• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkawinan Tradisional Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perkawinan Tradisional Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang."

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

NIHON NO SHINTOU NO DENTOUTEKI NA KEKKON

SHIKI

KERTAS KARYA Dikerjakan

O L E H

EVI CINRA SAGALA NIM : 082203019

PROGRAM STUDI BAHASA JEPANG DIII FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang

telah melimpahkan berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan kertas karya ini guna melengkapi syarat untuk mencapai gelar Ahli

Madya pada Universitas Sumatra Utara. Adapun judul kertas karya ini adalah

“Perkawinan Tradisional Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang”.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurnah. Baik dari

pengkajian kalimat, penguraian materi, dan pembahasan masalah. Tetapi berkat

bimbingan dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini.

Dengan segala kerendahan hati pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima

kasih kepada pihak yang telah banyak membantu terutama kepada:

1. Bapak Dr.Syahron Lubis ,M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Zulnaidi SS. M,Hum, selaku ketua program studi Bahasa Jepang D-3

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Hj. Muhibbah SS ,selaku Dosen Pembimbing yang dengan ikhlas telah

meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada

penulis hingga selesainya kertas karya ini.

4. Bapak Drs.Nandi .S, Selaku Dosen pembaca

(3)

6. Seluruh staf pengajar jurusan bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama mengikuti

perkuliahan.

7. Keluarga yang kukasihi, ayahanda tercinta Wadin Sagala dan Ibunda Rukia

Situmorang serta kakak dan abang-abang ku; kak Eva, bang Vandes, bang

Asrul, bang Alven, bang Lahi, kak Wirma, kak Rippi, serta seluruh keluarga

yang selama ini memberikan dukungan, baik secara moril, maupun materi

kepada penulis. Terima kasih atas doa dan dukungan kalian. Tak akan bisa

aku melangkah sendiri.

8. Rekan-rekan mahasiswa program studi Bahasa Jepang stambuk 2008

khususnya kelas A.

9. Buat semua rekan anggota Hinode dan Aotake.

10. Sahabat terbaikku Desminita Surbakti dan Prisdo Sinaga. Teman yang selalu

ada disaat suka dan duka. Terima kasih buat pengertian, doa, dan motivasinya

selama ini.

11. Teman-teman ku, Ratih, Yessi, Wanri, bang Jefri, kak Heny, Eko, iban Nael,

Hartawan, bang Yuddi, yang tak bosan-bosannya menanyakan gimana

perkembangan TA. Terima kasih buat semua perhatiannya.

12. Buat Frengky, bang Sakban, Hery Bath, Evi Sri, Alvy, Ami, Nina Pandia,

Putri, thanks dah mau jadi teman touring dikala jenuh menghadapi semua.

13. Special thanks buat si busuk “Leo Mansen” yang selalu ada memotivasi.

Semua perhatian dan saran-saran darimu menjadi inspirasi buat aku.

14. Kepada semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak dapat

(4)

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kertas karya ini masih jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan masukan untuk

kesempurnaan kertas karya ini sehingga dapat bermanfaat bagi kita semua .

Medan , Juni 2011

Penulis

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Alasan Pemilihan Judul ... 1

1.2. Tujuan Peulisan ... 3

1.3. Pembatasan Masalah ... 3

1.4. Metode Penulisan ... 3

BAB II GAMBARAN UMUM NEGARA JEPANG 2.1. Letak Geografis ... 5

2.2. Penduduk ... 6

2.3. Mata Pencaharian ... 6

2.4. Agama ... 7

BAB III PERKAWINAN TRADISIONAL SECARA SHINTO DI JEPANG 3.1 Perkawinan Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang ... 10

3.2 Bentuk Keluarga Pada Masyarakat Jepang ... 13

3.3 Tahapan Upacara perkawinan Secara Shinto di Jepang ... 14

3.3.1. Pelaksanaan Pertunangan ... 14

3.3.2. Tahapan Menjelang Upacara Perkawinan ... 15

3.3.3. Upacara Pelaksanaan Perkawinan ... 16

3.4. Resepsi Pernikahan (Hiroen) Dan Bulan Madu ... 19

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan ... 23

4.2. Saran ... 24

(6)

ABSTRAK

Upacara perkawinan adalah tahapan acara yang dilakukan mulai dari awal

menentukan pasangan sampai kepada pesta pernikahan dan sesudahnya, yang

mana didalamnya mengandung unsur-unsur ritual dan nilai-nilai. Di Jepang

bentuk perkawinan sangat erat kaitannya dengan bentuk keluarga. Dalam

masyarakat Jepang ada dua buah bentuk keluarga yaitu Kazoku dan Ie.

Kazoku adalah hubungan suami istri, hubungan orang tua dan anak, dan

diperluas pada hubungan persaudaraan yang didasarkan pada struktur masyarakat

tersebut. Kazoku merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan

komponen terpenting dalam pembentukan sistem kekerabatan, dari Kazoku inilah

akan lahir sistem keluarga tradisional Jepang yang disebut dengan Ie.

Ie, yang banyak diungkapkan dengan katakana (イエ) adalah sekelompok

orang yang tinggal di sebuah lingkungan rumah, memiliki keterikatan antara

anggota. Ikatan sosial para anggota khususnya di bidang kepercayaan (pemujaan),

ekonomi dan moral.

Pada masyarakat tradisional Jepang, perkawinan yang sering terjadi adalah

Miai kekkon (perjodohan) dan ren’ai kekkon (atas dasar cinta). Miai kekkon yaitu

perkawinan yang dijodohkan oleh pihak ketiga yang disebut nakoodo. Fungsi

nakoodo adalah mengatur perkawinan, termasuk memperkenalkan pihak-pihak

yang berminat untuk mencari calon suami atau calon istri. Tujuan miai kekkon

adalah meneruskan keturunan sistem Ie.

Upacara perkawinan di Jepang dibedakan menjadi tiga macam, yaitu

Butsuzen Kekkonshiki (perkawinan berdasarkan agama Buddha), Kirisutokyoo

(7)

(perkawinan berdasarkan agama Shinto). Shinzen kekkonshiki sangat dipengaruhi

agama Shinto. Dalam perkawinan tradisional secara Shinto, setelah pasangan

calon pengantin memutuskan untuk meneruskan hubungan ke jenjang perkawinan

maka akan diadakan acara pertunangan yang disebut yuinoo, dimana dilakukan

pertukaran barang-barang pihak pria dan wanita. Barang-barang yang biasanya

diberikan adalah berupa uang sebanyak tiga bulan gaji pria kepada pihak wanita.

Perkawinan tradisional secara Shinto berlangsung secara sederhana tetapi

sangat khidmat. Perkawinan Shinto diadakan disebuah altar Shinto. Upacara ini

dipimpin oleh seorang pendeta Shinto yang dihadiri oleh anggota keluarga, mak

comblang (nakoodo) dan teman dekat dari kedua mempelai.

Urutan upacara perkawinan Shinto yaitu, pendeta akan memimpin

upacara, ia berdoa di depan altar, kemudian pengantin pria akan mengucapkan

janji pernikahan. Setelah itu akan diadakan upacara San-San-Ku-Do untuk

meneguhkan mereka sebagai suami istri. Di altar kuil Shinto terdapat

persembahan seperti nasi, air, garam, buah-buahan, sayur-sayuran, sake, beberapa

surume dan konbu. Dua ekor ikan Tai (sejenis ikan Kakap berwarna putih

keperakan), cincin nikah dan sake yang dipersembahkan kepada Dewa Shinto.

Bagian lainnya dari persembahan adalah pemurni (Hara) dan pendoa (Norito)

yang semuanya memiliki makna khusus dalam Shinto. Setelah selesai upacara

kemudian diadakan upacara minum sake bersama dan resepsi pernikahan

(Hiroen). Hal ini dimaksudkan untuk memberitahukan kepada masyarakat luas

(8)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Alasan Pemilihan Judul

Setiap manusia pasti akan mengalami tahap-tahap kehidupan dimulai dari

balita, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua sampai ia meninggal. Biasanya pada

usia dewasa dan sudah memiliki pekerjaan, manusia akan memikirkan tentang

perkawinan.

Perkawinan merupakan suatu saat yang sangat penting dimana hubungan

persaudaraan berubah dan diperluas. Perkawinan juga merupakan rencana untuk

meneruskan keturunan yaitu untuk menjaga kesinambungan satu keluarga. Secara

umum, perkawinan adalah penggabungan antara seorang pria dan seorang wanita

untuk membentuk sebuah rumah tangga.

Dalam pelaksanaan sebuah perkawinan, diperlukan tata cara tertentu yang

mengatur individu-individu yang bersangkutan. Sistem, nilai-nilai, norma-norma

dan aturan-aturan yang mengatur masyarakat sehubungan dengan perkawinan

disebut dengan pranata perkawinan (Rifai Abu, 1984:51).

Koentjaraningrat (1997:92), mengatakan bahwa hampir setiap masyarakat,

hidupnya dibagi-bagi ke dalam tingkat-tingkat. Tingkatan tersebut dinamakan

tingkat-tingkat sepanjang daur hidup yang meliputi: masa bayi, masa anak-anak,

masa remaja, masa dewasa, masa sesudah menikah, masa kehamilan dan masa

tua. Pada masa peralihan antara satu tingkat kehidupan ke tingkat berikutnya,

(9)

Secara umum yang dimaksud dengan upacara perkawinan adalah tahapan

acara yang dilakukan mulai dari awal menentukan pasangan sampai kepada pesta

pernikahan dan sesudahnya, yang mana didalamnya mengandung unsur-unsur

ritual dan nilai-nilai.

Upacara perkawinan adalah kegiatan-kegiatan yang telah dilazimkan

dalam usaha mematangkan, melaksanakan dan menetapkan suatu perkawinan

(Depdikbud;1978/1979:10).

Bagi suku bangsa yang memiliki adat budaya, perkawinan merupakan

suatu hal yang amat penting dalam daur kehidupan dan dilaksanakan dalam satu

upacara yang terhormat serta mengandung unsur sakral dan religi didalamnya.

Salah satu suku bangsa didunia yang memiliki adat tersendiri dalam

melaksanakan perkawinan adalah bangsa Jepang. Upacara perkawinan di Jepang

dibedakan menjadi tiga macam, yaitu Butsuzen kekkonshiki, yaitu upacara

pernikahan berdasarkan agama Buddha. Kirisutokyoo kekkonshiki, yaitu upacara

pernikahan berdasarkan agama kristen. Dan Shinzen kekkonshiki, yaitu upacara

perkawinan berdasarkan agama Shinto. Nilai-nilai budaya leluhur sangat

dijunjung tinggi, sehingga upacara perkawinan yang dijalankan juga kebanyakan

masih mengikuti adat tradisional. Meskipun saat sekarang ini sudah banyak

perkawinan yang dilaksanakan secara modern.

Meskipun Jepang dikenal sebagai negara yang bertekhnologi canggih

dengan masyarakat yang sangat modern, orang Jepang tetap mempunyai

kesadaran untuk berkeluarga serta tetap taat pada adat istiadat warisan leluhur.

Masyarakat Jepang memiliki adat dan istiadat tentang perkawinan yang berbeda

(10)

sistem keluarga (Martha, 1995:2). Untuk itulah penulis memilih judul

“PERKAWINAN TRADISIONAL SECARA SHINTO DI JEPANG”.

1.2. Tujuan Penulisan

Kekayaan warisan budaya yang diinventarisasikan dan didokumentasikan

secara baik, akan sangat besar gunanya bagi pembinaan bangsa, negara, dan

warga negara. Oleh karena itu mengumpulkan dan menyusun bahan tentang Adat

dan Upacara Perkawinan di Jepang adalah sangat penting artinya.

Adapun tujuan kertas karya ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana bentuk perkawinan dan proses pelaksanaan

Perkawinan secara Shinto di Jepang

2. Untuk menambah wawasan pembaca tentang budaya Jepang

3. Sebagai salah satu syarat kelulusan dari program diploma III jurusan

Bahasa Jepang Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

1.3. Batasan Masalah

Pengaruh luar terhadap adat dan upacara perkawinan itu adalah

diterimanya unsur-unsur kebudayaan luar (asing) yang mempengaruhi adat di

dalam upacara perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan upacara

perkawinan. Demikian hal nya di Jepang, tidak tertutup kemungkinan mereka

menerima pengaruh kebudayaan luar itu sehingga di Jepang saat sekarang ini

sudah banyak yang melakukan perkawinan modern. Tetapi dalam hal ini, penulis

(11)

1.4. Metode penulisan

Metode adalah alat untuk mencapai tujuan dari suatu kegiatan. Dalam

melakukan penelitian, sangat diperlukan metode-metode untuk menunjang

keberhasilan tulisan yang akan disampaikan penulis kepada pembaca. Untuk itu

penulis menggunakan metode studi kepustakaan. Studi kepustakaan merupakan

studi aktifitas yang sangat penting dalam penelitian yang dilakukan. Beberapa

aspek perlu dicari dan diteliti meliputi: masalah, teori, konsep, dan penarikan

kesimpulan (Nasution, 1946:14). Dengan kata lain studi kepustakaan adalah

pengumpulan dengan cara membaca buku-buku yang berkaitan dengan penelitian

ini. Data yang diperoleh dari referensi tersebut kemudian dianalisa untuk

mendapatkan kesimpulan.

Teknik penelitian yang digunakan adalah meneliti data berupa buku-buku

yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas. Jadi teknik pengumpulan

data yang digunakan adalah library research. Selain itu penulis juga

memanfaatkan koleksi pribadi, dan berbagai informasi dari situs-situs internet

yang membahas tentang masalah yang akan dibahas untuk melengkapi data-data

(12)

BAB II

GAMBARAN UMUM NEGARA JEPANG

2.1. Letak Geografis

Kepulauan Jepang yang terletak lepas pantai timur benua Asia,

membentang seperti busur yang ramping sepanjang 3.800 KM. Luas totalnya

adalah 377.815 KM persegi-sedikit lebih luas dari Inggris. Kepulauan ini terdiri

dari empat pulau utama, honshu, hokkaido, kyushu, dan shikoku (berurut dari

besar sampai kecil), sejumlah gugusan pulau, dan sekitar 3.900 pulau yang lebih

kecil lagi. Pulau honshu memiliki luas lebih dari 60% dari seluruh kepulauan

Jepang.

Jepang mengenal empat musim yaitu musim panas (natsu) Juni, Juli,

Agustus. Musim gugur (aki) September, Oktober, dan november. Musim dingin

(fuyu) Desember, Januari, dan Februari. Musim semi (haru) bulan Maret, April,

dan bulan Mei.

Tokyo, ibukota Jepang, terletak pada garis lintang yang hampir sama

dengan Athena, Los Angeles dan Teheran. Kota ini menikmati musim dingin yang

tidak terlampau dingin, kelembaban udara yang rendah dan sekali-sekali turun

salju, berlainan dengan kelembaban dan suhu udara yang tinggi pada bulan-bulan

musim panas. Curah hujan yang tinggi dan iklim yang sedang di sebagian besar

dari kepulauan ini menyebabkan pertumbuhan hutan yang lebat dan vegetasi yang

(13)

2.2. Penduduk

Jumlah penduduk di Jepang hingga akhir Maret 2009 melebihi 127 juta

jiwa. Naik dibandingkan pada bulan yang sama tahun 2008. Naiknya jumlah

penduduk dipengaruhi oleh banyaknya perusahaan Jepang yang mengurangi

kegiatan bisnis di luar negeri akibat dari merosotnya perekonomian dunia. Karena

situasi ini, jumlah penduduk Jepang yang kembali ke Jepang lebih banyak

dibandingkan yang pergi ke luar negeri.

Banyaknya jumlah penduduk Jepang yang kembali dari luar negeri serta

karena beberapa faktor lainnya, berhasil mengimbangi penurunan jumlah

penduduk akibat tingkat kematian yang melebihi tingkat kelahiran tahun 2009

yaitu sebanyak 45,914 jiwa. Berdasarkan data dari kementerian dalam negeri,

jumlah keseluruhan penduduk Jepang (belum termasuk warga asing) sekarang

mencapai 127,076,183 jiwa. Meningkat sebanyak 10,005 jiwa dibandingkan tahun

2008.

Sekitar 76% rakyat Jepang hidup di kota-kota besar. Dari populasi kota

ini, hampir 60% memadati empat kawasan metropolitan terbesar Jepang, yang

mencakup 16 prefektur yang berpusat pada Tokyo, Osaka, Nagoya, dan Kita

Kyushu.

2.3. Mata Pencaharian

Jepang termasuk negara industri terbesar di dunia, dari barang keperluan

sehari hari seperti sumpit, sampai industri berat seperti pembuatan kapal. Oleh

karena itu, banyak orang Jepang yang bekerja sebagai karyawan. Para karyawan

(14)

menempuh jarak yang jauh dari rumah ke tempat kerjanya. Sama seperti di

Indonesia, terkadang perusahaan mengalih tugaskan karyawannya ke cabang di

kota lain.

Meskipun perindustrian sudah sangat maju, masyarakat Jepang tidak

meninggalkan mata pencaharian primer seperti pertanian dan perikanan. Selain itu

ada juga banyak bisnis kecil seperti usaha milik keluarga, sanggar seni, restoran

kecil, serta toko di lingkungan perumahan. Bisnis demikian acapkali merupakan

bisnis keluarga yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.

Banyak ibu rumah tangga dan orang orang yang sudah pensiunan yang

melakukan pekerjaan paruh waktu misalnya sebagai petugas kebersihan, penjaga

toko, kasir dan sebagainya. Ada juga siswa SMA yang bekerja paruh waktu

namun tidak banyak karena kesibukan sekolah.

2.4. Agama

Di Jepang, kebebasan agama dijamin bagi semua orang berdasarkan

Undang-Undang Dasar. Pasal 20 menyatakan bahwa “tidak satupun organisasi

agama dapat menerima hak istimewa dari negara, dan tidak satupun dapat

mempunyai wewenang politik apapun. Tidak seorangpun dapat dipaksa

mengambil bagian dalam kegiatan, perayaan, upacara, atau praktek agama.

Negara dan instansinya harus membatasi diri tidak melakukan pendidikan agama

dan kegiatan agama apapun.

Agama yang terbesar di Jepang dewasa ini ialah agama Buddha, yang pada

akhir tahun 1985 mempunyai 92 juta pemeluk. Agama Kristen juga bergiat, pada

(15)

orang muslim berjumlah sekitar 155.000, termasuk orang bukan Jepang yang

bermukim sementara di negeri ini.

Agama asli Jepang ialah Shinto, yang berakar pada kepercayaan animis

orang Jepang kuno. Shinto berkembang menjadi agama masyarakat dengan

tempat pemujaan setempat untuk dewa-dewa rumah tangga, dan pada dewa-dewa

pelindung setempat. Pahlawan dan pemimpin-pemimpin masyarakat yang

terkemuka didewakan dari generasi ke generasi, dan arwah nenek moyang juga di

sembah.

Mitos mengenai asal keturunan dewa Keluarga Kaisar pernah menjadi

salah satu prinsip dasar Shinto, dan pada awal abad kesembilanbelas, gerakan

patriotik Shinto mulai maju. Setelah restorasi meiji pada tahun 1868, dan

khususnya selama Perang Dunia II, Shinto diangkat oleh penguasa menjadi agama

negara. Namun, berdasarkan Undang-Undang Dasar, peran Shinto tidak lagi

diberi dukungan resmi ataupun hak khusus, walaupun masih memegang peran

pada upacara penting dalam berbagai segi kehidupan Jepang.

Shinto berdampingan dengan agama Buddha dan kadang-kadang

bertumpang tindih dengan agama Buddha dalam pemikiran rakyat. Banyak orang

Jepang dewasa ini mengikuti upacara Shinto pada pernikahan dan upacara agama

Buddha bila meninggal. Agama Buddha mempunyai 84 juta orang pengikut di

Jepang dan Shinto sekitar 92 juta. Angka-angka ini merupakan bukti dari

kecenderungan orang Jepang memeluk lebih dari satu kepercayaan agama

sekaligus.

Agama Kristen masuk ke jepang pada tahun 1549 dibawa oleh pastor

(16)

kemudian dicabut dalam masa Meiji. Dewasa ini terdapat sekitar 840.000 orang

Kristen Jepang, dengan jumlah yang seimbang antara Katolik dan Protestan.

Akhir-akhir ini timbul berbagai bentuk baru seperti sekte-sekte buddhis (terutama

dari garis Hokke, atau Lotus Sutra), dan sekte-sekte campuran yang memadukan

(17)

BAB III

PERKAWINAN TRADISIONAL SECARA SHINTO DI JEPANG

3.1. Perkawinan Secara Shinto pada Masyarakat Jepang

Perkawinan dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah kekkon atau

kon’in. Istilah kekkon terdiri dari dua karakter kanji yaitu ketsu(結)yang berarti

ikatan, dan kon (婚)yang berarti perkawinan. Sedangkan kon’in terdiri dari kon

(婚) yang berarti perkawinan dan in (姻) yang juga berarti perkawinan.

Masyarakat Jepang memiliki adat istiadat tentang perkawinan yang

berbeda dari negara lain. Perkawinan dan penyelenggaraan kehidupan berkeluarga

di Jepang diatur oleh sebuah sistem keluarga.

Pada umumnya perkawinan orang Jepang bersifat monogami, walaupun

pergundikan juga dilakukan dan keturunannya diakui dalam masyarakat, namun

dari segi pewarisan kekayaan maupun kedudukan dalam lingkungan sosial, status

mereka lebih rendah dari istri sah anak - anaknya.

Kira – kira sampai tahun 50 showa ( 1975 ), sebagian besar wanita Jepang

tidak memiliki pikiran untuk menikah. Hal itu menyebabkan pandangan mengenai

perkawinan adalah kebahagian wanita mulai runtuh. Tetapi pada tahun 55 showa

(1980) setelah diadakan penelitian, banyak wanita yang menjawab tentang

harapan perkawinan yaitu perkawinan akan memberikan ketenangan bathin

(Hendry, 1987 : 234).

Usia perkawinan orang Jepang sejak Zaman Meiji berkisar pada usia 26

27 tahun bagi pria dan 23 – 24 tahun bagi wanita. Sampai tahun 20 showa ( 1945),

(18)

1945, perbedaan umur suami dan isteri semakin dekat yaitu menjadi 3 tahun

bahkan hanya 2 tahun pada tahun 1975. Penyebab tingginya usia perkawinan bagi

wanita di Jepang menurut Martha ( 1995 : 4 ) adalah meningkatnya pendidikan,

kemajuan dalam pekerjaan, sifat bebas dan mandiri serta kemajuan ilmu

kedokteran.

Cara bagaimana calon suami atau calon isteri dipilih ada dua macam, yaitu

berdasarkan miai (dipertemukan) dalam konteks perkawinan memiliki pengertian

dijodohkan dan ren’ai (cinta ). Perkawinan yang terjadi karena miai disebut miai

kekkon, sedangkan ren’ai disebut ren’ai kekkon.

Miai kekkon terlaksana dengan cara orang tua dari seorang anak yang telah

dewasa meminta bantuan perantara yang disebut Nakoodo untuk mempertemukan

kedua belah pihak. Ie , yang banyak diungkapkan dengan katakana (イエ) adalah

sekelompok orang yang tinggal di sebuah lingkungan rumah, memiliki keterikatan

antara anggota. Ikatan sosial para anggota khususnya di bidang kepercayaan

(pemujaan), ekonomi dan moral (Situmorang, 2000:98). Peranan Nakoodo sangat

penting sebagai perantara Ie dengan Ie dalam perkawinan di Jepang. Nakoodo

adalah orang yang bertugas mencarikan pasangan calon pengantin. Fungsi

Nakoodo menurut Martha (1995 : 5) adalah mengatur perkawinan, termasuk

memperkenalkan pihak – pihak yang berminat untuk mencari calon suami atau

calon isteri. Menurut Wibowo ( 2005 : 18 ), Nakoodo adalah orang yang bertindak

sebagai perantara pada awal perundingan sebelum perkawinan, memimpin

upacara perkawinan dan mengurus hubungan yang berlangsung terus - menerus

setelah perkawinan, termasuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi diantara

(19)

Ren’ai kekkon yaitu perkawinan yang didasari oleh cinta, semakin banyak

terjadi terutama sejak zaman Meiji, dimana pemikiran – pemikiran barat banyak

diserap dalam segala aspek kehidupan orang Jepang, bahkan dewasa ini banyak

perkawinan yang berdasarkan cinta kasih dan didahului dengan pacaran.

Di bawah undang-undang 1898, perkawinan di Jepang di atur secara

besar-besaran dalam satu Ie, yang dikontrol oleh seorang koshu (kepala keluarga). Jadi,

perkawinan menyangkut satu kelompok yang meninggalkan Ie-nya. Sebagai

seorang Yome (menantu perempuan) atau Muko (menantu laki-laki) untuk menjadi

bagian dari Ie yang lain. Supaya tercapai hal ini, maka persetujuan di antara kedua

kepala keluarga sangat diperlukan.

Setelah perkawinan terbentuk, kedua pasangan dipanggil dengan satu

nama keluarga. Berdasarkan pasal 75 Undang-undang perdata, Myooji (nama

keluarga) dapat dipakai dari nama suami atau nama isteri. Namun demikian,

98,9% isteri di Jepang mengubah nama keluarganya dengan nama keluarga

suaminya atau dengan kata lain pihak wanita ikut pihak keluarga pria.

Perkawinan secara Shinto dianggap sebagai pernikahan tradisional Jepang.

Perkawinan Shinto yang pertama diadakan pada tahun 1908. Pada tahun 1992,

63% perkawinan dilakukan secara Shinto. Alasan-alasan dilaksanakan perkawinan

secara Shinto adalah karena upacaranya yang sederhana dan meskipun

prosedurnya sederhana upacara ini penuh dengan suasana khidmat. Perkawinan

Shinto diadakan di sebuah altar Shinto. Upacara ini dipimpin oleh seorang

pendeta Shinto. Perkawinan seperti ini biasanya dihadiri oleh anggota keluarga

dari kedua mempelai dan teman dekat dari pasangan yang akan menikah dan juga

(20)

3.2. Bentuk Keluarga Pada Masyarakat Jepang

Bentuk perkawinan sangat erat kaitannya dengan bentuk keluarga. Dalam

masyarakat Jepang dikenal ada dua buah konsep keluarga yaitu keluarga sebagai

Kazoku dan keluarga sebagai Ie.

Keluarga (Kazoku) menurut Situmorang (2006:22), adalah hubungan

suami istri, hubungan orang tua dan anak, dan diperluas pada hubungan

persaudaraan yang didasarkan pada struktur masyarakat tersebut. Kazoku

merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan komponen terpenting

dalam pembentukan sistem kekerabatan, dari Kazoku inilah akan lahir sistem

keluarga tradisional Jepang yang disebut dengan Ie.

Ie, yang banyak diungkapkan dengan katakana (イエ) adalah sekelompok

orang yang tinggal di sebuah lingkungan rumah, memiliki keterikatan antara

anggota. Ikatan sosial para anggota khususnya di bidang kepercayaan (pemujaan),

ekonomi dan moral.

Ariga Kizaemon dalam Situmorang (2006:24), mengatakan bahwa pada

awalnya Ie terbentuk karena adanya pernikahan yaitu terbentuknya keluarga inti.

Tetapi setelah mereka mempunyai anak dan apabila suami atau ibu di dalam

keluarga tersebut meninggal maka kepala keluarga tersebut diganti oleh anak

laki-laki tertua. Jika keluarga tersebut tidak mempunyai anak laki-laki-laki-laki, maka suami

dari anak perempuan dapat diangkat menjadi kepala keluarga.

Jadi dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang paling utama antara

keluarga Kazoku dengan keluarga Ie adalah, bahwa Kazoku dapat berakhir karena

kematian suami atau istri atau karena perceraian, jadi keberadaan Kazoku adalah

(21)

karena itu Ie tidak hancur karena perceraian atau meninggalnya salah satu pihak

suami atau istri dalam keluarga tersebut (Situmorang, 2006:23).

3.3. Tahapan Upacara Perkawinan Secara Shinto di Jepang 3.3.1. Pelaksanaan Pertunangan

Setelah pasangan calon pengantin memutuskan untuk meneruskan

hubungan mereka ke jenjang perkawinan, maka rangkaian acara mulai dari

pertukaran barang pertunangan, upacara perkawinan dan resepsi perkawinan

diselenggarakan.

Tahapan pertama adalah peresmian atau pemberitahuan pertunangan yang

disebut dengan Yuinoo. Yunioo adalah tata cara untuk meresmikan pertunangan

kedua calon pengantin. Yuinoo dibagi dua yaitu Yuinoohin dan Yuinookin.

Pertukaran barang-barang pemberian sebagai tanda pertunangan disebut dengan

Yuinoohin. Yaitu diberikannya obi (ikat pinggang kimono yang biasa dipakai

kaum wanita di Jepang) kepada mempelai wanita. Dan dikembalikannya sebuah

hakama (pakaian untuk laki-laki yang bentuknya seperti rok) kepada mempelai

laki-laki. Hal ini melambangkan sebuah kesetiaan diantara keduanya. Sedangkan

pemberian uang sebanyak dua atau tiga bulan gaji calon pengantin pria disebut

dengan Yuinookin. Sebagai balasan Yuinookin, pihak wanita akan memberikan

setengah dari uang yang diterimanya kepada pihak laki-laki.

Setelah tercapai kesepakatan di antara kedua calon pengantin, maka pihak

pria akan mengirimkan pemberian-pemberian sebagai hadiah kepada pihak

wanita. Untuk mendengar kabar ini, maka diundanglah sanak saudaranya. Istilah

(22)

Dalam merayakan pertunangan ini juga diberikan Kugicha (sejenis arak

Jepang) dan ikan tai (sejenis ikan kakap) kepada undangan yang datang. Setelah

Kimecha, maka akan dilakukan penentuan hari perkawinan. Seorang Nakoodo

akan merundingkan dengan pihak wanita tentang penentuan waktu yang baik

untuk pelaksanaan upacara perkawinan. Waktu yang baik artinya hari yang

mempunyai keberuntungan yaitu keuntungan terbesar dalam siklus enam hari

untuk satu perkawinan. Untuk tujuan ini penduduk di daerah tertentu selalu

berkonsultasi dengan seorang Ogamiyasan (orang yang dituakan untuk memberi

nasihat) tentang hal tersebut. Buku petunjuk tentang perkawinan juga digunakan

untuk memberikan keterangan praktis seperti menghindari dari hari-hari

menstruasi pengantin wanita dan pada musim panas, karena akan menyusahkan

untuk berdandan. Biasanya hari Minggu banyak dipilih sebagai hari yang baik

bagi upacara dan resepsi perkawinan karena banyak para tamu yang bekerja pada

hari-hari biasa. Sekitar bulan September-November pada musim gugur (aki)

banyak yang melangsungkan resepsi perkawinan.

Jika hari perkawinan sudah ditetapkan, maka akan dilakukan Honcha yaitu

pemberian hadiah pertunangan utama dari rumah calon pengantin pria ke rumah

calon pengantin wanita. Pemberian tersebut bisa berupa Kimono dan aksesorisnya

atau sejumlah uang. Pemberian lain adalah satu cincin pertunangan.

3.3.2. Tahapan Menjelang Upacara Perkawinan

Pada pagi hari saat upacara perkawinan akan berlangsung, pihak wanita

sudah menyiapkan diri sedemikian rupa. Seorang juru rias sudah dipesan untuk

(23)

rambutnya. Kimono putih digunakan pengantin wanita pada saat upacara

berlangsung. Kimono putih menandakan kesucian. Pakaian resmi pria untuk

upacara yang ditetapkan oleh pemerintah sejak tahun 1877, adalah jubah hitam

khusus untuk upacara pernikahan (Yanagita dalam Hendry, 1981:170). Dalam

resepsi yang diadakan setelah upacara, biasanya pengantin akan mengganti

kimono dengan pakaian pengantin ala barat. Pengantin wanita akan memakai gaun

dan pengantin pria memakai jas ala barat. Kebiasaan ini disebut dengan Ironaoshi.

Tetapi dibeberapa daerah tertentu, pengantin wanita memakai kimono putih pada

saat upacara berlangsung dan menggantinya dengan kimono yang berwarna cerah

pada saat resepsi. Biasanya bercorak indah dan terang seperti merah atau jingga

sesuai dengan suasana bahagia. Bagian hiasan kepala pengantin wanita disebut

Tsunokakushi (Chikusi dalam henry, 1981:170).

Setelah tiba waktunya pergi ketempat dimana dilangsungkannya upacara

perkawinan, maka pengantin wanita akan mempergunakan waktu sebentar untuk

berlutut didepan butsudan/kamidana mengucapkan salam perpisahan dan

berterima kasih pada nenek moyang atas berkat dan perlindungannya, karena ia

mulai sekarang akan menyembah butsudan milik suaminya dan sekali-sekali akan

berkunjung kesitu lagi kelak.

3.3.3. Upacara Pelaksanaan Perkawinan

Perkawinan secara Shinto biasanya diselenggarakan di Kuil. Tetapi saat

sekarang ini ada juga yang melaksanakan di gedung perkawinan atau hotel yang

menyediakan ruangan khusus untuk ritual perkawinan secara Shinto. Di ujung

(24)

Yang terdiri dari nasi, air, garam, buah-buahan, sayur-sayuran, sake serta

beberapa surume dan konbu, dan juga dua ekor ikan tai (sejenis ikan kakap

berwarna putih keperakan) juga dipersembahkan, yang melambangkan kesuburan

atau Shison han’ei. Demikian juga dengan cincin nikah diletakkan di meja

persembahan ini, kemudian ada juga tiga cangkir sake beserta dua wadahnya yang

dibedakan satu untuk pria dan satu lagi untuk wanita dengan warna merah dan

merah muda.

Disebelah kanan altar berdirilah seorang kannushi yaitu pendeta shinto dan

disebelah kirinya ada miko yaitu para penolong untuk membantu jalannya

upacara. Kadang-kadang juga ada disediakan radio kaset untuk memberikan latar

belakang alunan musik yang sesuai dengan suasana itu, tetapi ada juga yang yang

memakai kelompok peniup suling dari kuil Shinto yang berdiri dibelakang miko.

Biasanya juga disertai oleh para penari.

Kedua pengantin duduk ditengah ruangan, dengan posisi pengantin pria

disebelah kanan pengantin wanita, Nakoodo dibelakang mereka, dan sanak

saudara dari kedua belah pihak, sesuai dengan kedekatan hubungan.

Para Pemusik

Miko

ALTAR

Sajian Persembahan : nasi, air, Sake, garam, buah-buahan, Sayuran

Kannushi (Pendeta)

MEJA PERSEMBAHAN

(25)

Biasanya ada satu meja pendek didepan masing-masing orang dengan

secangkir sake dan satu paket makanan yang berisi irisan kecil surume dan konbu

yang sebelumnya sudah dipersembahkan kepada dewa.

Pendeta Shinto pertama sekali menyambut rombongan dengan

mengucapkan selamat, kemudian mengumumkan bahwa upacara akan dimulai. Ini

dimulai dengan acara penyucian (harai-gushi) selama upacara berlangsung.

Pendeta akan menyanyi kemudian menggoyangkan tongkat berhias diatas altar,

selanjutnya keatas para Miko, kedua pengantin dan semua yang hadir. Hal ini

bertujuan untuk mensucikan ruangan dan seluruh yang hadir. Kemudian pendeta

menyanyikan seruan/doa (norito) dari satu gulungan kertas yang dibawa pendeta

yang berhubungan dengan beberapa doa untuk memohon kebahagiaan dan

kemakmuran pernikahan kepada dewa, agar pengantin hidup bersatu selamanya.

Pendeta kemudian mengumumkan upacara san-san-ku-do (seiin no gi),

yaitu upacara sumpah dengan minum sake bersama. Sake dibawa oleh miko

kepada kedua pengantin. Nakoodo kadang-kadang berpindah ke kedua sisi

pengantin untuk membantunya jika perlu. Mereka kemudian membuat perjanjian

dengan menuangkan sake tiga kali, dimana cangkir terkecil diisi oleh penuang

pria, disuguhkan pertama kali kepada pengantin wanita. Cangkir kedua diisi oleh

penuang wanita dan diberikan kepada pengantin pria, sedangkan yang ketiga

adalah mengulang cara yang pertama yaitu menuang sake kepada kedua

pengantin. Saling memberikan cangkir ditafsirkan sebagai lambang dari

persetujuan antara kedua pengantin untuk membagi suk dan duka dalam

kehidupan bersama. Setelah itu, pasangan pengantin maju kedepan altar dimana

(26)

didepan para dewa yang isinya adalah janji untuk melewati kehidupan pernikahan

dalam keharmonisan dan saling menghormati, berbagi suka dn duka serta hidup

damai, mengusahakan kemakmuran bagi keturunan mereka dan semuanya akan

dijalankan sampai mereka meninggal. Pengantin wanita akan menambahkan

dengan menyebutkan namanya diakhir ikrar itu, kemudian diadakan pertukaran

cincin.

Sesudah kedua pengantin dipersatukan, sake kembali disuguhkan untuk

menyatukan kedua keluarga. Disuguhkan kepada tiap-tiap sanak keluarga

kemudian minum bersama setelah berdiri dan mengucapkan kanpai.

Bagian akhir dari upacara adalah setelah beberapa nyanyian dinyanyikan

oleh pendeta, ia akan membawa suatu pemberian berupa ranting kecil sakaki yang

sudah dihias yang disebut tamagushi ke depan altar. Ini sebagai ucapan terima

kasih kepada dewa. Ranting-ranting ini biasanya diberikan pertama kepada kedua

pengantin, kemudian Nakoodo dan terakhir kepada kedua pihak keluarga,

biasanya kepada ayah dari kedua pengantin. Pada puncak acara dilakukan

pertukaran cincin diiringi dengan tepuk tangan. Upacara ditutup oleh pendeta

dengan mengucapkan “selamat” dan berdoa agar pernikahan yang baru dapat

mendirikan rumah tangga yang selaras.

3.4.Resepsi Pernikahan (Hiroen) dan Bulan Madu

Setelah upacara pernikahan diselenggarakan, akan diadakan acara yang

disebut hiroen, yaitu resepsi untuk memberitahukan pernikahan ini kepada

(27)

resepsi dilaksanakan. Resepsi biasanya dihadiri oleh kerabat dan teman-teman

dari pengantin pria dan wanita.

Hiroen biasanya diatur oleh seseorang yang mengurusi makanan dimana

upacara dilangsungkan. Makanan disajikan, kadang-kadang memakai meja gaya

barat atau meja gaya Jepang dengan baki-baki pribadi atau meja pendek yang

memanjang dengan bantal-bantal lantai. Semuanya bervariasi sesuai permintaan

pribadi atau pihak keluarga yang bersangkutan. Beberapa resepsi yang

berlangsung menggunakan kue pengantin bertingkat, sedikitnya ada tujuh tingkat.

Yang khas adalah para tamu yang pertama kali dipersilahkan duduk, kemudian

kedua pengantin dan Nakoodo akan masuk bersamaan dengan iringan musik

perkawinan.

Dalam upacara perkawinan yang berlangsung, ada tirai- tirai yang dibuka

untuk menunjukkan kedua pasangan diatas panggung dimana mereka akan turun

dan duduk ditempat yang telah disediakan di ujung ruangan. Pengantin wanita

disisi kiri pengantin pria dan Nakoodo di sisi mereka. Biasanya pemimpin acara

akan mengumumkan peristiwa ini, kadang- kadang dengan noshi no gi (upacara

Noshi). Upacara ini dilakukan oleh pekerja pria dari tempat dilaksanakannya

upacara perkawinan. Perlahan- lahan berjalan masuk, belutut dan menaruhkan

baki dilantai dengan noshi diatasnya, memberi salam dengan menunduk pada para

undangan tamu, kemudian menganngkat kembali baki tersebut dan berjalan

keluar. Pristiwa ini memberikan kesan hikmat dan menunjukan pengertian bahwa

hiroen telah dimulai. Cara lain adalah pidato singkat dari Nakoodo yang berisi

riwayat- riwayat singkat kedua pengantin dan harapan bahwa persatuan ini akan

(28)

dan jika para tamu juga mengambil bagian, maka wakil dari pengantin pria

maupun pengantin wanita biasanya guru atau pegawai, mungkin juga kawan lama

juga menyampaikan kata-kata sambutan.

Setelah itu diikuti dengan kanpai bersama untuk mamberikan selamat

kepada kedua pengantin. Sake yang disajikan biasanya sake dingin dalam cangkir

keramik merah.

Para tamu akan dipersilahkan untuk beristirahat sejenak dan bersiap- siap

untuk pesta makan. Keluarga dekat akan pindah ketengah-tengah meja untuk

membuat lingkaran merayakan adanya hubungan baru diantara mereka dengan

minum sake bersama. Biasanya meraka akan menyanyi.

Ada kebiasaan baru yang akan dilakukan yaitu pemberian karangan bunga

dari kedua pengantin kepada orang tua mereka. Ini memberikan pengertian sikap

berterimah kasih dari pasangan itu atas semua yang telah mereka terima.

Bersamaan dengan itu terdengar banzai (sorakan). Para tamu kemudian

memasukkan sisa makanan kedalam kotak yang telah tersedia, mengikatnya

bersama- sama dengan hikidemonoi (hadiah-hadiah) biasanya adalah

barang-barang seperti kipas atau guci teh yang akan dibawa pulang oleh mereka.

Pada zaman sekarang, kebanyakan masyarakat Jepang setelah perayaan

pernikahan pergi berbulan madu (Honey Moon). Bulan madu ini menjadi sangat

populer dan telah berlangsung sejak tahun 1960-an di Kurotsuchi. Umumnya

memerlukan waktu beberapa hari atau beberapa minggu dibeberapa tempat

bahkan di luar negeri jika dana memungkinkan. Acara bulan madu ini merupakan

sebagai kesempatan kepada pasangannya untuk menemukan sesuatu yang baru

(29)

Setelah bulan madu, secara tradisional pada hari ketiga setelah perkawinan

pengantin melakukan kunjungan formal kepada orang tuanya. Kunjungan rumah

ini disebut Mitsumearuki (perjalanan hari ketiga) dan ini adalah rangkaian

Satoaruki (kunjungan rumah) oleh pengantin. Kunjungan ini akan segera

dilakukan setelah pesta pernikahan sebagai bagian dari proses yang ada.

Kemudian kedua pengantin melakukan Kino Mawari (berkeliling ke

rumah tetangga) yang biasanya meliputi pengenalan pengantin kepada setiap

tetangga. Sementara itu, pada perayaan tahun baru setelah pernikahan, pengantin

ini akan melakukan kunjungan kepada orangtua mereka dengan membawa ikan

besar yang disebut Buri (ekor kuning). Ikan tersebut dipotong dan dibagikan juga

(30)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian-uraian yang penulis jabarkan pada bab-bab

sebelumnya, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Agama Shinto merupakan kepercayaan yang mempunyai ciri khas sendiri,

karena Shinto dikategorikan sebagai agama yang telah terbentuk di dalam

masyarakat primitif Jepang. Nenek moyang bangsa Jepang beranggapan

bahwa alam semesta ini didiami oleh banyak dewa. Dewa-dewa tersebut

dianggap menguasai alam semesta.

2. Di Jepang ada dua bentuk keluarga tradisional yaitu Kazoku dan Ie. Kazoku

adalah general konsep dalam keluarga Jepang yaitu hubungan antar

suami-istri dan hubungan antara orang tua dengan anak diperluas pada hubungan

persaudaraan. Keluarga tradisional Jepang cenderung merupakan keluarga

besar. Dalam melanjutkan kehidupan keluarga tradisional tidak lepas dari

pekerjaan-pekerjaan yang religius. Keluarga yang telah mempunyai usaha,

tradisi, simbol-simbol tertentu disebut dengan Ie. Jadi, yang dimaksud

dengan Ie adalah keluarga yang anggota-anggotanya terdiri dari beberapa

generasi dan telah mempunyai tradisi tertentu.

3. Cara bagaimana calon suami atau calon isteri dipilih ada dua macam, yaitu

berdasarkan miai dipertemukan dalam konteks perkawinan memiliki

pengertian dijodohkan dan ren’ai (cinta ). Perkawinan yang terjadi karena

(31)

4. Pada masyarakat tradisional, perkawinan bertujuan untuk meneruskan

keturunan Ie terutama bagi Shison (Putera pertama yang harus membawa

istri ke dalam keluarga suami untuk menghasilkan keturunan).

5. Pernikahan secara Shinto memiliki prosedur yang sederhana, unik, dan

penuh suasana khidmat. Dalam pelaksanaan upacara perkawinan secara

Shinto akan dipimpin oleh pendeta yang berdoa di depan altar, kemudian

pengantin pria akan mengucapkan janji pernikahan, setelah itu akan

diadakan upacara San-San-Ku-Do untuk meneguhkan mereka sebagai

suami istri.

4.2. Saran

Setelah penulis menyusun kesimpulan, maka pada bagian akhir ini penulis

akan memberikan saran-saran yang mungkin bermanfaat bagi para pembaca

diantaranya sebagai berikut:

1. Kepercayaan tradisional masyarakat terhadap perkawinan sampai sekarang

ini hendaknya tetap dipertahankan sebagai salah satu budaya yang

membedakan dengan bangsa lain.

2. Pelestarian budaya leluhur penting dilaksanakan supaya generasi pada

masa yang akan datang dapat mengetahui adat istiadat/kebudayaan yang

telah ada sebelumnya. Sebagaimana bangsa Jepang yang masih

melaksanakan pernikahan secara Shinto meskipun sejak modernisasi

pernikahan secara Kristen lebih mendominasi.

3. Kepada bangsa Indonesia khususnya para generasi muda hendaknya bisa

(32)

unsur-unsur modern barat tetapi hendaknya diadakan

penyaringan-penyaringan, sehingga walaupun unsur-unsur barat sudah masuk tetapi

tidak mempengaruhi tradisi yang kuat, tetapi justru melengkapi bahkan

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Anesaki, Mahasaru.1983. History Of Japanese Religion. Japan : Chanes. E. Tuttle

Company, Rutland, vermont & Tokyo.

Edwards, Walter.1989. Modern Japan Trough Its Wedding. California : Stanford

University Press.

Fureai.2003. Pernikahan ala Jepang. edisi 3.

Situmorang, Hamzon. 2000. Telaah pranata Masyarakat Jepang I. Medan: USU

Referensi

Dokumen terkait

Setelah diadakan evaluasi dari hasil penelitian diketahui bahwa harga, pendapatan perkapita, Jumlah penduduk merupakan faktor-faktor yang rnempengaruhi permintaan akan Krcdit

langsung, adakalanya dengan membawa kahanggi dan anak boru. Biasanya orang tua si perempuan tidak langsung menyetujui keinginan dari pihak laki-laki. Orang tua perempuan akan

Penelitiannya akan difokuskan kepada bagaimana pertunjukan tradisi Gandai tersebut dalam konteks upacara perkawinan adat masyarakat Pekal, deskripsi gerak Gandai, musik pengiring,

Setelah melihat hasil wawancara terhadap responden yang kontra terhadap taklik talak sebagai perjanjian perkawinan dalam Islam, maka penulis akan menyimpulkan dari

Suatu gejala bila atmosfer dalam bejana tidak jenuh dengan uap pelarut, bila digunakan pelarut campuran, akan terjadi pengembangan dengan permukaan pelarut yang terbentuk cekung