Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)
Oleh
TOTO TOHARI 105032101049
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
Dengan ini saya :
Nama : Toto Tohari
NIM : 105032101049
Fak/Jur : Ushuluddin/Perbandingan Agama
Jusul Skripsi : “Respons Muhammadiyah Terhadap Kristenisasi
di Indonesia Studi Kasus Era Kepemimpinan
K.H. Ahmad Dahlan”
Dosen pembimbing : Drs. M. Nuh Hasan, MA
Menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata I di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 23 Juni 2011
MOTTO
Waktu adalah kunci
Kunci kebahagiaan, kunci kegembiraan, kunci kemenangan, kunci kesuksesan.
Bagi orang yang menghargainya
Waktu adalah kunci
Kunci menangis, kunci menyesal, kunci kegagalan, kunci bersedih, kunci marah.
Bagi orang yang melihatnya sebelah mata.
Waktu adalah kunci
Setiap orang sama diberi waktu
Sukses atau gagalnya orang ditentukan oleh pengolahan waktu
Jangan tangisi waktu
ia tak pernah berputar kembali
Karena waktu adalah kunci
Hargai waktu dalam hidupmu
i
ABSTRAK
Didirikannya Muhammadiyah 1912 adalah sebuah jawaban atas keadaan sosial-keagamaan yang terjadi pada masyarakat saat itu, kondisi yang memprihatinkan pada saat itu telah terjadi penjajahan yang dilakukan oleh kolonial telah menyebabkan rakyat Indonesia semakin menderita, diperparah lagi dengan banyaknya umat Islam yang mengamalkan ritual dan berbagai tradisi (kejawen) yang pada dasarnya tidak sesuai dengan tuntunan agama yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, sehingga ini perbuatan syirik, bid’ah, khurafat. Hal inilah yang telah menyebabkan rakyat Indonesia mudah di jajah dan jauh dari tuntunan ajaran Islam yang sebenarnya.
Di samping kondisi bangsa Indonesia berada di bawah telapak kaki penjajah kolonial Belanda yang bertujuan untuk mengekploitasi kekayaan alam Nusantara secara paksa, yang dibarengi dengan kegiatan misi Kristenisasi kepada pribumi dengan berbagai cara Dilakukan oleh para zending untuk mengkonversiakn Islam menjadi umat Kristiani, ini adalah momok yang menakutkan dan meresahkan dikalangan umat Islam, sebab melakukan konversi secara masif dan terlembaga, meskipun pemerintah Belanda menyatakan netral terhadap agama, akan tetapi itu hanya isapan jempol belaka.
Berangkat dari keadaan seperti ini K.H. Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk melakukan pembaharuan dalam segala bidang, baik dengan mendirikan lembaga pendidikan, pengajian, dan yang lainnya, dengan tujuan untuk merespon adanya Kristenisasi terhadap rakyat Indonesia yang dilakukan oleh kolonial dan penyimpangan terhadap ajaran Islam. adapun ciri khas dari K.H. Ahmad Dahlan tidak mengedepankan konfrontasi. Akan tetapi melalui persaingan pembangun infastruktur tersebut.
Puji syukur terhatur kepada dzat yang maha ghafur, atas karunia dan rahmat, hidayah dan
inayah-Nya, penulis masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar dan menata masa
depan dengan cerah dan penuh semangat membara. Atas kekuasaan-Nya diri ini masih bisa
melewati samudera kehidupan yang penuh dengan gelombang penderitaan dan kebahagiaa dalam
mengarungi lautan kehidupan. Atas bimbingan-Nya, terpatri rasa sadar bahwa hidup ini adalah
lautan ujian untuk hamba-Nya dalam mengarungi kehidupan dengan perahu keimanan. Atas
pertolongan-Nya jua skripsi ini dapat terselesaikan.
Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada haribaan nabi agung Muhammad SAW,
sebagai suri tauladan sepanjang masa, semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di padang
mahsyar nanti dan termasuk ke dalam barisan hamba-hamba yang diberi inayah untuk
melanjutkan risalahnya.
Penulis sadar betul dengan sepenuh hati bahwa skripsi ini hanyalah goresan tinta kecil
yang jauh nilainya dari ukuran dengan orang-orang besar, namun dalam kapasitas penulis yang
dhai‟f dan di rantai dengan berbagai keterbatasan, skripsi ini rasanya sebuah capaian sejarah
yang monumental yang menjadikan penulis merasa besar, atau minimal ada sebuah kebanggaan
hati dalam penulis untuk membidik capaian-capain selanjutnya untuk mewujudkan mimpi agung
seperti orang-orang besar.
Penulis jua sadar dengan sepenuh hati bahwa diri ini berhutang banyak kepada pihak
v
bimbingan dan arahan untuk menyelesaikan skripsi ini. Jauh dari itu, skripsi ini ibarat segelas air
dingin dalam musim kemarau yang penulis tempuh dalam menjalani kerasnya kehidupan
Sembah bhakti, penulis haturkan kapada ayah (Enco Dasa) dan ibu (Uke Rukesih),
mohon maaf jika anakmu ini belum dapat membalas budi seperti yang telah engkau berikan
kepada diri ini. Terimakasih kepada ayah yang dengan keterbatasanmu diri ini bisa
membuktikan dan mewujudkan impian, sehingga kini anakmu ini lebih mengerti tentang
kedewasaan dan memahami kerasnya gelombang batu kehidupan. Terimakasih kepada ibu, kasih
sayang ibu yang tak pernah kering, telah membuat anakmu ini mampu bertahan di bawah
tajamnya jurang kehidupan. Terimakasih juga untuk kakak-ku ( Dadi dan kakak iparku teh Titin)
atas nasihatnya dan doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi. Terimakasih kepada
adik-ku (Riswan), raih mimpimu agar engkau menjadi orang yang menaikan drajat keluarga kita.
Amin.
Tak lupa, penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih tak terhingga kepada
orang-orang yang telah menanam benih-benih jasa dalam diri penulis antara lain:
1. Prof. Dr. H. Zainun Kamaluddin Fakih, MA., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin.
2. Drs. M. Nuh Hasan, MA., selaku Ketua Program Studi Perbandingan Agama sekaligus
dosen pembimbing skripsi, penulis ucapkan terima kasih banyak atas bimbingannya, dan
Drs. Maulana, M.Ag., selaku Sekretaris Jurusan Perbandingan Agama.
3. Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si dan Prof. Dr. Masri Mansoer, MA atas kesediaannya
menjadi Penguji Sidang Skripsi penulis.
4. Keluarga Besar Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta segenap
deden, Imas, Samsul, ma Dewo dan teh mimi; Anggi, ma Anyim. Ma Engku-wa Elek, wa
Yudi, ma Darsih, ceu Embat, ma Casdi, wa Emi, ma Enda dan ceu Teri, wa Eumi A Nana,
Atas doa dan suppotnya
6. Keluarga Besar Pondok Pesantren Riadul Muta‟alimin desa Geresik, Kec Ciawigebang,
Kab Kuningan, Pimpinan K.H. Ono Tarsono (A Ono) dan isrtinya teh Teti serta
anak-anaknya, penulis haturkan Terimakasih atas doa dan bimbingannya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi.
7. Keluarga besar ibu Minah dan bapak Mimid; A Eman dan istrinya Mba Ani beserta
anak-anaknya ( a Inan, a Rega dan dede Fahri), A Dede dan istrinya , A Engkus dan teh Eneng,
A lesmana ( om les) dan teh Yati, A Heri dan teh Yayah serta anaknya neng Nabil.
terimakasih atas doa dan bantuanya, penulis hanya bisa mendoakan semoga menjadi
keluarga yang sakinah, mawadah dan penuh dengan rahmat-rahmat Allah SWT.
8. Ucapan terimakasih kepada abah Solihin (alm) dan ema Emi (pengusaha kerupuk di
Bekasi), atas doa dan bantuannya, penulis sering silaturahmi kerumah dan diberi uang
jajan, ibu guru Eli terimakasih aras sharingnya,
9. Terimakasih kepada teman-taman seperjuangan kelas Perbandingan Agama angkatan 2005;
Robi, Wahyu, Samsul, Wasil, Zamroni, Masriah, Kiki, Lian, Ihya, Fikri, Iis, Rahmat,
Guntur, Deliar, Titis, Lukman, thanks for sharing dan diskusinya selama kita studi. Serta
v
yang lainnya, juga tak lupa kepada adik kelas PA, belajarlah dengan tekun dan gali potensi
diri agar menjadi orang yang mempunyai daya saing.
10.Keluarga Besar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Ciputat: terimakasih
IMM, engkau adalah Universitas kehidupan kedua bagiku. Karenamulah, diri ini telah
berubah dari apa yang tidak aku bayangkan. Diri ini ditempa, dididik. Diuji. Perkenankan
jua, penulis ucapkan thanks to. Kang ade sang inspirator (when you merrid?), Masto, kang
Ma‟ruf, bang Alfin (DPD IMM), kang Edi, kang Meidi, kang Cecep, kang Fadli, kang
Baharudin Azis, teh Orin. Pimpinan Cabang 2008-2009, masa amanah-ku; Indra. K
(Ketum), Tarsih, Ayu, Rijal, Ningsih, Siti Aisyah, Ipin, Hasbi. Pimpinan
Cabang.2009-2010 Imawan Iqbal dan jajarannya, Pimpinan Cabang Cabang.2009-2010-2011 Imawan Fahmi dan
jajarannya, dan adik-adik-ku yang di ASTRA dan ASTRI.
11.Adik-adiku atau lebih simple teman-teman-ku, Imawan/wati; Beni Azhari, Zuhri, Adik
Saiful Safikri, Hak, Dedi, Apip, Riswan Fais, Fikri, Syifa, Epin, Rita, Ita, Ina, Nina, Dini,
Fatwa, Uun.
12.Teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2008: Punggawa Tiga Serangkai (aku, Jajang,
Amir, semoga persahabatan kita tetap terjalin sampai akhir tua, semoga kita bisa S2
bersama), Zakiyah, Nunung, Nining, Enok, Imas, Sri, Erna, Mila, Mustain, Wahyu, Roby,
Samsul, YOU ALL IS THE BEST MY FRIEND.
13.Teman-teman Ikatan Pemuda, Pelajar, dam Mahasiswa Kuningan (IPPMK); kang Udin,
kang Andi, Afif, Tendi, Raja, kum teu di wiji-wiji.
Akhirnya dengan keterbatasan ini, penulis ucapkan terima kasih banyak kepada
pihak-pihak yang telah membantu dan memberi semangat selama penulis menimba ilmu di UIN
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan dan Pembatasan Masalah ... 7
C.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
D.Tinjauan Pustaka ... 10
E. Kerangka Teori ... 11
F. Metode Pembahasan ... 12
G.Sistematika Penulisan ... 13
BAB II. KONSEPSI MISI DAN PERKEMBANGAN KRISTENISASI DI INDONESIA A. Konsepsi Kristenisasi ... 16
B. Bentuk-bentuk Kristenisasi ... 23
C. Kristenisasi di Indonesia ... 26
BAB III MUHAMMADIYAH ERA AHMAD DAHLAN A. Sejarah Berdirinya Muhammadiyah ... 47
B. Perkembangan Muhammadiyah Era Ahmad Dahlan ... 56
C. Metode dan Bentuk Gerakan Dakwah Muhammadiyah Era Kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan ... 60
BAB IV SIKAP DAN RESPONS MUHAMMADIYAH ERA AHMAD DAHLAN TERHADAP KRISTENISASI A. Pandangan Muhammadiyah terhadap kristensiasi ...64
vii
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 79
B. Saran-Saran ... 81
DAFTAR PUSTAKA………82
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara majemuk, didalamnya terdiri dari keaneka
ragaman seperti suku, bahasa, etnis, agama, budaya dan yang lainnya, atau
meminjam bahasanya Alwi Shihab “Kesatuaan dalam Keanekaragaman” (Bhineka
Tunggal Ika). Di satu sisi, ini adalah modal yang sangat kuat untuk membangun
bangsa yang lebih kokoh dan mandiri. Akan tetapi di sisi lain, ini bisa menjadi
ancaman bagi keutuhan bangsa, bila tidak terakomodir semuanya sebagai contoh
konflik yang ditimbulkan oleh SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan)
ini adalah salah satu bentuk ancaman bagi keutuhan NKRI. Selain itu sifat yang
dicerminkan oleh bangsa ini yaitu sangat terbuka kepada gagasan yang datang dari
luar, sehingga dalam sejarah panjang Indonesia telah membuktikan bahwa bangsa
ini bisa menyambut baik pengaruh pelbagai peradaban asing termasuk di
dalamnya agama dan kebudayaan asing.
Indonesia telah di jajah oleh kolonial kurang lebih 350 (tiga ratus lima
puluh) tahun dengan berbagai bentuk eksploitasi, salah satunya adalah konversi
umat Islam menjadi Kristiani, sebab bangsa ini mayoritas penduduknya beragama
Islam. Sudah barang tentu ini menjadi agenda para misionaris untuk melakukan
Kristenisasi dengan menggunakan kemasan dipelbagai kegiatan. Seorang Nasrani
2
kerja misionaris Kristen bukan hanya untuk membawa orang-orang Islam menjadi
Kristen, tetapi mencabut mereka keluar dari Islam”.1
Dalam doktin ajaran Kristen dikenal adanya perintah untuk melakukan
penginjilan (Evangelisasi) yaitu ketika Kristus berpesan kepada muridnya
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka
dalam nama Bapak dan Anak dan Roh Kudus”,2 dan ajarlah mereka melakukan segala yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman. (Matius 28:16-20)
Begitulah para penginjil berpegang teguh pada ayat tersebut, walaupun
nyawa sebagai taruhannya, dengan tujuan untuk menyebar luaskan amanat agung
kepada pribumi Nusantara ini.
Kecurigaan kalangan muslim itu semakin mendalam ketika mereka
menyaksikan layanan kemanusiaan yang menjonol dalam kegiatan misionaris,
seperti bantuan pendidikan, kesehatan/keuangan untuk memasyarakatkan ajaran
Kristen, sehingga hal ini mereka pandang sebagai suatu bentuk yang sama dengan
upaya Kristenisasi.
Dalam membicarakan awal Kristenisasi, menurut Y. Bakker menganggap
permulaan pengembangan agama Kristen di Indonesia terjadi pada pertengahan
abad VII dengan berdirinya Episkopal Syria di Sumatera3
Episkopal dengan arti bahwa Gereja-gereja (ke Gerejaan) diperintahi oleh uskup-uskup; dari atas ke bawah secara rinci, dan para pemimpinnya ditunjuk, bukan dipilih oleh jemaat selaku
wakil-wakilnya. Baca Abujamin Roham, Ensiklopedia Lintas Agama, (Jakarta: Emerald, 2009),
Sejarah panjang kegiatan misi Kristenisasi di Indonesia, berawal dari
kedatangan bangsa Portugis yang ditandai dengan kedatangan Colombus. bangsa
Portugis yang menemukan rute ke Asia lewat Afrika Selatan menandai era baru
kegiatan misi Kristenisasi dikepulauan Indonesia.4 Pada tahun 1511, Portugis berhasil mendaratkan kapalnya di Malaka dan pada akhir tahun yang sama
berhasil mencapai Maluku. Kemudian agama Kristen memasuki daerah tersebut,
dengan mengikuti jalur perjalanan Portugis, maka salib-pun ditanamkan
dimanapun kapal Portugis mendarat.
Bersamaan dengan proses Islamisasi terhadap kebudayaan lokal Indonesia,
bangsa Belanda mendarat di Banten, Jawa Barat, pada 1596, dan langsung
bergabung dengan bangsa Portugis, Inggris, dan Spanyol dalam memburu
keuntungan di wilayah tropis yang amat kaya akan rempah-rempah ini. Namun
dalam pergulatan merebut pengaruh antara ketiga bangsa itu (Portugis, Inggris,
dan Spanyol), yang mendominasi kepulauan Nusantara yaitu bangsa Belanda,
Maka pada abad ke 18, tentara-tentara Belanda berhasil melumpuhkan kerajaan
Islam Mataram.
Dengan bangkitnya kekuatan Belanda, kegiatan Misi Kristenisasi beralih
ke VOC dan mulailah berkembang Kristen Protestan di wiliyah ini. Mereka
mengambil alih Pastor dan jemaah Kristen di bawah pengaruh mereka, sehingga
secara umum mereka benar-benar berhasil dalam usaha untuk menyebarkan ajaran
Kristen di Indonesia.5
4
Komaruddin Hidayat, (Ed) Passing Over, Melintasi Batas Agama, (Jakarta: Gramedia
dan Paramadina, 1998), hal. 11 5
4
Ada tiga bentuk hegemoni,6 yang digencarkan oleh kolonial penjajah yakni glory, gospel, gold, untuk itu mereka juga memberikan pelayanan
pendidikan dan sosial, serta kolonial Belanda merekrut orang-orang Indonesia
untuk memperoleh pendidikan Barat. Westernisasi bersamaan dengan kegiatan
Misi Kristenisasi yang dilakukan di Indonesia.
Menurut Alwi Shihab, pada umumnya Islam memandang Kristen sebagai
Ahlul Kitab yang harus dihormati tetapi sepanjang perjalanan sejarah, hubungan
yang telah menjadi sumber kebaikan bagi keduanya ini telah menjadi sumber
berbagai kesalahpahaman, ketidakpercayaan dan konflik.7 Pandangan Alwi Shihab di atas senada dengan Th. Sumartana, St. Sunardi dan Farid Warjidi, yang
mengatakan:
“Salah satu sebab pertentangan antara kedua agama besar ini (Islam-Kristen) menyangkut hal penyebaran agama (dakwah, zending, Misi). Agama pada masa itu menampilkan dirinya sebagai potensi disintegratif yang cukup menonjol disamping bidang-bidang lainnya, seperti idiologi, politik, dan kesukuan.8
Dalam kegiatan Misi Kristenisasi membutuhkan modal dan para ahli, baik
di bidang agama maupun di bidang teknis riset, dana dari luar negeri tentu saja
menjadi faktor pendukung yang singnifikan, misalnya dari International Christian
Pendeta, 33 Misionaris ,49 Pastur, bisa dilihat di karyanya. Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju
Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung, Mizan, 1997, cet ke-1), hal. 11
6 Istilah „Hegemoni‟ dipeloporikan oleh Antonio Gramsci, sosiolog aliran Marxis. Hegemoni dalam terminologi Gramsci adalah penguasaan terhadap kelas-kalas dibawahnya dengan cara fersuasif, sebagai lawan dari domonasi (penguasaan dengan tekanan otoritarian dan kekerasan). Hegemoni juga berarti penguasaan atas pihak lain dengan jalan consensus, dimana pihak yang dikuasai menyetujui ide, gagasan, dan cara pandang pihak yang menguasainya. Lebih
lanjut baca: Roger Simon, Gagasan-gagasan politik Gramsci, (Jakarta, INSIST bekerja sama
dengan Pustaka Pelajar, 2001, cet. III), hal, 19. 7
Th. Sumartana, “Pengantar; Menuju Dialog antar Iman, dalam Dialog, Kritik dan
Identitas Agama, (Yogyakarta: Dian/Interfidei, 1999), hal. X 8
Th. Sumartana, “Pengantar; Menuju Dialog antar Iman, dalam Dialog, Kritik dan
Aid, dan dari Word Council of Churches yang menjadi donator terbesar dalam
kegiatan misi Kristenisasi.
Berbeda dengan penyebaran Islam di Timur Tengah yang dalam
penyebarannya disertai dengan pendudukan wilayah oleh militer Muslim. Namun
kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara damai.9
Untuk itu sebagai counter atas adanya Misi Kristenisasi di Indonesia, umat
Islam dalam hal ini gerakan ormas Islam Muhammadiyah telah menampilkan diri
dalam kehidupan keagamaan di Indonesia, karena Muhammadiyah sepanjang
sejarahnya telah membuktikan bahwa ia bukanlah sekedar gerakan pendidikan
atau sosial-keagamaan, melainkan juga gerakan yang sangat aktif mendorong
kebangkitan kembali masyarakat muslim di Indonesia, selain sumbangannya yang
mengesankan dalam bidang sosial, politik dan pendidikan, sayap perempuan
Muhammadiayah, dalam hal ini Aisyiyah, mungkin dapat disebut sebagai gerakan
kaum perempuan yang paling dinamis di dunia muslim Indonesia.
Keresahan umat Islam dicerminkan dengan adanya gerakan-gerakan
pribumi pada awal di Hindia-Belanda yang bercorak kultural dari pada politis.
Adapun pergerakannya bervariasi, sebagian bersifat keagamaan dan sebagian
yang lainnya bersifat sekuler. Salah satu pergerakan yang bersifat pendidikan dan
kultural yang ditampilkan oleh kaum muslim santri ialah gerakan
Muhammadiyah, yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Jawa Tengah pada
1912.
9
6
Pada intinya Muhammadiyah memainkan empat peran penting yang saling
berkaitan10: pertama, sebagai gerakan pembaharuan; kedua, sebagai agen perubahan sosial; ketiga, sebagai kekuatan politik; dan keempat, yang paling
menonjol, sebagai pembendung paling aktif misi-misi Kristenisasi di Indonesia.
Muhammadiyah secara terbuka berupaya menanggulangi pasang naik kegiatan
Misionaris Kristen dalam berbagai cara. Tujuan ini diusahakan dicapai
kadang-kadang dengan cara langsung, tetapi yang lebih sering dengan cara tidak langsung,
yakni dengan menyediakan dan meningkatkan fasilitas-fasilitas pendidikan dan
kesehatan Islam. Cara tidak langsung ini dimaksudkan untuk menandingi fasilitas
sejenis yang sudah dengan mapan dikembangkan oleh lembaga Misionaris
Kristen.
Berangkat dari pemikiran tersebut, penulis mengajukan sebuah judul
skripsi “Respons Muhammadiyah terhadap Misi kristenisasi di Indonesia Era
Kepemimpinan K.H Ahmad Dahlan”. Maka berkenaan dengan itu dapat penulis
tegaskan beberapa alasan memilih pokok masalah tersebut:
Pertama, masih sangat sedikit tulisan yang berkenaan dengan “Aktivitas
Misi Kristenisas,” mungkin hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama adalah
ketidaksediaan untuk membahas permasalahan yang dapat memunculkan
pertentangan tersembunyi antara umat Islam khususnya Muhammadiyah dan
Kristen di Indonesia kepermukaan. Alasan Kedua adalah kehati-hatian yang
berlebihan, berusaha untuk tidak mengusik kepekaan pemerintah terhadap
permasalahan yang berhubungan dengan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar
10
Alwi Shihab, Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah Terhadap
Golongan), oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan Misi
Kristenisasi ini, sebagai sumbangsi pemikiran dan upaya memecahkan kebekuan
penulis tentang kegiatan Misi Kristenisasi.
Kedua, tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan umat Kristen sebagai
kelompok minoritas, namun lebih merupakan pengungkapan fakta terhadap
adanya aktivitas Misi.Kristenisasi pada masa Kolonial penjajahan di Indonesia.
Ketiga, sesuai dengan tema, penulis ingin mengungkap lebih jauh
mengenai bentuk Respons yang diberikan umat Islam khususnya Muhammadiyah
terhadap adanya kegiatan Misi Kristenisasi pada masa Kolonial penjajahan dan
mengungkap lebh jauh keterlibatan organisasi massa Muhammadiyah sebagai
bentuk dari lembaga formal umat Islam dalam merespon adanya Misi Kristenisasi.
B. Perumusan dan Pembatasan Masalah
Masuknya agama Kristen sering dianggap semata-mata hasil kerja
penginjilan yang dihembuskan oleh kedatangan penjajah di Indonesia sehingga ini
menjadi momok yang meresahkan bagi pribumi khususnya umat Islam. Agama
adalah persoalan inti dalam kasus ini. Perpindahan agama yang dilakukan oleh
seseorang merupakan manifestasi keinginan untuk melakukan perubahan secara
radikal karena kepercayaan telah tertancap dalam di jantungnya dan berakar di
hatinya. Ketika beralih agama berarti mencampakan agama masa lalu seseorang,
akan tetapi akan menjadi masalah jika melakukan itu kepada ribuan orang yang
sudah memiliki agama (Islam) yang dianut seperti di Nusantara pada masa
8
doktin ajaran Kristen dikenal adanya perintah untuk melakukan penginjilan
(Evangelisasi).
Berangkat dari permasalahan di atas tadi, hemat penulis, penelitian ini
sangat layak untuk diteliti dan dikembangkan, maka agar permasalahan ini tidak
meluas, penulis akan merumuskan ke dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa sebenarnya konsepsi misi dan perkembangan Kristenisasi Era
Kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan?
2. Apa yang melatarbelakangi K.H. Ahmad Dahlan mendirikan
Muhammadiyah?
3. Apa saja yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan dalam menghambat
Kristenisasi?
4. Apakah usaha K.H. Ahamd Dahlan berhasil dalam menghambat
Kristenisasi?, jika berhasil tolak ukurnya dimana?
5. Bagaimana Respons Muhammadiyah terhadap kristenisasi di Indonesia
pada Era Kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan?
Secara keseluruhan Kristenisasi telah menjadi keresahan bagi umat Islam,
mengingat di negara ini mayoritas penduduknya beragama Islam.
Gerakan-gerakan Misi Kristenisasi dari awal kedatangnya yang dibawa oleh para penjajah
hingga sampai sekarang dengan bentuk kemasan atau penampilan yang selalu
berbeda-beda, ini telah menjadi momok yang meresahkan umat Islam sehingga
harus di respons.
Dalam kajian skripsi ini sesungguhnya memerlukan uraian panjang dan
(cara) Misi Kristenisasi yang nantinya dapat dilihat dari awal kedatangannya
sampai sekarang selalu berubah-rubah dan bagaimana Respons Muhammadiyah
pada era kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan terhadap Kristenisasi. Di pilihnya
ormas Islam Muhammadiyah bukan berarti menafikan peran organisasi lain dalam
merespons adanya kegiatan misi Kristenisasi, namun penulis melihat berdasarkan
fakta dan data yang ada, ormas Islam Muhammadiyah inilah yang secara nyata
melakukan kegiatan-kegiatan sebagai reaksi terhadap adanya kegiatan
Kristenisasi, maka untuk meresponsnya dibangunlah tempat pendidikan dan
rumah sakit, serta panti asuhan diberbagai pelosok daerah-daerah untuk
mengimbangi banyaknya para misi Kristenisasi yang disebar lembaga gereja,
sehingga seperti inilah yang dilakukan Muhammadiayah untuk melakukan
penetrasi terhadap misi Kristenisasi.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan umum dari penelitian ini adalah ingin menjelaskan mengenai
Respons Muhammadiyah Terhadap Misi Kristenisasi pada era kepemimpinan
K.H. Ahmad Dahlan. Adapun manfaat dari penelitiaan ini antara lain:
1. Dapat dipakai sebagai salah satu bahan referensi yang menyangkut
Misi Kristenisasi pada masa penjajahan di Indonesia
2. Sebagai stimulant awal untuk penelitian lebih lanjut dalam rangka
menelusuri gerakan Misi Kristenisasi di Indonesia
3. Sebagai counter atas adanya kegiatan Kristenisasi di Indonesia yang
10
D. Tinjauan Pustaka
Sepanjang penelusuran penulis, sudah ada skripsi yang membahas
mengenai “Respons Umat Islam Terhadap kristen di Indonesia (1945 s/d 1990)”
oleh Ida Humaida11, mahasiswi Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2000. penelitian skripsinya
berkonsentrasi pada sejarah berkembangnya misi Kristenisasi di Indonesia dari
tahun 1945 s/d 1990, skripsi ini hanya membahas tentang sejarah misi di Indonesi.
Untuk itu sebagai counter atas adanya Kristenisasi di Indonesia, dua Ormas Islam
yaitu Muhammadiyah dan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) dengan
berbagai gerakannya adalah untuk dakwah Islam dan mengimbangi Misi Kristen
di Indonesia.
Disamping itu dalam Disertasinya Dr Alwi Shihab mengenai “Gerakan
Muhammadiyah” tahun1998 yang dijadikan buku dengan judul “Membendung
Arus: Respons Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia”12
yang diterbitkan tahun sama, dijelaskan dalam buku itu mengenai Indonesia dalam
tinjauan historis, masuk dan berkembangnya agama Kristen di Jawa, atas itulah
salah satu lahirnya Muhamadiyah adalah salah satunya sebagai penetrasi
kebudayaan lokal dari Kolonial Belanda sehingga Muhammadiyah membendung
misi-misi Kristen.
Sebagai pendukung, penulis mengambil literatur dari karangannya C.
Guillot dengan judul buku “Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa” buku
11
Lihat dalam Skripsi, Ida Humaida. “Respon Umat Islam terhadap Misi Kristen 1945
s/d 1990).” Skripsi S1 Fakultas Adab, IAIN syarif Hidayatullah Jakarta, 2000 12 Lihat Disertasi Alwi Shihab “Gerakan Muhammadiyah”
yang dijadikan buku
“Membendung Arus; Respons Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia
tersebut mengupas tentang berdirinya agama Kristen di Jawa berikut gerakan
Misionarisnya yang dilakukan oleh gereja Protestan dan Katolik, untuk
menyebarkan Kristenisasi maka dilakukan oleh orang Eropa non gereja dan orang
pribumi diantaranya: Mr Ende, nyonya Philips, Sadrach dan yang lainnya. Pokok
dalam buku ini adalah menceritakan riwayat hidup Sadrach dan pergerakannya
dalam penyebaran Misi Kristenisasi di jawa. Diantara pendukung buku lainnya
adalah buku “Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia” yang dikarang
oleh pendeta. Dr. Jan S. Aritonang. Buku ini memaparkan tentang perjumpaan
Islam dan Kristen pada masa penjajahan Portugis, Belanda VOC, Jepang, serta
perjumpaan Islam dan Kristen pada masa Orde Lama, pada masa Orde Baru, dan
perjumpaan Islam pada masa Era Reformasi. Selain itu masih banyak buku
lainnya yang berkaitan tentang Misi Kristenisasi di Indonesia yang dijadikan
sebagai referensi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Maka dari studi review
terhaduhu di atas, penulis ingin mengungkapkan Kristenisasi pada era
kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan sebagai counter oleh ormas Islam
Muhammadiyah terhadap Kristenisasi, serta buku-buku lainnya yang menyangkut
Muhammadiyah dan agama Kristen di Indonesia.
E. Kerangka Teori
Menjelang didirikannya Muhammadiyah, Islam-Indonesia tengah
mengalami krisis karena keterbelakangan pemeluknya akibat sistem pendidikan
yang statis. Kegiatan Misi Kristen maupun organisasi yang tidak berbasis Islam
nampaknya menempati posisi terdepan karena disebabkan oleh kuatnya pengaruh
12
Indonesia. Oleh karena itu Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiayah adalah
perkembangan logis dalam menghadapi kegiatan Kristenisasi yang diberi
dukungan dan kekuatan oleh para penguasa Kolonial Belanda13. Sebagai counter atas Misi kristenisasi Ahmad Dahlan mendirikan lembaga pendidikan yang
menggabungkan sistem pesantren dan umum.
Berangkat dari Firman Allah “dan barang siapa mencari agama selain
Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima dari-Nya dan di akhirat kelak ia akan
termasuk orang yang merugi”.14
Menurut Murtdha Muthahhari jika seseorang
mengatakan bahwa makna Islam secara harfiah adalah ketundukan kepada Allah
maka konsekuensinya wajib ketundukan kepada Allah dengan menerima
perintah-perintahnya. Selain itu dalam pandangan Murtdha Muthahhari hanya ada satu
agama yang benar pada tiap zaman, dan semua manusia wajib beriman
kepadanya. Sehingga tiap-tiap nabi menguatkan keabsahan nabi-nabi terdahulu,
maka konsekuensinya keimanan kepada semua nabi adalah ketundukan
agama-agama sebelumnya kepada nabi yang teraktual15. Dalam hal ini Islam yang di bawakan oleh nabi Muhammad.
F. Metode Pembahasan
Dalam upaya memudahkan penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan
pendekatan kajian pustaka, analisis historis mengenai respons Muhammadiyah
terhadap kristenisasi di Indonesia pada era kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan,
maka dilakukan dua tahapan metode pembahasan sebagai berikut: Pertama,
13
Mahasri Shobahiya DKK, Studi Kemuhammadiyahan, Surakarta: Lembaga
Pengembangan Ilmu-ilmu Dasar (LPID) UMS, 2008 Cet ke 3, hal 43 14
Al-Qur‟an Surat Ali’Imran Ayat 85 15
Murtdha Muthahhari, Memastikan Bunda Teresa Masuk Neraka?, Dopok; Pustaka
heuristic atau penelusuran data, beberapa data yang penulis jadikan rujukan
adalah data primer seperti berkaitan dengan sejarah misi Kristen masuk ke
Indonesia, baik dari buku-buku, jurnal, majalah, surat kabar, dan tulisan-tulisan
yang membahas penetrasi misi kristenisasi di Indonesia pada era kepemimpinan
K.H. Ahmad Dahlan. Kedua; Kajian Analisa, penulis mencoba melakukan kritik
terhadap data yang ada dengan mencoba membandingkan satu informasi dengan
informasi lainnya, sehingga di dapat data yang penulis anggap paling akurat untuk
dijadikan rujukan dalam skripsi ini. Teknik dan penulisan skripsi ini mengacu
pada pedoman penulisan skripsi, tesis, disertasi yang di susun oleh tim UIN Syarif
Hidayatulah Jakarta atau mengikuti buku pedoman Akademik UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
Guna mendukung pembatasan masalah tersebut, penulis merumuskan
pembahasan dengan menganalisa bagaimana Respons dan reaksi umat Islam
khususnya Muhammadiyah terhadap kegiatan Misi Kristenisasi di Indonesia pada
era kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan.
Sejumlah pertanyaan di atas kiranya bisa difahami sebagai upaya penulis
untuk membuat suatu rumusan skripsi guna memudahkan kajian yang mengarah
pada bentuk respons Muhammadiayah terhadap Kristenisasi di Indonesia era
kepemimpinan K.H Ahmad Dahlan .
G. Sistematika Penulisan
Penyusunan skripsi ini secara sistematis terbagi atas lima pembahasan,
14
Bab I merupakan pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah,
perumusan dan pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian dan
sistematika penulisan. Pada Bab ini juga akan dipaparkan mengenai penelitian ini
penting untuk dilakukan. Kecuali itu, cakupan masalah yang dibahas juga dibatasi
sedemikian rupa agar tidak melebar pada hal-hal yang di luar pembahasan.
Kerangka teoritis dimaksudkan sebagai mata baca dan alat analisa penulis dalam
menilai suatu permasalahan. Dalam Bab ini juga disajikan tinjauan pustaka atau
review studi terdahulu yang pernah membahas persoalan serupa. Dengan
demikian, kiranya memjadi jelas apa signifikansi penelitian yang penulis lakukan
dan dari mana posisi penulis diantara para penulis terdahulu.
Bab II Memaparkan konsepsi Kristenisasi yang di dalamnya memuat arti
Kristenisasi, dalil teologis Kristenisasi, misi kristenisasi, disusul dengan
bentuk-bentuk Kristenisasi, serta penulis akan menjelaskan juga sejarah kristenisasi di
Indonesia.
Bab III Memuat bahasan tentang sejarah berdirinya Muhammadiyah. Pada
bagian ini juga akan dibahas perkembangan Muhammadiyah era K.H. Ahmad
Dahlan. Sebagai akhir Bab III penulis juga akan memaparkan metode dan bentuk
gerakan dakwah Muhammadiyah
Bab IV Menguraikan tentang Kristenisasi dalam pandangan
Muhammadiyah, selanjutnya Respons Muhammadiayah Terhadap Kristenisasi
pada era kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan,
Bab V Merupakan penutup, hasil analisa dari penelitian ini akan dijelaskan
perumusan yang dirumuskan dalam Bab I. Kecuali, beberapa catatan dan saran
penting dari hasil penelitian ini juga akan ditambahkan dalam Bab ini.
BAB II
KONSEPSI MISI DAN PERKEMBANGAN KRISTENISASI
DI INDONESIA
A. Konsepsi Kristenisasi
Menjelang pertengahan abad ke-VII Indonesia jatuh ke kaki penguasa
kolonial, melalui penjajahan terhadap pribumi yang diikuti dengan penyebaran
kegiatan Misi Kristenisasi. Ini telah membuktikan bahwa pemerintah kolonial
tidak hanya mencari keuntungan terhadap wilayah yang dijajahnya, akan tetapi
mereka juga memberi dukungan terhadap para misionaris untuk menyebarkan
agama Kristen di Indonesia.
1. Arti Kristensiasi
Sebelum membicarakan tentang Kristeisasi, penulis akan menjelaskan
terlebih dahulu mengenai arti Misi, karena Misi dan Kristenisasi adalah bagaikan
dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling berkaitan.
Tidak pernah ditemukan dalam perjanjian baru mengenai istilah Misi,
akan tetapi didalamnya terdapat kurang lebih sembilan puluh lima ungkapan
Yunani yang berkaitan dengan Misi.1 Salah satu ungkapan Yunani bernuansa Misi
adalah “apostello” yang artinya “mengutus”, sedangkan kata Misi itu sendiri
berasal dari bahasa latin “mitto” yang memiliki arti “mengutus”.2 Secara umum
kata Misi bisa merujuk pada pengutusan seseorang dengan tujuan khusus,
misalnya Misi kesenian, Misi budaya, dan yang lainnya. Namuan Misi dalam
1
David J.Bosch, Transformasi Misi Kristen. Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan
berubah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), cet ke-1, hal. 23 2
Daniel Maedjadja, Prinsip-prinsip Dasar Kepemimpinan Kristen, (Yogyakarta: Yayasan
ANDI, 1995), hal. 41-42
konteks Kekristenan, Misi dipahami dalam arti pengutusan gereja universal ke
dalam dunia untuk menjangkau orang-orang kepada Kristus, sebagai Tuhan dan
Juru Selamat, khususnya melalui sekelompok pekerja yang disebut Misionaris
Ada beberapa hal yang perlu ditekankan dari definisi Misi di atas, hemat
penulis terbagi dalam empat pengertian, yaitu:
Pertama,Pengutusan ke Dunia, artinya Orang Kristen diutus untuk pergi ke dunia
(Yoh. 17), membawa orang yang belum bertobat ke dalam ibadah gereja. Oleh
karena itu orang Kristen harus proaktif dalam Misi, bukan menunggu
kesempatan;.Kedua, Gereja Universal, artinya Misi bukanlah pekerjaan sebuah
gereja lokal. Misi adalah pekerjaan Allah, karena itu seluruh orang yang percaya
disegala tempat harus terlibat. Sehingga fungsi gereja lokal harus memperhatikan
dan mendukung pekerjaan Misi di belahan dunia yang lain, karena pekerjaan
tersebut adalah milik semua gereja; Ketiga, Untuk Menjangkau Orang-orang
kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, .artinya Misi tidak selalu identik
dengan pertumbuhan gereja (lokal). Tujuan utama Misi bukanlah menambah
jumlah keanggotaan suatu gereja lokal saja, melainkan pelebaran kerajaan Allah.
Misipun tidak identik dengan mengajarkan agama Kristen, Yesus sebagai guru
etika, penyembuh maupun pemberi berkat; keempat. Khususnya Misionaris,
artinya Kekhususan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa ada banyak daerah
yang belum memiliki orang Kristen di sana, sehingga sekelompok orang Kristen
perlu diutus secara khusus untuk memberitakan Injil di sana. Kekhususan ini tidak
membatalkan peran serta gereja lokal. Gereja lokal harus tetap mendukung para
18
Berkaitan dengan Misi, sebagaimana yang diungkapkan oleh David J.
Bosch, ia memberikan iliustrasi menarik bahwa yang dimaksud dengan Misi
ialah: (a) penyebaran Iman (b) perluasan pemerintahan Allah, dan (c) pendirian
jemaat-jemaat baru.3 Selain itu kata Misi ternyata sering juga diparafrasekan dengan istilah lain Zending dan Evangelisasi, istilah zending lebih merupakan
kosa kata bahasa Belanda, yang berarti pengutus Injil (Misi yang dibawakan oleh
Kristen Protestan), sementara Evangelisasi Penginjilan (Misi yang dibawakan
oleh gereja Katolik)..
Dari sekian banyak definisi Misi, ada dua definisi yang sering dipakai,
yaitu definisi dari Advancing Church Mission Commitment (ACMC). Definisi ini
dibuat dan disepakati oleh kira-kira 170 orang Pimpinan gereja dan Badan-badan
Misi4
Pertama, Misi adalah: Setiap usaha yang ditujukan dengan sasaran untuk
menjangkau melampaui kebutuhan gereja dengan tujuan untuk melaksanakan
Amanat Agung dengan menyatakan Kabar Baik dari Yesus Kristus, menjadikan
murid, dan dikaitkan dengan kebutuhan yang utuh dari manusia, baik jasmani
maupun rohani; Kedua, Mengenai gereja Misioner yang aktif dan sehat,
digambarkan sebagai: Gereja yang mengambil sikap agresif dalam penginjilan
sedunia, dimana setiap anggota jemaat melihat dirinya sebagai komponen kunci
3
David J.Bosch, Transformasi Misi Kristen. Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan
Berubah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), cet ke-1, hal. 24
4
Novi Yuniarti, Sekilas Tentang Misi, artikel diakses pada 30 Maret 2011 dari
dalam menggenapi Amanat Agung dan memobilisasi sumber-sumber dayanya
semaksimal mungkin untuk tugas ini"
Sedangkan menurut Uskup Stephen Neil, Misi adalah setiap usaha sengaja
untuk melintasi atau menerobos rintangan-rintangan dari gereja kepada non gereja
demi memproklamirkan Injil dalam kata dan karya. Jadi, yang dikategorikan
sebagai Misi adalah pekerjaan yang memikirkan kebutuhan akan Injil di luar
tembok gereja atau non gereja..
Kristenisasi ialah Pengkristenan (orang-orang) atau gerakan untuk
mengkristenkan umat manusia.5 Kristenisasi dalam pengertian yang lain ialah
upaya meng “Kristen” kan semua manuasia, baik anak keturunan Bani Israil yang
sesat, maupun manusia lainnya yang berada dimuka bumi ini. Adapun kata atau
istilah “Kristenisasi” sama dengan istilah Evangelisasi dan zending yang memiliki
perbedaannya hanya terletak pada bahasa, bahwa kata Evangelisasi dan zending
adalah bahasa indah, ramah, dan halus yang dibawa oleh misionaris Katolik,.
sedangkan kata zending selalu dipakai oleh orang Kristen Protestan dalam
menyebarkan Misinya. Akan tetapi kata Kristenisasi lebih mendesak dalam
pengertian lebih bersifat kepada melakukan segala cara (melalui: pemanfaatan
kemiskinan, kebodohan umat, pengangguran, dan yang lainnya) dengan
melakukan apa saja untuk menjadikan seseorang atau bangsa di luar Israil agar
menjadi pengikut Jesus yang Kristus ini sesuai dengan Matius 28:19 dan Yahya
10:16 “Ada lagi padaKu domba yang lain, yang bukan masuk kandang domba ini;
maka sekalian itu juga wajib aku bawa”
20
Para evangelis dan zending dalam menyampaikan ajaran Kristen, mereka
memakai sumbernya dari segenap kitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, atau
mereka bisa dikatakan Kristolog artinya jika pengertian tentang ke Kristenan atau
berita yang menyangkut tentang Yesus Kristus, berdasarkan Alkitab yang
disampaikan lewat ucapan, tulisan, atau yang lainya adalah murni.
2. Dalil Teologis Kristenisasi
Dalam bab satu telah penulis ulas mengenai doktin ajaran Kristen dikenal
adanya perintah untuk melakukan penginjilan (Evangelisasi) yaitu ketika Kristus
berpesan kepada muridnya untuk “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa
muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapak dan Anak dan Roh Kudus”,6 dan ajarlah mereka melakukan segala yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. (Matius
28:16-20)
Begitulah para penginjil dengan gigih teguh pada ayat di atas tersebut
meskipun harus ditebus dengan nyawa mereka dengan harapan mendapatkan
kehidupan baru di surga, mengingat ini adalah sebuah sebuah “Amanat Agung”
untuk menjadikan segala bangsa sebagai murid Yesus dan membaptis mereka atas
nama Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.
Selain itu untuk memperkuat tentang dogma dalam Kristen yang
menyangkut Kristenisasi ialah Matius 28:19 dan Yahya 10:16 “Ada lagi padaKu
Domba yang lain, yang bukan masuk kandang domba ini; maka sekalian itu juga
6
wajib aku bawa. Artinya Yesus ingin menjadikan seseorang atau bangsa di luar
Israil dan seluruh umat manusia agar menjadi pengikut Jesus yang Kristus.
Adapun Doktrin agama Kristen yang lainnya terkait dengan Kristenisasi
adalah jauh sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW, dogma Kristen
menyatakan bahwa satu-satunya jalan keselamatan dunia dan akhirat hanya
ditawarkan oleh Yesus. "Siapa tidak besama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak
berkumpul bersama-Ku bercerai-berai" (Matius 12:30) yang kemudian
berkembang dengan slogan Extra Eccelesias Nulla Salus (di luar gereja tak ada
keselamatan).
Dari ketiga ayat di atas tersebut adalah doktrin agama dalam Kristen yang
dijadikan oleh para misionaris sebagai sumber untuk melaksanakan kristenisasi
karena ini adalah Amanat Agung.
3. Misi Kristenisasi
Ada beberapa tujuan dari kristenisasi yang ingin dicapai adalah sebagai
berikut:
1. Misi kriatenisasi Mencakup Pekabaran Injil dan Pelayanan Sosial.
Ada beberapa pandangan umum tentang Misi kristenisasi, salah satunya
menurut A. Scott Moreau, “Mission and Missions” dalam Evangelical Dictionary
of World Missions. Pandangan Tradisional melihat Misi kristenisasi identik (dan
terbatas pada) penginjilan saja, namun menurut pandangan Modern (kalangan
liberal) Misi Kristenisasi mencakup penginjilan dan memberikan pelayanan sosial,
namun bagi mereka penginjilan tidak lebih penting dari pada pelayanan sosial.
22
Kristenisasi dipelopori oleh John Stott. Ia berpendapat bahwa Misi Kristenisasi
Al-Kitabiah mencakup penginjilan dan pelayanan, akan tetapi penginjilan tetap
menjadi inti Misi kristenisasi, seperti murid-murid Yesus diutus untuk melakukan
Misi Kristenisasi sama seperti yang telah dilakukan Yesus, sedangkan dalam
pelayanan Yesus, Ia tidak hanya memberitakan Injil tetapi juga memperhatikan
masalah sosial.
2. Misi Kristenisasi Berujung pada Pemuridan.
Mayoritas orang memahami inti amanat agung (Mat 28:19-21) adalah
terletak pada penginjilan (banda. kata “pergilah” yang diletakkan di awal kalimat)
dan langkah selanjutnya adalah pemuridan, baptisan dan pengajaran.
Bagaimanapun, menurut struktur kalimat Yunani di ayat 19-20, inti Amanat
Agung justru terletak pada pemuridan. Hal ini didasarkan pada mood imperatif
untuk kata kerja “jadikanlah murid” (muridkanlah) yang diikuti oleh tiga
participle (anak kalimat), yaitu “pergi”, “baptiskanlah” dan “ajarkanlah”.
Penggunaan kata “muridkanlah” di sini menempatkan penginjilan dalam konteks
mempelajari hukum (ajaran) Yesus.
3. Mis Kristenisasii Merupakan Tugas Seluruh Orang yang Percaya.
Kesalahpahaman lain tentang Amanat Agung yang kadangkala muncul
adalah konsep bahwa pekerjaan Misi Kristenisasi merupakan tugas khusus untuk
murid-murid Tuhan Yesus (kaum rohaniwan, dan bukan untuk jemaat awam).
Bahkan ada yang berpendapat bahwa penginjilan merupakan karunia khusus yang
tidak harus dilakukan oleh setiap orang yang percaya. Pandangan ini tentu saja
“semua bangsa” dan disertai janji “sampai kesudahan jaman”. Dua hal ini tidak
mungkin hanya dimaksudkan untuk kaum rohaniawan sebagai murid Tuhan, akan
tetapi orang awampun yang percaya dipersilahkan untuk melakukan penyebaran
Misi.
dari yang telah dibahas di atas tadi, maka sebenarnya misi Kristenisasi
adalah ingin memproklamirkan kerajaan Allah, dengan harapan afar seluruh umat
manusia bisa masuk kedalam kerajaan Allah tersebut yang telah Mengutus Yesus
sebagai juru selamat bagi umat manusia.
B. Bentuk-bentuk Kristenisasi
Sebenarnya bentuk nyata dari adanya Kristenisasi adalah penjajahan, akan
tetapi untuk mempermudah prosesnya, maka hemat penulis dibagi kepada dua
katagori, yaitu:
1. Sistem Pendidikan Sekolah.
Sejak awal, penyebaran agama Kristen ke Indonesia melalui pendirian
sekolah-sekolah yang didukung oleh pamarintah Belanda. Proyek pendidikan
pemerintah Belanda dimulai sekitar pertengahan abad ke 19. Beberapa anak-anak
Indonesia dari kalangan menengah ke atas mendapat kesempatan untuk belajar di
sekolah untuk anak-anak Eropa yang sudah berdiri sejak 1816. Pemerintah
kolonial juga membuka sekolah guru untuk sekolah-sekolah Jawa dan sekolah
STOVIA untuk melayani kesehatan masyarakat pribumi. Karena meresa kurang
24
(sekolah para kepala) untuk mendidik anak-anak Bupati dalam bidang
administrasi. Proyek pendidikan ini terus berlanjut sampai dengan pembukaan
lembaga pendidikan dasar yang disebut dengan sekolah kelas satu dan sekolah
kelas dua.7
Pada periode politik etis, atau periode setelah 1900-an, telah terjadi
perubahan pada pendidikan kolonial, baik dalam bentuk re-organisasi sekolah
maupun pembukaan sekolah-sekolah baru. Pada tahun 1900, tiga Hofdenschoolen
yang teletak di Bandung, Magelang, dan Probolinggo di-re-organisasi menjadi
OSVIA (Opleidingschoolen Voor Inlandsche Ambtenaren), dengan tujuan supaya
nyata-nyata menjadi lembaga pendidikan yang mencetak pejabat pribumi yang
secara tidak langsung mendidik mereka agar tertarik pada Belanda. Dan memang
untuk pembelajarannya di OSVIA adalah lima tahun, dengan pengantar bahasa
Belanda. Tahap berikutnya sekolah kelas satu berubah menjadi HIS (Hollandsch
Inlandsch School) atau bisa disebut sekolah Belanda-Pribumi pada tahun 1914.8
Di samping itu pemerintah kolonial Belanda juga telah membuka
sekolah-sekolah, seperti sekolah untuk orang Eropa ELS (Europessch Lagere School),
sekolah tingkat menengah HBS (Hogere Burger School), MULO (Meer
Uitgebreid Lafere Onderwijs) untuk melayani pendidikan tingkat menengah dan
AMS (Algemene Middelbare School) untuk melayani pendidikan tingkat atas,
7
Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20; Pergumulan antara
Modernisasi dan Identitas, (Jakarta: LPJM UIN Jakarta press, 2009), hal. 86 8
Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20; Pergumulan antara
sekolah- sekolah di atas tersebut adalah mengakomodasi banyak gagasan dan
cita-cita pada tahun 1900-an STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsch Arsten).
Sekolah-sekolah ini sebagai tujuan integral dari cencana pemerintah
Kolonial belanda yang bekerjasama dengan para misionaris untuk
“membelandakan” anak-anak pribumi yang kelas menengah keatas dengan
harapan kelak masuk pada agama Kristen.
2. Inkulturasi (penyesuaian agama terhadap budaya setempat).
Prinsip bahwa agama Kristen harus disampaikan kepada pribumi dalam
bentuk yang bisa diterima oleh kebudayaan dan pandangan dunia masyarakat
tersebut,9 dengan mempertahankan hal yang fundamen dalam ajaran Kristen, sehingga bentuk Alkitab bisa di terjemahkan dalam bahasa pribumi tersebut
seperti, Indonesia, melayu, Jawa, Sunda, dll. Dengan tujuan agar bisa diterima dan
dipahami oleh masyarakat setempat. Selain itu siakp yang ditonjolkan oleh para
misionaris adalah sikap akamodatif terhadap tradisi Jawa dan adat-istiadat Islam,
seperti memakai blangkaon, berbicara bahasa Jawa, dan yang paling menarik
mereka pun mempertahankan upacara adat selametan, yang di dalamnya adalah
kumpul dan makan bersama, karena tradisi ini adalah kegiatan yang menjadi
kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa. Adapun bentuk Kristenisasi
yang lainnya adalah memanfaatkan tradisi yang menceritakan kisah-kisah dalam
Alkitab untuk menyampaikan pesan-pesannya melalui pementasan pewayangan
9
26
yang seperti yang dilakukan oleh seorang Wali Songo (Sunan Kalijaga) dalam
menyebarkan agama Islam di Jawa.
Selain itu bentuk Kristenisasi yang lainya adalah, dibukanya lahan
pertanian sebagai membuka lapangan pekerjaan untuk pribumi, dengan secara
perlahan mereka pun akan medah dalam menyampaikan ajaran agama Kristennya,
dan yang tidak kalah penting lagi merekan membuka pengobatan secara
cuma-cuma dan gratis kepada masyarakat yang dibarengi dengan pembaptisan.
C. Kristenisasi di Indonesia
Seperti yang sudah diungkapkan pada Bab pendahuluan, berbicara tentang
awal Misi Kristenisasi masuk ke kepulauan Indonesia sebagaimana yang di
katakan oleh Y. Bakker mengatakan bahwa masuknya agama Kristen di Indonesia
sudah terjadi pada pertengahan abad ke VII dengan berdirinya gereja Episkopat10 Syiria di Sumatera.
a. Prakemerdekaan:
1. Misi Kristenisasi di bawah Kolonial Portugis
Negara Portugis terletak di semenanjung Iberia, ujung barat daya benua
Eropa, dikenal sebagai Negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen
Katolik. Dalam perjalanannya bangsa Portugis ini mengemban tiga Misi dalam
melakukan ekspansinya: berdagang, menaklukan wilayah, dan menyiarkan agama.
Ketiga hal tersebut sering diungkapkan dengan istilah Gospel, Gold, and Glory.
Maka setiap dalam ekspedisi bangsa Portugis selalu diikutkan sejumlah imam atau
10
Gereja-gereja yang Orang para pemimpinnya ditunjuk bukan dipilih oleh jemaat selaku
wakil-wakilnya. lebih lengkapnya baca: Abujamin Roham, Ensiklopedi Lintas Agama, (Jakarta: pt.
rohaniawan katolik yang bertugas untuk melayani dan merawat para pedagang
dan personilnya, bahkan untuk mengabarkan Injil kepada penduduk pribumi,
sehingga para imam atau rohaniawan ini merangkap sebagai Misionaris. Agama
Kristen tiba di wilayah yang kini disebut Indonesia, menurut para sarjana Kristen
yaitu sejak periode bapak-bapak Kristen awal.11. Dalam pelayarannya era Columbus, orang-orang bangsa Portugis menemukan rute perjalanan menuju ke
Asia lewat Afrika selatan yang selanjutnya ini adalah proses awal dalam kegiatan
Misionaris di wilayah kepulauan Nusantara ini. Maka usaha Misi Kristenisasi
berikutnya yang di gencarkan oleh orang-orang Portugis meraih kesuksesan
terutama di wilayah Maluku sebagai kepulauan yang kaya rempah-rempah, pada
abad ke XVI. Orang –orang Portugis berhasil mendaratkan perahunya di Maluku,
setelah itu melebarkan ekspansinya ke Goa, dan Malaka yang dijadikan sebagai
pusat kegiatan Misi Krisren.12
Pada tahun 1511, bangsa Portugis telah menguasai Malaka, dan pada saat
tahun yang sama juga mereka telah menguasai Maluku, dan memperluas di
wilayah-walayah sekitarnya disertai dengan penyebaran agama Katolik dengan
simbol Salib ditancapkan dimana saja orang-orang Kristen berlabuh. Sehingga
gereja yang pertama diberdiri di wilayah Maluku pada tahun 1522. Maka untuk
memperluas tidak lama kemudian didatangkanlah sejumlah Misionaris dari India
untuk mengajarkan Alkitab.
11
Dr. Kurt Koch, Menyatakan bahwa penginjil Thomas, yang bekerja di India, mungkin
saja berlayar ke wilayah Indonesai bersama para pedagang India
12
28
Dalam sejarah penyebaran agama Katolik di Indonesia, tercatat sebuah
nama yang dianggap sebagai Misionaris paling termashur dalam sejarah gereja,
sebagaimana yang dikatakan, H. Berkhof, mencatat salah satu diantara para
Misionaris awal ini adalah Fransisco Xaverius/Francis Xavier (1506-1552) yang
berasal dari Masyarakat Yesus (Society of Jesus), yang sejak kelahirannya
mendapat panggilan “Rasul untuk orang-orang Indonesia”, sehingga ia dianggap
paling mashur dan berhasil menjalankan Misinya di Maluku sampai Ternate.
Kesuksesan para Misionaris ini selalu dikaitkan dengan kestabilan
kekuasaan Kolonial Portugis, sehingga pada periode pertama berdirinya gereja
mengalami perkembangan besar dalam jumlah penganut agama Katolik.
Sebagaimana dalam tulisannya Fransisco Xaverius, “(jika) setiap tahunnya selusin
saja para pendeta datng ke sini dari Eropa, maka gerakan Islam tidak akan
bertahan lama dan semua penduduk ke pulauan Indonesia akan menjadi pengikut
agama Kristen”.13
Dalam catatannya disebutkan sebagainama Fransisco Xaverius mengajar
untuk anak-anak dan dewasa dua jam setiap hari, ia berusaha mengenalkan Injil
dan ajaran-ajaran Katolik. Bahkan ia dengan kerja keras merumuskan
pokok-pokok iman Kristen, di samping itu dengan ide-ide yang cemerlang ia
menterjemahkan injil ke dalam bahasa Melayu dengan harapan agar penduduk asli
bisa memahami Injil, bahkan ia juga menyusun syair-syair yang berkenaan dengan
dua belas pasal iman.
13
Alwi Shihab, Pendahuluan Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah
Keberhasilan usaha-usaha yang dirintis oleh Fransisco Xaverius banyak
diikuti dan ditiru serta kemudian diteruskan oleh para pastur-pastur yang lainnya
dibeberapa daerah. Diantaranya ada beberapa nama-nama seperti Seperto Antonio
De Taveiro pada tahun 1551 di daerah Flores, selain itu ada juga Peter Vicente
Viegas yang mengenalkan Injil dan ajaran-ajaran Katolik di Makasar, Fransiska
Dominika dan Diego Magelhaes, ia adalah seorang pastur yang ikut dalam
penyebaran Injil di Menado.14
Sebenarnya bila kita amati, Portugis memperkenalkan agama Katolik
dengan cara kekerasan yang berlandaskan jiwa pemberontakan dan permusuhan
tradisional terhadap Islam.15 Bagi mereka semua orang Islam adalah musuh yang harus diperangi. Mereka sengaja datang keberbagai pelosok daerah antara lain
untuk memerangi Islam dan menggantikannya dengan agama Kristen. Maka
beberapa organisasi Zending maupun organisasi Misi berlomba-lomba yang
mendapat dukungan dana pemerintah Kolonial untuk beroperasi di tanah jajahan.
Namun seiring dengan berjalannya waktu kekuasaan bangsa Portugis
secara perlahan-lahan melemah di wilayah ini, ditandai dengan terjadinya
penurunan keanggotaan gereja secara drastis. Bahkan orang-orang Portugis diusir
dari Maluku oleh VOC. Ada pun pertempuran antara orang-orang Belanda
melawan orang-orang Inggris, Spanyol dan Portugis mengakibatkan jatuhnya
koloni-koloni Portugis di tangan Belanda di wilayah Nusantara ini.
14
Syamsud Dhuha, Penyebaran dan Perkembangan Islam-Katolik-Protestan di Indonesia
30
Diakhir periode ini, perlawanan antara Portugis, Ingris dan Belanda untuk
menguasai jalur perdagangan berakhir dengan kemenangan dipihak Belanda.16 Yang pada akhirnya Misionaris Belanda memaksa orang-orang Katolik yang
mereka temui untuk memeluk agama Kristen Protestan yang menandai runtuhnya
gereja katolik di Indonesia timur, dan mulailah babak baru zending Protestan di
Nusantara.
2. Misi kristenisasi di bawah Kolonial Belanda
Orang-orang Belanda datang ke Nusantara sebenarnya lebih dimotivasi
oleh hasrat untuk mendapatkan keuntungan dagang ketimbang semangat untuk
menyebarkan agamanya atau membagikan keyakinan imannya kepada pribumi.
Adapun Misi Kristenisasi pada masa Kolonial Belanda diawali dengan
didirikannya Vereenign de Oost Indische Compagnie (VOC) adalah perkumpulan
perdagangan Belanda yang didirikan pada tahun 1602 dan dibubarkan pada tahun
1799. di bawah VOC, agama Kristen didominasi oleh gereja Reformasi, sehingga
VOC menyatakan bahwa agama Kristen apapun tidak boleh dipraktikan di
wilayah ini kecuali geraja Reformasi Belanda. Maka mereka mengambil alih
kongregasi-kongregasi katolik Portugis dan menunjuk pastor-pastor untuk
memimpin gereja. Di sini Belanda benar-benar ingin menghancurkan apa saja
yang sebelumnya dibangun oleh orang-orang Katolik. Penyebaran Kristen
Protestan senantiasa mengikuti gerak VOC. Oleh sebab itu VOC dengan kekuatan
politiknya mendukung pemeliharaan orang-orang Kristen dalam penyebaran Injil
di daerah-daerah yang dikuasainya.
16
Namun dalam kenyataannya perhatian yang tidak banyak dan
sungguh-sungguh yang diberikan oleh VOC kepada orang-orang Kristen untuk memperluas
wilayah dari gereja Katolik di Indonesia, yang terjadi malah sebaliknya mereka
memperkerjakan para pastor-pastor VOC dalam memimpin kebaktian di rumah
para pedagang Eropa, orang-orang Belanda hanya lebih memedulikan keamanan,
keuntungan komersial yang diraih dari pada mengkonversikan orang-orang
pribumi.17
Yang sangat mengecewakan bagi orang-orang Kristen yaitu dalam hal
kebijakan VOC di Jawa selama kurang lebih Dua ratus tahun, hal ini bisa terlihat
dari kegiatan gereja Belanda ditempat atau berjalan sendirian dalam memberikan
pelayanan kepada orang-orang Kristen Eropa. Tidak ada niatan yang
sungguh-sungguh untuk mendekati dan menjalankan Misi Kristenisasi kepada orang-orang
Jawa agar mereka tertarik dan pindah agama. Bahkan usaha-usaha untuk
mendekati itu justru mereka hindari oleh VOC karena khawatir akan pengaruh
negatifenya terhadap keuntungan ekonomi mereka. Namun di sisi yang lain
orang-orang Kristen harus berterimakasih kepada VOC dalam hal penerbitan Perjanjian
Baru dalam bahasa Indonesia. Kemungkinan dorongan ini didasari pada prinsip
17
Dalam hal ini VOC dan para pemegang saham maunya mencari keuntungan terus. mereka tidak berminat pada berdakwah, akan tetapi pada pencarian keuntungan berdagang, hal ini tercermin dalam langkah-langkah tertentu yang ditempuh Jan Pieterszoom Coen, yang menjadi
Gubernur Jendral VOC pada tahun 1618. dia melaksanakan sistem “pengiriman dan penjatahan secara paksa” dengan benar-benar mengeksploitasi pulau-pulau Nusantara dalam bidang pertanian para penduduk kepulauan, lewat para pemimpin lokal mereka, dipaksa menyediakan produk tropis tertentu dan dalam jumlah tertentu untuk memnuhi komuditas ekspor VOC. Untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, Jan Pieterszoom Coen juga menaruh perhatian kepada orang Cina dan memberikan mereka peluang-peluang tertentu untuk berdagang. Coenlah orang pertama Belanda dalam mendesakan masuknya orang-orang Cina ke Indonesia. Coen bahkan menyerukan penculikan orang-orang Cina jika mereka tidak mau secara sukarela tinggal di Indonesia. Sejak
saat itu, orang-orang Cina merupakan “kelas menengah” yang memperantarai para penguasa
32
pokok dalam melaksanakan penyebaran Misi Kristenisasi, agar secepat mungkin
orang-orang Kristen itu mempunyai Alkitab di tangan mereka dan dalam bahasa
mereka sendiri.
Pada era baru penyebaran agama Kristen Protestan terjadi di Maluku, yang
sebelumnya telah beragama Katolik. Akan tetapi sejak kedatangan penguasa baru
VOC, para pemeluk Katolik harus dipaksa menjadi Protestan. Orang Belanda
pertama yang ditugaskan di Maluku untuk sebagai „Penyebar Injil” ialah Stollen
Beeker, yang dalam perjalanannya kemudian mendirikan Majelis Gereja pada
tahun 1615. Majelis Gereja ini mempunyai tugas menyelenggarakan pemeliharaan
rohani di daerah Maluku dan sekitarnya‟
Selain di daerah Maluku yang menjadi basis penginjilan Protestan, maka
sasaran selanjutnya adalah Sulawesi Utara yang daerahnya sejak tahun 1563
penduduknya memeluk agama Katolik, dan lagi-lagi harus tunduk pada kompeni
Belanda (VOC), orang-orang katolik di sana dipaksa untuk menjadi Protestan,
bahkan yang lebih tragis pemuka-pemuka agama Katolik dibunuh dan setempat
diancam kecuali kalau tunduk pada perjanjian untuk beralih kepada Kristen
Protestan.
Belanda (VOC) pun melebarkan penginjilannya ke daerah Jawa, disinilah
menjadi lahan empuk dalam kegiatan Misi Kristenisasi, karena daerah Jawa
dianggap daerah yang paling mudah di Kristenkan. Hal ini didasari atas asumsi
bahwa sinkretisnya Islam di kawasan ini mempermudah penaklukannya. Bahkan
dalam catatannya, Alwi Shihab mengungkap, “ dari sekian banyak daerah yang
ditandingi oleh keberhasilan kegiatan Misi Kristenisasi di wilayah Islam lain
manapun”18
Melihat dari keberhasialan tersebut, tidak terlepas dari usaha yang
dilakukan para Misionaris Protestan yang dengan gigih berupaya menyebarkan
Injil kepada para penduduk pribumi. Mereka mulai mewartakan pesan-pesan
Kristus, padahal jumlah mereka tidak seberapa, namun mampu memberikan
kontribusi yang luar biasa, dibalik kesuksesan kegiatan Misi Kristenisasi di daerah
Jawa, maka berkaitan dengan hal itu, berikut penulis cantumkan beberapa tokoh
yang dianggap memainkan peran dalam penyebaran Misi Kristenisasi di Jawa,
antara lain:
1. Johannes Emde (1811)
Ialah seorang pendeta dari Jerman yang saleh, berdomisi di Surabaya
pekerjaan sehari-harinya selain sebagai pendeta, ia juga sebagai pembuat jam,
yang dalam perjalanannya untuk melancarkan gerakan Misi Kristenisasi di Jawa,
ia pun mengawini perempuan Jawa sebagai jalinan kontak dengan dengan
penduduk pribumi atau lokal dalam rangka menyebarkan ajaran-ajaran agama
Kristen. maka ia terdorong untuk menterjemahkan beberapa Al-Kitab ke dalam
bahasa Jawa19. Seirng perjalananya pada tahun 1845, Pastor Johannes Emde telah berhasil membangun kongregasinya di Surabaya yang dikenal dengan nama
“Kesalehan Surabaya”, di bawah kepemimpinan Johannes Emde, dapat
mengembangkan sebuah kelompok pribumi Jawa yang menjadi pengikutnya.
18
Syamsud Dhuha, Penyebaran dan Perkembangan Islam-Katolik-Protestan di Indonesia
(Surabaya: Usaha Nasional, 1987), cet. ke-2, hal 76 19
34
Emde berharap pengikut barunya yang berasal dari pribumi Jawa dapat menerima
cara hidup Barat, sehingga Emde mengajarkan sepenuhnya dengan corak barat
kapada 220 pribimi Jawa yang telah dibaptisnya.
2. Pastor Coenraad Laurens Coolen (1775-1873)20
Tokoh ini lahir dari seorang bapak berkewarganegaraan Rusia dan
berimigrasi ke Indonesia yang mengabdikan diri menjadi prajurit upahan tentara
VOC. Ibunya berasal dari Indonesia tepatnya seorang perempuan Jawa dari
keturunan bangsawan. Sedangkan bapaknya dari Rusia, dari sang ayah, Coolen
mewarisi nilai-nilai agama Kristen Barat, sedangkan dari ibunya, Coolen mewarisi
ruh mistik kebudayaan Jawa.
Keberhasilannya dalam menarik orang-orang pribumi untuk masuk agama
Kristen Protestan dikarnakan metode yang diterapkannya, yaitu “Metode
Pribumi”. Cara Colleen mendakwahkan bahwa untuk menjadi Kristen tidak perlu
menanggalkan/melepaskan watak dan kebudayaan Jawa mereka. Oleh sebab itu,
Coleen melarang pembaptisan. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menarik
hati orang-orang pribumi agar masuk agama Kristen dengan berusaha menjadikan
orang-orang Jawa menjadi Kristen (menjawakan Kristen).
Sebagai usaha yang dilakukan Coleen, untuk menarik pribumi, Coleen
memanfaatkan tradisi Jawa, salah satunya Coleen memanfaatkan wayang sebagai
media untuk menceritakan kisah-kisah Alkitab dan menyampaikan pesan-pesan
agamanya. Melihat caranya, sepintas penulis teringat upaya yang dilakukan salah
20
Lihat Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia