• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Tiga Jenis Pakan Terhadap Biologi Perkembangan Ostrinia F Urnacalis G Uenée (Lepidoptera: Crambidae)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Tiga Jenis Pakan Terhadap Biologi Perkembangan Ostrinia F Urnacalis G Uenée (Lepidoptera: Crambidae)"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TIGA JENIS PAKAN TERHADAP BIOLOGI

PERKEMBANGAN Ostrinia furnacalis Guenée

(LEPIDOPTERA: CRAMBIDAE)

AMALIATUS SHALIHAH

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Tiga Jenis Pakan terhadap Biologi Perkembangan Ostrinia furnacalis Guenée (Lepidoptera: Crambidae) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Januari 2016

Amaliatus Shalihah NIM A34110007

(4)
(5)

ABSTRAK

AMALIATUS SHALIHAH. Pengaruh Tiga Jenis Pakan terhadap Biologi Perkembangan Ostrinia furnacalis Guenée (Lepidoptera: Crambidae). Dibimbing oleh TEGUH SANTOSO.

Perbanyakan massal serangga di laboratorium untuk keperluan penelitian juga diupayakan menggunakaan pakan berbiaya murah. Penelitian bertujuan mempelajari pengaruh pakan jagung semi, daun jagung muda, dan pada pakan meridik termodifikasi terhadap atribut biologi Ostrinia furnacalis yang meliputi siklus hidup, stadia larva dan pupa, keperidian serta lama hidup imago. Dengan pakan meridik perkembangan larva instar I, II, III, IV dan V berturut-turut berlangsung selama 3.4 hari, 3.9 hari, 5 hari, 6 hari, dan 10.6 hari. Pada pakan daun jagung muda perkembangan larva tidak sempurna karena larva hanya bisa bertahan hidup sampai instar IV. Larva instar I berlangsung selama 3.3 hari, larva instar II 5.3 hari, larva instar III 11.8 hari,dan larva instar IV 14.5 hari; stadia larva III dan IV lebih lama dibandingkan dengan menggunakan pakan meridik dan jagung semi. Pupa jantan maupun betina, yang dibiakkan dengan jagung semi lebih berat jika dibandingkan dengan pupa pada pakan meridik. Pada pakan meridik, stadia pupa dan imago berlangsung berturut-turut selama 6.4 dan 7.6 hari. Serangga yang diberi pakan meridik meletakkan telur lebih sedikit (26.24 telur/betina) dibandingkan dengan serangga pada pakan jagung semi (88.78 telur/betina). Penelitian menunjukkan bahwa tanaman jagung muda tidak dapat digunakan untuk pembiakan, demikian juga pakan meridik yang dicoba belum memberikan tingkat keberhasilan hidup serangga yang tinggi.

(6)
(7)

ABSTRACT

AMALIATUS SHALIHAH. The Effect of Three Different Diets for Developmental Biology of Ostrinia furnacalis Guenée (Lepidoptera: Crambidae). Guided by TEGUH SANTOSO.

Low cost diets usually prefered in insect mass rearing for biological study purposes. Different diets of Ostrinia furnacalis (corn seedling, young corn cob, modified meridic diet) were studied to evaluate their effect on life cycle, larval and pupal stadia, fecundity and longevity of moth. On meridic diet, larvae instar I, II, III, IV and V developed in 3.4, 3.9, 5.0, 6.0 and 10.6 days respectively. On corn seedling, the stadia of instar I was 3.3 days, instar II 5.3 days, instar III 11.8 days, and instar IV 14.5 days; with this diet larva failed to develop further. Besides, the stadia of instar III and IV on corn seedling were prololonged as compared with which on young cob and meridic diet. The weight of both male and female pupa reared on meridic diet was lighter than that reared on young cob. On meridic diet, pupal and adult stadia lasted during 6.4 and 7.6 days, respectively. When fed with meridic diet, female laid less egg (26.2 eggs/female) than that fed with young cob (88.8 eggs/female). The research showed that the corn seedling was not suitable diet for mass rearing of O. furnacalis; similarly the survival of larvae decreased on tested meridic diet.

(8)
(9)

©

Hak Cipta milik IPB, tahun 2016 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantukan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(10)
(11)

PENGARUH TIGA JENIS PAKAN TERHADAP BIOLOGI

PERKEMBANGAN Ostrinia furnacalis Guenée

(LEPIDOPTERA: CRAMBIDAE)

AMALIATUS SHALIHAH

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Sarjana Pertanian

pada

Departemen Proteksi Tanaman

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(12)
(13)
(14)
(15)

PRAKATA

BarakaAllaah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allaah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Pengaruh Tiga Jenis Pakan terhadap Biologi Perkembangan Ostrinia furncalis Guenée (Lepidoptera: Crambidae)”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dibiayai sepenuhnya oleh Beasiswa Direktoral Jendral Pendidikan Tinggi Bidik Misi.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Teguh Santoso, DEA selaku dosen pembimbing skripsi yang banyak memberi bimbingan, motivasi, saran, materi, waktu, dan hal lainnya. Dr Ir Supramana, MSi selaku dosen penguji tamu yang telah memberikan kritik dan saran untuk penyempurnaan penulisan skripsi. Seluruh Staff Departemen Proteksi Tanaman IPB baik dosen pengajar, laboran, petugas teknis, dan yang lainnya. Keluarga tercinta Ummah, Aba, Kakak, Adik, beserta keluarga yang lainnya untuk kasih sayang, doa, serta dukungan yang selalu diberikan. Special thanks untuk mas Very Firmansyah atas dukungan, semangat, dan kasih sayang yang diberikan selama perjuangan tugas akhir ini. Teman-teman Laboratorium Patologi Serangga (Amelia Widiastuti, kak Susi, kak Umami, Ferdika Mirasanti Sutadji, kak Agung, kak Ifa, kak Humay, Kiki, ibu Silvi) atas bantuan dan motivasi yang telah diberikan selama penulis melakukan penelitian. Teman-teman seperjuangan angkatan 48 Ratih Suryaningrum, Iyun, Siti Rohmah, Dina Agustin, dan teman-teman di Departemen Proteksi Tanaman, serta pihak lain yang turut membantu dalam pelaksanaan tugas akhir ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2016

(16)
(17)

DAFTAR ISI

Pakan daun tanaman jagung muda (bibit jagung) 4

Pakan meridik 5

Pengamatan Telur, Larva, dan Pupa 6

Pengamatan Imago 6

Pengolahan Data 7

HASIL DAN PEMBAHASAN 8

Siklus Hidup O. furnacalis pada Pakan Alami dan Meridik 8

(18)
(19)

DAFTAR TABEL

1 Komposisi pakan meridik yang digunakan dalam penelitian 4 2 Perkembangan stadia larva O. furnacalis pada pakan alami jagung semi 6 3 Perkembangan stadia larva O. furnacalis pada pakan daun jagung muda 10 4 Perkembangan stadia larva O. furnacalis pada pakan meridik 10 5 Berat pupa jantan dan betina O. furnacalis pada pakan alami jagung

semi dan meridik 13

6 Keperidian imago O. furnacalis pada pakan alami jagung semi dan

meridik 13

DAFTAR GAMBAR

1 Pemeliharaan larva pada pakan alami jagung semi pada pengamatan

nisbah kelamin dalam baki 4

2 Pemeliharaan larva pada pakan daun jagung muda 5

3 Pemeliharaan larva pada pakan meridik 5

4 Tempat pemeliharaan imago (a) dan pupa (b) O. furnacalis 6

5 Tahapan perkembangan telur O. furnacalis 8

6 Larva instar terakhir O. furnacalis 10

7 Perbedaan pupa O. furnacalis berdasarkan ukuran dan abdomen

terakhir 11

8 Perbedaan imago jantan dan betina O. furnacalis 12

9 Tahap perkembangan larva O. furnacalis pada pakan alami dan buatan 13 10 Sebaran berat pupa betina O. furnacalis pada pakan alami jagung semi

(A) dan pakan meridik (B) 14

11 Sebaran berat pupa jantan O. furnacalis pada pakan alami jagung semi

dan pakan meridik 14

DAFTAR LAMPIRAN

1 Keperidian imago O. furnacalis pada pakan alami jagung semi 20 2 Keperidian imago O. furnacalis pada pakan meridik 20 3 Hasil uji T pengaruh jenis pakan terhadap jumlah kelompok telur

O. furnacalis dengan aplikasi SAS 20

4 Hasil uji T pengaruh jenis pakan terhadap jumlah butir telur O.

(20)
(21)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Di Indonesia, jagung merupakan tanaman serealia sebagai sumber karbohidrat dan protein kedua setelah beras. Jagung juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bahan baku industri, dan rumah tangga (Ditjen BPTP 2002). Menurut Park (2001), selain untuk pangan dan pakan ternak, jagung juga dapat digunakan untuk kompos, tepung, bahan baku industri, minyak, pulp, kertas, dan bahan bakar.

Perkembangan industri pengolahan makanan dan pakan ternak menyebabkan permintaan jagung bertambah. Permintaan jagung untuk pakan ternak pada tahun 2015 naik 10% menjadi 16.5 juta ton (BPS 2015). Namun, kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan jagung untuk pakan ternak hanya sebesar 40% atau 6.6 juta ton dari total permintaan (MAS 2015). Kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi karena tingkat produktivitas jagung di Indonesia yang cenderung menurun.

Produktivitas jagung di Indonesia pada tahun 2013 mengalami penurunan 1.12% atau sebesar 0.55 kwintal/hektar dibandingkan dengan tahun 2012 (BPS 2014). Penurunan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya hama. Hama pada tanaman jagung antara lain ulat tanah (Agrotis ipsilon), lalat bibit (Atherigona sp.), penggerek batang (Ostrinia furnacalis), penggerek tongkol (Helicoverpa armigera), pemakan daun (Spodopterta litura), kutu daun (Aphis sp.), dan belalang (Locusta sp.) (Subandi 2004). Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) sering menimbulkan kerusakan ekonomi.

O. furnacalis tersebar di wilayah Asia terutama di seluruh Asia tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, dan Australia (Mutuura dan Munroe 1970). Tseng (1998) dan Chundurwar (1989) melaporkan bahwa O. furnacalis merupakan hama penting di beberapa Negara Asia sampai ke Australia, Mikronesia, China, Jepang, Korea, India, Srilanka, dan Taiwan. Menurut Granados (2000), O. furnacalis merupakan hama penting pada jagung di Philippines, Kamboja, Vietnam, Cina, Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Papua New Guinea. Di Sulawesi Selatan hama penggerek batang merupakan hama penting pada tanaman jagung (Nonci et al. 1996).

(22)

Perbanyakan massal memerlukan media atau pakan yang sesuai untuk perkembangan biologinya. Ada dua jenis pakan yang dapat digunakan untuk membiakkan suatu serangga, yaitu pakan alami dan pakan meridik. Pakan alami merupakan pakan yang secara alami tersedia di lapangan. Pakan meridik merupakan pakan yang diramu dari berbagai bahan untuk mengganti pakan alami. Pakan meridik dibuat untuk memudahkan dalam pembiakan massal serangga di laboratorium, baik dalam segi efisiensi teknik, tempat, waktu, dan biaya. Menurut Heryana (2013), penggunaan pakan meridik dalam pembiakan massal O. furnacalis dapat menghasilkan perkembangan biologi yang cukup baik.

Di laboratorium, pakan alami yang sering digunakan untuk pembiakan massal O. furnacalis adalah jagung semi (tongkol jagung muda). Di lapangan, setelah menetas larva muda terlebih dulu makan daun pucuk, sebelum menggerek batang. Diperkirakan bagian daun jagung muda ini dapat digunakan sebagai pakan. Daun jagung muda lebih mudah dan murah dibandingkan dengan jagung semi jika digunakan sebagai pakan untuk pembiakan massal O. furnacalis di laboratorium. Informasi tentang penggunaan daun jagung muda sebagai pakan alami untuk membiakan massal O. furnacalis di laboratorium belum pernah dilaporkan.

Salah satu pakan meridik yang digunakan untuk pembiakan massal O. furnacalis di laboratorium menggunakan formulasi pakan Gomez et al. (2010). Modifikasi formulasi tersebut pernah diuji oleh Umami (2015), yaitu mengganti mata gandum (wheat germ) dengan bekatul (rice germ). Modifikasi dilakukan dengan memanfaatkan semaksimum mungkin bahan baku lokal sehingga biaya dapat dihemat. Pakan modifikasi menghasilkan perkembangan O. furnacalis yang baik; namun penelitiannya baru sampai pada perkembangan pradewasa.

Pemilihan jenis pakan yang digunakan dalam pembiakan massal serangga sangat berpengaruh terhadap kebugaran serangga yang dibiakkan. Oleh karena itu, jenis pakan yang digunakan harus dipilih selektif mungkin terutama saat digunakan untuk mempelajari reproduksi suatu serangga. Informasi mengenai keefektifan jenis pakan untuk O. furnacalis masih sangat jarang sehingga melalui penelitian ini, diharapkan mampu memberikan informasi mengenai potensi dari berbagai macam pakan yang dapat dimanfaatkan dalam mengetahui siklus hidup hama penggerek batang jagung.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh pemberian pakan daun jagung muda dan pada pakan meridik termodifikasi terhadap perkembangan biologi O. furnacalis yang dibandingkan dengan data jagung semi. Atribut biologi O. furnacalis yang diteliti meliputi siklus hidup, lama perkembangan larva dan pupa, dan keperidian serta lama hidup imago.

Manfaat Penelitian

(23)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Patologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dari bulan Februari sampai Juni 2015.

Bahan Penelitian Serangga Uji

Serangga yang digunakan dalam penelitian ini adalah O. furnacalis yang dikoleksi dari tanaman jagung di Kebun Percobaan Leuwikopo, Institut Pertanian Bogor. Serangga tersebut dibiakkan massal di laboratorium dengan menggunakan pakan jagung muda. Larva O. furnacalis dipelihara dalam baki plastik (panjang 19.5 cm x lebar 13 cm x tinggi 5 cm) yang telah dialasi dengan tisu. Jagung muda dipotong menjadi dua secara membujur sebagai pakan larva. Larva yang telah berpupa dimasukkan ke dalam wadah plastik (tinggi 10.5 cm x diameter 9 cm) yang diberi penutup (Gambar 4b). Pupa yang telah menjadi imago dipindahkan ke kurungan tempat pemeliharaan serangga (panjang 38.5 cm x lebar 31 cm x tinggi 30 cm) yang di atasnya diberi kertas roti dan ditutup dengan busa lembab (Gambar 4a). Imago diberi makan madu dengan konsentrasi 10% yang diserapkan pada busa dan diletakkan dalam cawan petri tanpa tutup. Penggantian pakan madu untuk imago setiap 2 hari sekali. Imago yang berkopulasi akan meletakkan telur pada kertas roti yang sudah dipasang. Kertas roti yang terdapat telur O. furnacalis digunting dan dikumpulkan sampai jumlahnya mencukupi untuk perlakuan. Telur pada kertas yang sudah digunting disimpan di cawan petri dengan diberi alas tisu lembab.

Metode Penelitian Pembuatan Pakan Meridik

Pakan meridik yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan Gomez et al. (2010) yang sudah dimodifikasi. Modifikasi yang dilakukan adalah penggantian choline chloride murni (100%) dengan choline chloride 60% yang terkandung dalam pakan ternak ayam. Modifikasi lainnya adalah brewer yeast yang diganti dengan ragi tape lokal sedangkan volume aquades dikurangi dari 700 mL menjadi 500 mL. Penelitian ini juga menggunakan mata gandum lokal sebagai ganti “wheat germ” yang biasa digunakan Gomez et al. (2010).

(24)

kemudian diaduk kembali dengan mixer. Pakan dituang ke dalam wadah sebelum campuran pakan tersebut dingin dan memadat.

Table 1 Komposisi pakan meridik yang digunakan dalam penelitian

*)

Produk lokal

Pemeliharaan Serangga Uji

Pakan alami jagung semi. Jagung semi dipotong menjadi dua secara membujur, diletakkan dalam baki plastik yang telah diberi alas kertas tisu (Gambar 1). Ke dalam baki dimasukkan100 larva O. furnacalis yang baru keluar dari telur (asal lapangan). Percobaan diulang empat kali. Pemeliharaan massal 100 larva di dalam baki plastik ini dilakukan untuk mempelajari nisbah kelamin dan keperidian. Ketika larva telah menjadi pupa, pupa dipindahkan ke dalam wadah plastik lain sampai menjadi imago.

Gambar 1 Pemeliharaan larva dengan pakan alami jagung semi pada pengamatan nisbah kelamin dalam baki

Pakan daun jagung muda (bibit jagung). Daun jagung muda (bibit jagung) berumur dua sampai tiga hari dimasukkan ke dalam 4 baki plastik yang telah dialasi dengan tisu (Gambar 2b). Larva O. furnacalis yang baru keluar dari telur dimasukkan ke dalam baki tersebut masing-masing sebanyak 100 larva (2 sampai 3 kelompok telur berukuran sedang). Pemeliharaan ini dilakukan untuk

(25)

mengetahui nisbah kelamin dan keperidian O. furnacalis dengan pakan daun jagung muda (bibit jagung). Pemeliharaan O. furnacalis juga dilakukan di cawan petri ukuran sedang (d=9 cm). Setiap cawan diberi satu pucuk dan satu larva (Gambar 2a). Larva yang digunakan untuk pengamatan instar sebanyak 40 larva. Pakan daun jagung muda diganti dan diamati setiap hari. Ketika larva O. furnacalis telah menjadi pupa, pupa dipindahkan ke dalam wadah plastik. Ke dalam setiap wadah diletakkan satu pupa.

Gambar 2 Pemeliharaan larva dengan pakan daun jagung muda. Pengamatan nisbah kelamin dalam baki (a) dan perkembangan larva dalam cawan petri (b).

Pakan meridik. Pakan meridik dipotong seperti balok memanjang (Gambar 3a). Ke dalam tiap baki diletakkan sebanyak 4 sampai 6 potongan dengan jarak antar potongan 1.5 cm. Larva O. furnacalis yang baru menetas dimasukkan ke dalam baki berisi pakan sebanyak 100 larva (berasal 2 sampai 3 kelompok telur berukuran sedang). Pemeliharaan ini dilakukan untuk mengetahui nisbah kelamin dan keperidian O. furnacalis. Untuk pengamatan instar, dilakukan pemeliharaan dalam cawan petri.

Gambar 3 Pemeliharaan larva dalam pakan meridik. Pengamatan nisbah kelamin dalam baki (a) dan perkembangan larva dalam cawan petri (b).

(26)

pupa dipindahkan ke dalam wadah plastik. Setiap wadah diletakkan satu pupa. Percobaan diulang 50 kali.

Pengamatan Telur, Larva, dan Pupa

Pengamatan telur dilakukan pada saat warna telur berubah menjadi kehitaman yang mengindikasikan bakal kepala larva. Banyaknya telur tiap satu kelompok telur dihitung menggunakan mikroskop stereo dan hand counter. Pengamatan pada setiap perlakuan jenis pakan dilakukan setiap hari terhadap perkembangan larva yang ditandai dengan pergantian kulit dan kapsul kepala. Lama perkembangan setiap instar stadia larva pada pakan alami daun jagung muda (bibit jagung) dan pakan meridik dibandingkan berdasarkan hasil penelitian Nonci dan Baco (1991) (Tabel 2). Pengamatan pupa meliputi berat dan jenis kelamin pupa yang dihasilkan. Stadia pupa dihitung sejak larva menjadi pupa hingga pupa menjadi imago.

Tabel 2 Perkembangan stadia larva O. furnacalis pada pakan alami jagung semiab Stadia Kisaran stadia (hari) Rata-rata (hari)

Telur 3-4 3.60 dalam cawan petri (d= 9 cm) tanpa tutup. Pengamatan imago dilakukan terhadap jenis kelamin imago, lama hidup, dan produksi telur.

(27)

Pengolahan Data

Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2007. Data keperidian dan berat pupa O. furnacalis diolah menggunakan program SAS 9.1.3 portable untuk memperoleh hasil analisis ragam. Pembandingan nilai tengah antarperlakuan dilakukan dengan uji Tstudent pada taraf

(28)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Siklus Hidup O. furnacalis pada Pakan Alami dan Meridik Telur

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada pakan alami jagung semi telur O. furnacalis menetas setelah 3 sampai 5 hari sedangkan pada pakan meridik telur menetas setelah 4 hari. Hal ini sesuai dengan Granados (2000) yang mengemukakan bahwa telur penggerek batang menetas 3 sampai 5 hari setelah diletakkan. Pengamatan telur pada pakan daun jagung muda (bibit jagung) tidak dapat dilakukan karena pada pengamatan siklus hidup perkembangan larva O. furnacalis hanya sampai instar V dan tidak berhasil menjadi imago.

Telur O. furnacalis diletakkan berkelompok dengan bentuk seperti sisik ikan. Pada waktu diletakkan telur berwarna bening kemudian berubah menjadi putih kekuningan pada saat berumur 2 hari (Gambar 5a). Telur berubah menjadi kehitaman saat akan menetas (Gambar 5b), yaitu umur 3 sampai 4 hari setelah peletakan telur. Warna hitam tersebut menandakan kepala calon larva. Setelah menetas, larva instar I langsung aktif bergerak mencari makanan dan meninggalkan cangkang telurnya (Gambar 5c). Masa inkubasi telur O. furnacalis dalam penelitian ini berlangsung selama 4 hari.

Gambar 5 Tahapan perkembangan telur O. furnacalis. (a) Telur O. furnacalis yang baru diletakkan (b) telur yang akan menetas (c) larva instar I yang baru menetas.

Larva

(29)

sampai instar IV antara 30 sampai 37 hari dengan rata-rata 34 hari. Lama instar V tidak diamati karena larva mati. Penyebab kematian belum diketahui, namun diduga nutrisi yang dibutuhkan O. furnacalis untuk proses pergantian kulit yang terkandung dalam daun jagung tidak mencukupi untuk metabolisme pergantian kulit. Di lapangan, larva besar lebih banyak dijumpai menggerek batang dari pada memakan daun.

Tingkat kematian larva instar satu yang cukup tinggi pada pakan meridik (Tabel 4) disebabkan oleh formulasi pakan yang kurang baik dimana kandungan minyak yang masih terlalu tinggi. Kandungan minyak yang tinggi membuat larva sulit untuk bergerak dan kehilangan tenaga sehingga menyebabkan larva mati. Kandungan minyak tersebut, diduga berasal dari choline chloride teknis yang digunakan dalam pembuatan pakan meridik.

Lama stadia larva pada pakan daun jagung muda lebih lama dibandingkan dengan pakan alami jagung semi maupun meridik, begitupun pada pakan meridik lebih lama jika dibandingkan dengan pakan alami jagung semi. Dengan menggunakan pakan alami jagung semi, Nonci dan Baco (1991) memperoleh lama stadia larva O. furnacalis instar I rata-rata 3.30 hari, instar II rata-rata 3.70 hari, instar III rata-rata 3.80 hari, instar IV rata-rata 3.40 hari, instar V rata-rata 4.70 hari (Tabel 2). Stadia larva O. furnacalis pada pakan daun jagung muda lebih lama dibandingkan dengan pakan alami jagung semi maupun meridik diduga disebabkan oleh tanaman jagung muda hanya berfungsi sebagai tempat asimilasi klorofil. Asimilasi adalah proses pengolahan atau perubahan glukosa menjadi oksigen dan energi dengan bantuan matahari. Selain itu, varietas jagung yang digunakan juga dapat mempengaruhi perkembangan biologi O. furnacalis. Dalam penelitian digunakan jagung lokal yang tidak diketahui varietasnya.

Larva penggerek batang jagung dapat merusak daun, batang, serta bunga jantan dan betina (tongkol muda). Nafus dan Schreiner (1987) menyebutkan bahwa larva instar I-III merusak daun, pucuk, dan bunga jantan, sedangkan larva instar IV-V merusak batang dan tongkol. Dalam penelitian ini, larva instar I sampai II masih dapat berkembang baik di pakan daun jagung muda (bibit jagung) namun pada tahap instar selanjutnya, larva O. furnacalis tidak dapat berkembang baik. Hal tersebut terjadi diduga karena nutrisi pada daun jagung muda tidak dapat memenuhi untuk perkembangan larva instar selanjutnya. Pada pakan buatan, stadia larva dapat berkembang sempurna walaupun waktu tahapan tiap instar masih lebih lama jika dibandingkan dengan pakan alami jagung semi.

(30)

Gambar 6 Larva instar terakhir O. furnacalis

Table 3 Perkembangan stadia larva O. furnacalis pada pakan daun jagung muda Stadia Kisaran stadia (hari) Rata-rata (hari) n (ekor)a

Telur 4 4 40

-) Tidak ada yang menjadi instar V, pupa, dan imago

Table 4 Perkembangan stadia larva O. furnacalis pada pakan meridika Stadia Kisaran stadia (hari) Rata-rata (hari) n (ekor)

Telur 4 4 50

Suhu basah 28oC, suhu kering 30oC, dan kelembaban 80.35%

Pupa

(31)

Benang-benang halus pada O. furnacalis terikat pada substrat. Pupa yang baru terbentuk berwarna krem, kemudian berubah menjadi kuning kecoklatan, dan menjelang imago keluar berwarna coklat tua. Hasil pengamatan menunjukkan lama stadia pupa pada pakan meridik antara 6-7 hari dengan rata-rata 6.4 hari (Tabel 4). Menurut Nonci dan Baco (1991) rata-rata lama stadia pupa adalah 8.5 hari (Tabel 2). Pada pakan daun jagung muda, larva O. furnacalis tidak menjadi pupa karena perkembangannya terhenti sampai instar IV (Tabel 3).

Pupa jantan berbeda dengan pupa betina berdasarkan ukuran dan morfologinya. Ukuran pupa betina lebih besar dibandingkan dengan pupa jantan (Gambar 7a). Pada ruas terakhir abdomen pupa betina terdapat celah yang berasal dari satu titik sedangkan pada pupa jantan terdapat celah yang bentuknya agak bulat (Gambar 7b dan Gambar 7c).

Gambar 7 Perbedaan pupa O. furnacalis berdasarkan ukuran dan abdomen terakhir. (a) pupa betina lebih panjang dibandingkan dengan pupa jantan, (b) pupa betina terdapat celah yang berasal dari satu titik, (c) pupa jantan terdapat celah yang bentuknya agak bulat.

Imago

(32)

Gambar 8 Perbedaan imago jantan dan betina O. furnacalis. (a) ukuran imago betina (kiri) lebih besar dibandingkan dengan jantan (kanan), (b) warna sayap imago jantan (kanan) lebih terang dibandingkan imago betina (kiri), (c) ujung abdomen imago betina tidak runcing, (d) ujung abdomen imago jantan runcing.

Hasil pengamatan menunjukkan lama hidup imago pada pakan meridik berlangsung antara 7 sampai 8 hari dengan rata-rata 7.6 hari (Tabel 4) sehingga total lama seluruh siklus dari telur hingga imago mati berlangsung selama 45 sampai 49 hari. Menurut Nonci dan Baco (1991) rata-rata lama stadia imago adalah 3.5 hari (Tabel 2). Perbedaan rata-rata lama hidup stadia imago yang cukup jauh diduga karena pemberian pakan meridik dan larutan madu dapat memperpanjang lama hidup imago. Menurut Nelly dan Buchori (2008) larutan madu 10% adalah pakan yang paling baik bagi imago karena kandungan glukosa yang terdapat pada madu mampu memberi energi bagi imago sehingga dapat memperpanjang lama hidupnya. Namun, nilai rata-rata lama hidup imago betina relatif lebih tinggi dibandingkan dengan imago jantan. Kecenderungan bahwa imago betina memiliki lama hidup yang lebih tinggi dibandingkan imago jantan ini juga ditemukan pada ngengat Nyctemera coleta (Lepidoptera: Eribidae) (Atmaja & Kilin 1999) dan kepik Rhinocoris fuscipes (Hemiptera: Reduviidae) (Pambudhi 2012).

(33)

yang dipelihara dan diberi pakan meridik memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih lama.

Gambar 9 Tahap perkembangan larva O. furnacalis pada pakan daun jagung muda dan meridik

Perbedaan panjang siklus hidup ini diduga dipengaruhi oleh perbedaan kandungan nutrisi pada pakan meridik dan pakan daun jagung muda sehingga lebih mendukung perkembangan serangga. Hal ini juga didukung dengan komposisi pakan meridik yang digunakan mengandung berbagai nutrisi tambahan seperti protein, antibiotik, dan vitamin. Stadia telur hingga pupa yang berlangsung lebih cepat menyebabkan imago keluar lebih cepat dan mempercepat peluang imago melakukan kopulasi. Selain itu, Kandungan antibiotik pada pakan meridik dapat mengurangi risiko infeksi yang disebabkan oleh bakteri, terutama Bacillus thuringiensis (Bt) (Morton 1979). Dengan demikian, maka jumlah kematian serangga dapat berkurang sehingga lama hidup semakin panjang. Lama hidup yang panjang akan menghasilkan jumlah telur yang juga lebih banyak jika dibandingkan dengan imago dengan lama hidup yang pendek (Nelly dan Buchori 2008).

Berat Pupa

Pembiakan massal menggunakan jagung semi untuk perkembangan serangga yang sering dilakukan biasanya tidak homogen karena kualitas nutrisi antara bagian tanaman yang tidak seragam. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, sebaran berat pupa betina O. furnacalis pada pakan jagung semi lebih homogen jika dibandingkan dengan berat pupa pada pakan meridik. Hal tersebut dapat dilihat pada grafik A (Gambar 10) yang memiliki sebaran berat pupa yang lebih merata, sedangkan pada grafik B (Gambar 10) berbentuk grafik sebaran normal seperti lonceng yang berarti berat pupa lebih heterogen. Keheterogenan berat pupa pada pakan meridik diduga akibat bahan nutrisi yang belum tercampur merata saat pembuatan sehingga larva tidak mendapatkan porsi nutrisi yang sama.

0

Instar I Instar II Instar III Instar IV Instar V Pupa Imago

(34)

Gambar 10 Sebaran berat pupa betina O. furnacalis pada pakan alami jagung semi (A) dan pakan meridik (B)

Sebaran berat pupa jantan O. furnacalis pada pakan jagung semi lebih heterogen jika dibandingkan dengan sebaran berat pupa pada pakan meridik (Gambar 11). Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa keheterogenan berat pupa pada pakan jagung semi karena kualitas nutrisi antara bagian tanaman yang tidak seragam. Berat pupa jantan pada pakan meridik lebih ringan dibandingkan dengan berat pupa pada pakan jagung semi. Kisaran berat pupa pada pakan jagung semi antara 0.02 sampai 0.07 g, sedangkan pada pakan meridik hanya berkisar antara 0.01 sampai 0.05 g. Hal tersebut menunjukkan bahwa pakan meridik yang dicoba belum bisa memberikan perkembangan yang cukup baik terhadap pertumbuhan pupa.

Gambar 11 Sebaran berat pupa jantan O. furnacalis pada pakan alami jagung semi dan meridik

Berat pupa jantan dan betina O. furnacalis pada pakan jagung semi dan meridik berbeda nyata pada uji lanjut tstudent dengan taraf uji 5% (Tabel 5). Hal

(35)

senyawa makromolekul yang terdiri dari asam amino, yang merupakan materi penting untuk pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Kandungan protein pada pakan dapat mempengaruhi proses pertumbuhan larva untuk bisa mencapai tahap akhir perkembangannya. Pembentukan jaringan tubuh pada larva yang memakan pakan dengan kandungan protein tinggi akan lebih pesat sehingga larva lebih cepat mencapai tahap instar terakhir.

Tabel 5 Berat pupa jantan dan betina O. furnacalis pada pakan jagung semi dan meridik

Kelamin Berat

*

(g) n tstudent

Jagung semi Meridik Jagung semi Meridik thitung P=0.05, df>120

Jantan 0.050251a 0.041842b 100 31 1.979 1.960 Betina 0.074073a 0.062433b 100 85 1.973 1.960

*)

Angka-angka pada baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%

Atribut Biologi Imago O. furnacalis

Ngengat betina menghasilkan telur yang berkelompok dengan jumlah kelompok telur yang berbeda-beda pada masing-masing individu. Rata-rata imago O. furnacalis mampu meletakkan telur setelah dua hari dikawinkan. Berdasarkan pengamatan, diketahui bahwa keperidian imago O. furnacalis pada pakan alami jagung semi berbeda nyata dengan pakan meridik, baik pada rata-rata jumlah kelompok telur maupun rata-rata jumlah butir telur (Tabel 6). Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis pakan berpengaruh terhadap keperidian imago O. furnacalis. Rata-rata jumlah kelompok dan butir telur yang dihasilkan tiap individu imago O. furnacalis pada pakan jagung semi sebanyak 6.245 dan 88.78 sedangkan pada pakan meridik sebanyak 1.846 dan 26.24. Kalshoven (1981) mengungkapkan bahwa pembiakan larva O. furnacalis di laboratorium menghasilkan jumlah telur pada setiap kelompok berkisar 2 sampai 200 butir. Lama masa inkubasi telur hingga menetas menjadi larva berlangsung antara 3-5 hari.

Tabel 6 Keperidian imago O. furnacalis pada pakan jagung semi dan meridik

Pakan n Keperidian

Angka-angka pada kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%

a)

(36)

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Jenis pakan berpengaruh terhadap biologi perkembangan O. furnacalis. Pakan meridik belum bisa memberikan perkembangan biologi O. furnacalis yang baik. Pakan daun jagung muda tidak dapat digunakan dalam pembiakan massal serangga O. furnacalis di laboratorium karena hanya bisa mempertahankan masa hidup larva sampai stadia larva instar IV. Pada pakan daun jagung muda, lama perkembangan larva O. furnacalis lebih lama jika dibandingkan dengan perkembangan larva pada pakan meridik. Keperidian larva O. furnacalis pada pakan meridik masih rendah dibandingkan dengan tingkat keperidian larva pada pakan alami jagung semi.

Saran

(37)

DAFTAR PUSTAKA

Atmaja WR, Kilin D. 1999. Beberapa aspek biologi ulat belang Nyctemera coleta Cramer (Lepidoptera: Noctuidae) pada daun dewa Gynura procumbens (Lour) Merr. di laboratorium. Di dalam: [PEI] Perhimpunan Entomologi Indonesia Cabang Bogor (ID), editor. Peranan Entomologi dalam Pengendalian Hama yang Ramah Lingkungan dan Ekonomis. Prosiding Seminar Nasional Perhimpunan Entomologi Indonesia; 1999 Feb 16; Bogor, Indonesia. Bogor (ID): Perhimpunan Entomologi Indonesia. Hlm 495-500. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Produktivitas padi, jagung, dan kedelai.

[Internet]. [diunduh 2015 Maret 11]. Tersedia pada: www.bps.go.id/brs_file/asem_03mar14.pdf.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi padi, jagung, dan kedelai. [Internet].

[diunduh 2015 Maret 11]. Tersedia pada:

www.bps.go.id/brs_file/asem_03mar14.pdf.

Chundurwar RD. 1989. Sorghum stemborer in India and Southeast Asia. International Workshop on Shorgum Stemborers. India (IN): ICRISAT. hlm:19-25.

[Dirjen BPTP] Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan. 2002, Program pengembangan produksi jagung nasional. Makalah disampaikan pada National Maize Research and Development Prioritization Workshop. Dirjen BPTP. 2002 Mei 15 – 17, Malino (Sulawesi Selatan).

Gomez JJL, Velasco LRI, Medina CR. 2010. Effect of the phenology of corn (Zea mays L.) on the reproductive development of Asian Corn Borer, Ostrinia furnacalis Guenée (Lepidoptera: Pyralidae). Asia Life Science Supplement. 4:203-212.

Granados G. 2000. Maize Insects: Tropical MaizeImprovement and Production. Roma (IT): Food and Agriculture Organization Park KJ. 2001. Corn Production in Asia. Taipei (TW): Food and Fertilizer: Technology Center for The Asia and Pasific.

Guanghong LI, Yi P, Qijin C, Zhijian SU, Xiaozhao WEN. 2002. Studies on the Artificial Diet for Beet Armyworm, Spodoptera exigua [abstrak]. Chinese Journal of Biological Control. [internet]. [diunduh 2014 Des

11].18(3):132-134. Tersedia pada: http:

//en.cnki.com.cn/Article_en/CJFDTOTALZSWF200203007.htm

Heryana RTS. 2013. Penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis Guenee (Lepidopera: Carambidae): tingkat serangan di wilayah Bogor dan siklus hidupnya di laboratorium [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Laan PA van der,

penerjemah. Jakarta (ID): Ichtiar Baru- van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie.

Lestari S, Ambarningrum TB, Pratiknyo H. 2013. Tabel hidup Spodoptera litura Fabr. dengan pemberian pakan meridik yang berbeda. J Sains Vet. 31(2): 166-179.

MAS. 2015 Juli 27. Penghentian impor dinilai mendadak. Kompas. Ekonomi Sektor Riil Jagung. Hlm 19.

(38)

Mutuura A, E. Munroe. 1970. Taxonomy and distribution of the European corn borer and allied species: genus Ostrinia (Lepidoptera: Pyralidae). Memoirs of the Entomological Society of Canada No.71, 112 pp.

Nafus DM, Schreiner IH. 1987. Location of Ostrinia furnacalis (Lepidoptera: Pyralidae) eggs and larvae on sweet corn in relation to plant growth stage. Journal of Economic Entomology. 80(1):411-416.

Nelly N, Buchori D. 2008. Pengaruh pakan terhadap lama hidup dan kebugaran imago Eriborus argenteopilosus Cameron (Hymenoptera: Ichneumonidae). J Ent Ind. 5(1): 1-9.

Pambudhi WR. 2012. Biologi kepik pembunuh Rhinocoris fuscipes (Hemiptera: Reduviidae) [skripsi]. Jember (ID): Universitas Jember.

Park KJ. 2001. Corn Production in Asia. Taipei (TW): Food and Fertilizer: Technology Center for The Asia and Pasific.

Singh P. 1982. The rearing of beneficial insects. New Zealand (US): Entomologist. hlm: 304- 310.

Subandi. 2004. Program Penelitian Benih Serealia. Makalah disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Kemampuan Petugas Produksi Benih Serealia. Maros 14-16 Juli 2004.

Taneja SL, Nwanze KF. 1990. Mass rearing of Chilo spp. on artificial diets and its use in resistance screening. lnsect Sci. Applic. 11:605-616.

Tseng CT. 1998. Use of Trichogramma ostriniae (Hymenoptera: Trichogrammatidae), to control the Asian Corn Borer, Ostrinia furnacalis (Lepidoptera: Pyralidae). Proceeding of the Seventh Asian Regional Maize Workshop; 1998 February 23-27; Los Banos, Philippines. Los Banos (PH): Seventh Asian Regional Maize Workshop. hlm 340-356.

Umami U. 2015. Studi pakan meridik untuk pembiakan Ostrinia furnacalis Guenee (Lepidopera: Carambidae)

(39)
(40)

Lampiran 1 Keperidian imago O. furnacalis pada pakan alami jagung semi

Lampiran 2 Keperidian imago O. furnacalis pada pakan meridik Kurungan

(41)

The SAS System 13:16 Thursday, November 9, 2015 2

The GLM Procedure

Dependent Variable: respon

Sum of

Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 1 77.3960063 77.3960063 7.37 0.0167

Error 14 146.9432447 10.4959461

Corrected Total 15 224.3392510

R-Square Coeff Var Root MSE respon Mean

0.344995 80.08763 3.239745 4.045250

Source DF Type I SS Mean Square F Value Pr > F

perlakuan 1 77.39600625 77.39600625 7.37 0.0167

Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F

perlakuan 1 77.39600625 77.39600625 7.37 0.0167

The SAS System

13:16 Thursday, November 9, 2015 3

The GLM Procedure

t Tests (LSD) for respon

NOTE: This test controls the Type I comparisonwise error rate, not the experimentwise error rate.

(42)

Means with the same letter are not significantly different.

t Grouping Mean N perlakuan

A 6.245 8 1

B 1.846 8 2

Lampiran 4 Hasil uji T pengaruh jenis pakan terhadap jumlah butir telur O. furnacalis dengan aplikasi SAS

The SAS System

13:16 Thursday, November 9, 2015 7

The GLM Procedure

Class Level Information

Class Levels Values

perlakuan 2 1 2

Number of Observations Read 16 Number of Observations Used 16

The SAS System

13:16 Thursday, November 9, 2015 8

The GLM Procedure

Dependent Variable: respon

Sum of

Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 1 15646.13214 15646.13214 11.48 0.0044

Error 14 19075.62430 1362.54459

(43)

R-Square Coeff Var Root MSE respon Mean

0.450615 64.18519 36.91266 57.50963

Source DF Type I SS Mean Square F Value Pr > F

perlakuan 1 15646.13214 15646.13214 11.48 0.0044

Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F perlakuan 1 15646.13214 15646.13214 11.48 0.0044

The SAS System

13:16 Thursday, November 9, 2015 9

The GLM Procedure

t Tests (LSD) for respon

NOTE: This test controls the Type I comparisonwise error rate, not the experimentwise error rate.

Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 14

Error Mean Square 1362.545 Critical Value of t 2.14479 Least Significant Difference 39.585

Means with the same letter are not significantly different.

t Grouping Mean N perlakuan

A 88.78 8 1

(44)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jember pada tanggal 3 Oktober 1992, sebagai putri dari Bapak Muhammad Ridlwan Faruq dan Ibu Muhsinatin. Penulis adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Penulis lulus dari SMA Negeri 4 Jember Kabupaten Jember pada tahun 2011 dan pada tahun yang sama, penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) program seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) jalur tulis dan diterima di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian.

Gambar

Gambar 2  Pemeliharaan larva dengan pakan daun jagung muda. Pengamatan
Gambar 6  Larva instar terakhir O. furnacalis
Gambar 8  Perbedaan imago jantan dan betina O. furnacalis. (a) ukuran imago
Gambar 10  Sebaran berat pupa betina O. furnacalis pada pakan alami jagung
+2

Referensi

Dokumen terkait

perlakuan lainnya. Menunjukkan bahwa jenis pakan memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan. Frekuensi pemberian pakan diketahui tidak mempengaruhi pertumbuhan. Keywords :

Hal ini berarti pemberian 25% dan 50% pakan daun pepaya tidak memberi pengaruh yang nyata terhadap nilai susut masak daging kambing bligon. Hal ini berarti pemberian pakan daun

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pakan pelengkap multinutrien blok (MNB) terhadap tingkat produktivitas kambing yang tercermin melalui kadar albumin,

Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh substitusi silase isi rumen dalam pakan buatan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, protein efisiensi rasio, laju

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembenah tanah vinasse terhadap atribut biologi tanah serta pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai dan juga untuk

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dan dosis optimum penambahan metionin dalam pakan buatan komersial terhadap efisiensi pemanfaatan pakan,

Tujuan Dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung daun kelor yang berbeda ke dalam pakan terhadap berat giblet hati, jantung dan rempela ayam

Pengkajian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik bioplus dan rater pada domba muda yang diberi pakan kaya serat terhadap pertambahan bobot badan.. METODOLOGI