• Tidak ada hasil yang ditemukan

Balap Liar Di Kalangan Remaja Kota Medan (Studi Kasus Jalan Gagak Hitam, Kecamatan Medan Selayang )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Balap Liar Di Kalangan Remaja Kota Medan (Studi Kasus Jalan Gagak Hitam, Kecamatan Medan Selayang )"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN

Dokumentasi Informan

Gambar 1

Gambar 2

Keterangan : Foto bersama bang bayu yang berjualan di ringroad di

dekat arena balap liar dan nenek rita pedagang kaki lima sekaligus

orang tua dari remaja yang mengikuti balap liar

Gambar 3

Gambar 4

(2)

Gambar 5

Gambar 6

Keterangan : Foto saat akan memulai aksi balapan liar

Gambar 7

Gambar 8

(3)

DAFTAR PUSTAKA

Agus Salim 2006. Teori dan paradigma penelitian sosial.Yogyakarta:Tiara Wacana

Abdulsyani, 1987. Sosiologi, kelompok dan masalah sosial.Jakarta: Raja Grafindo Persada

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Bungin, Burhan. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif (Akualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer). Jakarta: PT RajaGrofindo Persada

Budirahayu, Tuti 2013. Sosiologi perilaku menyimpang.Surabaya : PT Revka Petra Media

Becker, Howard S. 1988. Sosiologi Penyimpangan.Jakarta : Rajawali Press

Bungin, Burhan. 2007. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers

Kartono, Dr. Kartini. 1986. Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja. Jakarta: CV. Rajawali

(4)

Miles, Matthew B. dan A Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Munandar Soelaeman. 2006. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Refika Aditama.

Mansyur M, Cholil SH, Drs. Sosiologi Mayarakat Kota dan Desa, Surabaya, Usaha Nasional

Narwoko, Dwi J, Suyanto, Bagong. 2004. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Prenada Media.

Ritzer, George. 2011. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: Rajawali Press.

Soejono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2005

Sudarsono, Drs. 1991. Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Shadly, Hassan. 1993. Sosiologi Untuk Mayarakat Indonesia, PT. Rineka Cipta : Jakarta

Santrok, J.W.(2002). Remaja. Edisi Sebelas. Penerbit Erl

(5)

Sumber Lain :

pukul 17.14 WIB

IMI Kejuaran Nasinal Balap Motor. 2002. Peraturan Drag Bike. Tersedia pada http://www.imi.co.id/kejurnas/dragbike/rules.php. Diakses

pada tanggal 9 Desember 2009

Redaksi Pewarta Indonesia. (2009). Operasi Balap Liar. Tersedia pada Http://cari-pdf/balapliar.org diakses tanggal 12 Januari 2010

Wirajaya, Erdian. 2005. Skripsi Balap liar. Universitas Sumatera Utara.

Widyastuti, D.A.(2012). Study Deskriptif Mengenai Pelabelan Dan Tindakan Sosial Polisi Terhadap Balap Motor Liar.

(6)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati, dimana jumlah informan yang diteliti pada informan sebanyak 10 orang, dimana 6 orang yang tergolong remaja yang mengikuti balap liar dan 4 orang tua dari remaja yang mengikuti balap liar. Penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai data-data lisan maupun tertulis dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti. Dimana penelitian kualitatif dimanfaatkan sebagai pemandu penelitian agar sesuai fakta lapangan. Dalam penelitian ini jauh lebih subjektif dengan mengumpulkan informasi menggunakan wawancara secara fokus dan mendalam dalam jumlah relatif kecil. Pendekatan deskriptif bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi sosial, berbagai situasi atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian (Bungin,2007).

(7)

menjadi objek penelitian dan menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda atau gambaran tentang kondisi, situasi ataupun fenomena tertentu (bungin, 2007:68).

Arikunto (2000:2008) menyatakan bahwa “penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis dalam langkah penelitian ini tidak perlu merumuskan hipotesis”. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif, artinya hasil penelitian dirumuskan setelah semua data dianalisis. Pendekatan deskriptif digunakan dalam penelitian ini karena semata-mata hanya memberi gambaran yang tepat dari pokok perhatian yaitu mendeskripsikan studi tentang balap liar di kalangan remaja.

Menurut Sutopo (2002:50-54), data yang diperlukan dalam penelitian kualitatif dapat diperoleh melalui narasumber (informan), peristiwa atau aktivitas, tempat atau lokaso, benda, beragam gambar dan rekaman, serta dokumen arsip. Adapun jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah narasumber dan informan.

3.2 Lokasi Penelitian

(8)

3.3Unit Analisis dan Informan 3.3.1 Unit Analisis

Unit analisis adalah satuan yang diperhitungkan sebagai subyek penelitian. Salah satu ciri dan karakteristik dari penelitian sosial adalah menggunakan apa yang disebut “unit of analisys”. Ada dua unit analisis penelitian ini yaitu joki dan mekanik.

Tujuan analisis data adalah untuk menyederhanakan, sehingga mudah ditafsirkan (Nasution, 2008:148). Adapun yang menjadi unit analisis dan objek kajian dalam penelitian ini adalah remaja yang melakukan balap liar.

3.3.2 Informan

Informan penelitian di dalam penelitian kualitatif berkaitan dengan bagaimana langkah yang ditempuh peneliti agar data atau informasi dapat diperolehnya. Karena itu di dalam penelitian kualitatif yang paling penting adalah peneliti “menemukan” informan dan peneliti “mendapatkan” informan. Menentukan informan bias dilakukan oleh peneliti apabila peneliti memahami masalah umum penelitian serta memahami pula anatomi masyarakat di mana penelitian dilaksanakan. Namun apabila peneliti belum memahami anatomi masyarakat tempat penelitian, maka peneliti berupaya agar tetap mendapatkan informan penelitian (Bungin,2007:107).

(9)

juga bias banyak, terutama tergantung dari tepat atau tidaknya pemilihan informan dan kompleksitas dan keragaman yang diteliti (bungin, 2007:53). Adapun yang menjadi informan sebagai sumber informasi untuk memperoleh data dari penelitian ini adalah :

1. Remaja yang mengikuti balap liar dan hobi mengikuti balap liar 2. Orangtua dari anak yang mengikuti balap liar

3. Masyarakat di sekitar arena balap liar

3.4Teknik Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari obyek penelitian melalui observasi dan wawancara. Oleh karena itu untuk mendapatkan data primer dalam penelitian ini akan dilakukan dengan cara penelitian lapangan yaitu :

1. Observasi partisipan

(10)

penelitian ini (Black, 2009:289). Adapun yang menjadi bahan observasi partisipan dalam penelitian ini adalah pengamatan langsung kepada remaja yang melakukan balap liar.

2. Wawancara mendalam

Wawancara mendalam merupakan wawancara yang dilakukan secara lebih dekat dengan responden agar peneliti dapat bekerja sama dengan baik dengan responden. Wawancara terhadap informan ditujukan untuk memperoleh data dan informasi secara lengkap tentang balap liar di kalangan remaja.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Data ini diambil dari sumber lain atau instansi lain yang berkaitan dengan penelitian. Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaam dan pencatatan dokumen, yaitu pengumpulan data yang berasal dari buku-buku yang sesuai dengan objek kajian penelitian serta materi-materi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.

(11)

3.5Interprestasi Data

Interprestasi data merupakan suatu tahap pengolahan data, setelah data terkumpul dalam catatan lapangan, dokumen resmi, gambar, foto, dan sebagainya. Maka akan dilakukan pengolahan, analisis, dan penafsiran data yang diperlukan dari lapangan tadi berupa hasil observasi dan hasil wawancara. Kemudian peneliti akan menyederhanakan dan mengedit agar lebih mudah dipahami. Data yang telah terkumpul kemudian akan disusun lagi sedemikian rupa kemudian data tersebut akan diinterprestasikan secara kualitatif.

(12)

BAB IV

DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.1 Deskripsi Wilayah Penelitian

4.1.1 Deskripsi Kecamatan Medan Selayang

Kecamatan Medan Selayang adalah salah satu dari 21 kecamatan yang berada di bagian Barat Daya Wilayah Kota Medan memiliki luas ±23,89 km² atau 4,38% dari seluruh luas wilayah Kota Medan dan berada pada ketinggian 26-50 meter diatas permukaan diatas laut. Kecamatan Medan Selayang merupakan pecahan dari Kecamatan Medan Baru, Medan Sunggal dan Medan Tuntungan.

Sebelum menjadi kecamatan defenitif terlebih dahulu melalui proses Kecamatan perwakilan sesuai dengan Keputusan Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara Nomor: 138/402/K/1991 tentang penetapan dan perubahan 10 (sepuluh) perwakilan kecamatan yang merupakan pemekaran wilayah Kecamatan Medan Baru, Medan Sunggal dan Medan Tuntungan dengan nama “Perwakilan Kecamatan Medan Selayang” dengan 5 kelurahan. Dan kantor masih menyewa bangunan rumah berukuran 6 x 12 m di jalan Kelurahan PB Selayang II.

(13)

Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor : 146. 1/11012/k/1994 tentang pembentukan 7 (tujuh) kelurahan persiapan di Kota Medan. Berdasarkan keputusan itulah Kecamatan Medan Selayang berkembang dari 5 kelurahan menjadi 6 kelurahan yaitu kelurahan sempaka.

Sejak terbentuknya Perwakilan Kecamatan Medan Selayang dari tahun 1991 sampai sekarang, wilayah ini telah dipimpin oleh beberapa Camat. Daftar nama Camat yang pernah memimpin di Kecamatan Medan Selayang sejak mulai terbentuk hingga sekarang adalah :

Tabel 4.1

Nama Kecamatan Medan Selayang

No Nama Pejabat Masa Bakti

1 OK LAILAN ZAITUN 1991 – 1993 2 DRS. FARIT WAJEDI, Msi 1993 – 1998 3 DRS. PALUHUTAN HASIBUAN 1998 – 2000

(14)

4.1.2 Letak Geografis dan Luas Wilayah Kecamatan Medan Selayang

Kondisi fisik Kecamatan Medan Selayang secara geografis berada di Wilayah Barat Daya yang secara spesial merupakan data kemiringan antara 0 – 5%. Wilayah-wilayah yang berdekatan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Medan Selayang adalah :

1. Sebelah Utara: Kecamatan Medan Baru dan Medan Sunggal 2. Sebelah Selatan : Kecamatan Medan Tuntungan dan Medan Johor 3. Sebelah Timur : Kecamatan Medan Polonia

4. Sebelah Barat : Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

Kecamatan Medan Selayang terbagi menjadi 6 kelurahan dan 63 lingkungan dengan status kelurahan swasembada. Adapun luas wilayah Kecamatan Medan Selayang adalah ± 2.379 Ha. Kelurahan yang terluas di kecamatan ini adalah Kelurahan Padang Bulan Selayang II dengan luas 700 Ha disusul Kelurahan Tanjung Sari dengan luas 510 Ha, Kelurahan Sempakata dengan luas 510 Ha, Kelurahan Asam Kumbang dengan luas 400 Ha, Kelurahan Padang Bulan Selayang I dengan luas 180 Ha, kemudian yang terakhir adalah Kelurahan Beringin sebagai kelurahan terkecil dengan luas yang hanya 79 Ha.

4.1.3 Demografi Penduduk Kecamatan Medan Selayang

(15)

4.1.4 Jumlah Kepadatan Penduduk

Kecamatan Medan Selayang dihuni oleh 99.982 jiwa. Diantara keenam kelurahan yang berada di Kecamatan Medan Selayang, Kelurahan yang terbanyak penduduknya yaitu Kelurahan Padang Bulan Selayang II dengan jumlah 21.237 jiwa dan Kelurahan yang sedikit peduduknya yaitu Kelurahan Beringin dengan jumlah 8.472 jiwa. Untuk mengetahui data kepadatan penduduk di tiap kelurahan di Kecamatan Medan Selayang selengkapnya ada pada tabel 4.2 berikut ini .

Tabel 4.2

Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kecamatan Medan Selayang

No Kelurahan Luas Wilayah (Km²)

Jumlah Penduduk (orang)

Kepadatan Penduduk Km²

1 Asam Kumbang 4,00 15.773 3.943

2 Beringin 0,79 8.472 10.724

3 PB. Selayang I 1,80 10.438 5.799 4 PB. Selayang II 7,00 21.237 3.034

5 Sempakata 5,10 11.143 2.185

6 Tanjung Sari 5,10 15.773 3.943

Jumlah 23,79 99.982 4.203

(16)

Bila dibandingkan dari luas wilayah kelurahan dan jumlah penduduknya, maka Kelurahan Beringin memiliki. luas wilayah terkecil tetapi mempunyai kepadatan penduduk terpadat yaitu 10.724 orang per Km².

4.1.5 Stuktur Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Jumlah penduduk Kecamatan Medan Selayang pada tahun 2015 sebanyak 98.317 orang dari laki-laki 78.239 orang dan perempuan 50.024 orang. Berdasarkan kelompok umur, distribusi penduduk Kecamatan Medan Selayang relatif lebih banyak penduduk berusia produktif. Sebanyak 1.523 warga negara Indonesia turunan cina yang berdomisili di Kecamatan Medan Selayang. Kelurahan Asam Kumbang merupakan kawasan yang paling banyak di domisili oleh warga Indonesia keturunan Cina yaitu sebanyak 947 orang disusul oleh Kelurahan Tanjung Sari sebanyak 238 orang.

Tabel 4.3

Jumlah Penduduk Per Kelurahan Menurut Jenis Kelamin Di Kecamatan

Medan Selayang

No Kelurahan

Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Laki-Laki (Orang) Perempuan (Orang)

1 Asam Kumbang 7.907 7.866 15.773

2 Beringin 3.938 4.534 8.472

3 PB.Selayang I 5.133 5.305 10.438 4 PB.Selayang II 10.528 10.709 21.237

(17)

6 Tanjung Sari 16.353 16.566 32.919

Jumlah 49.103 50.879 99.982

Sumber : Data Kantor Kecamatan Medan Selayang

Tabel 4.4

Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Di Kecamatan Selayang

No Kelompok Umur (Tahun)

Jenis Kelamin

Jumlah (Orang) Laki-Laki

(Orang)

Perempuan (Orang)

1 0 – 4 4.938 4.029 8.967

2 5 – 14 9.257 7.756 17.013

3 15 – 44 25.108 30.137 55.245

4 45 – 64 8.324 7.379 15.703

5 > = 65 1.476 1.578 3.054

Jumlah 49.103 50.879 99.982

Sumber : Data Kantor Kecamatan Medan Selayang

4.1.6 Status Pendidikan Penduduk

(18)

Tabel 4.5

Jumlah Penduduk Usia 7 – 12 Tahun Berusia Berstatus Pendidikan Per Kelurahan Di Kecamatan Medan Selayang

No Kelurahan Sekolah (Orang) Tidak Sekolah (Orang)

1 Asam Kumbang 1.437 0

2 Beringin 775 0

3 PB. Selayang I 957 0

4 PB. Selayang II 1.937 0

5 Sempakata 1.017 0

6 Tanjung Sari 3.008 0

Jumlah 9.131 0

Sumber : Data Kantor Kecamatan Medan Selayang

4.1.7 Komposisi Mata Pencaharian Penduduk

Berdasarkan hasil pendataan kelurahan Tahun 2015 mata pencaharian penduduk di Kecamatan Medan Selayang adalah sebagai Pegawai Swasta yaitu sebanyak 8.659 orang.

Tabel 4.6

Komposisi Mata Pencaharian Penduduk Per Kelurahan Di Kecamatan Medan Selayang

(19)

No

Sumber : Data Kantor Kecamatan Medan Selayang

4.2 Karakteristik Informan

(20)

4.2.1. Karakteristik Informan Berdasarkan Pendidikan Tabel 4.7

Karakteristik Informan Berdasarkan Pendidikan No Kategori Pendidikan Jumlah (n) Presentase (%)

1 SMA 3 30 %

2 SMK 2 20 %

3 SMP 3 30 %

4 Tidak Sekolah 2 20 %

Total 10 100

Sumber : Hasil Penelitian 2016 (data diolah)

Berdasarkan tabel 4.7 memperlihatkan bahwa informan penelitian berdasarkan pendidikan terdapat 3 orang (30 %) berpendidikan SMA, 2 orang (20%) berpendidikan SMK, 3 (30%) berpendidikan SMP, 2 (20%) yang tidak bersekolah.

4.2.2 Karakteristik Informan Berdasarkan Umur Tabel 4.8

Karekteristik Informan Berdasarkan Umur

No Kategori Umur Jumlah (n) Persentase (%)

1 16 – 40 Tahun 8 80 %

2 >41 Tahun 2 20 %

Total 10 100

(21)

Berdasarkan Tabel 4.8 memperlihatkan bahwa dari informan penelitian berdasarkan umur terdapat 8 orang (70%) adalah informan yang berumur 16 – 40 Tahun dan 4 orang (20%) adalah informan yang berumur di atas 41 Tahun.

4.2.3 Karakterstik Informan Berdasarkan Pekerjaan Tabel 4.9

Karakteritik Informan Berdasarkan Pekerjaan

No Kategori Pekerjaan Jumlah (n) Persentase (%)

1 Joki 3 30 %

2 Mekanik 2 20 %

3 Pegawai Swasta 2 20 %

4 Pengusaha bengkel 1 10 %

5 Pedagang Kaki Lima 2 20 %

Total 10 100

Sumber : Hasil Penelitian 2016 (data diolah)

(22)

4.3 Profil Informan

1. Nama : Dwi Muhammad Prayogi Lubis Jenis Kelamin : Laki-Laki

Umur : 20 Tahun Pekerjaan : Joki

Alamat : Jalan Pasar I Tanjung Sari No. 12

Yogi merupakan warga dari kecamatan Medan Selayang yang bertempat tinggal di jalan pasar I Tanjung Sari berumur 20 tahun ia tamatan dari SMK swasta di Kota Medan dan ia adalah salah satu remaja yang mengikuti balap liar. Laki-laki berbadan besar dan berkulit sawo matang ini, mengikuti balap liar adalah mengikuti temannya saja dan sering sekali di ajak untuk menonton balap liar tersebut. Yogi sering mengikuti teman-temannya untuk ikut terlibat dalam arena balap liar dan akhirnya lama-kelamaan ia tertarik dengan balap liar dan ingin mencobanya untuk menjadi joki dalam balap liar. “ kesannya terlihat laki-laki kalo ikut balap ini, karna aku suka juga modif-modif kereta kan jadi gampang lah aku kalo jadi joki, kusetting sendiri kadang motorku, kadang juga minta bantuan teman-teman” ujarnya. Hingga sampai sekarang pun ia di percayai oleh salah satu bengkel untuk membawa kereta balap nya tersebut.

(23)

Dikarenakan balap liar dianggap sebagai sesuatu yang salah dimata orang tua Yogi, tetaapi walaupun begitu Yogi tetap menjalani profesinya sebagai jokin balap liar.

2. Nama : Angga Pratama Jenis Kelamin : Laki-Laki Umur : 19 Tahun Pekerjaan : Joki

Alamat : Jalan Asam Kumbang No.25

Laki-laki yang masih berusia 19 tahun ini bertubuh sedang dan berbadan kurus, dengan rambut gondrong dan bermata sipit. Angga merupakan warga dari Kecamatan Medan Selayang yang bertempat tinggal di jalan asam kumbang berumur 19 tahun ia tidak melanjutkan sekolahnya lagi karena ekonomi keluarga yang tidak sanggup membiayai pendidikannya. Ia adalah pembalap muda yang berbakat dan namanya cukup di kenal di kalangan remaja yang mengikuti balap liar. Ia juga mengikuti balap resmi walaupun tak sesering balap liar yang hampir setiap malam ia ikuti.

(24)

dalam balap liar maupun balap resmi. Sampai sekarang ia sering mendapatkan prestasi dalam pertarungan balap liar maupun balap resmi.

3. Nama : Muhammad David Jenis Kelamin : Laki-Laki

Umur : 16 Tahun Pekerjaan : Joki

Alamat : Jalan Pasar II Tanjung Sari No.30

David merupakan warga dari Kecamatan Medan Selayang yang bertempat tinggal di jalan pasar II Tanjung Sari berumur 16 tahun ia masih duduk di bangku SMA. Dari semenjak SMP ia sudah hobi balap liar maupun balap resmi. “kalo ikut balap balap ini memang mengeluarkan banyak uang tetaapi kalo menang bisa dapat uang juga” ujarnya. Oleh karena itu, ia menganggap hobinya itu tidak bisa dilarang oleh siapapun termasuk orang tuanya karena bagi ia hobi itu mahal dan dapat mewakili jati dirinya. Disampinng itu pula, lingkungan pertemanannya yang dimana teman-temannya jga kebnanyakan berkecimpung di dunia yang sama dnegannya. Maka dari itulah ia sangat hobi mengikuti balap liar dan maupun balap resmi. Hingga sampai saat ini hobi balapnya masih digelutinya sampai saat ini.

(25)

dilakukan di lintasan resmi (sirkuit) dan memakai atribut lengkap, dan pastinya penghasilan yang di dapat lebih banyak daripada balap liar.

4. Nama : Jefri Ahmadi Jenis Kelamin : Laki-Laki Umur : 21 Tahun Pekerjaan : Mekanik

Alamat : Jalan. Pasar I Tanjung Sari No. 10

Jefri merupakan warga dari Kecamatan Medan Selayang yang bertempat tinggal di jalan Pasar I Tanjung Sari berumur 21 tahun ia tidak melanjutkan sekolahnya lagi karena keinginan dari dirinya sendiri. Ya berhenti sekolah udah lama kak, karna disini bisa dapat uang untuk kebutuhan seharri-hari kalo sekolah kan ngeluarkan biaya, ujarnya. Walaupun putus sekolah tetapi Jefri memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan jerih payahnya sendiri. Ia adalah salah satu mekanik di bengkel dekat tempat tinggalnya ia bekerja di bengkel itu semenjak tahun 2014 sampai sekarang ini, keahlian dalam memberpaiki motor dan memodifikasi mesin diperolehnya secara otodidak yang diperolehnya dari teman-teman seprgaulannya, “ belajar-belajar sendiri lah kak, mana ada biasay kalau sekolah lagi, jadi diajar-ajarkan kawanku” ujarnya. Di bengkel tempat ia bekerja ada 2 unit kereta yang di jadikan untuk kereta balap liar maupun balap resmi. Yang sampai saat ini masih dalam tahap modifikasi yang akan dipertandingkan di arena balap dalam waktu dekat ungkapnya.

(26)

mengerjakan kereta lainnya seperti service, ganti oli dan lain sebagainya. Beliau merasa dalam dunia balap ini tidak ada habisnya karena bisa kita lihat sendiri anak-anak remaja saat ini semakin banyak yang mengikuti dunia balap liar maupun balap resmi.

5. Nama : Hikbal Okto Lubis Jenis Kelamin : Laki-Laki

Umur : 22 Tahun Pekerjaan : Mekanik

Alamat : Jalan Asam Kumbang No. 28

(27)

membuka sebuah bengkel lalu ia membuat satu unit motor racing (balap). Hingga sampai saat ini motor racingnya digunakan dalam balap liar saja.

6. Nama : Rita

Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 55 Tahun

Pekerjaan : Pedagang Kaki Lima Alamat : Jalan Pasar I Tanjung Sari

Nenek Rita merupakan salah satu warga dari Kecamatan Medan Selayang yang bertempat tinggal di jalan pasar I Tanjung Sari berumur 55 tahun. Di usia senjanya beliau masih bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Nenek yang berambut putih dan berbadan tinggi ini adalah salah satu orang tua dari anak yang mengikuti balap liar maupun balap resmi, pekerjaan beliau adalah pedagang kaki lima yang memiliki 1 orang suami dan 3 orang anak 2 orang laki-laki dan 1 perempuan anak beliau. “ anak nomor 2 ku lah yang mengikuti balap liar kadang juga dia ikut itu balap-balap resmi “ ujarnya.

(28)

bu Rita untuk melarang anaknya mengikuti balap, Akan tetapi anaknya tersebut tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan dan beliau mengaku tak jarang hubungannya dengan anaknya menjauh karena terlalu sering memarahi anaknya agar tidak mengikuti balap liar lagi.

7. Nama : Jey

Jenis Kelamin : Laki-Laki Umur : 32 Tahun

Pekerjaan : Pengusaha Bengkel Alamat : Jalan Pasar I Ringroad

Bang jey merupakan salah satu warga dari Kecamatan Medan Selayang yang bertempat tinggal di jalan asam kumbang ia adalah seorang pengusaha bengkel yang menjual sperpart service dan lain sebagainya di daerah pasar I Ringroad. Laki-laki berumur 32 tahun ini berpenampilan sederhana dan berbabdan agak berisi. Beliau adalah seorang pengusaha muda yang sudah mempunyai usaha bengkel nya 2 toko. Usaha yang dirintisnya dari nol ini diakuinya merupakan hasil jerih payahnya sendiri yang telah dibangunnya dari umurnya 20 tahun. Namun, sampai di umurnya yang sekarang bang Jey belum mempunyai pendamping hidup (berkeluarga). “ya karna fokus kerja keenakan nyari uang jadi lupa cari calon istri hehe “ ujarnya.

(29)

sebagai masa lalunya. Dan pada akhirnya , beliau memutuskan untuk berhenti dalam dunia balap di karenakan umur beliau yang sudah 32 tahun jadi bagi beliau sudah tidak pantas untuk ikut di dunia balap liar, ujarnya.

8. Nama : Ahmad Sofyan Jenis Kelamin : Laki-Laki Umur : 50 Tahun

Pekerjaan : Karyawan Swasta

Alamat : Jalan Pasar III Tanjung Sari

Pak Sofyan merupakan salah satu warga dari Kecamatan Medan Selayang yang bertempat tinggal di jalan pasar III Tanjung sari berumur 50 tahun bekerja sebagai karyawan swasta. Beliau mempunyai 1 orang istri dan 4 orang anak , 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Anak laki-laki pertama beliau sangatlah hobi untuk mengikuti bala liar awalnya anak beliau hanya mengikuti teman sebaya saja untuk menonton balap liar yang dilakukan hampir tiap malam pada jam 12 ke atas lama kelamaan anak beliau pun ikut serta dalam kegiatan balap liar .

(30)

9. Nama : Sri Winarti Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 40 Tahun

Pekerjaan : Karyawan Swasta

Alamat : Jalan Pasar II Tanjung Sari

Ibu wina merupakan salah satu warga dari Kecamatan Medan Selayang yang bertempat tinggal di jalan pasar II Tanjung Sari berumur 40 tahun ia adalah seorang karyawan swasta mempunyai 1 orang suami dan 3 orang anak. Tempat tinggal ia dekat dengan arena balap liar dan pastinya bagi beliau sangatlah mengganggu.

Beliau menuturkan bahwa balap liar ini sangat menggangu masyarakat yang ada disekitar arena tempat berlangsungnya balap liar karena balap liar ini dilakukan pada jam 12 malam keatas bahkanb sampai menjelang subuh, sudah pasti sangat mengganggu jam istirahat untuk tidur malam di tambah lagi dengan dengan suara keretanya yang sangat berisik sehingga tidur pun tidak tenang karena mendengar suara berisik itu.

10. Nama : Bayu Jenis Kelamin : Laki-Laki Umur : 30 Tahun

Pekerjaan : Pedagang Kaki Lima

Alamat : Jalan pasar I Gg. Pribadi Tanjung Sari

(31)

kaki lima yang berjualan di pinggir jalan daerah ringroad. Ia menganggap balap liar ini tidak bisa di hilangkan karena dari dulu balap liar ini sudah ada,walaupun ada dari pihak kepolisian yang merazia mereka tetapi mereka tetap melaksanakan balap liar tersebut.

Tentunya balap liar ini sangat mengganggu warga masyarakat sekitar ringroad apalagi rumahnya yang di pinggir jalan tetapi para remaja ini tidak bisa di larang, di larang malam ini besoknya di buat lagi begitulah seterusnya. Bagi beliau naamanya hobi anak zaman sekarang berbeda-beda mungkin balap liar ini hobi remaja saat ini.

4.4 Faktor Pendorong Yang Menyebabkan Remaja Masuk Ke Dalam Dunia Balap Liar

Proses awal untuk dapat mengetahui pengetahuan atau gambaran diri seorang pembalap liar, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan informan. Diperlukan pendekatan personal untuk dapat mendapatkan kepercayaan dan kenyamanan dari pembalap liar tersebut untuk bercerita, dalam bercerita para pembalap liar ini memang selektif memilih orang untuk diajak berbicara masalah pribadinya (tentang pembalap liar). Diperlukan waktu yang relatif untuk mendapatkan kepercayaan dari para pembalap liar tersebut, dalam proses wawancara tabu dengan apa yang diceritakan para pembalap liar ini sehingga cerita dapat mengalir natural dan mendapatkan hasil yang valid.

(32)

satu dengan yang lainnya, seperti dari akibat tidak mendapatkan figur perhatian serta kasih sayang dari lingkungan keluarga, terpengaruh dari teman pergaulan, lingkungan sosial yang sering terjadi kegiatan balap liar, dan juga kurangnya kontrol atau pengawasan orang tua.

(33)

Kisah yogi, kita dapat melihat bahwa ia merasa lebih menyukai balap liar dibandingkan balap resmi. Kecenderungan sudah lama ingin mengikuti balap liar karena faktor lingkungan dan juga teman-teman sebayanya yang mempengaruhi. Yogi juga ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang balap liar.

“...Kegiatan balap liar itu sering terjadi, ya karena dekat dengan rumah saya dan saya pun juga sering melihat balap liar. Kesibukan orang tua terhadap pekerjaannya, membuat diri saya mendapatkan kebebasan tanpa pengawasan dan teguran dari orang tua terhadap tindakan saya. Sangking seringnya saya melakukan balap liar, membuat diri saya terlibat langsung dengan balap liar sehingga sampai sekarang saya sering melakukan balap liar. Dan yang pastinya saya mengikuti balap liar ini karena menghasilkan uang, saya mendapatkan kesenangan tersendiri ikut balap liar ini karena itu memang hobi saya.Setiap orang tua dan saudara kita yang dekat dengan kita pastinya mereka tahu bagaimana dengan anaknya, namun mereka tidak pernah menanyakan secara detail dan karena saya juga berusaha keras untuk melakukan berbagai cara agar orang tua dan keluarga saya tidak curiga kalau saya mengikuti balap liar. Yang pastinya kawan saya udah lebih dulu ikut balap liar kek gini ya karna hobby juga sih liat balap-balap gitu, awalnya saya liat balap resmi gitu sih yang biasa acaranya di lanud. Lama-kelamaan saya merasa ingin mencoba aksi balap liar yang dilakukan di jalan raya,karna kebayakan yang mengikuti balap resmi gitu dulu pun awalnya mereka ikut-ikut balap liar gini juha, ya walaupun saya tau itu sangat membahayakan diri saya sendiri. Tapi ntah kenapa rasa ingin tahu saya itu sangat tinggi untuk melakukan balap liar, berhubung dulu saya sekolah ngambil jurusan otomotif maka dari itu saya terdorong untuk balap liar. Sampai saat ini orang tua dan saudara saya tidak tahu kalau saya mengikuti balap liar. (hasil wawancara tanggal 10 desember 2016)

Awalnya keluarga angga sempat curiga atas gerak-gerik dan tingkah laku angga yang hampir setiap malam keluar. Namun, angga tetap menjalankan aktivitas seperti tiap malam ia lakukan sebagai joki balap liar. Angga mengikuti balap liar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

(34)

an yaitu kelas 2 SMP. Awalnya Cuma melihat bengkel dekat rumah yang sedang membuat kereta balap, setelah melihat semuanya saya pun jadi tertarik kak buat ikutan nonton gitu, sekedar nongkrong keluar malam, sambil melihat kegiatan balap liar, tapi lama-lama tertarik melakukannya. Saya sampai sekarang ini tetap melakukan balap liar. Lagian orang tua tidak melarang karena sibuk dengan rutinitasnya dan jarang mengawasi perilaku saya. Saya pun menyadari saya melakukan balap liar ini karena kurangnya perhatian dari orang tua saya. Biasanya sih kalau keluar rumah sekitar jam 10 an gitu, tunggu orang yang dirumah saya pada istirahat.jadi biar gak ketahuan sama orang tua saya. Menjadi seorang joki adalah pilihan saya, dimana menjadi joki pastinya sangat berbahaya karena seorang joki balap liar tidak memakai perlengkapan lengkap seperti balap resmi. Saya juga mengikuti balap resmi yang biasanya dilakukan di Lanud Suwondo maupun diluar kota dengan event-event tertentu.saya merasa memang sebelum terjun ke balap resmi, saya lebih awal terjun ke balap liar dulu karna saya rasa di balap liar inilah saya bisa belajar mental dan keberanian saya untuk terjun ke balap resmi. Tapi saya lebih sering mengikuti balap liar daripada balap resmi, karena balap resmi kadang ada kadang gak, motivasi saya jadi joki ya supaya dapat uang,dikenal banyak orang. “(hasil wawancara 13 desember 2016)

David mengaku ia merasa memiliki kecenderungan dengan balap liar, karena menurutnya hobbi itu mahal. Hobbi david adalah jadi pembalap liar dan pembalap resmi. David lebih memilih menjadi pembalap daripada lainnya, walaupun david saat ini masih sekolah tapi dengan ia mengikuti balap liar sekolahnya tidak pernah bolos.

(35)

tengah supaya dilakukan balap nya, tapi ya itulah kak mungkin dengan melakukan balap liar akan menjadi kesenangan bagi diri nya yang hobi balap liar ya seperti saya ini kak “(hasil wawancara 12 desember 2016)

Jefri disini mengaku bahwa ia punya motivasi yang tinggi untuk mengikuti balap liar, karena setiap pembalap karir jenjangnya berawal dari balap liar baru bisa terjun ke dunia balap resmi. Karna ia pun seorang mekanik jadi ia pun selalu mengikuti balap liar dan dari situ saya bisa mempunyai nama besar yang bisa dikenal banyak orang dan disegani oleh kawan-kawan saya yang mengikuti balap liar juga, alasan jefri tetap memilih mengikuti balap liar karena itu adalah hobi saya yang tidak bisa dihalangi oleh siapa pun.

“... Dulu saya sempat merasa takut untuk mengikuti balap liar yang bukan di arena balap resmi, tetapi rasa takut itu hilang seketika karena niat saya memang ingin menjadi seorang pembalap. Awalnya saya disuruh teman saya membawa keretanya yang sudah di rombak total menjadi kereta balap, lama kelamaan saya di percayai untuk menjadi joki di bengkel nya. Akhirnya sampai saat ini saya di percayai untuk membawa keretanya di balap liar maupun di balap resmi. “(hasil wawancara 13 desember 2016)

Ikbal mengaku awalnya ia merasa ragu untuk membuka sebuah usaha bengkel motor, tetapi dorongan dari keluarga akhirnya ia mempunyai sebuah bengkel motor. Namun pulau hanya menerima service motor, ganti oli, menjual sperpart, dan juga tempel ban. Dan ada juga yang ingin membuat motor dari standart menjadi motor racing untuk balap liar.

(36)

pendorong nya kak, kalo aku sih sebagai mekanik karna gengsi apalagi bengkel ku di remehkan sama bengkel lain udah pasti itu jumpa tengah buat balap, yang pastinya kita jaga juga nama bengkel kita kak kita buktikan sama mereka yang udah meremehkan kita kalo kita bisa. Salah satu faktor pendorongnya ya karna hobi juga sih kak, menjadi kesenangan sendiri kak kalo nonton balap gitu ya walaupun cuma sekedar nonton, apalagi kalo kereta bengkel ku menang kak lebih senang lagi aku kak “(hasil wawancara 13 desember 2016)

Lain halnya yang dikatakan bang jey :

Berhubung saya pun dulu pun ikut balap liar, jadi menurut saya faktor pendorong remaja mengikuti balap liar itu karena harga diri itu yang paling utama, kalo bernyali dan harga diri tinggi harus balap liar, berani mati, berani di kejar polisi, berani jatuh, berani gak tidur, itulah yang mendorong remaja ini ikut balap liar. Intinya semua karna gengsi karna gamau di remehkan sama yang lainnya...” (hasil wawancara 15 desember 2016)

(37)

Terkait dengan remaja yang menjadi pembalap liar maka remaja yang telah menyadari bahwa dirinya memiliki kecenderungan sebagai para pembalap liar akan terlihat dari para remaja yang ikut balap liar memiliki berbagai kebutuhan-kebutuhan yaitu kebutuhan-kebutuhan biologis, kebutuhan-kebutuhan psikologis, dan kebutuhan-kebutuhan sosial meliputi kebutuhan untuk dikenal, kebutuhan berkelompok dan aktualisasi diri. Kebutuhan untuk dikenal biasanya tampak pada adanya kecenderungan anak remaja melakukan perbuatan-perbuatan yang menarik perhatian orang lain, kebutuhan berkelompok, kebutuhan remaja untuk memiliki kelompok dalam peer group (teman sebaya). Kebiasaan untuk melakukan suatu pekerjaan karena pengaruh lingkungan, kebutuhan aktualisasi diri berkaitan dengan terlaksananya kemampuan, cita-cita dan tujuan lain yang telah direncanakan.

Menurut Turner dan Helms (2004), penyebab remaja melakukan balap liar dijalan raya adalah kondisi keluarga yang berantakan (Broken Home), kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua, status sosial ekonomi orang tua yang rendah, pengaruh teman sebaya, dan juga penerapan kondisi keluarga yang tidak tepat. Menurut Wijayanti (2004), remaja melakukan kegiatan balap liar dikarenakan oleh beberapa faktor pendorong seperti ingin menunjukan dirinya tetap unggul dalam balap liar, pengaruh teman, lingkungan sosial, ingin menarik perhatian lawan jenis, tergiur dengan besarnya uang taruhan.

(38)

kurangnya kehidupan beragama, dan juga berada dilingkungan yang rawan atau tidak sehat seperti sering terjadi perkelahian, pencurian, serta kebut-kebutan dijalan melanggar lalu lintas (Kamtibmas). Sejalan dengan pendapat Nampe (2011), yang menyatakan bahwa balapan liar atau kebut-kebutan dijalan raya disebabkan oleh faktor buruknya kontrol diri dari remaja yang tidak bisa mengontrol keinginan untuk mencari jati diri dengan melakukan hal-hal baru, dan juga melemahnya kontrol sosial diakibatkan kegagalan keluarga, lingkungan sosial, lingkungan sekolah serta penegak hukum untuk menjalankan fungsi kontrolnya.

4.5 Dampak Balap Liar Terhadap Pelaku (Pembalap Liar) Dan Masyarakat

Dalam penelitian ini, dampak balap liar di bagi menjadi 2 yaitu terdapat dampak negatif dan dampak positif. Dampak negatif yang terjadi pada remaja pelaku balap liar yaitu :

1. Mengganggu kelancaran jalan raya dimana para pelaku balap liar sering menutup jalan raya yang dijadikan sebagai arena balap liar demi melancarkan kegiatan mereka yang kerap kali menggagu kenyamanan pengguna jalan lainnya.

(39)

knalpotsepeda motor maka akan juga meningkatkan kepercayaan diri tim pendukungnya. Sehingga dapat meningkatkan euforia penonton dan pendukung para pembalap itu sendiri.

3. Dapat memicu terjadinya tawuran antar bengkel, hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan balap liar selalu melakukan taruhan.

4. Sering terjadinya pelanggaran norma 5. Memicu terjadinya taruhan dan perjudian 6. Menyumbang angka kecelakaan lalu lintas

7. Dampak terberat adalah kehilangan nyawa dan lain-lain 8. Merugikan orang tua dan Membuat orang tua khawatir

Sedangkan dampak positifnya yaitu, : 1. Pembalap akan mendapatkan imbalan 2. Pembalap akan merasa bangga

3. Tercipta rasa solidaritas antar pembalap

4. Dampak edukasi terjadi ketika pembalap mahir mengotak atik motornya 5. Dampak kretifitas juga terjadi pada pembalap ketika menghias motornya 6. Secara emosional para pembalap liar akan memiliki semangat yang tinggi,

dan pantang menyerah.

Dalam peneltian ini sudah pasti banyak dampak yang terjadi pada remaja yang mengikuti balap liar, baik itu dapat positif maupun dampak negatif.

Seperti yang diutarakan oleh david yaitu :

(40)

yang mengikuti balap liar, mendapatkan imbalan, ya nambah-nambah kawan jugalah kak. Ya, tapi kalau dampak negatifnya ya kek gitulah terjadinya kecelakaan, di kejar-kejar sama polisi yang pastinya sangat mengganggu masyarakat sekitar kebanyakan dampak negatifnya sih kak daripada dampak positifnya ...” (Hasil wawancara tanggal 12 desember 2016)

Sama halnya yang dikatakan oleh yogi yaitu :

“... Kalo dalam balap liar udah pasti adalah kak dampaknya namanya juga balap liar pastinya udah di cap jelek oleh sebagian orang sudah pasti buat berisik masyarakat sekitar kak dengan suara bising dari knalpot kereta kami, bagiku sih menganggap dalam dunia balap liar sangat berdampak baik bagi aku kak, karena lumayan juga dapat penghasilannya buat nambah-nambah uang jajan ya walaupun gak banyak kali lah kak ...” (Hasil wawancara tanggal 10 desember 2016)

Dan juga yang dikatakan oleh bang jey yaitu :

“... Yang pastinya dalam balap liar ini ada dampak positif dan dampak negatifnya, positifnya ya karna saya warga sini dan buka bengkel ya pasti bengkel saya ramelah kalo ada balap-balap gini minimal mereka beli sperpart untuk kereta mereka, ya minimal sih sperpart yang dibelinya, kalo dampak negatifnya gak bisa tidur, ribut bisa sampe jam 4 pagi aku baru bisa tidur, itulah karena bising. Apalagi kura-kura (remaja) ini yang kereta standart nya di set lah supaya nampak jago mungkin ...’’ (hasil wawancara pada tanggal 15 desember 2016)

Seperti yang dikatakan bang bayu yaitu :

(41)

Dan seperti yang dikatakan nenek rita yaitu :

“... Dampak positifnya ya gak adalah bagi saya, tapi mungkin kalo bagi mereka ya pasti ada dampak positifnya seperti mereka dapat imbalan, mereka jadi bangga karena namanya terkenal di kalangan remaja. Kalo dampak negatifnya nya ya sudah pasti banyak terganggu warga sekitar karena suara yang berisik itu, kalo saya sih sebagai orang tua yang anaknya mengikuti balap liar sudah pasti was-was takut terjadi apa-apa, ya tapi namanya anak zaman sekarang gak pernah mau dengar apa yang orang tuanya bilang, di bilangin hari ini besok nya dibuat lagi ...” (hasil wawancara 17 desember 2016)

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat di lihat bahwa, adanya perbedaan pendapat antara remaja yang ikut balap liar serta masyarakat sekitar tentang dampak balap liar di kalangan remaja. Remaja yang ikut dalam balap liar mendapatkan keuntungan seperti mendapatkan imbalan, merasa bangga karena namanya menjadi terkenal di kalangan remaja yang mengikuti balap liar, bagi masyarakat yang tempat tinggalnya dekat dengan arena balap liar sangat terganggu dengan suara berisik kereta.

(42)

membina hubungan yang baik antara sesama, terlepas ada motivasi dan rencana yang diinginkan.

4.6 Persepsi Masyarakat terhadap balap liar

Menurut Davidoff, persepsi bersifat individual yaitu persepsi dapat dikemukakan karena perasaan, kemampuan berpikir, pengalamanpengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar individu satu dengan individu lain. Persepsi masyarakat adalah tanggapan dalam suatu masyarakat oleh suatu objek tertentu dan didahului proses penginderaan. Definisi di atas menunjukkan bahwa masyarakat dapat melakukan penilaian terhadap suatu peristiwa ketika lengkapnya faktor-faktor yang membentuk persepsi karena memang semuanya merupakan kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Dalam kehidupan sosial, seorang individu harus menyadari bahwa perilaku dan perbuatan yang dilakukan berkaitan dengan situasi sosialnya. Perilaku seseorang dan interaksi yang terjadi akan dinilai dan dipersepsikan oleh orang lain menurut kesadaran masing-masing, bahkan seorang individu dapat mempersepsikan suatu tingkah laku yang terjadi.

Persepsi masyarakat daerah Tanjung Sari Kecamatan Medan Selayang terhadap balap liar di kalangan remaja yang dilakukan di jalan gagak hitam (ringroad) menganggap bahwa balap liar sangat meresahkan masyarakat daerah sekitar. Berikut ini adalah persepsi masyarakat yang dikatakan oleh Bang Jey yaitu :

(43)

ini kurang baik untuk di lakuin. Tapi ya karena umur saya udah tua dan menurut saya gak bagus karena bisa menghilangkan nyawa yang mengemudi dan nyawa orang lain apalagi belom di kejar-kejar polisi belum lagi jatuh belum lagi mengganggu jam istirahat orang. Tapi ya namanya balap liar sudah ada sejak lama dan sudah di gandrungi para remaja ...” (15 desember 2016)

Dan seperti yang dikatakan Bang Bayu yaitu :

“... Persepsi saya mengenai balap liar di kalangan remaja ini sangat lah tidak baik dilakukan oleh para remaja karena selain merugikan dirinya sendiri juga meresahkan warga sekitar sini, udah lama sih balap liar disini ada, tapi bedanya dulu mereka melakukan balap nya sore gak tengah malam ya kalo sore tadi gapapa karena kan kami belum tidur tapi kalo sekarang yang dilakukan nya pada malam hari pastinya sangat mengganggu sekali. tidak bagus juga di contoh karena sering terjadi tawuran antar bengkel A dan bengkel si B, adanya taruhan itu kan sama aja sama judi ya walaupun uang taruhan nya gak banyak ...” (hasil wawancara 16 desember 2016)

Lain halnya yang dikatakan Bapak Sofyan :

“... Menurut saya sih balap liar itu seharusnya tidak ada, Dengan suara kereta orang itu yang sangat bising pastinnya jelas mengganggu masyarakat daerah sini, apalagi kalo udah berkelahi antara bengkel A dan bengkel si B misalnya udahlaa bising kali itu. Saya terkadang susah tidur di buat remaja-remaja ini karena dengan aksi balap liar nya. bukannya apa ya balap liar itu kan dilakukan di jalan raya bukan di lintasan resmi atau sirkuit yang seperti balap resmi lakukan. Seaindainya ada kecelakaan siapa yang mau menanggung jawabin kalo bukan keluarga sendiri, udah dapat uangnya gak seberapa kecelakaan gak di tanggung ya pastinya sangat merugikan terutama bagi dirinya sendiri, seperti anak saya yang ikut balap liar mau di kasih tahu kek mana pun tetap di buatnya atau di ulanginya lagi, memang kalo anak zaman sekarang gak tahu bahaya. Intinya balap liar sangat tidak pantas dilakukan oleh remaja yang menjadi penerus bangsa, mau jadi apa bangsa indonesia kalo remaja nya seperti itu ...” (hasil wawancara 17 desember 2016)

(44)

dapat melakukan penilaian terhadap suatu peristiwa ketika lengkapnya faktor-faktor yang membentuk persepsi karna memang semuanya merupakan kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Dalam kehidupan sosial, individu harus menyadari bahwa perilaku dan perbuatan yang dilakukan berkaitan dengan situasi sosialnya. Perilaku seseorang dan interaksi yang terjadi akan dinilai dan di persepsi kan oleh orang lain menurut kesadaran masing-masing, maka seorang individu dapat mempersepsikan suatu tingkah laku yang terjadi.

Seperti halnya yang dikatakan oleh ibu wina yaitu :

“...Remaja yang mengikuti balap liar sudah pasti menggunakan uang untuk taruhan, taruhan lah yang membuat para remaja sering terjadi perkelahian antar sesama remaja yang mengikuti balap liar, kalo udah berkelahi kadang buat nambah bising aja, ditambah lagi suara kereta mereka yang sangat bising. Kalo udah ada balap sangat meresahkan warga daerah sini, tapi mau gimana lagi anak remaja sekarang susah diatur.menurut saya balap liar di kalangan remaja ini sangat mengganggu ketentraman masyarakat, karena mereka melakukan balap liar pada malam hari saat semua orang pada tertidur lelap, di tambah lagi suara kereta mereka yang sangat bising. Bagi saya tidak ada untungnya remaja mengikuti balap liar ini karena sudah pasti merugikan dirinya sendiri...” (hasil wawancara tanggal 17 desember 2016)

(45)

melainkan persepsi terhadap perilaku sosial yang memiliki konsekuensi-konsekuensi sosial obyektif.

4.7Upaya Pencegahan Dalam Balap Liar

Perlu adanya upaya pencegahan dalam balap liar yang melibatkan beberapa aspek sosial diantaranya adalah upaya pencegahan yang dilakukan oleh lingkungan keluarga dan masyarakat. Hal yang utama adalah upaya pencegahan yang dilakukan oleh lingkungan keluarga karena keluarga merupakan kerabat terdekat dari para pelaku balap liar.

Seperti yang di katakan jefri yaitu :

“... Kalo menurut aku sih upaya pencegahannya itu gak ada sih kak, sekarang kembali ke dirinya sendiri di cegah pun kalo masih tetap di buatnya sama aja yakan, misalnya udah di larang hari ini besok nya di buat lagi sama aja kak capek-capek ngelarang tetatp di buatnya lagi...” (hasi wawancara 13 desember 2016)

Lain halnya yang dikaatakan nenek rita yaitu :

“... Ya upaya saya mencegah anak saya ya memberi perhatian lebih kepadanya, supaya ia pun bisa berhenti mengikuti balap liar ini, tapi ya mau gimana ya anak sekarang payah kali di atur saya belum siap ngomong dia uda bantah, terkadang saya cuma bisa ngelus dada aja liat anak saya. Di cegah kek mana pun tetatp di buatnya lagi...” (hasil wawancara 17 desember 2016)

Dan yang dikatakan bapak sofyan

(46)

Bang Jey mengatakan yaitu :

“... Sudah di cegah pun di buatnya lagi sama anak-anak ini, kalo menurut saya sih intinya memperdalam agama saja itu kuncinya, kita renungi lah apa yang udah kita lakukan itu baik atau gak. Saya sih dulu gitu mencegah nya makanya saya bisa berhenti dalam dunia balap ini, sama aja kalo kenak repet orang tua pun masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Intinya kembali ke diri masing-masing apa kita mau gini-gini aja atau mau berubah,karna semua itu ada masanya untuk menjadi yang lebih baik...” (hasil wawancara 15 desember 2016)

Lain halnya yang dikatakan ibu wina yaitu :

“... ya maunya adalah upaya pencegahan dari pihak manapun supaya remaja ini tidak melakukan balap liar lagi, maunya pun dari pihak kepolisan ada tindakan yang dilakukan untuk remaja ini. Tapi anak muda ini pun gak ada jera-jera nya, mungkin mereka tau kali ya jam” polisi untuk merazia kalo polisi lewat mereka pada bubar semua macem gak ada kejadian gitu, nanti kalo polisi pergi mereka mulai lagi itu balapnya ya sampe pagi lah terakhir balap itu...”

(47)

tujuan-tujuan warga masyarakat yang bersangkutan dan oleh berupaya memahami tindakan mereka. Perhatian weber pada tindakan berorientasi tujuan dan motivasi pelaku, tidak berarti ia hanya tertarik pada kelompok kecil, dalam hal ini interaksi spesifik antar individu.

4.10 Analisis Teori Labelling

Permasalahan di atas dapat kita analisis menggunakan teori labeling. Menurut teori labeling kejahatan tidaklah sepenuhnya hasil dari kekurangmampuan seseorang untuk menyesuaikan dengan kelompok, akan tetapi dalam kenyataanya, ia dipaksa untuk menyesuaikan dirinya dengan kelompoknya, sehingga disimpulkan bahwa kejahatan merupakan hasil dari konflik antara kelompok dengan masyarakatnya. Teori Labelling, teori ini menjelaskan bahwa seseorang menjadi penyimpang dikarenakan proses labeling (pemberian julukan, cap, etiket atau merk). Balap liar di sini dapat diartikan sebagai sebuah kejahatan dan kejahatan merupakan hasil dari konflik antara kelompok dengan masyarakatnya. Kelompok dalam penelitian ini adalah para remaja yang melakukan balap liar sedangkan para remaja diberi julukan, cap atau merk bahwa meraka adalah remaja nakal. Pendekatan labeling dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:

a) Persoalan tentang bagaimana dan mengapa seseorang memperoleh cap atau label. (labeling sebagai akibat dari reaksi dari masyarakat.)

(48)

Kedua pendekatan tersebut dapat gunakan sebagai alat analisis. Pendekatan yang pertama, persoalan tentang bagaimana dan mengapa seseorang memperoleh cap atau label. Dalam kasus ini remaja pembalap liar memperoleh label dari masyarakat karena kegiatannya mengganggu ketentraman warga masyarakat dengan melakukan balap liar dan sebagai akibat dari tindakan sebagian kecil dari para pembalap yaitu minum-minuman keras. Pendekatan yang kedua, efek labeling terhadap penyimpangan tingkah laku beriktnya. Karena sudah mendapatkan label sebagai remaja nakal sebagian remaja balap liar pun tidak segan-segan merokok maupun minum di saat masyarakat sedang menjalankan ibadah puasa. Pelabelan juga mengakibatkan mereka tetap bertindak seperti biasanya tidak ada perubahan yaitu tetap melakukan kegiatan balap liar. Teori Labeling menjelaskan penyimpangan terutama ketika perilaku itu sudah sampai pada tahap penyimpangan sekunder (secondary deviance).

(49)

relatif dan juga menbingungkan. Karena untuk memahaminya apa yang dimaksud tindakan penyinpangan harus diujimelalui reaksi dari orang lain.

(50)

remaja dalam menghadapi cobaan hidup, mereka memilih cara-cara yang cepat dalam menghadapi masalah tanpa memikirkan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Keadaan tersebut membuat masyarakat khawatir terhadap bagaimana masa depan para remaja yang sehari-hari hanya balapan, judi dan minum-minuman keras.

Kegiatan balap liar telah melanggar berbagai norma dalam masyarakat, bagaimana mungkin remaja menjadi seorang individu dewasa yang mampu mengemban tugas dengan baik jika masa remajanya dihabiskan untuk kebut-kebutan, judi dan minum-minuman keras. Oleh karena itu masyarakat sering membubarkan para remaja yang melakukan balap liar, dengan pembubaran itu diharapkan para remaja akan sadar dan tidak mengulangi perbuatan yang melanggar hukum tersebut. Kegiatan balap liar di atas dapa juga kita analisis menggunakan teori konflik. Teori konflik diidentikan dengan teori Marx dimana teori ini berangkat dari asumsi bahwa dalam suatu masyarakat terdapat beberapa kelas yang saling memperebutkan pengaruh dan kekuasaan. Randall Collins mempunyai pandangan mengenai model interaksi konflik yang sedikit menekankan interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat merupakan suatu konflik sebagai upaya untuk memaksimalkan “status subyektif” mereka dan kemampuan untuk berbuat demikian tergantung pada sumber daya mereka maupun sumber daya orang lain dengan siapa mereka berurusan, ia melihat orang mempunyai kepentingan sendiri-sendiri, jadi benturan mungkin terjadi karena kepentingankepentingan itu pada dasarnya saling bertentangan.

(51)

membutuhkan ketenangan dan remaja membutuhkan sarana untuk memenuhi kebtuhan mereka. Kebutuhan mereka bertolak belakang sehingga rentan menimbulkan konflik diantara keduanya. Individu-individu yang mempunyai kepentingan yang sama menajdi satu kelompok, kelompok masyarakat daerah ringroad yang menginginkan ketenangan sedangkan di sisi lain terdapat kelompok yang ingin memenuhi kebutuhan sosialnya dengan melakukan balap liar, kelompok ini adalah kelompok remaja yang melakukan balap liar. Adanya dua kelompok yang mempunyai tujuan berbeda dalam satu daerah sehingga daerah tersebut rawan terjadi konflik antara dua kelompok tersebut.

4.11 Pokok-Pokok Temuan Penelian

Dalam melakukan penelitian, peneliti diharapkan dapat menemukan hal-hal yang dirasa membedakan dengan hal-hal lainnya. Temuan penelitian ini dapat digunakan sebagai pendukung hasil penelitian yang telah dilakukan sehingga terdapat intisari dari permasalahan permasalahan yang peneliti amati. Pokok-pokok temuan dalam penelitian mengenai Balap Liar di Kalangan Remaja ini terbagi menjadi dua yaitu positif dan negatif.

Positif :

1. Adanya balap liar menambah pemasukan sebagian kecil warga daerah ringroad yang mempunyai usaha perdagangan

2. Para remaja pembalap liar mengikuti kejuaraan balap resmi. 3. Tempat mencari teman

(52)

1. Balap liar sangat mengganggu warga daerah ringroad, terutama polusi suara di saat malam hari.

2. Pemberian label kepada remaja yang mengikuti balap liar mengakibatkan para remaja pembalap liar melakukan penyampangan yang lain.

3. Remaja yang mengikuti balap liar kurang menghargai dan menghormati warga masyarakat daerah ringroad

(53)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan tentang Balap Liar Di Kalangan Remaja di Kota Medan. Berikut ini menunjukkan beberapa kesimpulan-kesimpulan berdasarkan hasil analisa data yang diperoleh dari lapangan sebagai berikut :

1. Balap liar di ringroad sudah terjadi sejak lama. Balap liar dilakukan oleh kelompok-kelompok remaja. Kegiatan tersebut dilakukan pada malam hari. Balapan tersebut disebut balap liar karena tidak memiliki ijin dari pihak-pihak yang berwenang.

2. Balap liar membawa dampak negatif bagi warga masyarakat daerah sekitar ringroad yaitu dengan adanya polusi suara, kecelakaan di ringroad dan sering terjadinya perkelahian antar remaja.

3. Balap liar juga membawa dampak positif bagi sebagian kecil warga masyarakat daerah ringroad yang bekerja sebagai tukang tambal ban dan pedegang kecil yang berada di sekitar.

(54)

5. Masyarakat memberi label kepada remaja yang melakukan balap liar sebagai remaja yang nakal.

6. Pelabelan terhadap remaja menyebabkan remaja melakukan penyimpangan-penyimpangan lain.

7. Dampak balap liar terhadap pelaku (pembalap liar)

Menjadikan sebagai penyaluran hoby yang bertaruhkan nyawa mereka masing-masing. Adapula yang menjadikannya sebagai sarana untuk mendapatkan uang baik dari pembalapnya sendiri (joki) ataupun teman-teman kelompok lainnya.

Saran

1. Balapan liar merupakan suatu kebudayaan yang di wariskan dari orang yang pertama melakukannya sehingga untuk sekarang ini sudah menjadi kebudayaan bagi remaja maka semestinya orang tua dan masyarakat mengontrol agresifitas tersebut dengan sebaik-baiknya, sebab jika tidak dilaksanakan maka hal yang sangat tidak diinginkan bisa terjadi kerugian dan bahkan dapat mendatangkan kematian.

2. Bagi masyarakat, sebaiknya memberi peringatan secara lisan maupun tulisan agar remaja mengetahui bahwa kegiatan mereka mengganggu ketentraman warga masyarakat. Remaja terjun ke dunia balap liar demi menyalurkan hobbinya sehingga perlu diarahkan agar dapat berkembang dan tidak mengganggu lingkungan masyarakat dan menanggulangi konflik antara remaja pembalap liar dengan masyarakat daerah ringroad.

(55)

mengganggu orang lain. Apabila bakat dan minatnya kepada dunia balap sangat besar sebaiknya mengikuti event balap resmi. Selain itu sebagai kaum muda harus bisa meminimalisir kegiatan negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

(56)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi balap liar

Balap motor adalah olahraga otomotif yang menggunakan sepeda motor. Balap motor, khususnya road race, cukup populer di Indonesia. Hampir tiap minggu di berbagai daerah di Indonesia even balap motor diselenggarakan. Selain road race, balap motor jenis lain yang cukup sering diadakan adalah motorcross, drag bike, grasstrack dan supersport.

(57)

pada periode remaja, sedangkan delinquent berasal dari bahasa latin “delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau peneror, durjana dan lain sebagainya.

Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai

Wujud Perilaku Kenakalan Remaja

Dalam bukunya Katono menyebutkan wujud dari perilaku kenakalan remaja sebagai berikut :

a) Kebut-kebutan di jalanan yang menggangu keamanan lalu lintas, dan membahayakan diri sendiri serta orang lain.

b) Perilaku ugal-ugalan, brandalan, urakan yang mengacaukan lingkungan sekitar. c) Perkelahian antar gang, antar kelompok, antar sekolah, atau tawuran.

d) Membolos sekolah

e) Kriminalitas anak atau remaja berupa mengancam teman atau mengompas/memeras uang saku teman sendiri.

f) Berpesta-pora seperti mabuk-mabukan g) Melakukan seks bebas antar para remaja

(58)

2.2 Tindakan Sosial Weber

Bagi Weber dunia terwujud karena tindakan sosial, manusia melakukan sesuatu karena mereka memutuskan untuk melakukankannya dan ditujukan untuk mencapai apa yang mereka inginkan atau kehendaki. Mereka memilih sasaran, mereka memperhitungkan keadaan, kemudian memilih tindakan. Sosiolog mengapresiasikan lingkungan sosial dimana mereka berada, memperhatikan tujuan-tujuan warga masyarakat yang bersangkutan dan oleh berupaya memahami tindakan mereka. Perhatian weber pada tindakan berorientasi tujuan dan motivasi pelaku, tidak berarti ia hanya tertarik pada kelompok kecil, dalam hal ini interaksi spesifik antar individu. Berbeda dengan Marx dan Durkheim yang memandang tugas mereka adalah mengungkapkan kecenderungan-kecenderungan dalam kehidupan sosial manusia dan mengarah fungsionalisme dalam kehidupan masyarakat. Weber tidak sejalan dengan pandangan tersebut, namun sama halnya dengan Marx, Weber juga memperhatikan lintasan besar sejarah dan perubahan sosial. Dan yakin bahwa cara terbaik untuk memahami berbagai masyarakat adalah menghargai bentuk-bentuk tipikal tindakan yang menjadi ciri khasnya. Weber berpendapat bahwa anda bisa membandingkan struktur beberapa masyarakat dengan memahami alasan-alasan mengapa warga masyarakat tersebut bertindak, kejadian historis (masa lalu) yang mempengaruhi karakter mereka, dan memahami tindakan para pelakunya yang hidup di masa kini, tetapi tidak mungkin menggeneralisasi semua masyarakat atau semua struktur sosial.

Weber mengemukakan lima ciri pokok tindakan sosial, yaitu :

(59)

2. Tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif.

3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam 4. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu. 5. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang

lain itu.

Dilihat dari segi sasarannya, maka pihak yang menjadi sasaran tindakan sosial dapat berupa seorang individu atau sekumpulan orang. Weber juga membedakan tindakan sosial kedalam empat tipe, yaitu Tindakan rasionalitas instrumental (Zwerk rational), Tindakan rasional nilai (werktrasional action), Tindakan afektif (Affectual action), dan Tindakan tradisional (Traditional action).

1. Tindakan Rasionalitas Instrumental (Zwerj Rational)

Tindakan ini merupakan suatu tindakan sosial yang dilakukan seseorang didasarkan atas pertimbangan dan pilihan sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan ketersediaan alat yang dipergunakan untuk mencapainya.

2. Tindakan Rasional Nilai (Werktrasional Action)

Tindakan rasional yang berorientasi nilai yaitu tindakan yang lebih memperhatikan manfaat atau nilai daripada tujuan yang hendak dicapai. Tindakan religious merupakan bentuk dasar dari rasionalitas yang berorientasi nilai.

(60)

Tipe tindakan sosial ini lebih didominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelktual atau perencanaan sadar. Tindakan ini sukar dipahami. Tindakan ini kurang atau tidak rasional.

4. Tindakan Tradisional (Traditional Action)

Dalam tindakan jenis ini, seseorang memperlihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh dari nenek moyang, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan.

2.3 Pengertian Persepsi

Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya. Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan ekstern. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Sugihartono, dkk (2007: 8) mengemukakan bahwa persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia.

(61)

merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dengan berbagai macam 10 bentuk. Stimulus mana yang akan mendapatkan respon dari individu tergantung pada perhatian individu yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar individu satu dengan individu lain.

(62)

Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesamaan pendapat bahwa persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya.

1. Syarat Terjadinya Persepsi

Menurut Sunaryo (2004: 98) syarat-syarat terjadinya persepsi adalah a. Adanya objek yang dipersepsi

b. Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi.

c. Adanya alat indera/reseptor yaitu alat untuk menerima stimulus

d. Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak, yang kemudian sebagai alat untuk mengadakan respon.

2. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Menurut Miftah Toha (2003: 154), faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah sebagai berikut :

a. Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi.

(63)

Menurut Bimo Walgito (2004: 70) faktor-faktor yang berperan dalam persepsi dapat dikemukakan beberapa faktor, yaitu:

a. Objek yang dipersepsi

Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor.

b. Alat indera, syaraf dan susunan syaraf

Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus, di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan motoris yang dapat membentuk persepsi seseorang.

c. Perhatian

Untuk menyadari atau dalam mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah utama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu sekumpulan objek.

(64)

sama. Perbedaan persepsi dapat ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individu, perbedaan perbedaan dalam kepribadian, perbedaan dalam sikap atau perbedaan dalam motivasi.

Pada dasarnya proses terbentuknya persepsi ini terjadi dalam diri seseorang, namun persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar, dan pengetahuannya.

3. Proses Persepsi

Menurut Miftah Toha (2003: 145), proses terbentuknya persepsi didasari pada beberapa tahapan, yaitu:

a. Stimulus atau Rangsangan Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada suatu stimulus/rangsangan yang hadir dari lingkungannya.

b. Registrasi Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan syarat seseorang berpengaruh melalui alat indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftar semua informasi yang terkirim kepadanya tersebut.

(65)

2.4Teori Lebeling

Teori labeling ini merupakan teori yang terinspirasi oleh Tannembaum, menurutnya kejahatan tidaklah sepenuhnya hasil dari kekurang mampuan seseorang untuk menyesuaikan dengan kelompok, akan tetapi dalam kenyataannya ia dipaksa untuk menyesuaikan dirinya dengan kelompoknya sehingga disimpulkan bahwa kejahatan merupakan hasil dari konflik antara kelompok dengan masyarakatnya. Teori Labelling, teori ini menjelaskan bahwa seseorang menjadi penyimpang dikarenakan proses labelling (pemberian julukan, cap, etiket atau merk). Pendekatan labelling dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu :

1. Persoalan tentang bagaimana dan mengapa seseorang memperoleh cap atau label (labeling sebagai akibat dari reaksi dari masyarakat)

2. Efek labeling terhadap penyimpangan tingkah laku berikutnya, (persoalan kedua ini adalah bagaimana labeling mempengaruhi seseorang yang terkena label.

(66)

pemberian label (definers labelers) pada individu-individu atau tindakan yang menurut penilaian orang tersebut adalah negatif. Menurut para ahli teori labeling, mendefenisikan penyimpangan merupakan sesuatu yang bersifat relatif dan juga membingungkan. Karena untuk memahaminya apa yang dimaksud tindakan penyimpangan harus diuji melalui reaksi dari orang lain. Menyimpang adalah tindakan yang dilabelkan kepada seseorang, atau pada siapa label secara khusus telah ditetapkan.

Menurut para ahli teori labeling, medefenisikan penyimpangan merupakan sesuatu yang bersifat relatif dan bahkan mungkin juga membingungkan. Karena untuk memahami apa yang dimaksud sebagai suatu tindakan menyimpang harus diuji melalui reaksi orang lain. Oleh karena itu Becker, salah seorang pencetus teori labeling (dalam Clinard & Meier, 1989:92) mendefenisikan penyimpangan sebagai “suatu konsekuensi” dari penerapan aturan-aturan dan sanksi oleh orang lain kepada seorang pelanggar”

Melalui defenisi itu dapat ditetapkan bahwa menyimpang adalah tindakan yang dilabelkan kepada seseorang, atau pada siapa label secara khusus telah ditetapkan. Dengan demikian, dimensi penting dari penyimpangan adalah pada adanya reaksi masyarakat, bukan pada kualitas dari tindakan itu sendiri. Atau dengan kata lain, penyimpangan tidak ditetapkan berdasarkan norma, tetapi melalui reaksi atau sanksi dari penonton sosialnya.

(67)

tindakan penyimpangan yang lebih lanjut. Inilah yang membedakan penyimpangan primer (primary deviance) dengan penyimpangan sekunder (secondary deviance), dimana cap menyimpang menghasilkan sesuatu peran sosial yang menyimpang juga. Artinya dengan adanya cap yang dilekatkan pada diri seseorang maka ia (yang diberi cap) cenderung mengembangkan konsep diri yang menyimpang (disebut juga proses reorganisasi psikologis) dan kemungkinan berakibat pada suatu karir yang menyimpang. Proses terjadinya penyimpangan sekunder membutuhkan waktu yang tidak panjang dan tidak kentara. Dua konsep penting dalam teori labeling adalah :

1. Primary Devience yaitu ditunjukan pada perbuatan penyimpangan awal

2. Scondary Devience adalah berkaitan dengan reorganisasi psikologis dari pengalaman seseorang sebagai akibat dari penangkapan dan cap sebagai penjahat, kalau sekali saja cap atau status itu melakat pada diri seseorang maka sangat sulit seseorang untuk selanjutnya melepaskan diri dari cap tersebut, dan kemudian akan mengidentifikasi dirinya dengan cap yang telah diberikan masyarakat terhadap dirinya.

2.5Balapan Liar Sebagai Perilaku Sosial Menyimpang

Gambar

Gambar 3
 Gambar 6
Tabel 4.1
Tabel 4.2
+6

Referensi

Dokumen terkait

Apabila Bapak/Ibu membutuhkan dana atau uang dalam keadaan mendadak, misalnya seperti sakit atau kebutuhan lainnya, dimana Bapak/Ibu biasanya mencari dana

Data dari Polsek Sektor (Polsek) Rumbai yang merazia para pembalap liar ini pelanggaran yang dilakukan para pembalap liar tersebut yakni kendaraan motor yang

Walaupun kegiatan judi balap liar meresahkan warga sekitar tetapi remaja tetap saja melakukan judi balap liar di Jalan Bukik Bunian, remaja merasa kegiatan

Berkenaan dengan penelitian ini, maka definisi konsepsional dari Upaya Kepolisian Resor Bontang dalam Penertiban Balap Liar Di Kalangan Remaja pada Daerah Gunung

untuk kepolisian ambarawa guna menindak lanjuti aksi balap liar yang terjadi

Remaja yang mengikuti judi balap liar disebabkan karena mereka tertantang untuk bisa menghindari resiko dan bahaya kecelakaan yang mereka hadapi, dengan demikian remaja memilih judi