• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Pasar Produk Asinan Bogor dengan Metode Riset Aksi. Dibimbing

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan Pasar Produk Asinan Bogor dengan Metode Riset Aksi. Dibimbing"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

MAWARDI KARTASASMITA

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Pengembangan Pasar Produk Asinan Bogor dengan Metode Riset Aksi” adalah karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2014

(4)
(5)

dengan Metode Riset Aksi. Dibimbing oleh ONO SUPARNO dan AJI HERMAWAN

Asinan Bogor merupakan salah satu kuliner Kota Bogor yang banyak disukai oleh masyarakat. Akan tetapi, produk ini jarang dijadikan sebagai produk oleh-oleh terutama bagi wisatawan yang berdomisili jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model bisnis terbaik dengan pendekatan metode riset aksi dalam pengembangan pasar produk asinan Bogor. Data dalam penelitian ini, dikumpulkan dengan metode wawancara kepada 50 responden wisatawan untuk dilakukan pengujian permasalahan dan pengujian solusi terhadap produk asinan Bogor. Berdasarkan pengujian didapat 72% responden adalah konsumen potensial yang memiliki permasalahan mengenai produk asinan Bogor. Permasalahan tersebut diantaranya kekhawatiran konsumen terhadap kemasan yang mudah bocor, kurangnya kehigienisan produk, ketidakpraktisan, ketidakkonsistenan produk (terhadap rasa, volume, ukuran buah, serta tekstur buah), umur simpan yang pendek, serta kemasan yang kurang menarik membuat produk ini jarang diminati sebagai produk oleh-oleh. Berdasarkan permasalahan tersebut dirancang model bisnis yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Hasil dari model bisnis tersebut, sebanyak 92% responden menyatakan pengembangan produk asinan Bogor yang diberi merek Asinan Kujang sudah tepat sebagai produk oleh-oleh.

Kata kunci : asinan Bogor, model bisnis, pengembangan pasar, riset aksi

ABSTRACT

MAWARDI KARTASASMITA.Market Development of “asinan Bogor” Product By the Action Research Method. Supervised by ONO SUPARNO and AJI HERMAWAN

“Asinan Bogor” is one of an authentic cuisine from Bogor, which is favoured by many people. However, the product is rarely used as a gift especially for travelers who live far away. The objective of the study was to obtain the best business model by the action research method approach in “asinan Bogor” market development. Data were collected by interview method to 50 travelers coming to Bogor, in order to problem and solution tests on the product. Based on the problem test, 72% of the respondents were potential consumers having concerns about the product. The problems were consumer concerns on packaging, i.e. easy to leak, unhigiene product, product inconsistency (taste, volume, size, and texture of the fruit), a short shelf life, and less attractive packaging, making the product not common as gift or souvenir. Based on problem test result, business models were designed to suit the needs of the consumers. The result of the business model was 92% of respondents stated that the product branded as “Asinan Kujang” has been suitable as an indigenous Bogor souvenir.

(6)
(7)

MAWARDI KARTASASMITA

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian

pada

Departemen Teknologi Industri Pertanian

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(8)
(9)
(10)

segala berkah dan kesempatan yang diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Pengembangan Pasar Produk Asinan Bogor dengan Metode Riset Aksi”. Karya tulis ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Teknologi Pertanian, pada Departemen Teknologi Industri Pertanian, IPB.

Penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan teristimewa kepada : 1. Kedua orangtua, Alm. Bapak Achmad Purkon dan Ibu Sadi’ah, Kakak yaitu Puja Lestari, Harti, dan Alm. Reni Suryanita yang sampai detik ini membuat saya selalu bersemangat dan termotivasi untuk selalu berkarya dan bekerja keras.

2. Bapak Prof Dr Ono Suparno, STP, MT dan Dr Ir Aji Hermawan, MM selaku Pembimbing Akademik yang telah senantiasa membimbing penulis selama keseluruhan penyusunan skripsi.

3. Lembaga Recognition and Mentoring Program (RAMP) IPB sebagai pihak yang mendanai sekaligus memberikan arahan dalam penelitian ini.

4. Lembaga Yayasan Karya Salemba Empat yang memberikan beasiswa kepada penulis selama menempuh pendidikan Strata 1 di IPB.

5. Kedua rekan saya yaitu, Khairunnisa rekan satu tim dalam pengembangan pasar dan produk asinan Bogor serta Andino Yudho Pratomo yang selama penyusunan membantu kami dalam pengembangan produk asinan Bogor. 6. Kepada Ibu Dr Ir Titi Candra Sunarti, MSi selaku dosen TIN, Ibu Egnawati

Sari dan Mba Etty selaku laboran TIN yang senantiasa memberikan semangat dan bantuannya dalam pembuatan produk.

7. Seluruh keluarga besar TIN 47 atas dukungan, doa, bantuan, kekompakan, kenangan indah yang membuat penulis selalu bersemangat sampai karya ilmiah ini selesai.

8. Seluruh teman-teman dan kerabat yang tidak dapat disampaikan satu persatu.

Demikian karya ilmiah ini dibuat agar diharapkan dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Bogor, Juni 2014

(11)

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Tujuan Penelitian 2

Ruang Lingkup Penelitian 2 METODE 2 Pengumpulan Data 3 Analisis Data 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 5 Kanvas Model Bisnis Awal 5 Ekstraksi Hipotesis Model Bisnis Awal 10

Ukuran Pasar (Market Size) 11

Pengujian Permasalahan (Test The Problem) 12

Pembaharuan Tahap Pertama Kanvas Model Bisnis 13

Pengujian Solusi (Test The Solution) 14

Pembaharuan Tahap Kedua Kanvas Model Bisnis 19

Verifikasi Model Bisnis 20

SIMPULAN DAN SARAN 22

Simpulan 22

Saran 22

DAFTAR PUSTAKA 23

(12)

1. Hipotesis dari model bisnis awal Asinan Kujang 10 2. Permasalahan produk asinan Bogor di pasaran 13 3. Pembaharuan pertama kanvas model bisnis Asinan Kujang 14 4. Daftar solusi yang diberikan untuk menyelesaikan permasalahan 15

terhadap produk asinan Bogor

5. Pembaharuan tahap kedua kanvas model bisnis Asinan Kujang 19

DAFTAR GAMBAR

1. Proses customer development 2

2. Diagram alir pengembangan pasar dengan metode riset aksi 3 3. Model bisnis kanvas pengembangan produk asinan Bogor 5

4. Ukuran pasar Asinan Kujang 12

5. Pasar potensial pengembangan produk asinan Bogor 12 6. Produk pengembangan asinan Bogor “Asinan Kujang” 16 7. Hasil ketertarikan konsumen terhadap pengujian solusi produk 16

pengembangan asinan Bogor

8. Kecocokan produk Asinan Kujang sebagai produk oleh-oleh 17 menurut konsumen

9. Keinginan konsumen terhadap jenis saluran (channel) dalam 18 penjualan produk asinan kujang

10.Harga yang pantas terhadap produk Asinan Kujang menurut 18 konsumen

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar pertanyaan pengujian terhadap permasalahan produk 24 asinan Bogor

2. Daftar pertanyaan pengujian solusi pengembangan produk asinan 26 Bogor

3. Data responden pengujian permasalahan pada produk asinan 28 Bogor

4. Data responden pengujian solusi pada produk asinan Bogor 31 5. Analisis biaya produksi Asinan Kujang Kanvas Model Bisnis 1 33

6. Disain model kanvas versi satu 35

7. Analisis biaya produksi Asinan Kujang Kanvas Model Bisnis 2 36

8. Disain model kanvas versi dua 39

9. Diagram skema penjualan Asinan Kujang sampai ke tangan 40

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bogor merupakan salah satu kota dan kabupaten di Indonesia yang memiliki tempat pariwisata yang banyak dikunjungi oleh turis domestik maupun mancanegara. Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia (2012), pada tahun 2011 terdapat 5 259 678 wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke objek wisata Kota maupun Kabupaten Bogor. Jumlah wisatawan tersebut akan terus bertambah dikarenakan bertambahnya jumlah tempat wisata yang ada di Kota maupun Kabupaten Bogor.

Banyak tempat yang menarik di Bogor seperti Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, Taman Wisata Cibodas, Taman Wisata Matahari, Daerah Puncak Pass, Daerah Cipanas, dan tempat wisata lainnya. Hal tersebut membuat Bogor memiliki keanekaragaman cinderamata dan sebagai salah satu pusat jajanan kuliner serta oleh-oleh di Indonesia. Salah satu kuliner yang terkenal di Bogor adalah Asinan Bogor. Asinan adalah makanan yang terdiri atas buah dan atau sayur yang direndam dalam kuah dengan dominasi rasa manis dan asam. Asinan dapat dibuat dari campuran bahan segar maupun bahan yang dibuat dengan cara pengacaran (melalui pengasinan dengan garam atau pengasaman dengan cuka).

Menurut Ashadi (2007), Asinan tergolong ke dalam jenis makanan penutup (dessert) atau sebagai jajanan (snack) yang sifatnya rekreatif. Bahan dasar asinan dapat berupa buah, sayur, atau campuran keduanya. Asinan sayur terdiri atas tauge, kubis, sawi, dan mentimun. Asinan buah terdiri atas bengkuang, nanas, pepaya, kedondong, salak, jambu, mangga, lobi-lobi, dan kacang goreng. Sebagai pelengkap, terkadang asinan ditambahkan kerupuk yang berwarna kuning. Kuah asinan dibuat dari air matang, cuka, gula pasir, garam, ebi, dan bumbu lain serta cabai merah (yang direbus dan digiling). Banyak masyarakat dari berbagai kota mencari asinan Bogor karena cita rasanya yang khas dan rasanya yang nikmat. Biasanya asinan Bogor dinikmati ditempat berjualan atau dikemas pada wadah plastik transparan sehingga umur simpan produk hanya satu sampai dua hari.

Umur simpan produk yang singkat dan ketidakpraktisan produk membuat produk ini jarang dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang berdomisili jauh dari Bogor. Padahal banyak masyarakat yang menyukai asinan dan menginginkan produk dijadikan sebagai oleh-oleh. Selain itu, rasa rindu akan asinan Bogor bagi para perantau yang tinggal di luar kota atau luar negeri juga besar tetapi produk asinan Bogor jarang ada di daerah tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan proses customer development (pengembangan konsumen) untuk menemukan kebutuhan atau keinginan konsumen terhadap produk dan jasa yang akan dipasarkan.

(14)

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mendapatkan model bisnis terbaik dengan metode riset aksi dalam pengembangan produk asinan Bogor. Model bisnis yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi sebuah startup business yang dapat dikembangkan menjadi sebuah industri.

Ruang Lingkup

Blank dan Dorf (2012) menjelaskan bahwa dalam customer development

terdapat empat langkah yang mendukung semua unsur dalam penyusunan startup business. Keempat langkah tersebut adalah customer discovery, customer validation, customer creation, dan customer building. Langkah pertama dan kedua dalam customer development disebut dengan tahapan pencarian, sedangkan untuk langkah ketiga dan keempat disebut dengan langkah mengeksekusi. Proses pengembangan pasar dapat dilihat pada Gambar 1.

Search Execute

Gambar 1 Proses customer development (Blank dan Dorf 2012)

Pada penelitian ini, langkah customer discovery dalam tahap pencarian merupakan fokus penelitian. Tahapan tersebut meliputi penyusunan hipotesis dari model bisnis awal, pengujian permasalahan (test the problem), pengujian solusi (test the solution) dan verifikasi model bisnis.

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode riset aksi (action research). Dalam metode ini dilakukan pendekatan customer development yang mengacu pada sembilan elemen bisnis model. Menurut Saunders et al. (2009), riset aksi adalah metode yang fokus terhadap perubahan yang memiliki tahapan siklus yaitu melakukan diagnosa masalah, membuat perencanaan, melakukan tindakan, dan evaluasi sampai mendapatkan perubahan yang sesuai. Perbaikan model bisnis pada penelitian ini diadaptasi berdasarkan pengembangan pasar menurut Blank dan Dorf (2012) dengan metode riset aksi yang prosesnya dapat dilihat pada Gambar 2.

Customer Discovery

Customer Validation

Customer Creation

(15)

Gambar 2 Diagram alir pengembangan pasar dengan metode riset aksi yang diadaptasi berdasarkan Blank dan Dorf (2012)

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara kepada sejumlah responden yang merupakan pelanggan potensial. Proses wawancara dilakukan dari tanggal 1 Februari – 20 April 2014 di tempat wisata Kota Bogor yaitu Kebun Raya Bogor dan salah satu outlet asinan yang terkenal di Bogor. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data kualitatif dan kuantatif yang mendukung penelitian. Mekanisme wawancara terbagi atas dua tahap yaitu tahap wawancara pengujian permasalahan (Lampiran 1) dan tahap pengujian solusi (Lampiran 2). Jenis pertanyaan yang digunakan pada tahap pengujian permasalahan adalah pertanyaan terbuka sedangkan untuk tahapan pengujian solusi adalah pertanyaan kombinasi.

Tahap pengumpulan data pertama adalah tahapan pengujian permasalahan. Tahapan ini bertujuan untuk menguji kebenaran dari hipotesis yang dibuat mengenai permasalahan yang terjadi terhadap produk. Tahapan ini juga berguna

Tidak sesuai

Mulai

Kanvas model bisnis awal

Pengujian permasalahan

Ekstrak hipotesis

Pembaruan model bisnis

Pengujian solusi

Pembaruan model bisnis

Verifikasi :

pivot/proceed

Pengembangan produk

Selesai

(16)

untuk menangkap pengetahuan pelanggan terhadap produk seperti mengapa orang membeli produk yang ditawarkan, bagaimana mereka menanggapi produk atau persepsi terhadap produk. Responden yang diwawancarai sejumlah 50 wisatawan yang akan dikategorisasikan menjadi pelanggan potensial dan tidak potensial. Data responden pada pengujian permasalahan dapat dilihat pada Lampiran 3.

Tahapan kedua adalah pengujian solusi. Pengujian solusi bertujuan untuk menguji solusi yang diberikan kepada responden potensial terhadap permasalahan yang dialami selama mengkonsumsi produk. Jumlah responden yang diwawancarai adalah 50 responden. Responden tersebut merupakan pelanggan potensial pada pengujian tahap pertama yang ditambah sampai 50 responden yang memiliki karakteristik sama. Menurut Blank dan Dorf (2012), setidaknya 50 responden merupakan jumlah yang sudah memadai. Data responden pada pengujian solusi dapat dilihat pada Lampiran 4.

Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan dari wawancara terhadap responden dianalisis dengan teknik reduksi dan kategorisasi. Miles dan Huberman (1994), teknik reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Proses tersebut berlangsung terus menerus selama penelitian berlangsung. Reduksi data merupakan analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat diperoleh. Cara reduksi data, yaitu seleksi ketat terhadap data, membuat ringkasan, atau uraian singkat, dan menggolongkannya (kategorisasi).

Teknik kategorisasi digunakan untuk menggolongkan jawaban dan pernyataan dari responden yang merupakan calon konsumen dari produk yang dikembangkan. Pada penggolongan pelanggan potensial dan tidak potensial, kategorisasi responden berdasarkan parameter yaitu intensitas konsumsi asinan Bogor, intensitas pembelian untuk oleh-oleh, berdasarkan kebutuhan terhadap pengembangan produk asinan Bogor, dan ketertarikan terhadap solusi awal yang diberikan kepada responden. Parameter tersebut diberikan nilai bobot yang dapat menentukan batas apakah konsumen tersebut pelanggan potensial atau tidak potensial. Selain itu, teknik ini dilakukan untuk penggolongan segmentasi pasar dan tingkatan sosial calon konsumen.

(17)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kanvas Model Bisnis Awal

Menurut TIM PPM Manajemen (2012), model bisnis adalah gambaran hubungan antara keunggulan dan sumber daya yang dimiliki perusahaan, serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengakuisisi dan menciptakan nilai sehingga perusahaan mampu menghasilkan laba. Model bisnis juga dapat didefinisikan sebagai arsitektur untuk produk, pelayanan termasuk di dalamnya deskripsi dari aktor-aktor bisnis dan peraturannya, keuntungan potensial untuk berbagai aktor di dalamnya dan sumber-sumber pendapatan (Timmers 1998).

Osterwalder dan Pigneur (2010) membuat suatu kerangka model bisnis yang berbentuk kanvas dan terdiri dari sembilan kotak yang berisikan elemen-elemen yang saling berikatan. Osterwalder dan Pigneur menambahkan bahwa kanvas model bisnis merupakan sebuah model bisnis yang menggambarkan dasar pemikiran tentang bagaimana sebuah organisasi atau perusahaan menciptakan, menyerahkan dan menangkap nilai.

Kanvas model bisnis digambarkan melalui sembilan balok bangunan dasar yang menunjukkan logika bagaimana sebuah perusahaan bermaksud untuk menghasilkan uang. Sembilan balok ini mencakup empat bidang utama bisnis yaitu pelanggan, penawaran, infrastruktur, dan kelayakan keuangan. Kesembilan elemen dalam model bisnis kanvas tersebut yaitu customer segment, value propositions, channels, customer relationships, revenue streams, key resources, key activities, key partners, dan cost structure.

Pada penyusunan model bisnis awal pengembangan produk asinan Bogor, penelitian ini menggunakan bisnis model kanvas. Gambar 3 merupakan model bisnis kanvas pengembangan produk asinan Bogor.

Gambar 1 Skema model bisnis kanvas

(18)

Proposisi nilai (value propositions)

Osterwalder dan Pigneur (2010) mendefiniskan bahwa value propositions merupakan bundling dari sebuah produk atau jasa yang bermanfaat untuk kelompok pelanggan spesifik tertentu. Tim PPM Manajemen (2012) menjelaskan value propositions adalah nilai atau manfaat yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggan. Manfaat ini terwujud dalam bentuk sekumpulan produk atau jasa. Value propositions merupakan alasan mengapa pelanggan memilih produk atau jasa yang ditawarkan oleh suatu perusahaan dan bukan perusahaan lain.

Asinan Bogor yang menjadi daya tarik makanan Bogor sebelumnya memiliki

value propositions berupa makanan khas yang memiliki cita rasa segar dan nikmat ketika dikonsumsi. Akan tetapi pengembangan bisnis terhadap asinan Bogor sangat diperlukan karena masyarakat masih sedikit yang membawa asinan Bogor sebagai produk oleh-oleh. Hipotesis permasalahan yang terjadi disebabkan ketidakpraktisan produk asinan Bogor yang terutama terdiri dari cairan sehingga konsumen sulit untuk membawanya dan umur simpan yang singkat sehingga konsumen masih enggan untuk membawa untuk oleh-oleh. Selain itu, banyak produk asinan Bogor yang dijual di pinggir jalan tidak mengutamakan kebersihan. Permasalahan-permasalahan tersebut dapat menjadi peluang bisnis jika dapat diberikan solusi secara tepat.

Asinan Bogor dalam pengembangan bisnisnya dapat didasarkan atas penambahan nilai produk. Penambahan nilai produk tersebut dapat menjadi daya tarik baru terhadap konsumen sekaligus menjawab permasalahan konsumen. Value propositions dalam model bisnis kanvas awal dari pengembangan produk asinan Bogor adalah sebagai berikut :

- Praktis, pengembangan produk asinan Bogor didisain untuk memberikan kepraktisan kepada konsumen sehingga menjawab permasalahan yang terjadi. Produk asinan Bogor yang salah satu komponen utamanya berupa cairan, sering menjadi permasalahan yaitu konsumen takut bocor atau tumpah ketika dibawa bepergian.

- Umur simpan yang panjang sampai satu tahun. Penetapan value propositions awal yaitu umur simpan yang panjang, didasarkan hipotesis bahwa asinan Bogor memiliki kekurangan saat ini yaitu umur simpan yang pendek yaitu satu sampai dua hari.

- Kemasan yang menarik merupakan salah satu value propositions awal yang diunggulkan. Hal ini dapat menjadi daya tarik konsumen karena dengan penampilan yang menarik, minat konsumen terhadap produk juga meningkat serta dapat meninggalkan pasar asinan sebelumnya.

- Kebersihan (higienis) merupakan kelebihan produk untuk menjawab kekurangan produk asinan Bogor yang dijual di pinggir jalan. Kebersihan produk asinan Bogor di pinggir jalan diragukan kebersihannya karena kemungkinan kontaminasi dengan asap kendaraan dan pembuatan asinan yang tidak menjaga kebersihan.

Segmen pelanggan (customer segments)

(19)

target dari produk perusahaan kedalam empat tipe, yaitu pasar tebuka (existing market), pasar segmentasi (resegmented market/niche market), pasar baru (new market), dan pasar tiruan (clone market). Masing-masing pasar ini memerlukan spesifikasi persaingan tertentu.

Asinan Bogor awalnya menyentuh pasar wisatawan maupun penduduk lokal yang menyukai produk asinan Bogor. Akan tetapi, wisatawan lebih cenderung menikmati asinan Bogor di tempat pembelian dari pada membelinya sebagai oleh-oleh. Asinan Bogor juga menurun penjualannya dikarenakan banyak pasar baru yaitu produk oleh-oleh yang lebih praktis dan menjadi makanan khas baru Kota Bogor. Berdasarkan jenis pasar menurut Blank dan Dorf (2012), pengembangan produk asinan Bogor tergolong pasar terbuka (existing market). Hal tersebut dikarenakan produk asinan Bogor sebelumnya sudah terkenal tetapi diperlukan keunggulan atau kelebihan produk yang lebih baik agar dapat bersaing di pasaran.

Berdasarkan value propositions yang diberikan, pengembangan produk asinan Bogor dapat menyentuh kembali wisatawan Bogor yang menginginkan asinan Bogor sebagai oleh-oleh. Jumlah wisatawan yang terus meningkat serta Bogor yang terletak diantara dua kota besar yaitu Jakarta dan Bandung merupakan peluang yang besar untuk usaha bisnis produk oleh-oleh. Akan tetapi karena produk asinan Bogor termasuk produk existing market, ancaman terbesar pun datang dari pemain lama.

Saluran (channels)

Channels merupakan sarana bagi perusahaan untuk menyampaikan value proposition kepada customer segment yang dilayani. Channels adalah saluran untuk berhubungan dengan para pelanggan. Komunikasi, distribusi, dan jaringan penjual atau sales merupakan salah satu usaha perusahaan untuk berkomunikasi dengan pelanggan. Channels memainkan peranan yang penting dalam pengalaman pelanggan. Sistem penjualan dalam model bisnis kanvas awal pengembangan produk asinan Bogor adalah secara direct selling, penjualan melalui toko oleh-oleh, swalayan, mini market, dan supermarket. Sistem penjualan tersebut dipilih agar konsumen dan produsen memiliki saluran penjualan yang mudah.

Hubungan pelanggan (customer relationships)

Blank dan Dorf (2012) menjelaskan customer relationships adalah cara bagaimana perusahaan menjalin hubungan baik dengan pelanggannya. Ada tiga prinsip penting dalam customer relationship ini yaitu “Get, Keep, and Grow”. Get yang dimaksudkan adalah getting customers, yaitu upaya mengarahkan konsumen pada saluran penjualan produk perusahaan. Tahapan berikutnya adalah Keep (keeping customers), upaya menjaga pelanggan yang sudah didapatkan untuk terus percaya dan berlangganan kepada produk/jasa yang kita tawarkan. Kemudian yang ketiga yaitu Grow (growing customers), adalah upaya memperbanyak pelanggan untuk meningkatkan penjualan. Dalam menjaga hubungan antara konsumen dengan produsen, produk pengembangan asinan Bogor perlu dilakukan beberapa kegiatan yaitu:

Mendapatkan pelanggan (get customers)

(20)

maupun promosi secara langsung kepada konsumen. Penyediaan stand penjualan pada beberapa tempat wisata di Bogor dengan memberikan tester merupakan salah satu cara awal dalam melakukan promosi produk.

Mempertahankan pelanggan (keep customer)

Cara untuk mempertahankan pelanggan yang utama adalah dengan cara memberikan loyalitas dalam bentuk perhatian kepada konsumen. Pemberian loyalitas terhadap konsumen dapat diterapkan dengan cara mempertahankan serta meningkatkan mutu dan inovasi terhadap produk asinan Bogor. Sedangkan bentuk perhatian dapat dilakukan dengan memberikan layanan saran dan kesan terhadap produk pengembangan asinan Bogor.

Memperbesar jumlah pelanggan (grow customer)

Dalam memperbesar jumlah pelanggan dapat dilakukan dengan cara melakukan inovasi dalam mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Hubungan antara penyebaran promosi, memberikan loyalitas terhadap konsumen, serta melakukan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dapat memperbesar jumlah konsumen karena dapat menarik konsumen pasar lain.

Aliran pendapatan (revenue streams)

Revenue streams adalah pendapatan yang diterima perusahaan dari masing-masing segmen pasar yang biasanya diukur dalam bentuk uang yang diterima perusahaan dari pelanggan. Osterwalder dan Pigneur (2010) menjelaskan bahwa

Revenue stream sama istilahnya dengan arus pendapatan yang menggambarkan uang tunai yang dihasilkan perusahaan dari masing-masing segmen pelanggan. Jika kepuasan pelanggan adalah jantung dari sebuah model bisnis, maka revenue streams adalah pembuluh arterinya.

Revenue streams utama dari produk pengembangan asinan Bogor adalah penjualan asinan buah. Pada bisnis model pertama, harga yang ditawarkan adalah Rp 15 000 dengan ukuran setiap kemasan 180 gram buah dengan 100 ml cuka asinan atau setara dengan satu mangkuk asinan. Buah yang ditawarkan dalam produk pengembangan asinan Bogor adalah buah nanas, kedondong, bengkuang, dan pepaya. Penetapan harga (pricing) awal dilakukan dengan menetapkan harga produk pengembangan asinan Bogor lebih murah dari pada asinan Bogor yang terkenal di daerah Bogor. Hal tersebut dilakukan agar terjadi perpindahan konsumen dari produk asinan Bogor lama ke produk pengembangan asinan Bogor.

Sumberdaya kunci (key resources)

Key resources merupakan sumberdaya utama yang harus dimiliki perusahaan untuk menjalankan bisnis. Umumnya sumberdaya yang dibutuhkan berupa sumberdaya manusia, teknologi, finansial dan sumberdaya fisik (bahan baku dan

raw materials lainnya). Sumber daya memungkinkan perusahaan untuk menciptakan dan menawarkan value proposition, mencapai pasar, menjaga hubungan dengan segmen pelanggan, dan memperoleh pendapatan. Selain itu, merek (brand) merupakan salah satu dari key resources. Menurut Hanani (2012), penggunaan merek dagang juga berfungsi sebagai pembeda terhadap produk-produk pesaing yang ada.

(21)

bengkuang, kedondong, dan pepaya, bahan baku pelengkap atau tambahan, mesin dan ruang pabrik untuk produksi, sumber daya manusia, media pemasaran, serta merek (brand) yang berfungsi sebagai pembeda dari produk asinan Bogor lainnya. Merek dagang dari pengembangan produk asinan Bogor ini adalah Asinan Kujang. Asinan Kujang diambil dari kata kujang yang merupakan senjata khas Jawa Barat yang juga merupakan simbol kota Bogor. Asinan Kujang diharapkan dapat menyayingi asinan Bogor yang sudah terkenal di pasaran.

Aktivitas kunci (key activities)

Key activities adalah aktivitas utama yang harus dikuasai perusahaan untuk menjalankan bisnis. Dalam industri manufaktur (manufacture industries) komponen aktivitas terbagi menjadi tiga bagian yaitu pengadaan bahan baku, proses, dan pemasaran. Pada aktivitas pengadaan bahan baku, diusahakan rantai pasok berjalan efisien dan efektif supaya biaya yang dikeluarkan bisa ditekan seminimal mungkin. Kunci aktivitas proses lebih kepada optimasi pengolahan menyangkut optimasi energi, waktu, dan tenaga kerja. Sedangkan pada aktivitas pemasaran, hal yang harus diperhatikan adalah efisiensi pada saluran distribusi. Hal ini penting karena aktivitas pendistribusian barang mencakup biaya yang paling besar dari keseluruhan aktivitas pemasaran.

Aktivitas utama dalam produk asinan Bogor (Asinan Kujang) adalah penyediaan bahan baku berupa buah dari petani buah, penyediaan bahan tambahan pangan dari pemasok, penyediaan kemasan primer maupun sekunder, proses produksi produk Asinan Kujang, pemasaran dan distribusi, pengembangan produk, serta melakukan kerjasama dengan tempat atau Dinas Pariwisata Kota maupun Kabupaten Bogor. Seluruh kegiatan aktivitas kunci tersebut bersinergis untuk menjalankan roda bisnis.

Kemitraan (key partner)

Mitra (partner) dalam bisnis model adalah sosok perantara yang bukan miliki perusahaan namun berperan dalam mengubah produk/nilai menjadi uang. Menurut Blank dan Dorf (2012), secara umum ada empat jenis hubungan kerjasama dalam bisnis yang harus dimiliki perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pada kondisi tertentu yaitu startegic alliance, joint new business development effort, coopetition, key supplier relationships. Strategic alliance umumnya digunakan antar perusahaan yang tidak memiliki hubungan persaingan. Kerjasama dimaksudkan untuk melengkapi produk/jasa masing-masing supaya lebih memiliki kekuatan pasar.

Joint new business development effort dapat diterapkan pada perusahaan yang baru saja memulai start-up bisnisnya, namun strategi ini akan lebih efektif jika produk/jasa yang ditawarkan sudah memiliki identitas dan merek dagang yang jelas. Strategi coopetition banyak terjadi setelah perusahaan melewati masa startup bisnisnya. Strategi ini dimaksudkan untuk menjaga kendali pasar, biasanya berupa surat-surat perjanjian antar kompetitor. Key supplier relationship bisa diartikan sebagai bentuk kerjasama yang harus ada untuk semua perusahaan baik yang masih tahap startup maupun yang sudah sustain.

Dalam bisnis Asinan Kujang, jenis mitra yang dilakukan adalah key supplier relationship. Beberapa mitra yang bekerja sama dengan Asinan Kujang adalah

(22)

berasal dari petani, supplier bahan tambahan pangan dari pemasok, tempat wisata atau dinas pariwisata Kota dan Kabupaten Bogor.

Struktur biaya (cost structure)

Cost structure adalah bagian dalam elemen model bisnis kanvas yang menjelaskan semua biaya yang muncul ketika mengoperasikan model bisnis tertentu. Kegiatan menciptakan dan memberikan nilai, mempertahankan hubungan pelanggan, dan menghasilkan pendapatan menyebabkan timbulnya biaya. Perhitungan biaya semacam ini relatif lebih mudah setelah sumberdaya utama, aktivitas-aktivitas kunci, dan kemitraan utama ditentukan (Osterwalder dan Pigneur 2010).

Metode yang digunakan dalam analisis cost structure pada usaha Asinan Kujang menggunakan full costing. Full costing menghitung seluruh komponen biaya yang mempengaruhi harga jual produk. Full costing menurut Mulyadi (2005) adalah metode penentuan harga pokok produksi, yang membebankan seluruh biaya produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya

overhead pabrik, biaya yang berprilaku tetap maupun variabel. Dalam usaha asinan kujang, seluruh pengeluaran biaya dalam menjalankan usaha dihitung agar mendapatkan nilai harga pokok dari produk Asinan Kujang.

Ekstraksi Hipotesis Model Bisnis Awal

Ekstraksi hipotesis model bisnis awal dilakukan untuk dasar pemikiran dalam tahap pengujian permasalahan. Hipotesis ini juga dapat menentukan perkiraan terhadap calon konsumen, mitra, maupun stakeholder lainnya mengenai bisnis yang akan dikembangkan. Hipotesis model bisnis produk Asinan Kujang disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Hipotesis dari model bisnis awal Asinan Kujang

Komponen Hipotesis

Value proposition  Produk oleh-oleh yang praktis  Umur simpan produk yang panjang

mencapai 1 tahun

 Kemasan produk yang menarik  Produk yang higienis

Customer segment Wisatawan Bogor yang ingin membawa oleh-oleh khas Bogor.

Channel Secara direct selling, melalui toko oleh-oleh, swalayan, minimarket dan

supermarket.

(23)

Tabel 1 Hipotesis dari model bisnis awal Asinan Kujang (lanjutan)

Komponen Hipotesis

Key resources Bahan baku buah (nanas, bengkuang, kedondong, dan pepaya), bahan tambahan pangan, mesin dan pabrik, kemasan yang menarik, sumber daya manusia, brand, dan media pemasaran.

Key activities Pembelian bahan baku, proses produksi, pemasaran dan distribusi, serta

pengembangan bahan baku.

Key partners Supplier buah dan bahan tambahan pangan, supplier kemasan, tempat oleh-oleh khas Bogor, Dinas Pariwisata Kota dan Kabupaten Bogor.

Revenue and pricing Biaya penjualan Rp 15 000/ kemasan.

Cost structure Harga pokok produksi per kemasan.

Ukuran Pasar (Market Size)

Ukuran pasar (market size) merupakan sebuah gambaran pasar dari sebuah usaha yang dimana mengukur seberapa besar kemampuan produk atau jasa dalam menguasai pasar. Dalam langkah awal membentuk bisnis diperlukan hipotesis ukuran pasar. Menurut Blank dan Dorf (2012), Hipotesis ukuran pasar dapat membantu produsen dalam mengukur peluang pasar yang tersedia. Asinan Kujang dalam hipotesis awalnya mengukur peluang pasar berdasarkan total addressable market, served available market, dan target market. Gambaran pasar Asinan Kujang secara garis besar dapat dilihat pada Gambar 4.

Total Addressable Market

Pasar utama pada produk Asinan Kujang adalah wisatawan yang mengunjungi Kabupaten maupun Kota Bogor. Berdasarkan Badan Pusat Statistik

(2012), wisatawan Kabupaten dan Kota Bogor pada tahun 2011 berjumlah 5 259 678 orang. Hal ini akan terus meningkat dikarenakan banyak tempat wisata

baru yang ada di Kabupaten maupun Kota Bogor. Berdasarkan pengujian pertanyaan kepada responden yang mengunjungi tempat pariwisata maupun toko oleh-oleh di Bogor terdapat 86% diantaranya menyukai produk asinan sedangkan 12% responden biasa saja dan 2% tidak suka asinan Bogor. Data persentase kesukaan terhadap produk yang dikalikan dengan jumlah wisatawan Bogor, terdapat 4 523 323 orang yang menyukai produk asinan Bogor. Data tersebut senilai pembelian 9 046 646 pouch per tahun jika diasumsikan satu wisatawan membeli dua pouch asinan atau senilai Rp 135 699 690 000 per tahun jika hipotesis harga awal asinan Rp 15 000 per pouch.

Served Available Market

(24)

sedangkan sisanya yaitu 28% tidak potensial. Hal tersebut berarti jika pasar potensial dikalikan dengan total addressable market terdapat 3 256 792 orang yang berpotensi untuk membeli produk pengembangan asinan Bogor. Data tersebut setara dengan pembelian 6 513 584 pouch per tahun atau pendapatan senilai Rp 97 703 760 000 per tahun.

Target Market

Target market dari produk asinan kujang adalah 10% dari served available market. Nilai tersebut diasumsikan berdasarkan target yang dapat dipenuhi oleh produsen dalam melayani konsumen. Jumlah target market setara dengan 325 679 orang. Maka jika dihitung, total penjualan per tahun yaitu 10% dikalikan served

available market dapat mencapai 651 358 pouch atau senilai pendapatan Rp 9 770 370 000 per tahun.

Gambar 4 Ukuran pasar Asinan Kujang

Pengujian Permasalahan (Test The Problem)

Pengujian permasalahan dilakukan untuk mengetahui informasi mengenai data permasalahan yang dialami oleh konsumen. Pengujian permasalahan dilakukan kepada 50 responden yang akan menjadi responden potensial pengembangan produk asianan Bogor. Data permasalahan tersebut mengenai masalah-masalah yang dialami konsumen sewaktu membeli asinan Bogor sampai asinan Bogor tersebut sudah dikonsumsi. Data permasalahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2 sedangkan data potensial dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Pasar potensial pengembangan produk asinan Bogor Potensial

Pada tahun 2011, wisatawan Kota dan Kabupaten Bogor sejumlah 5.259.678 orang

Sumber : Badan Pusat Stasistik (2012)

Sejumlah 86% dari 50 responden yang diwawancarai secara acak menyukai

(25)

Berdasarkan hasil wawancara, terdapat 72% responden adalah konsumen potensial produk pengembangan asinan Bogor sedangkan 28% responden tidak potensial. Responden dinyatakan konsumen potensial jika responden tersebut mempunyai permasalahan selama membeli atau mengkonsumsi asinan Bogor sehingga membutuhkan penyelesaian atau solusi yang dapat mengatasinya. Selain itu, dilihat juga dari intensitas konsumsi, intensitas pembelian untuk oleh-oleh, serta ketertarikan atas penyelesaian permasalahan yang diberikan. Hasil wawancara responden diberikan bobot berdasarkan parameter untuk menunjukkan batas nilai tercapainya responden dapat dikatakan sebagai konsumen potensial.

Tabel 2 Permasalahan produk asinan Bogor di pasaran

No. Jenis permasalahan Frekuensi

(jumlah responden)

1 Takut kemasan bocor 29

2 Kurang higienis (kebersihan) dan takut bahan pengawet

serta pemanis buatan 28

3 Kurang praktis 22

4 Produk asinan yang tidak konsisten (rasa, volume, ukuran buah, dan tekstur buah)

18

5 Umur simpan yang pendek 17

6 Kemasan kurang menarik 14

7 Keraguan kehalalan 3

8 Butuh mencantumkan tanggal produksi dan Exp date 3

9 Kurang promosi 2

10 Harga mahal 2

11 Plastik yang digunakan terlalu banyak dan jadi sampah 1

12 Ikatan baja hampir termakan 1

13 Takut migrasi plastik yang membahayakan 1

Hasil pengujian permasalahan (test the problem), menujukan terdapat 13 permasalahan yang dialami oleh konsumen. Permasalahan tersebut diurutkan berdasarkan frekuensi terbesar sampai terkecil sehingga dapat diurutkan permasalahan mana yang paling penting untuk diselesaikan. Berdasarkan 13 permasalahan tersebut, terdapat 6 permasalahan yang frekuensinya lebih besar dari frekuensi masalah lainnya. Permasalahan tersebut merupakan permasalahan yang utama yang dapat diselesaikan sehingga terciptanya produk asinan Bogor yang dapat menyelesaikan permasalahan konsumen.

Pembaruan Tahap Pertama Kanvas Model Bisnis

(26)

pengujian selanjutnya sampai didapatkan model bisnis yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pembaharuan model bisnis dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Pembaharuan pertama kanvas model bisnis Asinan Kujang

Komponen Model bisnis awal Model bisnis setelah pembaharuan

Value proposition  Produk oleh-oleh yang praktis

 Produk yang higienis

 Praktis, mudah

Key partners Supplier kemasan Supplier kemasan

pouch yang praktis

Cost structure Harga pokok produksi per kemasan

Harga pokok produksi Rp 7 995/ kemasan (Lampiran 5)

Pembaharuan kanvas model bisnis pertama secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.

Pengujian Solusi (Test The Solution)

(27)

Tabel 4 Daftar solusi yang diberikan untuk menyelesaikan permasalahan terhadap produk asinan Bogor

No Permasalahan Solusi

1 Takut kemasan bocor Disain kemasan asinan Bogor yang kuat serta tidak mudah bocor (dengan menggunakan kemasan standing pouch).

2 Kurang higienis (kebersihan) dan takut bahan pengawet serta pemanis buatan

Pengolahan proses produksi yang baik serta penampilan produk yang bersih sehingga memberikan citra produk yang higienis. Selain itu, memberikan jaminan bahwa produk tidak menggunakan bahan pengawet berbahaya serta pemanis buatan. 3 Kurang praktis Kemasan produk asinan Bogor

yang lebih praktis sehingga lebih mudah dibawa dalam bepergian. 4 Produk asinan yang tidak

konsisten (rasa, volume, ukuran buah, dan tekstur buah)

Produk asinan yang memiliki rasa yang disukai oleh konsumen, tekstur dan ukuran buah yang terjaga, serta volume produk yang sesuai.

5 Umur simpan yang pendek

Menerapkan teknologi pasteurisasi terhadap produk sehingga produk dapat tahan lebih lama dari produk sebelumnya (mencapai satu bulan).

6 Kemasan kurang menarik Memberikan disain kemasan yang disukai oleh konsumen sehingga cocok untuk dibawa sebagai produk oleh-oleh.

(28)

(a) (b)

Gambar 6 Produk pengembangan asinan Bogor “Asinan Kujang” [(a) tampak depan dan (b) tampak belakang]

Gambar 7 Hasil ketertarikan konsumen terhadap pengujian solusi produk pengembangan asinan Bogor

Berdasarkan hasil pengujian solusi dapat dilihat 48 responden (96%) menyatakan pengembangan produk asinan Bogor atau yang diberi nama Asinan Kujang memiliki kepraktisan sehingga mudah dibawa bepergian serta cocok sebagai produk oleh-oleh. Dua responden (4%) menyatakan belum praktis hal ini dikarenakan responden masih membutuhkan fitur produk yang dapat memudahkan konsumen menikmati asinan Bogor pada saat perjalanan. Pada nilai produk mengenai kebersihan (higienis), responden yang setuju sejumlah 47 responden (94%) sedangkan 3 responden (6%) lainnya masih ragu-ragu. Hal ini dikarenakan konsumen belum yakin terhadap kebersihan produk karena belum melihat sendiri tempat produksi Asinan Kujang.

Pertanyaan selanjutnya mengenai kecukupan umur simpan Asinan Kujang. Umur simpan produk yang ditawarkan adalah selama satu bulan. Berdasarkan hasil pengujian, sebanyak 45 responden (90%) menyatakan sudah tepat kekuatan umur simpan yang dapat dipertahankan. Sebanyak 1 responden (2%) tidak setuju dengan

48

(29)

kekuatan umur simpan produk dan 4 responden (8%) masih ragu-ragu dengan kekuatan umur simpan produk. Hal ini dikarenakan, responden masih menganggap produk buah tidak dapat bertahan lama tanpa bahan pengawet sehingga responden masih ragu serta tidak setuju dengan ketahanan produk.

Pertanyaan selanjutnya mengenai ketertarikan apakah produk yang disajikan kepada responden sudah lebih menarik dari segi disain kemasan dibandingkan dengan produk asinan Bogor yang beredar di pasaran. Berdasarkan hasil pengujian, 46 responden (92%) menyatakan lebih menarik dari pada produk yang beredar di pasaran sedangkan 4 responden (8%) masih ragu-ragu terhadap penampilan produk. Responden masih menganggap masih harus didisain lebih menarik sehingga konsumen lebih tertarik untuk membeli produk Asinan Kujang. Pertanyaan selanjutnya mengenai rasa produk Asinan Kujang dibandingkan produk asinan yang beredar di pasaran. Berdasarkan hasil pengujian didapat 43 reponden (86%) menyukai rasa produk asinan kujang, baik dari rasa kuah maupun tekstur buah. Sedangkan 1 responden (2%) tidak menyukai rasa produk Asinan Kujang dan 6 responden (12%) masih ragu-ragu atas rasa Asinan Kujang dibandingkan produk asinan yang beredar di pasaran.

Pertanyaan terakhir mengenai value propositions produk adalah kecocokan konsumen terhadap volume produk yang disajikan. Berdasarkan sajian produk yang diberikan kepada responden, 40 responden (80%) menyatakan produk Asinan Kujang sudah memiliki volume yang sesuai untuk produk oleh-oleh yang dibawakan untuk perseorangan. Sedangkan 10 respoden (20%) lainnya tidak setuju, hal tersebut dikarenakan ukuran volume yang masih kurang jika diberikan untuk produk oleh-oleh dengan tujuan bukan perseorangan. Konsumen memberikan saran untuk membuat variasi volume produk yang dapat diberikan untuk perseorangan maupun lingkup yang lebih besar seperti keluarga atau teman-teman dengan jumlah banyak.

Pertanyaan lainnya yang diberikan kepada responden adalah pertanyaan mengenai kecocokan produk terhadap customer segment. Berdasarkan fitur-fitur atau value propositions yang diberikan apakah produk Asinan Kujang sudah tepat sebagai produk oleh-oleh. Berdasarkan hasil pengujian, sebanyak 46 responden (92%) setuju produk Asinan Kujang sebagai produk oleh-oleh sedangkan 4 responden (8%) masih ragu terhadap produk. Responden yang masih ragu-ragu tersebut dikarenakan masih belum tepatnya fitur produk dengan yang diingikan oleh responden. Data perbandingan ketertarikan konsumen tersaji dalam Gambar 8.

(30)

Pertanyaan selanjutnya mengenai saluran (channel) produk. Saluran produk merupakan komponen yang dapat menghubungkan antara produsen sebagai penjual dan konsumen sebagai pembeli. Pertanyaan ini diajukan untuk mendapatkan informasi mengenai kesukaan konsumen terhadap jenis penjualan yang disukai oleh konsumen. Pada pertanyaan saluran, responden dapat memilih cara penjualan lebih dari satu jenis. Berdasarkan hasil pengujian, didapat 38% responden menginginkan penjualan produk Asinan Kujang pada outlet resmi sedangkan 35% responden juga menginginkan penjualan pada toko oleh-oleh. Selain itu, 19% responden lainya menginginkan penjualan produk pada swalayan/minimarket/supermarket dan 7% responden menyarankan dijual diseluruh tempat penjualan. Data tersebut memperlihatkan bahwa konsumen lebih menyarankan produk dijual di outlet resmi dan toko oleh-oleh. Berdasarkan hasil wawancara, konsumen menyukai kedua saluran penjualan tersebut karena cocok dengan nilai produk.

Gambar 9 Keinginan konsumen terhadap jenis saluran (channel) dalam penjualan produk asinan kujang

Pertanyaan terakhir pada pengujian solusi adalah mengenai harga jual yang dapat diterima oleh konsumen. Berdasarkan hasil pengujian, didapat sebanyak 30 responden (60%) setuju asinan kujang seharga Rp 10 000 – Rp 14 000, sebanyak 12 responden (24%) setuju dengan harga Rp 15 000 – Rp 19 000, sebanyak 6 responden (12%) setuju dengan kisaran harga Rp 5 000 – Rp 10 000, dan sebanyak 2 responden (4%) setuju dengan harga diatas Rp 20 000. Kisaran harga tersebut menunjukkan rentang penilaian konsumen terhadap harga yang pantas dalam pembelian produk. Perbandingan penilaian harga jual produk kepada konsumen dapat dilihat pada Gambar 10.

(31)

Berdasarkan data responden, dari 50 responden potensial terdapat 20 reponden yang merupakan wisatawan yang berdomisili di Bogor. Wisatawan pada penelitian ini adalah wisatawan yang mengunjungi obyek wisata di Kota dan Kabupaten Bogor. Berdasarkan pengujian solusi, didapatkan data 75% dari 20 responden yang merupakan masyarakat yang berdomisili di Bogor adalah responden potensial. Responden tersebut mempunyai kriteria yang sama berdasarkan permasalahan yang dialami oleh responden pada pengujian permasalahan. Oleh karena itu, terdapat segmentasi baru selain wisatawan yang berasal dari luar Bogor. Segmentasi baru tersebut adalah masyarakat yang berdomisili di Bogor yang bepergian keluar kota maupun kembali ke kampung halaman.

Pembaruan Tahap Kedua Kanvas Model Bisnis

Data yang diperoleh pada tahap pengujian solusi dianalisis untuk menentukan pembaharuan model bisnis yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pada Pengujian solusi produk asinan Bogor, diperoleh data-data yang telah sesuai dengan kebutuhan atau keinginan konsumen. Akan tetapi, terdapat ketidakcocokan terhadap hipotesa sebelum dilakukan pengujian. Oleh karena itu, dilakukannya pembaharuan model bisnis yang sesuai. Pembaharuan model bisnis pengembangan produk Asinan Kujang disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Pembaharuan tahap kedua kanvas model bisnis Asinan Kujang

Komponen Model bisnis awal Model bisnis setelah pembaruan

Customer segments Wisatawan Bogor yang ingin membawa oleh-oleh

Channel Secara direct selling, melalui toko oleh-oleh,

Revenue steams Penjualan produk Asinan Kujang dengan harga Rp 15 000/ kemasan

Penjualan produk dengan harga Rp 12 000/ kemasan

Cost structure Biaya pokok penjualan Rp 7 995/ kemasan

Biaya pokok penjualan Rp 4 990/ kemasan (Lampiran 7)

(32)

Verifikasi Model Bisnis

Berdasarkan seluruh pengujian yang dilakukan dan pembaharuan model bisnis, dilakukan verifikasi apakah model bisnis akhir yang ditetapkan sudah tepat. Verifikasi dilakukan berdasarkan kecocokan produk dengan pasar, verifikasi pelanggan produk dan cara mencapainya, serta verifikasi apakah model bisnis dapat menghasilkan uang dan perusahaan.

1. Kecocokan produk dengan pasar

Menurut Blank dan Dorf (2012), Kecocokan produk dengan pasar ( product-market fit) memiliki tiga komponen sebagai parameternya. Komponen-komponen tersebut yaitu apakah permasalahan atau kebutuhan yang ditujukan mendesak atau penting untuk banyak pelanggan, apakah produk dapat memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan pelanggan dan pelanggan dengan senang hati untuk membayarnya, serta apakah ada pelanggan yang cukup besar yang dijadikan peluang bisnis. Komponen-komponen tersebut dalam bisnis Asinan Kujang dijabarkan sebagai berikut :

Komponen yang pertama adalah apakah permasalahan atau kebutuhan yang dituju mendesak atau penting untuk banyak pelanggan. Berdasarkan hasil pengujian permasalahan yang diuji pada 50 responden, didapatkan permasalahan-permasalahan yang menyebabkan mengapa produk asinan Bogor jarang dijadikan produk yang dibawa sebagai produk oleh-oleh. Saat ini produk oleh-oleh khas Bogor didominasi oleh produk bolu dan roti. Hal tersebut dikarenakan konsumen memiliki permasalahan selama membawa produk hingga mengkonsumsi produk. Permasalahan terbesar mengenai kekhawatiran konsumen terhadap kemasan yang mudah bocor, kurang higienis, produk kurang praktis untuk dibawa sebagai oleh-oleh, produk yang tidak konsisten baik rasa, volume, ukuran buah, dan tekstur, umur simpan produk yang singkat, serta kemasan yang kurang menarik. Berdasarkan permasalahan tersebut didisain produk yang membuat konsumen kembali tertarik terhadap produk asinan Bogor sebagai produk oleh-oleh yang dapat dibawa kemana saja sesuai daerah asal wisatawan. Selain itu, produk ini didisain sesuai dengan permasalahan konsumen sehingga dapat meraih pasar produk oleh-oleh yang sedang dikuasai oleh-oleh produk makanan kering.

Komponen kedua adalah apakah produk dapat memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan pelanggan dan pelanggan dengan senang hati untuk membayarnya. Pada hasil pemberian solusi, banyak responden yang menyukai sekaligus ingin langsung membeli produk Asinan Kujang. Padahal pada tahap tersebut belum dilakukannya penjualan terhadap produk. Selain itu, ketertarikan yang tinggi juga dibuktikan dari banyaknya pemesanan produk Asinan Kujang untuk liburan akhir semester. Melihat antusias konsumen yang tinggi terhadap produk, mendorong keyakinan bahwa produk Asinan Kujang dapat mengambil pasar asinan yang sudah ada. Bahkan dapan mengambil pasar oleh-oleh yang sedang dikuasai oleh produk makanan kering seperti bolu dan roti.

(33)

2011 membuat bisnis produk oleh-oleh memiliki potensi bisnis yang besar. Selain itu, dari 50 responden yang diwawancarai 72% merupakan pasar potensial yang membutuhkan produk pengembangan asinan Bogor sedangkan 86% responden menyukai produk asinan Bogor. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bisnis Asinan Kujang mempunyai peluang bisnis yang besar.

2. Pelanggan produk dan cara mencapainya

Kegemaran masyarakat Indonesia akan produk olahan buah segar seperti asinan merupakan potensi bisnis yang dapat dikembangkan. Apalagi produk asinan tersebut merupakan produk oleh-oleh yang mempunyai pasar yang besar dan dapat dikembangkan. Asinan Kujang yang merupakan pengembangan produk asinan Bogor dapat menjadi icon oleh-oleh baru dan dapat mengambil pasar asinan Bogor yang sudah ada. Hal ini dikarenakan produk asinan kujang merupakan pengembangan produk yang menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Penggapaian pelanggan dapat dilakukan dengan cara mengikuti bazaar dan pameran yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga sehingga informasi mengenai produk dapat diketahui secara cepat. Saluran yang diminta oleh konsumen yaitu pada outlet resmi Asinan Kujang dan toko oleh-oleh juga merupakan keunggulan dalam kemudahan mendapatkan produk. Selain itu, kerja sama dengan Dinas Pariwisata Kota Bogor dapat dilakukan agar Asinan Kujang dapat menjadi icon

baru produk oleh-oleh khas Kota Bogor.

3.Apakah dapat menghasilkan uang dan menumbuhkan perusahaan?

Salah satu faktor penting dalam menganalisis potensi peningkatan pendapatan adalah dengan analisis ukuran pasar (market size). Ukuran pasar meliputi total addressable market, total available market, dan target market yang menjelaskan seberapa besar peluang pasar potensial produk Asinan Kujang. Pasar utama produk Asinan Kujang adalah wisatawan kota Bogor dan masyarakat kota Bogor yang berpotensi membeli produk oleh-oleh. Wisatawan yang semakin meningkat membuat produk oleh-oleh mempunyai potensi pasar yang baik. Hal tersebut didasarkan oleh data Badan Pusat Statistik (2012) yang menyatakan wisatawan Kota dan Kabupaten Bogor pada tahun 2011 berjumlah 5 259 678 orang. Selain itu, minat masyarakat terhadap produk asinan yang besar dan belum adanya pengolahan produk asinan Bogor yang sesuai dengan kebutuhan konsumen membuat produk Asinan Kujang memiliki potensi yang besar. Menurut perhitungan

target market, produk Asinan Kujang dapat mencapai pendapatan sebesar Rp 7 816 296 000 disesuaikan dengan pembaharuan model bisnis terakhir dengan

(34)

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pengembangan pasar produk asinan Bogor dengan metode riset aksi dilakukan untuk mendapatkan model bisnis yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pembuatan model bisnis sangat berguna dalam meraih pasar yang sesuai dengan produk yang dikembangkan. Asinan Kujang merupakan produk pengembangan asinan Bogor yang dibuat sesuai dengan kebutuhan konsumen. Berdasarkan pengujian permasalahan, produk asinan Bogor yang ada di pasaran memiliki beberapa kekurangan sehingga konsumen lebih memilih produk oleh-oleh lainnya. Permasalah tersebut yaitu kekhawatiran konsumen terhadap kemasan yang mudah bocor, produk yang kurang higienis, kemasan yang kurang praktis, produk asinan yang tidak konsisten baik rasa, volume, ukuran buah, maupun tekstur, umur simpan yang pendek, serta kemasan yang kurang menarik. Berdasarkan permasalahan tersebut diperbaharui model bisnis yang sesuai dengan permasalahan konsumen dan diuji menggunakan pengujian solusi.

Hasil dari pengujian solusi menunjukkan respon konsumen yang positif terhadap pengembangan produk. Sebanyak 50 responden yang diwawancarai 96% diantaranya menyatakan produk sudah praktis sebagai produk oleh-oleh dibandingkan produk yang beredar di pasaran, 94% menyatakan sudah higienis, 90% menyatakan umur simpan produk sudah tepat, 92% menyatakan sudah menarik, 86% menyatakan memiliki rasa yang enak, dan 80% menyatakan ukuran volume produk cukup. Pertanyaan tersebut membandingkan apakah produk yang disajikan kepada responden lebih baik dari produk yang ada di pasaran. Sebanyak 92% responden secara keseluruhan sudah menyatakan pengembangan produk asinan Bogor yang disajikan sudah tepat sebagai produk oleh-oleh. Sedangkan saluran penjualan yang diminta oleh konsumen pada outlet resmi dan toko oleh-oleh sedangkan harga yang sesuai untuk produk asinan yang disajikan sebesar Rp 10 000 – Rp 14 000.

Produk asinan yang diperbaharui memiliki merek dagang Asinan Kujang. Asinan Kujang memiliki segmentasi wisatawan Bogor dan masyarakat Bogor yang bepergian keluar kota atau kembali ke kampung halaman. Segmentasi tersebut memiliki potensi besar dalam membeli produk oleh-oleh. Berdasarkan pengujian terhadap 50 wisatawan, 86% diantaranya menyukai produk asinan Bogor sedangkan 72% diantaranya merupakan pasar potensial untuk pengembangan produk asinan Bogor. Hal ini merupakan pasar yang besar apalagi dilihat dari wisatawan kota Bogor yang pada tahun 2011 mencapai 5 259 678 wisatawan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan produk Asinan Kujang memiliki pasar yang besar dan dapat bersaing dengan produk oleh-oleh kota Bogor yang sedang dikuasai oleh produk makanan kering.

Saran

(35)

DAFTAR PUSTAKA

Ashadi MI. 2007. Analisis Kepuasan, Loyalitas, dan Retensi Konsumen Asinan Sedap Gedung Dalam Kota Bogor [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Blank S, Dorf B. 2012. The Startup Owner’s Manual: The Step-by Step Guide for Building a Great Company. New Jersey (US): K&S Ranch, Inc. Publisher. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Jawa Barat dalam Angka. Jawa Barat (ID):

Badan Integrasi Pengelolahan dan Diseminasi Statistik.

Hanani H. 2012. Manfaat legalitas merek dagang bagi industri kecil dan menengah [Internet]. [diunduh 2014 Juni 9]. tersedia pada : http://patentmerk.com/ article/.

Miles MB, Huberman AM. 1994. Qualitative Data Analysis. Thousand Oaks, California (US) : Sage.

Mulyadi. 2005. Akuntansi Biaya (Edisi 5). Yogyakarta (ID) : STIE YKPN.

Osterwalder A, Pigneur Y. 2010. Business Model Generation. New Jersey (US): John Wiley & Sons, Inc.

Saunders M, Lewis P, Thornhill A. 2009. Research Methods for Business Student : Fifth Edition.Essex (UK) : Pearson Education Limited.

TIM PPM. 2012. Business Model Canvas Penerapan di Indonesia. Jakarta (ID): PPM.

(36)

Lampiran 1 Daftar pertanyaan pengujian terhadap permasalahan produk asinan Bogor

ANALISIS TERHADAP PERMASALAHAN PADA PRODUK ASINAN BOGOR

A. Indentitas Responden

Nama :

Jenis kelamin :

Umur :

Alamat domisili : Profesi : Penghasilan : Pengeluaran per bulan : Jumlah anggota keluarga :

No. HP :

B. Pertanyaan Umum

1. Apakah anda pernah membeli Asinan Bogor?

2. Jika pernah apakah tujuan anda membeli Asinan Bogor (dikonsumsi sendiri/ sebagai oleh-oleh/ dijual kembali/ lainnya)? Seberapa sering anda membelinya?

3. Apakah anda menyukai produk Asinan Bogor? Jika suka, seberapa seringkah anda mengkonsumsi Asinan Bogor?

4. Dimana anda biasa membeli Asinan Bogor?

5. Berapa kisaran harga jual Asinan Bogor di tempat yang biasa anda beli (sertakan ukurannya)? Apakah ukuran produk tersebut sudah memenuhi?

C. Test the Problem

(37)

2. Apakah anda pernah membawa Asinan Bogor sebagai oleh-oleh? Jika pernah, apakah anda pernah menemukan kesulitan/ kendala dalam membawa produk Asinan Bogor sebagai oleh-oleh?

3. Menurut anda, apakah Asinan Bogor yang beredar di pasar tergolong produk yang praktis, higienis, dan cocok sebagai oleh-oleh?

4. Dari permasalahan yang dihadapi bagaimana cara anda untuk mengatasinya?

5. Apakah anda pernah kesulitan dalam mendapatkan Asinan Bogor? Tempat penjualan seperti apakah yang anda sukai dalam membeli produk asinan Bogor?

6. Komponen apa saja yang paling penting menurut anda, yang wajib ada didalam asinan Bogor?

(38)

Lampiran 2 Daftar pertanyaan pengujian solusi pengembangan produk asinan Bogor

TAHAP PENGUJIAN SOLUSI (TEST THE SOLUTION) UNTUK PENGEMBANGAN PRODUK ASINAN BOGOR

A. Identitas Responden

Nama :

Jenis Kelamin :

Alamat :

Usia :

Profesi :

Penghasilan :

Pengeluaran per bulan : Jumlah anggota keluarga :

No. HP :

B. Uji Penerimaan Produk

Fitur Produk

1. Apakah produk Asinan Bogor Kujang dalam Kemasan Pouch sudah sesuai menjadi produk oleh-oleh khas Kota Bogor yang lebih praktis?

a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu

Alasan :

2. Apakah anda setuju produk Asinan Bogor Kujang lebih higienis/ bersih

dari asinan Bogor yang ada di pasaran? a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu

Alasan :

3. Apakah umur simpan Asinan Bogor Kujang sudah sesuai sebagai produk oleh-oleh yang dapat dibawa pada waktu lama?

a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu

Alasan :

4. Apakah anda setuju Asinan Bogor Kujang memiliki penampilan kemasan yang lebih menarik dari asinan Bogor yang beredar di pasaran?

a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu

(39)

5. Apakah anda setuju Asinan Bogor Kujang memiliki rasa yang lebih baik dari produk asinan Bogor yang ada di pasaran?

a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu

Alasan :

6. Apakah volume isi asinan sudah sesuai dengan kebutuhan yang anda inginkan?

a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu

Alasan :

Customer Segment

1. Dari fitur-fitur yang ditawarkan apakah produk Asinan Bogor Kujang sudah dapat menyentuh kalangan wisatawan dan masyarakat kota Bogor yang menjadikan produk ini sebagai produk oleh-oleh?

a.Ya b. Tidak c. Ragu-ragu

Alasan :

Channel

1. Berdasarkan fitur-fitur produk Asinan Bogor Kujang, tempat mana yang tepat untuk menjual produk tersebut?

a.Outlet resmi Asinan Kujang b.Outlet oleh-oleh

c.Swalayan/ minimarket/ supermarket d.Gerobak pinggir jalan

e.Lainnya______________

Alasan :

2. Berdasarkan fitur-fitur produk, berapakah harga jual yang tepat untuk membeli produk Asinan Bogor Kujang?

a. Rp 5.000 – Rp 9.000 b. Rp 10.000 – Rp 14.000 c. Rp 15.000 – Rp 19.000 d. > Rp 20.000

Harga tepat berdasarkan kisaran : Alasan :

(40)

No

Biodata Parameter

Total bobot

Keterangan

Nama Jenis

Kelamin

Usia Domisili Pekerjaan Intensitas

konsumsi (10%)

Intensitas pembelian untuk oleh-oleh

(20%)

Kebutuhan (35%)

Ketertari kan (35%)

1 Ibu Andari Perempuan 45 Citayam Ibu Rumah Tangga 3 3 2 3 2,65 Potensial

2 Ibu Yeni Perempuan 41 Depok Ibu Rumah Tangga 2 3 2 3 2,55 Potensial

3 Mba Asri Perempuan 21 Bandung Pegawai Negeri 3 3 3 3 3 Potensial

4 Bapak Purwa Laki-laki 40 Bekasi Pegawai Swasta 3 3 3 3 3 Potensial

5 Ibu Yanti Perempuan 39 Jakarta Ibu Rumah Tangga 1 1 1 2 1,35 Tidak Potensial

6 Ibu Hega Perempuan 39 Citayam Ibu Rumah Tangga 2 2 3 2 2,35 Tidak Potensial

7 Mba Dian Perempuan 28 Lampung Wiraswastawan 2 2 3 3 2,7 Potensial

8 Bapak Agus Mulyono Laki-laki 61 Bandung Pegawai Swasta 3 3 3 3 3 Potensial

9 Ibu Dina Kuswita Perempuan 31 Tanggerang Ibu Rumah Tangga 2 2 3 3 2,7 Potensial

10 Mba Indah Perempuan 26 Tegal Pengajar/ Dosen 3 3 3 3 3 Potensial

11 Ibu Esjeni Perempuan 54 Ternate Pegawai Negeri 3 3 2 3 2,65 Potensial

12 Ibu Istiqomah Perempuan 37 Jakarta Ibu Rumah Tangga 2 2 1 2 1,65 Tidak Potensial

13 Anggia Perempuan 28 Bandung Ibu Rumah Tangga 2 2 3 3 2,7 Potensial

14 Rudi Wahyudi Laki-laki 34 Cibubur Pegawai Negeri 2 3 3 3 2,9 Potensial

15 Risti Perempuan 21 Tanggerang Pegawai 2 1 3 3 2,5 Potensial

16 Ahyani Umar Laki-laki 38 Jakarta Wiraswastawan 2 3 3 3 2,9 Potensial

17 Dwi Perempuan 20 Pandeglang Mahasiswa 2 2 3 3 2,7 Potensial

18 Yanti Puspita Sari Perempuan 28 Cibubur Ibu Rumah Tangga 3 3 3 3 3 Potensial

(41)

Biodata Parameter

Total bobot

Keterangan

No Nama

Jenis kelamin

Usia Domisili Pekerjaan Intensitas

konsumsi (10%)

Intensitas pembelian untuk oleh-oleh

(20%)

Kebutuhan (35%)

Ketertari kan (35%)

19 Dinna Amalia Rahma Perempuan 21 Jakarta Freelance 2 2 3 3 2,7 Potensial

20 Ridho Laki-laki 18 Bogor Mahasiswa 2 2 2 2 2 Tidak Potensial

21 Nadia Perempuan 18 Bogor Mahasiswa 2 1 2 2 1,8 Tidak Potensial

22 Suci Maulida Perempuan 18 Bogor Mahasiswa 3 1 1 2 1,55 Tidak Potensial

23 Enny Wahyuningsih Perempuan 45 Purwarejo Ibu Rumah Tangga 3 2 2 3 2,45 Potensial

24 Galuh Eka Putri Perempuan 24 Karawang CSR 2 2 2 2 2 Tidak Potensial

25 Ida Rosida Perempuan 35 Jakarta Ibu Rumah Tangga 3 3 3 3 3 Potensial

26 Maemunah Perempuan 42 Karawang Ibu Rumah Tangga 2 2 1 2 1,65 Tidak Potensial

27 Merryl Floretha Perempuan 23 Jakarta Karyawan Swasta 2 2 3 3 2,7 Potensial

28 Dilla Perempuan 25 Makassar Karyawan Swasta 3 3 3 3 3 Potensial

29 Nurhayati Perempuan 30 Makassar Karyawan Swasta 2 1 3 3 2,5 Potensial

30 Sri Budiani Perempuan 50 Bogor Ibu Rumah Tangga 2 2 1 2 1,65 Tidak Potensial

31 Andri Laki-laki 29 Jakarta Karyawan Swasta 2 2 1 2 1,65 Tidak Potensial

32 Aprilia Herawati Perempuan 21 Jakarta Freelance 2 2 3 3 2,7 Potensial

33 Rudolf Laki-laki 41 Jakarta Karyawan Swasta 2 2 1 1 1,3 Tidak Potensial

34 Euis Sadiah Perempuan 30 Bogor Guru Honorer 3 2 3 3 2,8 Potensial

(42)

No Biodata Parameter

Usia Domisili Pekerjaan Intensitas

konsumsi

Intensitas konsumsi Intensitas pembelian Kebutuhan Ketertarikan Poin

Sering : 1x/ minggu Setiap bepergian Butuh produk pengembangan Tertarik 3

Kadang-kadang : 3x/bulan Kadang-kadang Biasa saja Biasa

2

(43)

Lampiran 4 Data responden pengujian solusi pada produk asinan Bogor

No

Biodata

Nama Jenis Kelamin Usia Domisili Pekerjaan

1 Wuri Puji Rahayu Perempuan 24 Jakarta Karyawan Swasta

2 Hilawati Wahidah Perempuan 21 Jakarta Karyawan Swasta

3 Merryl Floretha Perempuan 23 Jakarta Karyawan Swasta

4 Lidia Nouyana Perempuan 24 Jakarta Karyawan Swasta

5 Arasty Narisa Perempuan 22 Jakarta Karyawan Swasta

6 Aprilia Herawati Perempuan 21 Jakarta Freelance

7 Enny Wahyuningsih Perempuan 45 Purwarejo Ibu Rumah Tangga

8 Dinna Amalia Rahma Perempuan 21 Jakarta Freelance

9 Aisyah Perempuan 46 Kab. Bogor Asisten Apoteker

10 Novialita Aesa Putri Perempuan 21 Bogor Mahasiswa

11 Fransisca Pangestu A Perempuan 22 Bogor Mahasiswa

12 Eka Nur'azmi Y Perempuan 21 Bogor Mahasiswa

13 Hafizah K Perempuan 21 Bogor Mahasiswa

14 Heri Supriadi Laki-laki 22 Bogor Mahasiswa

15 Egnawati Sari Perempuan 44 Bogor Laboran

16 Zuryetti S Perempuan 51 Padang Ibu Rumah Tangga

17 Subeti Mekdriani Perempuan 52 Jakarta Ibu Rumah Tangga

18 WSG Laki-laki 58 Jakarta Purnabakti

19 Betria Zahara Perempuan 21 Bogor Mahasiswa

20 Seprohendi Laki-laki 32 Jakarta Karyawan

21 Leliana Perempuan 38 Jakarta Ibu Rumah Tangga

22 Andiles Perempuan 29 Jakarta Karyawan

23 Nilawati Perempuan 51 Jakarta Ibu Rumah Tangga

24 Helmi Laki-laki 45 Jakarta Karyawan

25 Nanang Laki-laki 35 Jakarta Karyawan

26 Susmaningsih Perempuan 40 Jakarta Ibu Rumah Tangga

27 Sugiarti Perempuan 58 Jakarta Ibu Rumah Tangga

28 Ecin Aisyah Perempuan 43 Jakarta Wirausahawan

29 Kudrotin Perempuan 56 Jakarta Ibu Rumah Tangga

30 Astrid Amelia Perempuan 21 Jakarta Nutritionist

31 Ely Susiyanti Perempuan 50 Jakarta Karyawan

32 Angga Marshelianto Laki-laki 21 Jakarta Mahasiswa

(44)

Biodata

No Nama Jenis Kelamin Usia Domisili Pekerjaan

40 Hani Perempuan 25 Bogor Wiraswastawati

41 Sarah Syafira Perempuan 27 Tanggerang Ibu Rumah Tangga

42 Nadia Silvya Perempuan 24 Tanggerang Karyawan

43 Renita Perempuan 34 Kab. Bogor Guru

44 Cecep Arifudin Laki-laki 35 Kab. Bogor IT Freelance

45 Pipit Perempuan 25 Kab. Bogor Karyawan

45 Lina Perempuan 21 Kab. Bogor Karyawan

47 Asniwarti Perempuan 54 Kab. Bogor Ibu Rumah Tangga

48 Sri Sumaryati Perempuan 57 Jogjakarta Ibu Rumah Tangga

49 Dionima Perempuan 50 Jakarta Ibu Rumah Tangga

Gambar

Gambar 1  Proses customer development (Blank dan Dorf 2012)
Gambar 2  Diagram alir pengembangan pasar dengan metode riset aksi yang
Gambar 3  Model bisnis kanvas pengembangan produk asinan Bogor
Tabel 1  Hipotesis dari model bisnis awal Asinan Kujang (lanjutan)
+7

Referensi

Dokumen terkait