PERANAN HAMKA
DALAM ORGANISASI MUHAMMADIYAH
DI INDONESIA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum.)
Oleh
Anas Yusman
NIM: 102022024352
PROGRAM STUDI SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
PERANAN HAMKA
DALAM ORGANISASI MUHAMMADIYAH
DI INDONESIA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum.)
Oleh
Anas Yusman
NIM: 102022024352
PROGRAM STUDI SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
PERANAN HAMKA
DALAM ORGANISASI MUHAMMADIYAH
DI INDONESIA
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Adab dan Humaniora untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum.)
Oleh
Anas Yusman
NIM: 102022024352
Pembimbing,
Drs. Tarmizy Idris.
PROGRAM STUDI SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi berjudul PERANAN HAMKA DALAM ORGANISASI
MUHAMMADIYAH DI INDONESIA telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 13 Nopember 2008. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Humaniora (S. Hum.) pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam.
Jakarta, 13 Nopember 2008
Sidang Munaqasyah
Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota,
Drs. H.M. Ma'ruf Misbah, MA. Usep Abdul Matin, S.Ag., MA., MA.
NIP: 150247010 NIP: 150288391
Penguji, Pembimbing,
ABSTRAK
Anas Yusman
Peranan Hamka dalam Organisasi Muhammadiyah di Indonesia
Keberadaan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid sampai saat ini mengindikasikan bahwa para pemimpinnya memiliki kemampuan membaca dan memahami situasi dan kondisi dari waktu ke waktu, serta mampu mengelola jalannya roda organisasi tersebut. Keanggotan Hamka dalam Muhammadiyah menjadikannya sebagai inspirasi, guru dan pencetak kader-kader Muhammadiyah.
Taufik Abdullah mengatakan bahwa Hamka dan para tokoh segenerasinya bukanlah termasuk "sang pemula" dalam gerakan pembaharuan Islam di Indonesia dan Hamka dilahirkan ketika masyarakat Minangkabau meniti periode baru dalam sejarah sosialnya. Hamka adalah anak zamannya yang dilahirkan dan dibesarkan tokoh-tokoh yang mengukir sejarah Indonesia ketika gerakan reformasi Islam lahir dan menyebar di Indonesia. Hamka sebagai seorang ulama pemikir, muballigh, dan sastrawan bukan saja aktor di atas pentas sejarah tanah air, ia adalah hasil yang otentik dari lingkungan kesejarahan yang mengitari dirinya.
Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana peranan Hamka bagi perkembangan Muhammadiyah di Indonesia. Melalui studi kepustakaan dan wawancara di ketahui bahwa sejak zaman kolonial Belanda, Jepang, Orde Lama, dan Orde Baru terjadi perubahan dan perkembangan politik, agama, dan sosial budaya dalam masyarakat. Hamka dan Muhammadiyah tampil sebagai agen perubahan dan pembaharuan Islam di Indonesia dalam tatanan masyarakat maupun konstitisonal.
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, rasa syukur yang teramat dalam, kehadirat Robbul Izzati,
Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan kasih sayang-Nya serta
shalawat dan salam tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW, beserta keluarga,
sahabat dan para pengikut risalah-nya. Maka selesailah penyusunan skripsi
dengan judul Peranan Hamka dalam Organisasi Muhammadiyah di
Indonesia, yang sangat dibutuhkan sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar
Sarjana Humaniora (S.Hum.) pada Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam.
Meskipun terdapat halangan dan cobaan yang selalu menghampiri di setiap
gerak langkah penyusunan skripsi ini, namun berkat pertolongan Allah yang maha
pengasih dan penyayang, serta bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak dan ini
penulis jadikan suatu pelajaran yang sangat berarti, yang tak akan terlupakan
dalam sejarah kehidupan pribadi penulis. Dengan segala hormat dan kerendahan
hati, penulis mengucapakan :
ةﺮﺧ ْاو
ﺎ ْﱡﺪﻟا
تادﺎﻌﺳو
تاﺮْﺧ
ﷲا
آاﺰﺟ
.
ْ
ﺁ
Khusunya penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, para Pembantu Dekan, Ketua dan
Sekretaris Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam beserta seluruh Staf
dengan Ikhlas dan ridha membimbing dan mendidik penulis agar berusaha
meningkatkan intelektual Islam pada Jurusan Sejarah Peradaban Islam.
2. Bpk. Drs. Tarmidzy Idris, beliau Dosen Pembimbing Skripsi saya yang
selalu bersedia memberikan bimbingan, pengarahan, dan kontribusi ide
maupun gagasannya selama proses penulisan skripsi berlangsung hingga
selesai karya tulis terbaik saya.
3. Bpk. Drs. H.M. Ma’ruf Misbah, MA, beliau sebagai Kajur SPI dan Dosen
Pembimbing Akademik saya, beliau terus memotivasi agar segera
menyelesaikan skripsi ini.
4. Pimpinan dan seluruh Staf Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah,
Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora, Perpustakaan Iman Jama’,
Perpustakaan DPRD DKI Jakarta, dan Perpustakaan Umum Daerah DKI
Jakarta, yang telah memberikan pelayanan dan segala fasilitas selama
penulisan skripsi ini.
5. Bpk. H. Rusydi Hamka yang dengan rela memberikan keluangan
waktunya untuk memberikan informasi yang berharga dan bermanfaat
bagi penulisan skripsi ini.
6. Pusat Kajian Hamka Universitas UHAMKA Jakarta dan Pusat Dakwah
Muhammadiyah Jakarta yang telah banyak memberikan penulis data-data
yang sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
7. Ayahanda H. Selamet Kana dan Ibunda Hj. Muhiyah yang tercinta, dengan
bersemangat tanpa kenal lelah selama menuntut ilmu pengetahuan di UIN
Syarif Hidayatullah dan proses penulisan skripsi.
8. Kakanda Zayadi Mufty, Ubay Bahrum, Dian Farsiah, Umar Riza dan
adinda Parid Andy, cinta untuk kalian yang telah memberikan bantuan dan
motivasi yang besar untuk menyelesaikan kuliah.
9. Semua teman-teman penulis khususnya temanku: Ghazali, Sidik,
Fakhrizal, Iqbal, Zulmi, Kholis, Testriono, Bahruddin, Baiquni, Aden,
Diana, Santi, Ifah, Yuni, Ria, Olman, dan teman-temanku yang lainnya,
yang penulis tidak sebutkan namanya satu persatu. Namun memberikan
kenangan indah, mesra nan damai menyejukkan hati, ketika bersama-sama
dengan kalian.
10.Yuta, PTM Six, PTM Perwira, PTM Wiraguna, PTM Sahabat, PTM Pos
Fatmawati, PTM Goro, dan PTM IPDN yang telah memberikan semangat
dan motivasi penulis.
Demikianlah kiranya, segala kritik dan masukan demi perbaikan skripsi ini
sangat penulis harapkan, mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat khususnya
bagi diri pribadi penulis dan bagi para pembaca umumnya.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Jakarta, 28 Oktober 2008
DAFTAR ISI
ABSTRAK...
...i
KATA
PENGANTAR……….ii
DAFTAR
ISI………...iv
BAB I.
PENDAHULUAN………....1
A. Latar Belakang
Masalah………... 1
B. Pembatasan dan Perumusan
Masalah………..11
C. Tujuan
Penelitian……….12
D. Metode
Penulisan……….…12
E. Tinjauan
F. Sistematika
Penulisan………..16
BAB II. BIOGRAFI
HAMKA………17
A. Sejarah dan Kepribadian
Hamka……….17
B. Karya-Karya
Hamka………23
C. Kondisi Sosial
Masyarakat………..25
BAB III. KETERLIBATAN HAMKA DALAM ORGANISASI
MUHAMMADIYAH DI
INDONESIA……….32
A. Latar Belakang Berdirinya
Muhammadiyah………...32
B. Tujuan dan Perkembangan Muhammadiyah di
Indonesia…………...40
C. Jabatan Politik Hamka
……….………...43
1. Hamka dalam
Muhammadiyah……….43
2. Hamka dalam Partai
3. Hamka dalam
MUI………49
BAB IV. HAMKA DAN GERAKAN MUHAMMADIYAH
DI
INDONESIA………..56
A. Peranan Hamka dalam Bidang
Politik……….56
B. Peranan Hamka dalam Bidang Agama
………...67
C. Peranan Hamka dalam Bidang Sosial Budaya
………74
BAB V.
KESIMPULAN………...87
DAFTAR
PUSTAKA………...93
LAMPIRAN……….….
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah telah mencatat bahwa Islam merupakan suatu kerangka bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban di dunia. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan peradaban yang telah dibentuk oleh dunia Islam pada abad
pertengahan banyak melahirkan tokoh-tokoh ilmuan dari berbagai ilmu
pengetahuan. Tetapi setelah abad ke-13 ketika Bagdad dihancurkan oleh Hulagu
Khan pada 1258 M, membawa dampak yang negatif bagi dunia Islam. Peradaban
dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan mengalami kemunduran termasuk di
bidang keagamaan.1
Di kalangan umat Islam pada saat itu mereka yang menyadari tentang
keadaan kaum muslimin dan menilai kenyataan pemahaman dari praktek
keagamaan kini yang dianggap telah menyimpang dari ajaran agama Islam yang
benar. Mereka berpendapat jika kaum muslimin kembali kepada prinsip-prinsip
ajaran Islam dan menggerakkan semangat ijtihad2 dalam setiap proses pemikiran
1
Nurcholish Madjid,Khazanah Intelektual Islam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 21
2
dan berpegang teguh pada warisan abad pertengahan yang telah dicapai oleh para
ulama Islam terdahulu di bidang pemikiran keagamaan, maka kaum muslimin
akan memperoleh kembali kejayaan sebagaimana yang pernah dicapainya pada
waktu lampau. Mereka inilah yang dengan gigih memperjuangkan ide-ide Islam
ke dalam usaha pembaharuan bagi umat Islam.3
Pembaharuan dalam Islam atau gerakan modern Islam merupakan jawaban
yang ditujukan terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya.
Kemunduran Kerajaan Usmani yang merupakan pemangku khilafah Islam setelah
abad ketujuh belas, telah melahirkan kebangkitan Islam dikalangan warga Arab di
penggiran imperium itu. Jamaluddin al-Afghani mengajarkan solidaritas Pan
Islam dan pertahanan terhadap Imperialisme Eropa, dengan kembali kepada Islam
dalam suasana yang secara ilmiah di modernisasi.
Pada saat kedatangan bangsa Eropa khususnya Belanda ke Indonesia
banyak orang-orang Islam Indonesia mulai menyadari bahwa mereka tidak akan
mungkin berkompetisi dengan kekuatan-kekuatan yang menantang dari pihak
kolonialisme Belanda dan penetrasi Kristen. Tidak mungkin perjuangan Islam
akan maju di Indonesia apabila mereka terus melanjutkan kegiatan dengan
cara-cara tradisional dalam menegakkan Islam. Mereka mulai menyadarai perlunya
perubahan-perubahan dengan menggali ajaran-ajaran Islam untuk mengatasi Barat
dalam ilmu pengetahuan serta dalam memperluas daerah pengaruh, atau
dengan jelas. Lihat Murtadha Muthahhari, Islam dan Tantangan Zaman (Bandung: Pustaka Hidayah, 2006), h. 169-171
3
menggunakan metode-metode yang telah di bawa ke Indonesia oleh kekuasaan
kolonial seperti pihak missi Kristen.4
Di Pulau Jawa terdapat pertentangan internal masyarakat Jawa, masyarakat
di Indonesia terutama yang hidup di pulau Jawa, sejak dahulu telah memiliki
keyakinan yang bersifat animistik. Kemudian ditambah dengan keyakinan baru
yang datang dari Hindhu-Budha, terbentuk falsafah baru berupa kepercayaan
terhadap kekuatan gaib yang animistik. Islam yang di bawa oleh para pedagang
dari Gujarat, masuk ke Nusantara dengan corak tasawwuf yang telah dipengaruhi
oleh mistik India dari sistem kepercayaan Hindhu-Budha.
Kepercayaan-kepercayaan tradisional tersebut masih melekat pada masyarakat Jawa yang
menyebabkan terjadinya sinkretisme.
Agama-agama di Jawa yang menyimpulkan bahwa adanya konsep
pemikiran keagamaan orang Jawa yaitu “santri, abangan, dan priyayi”5
hubungan kelompok muslim tersebut memiliki konfrontasi yang keras. Dengan
demikian pola hubungan yang dominan adalah kesalahpahaman dan rasa saling
tidak percaya antara masing-masing pihak, kerjasama dan persahabatan adalah
kasus yang sangat jarang.6
4
Deliar Noer,Gerakan Modern Islam Di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1996), h. 38
5
Abangan yang mewakili sikap menitikberatkan segi-segi sinkretisme Jawa yang menyeluruh, dan secara luas berhubungan dengan unsur-unsur petani di antara penduduk; santri yang mewakili sikap menitikberatkan pada segi-segi Islam dan sinkretisme tersebut; pada umumnya berhubungan dengan unsue pedagang (maupun juga dengan unsur-unsur tertentu di antara para petani); dan priyayi yang sikapnya menitikberatkan pada segi-segi Hindhu dan berhubungan dengan unsur-unsur birokrasi. Lihat Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Jakarta: Pustaka Jaya, 1983), h. 6
6
Belanda juga membawa misi kristenisasi bagi Indonesia. Penetrasi Kristen
ini adalah strategi Belanda yang sangat khawatir dengan akan timbulnya
pemberontakan orang-orang Islam, sementara dipihak lain Belanda sangat optimis
bahwa keberhasilan kristenisasi akan segera menyelesaikan semua persoalan
bangsa yang dijajahnya.7 Penetrasi Kristen ini berasal dari penguasa keraton
Yogyakarta yang atas desakan dari pemerintah Belanda untuk mencabut larangan
penginjilan bagi masyarakat Jawa, sejak saat itulah missionaris Kristen mulai
melaksanakan penetrasinya di pulau Jawa. Penetrasi yang mulai berjalan sejak
1850-an ke wilayah Jawa tengah itu membangkitkan kesadaran kaum Muslim
untuk melawan kegiatan –kegiatan misi ini.8
Gerakan yang lahir di Timur Tengah itu telah memberikan pengaruh besar
kepada gerakan kebangkitan Islam di Indonesia. Bermula dari pembaharuan
pemikiran dan pendidikan Islam di Minangkabau yang disusul oleh pembaharuan
pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat Arab di Indonesia, kebangkitan Islam
semakin berkembang membentuk oraganisasi-organisasi sosial keagamaan, seperti
Sarekat dagang Islam (SDI) di Bogor (1909) dan Solo (1911), Persayarikatan
Ulama di Majalengka, Jawa Barat (1911), Muhammadiyah di Yogyakarta (1912),
Persatuan Islam (Persis) di Bandung (1920-an), Nahdlatul Ulama (NU) di
Surabaya (1926), dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) di Candung,
Bukittinggi (1930), dan partai-partai politik, seperti Sarekat Islam (SI) yang
merupakan kelanjutan dari SDI, Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) di Padang
7
Aqib Suminto,Politik Islam Hindia Belanda, 4th ed. (Jakarta: LP3ES, 1996), h. 9
8
Panjang (1932) yang merupakan kelanjutan dan perluasan dari organisaasi
pendidikan Thawalib, dan Partai Islam Indonesia (PII) pada Tahun 1938.
Sementara itu, hampir pada waktu yang bersamaan, pemerintah penjajah
menjalakan politik etis atau politik balas budi. Gagasan politik etis Belanda di
bidang pendidikan tidak bisa dilepaskan dari tujuan mengembangkan agama
Kristen dan melemahkan Islam. Hal ini dibuktikan pada usaha kaum zending dan
misi mendirikan sekolah-sekolah Kristen disamping memaksakan sistem
pendidikan kolonial yang netral agama. 9 Belanda mendirikan sekolah-sekolah
formal bagi kaum bumiputera, terutama dari kalangan priyayi dan kaum
bangsawan. Pendidikan Belanda tersebut membuka mata kaum terpelajar akan
kondisi masyarakat Indonesia. Pengetahuan mereka akan kemiskinan, kebodohan,
dan ketertindasan masyarakat Indonesia, pada saatnya mendorong lahirnya
organisasi-organisasi sosial, seperti Budi Utomo, Jong Java, Taman siswa, Jong
Sumatran Bond, Jong Ambon, Jong Selebes dan lain-lainnya.10
Bangsa Belanda di Indonesia telah membawa pengaruh buruk bagi
perkembagan Islam di Indonesia. Ia mendirikan sekolah model barat yang sekuler
atau tidak memperhatikan dasar-dasar moral keagamaan. Belanda mengetahui
bahwa di Indonesia terdapat pertentangan antara kelompok adat dan Islam, oleh
karena itu Belanda ikut campur dalam masalah ini untuk memperkeruh hubungan
antar kelompok ini. Belanda mendukung kelompok adat karena Belanda
menginginkan untuk menghilangkan atau membatasi pengaruh Islam dan juga
9
Rusydi Hamka, Etos Iman, Ilmu dan Amal dalam Gerakan Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986), h. 111-112
10
Belanda ingin mendominasi bagi perkembangan hukum adat agar dapat di
gantikkan dengan hukum Belanda.11
Pembaharuan Islam di Indonesia untuk melawan laju penjajahan,
sinkretisme dan juga penetrasi agama Kristen. Terdapat perbedaan pergerakan
pembaharuan antara di Jawa dengan di Minangkabau Sumatera Barat. Kedua
daerah ini memiliki corak yang sangat berlainan, gerakan-gerakan regional di
daerah-daerah masing-masing yang dilatarbelakangi oleh kebudayaan yang
berbeda yang akhirnya membentuk suatu bentuk pembaharuan Islam di Indonesia.
Gerakan pembaharuan Islam di Jawa yang muncul dengan lahirnya
Muhammadiyah di bawah pimpinan KH. Ahmad Dahlan dengan cara-cara
organisasi yang kita kenal sekarang, sedangkan di Minangkabau gerakan
pembaharuan itu terbentuk dengan adanya percobaan dan usaha-usaha yang
terkordinir melalui pendidikan dan tulisan.
Muhammadiyah di Jawa tumbuh bersama perkumpulan-perkumpulan lain
seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Gerakan pembaharuan di Minangkabau
tumbuh melalui yayasan pendidikan di daerah surau yang selanjutnya
dikembangkan pada permulaan abad 20 oleh tokoh tokoh agama seperti Haji
Rasul atau Haji Abdul Karim Amrullah, H. Abdullah Ahmad, H. Said Umar, H.
Djamil Djambek.
Perbedaan antara gerakan pembaharuan di Jawa hanya disebabkan adanya
perbedaan struktur sosial dan kebudayaan yang telah lama berkembang di
masing-masing tempat berbeda. Di Minangkabau munculnya gerakan pembaharuan ini
11
lebih banyak didasarkan pada lokasi-lokasi dimana terdapat beberapa surau di
beberapa tempat, dimana tenaga pengajarnya adalah para pemuda yang telah
melaksanakan ibadah haji dan menetap beberapa saat di sana untuk mempelajari
agama, dan setelah mereka pulang ke kampung halamannya mereka mengajar
agama di tempat mereka berasal.12 Sebagaimana visi rantau Minangkabau untuk
menuntut ilmu di luar dan kembali untuk mengembangkan daerahnya.
Munculnya organisasi itu seiring dengan tantangan zaman yang mengimpit
umat Islam dengan adanya pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kolonial
Hindia-Belanda.13 Gerakan Islam yang telah timbul sejak masa kolonial telah
tumbuh di Indonesia. Ormas-ormas Islam maupun nasional terus berupaya untuk
mencerdaskan bangsa dan organisasi ini mendirikan sekolah yang dapat dijadikan
alat untuk mencerdaskan rakyat Indonesia untuk mengimbangi sekolah yang
dibangun oleh kolonial Belanda.14
Begitu banyak tokoh-tokoh perjuangan bangsa Indonesia dimulai dari
Minangkabau seperti Syekh Ahmad Khatib, Syekh Taher Jamaluddin, Syekh
Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), ia yang
mempunyai hubungan erat dengan para pemimpin-pemimpin Sarekat Islam (SI)
dan Muhammadiyah, dan ia pula yang mengenalkan Muhammadiyah di
Minangkabau pada tahun 1925,15 dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya.
12
Paricia. C. Brown,“Antara Kauman dan Surau,” Panji Masyarakat, no. 353 (Oktober 1982): h. 47
13
M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural: Pemetaan Atas Wacana Keislaman Kontemporer (Bandung: Mizan, 2000), h. 95
14
A. Syafi’I Ma’arif, Independensi Muhammadiysah di Tengah Pergumulan Pemikiran Islam dan Politik (Jakarta: Pustaka Cidesindo, 2000), h. 3
15
Muhammadiyah lahir sebagai organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad
Dahlan ini merupakan organisasi yang memberikan pemikiran-pemikiran yang
segar dan menekankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Muhammadiyah
bersinggungan dengan bidang sosial, politik, budaya dan juga
bidang-bidang kehidupan lain, oleh karena itu di dalam setiap pergerakan
Muhammadiyah tidak lepas dari watak keislamannya.16Muhammadiyah berusaha
untuk melakukan pembaharuan dengan pola pemikiran yang berorientasi kedepan,
tetapi tidak beranjak dari keimanan.
Sejak awal, gerakan Muhammadiyah telah berkecimpung dalam bidang
sosial, terutama pendidikan. Sekolah yang pertama didirikan oleh KH. A. Dahlan
pada tahun 1911 di Yogyakarta diselenggarakan dengan sangat sederhana.
Sekolah ini yang akhirnya menjadi embrio munculnya organisasi formal pada
tahun 1912 di bawah pimpinan KH. Ahmad Dahlan sendiri. Oleh karena itu sejak
Muhammadiyah didirikan selalu membangaun sekolah-sekolah,
madrasah-madrasah dan mengadakan tabligh-tabligh, dan juga mendirikan majalah-majalah
yang berdasarkan Islam.
Setelah resmi menjadi organisasi, Muhammadiyah terus berangsur-angsur
mengembangkan sayapnya melalui berbagai aktivitas sosial. Mulai dari
pendidikan, pelayanan masyarakat, kesehatan dan lain-lain sehingga pada
akhirnya aktivitas dalam bidang sosial ini dapat menjadikan Muhammadiyah
sebagai gerakan sosial keagamaan yang memperoleh sukses besar.
16
Berdirinya Muhammadiyah merupakan suatu kemunculan gerakan iman,
ilmu, dan amal. Sebagai gerakan iman, Muhammadiyah dapat dilihat
kepeloporannya dalam usaha mengembalikan paham agama kepada ajaran tauhid
murni tanpa dicampuri oleh unsur-unsur syirik, takhayul, dan khurafat. Dan
banyak yang menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan purifikasi. Sebagai
gerakan ilmu dapat dilihat pada komitmen Muhammadiyah terhadap persoalan
pendidikan, disamping keberaniannya mendobrak tradisi lama untuk membuka
kembali pintu ijtihad. Sebagai gerakan amal, Muhammadiyah berhasil mengubah
pola amal individu menjadi amalan kelompok dalam kehidupan masyarakat,
terutama dapat dilihat dalam usahanya menyantuni kaum dhu’afa, pelayanan
kesehatan masyarakat dan lain-lain17. Muhammadiyah berupaya
mengaktualisasikan cita-citanya dengan sistem berorganisasi yang bersifat
responsif dan adaptif terhadap perubahan zaman.18
Salah seorang yang penting bagi Muhammadiyah adalah Haji Abdul Malik
Karim Amrullah (HAMKA). Hamka merupakan seorang pembaharu dalam Islam
di Indonesia. Sejak ayahnya (Haji Rasul) memelopori “Islam kaum muda
Minangkabau,” Hamka sudah terbiasa dengan pembicaraan mengenai dunia
keilmuan sejak kecil. Hamka sejak usia dini sudah banyak belajar dari
tokoh-tokoh besar nasional seperti Ki Bagushadikusumo, Haji Oemar Said
Tjokroaminoto, RM. Supyopranoto, dan KH. Fakhruddin.
Hamka sudah mampu untuk mendirikan sebuah Tabligh Muhammadiyah
tahun 1925, dalam perjalanan karirnya ia telah memangku beberapa jabatan mulai
17
Sutarmo, Muhammadiyah Gerakan Sosial-Keagamaan Modernis (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2005), h. 122-123
18
dari tahun 1928 sebagai anggota kongres Muhammadiyah di Solo, kemudian
sebagai Ketua Taman Pustaka, Ketua Majlis Tabligh dan sampai akhirnya ia
memangku jabatan sebagai Ketua Muhammadiyah cabang Padang Panjang. Tahun
1934 ia diangkat menjadi Majlis Konsul Muhammadiyah di Sumatera Tengah.19
Hamka banyak disebut sebagai sejarahwan dengan banyaknya karya-karya
Hamka yang ditulis mengenai dirinya sendiri seperti karyanya tentang
Kenang-Kenangan Hidup, kemudian mengenai orang tuanya seperti Ayahku. Dalam
bidang agama ia pun juga menulis tentang Tasawwuf: Perkembangan dan
Pemurniannya, kemudian Tasawwuf Modern. kemudian tentang sejarah,
sebagaimana hasil karya Hamka seperti Sejarah Umat Islam. Hamka sebagai
seorang sastrawan dengan mengeluarkan beberapa karyanya tentang roman seperti
Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (1939),
Merantau ke Deli (1940), Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil,
dan Di Tepi Sungai Dajlah.
Hamka dalam sejarah kehidupannya berperan sebagai patriot pada masa
pra dan masa awal berdirinya republik ini, berdiri pada barisan depan
pembendung arus pengaruh kaum komunis zaman Orde Lama dan tampil sebagai
figur ulama-demokrat pada masa Orde Baru.20 Hamka pada masa Soekarno
pernah di penjara sekitar selama dua tahun empat bulan (1964-1966) karena
berbeda pandangan politik dengan Presiden Soekarno, terutama mengenai
Pancasila sebagai dasar/falsafah negara. Hamka dituduh melakukan tindakan
subversif terhadap pemerintah.
19
Sucipto dan Ramly,Tajdid Muhammadiyah, h. 140-142
20
Hamka pada zaman pergerakan merupakan salah satu singa podium karena
ia fasih berbicara dan lancar menulis dengan mengutamakan rajin menimba ilmu.
Dengan kepiawannya itu ia pernah memimpin sebuah redaksi dwi mingguan
“Panji Masyarakat” di Medan.21 Hamka pernah menjadi tenaga pengajar di
beberapa Universitas diantaranya Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTAIN) di
Yogyakarta, Universitas Islam Jakarta, Fakultas Hukum dan Falsafah
Muhammadiyah di Padang Panjang, Universitas Muslim Indonesia (UMI) di
Makassar, dan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di Medan.
Pada tahun 1955 Hamka pernah memberikan ceramah agama di
California, Amerika Serikat sebagai anggota delegasi perwakilan Indonesia.
Hamka juga mendapat kehormatan dalam bidang intelektual yaitu mendapat gelar
Doktor Honoris Causa (HC) dari Universitas Kairo, kemudian pada tahun 1974 ia
mendapat lagi gelar dari Universitas Kebangsaan Malaysia.22Hamka pernah
menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari tahun 1975-1981).23
Berbagai karya yang dimiliki Hamka mulai dari karya sastra, politik dan
juga agama, kemudian terjadinya pembaharuan dalam bidang politik, sosial
keagamaan di Indonesia, khususnya Muhammadiyah sebagai salah satu
organisasi pembaharuan di Indonesia membuat saya ingin mengambil tema
peranan Hamka dalam organisasi Muhammadiyah di Indonesia.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
a. Pembatasan Masalah
21
Deliar Noer,Membincangkan Tokoh-Tokoh Bangsa (Bandung: Mizan, 2001), h. 72
22
Sucipto dan Ramly,Tajdid Muhammadiyah, h. 146-147
23
Pada penulisan ini, masalah yang diangkat adalah mengenai peranan
Hamka dalam organisasi Muhammadiyah di Indonesia. Oleh karena itu penulis
mengidentifikasi mengenai pembaharuan Islam di Indonesia. Muncul dan
berkembangnya organisasi-organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan di
Indonesia, khususnya Muhammadiyah. Perkembangan politik, agama dan
pendidikan masa pendudukan Belanda, Jepang, Orde Lama, dan Orde Baru.
Dalam penelitian ini penulis hanya membatasi hanya pada peran Hamka di dalam
organisasi Muhammadiyah di Indonesia (1925-1981).
b. Perumusan Masalah
Adapun masalah yang ingin diketahui dalam penelitian ini adalah
bagaimanakah peran Hamka dalam Muhammadiyah, atau lebih spesifik lagi
adalah:
1. Bagaimanakah pandangan Hamka mengenai perkembangan agama,
sosial, dan politik di Indonesia, khususnya Muhammadiyah?
2. Bagaimanakah perjuangan Hamka dalam mengembangkan
Muhammadiyah di Indonesia?
3. Bagaimana citra Muhammadiyah di Indonesia pada masa Hamka
menjadi anggota Muhammadiyah?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai lewat penelitian adalah:
1. Untuk mengetahui latar belakang keluarga, pendidikan dan
2. Menambah wawasan mengenai perkembangan agama, sosial dan
politik di Indonesia
3. Agar mengetahui peran Hamka bagi perkembangan
Muhammadiyah di Indonesia
D. Metode Penelitian
Penulisan ini menggunakan pendekatan historis dengan metode
Deskriptif-Analitis. Pendekatan ini di gunakan untuk mendapatkan penjelasan secara
deskriptif dan analitis tentang peranan Hamka bagi perkembangan
Muhammadiyah di Indonesia, disamping menjelaskan profil Hamka termasuk
juga latar belakang berdirinya Muhammadiyah dan pengaruhnya bagi
perkembangan Muhammadiyah di Indonesia dan perkembangan politik,
agama,dan sosial budaya di Indonesia sejak penjajahan Belanda, Jepang, Orde
Lama dan Orde Baru. Maka dari itu tahap-tahap penelitian yang dilakukan dengan
metode kepustakaan (library research), dan studi kelapangan (field research).
Untuk menganalisa data yang tersedia yaitu dengan menggunakakan pendekatan
historis. Pendekatan ini digunakan agar mendapatkan penjelasan dan pemahaman
mengenai peranan Hamka dalam organisasi Muhammadiyah di Indonesia. Adapun
pedoman yang digunakan dalam teknik penulisan. Penulis menggunakan buku
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: (Skripsi, Tesis dan Disertasi), CeQDA. 2007
1. Studi Kepustakaan (Library Research)
Peneliti melakukan penelusuran atas data-data yang berbentuk tulisan.
buku-buku dan tulisan-tulisan sebagai sumber rujukan yang berkaitan kiprah
Hamka bagi perkembangan Muhammadiyah di Indonesia
2. Studi Lapangan (Field Research)
Pendekatan yang digunakan peneliti yaitu melalui observasi terlibat
dengan melakukan wawancara mendalam (depth interview) dengan tokoh-tokoh
yang bersinggungan langsung atau dengan tokoh yang dianggap penting bagi
penelitian ini.
E. Tinjauan Pustaka
Sepanjang penelitian penulis dengan menelusuri beberapa literatur tentang
Hamka ada beberapa penulisan yang berkaitan langsung dengan Hamka. Dari
penelitian penulis, ada dua disertasi yang mengkaji tentang Hamka antara lain: Dr.
Sudja’I yang memfokuskan diri pada kajian tafsir. Tetapi ia mengangkat salah
satu tema yaitu khilafah yang di tulis oleh Hamka dalam tafsirnya, kemudian
membandingkan kata yang sama (khilafah) dalam tafsir yang ditulis Sayyid
Quthb. Disertasi yang kedua adalah karya DR. Tamrin Kamal yang mengkaji
tentang peran Hamka dalam purifikasi ajaran Islam pada masyarakat
Minangkabau.
Selain disertasi diatas ada beberapa penelitian diantaranya skripsi Abdul
Azis tentang Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada masa kepemimpinan Prof. Dr.
Hamka (1975-1981). Ia menerangkan tentang perubahan yang terjadi di dalam
bidang agama, politik, sosial dan budaya. MUI menjadi kontrol bagi pemerintahan
Terdapat buku-buku maupun artikel yang berhubungan dengan Hamka
antara lain, buku yang ditulis oleh Yunan Yusuf yang mengkaji tentang corak
pemikiran kalam Hamka dalam tafsir Al-Azhar. Kajian ini menulis tentang
riwayat hidup Hamka dan proses panjang penulisan karya fenomenal dan
monumental Tafsir Al-Azhar karya Hamka, penulis menjelaskan dengan sangat
komprehensif dan cermat, mengingat penulis menguraikan dengan cermat dan
gamblang akan pemikiran kalam Hamka dalam tafsirnya dengan
mengelompokkan ayat-ayat tersebut dengan aliran ilmu kalam.24
Junus Hamzah yang berjudul Hamka Sebagai Pengarang Roman. Kajian
Junus ini menggunakan pendekatan studi sastra yang menampilkan Hamka
sebagai sosok sastrawan dengan latar belakang sebagai muslim. Memeang banyak
karya-karya satra yang telah dihasilkan oleh Hamka, Ia juga menjelaskan
pembicaraan masalah takdir disini dalam konteks perwatakan dari tokoh-tokoh
utama roman-roman Hamka dengan latar belakang ajaran takdir.25
Fachry Ali, menulis sebuah artikel, “Hamka dan Masyarakat Islam
Indonesia; Catatan Pendahuluan Riwayat dan Perjuangannya.” Fachry
menyimpulkan bahwa Hamka seorang pembaharu Islam di Indonesia, dengan
berbagai disiplin ilmu yang dimilikinya, Hamka memiliki kredibilitas yang tinggi.
Pemahamannya yang luas mengenai agama dan juga pemikran-pemikiran
membuat Hamka menjadi seorang yang berpandangan luas. Hamka adalah
seorang ulama yang berada dalam posisi terdepan dalam masyarakat Islam
24
Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir Al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas. 1990), h. 26
25
modern Indonesia yang sedang mengalami proses modernisasi. Ia berani
mendobrak tradisi yang menyimpang dari ajaran agama Islam.26
Taufik Abdullah menulis tentang Buya Hamka: Aktor di atas pentas
sejarah pemikiran Islam di Indonesia, ia mengatakan bahwa Hamka dan para
tokoh segenerasinya bukanlah termasuk "sang pemula" dalam gerakan
pembaharuan Islam di Indonesia dan Hamka dilahirkan ketika masyarakat
Minangkabau meniti periode baru dalam sejarah sosialnya. Hamka adalah anak
zamannya yang dilahirkan dan dibesarkan tokoh-tokoh yang mengukir sejarah
Indonesia ketika gerakan reformasi Islam lahir dan menyebar. Hamka sebagai
seorang ulama pemikir, muballigh, dan sastrawan bukan saja aktor di atas pentas
sejarah tanah air, ia adalah hasil yang otentik dari lingkungan kesejarahan yang
mengitari dirinya.27
Yang tidak kalah menariknya, bahwa orang di luar Indonesiapun mengkaji
Hamka yakni James Rush. Studinya tentang Hamka, ia berkesimpulan bahwa
Hamka dalam arti penting sebagai salah satu pelaku sejarah modern Indonesia
yang turut berperan membuat formulasi ide-ide dikalangan bangsa
Indonesia.28Paper ini hanya menjelaskan peranan Hamka dalam bidang politik
sebagai seorang sufi, yakni orang yang mengutamakan moral diatas segalanya.
Dengan menjelaskan beberapa literatur yang menulis tentang Hamka,
maka penulis yakin bahwa judul yang penulis angkat belum ada yang
26
Fachry Ali, “Hamka dan Masyarakat Islam Indonesia; Catatan Pendahuluan Riwayat dan Perjuamgannya.” Prisma 4, (Februari 1983): h. 49
27
Taufik Abdullah, "Buya Hamka: Aktor di Atas Pentas Sejarah Pemikiran Islam di Indonesia," dalam Afif Hamka, dkk., Buya Hamka (Jakarta: Uhamka Press, 2008), h. 15-16
28
membahasnya, yaitu peranan Hamka dalam organisasi Muhammadiyah di
Indonesia.
F. Sistematika Penulisan
Untuk mewujudkan suatu pembahasan yang sistematis, maka penulis
menyusun skripsi ini kedalam beberapa bab. Adapun sistematika penulisan
sebagai berikut:
Bab I: Pendahuluan. Bab ini merupakan gambaran umum sekitar
penelitian yang meliputi latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan
masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan.
Bab II. Membahas sejarah dan kepribadian Hamka, sejak ia lahir dan
beranjak masa kanak-kanak, masa pencarian ilmu atau pendidikan, karya-karya
yang di ciptakan Hamka, dan juga kondisi masyarakat saat itu.
Bab III: Membahas Keterlibatan Hamka di dalam Muhammadiyah. Mulai
dari sejarah lahirnya Muhammadiyah, tujuan dan perkembangan Muhammadiyah
di Indonesia sejak pertama kali berdirinya sekaligus tokoh-tokoh yang telah
berjasa dalam mendirikan dan mengembangkan Muhammadiyah di Indonesia.
Jabatan-jabatan yang di miliki Hamka dan perannya di dalam Muhammadiyah,
partai Masyumi, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Bab IV. Membahas Hamka dan gerakan Muhammadiyah di Indonesia,
yaitu peran Hamka dalam organisasi Muhammadiyah ini dari beberapa aspek
yang melingkupi politik, agama dan juga sosial budaya
BAB II
BIOGRAFI HAMKA
A. Sejarah dan Kepribadian Hamka
Luar biasa adalah ungkapan yang tepat bagi seorang Hamka, ia tidak
pernah menyelesaikan pendidikan dasarnya, dan ia tidak pernah mengenyam
pendidikan tinggi, sehingga ia tidak memiliki ijazah pendidikan apapun, namun
berhasil menjadi seorang ulama besar, juru dakwah yang kenamaan, yang
memiliki berbagai disiplin ilmu, pintar dalam menulis dan bagus dalam
berceramah, dan di depan namanya terdapat predikat keilmuan Prof Dr. “Si
Bujang Jauh” itulah julukan Hamka karena begitu sering dan lamanya ia pergi ke
berbagai negeri dan daerah.29 HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)
dilahirkan di Kampung Molek di sisi danau Maninjau, Sumatera Barat 16 Februari
1908.30 Ibunya bernama Siti Safiyah31 dan Ayahnya ialah Syekh Abdul Karim
Amrullah yang dikenal dengan sebutan Haji Rasul seorang pelopor Tajdid di
Minangkabau.
Hamka seorang ulama yang multidimensi, hal itu tercermin dari
gelar-gelar kehormatan yang disandangnya. Dia bergelar-gelar "Datuk Indomo” yang dalam
tradisi Minangkabau berarti pejabat pemelihara adat istiadat. Dalam pepatah
Minang, ketentuan adat yang harus tetap bertahan dikatakan dengan “sebaris tidak
29
Hery Sucipto dan Najmuddin Ramly, Tajdid Muhammadiyah dari Ahmad Dahlan hingga A. Syafi’I Ma’arif (Jakarta: Grafindo, 2005), h. 145
30
Ibid, h. 141
31
boleh hilang, setitik tidak boleh lupa.” Gelar ini merupakan gelar pusaka turun
temurun pada adat Minangkabau yang didapatnya dari kakek garis keturunan
ibunya Engku Datuk Rajo Endah Nan Tuo, Penghulu suku Tanjung. Sebagai
ulama Minang, Hamka digelari “Tuanku Syaikh,” berarti ulama besar yang
memiliki kewenangan keanggotaan di dalam rapat adat dengan jabatan Imam
Khatib menurut adat Budi Caniago. Sebagai pejuang, Hamka memperoleh gelar
kehormatan “Pangeran Wiroguno” dari Pemerintah RI.
Sebagai intelektual Islam, Hamka memperoleh penghargaan gelar
“Ustadziyyah Fakhriyyah” (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Al-Azhar,
Mesir, pada Maret 1959. Pada 1974 gelar serupa diperolehnya dari Universitas
Kebangsaan Malaysia. Pada upacara wisuda di gedung parlemen Malaysia, Tun
Abdul Razak, Rektor Universitas Kebangsaan yang waktu itu menjabat sebagai
Perdana Mentri menyebut ulama kharismatik itu dengan “Promovendus
Professor Doctor Hamka.” Pada tahun 1955 ia dipilih untuk duduk menjadi
anggota Konstituante mewakili partai Masyumi Jawa Tengah hingga Masyumi
dan Konstituante dibubarkan oleh Soekarno dan kemudian ia juga menjadi Ketua
Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 1975.
Terdapat beberapa faktor yang mendukung Hamka menjadi seseorang
ulama, pujangga, sastrawan, sejarahwan, pejuang kemerdekaan dan sekaligus
sebagai aktivis organisasi diantaranya,
Pertama, Faktor genealogis atau keturunan. Hamka merupakan keturunan
dari seorang pejuang dan ulama Islam, Nenek moyang Hamka adalah Tuanku
Bonjol di masa perang melawan penjajah Belanda yang dikenal dengan “Perang
Paderi” (1821-1837).32 Kakeknya adalah Syekh Amrullah biasa disebut Tuanku
Kisa-I dan ayahanda Haji Abdul Karim Amrullah yang biasa disebut sebagai Haji
Rasul.
Syekh Amrullah adalah golongan "Kaum Tua" yang merupakan pengikut
aliran Naqsabandiyah, Haji Rasul merupakan golongan "Kaum Muda"
Minangkabau yang merupakan pembaharu Islam di Minangkabau.33 Hamka
memiliki keunggulan kakeknya dan ayahnya. Hamka menjadi ulama penggerak
modernisasi Islam di Indonesia dan ia yang juga memformulasikan tasawwuf ke
arah yang positif.
Kedua, membaca, menghafal, menulis dan berbicara. Dalam Usia 6 tahun
(1914) ia dibawa ayahnya ke Padang Panjang. Ketika Hamka berumur tujuh tahun
dimasukkan ke sekolah desa dan malamnya belajar mengaji Qur’an dengan
ayahnya. Sejak 1916-1923 dia telah belajar agama pada sekolah-sekolah “Diniyah
School” dan “Sumatra Thawalib” di Padang Panjang dan Parabek. Guru-gurunya
saat itu adalah Syeh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid dan
Zainuddin Labay.
Pada 1924 ia pergi ke tanah Jawa untuk mempelajari tentang pergerakan,
Ki Bagus Hadikusumo mengajarkan tafsir, HOS Cokroaminoto yang mengajarkan
"Islam dan Sosialisme," RM Suryopranoto untuk belajar Sosiologi, ia belajar
32
Shobahussurur, dkk., Mengenang 100 Tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) (Jakarta: YPI Al-Azhar, 2008), h. 4
33
"Agama Islam" dengan KH. Fakhruddin.”34 Ia memperdalam pengetahuannya
dengan buku-buku mengenai sejarah, kebudayaan, filsafat, sastra, serta sejumlah
karya pengarang-pengarang barat yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Arab, seperti Alber Camus, Jean Paul Sarte, Wiliam James, Freud, Toynbee
sampai Karl Marx. Pengetahuannya yang luas membuat ia produktif dalam
menulis, banyak sekali karya-karya yang telah dilahirkan oleh Hamka, tercatat
sekitar 113 buak karya tulis yang telah dibuat, termasuk beberapa majalah.
Kebiasaan mengahafal membuat Hamka memiliki daya ingat yang sangat
kuat. Seakan-akan tiap pengalaman yang dialami merupakan sesuatu yang sangat
intens, betapapun sebenar-benarnya “biasanya” pengalaman itu. Tingkat intensitas
ini seakan tidak memudar walaupun ia menerimanya dari tangan kedua.
Tulisan-tulisan Hamka tidak pernah gersang, karena ia terluluh didalam masalah yang
ditulisnya. Engage, orang Minangkabau menyebutnya.35walaupun begitu tidak
semua bisa diungkapkan oleh Hamka bukan hanya soal ingatan, tetapi yang lebih
penting apa yang dilihat, didengar, dan dialaminya yang merupakan sebagian
realitas dari peristiwa yang diceritakan. Selain itu Hamka juga seorang pembicara
yang handal setelah ia belajar tentang pergerakan di Jawa, hingga ia mendapat
julukan singa podium karena kepiawaiannya dalam berorasi.36
Ketiga, merantau. Pergi merantau menurut visi falsafah Minangkabau itu,
membuka mata warganya untuk mengenal dunia luar yang luas dimana mereka
34
Rusydi Hamka, "Hamka: Kepribadian, Sejarah, dan Perjuangannya," dalam Afif Hamka, dkk., Buya Hamka (Jakarta: Uhamka Press, 2008), h. 71
35
Taufik Abdullah, "Masa Awal Muhammadiyah di Minangkabau: Cuplikan dari Arsip Belanda," dalam Kenang-Kenangan 70 Tahun Hamka (Jakarta: Nurul Islam, 1978), h. 131
36
akan menemui hal-hal baru yang nanti akan dibawanya pulang.37 Kebanyakan
orang Minangkabau keluar daerahnya memiliki dua hala yang pertama
berdagang, yang kedua menuntut ilmu. Selain berkeliling ke pulau-pulau di
Indonesia, terdapat Perjalanan Buya Hamka ke luar negeri dalam kegiatan
Internasional diantaranya: Tahun 1950 berkunjung ke negara-negara Arab, Saudi
Arabia, Mesir, Syria, Irak, dan Libanon, menemui sejumlah pengarang dan
ulama-ulama di negara tersebut. Tahun 1952 berkunjung ke Amerika memenuhi
undangan State Departement (Kementrian Luar Negeri), berkeliling di negara
tersebut selama 4 bulan.
Tahun 1953-1954 menjadi Missi Kebudayaan RI ke negara Muangthai
dipimpin Ki Mangunsarkoro. Tahun 1954 ke Burma mewakili Departemen
Agama RI dalam perayaan 2000 tahun wafatnya Budha Gauthama. Tahun 1958
menghadiri Konferensi Islam di Lahore, dari sana melanjutkan perjalanan ke
Mekkah untuk Umrah dan ke Kairo untuk menerima gelar Doktor Honoris Causa
Univesitas Al-Azhar. Tahun 1967 ke Malaysia sebagai tamu Negara (Perdana
Menteri Tengku Abdul Rahman). Tahun 1968 sebagai Anggota Delegasi
Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara Islam di Rabbat, Ketua Delegasi
adalah KH. M. Ilyas.
Tahun 1968 ke Aljazair menghadiri Peringatan Masjid Annabah,
kemudian melanjutkan perjalanan ke Spanyol, Roma, Turki, London, Saudi
Arabia, India, dan Tahiland. Tahun 1971 menghadiri Seminar Islam di Aljazair,
dengan membawa paper tentang Muhammadiyah di Indonesia. Tahun 1975
37
mengahdiri Muktamar Masjid di Mekkah sebagai Ketua Delegasi Masjid di
Indonesia. Tahun 1976 menghadiri Konferensi Islam di Kucing Ibukota Serawak,
Malaysia Timur. Tahun 1976, seminar 2000 tahun Malaysia di Kuala Lumpur, di
prakarsai oleh Yayasan Sabah. Tahun 1976 menghadiri Seminar Islam dan
Kebudayaan Malaysia di Universitas Kebangsaan Kuala Lumpur dengan paper
Pengasuh Islam pada Kesusastraan Melayu. Tahun 1977 menghadiri upacara
pengislaman Gubernur Serawak Malaysia Timur. Tahun 1977 menghadiri
Peringatan 100 tahun Muhammad Iqbal di Lahore Pakistan. Tahun 1977
menghadiri Muktamar Ulama (Al-Buhust Islamiyah), sebagai Ketua Delegasi
Indonesia di Kairo.38
Keempat, Masjid Al-Azhar dan Tafsir Al-Azhar, kedua peninggalan
Hamka merupakan pusaka peninggalannya yang sangat berharga. Pada 1959
Universitas Al-Azhar memberikan gelar Ustadziyyah fakhriyyah (Doktor Honoris
Causa) kepada Hamka.39 Pada Desember 1960, Syaikh Mahmoud Syaltout
disertai Dr. Muhammad Al-Bahay berkunjung ke Indonesia sebagai tamu negara.
Salah satu agendanya adalah menziarahi Masjid Agung Kebayoran Baru. Melihat
sendiri perjuangan Hamka di Masjid Agung Kebayoran Baru, Mahmoud Syaltout
memberikan nama bagi Masjid Kebayoran Baru itu dengan nama Masjid
Al-Azhar. 40 Sejak saat itu semua orang sepakat melekatkan nama Masjid Agung
Al-Azhar sebagai pengganti nama Masjid Agung Kebayoran baru.
38
Panitia Peringatan Buku 70 Tahun Prof. Dr. Hamka. Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka (Jakarta: Nurul Islam, 1978), h. 285
39
Sucipto dan Ramly,Tajdid Muhammadiyah, h. 146
40
Setiap kuliah subuh Hamka selalu memberikan pelajaran tafsir di Masjid
Agung Al-Azhar. Pada tahun 1962. Perpustakaan Islam Al-Azhar yang didirikan
setahun sebelumnya menerbitkan sebuah majalah bernama Gema Islam ketika
Hamka menjadi pemimpin redaksinya. Rangkaian pelajaran tafsir kuliah subuh
yang dimuat dalam “Gema Islam” itu oleh Hamka diberikan nama “Tafsir
Al-Azhar,” merujuk kepada tempat dimana tafsir itu diberikan sekaligus penghargaan
pribadi Hamka kepada Al-Azhar (Mesir).
Surat pertama yang dikaji adalah surat Al-Kahfi, juz XV. Tafsir-tafsir yang
diuraikannya yang dimulai sejak 1958, kemudian dimuat di majalah Gema Islam
pada 1962 hingga Januari 1964. Mulai saat itu Hamka memiliki hasrat untuk
menyusun tafsirnya dalam kitab-kitab yang kemudian diberi nama Tafsir
Al-Azhar.41
B. Karya-Karya Hamka
Terdapat sekitar 113 buah karya yang telah dibuat oleh Hamka, beberapa
karya Hamka mengenai Filsafat diantaranya: Falsafah Ideologi Islam (1950),
Falsafah Hidup (1970), Perkembangan Kebatinan di Indonesia, Renungan
Tasawwuf (1985), Tasawwuf, Perkembangan dan Pemurniannya (1980),
Tasawwuf Modern (1981), Perkembangan Tasawwuf dari Abad ke Abad (1952),
Tafsir Al-Azhar 30 juz
Karya Hamka mengenai Agama diantaranya: Akhlaqul Karimah (1992),
Agama dan Perempuan (1939), Do’a-Do’a Rasulullah SAW (1974), Khatibul
41
Ummah, jilid I ditulis dalam bahasa Arab, Khatibul Ummah, jilid II, Khatibul
Ummah, jilid III, Hikmat Isra’ dan Mi’raj, Bohong di Dunia (1975), Karena
Fitnah, Lembaga Hidup (1962), Lembaga Budi (1980), Lembaga Hikmat (1953),
Pedoman Muballigh Islam (1937), Pandangan Hidup Muslim, Pengaruh
Muhammad Abduh di Indonesia (1958), Pelajaran Agama Islam (1956), Studi
Islam (1985), Tanya Jawab I dan II (1975, Tjahaya Baru (1950), Pembela Islam:
Tarikh Sayyidina Abu Bakar Shiddiq (1929), Kepentingan Melakukan Tabligh
(1929), Keadilan Ilahi (1939)
Karya Hamka mengenai Kesusastraan diantaranya: Dari Hati ke Hati
(2002), Dari Lembah Tjita-Tjita (1967), Mengembara li Lembah Nil (1950), Di
Dalam Lembah Kehidupan (1976), Di Bawah Lindungan Ka’bah (1979), Di Tepi
Sungai Dajlah (1950), Di Jemput Mamaknya (1939), Di Lamun Ombak
Masyarakat, Empat Bulan di Amerika, Jilid I (1953), Empat Bulan di Amerika,
Jilid II (1953), Margaretha Gauthier (1975), Merantau ke Deli (1977), Mandi
Cahaya di Tanah Suci (1950), Menunggu Beduk Berbunyi (1947), Tuanku
direktur, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (1979), Laila Majnun, Balai Pustaka
(1932)
Karya Hamka mengenai Politik diantaranya: Adat Minangkabau
menghadapi Revolusi (1946), Doktrin Islam yang Menimbulkan Kemerdekaan
dan Keberanian (1983), Falsafah Ideologi Islam (1950), Ghirah dan Tantangannya
Terhadap Islam (1982), Hak Asasi Manusia Dipandang dari Segi Islam (1968),
Islam; Revolusi Ideologi Islam, tahun 1950, Islam dan Demokrasi, tahun 1946,
Merdeka, Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman, Negara Islam (1946), Revolusi
Fikiran (1946), Revolusi Agama, Sesudah Naskah Renville, Semanagat Islam,
Urat Tunggang Pancasila, Ekspansi Ideologi: Alghazwul Fikri (1963)
Karya Hamka mengenai sejarah diantaranya: Ayahku, tahun 1992, Antara
Fakta dan Khayal “Tuanku Rao,”tahun 1970, Dari Perbendaharaan Lama, tahun
1963, Kenang-Kenangan Hidup, Jilid I ( 1974 (autobiografi sejak lahir 1908
sampai ( 1950), Kenang-Kenangan Hidup, Jilid II, Kenang-Kenangan Hidup, Jilid
III, Kenang-Kenangan Hidup, jilid IV, Sejarah Umat Islam Jilid I, di tulis ( 1938
diangsur hingga 1950, Sejarah Umat Islam Jilid II, Sejarah Umat Islam Jilid III,
Sejarah Umat Islam Jilid IV, Sejarah Hidup Jamaluddin Al- Afghani, Sejarah
Islam di Sumatera, Adat Minangkabau dan Agama Islam, ( 1929, Ringkasan
Tarikh Ummat Islam, ( 1929, Sesudah Naskah Renville, ( 1947
Karya-karya Hamka yang lain diantaranya: Muhammadiyah di
Minangkabau (Dalam Kongres Muhammadiyah di Padang) (1975), Arkanul
Islam, Makassar (1932), Mati Mengandung Malu yang merupakan Salinan
al-Manfaluthi (1934), Dibantingkan Ombak Masyarakat (1946), Pidato Pembelaan
Peristiwa Tiga Maret (1947), Pribadi (1950), 1001 Soal Hidup yaitu kumpulan
karangan pada Pedoman Masyarakat (1950), Soal-Jawab yang disalin dari
karangan-karangan Majalah “Gema Islam” (1960), Himpunan Khutbah-Khutbah,
Kedudukan Perempuan dalam Islam (1973), Islam dan Kebathinan (1970), Sayyid
Jamaluddin Al-Afghani (1965), Cita-Cita Kenegaraan dalan Ajaran Agama Islam:
Terdapat beberapa majalah yang dipimpin oleh Hamka diantaranya:
Kemauan Zaman (1929), Tentera, 4 nomor terbit di Makassar (1932), Al-Mahdi, 9
nomor terbit di Makassar (1933), Pedoman Masyarakat (1936-1942), Semangat
Islam (1944-1948), Menara (1946-1948), Panji Masyarakat (1959)
C. Kondisi Sosial Masyarakat
Terdapat beberapa fase dalam perjalanan hidup Hamka, pertama yaitu
munculnya gerakan nasionalis di Minangkabau. Pertentangan tersebut yaitu antara
mayoritas penduduknya yang teguh memeluk Islam dengan adat yang matrilineal
dalam stratifikasi masyarakat Minangkabau. Gagasan yang memungkinkan
bersatunya masyarakat Minangkabau dengan pepatah “Adat dipimpin oleh
penghulu, agama oleh ulama, pemerintah oleh cendikiawan," ketiganya terjalin
menjadi satu. Di Minangkabau memang telah memiliki adat yang bertentangan
dengan ajaran Islam, terutama mengenai pembagian waris melalui garis keturunan
ibu. Permusuhan antara Belanda terhadap kekuasaan Islam yaitu dengan
pemberontakan-pemberontakan yang terjadi untuk melawan Belanda atas dasar
agama sebagai alasannya.42
Haji Rasul mendirikan sekolah yang bernama Sumatera Thawalib43.
Sumatera Thawalib ini sangat berbeda dari surau tradisional, karena metode
42
Audrey R. Kahin, Pergolakan Daerah Pada Awal Kemerdekaan, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989), h. 150-151
43
pengajarannya inovatif, memasukkan pelajaran sekuler ke dalam kurikulumnya,
dan sesuai dengan ajaran agama mereka, yang memberi tekanan pada pentingnya
fikiran dan keputusan pribadi daripada menerima begitu saja ajaran-ajaran Islam
tradisional. Sungguhpun kaum modernis angkatan pertama ini membatasi
penggunaan prinsip-prinsip ini hanya pada masalah-masalah agama, lalu
berkembang pemikiran antara keyakinan Islam dengan nasionalisme anti-kolonial
dan fikiran-fikiran sosialisme.44
Pada tahun 1924 sebelum Hamka pergi ke pulau Jawa. Ketika itu Padang
Panjang sudah ada hawa baru. Haji. Dt. Batuah dan kawannnya, Natar Zainuddin,
telah kembali dari perlawatannya dari pulau Jawa. Mereka membawa paham baru
yaitu komunis. Paham baru itu ditebarkan terutama di kalangan murid-murid
Sumatera Thawalib. Banyak juga murid-murid Sumatera Thawalib yang tertarik
ke dalam komunis. Pertengkaran antara modernis generasi pertama dengan
anak-anak didik mereka mengenai politisi sekolah telah memecah belah Sumatera
Thawalib pada tahun 1920-an, bahkan pendirinyapun Haji Rasul melepaskan diri
dari Sumatera Thawalib yang telah dibangunnya itu, karena telah didominasi oleh
faham komunisme yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
Komunis yang digembor-gemborkan di sana adalah benci kepada
pemerintah Belanda dengan alasan Qur’an dan Hadist, melawan penindasan kaum
kafir karena penjajahan kaum kapitalis, Imperialis, yang berlawanan dengan
ajaran Islam. Maka dari itulah banyak murid-murid dari Sumatera Thawalib yang
ikut dalam pemberontakan-pemberontakan yang dipimpin komunis, yang pecah di
44
Sumatera Barat pada bulan Januari 1927.45 Tetapi ketika
pemberontakan-pemberontakan tersebut dipadamkan oleh Belanda, di Sumatera Barat bangkit
kembali gerakan kebangsaan yang dipimpin oleh kaum agamawan. Sebagaimana
telah terjadi pada tahun 1922 telah terjadi perpecahan dalam Sarekat Islam, yaitu
“SI Merah” dan “SI Putih,” SI Merah menjadi komunis dan yang putih tetap
dalam ajaran Islam.
Diantara pemimpin-pemimpin SI Merah ialah H. Misbah di Solo.
Majalahnya "Medan Muslimin" banyak tersebar di Padang Panjang. H. Dt.
Batutah adalah pengikut H. Misbah, sebagaimana menurut Haji Rasul bahwa H.
Misbah telah mempelajari teori ekonomi Karl Marx tidak sampai inti, ia
meninggalkan kepercayaannya kepada Tuhan, dan H. Dt. Batutah terus berpegang
teguh hingga wafat.
Thawalib mulai dimasuki komunis, Haji Dt. Batutah mengeluarkan satu
majalah bernama "Pemandangan Islam." Titik berat penyerangan sebagai
kebiasaan kaum komunis yaitu menyerang pemimpin-pemimpin Islam yang
berpengaruh. HOS. Cokroaminoto adalah target serangan, penghinaan, cacian. Ia
dituduh menghabiskan uang rakyat, menggelapkan atau korupsi yang saat itu
disebut “mencokro,” dan dia dituduh sebagai dalang berkembangnya imperialis.
Muhammadiyah dituduh “Sarekat Hijau” yang didirikan oleh Belanda untuk
menghisap rakyat dan yang Islam sejati adalah komunis. Inilah propaganda yang
terus di lakukan komunis di Padang Panjang.46
45
Murni, Jamal, Dr. H. Abdul Karim Amrullah: Pengaruhnya dalam Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau Pada Abad ke-20 (Jakarta: INIS, 2002), h. 47
46
Pada tahun 1930 dibuat sebuah gerakan baru yang bernama Permi
(Persatuan Muslim Indonesia), sebuah partai politik yang berakar didaerah itu
yang didirikan oleh tamatan Sumatera Thawalib dan juga para ulama yang baru
pulang dari studi ke Kairo. Pada tahun 1933 Hatta baru pulang dari studi di
Belanda, dan mendirikan cabang partainya di Minangkabau yaitu PNI Baru, dan
mengangkat Khatib Sulaiman sebagai pemimpinnya.
Tahun 1933, kolonial Belanda mengambil tindakan keras terhadap
aktivitas kaum nasionalis di seluruh Indonesia. Belanda banyak menahan anggota
Permi dan juga pemimpin terkemuka dari partai agama yang radikal yang satunya
lagi di Sumatera Barat, yaitu PSII. Padahal orang-orang yang sekuler seperti PNI
Baru tidak ditahan. Tekanan Belanda memaksa Permi bubar.47 Pada tahun-tahun
ini guru-guru di sekolah Sumatera Thawalib, perguruan-perguruan Islam dan
organisasi-organisasi pemuda tetap mendidik muridnya dengan
mengkombinasikan cita-cita nasional dan Islam.
Kini, pihak Jepang mencoba mengembangkan para guru Islam tradisional
pedesan sebagai mata rantai utama, akan tetapi banyak menemui kesulitan antara
pihak Jepang dengan para pemimpin Islam pada umumnya, khususnya antara
mereka dengan kaum Islam modernis. Ayahanda Hamka, Haji Rasul memimpin
perlawanan Islam terhadap sikap membungkuk sebagai penghormatan kepada
Kaisar di Tokyo yang bertentangan dengan kewajiban seorang muslim untuk
shalat menghadap Mekkah dan tunduk hanya kepada Allah.48
47
Kahin, Pergolakan, h. 152-153
48
Sejak 1944 Hamka sengaja menjauh dari Nippon. Kalau tidak perlu benar,
dia tidak mendekat, sampai Tyokan menanyakan kenapa Hamka tidak
datang-datang lagi. Hingga 7 September 1944 ketika Perdana menteri Koiso yang
menggantikan PM Tojo, menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia dihari depan.
Ketika berita itu beredar Hamka kedatangan dua orang wartawan Yahya Ya’kub
dan Hadely Hasibuan dari Domei (kantor betita Jepang). Janji Kemerdekaan yang
akan diberikan Jepang karena mereka terdesak dalam beberapa peperangan
dengan kekalahan. akan tetapi Jendral Koiso Kuniaki (1944-1945), ia memiliki
kecenderungan untuk memberikan kemerdekaan semu bagi Indonesia. Perdana
Menteri Koiso menjanjikan kemerdekaan bagi “To-Indo” dalam bahasa Jepang
untuk “Hindia Timur” yang terus dipakai hinga 1945. Akan tetapi, dia tidak
menentukan tanggal kemerdekaan itu. Hingga Indonesia merdeka 17 Agustus
1945.
Kedua, terjadinya pertentangan Internal dalam masyarakat Minangkabau.
"Kaum Tua" dan "Kaum Muda" di Minangkabau sangat berperan bagi perubahan
sosial kemasyarakatan di Minangkabau. Haji Rasul juga merupakan tokoh
gerakan “Kaun Muda” yang saat itu sangat gencar mempertahankan pendirian dan
pandangannya. Tokoh Tiga Serangkai yaitu Haji Abdul Karim Amrullah, Syekh
Muhammad Djamil Djambek,49 dan Haji Abdullah Ahmad. Mereka menentang
49
praktek-praktek keagamaan yang menyimpang berupa bid’ah, takhayul dan
khurafat.
Syekh Ahmad Khatib dengan tegas melarang praktek-praktek agama yang
dicemari dengan kaifiyat-kaifiyat yang bid’ah-bid’ah dan ia juga menentang keras
pembagian harta waris yang diambil dari garis keturunan Ibu, karena hal itu
jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang telah dibuat dalam faraid. Hal itu
yang diajarkan Haji Rasul sepulangnya ia ke Minangkabau, tetapi banyak diantara
murid-murid Syekh Ahmad Khatib yang tetap konsisten mengamalkan thariqat.
Diantara mereka yang terkenal adalah Syekh Khatib Ali bin Abdul Muthalib
al-Khalidi an-Naqsabandi yang menyusun kitab “Miftah ad-Din”, juga ulama Kaum
Tua lain bernama Sulaiman ar-Rusuli. Kuatnya thariqat waktu itu menyebabkan
ajaran Haji Rasul banyak mendapat tantangan dari ulama-ulama Minangkabau.
Yang paling keras menentang ialah Syekh Muhammad Sa’ad Mungka.50
Haji Rasul atau Syekh Abdul Karim Amrullah sangat mengecam keras
praktek ajaran tarekat yang disebut rabitah dan wasilah, dengan menulis sebuah
buku berjudul Qati’u Razbi al Mulhidin (Pemotong Tusukan Orang-Orang Yang
Ilhad). Haji Abdullah Ahmad mendirikan sebuah majalah yang diberi nama “
Al-Munir” tahun 1911, majalah ini merupakan wadah bagi gerakan Kaum Muda yang
memuat artikel tentang masalah agama dengan tujuan agar umat Islam memiliki
pengetahuan yang berguna dan membersihkan Islam dari tuduhan sebagai
“Tsamarotul Ikhwan,” yaitu organisasi yang bersifat sosial yang menerbitkan artikel dan juga brosur-brosur tentang agama. Lihat Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, 8th ed. (Jakarta: LP3ES. 1996), h. 42-44
50
penghambat kemajuan.51Al Munir memuat artikel-artikel yang berisi kritikan
pedas terhadap tradisi keagamaan masyarakat luas, seperti masalah usalli, kenduri
di rumah orang kaya yang kematian, berdiri ketika membaca barzanji,
mentalqinkan mayat di atas kubur, masalah tasyabbuh, masalah taqlid yang
dianggap telah melenceng dari ajaran Islam. 52
Selain itu juga Haji Rasul mengeluarkan fatwa dibolehkannya khutbah
dalam bahasa yang difahami oleh umat di tempat itu dan kalaulah memakai
bahasa Arab cukuplah saja rukun-rukunya saja, agar khutbah itu memiliki faedah
dan petunjuk bagi kaum muslimin.53
Gerakan Kaum Muda ini mendapat reaksi atau tantangan dari kalangan
ulama Kaum Tua yang merasa posisi mereka terdesak dan dipersalahkan,
sehingga mereka juga mengeluarkan kritik yang pedas bagi Kaum Muda yaitu
bahwa mereka telah keluar dari mazhab Ahli Sunnah wal jama’ah, Mu’tazilah,
Wahabi dan, Khawarij.54 Oleh karena itu sejak kecil Hamka sudah akrab dengan
dialog-dialog tentang perdebatan antara Kaum Muda dan Kaum Tua mengenai
Agama.
51
Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir Al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas. 1990), h. 26
52
Ibid., h., 27
53
Hamka, Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia, (Jakarta: Tintamas, 1961), h. 7
54
BAB III
KETERLIBATAN HAMKA DALAM MUHAMMADIYAH
A. Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah
Lahir suatu pemikiran baru atau gerakan baru tidak dapat dipisahkan dari
kondisi kehidupan sosial dan budaya yang melingkupinya. Boleh jadi, munculnya
pemikiran atau gerakan baru itu merupakan respons terhadap kondisi yang ada.
Atau sebaliknya, yaitu sebagai kekuatan yang ditujukan untuk mendukung
kemapanan itu sendiri agar menjadi lebih kukuh. Yang jelas, salah satu dari kedua
motivasi tersebut selalu ada dalam setiap fenomena yang muncul. Namun untuk
menjelaskan proses kemunculan suatu fenomena tentu tidak begitu mudah, karena
banyaknya faktor yang saling berpengaruh. Begitu juga dengan Muhammadiyah55
sebagai gerakan Islam bercorak modernis yang berdiri awal abad ke-20 M tentu
55
Secara bahasa (etimologis), Muhammadiyah berasal dari bahasa Arab “Muhammad saw.” yaitu nama Nabi dan Rasul Allah SWT yang terakhir, kemudian mendapat tambahan ‘ya’ nisbah yang artinya menjeniskan atau menisbahkan. Jadi Muhammadiyah itu “umat Muhammad saw” atau ‘pengikut Muhammad saw’, yaitu semua orang Islam yang mengakui dan meyakini bahwa Nabi Muhammad saw adalah hamba dan pesuruh Allah yang terakhir. Dengan demikian siapapun yang mengaku beragama Islam sesungguhnya ia adalah Muhammadiyah tanpa harus dilihat dan dibatasi oleh adanya perbedaan organisasi, golongan, bangsa, geografis, etnis, dan sebagainya.
tidak dapat dipisahkan dari situasi serta sejumlah faktor yang melatarbelakangi
kemunculannya di Indonesia.56
Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal
8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad
Darwis, kemudian dikenal dengan KH. Ahmad Dahlan57 atas saran
murid-muridnya dari Budi Utomo untuk mendirikan sebuah lembaga yang permanen.58
Muhammadiyah didirikan dengan maksud untuk menyebarkan ajaran Nabi
Muhammad kepada penduduk Indonesia. Organisasi ini mendirikan
lembaga-lembaga pendidikan, mengadakan rapat-rapat dan tabligh yang membahas
56
Muhammadiyah yang lahir di Indonesia merupakan respons dari situasi dan kondisi masyarakat yang terpuruk akibat kolonialisme Belanda dan ajaran Islam yang dipandang sudah tidak murni dan bercampur dengan ajaran yang menyimpang. Lihat. Sutarmo, Muhammadiyah: Gerakan Sosial-Keagamaan Modernis (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2005), h. 18-19
57
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan pedagang.
Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah mendirikan organisasi untuk kaum perempuan dengan Nama 'Aisyiyah yang disitulah Istri KH. A. Dahlan, Nyi Walidah Ahmad Dahlan berperan serta aktif dan sempat juga menjadi pemimpinnya. Di samping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut "Sidratul Muntaha." Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa. Di samping memberikan kegiatan kepada laki-laki, pengajian kepada ibu-ibu dan anak-anak, beliau juga mendirikan sekolah-sekolah. Tahun 1913 sampai tahun 1918 beliau telah mendirikan sekolah dasar sejumlah 5 buah, tahun 1919 mendirikan Hooge School Muhammadiyah ialah sekolah lanjutan. Tahun 1921 diganti namnaya menjadi Kweek School Muhammadiyah, tahun 1923, dipecah menjadi dua, laki-laki sendiri dan perempuan sendiri, dan akhirnya pada tahun 1930 namanya dirubah menjadi Mu`allimin dan Mu`allimat. Lihat Y.B. Sudarmanto, Jejak-Jejak Pahlawan: dari Sultan Agung hingga Syekh Yusuf (Jakarta: Rasindo, 1996), h. 64
58
masalah-masalah Islam, mendirikan wakaf dan masjid-masjid dan juga membuat
buku-buku, brosur-brosur, surat-surat kabar dan majalah.59
Dalam satu muktamarnya, Muhammadiyah mempertegas Landasan
geraknya dengan pernyataan berikut. Keberhasilan Muhammadiyah, antara lain
dalam pembaharuan pemikiran Islam dengan mengembalikan pada sumbernya
yang asli, yakni al-Qur’an dan Sunnah dengan mengembangkan ijtihad, sikap, dan
pemikiran yang apresiatif terhadap kemajuan modernisasi pendidikan modernisasi
gerakan organisasi modern, dan dalam meningkatkan kualitas hidup ummat dan
masyarkat melalui gerakan amal usahanya dibidang pendidikan, kesejahteraan
umat, pelayanan sosial, membangun sarana dan prasarana fisik, dan upaya-upaya
dakwah lainnya, baik yang bi al-qawl maupun bi al-hal.”60
Faktor-faktor yang mendukung lahirnya Muhammadiyah di Indonesia:
1. Munculnya Gerakan Modern Islam di Indonesia
Pembaharuan dalam Islam atau gerakan modern Islam merupakan jawaban
yang ditujukkan terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya.
Kemunduran progressif kerajaan Usmani yang merupakan pemangku khilafah
Islam, setelah abad ketujuh belas, telah melahirkan kebangkitan Islam di kalangan
warga Arab di pinggiran Imperium itu. Yang terpenting di antaranya adalah
gerakan Wahabi, sebuah gerakan ferormis puritanis (Salafiah), gerakan ini
merupakan sarana yang menyiapkan jembatan ke arah pembaharuan Islam abad
59
Noer,Gerakan Modern, h. 86
60