Ayat Tentang Konsumsi
Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi Prodi Perbankan Syariah Semester IV/A
Disusun Oleh : Kelompok III
Bella Bellita : 15631009 Hutri Candra : 15631034 Istiqomah : 15631036
Dosen: Hardivizon, M.Ag Prodi Perbankan Syariah Jurusan Syariah Dan Ekonomi Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
Ayat Tentang Konsumsi
Konsumsi berlebih – lebihan, yang merupakan ciri khas masyarakat yang tidak mengenal Tuhan, dikutuk dalam Islam dan disebut dengan istilah isra (pemborosan) atau tabzir (menghambur – hamburkan harta tanpa guna).Tabzir berarti menggunakan barang dengan cara yang salah, yakni, untuk menuju tujuan – tujuan yang terlarang seperti penyuapan, hal – hal yang melanggar hukum atau dengan cara yang tanpa aturan. Pemborosan berarti penggunaan harta secara berlebih – lebihan untuk hal – hal yang melanggar hukum dalam hal seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, atau bahkan sedekah.Ajaran – ajaran Islam menganjurkan pada konsumsidan penggunaan harta secara wajar dan berimbang, yakni pola yang terletak diantara kekikiran dan pemborosan.Konsumsi diatas dan melampaui tingkat moderat (wajar) dianggap lisraf
dan tidak disenangi Islam.
atas penggunaan suatu produk sehingga mengurangi atau menghabiskan daya gunaproduk..1
Ajaran Konsumsi pada arti khusus untuk pola makan dan minum ada dalam
al-Qur‟an yang diambil dari kata kulu dan isyrabu. Diantara ayat-ayat yang membahas
tentang hal tersebut adalah:
1. Q.S Al-A‟raf ayat 31
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid,
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”
مكتني اوذخ
: pakailah pakaianmu yang indahاوب شاو اولكو
: makan dan minumah1
اوف ست َو
: dan janganah berebih-ebihanDalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa ayat tersebut mengajak anak-anak Adam(manusia) untuk memakai pakaian yang indah, minimal dalam bentuk menutup aurat karena membukanya pasti buruk. Lakukan itu setiap semasuki dan berada di masjid, naik masjid dalam arti bangunan khusus maupun dalam pengertian yang luas, dan makanlah makanan yang halal,enak,bermanfaat lagi bergizi, berdampak baik. Minumlah apa saja yang kamu sukai selama tidak memabukkan , tidak juga menganggu kesehatan, dan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal , baik dalam beribadah dengan menambah cara atau kadarnya. Demikin juga dalam makan dan minum atau apa saja karena sesungguhnya Allah tidak menyukai, yakni tidak melimpahkan rahmat dan ganjaran bagi orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal apapun.Atas dasar itu, penggalan ayat tersebut mengajarkan sikap proporsional dalam mengonsumsi makanan dan minuman.2
Sebelum Quraish Shihab, Al-Thabari juga memberikan isyarat dalam tafsirnya, bahwa dalam kegiatan konsumsi, manusia tidak diperbolehkan berlebih-lebihan. Perintah Allah juga disabdakan oleh Nabi dalam hadis yang diriwayatkan
oleh Ibn Abbas:”Allah telah menghalalkan makan dan minum selama itu tidak
berlebih-lebihan dan menampakkan kesombongan.” Selain itu, denganmengutip
riwayat dari Ibn Zaid, Al-Thabari menafsirkan kata dengan tidak boleh memakan sesuatu yang haram. Ia menjelaskan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batasannya dalam hal yang halal ataupun yang haram, yakni dengan menghalalkan sesuatu yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan. Sebaiknya, Allah menyukai orang yang menghalalkan sesuatu yang dihalalkannya dan mengharamkan sesuatu yang diharamkannya. Demikian itu merupakan keadilan yang dia perintahkan.3
2. QS. An-Nahl ayat 66
“Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi
kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa)
susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang
meminumnya”
3
Ibnu Jarir Ath-Tabhari, jami‟ al-Bayan „an Ta‟wil ayy al-Qur‟an, tahqiq: Abdullah ibn Abdul Muhsin
: binatang ternak
: susu yang bersihAl-Qurthubi mengungkapkan, dengan ayat ini Allah memperingatkan kepada manusia akan kekuasaannya yang begitu agung dengan keluarnya susu yang murni diantara kotoran dan darah. Faras adalah kotoran binatang yang turun keperut pertama dari binatang memamah biak, tetapi jika kotoran itu keluar, maka ia tidak disebut faras. Jadi maknanya bahwa makanan itu (susu) yang berada didalam kotoran dan darah pun menjadi bagian di dalamnya, kemudian susu itu menjadi terpisah dari darah. Betapa Allah yang Maha mengetahui bahwa susu ini keluar dari antara kotoran dan darah di dalam urat. Sebagaimana dikutip Al-Qurthubi, Ibn Abbas mengatakan, bahwa binatang ternak itu suka makan. Kemudian susu itu lezat dan mudah yang tidak mungkin tersedak bila meminumnya. Kata saigan dapat di artikan mudah masuknya di dalam kerongkongan.Diriwayatkan dari Nabi SAW. Bahwa susu itu apabila diminum, maka tidak ada seorangpun yang bias tersedak karenanya.4
Berbeda dengan sayyid Quthub davam penafsirannya beliau seakan-akan mengatakan bahwa ayat ini menyisakan pertanyaan: “susu yang mengalir di kantong
kelenjar hewan ternak ini sesungguhnya dari apa?” ia hanya dapat diketahui tentang
4
keberadaannya. Ia murni dan terlepas di antara kotoran dan darah. Faras adalah sesuatu yang tersisa di dalam perut hewan ternak setelah terjadi pencernaan makanan. Hisapan usus untuk perahan yang berpindah ke darah.Darah ini mengalir menuju setiap sel tubuh. Jika menjadi sari susu dalam kantong kelenjar yang berubah, maka ia menjadi susu yang baik yang diciptakan oleh Allah, dengan cara pembuatannya tidak diketahui oleh seseorang pun.5
Menurut penafsiran Quraish Shihab, ayat ini dimulai dengan penyebutan binatang ternak karena merupakan sesuatu yang paling banyak di konsumsi dan dekat dalam benak masyarakat Arab ketika itu. Adapun yang dihasilkan oveh binatang ternak yang banyak dikonsumsi oleh mereka sevain dagingnya adalah susu perahannya. Dengan demikian daging binatang ternak dan susu keduanya dibutuhkan manusia dalam rangkaian makanan yang sehat dan sempurna.
Dalam ayat ini adalah mengingatkan bahwa sesungguhnya pada binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing,dan domba, benar-benar terdapat pelajaran yang sangat berharga, yang dapat mengantarkan manusia menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah. Allah menganugrahkan minuman dari apa yang berada dalam perut binatang-binatang betina itu, yaitu antara sisa-sisa makanan dan darah berupa susu murni yang tidak bercampur dengan darah sekalipun darahnya. Tidak juga bercampur dengan sisa makanan sekalipun baunya, lagi mudah ditelan bagi manusia yang
5
meminumnya.Kemudahan yang dimaksud disini bukan saja karena susu adalah cairan, tetapi juga karena ia lezat, bergizi,dan bebas dari berbagai macam bakteri.6
3. Q.S. Al-Baqarah [2]: 268
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh
kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan
daripada-Nya dan karunia[170]. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengatahui”
Dalam ayat ini dikatakan, setan hendak menakut-nakuti manusia dengan sedekah dan zakat yang diwajibkan dalam hartanya akan membuatnya menjadi miskin dan menyuruh untuk berbuat maksiat kepada Allah dan tidak menaatinya. Sebaiknya, Allah menjanjikan kepada manusia yang beriman untuk menutupi kejahatan-kejahatannya dengan memaaafkan dari hukuman kejahatan itu, maka dia mengampuni dosa-dosa manusia karena sedekah yang diberikannya.Dia juga menjanjikan untuk mengganti sedekah yang dilakukan setiap orang, maka dia
6
anugerahkan kepada manusia pemberian-pemberiannya dan memudahkan rezeki-rezeki bagi mereka.Demikian keterangan dalam tafsir Ath-Thabari.7
4. Al-Maidah[5]: 88
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan
kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”
Setelah ayat yang lalu melarang mengharamkan apa yang halal, disini di tegaskannya perintah memakan yang halal dan, dengan demikian, melalui ayat ini dan ayat sebelumnya, yang menghasilkan makna larangan dan perintah bolehnya memakan segala yang halal. Dengan perintah ini tercegah pulalah praktik-praktik keberagamaan yang melampaui batas.Dan makanlah makanan yang halal, yakni yang bukan haramlagi baik,lezat,bergizi dan berdampak positif bagi kesehatan
dariapa yang Allah telah rezekikan kepada kamu, dan bertaqwalah kepada Allah
dalam segala aktivitas kamu yang kamu terhadapnya adalah mu‟minun, yakni orang-orang yang mantap keimanannya.
Yang dimaksud dengan kata makan dalam ayat ini adalah segala aktivitas manusia. Pemilihan kata makan, disamping karena ia merupakan kebutuhan pokok
7
manusia, juga karena makanan mendukung aktivitas manusia. Tanpa makan, manusia lemah dan tidak dapat melakukan aktivitas.
Ayat ini memerintahkan untuk memakan yang halal lagi baik. Ketika menafsirkan Q.S. Al-baqarah[2]: 68,
Mereka menjawab: " Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia
menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu." Musa menjawab:
"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak
tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu".
dan ada juga yang kurang baik untuknya, walaupun baik buat yang lain. Ada makanan yang halal, tetapi tidak bergizi, dan ketika itu ia menjadi kurang baik. Yang diperintahkan adalah yang halal lagi baik.8
Analisa dari kami kelompok tiga ini terhadap ayat-ayat yang membahas tentang konsumsi kami ambil dari al-Qur‟an yaitu al-A‟raf ayat 31, an-Nahl ayat 66, al-Baqarah ayat 268 dan al-Maidah ayat 88. Bahwa semua surat yang dibahas diatas menjelaskan kepada kita semua bahwa apa saja yang kita konsumsi sebagai manusia selama hidup haruslah memenuhi syarat dan ketentuannya masing-masing, agar kita layak mengkonsumsinya dan mendapat ridha dari Allah SWT. Seperti halnya makanan, banyak orang sudah tahu dan paham akan makanan yang halal dan haram sebagaimana yang telah dijelaskan didalam al-Qur‟an. Contoh pada surat al-Maidah ayat 3 ini :
8
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah {Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an. Jakarta: Lentera
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang
disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang
ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya,
dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga)
mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu)
adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk
(mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan
takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama
bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..”
Pada ayat diatas memerintahkan kita untuk memakan makanan yang baik untuk dimakan.
Al-A‟raf ayat 31, ayat ini menyuruh kita agar beretika baik, sopan dan indah dalam berpakaian ketika kemasjid. Mengapa demikian? Menurut kelompok tiga Karena didalam masjid adalah tempat suci untuk beribadah dan menghadap Allah SWT. Bertujuan agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Dan ayat ini pula menyuruh kita agar mengkonsumsi makanan dan minuman untuk tidak berlebih-lebihan untuk mengajarkan sikap proporsional dalam mengonsumsi makanan dan minuman.
An-Nahl ayat 66, Dalam ayat ini adalah mengingatkan bahwa sesungguhnya pada binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing,dan domba, benar-benar terdapat pelajaran yang sangat berharga, yang dapat mengantarkan manusia menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah.
Al-Baqarah ayat 268, dalam surat ini membahas tentang bagaimana sang iblis untuk menggoda manusia agar berbuat maksiat dan tidak menaati perintah Allah SWT. Seperti halnya zakat dan sedekah, iblis mempengaruhi manusia agar manusia tidak bersedekah dan zakat dengan menakut-nakuti menjadikan manusia jatuh miskin.
Al-Maidah ayat 88, surat ini menegaskan kita untuk memakan semua yang halal dan dengan perintah surat ini tercegah pulalah praktik-praktik keberagamaan yang melampaui batas.
dalam pelayanan zakat. Niat yang baik untuk memberi atau menyumbangkan harta kita ialah suatu bentuk kepedulian yang bagi hukum islam itu diwajibkan.
Menurut Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bahwa keterampilan interpersonal (interpersonal skill) adalah keterampilan untuk mengenali dan merespon secara layak perasaan, sikap dan perilaku, motivasi serta keinginan orang lain. Bagaimana diri kita mampu membangun hubungan yang harmonis dengan memahami dan merespon manusia atau orang lain merupakan bagian dari
keterampilan interpersonal.
Dalam buku Multiple Intelligences, mengungkapkan 7 (tujuh) kecerdasan atau keterampilan yang dimiliki manusia salah satunya adalah keterampilan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain serta melihat mood, temperamen, dan motivasi guna membentuk dan menjaga hubungan antar manusia, keterampilan ini disebut juga keterampilan interpersonal (interpersonal skill).9
9
FERNANDES, Sisco; VIZON, Hardi.Hubungan Interpersonal Skill Karyawan terhadap Minat Masyarakat
Muslim Menjadi Anggota Koperasi Syari‟ah.AL-FALAH : Journal of Islamic Economics, [S.l.], v. 1, n. 2, p. 129-146, dec. 2016. ISSN 2548-3102. Available at:
DAFTAR PUSTAKA
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah {Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an. Jakarta:
Lentera Hati, 2002. Vol.III
Virzon Hardi, M.Ag, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi. LP2 STAIN Curup, Rejang Lebong.
Bengkulu, 2013
Ibnu Jarir Ath-Tabhari, jami‟ al-Bayan „an Ta‟wil ayy al-Qur‟an, tahqiq: Abdullah ibn Abdul Muhsin at-Turkiy, Kairo: Markaz al-Buhus wa ad-Dirasah al-„Arabiyyah wa al-Islamiyyah, 2001.
Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Kairo: Matba‟ah Mustafa al-Babi al-Halabi, 1963.
Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami‟ al-Bayan „an Ta‟wil ayy al-Qur‟an, juz. V
FERNANDES, Sisco; VIZON, Hardi.Hubungan Interpersonal Skill Karyawan
terhadap Minat Masyarakat Muslim Menjadi Anggota Koperasi Syari‟ah.
AL-FALAH : Journal of Islamic Economics, [S.l.], v. 1, n. 2, p. 129-146, dec. 2016.
ISSN2548-3102.Availableat:
<http://journal.staincurup.ac.id/index.php/alfalah/article/view/97/46>. Date accessed: 14 apr. 2017
Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi Prodi Perbankan Syariah Semester IV/A
Disusun Oleh : Kelompok III
Bella Bellita : 15631009 Hutri Candra : 15631034 Istiqomah : 15631036
Dosen: Hardivizon, M.Ag Prodi Perbankan Syariah Jurusan Syariah Dan Ekonomi Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
STAIN CURUP 2017-2018
Konsumsi berlebih – lebihan, yang merupakan ciri khas masyarakat yang tidak mengenal Tuhan, dikutuk dalam Islam dan disebut dengan istilah isra (pemborosan) atau tabzir (menghambur – hamburkan harta tanpa guna).Tabzir berarti menggunakan barang dengan cara yang salah, yakni, untuk menuju tujuan – tujuan yang terlarang seperti penyuapan, hal – hal yang melanggar hukum atau dengan cara yang tanpa aturan. Pemborosan berarti penggunaan harta secara berlebih – lebihan untuk hal – hal yang melanggar hukum dalam hal seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, atau bahkan sedekah.Ajaran – ajaran Islam menganjurkan pada konsumsidan penggunaan harta secara wajar dan berimbang, yakni pola yang terletak diantara kekikiran dan pemborosan.Konsumsi diatas dan melampaui tingkat moderat (wajar) dianggap lisraf
dan tidak disenangi Islam.
Konsumsi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup, yaitu sandang, pangan dan papan.Jika dipandang secara khusus, maka seringkali konsumsi hanya terbatas pada pola makan dan minum. Namun, apabila cakupan konsumsi diperluas ditemukan konsep bahwa konsumsi merupakan segaa aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan kepuasan atas penggunaan suatu produk sehingga mengurangi atau menghabiskan daya gunaproduk..10
10
Ajaran Konsumsi pada arti khusus untuk pola makan dan minum ada dalam
al-Qur‟an yang diambil dari kata kulu dan isyrabu. Diantara ayat-ayat yang membahas
tentang hal tersebut adalah:
5. Q.S Al-A‟raf ayat 31
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid,
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”
مكتني اوذخ
: pakailah pakaianmu yang indahاوب شاو اولكو
: makan dan minumahDalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa ayat tersebut mengajak anak-anak Adam(manusia) untuk memakai pakaian yang indah, minimal dalam bentuk menutup aurat karena membukanya pasti buruk. Lakukan itu setiap semasuki dan berada di masjid, naik masjid dalam arti bangunan khusus maupun dalam pengertian yang luas, dan makanlah makanan yang halal,enak,bermanfaat lagi bergizi, berdampak baik. Minumlah apa saja yang kamu sukai selama tidak memabukkan , tidak juga menganggu kesehatan, dan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal , baik dalam beribadah dengan menambah cara atau kadarnya. Demikin juga dalam makan dan minum atau apa saja karena sesungguhnya Allah tidak menyukai, yakni tidak melimpahkan rahmat dan ganjaran bagi orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal apapun.Atas dasar itu, penggalan ayat tersebut mengajarkan sikap proporsional dalam mengonsumsi makanan dan minuman.11
Sebelum Quraish Shihab, Al-Thabari juga memberikan isyarat dalam tafsirnya, bahwa dalam kegiatan konsumsi, manusia tidak diperbolehkan berlebih-lebihan. Perintah Allah juga disabdakan oleh Nabi dalam hadis yang diriwayatkan
oleh Ibn Abbas:”Allah telah menghalalkan makan dan minum selama itu tidak
berlebih-lebihan dan menampakkan kesombongan.” Selain itu, denganmengutip riwayat dari Ibn Zaid, Al-Thabari menafsirkan kata dengan tidak boleh memakan sesuatu yang haram. Ia menjelaskan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang melanggar batasannya dalam hal yang halal ataupun yang haram, yakni dengan menghalalkan sesuatu yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan. Sebaiknya, Allah menyukai orang yang menghalalkan sesuatu yang dihalalkannya dan mengharamkan sesuatu yang diharamkannya. Demikian itu merupakan keadilan yang dia perintahkan.12
6. QS. An-Nahl ayat 66
“Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi
kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa)
susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang
meminumnya”
: binatang ternak12
Ibnu Jarir Ath-Tabhari, jami‟ al-Bayan „an Ta‟wil ayy al-Qur‟an, tahqiq: Abdullah ibn Abdul
: susu yang bersihAl-Qurthubi mengungkapkan, dengan ayat ini Allah memperingatkan kepada manusia akan kekuasaannya yang begitu agung dengan keluarnya susu yang murni diantara kotoran dan darah. Faras adalah kotoran binatang yang turun keperut pertama dari binatang memamah biak, tetapi jika kotoran itu keluar, maka ia tidak disebut faras. Jadi maknanya bahwa makanan itu (susu) yang berada didalam kotoran dan darah pun menjadi bagian di dalamnya, kemudian susu itu menjadi terpisah dari darah. Betapa Allah yang Maha mengetahui bahwa susu ini keluar dari antara kotoran dan darah di dalam urat. Sebagaimana dikutip Al-Qurthubi, Ibn Abbas mengatakan, bahwa binatang ternak itu suka makan. Kemudian susu itu lezat dan mudah yang tidak mungkin tersedak bila meminumnya. Kata saigan dapat di artikan mudah masuknya di dalam kerongkongan.Diriwayatkan dari Nabi SAW. Bahwa susu itu apabila diminum, maka tidak ada seorangpun yang bias tersedak karenanya.13
Berbeda dengan sayyid Quthub davam penafsirannya beliau seakan-akan mengatakan bahwa ayat ini menyisakan pertanyaan: “susu yang mengalir di kantong
kelenjar hewan ternak ini sesungguhnya dari apa?” ia hanya dapat diketahui tentang
keberadaannya. Ia murni dan terlepas di antara kotoran dan darah. Faras adalah sesuatu yang tersisa di dalam perut hewan ternak setelah terjadi pencernaan
13
makanan. Hisapan usus untuk perahan yang berpindah ke darah.Darah ini mengalir menuju setiap sel tubuh. Jika menjadi sari susu dalam kantong kelenjar yang berubah, maka ia menjadi susu yang baik yang diciptakan oleh Allah, dengan cara pembuatannya tidak diketahui oleh seseorang pun.14
Menurut penafsiran Quraish Shihab, ayat ini dimulai dengan penyebutan binatang ternak karena merupakan sesuatu yang paling banyak di konsumsi dan dekat dalam benak masyarakat Arab ketika itu. Adapun yang dihasilkan oveh binatang ternak yang banyak dikonsumsi oleh mereka sevain dagingnya adalah susu perahannya. Dengan demikian daging binatang ternak dan susu keduanya dibutuhkan manusia dalam rangkaian makanan yang sehat dan sempurna.
Dalam ayat ini adalah mengingatkan bahwa sesungguhnya pada binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing,dan domba, benar-benar terdapat pelajaran yang sangat berharga, yang dapat mengantarkan manusia menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah. Allah menganugrahkan minuman dari apa yang berada dalam perut binatang-binatang betina itu, yaitu antara sisa-sisa makanan dan darah berupa susu murni yang tidak bercampur dengan darah sekalipun darahnya. Tidak juga bercampur dengan sisa makanan sekalipun baunya, lagi mudah ditelan bagi manusia yang meminumnya.Kemudahan yang dimaksud disini bukan saja karena susu adalah cairan, tetapi juga karena ia lezat, bergizi,dan bebas dari berbagai macam bakteri.15
14
Sayyid Quthub,“Fi Zilal al-Qur‟an” dalam Maktabab Syamilah, versi 2.11, juz.IV, hlm. 474
15
7. Q.S. Al-Baqarah [2]: 268
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh
kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan
daripada-Nya dan karunia[170]. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengatahui”
anugerahkan kepada manusia pemberian-pemberiannya dan memudahkan rezeki-rezeki bagi mereka.Demikian keterangan dalam tafsir Ath-Thabari.16
8. Al-Maidah[5]: 88
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan
kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”
Setelah ayat yang lalu melarang mengharamkan apa yang halal, disini di tegaskannya perintah memakan yang halal dan, dengan demikian, melalui ayat ini dan ayat sebelumnya, yang menghasilkan makna larangan dan perintah bolehnya memakan segala yang halal. Dengan perintah ini tercegah pulalah praktik-praktik keberagamaan yang melampaui batas.Dan makanlah makanan yang halal, yakni yang bukan haramlagi baik,lezat,bergizi dan berdampak positif bagi kesehatan
dariapa yang Allah telah rezekikan kepada kamu, dan bertaqwalah kepada Allah
dalam segala aktivitas kamu yang kamu terhadapnya adalah mu‟minun, yakni orang-orang yang mantap keimanannya.
Yang dimaksud dengan kata makan dalam ayat ini adalah segala aktivitas manusia. Pemilihan kata makan, disamping karena ia merupakan kebutuhan pokok
16
manusia, juga karena makanan mendukung aktivitas manusia. Tanpa makan, manusia lemah dan tidak dapat melakukan aktivitas.
Ayat ini memerintahkan untuk memakan yang halal lagi baik. Ketika menafsirkan Q.S. Al-baqarah[2]: 68,
Mereka menjawab: " Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia
menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu." Musa menjawab:
"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak
tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu".
dan ada juga yang kurang baik untuknya, walaupun baik buat yang lain. Ada makanan yang halal, tetapi tidak bergizi, dan ketika itu ia menjadi kurang baik. Yang diperintahkan adalah yang halal lagi baik.17
Analisa dari kami kelompok tiga ini terhadap ayat-ayat yang membahas tentang konsumsi kami ambil dari al-Qur‟an yaitu al-A‟raf ayat 31, an-Nahl ayat 66, al-Baqarah ayat 268 dan al-Maidah ayat 88. Bahwa semua surat yang dibahas diatas menjelaskan kepada kita semua bahwa apa saja yang kita konsumsi sebagai manusia selama hidup haruslah memenuhi syarat dan ketentuannya masing-masing, agar kita layak mengkonsumsinya dan mendapat ridha dari Allah SWT. Seperti halnya makanan, banyak orang sudah tahu dan paham akan makanan yang halal dan haram sebagaimana yang telah dijelaskan didalam al-Qur‟an. Contoh pada surat al-Maidah ayat 3 ini :
17
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah {Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an. Jakarta: Lentera
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang
disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang
ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya,
dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga)
mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu)
adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk
(mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan
takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama
bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..”
Pada ayat diatas memerintahkan kita untuk memakan makanan yang baik untuk dimakan.
Al-A‟raf ayat 31, ayat ini menyuruh kita agar beretika baik, sopan dan indah dalam berpakaian ketika kemasjid. Mengapa demikian? Menurut kelompok tiga Karena didalam masjid adalah tempat suci untuk beribadah dan menghadap Allah SWT. Bertujuan agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Dan ayat ini pula menyuruh kita agar mengkonsumsi makanan dan minuman untuk tidak berlebih-lebihan untuk mengajarkan sikap proporsional dalam mengonsumsi makanan dan minuman.
An-Nahl ayat 66, Dalam ayat ini adalah mengingatkan bahwa sesungguhnya pada binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing,dan domba, benar-benar terdapat pelajaran yang sangat berharga, yang dapat mengantarkan manusia menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah.
Al-Baqarah ayat 268, dalam surat ini membahas tentang bagaimana sang iblis untuk menggoda manusia agar berbuat maksiat dan tidak menaati perintah Allah SWT. Seperti halnya zakat dan sedekah, iblis mempengaruhi manusia agar manusia tidak bersedekah dan zakat dengan menakut-nakuti menjadikan manusia jatuh miskin.
Al-Maidah ayat 88, surat ini menegaskan kita untuk memakan semua yang halal dan dengan perintah surat ini tercegah pulalah praktik-praktik keberagamaan yang melampaui batas.
dalam pelayanan zakat. Niat yang baik untuk memberi atau menyumbangkan harta kita ialah suatu bentuk kepedulian yang bagi hukum islam itu diwajibkan.
Menurut Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bahwa keterampilan interpersonal (interpersonal skill) adalah keterampilan untuk mengenali dan merespon secara layak perasaan, sikap dan perilaku, motivasi serta keinginan orang lain. Bagaimana diri kita mampu membangun hubungan yang harmonis dengan memahami dan merespon manusia atau orang lain merupakan bagian dari
keterampilan interpersonal.
Dalam buku Multiple Intelligences, mengungkapkan 7 (tujuh) kecerdasan atau keterampilan yang dimiliki manusia salah satunya adalah keterampilan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain serta melihat mood, temperamen, dan motivasi guna membentuk dan menjaga hubungan antar manusia, keterampilan ini disebut juga keterampilan interpersonal (interpersonal skill).18
18
FERNANDES, Sisco; VIZON, Hardi.Hubungan Interpersonal Skill Karyawan terhadap Minat Masyarakat
Muslim Menjadi Anggota Koperasi Syari‟ah.AL-FALAH : Journal of Islamic Economics, [S.l.], v. 1, n. 2, p. 129-146, dec. 2016. ISSN 2548-3102. Available at:
DAFTAR PUSTAKA
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah {Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an. Jakarta:
Lentera Hati, 2002. Vol.III
Virzon Hardi, M.Ag, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi. LP2 STAIN Curup, Rejang Lebong.
Bengkulu, 2013
Ibnu Jarir Ath-Tabhari, jami‟ al-Bayan „an Ta‟wil ayy al-Qur‟an, tahqiq: Abdullah ibn Abdul Muhsin at-Turkiy, Kairo: Markaz al-Buhus wa ad-Dirasah al-„Arabiyyah wa al-Islamiyyah, 2001.
Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Kairo: Matba‟ah Mustafa al-Babi al-Halabi, 1963.
Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami‟ al-Bayan „an Ta‟wil ayy al-Qur‟an, juz. V
FERNANDES, Sisco; VIZON, Hardi.Hubungan Interpersonal Skill Karyawan
terhadap Minat Masyarakat Muslim Menjadi Anggota Koperasi Syari‟ah.
AL-FALAH : Journal of Islamic Economics, [S.l.], v. 1, n. 2, p. 129-146, dec. 2016.
ISSN2548-3102.Availableat:
<http://journal.staincurup.ac.id/index.php/alfalah/article/view/97/46>. Date accessed: 14 apr. 2017