PERENCANAAN PENGOLAHAN LIMBAH DOMESTIK
MENGGUNAKAN METODE
ANAEROBIC BAFFLED
REACTOR
(STUDI KASUS: PERUMAHAN ROYAL SUMATRA, MEDAN)
TUGAS AKHIR
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Syarat Untuk Memenuhi Ujian Sarjana Teknik Sipil
BRAM PARADA SIMATUPANG 080404079
BIDANG STUDI TEKNIK SUMBER DAYA AIR DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
ABSTRAK
Limbah Domestik merupakan jumlah pencemar terbesar yang masuk ke perairan yang berasal dari air bekas cucian, kamar mandi, dapur, dan buangan eksreta yang dipandang berbahaya karena dapat menjadi penyebaran penyakit.Penulisan tugas akhir ini bertujuan untuk merencanakan pengolahan limbah domestik secara komunal menggunakan metode ABR (anaerobic baffled reactor). Jika dirancang dengan baik, ABR dapat berfungsi mengendalikan potensi rembesan tinja ke sumber air tanah, dan menurunkan kandungan organik air limbah domestik sehingga air dapat digunakan untuk kebutuhan mahluk hidup. Batasan masalah yang ditinjau dari penulisan tugas akhir ini adalah perkiraan debit limbah dari kawasan perumahan Royal Sumatra, Serta tinjauan penurunan kandungan BOD air limbah domestik sesuai baku mutu.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode pengumpulan dan analisa data. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder kemudian dianalisa berdasarkan perbandingan data eksisting dan hasil metode ABR serta dievaluasi berdasarkan nilai BOD effluent saluran eksisting dengan nilai ABR.
Untuk menentukan dimensi ABR yang tepat perlu ditinjau dari estimasi jumlah penduduk dan menghitung limbah domestik yang dihasilkan. Setelah dimensi didapatkan, hitung penurunan kandungan BOD air limbah. Penurunan BOD air limbah ditinjau dari faktor waste water strength, temperatur, jumlah chamber ABR, HRT (Hydraulic Retention Time), volume BOD loading.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ABR cukup efektif menekan pencemaran lingkungan ditinjau dari penurunan kandungan BOD air limbah domestik hingga 70%. Desain ABR yang didapat dari hasil perhitungan bervariasi antara 10,5m x 2m x 1,8m hingga 18m x 2m x1,8m
KATA PENGANTAR
Puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi karunia kesehatan dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. Berkat, kasih, karunia yang telah Tuhan berikan kepada penulis, memberi keteladanan tauhid, ikhtiar dan kerja keras sehingga menjadi panutan dalam menjalankan setiap aktifitas kami sehari-hari, karena sungguh suatu hal yang sangat sulit yang menguji ketekunan dan kesabaran untuk tidak pantang menyerah dalam menyelesaikan penulisan ini.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Strata Satu (S1) Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi yang diambil adalah:
“Pengolahan Limbah Domestik Menggunakan Metode Anaerobic Baffled Reactor (Studi kasus: Royal Sumatra, Medan)”
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini tidak terlepas dari dukungan, bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beberapa pihak yang berperan penting yaitu :
1. Bapak Dr. Ir. Ahmad Perwira Mulia Tarigan, M.Sc. selaku Dosen Pembimbing, yang telah banyak memberikan bimbingan yang sangat bernilai, masukan, dukungan serta meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membantu penulis menyelesaikan Tugas Akhir ini.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, MSME selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan selaku Ketua Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Ir. Syahrizal, MT selaku Sekretaris Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Emma Patricia Bangun, ST. M.Eng dan Bapak Ivan Indrawan, ST, MT, selaku Dosen Pembanding, atas saran dan masukan yang diberikan kepada penulis terhadap Tugas Akhir ini.
S.E.Ak., Sari Simatupang S.Pd., Ivana Simatupang S.Pd. yang telah banyak berkorban, memberikan motivasi hidup, semangat dan nasehat.
7. Bapak/Ibu seluruh staff pengajar Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
8. Seluruh pegawai administrasi Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan selama ini kepada penulis. (Kak Lince, Kak Dina, Kak Dewi, Bang Zul, Bang Edi dan Bang Amin). 9. Kawan-kawan seperjuangan angkatan 2008,
10. Dan segenap pihak yang belum penulis sebut di sini atas jasa-jasanya dalam mendukung dan membantu penulis dari segi apapun, sehingga Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dengan baik.
Mengingat adanya keterbatasan-keterbatasan yang penulis miliki, maka penulis menyadari bahwa laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca diharapkan untuk penyempurnaan laporan Tugas Akhir ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi para pembaca.
Medan, April 2014 Penulis,
( Bram Parada Simatupang) 08 0404 079
Halaman
DAFTAR NOTASI ... ... xi
2.3. Karakteristik Dan Komposisi Limbah Domestik ... 9
2.4. Sistem Pengolahan Limbah Domestik ... 13
2.4.1 Tangki Septik ... 16
2.4.3 Anaerobic Baffled Reactor ... 19
2.4.4 Tangki Septik Bersekat Dengan Filter Dan Tanaman ... 23
BAB III METODE PENELITIAN ... 25
3.1. Waktu Penelitian ... 25
3.2. Metode Pengumpulan Data ... 25
3.3. Tahapan Penelitian ... 25
3.4. Relevansi ... 28
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISA DATA ... 32
4.1. Gambaran Umum Wilayah Perencanaan ... 32
4.2. Uraian Proses Rancangan ... 33
4.2.1 Kriteria ABR 1 ... 36
4.2.2 Kriteria ABR 2 ... 39
4.2.3 Kriteria ABR 3 ... 42
4.3. Dimensi ABR ... 45
4.3.1. Dimensi ABR I – Kluster Ruby ... 46
4.3.2. Dimensi ABR II – Kluster Diamond ... 55
4.3.3. Dimensi ABR III – Kluster Sapphire ... 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 73
5.1 Kesimpulan ... 73
5.2 Saran ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 74
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Rataan Aliran Limbah dari Daerah Pemukiman ... 8
Tabel 2.2 Komposisi Fisik dan Kimia Tinja ... 12
Tabel 2.3 Komposisi Air Limbah Dari Kamar Mandi dan WC ... 12
Tabel 2.4 Perbandingan Proses Aerobik dan Anaerobik ... 16
Tabel 2.5 Kelebihan dan Kekurangan ABR ... 22
Tabel 2.6 Kriteria Desain ABR ... 22
Tabel 2.7 Tipe Pembuatan Desain ABR ... 23
Tabel 4.1 Gambaran Umum Stage-2 Royal Sumatra ... 31
Tabel 4.2 Spesifikasi Kriteria Pengolahan ABR ... 33
Tabel 4.3 Kriteria Desain Pengolahan ABR ... 43
Tabel 4.4 Kriteria Perencanaan ABR ... 43
Tabel 4.5 Dimensi Pengolahan ABR I – Kluster Ruby ... 52
Tabel 4.6 Dimensi Pengolahan ABR II – Kluster Diamond ... 61
Halaman
Gambar 1.1 Peta Lokasi Penelitian ... 4
Gambar 2.1 Pengelompokkan Kandungan Air Limbah ... 9
Gambar 2.2 Pengolahan Individu Pada Lingkungan Terbatas ... 14
Gambar 2.3 Pengolahan Limbah Secara Komunal ... 14
Gambar 2.4 Skema Pengolahan Limbah Menggunakan Septic Tank ... 16
Gambar 2.5 Anaerobic Filter ... 18
Gambar 2.6 Anaerobic Baffled Reactor ... 20
Gambar 3.1 Alur Pengolahan Limbah dengan Septic Tank ... 28
Gambar 3.2 Detail Septic Tank ... 28
Gambar 3.2 Skema Pengolahan Limbah Menggunakan ABR ... 29
Gambar 3.2 Detail ABR ... 29
Gambar 4.1 Peta Perumahan Royal Sumatra ... 30
Gambar 4.2 Lokasi Pengolahan ABR I ... 34
Gambar 4.3 Lokasi Pengolahan ABR II ... 37
Gambar 4.4 Lokasi Pengolahan ABR III ... 40
Gambar 4.5 HRT dengan Faktor Pengurangan COD -I ... 44
Gambar 4.6 Rasio Pengurangan COD dengan Pengurangan BOD -I ... 45
Gambar 4.7 Pengurangan Volume Lumpur Selama Penyimpanan-I ... 46
Gambar 4.8 Hubungan Faktor BOD Remove dengan BOD influent-I ... 49
Gambar 4.9 Grafik Faktor Temperatur-I ... 50
Gambar 4.10 Grafik Hubungan Chamber dan BOD removal-I ... 50
Gambar 4.11 Faktor HRT dalam Baffled Reactor-I... 51
Gambar 4.12 Faktor Volumetric BOD Loading-I ... 51
Gambar 4.13 HRT dengan Faktor Pengurangan COD -II ... 53
Gambar 4.14 Rasio Pengurangan COD dengan Pengurangan BOD -II ... 54
Gambar 4.16 Hubungan Faktor BOD Remove dengan BOD influent-II ... 58
Gambar 4.17 Grafik Faktor Temperatur-II ... 59
Gambar 4.18 Grafik Hubungan Chamber dan BOD removal-II ... 59
Gambar 4.19 Faktor HRT dalam Baffled Reactor-II ... 60
Gambar 4.20 Faktor Volumetric BOD Loading-II ... 60
Gambar 4.21 HRT dengan Faktor Pengurangan COD -III ... 62
Gambar 4.22 Rasio Pengurangan COD dengan Pengurangan BOD -III ... 63
Gambar 4.23 Pengurangan Volume Lumpur Selama Penyimpanan-III ... 64
Gambar 4.24 Hubungan Faktor BOD Remove dengan BOD influent-III ... 67
Gambar 4.25 Grafik Faktor Temperatur-III ... 68
Gambar 4.26 Grafik Hubungan Chamber dan BOD removal-III ... 68
Gambar 4.27 Faktor HRT dalam Baffled Reactor-III ... 69
DAFTAR ISTILAH
ABR : Anaerobic Baffled Reactor IPAL : Instalasi Pengolahan Air Limbah IPLT : Instalasi Pengolahan Limbah Tinja on site : Pengolahan individual
off site : Pengolahan komunal Up-flow Velocity : Kecepatan aliran ke atas
Peak Flow Rate : Kecepatan aliran puncak
Effluent : Nilai parameter limbah yang masuk ke pengolahan Influent : Nilai parameter limbah hasil pengolahan
UASB : Upflow Anaerobic Sludge Blanket Tractive Force : Pembilasan sendiri
MCK : Mandi Cuci Kakus PE : Population Ekuivalen HRT : Hydarulic Retention Times COD : Chemical Oxygen Demand BOD : Biological Oxygen Demand TSS : Total Suspended Solid P : Jumlah penghuni perumahan
Q : Debit limbah
Vs : Volume sludge
ABSTRAK
Limbah Domestik merupakan jumlah pencemar terbesar yang masuk ke perairan yang berasal dari air bekas cucian, kamar mandi, dapur, dan buangan eksreta yang dipandang berbahaya karena dapat menjadi penyebaran penyakit.Penulisan tugas akhir ini bertujuan untuk merencanakan pengolahan limbah domestik secara komunal menggunakan metode ABR (anaerobic baffled reactor). Jika dirancang dengan baik, ABR dapat berfungsi mengendalikan potensi rembesan tinja ke sumber air tanah, dan menurunkan kandungan organik air limbah domestik sehingga air dapat digunakan untuk kebutuhan mahluk hidup. Batasan masalah yang ditinjau dari penulisan tugas akhir ini adalah perkiraan debit limbah dari kawasan perumahan Royal Sumatra, Serta tinjauan penurunan kandungan BOD air limbah domestik sesuai baku mutu.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode pengumpulan dan analisa data. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder kemudian dianalisa berdasarkan perbandingan data eksisting dan hasil metode ABR serta dievaluasi berdasarkan nilai BOD effluent saluran eksisting dengan nilai ABR.
Untuk menentukan dimensi ABR yang tepat perlu ditinjau dari estimasi jumlah penduduk dan menghitung limbah domestik yang dihasilkan. Setelah dimensi didapatkan, hitung penurunan kandungan BOD air limbah. Penurunan BOD air limbah ditinjau dari faktor waste water strength, temperatur, jumlah chamber ABR, HRT (Hydraulic Retention Time), volume BOD loading.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ABR cukup efektif menekan pencemaran lingkungan ditinjau dari penurunan kandungan BOD air limbah domestik hingga 70%. Desain ABR yang didapat dari hasil perhitungan bervariasi antara 10,5m x 2m x 1,8m hingga 18m x 2m x1,8m
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pencemaran lingkungan merupakan konsekuensi dari setiap kegiatan
manusia yang berkaitan langsung dengan lingkungan, dimana potensi timbulnya
pencemaran berjalan tegak lurus dengan jumlah populasi dan kegiatan manusia.
Limbah domestik merupakan jumlah pencemar terbesar yang masuk ke perairan
yang berasal dari air bekas cucian, kamar mandi, dan dari dapur. Selain itu buangan
eksreta yaitu tinja dan urine manusia dipandang berbahaya karena dapat menjadi
media penyebaran penyakit.
UUPPLH nomor 32 tahun 2009 menyatakan, lingkungan hidup merupakan
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup, termasuk
manusia dan perilakunya yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan
perikehidupan, dan kesejahteraan manusia dan mahluk hidup lainnya. Berdasarkan
uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia merupakan faktor yang sangat
berpengaruh terhadap lingkungan dan memiliki peranan yang sangat penting dalam
upaya pelestarian lingkungan hidup, namun kecenderungannya manusia banyak
melakukan kegiatan yang menyebabkan pencemaran sehingga terjadinya penurunan
fungsi lingkungan.
Faktor utama penyebab tingginya pencemaran lingkungan dari limbah
domestik dikarenakan tidak memadainya akses sanitasi publik dan teknologi yang
diterapkan. Permasalahan yang terjadi yaitu laju perkembangan pembangunan
sarana pengelolaan air limbah domestik secara terpusat sangat lambat, serta
komunal tidak memadai dan kurang sekali sehingga pengelolaan tidak dapat
dilakukan secara maksimal. Sistem pembuangan air limbah yang digunakan
masyarakat yakni air limbah yang berasal dari kakus dialirkan ke dalam tangki
septik dan diresapkan ke dalam tanah atau di buang ke saluran umum. Sedangkan
air limbah toilet yang berasal dari kamar mandi, mencuci, dan serta buangan dapur
langsung disalurkan ke drainase umum, sehingga potensi pencemaran dan dampak
lingkungan yang ditimbulkan akan berdampak langsung pada kehidupan manusia
dan ekosistem sekitar.
Royal Sumatra merupakan salah satu kawasan perumahan mewah yang berada di Kota Medan, dengan luas ±2,532,832 m2 yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dari limbah domestik yang berasal dari kegiatan memasak,
mandi, mencuci, dan aktifitas pembuangan pada toilet. Jumlah rumah yang di
bangun pada perumahan Royal Sumatra sampai dengan 10 Oktober 2013 yaitu 392 unit rumah, terdiri dari 212 rumah di stage-1 dan 180 rumah di stage-2. Dengan
potensi pencemaran yang akan terjadi, mengingat Royal Sumatra memiliki lahan yang luas, jumlah pembangunan rumah yang banyak, dan tentu memiliki tingkat
populasi yang banyak, oleh karena itu perlu dilakukan perencanaan pengolahan
limbah domestik, yakni dengan membuat sistem jaringan dari rumah ke saluran
pengumpul dan kemudian diolah dengan teknologi sehingga mencapai baku mutu
yang ditetapkan agar aman dibuang ke lingkungan.
Anaerobic Baffled Reactor (ABR) merupakan salah satu alternatif pengolahan limbah domestik yang berasal dari kawasan perumahan dengan lahan
yang sempit. Jika dirancang dengan baik ABR dapat berfungsi mengendalikan
organik air limbahdomestik sehingga air dapat digunakan untuk kebutuhan mahluk
hidup.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan permasalahan penelitian yaitu
bagaimana merencanakan pengolahan limbah domestik pada kawasan perumahan
dengan sistem Anaerobic Baffled Reactor (ABR).
1.3. Pembatasan Masalah
Penulis menyadari bahwasanya dalam penyusunan tinjauan pustaka,
pengambilan data, pengelolaan dan pembahasan mengenai studi perencanaan
pengolahan limbah domestik pada kawasan perumahan dengan sistem Anaerobic Baffled Reactor (ABR).ini tentu akan sangat mungkin dikembangkan secara detail dan menjadi luas serta dapat menyangkut beberapa hal yang berhubungan baik
langsung maupun tidak langsung dengan topik pembahasan.
Untuk itu agar permasalahan tidak terlalu meluas sehingga dapat
mengaburkan masalah yang sebenarnya, maka perlu dibuat batasan masalah sebagai
berikut:
1. Penelitian pengolahan limbah domestik hanya mencakup kawasan
stage-2 kawasan perumahan royal sumatra.
2. Perencanaan sistem pengolahan ABR yang dilakukan.
Gambar 1.1. Peta Lokasi Penelitian Tugas Akhir, Royal Sumatra – Medan
Gambar 1.1. merupakan peta lokasi studi. Ditinjau dari gambar, terdapat
daerah yang ditandai dengan garis putus-putus. Daerah tersebut merupakan cluster
rumah yang akan dijadikan objek penelitian pengolahan air limbah domestik di
daerah tersebut.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan penyusunan Tugas Akhir ini adalah:
1. Melakukan studi perencanaan pengolahan limbah domestik komunal dengan
sistem pengolahan ABR pada kawasan perumahan Royal Sumatra.
2. Mempelajari serta mengevaluasi kelayakan pengolahan limbah
1.5. Manfaat Penelitian
Hasil yang diperoleh dari tugas akhir ini diharapkan dapat memberi manfaat
sebagai berikut:
1. Bagi penulis, studi perencanaan ini merupakan penerapan ilmu pengetahuan
yang telah didapat di bangku perkuliahan.
2. Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan pengembang kawasan
perumahan dalam pengelolaan limbah.
3. Hasil dari tugas akhir ini dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut
mengenai pengolahan air dari drainase menjadi air layak minum.
1.6. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dari skripsi ini adalah:
1. Bagian Awal
Bagian awal mencakup halaman sampul depan, halaman judul, halaman
persetujuan, halaman persembahan, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel,
dan daftar lampiran.
2. Bagian Utama
Bab I; Pendahuluan, Berisi tentang hal-hal yang menjadi latar belakang
penelitian ini, tujuan yang ingin dicapai dan manfaat penelitian ini serta pembatasan
permasalahan.
Bab II; Landasan Teori, Berisi tentang teori-teori yang mendukung
penelitian ini yang bersumber dari berbagai literatur mengenai permasalahan yang
sumber limbah domestik, karakteristik dan komposisi limbah domestik, dan sistem
pengolahan limbah domestik.
Bab III; Kegiatan Riset, Berisi tentang langkah-langkah yang dilakukan
dalam pemecahan masalah hingga penarikan kesimpulan berdasarkan teori yang
terdapat di Bab II.
Bab IV; Pembahasan dan Analisa, Berisi tentang proses pengumpulan data,
pengolahan data dan hasil analisa data untuk mempermudah penarikan kesimpulan.
Bab V; Kesimpulan dan Saran, Berisi hasil akhir atau kesimpulan yang
merupakan hasil pemecahan masalah mengenai pengolahan limbah dengan sistem
ABR dan jaringan penyaluran menuju pengolahan.
3. Bagian Akhir
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik
industri maupun domestik (rumah tangga). Di mana masyarakat bermukim, di
sanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, adblack water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).
Limbah padat lebih dikenal sebagai
dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau
secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa
anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat
berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga
perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang
ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.
2.2. Limbah Domestik
Pencemaran limbah di Indonesia pada umumnya disebabkan oleh limbah
dari kegiatan domestik, kegiatan industri, pertanian dan pertenakan yang masuk ke
sumber air. Kegiatan tempat tinggal, hotel, sekolah, kampus, perkantoran,
pertokoan, pasar, dan fasilitas-fasilitas pelayanan umum adalah sumber asal limbah
domestik yang merupakan jumlah pencemar terbesar. Air limbah domestik dapat
yang disebut grey water, air buangan WC (berupa tinja) yang disebut black water,
serta limbah padat berupa sampah.
Air limbah mempengaruhi tingkat kekeruhan, BOD, COD, dan kandungan
organik jika dibuang ke badan air. Salah satu kandungan limbah domestik yang
berbahaya bagi manusia adalah bakteri E.coli yang berasal dari kotoran manusia. Yang menjadi permasalahan umum di Indonesia adalah air limbah dari kegiatan
rumah tangga sebagian besar dialirkan langsung ke sungai tanpa pengolahan yang
memadai. Ditambah lagi kegiatan domestik mempunyai kontribusi terhadap limbah
padat, terutama sampah yang dibuang ke sungai.
Sumber utama limbah domestik dari masyarakat berasal dari daerah
perumahan dan daerah perdagangan. Untuk daerah perumahan aliran limbah
biasanya diperhitungkan dengan kepadatan penduduk rata-rata per orang dalam
membuang air limbah. Adapun besar rata-rata air limbah yang berasal dari daerah
Tabel 2.1. Rataan Aliran Limbah dari Daerah Pemukiman
No. Sumber
Unit
Jumlah Aliran
(L/Unit/Hari)
Antara Rata-rata
1.
2.
3.
Apartemen
Hotel
Tempat tinggal keluarga:
Rumah pada umumnya
Rumah yang lebih baik
Rumah mewah
Rumah agak modern
Rumah pondok
Sumber: Metcalf and Eddy, 2003
Air limbah sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia mengingat banyak
penyakit yang dapat ditularkan melalui air limbah. Berbagai penyakit, terutama
penyakit yang berkaitan dengan kulit dan pencernaan seperti diare, disentri, dan
penyakit infeksi usus lainnya merupakan penyebab dari kualitas air yang digunakan
tidak memenuhi syarat kesehatan. Dampak lain pencemaran air bukan saja terhadap
kesehatan tetapi juga terhadap ekonomi secara umum, misalnya terhadap harga air
minum kepada pelanggan. Pengaruh lain yang ditimbulkan akibat terjadinya
pencemaran air adalah kualitas air baku yang mengandung racun, ekosistem sungai
dan danau yang tidak seimbang untuk mendukung keanekaragaman hayati,
terutama kehidupan biota air, penurunan kualitas air tanah serta terhadap estetika
2.3. Karakteristik dan Komposisi Limbah Domestik
Berdasarkan sumber asalnya, air limbah mempunyai komposisi yang sangat
bervariasi dari setiap tempat dan setiap saat. Tetapi secara garis besar zat-zat yang
terdapat di dalam air limbah dapat dikelompokkan seperti Gambar 2.1.
Sumber: Sugiharto, 2003
Gambar 2.1. Pengelompokkan Kandungan Air Limbah
Penentuan kuantitas air limbah dipengaruhi berbagai faktor sehingga sangat
sulit ditentukan secara pasti. Banyaknya air limbah yang dibuang dipengaruhi oleh
jumlah air bersih yang dibutuhkan perkapita. Pada umumnya jumlah air limbah
berkisar 60-80% dari jumlah air bersih yang dibutuhkan. Keadaan masyarakat dan
lingkungan suatu daerah juga akan mempengaruhi besarnya air limbah yang
dibuang. Berdasarkan tingkat perkembangan suatu daerah, jumlah limbah yang
dibuang di kota lebih besar dibandingkan dengan jumlah limbah yang dibuang di
desa. Sedangkan untuk kualitas limbah dapat diketahui melalui beberapa
karakteristiknya yang meliputi sifat fisik, kimia, dan biologis air limbah.
Sifat fisik air limbah yaitu bahan padat yang terapung, tersuspensi, terlarut,
dan mengendap terdiri dari pasir dan lumpur kasar, lumpur halus, dan lumpur
merupakan air limbah yang sedang mengalami proses pembusukkan, dan hitam
untuk warna indikator air limbah yang sudah membusuk oleh bakteri anaerob. Bau
busuk pada air limbah menandakan proses penguraian pada kondisi anaerob dan
suhu air limbah biasanya lebih tinggi dari suhu air bersih. Sifat kimia air limbah
yaitu adanya kandungan organik dan anorganik serta gas. Kandungan organik
seperti minyak, lemak, protein, karbonat, dan kandungan anorganik meliputi
kandungan senyawa kimia fosfor, belerang dan logam berat (Fe, Al, Mn, Mg, dan
Pb) dengan kandungan gas-gas H2S4, CO2, dan CH4. Sedangkan sifat biologis air
limbah ditandai dengan berbagai jenis mikroorganisme yang terdapat di dalam air
limbah seperti kelompok binatang, tumbuh-tumbuhan, dan protista seperti bakteri.
Air limbah yang dibuang ke alam akan mengalami proses dekomposisi
secara alami yang dilakukan oleh mikroorganisme yang terdapat dalam air limbah
menjadi bahan yang stabil dan di terima oleh lingkungan. Proses dekomposisi air
limbah dilakukan secara anaerobik dan aerobik. Secara Anaerobik bahan organik
terlarut akan mengalami proses penguraian oleh bakteri anaerob yang hidup tanpa
oksigen menjadi senyawa organik sederhana seperti CO2, CH4, H2S, NH3, dan
gas-gas berbau. Dalam proses ini air limbah menjadi keruh, kotor, berbau busuk, serta
terjadi pengendapan lumpur yang cukup besar dengan proses perombakan yang
berjalan cukup lama. Proses penguraian bilologis dilakukan oleh bakteri aerob
dengan menggunakan oksigen yang terlarut dalam air limbah untuk mengoksidasi
bahan organik terlarut sampai semuanya terurai secara lengkap.
Limbah domestik yang berasal dari kegiatan rumah tangga yaitu tinja dan
air seni yang memiliki karakteristik tersendiri dan dapat menjadi sumber penyebab
manusia menghasilkan tinja rata-rata sehari sekitar 83 gram dan menghasilkan air
seni sekitar 970 gram. Kedua jenis kotoran manusia ini sebagian besar berupa air,
terdiri dari zat-zat organik (sekitar 20% untuk tinja dan 2,5% untuk air seni), serta
zat-zat anorganik seperti nitrogen, asam folat, sulfur, dan sebagainya. Karakteristik
dan komposisi biologis tinja terdapat beberapa mikroorganisme dan cacing dari
golongan bakteri dan virus yang dapat menyebabkan berbagai penyakit. Sedangkan
komposisi fisik dan kimia tinja dapat diperhatikan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Komposisi Fisik dan Kimia Tinja
Zat yang dikandung Prosentase
Air
Bahan padat
Nitrogen
Phospor (sebagai P2O5)
Potasium (sebagai K2O)
Karbon
Sumber: Rahayu dan Wijayanti, 2008
Selain Komponen diatas, pada setiap gram tinja juga mengandung
berjuta-juta mikroorganisme biologis yang pada umumnya tidak berbahaya bagi kesehatan
atau tidak menyebabkan penyakit. Namun tinja berpotensi mengandung
mikroorgansime patogen, terutama apabila manusia yang menghasilkan menderita
penyakit saluran pencernaan makanan. Mikroorganisme tersebut dapat berupa
bakteri, virus, protozoa, ataupun cacing-cacing parasit. Secara lebih khusus, maka
air limbah yang berasal dari kamar mandi dan WC berupa feses dan urine
Tabel 2.3. Komposisi Air Limbah Dari Kamar Mandi Dan WC
Uraian Feses Urine
Jumlah per orang per hari (basah)
Jumlah per orang per hari (kering)
Uap air (kelembapan)
Bahan organik
Sumber: Sugiharto, 2003
Data mengenai sumber air limbah dapat dipergunakan untuk
memperkirakan jumlah rata-rata aliran air limbah dari berbagai jenis perumahan.
Semuanya harus dihitung perkembangan atau pertumbuhannya sebelum membuat
suatu bangunan pengolahan air limbah serta merencanakan pemasangan saluran
pembawaannya.
2.4. Sistem Pengolahan Limbah Domestik
Tingkat kemiskinan merupakan faktor yang menyebabkan tidak semua
penduduk memiliki sarana pengolahan air limbah yang paling sederhana dan
murah. Sungai dan saluran dijadikan tempat pembuangan tinja dan sekaligus tempat
membuang limbah domestik sehingga terjadi polusi dan penyebaran penyakit
menular lewat air. Sebagai upaya untuk mengendalikan polusi air maka perlu
bahan pencemar di dalam air seperti senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba
patogen dan senyawa organik lain yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme
yang ada di alam. Proses pengolahan dilakukan sampai batas tertentu sehingga air
limbah tidak mencemari lingkungan hidup.
Pengolahan air limbah dapat dibagi atas lima tahap pengolahan, yaitu:
pengolahan awal (pretreatment), pengolahan tahap pertama (primary treatment),
pengolahan tahap kedua (secondary treatment), pengolahan tahap ketiga (tertiary
treatment), pengolahan lumpur (sludge treatment). Pengolahan awal dan tahap
pertama melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan
tersuspensi dan minyak dari aliran limbah. Pengolahan tahap kedua direncanakan
untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan
dengan proses fisik biasa. Tahap ketiga merupakan pengolahan yang dilakukan
untuk menghilangkan kontaminan tertentu yang tidak dapat dihilangkan dengan
proses fisik sederhana.
Proses pengolahan air limbah dapat dilakukan secara individual (on site)
dan komunal (off site). Pengolahan air limbah secara individual dilakukan secara sendiri pada masing-masing rumah atau pada wilayah kecil yang terbatas terhadap
limbah domestik yang dihasilkan. Sistem pengolahan air limbah domestik secara
individual di uraikan pada diagram di Gambar 2.2.
Gambar 2.2. Pengolahan lndividu Pada Lingkungan Terbatas
Air limbah dapur dari
Bangunan-bangunan Bak Kontrol
Air limbah kamar mandi dari
Bangunan-bangunan Bak Kontrol
Air kotor/Tinja dari
bangunan-bangunan Septic tank
Pengolahan limbah secara komunal adalah pengolahan air limbah yang
dilakukan pada suatu kawasan pemukiman, industri, perdagangan yang pada
umumnya dibuang mclalui jaringan riool kola untuk kemudian dialirkan menuju ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan kapasitas besar. Sistem
pengolahan air limbah secara komunal diuraikan dalam diagram di Gambar 2.3.
Gambar 2.3. Pengolahan Limbah Secara Komunal
Meskipun dikenal paling murah, sarana on site masih memerlukan Instalasi Pengolahan Air Tanah (IPLT) dan armada truk tinja dengan pengolahan yang rumit.
Oleh karena itu, sistem perpipaan dapat dipertimbangkan untuk sarana pengolahan
limbah domestik dengan sistem off site beserta sistem perpipaan yang tertutup untuk black dan grey water, bebas pencernaran air tanah,dan bebas dari bau yang dapat mengurangi nilai estetika pada lingkungan. Namun pada pengolahan limbah dengan sistem pengolahan sentralisasi (Centralized Sewage Treatment System)
membutuhkan investasi yang cukup besar. Oleh karena itu proses pengolahan
limbah secara komunal adalah pilihan yang penting dan realistis untuk mengolah
limbah domestik di daerah perkotaan khususnya perumahan.
Daerah
Pemukiman Bak Kontrol
Bak Kontrol
Pendidikan Bak Kontrol
Instalasi Pengolahan
Pemilihan teknologi pengolahan air limbah tidak terlepas dari pemahaman
masing-masing proses yang terlibat. Pertimbangan kelebihan dan kekurangan dari
setiap proses sangat berguna untuk memilih proses yang paling tepat sehingga
dihasilkan teknologi pengolahan air limbah yang efisien dengan menghasilkan
kualitas efluen yang sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan. Pada Tabel 2.4.
berikut disajikan perbandingan proses aerobik dan anaerobic dan beberapa
teknologi yang digunakan untuk pengolahan limbah domestik secara anaerobic.
Tabel 2.4. Perbandingan Proses Aerobik dan Anaerobik Uraian Proses Aerobik Proses Aerobik
Pemakaian listrik
Penghasilan excess sludge
Kualitas efluen
Menghasilkan gas metan
Sumber : Cai Nie, 2012
2.4.1. Tangki Septik
Tangki septik adalah salah satu cara pengolahan air limbah domestik yang
menggunakan proses pengolahan secara anaerobik. Proses ini dapat memisahkan
diolah lebih lanjut karena banyak mengandung bibit penyakit atau bakteri patogen
yang berasal dari kotoran (feces) manusia. Jika tidak diolah, maka dikhawatirkaair limbah dapat menularkan penyakit kepada manusia terutama melalui air
Menurut Danang (2007), tangki septik adalah suatu ruangan kedap air atau beberapa kompartemen ruangan yang berfungsi menampung dan mengolah air
limbah rumah tangga, dengan kecepatan air yang lambat. Kondisi ini memberikan
kesempatan untuk terjadinya pengendapan terhadap suspensi benda-benda padat
dan kesempatan untuk penguraian bahan-bahan organik oleh jasad anaerobik
membentuk bahan-bahan larut air dan gas. Air limbah rumah tangga yang dimaksud
adalah sernua jenis air buangan rumah tangga yang berasal dari kamar mandi,
dapur, cuci, dan kakus. Tangki septik sebagai proses presedimentasi dalam
pengolahan limbah domestik secara komunal pada prinsipnya terjadi dua proses
pengolahan, yaitu pengolahan fisik dengan proses sedimentasi dan pengolahan
secara biologis dengan proses anaerobik, yaitu mengontakkan air limbah yang
masuk, dengan lumpur mikroorganisme yang berada dalam bak. Skema pengolahan
limbah dengan septic tank dapat dilihat dalam Gambar 2.4. berikut.
Gambar 2.4. Skema Pengolahan Limbah Menggunakan Septic Tank
pencemaran yang ditimbulkan oleh bakteri terhadap air tanah dapat mencapai 11
meter, searah dengan aliran air tanah. Oleh karena itu, pembuatan sumur pompa
tangan atau sumur gali untuk keperluan rumah tangga sebaiknya berjarak 11 meter
dari sumber pencernar. Jika pencemaran bakteri mencapai 11 meter, maka
pencemaran yang disebabkan kandungan kimia dapat mencapai 95 meter. Dengan
demikian, sumber air yang berada di dalam tanah sebaiknya berjarak lebih dari 95
meter dari tempat pembuangan kimia (Sugiharto, 2005).
Manfaat yang diperoleh dari pembuatan tangki septik yang benar dan
ramah lingkungan adalah sebagai berikut:
1. Kebersihan air tanah ikut terjaga.
2. Perawatan mudah karena tidak mudah penuh dan berbau.
3. Penghuni rumah dapat merasa nyaman karena saluran pembuangan tidak
mampat sehingga memudakan penyiraman.
4. Air buangan septic tank biologis dapat dimanl4atkan untuk ekosistem lain,
seperti untuk menyiram tanaman.
2.4.2. Anaerobic Filter
Konstruksi bak anaerobic filter mirip dengan ABR, akan tetapi perbedaannya pada bak diisi dengan media agar mikroorganisme dapat menempel
pada permukaan media. Air limbah dapat mengalir antara media dan ketika dialiri
limbah mikroba akan menguraikan bahan organik terlarut dan organik yang
terdispersi didalam limbah, sehingga hasilnya adalah pengurangan kandungan
organik pada effluent.
lebih efisien, sehingga anaerobic filter dapat menerima organic loading yang lebih tinggi. Akan tetapi kekurangan dari proses ini adalah bertambahnya biaya
pembuatan karena adanya media. Selain itu adanya resiko penyumbatan dibagian
reaktor yang diisi media, jika terlalu banyak mikroba atau influent mengandung banyak suspended solid. Untuk mengontrol konsentrasi mikroba dan padatan yang lain dalam bagian agar menghindari penyumbatan, dilakukan back wash secara
periodik. Sistematika anaerobic filter dapat dilihat di Gambar 2.5.
Gambar 2.5. Anaerobic Filter
Media yang digunakan ada berbagai jenis, tetapi prinsipnya lebih luas
permukaannya maka mikroba yang melekat juga akan lebih banyak sehingga
sistem pengolahan lebih efisien. Bila didesain dan dioperasikan dengan balk, maka
pengurangan BOD dengan teknologi anaerobik filter dapat mencapai 70% hingga
90%. Sistem ini cocok untuk menangani limbah domestik dan industri yang
mempunyai TSS rendah, hal tersebut untuk menghindari resiko penyumbatan.
Untuk menjamin TSS-nya sudah cukup rendah, sistem anaerobic filter biasanya
2.4.3. Anaerobic Baffled Reaktor (ABR)
ABR atau tangki septic bersusun dapat dikatakan sebagai pengembangan
tangki septic konvensional. yang terdiri dari kompartemen pengendap yang diikuti
beberapa reaktor yang terdiri dari bafel yang berfungsi untuk mengubah arah aliran
pada pengolahan. Bafel ini digunakan untuk mengarahkan aliran air dari bawah ke
atas melalui beberapa seri reaktor selimut lumpur (sludge blanket). Konfigurasi ini memberikan waktu kontak yang lebih lama antara biomasa anaerobik dengan air
limbah sehingga akan rneningkatkan kinerja pengolahan, dimana setup
kompartemen tersebut akan menghasilkan gas.
Pada prinsipnya di dalam ABR teriadi proses fisika dan biologi. Pada
proses fisika, air limbah yang masuk ke dalam bak akan mengalami proses
pengendapan secara gravitasi sehingga terjadi pemisahan antara air dan lumpur
yang kemudian air tersebut dialirkan ke bak selanjutnya dengan diarahkan dari
bawah ke atas. Diruang pertama proses pengolahan yang terjadi ialah proses
pengendapan, di ruangan berikutnya terjadi proses penguraian kandungan organik
(proses biologis anaerobik) karena air limbah berkontak dengan lumpur
mikroorganisme yang berada dalam kondisi tersuspensi dibagian bawah dalam
Gambar 2.6. Anaerobic Baffled Reactor
Berdasarkan Gambar 2.6. ABR terdiri dari pre-sedimentation tank dengan satu serf bafel reaktor dimana aliran air limbahnya akan diarahkan dan' bawah ke
atas (up flow) dan pengolahan secara anaerobik terjadi karena air limbah berkontak dengan lumpur yang berada didalam setiap reaktor. Up flow velocity (kecepatan aliran ke atas) dalam setiap reaktor dijaga cukup rendah agar lumpur di dalam
reaktor tidak menuju ke hilir, Teknologi ini dirancang menggunakan beberapa bafel
vertikal yang akan memaksa air limbah mengalir ke atas melalui media lumpur
aktif. Pada ABR ini terdapat tiga zona operasional yaitu: asidifikasi, fermentasi, dan
buffer. Pada zona asidifikasi terjadi pada kompartemen pertama dimana nilai pH
akan menurun karena terbentuknya asam lemak dan setelah itu akan meningkat lagi
karena meningkatnya kapasitas buffer. Zona buffer digunakan untuk menjaga agar
proses bedalan dengan baik. Gas urethan dihasiikan pada zona fermentasi, dimana
semakin banyak beban organik, semakin tinggi efisiensi pengolahanya. ABR cocok
diterapkan di lingkungan kecil dan bisa dirancang secara efisien untuk aliran masuk
Kelebihan dan kekurangan ABR dapat di lihat pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5. Kelebihan dan Kekurangan ABR
Kelebihan Kekurangan
1. Efisiensi pengolahan tinggi
2. Lahan yang dibutuhkan sedikit karena dibangun di bawah tanah
3. Biaya pembangunan kecil
4. Biaya pengoperasian dan pemeliharaan murah dan mudah
5. Tahan terhadap beban kejutan hidrolis dan zat organik
6. Tidak memerlukan energi listrik
7. Grey water (air bekas mandi dan cuci) dapat dikelola secara bersamaan
8. Dapat dibangun dan diperbaiki dengan menggunakan material lokal
9. Masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam konstruksi
10.Umur pelayanan panjang
1. Diperlukan tenaga ahli untuk melakukan dan pengawaan pembangunan
2. Tukang ahli perlu untuk pekerjaan plester kualitas tinggi 3. Memerlukan sumber air yang
konstan
4. Effluen memerlukan
pengolahan
sekunder atau dibuang ke tempat yang cocok
5. Penurunan zat pahtogen rendah 6. Pengolahan pendahuluan
diperlukan untuk mencegah penyumbatan
Pada dasarnya ABR merupakan pengembangan dari uplow anaerobic sludge blanket (UASB) dengan kriteria desain ABR di Tabel 2.6. berikut ini.
Tabel 2.6. Kriteria Desain ABR
Kriteria Desain Ketentuan
Up flow velocity
Panjang
Removal COD
Removal BOD
Organic loading
Hydraulic retention time
< 2 m / jam
50-60% dari ketinggian
65-90%
70-95%
< 3 kg COD/m3 hari
≥ 8 jam
Sedangkan kriteria yang digunakan dalam menentukan tipe desain ABR
dalam pengolahan air limbah, khususnya limbah pemukiman dapat diperhatikan
pada Tabel 2.7. dibawah ini.
Tabel 2.7. Tipe Pembuatan Desain ABR Air Limbah Suhu
Sumber : Metcalf and Eddy,2003
Berdasarkan data pada tabel 2.7 diketahui kriteria dalarn perencanaan
teknologi ABR sebagai upaya untuk menurunkan kandungan organik dalam limbah domestik, yaitu jumlah bak maksimum 8 buah dengan COD influent 315 mg/L
dan COD removal 70%.
2.4.4. Tangki Septik Bersekat Dengan Filter Dan Tanaman
Tangki septik bersekat dengan filter dan tanaman merupakan kombinasi
tangki septik dengan bak yang diberi tanaman. Tanaman akan menyerap air limbah
penanaman terdiri dari tanah dan kerikil sebagai filter yang diberi kemiringan
antara (0-0,5)%. Air limbah berasal dari tangki septik yang berada di bagian ujung
bak dialirkan pada media filter. Permukaan air berada 5 (lima) cm di bawah
permukaan filter. Kebutuhan lahan untuk 50 KK dengan menggunakan sistem ini
adalah seluas 120 m2. Keterangan tangki septik bersekat dengan filter dan tanaman dapat dilihat pada Gambar 2.7. berikut ini.
Sumber: Borda, 2006 dalam Dit. PLP 2008
BAB III KEGIATAN RISET
3.1. Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian dimulai dari awal bulan Oktober hingga Akhir
Desember 2013.
3.2. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah site plan Royal Sumatera
dan data primer yang diperoleh dari studi literatur yang berkaitan dengan
permasalahan yang diteliti. Sedangkan data sekunder diperoleh dari perkiraan
jumlah rumah, jumlah penghuni, dan debit limbah yang dihasilkan dari aktifitas
perumahan.
3.3. Tahapan Penelitian
Dalam perencanaan dilakukan beberapa tahap penelitian, yaitu:
1. Menentukan jumlah rumah, penghuni, dan perkiraan debit limbah domestik
yang dihasilkan.
Penentuan ini dilakukan dengan memperkirakan jumlah rumah yang akan
dibangun, memperkirakan jumlah penghuni yang menghuni rumah dan
kemudian memperkirakan debit limbah domestik yang dihasilkan. Perkiraan
ini diketahui melalui perhitungan sebagai berikut:
a. Jumlah penghuni perumahan:
� �= �����ℎ����ℎ��������������ℎ������ℎ����ℎ (3.1)
b. Debit limbah yang dihasilkan:
� =�����ℎ����ℎ���������ℎ�����ℎ�����������ℎ��� (3.2)
2. Menentukan kriteria desain ABR
Pada tahap penentuan kriteria desain ABR dengan mempertimbangkan
efisiensi sistem pengolahan yang akan dipergunakan berdasarkan kriteria
3. Menghitung dimensi ABR
Menghitung dimensi pengolahan limbah domestik dengan sistem ABR yang
menggunakan asumsi perkiraan jumlah rumah yang dibangun, jumlah
penghuni perumahan, dan debit limbah yang dihasilkan. Dimensi
pengolahan merupakan ketentuan mengenai cara perhitungan yang
digunakan dalam menentukan sistem pengolahan yang digunakan untuk
mengendalikan pencemaran limbah domestik berdasarkan kriteria desain
yang telah ditetapkan, yaitu:
a. Peak flow rate (h)
Peak flow rate adalah laju puncak aliran limbah yang didapat dari hasil
jumlah volume limbah yang telah ditetapkan batasannya(Q) dibagi lama
aliran limbah mengalir dari batasan yang telah ditetapkan (t).
Peak flow rate dihitung dengan rumus:
h = ������ℎ�3���ℎ���
� ���������������ℎ (3.3)
dimana; h= peak flow rate (m3/jam), Q= jumlah volume limbah (m3), dan t= lama aliran limbah mengalir (jam)
b. COD removal
COD removal adalah pengurangan jumlah COD ( Chemical Oxygen Demand) karena pengendapan dalam aliran air.
COD removal dihitung dengan rumus:
COD = �����
�� ���
0,5 x 0,32 (3.4)
Dimana;COD= pengurangan jumlah COD (%), ����� ��
��� adalah rasio
jumlah unsur dalam jumlah volume larutan (mg/L)
c. BOD removal
BOD removal adalah pengurangan jumlah BOD ( Biological Oxygen Demand) karena pengendapan dalam aliran air.
BOD removal dihitung dengan rumus:
BOD = COD removal x nilai pengurangan COD (3.5) Dimana; BOD= pengurangan jumlah BOD (%), COD= pengurangan
d. Volume sludge
Volume sludge adalah jumlah volume endapan lumpur dalam suatu area.
Sebagai patokan tanpa efek pemampatan, penymimpanan volume
lumpur yang terjadi dari satu (1) gram BOD removal adalah 0,005 liter.
Satuan Vs adalah meter kubik (m3).
Volume sludge dihitung menggunakan rumus:
Vs = ����������� (���−����������)
1000 ������������� (3.6)
e. Volume settling tank
Volume settling tank adalah jumlah volume endapan lumpur dengan
volume limbah yang tertahan dalam suatu area.
V = volume sludge + volume inapan limbah (3.7) f. Panjang settling tank
Panjang settling tank didapat dari pembagian jumlah volume settling
tank dengan perkalian lebar dan tinggi settling yang direncanakan.
Satuan panjang settling tank adalah meter (m).
p = ������������������
(���) (3.8)
g. Luas area satu chamber
Luas area satu chamber adalah hasil dari pembagian dari volume aliran
limbah dengan parameter up-flow velocity yang telah ditentukan. (nilai
up-flow velocity < 2m/jam)
Satuan luas area adalah meter persegi (m2) Luas = ��������
�������������� (3.9)
h. Lebar chamber
Lebar didapat dari luas area dibagi dengan panjang area yang telah
direncanakan.
Satuan lebar adalah meter (m).
Lebar = ��������
i. Waktu detensi (HRT)
Waktu detensi atau Hydraulic Retention Time (HRT) adalah ukuran waktu
rata-rata
HRT = �����������
� � 24 ��� (3.11)
Dimana; HRT= waktu detensi (jam), Q= jumlah aliran limbah (m3)
3.4. Relevansi
Penelitian mengenai perencanaan pengolahan limbah domestik perumahan
Royal Sumatera Medan, diharapkan memberi pengetahuan dalam merencanakan pengolahan limbah yang ramah lingkungan, untuk mengendalikan potensi
pencemaran yang berasal dari limbah domestik sehingga tidak menyebabkan
Keterangan Diagram Alir:
Kondisi Eksisting:
Kondisi Eksisting Pengolahan Limbah di Perumahan Royal Sumatra
menggunakan pengolahan Septic Tank (Air limbah langsung dialirkan menuju
saluran air). Dapat dilihat pada gambar 3.1. dan 3.2. berikut.
Gambar 3.1. Alur pengolahan limbah dengan Tangki Septik
Kondisi Perencanaan:
Perencanaan pengolahan limbah dalam perumahan Royal Sumatra
berdasarkan penyusunan TA ini menggunakan metode Anaerobic Baffled Reactor.
Dimana air limbah dari masing-masing rumah dalam suatu wilayah yang telah
ditetapkan, dikumpul dan disaring terlebih dahulu dalam suatu wadah. Dapat dilihat
pada Gambar 3.3. dan 3.4.
Sumber: (Sumber: Borda, 2006 dalam Dit. PLP, 2008)
Gambar 3.3. Skema pengolahan limbah menggunakan metode ABR
Sumber: (Sumber: Borda, 2006 dalam Dit. PLP, 2008)
BAB IV
PEMBAHASAN DAN ANALISA
4.1. Gambaran Umum Wilayah Perencanaan
Perumahan Royal Sumatra merupakan kawasan pengembangan perumahan sebagai upaya dalam menunjang pembangunan permukiman yang layak huni.
Terletak di bagian selatan kota Medan, Perumahan Royal Sumatra direncanakan sebagai perumahan modern dengan berbagai fasilitas mewah, seperti lapangan golf
standar internasional, sekolah bertaraf internasional, serta sistem pengolahan air
yang terpadu. Lokasi perumahan dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1. Peta Perumahan Royal Sumatra menggunakan Google Maps Dengan luas 2.532.832 meter2, Perumahan Royal Sumatra direncanakan akan dilengkapi dengan water park, apartemen dan area komersial yang akan
menunjang kebutuhan yang menghuni perumahan Royal Sumatera. Stage-2 yang
yang dibangun di tiga kluster yang berbeda. Keterangan lebih lengkap dapat dilihat
di Tabel 4.1. dibawah ini.
Tabel 4.1. Gambaran Umum Stage-2 Royal Sumatra
No. Jenis/ Tipe Rumah Jumlah Unit Fasilitas MCK
1. Kluster Ruby
- Tipe 350
30
30 5
2. Kluster Diamond
- Tipe 350
3. Kluster Saphire
- Tipe 350
Sumber: Royal Sumatra, 2013 4.2. Uraian Proses Rancangan
Dalam perencaanaan pengolahan limbah domestik perumahan Royal Sumatra, hal pertama yang harus diketahui adalah sumber limbah domestik. Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui sumber limbah domestik berasal dari
aktifitas penghuni yang bermukim di kawasan perumahan dengan komposisi air
limbah terdiri dari 99,9% air dan 0,1% padatan, dimana 80% dari konsumsi
pemakaian akan menjadi air limbah. Asumsi pemakaian air untuk kebutuhan
domestik seperti mandi, cuci, masak, dan lain-lainnya.
sedangkan rumah demgan 4 kamar tidur dihuni 8 orang. Sehingga berdasarkan tipe
rumah, diperkirakan jumlah penghuni yang bermukim di perumahan Royal
Sumatera dapat dihitung dengan persamaan (3.1.).
∑P = jumlah penghuni per unit rumah x jumlah rumah………... (3.1)
1. Tipe 350
∑P1 = 5 orang per unit rumah x 170 unit rumah
= 850 orang……… (4.1)
2. Tipe 500
∑P2 = 6 orang per unit rumah x 8 unit rumah
= 48 orang………. (4.2)
3. Tipe 750
∑P3 = 8 orang per unit rumah x 2 unit rumah
= 16 orang……… (4.3)
Prakiraan jumlah penghuni yang bermukim di kawasan perumahan Royal Sumatra adalah 914 orang, dengan perhitungan sebagai berikut.
∑Ptot = 850 + 48 + 16
= 914 orang ……….... (4.4)
Upaya pengelolaan limbah domestik dengan sistem ABR yang berasal dari kamar
mandi dan septic tank perumahan Royal Sumatra, direncanakan terbagi dalam 3 (tiga) unit pengolahan. Penetapan ketiga lokasi pengolahan ini dilakukan dengan
pertimbangan keefektifan pengolahan yang disesuaikan dengan jumlah populasi
dan kondisi topografi wilayah. Adapun spesifikasi kriteria pengolahan dapat
Tabel 4.2. Spesifikasi Kriteria Pengolahan ABR
ABR Lokasi /
Kluster Jenis Rumah
Jumlah
Sumber : Royal Sumatra, 2013
Berdasarkan tabel di atas jumlah keseluruhan fasilitas MCK yang akan
4.2.1. Kriteria ABR 1 a. Lokasi Pengolahan
ABR 1 di tempatkan pada kluster Ruby, dimana letak pengolahan dapat
diperhatikan pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2. Lokasi Pengolahan ABR I Kluster Ruby b. Jumlah Fasilitas MCK
Pembangunan fasilitas penunjang MCK (mandi cuci kakus) merupakan syarat
mutlak pengembangan rumah huni yang sehat dan ramah Iingkungan.
Berdasarkan tabel 4.2. diketahui jumlah fasilitas MCK pada lokasi pengolahan
ABR 1 yaitu 150 unit dari total 30 unit rumah.
c. Perkiraan Jumlah Penghuni
Jumlah penghuni yang bermukim di lokasi pengolahan ABR 1 dapat ditentukan
berdasarkan asumsi jumlah penghuni dan jumlah unit rumah yang akan
dibangun pada masing-masing blok. Perkiraan jumlah penghuni pada lokasi
pengolahan ABR 1 adalah sebagai berikut.
∑P = jumlah penghuni per unit rumah x jumlah rumah
Tipe 350
∑P1 = 5 orang per unit rumah x 30 unit rumah = 150 orang
Total estimasi penghuni = 150 orang
d. Debit Limbah
Adapun asumsi jumlah limbah per orang per hari untuk setiap jenis rumah
menengah yaitu 90 liter/orang/hari, rumah sederhana 100 liter/orang/hari, dan
rumah mewah 150 liter/orang/hari, dimana 80% dari pemakaian air bersih
menjadi air limbah (Cai Nie, 2012). Seperti yang terlihat pada tabel 4.2. debit
Q = jumlah penghuni x debit limbah per orang per hari
Tipe 350
Q350 =150 orang x 150 liter/orang/hari x 80%
= 18000 liter/hari = 18,00 m3/hari
Jadi debit total air limbah domestik yang akan masuk ke ABR 1 adalah 18,0
4.2.2 Kriteria ABR 2
a. Lokasi Pengolahan
Kawasan kluster Diamond akan ditempatkan ABR 2, dimana letak pengolahan
dapat diperhatikan di Gambar 4.3.
Gambar 4.3. Lokasi Pengolahan ABR II Kluster Diamond b. Jumlah Fasilitas MCK
Berdasarkan data fasilitas MCK pada tabel 4.2. diketahui jumlah total fasiltas
MCK pada kluster Diamond 308 unit yang digunakan sebagai sarana
pembuanganlimbah domestik.
c. Perkiraan Jumlah Penghuni
Perkiraan jumlah penghuni yang bermukim di kluster Diamond berdasarkan
jumlah unit bangunan dan asumsikan jumlah penghuni setiap kamar. Sehingga
diketahui jumlah penghuni berdasarkan persamaan berikut:
1. Tipe 350
∑P1 = 5 orang per unit rumah x 58 unit rumah
= 290 orang
2. Tipe 500
∑P2 = 6 orang per unit rumah x 3 unit rumah
=18 orang
∑Ptot= 290 + 18
= 308 orang
Berdasarkan perhitungan,di perkiraan jumlah penghuni yaitu 308 orang.
d. Debit Limbah
Asumsi dalam penentuan debit limbah pada pengolahan ABR 2 yang berlokasi
di kluster Diamond di tentukan berdasarkan jumlah total penghuni yang
bermukim di kawasan pengolahan dan pemakaian air, sehingga diketahui debit
1. Tipe 350
Q350 = 290 orang x 150 liter/orang/hari x 80%
=34.800 liter/hari = 34,8 m3/hari 2. Tipe 500
Q500 = 18 orang x 150 liter/orang/hari x 80%
= 2.160 liter/hari = 2,16 m3/hari
Jadi debit total air limbah yang akan masuk ke pengolahan ABR 2 yaitu:
QABR2 = 2,16 m3/hari + 34,8 m3/hari
4.2.3 Kriteria ABR 3 a. Lokasi Pengolahan
Kluster Sapphire merupakan kawasan terpadat dengan jumlah unit rumah lebih
banyak dibandingkan kluster lainnya. Topografi lokasi ABR 3 dapat di
perhatikan pada Gambar 4.4. dibawah ini.
Gambar 4.4 Lokasi pengolahan ABR III Kluster Sapphire b. Jumlah Fasilitas MCK
Proyeksi pengadaan fasilitas MCK disetiap jenis rumah pada blok ini mencapai
452 unit, dimana aliran limbah domestik akan dialirkan menuju ABR 3. Pada
tabel 4.2 menjelaskan data mengenai fasilitas MCK yang limbahnya akan
dialirkan pengolahan dengan sistem up flow.
d. Perkiraan Jumlah Penghuni
Asumsi data yang diperlukan dalam perencanaan pengolahan limbah domestik
yang secara tents-menerus akan berkontribusi terhadap timbulnya limbah
dengan sistem ABR berdasarkan persamaan berikut.
1. Tipe 350
∑ P1 = 5 orang per unit rumah x 82 unit rumah
= 410 orang
2. Tipe 500
∑ P2 = 6 orang per unit rumah x 5 unit rumah
= 30 orang
3. Tipe 750
∑ P3 = 8 orang per unit rumah x 2 unit rumah
= 16 orang
Perkiraan jumlah penghuni kluster Sapphire adalah sebagai berikut.
∑ Ptot = 410 + 30 + 16
e. Debit Limbah
Penentuan dimensi pengolahan erat kaitannya dengan mengetahui sumber dan
debit limbah, sehingga pengolahan yang direncanakan dapat berfungsi dengan
baik. Pada blok ini diperkirakan memiliki tingkat populasi, jenis bangunan, dan
sumber limbah yang lebth banyak dibandingkan pengolahan pada lokasi
lainnya. Untuk menentukan debit limbah diketahui berdasarkan kriteria
perencanaan dan persamaan berikut.
1. Tipe 350
Q350 = 410 orang x 150 liter/orang/hari x 80%
= 49200 liter/hari = 49,2 m3/hari
2. Tipe 500
QModenna = 30 orang x 150 liter/orang/hari x 80%
=3.600 liter/hari = 3,6 m3/hari
3. Tipe 750
Q750 = 16 orang x 150 liter/orang/hari x 80%
= 1.920 liter/hari = 1,92 m3/hari
Debit total air limbah domestik perumahan yang akan masuk ke ABR 3
adalah sebagai berikut:
QABR3 = 49,2 m3/hari + 3,6 m3/hari + 1,92 m3/hari
4.3. Dimensi ABR
Penentuan dimensi pengolahan berdasarkan sumber dan debit limbah dan
setiap lokasi ABR. Pada unit pengolahan yang direncanakan, ada beberapa kriteria
desain yang hams dipenuhi dan menjadi syarat dalam penentuan dimensi
pengolahan. Kriteria desain tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.3 Kriteria Desain Pengolahan ABR
Kriteria Desain Jumlah Satuan
Settleable SS/COD ratio 0,35 — 0,45 mg/L
BOD/COD ratio 0,5-0,8
Sumber: Cai Nie, 2012
Kriteria perencanaan pengolahan limbah domestik perumahan Royal
Sumatra, merupakan ketentuan teknis yang digunakan dalam perencanaan sistem
pengolahan. Kriteria yang di tetapkan pada tiap ABR, berdasarkan Tabel 4.4.
Tabel 4.4. Kriteria Perencanaan ABR
Kriteria Perencanaan Jumlah Satuan
Settleable SS/COD ratio 0,38 mg/L
HRT 2 Jam
BOD/COD ratio 0,5
Pengurasan Lumpur 18 Bulan
Lama aliran limbah 24 Jam
COD yang masuk ke pengolahan 690 mg/L
Sumber: Cai Nie, 2012
4.3.1. Dimensi ABR I - Kluster Ruby
Penentuan dimensi settling tank khususnya peak flow rate pengolahan ABR
1, diketahui berdasarkan persamaan (3.3) berikut.
limbah
Faktor pengurangan COD karena pengendapan untuk HRT 2 jam diperoleh
faktor 0,38 settleable SS/COD ratio 0,42 dan direncanakan BOD/COD ratio adalah
0,5. Jadi COD removal pada settling tank dapat ditentukan melalui persamaan (3.4).
0,5
Pada gambar 4.6. akan diperoleh faktor COD/BOD removal pada proses
pengendapan sebesar 1.06. BOD removal pada settling tank ditentukan dengan
persamaan berikut.
BOD = COD removal x nilai pengurangan COD
= 24 % x 1,06
= 25 %
Sumber : Cai Nie, 2012
Gambar 4.6. Rasio Pengurangan COD dengan Pengurangan BOD Kluster I
Berdasarkan tabel 4.4. Kriteria Perencanaan ABR, jumlah BOD yang
masuk ke dalam pengolahan yaitu 390 mg/L dan COD yaitu 690 mg/L sehingga
diketahui kandungan COD dan BOD yang masuk ke baffled reactor adalah sebagai
berikut:
COD = (1 – 0,24) x 690 mg/L
= 524,4 mg/liter
BOD = (1 – 0.25) x 390 mg/L
Langkah selanjutnya adalah menghitung volume endapan lumpur dan
ukuran bak yang dibutuhkan. Karena pengurasan lumpur di tetapkan 18 bulan,
maka dari gambar 4.7. akan di peroleh faktor 74%. Angka ini merupakan faktor
reduksi dari volume lumpur karena di simpan selama 18 bulan. Sebagai patokan
tanpa efek pemampatan karena penyimpanan volume lumpur yang terjadi dari 1
gram BOD removal adalah 0,005 liter. Karena itu, = 0,005 x 74%
= 0,0037 liter/gr BOD removal
Sumber: Cai Nie, 2012
Gambar 4.7. Grafik Pengurangan Volume Lumpur Selama Waktu Penyimpanan Kluster I
Hydraulic retention time (HRT) ditetapkan adalah 2 jam dan flow rate
adalah 2,05 m3/jam, maka volume yang dibutuhkan untuk menginapkan limbah selama 2 jam tersebut adalah:
V11 = 2 jam x 2,05 m3/jam
= 4,1 m3
Persamaan (3.7) untuk menentukan volume settling tank yang dibutuhkan agar sistem tetap bekerja dengan baik seperti berikut.
V = volume sludge + volume inapan limbah
vst = 8,34 m3 + 4,1 m3
= 12,44 m3
Lebar settling tank di tetapkan 2 m dan kedalamannya 1,5 m, maka panjang dari settling tank di tentukan dengan persamaan (3.8).
t)
Parameter desain dalam menghitung baffled reactor adalah up-flow velocity < 2 m/jam. Pada perencanaan pengolahan domestik perumahan Royal Sumatra di tetapkan up-flow velocity yaitu 1,8 m/jam. Parameter desain yang lain adalah minimum jumlah chamber untuk baffled reactor adalah 4 buah, pada pengolahan ini di tetapkan 6 buah. Kedalaman pada outlet pengolahan di tetapkan 1m.
Persamaan (3.8) dan (3.9) di gunakan untuk menentukan luas area dan lebar untuk
Maka lebar dari chamber baffled reactor adalah sebagai berikut.
panjang
Volume total baffled reactor diketahui berdasarkan persamaaan berikut.
Vtot= jumlah baf fled x (lebar settling tank x (lebar baf fled)x kedalaman)
Vtot = 6 x (2 x (0,75 + 0,25) x 1,5
= 9 m3
HRT (hydraulic retention time) baffled reactor, untuk volume 18 m3 limbah yaitu:
Pada sistem dengan pengolahan baffled reactor, ada 5 faktor yang dipakai untuk menghitung pengurangan BOD. Factor-faktor tersebut di sajikan dalam
bentuk grafik, sehingga mempermudah dalam proses perkiraan pengurangan
kandungan organiknya. Faktor-faktor untuk menghitung removal BOD pada baffled reactor adalah sebagai berikut:
1. Faktor akibat waste water strength
Strength adalah tingkat kandungan di dalam baffled reactor, dimana untuk kandungan BOD yang tinggi, maka faktor pengurangannya juga akan tinggi.
Bila kandungan BOD rendah, maka faktor pengurangan juga rendah. Kadar
BOD yang masuk ke baffled reactor adalah 292,5 mg/liter, dari gambar 4.8. diperoleh faktomya adalah 0.79.
Gambar 4.8. Grafik Hubungan antara Faktor BOD Removal dengan BOD influent Kluster I
2. Faktor yang di akibatkan oleh temperatur
Dibandingkan proses aerobik, proses anaerobik lebih sensitif terhadap
temperatur. Jika temperatur rendah, efisiensi pengolahan akan menurun drastis.
Hubungan antara temperatur dan BOD removal bisa di lihat pada gambar 4.9.
Karena temperatur daerah tropis umumnya 25-30°C sehingga faktor yang
diakibatkan temperatur pada pengurangan BOD adalah 1.
Gambar 4.9. Grafik Faktor Temperatur Kluster I
3. Faktor jumlah uplift chamber
Karena jumlah uplift chamber ditetapkan 6 buah jadi diperoleh faktornya
adalah 1,09.
Gambar 4.10. Grafik Hubungan antara Jumlah Uplift Chamber dan BOD Removal
Kluster I
Cai Nie, 2012
4. Faktor HRT di dalam baffled reactor
Dari grafik diperoleh faktor untuk HRT 12 jam adalah 0,82
Gambar 4.11. Faktor HRT dalam Baffled Reactor Kluster I
5. Faktor volumetric BOD loading
Volumetric BOD loading berarti untuk tiap m3 volume dari baffled reactor
akan dibebani untuk mengolah berapa kg BOD per hari (berbasis pada aliran
peak flow rate). Dalam hal ini, angkanya adalah sebagai berikut:
= BOD inf luen x flow rate x 24 jam 1000/ volume total BR
= 292,5 mg/lx 2,05 m3/jam x 24 jam / 1000/ 18 m3
= 2,1 kg BOD/m3 hari (didapat faktor 1)
Gambar 4.12. Faktor Volumetric BOD Loading Kluster I
Cai Nie, 2012
Dari faktor-faktor tersebut maka BOD removal dari sistem yang didesain adalah : = fwws x ftemp x fch x fHRT X floading
= 0,78x 1 x 1,09 x 0,82 x 1
= 0,7 atau 70%
Dengan demikian BOD effluent adalah: = (1 — 0,7) x 292,5 mg/L
= 87,75 mg/L
Berdasarkan perhitungan tersebut diketahui bahwa dimensi pengolahan ABR 1
seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.5. Dimensi Pengolahan ABR I - Kluster Ruby
Dimensi Pengolahan Jumlah Satuan
Dimensi Settling Tank:
Panjang
4.3.2. Dimensi ABR II - Kluster Diamond
Penentuan dimensi settling tank khususnya peak flow rate pengolahan ABR
1, diketahui berdasarkan persamaan (3.3) berikut.
limbah
Faktor pengurangan COD karena pengendapan untuk HRT 2 jam diperoleh
faktor 0,38 settleable SS/COD ratio 0,42 dan direncanakan BOD/COD ratio adalah
0,5. Jadi COD removal pada settling tank dapat ditentukan melalui persamaan (3.4).
0,5
Gambar 4.13. Grafik HRT dengan Faktor Pengurangan COD Kluster II
pengendapan sebesar 1.06. BOD removal pada settling tank ditentukan dengan
persamaan berikut.
BOD = COD removal x nilai pengurangan COD
= 24 % x 1,06
= 25 %
Sumber : Cai Nie, 2012
Gambar 4.14. Grafik Rasio Pengurangan COD dengan Pengurangan BOD
Kluster II
Berdasarkan tabel 4.4. Kriteria Perencanaan ABR, jumlah BOD yang
masuk ke dalam pengolahan yaitu 390 mg/L dan COD yaitu 690 mg/L sehingga
diketahui kandungan COD dan BOD yang masuk ke baffled reactor adalah sebagai
berikut:
COD = (1 – 0,24) x 690 mg/L
= 524,4 mg/liter
BOD = (1 – 0.25) x 390 mg/L
= 292,5 mg/liter
Langkah selanjutnya adalah menghitung volume endapan lumpur dan
ukuran bak yang dibutuhkan. Karena pengurasan lumpur di tetapkan 18 bulan,
maka dari gambar 4.15. akan di peroleh faktor 72%. Angka ini merupakan faktor
reduksi dari volume lumpur karena di simpan selama 18 bulan. Sebagai patokan
tanpa efek pemampatan karena penyimpanan volume lumpur yang terjadi dari 1
gram BOD removal adalah 0,005 liter. Karena itu, = 0,005 x 74%
= 0,0037 liter/gr BOD removal
Sumber: Cai Nie, 2012
Gambar 4.15. Grafik Pengurangan Volume Lumpur Selama Waktu Penyimpanan Kluster II
Volume sludge yang akan terjadi selama 18 bulan di tentukan berdasarkan persamaan (3.6).
adalah 2,05 m3/jam, maka volume yang dibutuhkan untuk menginapkan limbah selama 2 jam tersebut adalah:
V11 = 2 jam x 2,05 m3/jam
= 4,1 m3
Persamaan (3.7) untuk menentukan volume settling tank yang dibutuhkan agar sistem tetap bekerja dengan baik seperti berikut.
V = volume sludge + volume inapan limbah
vst = 17,12 m3 + 4,1 m3
= 21,22 m3
Lebar settling tank di tetapkan 2 m dan kedalamannya 1,5 m, maka panjang dari settling tank di tentukan dengan persamaan (3.8).
t)
Parameter desain dalam menghitung baffled reactor adalah up-flow velocity < 2 m/jam. Pada perencanaan pengolahan domestik perumahan Royal Sumatra di tetapkan up-flow velocity yaitu 1,8 m/jam. Parameter desain yang lain adalah minimum jumlah chamber untuk baffled reactor adalah 4 buah, pada pengolahan ini di tetapkan 8 buah. Kedalaman pada outlet pengolahan di tetapkan 1m.
Parameter yang perlu ditetapkan adalah perbandingan antara panjang (L) dari dalam
(D), dimana pada pengolahan ini ditetapkan 0,5 maka panjang (L) adalah 0,5 m.
satu chamber.
Maka lebar dari chamber baffled reactor adalah sebagai berikut.
panjang
Volume total baffled reactor diketahui berdasarkan persamaaan berikut.
Vtot= jumlah baf fled x (lebar settling tank x (lebar baf fled)x kedalaman)
Vtot = 7 x (2 x (0,75 + 0,25) x 1,5
= 21 m3