• Tidak ada hasil yang ditemukan

Acute Disseminated Encephalomyelitis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Acute Disseminated Encephalomyelitis"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ACUTE DISSEMINATED

ENCEPHALOMYELITIS

FASIHAH IRFANI FITRI

NIP : 198307212008012007

DEPARTEMEN NEUROLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RSUP H. ADAM MALIK

MEDAN

(2)

I. PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Acute disseminated encephalomyelitis (ADEM) merupakan salah satu penyakit demielinasi inflamasi idiopatik pada susunan saraf pusat (SSP) yang diperantarai oleh

sistem imun dan sering muncul setelah infeksi atau vaksinasi.1-3 Penyakit demielinasi

inflamasi idiopatik terdiri dari sejumlah kelainan SSP yang diduga bersifat autoimun

dan terdiri dari ADEM, multiple sclerosis (MS), Devic’s disease, myelitis transversalis dan neuritis optik.3-5 Acute disseminated encephalomyelitis sering mengenai anak-anak dengan usia dibawah 10 tahun dengan rentang usia 5-8 tahun.1,3 Diagnosis ADEM

cukup sering ditegakkan di negara-negara tropis dimana kejadian infeksi masih tinggi.

Acute disseminated encephalomyelitis selama ini dianggap sebagai penyakit demielinasi inflamasi yang monofasik dengan berbagai manifestasi klinis yang biasanya

terdiri dari ensefalopati dan sejumlah sindroma fokal atau multifokal yang menunjukkan

kelainan demielinasi inflamasi SSP, termasuk neuritis optik dan myelitis.

6

5

Walaupun

ADEM biasanya memiliki perjalanan yang monofasik, namun relaps dapat diumpai

pada 5 hingga 25% kasus, yang disebut sebagai multiphasic atau recurrent ADEM.2,3,5,7 Pada multiphasic ADEM terdapat gejala dan tanda baru yang melibatkan daerah SSP yang sebelumnya tidak terkena dan terjadi sekurangnya tiga bulan setelah kejadian

pertama atau sekurangnya satu bulan setelah terapi steroid berhenti. Pada recurrent ADEM, relaps terjadi sekurangnya tiga bulan atau lebih setelah kejadian pertama atau sekurangnya satu bulan setelah terapi steroid berhenti dan memiliki gambaran

neurologis dan radiologis yang sama, yang menunjukkan keterlibatan daerah SSP yang

sama.3,5,7

Manifestasi klinis ADEM yang sangat beragam, dan tidak adanya penanda

biologis spesifik, sering menyulitkan dalam penegakan diagnosisnya dan

membedakannya dengan penyakit demielinasi inflamasi lainnya.

2,3,5

Hingga saat ini

masih terdapat kesulitan untuk membedakan ADEM dengan MS pada anak-anak,

terutama pada kasus multiphasic dan recurrent ADEM, dimana diperlukan pemantauan jangka panjang untuk mengidentifikasinya dengan tepat. Kriteria ADEM yang kini

diterima secara luas adalah adanya gejala klinis berupa ensefalopati (perubahan status

(3)

presentasi awal yang penting. Temuan magnetic resonance imaging (MRI) dan cairan serebrospinal (CSS) serta riwayat infeksi dapat membantu menegakkan diagnosis.

Patogenesis ADEM belum sepenuhnya dimengerti, namun adanya autoantibodi

terhadap glikoprotein oligodendrosit myelin mendukung hipotesis demielinasi yang

dipicu oleh mekanisme autoimun.

3,5,7

3

Banyak dari penyebab infeksi pada

meningoensefalitis tidak dapat dibedakan dari ADEM berdasarkan kriteria klinis dan

laboratorium yang ada. Diagnosis ADEM biasanya ditegakkan berdasarkan eksklusi

dari diagnosis lain dan temuan imejing serta sangat jarang dikonfirmasi dengan temuan

neuropatologi. Gambaran klinis, radiologis dan patologi ADEM menyerupai MS dan

experimental autoimmune encephalomyelitis (EAE) pada hewan percobaan.8 Deteksi dini dan akurat sangat penting untuk membedakan ADEM dengan penyakit demielinasi

lainnya pada anak-anak terutama MS. Hal ini berhubungan dengan prognosis dan

penatalaksanaannya karena banyak pasien MS terutama yang memiliki penyakit

fulminan agresif, dapat memperoleh manfaat dari terapi awal disease-modifying untuk menekan dan mencegah relaps.5,9

I.2. TUJUAN PENULIS

Tujuan dari penulisan refarat ini adalah untuk membahas secara singkat

mengenai definisi, epidemiologi, patogenesis, gambaran klinis, prosedur diagnosis,

(4)

II. ISI

II.1. DEFINISI

Acute disseminated encephalomyelitis (ADEM) adalah penyakit demielinasi inflamasi idiopatik pada SSP yang dimediasi sistem imun dan terutama mengenai

substansia alba pada otak dan medula spinalis.1

II.2. EPIDEMIOLOGI

ADEM lebih sering dijumpai pada anak-anak. Insidensi ADEM dilaporkan

sekitar 0.4-0.8 per 100.000 per tahun. Rerata usia saat onset adalah 5 tahun, dengan

rentang 10 bulan hingga 18 tahun.1,5,9,10 Perbandingan jenis kelamin tidak jauh berbeda,

dengan kecenderungan sedikit lebih sering pada anak laki-laki.1-3 Insidensi ADEM

meningkat sejak tahun 2000 jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, namun

ini dapat disebabkan oleh penggunaan MRI yang lebih luas yang memfasilitasi

identifikasi yang lebih akurat. Diperkirakan ADEM merupakan sepertiga dari seluruh

pasien yang didiganosa menderita ensefalitis di Amerika Serikat.1

II.3. PATOGENESIS

Patogenesis ADEM dianggap berupa inflamasi dan demielinasi multifokal yang

tersebar dan yang terkait dengan mekanisme autoimun di SSP. Hipotesis autoimun

menunjukkan bahwa sel T yang menyerang antigen viral atau bakteri mengenali asam

amino yang juga dimiliki oleh protein myelin. Sel T yang teraktivasi melewati sawar

darah otak, memungkinkan rekrutmen dan migrasi sel-sel inflamasi lainnya yang

berperan dalam proses demyelinasi. Target antigen mencakup myelin basic protein (MBP), proteolipid protein (PLP), myelin oligodendrocyte protein (MOP), myelin associated glycoprotein (MAG), oligodendrocyte basic protein, dan lain-lain.1,4 Molecular mimicry, atau kesamaan epitop virus dengan antigen myelin seperti MBP,MOG dan protein proteolipid merupakan salah satu penjelasan munculnya respon

imun terhadap substansia alba SSP setelah infeksi. Sejumlah studi menyatakan bahwa

sitokin proinflamasi berperan dalam patogenesis.8 Mekanisme molekuler pasti yang

menyebabkan kematian oligodendrosit pada ADEM dan variannya masih belum

diketahui; namun molekul sitokin, kemokin dan molekul perlekatan secara

(5)

genetik menjelaskan mengapa komplikasi ensefalomyelitis dijumpai hanya pada

sejumlah kecil pasien yang mendapat infeksi atau imunisasi. Gen human leucocyte antigen (HLA) kelas II memiliki pengaruh yang paling signifikan. Nitric oxide juga tampaknya memperantarai kematian oligodendrosit. Mekanisme lainnya mencakup

stress oksidatif yang menyebabkan kematian prematur dari oligodendrosit dan

eksitoksisitas.1

II.4. PATOLOGI

Pemeriksaan makroskopis otak menunjukkan edema dengan tanda-tanda

kongesti serebral. Gambaran histopatologis ADEM yang dapat membedakannya dengan

kelainan lain adalah inflamasi dan demielinasi perivaskular, terutama perivena, yang

terutama melibatkan substansia alba dari hemisfer serebri, batang otak, serebelum,

medula spinalis dan nervus optikus.1,5,11 Proses inflamasi terutama dicirikan dengan

infiltrasi perivaskular dari sel-sel inflamasi mononuklear (limfosit dan monosit),

biasanya di sekitar vena dan venula dan proliferasi mikroglial reaktif. Terdapat edema

vasogenik yang menyebabkan pembengkakan otak dan medulla spinalis. Dalam lesi

tersebut dijumpau fragmentasi myelin dengan akson yang relatif utuh walaupun dapat

juga dijumpai kerusakan aksonal yang nyata. Pada tahap akhir, respon inflamasi

digantukam oleh gliosis fibrilari.1 Pada jaringan otak terutama dijumpai keterlibatan

substansia alba dengan sejumlah focus demielinasi kecil. Secara histologis, terdapat

reaksi inflamasi destruktif dengan sel limfosit dan sedikit sel plasma di sekitar

vena-vena kecil di seluruh serebrum, batang otak, serebelum dan medula spinalis. Dijumpai

sel-sel mikroglial fagositik pada lesi. Akson dan sel saraf relatif tidak terkena. Terdapat

batas yang tegas antara fokus demielinasi dan daerah normal. Pada tahap lanjut,

perluasan gliosis melebihi daerah demielinasi. Pada ADEM reaksi jaringan berada pada

usia yang sama yang menggambarkan perjalanan yang monofasik dari penyakit ini.12

II.5. GAMBARAN KLINIS

Manifestasi neurologis dijumpai mulai 3 hari hingga 4 minggu setelah kejadian

pencetus, yang dapat dijumpai pada tiga perempat pasien.1,4 Awalnya pasien

mengeluhkan gejala non spesifik seperti nyeri kepala, demam, mialgia dan malaise. Hal

ini kemudian diikuti dengan manifestasi neurologis dengan onset yang cepat, mencakup

(6)

quadriparesis), ataksia, dan perubahan status mental (mengantuk, sopor atau koma).

Gejala dan tanda lainnya mencakup keterlibatan saraf kranial, meningismus, konvulsi,

migren, mielopati, neuritis optik, afasia, gerakan involunter dan parestesi.1Ensefalopati

kini ditekankan sebagai tanda kunci yang membedakan ADEM dari MS.5,13 Infeksi

campak menunjukkan risiko yang paling tinggi untuk terjadinya ADEM, 1 dari 400

hingga 1 dari 1000 kasus, jika dibandingkan dengan 1 dari 10.000 kasus varisela dan 1

dari 20.000 kasus untuk rubella.1 Sejumlah keadaan yang berhubungan dengan ADEM,

mencakup infeksi virus seperti mumps, coxsackie, influenza, Ebstein Barr virus, human immunodeficiency virus, herpes simplex virus, human herpes virus 6, hepatitis A, B, measles, rubella, varicella, cytomegalovirus, Japanese B; infeksi bakteri seperti group A ß hemolytic streptococci, campylobacter jejuni, salmonella, Chlamydia, mycoplasma, legionella, leptospira, Borrelia, and rickettsiae; infeksi fungi. Imunisasi yang berhubungan dengan terjadinya ADEM adalah imunisasi measles, mumps, rubella, diphteria-pertussis-tetanus (DPT), varisela, rabies, mumps parotitis, rubeola, influenza, japanese encephalitis type B, dan poliomyelitis.1,4 Infeksi tuberkulosis juga pernah dilaporkan berhubungan dengan ADEM.14 Keterlibatan SSP pada infeksi

measles,walaupun jarang, menimbulkan spektrum penyakit yang cukup luas, yang dibedakan berdasarkanwaktu timbulnya sejak infeksi primer, mencakup ADEM,

measles inclusion body encephalitis (MIBE), subacute sclerosing panencephalitis (SSPE) dan fulminant SSPE.

Walaupun ADEM sering dihubungkan dengan infeksi atau vaksinasi, adanya

kejadian ini tidak termasuk dalam definisi ADEM pada sebagian besar studi, termasuk

konsensus kriteria klinis terbaru. 15

5,7

Definisi ini menunjukkan bahwa terdapat proses

immune-mediated yang unik pada SSP dengan patofisiologi yang khusus dan independen terhadap pencetus imun. Riwayat infeksi atau vaksinasi sebelumnya dapat

meningkatkan kemungkinan ADEM namun juga sering dijumpai pada pasien dengan

presentasi MS pertama. Oleh sebab itu, infeksi atau vaksinasi sebelumnya tidak spesifik

dan sensitif untuk ADEM.5 Suatu studi melaporkan bahwa ADEM dapat dijumpai pada

(7)

II.6. PROSEDUR DIAGNOSIS

Diagnosis ADEM harus dipertimbangkan pada pasien dengan gejala dan tanda

klinis yang sesuai dengan penyakit demielinasi dengan onset akut atau sub akut dengan

gejala ensefalopati berupa perubahan tingkat kesadaran, perubahan perilaku atau

gangguan kognitif.13 Diagnosis ADEM ditegakkan berdasarkan temuan MRI berupa

demielinasi substansia alba yang multifokal pada pasien dengan disfungsi neurologis

akut setelah periode laten yang didahului oleh infeksi sistemik, biasanya viral, atau

imunisasi.

Sebelum menegakkan diagnosis ADEM, infeksi harus dsingkirkan dengan

analisa dan kultur CSS. 1

5

Analisa CSS pada ADEM biasanya normal, namun dapat

menunjukkan pleositosis sedang, jarang melebihi 100 sel/mm3, glukosa dalam batas

normal, dan protein sedikit meningkat.1,5 Analisa CSS pada MS jarang menunjukkan

pleositosis. Deteksi oligoclonal bands dapat membantu memprediksi diagnosis MS, namun angka ketepatannya tidak diketahui karena 29% pasien anak-anak dengan

ADEM juga menunjukkan OCBs. Biasanya, bands ini menghilang pada ADEM namun lebih cenderung menetap pada MS.

Pemeriksaan MRI adalah pemeriksaan pilihan dalam menegakkan diagnosis

ADEM yang harus didukung dengan riwayat klinis dan pemeriksaan neurologis. Lesi

demielinisasi tampak hipointens pada T1 dan hiperintens pada T2 dan FLAIR. 5

1,5 Lesi

biasanya asimetris dan bervariasi dalam ukuran dan jumlah. Tidak adanya keterlibatan

periventrikular adalah salah satu gambaran kunci yang membantu membedakan ADEM

dari MS.1,3,5 Beberapa penulis menyatakan bahwa lesi ADEM tidak berbatas tegas

seperti halnya lesi MS.4 Beberapa gambaran ADEM yang tidak biasa pada MS adalah

lesi bilateral simetris, tidak terkenanya substansia alba periventrikel dan keterlibatan

substansia grisea.5,6 Keterlibatan talamus dan basal ganglia merupakan temuan tipikal

pada ADEM namun tidak biasa pada MS dan dapat menjadi penanda yang bermanfaat

untuk membedakannya. Pada ADEM lesi supratentorial cenderung asimetris, sedangkan

lesi talamus dan basal ganglia sering simetris. Lesi meliputi substansia alba dalam

dengan gangguan subkortikal, serebelum, batang otak dan medula spinalis yang

(8)

II.7. KRITERIA DIAGNOSIS

Kriteria diagnosis ADEM menurut International Pediatric MS Study Group adalah sebagai berikut :

1. Monophasic ADEM 5,7

a. Kejadian klinis pertama yang diduga disebabkan oleh proses demielinasi

atau inflamasi, dengan onset akut atau subakut yang mengenai area

multifokal pada SSP. Gambaran klinisnya harus polisimptomatik dan

melibatkan ensefalopati, yang terdiri dari satu keadaan berikut atau lebih

:

• Perubahan perilaku, seperti confusion, iritabilitas yang berlebihan

• Perubahan tingkat kesadaran, dari letargi hingga koma

b. Kejadian ini harus diikuti dengan perbaikan, baik secara klinis, pada

MRI atau keduanya, namun dapat dijumpai gejala sisa.

c. Tidak ada riwayat kejadian klinis dengan gambaran demielinasi

sebelumnya

d. Tidak ada penyebab lain yang dapat menjelaskan kejadian

e. Gejala/tanda dan temuan MRI baru yang dijumpaidalam 3 bulan sejak

onset ADEM dianggap sebagai bagian dari kejadian yang sama

f. Pemeriksaan neuroimejing menunjukkan lesi fokal atau multifokal, yang

terutama melibatkan substansia alba, tanpa bukti kerusakan substansia

alba sebelumnya

• MRI otak T2 dan FLAIR menunjukkan lesi besar (ukuran >1 hingga 2 cm) yang multifocal, hiperintens dan berlokasi di

substansia alba supratentorial atau infratentorial; substansia

grisea, terutama basal ganglia dan thalamus,sering terlibat

• Pada kasus yang jarang, MRI otak menunjukkan lesi tunggal

yang besar (≥1 hingga 2 cm), terutama pada substansia alba

(9)

2. Recurrent ADEM

a. Kejadian ADEM baru dengan rekurensi gejala dan tanda awal, 3 bulan

atau lebih setelah kejadian ADEM pertama, tanpa keterlibatan daerah

baru berdasarkan riwayat, pemeriksaan atau neuroimejing

b. Kejadian tidak muncul sewaktu berada dalam terapi steroid, dan

berlangsung sekurangnya satu bulan setelah terapi selesai

c. MRI tidak menunjukkan lesi baru; lesi awal dapat membesar

d. Tidak ada penjelasan yang lebih baik

3. Multiphasic ADEM

a. ADEM yang diikuti dengan kejadian klinis yang baru yang memenuhi

criteria ADEM, namun melibatkan area anatomi baru pada SSP yang

dikonfirmasi dengan anamnesis, pemeriksaan neurologis dan

neuroimejing

b. Kejadian berikutnya harus terjadi 1) setidaknya 3 bulan setelah onset

awal dan 2) setidaknya 1 bulan setelah terapi steroid selesai

c. Kejadian berikutnya harus mencakup gambaran polisimptomatik terdiri

dari enefalopati, dengan gejala dan tanda neurologi yang berbeda dai

kejadian awal (perubahan status mental bias sama dengan kejadian awal)

d. MRI otak harus menunjukkan keterlibatan area baru namun juga

menunjukkan resolusi komplit atau parsial dari lesi yang berkaitan

dengan kejadian ADEM pertama

II.8. DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding ADEM sangat luas. Pada pasien dengan perubahan status

mental akut, gejala motorik fokal, demam, kejang parsial, diagnosis meningoensefalitis

viral akut harus disingkirkan.1 Diagnosis banding ADEM meliputi sejumlah penyakit

demielinasi inflamasi seperti MS, Schilder’s disease dan Devic disease.3 Studi dari Alper dkk (2009) menemukan beberapa karakteristik klinis yang menbedakan ADEM

dengan MS, yaitu usia saat onset, gejala awal, analisa CSS dan gambaran MRI. Rerata

usia saat onset lebih tua pada pasien MS (14 tahun) dibandingkan ADEM (7 tahun).

(10)

pasien MS dibandingkan ADEM.9 Sejumlah studi menunjukkan beberapa karakteristik

klinis, neuroimejing dan laboratorium ADEM yang dapat membantu membedakannya

dengan MS. Secara umum, ADEM harus dipertimbangkan jika terdapat satu atau

beberapa karakteritik berikut ini : bersifat multifokal, polisimptomatik, usia kurang dari

10 tahun, gejala dan tanda meningoensefalitis, ensefalopati, neuritis optik

bilateral,pleositosis pada CSS tanpa oligoclonal bands, lesi pada MRI yang melibatkan struktur yang tidak biasanya terlibat pada MS seperti substansia grisea atau korteks, dan

lesi pada MRI yang berukuran besar dan menunjukkan batas yang tidak tegas dan

enhancement setelah pemberian kontras.5 Kasus ADEM dengan lesi yang besar pada MRI dengan efek massa harus dibedakan dengan tumor otak primer atau penyakit

Schilder.1,3

II.9. PENATALAKSANAAN

Kortikosteroid dosis rendah tidak bermanfaat dan bahkan dikontraindikasikan.

Penggunaan kortikosteroid dosis tinggi sewaktu periode akut penyakit dianggap sebagai

terapi spesifik terhadap proses imun infamasi. Penggunaan metilprednisolon intravena

terutama diindikasikan untuk bentuk klinis dengan gangguan kesadaran yang berat atau

keterlibatan nervus optikus atau medula spinalis dan pada gambaran neuroradiologis

dengan efek massa. Dosis metilprednisolon yang direkomedasikan adalah 30 mg/kgBB

per hari untuk anak-anak kurang dari 30 kg dan 1 gr/kgBB/hari untuk yang diatas 30 kg,

selama 3 sampai 5 hari berturut-turut.1,3,5 Pada pasien dengan gambaran klinis yang

kurang berat dapat digunakan kortikosteroid oral seperti metilprednisolon dosis 2

mg/kgBB per hari atau deflazacort dosis 3 mg/kgBB per hari, selama 10 sampai 15 hari berturut-turut. Pemberhentian kortikosteroid harus dilakukan secara bertahap selama 4

sampai 6 minggu. Penggunaan IgG intravena dilaporkan pada beberapa kasus dan serial

kasus pada anak-anak dengan hasil yang baik, terutama pada kasus-kasus berat yang

tidak respon dengan kortikosteroid. 1,3 Plasmaferesis merupakan pilihan terapi pada

pasien dengan bentuk penyakit yang fulminan yang tidak membaik dengan steroid dan

imunoglobulin.

Terapi suportif merupakan aspek yang penting dalam penatalaksanaan pasien

ADEM. Hal ini terdiri dari ventilasi mekanis pada kasus-kasus dengan disfungsi batang

(11)

antiepilepsi pada kasus-kasus dengan kejang, penggunaan antibiotik untuk mengatasi

infeksi respirasi dan saluran kemih sekunder. 1

II.10. PROGNOSIS

Tingkat mortalitas yang tinggi (10 sampai 30%) dilaporkan pada minggu

pertama penyakit. Penggunaan kortikosteroid awal dan agresif memperbaiki prognosis

pasien ADEM. Pasien yang menunjukkan respon yang buruk terhadap terapi tampaknya

mengalami kerusakan struktural menetap yang terjadi sebelum terapi dimulai.Walaupun

ADEM memiliki prognosis yang baik , namun seerring dijumpai gejala sisa berupa

defisit neurokognitif.1 Sebagian besar anak dengan ADEM menunjukkan gejala

ensefalopati akut yang agresif dengan defisit neurologis multifokal. Sebagian besar

menunjukkan kemajuan yang baik selama beberapa hari, minggu atau bulan tanpa

gangguan neurologis. Sejumlah kecil pasien menunjukkan gejala sisi yang dapat ringan

hingga berat, yang mencakup disabilitas motorik, gangguan visual, gangguan kognitif,

gangguan perilaku, dan epilepsi.4 Suatu melaporkan beberapa faktor yang berhubungan

dengan peningkatan risiko relaps: usia diatas 55 tahun, peningkatan albumin CSS> 100

mg/dL, jenis kelamin wanita, keterlibatan medulla spinalis dan susunan saraf perifer. 2

II.11. RINGKASAN

Acute disseminated encephalomyelitis (ADEM) merupakan salah satu penyakit demielinasi inflamasi idiopatik pada susunan saraf pusat (SSP) yang sering dijumpai

pada anak-anak yang diperantarai oleh sistem imun dan sering muncul setelah infeksi

atau vaksinasi. Manifestasi klinis ADEM sangat beragam yang biasanya berupa

ensefalopati dan defisit neurologis fokal seperti hemiparesis, quadriparesis, ataksia,

keterlibatan saraf kranial, neuritis optik, gerakan involunter, dan parestesi. Walaupun

ADEM sering dihubungkan dengan infeksi atau vaksinasi namun hal ini tidak termasuk

dalam kriteria diagnosis ADEM serta tidak spesifik dan sensitif untuk ADEM.

Diagnosis ADEM ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis demielinasi disertai

gejala ensefalopati dengan onset akut atau subakut dan dibantu dengan temuan MRI,

berupa demielinasi substanisa alba multifokal. Walaupun ADEM biasanya memiliki

perjalanan yang monofasik, namun relaps dapat dijumpai pada sejumlah kasus yang

(12)

luas, mencakup meningoensefalitis dengan berbagai penyebab dan sejumlah penyakit

demielinasi inflamasi seperti MS, Shilder’s disease dan Devic disease. Temuan MRI dapat membantu membedakan ADEM dari MS. Penatalaksanaan ADEM terdiri dari

terapi obat-obatan yaitu dengan kortikosteroid dosis tinggi, immunoglobulin intravena,

plasmaferesis dan terapi suportif. Walaupun ADEM memiliki prognosis yang baik

(13)

DAFTAR PUSTAKA

1. Sarnat HB, Menkes JH. Autoimmune and Postinfectious Disease. Dalam:

Menkes JH, Sarnat HB, Maria BL, penyunting. Child Neurology. Edisi ke-7.

Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2006. h. 578-84

2. Marchioni E, Tavazzi E, Minoli L, et al. Acute Disseminated Encephalomyelitis.

Curr Infect Dis Resp 2008; 10(4):307-14.

3. Spalice A, Parisi P, Papetti L, et al. Clinical and Pharmacological Aspects of

Inflammatory Demyelinating Disease in Childhood: An Update. Current

Neuropharmacology 2010;8:135-48.

4. Kamate M, Chetal V, Tonape V, et al. Central Nervous System Inflammatory

Demyelinating Disorders of Childhood. Ann Indian Acad Neurol 2010; 13 (4):

289-92.

5. Young NP, Weishenker BG, Lucchinetti CF. Acute Disseminated

Encephalomyelitis: Current Understanding and Controversies. Semin Neurol

2008;28(1):84-94.

6. Pandit L. Differential Diagnosis of White Matter Disease in The Tropics: An

Overview. Ann Indian Acad Neurol. 2009; 12(1) : 12-21.

7. Krupp LB, Banwell B, Tenembaum S. Consensus Definitions Proposed for

Pediatric Multiple Sclerosis and Related Disorders. Neurology 2007; 68 (Suppl

2):S2-S12.

8. Leake JA, Albani S, Kao AS, et al. Acute Disseminated Encephalomyelitis in

Childhood : Epidemiologic, Clinical and Laboratory Features. Pediatric

Infectious Disease Journal 2004; 23: 756-64.

9. Alper G, Heyman R, Wang L. Multiple Sclerosis and Acute Disseminated

Encephalomyelitis Diagnosed in Children After Long-term Follow Up:

Comparison of Presenting Features. Dev Med Child Neurol 2009; 51(6): 480-86.

10.Menge T, Kieseier BC, Nessler S, et al. Acute Disseminated Encephalomyelitis:

An Acute Hit Against The Brain. Current Opinion in Neurology 2007; 20 :

247-54.

11.Young NP, Weishenker BG, Parisi JE, et al. Perivenous Demyelination :

(14)

Comparison With Pathologically Confirmed Multiple Sclerosis. Brain 2010: 133

: 333-48.

12.Armstrong D, Hallidat W, Hawkins C, et al. Pediatric Neuropathology A Text

Atlas.New York : Springer, 2007. h. 248-9.

13.Miller DH, Weinshenker BG, Filippi M, et al. Differential Diagnosis of

Suspected Multiple Sclerosis: A Consensus Approach. Multiple Sclerosis 2008;

14 : 1157-74.

14.Masoodi I, Farooq O, Ahmad I, et al. Acute Disseminated Encephalomyelitis as

The First Presentation of CNS Tuberculosis: report of a case with brief review.

German Medical Science 2010; 8: 1-4.

15. Katrak SM, Mahadevan A, Taly AB, et al. A 16-year old male with cortical

blindness and focalmotor seizures. Ann Indian Acad Neurol 2010; 13 (3):

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,