RINGKASAN
SARAH JANETTE. D24080118. 2013. Eksplorasi Bakteri dan Aktivitas Enzim Pencerna Selulosa, Amilosa, dan Lipid di Dalam Sekum Landak Jawa (Hystrix javanica). Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Ir. Anita Sardiana Tjakradidjaja, M. Rur.Sc. Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Muhammad Ridla, M. Agr.
Landak merupakan hewan pengerat yang memiliki kemampuan memanjangkan rambut berduri tajamnya untuk melindungi diri dari serangan musuh. Menurut SK Mentan No.247/Kpts/Um/4/1979, landak Jawa termasuk hewan yang dilindungi dan terancam kepunahan, namun saat ini populasi landak menurun tajam yang disebabkan oleh berbagai faktor.Faktor utama adalah perburuan liar yang ingin mendapatkan dagingnya. Daging landak dipercaya dapat meningkatkan stamina lelaki, selain itu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Menurut Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Universitas Negeri Solo tahun 2008, daging landak bebas kolesterol dan tinggi akan protein. Oleh karena itu, daging landak banyak diminati hingga diekspor keluar negeri. Dengan demikian perlu dilakukan penangkaran untuk menghindari perburuan liar yang akan berakibat kepunahan pada landak. Kualitas daging landak dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi dan sistem pencernaannya. Landak termasuk hewan hindgut fermenter
yang dapat menfermentasikan makanannya, terutama hijauan, dan pakan berserat oleh mikroba yang berada di dalam sekum. Informasi mengenai bakteri dan aktivitas enzim pencerna pakan di dalam sekum belum ditemukan. Oleh karena itu, penelitian ini mempelajari komunitas mikroorganisme terutama populasi bakteri selulolitik, amilolitik, dan lipolitik serta aktivitas enzim, Degradabilitas Bahan Kering (DBK), dan Degradabilitas Bahan Organik (DBO) di dalam sekum landak Jawa (Hystrix javanica). Sekum landak diambil dari delapan hewan terdiri dari dua jantan dan enam betina. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial 2x2 untuk populasi bakteri, DBK dan DBO dengan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari 2 faktor. Faktor A yaitu pakan kontrol dan pakan kontrol + pelet koi. Pakan kontrol terdiri dari daun jaat hutan, bengkuang, talas belitung, tomat, pisang siam dan jagung manis. Faktor B adalah waktu inkubasi yang terdiri dari 0 jam dan 1 jam. Data dianalisis dengan ANOVA dan perbedaan diantara perlakuan diuji dengan kontras ortogonal. Analisa aktivitas enzim diuji dengan uji T Unpaired. Hasil memperlihatkan bahwa penambahan pelet ikan koi pada pakan kontrol tidak dapat meningkatkan populasi bakteri, aktivitas enzim maupun DBK dan DBO. Waktu inkubasi 1 jam berpengaruh nyata pada populasi bakteri (P<0,05), dan aktivitas enzim (P<0,1). Dapat disimpulkan bahwa pemberian pelet ikan KOI belum dapat meningkatkan populasi bakteri, aktivitas enzim dan daya degradabilitas bahan kering dan bahan organik di dalam saluran pencernaan khususnya di dalam sekum landak jawa (Hystrix javanica). Hasil sebaliknya terjadi pada efek perlakuan waktu inkubasi.
ii
ABSTRACT
Exploration of Cellulose, Amylose, and Lipid Bacteria and Enzyme Activity in the Cecum of Java Porcupine (Hystrix javanica)
Sarah Janette, Anita S. Tjakradidjaja, and M. Ridla
Porcupine is a wild animal that has been protected by the goverment because of a decrease in it’s population. There are many factors affecting the decrease in porcupine population : illegal hunting for human consumption due to low colesterol content in its meat or for traditional medicine to cure some diseases. Porcupine meat is believed to improve male stamina and cure various diseases. Porcupine meat quality is influenced by feeds that are consumed and digested. Porcupine is a hindgut fermenter animal that ferment their feeds, especially forage and fibrous feeds, in the caecum by microbes. However, there is limited information about feed fermentation by bacteria and its enzyme activity in caecum of porcupine. Therefore, this experiment was conducted to explore the bacteria and enzyme activity degrading cellulose, amylose and lipid from the feeds in the caecum of porcupine. The caecum of porcupine was taken from eight animals that were two males and six females. These animals were divided into two groups and given two treatments. The treatments were control feeds that consisted of jaat grass, bengkoang, belitung taro, sweet corn, tomato, banana, and mineral sources (KO) and control feed plus koi fish pellet (KP = KO + koi fish pellet). Since the digesta had been stored, it was necessary to study the incubation time (0 and 1 h). The experiment was conducted in factorial completely block design (2x2) with factor A was feed types, and factor B was incubation period. Variables measured were bacterial population and enzyme activity degrading cellulose, amylose and lipid; data were analysed using analysis of variance for bacterial population, and t test for enzyme activity. The result showed that the addition of koi fish pellet did not increase population of bacteria and enzyme activity. Bacterial population was affected by incubation time, but this factor did not influence enzyme activity. It is concluded that addition of koi fish pellet had stimulated enzyme activity without increasing bacterial population. A reverse result was obtained for the effect of incubation time.
EKSPLORASI BAKTERI DAN AKTIVITAS ENZIM PENCERNA
SELULOSA, AMILOSA, DAN LIPID DI DALAM SEKUM
LANDAK JAWA (Hystrix javanica)
Sarah Janette D24080118
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
iv Judul : Eksplorasi Bakteri dan Aktivitas Enzim Pencerna Selulosa, Amilosa, dan
Lipid di Dalam Sekum Landak Jawa (Hystrix javanica). Nama : Sarah Janette
NIM : D24080118
Menyetujui,
Pembimbing Utama,
Ir. Anita. S. Tjakradidjaja, M. Rur.Sc. NIP. 19610930 198603 2 003
Pembimbing Anggota,
Dr. Ir. Muhammad Ridla, M. Agr. NIP. 19631206 198903 1 003
Mengetahui, Ketua Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
Dr. Ir. Idat Galih Permana. M.Sc. NIP. 19670506 199103 1 001
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 29 Januari 1991. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Sjafril Malik dan Ibu Yufirna. Penulis memiliki seorang saudara perempuan bernama Chyntya Syafril.
Penulis mengawali pendidikan dasar pada tahun 1997 di Sekolah Dasar Negeri 03 Cipinang Melayu, Jakarta Timur dan diselesaikan pada tahun 2002. Pendidikan Sekolah Menengah Pertama dimulai pada tahun 2002
hingga 2005 di Sekolah Menengah Pertama Labschool Rawamangun, Jakarta Timur. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 44 Jakarta Timur pada tahun 2005 dan diselesaikan pada tahun 2008. Pada tahun yang sama, penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif mengikuti berbagai organisasi dan kepanitiaan yang ada di IPB. Pada tahun 2008-2009, penulis mengikuti organisasi Gentra Kaheman, sebuah organisasi yang bergerak di bidang kesenian daerah sunda. Kemudian pada tahun 2009-2010, penulis mengikuti organisasi HIMASITER (Himpunan Mahasiswa Nutrisi Ternak) yang berada di Fakultas Peternakan. Penulis juga anggota dari organisasi IAAS (International Association of Agricultural Students and Related Sciences) di bagian external program.
vi
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmaanirrohiim.
Alhamdullillahirrobbilalamin, Segala puji dan syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Salawat serta salam teruntuk Rasulullah kita Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan risalah Al-Qur’an bagi segenap umat manusia hingga akhir zaman. Skripsi yang berjudul “Eksplorasi Bakteri dan Aktivitas Enzim Pencerna Selulosa, Amilosa, dan Lipid di Dalam Sekum Landak Jawa (Hystrix javanica) merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Landak Jawa (Hystrix javanica) merupakan mamalia berambut keras / duri untuk pertahanan diri dari serangan musuh. Di beberapa daerah, landak telah dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan dipercaya mengandung khasiat obat. Hal ini menyebabkan semakin meningkatnya perburuan landak secara liar walaupun telah ditetapkan bahwa landak termasuk hewan liar yang dilindungi. Oleh karena itu, dibutuhkan pakan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya pada saat ditangkarkan tanpa mengurangi performanya ketika landak masih di alam bebas. Untuk mengetahui kebutuhan nutrisinya, maka penelitian ini mengamati populasi bakteri dan aktivitas enzim di dalam sekum landak sebagai tempat fermentasi bahan pakan di dalam saluran pencernaannya.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kata sempurna baik dari segi isi maupun penyajiannya. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam mewujudkan karya kecil ini, khususnya kepada dosen pembimbing, dosen penguji, laboran, keluarga, dan para sahabat. Semoga segala amal kebaikannya diterima di sisi Allah SWT. Amin.
Bogor, Februari 2013
DAFTAR ISI
Perhitungan Populasi Bakteri Selulolitik, Amilolitik, dan Lipolitik ... 18
Persiapan Sampel Enzim ... 18
Pengukuran Aktivitas Enzim ... 18
viii
Uji Aktivitas Enzim Amilase ... 19
Uji Aktivitas Enzim Lipase ... 19
Degradabilitas Bahan Kering dan Bahan Organik ... 20
Rancangan Percobaan ... 20
Perlakuan ... 20
Model ... 21
Peubah yang Diamati ... 22
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23
Populasi Bakteri ... 23
Aktivitas Enzim ... 26
Degradabilitas Bahan Kering dan Bahan Organik ... 27
KESIMPULAN DAN SARAN ... 30
Kesimpulan ... 30
Saran ... 30
UCAPAN TERIMA KASIH ... 31
DAFTAR PUSTAKA ... 32
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Formula Gigi Hystrix ... 4
2. Populasi Bakteri Selulolitik, Amilolitik, dan Lipolitik ... 23
3. Komposisi Kimia Pakan Landak Jawa ... 24
4. Rataan Konsumsi Bahan Kering ... 24
5. Total Konsumsi Nutrien Pakan ... 24
6. Aktivitas Enzim Selulase, Amilase, dan Lipase ... 26
x
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Rambut Halus Landak Jawa ... 6
2. Rambut Peraba Pada Landak Jawa ... 6
3. Duri Bentuk Kipas Landak Jawa ... 6
4. Landak Jawa Sedang Beristirahat ... 7
5. Landak Jawa yang Sedang Terancam Oleh Musuh ... 7
6. Saluran Pencernaan Hewan Landak ... 10
7. Cara Kerja Enzim Selulase ... 13
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Media Pengencer atau Media Putih ... 38
2. Media BHI Selulolitik ... 39
3. Media BHI Amilolitik ... 39
4. Media BHI Lipolitik ... 39
5. Larutan DNS ... 40
6. Grafik Persamaan Regresi Enzim Selulase ... 41
7. Tabel Larutan Standar Glukosa Untuk Enzim Selulase ... 41
8. Grafik Persamaan Regresi Enzim Amilase ... 42
9. Tabel Larutan Standar Glukosa Untuk Enzim Amilase ... 42
10.Anova Populasi Bakteri Selulolitik ... 43
11.Anova Populasi Bakteri Amilolitik ... 43
12.Anova Populasi Bakteri Lipolitik ... 43
13.Anova Degradabilitas Bahan Kering ... 44
14.Anova Degradabilitas Bahan Organik ... 44
15.Cara Perhitungan Data Populasi Bakteri ... 44
16.Cara Perhitungan Aktivitas Enzim Selulase dan Enzim Amilase 44
17.Cara Perhitungan Aktivitas Enzim Lipase ... 45
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Landak merupakan hewan mamalia yang memiliki kemampuan
memanjangkan rambut berduri tajamnya untuk melindungi diri dari serangan musuh.
Landak diburu secara liar untuk memenuhi kebutuhan daging landak yang digemari
di beberapa daerah di Indonesia. Tindakan yang dilakukan secara terus-menerus ini
berakibat semakin menurunnya populasi landak di alam. Terlebih lagi landak
diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Daging landak
mengandung protein yang cukup tinggi, selain itu kandungan bioaktif dari
bagian-bagian tubuh landak seperti daging, hati, empedu, ekor, usus, dan durinya dipercaya
dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Hati landak yang dibakar berkhasiat
menghilangkan sakit asma, dan abu hasil pembakaran duri landak pun memiliki
manfaat yakni sebagai penyembuh sakit gigi (Chairul et al., 2010). Dari banyaknya
khasiat yang dimiliki landak, telah diteliti oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Solo tahun 2008, daging landak bebas
kolesterol. Oleh karena itu, daging landak banyak diminati hingga diekspor keluar
negeri dengan harga yang tinggi.
Saat ini Hystrix javanica berstatus dilindungi berdasarkan SK Mentan No.
247/Kpts/Um/4/1979 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun
1999 tanggal 27 Januari 1999 tentang Pengawetan Jenis Satwa dan Tumbuhan Liar.
Walaupun satwa ini berstatus dilindungi, perburuan masih terus berlangsung untuk
tujuan konsumsi maupun untuk diperdagangkan.
Kualitas daging landak dipengaruhi oleh jenis pakan yang dikonsumsi dan
proses pencernaannya. Sistem pencernaan landak termasuk hindgut fermenter.
Hindgut fermenter adalah hewan dengan sistem pencernaan anaerobik yang
makanannya didegradasi oleh mikroba yang berada di sekum atau bagian belakang
usus besar sebagai tempat fermentasi utama di dalam saluran pencernaannya
(Hutomo et al., 2011). Landak juga termasuk hewan herbivora yang berarti dalam
sistem pencernaannya terdapat mikroorganisme yang dapat mencerna selulosa.
Landak termasuk hewan pseudoruminan sehingga dapat mencerna pakan yang
mengandung selulosa dengan baik. Peranan mikroba di dalam sekum landak terhadap
sampai saat ini belum tersedia kriteria tentang kebutuhan pakan atau nutrisi sebagai
dasar usaha budidaya landak Jawa sebagai salah satu komoditi pangan dan obat
tradisional.
Penelitian mengenai landak sangat sedikit dan tidak secara detail, sedangkan
hewan landak saat ini marak diperjualbelikan dagingnya. Landak perlu
dibudidayakan dan keberhasilan pemeliharaan landak bergantung kepada pakan yang
diberikan dan pemanfaatannya di tubuh landak. Penggunaan pakan oleh landak juga
dipengaruhi oleh kerja enzim hewan ataupun enzim dari mikroba di sekum. Sampai
saat ini, komunitas mikroorganisme pada hewan landak belum dikaji, terutama
peranannya dalam penggunaan pakan. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji
peranan mikroorganisme sekum landak dalam mencerna bahan pakan.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi komunitas mikroorganisme
terutama populasi bakteri selulolitik, amilolitik, dan lipolitik serta aktivitas enzim di
dalam sekum landak Jawa (Hystrix javanica) yang diberi perlakuan pemberian pakan
yang berbeda. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dasar penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Deskripsi dan Klasifikasi Landak Jawa
Landak merupakan hewan mamalia yang bersifat soliter dan nokturnal.
Landak memiliki ciri khas pada rambutnya. Secara umum, landak memiliki dua
macam rambut, yaitu rambut halus dan rambut yang mengeras atau duri (Roze,
1989). Duri-duri landak merupakan alat pertahanan utama dari predator yang ingin
menyerangnya. Menurut Duff dan Lawson (2004), klasifikasi landak Jawa adalah
sebagai berikut :
Mirorder : Simplicidentata
Ordo : Rodentia
Familia : Hystricidae
Genus : Hystrix
Spesies : Hystrix javanica (Sunda Porcupine)
Sebelas spesies yang termasuk familia Hystricidae yaitu Hystrix africaeaustralis
(Cape Porcupine), Hystrix brachyura (Malayan Porcupine), Hystrix crassispinis
(Thick-spined Porcupine), Hystrix cristata (Crested Porcupine), Hystrix indica
(Indian Crested Porcupine), Hystrix javanica (Sunda Porcupine), Hystrix pumila
(Philippine Porcupine), Hystrix sumatrae (Sumatran Porcupine), Atherurus africanus
(African Brush-tailed Porcupine), Atherurus macrourus (Asiatic Brush-tailed
Porcupine), dan Trichys fasciculata (Long-tailed Porcupine) (Duff dan Lawson,
2004).
Landak memiliki bentuk tubuh lonjong dan cenderung untuk bergerak secara
lambat. Landak memiliki berbagai macam corak rambut dan duri, yaitu coklat, hitam,
abu-abu, dan putih (Parker, 1990). Landak dan hedgehogs (landak mini) mempunyai
hubungan kekerabatan filogenetik yang jauh walaupun sama-sama termasuk landak
Deskripsi Hystrix
Genus Hystrix mempunyai ekor yang paling pendek diantara semua subgenus
Old World Porcupines. Walaupun ekornya sangat pendek, ekor tersebut dapat
menjangkau setengah bagian dari panjang tubuhnya. Mata dan telinganya kecil
sehingga indera penglihatannya tidak tajam, namun sangat tajam dalam indera
pendengaran. Lubang hidung biasanya berbentuk huruf S dan penciumannya sangat
tajam. Bentuk bibir atasnya sumbing dengan ujung hidung yang dapat mematikan
lawan karena ditutupi rambut beludru (Grzimek, 2004). Hystrix memiliki duri
berderak di bagian ekornya. Hal ini menyebabkan adanya suara berderik ketika
duri-duri ekor bergerak (Grzimek, 1975). Gabungan suara duri-duri pada ekor dengan
penampakan duri-duri di punggung landak dapat menyebabkan hewan lain menjadi
takut terhadapnya (Tenney, 1865).
Beberapa spesies Hystrix adalah hewan herbivora, memakan buah, akar
tanaman, dan umbi-umbian. Beberapa spesies Hystrix lainnya ada yang memakan
tulang kering binatang. Tidak seperti rodensia lainnya, Hystrix memiliki gigi seri
yang sangat besar, sehingga dapat menghancurkan tulang kering. Hystrix tidak
memiliki gigi taring. Jumlah gigi Hystrix adalah 20 buah (Grzimek, 1975). Berikut
adalah formula gigi Hystrix :
Tabel 1. Formula Gigi Hystrix
Posisi Gigi seri Gigi Taring Gigi premolar Gigi Molar
Atas – kiri 1 0 1 3
Atas - kanan 1 0 1 3
Bawah - kiri 1 0 1 3
Bawah - kanan 1 0 1 3
Sumber : Grzimek (2004).
Landak memiliki dua kaki depan dan kaki belakang yang pendek, namun
sangat kuat. Oleh karena itu landak dikenal sebagai hewan penggali yang baik dan
landak dapat membuat sarangnya sendiri. Pada kedua kaki depan, masing-masing
kaki terdapat empat jari bercakar dan satu ibu jari, sedangkan kaki belakang memiliki
dan dilengkapi dengan bantalan. Ketika berjalan atau berlari, telapak kaki seluruhnya
menyentuh tanah. Landak pun diketahui dapat berenang (Grzimek, 2004).
Landak betina dapat berkembang biak dua kali dalam setahun dengan masa
bunting kurang lebih 112 hari (16 minggu). Jumlah anak per kelahiran 1-2 ekor
(Farida, 2011). Hystrix termasuk hewan poliestrus, dalam sekali bunting dapat
melahirkan 1 hingga 3 anak sekaligus dengan persentase melahirkan anak 58,8% satu
ekor, 32,1% kembar dua dan 9,1% kembar tiga. Sebelum melahirkan, landak betina
akan menggali tanah untuk membuat suatu ruangan sebagai tempat melahirkan (Van
Aarde, 1985). Saat dilahirkan, mata anak landak sudah terbuka dan duri tubuhnya
masih lembut, tetapi beberapa saat kemudian setelah terkena udara perlahan-lahan
durinya akan mengeras (Farida, 2011). Walaupun anak landak mulai dapat memakan
pakan keras setelah 2 minggu kelahiran, induk landak masih harus menyusuinya
selama 13 hingga 19 minggu masa postpartus (Van Aarde, 1985). Landak muda akan
tinggal secara berkoloni sampai landak mencapai umur dua tahun. Sebelum
mencapai umur dua tahun, landak akan tinggal bersama induknya di dalam sarang
(Norsuhana et al., 2009).
Hystrix javanica
Hystrix javanica atau biasa dikenal sebagai landak ekor pendek Jawa. Landak
Jawa ditemukan oleh F. Cuvier pada tahun 1823 di Jawa (Grzimek, 1975). Landak
Jawa memiliki karakteristik sebagai berikut : berat rata-rata sekitar 8 kg dengan
panjang tubuh sekitar 45,5 sampai dengan 73,5 cm. Panjang ekornya berkisar antara
6 sampai 13 cm (Grzimek, 1975).
Landak Jawa banyak ditemukan di hutan, dataran rendah, kaki bukit, dan area
pertanian. Pakan landak Jawa dapat berupa rumput, daun, ranting, akar,
buah-buahan, sayur-sayuran bahkan landak juga dapat mengunyah tanduk rusa untuk
memenuhi kebutuhan mineral dalam tubuhnya (Banfield, 1974).
Ciri-ciri fisik yang khas pada landak Jawa adalah tubuhnya yang diselimuti
rambut halus (seperti rambut pada mamalia lain), rambut peraba, dan duri. Rambut
halus dan duri terdapat di seluruh bagian tubuh landak, kecuali pada bagian hidung,
mulut, daun telinga, dan telapak kaki (Barthelmess, 2006). Fungsi dari rambut halus
adalah sebagai pelindung dari cuaca panas maupun dingin, membantu mengatur
Rambut peraba berwarna hitam dan putih terdapat di bawah hidung dan di sekitar
pipi landak (Gambar 2). Rambut peraba merupakan rambut khusus yang tumbuh dari
folikel hipodermis. Folikel-folikel tersebut dikelilingi oleh saraf yang responsif
terhadap rangsangan mekanik seperti sentuhan atau gerakan (Aspinall dan O’Reilly,
2004).
Pada bagian kepala, tubuh dan ekor ditutupi oleh duri yang tebal dan kaku
yang panjangnya dapat mencapai 20 cm. Duri tersebut berwarna kecoklatan atau
kehitaman, seringkali terdapat band putih pada duri landak (Grzimek, 2004). Setiap
duri yang ada pada tubuh landak tertanam di dalam kulit. Duri melekat pada otot
yang berfungsi sebagai penarik duri tersebut ke atas (penegang) ketika ada ancaman
yang mendekat (Grzimek, 1975).
Gambar 1. Rambut halus landak Jawa (Sheila, 2011).
Gambar 2. Rambut peraba pada landak Jawa (Sheila, 2011).
Gambar 5. Landak Jawa yang sedang terancam oleh musuh (Prayudi, 2012).
Duri-duri pertahanan landak akan ditegangkan ketika landak merasa terancam
oleh predator. Landak mampu menghempaskan duri-duri pertahanannya ke tubuh
predator ketika predator mendekati landak. Duri-duri pertahanan tersebut dapat
terlepas dan menancap pada tubuh predator. Duri-duri yang hilang tersebut akan
diganti dengan duri-duri yang baru. Duri-duri baru ini akan tetap berada atau
tertanam di dalam kulit sampai tumbuh sempurna. Pertumbuhan duri baru akan sama
dengan proses pertumbuhan rambut pada umumnya (Akers dan Denbow, 2008).
Duri landak dapat diklasifikasikan menjadi tujuh kelompok, yakni (1) stiletto,
duri yang kaku, pipih dengan ujung yang tajam dan alur longitudinal; (2) paku yang
tebal, tidak fleksibel, dan ujung yang tajam; (3) bulu, seperti duri yang fleksibel
dengan penampang bulat dan ujung yang tajam; (4) kapsul, seperti struktur yang
diikat di ujung ekor oleh batang yang tipis; (5) bulu trombosit yang berongga, pipih,
dan berwarna putih kekuningan pada ujung ekor; (6) jenis bulu yang rata,bulu halus
pada akhir ekor; dan (7) bulu tengkuk yang berjumbai di kepala dan leher (Grzimek,
2004).
Landak menggunakan duri-durinya dengan dua cara, defensive (bertahan) dan
offensive (menyerang). Cara defensive digunakan ketika musuh akan mendekat atau
mengganggu landak. Pada saat ini, duri-duri landak akan menegang. Cara offensive
dilakukan dengan menusukkan sejumlah duri pada bagian tubuh musuh. Duri landak
yang tertancap pada daging akan terus masuk atau berpenetrasi ke dalam daging.
Duri landak tersusun oleh matrik yang membuatnya sangat kaku dan tajam (Roze,
1989). Berikut adalah gambar perbedaan duri landak Jawa yang sedang beristirahat
dan duri landak Jawa yang sedang terancam oleh musuh :
Gambar 4. Landak Jawa sedang beristirahat (Prayudi, 2012).
Tingkah Laku Landak (Hystrix spp.)
Makhluk hidup dalam menjalankan fungsi kehidupannya, tentu dipengaruhi
oleh lingkungan luar dan aktivitas hewan itu sendiri, sehingga akan mempengaruhi
lingkungan internal tubuh hewan. Apabila hal tersebut berubah, maka hewan harus
mempertahankan diri atau beradaptasi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Tingkah laku hewan merupakan suatu kondisi penyesuaian hewan terhadap
lingkungannya dan pada banyak kasus merupakan hasil seleksi alam seperti
terbentuknya struktur fisik (Craig, 1981).
Tingkah laku pada tingkat adaptasi ditentukan oleh kemampuan belajar
hewan untuk menyesuaikan tingkah lakunya terhadap suatu lingkungan yang baru.
Berdasarkan pengamatan Wardi (2009), aktivitas istirahat merupakan aktivitas yang
paling dominan dari landak yang dikandangkan. Sekitar separuh waktunya (51,71%)
dihabiskan landak untuk istirahat. Umumnya landak di habitatnya banyak waktu
digunakan untuk beristirahat di pohon yang disebut dengan istilah istirahat pohon
(Olson, 1999).
Aktivitas lain yang juga cukup tinggi adalah lokomosi (20,25%) dan
grooming (13,5%). Landak berlokomosi (berpindah atau bergerak dari suatu tempat
ke tempat yang lain) diantara waktu istirahat, lokomosi yang terbanyak adalah
lokomosi ke tempat pakan. Aktivitas grooming meliputi tingkah laku seperti
menjilati tubuhnya, bulu, dan menggigit tulang (Wardi, 2009).
Urutan keempat adalah aktivitas makan yang mempunyai nilai persentase
sebesar 9,24%. Aktivitas makan landak dilakukan dengan cara pakan diambil dan
dipegang dengan kedua kaki depan, kemudian dikunyah sebelum ditelan sambil
mengeluarkan suara seperti orang mengecap (Wardi, 2009). Bahan pakan utama
yang biasa dikonsumsi landak adalah umbi, akar, batang, kulit kayu, ranting, dan
daun-daunan (Haim et al., 1992).
Aktivitas lain seperti minum, urinasi, defekasi, dan agonistik (perilaku
persaingan antara dua satwa yang sejenis, umumnya terjadi selama musim kawin)
sangat rendah yang diindikasikan dengan persentase aktivitas yang rendah, yaitu
berturut-turut 0,36%, 1,62%, 0,11%, dan 3,2% (Wardi, 2009). Frekuensi minum
landak sangat jarang, biasanya hanya dilakukan setelah aktivitas makan selesai.
mengangkat ekornya dan fesesnya selalu berada di salah satu sudut kandang dan tak
pernah berpindah. Aktivitas defekasi rata-rata diawali dengan aktivitas urinasi
(Wardi, 2009).
Selain aktivitas di atas yang dilakukan landak dalam tingkah laku hariannya
ternyata masih ada aktivitas lain, yaitu berusaha memanjat tembok dan berusaha
menggali lubang dengan cara mengais tembok. Aktivitas ini merupakan sifat dasar
landak yang ada di alam sehingga terkadang masih dilakukan di dalam penangkaran
(Wardi, 2009).
Tingkah laku dasar hewan merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir
(innate behavior), antara lain gerakan menjauh atau mendekat dari stimulus,
perubahan pola tingkah laku dengan adanya kondisi lingkungan yang berubah dan
tingkah laku akibat mekanisme fisiologis seperti tingkah laku jantan dan betina saat
estrus (Stanley dan Andrykovitch, 1984).
Perilaku satwa adalah respon atau ekspresi satwa terhadap rangsangan atau
stimulus atau agent yang mempengaruhinya. Ada dua macam rangsangan yaitu
rangsangan dalam dan rangsangan luar. Rangsangan dalam antara lain adalah faktor
fisiologis sekresi hormon dan faktor motivasi. Rangsangan luar dapat berbentuk
suara, pandangan, tenaga mekanis, dan rangsangan kimia (Mukhtar, 1986). Sebagian
besar satwa liar mempunyai berbagai pola tingkah laku yang dapat dicobakan untuk
suatu situasi, dengan demikian landak belajar menerapkan salah satu pola yang
menghasilkan penyesuaian terbaik (Alikodra, 1990).
Saluran Pencernaan Landak
Menurut Van Jaarsveld (1983), lambung di dalam saluran pencernaan landak
memiliki persentase 6,47% dari bobot badan dan memiliki pH 2 yang termasuk
asam. Rendahnya pH di dalam lambung menyebabkan fermentasi pada daerah
lambung sangat jarang terjadi. Landak juga memiliki usus halus yang panjang (670
cm).
Sekum dan kolon landak mengandung protozoa dan bakteri yang sama
dengan ruminan, terdiri dari 30% pencerna protein, 75%-85% pencerna karbohidrat,
dan 15%-30% pencerna karbohidrat larut (McDonald et al., 2002). Sebagian besar
produksi VFA. Sedangkan usus halus dan kolon mempunyai sedikit peran dalam
proses pencernaan serat pada landak (Grant, 2011).
Keterangan : 1. Lambung, 2. Usus halus, 3. Sekum, 4. Ascending Colon, 5. Transverse Colon, 6.
Descending Colon.
Gambar 6. Saluran pencernaan hewan landak (Van Jaarsveld, 1983).
Landak mempunyai kemampuan mencerna serat yang baik, karena
mempunyai sekum dan kolon yang besar, sehingga dapat mensuplai 16% kebutuhan
energi basal (Johnson dan McBee, 1967) dan distal kolon landak empat kali lebih
besar daripada berang-berang (Vispo dan Hume, 1995). Untuk dapat mencerna serat,
di dalam sekum landak terdapat bakteri dan enzim yang dapat mendegradasi pakan
berserat menjadi sumber energi untuk kebutuhan hidup landak tersebut.
Bakteri Selulolitik
Bakteri selulolitik menghasilkan enzim yang mampu menghancurkan
karbohidrat komplek menjadi selulosa, glukosa, dan asam lemak atsiri (Preston &
Leng, 1987). Kebanyakan bakteri selulolitik yang berbentuk coccus memperlihatkan
tipe struktur dinding sel Gram-positif dan yang berbentuk batang memperlihatkan
tipe struktur sel Gram-negatif (Ogimoto & Imai, 1981). Struktur dinding sel bakteri
Perbedaan morfologis dan tipe struktur dinding sel diasumsikan akan
memperlihatkan perbedaan karakteristik aktifitas bakteri dalam mencerna serat kasar.
Bakteri Gram-negatif umumnya merupakan populasi terpadat di dalam rumen
terutama bila hewan semangnya hanya diberi pakan hijauan dan komposisi populasi
bakteri Gram-positif akan meningkat bila pakan hewan semangnya disuplementasi
dengan konsentrat (Ling, 1990).
Selulase dari mikroorganisme yang bersifat selulolitik adalah enzim yang
terinduksi dan hanya diproduksi bila mikroorganisme ditumbuhkan pada selulosa
atau glukan dengan ikatan β-1,4 seperti selobiosa, laktosa, dan sophorosa (Pelczar
dan Chan, 1986). Kandungan serat kasar yang tinggi akan mempengaruhi populasi
bakteri pencerna serat di dalam rumen (Nurlaela, 2006). Bakteri selulolitik selain
memerlukan NH3 sebagai sumber N untuk pertumbuhannya juga memanfaatkan
kerangka asam lemak terbang yang dapat diproduksi dari deaminasi asam amino
untuk proses metabolismenya (Czerkawski, 1986). Hasil penelitian Wulandari
(2010), menyatakan bahwa semakin lama waktu inkubasi maka populasi bakteri
selulolitik akan semakin meningkat (P<0,01).
Bakteri Amilolitik
Bakteri amilolitik merupakan mikroorganisme yang mampu memecah pati
menjadi senyawa yang lebih sederhana, terutama dalam bentuk glukosa. Populasi
mikroba secara umum ditentukan oleh tipe pakan yang dikonsumsi ternak yang akan
mengakibatkan perubahan populasi dan proporsi dari setiap spesies mikroba
(Czerkawski, 1986). Konsentrasi VFA total sangat berhubungan dengan populasi
mikroba rumen, khususnya bakteri selulolitik dan amilolitik (Church, 1979).
Fase pertumbuhan bakteri amilolitik lebih cepat dibandingkan jenis bakteri
lain (Ulya, 2007). Jumlah dari bakteri proteolitik dan amilolitik ikut berperan dalam
pembentukan zat polimer tertinggi yakni protein dan pati, bervariasi dari 1-1.000.000
sel/ml (dari 1-100.000 sel/ml untuk bakteri proteolitik dan dari 100-1.000.000 untuk
bakteri amilolitik) (Khakhinov et al., 2005). Berdasarkan hasil penelitian Wulandari
(2010), populasi bakteri amilolitik dipengaruhi secara nyata (P<0,01) oleh waktu
inkubasi. Semakin lama waktu inkubasi maka populasi bakteri amilolitik akan
Bakteri Lipolitik
Bakteri lipolitik memiliki kemampuan untuk mendegradasi komposisi
berbagai komponen lemak dalam pakan. Di dalam rumen, jumlah bakteri lipolitik
yang terlibat dalam hidrolisis lemak dapat mencapai sebanyak 109 cfu / ml larutan.
Produk hasil fermentasi tersebut meliputi asam asetat, asam propionat, asam butirat,
dan asam suksinat, tetapi tidak menghasilkan asam format dan asam laktat. Hidrolisis
lemak ini tidak banyak menghasilkan gas. Sebagian gas mungkin telah diproduksi
atau digunakan dalam proses tersebut, tetapi nilai atau jumlah yang sebenarnya tidak
diketahui. Hidrogen sulfida terbentuk oleh sejumlah gula dan turunannya, yakni
gliserol, fruktosa, dan ribosa yang difermentasi (Hungate, 1966).
Enzim
Enzim adalah golongan protein yang disintesis oleh sel hidup dan mempunyai
fungsi penting sebagai katalisator dalam setiap reaksi metabolisme yang terjadi pada
organisasi hidup. Enzim juga merupakan biokatalisator yang menunjang berbagai
proses industri. Hal ini disebabkan enzim mempunyai efisiensi dan efektivitas yang
tinggi, reaksinya tidak menimbulkan produk samping, dan dapat digunakan
berulangkali dengan teknik amobilisasi (Lehninger, 1982).
Enzim bersifat sangat spesifik dalam mengkatalis reaksi, sehingga meskipun
jumlah enzim ribuan di dalam sel dan substrat pun sangat banyak, tidak akan terjadi
kekeliruan (Shahib, 1992). Setiap enzim mempunyai suhu optimum, yaitu ketika
enzim tersebut dapat bekerja dengan baik. Semakin jauh dari suhu optimum, kerja
enzim semakin tidak baik (Sumardjo, 2009).
Berdasarkan letaknya, enzim terdiri dari ekstraseluler dan seluler. Enzim
ekstraseluler adalah enzim yang dihasilkan di dalam sel, tetapi dikeluarkan ke dalam
medium fermentasi untuk menghidrolisis dan mendegradasi komponen-komponen
kompleks menjadi senyawa-senyawa sederhana yang mudah larut dan diserap oleh
mikroorganisme (Nuraida et al., 2000). Enzim seluler merupakan enzim yang
dihasilkan di dalam sel yang juga berfungsi untuk mendegradasi
komponen-komponen kompleks menjadi senyawa - senyawa sederhana di dalam tubuh sel
Selulase
Enzim selulase merupakan golongan enzim yang mampu memutuskan ikatan β-1,4 pada substrat selulosa dan turunannya (selodekstrin, selobiosa, dan lain-lain). Dalam tubuh ternak, enzim selulase berperan dalam memecah selulosa menjadi
selebiosa yang kemudian dihidrolisis lebih lanjut oleh enzim selulase untuk
menghasilkan glukosa (Tillman et al., 1989). Selulosa merupakan salah satu bahan
organik yang terdapat dalam jumlah banyak di alam dan merupakan sumber energi
yang sangat potensial bagi ruminansia (Arora, 1989). Selulosa dapat berasal dari
kayu, rumput-rumputan, alang-alang, bambu, rami, dan sisa-sisa perkebunan seperti
bagas tebu dan padi-padian (Irawadi, 1990). Selulosa adalah polimer dari β
-D-glukosa dan gugus atas dan bawahnya dihubungkan dengan CH2OH (Zamora, 2005).
Enzim selulase tidak dihasilkan oleh jaringan hewan (Tillman et al., 1989). Gambar
7 memperlihatkan proses kerja enzim selulase yaitu dengan mengubah selulosa
menjadi selobiosa lalu menjadi glukosa.
Gambar 7. Cara kerja enzim selulase (Nishiyama et al., 2002)
Amilase
Enzim amilase merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi hidrolisis pati
menjadi gula-gula sederhana yakni menguraikan amilum (polisakarida) menjadi
maltosa (disakarida) (Rinawati et al., 2009). Amilum adalah salah satu bentuk
karbohidrat yang terdiri atas dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah
polimer dari glukosa yaitu amilosa dan sisanya amilopektin. Amilosa adalah 250-300
merupakan rantai terbuka (Sunarya, 2010). Satu unit aktivitas enzim amilase adalah
banyaknya enzim yang diperlukan untuk menghasilkan satu mikromol gula pereduksi
per menit per mililiter larutan enzim pada kondisi tertentu (Widyastuti et al., 2001).
Gambar 8 memperlihatkan proses kerja enzim amilase yaitu dengan mengubah
amilum menjadi maltosa yang kemudian akan diubah lebih lanjut menjadi glukosa.
Lipase
Lipid adalah salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam
tumbuhan, hewan, atau manusia. Enzim yang dapat mencerna lipid disebut lipase.
Enzim lipase merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi hidrolisis ikatan ester
(trigliserida) menjadi gliserida parsial (monoasilgliserol dan diasil gliserol), gliserol,
dan asam lemak terbang (Macrae,1983). Satu unit aktivitas lipase didefinisikan
sebagai kemampuan sejumlah enzim untuk membebaskan satu mikromol asam lemak
per menit dari substrat pada pH dan suhu tertentu (Nuraida et al., 2000). Skema
reaksi hidrolisis yang dikatalisis oleh lipase dapat diterangkan sebagai berikut :
TAG + H2O DAG + ALB
DAG + H2O MAG + ALB
MAG + H2O Gliserol + ALB
dimana TAG, DAG, dan MAG masing-masing adalah triasilgliserol, diasilgliserol,
dan monoasilgliserol sedangkan ALB adalah asam lemak bebas.
Reaksi di atas bersifat reversibel, artinya lipase juga dapat mengkatalisis
pembentukan gliserida dari gliserol dan asam lemak bebas. Beberapa jenis lipase
juga diketahui dapat mengkatalisis reaksi reversibel hidrolisis / sintesis ester selain
ester gliserol-asam karboksilat pada kondisi tertentu. Dengan demikian definisi
lipase yang dikemukakan diatas sebenarnya terlalu sederhana untuk menggambarkan
kemampuan enzim lipase (Desnuelle, 1972; Anonymous, 1992).
Gambar 8. Cara kerja enzim amilase (Timotius, 1982)
Menurut Miller et al. (2010), lipase merupakan enzim yang dapat larut dalam
air dan secara alami mengkatalisis hidrolisis ikatan ester dalam substrat lipid yang
tidak larut air. Penambahan lemak ke dalam medium pertumbuhan menunjukkan
peningkatan produksi lipase oleh sejumlah mikroba. Minyak zaitun, minyak kacang
tanah, minyak biji kapas, dan asam oleat secara efektif dapat merangsang
MATERI DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biokimia, Fisiologi, dan
Mikrobiologi Nutrisi, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini
dilaksanakan dari bulan April 2012 hingga bulan Juli 2012. Perlakuan pemberian
pakan telah dilakukan dari bulan September 2011 hingga bulan November 2011.
Materi
Bahan
Penelitian ini menggunakan delapan ekor landak yang terdiri dari dua jantan
dan enam betina. Landak ini merupakan hasil penangkaran LIPI-Cibinong (Cibinong
Science Centre) di Jl. Raya Jakarta Bogor KM 46, Cibinong – 16911, Kabupaten
Bogor.
Landak tersebut diberi dua perlakuan pemberian pakan yakni pakan kontrol
yang terdiri dari rumput jaat, bengkoang, talas belitung, jagung, tomat, pisang, dan
sumber mineral (K0) dan pakan kontrol (K0) + pelet ikan koi (K1). Pemberian pakan
dilakukan ad libitum selama tiga bulan. Umur landak ketika dipotong berkisar antara
12-18 bulan. Landak dipotong setelah dipuasakan selama 1 hari untuk diambil isi
(digesta) sekumnya. Sekum landak dipotong dari saluran pencernaan kemudian
dikeluarkan isi sekumnya lalu dimasukkan ke dalam tabung fermentor. Digesta
sekum di dalam tabung fermentor kemudian disimpan di dalam freezer suhu -20°C
untuk analisis berikutnya.
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah media pengencer
atau media putih, aquades, media brain heart infusion (BHI) yang diberi sumber
selulosa (larutan carboxymethyl cellulose/ CMC 1%), amilosa (pati 1%) dan lipid
(minyak zaitun), gas CO2, agar Bacto, gliserol 80%, larutan standar glukosa 0,2%,
larutan standar glukosa 0,04%, buffer phosphat 0,1 M (pH 6,8), buffer phosphat 0,05
M (pH 8), larutan DNS (Dinitrosalicylic Acid), etanol, aceton, fenolftalein 1%, dan
Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi timbangan, tabung
film, gelas ukur, sudip, labu Erlenmeyer, tabung Hungate, botol, termos, otoklaf
(autoclave), penangas air, rak tabung reaksi, tabung reaksi, spoit, needle, panfix,
aluminium foil, tissue, gunting, tabung fermentor, penangas air bergoyang (shaker
waterbath), sentrifus, mikropipet, vortex, pH meter, cawan porselin, oven 105oC,
tanur 600oC, inkubator, dan spektrofotometer.
Prosedur
Pengambilan Sampel
Sampel digesta (isi) sekum yang berada di dalam freezer di thawing terlebih
dahulu sebelum digunakan sebagai sampel. Persiapan sampel dilakukan berdasarkan
hasil percobaan yang dikembangkan sebelum penelitian dimulai. Digesta sekum
ditimbang sebanyak 3 g di dalam tabung fermentor kapasitas 50 ml lalu dicampur
dengan larutan pengencer sebanyak 9 ml sambil dialiri gas CO2 agar kondisi anaerob
tercapai. Setelah itu diinkubasi dalam penangas air bergoyang pada suhu 39°C
selama 0 dan 1 jam. Sampel tersebut merupakan sampel awal untuk menganalisa
populasi bakteri, aktivitas enzim dan DBK serta DBO.
Pengenceran Sampel
Pengenceran sampel dilakukan secara berseri dan mengikuti prosedur yang
dilakukan oleh Ogimoto dan Imai (1981). Preparasi sampel dilakukan sambil dialiri
gas CO2 agar sampel tetap dalam kondisi anaerob. Sampel sekum dari
masing-masing landak dimasukkan ke dalam tabung fermentor, kemudian dilarutkan dengan
larutan pengencer atau media putih dengan rasio sampel dan pelarut adalah 1:3.
Pengenceran pertama dilakukan dengan mengambil sebanyak 0,05 ml larutan sekum
ke dalam stok bakteri yang berisi larutan pengencer sebanyak 4,85 ml dan gliserol
0,1 ml. Pada pengenceran kedua, sebanyak 0,05 ml dari tabung pengencer 1 diambil
dan dimasukkan ke dalam tabung pengencer 2 yang berisi larutan pengencer
Perhitungan Populasi Bakteri Amilolitik, Selulolitik, dan Lipolitik
Populasi bakteri dihitung dengan metode pencacahan koloni bakteri hidup
(Ogimoto dan Imai, 1981). Prinsip perhitungannya adalah digesta sekum landak yang
telah diencerkan secara berseri lalu dibiakkan di dalam tabung Hungate.
Medium tumbuh yang digunakan untuk menghitung populasi bakteri
selulolitik, amilolitik, dan lipolitik adalah medium BHI agar yang telah diotoklaf lalu
dimasukkan ke dalam penangas air bergoyang pada suhu 70°C untuk menjaga
medium BHI padat tidak mengeras kembali. Masing-masing (0,1 ml) sampel yang
telah diencerkan sebelumnya kemudian dimasukkan ke dalam medium agar BHI
yang telah bersuhu suam-suam kuku. Tabung lalu digelindingkan dalam genangan
air supaya medium BHI dapat mengeras mengelilingi dinding tabung. Hal yang
sama dilakukan pada sampel pengenceran yang kedua. Setelah itu dimasukkan ke
dalam inkubator dengan suhu 39°C selama 24 jam. Koloni yang terbentuk kemudian
dihitung manual di bawah sinar lampu. Perhitungan data mentah menjadi cfu / gram
BK dilampirkan pada Lampiran 15.
Persiapan Sampel Enzim
Persiapan sampel aktivitas enzim menggunakan sampel awal yang telah
diinkubasi selama 0 jam dan 1 jam sebelumnya. Kemudian sampel disentrifugasi
pada kecepatan 3.000 rpm selama 20 menit, cairan dipisahkan dari residu dan
supernatan (S/N) digunakan sebagai sumber enzim untuk fraksi ekstraseluler,
sedangkan residunya digunakan untuk menghitung bahan kering dan bahan
organiknya.
Pengukuran Aktivitas Enzim
1. Uji aktivitas enzim selulase
Prosedur uji aktivitas enzim selulase ini berdasarkan metode dinitrosalicylic
acid (Miller, 1959) yang telah dimodifikasi (Tripathi dan Karim, 2011). Prinsip
pengujian aktivitas enzim selulase dilakukan dengan mencari nilai selisih antara
larutan sampel dengan larutan blanko. Nilai selisih tersebut diestimasikan sebagai
monosakarida hasil reduksi dari aktivitas enzim yang telah berlangsung.
Larutan buffer fosfat 0,1 M (pH 6,8) sebanyak 1 ml dicampurkan dengan
sebanyak 0,5 ml. Campuran kemudian diinkubasi pada suhu 39°C selama 60 menit.
Setelah itu ditambahkan 3 ml larutan DNS dan dididihkan selama 5 menit. Setelah
dingin, campuran tersebut diukur panjang gelombangnya (540 nm) dengan
spektrofotometer. Prosedur untuk larutan blanko sama dengan larutan sampel,
namun tidak dimasukkan larutan enzim / sampel. Perhitungan data mentah menjadi
unit / gram BK dilampirkan pada Lampiran 16.
2. Uji aktivitas enzim amilase
Prosedur uji aktivitas enzim amilase ini berdasarkan metode dinitrosalicylic
acid (Miller, 1959) yang telah dimodifikasi (Tripathi dan Karim, 2011). Pengujian
aktivitas enzim amilase dilakukan dengan mencari nilai selisih antara larutan
sampel dengan larutan blanko. Nilai selisih tersebut diestimasikan sebagai
monosakarida hasil reduksi dari aktivitas enzim yang telah berlangsung.
Larutan buffer fosfat 0,1 M (pH 6,8) sebanyak 1 ml dicampurkan dengan
larutan amilum 1% (0,5 ml), dan larutan enzim ekstraseluler yang telah diencerkan
sebanyak 0,5 ml. Campuran tesebut kemudian diinkubasi pada suhu 39°C selama
30 menit. Setelah itu ditambahkan 3 ml larutan DNS dan dididihkan selama 5
menit. Setelah didinginkan, campuran tersebut diukur panjang gelombangnya
dengan spektrofotometer pada 540 nm. Prosedur untuk larutan blanko sama dengan
larutan sampel, namun tidak dimasukkan larutan enzim / sampel. Perhitungan data
mentah menjadi unit / gram BK dilampirkan pada Lampiran 16.
3. Uji aktivitas enzim lipase
Untuk menentukan aktivitas enzim lipase digunakan metode titrimetri
(Nurhasanah dan Herasari, 2008). Sebanyak 2 ml minyak zaitun dalam labu
Erlenmeyer 100 ml, ditambah 1 ml larutan buffer fosfat 0,05 M (pH 8), dan 1 ml
larutan enzim. Campuran substrat enzim ini kemudian diinkubasikan di dalam
penangas air bergoyang pada suhu 39°C. Setelah 1 jam, substrat enzim
dinonaktifkan dengan menggunakan campuran aseton dan etanol (1:1) sebanyak 1
ml. Campuran tersebut ditambahkan 5 tetes fenolftalein 1% sebagai indikator dan
dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0,05 N. Titrasi dihentikan setelah
campuran berubah menjadi merah muda. Pengukuran aktivitas dilakukan secara
sampel, namun tidak dimasukkan larutan enzim / sampel. Perhitungan data mentah
menjadi unit / gram BK dilampirkan pada Lampiran 17.
Aktivitas Lipase (µmol/mnt) =
Keterangan : A = ml NaOH untuk titrasi sampel
B = ml NaOH untuk titrasi blanko
N NaOH = Normalitas NaOH
1000 = Konversi dari mMol ke µmol
Degradabilitas Bahan Kering dan Bahan Organik
Hasil sampingan (residu) dari pengujian aktivitas enzim ditimbang dan
kemudian dipanaskan dalam oven 105°C selama 24 jam untuk mengetahui kadar
bahan kering yang terdapat pada residu. Kemudian sampel diabukan di dalam tanur
600°C selama 6 jam untuk mengetahui kadar abu. Pengujian nilai DBK dan DBO
dikembangkan dari prinsip kantong nylon (Orskov et al., 1979). Perhitungan nilai
DBK dapat dihitung dengan rumus : [(BK sampel awal – BK residu) / BK sampel
awal] x 100%. Nilai DBO dihitung dengan rumus : [(BO sampel awal- BO residu) /
BO sampel awal] x 100%. Sampel awal yang dimaksud adalah sampel sebelum
dilakukan pengenceran. Residu merupakan padatan hasil pemisahan dari supernatan
saat disentrifuse. Waktu inkubasi sampel terdiri dari 0 jam dan 1 jam.
Rancangan Percobaan
Perlakuan
Penelitian ini menggunakan dua macam perlakuan pakan yaitu pakan kontrol
dan pakan kontrol + pelet ikan koi yang masing-masing diberikan waktu inkubasi 0
jam dan 1 jam seperti rumusan berikut :
K0 = Isi sekum hasil pencernaan dari pakan kontrol + waktu inkubasi 0 jam
K1 = Isi sekum hasil pencernaan dari pakan kontrol + waktu inkubasi 1 jam
P0 = Isi sekum hasil pencernaan dari pakan kontrol + pelet ikan koi yang diberi
P1 = Isi sekum hasil pencernaan dari pakan kontrol + pelet ikan koi yang diberi
waktu inkubasi 1 jam
Model
Dalam penelitian ini digunakan rancangan acak kelompok faktorial 2x2 untuk
populasi bakteri dan degradabilitas bahan kering (DBK) dan degradabilitas bahan
organik (DBO). Faktor pertama (Faktor A) adalah perlakuan pakan (pakan kontrol
dan pakan kontrol + pellet ikan koi), sedangkan faktor kedua (Faktor B) yaitu waktu
inkubasi (0 jam dan 1 jam). Empat ekor landak digunakan sebagai ulangan untuk
setiap perlakuan.
Model matematika RAK Faktorial yang digunakan dalam penelitian ini
adalah :
Yijk = µ + αi + βj + αiβj +
σ
k+
ɛijkKeterangan:
Yijk : nilai pengaruh perlakuan ke-i dan ke-j dan interaksi αiβj
µ : nilai tengah
αi : pengaruh perlakuan pemberian pakan ke-i βj : pengaruh perlakuan waktu inkubasi ke-j
αiβj : pengaruh perlakuan pemberian pakan ke-i pada perlakuan waktu inkubasi
ke-j
σ
k : pengaruh kelompok ternakɛij : pengaruh galat percobaan
Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam (Analysis of Variance)
untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati, dan untuk
mengetahui perbedaan diantara perlakuan yang diuji dengan uji ortogonal kontras
(Steel dan Torrie, 1981).
Data aktivitas enzim dianalisa dengan mengunakan model matematika uji T
tidak berpasangan dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
d = Rataan peubah pertama dikurangi peubah kedua ( )
sd = Akar dari rataan variasi sampel dikali dengan (1/ n1 + 1/ n2)
Peubah yang diamati
Peubah yang diamati adalah populasi bakteri selulolitik, amilolitik, dan
lipolitik, dan kemudian aktivitas enzim selulase, amilase, dan lipase, serta
HASIL DAN PEMBAHASAN
Populasi Bakteri
Bakteri selulolitik, amilolitik, dan lipolitik masing-masing merupakan bakteri
pencerna selulosa, amilosa, dan lemak. Bakteri selulolitik mampu memecah selulosa,
dan amilolitik memecah amilosa, menjadi senyawa yang lebih sederhana, yakni
dalam bentuk glukosa. Sedangkan bakteri lipolitik dapat memecah trigliserida
menjadi gliserol dan asam lemak bebas (Macrae, 1983).
Populasi bakteri selulolitik, amilolitik dan lipolitik ditampilkan dalam Tabel
2. Populasi bakteri selulolitik tidak dipengaruhi oleh perlakuan pemberian pakan, dan
interaksi antara pemberian pakan dengan waktu inkubasi. Populasi bakteri selulolitik
meningkat dengan meningkatnya waktu inkubasi dari 0 jam menjadi 1 jam (P<0,05).
Pola yang sama dengan populasi bakteri selulolitik juga terjadi pada populasi bakteri
amilolitik dan lipolitik. Hal ini dapat menunjukkan adanya peningkatan dalam
pertumbuhan dan aktivitas dari seluruh jenis bakteri tersebut dengan semakin
lamanya waktu inkubasi.
Tabel 2. Populasi Bakteri Selulolitik, Amilolitik, dan Lipolitik
Peubah Perlakuan Pakan
Waktu Inkubasi
Keterangan : a,b) Superskrip pada waktu inkubasi menunjukkan adanya perbedaan P<0,05.
Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan pakan berupa pelet ikan koi
belum dapat meningkatkan populasi bakteri selulolitik, amilolitik dan lipolitik secara
signifikan. Padahal total konsumsi BK pakan perlakuan KP (pakan kontrol + pelet
ikan koi) lebih besar daripada perlakuan KO (pakan kontrol), dan pelet ikan koi
dalam Tabel 3 dan Tabel 4 (Prayudi, 2012). Menurut Nurlaela (2006), kandungan
nutrien, terutama serat kasar yang tinggi, akan mempengaruhi populasi bakteri
pencerna serat di dalam rumen.
Pelet ikan koi termasuk sumber protein pada pakan (Tabel 5). Adanya
penambahan pelet ikan koi sangat mempengaruhi komposisi populasi bakteri pada
sekum landak. Hal itu yang menyebabkan populasi bakteri selulolitik, amilolitik, dan
lipolitik tidak meningkat ketika diberi pelet ikan koi, lain halnya bila yang dijadikan
peubah adalah populasi bakteri proteolitik.
Tabel 3. Komposisi Kimia Pakan Landak Jawa (100% BK)
BahanPakan BK Abu PK LK SK BETN GE Sumber : Prayudi, 2012
Tabel 4. Rataan Konsumsi Bahan Kering
Pakan
Total Konsumsi Pakan Kontrol Pellet KOI
Total Konsumsi Pakan Kontrol + Pelet KOI
8,435±0,713 Sumber : Prayudi, 2012. Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan data yang berbeda nyata
(P<0,05).
Tabel 5. Total Konsumsi Nutrien Pakan
Perlakuan Pakan
Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh faktor nutrisi dan faktor fisik.
Bila hal tersebut tidak terpenuhi maka pertumbuhan bakteri tidak akan maksimal.
Faktor nutrisi terdiri dari ion anorganik dan karbon dioksida (Kusnadi, 2003).
Mikroba anaerob tidak dapat hidup dalam lingkungan dengan konsentrasi oksigen
lebih dari 0,4% (Niswati, 1995). Salah satu faktor fisik adalah temperatur. Menurut
Kusnadi (2003), pertumbuhan bakteri dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni
psikrofilik (-5-30°C, optimum pada suhu 10-20°C), mesofilik (10-45°C, optimum
pada 20-40°C), dan termofilik (25-80°C, optimum pada 50-60°C). Oleh karena itu,
bakteri selulolitik, amilolitik, dan lipolitik dari sekum landak termasuk kelompok
bakteri mesofilik.
Sistem pencernaan landak Jawa sangat mirip dengan sistem pencernaan
hewan kelinci. Landak dan kelinci memiliki persamaan di dalam menfermentasikan
bahan makanannya, yakni di dalam sekum sebelum dikeluarkan dari saluran
pencernaannya. Menurut De Blas dan Wiseman (2010), populasi bakteri di dalam
cairan sekum kelinci berkisar 1010 unit pembentuk koloni (colony forming unit,
cfu)/g bahan kering (BK). Berdasarkan hasil dari penelitian ini, populasi bakteri di
dalam sekum landak hanya mencapai 106 cfu/gram BK. Hal ini menunjukkan bahwa
populasi bakteri sekum landak lebih sedikit dibandingkan populasi bakteri sekum
kelinci walaupun keduanya termasuk pseudoruminan. Berdasarkan hasil penelitian
Elsden et al. (1946), persentase sekum landak lebih rendah dibandingkan sekum
kelinci. Rataan bobot sekum landak berkisar sekitar 5,97% dari bobot badan,
sedangkan bobot sekum kelinci mencapai 7,8% dari bobot badan.
Tingginya populasi bakteri selulolitik dapat disimpulkan bahwa landak
merupakan hewan pencerna selulosa yang baik. Berdasarkan hasil penelitian Odenyo
et al. (1999), bakteri selulolitik obligat di dalam sekum landak Afrika mempunyai
kemampuan mencerna selulosa lebih tinggi dan lebih cepat dibandingkan bakteri
selulolitik yang berada di rumen. Johnson dan McBee (1967) juga melaporkan
bahwa hasil fermentasi sekum landak menghasilkan asam asetat 74%, asam
propionat 12%, dan asam butirat 14%. Konsentrasi VFA di pembuluh darah vena dan
Aktivitas Enzim
Aktivitas enzim dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain suhu, pH atau
keasaman, waktu, konsentrasi atau jumlah enzim, dan inhibitor enzim (Nuraida et al,
2000). Enzim selulase diinkubasi lebih lama dibandingkan enzim amilase
diakibatkan proses degradasi substrat oleh enzim selulase membutuhkan waktu lebih
lama dibandingkan enzim amilase.
Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan yang diberikan terhadap aktivitas
enzim mempunyai pola yang berbanding terbalik dengan pengaruhnya terhadap
populasi bakteri. Perlakuan pakan mempengaruhi aktivitas enzim yang diukur, tetapi
perlakuan waktu inkubasi tidak memberikan efek yang signifikan terhadap peubah
tersebut.
Tabel 6. Aktivitas Enzim Selulase, Amilase, dan Lipase
Peubah Perlakuan Pakan
Waktu Inkubasi
Kontrol 1951,70 ± 117,85a 1894,67 ± 141,81 1923,18 ± 127,83A Kontrol + Pelet KOI 1318,82 ± 365,67b 1463,17 ± 489,59 1391,00 ± 418,83B
Keterangan : a,b) Superskrip pada waktu inkubasi dan perlakuan pakan menunjukkan adanya perbedaan
(P<0,1).
A,B
) Superskrip pada perlakuan pakan menunjukkan adanya perubahan (P<0,05).
Berdasarkan hasil uji t, perlakuan KO (kontrol) mempunyai aktivitas enzim
selulase (P<0,05), amilase (P<0,05) dan lipase (P<0,10) yang lebih besar daripada
perlakuan KP (kontrol + pelet ikan koi). Hasil uji t juga menunjukkan adanya
pengaruh pemberian pakan pada waktu inkubasi 0 jam pada aktivitas enzim amilase
(P<0,10), dimana aktivitas enzim amilase pada perlakuan KO (kontrol) lebih besar
daripada perlakuan KP (kontrol + pelet ikan koi).
Hasil uji t tersebut menunjukkan bahwa perlakuan pakan secara umum dapat
aktivitas semua enzim. Hal ini dapat terjadi akibat pemberian pelet yang mudah
didegradasi dalam saluran pencernaan yang mungkin dapat mempengaruhi kondisi
lingkungan, terutama pH, sehingga aktivitas enzim yang berlangsung menjadi
berkurang. Pemberian pelet dapat meningkatkan kadar bobot isi sekum, namun tidak
berarti akan lebih tinggi juga aktivitas enzimnya.
Pada Tabel 6 juga dapat dilihat bahwa aktivitas enzim amilase yang memiliki
nilai yang tertinggi, kemudian disusul oleh aktivitas enzim selulase dan yang terakhir
adalah aktivitas enzim lipase. Aktivitas enzim amilase lebih tinggi dapat diakibatkan
oleh amilum lebih mudah diurai daripada enzim selulase. Pada uji aktivitas enzim
selulase digunakan CMC 1% untuk media tumbuh selulosa yang akan diurai oleh
enzim selulase, sedangkan pada uji aktivitas enzim amilase digunakan amilum 1%
untuk media tumbuh amilum yang akan dihitung aktivitas enzim amilasenya. Lain
halnya dengan uji aktivitas enzim lipase yang menggunakan minyak zaitun sebagai
induser untuk merangsang produksi enzim lipase. Faktor lain adalah pakan yang
dikonsumsi oleh landak. Tabel 3 dan Tabel 4 menunjukkan bahwa landak percobaan
lebih banyak mengkonsumsi pakan yang mengandung karbohidrat mudah dicerna
(kadar amilosa yang relatif tinggi), diikuti dengan pakan yang mengandung selulosa
dan lipid.
Berdasarkan hasil penelitian Dyanovita (2011), aktivitas enzim amilase ayam
pedaging sebesar 108 ± 0,54 unit / g BK dan enzim lipase sebesar 276,84 ± 4,79 unit
/ g BK pada perlakuan penggunaan campuran kunyit dan jahe dalam bentuk tepung
dan terenkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap aktivitas enzim amilase, protease,
dan lipase usus halus ayam pedaging. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa aktivitas
enzim amilase pada landak Jawa jauh lebih tinggi dibandingkan ayam pedaging.
Sebaliknya aktivitas enzim lipase landak Jawa jauh lebih rendah dibandingkan ayam
pedaging. Hal tersebut juga dapat dilihat pada karkas daging landak yang sangat tipis
lapisan lemaknya (Septiandi, 2012). Hasil ini dapat menunjukkan bahwa pakan yang
dikonsumsi oleh kedua jenis hewan, berbeda dalam kandungan lemaknya.
Degradibilitas Bahan Kering dan Bahan Organik
Nilai degradibilitas bahan kering (DBK) dan degradibilitas bahan organik
(DBO) menggambarkan nilai efisiensi kandungan zat makanan dalam ransum untuk
semakin tinggi nilai DBK dan DBO maka akan semakin efisien penyerapan zat
makanan dalam saluran pencernaan sekum landak tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian, secara keseluruhan nilai DBK dan DBO sangat
tinggi (Tabel 7), tetapi tidak ada pengaruh yang nyata dari perlakuan pakan, waktu
inkubasi dan interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap DBK dan DBO.
Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Wulandari (2010), yang
menyatakan bahwa lama waktu inkubasi sangat berpengaruh terhadap nilai DBK dan
DBO (P<0,01) pada proses degradasi bungkil biji jarak dengan mikroba rumen
ternak ruminansia. Kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan dalam proses
degradasi oleh mikroba sekum dengan mikroba rumen dimana pakan telah
mengalami pencernaan terlebih dahulu oleh enzim pencernaan di usus halus landak
dan dilanjutkan oleh enzim mikroba di sekum. Keadaan ini juga menyebabkan nilai
DBK dan DBO yang sangat tinggi pada percobaan ini. Selain itu, pakan yang
dikonsumsi oleh landak berupa KO (pakan kontrol) dan KP (pakan kontrol + pelet
ikan koi) merupakan pakan yang mudah dicerna (Tabel 3 dan Tabel 4) (Prayudi,
2012).
Tabel 7. Degradabilitas Bahan Kering dan Bahan Organik
Peubah Perlakuan Pakan
Waktu Inkubasi
Keterangan : Hasil anova menunjukkan tidak ada perbedaan antar perlakuan ataupun waktu inkubasi.
Kandungan BK pakan kontrol + pelet ikan koi yang terdapat pada pelet ikan
koi yaitu 94,52% sedangkan BK pakan kontrol yang tertinggi adalah pisang siam
sebesar 46,23% (Prayudi, 2012). Kandungan BK yang tinggi dapat menurunkan daya
degradabilitas pakan yang dikonsumsi. Menurut Anggreini (2012), daya
degradabilitas pellet ikan koi yang lebih rendah dibandingkan pakan kontrol
Nilai DBK dan DBO juga dipengaruhi oleh populasi bakteri selulolitik,
amilolitik, dan lipolitik yang semakin meningkat seiring meningkatnya waktu
inkubasi, sehingga menyebabkan jumlah pakan yang didegradasi semakin banyak.
Menurut Putra (2006), pencernaan fermentatif BK yang didegradasi semakin tinggi
sejalan dengan lamanya proses fermentasi berlangsung. Tabel 7 juga dapat
menunjukkan bahwa nilai DBO lebih tinggi dibandingkan nilai DBK. Hal ini
menunjukkan bahwa bahan organik seperti protein, karbohidrat, dan lemak yang
terdapat dalam ransum sangat mudah dicerna di dalam sekum landak Jawa karena zat
makanan tersebut telah mengalami proses pencernaan terlebih dahulu di saluran
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Penambahan pelet ikan koi sebagai sumber protein ke dalam pakan kontrol
menyebabkan perubahan komposisi mikroba sekum yang mengarah pada
peningkatan populasi bakteri proteolitik, namun belum dapat meningkatkan populasi
bakteri selulolitik, amilolitik, lipolitik, aktivitas ketiga enzim tersebut, degradabilitas
bahan kering dan bahan organik. Populasi bakteri selulolitik, amilolitik dan lipolitik
lebih dipengaruhi oleh waktu inkubasi yang meningkat dari 0 ke 1 jam, tetapi
perlakuan ini tidak mempengaruhi aktivitas enzim, DBK dan DBO. Interaksi antara
perlakuan pakan dan waktu inkubasi tidak menyebabkan efek terhadap semua
peubah.
Saran
Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui jenis pakan dan bentuk
pakan yang sesuai untuk meningkatkan populasi bakteri dan aktivitas enzim agar
UCAPAN TERIMA KASIH
Bismillahirrahmanirrahim. Puji syukur Alhamdulillah penulis ucapkan
kepada Allah SWT atas segala rahmat, rizki, nikmat, dan kemudahan yang telah
dikaruniakan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik. Ucapan terima kasih ingin penulis sampaikan kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, yaitu 1) Ir. Anita S. Tjakradidjaja,
M.Rur.Sc. dan Dr. Ir. Muhammad Ridla selaku dosen pembimbing yang telah
membimbing, mengarahkan, dan memberi saran yang diberikan selama ini. 2) Dr. Ir.
Suryahadi, DEA sebagai dosen penguji seminar yang telah memberi masukan untuk
perbaikan makalah seminar saya. 3) Prof. Dr. Ir. Komang Gede Wiryawan dan Dr.
Irma Isnafia Arief, S.Pt., M.Si selaku dosen penguji yang telah banyak memberi
masukan dalam penulisan skripsi ini. 4) Teknisi lab seperti Adriyani, Nanday,
Lailasari dan Dian yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan
penelitian ini. 5) Chyntya Sjafril, Rossy Endah A, dan Adya Rahmi yang telah
menemani dan memberi semangat kepada penulis selama penelitian ini berlangsung.
6) Ibu dan Bapak yang telah memberi restu dan doa yang tiada hentinya dipanjatkan
serta kasih sayang yang diberikan selama ini kepada penulis.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan-kebaikan beliau sebagai suatu
pahala di dunia dan akhirat kelak. Akhir kata, penulis ingin meminta maaf bila
merepotkan dan ada kesalahan selama penelitian ini berlangsung. Wassalamualaikum
wr.wb.
Jakarta, Februari 2013
DAFTAR PUSTAKA
Akers, R.M., & D. M. Denbow. 2008. Anatomy and Physiology of Domestic Animals. Blackwell Publishing, Garsington Road, Oxford.
Alikodra, H. S. 1990. Pengelolaan Satwa Liar. Jilid 1. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Anggreini, R. E. A. 2012. Pengaruh pemberian pakan terhadap konsentrasi amonia dan volatile fatty acid (VFA) dan degradasi bahan kering dan bahan organik di sekum landak (Hystrix javanica). Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Anonymous. 1992. Enzyme Nomenclature. Recommendations of the Nomenclature Committee of the International Union of Biochemistry and Molecular Biology on the Nomenclature and Classification of Enzymes. Academic Press. Inc, San Diego.
Arora, S. P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Edisi Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Aspinall, V., & M. O’Reilly. 2004. Introduction to Veterinary Anatomy and Physiology. Butterworth Heinemann, London.
Banfield, A. W. 1974. The Mammals of Canada. University of Toronto Press, Ontario.
Barthelmess, L. E. 2006. Hystrix africaeaustralis. J. Mamall. Spec. 788: 1-7.
Chairul, W. R. Farida, T. P. Nugraha. 2010. Kajian efikasi pada landak (Hystrix sp.) untuk pemanfaatan berkelanjutan. Pusat Penelitian Biologi – LIPI. Cibinong, Bogor.
Church, D.C. 1979. Digestive Physiology and Nutrition of Ruminant. 2nd Edition. Metropolitan Printing Co, Oregon.
Craig, J. V. 1981. Domestic Animal Behavior : Causes and Implication For Animal Care and Management. Prentice Hall, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey.
Czerkawski, J. W. 1986. An Introduction to Rumen Studies. Pergamon, Oxford.
De Blas, C. & J. Wiseman. 2010. Nutririon of The Rabbit. 2nd Edition. CABI Publishing, Wallingford.
Desnuelle, P. 1972. The Lipases in The Enzymes. P.O. Boyer (ed.) Vol 7. Academic Press, New York.
Dyanovita, A. K. 2011. Pengaruh penggunaan campuran kunyit dan jahe dalam bentuk tepung dan terenkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap aktivitas enzim amilase, protease, dan lipase. Skripsi. Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang.
Elsden, S. R., M. W. S. Hitchcock, R. A. Marshall & A. T. Phillipson. 1946. Volatile acid in the digesta of ruminants and other animals. J. Exp. Biol. 22 : 191.
Farida, W. R. 2011. Perilaku harian induk landak raya (Hystrix brachyura LINNAEUS, 1758) pada masa menyusui. Fauna Indonesia. Vol. 10. Bidang Zoologi Puslit Biologi-LIPI. Cibinong, Bogor.
Grant, K. 2011. Nutrition of the north american porcupine, Erethizon dorsatum. www.softwarelabs.com. [17 Desember 2012].
Grzimek, B. 1975. Grzimek’s Animal Life Encyclopedia Mammals II. Vol. 2. Van Nostrand Reinhold Company, New York.
Grzimek, B. 2004. Grzimek’s Animal Life Encyclopedia Mammals. 2nd Ed. Vol. 17. Van Nostrand Reinhold Company, New York.
Haim, A., R. J. Van Aarde, & J. D. Skinner. 1992. Urinary characteristics of the cape porcupine Hystrix africaeaustralis; effect of photoperiode and temperature. J. Basic. Clin. Physiol. Pharmaco. 13 (2) : 166.
Hungate, R. E. 1966. The Rumen and Its Microbes. Academic Press, New York.
Hutomo, M., H. De Longh, W. Kiswara, & M. Moraal. 2011. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Dugong di Indonesia. Pusat Penelitian Oseanografi, Jakarta.
Irawadi, T. T. 1990. Pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai media pertumbuhan kapang penghasil enzim ekstraseluler. Laporan Penelitian. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Johnson, J. L., & R. H. McBee. 1967. The porcupine cecal fermentation. J. Nutrition. 91 : 540-546.
Khakhinov, V. V., B. B. Namsaraev, I. D. UI’zetueva, D. D. Barkhutova, E. Y. Abidueva, & T. G. Banzaraktsaeva. 2005. Hydrochemical and Microbiological Characterictics of The Gusino-Ubukunskaya Group of Water Bodies. Vol.32 Water Resources. Interperiodica, Russian.
Kusnadi. 2003. Common Text Book Microbiology. JICA IMSTEP, Bandung.
Lehninger, A. L. 1982. Principles of Biochemistry. Worth Publisher. Inc, New York.
Ling, J.R. 1990. Digestion of Bacterial Cell Walls in The Rumen. In: S. Hoshino, R. Onodera, H. Minato and H. Itabashi (Eds). The Rumen Ecosystem. Jap. Sci. Soc. Press. Tokyo.