Oleh
SEPTIA RAHAYU
NIM: 1110011000022
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
i
SMP Al-Zahra Indonesia Pamulang.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode numbered head together (NHT) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih di SMP Al-Zahra Indonesia Pemulang. Metode yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelasVIII-A dan kelas VIII-C SMP Al-Zahra Indonesia Pemulang. Kelas VIII-C sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan metode numbered head together (NHT) dan siswa VIII-A sebagai kelas kontrol dengan menggunakan metode puzzle. Instrument yang digunakan adalah tes hasil belajar. Soal tes hasil belajar yang digunakan sebanyak 30 soal berbentuk pilihan ganda dan setelah melalui proses uji validitas, terdapat 21 soal yang valid dengan reliabilitas 0,87 dan termasuk kategori tinggi atau dengan kata lain instrumen ini layak digunakan dalam penelitian. Teknik analisis data menggunakan metode statistik uji “t” (uji beda), untuk menguji hipotesis penelitian dilakukan konsultasi pada tabel distribusi “t” pada taraf signifikansi 0,05%.
Temuan hasil penelitian ini adalah adanya pengaruh penggunaan metode numbered head together (NHT) terhadap hasil belajar fiqih siswa. Hal ini ditunjukan dari hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t diperoleh nilai thitung > ttabel yaitu 6,43 > 2,042 dengan taraf signifikasi 0,05 %. Selain itu di
lihat dari hasil perhitungan post test kelas eksperimen yang menggunakan metode numbered head together (NHT) (nilai rata-rata 87) menunjukan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan metode puzzle (nilai rata-rata 78). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode mengajar di numbered head together (NHT) berpengaruh terhadap hasil belajar fiqih siswa.
ii
One characteristic of batik from Cirebon are not found anywhere else is the motive of "Mega Clouds", which is shaped like a cloud motif lumpy which usually form a frame on the main picture. Class VIII-C as an experimental class using numbered heads together (NHT) and the student class VIII-A as a control by using a puzzle. Instrument used is the achievement test. Achievement test used by 30 multiple choice questions of the test there are 21 questions were valid and reliability 0.87 including high category or in other words, these instruments are fit for use in research. Analysis using statistical methods test "t" (difference test), to test the hypothesis of the research carried out consultation on distribution table "t" at the significance level of 0.05%.
The findings of this research is the influence of the use of methods of numbered heads together (NHT) on learning outcomes of students of fiqh. It is shown from the results of hypothesis testing using t-test obtained tcount> ttable ie 6.43> 2.042 with a significance level of 0.05%.In addition, in view of the results of post-test calculations using the experimental class were numbered heads together (NHT) (average value 87) showed higher values than the control class that uses puzzle method (average value 78). From this study it can be concluded that the method of teaching in the numbered head together (NHT) effect on student learning outcomes fiqh.
Al-hamdu lilaahi rabibbil-‘aalamiin. Puji syukur atas rahmat, taufiq dan hidayaah-Nya yang telah memberikan kelapangaan kepada penulis sehinnga dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Hanya kepada-Nya penulis memohon
pertolongan dan kemudahan dalam segalaa urusan. Allahumma shali ‘alaa
sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad. Shalawat serta salam
semoga tetap tercurah kepada junjungan dan suri tauladan umat manusia, Nabi
Muhammad saw, makhluk mulia yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang
kepada sesama manusia dan membawa kita pada jalan yang di ridhai Allah swt.
Dalam proses penyusunan skripsi dan belajar di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), penulis banyak mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil, maka penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Dr.Hj. Nurlena Rifa’i, MA. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan.
2. Bapak Dr. H. Abdul Majjid Khon, M.Ag. Kepala Jurusan Pendidikan
Agama Islam.
3. Ibu Marhamah Saleh, Lc,. MA. Sekertaris Jurusan Pendidikan Agama
Islam,
4. Bapak Tenenji, MA. Dosen Pembimbing yang selalu meluangkan waktunya
untuk membimbing dan memotivasi kepada penulis.
5. Bapak Ghufron, M.Pd. Kepala sekolah SMP Al-Zahra Indonesia Pamulang
yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di
SMP Al-Zahra Indonesia Pamulang.
6. Bapak Kamil Arifin, M.Pd. Guru PAI di SMP Al-Zahra Indonesia
Pamulang.
7. Kedua orang tua tercinta ayahanda H. Marsudi dan Ibunda Hj. Kartini,
iv selalu memberikan dukungan kepada penulis secara moril maupun
nonmoril.
9. Sahabat-sahabatku yang aku sayangi, Rizki Alfandi, S.Pd.I; Imran Satria
Muchtar, S.Pd.I; Umayroh, S.Pd.I; Cyinthia Aryani, S.Pd.I; Arief Budiman,
S.Pd.i; Lia Lusiana, S.Pd; Heri Kiswanto, SE, Prada. Kukuh Yuda Pradana;
Ela Widayadi, Am.Kep dan Lia Astriana, S.Pd yang selalu membantu
penulis dan memberikan saran dalam menyelasaikan penelitian.
10. Sahabat Sedulur Jawa, Alis Arsita, Endang Yuniasih, Suprapti, Siti
Maesaroh, Uni Fadlilah dan Yuli Khusnia yang senantiasa membantu dalam
menyelesaikan penelitian.
11. Adik-adik SMP Al-Zahra Indonesian Pamulang yang telah mendukung
proses berjalannya penelitian, Aura, Fatika, Thoric, Helen, Ecik, Rafael,
Selin, Thiffah, Tatsa dan yang tidak bisa disebutkan satusatu.
12. Serta teman-teman PAI Kelas A dan Kelas Fiqih angkatan 2010, Himpunan
Mahasiswa Lampung, Kosan ceria, Krudung Ismatul Collection, Kursiwi,
audelia, khozinatun Mazfufah dan tidak bisa disebutkan satu persatu tetapi
tidak mengurangi rasa terimakassih penulis kepada kalian semua, I miss you forever all.
Begitu panjang perjalanan untuk menempuh sebuah proses yang dinanti
untuk mendapatkan sebuah kebanggaan, lika-liku perjuangan, pengorbanan,
harapan dan semoga pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT, Amin.
.
Jakarta, 28 Agustus 2014
Wasalam,
DAFTAR ISI
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SIDANG SKRIPSI
ABSTRAK. ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR. ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... …… 1
B. Identifikasi Masalah ... …… 8
C. Pembatasan Masalah ... …… 9
D. Perumusan Masalah Penelitian ... …… 9
E. Tujuan Penelitian ... …… 9
F. Manfaat Penelitian ... …… 9
BAB II KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Deskripsi Teori ... …… 11
1. Hakikat Belajar PAI………..11
vi
a. Pengertian Belajar. ... …… 13
b. Teori-teori Belajar. ... …… 14
c. Prinsip-prinsip Belajar. ... …… 16
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar. ... …… 18
e. Hasil Belajar. ... …… 19
3. Medel pembelajaran Kooperatif learning ... ... 20
a. PengertianPembelajaran... 20
b. PengertianPembelajaran Kooperatif... …… 23
c. Konsep Dasar Koopertif Learning…..……… 24
d. Unsur-Unsur Model Pembelajaran Koopertif Learing……….. 25
e. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif Learning……….… 26
f. Aturan dasar pembelajaran kooperatif Learning…….………… 26
g. Ketrampilan kooperatif Learning ……….. 27
h. Tujuan pembelajaran kooperatif Learning ………. 28
4. Metode Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)... …… 29
a. Pengertian Metode (NHT). ... …… 29
b. Langkah-langkah Penggunaan Metode NHT... …… 29
c. Kelebihan dan Kelemahan Metode NHT. ... …… 30
5. Metode PembelajaranCrossword Puzzle……….… 32
6. Pengertian Mata Pelajaran Fiqih ……….… 33
B. Hasil Penelitian yang Relevan. ... ….… 35
vii
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... …… 40
B. Metode dan Desain Penelitian ... …… 40
C. Populasi dan Sampel Penelitian ... …… 41
D. Variabel Penelitian ... …… 42
E. Teknik Pengumpulan Data ... …… 42
F. Instrumen Penelitian... …… 42
G. Uji Coba Instrumen. ... …… 43
a. Uji Validitas. ... …… 43
b. Uji Reliabilitas. ... …… 44
c. Uji Taraf Kesukaran Soal. ... …… 45
d. Daya Pembeda. ... …… 45
H. Teknis Analisis Data. ... …… 46
a. Uji Normalitas. ... …… 46
b. Uji Homogenitas. ... …… 47
c. Uji Hipotesis. ... …… 48
I. Hipotesis Statistik. ... …… 49
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil SMP Al-Zahra Indonesia. ... 50
B. Uji Coba Instrumen. ... 52
1. Validitas. ... 52
2. Reliabilitas. ... 52
viii
4. Daya Pembeda. ... 53
C. Deskripsi Data. ... 53
1. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada kelas eksperime.…. 53 2. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada kelas kontrol . ... 54
3. Data Hasil Belajar Fiqih Siswa. ... 55
a. Hasil Pre-Test kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol . ... 55
b. Hasil Post-Test kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol . ... 60
c. Perbandingan hasil pre-test dan post test kelas eksperimen dan kelas kontrol. ... 64
1. Hasil pre-test kelas eksperimen dan kelas kontrol). ... 64
2. Hasil post test kelas eksperimen dan kelas kontrol. ... 66
D. Uji Persyaratan analisis data. ... 67
1. Uji normalitas data. ... 67
2. Uji homogenitas data... 68
E. Pengujian hipotesis dan pembahasan ... 69
1. Uji Hipotesis Penelitian ... 69
2. Pembahasan hasil penelitian ... 69
F. Keterbatsan penelitian. ... 70
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan. ... 71
ix C. Saran ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... xii
x
Tabel 3.2 Tabel matrik variable. ... 42
Tabel 3.3 Tabel kriteria reliabilitas soal ... 45
Tabel 4.1 Tabel klasifikasi tingkat kesukaran butir soal 52
Tabel 4.2 Tabel klasifikasi tingkat daya pembeda ... 53
Tabel 4.3 Tabel nilai Hasil pre-tes eksperimen ... 55
Tabel 4.4 Tabel disribusi hasil pre-tes ekperimen ... 57
Tabel 4.5 Tabel nilai hasil pre-tes kontrol ... 57
Tabel 4.6 Tabel disribusi hasil nilai pre-tes kontrol ... 59
Tabel 4.7 Tabel nilai Hasil post-tes eksperimen... 60
Tabel 4.8 Tabel disribusi hasil nilai pos-tes ekperimen ... 61
Tabel 4.9 Tabel nilai post-tes kontrol ... 62
Tabel 4.10 Tabel disribusi hasil post-tes ekperiimen ... 64
Tabel 4.11 Tabel keterangan diagran hasil pre-tes kelas ekperimen dan kontrol... 65
Tabel 4.12 Tabel keterangan diagran hasil post-tes kelas ekperimen dan kontrol... 67
Tabel 4.13. Tabel hasil uji normalitas pre-tes ekperimen dan kontrol ... 67
Tabel 4.14 Tabel hasil uji normalitas post-tes ekperimen dan kontrol ... 68
xi
Gambar 4.2 Diagram frekuensi nilai pre- tes kelas control ... 59
Gambar 4.3 Diagram frekuensi nilai post-tes kelas control. ... 61
Gambar 4.4 Diagram frekuensi nilai post-tes kelas ekperimen. ... 63
Gambar 4.5 Diagram frekuensi hasil pre-test kelas eksperimen dan kelas
Control. ... 65
Gambar 4.6 Diagram frekuensi hasil post test kelas eksperimen dan kelas
[image:16.595.108.525.154.583.2]Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Bab I Pasal I pendidikan adalah “Usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlikan dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara”.1
Menurut pasal tersebut jelas bahwa peserta didik dalam kegiatan belajar
memerlukan bimbingan setiap saat. Baik oleh orang tua di rumah maupun oleh
lembaga pendidikan yang ada dan perlu juga bagi seorang guru untuk membangun
suasan kelas yang menyenangkan agar tidak monoton.
Pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang yang sangat penting bagi
perkembangan peradaban manusia dalam suatu bangsa. Bangsa yang mempunyai
peradaban maju adalah bangsa yang mempunyai sumber daya manusia yang
berkualitas, oleh karena itu agar bangsa Indonesia memiliki sumber daya manusia
yang berkualitas, tentunya harus dilakukan suatu usaha untuk meningkatkan mutu
pendidikan.
Peningkatan mutu pendidikan tentunya berkaitan erat dengan peserta didik,
guru, sistem pendidikan, metode yang digunakan, orang tua dan lingkungan. Bagi
peserta didik, pendidikan sangatlah penting untuk masa depannya. Namun
demikian pada kenyataanya banyak peserta didik yang mengalami kesulitan
dalam memahami dan mengerti tentang pelajaran yang meraka hadapi, bahkan ada
pula yang memang acuh tak acuh selama proses pembelajaran berlangsung. Hal
ini merupakan ujian terpenting bagi seorang guru.
Perbaikan dan pembaharuan dalam bidang pendidikan perlu dilakukan untuk
meningkatkan mutu pendidikan, sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang
1
berkualitas. Peningkatan mutu pendidikan berkaitan erat dengan penyempurnaan
proses belajar mengajar.
Tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran dapat diamati dari dua sisi,
yaitu tingkat pemahaman dan penguasaan materi yang diberikan oleh guru.
Pemahaman peserta didik berhubungan dengan daya serap seorang peserta didik
dalam pelajaran. Daya serap peserta didik adalah kemampuan atau kekuataan
yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu, salah satunya yaitu untuk
menyerap materi pembelajaran yang diberikan oleh guru dan proses belajar yang
baik akan meningkatkan mutu pendidikan yang baik pula.
Proses pembelajaran ialah suatu proses individu mengubah perilaku dalam
upaya memenuhi tujuan dan kebutuhan hidupnya. Proses pembelajaran adalah
sebuah aktivitas yang terpenting bagi manusia, alasannya yaitu:
1. Individu akan merasakan adanya kebutuhan dan melihat tujuan yang ingin
dicapai.
2. Kesiapan (readiness) individu untuk mengetahui kebutuhan dan mencapai tujuan.
3. Pemahaman situasi lingkungan.
4. Menafsirkan situasi yaitu bagaimana individu melihat kaitan berbagai aspek
yang terdapat dalam situasi.
5. Tindakan balasan (respons). 6. Akibat (hasil) pembelajaran.2
Dengan pendidikan diharapkan terciptanya manusia Indonesia yang bertakwa
kepada Tuhan, berakhlak mulia, berpengetahuan, cakap dan terampil agar
nantinya dapat membangun kemajuan suatu bangsa. Hal ini sejalan dengan apa
yang tencantum dalam Undang-Undang Sisdiknas yang tertuang pada Bab II pasal
3, ditegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
2
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kratif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang domokratis serta bertanggung jawab.3
Lewat pendidikanlah akan diwariskan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh
bangsa tersebut, oleh karena itu pendidikan tidak hanya berfungsi untuk how to know, dan how to do, tetapi yang amat penting adalah how to be, bagaimana supaya how to be terwujud maka diperlukan transfer budaya dan kultur.4
Dalam rangka menghasilkan peserta didik yang unggul dan dapat diharapkan,
proses pendidikan juga senantiasa dievaluasi dan diperbaiki. Evaluasi dibutuhkaan
untuk mengtahui sejauh mana perubahan itu tejadi melalui berbagai kegiatan
pembelajaran yang telah berlangsung. Pendidikan yang berorientasi pada
kemampuan, penilaian juga harus berorientasi pada penguasaan kemampuan
derajat tertentu, dan bukan pada kenaikan kelas, atau pada kelulusan. Evaluasi
hasil belajar dilakukan atas hasil pengukuran dari penampilan siswa yaitu
kemampuan yang didemostrasikan5.
Keberhasilan suatu pendidikan juga dipengaruhi oleh proses pembelajaran
yang baik. Ada tiga hukum pembelajaran, yaitu:
1. Hukum hasil (law of effect), yang menyatakan bahwa hubungan antara rangsangan dan perilaku akan makin kokoh bila ada kepuasan dan semakin
diperlemah bila terjadi ketidakpuasan.
2. Hukum latihan (law of exercise), yang menyatakan suatu rangsangan dan perilaku akan makin kokoh bila sering dilakukan latihan.
3. Hukum kesiapan (law of readiness) yang menyatakan bahwa hubungan rangsangan dan perilaku akan semakin kokoh bila disertai individu.6
Berbicara mengenai kepribadian guru yang menarik, Dr. Zakiah Daradjat
menjelaskan bahwa guru adalah ”orang yang seharusnya dicintai dan disegani
oleh muridnya. Penampilannya dalam mengajar harus meyakinkan karena tindak
tanduknya akan diperhatikan oleh murid dan bisa saja akan ditiru karena sejatinya
3
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Op.Cit., h. 6
4
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2004), Cet.1, h.9-10
5
Slameto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi aksara, 2001), cet III, h.5-7
6
guru adalah seorang yang digugu dan ditiru”. Dalam melaksanakan tugasnya
sebagai guru ia harus tabah dan tahu memecahkan berbagai kesulitan dalam
tugasnya sebagai pendidik. Cukup banyak masalah yang memerlukan kesabaran
dan ketabahan guru dalam menghadapi berbagai persoalan terhadap kegiatan
mengajarnya. Salah satunya adalah dalam cara-cara pengajaran atau metode
pengajaran, baik dari segi macam, kegunaan, ataupun penyesuaiannya.7
Menurut Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 mengenai Guru dan
Dosen pada bab IV pasal 20 tentang kewajiban guru melaksanakan tugas
keprofesionalan, guru berkewajiban :
a. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelaajaran bermutu,
serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
b. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi
secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi , dan seni;
c. Bertindak objektif dan tidak diskriminasi atas dasar pertimbangan jenis
kelamin, agama, suku, ras dan konsidi fisik tertentu, atau status sosial
ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
d. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.8
Seperti yang tertuang pada UU Guru dan Dosen No.14 tahun 2005 jelas
disebutkan bahwa seorang guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang
bermutu, meningkatkan kualitas pembelajaran, bertindak objektif dan bertidak
seadil mungkin dalam proses pembelajaran salah satunya dalam pembagian
kelompok diskusi dalam proses pembelajran.
Salah satu indikator keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari
pencapaian hasil belajar peserta didik. Keberhasilan peserta didik dalam belajar
dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Salah satu faktor eksternal
yaitu metode pembelajaran, guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran harus
mampu membuat siswa aktif dengan menerapkan berbagai metode pembelajaran
7
Zakiah Daradjat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 98.
8
aktif guna meningkatkan hasil belajar peserta didik. Faktor internal dalam belajar
meliputi bakat, minat, motivasi, dan kemampuan peserta didik. Kemampuan awal
merupakan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik sebelum kegiatan belajar
mengajar berlangsung. Keanekaragaman kemampuan peserta didik yang ada akan
berpengaruh terhadap penguasan meteri pelajaran yang diajarkan guru di dalam
kelas, dengan demikian guru diharapkan dapat memilih metode yang baik dan
tepat sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan efektif.
Berkaitan dengan kemampuan cara-cara mengajar, maka wajib bagi seorang
guru mengetahui seluruh metode yang terdapat dalam pelaksanaan pengajaran
yang dapat mengajak siswa lebih aktif . Contohnya yaitu dengan menggunakan
metode The Power of Two, Numbered Head Thogether, Jigsaw Learning, Listening Team, Vidio Critic, Information Search, card Cort, Quiz Team, Everyone Is A Teacher Here, Poster Session, Mind Maps, Index Cart Match, Sticking To It dan masih banyak lagi jenis-jenis metode yang dapat digunakan sebagai sarana penyampaian materi agar tidak monoton. Akan tetapi suatu metode
belum tentu sesuai digunakan pada materi yang sama dengan situasi yang
berbeda. Guru harus memilih metode yang tepat dan sesuai agar pembelajaran
tepat sasaran dan dapat mencapai indikator secara maksimal. Dalam satu kali
pertemuan, guru dapat menggunakan beberapa macam metode, bergantung pada
tujuan, materi, dan situasi peserta didik. Keserasian penggunaan metode ini sangat
bergantung pada pengetahuan guru tentang metodologi yang diuji oleh
pengalaman guru itu sendiri.9
Dalam pembelajaran gunakan teknik-teknik yang sesuai atau adaptasikan
supaya sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kita sebagai pemdidik. Tambahkan
kreativitas yang sesuai dengan kemampuan kita, selain itu juga kita harus
memperhatikan kesesuaian metode yang akan dipraktikkan supaya terhindar dari
hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya terlalu banyak aktivitas yang terdapat
dalam prosedur metode yang dapat membebani peserta didik dan juga buatlah
petunjuk-petunjuk prosedur metode yang mudah dipahami.
9
Metode-metode yang sudah dipilih guru untuk suatu pengajaran dalam
kenyataan pelaksanaannya kadang-kadang bisa meleset sehingga hasil
pengajarannya tidak maksimal. Jika ketidak maksimalan itu terjadi di luar
perencanaan guru, maka perlu juga dilihat dari faktor lainnya. Bisa jadi ketidak
maksimalan itu datang dari lingkungan atau suasana yang sudah tidak nyaman
lagi, misalnya dari waktu jam belajar yang sudah terlalu siang, konsentrasi peserta
didik yang berkurang akibat pelajaran yang berat di jam-jam awal, atau bahkan
dari karakter peserta didik yang sangat “aktif” dalam pembelajaran sehingga kelas
menjadi ramai dan tidak terkendali. Untuk itu guru harus berusaha memperkaya
dirinya dengan pengetahuan metode pembelajaran dan mengganti metode yang
kurang serasi itu dengan metode lain yang lebih sesuai.10
Penempatan peserta didik sebagai subjek belajar, sejatinya menjadikan diri
mereka aktif dalam menyelesaikan materi yang ia hadapi di kelas yang akan
berdampak pada pengalaman hidupnya di luar nanti.
Pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama (SMP) siswa diberi berbagai
macam pengetahuan dan keterampilan antara lain ilmu sains (IPA), ilmu social
(IPS), Pendidikan Agama Islam (PAI) yang di dalamnya terdapat bab-bab mata
pelajaran yang memang sengaja dipisahkan, salah satunya yaitu mata pejaran
Fiqih yang mempelajari tentang cara-cara beribadah dan lain sebagainya. Pada
Umumnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengajar dan
menyampaikan materi masih didominasi metode ceramah walaupun dalam
pembelajaran guru sudah menggunakan media pembelajaran yang sudah ada
seperti power point maupun dengan demonstrasi. Berdasarkan observasi awal
yang telah dilakukan di SMP AL-Zahra Indoesia di Pamulang, proses
pembelajaran Fiqih di kelas VIII Al-Zahra Indonesia tahun pelajaran 2013/2014
menunjukkan bahwa pembelajaran Fiqih berlangsung secara monoton. Peserta
didik kurang memahami konsep PAI dan cenderung hanya menghafal apa yang telah
diberikan oleh guru. Sehingga hasil belajar peserta didik pun kurang maksimal.
Kondisi pembelajaran Fiqih dianggap membosankan, maka diperlukan metode
10
yang baru agar pembelajaran berlangsung secara efektif dan menyenangkan
sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Penyajian kegiatan pembelajaran yang kurang bervariasi juga dapat
menimbulkan kejenuhan siswa terhadap materi dan kegiatan pembelajaran.
Interaksi guru dan peserta didik kurang berjalan secara fleksibel akan
mempengaruhi tingkat kefokusan peserta didik dalam menangkap materi
pelajaran, dalam arti guru lebih mendominasi proses pembelajaran dan siswa lebih
banyak diam dan memperhatikan saja. Beberapa guru belum mengembangkan
metode pembelajaran yang mengikutsertakan peserta didik secara aktif dalam
proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan peserta didik cenderung pasif, kurang
berkonsentrasi, dan kurang bekerja sama dengan peserta didik lain.
Selain itu, perermasalahan yang sering muncul dalam pelaksanaan
pembelajaran khususnya pada bidang studi Fiqih adalah kurangnya minat peserta
didik dalam pembelajaran yang mengakibatkan kurangnya perhatian mereka
terhadap pelajaran Fiqih yang memang banyak mempelajari tentang tata cara
dalam beribadah dan terkesan berulang-ulang materinya serta meteri pun dapat
mereka temukan di TPA tempat mereka mengaji. Hal ini juga dipengaaruhi
kurangnya motivasi dari orang tua untuk menekankan pentingnya ilmu Fiqih bagi
kehidupan peserta didik, pengulangan materi dari tingkat dasar hingga tingkat
perguruan tinggi yang terkesan membosankan, metode penyampaian materi yang
monoton dan kurang menarik dari guru, dan kurangnya pemanfaatan media dalam
proses pembelajaran oleh guru, serta kurangnya pengetahuan guru dalam
menggunakan media berbasis teknologi untuk menunjang proses pembelajaran.
Untuk itulah perlu adanya metode pendamping selain metode ceramah dalam
kegiatan pembelajaran PAI, Agar kegiatan belajar tidak terkesan monoton dan
membosankan bagi siswa. Metode Numbered Head Together11 merupakan salah
satu solusi untuk mengatasi masalah di atas. Metode NHT merupakan metode kooperatif untuk membantu peserta didik agar tetap fokus dan mau
11
menyempaikan pendapat selama pembelajaaran berlangsung.12 NHT adalah salah satu metode pembelajaran dimana dalam tahap awal pelaksanaanya membentuk
kelompok kecil di dalam kelas dan melakukan diskusi kelompok dengan
masing-masing peserta didik diberikan nomor, setiap peserta didik mempunyai
kesempatan untuk berkreasi kerena jumlah kelompok relative sedikit, sehingga
peserta didik akan mempunyai kesempatan yang lebih untuk menyampaikan ide
serta lebih mudah dalam berdiskusi dengan teman kelompoknya. Dalam
penggunaan metode ini semua peserta didik dituntut untuk siap dalam menerima
pelajaran karena guru akan memanggil acak nomor yang sudah diberikan kepada
masing-masing peserta didik, peserta didik yang nomornya dipanggil harus maju
kedepan mengerjakan soal yang diberikaan, hal ini untuk melatih kemampuan
peserta didik dalam belajar mandiri serta menyampaikan hasil kerjanya kepada
orang lain.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk
mengadakan penelitian tentang “Pengaruh Metode Numbered Head Together terhadaap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Fiqih di SMP Al-Zahra
Indonesia Pamulang”
B.
Identifikasi Masalaah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka masalah yang dapat
diidentifikasi antara lain:
1. Kurangnya motivasi dari orang tua untuk menekankan pentingnya ilmu
Fiqih bagi kehidupan siswa.
2. Kurangnya kreativitas guru dalam menghidupkan suasana kelas.
3. Kurangnya kerjasama yang dapat memicu para siswa menjadi pasif.
4. Pengulangan materi dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi
yang terkesan itu-itu saja.
5. Metode penyampaian materi yang monoton dan kurang menarik dari guru.
6. Belum populernya penerapan Model NHT.
12
C.
Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka pembatasan masalah dalam
penelitian ini yaitu :
1. Pemilihan metode NHT dalam pembelajaran fiqih di SMP Al-Zahra
Indonesia Pamulang.
2. Hasil belajar siswa pada semester genap tahun ajaraan 2014-2015.
D.
Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah tersebut diatas, maka
masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan metode NHT? 2. Bagainama hasil belajar setelah menggunakan metode NHT?
3. Apakah ada pengaruh pembelajaran yang metode NHT terhadap hasil belaajar fiqih di SMP Al-Zahra Indonesia?
E.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan, maka tujuan
penelitiannya adalah untuk mengetahui pengaruh NHT terhadap hasil belajar pada
mata pelajaran Fiqih di SMP Al-Zahra Indonesia Pamulang.
F.
Manfaat Penelitian
Pembelajaran dengan menggunakan penelitian Metode NHT ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitiaan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca untuk
dijadikan referensi dan dapat menjadi solusi kepada peneliti dalam
mengembangkan metode pengajaran khususnya untuk mata pelajaran PAI
sehingga peneliti dapat menerapkan metode pengajaran yang lebih
bervariasi kepada para siswa.
a. Bagi Peserta Didik
1) Menumbuhkan kerja sama serta rasa kebersamaan antar siswa.
2) Mengajak siswa untuk menjadi lebih aktif dalam proses belajar.
3) Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Fiqih.
4) Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bervariasi
serta dapat memperoleh pengalaman belajar.
5) Menumbuhkan rasa taanggung jawab pada setiap siswa.
6) Membuat siswas untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin
dalam diskusi kelompok.
b. Bagi Guru
1) Menambah wawasan tentang metode pembelajaran yang efektif
dalam mencapai tujuan pembelajaran.
2) Memberikan masukan mengenai medel pembelajaran kooperatif
NHT.
3) Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan
dan keterampilannya dalam menghidupakn suasana belajar di
kelas.
4) Mendorong guru untuk mempersiapkan metode belajar yang
bervariasi dalam setiap pembelajaran sehingga membuat belajar
mengajar lebih menyenangkan.
c. Bagi Sekolah
Memberikan masukan yang bermanfaat bagi sekolah dalam
rangka perbaikan proses belajar mengajar mata pelajaran PAI
khususnya dan mata pelajaran lain pada umumnya agar hasil
ketuntasan menjadi meningkat.
d. Bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Memberikan masukan kepada peneliti lain mengenai metode
NHT, sehingga dapat diteliti lebih lanjut mengenai metode
BAB II
KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
PENELITIAN
A.
Deskriptif Teori
1.
Hakekat Hasil Belajar PAI
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Sebelum membahas tentang pendidikan agama Islam terlebih dahulu
perludibahas tentang pengertian pendidikan itu sendiri. Para tokoh berbeda
pendapat dalam mendefinisikan pendidikan. Perbedaan itu disebabkan
karena masing-masing tokoh berbeda dalam memberikan tekanan-tekanan
dan tinjauan terhadap pendidikan.
Istilah pendidikan berasal dari kata didikdan memberikan awalan kata
“Pe” dan akhiran “Kan” yang mengandung arti “Perbuatan”. Istilah pendidikan ini semua berasal dari bahasa yunani yaitu “Pedadogik” yang
berarti bimbingan yang diberikan kapada anak. . Paedagogy berasal dari dua kata yaitu paedos yang berarti anak dan agoge yang berarti saya membimbing atau memimpin. Istilah ini kemudian diterjemahkankedalam
bahasa Inggris dengan “Education” yang berarti pengenbangan anat
bimbingan.13
Dalam pengertian yang sederhan, pendidikan sering dimaknai sebagai
usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi
pembawaan, baik potensi jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai
yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Selain itu dalam pengertiaan
yang umum, pendidikaan juga diartikan dengaan proses bimbingan,
pengajaran dan pelatihan yang dilakukan oleh manusia kepada manusia
lain dalam rangka pencapaian keedewasaan.14
13
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002 ), cet.Ke-4.hlm. 1
14
Secara terminology, para ilmuan mendefinisikan pendidikan dalam
arti laus pada beberapa versi, salah satunya yaitu menurut Abdul Rahman
An-Nahlawi mengartikan pendidikan “merupakan kegiatan yang betul -betul memiliki tujuan, sasaran, dan target”.15
Sedangkan pendidikan Islam menurut Zahkia Darajat adalah “ suatu usaha untuk membina dan mengasuh pesrta didik agar senantiasa dapat
memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan yang
pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup”.16
Dari beberapa pengertian yang dikemukan oleh beberapa ilmuan
dalam mendefinisikan pendidikan dan pendidikan Islam, maka penulis
mengambil kesimpulan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu
proses bimbingan dan bantuan secara sadar dan sengaja terhadap anak
didik dengan berlandaskan kepada ajaran Islam dalam pertumbuhan serta
perkembangan jasmani dan rohajinya. Pendidikan Agama Islam bukan
hanya sekedar penambahan pengetahuan akan tetapi bagaimana
pengetahuan dan pelaksanaan yang telah didapatkan itu dapat dipraktikkan
dalam kehidupan sehari-hari.
2.
Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
kegiatan belajar.
Pengertian hasil belajar secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu kata “hasil” dan “belajar”, menurut kamus besar bahasa Indonesia kata “hasil” adalah sesuatu yang diperoleh dengan usaha. Sedangkan kata “belajar” adalah suatu perubahan dalam tingkah laku, perubahan itu dapat mengarah
15
Abdul Rahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat,(Bina Insani Press, 1995),h.21
16
kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah
kepada tingkah laku yang lebih buruk.17
Menurut Juliah, hasil belaajar adalah “segala sesuatu yang menjadi
milik siswa sebagai akibat kegiatan belajar yang dilakukannya”.
Dari pengertian diatas kita dapat simpulkan bahwa hasil belaajar
adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setalah dilakukan
melalui proses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran.18 Hasil belajar merupakan istilah yang sudah lain dalam dunia
pendidikan. Umumnya hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari pengertian
belajar. Oleh karena itu akan dikemukakan masing-masing kedua kata.
a. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu bentuk perubahan atau pertumbuhan dalam diri
seseorang yang dinyatakan dalam cara-caraa tingkah laku baru berkat
pengalaman dan latihan.19
Belajar juga dapat didefinisikan sebagai proses perubahan dari belum
mampu menjadi sudah mampu, terjadi dalam waktu tertentu. Perubahan
yang terjadi harus secara relative bersifat menetap (permanen) dan tidak
hanya terjadi pada perilaku yang saaat ini Nampak, tetapi perilaku yang
mungkin terjadi di masa yang mendatang. Perubahan yang terjadi
disebabkan oleh pengalaman.20 Sehingga dapat dikatakan bahwa belajar adalah proses perubahan diri untuk memperoleh pengetahuan. Dan belajar
merupakan hasil dari hal-hal yang dialami seseorang yang relatif tetap
dalam diri seseorang tersebut.
Pengertian belajar diatas sama halnya dengan pengertian belajar
menurut James O. Whittaker, yaitu belajar dapat didefinisikan sebagai
17
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remadja Karya, 1984), h. 81
18
Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Multi Persindo, 2010), cet.III, h.14-15
19
Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), cet.III, h.256.
20
Zikri Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, (Jakarta: Kizi
“proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman”.21
Adapun beberapa pendapat lain tentang pengertian belajar yaitu menurut Slameto yang mengemukakan belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”22
Dalam definisi ini dapat dipahami
bahwa belajar harus menunjukan adanya perubahan perilaku yang
disebabkan karena interaksi dengan lingkungan.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang,
perubahan tersebut berupa perubahan pengetahuan, pengalaman,
keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan-perubahan tersebut bersifat tetap
dan merupakan hasil pengalaman dan latihan dalam berinteraksi dengan
lingkungan.
b. Teori-teori belajar
Teori belajar meruapakn suatu perangkat prinsip-prinsip yang
terorganisasi menganai peristiwa-peristiwa tertentu dalaam lingkungan.
Karakteristik suatu teori ialah memberikan kerangka kerja yang konseptual
untuk suatu informasi dan dapat prinsip yang dapat diuji. Fungsi teori
dalam pendidikan ialah:
a) Memberikan garis-garis rujukan untuk perencanaan pengajaran.
b) Menilai hasil-hasil yang telah dicapai untuk digunakan dalam ruang
kelas.
c) Mendiagnosis masalah-masalah dalam ruang kelas.
d) Menilai hasil penelitian yang dilaksanakan berdasarkan teori
tertentu.23
21
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006) , h. 104
22
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), cet.II, h.13
23
Teori belajar sangat banyak dan beraneka ragam beragam. Setiap teori
yang dirumuskan berdasarkan kajian tentang perilakau dalam proses
belajar. Kajian itu pada intinya menyangkut dua hal, yaitu:
a) Konsep yang menganggap bahwa otak manusia terdiri atas sejumlah
kemampuan potensial (daya-daya), seperti menalar, menginggat,
menghayal, dan lain sebaagainya yang dapat di kembangkan oleh
latihan.
b) Konsep yang menganggap bahwa manusia merupakan suatu system
energi yakni suatu system tenaga yang dinamis yang berupaya
memelihara keseimbangan dalam merespon system energi lain
sehingga ia dapat berinteraksi melalui rasa. System energi ini meliputi
respun terhadap stimulus, motivasi, dan proses penalaran.24
Ada beberapa teori belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang
mendukung pembelajaran dalam sistem pendidikan, yaitu antara;
1) Teori belajar yang di kemukakan oleh Ausubel belajar akan
menghasilkan manfaat bila peserta didik mencoba menghubungkan
pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimilikinya. Menurut Ausubel, ”belajar bermakna merupakan suatu proses menghubungkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam
struktur kognitif seseorang. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui peserta didik.”25
2) Teori Connectinism (Thorndike), belajar pada binatang yang juga berlaku bagi manusia menurut Thorndike adalah trial and eror. Thorndike mengemukakan tiga prinsip atau hukum dalam belajar.
Pertama, law of readiness, belajar akan berhasil apabila individu
memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut. Kedua, law of exercise, belajar akan berhasil apabila banyak latihan, ulangan.
24
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakarta: Gaung Persada Pers, 2008), h. 21
25
Ketiga, law of effect, belajar akan bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik.26
Berdasarkan beberapa teori belajar yang sudah dikemukakan di atas,
seharusnya guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang sesuai,
sehingga dapat meningkatkan pemahaman peserta didik. Selain itu guru
juga harus bisa membimbing siswa untuk dapat menghubungkan
pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu dalam
teori belajar, pengalaman sangat penting untuk perkembangan
pengetahuan, maka dalam penerapan metode seharusnya lebih
menekankan aspek melihat dan mengalami langsung tentang materi
pelajaran.
c. Prinsip-prinsip Belajar
Salah satu tugas guru adalah mengajar. Dalam kegiatan mengajar ini
tentu saja tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus menggunakan
teori-teori dan prinsip-prinsip belajar tertentu agar bisa bertindak secara
tepat. Prinsip-prinsip belajar diantaranya:
a) Perhatian dan Motivasi
Perhatian dan motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan
belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila
bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran
itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk
belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan
membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.
b) Keaktifan
Sebagai “primus motor” dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan
mengolah perolehan belajarnya.Untuk dapat memproses dan
26
mengolah perolehan belajarnya secara efektif, pebelajar dituntut untuk
aktif secara fisik, intelektual, dan emosional.
c) Keterlibatan langsung/berpengalaman
Siswa dituntut untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan
pembelajaran. Dengan keterlibatan langsung ini, secara logis akan
menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman.
d) Pengulangan
Pengulangan masih diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Karena
pengulangan dapat melatih daya-daya jiwa dan dapat membentuk
respon yang benar dan membentuk kebiasaan-kebiasaan.
e) Tantangan
Dengan adanya tantangan siswa dituntut untuk memiliki kesadaran
pada diri sendiri akan adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh,
memproses, dan mengolah pesan. Selain itu, siswa juga harus
memiliki keingintahuan yang besar terhadap segala permasalahan
yang dihadapinya.
f) Balikan dan Penguatan
Dengan adanya balikan dan penguatan siswa akan selalu memiliki
pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi dirinya sendiri.27
g) Perbedaan Individual
Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu
dengan yang lain. Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan siswa
lain, akan membantu siswa menentukan cara belajar dan sasaran
belajar bagi dirinya sendiri.
Berdasarkan prinsip-prinsip belajar diatas, dapat disimpulkan bahwa
dengan adanya prinsip-prinsip belajar, seorang guru dapat
mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan
belajar siswa. Guru juga dituntut untuk memusatkan perhatian, mengelola,
27
menganalisis, dan mengoptimalkan hal-hal yang berkaitan dengan
prinsip-prinsip belajar tersebut. 28
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar
Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a) Faktor Internal Siswa
Adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang
meliputi dua aspek, yakni:
(1) Aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) yang menyangkut
keadaan jasmani individu, yaitu keadaan jasmani, keadaan
fungsi-fungsi jasmani tertentu terutama panca indera.
(2) Aspek psikologis (yang bersifat rohaniah) yang berasal dari dalam
diri siswa seperti kecerdasan/intelegensi, bakat, minat, sikap dan
motivasi siswa.
b) Faktor Eksternal Siswa
Seperti halnya faktor internal siswa, faktor eksternal siswa juga
terdiri atas dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan faktor
lingkungan non sosial. Faktor sosial adalah hubungan antar manusia
yang terjadi dalam berbagai situasi social, diantaranya yaitu keluarga,
sekolah, teman dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan faktor non
sosial yaitu lingkungan alam dan fisik seperti keadaan gedung dan
letaknya, rumah, ruang belajar, fasilitas belajar, buku-buku sumber
dan sebagainya.
c) Faktor Pendekatan Belajar
Di samping factor-faktor internal dan eksternal siswa
sebagaimana yang telah dipaparkan di muka, factor pendekatan
belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses belajar
siswa tersebut. Seorang siswa yang terbiasa mengaplikasikan
28
pendekatan belajar deep misalnya, mungkin sekali berpeluang untuk meraih prestasi belajar yang bermutu daripada siswa yang
menggunakan pendekatan belajar surface atau reproductive.29
e. Pengertian hasil belajar
Pengertian hasil belajar yaitu kemampuan yang diperoleh anak setelah
melalui kegiatan belajar. Hasil belajar juga dapat diakatan sebagai
pencaaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah
kognitif,afektif, dan spikomotorik dari proses belajar yang dilakukan
dalam waktu tertentu. Selanjutnya Benjamin S. Bloon berpendaapat bahwa
hasil belajar dapat dikelompokan kedalam dua macam yaaitu:
(1) Pengetahuan terdiri dari empat kategori
(2) Pengetahuaan ketrampilan.30
Sedangkan menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah “bila
seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang
tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti
menjadi mengerti”.
Hasil juga dapat diartikan sebagai “sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan, dan lain sebagainya oleh usaha). Jadi jelas bahwa hasil itu adalah setelah adanya usaha yang dilakukkan seseorang”.31
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat kita simpulkan bahwa hasil
belajar yaitu perubahan perilaku siswa akibat belajar. Perubahan perilaku
disebabkan karena dia mencapai penguasaan atas sejumlah bahan yang
diberikan dalam proses belajar mengajar. Pencapaian itu didasarkan atas
tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Hasil itu dapat berupa perubahan
dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
29
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011). Cet.ke 18, h. 129-136
30
Asep Jihad dan Abdul Haris, Op.Cit., h.14-15
31
3.
Model Pembelajaran Kooperatif Learing
a. Pengertian pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk
memeroleh perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalaman induvidu itu sendiri dalam interaksi lingkungannya.32 Proses Pembelajaran adalah suatu proses yang disengaja dirancang
untuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar dalam diri individu. Dengan
kata lain hal ini bersifat eksternal daan sengaja dirancang untuk
mendudkung terjadinya proses belajar internal dalaam diri individu.
Aktivitas pembelajaran kana memudahkan terjadinya proses belaajar
apabila mampu memdukung peristiwa internal yang terkait dengan
pemrosesan informasi. Proses pembelajaran mempunyai tujuan agar siswa
dapat mencapai kompetensi seperti yang diharaapkaan.33
Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertin tersebut ailah:
1) Pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku.
2) Hasil pembelajaraan ditandai perubahan perilaku secara keseluruhan.
3) Pembelajaran merupakan suatu proses.
4) Pembelajaran adalah suatu pengalaaman.34
Rancangan pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1) Pembelajaran diselenggarakan dengan pengalaman nyata dan
lingkungan otentik, karean hal ini diperlukan untuk memungkinkan
seseorang berproses dalam belajar.
2) Isi pembelajaran harus didesain agar relevan dengan karakteriktik
siswa.
3) Menyediakan media dan sumber belajar yang dibutuhkan.
4) Penilaian hasil belajar terhadap siswa secara formatif.35
32
Dany Haryanto dan Ratna Yudhawati. op. cit., h.14
33
Benny A. Pribadi, Model Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Dian Rakyat, 2011), cet.3, h.10-11
34
Dany Haryanto dan Ratna Yudhawati. op. cit., h.15
35
Hasil dari roses pembelajaran ialah perubahan perilaku individu.
Individu akan memperoleh perilaku yang baru, menetap, fungsional,
positif, disadari dan sebagainya. Perubahan perilaku sebagai hasil
pembelajaran ialah perilaaku keseluruhan yang mencangkup aspek
kognitif, konatif, afektif, dan motorik.36
Apabilaa dikaji secara mendalam, sebenarnya proses belajar mengajar
merupakan dua peristiwa yang berbeda, tetapi keduanya memiliki
hubungan yang sangat erat, bahkan terjadi interaksi dan keterkaitan yang
saling mempengaaruhi daan menunjang satu sama lain. Pengertian
mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau
murid di sekolah. Sedangkan pengajaran adalah interaksi belajar-mengajar
sebagai suatu system atau atau kegiatan mengajar. Pengajaran merupakan
suatu proses penyampaian pengetahuan, yang dilaksanakan dengan
menggunakan metode imposisi, dengan cara menuangkan pengetahuan
kepada siswa. Tujuan utama pembelajaran ialah penguasaan pengetahuan.
Pengetahuan bersumber dari perangkat ajaran yang disampaikan di
sekolah.37
Nilai kultural dan kemajemukan bangsa merupakan akses kontekstual
dalam pembelajaran dalam prinsip memperhatikan potensi daerah sebagai
faktor penting dalam pendidikan. Berikut ini akan diuraikan sebagai
berikut:
1) Konsep Dasar Pembelajaran Berpusat pada Siswa
a) Pembelajaran merupakan proses aktif peserta didik yang
mengembangkan potensi dirinya. Peserta didik dilibatkan ke dalam
pengalaman yang difasilitasi oleh guru sehingga pelajar mengalir
dalam pengalaman melibatkan pikiran, emosi, terjalin dalam
kegiatan yang menyenangkan dan menentang serta mendorong
prakarsa siswa. Model pembelajaran diskusi memecahkan masalah,
36
Dany Haryanto dan Ratna Yudhawati. op. cit., h.16
37
mencari informasi dari sumber alam sekeliling atau sumber-sumber
sekunder buku bacaan dan pengalaman berupa permainan. Dari
psroses pengalaman ini peserta memproduksi kesimpulan sebagai
pengetahuan. Berbeda dengan pengajaran di mana siswa dapat
memperoleh teks untuk dihafal atau mereproduksi.
b) Pengalaman aktifitas siswa harus bersumber/relevan dangan
realitas sosial, masalah-masalah yang berkaitan dengan profesi
seperti petani, pedagang, politikus, berkaitan dengan
masalah-masalah sosial seperti pelayanan umum, hak asasi manusia, gender,
kemiskinan, keterbelakangan, dll. Pengalaman praktik itu berupa
kegiatan berkomunikasi, bekerjasama, mengambil keputusan dan
memecahkan masalah . pengalaman praktik tersebutjuga
meengembangkan kecerdasan untuk menemukan masalah,
memecahkan masalah, dan menghargai prestasi pemecahan
masalah.
c) Di dalam proses pengalaman ini peserta didik memperoleh inspirasi
dari pengalaman yang menantang dan termotivasi untuk bebas
berprakarsa, kreatif, dan mandiri.
d) Pengalaman proses pembalajaran merupakan aktivitas mengingat,
menyimpan, dan memproduksi informasi, gagasan-gagasan yang
memperkaya kemampuan dan karakter peserta didik.38 2) Makna Pembelajaran bagi Siswa
a) Proses pembelajaran ini memrlukan refleksi mental sebagai proses
kesadaraan mental dan kepribadian, kecerdasaan dan akhlak mulia.
Pada hakikatnya proses pembelajaran merupakan aktivitas yang
menghubungkan peserta didik dengan berbagai dan berkaitan
dengan dunia nyata. Proses interpretasi menghasilkan pemahaman
dan perolehan hasil pendidikan yang bersifat individual.
38
b) Peserta didik memproduksi pengetahuan sendiri secara lebih luas,
lebih dalam, lebih maju dengan modifikasi pemahaman terhadap
konsep awal pengetahuan (prior knowledge). 3) Makna Pembelajaran bagi Pendidik
a) Pendidik mengutamakan perbedaan individu daripada
persamaan-persamaan dalam menentukan program-program pendidikan,
didasarkan pada pandangan-pandangan bahwa individu adalah unik
dan bergerak bebas menghadapi kondisi-kondisi personal dan
sosial.
b) Pendidik secara normal memandang peserta didik setara
(demokratis dan berkeadilan) dan memperoleh kesempatan yang
setara pula dalam memperoleh ganjaran, intelektual, dan sosial
secara adil (tidak diskriminasi).39
b. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Learing
Pembelajran kooperatif merupakan model pembelajaran yang
berorientasi pada tim (kelompok). Pada pembelajaran kooperatif ini
peserta didik berada dalam kelompok kecil dengan anggota sebanyak
kurang lebih 4 sampai 5 orang. Dalam belajar secara kooperatif ini terjadi
interaksi antara anggota kelompok. Semua anggota kelompok. Semua
anggota harus turut terlibat, karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh
aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu.40 Ada beberapa alasan mengapa belajar aktif perlu diterapkan, antara
lain yaitu:
1) Karakteristik anak
Pada dasarya anak dilahirkan dengan memiliki sifat ingin tahu dan
imajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang miskin, anak orang kaya,
anak Indonesia dan bukan Indonesia secara normal memiliki kedua
39
Utomo Dananjaya, Ibid., h.28- 29
40
hal tersebut. Sifat ingin tahu merupakan modal dasar baagi
perkembangan sikap kritis, dan imajinasi bagi perilaku kreatif.
2) Hakekat belajar
Belajar adalah proses menemukan dan membangun makna/pengertian
oles si pembelajar terhadap informasi dan pengalaman yang disaring
melalui persepsi, pikiran, dan pikiran si pembelajar.
3) Karakteristik lulusan yang dikehendaki
Agar mampu bertahan dan berhasi dalam hidup, lulusan yang
diingnkan adalah generasin yang peka, mandiri (termasuk kreatif), dan
bertanggung jawab. Peka disini diartikan sebagai berfikir yang tajam,
kritis, dan tanggap terhadap pikiran dan perasaan orang lain. Mandiri
berarti berani dan mampu bertindak tanpa selalu tergantung pada
orang lain. Bertanggung jawab berarti siap menerima akibat dari
keputusan dan tindakan yang diambil.41
c. Konsep Dasar Koopertif Learing
Dalam menggunakan model pembelaajaran, ada beberapa konsep
dasar yang perlu diperhatikan, yaitu:
(1) Perumusan tujuan belajar siswa harus jelas
(2) Penerimaan yang menyeluruh oleh siswa tentang tujuan belajar
(3) Ketergantungan yang bersifat pasif
(4) Interaksi yang bersifat terbuka
(5) Tanggung jawab individu
(6) Kelompok bersifat heterogen
(7) Interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif
(8) Tindak lanjtu
(9) Kepuasan dalam belajar.42
41Jamal Ma’mur Asmani, 7 Tips Aplikasi PAIKEM (pembelajaran aktif,kreatif, efektif dan menyenangkan), (Jogyakarta: DIVA Pers, 2011), h.75-76
42
d. Unsur-Unsur Model Pembelajaran Koopertif Learing
Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja
kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil
yang maksimal, ada lima unsur yang harus ada dalam model pembelajaran
kooperatif, yaitu sebagai berikut:
1) Saling ketergantungan positif
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pendidik perlu
menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok
harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lai bisa mencapai
tujuan mereka. Selanjutnya guru mengevaluasi kerja setiap anggota
kelompoknya. Dalam hal ini mau tidak mau setiap anggota harus
merasa tanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain
bisa berhasil.
2) Tanggung jawab perorangan
Unsure ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika
tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur pembelajaran
kooperatif, maka setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk
melakukan yang terbaik.
3) Tatap muka
Dalam pembelajaran kooperatif setiap kelompok harus diberikan
kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Berbagai latar
belakang siswa yang berbeda-beda akan menjadi modal memperkaya
pengetahuan setiap anggota-anggota kelompok.
4) Komunikasi antar anggota
Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para
anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan untuk
mengutarakan pendapat.
Guru harus menjadwalkan waktu khusus bagi kelompoknya untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja mereka agar
dapat berjalan secara efektif.43
e. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif Learning
Pembelajaran koopertif memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1) siswa bekerja dalam kelompok.
2) Anggota kelompok dibagi secara merata dari yang
berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi.
3) Sisteem penghargaan berorentasi kepada kelompok.
4) Jika memungkinkan dalam pembagian kelompok harus berbeda
suku, budaya dan jenis kelamin.
5) Saling ketergantungan pasif
6) Tanggung jawab
7) Tatap muka.
8) Komunikasi antar kelompok.
9) Evaluasi kelompok.
10) Belajar dari teman sendiri dalam kelompok.
11) Siswa aktif.44
f. Aturan dasar pembelajaran kooperatif Learning
Pembelajaran kelompok mempunyai aturan dasar, yaitu:
1) Siswa tetap berada dalam kelompoknya selama proses
pembelajaran berlangsung.
2) Siswa mengajukan pertanyaaan kepada kelompoknya sebelum
menayakan kepada gurunya.
3) Siswa harus memberikan umpan balik pada ide-ide temannya dan
siswa dianjurkan untuk menghindari memberikaan kritik.45
43
Suderajat, Muslihuddin, dan Ujang hendara, op.cit., h.60-62
44
g. Ketrampilan kooperatif Learning
Sebagai suatu ketrampilan belaajar, ketrampilan kooperatif memiliki
tingkat-tingkat, yaitu:
1) Ketrampilan kooperatif tingkat awal
(a) Menggunakan kesepakan
(b) Menghargai pendapat
(c) Menggunakan suara pelan
(d) Mengambil giliran dan berbagi tugas
(e) Berada dalam kelompok
(f) Berada dalam tugas
(g) Mendorong partisipasi
(h) Mengundang orang lain untuk berbicara
(i) Menyelesaikan tugas tepat waktu
(j) Menyebut nama orang memandang pembicara
(k) Mengatasi gangguan
(l) Menolong tanpa member jawaban
(m) Menghormati perbedaan induvidu
2) Ketrampilan kooperatif tingkat menengah
(a) Menunjukakan penghargaan dan empati
(b) Mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima
(c) Mendengarkaan secara aktif
(d) Bertanya
(e) Menggunakan pesan “saya”
(f) Membuat ringkasan
(g) Menafsirkan
(h) Mengatur dan mengotganisasi
(i) Memeriksa ketepatan
(j) Menerima tanggung jawab
45
(k) Menggunakan kesabaran
(l) Tetap tenang atau mengurangi ketegaangan
3) Ketrampilan kooperatif tingkat mahir
(a) Mengelaborasi
(b) Memeriksa secara cermat
(c) Menanyakan kebenaran
(d) Menganjurkan suatu posisi
(e) Menetapkan tujuan
(f) Berkompromi
(g) Menhadapi masalah khusus.46
h. Tujuan pembelajaran kooperatif Learning
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga
tujuan pembelajaran yang sangat penting, yakni:
1) Prestasi akademik
Meskipun pembelajaram kooperatif mencangkup brbagai tujuan
sosial, namun pembelajaraan kooperatif dapat juga digunakan untuk
meningkatkan pretasi akademik.
2) Penerimaan akan keanakaragaman
Efek penting ke dua dari model pembelajaran kooperatif adalah
penerimaan yang lebih luas dari orang-orang yang berbeda
berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan
ketidakmampuannya.
3) Pengembangan ketrampilan sosial
Efek penting ke tiga adalah mengajarkan kepada siswa
ketrampilan-ketrampilan kerjasama dan kolaborasi.47
46
Suderajat, Muslihuddin, dan Ujang hendara , op.cit., h. 63-64
47
4.
Metode Pembelajaran
Numbered Head Together (NHT)
a. Pengertian Metode Pembelajaran Numbered HeadTogether (NHT)
NHT adalah merupakaan pembelajaran kooperatif yang dirancang
untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebaagai alteranatif terhadap
kelas tradisional. NHT yang dikembangkan oleh Spencer Kagan pada
tahun 1993, untuk melibatkan banyak siswa dalam menelaah materi yang
tercangkup dalaam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka
terhadapa isi materi tersebut.48
Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling
membagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.
Selain itu teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat
kerja sama mereka. Teknik ini juga digunakan dalam semua mata
pelajaran dan semua tipe anak didik. Tujuan Tipe Kepala Berkelompok
(Numbered Head Together) yaitu untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagi ide dan mempertimbangkan jawaban yang
paling tepat. 49
b. Langkah-langkah Penggunaan NHT
Tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran kopopertif tipe NHT adalah sebagai berikut (Lie, 2002 : 59-60):
(a) Siswa dibagi dalam kelompok.
(b) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok
mengerjakannya.
(c) Kelompok memutuskan jawaban yang di anggap paling benar dan
memastikann setiap anggota kelompoknya mengetahui
jawabannya.
48
Trianto,Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif Konsep Landassan dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,(Jakarta: Kencana), cet.III, h.82
49
(d) Guru mengambil salah saat nomor. Siswa dengan nomor yang
dipanggil melaporkan hasil kejra mereka.50
(e) Tanggapan dari teman yang lain, kumudian guru menunjuk
nomor yang lain.
(f) Membuat kesimpulan setiap kelompok.
Pembelajaran koopertif tipe NHT juga dapat dimodifikafi menjadi
tipe NHT. Teknik NHT ini memudahkan dalam pembagian tugas. Dengan teknik ini, siswa belajar melaksanakan tanggung jawab
pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan-rekan
kelompoknya. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran
dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
c. Kelebihan dan Kekurangan Kooperatif Tipe NHT
1. Kelebihan dari pembelajaran kooperatif tipe NHT, yaitu:
a) Semua siswa mempunyai kesempatan yang sama biak dalam
menjawab pertanyaan dari guru maupun mengungkapkan tugas
yang diperolehnya.
b) Siswa selalu mempersiapkan diri untuk memahami meteri
yang dipelajarinya.
c) Diskusi yang dilakukan dalam kelompok semakin
bersungguh-sungguh karena mempersiakan diri dalam memahami materi
yang dipelajari.
d) Terdapat totur sebaya (peer teaching) didalam kelompok. 2. Kekurangan dari pembelajaran kooperatif tipeNHT
Kekurangan dari pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah sebagai berikut :
a) Ada kemungkinan guru memanggil nomor yang sebelumnya
sudah dipanggil.
b) Ada kemungkinan ada nomor yang sama sekali belum
dipanggil.51
50
c) Terlalu banyak memakai waktu dalam mengkondisikan kelas.
d) Terkadang di dalam pengelompokan terjadi kesenjangan antara
yang pintar dan yang kurang pintar.
e) Tidak menuntut kemungkinan jika di dalam tim hanya
beberapa anggota yang bertanggung jawab dan mengerjakan
tugasnya dengan baik.52
3. Cara mengatasi kekurangan tersebut, penulis menambahkan cara
mengatasi masalah tersebut yaitu:
a) Dalam mengkondisikan kelas agar tidak banyak waaktu yang
terbuang sia-sia, maka beri waktu mengkodisikan kelas baik
dalam mencari teman kelompoknya, diskusi, menjawab
pertanyaan, dan lain sebagainya.
b) Bagi nomor yang sudah dipanggil maupun yang belum
dipanggil, maka guru harus menandainya atau mencatatnya
agar tidak terjadi kesalahan dalam memanggil nomor.
c) Dalam pembagian anggota kelompok harus adil, sebagai guru
pun harus mampu mengetahui kemampuan siswa-siswinya
agar dalam pengelompokan tidak terjadi kesenjangan dalam
pengelompokan.
d) Agar semua anggota bertanggung jawab atas tugasnya, maka
harus ada ketua kelompok yang bertanggung jawab
mengkordinir pekerjaan anggotanya. Selain itu juga sebagai ketua kelompok harus mencantumkan “siapa bertanggung jawab apa” di lembar kesimpulan yang mereka kerjakan.53
51
Suderajat, Muslihuddin, dan Ujang hendara, op.cit., hal. 247-249
52
Penulis menambahkan kekurangan dari metode Numbered Head Together 53
5.
Metode Pembelajaran
Crossword Puzzle
Mendesain tes uji pada tekaa-teki silang mengundang keterlibatan dan
partisipati langsung. Teka-teki silang dapat diselesaikan secara individu