NIHON NO SHINTOU NO DENTOUTEKI NA KEKKON
SHIKI
KERTAS KARYA Dikerjakan
O L E H
EVI CINRA SAGALA NIM : 082203019
PROGRAM STUDI BAHASA JEPANG DIII FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang
telah melimpahkan berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan kertas karya ini guna melengkapi syarat untuk mencapai gelar Ahli
Madya pada Universitas Sumatra Utara. Adapun judul kertas karya ini adalah
“Perkawinan Tradisional Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang”.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurnah. Baik dari
pengkajian kalimat, penguraian materi, dan pembahasan masalah. Tetapi berkat
bimbingan dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini.
Dengan segala kerendahan hati pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada pihak yang telah banyak membantu terutama kepada:
1. Bapak Dr.Syahron Lubis ,M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Zulnaidi SS. M,Hum, selaku ketua program studi Bahasa Jepang D-3
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Hj. Muhibbah SS ,selaku Dosen Pembimbing yang dengan ikhlas telah
meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada
penulis hingga selesainya kertas karya ini.
4. Bapak Drs.Nandi .S, Selaku Dosen pembaca
6. Seluruh staf pengajar jurusan bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama mengikuti
perkuliahan.
7. Keluarga yang kukasihi, ayahanda tercinta Wadin Sagala dan Ibunda Rukia
Situmorang serta kakak dan abang-abang ku; kak Eva, bang Vandes, bang
Asrul, bang Alven, bang Lahi, kak Wirma, kak Rippi, serta seluruh keluarga
yang selama ini memberikan dukungan, baik secara moril, maupun materi
kepada penulis. Terima kasih atas doa dan dukungan kalian. Tak akan bisa
aku melangkah sendiri.
8. Rekan-rekan mahasiswa program studi Bahasa Jepang stambuk 2008
khususnya kelas A.
9. Buat semua rekan anggota Hinode dan Aotake.
10. Sahabat terbaikku Desminita Surbakti dan Prisdo Sinaga. Teman yang selalu
ada disaat suka dan duka. Terima kasih buat pengertian, doa, dan motivasinya
selama ini.
11. Teman-teman ku, Ratih, Yessi, Wanri, bang Jefri, kak Heny, Eko, iban Nael,
Hartawan, bang Yuddi, yang tak bosan-bosannya menanyakan gimana
perkembangan TA. Terima kasih buat semua perhatiannya.
12. Buat Frengky, bang Sakban, Hery Bath, Evi Sri, Alvy, Ami, Nina Pandia,
Putri, thanks dah mau jadi teman touring dikala jenuh menghadapi semua.
13. Special thanks buat si busuk “Leo Mansen” yang selalu ada memotivasi.
Semua perhatian dan saran-saran darimu menjadi inspirasi buat aku.
14. Kepada semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak dapat
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kertas karya ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan masukan untuk
kesempurnaan kertas karya ini sehingga dapat bermanfaat bagi kita semua .
Medan , Juni 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Alasan Pemilihan Judul ... 1
1.2. Tujuan Peulisan ... 3
1.3. Pembatasan Masalah ... 3
1.4. Metode Penulisan ... 3
BAB II GAMBARAN UMUM NEGARA JEPANG 2.1. Letak Geografis ... 5
2.2. Penduduk ... 6
2.3. Mata Pencaharian ... 6
2.4. Agama ... 7
BAB III PERKAWINAN TRADISIONAL SECARA SHINTO DI JEPANG 3.1 Perkawinan Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang ... 10
3.2 Bentuk Keluarga Pada Masyarakat Jepang ... 13
3.3 Tahapan Upacara perkawinan Secara Shinto di Jepang ... 14
3.3.1. Pelaksanaan Pertunangan ... 14
3.3.2. Tahapan Menjelang Upacara Perkawinan ... 15
3.3.3. Upacara Pelaksanaan Perkawinan ... 16
3.4. Resepsi Pernikahan (Hiroen) Dan Bulan Madu ... 19
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan ... 23
4.2. Saran ... 24
ABSTRAK
Upacara perkawinan adalah tahapan acara yang dilakukan mulai dari awal
menentukan pasangan sampai kepada pesta pernikahan dan sesudahnya, yang
mana didalamnya mengandung unsur-unsur ritual dan nilai-nilai. Di Jepang
bentuk perkawinan sangat erat kaitannya dengan bentuk keluarga. Dalam
masyarakat Jepang ada dua buah bentuk keluarga yaitu Kazoku dan Ie.
Kazoku adalah hubungan suami istri, hubungan orang tua dan anak, dan
diperluas pada hubungan persaudaraan yang didasarkan pada struktur masyarakat
tersebut. Kazoku merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan
komponen terpenting dalam pembentukan sistem kekerabatan, dari Kazoku inilah
akan lahir sistem keluarga tradisional Jepang yang disebut dengan Ie.
Ie, yang banyak diungkapkan dengan katakana (イエ) adalah sekelompok
orang yang tinggal di sebuah lingkungan rumah, memiliki keterikatan antara
anggota. Ikatan sosial para anggota khususnya di bidang kepercayaan (pemujaan),
ekonomi dan moral.
Pada masyarakat tradisional Jepang, perkawinan yang sering terjadi adalah
Miai kekkon (perjodohan) dan ren’ai kekkon (atas dasar cinta). Miai kekkon yaitu
perkawinan yang dijodohkan oleh pihak ketiga yang disebut nakoodo. Fungsi
nakoodo adalah mengatur perkawinan, termasuk memperkenalkan pihak-pihak
yang berminat untuk mencari calon suami atau calon istri. Tujuan miai kekkon
adalah meneruskan keturunan sistem Ie.
Upacara perkawinan di Jepang dibedakan menjadi tiga macam, yaitu
Butsuzen Kekkonshiki (perkawinan berdasarkan agama Buddha), Kirisutokyoo
(perkawinan berdasarkan agama Shinto). Shinzen kekkonshiki sangat dipengaruhi
agama Shinto. Dalam perkawinan tradisional secara Shinto, setelah pasangan
calon pengantin memutuskan untuk meneruskan hubungan ke jenjang perkawinan
maka akan diadakan acara pertunangan yang disebut yuinoo, dimana dilakukan
pertukaran barang-barang pihak pria dan wanita. Barang-barang yang biasanya
diberikan adalah berupa uang sebanyak tiga bulan gaji pria kepada pihak wanita.
Perkawinan tradisional secara Shinto berlangsung secara sederhana tetapi
sangat khidmat. Perkawinan Shinto diadakan disebuah altar Shinto. Upacara ini
dipimpin oleh seorang pendeta Shinto yang dihadiri oleh anggota keluarga, mak
comblang (nakoodo) dan teman dekat dari kedua mempelai.
Urutan upacara perkawinan Shinto yaitu, pendeta akan memimpin
upacara, ia berdoa di depan altar, kemudian pengantin pria akan mengucapkan
janji pernikahan. Setelah itu akan diadakan upacara San-San-Ku-Do untuk
meneguhkan mereka sebagai suami istri. Di altar kuil Shinto terdapat
persembahan seperti nasi, air, garam, buah-buahan, sayur-sayuran, sake, beberapa
surume dan konbu. Dua ekor ikan Tai (sejenis ikan Kakap berwarna putih
keperakan), cincin nikah dan sake yang dipersembahkan kepada Dewa Shinto.
Bagian lainnya dari persembahan adalah pemurni (Hara) dan pendoa (Norito)
yang semuanya memiliki makna khusus dalam Shinto. Setelah selesai upacara
kemudian diadakan upacara minum sake bersama dan resepsi pernikahan
(Hiroen). Hal ini dimaksudkan untuk memberitahukan kepada masyarakat luas
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Alasan Pemilihan Judul
Setiap manusia pasti akan mengalami tahap-tahap kehidupan dimulai dari
balita, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua sampai ia meninggal. Biasanya pada
usia dewasa dan sudah memiliki pekerjaan, manusia akan memikirkan tentang
perkawinan.
Perkawinan merupakan suatu saat yang sangat penting dimana hubungan
persaudaraan berubah dan diperluas. Perkawinan juga merupakan rencana untuk
meneruskan keturunan yaitu untuk menjaga kesinambungan satu keluarga. Secara
umum, perkawinan adalah penggabungan antara seorang pria dan seorang wanita
untuk membentuk sebuah rumah tangga.
Dalam pelaksanaan sebuah perkawinan, diperlukan tata cara tertentu yang
mengatur individu-individu yang bersangkutan. Sistem, nilai-nilai, norma-norma
dan aturan-aturan yang mengatur masyarakat sehubungan dengan perkawinan
disebut dengan pranata perkawinan (Rifai Abu, 1984:51).
Koentjaraningrat (1997:92), mengatakan bahwa hampir setiap masyarakat,
hidupnya dibagi-bagi ke dalam tingkat-tingkat. Tingkatan tersebut dinamakan
tingkat-tingkat sepanjang daur hidup yang meliputi: masa bayi, masa anak-anak,
masa remaja, masa dewasa, masa sesudah menikah, masa kehamilan dan masa
tua. Pada masa peralihan antara satu tingkat kehidupan ke tingkat berikutnya,
Secara umum yang dimaksud dengan upacara perkawinan adalah tahapan
acara yang dilakukan mulai dari awal menentukan pasangan sampai kepada pesta
pernikahan dan sesudahnya, yang mana didalamnya mengandung unsur-unsur
ritual dan nilai-nilai.
Upacara perkawinan adalah kegiatan-kegiatan yang telah dilazimkan
dalam usaha mematangkan, melaksanakan dan menetapkan suatu perkawinan
(Depdikbud;1978/1979:10).
Bagi suku bangsa yang memiliki adat budaya, perkawinan merupakan
suatu hal yang amat penting dalam daur kehidupan dan dilaksanakan dalam satu
upacara yang terhormat serta mengandung unsur sakral dan religi didalamnya.
Salah satu suku bangsa didunia yang memiliki adat tersendiri dalam
melaksanakan perkawinan adalah bangsa Jepang. Upacara perkawinan di Jepang
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu Butsuzen kekkonshiki, yaitu upacara
pernikahan berdasarkan agama Buddha. Kirisutokyoo kekkonshiki, yaitu upacara
pernikahan berdasarkan agama kristen. Dan Shinzen kekkonshiki, yaitu upacara
perkawinan berdasarkan agama Shinto. Nilai-nilai budaya leluhur sangat
dijunjung tinggi, sehingga upacara perkawinan yang dijalankan juga kebanyakan
masih mengikuti adat tradisional. Meskipun saat sekarang ini sudah banyak
perkawinan yang dilaksanakan secara modern.
Meskipun Jepang dikenal sebagai negara yang bertekhnologi canggih
dengan masyarakat yang sangat modern, orang Jepang tetap mempunyai
kesadaran untuk berkeluarga serta tetap taat pada adat istiadat warisan leluhur.
Masyarakat Jepang memiliki adat dan istiadat tentang perkawinan yang berbeda
sistem keluarga (Martha, 1995:2). Untuk itulah penulis memilih judul
“PERKAWINAN TRADISIONAL SECARA SHINTO DI JEPANG”.
1.2. Tujuan Penulisan
Kekayaan warisan budaya yang diinventarisasikan dan didokumentasikan
secara baik, akan sangat besar gunanya bagi pembinaan bangsa, negara, dan
warga negara. Oleh karena itu mengumpulkan dan menyusun bahan tentang Adat
dan Upacara Perkawinan di Jepang adalah sangat penting artinya.
Adapun tujuan kertas karya ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana bentuk perkawinan dan proses pelaksanaan
Perkawinan secara Shinto di Jepang
2. Untuk menambah wawasan pembaca tentang budaya Jepang
3. Sebagai salah satu syarat kelulusan dari program diploma III jurusan
Bahasa Jepang Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
1.3. Batasan Masalah
Pengaruh luar terhadap adat dan upacara perkawinan itu adalah
diterimanya unsur-unsur kebudayaan luar (asing) yang mempengaruhi adat di
dalam upacara perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan upacara
perkawinan. Demikian hal nya di Jepang, tidak tertutup kemungkinan mereka
menerima pengaruh kebudayaan luar itu sehingga di Jepang saat sekarang ini
sudah banyak yang melakukan perkawinan modern. Tetapi dalam hal ini, penulis
1.4. Metode penulisan
Metode adalah alat untuk mencapai tujuan dari suatu kegiatan. Dalam
melakukan penelitian, sangat diperlukan metode-metode untuk menunjang
keberhasilan tulisan yang akan disampaikan penulis kepada pembaca. Untuk itu
penulis menggunakan metode studi kepustakaan. Studi kepustakaan merupakan
studi aktifitas yang sangat penting dalam penelitian yang dilakukan. Beberapa
aspek perlu dicari dan diteliti meliputi: masalah, teori, konsep, dan penarikan
kesimpulan (Nasution, 1946:14). Dengan kata lain studi kepustakaan adalah
pengumpulan dengan cara membaca buku-buku yang berkaitan dengan penelitian
ini. Data yang diperoleh dari referensi tersebut kemudian dianalisa untuk
mendapatkan kesimpulan.
Teknik penelitian yang digunakan adalah meneliti data berupa buku-buku
yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas. Jadi teknik pengumpulan
data yang digunakan adalah library research. Selain itu penulis juga
memanfaatkan koleksi pribadi, dan berbagai informasi dari situs-situs internet
yang membahas tentang masalah yang akan dibahas untuk melengkapi data-data
BAB II
GAMBARAN UMUM NEGARA JEPANG
2.1. Letak Geografis
Kepulauan Jepang yang terletak lepas pantai timur benua Asia,
membentang seperti busur yang ramping sepanjang 3.800 KM. Luas totalnya
adalah 377.815 KM persegi-sedikit lebih luas dari Inggris. Kepulauan ini terdiri
dari empat pulau utama, honshu, hokkaido, kyushu, dan shikoku (berurut dari
besar sampai kecil), sejumlah gugusan pulau, dan sekitar 3.900 pulau yang lebih
kecil lagi. Pulau honshu memiliki luas lebih dari 60% dari seluruh kepulauan
Jepang.
Jepang mengenal empat musim yaitu musim panas (natsu) Juni, Juli,
Agustus. Musim gugur (aki) September, Oktober, dan november. Musim dingin
(fuyu) Desember, Januari, dan Februari. Musim semi (haru) bulan Maret, April,
dan bulan Mei.
Tokyo, ibukota Jepang, terletak pada garis lintang yang hampir sama
dengan Athena, Los Angeles dan Teheran. Kota ini menikmati musim dingin yang
tidak terlampau dingin, kelembaban udara yang rendah dan sekali-sekali turun
salju, berlainan dengan kelembaban dan suhu udara yang tinggi pada bulan-bulan
musim panas. Curah hujan yang tinggi dan iklim yang sedang di sebagian besar
dari kepulauan ini menyebabkan pertumbuhan hutan yang lebat dan vegetasi yang
2.2. Penduduk
Jumlah penduduk di Jepang hingga akhir Maret 2009 melebihi 127 juta
jiwa. Naik dibandingkan pada bulan yang sama tahun 2008. Naiknya jumlah
penduduk dipengaruhi oleh banyaknya perusahaan Jepang yang mengurangi
kegiatan bisnis di luar negeri akibat dari merosotnya perekonomian dunia. Karena
situasi ini, jumlah penduduk Jepang yang kembali ke Jepang lebih banyak
dibandingkan yang pergi ke luar negeri.
Banyaknya jumlah penduduk Jepang yang kembali dari luar negeri serta
karena beberapa faktor lainnya, berhasil mengimbangi penurunan jumlah
penduduk akibat tingkat kematian yang melebihi tingkat kelahiran tahun 2009
yaitu sebanyak 45,914 jiwa. Berdasarkan data dari kementerian dalam negeri,
jumlah keseluruhan penduduk Jepang (belum termasuk warga asing) sekarang
mencapai 127,076,183 jiwa. Meningkat sebanyak 10,005 jiwa dibandingkan tahun
2008.
Sekitar 76% rakyat Jepang hidup di kota-kota besar. Dari populasi kota
ini, hampir 60% memadati empat kawasan metropolitan terbesar Jepang, yang
mencakup 16 prefektur yang berpusat pada Tokyo, Osaka, Nagoya, dan Kita
Kyushu.
2.3. Mata Pencaharian
Jepang termasuk negara industri terbesar di dunia, dari barang keperluan
sehari hari seperti sumpit, sampai industri berat seperti pembuatan kapal. Oleh
karena itu, banyak orang Jepang yang bekerja sebagai karyawan. Para karyawan
menempuh jarak yang jauh dari rumah ke tempat kerjanya. Sama seperti di
Indonesia, terkadang perusahaan mengalih tugaskan karyawannya ke cabang di
kota lain.
Meskipun perindustrian sudah sangat maju, masyarakat Jepang tidak
meninggalkan mata pencaharian primer seperti pertanian dan perikanan. Selain itu
ada juga banyak bisnis kecil seperti usaha milik keluarga, sanggar seni, restoran
kecil, serta toko di lingkungan perumahan. Bisnis demikian acapkali merupakan
bisnis keluarga yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.
Banyak ibu rumah tangga dan orang orang yang sudah pensiunan yang
melakukan pekerjaan paruh waktu misalnya sebagai petugas kebersihan, penjaga
toko, kasir dan sebagainya. Ada juga siswa SMA yang bekerja paruh waktu
namun tidak banyak karena kesibukan sekolah.
2.4. Agama
Di Jepang, kebebasan agama dijamin bagi semua orang berdasarkan
Undang-Undang Dasar. Pasal 20 menyatakan bahwa “tidak satupun organisasi
agama dapat menerima hak istimewa dari negara, dan tidak satupun dapat
mempunyai wewenang politik apapun. Tidak seorangpun dapat dipaksa
mengambil bagian dalam kegiatan, perayaan, upacara, atau praktek agama.
Negara dan instansinya harus membatasi diri tidak melakukan pendidikan agama
dan kegiatan agama apapun.
Agama yang terbesar di Jepang dewasa ini ialah agama Buddha, yang pada
akhir tahun 1985 mempunyai 92 juta pemeluk. Agama Kristen juga bergiat, pada
orang muslim berjumlah sekitar 155.000, termasuk orang bukan Jepang yang
bermukim sementara di negeri ini.
Agama asli Jepang ialah Shinto, yang berakar pada kepercayaan animis
orang Jepang kuno. Shinto berkembang menjadi agama masyarakat dengan
tempat pemujaan setempat untuk dewa-dewa rumah tangga, dan pada dewa-dewa
pelindung setempat. Pahlawan dan pemimpin-pemimpin masyarakat yang
terkemuka didewakan dari generasi ke generasi, dan arwah nenek moyang juga di
sembah.
Mitos mengenai asal keturunan dewa Keluarga Kaisar pernah menjadi
salah satu prinsip dasar Shinto, dan pada awal abad kesembilanbelas, gerakan
patriotik Shinto mulai maju. Setelah restorasi meiji pada tahun 1868, dan
khususnya selama Perang Dunia II, Shinto diangkat oleh penguasa menjadi agama
negara. Namun, berdasarkan Undang-Undang Dasar, peran Shinto tidak lagi
diberi dukungan resmi ataupun hak khusus, walaupun masih memegang peran
pada upacara penting dalam berbagai segi kehidupan Jepang.
Shinto berdampingan dengan agama Buddha dan kadang-kadang
bertumpang tindih dengan agama Buddha dalam pemikiran rakyat. Banyak orang
Jepang dewasa ini mengikuti upacara Shinto pada pernikahan dan upacara agama
Buddha bila meninggal. Agama Buddha mempunyai 84 juta orang pengikut di
Jepang dan Shinto sekitar 92 juta. Angka-angka ini merupakan bukti dari
kecenderungan orang Jepang memeluk lebih dari satu kepercayaan agama
sekaligus.
Agama Kristen masuk ke jepang pada tahun 1549 dibawa oleh pastor
kemudian dicabut dalam masa Meiji. Dewasa ini terdapat sekitar 840.000 orang
Kristen Jepang, dengan jumlah yang seimbang antara Katolik dan Protestan.
Akhir-akhir ini timbul berbagai bentuk baru seperti sekte-sekte buddhis (terutama
dari garis Hokke, atau Lotus Sutra), dan sekte-sekte campuran yang memadukan
BAB III
PERKAWINAN TRADISIONAL SECARA SHINTO DI JEPANG
3.1. Perkawinan Secara Shinto pada Masyarakat Jepang
Perkawinan dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah kekkon atau
kon’in. Istilah kekkon terdiri dari dua karakter kanji yaitu ketsu(結)yang berarti
ikatan, dan kon (婚)yang berarti perkawinan. Sedangkan kon’in terdiri dari kon
(婚) yang berarti perkawinan dan in (姻) yang juga berarti perkawinan.
Masyarakat Jepang memiliki adat istiadat tentang perkawinan yang
berbeda dari negara lain. Perkawinan dan penyelenggaraan kehidupan berkeluarga
di Jepang diatur oleh sebuah sistem keluarga.
Pada umumnya perkawinan orang Jepang bersifat monogami, walaupun
pergundikan juga dilakukan dan keturunannya diakui dalam masyarakat, namun
dari segi pewarisan kekayaan maupun kedudukan dalam lingkungan sosial, status
mereka lebih rendah dari istri sah anak - anaknya.
Kira – kira sampai tahun 50 showa ( 1975 ), sebagian besar wanita Jepang
tidak memiliki pikiran untuk menikah. Hal itu menyebabkan pandangan mengenai
perkawinan adalah kebahagian wanita mulai runtuh. Tetapi pada tahun 55 showa
(1980) setelah diadakan penelitian, banyak wanita yang menjawab tentang
harapan perkawinan yaitu perkawinan akan memberikan ketenangan bathin
(Hendry, 1987 : 234).
Usia perkawinan orang Jepang sejak Zaman Meiji berkisar pada usia 26
27 tahun bagi pria dan 23 – 24 tahun bagi wanita. Sampai tahun 20 showa ( 1945),
1945, perbedaan umur suami dan isteri semakin dekat yaitu menjadi 3 tahun
bahkan hanya 2 tahun pada tahun 1975. Penyebab tingginya usia perkawinan bagi
wanita di Jepang menurut Martha ( 1995 : 4 ) adalah meningkatnya pendidikan,
kemajuan dalam pekerjaan, sifat bebas dan mandiri serta kemajuan ilmu
kedokteran.
Cara bagaimana calon suami atau calon isteri dipilih ada dua macam, yaitu
berdasarkan miai (dipertemukan) dalam konteks perkawinan memiliki pengertian
dijodohkan dan ren’ai (cinta ). Perkawinan yang terjadi karena miai disebut miai
kekkon, sedangkan ren’ai disebut ren’ai kekkon.
Miai kekkon terlaksana dengan cara orang tua dari seorang anak yang telah
dewasa meminta bantuan perantara yang disebut Nakoodo untuk mempertemukan
kedua belah pihak. Ie , yang banyak diungkapkan dengan katakana (イエ) adalah
sekelompok orang yang tinggal di sebuah lingkungan rumah, memiliki keterikatan
antara anggota. Ikatan sosial para anggota khususnya di bidang kepercayaan
(pemujaan), ekonomi dan moral (Situmorang, 2000:98). Peranan Nakoodo sangat
penting sebagai perantara Ie dengan Ie dalam perkawinan di Jepang. Nakoodo
adalah orang yang bertugas mencarikan pasangan calon pengantin. Fungsi
Nakoodo menurut Martha (1995 : 5) adalah mengatur perkawinan, termasuk
memperkenalkan pihak – pihak yang berminat untuk mencari calon suami atau
calon isteri. Menurut Wibowo ( 2005 : 18 ), Nakoodo adalah orang yang bertindak
sebagai perantara pada awal perundingan sebelum perkawinan, memimpin
upacara perkawinan dan mengurus hubungan yang berlangsung terus - menerus
setelah perkawinan, termasuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi diantara
Ren’ai kekkon yaitu perkawinan yang didasari oleh cinta, semakin banyak
terjadi terutama sejak zaman Meiji, dimana pemikiran – pemikiran barat banyak
diserap dalam segala aspek kehidupan orang Jepang, bahkan dewasa ini banyak
perkawinan yang berdasarkan cinta kasih dan didahului dengan pacaran.
Di bawah undang-undang 1898, perkawinan di Jepang di atur secara
besar-besaran dalam satu Ie, yang dikontrol oleh seorang koshu (kepala keluarga). Jadi,
perkawinan menyangkut satu kelompok yang meninggalkan Ie-nya. Sebagai
seorang Yome (menantu perempuan) atau Muko (menantu laki-laki) untuk menjadi
bagian dari Ie yang lain. Supaya tercapai hal ini, maka persetujuan di antara kedua
kepala keluarga sangat diperlukan.
Setelah perkawinan terbentuk, kedua pasangan dipanggil dengan satu
nama keluarga. Berdasarkan pasal 75 Undang-undang perdata, Myooji (nama
keluarga) dapat dipakai dari nama suami atau nama isteri. Namun demikian,
98,9% isteri di Jepang mengubah nama keluarganya dengan nama keluarga
suaminya atau dengan kata lain pihak wanita ikut pihak keluarga pria.
Perkawinan secara Shinto dianggap sebagai pernikahan tradisional Jepang.
Perkawinan Shinto yang pertama diadakan pada tahun 1908. Pada tahun 1992,
63% perkawinan dilakukan secara Shinto. Alasan-alasan dilaksanakan perkawinan
secara Shinto adalah karena upacaranya yang sederhana dan meskipun
prosedurnya sederhana upacara ini penuh dengan suasana khidmat. Perkawinan
Shinto diadakan di sebuah altar Shinto. Upacara ini dipimpin oleh seorang
pendeta Shinto. Perkawinan seperti ini biasanya dihadiri oleh anggota keluarga
dari kedua mempelai dan teman dekat dari pasangan yang akan menikah dan juga
3.2. Bentuk Keluarga Pada Masyarakat Jepang
Bentuk perkawinan sangat erat kaitannya dengan bentuk keluarga. Dalam
masyarakat Jepang dikenal ada dua buah konsep keluarga yaitu keluarga sebagai
Kazoku dan keluarga sebagai Ie.
Keluarga (Kazoku) menurut Situmorang (2006:22), adalah hubungan
suami istri, hubungan orang tua dan anak, dan diperluas pada hubungan
persaudaraan yang didasarkan pada struktur masyarakat tersebut. Kazoku
merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan komponen terpenting
dalam pembentukan sistem kekerabatan, dari Kazoku inilah akan lahir sistem
keluarga tradisional Jepang yang disebut dengan Ie.
Ie, yang banyak diungkapkan dengan katakana (イエ) adalah sekelompok
orang yang tinggal di sebuah lingkungan rumah, memiliki keterikatan antara
anggota. Ikatan sosial para anggota khususnya di bidang kepercayaan (pemujaan),
ekonomi dan moral.
Ariga Kizaemon dalam Situmorang (2006:24), mengatakan bahwa pada
awalnya Ie terbentuk karena adanya pernikahan yaitu terbentuknya keluarga inti.
Tetapi setelah mereka mempunyai anak dan apabila suami atau ibu di dalam
keluarga tersebut meninggal maka kepala keluarga tersebut diganti oleh anak
laki-laki tertua. Jika keluarga tersebut tidak mempunyai anak laki-laki-laki-laki, maka suami
dari anak perempuan dapat diangkat menjadi kepala keluarga.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang paling utama antara
keluarga Kazoku dengan keluarga Ie adalah, bahwa Kazoku dapat berakhir karena
kematian suami atau istri atau karena perceraian, jadi keberadaan Kazoku adalah
karena itu Ie tidak hancur karena perceraian atau meninggalnya salah satu pihak
suami atau istri dalam keluarga tersebut (Situmorang, 2006:23).
3.3. Tahapan Upacara Perkawinan Secara Shinto di Jepang 3.3.1. Pelaksanaan Pertunangan
Setelah pasangan calon pengantin memutuskan untuk meneruskan
hubungan mereka ke jenjang perkawinan, maka rangkaian acara mulai dari
pertukaran barang pertunangan, upacara perkawinan dan resepsi perkawinan
diselenggarakan.
Tahapan pertama adalah peresmian atau pemberitahuan pertunangan yang
disebut dengan Yuinoo. Yunioo adalah tata cara untuk meresmikan pertunangan
kedua calon pengantin. Yuinoo dibagi dua yaitu Yuinoohin dan Yuinookin.
Pertukaran barang-barang pemberian sebagai tanda pertunangan disebut dengan
Yuinoohin. Yaitu diberikannya obi (ikat pinggang kimono yang biasa dipakai
kaum wanita di Jepang) kepada mempelai wanita. Dan dikembalikannya sebuah
hakama (pakaian untuk laki-laki yang bentuknya seperti rok) kepada mempelai
laki-laki. Hal ini melambangkan sebuah kesetiaan diantara keduanya. Sedangkan
pemberian uang sebanyak dua atau tiga bulan gaji calon pengantin pria disebut
dengan Yuinookin. Sebagai balasan Yuinookin, pihak wanita akan memberikan
setengah dari uang yang diterimanya kepada pihak laki-laki.
Setelah tercapai kesepakatan di antara kedua calon pengantin, maka pihak
pria akan mengirimkan pemberian-pemberian sebagai hadiah kepada pihak
wanita. Untuk mendengar kabar ini, maka diundanglah sanak saudaranya. Istilah
Dalam merayakan pertunangan ini juga diberikan Kugicha (sejenis arak
Jepang) dan ikan tai (sejenis ikan kakap) kepada undangan yang datang. Setelah
Kimecha, maka akan dilakukan penentuan hari perkawinan. Seorang Nakoodo
akan merundingkan dengan pihak wanita tentang penentuan waktu yang baik
untuk pelaksanaan upacara perkawinan. Waktu yang baik artinya hari yang
mempunyai keberuntungan yaitu keuntungan terbesar dalam siklus enam hari
untuk satu perkawinan. Untuk tujuan ini penduduk di daerah tertentu selalu
berkonsultasi dengan seorang Ogamiyasan (orang yang dituakan untuk memberi
nasihat) tentang hal tersebut. Buku petunjuk tentang perkawinan juga digunakan
untuk memberikan keterangan praktis seperti menghindari dari hari-hari
menstruasi pengantin wanita dan pada musim panas, karena akan menyusahkan
untuk berdandan. Biasanya hari Minggu banyak dipilih sebagai hari yang baik
bagi upacara dan resepsi perkawinan karena banyak para tamu yang bekerja pada
hari-hari biasa. Sekitar bulan September-November pada musim gugur (aki)
banyak yang melangsungkan resepsi perkawinan.
Jika hari perkawinan sudah ditetapkan, maka akan dilakukan Honcha yaitu
pemberian hadiah pertunangan utama dari rumah calon pengantin pria ke rumah
calon pengantin wanita. Pemberian tersebut bisa berupa Kimono dan aksesorisnya
atau sejumlah uang. Pemberian lain adalah satu cincin pertunangan.
3.3.2. Tahapan Menjelang Upacara Perkawinan
Pada pagi hari saat upacara perkawinan akan berlangsung, pihak wanita
sudah menyiapkan diri sedemikian rupa. Seorang juru rias sudah dipesan untuk
rambutnya. Kimono putih digunakan pengantin wanita pada saat upacara
berlangsung. Kimono putih menandakan kesucian. Pakaian resmi pria untuk
upacara yang ditetapkan oleh pemerintah sejak tahun 1877, adalah jubah hitam
khusus untuk upacara pernikahan (Yanagita dalam Hendry, 1981:170). Dalam
resepsi yang diadakan setelah upacara, biasanya pengantin akan mengganti
kimono dengan pakaian pengantin ala barat. Pengantin wanita akan memakai gaun
dan pengantin pria memakai jas ala barat. Kebiasaan ini disebut dengan Ironaoshi.
Tetapi dibeberapa daerah tertentu, pengantin wanita memakai kimono putih pada
saat upacara berlangsung dan menggantinya dengan kimono yang berwarna cerah
pada saat resepsi. Biasanya bercorak indah dan terang seperti merah atau jingga
sesuai dengan suasana bahagia. Bagian hiasan kepala pengantin wanita disebut
Tsunokakushi (Chikusi dalam henry, 1981:170).
Setelah tiba waktunya pergi ketempat dimana dilangsungkannya upacara
perkawinan, maka pengantin wanita akan mempergunakan waktu sebentar untuk
berlutut didepan butsudan/kamidana mengucapkan salam perpisahan dan
berterima kasih pada nenek moyang atas berkat dan perlindungannya, karena ia
mulai sekarang akan menyembah butsudan milik suaminya dan sekali-sekali akan
berkunjung kesitu lagi kelak.
3.3.3. Upacara Pelaksanaan Perkawinan
Perkawinan secara Shinto biasanya diselenggarakan di Kuil. Tetapi saat
sekarang ini ada juga yang melaksanakan di gedung perkawinan atau hotel yang
menyediakan ruangan khusus untuk ritual perkawinan secara Shinto. Di ujung
Yang terdiri dari nasi, air, garam, buah-buahan, sayur-sayuran, sake serta
beberapa surume dan konbu, dan juga dua ekor ikan tai (sejenis ikan kakap
berwarna putih keperakan) juga dipersembahkan, yang melambangkan kesuburan
atau Shison han’ei. Demikian juga dengan cincin nikah diletakkan di meja
persembahan ini, kemudian ada juga tiga cangkir sake beserta dua wadahnya yang
dibedakan satu untuk pria dan satu lagi untuk wanita dengan warna merah dan
merah muda.
Disebelah kanan altar berdirilah seorang kannushi yaitu pendeta shinto dan
disebelah kirinya ada miko yaitu para penolong untuk membantu jalannya
upacara. Kadang-kadang juga ada disediakan radio kaset untuk memberikan latar
belakang alunan musik yang sesuai dengan suasana itu, tetapi ada juga yang yang
memakai kelompok peniup suling dari kuil Shinto yang berdiri dibelakang miko.
Biasanya juga disertai oleh para penari.
Kedua pengantin duduk ditengah ruangan, dengan posisi pengantin pria
disebelah kanan pengantin wanita, Nakoodo dibelakang mereka, dan sanak
saudara dari kedua belah pihak, sesuai dengan kedekatan hubungan.
Para Pemusik
Miko
ALTAR
Sajian Persembahan : nasi, air, Sake, garam, buah-buahan, Sayuran
Kannushi (Pendeta)
MEJA PERSEMBAHAN
Biasanya ada satu meja pendek didepan masing-masing orang dengan
secangkir sake dan satu paket makanan yang berisi irisan kecil surume dan konbu
yang sebelumnya sudah dipersembahkan kepada dewa.
Pendeta Shinto pertama sekali menyambut rombongan dengan
mengucapkan selamat, kemudian mengumumkan bahwa upacara akan dimulai. Ini
dimulai dengan acara penyucian (harai-gushi) selama upacara berlangsung.
Pendeta akan menyanyi kemudian menggoyangkan tongkat berhias diatas altar,
selanjutnya keatas para Miko, kedua pengantin dan semua yang hadir. Hal ini
bertujuan untuk mensucikan ruangan dan seluruh yang hadir. Kemudian pendeta
menyanyikan seruan/doa (norito) dari satu gulungan kertas yang dibawa pendeta
yang berhubungan dengan beberapa doa untuk memohon kebahagiaan dan
kemakmuran pernikahan kepada dewa, agar pengantin hidup bersatu selamanya.
Pendeta kemudian mengumumkan upacara san-san-ku-do (seiin no gi),
yaitu upacara sumpah dengan minum sake bersama. Sake dibawa oleh miko
kepada kedua pengantin. Nakoodo kadang-kadang berpindah ke kedua sisi
pengantin untuk membantunya jika perlu. Mereka kemudian membuat perjanjian
dengan menuangkan sake tiga kali, dimana cangkir terkecil diisi oleh penuang
pria, disuguhkan pertama kali kepada pengantin wanita. Cangkir kedua diisi oleh
penuang wanita dan diberikan kepada pengantin pria, sedangkan yang ketiga
adalah mengulang cara yang pertama yaitu menuang sake kepada kedua
pengantin. Saling memberikan cangkir ditafsirkan sebagai lambang dari
persetujuan antara kedua pengantin untuk membagi suk dan duka dalam
kehidupan bersama. Setelah itu, pasangan pengantin maju kedepan altar dimana
didepan para dewa yang isinya adalah janji untuk melewati kehidupan pernikahan
dalam keharmonisan dan saling menghormati, berbagi suka dn duka serta hidup
damai, mengusahakan kemakmuran bagi keturunan mereka dan semuanya akan
dijalankan sampai mereka meninggal. Pengantin wanita akan menambahkan
dengan menyebutkan namanya diakhir ikrar itu, kemudian diadakan pertukaran
cincin.
Sesudah kedua pengantin dipersatukan, sake kembali disuguhkan untuk
menyatukan kedua keluarga. Disuguhkan kepada tiap-tiap sanak keluarga
kemudian minum bersama setelah berdiri dan mengucapkan kanpai.
Bagian akhir dari upacara adalah setelah beberapa nyanyian dinyanyikan
oleh pendeta, ia akan membawa suatu pemberian berupa ranting kecil sakaki yang
sudah dihias yang disebut tamagushi ke depan altar. Ini sebagai ucapan terima
kasih kepada dewa. Ranting-ranting ini biasanya diberikan pertama kepada kedua
pengantin, kemudian Nakoodo dan terakhir kepada kedua pihak keluarga,
biasanya kepada ayah dari kedua pengantin. Pada puncak acara dilakukan
pertukaran cincin diiringi dengan tepuk tangan. Upacara ditutup oleh pendeta
dengan mengucapkan “selamat” dan berdoa agar pernikahan yang baru dapat
mendirikan rumah tangga yang selaras.
3.4.Resepsi Pernikahan (Hiroen) dan Bulan Madu
Setelah upacara pernikahan diselenggarakan, akan diadakan acara yang
disebut hiroen, yaitu resepsi untuk memberitahukan pernikahan ini kepada
resepsi dilaksanakan. Resepsi biasanya dihadiri oleh kerabat dan teman-teman
dari pengantin pria dan wanita.
Hiroen biasanya diatur oleh seseorang yang mengurusi makanan dimana
upacara dilangsungkan. Makanan disajikan, kadang-kadang memakai meja gaya
barat atau meja gaya Jepang dengan baki-baki pribadi atau meja pendek yang
memanjang dengan bantal-bantal lantai. Semuanya bervariasi sesuai permintaan
pribadi atau pihak keluarga yang bersangkutan. Beberapa resepsi yang
berlangsung menggunakan kue pengantin bertingkat, sedikitnya ada tujuh tingkat.
Yang khas adalah para tamu yang pertama kali dipersilahkan duduk, kemudian
kedua pengantin dan Nakoodo akan masuk bersamaan dengan iringan musik
perkawinan.
Dalam upacara perkawinan yang berlangsung, ada tirai- tirai yang dibuka
untuk menunjukkan kedua pasangan diatas panggung dimana mereka akan turun
dan duduk ditempat yang telah disediakan di ujung ruangan. Pengantin wanita
disisi kiri pengantin pria dan Nakoodo di sisi mereka. Biasanya pemimpin acara
akan mengumumkan peristiwa ini, kadang- kadang dengan noshi no gi (upacara
Noshi). Upacara ini dilakukan oleh pekerja pria dari tempat dilaksanakannya
upacara perkawinan. Perlahan- lahan berjalan masuk, belutut dan menaruhkan
baki dilantai dengan noshi diatasnya, memberi salam dengan menunduk pada para
undangan tamu, kemudian menganngkat kembali baki tersebut dan berjalan
keluar. Pristiwa ini memberikan kesan hikmat dan menunjukan pengertian bahwa
hiroen telah dimulai. Cara lain adalah pidato singkat dari Nakoodo yang berisi
riwayat- riwayat singkat kedua pengantin dan harapan bahwa persatuan ini akan
dan jika para tamu juga mengambil bagian, maka wakil dari pengantin pria
maupun pengantin wanita biasanya guru atau pegawai, mungkin juga kawan lama
juga menyampaikan kata-kata sambutan.
Setelah itu diikuti dengan kanpai bersama untuk mamberikan selamat
kepada kedua pengantin. Sake yang disajikan biasanya sake dingin dalam cangkir
keramik merah.
Para tamu akan dipersilahkan untuk beristirahat sejenak dan bersiap- siap
untuk pesta makan. Keluarga dekat akan pindah ketengah-tengah meja untuk
membuat lingkaran merayakan adanya hubungan baru diantara mereka dengan
minum sake bersama. Biasanya meraka akan menyanyi.
Ada kebiasaan baru yang akan dilakukan yaitu pemberian karangan bunga
dari kedua pengantin kepada orang tua mereka. Ini memberikan pengertian sikap
berterimah kasih dari pasangan itu atas semua yang telah mereka terima.
Bersamaan dengan itu terdengar banzai (sorakan). Para tamu kemudian
memasukkan sisa makanan kedalam kotak yang telah tersedia, mengikatnya
bersama- sama dengan hikidemonoi (hadiah-hadiah) biasanya adalah
barang-barang seperti kipas atau guci teh yang akan dibawa pulang oleh mereka.
Pada zaman sekarang, kebanyakan masyarakat Jepang setelah perayaan
pernikahan pergi berbulan madu (Honey Moon). Bulan madu ini menjadi sangat
populer dan telah berlangsung sejak tahun 1960-an di Kurotsuchi. Umumnya
memerlukan waktu beberapa hari atau beberapa minggu dibeberapa tempat
bahkan di luar negeri jika dana memungkinkan. Acara bulan madu ini merupakan
sebagai kesempatan kepada pasangannya untuk menemukan sesuatu yang baru
Setelah bulan madu, secara tradisional pada hari ketiga setelah perkawinan
pengantin melakukan kunjungan formal kepada orang tuanya. Kunjungan rumah
ini disebut Mitsumearuki (perjalanan hari ketiga) dan ini adalah rangkaian
Satoaruki (kunjungan rumah) oleh pengantin. Kunjungan ini akan segera
dilakukan setelah pesta pernikahan sebagai bagian dari proses yang ada.
Kemudian kedua pengantin melakukan Kino Mawari (berkeliling ke
rumah tetangga) yang biasanya meliputi pengenalan pengantin kepada setiap
tetangga. Sementara itu, pada perayaan tahun baru setelah pernikahan, pengantin
ini akan melakukan kunjungan kepada orangtua mereka dengan membawa ikan
besar yang disebut Buri (ekor kuning). Ikan tersebut dipotong dan dibagikan juga
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian-uraian yang penulis jabarkan pada bab-bab
sebelumnya, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Agama Shinto merupakan kepercayaan yang mempunyai ciri khas sendiri,
karena Shinto dikategorikan sebagai agama yang telah terbentuk di dalam
masyarakat primitif Jepang. Nenek moyang bangsa Jepang beranggapan
bahwa alam semesta ini didiami oleh banyak dewa. Dewa-dewa tersebut
dianggap menguasai alam semesta.
2. Di Jepang ada dua bentuk keluarga tradisional yaitu Kazoku dan Ie. Kazoku
adalah general konsep dalam keluarga Jepang yaitu hubungan antar
suami-istri dan hubungan antara orang tua dengan anak diperluas pada hubungan
persaudaraan. Keluarga tradisional Jepang cenderung merupakan keluarga
besar. Dalam melanjutkan kehidupan keluarga tradisional tidak lepas dari
pekerjaan-pekerjaan yang religius. Keluarga yang telah mempunyai usaha,
tradisi, simbol-simbol tertentu disebut dengan Ie. Jadi, yang dimaksud
dengan Ie adalah keluarga yang anggota-anggotanya terdiri dari beberapa
generasi dan telah mempunyai tradisi tertentu.
3. Cara bagaimana calon suami atau calon isteri dipilih ada dua macam, yaitu
berdasarkan miai dipertemukan dalam konteks perkawinan memiliki
pengertian dijodohkan dan ren’ai (cinta ). Perkawinan yang terjadi karena
4. Pada masyarakat tradisional, perkawinan bertujuan untuk meneruskan
keturunan Ie terutama bagi Shison (Putera pertama yang harus membawa
istri ke dalam keluarga suami untuk menghasilkan keturunan).
5. Pernikahan secara Shinto memiliki prosedur yang sederhana, unik, dan
penuh suasana khidmat. Dalam pelaksanaan upacara perkawinan secara
Shinto akan dipimpin oleh pendeta yang berdoa di depan altar, kemudian
pengantin pria akan mengucapkan janji pernikahan, setelah itu akan
diadakan upacara San-San-Ku-Do untuk meneguhkan mereka sebagai
suami istri.
4.2. Saran
Setelah penulis menyusun kesimpulan, maka pada bagian akhir ini penulis
akan memberikan saran-saran yang mungkin bermanfaat bagi para pembaca
diantaranya sebagai berikut:
1. Kepercayaan tradisional masyarakat terhadap perkawinan sampai sekarang
ini hendaknya tetap dipertahankan sebagai salah satu budaya yang
membedakan dengan bangsa lain.
2. Pelestarian budaya leluhur penting dilaksanakan supaya generasi pada
masa yang akan datang dapat mengetahui adat istiadat/kebudayaan yang
telah ada sebelumnya. Sebagaimana bangsa Jepang yang masih
melaksanakan pernikahan secara Shinto meskipun sejak modernisasi
pernikahan secara Kristen lebih mendominasi.
3. Kepada bangsa Indonesia khususnya para generasi muda hendaknya bisa
unsur-unsur modern barat tetapi hendaknya diadakan
penyaringan-penyaringan, sehingga walaupun unsur-unsur barat sudah masuk tetapi
tidak mempengaruhi tradisi yang kuat, tetapi justru melengkapi bahkan
DAFTAR PUSTAKA
Anesaki, Mahasaru.1983. History Of Japanese Religion. Japan : Chanes. E. Tuttle
Company, Rutland, vermont & Tokyo.
Edwards, Walter.1989. Modern Japan Trough Its Wedding. California : Stanford
University Press.
Fureai.2003. Pernikahan ala Jepang. edisi 3.
Situmorang, Hamzon. 2000. Telaah pranata Masyarakat Jepang I. Medan: USU