ANALISIS PAJAK DAERAH, RETRIBUSI DAERAH, LABA USAHA DAERAH SERTA PENDAPATAN LAIN-LAIN DAN PENGARUHNYA
TERHADAP BELANJA PUBLIK KOTA METRO
ABSTRAK
Oleh Audi Kurniawan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pajak daerah, retribusi daerah, laba usaha daerah dan pendapatan lain-lain terhadap belanja publik di Kota Metro. Obyek penelitian ini adalah pendapatan asli daerah Kota Metro yang tercatat pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Metro selama kurun waktu 14 tahun (periode 1999 – 2012). Data yang dikumpulkan merupakan data sekunder dan pengolahan data menggunakan teknik analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian membuktikan bahwa Pajak Daerah di Kota Metro berpengaruh terhadap belanja publik Kota Metro yang dinyatakan dalam koefisien determinasi sebesar 94,4% menunjukkan bahwa variasi belanja publik Kota Metro dapat diterangkan oleh Pajak Daerah sebesar 94,4%, dan sisanya dipengaruhi oleh variabel-variabel lain.
ANALISIS PAJAK DAERAH, RETRIBUSI DAERAH, LABA USAHA
DAERAH SERTA PENDAPATAN LAIN-LAIN DAN PENGARUHNYA
TERHADAP BELANJA PUBLIK KOTA METRO
TESIS
Oleh :
AUDI KURNIAWAN
0720003063
PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
ANALISIS
PAJAK
DAERAH, RETRIBUSI DAERAH,LABA
USAHADAERAH SERTA PENDAPATAN
IAIN.LAIN DAN
PENGARUHNYATERHADAP BELANJA PUBLIK KOTA METRO
Oleh
,Ndt
Qnnicnttan
NPM:0720003063
Tesis
Sebogoisoloh
Sotu Syorot untukMencopoi
GelorMAGTSTER MANAJEMEN
Podo
Progro m Poscosorjono Mogister
Monojemen
Fokultos Ekonomidon
Bisnis Universitos LompungPROGRAM PASCASARJANA
MAGISTERMANAJEMEN
FAKUTTAS EKONOMTDAN
BISNISUNIVERSITAS TAMPUNG
Judul Tesis
I(onsentrasi
Piogram Studi
Nama Mahasiswa
:
{td{ftnniawct
l{omorPolotMahasiswa
:
O7X)0O3O63:
Analisis Poiok.Doeroh, Relrlbusi Eloerah,Lobo Usoho Doeroh Serto
Pendopoton
tsin-loin
Don Pengoruhnyolerhodop
Belonlro Pubilik Ko[o m'efr0
Manajemen KegangaJr
Magister ManaiEmen ':,
Prqrarn P?sesarjana Fakuftes fkonomi
dan Bisnis Univelsihs Lampung
TIffiNYETT'ruI
Kom,isi Pembimbing"
Pernbimbingl,
A/r,r,,^
* ,J"-
LiltaR,S.E., M.5[.NtP 19590!'06,1986031 . 3
Pembimhingll,
ffi
NtP. 19710405 1!Xr512I
OO2Prqgmm Studi Magisten ManajelneR
Program Paseasariana Sakultas Ekonomi dan Bisnis
Unlversitas Lampuag
lGtuaPr.ogramStudi,
/v/,,r^
D; lrftam [ihan,S.E,ttSi;
MEI{GSAI{I(A]I
Xomlsiknguii:
1.t
Ketua Kornisi. Penguji(Pembirnbingl|
:
Dr. lrham Uhan,S,E.*M.Si1.3 Panbimbinglt
:
Renaldi BursarU S.E,lil.S[.FakulBs Elqoaomi dan Bisnis Unlyersit"s
taffine
,yd
z
1.2 Anggota
tbmisifenguji
: srcfi Dr. Hi.ftia
gangsawan, s,E, i,l.si' {PbngujiUtama}
'
'-r.
-..',
t{tv
t
ffi;\P
Program Pascasarjana" Universitas tampung
Sayapngberhnda trrgen
ebeluh
int
Nama
NIM
: AudiKurniawan, ST
:0720fi)3063
l
I I
i
t Jurusan/Prograrn Studi : Magister Manajemen
: Ekonomidan Bisnis
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis ini bemr+enar menrpakan hasil
karJ'a saya sndiri, bebos
dri
penirum Edradap kar},a dari orang tain Krr[oanpendapat dan tulisan orang lain dituqiuk sesuai dengan car:a-cara penulisan kar;ra
ilmiah yang berlaku.
Apabila di kemudihn hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa dalam tesis
iri
terkandung ciri-ciri plagiat dan bentuk{entuk pennnran tain yang diargap
melangar peratum& malta mya bersefia menerima sant<si dss p€6uatan
. :'
tersebul
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta 12 Agustus 1982 dari pasangan ayah Hi. Zubaidi
Makki, Ak. dan ibu Hj. Martini Suralaga. Menikah dengan Artha Selvia Syafitri, SE,
MM pada tahun 2012 dan dikaruniai seorang orang putri.
Pendidikan Sekolah Dasar diselesaikan di SD Xaverius Tanjung Karang, Bandar
Lampung pada tahun 1995. Pendidikan Sekolah Menengah Pertama diselesaikan di
SMP Negeri 1 Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada tahun 1997. Pendidikan
Sekolah Menengah Atas diselesaikan pada tahun 2001 di SMU Negeri 1
Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pendidikan Strata Satu diselesaikan di Fakultas
Teknik Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung pada tahun 2006. Pada tahun
2007, penulis melanjutkan pendidikan strata dua pada Program Pascasarjana
Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Lampung.
Sejak tahun 2010 penulis bekerja di Pemerintah Kota Metro dan saat ini ditempatkan
PERSEMBAHAN
Tesis ini Kupersembahkan kepada
Kedua orangtua tercinta, ayah H. Zubaidi Makki, Ak, ibu Hj. Martini Suralaga dan
istriku Artha Selvia Syafitri, SE, MM yang tanpa kata henti & tanpa pernah lelah
memberikan semangat berjuang menyelesaikan thesis walaupun dibarengi kesibukan
tugas pekerjaan serta Anakku Tersayang Nayyara Qaireen Shanum Makki karena
Ayahmu akan terus memberikan motivasi dalam belajar berjuang & berjuang belajar
agar dalam mengejar cita-cita bangsa Indonesia karena kalian harus merupakan
MOTO
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas taufik dan hidayah-Nya jualah penulis
dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini sebagai salah satu syarat dalam meraih
gelar Magister Manajemen pada Program Pascasarjana Program Studi Magister
Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung dengan judul "
ANALISIS PAJAK DAERAH, RETRIBUSI DAERAH, LABA USAHA DAERAH SERTA PENDAPATAN LAIN-LAIN DAN PENGARUHNYA TERHADAP BELANJA PUBLIK KOTA METRO ".
Keberhasilan penulisan tesis ini tidak terlepas dari partisipasi dan bantuan berbagai
pihak sehingga dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih
setulusnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Hi. Satria Bangsawan, S.E., M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
2. Bapak Prof. Dr. Sudjarwo, M.S, selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Lampung.
3. Bapak Dr. Irham Lihan, S.E., M.Si., selaku Ketua Program Studi Magister
Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung sekaligus Dosen
4. Bapak Renaldi Bursan, S.E., M.Si, selaku Dosen Pembimbing Tesis.
5. Seluruh dosen dan staf administrasi di lingkungan Program Studi Magister
Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
6. Pimpinan dan staf Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Kota Metro yang
selalu mengingatkan, memotivasi dan membantu penulis menyelesaikan Program
Pascasarjana ini..
7. Rekan-rekan mahasiswa Angkatan VII MM FE Unila.
8. Seluruh keluarga besar Hi. Zubaidi Makki, Ak dan Setuju M.yus yang selalu
memotivasi dan mendoakan penulis agar dapat menyelesaikan Program
Pascasarjana ini dengan baik.
9. Serta pihak-pihak lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, yang turut
serta dalam membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
Akhir kata, semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua.
Bandarlampung, Januari 2014
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PERSETUJUAN
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK
RIWAYAT HIDUP
MOTO
PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
1.3.2 Manfaat Penelitian ... 7
1.4 Kerangka Pemikiran ... 8
1.5 Hipotesis ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Otonomi Daerah ... 10
2.2 Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 12
2.3 Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 14
2.3.1 Pajak Daerah ... 15
2.3.2 Retribusi Daerah ... 17
2.3.3 Laba Usaha Daerah ... 17
2.3.4 Pendapatan Lain-lain ... 18
2.4 Belanja daerah ... 19
III. METODE PENELITIAN ... 23
3.1 Objek Penelitiana ... 23
3.2 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data ... 23
3.2.1 Jenis Data ... 23
3.2.2 Teknik Pengumpulan Data ... 24
3.3 Variabel Penelitian ... 24
3.4 Metode Analisis Data ... 25
3.5 Uji Asumsi Klasik ... 26
3.5.2 Hasil Uji Asumsi Heteroskedastitas ... 27
3.5.3 Hasil Uji Asumsi Normalitas... 29
3.6 Uji Regresi Berganda ... 29
3.7 Pengujian Hipotesis ... 30
IV. PEMBAHASAN ... 32
4.1 Analisis Perkembangan Belanja Pembangunan di Kota Metro... 32
4.2 Analisis Perkembangan PAD Kota Metro ... 35
4.3 Analisis Pengaruh Pajak Daerah terhadap Belanja Publik ... 39
4.3.1 Hasil Perhitungan Regresi ... 39
4.3.2 Pengujian Hipotesis ... 39
4.4 Implikasi Manajerial ... 41
4.4.1 Pajak Daerah ... 41
4.4.2 Retribusi Daerah... 43
4.4.3 Laba Usaha Daerah ... 45
4.4.4 Pendapatan Lain-Lainnya... 46
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 47
5.1 Kesimpulan ... 47
5.2 Saran ... 49
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Total Belanja Pembangunan Kota Metro Tahun 1999 – 2012 ... 3
2. Komposisi Pendapatan Asli Daerah Kota Metro Tahun 1999 – 2012 ... 5
3. Hasil Uji Autokorelasi... 27
4. Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov ... 29
5. Total Belanja Pembangunan Kota Metro Tahun 1999-2012 ... 33
6. Deskripsi Statistik Belanja Pembangunan Kota Metro Tahun 1999-2012 ... 34
7. Deskripsi Statistik Komponen PAD Kota Metro Tahun 1999-2012 ... 38
8. Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi ... 39
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Model Penelitian ... 8
2. Scetter Plot Data Penelitian ... 28
3. Perkembangan Belanja Pembangunan Kota Metro Tahun 1999-2012 ... 32
4. Komposisi Belanja Pembangunan Kota Metro Tahun 1999-2012 ... 33
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Seiring dengan perubahan kepemimpinan nasional dari Orde Baru menuju Orde
Reformasi, pola hubungan pemerintah antara pemerintah daerah dan pemerintah
pusat mengalami perubahan. Jika sebelumnya pemerintah bersifat sentralistik
diubah menjadi sistem desentralisasi/otonomi. Era otonomi ini diharapkan daerah
menjadi mandiri dengan ditandai kekuatan fiskal daerah atau pendapatan asli
daerah (PAD).
Kehadiran paket undang-undang mengenai pelaksanaan otonomi daerah,
menjanjikan sejumlah harapan dan sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah,
karena diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah, akan terjadi perluasan wewenang pemerintah daerah. Secara
teoritis dengan adanya perluasan wewenang pemerintah daerah ini dapat
menciptakan Local Accountability yaitu meningkatkan kemampuan Pemerintah
Daerah dalam memperhatikan hak-hak masyarakat, terutama pada penyediaan
barang publik. Namun pada sisi lain diberlakukannya Undang-Undang Nomor 25
tahun 1999 kemudian direvisi dengan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004
tentang Perimbangan Keuagan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, akan
Ciri utama yang menunjukkan suatu daerah mampu melaksanakan otonomi :
1. Kemampuan keuangan daerah ; artinya daerah harus mampu memiliki
kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan
mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk
membiayai penyelenggaraan pemerintahannya.
2. Ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin, agar
Pendapatan Asli Daerah (PAD), harus menjadi bagian sumber keuangan
terbesar, yang didukung oleh kebijakan perimbangan keuangan pusat dan
daerah sehingga peranan pemerintah daerah menjadi lebih besar.
Sebagai konsekunensi menjalankan otonomi daerah yang dimulai pada tahun 2001
maka masing-masing daerah dituntut untuk berupaya meningkatkan sumber
pendapatan asli daerah agar mampu membiayai penyelenggaraan pemerintahan
dan lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Upaya peningkatan
pendapatan asli daerah dapat dilakukan dengan ekstensifikasi maupun
intensifikasi yang salah satunya adalah dengan meningkatkan efisiensi sumber
daya dan sarana yang terbatas serta meningkatkan efektivitas pemungutan yaitu
dengan mengoptimalkan potensi yang ada serta terus diupayakan menggali
sumber-sumber pendapatan baru yang potensinya memungkinan sehingga dapat
dipungut pajak atau retribusinya.
Sumber PAD didapat daerah melalui pajak daerah, retribusi daerah, laba usaha
PAD memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Salah satu
kompenen tersebut adalah pajak daerah. Pajak daerah merupakan iuran wajib yang
dapat dipaksakan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, memang benar
bahwa pajak adalah kewajiban masyarakat untuk memberikan sebagian daya
belinya kepada pemerintah tanpa pemerintah memberikan imbalan secara
langsung. Meskipun demikian sebagai imbalan kepada masyarakat, pemerintah
berkewajiban untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa pandang
bulu. Selain pajak daerah, retribusi daerah juga dapat dikembangkan berdasarkan
potensi suatu daerah. Sumber lainnya adalah bagian dari laba usaha daerah.
Bagian ini dapat ditinggkatkan dengan mengoptimalkan BUMD untuk
menghasilkan keuntungan sehingga pembagiannya menjadi lebih besar.
Komponen terakhir yang membentuk PAD adalah pendapatan daerah lainnya
yang dianggap sah. Pendapatan dari komponen ini dapat berasal dari pendapatan
jasa giro dan optimalisasi penjualan aset daerah.
Untuk mendapatkan gambaran perkembangan total belanja pembangunan
Pemerintah Kota Metro selama kurun waktu 1999 – 2012 dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini
Tabel 1. Total Belanja Pembangunan Kota Metro Tahun 1999 – 2012
Tahun Target (Rp)
Realisasi (Rp)
Pencapaian Target (%)
1999 5,390,423,128 3,889,354,138 72,15
2000 5,296,947,824 4,436,206,537 83,75
2001 5,389,185,754 4,949,428,176 91,84
Tabel 1. Total Belanja Pembangunan Kota Metro Tahun 1999 – 2012 ...(lanjutan)
Tahun Target (Rp)
Realisasi (Rp)
Pencapaian Target (%)
2003 66,620,694,819 67,847,894,398 101,84
2004 113,271,649,943 94,390,958,516 82,33
2005 110,068,720,138 101,120,524,135 91,87
2006 227,235,155,859 219,105,965,787 96,42
2007 286,504,500,809 278,137,643,368 97,08
2008 365,661,624,589 359,397,618,599 98,29
2009 362,139,550,233 368,985,447,247 101,89
2010 393,519,345,922 411,681,662,993 104,62
2011 567,594,509,197 498,613,211,594 95,03
2012 646,952,907,345 666,557,841,673 103,03
Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Kota Metro, 2013
Dari data yang disajikan pada Tabel 1 diatas terlihat hanya tahun 2003, 2009,
2010 dan 2012 realialisasi anggaran yang melebihi target yang ditetapkan.
Pencapaian realisasi anggaran tertinggi pada tahun 2012 sebesar 103,03%. Selama
kurun waktu 1999 – 2012 rata-rata pencapaian realisasi anggaran sebesar 95%. Hal ini menunjukan kinerja pemerintah yang belum optimal dalam menggali
potensi daerah. Tidak tercapainya realisasi belanja pembangunan menyebabkan
daerah kesulitan untuk mencari dana guna membiaya pembangunan daerah untuk
tahun-tahun berikutnya.
Sumber PAD berasal dari pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba usaha daerah
dan pendapatan asli daerah lainnya. Tabel 2 menyajikan realisasi PAD
Tabel 2. Komposisi Pendapatan Asli Daerah Kota Metro Tahun 1999 – 2012
Tahun
Komponen PAD (dalam rupiah) Pajak Daerah Retribusi Daerah Laba Usaha
Daerah
PAD Lain-Lain
1999 4,763,800,000 829,126,000 59,028,000 241,000,000
2000 5,556,080,000 1,035,166,250 74,959,000 249,550,000 2001 6,223,080,000 1,710,716,250 95,690,000 302,000,000 2002 6,392,068,750 2,214,398,750 131,290,000 692,000,000 2003 7,723,000,000 2,892,895,000 95,325,000 828,086,250 2004 8,255,000,000 1,577,493,000 47,999,500 22,000,000 2005 7,782,250,000 1,436,237,500 76,000,000 152,000,000 2006 9,100,000,000 2,979,571,000 150,000,000 183,351,000 2007 9,275,000,000 3,977,999,500 360,000,000 245,227,050 2008 10,312,000,000 4,698,270,400 468,957,844 257,423,000 2009 11,822,000,000 5,398,521,320 487,000,000 279,000,000 2010 12,156,900,000 5,495,413,627 526,487,000 296,423,000 2011 13,749,730,350 5,802,709,948 549,603,209 325,000,000 2012 14,399,693,750 5,960,225,560 667,899,303 332,081,450 Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Kota Metro , 2013
Tabel 2 menunjukan sumber pendapatan asli daerah kota Metro untuk komponen
pajak daerah, retribusi daerah, laba usaha daerah dan PAD lain-lain selama kurun
waktu 1999 - 2012 relatif mengalami peningkatkan. Secara rata-rata proporsi
masing-masing komponen pajak daerah terhadap total PAD sebesar 72,03 %,
proporsi retribusi daerah sebesar 23,42 % terhadap total PAD, proporsi laba usaha
daerah sebesar 1,78 % dan proporsi PAD lain-lain sebesar 2,78 % terhadap total
PAD Metro .
Bertitik tolak dari hal-hal diatas, maka penulis tertarik untuk mencoba melakukan
Analisis pajak daerah, retribusi daerah, laba usaha daerah serta pendapatan
lain-lain dan pengaruhnya terhadap belanja publik Kota Metro”.
1.2 Perumusan Masalah
Tabel 1 menunjukan pencapaian realisasi belanja pembangunan Kota Metro
selama kurun waktu 1999 - 2012 mencapai sebesar 83,43 %. Pencapaian realisasi
anggaran tertinggi pada tahun 2012 sebesar 103,03 %. Selama kurun waktu 1999
– 2012 rata-rata pencapaian realisasi anggaran sebesar 95%.
Komponen PAD yang terdiri dari komponen pajak daerah, retribusi daerah, laba
usaha daerah dan PAD lain-lain selama kurun waktu 1999 - 2012 relatif
mengalami peningkatkan. Secara rata-rata proporsi masing-masing komponen
pajak daerah terhadap total PAD sebesar 72,03 %, proporsi retribusi daerah
sebesar 23,42 % terhadap total PAD, proporsi laba usaha daerah sebesar 1,78 %
dan proporsi PAD lain-lain sebesar 2,78 % terhadap total PAD Metro .
Berdasarkan latar belakang dan uraian masalah maka permasalahan dalam tesis
ini adalah:
1. Bagaimana perkembangan belanja pembangunan di Kota Metro ?
2. Bagaimana perkembangan komponen pembentuk PAD dan kontribusinya
3. Berapa besar pengaruh pajak daerah, retribusi daerah, laba usaha daerah
serta pendapatan lain-lain terhadap belanja publik di Kota Metro ?
C.Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui perkembangan belanja pembangunan di Kota Metro.
2. Mengetahui perkembangan komponen pembentuk PAD dan kontribusinya
terhadap belanja pembangunan di Kota Metro.
3. Mengetahui besarnya pengaruh pajak daerah, retribusi daerah, laba usaha
daerah serta pendapatan lain-lain terhadap belanja publik di Kota Metro.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi:
1. Pemerintah Kota Metro sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan
target yang realisitis pada komponen pembentuk PAD.
2. Sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu khususnya perencanaan
keuangan daerah.
D. Kerangka Pemikiran
Dalam membiayai pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan pemerintahan
daerah, dana perimbangan, pinjaman daerah dan lain-lain penerimaan yang sah.
Dari keempat macam sumber penerimaan tersebut yang berasal dari daerah dan
dikelola langsung oleh daerah adalah pendapatan asli daerah. Kontribusi
pendapatan asli daerah terhadap total penerimaan akan menentukan tingkat
kemandirian keuangan daerah. Semakin tinggi kontribusi pendapatan asli daerah
terhadap total penerimaan menunjukkan semakin tinggi pula kemampuan daerah
dalam melaksanakan otonomi. Oleh karenanya upaya peningkatan pendapatan asli
daerah perlu dilaksanakan. Upaya peningkatan dapat dilakukan melalui
intensifikasi komponen-komponen pembentuk PAD, yaitu: pajak daerah, retribusi
daerah, laba usaha perusahaan daerah, dan pendapatan lain-lain.
Dilihat dari pendapatan, pengelolaan keuangan daerah yang berhasil adalah
keuangan daerah yang mampu meningkatkan penerimaan daerah secara
berkesinambungan seiring dengan perkembangan perekonomian. Keberhasilan
pengelolaan keuangan daerah dapat ditinjau dari sudut efektivitas pemungutan
yaitu dengan mengoptimalkan potensi yang ada dan meningkatkan efisiensi
melalui meminimalisasi biaya pengelolaan dibandingkan dengan hasil yang
dicapai. Gambar 1 berukut ini merupakan gambar model penelitian:
Gambar 1. Model Penelitian : Pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Laba Usaha Daerah Serta Pendapatan Lain-Lain Terhadap Belanja Publik Kota Metro .
1. Pajak Daerah 2. Retribusi Daerah 3. Laba Usaha Daerah
4. Pendapatan Lain-Lain Daerah
E. Hipotesis
Berdasarkan perumusan permasalahan dan kerangka pemikiran dari uraian
terdahulu maka dibuat hipotesis sebagai berikut :
1. Pajak daerah dan retribusi daerah berpengaruh signifikan terhadap belanja
publik Kota Metro.
2. Pajak daerah merupakan faktor yang paling besar mempengaruhi belanja
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Otonomi Daerah
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di
Daerah merupakan landasan yuridis bagi pengembangan otonomi daerah di
Indonesia, akan tetapi dalam pelaksanaannya belum sepenuhnya dapat
diaplikasikan. Selanjutnya sesuai dengan perkembangan, maka telah terjadi
penyempurnaan yakni dengan adanya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Undang-undang tersebut disebutkan bahwa
pengembangan otonomi pada daerah kabupaten dan kota diselenggarakan dengan
memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan
dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Otonomi
yang diberikan kepada daerah kabupeten dan kota dilaksanakan dengan
memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada
pemerintah daerah secara proporsional. Artinya pelimpahan tanggung jawab akan
diikuti dengan peraturan pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang
berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah.
Hal-hal yang mendasar dalam Undang-undang ini adalah kuatnya upaya untuk
peningkatan peran serta masyarakat dan pengembanagn peran dan fungsi DPRD.
Undang-undang ini memberikan otonomi secara utuh kepada daerah kabupaten
dan kota untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan
aspirasi masyarakatnya.
Dalam menghadapi era globalisasi, salah satu strategi pemerintah dalam
meningkatkan daya saing adalah dengan mengoptimalkan efisiensi dan efektifitas
pemerintah, yakni dengan meningkatkan dan memantapkan otonomi daerah
khususnya di kabupaten dan kota. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana pengganti dari
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 yang telah diperbaharui.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dan telah diperbaharui
dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah Daerah, maka
makna dari pada otonomi daerah adalah memberikan kewenangan yang luas,
nyata dan bertanggung jawab kepada daerah, sehingga daerah diberi peluang yang
leluasa untuk mengatur dan melaksanakan kewenangannya atas prakarsa sendiri
sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat dan potensi setiap daerah.
Pemberian otonomi yang luas kepada daerah kabupaten dan kota adalah
merupakan salah satu tuntutan reformasi total, tuntutan seperti ini adalah wajar,
efektifitas pemerintah daerah dalam mendorong proses pembangunan dan
kehidupan demokrasi di daerah. Arahan dan statutory requirement yang terlalu
besar dari pemerintah pusat tersebut menyebabkan inisiatif dan prakarsa daerah
cenderung mati, sehingga pemerintah daerah sering kali menjadikan pemenuhan
peraturan sebagai tujuan dan bukan sebagai alat untuk meningkatkan pelayanan
kepada masyarakat. Kedua, tuntutan pemberian itujuga muncul sebagai jawaban untuk memasuki era new game yang membawa new rules pada semua aspek
kehidupan manusia di masa yang akan datang. Di era seperti ini, dimana era
globalisasi sudah semakin luas pemerintah akan semakin kehilangan kendali pada
banyak persoalan, seperti pada perdagangan internasional, informasi dan ide, serta
transaksi keuangan. Di masa depan pemerintah sudah terlalu besar untuk
menyelesaikan permasalahan-permasalahan kecil tetapi terlalu kecil untuk dapat
menyelesaikan semua masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
2.2 Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembangunan
daerah adalah kemampuan keuangan daerah yang memadai. Semakin besar
keuangan daerah semakin besar pula kemampuan daerah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakatnya. Tjokroamidjojo (1993) menyatakan bahwa
pemerintah daerah akan dapat menjalankan fungsinya dalam rangka otonomi
daerah atau desentralisasi secara baik, bila sumber-sumber keuangan yang
pendapatan asli daerah yang cukup, akan berhasil menjalankan otonomi
daerahnya.
Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah masih rendahnya penerimaan PAD
pada masing-masing daerah otonom di Indonesia. Rendahnya PAD suatu daerah
diidentifikasi oleh Santoso (1995) dikarenakan beberapa hal, yaitu:
1. Sumber pendapatan yang besar yang digali suatu daerah Dati II tetapi
berada diluar wewenang pemda yang bersangkutan untuk memungutnya.
2. BUMD pada umumnya belum menjadi sumber penerimaan yang handal.
3. Kurangnya kesadaran masyarakat membayar pajak dan retribusi.
4. Kurangnya kemampuan aparatur Pemda dalam menggali sumber PAD.
5. Rendahnya tingkat hidup dan ekonomi masyarakat.
Hasil penelitian Ichsan (1996) menyatakan bahwa ketidakefektifan pengelolaan
PAD dikarenakan ketidakmampuan penerapan manual administrasi pendapatan
daerah. Kendala yang dihadapi adalah organisasi, sarana dan prasarana, perizinan
serta pelaporan pembukuan.
Untuk mendorong kemampuan keuangan daerah yang lebih besar untuk
membiayai seluruh urusan rumah tangga daerah diperlukan kebijakan di bidang
pengembangan institusi dan pengelolaan keuangan daerah. Pengelolaan ini
sains dan teknologi, sistem dan prosedur serta kekayaan daerah ((Halim dan Nasir,
2006).
2.3 Sumber Pendapatan Asli Daerah
Sebagaimana diatur di dalam pasal 6 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
menyebutkan bahwa Pendapatan Asli Daerah bersumber dari :
1. Pajak Daerah;
2. Retribusi Daerah;
3. Hasil pengelolan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan
4. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Pendapatan Asli Daerah adalah bagian dari sumber penerimaan pendapatan daerah
yang pemungutannya harus selalu diupayakan agar lebih efektif dan efisien
sehingga dapat mendukung pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan daerah. Selain itu PAD yang dihasilkan harus terus meningkat
setiap tahunnya agar keberlangsungan pembangunan suatu daerah dapat
berkesinambungan.
Dalam upaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli daerah, daerah dilarang untuk
a. Menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menyebabkan
ekonomi biaya tinggi.
b. Menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menghambat mobilitas
penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah dan kegiatan ekspor.
2.3.1 Pajak Daerah
Pajak adalah suatu pengalihan sumber-sumber yang wajib dilakukan dari sektor
swasta (dalam pengertian luas) kepada sektor pemerintah (kas negara)
berdasarkan Undang-undang atau peraturan, sehingga dapat dipaksakan, tanpa
adanya kontra prestasi yang langsung dan seimbang yang dapat ditunjukkan
secara individual dan hasil penerimaan pajak tersebut merupakan sumber
penerimaan negara yang akan digunakan untuk pengeluaran pemerintah baik
pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan.
Dari pengertian tersebut di atas paling tidak terdapat 4 (empat) karakteristik atau
ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak tersebut, yakni;
1. Pajak adalah pengalihan sumber-sumber dari sektor swasta ke sektor negara,
artinya bahwa yang berhak melakukan pemungutan pajak adalah negara.
2. Berdasarkan Undang-undang, artinya bahwa walaupun negara mempunyai hak
untuk memungut pajak namun pelaksanaannya harus memperoleh persetujuan
3. Tanpa imbalan dari negara yang langsung dapat ditunjuk secara individual,
artinya bahwa imbalan tersebut tidak diperuntukkan bagi rakyat secara
individual dan tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan besarnya
pajak, imbalan tersebut sifatnya tidak langsung.
4. Untuk membiayai pengeluaran pemerintah baik pengeluaran rutin maupun
pengeluaran pembangunan.
Pajak Daerah adalah pajak yang wewenang pemungutannya ada pada pemerintah
daerah untuk kepentingan pembiayaan rumah tangga pemerintah daerah tersebut,
sedangkan yang dimaksud daerah adalah daerah yang berhak mengurus rumah
tangganya sendiri. Di Indonesia daerah yang berhak memungut pajak dibagi
menjadi Daerah tingkat.I dan Daerah tingkat.II untuk dapat membiayai dan
memajukan daerah antara lain dapat ditempuh suatu kebijakan yang mewajibkan
tiap-tiap orang untuk membayar pajak sesuai dengan kewajibannya.
Dalam pelaksanaannya pajak daerah yang antara lain adalah ; pajak Hotel dan
Restoran. Adapun yang dimaksud dengan hotel adalah bangunan yang khusus
disediakan bagi orang untuk dapat menginap / istirahat, memperoleh pelayanan,
dan atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran. Restoran atau rumah makan
adalah tempat menyantap makanan dan atau minuman yang disediakan dengan
2.3.2 Retribusi Daerah
Yang dimaksud dengan retribusi daerah adalah; pungutan daerah sebagai
pembayaran atas pemakaian atau karena memperoleh jasa suatu pekerjaan, usaha
atau milik daerah yang berkepentingan atau jasa yang diberikan daerah. Dari
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa retribusi dipungut karena adanya
suatu balas jasa yang dapat disediakan oleh pemerintah daerah pemungut retribusi,
dalam arti bahwa retribusi tidak akan dipungut tanpa adanya balas jasa yang dapat
ditunjuk. Kalau dibandingkan dengan pajak, maka retribusi lebih merupakan
pembelian jasa dari pemerintah dan bukannya pembayaran tanpa jasa baik.
Pungutan retribusi daerah harus ditetapkan sesuai dengan pemakaian atas
pekerjaan, usaha dan milik daerah atau dengan jasa yang diberikan oleh daerah.
Retribusi seperti halnya pajak tidak langsung dapat dihindari oleh masyarakat,
artinya masyarakat dapat tidak membayar dengan menolak atau tidak mengambil
manfaat terhadap jasa yang disediakan pemerintah (Mulyadi; 1990), sedangkan
retribusi adalah pungutan yang dilakukan sehubungan dengan sesuatu jasa atau
fasilitas yang diberikan oleh pemerintah secara langsung dan nyata kepada
pembayar seperti retribusi parkir.
2.3.3 Laba Usaha Daerah
Perusahaan Daerah adalah perusahaan yang modalnya sebagian atau seluruhnya
atau berdasarkan UU. Sebagian laba perusahaan daerah merupakan salah satu
sumber PAD yang disebut bagian laba BUMD. BUMD dibentuk oleh pemerintah
daerah, terdiri dan perusahaan yang bergerak di Bidang jasa keuangan dan
perbankan (bank pembangunan daerah dan bank pasar) dan dibidang lain, seperti
jasa air bersih (PDAM), jasa disektor industri, pertanian, perkebunan dan
lain-lain.
2.3.4 Pendapatan Lain-Lainnya
Lain-lain pendapatan daerah yang sah merupakan penerimaan lain-lain yang
bukan berasal dari klasifikasi Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan.
Menurut jenisnya lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah mencakup :
a. Hibah yang berasal dari pemerintah, pemerintah daerah lainnya,
badan/lembaga/organisasi swasta dalam negeri, kelompok
masyarakat/perorangan, dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat,
baik dalam bentuk devisa, rupiah maupun barang dan/atau jasa, termasuk
tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali;
b. Dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan
korban/kerusakan akibat bencana alam;
c. Dana bagi hasil pajak dari pemerintah propinsi kepada pemerintah
kabupaten/kota;
e. Bantuan keuangan dari pemerintah propinsi atau dari pemerintah daerah
lainnya.
2.3 Belanja Daerah
Menurut Permendagri No. 13 tahun 2006 pasal 23, belanja daerah meliputi semua
pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana,
merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh daerah. Belanja daerah dipergunakan dalam rangka
mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi
atau kabupaten atau kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan
yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan
bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah
yang ditetapkan dengan ketentuan perundangundangan. Di dalam APBD belanja
digolongkan menjadi lima kelompok berikut ini.
a. Belanja administrasi umum.
Belanja Administrasi umum adalah semua pengeluaran pemerintah daerah yang
tidak berhubungan secara langsung dengan aktivitas atau pelayanan publik.
Kelompok belanja administrasi umum terdiri atas empat jenis.
i. Belanja pegawai.
Belanja pegawai merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk
orang/personal yang tidak berhubungan secara langsung dengan aktivitas atau
ii. Belanja barang.
Belanja barang merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk penyediaan
barang dan jasa yang tidak berhubungan langsung dengan pelayanan publik.
iii. Belanja perjalanan dinas.
Belanja perjalanan dinas merupakan pengeluaran pemerintah untuk biaya
perjalanan pegawai dan dewan yang tidak berhubungan secara langsung
dengan pelayanan publik.
iv. Belanja pemeliharaan.
Belanja pemeliharaan merupukan pengeluaran pemerintah daerah untuk
pemeliharaan barang darah yang tidak berhubugan secara langsung dengan
pelayanan publik.
b. Belanja operasi, pemeliharaan sarana, dan prasarana publik.
Belanja operasi, pemeliharaan sarana, dan prasarana publik merupakan semua
pengeluaran pemerintah daerah yang berhubungan dengan aktivitas atau
pelayanan publik. Kelompok belanja terdiri atas sebagai berikut ini.
i. Belanja pegawai.
Belanja Pegawai merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk
orang/personal yang berhubungan langsung dengan suatu aktivitas atau
dengan kata lain merupakan belanja pegawai yang bersifat variabel.
ii. Belanja barang.
Belanja barang merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk penyediaan
iii. Belanja perjalanan.
Belanja perjalanan merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk biaya
perjalanan pegawai yang berhubungan langsung dengan pelayanan publik.
iv. Belanja pemeliharaan.
Belanja pemeliharaan merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk
pemeliharaan barang darah yang mempunyai hubungan langsung dengan
pelayanan publik.
c. Belanja Modal
Belanja Modal merupakan pengeluaran pemerintah daerah yang manfaatnya
melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah
dan selanjutnya akan menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya
operasi dan pemeliharaan. Belanja modal terdiri atas berikut ini.
i. Belanja publik.
Belanja yang manfaatnya dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat
umum.
ii. Belanja aparatur.
Belanja yang manfaatnya tidak secara langsung dinikmati oleh masyarakat,
d. Belanja Transfer.
Belanja Transfer merupakan pengalihan uang dari pemerintah daerah kepada
pihak ketiga tanpa adanya harapan untuk mendapatkan pengembalian imbalan
maupun keuntungan dari pengalihan uang tersebut.
Belanja ini terdiri atas sebagai berikut.
i. Angsuran pinjaman.
ii. Dana bantuan.
iii. Dana cadangan.
e. Belanja Tak Tersangka
Belanja Tak Tersangka merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh
pemerintah daerah untuk membiayai kegiatan-kegiatan tak terduga dan
BAB III
METODE PENELITIAN
Setiap penelitian didasarkan pada kerangka tertentu dalam pengumpulan data,
sehingga penelitian ini bisa dilakukan terarah dan tidak mengambang sehingga
hasil yang diperoleh valid dan tidak bias.
3.1. Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah pendapatan asli daerah Kota Metro yang tercatat pada
Dinas Pendapatan Daerah Kota Metro selama kurun waktu 14 tahun (periode 1999
– 2012).
3.2. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data A. Jenis Data
Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder
adalah sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung atau
melalui media perantara, data ini didapat dari daftar pustaka atau literatur yang
terdahulu. Data yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari Kantor Dinas
B. Teknik Pengumpulan Data
Data mengenai objek penelitian dikumpulkan dengan metode dokumentasi.
Metode dokumentasi merupakan data yang digunakan melalui studi pustaka yaitu
pengumpulan data dengan mempelajari buku atau bahan bacaan yang
berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.
3.3. Variabel Penelitian
Variabel yang diukur dan definisi operasional dalam penelitian dapat dijelaskan
sebagai berikut :
1. Variabel Independent
Variabel independent (X) adalah variabel yang mendasari pendugaan.
Yang menjadi variabel independent dalam penelitian ini adalah
a. Pajak daerah adalah suatu pengalihan sumber-sumber yang wajib
dilakukan dari sektor swasta (dalam pengertian luas) kepada sektor
pemerintah (kas negara) berdasarkan Undang-undang atau
peraturan, sehingga dapat dipaksakan, tanpa adanya kontra prestasi
yang langsung dan seimbang yang dapat ditunjukkan secara
individual
b. Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas
atau milik daerah yang berkepentingan atau jasa yang diberikan
daerah.
2. Variabel Dependent (Y)
Variabel dependent adalah variabel yang diperkirakan atau diduga
hasilnya. Variabel dependent dalam penelitian ini adalah belanja publik.
Belanja publik adalah Belanja yang manfaatnya dapat dinikmati secara
langsung oleh masyarakat umum.
3.4. Metode Analisis Data
1. Analisis Kualitatif
Analisis dilakukan secara deskriptif terhadap masing-masing variabel
komponen pembentuk PAD yang diteliti.
2. Proses Eliminasi
Proses eliminasi terhadap variabel komponen pembentuk PAD dengan
melihat perkembangan dan kontribusi masing-masing komponen
pembentuk PAD terhadap total keseluruhan PAD. Variabel komponen
pembentuk yang terpilih PAD kemudian diregresikan dengan variabel
dependent.
3. Analisis Kuantitatif
Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mengetahui pengaruh
3.5. Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan analisis terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik
atas model regresinya. Uji asumsi tersebut adalah:
1. Tidak ada autokorelasi antar variable. Uji asumsi yang harus
dipenuhi oleh sebuah model regresi adalah uji asumsi autokorelasi.
Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi ada
korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan
kesalahaan penganggu pada periode sebelumnya (t-1).
2. Residual berdistibusi normal. Uji asumsi lainnya yang harus
dipenuhi oleh sebuah model regresi adalah uji normalitas. Uji
normalitas ini menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov (K-S).
3. Tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji ini bertujuan untuk
mengetahui apakah model regresi terjadi ketidaksamaan varience
dari residual satu pengamatan kepengamatan yang lain. Model
regresi yang baik adalah model regresi yang varience dari residual
satu pengamatan kepengamatan yang lain tetap. Pengujian asumsi
ini dengan melihat sebaran data pada scetter plot. Data yang
tersebar tanpa membentuk pola, maka data dikatakan bahwa
3.5.1 Hasil Uji Asumsi Autokerelasi
Uji asumsi yang harus dipenuhi oleh sebuah model regresi adalah uji
asumsi autokorelasi. Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi ada
korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan kesalahaan penganggu
[image:43.595.135.487.319.371.2]pada periode sebelumnya (t-1). Hasil uji ini terlihat pada Tabel 3 berikut ini:
Tabel 3 Hasil Uji Autokorelasi
Model Summary(b)
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of
the Estimate Durbin-Watson
1 .972(a) .946 .936 23301052498
.175 1.032
a Predictors: (Constant), Retribusi Daerah, Pajak Daerah b Dependent Variable: Belanja Publik
Sumber : Lampiran 2
Kriteria yang dipakai dalam penelitian ini adalah apabila nilai Durbin-Watson
(dw) berada antara nilai -2 sampai 2, maka dapat dikatakan model regresi tidak
ada autokorelasi baik positif ataupun negatif (Singgih Santoso, 2001).
Berdasarkan Tabel 9 diketahui nilai dw sebesar 1,038. Dengan demikian nilai dw
berada diantara -2 sampai 2. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa model regresi tidak terdapat autokorelasi baik positif maupun negatif.
3.5.2 Hasil Uji Asumsi Heteroskedastisitas
Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi terjadi ketidaksamaan
varience dari residual satu pengamatan kepengamatan yang lain. Model regresi
kepengamatan yang lain tetap. Pengujian asumsi ini dengan melihat sebaran data
pada scetter plot. Data yang tersebar tanpa membentuk pola, maka data dikatakan
bahwa asumsi heteroskedastisitas terpenuhi. Gambar 2 berikut ini menunjukan
hasil sebaran data.
-1 0 1 2
Regression Standardized Predicted Value -1
0 1 2
Regressi
on S
tand
ardiz
ed R
esidu
al
Dependent Variable: Belanja Publik Scatterplot
[image:44.595.188.441.296.481.2]Sumber : Lampiran 3
Gambar 2 Scetter Plot Data Penelitian
Berdasarkan gambar 2 terlihat data tersebar tanpa membentuk pola tertentu.
Dengan demikian model regresi memenuhi asumsi tidak terdapat
3.5.3 Hasil Uji Asumsi Normalitas
Uji asumsi lainnya yang harus dipenuhi oleh sebuah model regresi adalah uji
normalitas. Uji normalitas ini menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov (K-S).
[image:45.595.165.458.287.439.2]Hasil uji K-S terdapat pada Tabel 4 berikut ini:
Tabel 4 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardize d Residual
N 14
Normal Parameters(a,b)
Mean .0000082
Std. Deviation 21433850873.9
9016000 Most Extreme
Differences
Absolute .173
Positive .173
Negative -.103
Kolmogorov-Smirnov Z .645
Asymp. Sig. (2-tailed) .799
a Test distribution is Normal. b Calculated from data.
Sumber : Lampiran 4
Tabel 4 menunjukan bahwa seluruh signifikan uji Kolmogorov-Smirnov nilai
variabel bebas maupun variabel terikatnya lebih besar dari nilai 0,05. Berdasarkan
hal ini dapat disimpulkan seluruh variabel berdistribusi normal (Ghozali, 2009).
3.6. Uji Regresi Berganda
pajak daerah dan retribusi daerah terhadap variabel belanja publik (dependen) yang dapat disusun sebagai berikut :
Dimana:
Y = Total belanja publik Kota Metro a = Konstanta
X1 = Variabel Bebas Pajak daerah
X2 = Variabel Bebas Retribusi daerah
et = Galat Baku
b1 = Slope Variabel Bebas Pajak daerah
b2 = Slope Variabel Bebas Retribusi daerah
3.7. Pengujian Hipotesis
Pengujian terhadap hipotesis secara keseluruhan di lakukan dengan uji F, pada
tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05%) dengan derajat kebebasan df1 = (k-1) dan
df2 (n-k).
Ha : pajak daerah dan retribusi daerah secara bersama-sama berpengaruh
signifikan terhadap total belanja publik Kota Metro.
Jika signifikansi F hitung < dari 0,05; Ha diterima
Jika signifikansi F hitung > dari 0,05; Ha ditolak
Pengujian terhadap masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat adalah
dengan menggunakan uji t dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05%), dengan
derajat kebebasan df (n-k). Uji t dilakukan dengan membandingkan nilai t hasil
perhitungan dengan nilai t tabel.
Ha : pajak daerah dan retribusi daerah berpengaruh signifikan terhadap total
belanja publik Kota Metro .
Kriteria pengujian:
Jika signifikansi t hitung < 0,05; Ha diterima
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang dan hasil perhitungan serta pembahasan didapat
beberapa kesimpulan, sebagai berikut:
1. Selama kurun waktu 1999 – 2012 rata-rata pencapaian realisasi anggaran sebesar 95 %. Hanya pada tahun 2003, 2009, 2010 dan 2012 pencapaian
realialisasi anggaran yang melebihi target yang ditetapkan.
2. Belanja pembangunan di Kota Metro Selama 14 tahun periode penelitian
rata-rata mengalami peningkatan sebesar 25,49 % setiap tahunnya, dimana
peningkatan belanja pembangunan tertinggi terjadi di tahun 2003 yaitu
sebesar 90,25 % apabila dibandingkan tahun 2002.
3. Rata-rata Pendapatan Asli daerah Kota Metro mengalami pertumbuhan
rata selama 14 tahun periode penelitian sebesar 13,23 % dengan
rata-rata pertumbuhan terbesar berasal dari penerimaan PAD lain-lain sebesar
64,65 %, kemudian disusul penerimaan dari Laba Usaha Daerah dengan
rata-rata peningkatan sebesar 38,93%. Adapun Pajak Daerah dan Retribusi
4. Sementara dilihat bahwa secara komposisi, kontribusi penerimaan dari
Pajak Daerah sangat mendominasi keseluruhan PAD Kota Metro dengan
angka rata-rata kontribusi sebesar 72,03%.
5. Dengan menggunakan analisis statistik, dapat diketahui bahwa hubungan
antara Pajak Daerah di Kota Metro dengan belanja publik Kota Metro
menunjukkan hubungan yang sangat kuat dengan koefisien korelasi
sebesar 0,972. Angka ini signifikan pada tingkat alpha 5%. Dengan
menggunakan uji-t dapat diketahui bahwa Pajak Daerah di Kota Metro
berpengaruh signifikan terhadap belanja publik Kota Metro selama periode
1999-2012. Besarnya angka koefisien determinasi sebesar 94,4%
menunjukkan bahwa variasi belanja publik Kota Metro dapat diterangkan
oleh Pajak Daerah sebesar 94,4%, dan sisanya dipengaruhi oleh
variabel-variabel lain.
6. Hipotesis yang menyatakan pajak daerah merupakan faktor yang paling
besar mempengaruhi belanja publik Kota Metro secara statistik dapat
diterima. Hal ini berdasarkan angka koefisien regresi sebesar 25,731
dengan nilai signifikasi sebesar 0.003.
7. Hasil ini menunjukkan bahwa Pajak Daerah di Kota Metro telah cukup
efektif mempengaruhi nilai belanja publik Kota Metro. Namun demikian
efektivitas Pajak Daerah dapat lebih ditingkatkan lagi dalam upaya
5.2 Saran
Berdasarkan latar belakang dan kesimpulan, beberapa saran yang dapat diajukan
dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Pemerintah Kota Metro perlu memperhatikan faktor pajak daerah. Hal ini
disebabkan komponen ini memiliki nilai pengaruh terbesar terhadap dana
pembangunan daerah. Pajak daerah yang ada selama ini dapat
diintensifkan dengan meningkatkan pendapatan yang berasal dari
pengintensifkan pemungutan terhadap pajak hotel dan restoran. Selain itu
Pemerintah Kota Metro dapat meningkatan pajak dari pajak penerangan
daerah.
2. Faktor lainnya yang harus ditingkatkan penerimaannya sehingga mampu
meningkatkan dana pembagunan daerah adalah retrebusi daerah.
Komponen yang harus ditingkatkan adalah adalah retrebusi pasar-pasar
yang ada di Metro. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan
merevitalisasi pasar-pasar yang berada di Metro sehingga diharapkan
dapat menarik lebih banyak orang yang berdagang. Dengan demikian
pendapat yang berasal dari retrebusi pasar meningkat.
3. Faktor lainnya yang perlu diperhatikan adalah laba usaha daerah.
Pendapatan dari faktor ini dapat ditingkatkan dengan memaksimalkan
Peningkatan kedua BUMD ini dapat dilakukan dengan mengundang
investor sehingga volume usaha dapat meningkat dan pada akhirnya dapat
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Mokhamad dkk, “Identifikasi Sektor Industri dan Peranannya Dalam Peningkatan PAD Kabupaten Garut”, Laporan Penelitian Unpad, Bandung, 2007
Astuti, Ester Sri dan Joko Tri Haryanto, “ Kemandirian Darah: Sebuah Prespektif Dengan Metode Path Analysis”, Usahawan, No. 04 April 2006
Halim, Abdul dan Jamal Abdul Nasir,” Kajian Tentang Keuangan Daerah Pemerintah Kota Malang”, Usahawan No. 06 Juni 2006.
Honein, Asri,” Evaluasi Perda Pajak dan retribusi”, Jakarta 2003
Ichsan, Chairul,” Pengembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD)”, UP3R – Fakultas
Ekonomi, Universitas Syah Kuala, 1996
Ismail, Munawar, “ Pendapatan Asli daerah Dalam Otonomi Daerah”, 2002
Mulyadi, “ Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah”, www.otda.or.id
Panggabean, Henri, “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Daerahdi Kabupaten Toba Samosir”, Tesis S2 USU, Medan, 2009
Rejo, Ibnu,” Intesifikasi dan Ekstensifikasi Peningklatan PAD”, Mimeo, Makalah pada Seminar Otonomi Dati II Bangkalan Riau, 1995.
Sidik, Machfud, “Implementasi UU No. 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah”, Jakarta 2002.
Tjokroamidjojo, Bintoro, “Pengantar Adiministrasi Pembangunan”, LP3ES, Jakarta 1993.
---, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 108 tahun 2000 tentang Tatacara Pertanggungjawaban Kepala Daerah.
---, Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 tahun 1999 T entang Pemerintah Daerah.