(33)

suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat kelak.29

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan

Agama Islam adalah suatu proses bimbingan jasmani dan rohani yang

berlandaskan ajaran Islam dan dilakukan dengan kesadaran untuk

mengembangkan potensi anak menuju perkembangan yang maksimal, sehingga

terbentuk kepribadian yang memiliki nilai-nilai Islam.

2. Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam

Dasar atau fundamen dari suatu bangunan adalah bagian dari bangunan

yang menjadi sumber kekuatan dan keteguhan tetap berdirinya bangunan itu.

Pada suatu pohon dasar itu adalah akarnya.

Fungsinya sama dengan fundamen tadi, mengeratkan berdirinya pohon itu.

Demikian fungsi dari bangunan itu.Fungsinya ialah menjamin sehingga

"bangunan" pendidikan itu teguh berdirinya. Agar usaha-usah yang terlingkup

di dalam kegiatan pendidikan mempunyai sumber keteguhan, suatu sumber

keyakinan: Agar jalan menuju tujuan dapat tegas dan terlihat, tidak mudah

disampingkan oleh pengaruh-pengaruh luar. Singkat dan tegas dasar

pendidikan Islam ialah Firman Tuhan dan sunah Rasulullah SAW.30

Kalau pendidikan diibaratkan bangunan maka isi al-Qur'an dan haditslah

yang menjadi fundamen.

Dasar-dasar pendidikan agama Islam dapat ditinjau dari beberapa segi

memiliki dua dasar sebagaimana yang dikemukakan oleh Zuhairini, yaitu:

a. Dasar Religius

Yang dimaksud dengan dasar religius adalah dasar-dasar yang bersumber dari ajaran agama Islam yang tertera dalam al-Qur'an maupun al-hadits. Menurut ajaran Islam, bahwa melaksanakan pendidikan agama Islam adalah merupakan perintah dari Tuhan dan merupakan ibadah kepada-Nya;

29Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 1992), Cet. II, h. 86.

30

(34)

b. Dasar Yuridis Formal

Menurut Zuhairini dkk, yang dimaksud dengan Yuridis Formal pelaksanaan pendidikan agama Islam yang berasal dari perundang-undangan yang secara langsung atau tidak langsung dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama Islam, di sekolah ataupun di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia.31

Selain itu Abdul Majid dan Dian Andayani juga mengemukakan beberapa

dasar-dasar pendidikan agama islam, yaitu:

a. Dasar Ideal

Yang dimaksud dengan dasar ideal yakni dasar dari falsafah Negara: Pancasila, dimana sila yang pertama adalah ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mengandung pengertian, bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, atau tegasnya harus beragama.

b. Dasar Konsitusional/Struktural

Yang dimaksud dengan dasar konsitusioanl adalah dasar UUD tahun 2002 Pasal 29 ayat 1 dan 2, yang berbunyi sebagai berikut:

Negara berdasarkan atas Tuhan Yang Maha Esa

“Negara menjamin tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya ". Bunyi dari UUD di atas mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia harus beragama, dalam pengertian manusia yang hidup di bumi Indonesia adalah orang-orang yang mempunyai agama. Karena itu, umat beragama khususnya umat Islam dapat menjalankan agamanya sesuai ajaran Islam, maka diperlukan adanya pendidikan agama Islam.”

c. Dasar Operasional

Yang dimaksud dengan dasar operasional adalah dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah di Indonesia. Menurut Tap MPR nomor IV/MPR/1973. Tap MPR nomor IV/MPR/1978 danTap MPR nomor II/MPR/1983 tentang GBHN," yang pada pokontya dinyatakanbahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan kedalam kurikulum sekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas-universitas negeri. Atas dasar itulah, maka pendidikan agama Islam di Indonesia memiliki status dan landasan yang kuat dilindungi dan didukung oleh hukum serta peraturan perundang-undangan yang ada.

d. Dasar Psikologis

Yang dimaksud dasar psikologis yaitu dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan kehidupan bermasyarakat.Hal ini

31

(35)

didasarkan bahwa dalam hidupnya,manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dihadapkan pada hal-hal yang membuat hatinya tidak tenang dan tidak tentram sehingga memerlukan adanya pegangan hidup.32

3. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Semua manusia yang hidup di dunia ini selalu membutuhkan pegangan

hidup yang disebut agama, mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada satu

perasaan yang mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa, tempat untuk

berlindung, memohon dantempat mereka memohon pertolongan.

Mereka akan merasa tenang dan tentram hatinya apabila mereka dapat

mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Dari uaraian di atas jelaslah

bahwa untuk membuat hati tenang dan tentram ialah dengan jalan mendekatkan

diri kepada Tuhan.

Berbicara pendidikan agama Islam, baik makna maupun tujuannya

haruslah mengacu kepada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan

melupakan etika sosial dan moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga

dalam rangka menuai keberhasilan hidup di dunia bagi anak didik yang

kemudian akan mampu membuahkan kebaikan di akhirat kelak.

Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mencapai suatu tujuan,

tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana peserta didik akan dibawa.

Tujuan pendidikan juga dapat membentuk perkembangan anak untuk mencapai

tingkat kedewasaan, baik bilogis maupun pedagogis.

Pendidikan memiliki tujuan sebagaimana yang dikemukakan oleh Abdul

Majid, yaitu:

Pendidikan agama Islam di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga mejadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.33

32

Abdul majid, Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004) Cet. I, h. 133.

33

(36)

Menurut Zakiah Daradjat, "Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang

berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari

kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya, yaitu

kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi "insan kamil" dengan pola

taqwa".34

Sedangkan Mahmud Yunus mengatakan bahwa:

Tujuan pendidikan agama adalah mendidik anak-anak, pemuda-pemudi maupun orang dewasa supaya menjadi seorang muslim sejati, beriman teguh, beramal saleh dan berakhlak mulia, sehingga ia menjadi salah seorang masyarakat yang sanggup hidup di atas kakinya sendiri, mengabdi kepada Allah dan berbakti kepada bangsa dan tanah airnya, bahkan sesama umat manusia.35

Dalam buku lainnya Mahmud Yunus mengatakan bahwa, "Tujuan

pendidikan Islam adalah menyiapkan anak-anak, supaya waktu dewasa kelak

mereka cakap melakukan pekerjaan dunia dan amalan akhirat, sehingga

tercipta kebahagiaan bersama dunia akhirat".36

Sedangkan Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa, "Tujuan pendidikan

Islam yang paling utama ialah beribadah dan taqarrub kepada Allah, dan kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia akhirat".37

Tujuan yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok

orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Karena itu pendidikan Islam, yaitu

sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang

melaksanakan pendidikan Islam.

Tujuan pendidikan Islam ada 4 macam, sebagaimana yang dikemukakan

oleh Nur Uhbiyati dkk, yaitu:

1. Tujuan Umum

Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara yang lainnya. Tujuan ini meliputi aspek kemanusiaan seperti: sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini

34

Zakiah Daradjat dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 1992), Cet. II,, h. 29

35

Mahmud Yunus, Metode Khusus Pendidikan Agama, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1983), h. 13

36

Mahmud Yunus, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990), cet. 3, h. 10.

(37)

berbeda pada tingkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi, dengan kerangka yang sama. Bentuk insan kamil dengan pola takwa kepada Allah harus tergambar dalam pribadi sesorang yang sudah terdidik, walaupun dalam ukuran kecil dan mutu yang rendah, sesuai dengan tingkah-tingkah tersebut.

2. Tujuan Akhir

Pendidikan Islam ini berlangsung selama hidup, maka tujuan kahir akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir. Tujuan umum yang berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat menglami naik turun, bertambah dn berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan,memelihara dan memperthankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.

3. Tujuan Sementara

Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberis sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan instruksional yang dikembangkan menjadi Tujuan Instruksional Umum dan Tujuan Instruksional Khusus (TIU danTIK).

4. Tujuan Operasional

Tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional. Dalam pendidikan formal, tujuan ini disebut juga tujuan instruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi Tujuan Instruksional umum dan Tujuan Instruksional Khusus (TIU dan TIK). Tujuan instruksioanal ini merupakan tujuan pengajaran yang direncanakan dalam unit kegiatan pengajaran.38

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan

pendidikan Agama Islam adalah membimbing dan membentuk manusia

menjadi hamba Allah yang sholeh, teguh imannya, taat beribadah dan

berakhlak terpuji.

Oleh karena itu berbicara pendidikan agama Islam, baik makna maupun

tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak

dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai

ini juga dalamrangka menuai keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi

38

(38)

anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) diakhirat kelak.

Dengan demikian tujuan pendidikan merupakan pengamalan nilai-nilai

Islami yang hendak diwujudkan dalam pribadi muslim melalui proses akhir

yang dapat membuat peserta didik memiliki kepribadian Islami yang beriman,

bertakwa dan berilmu pengetahuan.

4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam sangat terperinci dan saling

berhubungan antara satu dengan yang lainnya sebagaimana dikatakan oleh

Abdul Majid dan Dian Andayani, yaitu:

Mata pelajaran pendidikan agama Islam itu secara keseluruhannya dalam lingkup Al-Qur’an dan al-hadis, keimanan, akhlak, fiqh/ibadah, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungan.39

Selain itu, Muhaimin juga mengemukakan bahwa, Ruang lingkup

Pendidikan Agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut, yaitu:

a. Al-Qur’an-Hadis

Merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti merupakan sumber akidah (keimanan), syariah, ibadah, muamalah, dan akhlak sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut.

b. Keimanan atau Aqidah

Merupakan akar atau pokok agama. Ibadah, muamalah dan akhlak bertitik tolak dari akidah, dalam arti sebagai manifestasi dan konsekuensi dari akidah (keimanan dan keyakinan hidup).

c. Akhlak

Merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt (ibadah dalam arti khas) dan hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya.

39

(39)

d. Fiqih/ibadah (syariah)

Merupakan sistem norma (aturan) yeang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan makhluk lainnya. Dalam hubungan dengan Allah diatur dalam ibadah dalam arti khas (thaharah, salat, zakat, puasa, dan haji) dan dalam hubungan dengan sesama manusia dan lainnya diatur dalam muamalah dalam arti luas.

e. Sejarah (tarikh)

Merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyariah (beribadah dan bermualah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidupannya yang dilandasi oleh akidah. 40

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.

22 Tahun 2006, "Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan,

keselarasan, dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT,

hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan diri

sendiri, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya".41

C.

Hasil Belajar

1. Pengertian Hasil Belajar

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, "Hasil belajar adalah penguasaan

pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran,

lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang telah diberikan oleh

guru".42

Menurut Oemar Hamalik, "Hasil belajar adalah apabila seseorang yang

telah belajar itu mengalami perubahan tingkah laku, misalnya dari tidak tahu

menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti".43

40

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Upaya Mengefektifkan PAI di Sekolah), (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001), h. 80.

41

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 22 Tahun 2006, Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, h. 2, (http://bsnp

indonesia.org/id/?page_id=63/).

42

Tim Penyusun KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. 895.

43

(40)

Sedangkan menurut Syaiful Bahri, "Hasil belajar adalah perubahan yang

terjadi sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dicapai oleh individu dari

proses belajar".44

Berbeda lagi menurut Nana Sudjana, "Hasil belajar adalah

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman

belajarnya".45

Disebutkan pula oleh Hamzah bahwa, "Seseorang yang telah mengalami

proses belajar dapat ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku sebagai

kriteria keberhasilan belajar pada diri seseorang yang belajar".46

Menurut Agus Supriyono, "Hasil belajar pada hakekatnya adalah

merupakan kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan,

sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.

Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,

sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan".47

Menurut Arikunto, "Hasil belajar adalah hasil setelah mengalami proses

belajar, dimana tingkah laku itu tampak dalam bentuk perbuatan yang dapat

diamati dan diukur".48

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar pada

intinya adalah sebuah perubahan dimana perubahan tersebut mencakup

berbagai aspek baik tingkah laku maupun kemampuan pengetahuan dan

keterampilan yang terjadi akibat proses belajar yang merubah siswa dari tidak

tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Dengan demikian menurut Sri Esti, "Hasil belajar yang harus dicapai

siswa, hendaknya menggunakanklasifikasi hasil belajar dari Benjamin Bloom,

44 Syaiful Bahri Djamarah, Azwan Zaian, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h.54.

45

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), h. 22.

46

Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, Analisis di Bidang Pendidikan , (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet. IV, h. 16.

47

Agus Supriyono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, Cet. II, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 5.

48

(41)

yang membagi hasil belajar kepada tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif dan

psikomotoris.49

2. Klasifikasi Hasil Belajar

Klasifikasi Hasil belajar merupakan salah satu hal penting sebagai

penunjang tercapainya tujuan pembelajaran sehingga Robert Gagne

memberikan kategori prestasi belajar yang harus dimiliki siswa setelah

dilakukan pembelajaran, yaitu:

a. Informasi Verbal

Yaitu tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang yang dapat diungkapkan melalui bahasa lisan maupun tertulis kepada orang lain. Siswa harus mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan baik yang bersifat praktis maupun teoritis.

b. Kemahiran Intelektual

Kemahiran intelektual menunjuk pada “knowing how”, yaitu

bagaimana seseorang berhububungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri.

c. Pengaruh Kegiatan Kognitif

Kemampuan yang dapat menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri, khususnya bila sedang belajar dan berfikir. Orang yang mampu mengatur dan mengarahkan aktivitas mentalnya sendiri dalam bidang kognitif akan dapat menggunakan semua konsep dan kaidah yang pernah dipelajari jauh lebih efisien dan efektif, daripada orang yang tidak berkemampuan demikian.

d. Sikap

Sikap tertentu seseorang terhadap objek e. Keterampilan Motorik

Yaitu seseorang yang mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu dengan mengadakan koordinasi antara gerak gerik berbagai anggota badan secara terpadu.50

Sedangkan Menurut Benjamin Bloom Klasifikasi Hasil Belajar terbagi atas

beberapa ranah, yaitu:

a. Ranah Kognitif (Cognitive domain / ranah cipta)

Adalah keberhasilan belajar yang diukur oleh taraf penguasaan intelektuallitas, keberhasilan ini biasanya dilihat dengan bertambahnya pengetahuan siswa, yang terbagi menjadi :

49

Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Grasindo, 2006), Cet. III, h. 211.

50

(42)

1) Pengetahuan (Knowledge) adalah ranah pengetahuan yang meliputi ingatan yang pernah dipelajari meliputi metode, kaidah, prinsip dan fakta.

2) Pemahaman (Comprehension) meliputi kemampuan untuk menangkap arti, yang dapat diketahui dengan kemampuan siswa dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan.

3) Penerapan (Application), kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Penerapan ini dapat meliputi hal-hal seperti aturan, metode, konsep, prinsip dan teori.

4) Analisis (Analysis), meliputi kemampuan untuk memilah bahan ke dalam bagian-bagian atau menyelesaikan sesuatu yang kompleks ke bagian yang lebih sederhana. Contohnya mengidentifikasikan bagian-bagian, menganalisa hubungan antar bagian-bagian dan membedakan antara fakta dan kesimpulan.

5) Sintetis (Syntesis), meletakkan bagian-bagian yang dihubungkan sehingga tercipta hal-hal yang baru.

6) Evaluasi (Evaluation), kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu.

b. Ranah Afektif (ranah rasa)

Adalah keberhasilan belajar yang diukur dalam taraf sikap dan nilai. Keberhasilan ini tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti berakhlaqul karimah, disiplin dan mentaati norma-norma yang baik, yang terdiri dari:

1) Penerimaan (Recieving), kesediaan siswa untuk memperhatikan tetapi masih berbentuk pasif

2) Partisipasi (Responding), siswa aktif dalam kegiatan

3) Penilaian/penentuan sikap(Valuing), kemampuan menilai sesuatu, dan membawa diri sesuai dengan penilaian tersebut 4) Organisasi (Organizing), kemampuan untuk membawa atau

mempersatukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antara nilai-nilai dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten

5) Pembentukan Pola Hidup (Characterization by value or value complex), yaitu kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sehingga dapat menjadi pegangan hidup. c. Psikomotorik (ranah karsa)

Adalah keberhasilan belajar dalam bentuk skill (keahlian) bisa dilihat dengan adanya siswa yang mampu mempraktekkan hasil belajar dalam bentuk yang tampak, yaitu meliputi:

1) Persepsi (Perceptio), dapat dilihat dari kemampuan untuk membedakan dua stimuli berdasarkan ciri-ciri masing-masing.

(43)

3) Gerakan terbimbing (Guided respons), melakukan gerakan sesuai dengan contoh yang diberikan.

4) Gerakan yang terbiasa (Mechanical respons),kemampuan melakukan gerakan dengan lancar tanpa memperhatikan contoh yang diberikan.

5) Gerakan yang kompleks (Complex respons), kemampuan melakukan beberapa gerakan dengan lancar, tepat dan efisien. 6) Penyesuaian pola gerakan (Adjusment), kemampuan

penyesuaian gerakan dengan kondisi setempat.

7) Kreativitas (Creativity), kemampuan melahirkan gerakan-gerakan baru. 51

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat

digolongkan menjadi tiga macam sebagaimana yang dikemukakan oleh Wasti

Sumanto, yaitu :

a. Faktor stimuli belajar

Yang dimaksud dengan stimuli belajar yaitu segala hal diluar individu

yang mendorong individu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan

belajar. Stimuli dalam hal ini mencakup materiil, penegasan, serta suasana

lingkungan eksternal yang harus diterima atau dipelajari oleh siswa.

b. Faktor metode belajar

Metode yang dipakai oleh guru sangat mempengaruhi metode belajar

yang dipakai oleh siswa. Dengan kata lain, metode yang dipakai guru

menimbulkan perbedaan yang berarti bagi proses belajar.

c. Faktor individual

Faktor individual sangat besar pengaruhnya terhadap belajar

seseorang.52

Wasti Sumanto juga menambahkan bahwa faktor-faktor individual itu

menyangkut beberapa hal, yaitu:

1) Kematangan 2) Usia

3) Perbedaan jenis kelamin

51

Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001), h. 23.

52

(44)

4) Pengalaman 5) Kapasitas mental

6) Kondisi kesehatan jasmani dan rohani 7) Motivasi53

Selain itu Yudhi Munadi mengatakan dalam bukunya bahwa faktor-faktor

yang mempengaruhi hasil belajar adalah:

a. Faktor Internal

1) Faktor Fisiologis

Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan sebagainya, semuanya akan membantu dalam proses dan hasil belajar, siswa yang kekurangan gizi misalnya, ternyata kemampuan belajarnya berada dibawah siswa-siswa yang tidak kekurangan gizi, sebab mereka yang kekurangan gizi pada umumnya cenderung cepat lelah dan capek, cepat ngantuk dan akhirnya tidak mudah dalam menerima pelajaran.

Demiki

Gambar

Gambar 4.3 Proses siswa dalam menjawab soal
Tabel 3.1 Nonrandomized Control Group Design
Tabel 3.2
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Instrumen
+7

Referensi

Dokumen terkait

Melakukan analisis kasus negatif berarti peneliti mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan.Bila tidak ada lagi data yang

Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audiovisual sudah berjalan dengan baik hal ini berdasarkan perolehan rata-rata 83%, keaktifan