• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respons muhammadiyah terhadap kristenisasi di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Respons muhammadiyah terhadap kristenisasi di Indonesia"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

Oleh

TOTO TOHARI 105032101049

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

(2)
(3)
(4)

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

Dengan ini saya :

Nama : Toto Tohari

NIM : 105032101049

Fak/Jur : Ushuluddin/Perbandingan Agama

Jusul Skripsi : “Respons Muhammadiyah Terhadap Kristenisasi

di Indonesia Studi Kasus Era Kepemimpinan

K.H. Ahmad Dahlan”

Dosen pembimbing : Drs. M. Nuh Hasan, MA

Menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata I di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 23 Juni 2011

(5)

MOTTO

Waktu adalah kunci

Kunci kebahagiaan, kunci kegembiraan, kunci kemenangan, kunci kesuksesan.

Bagi orang yang menghargainya

Waktu adalah kunci

Kunci menangis, kunci menyesal, kunci kegagalan, kunci bersedih, kunci marah.

Bagi orang yang melihatnya sebelah mata.

Waktu adalah kunci

Setiap orang sama diberi waktu

Sukses atau gagalnya orang ditentukan oleh pengolahan waktu

Jangan tangisi waktu

ia tak pernah berputar kembali

Karena waktu adalah kunci

Hargai waktu dalam hidupmu

(6)

i

ABSTRAK

Didirikannya Muhammadiyah 1912 adalah sebuah jawaban atas keadaan sosial-keagamaan yang terjadi pada masyarakat saat itu, kondisi yang memprihatinkan pada saat itu telah terjadi penjajahan yang dilakukan oleh kolonial telah menyebabkan rakyat Indonesia semakin menderita, diperparah lagi dengan banyaknya umat Islam yang mengamalkan ritual dan berbagai tradisi (kejawen) yang pada dasarnya tidak sesuai dengan tuntunan agama yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, sehingga ini perbuatan syirik, bid’ah, khurafat. Hal inilah yang telah menyebabkan rakyat Indonesia mudah di jajah dan jauh dari tuntunan ajaran Islam yang sebenarnya.

Di samping kondisi bangsa Indonesia berada di bawah telapak kaki penjajah kolonial Belanda yang bertujuan untuk mengekploitasi kekayaan alam Nusantara secara paksa, yang dibarengi dengan kegiatan misi Kristenisasi kepada pribumi dengan berbagai cara Dilakukan oleh para zending untuk mengkonversiakn Islam menjadi umat Kristiani, ini adalah momok yang menakutkan dan meresahkan dikalangan umat Islam, sebab melakukan konversi secara masif dan terlembaga, meskipun pemerintah Belanda menyatakan netral terhadap agama, akan tetapi itu hanya isapan jempol belaka.

Berangkat dari keadaan seperti ini K.H. Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk melakukan pembaharuan dalam segala bidang, baik dengan mendirikan lembaga pendidikan, pengajian, dan yang lainnya, dengan tujuan untuk merespon adanya Kristenisasi terhadap rakyat Indonesia yang dilakukan oleh kolonial dan penyimpangan terhadap ajaran Islam. adapun ciri khas dari K.H. Ahmad Dahlan tidak mengedepankan konfrontasi. Akan tetapi melalui persaingan pembangun infastruktur tersebut.

(7)

Puji syukur terhatur kepada dzat yang maha ghafur, atas karunia dan rahmat, hidayah dan

inayah-Nya, penulis masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar dan menata masa

depan dengan cerah dan penuh semangat membara. Atas kekuasaan-Nya diri ini masih bisa

melewati samudera kehidupan yang penuh dengan gelombang penderitaan dan kebahagiaa dalam

mengarungi lautan kehidupan. Atas bimbingan-Nya, terpatri rasa sadar bahwa hidup ini adalah

lautan ujian untuk hamba-Nya dalam mengarungi kehidupan dengan perahu keimanan. Atas

pertolongan-Nya jua skripsi ini dapat terselesaikan.

Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada haribaan nabi agung Muhammad SAW,

sebagai suri tauladan sepanjang masa, semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di padang

mahsyar nanti dan termasuk ke dalam barisan hamba-hamba yang diberi inayah untuk

melanjutkan risalahnya.

Penulis sadar betul dengan sepenuh hati bahwa skripsi ini hanyalah goresan tinta kecil

yang jauh nilainya dari ukuran dengan orang-orang besar, namun dalam kapasitas penulis yang

dhai‟f dan di rantai dengan berbagai keterbatasan, skripsi ini rasanya sebuah capaian sejarah

yang monumental yang menjadikan penulis merasa besar, atau minimal ada sebuah kebanggaan

hati dalam penulis untuk membidik capaian-capain selanjutnya untuk mewujudkan mimpi agung

seperti orang-orang besar.

Penulis jua sadar dengan sepenuh hati bahwa diri ini berhutang banyak kepada pihak

(8)

v

bimbingan dan arahan untuk menyelesaikan skripsi ini. Jauh dari itu, skripsi ini ibarat segelas air

dingin dalam musim kemarau yang penulis tempuh dalam menjalani kerasnya kehidupan

Sembah bhakti, penulis haturkan kapada ayah (Enco Dasa) dan ibu (Uke Rukesih),

mohon maaf jika anakmu ini belum dapat membalas budi seperti yang telah engkau berikan

kepada diri ini. Terimakasih kepada ayah yang dengan keterbatasanmu diri ini bisa

membuktikan dan mewujudkan impian, sehingga kini anakmu ini lebih mengerti tentang

kedewasaan dan memahami kerasnya gelombang batu kehidupan. Terimakasih kepada ibu, kasih

sayang ibu yang tak pernah kering, telah membuat anakmu ini mampu bertahan di bawah

tajamnya jurang kehidupan. Terimakasih juga untuk kakak-ku ( Dadi dan kakak iparku teh Titin)

atas nasihatnya dan doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi. Terimakasih kepada

adik-ku (Riswan), raih mimpimu agar engkau menjadi orang yang menaikan drajat keluarga kita.

Amin.

Tak lupa, penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih tak terhingga kepada

orang-orang yang telah menanam benih-benih jasa dalam diri penulis antara lain:

1. Prof. Dr. H. Zainun Kamaluddin Fakih, MA., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin.

2. Drs. M. Nuh Hasan, MA., selaku Ketua Program Studi Perbandingan Agama sekaligus

dosen pembimbing skripsi, penulis ucapkan terima kasih banyak atas bimbingannya, dan

Drs. Maulana, M.Ag., selaku Sekretaris Jurusan Perbandingan Agama.

3. Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si dan Prof. Dr. Masri Mansoer, MA atas kesediaannya

menjadi Penguji Sidang Skripsi penulis.

4. Keluarga Besar Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta segenap

(9)

deden, Imas, Samsul, ma Dewo dan teh mimi; Anggi, ma Anyim. Ma Engku-wa Elek, wa

Yudi, ma Darsih, ceu Embat, ma Casdi, wa Emi, ma Enda dan ceu Teri, wa Eumi A Nana,

Atas doa dan suppotnya

6. Keluarga Besar Pondok Pesantren Riadul Muta‟alimin desa Geresik, Kec Ciawigebang,

Kab Kuningan, Pimpinan K.H. Ono Tarsono (A Ono) dan isrtinya teh Teti serta

anak-anaknya, penulis haturkan Terimakasih atas doa dan bimbingannya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi.

7. Keluarga besar ibu Minah dan bapak Mimid; A Eman dan istrinya Mba Ani beserta

anak-anaknya ( a Inan, a Rega dan dede Fahri), A Dede dan istrinya , A Engkus dan teh Eneng,

A lesmana ( om les) dan teh Yati, A Heri dan teh Yayah serta anaknya neng Nabil.

terimakasih atas doa dan bantuanya, penulis hanya bisa mendoakan semoga menjadi

keluarga yang sakinah, mawadah dan penuh dengan rahmat-rahmat Allah SWT.

8. Ucapan terimakasih kepada abah Solihin (alm) dan ema Emi (pengusaha kerupuk di

Bekasi), atas doa dan bantuannya, penulis sering silaturahmi kerumah dan diberi uang

jajan, ibu guru Eli terimakasih aras sharingnya,

9. Terimakasih kepada teman-taman seperjuangan kelas Perbandingan Agama angkatan 2005;

Robi, Wahyu, Samsul, Wasil, Zamroni, Masriah, Kiki, Lian, Ihya, Fikri, Iis, Rahmat,

Guntur, Deliar, Titis, Lukman, thanks for sharing dan diskusinya selama kita studi. Serta

(10)

v

yang lainnya, juga tak lupa kepada adik kelas PA, belajarlah dengan tekun dan gali potensi

diri agar menjadi orang yang mempunyai daya saing.

10.Keluarga Besar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Ciputat: terimakasih

IMM, engkau adalah Universitas kehidupan kedua bagiku. Karenamulah, diri ini telah

berubah dari apa yang tidak aku bayangkan. Diri ini ditempa, dididik. Diuji. Perkenankan

jua, penulis ucapkan thanks to. Kang ade sang inspirator (when you merrid?), Masto, kang

Ma‟ruf, bang Alfin (DPD IMM), kang Edi, kang Meidi, kang Cecep, kang Fadli, kang

Baharudin Azis, teh Orin. Pimpinan Cabang 2008-2009, masa amanah-ku; Indra. K

(Ketum), Tarsih, Ayu, Rijal, Ningsih, Siti Aisyah, Ipin, Hasbi. Pimpinan

Cabang.2009-2010 Imawan Iqbal dan jajarannya, Pimpinan Cabang Cabang.2009-2010-2011 Imawan Fahmi dan

jajarannya, dan adik-adik-ku yang di ASTRA dan ASTRI.

11.Adik-adiku atau lebih simple teman-teman-ku, Imawan/wati; Beni Azhari, Zuhri, Adik

Saiful Safikri, Hak, Dedi, Apip, Riswan Fais, Fikri, Syifa, Epin, Rita, Ita, Ina, Nina, Dini,

Fatwa, Uun.

12.Teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2008: Punggawa Tiga Serangkai (aku, Jajang,

Amir, semoga persahabatan kita tetap terjalin sampai akhir tua, semoga kita bisa S2

bersama), Zakiyah, Nunung, Nining, Enok, Imas, Sri, Erna, Mila, Mustain, Wahyu, Roby,

Samsul, YOU ALL IS THE BEST MY FRIEND.

13.Teman-teman Ikatan Pemuda, Pelajar, dam Mahasiswa Kuningan (IPPMK); kang Udin,

kang Andi, Afif, Tendi, Raja, kum teu di wiji-wiji.

Akhirnya dengan keterbatasan ini, penulis ucapkan terima kasih banyak kepada

pihak-pihak yang telah membantu dan memberi semangat selama penulis menimba ilmu di UIN

(11)

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan dan Pembatasan Masalah ... 7

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9

D.Tinjauan Pustaka ... 10

E. Kerangka Teori ... 11

F. Metode Pembahasan ... 12

G.Sistematika Penulisan ... 13

BAB II. KONSEPSI MISI DAN PERKEMBANGAN KRISTENISASI DI INDONESIA A. Konsepsi Kristenisasi ... 16

B. Bentuk-bentuk Kristenisasi ... 23

C. Kristenisasi di Indonesia ... 26

BAB III MUHAMMADIYAH ERA AHMAD DAHLAN A. Sejarah Berdirinya Muhammadiyah ... 47

B. Perkembangan Muhammadiyah Era Ahmad Dahlan ... 56

C. Metode dan Bentuk Gerakan Dakwah Muhammadiyah Era Kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan ... 60

BAB IV SIKAP DAN RESPONS MUHAMMADIYAH ERA AHMAD DAHLAN TERHADAP KRISTENISASI A. Pandangan Muhammadiyah terhadap kristensiasi ...64

(12)

vii

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 79

B. Saran-Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA………82

(13)

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara majemuk, didalamnya terdiri dari keaneka

ragaman seperti suku, bahasa, etnis, agama, budaya dan yang lainnya, atau

meminjam bahasanya Alwi Shihab “Kesatuaan dalam Keanekaragaman” (Bhineka

Tunggal Ika). Di satu sisi, ini adalah modal yang sangat kuat untuk membangun

bangsa yang lebih kokoh dan mandiri. Akan tetapi di sisi lain, ini bisa menjadi

ancaman bagi keutuhan bangsa, bila tidak terakomodir semuanya sebagai contoh

konflik yang ditimbulkan oleh SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan)

ini adalah salah satu bentuk ancaman bagi keutuhan NKRI. Selain itu sifat yang

dicerminkan oleh bangsa ini yaitu sangat terbuka kepada gagasan yang datang dari

luar, sehingga dalam sejarah panjang Indonesia telah membuktikan bahwa bangsa

ini bisa menyambut baik pengaruh pelbagai peradaban asing termasuk di

dalamnya agama dan kebudayaan asing.

Indonesia telah di jajah oleh kolonial kurang lebih 350 (tiga ratus lima

puluh) tahun dengan berbagai bentuk eksploitasi, salah satunya adalah konversi

umat Islam menjadi Kristiani, sebab bangsa ini mayoritas penduduknya beragama

Islam. Sudah barang tentu ini menjadi agenda para misionaris untuk melakukan

Kristenisasi dengan menggunakan kemasan dipelbagai kegiatan. Seorang Nasrani

(14)

2

kerja misionaris Kristen bukan hanya untuk membawa orang-orang Islam menjadi

Kristen, tetapi mencabut mereka keluar dari Islam”.1

Dalam doktin ajaran Kristen dikenal adanya perintah untuk melakukan

penginjilan (Evangelisasi) yaitu ketika Kristus berpesan kepada muridnya

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka

dalam nama Bapak dan Anak dan Roh Kudus”,2 dan ajarlah mereka melakukan segala yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, aku menyertai kamu

senantiasa sampai kepada akhir zaman. (Matius 28:16-20)

Begitulah para penginjil berpegang teguh pada ayat tersebut, walaupun

nyawa sebagai taruhannya, dengan tujuan untuk menyebar luaskan amanat agung

kepada pribumi Nusantara ini.

Kecurigaan kalangan muslim itu semakin mendalam ketika mereka

menyaksikan layanan kemanusiaan yang menjonol dalam kegiatan misionaris,

seperti bantuan pendidikan, kesehatan/keuangan untuk memasyarakatkan ajaran

Kristen, sehingga hal ini mereka pandang sebagai suatu bentuk yang sama dengan

upaya Kristenisasi.

Dalam membicarakan awal Kristenisasi, menurut Y. Bakker menganggap

permulaan pengembangan agama Kristen di Indonesia terjadi pada pertengahan

abad VII dengan berdirinya Episkopal Syria di Sumatera3

Episkopal dengan arti bahwa Gereja-gereja (ke Gerejaan) diperintahi oleh uskup-uskup; dari atas ke bawah secara rinci, dan para pemimpinnya ditunjuk, bukan dipilih oleh jemaat selaku

wakil-wakilnya. Baca Abujamin Roham, Ensiklopedia Lintas Agama, (Jakarta: Emerald, 2009),

(15)

Sejarah panjang kegiatan misi Kristenisasi di Indonesia, berawal dari

kedatangan bangsa Portugis yang ditandai dengan kedatangan Colombus. bangsa

Portugis yang menemukan rute ke Asia lewat Afrika Selatan menandai era baru

kegiatan misi Kristenisasi dikepulauan Indonesia.4 Pada tahun 1511, Portugis berhasil mendaratkan kapalnya di Malaka dan pada akhir tahun yang sama

berhasil mencapai Maluku. Kemudian agama Kristen memasuki daerah tersebut,

dengan mengikuti jalur perjalanan Portugis, maka salib-pun ditanamkan

dimanapun kapal Portugis mendarat.

Bersamaan dengan proses Islamisasi terhadap kebudayaan lokal Indonesia,

bangsa Belanda mendarat di Banten, Jawa Barat, pada 1596, dan langsung

bergabung dengan bangsa Portugis, Inggris, dan Spanyol dalam memburu

keuntungan di wilayah tropis yang amat kaya akan rempah-rempah ini. Namun

dalam pergulatan merebut pengaruh antara ketiga bangsa itu (Portugis, Inggris,

dan Spanyol), yang mendominasi kepulauan Nusantara yaitu bangsa Belanda,

Maka pada abad ke 18, tentara-tentara Belanda berhasil melumpuhkan kerajaan

Islam Mataram.

Dengan bangkitnya kekuatan Belanda, kegiatan Misi Kristenisasi beralih

ke VOC dan mulailah berkembang Kristen Protestan di wiliyah ini. Mereka

mengambil alih Pastor dan jemaah Kristen di bawah pengaruh mereka, sehingga

secara umum mereka benar-benar berhasil dalam usaha untuk menyebarkan ajaran

Kristen di Indonesia.5

4

Komaruddin Hidayat, (Ed) Passing Over, Melintasi Batas Agama, (Jakarta: Gramedia

dan Paramadina, 1998), hal. 11 5

(16)

4

Ada tiga bentuk hegemoni,6 yang digencarkan oleh kolonial penjajah yakni glory, gospel, gold, untuk itu mereka juga memberikan pelayanan

pendidikan dan sosial, serta kolonial Belanda merekrut orang-orang Indonesia

untuk memperoleh pendidikan Barat. Westernisasi bersamaan dengan kegiatan

Misi Kristenisasi yang dilakukan di Indonesia.

Menurut Alwi Shihab, pada umumnya Islam memandang Kristen sebagai

Ahlul Kitab yang harus dihormati tetapi sepanjang perjalanan sejarah, hubungan

yang telah menjadi sumber kebaikan bagi keduanya ini telah menjadi sumber

berbagai kesalahpahaman, ketidakpercayaan dan konflik.7 Pandangan Alwi Shihab di atas senada dengan Th. Sumartana, St. Sunardi dan Farid Warjidi, yang

mengatakan:

“Salah satu sebab pertentangan antara kedua agama besar ini (Islam-Kristen) menyangkut hal penyebaran agama (dakwah, zending, Misi). Agama pada masa itu menampilkan dirinya sebagai potensi disintegratif yang cukup menonjol disamping bidang-bidang lainnya, seperti idiologi, politik, dan kesukuan.8

Dalam kegiatan Misi Kristenisasi membutuhkan modal dan para ahli, baik

di bidang agama maupun di bidang teknis riset, dana dari luar negeri tentu saja

menjadi faktor pendukung yang singnifikan, misalnya dari International Christian

Pendeta, 33 Misionaris ,49 Pastur, bisa dilihat di karyanya. Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju

Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung, Mizan, 1997, cet ke-1), hal. 11

6 Istilah „Hegemoni‟ dipeloporikan oleh Antonio Gramsci, sosiolog aliran Marxis. Hegemoni dalam terminologi Gramsci adalah penguasaan terhadap kelas-kalas dibawahnya dengan cara fersuasif, sebagai lawan dari domonasi (penguasaan dengan tekanan otoritarian dan kekerasan). Hegemoni juga berarti penguasaan atas pihak lain dengan jalan consensus, dimana pihak yang dikuasai menyetujui ide, gagasan, dan cara pandang pihak yang menguasainya. Lebih

lanjut baca: Roger Simon, Gagasan-gagasan politik Gramsci, (Jakarta, INSIST bekerja sama

dengan Pustaka Pelajar, 2001, cet. III), hal, 19. 7

Th. Sumartana, “Pengantar; Menuju Dialog antar Iman, dalam Dialog, Kritik dan

Identitas Agama, (Yogyakarta: Dian/Interfidei, 1999), hal. X 8

Th. Sumartana, “Pengantar; Menuju Dialog antar Iman, dalam Dialog, Kritik dan

(17)

Aid, dan dari Word Council of Churches yang menjadi donator terbesar dalam

kegiatan misi Kristenisasi.

Berbeda dengan penyebaran Islam di Timur Tengah yang dalam

penyebarannya disertai dengan pendudukan wilayah oleh militer Muslim. Namun

kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara damai.9

Untuk itu sebagai counter atas adanya Misi Kristenisasi di Indonesia, umat

Islam dalam hal ini gerakan ormas Islam Muhammadiyah telah menampilkan diri

dalam kehidupan keagamaan di Indonesia, karena Muhammadiyah sepanjang

sejarahnya telah membuktikan bahwa ia bukanlah sekedar gerakan pendidikan

atau sosial-keagamaan, melainkan juga gerakan yang sangat aktif mendorong

kebangkitan kembali masyarakat muslim di Indonesia, selain sumbangannya yang

mengesankan dalam bidang sosial, politik dan pendidikan, sayap perempuan

Muhammadiayah, dalam hal ini Aisyiyah, mungkin dapat disebut sebagai gerakan

kaum perempuan yang paling dinamis di dunia muslim Indonesia.

Keresahan umat Islam dicerminkan dengan adanya gerakan-gerakan

pribumi pada awal di Hindia-Belanda yang bercorak kultural dari pada politis.

Adapun pergerakannya bervariasi, sebagian bersifat keagamaan dan sebagian

yang lainnya bersifat sekuler. Salah satu pergerakan yang bersifat pendidikan dan

kultural yang ditampilkan oleh kaum muslim santri ialah gerakan

Muhammadiyah, yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Jawa Tengah pada

1912.

9

(18)

6

Pada intinya Muhammadiyah memainkan empat peran penting yang saling

berkaitan10: pertama, sebagai gerakan pembaharuan; kedua, sebagai agen perubahan sosial; ketiga, sebagai kekuatan politik; dan keempat, yang paling

menonjol, sebagai pembendung paling aktif misi-misi Kristenisasi di Indonesia.

Muhammadiyah secara terbuka berupaya menanggulangi pasang naik kegiatan

Misionaris Kristen dalam berbagai cara. Tujuan ini diusahakan dicapai

kadang-kadang dengan cara langsung, tetapi yang lebih sering dengan cara tidak langsung,

yakni dengan menyediakan dan meningkatkan fasilitas-fasilitas pendidikan dan

kesehatan Islam. Cara tidak langsung ini dimaksudkan untuk menandingi fasilitas

sejenis yang sudah dengan mapan dikembangkan oleh lembaga Misionaris

Kristen.

Berangkat dari pemikiran tersebut, penulis mengajukan sebuah judul

skripsi “Respons Muhammadiyah terhadap Misi kristenisasi di Indonesia Era

Kepemimpinan K.H Ahmad Dahlan”. Maka berkenaan dengan itu dapat penulis

tegaskan beberapa alasan memilih pokok masalah tersebut:

Pertama, masih sangat sedikit tulisan yang berkenaan dengan “Aktivitas

Misi Kristenisas,” mungkin hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama adalah

ketidaksediaan untuk membahas permasalahan yang dapat memunculkan

pertentangan tersembunyi antara umat Islam khususnya Muhammadiyah dan

Kristen di Indonesia kepermukaan. Alasan Kedua adalah kehati-hatian yang

berlebihan, berusaha untuk tidak mengusik kepekaan pemerintah terhadap

permasalahan yang berhubungan dengan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar

10

Alwi Shihab, Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah Terhadap

(19)

Golongan), oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan Misi

Kristenisasi ini, sebagai sumbangsi pemikiran dan upaya memecahkan kebekuan

penulis tentang kegiatan Misi Kristenisasi.

Kedua, tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan umat Kristen sebagai

kelompok minoritas, namun lebih merupakan pengungkapan fakta terhadap

adanya aktivitas Misi.Kristenisasi pada masa Kolonial penjajahan di Indonesia.

Ketiga, sesuai dengan tema, penulis ingin mengungkap lebih jauh

mengenai bentuk Respons yang diberikan umat Islam khususnya Muhammadiyah

terhadap adanya kegiatan Misi Kristenisasi pada masa Kolonial penjajahan dan

mengungkap lebh jauh keterlibatan organisasi massa Muhammadiyah sebagai

bentuk dari lembaga formal umat Islam dalam merespon adanya Misi Kristenisasi.

B. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Masuknya agama Kristen sering dianggap semata-mata hasil kerja

penginjilan yang dihembuskan oleh kedatangan penjajah di Indonesia sehingga ini

menjadi momok yang meresahkan bagi pribumi khususnya umat Islam. Agama

adalah persoalan inti dalam kasus ini. Perpindahan agama yang dilakukan oleh

seseorang merupakan manifestasi keinginan untuk melakukan perubahan secara

radikal karena kepercayaan telah tertancap dalam di jantungnya dan berakar di

hatinya. Ketika beralih agama berarti mencampakan agama masa lalu seseorang,

akan tetapi akan menjadi masalah jika melakukan itu kepada ribuan orang yang

sudah memiliki agama (Islam) yang dianut seperti di Nusantara pada masa

(20)

8

doktin ajaran Kristen dikenal adanya perintah untuk melakukan penginjilan

(Evangelisasi).

Berangkat dari permasalahan di atas tadi, hemat penulis, penelitian ini

sangat layak untuk diteliti dan dikembangkan, maka agar permasalahan ini tidak

meluas, penulis akan merumuskan ke dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1. Apa sebenarnya konsepsi misi dan perkembangan Kristenisasi Era

Kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan?

2. Apa yang melatarbelakangi K.H. Ahmad Dahlan mendirikan

Muhammadiyah?

3. Apa saja yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan dalam menghambat

Kristenisasi?

4. Apakah usaha K.H. Ahamd Dahlan berhasil dalam menghambat

Kristenisasi?, jika berhasil tolak ukurnya dimana?

5. Bagaimana Respons Muhammadiyah terhadap kristenisasi di Indonesia

pada Era Kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan?

Secara keseluruhan Kristenisasi telah menjadi keresahan bagi umat Islam,

mengingat di negara ini mayoritas penduduknya beragama Islam.

Gerakan-gerakan Misi Kristenisasi dari awal kedatangnya yang dibawa oleh para penjajah

hingga sampai sekarang dengan bentuk kemasan atau penampilan yang selalu

berbeda-beda, ini telah menjadi momok yang meresahkan umat Islam sehingga

harus di respons.

Dalam kajian skripsi ini sesungguhnya memerlukan uraian panjang dan

(21)

(cara) Misi Kristenisasi yang nantinya dapat dilihat dari awal kedatangannya

sampai sekarang selalu berubah-rubah dan bagaimana Respons Muhammadiyah

pada era kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan terhadap Kristenisasi. Di pilihnya

ormas Islam Muhammadiyah bukan berarti menafikan peran organisasi lain dalam

merespons adanya kegiatan misi Kristenisasi, namun penulis melihat berdasarkan

fakta dan data yang ada, ormas Islam Muhammadiyah inilah yang secara nyata

melakukan kegiatan-kegiatan sebagai reaksi terhadap adanya kegiatan

Kristenisasi, maka untuk meresponsnya dibangunlah tempat pendidikan dan

rumah sakit, serta panti asuhan diberbagai pelosok daerah-daerah untuk

mengimbangi banyaknya para misi Kristenisasi yang disebar lembaga gereja,

sehingga seperti inilah yang dilakukan Muhammadiayah untuk melakukan

penetrasi terhadap misi Kristenisasi.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan umum dari penelitian ini adalah ingin menjelaskan mengenai

Respons Muhammadiyah Terhadap Misi Kristenisasi pada era kepemimpinan

K.H. Ahmad Dahlan. Adapun manfaat dari penelitiaan ini antara lain:

1. Dapat dipakai sebagai salah satu bahan referensi yang menyangkut

Misi Kristenisasi pada masa penjajahan di Indonesia

2. Sebagai stimulant awal untuk penelitian lebih lanjut dalam rangka

menelusuri gerakan Misi Kristenisasi di Indonesia

3. Sebagai counter atas adanya kegiatan Kristenisasi di Indonesia yang

(22)

10

D. Tinjauan Pustaka

Sepanjang penelusuran penulis, sudah ada skripsi yang membahas

mengenai “Respons Umat Islam Terhadap kristen di Indonesia (1945 s/d 1990)”

oleh Ida Humaida11, mahasiswi Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2000. penelitian skripsinya

berkonsentrasi pada sejarah berkembangnya misi Kristenisasi di Indonesia dari

tahun 1945 s/d 1990, skripsi ini hanya membahas tentang sejarah misi di Indonesi.

Untuk itu sebagai counter atas adanya Kristenisasi di Indonesia, dua Ormas Islam

yaitu Muhammadiyah dan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) dengan

berbagai gerakannya adalah untuk dakwah Islam dan mengimbangi Misi Kristen

di Indonesia.

Disamping itu dalam Disertasinya Dr Alwi Shihab mengenai “Gerakan

Muhammadiyah” tahun1998 yang dijadikan buku dengan judul “Membendung

Arus: Respons Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia”12

yang diterbitkan tahun sama, dijelaskan dalam buku itu mengenai Indonesia dalam

tinjauan historis, masuk dan berkembangnya agama Kristen di Jawa, atas itulah

salah satu lahirnya Muhamadiyah adalah salah satunya sebagai penetrasi

kebudayaan lokal dari Kolonial Belanda sehingga Muhammadiyah membendung

misi-misi Kristen.

Sebagai pendukung, penulis mengambil literatur dari karangannya C.

Guillot dengan judul buku “Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa” buku

11

Lihat dalam Skripsi, Ida Humaida. “Respon Umat Islam terhadap Misi Kristen 1945

s/d 1990).” Skripsi S1 Fakultas Adab, IAIN syarif Hidayatullah Jakarta, 2000 12 Lihat Disertasi Alwi Shihab “Gerakan Muhammadiyah

yang dijadikan buku

Membendung Arus; Respons Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia

(23)

tersebut mengupas tentang berdirinya agama Kristen di Jawa berikut gerakan

Misionarisnya yang dilakukan oleh gereja Protestan dan Katolik, untuk

menyebarkan Kristenisasi maka dilakukan oleh orang Eropa non gereja dan orang

pribumi diantaranya: Mr Ende, nyonya Philips, Sadrach dan yang lainnya. Pokok

dalam buku ini adalah menceritakan riwayat hidup Sadrach dan pergerakannya

dalam penyebaran Misi Kristenisasi di jawa. Diantara pendukung buku lainnya

adalah buku “Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia” yang dikarang

oleh pendeta. Dr. Jan S. Aritonang. Buku ini memaparkan tentang perjumpaan

Islam dan Kristen pada masa penjajahan Portugis, Belanda VOC, Jepang, serta

perjumpaan Islam dan Kristen pada masa Orde Lama, pada masa Orde Baru, dan

perjumpaan Islam pada masa Era Reformasi. Selain itu masih banyak buku

lainnya yang berkaitan tentang Misi Kristenisasi di Indonesia yang dijadikan

sebagai referensi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Maka dari studi review

terhaduhu di atas, penulis ingin mengungkapkan Kristenisasi pada era

kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan sebagai counter oleh ormas Islam

Muhammadiyah terhadap Kristenisasi, serta buku-buku lainnya yang menyangkut

Muhammadiyah dan agama Kristen di Indonesia.

E. Kerangka Teori

Menjelang didirikannya Muhammadiyah, Islam-Indonesia tengah

mengalami krisis karena keterbelakangan pemeluknya akibat sistem pendidikan

yang statis. Kegiatan Misi Kristen maupun organisasi yang tidak berbasis Islam

nampaknya menempati posisi terdepan karena disebabkan oleh kuatnya pengaruh

(24)

12

Indonesia. Oleh karena itu Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiayah adalah

perkembangan logis dalam menghadapi kegiatan Kristenisasi yang diberi

dukungan dan kekuatan oleh para penguasa Kolonial Belanda13. Sebagai counter atas Misi kristenisasi Ahmad Dahlan mendirikan lembaga pendidikan yang

menggabungkan sistem pesantren dan umum.

Berangkat dari Firman Allah “dan barang siapa mencari agama selain

Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima dari-Nya dan di akhirat kelak ia akan

termasuk orang yang merugi”.14

Menurut Murtdha Muthahhari jika seseorang

mengatakan bahwa makna Islam secara harfiah adalah ketundukan kepada Allah

maka konsekuensinya wajib ketundukan kepada Allah dengan menerima

perintah-perintahnya. Selain itu dalam pandangan Murtdha Muthahhari hanya ada satu

agama yang benar pada tiap zaman, dan semua manusia wajib beriman

kepadanya. Sehingga tiap-tiap nabi menguatkan keabsahan nabi-nabi terdahulu,

maka konsekuensinya keimanan kepada semua nabi adalah ketundukan

agama-agama sebelumnya kepada nabi yang teraktual15. Dalam hal ini Islam yang di bawakan oleh nabi Muhammad.

F. Metode Pembahasan

Dalam upaya memudahkan penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan

pendekatan kajian pustaka, analisis historis mengenai respons Muhammadiyah

terhadap kristenisasi di Indonesia pada era kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan,

maka dilakukan dua tahapan metode pembahasan sebagai berikut: Pertama,

13

Mahasri Shobahiya DKK, Studi Kemuhammadiyahan, Surakarta: Lembaga

Pengembangan Ilmu-ilmu Dasar (LPID) UMS, 2008 Cet ke 3, hal 43 14

Al-Qur‟an Surat Ali’Imran Ayat 85 15

Murtdha Muthahhari, Memastikan Bunda Teresa Masuk Neraka?, Dopok; Pustaka

(25)

heuristic atau penelusuran data, beberapa data yang penulis jadikan rujukan

adalah data primer seperti berkaitan dengan sejarah misi Kristen masuk ke

Indonesia, baik dari buku-buku, jurnal, majalah, surat kabar, dan tulisan-tulisan

yang membahas penetrasi misi kristenisasi di Indonesia pada era kepemimpinan

K.H. Ahmad Dahlan. Kedua; Kajian Analisa, penulis mencoba melakukan kritik

terhadap data yang ada dengan mencoba membandingkan satu informasi dengan

informasi lainnya, sehingga di dapat data yang penulis anggap paling akurat untuk

dijadikan rujukan dalam skripsi ini. Teknik dan penulisan skripsi ini mengacu

pada pedoman penulisan skripsi, tesis, disertasi yang di susun oleh tim UIN Syarif

Hidayatulah Jakarta atau mengikuti buku pedoman Akademik UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta

Guna mendukung pembatasan masalah tersebut, penulis merumuskan

pembahasan dengan menganalisa bagaimana Respons dan reaksi umat Islam

khususnya Muhammadiyah terhadap kegiatan Misi Kristenisasi di Indonesia pada

era kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan.

Sejumlah pertanyaan di atas kiranya bisa difahami sebagai upaya penulis

untuk membuat suatu rumusan skripsi guna memudahkan kajian yang mengarah

pada bentuk respons Muhammadiayah terhadap Kristenisasi di Indonesia era

kepemimpinan K.H Ahmad Dahlan .

G. Sistematika Penulisan

Penyusunan skripsi ini secara sistematis terbagi atas lima pembahasan,

(26)

14

Bab I merupakan pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah,

perumusan dan pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian dan

sistematika penulisan. Pada Bab ini juga akan dipaparkan mengenai penelitian ini

penting untuk dilakukan. Kecuali itu, cakupan masalah yang dibahas juga dibatasi

sedemikian rupa agar tidak melebar pada hal-hal yang di luar pembahasan.

Kerangka teoritis dimaksudkan sebagai mata baca dan alat analisa penulis dalam

menilai suatu permasalahan. Dalam Bab ini juga disajikan tinjauan pustaka atau

review studi terdahulu yang pernah membahas persoalan serupa. Dengan

demikian, kiranya memjadi jelas apa signifikansi penelitian yang penulis lakukan

dan dari mana posisi penulis diantara para penulis terdahulu.

Bab II Memaparkan konsepsi Kristenisasi yang di dalamnya memuat arti

Kristenisasi, dalil teologis Kristenisasi, misi kristenisasi, disusul dengan

bentuk-bentuk Kristenisasi, serta penulis akan menjelaskan juga sejarah kristenisasi di

Indonesia.

Bab III Memuat bahasan tentang sejarah berdirinya Muhammadiyah. Pada

bagian ini juga akan dibahas perkembangan Muhammadiyah era K.H. Ahmad

Dahlan. Sebagai akhir Bab III penulis juga akan memaparkan metode dan bentuk

gerakan dakwah Muhammadiyah

Bab IV Menguraikan tentang Kristenisasi dalam pandangan

Muhammadiyah, selanjutnya Respons Muhammadiayah Terhadap Kristenisasi

pada era kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan,

Bab V Merupakan penutup, hasil analisa dari penelitian ini akan dijelaskan

(27)

perumusan yang dirumuskan dalam Bab I. Kecuali, beberapa catatan dan saran

penting dari hasil penelitian ini juga akan ditambahkan dalam Bab ini.

(28)

BAB II

KONSEPSI MISI DAN PERKEMBANGAN KRISTENISASI

DI INDONESIA

A. Konsepsi Kristenisasi

Menjelang pertengahan abad ke-VII Indonesia jatuh ke kaki penguasa

kolonial, melalui penjajahan terhadap pribumi yang diikuti dengan penyebaran

kegiatan Misi Kristenisasi. Ini telah membuktikan bahwa pemerintah kolonial

tidak hanya mencari keuntungan terhadap wilayah yang dijajahnya, akan tetapi

mereka juga memberi dukungan terhadap para misionaris untuk menyebarkan

agama Kristen di Indonesia.

1. Arti Kristensiasi

Sebelum membicarakan tentang Kristeisasi, penulis akan menjelaskan

terlebih dahulu mengenai arti Misi, karena Misi dan Kristenisasi adalah bagaikan

dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling berkaitan.

Tidak pernah ditemukan dalam perjanjian baru mengenai istilah Misi,

akan tetapi didalamnya terdapat kurang lebih sembilan puluh lima ungkapan

Yunani yang berkaitan dengan Misi.1 Salah satu ungkapan Yunani bernuansa Misi

adalah “apostello” yang artinya “mengutus”, sedangkan kata Misi itu sendiri

berasal dari bahasa latin “mitto” yang memiliki arti “mengutus”.2 Secara umum

kata Misi bisa merujuk pada pengutusan seseorang dengan tujuan khusus,

misalnya Misi kesenian, Misi budaya, dan yang lainnya. Namuan Misi dalam

1

David J.Bosch, Transformasi Misi Kristen. Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan

berubah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), cet ke-1, hal. 23 2

Daniel Maedjadja, Prinsip-prinsip Dasar Kepemimpinan Kristen, (Yogyakarta: Yayasan

ANDI, 1995), hal. 41-42

(29)

konteks Kekristenan, Misi dipahami dalam arti pengutusan gereja universal ke

dalam dunia untuk menjangkau orang-orang kepada Kristus, sebagai Tuhan dan

Juru Selamat, khususnya melalui sekelompok pekerja yang disebut Misionaris

Ada beberapa hal yang perlu ditekankan dari definisi Misi di atas, hemat

penulis terbagi dalam empat pengertian, yaitu:

Pertama,Pengutusan ke Dunia, artinya Orang Kristen diutus untuk pergi ke dunia

(Yoh. 17), membawa orang yang belum bertobat ke dalam ibadah gereja. Oleh

karena itu orang Kristen harus proaktif dalam Misi, bukan menunggu

kesempatan;.Kedua, Gereja Universal, artinya Misi bukanlah pekerjaan sebuah

gereja lokal. Misi adalah pekerjaan Allah, karena itu seluruh orang yang percaya

disegala tempat harus terlibat. Sehingga fungsi gereja lokal harus memperhatikan

dan mendukung pekerjaan Misi di belahan dunia yang lain, karena pekerjaan

tersebut adalah milik semua gereja; Ketiga, Untuk Menjangkau Orang-orang

kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, .artinya Misi tidak selalu identik

dengan pertumbuhan gereja (lokal). Tujuan utama Misi bukanlah menambah

jumlah keanggotaan suatu gereja lokal saja, melainkan pelebaran kerajaan Allah.

Misipun tidak identik dengan mengajarkan agama Kristen, Yesus sebagai guru

etika, penyembuh maupun pemberi berkat; keempat. Khususnya Misionaris,

artinya Kekhususan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa ada banyak daerah

yang belum memiliki orang Kristen di sana, sehingga sekelompok orang Kristen

perlu diutus secara khusus untuk memberitakan Injil di sana. Kekhususan ini tidak

membatalkan peran serta gereja lokal. Gereja lokal harus tetap mendukung para

(30)

18

Berkaitan dengan Misi, sebagaimana yang diungkapkan oleh David J.

Bosch, ia memberikan iliustrasi menarik bahwa yang dimaksud dengan Misi

ialah: (a) penyebaran Iman (b) perluasan pemerintahan Allah, dan (c) pendirian

jemaat-jemaat baru.3 Selain itu kata Misi ternyata sering juga diparafrasekan dengan istilah lain Zending dan Evangelisasi, istilah zending lebih merupakan

kosa kata bahasa Belanda, yang berarti pengutus Injil (Misi yang dibawakan oleh

Kristen Protestan), sementara Evangelisasi Penginjilan (Misi yang dibawakan

oleh gereja Katolik)..

Dari sekian banyak definisi Misi, ada dua definisi yang sering dipakai,

yaitu definisi dari Advancing Church Mission Commitment (ACMC). Definisi ini

dibuat dan disepakati oleh kira-kira 170 orang Pimpinan gereja dan Badan-badan

Misi4

Pertama, Misi adalah: Setiap usaha yang ditujukan dengan sasaran untuk

menjangkau melampaui kebutuhan gereja dengan tujuan untuk melaksanakan

Amanat Agung dengan menyatakan Kabar Baik dari Yesus Kristus, menjadikan

murid, dan dikaitkan dengan kebutuhan yang utuh dari manusia, baik jasmani

maupun rohani; Kedua, Mengenai gereja Misioner yang aktif dan sehat,

digambarkan sebagai: Gereja yang mengambil sikap agresif dalam penginjilan

sedunia, dimana setiap anggota jemaat melihat dirinya sebagai komponen kunci

3

David J.Bosch, Transformasi Misi Kristen. Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan

Berubah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), cet ke-1, hal. 24

4

Novi Yuniarti, Sekilas Tentang Misi, artikel diakses pada 30 Maret 2011 dari

(31)

dalam menggenapi Amanat Agung dan memobilisasi sumber-sumber dayanya

semaksimal mungkin untuk tugas ini"

Sedangkan menurut Uskup Stephen Neil, Misi adalah setiap usaha sengaja

untuk melintasi atau menerobos rintangan-rintangan dari gereja kepada non gereja

demi memproklamirkan Injil dalam kata dan karya. Jadi, yang dikategorikan

sebagai Misi adalah pekerjaan yang memikirkan kebutuhan akan Injil di luar

tembok gereja atau non gereja..

Kristenisasi ialah Pengkristenan (orang-orang) atau gerakan untuk

mengkristenkan umat manusia.5 Kristenisasi dalam pengertian yang lain ialah

upaya meng “Kristen” kan semua manuasia, baik anak keturunan Bani Israil yang

sesat, maupun manusia lainnya yang berada dimuka bumi ini. Adapun kata atau

istilah “Kristenisasi” sama dengan istilah Evangelisasi dan zending yang memiliki

perbedaannya hanya terletak pada bahasa, bahwa kata Evangelisasi dan zending

adalah bahasa indah, ramah, dan halus yang dibawa oleh misionaris Katolik,.

sedangkan kata zending selalu dipakai oleh orang Kristen Protestan dalam

menyebarkan Misinya. Akan tetapi kata Kristenisasi lebih mendesak dalam

pengertian lebih bersifat kepada melakukan segala cara (melalui: pemanfaatan

kemiskinan, kebodohan umat, pengangguran, dan yang lainnya) dengan

melakukan apa saja untuk menjadikan seseorang atau bangsa di luar Israil agar

menjadi pengikut Jesus yang Kristus ini sesuai dengan Matius 28:19 dan Yahya

10:16 “Ada lagi padaKu domba yang lain, yang bukan masuk kandang domba ini;

maka sekalian itu juga wajib aku bawa

(32)

20

Para evangelis dan zending dalam menyampaikan ajaran Kristen, mereka

memakai sumbernya dari segenap kitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, atau

mereka bisa dikatakan Kristolog artinya jika pengertian tentang ke Kristenan atau

berita yang menyangkut tentang Yesus Kristus, berdasarkan Alkitab yang

disampaikan lewat ucapan, tulisan, atau yang lainya adalah murni.

2. Dalil Teologis Kristenisasi

Dalam bab satu telah penulis ulas mengenai doktin ajaran Kristen dikenal

adanya perintah untuk melakukan penginjilan (Evangelisasi) yaitu ketika Kristus

berpesan kepada muridnya untuk “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa

muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapak dan Anak dan Roh Kudus”,6 dan ajarlah mereka melakukan segala yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan

ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. (Matius

28:16-20)

Begitulah para penginjil dengan gigih teguh pada ayat di atas tersebut

meskipun harus ditebus dengan nyawa mereka dengan harapan mendapatkan

kehidupan baru di surga, mengingat ini adalah sebuah sebuah “Amanat Agung”

untuk menjadikan segala bangsa sebagai murid Yesus dan membaptis mereka atas

nama Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.

Selain itu untuk memperkuat tentang dogma dalam Kristen yang

menyangkut Kristenisasi ialah Matius 28:19 dan Yahya 10:16 “Ada lagi padaKu

Domba yang lain, yang bukan masuk kandang domba ini; maka sekalian itu juga

6

(33)

wajib aku bawa. Artinya Yesus ingin menjadikan seseorang atau bangsa di luar

Israil dan seluruh umat manusia agar menjadi pengikut Jesus yang Kristus.

Adapun Doktrin agama Kristen yang lainnya terkait dengan Kristenisasi

adalah jauh sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW, dogma Kristen

menyatakan bahwa satu-satunya jalan keselamatan dunia dan akhirat hanya

ditawarkan oleh Yesus. "Siapa tidak besama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak

berkumpul bersama-Ku bercerai-berai" (Matius 12:30) yang kemudian

berkembang dengan slogan Extra Eccelesias Nulla Salus (di luar gereja tak ada

keselamatan).

Dari ketiga ayat di atas tersebut adalah doktrin agama dalam Kristen yang

dijadikan oleh para misionaris sebagai sumber untuk melaksanakan kristenisasi

karena ini adalah Amanat Agung.

3. Misi Kristenisasi

Ada beberapa tujuan dari kristenisasi yang ingin dicapai adalah sebagai

berikut:

1. Misi kriatenisasi Mencakup Pekabaran Injil dan Pelayanan Sosial.

Ada beberapa pandangan umum tentang Misi kristenisasi, salah satunya

menurut A. Scott Moreau, “Mission and Missions” dalam Evangelical Dictionary

of World Missions. Pandangan Tradisional melihat Misi kristenisasi identik (dan

terbatas pada) penginjilan saja, namun menurut pandangan Modern (kalangan

liberal) Misi Kristenisasi mencakup penginjilan dan memberikan pelayanan sosial,

namun bagi mereka penginjilan tidak lebih penting dari pada pelayanan sosial.

(34)

22

Kristenisasi dipelopori oleh John Stott. Ia berpendapat bahwa Misi Kristenisasi

Al-Kitabiah mencakup penginjilan dan pelayanan, akan tetapi penginjilan tetap

menjadi inti Misi kristenisasi, seperti murid-murid Yesus diutus untuk melakukan

Misi Kristenisasi sama seperti yang telah dilakukan Yesus, sedangkan dalam

pelayanan Yesus, Ia tidak hanya memberitakan Injil tetapi juga memperhatikan

masalah sosial.

2. Misi Kristenisasi Berujung pada Pemuridan.

Mayoritas orang memahami inti amanat agung (Mat 28:19-21) adalah

terletak pada penginjilan (banda. kata “pergilah” yang diletakkan di awal kalimat)

dan langkah selanjutnya adalah pemuridan, baptisan dan pengajaran.

Bagaimanapun, menurut struktur kalimat Yunani di ayat 19-20, inti Amanat

Agung justru terletak pada pemuridan. Hal ini didasarkan pada mood imperatif

untuk kata kerja “jadikanlah murid” (muridkanlah) yang diikuti oleh tiga

participle (anak kalimat), yaitu “pergi”, “baptiskanlah” dan “ajarkanlah”.

Penggunaan kata “muridkanlah” di sini menempatkan penginjilan dalam konteks

mempelajari hukum (ajaran) Yesus.

3. Mis Kristenisasii Merupakan Tugas Seluruh Orang yang Percaya.

Kesalahpahaman lain tentang Amanat Agung yang kadangkala muncul

adalah konsep bahwa pekerjaan Misi Kristenisasi merupakan tugas khusus untuk

murid-murid Tuhan Yesus (kaum rohaniwan, dan bukan untuk jemaat awam).

Bahkan ada yang berpendapat bahwa penginjilan merupakan karunia khusus yang

tidak harus dilakukan oleh setiap orang yang percaya. Pandangan ini tentu saja

(35)

“semua bangsa” dan disertai janji “sampai kesudahan jaman”. Dua hal ini tidak

mungkin hanya dimaksudkan untuk kaum rohaniawan sebagai murid Tuhan, akan

tetapi orang awampun yang percaya dipersilahkan untuk melakukan penyebaran

Misi.

dari yang telah dibahas di atas tadi, maka sebenarnya misi Kristenisasi

adalah ingin memproklamirkan kerajaan Allah, dengan harapan afar seluruh umat

manusia bisa masuk kedalam kerajaan Allah tersebut yang telah Mengutus Yesus

sebagai juru selamat bagi umat manusia.

B. Bentuk-bentuk Kristenisasi

Sebenarnya bentuk nyata dari adanya Kristenisasi adalah penjajahan, akan

tetapi untuk mempermudah prosesnya, maka hemat penulis dibagi kepada dua

katagori, yaitu:

1. Sistem Pendidikan Sekolah.

Sejak awal, penyebaran agama Kristen ke Indonesia melalui pendirian

sekolah-sekolah yang didukung oleh pamarintah Belanda. Proyek pendidikan

pemerintah Belanda dimulai sekitar pertengahan abad ke 19. Beberapa anak-anak

Indonesia dari kalangan menengah ke atas mendapat kesempatan untuk belajar di

sekolah untuk anak-anak Eropa yang sudah berdiri sejak 1816. Pemerintah

kolonial juga membuka sekolah guru untuk sekolah-sekolah Jawa dan sekolah

STOVIA untuk melayani kesehatan masyarakat pribumi. Karena meresa kurang

(36)

24

(sekolah para kepala) untuk mendidik anak-anak Bupati dalam bidang

administrasi. Proyek pendidikan ini terus berlanjut sampai dengan pembukaan

lembaga pendidikan dasar yang disebut dengan sekolah kelas satu dan sekolah

kelas dua.7

Pada periode politik etis, atau periode setelah 1900-an, telah terjadi

perubahan pada pendidikan kolonial, baik dalam bentuk re-organisasi sekolah

maupun pembukaan sekolah-sekolah baru. Pada tahun 1900, tiga Hofdenschoolen

yang teletak di Bandung, Magelang, dan Probolinggo di-re-organisasi menjadi

OSVIA (Opleidingschoolen Voor Inlandsche Ambtenaren), dengan tujuan supaya

nyata-nyata menjadi lembaga pendidikan yang mencetak pejabat pribumi yang

secara tidak langsung mendidik mereka agar tertarik pada Belanda. Dan memang

untuk pembelajarannya di OSVIA adalah lima tahun, dengan pengantar bahasa

Belanda. Tahap berikutnya sekolah kelas satu berubah menjadi HIS (Hollandsch

Inlandsch School) atau bisa disebut sekolah Belanda-Pribumi pada tahun 1914.8

Di samping itu pemerintah kolonial Belanda juga telah membuka

sekolah-sekolah, seperti sekolah untuk orang Eropa ELS (Europessch Lagere School),

sekolah tingkat menengah HBS (Hogere Burger School), MULO (Meer

Uitgebreid Lafere Onderwijs) untuk melayani pendidikan tingkat menengah dan

AMS (Algemene Middelbare School) untuk melayani pendidikan tingkat atas,

7

Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20; Pergumulan antara

Modernisasi dan Identitas, (Jakarta: LPJM UIN Jakarta press, 2009), hal. 86 8

Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20; Pergumulan antara

(37)

sekolah- sekolah di atas tersebut adalah mengakomodasi banyak gagasan dan

cita-cita pada tahun 1900-an STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsch Arsten).

Sekolah-sekolah ini sebagai tujuan integral dari cencana pemerintah

Kolonial belanda yang bekerjasama dengan para misionaris untuk

“membelandakan” anak-anak pribumi yang kelas menengah keatas dengan

harapan kelak masuk pada agama Kristen.

2. Inkulturasi (penyesuaian agama terhadap budaya setempat).

Prinsip bahwa agama Kristen harus disampaikan kepada pribumi dalam

bentuk yang bisa diterima oleh kebudayaan dan pandangan dunia masyarakat

tersebut,9 dengan mempertahankan hal yang fundamen dalam ajaran Kristen, sehingga bentuk Alkitab bisa di terjemahkan dalam bahasa pribumi tersebut

seperti, Indonesia, melayu, Jawa, Sunda, dll. Dengan tujuan agar bisa diterima dan

dipahami oleh masyarakat setempat. Selain itu siakp yang ditonjolkan oleh para

misionaris adalah sikap akamodatif terhadap tradisi Jawa dan adat-istiadat Islam,

seperti memakai blangkaon, berbicara bahasa Jawa, dan yang paling menarik

mereka pun mempertahankan upacara adat selametan, yang di dalamnya adalah

kumpul dan makan bersama, karena tradisi ini adalah kegiatan yang menjadi

kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa. Adapun bentuk Kristenisasi

yang lainnya adalah memanfaatkan tradisi yang menceritakan kisah-kisah dalam

Alkitab untuk menyampaikan pesan-pesannya melalui pementasan pewayangan

9

(38)

26

yang seperti yang dilakukan oleh seorang Wali Songo (Sunan Kalijaga) dalam

menyebarkan agama Islam di Jawa.

Selain itu bentuk Kristenisasi yang lainya adalah, dibukanya lahan

pertanian sebagai membuka lapangan pekerjaan untuk pribumi, dengan secara

perlahan mereka pun akan medah dalam menyampaikan ajaran agama Kristennya,

dan yang tidak kalah penting lagi merekan membuka pengobatan secara

cuma-cuma dan gratis kepada masyarakat yang dibarengi dengan pembaptisan.

C. Kristenisasi di Indonesia

Seperti yang sudah diungkapkan pada Bab pendahuluan, berbicara tentang

awal Misi Kristenisasi masuk ke kepulauan Indonesia sebagaimana yang di

katakan oleh Y. Bakker mengatakan bahwa masuknya agama Kristen di Indonesia

sudah terjadi pada pertengahan abad ke VII dengan berdirinya gereja Episkopat10 Syiria di Sumatera.

a. Prakemerdekaan:

1. Misi Kristenisasi di bawah Kolonial Portugis

Negara Portugis terletak di semenanjung Iberia, ujung barat daya benua

Eropa, dikenal sebagai Negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen

Katolik. Dalam perjalanannya bangsa Portugis ini mengemban tiga Misi dalam

melakukan ekspansinya: berdagang, menaklukan wilayah, dan menyiarkan agama.

Ketiga hal tersebut sering diungkapkan dengan istilah Gospel, Gold, and Glory.

Maka setiap dalam ekspedisi bangsa Portugis selalu diikutkan sejumlah imam atau

10

Gereja-gereja yang Orang para pemimpinnya ditunjuk bukan dipilih oleh jemaat selaku

wakil-wakilnya. lebih lengkapnya baca: Abujamin Roham, Ensiklopedi Lintas Agama, (Jakarta: pt.

(39)

rohaniawan katolik yang bertugas untuk melayani dan merawat para pedagang

dan personilnya, bahkan untuk mengabarkan Injil kepada penduduk pribumi,

sehingga para imam atau rohaniawan ini merangkap sebagai Misionaris. Agama

Kristen tiba di wilayah yang kini disebut Indonesia, menurut para sarjana Kristen

yaitu sejak periode bapak-bapak Kristen awal.11. Dalam pelayarannya era Columbus, orang-orang bangsa Portugis menemukan rute perjalanan menuju ke

Asia lewat Afrika selatan yang selanjutnya ini adalah proses awal dalam kegiatan

Misionaris di wilayah kepulauan Nusantara ini. Maka usaha Misi Kristenisasi

berikutnya yang di gencarkan oleh orang-orang Portugis meraih kesuksesan

terutama di wilayah Maluku sebagai kepulauan yang kaya rempah-rempah, pada

abad ke XVI. Orang –orang Portugis berhasil mendaratkan perahunya di Maluku,

setelah itu melebarkan ekspansinya ke Goa, dan Malaka yang dijadikan sebagai

pusat kegiatan Misi Krisren.12

Pada tahun 1511, bangsa Portugis telah menguasai Malaka, dan pada saat

tahun yang sama juga mereka telah menguasai Maluku, dan memperluas di

wilayah-walayah sekitarnya disertai dengan penyebaran agama Katolik dengan

simbol Salib ditancapkan dimana saja orang-orang Kristen berlabuh. Sehingga

gereja yang pertama diberdiri di wilayah Maluku pada tahun 1522. Maka untuk

memperluas tidak lama kemudian didatangkanlah sejumlah Misionaris dari India

untuk mengajarkan Alkitab.

11

Dr. Kurt Koch, Menyatakan bahwa penginjil Thomas, yang bekerja di India, mungkin

saja berlayar ke wilayah Indonesai bersama para pedagang India

12

(40)

28

Dalam sejarah penyebaran agama Katolik di Indonesia, tercatat sebuah

nama yang dianggap sebagai Misionaris paling termashur dalam sejarah gereja,

sebagaimana yang dikatakan, H. Berkhof, mencatat salah satu diantara para

Misionaris awal ini adalah Fransisco Xaverius/Francis Xavier (1506-1552) yang

berasal dari Masyarakat Yesus (Society of Jesus), yang sejak kelahirannya

mendapat panggilan “Rasul untuk orang-orang Indonesia”, sehingga ia dianggap

paling mashur dan berhasil menjalankan Misinya di Maluku sampai Ternate.

Kesuksesan para Misionaris ini selalu dikaitkan dengan kestabilan

kekuasaan Kolonial Portugis, sehingga pada periode pertama berdirinya gereja

mengalami perkembangan besar dalam jumlah penganut agama Katolik.

Sebagaimana dalam tulisannya Fransisco Xaverius, “(jika) setiap tahunnya selusin

saja para pendeta datng ke sini dari Eropa, maka gerakan Islam tidak akan

bertahan lama dan semua penduduk ke pulauan Indonesia akan menjadi pengikut

agama Kristen”.13

Dalam catatannya disebutkan sebagainama Fransisco Xaverius mengajar

untuk anak-anak dan dewasa dua jam setiap hari, ia berusaha mengenalkan Injil

dan ajaran-ajaran Katolik. Bahkan ia dengan kerja keras merumuskan

pokok-pokok iman Kristen, di samping itu dengan ide-ide yang cemerlang ia

menterjemahkan injil ke dalam bahasa Melayu dengan harapan agar penduduk asli

bisa memahami Injil, bahkan ia juga menyusun syair-syair yang berkenaan dengan

dua belas pasal iman.

13

Alwi Shihab, Pendahuluan Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah

(41)

Keberhasilan usaha-usaha yang dirintis oleh Fransisco Xaverius banyak

diikuti dan ditiru serta kemudian diteruskan oleh para pastur-pastur yang lainnya

dibeberapa daerah. Diantaranya ada beberapa nama-nama seperti Seperto Antonio

De Taveiro pada tahun 1551 di daerah Flores, selain itu ada juga Peter Vicente

Viegas yang mengenalkan Injil dan ajaran-ajaran Katolik di Makasar, Fransiska

Dominika dan Diego Magelhaes, ia adalah seorang pastur yang ikut dalam

penyebaran Injil di Menado.14

Sebenarnya bila kita amati, Portugis memperkenalkan agama Katolik

dengan cara kekerasan yang berlandaskan jiwa pemberontakan dan permusuhan

tradisional terhadap Islam.15 Bagi mereka semua orang Islam adalah musuh yang harus diperangi. Mereka sengaja datang keberbagai pelosok daerah antara lain

untuk memerangi Islam dan menggantikannya dengan agama Kristen. Maka

beberapa organisasi Zending maupun organisasi Misi berlomba-lomba yang

mendapat dukungan dana pemerintah Kolonial untuk beroperasi di tanah jajahan.

Namun seiring dengan berjalannya waktu kekuasaan bangsa Portugis

secara perlahan-lahan melemah di wilayah ini, ditandai dengan terjadinya

penurunan keanggotaan gereja secara drastis. Bahkan orang-orang Portugis diusir

dari Maluku oleh VOC. Ada pun pertempuran antara orang-orang Belanda

melawan orang-orang Inggris, Spanyol dan Portugis mengakibatkan jatuhnya

koloni-koloni Portugis di tangan Belanda di wilayah Nusantara ini.

14

Syamsud Dhuha, Penyebaran dan Perkembangan Islam-Katolik-Protestan di Indonesia

(42)

30

Diakhir periode ini, perlawanan antara Portugis, Ingris dan Belanda untuk

menguasai jalur perdagangan berakhir dengan kemenangan dipihak Belanda.16 Yang pada akhirnya Misionaris Belanda memaksa orang-orang Katolik yang

mereka temui untuk memeluk agama Kristen Protestan yang menandai runtuhnya

gereja katolik di Indonesia timur, dan mulailah babak baru zending Protestan di

Nusantara.

2. Misi kristenisasi di bawah Kolonial Belanda

Orang-orang Belanda datang ke Nusantara sebenarnya lebih dimotivasi

oleh hasrat untuk mendapatkan keuntungan dagang ketimbang semangat untuk

menyebarkan agamanya atau membagikan keyakinan imannya kepada pribumi.

Adapun Misi Kristenisasi pada masa Kolonial Belanda diawali dengan

didirikannya Vereenign de Oost Indische Compagnie (VOC) adalah perkumpulan

perdagangan Belanda yang didirikan pada tahun 1602 dan dibubarkan pada tahun

1799. di bawah VOC, agama Kristen didominasi oleh gereja Reformasi, sehingga

VOC menyatakan bahwa agama Kristen apapun tidak boleh dipraktikan di

wilayah ini kecuali geraja Reformasi Belanda. Maka mereka mengambil alih

kongregasi-kongregasi katolik Portugis dan menunjuk pastor-pastor untuk

memimpin gereja. Di sini Belanda benar-benar ingin menghancurkan apa saja

yang sebelumnya dibangun oleh orang-orang Katolik. Penyebaran Kristen

Protestan senantiasa mengikuti gerak VOC. Oleh sebab itu VOC dengan kekuatan

politiknya mendukung pemeliharaan orang-orang Kristen dalam penyebaran Injil

di daerah-daerah yang dikuasainya.

16

(43)

Namun dalam kenyataannya perhatian yang tidak banyak dan

sungguh-sungguh yang diberikan oleh VOC kepada orang-orang Kristen untuk memperluas

wilayah dari gereja Katolik di Indonesia, yang terjadi malah sebaliknya mereka

memperkerjakan para pastor-pastor VOC dalam memimpin kebaktian di rumah

para pedagang Eropa, orang-orang Belanda hanya lebih memedulikan keamanan,

keuntungan komersial yang diraih dari pada mengkonversikan orang-orang

pribumi.17

Yang sangat mengecewakan bagi orang-orang Kristen yaitu dalam hal

kebijakan VOC di Jawa selama kurang lebih Dua ratus tahun, hal ini bisa terlihat

dari kegiatan gereja Belanda ditempat atau berjalan sendirian dalam memberikan

pelayanan kepada orang-orang Kristen Eropa. Tidak ada niatan yang

sungguh-sungguh untuk mendekati dan menjalankan Misi Kristenisasi kepada orang-orang

Jawa agar mereka tertarik dan pindah agama. Bahkan usaha-usaha untuk

mendekati itu justru mereka hindari oleh VOC karena khawatir akan pengaruh

negatifenya terhadap keuntungan ekonomi mereka. Namun di sisi yang lain

orang-orang Kristen harus berterimakasih kepada VOC dalam hal penerbitan Perjanjian

Baru dalam bahasa Indonesia. Kemungkinan dorongan ini didasari pada prinsip

17

Dalam hal ini VOC dan para pemegang saham maunya mencari keuntungan terus. mereka tidak berminat pada berdakwah, akan tetapi pada pencarian keuntungan berdagang, hal ini tercermin dalam langkah-langkah tertentu yang ditempuh Jan Pieterszoom Coen, yang menjadi

Gubernur Jendral VOC pada tahun 1618. dia melaksanakan sistem “pengiriman dan penjatahan secara paksa” dengan benar-benar mengeksploitasi pulau-pulau Nusantara dalam bidang pertanian para penduduk kepulauan, lewat para pemimpin lokal mereka, dipaksa menyediakan produk tropis tertentu dan dalam jumlah tertentu untuk memnuhi komuditas ekspor VOC. Untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, Jan Pieterszoom Coen juga menaruh perhatian kepada orang Cina dan memberikan mereka peluang-peluang tertentu untuk berdagang. Coenlah orang pertama Belanda dalam mendesakan masuknya orang-orang Cina ke Indonesia. Coen bahkan menyerukan penculikan orang-orang Cina jika mereka tidak mau secara sukarela tinggal di Indonesia. Sejak

saat itu, orang-orang Cina merupakan “kelas menengah” yang memperantarai para penguasa

(44)

32

pokok dalam melaksanakan penyebaran Misi Kristenisasi, agar secepat mungkin

orang-orang Kristen itu mempunyai Alkitab di tangan mereka dan dalam bahasa

mereka sendiri.

Pada era baru penyebaran agama Kristen Protestan terjadi di Maluku, yang

sebelumnya telah beragama Katolik. Akan tetapi sejak kedatangan penguasa baru

VOC, para pemeluk Katolik harus dipaksa menjadi Protestan. Orang Belanda

pertama yang ditugaskan di Maluku untuk sebagai „Penyebar Injil” ialah Stollen

Beeker, yang dalam perjalanannya kemudian mendirikan Majelis Gereja pada

tahun 1615. Majelis Gereja ini mempunyai tugas menyelenggarakan pemeliharaan

rohani di daerah Maluku dan sekitarnya‟

Selain di daerah Maluku yang menjadi basis penginjilan Protestan, maka

sasaran selanjutnya adalah Sulawesi Utara yang daerahnya sejak tahun 1563

penduduknya memeluk agama Katolik, dan lagi-lagi harus tunduk pada kompeni

Belanda (VOC), orang-orang katolik di sana dipaksa untuk menjadi Protestan,

bahkan yang lebih tragis pemuka-pemuka agama Katolik dibunuh dan setempat

diancam kecuali kalau tunduk pada perjanjian untuk beralih kepada Kristen

Protestan.

Belanda (VOC) pun melebarkan penginjilannya ke daerah Jawa, disinilah

menjadi lahan empuk dalam kegiatan Misi Kristenisasi, karena daerah Jawa

dianggap daerah yang paling mudah di Kristenkan. Hal ini didasari atas asumsi

bahwa sinkretisnya Islam di kawasan ini mempermudah penaklukannya. Bahkan

dalam catatannya, Alwi Shihab mengungkap, “ dari sekian banyak daerah yang

(45)

ditandingi oleh keberhasilan kegiatan Misi Kristenisasi di wilayah Islam lain

manapun”18

Melihat dari keberhasialan tersebut, tidak terlepas dari usaha yang

dilakukan para Misionaris Protestan yang dengan gigih berupaya menyebarkan

Injil kepada para penduduk pribumi. Mereka mulai mewartakan pesan-pesan

Kristus, padahal jumlah mereka tidak seberapa, namun mampu memberikan

kontribusi yang luar biasa, dibalik kesuksesan kegiatan Misi Kristenisasi di daerah

Jawa, maka berkaitan dengan hal itu, berikut penulis cantumkan beberapa tokoh

yang dianggap memainkan peran dalam penyebaran Misi Kristenisasi di Jawa,

antara lain:

1. Johannes Emde (1811)

Ialah seorang pendeta dari Jerman yang saleh, berdomisi di Surabaya

pekerjaan sehari-harinya selain sebagai pendeta, ia juga sebagai pembuat jam,

yang dalam perjalanannya untuk melancarkan gerakan Misi Kristenisasi di Jawa,

ia pun mengawini perempuan Jawa sebagai jalinan kontak dengan dengan

penduduk pribumi atau lokal dalam rangka menyebarkan ajaran-ajaran agama

Kristen. maka ia terdorong untuk menterjemahkan beberapa Al-Kitab ke dalam

bahasa Jawa19. Seirng perjalananya pada tahun 1845, Pastor Johannes Emde telah berhasil membangun kongregasinya di Surabaya yang dikenal dengan nama

“Kesalehan Surabaya”, di bawah kepemimpinan Johannes Emde, dapat

mengembangkan sebuah kelompok pribumi Jawa yang menjadi pengikutnya.

18

Syamsud Dhuha, Penyebaran dan Perkembangan Islam-Katolik-Protestan di Indonesia

(Surabaya: Usaha Nasional, 1987), cet. ke-2, hal 76 19

(46)

34

Emde berharap pengikut barunya yang berasal dari pribumi Jawa dapat menerima

cara hidup Barat, sehingga Emde mengajarkan sepenuhnya dengan corak barat

kapada 220 pribimi Jawa yang telah dibaptisnya.

2. Pastor Coenraad Laurens Coolen (1775-1873)20

Tokoh ini lahir dari seorang bapak berkewarganegaraan Rusia dan

berimigrasi ke Indonesia yang mengabdikan diri menjadi prajurit upahan tentara

VOC. Ibunya berasal dari Indonesia tepatnya seorang perempuan Jawa dari

keturunan bangsawan. Sedangkan bapaknya dari Rusia, dari sang ayah, Coolen

mewarisi nilai-nilai agama Kristen Barat, sedangkan dari ibunya, Coolen mewarisi

ruh mistik kebudayaan Jawa.

Keberhasilannya dalam menarik orang-orang pribumi untuk masuk agama

Kristen Protestan dikarnakan metode yang diterapkannya, yaitu “Metode

Pribumi”. Cara Colleen mendakwahkan bahwa untuk menjadi Kristen tidak perlu

menanggalkan/melepaskan watak dan kebudayaan Jawa mereka. Oleh sebab itu,

Coleen melarang pembaptisan. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menarik

hati orang-orang pribumi agar masuk agama Kristen dengan berusaha menjadikan

orang-orang Jawa menjadi Kristen (menjawakan Kristen).

Sebagai usaha yang dilakukan Coleen, untuk menarik pribumi, Coleen

memanfaatkan tradisi Jawa, salah satunya Coleen memanfaatkan wayang sebagai

media untuk menceritakan kisah-kisah Alkitab dan menyampaikan pesan-pesan

agamanya. Melihat caranya, sepintas penulis teringat upaya yang dilakukan salah

20

Lihat Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

1. Mengetahui proses pembelajaran IPS sejarah materi masa kolonial bangsa Eropa di nusantara dengan model Learning Cycle berbantuan CD interaktif dapat mencapai ketuntasan

Melalui uraian di atas dapat disimpulkan bahwa akibat yang ditimbulkan dari pengaruh politik kolonial Belanda terhadap badan Peradilan Agama adalah baik yang terkait dengan

Belanda merupakan bangsa yang paling lama menjajah Nusantara dan Aceh yang terlama dijajah. Bangsa yang kemudian dikenal dengan Indonesia mengalami berbagai macam bentuk

Pemberlakukan Hukum Kolonial Belanda di Indonesia, dapat membawa masalah besar, terutama pada sektor agraria dan dan sumber daya alam sebagaimana di maksudkan dalam Pasal

Tinjauan ini menjadi yang utama dalam tesis ini baik dalam kaitan respons Zending terhadap politik dan kebijakan kolonial Hindia Belanda terkait pekabaran Injil dan kepemilikan

Kemudian adanya penjajah baik dari Portugis maupun Belanda yang merampas rempah-rempah yang ada di Nusantara dan adanya penyebaran agama kristen terhadap orang-orang pribumi yang ada di

Berdasarkan gambaran di atas jelaslah bahwa politik hukum yang diterapkan oleh pemerintah kolonial sangat berpengaruh terhadap kebijakan regulasi zakat yang ada di Nusantara Indonesia,

Sistem pendidikan yang ada di Indonesia pada masa penjajahan kolonial Belanda setelah pertama kali Belanda menerapkan Politik Etisnya di Indonesia dapat digambarkan diantaranya: 1