K
KERUSA
HAR
D
IN
AKAN PO
JAK
RISFAN N
DEPART
FAKUL
NSTITUT
OHON PE
KARTA SE
NOPIANS
EMEN H
LTAS KE
T PERTA
BOGO
2012
NEDUH
ELATAN
SYAH BA
HASIL HU
EHUTAN
ANIAN BO
OR
2
DI WILA
N
ATUBARA
UTAN
NAN
OGOR
AYAH
KERUSAKAN POHON PENEDUH DI WILAYAH
JAKARTA SELATAN
HARISFAN NOPIANSYAH BATUBARA
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada
Fakultas Kehutanan
DEPARTEMEN HASIL HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGKASAN
HARISFAN NOPIANSYAH BATUBARA. Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan. Dibimbing Oleh DODI NANDIKA dan LINA KARLINASARI.
Keberadaan pohon peneduh (shade trees) di wilayah perkotaan sangat penting. Hal ini terkait dengan besarnya nilai dan manfaat pohon tersebut, baik secara estetika, sosial, dan ekologis. Sehubungan dengan hal tersebut, pemantauan kesehatan pohon di wilayah perkotaan sangat penting. Namun demikian saat ini perhatian terhadap kesehatan pohon peneduh di kota-kota di Indonesia masih relatif rendah. Hal ini tercermin antara lain dari kurangnya informasi tentang kesehatan pohon peneduh dan kurangnya antisipasi sebagian besar pemerintah kota terhadap kemungkinan tumbangnya pohon peneduh di wilayah masing-masing. Salah satu cara yang paling sederhana untuk mengetahui kesehatan pohon adalah dengan pengamatan secara visual terhadap fisik pohon. Selain itu, dapat digunakan teknologi pemantauan kesehatan pohon secara Nondestructive
Evaluation/Testing (NDE/T) berbasis gelombang ultrasonik. Teknologi ini sangat
sesuai untuk mengetahui kondisi bagian dalam batang pohon berdiri, seperti keberadaan gerowong yang sering tidak terdeteksi dari luar.
Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kesehatan pohon peneduh di wilayah Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, baik secara visual maupun dengan memanfaatkan rambatan gelombang ultrasonik yang dihasilkan dari alat Sylvatest Duo® (frekuensi 22 KHz). Pengamatan secara visual dilakukan terhadap ada tidaknya gejala deteriorasi pada pohon sasaran, dari pangkal batang hingga tajuk pohon. Sementara itu penilaian kesehatan pohon dengan alat
Sylvatest Duo® didasarkan atas kecepatan rambatan gelombang di dalam batang
pohon sasaran pada ketinggian setinggi dada (DBH). Pohon peneduh yang berdiameter ≥ 45 cm dipilih sebagai pohon sasaran. Pohon sasaran tersebar di 11 ruas jalan contoh di seluruh kecamatan (10 kecamatan) di wilayah Jakarta Selatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 13,85% pohon peneduh di wilayah Jakarta Selatan yang secara visual tidak menunjukkan gejala deteriorasi, sedangkan sisanya (86,15%) menunjukkan adanya gejala deteriorasi berupa kanker (16,45%); luka terbuka (16,02%); gerowong (9,52%); perubahan warna daun (9,10); mata kayu (6,49%); keropos akibat serangan rayap (5,20%); kerusakan kuncup, daun atau tunas (4,33%); kematian ranting atau cabang
(dieback) (3,46%); lapuk (3,46%); lapuk hati (konk) (3,03%); tumbuhan
(sakit) mencapai 32,47%. Pada pohon sakit, rambatan gelombang ultrasonik mengalami hambatan internal dalam batang pohon akibat adanya gerowong, lapuk atau bentuk deteriorasi lainnya. Adanya deteriorasi dalam batang pohon sasaran tersebut mempengaruhi sifat fisis kayu, khususnya kadar air.
Upaya pemeliharaan dan perawatan pohon peneduh di Jakarta Selatan perlu diintensifkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan pohon peneduh. Perhatian khusus perlu diberikan terhadap kondisi kesehatan pohon glodogan dan pohon angsana, bahkan perlu dipertimbangkan kembali kebijakan penggunaan kedua jenis pohon tersebut sebagai pohon peneduh.
Kata Kunci: Kesehatan pohon, Pohon peneduh, Pengamatan visual pohon, Pengujian non destruktif, Gelombang ultrasonik.
INTRODUCTION : The shade trees in Southern Jakarta plays important roles in aesthetical, social, as well as ecological aspects. Therefore, regular monitoring and evaluation of their health condition is quite critical. However, the awarness on that issue is not sufficient. One of the simple ways to determine tree’s health is by visual observation. In addition, today’s latest technique to determine tree’s health, particularly tree’s stem condition, is by using ultrasonic wave propagation accros the targeted tree’s stem. This technique could assess inner part of targeted trees’s stem which is hard to detected by visual observation. A study was conducted to evaluate health condition of shade trees grown in Southern Jakarta area by visual observation and ultrasonic wave propagation measurement.
MATERIAL AND METHODS : 231 shade trees (DBH ≥ 45 cm) that growth along the sample streets (1% of total length of streets) in South Jakarta area was elected purposively as targeted trees. Visual observation on each targeted trees was conducted to determine any deterioration evidence in any parts of the tree (from stem base until tree’s crown). Whereas a SylvatestDuo® (ultrasonic wave propagation system) was used to determine inner parts of each targeted tree’s stem.
RESULT AND DISCUSSION: The result showed that only 13,85% of shade trees in South Jakarta were not showing deterioration indication, and the rest of them (86,15%) shows deterioration such as tree cancer about (16,45%); open wound (16,02%); hole (9,52%); leaf discolor (9,10%); knot (6,49%); termite attack (5,20%); shoot and bud damages (4,33%); dieback (3,46%); decayed (3,46%); konk (3,03%); weeds (2,60%); resinosis (0,43%); and other (6,06%). Those were in line with ultrasonic wave test results, where were 11,26% of targeted tree include in speed category I (health). The rest of them (88,74%) include in speed category II (14,71%); III (23,81%); and IV (17,75%), whereas for category V (sick) about 32,47%. In deteriorated tree, the ultrasonic wave propagation met the internal obstacle inside the tree due to hole existance inside. Deterioration inside the targeted tree were affected on physical properties of wood, especially moisture content.
KEYWORDS: Tree’s health, shade tree, tree’s visual monitoring, non destructive testing, ultrasonic wave.
1)
Student of Forest Products Department, Faculty of Forestry, IPB
2)
Lecturer of Forest Products Department, Faculty of Forestry, IPB
E/THH
Deterioration of Shade Trees in Southern Jakarta Area
By :
1)
Harisfan Nopiansyah Batubara, 2) Dodi Nandika,
2)
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan
Nama Mahasiswa : Harisfan Nopiansyah Batubara
NIM : E24070012
Program Studi : Teknologi Hasil Hutan
Menyetujui,
Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2
Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika, MS. Dr. Lina Karlinasari, S.Hut, M.Sc.F.Trop
NIP : 19511207 198203 1 001 NIP : 19731126 199802 2 001
Mengetahui,
Ketua Departemen Hasil Hutan
Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. I Wayan Darmawan, M.Sc
NIP: 19660212 199103 1 002
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi “Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan” adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah
pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal
atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir skripsi ini.
Bogor, Maret 2012
Harisfan Nopiansyah Batubara
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pekanbaru, Riau pada tanggal 13 November 1988 dari
ayah H. Harun Alrasyid Batubara dan ibu Hj. Hafni Erta Nasution. Penulis
merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.
Penulis memulai pendidikannya di SD Negeri 029 Rintis Pekanbaru pada
tahun 1995, kemudian melanjutkan pendidikan pada tahun 2001 di SLTP Negeri 1
Pekanbaru. Tahun 2007 penulis lulus dari SMA Negeri 8 Pekanbaru dan pada
tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Hasil Hutan,
Fakultas Kehutanan di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan
Seleksi Masuk IPB (USMI).
Selama mengikuti pendidikan di Fakultas Kehutanan IPB, penulis aktif di
sejumlah organisasi kemahasiswaan yakni Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan
(HIMASILTAN) sebagai Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia
(PSDM) tahun 2009-2010, anggota divisi Olahraga dan Seni Ikatan Keluarga
Pelajar Mahasiswa Riau Bogor (IKPMR) tahun 2008-2009, dan anggota Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tenis Meja IPB. Selain itu penulis juga melakukan
Praktek Kerja Lapang di PT. Intracawood Manufacturing Tarakan, Kalimantan
Timur pada tahun 2011.
Untuk memperoleh gelar sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan
skripsi dengan judul Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan.
Selama penyelesaian skripsi penulis dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika,
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala curahan rahmat dan kasih
sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun
skripsi yang berjudul “Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam proses penyusunan skripsi. Penulis menyadari bahwa skripsi ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk penyempurnaannya sangat diharapkan. Penulis juga berharap
semoga skripsi ini dapat bermanfaat terutama bagi penulis dan pihak-pihak yang
membutuhkan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Bogor, Maret 2012
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan kontribusi kepada penulis dalam melakukan penelitian ini dan
selama menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan. Untuk itu, ucapan terima
kasih penulis sampaikan kepada :
1. Kedua orang tua dan segenap keluarga besar yang telah memberikan cinta
dan kasih sayang selama ini serta selalu memberikan motivasi dan semangat
bagi penulis dalam menyelesaikan studi.
2. Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika, MS dan Dr. Lina Karlinasari S.Hut, M.Sc.F.Trop
selaku Dosen Pembimbing I dan II atas segala bimbingan dan pengarahannya.
3. Ir. Ahmad Hadjib, MS selaku dosen penguji dan Dr. Ir. I Wayan Darmawan,
M.Sc selaku ketua sidang komprehensif.
4. Segenap jajaran para Dosen dan Staf Departemen Hasil Hutan IPB yang telah
memberikan ilmu dan pelayanan terbaik selama kuliah.
5. Kepala Suku Dinas Pertamanan Jakarta Selatan beserta staf yang telah
memberikan izin dan membantu pelaksanaan penelitian ini.
6. Teman-teman seperjuangan Ferry, Reza, Mukhlas, Ivana, Werdhy, Januar,
Jauhar, Ika, Dendi, Hafidz, Syamsi, Anas, Iftor, Barus, Putu, Sisharyanto,
Agung dan Amin yang telah banyak membantu penelitian ini.
7. Keluarga besar HIMASILTAN atas kebersamaannya selama ini.
8. Seluruh pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat terutama bagi penulis dan pihak lain
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL... iii
DAFTAR GAMBAR... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
1.3 Manfaat ... 2
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pohon Peneduh di Perkotaan dan Fungsinya ... 3
2.2 Jenis – Jenis Pohon Peneduh ... 5
2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kerusakan Pohon ... 6
2.4 Tipe – Tipe Kerusakan Pada Pohon ... 8
2.5 Pengujian Nondestruktif Berbasis Gelombang Ultrasonik ... 10
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat ... 12
3.2 Alat dan Bahan ... 12
3.3 Prosedur Penelitian... 12
3.3.1 Pemilihan Sasaran Pengamatan... 12
3.3.2 Penentuan Pohon Sasaran dan Posisi Geografisnya ... 13
3.3.3 Pengukuran Dendrometri Pohon Sasaran... 13
3.3.4 Evaluasi Kesehatan Pohon Sasaran ... 14
3.3.5 Pengujian Sifat Fisis Kayu ... 15
3.3.6 Analisis Data ... 17
4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografi ... 18
4.2 Jaringan Jalan Kota Jakarta Selatan ... 18
5.2 Evaluasi Kesehatan Pohon Secara Visual ... 25
5.3 Evaluasi Berbasis Gelombang Ultrasonik ... 34
5.4 Sifat Fisis Kayu ... 39
5.4.1 Kadar Air ... 39
5.4.2 Kerapatan ... 40
6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 42
6.2 Saran ... 42
DAFTAR PUSTAKA ... 43
LAMPIRAN ... 46
DAFTAR TABEL
No Halaman
1 Nama jalan dan panjang jalan contoh di setiap kecamatan ... 13
2 Intensitas kepadatan jalan di wilayah Jakarta Selatan... 19
3 Standar intensitas kepadatan jalan ... 20
DAFTAR GAMBAR
No Halaman
1 Skema penempatan alat SylvatestDuo® pada batang pohon sasaran :
penampang memanjang /vertikal (a) dan penampang melintang (b) ... 14
2 Penempatan transduser SylvatestDuo® pada batang pohon sasaran ... 15
3 Pengambilan contoh uji kayu dengan menggunakan bor riap ... 16
4 Contoh uji kerapatan kayu pohon sasaran ... 16
5 Contoh kayu dari batang pohon sasaran yang telah dibungkus aluminium foil ... 17
6 Jalur hijau di Kota Jakarta Selatan yaitu jalur median jalan (a) dan jalur tepian jalan (b) ... 21
7 Persentase jenis pohon peneduh di Jakarta Selatan ... 23
8 Klasifikasi diameter pohon sasaran ... 24
9 Contoh jenis pohon peneduh Kota Jakarta Selatan: angsana (a) dan mahoni (b) ... 25
10 Kondisi pohon sasaran berdasarkan gejala deteriorasi yang ditemukan ... 26
11 Kanker pada batang mahoni ... 27
12 Luka terbuka pada batang pohon angsana ... 28
13 Gerowong pada pangkal batang pohon angsana ... 28
14 Serangan rayap pada batang pohon glodogan (a) dan keropos pada batang pohon angsana (b) ... 29
15 Kerusakan mata kayu lepas pada batang pohon angsana ... 30
16 Daun gugur pada pohon mahoni ... 31
17 Serangan jamur pada batang pohon saga ... 31
18 Indikator lapuk lanjut berupa tubuh buah jamur pada batang pohon angsana ... 32
19 Tumbuhan pengganggu yang melilit batang pohon saga ... 33
20 Resinosis pada batang pohon mahoni ... 33
21 Luka mekanis pada batang pohon angsana ... 34
22 Jumlah pohon sasaran berdasarkan kategori kecepatan rambatan gelombang ultrasonik ... 35
24 Rata-rata nilai kadar air kayu pohon sasaran setiap kecamatan ... 39
DAFTAR LAMPIRAN
No Halaman
1 Posisi jalan contoh di setiap kecamatan di wilayah Jakarta Selatan ... 47
2 Sebaran jenis pohon sasaran Jakarta Selatan ... 48
3 Sebaran kesehatan pohon di wilayah Jakarta Selatan ... 49
4 Peta Kota Jakarta Selatan ... 50
5 Dimensi, sifat fisis, dan posisi geografis pohon sasaran ... 51
6 Hasil evaluasi kesehatan pohon sasaran secara visual dan gelombang ultrasonik ... 62
7 Jumlah dan jenis pohon sasaran di wilayah Jakarta Selatan ... 81
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Keberadaan pohon peneduh di wilayah perkotaan sangatlah penting. Hal ini
terkait dengan besarnya nilai dan manfaat pohon tersebut, baik secara arsitektural,
sosial, dan ekologis. Menurut Nowak (2004), pohon peneduh antara lain berperan
sebagai identitas kota, pelestarian lingkungan, penyaring udara kotor, peredam
kebisingan, menurunkan suhu kota, memperindah kota dan pelestarian tanah.
Sementara itu pengalaman menunjukkan bahwa pada musim hujan dan
angin kencang, tumbangnya pohon peneduh sangat besar. Hal ini misalnya terjadi
di Jakarta Selatan yang banyak memiliki jalur hijau di pinggir maupun median
jalan. Pada awal tahun 2012, kejadian pohon tumbang di wilayah tersebut tercatat
26 pohon tumbang, 12 pohon sempal dan sekitar 2500 pohon rawan tumbang
yang mengakibatkan empat mobil, satu bajaj rusak, dan satu orang tewas tertimpa
pohon peneduh yang tumbang (Kompas, 4 Februari 2012). Dampak yang
ditimbulkan oleh kejadian tersebut tidak hanya kerugian materi saja tetapi juga
keselamatan jiwa.
Melihat banyaknya manfaat yang dapat diberikan, pohon di lingkungan
perkotaan jelas merupakan aset yang perlu dipelihara dan dipertahankan
keberadaannya. Sejalan dengan itu, kondisi kesehatan pohon peneduh di
lingkungan perkotaan selayaknya dipantau secara berkala sebagai bagian dari
sistem pemeliharaannya. Namun saat ini belum banyak informasi mengenai
pemantauan kesehatan pohon peneduh. Salah satu cara yang paling sederhana
untuk mengetahui kesehatan pohon adalah dengan pemantauan secara visual
terhadap fisik pohon. Selain itu, saat ini dapat digunakan suatu teknologi
memantau kesehatan pohon secara Nondestructive Evaluation/Testing (NDE/T) berbasis gelombang ultrasonik. Hal ini sangat mendukung untuk mengetahui
kondisi bagian dalam batang pohon berdiri, seperti keberadaan gerowong yang
sering tidak terdeteksi dari luar.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dirasa perlu melakukan evaluasi dan
ruas-ruas jalan utama kota dengan menggunakan teknologi berbasis kecepatan
rambatan gelombang ultrasonik untuk mendukung pengamatan secara visual.
1.2Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesehatan pohon peneduh di
wilayah Jakarta Selatan berdasarkan pengamatan secara visual dan dengan teknik
yang memanfaatkan kecepatan rambatan gelombang ultrasonik.
1.3 Manfaat
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi
Pemerintah Kota Jakarta Selatan dalam pengembangan sistem pengelolaan pohon
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pohon Peneduh di Perkotaan dan Fungsinya
Pada hakikatnya pohon dalam suatu tata kota merupakan unsur pelembut
dalam lanskap. Pohon dalam suatu tatanan kehidupan tertentu tidak saja sebagai
bagian dari lanskap yang berfungsi untuk keindahan dan fungsi ekologis, lebih
jauh keberadaan pohon seringkali sebagai bagian dari monumental sejarah yang
memiliki nilai umur, fungsi, dan sejarah itu sendiri (Karlinasari dan Surjokusumo
2010).
Pohon merupakan aset lingkungan yang utama. Keberadaan pepohonan
yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat yang besar. Menurut
Nowak (2004), peranan pohon di lingkungan perkotaan antara lain :
a. Identitas kota
Dapat menggambarkan identitas kota melalui koleksi jenis tanaman
dan hewan yang merupakan simbol atau lambang suatu kota di areal
tersebut.
b. Pelestarian lingkungan
Seiring bertambahnya jumlah penduduk maka tentunya kualitas
lingkungan akan mengalami penurunan. Akibat pencemaran lingkungan
hidup kota yang kemungkinan sangat tinggi, baik oleh kendaraan bermotor
maupun aktivitas industri.
c. Penahan dan penyaring partikel padat dari udara
Udara yang kotor akibat kegiatan manusia seperti penggunaan
kendaraan bermotor, aktivitas kawasan industri dan partikel padat yang
tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk
pohon melalui proses jerapan dan serapan.
d. Peredam kebisingan
Pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang
suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif
untuk meredam suara ialah yang mempunyai tajuk tebal dengan daun yang
berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi
akan dapat mengurangi kebisingan, khususnya kebisingan yang sumbernya
berasal dari bawah (Dahlan 1992).
e. Menurunkan suhu kota
Keadaan dibawah tegakan pohon pada siang hari suhunya lebih
rendah jika dibandingkan dengan diluar tegakan pohon, karena sinar
matahari diabsorbsi oleh tajuk pohon, sebaliknya pada malam hari didalam
tegakan pohon lebih tinggi suhunya dibandingkan dengan diluar tegakan
pohon karena radiasi sinar matahari ditahan oleh tajuk pohon (Dahlan
1992).
f. Memperindah kota
Dengan penataan yang baik, desain vegetasi pohon dalam jajaran jalur
hijau jalan dapat secara efektif mengatasi permasalahan lingkungan yang
dihadapi dengan keindahan yang bersifat alami. Karena pada dasarnya
benda-benda di sekeliling manusia dapat ditata dengan indah menurut garis,
bentuk, warna, ukuran dan teksturnya sehingga dapat diperoleh suatu bentuk
komposisi yang menarik (Irwan 1994).
g. Pelestarian air tanah
Pada daerah hulu yang berfungsi sebagai daerah resapan air,
hendaknya ditanami dengan tanaman yang mempunyai daya
evapotranspirasi yang rendah. Di samping itu sistem perakaran dan
serasahnya dapat memperbesar porositas tanah, sehingga air hujan banyak
yang masuk ke dalam tanah sebagai air infiltrasi dan hanya sedikit yang
menjadi air limpasan. Sistem perakaran tanaman dan serasah yang berubah
menjadi humus akan memperbesar jumlah pori tanah. Karena humus
bersifat lebih higroskopis dengan kemampuan menyerap air yang besar. Di
daerah perkotaan, erosi air hujan hampir mencapai 100%. Hal ini
dikarenakan sedikitnya area tanah yang terbuka antara pinggiran jalan
dengan trotoar dimana tanaman pinggir jalan menyerap air dengan tidak
optimal (Hartman et al.2000).
Pohon dapat memberikan nilai estetika tertentu yang terkesan alamiah dari
batang, akar, bunga, buah maupun aroma yang ditimbulkan dari daun, bunga
maupun buahnya (Nor 2009).
Pohon peneduh merupakan pohon dengan percabangan yang tingginya lebih
dari dua meter, dapat memberikan keteduhan dan penahanan silau sinar matahari
bagi pejalan kaki. Pohon peneduh merupakan penetralisir sumber pencemar gas
buangan kendaraan bermotor, tajuknya yang rindang memberikan keteduhan,
sistem perakarannya dapat meningkatkan infiltrasi air permukaan dan mengurangi
air limpasan sehingga meningkatkan jumlah air pada reservoar tanah, menciptaka
iklim mikro yang lebih sejuk (Anonim 2004).
2.2Jenis - Jenis Pohon Peneduh
Kebanyakan pohon peneduh yang ditanam baik di taman-taman kota
maupun di tepian jalan merupakan tanaman yang menjadi ciri khas dari wilayah
tersebut karena dinggap sebagai aset kawasan selain memang sebagai jenis lokal
yang cocok dengan kondisi setempat. Disamping itu, kadang juga ditanami
tanaman-tanaman yang memang tren untuk ditanam. Misalnya saja di wilayah
Jakarta Selatan yang kebanyakan di tepian jalannya ditanami pohon angsana,
flamboyan, mahoni, trembesi, tanjung dan lain sebagainya.
Menurut Aryadi (2009), persyaratan umum tanaman untuk ditanam di
wilayah perkotaan adalah disenangi dan tidak berbahaya bagi warga kota, mampu
tumbuh pada lingkungan yang marjinal (tanah tidak subur, udara dan air yang
tercemar), tahan terhadap gangguan fisik (vandalisme), perakaran dalam sehingga tidak mudah tumbang, tidak gugur daun, cepat tumbuh, bernilai hias dan
arsitektural, dapat menghasilkan O
2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota,
bibit/benih mudah didapatkan dengan harga yang murah/terjangkau oleh
masyarakat, prioritas menggunakan vegetasi endemik/lokal, dan keanekaragaman
hayati. Pemilihan jenis pohon perkotaan haruslah sesuai dengan kriteria. Menurut
Sulistyantara (2006) kriteria tanaman jalan dalam kota adalah pohon penaung
dengan tinggi sedang atau tinggi <15 m, bentuk tajuk pohon bulat atau kolumar,
tinggi cabang paling bawah 5 m, tidak membahayakan pengguna jalan, tidak
berduri, berbiji besar, percabangan kuat dan perakaran tidak ektensif, sehingga
2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kerusakan Pohon
Pohon dikatakan sehat atau normal ketika pohon tersebut masih dapat
menjalankan fungsi fisiologisnya. Sebaliknya, dikatakan tidak sehat apabila pohon
yang secara struktural mengalami kerusakan baik secara keseluruhan ataupun
sebagian pohon. Penyebab utama penyakit tersebut dapat berupa organisme hidup
patogenik ataupun faktor lingkungan fisik (Karlinasari dan Surjokusumo 2010).
Selain faktor patogen sebagai salah satu penyebab kerusakan pohon,
serangan serangga, polusi udara, aktivitas manusia dan faktor biologi serta usia
pohon yang makin meningkat diduga berperan pula menurunkan kualitas pohon.
Penurunan kualitas pohon ini dapat diketahui melalui tingkat kerusakan yang
diderita pohon tersebut.
Menurut Djafaruddin (1996), secara alamiah yang termasuk pengganggu
tanaman dapat dikelompokkan menjadi :
1. Pengganggu yang termasuk jasad hidup
Hama adalah jasad pengganggu yang merupakan makhluk hidup yang
termasuk dalam kelompok hewan atau binatang. Serangga dapat merusak
tanaman dengan cara memakan bagian tanaman, menghisap cairan sel-sel
tanaman terutama daun, menyebabkan bengkak/puru pada bagian tertentu,
menyebabkan kanker pada batang/bagian berkayu, meletakkan telur pada
bagian tanaman, mengambil bagian tanaman untuk dijadikan sarang dan
menularkan jasad pengganggu.
Gulma adalah jasad pengganggu yang merupakan sebangsa jenis
tumbuhan tingkat tinggi yang bukan termasuk ke dalam penyebab penyakit
biotis. Gulma bersifat mengganggu, merugikan dan merusak apabila ditinjau
dari segi sifat dan keberadaannya.
2. Pengganggu yang bukan jasad hidup
Bencana alam lingkungan seperti banjir, erosi, kekeringan, longsor
yang disebabkan oleh faktor dan unsur iklim serta cuaca merupakan faktor
pengganggu yang secara tidak langsung sebagai akibat kurang pekanya
terhadap alam.
Unsur lain yang berpengaruh terhadap kerusakan pohon yaitu kerusakan
tumbangnya suatu pohon yang menyebabkan luka pada kulit dan kayu pohon,
kebakaran pada pohon, hujan es atau salju yang menyebabkan daun rontok dan
sambaran petir (Soeratmo 1974).
Menurut Widyastuti et al. (2005) faktor abiotik penyebab kerusakan pohon adalah faktor fisik dan kimia penyusun lingkungan tempat tumbuh yang tingkat
keberadaannya tidak mendukung pertumbuhan atau perkembangan normal pohon
penyusun hutan yang diantaranya adalah :
a. Suhu
Tiap jenis tumbuhan mempunyai kisaran persyaratan suhu yang dapat
ditoleransi dalam pertumbuhannya. Perubahan suhu yang melampaui batas
toleransi akan menyebabkan tumbuhan mengalami penyimpangan fisiologis
dan dapat menyebabkan kematian.
b. Kelembaban
Saat kelembaban nisbi tinggi, penguapan dari tumbuhan menjadi
rendah, sehingga dapat terjadi penghambatan penyerapan hara. Kekurangan
hara ini dapat berakibat gangguan formasi sel dan daun tumbuhan.
c. Iklim
Pada hutan yang jenis tumbuhan penyusunnya merupakan jenis
eksotik atau dibangun pada lahan-lahan marginal maka faktor iklim atau
faktor tempat tumbuh dapat merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan
tanaman. Bila faktor tersebut berada di atas atau di bawah batas kemampuan
adaptasi tumbuhan maka dapat terjadi kerusakan fisiologis atau mekanis.
d. Unsur hara
Kerusakan tanaman dapat terjadi jika ketersediaan unsur hara dalam
tanah tidak mencukupi jumlah yang diperlukan tumbuhan yang hidup di
tempat tersebut. Selain itu kelebihan unsur hara juga mampu menyebabkan
kerusakan pada tumbuhan akibat kerusakan sel secara langsung oleh unsur
hara tertentu.
e. Polusi udara
Kerusakan tumbuhan oleh polutan pada umumnya meningkat seiring
dengan peningkatan intensitas cahaya, kelembaban tanah dan kelembaban
f. Kekurangan oksigen
Kondisi kekurangan oksigen di alam secara umum berasosiasi dengan
kelembaban tanah atau suhu udara yang tinggi. Kombinasi antara
kelembaban dan suhu tinggi dalam tanah atau udara menyebabkan
kerusakan perakaran tumbuhan.
g. Cahaya
Kekurangan cahaya menghambat pembentukan klorofil dan
merangsang pemanjangan ruas sehingga daun berwarna pucat, jaringan
menjadi lemah dan daun serta bunga gugur lebih awal.
2.4 Tipe – Tipe Kerusakan Pada Pohon
Pohon dalam proses perkembangan hidupnya memang tidak bisa dilepaskan
dari interaksi dengan lingkunganya termasuk dengan faktor-faktor pengganggu
atau perusak. Kerusakan atau gangguan dapat diakibatkan oleh patogen, serangga,
polusi udara, dan daya alam serta kegiatan manusia. Kerusakan yang disebabkan
oleh salah satu dari agen-agen ini, baik sendiri-sendiri atau dalam kombinasi dapat
secara nyata mempengaruhi tingkat kesehatan pohon atau menyebabkan kematian
(Sudintanhut 2008).
Kesehatan pohon dipengaruhi oleh kerusakan yang terjadi pada pohon
tersebut. Kerusakan atau cacat yang dimaksud adalah segala macam kerusakan
yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman selanjutnya. Menurut Mangold
(1997), kerusakan yang dapat terjadi pada pohon antara lain :
a. Kanker
Gejala kerusakan kanker berupa pembengkakan pada batang yang
berkembang meluas kebagian atas dan bawah. Jaringan kayu pada batang
yang membengkak umumnya menjadi lunak, rapuh, retak-retak, dan sering
digunakan untuk tempat berlindung serangga. Kanker mungkin dapat
disebabkan oleh berbagai agen tetapi lebih sering disebabkan oleh jamur. Di
daerah yang topografinya miring (bergelombang) dan banyak angin, pohon
b. Busuk hati, tubuh buah dan indikator lapuk lanjut.
Gejala yang terjadi berupa pembusukkan pada pangkal batang, lalu
disertai dengan adanya daun-daun pada tajuk yang menguning dan
mengering. Kondisi ini terjadi karena kematian sel-sel jaringan pada
tanaman. Kematian jaringan tanaman biasanya didahului dengan adanya
perubahan warna dari hijau ke kuning kemudian menjadi coklat atau
kemerah-merahan akibat serangan patogen. Kerusakan ini sukar diamati dari
luar, tetapi timbulnya tubuh buah menjadi indikator lapuk yang sudah lanjut
yang disebabkan oleh fungi.
c. Luka terbuka
Luka terbuka adalah suatu luka atau serangkaian luka yang
ditunjukkan dengan mengelupasnya kulit atau kayu bagian dalam kayu telah
terbuka dan tidak ada tanda lapuk lanjut. Biasanya luka terbuka disebabkan
oleh luka pangkasan yang memotong ke dalam kayu.
d. Resinosis dan Gumosis
Resinosis merupakan keluarnya cairan yang berupa resin dari bagian
tanaman yang sakit, dan disebut gumosis apabila berupa gum. Terjadi hanya
jika batang atau cabang terluka atau dilukai hingga mengenai xylem dan
terserang patogen. Tipe kerusakan ini akan membuat pohon sakit karena
kehilangan banyak getah dan mengundang serangan penyakit.
e. Brum
Brum adalah suatu gerombolan ranting yang padat, tumbuh di suatu
tempat yang sama terjadi di dalam daerah tajuk hidup, termasuk struktur
vegetatif dan organ yang bergerombol tidak normal. Brum terjadi akibat
adanya infeksi oleh benalu kerdil.
f. Dieback
Dieback merupakan kerusakan dimana terjadinya kematian ranting
atau cabang dari bagian ujung dan meluas ke bagian kambium. Dieback bukan serta merta hasil dari satu faktor seperti akibat adanya organisme
perusak atau musim kering berkepanjangan saja, melainkan karena
akumulasi dari kurangnya nutrisi sehingga memicu organisme perusak.
g. Akar patah atau mati
Akar patah atau mati baik karena galian atau apapun penyebabnya
yang melukai dapat mengundang penyebab penyakit lain untuk datang.
h. Hilangnya ujung dominan, mati ujung
Gejala mati ujung adalah kematian yang dimulai dari ujung atau titik
tumbuh seperti ujung akar, pucuk, dan cabang yang terus menjalar ke bagian
yang lebih tua. Mati ujung biasanya disebabkan oleh faktor cuaca, serangga
dan penyakit, ataupun sebab-sebab lainnya. Serangan mati ujung
mengakibatkan pertumbuhan menjadi tidak lurus, jaringan pucuk menjadi
kering, rapuh dan busuk serta kualitas pertumbuhan pun menurun. Menurut
Rahayu (2000), mati ujung umumnya terjadi karena kerusakan jaringan
tanaman atau penyumbatan xylem.
i. Kerusakan kuncup, daun atau tunas.
Kerusakan yang memiliki gejala yaitu daun yang termakan serangga,
terkerat atau daun terkeliat termasuk kuncup atau tunas terserang jamur.
j. Perubahan warna daun
Gejala yang tampak yaitu daun tidak lagi berwarna hijau atau daun
menjadi layu. Hal ini dikarenakan tidak terbentuknya klorofil yang
disebabkan oleh patogen, racun, kekurangan mineral, pencemaran udara,
kekeringan, kelebihan atau terbakar karena bahan kimia (Sumardi dan
Widyastuti 2002).
2.5Pengujian Nondestruktif Berbasis Gelombang Ultrasonik
Saat ini pengujian nondestrukif telah luas digunakan untuk mengevaluasi
sifat kayu. Pengujian nondestruktif didefinisikan sebagai kegiatan
mengidentifikasi sifat fisis dan mekanis suatu bahan tanpa merusak atau
mengganggu produk akhirnya sehingga diperoleh informasi yang tepat terhadap
sifat dan kondisi bahan tersebut yang akan berguna unuk menentukan keputusan
akhir pemanfaatannya (Ross dan Pellerin 2002). Pengujian nondestruktif juga
didefinisikan sebagai metode pengujian yang digunakan untuk memeriksa suatu
objek, bahan atau sistem tanpa merusak atau mempengaruhi kegunaanya di masa
Dalam menilai kesehatan pohon, khususnya pelapukan yang terjadi di
bagian dalam, seringkali tidak tampak sebagai indikator eksternal yang jelas.
Untuk itu metode NDT efektif dapat digunakan untuk membantu mendeteksi
kerusakan yang terjadi. Hal ini tentu saja sangat berguna dalam mengidentifikasi
tingkat keparahan serangan, mencegah penyebaran serangan, serta untuk
meningkatkan kondisi kualitas pohon. Metode NDT digunakan pada tegakan
berdiri untuk mendeteksi adanya lapuk/decay yang akan membantu pengelola hutan dalam memperbaiki tegakan, memilih tebangan, membuat harga jual kayu
lebih tinggi, menduga besarnya kehilangan volume kayu, mengidentifikasi pohon
yang penuh resiko dan mencegah melebarnya lapuk/decay (Wang et al. 2004). Salah satu pengujian secara nondestruktif adalah metode gelombang
suara/bunyi. Gelombang suara adalah gangguan yang ditimbulkan pada medium
elastik yang dapat berupa gas, cair dan padat. Berdasarkan frekuensinya, suara
dibagi menjadi empat jenis yaitu infrasonik (0 Hz – 20 Hz), audiosonik (20 Hz –
20 KHz), ultrasonik (20 KHz – 1 GHz), dan hipersonik (1 GHz – 10 THz)
(Tsoumis 1991).
Gelombang ultrasonik merupakan gelombak mekanik longitudinal dengan
frekuensi diatas 20 kHz. Gelombang ini dapat merambat dalam medium padat,
cair dan gas. Hal ini disebabkan karena gelombang ultrasonik merupakan
rambatan energi dan momentum mekanik sehingga merambat sebagai interaksi
dengan molekul dan sifat enersia medium yang dilaluinya (Fajar 2011).
Dalam Nondestructive Testing (NDT), pengukuran kecepatan gelombang ultrasonik pada kayu didasarkan pada sifat elastis dan viscoelastisnya. Pendugaan
kualitas kayu yang dilakukan berdasarkan pada pengukuran kecepatan perambatan
gelombang ultrasonik yang dibangkitkan melalui getaran. Parameter yang diukur
adalah rambatan gelombang ultrasonik yang digunakan untuk menentukan
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2011 di
Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta. Pengujian sifat fisis kayu (kerapatan
dan kadar air) dilakukan di Laboratorium Anatomi dan Fisika Kayu, Bagian
Teknologi Peningkatan Mutu Kayu, Departemen Hasil Hutan, Fakultas
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB).
3.2 Alat dan Bahan
Alat - alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat uji kualitas batang pohon merk Sylvatest Duo® (frekuensi 22 KHz), kamera digital, haga hypsometer, GPS Garmin 12XL, kompas brunton, bor riap, phiband, kaliper, oven, desikator,
dan timbangan elektrik. Adapun bahan yang digunakan adalah aluminium foil,
plastik, dan kertas label.
3.3Prosedur Penelitian
3.3.1 Pemilihan Sasaran Pengamatan
Pengamatan dilakukan di ruas-ruas jalan contoh yang tersebar di seluruh
kecamatan (10 kecamatan) di wilayah Jakarta Selatan (Lampiran 1). Panjang
seluruh ruas jalan contoh di masing-masing kecamatan adalah 1 % dari
keseluruhan panjang jalan di wilayah tersebut. Ruas jalan contoh di
masing-masing kecamatan dipilih secara sengaja (purposive) berdasarkan tingkat kepadatan pohon dan tingkat kepadatan lalu lintasnya. Nama jalan dan panjang
Tabel 1 Nama jalan dan panjang jalan contoh di setiap kecamatan
No Kecamatan Nama Jalan
(ruas)
Panjang jalan (km)
1 Pasar Minggu Raya Pasar Minggu
Tanjung Barat
2,00 0,60
2 Jagakarsa Moh. Kahfi II 2,20
3 Kebayoran Lama Sultan Iskandar Muda 1,99
4 Kebayoran Baru Pangeran Antasari 1,68
5 Pancoran Raya Pasar Minggu 1,56
6 Cilandak Fatmawati 1,42
7 Pesanggrahan Ciledug Raya 1,36
8 Tebet Dr. Soepomo 1,21
9 Mampang Prapatan Mampang Prapatan 1,15
10 Setiabudi HR. Rasuna Said 0,86
Jumlah 11 16,23
3.3.2 Penentuan Pohon Sasaran dan Posisi Geografisnya
Seluruh pohon yang berdiameter ≥ 45 cm yang tumbuh di masing-masing
jalan contoh dipilih sebagai pohon sasaran. Masing-masing pohon sasaran
ditentukan posisi geografisnya dengan menggunakan GPS (Global Position
System) Garmin 12XL.
3.3.3 Pengukuran Dendrometri Pohon Sasaran
Terhadap masing-masing pohon sasaran dilakukan pengukuran tinggi
menggunakan haga hypsometer dan pengukuran diameter batang setinggi dada
(diameter at the breast height, DBH) menggunakan phiband.
3.3.4 Evaluasi Kesehatan Pohon Sasaran
a. Secara Visual
Evaluasi kesehatan pohon sasaran secara visual dilakukan dengan
mengamati seluruh bagian pohon sasaran, dari bagian pangkal pohon sampai tajuk
pohon. Kondisi bagian pohon sasaran, termasuk adanya gejala atau tanda
b. Dengan Menggunakan Alat SylvatestDuo®
Untuk mendukung pengamatan secara visual, dilakukan juga evaluasi
kondisi internal setiap batang pohon sasaran dengan menggunakan alat pengujian
nondestruktif (merk SylvatestDuo®). Cara kerja alat ini adalah berbasis kecepatan rambatan gelombang ultrasonik yang secara sengaja dilintaskan ke dalam jaringan
batang pohon sasaran dari transduser pengirim menuju transduser penerima.
Pengujian dilakukan pada ketinggian DBH, dalam hal ini digunakan empat
titik penempatan transduser pada satu bidang horizontal batang (penampang
melintang), dua titik pada arah utara (U) – selatan (S) dan dua titik pada arah
timur (T) – barat (B). Masing-masing transduser ditempatkan pada liang (diameter
5 mm, kedalaman ± 2 cm) yang dibuat terlebih dahulu pada masing-masing
batang pohon sasaran (Gambar 1). Setelah selesai pengujian menggunakan
SylvatestDuo®, liang bor ditutup kembali dengan lilin malam. Hal ini bertujuan
agar liang pohon tidak menjadi akses masuknya serangan patogen ke dalam
pohon.
(a) (b)
Gambar 1 Skema penempatan alat SylvatestDuo® pada batang pohon sasaran : penampang memanjang /vertikal (a) dan penampang melintang (b)
Sebelum alat SylvatestDuo® dioperasikan, terlebih dahulu masukkan data diameter pohon sasaran (D) yang nilainya ditentukan dengan formula sebagai
berikut :
D = Dint – 14
dimana : D = Diameter pohon sasaran yang telah terkoreksi (cm)
Dint = Hasil pengukuran jarak antar dua transduser yang
berseberangan pada batang pohon sasaran (cm)
14 = Total panjang dua kepala transduser yang masing-masing masuk ke dalam liang penempatan yang berseberangan pada pohon sasaran (cm)
Data yang ditampilkan pada alat SylvatestDuo® sesaat setelah alat tersebut dioperasikan pada batang pohon sasaran adalah waktu (micro second, µs), kecepatan (meter per second, m/s), dan energi (milivolt, mv) perambatan gelombang ultrasonik antar dua transduser yang posisinya berseberangan pada
batang pohon sasaran (Gambar 2).
[image:31.595.216.403.330.571.2]
Gambar 2 Penempatan transduser SylvatestDuo® pada batang pohon sasaran
3.3.5 Pengujian Sifat Fisis Kayu
Selain pengujian gelombang ultrasonik, dilakukan juga pengujian sifat fisis
kayu yaitu pengujian kadar air dan kerapatan kayu pohon berdiri. Contoh kayu
untuk pengujian kadar air dan kerapatan kayu diambil dari batang pohon sasaran
pada ketinggian setinggi dada (DBH) menggunakan bor riap. Bor riap memiliki
Gambar 3 Pengambilan contoh uji kayu dengan menggunakan bor riap
a. Pengujian Kerapatan
Contoh kayu yang diambil dari selongsong bor riap ditimbang berat pada
kondisi basah, kemudian dihitung volumenya (Gambar 4). Kerapatan batang kayu
dihitung dengan menggunakan persamaan:
dimana: ρ = Kerapatan (g/cm3) BB = Berat awal (g) Vol = Volume (cm3)
Gambar 4 Contoh uji kerapatan kayu pohon sasaran
[image:32.595.117.417.400.728.2]b. Pengujian Kadar Air
Untuk pengukuran kadar air kayu digunakan contoh kayu yang sama
seperti pada pengujian kerapatan kayu. Contoh kayu yang diambil dari pohon
dibungkus dengan aluminium foil dan dimasukkan ke dalam plastik (Gambar 5).
Hal ini dilakukan untuk mengurangi air yang menguap pada contoh kayu agar
nilai kadar air yang diperoleh adalah nilai kadar air segar. Kadar air ditentukan
dengan menimbang berat awal (berat basah) contoh kayu yang selanjutnya
dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 103±2oC sampai beratnya konstan untuk
memperoleh berat kering tanurnya. Nilai kadar air ditentukan dengan persamaan
sebagai berikut :
KA BB BKTBKT
dimana: KA = Kadar Air (%)
BB = Berat awal (g)
[image:33.595.115.433.300.608.2]BKT = Berat Kering Tanur (g)
Gambar 5 Contoh kayu dari batang pohon sasaran yang telah dibungkus aluminium foil
3.3.6 Analisis Data
Data kondisi pohon sasaran ditabulasi dan dianalisis secara statistik
deskriptif sederhana untuk mengetahui persentase pohon yang sehat dan yang
BAB IV
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Kondisi Geografi
Jakarta Selatan merupakan nama sebuah kota administrasi di sebelah selatan
Daerah Khusus Ibukota Jakarta terletak pada 106o22’42”BT dan 6o22’54”LS.
Jakarta Selatan adalah salah satu dari lima kota administrasi dan satu kabupaten
administrasi DKI. Di sebelah utara, Jakarta Selatan berbatasan dengan Jakarta
Barat dan Jakarta Pusat, di sebelah timur berbatasan dengan Jakarta Timur, di
sebelah selatan berbatasan dengan Kota Depok dan sebelah barat berbatasan
dengan Kota Tangerang (Lampiran 4). Kota Jakarta Selatan merupakan salah satu
kota administrasi dan ekonomi utama di Provinsi DKI Jakarta. Hal ini ditandai
dengan banyaknya perumahan warga kelas menengah ke atas dan tempat pusat
bisnis utama. Perkembangan di berbagai sektor terutama di sektor usaha, jasa dan
perumahan cukup pesat. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya intensitas
perdagangan dan transaksi jual beli. Kota Jakarta Selatan memiliki luas wilayah
yaitu 145,73 km2 dengan jumlah penduduk pada sensus tahun 2010 berjumlah
2.057.080 jiwa. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk adalah sebanyak 14.115
orang per kilometer persegi (BPS 2010).
4.2 Jaringan Jalan Kota Jakarta Selatan
Lingkungan di wilayah Jakarta Selatan didominasi oleh gedung-gedung
perkantoran, area pemukiman, fasilitas pemerintahan dan tempat hiburan. Kota
Jakarta Selatan memiliki jalan utama yang cukup banyak. Jalan tersebut terbagi
atas jalur untuk pengendara sepeda motor, kendaraan roda empat dan terdapat
juga jalur busway. Intensitas pemakaian jalan terutama pada jalan utama sangat
tinggi. Hal ini dapat dilihat dari padat dan macetnya jalan di wilayah Jakarta
Selatan terutama di hari kerja. Intensitas kepadatan jalan di wilayah Jakarta
Tabel 2 Intensitas kepadatan jalan di wilayah Jakarta Selatan
No Nama Jalan Arah Lokasi Waktu V/C
Ratio
1 Jl. Ciledug Raya Pasar Keb. Lama
Depan
IEC/Komp.
Sangrila II
06.00 – 09.00
16.00 – 19.00
1,67
0,62
2 Jl. Iskandar Muda Pondok Indah
Depan
Kampus
USNI
06.00 – 09.00
16.00 – 19.00
1,83
1,78
3 Jl. Pangeran Antasari Blok M
Depan
Masjid Al
Ikhlas
06.00 – 09.00
16.00 – 19.00
2,28
0,71
4 Jl. Tebet Barat
Dalam IX Tugu Pancoran
Depan RM.
Sederhana
06.00 – 09.00
16.00 – 19.00
0,11
0,11
5 Jl. Lebak Bulus I
Raya RS. Fatmawati
Belakang
Apart Bona
Vista
06.00 – 09.00
16.00 – 19.00
2,32
1,19
6 Jl. Pejaten Raya Pasar Minggu Halte
Pejaten
06.00 – 09.00
16.00 – 19.00
1,28
1,27
7 Jl. K. P. Tendean Pancoran JPO R Sona
Motor
06.00 – 09.00
16.00 – 19.00
2,30
2,73
8 Jl. H. Nawi Raya Fatmawati LeXcorp 06.00 – 09.00
16.00 – 19.00
2,48
1,17
Sumber : Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan (2011)
Kondisi jalan di Kota Jakarta Selatan terutama jalan utama pada setiap
kecamatan sangatlah baik. Hal ini dapat dilihat dari adanya jalur hijau berupa
pohon peneduh di tepian dan median jalan (Gambar 6) Seperti pada jalan Sultan
Iskandar Muda, Kecamatan Kebayoran Lama yang jalur hijau terletak pada
median jalan. Sebagian besar jalur hijau yang berada di median jalan merupakan
jalan yang dilewati busway, namun jalur hijau yang dominan di wilayah Jakarta
Intensitas kepadatan jalan (V/C Ratio) merupakan rasio antara volume lalu
lintas dengan kapasitas ruas jalan. Intensitas kepadatan jalan yang sesuai standar
penggunaan jalan yaitu berkisar antara 0,45 – 0,75. Standar intensitas kepadatan
[image:36.595.119.510.187.708.2]jalan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Standar intensitas kepadatan jalan
Tingkat
Pelayanan Karakteristik V/C Ratio
A
Kondisi arus bebas
Kecepatan tinggi
Volume lalu lintas rendah
0,00 – 0,20
B Arus stabil
Kecepatan mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas 0,21 – 0,44
C
Arus stabil
Kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan 0,45 – 0,75
D
Arus mendekati tidak stabil
Kecepatan masih dapat dikendalikan
V/C masih dapat ditolerir
0,76 – 0,84
E
Arus tidak stabil
Kecepatan kadang terhenti
Permintaan mendekati kapasitas
0,85 – 1,00
F
Arus dipaksakan
Kecepatan rendah
Volume dibawah kapasitas
Antrian panjang (macet)
> 1,00
Keterangan : V/C Ratio = Rasio perbandingan volume lalu lintas dengan kapasitas ruas
(a)
[image:37.595.112.511.85.369.2](b)
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Pohon Sasaran
Hasil penelitian menunjukkan jumlah pohon peneduh di seluruh ruas jalan
contoh di Jakarta Selatan adalah 880 pohon, 231 pohon diantaranya termasuk
pohon sasaran (diameter batang ≥ 45 cm) (Lampiran 3). Pohon sasaran tersebut
tersebar di seluruh kecamatan di wilayah Jakarta Selatan. Kecamatan Pancoran
merupakan kecamatan yang memiliki jumlah pohon sasaran yang paling banyak
(41 pohon), kemudian di wilayah Kecamatan Kebayoran Baru (37 pohon),
kecamatan Jagakarsa (11 pohon), Kecamatan Setiabudi (26 pohon), Kecamatan
Kebayoran Lama (20 pohon), Kecamatan Tebet (19 pohon), Kecamatan Cilandak
(17 pohon), Kecamatan Pesanggrahan (15 pohon), Kecamatan Pasar Minggu (12
pohon), dan Kecamatan Mampang Prapatan (11 pohon). Jumlah pohon peneduh
yang berada di setiap kecamatan berbeda, sehingga jumlah pohon sasaran yang
akan diuji juga berbeda jumlahnya. Sebaran pohon sasaran dapat dilihat
selengkapnya pada Tabel 4.
Pohon angsana merupakan jenis pohon yang paling banyak ditemukan,
terutama di Kecamatan Kebayoran Lama dan Kecamatan Kebayoran Baru.
Jumlah pohon angsana yang diuji berjumlah 92 pohon atau sekitar 39,82% dari
total keseluruhan pohon yang diuji. Kemudian jenis mahoni juga mendominasi
sebagai pohon peneduh di wilayah Jakarta Selatan. Pohon mahoni yang diuji
berjumlah 78 pohon atau sekitar 33,77% . Selain itu, pohon peneduh yang banyak
ditemukan dan dilakukan pengujian yaitu pohon glodogan (16,88%) dan pohon
saga (6,50%). Ada beberapa jenis lain yang ditemukan dan dilakukan pengujian,
Tabel 4 Sebaran pohon sasaran di setiap kecamatan di wilayah Jakarta Selatan
No Kecamatan Ag Mh Gl Sg Kh Br Tj Kt Al Jumlah
Pohon
1 Pancoran 41 41 (17,75%)
2 Keb. Baru 37 37 (16,02%)
3 Jagakarsa 2 3 12 15 1 33 (14,29%)
4 Setiabudi 26 26 (11,25%)
5 Keb. Lama 18 2 20 (8,66%)
6 Tebet 3 13 1 1 1 19 (8,22%)
7 Cilandak 1 15 1 17 (7,36%)
8 Pesanggrahan 15 15 (6,49%)
9 Pasar minggu 7 4 1 12 (5,19%)
10 Mampang
Prapatan 9 1 1 11 (4,77%)
Total 92 78 39 15 2 2 1 1 1 231 (100%)
[image:39.595.116.516.527.738.2]Keterangan : Ag = Angsana (Pterocarpus indicus); Gl = Glodogan (Polyalthia longifolia); Kh = Khaya (Khaya spp); Tj = Tanjung (Mimusops elengi); Al = Asam Londo (Pithecellobium dulce); Mh = Mahoni (Swietenia macrophylla); S = Saga (Adenanthera povonina); Br = Beringin (Ficus benjamina); Kt = Ketapang (Terminalia catappa)
Gambar 7 Persentase jenis pohon peneduh di Jakarta Selatan 39,82%
33,77% 16,88%
6,50% 3,03%
Angsana
Mahoni
Glodogan
Saga
Ditin Kebayoran Pesanggra Pancoran Sementara (11,25%) penelitian Berd berdiamet
angsana y
sasaran ya
Kecamata
diameter p
dengan di
dapat dilih
Sem
(24 m) ad
terendah ( 0 10 20 30 40 50 60
Jumlah Pohon (N)
njau dari lo
n Baru (16,
ahan (6,49%
(17,75%), K
a itu pohon
dan Keca
di 10 kecam
dasarkan d
ter 45cm -
yang lebih
ang memili
an Pancoran
paling kecil
iameter 45
hat pada Ga
Ga
mentara itu r
dalah jenis a
(5,5 m) juga
45≤DBH
56 43 35 okasinya, po 01%), Keca %). Pohon Kecamatan n glodogan amatan Jag matan Jakar diameter po 60cm dan banyak did ki diameter
n dengan dia
l yaitu jeni
cm. Klasif
ambar 8.
ambar 8 Kla
rata-rata tin
angsana yan
a jenis angs
H≤60 (65,37%)
14
1 1 1
Kelas
ohon angsan
amatan Keb
mahoni s
Cilandak (6
sebagian b
gakarsa (5,
rta Selatan d
ohon, sebag
34,63% be
dapati pada
r paling bes
ameter 114
is glodogan
fikasi diame
asifikasi dia
ggi pohon s
ng berada d
sana di Kec
) D 36 3 1 s Diameter na sebagian bayoran Lam ebagian be 6,49%), dan besar berad ,19%). Leb disajikan pa gian besar erdiameter
a dua kelas
sar yaitu je
cm dan po
n yang bera
eter pohon
ameter poho
sasaran ada
di Kecamata
camatan Keb
DBH>60 (34,6
35
4
1 1 1
Pohon
besar berad
ma (7,79%)
esar berada
n Kecamatan
da di Kecam
bih detail
ada Lampira
(65,37%)
diatas 60 c
s diameter
enis mahoni
ohon sasaran
ada di Keca
sasaran di
on sasaran
alah 11,9 m,
an Tebet, s
bayoran Ba 3%)
1 1 1
da di Kecam
, dan Kecam
a di Kecam
n Tebet (5,6
matan Seti
sebaran p
an 2.
pohon sa
cm dengan
tersebut. P
i yang bera
n yang mem
amatan Seti
i Jakarta Se
, pohon tert
edangkan p
aru. Contoh Angsana Mahoni Glodoga Saga Khaya Beringin Tanjung Ketapan
Asam Lo
pohon peneduh yang sebagian besar berada di Kota Jakarta Selatan dapat dilihat
pada Gambar 9.
[image:41.595.127.501.134.395.2](a) (b)
Gambar 9 Contoh jenis pohon peneduh Kota Jakarta Selatan: angsana (a) dan mahoni (b)
5.2 Evaluasi Kesehatan Pohon Secara Visual
Hasil pemantauan kesehatan pohon secara visual menunjukkan bahwa
sebagian besar (86,15%) pohon sasaran yang diuji mengalami kerusakan yang
diakibatkan penyakit, serangga dan penyebab abiotik lainnya. Hanya 13,85 %
pohon sasaran tampak sehat dan tidak mengalami gejala kerusakan (Lampiran 6).
Kerusakan yang dialami yaitu kanker (16,45%), luka terbuka (16,02%), gerowong
(9,52%), keropos akibat serangan rayap (5,20%). Hampir seluruh pohon peneduh
di setiap kecamatan Kota Jakarta Selatan mengalami kerusakan dan abnormal
dalam pertumbuhan. Hal ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor yang
ditimbulkan dari internal pohon dan eksternal berupa kegiatan manusia yang
sering merusak dan mengganggu keberadaan pohon. Kondisi pohon sasaran
Gambar 10 Kondisi pohon sasaran berdasarkan gejala deteriorasi yang ditemukan
Banyaknya faktor yang menimbulkan kerusakan pada pohon peneduh,
sehingga mengakibatkan pohon menjadi rawan tumbang dan mengancam
keselamatan pengguna jalan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya gejala kerusakan
fisik yang dapat ditemukan pada pohon peneduh. Gejala deteriorasi yang sering
dijumpai adalah sebagai berikut :
1. Kanker
Gejala kerusakan visual berupa kanker merupakan kerusakan yang sering
dijumpai pada pohon sasaran. Tipe deteriorasi ini sebagian besar menyerang
pohon angsana dan mahoni. Kerusakan ini banyak dijumpai pada pohon angsana
yang berada di Kecamatan Kebayoran Baru dan Kecamatan Pesanggrahan. Selain
itu, sebagian kecil juga dijumpai pada jenis mahoni yang berada di Kecamatan
Pancoran dan Kecamatan Cilandak (Gambar 11). Gejala kerusakannya
ditunjukkan dengan permukaan kulit yang biasanya tertekan kebawah atau bagian
kulitnya pecah sehingga terlihat bagian kayunya. Selain itu, kanker menyerang
pada bagian berkambium sehingga mematikan fungsi pengangkutan unsur hara
dan penyaluran nutrisi.
Sementara itu, hasil pengujian nondestruktif yang juga digunakan dalam
mengevaluasi kesehatan pohon sasaran menunjukkan nilai kecepatan rambatan 16,02%
9,52%
9,10%
16,45% 6,49%
5,20% 23,37%
13,85%
Luka terbuka
Gerowong
Perubahan warna daun
Kanker
Mata kayu
Keropos akibat serangan rayap
lain‐lain
gelombang ultrasonik yang rendah pada pohon sasaran yang mengalami
kerusakan kanker. Hal ini memberikan pengaruh terhadap kerusakan yang terjadi
pada bagian dalam batang pohon tersebut.
[image:43.595.153.401.152.368.2]
Gambar 11 Kanker pada batang mahoni
2. Luka terbuka
Tipe deteriorasi ini ditemukan hampir di seluruh kecamatan di Jakarta
Selatan. Luka terbuka dapat diakibatkan oleh benda tajam seperti tebasan golok
dan luka akibat sambaran petir. Luka ini nantinya akan menjadi tempat berbagai
jenis patogen untuk hidup di dalam batang. Menurut Dahlan (1992), luka terbagi
menjadi 2 bagian yaitu : a) luka yang terbatas hanya pada kulit luar saja dan b)
luka yang terjadi pada kulit luar, kulit dalam dan juga luka pada kayu gubal dan
kayu teras. Sebagian besar luka terbuka yang dialami oleh pohon sasaran yaitu
luka hingga kulit dalam (Gambar 12).
Sebagian besar luka terbuka dijumpai pada jenis angsana yang banyak
disebabkan oleh perlukaan benda tajam berupa vandalisme. Apabila luka
dibiarkan terbuka maka akan sangat mudah bagi patogen memasuki batang
Gambar 12 Luka terbuka pada batang pohon angsana
3. Gerowong
Kerusakan visual berupa gerowong dapat dicirikan dengan adanya lubang
pada batang pohon yang cukup besar (Gambar 13). Sebagian besar tipe deteriorasi
ini banyak dijumpai pada pangkal batang pohon terutama pada jenis angsana yang
berada di Kecamatan Kebayoran Baru. Selain itu pohon yang mengalami
deteriorasi ini juga megalami kerusakan berupa batang pohon yang keropos,
tampak lapuk, dan banyak tunnel. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya luka
mekanis berupa goresan benda tajam dan menjadi tempat membakar sampah yang
dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
[image:44.595.225.398.521.734.2]4. Perubahan warna daun
Tipe kerusakan daun berubah warna banyak dijumpai pada jenis angsana
dan mahoni yang berada di Kecamatan Cilandak, Kecamatan Kebayoran Baru,
dan Kecamatan Pesanggrahan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan
daun yaitu gas-gas yang dikeluarkan oleh emisi dari kendaraan bermotor.
Misalnya di Kecamatan Cilandak dimana padatnya lalu lintas terutama jalan
Fatmawati sebagai jalan sasaran secara tidak langsung memberikan tekanan
terhadap pohon. Menurut Fakuara (1986), pohon dan segala jenis tanaman paling
sensitif terhadap SO2, polutan ini masuk ke dalam daun melalui stomata dan
bereaksi di dalam sel menyebabkan rusaknya daun/matinya jaringan tanaman.
Kerusakan dapat kronis/tidak tergantung pada tingkat pencemaran dan tingkat
ketahanan dari tanaman itu sendiri.
5. Keropos akibat serangan rayap
Tipe kerusakan ini sebagian besar ditemukan pada jenis glodogan dan
angsana dengan persentase 5,20%. Pohon glodogan yang berada di jalan HR
Rasuna Said Setiabudi rata-rata mengalami keropos akibat serangan rayap. Hal ini
dapat dilihat dari kondisi pohon tampak lapuk dan ketika kulit pohon dikelupas,
banyak rayap yang sudah menggerogoti pohon glodogan (Gambar 14).
[image:45.595.133.489.477.698.2](a) (b)
6. Mata kayu
Kerusakan visual berupa mata kayu sebagian besar ditemukan pada jenis
angsana yang berada di Kecamatan Kebayoran Baru. Mata kayu yang ditemukan
pada pohon sasaran yaitu mata kayu lepas seperti pada Gambar 15. Nilai
kecepatan rambatan gelombang ultrasonik yang juga digunakan sebagai
pendekatan dalam mendeteksi kondisi pohon akan menurun apabila melewati
mata kayu dan serat miring di sekitar mata kayu, karena dengan adanya mata
[image:46.595.224.401.248.463.2]kayu orientasi serat akan menyimpang.
Gambar 15 Kerusakan mata kayu lepas pada batang pohon angsana
7. Kerusakan kuncup, daun atau tunas
Tipe kerusakan ini ditemukan sebagian besar pada jenis mahoni dengan
persentase 4,33% yang tersebar di beberapa kecamatan Jakarta Selatan. Gejala
kerusakannya berupa daun yang termakan serangga, terkerat atau terkeliat ataupun
terserang jamur termasuk kuncup atau tunas, akibatnya daun-daun rontok dan
proses fotosintesis menjadi terganggu. Selain itu kerusakan yang dapat terjadi
yaitu cabang pohon yang mati dan tidak terdapat daun yang tumbuh (Gambar 16).
Matinya cabang ini dapat disebabkan oleh gugurnya daun akibat terserang
penyakit gugur daun dan dapat pula disebabkan oleh patahnya cabang, akan tetapi
cabang ini masih melekat pada batang tajuk utama dan masih memiliki daun yang
Gambar 16 Daun gugur pada pohon mahoni
8. Lapuk
Gejala yang terlihat dari kerusakan ini adalah adanya jamur yang
menyerang batang pohon. Kondisi ini mengakibatkan pohon menjadi lapuk dan
mudah terserang patogen lainnya. Tipe kerusakan seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 17, sebagian besar dialami oleh pohon saga yang berada di Kecamatan
[image:47.595.220.402.456.672.2]Jagakarsa dan juga beberapa pohon angsana.
9. Konk atau lapuk hati
Tipe kerusakan lapuk hati/konk menunjukkan gejala bagian batang
terserang mati, terurai dan berwarna coklat. Identifikasi untuk lapuk hati antara
lain adanya tubuh buah. Tubuh buah yang dijumpai tampak di permukaan bagian
pohon yan terserang berbentuk seperti benjolan bulat berwarna coklat (Gambar
18). Tipe kerusakan ini menyebabkan meningkatnya resiko penurunan penyerapan
air dan unsur hara sehingga mengakibatkan pohon mudah roboh oleh angin
(Widyastuti et al. 2005). Sebagian besar kerusakan ini ditemukan pada jenis angsana yang tersebar di beberapa kecamatan Jakarta Selatan. Keberadaan tubuh
buah pada pohon mengindikasikan pohon tersebut mengalami lapuk hati. Hal ini
diperkuat dengan hasil pengujian non destruktif yang menunjukkan bahwa nilai
kecepatan rambatan gelombang yang dirambatkan pada pohon tersebut menjadi
[image:48.595.222.401.361.567.2]lebih lambat, dikarenakan adanya hambatan internal dalam batang.
Gambar 18 Indikator lapuk lanjut berupa tubuh buah jamur pada batang pohon angsana
10. Tumbuhan pengganggu
Tipe deteriorasi ini sebagian besar ditemukan pada jenis pohon saga dan
glodogan yang berada di Kecamatan Jagakarsa. Tumbuhan pengganggu berupa
benalu melilit batang pohon sehingga kondisi pohon hampir seluruhnya tertutupi
Gambar 19 Tumbuhan pengganggu yang melilit batang pohon saga
11. Eksudasi berupa resinosis
Eksudasi adalah keluarnya cairan dari bagian tanaman yang sakit. Eksudasi
yang ditemukan pada jenis mahoni di Kecamatan Pasar Minggu yaitu resinosis,
yang artinya cairan yang keluar berupa resin. Tipe kerusakan ini hanya sebagian
kecil dijumpai yaitu sebanyak 0,43%. Resinosis pada mahoni dapat dilihat pada
[image:49.595.222.400.453.663.2]Gambar 20.
Gambar 20 Resinosis pada batang pohon mahoni
Sebagian besar masyarakat kurang sadar akan pentingnya manfaat dan
fungsi pohon peneduh. Hal ini dapat dilihat banyaknya pohon peneduh yang
21). Paku atau benda tajam yang berfungsi menyandarkan baliho atau iklan
mengakibatkan luka mekanis pada batang pohon. kerusakan ini akan
menimbulkan kerusakan yang lebih parah apabila patogen menyerang luka
[image:50.595.191.431.172.344.2]tersebut.
Gambar 21 Luka mekanis pada batang pohon angsana
Kecamatan Pasar Minggu terdapat jenis yang jarang difungsikan sebagai
pohon peneduh yaitu jenis pohon khaya (khaya spp). Pohon khaya termasuk ke dalam keluarga pohon Mahagony yang aslinya berasal dari negara tropis Afrika dan Madagaskar. Pohon khaya memiliki ciri-ciri yaitu dapat mencapai tinggi 50
m, diameter 150 cm, batang lurus dan silindris, kulit batang halus, warna abu-abu
dan coklat bercoreng (Bpthbalinusra 2009). Secara visual, jenis khaya spp ini tidak mengalami kerusakan. Pertumbuhan pohon yang baik dengan batang lurus
mengindikasikan bahwa pohon dalam kondisi sehat. Hal ini di dukung oleh nilai
pengujian kecepatan rambatan gelombang ultrasonik yang bernilai tinggi.
5.3 Evaluasi Berbasis Gelombang Ultrasonik
Hasil penelitian menunjukkkan bahwa hanya 11,26% pohon di Kota Jakarta
Selatan memiliki nilai kecepatan rambatan gelombang ultrasonik > 1600 m/detik
yang sebagian besar adalah jenis mahoni dan angsana. Nilai kecepatan rambatan
tersebut mengartikan bahwa pohon tidak mengalami kerusakan dibagian dalam
batang. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Wang dan Robert (2002), bahwa nilai
kecepatan rambatan pada pohon berdiri yang sehat yaitu sekitar 1500 m/detik
sasaran yang sehat berdasarkan kecepatan gelombang ultrasonik tidak berbeda
jauh dengan persentase penilaian kesehatan pohon secara visual yaitu 13,85%.
Sebagian besar pohon yang tidak mengalami kerusakan fisik memiliki nilai
kecepatan rambatan gelombang ultrasonik > 1600 m/detik.
Sementara itu pohon yang mengalami tanda adanya deteriorasi pada bagian
dalam batangnya mencapai 88,74% dimana merupakan jenis glodogan dan
angsana yang memiliki nilai kecepatan rambatan < 500 m/detik. Nilai kecepatan
rambatan yang rendah dapat mengindikasikan bahwa pohon mengalami kerusakan
dalam batang. Adanya kerusakan dalam batang pohon membuat rambatan
gelombang ultrasonik terganggu sehingga waktu rambatan menjadi lebih lama.
Hal ini didukung dengan pernyataan Wang et al. (2004) bahwa waktu transmisi untuk kayu yang mengalami kerusakan jauh lebih lama dibandingkan kayu yang
tidak mengalami kerusakan. Sebaran kesehatan pohon di wilayah Jakarta Selatan
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.
Ditinjau dari jenis pohonnya, sebagian besar jenis pohon yang termasuk ke
dalam kategori kecepatan I adalah jenis angsana dan mahoni, sementara itu jenis
pohon yang termasuk ke dalam kategori kecepatan V adalah jenis glodogan dan
angsana. Jumlah pohon sasaran berdasarkan kategori kecepatan rambatan
gelombang ultrasonik dapat dilihat selengkapnya pada Gambar 22.
Gambar 22 Jumlah pohon sasaran berdasarkan kategori kecepatan rambatan gelombang ultrasonik 0 5 10 15 20 25 30
I II III IV V
Angsana Mahoni Glodogan Saga Beringin Khaya
Asam Londo
Tanjung
Ketapang
Jum
lah (N)
Kategori Kecepatan Rambatan Gelombang Ultrasonik
KATEGORI v
I : Sehat II : Cukup sehat III : Sedang IV : Cukup sakit
V : Sakit
[image:51.595.114.512.487.709.2]Sementara itu ditinjau dari lokasinya, sebagian pohon yang termasuk ke
dalam kategori kecepatan I (sehat) berada di Kecamatan Tebet dan Kecamatan
Pasar Minggu, sedangkan pohon yang termasuk ke dalam kategori kecepatan V
atau yang mengalami kerusakan pada bagian dalam batang sebagian besar berada
di Kecamatan Kebayoran Baru dan Kecamatan Jagakarsa. Jumlah pohon sasaran
setiap kecamatan berdasarkan kategori kecepatan rambatan gelombang ultrasonik
[image:52.595.115.517.238.489.2]dapat dilihat selengkapnya pada Gambar 23.
Gambar 23 Jumlah pohon sasaran di setiap kecamatan berdasarkan kategori kecepatan rambatan gelombang ultrasonik
Jenis angsana, mahoni dan glodogan merupakan jenis pohon peneduh yang
mendominasi wilayah Jakarta Selatan. Pemantauan kesehatan pohon ini sangat
penting karena keberadaanya hampir di setiap kecamatan. Pada jenis mahoni,
hanya 11 pohon sasaran atau 14,10% yang menunjukkan nilai kecepatan rambatan
gelombang ultrasonik > 1600 m/detik dari 78 pohon mahoni yang diuji, tersebar
di Kecamatan Cilandak, Kecamatan Pasar Minggu, Kecamatan Jagakarsa,
Kecamatan Tebet, Kecamatan Pancoran, dan Kecamatan Kebayoran Lama.
Rata-rata nilai kecepatan rambatan gelombang ultrasonik pohon mahoni di
Kecamatan Pancoran dan Kecamatan Kebayoran Lama lebih rendah dibandingkan
dengan kecamatan lain yang juga memiliki pohon mahoni yaitu sebesar 847 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
I II III IV V
Pancoran
Kebayoran Baru
Jagakarsa Setiabudi
Kebayoran Lama
Tebet Cilandak
Pasar Minggu
Pesanggrahan
Mampang Prapatan
Jum
lah
(N)
Kategori Kecepatan Rambatan Gelombang Ultrasonik
KATEGORI v
I : Sehat
II : Cukup sehat III : Sedang IV : Cukup sakit
m/detik dan 536 m/detik. Hal ini dapat diakibatkan oleh kondisi tempat tumbuh
pohon di Jalan Raya Pasar Minggu Pancoran yang berada di bagian trotoar jalan.
Kondisi ini dapat mengganggu proses penyerapan unsur hara pada pohon
sehingga pertumbuhan pohon menjadi terganggu dan rentan terserang patogen.
Berbeda dengan tempat tumbuh jenis mahoni di Jalan Tanjung Barat Pasar
Minggu yang tumbuh di atas tanah tanpa ditutupi oleh trotoar maupun aspal jalan
dan memiliki rata-rata nilai kecepatan rambatan yang cukup tinggi yaitu 1368
m/detik. Selain itu intensitas kepadatan Jalan Raya Pasar minggu Pancoran dan
Jalan Sultan Iska