• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH TERBENTUKNYA KOTA BARUSJAHE.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SEJARAH TERBENTUKNYA KOTA BARUSJAHE."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH TERBENTUKNYA KOTA BARUSJAHE

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Jurusan Pendidikan Sejarah

OLEH:

ROMI ANDREA BARUS

NIM. 31131210747

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

Romi Andrea Barus. NIM. 31213121047. Sejarah Terbentuknya Kota Barusjahe. Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan 2016.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Sejarah terbentuknya Kota Barusjahe.

Adapun Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi metode Studi pustaka (library research) dan Penelitian lapangan (field research), yaitu dengan mengumpul semua data yang berhubungan dengan judul. Studi Pustaka dilakukan dengan menelaah buku-buku atau dokumen dokumen yang relevan terhadap masalah yang akan diteliti dengan tujuan menjadikanya sebagai dasar atau landasan bagi peneliti untuk menguji kebenaran data yang diperoleh. Sedangkan pengumpulan data dari lapangan diperoleh dengan dari hasil wawancara langsung kepada narasumber. Dimana peneliti melakukan penelitian di Barusjahe Kabupaten Karo.

Dari penelitian yang dilakukan, Barusjahe memiliki sejarah yang panjang yang diteliti dari awal terbentuknya dari perkampungan yang didirikan oleh merga Barus yang datang dari kuta Usang Sidikalang, selanjutnya berkembang Barusjahe menjadi suatu kerajaan yaitu Kerajaan Sibayak Barusjahe. Kerajaan ini dipimpin oleh merga Barus dan dijadikan Kerajaan Berempat di Dataran tinggi Karo oleh Kerajaan Aceh. Masuknya Pemerintah Kolonialisme Belanda di Karo dengan melakukan intervensi militer di Tanah Karo menyebabkan jatuhnya Kerajaan Berempat di Tanah Karo yang ditandai dengan Korte Velklaring pada tahun 1907. Kerajaan Sibayak Barusjahe kemudian dijadikan wilayah Landschape oleh belanda yang berada di Onder Afdeling Karolanden.

Masuknya pendudukan Jepang di Indonesia tidak mengubah sistem kerajaan di Tanah Karo. Pasca Indonesia Merdeka terjadi Revolusi Sosial maret 1946 dilakukan oleh Barisan Pemuda Indonesia untuk meruntuhkan kekuasaan Kerajaan di Tanah Karo kemudian mendemokratisasi pemerintahan di Tanah Karo yang ditandai berdirinya Kecamatan Barusjahe. Masuknya kembali Belanda melalui Agresi Militernya menyebabkan terbentuknya NST (Negara Sumatera Timur) oleh Belanda, kemudian Barusjahe dijadikan sebagai wilayah Districhthoofd, dimana pada pembentukan itu Raja Barusjahe dijadikan sebagai Luhak di Tanah Karo

Pada tanggal 27 Desember 1949 Konferensi Meja Bundar (KMB) mempertahankan Kedudukan Pemerintahan RIS, hingga memunculkan Aksi tuntutan rakyat agar dihapuskannya Negara Sumatera Timur dan kembali ke dalam bentuk Negara Republik Indonesia. Aspirasi aspirasi pemuda terwujud dengan terbentuknya NKRI menjadikan Barusjahe kembali menjadi daerah Kecamatan yang berada di bawah Kewedanaan Karo berpusat di Kabanjahe.

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur peneliti ucapkan hanya kepada ALLAH SWT,

pencipta semesta alam dan seisinya, yang ang atas limpahan rahmat, taufiq dan

hidayah-Nya, peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.Shalawat beriring

salam kepada Rasulullah Muhammad S.A.W yang kelak kita harapkan Syafaatnya

di hari kemudian kelak. Tidak lupa pula saya berterimakasih kepada kedua orang

tua saya yang senantiasa mendoakan dan mendukung saya dalam mengerjakaan

skripsi ini.

Peneliti Menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan

skripsi ini, hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang

dimiliki peneliti. Maka dari itu peneliti berharap adanya masukan yang

membangun demi kesempurnaan penelitian berikutnya,

Banyak hal yang didapat Peneliti dalam hal pembuatan skripsi ini, dengan

selesainya penulisan ini, maka peneliti mengungkapkan banyak terimakasih

kepada:

1. Bapak saya Azrai Limbong Barus dan Mamak saya Sukarni br Ginting

yang telah memberikan banyak dukungan yang tidak akan terhitung

2. Ibu Dra. Lukitaningsih, M.Hum selaku dosen pembimbing saya yang

telah banyak membantu memberikan masukan dan semangat sehingga

penulis dapat menyelesaikan penulisan ini.

3. Bapak Drs. Ponirin, M.Si selaku dosen pembimbing akademik.

4. Ibu Dra. Flores Tanjung, MA selaku dosen penguji

(7)

iii

6. Bapak Drs. Yushar Tanjung, M.Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan

Sejarah

7. Bapak Syahrul Nizar Turnip M. Hum selaku Seketaris Jurusan

Pendidikan Sejarah

8. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Sejarah yang telah

membagikan ilmu dan pengalamanya dalam pengembangan wawasan

keilmuan dan kemajuan berfikir untuk memajukan dunia pendidikan.

serta membimbing kepada penulis selama mengikuti pendidikan di

Universitas Negeri Medan

9. Untuk Abang saya Hendra, Kakak saya Lia,Sari dan Kembaran saya

Tika, telah memberi dukungan kepada saya

10.Buat Teman temanGery, Fajar, Jefry, Reza, Jaka,Arifin, John,Senior

Surya, Tiwa, Rafika, Suci, Ira. Semua temanREG B 2012 tak mungkin

diucapkan satu satu, juga teman kelas lain yang telah bersama sama

menimba ilmu di Jurusan Pendidikan Sejarah.

Akhir kata penulis mengucapkan terimaksih banyak kepada pihak pihak

yang telah memberi masukan atas tercapai tujuan untuk membangun penuliasan

skripsi ini. Semoga apa yang dituliskan oleh peneliti dalam skripsi ini dapat

bermanfaat bagi pembaca. Terimakasih

Medan, Agustus 2016

(8)

iv DAFTAR ISI

ABSTRAK i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iv

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1.Latar Belakang Masalah 1

1.2.Identifikasi Masalah 6

1.3.Rumusan Masalah 6

1.4.Tujuan Penelitian 7

1.5.Manfaat Penelitian 7

BAB II Kajian Pustaka dan Kerangka Konsep 8

2.1. Kajian Pustaka 8

2.2. Kerangka Konsep 9

2.2.1. Barusjahe 9

2.2.2. Sejarah Kota 10

2.2.3. Pertumbuhan dan Perkembangan Kota 13

3.1. Kerangka Pemikiran 15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 18

3.1. Metode Penelitian 18

3.2. Lokasi Penelitian 19

3.3. Sumber Data 19

(9)

v

3.3.2. Data Sekunder 20

3.4. Teknik Pengumpulan Data 20

3.5. Teknik Analisis Data 21

BAB IV PEMBAHASAN 23

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 23

1. Geografi dan Iklim 23

2. Pemerintahan 24

3. Penduduk 25

4. Ketenagakerjaan 25

5. Pendidikan 26

6. Kesehatan 27

7. Pertanian 28

8. Transportasi dan Komunikasi 29

B. Berdirinya Kerajaan Barusjahe 30

1. Latar Belakang Berdirinya Barusjahe 30

2. Berdirinya Kerajaan Sibayak Barusjahe 30

3. Kerajaan Barusjahe Sebelum Kedatangan

Kolonialisme Belanda 34

4. Kehidupan Masyarakat Barusjahe sebelum Kedatangan

Kolonialisme Belanda 45

C. Perkembangan Kerajaan Barusjahe Pada Masa

Kolonialisme Belanda 48

(10)

vi

2. Kerajaan Barusjahe Dibawah Pemerintah Kolonialisme

Hindia Belanda1907-1942 53

D. Pemerintahan Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan

di Tanah Karo 63

E. Terbentuknya Barusjahe Sebagai Ibukota Kecamatan

Pasca Kemerdekaan 65

1. Revolusi Sosial di Tanah Karo 65

2. Berakhirnya Pemerintahan Swapraja

dan Terbentuknya Kecamatan Barusjahe 68

3. Negara Sumatera Timur

dan Pembentukan Distrik Barusjahe 69

4. Barusjahe Kembali Sebagai Ibukota Kecamatan 72

BAB V KESIMPULAN 75

A. Kesimpulan 75

B. Saran 78

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Barusjahe adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Karo,

Sumatera Utara yang merupakan ibukota Kecamatan Barusjahe yang menaungi 19

desa yang meliputi desa Rumamis, Semangat, Sinaman, Talimbaru, Pertumbuken,

Bulan Julu, Bulan Jahe, Sukanalu, Sukajulu, Barusjahe, Serdang, Penampen,

Sarimanis, Tangkidik, Paribun, Sikab, Persadanta, Tanjung Barus dan

Barusjulu.(Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo. Statistik Daerah Kecamatan

Barusjahe.2015).

Barusjahe didirikan oleh orang yang bermerga Barus yang merupakan

merga dari cabang Karo karo yang masuk dalam lima merga bangsa Karo

(Mergasilima). Berdirinya suatu pemukiman di Barusjahe dapat dikaitkan dengan

invasi beberapa suku yang disebut saat ini suku Karo. Invasi yang dilakukan

memiliki motif untuk mempertahankan kehidupanya dengan melintasi tempat

yang jauh untuk mencari makanan dan iklim yang dapat mendukung

kelangsungan kehidupanya. Hidup yang berpindah pindah telah mempengaruhi

pemikiran untuk mencari tempat yang sesuai untuk kehidupanya, yang kemudian

memilih hidup menetap dan mendirikan suatu perkampungan (Kuta)

Seperti halnya pada suku di Indonesia orang Karo sebagian masih hidup di

daerah pedesaan yang kemudian berkembang. Dikalangan orang batak ada

(12)

2

huta, kuta, lumban, sosor, bius, pertahian, urung dan pertumpukan. Payung

Bangun dalam Koentjaraningrat (2007:98). Pada orang Karo kesatuan teritorial

ini disebut kesain yang merupakan sekelompok rumah yang memiliki halaman

bersama yang dikepalai oleh merga pendiri kesain yang kemudian akan

berkembang menjadi kuta yang merupakan kelompok dari kesain, yang terdiri dari

penduduk yang memiliki beberapa merga berbeda beda. Sebagai masyarakat yang

berada di dataran tinggi Karo, terbentuknya suatu budaya menjadi panutan bagi

masyarakat Karo dalam berhubungan dengan sang pencipta alam beserta isinya

dan khususnya hubungan antara masyarakat di dalamnya, semua pola hubungan

tersebut tertuang dalam sebuah aturan tidak tertulis yang disebut budaya.

Aspek budaya yang mana menurut Singarimbun dalam Tarigan (1989:3).

merupakan identitas masyrakat karo, disebutkan ada empat identitas meliputi

marga, bahasa, kesenian dan adat istiadat. Merga merupakan identitas turunan

yang didapat dari ayah (Patrilineal). Merga bagi suku Karo merupakan identitas

yang paling utama dan setiap perkenalan dalam masyarakat. Ditiap tiap kuta di

Tanah Karo merga tersebar, bercampur, berdiam, berumah adat, dan mempunyai

hak buatan tanah yaitu sebagai yang merga di tuakan dinamakan bangsa anak

tanah. Perkembangan masyarakat dengan masuknya merga lain yang ditandai

dengan datangnya penduduk dari tempat lain, pernikahan dengan merga lain juga

menyebabkan meluasnya perkembangan di suatu kuta tersebut. Masyarakat yang

saling berinteraksi di lokasi Barusjahe dalam waktu yang lama telah menciptakan

(13)

3

Masyarakat menetap inilah yang menjadi awal mula berdiri suatu

kampung, desa, kota bahkan menjadi suatu negara. Kuta Barusjahe terdapat

personalia pemerintahanya beserta juga rakyatnya. Setiap kampung dipimpin oleh

perbapaan atau penggulu yaitu merga yang mendirikan kuta yang dibantu anak

beru yaitu ipar dari saudara perempuanya pengulu dan senina yaitu sepupu dari

ayah yang diperluas pengertianya saudara yang memilik marga yang sama.

Perkembangan kampung menyebabkan penduduk pindah dan mendirikan gubuk

gubuk yang kemudian nantinya berkembang menjadi kampung yang baru di

sekitar daerah Barusjahe, sehingga pemeritahannya seperti pengulu,anak beru dan

senina sudah ada dikampung tersebut.

Perpindahan penduduk dari kampung induk disebabkan kurangnya areal

perladangan dan perselisihan peperangan antar sesamanya dan mulai banyaknya

pendatang. Inilah awalnya mulanya berdiri kampung kampung lain diluar

Barusjahe, perpindahan penduduk tersebut masih memiliki kesatuan dan memiliki

pertalian saudara dengan kampung induk, kemudian kampung-kampung yang

berdiri tersebut tetap bertahan dengan pengaruh kampung terdahulunya yaitu kuta

Barusjahe. Selanjutnya terbentuklah Urung yaitu federasi kuta yang merupakan

persatuan kuta kuta yang berdiri diluar Barusjahe yang memiliki terikatan dengan

kuta induknya, yang ditandai berdirinya urung si VII kuta berpusat di Barusjahe.

Barusjahe memperkuat pengaruh dan kekuasaanya ke semua kuta yang

terikat dan terjalinlah hubungan antar kampung-kampung. Perluasan wilayah

ditandai dengan bergabungnya urung si VI kuta yang berpusat di Sukanalu yang

(14)

4

Barusjahe. Bergabungnya urung ini disebabkan oleh peperangan dan diplomasi

yang dilakukan urung Barusjahe dengan urung Sukanalu yang melahirkan daerah

baru yang berbentuk kerajaan yang bernama Kerajaan Sibayak Barusjahe. Pada

tahun 1898, Belanda melakukan intervensi di dataran Tinggi Karo dengan terjadi

beberapa perlawanan di daerah Karo. Tepatnya pada tahun 1907, Barusjahe

menandatangani perjanjian pernyataan pendek disebut Korte Verklaring yang

menandakan Barusjahe takluk kepada Belanda dan mengakui negerinya bagian

dari Hindia Belanda dan melaksanakan perintah yangg diberi pemerintah Hindia

Belanda. Pada tahun sebelumnya 1906 setelah Karo dapat ditaklukkan menandai

Karo berada dalam administrasi Belanda yang tertuang dalam Beslit Gubernemen

tanggal 12-12-1906 no 2.2 diresmikan dataran Tinggi karo.

Tanah Karo dan Simalugun dijadikan dalam satu Afdeling (Kabupaten)

Simalungun en Karolanden dalam Residen Sumatera Timur. Kemudian Barusjahe

dijadikan sebagai Landschape (Swapraja) yang memiliki pemerintahan sendiri

(Zelfbestur) Yaitu kerajaan yang memiliki kekuasaan di wilayahnya disamping

adanya empat swapraja lain yang berkuasa di Onder Afdeling Karolanden.

Kerajaan Barusjahe berakhir pada pasca kemerdekaan, ketika dilakukan

pertemuan raja raja di Sumatera Timur dengan Gubernur Hasan perihal

demokratisasi swapraja, pertemuan itu mempercepat terjadi Revolusi sosial di

Tanah Karo oleh Badan Pejuang Indonesia pada Maret 1946. Berakhirnya

pemerintahan Swapraja kemudian digantikan oleh pemerintahan demokrasi

berdasarkan kedaulatan rakyat, yang dimana Sumatera memiliki struktur

(15)

5

Kewedanaan di Kabupaten Karo yaitu Kewedanaan Karo, Hilir, dan Jahe.

Barusjahe menjadi Kecamatan dibawah Kewedanaaan Karo kemudian beralih

dibawah Kewedanan Tigapanah sesuai surat keputusan residen pada tahun 1947.

Pada akhir November 1947 Belanda mekukan agresi militer di Karo

dengan tujuan merebut kembali Indonesia yang telah merdeka, keberhasilan

Belanda menguasai kembali Sumatera Timur, dibentuklah Negara Sumatra Timur

(NST) buatan Van mook, kemudian Kecamatan Barusjahe dijadikan daerah

distrik yaitu Districthoofd Van Barusjahe. Pada tanggal 27 desember 1949

Konferensi Meja Bundar (KMB) memberikan pemerintahan penuh terhadap RIS

yang diakuinya NST, hingga memunculkan ATR (aksi Tuntutan Rakyat) yaitu

aspirasi pemuda Tanah Karo untuk bergabung dengan Negara Republik Indonesia

dan Membubarkan NST. Aspirasi kemudian terpenuhi setelah kembalinya

Indonesia ke Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan UUDS 1950,

dengan terbentuknya NKRI, Pemerintahan membentuk kembali Kabupaten Tanah

Karo yang terdiri dari dua Kewedanaan, Wedana Selatan dan Utara. Barusjahe

masuk dalam Kewedanaan utara yang dipimpin seorang Camat, Babo Sitepu.

Kembalinya Barusjahe menjadi daerah Kecamatan ketika dibentuknya

Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang bertahan hingga sampai saat ini

sebagai pusat administrasi Pemerintahan Kecamatan Barusjahe. Oleh karena itu,

kecamatan Barusjahe memiliki sejarah yang panjang sejalan dengan sejarah di

Karo dari awal berdirinya hingga terbentuknya menjadi salah satu Kecamatan di

(16)

6

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan dapat diidentifikasi

sebagai berikut :

1. Latar belakang berdirinya kerajaan Barusjahe yang menjadi embrio kota

Barusjahe

2. Perkembangan Kerajaan Barusjahe pada masa kolonialisme Belanda

3. Proses terbentuknya Barusjahe sebagai ibukota Kecamatan Pasca

Kemerdekaan

1.3. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka yang menjadi rumusan

masalah ini adalah:

1. Bagaimana latar belakang berdirinya kerajaan Barusjahe yang menjadi

embrio kota Barusjahe

2. Bagaimana perkembangan kerajaan Barusjahe pada masa kolonialisme

Belanda.

3. Bagaimana proses terbentuknya Barusjahe sebagai ibukota Kecamatan

(17)

7

1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang dilakukan ialah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui latar belakang berdirinya Kerajaan Barusjahe yang

menjadi embrio kota Barusjahe

2. Untuk mengetahui perkembangan kerajaan Barusjahe pada masa

kolonialisme Belanda

3. Untuk mengetahui proses terbentuknya Barusjahe sebagai ibukota

Kecamatan pasca kemerdekaan

1.5. Manfaat Penelitian

Dengan tercapainya tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat

memberikan manfaat sebagaimana dicantumkan dibawah ini :

1. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada pembaca

terutama penduduk di Kecamatan Barusjahe

2. Sebagai menambah pengetahuan bagi peneliti dan pembaca tentang

Sejarah Terbentuknya Kota Barusjahe

3. Sebagai bahan masukan yang dijadikan sumber informasi yang ingin

meneliti tentang Sejarah Terbentuknya Kota Barusjahe

4. Sebagai pengembangan ilmu bagi peneliti sendiri dalam rangka

pengembangan selanjutnya

5. Sebagai penambah pebendaharaan Perpustakaan UNIMED. khususnya di

(18)

75

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Berdirinya pemukiman di Barusjahe dimulai dari invasi kelompok yang

tersingkir dan mendirikan perkampungan di Dataran Tinggi.

2. Barusjahe didirikan oleh bermerga Barus yang kemudian berkembang dan

memunculkan kesain dan kuta di luar Barusjahe. Hubungan yang

terjadinya antar kuta kuta yang berdiri dengan kuta induk menciptakan

kesatuan yaitu suatu federasi kuta yaitu Urung si VII kuta yang berpusat di

Barusjahe.

3. Perkembangan Barusjahe ditandai dengan bergabungnya Urung si VI kuta

di Sukanalu dengan Urung si VII Kuta di Barusjahe yang membentuk

suatu kesatuan wilayah dan hukum dibawah Kerajaan Sibayak Barusjahe .

4. Takluknya kerajaan Haru oleh Aceh, memperluas pengaruh Aceh ke

dataran tinggi Karo, kemudian mengangkat Kerajaaan Berempat di dataran

tinggi Karo, diantaranya Kerajaan Sibayak Barusjahe.

5. Pada masa sebelum kedatangan Belanda, putra dari Raja Barusjahe

banyak yang keluar, kemudian mendirikan dusun di dataran rendah. Raja

dan penduduk juga sudah melakukan kontak dengan dataran rendah

terutama kontak perdagangan.

6. Penetrasi yang dilakukan Belanda di dataran tinggi memunculkan

(19)

76

ditandai dengan menyerahnya Raja Berempat melalui Korte Velklaring

1907.

7. Penataan Administrasi dilakukan pemerintah Belanda dengan membentuk

Afdelling Simalungun en Karolanden, kemudian Kerajaan Barusjahe

menjadi wilayah Swapraja (Landschape) yang memiliki pemerintah sendri

(Zelf Bestur)

8. Pemerintah Hindia Belanda, menerapkan sistem yang mengeksploitasi

masyarakat Karo seperti Kerja Paksa, Pengutipan Pajak hinga Denda

9. Pembangunan dilakukan Pemerintah Hindia Belanda di Onder Afdelling

Karolanden seperti pembangunan akses jalan, pembangunan Ekonomi

melalui Dorpbanken Bank, sistem pengadilan melalui Raja Berempat

10.Sistem Pemerintahan dan Administrasi di dataran Tinggi karo

menciptakan suatu administrasi yaitu Onder Afdelling Karolanden yang

terbagi dari Landschape menjadi embrio terbentuknya Kabupaten Tanah

Karo dan Kecamatan- Kecamatan di Karo.

11.Pada masa pendudukan Jepang, sistem Pemerintahan terkosentrasi bidang

militer dengan membentuk tentara tentara tanah air, kekalahan Jepang

dalam Perang Dunia II, dimanfaatkan Pemuda dalam memproklamasikan

kemerdekaan di Tanah Karo

12.Pasca kemerdekaan Indonesia, terjadi gerakan mendemokratisasi Kerajaan

(20)

77

13.1 Mei 1946, demokratisasi diwujudkan, Karo terbagi atas tiga kewedanaan

yaitu kewedanaan Karo, Karo Hilir dan Karo Jahe dimana terbentuk

Kecamatan Barusjahe dari 5 Kecamatan dalam Kewedanaan Karo.

14.Agresi Militer Belanda berhasil menguasai Sumatera Timur yang

berbuntut didirikanya NST (Negara Sumatera Timur) pada 8 Oktober 1947

oleh Belanda, pemerintahan di Karo kemudian dipimpin oleh Luhak dan

mengubah Kecamatan Barusjahe menjadi Districhhooft van Barusjahe

15.4 April 1949, dibentuk PPMK, untuk melawan Pemerintah NST.

16.27 Desember 1949 terbentuk Negara Republik Indonesia Serikat yang

merugikan pihak pejuang dimana dalam konstitusi RIS seluruh Sumatera

Timur termasuk bagian NST bukan RI..

17.Aspirasi aspirasi penolakan terhadap negara NST yang tersebar di daerah

negara RIS terpenuhi setelah kembalinya Indonesia ke Negara Kesatuan

Republik Indonesia berdasarkan UUDS 1950,

18.Pemerintahan Kabupaten Tanah Karo dibentuk kembali, yang terdiri dari

dua Kewedanaan, yaitu Wedana Selatan yang dipimpin Matang sitepu

yang membawahi lima Kecamatan dan Wedana utara yang dipimpin

Kendal Keliat yang membawahi lima kecamatan yang diantaranya

(21)

78

B. Saran

Selama melakukan penelitian dan penulisan mengenai skripsi ini, Literatur

literatur yang dibutuhkan mengenai Barusjahe kurang memadai, permasalahan

yang dialami peneliti dalam melakukan wawancara dengan tokoh tokoh yang ada

di Kecamatan Barusjahe didapatkan beberapa Subyektifitas narasumber.

Permasalahan ini dapat diatasi dengan langkah langkah yang dilakukan lembaga

lembaga pemerintahan yang berkaitan dengan menyediakan data mengenai

Sejarah di Tanah Karo. Seperti saat ini media internet begitu mengglobal,

disarankan Pemerintah Kabupaten Karo menyediakan sumber sumber data yang

lebih valid melalui Web Pemerintah mengenai Sejarah di Tanah Karo, agar

kedepanya diharapkan penelitian penelitian mengenai Tanah Karo benar benar

Objektif dan menjadi sumber yang relevan.

Apresiasi juga dapat diberikan kepada pemuda pemuda Barusjahe dalam

memperhatikan daerahya, dimana saat ini sudah di mulai muncul sebuah Visi

membangun Barusjahe dengan langkah mendirikan Barusjahe 1000 bunga, dan

beberapa langkah lain seperti menjaga Cagar Budaya diantaranya situs Rumah

Sibayak Barusjahe dan Objek objek lainya.

Semua penduduk Kecamatan Barusjahe khususnya berharap program ini

dapat terus berjalan dengan semestinya dan sekali lagi diharapkan dukungan dan

kerjasama Pemerintah Kabupaten Karo dan Pemerintah Daerah setempat, untuk

untuk meningkatkan Potensi potensi daerah di Barusjahe baik itu potensi

(22)

79

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo. 2015. Statistik Daerah Kecamatan

Barusjahe

Barus,S.M. 1997. Barus Mergana. Kabanjahe : Penerbit Toko S. Barus

Bukit,M. 1994. Sejarah Kerajaan dan Adat Istiadat Karo Hasil Kongres 1965.

Kabanjahe : Penerbit Toko Bukit

Daldjoeni. 1992. Seluk Beluk Masyrakat Kota. Bandung : Penerbit Alumni

Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Medan. 2013. Buku Pedoman Penulisan

Skripi dan Proposal Penelitian Mahasiswa Program Studi Pendidikan

Sejarah. FIS . UNIMED

Karo-Karo Liasta dan Bangun Teridah. 2002. Tanah Karo Simalem Bunga

Rampai. Jakarta : Yayasan Mburo Ate Tedeh

Kochar, S.K. 2008. Teaching Of History. Jakarta : Grasindo

Koentjaraningrat. 2007. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta :

Penerbit Djambatan

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta

Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya

Kuntowijoyo. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Pustaka

Luckman Sinar,T. 2006. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera

Timur. Medan : Yayasan Kesultanan Serdang

(23)

80 Obor Indonesia

Mirsa, Rinaldi. 2012. Elemen Tata Ruang Kota. Yogyakarta : Graha Ilmu

Perret, Daniel. 2010. Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu di Sumatera

Timur Laut. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia

Purnawarman, Basundoro. 2012. Pengantar Sejarah Kota. Yogyakarta :

Penerbit Ombak

Reid, Anthony. 2011. Menuju Sejarah Sumatera. Jakarta : Yayasan Obor

Indonesia

Sjamsudin, Helius. 2007. Metodologi Penelitian Sejarah. Yogyakarta :

Penerbit Ombak

Singarimbun, Masri. 1992. Garamata Perjuanganya Melawan Penjajahan

Belanda.Jakarta: Balai Pustaka

Tarigan, Sarjani. 2014. Sekilas Sejarah Pemerintahan Karo Simalem. Medan :

SI BNB-BABKI

Sumber Internet

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22676/4/Chapter%20II.pdf

diunduh pada tanggal 20 April 2016 pukul 14: 20 wib

http://karokab.bps.go.id/backend/pdf_publikasi/Barusjahe-Dalam-Angka

Referensi

Dokumen terkait

Teknik pembiusan dengan penyuntikkan obat yang dapat menyebabkan pasien mengantuk, tetapi masih memiliki respon normal terhadap rangsangan verbal dan tetap dapat mempertahankan

(1) Satuan Polisi Pamong Praja mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang pembinaan ketertiban umum dan ketentraman

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan pertolongan-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Faktor

Terdapat hubungan yang signifikan antara pembinaan staf ketatausahaan dengan kualitas pelayanan mahasiswa di Tiga Pergurup Tinggi Swasta Kota Bandung berarti bahwa makin

Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM merupakan potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif

Future value (terminal value) adalah nilai uang yang akan datang dari satu jumlah uang atau suatu seri pembayaran pada waktu sekarang, yg dievaluasi dengan suatu tingkat

1) Pola pergerakan yang dihasilkan menunjukkan bahwaindikasi dekonsentrasi telah terjadi. Semua pola pergerakan yang dihipotesakan terjadi dalam studi ini. Pola pergerakan yang

[r]