• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewenangan Pemerintah Pusat Terhadap Pembatalan Peraturan Daerah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kewenangan Pemerintah Pusat Terhadap Pembatalan Peraturan Daerah"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum (SH)

Oleh :

Farhan Bestyardi

NIM: 109048000055

Pembimbing

NIP. 196911211994031001

KONSENTRASI KELEMBAGAAN NEGARA PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(3)

Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta pada tanggal 23 Januari 2014. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu

syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum (SH) pada Program Studi Ilmu Hukum.

(4)

iii

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu syarat memperoleh gelar Strata 1 (S1) di Universitas Islam Negeri

(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti hasil karya ini bukan hasil karya asli saya atau

merupakan hasil jiplakan karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi

yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

(5)

Ilmu Hukum, Konsentrasi Hukum Kelembagaan Negara, Fakultas Syariah dan

Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 1434H/2013M.

penelitian ini menganalisis kewenangan pemerintah pusat dalam pembatalan

peraturan daerah dan menganalisis produk hukum atau lembaga yang memiliki

wewenang terhadap pembatalan peraturan daerah. Penelitian ini diharapkan dapat

memberikan manfaat baik secara ilmiah yakni dalam studi ilmu hukum dan secara

praktis maupun akademis yakni sebagai masukan bagi penulis maupun pihak-pihak

yang memiliki keinginan untuk menganalisis kasus kewenangan yang dimiliki

pemerintah pusat dalam pembatalan peraturan daerah. Metode penelitian yang

digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat yuridis normatif, yaitu penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang ada dalam peraturan perundang-undangan, literatur, pendapat

ahli, makalah-makalah dan lainnya. Dalam studi kepustakaan, penulis menganalisis

permasalahan dalam pengujian perda oleh pemerintah. Dalam Pasal 145 ayat (3)

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan

pembatalan peraturan daerah hanya dengan peraturan presiden. Namun dalam pasal

185 ayat (5), pasal 188 dan pasal 189 menyatakan bahwa perda dapat dibatalkan oleh

Menteri Dalam Negeri.

Kata Kunci : Peraturan Daerah, Pembatalan, Pengawasan, Mendagri,

Peraturan Presiden

Pembimbing : Drs. H. Asep Syarifuddin, S.H., M.H.

(6)

v

Segala puji dan syukur hanya untuk Allah SWT, dengan berkah rahmat, nikmat

serta anugerah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

“KEWENANGAN PEMERINTAH PUSAT TERHADAP PEMBATALAN

PERATURAN DAERAH.”. Shalawat serta salam penulis sampaikan kepada suri tauladan umat, Nabi besar kita Muhammad SAW, yang telah memberikan pengaruh

besar terhadap umat manusia, beliaulah yang telah merubah umat manusia dari zaman

kelam menuju zaman yang berakhlak dan beradab.

Penulisan skripsi ini dilakukan untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum

Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Skripsi ini mungkin tidak dapat diselesaikan oleh penulis tanpa bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak selama penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu penulis

ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H., M.A., M.M. selaku Dekan

Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Dr. Djawahir Hejazziey, S.H., M.A., selaku Ketua Program Studi Ilmu

Hukum dan Bapak Drs. Abu Tamrin, S.H., M.Hum., selaku Sekretaris Program

(7)

diberikan untuk membimbing saya.

4. Kedua orang tua tercinta Ayahanda Fajri Hidayat dan Ibunda Titin Nuraeni, yang

selalu mengirimkan doa dan mencurahkan kasih sayangnya, serta memberikan

bantuan baik moril juga materiil dalam penyusunan skripsi ini.

5. Kakak-kakak dan adik saya yang memberikan semangat dan kebersamaan ketika

di rumah untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Segenap dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

khususnya dosen program studi Ilmu Hukum yang telah memberikan ilmu

pengetahuan selama penulis menjadi mahasiswa Ilmu Hukum. Semoga ilmu

yang diajarkan dapat bermanfaat dan mendapatkan balasan dari Allah SWT.

7. Sahabat-sahabat penulis seperjuangan semasa kuliah di Ilmu Hukum Fakultas

Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah yaitu Abiyudin, Arif, Roma,

Maulana, Muchtar, Saddam, Zaki, Gagat, Ihsan, Imam Machdi, Zakim, Agung,

Syamsul, Daus, Aldo dan seluruh mahasiswa UIN Jakarta Khususnya prodi Ilmu

Hukum 2009, PSM dan HMI terima kasih atas bantuan, motivasi, dan

(8)

vii

Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih dan maaf yang sebesar-besarnya

apabila terdapat kata-kata di dalam penulisan skripsi ini yang kurang berkenan bagi

pihak-pihak tertentu. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak, khususnya

bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Sekian dan terimakasih.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Jakarta, Januari 2014

(9)

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Pembatasan dan Rumusan Masalah ... 7

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D.Tinjauan Kajian Terdahulu ... 9

E. Kerangka Konseptual ... 10

F. Metode Penelitian ... 11

G.Sistematika Penelitian ... 14

BAB II PEMBENTUKAN, FUNGSI DAN MUATAN PERATURAN DAERAH ... 16

A.Pengertian Peraturan Daerah ... 16

(10)

ix

B.Tinjauan Umum Peraturan Presiden ... 36

C.Bentuk Pengawasan Terhadap Peraturan Daerah ... 40

D.Pengawasan Peraturan Daerah di Indonesia ... 47

E. Pengujian Peraturan Daerah Oleh Mahkamah Agung ... 52

BAB IV KEWENANGAN PEMERINTAH PUSAT DALAM PENGAWASAN DAN PEMBATALAN PERATURAN DAERAH ... 55

A.Kewenangan Menteri Dalam Negeri Dalam Pengawasan dan Pembatalan Peraturan Daerah.. ... 55

B.Analisis Hubungan Kewenangan Menteri Dalam Negeri Dengan Peraturan Presiden Dalam Pembatalan Peraturan Daerah.. ... 59

C.Analisis Peraturan Presiden dalam Pembatalan Peraturan Daerah .. 67

D.Produk Hukum/Lembaga Yang Berwenang Dalam Pembatalan Peraturan Daerah ... 70

BAB V PENUTUP ... 75

A.Kesimpulan ... 75

B. Saran ... 77

(11)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam Pasal 18 ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD NRI 1945) disebutkan “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.” Dan pada ayat 6

disebutkan bahwa “Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan

peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.”

Penjelasan Pasal 18 UUD NRI 1945 menerangkan bahwa karena Negara

Indonesia itu adalah suatu negara kesatuan, Indonesia tidak akan mempunyai daerah

didalam lingkungannya yang juga berbentuk negara. Wilayah Indonesia dibagi

menjadi daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi dibagi pula menjadi

kabupaten/kota. Daerah-daerah itu bersifat otonom, semuanya menurut aturan yang

akan ditetapkan dengan undang-undang.1

Keberhasilan otonomi daerah bergantung pada pemerintahan daerah yang

didalamnya terdapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (selanjutnya disebut DPRD)

dan Kepala Daerah dan perangkat daerah serta masyarakatnya, juga

ketentuan-ketentuan peraturan perundangan yang berlaku dengan memperhatikan sarana dan

prasarana serta dana/pembiayaan yang terbatas secara efisien, efektif dan

professional. Efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu

1

(12)

ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan

pemerintahan dan atau pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah,

peluang dan tantangan persaingan global,2 dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban

menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan

pemerintahan negara.

Sebagai daerah otonom, pemerintah daerah berwenang untuk membuat

peraturan daerah dan peraturan kepala daerah, guna menyelenggarakan urusan

otonomi daerah dan tugas pembantuan. Peraturan daerah (selanjutnya disebut perda)

ditetapkan oleh kepala daerah setelah mendapat persetujuan bersama DPRD. Subtansi

atau materi muatan perda adalah penjabaran dari peraturan perundang-undangan yang

tingkatannya lebih tinggi, dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah

dan subtansi materi tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau

peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.3

Perda ini jika dilihat dari muatannya memiliki fleksibilitas yang sangat sempit

karena dilarang bertentangan dengan peraturan diatasnya yang bersifat nasional yang

sangat banyak jumlahnya. Dalam hal pembentukan perda, DPRD dan Gubernur atau

2

HAW. Widjaja, Penyelenggaraan Otonomi di Indonesia, Dalam Rangka Sosialisasi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Cet-2, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008) h. 37

3

(13)

Bupati/Walikota berhak memberikan rancangan peraturan daerah. Rancangan

peraturan daerah dapat berasal dari DPRD, Gubernur atau Bupati/Walikota.

Program penyusunan perda dilakukan dalam satu Program Legislasi Daerah

(selanjutnya disebut Prolegda), sehingga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih

dalam penyiapan satu materi perda. Ada berbagai jenis perda yang ditetapkan oleh

pemerintah daerah provinsi atau kabupaten/kota antara lain:

a. Pajak Daerah; b. Retribusi Daerah;

c. Tata Ruang Wilayah Daerah;

d. APBD;

e. Rencana Program Jangka Menengah Daerah; f. Perangkat Daerah;

g. Pemerintahan Desa; h. Pengaturan umum lainnya 4

Dalam rangka pemberdayaan otonomi daerah pemerintah pusat berwenang

melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan

daerah sesuai amanat Pasal 217 dan 218 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah. Pembinaan dan pengawasan dimaksudkan agar

kewenangan daerah otonom dalam menyelenggarakan desentralisasi tidak mengarah

kepada kedaulatan. Disamping pemerintahan daerah merupakan subsistem dalam

penyelenggaraan pemerintahan negara, secara implisit pembinaan dan pengawasan

terhadap pemerintah daerah merupakan bagian integral dari sistem penyelenggaraan

negara, maka harus berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan

4

(14)

perundang-undangan yang berlaku dalam kerangka Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

Sejak otonomi daerah digulirkan, sudah ribuan perda dibuat oleh pemerintah

daerah baik pada level provinsi maupun kabupaten/kota, dan sudah banyak pula perda

yang telah dibatalkan, karena perda-perda tersebut dianggap bermasalah dan

berpotensi menimbulkan ekonomi biaya tinggi di daerah-daerah serta juga

membebani masyarakat dan lingkungan.5

Terkait dengan banyaknya perda yang dianggap bermasalah baik karena

menimbulkan ekonomi biaya tinggi, memberatkan masyarakat di daerah dan

berdampak pada kerusakan lingkungan akibat izin yang ditimbulkannya, sebagai

instrumen hukum negara, dalam logika deduktif tertutup perangkat hukum sudah

dibuat mekanisme untuk menyelesaikan konflik peraturan atau konflik yang

ditimbulkan dari suatu peraturan.

Mekanisme penyelesaian konflik peraturan ini dilakukan lewat pengujian

peraturan perundang-undangan tersebut. Perda yang dianggap bertentangan dengan

kepentingan umum dan/atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan

yang lebih tinggi dikenal dua model kewenangan pengawasan, yaitu judicial review

oleh Mahkamah Agung dan executive review oleh Pemerintah.6

5

Rikardo Simarmata dan Stephanus Masiun, Otonomi Daerah, Kecenderungan Karakter Perda dan Tekanan Baru Bagi Lingkungan dan Masyarakat Adat, Cet-1, (Jakarta: HuMa, Seri Pengembangan Wacana, Nomor 1, 2002) h. 16

6

(15)

Disini penulis akan membahas lebih banyak tentang model pengujian yang

kedua yang dilakukan oleh pemerintah pusat atau yang lebih dikenal dengan istilah

executive review. Dalam hal pengawasan terhadap daerah, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi perintah bahwa perda yang

dibuat oleh DPRD bersama kepala daerah agar disampaikan kepada pemerintah

paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. Terkait dengan pembatalan perda, Pasal

136 ayat (4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

menyebutkan bahwa :

“Perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi.” Kemudian Pasal 145 ayat (2)

menyebutkan “Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh pemerintah.” Ayat (3) menyebutkan “Keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda sebagaimana

dimaksud pada ayat (1)”.

Dalam hal ini, terdapat permasalahan dalam pengujian perda oleh pemerintah

adalah masalah bentuk hukum pembatalan perda. Bentuk hukum pembatalan perda

sebagaimana disebutkan dalam Pasal 145 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah dengan Peraturan Presiden. Namun

banyak dalam pembatalan perda sepanjang ini dilakukan dengan menggunakan

Keputusan/Peraturan Menteri Dalam Negeri (selanjutnya disebut

Kepmendagri/Permendagri). Dengan demikian, pembatalan perda melalui

(16)

terjadi karena instrumen hukum untuk membatalkan perda harus dalam bentuk

Peraturan Presiden bukan Kepmendagri sesuai dengan yang disebutkan dalam Pasal

145 ayat (3) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Selanjutnya terdapat masalah lain dalam hal pembatalan perda ini yakni,

dalam pasal 185 ayat (5), pasal 188 dan pasal 189 yang menyatakan bahwa perda

tentang APBD, Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Tata Ruang daerah dibatalkan

oleh Menteri Dalam Negeri (selanjutnya disebut Mendagri) yang sekarang banyak

menggunakan Kepmendagri/Permendagri. Tentu saja hal ini bertentangan dengan

pasal sebelumnya, yakni pasal 145 ayat (3) yang memberikan wewenang pembatalan

perda hanyalah dengan menggunakan Peraturan Presiden. Karena permasalahan yang

terdapat pada saat ini, penulis serius untuk mengkaji dan menganalisis terkait

permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya.

Dalam permasalahan ini penulis lebih fokus meneliti pada kewenangan

pemerintah pusat melalui Peraturan Presiden dan Kepmendagri/Permendagri dalam

pengawasan dan pembatalan peraturan-peraturan daerah tingkat provinsi dan

kabupaten/kota di Indonesia. Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan yang

telah dipaparkan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam

skripsi ini dengan judul “KEWENANGAN PEMERINTAH PUSAT TERHADAP

(17)

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian skripsi ini, penulis membatasi penelitian hanya

membahas mengenai kewenangan pemerintah pusat melalui Peraturan Presiden

dan Kepmendagri/Permendagri dalam memutuskan pembatalan

peraturan-peraturan daerah provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan didalam kewenangan

pemerintah pusat terhadap pembatalan peraturan daerah, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagaimana kewenangan Menteri Dalam Negeri dalam memutuskan keputusan

terhadap pembatalan peraturan-peraturan daerah di Indonesia?

b. Bagaimanakah penerapan pasal 145 ayat 3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2004 tentang Pemerintahan Daerah bahwa pembatalan Perda Ditetapkan

dengan Peraturan Presiden?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah seperti yang diuraikan diatas penelitian ini

bertujuan sebagai berikut :

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan menganalisis kewenangan pemerintah pusat

(18)

a. Untuk menganalisa bagaimana kewenangan yang dimiliki Menteri Dalam

Negeri untuk memutuskan keputusan terhadap pembatalan perda.

b. Untuk mengetahui bagaimana penerapan pasal 145 ayat 3 Undang-Undang

Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerntahan Daerah bahwa pembatalan Perda

Ditetapkan dengan Peraturan Presiden.

2. Manfaat Penelitian

Secara garis besar manfaat penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Manfaat Teoritis

1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai

analisis yang dilakukan terhadap pemerintah pusat dalam pembatalan

peraturan daerah yang ditinjau dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

2) Memperkaya khazanah penelitian ilmiah dan ilmu hukum Kelembagaan

Negara.

b. Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis dalam penelitian ini, yaitu :

1) Bagi Akademis

Dapat menambah pengalaman dan pengetahuan yang kelak dapat

diterapkan dalam dunia nyata sebagai bentuk partisipasi dalam

(19)

dan UUD 1945 serta dalam kehidupan bangsa sebagai bagian dari

masyarakat internasional.

2) Bagi Masyarakat Umum

Diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat untuk

mengetahui tata cara pembatalan peraturan daerah sesuai dengan

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

3) Bagi Pemerintah

Dapat memberikan masukan kepada pemerintah pusat agar memahami

sejauh mana kewenangan-kewenangannya dalam pembatalan perda.

D. Tinjauan Kajian Terdahulu

Dalam penelitian atau pembuatan skripsi terkadang ada tema yang berkaitan

dengan penelitian yang kita jalankan sekalipun arah dan tujuan yang diteliti berbeda.

Dari penelitian ini, penulis menemukan penelitian lain, Yaitu: Skripsi yang dibuat

oleh Yance Arizona yang berjudul Disparitas Pengujian Peraturan Daerah oleh

Pemerintah Pusat dan Mahkamah Agung, Fakultas Hukum Andalas 2007. Skripsi ini

menganalisis perbandingan pengujian dan pembatalan peraturan daerah oleh

pemerintah pusat dan Mahkamah Agung, perbedaan penelitian Yance Arizona

dengan penulis terletak pada materi yang dikaji, dimana penulis lebih fokus

menganalisis tentang kewenangan pemerintah pusat dalam membatalkan peraturan

(20)

E. Kerangka Konseptual

Kerangka konsepsional adalah kerangka yang menggambarkan hubungan

antara konsep-konsep khusus yang ingin diteliti. Suatu konsep bukan merupakan

gejala yang akan diteliti tetapi merupakan abstraksi dari gejala tersebut. Gejala

biasanya dinamakan fakta sedangkan konsep merupakan uraian mengenai

hubungan-hubungan dalam fakta tersebut.7 Penulisan skripsi ini mengunakan definisi operasional dan teori sebagai berikut :

1. Peraturan Daerah

Peraturan daerah adalah peraturan daerah provinsi dan/atau peraturan daerah

kabupaten/kota yang dibentuk oleh DPRD dengan Kepala Daerah Provinsi

dan/atau Kabupaten/Kota.

2. Keputusan Menteri Dalam Negeri

Keputusan Menteri Dalam Negeri merupakan putusan yang dikeluarkan oleh

Menteri Dalam Negeri sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

3. Peraturan Presiden

Peraturan presiden merupakan sebuah pengaturan yang dilakukan presiden tanpa

memerlukan persetujuan DPR, yang merupakan bagian dari tugas dan fungsi

pemerintahan

7

(21)

4. Teori Hans Kelsen

Norma-norma hukum berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu hierarki

(tata susunan), dalam arti, suatu norma yang lebih rendah berlaku, bersumber dan

berdasar pada norma yang lebih tinggi, norma yang lebih tinggi berlaku,

bersumber dan berdasar norma yang lebih tinggi lagi, demikian seterusnya sampai

pada suatu norma yang tidak dapat ditelusuri lebih lanjut dan bersifat hipotesis

dan fiktif yaitu norma dasar (Grundnorm). 8 5. Teori Hans Nawiasky

Norma hukum suatu Negara berkelompok-kelompok dan pengelompokan hukum

dalam suatu Negara itu terdiri atas empat kelompok besar yaitu:

a) Staatsfundamentalnorm (Norma Fundamental Negara) b) Staatsgrundgesetz (Aturan Dasar/Aturan Pokok Negara) c) Formell Gesetz (Undang-undang „formal‟)

d) Verordnung & Autonome Satzung (Aturan pelaksana dan aturan otonom)9

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode penelitian kepustakaan (library research), yang bersifat yuridis normatif, yaitu penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang ada dalam

8

Hans Kelsen, lihat Maria Farida Indirati Soeprapto, Buku 1, Ilmu Perundang-undangan (Jenis, Fungsi dan Materi Muatan), Cet-5, (Yogyakarta: Kanisius, 2011) h. 41

9

(22)

peraturan perundang-udangan, literatur, pendapat ahli, makalah-makalah dan hasil

penelitian yang berkaitan dengan kewenangan pemerintah pusat dalam

memberikan putusan pembatalan peraturan daerah. Sumber data yang

dikumpulkan berupa data sekunder yaitu data yang telah dalam keadaan siap

pakai bentuknya dan isinya telah disusun oleh penulis terlebih dahulu dan dapat

diperoleh tanpa terikat waktu dan tempat.10 Contohnya seperti artikel ilmiah dan bahan-bahan dari internet.

2. Pendekatan Masalah

Pendekatan masalah dalam skripsi ini dengan tipe penelitian yang

digunakan adalah yuridis normatif, maka pendekatan yang digunakan adalah

Pendekatan Perundang-Undangan (Statute approach) dan Pendekatan Kasus (Case approach).Pendekatan perundang-undangan (statute approach), diterapkan guna memahami bagaimana pembatalan peraturan daerah sesuai dengan

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Pendekatan Kasus

(Case approach) diterapkan dalam mengamati telaah beberapa kasus pembatalan perda yang dibatalkan dengan peraturan perundangan yang sesuai dengan

peraturan perundangan yang berlaku. Serta beberapa kasus yang relevan dengan

isu hukum yang telah di pecahkan.

10

(23)

3. Bahan Hukum

Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga jenis, yaitu:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mencakup

ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan mempunyai kekuasaan

hukum yang mengikat.11 Bahan hukum yang digunakan penulis merupakan bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah

3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan

4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang diperoleh dari penelusuran

buku-buku dan artikel-artikel12 yang berkaitan dengan penelitian ini, yang memberikan penjelasan mendalam mengenai bahan hukum primer dan bahan

hukum sekunder yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah

buku-buku, skripsi, tesis, dan disertasi serta artikel ilmiah dan tulisan di internet

mengenai pembatalan peraturan daerah.

11

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cet-3, (Jakarta : UI Press, 1986) h. 52 12

(24)

c. Bahan non-hukum

Merupakan bahan yang memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna

terhadap bahan hukum primer dan sekunder,13 seperti Kamus Hukum, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ensiklopedia dan lain-lain.

4. Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum

Adapun bahan hukum, baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder

maupun bahan non-hukum diuraikan dan dihubungkan sedemikian rupa, sehingga

ditampilkan dalam penulisan yang lebih sistematis untuk menjawab

permasalahan yang telah dirumuskan. Selanjutnya setelah bahan hukum diolah,

dilakukan analisis terhadap bahan hukum tersebut yang akhirnya akan diketahui

bagaimana kewenangan pemerintah pusat terhadap pembatalan peraturan daerah.

G. Sistematika Penelitian

Skripsi disusun dengan sistematika yang terbagi dalam lima bab.

Masing-masing bab terdiri dari atas beberapa sub bab guna lebih memperjelaskan ruang

lingkup dan cakupan permasalahan yang diteliti. Penulisan skripsi ini mengacu pada

buku Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam

Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta: Pusat Peningkatan dan Jaminan

Mutu (PPJM) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, 2012. Adapun urutan dan

tata letak masing masing bab serta pokok pembahasannya adalah sebagai berikut.

13

(25)

BAB I : Pendahuluan, memuat: Latar Belakang, dilanjutkan dengan Batasan

dan Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinjauan

Kajian Terdahulu, Kerangka Konseptual, Metode Penelitian, dan

Sistematika Penulisan.

BAB II : Tinjauan Umum Peraturan Daerah. Bab ini membahas Pengertian,

Fungsi, Materi Muatan, Pembentukan dan Kedudukan Perda Dalam

Hierarki Peraturan Perundang-undangan.

BAB III : Tinjauan Umum tentang Fungsi, Muatan, dan Kedudukan

Keputusan Menteri dan Peraturan Presiden, dan Membahas Bentuk

Pengawasan Peraturan Daerah.

BAB IV : Analisa Yuridis Terhadap Kepmendagri dan Peraturan Presiden

terhadap Pembatalan Perda. Juga Membahas Produk Hukum yang

Berwenang Pembatalan Peraturan Daerah di Indonesia.

BAB V : Penutup. Dalam bab penulis menarik beberapa kesimpulan dari

hasil penelitian, disamping itu penulis menengahkan beberapa saran

(26)

16 BAB II

PEMBENTUKAN, FUNGSI DAN MUATAN PERATURAN DAERAH

A. Pengertian Peraturan Daerah 1. Pengertian Peraturan Daerah

Perda merupakan peraturan yang ditetapkan oleh kepala daerah setelah

mendapat persetujuan bersama DPRD. Dibentuknya perda merupakan salah satu

rangka penyelenggaraan otonomi daerah provinsi/kabupaten/kota dan tugas

pembantuan dan merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi.14 Perda yang dibuat oleh satu daerah, tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan

yang lebih tinggi, dan baru mempunyai kekuatan mengikat setelah diundangkan

dengan dimuat dalam lembaran daerah.15

Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah, perda adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk bersama

antara DPRD dengan Kepala Daerah baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Sedangkan di dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan terdapat dua pengertian tentang

perda, yakni peraturan daerah provinsi dan peraturan daerah kabupaten/kota.

14

B.N. Marbun, Otonomi Daerah 1945-2010 Proses dan Realita, Cet-2 (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010) h. 156

15

(27)

Peraturan daerah provinsi adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk

oleh DPRD provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur. Sedang peraturan

daerah kabupaten/kota adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh

DPRD kabupaten/kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota.

Dari segi pembentukan, perda ini menyerupai pembentukan

undang-undang, yaitu suatu produk hukum yang dibuat oleh presiden bersama-sama

Dewan Perwakilan Rakyat (Selanjutnya disebut DPR). Dari segi materi dan

wilayah berlakunya, undang-undang itu mengatur semua urusan publik baik

bersifat kenegaraan maupun pemerintahan dan berlaku secara nasional,

sedangkan materi perda hanya berkenaan dengan administrasi atau pemerintahan

dan hanya berlaku pada wilayah tertentu atau bersifat lokal.

Materi muatan perda mencakup semua urusan rumah tangga daerah baik

dalam rangka otonomi maupun atas dasar pembantuan, baik yang bersifat wajib

maupun pilihan sebagaimana ditentukan dalam pasal 13 dan 14 Undang-Undang

Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Materi muatan perda itu

sangat banyak dan setiap saat dapat berkembang seiring dengan perkembangan

zaman. 16

16

(28)

2. Landasan Filosofis, Sosilogis, Yuridis dan Politis Peraturan Daerah

Sebagai salah satu jenis peraturan perundang-undangan di Indosesia,

perda dalam pembentukannya tunduk pada asas maupun teknik dalam

penyusunan perundang-undangan yang telah ditentukan. Hal yang sangat penting

dalam pembentukan peraturan perundang-undangan diantaranya adalah

menyangkut tentang landasannya. Landasan yang dimaksud disini adalah

pijakan, alasan atau latar belakang mengapa perundangan-undangan itu harus

dibuat. Menurut Bagir Manan ada 4 Landasan yang digunakan dalam menyusun

perundang-undangan agar menghasilkan perundang-undangan yang tangguh dan

berkualitas.17

a. Landasan Filosofis

Yaitu dasar filsafat atau pandangan atau ide yang menjadi dasar suatu

rencana atau draft peraturan negara. Suatu rumusan perundang-undangan

harus mendapat pembenaran (recthvaardiging) yang dapat diterima dan dikaji

secara filosofis. Pembenaran itu harus sesuai dengan cita-cita dan pandangan

hidup maysarakat yaitu cita-cita kebenaran (idée der waarheid), cita-cita

keadilan (idée der grerecthsigheid) dan cita-cita kesusilaan (idée der

eedelijkheid).18

17

W. Riawan Tjandra dan Kresno Budi Harsono, Legal Drafting Teori dan Teknik Pembuatan Peraturan Daerah, (Yogyakarta: Universitas Atmajaya Press, 2009) h. 13

18

(29)

Setiap negara selalu ditentukan adanya nilai-nilai dasar atau nilai-nilai

filosofis tertinggi yang diyakini sebagai sumber dari segala sumber nilai

dalam kehidupan kenegaraan. Menurut Sooly Lubis, landasan filosofis dalam

pembentukan peraturan perundang-undangan, yaitu dasar filsafat atau

pandangan, atau ide yang menjadi dasar cita-cita sewaktu menuangkan hasrat

dan kebijaksanaan (pemerintah) ke dalam suatu rancangan atau draft

peraturan negara.19

Peraturan hukum (peraturan perundang-undangan) merupakan

pembadanan dari norma hukum/kaidah hukum dan merupakan sarana yang

paling lengkap untuk mengutarakan apa yang dikehendaki oleh norma hukum.

Peraturan hukum menggunakan sarana untuk menampilkan norrma hukum

sehingga dapat ditangkap oleh masyarakat, dengan menggunakan

konsep-konsep/pengertian-pengertian untuk menyampaikan kehendaknya.20

Dengan demikian perundang-undangan dikatakan mempunyai

landasan filosofis (filosofis grondflag) apabila rumusannya mendapat

pembenaran yang dikaji secara filosofis. Dalam konteks negara Indonesia

yang menjadi induk dari landasan filosofis ini adalah Pancasila sebagai suatu

sistem nilai nasional bagi sistem kehidupan bernegara.

19

M. Sooly Lubis, Landasan dan Teknik Perundang-undangan, Cet-1, (Bandung: Mandar Maju, 1989) h. 7

20

(30)

b. Landasan Sosiologis

Yakni satu peraturan perundang-undangan yang dibuat harus dapat

dipahami oleh masyarakat sesuai dengan kenyataan hidup. Ini berarti bahwa

hukum yang dibentuk harus sesuai dengan hukum yang hidup (the living law)

dalam masyarakat.21 Landasan sosiologis merupakan landasan yang terdiri

atas fakta-fakta yang merupakan tuntutan kebutuhan masyarakat yang

mendorong perlunya pembuatan perundang-undangan (peraturan daerah),

yaitu bahwa ada sesuatu yang pada dasarnya dibutuhkan oleh masyarakat

sehingga perlu pengaturan.22

Sebagai contoh dibidang perikanan, salah satu instrument pengaturan

adalah perizinan perikanan. Dalam hubungan ini dibuatlah perda untuk

menghindari terjadinya penangkapan ikan yang melebihi penangkapan

semestinya, demikian pula penggunaan alat tangkap ikan yang tidak sesuai

dapat merusak sumber daya perikanan, sedangkan hal ini tidak dikehendaki

oleh masyarakat. Karenanya perlu dihindari dengan membuat peraturan

daerah tentang izin usaha perikanan.

Peraturan daerah tersebut mengatur berbagai hal agar sumber daya

perikanan tetap dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan, dan bahkan

melalui pengaturan tersebut diharapkan dapat lebih menguntungkan

21

Rosyidi Ranggawidjaja, Pembentukan Peraturan Negara Di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo, 2010) h. 21

22

(31)

masyarakat dan negara melalui usaha perikanan yang dalam ketentuannya

juga mengatur mengenai pungutan retribusi izin usaha perikanan.

Dalam kondisi demikian inilah maka perundang-undangan tidak

mungkin lepas dari gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat. Dengan

melihat kondisi sosial yang terjadi dalam masyarakat dalam rangka

penyusunan suatu perundang-undangan maka tidak begitu banyak lagi

pengarahan institusi kekuasaan dalam melaksanakannya.

c. Landasan yuridis

Landasan yuridis atau landasan hukum yang menjadi landasan dalam

pembuatan peraturan undangan, adalah peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi dan menjadi dasar kewenangan. Dari sini akan

diketahui, apakah seorang pejabat atau badan mempunyai kewenangan

membentuk peraturan itu atau apakah urusan yang diatur itu berada dibawah

kewenangan mengatur badan itu, serta apakah materi muatan yang akan diatur

menjadi kompetensi mengatur dari jenis peraturan yang akan dirancang.23

Landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang menjadi sumber

hukum/dasar hukum untuk pembentukan suatu perundang-undangan.

Landasan yuridis pada pembentukan perda yakni mengacu pada pasal 18

UUD NRI 1945 yang memberikan wewenang kepada pemerintah daerah

23

(32)

untuk menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lainnya demi

menjalankan otonomi dan tugas pembatuan.

d. Landasan Politis

Landasan politis adalah garis kebijakan politik yang menjadi dasar

selanjutnya bagi sebuah kebijakan dan pengarahan ketatalaksanaan

pemerintahan negara.24 Landasan merupakan “ruh” yang mengarahkan

kebijakan untuk memberi proteksi struktural dan kemasyarakatan guna

mencegah kemungkinan kekacauan sistem pada kebijakan publik dan

kegelisahan dalam masyarakat, baik dalam lingkup daerah maupun dalm

lingkup nasional.25

Hukum sebagai produk politik merupakan anggapan yang benar.

Norma peraturan perundang-undangan harus berlandaskan pada haluan politik

pemerintahan yang termuat dalam Garis-garis Besar Haluan Negara. Hal ini

dapat diungkapkan pada garis politik seperti pada saat ini tertuang pada

Program Legislasi Nasional (Prolegnas) maupun Program Legislasi Daerah

(Prolegda), dan juga kebijakan Program Pembangunan Nasioal (Propenas)

sebagai arah kebijakan pemerintah yang akan di laksanakan selama

pemerintahannya ke depan. Ini berarti memberi pengarahan dalam pembuatan

24

Jimly Asshiddiqie & M Ali Safaat, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, (Jakarta: Sekretariat Jederal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2012) h. 172

25

(33)

peraturan perundang-undangan yang akan dibuat oleh badan atau pejabat yang

berwenang.

B. Fungsi dan Materi Muatan Peraturan Daerah

1. Fungsi Peraturan Daerah

Fungsi perda merupakan fungsi yang bersifat atribusi yang diatur

berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah, terutama pasal 136, dan juga merupakan fungsi delegasian dari peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi. Fungsi perda adalah untuk

menyelenggarakan pelaksanaan otonomi daerah dan tugas pembantuan dalam

rangka penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Adapun fungsi peraturan daerah ini, sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan pengaturan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan.

b. Menyelenggarakan pengaturan sebagai penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah.

c. Menyelenggarakan pengaturan hal-hal yang tidak bertentangan dengan kepentingan umum.

d. Menyelenggarakan pengaturan hal-hal yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Menurut Maria Farida Indrati S yang dimaksud tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi disini adalah tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di tingkat pusat.26

26

(34)

2. Materi Muatan Peraturan Daerah

Materi muatan perda merupakan materi muatan yang bersifat atribusian

maupun delegasian dari materi muatan undang-undang, atau keputusan presiden,

karena perda merupakan peraturan pelaksana undang-undang dan keputusan

presiden.27 Dalam pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dijelaskan bahwa materi muatan

peraturan daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan

otonomi daerah dan tugas pembantuan, juga menampung kondisi khusus daerah

serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Kemudian dalam pasal 138 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2004 tentang Pemerintahan Daerah, disebutkan bahwa materi muatan perda itu

mengandung beberapa asas sebagai berikut:

a. Pengayoman b. Kemanusiaan c. Kebangsaan d. Kekeluargaan e. Kenusantaraan f. Bineka tunggal ika g. Keadilan

h. Kebersamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan i. Ketertiban dan kepastian hukum dan atau

j. Keseimbangan, keselarasan dan keserasian

27

(35)

Selanjutnya dalam ayat (2) menjelaskan bahwa selain asas yang

disebutkan di atas, perda dapat memuat asas yang lain asalkan sesuai dengan

substansi perda yang bersangkutan.

C. Pembentukan Peraturan Daerah dan Kedudukannya

1. Pembentukan Peraturan Daerah

Pembentukan perda sesuai Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menjelaskan bahwa perencanaan

penyusunan perda dilakukan dalam Prolegda dengan judul Rancangan Peraturan

Daerah (Selanjutnya disebut raperda), dan tahapan sebagai berikut:

1) Penyusunan Prolegda

a. Penyusunan prolegda dilaksanakan oleh DPRD dan pemerintah daerah

untuk jangka waktu 1 (satu) tahun (prolegda dilakukan setiap tahun

sebelum penetapan raperda tentang APBD)

b. Penyusunan prolegda antara DPRD dan pemerintah daerah

dikoordinasikan oleh DPRD melalui alat kelengkapan DPRD yang khusus

menangani bidang legislasi.

c. Penyusunan prolegda di lingkungan DPRD dikoordinasikan oleh alat

kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi yang lebih

lanjut diatur dengan peraturan DPRD, begitu pula penyusunan di

lingkungan pemerintah daerah dikoordinasikan oleh biro hukum yang

(36)

d. Hasil penyusunan disepakati menjadi Prolegda dan ditetapkan dalam rapat

paripurna DPRD dan ditetapkan dengan keputusan DPRD.

2) Penyusunan raperda

a. Raperda berasal dari DPRD atau kepala daerah dimana raperda tersebut

disertai dengan penjelasan atau keterangan dan/atau Naskah Akademik.

b. Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi raperda yang

berasal dari DPRD dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD yang

khusus menangani bidang legislasi, dan yang berasal dari kepala daerah

dikoordinasikan oleh biro hukum dan dapat mengikutsertakan instansi

vertikal dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di

bidang hukum.

c. Penyusunan raperda yang berasal dari kepala daerah lebih lanjut diatur

dengan peraturan presiden dan raperda dapat juga diajukan oleh anggota

komisi, gabungan komisi, atau alat kelengkapan DPRD yang khusus

menangani bidang legislasi28 yang ketentuan lebih lanjutnya diatur dalam Peraturan DPRD.

d. Raperda yang disiapkan oleh DPRD disampaikan dengan surat pimpinan

DPRD kepada kepala daerah, dan yang disiapkan oleh kepala daerah

disampaikan dengan surat pengantar kepala daerah kepada pimpinan

DPRD.

28

(37)

e. Apabila dalam satu masa sidang DPRD dan kepala daerah menyampaikan

raperda dengan materi yang sama, maka yang dibahas adalah raperda dari

DPRD sedangkan raperda dari kepala daerah dijadikan untuk

dipersandingkan.

3) Pembahasan dan penetapan raperda

a. Pembahasan raperda dilakukan oleh DPRD bersama kepala daerah

dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan yang dilaksanakan dalam

rapat komisi/panitia/badan/alat kelengkapan DPRD.

b. Raperda dapat ditarik kembali sebelum dibahas oleh DPRD dan kepala

daerah sedangkan raperda yang sedang dibahas dapat ditarik hanya

dengan persetujuan bersama DPRD dan kepala daerah.

c. Raperda yang telah disetujui bersama, disampaikan oleh pimpinan DPRD

kepada kepala daerah dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)

hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama untuk ditetapkan menjadi

peraturan daerah.

d. Raperda ditetapkan oleh kepala daerah dengan membubuhkan tanda

tangan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak raperda

tersebut disetujui oleh DPRD dan kepala daerah, jika tidak ditandatangani

dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak disetujui bersama,

(38)

Lalu dalam hal penetapan perda H.A.W. Wijaya menambahkan bahwa

peraturan daerah ditetapkan oleh kepala daerah setelah mendapat persetujuan

bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 29 Selanjutnya menurut Nomensen

Sinamo menjelaskan peraturan daerah dibentuk berdasarkan asas pembentukan

peraturan perundang-undangan yang meliputi:

a. Kejelasan tujuan

b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat c. Kesesuaian antara jenis

d. Dapat dilaksanakan

e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan f. Kejelasan rumusan dan

g. Keterbukaan30

2. Kedudukan Peraturan Daerah dalam Peraturan Perundang-undangan

Secara materiil, kedudukan perda dalam peraturan perundang-undangan

nasional selalu menempati kedudukan yang strategis dalam penyelenggaraan

pemerintahan daerah, tetapi secara formal kedudukan perda belum diakui dalam

hierarki peraturan perundang-undangan baik pada masa awal kemerdekaan

maupun pada era demokrasi terpimpin. Hierarki peraturan perundang-undangan

mulai dikenal sejak dibentuknya Undang-Undang Nomor 1 tahun 1950 tentang

Peraturan Tentang Jenis dan Bentuk Peraturan.

29

HAW Wijaya, Penyelenggaraan Otonomi di Indonesia Dalam Rangka Sosialisasi UU 32 2004, Cet-2, (Jakarta: PT Raja Grrafindo Persada, 2005) h. 244

30

(39)

Dalam undang-undang ini belum dikenal perda dalam hierarki, justru

peraturan menteri merupakan salah satu jenis peraturan perundang-undangan

yang berada dibawah peraturan pemerintah. Hal ini dapat dimengerti, mengingat

Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 menganut sistem parlementer,

sehingga presiden hanya bertindak sebagai kepala negara dan tidak mempunyai

wewenang untuk membentuk keputusan yang bersifat mengatur.31

Dalam sistem hukum nasional, tata urutan perundang-undangan secara

positiefrechttelijk lebih lanjut diatur dalam Tap MPRS Nomor X/MPRS/1996

tentang Memorandum DPRGR Mengenai Sumber Tertib Hukum Republik

Indonesia.32 Tetapi didalamnya perda tidak termasuk dalam jenis peraturan

perundang-undangan.

Kedudukan perda dalam jenis dan hierarki perundang-undangan mulai

dikenal/diakui setelah ditetapkan Tap MPR Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber

Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan.33 Dalam pasal 2

dirumuskan bahwa peraturan perundang-undangan merupakan pedoman dalam

pembuatan hukum dibawahnya, yang meliputi: (1) UUD 1945, (2) Tap MPR, (3)

Undang-undang, (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, (5)

Peraturan Pemerintah, (6) Keputusan Presiden, (7) Peraturan Daerah. Dalam pasal

31

Maria Farida Indrati Soeprapto, Buku I. Ilmu Perundang-undangan (Proses dan Teknik Pembentukannya),Cet-1, (Yogyakarta: Kansius, 2007) h. 71

32

Engelbrecht. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Indonesia, (Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve, 2006) h. 54

33

(40)

3 butir 7 dirumuskan bahwa perda merupakan peraturan untuk melaksanakan

aturan hukum di atasnya dan menampung kondisi khusus dari daerah yang

bersangkutan yang dibentuk oleh DPRD bersama kepala daerah.

Pasca perubahan UUD NRI 1945 dan setelah Tap MPR No I/MPR/2003

tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPR

Sementara dan Ketetapan MPR Republik Indonesia Tahun 1960 sampai dengan

tahun 2002, kedudukan perda secara formal dalam peraturan perundang-undangan

nasional menempati posisi kuat dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor

10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Selanjutnya setelah dirubahnya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004

dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan, disini perda menjadi dua bentuk pertama, perda provinsi

dan kedua perda kabupaten/kota. Dalam pasal 7 ayat (1), perda merupakan jenis

peraturan perundang-undangan yang kedudukannya dibawah Peraturan Presiden.

Perda merupakan jenis peraturan perundang-undangan yang

pembentukannya melibatkan lembaga perwakilan. Itu sebabnya jenis perda

tersebut mempunyai keistimewaan dalam hal materi muatannya. Perda

mempunyai keistimewaan karena dapat memuat ketentuan pidana dalam materi

muatannya. Perda juga merupakan jenis peraturan perundang-undangan yang

jenis dan kedudukannya diatur dalam UUD NRI 1945.34

34

(41)

BAB III

KEWENANGAN PENGAWASAN PERATURAN DAERAH

A. Tinjauan Umum Keputusan Menteri

1. Dasar Hukum dan Fungsi Keputusan Menteri

Jabatan Menteri Negara menurut ketentuan Pasal 17 UUD NRI 1945 itu

haruslah diisi berdasarkan merit sistem. Itulah konsekuensi dari pilihan sistem

pemerintahan presidensil yang dianut dalam UUD NRI 1945. Dengan demikian

kekuasaan para Menteri Negara bersifat meritokratis (meritocracy), sehingga dalam memimpin kementerian yang menjadi tugasnya, para menteri itu pula

diharapkan bekerja menurut standar yang bersifat meritokratis.35

Berkenaan dengan tugas menteri dibidangnya, salah satunya dapat

menerbitkan keputusan/peraturan menteri guna memberikan payung hukum

dalam melaksanakan pemerintahan. Oleh karena itu, menurut Maria Farida S, ada

empat fungsi dan dasar diterbitkannya keputusan menteri adalah sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan peraturan secara umum dalam rangka penyelenggaraan kekuasaan pemerintah dibidangnya.

b. Menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut ketentuan dalam peraturan presiden.

Fungsi ini merupakan delegasian berdasarkan ketentuan pasal 17 UUD NRI 1945 perubahan yang menentukan bahwa:

1) Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara.

2) Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh presiden 3) Setiap menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan.

35

(42)

c. Menyelenggarakan peraturan lebih lanjut ketentuan dalam undang-undang yang secara tegas menyebutkannya.

d. Menyelengarakan pengaturan lebih lanjut ketentuan dalam peraturan pemerintah yang tegas-tegas menyebutkannya.36

Keputusan menteri ini merupakan salah satu instrument hukum, sehingga

keberadaan Keputusan Menteri masih sangat diperlukan dalam rangka

melaksanakan peraturan perundang-undangan diatasnya yang secara tegas

mendelegasikan.37

2. Materi Muatan Keputusan Menteri

Materi muatan berkaitan erat dengan jenis peraturan perundang-undangan

dan terkait dengan pendelegasian pengaturan. Selain terkait dengan jenis dan

pendelegasian, materi muatan terkait dengan cara merumuskan norma. Perumusan

norma peraturan menteri harus ditujukan langsung kepada pengaturan lingkup

bidang tugasnya menteri atau kementeriannya yang berasal dari pendelegasian

dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya.38

Dalam membentuk peraturan perundang-undangan harus memperhatikan

materi muatan yang akan dituangkan dalam peraturan tersebut. A.Hamid S.

Attamimi membagi sepuluh materi muatan peraturan perundang-undangan, yakni:

36

Maria Farida Indirati Soeprapto, Buku 1, Ilmu Perundang-undangan (Jenis, Fungsi dan Materi Muatan), Cet-1, (Yogyakarta: Kanisius, 2007) h. 225-227

37

Suhariyono Ar, Peraturan Menteri dan Keputusan Menteri. Jurnal legislasi Indonesia, Cet-1, (Dirjen Peraturan Perundang-undangan Departemen Kehakiman dan HAM RI, Volume Cet-1, Nomor 2, 2004) h. 120

38

(43)

a. Yang tegas-tegas diperintahkan oleh UUD dan Tap MPR b. Yang mengatur lebih lanjut ketentuan UUD

c. Yang mengatur hak-hak asasi manusia

d. Yang mengatur hak dan kewajiban warga Negara e. Yang mengatur pembagian kekuasaan Negara

f. Yang mengatur organisasi pokok lembaga-lembaga tinggi negara g. Yang mengatur pembagian wilayah/daerah negara

h. Yang mengatur siapa warga negara dan cara memperoleh/kehilangan kewarganegaraan

i. Yang dinyatakan oleh suatu undang untuk diatur dengan undang-undang. 39

Dalam konteks ini, A. Hamid S. Attamimi mempertegas bahwa perincian

butir-butir diatas menunjukkan pena-pena penguji (testpennen) untuk menguji apakah suatu materi peraturan perundang-undangan negara termasuk materi

muatan atau tidak. Berkenaan dengan materi muatan keputusan menteri, dalam

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan tidak ditegaskan secara implisit mengenai materi

muatannya.

Akan tetapi menurut Maria Farida Indrati Soeprapti, materi muatan

peraturan perundang-undangan lainnya, termasuk Keputusan Menteri yakni

merupakan materi muatan yang bersifat atribusian maupun delegasian dari materi

muatan undang-undang atau Keputusan Presiden, karena peraturan

39

(44)

undangan lainnya merupakan peraturan pelaksanaan undang-undang dan

Keputusan Presiden.40

Telah dijelaskan diatas, bahwa fungsi Keputusan Menteri adalah dalam

rangka menyelenggaarakan ketentuan Pasal 17 ayat 1 UUD NRI 1945,

Undang-undang, Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden sehingga materi muatan

Keputusan Menteri harus bersumber dan berlandaskan ketentuan peraturan

perundang-undangan yang ada diatasnya, baik bersumber dari delegasi maupun

atribusi.

3. Kedudukan Keputusan Menteri Dalam Hierarki Perundang-undangan

Jika dilihat eksistensi atau kedudukan Keputusan/Peraturan Menteri dalam

peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat ini, tentunya ada sedikit

penegasan dan pengakuan Keputusan/Peraturan menteri. Dalam rumusan Pasal 7

ayat 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan, hierarki terdiri dari UUD NRI 1945, Tap MPR,

Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, Peraturan Pemerintah,

Peraturan Presiden dan Perda Provinsi, Perda Kabupaten/Kota. Artinya bila hanya

menelaah pasal tersebut, maka akan menimbulkan beberapa penafsiran yang salah

satunya menyatakan bahwa Keputusan/Peraturan Menteri itu tidak diakui dan

tidak masuk dalam tata urutan peraturan perundang-undangan.

40

(45)

Oleh karenanya harus ditelaah dan dikaji lebih mendalam rumusan yang

terkandung dalam Pasal 8 ayat (1) dan (2) dikatakan bahwa:

1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.

2) Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.

Kemudian sebagai pendukung argumentasi dalam pasal di atas, maka jenis

peraturan perundang-undangan selain dalam ketentuan pasal 7 ayat 1 yakni salah

satunya peraturan yang dikeluarkan oleh Menteri sebagaimana tertera pada Pasal

8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-undangan. Dari penjelasan pasal 8 di atas, dapat

disimpulkan bahwa, Menteri dapat membentuk suatu peraturan

perundang-undangan yang disebut Keputusan Menteri/Peraturan Menteri, sepanjang

diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Dengan adanya rumusan “sepanjang diperintah oleh peraturan perundang

-undangan yang lebih tinggi” dalam pasal 8 ayat (2) Undang-undang Nomor 12

Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan tersebut, maka

(46)

undang-undang, Peraturan Pemerintah, atau Peraturan Presiden secara tegas

memerintahkan (menetapkan).

Dari kajian teori dan ilmu perundang-undangan ketentuan tersebut telah

membatasi kewenangan menteri dalam melaksanakan fungsi pemerintahan yang

diembannya, sebagai penyelenggara sebagian bidang pemerintahan yang

diberikan oleh Presiden, serta menerapkan kembali kebiasaan pembentukan

peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam sistem parlementer.41

B. Tinjauan Umum Peraturan Presiden

1. Fungsi dan Dasar Hukum Pembentukan Peraturan/Keputusan Presiden

Pembentukan Peraturan Presiden yang berfungsi pengaturan yang

dilakukan presiden tanpa memerlukan persetujuan DPR, yang merupakan bagian

dari tugas dan fungsi pemerintahan. Peraturan Presiden tersebut dapat berupa (i)

pengaturan lebih lanjut ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan

pemerintah dan (ii) pengaturan hal-hal lain yang tidak termasuk salah satu jenis

peraturan perundang-undangan negara tersebut di atas.42 Menurut Maria Farida Indrati S, fungsi Peraturan Presiden yang berisi pengaturan adalah:

a. Menyelenggarakan pengaturan secara umum dalam rangka penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan.

41

Maria Farida Indrati Soeprapto, Jenis Hierarki dan Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundangan, (Jakarta: Makalah Biro Hukum dan Organisasi Dept. Kehutanan RI, 2005) h. 9

42

(47)

Fungsi ini merupakan suatu kewenangan atribusi dari UUD NRI 1945 kepada Presiden, dan sesuai dengan pendapat dari G. Jellinek bahwa di dalam kekuasaan pemerintahan itu termasuk pula fungsi mengatur dan memutus. Fungsi ini dapat dilaksanakan dengan membentuk suatu peraturan perundang-undangan, di dalam hal ini adalah pembentukan suatu Keputusan Presiden (baik bersifat mengatur atau menetapkan).

Keputusan Presiden dalam melaksanakan fungsi yang pertama ini merupakan Keputusan Presiden yang mandiri, yaitu Keputusan Presiden yang merupakan sisa dari peraturan perundang-undangan yang tertentu batas lingkupnya yaitu undang-undang, peraturan pemerintah dan keputusan presiden yang merupakan pengaturan delegasian.

b. Menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut ketentuan dalam peraturan pemerintah yang tegas-tegas menyebutkannya.

c. Menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut ketentuan lain dalam peraturan pemerintah meskipun tidak tegas-tegas menyebutkannya.

Kedua fungsi tersebut (a dan b) merupakan fungsi Peraturan Presiden yang merupakan fungsi delegasian dari peraturan pemerintah dan sekaligus undang-undang yang dilaksanakannya. Fungsi Peraturan Presiden disini merupakan fungsi yang berdasarkan stufentheorie, dimana suatu peraturan yang di bawah itu selalu berlaku, bersumber dan berdasar pada peraturan yang lebih tinggi di atasnya.

Peraturan Presiden disini merupakan peraturan yang bersifat delegasian/limpahan yang kewenanganya terletak/diatur dalam undang-undang dan peraturan pemerintah, sehingga Keputusan Presiden di sini hanya mengatur lebih lanjut saja, tidak membentuk suatu kebijakan baru.43

2. Materi Muatan Keputusan/Peraturan Presiden

Materi muatan dari Keputusan/Peraturan Presiden ini harus dilihat dari

dua segi sesuai dengan fungsi Keputusan/Peraturan Presiden tersebut.

Keputusan/Peraturan Presiden adalah pengaturan yang dibuat oleh Presiden

sebagai penyelenggaraan fungsi pemerintahan sesuai dengan ketentuan dalam

43

(48)

pasal 4 ayat (1) UUD NRI 1945, dimana fungsi ini merupakan atribusi dari UUD

NRI 1945, sedangkan fungsi dari keputusan presiden lainnya adalah

menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut dari peraturan pemerintah baik yang

secara tegas-tegas memintanya ataupun yang secara tidak tegas-tegas, dimana

fungsi disini merupakan delegasi dari peraturan pemerintah yang melaksanakan

suatu undang-undang.

Berdasarkan kedua fungsi tersebut maka materi muatan suatu keputusan

presiden merupakan materi muatan sisa dari materi muatan undang-undang dan

peraturan pemerintah, yaitu materi yang bersifat atribusian, serta materi muatan

yang merupakan delegasian dari undang-undang dan Peraturan Pemerintah.

Dalam hal luas dan batas lingkupnya, kewenangann yang bersifat atribusi, yaitu

dalam membentuk keputusan presiden yang mandiri, merupakan kewenangan

yang sangat luas dibandingkan dengan kewenangan yang berasal dari delegasi

undang-undang atau peraturan pemerintahnya.44

Materi muatan Keputusan/Peraturan Presiden menurut pasal 13

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan, dijelaskan bahwa materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang

diperintahkan oleh undang-undang atau materi untuk melaksanakan

penyelenggaraan pemerintah.

44

(49)

3. Kedudukan Peraturan Presiden

Dalam rangka melaksanakan undang-undang, Presiden sebagai kepala

pemerintahan tentu haruslah diberikan ruang gerak yang cukup untuk

berkreatifitas. Presiden harus memiliki keleluasaan untuk mengatur sendiri

kebijakan yang akan ditetapkan dalam rangka melaksanakan undang-undang itu.

Prinsip yang berkenaan dengan ruang gerak inilah yang dalam konsep hukum

administrasi Negara disebut sebagai freies ermessen. Presiden dianggap sudah seyogyanya dapat menetukan sendiri norma-norma aturan kebijakan atau policy rules (beleidsregels) yang diperlukan untuk menjalankan undang-undang.45

Oleh karena itu, Presiden sebaiknya tetap dimungkinkan untuk

menetapkan Peraturan Pemerintah dalam rangka menjalankan undang-undang,

dan sekaligus menetapkan peraturan kebijakan atau beleidsregels (policy rules) yang disebut dengan nomeklatur Peraturan Presiden.46 Maka dari pengertian Peraturan Presiden yang telah dijelaskan, Peraturan Presiden dalam pasal 7 ayat 1

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan, dimana Peraturan Presiden berada di atas perda dan di

bawah Peraturan Pemerintah. Artinya, Peraturan Presiden di sini terikat oleh

hierarki dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

45

Jimly Asshiddiqie, Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia, Cet-1, (Jakarta: Mahkamah Konstitusi RI dan Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI, 2003) h. 275

46

(50)

C. Bentuk Pengawasan Terhadap Peraturan Daerah

Secara umum pengertian pengawasan dapat diartikan sebagai proses

menentukan apa yang harus dikerjakan, kemudian dilakukan koreksi atau

pembenahan dengan maksud hasil yang ingin dicapai tadi sesuai dengan apa yang

telah direncanakan terdahulu. George R. Ferry menitikberatkan pengawasan pada

tingkat evaluasi serta koreksi terhadap hasil yang telah dicapai, dengan maksud agar

hasil tersebut sesuai dengan rencana, maka dilkukan pada akhir suatu kegiatan setelah

kegiatan tersebut menghasilkan sesuatu. 47

Sedangkan definisi yang diberikan oleh Henry Farol dapat diketahui hakekat

pengawasan adalah suatu tindakan menilai (menguji) apakah sesuatu telah berjalan

dengan rencana yang telah ditentukan. Dengan pengawasan itu akan dapat ditemukan

kesalahan-kesalahan yang kemudian dapat diperbaiki dan yang lebih penting lagi

jangan sampai kesalahan tersebut terulang kembali. 48

Berkaitan dengan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan

daerah khususnya pembentukan peraturan daerah yang dibuat oleh Pemerintah

Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota, selama ini dikenal adanya pengawasan preventif

dan represif, adapun penjelasan kedua pengawasan tersebut adalah:

47

Moh Hasyim, Pengawasan Kekuasaan Eksekutif Dalam Negara Hukum Pancasila, (Yogyakarta: FH UII, Jurnal Hukum “Ius Quia Iustum” Nomor 6 Vol. 3, 1996) h.65

48

(51)

1. Pengawasan Preventif

Pengawasan preventif adalah pengawasan yang dilakukan sebelum

keputusan atau peraturan efektif berlaku (voordat een besluit of regeling in werking kan treden).49 Pengawasan preventif ini berbentuk memberi pengesahan atau tidak memberi pengesahan. Sesuai dengan sifatnya, pengawasan preventif

dilakukan sesudah keputusan daerah ditetapkan, tetapi sebelum keputusan itu

mulai berlaku.

Irawan Soejito menegaskan bahwa pengawasan preventif ini hanya

dilakukan terhadap keputusan kepala daerah dan peraturan daerah, yang berisi

atau mengatur materi-materi tertentu. Ada beberapa bentuk pengawasan preventif

ini yaitu pengesahan (goedkeuring), persetujuan (toestemming vooraf), pembebasan/dispensasi (ontheffing), pemberian kuasa (machtiging) dan pernyataan tidak keberatan (verklaring van geen bezwaar).50

Berdasarkan pemahaman tentang pengawasan preventif di atas, dalam

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Darah, telah

dijabarkan mengenai pengawasan preventif rancangan peraturan daerah propinsi

dan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota antara lain:

49

Ridwan, Dimensi Hukum Pengawasan Terhadap Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Cet-1, (Yogyakarta: FH UII, Jurnal Hukum “Ius Quia Tustum” Nomor 18, Vol.8, 2001) h.78

50

(52)

a. Pengawasan Preventif Rancangan Peraturan Daerah Propinsi

Dalam rumusan pasal 185 ayat 1-4, dikatakan:

1. Raperda provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lambat 3 (tiga) hari disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi.

2. Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada gubernur paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.

3. Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi raperda tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi perda dan peraturan gubernur.

4. Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi raperda tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, gubernur bersarna DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.

b. Pengawasan Preventif Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

Ketentuan mengenai pengawasan preventif raperda kabupaten/kota,

diatur dalam beberapa rumusan pasal yang termuat dalam Undang-undang

Nomor 32 Tahun 2004, yakni pasal 186, 187, 188 dan 189, adapun jelasnya

rumusan pasal-pasal di atas adalah:

Pasal 186 ayat 1-4 menyatakan:

(53)

2. Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan perda kabupaten/kota dan rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

3. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan perda tentang APBD dan rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, bupati/walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi perda dan peraturan Bupati/Walikota.

4. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan perda tentang APBD dan rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi, bupati/walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi.

Kemudian pasal 187 ayat 1-4 menyatakan:

1. Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam pasal 181 ayat (3) tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan kepala daerah tentang APB

Gambar

Grafika, 2006) h. 37  62

Referensi

Dokumen terkait

(5) Keputusan Menteri tentang evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan kepada Gubernur paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak rancangan perda

(5) Raperda provinsi yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (4), disampaikan oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan paling lambat 7

(2) Apabila Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, atau Walikota dan Wakil Walikota yang telah ditetapkan sebagai anggota Tim Kampanye dan/atau

Sehubungan dengan pengunaan standar wewenang khusus yang diberikan kepada Menteri Dalam Negeri maupun Gubernur tersebut, sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa

(1) Calon anggota BPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 disampaikan Kepala Desa kepada Bupati melalui Camat paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil pemilihan

Pasal 147 Permendagri 80 Tahun 2015 menyatakan, Dalam hal Gubernur sebagai Wakil pemerintah pusat tidak membatalkan Peraturan Bupati/ Walikota yang bertentangan

(2) Apabila Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, atau Walikota dan Wakil Walikota yang telah ditetapkan sebagai anggota Tim Kampanye dan/atau

(2) Calon anggota BPD terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati melalui Camat paling lama 7 (tujuh) Hari sejak