• Tidak ada hasil yang ditemukan

Estimasi Rugi-Rugi Energi Pada Sistem Distribusi Radial 20 Kv (Studi Kasus:Penyulang Ki. 4 – Mawas Gi. Kim)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Estimasi Rugi-Rugi Energi Pada Sistem Distribusi Radial 20 Kv (Studi Kasus:Penyulang Ki. 4 – Mawas Gi. Kim)"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

ESTIMASI RUGI-RUGI ENERGI PADA SISTEM DISTRIBUSI RADIAL 20 KV

(STUDI KASUS : PENYULANG KI. 4 – MAWAS GI. KIM)

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) pada

Departemen Teknik Elektro Sub Konsentrasi Teknik Energi Listrik

Oleh :

JHON PALMER SITORUS NIM : 090402085

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR

ESTIMASI RUGI-RUGI ENERGI PADA SISTEM DISTRIBUSI RADIAL 20 KV

(STUDI KASUS : PENYULANG KI. 4 – MAWAS GI. KIM) Oleh :

JHON PALMER SITORUS 090402085

Tugas Akhir ini diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

Sidang pada Tanggal 21 Bulan Mei Tahun 2014 di depan Penguji :

1. Ketua Penguji : Ir. Riswan Dinzi, M.T. 2. Anggota Penguji : Yulianta Siregar, S.T., M.T.

Disetujui Oleh:

(3)

ABSTRAK

Masalah yang dibahas dalam Tugas Akhir ini fokus kepada estimasi

rugi-rugi energi pada penyulang distribusi radial 20 kV. Pendekatan empiris terdahulu

telah ditemukan oleh M.W. Gustafson dari tahun 1983 s.d. 1993. Gustafson

mengubah koefisien dan menyediakan konstanta pada formula faktor rugi-rugi.

Penelitian dalam Tugas Akhir ini melakukan observasi data riil terkini,

pengukuran rugi-rugi energi, estimasi rugi-rugi energi, dan membandingkan hasil

estimasi dengan formula faktor rugi-rugi yang ditemukan oleh Gustafson. Metode

estimasi yang digunakan untuk memperkirakan rugi-rugi energi adalah dengan

metode loss factor.

Berdasarkan hasil pengukuran (aktual), diperoleh nilai rugi-rugi energi

pada penyulang KI.4-Mawas sebesar 44.910,6 kWh atau 1,11 %, sedangkan

dengan menggunakan metode estimasi (konstanta A = 0,146 dan B = 0,843),

didapatkan nilai rugi-rugi energi sebesar 43.810,82 kWh atau 1,08685 %. Dengan

formula faktor rugi-rugi Gustafson I (konstanta A = 0,08 dan B = 0,92),

didapatkan nilai rugi-rugi energi sebesar 43.645,99 kWh atau 1,08276 %.

sedangkan dengan formula faktor rugi-rugi Gustafson II (konstanta pangkat

1,912), didapatkan nilai rugi-rugi energi sebesar 43.626,51 kWh atau 1,08227 %.

Nilai rugi energi dengan menggunakan konstanta pada formula faktor

rugi-rugi estimasi memberikan hasil yang lebih akurat terhadap nilai pengukuran

dibandingkan dengan menggunakan konstanta formula faktor rugi-rugi referensi.

(4)

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus,

Allah yang penuh kasih karunia atas rahmat dan penyertaanNya yang begitu

mengagumkan dalam kehidupan penulis sehingga atas belas kasihNya penulis

dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini yang berjudul :

“ESTIMASI RUGI-RUGI ENERGI PADA SISTEM DISTRIBUSI RADIAL 20 KV(STUDI KASUS : PENYULANG KI. 4-MAWAS GI. KIM).”

Tugas Akhir ini merupakan bagian dari kurikulum yang harus

diselesaikan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan pendidikan Sarjana

Strata Satu di Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas

Sumatera Utara.

Selama penulis menjalani pendidikan di kampus hingga diselesaikannya

Tugas Akhir ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan serta dukungan

dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan

terimakasih yang tulus dan sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Ir. Zulkarnaen Pane, M.T. sebagai Dosen Pembimbing Tugas

Akhir penulis yang sangat besar bantuannya dalam menyelesaikan

Tugas Akhir ini.

2. Bapak F. Rizal Batubara, ST, M.T. sebagai Dosen Wali penulis

selama menyelesaikan pendidikan di kampus USU.

3. Bapak Ir. Surya Tarmizi Kasim, M.si. sebagai Ketua

Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera

(5)

4. Bapak Rahmad Fauzi, ST, M.T. sebagai Sekretaris Departemen

Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

5. Seluruh Staff Pengajar dan Pegawai Departemen Teknik Elektro

FT-USU.

6. Kedua orang tua yang begitu saya cintai, Daulat Parulian Sitorus

(Alm.) dan Murni br. Dolok Saribu. Tiada kata yang dapat

menggambarkan rasa cinta saya kepada kedua orang tua saya.

7. Saudara kandung saya, Lisnawati br. Sitorus, Marta Delina br.

Sitorus, Christy Juliana br. Sitorus, dan adik saya satu- satunya,

Maria Angelina br. Sitorus yang telah membantu membentuk pribadi

saya menjadi lebih kokoh.

8. Saudara saya bersama melayani Tuhan di UKM KMK USU,

teman KTB, Adventus Patar Silalahi, Evan F.O Manurung, Leonardo

Silalahi, dan Rianto Pakpahan, abang pembina rohani saya, Bonar S.

Banjarnahor, adik binaaan rohani saya, Rio Richard Simanjuntak

dan Rey Calvin Situngkir. Atas dukungan mereka semua sehingga

pengenalan saya akan Tuhan Yesus semakin kuat.

9. Keluarga besar Laboratorium Transmisi dan Distribusi DTE USU :

Bapak Ir. Zulkarnaen Pane, M.T., Fakhrul, Doni, Andika, Rizky, dan

Sylvester.

10.Bang Leo Siregar dan Bang Lamringan Sihotang yang sudah banyak

memberi masukan sekaligus menjadi rekan berdiskusi bersama

(6)

11.Bapak Ir. Rizwan Dinzi, M.T. selaku Pembina study Club HVDC

beserta teman – teman anggota klub. Bersama-sama dengan study club yang lain (GIS dan 5G) kita saling berbagi pengetahuan.

12.Teman teman saya Teknik Elektro stambuk 2009, Rekan-rekan

Pengurus Ikatan Mahasiswa Teknik Elektro (IMTE) USU Periode

2013/2014, kawan seperantauan di Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Duri

(IKAPEMADU) Medan, yang secara tidak langsung telah memberi

saya dukungan yang sangat berarti.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih banyak kekurangannya.

Kritik dan saran dari pembaca untuk menyempurnakan Tugas Akhir ini sangat

penulis harapkan.

Akhir kata, semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 21 Mei 2014

Penulis

Jhon Palmer Sitorus

(7)

DAFTAR ISI 2.1. Pandangan Umum Sistem Tenaga Listrik ... 4

2.2. Sistem Distribusi ... 8

2.2.1. Berdasarkan ukuran tegangan ... 8

2.2.2. Berdasarkan bentuk jaringan... 9

2.3. Penghantar Pada Jaringan Tegangan Menengah ... 20

2.3.1. Saluran udara tegangan menengah (SUTM) ... 20

2.3.2. Saluran kabel tegangan menengah (SKTM) ... 21

2.4. Karakteristik Beban ... 24

2.4.1. Klasifikasi beban ... 24

2.4.2. Karakteristik umum beban listrik... 26

2.4.3. Kurva beban ... 36

2.5. AMR (Automatic Meter Reading) ... 38

(8)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu ... 44

3.2. Data dan Peralatan yang Digunakan ... 44

3.2.1. Data ... 44

3.2.2. Peralatan ... 44

3.3. Variabel Yang Diamati ... 45

3.4. Rangkaian dan Teknik Pengukuran ... 45

3.5. Pelaksanaan Penelitian ... 46

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengukuran AMR (Automatic Meter Reading) ... 50

4.2. Estimasi Rugi-rugi Energi ... 52

4.2.1. Perhitungan faktor beban ( ) ... 53

4.2.2. Perhitungan faktor rugi-rugi aktual ( ) ... 54

4.2.3. Estimasi konstanta A dan B ... 56

4.2.4. Estimasi rugi-rugi saluran ( ) ... 58

4.2.4.1.Metode aliran daya menggunakan ETAP 7.5.0 ... 58

4.2.4.2.Prosedur menggunakan ETAP 7.5.0 ... 61

4.2.4.3.Data load flow ... 64

4.2.4.4.Hasil simulasi ETAP 7.5.0 ... 74

4.2.5. Perhitungan rugi-rugi energi ( ) ... 75

4.3. Perbandingan Hasil ... 77

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 80

5.2. Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 82

(9)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1 Skema Umum Sistem Tenaga Listrik ... 5

2.2 Sebagian Dari Sistem Interkoneksi, Yaitu Sebuah Pusat Listrik, Dua Buah GI Beserta Subsistem Distribusinya ... 6

2.3 Sistem Jaringan Radial Terbuka ... 10

2.4 Sistem Jaringan Radial Paralel ... 12

2.5 Sistem Jaringan Tertutup ... 13

2.6 Sistem Jaringan Network/Mesh ... 16

2.7 Sistem Jaringan Interkoneksi ... 18

2.8 Beberapa Jenis Konduktor Yang Digunakan Pada HUTM ... 21

2.9.a Kabel N2XSY Dan NA2XSY ... 22

2.9.b Kabel N2XSEBY Dan NA2XSEBY ... 23

2.9.c Kabel N2XSEFGbY Dan NA2XSEFGbY ... 23

2.10 Perubahan KebutuhanMaksimum Terhadap Waktu ... 28

2.11 Dua Nilai Ekstrim Untuk Faktor Diversitas ... 30

2.12 Faktor Beban Menunjukkan Dua Konsumen Pada Maksimum Demand Yang Sama Menggunakan Peralatan Dengan Jumlah Yang Berbeda ... 33

2.13 Kurva Beban Harian ... 34

2.14 Kurva Lama Beban ... 35

2.15 Kurva Beban Harian ... 37

2.16 Automatic Meter Reading ... 38

2.17 Blok Diagram Tiga Komponen Primer AMR ... 41

(10)

3.2 Diagram Blok Pelaksanaan Penelitian ... 47

3.3 Diagram Blok Pengukuran Rugi-rugi Energi ... 48

3.4 Diagram Blok Estimasi Rugi-rugi Energi ... 49

4.1 Kurva Beban Harian Penyulang KI.4-Mawas ... 52

4.2 Tampilan awal Software SPSS ... 56

4.3 Tampilan Analisis Regresi Nonlinier Pada Software SPSS ... 57

4.4 Pemodelan Fungsi Regresi Nonlinier Pada Software SPSS 4.5 .... 57

4.5 Flowchart Studi Aliran Daya Menggunakan ETAP 7.5.0... 60

4.6 Tampilan Pertama ETAP 7.5.0 ... 61

4.7 Tampilan Menu File ... 62

4.8 Tampilan Create New Project File ... 62

4.9 Tampilan User Information ETAP 7.5.0 ... 63

4.10 Gambar 4.10 Tampilan Utama Program ETAP 7.5.0... 63

4.11 One-line Diagram Dalam ETAP 7.5.0 ... 64

4.12 Tampilan Data Power Grid Pada Program ETAP 7.5.0 ... 65

4.13 Tampilan Data Bus Pada Program ETAP 7.5.0... 66

4.14 Tampilan Data Panjang Saluran Transmisi Pada ETAP 7.5.0 ... 67

4.15 Tampilan Data Impedansi Saluran Transmisi Pada ETAP 7.5.0 ... 67

4.16 Tampilan Data Panjang Kabel Pada ETAP 7.5.0 ... 68

4.17 Tampilan Data Impedansi Kabel Pada ETAP 7.5.0 ... 69

4.18 Tampilan Data Transformator Pada ETAP 7.5.0 ... 70

4.19 Tampilan Data Lumped Load Sebagai Beban Tersambung 3Ø Pada ETAP 7.5.0 ... 71

4.20 Tampilan Data Name Plate Lumped Load Pada ETAP 7.5.0 ... 71

(11)

4.22 Tampilan Data pembebanan Static Load 1Ø Pada ETAP 7.5.0 .... 73

(12)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

4.1 Data Energi Penyulang KI.4-Mawas ... 50

4.2 Data Energi Gardu-Gardu Penyulang KI.4-Mawas ... 50

4.3 Data Rugi-Rugi Energi Hasil Pengukuran Pada Penyulang KI.4-Mawas ... 51

4.4 Nilai Rasio terhadap ... 53

4.5 Nilai Kuadrat Rasio terhadap ... 54

4.6 Nilai dan bulan Oktober ... 55

4.7 Hasil Estimasi Konstanta A dan B ... 58

4.8 Hasil Estimasi Rugi-Rugi Energi Pada Penyulang KI.4-Mawas ... 75

4.9 Hasil Estimasi Rugi-Rugi Energi Menggunakan , , Dan (A = 0,146 Dan B = 0,843) ... 76

4.10 Hasil Estimasi Rugi-Rugi Energi Menggunakan , , Dan (A = 0,08 Dan B = 0,92) ... 77

4.11 Hasil Estimasi Rugi-Rugi Energi Menggunakan , , Dan ( ) ... 78

(13)

ABSTRAK

Masalah yang dibahas dalam Tugas Akhir ini fokus kepada estimasi

rugi-rugi energi pada penyulang distribusi radial 20 kV. Pendekatan empiris terdahulu

telah ditemukan oleh M.W. Gustafson dari tahun 1983 s.d. 1993. Gustafson

mengubah koefisien dan menyediakan konstanta pada formula faktor rugi-rugi.

Penelitian dalam Tugas Akhir ini melakukan observasi data riil terkini,

pengukuran rugi-rugi energi, estimasi rugi-rugi energi, dan membandingkan hasil

estimasi dengan formula faktor rugi-rugi yang ditemukan oleh Gustafson. Metode

estimasi yang digunakan untuk memperkirakan rugi-rugi energi adalah dengan

metode loss factor.

Berdasarkan hasil pengukuran (aktual), diperoleh nilai rugi-rugi energi

pada penyulang KI.4-Mawas sebesar 44.910,6 kWh atau 1,11 %, sedangkan

dengan menggunakan metode estimasi (konstanta A = 0,146 dan B = 0,843),

didapatkan nilai rugi-rugi energi sebesar 43.810,82 kWh atau 1,08685 %. Dengan

formula faktor rugi-rugi Gustafson I (konstanta A = 0,08 dan B = 0,92),

didapatkan nilai rugi-rugi energi sebesar 43.645,99 kWh atau 1,08276 %.

sedangkan dengan formula faktor rugi-rugi Gustafson II (konstanta pangkat

1,912), didapatkan nilai rugi-rugi energi sebesar 43.626,51 kWh atau 1,08227 %.

Nilai rugi energi dengan menggunakan konstanta pada formula faktor

rugi-rugi estimasi memberikan hasil yang lebih akurat terhadap nilai pengukuran

dibandingkan dengan menggunakan konstanta formula faktor rugi-rugi referensi.

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada umumnya rugi-rugi teknis pada tingkat pembangkit dan saluran

transmisi pemantauannya tidak menjadi masalah karena adanya fasilitas

pengukuran yang dapat dipantau dengan baik. Hal yang sama juga terdapat pada

gardu induk (GI), sehingga rugi-rugi teknis dari GI tidak menjadi masalah besar

karena disinipun pengukuran dan pemantauan berjalan baik.

Lain halnya pada sisi distribusi, rugi-rugi teknis lebih kompleks dan sulit

diketahui besarannya. Pada GI, setiap penyulang yang keluar dari GI dilengkapi

dengan alat pengukuran, begitu pula pada sisi primer trafo tenaganya. Selepas ini

tidak terdapat lagi alat pengukuran kecuali pada meteran pelanggan. Oleh karena

itu, sangatlah sulit menentukan rugi-rugi energi secara tepat pada sistem

distribusi[1].

Ada dua sumber kesalahan pokok dalam perhitungan rugi-rugi energi :

1. Selisih kWh (energi) yang disalurkan GI dan kWh yang terjual atau

energi yang terpakai oleh pelanggan tidak menggambarkan keadaan

sebenarnya. Karena ada energi yang tidak terukur seperti meteran

rusak, kesalahan pembacaan meter dan sebagainya. Dari sini jelaslah

selisih energi yang sebenarnya tidak dapat diukur secara pasti.

2. Pembacaan meteran pada GI mungkin dapat dilakukan pada hari, jam,

dan menit yang sama (real time), dengan demikian kWh (energi) yang

(15)

pembacaan meteran pelanggan tidak bersamaan waktunya sehingga

hal ini akan merupakan kesalahan dalam analisis selanjutnya.

Metode estimasi rugi-rugi energi yang ada saat ini banyak menggunakan

asumsi-asumsi akibat keterbatasan sumber daya yang tersedia. Tugas akhir ini

menerapkan metode yang dikembangkan oleh Kriengkrai, Jamnarn, dan Pakorn

[2] untuk memperkirakan rugi-rugi energi pada penyulang distribusi. Hasil

estimasi digunakan sebagai perbandingan terhadap hasil estimasi dengan

menggunakan formula faktor rugi-rugi referensi[3].

1.2. Perumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan

masalah, antara lain sebagai berikut :

1. Bagaimana memperkirakan rugi-rugi energi listrik pada salah satu

penyulang distribusi radial 20 kV?

2. Bagaimana perbandingan nilai rugi-rugi energi hasil pengukuran

(aktual) terhadap hasil perkiraan dengan metode estimasi?

3. Bagaimana perbandingan hasil metode estimasi dengan menggunakan

formula faktor rugi-rugi referensi?

1.3. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui nilai rugi-rugi energi

aktual dari salah satu penyulang distribusi radial 20 kV serta mengetahui nilai

estimasi rugi-rugi energi menggunakan metode estimasi, dan membandingkannya

(16)

1.4. Batasan Masalah

Untuk membatasi materi yang akan dibicarakan pada tugas akhir ini, maka

penulis perlu membuat batasan masalah yang akan dibahas. Hal ini diperbuat

supaya isi dan pembahasan dari tugas akhir ini menjadi lebih terarah dan dapat

mencapai hasil yang diharapkan. Maka penulis membatasi penulisan Tugas Akhir

ini, yaitu :

1. Penulis hanya menganalisis rugi-rugi energi pada salah satu penyulang

yang terdapat pada sistem distribusi 20 kV. Penyulang yang dianalisis

adalah penyulang KI. 4 – Mawas GI. KIM, Area Pelayanan dan Jaringan Sumatera Utara.

2. Penulisan Tugas Akhir ini tidak membahas masalah rugi-rugi energi

pada transformator dan rugi-rugi energi pada sambungan (jointing).

1.5. Manfaat

Diharapkan dari penelitian ini PT PLN (Persero) mempunyai metode

rujukan untuk digunakan sebagai :

1. Salah satu dasar pertimbangan dalam melaksanakan program

penurunan susut jaringan distribusi.

2. Salah satu dasar pertimbangan dalam melaksanakan perencanaan

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pandangan Umum Sistem Tenaga Listrik

Pada umumnya sistem tenaga listrik terdiri atas kumpulan komponen

peralatan listrik atau mesin listrik, seperti generator, transformator, beban, dan

berikut alat-alat pengaman dan pengaturan yang saling dihubungkan dan

membentuk suatu sistem yang digunakan untuk membangkitkan, menyalurkan,

dan menggunakan energi. Secara umum sistem kelistrikan dapat dibagi menjadi 3

(tiga) bagian utama, yaitu : Pembangkit tenaga listrik, sistem transmisi, dan yang

terakhir adalah sistem distribusi[4].

Gambar 2.1 memperlihatkan skema suatu sistem tenaga listrik. Dalam

suatu sistem tenaga listrik dapat terdiri atas beberapa subsistem yang saling

berhubungan, atau yang biasa disebut sebagai sistem interkoneksi. Seperti yang

diperlihatkan pada Gambar 2.2 [5].

Arah mengalirnya energi listrik berawal dari Pusat Tenaga Listrik melalui

saluran-saluran transmisi dan distribusi dan sampai pada instalasi pemakai yang

merupakan unsur utilisasi.

Energi listrik dibangkitkan di pembangkit tenaga listrik (PTL) yang dapat

merupakan suatu pusat listrik tenaga uap (PLTU), pusat listrik tenaga air (PLTA),

pusat listrik tenaga gas (PLTG), pusat listrik tenaga diesel (PLTD), ataupun pusat

listrik tenaga nuklir (PLTN). PTL biasanya membangkitkan energi listrik pada

(18)
(19)

Gambar 2. 2 Sebagian Dari Sistem Interkoneksi, Yaitu : Sebuah Pusat Listrik, Dua

Buah GI Beserta Subsistem Distribusinya

Pada sistem tenaga listrik yang besar, atau bilamana PTL terletak jauh dari

pemakai, maka energi listrik itu perlu diangkut melalui saluran transmisi, dan

tegangannya harus dinaikkan dari TM menjadi tegangan tinggi (TT). Pada jarak

yang sangat jauh malah diperlukan tegangan ekstra tinggi (TET). Menaikkan

tegangan itu dilakukan di gardu induk (GI) dengan menggunakan transformator

penaik (step-up transformer). Tegangan tinggi di Indonesia adalah 70 kV, 150 kV,

dan 275 kV. Sedangkan tegangan ekstra tinggi 500 kV.

Mendekati pusat pemakaian tenaga listrik, yang dapat merupakan suatu

industri atau suatu kota, tegangan tinggi diturunkan menjadi tegangan menengah

(20)

penurun (step-down transformer). Di indonesia tegangan menengah adalah 20 kV.

Saluran 20 kV ini menelusuri jalan-jalan di seluruh kota, dan merupakan sistem

distribusi primer. Bilamana transmisi tenaga listrik dilakukan dengan

menggunakan saluran hantaran udara dengan menara-menara transmisi, sistem

distribusi primer di kota biasanya terdiri atas kabel-kabel tanah yang tertanam di

tepi jalan, sehingga tidak terlihat.

Di tepi-tepi jalan biasanya berdekatan dengan persimpangan, terdapat

gardu-gardu distribusi (GD), yang mengubah tegangan menengah menjadi

tegangan rendah (TR) melalui transformator distribusi (distribution tansformer).

Melalui tiang-tiang listrik yang terlihat di tepi jalan, energi listrik tegangan rendah

disalurkan kepada pemakai. Di indonesia tegangan rendah adalah 220/380 Volt,

dan merupakan sistem distribusi sekunder.

Energi diterima pemakai dari tiang TR melalui konduktor atau kawat yang

dinamakan sambungan rumah (SR) dan berakhir pada alat pengukur listrik yang

(21)

2.2. Sistem Distribusi

Sistem jaringan distribusi tenaga listrik dapat diklasifikasikan berdasarkan

ukuran tegangan dan bentuk jaringan[6].

2.2.1. Berdasarkan ukuran tegangan

Berdasarkan ukuran tegangan, jaringan distribusi tenaga listrik dapat

dibedakan pada dua sistem, yaitu sistem jaringan distribusi primer dan sistem

jaringan distribusi sekunder.

a. Sistem jaringan distribusi primer

Sistem jaringan distribusi primer atau sering disebut jaringan distribusi

tegangan tinggi (JDTT) ini terletak antara gardu induk dengan gardu pembagi,

yang memiliki tegangan sistem lebih tinggi dari tegangan terpakai untuk

konsumen. Standar tegangan untuk jaringan distribusi primer ini adalah 6 kV, 10

kV, dan 20 kV (sesuai standar PLN). Sedangkan di Amerika Serikat standar

tegangan untuk jaringan distribusi primer ini adalah 2,4 kV, 4,16 kV, dan 13,8

kV.

b. Jaringan distribusi sekunder

Sistem jaringan distribusi sekunder atau sering disebut jaringan distribusi

tegangan rendah (JDTR), merupakan jaringan yang berfungsi sebagai penyalur

tenaga listrik dari gardu-gardu pembagi (gardu distribusi) ke pusat-pusat beban

(konsumen tenaga listrik). Besarnya standar tegangan untuk jaringan ditribusi

(22)

baru, serta 440/550 V untuk keperluam industri. Besarnya tegangan maksimum

yang diizinkan adalah 3 sampai 4 % lebih besar dari tegangan nominalnya.

Penetapan ini sebandingdengan besarnya nilai tegangan jatuh (voltage drop) yang

telah ditetapkan berdasarkan PUIL 661 F.1, bahwa rugi-rugi daya pada suatu

jaringan adalah 15 %. Dengan adanya pembatasan tersebut stabilitas penyaluran

daya ke pusat-pusat beban tidak terganggu.

2.2.2. Berdasarkan bentuk jaringan

Berdasarkan bentuk jaringan, jaringan distribusi tenaga listrik dapat

dibedakan menjadi lima sistem, yaitu sistem radial terbuka, sistem radial tertutup,

sistem rangkaian tertutup (loop circuit), sistem network/mesh dan sistem

interkoneksi.

a. Sistem radial terbuka

Keuntungannya :

1. Konstruksinya lebih sederhana

2. Material yang digunakan lebih sedikit, sehingga lebih murah

3. Sistem pemeliharaannya lebih murah

4. Untuk penyaluran jarak pendek akan lebih murah.

Kelemahannya :

1. Keterandalan sistem ini lebih rendah

2. Faktor penggunaan konduktor 100 %

3. Makin panjang jaringan (dari Gardu Induk atau Gardu Hubung)

(23)

4. Rugi-rugi tegangan lebih besar

5. Kapasitas pelayanan terbatas

6. Bila terjadi gangguan penyaluran daya terhenti.

Sistem radial pada Gambar 2.3 merupakan jaringan distribusi sistem

terbuka, dimana tenaga listrik yang disalurkan secara radial melalui gardu induk

ke konsumen-konsumen dilakukan secara terpisah satu sama lainnya. Sistem ini

merupakan sistem yang paling sederhana diantara sistem yang lain dan paling

murah, sebab sesuai konstruksinya sistem ini menghendaki sedikit sekali

penggunaan material listrik, apalagi jika jarak penyaluran antara gardu induk ke

konsumen tidak terlalujauh.

(24)

Sistem radial terbuka ini paling tidak dapat diandalkan, karena penyaluran

tenaga kistrik hanya dilakukan dengan menggunakan satu saluran saja. Jaringan

model ini sewaktu mendapat gangguan akan menghentikan penyaluran tenaga

listrik cukup lama sebelum gangguan tersebut diperbaiki kembali. Oleh sebab itu

kontinuitas pelayanan pada sistem radial terbuka ini kurang bisa diandalkan.

Selain itu makin panjang jarak saluran dari gardu induk ke konsumen, kondisi

tegangan makin tidak bisa diandalkan, justru bertambah buruk karena rugi-rugi

tegangan akan lebih besar. Berarti kapasitas pelayanan untuk sistem radial terbuka

ini sangat terbatas.

b. Sistem radial paralel

Keuntungannya :

1. Kontinuitas pelayanan lebih terjamin, karena menggunakan dua

sumber

2. Kapasitas pelayanan lebih baik dan dapat melayani beban maksimum

3. Kedua saluran dapat melayani titik beban secara bersama

4. Bila salah satu saluran mengalami gangguan, maka saluran yang satu

lagi dapat menggantikannya, sehingga pemadaman tak perlu terjadi

5. Dapat menyalurkan daya listrik melalui dua saluran yang diparalelkan.

Kelemahannya :

1. Peralatan yang digunakan lebih banyak terutama peralatan proteksi

(25)

Gambar 2.4 Sistem Jaringan Radial Paralel

Untuk memperbaiki kekurangan dari sistem radial terbuka diatas maka

dipakai konfigurasi sistem radial paralel, seperti yang diperlihatkan Gambar 2.4.

Dari gambar terlihat bahwa tenaga listrik disalurkan melalui dua saluran yang

diparalelkan. Pada sistem ini titik beban dilayani oleh dua saluran, sehingga bila

salah satu saluran mengalami gangguan, maka saluran yang satu lagi dapat

menggantikan melayani, dengan demikian pemadaman tak perlu terjadi.

Kontinuitas pelayanan sistem radial paralel ini lebih terjamin dan kapasitas

pelayanan bisa lebih besar dan sanggup melayani beban maksimum (peak load)

(26)

beban bersama-sama. Biasanya titik beban hanya dilayani oleh salah satu saluran

saja. Hal ini dilakukan untuk menjaga kontinuitas pelayanan pada konsumen.

c. Sistem rangkaian tertutup (loop circuit)

Gambar 2.5 Sistem Jaringan Tertutup

Keuntungannya :

1. Dapat menyalurkan daya listrik melalui satu atau dua saluran feeder

yang saling berhubungan

2. Menguntungkan dari segi ekonomis

3. Bila terjadi gangguan pada salauran maka saluran yang lain dapat

menggantikan untuk menyalurkan daya listrik

(27)

5. Bila digunakan dua sumber pembangkit, kapasitas tegangan lebih baik

dan regulasi tegangan cenderung kecil

6. Dalam kondisi normal beroperasi, pemutus beban dalam keadaan

terbuka

7. Biaya konstruksi lebih murah

8. Faktor penggunaan konduktor lebih rendah, yaitu 50 %

9. Keandalan relatif lebih baik.

Kelemahannya :

1. Keterandalan sistem ini lebih rendah

2. Drop tegangan makin besar

3. Bila beban yang dilayani bertambah, maka kapasitas pelayanan akan

lebih jelek.

Sistem rangkaian tertutup yang ditunjukkan Gambar 2.5 merupakan suatu

sistem penyaluran melalui dua atau lebih saluran feeder yang saling berhubungan

membentuk rangkaian berbentuk cincin.

Sistem ini secara ekonomis menguntungkan, karena gangguan pada

jaringan terbatas hanya pada saluran yang terganggu saja. Sedangkan pada saluran

yang lain masih dapat menyalurkan tenaga listrik dari sumber lain dalam

rangkaian yang tidak terganggu. Sehingga kontinuitas pelayanan sumber tenaga

listrik dapat terjamin dengan baik. Yang perlu diperhatikan pada sistem ini apabila

beban yang dilayani bertambah, maka kapasitas pelayanan untuk sistem rangkaian

tertutup ini kondisinya akan lebih jelek. Tetapi jika digunakan titik sumber

(28)

sistem ini akan benyak dipakai, dan akan menghasilkan kualitas tegangan lebih

baik, serta regulasi tegangannya cenderung kecil.

d. Sistem network/mesh

Sistem network/mesh ini merupakan sistem penyaluran tenaga listrik yang

dilakukan secara terus-menerus oleh dua atau lebih feeder pada gardu-gardu induk

dari beberapa Pusat Pembangkit Tenaga Listrik yang bekerja secara paralel.

Sistem ini merupakan pengembangan dari sistem-sistem yang terdahulu dan

merupakan sistem yang paling baik serta dapat diandalkan, mengingat sistem ini

dilayani oleh dua atau lebih sumber tenaga listrik. Selain itu junlah cabang lebih

banyak dari jumlah titik feeder.

Keuntungannya :

1. Penyaluran tenaga listrik dapat dilakukan secara terus-menerus

(selama 24 jam) dengan menggunakan dua atau lebih feeder

2. Merupakan pengembangan dari sistem-sistem yang terdahulu

3. Tingkat keterandalannya lebih tinggi

4. Jumlah cabang lebih banyak dari jumlah titik feeder

5. Dapat digunakan pada daerah-daerah yang memiliki tingkat kepadatan

yang tinggi

6. Memiliki kapasitas dan kontinuitas pelayanan sangat baik

7. Gangguan yang terjadi pada salah satu saluran tidak akan

(29)

Kelemahannya :

1. Biaya konstruksi dan pembangunan lebih tinggi

2. Pengaturan alat proteksi lebih sukar.

Gambar 2.6 Sistem Jaringan Network/Mesh

Sistem ini dapat digunakan pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan

tinggi dan mempunyai kapasitas dan kontinuitas pelayanan yang sangat baik.

Gangguan yang terjadi pada salah satu saluran tidak akan mengganggu kontinuitas

pelayanan. Sebab semua titik beban terhubung paralel dengan beberapa sumber

(30)

e. Sistem interkoneksi

Keuntungannya :

1. Merupakan pengembangan sistem network / mesh

2. Dapat menyalurkan tenaga listrik dari beberapa Pusat Pembangkit

Tenaga Listrik

3. Penyaluran tenaga listrik dapat berlangsung terus-menerus (tanpa

putus), walaupun daerah kepadatan beban cukup tinggi dan luas

4. Memiliki keterandalan dan kualitas sistem yang tinggi

5. Apabila salah satu Pembangkit mengalami kerusakan, maka

penyaluran tenaga listrik dapat dialihkan ke Pusat Pembangkit

lainnya.

6. Bagi Pusat Pembangkit yang memiliki kapasitas lebih kecil, dapat

dipergunakan sebagai cadangan atau pembantu bagi Pusat Pembangkit

Utama (yang memiliki kapasitas tenaga listrik yang lebih besar)

7. Ongkos pembangkitan dapat diperkecil

8. Sistem ini dapat bekerja secara bergantian sesuai dengan jadwal yang

telah ditentukan

9. Dapat memperpanjang umur Pusat Pembangkit

10. Dapat menjaga kestabilan sistem Pembangkitan

11. Keterandalannya lebih baik

12. Dapat di capai penghematan-penghematan di dalam investasi.

Kelemahannya :

1. Memerlukan biaya yang cukup mahal

(31)

3. Saat terjadi gangguan hubung singkat pada penghantar jaringan, maka

semua Pusat Pembangkit akan tergabung di dalam sistem dan akan

ikut menyumbang arus hubung singkat ke tempat gangguan tersebut

4. Jika terjadi unit-unit mesin pada Pusat Pembangkit terganggu, maka

akan mengakibatkan jatuhnya sebagian atau seluruh sistem.

5. Perlu menjaga keseimbangan antara produksi dengan pemakaian

6. Merepotkan saat terjadi gangguan petir.

Gambar 2.7 Sistem Jaringan Interkoneksi

Sistem interkoneksi ini merupakan perkembangan dari sistem

network/mesh. Pada Gambar 2.7 diperlihatkan bahwa sistem ini menyalurkan

tenaga listrik dari beberapa Pusat Pembangkit Tenaga Listrik yang dikehendaki

(32)

terus-menerus (tak terputus), walaupun daerah kepadatan beban cukup tinggi dan

luas. Hanya saja sistem ini memerlukan biaya yang cukup mahal dan perencanaan

yang cukup matang. Untuk perkembangan dikemudian hari, sistem interkoneksi

ini sangat baik, bisa diandalkan dan merupakan sistem yang mempunyai kualitas

yang cukup tinggi.

Pada sistem interkoneksi ini apabila salah satu Pusat Pembangkit Tenaga

Listrik mengalami kerusakan, maka penyaluran tenaga listrik dapat dialihkan ke

Pusat Pembangkit lain. Untuk Pusat Pembangkit yang mempunyai kapasitas kecil

dapat dipergunakan sebagai pembantu dari Pusat Pembangkit Utama (yang

mempunyai kapasitas tenaga listrik yang besar). Apabila beban normal sehari-hari

dapat diberikan oleh Pusat Pembangkit Tenaga listrik tersebut, sehingga ongkos

pembangkitan dapat diperkecil. Pada sistem interkoneksi ini Pusat Pembangkit

Tenaga Listrik bekerja bergantian secara teratur sesuai dengan jadwal yang telah

ditentukan. Sehingga tidak ada Pusat Pembangkit yang bekerja terus-menerus.

Cara ini akan dapat memperpanjang umur Pusat Pembangkit dan dapat menjaga

(33)

2.3. Penghantar Pada Jaringan Tegangan Menengah

Ada dua jenis saluran penghantar yang biasa digunakan pada jaringan

tegangan menengah (JTM) 20 kV, yaitu hantaran udara tegangan menengah

(SUTM) dan saluran kabel tegangan menengah (SKTM)[7].

2.3.1. Saluran udara tegangan menengah (SUTM)

Saluran udara, terutama saluran udara tanpa isolasi, digunakan pada

pemasangan di luar bangunan, direnggangkan pada isolator-isolator di antara

tiang-tiang yang disediakan secara khusus. Bahan yang digunakan untuk kawat

penghantar terdiri atas kawat tembaga telanjang (BBC, yang merupakan singkatan

dari Bare Copper Conductor), alumunium telanjang (All Alumunium Conductor ),

campuran yang berbasis alumunium (Al-Mg-Si), Alumunium berinti baja (ACSR

atau Alumunium Conductor Steel Reinforced), alumunium berinti logam

campuran (ACAR atau Alumunium Conductor Alloy Reinforced), kawat baja

berlapis tembaga (copper-weld), dan juga campuran murni alumunium (AAAC

atau All Alumunium Alloy Conductor). Bentuk fisik konduktor ACAR, AAAC,

dan BBC diperlihatkan pada Gambar 2.8.

Secara teknis tembaga lebih baik daripada alumunium, karena memiliki

daya hantar arus listrik yang lebih tinggi. Namun, karena mahalnya harga

(34)

Gambar 2.8 Beberapa Jenis Konduktor Yang Digunakan Pada SUTM

2.3.2. Saluran kabel tegangan menengah (SKTM)

Bahan untuk kabel tanah umumnya juga terdiri dari tembaga dan

alumunium. Sebagai isolasi digunakan bahan-bahan berupa kertas serta

perlindungan mekanikal berupa timah hitam. Untuk tegangan menengah sering

dipakai juga minyak sebagai bahan isolasi. Jenis kabel demikian dinamakan

GPLK (Gewapend Papier Load Kabel) yang merupakan standar Belanda atau

(35)

Pada saat ini bahan isolasi buatan berupa PVC (Polyvinyl Chloride) dan

XLPE (Cross-Linked Polyethylene) telah berkembang pesat dan merupakan bahan

isolasi yang andal dengan harga yang lebih murah dan juga penggunaannya yang

lebih mudah. Atas alasan-alasan tersebut, maka penggunaan kabel dengan isolasi

minyak mulai ditinggalkan. Bentuk fisik kabel N2XSY dan NA2XSY

diperlihatkan pada Gambar 2.9.a. Bentuk fisik kabel N2XSEBY dan NA2XSEBY

diperlihatkan pada Gambar 2.9.b. Bentuk fisik kabel N2XSEFGbY dan

NA2XSEFGbY diperlihatkan pada Gambar 2.9.c.

(36)

Gambar 2.9.b Kabel N2XSEBY dan NA2XSEBY

(37)

2.4. Karakteristik Beban

Secara umum beban yang dilayani oleh sistem distribusi tenaga listrik

dibagi dalam beberapa sektor, yaitu sektor perumahan, sektor industri, sektor

komersial, dan sektor usaha. Masing-masing beban tersebut memiliki karakteristik

yang berbeda-beda. Sebab hal ini berkaitan dengan pola konsumsi energi pada

masing-masing konsumen di sektor tersebut. Karakteristik beban yang banyak

disebut dengan pola pembebanan pada sektor perumahan. Ditunjukkan oleh

adanya fluktuasi konsumsi energi listrik yang cukup besar. Hal ini disebabkan

konsumsi energi listrik pada sektor tersebut dominan pada malam hari. Sedangkan

pada sektor industri fluktuasi konsumsi energi sepanjang hari hampir sama,

sehingga perbandingan antara beban puncak terhadap beban rata-rata hampir

mendekati satu. Beban pada sektor komersial dan usaha memiliki karakteristik

yang hampir sama, hanya pada sektor komersial akan mempunyai beban puncak

yang lebih tinggi pada malam hari[6].

2.4.1. Klasifikasi beban

Berdasarkan jenis konsumen energi listrik, secara garis besar, ragam

beban dapat diklasifikasikan ke dalam :

1. Beban rumah tangga, pada umumnya beban rumah tangga berupa

lampu untuk penerangan, alat rumah tangga, seperti kipas

angin, pemanas air,lemari es, penyejuk udara, mixer, oven,

motor pompa air dan sebagainya. Beban rumah tangga biasanya

(38)

2. Beban komersial, pada umumnya terdiri atas penerangan untuk

reklame, kipas angin, penyejuk udara dan alat- alat listrik

lainnya yang diperlukan untuk restoran. Beban hotel juga

diklasifikasikan sebagai beban komersial (bisnis) begitu juga

perkantoran. Beban ini secara drastis naik di siang hari untuk

beban perkantoran dan pertokoan dan menurun di waktu sore.

3. Beban industri dibedakan dalam skala kecil dan skala besar. Untuk

skala kecil banyak beropersi di siang hari sedangkan industri besar

sekarang ini banyak yang beroperasi sampai 24 jam.

4. Beban Fasilitas Umun.

Pengklasifikasian ini sangat penting artinya bila kita melakukan

analisis karakteristik beban untuk suatu sistem yang sangat besar. Perbedaan

yang paling prinsip dari empat jenis beban diatas, selain dari daya yang

digunakan dan juga waktu pembebanannya. Pemakaian daya pada beban

rumah tangga akan lebih dominan pada pagi dan malam hari, sedangkan

pada heban komersil lebih dominan pada siang dan sore hari.

Pemakaian daya pada industri akan lebih merata, karena banyak industri

yang bekerja siang-malam. Maka dilihat dari sini, jelas pemakaian daya pada

industri akan lebih menguntungkan karena kurva bebannya akan lebih

merata. Sedangkan pada beban fasi1itas umum lebih dominan pada siang dan

malam hari.

Beberapa daerah operasi tenaga listrik memberikan ciri tersendiri,

(39)

walaupun jumlah pelanggan bisnis jauh lebih kecil dibanding dengan

pelanggan rumah tangga.

2.4.2. Karakteristik umum beban listrik

Tujuan utama dari sistem distribusi tenaga listrik ialah mendistribusikan

tenaga listrik dari gardu induk atau sumber ke sejumlah pelanggan atau

beban. Suatu faktor utama yang paling penting dalam perencanaan sistem

distribusi adalah karakteristik dari berbagai beban.

Karakteristik beban diperlukan agar sistem tegangan dan pengaruh

thermis dari pembebanan dapat dianalisis dengan baik. Analisis tersebut

termasuk dalam menentukan keadaan awal yang akan diproyeksikan dalam

perencanaan selanjutnya.

Penentuan karakteristik beban listrik suatu gardu distribusi sengat

penting artinya untuk mengevaluasi pembebanan gardu distribusi tersebut,

ataupun dalam merencanakan suatu gardu distribusi yang baru.

Karakteristik beban ini sangat memegang peranan penting dalam

memilih kapasitas transformator secara tepat dan ekonomis. Di lain pihak

sangat penting artinya dalam menentukan rating peralatan pemutus

rangkaian, analisa rugi-rugi dan menentukan kapasitas pembebanan dan

cadangan tersedia dan suatu gardu.

Karakteristik beban listrik suatu gardu sangat tergantung pada jenis

(40)

beban suatu interval waktu. Berikut ini beberapa faktor penilaian beban yang

dapat memberikan gambaran mengenai karakteristik beban, baik dari segi

kuantitas pembebanannya maupun dari segi kualitasnya. Faktor-faktor ini sangat

berguna dalam meramalkan karakteristik beban pada masa yang akan datang atau

dalam menentukan efek pembebanan terhadap kapasistas sistem secara

menyeluruh.

1. Beban (Demand)

Pengertian dari demand (D) dan suatu beban dapat diartikan

sebagai besar pembebanan sesaat dan gardu pada waktu tertentu

atau besar beban rata-rata untuk suatu interval waktu tertentu.

Interval waktu dimana besarnya beban ingin ditentukan disebut :

Demand Interval (T). Demand dapat dinyatakan dalam kW, kVA

atau kVAr.

2. Beban Maksimum (Maximum Demand)

Maximum demand (Dmax ) adalah beban rata-rata terbesar yang

terjadi pada suatu interval demand tertentu. Jadi maximum demand

ditentukan untuk waktu tertentu dari suatu interval waktu tertentu,

misal : - maximum demand 1 jam , T = 24 jam, dengan perkataan

lain ; Dmx, 1 jam pada T = 24 jam, berarti besarnya beban rata-rata

terbesar untuk selang waktu 1 jam pada interval waktu T = 24 jam.

3. Beban Puncak (Peak Load)

Beban Puncak (Pmax) adalah nilai terbesar dari pembebanan

sesaat pada suatu interval demand tertentu. Untuk dapat

(41)

(Dmax) dan Beban Puncak (Pmax) dapat dilihat pada Gambar 2.10

dibawah ini.

Gambar 2.10 Perubahan KebutuhanMaksimum Terhadap Waktu

Interval Demand : T = 24 jam

Demand = Pav : D = 27 kW

Maximum Demand : Dmax, 1 jam = 95 kW

Beban Puncak : Pmax = 10 kW

4. Beban Terpasang (Connected Load)

Beban terpasang dari suatu sistem adalah jumlah total daya dari

seluruh peralatan sesuai dengan kW atau kVA yang tertulis pada

papan nama (name plate) peralatan yang akan dilayani oleh

sistem tersebut.

Jadi :

Di mana :

Pi = rating kVA dari alat i

n = jumlah alat yang terhubung ke sistem.

(42)

5. Faktor Keragaman (Diversity Factor)

Faktor diversitas adalah perbandingan antara jumlah beban puncak

dari masing – masing pelanggan dari satu kelompok pelanggan

dengan beban puncak dari kelompok pelanggan tersebut.

Didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah demand dari

unit-unit beban terhadap demand maksimum dari keseluruhan

beban. Secara matematis, faktor diversitas (Fd) dapat ditulis[8]:

Di mana :

Dmax i = beban puncak (kebutuhan Maks) dari masing – masing

beban i, yang terjadi tidak pada waktu yang bersamaan.

Dmax s = D 1+2+3 ….n adalah beban puncak dari n kelompok

beban.

Untuk lebih memperjelas faktor diversitas ini, perhatikan Gambar

2 . 1 0 . Dimisalkan kelompok beban terdiri dari atas 4 pelanggan

dengan beban puncak sama besar. Pada Gambar 2.11 (a)

penggunaan beban puncak dari keempat pelanggan tidak

bersamaan waktunya, faktor diversitas adalah :

(43)

Sedangkan pada Gambar 2.11 (b),

Jadi 1 dan 4 adalah nilai extrim dari dari 4 pelanggan ini.

Gambar 2.11 Dua Nilai Ekstrim Untuk Faktor Diversitas

Bila Dmax i untuk seluruh unit bersamaan waktunya maka fdiv akan

berharga 1, tetapi bila tidak fdiv akan lebih besar dari i.

Pada umumnya faktor diversitas untuk gardu distribusi dan gardu

induk nilainya berkisar sperti di bawah ini :

a. Gardu distribusi 1,00 – 1,50

b. Gardu induk 1,08 – 1,60

6. Faktor Keserempakan (Coincidence Factor)

Faktor keserempakan (fcf) adalah keba1ikan dari faktor

keragaman, yang didefinisikan sebagai perbandingan antara beban

maksimum dari suatu kumpulan beban dari sistem terhadap jumlah

(44)

Jadi :

7. Faktor Kebutuhan (Demand Factor)

Faktor kebutuhan didefinisikan sebagal perbandingan antara

beban puncak suatu sistem terhadap beban terpasang yang dilayani

oleh sistem.

Nilai fd pada prinsipnya lebih kecil atau sama dengan satu. Bisa saja

terjadi lebih besar dari satu, yaitu saat terjadi beban lebih.

Faktor kebutuhan ini dapat menjadi satu bila keseluruhan

beban yang tersambung serentak diberi energi dalam sebagian

besar periodenya. Faktor kebutuhan menunjukkan tingkat

dimana beban yang tersambung beroperasi serentak.

Faktor kebutuhan dipakai untuk menentukan kapasitas (juga biaya)

dari peralatan tenaga listrik yang diperlukan untuk melayani

beban tersebut. Karena ada pengaruhnya terhadap investasi,

maka faktor kebutuhan ini menjadi penting dalam

menentukan jadwal pembiayaannya.

(2.3)

(45)

Faktor kebutuhan dari beberapa jenis bangunan :

Besarnya faktor kebutuhan (biasanya dinyatakan dalam %)

dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :

a. Besarnya beban terpasang

Sebagai contoh : Rumah tinggal yang mempunyai beban

terpasang yang relatif besar, pada umumnya memiliki faktor

kebutuhan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan rumah

tinggal yang mempunyai beban terpasang lebih kecil.

b. Sifat pemakaian

Toko-toko, pusat perbelanjaan, kantor-kantor dan bangunan

industri biasanya memiliki faktor kebutuhan tinggi sedangkan

gudang dan tempat rekreasi memiliki faktor demand yang rendah.

8. Faktor Beban (Load Factor)

Faktor beban adalah perbandingan antara beban rata-rata

selama interval tertentu dengan beban puncak yang terjadi pada

interval yang sama[8].

(46)

Di mana:

pav = beban rata-rata

Pmax = beban puncak.

Faktor beban adalah perbandingan antara beban rata – rata

terhadap beban puncak dalam periode tertentu. Beban rata – rata

dan beban puncak dapat dinyatakan dalam kilowatt, kilovolt –

amper, amper dan sebagainya, tetapi satuan dari keduanya harus

sama. Faktor beban dapat dihitung untuk periode tertentu biasanya

dipakai harian, bulanan atau tahunan. Pada Gambar 2.12 ditunjukkan

faktor beban dua konsumen.

Gambar 2.12 Faktor Beban Menunjukkan Dua Konsumen Pada

Maksimum Demand Yang Sama Menggunakan Peralatan Dengan

Jumlah Yang Berbeda

9. Faktor Rugi-Rugi (Loss Factor)

Faktor rugi-rugi (fLs) didefinisikan sebagai perbandingan antara

rugi-rugi daya rata-rata terhadap rugi-rugi-rugi-rugi daya beban puncak dalam

(47)

10.

Selang Kebutuhan (Demand Interval)

Interval Kebutuhan merupakan periode yang dijadikan dasar untk

terima secra rata-rata. Pemilihan periode ini dapat terjadi mulai

dari selang 15 menit, selang 30 menit, selang 60 menit ataupun

lainnya. Pada kondisi-kondisi tertentu kebutuhan pada selang 15

menit sama dengan kebutuhan pada selang 30 menit.

Pernyataan kebutuhan ini harus diekspresikan dalam suatu

selang waktu dimana kebutuhan tersebut diukur. Gambar 2.13

menunjukkan kurva harian beban “Daily Load Curve” yang

menunjukkan beban sebagai fungsi waktu. Berdasarkan pada kurva

harian beban tersebut dapat dibuat kurva lama beban “Load

Duration Curve” seperti pada Gambar 2.14.

Gambar 2.13 Kurva Beban Harian

(48)

Gambar 2.14 Kurva Lama Beban

Kurva lama beban ini menggambarkan lamanya suatu beban

berlangsung dalam sistem kelistrikan. Sumbu datar menggambarkan

lama beban berlangsung dalam periode tertentu. Sumbu tegak

menggambarkan daya dari beban sistem.

Luas permukaan di bawah kurva lama beban menggambarkan

kebutuhan energi sistem yang bersangkutan. Kurva lama beban

diperlukan untuk alokasi/segmentasi pembangkitan karena

masing-masing jenis Pembangkit tenaga listrik memiliki karakteristik yang

berbeda untuk digunakan memenuhi beban yang dibutuhkan untuk

periode yang direncanakan.

11. Kebutuhan Maksimum “Maximum Demand

Kebutuhan Maksimum didefinisikan sebagai kebutuhan terbesar

yang dapat terjadi dalam suatu selang tertentu. Jadi,

kebutuhan maksimum dapat dikatakan dalam selang waktu 1 jam, 1

(49)

12.

Diversitas Kebutuhan “Diseverisfied Demand

Diversitas kebutuhan dikaitkan dengan beban komposit, dengan

beban yang tidak saling berhubungan pada selang waktu tertentu.

Jadi, diversitas kebutuhan merupakan perbandingan jumlah

maksimum masing-masing beban komposit tersebut terhadap

kebutuhan maksimum seluruh beban komposit.

13. Faktor Penggunaan (UF = utility factor)

Didefenisikan sebagai perbandingan antara demand maksimum

dengan kapasitas nominal dari sistem pencatu daya. Persamaan (2.7)

menggambarkan defenisi ini.

Demand maksimum sistem dapat dicari kurva beban atau dengan

menghitung beban terpasangnya. Demand maksimum

merupakan perkaitan antara beban terpasang dengan faktor demand.

2.4.2. Kurva beban

Kurva beban menggambarkan variasi perbebanan terhadap suatu

gardu yang diukur dengan kW, Ampere atau kVA Sebagai fungsi dari waktu.

Interval waktu pengukuran biasanya ditentukan berdasarkan pada

penggunaan hasil pengukuran, misal : interval waktu 30 menit atau 60 menit

sangat berguna dalam penentuan kapasitas rangkaian. Biasanya beban diukur

untuk interval waktu 15 menit, 30 menit, satu hari atau 1 minggu.

(50)

Kurva Beban menunjukkan permintaan (demand) atau kebutuhan

tenaga pada interval waktu yang berlain-lainan. Dengan bantuan kurva beban

kita dapat menentukan besaran dari beban-terbesar dan selanjutnya

kapasitas pembangkit dapat ditentukan juga.

Gambar 2.15 Kurva Beban Harian

Dari Gambar 2.15 terlihat bahwa terdapat kemiripan garis karakteristik

beban pada hari kerja (Rabu), hari Sabtu, dan Minggu. Namun terdapat perbedaan

besar beban yang signifikan pada hari kerja dan hari Sabtu atau Minggu.

Penggunaan beban sekitar jam 6 – 15 cenderung lebih datar pada hari Minggu

atau Sabtu dibanding hari kerja. Dari sinilah muncul ide pengaturan jadwal

(51)

2.5. AMR (Automatic Meter Reading)

Gambar 2.16 Automatic Meter Reading

AMR (Automatic Meter Reading) adalah suatu alat berbasis digital

yang dapat mencatat penggunaan daya listrik secara lengkap dan mentransfer

data ke database pusat. Transfer data dapat menggunakan jaringan telepon

(kabel atau nirkabel), frekuensi radio (RF), atau powerline transmisi. Salah

satu bentuk fisik dari AMR dapat dilihat pada Gambar 2.16.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) saat ini menerapkan meter elektronik

yang dapat melakukan pembacaan dan perekaman data listrik secara otomatis

untuk para pelanggan listrik skala industri khususnya ≥ 197 kV menggunakan

sistem Automatic Meter Reading (AMR). Sistem ini dapat memantau jumlah

(52)

langsung segala kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas meter elektronik dari

kantor PLN, khususnya bagian Alat pengukur dan Pembatas (APP) tanpa ada

petugas pembaca meteran. Dengan demikian keakuratan data pemakaian listrik

oleh pelanggan bisa terjamin.

AMR mempunyai 3 komponen utama, yaitu meter interface

module, communication systems, central office systems equipment. Meter

interface module mempunyai 4 bagian utama, yaitu power supply, meter

sensor, controlling electronic, dan communication interface. Power supply

berfungsi sebagai sumber energi untuk sistem AMR. Meter sensor berfungsi

untuk mengukur arus dan tegangan listrik. Controlling electronic dapat

berupa mikro kontroller yang berfungsi untuk mengolah data dari meter

sensor menjadi data daya dan lain-lain dalam bentuk digital serta

mengendalikan communication interface untuk mengirim data-data tersebut.

Communication interface dapat berupa modem ADSL, modem GSM, modem

IC ADE8165, modul TCP/IP dan lain-lain sesuai dengan jaringan komunikasi

yang digunakan.

Berikutnya, komponen kedua dari AMR, yaitu communication

systems. Commucation systems berfungsi untuk mengirim data dari AMR

ke kantor perusahaan listrik melalui media komunikasi tertentu. Media

komunikasi yang digunakan dapat berupa jaringan kabel telepon, powerline

carrier (plc), radio frekuensi (RF), atau cable television. Berikutnya,

komponen ketiga dari sistem AMR, yaitu central office systems equipment.

Central office systems equipment mempunyai 3 bagian utama, yaitu receivers

(53)

ADSL, modem GSM, modem IC ADE8165, dan lain-lain sesuai dengan

media komunikasi yang digunakan untuk mengirim data. Receivers data,

terhubung dengan komputer server dan berfungsi untuk menerima data dari

AMR. komputer server merupakan komputer dengan kemampuan diatas

rata-rata komputer biasa yang dilengkapi dengan operating system khusus server.

Komputer server berfungsi untuk menjalankan aplikasi web dan database serta

melayani permintaan dari komputer host untuk mengakses aplikasi web dan

database tersebut. Komputer host merupakan komputer biasa yang digunakan

oleh admin dari perusahaan listrik untuk mengakses aplikasi web AMR dan

database pelanggan dari perusahaan listrik tersebut. Untuk lebih jelasnya

dapat dilihat pada Gambar 2.17.

Dalam pengoperasiannya, sistem AMR melakukan pembacaan energi

listrik dengan cara menurunkan terlebih dahulu tegangan dan arus listrik untuk

pengukuran menggunakan potential transformer dan current transformer,

kemudian arus dan tegangan listrik dibacaoleh sensor arus dan tegangan listrik.

Salah satu sensor arus dan tegangan yang digunakan dalam AMR adalah

ADE7757. Data dari sensor-sensor tersebut kemudian masuk ke dalam

mikrokontroler untuk diproses menjadi data nilai arus, tegangan, daya

kompleks, daya aktif, daya reaktif, dan lain-lain. Setelah itu, data-data tersebut

ditampilkan pada LCD AMR. Selain itu, mikro kontroller juga mengendalikan

communication interface untuk mengirimkan data-data tersebut ke database

perusahaan listrik melalui media komunikasi tertentu.

AMR merupakan salah satu solusi untuk perusahaan listrik dalam

(54)

menggunakan AMR, perusahaan listrik tidak perlu mengerahkan banyak

petugas listrik untuk mencatat data daya dari seluruh pelanggan listrik di setiap

periode evaluasi data daya listrik yang telah digunakan pelanggannya. Data daya

listrik dari setiap pelanggang akansecara otomatis terkirim ke dalam database

perusahaan listrik sesuai periodepengiriman yang telah ditetapkan. Selain itu,

dari sisi pelanggan listrik, sistem AMR mempermudah pelanggan untuk

melihat tagihan listriknya setiap bulan. Cukup dengan mengakses website

AMR yang telah disiapkan oleh perusahaan listrik, lalu memasukkan password,

maka pelanggan tersebut sudah dapat melihat total daya listrik yang digunakan

dan tagihan listriknya[9].

(55)

2.6. Estimasi Rugi-rugi Energi

Rugi-rugi energi estimasi dapat dituliskan [10, 11] dengan rumus

Di mana,

: Rugi-rugi energi total estimasi (kWh)

: Rugi-rugi daya pada saluran(kW)

: Periode waktu estimasi (jam)

Hubungan Empirical Equivalent hour loss [12-14] adalah

� �

Loss Factor dapat dihitung dengan rumus

∑ �

Di mana,

: Perbandingan antara beban yang terukur terhadap beban puncak

dalam satu periode waktu.

: Banyaknya beban yang terukur

(2.8)

(2.9)

(2.10)

(56)

Load Factor adalah perbandingan beban rata-rata terhadap beban puncak

dalam satu periode waktu, dapat dituliskan sebagai berikut

∑ �

Menggunakan persamaan (2.11) dan (2.12), parameter A dan B dapat

diestimasi dengan persamaan (2.9) dan (2.10) menggunakan analisis regresi

nonlinier[15] pada software statistika SPSS.

Rugi-rugi daya pada saluran dapat dihitung dengan simulasi pada software

ETAP[16]. Hasilnya akan digunakan untuk menghitung rugi-rugi energi total

estimasi dari persamaan (2.8).

(57)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu

Penelitian yang akan dilaksanakan adalah dengan pengambilan data hasil

rekaman AMR (Automatic Meter Reading) dari PT PLN (Persero), studi kasus

pada Penyulang KI.4-Mawas GI. KIM, terletak di daerah KIM (Kawasan Industri

Medan). Pengambilan data dilaksanakan selama 1 bulan pada bulan Oktober

2013.

3.2. Data dan Peralatan yang Digunakan

3.2.1. Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :

1. Data pemakaian energi penyulang

2. Data pemakaian energi pelanggan

3. Diagram satu garis penyulang

4. Logsheet penyulang

5. Load profile pelanggan

6. Data peralatan penyulang.

3.2.2. Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. AMR (Automatic Meter Reading) yang sudah terpasang pada

penyulang dan gardu-gardu distribusi

(58)

3.3. Variabel Yang Diamati

Variabel yang diamati dalam penelitian ini, antara lain :

1. Tegangan pada jaringan

2. Impedansi penyulang

3. Panjang penyulang

4. Kapasitas beban terpasang.

3.4. Rangkaian dan Teknik Pengukuran

Rugi-rugi energi pada penyulang jaringan tegangan menengah dapat

ditentukan berdasarkan pengukuran energi pada AMR, yaitu selisih energi (kWh)

yang dikirimkan penyulang dengan jumlah energi yang terukur pada

masing-masing gardu distribusi, seperti yang ditunjukkan Gambar 3.1 [16].

Gambar 3.1 Letak AMR Untuk Pengukuran Rugi-Rugi Energi Pada Jaringan

(59)

Maka rugi-rugi energi pada JTM dapat dihitung dengan persamaan :

∑ ∑

3.5. Pelaksanaan Penelitian

Secara garis besar yang akan dilakukan selama pelaksananan penelitian

adalah :

1. Perhitungan rugi-rugi energi aktual (pengukuran)

Dari data pemakaian energi pada penyulang dan pada gardu-gardu

distribusi akan dihitung besar rugi-rugi energi aktual.

2. Estimasi rugi-rugi energi ( ), proses yang dilakukan meliputi : a. Perhitungan

Dari data kurva beban harian, akan dihitung faktor beban

b. Perhitungan

Dari data faktor beban, akan dihitung faktor rugi-rugi

c. Estimasi konstanta A dan B

Dari nilai dan , akan diestimasi konstanta A dan B menggunakan software statistika, SPSS

(3.1)

(60)

d. Estimasi rugi-rugi daya pada saluran

Dari data single line diagram, kapasitas beban terpasang, impedansi

saluran, dan panjang saluran akan diestimasi rugi-rugi daya pada

saluran dengan melakukan simulasi pada software ETAP.

3. Perbandingan hasil

Rugi-rugi energi dari hasil metode estimasi (konstanta A = 0,146 dan B =

0,843) dibandingkan terhadap rugi-rugi energi menggunakan konstanta

formula faktor rugi-rugi Gustafson I (konstanta A = 0,08 dan B = 0,92)

dan konstanta formula faktor rugi-rugi Gustafson II (konstanta pangkat

1,912). Nilai rugi-rugi energi dengan menggunakan konstanta pada

formula faktor rugi-rugi estimasi dan dengan menggunakan konstanta

formula faktor rugi-rugi referensi dibandingkan juga terhadap nilai

pengukuran.

Maka, dalam diagram blok proses pelaksanaan penelitian dapat

digambarkan pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2 Diagram Blok Pelaksanaan Penelitian

Untuk lebih rinci lagi, maka blok diagram pengukuran rugi-rugi energi dan

blok diagram estimasi rugi-rugi energi dapat diuraikan lagi pada Gambar 3.3 dan

(61)

Gambar 3.3 Diagram Blok Pengukuran Rugi-rugi Energi Kumpulkan

data energi penyulang

( � )

Kumpulkan data energi

gardu-gardu distribusi

( � )

Hitung rugi-rugi energi JTM

(62)

Gambar 3.4 Diagram Blok Estimasi Rugi-rugi Energi Kumpulkan data

kurva beban harian

( ; )

Hitung Load Factor

(� )

Hitung Empirical Equivalent Hour Loss

( )

Estimasi Konstanta A dan B

( ; B)

Kumpulkan data

single line diagram, rating tegangan (V), kapasitas beban terpasang (S), impedansi saluran

(Z), dan panjang saluran (L)

Estimasi rugi-rugi daya pada saluran

( )

Estimasi Rugi-rugi Energi

(63)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Pengukuran AMR (Automatic Meter Reading)

Untuk studi rugi-rugi energi pada jaringan tegangan menengah, penyulang

yang dipilih adalah satu buah penyulang, yaitu penyulang KI.4-Mawas milik PT.

PLN Wilayah Sumut. Untuk studi rugi-rugi energi ini, data energi yang digunakan

adalah data dari tanggal 1 Oktober 2013 sampai dengan 1 November 2013. Data

energi pada penyulang KI.4-Mawas diperlihatkan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Data energi penyulang KI.4-Mawas

Nama Penyulang Stand kWh

Akhir

KI.4 Mawas 310.193.601 306.162.600 1 4.031.001

Sedangkan pada Tabel 4.2 dapat dilihat data energi dari gardu-gardu pada

penyulang KI.4-Mawas.

Tabel 4.2 Data energi gardu-gardu penyulang KI.4-Mawas

No Gardu ID AMR Gardu Faktor

6 ML.242 120130113015 7000 378,403 2.648.821,0

7 ML.307 120130178478 400 0 0

8 ML.174 120130011562 2000 219,836 439.672

(64)

Pada data No. 6 dari Tabel 4.2 tercatat bahwa hasil pembacaan AMR untuk

pelanggan ML.307 adalah nol. Hal ini dikarenakan pabrik ini tidak lagi

beroperasi.

Besarnya rugi-rugi energi dan persentase rugi-rugi energi pada jaringan

tegangan menengah dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :

∑ ∑

Maka, besarnya rugi-rugi energi pada jaringan tegangan menengah untuk

penyulang KI.4-Mawas diperlihatkan pada Tabel 4.3 :

Tabel 4.3 Data rugi-rugi energi pada penyulang KI.4-Mawas

Energi penyulang

4.031.001 3.986.090,4 44.910,6 1,11

(3.1)

(65)

4.2. Estimasi Rugi-rugi Energi

Dari kurva beban harian di bulan Oktober kita dapat melihat perubahan

beban dalam waktu 24 jam dalam 1 hari. Gambar 4.1 adalah gambar kurva beban

harian pada hari Selasa, 1 Oktober 2013 penyulang KI.4-Mawas. Sumbu X adalah

waktu dalam jam dan sumbu Y adalah beban dalam kW.

Gambar 4.1 Kurva Beban Harian Penyulang KI.4-Mawas

Kurva beban harian ini digambarkan melalui pencatatan data real time dari

peralatan pengukuran di sisi incoming penyulang distribusi. Data yang dicatat

melalui alat ukur meliputi data arus, cos phi, tegangan, dan beban setiap 1 jam

selama 24 jam. Pada Tabel 4.4 kita dapat melihat bahwa nilai cos phi dan

tegangan hampir konstan, sedangkan nilai arus dan beban berubah-ubah dalam

fungsi waktu.

Dengan menggunakan data Load Profile penyulang KI.4-Mawas pada

bulan Oktober 2013 dapat dilakukan estimasi rugi-rugi energi.

(66)
(67)
(68)

Maka, diperoleh :

0,771296

Dengan perhitungan yang sama terhadap data hari ke-2 sampai dengan data hari

ke-31, maka akan diperoleh nilai kumpulan dan selama 1 bulan. Data

hasil perhitungan ditunjukkan pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6 Nilai dan bulan Oktober

Hari

1 0,872992 0,771296247 2 0,704559 0,523605013 3 0,685371 0,501284938 4 0,683391 0,500501006 5 0,766561 0,622711079 6 0,945225 0,894328896 7 0,713449 0,530980363 8 0,838889 0,709524777 9 0,746510 0,581312036 10 0,772185 0,610044642 11 0,896667 0,809421354 12 0,791381 0,63250668 13 0,758577 0,581504561 14 0,824618 0,691355058 15 0,720421 0,531277726 16 0,752585 0,618840064 17 0,870087 0,764445472 18 0,901487 0,815343054 19 0,863356 0,750148091 20 0,948092 0,899586045 21 0,920822 0,850366462 22 0,902456 0,818743946 23 0,847045 0,719869478 24 0,826604 0,68951382 25 0,650853 0,435139114 26 0,697752 0,502945439 27 0,930776 0,868953562 28 0,755268 0,60288309 29 0,676904 0,496214079 30 0,859815 0,74736987 31 0,883678 0,785812644

(69)

4.2.3. Estimasi Konstanta A dan B

di mana A + B = 1

Untuk menentukan nilai estimasi konstanta A dan B dilakukan dengan bantuan

software statistika, yaitu SPSS dengan analisis regresi nonlinier. Berikut

dijelaskan proses estimasi konstanta A dan B.

 Masukan data dari tabel 4.6 ke dalam SPSS seperti pada Gambar 4.2

LDF sebagai X EQF sebagai fungsi Y

Dari persamaan (3), fungsi Y dituliskan sebagai

Gambar 4.2 Tampilan awal Software SPSS

(2.8)

Gambar

Gambar 2.7 Sistem Jaringan Interkoneksi
Gambar 2.8 Beberapa Jenis Konduktor Yang Digunakan Pada SUTM
Gambar 2.9.a Kabel N2XSY dan NA2XSY
Gambar 2.9.c Kabel N2XSEFGbY dan NA2XSEFGbY
+7

Referensi

Dokumen terkait

4.3 Studi Aliran Daya pada Jaringan Distribusi 20 kV yang Terinterkoneksi dengan Distributed Generation ...52. 4.4 Rangkuman Hasil

Program DIgSILENT 14.0.250 dapat digunakan untuk studi aliran daya pada.. sistem yang besar dengan jumlah bus yang

Pengalokasian rugi daya sepanjang saluran distribusi radial pada penelitian ini didasari metode penelusuran hilir ke hulu.Dimulai dari hasil aliran daya sistem

Estimasi rugi- rugi pada saluran Dari data single line diagram , kapasitas beban terpasang, impedansi saluran, dan panjang saluran akan diestimasi rugi-rugi daya pada

“Analisis Aliran Daya pada Sistem

4.3 Studi Aliran Daya pada Jaringan Distribusi 20 kV yang Terinterkoneksi dengan Distributed Generation ...52. 4.4 Rangkuman Hasil

Adapun tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui besar tegangan pada titik-titik tertentu jaringan distribusi 20 kV, aliran daya aktif maupun daya reaktif

Metode untuk menganalisa aliran daya simulasi ETAP 7.0.0 saat sistem GI Wonogiri tidak terkoneksi PLTA Wonogiri ini masih sama dengan yang digunakan pada saat