• Tidak ada hasil yang ditemukan

Naegleria fowleri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Naegleria fowleri"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Naegleria fowleri

Ditulis oleh:

dr. Adelina Haryani Sinambela

NIP. 132 316 811

DEPARTEMEN PARASITOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

(2)

Naegleria fowleri

Adelina Haryani Sinambela

Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Abstract

Naegleria fowleri is the ubiquitous of Free Living Amebae (FLA). Infection by the

pathogenic Naegleria fowleri acquired by exposure of the polluted water in the lake,

ponds, swimming pool or the other water recreation especially in summer months.

This infection leads to Primary Amebic Meningoencephalitis (PAM). PAM is an

acute, frequently fatal, difficult to diagnose and does not have no effective

therapeutic options, and most the patient (over 95%) died.

Keywords

Naegleria fowleri, Free Living Amebae (FLA), Primary Amebic Meningoencephalitis

(3)

PENDAHULUAN

Dari semua Free Living Amebae (FLA), salah satu spesies yang paling banyak

menyerang manusia adalah Naegleria. Naegleria fowleri adalah protozoa yang

menyebabkan Primary Amebic Meningoencephalitis (PAM). PAM ini bersifat akut,

fatal dan dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan kematian, bahkan sebelum

diagnosa dapat ditegakkan. (1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12)

Naegleria fowleri adalah organisme free-living ameba yang dapat ditemukan di

seluruh dunia. Pada tahun 1965, Fowler dan Carter mempublikasi sebuah laporan

kasus yang terjadi pada 4 orang penderita di Australia. Laporan ini pertama kali

menghubungkan antara Naegleria fowleri dan penyakit yang menyerang susunan saraf

pusat. Pada awalnya peneliti tersebut beranggapan bahwa ameba penyebab dari

penyakit tersebut adalah genus Acanthameba, tetapi setelah penelitian lebih lanjut

ameba penyebabnya cenderung mengacu kepada Naegleria fowleri.(1,2,3) Di tahun-tahun berikutnya, dilaporkan 4 kasus yang terjadi di Amerika Serikat, satu kasus di

Texas oleh Patras dan Andujar (tahun 1966) dan 3 kasus lainnya di Florida oleh Butt

(tahun 1966). Butt menamakan penyakit ini sebagai Primary Amebic

Meningoencephalitis (PAM).(2,3) Namun yang pertama kali mengisolasi ameba ini

dari dua kasus Primary Amebic Meningoencephalitis di Australia adalah Fowler

(tahun 1970).(2)

EPIDEMIOLOGI

Naegleria fowleri dapat ditemukan di seluruh dunia dan dapat diisolasi dari air,

tumbuhan air, kolam renang air hangat, hidroterapi, limbah, dan kadang kala pada

hapusan dari saluran nafas individu yang sehat.(1) Tipikal kasus PAM terjadi pada musim panas, dimana Naegleria fowleri berproliferasi dengan cepat seiiring dengan

meningkatnya temperatur.(5) Penderita penderita PAM biasanya memiliki riwayat

kontak dengan air seperti berenang di danau, sungai atau kolam renang yang dapat

terinfeksi oleh organisme ini beberapa hari sebelum timbulnya gejala.(1,2,3,4,6,8) Selama periode yang kering dan meningkatnya temperatur ini, konsentrasi Naegleria fowleri

akan meningkat. Pada beberapa kasus, ada indikasi bahwa organisme ini juga dapat

ditularkan melalui inhalasi dari debu yang terkontaminasi. (6)

Walaupun PAM dapat terjadi di seluruh dunia dan sampai saat ini sudah lebih

dari 200 kasus yang dilaporkan yang terjadi di seluruh dunia, namun kasus yang

(4)

disebabkan adanya kemampuan untuk mendiagnosa penyakit ini (4) Kasus yang pernah dilaporkan juga terjadi di Afrika, Belgia, New Zealand, Inggris,

Chekoslowakia, Itali, India dan Amerika Tengah. (2,4,5,9,10 )

Sampai November 2002 sudah dilaporkan 95 kasus PAM yang terjadi Amerika

Serikat. Kasus ini ditemui di sepanjang Virginia sampai Florida. Beberapa kasus juga

dijumpai di Texas selama tahun 1990-an.(3) Kasus ini terjadi lagi di tahun 2005 yang menewaskan 2 orang anak laki-laki Oklahoma setelah berenang di daerah Tulsa.

Demikian juga sepanjang musim panas di negara ini pada tahun 2007, telah

dilaporkan 6 kasus yang mengakibatkan kematian yaitu 3 orang anak laki-laki di

Florida (bulan Juli), 1 orang anak laki-laki berusia 12 tahun dan seorang laki-laki

dewasa muda berusia 22 tahun di Danau LBJ, Texas dan 1 orang anak laki-laki

berusia 14 tahun yang sebelumnya berenang di Danau Havasu, Arizona (bulan

September).(12)

Tingkat kejadian PAM tidak berhubungan dengan ras dan jenis kelamin

tertentu. Biasanya menyerang individu yang sehat dan biasanya terjadi pada usia

anak-anak dan dewasa muda. Kasus dengan penderita termuda yang pernah

dilaporkan yaitu anak berusia 8 bulan.(3,9)

TAKSONOMI

Naegleria fowleri tergolong ke dalam :

Kingdom : Protista

Subkingdom : Protozoa

Phylum : Sarcomastigophora

Sub phylum : Sarcodina

Superkelas : Rhizopodea

Kelas : Lobosea

Sub Kelas : Gymnamoebia

Ordo : Schizopyrenida

Family : Vahlkampfiidae

Genus : Naegleria

(5)

MORFOLOGI

Naegleria fowleri dikenal dengan karakteristik yang disebut amebaflagellata,

yaitu memiliki bentuk amoeboid dan flagellata dalam siklus hidupnya. Siklus

hidupnya terdiri atas stadium trophozoit (amoeboid dan flagellata) yang motile dan

bentuk kista yang non-motile dan resisten.(1,2,4,5,6) Trophozoit bentuk amoeboid adalah bentuk satu-satunya yang dijumpai pada manusia.(6)

Trophozoit dapat hidup di air, atau tanah yang lembab dan kultur jaringan atau

media lainnya.(2) Trophozoit bentuk amoeboid ketika bergerak berbentuk memanjang, lebih lebar pada bagian anterior, yang dapat dengan jelas dibedakan dari bagian

posterior yang menyempit, dan membentuk sebuah pseudopodia yang lebar.

Berukuran 7-20 µm, memiliki 1 inti dengan karyosom sentral yang besar dan

dikelilingi oleh sebuah halo, tanpa kromatin perifer.(1,2,3,6) Terdapat vakuola makanan yang biasanya terdiri dari bakteri pada saat berada dalam bentuk free-living, atau

berisi debris sel pada saat menginfeksi manusia.(4,5)

Trophozoit Naegleria fowleri yang dikultur dari cairan cerebrospinal dengan pewarnaan Trichrome. (7)

(6)

Bentuk ameba berubah dengan cepat menjadi bentuk flagellata dengan 2 buah

flagella ketika berada di dalam air, yang apabila dilakukan di laboratorium dapat

diinduksi dengan menggunakan air suling untuk membantu diagnosa, dan

dipertahankan pada suhu antara 270-370C.(2,3,4) Bentuk ameba biflagellata ini biasanya berbentuk seperti pir, dengan 2 buah flagella pada ujung bagian posterior yang

melebar.(1,2,3,5) Bentuk flagellata ini bersifat sementara dan akan berubah kembali pada bentuk amoeboid. Perubahan ini terjadi paling lama 20 jam, dan biasanya

beberapa dari bentuk flagella dapat bertahan selama 2 hari atau lebih. (1,2,7)

Bentuk flagellata Naegleria fowleri (6)

Dalam kondisi lingkungan yang tidak menyenangkan, trophozoit akan berubah

menjadi bentuk kista. Kista yang didapatkan dari kultur agar biasanya bulat, berinti

satu, berdiameter 7-15 µm, dinding halus dengan ketebalan 1 µm. Pada kista yang

tidak diwarnai, hanya beberapa granul yang dapat terlihat, nukleus tidak jelas dan

seringkali kista tampak kosong. Ketika diwarnai, nukleus memiliki tampilan yang

sama dengan dengan trophozoit, tetapi lebih kecil (sekitar 1,5 µm). Dengan

mikroskop elektron struktur tampak jelas termasuk pori-pori pada dinding kista dan

(7)

SIKLUS HIDUP

Keterangan Gambar

Naegleria fowleri memiliki 3 stadium dalam siklus hidupnya, yaitu kista (1), trophozoit bentuk ameba (2) dan bentuk flagella (3). Trophozoit ber-replikasi dengan cara promitosis (membran nukleus tetap utuh) (4). Naegleria fowleri ditemukan di air, tanah, kolam renang air hangat, hidroterapi dan kolam renang untuk pengobatan,

akuarium, dan limbah. Trophozoit bentuk ameba dapat berubah menjadi bentuk

flagella, dan dapat kembali berubah menjadi bentuk ameba. Menginfeksi manusia

dengan cara trophozoit terhirup melalui hidung, yang kemudian akan menginvasi

membran nasal, dan masuk ke ruang sinus paranasal (5). Trophozoit ini akan langsung menembus ciribriform plate di tulang ethmoidalis, dan masuk ke otak melalui nervus

olfaktorius. Selanjutnya akan bermultiplikasi di jaringan Sistem Saraf Pusat (SSP) dan

(8)

PATOGENESIS

Masa inkubasi PAM berkisar antara 2-15 hari, tergantung pada virulensi ameba

ini. Semakin lemah virulensinya, maka akan semakin panjang masa inkubasinya. Pada

infeksi percobaan dengan Naegleria fowleri yang lemah, didapati masa inkubasinya

berkisar 3-4 minggu.(1)

Tropozoit Naegleria fowleri yang masuk melalui hidung dan melalui nervus

olfaktorius akan penetrasi ke pleksus nervus sub mucosal melalui ciribriform plate

dan akan terus sampai ke ruang subarachnoid. (1,2,3,4,5,6,7,8) Protein dan glukosa yang terdapat pada cairan serebrospinal mendukung pertumbuhan ameba ini, yang

bermultiplikasi dengan cepat dan menyerang parenkim otak. Tingginya kadar oksigen

pada otak dan cairan serebrospinal juga membantunya untuk bertumbuh.(3)

Invasi tropozoit dengan cepat memfagosit dan memakan sel darah merah dan

jaringan otak, yang mengakibatkan severe hemorrhagic necrosis pada otak yang

terkena. Jaringan otak, tidak seperti sel darah merah, tidak dapat dimakan seluruhnya

oleh tropozoit ini. Naegleria fowleri memproduksi amebostome yang memproduksi

lisosomal hydrolase dan phospolipase. Naegleria fowleri juga dapat menggunakan

heat-stable hemolytic protein, heat labile cytolisin, phospolipase A dan cystein

protease untuk membunuh sel yang terkena tropozoit ini.(3)

Naegleria fowleri menghasilkan diffuse hemorrhagic meningoencephalitis

yang mirip dengan purulen meningitis yang diakibatkan oleh bakteri. Bagian korteks

sel kelabu adalah bagian yang terparah. Oleh karena edema yang hebat dari otak,

maka tekanan cairan serebrospinal akan meningkat dan herniasi cerebelum dapat

terjadi. (3)

Imunologi

Hanya sedikit informasi yang didapatkan mengenai respon antibodi terhadap

infeksi Naegleria fowleri. Hal ini mungkin karena kebanyakan penderita meninggal

dengan cepat sebelum memproduksi antibodi pada level yang dapat dideteksi.(1)

Berdasarkan bukti penelitian, imunitas dimanifestasikan di mucosa hidung oleh

sel polimorfonuklear (PMN) yang akan membunuh ameba. Walaupun ameba ini tidak

dipengaruhi oleh rekombinan human interleukin 1 (Il-1) atau tumor necroting factor

(TNF), namun akan menstimulasi adherens neutrofil kepada Naegleria fowleri.

Ditelannya neutrofil oleh tropozoit ini akan memperpanjang masa inkubasi.

(9)

ini. Tropozoit ini akhirnya akan dibunuh melalui aktivasi komplemen pada aliran darah. (8)

Pada beberapa penelitian tersebut, didapati jumlah serum IgM, IgG dan IgA

yang normal. Oleh karena Naegleria fowleri menginvasi otak melalui mucosa hidung,

maka ada kemungkinan immunoglobulin memiliki peranan penting dalam mencegah

infeksi ameba ini, dengan mencegah adhesi tropozoit ke epitel mucosa. Penelitian

Rivera et al (2001), mengevaluasi sekresi antibodi IgA dan IgM yang dideteksi

dengan ELISA pada serum dan saliva dari 3 kelompok grup yaitu: 1) subyek dengan

infeksi saluran penafasan bagian atas yang hidup di daerah endemik, 2) subyek yang

sehat dari daerah endemik yang sama, 3) subyek sehat dari daerah non endemik. Dari

hasil penelitian ini diketahui untuk pertama kali, bahwa antibodi IgA dan IgM yang

melawan protein Naegleria fowleri ditemukan di saliva. Level ini meningkat secara

signifikan pada subyek dengan infeksi saluran pernafasan bagian atas. Antibodi IgA

dan IgM yang terdapat di saliva dapat ditransport secara aktif melalui sel epitelial atau

dapat dihasilkan dari transudasi dari darah melalui kerusakan kapiler. Antibodi IgA

dan IgM yang mengenali protein Naegleria fowleri mungkin diinduksi oleh imunitas

spesifik atau reaksi silang dengan genus dan spesies ameba yang lain. (12)

Patologi

Gambaran patologi yang dapat ditemukan pada otopsi yaitu hemispher cerebral

yang biasanya membengkak dan edema. Karakteristik PAM yaitu nekrotik dan

hemorrhagic pada korteks cerebral dan bulbus olfaktorius. Secara histopatologi, PAM

ditandai dengan dengan eksudat yang purulen, nekrotik, dan edema dengan

hemorragic yang difus pada area kortikal dan parenkim otak. Tropozoit dapat

ditemukan pada eksudat, walaupun akan sukar membedakannya di antara sel-sel

inflamasi. Sel-sel inflamasi yang banyak dijumpai yaitu sel-sel polimorfonuklear

(PMN). Tropozoit dapat dijumpai dan dibedakan terutama pada ruang perivascular,

dimana sel-sel inflamasi jarang ditemukan.. Tropozoit juga dapat ditemukan pada

bulbus olfaktorius dan cairan serebrospinal. Kista tidak ditemukan pada lesi di otak.

(1,2,3,9)

(10)

Naegleria fowleri pada jaringan otak dengan pewarnaan trichrome (7)

A B C

D E F

GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis yang didapati pada PAM sangat dramatis, namun hampir tidak

dapat dibedakan dengan meningoencephalitis yang diakibatkan oleh bakteri.(6)

1. Infeksi Naegleria fowleri biasanya terjadi pada dewasa muda dan anak-anak

yang sehat dan sebelumnya mempunyai riwayat berenang atau menyelam di air

hangat sekitar 7-14 hari sebelumnya. Kebanyakan gejala pertama kali muncul

2-5 hari setelah paparan terakhir, yaitu demam, sakit kepala pada area bifrontal

atau bitemporal, mual dan muntah. (1,3,4,6,7,8,9)

2. Dapat timbul beberapa gejala yang berhubungan dengan persepsi olfaktorius

yaitu gangguan dalam mengecap dan menghidu. Namun gejala ini tidak

selamanya dapat terjadi. (1,3,4,8,9)

3. Iritasi meningeal dapat ditandai peningkatan tekanan intra kranial yaitu dengan

timbulnya gejala kejang, kaku kuduk yang ditandai dengan Kernig’s sign dan

(11)

4. Dapat timbul kelumpuhan yang meliputi saraf kranial III, IV dan V seperti

cerebellar ataksia dan penurunan refleks tendon yang mengindikasikan adanya

edema otak dan herniasi. (1,3)

5. Status perubahan mental terjadi pada dua pertiga kasus yang pernah dilaporkan

dan keadaan penderita akan semakin menurun menjadi koma dan akhirnya akan

meninggal dalam waktu sekitar 1 minggu setelah munculnya gejala . (1,3,4,9)

6. Kebanyakan kasus PAM berakhir dengan kematian. Namun pada beberapa

kasus yang dilaporkan ada penderita yang dapat tetap hidup tanpa adanya gejala

neurologis sisa. Penyebab kematian biasanya adalah karena meningkatnya

tekanan intra kranial dengan herniasi otak yang akan menyebabkan terhentinya

sistem cardiorespiratori. (1)

DIAGNOSA Diagnosa Banding

Oleh karena gambaran klinisnya yang tidak spesifik, maka diagnosa bandingnya

meliputi meningoencephalitis yang disebabkan oleh bakteri atau virus. (1,3,4,8)

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

- Pemeriksaan Cairan Serebrospinal

Cairan serebrospinal akan tampak kelabu sampai purulen. Adanya dominasi

sel leukosit Polimorfonuklear (PMN) dan tidak ditemukannya bakteri.

Ditemukan juga adanya eritrosit. Tekanan intraserebral meningkat.

Konsentrasi glukosa akan menurun tetapi konsentrasi protein akan

meningkat.(1,3,4,6,8,9) Tropozoit dapat dideteksi dengan pergerakannya dengan sebuah tetesan cairan serebrospinal yang diamati di bawah mikroskop dengan

pewarnaan Wright, Giemsa, hematoxylin dan eosin atau dengan iron

hematoxylin. Namun dengan pewarnaan Gram, tropozoit tidak akan

terlihat.(1,4,6,7,8,9) - Kultur

Teknik kultur dengan menggunakan media yang terdiri dari 1,5% non-nutrient

(12)

diinkubasi pada suhu 370C dan diamati setiap hari. Ameba ini akan memakan bakteri tersebut di lingkungan aerob seperti di habitatnya yang alami. (2,6,9) - PCR dan Indirect Immunofluorescent Antibody

Teknik ini dipergunakan untuk mengidentifikasi organisme, yang biasanya

dilakukan di laboratorium Centers for Disease Control and Prevention. (6) - Biopsi otak

Biopsi otak secara potensial dapat dipergunakan untuk mendeteksi tropozoit

ini dan gambaran karakteristik histopatologi, namun hingga kini belum ada

data kasus PAM yang didiagnosa melalui biopsi otak. (1)

Pemeriksaan Neuroimaging

Pemeriksaan dengan CT-Scan dan MRI diperlukan untuk menilai edema

cerebri.(10)

PENATALAKSANAAN

Lebih dari 95% kasus PAM berakhir dengan kematian bahkan sebelum diagnosa

dapat ditegakkan. Pada beberapa pasien yang tetap hidup, pengobatan yang diberikan

yaitu Amphotericin B dengan dosis 1-1.5 mg/kg/hari IV dan 1-1.5 mg/hr intrathecal.

Sebagai terapi tambahan diberikan rifampin, miconazole, dan

sulfisoxazole.(1,2,3,4,6,7,8,9)

PENCEGAHAN

Temperatur yang hangat, ketersediaan makanan yang mencukupi dan

kemungkinan kadar pH yang optimal serta oksigen yang cukup adalah merupakan

habitat yang memungkinkan ameba ini dapat berkembang.(1,8,9)

Pencegahan Naegleria fowleri dilakukan dengan pemanasan air sampai diatas

60ºC dan pemberian chlorine 0,5-1 mg/l. Pemberian chlorine ini terbukti efektif baik

untuk air minum maupun air di kolam renang.(1,8,9) Namun hal ini tidaklah mungkin dilakukan di daerah rekreasi umum lainnya seperti danau dan sungai. Sehingga

tindakan pencegahan yang terpenting adalah dengan memberikan peringatan, terutama

(13)

DAFTAR PUSTAKA

1. Martinez JA, Visvesvara GS. Pathogenic and Opportunistic Free Living Amebas:

Naegleria fowleri, Acanthameba spp. and Balamuthia mandrillaris. In Gillespie S

and Pearson RD (eds). Principles and Practice of Clinical Parasitology. John

Wiley and Sons Ltd. 2001; 269-282.

2. Beaver PC, Jung RC, Cupp EW. Clinical Parasitology. 9thed. Philadelphia:

Lea&Febiger. 1984; 136-140.

3. Bennett JN, Naegleria. Available from http://www.emedicine.com/

4. Drabick JJ. Free Living Amebic Infection. In Strickland GT. Hunter’s Tropical

Medicine and Emerging Infectious Disease. 8th ed. Philadelphia: WB. Saunders Company. 2000; 705-7.

5. Roberts LS, Janovy Jr J. Gerald D. Schmidt & Larry S. Roberts’ Foundations of

Parasitology. 7th ed. New York: The Mc Graw- Hill Companies. 2005; 116-7

6. Heelan JS, Ingersoll FW. Essentials of Human Parasitology. New York: Delmar.

2002; 62-5.

7. Free Living Amebic Infections. Available from http://dpd.cdc.gov/dpdx

8. Wahurst DC. In Cook G. Manson’s Tropical Diseases. 20th ed. London: WB.

Saunders. 1299-1305.

9. Markell EK, John DT, Krotoski WA. Markell and Voge’s Medical Parasitology.

8th ed. Philadelphia: WB. Saunders. 1999; 175-181.

10.Cogo PE, Scaglia M, Gatti S, Rossetti F, Alaggio R, Laverda AM, et al. Fatal

Naegleria fowleri meningoencephalitis, Italy. Emerg Infect Dis. October 2004.

Vol 10, No. 10. Available from:

http://www.cdc.gov/ncidod/EID/vol10no10/04-0273.htm

11.Naegleria fowleri. Available from http://en.wikipedia.org/wiki/Naegleriafowleri

12.Rivera V, Hernandez D, Rojas S, Oliver G, et al. Canadian Journal of

Microbiology. Ottawa: May 2001. Vol. 47, Iss. 5; 464. Available from:

http://proquest.umi.com/pqdweb?did=73763914&sid=1&Fmt=4&clientId=63928

Gambar

GAMBARAN KLINIS

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Untuk pengukuran polarisasi, saat wireless USB adapter yang ada di dalam waveguide antena wajanbolic berada pada posisi vertikal dan antena pada access point juga pada

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase pembagian hasil yang diterima nelayan pemilik sebesar 64% dan nelayan penggarap sebesar 36%, sedangkan kondisi ketahanan

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, lemahnya citra teh celup dalam negeri diduga karena harga konsumen produk teh celup itu sendiri lebih rendah dari pada

2 Wakil Dekan Bidang I SALINAN TERKENDALI 02 3 Wakil Dekan Bidang II SALINAN TERKENDALI 03 4 Manajer Pendidikan SALINAN TERKENDALI 04 5 Manajer Riset dan Pengabdian

Badan pemerintah dan instansi vertikal lainnya merupakan suatu organisasi yang mana zakatnya dipotong secara langsung dari pendapatan gajinya per bulan. Pada saat

Pengawasan kualitas merupakan alat bagi manajemen untuk memperbaiki kualitas produk bila dipergunakan, mempertahankan kualitas produk yang sudah tinggi dan

Tekniknya: Misalnya, pada saat pembacaan berlangsung, ada kata atau frase yang melekat dalam pikiran kita, “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan

Para PNS lingkungan Kecamatan dan Kelurahan wajib apel pagi setiap hari senin di Halaman Kantor Kecamatan Kebayoran Baru, dan akan diberikan teguran kepada yang tidak ikut apel