PENGUJIAN DIAMETER PULLEY SILINDER PENGUPAS
DAN DIAMETER PULLEY BLOWER TERHADAP EFESIENSI
ALAT PENGUPAS KULIT TANDUK KOPI
HASIL PENELITIAN
Oleh
YUSTINUS TAMBOK DEDI AMAN PARDOSI 020308029/TEKNIK PERTANIAN
DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
PENGUJIAN DIAMETER PULLEY SILINDER PENGUPAS
DAN DIAMETER PULLEY BLOWER TERHADAP EFESIENSI
ALAT PENGUPAS KULIT TANDUK KOPI
HASIL PENELITIAN
Oleh
YUSTINUS TAMBOK DEDI AMAN PARDOSI 020308029/TEKNIK PERTANIAN
Disetujui Oleh, Komisi Pembimbing
Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si Ainun Rohanah,STP,M.Si Ketua Anggota
DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
Judul Skripsi : Pengujian Diameter Pulley Silinder Pengupas dan Diameter Pulley Blower Terhadap Efisiensi Alat Pengupas Kulit Tanduk Kopi
Nama : Yustinus Tambok Dedi Aman Pardosi
NIM : 020308029
Departemen : Teknologi Pertanian Program Studi : Teknik Pertanian
Disetujui Oleh, Komisi Pembimbing
Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si Ainun Rohanah,STP,M.Si Ketua Anggota
Mengetahui,
Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si Ketua Departemen
ABSTRACT
The aim of this research was to test the effect of pulley diameter of peeler cylinder and the blower pulley diameter on efficiency of the coffee s husk peeler. This research used randomizad plan method completely design with two factors; that is the peeler cylinder pulley diameter and the blower pulley diameter.
Results of this research showed that the peeler cylinder pulley diameter gave highy significant effect on the capacity, the percentage of damage bean produced, the percentage of bean entered skin reception and the percentage of skin entered the bean reception. the blower pulley diameter gave highy significant effect on the percentage of the bean entered the skin reception, and the percentage of skin entered the bean reception. The combination of peeler cylinder pulley diameter and blower pulley diameter gave highy significant effect on the percentage of the coffee bean entered the skin reception, and the percentage of skin entered the bean reception.
The key word: peeler cylinder pulley diameter, blower pulley diameter, coffee s husk
ABSTRAK
Tujuan penilitian ini adalah menguji diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower terhadap efisiensi alat pengupas kulit tanduk kopi. Penilitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua factor yaitu: diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower.
Hasil penelitian ini menunjukkan dimeter pulley silinder pengupas memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhdap kapasitas alat, persentase kerusakan hasil kupasan, persentase biji kopi masuk penampungan kulit, persentase kulit masuk penampungan biji.diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase biji penampungan kulit, dan persentase kulit masuk penampungan biji. Kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase biji masuk penampungan kult, dan persentase kulit masuk penampungan biji.
RINGKASAN
YUSTINUS TAMBOK DEDI AMAN PARDOSI , Pengujian Diameter Pulley Silinder Pengupas dan Diameter Pulley Blower terhadap Efisiensi Alat Pengupas Kulit Tanduk Kopi dibimbing oleh Saipul Bahri Daulay selaku ketua komisi pembimbing dan Ainun Rohanah selaku anggota komisi pembimbing.
Penelitian ini Bertujuan untuk mengetahui efesiensi alat pengupas kulit tanduk kopi dengan menguji diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RAL) yang terdiri dari dua faktor, yaitu: Faktor I : Diameter pulley silinder pengupas (P) yang terdiri dari 3 taraf yaitu P1= 5', P2= 6', P3= 7'. Faktor II : Diameter pulley blower (R) yang terdiri dari 3 taraf : R1= 2', R2= 3', R3= 4'
Analisis data meliputi parameter kapasitas kerja alat pengupas kulit tanduk kopi (Kg/jam), persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit, persentase kerusakan hasil kupasan dan persentase kulit yang masuk ke penampungan biji.
Kapasitas Kerja Alat Pengupas Kulit tanduk kopi
Diameter pulley silinder pengupas memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas kerja alat pengupas kulit tanduk kopi . Kapasitas kerja alat tertinggi diperoleh pada perlakuan P1sebesar 22,27 kg/jam dan terendah pada perlakuan P3sebesar 19,29 Kg/jam.
Kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap kapasitas kerja alat pengupas kulit tanduk kopi.
Persentase Biji yang Masuk ke Penampungan Kulit
Diameter pulley silinder pengupas memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit. Persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit kopi tertinggi diperoleh pada perlakuan P1yaitu 16,33 % dan terendah pada perlakuan P3yaitu 5,33 %.
Diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit. Persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit tertinggi diperoleh pada perlakuan R1 yaitu 11,88 % dan terendah pada perlakuan R3 yaitu 7,41 %.
Kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit. Persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit tertinggi diperoleh pada perlakuan kombinasi P1R1 yaitu 19,96 % dan terendah pada perlakuan P3R3yaitu 4,25 %.
Persentase Kerusakan Hasil Kupasan
Diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase kerusakan hasil kupasan.
Kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase kerusakan hasil kupasan.
Persentase Kulit yang Masuk ke Penampungan Biji Kopi
Diameter pulley silinder pengupas memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji. Persentase kulit yang masuk ke penampungan biji tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 yaitu 26,22 % dan Persentase kulit yang masuk ke penampungan biji terendah diperoleh pada perlakuan P3yaitu 17,84 %.
Diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji. Persentase kulit yang masuk ke penampungan biji tertinggi diperoleh pada perlakuan R3yaitu 23,89 % Persentase kulit yang masuk ke penampungan biji terendah diperoleh pada perlakuan R1yaitu 21,07 %.
RIWAYAT HIDUP
YUSTINUS TAMBOK DEDI AMAN PARDOSI , dilahirkan di Parsoburan 15 agustus 1982 anak kelima dari tujuh bersaudara dari D. Pardosi dan H. Simanjuntak.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adapun judul skripsi ini adalah Pengujian Diameter Pulley Silinder Pengupas dan Diameter Pulley Blower terhadap Efesiensi Alat Pengupas Kulit Tanduk Kopi .
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si., selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Ainun Rohanah,STP,M.Si., selaku anggota komisi pembimbing, yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ayahanda D. Pardosi dan Ibunda H. Simanjuntak yang telah memberikan dukungan moril dan materil. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Roynaldo P, Nico, Bernat, Tulus Barita Horas, yang telah membantu saya dalam penelitian.
Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat kekurangan dan penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang memerlukan
Medan, September 2008
DAFTAR ISI
Hipotesa Penelitian .. .... 3
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Tanaman Kopi... ... 4
Jenis-jenis Tanaman Kopi... ... 5
Harga dan Ekspor Kopi Indonesia.... 7
Pengolahan Kopi .. .. 14
Mutu kopi robusta . ..13
Pemungutan Hasil . .14
Alat Pengupas Kulit tanduk Kopi 15
Ellemen mesin .... . . 26
Motor listrik ... .... 16
V- Bellt... ... 16
Pulley... .. ...17
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian .. ... 19
Bahan dan Alat Penelitian .. ... 19
Metode Penelitian ... ... 20
Model Penelitian ... . 21
Persiapan Penelitian .. 21
Prosedur Penelitian ... . 24
Parameter yang Diamati
Kapasitas kerja Alat Pengupas Kulit Kopi . .... 24 Persentase Kopi Terkupas yang masuk Ke
Penampungan Kulit .. ... ... 24
Persentase Kerusakan Hasil Kupasan. . 25 Persentase Kulit Kopi yang masuk ke
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kapasitas Kerja Alat
Pengupas Kulit Kopi .. .. ... 26
Persentase biji masuk ke
Penampungan Kulit . .. .... 29
Persentase Kerusakan Hasil Kupasan . . 35 Persentase Kulit Kopi yang masuk ke
Penampungan Biji .. . . . ..37
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ...43
Saran ..43
ABSTRACT
The aim of this research was to test the effect of pulley diameter of peeler cylinder and the blower pulley diameter on efficiency of the coffee s husk peeler. This research used randomizad plan method completely design with two factors; that is the peeler cylinder pulley diameter and the blower pulley diameter.
Results of this research showed that the peeler cylinder pulley diameter gave highy significant effect on the capacity, the percentage of damage bean produced, the percentage of bean entered skin reception and the percentage of skin entered the bean reception. the blower pulley diameter gave highy significant effect on the percentage of the bean entered the skin reception, and the percentage of skin entered the bean reception. The combination of peeler cylinder pulley diameter and blower pulley diameter gave highy significant effect on the percentage of the coffee bean entered the skin reception, and the percentage of skin entered the bean reception.
The key word: peeler cylinder pulley diameter, blower pulley diameter, coffee s husk
ABSTRAK
Tujuan penilitian ini adalah menguji diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower terhadap efisiensi alat pengupas kulit tanduk kopi. Penilitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua factor yaitu: diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower.
Hasil penelitian ini menunjukkan dimeter pulley silinder pengupas memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhdap kapasitas alat, persentase kerusakan hasil kupasan, persentase biji kopi masuk penampungan kulit, persentase kulit masuk penampungan biji.diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase biji penampungan kulit, dan persentase kulit masuk penampungan biji. Kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase biji masuk penampungan kult, dan persentase kulit masuk penampungan biji.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejak puluhan tahun yang lalu kopi telah menjadi sumber nafkah bagi banyak petani. Tanpa pemeliharaan yang berartipun, kopi sudah bisa memberikan hasil yang cukup lumayan untuk menambah penghasilan. Apalagi bila pemeliharaan dan pengolahannya cukap baik, pasti usaha ini mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda.
Bila melihat perolehan devisa, tampaknya prospek kopi telah cukup menggembirakan. Tetapi usaha untuk terus meningkatkan nilai ekspor hingga saat ini masih menemui beberapa hambatan. Pertama, karena pada saat ini organisasi kopi dunia (ICO) menetapkan kuota (jumlah yang boleh diekspor ke negara anggota ICO) kopi yaitu 52 % dari total produksi nasional. Kedua, karena umumnya kopi Indonesia mempunyai mutu yang rendah. Rendahnya mutu kopi Indonesia, menyebabkan harga yang diterima oleh petani rendah juga. Untuk mengatasi rendahnya mutu kopi di Indonesia, maka perlu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mengembangkan varietas kopi unggul pada lahan-lahan yang sesuai.
2. Mengganti tanaman yang sudah tidak produktif lagi dengan tanaman muda varietas unggul yang dianjurkan (peremajaan tanaman).
3. Menerapkan teknik budidaya yang benar, baik mengenai sistem penanaman, pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, maupun pengaturan air.
Atas dasar peningkatan mutu kopi maka penulis berkeinginan untuk menguji tentang efisiensi penggunaan mesin pengupas kulit tanduk kopi dengan mengkombinasikan diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower. Huller bertujuan untuk memisahkan biji dari kulit tanduknya sehingga diperoleh biji kopi yang sudah lepas dari kulit tanduknya, proses ini dinamakan dengan hulling . Proses ini dilakukan setelah proses pulling (pemisahan biji dari kulit buahnya).
Salah satu cara untuk meningkatkan mutu kopi adalah menerapkan sistem pemanenan dan pengolahan yang benar, baik cara pemetikan, pengolahan, pengeringan maupun sortasi. Dari keempat sistem diatas penulis mencoba menerapkan sistem pengolahan yang benar. Untuk itu penulis perlu melakukan penelitian yang menguji diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Tanaman Kopi
Hingga saat ini belum diketahui dengan pasti sejak kapan tanaman kopi dikenal dan masuk dalam peradaban manusia. Menurut catatan sejarah, tanaman ini mulai dikenal pertama kali di benua Afrika tepatnya di Ethiopia. Pada mulanya tanaman kopi belum dibudidayakan secara sempurna oleh penduduk, melainkan masih tumbuh liar di hutan-hutan dataran tinggi ( Najiyati dan Danarti, 1997 ).
Kopi memiliki istilah yang berbeda-beda. Pada masyarakat Indonesia lebih akrab dengan sebutan kopi di Inggris dikenal coffee, Prancis menyebutnya cafe, Jerman menjulukinyakaffee, dalam bahasa Arab dinamakanquahwa. Sejarah kopi diawali dari cerita seorang penggembala kambing Abessynia yang menemukan tumbuhan kopi sewaktu ia menggembala, hingga menjadi minuman bergengsi para aristokrat di Eropa. Bahkan oleh Bethoven menghitung sebanyak 60 biji kopi untuk setiap cangkir kopi yang mau dinikmatinya ( Tapanulli Coffea, 2006 ).
Kopi merupakan tanaman perkebunan / industri berupa semak yang asalnya tumbuh liar di hutan dataran tinggi Ethiopia, Afrika. Dari Ethiopia, tanaman kopi menyebar ke negara Arab, Persia hingga tanaman ini tumbuh subur di negara Yaman. Di Indonesia, tanaman kopi diperkenalkan pertama kali oleh VOC pada periode tahun 1696-1699 dan ditanam di sekitar Jakarta. Perkebunan kopi berskala besar menyebar ke daerah Lampung, Sumatra Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bali, Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Jawa Tengah
Jenis-Jenis Tanaman Kopi
Ada dua spesies dari tanaman kopi yaitu Arabika adalah kopi tradisional, dan dianggap paling enak rasanya dan Robusta memiliki kafein yang lebih tinggi dapat dikembangkan dalam lingkungan di mana Arabika tidak akan tumbuh, dan membuatnya menjadi pengganti Arabika yang murah. Robusta biasanya tidak dinikmati sendiri, dikarenakan rasanya yang pahit dan asam. Robusta kualitas tinggi biasanya digunakan dalam beberapa campuran espresso. Perdagangan kopi modern lebih spesifik tentang dari mana asal mereka, melabelkan kopi atas dasar negara, wilayah, dan kadangkala ladang pembuatnya. Satu jenis kopi yang tidak biasa dan sangat mahal harganya adalah sejenis robusta di Indonesia yang dinamakan kopi luwak. Kopi ini dikumpulkan dari kotoran luwak, yang proses pencernaannya memberikan rasa yang unik ( Wikipedia, 2006 ).
Dalam garis besarnya ada tiga golongan kopi, yakni : 1. Golongan Arabika
2. Golongan Liberika
3. Golongan Canephora (varietas Robusta)
Golongan Arabika adalah golongan yang paling dahulu diusahakan di indonesia, kemudian menyusul golongan Liberika dan yang terakhir adalah Robusta ( Anonimous, 2003).
sangat peka terhadap penyakit HV (Hemeleia Vastatrikx), terutama didataran rendah.
Golongan Liberika berasal dari berasal dari Angola dan masuk ke Indonesia sejak tahun 1965. Meskipun sudah lama masuk ke Indonesia, tetapi hingga saat ini jumlahnya masih terbatas karena kualitas buah dan rendemennya rendah.
Golongan Robusta berasal dari Kongo dan masuk ke Indonesia pada tahun 1900. Karena mempunyai sifat yang lebih unggul, kopi ini sangat cepat berkembang. Bahkan kopi ini merupakan jenis kopi yang mendominasi perkebunan Indonesia saat ini. (Najiyati dan Danarti, 1997).
Menurut Najiyati dan Danarti (1997) di dunia perdagangan, dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling sering dibudidayakan hanya kopi Arabika, Robusta, dan Liberika. Pengolongan kopi tersebut umumnya didasarkan pada spesies, kecuali kopi Robusta. Kopi robusta bukan merupakan nama spesies karena kopi ini merupakan keturunan dari beberapa spesies kopi, terutama Coffea canephora.
Buah kopi dibagi atas tiga bagian, yaitu : 1. lapisan kulit luar (excocarp)
2. lapisan daging (mesocarp) 3. lapisan kulit tanduk (endoscarp) ( Ridwansyah, 2003 ).
kemungkinan yang kedua biji kopi berbentuk bulat panjang (kopi jantan).Komposisi kimia biji kopi berbeda-beda, tergantung tipe kopi, tanah tempat tumbuh dan pengolahan kopi ( Ridwansyah, 2003 ).
Harga dan Ekspor Kopi Indonesia
Kopi adalah sejenis minuman, biasanya dihidangkan panas, dan dipersiapkan dari biji dari kopi yang dipanggang. Saat ini kopi merupakan komoditas nomor dua yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi. Total 6,7 juta ton kopi diproduksi dalam kurun waktu 1998-2000 saja. Diperkirakan pada tahun 2010, produksi kopi dunia akan mencapai 7 juta ton per tahun (dari FAO). Kopi merupakan sumber utama kafein. Keuntungan dan kerugian dari mengonsumsi kopi telah dan akan terus dipelajari dan didiskusikan oleh banyak ilmuwan di dunia ( Wikipedia, 2006 ).
penurunan. Dalam hal nilai tambah, industri kopi bubuk memberikan nilai tambah tertinggi yang mencapai Rp. 318.9 miliar atau 43,5% dari total nilai tambah seluruh industri pengolahan kopi, kemudian diikuti oleh industri kopi Arabika pada urutan kedua dan industri kopi Robusta pada urutan ketiga masing-masing dengan nilai tambah sebesar Rp. 226,7 miiliar dan Rp. 105 milliar ( Ipard, 2004 ).
Pada musim panen kopi yang kini mulai berlangsung di daerah Sumatera Selatan, harga biji kopi kering paling tinggi Rp 4.050 untuk kualitas terbaik. Kopi kualitas lebih rendah dihargai Rp 3.700-Rp 3.800 per kilogram ( Kompas, 2004 ).
Indonesia adalah negara kedua terbesar setelah Vietnam sebagai pengekspor green beans ke Inggris pada tahun 1999. Pesaing utama Indonesia adalah : Vietnam, Columbia, Brazil, Jerman, Kenya, Guatemala, Uganda dan Costa Rica. Untuk roasted Indonesia tahun 1999 mengekspor hanya 100 karung. Untuk soluble, Indonesia menduduki peringkat ke 13 dengan negara pesaing adalah : Jerman, Belanda, Equador, Perancis, Columbia, China, Brazil, Korea Selatan, Spanyol, Nicaragua dan Denmark ( Djadglu, 2006 ).
Volume ekspor kopi Indonesia selama tahun 2004 diperkirakan naik dari sekitar 270.000 ton pada tahun 2003 menjadi 280.000 ton pada 2004, menyusul mulai membaiknya harga kopi dunia dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan volume ekspor kopi terutama terdorong oleh mulai membaiknya harga kopi Indonesia di pasar dunia yang sebelumnya sempat terpuruk akibat melonjaknya pasokan kopi ke pasar dunia (BPEN, 2004 ).
dalam negeri. Sementara itu, Vietnam pada tahun 2003 diperkirakan memproduksi kopi 600.000 ton yang sekitar 90% diantaranya diekspor ke mancanegara
( BPEN, 2004 ).
Petani kini diarahkan untuk mengolah biji kopinya menjadi bubuk kopi dengan pemberian bantuan mesin penggiling dari pemerintah. Namun, karena masih sederhana dan tradisional, peningkatan nilai tambah yang diharapkan belum bisa maksimal. Investor yang diharapkan menanamkan modalnya dengan membangun pabrik pengolahan kopi bubuk modern belum melirik daerah penghasil kopi yang tahun 2002 memproduksi 33.500 ton biji kopi dari areal produktif seluas 45.200 hektar ( Kompas, 2003 ).
Ekspor Indonesia akan dapat ditingkatkan termasuk ekspor kopi walaupun menghadapi pesaing-pesaing dari Vietnam, negara-negara Amerika Latin dan Afrika. Ini terlihat dengan posisi Indonesia tercatat sebagai pemasok kopi utama ke Inggris khususnya ekspor biji kopi. Pada saat ini hal yang kurang menguntungkan adalah masalah harga yang rendah disebabkan olehoversuplydan masih banyaknya stock di negara-negara importir ( Djadglu, 2006 ).
Pengolahan Kopi
Sebelum dilakukan pengupasan kulit kopi maka perlu dilakukan sortasi yaitu pemilihan antara biji yang masak dengan biji yang hijau. Setelah dilakukan sortasi lalu dilakukan penimbangan buah kopi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui upah pemetik dan rendemennya ( Anonimous, 2003 ).
Pada tanaman kopi Arabika dan Robusta dikenal dua macam cara proses pengolahan :
1. Proses kering, amat sederhana dan tidak memerlukan peralatan khusus. Setelah dipetik, kopi biasanya dikeringkan dengan cara dijemur selama 10 sampai 15 hari. Baru setelah itu kopi tersebut dikupas. Hampir semua kopi Arabika dari Brazil melalui proses kering, dan kualitasnya tetap bagus karena kopi yang dipetik biasanya yang telah betul-betul matang (berwarna merah). 2. Proses basah, diperlukan peralatan khusus dan hanya bisa memproses biji
kopi yang telah benar-benar matang. Proses jenis ini biasanya dilakukan oleh perkebunan besar dengan peralatan yang memadai termasuk mekanik yang cakap sehingga mereka tidak tergantung pada cahaya matahari untuk mengeringkan kopi tersebut( TapanulliCoffea, 2006 ).
Kopi dijual dalam bentuk biji-biji kering yang sudah terlepas dari daging dan kulit arinya yang disebut kopi beras. Ada dua cara untuk mendapatkan kopi beras, yakni pengolahan kering (Dry Process) dan pengolahan basah (Wet Process). Pengolahan Kering yaitu hasil panenan langsung dijemur 10 - 15 hari dengan melakukan pembalikan agar biji kering benar, lalu disimpan sebagai biji gelondong. Pada saat dijual kopi gelondong dilepas kulit tanduknya serta arinya. Pengolahan dianggap selesai bila:
a. Kadar air 13 %
b. Kadar kotoran berupa ranting batu, gumpulan tanah, dan benda asing lainnya 0,5 %
c. Bebas dari biji yang berbau busuk d. Bebas dari serangga hidup
e. Biji tidak lolos ayakan ukuran 3 x 3 mm
f. Biji ukuran besar tidak lolos ayakan ukuran 5,6 x 5,6 mm
Sedangkan Pengolahan Basah yaitu buah kopi dipetik kemudian ditumbuk atau dikupas dan dicuci. Setelah itu dikeringkan, selanjutnya dipisahkan kulit tanduknya dan kulit arinya. Pengolahan basah dianggap selesai bila:
a. Kadar air 13 %
b. Kadar kotoran berupa ranting batu, gumpalan tanah dan benda asing lainnya 0,5 %
c. Bebas dari serangga hidup ( KA. BIP Irian Jaya, 1991 ).
dengan bantuan tenaga mesin. Untuk keperluan ini, sampai menjadi kopi yang diperdagangkan, harus melalui beberapa tingkatan pekerjaan, yaitu :
a. Penerimaan
b. Pelepasan daging buah c. Pemeraman
d. Pencucian e. Pengeringan
f. Pelepasan kulit tanduk g. Penyortiran
( Anonimous, 2003 ).
Pengupasan kulit buah adalah proses pelepasan kulit buah dari kulit tanduk, dan sangat menentukan mutu fisik dan citarasa seduhan akhir. Kualitas pengupasan/pulping sangat menentukan proses pencucian lapisan lendir, proses pengeringan dan hulling. Pemisahan kulit ini dilakukan dengan menggunakan mesin pulper, yang sering digunakan adalah VIS pulper dan Raung pulper. Perbedaan pokok kedua alat tersebut adalah VIS pulper hanya berfungsi sebagai pengupas kulit saja, sehingga hasilnya harus difermentasi dan dicuci lagi. Sedang Raung pulperberfungsi sebagai pengupas dan pencuci, sehingga kopi yang keluar dari mesin ini tidak perlu lagi difermentasi dan dicuci, tetapi langsung masuk ketahap pengeringan ( Najiyati dan Danarti, 1997 ).
pula berbagai alat dan mesin pengolahan biji kopi yang lebih menjamin hasil biji-biji kopi yang bermutu baik. Tradisi yang bertahun-tahun dilakukan oleh petani kopi rakyat untuk menumbuk kopi gelondong dengan hasil biji-biji kopi pecah harus digantikan dengan penggunaan mesin-mesin pulper yang bisa diatur dan disesuaikan dengan ukuran buah kopi, sehingga tidak menyebabkan banyak biji kopi yang pecah-pecah ( Siswoputranto, 1992 ).
Pengolahan buah kopi bertujuan untuk memisahkan biji kopi dari kulitnya dan mengeringkan biji tersebut sehingga diperoleh kopi beras dengan kadar air tertentu dan siap dipasarkan. Kadar air kopi beras yang optimum adalah 10 13%, bila kopi beras mempunyai kadar air lebih dari 13%, akan mudah terserang cendawan, sedang bila kurang dari 10% akan mudah pecah. Pengolahan buah kopi sampai memperoleh kopi beras dengan kadar air 10-13% akan menyebabkan berat kopi turun hingga 12-22% tergantung pada jenis kopi, untuk kopi Robusta akan turun hingga tinggal ± 22%, sedang kopi Arabika ± 12% ( Deptan, 2005 ).
Mutu kopi Robusta
Beberapa sifat penting kopi Robusta antara lain sebagai berikut, a. Resisten terhadap penyakit HV.
b. Tumbuh baik pada ketinggian kurang dari 400 m dpl
c. Kualitas buah lebih rendah dibandingkan kopi Arabika, tetapi lebih tinggi dibandingkan kopi Liberika.
d. Rendemen sekitar 22%
Tahapan (aliran) proses dan spesifikasi alat dan mesin produksi yang menjamin kepastian mutu harus diperiksa secara rutin agar pada saat terjadi penyimpangan mutu, suatu tindakan koreksi yang tepat sasaran dapat segera dilakukan. Pabrik minuman kopi di luar negeri telah menerapkan otomatisasi dalam proses produksinya. Mereka membutuhkan pasokan bahan baku bermutu tinggi, seragam dan konsisten dari waktu ke waktu. Jika hal ini tidak dipenuhi, mereka setiap saat harus merubah formula dan prosedur kerja. Keduanya menyebabkan kinerja yang lambat dan pada akhirnya akan mengurangi daya saing produknya. Selain itu, dalam lima tahun terakhir ini kontaminasi okhratoxin pada biji kopi mulai mendapat sorotan yang serius dari konsumen Eropa. Kontaminasi senyawa tersebut umumnya terjadi sebagai akibat pengeringan yang kurang sempurna, sehingga dapat menumbuhkan jamur. Jika aspek ini dimasukkan sebagai salah satu kriteria, hal ini merupakan ancaman yang serius bagi kelangsungan ekspor komoditas tersebut (PPKKI, 2005).
Pemungutan hasil
Pemetikan buah kopi secara garis besar dibagi menjadi tiga tahap yaitu: 1. Pemetikan pendahuluan
Biasanya dilakukan pada bulan Februari-Maret untuk memetik buah yang terserang bubuk buah. Kopi yang terserang bubuk buah biasanya berwarna kuning sebelum berumur delapan bulan. Kopi ini dipetik kemudian langsung direbus dan dijemur untuk diolah secara kering.
2. Petik merah (panen raya/pemetikan besar-besaran)
dengan giliran pemetikan per tanaman 10-14 hari. Artinya dalam 4-5 bulan, setiap tanaman dapat dipetik buahnya setiap 10-14 hari sekali.
3. Petik hijau (petik racutan)
Petik hijau dilakukan apabila sisa buah di pohon tinggal kira-kira 10%. Caranya dengan memetik semua buah yang masih tertinggal baik yang sudah merah maupun yang masih hijau. Setelah dipetik, buah yang berwarna merah dipisahkan dari buah yang berwarna hijau
( Najiyati dan Danarti, 1997 ).
Kopi Robusta akan matang setelah 10 bulan dari saat pembuahan. Buah-buah dalam dompolan tidak serentak matangnya, baik dalam cabang yang sama ataupun batang yang sama dalam suatu perkebunan. Oleh karena itu, pemetikan buah kopi harus dilakukan secara manual dan selektif, jika kita menghendaki hasil pemetikan buah matang yang baik. Cara pemetikan buah dan kecermatan pelaksanaan oleh tenaga-tenaga pemetik di kebun-kebun kopi merupakan hal yang amat menentukan mutu biji kopi yang sangat baik ( Siswoputranto, 1992 ).
Alat pengupas kulit Tanduk kopi
basah, perawatan mudah dan murah, serta mudah dioperasikan, hasil pengupasan baik dan bersih ( Smith dan Wilkes, 1990 ).
Pulping bertujuan untuk memisahkan biji dari kulit buah (pulp), sehingga diperoleh biji kopi yang masih terbungkus oleh lapisan kulit tanduk dan lapisan lendir. Mesin yang digunakan untuk melepaskan kulit buah disebut VIS pulper dimana mesin ini hanya digunakan untuk melepaskan kulit buah ( Najiyati dan Danarti, 1997 ).
Ruang antara silinder pengupas dan plat pememar harus diatur sedemikian rupa agar jumlah biji kopi yang rusak atau pecah dapat dikurangi dan ketahanan terhadap pengaruh luar seperti uap, kalor, debu dan sebagainya dapat ditingkatkan ( Stolk dan Kros, 1986 ).
Elemen Mesin
1. Motor listrik
Mesin-mesin yang dinamakan motor listrik dirancang untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanis, untuk menggerakkan berbagai peralatan, mesin-mesin dalam industri, pengangkutan dan lain-lain. Setiap mesin sesudah dirakit, porosnya menonjol melalui ujung penutup (lubang pelindung) pada sekurang-kurangnya satu sisi supaya dapat dilengkapi dengan sebuah pulley atau sebuah generator atau ke suatu mesin yang akan digerakkan ( Daryanto, 2002 ).
2. V-belt
ke poros yang lainnya melalui pulley yang berputar dengan kecepatan sama atau berbeda ( Darmono,et al., 2006 ).
Penggerak berbentuk sabuk bekerja atas dasar gesekan tenaga yang disalurkan dari mesin penggerak dengan cara persinggungan sabuk yang menghubungkan antar pulley penggerak dengan pulley yang akan digerakkan. Sebaliknya sabuk mempunyai sifat lekat tetapi tidak lengket pada pulley dan salah satupulleyitu harus dapat diatur ( Pratomo dan Irwanto, 1983 ).
Adapun kelebihan dariV-beltadalah sebagai berikut : a. V-beltlebih kompak
b.Slipnya relatif kecil c. Operasi lebih tenang
d. Mampu meredam kejutan saatstart
e. Putaran poros dapat dalam 2 arah & posisi kedua poros dapat sembarang. Sedangkan kelemahan dari V-beltyaitu :
a. Tidak dapat digunakan untuk jarak poros yang panjang b. Umur lebih pendek
( Darmono,et al., 2006 ).
3.Pulley
Menurut Daryanto ( 1986 ), Ada beberapa jenis tipe pulley yang digunakan untuk sabuk penggerak yaitu :
a. Pulleydatar
Pulley ini kebanyakan dibuat dari besi tuang dan juga dari baja dengan bentuk yang bervariasi.
2.Pulleymahkota
Pulley ini lebih efektif dari pulley datar karena sabuknya sedikit menyudut sehingga untuk slip relatif sukar, dan derajat ketirusannya bermacam-macam menurut kegunaannya
3.Tipe Lain
METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2008 di Laboratorium
Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan selesai pada
bulan Mei 2008.
Bahan dan Alat Penelitian
Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah : 1. Kopi varietas Robusta ( Coffea robusta ) 2.Pulley
3. Besi
4. Baut dan Mur 5. Paku
6.V-belt(sabuk alur V)
Adapun alat-alat yang digunakan : 1. Alat pengupas kulit tanduk kopi 2. Tang
3. Timbangan 4. Ember
5. Kalkulator/pulpen 6. Kunci pas
Metode Penelitian
Model rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap ( RAL ) faktorial, yang terdiri dari dua faktor :
Faktor I : Diameterpulleysilinder pengupas (P), dengan tiga tahap perlakuan
P1= 5' P2= 6' P3= 7'
Faktor II : Diameterpulley blower(R), dengan tiga taraf perlakuan R1= 2'
R2= 3' R3= 4'
Jumlah kombinasi perlakuan sebanyak Tc = 3 x 3 = 9, sehingga ulangan percobaan dapat dihitung :
Tc ( n 1 ) 15 9 ( n 1 ) 15 ( n 1 ) 1,67
n 2,67, dibulatkan menjadi 3.
Dengan demikian penelitian dilakukan dengan tiga kali pengulangan. Kombinasi perlakuan sebagai berikut :
Model Rancangan Penelitian
Yijk= + i+ j+ ( )ij+ ijk Dimana :
Yijk = Pengamatan pada unit percobaan yang mendapat perlakuan
faktor diameter pulley silinder pengupas pada taraf ke-I dan perlakuan faktor jenis diameter pulleyblowerpada taraf ke-j pada ulangan k. = Nilai tengah.
i = Efek perlakuan diameterpulleysilinder pengupas (P) pada taraf ke-i.
j = Efek perlakuann diameterpulley blower(R) pada taraf ke-J
( )Ij= Efek kombinasi faktor perlakuan diameter pulley silinder pengupas (P) pada taraf ke-i dan faktor perlakuan diameter pulley blower ke-j.
ijk = Efek galat dari faktor perlakuan diameter pulley silinder pengupas pada taraf ke-I, faktor peralakuan diameterpulley blowerpada taraf ke-j dan ulangan k.
Persiapan Penelitian
kopi masuk ke saluran pengeluaran kulit kopi, selanjutnya ke penampungan kulit kopi. Sedangkan biji kopi masuk ke saluran pengeluaran biji kopi, selanjutnya ke penampungan biji kopi.
Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui efisiensi alat pengupas kulit tanduk kopi dengan mengkombinasikan diameterpulleysilinder pengupas dengan diameterpulley blower. Adapun bagian bagian penting alat pengupas kulit tanduk kopi ini adalah:
1. Motor Listrik.
Motor listrik sebagai sumber tenaga untuk menggerakkan setiap komponen alat. Pada alat ini digunakan motor listrik jenis AC satu fasa dengan spesifikasi 0,5HP dan kecepatan putaran sebesar 1430 rpm.
2. Silinder Pememar.
Silinder ini berfungsi untuk menekan dan memutar buah kopi sehingga kulit tanduknya terkupas, terbuat dari besi pipa berdiameter 10 mm, besi beton diameter 8 mm, besi As diameter 1 inci.
3. Plat Pememar.
4. Corong pemasukan kopi (Hopper)
Corong ini berfungsi sebagai tempat memasukkan buah kopi yang akan dikupas kulit tanduknya. Corong ini berbentuk limas segi empat dengan Volume 41 cm x 41 cm x 38 cm dan tebal besi plat 1,2 m.
5. Saluran pengeluaran kulit tanduk kopi
Bagian ini berfungsi sebagai saluran pengeluaran kulit tanduk kopi yang terkupas, terletak di depan blower.
6. Saluran pengeluaran biji kopi
Bagian ini berfungsi sebagai tempat keluarnya biji kopi yang sudah terkupas.
7. Poros
Terletak di tengah silinder pememar, yang terbuat dari besi As dengan diameter 1 inci.
8. Bearing
Berfungsi sebagai penegak poros terletak di kerangka alat, ukuran P205 9. Pulley
Pulley pada alat ini berfungsi sebagai pereduksi putaran yang dikehendaki. Pulley yang digunakan pada alat ini adalah pulley jenis alur V (V-belt), pulley berdiameter 2 , 3 , 4 terdapat pada blower.
10.Sabuk
11.Blower
Blower terbuat dari besi plat dengan ketebalan 1,2 mm dengan diameter 11inci.
Prosedur Penelitian
1. Diperiksa komponen-komponen Alat pengupas kulit kopi, dipastikan semua posisi komponen alat tersebut sudah tepat dan masih layak pakai.
2. Dilakukan pembersihan pada bagian saluran pengeluaran kulit dan saluran pengeluaran biji.
3. Mesin dinyalakan, kemudian disesuaikan diameter pulley silinder pengupas dan diameterpulley blowersesuai perlakuan.
4. Dimasukkan kopi sebanyak 1 kg untuk setiap perlakuan ke dalamhopper. 5. Mesin dimatikan setelah biji kopi yang ada di dalam hopper sudah habis
terkupas.
6. Dicatat berat biji kopi yang terkupas (kg), berat kulit pada saluran pembuangan kulit (kg), berat kopi yang rusak (kg), berat kopi yang tidak terkupas (kg), berat kopi yang terkupas yang masuk ke penampungan kulit (kg), berat kulit yang masuk ke penampungan biji (kg).
Parameter yang Diamati
1. Kapasitas alat pengupas kulit kopi ( Kg / Jam )
Pengukuran kapasitas alat dilakukan dengan membagi berat kopi yang dikupas terhadap waktu yang dibutuhkan untuk mengupas kulit kopi.
2. Persentase kopi yang terkupas yang masuk ke penampungan kulit ( % )
Persentase kopi terkupas yang masuk ke penampungan kulit dihitung dengan membagikan kopi yang terkupas yang masuk ke penampungan kulit kopi hasil kupasan terhadap berat total kopi yang terkupas.
ganKulit
3. Persentase kerusakan hasil kupasan ( % )
Persentase kerusakan hasil kupasan dihitung dengan membagikan berat kopi hasil kupasan yang rusak terhadap berat total kopi yang terkupas.
%
4. Persentase kulit kopi yang masuk ke penampungan biji kopi ( % )
Persentase kulit kopi yang masuk ke penampungan biji kopi dihitung dengan membagikan berat kulit kopi yang masuk ke penampungan biji kopi dibagi terhadap berat total kulit kopi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui diameter pulley silinder pengupas memberikan pengaruh terhadap kapasitas kerja alat , persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit, persentase kopi tidak terkupas, persentase kerusakan hasil kupasan, dan persentase kulit kopi yang masuk ke penampungan biji.
Tabel 1. Pengaruh diameter pulley silinder pengupas terhadap parameter yang Diamati diperoleh pada P1(5 ) dan terendah pada P3 (7 ) . Persentase rata-rata biji kopi yang masuk ke penampungan kulit tertinggi diperoleh pada P1(5 ) dan terendah pada P3 (7 ). Persentase rata-rata kerusakan hasil kupasan tertinggi pada P1(5 ) dan terendah pada P3 (7 ). Persentase rata-rata kulit kopi yang masuk ke penampungan biji tertinggi pada P1(5 ) dan terendah pada P3(7 ).
Tabel 2. Pengaruh diameterpulley blowerterhadap parameter yang diamati
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa persentase rata-rata biji kopi yang masuk ke penampungan kulit tertinggi diperoleh pada R1 (2 )dan terendah pada R3 (4 ). Persentase rata-rata kulit kopi yang masuk ke penampungan biji tertinggi diperoleh pada R3( 4 ) dan terendah pada R1(2 ).
Kapasitas Kerja Alat Pengupas Kulit Tanduk Kopi
Pengaruh Diameter Pulley Silinder Pengupas
Dari hasil analisis sidik ragam pada Lampiran 1 dapat dilihat bahwa diameter pulley silinder pengupas memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas kerja alat. Hasil pengujian dengan LSR yang menunjukkan pengaruh terhadap kapasitas kerja alat dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Uji LSR Efek utama pengaruh diameter pulley silinder pengupas terhadap kapasitas kerja alat (kg/jam)
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan P1 berbeda sangat nyata terhadap P2 dan P3. Perlakuan P2 berbeda sangat nyata terhadap P3. Kapasitas kerja alat tertinggi diperoleh pada perlakuan P1(5 ) sebesar 22,27 Kg/jam dan terendah pada perlakuan P3(7 ) sebesar 19,29 Kg/jam.
Hubungan diameter pulley silinder pengupas terhadap kapasitas kerja alat dapat dilihat pada Gambar 1.
Diameter Pulley Silinder Pengupas ( inci )
Ka
Gambar 1. Hubungan diameterpulleysilinder pengupas terhadap kapasitas kerja alat pengupas kulit tanduk kopi.
lebih besar. Dengan semakin besarnya kecepatan perputaran maka kapasitas kerja alat itu akan semakin besar. Dan pernyataan Purwadaria (1994), selama pengupasan, beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan kerja alat yaitu kecepatan rotor (rpm poros), susunan dan jumlah batang penggilas, jarak clearancenya dan lain-lain.
Pengaruh diameter pulley blower
Dari daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 1, dapat dilihat bahwa diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap kapasitas kerja alat, sehingga pengujian dengan LSR tidak dilanjutkan. .
Pengaruh Kombinasi Diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower
Persentase Biji Kopi yang Masuk ke Penampungan Kulit
Pengaruh Diameter pulley silinder pengupas
Dari daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 2, dapat dilihat bahwa diameter pulley silinder pengupas memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit.
Hasil pengujian dengan LSR yang menunjukkan pengaruh diameterpulley silinderpengupas terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Uji LSR efek utama pengaruh diameterpulleysilinder pengupas terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit
Jarak LSR P Rataan Notasi
0,05 0,01 0,05 0,01
- - - P1 16,33 A A
2 0,308 0,423 P2 8,46 B B
3 0,324 0,443 P3 5,33 C C
Keterangan : Notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%.
= -5,505x + 43,07
Gambar 2. Hubungan diameterpulleysilinder pengupas terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit
Dari Gambar 2 dapat dilihat bahwa semakin kecil diameter pulleysilinder pengupas semakin besar persentase biji kopi masuk penampungan kulit, demikian sebaliknya semakin besar diameter pulley silinder pengupas semakin sedikit biji kopi masuk penampungan kulit. Hal ini disebabkan karena besar diameter pulley akan berbanding terbalik dengan kecepatan perputaranpulley itu, sehinggapulley yang memiliki diameter lebih kecil akan memiliki kecepatan perputaran yang lebih besar, sehingga waktu jatuhnya biji kopi masuk ke penampungan biji lebih sedikit. Kejadian diatas disebabkan juga karena pada kapasitas alat yang lebih besar, banyak biji kopi yang mengalami kerusakan. Hal ini menyebabkan mudahnya biji kopi tertiup olehblowerke penampungan kulit.
Pengaruh diameter pulley blower
Hasil pengujian dengan LSR yang menunjukkan pengaruh diameterpulley blower terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Uji LSR efek utama pengaruh diameterpulleysilinder pengupas terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit
Jarak LSR Perl Rataan Notasi
0,05 0,01 0,05 0,01
- - - R1 7,41 a A
2 0,308 0,423 R2 10,83 b B
3 0,324 0,443 R3 11,88 c C
Keterangan : Notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%.
Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa perlakuan R1 berbeda sangat nyata terhadap R2 dan berbeda sangat nyata terhadap R3. Persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit tertinggi diperoleh pada perlakuan R3sebesar 11,88 % dan terendah pada perlakuan R1 yaitu sebesar 7,41 %.
Hubungan antara diameter pulley blowerdengan persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit dapat dilihat pada Gambar 3.
= -2,2389x + 16,757
Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa semakin kecil diameter pulley blower semakin besar persentase biji kopi masuk penampungan kulit, demikian sebaliknya semakin besar diameter pulley blower semakin sedikit biji kopi masuk penampungan kulit. Hal ini disebabkan karena semakin kecil diameter pulley blower semakin besar kecepatan putaran blower yang menyebabkan biji kopi tertiup ke saluran penampungan kulit, demikian sebaliknya semakin besar diameter pulley blower semakin lambat putaran blower yang menyebabkan daya tiup blower menjadi kecil, sehingga biji kopi lebih sedikit masuk ke penampungan kulit.
Pengaruh kombinasi Diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower
Dari daftar analisis sidik ragam pada lampiran 2 , dapat dilihat bahwa kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit.
Tabel 6. Uji LSR efek utama pengaruh kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit.
Keterangan : Notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%.
Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit tertinggi diperoleh pada perlakuan kombinasi P1R1 sebesar 19,96 % dan terendah pada perlakuan P3R3sebesar 4,25 %.
Kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower terhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit dapat dilihat pada Gambar 4.
Dari gambar dapat dilihat bahwa kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulleyblowerterhadap persentase biji kopi yang masuk ke penampungan kulit tertinggi diperoleh pada perlakuan kombinasi P1R1 sebesar 19,96 % dan terendah pada perlakuan P3R3sebesar 4,25 %.
Hal ini disebabkan karena pada perlakuan P1R1putaran silinder pengupas yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya yang menyebabkan banyak biji kopi yang rusak sehingga lebih mudah untuk ditiup oleh blower. Pada perlakuan ini juga kecepatan blower paling tinggi, sehingga kopi bisa dengan mudah ditiup masuk penampungan kulit.
Persentase Kerusakan Hasil Kupasan
Pengaruh Diameter pulley silinder pengupas
Dari daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 3, dapat dilihat bahwa diameter pulley silinder pengupas memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase kerusakan hasil kupasan.
Hasil pengujian dengan LSR yang menunjukkan pengaruh diameter pulley silinder pengupas terhadap persentase kerusakan hasil kupasan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Uji LSR efek utama pengaruh diameter pulley silinder pengupas terhadap persentase kerusakan hasil kupasan
Jarak LSR
P Rataan Notasi
0,05 0,01 0,05 0,01
- - - P1 5,17 a A
2 0,380 0,521 P2 4,40 b B
3 0,399 0,546 P3 3,35 c C
Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa perlakuan P1 berbeda sangat nyata terhadap P2 dan P3. Perlakuan P2 berbeda sangat nyata terhadap P3. Persentase kerusakan hasil kupasan tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 5,17 % dan terendah pada perlakuan P3yaitu sebesar 3,35 %.
Hubungan antara diameter pulley silinder pengupas dengan persentase kerusakan hasil kupasan dapat dilihat pada Gambar 5.
= -0,9083x + 9,7581
Gambar 5. Hubungan antara diameterpulleysilinder pengupas dengan persentase kerusakan hasil kupasan
untuk mengatasi banyaknya biji yang pecah selama proses pengupasan yaitu dengan menurunkan frekuensi putaran. Dan pernyataan Hadiwiyoto dan Soehardi (1980), apabila clearance terlalu dekat dan putarannya terlalu cepat, maka akan menghasilkan biji yang kurang baik mutunya.
Pengaruh diameter pulley blower terhadap Persentase Kerusakan Hasil Kupasan
Dari daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 3 , dapat dilihat bahwa diameter pulley blower memberikan pengaruh tidak nyata terhadap persentase kerusakan hasil kupasan, sehingga pengujian dengan LSR tidak dilanjutkan.
Pengaruh kombinasi Diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower
Dari daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 3, dapat dilihat bahwa kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap persentase kerusakan hasil kupasan, sehingga pengujian dengan LSR tidak dilanjutkan.
Persentase Kulit yang Masuk ke Penampungan Biji
Pengaruh Diameter pulley silinder pengupas
terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Uji LSR efek utama pengaruh diameter pulley silinder pengupas terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji
Jarak LSR Perl Rataan Notasi terhadap P2 dan P3. Persentase kerusakan hasil kupasan tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 26,22 % dan terendah pada perlakuan P3yaitu sebesar 17,84 %.
Hubungan antara diameter pulley silinder pengupas dengan persentase kerusakan hasil kupasan dapat dilihat pada
Gambar 6.
Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa persentase kerusakan hasil kupasan tertinggi diperoleh pada P1dan persentase kerusakan paling rendah pada perlakuan P3. Hal ini disebabkan karena semakin kecil diameterpulley maka persentase biji rusak semakin besar, dan sebaliknya semakin besar diameter pulley, maka persentase biji rusak semakin kecil pula, hal ini disebabkan proses pengupasan yang semakin cepat pada diameter pulley yang lebih kecil akan mengakibatkan semakin besar terjadi gesekan antara biji dan silinder pengupas, sehingga biji rusak akan semakin besar. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Balitsereal (2005), untuk mengatasi banyaknya biji yang pecah selama proses pengupasan yaitu dengan menurunkan frekuensi putaran. Dan pernyataan Hadiwiyoto dan Soehardi (1980), apabila clearance terlalu dekat dan putarannya terlalu cepat, maka akan menghasilkan biji yang kurang baik mutunya.
Pengaruh diameter pulley blower
Dari daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 4, dapat dilihat bahwa diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji. Hasil pengujian dengan LSR yang menunjukkan pengaruh diameter pulley blower terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Uji LSR efek utama pengaruh diameter pulley silinder pengupas terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji
Jarak LSR Perl Rataan Notasi
0,05 0,01 0,05 0,01
- - - R1 23,89 a A
2 0,104 0,142 R2 22,44 b B
3 0,109 0,149 R3 21,07 c C
kupasan tertinggi diperoleh pada perlakuan R1sebesar 23,89 % dan terendah pada perlakuan R2 yaitu sebesar 21,07 %.
Hubungan antara diameter pulley blower dengan persentase kulit yang masuk ke penampungan biji dapat dilihat pada
Gambar 7
Gambar 7. Hubungan diameterpulley blowerterhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji.
Pengaruh Kombinasi Diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower
Dari daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 4, dapat dilihat bahwa kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji. Hasil pengujian dengan LSR yang menunjukkan pengaruh diameter pulley silinder pengupas terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Uji LSR efek utama pengaruh kombinasi diameterpulleysilinder pengupas dan diameterpulley blowerterhadap persentase kulit yang masuk kepenampungan biji penampungan biji tertinggi diperoleh pada perlakuan P1R3 sebesar 27,25 % dan terendah pada perlakuan P3R1sebesar 15,54 %.
Kombinasi diameter pulley silinder pengupas dan diameter pulley blower terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji dapat dilihat pada
1= -4,84x + 50,108
Gambar 8. Hubungan kombinasi diameter pulleysilinder pengupas dan diameter pulley blowerterhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji
Dari gambar dapat dilihat bahwa kombinasi diameterpulleysilinder pengupas dan diameter pulley blower terhadap persentase kulit yang masuk ke penampungan biji tertinggi diperoleh pada perlakuan kombinasi P1R3 sebesar 27,25 % dan terendah pada perlakuan P3R1sebesar 15,54 %.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Semakin kecil diameter pulley silinder pengupas yang digerakkan maka kapasitas pengupasan kulit tanduk kopi semakin besar, dan sebaliknya semakin besar diameter pulley silinder pengupas maka kapasitas pengupasan kulit tanduk kopi semakin kecil
2. Semakin kecil diameter pulley silinder pengupas maka persentase biji rusak semakin besar, dan sebaliknya semakin besar diameter pulley silinder pengupas, maka persentase biji rusak semakin kecil
Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan variasi diameter pulley dengan jarak yang lebih jauh.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 1991. Budidaya Tanaman Kopi. Aksi Agraris Kanisius, Kanisius. Yogyakarta.
Anonimous, 2003. Bercocok Tanam Kopi. Aksi Agraris Kanisius, Kanisius. Yogyakarta.
Balitsereal., 2005. Alat Pengupas Kacang. www.Balitsereal.com. [25 April 2007]. Batubara, L. M., 2006. Pengaruh Diameter Pulley dan Clearance Alat Pengupas Kacang Tanah Terhadap Kualitas Hasil Kupasan Kacang Tanah. Skripsi Universitas Sumatera Utara, Medan.
BPEN, 2004. Ekspor Kopi Tahun 2004 Diperkirakan 280.000 Ton. http://www. Nafed. go. Id, akses 2 januari 2007.
Daryanto, 1994. Pengetahuan Teknik Bangunan. Rineka Cipta. Malang. Daryanto, 2002. Pengetahuan Listrik. Bumi Aksara. Jakarta. Deptan, 2005. Teknologi Pengolahan Kopi. http://www. Agribisnis-deptan go.id,
akses 4 januari 2007.
Darmono, K., Oktavianus Y.F.W., Johanes B.P., Andrian, K.M., Aditya, P.P., Arief, S.R., Made, A.D., Achmad, F., Stephanus, D.K., dan Abiniswu. V- Belt. http:// www. Dharmastiti. Staff. UGM. ac.id,akses 2 januari 2007. Djadglu, 2006. Komoditi Kopi di Pasar Inggris. http://www. Djadglu. go.id,
akses 11 januari 2007.
Hadiwiyoto, S. dan Soehardi., 1980. Penanganan Lepas Panen I. Depdikbud, Jakarta.
Ipard, 2006. Pengolahan Kopi Secara Konvesional. http://www.ipard.com, Akses 28 januari 2007.
Kompas, 2003. Kopi Kabupaten Lahat. http://www.kompas.com, akses 11 januari 2007.
Kompas, 2004. Harga Rendah Petani Kopi Terus terpuruk. http://www.kompas.com. ( 30 Agustus 2006 ).
Pantastico, E.R.B., 1993. Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan PemanfaatanBuah-Buahan dan Sayuran Tropika dan Subtropika. Terjemahan Kameriyani. UGM Press. Yogyakarta.
PPKKI, 2005. Menaikkan Kualitas Kakao dan Kopi. http://www.Pikiran Rakyat.com, akses 28 januari 2007.
Pratomo, M. dan Irwanto K., 1983. Alat dan Mesin Pertanian. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Purwadaria, H.K., 1994. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Medan.
Ridwansyah, 2003. Pengolahan Kopi. http://www. Library. USU.ac.id, Akses 27 desember 2006.
Satuhu, S., 1996. Penanganan dan Pengelolaan Buah. Penebar Swadaya. Jakarta. Siswoputranto, P.S., 1992. Kopi, Internasional dan Indonesia. Kanisius.
Yogyakarta.
Smith, H.P. and L.H.Wilkes, 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani, Terjemahan T. Purwadi. UGM-Press, Yogyakarta.
Stolk, J. and C. Kros, 1981. Elemen Mesin, Elemen Kontruksi Bangunan mesin, Terjemahan H. Hendarsin dan A. Rahman. Erlangga, Jakarta.
Siswoputranto, P.S., 1992. Kopi, Internasional dan Indonesia. Kanisius. Yogyakarta.
Tapanulli Coffea, 2006.Sejarah Tanaman Kopi.
http://www.TapanulliCoffea.com. ( 30 Agustus 2006 ).
Warintek Progessio, 2006. Tentang Tanaman Kopi. http://www.Plantations.Padma.Ws, akses 2 januari 2007
Widjaja, 2006. Sejarah Kopi. http://www. Pam Group. com. Jakarta, akses 28 januari 2007.
Lampiran 1. Kapasitas Alat Pengupas Kulit Tanduk Kopi (Kg/jam)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1R1 21,82 22,80 22,06 66,68 22,23
P1R2 22,32 22,30 22,23 66,85 22,28
P1R3 22,31 22,28 22,33 66,92 22,31
P2R1 20,57 20,50 20,30 61,37 20,46
P2R2 20,60 20,48 20,59 61,67 20,56
P2R3 20,51 20,55 20,49 61,55 20,52
P3R1 19,27 19,07 19,08 57,42 19,14
P3R2 19,30 19,33 19,40 58,03 19,34
P3R3 19,31 19,42 19,44 58,17 19,39
Total 186,01 186,73 185,92 558,66
Rataan 20,67 20,75 20,66 20,69
Daftar Sidik Ragam Data Pengamatan Kapasitas Kerja Alat Pengupas Kulit Tanduk Kopi
Sk db JK KT Fhit F,05 F,01
Perl 8 40,57 5,07 147,68 ** 2,51 3,71
P 2 40,43 20,22 588,79 ** 3,55 6,01
D-lin 1 39,99 39,99 1164,68 ** 4,41 8,29
Lampiran 2. Data Pengamatan Persentase Biji Kopi yang Masuk ke Penampungan Kulit.
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1R1 20,28 19,9 19,7 59,88 19,96
P1R2 18,22 18,29 19 55,51 18,50
P1R3 11,1 10,21 10,33 31,64 10,55
P2R1 9,44 9,49 9,41 28,34 9,45
P2R2 8,51 8,9 8,1 25,51 8,50
P2R3 7,32 7,45 7,49 22,26 7,42
P3R1 6,41 6,32 6,01 18,74 6,25
P3R2 5,19 5,45 5,8 16,44 5,48
P3R3 4,39 4,4 3,97 12,76 4,25
Total 90,86 90,41 89,81 271,08
Rataan 10,10 10,05 9,98 10,04
Daftar Sidik Ragam Data Pengamatan Persentase Biji Kopi yang Masuk ke Penampungan Kulit.
Sk db JK KT Fhit F,05 F,01
Perl 8 745,61 93,20 959,96 ** 2,51 3,71
P 2 579,33 289,67 2983,52 ** 3,55 6,01
D-lin 1 545,49 545,49 5618,46 ** 4,41 8,29
D-kua 1 33,84 33,84 348,59 ** 4,41 8,29
R 2 98,63 49,31 507,93 ** 3,55 6,01
R-lin 1 90,23 90,23 929,33 ** 4,41 8,29
Lampiran 3. Data Pengamatan Persentase Kerusakan Hasil Kupasan
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1R1 5,02 5,12 4,9 15,04 5,01
P1R2 5,22 5,25 5,3 15,77 5,26
P1R3 5,44 5,1 5,2 15,74 5,25
P2R1 4,3 4,41 4,59 13,30 4,43
P2R2 4,37 4,44 4,49 13,30 4,43
P2R3 4,45 4,47 4,05 12,97 4,32
P3R1 3,6 3,4 3,25 10,25 3,42
P3R2 3,53 3,29 3,43 10,25 3,42
P3R3 2,99 3,3 3,41 9,70 3,23
Total 38,92 38,78 38,62 116,32
Rataan 4,32 4,31 4,29 4,31
Daftar Sidik Ragam Data Pengamatan Persentase Kerusakan Hasil Kupasan
Sk db JK KT Fhit F,05 F,01
Perl 8 15,16 1,90 78,14 ** 2,51 3,71
P 2 14,96 7,48 308,32 ** 3,55 6,01
D-lin 1 14,85 14,85 612,28 ** 4,41 8,29
Lampiran 4. Data Pengamatan Persentase Kulit yang masuk ke Penampungan Biji.
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III
P1R1 25,19 25,15 25,31 75,65 25,22
P1R2 26,12 26,13 26,29 78,54 26,18
P1R3 27,19 27,21 27,35 81,75 27,25
P2R1 22,3 22,5 22,55 67,35 22,45
P2R2 23,4 23,45 23,46 70,31 23,44
P2R3 24,12 24,13 24,2 72,45 24,15
P3R1 15,5 15,51 15,6 46,61 15,54
P3R2 17,72 17,76 17,6 53,08 17,69
P3R3 20,11 20,22 20,52 60,85 20,28
Total 201,65 202,06 202,88 606,59
Rataan 22,41 22,45 22,54 22,47
Daftar Sidik Ragam Data Pengamatan Persentase Kulit yang masuk ke Penampungan Biji.
Sk db JK KT Fhit F,05 F,01
Perl 8 370,75 46,34 4210,22 ** 2,51 3,71
P 2 326,28 163,14 14820,88 ** 3,55 6,01
D-lin 1 315,84 315,84 28693,61 ** 4,41 8,29
D-kua 1 10,44 10,44 948,16 ** 4,41 8,29
R 2 35,97 17,98 1633,77 ** 3,55 6,01
R-lin 1 35,96 35,96 3266,45 ** 4,41 8,29
Lampiran 5.
Gambar 1. Biji kopi Robusta masih berkulit tanduk
Lampiran 6.
Gambar 3. Alat pengupas kulit tanduk kopi DEPTAN