ABSTRAK
KONTRIBUSI RETRIBUSI PARKIR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KOTA BANDAR LAMPUNG
(2009-2013) Oleh Ade Andrian
Keberhasilan penyelenggaraan perparkiran dalam era 0tonomi Daerah dapat terlihat pada kemampuan daerah dan memanfaatkan kewenangan luas, nyata, dan bertanggung jawab secara profesional dalam menggali sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah Pembangunan daerah sebagai bagian dari pembangunan nasional pada hakekatnya diharuskan untuk mengembangkan kemandirian tiap-tiap daerah sesuai potensi sumber daya yang dimilikinya dan bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan merata dan terpadu Retribusi Daerah selain sebagai salah satu sumber penerimaan bagi pemerintah daerah juga merupakan faktor yang dominan peranannya dan kontribusinya untuk menunjang pemarintah daerah salah satunya adalah retribusi parkir. Retribusi parkir sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari masyarakat, dimana pengelolaannya dahulu dilakukan oleh dinas pendapatan daerah yang berdasar pada peraturan daerah (Perda) Nomor. 6 tahun 2009, dan kini dikelolah oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi yang diserah tugaskan oleh pemerintah Kota Bandar Lampung.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis dan tarif retribusi parkir sangat berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya Dinas Pendapatan Daerah Kota Bandar Lampung dalam pemungutan Retribusi parkir di Daerah Kota Bandar Lampung dilakukan dengan berorientasi pada fungsi pajak dalam hal ini retribusi parkir sebagai sumber pendapatan daerah Kota Bandar Lampung yang disebut dengan fungsi penerimaan (budgetair). Namun dalam pelaksanaannya Dinas Pendapatan Daerah Kota Bandar Lampung dalam pemungutan Retribusi parkir di Daerah Kota Bandar Lampung belum terlaksana dengan baik. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya SDM Dinas Pendapatan Daerah Kota Bandar Lampung, sarana dan prasarana yang belum memadai serta yang terpenting kurangnya kesadaran masyarakat dalam membayar pajak ini dilihat masih banyaknya wajib pajak potensial yang belum melaksanakan kewajibannya mendata, melaporkan dan membayar pajak khususnya retribusi parker
ABSTRACT
PARKING LEVY CONTRIBUTION TO LOCAL REVENUE (PAD) CITY BANDAR LAMPUNG (2009-2013)
By Ade Andrian
The success of parking in the Regional 0tonomi era can be seen in the area and take advantage of the ability of broad authority, real, professional and responsible manner in exploring sources of regional revenue development area as part of national development is essentially required to develop the independence of each region according potential of its resources and aims to improve the lives and well-being equitable and integrated regional levies other than as a source of revenue for local governments is also a dominant factor role and contribution to support local pemarintah one of which is the parking fees. Parking fees as a source of revenue (PAD) which is sourced from the public, which formerly carried out by the management department of revenue based on local regulations (Regulation) Number. 6 in 2009, and is now managed by the Department of Transportation, Communication and Information hereunder assigned by the government of Bandar Lampung.
The purpose of research is to determine the types and rates of parking levy affects the Regional Revenue.
The results showed that the efforts of the Regional Revenue Office in Bandar Lampung parking levy collection in Region Bandar Lampung done oriented tax function in this case parking fees as a source of revenue in Bandar Lampung area called the reception function (budgetair). However, in practice the Regional Revenue Office in Bandar Lampung parking levy collection in Region Bandar Lampung has not done well. It is affected by the lack of HR Department of Revenue of Bandar Lampung, facilities and infrastructure are inadequate and most importantly the lack of awareness in paying taxes is seen still many potential taxpayers who do not fulfill their obligation to record, report and pay taxes in particular levy parker
Created by trial version, http://www.pdf-convert.com
KONTRIBUSI RETRIBUSI PARKIR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KOTA BANDAR LAMPUNG
(2009-2013)
O l e h
ADE ANDRIAN
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA EKONOMI
Pada
Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
IWAYAT HIDUP
enulis dilahirkan di Teluk Betung Bandar Lampung , pada tanggal 3Januari 1988, putera kedua dari tiga bersaudara pasangan berbahagia Ayah Ahmad yusuf dan Ibu Rohayah.
endidikan yang penulis tempuh yaitu endidikan Sekolah Dasar pada SDN 02
Haji mena,natar lampung selatan.diselesaikan pada tahun 2000, selanjutnya Sekolah Lanjutan Tingkat ertama pada SLTN 22 Bandar Lampung diselesaikan
pada tahun 2003, selanjutnya Sekolah Menengah Atas pada SMKN 1GRI Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2006.
MOTO
‘Aku percaya bahwa apapun yang aku terima saat ini adalah yang terbaik dari ALLAH SWT.Dan aku percaya dia akan selalu memberikan yang terbaik untukku
PERSEMBAHAN
Dengan mengucap Puji Syukur Kepada Allah SWT, kupersembahkan karya
kecilku ini untuk orang-orang yang kusayangi:
1. Ayah Ahmad Yusuf dan ibu Rohayah yang tak henti-hentinya memberikan
do’a, dukungan, semangat, inspirasi, kasih sayang serta nasehat untukku dan
selalu dengan sabar menunggu serta turut serta dalam keberhasilanku, terima
kasih untuk semua itu.Adik dan Kakak ku,Riki ardiansyah dan Maya
juliantina yang telah menjadi motivasiku untuk meyelesaikan studiku.
2. Untuk seluruh keluarga besarku atas perhatian dan dorongan moril yang telah
diberikan.
3. Sahabat-sahabatku yang tak dapat kusebutkan satu persatu, yang telah
membantu dan selalu memberi semangat serta motivasi untuk terus melangkah
menjadi lebih baik.
ANWACANA
uji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan.dengan judul “KONTRIBUI
RETRIBUI PARKIR TERHADAP PENDAPATAN ALI DAERAH (PAD) KOTA BANDAR LAMPUNG (2009 2013)” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Jurusan
Ekonomi embangunan Universitas Lampung.Dalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak rof. Dr. Hi. Satria Bangsawan, S.E., M.Si selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung.
2. Bapak Muhammad Husaini, S.E., M.E selaku Ketua Jurusan Ekonomi
embangunan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung.
3. Bapak Irsan Dalimunthe,S.E,M.Si selaku Dosen embimbing atas kesediannya untuk memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses
penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak Dedy Yuliawan, S.E, M.Si., selaku Dosen enguji pada ujian skripsi. Terima kasih untuk masukan dan saran-saran pada seminar proposal terdahulu.
5. Bapak Yourni Atmadja S.E., M.. selaku embimbing Akademik;
6. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung; 7. Bapak dan Ibu Staf Administrasi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas
8. Ayah Ahmad Yusuf dan Ibu Rohayah tercinta yang telah mencurahkan kasih
sayangnya melalui doa yang senantiasa diberikan.
9. Kakak dan Adikku tercinta Riki Ardiansyah dan Maya Juliantina terimakasih
atas semua keceriaan dan dukungan yang memberiku semangat.
10. Rekan-rekan E 06 dan sahabat-sahabatku yang tidak dapat disebutkan satu
per satu.
Akhir kata, enulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi sederhana ini dapat
berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amiin.
Bandar Lampung, April 2015 enulis
AFTAR ISI A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian atau Kegunaan Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Pendapatan Asli Daerah ... 7
B. Tinjauan Terhadap Retribusi Daerah... 11
C. Dasar ukum Pelaksanaan ... 18
D. Kerangka Konseptual... 19
BAB III METOE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian... 22
B. Desain Penelitian ... 22
C. Definisi Operasional Varabel ... 22
D. Metode Penelitian ... 23
E. Jenis Data dan Sumber Data ... 24
F. Metode Analisis ... 24
BAB IV HASIL PENELITIAN AN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum tentang Dinas Pendapatan Daerah Kota Bandar Lampung ... 26
B. Kontribusi Retribusi parker Terhadap PAD Kota Bandar Lampung ... 42
C. Sistem Pemungutan Retribusi parkir di Kota Bandar Lampung .... 47
D. Upaya Peningkatan Retribusi parkir di Kota Bandar Lampung ... 59
E. Strategi dan Sasaran dalam Peningkatan Retribusi parkir yang berkeadilan... 61
BAB V SIMPULAN AN SARAN
A.Simpulan ... 74 B.Saran... 75
AFTAR PUSTAKA
AFTAR TABEL
Tabel Halaman
. Target dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal
Dari Pajak Daerah Tahun 20 s.d 202 ... 43
. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
embangunan secara umum diartikan sebagai suatu usaha untuk lebih
meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Sumber daya potensial yang
dimiliki oleh suatu negara berupa sumber daya alam sumber daya manusia
maupun sumber daya finansial. Dengan demikian pembangunan pada dasarnya
dapat dikatakan usaha dasar untuk mengubah masa lampau yang buruk menjadi
zaman baru yang lebih baik untuk mewariskan masa depan kepada generasi yang
akan datang.
Keberhasilan penyelenggaraan perparkiran dalam era 0tonomi Daerah dapat
terlihat pada kemampuan daerah dan memanfaatkan kewenangan luas, nyata, dan
bertanggung jawab secara profesional dalam menggali sumber-sumber
endapatan Asli Daerah
embangunan daerah sebagai bagian dari pembangunan nasional pada hakekatnya
diharuskan untuk mengembangkan kemandirian tiap-tiap daerah sesuai potensi
sumber daya yang dimilikinya dan bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan
kesejahteraan merata dan terpadu
Untuk melaksanakan pembangunan yang berkesinambungan maka daerah / kota
lebih dituntut untuk menggali seoptimal mungkin sumber-sumber keuangannya
sumber-2
sumber endapatan Asli Daerah, seperti yang tertuang dalam undang-undang
Nomor 32 tahun 2004:
a. endapatan ajak Daerah, meliputi :
1) Hasil pajak daerah;
2) Hasil retribusi daerah;
3) Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan ; dan
4) Lain lain pendapatan daerah yang sah.
b. Dalam perimbangan
c. injaman daerah
d. Lain lain pendaptan daerah yang sah
emberian Otonomi Daerah dimaksud untuk meningkatkan daya guna dan hasil
guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka mengatur dan mengurus
daerahnya sendiri, terutama dalam membiayai pembangunan dewasa ini.
Diberikan hak kepada daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya
sendiri tanpa campur tangan pihak lain adalah sangat tepat karena dengan
demikian sudah memiliki kekuatan hukum untuk menentukan kebijakan dalam
pengelolaan daerahnya, meskipun pada dasarnya tetap dikordinir oleh pemeritah
pusat.
Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
pemerintah daerah, bahwa: Hal hal yang mendasarkan Undang-Undang ini adalah
untuk mendorong memberdayakan masyrakat, menumbuhkan prakarsa dan
3
itu Undang-Undang ini menempatkan Otonomi Daerah secara utuh pada daerah
kabupaten dan kota.
Retribusi Daerah selain sebagai salah satu sumber penerimaan bagi pemerintah
daerah juga merupakan faktor yang dominan peranannya dan kontribusinya untuk
menunjang pemarintah daerah salah satunya adalah retribusi parkir. Retribusi
parkir sebagai salah satu sumber endapatan Asli Daerah (AD) yang bersumber
dari masyarakat, dimana pengelolaannya dahulu dilakukan oleh dinas pendapatan
daerah yang berdasar pada peraturan daerah (erda) Nomor. 6 tahun 2009, dan
kini dikelolah oleh Dinas erhubungan, Komunikasi dan Informasi yang diserah
tugaskan oleh pemerintah Kota Bandar Lampung.
Dalam rangka pencapaian pelayanan dan pelaksanaan pembangunan secara efektif
dan efesien, maka setiap daerah harus secara kreatif mampu menciptakan dan
mendorong semakin meningkatnya sumber-sumber pendapatan asli daerah. Salah
satu sumber-sumber endapatan Asli Daerah yang potensial adalah dari sektor
jasa perparkiran, sumber-sumber keuangan atau sumber-sumber pendapatan asli
daerah seperti yang tertuang dalam undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang
emerintahan Daerah rinsip Otoda menggunakan Otonomi seluas luasnya dalam
arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan
pemerintah diluar yang menjadi urusan yang ditetapkan dalam undang-undang ini.
Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan serta, prakarsa dan
pemberdayaan masyrakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan
masyarakat, oleh sebab itu Undang-Undang ini menempatkan otonomi daerah
4
emungutan Retribusi arkir di Kota Bandar Lampung adalah salah satu dari
pelaksanaan otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab sebagai mana yang
dimaksud dalam undang-undang Nomor 32 tentang pemerintah daerah merupakan
upaya pemerintah daerah dalam menggali dan mengembangkan potensi daerah
dalam rangka untuk memperoleh dana sehubungan dengan penyelenggaraan tugas
pemerintahan dan pembangunan daerah.
erparkiran adalah merupakan bagian dari sub sistem lalu lintas angkutan jalan
penyelenggaraan dilaksanakan oleh pemerintah daerah, dalam rangka
meningkatkan penyelenggaraan kepada masyarakat di bidang perparkiran,
penataan lingkungan, ketertiban, dan kelancaran arus lalu lintas serta sebagai
sumber endapatan Asli Daerah (AD).
erparkiran secara umum juga diartikan sebagai suatu usaha untuk melancarkan
arus lalu lintas dan meningkatkan produktifitas sumber daya alam dan sumber
daya manusia yang dimiliki oleh negara. Dengan demikian perparkiran pada
dasarnya dapat dikatakan sebagai usaha dasar untuk meningkatkan sumber daya
alam, dan sumber daya manusia, dan mengubah masa lampau yang buruk menjadi
zaman baru yang lebih baik. Untuk itu pemerintah daerah Kota Bandar Lampung
bersama-sama masyarakat menetapkan eraturan Daerah tanggal 7 Januari 2002
tentang ketentuan penyelenggaraan perparkiran dalam Kota Bandar Lampung.
Dalam rangka pencapaian pelayanan dan pelaksanaan perpakiran secara efektif
dan efisien maka setiap daerah harus secara kreatif mampu menciptakan dan
mendorong semakin meningkatnya sumber-sumber pendapatan asli daerah. Salah
5
perparkiran, sumber keuangan atau sumber-sumber pendapatan asli daerah, seperti
yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang emerintah
Daerah. rinsip otonomi daerah menggunakan otonomi seluas-luasnya, dalam arti
daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintah
di luar menjadi urusan yang ditetapkan dalam undang-undang ini.
Berdasarkan latar belakang masalah yang di kemukakan di atas, maka penulis
tertarik untuk meneliti dengan mengangkat judul “ Kontribusi Retribusi Parkir
terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandar Lampung ” .
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah
penelitian sebagai berikut : Berapa besar kontribusi penerimaan endapatan Asli
Daerah (AD) dari sektor jasa perparkiran kota Bandar Lampung tahun
2009-2013 ?
C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah yang dimaksud dalam penelitian ini, maka
tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui jenis dan tarif retribusi parkir sangat berpengaruh
terhadap endapatan Asli Daerah
2. Untuk mengetahui kontribusi penerimaan pendapatan asli daerah dari sektor
6
D. Manfaat Penelitian atau Kegunaan Penelitian
1. Manfaat ilmiah
Hasil penelitian ini dapat di harapkan menjadi bahan kajian ilmiah di bidang audit
akuntansi, khususnya pengkajian di bidang jasa Retribusi arkir di Kota Bandar
Lampung.
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini di harapkan menjadi sumber saran bagi emerintah Daerah
Kota Bandar Lampung di dalam menetapkan kebijakan penerimaan endapatan
. TNJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Pendapatan Asli Daerah
1. Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD)
endapatan Asli Daerah (AD) adalah pendapatan yang bersumber dan dipungut
sendiri oleh pemerintah daerah. Sumber AD terdiri dari: pajak daerah, restribusi
daerah, laba dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan pendapatan
asli. Beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli antara lain :
“emerintah daerah tidak akan dapat melaksanakan fungsinya dengan efektif dan
efisien tanpa biaya yang cukup efektif dan efesien tanpa biaya yang cukup untuk
memberikan pelayanan dan pembangunan dan faktor keuangan merupakan salah
satu dasar kriteria untuk mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam
mengurus rumah tangganya sendiri”. Definisi ini dikemukakan oleh pemuji yang
dikutip oleh Riwu Kaho (2005: 78).
Dasar hukum penggalian sumber-sumber endapatan Asli Daerah sebagai berikut:
a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, tentang emerintah Daerah.
b. eraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2004, tentang erparkiran.
c. Kebijakan pembangunan emerintah Daerah Kota Bandar Lampung.
8
2. Keuangan Daerah
Salah satu kreteria penting bagi pelaksanaan otonomi daerah adalah kemampuan
membiayai pelaksanaan pembangunan di daerah bersangkutan dengan kata lain
faktor keuangan merupakan faktor esensial dalam mengukur tingkat kemampuan
daerah dalam melaksanakan otonomi daerahnya. Namun masalahnya bukan hanya
berupa jumlah yang tersediah, tapi juga sampai seberapa jauh jumlah kemampuan
dan kewenangan pemerintah daerah untuk menggunakan sumber daya yang ada di
daerah.
Menurut Drs. Tjahja Supriatna, definisi keuangan daerah adalah kemampuan
pemerintah daerah untuk mengawasi daerah untuk mengelola mulai dari
merencanakan, melaksanakan, mengawasi, mengendalikan, dan mengevaluasi
berbagai sumber keuangan sesuai dengan kewenangannya dalam rangka
pelaksanaan asas desentralisasi, dekosentrasi dan tugas pembantuan di daerah
yang diwujudkan dalam bentuk Anggaran eraturan emerintah No. 105 Tahun
2000, keuangan daerah adalah “semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di
dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban
daerah tersebut, dalam kerangka Anggaran endapatan dan Belanja Daerah
(ABD)”.
Menurut H. A. Widjaja. (2002 ;147) keuangan daerah adalah ; “semua hak dan
kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang di nilai
9
dengan hak dan kewjiban daerah tersebut dalam kerangka Anggaran endapatan
Belanja Daerah”.
Dari pengertian di atas, jelas bahwa dalam pelaksanaan otonomi daerah sangat
didukung oleh kemampuan keuangan daerah atau potensi keuangan daerah. Maka
sebagai tindak lanjut dari pemerintah yakni melimpahkan wewenang dan
tanggung jawab kepada pemrintah daerah yang bersangkutan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun komponen-komponen terpenting dari pembangunan daerah yabg
sumber-sumber penerimaan daerah dapat ditemukan dalam Undang - undang Nomor 32
tahun 2004 tentang pemerintah daerah, asal 79 terdiri dari endapatan Asli
Daerah yaitu ;
a. Hasil pajak daerah;
b. Hasil retribusi daerah;
c. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan, dan
d. Lain lain pendapatan asli daerah yang sah
1) Dana perimbangan,
2) injaman daerah,
3) Lain lain pendapatan daerah yang sah.
Sumber-sumber pendapatan asli daerah tersebut, merupakan batasan wewenang
yang diberikan pusat kepada daerah dengan berbagai kebijakan dalam
10
3. Pemungutan
Secara etimologi pemungutan bersal dari ungut yang berarti menarik atau
mengambil. Sedangkan didalam ketentuan umum Undang-Undang Nomor 18
tahun 1997, asal 1 yang dimaksud pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan
mulai dari perhimpunan data objek subjek pajak retribusi, penetapan besarnya
pajak atau retribusi yang tertuang sampai kegiatan penagihan pajak atau retribusi
wajib pajak atau retribusi serta pengawasan atau penyetoran. Dari definisi di atas
dapat dikemukakan bahwa pemungutan merupakan keseluruhan aktivitas untuk
menarik dana dari masyarakat wajib retribusi yang dimulai dari himpunan data
dari objek dan subjek retribusi sampai pada pengawasan penyetorannya.
Dalam melaksanakan pemungutan retribusi parkir di Kota Bandar Lampung,
masih juga ditemukan berbagai hambatan dan kendala yang perlu mendapat
penanganan secara serius dari pihak yang terkait, yang di temukan. Dalam
eraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2009 tentang perparkiran mengatur secara rinci
tempat jenis dan besarnya retribusi bagi jenis kendaraan, sekalipun jenis
kendaraan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun namun bukan ditemukan
data yang menunjukkan peningkatan penerimaan dari sektor perparkiran ini.
Dalam kaitan dengan uraian di atas, maka upaya yang harus di tempuh oleh
pengelola di bidang perparkiran pada Dinas erhubungan, Komunikasi dan
Informasi Kota Bandar Lampung yaitu perlunya sistem pemungutan retribusi
perparkiran di tata kembali dan penataan daerah retribusi parkir di tepi jalan
11
B. Tinjauan Terhadap Retribusi Daerah
1. Pengertian Retribusi Daerah
Salah satu sumber pendapatan asli daerah yang cukup memiliki andil dalam
pendapatan daerah yakni retribusi daerah. Sebab retribusi daerah merupakan
sumber penerimaan terbesar terhadap pendapatan asli daerah. Untuk memperoleh
gambaran tentang retribusi daerah, terlebih dahulu perlu diketahui apa penerimaan
retribusi itu sendiri, dan perlu juga dibedakan pengertian pajak dan retribusi.
Retribusi merupakan sumber penerimaan yang sudah umum bagi semua bentuk
pemerintah daerah, bahkan ada beberapa daerah menjadikan retribusi sebagai
sumber utama dari pendapatan daerahnya, berdasarkan undang-undang Nomor
tahun 2004 yang perubahan dari undang-undang Nomor 32 tahun 2000 tentang
pajak daerah dan retribusi daerah yang pada intinya mekanisme evaluasi retribusi
untuk daerah diatur dengan peraturan daerah masing-masing daerah yang
bersangkutan.
engertian Retribusi Daerah menurut Kunarjo (1996 : 17) adalah sebagai berikut :
“Retribusi adalah pemungutan uang, sebagai pembayaran pemakain atau
memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik pemerintah baik yang
berkepentingan atau berdasarkan peraturan umum yang dibuat oleh emeritah
Kota Bandar Lampung”.
Definisi lain tentang Retribusi dikemukakan oleh Munawir yang di kutip oleh
Kaho (1997:153). Menurut beliau retribusi adalah: “Iuran kepada pemerintah yang
12
aksaan disini bersifat ekonomis karena siapa saja yang tidak bersifat merasakan
jasa baik dari pemerintah, dia tidak dikenakan iuran ini”.
Selanjutnya pengertian Retribusi Daerah menurut anitia Nasrun Kaho
(1997:153) disebutkan bahwa : “Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai
pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa pekerjaan usaha atau milik
daerah untuk kepentingan umum, atau karena jasa yang diberikan oleh daerah
baik secara langsung maupun tidak langsung“.
“ engertian retribusi daerah kemudian di jelaskan kembali dalam undang–undang
tahun 18 tentang pajak daerah dan retribusi daerah dalam Eugenia, Muljono,
Liliawati (2001 ; 85), yaitu: “ Retribusi daerah yang selanjutnya disebut retribusi
adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atas pemberian izin tertentu
yang khusus di sediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk
kepentingan orang pribadi atau badan”.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan ciri-ciri pokok
Retribusi Daerah :
1. Retribusi adalah pungutan daerah atas penyediaan jasa nyata dan langsung
kepada yang berkepentingan.
2. Wewenang atas pungutan retribusi adalah emerintah Daerah
3. Dalam pemungutan retribusi terdapat potensi yang diberikan daerah yang
langsung dapat ditunjuk.
4. Retribusi dikenakan pada siapa saja yang memanfaatkan atau menggunakan
13
Dalam Undang-Undang No.18 tahun 1997 asal 2 ayat 2 disebut dengan retribusi
daerah tidak dimasukkan pembayaran yang dipungut oleh daerah sebagai
penyelenggara perusahaan atau usaha itu dianggap sebagai perusahaan. Dengan
demikian menjadi jelas bahwa tujuan dari retribusi daerah bukanlah mencari
keuntungan, karena yang ditentukan oleh hasil tersebut adalah untuk memelihara
atas kelangsungan pekerjaan, milik dan jasa masyarakat, disamping agar sarana
dan prasarana unit - unit jasa pelayanan dapat ditingkatkan dan dikembangkan
sebaik mungkin sesuai dengan perkembangan masyarakat serta perbedaan zaman.
Oleh karena itu, penentuan tarif retribusi yang berlaku pada suatu waktu
ditetapkan untuk mencapai maksud di atas, yang wajar sesuai dengan imbalan
yang diharapkan dapat mereka peroleh karena memakai jasa atau pelayanan yang
disediakn oleh pemerintah.
Agar lebih jelas perbedaan antara pajak dengan retribusi maka berikut ini di
kutip pengertian pajak oleh K. Subroto (1980 : 16) ajak diartikan sebagai berikut
“ajak adalah pungutan yang dilakukan pemerintah berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang hasilnya dipergunakan untuk pembayaran pengeluaran
umum pemerintah, yang balas jasanya tidak secara langsung dapat diberikan
kepada pembayarannya dimana perlu dapat dipaksakan”.
endapat lain dikemukakan oleh Rochmat Soemitro (1983 : 12). “ajak adalah
Iuran rakyat kepada Negara berdasarkan undang-undang yang dapat dipaksakan
dengan tidak mendapatkan imbalan jasa yang langsung dapat ditunjuk dan
14
Dari kedua pendapat di atas sudah terlihat jelas bahwa pajak dapat dipaksakan dan
tidak dapat dihindari. Berbeda dengan Retribusi yang tidak dapat dipaksakan dan
dapat dihindari.
2. Objek dan Golongan Retribusi
Objek Retribusi adalah berbagai jenis jasa tertentu yang disediakan oleh
pemerintah daerah. Tidak semua jasa yang diberikan oleh pemerintah daerah
dapat dipungut retribusinya namun hanya jasa-jasa tertentu yang menurut
pertimbangan sosial ekonomi layak untuk dijadikan sebagai objek retribusi. Jasa
tertentu tersebut dikelompokkan dalam 3 golongan, yaitu jasa umum, jasa usaha,
dan perizinan tertentu hal itu diatur dalam undang-undang nomor 34 tahun 2000
asal 18 ayat (1).
Menurut eraturan emerintah Nomor 66 tahun 2001 jasa umum merupakan
retribusi atau jasa yang disediakan atau diberiakan oleh pemerintah daerah untuk
jasa yang berhubungan dengan tugas umum pemerintah dan kemanfaatan umum
serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.
Jenis-jenis retribusi jasa umum adalah :
a. Retribusi elayanan Kesehatan
b. Retribusi elayanan ersampahan / Kebersihan
c. Retribusi ergantian Biaya Cetak KT dan Akte Catatan Sipil
d. Retribusi elayanan arkir Ditepi jalan Umum
e. Retibusi elayanan emekaran dan enguburan Mayat
f. Retribusi elayanan asar
15
h. Retribusi engujian Kendaraan Bermotor
i. Retribusi Air Bersih
j. Retribusi enggantian Biaya Cetak KT
k. Retribusi engujian Kapal perikanan
Selanjutnya Retribusi jasa usaha adalah retribusi yang di sediakan oleh
pemerintah daerah dengan prinsip komersial karena pada dasarnya dapat
jugadisediakan oleh sektor swasta. Selanjutnya Retribusi jasa usaha adalah
retribusi yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip
komersial karena pada dasarnya dapat juga disediakan oleh sektor swasta.
Jenis –jenisnya terdiri dari ;
f. Retribusi enginapan / ersinggahan Villa.
g. Retribusi enyedotan Kasus.
h. Retribusi Rumah otong Hewan.
i. Retribusi Tempat pendaftaran.
j. Retribusi Tempat Rekreasi dan Tempat Olaraga
k. Retribusi enyebrangan Di atas Air
l. Retribusi engelolaan Limbah Cair
16
Sedangkan pada retribusi perizinan tertentu, mengingat fungsi perizinan dimaksud
untuk mengadakan pembinaan, pengaturan pengendalian dan pengawasan, maka
pada dasarnya pemberian izin pada pemerintah daerah tidak harus dipungut
retribusi, akan tetapi untuk melaksanakan fungsi tersebut. emda mungkin masih
kekurangan biaya yang tidak selalu dapat dicukupi dari sumber-sumber
penerimaan daerah, sehingga terhadap perizinan tertentu masih dipungut retribusi.
Jenis-jenis retribusi perizinan, terdiri dari :
a. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan.
b. Retribusi Izin Trayek.
c. Retribusi Izin eruntukan enggunaan Tanah.
d. Retribusi Izin Tempat enjualan Minuman Beralkohol.
e. Retibusi Izin Gangguan.
f. Retrbusi Izin engambilan Hasil Hutan.
Adapun tujuan dari pengelolaan jenis tarif retribusi ini dimaksudkan guna
menetapkan kebijakan umum tentang prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif
retribusi. Jenis-jenis retribusi yang termasuk golongan jenis retribusi jasa umum,
jasa usaha dan retribusi perisinan tertentu di tetapkan dengan peraturan
pemerintah. Secara spesifik untuk jenis jenis pelaksanan retribusi yang di
usahakan dan dikelolah oleh dinas perhubungan kota Bandar Lampung, adalah
sebagai berikut :
a. Retribusi parkir di tepi jalan Umum dan Retribisi Tempat khusus arkir
Berdasarkan eraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2002 tentang terminal
1
b. Berdasarkan peraturan nomor 3 rahun 2000 tentang terminal angkutan
penumpang. Retribusi Izin Trayek Angkutan Kota
c. Berdasarkan eraturan Daerah Nomor 3Tahun 2004 tentang Izin Usaha
Angkutan. Retribusi engujian Kendaran Bermotor
d. Berdasarkan eraturan Daerah Nomor 2 tentang pengujian kendaraan
bermotor
3. Pengertian Retribusi Parkir
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai retribusi parkir, terlebih dahulu penulis
memberikan beberapa defenisi para ahli mengenai tentang parkir. Dalam
eraturan Daerah Nomor 6 tahun 2002 tentang perparkiran dikatakan bahwa :
“arkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan bermotor yang bersifat
sementara. (2002 : 3). Definisi lain tantang parkir terdapat dalam kamus umum
bahasa Indonesia, bahwa “arkir adalah menghentikan kendaran bermotor untuk
beberapa saat lamanya” (1995 ; 259).
Dari kedua pengertian di atas dapat di katakan bahwa “arkir adalah
memberhentikan kendaraan untuk sementara pada tempat yang telah di
sediakan”. Dari uraian terdahulu jika digabung, pemungutan retribusi parkir
disini adalah keseluruhan aktifitas untuk menarik atau memungut retribusi parkir
sesuai dengan yang digariskan dalam rangka usaha untuk memperoleh pemasukan
balas jasa dari sarana atau faisilitas yang telah disediakan oleh pemerintah daerah
18
Adapun umumnya subjek dari retribusi parkir adalah pemakaian jasa atau
masyarakat yang memarkir kendaraan dipinggir jalan umum atau tempat-tempat
khusus misalnya pusat pertokoan dan pusat pembelanjaan. Sedangkan objek dari
retribusi parkir adalah pelayanan penyadiaan parkir ditepi jalan umum.
Selanjutnya untuk menjamin kelancaran jalannya pelaksanaan pemungutan
retribusi parkir di tepi jalan umum dalam memenuhi anggaran daerah, maka yang
ditunjuk instansi yang membantu pemerintah kota Bandar Lampung dalam hal
pengelolaan, pungutan dan pengawasan retribusi parkir tepi jalan umum tersebut
dalam hal ini UTD parkir kota Bandar Lampung hal ini berdasarkan peraturan
daerah kota Bandar Lampung nomor 6 tahun 2002.
C. Dasar Hukum Pelaksanaan
a. Undang-undang nomor 14 tahun 1992 tentang lalu lintas dan angkutan jalan
(Lembaga Negara Republik Indanesia Tahun 1992 Nomor 56, tambahan
Lembaga Negara Republik Indonesi Nomor 3478).
b. Undang-undang nomor 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan retribusi
daerah lembaga Negara Republik Indonesi tahun 1997 nomor 41,
tambahanNegara Republik Indonesia Nomor 3639).
c. Undang - undang nomor 22 tahun 1999 pemerintah daerah ( lembaga Negara
Republik Indonesia tahun 1999 nomor 60, tambahan lembaran negara nomor
3839).
d. eraturan nomor 22 tahun 1980 tentang penyerahan sebagai urusan
pemerintah dalam bidang lalu lintas angkutan jalan pada daerah tingkat I dan
tingkat II (Lembaran Negara Tahun 1990 nomor 26, tambahan lembaga negara
19
e. Keputusan mentri dalam negeri nomor 43 tahun 1980 tentang pedoman
pengelolaan perparkiran didaerah ;
f. Keputusan mentri dalam negeri nomor 23 tahun 1986 tentang ketentuan umum
mengenai penyelidikan pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah daerah.
g. Keputusan mentri dalam negerinomor 4 tahun 1997 tentang penyelidikan
pegawai negri sipil di lingkungan pemerintah daerah.
h. Keputusan mentri perhubungan nomor KM. 65 tahun 1993 tentang fasilitas
pendukung kegiatan lalu lintas angkutan jalan ;
i. Keputusan menteri perhubungan nomor KM. 65 tahun 1993 tentang fasilitas
parkir untuk umum ;
j. Keputusan mentri dalam negeri nomor 84 tahun 1997 tentang bentuk
peraturan Daerah perubahan ;
k. Keputusan mentri dalam negeri nomor 171 tahun 1997 tentang prosedur
pengesahan peraturan daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah ;
l. Keputusan mentri dalam negeri nomor 174 tahun 1997 tentang pedoman tata
cara pemungutan retribusi daerah ;
m. Keputusan mentri dalam negeri nnomor 175 tahun 1997 tentang cara
pemeriksaan dibidang retribusi daerah ;
n. Keputusan menteri dalam negeri nomor 199 tahun 1998 tentang ruang lingkup
dan jenis - jenis retribusi daerah tingkat I dan tingkat II
D. Kerangka Konseptual
Dalam suatu pemerintahan daerah, Organisasi dalam menejemen yang baik tidak
20
barengi dengan adanya keuangan yang baik dari pemerintah daerah yang
bersangkutan. Dalam menggerakkan Organisasi untuk mencapai tujuan tertentu,
peranan keuangan yang baik adalah sangat menentukan, sehingga jelaslah bahwa
peranan keuangan dalam pemerintah di daerah merupakan unsur yang tidak dapat
di hilangkan begitu saja.
entingnya posisi keuangan daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah
sangat di sadari oleh pemerintah daerah. Demikian pula oleh alternatif cara untuk
mendapatkan keuangan yang memadai telah pula dipertimbangkan oleh
pemerintah dan wakil-wakil rakyat. Hal ini dapat di telusuri dalam
Undang-undang nomor 25 tahun 1999 bahwa “ Sumber-sumber pendapatan asli daerah
merupakan sumber keuangan dengan yang di gali dalam wilaya daerah yang
bersangkutan yang terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan Lain-lain pendapat daerah
yang sah”.
Sehubungan dengan pentingnya posisi keuangan tersebut emudji menegaskan ; “
emerintah daerah tidak dapat melaksankan fungsi dengan efektif, dan efisien
tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan dan pembangunan dan
keuangan inilah yang merupakan salah satu dasar kriteria untuk mengetahui
secara nyata kemampuan daerah dalam mengatur dan mengurus keuangan daerah
sendiri” (1980 ; 61).
Melihat hal tersebut di atas bahwa untuk mengatur dan mengurus urusan rumah
tangganya, daerah membentuk biaya atau uang karena tanpa adanya biaya yang
21
mengurus rumah tangganya tetapi juga ciri pokok yang mendasar dari suatu
daerah Otonomi jadi hilang.
Dalam pelaksanaan pemungutan retribusi daerah khususnya retribusi parkir ditepi
jalan umum maka emerintah Kota Bandar Lampung membuat eraturan Daerah
Nomor 6 tahun 2002 dimana didalamnya termasuk secara pelaksanaan
pemungutan retribusi parkir di tepi jalan umum yang merupakan pedoman untuk
melaksanakan peraturan tersebut perlu mendapat dukungan dari pihak yang terkait
seperti UTD parkir yang bertugas mengelolah tempat parkir pemerintah daerah,
serta membina dan mengawasi perparkiran lainnya dikota Bandar Lampung, juru
parkir serta masyarakat untuk wajib retribusi parkir sehingga pelaksanaan
pemungutan retribusi parkir tepi jalan umum dapat berjalan dengan baik dan juga
dapat mencapai target penerimaan atau realisasi dari penerimaan retribusi parkir
. METODE PENELTAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
alam penelitian ini maka penulis memilih tempat penelitian pada Kantor inas
Perhubungan, Komunikasi dan informasi pada Sub. inas Lalu Lintas Angkutan
Jalan Kota Bandar Lampung sebagai objek penelitian dan waktu penelitian yang
digunakan oleh penulis adalah kurang lebih 2 minggu lamanya.
B. Desain Penelitian
idalam penelitian dikenal beberapa metode penelitian seperti penelitian Historis,
deskripsi, eksperimental, grouded research dan penelitian triwulan nasir,(1983,).
alam penelitian ini tidak digunakan semua metode penelitian yang bersifat
ksplanatory survy, karena penelitian ini tidak ada manipulasi langsung terhadap
variabel independen atau tidak dilakukan pengontrolan pada objek penelitian.
Walaupun metode survey ini tidak memerlukan kelompok kontrol seperti hal
dengan metode eksperimen namun generalisasi yang dihasilkan bisa akurat bila
digunakan yang representatif.
C. Definisi Operasional Varabel
1. Retribusi parkir adalah pungutan uang sebagai pembayaran pemakaian jasa
23
2. Kontribusi retribusi parkir terhadap Pendapatan Asli aerah adalah realisasi
pencapaian target retribusi perparkiran dan sejauh mana tingkat kotribusinya
terhadap Pendapatan Asli aerah (PA).
3. Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai akibat dari pemahaman atas
jasa yang di kenakan oleh daerah.
D. Metode Penelitian
alam penelitian ini, maka penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan
data yaitu sebagai berikut :
a. Observasi, dilakukan dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung
dalam proses kegiatan pengelola tehadap objek retribusi kendaraan yang
menggunakan jasa penyelenggaraan perparkiran
b. Interview, dengan jalan menggunakan wawancara secara langsung dengan
kepala dinas lalu lintas dan angkutan jalan penyelenggaraan perparkiran di
Kota Bandar Lampung dan jumlah personil yang berhubungan dengan
penelitian ini.
c. okumentasi, yaitu suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk
mengumpulkan data sekunder yaitu dari laporan-laporan realisasi penerimaan
retribusi dan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pelaksanaan
24
E. Jenis Data dan Sumber Data
1. Jenis Data
alam penelitian ini diperlukan data sebagai bahan informasi untuk dijadikan alat
analisis, diantaranya sebagai berikut :
a. ata kuantitatif, yaitu data yang dapat dihitung atau dinyatakan dengan
bentuk angka, baik yang berasal dari transformasi data kuantitatif maupun
sejak semula sudah bersifat kuantitatif sebagai data yang banyak dipergunakan
dalam penelitian. ata ini dapat diperoleh dari laporan-laporan dan
dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan masalah penelitian.
b. ata kualitatif, yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau uraian.
2. Sumber Data
alam penelitian ini penulis memperoleh data dari berbagai sumber, yaitu :
a. Prson, yaitu data diperoleh dari individu yang ada di dalam Satuan Kerja
Perangkat aerah (SKP) terkait, baik itu dari pimpinan maupun staf dari
SKP tersebut.
b. Papr, yaitu sumber data yang berupa dokumen-dokumen atau catatan-catatan
yang dimiliki oleh SKP.
c. Plac, yaitu sumber data yang diperoleh dari tempat penelitian dalam hal ini
inas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi Kota Bandar Lampung.
F. Metode Analisis
Untuk menganalisis data yang diperoleh di lapangan maka penulis menggunakan
analisis data deskriptif kuantitatif, yang melalui analisis dan beberapa penjelasan
25
wawancara langsung, dokumen dan observasi yang berperan selaku pendukung
data yang lain, seperti : sejarah ringkas dinas perhubungan, komunikasi dan
informasi kota Bandar Lampung,struktur organisasi serta data lain yang
berhubungan dengan penelitian, serta menganalisis data yang di peroleh di
lapangan. Untuk menghitung besarnya frekuensi dan persentase dari
✁KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
erdasarkan hasil analisis atas data dan informasi dalam penelitian dan kajian
teoritis, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai jawaban atas permasalahan yang
diajukan dalam penelitian sebagai berikut :
1. Dinas Pendapatan Daerah Kota andar Lampung melakukan
tindakan-tindakan atau kebijakan-kebijakan dalam mengelola Retribusi parkir untuk
meningkatkan PAD sesuai dengan tugas dan kewenangannya salah satunya
dengan melakukan pemungutan retribusi parkir dengan sistem elf aement
yaitu wajib pajak membayar dan menentukan sendiri jumlah pajak yang
dibayarkan. Dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan serta
mewujudkan masyarakat Kota andar Lampung yang aman, adil, sejahtera,
maju dan modern yang diwujudkan dalam sistem dan prosedur (sisdur) yang
meliputi pendataan, penilaian, penetapan, pembayaran, penagihan,
pengolahan, pencatatan dan penyusunan laporan penerimaan daerah yang
bersumber dari dana perimbangan, pendapatan hibah dan pinjaman daerah
dan lain-lain pendapatan daerah yang sah.
2. Upaya Dinas Pendapatan Daerah Kota andar Lampung dalam pemungutan
Retribusi parkir di Daerah Kota andar Lampung dilakukan dengan
berorientasi pada fungsi pajak dalam hal ini retribusi parkir sebagai sumber
75
penerimaan (budgetair). Namun dalam pelaksanaannya Dinas Pendapatan
Daerah Kota andar Lampung dalam pemungutan Retribusi parkir di Daerah
Kota andar Lampung belum terlaksana dengan baik. Hal ini dipengaruhi
oleh kurangnya SDM Dinas Pendapatan Daerah Kota andar Lampung,
sarana dan prasarana yang belum memadai serta yang terpenting kurangnya
kesadaran masyarakat dalam membayar pajak ini dilihat masih banyaknya
wajib pajak potensial yang belum melaksanakan kewajibannya mendata,
melaporkan dan membayar pajak khususnya retribusi parkir.
3. Ada banyak faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan pemungutan
Retribusi parkir dalam peningkatan PAD, antara lain: Perangkat hukum di
daerah, terutama keberadaan perda yang ada masih didasarkan pada
undang-undang yang lama, sehingga potensi penerimaan yang ditemukan atau yang
diperoleh sulit untuk direalisasikan. elum konsisten para penegak hukum
administrasi kalangan birokrat pemda dalam memberikan sanksi terhadap
subjek hukum yang melalaikan kewajiban wajib pajak dan retribusi dalam
membayar pajak daerah dan retribusi daerah. Petugas lebih cenderung
menggunakan pendekatan persuasif dan toleransi dalam melakukan
penegakan hukum. Kelemahan di lingkungan aparatur pemerintah daerah,
baik pejabat yang mengambil keputusan penetapan pajak dan retribusi,
maupun pelaksana lapangan dalam melakukan identifikasi terhadap jenis
kegiatan atau usaha yang wajib dikenakan pajak atau retribusi daerah serta
minimnya ketersediaan data base potensi objek pajak dan retribusi daerah.
Kurangnya informasi dan sosialisasi terhadap dinamika kebijakan pajak
76
warga masyarakat untuk segera membayar pajak dan retribusi daerah tatkala
mendekati jatuh tempo. Masih lemahnya pengawasan termasuk intrumennya,
sehingga menimbulkan tidak optimalnya pencapaian realisasi sesuai dengan
target yang telah ditetapkan.
B. Saran
1. Pemerintahan Kota andar Lampung agar segera melakukan upaya yang
serius untuk melakukan penyesuaian terhadap berbagai macam pajak daerah
dan retribusi daerah khususnya mengenai retribusi parkir yang telah
ditetapkan ke dalam berbagai perda selama ini sesuai dengan kategori
jenisnya guna mewujudkan peningkatan pendapatan asli daerah sekaligus
pelaksanan otonomi daerah yang seluas-luasnya. Upaya yang serius mutlak
dilakukan pengkajian secara komprehensif, baik dari aspek tataran normatif
penyusunan kebijakan maupun inventarisasi terhadap potensi objek pajak
daerah dan retribusi daerah.
2. Dinas Pendapatan Daerah Kota andar Lampung hendaknya secara berkala
melakukan sosilalisasi atau himbauan ke masyarakat dalam hal ini wajib
pajak, melakukan kegiatan workshop, pelatihan-pelatihan dan kursus-kursus
mengenai perpajakan, dalam hal ini khususnya retribusi parkir guna
mendapatkan SDM yang menunjang optimalisasi PAD sehingga seluruh
aparatur Dinas Pendapatan Daerah dapat mempunyai pengetahuan dan
keahlian yang dapat menunjang profesional kerja, baik dilapangan maupun
77
3. Dinas Pendapatan Daerah Kota andar Lampung hendaknya melakukan
upaya-upaya penyadaran kepada wajib pajak yang melakukan tunggakan,
berupa kebijakan-kebijakan dan sosialisasi yang berupa pendekatan
psikologis terutama kepada wajib pajak yang berulang kali melalaikan
kewajibannya sehingga pencapaian target sebagaimana ditetapkan setiap
DAFTAR PUSTAKA
Budi Winarno, Kebijakan Publik : Teori dan Proses Edisi Revisi, Media Presindo. Yogyakarta. 2007
Bohari, H. Pengantar Hukum Pajak. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1993 Brotodihardjo Santoso. R, S.H., Pengntar Ilmu Hukum Pajak. PT Refika Aditama,
Bandung, 2003
Charles Jones, Pengantar Kebijakan Publik (Terjemahan), PT Raja Graindo Persada, Jakarta. 1996
James E. Anderson Public Policy Making 2nd ed. Holt, Rinehart and Winston. New York. 1969
Joko Widodo, Analisis Kebijakan Publik, Bayumedia. Jakarta.2008
Kesit Bambang Prakoso, Pajak dan Retribusi Daerah. UII Press. Yogyakarta. 2003
K.J. Davey, Pembiayaan Pemerintahan Daerah, Praktek-Praktek Internasional dan Relevansinya Bagi Dunia Ketiga, terjemahan oleh Ammanullah dkk, UI Press, Jakarta, 1988
Marsyahrul. Tony. Pengantar Perpajakan. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta. 2005
M.Irfan Islamy, Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara Cetakan kesebelas, Bumi Aksara, Jakarta, 2002
Muchsan. Beberapa Catatan tentang Hukum Administrasi Negara dan Peradilan Administrasi di Indonesia. Liberty. Yogyakarta. 1981
Munawir, H.S. Perpajakan, Liberty, Yogyakarta, 2000 Nicholai. P. et. al. Bestuursrecht. Amsterdam. 1994
Nurmantu, Safri. Pengantar Perpajakan. Granit. Jakarta. 2005
Nyoman Sumaryadi, Efektifitas Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah, Citra Utama, Jakarta. 2005
Pramudya, Hukum Itu Kepentingan, Sanggar Mitra Sabda, Jawa Tengah, 2007 Riant Nugroho D, Kebijakan Publik untuk Negara-Negara Berkembang, PT
Ridwan, HR. Hukum Administrasi Negara. UII Press. Yogyakarta. 2002
Syofyan, Syofrin dan Hidayat, Asyhar. Hukum Pajak dan Permasalahannya. PT Refika Aditama. Bandung. 2004