ABSTRAK
STUDI TENTANG TINGKAT KEPATUHAN PESERTA DIDIK YANG DI TERIMA MELALUI JALUR BINA LINGKUNGAN DAN NON BINA
LINGKUNGAN DI SMA NEGERI 5 BANDAR LAMPUNG
Oleh AAN SUARDI
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan menjelaskan tingkat kepatuhan peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dan non bina lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas X dan XI. Sampel dalam penelitian ini 29 peserta didik jalur bina lingkungan dan 38 peserta didik jalur non bina lingkungan. Analisis data menggunakan rumus uji t dengan teknik pengumpulan data menggunakan angket.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbandingan tingkat kepatuhan peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dan non bina lingkungan yang dapat dibuktikan dengan perhitungan statistik - test > dari - tabel yaitu 133,4 > 1,67. Artinya tingkat kepatuhan peserta didik jalur bina lingkungan lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kepatuhan peserta didik jalur non bina lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan peran serta pemerintah khususnya lembaga terkait, sekolah, dan masyarakat untuk dapat berperan secara optimal dalam pembinaan agar kepatuhan peserta didik menjadi lebih baik.
STUDI TENTANG TINGKAT KEPATUHAN PESERTA DIDIK YANG DI TERIMA MELALUI JALUR BINA LINGKUNGAN DAN NON BINA
LINGKUNGAN DI SMA NEGERI 5 BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015
Oleh
AAN SUARDI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Aan Suardi dilahirkan di Desa Tirta Kencana pada tanggal 28 Maret 1992, Anak pertama dari dua bersaudara buah cinta kasih dari pasangan Bapak Asep Sumarsono dengan Ibu Sri Surohmi.
Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 2 Tirta Kencana pada tahun 2004, kemudian Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Tulang Bawang Tengah pada tahun 2007, dan Madrasah Aliyah Negeri Mulya Kencana pada tahun 2010.
Pada tahun 2011 penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi PPKn Jurusan Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung melalui jalur SNMPTN tertulis. Penulis juga meruapakan penerima beasiswa PPA.
PERSEMBAHAN
Dengan kerendahan hati dan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT, Kupersembahkan karya ini
kepada :
Kedua orang tuaku, Mamak Bapak yang sangat Kucintai, Kusayangi, dan Kubanggaan, terimakasih atas kasih sayang,
do’a, dukungan, semangat, dan pengorbanan demi
keberhasilanku.
Terima kasih telah menjadi motivasi terbesar dalam hidupku.
Keluarga besarku yang terus memberikan dukungan dan do’a dan menanti keberhasilanku
Serta..
MOTO
“Bertindaklah Dengan Pemikiran Yang Matang”
(Asep Sumarsono)
“Orang Yang Sukses Hari Ini, Datangnya Tidak Mesti
Karena Orang Kaya Raya. Tetapi Yang Membuat Sukses
Hari Ini Adalah Perjuangan Yang Luar Biasa”
(Berchah Pitoewas)
“Berfikirlah Dengan Tenang, Berfikirlah Kamu Bisa, Dan
Kamu Pasti Bisa”
(Aan Suardi)
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut
Wuri Handayani”
SANWACANA
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Studi Tentang Tingkat Kepatuhan Peserta Didik yang Diterima Melalui Jalur Bina
Lingkungan dan Non Bina Lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung
Tahun Pelajaran 2014/2015”. Skripsi ini dibuat guna memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Lampung.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada berbagai pihak atas segala bantuan baik berupa pemikiran, fasilitas, motivasi dan lain-lain demi terselenggaranya penulisan skripsi ini dari awal sampai akhir terutama kepada Bapak Berchah Pitoewas, M.H selaku pembimbing akademik sekaligus pembimbing I dan Bapak Hermi Yanzi, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi sekaligus pembimbing II, serta ucapan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
2. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 3. Bapak Drs. Hi. Buchori Asyik, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Umum dan
4. Bapak Dr. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
5. Bapak Drs. Zulkarnain, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
6. Bapak Drs. Holilulloh, M.Si. selaku pembahas I, terima kasih atas saran dan masukannya.
7. Bapak Abdul Halim, S.Pd., M.Pd., selaku pembahas II terima kasih atas saran dan masukannya.
8. Ibu Dr. Adelina Hasyim, M.Pd., Bapak Dr. Irawan Suntoro, M.S., Bapak M. Mona Adha, S.Pd., M.Pd., Ibu Yunisca Nurmalisa, S.Pd., M.Pd., Bapak Rohman, S.Pd., M.Pd., Bapak Tubagus Ali R.P.K, S.Pd., M.Pd., Bapak Susilo, S.Pd., M.Pd. dan Ibu Dayu Rika Perdana, S.Pd., M.Pd., serta Bapak dan Ibu Dosen Program Studi PPKn Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. Terimakasih atas segala ilmu yang telah diberikan, saran, masukan serta segala bantuan yang diberikan.
10.Seluruh Bapak Ibu Guruku terimakasih atas segala yang telah kalian ajarkan, yang mendewasakanku dalam bertutur, berfikir dan bertindak.
11.Sahabat-sahabat terbaikku (Ima, Ratna, Elisa, Dian, Dio, Evi, Fina, Indri, Leni, Rima, Rio, Koko, Juanda, Viki, Zai, Made, Fredi, Randi) dan sahabat yang selalu membantu aku di saat-saat sulitku (Yogi, Rendi, Kak Angga, Nanang, Ridho, Rohim, Nurma, Anggun, Yanda, Azmi, Trio, U’us) dan semua yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang selalu memberikan masukan dan motivasi serta tempat untuk mengadu dikala gundah gulanah. 12.Teman-teman seperjuanganku di Prodi PPKn angkatan 2011 yang telah
mempercayaiku sebagai kepala keluarga, serta kakak tingkat dan adik tingkat, dari angkatan 2008-2014 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terimakasih atas dukungan yang kalian berikan.
13.Keluarga besar KKN dan PPL Pekon Ujung Rembun (Alan, Tendi, Ista, Nyun, Erni, Eci, Ebong, Nindi, Reni) terimakasih atas saran, serta motivasinya yang selalu kalian berikan kepadaku.
14.Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan penyajiannya. Akhirnya penulis berharap semoga dengan kesederhanaanya skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Bandar Lampung, April 2015 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
F. Ruang Lingkup Penelitian ... 9
3. Fungsi Disiplin ... 18
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Membentuk Disiplin .. 21
5. Aspek-Aspek Disiplin Peserta Didik ... 23
C. Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru ... 25
1. Pengertian Penerimaan Peserta Didik Baru ... 25
2. Jalur Bina Lingkungan ... 28
C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel ... 38
1. Variabel Penelitian ... 38
2. Definisi Operasional ... 38
D. Teknik Pengumpulan Data ... 39
1. Teknik Pokok (Angket) ... 39
2. Teknik Penunjang ... 40
a. Teknik Dokumentasi ... 40
b. Teknik Observasi ... 40
E. Validitas dan Uji Reliabilitas ... 41
1. Validitas ... 41
2. Uji Reabilitas ... 41
F. Teknik Analisis Data ... 43
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Langkah-Langkah Penelitian ... 46
1. Pengajuan Judul ... 46
2. Penelitian Pendahuluan ... 47
3. Pengajuan Rencana Penelitian ... 48
4. Pelaksanaan Penelitian ... 48
a. Persiapan Administrasi ... 48
b. Penyusunan Alat Pengumpulan Data ... 49
5. Pelaksanaan Ujicoba Angket ... 49
a. Analisis Validitas Angket ... 49
b. Analisis Uji Reliabilitas Angket ... 50
B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 54
1. Sejarah Berdirinya Singkat SMA Negeri 5 Bandar Lampung ... 54
2. Situasi dan Kondisi SMA Negeri 5 Bandar Lampung ... 55
3. Visi dan Misi SMA Negeri 5 Bandar Lampung ... 56
4. Sarana dan Prasarana SMA Negeri 5 Bandar Lampung ... 56
5. Keadaan Guru dan Karyawan ... 57
C. Analisis Data ... 58
1. Pengumpulan Data ... 58
a. Tingkat Kepatuhan Peserta Didik yang Diterima Melalui
Jalur Bina Lingkungan ... 59
b. Tingkat Kepatuhan Peserta Didik yang Diterima Melalui Jalur Non Bina Lingkungan (Reguler) ... 63
3. Pengujian Data ... 67
D. Pembahasan ... 68
1. Tingkat Kepatuhan Peserta Didik yang Diterima Melalui Jalur Bina Lingkungan ... 69
a. Indikator Ketaatan ... 69
b. Indikator Kesetiaan ... 70
c. Indikator Tanggung Jawab ... 71
2. Tingkat Kepatuhan Peserta Didik yang Diterima Melalui Jalur Non Bina Lingkungan (Reguler) ... 72
a. Indikator Ketaatan ... 72
b. Indikator Kesetiaan ... 73
c. Indikator Tanggung Jawab ... 74
3. Pembeda Antara Tingkat Kepatuhan Peserta Didik yang Diterima Melalui Jalur Bina Lingkungan dan Non Bina Lingkungan ... 75
V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 78
B. Saran ... 78
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel 1.1 Pelanggaran Peserta Didik di SMA Negeri 5 Bandar
Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015 ... 4 Tabel 3.1 Populasi Peserta didik Bina Lingkungan dan Non
Bina Lingkungan Kelas X dan XI SMA Negeri 5
Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015 ... 36 Tabel 4.1 Hasil Ujicoba Angket Kepada Sepuluh Orang Responden
diluar Sampel untuk Item Ganjil (X) ... 50 Tabel 4.2 Hasil Ujicoba Angket Kepada Sepuluh Orang Responden
Diluar Sampel untuk Item Genap (Y) ... 51 Tabel 4.3 Distribusi antara Item Ganjil (X) dengan Item Genap (Y)
mengenai Studi Tentang Tingkat Kepatuhan Peserta Didik yang Diterima Melalui Jalur Bina Lingkungan dan Non Bina Lingkungan Di SMA Negeri 5 Bandar Lampung
Tahun Pelajaran 2014/2015 ... 52 Tabel 4.4 Sarana dan Prasarana Pendidikan SMA Negeri 5 Bandar
Lampung ... 57 Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Tingkat Kepatuhan Peserta Didik yang
Diterima Melalui Jalur Bina Lingkungan ... 60 Tabel 4.6 Distribusi Skor Hasil Angket Tingkat Kepatuhan Peserta
Didik yang Diterima Melalui Jalur Bina Lingkungan ... 61 Tabel 4.7 Rekapitulasi Data Hasil Skor Angket Tingkat Kepatuhan
Peserta Didik yang Diterima Melalui Jalur Bina Lingkungan .. 62 Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Tingkat Kepatuhan Peserta Didik yang
Diterima Melalui Jalur Non Bina Lingkungan ... 64 Tabel 4.9 Distribusi Skor Hasil Angket Tingkat Kepatuhan Peserta
Tabel 4.10 Rekapitulasi Data Hasil Skor Angket Tingkat Kepatuhan
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Surat Keterangan Dekan FKIP Unila 2. Surat Izin Penelitian Pendahuluan
3. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian Pendahuluan 4. Surat Izin Penelitian
5. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian 6. Kisi-Kisi Angket
7. Distribusi Hasil Angket Tingkat Kepatuhan Peserta Didik Jalur Bina Lingkungan
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan menjadi hak dasar warga negara. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam mencerdaskan kehidupan dan untuk memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia. Seluruh warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran baik dari kalangan ekonomi atas maupun kalangan ekonomi bawah. Pendidikan pada hakekatnya memberikan bimbingan tentang bagaimana menjadi manusia yang berkualitas dan diperlukan guna meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh.
2
Penegasan serupa tentang hak warga negara atas pendidikan juga tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia merupakan suatu sistem Pendidikan Nasional yang diatur secara sitematis dan terencana. Pendidikan diharapkan paling tidak mampu membebaskan masyarakat dari belenggu paling mendasar yaitu buta huruf, kebodohan, keterbelakangan, dan kelemahan. Pendidikan berusaha mengenalkan huruf, kata, kalimat dan susunan kalimat kedalam sebuah narasi sehingga masyarakat tidak buta huruf. Pendidikan juga menyampaikan informasi keilmuan menjadikan masyarakat mengetahui, mengerti, memahami, dan memiliki wawasan yang semakin luas. Selain itu pendidikan juga memberikan motivasi untuk bergerak maju memacu mereka bangkit dari keterbelakangan.
3
Akan tetapi terkadang warga negara yang kurang beruntung tidak bisa mendapatkan hak atas pendidikannya karena kemampuan ekonomi yang lemah, disamping itu juga karena kemampuan kognitif yang rendah, sehingga untuk dapat mengenyam pendidikan pada jenjang pendidikan formal sangat sulit didapatkan. Padahal pendidikan sangatlah dibutuhkan oleh warga negara terutama bagi anak-anak usia sekolah agar dapat menjadi manusia yang lebih baik dan penting untuk memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Salah satu upaya nyata pemerintah dalam rangka memberikan layanan pendidikan berkualitas kepada warga negara yaitu dengan diberlakukanya Program Penerimaan Peserta Didik Baru Jalur Bina Lingkungan. Tujuan dari program jalur bina lingkungan ini adalah untuk memperluas akses pendidikan serta memberikan kesempatan kepada warga negara khususnya anak-anak usia sekolah yang berasal dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas dan bermutu tinggi pada satuan pendidikan.
Program jalur bina lingkungan adalah sebuah jalur penerimaan peserta didik baru pada sekolah Negeri tanpa tes dengan suatu sistem dan ketentuan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No. 01 Tahun 2012 tetang Penyelenggaraan Pendidikan.
4
Namun dalam pelaksanaan dilapangan, program bina lingkungan mendapati berbagai persoalan diantaranya yaitu adanya kondisi peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan yang hanya bersekolah saja tanpa memiliki motivasi yang baik untuk belajar, serta kesadaran akan pendidikan dan untuk disiplin rendah dibandingkan peserta didik yang diterima melalui jalur non bina lingkungan. Hal ini terbukti dari pengamatan hasil observasi dan wawancara dengan guru.
Dari hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung tentang kepatuhan peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dan non bina lingkungan, didapatlah data sebagai berikut:
Tabel 1.1 Pelanggaran Peserta Didik di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015.
No Jenis Pelanggaran Intensitas
Tinggi Sedang Rendah 1. Terlambat datang/masuk sekolah. √
2.
Tidak memakai seragam sekolah (tidak rapih atau tidak sesuai dengan ketentuan).
√
3. Tidak mengerjakan tugas yang
diberikan oleh guru. √
4. Membawa barang-barang tanpa
rekomendasi dari guru. √
5. Keluar kelas pada waktu
pergantian jam pelajaran. √ 6. Rambut gondrong, tidak rapi, atau
tidak sesuai dengan ketentuan. √ 7. Merusak fasilitas sekolah
(mencoret-coret dinding dll.) √
8. Membolos. √
9. Berkelahi, baik didalam maupun
di luar lingkungan sekolah. √
10.
Melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan citra buruk pada sekolah.
√
5
Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa terdapat pelanggaran-pelanggaran disiplin dan tata tertib yang dilakukan oleh peserta didik di SMA Negeri 5 Bandar Lampung. Selain itu, diduga adanya perbedaan kepatuhan, kesadaran, dan motivasi belajar peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dan non bina lingkungan.
Disamping itu dari hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung, diduga bahwa peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan cenderung lebih sering melakukan pelanggaran disiplin dan tata tertib sekolah. Sedangkan peserta didik yang diterima melalui jalur non bina lingkungan diduga cenderung lebih disiplin dan memiliki kepatuhan yang lebih baik sehingga lebih tertib dalam mematuhi peraturan atau tata tertib sekolah.
Adapun faktor yang diduga menjadi penyebab masalah kurangnya kepatuhan peserta didik bina lingkungan dalam melaksanakan disiplin di sekolah tersebut adalah kurangnya dukungan serta motivasi dari orang tua, sehingga peserta didik hanya bersekolah saja tanpa memiliki motivasi atau tanggung jawab untuk melaksanakan tugasnya sebagai peserta didik dengan baik.
6
Dilain pihak pergaulan dilingkungan sekitar juga sangat berpengaruh terhadap peserta didik. Apalagi peserta didik termasuk anak yang baru menginjak masa remaja. Pada masa ini peserta didik cenderung memiliki emosional yang tidak stabil dan berfikir bahwa yang dilakukannya selalu benar, apalagi jika lingkungan tempat tinggalnya sangat rendah akan kesadaran pendidikan. Biasanya hal ini terjadi didalam lingkungan dan keluarga yang kurang mampu, mereka berfikir sekolah atau tidak sama saja.
Sebagaimana diketahui bahwa kepatuhan peserta didik di sekolah dapat menciptakan disiplin dan orientasi akademis warga sekolah sehingga prestasi belajar akan terus meningkat, serta meningkatkan capaian sekolah untuk mendapat mutu yang lebih baik. Jadi seharusnya baik peserta didik bina lingkungan maupun non bina lingkungan ini tidak ada perbedaan, seharusnya mereka memiliki kepatuhan yang sama akan peraturan yang berlaku di sekolah.
Mengingat pendidikan merupakan hak seluruh warga negara maka selayaknya pemerintah berupaya mewujudkan Pendidikan Nasional secara merata. Dengan demikian maka pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak, maka upaya pemerintah dalam hal pemerataan akses dan perwujudan pendidikan yang berkualitas untuk semua lapisan masyarakat wajib didukung oleh semua pihak.
7
“Studi Tentang Tingkat Kepatuhan Peserta Didik yang Diterima Melalui Jalur Bina Lingkungan dan Non Bina Lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015”.
B. Indentifikasi Masalah
Berdasarkan Latar Belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat diangkat menjadi permasalahan. Adapun yang dapat diidentifikasikan adalah sebagai berikut:
1. Kesadaran terhadap pentingnya pendidikan yang dimiliki peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dibandingkan dengan jalur non bina lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung.
2. Motivasi belajar yang dimiliki peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dibandingkan dengan jalur non bina lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung.
3. Kepatuhan peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dan jalur non bina lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung.
4. Perbedaan kepatuhan, kesadaran, dan motivasi belajar peserta didik melalui jalur bina lingkungan dan non bina lingkungan.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi, maka penulis membatasi masalah penelitian ini pada “Tingkat Kepatuhan Peserta didik yang Diterima
8
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut “Bagaimanakah Tingkat Kepatuhan Peserta didik yang Diterima Melalui Jalur
Bina Lingkungan dan Non Bina Lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015?”
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan perumusan masalah diatas maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan Tingkat Kepatuhan Peserta didik yang Diterima Melalui Jalur Bina Lingkungan dan Non Bina Lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015.
2. Kegunaan Penelitian a. Kegunaan Teoritis
Secara teoritik penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan konsep ilmu pendidikan kewarganegaraan yang mengkaji tentang kepatuhan peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dan jalur non bina lingkungan, serta peningkatan mutu pendidikan yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia.
b. Kegunaan Praktis
9
1. Bagi pemerintah khususnya lembaga pendidikan sebagai dasar menetapkan dan melaksanakan kebijakan terkait dengan penerimaan peserta didik baru melalui jalur bina lingkungan dan jalur non bina lingkungan dengan syarat-syarat tertentu.
2. Bagi sekolah untuk dapat meningkatkan kualitasnya dalam peran sebagai wadah pendidikan dan proses belajar mengajar bagi peserta didik, sehingga peserta didik memiliki motivasi dan kesadaran akan pendidikan yang jauh lebih baik.
F. Ruang Lingkup Penelitian 1. Ruang Lingkup Ilmu
Penelitian ini termasuk kedalam ruang lingkup ilmu Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan wilayah kajian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai pendidikan nilai moral Pancasila.
2. Ruang Lingkup Objek
Objek penelitian ini adalah tingkat kepatuhan peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dan non bina lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015.
3. Ruang Lingkup Subjek
Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X dan XI di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015.
4. Ruang Lingkup Wilayah
10
5. Ruang Lingkup Waktu
11
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Pendidikan
1. Pengertian Pendidikan
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut H. Fuad Ihsan (2005: 1) menjelaskan bahwa dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai “Usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam
masyarakat dan kebudayaan”. Usaha-usaha yang dilakukan untuk
12
Disamping itu Jhon Dewey (2003: 69) menjelaskan bahwa “Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia”. Sedangkan menurut J.J. Rousseau (2003: 69) menjelaskan bahawa “Pendidikan merupakan memberikan kita pembekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkanya pada masa dewasa”.
Dilain pihak Oemar Hamalik (2001: 79) menjelaskan bahwa “Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungan dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat”.
Menurut Feni (2014: 13) “Pendidikan merupakan bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaanya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain”.
13
2. Pengertian Peserta Didik
Siswa istilah bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Siswa adalah komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu komponen pendidikan, siswa dapat ditinjau dari berbagai pendekatan, antara lain: pendekatan sosial, pendekatan psikologis, dan pendekatan edukatif/pedagogis. Wikipedia (29 Oktober 2014, http://id.wikipedia.org/wiki/Peserta_didik).
Siswa atau yang biasa disebut dengan peserta didik merupakan salah satu dari komponen pendidikan yang tidak bisa ditinggalkan, karena tanpa adanya peserta didik tidak akan mungkin proses pembelajaran dapat berjalan. Peserta didik merupakan komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses mengajar. Didalam proses belajar-mengajar, peserta didik sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal.
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Menurut Sudarwan Danim (2010: 1) “Peserta didik merupakan sumber
14
peserta didik. Oleh karena itu kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilembagakan dan menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik.
Sudarwan Danim (2010: 2) menambahkan bahwa terdapat hal-hal essensial mengenai hakikat peserta didik, yaitu:
1. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki diferensiasi potensi dasar kognitif atau intelektual, afektif, dan psikomotorik. 2. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki diferensiasi periodesasi perkembangan dan pertumbuhan, meski memiliki pola yang relatif sama.
3. Peserta didik memiliki imajinasi, persepsi, dan dunianya sendiri, bukan sekedar miniatur orang dewasa.
4. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki diferensiasi kebutuhan yang harus dipenuhi, baik jasmani maupun rohani, meski dalam hal-hal tertentu banyak kesamaan.
5. Peserta didik merupakan manusia bertanggung jawab bagi proses belajar pribadi dan menjadi pembelajar sejati, sesuai dengan wawasan pendidikan sepanjang hayat.
6. Peserta didik memiliki adaptabilitas didalam kelompok sekaligus mengembangkan dimensi individualitasnya sebagai insan yang unik.
7. Peserta didik memerlukan pembinaan dan pengembangan secara individual dan kelompok, serta mengharapkan perlakuan yang manusiawi dari orang dewasa termasuk gurunya.
8. Peserta didik merupakan insan yang visioner dan proaktif dalam menghadap lingkungannya.
9. Peserta didik sejatinya berperilaku baik dan lingkunganlah yang paling dominan untuk membuatnya lebih baik lagi atau menjadi lebih buruk.
10. Peserta didik merupakan makhluk Tuhan yang memiliki aneka keunggulan, namun tidak akan mungkin bisa berbuat atau dipaksa melakukan sesuatu melebihi kapasitasnya.
Disamping itu Oemar Hamalik (2004: 99) menjelaskan bahwa “Peserta didik merupakan salah satu komponen dalam pengajaran, disamping faktor guru, tujuan, dan metode pengajaran”. Sedangkan Samsul Nizar
15
belum dewasa dan memilki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan”.
Dilain pihak Abu Ahmadi (1991: 251) juga menjelaskan tentang pengertian peserta didik yaitu “Peserta didik adalah orang yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu”.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah seseorang yang mengembangkan potensi dalam dirinya melalui proses pendidikan dan pembelajaran pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik bertindak sebagai pelaku pencari, penerima dan penyimpan dari proses pembelajaran, dan untuk mengembangkan potensi tersebut sangat membutuhkan seorang pendidik/guru.
B. Konsep Kepatuhan
1. Pengertian Kepatuhan
16
Menurut Andiwinata (1992: 1546) menyatakan bahwa “Kepatuhan adalah
ketaatan kepada suatu perintah atau aturan”. Kepatuhan juga dapat
diartikan sebagai kedisiplinan.
Menurut Kadir (1994: 80) “Disiplin adalah kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan atau pengendalian. Kedua disiplin yang bertujuan mengembangkan watak agar dapat mengendalikan diri, agar berprilaku tertib dan efisien”.
Arti disiplin juga dapat dilihat dari segi bahasa adalah latihan ingatan dan watak untuk menciptakan pengawasan (kontrol diri), atau kebiasaan mematuhi ketentuan dan perintah. Jadi arti disiplin secara lengkap adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tampa paksaan dari siapa pun.
Disamping itu disiplin menurut Djamarah (2002: 12) adalah “Suatu tata tertib yang dapat mengatur tatanan kehidupan pridadi dan kelompok”. Sedangkan Wardati dan Moh. Jauhar (2011: 150) “Disiplin ialah ketaatan atau kepatuhan kepada peraturan tata tertib, aturan yang berkaitan dengan jam belajar di sekolah yang meliputi jam masuk sekolah dan keluar sekolah, kepatuhan siswa dalam berpakaian, kepatuhan siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah”.
17
kesadaran diri seseorang (peserta didik) dalam menciptakan pengawasan (kontrol diri) terhadap peraturan dan tata tertib yang berlaku dengan penuh tanggung jawab.
Dari pengertian kepatuhan yang telah diuraikan diatas, maka yang dimaksud dengan kepatuhan peserta didik adalah sikap atau tingkah laku peserta didik yang taat dan patuh untuk dapat menjalankan kewajibannya untuk belajar, serta bertingkahlaku sesuai dengan norma dan tata tertib yang berlaku.
2. Perlunya Kedisiplinan
Disiplin diperlukan oleh siapapun dan dimanapun, begitupun seorang peserta didik. Seorang peserta didik harus disiplin baik itu disiplin dalam menaati tata tertib sekolah, disiplin dalam belajar di sekolah, disiplin dalam mengerjakan tugas, maupun disiplin dalam belajar dirumah, sehingga akan dicapai hasil belajar yang optimal. Disiplin berperan penting dalam membentuk individu yang berciri keunggulam.
Menurut Tu’u (2004:37) disiplin penting karena alasan berikut ini:
1. Dengan disiplin yang muncul karena kesadaran diri, siswa berhasil dalam belajarnya. Sebaliknya siswa yang kerap kali melanggar ketentuan sekolah pada umumnya terhambat optimalisasi potensi dan prestasinya.
2. Tanpa disiplin yang baik, suasana sekolah dan juga kelas menjadi kurang kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Secara positif disiplin memberi dukungan yang tenang dan tertib bagi proses pembelajaran.
18
4. Disiplin merupakan jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja.
Sedangkan menurut Maman Rachman dalam Tu’u (2004: 35) pentingnya
disiplin bagi para siswa adalah sebagai berikut :
1. Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang.
2. Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
3. Cara menyelesaikan tuntutan yang ingin ditunjukan peserta didik terhadap lingkunganya.
4. Untuk mengatur keseimbangan keinginan individu satu dengan individu lainnya.
5. Menjauhi siswa melakukan hal-hal yang dilarang sekolah. 6. Mendorong siswa melakukan hal-hal yang baik dan benar.
7. Peserta didik belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, positif dan bermanfaat baginya dan lingkungannya.
8. Kebiasaan baik itu menyebabkan ketenangan jiwanya dan lingkungannya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa disiplin sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap peserta didik. Disiplin yang tumbuh secara sadar akan membentuk sikap, perilaku, dan tata kehidupan yang teratur yang akan menjadikan peserta didik sukses dalam belajar.
3. Fungsi Disiplin
Fungsi disiplin sangat penting untuk ditanamkan pada siswa, sehingga siswa menjadi sadar bahwa dengan disiplin akan tercapai hasil belajar yang optimal. Menurut Tu’u (2004: 38-44) adalah sebagai berikut :
a. Menata Kehidupan Bersama
19
kepentingan, karena manusia selain sebagai mahluk sosial ia juga sebagai mahluk individu yang tidak lepas dari sifat egonya, sehingga terkadang dalam masyarakat terjadi benturan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan bersama. Disinilah pentingnya disiplin untuk mengaur tata kehidupan manusia dalam kelompok tertentu atau dalam masyarakat. Sehingga kehidupan bermasyarakat akan tentram dan teratur.
b. Membangun Kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan sifat, tingkah laku yang khas yang dimiliki oleh seseorang. Antara orang yang satu dengan orang yang lain mempunyai kepribadian yang berbeda. Lingkungan yang berdisiplin baik sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Apalagi seorang peserta didik yang sedang tumbuh kepribadiannya, tentu lingkungan sekolah yang tertib, teratur, tenang, dan tentram sangat berperan dalam membangun kepribadian yang baik.
c. Melatih Kepribadian yang Baik
20
d. Pemaksaan
Disiplin akan tercipta dengan kesadaran seseorang untuk mematuhi semua ketentuan, peraturan, dan norma yang berlaku dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Sebaliknya disiplin dapat pula terjadi karena adanya pemaksaan dan tekanan dari luar. Misalnya, ketika seorang siswa yang kurang disiplin masuk sekolah yang berdisiplin baik, maka ia terpaksa harus menaati dan mematuhi tata tertib yang ada di sekolah tersebut.
e. Hukuman
Dalam suatu sekolah tentunya ada aturan atau tata tertib. Tata tertib ini berisi hal-hal yang positif dan harus dilakukan oleh siswa. Sisi lainnya berisi sanksi atau hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut. Hukuman berperan sangat penting karena dapat memberi motifasi dan kekuatan bagi siswa untuk mematuhi tata tertib dan peraturan-peraturan yang ada, karena tanpa adanya hukuman sangat diragukan peserta didik akan mematuhi paraturan yang sudah ditentukan.
f. Menciptakan Lingkungan yang Kondusif
21
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Membentuk Disiplin
Perilaku disiplin tidak akan tumbuh dengan sendirinya, melainkan perlu kesadaran diri, latihan, kebiasaan, dan juga adanya hukuman. Bagi peserta didik kepatuhan juga tidak akan tercipta apabila tidak mempunyai kesadaran diri. Peserta didik akan patuh terhadap tata tertib di sekolah apabila peserta didik sadar akan pentingnya kedisiplinan dalam kehidupannya. Penanaman disiplin perlu dimulai sedini mungkin mulai dari dalam lingkungan keluarga.
Menurut Tu’u (2004: 48-49) mengatakan ada empat faktor dominan yang
mempengaruhi dan membentuk disiplin yaitu: a. Kesadaran Diri
Kesadaran diri menjadi motif sangat kuat bagi terwujudnya disiplin. Disiplin yang terbentuk atas kesadaran diri akan kuat pengaruhnya dan akan lebih tahan lama dibandingkan dengan disiplin yang terbentuk karena unsur paksaan atau hukuman.
b. Pengikutan dan Ketaatan
Sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan-peraturan yang mengatur perilaku individunya. Hal ini sebagai kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan kemauan diri yang kuat.
c. Alat Pendidikan
22
d. Hukuman
Seseorang yang taat pada aturan cenderung disebabkan karena dua hal, yang pertama karena adanya kesadarn diri, kemudian yang kedua karena adanya hukuman. Hukuman akan menyadarkan, mengoreksi, dan meluruskan yang salah, sehingga orang kembali pada perilaku yang sesuai dengan harapan.
Lebih lanjut Tu’u (2004: 49-50) menambahkan masih ada faktor lain yang
berpengaruh dalam pembentukan disiplin yaitu: a. Teladan
Teladan adalah contoh yang baik yang seharusnya ditiru oleh orang lain. Dalam hal ini siswa lebih mudah meniru apa yang mereka lihat sebagai teladan (orang yang dianggap baik dan patut ditiru) dari pada dengan apa yang mereka dengar. Karena itu contoh dan teladan disiplin dari atasan, kepala sekolah dan guru-guru serta penata usaha sangatberpengaruh terhadap disiplin para siswa.
b. Lingkungan Berdisiplin
23
c. Latihan berdisiplin
Disiplin dapat tercapai dan dibentuk melalui latihan dan kebiasaan. Artinya melakuakn disiplin secara berulang-ulang dan membiasakannya dalam praktik disiplin sehari-hari.
5. Aspek-Aspek Disiplin Peserta Didik
Menurut Arikunto (2010: 270) kedisiplinan siswa dapat dilihat dalam 3 aspek yaitu:
a. Aspek Disiplin Siswa di Lingkungan Keluarga
Yang dimaksud dengan disiplin keluarga adalah peraturan dirumah mengajarkan anak apa yang harus dan apa yang boleh dilakukan dirumah atau dalam hubungan dengan anggota keluarga. Disiplin keluarga mempunyai peran penting agar anak segera belajar dalam hal prilaku. Lingkungan keluarga sering disebut lingkungan pertama didalam pendidikan dan sangat penting dalam membetuk pola kepribadian anak, karena dalam keluarga anak pertama kali berkenalan dengan nilai dan norma. Aspek disiplin dilingkungan keluarga, meliputi: a) Mengerjakan tugas sekolah dirumah, b) Mempersiapkan keperluan sekolah dirumah.
b. Aspek Disiplin Siswa di Lingkungan Sekolah
24
ditunjukan pada siswa. Apabila disiplin sekolah telah menjadi kebiasaan belajar, maka nantinya siswa benar-benar menganggap kalau belajar disekolah adalah merupakan suatu kebutuhan bukan sebagai kewajiban atau tekanan. Aspek disiplin siswa dilingkungan sekolah, meliputi: a) Sikap siswa dikelas, b) Kehadiran siswa, c) Melaksanakan tata tertib di sekolah.
c. Aspek Disiplin Siswa di Lingkungan Pergaulan
Yang dimaksud disiplin pergaulan adalah peraturan lapangan bermain terutama dipusatkan pada permainan dan olah raga. Peraturan itu juga mengatur tingkah laku kelompok. Peraturan disini mempunyai nilai pendidikan, sebab peraturan memperkenalkan pada anak prilaku yang disetujui anggota kelompoknya. Aspek disiplin siswa dilingkungan pergaulan, meliputi: a) Yang berhubungan dengan pinjam meminjam, b) Yang berhubungan dengan disiplin waktu.
Dengan demikian maka indikator kepatuhan peserta didik yang dapat dibuat dari teori tersebut adalah sebagai berikut:
1. Ketaatan
a) Bersungguh-sungguh dalam menjalankan peraturan disertai dengan tanggung jawab.
b) Pengetahuan peserta didik dalam melihat arti pentingnya disiplin di sekolah.
25
2. Kesetiaan
a) Mengetahui batasan-batasan sikap jika berada di sekolah atau dirumah.
b) Menghargai peraturan dan tata tertib yang ada di sekolah.
c) Menjaga lingkungan sekolah agar senantiasa indah, aman, dan nyaman.
3. Tanggung Jawab
a) Menunjukkan adanya keseimbangan antara tindakan yang dilaksanakan dengan ucapan.
b) Menunjukkan sikap berani bertanggung jawab atau konsekuensi dari apa yang telah dilakukan.
c) Mengetahui kewajiban dan dapat menempatkannya (disekolah sebagai siswa dan dirumah sebagai anak).
C. Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru
1. Pengertian Penerimaan Peserta Didik Baru
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah kegiatan penerimaan dan seleksi calon peserta pendidikan dan pelatihan pada sekolah, hal tersebut berkaitan dengan kemampuan dasar akademik dan minat bakat terhadap jenjang sekolah yang dituju sebagai bentuk awal pengendalian penjaminan dan penetapan mutu pendidikan.
Menurut Feni (2014: 15) “Penerimaan peserta didik baru adalah sebuah
26
ketentuan dan persyaratan tertentu yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh lembaga pendidikan tersebut”.
Penerimaan peserta didik baru pada SMA Negeri Kota Bandar Lampung dilaksanakan berdasarkan:
1. Dasar Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Nomor: 800/3197.a/III.01/DP.1.c/2013 Tanggal 17 Mei 2013 Tentang Pedoman Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru Taman Kanak-Kanak dan SD/SMP/SMA/SMK di Provinsi Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014, dan Kalender Pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014.
2. Petunjuk Teknis Tentang Penerimaan Penerimaan Peserta Didik Baru PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK Tahun Pelajaran 2013/2014 di Lingkungan Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung.
3. Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA dibagi menjadi 3 jalur yaitu:
a. Jalur Prestasi
27
b. Jalur Bina Lingkungan
Program jalur bina lingkungan adalah sebuah jalur penerimaan peserta didik baru pada sekolah Negeri jenjang SMP dan SMA/SMK tanpa tes dengan suatu sistem dan ketentuan sesuai dengan peraturan yang datur dalam Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No. 01 Tahun 2012 tetang Penyelenggaraan Pendidikan. Meskipun program jalur bina lingkungan ini dilaksanakan tanpa tes, akan tetapi tetap menjalankan seleksi berkas yang diatur dalam Peraturan Walikota No. 49 Tahun 2013 tentang Pedoman Penerimaan Peserta Didik Baru. Jalur bina lingkungan ini merupakan salah satu jalur yang ditetapkan pemerintah Kota Bandar Lampung sebagai salah satu jalur dalam penerimaan peserta didik baru di Kota Bandar lampung.
c. Jalur Non Bina Lingkungan/ Reguler
28
2. Jalur Bina Lingkungan
Program jalur bina lingkungan adalah sebuah jalur penerimaan peserta didik baru pada sekolah Negeri jenjang SMP dan SMA/SMK tanpa tes dengan suatu sistem dan ketentuan sesuai dengan peraturan yang datur dalam Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No. 01 Tahun 2012 tetang Penyelenggaraan Pendidikan. Meskipun program jalur bina lingkungan ini dilaksanakan tanpa tes, akan tetapi tetap menjalankan seleksi berkas yang diatur dalam Peraturan Walikota No. 49 Tahun 2013 tentang Pedoman Penerimaan Peserta Didik Baru. Jalur bina lingkungan ini merupakan salah satu jalur yang ditetapkan pemerintah Kota Bandar Lampung sebagai salah satu jalur dalam penerimaan peserta didik baru di Kota Bandar lampung.
Tujuan dari program jalur bina lingkungan ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada warga negara khususnya anak-anak usia sekolah masyarakat Bandar Lampung yang berasal dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas dan bermutu tinggi pada satuan pendidikan.
29
Program jalur bina lingkungan ini selanjutnya dilaksanakan dengan Peraturan Walikota Bandar Lampung No. 49 tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Bandar Lampung.
Selanjutnya pada BAB V Bagian Kesatu pasal 10 ayat 3 menjelaskan bahwa jalur bina Lingkungan diperuntukan bagi:
1. Calon siswa baru dari keluarga belum mampu secara ekonomi yang berdomisili dekat dengan sekolah pilihan, dengan resmi sebagai warga Kota Bandar Lampung dengan ketentuan:
a) Memenuhi persyaratan umum dan persyaratan khusus.
b) Memiliki dan menyerahkan fotokopi kartu Jamkesmas dan atau Jamkesda yang sah.
c) Ada surat keterangan tidak mampu dari kelurahan atau dari sekolah asal.
d) Menyerahkan fotokopi kartu keluarga dan KTP orang tuanya. e) Menyerahkan kartu keluarga yang asli dan akan dikembalikan saat
pengumuman.
f) Hanya diperkenankan memilih satu sekolah yang terdekat dengan tempat tinggalnya.
2. Anak kandung Pendidik dan Tenaga Kependidikan pada sekolah yang bersangkutan dengan ketentuan:
30
b) Menyerahkan fotokopi surat tugas dari satuan kependidikan tempat bertugas.
c) Memenuhi persyaratan umum/khusus PPDB tahun yang telah ditetapkan.
3. Jika persyaratan yang dimaksud pada angka 1 dan 2 diatas terpenuhi maka dapat diterima di SMP/SMA/SMK Negeri tanpa mengikuti proses seleksi.
4. Apabila pendaftar melampaui kuota (50%) yang telah ditetapkan akan diadakan seleksi berdasarkan kemampuan akademik dan atau hasil verifikasi biodata (Home Visit) yang dilakukan oleh panitia.
Jalur bina lingkungan yang diperuntukan bagi peserta didik kurang beruntung ini juga memiliki syarat-syarat dan ketentuan secara umum, salah satunya tempat tinggal calon peserta didik harus berada dekat dengan lingkungan sekolah. Selanjutnya adapun syarat-syarat adalah sebagai berikut:
1. Mengisi formulir pendaftaran rangkap 2. 2. Mengisi Biodata.
3. Menyerahkan foto copy STTB/SKHU dilegalisir sebanyak 1 lembar. 4. Menyerahkan SKHU asli atau keterangan pada sekolah tempat
mendaftar.
5. Menyerahkan pas foto berwarna ukuran 3x4 cm sebanyak 3 lembar. 6. Meyerahkan:
31
c) Foto copy Jamkesmas atau Jamkesda arau Surat Keterangan belum mampu dari Lurah atau Kepala Sekolah asal.
d) Foto rumah tempat tinggal.
7. Hanya diperkenankan memilih satu SMA Negeri yang terdekat dengna tempat tinggalnya.
8. Bagi anak kandung tenaga kependidikan: a) Menyerahkan syarat poin 1, 2, 3, 4, 6. b) Menyerahkan foto copy KK, KTP dan KP-4.
c) Menyerahkan foto copy surat tugas dari satuan pendidikan atau SK.
3. Jalur Non Bina Lingkungan/ Reguler
Dalam upaya mendukung Peraturan Pemerintah RI Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, khususnya Pasal 74 (ayat 1 dan 2) dan Pasal 82 (ayat 1 dan 2) tentang Penerimaan Peserta Didik pada Satuan Pendidikan Dasar/Menengah yang objektif, transparan, dan akuntabel. Maka Pustekkom Kemdikbud melalui DIPA Tahun 2009 menyediakan aplikasi Sistem Penerimaan Siswa Baru (PSB) Online 2009 dengan modul pendaftaran jenjang SMP, SMA dan SMK, kemudian melalui DIPA 2014 dikembangkan menjadi Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online 2014/2015. Kemdikbud (29 Oktober 2014. http://ppdb.kemdikbud.go.id/informasi).
32
tentang implementasi sebuah sistem penerimaan peserta didik baru yang objektif, transparan, akuntabel, cepat, dan akurat melalui seleksi tes akademik secara tertulis yang meliputi tes Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris. Ada juga tes fisik untuk sekolah-sekolah olahraga serta tes wawancara dan tes IQ.
Adapun syarat-syarat adalah sebagai berikut:
1. Mengisi formulir pendaftaran pembantu yang disediakan panitia. 2. Mengisi pendaftaran online dengan memasukkan nomor Peserta Ujian
Nasional SMP/MTs, mengisi Nomor HP yang bisa dihubungi dan mengisi 3 sekolah Negeri yang menjadi pilihan.
3. Menyerahkan prin out pendaftaran online 2 rangkap, setelah di tanda tangani petugas, satu lembar diserahkan kepada petugas pendaftaran dan yang satu lembar lagi untuk pendaftar.
4. Umur calon peserta didik setinggi-tingginya 21 tahun pada tanggal 15 Juli 2014.
5. Bagi pendaftar dari luar Kota Bandar Lampung tetapi masih dalam Provinsi Lampung supaya melampirkan Surat Keterangan Pindah Rayon (Rekomendasi) dari Kepala Dinas Pendidikan Kota/Kab asal calon peserta didik.
6. Bagi pendaftar dari luar Provinsi Lampung supaya melampirkan Surat Keterangan Pindah Rayon (Rekomendasi) dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi asal calon siswa.
33
D. Kerangka Pikir
Upaya pemerintah dalam memperluas akses dan kemudahan bagi warga negara untuk mendapatkan layanan pendidikan berkualitas dan bermutu tinggi terus dilakukan, diantaranya dengan adanya program penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur bina lingkungan.
Tujuan dari program jalur bina lingkungan ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada warga negara khususnya anak-anak usia sekolah masyarakat Bandar Lampung yang berasal dari keluarga yang tidak beruntung serta kurang mampu untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas dan bermutu tinggi pada satuan pendidikan.
Namun dalam perjalanannya program bina lingkungan ini banyak mengalami kendala, mulai dari sistem penerimaannya sampai pada dampak kondisi peserta didik yang cenderung sulit dikontrol. Hal ini menjadi dilema bagi sekolah karena di satu sisi sekolah berupaya memberikan akses bagi pemerataan pendidikan, namun disisi lain sekolah juga ingin tetap menjaga kualitas dan mutu sekolah.
34
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir Penelitian. Kepatuhan Peserta Didik (X)
a. Jalur Bina Lingkungan 1. Ketaatan
2. Kesetiaan
3. Tanggung Jawab
b. Jalur Non Bina Lingkungan 1. Ketaatan
2. Kesetiaan
3. Tanggung Jawab
Tingkat kepatuhan peserta didik jalur bina lingkungan dan non bina lingkungan (Y)
35
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2014: 2). Oleh karena itu metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Tujuan dari penggunaan metode deskriftif ini karena dengan metode ini penulis ingin menggambarkan keadaan yang sebenarnya tentang tingkat kepatuhan peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dan jalur non bina lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015.
Menurut Muhammad Ali dalam Feni (2014: 39) metode penelitian digunakan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi pada masa sekarang, dilakukan dengan langkah pengumpulan data, klasifikasi data, dilanjutkan dengan pengolahan data membuat penggambaran tentang sesuatu dengan cara objektif, serta situasi yang mempunyai manfaat terutama dalam rangka mengadakan berbagai perbaikan.
36
dengan cara mengumpulkan data, klasifikasi data, guna menggambarkan suatu keadaan secara objektif.
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Menurut Sugiyono (2014: 80) pengertian populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan Muhammad Ali dalam Feni (2014: 40) populasi adalah keseluruhan objek penelitian baik berupa manusia, benda, peristiwa atau berbagai gejala yang terjadi karena itu merupakan variabel yang diperlukan untuk memecahkan atau menunjang keberhasilan dalam penelitian.
Berdasarkan pendapat diatas, maka populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X dan XI SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015. Dengan rincian sebagai berikut:
37
Sumber: Waka Kesiswaan SMA N 5 Bandar Lampung
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2014: 81) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik dalam populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.
Dilain pihak Arikunto dalam Feni (2014: 40) mengemukakan bahwa apabila subjek kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika subjek besar atau lebih dari 100 dapat diambil 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebih.
38
dan 37 dari peserta didik non bina lingkungan, sehingga total keseluruhan sampel yang diperoleh sebanyak 66 siswa, dengan menggunakan teknik Proporsional Random Sampling yaitu pengambilan sampel secara acak.
C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variable Penelitian
a. Variabel bebas (X)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penerimaan peserta didik melalui jalur bina lingkungan dan jalur non bina lingkungan.
b. Variabel terikat (Y)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat kepatuhan peserta didik.
2. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah tingkat kepatuhan peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dan non bina lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015.
Indikator yang dapat dibuat dari variabel yang mempengaruhi penerimaan peserta didik baru jalur bina lingkungan dan jalur non bina lingkungan untuk mengukur kepatuhan peserta didik adalah sebagai berikut:
1. Ketaatan 2. Kesetiaan
39
Sedangkan yang menjadi ukuran dari variabel yang mempengaruhi variabel bebas untuk mengukur tingkat kepatuhan siswa adalah sebagai berikut:
1. Tinggi 2. Sedang 3. Rendah
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Pokok (Angket)
Teknik pokok yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik angket (kuesioner). Angket adalah kumpulan dari pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada seseorang/responden, dan cara menjawab juga dilakukan dengan cara tertulis (Arikunto, 2010: 101).
Dilain pihak Sugiyono (2014: 142) menjelaskan bahwa teknik angket/ kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu angket juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar.
40
Menurut Muhammad Nasir dalam Tristiana (2013: 51) skor yang diberikan adalah sebagai berikut:
1. Untuk jawaban yang sesuai dengan harapan diberi skor 3.
2. Untuk jawaban yang kurang sesuai denagn harapan diberikan skor 2. 3. Untuk jawaban yang tidak sesuai dengan harapan diberikan skor 1.
2. Teknik Penunjang
Penelitian ini memerlukan data yang lengkap dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah kebenarangnya, oleh karena itu peneliti membutuhkan teknik penunjang dalam pengumpulan data yaitu:
a. Teknik Dokumentasi
Menurut Arikunto dalam Tristiana (2013: 52) menjelaskan bahwa teknik dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, legger, agenda dan sebagainya. Oleh karena itu teknik ini digunakan untuk memperoleh data yang lengkap mengenai gambaran umum lokasi penelitian dan fakta-fakta yang terjadi pada objek penelitian.
b. Teknik Observasi
41
E. Validitas dan Uji Reliabilitas 1. Validitas
Menurut Arikunto (2010: 167) menjelaskan bahwa validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur. Sedangkan Sugiyono (2014: 121) menjelaskan bahwa valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa suatu alat dikatakan valid apabila mampu secara cermat menunjukkan besar kecilnya suatu gejala yang diukur. Oleh karena itu alat yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah berupa validitas logis (logical validity) dengan cara mengkonsultasikan kepada para dosen pembimbing (jugment). Dalam hal ini alat ukur yang digunakan adalah angket yang disajikan berdasarkan konstruksi teoritisnya. Untuk validitas angket penulis mengadakan ujicoba angket dengan melihat indikator-indikator yang sesuai dengan item-item angket.
2. Uji Reliabilitas
42
Suatu alat dikatakan reliabel apabila tes tersebut menunjukkan hasil yang tetap dan sesuai dengan kebenaranya, maka untuk suatu alat ukur yang digunakan akan dialakukan ujicoba terlebih dahulu.
Ujicoba angket dilakukan dengan teknik belah dua, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menyebarkan angket kepada 10 orang diluar responden.
2. Hasil ujicoba dikelompokkan kedalam item ganjil dan item genap. 3. Hasil item ganjil dan genap dikorelasikan dengan rumus product
moment, yaitu:
∑ ∑ ∑
√(∑ ∑ ) (∑ ∑ )
Keterangan:
= Hubungan variabel X dan Y
x = Variabel bebas y = Variabel terikat N = Jumlah responden
4. Kemudian dicari koefisien reliabilitas angket dengan menggunakan rumus Sperman Brown sebagai berikut:
43
Keterangan:
= Koefisien reliabilitas
= Koefisien korelasi item ganjil genap
(Suharsimi Arikunto, 2006: 162)
Hasil analisis kemudian dibandingkan dengan tingkat reliabilitas dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
0,90 – 1,00 = Reliabilitas tinggi 0,50 – 0,89 = Reliabilitas sedang 0,00 – 0,49 = Reabilitas rendah
(Manase Malo dalam Tristiana, 2013: 55)
F. Teknik Analisis Data
Analisis data bertujuan untuk menyederhanakan kedalam bentuk yang lebih mudah untuk dipahami. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriftif kuantitatif untuk memecahkan masalah sekarang dengan cara mengumpulkan data, klasifikasi data, guna menggambarkan suatu keadaan secara objektif.
Untuk mengolah dan menganalisis data dalam penelitian ini akan digunakan rumus interval yaitu:
44
NT = Nilai Tertinggi NR = Nilai Terendah K = Kategori
Selanjutnya untuk mengolah dan menganalisis data dalam penelitian ini digunakan juga rumus presentase yaitu:
Keterangan: P = Presentase
F = Frekuensi pada klasifikasi atau kategori variabel yang bersangkutan N = Jumlah frekuensi dari seluruh klasifikasi kategori variabel
Dan untuk menafsirkan banyaknya presentase yang diperoleh maka digunnakan dengan kriteria sebagai berikut:
76% - 100% = Baik 56% - 75% = Cukup 40% - 55% = Kurang Baik 0% - 39% = Tidak Baik (Soejono Soekanto, 2006: 269)
Untuk menghitung rata-rata nilai kelas kuesioner menggunakan rumus:
̅ ∑ ∑
Keterangan:
45
∑ = Jumlah kelas kontrol/ kelas experimen
Xi = Besarnya nilai tes
Setelah semua data yang diperlukan terkumpul, dilanjutkan dengan uji daya pembeda dengan rumus t-test sebagai berikut:
√
Dimana:
Keterangan:
t = Hitungan statistik
X1 = Skor kelompok tinggi atau rata-rata nilai kelas kuesioner peserta didik non bina lingkungan
X2 = Skor kelompok rendah atau ata-rata nilai kelas kuesioner peserta didik bina lingkungan
= Jumlah responden peserta didik non bina lingkungan
= Jumlah responden peserta didik bina lingkungan
= S gabungan
dan = Simpangan baku √
78
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kepatuhan peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan dan jalur non bina lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan rumus uji daya pembeda (uji ) diperoleh hasil - test = 133,4 dan - tabel =
1,67. Dengan taraf signifikan 5% ternyata - test lebih besar dari - tabel yaitu
133,4 > 1,67. Sehingga dari hasil pengujian data tersebut diketahui bahwa tingkat kepatuhan antara peserta didik yang diterima melalui jalur bina lingkungan lebih rendah dibandingkan dengan peserta didik yang diterima melalui jalur non bina lingkungan di SMA Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015.
B. Saran
1. Kepada Pemerintah
79
sekolah maupun masyarakat, pengawasan, serta pendampingan terhadap proses penerimaan peserta didik baru secara langsung. Karena penerimaan peserta didik baru merupakan sebuah wadah profesionalisme yang akan menjadi salah satu ukuran keberhasilan pendidikan menengah khususnya, dan dunia pendidikan pada umumnya. Dalam hal ini kiprah pemerintah dinantikan kehadiranya oleh para guru, peserta didik, orang tua/wali, masyarakat, dan siapa saja yang peduli terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
2. Kepada Sekolah
Diharapkan agar dapat meningkatkan kualitasnya dalam peran sebagai wadah pendidikan dan proses belajar mengajar bagi peserta didik, dimulai dari mendidik dengan meningkatkan kepatuhan dan disiplin para peserta didik sehingga peserta didik memiliki motivasi dan kesadaran akan pendidikan yang jauh lebih baik, yang nantinya akan menjadi bekal untuk menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas. Dalam hal ini sekolah dapat mewujudkannya melalui pembinaan dan pelatihan-pelatihan disiplin yang bisa dilakukan melalui upacara bendera, kegiatan kebersihan, latihan baris berbaris, sampai dengan kegiatan ekstrakurikuler yang ada disekolah.
3. Kepada Orang Tua/Wali
80
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. dan Uhbiyati, Nur. 1991. Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Andiwinata, dan Sukarsih, Sri. 1992. Pusat Pengembangan Bahasa. Jakarta: Depdikbud
Arikunto, Suharsimi. 2010. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Danim, Sudarwan. 2010. Menjadi Komunitas Pembelajar. Jakarta: Bumi Aksara Dewey, Jhon. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Hamalik, Oemar. 2004. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Rineka Cipta Ihsan, Fuad H. 2005. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta Kadir. 1994. Penuntun Belajar PPKN. Bandung: Pen Ganeca Exact
Kemdikbud. 29 Oktober 2014. http://ppdb.kemdikbud.go.id/informasi Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press
Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No. 01 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan
Peraturan Walikota Bandar Lampung No. 49 Tahun 2013 Tentang Pedoman Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru
Sari, Feni Desna. 2014. Study Perbandingan Prestasi Belajar Peserta Didik Kelas VII yang Diterima Melalui Jalur Bina Lingkungan dan Non bina Lingkungan di SMPN 9 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2013/2014. Bandar lampung: Universitas Lampung. Skripsi
Soekanto, Soejono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Tristiana, Agus. 2013. Analisis Perbandingan Kinerja Guru Bersertifikasi dan Non Sertifikasi dalam Pelaksanaan Pembelajaran di SMPN 28 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013. Bandar lampung: Universitas Lampung. Skripsi
Tu’u, Tulus. 2004. Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta: Grasindo
Undang-Undang Pendidikan No. 20 Tahun 2003 Tentang Sintem Pendidikan Nasional
Wardati. dan Jauhar, Moh. 2011. Implementasi Bimbingan dan Konseling Sekolah. Jakarta : Prestasi Pustaka