• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

K

KERUSA

HAR

D

IN

AKAN PO

JAK

RISFAN N

DEPART

FAKUL

NSTITUT

OHON PE

KARTA SE

NOPIANS

EMEN H

LTAS KE

T PERTA

BOGO

2012

NEDUH

ELATAN

SYAH BA

HASIL HU

EHUTAN

ANIAN BO

OR

2

DI WILA

N

ATUBARA

UTAN

NAN

OGOR

AYAH

(2)

KERUSAKAN POHON PENEDUH DI WILAYAH

JAKARTA SELATAN

HARISFAN NOPIANSYAH BATUBARA

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada

Fakultas Kehutanan

DEPARTEMEN HASIL HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

RINGKASAN

HARISFAN NOPIANSYAH BATUBARA. Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan. Dibimbing Oleh DODI NANDIKA dan LINA KARLINASARI.

Keberadaan pohon peneduh (shade trees) di wilayah perkotaan sangat penting. Hal ini terkait dengan besarnya nilai dan manfaat pohon tersebut, baik secara estetika, sosial, dan ekologis. Sehubungan dengan hal tersebut, pemantauan kesehatan pohon di wilayah perkotaan sangat penting. Namun demikian saat ini perhatian terhadap kesehatan pohon peneduh di kota-kota di Indonesia masih relatif rendah. Hal ini tercermin antara lain dari kurangnya informasi tentang kesehatan pohon peneduh dan kurangnya antisipasi sebagian besar pemerintah kota terhadap kemungkinan tumbangnya pohon peneduh di wilayah masing-masing. Salah satu cara yang paling sederhana untuk mengetahui kesehatan pohon adalah dengan pengamatan secara visual terhadap fisik pohon. Selain itu, dapat digunakan teknologi pemantauan kesehatan pohon secara Nondestructive

Evaluation/Testing (NDE/T) berbasis gelombang ultrasonik. Teknologi ini sangat

sesuai untuk mengetahui kondisi bagian dalam batang pohon berdiri, seperti keberadaan gerowong yang sering tidak terdeteksi dari luar.

Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kesehatan pohon peneduh di wilayah Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, baik secara visual maupun dengan memanfaatkan rambatan gelombang ultrasonik yang dihasilkan dari alat Sylvatest Duo® (frekuensi 22 KHz). Pengamatan secara visual dilakukan terhadap ada tidaknya gejala deteriorasi pada pohon sasaran, dari pangkal batang hingga tajuk pohon. Sementara itu penilaian kesehatan pohon dengan alat

Sylvatest Duo® didasarkan atas kecepatan rambatan gelombang di dalam batang

pohon sasaran pada ketinggian setinggi dada (DBH). Pohon peneduh yang berdiameter ≥ 45 cm dipilih sebagai pohon sasaran. Pohon sasaran tersebar di 11 ruas jalan contoh di seluruh kecamatan (10 kecamatan) di wilayah Jakarta Selatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 13,85% pohon peneduh di wilayah Jakarta Selatan yang secara visual tidak menunjukkan gejala deteriorasi, sedangkan sisanya (86,15%) menunjukkan adanya gejala deteriorasi berupa kanker (16,45%); luka terbuka (16,02%); gerowong (9,52%); perubahan warna daun (9,10); mata kayu (6,49%); keropos akibat serangan rayap (5,20%); kerusakan kuncup, daun atau tunas (4,33%); kematian ranting atau cabang

(dieback) (3,46%); lapuk (3,46%); lapuk hati (konk) (3,03%); tumbuhan

(4)

(sakit) mencapai 32,47%. Pada pohon sakit, rambatan gelombang ultrasonik mengalami hambatan internal dalam batang pohon akibat adanya gerowong, lapuk atau bentuk deteriorasi lainnya. Adanya deteriorasi dalam batang pohon sasaran tersebut mempengaruhi sifat fisis kayu, khususnya kadar air.

Upaya pemeliharaan dan perawatan pohon peneduh di Jakarta Selatan perlu diintensifkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan pohon peneduh. Perhatian khusus perlu diberikan terhadap kondisi kesehatan pohon glodogan dan pohon angsana, bahkan perlu dipertimbangkan kembali kebijakan penggunaan kedua jenis pohon tersebut sebagai pohon peneduh.

Kata Kunci: Kesehatan pohon, Pohon peneduh, Pengamatan visual pohon, Pengujian non destruktif, Gelombang ultrasonik.

(5)

     

INTRODUCTION : The shade trees in Southern Jakarta plays important roles in aesthetical, social, as well as ecological aspects. Therefore, regular monitoring and evaluation of their health condition is quite critical. However, the awarness on that issue is not sufficient. One of the simple ways to determine tree’s health is by visual observation. In addition, today’s latest technique to determine tree’s health, particularly tree’s stem condition, is by using ultrasonic wave propagation accros the targeted tree’s stem. This technique could assess inner part of targeted trees’s stem which is hard to detected by visual observation. A study was conducted to evaluate health condition of shade trees grown in Southern Jakarta area by visual observation and ultrasonic wave propagation measurement.  

MATERIAL AND METHODS : 231 shade trees (DBH ≥ 45 cm) that growth along the sample streets (1% of total length of streets) in South Jakarta area was elected purposively as targeted trees. Visual observation on each targeted trees was conducted to determine any deterioration evidence in any parts of the tree (from stem base until tree’s crown). Whereas a SylvatestDuo® (ultrasonic wave propagation system) was used to determine inner parts of each targeted tree’s stem.

RESULT AND DISCUSSION: The result showed that only 13,85% of shade trees in South Jakarta were not showing deterioration indication, and the rest of them (86,15%) shows deterioration such as tree cancer about (16,45%); open wound (16,02%); hole (9,52%); leaf discolor (9,10%); knot (6,49%); termite attack (5,20%); shoot and bud damages (4,33%); dieback (3,46%); decayed (3,46%); konk (3,03%); weeds (2,60%); resinosis (0,43%); and other (6,06%). Those were in line with ultrasonic wave test results, where were 11,26% of targeted tree include in speed category I (health). The rest of them (88,74%) include in speed category II (14,71%); III (23,81%); and IV (17,75%), whereas for category V (sick) about 32,47%. In deteriorated tree, the ultrasonic wave propagation met the internal obstacle inside the tree due to hole existance inside. Deterioration inside the targeted tree were affected on physical properties of wood, especially moisture content. 

KEYWORDS: Tree’s health, shade tree, tree’s visual monitoring, non destructive testing, ultrasonic wave.

1)

Student of Forest Products Department, Faculty of Forestry, IPB

2)

Lecturer of Forest Products Department, Faculty of Forestry, IPB  

E/THH 

Deterioration of Shade Trees in Southern Jakarta Area

By :

1)

Harisfan Nopiansyah Batubara, 2) Dodi Nandika,

2)

(6)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan

Nama Mahasiswa : Harisfan Nopiansyah Batubara

NIM : E24070012

Program Studi : Teknologi Hasil Hutan

Menyetujui,

Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2

Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika, MS. Dr. Lina Karlinasari, S.Hut, M.Sc.F.Trop

NIP : 19511207 198203 1 001 NIP : 19731126 199802 2 001

Mengetahui,

Ketua Departemen Hasil Hutan

Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. I Wayan Darmawan, M.Sc

NIP: 19660212 199103 1 002

(7)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi “Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan” adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah

pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal

atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain

telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian

akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2012

Harisfan Nopiansyah Batubara

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pekanbaru, Riau pada tanggal 13 November 1988 dari

ayah H. Harun Alrasyid Batubara dan ibu Hj. Hafni Erta Nasution. Penulis

merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.

Penulis memulai pendidikannya di SD Negeri 029 Rintis Pekanbaru pada

tahun 1995, kemudian melanjutkan pendidikan pada tahun 2001 di SLTP Negeri 1

Pekanbaru. Tahun 2007 penulis lulus dari SMA Negeri 8 Pekanbaru dan pada

tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Hasil Hutan,

Fakultas Kehutanan di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan

Seleksi Masuk IPB (USMI).

Selama mengikuti pendidikan di Fakultas Kehutanan IPB, penulis aktif di

sejumlah organisasi kemahasiswaan yakni Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan

(HIMASILTAN) sebagai Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia

(PSDM) tahun 2009-2010, anggota divisi Olahraga dan Seni Ikatan Keluarga

Pelajar Mahasiswa Riau Bogor (IKPMR) tahun 2008-2009, dan anggota Unit

Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tenis Meja IPB. Selain itu penulis juga melakukan

Praktek Kerja Lapang di PT. Intracawood Manufacturing Tarakan, Kalimantan

Timur pada tahun 2011.

Untuk memperoleh gelar sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan

skripsi dengan judul Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan.

Selama penyelesaian skripsi penulis dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika,

(9)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala curahan rahmat dan kasih

sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun

skripsi yang berjudul “Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu dalam proses penyusunan skripsi. Penulis menyadari bahwa skripsi ini

masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat

membangun untuk penyempurnaannya sangat diharapkan. Penulis juga berharap

semoga skripsi ini dapat bermanfaat terutama bagi penulis dan pihak-pihak yang

membutuhkan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Bogor, Maret 2012

(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

memberikan kontribusi kepada penulis dalam melakukan penelitian ini dan

selama menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan. Untuk itu, ucapan terima

kasih penulis sampaikan kepada :

1. Kedua orang tua dan segenap keluarga besar yang telah memberikan cinta

dan kasih sayang selama ini serta selalu memberikan motivasi dan semangat

bagi penulis dalam menyelesaikan studi.

2. Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika, MS dan Dr. Lina Karlinasari S.Hut, M.Sc.F.Trop

selaku Dosen Pembimbing I dan II atas segala bimbingan dan pengarahannya.

3. Ir. Ahmad Hadjib, MS selaku dosen penguji dan Dr. Ir. I Wayan Darmawan,

M.Sc selaku ketua sidang komprehensif.

4. Segenap jajaran para Dosen dan Staf Departemen Hasil Hutan IPB yang telah

memberikan ilmu dan pelayanan terbaik selama kuliah.

5. Kepala Suku Dinas Pertamanan Jakarta Selatan beserta staf yang telah

memberikan izin dan membantu pelaksanaan penelitian ini.

6. Teman-teman seperjuangan Ferry, Reza, Mukhlas, Ivana, Werdhy, Januar,

Jauhar, Ika, Dendi, Hafidz, Syamsi, Anas, Iftor, Barus, Putu, Sisharyanto,

Agung dan Amin yang telah banyak membantu penelitian ini.

7. Keluarga besar HIMASILTAN atas kebersamaannya selama ini.

8. Seluruh pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat terutama bagi penulis dan pihak lain

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL... iii

DAFTAR GAMBAR... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 2

1.3 Manfaat ... 2

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pohon Peneduh di Perkotaan dan Fungsinya ... 3

2.2 Jenis – Jenis Pohon Peneduh ... 5

2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kerusakan Pohon ... 6

2.4 Tipe – Tipe Kerusakan Pada Pohon ... 8

2.5 Pengujian Nondestruktif Berbasis Gelombang Ultrasonik ... 10

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat ... 12

3.2 Alat dan Bahan ... 12

3.3 Prosedur Penelitian... 12

3.3.1 Pemilihan Sasaran Pengamatan... 12

3.3.2 Penentuan Pohon Sasaran dan Posisi Geografisnya ... 13

3.3.3 Pengukuran Dendrometri Pohon Sasaran... 13

3.3.4 Evaluasi Kesehatan Pohon Sasaran ... 14

3.3.5 Pengujian Sifat Fisis Kayu ... 15

3.3.6 Analisis Data ... 17

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografi ... 18

4.2 Jaringan Jalan Kota Jakarta Selatan ... 18

(12)

5.2 Evaluasi Kesehatan Pohon Secara Visual ... 25

5.3 Evaluasi Berbasis Gelombang Ultrasonik ... 34

5.4 Sifat Fisis Kayu ... 39

5.4.1 Kadar Air ... 39

5.4.2 Kerapatan ... 40

6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 42

6.2 Saran ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 43

LAMPIRAN ... 46

(13)

DAFTAR TABEL

No Halaman

1 Nama jalan dan panjang jalan contoh di setiap kecamatan ... 13

2 Intensitas kepadatan jalan di wilayah Jakarta Selatan... 19

3 Standar intensitas kepadatan jalan ... 20

(14)

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

1 Skema penempatan alat SylvatestDuo® pada batang pohon sasaran :

penampang memanjang /vertikal (a) dan penampang melintang (b) ... 14

2 Penempatan transduser SylvatestDuo® pada batang pohon sasaran ... 15

3 Pengambilan contoh uji kayu dengan menggunakan bor riap ... 16

4 Contoh uji kerapatan kayu pohon sasaran ... 16

5 Contoh kayu dari batang pohon sasaran yang telah dibungkus aluminium foil ... 17

6 Jalur hijau di Kota Jakarta Selatan yaitu jalur median jalan (a) dan jalur tepian jalan (b) ... 21

7 Persentase jenis pohon peneduh di Jakarta Selatan ... 23

8 Klasifikasi diameter pohon sasaran ... 24

9 Contoh jenis pohon peneduh Kota Jakarta Selatan: angsana (a) dan mahoni (b) ... 25

10 Kondisi pohon sasaran berdasarkan gejala deteriorasi yang ditemukan ... 26

11 Kanker pada batang mahoni ... 27

12 Luka terbuka pada batang pohon angsana ... 28

13 Gerowong pada pangkal batang pohon angsana ... 28

14 Serangan rayap pada batang pohon glodogan (a) dan keropos pada batang pohon angsana (b) ... 29

15 Kerusakan mata kayu lepas pada batang pohon angsana ... 30

16 Daun gugur pada pohon mahoni ... 31

17 Serangan jamur pada batang pohon saga ... 31

18 Indikator lapuk lanjut berupa tubuh buah jamur pada batang pohon angsana ... 32

19 Tumbuhan pengganggu yang melilit batang pohon saga ... 33

20 Resinosis pada batang pohon mahoni ... 33

21 Luka mekanis pada batang pohon angsana ... 34

22 Jumlah pohon sasaran berdasarkan kategori kecepatan rambatan gelombang ultrasonik ... 35

(15)

24 Rata-rata nilai kadar air kayu pohon sasaran setiap kecamatan ... 39

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1 Posisi jalan contoh di setiap kecamatan di wilayah Jakarta Selatan ... 47

2 Sebaran jenis pohon sasaran Jakarta Selatan ... 48

3 Sebaran kesehatan pohon di wilayah Jakarta Selatan ... 49

4 Peta Kota Jakarta Selatan ... 50

5 Dimensi, sifat fisis, dan posisi geografis pohon sasaran ... 51

6 Hasil evaluasi kesehatan pohon sasaran secara visual dan gelombang ultrasonik ... 62

7 Jumlah dan jenis pohon sasaran di wilayah Jakarta Selatan ... 81

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Keberadaan pohon peneduh di wilayah perkotaan sangatlah penting. Hal ini

terkait dengan besarnya nilai dan manfaat pohon tersebut, baik secara arsitektural,

sosial, dan ekologis. Menurut Nowak (2004), pohon peneduh antara lain berperan

sebagai identitas kota, pelestarian lingkungan, penyaring udara kotor, peredam

kebisingan, menurunkan suhu kota, memperindah kota dan pelestarian tanah.

Sementara itu pengalaman menunjukkan bahwa pada musim hujan dan

angin kencang, tumbangnya pohon peneduh sangat besar. Hal ini misalnya terjadi

di Jakarta Selatan yang banyak memiliki jalur hijau di pinggir maupun median

jalan. Pada awal tahun 2012, kejadian pohon tumbang di wilayah tersebut tercatat

26 pohon tumbang, 12 pohon sempal dan sekitar 2500 pohon rawan tumbang

yang mengakibatkan empat mobil, satu bajaj rusak, dan satu orang tewas tertimpa

pohon peneduh yang tumbang (Kompas, 4 Februari 2012). Dampak yang

ditimbulkan oleh kejadian tersebut tidak hanya kerugian materi saja tetapi juga

keselamatan jiwa.

Melihat banyaknya manfaat yang dapat diberikan, pohon di lingkungan

perkotaan jelas merupakan aset yang perlu dipelihara dan dipertahankan

keberadaannya. Sejalan dengan itu, kondisi kesehatan pohon peneduh di

lingkungan perkotaan selayaknya dipantau secara berkala sebagai bagian dari

sistem pemeliharaannya. Namun saat ini belum banyak informasi mengenai

pemantauan kesehatan pohon peneduh. Salah satu cara yang paling sederhana

untuk mengetahui kesehatan pohon adalah dengan pemantauan secara visual

terhadap fisik pohon. Selain itu, saat ini dapat digunakan suatu teknologi

memantau kesehatan pohon secara Nondestructive Evaluation/Testing (NDE/T) berbasis gelombang ultrasonik. Hal ini sangat mendukung untuk mengetahui

kondisi bagian dalam batang pohon berdiri, seperti keberadaan gerowong yang

sering tidak terdeteksi dari luar.

Berdasarkan hal tersebut di atas, dirasa perlu melakukan evaluasi dan

(18)

ruas-ruas jalan utama kota dengan menggunakan teknologi berbasis kecepatan

rambatan gelombang ultrasonik untuk mendukung pengamatan secara visual.

1.2Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesehatan pohon peneduh di

wilayah Jakarta Selatan berdasarkan pengamatan secara visual dan dengan teknik

yang memanfaatkan kecepatan rambatan gelombang ultrasonik.

1.3 Manfaat

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi

Pemerintah Kota Jakarta Selatan dalam pengembangan sistem pengelolaan pohon

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Pohon Peneduh di Perkotaan dan Fungsinya

Pada hakikatnya pohon dalam suatu tata kota merupakan unsur pelembut

dalam lanskap. Pohon dalam suatu tatanan kehidupan tertentu tidak saja sebagai

bagian dari lanskap yang berfungsi untuk keindahan dan fungsi ekologis, lebih

jauh keberadaan pohon seringkali sebagai bagian dari monumental sejarah yang

memiliki nilai umur, fungsi, dan sejarah itu sendiri (Karlinasari dan Surjokusumo

2010).

Pohon merupakan aset lingkungan yang utama. Keberadaan pepohonan

yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat yang besar. Menurut

Nowak (2004), peranan pohon di lingkungan perkotaan antara lain :

a. Identitas kota

Dapat menggambarkan identitas kota melalui koleksi jenis tanaman

dan hewan yang merupakan simbol atau lambang suatu kota di areal

tersebut.

b. Pelestarian lingkungan

Seiring bertambahnya jumlah penduduk maka tentunya kualitas

lingkungan akan mengalami penurunan. Akibat pencemaran lingkungan

hidup kota yang kemungkinan sangat tinggi, baik oleh kendaraan bermotor

maupun aktivitas industri.

c. Penahan dan penyaring partikel padat dari udara

Udara yang kotor akibat kegiatan manusia seperti penggunaan

kendaraan bermotor, aktivitas kawasan industri dan partikel padat yang

tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk

pohon melalui proses jerapan dan serapan.

d. Peredam kebisingan

Pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang

suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif

untuk meredam suara ialah yang mempunyai tajuk tebal dengan daun yang

(20)

berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi

akan dapat mengurangi kebisingan, khususnya kebisingan yang sumbernya

berasal dari bawah (Dahlan 1992).

e. Menurunkan suhu kota

Keadaan dibawah tegakan pohon pada siang hari suhunya lebih

rendah jika dibandingkan dengan diluar tegakan pohon, karena sinar

matahari diabsorbsi oleh tajuk pohon, sebaliknya pada malam hari didalam

tegakan pohon lebih tinggi suhunya dibandingkan dengan diluar tegakan

pohon karena radiasi sinar matahari ditahan oleh tajuk pohon (Dahlan

1992).

f. Memperindah kota

Dengan penataan yang baik, desain vegetasi pohon dalam jajaran jalur

hijau jalan dapat secara efektif mengatasi permasalahan lingkungan yang

dihadapi dengan keindahan yang bersifat alami. Karena pada dasarnya

benda-benda di sekeliling manusia dapat ditata dengan indah menurut garis,

bentuk, warna, ukuran dan teksturnya sehingga dapat diperoleh suatu bentuk

komposisi yang menarik (Irwan 1994).

g. Pelestarian air tanah

Pada daerah hulu yang berfungsi sebagai daerah resapan air,

hendaknya ditanami dengan tanaman yang mempunyai daya

evapotranspirasi yang rendah. Di samping itu sistem perakaran dan

serasahnya dapat memperbesar porositas tanah, sehingga air hujan banyak

yang masuk ke dalam tanah sebagai air infiltrasi dan hanya sedikit yang

menjadi air limpasan. Sistem perakaran tanaman dan serasah yang berubah

menjadi humus akan memperbesar jumlah pori tanah. Karena humus

bersifat lebih higroskopis dengan kemampuan menyerap air yang besar. Di

daerah perkotaan, erosi air hujan hampir mencapai 100%. Hal ini

dikarenakan sedikitnya area tanah yang terbuka antara pinggiran jalan

dengan trotoar dimana tanaman pinggir jalan menyerap air dengan tidak

optimal (Hartman et al.2000).

Pohon dapat memberikan nilai estetika tertentu yang terkesan alamiah dari

(21)

batang, akar, bunga, buah maupun aroma yang ditimbulkan dari daun, bunga

maupun buahnya (Nor 2009).

Pohon peneduh merupakan pohon dengan percabangan yang tingginya lebih

dari dua meter, dapat memberikan keteduhan dan penahanan silau sinar matahari

bagi pejalan kaki. Pohon peneduh merupakan penetralisir sumber pencemar gas

buangan kendaraan bermotor, tajuknya yang rindang memberikan keteduhan,

sistem perakarannya dapat meningkatkan infiltrasi air permukaan dan mengurangi

air limpasan sehingga meningkatkan jumlah air pada reservoar tanah, menciptaka

iklim mikro yang lebih sejuk (Anonim 2004).

2.2Jenis - Jenis Pohon Peneduh

Kebanyakan pohon peneduh yang ditanam baik di taman-taman kota

maupun di tepian jalan merupakan tanaman yang menjadi ciri khas dari wilayah

tersebut karena dinggap sebagai aset kawasan selain memang sebagai jenis lokal

yang cocok dengan kondisi setempat. Disamping itu, kadang juga ditanami

tanaman-tanaman yang memang tren untuk ditanam. Misalnya saja di wilayah

Jakarta Selatan yang kebanyakan di tepian jalannya ditanami pohon angsana,

flamboyan, mahoni, trembesi, tanjung dan lain sebagainya.

Menurut Aryadi (2009), persyaratan umum tanaman untuk ditanam di

wilayah perkotaan adalah disenangi dan tidak berbahaya bagi warga kota, mampu

tumbuh pada lingkungan yang marjinal (tanah tidak subur, udara dan air yang

tercemar), tahan terhadap gangguan fisik (vandalisme), perakaran dalam sehingga tidak mudah tumbang, tidak gugur daun, cepat tumbuh, bernilai hias dan

arsitektural, dapat menghasilkan O

2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota,

bibit/benih mudah didapatkan dengan harga yang murah/terjangkau oleh

masyarakat, prioritas menggunakan vegetasi endemik/lokal, dan keanekaragaman

hayati. Pemilihan jenis pohon perkotaan haruslah sesuai dengan kriteria. Menurut

Sulistyantara (2006) kriteria tanaman jalan dalam kota adalah pohon penaung

dengan tinggi sedang atau tinggi <15 m, bentuk tajuk pohon bulat atau kolumar,

tinggi cabang paling bawah 5 m, tidak membahayakan pengguna jalan, tidak

berduri, berbiji besar, percabangan kuat dan perakaran tidak ektensif, sehingga

(22)

2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kerusakan Pohon

Pohon dikatakan sehat atau normal ketika pohon tersebut masih dapat

menjalankan fungsi fisiologisnya. Sebaliknya, dikatakan tidak sehat apabila pohon

yang secara struktural mengalami kerusakan baik secara keseluruhan ataupun

sebagian pohon. Penyebab utama penyakit tersebut dapat berupa organisme hidup

patogenik ataupun faktor lingkungan fisik (Karlinasari dan Surjokusumo 2010).

Selain faktor patogen sebagai salah satu penyebab kerusakan pohon,

serangan serangga, polusi udara, aktivitas manusia dan faktor biologi serta usia

pohon yang makin meningkat diduga berperan pula menurunkan kualitas pohon.

Penurunan kualitas pohon ini dapat diketahui melalui tingkat kerusakan yang

diderita pohon tersebut.

Menurut Djafaruddin (1996), secara alamiah yang termasuk pengganggu

tanaman dapat dikelompokkan menjadi :

1. Pengganggu yang termasuk jasad hidup

Hama adalah jasad pengganggu yang merupakan makhluk hidup yang

termasuk dalam kelompok hewan atau binatang. Serangga dapat merusak

tanaman dengan cara memakan bagian tanaman, menghisap cairan sel-sel

tanaman terutama daun, menyebabkan bengkak/puru pada bagian tertentu,

menyebabkan kanker pada batang/bagian berkayu, meletakkan telur pada

bagian tanaman, mengambil bagian tanaman untuk dijadikan sarang dan

menularkan jasad pengganggu.

Gulma adalah jasad pengganggu yang merupakan sebangsa jenis

tumbuhan tingkat tinggi yang bukan termasuk ke dalam penyebab penyakit

biotis. Gulma bersifat mengganggu, merugikan dan merusak apabila ditinjau

dari segi sifat dan keberadaannya.

2. Pengganggu yang bukan jasad hidup

Bencana alam lingkungan seperti banjir, erosi, kekeringan, longsor

yang disebabkan oleh faktor dan unsur iklim serta cuaca merupakan faktor

pengganggu yang secara tidak langsung sebagai akibat kurang pekanya

terhadap alam.

Unsur lain yang berpengaruh terhadap kerusakan pohon yaitu kerusakan

(23)

tumbangnya suatu pohon yang menyebabkan luka pada kulit dan kayu pohon,

kebakaran pada pohon, hujan es atau salju yang menyebabkan daun rontok dan

sambaran petir (Soeratmo 1974).

Menurut Widyastuti et al. (2005) faktor abiotik penyebab kerusakan pohon adalah faktor fisik dan kimia penyusun lingkungan tempat tumbuh yang tingkat

keberadaannya tidak mendukung pertumbuhan atau perkembangan normal pohon

penyusun hutan yang diantaranya adalah :

a. Suhu

Tiap jenis tumbuhan mempunyai kisaran persyaratan suhu yang dapat

ditoleransi dalam pertumbuhannya. Perubahan suhu yang melampaui batas

toleransi akan menyebabkan tumbuhan mengalami penyimpangan fisiologis

dan dapat menyebabkan kematian.

b. Kelembaban

Saat kelembaban nisbi tinggi, penguapan dari tumbuhan menjadi

rendah, sehingga dapat terjadi penghambatan penyerapan hara. Kekurangan

hara ini dapat berakibat gangguan formasi sel dan daun tumbuhan.

c. Iklim

Pada hutan yang jenis tumbuhan penyusunnya merupakan jenis

eksotik atau dibangun pada lahan-lahan marginal maka faktor iklim atau

faktor tempat tumbuh dapat merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan

tanaman. Bila faktor tersebut berada di atas atau di bawah batas kemampuan

adaptasi tumbuhan maka dapat terjadi kerusakan fisiologis atau mekanis.

d. Unsur hara

Kerusakan tanaman dapat terjadi jika ketersediaan unsur hara dalam

tanah tidak mencukupi jumlah yang diperlukan tumbuhan yang hidup di

tempat tersebut. Selain itu kelebihan unsur hara juga mampu menyebabkan

kerusakan pada tumbuhan akibat kerusakan sel secara langsung oleh unsur

hara tertentu.

e. Polusi udara

Kerusakan tumbuhan oleh polutan pada umumnya meningkat seiring

dengan peningkatan intensitas cahaya, kelembaban tanah dan kelembaban

(24)

f. Kekurangan oksigen

Kondisi kekurangan oksigen di alam secara umum berasosiasi dengan

kelembaban tanah atau suhu udara yang tinggi. Kombinasi antara

kelembaban dan suhu tinggi dalam tanah atau udara menyebabkan

kerusakan perakaran tumbuhan.

g. Cahaya

Kekurangan cahaya menghambat pembentukan klorofil dan

merangsang pemanjangan ruas sehingga daun berwarna pucat, jaringan

menjadi lemah dan daun serta bunga gugur lebih awal.

2.4 Tipe – Tipe Kerusakan Pada Pohon

Pohon dalam proses perkembangan hidupnya memang tidak bisa dilepaskan

dari interaksi dengan lingkunganya termasuk dengan faktor-faktor pengganggu

atau perusak. Kerusakan atau gangguan dapat diakibatkan oleh patogen, serangga,

polusi udara, dan daya alam serta kegiatan manusia. Kerusakan yang disebabkan

oleh salah satu dari agen-agen ini, baik sendiri-sendiri atau dalam kombinasi dapat

secara nyata mempengaruhi tingkat kesehatan pohon atau menyebabkan kematian

(Sudintanhut 2008).

Kesehatan pohon dipengaruhi oleh kerusakan yang terjadi pada pohon

tersebut. Kerusakan atau cacat yang dimaksud adalah segala macam kerusakan

yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman selanjutnya. Menurut Mangold

(1997), kerusakan yang dapat terjadi pada pohon antara lain :

a. Kanker

Gejala kerusakan kanker berupa pembengkakan pada batang yang

berkembang meluas kebagian atas dan bawah. Jaringan kayu pada batang

yang membengkak umumnya menjadi lunak, rapuh, retak-retak, dan sering

digunakan untuk tempat berlindung serangga. Kanker mungkin dapat

disebabkan oleh berbagai agen tetapi lebih sering disebabkan oleh jamur. Di

daerah yang topografinya miring (bergelombang) dan banyak angin, pohon

(25)

b. Busuk hati, tubuh buah dan indikator lapuk lanjut.

Gejala yang terjadi berupa pembusukkan pada pangkal batang, lalu

disertai dengan adanya daun-daun pada tajuk yang menguning dan

mengering. Kondisi ini terjadi karena kematian sel-sel jaringan pada

tanaman. Kematian jaringan tanaman biasanya didahului dengan adanya

perubahan warna dari hijau ke kuning kemudian menjadi coklat atau

kemerah-merahan akibat serangan patogen. Kerusakan ini sukar diamati dari

luar, tetapi timbulnya tubuh buah menjadi indikator lapuk yang sudah lanjut

yang disebabkan oleh fungi.

c. Luka terbuka

Luka terbuka adalah suatu luka atau serangkaian luka yang

ditunjukkan dengan mengelupasnya kulit atau kayu bagian dalam kayu telah

terbuka dan tidak ada tanda lapuk lanjut. Biasanya luka terbuka disebabkan

oleh luka pangkasan yang memotong ke dalam kayu.

d. Resinosis dan Gumosis

Resinosis merupakan keluarnya cairan yang berupa resin dari bagian

tanaman yang sakit, dan disebut gumosis apabila berupa gum. Terjadi hanya

jika batang atau cabang terluka atau dilukai hingga mengenai xylem dan

terserang patogen. Tipe kerusakan ini akan membuat pohon sakit karena

kehilangan banyak getah dan mengundang serangan penyakit.

e. Brum

Brum adalah suatu gerombolan ranting yang padat, tumbuh di suatu

tempat yang sama terjadi di dalam daerah tajuk hidup, termasuk struktur

vegetatif dan organ yang bergerombol tidak normal. Brum terjadi akibat

adanya infeksi oleh benalu kerdil.

f. Dieback

Dieback merupakan kerusakan dimana terjadinya kematian ranting

atau cabang dari bagian ujung dan meluas ke bagian kambium. Dieback bukan serta merta hasil dari satu faktor seperti akibat adanya organisme

perusak atau musim kering berkepanjangan saja, melainkan karena

akumulasi dari kurangnya nutrisi sehingga memicu organisme perusak.  

(26)

g. Akar patah atau mati

Akar patah atau mati baik karena galian atau apapun penyebabnya

yang melukai dapat mengundang penyebab penyakit lain untuk datang.

h. Hilangnya ujung dominan, mati ujung

Gejala mati ujung adalah kematian yang dimulai dari ujung atau titik

tumbuh seperti ujung akar, pucuk, dan cabang yang terus menjalar ke bagian

yang lebih tua. Mati ujung biasanya disebabkan oleh faktor cuaca, serangga

dan penyakit, ataupun sebab-sebab lainnya. Serangan mati ujung

mengakibatkan pertumbuhan menjadi tidak lurus, jaringan pucuk menjadi

kering, rapuh dan busuk serta kualitas pertumbuhan pun menurun. Menurut

Rahayu (2000), mati ujung umumnya terjadi karena kerusakan jaringan

tanaman atau penyumbatan xylem.

i. Kerusakan kuncup, daun atau tunas.

Kerusakan yang memiliki gejala yaitu daun yang termakan serangga,

terkerat atau daun terkeliat termasuk kuncup atau tunas terserang jamur.

j. Perubahan warna daun

Gejala yang tampak yaitu daun tidak lagi berwarna hijau atau daun

menjadi layu. Hal ini dikarenakan tidak terbentuknya klorofil yang

disebabkan oleh patogen, racun, kekurangan mineral, pencemaran udara,

kekeringan, kelebihan atau terbakar karena bahan kimia (Sumardi dan

Widyastuti 2002).

2.5Pengujian Nondestruktif Berbasis Gelombang Ultrasonik

Saat ini pengujian nondestrukif telah luas digunakan untuk mengevaluasi

sifat kayu. Pengujian nondestruktif didefinisikan sebagai kegiatan

mengidentifikasi sifat fisis dan mekanis suatu bahan tanpa merusak atau

mengganggu produk akhirnya sehingga diperoleh informasi yang tepat terhadap

sifat dan kondisi bahan tersebut yang akan berguna unuk menentukan keputusan

akhir pemanfaatannya (Ross dan Pellerin 2002). Pengujian nondestruktif juga

didefinisikan sebagai metode pengujian yang digunakan untuk memeriksa suatu

objek, bahan atau sistem tanpa merusak atau mempengaruhi kegunaanya di masa

(27)

Dalam menilai kesehatan pohon, khususnya pelapukan yang terjadi di

bagian dalam, seringkali tidak tampak sebagai indikator eksternal yang jelas.

Untuk itu metode NDT efektif dapat digunakan untuk membantu mendeteksi

kerusakan yang terjadi. Hal ini tentu saja sangat berguna dalam mengidentifikasi

tingkat keparahan serangan, mencegah penyebaran serangan, serta untuk

meningkatkan kondisi kualitas pohon. Metode NDT digunakan pada tegakan

berdiri untuk mendeteksi adanya lapuk/decay yang akan membantu pengelola hutan dalam memperbaiki tegakan, memilih tebangan, membuat harga jual kayu

lebih tinggi, menduga besarnya kehilangan volume kayu, mengidentifikasi pohon

yang penuh resiko dan mencegah melebarnya lapuk/decay (Wang et al. 2004). Salah satu pengujian secara nondestruktif adalah metode gelombang

suara/bunyi. Gelombang suara adalah gangguan yang ditimbulkan pada medium

elastik yang dapat berupa gas, cair dan padat. Berdasarkan frekuensinya, suara

dibagi menjadi empat jenis yaitu infrasonik (0 Hz – 20 Hz), audiosonik (20 Hz –

20 KHz), ultrasonik (20 KHz – 1 GHz), dan hipersonik (1 GHz – 10 THz)

(Tsoumis 1991).

Gelombang ultrasonik merupakan gelombak mekanik longitudinal dengan

frekuensi diatas 20 kHz. Gelombang ini dapat merambat dalam medium padat,

cair dan gas. Hal ini disebabkan karena gelombang ultrasonik merupakan

rambatan energi dan momentum mekanik sehingga merambat sebagai interaksi

dengan molekul dan sifat enersia medium yang dilaluinya (Fajar 2011).

Dalam Nondestructive Testing (NDT), pengukuran kecepatan gelombang ultrasonik pada kayu didasarkan pada sifat elastis dan viscoelastisnya. Pendugaan

kualitas kayu yang dilakukan berdasarkan pada pengukuran kecepatan perambatan

gelombang ultrasonik yang dibangkitkan melalui getaran. Parameter yang diukur

adalah rambatan gelombang ultrasonik yang digunakan untuk menentukan

(28)

BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2011 di

Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta. Pengujian sifat fisis kayu (kerapatan

dan kadar air) dilakukan di Laboratorium Anatomi dan Fisika Kayu, Bagian

Teknologi Peningkatan Mutu Kayu, Departemen Hasil Hutan, Fakultas

Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB).

3.2 Alat dan Bahan

Alat - alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat uji kualitas batang pohon merk Sylvatest Duo® (frekuensi 22 KHz), kamera digital, haga hypsometer, GPS Garmin 12XL, kompas brunton, bor riap, phiband, kaliper, oven, desikator,

dan timbangan elektrik. Adapun bahan yang digunakan adalah aluminium foil,

plastik, dan kertas label.

3.3Prosedur Penelitian

3.3.1 Pemilihan Sasaran Pengamatan

Pengamatan dilakukan di ruas-ruas jalan contoh yang tersebar di seluruh

kecamatan (10 kecamatan) di wilayah Jakarta Selatan (Lampiran 1). Panjang

seluruh ruas jalan contoh di masing-masing kecamatan adalah 1 % dari

keseluruhan panjang jalan di wilayah tersebut. Ruas jalan contoh di

masing-masing kecamatan dipilih secara sengaja (purposive) berdasarkan tingkat kepadatan pohon dan tingkat kepadatan lalu lintasnya. Nama jalan dan panjang

(29)

Tabel 1 Nama jalan dan panjang jalan contoh di setiap kecamatan

No Kecamatan Nama Jalan

(ruas)

Panjang jalan (km)

1 Pasar Minggu Raya Pasar Minggu

Tanjung Barat

2,00 0,60

2 Jagakarsa Moh. Kahfi II 2,20

3 Kebayoran Lama Sultan Iskandar Muda 1,99

4 Kebayoran Baru Pangeran Antasari 1,68

5 Pancoran Raya Pasar Minggu 1,56

6 Cilandak Fatmawati 1,42

7 Pesanggrahan Ciledug Raya 1,36

8 Tebet Dr. Soepomo 1,21

9 Mampang Prapatan Mampang Prapatan 1,15

10 Setiabudi HR. Rasuna Said 0,86

Jumlah 11 16,23

3.3.2 Penentuan Pohon Sasaran dan Posisi Geografisnya

Seluruh pohon yang berdiameter ≥ 45 cm yang tumbuh di masing-masing

jalan contoh dipilih sebagai pohon sasaran. Masing-masing pohon sasaran

ditentukan posisi geografisnya dengan menggunakan GPS (Global Position

System) Garmin 12XL.

3.3.3 Pengukuran Dendrometri Pohon Sasaran

Terhadap masing-masing pohon sasaran dilakukan pengukuran tinggi

menggunakan haga hypsometer dan pengukuran diameter batang setinggi dada

(diameter at the breast height, DBH) menggunakan phiband.

3.3.4 Evaluasi Kesehatan Pohon Sasaran

a. Secara Visual

Evaluasi kesehatan pohon sasaran secara visual dilakukan dengan

mengamati seluruh bagian pohon sasaran, dari bagian pangkal pohon sampai tajuk

pohon. Kondisi bagian pohon sasaran, termasuk adanya gejala atau tanda

(30)

b. Dengan Menggunakan Alat SylvatestDuo®

Untuk mendukung pengamatan secara visual, dilakukan juga evaluasi

kondisi internal setiap batang pohon sasaran dengan menggunakan alat pengujian

nondestruktif (merk SylvatestDuo®). Cara kerja alat ini adalah berbasis kecepatan rambatan gelombang ultrasonik yang secara sengaja dilintaskan ke dalam jaringan

batang pohon sasaran dari transduser pengirim menuju transduser penerima.

Pengujian dilakukan pada ketinggian DBH, dalam hal ini digunakan empat

titik penempatan transduser pada satu bidang horizontal batang (penampang

melintang), dua titik pada arah utara (U) – selatan (S) dan dua titik pada arah

timur (T) – barat (B). Masing-masing transduser ditempatkan pada liang (diameter

5 mm, kedalaman ± 2 cm) yang dibuat terlebih dahulu pada masing-masing

batang pohon sasaran (Gambar 1). Setelah selesai pengujian menggunakan

SylvatestDuo®, liang bor ditutup kembali dengan lilin malam. Hal ini bertujuan

agar liang pohon tidak menjadi akses masuknya serangan patogen ke dalam

pohon.

(a) (b)

Gambar 1 Skema penempatan alat SylvatestDuo® pada batang pohon sasaran : penampang memanjang /vertikal (a) dan penampang melintang (b)

Sebelum alat SylvatestDuo® dioperasikan, terlebih dahulu masukkan data diameter pohon sasaran (D) yang nilainya ditentukan dengan formula sebagai

berikut :

(31)

D = Dint – 14

dimana : D = Diameter pohon sasaran yang telah terkoreksi (cm)

Dint = Hasil pengukuran jarak antar dua transduser yang

berseberangan pada batang pohon sasaran (cm)

14 = Total panjang dua kepala transduser yang masing-masing masuk ke dalam liang penempatan yang berseberangan pada pohon sasaran (cm)

Data yang ditampilkan pada alat SylvatestDuo® sesaat setelah alat tersebut dioperasikan pada batang pohon sasaran adalah waktu (micro second, µs), kecepatan (meter per second, m/s), dan energi (milivolt, mv) perambatan gelombang ultrasonik antar dua transduser yang posisinya berseberangan pada

batang pohon sasaran (Gambar 2). 

                   

 

[image:31.595.216.403.330.571.2]

 

Gambar 2 Penempatan transduser SylvatestDuo® pada batang pohon sasaran

3.3.5 Pengujian Sifat Fisis Kayu

Selain pengujian gelombang ultrasonik, dilakukan juga pengujian sifat fisis

kayu yaitu pengujian kadar air dan kerapatan kayu pohon berdiri. Contoh kayu

untuk pengujian kadar air dan kerapatan kayu diambil dari batang pohon sasaran

pada ketinggian setinggi dada (DBH) menggunakan bor riap. Bor riap memiliki

(32)
[image:32.595.182.447.83.272.2]

Gambar 3 Pengambilan contoh uji kayu dengan menggunakan bor riap

a. Pengujian Kerapatan

Contoh kayu yang diambil dari selongsong bor riap ditimbang berat pada

kondisi basah, kemudian dihitung volumenya (Gambar 4). Kerapatan batang kayu

dihitung dengan menggunakan persamaan:

dimana: ρ = Kerapatan (g/cm3) BB = Berat awal (g) Vol = Volume (cm3)

Gambar 4 Contoh uji kerapatan kayu pohon sasaran

[image:32.595.117.417.400.728.2]
(33)

b. Pengujian Kadar Air

Untuk pengukuran kadar air kayu digunakan contoh kayu yang sama

seperti pada pengujian kerapatan kayu. Contoh kayu yang diambil dari pohon

dibungkus dengan aluminium foil dan dimasukkan ke dalam plastik (Gambar 5).

Hal ini dilakukan untuk mengurangi air yang menguap pada contoh kayu agar

nilai kadar air yang diperoleh adalah nilai kadar air segar. Kadar air ditentukan

dengan menimbang berat awal (berat basah) contoh kayu yang selanjutnya

dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 103±2oC sampai beratnya konstan untuk

memperoleh berat kering tanurnya. Nilai kadar air ditentukan dengan persamaan

sebagai berikut :

KA BB BKTBKT

dimana: KA = Kadar Air (%)

BB = Berat awal (g)

[image:33.595.115.433.300.608.2]

BKT = Berat Kering Tanur (g)

Gambar 5 Contoh kayu dari batang pohon sasaran yang telah dibungkus aluminium foil

3.3.6 Analisis Data

Data kondisi pohon sasaran ditabulasi dan dianalisis secara statistik

deskriptif sederhana untuk mengetahui persentase pohon yang sehat dan yang

(34)

BAB IV

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Kondisi Geografi

Jakarta Selatan merupakan nama sebuah kota administrasi di sebelah selatan

Daerah Khusus Ibukota Jakarta terletak pada 106o22’42”BT dan 6o22’54”LS.

Jakarta Selatan adalah salah satu dari lima kota administrasi dan satu kabupaten

administrasi DKI. Di sebelah utara, Jakarta Selatan berbatasan dengan Jakarta

Barat dan Jakarta Pusat, di sebelah timur berbatasan dengan Jakarta Timur, di

sebelah selatan berbatasan dengan Kota Depok dan sebelah barat berbatasan

dengan Kota Tangerang (Lampiran 4). Kota Jakarta Selatan merupakan salah satu

kota administrasi dan ekonomi utama di Provinsi DKI Jakarta. Hal ini ditandai

dengan banyaknya perumahan warga kelas menengah ke atas dan tempat pusat

bisnis utama. Perkembangan di berbagai sektor terutama di sektor usaha, jasa dan

perumahan cukup pesat. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya intensitas

perdagangan dan transaksi jual beli. Kota Jakarta Selatan memiliki luas wilayah

yaitu 145,73 km2 dengan jumlah penduduk pada sensus tahun 2010 berjumlah

2.057.080 jiwa. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk adalah sebanyak 14.115

orang per kilometer persegi (BPS 2010).

4.2 Jaringan Jalan Kota Jakarta Selatan

Lingkungan di wilayah Jakarta Selatan didominasi oleh gedung-gedung

perkantoran, area pemukiman, fasilitas pemerintahan dan tempat hiburan. Kota

Jakarta Selatan memiliki jalan utama yang cukup banyak. Jalan tersebut terbagi

atas jalur untuk pengendara sepeda motor, kendaraan roda empat dan terdapat

juga jalur busway. Intensitas pemakaian jalan terutama pada jalan utama sangat

tinggi. Hal ini dapat dilihat dari padat dan macetnya jalan di wilayah Jakarta

Selatan terutama di hari kerja. Intensitas kepadatan jalan di wilayah Jakarta

(35)
[image:35.595.103.526.105.566.2]

Tabel 2 Intensitas kepadatan jalan di wilayah Jakarta Selatan

No Nama Jalan Arah Lokasi Waktu V/C

Ratio

1 Jl. Ciledug Raya Pasar Keb. Lama

Depan

IEC/Komp.

Sangrila II

06.00 – 09.00

16.00 – 19.00

1,67

0,62

2 Jl. Iskandar Muda Pondok Indah

Depan

Kampus

USNI

06.00 – 09.00

16.00 – 19.00

1,83

1,78

3 Jl. Pangeran Antasari Blok M

Depan

Masjid Al

Ikhlas

06.00 – 09.00

16.00 – 19.00

2,28

0,71

4 Jl. Tebet Barat

Dalam IX Tugu Pancoran

Depan RM.

Sederhana

06.00 – 09.00

16.00 – 19.00

0,11

0,11

5 Jl. Lebak Bulus I

Raya RS. Fatmawati

Belakang

Apart Bona

Vista

06.00 – 09.00

16.00 – 19.00

2,32

1,19

6 Jl. Pejaten Raya Pasar Minggu Halte

Pejaten

06.00 – 09.00

16.00 – 19.00

1,28

1,27

7 Jl. K. P. Tendean Pancoran JPO R Sona

Motor

06.00 – 09.00

16.00 – 19.00

2,30

2,73

8 Jl. H. Nawi Raya Fatmawati LeXcorp 06.00 – 09.00

16.00 – 19.00

2,48

1,17

Sumber : Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan (2011)

Kondisi jalan di Kota Jakarta Selatan terutama jalan utama pada setiap

kecamatan sangatlah baik. Hal ini dapat dilihat dari adanya jalur hijau berupa

pohon peneduh di tepian dan median jalan (Gambar 6) Seperti pada jalan Sultan

Iskandar Muda, Kecamatan Kebayoran Lama yang jalur hijau terletak pada

median jalan. Sebagian besar jalur hijau yang berada di median jalan merupakan

jalan yang dilewati busway, namun jalur hijau yang dominan di wilayah Jakarta

(36)

Intensitas kepadatan jalan (V/C Ratio) merupakan rasio antara volume lalu

lintas dengan kapasitas ruas jalan. Intensitas kepadatan jalan yang sesuai standar

penggunaan jalan yaitu berkisar antara 0,45 – 0,75. Standar intensitas kepadatan

[image:36.595.119.510.187.708.2]

jalan disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Standar intensitas kepadatan jalan

Tingkat

Pelayanan Karakteristik V/C Ratio

A

Kondisi arus bebas

Kecepatan tinggi

Volume lalu lintas rendah

0,00 – 0,20

B Arus stabil

Kecepatan mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas 0,21 – 0,44

C

Arus stabil

Kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan 0,45 – 0,75

D

Arus mendekati tidak stabil

Kecepatan masih dapat dikendalikan

V/C masih dapat ditolerir

0,76 – 0,84

E

Arus tidak stabil

Kecepatan kadang terhenti

Permintaan mendekati kapasitas

0,85 – 1,00

F

Arus dipaksakan

Kecepatan rendah

Volume dibawah kapasitas

Antrian panjang (macet)

> 1,00

Keterangan : V/C Ratio = Rasio perbandingan volume lalu lintas dengan kapasitas ruas

(37)

(a)

[image:37.595.112.511.85.369.2]

(b)

(38)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Pohon Sasaran

Hasil penelitian menunjukkan jumlah pohon peneduh di seluruh ruas jalan

contoh di Jakarta Selatan adalah 880 pohon, 231 pohon diantaranya termasuk

pohon sasaran (diameter batang ≥ 45 cm) (Lampiran 3). Pohon sasaran tersebut

tersebar di seluruh kecamatan di wilayah Jakarta Selatan. Kecamatan Pancoran

merupakan kecamatan yang memiliki jumlah pohon sasaran yang paling banyak

(41 pohon), kemudian di wilayah Kecamatan Kebayoran Baru (37 pohon),

kecamatan Jagakarsa (11 pohon), Kecamatan Setiabudi (26 pohon), Kecamatan

Kebayoran Lama (20 pohon), Kecamatan Tebet (19 pohon), Kecamatan Cilandak

(17 pohon), Kecamatan Pesanggrahan (15 pohon), Kecamatan Pasar Minggu (12

pohon), dan Kecamatan Mampang Prapatan (11 pohon). Jumlah pohon peneduh

yang berada di setiap kecamatan berbeda, sehingga jumlah pohon sasaran yang

akan diuji juga berbeda jumlahnya. Sebaran pohon sasaran dapat dilihat

selengkapnya pada Tabel 4.

Pohon angsana merupakan jenis pohon yang paling banyak ditemukan,

terutama di Kecamatan Kebayoran Lama dan Kecamatan Kebayoran Baru.

Jumlah pohon angsana yang diuji berjumlah 92 pohon atau sekitar 39,82% dari

total keseluruhan pohon yang diuji. Kemudian jenis mahoni juga mendominasi

sebagai pohon peneduh di wilayah Jakarta Selatan. Pohon mahoni yang diuji

berjumlah 78 pohon atau sekitar 33,77% . Selain itu, pohon peneduh yang banyak

ditemukan dan dilakukan pengujian yaitu pohon glodogan (16,88%) dan pohon

saga (6,50%). Ada beberapa jenis lain yang ditemukan dan dilakukan pengujian,

(39)
[image:39.595.99.533.106.462.2]

Tabel 4 Sebaran pohon sasaran di setiap kecamatan di wilayah Jakarta Selatan

No Kecamatan Ag Mh Gl Sg Kh Br Tj Kt Al Jumlah

Pohon

1 Pancoran 41 41 (17,75%)

2 Keb. Baru 37 37 (16,02%)

3 Jagakarsa 2 3 12 15 1 33 (14,29%)

4 Setiabudi 26 26 (11,25%)

5 Keb. Lama 18 2 20 (8,66%)

6 Tebet 3 13 1 1 1 19 (8,22%)

7 Cilandak 1 15 1 17 (7,36%)

8 Pesanggrahan 15 15 (6,49%)

9 Pasar minggu 7 4 1 12 (5,19%)

10 Mampang

Prapatan 9 1 1 11 (4,77%)

Total 92 78 39 15 2 2 1 1 1 231 (100%)

[image:39.595.116.516.527.738.2]

Keterangan : Ag = Angsana (Pterocarpus indicus); Gl = Glodogan (Polyalthia longifolia); Kh = Khaya (Khaya spp); Tj = Tanjung (Mimusops elengi); Al = Asam Londo (Pithecellobium dulce); Mh = Mahoni (Swietenia macrophylla); S = Saga (Adenanthera povonina); Br = Beringin (Ficus benjamina); Kt = Ketapang (Terminalia catappa)

Gambar 7 Persentase jenis pohon peneduh di Jakarta Selatan 39,82%

33,77% 16,88%

6,50% 3,03%

Angsana

Mahoni

Glodogan

Saga

(40)

Ditin Kebayoran Pesanggra Pancoran Sementara (11,25%) penelitian Berd berdiamet

angsana y

sasaran ya

Kecamata

diameter p

dengan di

dapat dilih

Sem

(24 m) ad

terendah ( 0 10 20 30 40 50 60

Jumlah Pohon (N)

njau dari lo

n Baru (16,

ahan (6,49%

(17,75%), K

a itu pohon

dan Keca

di 10 kecam

dasarkan d

ter 45cm -

yang lebih

ang memili

an Pancoran

paling kecil

iameter 45

hat pada Ga

Ga

mentara itu r

dalah jenis a

(5,5 m) juga

45≤DBH

56 43 35 okasinya, po 01%), Keca %). Pohon Kecamatan n glodogan amatan Jag matan Jakar diameter po 60cm dan banyak did ki diameter

n dengan dia

l yaitu jeni

cm. Klasif

ambar 8.

ambar 8 Kla

rata-rata tin

angsana yan

a jenis angs

H≤60 (65,37%)

14

1 1 1

Kelas

ohon angsan

amatan Keb

mahoni s

Cilandak (6

sebagian b

gakarsa (5,

rta Selatan d

ohon, sebag

34,63% be

dapati pada

r paling bes

ameter 114

is glodogan

fikasi diame

asifikasi dia

ggi pohon s

ng berada d

sana di Kec

) D 36 3 1 s Diameter na sebagian bayoran Lam ebagian be 6,49%), dan besar berad ,19%). Leb disajikan pa gian besar erdiameter

a dua kelas

sar yaitu je

cm dan po

n yang bera

eter pohon

ameter poho

sasaran ada

di Kecamata

camatan Keb

DBH>60 (34,6

35

4

1 1 1

Pohon

besar berad

ma (7,79%)

esar berada

n Kecamatan

da di Kecam

bih detail

ada Lampira

(65,37%)

diatas 60 c

s diameter

enis mahoni

ohon sasaran

ada di Keca

sasaran di

on sasaran

alah 11,9 m,

an Tebet, s

bayoran Ba 3%)

1 1 1

da di Kecam

, dan Kecam

a di Kecam

n Tebet (5,6

matan Seti

sebaran p

an 2.

pohon sa

cm dengan

tersebut. P

i yang bera

n yang mem

amatan Seti

i Jakarta Se

, pohon tert

edangkan p

aru. Contoh Angsana Mahoni Glodoga Saga Khaya Beringin Tanjung Ketapan

Asam Lo

(41)

pohon peneduh yang sebagian besar berada di Kota Jakarta Selatan dapat dilihat

pada Gambar 9.

[image:41.595.127.501.134.395.2]

(a) (b)

Gambar 9 Contoh jenis pohon peneduh Kota Jakarta Selatan: angsana (a) dan mahoni (b)

5.2 Evaluasi Kesehatan Pohon Secara Visual

Hasil pemantauan kesehatan pohon secara visual menunjukkan bahwa

sebagian besar (86,15%) pohon sasaran yang diuji mengalami kerusakan yang

diakibatkan penyakit, serangga dan penyebab abiotik lainnya. Hanya 13,85 %

pohon sasaran tampak sehat dan tidak mengalami gejala kerusakan (Lampiran 6).

Kerusakan yang dialami yaitu kanker (16,45%), luka terbuka (16,02%), gerowong

(9,52%), keropos akibat serangan rayap (5,20%). Hampir seluruh pohon peneduh

di setiap kecamatan Kota Jakarta Selatan mengalami kerusakan dan abnormal

dalam pertumbuhan. Hal ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor yang

ditimbulkan dari internal pohon dan eksternal berupa kegiatan manusia yang

sering merusak dan mengganggu keberadaan pohon. Kondisi pohon sasaran

(42)
[image:42.595.110.512.82.325.2]

Gambar 10 Kondisi pohon sasaran berdasarkan gejala deteriorasi yang ditemukan

Banyaknya faktor yang menimbulkan kerusakan pada pohon peneduh,

sehingga mengakibatkan pohon menjadi rawan tumbang dan mengancam

keselamatan pengguna jalan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya gejala kerusakan

fisik yang dapat ditemukan pada pohon peneduh. Gejala deteriorasi yang sering

dijumpai adalah sebagai berikut :

1. Kanker

Gejala kerusakan visual berupa kanker merupakan kerusakan yang sering

dijumpai pada pohon sasaran. Tipe deteriorasi ini sebagian besar menyerang

pohon angsana dan mahoni. Kerusakan ini banyak dijumpai pada pohon angsana

yang berada di Kecamatan Kebayoran Baru dan Kecamatan Pesanggrahan. Selain

itu, sebagian kecil juga dijumpai pada jenis mahoni yang berada di Kecamatan

Pancoran dan Kecamatan Cilandak (Gambar 11). Gejala kerusakannya

ditunjukkan dengan permukaan kulit yang biasanya tertekan kebawah atau bagian

kulitnya pecah sehingga terlihat bagian kayunya. Selain itu, kanker menyerang

pada bagian berkambium sehingga mematikan fungsi pengangkutan unsur hara

dan penyaluran nutrisi.

Sementara itu, hasil pengujian nondestruktif yang juga digunakan dalam

mengevaluasi kesehatan pohon sasaran menunjukkan nilai kecepatan rambatan 16,02%

9,52%

9,10%

16,45% 6,49%

5,20% 23,37%

13,85%

Luka terbuka

Gerowong

Perubahan warna daun

Kanker

Mata kayu

Keropos akibat serangan rayap

lain‐lain

(43)

gelombang ultrasonik yang rendah pada pohon sasaran yang mengalami

kerusakan kanker. Hal ini memberikan pengaruh terhadap kerusakan yang terjadi

pada bagian dalam batang pohon tersebut.

[image:43.595.153.401.152.368.2]

Gambar 11 Kanker pada batang mahoni

2. Luka terbuka

Tipe deteriorasi ini ditemukan hampir di seluruh kecamatan di Jakarta

Selatan. Luka terbuka dapat diakibatkan oleh benda tajam seperti tebasan golok

dan luka akibat sambaran petir. Luka ini nantinya akan menjadi tempat berbagai

jenis patogen untuk hidup di dalam batang. Menurut Dahlan (1992), luka terbagi

menjadi 2 bagian yaitu : a) luka yang terbatas hanya pada kulit luar saja dan b)

luka yang terjadi pada kulit luar, kulit dalam dan juga luka pada kayu gubal dan

kayu teras. Sebagian besar luka terbuka yang dialami oleh pohon sasaran yaitu

luka hingga kulit dalam (Gambar 12).

Sebagian besar luka terbuka dijumpai pada jenis angsana yang banyak

disebabkan oleh perlukaan benda tajam berupa vandalisme. Apabila luka

dibiarkan terbuka maka akan sangat mudah bagi patogen memasuki batang

(44)
[image:44.595.224.400.87.299.2]

Gambar 12 Luka terbuka pada batang pohon angsana

3. Gerowong

Kerusakan visual berupa gerowong dapat dicirikan dengan adanya lubang

pada batang pohon yang cukup besar (Gambar 13). Sebagian besar tipe deteriorasi

ini banyak dijumpai pada pangkal batang pohon terutama pada jenis angsana yang

berada di Kecamatan Kebayoran Baru. Selain itu pohon yang mengalami

deteriorasi ini juga megalami kerusakan berupa batang pohon yang keropos,

tampak lapuk, dan banyak tunnel. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya luka

mekanis berupa goresan benda tajam dan menjadi tempat membakar sampah yang

dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

[image:44.595.225.398.521.734.2]
(45)

4. Perubahan warna daun

Tipe kerusakan daun berubah warna banyak dijumpai pada jenis angsana

dan mahoni yang berada di Kecamatan Cilandak, Kecamatan Kebayoran Baru,

dan Kecamatan Pesanggrahan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan

daun yaitu gas-gas yang dikeluarkan oleh emisi dari kendaraan bermotor.

Misalnya di Kecamatan Cilandak dimana padatnya lalu lintas terutama jalan

Fatmawati sebagai jalan sasaran secara tidak langsung memberikan tekanan

terhadap pohon. Menurut Fakuara (1986), pohon dan segala jenis tanaman paling

sensitif terhadap SO2, polutan ini masuk ke dalam daun melalui stomata dan

bereaksi di dalam sel menyebabkan rusaknya daun/matinya jaringan tanaman.

Kerusakan dapat kronis/tidak tergantung pada tingkat pencemaran dan tingkat

ketahanan dari tanaman itu sendiri.

5. Keropos akibat serangan rayap

Tipe kerusakan ini sebagian besar ditemukan pada jenis glodogan dan

angsana dengan persentase 5,20%. Pohon glodogan yang berada di jalan HR

Rasuna Said Setiabudi rata-rata mengalami keropos akibat serangan rayap. Hal ini

dapat dilihat dari kondisi pohon tampak lapuk dan ketika kulit pohon dikelupas,

banyak rayap yang sudah menggerogoti pohon glodogan (Gambar 14).

[image:45.595.133.489.477.698.2]

(a) (b)

(46)

6. Mata kayu

Kerusakan visual berupa mata kayu sebagian besar ditemukan pada jenis

angsana yang berada di Kecamatan Kebayoran Baru. Mata kayu yang ditemukan

pada pohon sasaran yaitu mata kayu lepas seperti pada Gambar 15. Nilai

kecepatan rambatan gelombang ultrasonik yang juga digunakan sebagai

pendekatan dalam mendeteksi kondisi pohon akan menurun apabila melewati

mata kayu dan serat miring di sekitar mata kayu, karena dengan adanya mata

[image:46.595.224.401.248.463.2]

kayu orientasi serat akan menyimpang.

Gambar 15 Kerusakan mata kayu lepas pada batang pohon angsana

7. Kerusakan kuncup, daun atau tunas

Tipe kerusakan ini ditemukan sebagian besar pada jenis mahoni dengan

persentase 4,33% yang tersebar di beberapa kecamatan Jakarta Selatan. Gejala

kerusakannya berupa daun yang termakan serangga, terkerat atau terkeliat ataupun

terserang jamur termasuk kuncup atau tunas, akibatnya daun-daun rontok dan

proses fotosintesis menjadi terganggu. Selain itu kerusakan yang dapat terjadi

yaitu cabang pohon yang mati dan tidak terdapat daun yang tumbuh (Gambar 16).

Matinya cabang ini dapat disebabkan oleh gugurnya daun akibat terserang

penyakit gugur daun dan dapat pula disebabkan oleh patahnya cabang, akan tetapi

cabang ini masih melekat pada batang tajuk utama dan masih memiliki daun yang

(47)
[image:47.595.221.401.84.298.2]

Gambar 16 Daun gugur pada pohon mahoni

8. Lapuk

Gejala yang terlihat dari kerusakan ini adalah adanya jamur yang

menyerang batang pohon. Kondisi ini mengakibatkan pohon menjadi lapuk dan

mudah terserang patogen lainnya. Tipe kerusakan seperti yang ditunjukkan pada

Gambar 17, sebagian besar dialami oleh pohon saga yang berada di Kecamatan

[image:47.595.220.402.456.672.2]

Jagakarsa dan juga beberapa pohon angsana.

(48)

9. Konk atau lapuk hati

Tipe kerusakan lapuk hati/konk menunjukkan gejala bagian batang

terserang mati, terurai dan berwarna coklat. Identifikasi untuk lapuk hati antara

lain adanya tubuh buah. Tubuh buah yang dijumpai tampak di permukaan bagian

pohon yan terserang berbentuk seperti benjolan bulat berwarna coklat (Gambar

18). Tipe kerusakan ini menyebabkan meningkatnya resiko penurunan penyerapan

air dan unsur hara sehingga mengakibatkan pohon mudah roboh oleh angin

(Widyastuti et al. 2005). Sebagian besar kerusakan ini ditemukan pada jenis angsana yang tersebar di beberapa kecamatan Jakarta Selatan. Keberadaan tubuh

buah pada pohon mengindikasikan pohon tersebut mengalami lapuk hati. Hal ini

diperkuat dengan hasil pengujian non destruktif yang menunjukkan bahwa nilai

kecepatan rambatan gelombang yang dirambatkan pada pohon tersebut menjadi

[image:48.595.222.401.361.567.2]

lebih lambat, dikarenakan adanya hambatan internal dalam batang.

Gambar 18 Indikator lapuk lanjut berupa tubuh buah jamur pada batang pohon angsana

10. Tumbuhan pengganggu

Tipe deteriorasi ini sebagian besar ditemukan pada jenis pohon saga dan

glodogan yang berada di Kecamatan Jagakarsa. Tumbuhan pengganggu berupa

benalu melilit batang pohon sehingga kondisi pohon hampir seluruhnya tertutupi

(49)
[image:49.595.222.402.83.291.2]

Gambar 19 Tumbuhan pengganggu yang melilit batang pohon saga

11. Eksudasi berupa resinosis

Eksudasi adalah keluarnya cairan dari bagian tanaman yang sakit. Eksudasi

yang ditemukan pada jenis mahoni di Kecamatan Pasar Minggu yaitu resinosis,

yang artinya cairan yang keluar berupa resin. Tipe kerusakan ini hanya sebagian

kecil dijumpai yaitu sebanyak 0,43%. Resinosis pada mahoni dapat dilihat pada

[image:49.595.222.400.453.663.2]

Gambar 20.

Gambar 20 Resinosis pada batang pohon mahoni

Sebagian besar masyarakat kurang sadar akan pentingnya manfaat dan

fungsi pohon peneduh. Hal ini dapat dilihat banyaknya pohon peneduh yang

(50)

21). Paku atau benda tajam yang berfungsi menyandarkan baliho atau iklan

mengakibatkan luka mekanis pada batang pohon. kerusakan ini akan

menimbulkan kerusakan yang lebih parah apabila patogen menyerang luka

[image:50.595.191.431.172.344.2]

tersebut.

Gambar 21 Luka mekanis pada batang pohon angsana

Kecamatan Pasar Minggu terdapat jenis yang jarang difungsikan sebagai

pohon peneduh yaitu jenis pohon khaya (khaya spp). Pohon khaya termasuk ke dalam keluarga pohon Mahagony yang aslinya berasal dari negara tropis Afrika dan Madagaskar. Pohon khaya memiliki ciri-ciri yaitu dapat mencapai tinggi 50

m, diameter 150 cm, batang lurus dan silindris, kulit batang halus, warna abu-abu

dan coklat bercoreng (Bpthbalinusra 2009). Secara visual, jenis khaya spp ini tidak mengalami kerusakan. Pertumbuhan pohon yang baik dengan batang lurus

mengindikasikan bahwa pohon dalam kondisi sehat. Hal ini di dukung oleh nilai

pengujian kecepatan rambatan gelombang ultrasonik yang bernilai tinggi.

5.3 Evaluasi Berbasis Gelombang Ultrasonik

Hasil penelitian menunjukkkan bahwa hanya 11,26% pohon di Kota Jakarta

Selatan memiliki nilai kecepatan rambatan gelombang ultrasonik > 1600 m/detik

yang sebagian besar adalah jenis mahoni dan angsana. Nilai kecepatan rambatan

tersebut mengartikan bahwa pohon tidak mengalami kerusakan dibagian dalam

batang. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Wang dan Robert (2002), bahwa nilai

kecepatan rambatan pada pohon berdiri yang sehat yaitu sekitar 1500 m/detik

(51)

sasaran yang sehat berdasarkan kecepatan gelombang ultrasonik tidak berbeda

jauh dengan persentase penilaian kesehatan pohon secara visual yaitu 13,85%.

Sebagian besar pohon yang tidak mengalami kerusakan fisik memiliki nilai

kecepatan rambatan gelombang ultrasonik > 1600 m/detik.

Sementara itu pohon yang mengalami tanda adanya deteriorasi pada bagian

dalam batangnya mencapai 88,74% dimana merupakan jenis glodogan dan

angsana yang memiliki nilai kecepatan rambatan < 500 m/detik. Nilai kecepatan

rambatan yang rendah dapat mengindikasikan bahwa pohon mengalami kerusakan

dalam batang. Adanya kerusakan dalam batang pohon membuat rambatan

gelombang ultrasonik terganggu sehingga waktu rambatan menjadi lebih lama.

Hal ini didukung dengan pernyataan Wang et al. (2004) bahwa waktu transmisi untuk kayu yang mengalami kerusakan jauh lebih lama dibandingkan kayu yang

tidak mengalami kerusakan. Sebaran kesehatan pohon di wilayah Jakarta Selatan

selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.

Ditinjau dari jenis pohonnya, sebagian besar jenis pohon yang termasuk ke

dalam kategori kecepatan I adalah jenis angsana dan mahoni, sementara itu jenis

pohon yang termasuk ke dalam kategori kecepatan V adalah jenis glodogan dan

angsana. Jumlah pohon sasaran berdasarkan kategori kecepatan rambatan

gelombang ultrasonik dapat dilihat selengkapnya pada Gambar 22.

Gambar 22 Jumlah pohon sasaran berdasarkan kategori kecepatan rambatan gelombang ultrasonik 0 5 10 15 20 25 30

I  II III IV V

Angsana  Mahoni  Glodogan  Saga  Beringin  Khaya 

Asam Londo 

Tanjung 

Ketapang 

Jum

lah (N)

Kategori Kecepatan Rambatan Gelombang Ultrasonik

KATEGORI v

I   : Sehat II  : Cukup sehat III : Sedang IV : Cukup sakit

V :  Sakit

[image:51.595.114.512.487.709.2]
(52)

Sementara itu ditinjau dari lokasinya, sebagian pohon yang termasuk ke

dalam kategori kecepatan I (sehat) berada di Kecamatan Tebet dan Kecamatan

Pasar Minggu, sedangkan pohon yang termasuk ke dalam kategori kecepatan V

atau yang mengalami kerusakan pada bagian dalam batang sebagian besar berada

di Kecamatan Kebayoran Baru dan Kecamatan Jagakarsa. Jumlah pohon sasaran

setiap kecamatan berdasarkan kategori kecepatan rambatan gelombang ultrasonik

[image:52.595.115.517.238.489.2]

dapat dilihat selengkapnya pada Gambar 23.

Gambar 23 Jumlah pohon sasaran di setiap kecamatan berdasarkan kategori kecepatan rambatan gelombang ultrasonik

Jenis angsana, mahoni dan glodogan merupakan jenis pohon peneduh yang

mendominasi wilayah Jakarta Selatan. Pemantauan kesehatan pohon ini sangat

penting karena keberadaanya hampir di setiap kecamatan. Pada jenis mahoni,

hanya 11 pohon sasaran atau 14,10% yang menunjukkan nilai kecepatan rambatan

gelombang ultrasonik > 1600 m/detik dari 78 pohon mahoni yang diuji, tersebar

di Kecamatan Cilandak, Kecamatan Pasar Minggu, Kecamatan Jagakarsa,

Kecamatan Tebet, Kecamatan Pancoran, dan Kecamatan Kebayoran Lama.

Rata-rata nilai kecepatan rambatan gelombang ultrasonik pohon mahoni di

Kecamatan Pancoran dan Kecamatan Kebayoran Lama lebih rendah dibandingkan

dengan kecamatan lain yang juga memiliki pohon mahoni yaitu sebesar 847 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

I II III IV V

Pancoran

Kebayoran Baru

Jagakarsa Setiabudi

Kebayoran Lama

Tebet Cilandak

Pasar Minggu

Pesanggrahan 

Mampang Prapatan

Jum

lah

(N)

Kategori Kecepatan Rambatan Gelombang Ultrasonik

KATEGORI v 

I : Sehat

II  : Cukup sehat III : Sedang IV : Cukup sakit

(53)

m/detik dan 536 m/detik. Hal ini dapat diakibatkan oleh kondisi tempat tumbuh

pohon di Jalan Raya Pasar Minggu Pancoran yang berada di bagian trotoar jalan.

Kondisi ini dapat mengganggu proses penyerapan unsur hara pada pohon

sehingga pertumbuhan pohon menjadi terganggu dan rentan terserang patogen.

Berbeda dengan tempat tumbuh jenis mahoni di Jalan Tanjung Barat Pasar

Minggu yang tumbuh di atas tanah tanpa ditutupi oleh trotoar maupun aspal jalan

dan memiliki rata-rata nilai kecepatan rambatan yang cukup tinggi yaitu 1368

m/detik. Selain itu intensitas kepadatan Jalan Raya Pasar minggu Pancoran dan

Jalan Sultan Iska

Gambar

Tabel 1 Nama jalan dan panjang jalan contoh di setiap kecamatan
Gambar 2 Penempatan transduser SylvatestDuo® pada batang pohon sasaran
Gambar 4 Contoh uji kerapatan kayu pohon sasaran
Gambar 5 Contoh kayu dari batang pohon sasaran yang telah dibungkus aluminium foil
+7

Referensi

Dokumen terkait

burnetii pada organ hati dan paru hewan kurban sapi yang dikoleksi pada perayaan Idul Adha tahun 2012 di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan, dengan menggunakan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis pohon peneduh jalan di Kawasan Industri Medan (KIM) 1 dan terminal Pinang Baris, jenis pohon yang memiliki kadar timbal (Pb)

Guru Dewasa Tk.I SMP Islam Al - Azhar 2 Pasar Minggu Kota Jakarta Selatan DKI

Dan yang keempat yaitu Spesies burung tekukur biasa ( Streptopelia chinensis ) dengan jumlah 8 titik persebaran dan spesies ini paling dominan bertengger di pohon peneduh

Dari latar belakang diatas, maka pada penelitian ini mengambil judul “ANALISIS KETIMPANGAN PEMBANGUNAN WILAYAH DI PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 1995-2008” untuk menghitung seberapa

Sungai Ciliwung mengalir dari arah Selatan menuju Utara, melintasi Wilayah Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok) dan Provinsi DKI Jakarta dengan

Sisi Renia Alviani, Yani Osmawati Tinjauan Teori Kriminologi Kultural terhadap Pemaknaan Tawuran: Studi Kasus Tawuran di Wilayah Manggarai, Jakarta Selatan Penelitian akan terpusat

Penelitian ini bertujuan untuk melihat besarnya perbedaan pembangunan antar wilayah di Provinsi DKI