• Tidak ada hasil yang ditemukan

PREDIKSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PREDIKSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

PREDIKSI FINANCIAL DISTRESS

PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai

Derajad Sarjana Ekonomi

Oleh:

RICHI MAULUDIN 09610055

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

PREDIKSI FINANCIAL DISTRESS

PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai

Derajad Sarjana Ekonomi

Oleh:

RICHI MAULUDIN 09610055

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

(3)
(4)

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah

melimpahkan rahmat serta hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini tepat pada waktunya.

Skripsi yang berjudul “PREDIKSI FINANCIAL DISTRESS PADA

PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA” disusun untuk memenuhi serta melengkapi syarat memperoleh gelar Kesarjanaan di bidang Ekonomi, program studi Manajemen

pada Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis berusaha memberi sebaik mungkin

namun demikian, penulis menyadari akan kemampuan dan keterbatasan

pengetahuan serta pengalaman penulis. Skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa

adanya bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis

mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Dr. H. Nazaruddin Malik, SE, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Muhammadiyah Malang.

2. Dr.H.Marsudi, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Universitas

Muhammadiyah Malang.

3. Drs. Mursidi, MM, selaku Dosen Pembimbing Pertama yang telah sudi

meluangkan waktuya untuk mengoreksi serta memberikan petunjuk yang

(5)

4. Dra. Dewi Nurjanah, MM,selaku Dosen Pembimbing Kedua yang penuh

kesabaran telah memberikan bimbingan serta petunjuk hingga selesainya

penulisan skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu yang telah mendidik, membimbing, dan memberikan kasih

sayang yang takternilai harganya, skripsi ini dapat selesai karena cucuran do’a

dan air mata darimu ibu.

6. Kakak-kakakku Evilestariana, Moch.Kholik, danNurSalim, yang selalu

memberikan dukungan secara tulus baik berupa materiil, kasih saying maupun

do’a sehingga penulis bias menyelesaikan skripsi ini.

7. Nova Lanzha Rusdiana Teman-teman UKM bolaserta teman-teman jenggot

yang memberikan semangat dan bersedia menemani dalam menyelesaikan

skripsi ini, kalian keluarga keduaku.

8. Teman-teman manajemen kelas A dan teman-teman Program Studi

Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang yang bersedia memberikan

informasi serta semangat untuk menunjang penyelesaian skripsi ini.

Akhirnya segala amal baik yang telah mereka berikan kepada penulis semoga

mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis berharap semoga skripsi ini

bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Malang, Oktober 2014

Penulis Richi Mauludin

(6)

DAFTAR ISI A. Latar BelakangPenelitian ... 1

B. Rumusan Penelitian ... 4

C. Batasan Penelitian ... 4

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4

BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ... 6

B. Landasan Teori ... 7

1. Laporan Keuangan... 7

2. Bentuk-Bentuk Laporan Keuangan ... 7

3. Analisa Laporan Keuangan ... 8

4. Analisis Rasio Keuangan ... 9

(7)

6. Penyebab Terjadinya financial Distress ... 12

7. Prediksi Financial Distress ... 17

C. Kerangka Pikir Penelitian ... 18

D. Hipotesis ... 19

BAB III.METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 21

B. Populasi dan Sampel ... 21

C. Sumber dan Metode Pengumpulan Data ... 22

D. Definisi Operasional Variabel ... 23

E. Metode Analisis Data ... 25

F. Uji Hipotesis ... 26

BAB IV.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Data Penelitian ... 27

B. Analisis Data ... 36

C. Pembahasan Hasil Penelitian... 44

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 48

B. Saran ... 48

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Data Total Liabilities to Total Assets, Working Capital to Total

Assets, Return on Assets Debt to Equity Ratio dan Current Ratio

Tahun 2008 ... 27

Tabel 4.2 Data Total Liabilities to Total Assets, Working Capital to Total Assets, Return on Assets Debt to Equity Ratio dan Current Ratio Tahun 2009 ... 29

Tabel 4.3 Data Total Liabilities to Total Assets, Working Capital to Total Assets, Return on Assets Debt to Equity Ratio dan Current Ratio Tahun 2010 ... 31

Tabel 4.4 Data Total Liabilities to Total Assets, Working Capital to Total Assets, Return on Assets Debt to Equity Ratio dan Current Ratio Tahun 2011 ... 33

Tabel 4.5 Data Total Liabilities to Total Assets, Working Capital to Total Assets, Return on Assets Debt to Equity Ratio dan Current Ratio Tahun 2012 ... 35

Tabel 4.6 Nama-Nama Perusahaan Yang Masuk Dalam Kategori Tidak Mengalam iFinancial Distress (PTFD) dan Financial Distress (PFD) ... 38

Tabel 4.7 Hasil Uji Signifikansi Variabel Diskriminator ... 41

Tabel 4.8 Hasil Uji Signifikansi Variabel Diskriminator ... 42

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Data Hasil Penelitian

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Almilia, Luciana Spica dan Kristijadi, 2003. Analisis Rasio Keuangan untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ, Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia, Vol. 7 No. 2, HaI Ig3-206.

Daulat, sihombing. 2008. Peranan Analisis Rasio Keuangan dalam Memprediksi

Kesehatan Perusahaan Tekstil dan Alas Kaki yang Terdaftar di BEJ. Tesis dipublikasikan. Medan: Program Pasca Sarjana Universitas Sumatra Utara.

Eugene f. Brigham, and Joul F. Houston. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi 8, buku 1. Jakarta: Erlangga.

Foster, George. 2006. Financial Statement Analysis. Second edition. United States of America.

Harmono. 2009. Manajemen Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara.

Hanafi, M, M., dan Halim, A. 2006. Analisis Laporan Keuanga. Edisi 1. Yogyakarta: UPP- AMP YKPN.

Husnan, Suad. 2000. Manajemen Keuangan. Edisi Empat. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo, 2002. Metode Penelitian Bisnis Untuk

Manajemen dan Akuntansi. Yogyakarta: BPFE.

Indonesian Commercial Newsletter. 2012. www.datacon.co.id, diakses 10 Mei 2013.

Munawir. 2007. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.

Martin, et al. 2008. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi kelima. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Pasaribu, Rowland Bismark Fernando, 2008. Penggunaan Binary Logit Untuk Prediksi Financial Distress Emiten di Bursa Efek Jakarta (Studi Kasus Emiten Industri PerdaganEdfr, Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi VENTURA, Vol. 11, No. 2, hal.153-172.

(12)

Riyanto, Bambang. 2003. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi keempat. Yogyakarta: BPFE

Richard A. Brealey, Dkk. 2008. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Perusahaan.

Edisi. 5, jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Sartono, Agus. 2001. Manajemen Keuangan (teori & aplikasi). Yogyakarta: BPFE

Tandelilin, Eduardus. 2010. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Yogyakarta: PPFE.

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Krisis multi dimensi yang terjadi di Indonesia menimbulkan banyak

masalah di negeri ini, dampak tersebut yang paling menonjol adalah pada

aspek ekonomi, termasuk pada sektor manufaktur, kondisi ini tentu saja

membuat para investor dan kreditor merasa khawatir jika perusahaan

mengalami kesulitan keuangan yang bisa mengarah pada kebangkrutan.

Krisis finansial global tahun 2008-2009, Indonesia termasuk negara

yang terkena dampak krisis ini, salah satu dampaknya adalah ekspor Indonesia

yang mengalami masa sulit selama terjadinya krisis financial pada kurun

waktu 2008 hingga 2009. Berdasarka Indonesian Commercial Newsletter

(2008) dijelaskan bahwa berbagai industri manufaktur terutama yang

berorientasi ekspor seperti tekstil, sepatu dan elektronik, mulai mengurangi

kegiatannya termasuk mengurangi tenaga kerja karena permintaan pasar

ekspor yang menurun. Akibatnya banyak industri yang tidak mampubertahan

untuk tetap berproduksi.

Tahun 2011 yang lalu sektor industri manufaktur mulai menunjukkan

kebangkitan kembali dari rata-rata pertumbuhan sektor kurang dari 5% per

tahun (Indonesian Commercial Newsletter 2012) akibat krisis moneter yang

terjadi pada tahun 1998 industri manufaktur belum sepenuhnya bisa pulih

(14)

2

dometik bruto) yang mencapai 6,2% dan pertumbuhan ekspor yang mencapai

24,6% (Indonesian Commercial Newsletter 2012). Meskipun demikian

diharapkan suatu perusahaan tetap mengambil keputusan dan tindakan yang

cepat dan tepat untuk memperbaiki situasi ini agar perusahaan tetap survive /

tidak mengalami financial distress hingga mencapai posisi kebangkrutan

karena perekonomian di Indonesia penuh dengan ketidakpastian.

Financial distress adalah suatu kondisi keuangan perusahaan sedang

tidak sehat. Menurut Platt dan Platt (2002) Financial distress didefinisikan

sebagai tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum terjadinya

kebangkrutan ataupun likuidasi. Banyak faktor yang dapat menyebabkan

perusahaan menghgalami financial distress yaitu antara lain kenaikan biaya

operasi, ekspansi berlebihan, ketinggalan teknologi, kondisi persaingan,

kondisi ekonomi, kelemahan manajemen perusahaan dan penurunan aktifitas

perdagangan industri.Ada beberapa faktor yang dapat dijadikan sebagai

pembeda kondisi perusahaan sehat dan bangkrut. Faktor-faktor tersebut

meliputi faktor finansial dan non finansial. Faktor finansial tercemin dari rasio

keuangan perusahaan yang dimiliki. Maka untuk mengukur tingkat kesehatan

perusahaan digunakan analisis rasio keuangan.

Perusahaan dikatakan mengalami financial distress diindikasi dengan

ketidakmampuan perusahaan memenuhi semua kewajibannya yang

berkepanjangan pada saat jatuh tempo. Salah satu ukuran yang bisa digunakan

untuk menggambarkan sampai sejauh mana kemampuan perusahaan dapat

(15)

3

pemilik adalah debt to equity ratio (DER). Rasio ini menunjukkan persentase

debt (total hutang) terhadap ekuitas (modal sendiri). Semakin rendah angka

DER maka akan semakin baik, karena akan semakin tinggi kemampuan

perusahaan untuk membayar kewajibannya.

Apabila dilihat sejauh mana kinerja perusahaan manufaktur dalam

menggunakan total ekuitas yang dimiliki untuk membayar hutang-hutangnya

mulai dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 (ICMD, 20013). Bahwa dari

perusahaan-perusahaan tersebut kemampuan membayar hutangnya baik.

Penyebab terjadinya kegagalan suatu perusahaan yaitu sebab intern dan sebab

ekstern. Penyebab yang timbul dari faktor luar dalam perusahaan yang

meliputi sebab finansial dan non finasial, sedangkan sebab ektern adalah sebab

yang timbul dari luar perusahaan misalnya adalah persaingan yang tinggi.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengkaji manfaat rasio

keuangan terhadap Financial distress. Almilia & Kristijadi (2003) menguji

rasio keuangan yang pernah digunakan oleh Platt & Platt (2002) untuk

memprediksi kondisi financial distress. Sampelpenelitian terdiri dari 24

distress perusahaan dan 37 non-distress perusahaan. Metode statistik yang

digunakan untuk menguji hipotesis penelitian adalah regresi logistik. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa Rasio profit margin (NI/S), rasio financial

leverage (CL/TA), rasio likuiditas (CA/CL) dan rasio pertumbuhan

(GROWTH NI/TA) adalah variabel yang signifikan untuk menentukan

(16)

4

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti mengambil judul “Prediksi Financial Distress pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”

B. Rumusan Penelitian

1. Bagaimanakah prediksi financial distress pada perusahaan makanan dan

minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

2. Diantara variabel rasio keuangan manakah yang dominan untuk

memprediksi financial distress pada perusahaan makanan dan minuman

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

C. Batasan Penelitian

Dalam penelitian ini variabel diskriminator yang digunakan yaitu

terdiri dari WCTA, TLTA, ROA dan CR serta DER digunakan untuk

memperdiksi dengan periode tahun penelitian yaitu 2009-2013 terhadap

tingkat financial disstree.

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui prediksifinancial distress pada perusahaan

makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

b. Untuk mengetahui variabel rasio keuangan mana yang dominan untuk

memprediksi financial distress pada perusahaan makanan dan

(17)

5

2. Manfaat Penelitian

a. Bagi Pihak Manajemen Perusahaan

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu

dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan dibidang keuangan.

b. Bagi Investor

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu alat

untuk membantu keputusan yang tepat dalam pemilihan investasi yang

berprospek cerah.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu

(18)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Hasil penelitian Pasaribu (2008) menunjukkan bahwa pada

indikator current ratio dan indikator asset turnover yang memiliki tingkat

daya klasifikasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan 4 model lainnya.

Pada model 3 (indikator current ratio) rasio QATA dan WCTA

berpengaruh positif dan signifikan pada financial distress. Untuk model 4

(indikator asset turnover) rasio WCTA, ITO, SALCA, dan CashTA

berpengaruh positif dan signifikan pada financial distress, sedangkan rasio

LDTA mempunyai hubungan negatif dan signifikan.

Daulat (2008) melakukan penelitian dengan judul “Peranan Rasio

Keuangan Dalam Memprediksi Kesehatan Perusahaan Tekstil dan Alas

kaki yang Terdaftar di BEJ” hasil penelitiannya menunjukan bahwa

current ratio, gross profit margin, dan return on investment, berpengaruh

terhadap financial distress sedangkan, debt to equity ratio, total asset turn

(19)

7

B. Landasan Teori 1. Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan objek dari analisis terhadap laporan

keuangan. Laporan keuangan dapat menunjukan posisi keuangan suatu

perusahaan apakah baik atau buruk pada tiap-tiap periode akuntansi.

Menurut Munawir (2007:2) Laporan keuangan adalah hasil dari

proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi

antara data keuangan atau aktifitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak

yang berkepentingan dengan data atau aktifitas perusahaan tersebut. Pada

awalnya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanya sebagai alat

penguji dari pekerjaan bagian pembukuan dan pada perkembanganya

keuangan tidak hanya sebagai alat penguji saja, tetapi juga menjadi dasar

untuk menilai kesehatan perusahaan.

2. Bentuk-Bentuk Laporan Keuangan

Jenis-jenis laporan keuangan berdasarkan informasi yang

dikandungnya bisa dibagi dalam tiga laporan keuangan utama, yaitu :

neraca, laporan rugi laba, dan laporan aliran kas perusahaan (Tandelilin

2010:365).

a. Neraca (Balance Sheet)

Neraca adalah laporan keuangan yang menggambarkan kondisi

finansial perusahaan pada suatu waktu tertentu. Neraca merupakan

laporan tentang aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemegang saham

(20)

8

untuk menunjukan posisi keuangan pada suatu tanggal tertentu yang

biasanya pada saat perusahaan melakukan tutup buku pada tahun fiskal

tertentu.

b.Laporan Laba Rugi (Income Statement)

Laporan laba rugi adalah ringkasan profitabilitas perusahaan

selama periode waktu tertentu, bagi investor informasi laba yang

diperoleh perusahaan bisa dijadikan dasar untuk menilai seberapa besar

nilai kembalian investasi yang dilakukan (atau dikenal dengan istilah

return on investment / ROI), atau untuk menilai seberapa besar earning

yang akan diperoleh dari setiap saham yang dibeli investor (atau dikenal

sebagai earning per share/EPS).

c. Laporan Arus Kas (The Statement Of Cash Flow)

Laporan arus arus kas disebut juga laporan perubahan posisi finansial

atau laporan aliran dana perusahaan. Laporan aliran kas merupakan

laporan yang memuat aliran kas yang berasal dari tiga sumber: aktifitas

perusahaan, aktifitas investasi, aktifitas pendanaan yang dilakukan oleh

perusahaan.

3. Analisa Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan merupakan alat analisis bagi

manajemen keuangan perusahaan yang digunakan untuk mendeteksi

tingkat kesehatan perusahan, (Harmono, 2009:104). Analisis laporan

(21)

9

kreditor, dan manejemen perusahaan terkait dengan kondisi perusahaan

dalam rangka mengambil keputusan.

Analisis laporan keungan menjadi sebuah proses pembedahan

laporan keuangn kedalam unsur-unsurnya menelaah masing-masing unsur

dan hubungan antara unsur satu dengan yang lain. Tujuan dari proses

tersebut adalah untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang tepat

atas laporan keuangan itu sendiri.

4. Analisis Rasio Keuangan a. Rasio keuangan

Munawir (2007:64), rasio menggambarkan suatu hubungan

(mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah

yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio ini akan

dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisis tentang

baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan

terutama apabila angka-angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka

rasio pembanding yang digunakan sebagai standart.

Hanafi dan Halim (2006:75) rasio-rasio keuangan pada dasarnya

disusun dengan menggabung-gabungkan angka-angka didalam atau

laporan laba-rugi dan neraca sehingga diharapkan pengaruh perbedaan

ukuran akan hilang. Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik

kesimpulan bahwa analisis rasio merupakan alat yang member gambaran

secara matematis tentang suatu hubungan tertentu antara unsur-unsur

(22)

10

b. Rasio keuangan

Pada dasarnya, macam atau jumlah rasio banyak sekali, karena

rasio dapat dibuat menurut kebutuhan penganalisa. Umumnya rasio yang

dikenal dan digunakan adalah rasio likuiditas, profitabilitas, aktifitas,

leverage. Sebenarnya banyak lagi rasio yang dapat memberikan informasi

bagi analisis, misalnya: rasio efisiensi, rasio produktifitas, dan sebagainya.

Menurut Hanafi dan Halim (2006:75) rasio keuangan dapat

digolongkan menjadi enam jenis:

1) Rasio likuiditas, yang mengukur kemampuan perusahaan untuk

memenuhi kewajiban jangka pendeknya bila jatuh tempo.

2) Rasio leverage, yang mengukur hingga sejauh mana perusahaan

dibiayai oleh hutang.

3) Rasio aktivitas, yang mengukur seberapa efektif perusahaan

menggunakan sumber dayanya.

4) Rasio profitabilitas yang mengukur efektifitas manajemen yang

ditunjukan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan investasi

perusahaan.

5) Rasio pertumbuhan (growth ratios) yang mengukur kemampuan

perusahaan mempertahankan posisi ekonominya didalam pertumbuhan

(23)

11

6) Rasio penilaian (valuation ratios) yang mengukur kemampuan

manajemen dalam menciptakan nilai pasar yang melampaui biaya

investasi.

c. Manfaat Analisis Rasio Keuangan

Brigham & Houston (2001:101) analisis rasio keuangan digunakan

oleh tiga kelompok utama:

1) Manajer, yang menggunakan rasio-rasio tersebut untuk menganalisis,

mengendalikan, dan memperbaiki operasi perusahaan.

2) Analis kredit, seperti petugas kredit bank atau analis peringkat

obligasi, yang menganalisis rasio untuk membantu menentukan

kemampuan perusahaan membanyar hutang.

3) Analis saham, yaitu analis saham yang berkepentingan dengan

efisiensi, risiko, dan prospek pertumbuhan perusahaan.

5. Financial Distress

Kebangkrutan adalah suatu bagian dari keadaan yang mungkin pada

akhirnya diikuti dengan likuidasi. Kebangkrutan mungkin hasil dari likuidasi

sebagian rekapitulasi, reorganisasi dan akhirnya hilangnya perusahaan

sebagai unit yang terkecil, terburuk dan lebih efisien yang akan mencoba

mensukseskan kembali di dalam pasar yang kompetetif.

Menurut Plat dan Plat (2002) mendefinisikan financial distress

sebagai tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelumterjadinya

kebangkrutan ataupun likuidasi. Weston dan Copeland (2005:252) financial

(24)

12

kewajibannya (insolvency) yang berkepanjangan pada saat jatuh tempo.

Kondisi demikian sebagai akibat dari laba marjinal lebih rendah dari biaya

marjinal, laba rata-rata lebih rendah dari biaya modal rata-rata dan biaya

modal rata-rata dan penerimaan lebih rendah dari biaya sehingga marjinal

penerimaan negatif.

Setiap perusahaan yang mempunyai return negatif, digolongkan

sebagai perusahaan yang mengalami kegagalan ekonomi, dan bila

perusahaan yang bersangkutan tidak bisa keluar dari kondisi ini, maka

perusahaan akan menuju kepada tipe yang lebih serius, yaitu kesulitan

likuiditas (liquidity crisis) dimana perusahaan tidak mampu membayar

kewajiban lancarnya pada saat jatuh tempo, walaupun asset lebih besar dari

kewajiban disini perusahaan dikatakan mengalami kegagalan finansial atau

technical insolvensy. Perusahaan dapat menjual beberapa asetnya untuk

menutupi kesulitan ini, maka perusahaan bisa menghindarkan kegagalan

total, tetapi jika tidak, perusahaan menuju kegagalan yang paling parah yaitu

kebangkrutan, dimana total hutang perusahaan melebihi nilai wajar/pasar

asetnya dan kekayaan bersih menjadi negatif.

6. Penyebab Terjadinya financial Distress

Martin. Et al. (2008:375) ”penyebab pokok kegagalan finansial

adalah inkompentasi (kekurangmampuan) manajerial”. Selain itu ada

sejumlah masalah struktural kunci, yaitu:

a) Ketidakseimbangan keahlian dalam eselon puncak. Seorang manajer

(25)

13

b) Pimpinan tertinggi yang mendominir operasi perusahaan acapkali

mengabaikan saran mitra-mitranya.

c) Dewan direktur yang kurang aktif atau tidak tahu apa-apa.

d) Fungsi keuangan dalam manajemen perusahaan tidak berjalan dengan

semestinya.

e) Kurangnya tanggung jawab pimpinan puncak.

Faktor-faktor yang merupakan sebab kegagalan atau kerugian suatu

perusahaan, pada prinsipnya digolongkan menjadi sebab-sebab intern dan

sebab-sebab ektern (Riyanto, 2003:314). Penyebab kegagalan usaha karena

finansial dalam hal ini yaitu mengenai rasio kinerja keuangan perusahaan,

yang meliputi rasio likuiditas, aktivitas, solvabilitas, profitabilitas dan rasio

pasar dan masing-masing rasio dapat diuraikan sebagai berikut (Menurut

Hanafi dan Halim (2009:74)) :

1. Rasio likuiditas

Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban

jangka pendeknya.

2. Rasio aktivitas

Rasio yang mengukur sejauh mana efektivitas penggunaan asset dengan

melihat tingkat aktivitas asset.

3. Rasio Solvabilitas

Rasio yang mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan memenuhi

kewajiban jangka panjangnya.

(26)

14

Rasio yang melihat kemampuan perusahaan mengahasilkan laba.

5. Rasio pasar

Rasio yang melihat perkembangan nilai perusahaan relatif terhadap nilai

buku perusahaan.

Rasio kinerja keuangan yang digunakan untuk memprediksi financial distress

yaitu meliputi:

a. Working Capital to Total Assets (WCTA)

Rasio ini untuk mengukur likuiditas aktiva perusahaan relatif

terhadap total kapitalisasinya atau untuk mengukur kemampuan

perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek (Brealey, dkk.

2008: 78). modal kerja bersih bisa digunakan untuk melihat secara

ekstrim apakah suatu perusahaan mengalami kesulitan likuiditas

keuangan atau tidak. Jika modal kerja bersih nilainya negatif, maka

berarti perusahaan tersebut mengalami kesulitan likuiditas. Hal itu

membuat probabilitas terjadinya financial distress pada perusahaan

semakin besar.

b. Total Liabilities to Total Assets (TLTA)

Rasio total hutang terhadap total aktiva, yang pada umumnya

disebut rasio hutang (debt ratio), mengukur persentase dana yang

disediakan oleh kreditur. Rasio ini memperlihatkan proporsi seluruh

aktiva yang didanai oleh hutang (Brigham dan Houston, 2001:84), yang

(27)

15

seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan

aktiva.

Semakin banyak hutang perusahaan maka semakin tinggi

kemungkinan perusahan tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada

kreditur. Apabila rasio hutang (TLTA) semakin besar dapat

membahayakan perusahaan yang disebabkan karena hutang yang semakin

banyak akan menyulitkan perusahaan untuk memperoleh tambahan dana.

Brigham dan Houston (2001:86) menjelaskan bahwa kreditur akan

enggan meminjamkan tambahan dana kepada perusahaan, dan

manajemen mungkin menghadapi risiko kebangkrutan jika perusahaan

meningkatkan rasio hutang dengan meminjam tambahan dana.

c. Return On Assets (ROA)

Rasio ini biasanya disebut sebagai hasil pengembalian atas total

aktiva. Rasio ini mengukur efektifitas pemakaian total sumber daya oleh

perusahaan. Uraian ini khususnya bisa diterapkan dalam mengukur kinerja

masing-masing segmen atau divisi dari suatu perusahaan. Husnan

(2000:72) mengatakan bahwa semakin besar Return on Asset

menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat

kembalian (return) semakin besar. Apabila Return on Asset meningkat,

berarti profitabilitas perusahaan meningkat, sehingga dampak akhirnya

adalah peningkatan profitabilitas yang dinikmati oleh pemegang saham.

Semakin tinggi rasio ROA (NITA) maka semakin rendah kemungkinan

(28)

16

rasio ROA (NITA) menunjukkan kinerja keuangan yang tidak baik dimana

perusahaan tidak mampu mengoptimalkan aktiva yang dimiliki untuk

menghasilkan keuntungan sehingga profitabilitas menurun dan

kemungkinan terjadinya financial distress semakin besar.

d. Debt To Equity Ratio (DER)

Rasio ini menghitung Total Hutang (Hutang lancar dan hutang

jangka panjang) terhadap Total Ekuitas pemilik atau kekayaan bersih.

Sartono (2001:121) menjelaskan bahwa semakin kecil DER maka

kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnya juga semakin baik

dan semakin besar DER maka kemampuan perusahaan untuk membayar

hutangnya akan semakin buruk. Perusahaan yang tidak mampu membayar

hutangnya maka perusahaan tersebut akan dilikuidasi karena dianggap

telah mengalami kebangkrutan.

e. Current Ratio (CR)

Rasio lancar merupakan ukuran yang paling umum digunakan

untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek

(Weston & Copeland, 2005:255).

Perusahaan yang mempunyai aktiva lancar lebih besar dari

kewajiban lancarnya dengan perbandingan 2:1 atau setidaknya rasio lancar

lebih dari 1 (satu), maka bisa dikatakan perusahaan dalam kondisi yang

likuid untuk menutup kewajiban lancarnya sehingga kecil kemungkinan

terjadi financialdistress. Apabila jumlah aktiva lancar yang dimiliki

(29)

17

akan cukup untuk menutup kewajiban lancar yang dimiliki perusahaan.

Akibatnya, perusahaan dapat mengalami kesulitan keuangan dimana

pembayaran kewajiban menjadi lambat dan dapat memicu untuk

melakukan pinjaman yang lebih banyak lagi. Sebab ektern, yaitu

sebab-sebab yang timbul atau berasal dari luar perusahaan dan yang berada di

luar kekuasaan atau control dari pimpinan perusahaan atau badan usaha,

antara lain: adanya persaingan yang hebat, berkurangnya permintaan

terhadap produk yang dihasilkan, turunnya harga-harga dan sebagainya.

7. Prediksi Financial Distress

Model prediksi financial distress perlu dikembangkan karena dengan

mengetahui kondisi financial distress perusahaan sejak dini diharapkan dapat

dilakukan tindakan – tindakan untuk mengantispasi yang mengarah kepada

kebangkrutan.

Prediksi Financial Distress perusahaan menjadi banyak perhatian

dari berbagai pihak. Pihak-pihak yang menggunakan model tersebut menurut

Foster (2006:534) meliputi :

1. Pemberi pinjaman. Penelitian berkaitan dengan prediksi financial

distress mempunyai relevansi terhadap institusi pemberi pinjaman, baik

dalam memutuskan apakah akan memberi suatu pinjaman dan

menentukan kebijakan untuk mengawasi pinjaman yang telah diberikan.

2. Investor. Model prediksi financial distress dapat membantu investor

ketika akan menilai kemungkinan masalah suatu perusahaan dalam

(30)

18

3. Pembuat peraturan. Lembaga regulator mempunyai tanggung

jawabmengawasi kesanggupan membayar hutang dan

menstabilkanperusahaan individu, hal ini menyebabkan perlunya suatu

model yangaplikatif untuk mengetahui kesanggupan perusahaan

membayar hutangdan menilai stabilitas perusahaan.

4. Pemerintah. Prediksi financial distress juga penting bagi

pemerintahdalam antitrust regulation.

5. Auditor. Model prediksi financial distress dapat menjadi alat yang

berguna bagi auditor dalam membuat penilaian going concern suatu

perusahaan.

6. Manajemen. Apabila perusahaan mengalami kebangkrutan maka

perusahaan akan menanggung biaya langsung (fee akuntan dan

pengacara) dan biaya tidak langsung (kerugian paksaan akibat ketetapan

pengadilan). Sehingga dengan adanya model prediksi financial distress

diharapkan perusahaan dapat menghindari kebangkrutan dan otomatis

juga dapat menghindari biaya langsung dan tidak langsung dari

(31)

19

C. Kerangka Pikir Penelitian

Kerangka pikir dalam peneltiian ini dapat disajikan pada gambar 2.1.

Gambar 2.1

Kerangka Pikir Penelitian

Berdasarkan gambar 3.1 maka dapat diketahui kondisi perusahaan

makanan dan minuman terkait dengan financial distressyang ditinjau dari

WCTA, TLTA, ROA, CR dan DER

D. Hipotesis

Berdasarkan penelitian terdahulu dan tinjauan teori, maka hipotesis

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Perusahaan Makanan dan Minuman

Financial Distress

X1 = WCTA

X2 = TLTA

X3 = ROA

X4 = CR

X5 = DER

(32)

20

1. Perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia diprediksi mengalami financial distress

2. Variabel ROA mempuyai kemampuan yang dominan untuk prediksi

financial distress pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian sebelumnya, Almilia dan Kristijadi (2003) melakukan penelitian untuk memprediksi kondisi financial distress pada perusahaan manufaktur dengan

Dengan urutan penulisannya adalah gambaran umum dari objek penelitian yaitu mengenai analisis rasio keuangan untuk memprediksi kondisi financial distress pada perusahaan

“Analisis Profitabilitas, Likuiditas dan Leverage dalam Memprediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.. Peneliti juga

“Analisis Profitabilitas, Likuiditas dan Leverage dalam Memprediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa.

1 Rasio CAR, NPL, BOPO, ROA, ROE dan LDR berpengaruh dalam memprediksi kondisi financial distress pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Diduga

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio keuangan yang berpengaruh signifikan terhadap prediksi financial distress perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis tingkat akurasi model dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa

1 Rasio CAR, NPL, BOPO, ROA, ROE dan LDR berpengaruh dalam memprediksi kondisi financial distress pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Diduga