• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMEROLEHAN KALIMAT PADA ANAK DI PAUD BABUL ‘ILMI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DI PAUD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMEROLEHAN KALIMAT PADA ANAK DI PAUD BABUL ‘ILMI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DI PAUD"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

▸ Baca selengkapnya: puisi anak paud

(2)

ABSTRAK

PEMEROLEHAN KALIMAT PADA ANAK DI PAUD BABUL ‘ILMI

DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DI PAUD

Oleh

Wisudiana Risyant Insani

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana pemerolehan kalimat pada anak di PAUD Babul ‘Ilmi yang terdiri dari jenis-jenis kalimat dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa di PAUD?. Tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan pemerolehan kalimat pada anak di PAUD Babul ‘Ilmi dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa di PAUD.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualiatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah enam orang anak yang berada di kelas Bulan PAUD Babul ‘Ilmi’. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kalimat yang diklasifikasikan berdasarkan jenis-jenis kalimat.

(3)
(4)
(5)
(6)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... ii

HALAMAN JUDUL ... iii

HALAMAN PENGESAHAN... iv

SURAT PERNYATAAN ... RIWAYAT HIDUP ... MOTO ... PERSEMBAHAN ... SANWACANA ... DAFTAR ISI ... DAFTAR SINGKATAN ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR LAMPIRAN ... BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 6

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

2.1Pemerolehan Bahasa ... 7

2.1.1 Pemerolehan Bahasa pada Anak ... 7

2.1.2 Urutan Perkembangan Pemerolehan Bahasa ... 8

2.1.2.1Prekembangan Sekolah... 8

2.1.2.2 Perkembangan Ujaran Kombinatori ... 9

2.1.2.3 Perkembangan Masa Sekolah ... 12

2.1.4 Pemerolehan Bahasa dalam Bidang Sintaksis ... 12

2.2 Kalimat ... 14

2.2.1 Unsur-unsur Kalimat ... 14

2.2.1.1 Subjek ... 14

2.2.1.2 Predikat ... 14

2.2.1.3 Objek ... 15

2.2.1.4 Pelengkap ... 15

2.2.1.5 Keterangan ... 15

2.2.2 Struktur Kalimat Dasar ... 15

2.2.2.1 Pola Kalimat Dasar ... 17

(7)

2.2.3.4 Kalimat Inversi ... 26

2.2.4 Intonasi Kalimat ... 27

2.3 Perkembangan Bahasa pada Anak ... 28

2.3.1 Perkembangan Bahasa pada Anak Usia Dini ... 29

2.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Anak ... 30

2.3.3 Tahap-tahap Perkembangan Bahasa ... 30

2.4 Pembelajaran Bahasa Indonesia di PAUD ... 31

III. METODE PENELITIAN ... 32

3.1 Perancangan Penelitian ... 32

3.2 Sumber Data ... 32

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 33

3.3 Teknik Analisis Data ... 34

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35

4.1 Hasil ... 35

4.2 Pembahasan ... 35

4.2.1 Kalimat Berdasarkan Jumlah Klausa ... 36

4.2.1.1Kalimat Tunggal ... 36

4.2.1.2Kalimat Majemuk ... 38

4.2.2 Kalimat Menurut Fungsinya ... 40

4.2.2.1Kalimat Berita ... 40

4.2.2.2Kalimat Perintah ... 43

4.2.2.3Kalimat Tanya ... 46

4.2.3 Kalimat Tak Lengkap ... 50

4.2.4 Kalimat Inversi ... 53

4.3 Implikasi pada Pembelajaran Bahasa di PAUD ... 54

V. SIMPULAN DAN SARAN ... 58

5.1 Simpulan ... 58

5.2 Saran ... 59

DAFTAR PUSTAKA ... 60

(8)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Bahasa sangat penting bagi kehidupan manusia karena bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dan alat untuk menuangkan pikiran, baik secara lisan, tulisan, maupun isyarat. Bahasa digunakan oleh siapa saja, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa dan bahasa diperoleh sejak manusia lahir. Bahasa yang digunakan oleh manusia berbeda-beda. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan bahasa yang digunakan oleh manusia, pertama faktor usia manusia. Kedua faktor lingkungan sekitar dan ketiga faktor pengetahuan yang didapatkan oleh setiap orang berbeda-beda.

(9)

Pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa yang bersangkutan (Kiparsky dalam Tarigan, 2011: 1). Dalam ilmu bahasa, pemerolehan bahasa termasuk dalam kajian linguistik yang meliputi bidang fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik.

Pemerolehan bahasa pada anak-anak merupakan salah satu prestasi manusia yang paling hebat dan menakjubkan (Tarigan, 2011: 5). Pemerolehan bahasa pada anak-anak tidak terlepas dari peran orang tua dan lingkungan sekitar. Anak-anak tidak mempelajari tentang sruktur bahasa, melainkan mempelajari tentang bagaimana cara memakai bahasa untuk memenuhi maksud-maksud komunikasi mereka. Anak-anak mempelajari bahasa selalu dalam konteks komunikasi nyata dengan menggunakan stuktur-struktur bahasa tertentu dalam cara-cara tertentu untuk mencapai maksud-maksud tertentu, dengan jalan menyimak dan berinteraksi dengan orang lain (Tarigan, 2011: 37).

(10)

juga belum dapat menyusun kalimat dengan benar, maka dia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat itu.

Pemerolehan bahasa pada anak-anak juga perlu diteliti sedini mungkin melalui pendidikan. Pendidikan yang paling dasar pada anak-anak adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pendidikan Usia Dini (PAUD) merupakan upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian stimulus pendidikan untuk membantu perkembangan, pertumbuhan, baik jasmani maupun rohani sehingga anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan yang lebih lanjut (UU No. 20 Tahun 2003).

Dalam pendidikan di PAUD anak-anak akan diajarkan berbahasa, mulai dari menggunakan kata dan kemudian dirangkai menjadi kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi akhir dan terdiri dari klausa (Cook dkk dalam Putrayasa, 2009: 1). Kalimat diperoleh anak-anak melalui kegiatan yang dilakukan di sekolah, seperti bemain, belajar (menggambar, mewarnai, dan menulis), bernyanyi, bercerita, dan lain-lain. Pemerolehan kalimat pada anak PAUD termasuk kajian linguistik yang berkaitan dengan sintaksis. Pemerolehan kalimat pada anak PAUD berkaitan erat dalam konsep universal karena pada masa ini anak memperoleh kalimat dalam bahasa apa pun mulai dari ujaran yang berupa satu kata, kemudian berlanjut kedua kata, tiga kata atau lebih.

(11)

Fonologi anak Usia Tiga Tahun dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Berbahasa di PAUD”. Kajian ini terfokus pada pemerolehan bahasa pada tataran

fonologi.

Penelitian sebelumnya inilah yang menjadi acuan dan sekaligus menjadi bahan rujukan dalam penelitian berikutnya. Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Messa Warinka adalah mengenai pemerolehan bahasa. Sementara itu perbedaan dengan penelitian saat ini adalah mengenai pemerolehan kalimat pada anak di PAUD Babul „Ilmi. Penulis hanya membatasi pada pemerolehan bahasa pada tataran jenis-jenis kalimat.

Pemerolehan kalimat pada anak PAUD perlu diteliti karena untuk mengetahaui jenis-jenis kalimat apa saja yang sudah diperoleh anak pada pendidikan di PAUD. Penulis melakukan penelitian di PAUD Babul „Ilmi. Penelitian ini

terfokus pada pemerolehan kalimat pada anak-anak yang berada di PAUD Babul „Ilmi. PAUD Babul „Ilmi berada di daerah Kedaton Bandarlampung.

(12)

1.2Rumusan Masalah

Sesuai latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimana pemerolehan jenis-jenis kalimat pada anak di PAUD Babul „Ilmi dan implikasinya terhadap pembelajran bahasa di PAUD?”

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pemerolehan jenis-jenis kalimat pada anak di PAUD Babul „Ilmi dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa di PAUD.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat-manfaat yang dapat bermanfaat bagi keilmuan dan bagi pembelajaran bahasa.

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian psikolinguistik, khususnya pemerolehan bahasa yang berupa kalimat pada tataran sintaksis pada anak di PAUD Babul „Ilmi.

2. Manfaat Praktis

(13)

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini pemerolehan kalimat pads anak di PAUD Babul „Ilmi terhadap lingkungan sekolah.

1. Subjek penelitian adalah anak-anak kelas bulan yang berjumlah enam orang yang ada di PAUD Babul „Ilmi‟ .

2. Objek penelitian adalah pemerolehan kalimat pada anak di PAUD Babul „Ilmi. 3. Penelitian ditekankan pada pemerolehan kalimat pada tataran sintaksis.

(14)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1Pemerolehan Bahasa

Pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa yang bersangkutan (Kiparsky dalamTarigan, 2011: 1). Sementara itu, menurut Kushartati (2005: 24) bahwa pemerolehan bahasa adalah salah satu proses perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak ia lahir.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses perkembangan yang terjadi pada manusia sejak ia lahir untuk menyesuaikan dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik.

2.1.1 Pemerolehan Bahasa pada Anak

(15)

Pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai ciri khas kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit (sintaksis).

2.1.2 Urutan Perkembangan Pemerolehan Bahasa

Seperti juga halnya dalam bidang perkembangan fisik dan kognitif anak-anak, dalam perkembangan bahasanya pun mungkin saja memberikan hal-hal umum yang dapat diramalkan yang sebenarnya diikuti oleh semua anak walaupun dengan kecepatan yang beraneka ragam. Perkembangan yang bersifat urutan ini hanyalah merupakan suatu daftar prestasi atau kecakapan dalam masa tertentu saja.

Urutan perkembangan bahasa dapat dibagi tiga bagian penting, (1) perkembangan prasekolah (2) perkembangan ujaran kombinatori (3) perkembangan masa sekolah. Berikut ini akan dibicarakan satu-persatu.

2.1.2.1Prekembangan Sekolah

Perkembangan pemerolehan bahasa anak-anak prasekolah dapat dibagi lagi atas dua bagian, (1) perkembangan pralinguistik dan (2) tahap satu kata.

1. Perkembangan Pralinguistik

(16)

berbeda, pengertian yang harus dimiliki oleh seseorang kalau “dirinya” sedang

berkomunikasi dengan “yang lain”.

Pada akhir tahun pertama, secara khusus, sang anak telah mengembangkan landasan pengertian-pengertian kognitif yang banyak, konsep diri sendiri dan orang lain, konsep manusia dan benda, konsep sarana dan tujuan. Baik aspek koknitif maupun aspek sosial merupakan landasan penting bagi perkembangan bahasa selanjutnya.

2. Tahap Satu Kata

Tahap satu kata merupakan suatu dugaan umum bahwa sang anak pada tahap satu kata terus menerus berupaya mengumpulkan nama-nama benda dan orang di dunia. Akan tetapi, secara khusus, kosakata permulaan sang anak mencakup tipe kata-kata lain juga. Sebagai tambahan terhadap perbedaan dalam jenis kata-kata yang dipakai oleh anak-anak pada tahap satu kata ini adalah pembagian berdasarkan cara mereka memakainya. Dengan sejumlah kata yang relatif terbatas, seorang anak dapat mengekspresikan berbagai ragam makna dan relasi dalam berbagai konteks. Sampai akhir tahap satu kata, sang anak dapat menggunakan nomina untuk memperkenalkan objek (misalnya: buku gambar “permainan memberi nama” dengan orang dewasa), untuk menarik perhatian seseorang pada sesuatu, atau menyatakan sesuatu yang diinginnya.

2.1.2.2Perkembangan Ujaran Kombinatori

(17)

perkembangan interogatif (pertanyaan), perkembangan penggabungan kalimat, dan perkembangan sistem bunyi.

1. Perkembngan Negatif

Apabila kita menggunakan “negatif”, kalau kita mengatakan “tidak”, jelas kita

ingin mengatakan berbagai hal. Paling tidak pengertian kita mengenai negatif mencakup “noneksistensi”, “penolakan”, dan “penyangkalan”. Uraian mengenai

urutan perkembangan “negasi” telah dibuat oleh Klima dan Bellugi-Klima (1971) dan mereka menemui periode pertama yang menambahkan kata “jangan” pada awal kalimat.

2. Perkembangan Interogatif

Pada umumnya, “pertanyaan” itu menuntut informasi dan menagih keterangan.

Anak-anak harus mempelajari ucapan-ucapan mana yang merupakan pertanyaan, apa yang dimaksudkan oleh pertanyaan, dan bagaimana cara mengekspresikan atau mengemukakannya. Seperti juga halnya dengan “negasi”, perkembangan

interogatif anak-anak pun berubah-ubah dalam periode yang terdiri atas beberapa tahun. Anak-anak memerlukan lingkungan yang baik untuk mempelajari pertanyaan-pertanyaan, selama proporsi yang tinggi dari ujaran ibu-ibu kepada anak-anaknya yang masih kecil justru dalam bentuk pertanyaan, seperti yang sering kita dengar sehari-hari.

3. Perkembangan Penggabungan Kalimat

(18)

secara singkat bahwa sarana-sarana/cara-cara pengembangan penggabungan kalimat sang anak memperlihatkan gerakan melalui beberapa dimensi, yaitu dari penggabungan dua klausa setara menuju penggabungan dua klausa yang tidak setara, dari klausa utama yang tidak tersela menuju penggunaan klausa-klausa yang tersela (penyisipan klausa-klausa bawahan di dalam klausa-klausa utama), dari klausa yang memuat kejadian tetap menuju klausa yang berfariasi, dan dari penggunaan perangkat-perangkat semantik-sintaksis yang kecil (adverbal, verbs komplemen) menuju perangkat yang lebih diperluas.

4. Perkembangan Sistem Bunyi

(19)

2.1.2.3Perkembangan Masa Sekolah

Satu hal yang penting mengenai bahasa, yaitu bahwa perkembangan dan penggunaan bahasa adalah unik dan universal. Anak telah menciptakan sistem bahasanya berdasarkan seperangkat khusus pengalaman di rumah dan masyarakatnya sendiri, caranya sendiri mengekpresikan makna dalam berbagai situasi, dan setiap anak mempunyai ciri-ciri atau sifat-sifat kepribadiannya sendiri yang menyatakan diri dari cara sang anak menggunakan bahasa (Tarigan, 2011: 16-34).

2.1.3 Pemerolehan Bahasa dalam Bidang Sintaksis

(20)

Sekitar umur 2;0 anak mulai mengeluarkan Ujaran Dua Kata, UDK (two word utterance). Anak mulai dengan dua kata yang diselingi jeda sehingga seolah-olah

dua kata itu terpisah. Dengan adanya dua kata dalam UDK maka orang dewasa dapat lebih bisa menerka apa yang dimaksud oleh anak karena cakupan makna menjadi lebih terbatas.

Cara lain dari UDK adalah bahwa kedua kata ini adalah kata-kata dari kategori utama: nomina, verba, adjektiva, atau bahkan adverbia. Belum ada kata fungsi seperti di, yang, dan, dsb. Pada UDK juga belum ditemukan afiks macam apa pun. Pada tahap ini anak juga sudah dapat menyatakan bentuk negatif. Pada anak Indonesia, proses mentalnya mungkin agak lebih rumit karena dalam bahasa kita terdapat beberapa macam bentuk negatif: bukan, belum, dan tidak. Pemerolehan bentuk negatif bukan secara dini mungkin dipengaruhi oleh konsep sini dan kini yang membuat nomina lebih dominan daripada kategori yang lain sehingga kata bukan merupakan negasi antara dua nomina. Munculnya bentuk negasi ini mula-mula sebagai respon terhadap pertanyaan.

Kemudian muncul negasi belum yang tampaknya juga berkaitan dengan konsep sini dan kini karena verba adalah kategori kedua setelah nomina. Kata negatif ndak atau nggak juga muncul hampir bersamaan dengan belum karena alasan yang

(21)

2.2 Kalimat

Finoza (2009: 149) berpendapat bahwa kalimat adalah bagian ujaran atau tulisan yang mempunyai stuktur minimal subjek (S) dan predikat (P) dan intonasi finalnya menunjukkan bagian ujaran atau tulisan itu sudah lengkap dengan makna (bernada berita, tanya, atau perintah). Sementara itu, Ramlan (2001: 21) kalimat adalah satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi akhir dan terdiri atas klausa (Cook dkk dalam Putrayasa, 2009: 1).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan gramatikal yang berupa ujaran atau tulisan, terdiri atas klausa, dan mempunyai pola intonasi akhir.

2.2.1 Unsur-unsur Kalimat

Finoza (2009: 150-155) terdapat lima unsur yang terdapat dalam kalimat, yaitu subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap.

2.2.1.1 Subjek

Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjuk pelaku, tokoh, sosok, sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pokok pembicaraan. Sebagian besar S diisi oleh frasa benda atau nominal, klausa, atau frasa verbal.

2.2.1.2 Predikat

(22)

P juga menyatakan sifat atau keadaan S. Termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. Verba atau ajektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomania, atau frasa nominal.

2.2.1.3 Objek

Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang wajib hadirnya O.

2.2.1.4 Pelengkap

Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Letak Pel umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu nomina dan frasa nominal.

2.2.1.5 Keterangan

Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan P dalam sebuah kalimat. Posisi Ket boleh manasuka, di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket dapat berupa adverbia, frasa preposional, atau klausa.

2.2.2 Struktur Kalimat Dasar

(23)

Dalam pemerian kalimat, perlu dibedakan kategori sintaksis, fungsi sintaksis, dan peran semantis unsur-unsur kalimat. Setiap bentuk kata, atau frasa, yang menjadi konstituen kalimat termasuk dalam kategori kata atau frasa tertentu dan masing-masing mempunyai fungsi sintaksis serta peran semantis tertentu pula.

Sejalan dengan kategori kata itu, terdapat kategori frasa yang dibedakan berdasarkan unsur utamanya seperti pada (1a, 1b). Perlu dicatat bahwa istilah “frasa konjungtor” atau “frasa partikel” tidak dikenal dengan kombinasi

konjungtor atau partikel dengan kategori lain, kalau ada, dan sangat terbatas. (1) a. Frasa Nominal (FN) b. Frasa Preposional (FPrep)

Frasa Verbal (FV) Frasa Adjektival (FAdj) Frasa Adverbial (FAdv)

Kata seperti meja, pergi, sakit, sering, dan kepada masing-masing termasuk dalam kategori N, V, Adj, Adv, dan Prep; dan frasa meja itu, sudah pergi, agak sakit, sering sekali, dan kepada saya masing-masing tergolong FN, FV, FAdj, FAdv, dan FPrep.

Sementara itu, kategori perlu pula dibedakan dari bentuk kata. Suatu bentuk kata dapat mempunyai keanggotaan rangkap dalam arti kata tersebut termasuk dalam dua kategori atau lebih. Dari uraian singkat di atas tampak bahwa antara bentuk, kategori, fungsi, dan peran tidak ada hubungannya satu lawan satu. Fungsi merupakan suatu “tempat” dalam struktur kalimat dengan unsur pengisi berupa

(24)
[image:24.595.106.582.127.262.2]

Tabel 2.1

Struktur Kalimat Dasar

Bentuk Ibu Saya Tidak Membeli Baju Baru Untuk Kami Minggu lalu

Kate gori

Kata N Pron Adv V N Adj Pren N N V

Frasa FN FV FN FPrep FN

Fung si

Subjek Predikat Objek Pelengkap Keterangan

Pe ran

Pelaku Perbuatan Sasaran Peruntung waktu

2.2.2.1 Pola Kalimat Dasar

Dalam suatu kalimat tidak selalu kelima fungsi sintaksis ini terisi, tapi paling tidak harus ada konstituen pengisi subjek dan predikat. Kehadiran kontstituen lainnya banyak ditentukan oleh konstituen pengisi predikat. Contoh:

1. Dia [S] tidur [P] di kamar depan [Ket].

2. Mereka [S] sedang belajar [P] bahasa Inggris [Pel] sekarang [Ket]. 3. Mahasiswa [S] mengadakan [P] seminar [O] di kampus [Ket]. 4. Buku itu [S] terletak [P] di meja [Ket] kemarin [Ket].

[image:24.595.107.553.606.748.2]

Pada contoh di atas, konstituen yang dicetak miring dapat dihilangkan tanpa mengakibatkan kejanggalan kalimat dalam arti bahwa makna kalimat tetap dapat dipahami tanpa harus diketahui konteks situasi pemakainya.

Tabel 2.2 Pola Kalimat Dasar Fungsi

Tipe

Subjek Predikat Objek Pelengkap Keterangan

1. S-P

Orang itu sedang tidur - - -

Saya Mahasiswa - - -

2. S-P-O

Ayahnya Membeli mobil baru - -

Rani Mendapat Hadiah - -

(25)

3. S-P-Pel Pancasila Merupakan - dasar negara kita

-

4. S-P-Ket

Kami Tinggal - - di jakarta

Kecelakaan itu

Terjadi - - minggu lalu

5. S-P-O-Pel

Dia Mengirim Ibunya Uang -

Dian Mengmbilkan Adiknya air minum -

6. S-P-O-Ket

Pak Raden Memasukkan uang - ke bank

Beliau Memperlakukan Kami - dengan baik

2.2.3 Jenis-jenis Kalimat

Jenis kalimat dapat dibagi menjadi (1) kalimat berdasarkan jumlah klausa, (2) kalimat menurut fungsinya, (3) kalimat tak lengkap, dan (4) kalimat inversi.

2.2.3.1Kalimat Berdasarkan Jumlah Klausa

Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk.

1. Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa (satuan gramatik yang terdiri S, P baik disertai O, Pel, dan Ket ataupun tidak). Hal itu berarti bahwa konstituen untuk setiap unsur kalimat, seperti subjek dan predikat, hanyalah satu atau merupakan satu kesatuan. Dalam kalimat tunggal tentu saja terdapat semua unsur wajib yang diperlukan. Di samping itu, tidak mustahil ada pula unsur manasuka sepeti keterangan tempat, waktu, dan alat. Dengan demikian, kalimat tunggal tidak selalu dalam wujud yang pendek, tetapi juga dapat panjang seperti pada contoh berikut.

(26)

2. Kami mahasiswa Atma Jaya.

3. Mereka akan membentuk kelompok belajar.

4. Guru matematika kami akan dikirim ke luar negeri. 5. Pekerjaan dia mengawasi semua narapidana di sini. 2. Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal. Hal itu berarti dalam kalimat majemuk terdapat lebih dari satu klausa. Kalimat majemuk dibagi dua bagian yaitu kalimat majemuk setara dan bertingkat.

1. Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara mempunyai ciri (1) dibentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal, dan (2) kedudukan tiap kalimat sederajat. Konjungtor yang menghubungkan klausa dalam kalimat majemuk setara jumlahnya cukup banyak. Konjungtor itu menunjuk beberapa jenis hubungan dan menjalankan beberapa fungsi. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini dibuatkan tabel penghubung klausa dalam kalimat majemuk setara.

Tabel 2.3

Penghubung Klausa dalam Kalimat Majemuk Setara

Jenis Hubungan Fungsi Kata penghubung

penjumlahan

pertentangan

pemilihan

menyatakan penjumlahan atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa, dan proses

menyatakan bahwa hal yang dinyatakan dalam klausa pertama bertentangan dengan klausa kedua

menyatakan pilihan di antara dua kemungkinan

dan, serta, baik, maupun

tetapi, sedangkan, bukannya, melainkan

(27)

urutan menyatakan kejadian yang berurutan

lalu, kemudian

2. Kalimat Majemuk Bertingkat

[image:27.595.128.514.363.753.2]

Kalimat majemuk bertingkat berbeda dengan kalimat majemuk setara. Perbedaannya terletak pada derajat klausa pembentukannya yang tidak setara karena klausa kedua merupakan perluasan dari klausa pertama. Konjungtor yang menghubungkan klausa kalimat majemuk bertingkat berbeda dengan konjungtor pada kalimat majemuk setara. Dalam tabel di bawah ini dapat dilihat jenis hubungan antarklausa dan konjungtor dalam kalimat majemuk bertingkat.

Tabel 2.4

Penghubung Klausa dalam Kalimat Majemuk Bertingkat

No Jenis Hubungan Kata Penghubung

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Waktu syarat tujuan konsesif pembandingan sebab/alasan akibat/hasil cara/alat kemiripan kenyataan

sejak, sedari, sewaktu, sementara, seraya, setelah, sambil, sehabis, sebelum, ketika, tatkala, hingga, sampai

jika(lau), seandainya, andaikata, andaikan, asalkan, kalau, apabila, bilamana, manakala

agar, supaya, untuk, biar

walau(pun), meski(pun), sekali(pun), biar(pun), kendati(pun), sungguh(pun)

seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana, daripada, alih-alaih, ibarat

sebab, karena

sehingga, sampai-sampai, maka

dengan, tanpa

seolah-olah, seakan-akan

(28)

11. penjelas/kelengkapan bahwa

2.2.3.2Kalimat Menurut Fungsinya

Kalimat menurut fungsinya dibagi menjadi empat kalimat yaitu kalimat deklaratif, imperatif, interogatif, dan ekslamatif.

1. Kalimat Berita

Kalimat berita (deklaratif) adalah kalimat yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk memberitakan sesuatu. Dalam pemakaian bahasa bentuk kalimat berita umumnya digunakan oleh pembicara/penulis jika pada suatu saat kita mengetahui ada kecelakaan lalu lintas dan kemudian kita menyampaikan peristiwa itu kepada orang lain, maka kita dapat memberitahukan kejadian itu dengan menggunakan bermacam-macam bentuk kalimat berita. Contoh kalimat deklaratif adalah sebagi berikut.

1. Tadi pagi ada tabrakan mobil di dekat Monas. 2. Saya lihat ada bus masuk Ciliwung tadi pagi.

3. Waktu ke kantor, saya lihat ada jip menabrak becak sampai hancur. 4. Saya ngeri lihat tabrakan antara bus PPD dan sedan Fiat tadi pagi. 5. Tadi pagi ada sedan Fiat mulus yang ditabrak bus PPD.

Dari segi bentuknya, kalimat di atas bermacam-macam. Ada yang memperlihatkan inversi, ada yang berbentuk aktif, ada yang pasif, dan sebagainya. Akan tetapi, jika dilihat fungsi komunikasinya, maka kalimat di atas adalah sama, yakni semuanya merupakan kalimat berita.

(29)

2. Kalimat Perintah

Kalimat perintah (imperatif) dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang berbuat sesuatu. Pada bahasa lisan kalimat ini berintonasi akhir menurun dan pada bahasa tulis kalimat ini diakhiri dengan tanda seru atau tanda titik. Perintah atau suruhan dan permintaan jika ditinjau dari isinya, dapat diperinci menjadi enam golongan:

1. Perintah atau suruhan biasa jika pembicara menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu.

2. Perintah halus jika pembicara tampaknya tidak memerintah lagi, tetapi menyuruh mencoba atau mempersilahkan lawan bicara sudi berbuat sesuatu.

3. Permohonan jika pembicara, demi kepentingannya, minta lawan bicara berbuat sesuatu.

4. Ajakan dan harapan jika pembicara mengajak atau berharap lawan bicara berbuat sesuatu.

5. Larangan atau perintah negatif, jika pembicara menyuruh agar jangan dilakukan suatu.

6. Pembiaran jika pembicara minta agar jangan dilarang. Kalimat imperatif memiliki ciri formal seperti berikut.

1. Intonasi yang ditandai nada rendah di akhir tuturan,

2. Pemakaian partikel penegas, penghalus, dan kata tugas ajakan, harapan, permohonan, dan larangan,

(30)

4. Pelaku tindakan selalu terungkap.

Kalimat imperatif dapat diwujudkan sebagai berikut.

1. Kalimat yang terdiri atas predikat verbal dasar atau adjektiva, ataupun frasa preposional saja yang sifatnya taktransitif.

2. Kalimat lengkap yang berpredikat verbal taktransitif atau transitif. 3. Kalimat yang dimarkahi oleh berbagai kata tugas modalitas kalimat.

3. Kalimat Tanya

Kalimat tanya (interogatif) adalah kalimat yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk memperoleh informasi atau reaksi berupa jawaban yang diharapkan dari mitra komunikasinya. Kalimat tanya secara formal ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas. Dalam kalimat tanya sering hadir pula kata di mana, kapan, dan yang mana. Kalimat tanya digunakan untuk meminta (1)

jawaban “ya” atau “tidak” dan (2) informasi mengenai sesuatu atau seseorang dari

lawan bicara atau pembaca. Pada bahasa lisan kalimat ini diakhiri dengan intonasi naik dan pada bahasa tulis, kalimat diakhiri dengan tanda tanya (?). Berikut contoh kalimat tanya.

1. Dia isteri Pak Bambang. Apa dia isteri Pak Bambang?

2. Pemerintah akan memungut pajak deposito. Apa pemerintah akan memungut pajak deposito? 3. Suaminya ditangkap minggu lalu.

Apakah suaminya ditangkap minggu lalu? 4. Perbuatannya ketahuan isterinya.

(31)

4. Kalimat Seru

Kalimat seru (ekslamatif) dipakai penutur untuk mengungkapkan perasaan emosi yang kuat, termasuk kejadian yang tiba-tiba dan memerlukan reaksi spontan. Kalimat seru secara formal ditandai oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat adjektival. Kalimat seru ini juga dinamakan kalimat interjeksi biasa digunakan untuk menyatakan perasaan kagum atau heran.

Cara pembentukan kalimat ekslamatif dari kalimat deklaratif mengikuti langkah berikut.

1. Balikkan urutan unsur kalimat dari S-P menjadi P-S. 2. Tambahkan partikel –nya pada (adjektiva) P.

3. Tambahkan kata (seru) alangkah, bukan main, atau betapa di muka P jika dianggap perlu.

Dengan menerapkan kaidah di atas, kita dapat membuat kalimat ekslamatif dari kalimat deklaratif seperti pada contoh berikut.

1. Pergaulan mereka bebas.

2. Bebas pergaulan mereka. (kaidah 1)

Bebasnya pergaulan mereka! (kaidah 2) Alangkah bebasnya pergaulan mereka! (kaidah 3) Bukan main bebasnya pergaulan mereka!

Betapa bebasnya pergaulan mereka!

2.2.3.3Kalimat Tak Lengkap

(32)

Perhatikan penggalan percakapan berikut.

Amir : Kamu tinggal di mana Min? Amin : Di Kampung Melayu.

Bentuk Di Kampung Melayu sebenarnya merupakan bagian dari bentuk kalimat lengkap Saya tinggal di Kampung Melayu. Di luar konteks wacana, Kalimat tak lengkap dapat digunakan dalam kalimat petunjuk, slogan, ucapan atau sapaan, dan grafiti.

Perhatikan contoh berikut.

1. Menerima pegawai baru untuk di tempatkan di luar Jakarta. 2. Belok kiri boleh langsung.

3. Merdeka atau mati. 4. Ibu.

Bentuk kalimat di atas itu tampaknya, secara berurutan, berasal dari contoh berikut.

1. Kami menerima pegawai baru untuk ditempatkan di luar Jakarta. 2. Yang akan berbelok kiri, boleh langsung berbelok.

3. Kita merdeka atau kita mati.

Selain bentuk kalimat tak lengkap di atas, kita temukan pula ungkapan formula yang berdiri sendiri seperti kalimat. Perhatikan contoh berikut.

1. Selamat malam.

2. Selamat hari ulang tahun. 3. Apa kabar?

4. Merdeka! 5. Selamat jalan. 6. Sampai jumpa lagi.

(33)

2.2.3.4Kalimat Inversi

Kalimat inversi adalah kalimat yang Predikatnya mendahului Subjek sehingga terbentuk pola P-S. Selain merupakan variasi dari S-P, ternyata kalimat inversi dapat memberi penekanan atau ketegasan makna tertentu.

Perhatikan kalimat yang berikut.

1. Ada tamu, Pak.

2. Ada kabar bahwa dia telah meninggal. 3. Ada seseorang yang mencari anda.

Dari contoh di atas kita lihat bahwa verba ada terletak di muka nomina. Dengan kata lain, urutan fungsinya adalah predikat dulu, baru kemudian subjeknya. Tentu saja dua unsur wajib itu dapat pula diikuti oleh unsur lain seperti terlihat pada dua contoh terakhir di atas. Kalimat inversi, yakni kalimat yang urutannya terbalik, umumnya mensyaratkan subjek yang tak definit.

1. Ada tamu.

Ada seorang tamu. 2. Ada pencuri di halaman.

Ada seorang pencuri di halaman. 3. Ada tamu itu.

Ada tamu tersebut.

4. Ada pencuri itu di halaman. Ada pencuri ini.

Perlu diperhatikan bahwa ada juga dapat ditempatkan sesuai dengan urutan yang bisa, yakni sesudah subjek. Akan tetapi, urutan seperti itu mengandung makna yang berbeda. Dibandingkan kalimat yang berikut.

(34)

Pada kalimat (1) kita berbicara tentang adanya benda yang dinamakan buku dan benda itu terletak di meja. Jadi,buku yang dimaksud tidak bersifat difinit. Pada (2) kita mengacu ke benda yang telah diidentifikasi sebelumnya sebagai buku; dan buku itu ada di meja. Perbedaan kedua kalimat itu tampak pula pada wajib tidaknya verba. Pada kalimat (1) verbanya wajib hadir, sedangkan pada kalimat (2) verba itu dapat dihilangkan. Kalimat (1) kita terima, tetapi kalimat (2) kita tolak kecuali buku dipertetangkan dengan frasa nominal lain, seperti dalam konteks.

1. Buku itu di meja.

2. Koran di tempat tidur, buku di meja

2.2.4 Intonasi Kalimat

Intonasi merupakan salah satu alat sintaksis yang sangat penting. Dalam bahasa Indonesia tampaknya intonasi ini (yang berupa tekanan, nada, atau tempo) tidak berlaku pada tataran fonologi dan morfologi; melainkan hanya berlaku pada tataran sintaksis. Sebuah klausa yang sama, artinya terdiri dari unsur segmental yang sama, dapat menjadi kalimat deklaratif atau kalimat interogatif hanya dengan mengubah intonasinya. Intonasi merupakan hal yang sangat penting di dalam sintaksis. Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa, sebab bisa dikatakan, klausa ditambah intonasi sama dengan kalimat. Jadi, kalimat intonasi dari sebuah kalimat ditanggalkan maka sisanya yang tinggal adalah klausa.

(35)

suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran. Tempo adalah waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran. Nada adalah unsur suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen dalam suatu arus ujaran. Kenyaringan ini terjadi karena getaran selaput suara (Chaer, 2012: 253-255).

2.3Perkembangan Bahasa pada Anak

Pada aspek perkembangan bahasa, kompetensi dan hasil yang diharapkan adalah anak mampu menggunakan bahasa sebagai pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berpikir dan belajar dengan baik. Perkembangan bahasa anak tidak saja dipengaruhi oleh perkembangan neurologis tetapi juga oleh perkembangan biologisnya.

Pada masa kanak-kanak awal, anak-anak mulai meninggalkan tahapan dua kata, mereka bergerak cepat menuju kombinasi tiga-empat-lima-kata. Peralihan dari kalimat-kalimat sederhana (yang mengekspresikan preposisi tunggal) menjadi kalimat-kalimat kompleks diawali antara usia dua hingga tiga tahun dan berlanjut hingga sekolah dasar (Bloom dalam Santrock, 2007: 360).

(36)

2.3.1 Perkembangan Bahasa pada Anak Usia Dini

Pada aspek pengembangan bahasa, kompetensi dan hasil yang diharapkan adalah anak mampu menggunakan bahasa sebagai pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berpikir dan belajar dengan baik. Perkembangan bahasa anak tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan neurologis tetapi juga oleh perkembangan biologisnya. (Lennerberg dalam Yamin dkk, 2013: 104) mengatakan bahwa perkembangan bahasa seorang anak itu mengikuti dan sesui dengan jadwal perkembangan biologisnya yang tidak dapat ditawar-tawar. Seorang anak tidak dipaksa ataupun dipicu sekuat apapun untuk dapat mengujarkan atau mengucapkan sesuatu, bila saja kemampuan biologisnya belum memungkinkan untuk mengujarkan suatu kata. Sebaliknya, bila saja seorang anak secara biologis telah dapat mengucapkan atau mengujarkan sesuatu, maka dia tidak akan dapat dicegah atau ditahan untuk tidak mengujarkan atau mengucapkan.

(37)

2.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Anak

Bahasa anak dapat berkembang cepat jika anak memiliki kemampuan dan didukung oleh lingkungan yang baik. Berikut ini ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak usia dini.

1) Anak berada dalam lingkungan yang positif dan bebas dari tekanan. 2) Menunjukkan sikap dan minat yang tulus pada anak.

3) Menyampaikan pesan verbal diikuti dengan pesan nonverbal.

4) Dalam bercakap-cakap dengan anak, orang dewasa perlu menunjukkan ekspresi yang sesuai dengan ucapannya. Perlu diikuti gerakan, mimik muka, dan intonasi yang sesuai.

5) Melibatkan anak dalam komunikasi.

2.3.3 Tahap-tahap Perkembangan Bahasa

Menurut Vygosky ada tiga tahap perkembangan bahasa anak yang menentukan tingkat perkembangan berpikir.

1) Tahap eksternal yaitu tahap berpikir dengan sumber berpikir anak berasal dari luar dirinya. Sumber eksternal tersebut berasal dari orang dewasa yang memberikan pengarahan kepada anak dengan cara tertentu.

2) Tahap egosentris yaitu suatu tahap ketika pembicaraan orang dewasa tidak lagi menjadi persyaratan. Dengan suara khas, anak berbicara ssesuai dengan jalan pikirannya.

(38)

2.4 Pembelajaran Bahasa Indonesia di PAUD

Pendidikan usia dini (PAUD) adalah merupakan upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian stimulus pendidikan untuk membantu perkembangan, pertumbuhan, baik jasmani maupun rohani sehingga anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan yang lebih lanjut (UU No. 20 tahun 2003).

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Mukhtar, 2010: 30). Dalam penelitian ini metode deskriptif digunakan untuk memperoleh informasi tentang pemerolehan kalimat pada anak di PAUD Babul ‘Ilmi dan implikasinya terhadap pembelajaran di PAUD.

3.2Sumber Data

Sumber data dalam peneltian ini adalah anak-anak PAUD Babul ‘Ilmi Kedaton Bandar Lampung. PAUD ini terdiri atas tiga kelas yaitu kelas Bulan dengan rentangan usia 3-4, kelas Bintang dengan rentangan usia 4-5 tahun, dan kelas Matahari dengan rentangn usia 5-6 tahun. Pada penelitian ini, sumber data yang diteliti yaitu kelas Bulan PAUD Babul ‘Ilmi.

Sumber data yang diteliti berjumlah enam anak diantaranya bernama Naufal Mukti Mahardika (Opal) usia 3,5 tahun dengan latar belakang orang tua bersuku

(40)

Zhafira (Rana) usia 3 tahun dengan latar belakang orang tua bersuku Bengkulu dan bahasa yang digunakan oleh orang tua adalah bahasa Indonesia, Ilham Anugrah Sakti (I am) usia 3,5 tahun dengan latar belakang orang tua bersuku Jawa

dan bahasa yang digunakan oleh orang tua adalah bahasa Indonesia, Faras Azizah Ambri (Azizah) usia 3 tahun dengan latar belakang orang tua bersuku Lampung

dan bahasa yang digunakan oleh orang tua adalah bahasa Indonesia, dan Zifa usia 3 tahun dengan latar belakang orang tua bersuku Jawa dan bahasa yang digunakan oleh orang tua adalah bahasa Indonesia.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

(41)

3.4Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut. 1. Menyimak dan mencatat semua data alamiah/ujaran spontan anak-anak yang

muncul termasuk mencatat pemerolehan kalimat pada saat anak-anak melakukan pertuturan.

2. Semua data yang sudah didapat kemudian dianalisis dengan menggunakan catatan deskriptif dengan menggunakan analisis kalimat.

3. Mengidentifikasi pemerolehan kalimat yang terjadi pada saat anak-anak di sekolah.

4. Mengidentifikasi pemerolehan kalimat pada anak.

5. Mengklasifikasikan data berupa pemerolehan kalimat berdasarkan jenisnya. 6. Berdasarkan hasil identifikasi dan klasifikasi data, dilakukan kegiatan

penarikan simpulan sementara.

7. Memeriksa atau mengecek kembali data yang sudah diperoleh. 8. Penarikan simpulan akhir.

(42)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pemerolehan kalimat pada anak yang ada di PAUD Babul Ilmi’ ditemukan bahwa kalimat yang telah diperoleh anak-anak PAUD BabulIlmi kelas Bulan yang berjumlah enam orang dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis-jenis kalimat. Kalimat berdasarkan jumlah klausa, kalimat menurut fungsinya, kalimat tak lengkap dan kalimat inversi. Berdasarkan jumlah klausa anak telah memperoleh kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Pada kalimat majemuk, anak telah memperoleh kalimat majemuk setara pertentangan dan penjumlahan. Anak belum memperoleh kalimat majemuk bertingkat. Sementara itu, kalimat menurut fungsinya anak telah memperoleh kalimat berita, perintah, dan tanya. Pada jenis kalimat menurut fungsinya, anak belum memperoleh kalimat seruan.

(43)

pertanyaan berupa kalimat sederhana oleh guru seperti kalimat pertanyaan untuk menanyakan gambar yang sedang dibawa oleh guru. Jawaban yang diberikan oleh murid merupakan pemerolehan kalimat yang diperoleh melalui kegiatan belajar yang dilakukan antara guru dengan anak (murid).

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disajikan pada bagian terdahulu, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut.

1. Bagi guru PAUD, sebagai pendidik hendaknya mampu mamaknai kalimat-kalimat yang diucapkan oleh anak usia 3-4 tahun dengan cermat agar dapat mengerti apa yang diucapkan anak tersebut. Selain itu, guru juga harus berperan aktif membantu anak memberikan pengarahan berupa penggunaan kalimat yang baik (sopan dan santun) dan benar agar kalimat yang digunakan anak dalam berkomunikasi dapat dimengerti oleh orang lain dan dapat menjadi bekal pengetahuan anak untuk persiapan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

(44)

Daftar Pustaka

Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Aqib, Zainal. 2009. Belajar dan Pembelajaran di Taman Kanak-kanak. Bandung: Yrama Widya.

Busthomi, M Yasid.2012. Panduan Lengkap Paud. Jakarta: Citra Publising. Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. Echa Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Finoza, Laminudin. 2009. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi. Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Research. Yogyakarta:Andi.

Margono, S. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Mukhtar. 2010. Bimbingan Skripsi, Tesis, dan Artikel Ilmiah. Jakarta: Gaung Persada Press.

Putrayasa, Ida Bagus. 2009. Jenis Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Bandung: Refika Aditama.

Santrock, J.W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.

(45)

Warinka, Messa. 2012. Pemerolehan Bahasa pada Tataran Fonologi Anak Usia Tiga Tahun dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Berbahasa di Paud. Skripsi Tidak Diterbitkan. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Suliani, Ni Nyoman Wetty. 2008. Pembelajaran Bahasa pada Pendidikan Anak

Usia Dini Babul ‘Ilmi Kedaton Bandar Lampung. Tesis Tidak Diterbitkan.

Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Gambar

Tabel 2.1 Struktur Kalimat Dasar
Tabel 2.4

Referensi

Dokumen terkait

Kaum Muslimin para hamba Allah yang berbahagia, Demikianlah pentingnya mesjid, oleh karenanya sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah, kalau kita perhatikan

Tujuan dari penelitian yang dilakukan penulis adalah untuk mengetahui peran motivasi, tingkat penghasilan, dan tingkat pendidikan terhadap kinerja guru TK

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Sutarmi (02 April 2020) Tahapan – tahapan dan makna upacara pernikahan di Dusun Dampar desa Bades Kecamatan Pasirian adalah sebagai

Karakteristik pasien pada simpul ini adalah pasien kanker serviks yang penyakit kanker serviks yang dideritanya merupakan penyakit penyerta, tidak memiliki

Komposisi Gulma, Untuk mengetahui keseragaman gulma dapat dilihat dengan perbedaan gulma yang tumbuh berbeda pada berbagai tingkat kedalaman dan jarak

Tahap kedua dari penelitian ini adalah pengevaluasian dengan seksama kepatuhan label menggunakan semua butir, lima butir utama dan butir-butir yang berhubungan dengan keamanan

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang Hygiene Sanitasi pada Pedagang Makanan Jajanan Di Lingkungan Sekolah Dasar Di Kecamatan Bongomeme

Intervensi dengan NMES pada permukaan kulit di atas otot abduktor policis brevis tangan kanan dan kiri sampai tampak muscle twitch (kedutan otot akibat rangsang