• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aplikasi pendekteksian kerusakan dini pada mobil bermotor bensin berbasis sistem pakar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Aplikasi pendekteksian kerusakan dini pada mobil bermotor bensin berbasis sistem pakar"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun Oleh:

Sholihul Anwar

206070004193

Fakultas Psikologi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta

(2)

i

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat-syarat

memperoleh gelar Sarjana Psikologi

Oleh :

Sholihul Anwar

Nim : 206070004193

Dibawah Bimbingan

Pembimbing I

Pembimbing II

Yunita Faela Nisa, M.Psi.,Psi Natris Idriyani, M.Si

NIP. 19770608 200501 2003 NIP. 150 411 200

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

ii

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI”, telah

dujikan dalam sidang munaqosyah Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada

tanggal 15 Maret 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu prasyarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Program Strata 1 (Satu) pada Fakultas Psikologi.

Jakarta, 15 Maret 2011

Sidang Munaqosyah

Dekan / Pembantu Dekan Bidang

Ketua Merangkap Anggota Akademis/Merangkap Anggota

Jahja Umar, Ph.D Dra. Fadhilah Suralaga, M.Si

NIP. 130855522 NIP. 195612231983032001

Anggota

Dra. Netty Hartati, M.Si S. Evangeline I. Suaidy, M.Si.,Psi

NIP. 195310021983032001 NIP. 150 411 217

(4)

iii Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Sholihul Anwar

Nim : 206070004193

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengaruh Tingkat Religiusitas Terhadap Pemilihan Jenis Coping StresMahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Yang Sedang Menyusun Skripsi” adalah benar merupakan karya saya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam penyusunan skripsi tersebut. Adapun kutipan-kutipan dalam

penyusunan skripsi ini telah saya cantumkan sumber pengutipannya dalam daftar pustaka.

Saya bersedia untuk melakukan proses yang semestinya sesuai dengan Undang-Undang jika

ternyata skripsi ini secara prinsip merupakan plagiat atau jiplakan dari karya orang lain.

Demikian pernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sebaik-baiknya.

Jakarta, 26 Februari 2011

SHOLIHUL ANWAR

(5)

iv (B) Januari 2011

(C) Sholihul Anwar

(D) 114 halaman + lampiran

(E) Pengaruh Tingkat Religiusitas Terhadap Pemilihan Jenis Coping Stres Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Yang Sedang Menyusun Skripsi.

(F) Salah satu kegiatan yang dilakukan mahasiswa peserta akademik di lingkungan perguruan tinggi adalah melakukan penelitian. Hasil penelitian itu kemudian disusun dan ditulis dalam suatu karya tulis ilmiah untuk dipertanggung-jawabkan pada akhir program pendidikan mereka. Bagi mahasiswa peserta Program Sarjana atau Program Strata 1 (Program S1) karya tulis tersebut disebut skripsi. Namun skripsi dapat menjadi sumber yang potensial dalam menimbulkan stress pada mahasiswa semester akhir. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa stress dengan memerlukan sumber daya biologis, psikologis maupun sosial, sumber-sumber ini dinamakan sumber coping. Dan salah satu hal yang dapat dijadikan sumber coping adalah religiusitas. Religiusitas adalah keyakinan, penghayatan, pengalaman, pengetahuan dan peribadatan seorang penganut agama terhadap agamanya yang diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari sebagai pengakuan akan adanya kekuatan tertinggi yang menaungi kehidupan manusia di dunia dan akhirat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat religiusitas terhadap pemilihan jenis coping stres mahasiswa fakultas psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang menyusun skripsi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif dengan menggunakan jenis penelitian korelasional prediktif yaitu penelitian yang memfokuskan pada pengukuran terhadap satu variabel atau lebih yang dapat dipakai untuk memprediksi atau meramal kejadian di masa yang akan datang atau variabel lain.

(6)

v

Hasil penelitian secara umum menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan tingkat religiusitas dengan pemilihan jenis coping stres yang dilakukan mahasiswa fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang menyusun skripsi. Meskipun tidak memiliki pengaruh yang signifikan, namun berdasarkan data analisis regresi logistik biner juga diperoleh nilai Cox & Snell R Square sebesar 0.256, yang berarti bahwa seluruh variabel independent yang diteliti memberikan sumbangsih sebesar 25.6% terhadap pemilihan jenis coping stres yang dilakukan mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang menyusun skripsi, sedangkan 74.4 % sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada penelitian ini disebabkan karena alat ukur religiusitas yang digunakan masih bersifat secara umum dan belum mengukur terkait dengan coping stres yang dilakukan mahasiswa. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya lebih memperhatikan alat ukur yang akan digunakan. Dan peneliti selanjutnya sebaiknya menambahkan atau menggunakan variabel lain selain religiusitas, diantaranya adalah dukungan sosial.

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmat dan karunia-Nya setiap saat, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Pengaruh Tingkat Religiusitas Terhadap Pemilihan Jenis Coping Stres Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Yang Sedang Menyusun Skripsi”. Shalawat serta salam semoga tetap Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, atas segala perjuangannya

sehingga kita dapat merasakan indahnya hidup di bawah naungan Islam.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak dapat terlepas dari bantuan

berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankanlah penulis untuk mengucapkan terima kasih yang

tak terhingga kepada :

1. Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Bapak Jahja Umar, Ph.D, seluruh

dosen dan seluruh staf karyawan fakultas yang telah banyak membantu dalam menuntut

ilmu di Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah.

2. Ibu Yunita Faela Nisa, M.Psi.,Psi dosen pembimbing I dan juga sebagai Pembimbing

Akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan yang sangat berarti dengan

segenap kesabarannya, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan maksimal.

3. Ibu Natris Indriani, M.Si, dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan arahan,

bimbingan, dan masukan yang teramat bermanfaat dalam penyelesaian penelitian ini.

4. Untuk kedua orangtuaku H. Sarpani dan Hj. Sugini, serta adik-adikku M. Faiz Fairuz dan

M. Aflahassyarif Multazam, terimakasih atas semua dukungan, sumber inspirasi,

semangat, kasih sayang serta doa yang telah kalian berikan kepada peneliti untuk selalu

meneruskan perjuangan ini agar mencapai yang terbaik. Semoga Allah SWT membalas

(8)

vii

segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

7. Seseorang yang selalu memberi inspirasi, dukungan, semangat, dan doa selama penulis

menyusun skripsi. Semoga kamu akan selalu terus ada di hatiku.

8. Seluruh mahasiswa Fakultas Psikologi, terima kasih atas waktunya dan kesediaannya

untuk menjadi responden.

9. Teman-teman Fakultas Psikologi Non-Reguler Angkatan 2006, terima kasih atas

dukungan dan semangat yang kalian berikan kepada peneliti.

10. Kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, karena dukungan

dan pengertian mereka sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Hanya doa yang

dapat penulis panjatkan kepada semua pihak yang telah membantu penulis semoga

mendapatkan balasan pahala berlipat ganda dari Allah SWT.

Peneliti menyadari dengan segala semua kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki

dalam penyusunan skripsi ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu peneliti mengucapkan

maaf yang sebesar-besarnya. Mudah-mudahan penelitian ini dapat bermanfaat sebagai mana

mestinya, terutama untuk peneliti sendiri.

Akhirnya penulis ucapkan terima kasih sekali lagi untuk semua pihak yang sudah

membantu penyelesaian laporan penelitian ini. Wassalam.

Jakarta, 26 Februari 2011

(9)

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ………. i

HALAMAN PENGESAHAN ……….. ii

HALAMAN PERNYATAAN ……….. iii

ABSTRAKSI ………. iv

KATA PENGANTAR ……….. vi

DAFTAR ISI ………. viii

DAFTAR TABEL ………. xii

DAFTAR GAMBAR ……… xiv

DAFTAR LAMPIRAN ……… xv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Pembatasan Masalah ... 8

1.3 Perumusan Masalah ... 9

1.4 Tujuan Penelitian ... 9

1.5 Manfaat Penelitian ... 10

1.6 Sistematika Penulisan ... 10

BAB 2 LANDASAN TEORI ... 12

2.1 Coping Stres ... 12

2.1.1 Definisi Stres ... 12

(10)

ix

2.1.4.2 Coping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping) ... 18

2.2 Religiusitas ... 19

2.2.1 Definisi Religiusitas ... 19

2.2.2 Dimensi Religiusitas ... 21

2.2.3 Sumber-sumber Munculnya Sikap Religiusitas ... 24

2.3 Kerangka Berpikir ... 25

2.4 Hipotesis Penelitian ... 28

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 30

3.1 Pendekatan Penelitian ... 30

3.2 Variabel Penelitian ... 31

3.2.1 Identifikasi Variabel ... 31

3.2.2 Definisi Konseptual Variabel ... 31

3.2.3 Definisi Operasional Variabel ... 32

3.3 Populasi dan Sampel ... 33

3.3.1 Populasi ... 33

3.3.2 Sampel ... 34

3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel ... 34

3.4 Pengumpulan Data ... 34

3.4.1 Skala Religiusitas ... 35

3.4.2 Skala Coping Stres ... 39

(11)

x

3.4.3.2 Uji Reliabilitas ... 45

3.4.3.3 Hasil uji coba alat ukur ... 45

3.5 Teknik Analisis Data dan Uji Hipotesis ... 49

3.6 Prosedur Penelitian ... 50

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 51

4.1 Gambaran Umum Responden Penelitian ... 51

4.2 Deskripsi Data ... 52

4.2.1 Interpretasi tingkat religiusitas ... 54

4.2.1.1 Interpretasi Dimensi Iman ... 54

4.2.1.2 Interpretasi Dimensi Islam ... 55

4.2.1.3 Interpretasi Dimensi Amal ... 57

4.2.1.4 Interpretasi Dimensi Ilmu ... 58

4.2.1.5 Interpretasi Dimensi Ikhsan ... 59

4.2.2 Interpretasi tingkat Coping Stres ... 61

4.2.2.1 Interpretasi Problem Focus Coping ... 61

4.2.2.2 Interpretasi Emotion Focus Coping ... 62

4.3 Pemilihan Jenis Coping stres yang dilakukan Mahasiswa ... 64

4.4 Analisis Data ... 64

4.4.1 Hasil Uji Regresi ... 64

(12)

xi

BAB 5 KESIMPULAN DISKUSI & SARAN ……….. 69

5.1 Kesimpulan ... 69

5.2 Diskusi ... 71

5.3 Saran ... 72

5.3.1 Saran Teoritis ... 73

5.3.2 Saran Praktis ... 74

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Skor Skala Likert ... 41

Tabel 3.2 Blue Print Skala Religiusitas ... 43

Tabel 3.3 Blue Print Skala Problem Focus Coping ... 46

Tabel 3.4 Blue Print Skala Emotion Focus Coping ... 49

Tabel 3.5 Klasifikasi Koefisien Reliabilitas ... 51

Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas Skala Religiusitas ... 53

Tabel 3.7 Hasil Uji Validitas Skala Coping Stres... 53

Tabel 3.8 Hasil Uji Validitas Skala Coping Stres... 54

Tabel 3.9 Koefisien Reliabilitas Instrumen Penelitian ... 55

Tabel 4.1 Latar Belakang Responden Berdasarkan Jenis kelamin ... 57

Tabel 4.2 Deskripsi Statistik perolehan dan teoritik Skor Skala Tingkat Religiusitas dan Skala Coping Stres ... 58

(14)

xiii

Tabel 4.6 Kategori dalam perolehan skor Dimensi Islam ... 62

Tabel 4.7 Tabel interpretasi Skor Dimensi Amal ... 63

Tabel 4.8 Kategori dalam perolehan skor Dimensi Amal ... 63

Tabel 4.9 Tabel interpretasi Skor Dimensi Ilmu ... 64

Tabel 4.10 Kategori dalam perolehan skor Dimensi Ilmu ... 65

Tabel 4.11 Tabel interpretasi Skor Dimensi Ikhsan ... 65

Tabel 4.12 Kategori dalam perolehan skor Dimensi Ikhsan ... 66

Tabel 4.13 Tabel interpretasi Skor Problem Focus Coping ... 67

Tabel 4.14 Kategori dalam perolehan skor Problem Focus Coping ... 68

Tabel 4.15 Tabel interpretasi Skor Emotion Focus Coping ... 68

Tabel 4.16 Kategori dalam perolehan skor Emotion Focus Coping ... 69

Tabel 4.17 Omnibus Tests of Model Coefficients ... 70

Tabel 4.18 Model Summary ... 71

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

2.1 Gambar Kerangka Berpikir Penelitian Pengaruh Tingkat religiusitas

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Angket Try Out

Lampiran 2 Skoring Religiusitas Try Out

Lampiran 3 Skoring Coping Stres Try Out

Lampiran 4 Hasil Uji Validitas Dan Reliabilitas

Lampiran 5 Angket Field Tes

Lampiran 6 Hasil Uji Regresi Logistik Biner

(17)

BAB 1

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan di bahas mengenai latar belakang masalah, pembatasan dan

perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

1.1 Latar Belakang

Tujuan seseorang meneruskan studinya ke jenjang perguruan tinggi adalah

untuk meraih taraf keilmuan yang lebih baik sehingga menjadi seorang sarjana yang

menguasai suatu ilmu serta memahami wawasan ilmiah yang luas. Dengan

meneruskan studi ke jenjang perguruan tinggi, seseorang diharapkan mampu bersikap

dan bertindak ilmiah dalam segala hal yang berkaitan dengan keilmuannya untuk

pengabdian kepada masyarakat. Namun pada kenyataannya untuk lulus studi di

perguruan tinggi bukanlah suatu hal mudah bagi seorang mahasiswa, karena

sebelumnya mahasiswa harus memenuhi semua persyaratan akademik yang

ditentukan oleh perguruan tinggi.

Salah satu kegiatan yang dilakukan mahasiswa peserta akademik di

lingkungan perguruan tinggi adalah melakukan penelitian. Hasil penelitian itu

kemudian disusun dan ditulis dalam suatu karya tulis ilmiah untuk

(18)

Sarjana atau Program Strata 1 (Program S1), karya ilmiah ini disebut skripsi, di

samping itu ada pula yang menyebut karya ilmiah.

Skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang disusun berdasarkan hasil

penelitian di perpustakaan, di lapangan atau di laboratorium. Tugas penulisan skripsi

merupakan salah satu syarat bagi mereka yang akan mencapai gelar akademik dalam

salah satu bidang ilmu yang menjadi keahliannya dalam program studi yang

dipilihnya.

Penelitian dan penulisan skripsi merupakan suatu rangkaian kegiatan.

Kegiatan itu melibatkan berbagai unsur dan dilakukan melalui beberapa tahapan yang

harus dilalui. Unsur-unsur yang terlibat dalam kegiatan itu adalah mahasiswa,

pembimbing, penguji, pemimpin jurusan dan pemimpin fakultas (Bisri, 2001).

Sedangkan tahapan kegiatan itu meliputi perencanan penelitian, pelaksanaan

penelitian, dan penulisan skripsi. Tentunya di dalam penulisan skripsi nantinya akan

dilakukan identifikasi masalah, merumuskan dan membatasi masalah, menyusun

hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis data, serta menguji hipotesis dan menarik

kesimpulan. Tahap-tahap yang dilalui oleh mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi

kadang tidak selalu berjalan mulus dan lancar terkadang menemui

hambatan-hambatan pada setiap tahapan. Hal inilah yang dapat menjadi faktor penyebab

(19)

Data akademik fakultas Psikologi menjelaskan jumlah mahasiswa Psikologi

sejak angkatan 2001 - 2005 berjumlah kurang lebih 947 mahasiswa, dan mahasiswa

yang telah dinyatakan lulus sejak angkatan 2001 - 2005 berjumlah 547 mahasiswa,

artinya masih terdapat 400 mahasiswa yang belum dinyatakan lulus. Hal ini antara

lain disebabkan karena beberapa kendala diantaranya mahasiswa yang tidak lulus

mata kuliah pra-syarat, cuti, dan juga mahasiswa yang tiba-tiba menghilang karena

stress mengerjakan skripsi, karena merasa stress mahasiswa tersebut tidak lagi datang

ke kampus dan selalu menghindari dosen pembimbing dan berharap dosen

pembimbing lupa terhadap dirinya, serta hambatan-hambatan lainnya pada saat

mahasiswa menyusun skripsi (Akademik Fakultas Psikologi UIN, 2010).

Beberapa hambatan yang biasanya dialami mahasiswa UIN dalam

mengerjakan skripsi yaitu kesulitan menemukan ide atau topik yang akan dijadikan

sebuah penelitian, kesulitan menentukan referensi yang dibutuhkan, melakukan revisi

perbaikan berkali-kali, kesulitan mencari data penelitian, banyak referensi yang harus

dibaca, kesulitan mencari sampel penelitian, kesulitan dalam menuliskan kata-kata,

kesulitan membuat pendahuluan (BAB I) mulai menulis dari mana, muncul perasaan

bosan, malas, bingung karena apa yang menjadi harapan penulis tidak sesuai dengan

harapan pembimbing skripsi, beberapa pembimbing skripsi yang sulit diajak

berkomunikasi, pembimbing skripsi yang sulit ditemui, pembimbing skripsi yang

meminta teori tetapi rujukannya tidak ditemukan, tuntutan orang tua agar secepatnya

(20)

rusak, tinta print habis sehingga menghambat pengerjaan skripsi (Anggie Yuvinanda,

2009).

Selain itu menurut Lutfin Ahmad (dalam Mage & Priyowidodo, 2005) dalam

tulisannya berjudul “Skripsi dan Gelar Sarjana Hitam”, menjelaskan ada beberapa

faktor yang menyebabkan ketidakmampuan mahasiswa menulis skripsi, diantaranya:

mahasiswa kurang menguasai metode penelitian, mahasiswa yang kurang menguasai

bahasa Indonesia dengan baik dan benar, kurangnya membaca buku-buku yang

berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, dan mahasiswa tersebut tidak terbiasa

menulis. Hal-hal tersebut juga banyak terjadi pada mahasiswa Fakultas Psikologi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa skripsi dapat menjadi sumber

yang potensial dalam menimbulkan stress pada mahasiswa semester akhir. Keadaan

stress dapat dijumpai dalam bidang apapun dan dengan tipe manusia apapun. Namun

pada hakikatnya, stress menurut definisinya adalah keadaan yang tidak

menyenangkan yang disebabkan adanya kesenjangan antara tuntutan dan realita

(Bagus, 2008). Jika seseorang beranggapan bahwa tuntutan dalam situasi melebihi

kemampuannya, orang tersebut mengalami stress. Proses mengerjakan skripsi, baik

penulisan maupun pembimbingan dengan dosen pembimbing skripsi serta ujian akhir

dapat menjadi tantangan bagi mahasiswa, namun sangat penuh stress bagi mahasiswa

lain yang merasa tidak sanggup menghadapinya terlepas dari apakah ketakutannya

(21)

Menurut Sarafino & Ewing (dalam Melly 2008), stress yang dialami oleh

mahasiswa memberi dampak yang negatif pada kondisi psikis dan fisik seseorang.

Dampak tersebut dapat berupa gejala fisiologis, emosional, kognitif, hubungan

interpersonal, dan organisasional. Stress juga dapat mempengaruhi perkembangan

dan gejala-gejala penyakit seperti darah tinggi, sakit kepala dan demam. Lebih

spesifik lagi, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh hudd dkk. dampak stress

yang dialami mahasiswa sering kali berupa tingkah laku yang negatif seperti

merokok, meminum-minuman keras, mengkonsumsi junk food, dan bunuh diri.

Penyebab hal tersebut dijelaskan oleh Sarafino (dalam Melly 2008) yang

mengemukakan stres sebagai kondisi yang dihasilkan ketika transaksi antara

seseorang dengan lingkungan membuat individu tersebut mempersepsikan suatu

kesenjangan. Kesenjangan yang dimaksud ialah antara tuntutan dari suatu situasi dan

sumber daya yang dimiliki seseorang tersebut baik dari segi biologis, psikologis, atau

sistem sosial. Kesenjangan ini dapat merupakan kesenjangan yang nyata dapat juga

tidak. Sarafino menjelaskan bahwa untuk menurunkan stress memerlukan sumber

daya biologis, psikologis maupun sosial. Rice menamakan sumber-sumber ini sebagai

sumber coping (coping resources).

Sumber coping merupakan hal yang paling penting dalam mempengaruhi

perilaku coping yang efektif. (Rice, dalam Melly 2008). Coping diartikan sebagai

suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada di antara

(22)

sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi penuh stres. Menurut

Lazarus, Sarafino (dalam Melly 2008), coping memiliki dua fungsi yaitu mengatasi

masalah (problem-focused coping) yang menyebabkan stres atau mengatur respon

emosi (emotional-focused coping) terhadap masalah tersebut.

Tentunya coping yang digunakan masing-masing individu berbeda-beda,

terutama pada mahasiswa baik itu pada pria atau wanita, dalam penelitian yang

dilakukan oleh Desi Rosmala yang berjudul perbedaan coping stres menghadapi ujian

nasional (UN) pada siswa kelas XII SMAN unggulan dan Non-Unggulan di Jakarta

Barat, diperoleh hasil pada siswa laki-laki lebih banyak menggunakan emotion focus

coping, dan pada siswa perempuan lebih banyak menggunakan problem focus coping.

Dalam penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pemilihan

jenis coping stres berdasarkan jenis kelamin yang dilakukan oleh siswa kelas XII.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, salah satu yang dapat dijadikan

sebagai sumber coping (coping resources) adalah religiusitas. Dalam hal ini peneliti

mengutip pernyataan Dr. Ustman Najati (dalam RR. Ardiningtiyas Pitaloka, 2005)

yang mengungkapkan bahwa seorang dokter Prancis terkemuka bernama Alexis

Carrel mengatakan “salat” (religiusitas) dapat menjadi terapi ruhaniah untuk

kesembuhan pasien”. Demikian dijelaskan pula dalam Studi dari Graham, Furr,

Flowers dan Burke (2001) yang menunjukkan bahwa agama dan spiritualitas

(23)

Dalam penelitiannya, Spika, Shaver, dan Kirkpatrick (1985, dalam Graham

2001) mencatat tiga peran religi dalam coping process yaitu (a) menawarkan makna

kehidupan, (b) memberikan sense of control terbesar dalam mengatasi situasi, dan (c)

membangun self esteem. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa religi memainkan

peran yang penting dalam mengatasi stress. Dua sumber coping yang biasanya

dilakukan adalah prayer dan faith in God (berdoa dan berserah diri pada Tuhan)

(Belavich, 1995 dalam Graham,2001). Dalam hal ini mereka berkesimpulan agama

dan spiritualitas sangat penting dalam usaha mengatasi stress (dalam RR.

Ardiningtiyas Pitaloka, 2005).

Tidak hanya dalam hasil penelitian saja, asumsi penulis diperkuat di dalam

Al-Qur’an. Dijelaskan pula dalam Al-Qur’an sebagaimana Surat Ar-Ra’d ayat 28:

“orang-orang yang beriman itu, hatinya menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (Q.S. Ar-ra’d:28).

Hati yang tentram sudah tentu akan menjauhkan kita dari stress.

Dari penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut apakah

jenis kelamin dan religiusitas mempunyai pengaruh dalam pemilihan jenis coping

stres yang dilakukan mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Populasi yang dipilih adalah mahasiswa fakultas Psikologi UIN Syarif

Hidayatullah tahun angkatan 2006. Berdasarkan wawancara dengan beberapa

(24)

penyusunan skripsi, baik dari dalam diri sendiri maupun dari orang lain, contohnya

perasaan iri terhadap teman yang sudah menghadapi sidang skripsi, dan juga tuntutan

dari orang tua agar cepat-cepat menyelesaikan kuliah.

Melihat fenomena dan berdasarkan penjelasan dari permasalahan tersebut

diatas maka penulis mencoba melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Tingkat

Religiusitas Terhadap Pemilihan Jenis Coping Stres Mahasiswa Fakultas Psikologi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Yang Sedang Menyusun Skripsi”.

1.2 Pembatasan Masalah

Dalam melakukan penelitian, dibawah ini akan di jelaskan batasan masalah

yang digunakan sebagai berikut:

a. Religiusitas adalah keyakinan, penghayatan, pengalaman, pengetahuan dan

peribadatan seorang penganut agama terhadap agamanya yang diaplikasikan

dalam kehidupannya sehari-hari sebagai pengakuan akan adanya kekuatan

tertinggi yang menaungi kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

b. Coping stres adalah proses yang digunakan seseorang yang menangani tuntuan

yang menimbulkan stres.

c. Mahasiswa yang dimaksud disini adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun angkatan 2006 yang

(25)

1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas masalah yang akan dirumuskan dalam

penelitian ini adalah :

a. Apakah ada pengaruh yang signifikan tingkat religiusitas terhadap pemilihan

jenis coping stres mahasiswa Fakultas psikologi UIN Syarif hidayatullah Jakarta

yang sedang menyusun skripsi?

b. Seberapa besar pengaruh tingkat religiusitas terhadap pemilihan jenis coping

stres mahasiswa Fakultas psikologi UIN Syarif hidayatullah Jakarta yang

sedang menyusun skripsi?

1.4 Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui lebih jelas ada tidaknya pengaruh yang signifikan tingkat

religiusitas terhadap pemilihan jenis coping stres mahasiswa Fakultas Psikologi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang menyusun skripsi.

b. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat religiusitas terhadap

pemilihan jenis coping stres mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif

(26)

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu:

a. Manfaat Teoritis

Sebagai bahan informasi pengembangan ilmu psikologi dan memperkaya

khasanah dalam penelitian mengenai religiusitas dan coping stres pada mahasiswa

yang sedang menyusun skripsi

b. Manfaat praktis

Manfaat praktis yang diperoleh dari penelitian ini untuk mendapatkan informasi

pemilihan jenis coping stres yang dilakukan oleh mahasiswa fakultas Psikologi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang menyusun skripsi.

1.6 Sistematika Penulisan

Pada penulisan skripsi ini, penulis menggunakan kaidah buku pedoman

penulisan skripsi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta. Dengan sistematika sebagai berikut :

Bab 1 Pendahuluan

Pada bab ini, penulis membaginya kedalam beberapa bagian, yaitu latar

belakang penelitian, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat

(27)

Bab 2 Kajian Teori

Pada bab ini, penulis menjelaskan teori-teori yang digunakan dalam penelitian

ini. Diantaranya teori tentang religiusitas, teori tentang coping stres, kerangka

berfikir dan hipotesa penelitian.

Bab 3 Metodologi Penelitian

Pada bagian ini penulis juga membagi kedalam beberapa bagian. Diantaranya

adalah jenis penelitian, populasi dan sampel, instrumen penelitian, dan yang

terakhir prosedur penelitian.

Bab 4 Presentasi dan Analisa Data

Pada bab ini, penulis akan menjelaskan hasil penelitian dalam

mendeskripsikan hasil penelitian mengenai gambaran umum responden

penelitian dan hasil uji hipotesis.

Bab 5 Kesimpulan, Diskusi dan Saran

Pada bagian ini penulis akan memberikan kesimpulan dari penelitian yang

(28)

BAB 2

LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan di bahas mengenai definisi coping stres, karakteristik

stressor, reaksi terhadap stres, dan juga dimensi coping stress. Selanjutnya akan

membahas tentang definisi dan dimensi religiusitas, kerangka berpikir, serta hipotesis

penelitian

2.1 COPING STRES

Sebelum menguraikan penjelasan tentang coping stress, terlebih dahulu akan

dijelaskan tentang definisi stress.

2.1.1 Definisi Stres

Jika seseorang beranggapan bahwa tuntutan dalam suatu situasi melebihi

kemampuannya, orang tersebut mengalami stress. Ujian akhir dapat menjadi sekedar

sebuah tantangan bagi seorang mahasiswa, namun sangat penuh stress bagi

mahasiswa lain yang merasa tidak sanggup menghadapinya terlepas dari apakah

ketakutannya realistis atau tidak (Lazarus, 1966 dalam Davison dkk, 2006). Stress

menurut definisinya adalah keadaan yang tidak menyenangkan yang disebabkan

adanya kesenjangan antara tuntutan dan realita (Bagus, 2008).

(29)

2.1.2 Karakteristik Stresor

Atkinson, dkk (1993) mengatakan bahwa sumber stress bisa terdapat di dalam

individu dalam motif atau keinginan yang bertentangan. Peristiwa yang dirasakan

sebagai stress biasanya termasuk dalam beberapa kategori seperti:

1) Peristiwa traumatik

Sumber stress yang paling jelas adalah peristiwa traumatik-situasi bahaya

ekstrim yang berada di luar rentang pengalaman manusia yang lazim.

2) Peristiwa yang tidak dapat dikendalikan

Semakin suatu peristiwa tidak dapat dikendalikan, semakin besar

kemungkinanya dianggap stress. Peristiwa besar yang tidak dapat

dikendalikan antara lain kematian orang yang dicintai, dipecat dari

pekerjaan, atau penyakit yang serius. Salah satu alasan suatu peristiwa yang

tidak dapat dikendalikan menimbulkan stress yaitu karena jika kita tidak

dapat mengendalikannya, maka kita juga tidak dapat mencegahnya terjadi.

3) Peristiwa yang tidak dapat diperkirakan

Mampu memprediksi kejadian suatu peristiwa stress walaupun individu

tersebut tidak dapat dikendalikan. Sebuah peringatan sebelum peristiwa

tidak menyenangkan terjadi memungkinkan memulai sejenis proses

(30)

4) Peristiwa yang menantang batas kemampuan manusia

Penelitian terhadap kedet West Point Military Academy menemukan

bahwa mereka yang memiliki motivasi tinggi untuk mengejar karir militer

tetapi tidak dapat menyelesaikan ujian dengan baik memiliki resiko yang

tinggi untuk mengalami suatu penyakit (Kasl, Evans, & Niederman, 1979;

Atkinson, 1993).

5) Konflik internal

Stres juga dapat ditimbulkan oleh proses internal yaitu konflik yang tidak

terpecahkan yang mungkin disadari atau tidak disadari.

Pada penelitian ini, tentunya berkaitan dengan karakteristik stressor dalam

kategori konflik internal, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi secara sadar atau

tidak sadar mengalami konflik yang tidak terpecahkan yang disebabkan dari

hambatan-hambatan yang muncul pada saat penyusunan skripsi sehingga akan

menimbulkan stres pada mahasiswa tersebut.

2.1.3 Definisi Coping Stres

Atkinson (1993) mengatakan proses yang digunakan oleh seseorang yang

menangani tuntutan yang menimbulkan stress dinamakan coping. Sedangkan menurut

Davidson, Neale, dan Kring, (2006) coping stress yaitu bagaimana orang berupaya

(31)

ditimbulkannya, konsepnya relevan dengan perbedaan individual dalam merespons

situasi penuh stres. Dapat dikatakan juga bahwa coping merupakan aspek kognitif

dari stress (a. l. Lazarus, 1996; Davison, Neale & Kring, 2006).

Dalam Sarafino (2002), mengatakan bahwa coping adalah proses saat individu

berusaha untuk mengatasi ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan dengan

sumber-sumber pada situasi yang stressful.

Dari beberapa definisi mengenai coping, dapat disimpulkan bahwa coping stress

merupakan suatu respon kognitif seseorang bagaimana seseorang berupaya mengatasi

masalah atau menangani emosi yang umumnya negatif yang timbul akibat stress

terhadap masalah yang dihadapi.

2.1.4 Dimensi Coping

Lazarus dan para koleganya mengidentifikasi dua dimensi coping yaitu coping

yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) dan coping yang berfokus

pada emosi (emosional-focused coping) (Lazarus & Folkman, 1984 dalam Davison,

Neale & Kring, 2006). Masing-masing dimensi coping stress tersebut akan diuraikan

(32)

2.1.4.1Coping yang berfokus pada masalah (problem–focused coping)

Mencakup tindakan secara langsung untuk mengatasi masalah atau mencari

situasi yang relevan dengan situasi masalah. Seseorang dapat memfokuskan masalah

atau situasi spesifik yang telah terjadi, sambil mencoba menemukan cara untuk

mengubahnya di kemudian hari. Strategi untuk memecahkan masalah antara lain

menentukan masalah, menciptakan pemecahan alternatif, menimbang-nimbang

alternatif, memilih salah satunya, dan meng-implementasikan alternative yang dipilih.

Contohnya, mencari tahu penyebab datangnya suatu hambatan, bertanya kepada

teman yang pernah mengalami hambatan serupa untuk mencari alternatif pemecahan

masalah, melakukan pemecahan masalah yang berbeda. Kemampuan individu

menerapkan strategi ini tergantung pada pengalamannya dan kapasitasnya untuk

mengendalikan diri (Atkinson et al, 1993).

Di dalam jurnal yang berjudul Assesing Coping Strategies : A Theoritically

Based Approach, yang ditulis oleh Carver dkk pada tahun 1989, dijelaskan bahwa

Problem Focused Coping terdiri dari beberapa jenis yaitu:

a. Active Coping

Adalah suatu proses pengambilan langkah-langkah aktif untuk mengatasi stressor

atau memperbaiki akibat-akibat yang telah ditimbulkan oleh stress tersebut dengan

(33)

meningkatkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi stress atau

melakukan tindakan-tindakan secara bertahap.

b. Planning

Aktifitas-aktifitas dalam planning berkaitan dengan perencanaan mengenai

hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi situasi yang menimbulkan stress. Dengan

cara merancang untuk berpindah, memikirkan cara yang terbaik untuk memecahkan

stress. Dengan cara merancang untuk berpindah, memikirkan cara yang terbaik untuk

memecahkan suatu masalah atau merencanakan langkah-langkah yang dilakukan

untuk mengatasi suatu sumber stress.

c. Suppression of Competing Activities

Yaitu mengesampingkan atau mengabaikan aktifitas lain, menghindari terjadinya

gangguan dari kejadian lain atau membatasi ruang gerak dari aktifitas individu yang

berhubungan dengan masalah, dengan tujuan agar individu dapat berkonsentrasi

secara penuh dalam menghadapi suatu sumber stress.

d. Restraint Coping

Adalah suatu latihan untuk mengontrol atau mengendalikan diri agar dapat

mengatasi sumber stress secara efektif (strategi coping yang aktif, dalam arti tindakan

(34)

e. Seeking Social Support for Instrumental Reasons

Adalah usaha-usaha yang dilakukan individu untuk mendapatkan dukungan

sosial, dengan cara meminta nasihat, bantuan, atau informasi dari orang lain yang

dapat membantu individu dalam menyelesaikan masalah (Carver, dkk. 1989).

Jenis-jenis problem focus coping yang sudah dijelaskan di atas, akan dijadikan

sebagai dasar teori untuk membuat alat ukur pada penelitian ini.

2.1.4.2 Coping yangberfokus pada emosi (emotion-focused coping)

Sedangkan beberapa peneliti lain mengklasifikasikan emotion-focused coping

menjadi beberapa bagian diantaranya :

a. Strategi perenungan (ruminative strategies), yaitu mengisolasi diri untuk

memikirkan betapa buruknya perasaan kita, mengkhawatirkan konsekuensi

peristiwa stress atau keadan emosional kita. Atau membicarakan berulang kali

betapa buruknya segala sesuatu tanpa mengambil tindakan untuk mengubahnya.

b. Strategi pengalihan (distraction strategies), antara lain melibatkan diri dalam

aktifitas yang menyenangkan dan cenderung meningkatkan perasaan kendali kita,

seperti berbelanja, bermain game dan lain sebagainya. Tujuan strategi pengalihan

adalah menjauhkan diri dari pikiran negative dan mendapatkan kembali perasaan

(35)

c. Strategi penghindaran negatif (negative avoidant strategies) adalah aktifitas yang

dapa mengalihkan kita dari mood, strategi ini merupakan aktivitas berbahaya

yang mungkin dapat memperberat mood seperti mencacimaki orang lain,

mengendarai kenderaan dalam kecepatan tinggi, dan sebagainya.

(Nolen-Hoeksema dalam Atkinson. Dkk, 1993).

Dimensi-dimensi emotion-focused coping yang sudah dijelaskan di atas, akan

dijadikan sebagai dasar teori untuk membuat alat ukur pada penelitian ini.

2.2 Religiusitas

2.2.1 Definisi Religiusitas

Religion (agama) merupakan akar kata dari religiusitas. Harun Nasution

menjelaskan bahwa kata religi berasal dari bahasa latin relegare yang berarti

mengumpulkan atau membaca dan religare yang berarti mengikat, artinya agama

merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan sifatnya mengikat bagi

manusia yaitu ikatan antara roh manusia dengan Tuhan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) religiusitas berarti pengabdian

terhadap agama atau kesalehan. Sedangkan dalam pengertian Glock dan Stark (1966)

agama atau religion adalah sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai dan sistem

perilaku yang terlambangkan yang semuanya berpusat pada persoalan yang dihayati

(36)

Freud melihat bahwa agama itu adalah reaksi manusia atas ketakutannya

sendiri. Dalam buku yang berjudul The Future of an Illusion (1927), Freud

mengatakan bahwa agama dalam ciri-ciri psikologisnya adalah sebuah ilusi, yakni

kepercayaan yang dasar utamanya adalah angan-angan (wishfulfillment).

BF. Skinner, tokoh dari aliran Behaviorisme walaupun tidak banyak

memberikan perhatian terhdadap perilaku beragama sempat menjelaskan bahwa

perilaku manusia pada umumnya dapat dijelaskan berdasarkan teori pengkondisian

operan sehingga perilaku beragama sebagaimana perilaku manusia yang lainnya

merupakan ungkapan bagaimana manusia hidup berdasarkan pengkondisian operan.

Aktivitas beragama menurutnya merupakan pengaruh ganjaran (reward) dan

hukuman (punishment). Dan menurutnya perilaku beragama merupakan perilaku

yang dilakukan untuk meredakan ketegangan.

Tokoh Psikologi Humanistik, Abraham Maslow, mengakui eksistensi agama.

Maslow mengemukakan konsep metamotivation (diluar Hierarchy of need) yang

terdiri dari mystical atau experience yang menggambarkan keadaan dimana pada saat

itu pribadi lepas dari realitas fisik dan menyatu dengan kekuatan transcendental.

Sebagaimana kita ketahui bahwa keberagamaan dalam Islam bukan hanya

diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual saja, tapi juga dalam aktivitas-aktivitas

lainnya. Sebagai sistem yang menyeluruh, Islam mendorong pemeluknya untuk

(37)

bertindak, harus didasarkan pada prinsip penyerahan diri dan pengabdian secara total

kepada Allah, kapan, dimana dan dalam keadaan bagaimanapun.

Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa religiusitas adalah

keyakinan, penghayatan, pengalaman, pengetahuan dan peribadatan seorang penganut

agama terhadap agamanya yang diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari

sebagai pengakuan akan adanya kekuatan tertinggi yang menaungi kehidupan

manusia di dunia dan akhirat

2.2.2 Dimensi Religiusitas

Menurut Glock dan Stark (dalam Ary Widiyanta, 2002), ada lima dimensi

religiusitas, yaitu :

a. Religious belief (the ideological dimension)

Sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam ajaran agamanya.

Misalnya kepercayaan tentang adanya Tuhan, malaikat, kitab-kitab, Nabi dan

Rasul, hari kiamat, surga, neraka dan yang lain-lain yang bersifat dogmatik.

b. Religious Practice ( the ritualistic dimension)

Tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban ritual di dalam

agamanya, seperti shalat, zakat, puasa dan sebagainya.

c. Religious effect (the consequential dimension)

Dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasikan oleh

(38)

d. Religious Knowledge (the intellectual dimension)

Seberapa jauh seseorang mengetahuai tentang ajaran agamanya. Hal ini

berhubungan dengan aktivitas seseorang untuk mengetahui ajaran-ajaran dalam

agamanya.

e. Religious feeling (the experiental dimension)

Dimensi yang terdiri dari perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman

keagamaan yang pernah dirasakan dan dialami. Misalnya seseorang merasa dekat

dengan Tuhan, seseorang merasa takut berbuat dosa, seseorang merasa doanya

dikabulkan Tuhan, dan sebagainya.

Dari penelitian Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup

(dalam Ary Widiyanta, 2002) menunjukkan bahwa ada lima dimensi religiusitas di

dalam ajaran Islam yang memiliki persamaan dengan dimensi religiusitas yang

diungkapkan oleh Glock dan Stark , yakni :

a. Dimensi Iman

Mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, malaikat, kitab-kitab, nabi,

mukjizat, hari akhir dan adanya makhluk halus, serta takdir baik dan buruk.

b. Dimensi Islam

Sejauh mana tingkat frekuensi, intensitas dan pelaksanaan ibadah seseorang.

Dimensi ini mencakup pelaksanaan shalat, zakat, puasa dan haji.

c. Dimensi amal

Dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasikan oleh

(39)

d. Dimensi Ilmu

Seberapa jauh pengetahuan seseorang tentang agamanya, misalnya pengetahuan

tentang tauhid, fiqh dan lain-lain.

e. Dimensi Ikhsan

Mencakup pengalaman dan perasaan tentang kehadiran Tuhan dalam kehidupan,

ketenangan hidup, takut melanggar perintah Tuhan, keyakinan menerima balasan,

perasaan dekat dengan Tuhan dan dorongan untuk melaksanakan perintah agama.

Kelima dimensi tersebut adalah merupakan aspek-aspek yang tidak bisa

dipisahkan-pisahkan. Berikut ini akan diperlihatkan persamaan antara dimensi

religiusitas yang dikemukan oleh Glock dan Stark dengan dimensi religiusitas yang

dikemukan dalam penelitian Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan

Hidup :

1. Dimensi Iman (religious belief)

2. Dimensi Islam (religious practice)

3. Dimensi Amal (religious effect)

4. Dimensi Ilmu (religious knowledge)

5. Dimensi Ikhsan (religious feeling)

Persamaan-persamaan dimensi-dimensi religiusitas menurut Glock dan Stark

dengan dimensi religiusitas yang dikemukakan dalam penelitian Kementerian Negara

Kependudukan dan Lingkungan Hidup (dalam Ary Widiyanta, 2002) yang sudah

dijelaskan di atas dan yang telah disesuaikan dengan ajaran Islam, akan dijadikan

(40)

2.2.3 Sumber-sumber Munculnya Sikap Religiusitas

Melalui teori The Four Wishes yang dikutip oleh Jalaludin, 1996 (dalam

Nurhayati, 2009) mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama

adalah empat macam keinginan dasar yang ada dalam jiwa manusia yaitu :

a. Keinginan untuk keselamatan

Keinginan untuk memperoleh perlindungan atau penyelamatan dirinya baik

secara fisik maupun psikis

b. Keinginan untuk mendapat penghargaan

Keinginan ini merupakan dorongan yang menyebabkan manusia

mendambakan adanya rasa ingin dihargai dan dikenal orang lain.

c. Keinginan untuk ditanggapi

Keinginan ini menimbulkan rasa ingin mencintai dan dicintai dalam

pergaulan.

d. Keinginan akan pengetahuan dan pengalaman baru

Keinginan ini menyebabkan manusia mengeksplorasi dirinya, serta selalu

(41)

2.3 KERANGKA BERPIKIR

Mahasiswa adalah pelajar yang menjalani pendidikan tinggi guna melanjutkan

pendidikannya setelah sekolah lanjutan atas di sebuah perguruan tinggi atau

universitas dengan batas usia 18-30 tahun. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh

mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi adalah melakukan penelitian ilmiah atau

biasa disebut skripsi.

Dalam penyusunan skripsi tidak jarang mahasiswa mengalami beberapa

hambatan. Hambatan-hambatan tersebut dapat berupa hambatan pada saat melakukan

penelitian maupun hambatan dalam menuangkan hasil penelitian kedalam bentuk

tulisan. Jika seorang mahasiswa merasa tertekan karena ia tidak memiliki

keseimbangan antara kemampuannya dengan tuntutan akademis dalam penyusunan

skripsi, maka mahasiswa tersebut dapat dikatakan sedang mengalami suatu keadaan

yang dinamakan stres. Stress pada tiap individu tentunya berbeda-beda, begitu pula

pada pria dan wanita.

Untuk menurunkan stres memerlukan sumber daya biologis, psikologis

maupun sosial. Sumber-sumber ini disebut sebagai sumber coping (coping

resources). Sumber coping merupakan hal yang paling penting dalam mempengaruhi

perilaku coping stresyang efektif. Rice, 1999 (dalam Melly 2008). Sedangkan coping

(42)

coping. Tentunya masing-masing individu dalam pemilihan jenis coping yang

digunakan itu berbeda, begitu juga pada mahasiswa baik itu pria maupun wanita.

Salah satu yang dapat dijadikan sumber coping (coping resources) adalah

religiusitas, dan di dalam religiusitas terdapat dimensi-dimensi diantaranya dimensi

Iman (religious belief), dimensi Islam (religious practice), dimensi Amal (religious

effect), dimensi Ilmu (religious knowledge), dimensi Ikhsan (religious feeling).

Dalam penelitian yang dilakukan Spika, Shaver, dan Kirkpatrick (1985, dalam

Graham 2001) mencatat tiga peran religi dalam coping process yaitu (a) menawarkan

makna kehidupan, (b) memberikan sense of control terbesar dalam mengatasi situasi,

dan (c) membangun self esteem. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa religi

memainkan peran yang penting dalam mengatasi stress. Dua sumber coping yang

biasanya dilakukan adalah prayer dan faith in God (berdoa dan berserah diri pada

Tuhan). Dalam hal ini mereka berkesimpulan agama dan spiritualitas sangat penting

dalam usaha mengatasi stress (dalam RR. Ardiningtiyas Pitaloka, 2005).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka diketahui terdapat hubungan antara

religiusitas dengan coping stres, namun pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui

apakah religiusitas berpengaruh terhadap pemilihan jenis coping stress yang

(43)

PEMILIHAN

JENIS

COPING STRESS DIMENSI IMAN (RELIGIOUS BELIEF)

DIMENSI ISLAM (RELIGIOUS PRACTICE)

DIMENSI AMAL (RELIGIOUS EFFECT)

DIMENSI ILMU (RELIGIOUS KNOWLEDGE)

DIMENSI IKHSAN (RELIGIOUS FEELING)

JENIS KELAMIN

(44)

2.4 HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis merumuskan hipotesis penelitian

sebagai berikut:

Ha1 : Ada pengaruh yang signifikan dimensi Iman (religious belief) terhadap

pemilihan jenis coping stress mahasiswa Fakultas Psikologi UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang menyusun skripsi.

Ha2 : Ada pengaruh yang signifikan dimensi Islam (religious practice)

terhadap pemilihan jenis coping stress mahasiswa Fakultas Psikologi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang menyusun skripsi.

Ha3 : Ada pengaruh yang signifikan dimensi Amal (religious effect) terhadap

pemilihan jenis coping stress mahasiswa Fakultas Psikologi UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang menyusun skripsi.

Ha4 : Ada pengaruh yang signifikan dimensi Ilmu (religious knowledge)

terhadap pemilihan jenis coping stress mahasiswa Fakultas Psikologi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang menyusun skripsi.

Ha5 : Ada pengaruh yang signifikan dimensi Ikhsan (religious feeling)

terhadap pemilihan jenis coping stress mahasiswa Fakultas Psikologi

(45)

Ha6 : Ada pengaruh yang signifikan jenis kelamin terhadap pemilihan jenis

coping stress mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta yang sedang menyusun skripsi.

(46)

BAB 3

METODE PENELITIAN

Pada bab ini dibahas mengenai metode dan pendekatan penelitian, variabel

penelitian, definisi konseptual dan definisi operasional, populasi dan sampel, sampel

dan teknik pengambilan sampel, instrumen pengumpulan data, teknik analisis data,

prosedur penelitian.

1.1 Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif.

Pendekatan kuantitatif yaitu pendekatan yang diambil menggunakan angka, mulai

dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari

hasilnya (Arikunto, 2006). Asumsi dari penelitian kuantitatif adalah bahwa

fakta-fakta dari obyek penelitian memiliki realitas dan variabel-variabel dapat

diidentifikasikan, serta hubungannya dapat diukur.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis korelasional

prediktif. Penelitian korelasi merupakan penelitian yang dirancang untuk menentukan

tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Melalui

penelitian tersebut kita dapat memastikan berapa besar yang disebabkan oleh suatu

(47)

Sedangkan jenis penelitian korelasional prediktif merupakan penelitian yang

memfokuskan pada pengukuran terhadap satu variabel atau lebih yang dapat dipakai

untuk memprediksi atau meramal kejadian di masa yang akan datang atau variabel

lain (Borg & Gall : Hadjar, dalam M. Zainal Abidin. 2010).

1.2 Variabel Penelitian

1.2.1 Identifikasi Variabel

Variabel adalah suatu karakteristik yang memiliki dua atau lebih dari nilai

atau sifat yang berdiri sendiri-sendiri (Kerlinger, 1973; Sevila, dkk, 1993) menyebut

variabel sebagai suatu konstruk (properties) atau sifat yang diteliti.

Variabel dibagi atas dua macam, yaitu variabel bebas (independent variable)

dan variabel terikat (dependent variable). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel

bebas adalah religiusitas dan variabel terikatnya adalah coping stress.

3.2.2 Definisi Konseptual Variabel

a. Religiusitas

Religiusitas adalah keyakinan, penghayatan, pengalaman, pengetahuan dan

peribadatan seorang penganut agama terhadap agamanya yang diaplikasikan

dalam kehidupannya sehari-hari sebagai pengakuan akan adanya kekuatan

(48)

b. Coping stres

Coping stress adalah suatu respon kognitif seseorang bagaimana seseorang

berupaya mengatasi masalah atau menangani emosi yang umumnya negatif yang

timbul akibat stress terhadap masalah yang dihadapi.

3.2.3 Definisi Operasional Variabel

a. Religiusitas

Definisi operasional religiusitas adalah skor-skor yang diperoleh dari skala

religiusitas. Pembuatan alat ukur dalam penelitian ini berdasarkan

persamaan-persamaan dimensi-dimensi religiusitas menurut Glock dan Stark dengan dimensi

religiusitas yang dikemukakan dalam penelitian Kementerian Negara

Kependudukan dan Lingkungan Hidup (dalam Ary Widiyanta, 2002) yang telah

disesuaikan dengan ajaran Islam yaitu religious belief (dimensi keyakinan atau

akidah Islam), religious practice (dimensi peribadatan atau syariah), religious

effect (dimensi pengamalan atau akhlak), religious knowledge (dimensi

pengetahuan atau ilmu), dan religious feeling (dimensi pengalaman atau

penghayatan).

b. Coping stress

Definisi operasional Coping stress adalah skor-skor yang diperoleh dari skala

(49)

Emotion focus coping. Pembuatan alat ukur dalam penelitian ini berdasarkan

konsep menurut Carver, dkk. (1989) yaitu pada Problem focus coping terdiri dari

Active Coping, Planning, Suppression of Competing Activities, Restraint Coping,

Seeking Social Support for Instrumental Reasons. Dan menurut Nolen-Hoeksema

(dalam Atkinson dkk. 1993) pada emotion focus coping yang terdiri dari strategi

perenungan (ruminative strategies), strategi pengalihan (distraction strategies), dan strategi penghindaran negatif (negative avoidant strategies)

3.3. Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Suharsimi Arikunto (2006) mendefinisikan populasi sebagai keseluruhan

subjek penelitian yang telah ditetapkan dengan baik. Dan bisa dikatakan sebagai

populasi kelompok subjek harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang

membedakan dari kelompok subjek lain.

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa di Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Psikologi dengan kriteria:

1. Mahasiswa yang tercatat sebagai mahasiswa fakultas Psikologi di Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun angkatan 2006.

(50)

3.3.2 Sampel

Menurut Arikunto (2006), sampel adalah sebagian atau beberapa bagian kecil,

wakil populasi yang diteliti. Ukuran minimum sampel untuk penelitian korelasi

sebanyak 30 orang.

Dari penjelasan di atas, maka sampel yang digunakan dalam penelitian ini

adalah mahasiswa angkatan 2006 UIN Syarif Hidayatullah yang sedang menyusun

skripsi sebanyak 50 orang.

3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel

Dalam penelitian ini pengambilan sampel yang digunakan menggunakan

teknik purposive sampling yaitu mengambil sampel sesuai dengan karakteristik yang

digunakan dalam penelitian.

3.4 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini penulis menggunakan skala

religiusitas dan skala Coping Stress. Kedua skala ini menggunakan alat tes Skala

Likert atau dikenal juga dengan The Method of Summated Rating, dengan variasi

jawaban sebanyak empat (4) pilihan, yaitu : sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju,

dan sangat setuju. Adapun skor untuk masing-masing pilihan jawaban adalah sebagai

(51)

Tabel 3.1

Skor Skala Likert

Pilihan STS TS S SS

Favorabel 1 2 3 4

UnFavorabel 4 3 2 1

3.4.1. Skala Religiusitas

Skala religiusitas digunakan untuk mengukur tingkat religiusitas. Peneliti

memakai indikator dari persamaan-persamaan dimensi-dimensi religiusitas menurut

Glock dan Stark dengan dimensi religiusitas yang dikemukakan dalam penelitian

Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (dalam Ary Widiyanta,

2002), yaitu :

a. Religious belief (the ideological dimension atau dimensi iman)

Sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam ajaran agamanya.

Misalnya kepercayaan tentang adanya Tuhan, malaikat, kitab-kitab, Nabi dan

Rasul, hari kiamat, surga, neraka dan yang lain-lain yang bersifat dogmatik.

b. Religious Practice (the ritualistic dimension atau dimensi islam)

Tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban ritual di dalam

(52)

c. Religious effect (the consequential dimension atau dimensi amal)

Dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasikan oleh

ajaran agamanya di dalam kehidupannya.

d. Religious Knowledge (the intellectual dimension atau dimensi ilmu)

Seberapa jauh seseorang mengetahuai tentang ajaran agamanya. Hal ini

berhubungan dengan aktivitas seseorang untuk mengetahui ajaran-ajaran dalam

agamanya.

e. Religious feeling (the experiental dimension atau dimensi ikhsan)

Dimensi yang terdiri dari perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman

keagamaan yang pernah dirasakan dan dialami. Misalnya seseorang merasa dekat

dengan Tuhan, seseorang merasa takut berbuat dosa, seseorang merasa doanya

(53)
(54)
(55)

3.4.2. Skala Coping Stres

Skala Coping Stres terbagi menjadi dua dimensi yaitu coping yang berfokus

pada masalah (problem-focused coping) dan coping yang berfokus pada emosi

(emosional-focused coping).

3.4.2.1 Skala Problem-Focused Coping

Dalam skala problem-focused coping peneliti memakai indikator dari

jenis-jenis problem focus coping menurut Carver, dkk. (1989) yaitu :

a. Active Coping merupakan suatu tindakan yang langsung sifatnya untuk

mengatasi stressor, meningkatkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk

mengatasi stress atau melakukan tindakan-tindakan secara bertahap.

b. Planning berkaitan dengan perencanaan mengenai hal-hal yang dapat

dilakukan untuk mengatasi situasi yang menimbulkan stress, memikirkan cara

yang terbaik untuk memecahkan stress, memikirkan cara yang terbaik untuk

memecahkan suatu masalah atau merencanakan langkah-langkah yang

dilakukan untuk mengatasi suatu sumber stress.

c. Suppression of Competing Activities meliputi menghindari terjadinya

gangguan dari kejadian lain atau membatasi ruang gerak dari aktifitas individu

(56)

d. Restraint Coping merupakan latihan untuk mengontrol atau mengendalikan

diri agar dapat mengatasi sumber stress secara efektif.

e. Seeking Social Support for Instrumental Reasons merupakan usaha-usaha

yang dilakukan individu untuk mendapatkan dukungan sosial, dengan cara

meminta nasihat, bantuan, atau informasi dari orang lain yang dapat

membantu individu dalam menyelesaikan masalah. (lihat tabel 3.3.)

Tabel 3.3

Blue Print Skala Problem Focus Coping

Nomor item

No Dimensi Indikator

Favorable Unfavorable

Jumlah

1. Active Coping Mencari sumber referensi

sebanyak-banyaknya

2. Planning Merencanakan hal-hal yang

(57)

3. Suppression

Meminta nasihat dari orang lain

(58)

3.4.2.2 Skala Emotion-Focused Coping

Dalam skala emotion-focused coping peneliti memakai indikator dari jenis

jenis strategi emotion focus coping (Nolen-Hoeksema, 1991 dalam Atkinson. Dkk,

1993) yaitu :

a. Strategi perenungan (ruminative strategies), yaitu mengisolasi diri untuk

memikirkan betapa buruknya perasaan kita, mengkhawatirkan konsekuensi

peristiwa stress atau keadan emosional kita. Atau membicarakan berulang kali

betapa buruknya segala sesuatu tanpa mengambil tindakan untuk mengubahnya.

b. Strategi pengalihan (distraction strategies), antara lain melibatkan diri dalam

aktifitas yang menyenangkan dan cenderung meningkatkan perasaan kendali

kita, seperti olahraga, bermain dan lain sebagainya. Tujuan strategi pengalihan

adalah menjauhkan diri dari pikiran negative dan mendapatkan kembali

perasaan menguasai masalah.

c. Strategi penghindaran negatif (negative avoidant strategies) adalah aktifitas

yang dapa mengalihkan kita dari mood, strategi ini merupakan aktivitas

berbahaya yang mungkin dapat memperberat mood seperti mencacimaki orang

(59)

Tabel 3.4

Blue Print Skala Emotion Focus Coping

(60)

3.4.3. Tekhnik Uji Instrumen Penelitian

3.4.3.1. Uji Validitas

Validitas sebuah tes menyangkut apa yang diukur tes dan seberapa baik tes itu

dapat mengukur (Anastasi dan Urbina, 2003). Untuk mengetahui apakah skala yang

telah dibuat mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya,

maka diperlukan pengukuran validitas. Oleh karena itu, untuk menguji validitas dari

skala yang telah dibuat dengan menggunakan teknik korelasional Product Moment

Pearson, dalam perhitungannya dilakukan dengan analisa statistik melalui

perhitungan SPSS versi 16.

3.4.3.2. Uji Reliabilitas negatif

(negative

avoidant

strategies)

menghadapi stressor

(61)

Perhitungan reliabilitas adalah ketepatan atau tingkat presisi suatu ukuran atau

alat pengukur (Nazir, 1988). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan SPSS versi 16

untuk menguji reliabilitas alat ukur penelitian.

Tabel 3.5

Klasifikasi Koefisien Reliabilitas

Kriteria Koefisien Reliabilitas

Sangat Reliabel >0,9

Reliabel 0,7-0,9

Cukup Reliabel 0,4-0,7

Kurang Reliabel 0,2-0,4

Tidak Reliabel <0,2

3.4.3.3. Hasil uji coba alat ukur

Setelah item-item skala dibuat, peneliti mengujicobakan skala tersebut. Dalam

tahap uji coba, peneliti memberikan lima puluh tujuh item pada skala religiusitas,

empat puluh enam item pada skala problem focus coping, dan tiga puluh delapan item

pada skala emotion focus coping. Namun skala problem focus coping dan emotion

focus coping digabung menjadi satu sehingga berjumlah delapan puluh empat item

(62)

Hasil uji validitas dengan perhitungan korelasi Product Moment Pearson pada

skala religiusitas didapat 23 item yang valid. Item–item yang valid tersebut adalah

item nomor 1, 4, 7, 10, 12, 13, 17, 18, 20, 21, 24, 27, 31, 41, 42, 43, 44, 46, 47, 48,

50, 51, 53. Adapun nilai reliabilitas yang dihasilkan sebesar 0,734. Artinya nilai skala

ini reliabel untuk digunakan dalam penelitian.

Adapun hasil uji validitas pada skala problem focus coping dan emotion focus

coping yang digabung menjadi satu skaladidapat 38 item yang valid. item–item yang

valid adalah 1, 2, 3, 4, 5, 8, 10, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 24, 25, 31, 34, 35, 36, 46,

48, 53, 54, 56, 60, 61, 62, 63, 64, 69, 72, 75, 76, 77, 78, 81, 84. Adapun nilai

reliabilitas yang dihasilkan pada skala problem focus coping dan emotion focus

coping adalah sebesar 0,787 dan 0,825. Kedua alat ukur ini menurut kaidah Guilford

dapat disimpulkan memiliki reliabilitas yang baik karena suatu konstruk atau variabel

dikatakan reliabel (Kuncono, 2004). Artinya nilai skala ini reliabel untuk digunakan

dalam penelitian.

Hasil Uji Validitas Skala Religiusitas dapat dilihat pada tabel 3.6. dan Hasil

Uji Validitas Skala Coping Stres juga dapat dilihat pada tabel 3.7 dan 3.8. dibawah

(63)

Tabel 3.6

Hasil Uji Validitas Skala Religiusitas

Nomor Item

No

Dimensi Fav Un Fav Jumlah

1. Akidah 1, 7, 44 18, 21, 41, 51, 27 8

2. Ibadah 17, 31 4 3

3. Amal 10, 20, 48 24, 53 5

4. Ilmu 43 46 2

5. Ihsan 13, 42, 50 12, 47 5

Jumlah 12 11 23

Tabel 3.7 & 3.8

Hasil Uji Validitas Skala Coping Stres

A. Skala Problem Focus Coping

Nomor Item

No Dimensi

Fav Un Fav

Jumlah

1. Active Coping 1 13, 24 3

(64)

3. Suppression of Competing

B. Skala Emotion Focus Coping

Nomor Item

3. Strategi penghindaran negatif

(negative avoidant strategies)

19, 48, 81 18, 53 5

(65)

Tabel 3.9

Koefisien Reliabilitas Instrumen Penelitian

Alat Ukur Koefisien Alpha Cronbach Keterangan

Religiusitas 0,734 Reliabel

Problem focus coping 0,787 Reliabel

Emotion focus coping 0,825 Reliabel

3.5. Teknik Analisis Data dan Uji Hipotesis

Untuk mengetahui ada tidaknya sumbangan yang diberikan variable bebas

kepada variable terikat, penulis menggunakan uji regresi logistik biner. Regresi

logistik biner adalah bagian dari analisis regresi yang digunakan ketika variabel

dependen (respon) merupakan variabel dikotomi. Variabel dikotomi biasanya hanya

terdiri atas dua nilai, yang mewakili kemunculan atau tidak adanya suatu kejadian.

(Ariyoso, 2009). Dalam perhitungannya dilakukan dengan analisa statistik melalui

Gambar

Gambar Kerangka Berpikir Penelitian Pengaruh Tingkat religiusitas
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir
Tabel 3.1 Skor Skala Likert
Tabel 3.2 Blue Print Skala Religiusitas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Halaman ini adalah halaman hasil konsultasi member dengan sistem pakar yang dirancang dimana sistem memberikan output dimana jenis kerusakan dari komputer member dan apa

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan religiusitas yang sangat signifikan pada mahasiswa yang tinggal di Pesma KH Mas Mansur dan di kos umum, dimana religiusitas

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dibuat Sistem Pakar untuk Mengukur Tingkat Stres Pada Mahasiswa Tingkat Akhir dengan Metode Forward Chaining Berbasis Web un- tuk

Pada pengujian ini, diagnosa yang dilakukan jika dipilih gejala terasa guncangan di setir, ban makan / habis sebelah dalam, didapatkan hasil perhitungan diagnosa sistem

Hasil akhir dari penelitian ini adalah membuat suatu sistem yang dapat membantu para pembuat keputusan untuk menentukan solusi pemilihan jenis mobil yang optimal

Database adalah kumpulan data terhubung yang disimpan secara bersama-sama pada suatu media, tanpa adanya suatu kerangkapan data, sehingga mudah untuk digunakan kembali,

Judul Skripsi : Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Pemilihan Strategi Coping Stres pada Mahasiswa Baru Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Bisnis

tidak terjadi kesalahan ketika menganalisis tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir dan untuk mempermudah mahasiswa mengetahui stres apa yang sedang mereka