1
BAB I
Dewasa ini banyak ditemukan kasus yang melibatkan hubungan cinta remaja, hubungan yang seharusnya dipenuhi kenyamanan dan kehangatan. Namun dalam kenyataannya, cinta tidaklah berjalan sesuai yang diharapkan saja. Remaja banyak juga yang terkadang salah menafsirkan makna berpacaran atau cinta itu sendiri. Dalam hal ini perlu dipahami bersama bahwa cinta adalah seperangkat alat untuk menjalin relasi. Namun dalam beberapa kasus yang melibatkan remaja, cinta dapat menjadi sesuatu hal yang salah. Misalkan saja kasus kekerasan dalam pacaran, bahkan ada yang sampai bunuh diri karena putus cinta. Perlu adanya tinjauan lagi dalam hubungan yang dijalin oleh para remaja saat ini. Kekerasan dalam pacaran atau datting violance ini kebanyakan tidak hanya pada perempuan, namun laki-laki juga bisa menjadi korban. Data yang ada sekitar 957 dari 3000 responden menyatakan pernah mengalami kekerasan dalam pacaran.
Kebanyakan kekerasan dalam pacaran ini terjadi saat seorang remaja berada pada posisi selalu ingin tau tentang pasangannya dan membatasi setiap ruang gerak pasangan karena rasa takut kehilangan atau rasa memiliki yang terlalu tinggi, biasanya orang akan menyebutnya sebagai pasangan yang posesif. Sedangkan orang yang menjadi korban adalah orang yang mempunyai prinsip rela melakukan apapun demi pasangnnya atau dalam teori gaya cinta lebih dikenal sebagai Altruistik. Kondisi ini akan terus berlangsung karena korban merasa harus berkorban demi kebahagiaan pasangan yang dicintai, dan tidak akan melaporkan kekerasan yang diterimanya. Kedua tipe cinta tersebut terlihat sangat menguras emosi, bahkan cenderung penuh tekanan. Oleh karena itu, remaja perlu tahu tentang bagaimana pemahaman gaya cinta yang sesuai tugas perkembangannya, begitupun orang tua untuk lebih terlibat dan mengawasi relasi yang dijalani oleh remaja agar tidak banyak terjadi lagi kekerasan dalam pacaran di kalangan remaja. (Harian Umum Pelita, 2012: Newsdetik, 2012)
Sedangkan gaya cinta selain altruistik dan posesif, menurut Lee masih ada empat gaya cinta yang lain. Yaitu, kawan baik, main-main, pragmatic dan romantik. Dalam keenam jenis tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan, biasanya remaja cenderung memiliki dua sampai tiga jenis dari gaya cinta tersebut dalam sebuah relasi yang dijalin mereka. Selain itu gaya cinta yang positif adalah gaya cinta yang menyenagkan dan terjalin dalam suasana yang hangat, biasanya ada dalam bentuk gaya cinta kawan baik, juga altruistik yang merupakan kombinasi dari eros dan storge. Sementara untuk keempat gaya cinta tersebut lebih menguras tenaga dan bisa membawa dampak negatif. (Tylor, 2009 : 314 - 315)
Relasi yang dibangun manusia tak jarang adalah bentuk hubungan dengan lawan jenis, yang biasanya disertai komitmen untuk setia selama menjalani hubungan. Relasi romantis ini dimulai ketika manusia menginjak usia remaja, yaitu 14 tahun dan akan berlanjut hingga dia dewasa. Hal ini sesuai dengan salah satu tugas perkembangan remaja akhir yaitu menjalin relasi dengan lawan jenis, mulai lebih fokus dalam memilih pasangan, dan tidak lagi main-main. Remaja pada usia 18-20 tahun memiliki gaya cinta atau bentuk cinta yang berbeda satu sama lain, akan tetapi masing-masing tetap dominan dalam beberapa jenis gaya cinta saja. Ternyata pola asuh juga turut berpengaruh pada jenis relasi yang dikembangkan oleh remaja. Misalkan anak yang dibesarkan pada keluarga yang bercerai akan membangun relasinya dengan penuh ketakutan dan lebih menutup diri (Santrock, 2003: 239).
2
afiliatif misalnya, kedekatan, keterikatan, persahabatan. Tidak ada fenomena yang dapat menggambarkan apa itu cinta, dan pada akhirnya cinta hanyalah seperangkat keadaan emosional dan mental yang kompleks. (Cannary, 1997; Santrock, 2007 ; Irmawati dan Saragih : 2003).
Rubin (1970,1973) mengkonseptualisasikan cinta sebagai sikap terhadap orang lain, yakni sekumpulan pikiran yang berbeda terhadap orang yang dicintainya. Rubin mengkonsepsikan tiga tema utama dalam pemikiran orang tentang cinta. Tema satu, yang disebut sebagai
“keterikatan”, adalah memahami kebutuhan pasangan dan kesadaran akan tingkat
ketergantungan seseorang pada orang lain. Tema kedua berkaitan dengan perhatian pada orang lain: keinginan untuk meningkatkan kebahagiaan orang lain dan responsif terhadap kebutuhannya. Tema ketiga menekankan pada rasa saling percaya dan keterbukaan (Taylor, 2009 : 316-317). Menurut Sternberg, 1988. Cinta bukanlah suatu kesatuan tunggal, melainkan gabungan dari berbagai perasaan, hasrat, dan pikiran yang terjadi secara bersamaan sehingga menghasilkan perasaan global yang dinamakan cinta. (Marasabessy, 2007 : 7-9)
Sedangkan Lee menyimpulkan dalam perkembangannya ada enam bentuk gaya cinta. Meskipun jarang ada individu yang dapat digolongkan dalam tipe “murni”, tetapi pada umumnya individu memberikan nilai tinggi untuk dua atau tiga bentuk, atau nilai moderat untuk beberapa yang lain dan nilai rendah untuk sisanya. Keenam bentuk gaya cinta tersebut adalah (1) Gaya cinta romantik, (2) Cinta memiliki, (3) Cinta kawan baik, (4) Cinta pragmatik, (5) Cinta altruistic, dan (6) Cinta main-main (Dayakisni dan Hudaniah, 2006 ; Taylor, 2009).
Beberapa penelitian dan kajian tentang teori cinta yang dilakukan dari tahap ke tahap, dapat disimpulkan bahwa cinta memiliki perbedaan dalam bentuk, jenis dan gaya yang kemudian diterapkan dalam diri masing-masing individu. Menurut model kelekatan (attachment style), gaya cinta bisa berkembang karena perkembangan pada masa anak-anak menjadi sumber penting bagi timbulnya perbedaan bentuk atau gaya cinta pada masing-masing individu etnis kelekatan itu antara lain secure adults (nyaman dengan intimasi, penyayang), avoidant adult
(kurang nyaman, atau kurang mempercayai pasangan, pengkritik dan kurang perhatian), dan
anxious/ambivalent adult (hubungan cinta sebagai obsesi, daya tarik emosi, dan kecemburuan) (Dayakisni dan Hudaniah, 2006 ; Taylor, 2009).
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan pada tahun 1998, dari 2344 mahasiswa dan mahasiswi dengan rentan usia 18-23 tahun yang diteliti berpendapat, kesetiaan adalah prioritas tertinggi dari daftar wanita, dengan 44% wanita berusia kurang dari 30 tahun mengatakan akan mengakhiri sebuah hubungan jika pasangannya tidaklah setia lagi. Gambaran itu menurun hingga 32% pada wanita yang berusia 30 tahunan, sedangkan pada wanita 40 tahun, 28% menyatakan akan mengakhiri hubungan. Sedangkan hanya 11% menyatakan mengakhiri hubungan pada wanita yang berusia 60 tahun. Ini menunjukkan semakin muda usia wanita semakin kuat mereka dalam menghadapi pria yang tidak setia dan semakin penting pula nilai kesetiaan dan monogami bagi mereka (Allan dan Barbara, 2005 : 202-205).
3
sedangkan13% dari wanita lajang dilaporkan menyukai seks bebas dan sesaat. Demikian pula, Glass dan Wright menemukan bahwa perempuan lebih mungkin untuk menggunakan cinta daripada seks sebagai pembenaran untuk berselingkuh. Para penulis menyimpulkan bahwa wanita lebih cenderung percaya bahwa seks dan cinta adalah satu hal yang saling berkaitan. Semetara itu dalam beberapa penelitian menyatakan bahwa pria lebih cepat jatuh cinta dari pada wanita, dan pria lebih romantis dari pada wanita (Cannary dkk, 1997 : 68-72).
Penelitian-penelitian di Institut Kinsey menyatakan bahwa selama bercinta persepsi seorang pria pada pasangannya terkait pada kedalaman perasaan intimnya terhadap pasangannya itu. Artinya, bahwa pria memberikan nilai lebih tinggi pada daya tarik jasmaninya jika ia jatuh cinta. Apabila daya tarik jasmani seorang wanita pada pertemuan pertama dinilai tinggi oleh pria, maka hubungan pasangan itu akan hangat dan ini merupakan satu bagian penting dari daya tariknya dalam jangka waktu yang lama (Allan dan Barbara, 2005 : 221).
Pria lebih mendominasi suatu hubungan dengan komponen passion misalnya dengan mengekspresikan makna cinta dengan cara melakukan tingkah laku seksual mulai dari berpegangan tangan, berciuman, bahkan sampai melakukan hubungan intim. Untuk aspek perhatian dan kepribadian dalam berkencan, wanita menunjukkan minat yang lebih pada pengungkapan kepribadian dan pengungkapan diri sendiri daripada para pria (Douvan & Adelson, 1966; Feiring, 1992, 1995; Simon & Gagnon, 1969; Santrock, 2003).
Bailey, Hendrick dan Hendrick, (1987) meneliti bagaimana gaya cinta dan seksualitas berhubungan dengan jenis kelamin. Hasil penelitian itu didukung oleh keyakinan populer tentang hubungan antara peran gender dan pengertian tentang cinta. Secara khusus, cinta sebagai permainan (Ludus) lebih mengarah pada maskulinitas dan jarang berhubungan dengan feminitas. Jenis cinta posesif/tergantung (Manic) cenderung berkaitan dengan feminitas dan jarang ada pada sifat maskulinitas. Perempuan lebih pragmatis (Pragma) dibandingkan laki-laki. Wanita memiliki gagasan yang realistis dari cinta. Kesimpulannya maskulinitas tidak berhubungan dengan sikap Eros (Romantis), Storge (persahabatan / companionate), Agape (self-less), juga Pragma (pragmatis). Sementara itu feminitas terkait dengan semua enam jenis cinta (Cannary dkk, 1997 : 79).
Dari penjelasan perbedaan gaya cinta cukup sulit untuk menggolongkan seseorang berada dalam gaya cinta apa, dari enam jenis gaya cinta yang ada. Namun penulis dapat memberikan analisa terkait gaya cinta yang digunakan yaitu perempuan cenderung memaknai cinta dalam suatu hubungan dengan kedekatan emosional, atau cinta yang mengutamakan keakraban yang menyenangkan, sementara laki-laki cenderung menggunakan kedekatan gaya cinta yang berasal dari daya tarik fisik jasmaniah. Seperti hasil riset juga menunjukkan ada perbedaan seks dalam gaya percintaan. Pria kelihatannya lebih cenderung pada gaya bercinta romantik, main-main atau egosentric, sementara wanita cenderung pada gaya cinta persahabatan,
obsesive/inscure atau pragmatik (Dayakisni dan Hudaniah, 2006 : 197-199).
4
GAYA CINTA PADA REMAJA AKHIR
SKRIPSI
Oleh: Ria Fitriani
07810224
FAKULTAS PSIKOLOGI
GAYA CINTA PADA REMAJA AKHIR
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarana Psikologi
Ria Fitriani NIM: 07810224
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
SKRIPSI
Dipersiapkan dan disusun oleh :
Ria Fitriani Nim: 07810224
Telah dipertahankan di depan Dewan penguji pada tanggal, 01 Februari 2013
dan dinyatakan memenuhi syarat sebagai kelengkapan memperoleh gelar Sarjana (S1) Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
Susunan Dewan Penguji:
Ketua/Pembimbing I Sekretaris/Pembimbing II
Hudaniah, M.Si.,Psi Yuni Nurhamidah, S.Psi., M.Si
Anggota I Anggota II
Dra Cahyaning Suryaningrum, M.Si Ni’matuzahroh, S.Psi., M.Si
Mengesahkan,
Dekan
SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tanngan dibawah ini :
Nama : Ria Fitriani
NIM : 07810224
Fakultas / Jurusan : Psikologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Menyatakan bahwa skripsi/karya ilmiah yang berjudul:
Gaya Cinta Pada Remaja Akhir.
1. Adalah bukan karya orang lain baik sebagian maupun keseluruhan kecuali dalam
bentuk kutipan yang digunakan dalam naskah ini dan telah disebutkan sumbernya.
2. Hasil karya ilmiah/skripsi dari penelitian yang saya lakukan merupakan Hak bebas
Royalti non-eksklusif, apabila digunakan sebagai sumber pustaka.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila
pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia mendapatkan sanksi sesuai dengan
undang-undang yang berlaku.
Mengetahui, Malang, 01 Februari 2013
Ketua Program Studi Yang Menyatakan,
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah senantiasa terpanjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, karunia dan hidayah-Nya penyusunan skripsi berjudul “Gaya Cinta Pada Remaja Akhir” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang dapat terselesaikan dengan baik.
Proses penulisan skripsi ini kiranya mampu terselesaikan atas bantuan berbagai pihak; oleh karenanya dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada:
1. Dra. Cahyaning Suryaningrum, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
2. Hudaniah, S.Psi., M.Si. dan Yuni Nurhamida, S.Psi., M.Si. selaku Pembimbing I dan II yang senantiasa meluangkan waktunya untuk memberikan saran dan kritik sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
3. Ari Firmanto, S.Psi., M.Si. selaku Dosen wali yang telah sabar memberi pengarahan dan bimbingan kepada penulis sejak awal perkuliahan hingga terselesaikannya skripsi ini.
4. Seluruh keluarga besar Fakultas Psikologi UMM (Staf Pengajar/Dosen dan Staf Tata Usaha Fakultas Psikologi). Trimakasih atas pelajaran yang telah diberi selama penulis berada di kampus tercinta
5. Kawan-kawan subjek penelitian penulis, kesediaan kalian sangat membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu yang telah dengan sabar menunggu penulis hingga ke titik ini. Tetap berjuang dalam pengharapan besar yang bahkan anandapun tak bisa membayangkan pengorbanannya.
7. Nenek dan keluarga besarku (Sawojajar), terimakasih telah mengisi hariku selama penulis di Malang.
8. Dani. Terimakasih karena atasmu saya tidak pernah menyerah pada keadaan dan membuat saya selalu mencari cara untuk tidak menyerah hingga titik akhir. (Bukan karena apa yang telah diberikan namun atas apa yang telah didapatkan)
10.Guru terbaik dalam kehidupan (Untuk dipelajari agar untuk dimengerti) Yunda: Asfi, Nida, Didin, Atul, Lilik, Happy. Kanda: Fadly, Fian. Kawan: Arie, Ratna, Doni, Dila. Adinda: Yeni, Ansori, Fatwa, Ika, Ifa, Gilang, Mariam, Ulin, Indah, Jopy, Uly.
11.Terimakasih pula pada kawan yang telah memberi motivasi tersendiri bagi penulis. Bowo.
12.HMI Cabang Malang, HMI KORKOM UMM (Psikologi, Hukum, ISIP, KIP, Ekonomi, Pertanian, Petrik, AI, Teknik, Per.Kesehatan). Setiap sudut selalu ada kenangan antara aku dan dimensi waktu yang menenggak romantisme kehidupan bersamamu.
13.Teman-teman angkatan 2007 kelas D, serta semua pihak yang telah membantu dalam terselesaikannya skripsi ini dan tak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna baik dari aspek materi, metodologi dan analisisnya. Kerenanya kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk karya yang lebih baik di masa mendatang. Akhirnya hanya kepada Allah Swt. penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Billahitaufiq Walhidayah Wassalamualaikum Wr.Wb
Malang, 01 Februari 2013
Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
ABSTRAK ... 1-2
PENDAHULUAN ... 3-5
LANDASAN TEORI ... 6-8
METODE PENELITIAN
Subjek Penelitian ... 9
Metode Pengumpulan Data ... 9-12
Prosedur Penelitian... 12
Metode Analisa Data... 13
HASIL PENELITIAN ... 14-16
DISKUSI ... 16-17
SIMPULAN DAN IMPLIKASI ... 18
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tipologi Cinta Lee ... 6
Tabel 2. Blue Print Skala Perbedaan Gaya Cinta ... 10
Tabel 3. Indeks Distribusi Skala Gaya Cinta ... 10
Tabel 4. Indeks Reliabilitas Skala Gaya Cinta ... 11
Tabel 5. Blue Print Skala Gaya Cinta Setelah Try Out ... 12
Tabel 6. Deskripsi Subjek Penelitian ... 14
Tabel 7. Distribusi Gaya Cinta Ditinjau dari Jurusan ... 14
Tabel 8. Distribusi Gaya Cinta Ditinjau dari Jenis Kelamin ... 15
Tabel 9. Distribusi Gaya Cinta Ditinjau dari Usia ... 15
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Saifuddin. 1995. Sikap manusia teori dan pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
_______________. 2009. Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Cannary, D.J, Faulkner, S and Emmers-Sommer T.M. 1997. Sex and gender differnces in personal relationship. New York: The Guilford Press.
Dayakisni, Tri dan Hudaniah. 2009. Psikologi sosial. Malang: UMM Press.
Feldman, Robert S. 1985. Social psychology, international student edition. Singapore: Kin Keong Printing.
Hatfield, Elaine, Pillemer, Jane T., O’Brien, Mary U., & Le, Yen-Chi L. 2008. The endurance of love: passionate and companionate love in newlywed and long-term marriages. Interpersona 2(1), 35-64. (Journal). Campus Rouge: Honolulu-USA Hatfield, Elaine, Nerenz, David, Greenberger, David, Lamberk, Philip and Spreacher,
Susan.____. Passionate and companionate love in newlywed couples (Journal). University of Hawaii.
Irmawati dan Saranggih J.R.____. Fenomena jatuh cinta pada mahasiswi (Jurnal). Universitas Sumatra Utara.
Maataa, K & Uusiautti, S. Love does not retire-not even after a half century of merriage. International journal of aducational and sosial research vol.2 (1). Januari 2012. Univercity of Lapland. Finland, USA.
Mahardika, Danu. 2012. Komnas PA: Penyebab Terbanyak Anak Bunuh Diri Karena Putus Cinta (Artikel).http://news.detik.com/read/2012/07/23/145237/1972404/10/ diunduh Senin, 23/07/2012 14:52 WIB
Mapiare, Andi. 1996. Psikologi remaja. Surabaya: Usana Offset Printing.
Marabessy, Rismawati.____. Perbedaan cinta berdasarkan teori segi tiga Sternberg antara wanita dengan pria masa dewasa awal (Jurnal). Universitas Gunadarma. Meneg PP. 2012. Meneg PP: Satu dari Lima Remaja Alami Pelecehan Seksual (artikel).
Harian umum Pelita: http://www.pelita.or.id/baca.php?id=47477
Pease, Barbara & Allan. 2009. Why men don’t listen and women can’t read map (Terjemahan). Jakarta: Cahaya Insan Suci.
Santrock, John W. 2003. Adolescence edisi keenam. Jakarta: Penerbit Erlangga. ______________. 2007. Remaja edisi sebelas jilid dua. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Scully, Darragh._____. Love across the life span: Age effects on the Love attitudes Scale in Three age groups from 20 to 60+. Cowan University. http://www.geocities.ws/darragh_scully/love_across_the_lifespan.html
Setyorini, E.W. 2007. Perbedaan gaya cinta pada remaja akhir ditinjau dari peran gender
Taylor, Shelley E, Sears, D.O and Peplau. L.A. 2009. Psikologi sosial edisi kedua belas. Jakarta: Kencana Perdana Media Group.