• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekuatan Pembuktian Kode Wibe Site Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kekuatan Pembuktian Kode Wibe Site Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme"

Copied!
172
0
0

Teks penuh

(1)

KEKUATAN PEMBUKTIAN KODE

WIBE SITE

DALAM

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME

TESIS

Oleh

SYMON MORRYS 077005122 / HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

KEKUATAN PEMBUKTIAN KODE

WIBE SITE

DALAM

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Humaniora Dalam Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

SYMON MORRYS 077005122 / HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul Tesis : KEKUATAN PEMBUKTIAN KODE WIBE SITE DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME

Nama Mahasiswa : Symon Morrys Nomor Pokok : 077005122 Program Studi : Ilmu Hukum

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Chainur Arrasjid, SH Ketua

)

(Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum) (Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum

Anggota Anggota

)

Ketua Program Studi D e k a n

(Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH) (Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum)

(4)

Telah diuji pada Tanggal 23 Juli 2010

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Chainur Arrasjid, SH

Anggota : 1. Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum 2. Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum

3. Prof. Dr. Suwarto, SH, MH

(5)

ABSTRAK

Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap Negara. Upaya penanggulangan tindak pidana terorisme diwujudkan pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002, yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Diperlukannya undang-undang ini karena pemerintah menyadari tindak pidana terorisme merupakan suatu tindak pidana yang luar biasa, sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa juga. Dalam beberapa kasus, penguasaan terhadap teknologi sering kali disalahgunakan untuk melakukan suatu kejahatan. Di antara ragam kejahatan menggunakan teknologi, terdapat di dalamnya suatu bentuk kejahatan terorisme baru.

Permasalahan dalam penelitian ini adalah pertama, bagaimana kedudukan alat bukti berupa informasi elektronik dalam hukum acara pidana di Indonesia? kedua, bagaimana kekuatan pembuktian alat bukti informasi elektronik dalam

undang-undang pemberantasan tindak pidana teorisme? dan ketiga, Apa saja yang menjadi

kendala dalam pembuktian kode wibe site dalam undang-undang pemberantasan

tindak pidana terorisme?

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif yakni mengacu kepada nilai-nilai dan norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan. Dalam hal ini Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Putusan Perkara Nomor 84/PID/B/2007 PN SMG.

Kesimpulan yang diperoleh adalah pertama, kedudukan alat-alat bukti wibe

site dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Terorisme, hanya sebagai alat bukti pendukung digolongkan kepada alat bukti petunjuk jika dipandang dari hukum acara pidana, kedua, kekuatan alat bukti dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme merupakan alat bukti yang berdiri sendiri, tidak termasuk sebagai alat

bukti bukti petunjuk sebagaimana menurut pandangan hukum acara pidana, ketiga,

kendala dalam pembuktian Wibe Site terasa sangat sulit untuk mengidentifikasi data-data misalnya kesulitan dalam mencari data-data, nilai, yang selalu berubah dalam suatu dokumen HTML disebabkan baris program HTML yang digunakan hanya terdiri dari

delapan baris. Namun, dokumen HTML yang berasal dari Wibe Site Al-Anshar.net

memiliki jumlah program HTML sebanyak 326 baris. Dengan jumlah baris program sebanyak itu, menghabiskan waktu apabila dilakukan pemeriksaan baris per baris.

(6)

ABSTRACT

Terrorism is a crime against humanity and civilization and is one of the serious threatto the sovereignty of each State. Criminal acts of terrorism prevention efforts embodied by the government issued Government Regulation in Lieu of Law No. 1 of 2002, which is then approved by Parliament to be a Law No. 15 of 2003 on Combating Criminal Acts of Terrorism. Need for this law because the government realizes the crime of terrorism is an extraordinary crime, requiring extraordinary handling as well. In some cases, mastery of technology is often misused to commit a crime. Among the variety of crime using technology, there is in it some new forms of terrorism crimes.

The problem in this study is the first, how the position of evidences in the form of electronic information in criminal procedural law in Indonesia? second, how the evidence proving the power of electronic information in the legislation the eradication of terrorism? and third, What are the obstacles in the proof wibe code site in the legislation the eradication of terrorism?

The methode used in this research is normative reference to the values and legal norms contained in legislation and court decisions.In this case,act no.15 of 2003 on Combating Criminal Acts of Terrorism and Decision Case Number 84/PID/B/2007 PN SMG.

Conclusions obtained are first, the position of the means of proof wibe site in Law Number 15 Year 2003 on Combating Criminal Acts of Terrorism, just as a means of supporting evidence is classified to guide evidence when viewed from the law of criminal procedure, secondly, the strength of evidence in Law Number 15 Year 2003 on Combating Criminal Acts of Terrorism is evidence of an independent, not included as evidence as proof instructions in the view of criminal procedural law, third, difficulties in proving Wibe Site was very difficult to identify such data problems in search of data, value, which is always changing in an HTML document is caused program lines of HTML that is used only consists of eight lines. However, an HTML document derived from Al-Anshar.net Wibe Site has a number of programs as much as 326 lines of HTML. With the number of lines of the program that much, spend time checking if it is done line by line.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis Panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala

berkat dan kasih karunia-Nya sehingga Tesis ini dapat diselesaikan dengan baik dan

tepat pada waktunya. Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi syarat untuk mencapai

gelar Magister Humaniora pada Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum

Univesitas Sumatera Utara, Medan.

Adapun judul Tesis penelitian ini adalah: “ KEKUATAN PEMBUKTIAN

KODE WIBE SITE DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA

TERORISME ”. Di dalam menyelesaikan Tesis ini, penulis banyak memperoleh bantuan baik berupa pengajaran, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh

karena itu Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan

setinggi-tingginya kepada yang terhormat para pembimbing : Prof. Chainur Arrasjid, SH.,

Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum., Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum.,

Dimana di tengah-tengah kesibukannya masih tetap meluangkan waktunya untuk

memberikan bimbingan, petunjuk, dan mendorong semangat penulis untuk

menyelesaikan penulisan Tesis ini.

Perkenankanlah juga, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada

semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian studi ini, kepada:

1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu,

DTM&H, MSc (CTM), SpA(K) diberikan kepada penulis untuk mengikuti

(8)

2. Dekan Fakultas Hukum Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, atas kesempatan

menjadi mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara.

3. Ketua Program Studi Ilmu Hukum Prof. Dr. H. Bismar Nasution, SH, MH,

atas kesempatan menjadi mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Prof. Dr. Suwarto, SH, MH, sebagai Komisi Penguji penulis, yang telah

meluangkan waktunya dan dengan penuh perhatian memberikan dorongan,

bimbingan, saran kepada penulis.

5. Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum., sebagai Komisi Penguji sekaligus Sekretaris

yang telah meluangkan waktunya dan dengan penuh perhatian memberikan

dorongan, bimbingan, saran dan masukan yang sangat penting kepada penulis.

6. Kepada Kedua Orang Tua tercinta yang semasa hidupnya mendidik dengan

penuh rasa kasih sayang.

7. Kepada Abang , Kakak dan Adik Penulis sayangi, atas kesabaran dan

pengertiannya serta memberikan Doa dan semangat kepada penulis dalam

menyelesaikan penulisan Tesis ini.

8. Kepada Rekan-rekan di Program Studi Ilmu Hukum Universitas Sumatera

Utara, Beserta seluruh Staff Ilmu Hukum terima kasih atas segala bantuan

selama penulis mengikuti perkuliahan, semoga Tuhan membalas kebaikan

yang berlipat ganda, dan rekan-rekan kerja saya yang tidak dapat disebutkan

(9)

Akhirnya penulis berharap semoga Tesis ini dapat memberi manfaat dan

menyampaikan permintaan yang tulus jika seandainya dalam penulisan ini terdapat

kekurangan dan kekeliruan, penulis juga menerima kritik dan saran yang bertujuan

serta bersifat membangun untuk menyempurnakan penulisan Tesis ini.

Medan, Oktober 2010

Penulis,

(10)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Symon Morrys

Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 25 Oktober 1981

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Kristen Protestan

Pekerjaan : PNS KEJARI

Alamat : Jl. Bumi Raya VI No. 24 Duren Sawit

Jakarta Timur

Pendidikan : SD Budi Luhur Tangerang Tamat Tahun 1994

SMP Budi Luhur Tangerang Tamat Tahun 1997

SMA Negeri 53 Tangerang Tamat Tahun 2000

Strata Satu (S1) Fakultas Hukum Tri Sakti Tamat Tahun 2006

Strata Dua (S2) Program Studi Ilmu Hukum

(11)

ABSTRAK

Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap Negara. Upaya penanggulangan tindak pidana terorisme diwujudkan pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002, yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Diperlukannya undang-undang ini karena pemerintah menyadari tindak pidana terorisme merupakan suatu tindak pidana yang luar biasa, sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa juga. Dalam beberapa kasus, penguasaan terhadap teknologi sering kali disalahgunakan untuk melakukan suatu kejahatan. Di antara ragam kejahatan menggunakan teknologi, terdapat di dalamnya suatu bentuk kejahatan terorisme baru.

Permasalahan dalam penelitian ini adalah pertama, bagaimana kedudukan alat bukti berupa informasi elektronik dalam hukum acara pidana di Indonesia? kedua, bagaimana kekuatan pembuktian alat bukti informasi elektronik dalam

undang-undang pemberantasan tindak pidana teorisme? dan ketiga, Apa saja yang menjadi

kendala dalam pembuktian kode wibe site dalam undang-undang pemberantasan

tindak pidana terorisme?

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif yakni mengacu kepada nilai-nilai dan norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan. Dalam hal ini Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Putusan Perkara Nomor 84/PID/B/2007 PN SMG.

Kesimpulan yang diperoleh adalah pertama, kedudukan alat-alat bukti wibe

site dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Terorisme, hanya sebagai alat bukti pendukung digolongkan kepada alat bukti petunjuk jika dipandang dari hukum acara pidana, kedua, kekuatan alat bukti dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme merupakan alat bukti yang berdiri sendiri, tidak termasuk sebagai alat

bukti bukti petunjuk sebagaimana menurut pandangan hukum acara pidana, ketiga,

kendala dalam pembuktian Wibe Site terasa sangat sulit untuk mengidentifikasi data-data misalnya kesulitan dalam mencari data-data, nilai, yang selalu berubah dalam suatu dokumen HTML disebabkan baris program HTML yang digunakan hanya terdiri dari

delapan baris. Namun, dokumen HTML yang berasal dari Wibe Site Al-Anshar.net

memiliki jumlah program HTML sebanyak 326 baris. Dengan jumlah baris program sebanyak itu, menghabiskan waktu apabila dilakukan pemeriksaan baris per baris.

(12)

ABSTRACT

Terrorism is a crime against humanity and civilization and is one of the serious threatto the sovereignty of each State. Criminal acts of terrorism prevention efforts embodied by the government issued Government Regulation in Lieu of Law No. 1 of 2002, which is then approved by Parliament to be a Law No. 15 of 2003 on Combating Criminal Acts of Terrorism. Need for this law because the government realizes the crime of terrorism is an extraordinary crime, requiring extraordinary handling as well. In some cases, mastery of technology is often misused to commit a crime. Among the variety of crime using technology, there is in it some new forms of terrorism crimes.

The problem in this study is the first, how the position of evidences in the form of electronic information in criminal procedural law in Indonesia? second, how the evidence proving the power of electronic information in the legislation the eradication of terrorism? and third, What are the obstacles in the proof wibe code site in the legislation the eradication of terrorism?

The methode used in this research is normative reference to the values and legal norms contained in legislation and court decisions.In this case,act no.15 of 2003 on Combating Criminal Acts of Terrorism and Decision Case Number 84/PID/B/2007 PN SMG.

Conclusions obtained are first, the position of the means of proof wibe site in Law Number 15 Year 2003 on Combating Criminal Acts of Terrorism, just as a means of supporting evidence is classified to guide evidence when viewed from the law of criminal procedure, secondly, the strength of evidence in Law Number 15 Year 2003 on Combating Criminal Acts of Terrorism is evidence of an independent, not included as evidence as proof instructions in the view of criminal procedural law, third, difficulties in proving Wibe Site was very difficult to identify such data problems in search of data, value, which is always changing in an HTML document is caused program lines of HTML that is used only consists of eight lines. However, an HTML document derived from Al-Anshar.net Wibe Site has a number of programs as much as 326 lines of HTML. With the number of lines of the program that much, spend time checking if it is done line by line.

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hak untuk hidup adalah hak asasi yang paling dasar bagi seluruh manusia.

Hak hidup merupakan bagian dari hak asasi yang memiliki sifat tidak dapat ditawar

lagi (non derogable rights).1 Artinya, hak untuk hidup mutlak harus dimiliki setiap

orang, karena tanpa adanya hak untuk hidup, maka tidak ada hak-hak asasi lainnya.

Hak tersebut juga menandakan setiap orang memiliki hak untuk hidup dan tidak ada

orang lain yang berhak untuk mengambil hak hidupnya. Dalam hal ini terdapat

beberapa pengecualian seperti untuk tujuan penegakan hukum, sebagaimana yang

diatur dalam Article 2 European Convention on Human Rights yang menyatakan:2

Protection the right of every person to their life. The article contains exceptions for the cases of lawful executions, and deaths as a result of the use of force which is no more than absolutely necessary in defending ones self or others, arresting a suspect or fugitive, and suppressing riots or insurrections”.

Pengecualian terhadap penghilangan hak hidup tidak mencakup pada

penghilangan hak hidup seseorang oleh orang lainnya yang berdasarkan ketentuan

perundang-undangan yang berlaku. Salah satu contoh penghilangan hak hidup

manusia adalah eksekusi putusan pengadilan melalui sanksi pidana mati bagi pelaku

1

I. Sriyanto., dan Desiree Zuraida,, Modul Instrumen HAM Nasional: Hak Untuk Hidup, Hak

Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan Serta Hak Mengembangkan Diri, (Jakarta: Departemen Hukum dan HAM RI, Direktorat Jenderal Perlindungan HAM, 2001), hal. 1

2

http://en.wikipedia.org/, “European_Convention_on_Human_Rights_files, “European

(14)

tindak pidana terorime. Sanksi pidana mati dalam tindak pidana terorisme dibuat

karena aksi terorisme jelas telah melecehkan nilai kemanusiaan, martabat, dan norma

agama. Terorisme juga telah menunjukan gerakannya sebagai tragedi atas hak asasi

manusia.3

Terorisme merupakan kejahatan terhadap peradaban kemanusiaan serta

merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap negara karena

terorisme sudah merupakan kejahatan yang bersifat transnasional (internasional) yang

menimbulkan bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan

kesejahteraan masyarakat sehingga perlu dilakukan pemberantasan secara berencana

dan berkesinambungan sehingga hak asasi orang banyak dapat dilindungi dan

dijunjung tinggi.4 Pernyataan tersebut sejalan dengan tujuan bangsa Indonesia yang

termaktub dalam Undang-undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap bangsa

Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan

umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.5

Secara global, modus-modus serangan bom oleh teorisme masih marak salah

satu faktornya adalah kerasnya pertarungan politik dalam kerangka perang global.

Secara konstitusi, politik luar negeri Indonesia menganut paham bebas aktif yang

berarti tidak memiliki posisi konflik terhadap kelompok mana pun, tetapi imbas

3

Abdul Wahid., Sunardi., dan Muhamad Imam Sidik., Kejahatan Terorisme: Perspektif

Agama, HAM dan Hukum, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2004), hal. 2.

4

Indonesia (a)., Undang-Undang Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UUPTPT), LN. No. 45 Tahun 2003, TLN. No. 4284, Penjelasan umum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme paragraf 2.

5

(15)

kejadian terorisme internasional kadang mencapai wilayah kedaulatan Republik

Indonesia. Pada Juli 2008, Kedutaan Besar RI (KBRI) Afghanistan di Kabul terkena

dampak sampingan ledakan bom mobil bunuh diri di Kedubes India. Akibatnya, lima

orang petugas keamanan KBRI tewas dan dua orang diplomat luka-luka dan 60%

kaca dan pintu hancur, serta bangunan KBRI di Kabul rusak parah.6

Selain dari kejadian yang bersifat dampak sampingan tersebut, hasil

penyelidikan dan penyidikan tindak terorisme besar yang pernah terjadi di Indonesia

mengindikasikan bahwa motif pelaku memiliki keterkaitan langsung dengan konflik

di dunia internasional atau regional. Masih banyaknya aktor teroris yang belum

tertangkap hingga tahun 2010 ini membuktikan bahwa kekuatan berbaur, militansi,

mobilitas, dan adaptasi para tokoh terorisme sangat kuat. Sisa jaringan yang

melakukan aksi peledakan besar sepanjang 2002-2010 seperti bom Bali pada tahun

2002, Bom di gedung World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, bom di JW

Marriot pada tahun 2003, bom di depan Kedutaan Besar Australia pada tahun 2004,

bom Bali II pada tahun 2005, dan sekelompok pelatihan teroris di Nangro Aceh

Darussalam, masih berkembang biak di Nusantara, yaitu dengan perekrutan dan

penambahan anggota jaringan baru dalam kerangka kaderisasi organisasi. Jaringan

tersebut juga diindikasikan masih memiliki sejumlah senjata api, amunisi, dan bahan

peledak yang sangat berbahaya.

6

(16)

Aksi terorisme di Indonesia mencuat ke permukaan setelah terjadinya Bom

Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002, Peristiwa ini tepatnya terjadi di Sari Club dan

Peddy’s Club, Kuta, Bali. Sebelumnya, tercatat juga beberapa aksi terorisme di

Indonesia antara lain kasus Bom Istiqlal pada tanggal 19 April 1999, Bom Malam

Natal pada tanggal 24 Desember 2000, Bom di Bursa Efek Jakarta pada September

2000, serta penyanderaan dan pendudukan Perusahaan Mobil Oil oleh Gerakan Aceh

Merdeka pada tahun yang sama.

Kembali pada kasus Bom Bali I. Aksi terorisme melalui peledakan bom mobil

di Jalan Raya Legian Kuta ini semula direncanakan dilaksanakan pada 11 September

2002, bertepatan dengan peringatan setahun tragedi di Gedung World Trade Center

New York, Amerika Serikat. Seperti diketahui, peristiwa tanggal 11 September 2002

ini mengawali “Perang Global” terhadap terorisme yang dipimpin oleh Amerika

Serikat. Kebijakan Amerika Serikat yang berat sebelah seperti memunculkan “Jihad

adalah Terorisme” khususnya di kalangan umat Islam. Dalam memerangi terorisme

telah menjadi alasan beberapa kelompok teroris untuk melakukan perlawanan, salah

satunya dilakukan oleh Ali Imron, Ali Gufron, dan Amrozi.7

Indonesia sebagai negara hukum (rechtstaat) memiliki kewajiban untuk

melindungi harkat dan martabat manusia. Demikian pula dalam hal perlindungan

warga negara dari tindakan terorisme. Salah satu bentuk perlindungan negara

terhadap warganya dari tindakan atau aksi terorisme adalah melalui penegakan

7

(17)

hukum, termasuk di dalamnya upaya menciptakan produk hukum yang sesuai

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Terorisme dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan

Transaksi Elektronik.

Upaya ini diwujudkan pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002, yang kemudian

disetujui oleh DPR menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (selanjutnya disbut UUPTPT).

Diperlukannya undang-undang ini karena pemerintah menyadari tindak

pidana terorisme merupakan suatu tindak pidana yang luar biasa (extraordinary

crime), sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa juga (extraordinary

measures).8

Pada sebuah proses penyelesaian perkara pidana, proses pembuktian

merupakan suatu proses pencarian kebenaran materiil atas suatu peristiwa pidana. Hal

ini berbeda jika dibandingkan proses penyelesaian perkara perdata yang merupakan UUPTPT ini selain mengatur aspek materil juga mengatur aspek formil.

Sehingga, undang-undang ini merupakan undang-undang khusus (lex specialis) dari

KUHP dan KUHAP. Dengan adanya undang-undang ini diharapkan penyelesaian

perkara pidana yang terkait dengan terorisme dari aspek materil maupun formil dapat

segera dilakukan.

8

T. Nasrullah, ”Sepintas Tinjauan Yuridis Baik Aspek Hukum Materil Maupun Formil Terhadap Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme”,

Makalah Disampaikan Pada Semiloka tentang “Keamanan Negara”, diselenggarakan: Indonesia Police

(18)

proses pencarian kebenaran formil. Proses pembuktian sendiri merupakan bagian

terpenting dari keseluruhan proses pemeriksaan persidangan.

Mengenai pembuktian dalam KUHAP mengenal adanya Alat Bukti dan

Barang Bukti, di mana keduanya dipergunakan di dalam persidangan untuk

membuktikan tindak pidana yang didakwakan terhadap terdakwa. KUHAP

menyebutkan bahwa alat bukti yang sah untuk diajukan di depan persidangan, seperti

yang diatur Pasal 184 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 Tentang Hukum Acara

Pidana (KUHAP) adalah:9

5. Keterangan terdakwa.

Pada perkembangannya, alat bukti sebagaimana yang diatur dalam KUHAP

tidak lagi dapat mengakomodir perkembangan teknologi informasi, hal ini

menimbulkan permasalahan baru. Salah satu masalah yang muncul akibat

perkembangan teknologi informasi adalah lahirnya suatu bentuk kejahatan baru yang

sering disebut dengan cybercrime, dalam istilah yang digunakan oleh Barda Nawawi

Arief disebut dengan tindak pidana mayantara.10

9

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), UU No. 8, LN. No. 76 Tahun 1981, TLN. 3209, Pasal 184.

Secara garis besar cybercrime terdiri

dari dua jenis, yaitu kejahatan yang menggunakan Teknologi Informasi (TI) sebagai

fasilitas dan kejahatan yang menjadikan sistem dan fasilitas TI sebagai sasaran.

10

Abdul Wahid., dan Muhammad Labib., Kejahatan Mayantara (Cybercrime), (Bandung:

(19)

Perkembangan teknologi dan perkembangan hukum telah menyebabkan

tergesernya bentuk media cetak menjadi bentuk media digital (paper less). Perlu

diperhatikan dalam kejahatan dengan menggunakan komputer, bukti yang akan

mengarahkan suatu peristiwa pidana adalah berupa data elektronik, baik yang berada

di dalam komputer itu sendiri (hardisk/floppy disc) atau yang merupakan hasil print

out, atau dalam bentuk lain berupa jejak (path) dari suatu aktivitas pengguna

komputer.11

Tentu saja upaya penegakan hukum tidak boleh terhenti dengan ketidakadaan

hukum yang mengatur penggunaan barang bukti maupun alat bukti berupa informasi

elektronik di dalam penyelesaian suatu peristiwa hukum. Selain itu, proses

mengajukan dalam proses pembuktian alat bukti yang berupa data digital perlu

pembahasan tersendiri mengingat alat bukti dalam bentuk informasi elektronik ini

serta berkas acara pemeriksaan telah melalui proses digitalisasi dengan proses

pengetikan (typing), pemeriksaan (editing), dan penyimpanan (storing) dengan

menggunakan komputer. Namun, hasilnya tetap saja dicetak di atas kertas (printing

process). Dengan demikian, diperlukan kejelasan bagaimana mengajukan dan

melakukan proses pembuktian terhadap alat bukti yang berupa data digital.

Proses pembuktian suatu alat bukti yang berupa data digital ini juga

menyangkut aspek validasi (keakuratan) data digital yang dijadikan alat bukti

tersebut. Aspek lain yang terkait adalah masalah menghadirkan alat bukti tersebut,

11

Edmom Makarim., Pengantar Hukum Telematika: Suatu Kompilasi Kajian, (Jakarta: PT

(20)

apakah dihadirkan cukup dengan perangkat lunaknya (software) ataukah harus

dengan perangkat kerasnya (hardware). Sebagaimana telah dijelaskan terlebih

dahulu, bahwa bukti digital tidak dikenal dalam KUHAP. Namun, untuk beberapa

perbuatan hukum tertentu, bukti digital dikenal dan pengaturannya tersebar pada

beberapa peraturan perundang-undangan seperti Undang-Undang Nomor 8 Tahun

1997 Tentang Dokumen Perusahaan, Undang-undang Tentang Tindak Pidana

Pencucian Uang, Undang-undang Tentang Kearsipan, Undang-Undang Tentang

Tindak Pidana Korupsi, dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang menjadi fokus dalam penelitian ini.

Sebagai lex specialis, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 memiliki

kekhususan secara formil dibandingkan KUHAP. Salah satu kekhususan tersebut

yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah terkait penggunaan alat bukti yang

merupakan pembaharuan proses pembuktian konvensional dalam KUHAP yakni

dengan menerapkan proses pembuktian alat bukti non konvensional yang tidak diatur

dalam KUHAP.12

Alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi:

Pengaturan mengenai alat bukti pada Undang-Undang Nomor 15

Tahun 2003 tersebut terlihat dalam Pasal 27, yaitu:

1. Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana;

2. Alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau

disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan

12

Munir Fuady, Teori Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata, (Bandung: Citra Aditya

(21)

3. Data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar,

yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang

tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam

secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada:

1) Tulisan, suara, atau gambar;

2) Peta, rancangan, foto, atau sejenisnya;

3) Huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau

dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.13

Beberapa penambahan alat bukti terdapat di dalam UUPTPT, alat bukti yang

disebutkan dalam UUPTPT tersebut merupakan bagian dari alat bukti non

konvensional. Macam-macam alat bukti nonkonvensional semakin banyak diajukan

dalam persidangan di pengadilan. Oleh karena itu, maka pada beberapa

undang-undang telah memasukkan seperti dokumen atau bukti elektronik sebagai alat bukti.

Seperti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi

Elektronik terdapat dalam Pasal 25 menyebutkan, “Informasi Elektronik dan/atau

Dokumen Elektronik yang disusun menjadi karya intelektual, situs internet, dan karya

intelektual yang ada di dalamnya dilindungi sebagai Hak Kekayaan Intelektual

berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan”.

Alat bukti yang diatur dalam Pasal 27 Ayat (2) dan (3) Undang-Undang

Nomor 15 Tahun 2003 tersebut berdasarkan KUHAP tidak diakui sebagai alat bukti,

tetapi berdasarkan doktrin (ilmu hukum) dikategorikan sebagai Barang Bukti yang

13

(22)

berfungsi sebagai data penunjang bagi alat bukti.14

Dijadikannya alat bukti yang berdiri sendiri dalam UUPTPT tersebut karena

adanya prinsip dalam hukum pidana dan perdata menyatakan terdapat model alat

bukti yang terbuka ujung (open end), yang memungkinkan masuknya berbagai alat

bukti baru, sesuai dengan perkembangan Informasi dan Teknologi yang canggih

termasuk alat bukti yang bersifat sainstifik dan atau eksperimental. Alat-alat bukti

yang terbuka ujung tersebut menurut Munir Fuady digolongkan ke dalam alat bukti

persangkaan dalam hukum acara perdata, dan digolongkan sebagai alat bukti petunjuk

dalam hukum acara pidana, dan alat bukti yang terbuka ujung ini sering disebut

sebagai alat bukti nonkonvensional.

Akan tetapi berbeda dengan

pembuktian di dalam UUPTPT, dimana dalam UUPTPT alat bukti dikenal alat bukti

yang berdiri sendiri sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 27 UUPTPT.

15

Alat bukti dalam UUPTPT yang telah ditentukan tersebut dapat digunakan

sebagai alat bukti yang sah dan mengikat serta memiliki kekuatan pembuktian yang

sama dengan alat bukti yang diatur dalam KUHAP. Meskipun demikian, prinsip lex

specialis derogat legi generalis tetap berlaku. Dengan penafsiran secara a contrario,

dapat diartikan hal yang tidak diatur dalam ketentuan khusus, dalam hal ini

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003, berlakulah ketentuan umum, dalam hal ini KUHAP.

14

T. Nasrullah, Op. cit., hal. 16.

15

(23)

Penelitian ini bertolak dari permasalahan penggunaan bukti digital (digital

evidence) sebagai alat bukti tindak pidana terorisme di Indonesia. Objek dari

penelitian ini adalah Source Code atau Kode Sumber sebuah website yang merupakan

media informasi teroris, yaitu website Al-Anshar dengan alamat di

http://www.anshar.net. (website ini sekarang sudah diblokir oleh Kepolisian RI dan

dinyatakan dilarang untuk diterbitkan akan tetapi data didapatkan penulis dari

Pengadilan Negeri Semarang dengan Nomor Perkara 84/PID/B/2007 PN SMG).

Dipilihnya kode sumber sebagai objek penelitian dikarenakan kode sumber

adalah tampilan yang paling orisinal dari sebuah website. Segala tampilan yang

ramah pengguna atau user friendly interface dari sebuah website dibangun dari baris

kalimat pada kode sumber website tersebut. Sehingga apabila tampilan dari suatu

website mengandung substansi yang merupakan upaya terorisme, maka harus dilihat

dari kode sumber website tersebut. Selain itu, dari website tersebut kode sumber lah

yang paling mungkin dijadikan alat bukti.

Situs www.anshar.net yang diduga dibuat oleh Agung Setyadi, dosen salah

satu perguruan tinggi di Semarang, dan M. Agung Prabowo Max Fiderman alias

Kalingga alias Maxhaser, mahasiswa salah satu universitas di kota itu, dipakai untuk

menyampaikan informasi terorisme atas pesanan Noordin M. Top sebagai media

informasi perjuangannya.16

Untuk selanjutnya, pembahasan penelitian ini akan menjelaskan bagaimana

kode sumber dari sebuah website dapat dijadikan alat bukti. Penjelasan tersebut akan

16

(24)

dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia yang memungkinkan

penggunaan alat bukti digital dalam persidangan, khususnya Undang-Undang

Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Selain itu dari penelitian ini akan

terlihat sikap aparat penegak hukum, khususnya hakim dalam mempergunakan alat

bukti yang ada.

Akibat semakin berkembangnya tindak pidana saat ini, ketentuan di dalam

KUH Pidana mengenai tindak pidana yang telah diatur sebelumnya, tidak dapat

menampung berbagai modus-modus tindak pidana yang terjadi sekarang ini. Tindak

pidana yang tidak ada pengaturannya di dalam KUH Pidana disebut delik-delik

khusus yang pengaturannya diatur secara khusus pula. Delik khusus tersebut seperti

tindak pidana terorisme, tindak pidana pencucian uang, dan lain-lain. Tindak pidana

terorisme dikriminalisasi sebagai tindak pidana karena sangat berbahaya bagi

keamanan, kenyamanan, dan ketenteraman warga negara bahkan mengancam

kedaulatan negara itu sendiri. Oleh karenanya, negara Indonesia harus memberantas

tindak pidana terorisme ini melalui diundangkannya Undang-Undang Nomor 15

Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak Pidana Terorisme Menjadi

Undang-Undang.

Tindak pidana terorisme dihubungkan dengan peranan kejaksaan merupakan

bagian yang tidak dapat dipisahkan. Karena kejaksaan adalah penuntut umum juga

sebagai aparatur negara dalam melakukan supremasi hukum di Indonesia. Kemudian

(25)

memberantas tindak pidana terorise di Indonesia. Namun pada prakteknya, mengenai

pembuktian tindak pidana terorisme di Indonesia masih menggunakan sistem

pembuktian dan alat-alat bukti yang dikenal di dalam KUHAP. Oleh karenanya,

kejaksaan sebagai penuntut umum dalam melakukan tuntutannya di pengadilan

mengajukan berbagai alat bukti yang disebutkan di dalam KUHAP dan alat bukti lain

yang di kenal di dalam UUPTPT.

Jika dihubungkan dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun

2004 tentang Kejaksaan Repubik Indonesia (UU Kejaksaan), tidak secara terperinci

disebutkan, namun tugas dan wewenang kejaksaan dalam mengantisipasi terorisme di

Indonesia dapat dilihat pada Pasal 35 UU Kejaksaan. Dimana disebutkan dalam Pasal

35 tersebut bahwa mengenai terjadinya aksi teror ditentukan tugas dan wewenang

secara khusus kepada Jaksa Agung yakni terdapat di dalam Pasal 35 huruf f UU

Kejaksaan, berbunyi sebagai berikut, “Mencegah atau menangkal orang tertentu

masuk atau keluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia karena

keterlibatannya dalam perkara pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.

Kalimat yang menyatakan, “Mencegah atau menangkal orang tertentu masuk

atau keluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia karena keterlibatannya

dalam perkara pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. Mencegah atau

menangkal berarti Jaksa Agung berwenang bertindak mencegah atau menangkal

orang-orang tertantu atau kelompok tertentu untuk masuk ke wilayah Indonesia jika

sebenarnya telah ada tanda-tanda yang dapat menguatkan bahwa orang atau

(26)

samping pencegahan yang dimaksud tersebut, seseorang mungkin saja melakukan

tindak pidana di luar negara keastuan Republik Indonesia misalnya melalui internet,

secara otomatis wibe site yang dijadikan sarana aksi, masuk ke wilayah Indonesia

melakukan aksi tindak pidana terorisme.

Berdasarkan paparan tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk memilih,

”Kedudukan Pembuktian Kode Wibe Site Dalam Pemberantasan Tindak Pidana

Terorisme”, sebagai judul dalam penelitian ini.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diambil tiga

pokok permasalahan, yaitu:

1. Bagaimana kedudukan alat bukti berupa informasi elektronik dalam hukum

acara pidana di Indonesia?

2. Bagaimana kekuatan pembuktian alat bukti informasi elektronik dalam

undang-undang pemberantasan tindak pidana teorisme?

3. Apa saja yang menjadi kendala dalam pembuktian kode wibe site dalam

undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian yang terdapat pada perumusan masalah di atas maka yang

(27)

1. Untuk mengetahui dan mendalami kedudukan alat bukti berupa informasi

elektronik dalam hukum acara pidana di Indonesia;

2. Untuk mengetahui dan mendalami kekuatan pembuktian alat bukti informasi

elektronik dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana teorisme; dan

3. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi kendala dalam pembuktian kode

wibe site dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme.

D. Manfaat Penelitian

Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberi sejumlah manfaat baik

secara teoritis maupun praktis, yaitu:

1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat membuka wawasan dan paradigma

berfikir dalam memahami dan mendalami permasalahan hukum khususnya

pemahaman tentang pembutian berupa informasi elektronik melaui website

sebagai alat bukti di dalam tindak pidana terorisme. Selain itu, penelitian ini

diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan dan referensi bagi peneliti lanjutan

serta dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Penelitian ini juga

diharapkan bisa memberikan masukan bagi penyempurnaan perangkat peraturan

mengenai tindak pidana terorisme di Indonesia;

2. Secara praktis penelitian ini ditujukan kepada kalangan aparat penegak hukum

dalam hal ini Polisi, Jaksa, dan aparatur hukum lain, khususnya Jaksa dalam

mengajukan tuntutannya beserta alat-alat bukti berupa informasi elektronik

(28)

sistem pembuktian terhadap informasi teror melalui website, serta agar dapat lebih

mengetahui dan memahami tentang peran serta wewenang kejaksaan sebagai

penuntut umum dalam perkara terorisme.

E. Keaslian Penulisan

Guna menghindari terjadinya duplikasi penelitian terhadap masalah yang

sama, maka sebelumnya peneliti telah melakukan pemeriksaan di perpustakaan

Universitas Sumatera Utara, perpustakaan fakultas pascasarjana USU, perpustakaan

fakultas hukum USU. Namun penulis tidak ada menemukan judul tesis yang memiliki

kemiripan dan permasalahan yang sama dengan penelitian ini. Oleh karena itu, judul

dan permasalahan di dalam penelitian ini, dapat dinyatakan masih asli dan jauh dari

sifat plagiat terhadap karya tulis orang lain.

F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional 1. Kerangka Teori

Beberapa teori yang berhubungan dengan sistem pembuktian rekaman

elektronik ini, peneliti mendasarkan pada teori-teori pembuktian yakni Conviction in

Time,17 Conviction-Raisonee,18

17

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan Kitab Undang-undang

Hukum Acara Pidana (KUHAP) Jilid II. (Jakarta: Pustaka Kartini, 1988), hal. 278, sistem pembuktian

conviction-in time menentukan salah tidaknya seorang terdakwa, semata-mata ditentukan oleh penilaian “keyakinan” hakim. Keyakinan hakim yang menentukan keterbuktian kesalahan terdakwa. Dari mana hakim menarik dan menyimpulkan keyakinannya, tidak menjadi masalah dalam sistem ini. Keyakinan boleh diambil dan disimpulkan hakim dari alat-alat bukti yang diperiksanya dalam sidang pengadilan. Bisa juga hasil pemeriksaan alat-alat bukti itu diabaikan hakim, dan langsung menarik

(29)

Positif,19 Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk

Stelsel),20

keyakinan dari keterangan atau pengakuan terdakwa. Sistem pembuktian conviction-in time, sudah

barang tentu mengandung kelemahan. Hakim dapat saja menjatuhkan hukuman pada seorang terdakwa semata-mata atas "dasar keyakinan" belaka tanpa didukung oleh alat bukti yang cukup. Sebaliknya hakim leluasa membebaskan terdakwa dari tindak pidana yang dilakukan walaupun kesalahan terdakwa telah cukup terbukti dengan alat-alat bukti yang lengkap, selama hakim tidak yakin atas

kesalahan terdakwa. Jadi, dalam sistem pembuktian conviction-in time, sekalipun kesalahan terdakwa

sudah cukup terbukti, pembuktian yang cukup itu dapat dikesampingkan keyakinan hakim. Sebaliknya walaupun kesalahan terdakwa “tidak terbukti” berdasar alat-alat bukti yang sah, terdakwa bisa dinyatakan bersalah, semata-mata atas “dasar keyakinan” hakim. Keyakinan hakim yang “dominan” atau yang paling menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Keyakinan tanpa alat bukti yang sah, sudah cukup membuktikan kesalahan terdakwa. Seolah-olah sistem ini menyerahkan sepenuhnya nasib terdakwa kepada keyakinan hakim semata-mata. Keyakinan hakimlah yang menentukan wujud kebenaran sejati dalam sistem pembuktian ini.

gunanya sebagai perbandingan dalam memahami sistem pembuktian yang

18

Dalam sistem ini pun dapat dikatakan “keyakinan hakim” tetap memegang peranan penting dalam menentukan salah tidaknya terdakwa. Akan tetapi, dalam sistem pembuktian ini, faktor

keyakinan hakim ”dibatasi”. Jika dalam sistem pembuktian conviction-in time peran ”keyakinan

hakim” leluasa tanpa batas maka pada sistem convic-tion-raisonee, keyakinan hakim harus didukung

dengan ”alasan-alasan yang jelas”. Hakim wajib menguraikan dan menjelaskan alasan-alasan apa yang mendasari keyakinannya atas kesalahan terdakwa. Tegasnya, keyakinan hakim dalam sistem

conviction-raisonee, harus dilandasi reasoning atau alasan-alasan, dan reasoning itu harus ”reasonable, yakni berdasar alasan yang dapat diterima. Keyakinan hakim harus mempunyai dasar-dasar alasan yang logis dan benar-benar dapat diterima akal. Tidak semata-mata atas dasar-dasar keyakinan yang tertutup tanpa uraian alasan yang masuk akal.

19

Pembuktian menurut undang-undang secara positif merupakan pembuktian yang bertolak

belakang dengan sistem pembuktian menurut keyakinan atau conviction-in time. Pembuktian menurut

undang-undang secara positif, ”keyakinan hakim tidak ikut ambil bagian” dalam membuktikan kesalahan terdakwa. Keyakinan hakim dalam sistem ini, tidak ikut berperan menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Sistem ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang. Untuk membuktikan salah atau tidaknya terdakwa semata-mata ”digantungkan kepada alat-alat bukti yang sah”. Asal sudah dipenuhi syarat-syarat dan ketentuan pembuktian menurut undang-undang, sudah cukup menentukan kesalahan terdakwa tanpa mempersoalkan keyakinan hakim. Apakah hakim yakin atau tidak tentang kesalahan terdakwa, bukan menjadi masalah. Pokoknya, apabila sudah terpenuhi cara-cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang, hakim tidak lagi menanyakan keyakinan hati nuraninya akan kesalahan terdakwa. Dalam sistem ini, hakim seolah-olah ”robot pelaksana” undang-undang yang tak memiliki hati nurani. Hati nuraninya tidak ikut hadir dalam menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Meskipun demikian, dari satu segi sistem ini mempunyai kebaikan. Sistem ini benar-benar menuntut hakim wajib mencari dan menemukan kebenaran salah atau tidaknya terdakwa sesuai dengan tata cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang telah ditentukan undang-undang. Dari sejak semula pemeriksaan perkara, hakim harus melemparkan dan mengesampingkan jauh-jauh faktor keyakinan, tetapi semata-mata berdiri tegak pada nilai pembuktian objektif tanpa mencampuraduk hasil pembuktian yang diperoleh di persidangan dengan unsur subjektif keyakinannya. Sekali hakim majelis menemukan hasil pembuktian yang objektif sesuai dengan cara dan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang, tidak perlu lagi menanya dan menguji hasil pembuktian tersebut dengan keyakinan hati nuraninya. Bagaimana kalau

(30)

diatur dalam KUHAP. Teori pembuktian lain yang digunakan peneliti adalah, peneliti

juga menggunakan sistem pembuktian terbalik atau pembalikan beban pembuktian

dimana si terdakwa diperbolehkan membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan

tindak pidana sebagaimana yang didakwakan kepadanya.

Menurut M. Yahya Harahap, bahwa alat bukti rekaman elektronik dalam

tindak pidana pencucian uang tidak termasuk ke dalam bukti pendukung atau alat

bukti petunjuk sebagaimana alat-alat bukti yang disebutkan di dalam KUH Pidana

dan KUHAP akan tetapi merupakan alat bukti tersendiri atau berdiri sendiri.21

Sebenarnya bahwa tindak pidana terorisme merupakan kejahatan yang luar

biasa (exstra ordinary crime), oleh sebab itu, maka untuk membuktikan kesalahan

pembuktian menurut Undang-Undang secara positif, lebih sesuai dibandingkan dengan sistem pembuktian menurut keyakinan. Sistem pembuktian menurut Undang-Undang secara positif, lebih dekat kepada prinsip "penghukuman berdasar hukum". Artinya penjatuhan hukuman terhadap seseorang, semata-mata tidak diletakkan di bawah kewenangan hakim, tetapi di atas kewenangan undang-undang yang berlandaskan asas: seorang terdakwa baru dapat dihukum dan dipidana jika apa yang didakwakan kepadanya benar-benar terbukti berdasar cara dan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.

20

Sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif merupakan teori antara sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif dengan sistem pembuktian menurut keyakinan atau

conviction-in time. Sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif merupakan keseimbangan antara kedua sistem yang saling bertolak belakang secara ekstrem. Dari keseimbangan tersebut, sistem pembuktian menurut Undang-Undang secara negatif ”menggabungkan” ke dalam dirinya secara terpadu sistem pembuktian menurut keyakinan dengan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif. Dari hasil penggabungan kedua sistem dari yang saling bertolak belakang itu, terwujudlah suatu sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif. Rumusannya berbunyi adalah ”salah tidaknya seorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.”

21

Ibid, hal. 317, Adapun mengenai kekuatan pembuktian alat bukti petunjuk serupa sifat dan kekuatannya dengan alat bukti yang lain. Sebagaimana dengan kekuatan pembuktian keterangan saksi, keterangan ahli dan alat bukti surat, hanya mempunyai sifat kekuatan pembuktian ”yang bebas”.

1. Hakim tidak terkait atas kebenaran persesuaian yang dieujudkan oleh petunjuk oleh karena itu,

Hakim bebas menilainya dan mempergunakannya sebagai upaya pembuktian;

(31)

terdakwa dalam tindak pidana terorisme, diperlukan hukum acara yang dikecualikan

dari KUHAP karena akibat yang ditimbulkan dari tindak pidana teorisme ini

menyangkut banyak korban nyawa selain itu dengan banyaknya aksi teror di suatu

negara, menjadikan eksistensi negara tersebut jatuh di mata dunia sehingga investor

pun enggan untuk menanamkan modalnya di negara yang terkena teror tersebut.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka teori yang digunakan dalam

pembuktian alat-alat bukti tindak pidana terorisme, di samping teori pembuktian yang

dianut di dalam KUHAP yaitu pembuktian menurut Undang-Undang Secara Negatif

(Negatief Wettelijk Stelsel) yang merupakan teori antara sistem pembuktian menurut

undang-undang secara positif dengan sistem pembuktian menurut keyakinan atau

conviction-in time, juga digunakan teori pembuktian dengan asas pembalikan beban

pembuktian atau pembuktian terbalik yang dikenal di beberapa tindak pidana tertentu

termasuk tindak pidana terorisme.22

Sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif merupakan

keseimbangan antara kedua sistem yang saling bertolak belakang secara ekstrim. Dari

keseimbangan tersebut, sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif

yakni “menggabungkan” ke dalam dirinya secara terpadu sistem pembuktian menurut

keyakinan dengan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif. Dari

hasil penggabungan kedua sistem dari yang saling bertolak belakang itu, terwujudlah

suatu ”sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif”. Sehingga

22

(32)

rumusannya berbunyi, ”salah tidaknya seorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan

hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut

undang-undang”.

Oleh sebab itu, salah atau tidak seorang terdakwa, tidak cukup berdasarkan

keyakinan hakim semata-mata. Atau hanya semata-mata didasarkan atas keterbuktian

menurut ketentuan dan cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan

undang-undang. Seorang terdakwa baru dapat dinyatakan bersalah apabila kesalahan

yang didakwakan kepadanya dapat dibuktikan dengan cara dan alat-alat bukti yang

sah menurut undang-undang serta sekaligus keterbuktian kesalahan terdakwa

dibarengi dengan keyakinan hakim.

Bertitik tolak dari uraian di atas, untuk menentukan salah atau tidaknya

seorang terdakwa menurut sistem pembuktian undang-undang secara negatif, terdapat

dua komponen:23

a. Pembuktian harus dilakukan menurut cara dan dengan alat-alat bukti yang sah

menurut undang-undang.

b. Keyakinan hakim yang juga harus didasarkan atas cara dan dengan alat-alat

bukti yang sah menurut Undang-Undang.

Dengan demikian, sistem ini memadukan unsur ”objektif” dan ”subjektif”

dalam menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Tidak ada yang paling dominan di

antara kedua unsur tersebut. Jika salah satu di antara dua unsur itu tidak ada, tidak

cukup mendukung keterbuktian kesalahan terdakwa. Misalnya, ditinjau dari segi cara

23

(33)

dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang, kesalahan terdakwa

cukup terbukti, tetapi sekalipun sudah cukup terbukti, hakim ”tidak yakin” akan

kesalahan terdakwa, dalam hal seperti ini terdakwa tidak dapat dinyatakan bersalah.

Sebaliknya, hakim benar-benar yakin terdakwa sungguh-sungguh bersalah melakukan

kejahatan yang didakwakan. Akan tetapi, keyakinan tersebut tidak didukung dengan

pembuktian yang cukup menurut cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut

undang-undang. Dalam hal seperti ini pun terdakwa tidak dapat dinyatakan bersalah.

Oleh karena itu, di antara kedua komponen tersebut harus saling mendukung.

Jika diperhatikan kepada pembuktian menurut undang-undang secara negatif,

menempatkan keyakinan hakim paling berperan dan dominan dalam menentukan

salah atau tidaknya terdakwa, pembuktian semacam ini pernah dianut di Indonesia

yakni pada pengadilan distrik dan kabupaten.24

24

Andi Hamzah (I)., Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: Sapta Artha Jaya, 1996), hal. 260.

Umpamanya, walaupun kesalahan

terdakwa telah cukup terbukti menurut cara dan dengan alat bukti yang sah,

pembuktian itu dapat ditiadakan dengan adanya keyakinan hakim. Apalagi jika pada

diri hakim terdapat motivasi yang tidak terpuji demi keuntungan pribadi, dengan

suatu imbalan materi, dapat dengan mudah membebaskan terdakwa dari

pertanggungjawaban hukum, atas alasan hakim tidak yakin akan kesalahan terdakwa.

Terdakwa memang cukup terbukti secara sah. Namun, sekalipun terbukti secara sah,

hakim tidak yakin akan kesalahan yang telah terbukti tersebut. Oleh karena itu,

(34)

kelemahan sistem ini. Sekalipun secara teoretis antara kedua komponen itu tidak

saling dominan, tetapi dalam praktek, secara terselubung unsur keyakinan hakim

yang paling menentukan dan dapat melemparkan secara halus unsur pembuktian yang

cukup. Terutama bagi seorang hakim yang kurang hati-hati, atau hakim yang kurang

tangguh benteng iman dan moralnya, mudah sekali memanfaatkan sistem pembuktian

ini dengan suatu imbalan yang diberikan oleh terdakwa.25

Pembuktian menurut R. Subekti disebutkan bahwa, ”Proses meyakinkan

hakim tentang kebenaran dalil-dalil dan alat-alat bukti yang dikemukakan dalam

suatu perkara. Dengan demikian tampaklah bahwa pembuktian itu hanyalah

diperlukan dalam persengketaan atau perkara di muka hakim atau pengadilan”.26

Menurut R. Supomo, pembuktian mempunyai dua arti, yaitu arti yang luas

dan arti yang terbatas. Arti yang luas ialah membenarkan hubungan hukum, yaitu

misalnya apabila Hakim mengabulkan tuntutan, maka pengabulan ini mengandung

arti bahwa, hakim menarik kesimpulan bahwa apa yang didakwakan adalah benar.

Untuk membuktikan dalam arti yang luas berarti memperkuat kesimpulan hakim

dengan syarat-syarat yang sah. Dalam arti yang terbatas terdapat pembuktian yang

hanya diperlukan apabila apa yang dikemukakan Jaksa Penuntut Umum dalam

dakwaannya dibantah oleh terdakwa dan apa yang tidak dibantah tidak perlu

dibuktikan. Dalam arti yang terbatas inilah orang mempersoalkan hal pembagian

25

Ibid, hal. 279-280.

26

(35)

beban pembuktian.27

Menurut Sudikno Mertokusumo, membuktikan mempunyai beberapa

pengertian, yaitu pengertian secara logis, secara konvensional, dan secara yiridis.

28

Dalam hukum acara pidana hakim bersifat aktif, yaitu hakim berkewajiban untuk

memperoleh bukti yang cukup mampu membuktikan tentang apa yang dituduhkan

kepada terdakwa.29

Pembuktian dalam ilmu hukum diatur secara komprehensif dan lugas.

Meskipun telah diatur secara komprehensif dan lugas, namun nilai pembuktiannya

tidak dapat secara mutlak dan lebih bersifat subyektif. Jadi, kebenaran yang dicapai

merupakan kebenaran yang relatif. Hal ini disebabkan karena pembuktian dalam

27

R. Supomo., Hukum Acara Pidana Pengadilan Negeri, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1978),

hal. 62-63.

28

Sudikno Mertokusumo., Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberti, 1988), hal.

103-104, membuktikan dalam dalam arti logis ialah memberikan kepastian yang bersifat mutlak karena berlaku bagi setiap orang dan tidak memungkinkan adanya bukti lawan. Contohnya berdasarkan aksioma bahwa dua garis yang sejajar tidak mengkin bersilang. Pembuktian dalam arti konvensional

adalah memberikan kepastian yang bersifat nisbi atau relatif dengan tingkatan yaitu, Pertama,

Kepastian yang didasarkan atas atas perasaan belaka, karena didasarkan atas perasaan maka, kepastian ini bersifat intuitif (conviction in time); dan Kedua, Kepastian yang didasarkan atas pertimbangan akal, maka oleh karena itu disebut conviction raisonnee. Membuktikan dalam arti yuridis ialah memberikan dasar yang cukup kepada hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan guna memberikan kepastian tentang kebenaran peristiwa yang diajukan. Pembuktian dalam arti yuridis ini hanya berlaku bagi pihak yang berperkara atau yang memperoleh hak dari mereka, dengan demikian pembuktian dalam arti yuridis tidak menuju kepada kebenaran mutlak, karena ada kemungkinannya bahwa pengakuan, kesaksian atau bukti tertulis itu tidak benar atau dipalsukan, maka dalam hal ini dimungkinkan adanya bukti lawan. Membuktikan secara yuridis dalam hukum acara pidana tidak sama

dengan hukum acara perdata, terdapat ciri-ciri khusus, Pertaman, dalam hukum acara perdata, yang

dicari adalah kebenaran formal, yaitu kebenaran berdasarkan anggapan dari pada pihak yang berperkara. Sedangkan dalam hukum acara pidana yang dicari adalah kebenaran materil, yaitu

kebenaran sejati, yang harus diusakahan tercapai, Kedua, dalam hukum acara perdata, hakim bersifat

passif yaitu hakim memutuskan perkara semata-mata berdasrkan hal-hal yang dianggap benar oleh pihak-pihak yang berperkara dan berdasarkan bukti-bukti yang dibawa mereka itu dalam sidang pengadilan. Jadi, hakim tidak mencampuri hak-hak induividu yang dilanggar, selama orang yang dirugikan tidak melakukan penuntutan di pengadilan.

29

Teguh Samudera., Hukum Pembuktian Dalam Acara Perdata, (Bandung: Alumni, 1992), hal.

(36)

ilmu hukum hanyalah sebagai upaya memberikan keyakinan terhadap fakta-fakta

yang dikemukakan agar masuk akal, yaitu apa yang dikemukakan dengan

fakta-fakta itu harus selaras dengan kebenaran. Sehingga, keyakinan tentang sesuatu hal

memang benar-benar telah terjadi harus dapat diciptakan dan dapat diterima oleh

pihak lainnya, karena apabila hanya dapat diciptakan tanpa diikuti dengan dapat

diterimanya oleh pihak lain, maka akan tidak memunyai arti. Tidak mempunyai arti

dimaksud karena bukti dalam ilmu hukum itu hanya menetapkan kebenaran

terhadap pihak-pihak yang berperkara saja. Jadi, tidak seperti bukti dalam ilmu pasti

yakni berlaku umum, yang berarti menetapkan kebenaran untuk setiap orang dan

mutlak sifatnya.30

Membuktikan berarti memberi kepastian kepada hakim tentang adanya

peristiwa-peristiwa tertentu (communis opinio). Secara tidak langsung bagi hakim

karena hakim yang harus mengkonstatir peristiwa mengkualifisirnya dan kemudian

mengkonstituir maka tujuan pembuktian adalah putusan hakim yang didasarkan atas

pembuktian tersebut.31

Menurut A. Mukti Arto, tujuan pembuktian ialah untuk memperoleh

kepastian bahwa suatu peristiwa atau fakta yang diajukan itu benar-benar terjadi

guna mendapatkan putusan hakim yang benar dan adil. Hakim tidak dapat

menjatuhkan suatu putusan sebelum nyata baginya bahwa fakta atau peristiwa yang

diajukan itu benar terjadi, yakni dibuktikan kebenarannya sehingga nampak adanya

30

Ibid, hal. 10-11.

31

(37)

hubungan antara para pihak.32

Sekalipun kebenaran pembuktian dalam ilmu hukum bersifat relatif, akan

tetapi mempunyai nilai yang cukup signifikan bagi para hakim. Karena fungsi

pembuktian adalah berusaha memberikan kepastian tentang kebenaran fakta hukum

yang menjadi pokok perkara bagi hakim.33

Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli hukum tentang arti

pembuktian sebagaimana disebutkan di atas, dapat dimengerti bahwa pembuktian

adalah suatu proses mempergunakan atau mengajukan atau mempertahankan

alat-alat bukti di muka persidangan sesuai dengan hukum acara yang berlaku (dalam hal

tindak pidana pencucian uang berlaku hukum acara pidana) sehingga mampu

meyakinkan hakim terhadap kebenaran dari alat-alat bukti yang menjadi dasar

tuntutan, atau alat-alat bukti yang dipergunakan untuk menyanggah tentang

kebenaran alat-alat bukti yang telah dikemukakan oleh pihak lawan.

Karena itu, hakim akan selalu

berpedoman dalam menjatuhkan putusannya dari hasil pembuktian. Oleh karena itu,

acara pembuktian menempati posisi penting dari jalannya persidangan di

pengadilan.

Dalam kaitannya terhadap KUHAP, yang perlu dibuktikan adalah perbuatan

yang memiliki unsur kesalahan (schuld). Menurut Pompe, yang perlu dibuktikan

adalah kesalahan si terdakwa, yang mengandung ciri-ciri atau unsur-unsur sebagai

32

A. Mukti Arto., Praktek-Praktek Perdata Pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta: Pustaka

Pelajar, 2003), hal. 140.

33

Bachtiar Effendi, dkk., Surat Gugatan dan Hukum Pembuktian Dalam Perkara Perdata,

(38)

berikut:34

1. Kelakuan yang bersifat melawan hukum;

2. Dolus (kesengajaan) atau Culpa (kealpaan); dan

3. Kemampuan bertanggung jawab pelaku.

Sehubungan dengan itu, pembuktian dalam perkara pidana berbeda dengan

perkara perdata. Biasanya pembuktian dalam perkara pidana lebih ketat

dibandingkan dengan pembuktian dalam perkara perdata. Karena dalam praktek

pidana yang mencari kebenaran materiil, dianut pembuktian dengan stelsel

negative, artinya untuk menjatuhkan putusan dalam perkara pidana tidak cukup

berdasarkan alat bukti saja, tetapi juga diperlukan adanya keyakinan hakim, apakah

terdakwa bersalah atau tidak bersalah, dan pembuktian ini dilakukan oleh Jaksa

Penuntut Umum.35

Pihak yang harus membuktikan adalah pihak yang menyatakan atau

menuntut atau mengklaim suatu hak. Beban pembuktian seperti ini, berlaku di

negara-negara yang menganut sistem civil law (continental), seperti di Indonesia.

Dimana pembuktian terbalik dilakukan oleh terdakwa pada waktu membacakan

pembelaannya dan dapat diulangi lagi pada memori banding dan memori kasasi.36

Teori Negatif dalam hukum pidana mengatakan bahwa hakim boleh

menjatuhkan pidana, jika hakim mendapatkan keyakinan dengan alat bukti yang

34

E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi., Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya”,

(Jakarta: Storia Grafika, 2002), hal. 163.

35

Adrian Sutedi., Tindak Pidana Pencucian Uang, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2008), hal. 288.

36

(39)

sah, bahwa telah terjadi perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa. Teori ini dianut

dalam HIR, sebagaimana terdapat dalam Pasal 294 HIR Ayat (1), yang pada

dasarnya ialah:37

a. Keharusan adanya keyakinan Hakim, dan keyakinan itu didasarkan kepada;

b. Alat-alat bukti yang sah.

Teori ini dianut oleh KUHAP, sebagaimana terkandung dalam ketentuan

Pasal 183 KUHAP, meyebutkan sebagai berikut;38

”Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang terdakwa kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”.

Meneliti Pasal 183 menyatakan, ”Sekurang-kurangnya harus ada dua alat

bukti yang sah”, ”bukan satu alat bukti”, maka seorang terdakwa telah memenuhi

unsur batas minimum pembuktian. Namun menurut hukum posistif unsur

sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah harus ditambah dengan unsur keyakinan hakim

sebagai unsur complimentary (pelengkap) dan lebih berwarna sebagai unsur formal

dalam model putusan.39

Teori bebas adalah teori yang tidak mengikat hakim kepada aturan hukum

yang dijadikan pokok, asal saja ada keyakinan tentang kesalahan terdakwa yang

didasarkan pada alasan-alasan yang dapat dimengerti dan dibenarkan oleh

37

Ibid, hal. 279.

38

KUHAP, Op. cit, Pasal 183.

39

(40)

pengalaman.40

Teori bebas dimungkinkan terjadi karena globalisasi menimbulkan teori baru

yang relevan dengan situasi saat ini dan akhir-akhir ini berkembang suatu teori baru

yakni teori modern. Teori ini tidak dianut dalam sistem HIR maupun sistem KUHAP.

Berdasarkan teori-teori pembuktian yang telah dikemukakan, dan sistem

pembalikan beban pembuktian di atas, secara khusus bahwa sesuai dengan ketentuan

Pasal 27 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang, (UUPTPT) ditentukan bahwa,

alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi:

a. Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana;

b. Alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau

disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan c. Data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang

dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada:

1) Tulisan, suara, atau gambar;

2) Peta, rancangan, foto, atau sejenisnya;

3) Huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.

Pada Pasal 27 huruf a, mencakup alat bukti yang disebutkan di dalam

KUHAP. Sedangkan pada huruf b, dan c inilah yang dimaksud dengan alat bukti lain

yang dikenal di dalam UUPTPT selain itu juga dikenal di dalam Undang-Undang

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (UUPTPPU), Undang-Undang

40

Martiman Prodjohamidjojo., Penerapan Pembuktian Terbalik Dalam Delik Korupsi (UU

(41)

Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE). Dimana

dalam undang-undang terkait ini dikenal dengan alat bukti elektronik yang dijadikan

sebagai alat bukti di dalam pembuktian tindak pidana terorisme.

Sedangkan dalam pembuktian terbalik bersifat terbatas dan berimbang, yakni

terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan tindak

pidana yang didakwakan terhadapnya dan penuntut umum tetap berkewajiban untuk

membuktikan dakwaanya.

Kata-kata ”bersifat terbatas” dimaksudkan bahwa apabila terdakwa secara

yakin dapat membuktikan bahwa dakwaan yang ditujukan kepadanya tidak terbukti

atau tidak benar, hal ini bukan berarti terdakwa tidak melakukan tindak pidana sesuai

dengan apa yang didakwakan oleh JPU. Sebab JPU, masih tetap berkewajiban untuk

membuktikan dakwaannya.41 Dipandang dari sisi tersangka atau terdakwa, alat bukti

artinya alat atau upaya yang bisa dipergunakan tersangka atau terdakwa untuk dapat

meyakinkan hakim di muka persidangan. Sedangkan jika dipandang dari pengadilan

yang memeriksa perkara, alat bukti artinya alat atau upaya yang bisa dipergunakan

oleh hakim untuk menjatuhkan putusan.42 Jadi, alat-alat bukti sangat diperlukan oleh

para pencari keadilan maupun pengadilan.43

Dalam KUHAP, perihal alat-alat bukti tercantum dalam Pasal 184 dinyatakan

dalam pasal tersebut bahwa alat-alat bukti yang sah terdiri dari, keterangan saksi,

41

Ibid, hal. 108.

42

Nashr Farid Washil., Nazhoriyah ad Da’wa wa Istbat fii Fiqhi Islamiyyi ma’a

al-Muqoronati bi al-Qoonunniyyi al- Wad’iyyi, (Kairo: Daaru Asy Syuruq, 2002), hal. 23.

43

Roihan A. Rasyid., Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: Rajawali Pers, 1991), hal.

(42)

keterangan ahli, surat, petunjuk; dan keterangan terdakwa. Jika alat-alat bukti

dalam KUHAP yang dijadikan dasar sebagai alat bukti dalam tindak pidana

terorisme mengenai alat bukti wibe site tidak dapat dijadikan sebagai alat

bukti yang sah dan kuat, dengan kata lain alat bukti tersebut merupakan alat

bukti yang lemah, karena wibe site menurut KUHAP dimasukkan ke dalam

alat bukti petunjuk.44

Hal tersebut sesuai dengan penegasan yang dirumuskan dalam Pasal 189

Ayat (4) KUHAP bahwa, ”Keterangan terdakwa saja atau pengakuan terdakwa saja

tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang

didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain”.

Ketentuan itu, ketentuan tersebut sama halnya dengan pengaturan di dalam Pasal 308

HIR yang menegaskan bahwa, ”Untuk dapat menghukum terdakwa, selain daripada

pengakuannya harus dikuatkan pula dengan alat-alat bukti yang lain”. Jadi, jelaslah Dikatakan lemah karena ”sekurang-kurangnya harus ada

dua alat bukti” barulah putusan dapat dijatuhkan kepada terdakwa. Dengan

demikian rekaman elektronik menurut KUHAP bukan alat bukti yang dapat

berdiri sendiri.

44

(43)

bahwa jika hakim menerapkan macam-macam alat bukti yang ditentukan dalam

KUHAP, harus didukung oleh alat bukti lain untuk menjatuhkan sebuah putusan.

Oleh karena adanya pengecualian alat bukti dalam UUPTPT tersebut,

disebabkan karena alat bukti yang disebutkan dalam KUHAP sudah tidak mampu

sebagai lex generalis dalam hal merangkum alat-alat bukti, sehingg muncullah

pengaturan yang bersifat lex specialist.

Mengenai elektronik disebutkan dalam Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang

Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE), yang

dimaksud dengan informasi elektronik adalah, ”Satu atau sekumpulan data elektronik,

termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto,

electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks,

telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi

yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu

memahaminya.”

Elektronik telah diterima sebagai alat bukti yang sah di dalam UUITE dan

UUTPPU walaupun dalam hal pencarian pembuktiannya di perlukan keterangan ahli

dalam bidang elektronik tersebut untuk menguatkan suatu pembuktian yang

menggunakan elektronik.

Ada beberapa cara untuk mengakui elektronik sebagai alat bukti yang sah di

dalam persidangan pengadilan adalah sebagai berikut:45

45

Referensi

Dokumen terkait

Hasil sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (Pvalue = 5,82 x 10 -16 ) yang berarti bahwa peluang untuk membantah konsep

adalah menurunnya religiusitas remaja yang dilihat dari banyaknya remaja yang aktif bermain game online meninggalkan kegiatan ibadah seperti sholat 5 (lima)

(3)  Untuk  kepentingan  pelaksanaan  Peraturan  Daerah  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  Pasal  ini,  diberikan  biaya  operasional  yang  besarnya 

Dalam rangka mendukung program Kementerian Pertanian terutama peningkatan kompetensi Pimpinan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan agar mampu

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh profitabilitas, leverage, kepemilikan institusional, dan investment opportunity set (IOS) terhadap nilai

Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi adanya pengaruh keadaan yang terbentuk dari kondisi fisik ruang luar perumahan seperti taman, kolam renang, dan lapangan voli

Penelitian ini merancang sebuah aplikasi ujian berbasis komputer (Computer Based Test - CBT) menggunakan metode User Centered Design dan berbasis desktop untuk lebih

Karyadi (1985), mendefinisikan pola asuh makan sebagai praktik pengasuhan yang diterapkan oleh ibu kepada anak berkaitan dengan cara dan situasi makan. Selain pola asuh makan,