ANALISIS YURIDIS TERHADAP KEWENANGAN PENYIDIK
MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGHENTIAN
PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA
TINDAK PIDANA KORUPSI
(Studi Kasus Judicial Review Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi)
S K R I P S I
Disusun Dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada
Universitas Sumatera Utara
O l e h
MELISA IFITYANTI G
070200165
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
ANALISIS YURIDIS TERHADAP KEWENANGAN PENYIDIK
MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGHENTIAN
PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA
TINDAK PIDANA KORUPSI
(Studi Kasus Judicial Review Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi)
Disetujui oleh,
Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Abul Khair,S.H.,M.Hum. NIP.196107021989031001
Dosen Pembimbing I
Abul Khair,S.H.,M.Hum.
Dosen Pembimbing II
Nurmalawaty, SH, M.Hum
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur , Hormat dan kemuliaan Penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala Berkat dan Penyertaan-Nya yang mampukan Penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Penulisan skripsi ini adalah merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam rangka ujian untuk mencapai gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan.
Adapun judul skripsi ini adalah ”Analisis Yuridis Terhadap Kewenangan Penyidik
Mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) Pada Perkara Tindak Pidana
Korupsi ( Studi Kasus Judicial Review Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi).
Penulis sadar sejak awal hingga akhir penulisan skripsi ini, Penulis banyak menerima bimbingan, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, Penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Syafruddin Hasibuan, SH, MH, DFM, selaku Pembantu Dekan II Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak M. Husni, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara.
5. Bapak Abul Khair, SH, M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas
6. Ibu Nurmalawaty, SH, M.Hum, selaku sekretaris Departemen Hukum Pidana Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagai Dosen Pembimbing II Penulis yang telah banyak meluangkan waktu untuk membimbing, memberi masukan, dan pengarahan kepada Penulis dalam penyusunan skripsi ini.
7. Ibu Dr. Marlina , SH, M.Hum., sebagai Dosen Wali Penulis yang telah membimbing dan
memberikan pengarahan kepada Penulis selama masa perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga telah membantu memberikan masukan dalam penulisan skripsi ini.
8. Guru-guru Besar, seluruh dosen dan staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara.
9. Ayahanda Sehati Ginting dan Ibunda Dra. Nurlina Barus, terimakasih buat doa, kasih
sayang, perhatian dan nasehat serta dorongan baik material maupun moril yang tidak terhingga kepada Penulis.
10. Buat Keluarga : Tante Rehulina Stromberg & Keluarga di Stockholm, terimakasih buat
doa, kasih sayang dan dukungan moril kepada Penulis dari awal hingga akhir selama penulisan skripsi ini.
11. Kepada Dewa Pranata Bangun, Penulis ucapkan terimakasih atas semangat dan dorongan
yang selalu diberikan kepada Penulis disaat Penulis mengalami kejenuhan dalam mengerjakan skripsi ini.
12. Teman-Teman stambuk 2007 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara : Juita Osti Bulan Tobing, Rialita Siregar, Novia Gracia Tobing, Nelam Napitupulu, Yulia
Andriany, Erika Romauli Pardede, Muchsin Fahreza and the gank.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi setiap orang yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam tulisan ini, semoga skripsi ini memberikan pemahaman baru bagi kita dan menambah referensi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Akhir kata, Penulis ucapkan terimakasih. Tuhan Memberkati.
DAFTAR ISI
Halaman
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ……… 1 B. PERUMUSAN MASALAH ... 11 C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ………... 12 D. KEASLIAN PENELITIAN ………... 14 E. TINJAUAN KEPUSTAKAAN ………... 14
1. Pengertian Penyelidikan
2. Pengertian Penyidikan
3. Pengertian Penyidik
4. Pengertian Tindak Pidana Korupsi
5. Pengertian Penghentian Penyidikan
6. Pengertian Surat Perintah Penghentian Penyidikan
(SP3)
7. Pengertian Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi (KPK)
8. Pengertian Extra Ordinary Crime
BAB II KEWENANGAN PENYIDIK MENGELUARKAN SURAT PERINTAH
PENGEHENTIAN PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA TINDAK
PIDANA KORUPSI
A. Pengertian Tindak Pidana Korupsi
... 23
B. Tindak Pidana Korupsi sebagai
Extraordinary
Crime... 24
C. Peraturan Perundang-Undangan tentang Korupsi yang
berlaku di Indonesia setelah Era Reformasi berdasarkan
Undang-Undang No 30 Tahun 2002... 29
D. Kedudukan KPK Berdasarkan Undang-Undang
No. 30 Tahun 2002
1. Sejarah singkat berdirinya KPK... 30
2. Tugas dan Wewenang KPK ... 33
3. Kewenangan KPK dalam Proses Penyidikan Tindak
Pidana Korupsi ... 38
E. Kewenangan Melakukan Penyidikan Pada Perkara
Tindak Pidana Korupsi ... 42
F. Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) ... 56
G. Kewenangan Penyidik mengeluarkan SP3 pada perkara
BAB III LATAR BELAKANG PENETAPAN PASAL 40 UNDANG-UNDANG
NO. 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK
PIDANA KORUPSI
A. Gambaran Umum Mengenai Permohonan Judicial
Review atas keberlakuan Pasal 40 Undang-Undang No 30
Tahun 2002 tentang KPK ... 73
B. Latar Belakang Penetapan Pasal 40 Undang-Undang
No.30 Tahun 2002 tentang KPK ... 79
BAB IV PENERAPAN PASAL 40 UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2002
TENTANG KPK TERHADAP PENANGANAN TINDAK PIDANA
KORUPSI OLEH KPK
A. Akibat keberlakuan Pasal 40 Undang-Undang No. 30
Tahun 2002 tentang KPK terhadap Proses Pemeriksaan
Tindak Pidana Korupsi oleh KPK. ... 83
B. Penerapan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002
tentang KPK dikaitkan dengan Asas Praduga Taak Bersalah
(Presumption of Innocence ) ... 87
BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN ……….. 91 B. SARAN ……….. 93
ABSTRAK
* Mahasiswa ** Dosen pembimbing I **Dosen pembimbing II
Keberhasilan penyidikan suatu tindak pidana akan sangat mempengaruhi berhasil tidaknya penuntutan Jaksa Penuntut Umum pada tahap pemeriksaan sidang pengadilan nantinya. Tetapi apabila berhenti ditengah jalan maka harus dikeluarkan SP3. Dikeluarkannya SP3 selalu menjadi bahan tudingan dari masyarakat bahwa penegak hukum tidak serius dalam menyelesaikan berbagai kasus tindak pidana korupsi yang terjadi di negara ini. Jadi pada intinya sebelum dilakukan proses penyidikan, penyelidik harus lebih dahulu berusaha mengumpulkan fakta dan bukti yang ada sebagai landasan tindak lanjut penyidikan. Sedangkan penyidikan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik dalam mencari dan mengumpulkan bukti, dan dengan bukti itu membuat atau menjadi terang tindak pidana yang terjadi serta sekaligus menemukan tersangkanya atau pelaku tindak pidananya. Dari kedua rangkaian proses ini terdapat semacam graduasi antara tahap penyelidikan menuju ke tahap penyidikan , karena itu dibutuhkan kehati-hatian yang amat besar serta alasan yang jelas, meyakinkan dan relevan ketika aparat penegak hukum meningkatkan tahap penyelidikan ke tahap penyidikan.
Dalam mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) pada penanganan tindak pidana korupsi perlu melihat kewenangan Penyidik, karena dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002, Penyidik KPK tidak berhak mengeluarkan SP3, kemudian melihat latar belakang penetapan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002, serta penerapan Pasal 40 ini dalam penanganan tindak pidana korupsi.
Metode penulisan dalam pembuatan skripsi ini dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif yang berasal dari sumber buku-buku kepustakaan yang relevan dengan permasalahan yang dibahas didalam skripsi ini dan melakukan wawancara dengan penyidik KPK melalui email.
Dalam melakukan proses penyelidikan dan penyidikan aparat penegak hukum yang melakukan pemeriksaan tersebut diharapkan dapat bekerja secara profesional, efisien dan efektif. Setiap produk peraturan perundang-undangan yang dihasilkan di suatu negara tentunya diharapkan menjadi peraturan perundang-undangan yang berkualitas serta berguna bagi masyarakat. KPK sebagai lembaga yang diberikan amanat oleh undang-undang sebagai salah satu alat dalam upaya pemberantasan korupsi harus melaksanakan tugasnya secara transparan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menjadi pengawas segala tindakan yang dilakukan oleh KPK sehingga tercipta check and balance dalam proses penegakan hukum.
ABSTRAK
* Mahasiswa ** Dosen pembimbing I **Dosen pembimbing II
Keberhasilan penyidikan suatu tindak pidana akan sangat mempengaruhi berhasil tidaknya penuntutan Jaksa Penuntut Umum pada tahap pemeriksaan sidang pengadilan nantinya. Tetapi apabila berhenti ditengah jalan maka harus dikeluarkan SP3. Dikeluarkannya SP3 selalu menjadi bahan tudingan dari masyarakat bahwa penegak hukum tidak serius dalam menyelesaikan berbagai kasus tindak pidana korupsi yang terjadi di negara ini. Jadi pada intinya sebelum dilakukan proses penyidikan, penyelidik harus lebih dahulu berusaha mengumpulkan fakta dan bukti yang ada sebagai landasan tindak lanjut penyidikan. Sedangkan penyidikan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik dalam mencari dan mengumpulkan bukti, dan dengan bukti itu membuat atau menjadi terang tindak pidana yang terjadi serta sekaligus menemukan tersangkanya atau pelaku tindak pidananya. Dari kedua rangkaian proses ini terdapat semacam graduasi antara tahap penyelidikan menuju ke tahap penyidikan , karena itu dibutuhkan kehati-hatian yang amat besar serta alasan yang jelas, meyakinkan dan relevan ketika aparat penegak hukum meningkatkan tahap penyelidikan ke tahap penyidikan.
Dalam mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) pada penanganan tindak pidana korupsi perlu melihat kewenangan Penyidik, karena dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002, Penyidik KPK tidak berhak mengeluarkan SP3, kemudian melihat latar belakang penetapan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002, serta penerapan Pasal 40 ini dalam penanganan tindak pidana korupsi.
Metode penulisan dalam pembuatan skripsi ini dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif yang berasal dari sumber buku-buku kepustakaan yang relevan dengan permasalahan yang dibahas didalam skripsi ini dan melakukan wawancara dengan penyidik KPK melalui email.
Dalam melakukan proses penyelidikan dan penyidikan aparat penegak hukum yang melakukan pemeriksaan tersebut diharapkan dapat bekerja secara profesional, efisien dan efektif. Setiap produk peraturan perundang-undangan yang dihasilkan di suatu negara tentunya diharapkan menjadi peraturan perundang-undangan yang berkualitas serta berguna bagi masyarakat. KPK sebagai lembaga yang diberikan amanat oleh undang-undang sebagai salah satu alat dalam upaya pemberantasan korupsi harus melaksanakan tugasnya secara transparan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menjadi pengawas segala tindakan yang dilakukan oleh KPK sehingga tercipta check and balance dalam proses penegakan hukum.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan
Penyidikan tindak pidana merupakan serangkaian tindakan penyidik dalam
hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana
yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.1 Penyidikan merupakan suatu
tahap terpenting dalam kerangka hukum acara pidana di Indonesia karena dalam
tahap ini pihak penyidik berupaya mengungkapkan fakta-fakta dan bukti-bukti
atas terjadinya suatu tindak pidana serta menemukan tersangka pelaku tindak
pidana tersebut.
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) merumuskan yang
dimaksud dengan penyidik adalah orang yang melakukan penyidikan yang terdiri
dari pejabat yaitu Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia (POLRI) yang terbagi
menjadi Pejabat penyidik penuh dan pejabat penyidik pembantu, serta Pejabat
Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh
undang-undang.2 Namun, dalam hal tertentu jaksa juga memiliki kewenangan sebagai
penyidik terhadap perkara / tindak pidana khusus, seperti perkara Hak Asasi
Manusia dan Tindak Pidana Korupsi.3 Selain itu berdasarkan Undang-Undang No.
1
Indonesia (a) ,Undang-Undang Tentang Hukum Acara Pidana, UU No.8 Tahun 1981, LN. No.76 Tahun !981, TLN No. 3209, pasal 1 angka 2.
2
Ibid., pasal 1 angka 1 jo. Pasal 6 jo. pasal 10 3
30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK)
disebutkan bahwa penyidik tindak pidana korupsi adalah penyidik pada Komisi
Pemberantasan Korupsi yang diangkat dan diberhentikan oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi.4
Sebelum dimulainya suatu proses penyidikan, terlebih dahulu telah
dilakukan proses penyelidikan pada suatu perkara tindak pidana yang terjadi.
Dalam Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana (KUHAP) disebutkan pengertian penyelidikan adalah sebagai
berikut :
Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.5
Dari pengertian tersebut terlihat bahwa penyelidikan merupakan tindakan
tahap pertama permulaan penyidikan, namun pada tahap penyelidikan penekanan
diletakkan pada tindakan “ mencari dan menemukan” suatu “peristiwa” yang
ayat (1), huruf d. Dalam penjelasan UU. No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia dijelaskan bahwa undang-undang tersebut mengatur dan menyempurnakan kewenangan kejaksaan untuk melakukan penyidikan tindak pidana tertentu, hal ini dimaksudkan untuk menampung beberapa ketentuan undang-undang yang memberikan kewenangan kepada Kejaksaan untuk melakukan penyidikan, misalnya Undang-Undang No. 26 tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang No. 20 Tahun 2001, dan Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
4
Indonesia ( c ) , Undang-Undang Nomor 30 Tentang Komisi Pemerantasan Tindak
Pidana Korupsi, UU No. 30 Tahun 2002 LN. No. 137 Tahun 2002, TLN No. 4250 pasal 45. (
Selanjutnya Penulis akan menyebut dengan UU No. 30 Tahun 2002 tentang KPK) 5
dianggap atau diduga sebagai suatu tindak pidana.6 Sedangkan pada penyidikan,
titik berat tekanannya diletakkan pada tindakan “mencari serta mengumpulkan
bukti” supaya tindak pidana yang ditemukan dapat menjadi terang serta agar dapat
menemukan dan menentukan pelakunya. Hampir tidak ada perbedaan makna
antara keduanya (penyelidikan dan penyidikan), hanya bersifat gradual saja.
Antara penyelidikan dan penyidikan saling berkaitan dan isi mengisi guna dapat
diselesaikan pemeriksaan suatu peristiwa pidana.7
Keberhasilan penyidikan suatu tindak pidana akan sangat mempengaruhi
berhasil tidaknya penuntutan Jaksa Penuntut Umum pada tahap pemeriksaan
sidang pengadilan nantinya. Namun bagaimana halnya bila penyidikan berhenti
ditengah jalan? Undang-Undang memberikan wewenang penghentian penyidikan
kepada penyidik, yakni penyidik berwenang bertindak menghentikan penyidikan
yang telah dimulainya. Hal ini ditegaskan Pasal 109 ayat (2) KUHAP yang
memberi wewenang kepada penyidik untuk menghentikan penyidikan yang
sedang berjalan. Pasal 19 ayat (2) KUHAP menyatakan:8
Dalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan dihentikan demi hukum, maka penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya.
Dengan demikian dapat disimpulkan alasan-alasan penyidik menghentikan
penyidikan sesuai dengan Pasal 19 ayat (2) KUHAP adalah sebagai berikut:
6
M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP; Penyidikan
dan Penuntutan ( Edisi Kedua), ( Jakarta : Sinar Grafika, 2003), hal 101.
7
1. Karena tidak terdapat cukup bukti;
2. Karena peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana;
3. Penyidikan dihentikan demi hukum.
Ketika penyidik memulai tindakan penyidikan, kepadanya dibebani
kewajiban untuk memberitahukan hal dimulainya penyidikan tersebut kepada
penuntut umum. Akan tetapi masalah kewajiban pemberitahuan itu bukan hanya
pada permulaan tindakan penyidikan, melainkan juga pada tindakan penghentian
penyidikan. Untuk itu, setiap penghentian penyidikan yang dilakukan pihak
penyidik secara resmi harus menerbitkan suatu Surat perintah Penghentian
Penyidikan (SP3).9 Pemberian SP3 yang akan dibahas dalam penelitian ini
bukanlah pemberian SP3 terhadap tindak pidana biasa/umum, seperti
pembunuhan, penganiayaan, dan sebagainya, melainkan hanyalah dikhususkan
pada pemberian SP3 terhadap tindak pidana khusus yaitu tindak pidana korupsi
yang dalam beberapa waktu belakangan ini mengundang kontroversi dan
perdebatan serta menciptakan persepsi yang cenderung negatif terhadap kinerja
dan citra aparat penegak hukum, khususnya penyidik tindak pidana korupsi yang
seringkali mengeluarkan SP3.10
Dikeluarkannya SP3 selalu menjadi bahan tudingan dari masyarakat
bahwa penegak hukum tidak serius dalam menyelesaikan berbagai kasus tindak
9
Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana Normatif, Teoritis, Praktis dan
Permasalahannya,(Bandung: P.T. Alumni, 2007), hal 54. (Selanjutnya Penulis akan menyebut
Surat Perintah Penghentian Penyidikan dengan SP3). 10
pidana korupsi yang terjadi di negara ini. Di mata masyarakat yang mengehendaki
agar pelaku tindak pidana korupsi diproses secara hukum dan dikenai hukuman
yang seadil-adilnya, pemberian SP3 dianggap sebagai tindakan yang merusak
harapan masyarakat dalam upaya pemberantasan korupsi.11 Dari ketiga alasan
penghentian penyidikan berdasarkan Pasal 109 ayat (2) KUHAP yang telah
disebutkan diatas, alasan pertama yaitu karena tidak terdapat cukup bukti
merupakan alasan yang paling sering digunakan oleh penyidik tindak pidana
korupsi.12 Hal ini Penulis amati dari berbagai contoh perkara korupsi yang terjadi,
di mana dilakukan penghentian penyidikan oleh penyidik dalam beberapa perkara
tindak pidana korupsi yang dapat dikatakan besar.13 Berdasarkan data yang
dihimpun Indonesian Corruption Watch (ICW), hingga saat ini, tercatat ada 25
tersangka kasus korupsi besar yang dihentikan penyidikannya, baik oleh
Kejaksaan Agung maupun Kejaksaan Tinggi di daerah. Data tersebut diperoleh
berdasarkan laporan media massa yang berhasil dihimpun selama 5 (lima) tahun
terakhir ( 1999-2005). Pihak Kejaksaan selaku institusi yang melakukan
penghentian penyidikan tidak mempunyai data-data yang akurat mengenai nama
dan jumlah pelaku korupsi yang menerima SP3.14
11
Emerson Yuntho, “ Mencermati Pemberian SP3 Kasus Korupsi ”, http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=11608&cl=Kolom, diakses pada Jumat, 20 Agustus 2010, pukul 15:10:21 WIB
12 Ibid. 13
Ibid. (Yang dimaksud penulis dengan perkara korupsi besar adalah perkara korupsi yang cukup besar menarik perhatian masyarakat, baik dari segi jumlah maupun tersangkanya antara lain Perkara Dugaan Korupsi Technical Assistance Contract (TAC), Dugaan Korupsi Dana BLBI, dan Dugaan Korupsi Jamsostek).
Terdapat suatu kejanggalan apabila kita menilik kembali ke tahapan awal
dari proses pemeriksaan suatu perkara pidana kemudian menghubungkannya
dengan alasan dikeluarkannya SP3. Pnyelidikan merupakan suatu tindakan
penyelidik yang bertujuan mengumpulkan bukti permulaan atau bukti yang cukup
agar dapat dilakukan tindakan lanjutan penyidikan. Sehingga dengan adanya
tahapan penyelidikan diharapkan tumbuh sikap hati-hati rasa tanggung jawab
hukum yang bersifat manusiawi dalam melaksanakan tugas penegakan hukum
sebelum dilanjutkan dengan tindakan penyidikan agar tidak terjadi tindakan yang
melanggar hak asasi yang merendahkan harkat dan martabat manusia.15
Jadi pada intinya sebelum dilakukan proses penyidikan, penyelidik harus
lebih dahulu berusaha mengumpulkan fakta dan bukti yang ada sebagai landasan
tindak lanjut penyidikan.16 Sedangkan penyidikan merupakan serangkaian
tindakan yang dilakukan oleh penyidik dalam mencari dan mengumpulkan bukti,
dan dengan bukti itu membuat atau menjadi terang tindak pidana yang terjadi
serta sekaligus menemukan tersangkanya atau pelaku tindak pidananya. Dari
kedua rangkaian proses ini terdapat semacam graduasi antara tahap penyelidikan
menuju ke tahap penyidikan , karena itu dibutuhkan kehati-hatian yang amat besar
serta alasan yang jelas, meyakinkan dan relevan ketika aparat penegak hukum
meningkatkan tahap penyelidikan ke tahap penyidikan. Hal ini tentu saja
bertujuan untuk menjaga kredibilitas dan kewibawaan dari aparat penegak hukum
itu sendiri agar tidak dinilai tergesa-gesa dalam melakukan rangkaian
pemeriksaan terhadap suatu tindak pidana.
15
M. Yahya Harahap, op. cit., hal. 102 16
Dari berbagai contoh kasus yang ada, seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, terdapat beberapa kasus tindak pidana korupsi yang dalam
pemeriksaan di tahap penyidikan kemudian diterbitkan SP3 oleh penyidik yang
adalah pihak kejaksaan dengan alasan yang dinilai kurang transparan dan tidak
jelas. Dengan demikian yang menjadi persoalan adalah pemberian SP3 oleh
kejaksaan terhadap perkara tindak pidana korupsi dimana dasar pemberian SP3 itu
dinilai kurang transparan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan terhadap
ketentuan-ketentuan hukum acara yang berlaku.17
Berbeda dengan Kejaksaan dan POLRI sebagai penyidik suatu tindak
pidana, lembaga Komisi pemberantasan Korupsi (KPK) yang merupakan sebuah
institusi atau lembaga negara yang dibentuk dari Undang-Undang No.30 Tahun
2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak berwenang
mengeluarkan SP3 dalam setiap penyidikan yang dilakukannya. Hal ini
ditegaskan dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang
Komisi Pemberantasan Korupsi yang berbunyi, ” Komisi pemberantasan korupsi
tidak berwenang mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan dan
penuntutan dalam perkara tindak pidana korupsi.”18
Pernyataan dalam pasal tersebut dapat dilihat dari dua sudut pandang yang
berbeda, yang pertama ditinjau dari sudut pandang hak-hak yang dimiliki oleh
seorang tersangka pada tindak pidana korupsi. Sekilas, ketentuan dalam pasal
tersebut tentu saja dinilai mengebiri hak asasi tersangka yang juga merupakan
17
Emerson Yuntho, Op. cit. 18
warga negara, sebab tanpa adanya SP3 , maka seseorang yang sudah dinyatakan
sebagai tersangka oleh KPK seolah-olah tidak lagi memiliki kemungkinan untuk
dipulihkan kehormatan dan martabatnya, padahal filosofi adanya SP3 adalah
sebagai sebuah mekanisme koreksi dan instrumen untuk memulihkan martabat
tersangka bila penyidik ternyata tidak memiliki cukup bukti untuk meneruskan
kasus ke tingkat penuntutan. Maka tanpa adanya mekanisme SP3, KPK akan
memaksakan setiap kasus yang ditanganinya untuk diteruskan ke level yang lebih
tinggi yaitu penuntutan dan pengadilan.19 Adanya Pasal 40 Undang-Undang No.
30 tahun 2002 tentang KPK ini juga berarti seorang yang disangka melakukan
tindak pidana korupsi, maka bagaimanapun juga kasusnya harus sampai ke
pengadilan. Orang-orang KPK membenarkan hal ini dengan alasan untuk
mencegah KPK menangkap orang secara sembarangan. Kalau benar seperti
itu,maka maksud tersebut sungguh mulia sekali. Akan tetapi selain itu masih ada
pembenaran lain yang tidak kalah mulianya, yaitu asas praduga tidak bersalah.
Makna asas ini yang boleh menyatakan seseorang itu bersalah atau tidak adalah
pengadilan. Sebelum pengadilan memutuskan seseorang itu bersalah atau tidak,
bukanlah satu atau dua orang penyidik KPK yang penguasaan hukumnya sekuat
majelis hakim. Dengan tidak dimilikinya wewenang pemberian SP3 itu oleh KPK,
maka timbulah diskriminasi hukum terhadap warga negara. Disamping itu,
terjadilah pula dualisme dalam sistem peradilan. Dalam hal ini, apabila ada dua
orang yang disangka melakukan korupsi, maka mereka diadili dengan
19
Suripto. “Wewenang Mahkamah Konstitusi Menguji Undang-Undang (Judicial
undang yang sama, yaitu Undang-Undang No. 20 Tahun 2001. Tetapi lembaga
yang mengadilinya berbeda. Yang satu diadili oleh Peradilan Umum, sedangkan
yang lain diadili oleh Pengadilan Tipikor. Tersangka yang diadili oleh Peradilan
Umum dapat menikmati SP3, wujudnya adalah si tersangka bisa tidak ditahan.
Kalau sudah ditahan pun masih mungkin dikenakan tahanan luar. Akan tetapi
tersangka yang diadaili oleh pengadilan Tipikor, tidak akan diberikan SP3,
sekaipun dia belum terbukti bersalah. Apakah UUD 1945 membolehkan negara
melakukan diskriminasi terhadap warga negara? Jawabannya terang benderang
’tidak boleh’. Hal ini tercantum dalam Pasal 27 ayat 1 UUD 1945 dimana
dinyatakan bahwa ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam
hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu
dengan tidak ada kecualinya”. Begitu juga dengan Pasal 28 I ayat 2 yang
menyatakan bahwa ”Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat
diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap
perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”.20
Akan tetapi berbeda halnya jika kita melihat dari sudut pandang lain, yaitu
dari susut pandang latar belakang dibentuknya KPK yang berperan sebagai salah
satu tonggak penegakan hukum dinegara Indonesia dalam usaha pemberantasan
korupsi. Undang-Undang telah menggariskan KPK untuk selalu berada di luar
cara-cara konvensional penegakan hukum karena tindak pidana korupsi
merupakan salah satu tindak pidana khusus yang sering disebut dengan extra
ordinary crime, dan oleh karena itulah dibutuhkan cara-cara khusus pula untuk
mengananinya.21 Hal ini tercermin dalam wewenang yang dimiliki KPK yang
berada diluar sistem hukum material dan formal undang-undang hukum pidana
yang konvensional. Contoh tindakan yang tergolong non-konvensional adalah
penyadapan atau merekam pembicaraan dalam rangka penyelidikan, penyidikan,
dan penuntutan tindak pidana korupsi.
Berbagai usaha telah dilakukan oleh banyak pihak yang merasa dirugikan
oleh penerapan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK ini,
diantaranya mengajukan judicial review atau pengujian materil mengenai klausula
apakah undang-undang tersebut bertentang dengan Undang-Undang Dasar 1945
atau tidak. Adapun pihak-pihak tersebut antara lain terpidana kasus korupsi Prof.
Nazaruddin Syamsudin untuk perkara No. 016/PUU-IV/2006, serta Mulyana W.
Kusumah dan Captain Tarcisius Walla untuk perkara No.012 dan
019/PUU-IV/2006. Para pihak yang mengajukan judicial review tersebut berpendapat bahwa
dengan adanya beberapa pengaturan kewenangan yang dimiliki KPK, seperti
Pasal 40 dan Pasal 12 Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang KPK, telah
terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia. Sebelumnya, terhadap masalah ini juga
pernah diajukan judicial review oleh Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara
Negara (KPKPN), namun MK menolak permohonan tersebut karena berpendirian
bahwa pasal itu tidak bertentangan dengan konstitusi. Justru keberadaan pasal itu
21
untuk menegakkan pesan konstitusi yaitu memberantas korupsi.22 Oleh karena
itu, semuanya dikembalikan pada landasan sosiologis, yuridis dan filosofis
undang-undang korupsi dan KPK itu sendiri yang berusaha mewujudkan clean
government dan tegaknya keadilan bagi mereka yang melakukan perbuatan
menyimpang.23 Dengan adanya Pasal 40 Undang-Undang No.30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diharapkan dapat
memberikan kepastian hukum bagi penegakan hukum di Indonesia sehingga dapat
mendukung pemberantasan korupsi di Indonesia.
Maka berdasarkan latar belakang permasalahan yang diuraikan di atas,
Penulis bermaksud menulis skripsi dengan judul ”ANALISIS YURIDIS
TERHADAP KEWENANGAN PENYIDIK MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGHENTIAN PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI KASUS JUDICIAL REVIEW PASAL 40 UNDANG-UNDANG NO.30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI)”
B. Pokok Permasalahan
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas,
maka disusun pokok-pokok permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini,
yaitu:
22
Hukum Online, “UU KPK Terus Dipermasalahkan ke Mahkamah Konstitusi” http://www.hukumonline.com/detail/asp?id=15267&cl=Berita, diakses pada Jumat,27 Agustus 2010, pukul 21:45:09 WIB.
1. Bagaimana kewenangan Penyidik mengeluarkan SP3 pada perkara tindak
pidana korupsi ?
2. Apakah latar belakang penetapan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun
2002 tentang KPK ?
3. Bagaimana penerapan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) terhadap
penanganan perkara tindak pidana korupsi ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian C.1 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan, maka tujuan
yang hendak dicapai di dalam penulisan skripsi ini adalah :
1. Untuk mengetahui kewenangan penyidik dalam mengeluarkan Surat
Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) pada perkara tindak pidana
korupsi.
2. Untuk mengetahui apa yang menjadi latar belakang dalam penetapan
Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.
3. Untuk mengetahui penerapan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2002 tentang KPK terhadap penanganan perkara tindak pidana
C.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini terbagi atas dua yaitu secara teoritis dan secara praktis, yaitu :
1. Secara Teoritis
Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi, kontribusi
pemikiran dan menambah pengetahuan pembaca dalam bidang
pengetahuan ilmu hukum pidana pada umumnya dan tentang kewenangan
penyidik dalam mengeluarkan SP3 pada tindak pidana korupsi khususnya.
Sehingga skripsi ini dapat memperkaya perbendaharaan dan menjadi
kajian ilmiah bagi para para mahasiswa hukum maupun praktisi hukum
dalam perkembangan hukum di Indonesia.
2. Secara Praktis
a. Sebagai pedoman dan masukan bagi Penyidik dalam
kewenangannya mengeluarkan Surat Perintah Penghentian
Penyidikan (SP3) terhadap penanganan perkara tindak pidana
korupsi dan dengan adanya Pasal 40 Undang-Undang No.30 Tahun
2002 tentang KPK diharapkan dapat memberikan kepastian hukum
bagi penegakan hukum di Indonesia sehingga dapat mendukung
pemberantasan korupsi di Indonesia.
b. Sebagai informasi bagi masyarakat terhadap akibat dan
keberlakuan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang
D. Keaslian Penelitian
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari penulusuran studi literature dan bahan-bahan kepustakaan lainnya, belum terdapat judul yang sama dengan skripsi
yang diangkat pada judul skripsi ini.
Judul – judul yang ada tentang korupsi tidak ada yang menyentuh materi
pokok dalam bahasan skripsi yaitu tentang “Analisis Yuridis Terhadap
Kewenangan Penyidik Mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan (Tinjauan
Pasal 40 Undang-Undang No 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi)” oleh sebab itu judul pada skripsi ini dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan aturan-aturan ilmiah. Bila ternyata terdapat
judul dan penambahan yang sama dengan skripsi ini sebelum skripsi ini dibuat,
maka Penulis bertanggung jawab sepenuhnya.
E. Tinjauan Kepustakaan
Pada penelitian ini dalam membahas permasalahannya akan diberikan
batasan-batasan pengertian atau istilah. Pembatasan tersebut dilakukan untuk
menghindari terjadinya multi tafsir maupun kerancuan definisi dan diharapkan
akan dapat membantu dalam menjawab pokok permasalahan usulan penelitian ini.
Beberapa pembatasan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Penyelidikan
Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk
tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan
penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang.24
2. Penyidikan
Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan
menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari
serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang
tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan
tersangkanya.25
3. Penyidik
Penyidik adalah pejabat polisi negara republik Indonesia atau
pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi kewenangan
khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.26
Menurut penjelasan Undang-Undang No. 16 tahun 2004 tentang
Kejaksaan Republik Indonesia, Kejaksaan berwenang melakukan penyidikan pada
tindak pidana tertentu, seperti tindak pidana terhadap Hak Asasi Manusia dan
Tindak Pidana Korupsi. Selain itu berdasarkan pasal 6 Undang-Undang No. 30
tahun 2002 tentang KPK dinyatakan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi
merupakan penyidik dalam perkara tindak pidana korupsi. Jadi dalam penelitian
ini, penyidik adalah POLRI, Kejaksaan, dan KPK.
24
Indonesia, (a), Op. cit., pasal 1 angka 5 25
4. Tindak Pidana Korupsi.
Tindak pidana korupsi adalah tindak pidana korupsi yang
sebagaimana dimaksudkan Undang-Undang No.31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan tindak Pidana Korupsi, Bab II tentang
Tindak Pidana Korupsi, pasal 2-pasal 20 jo. Undang-Undang No.
20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.27
5. Penghentian Penyidikan
Meskipun KUHAP tidak merumuskan apa yang dimaksud dengan
penghentian penyidikan, namun dapat dirumuskan bahwa
penghentian penyidikan merupkan tindakan penyidik
menghentikan penyidikan dengan berdasar pada alasan-alasan
sebagai berikut :28
1) Tidak terdapat cukup bukti
2) Peristiwa yang disangkakan bukan merupakan tindak pidana
3) Penyidikan dihentikan demi hukum
6. Surat Perintah Penghentian Penyidikan ( SP3 )
Surat Perintah Penghentian penyidikan adalah surat perintah yang
dikeluarkan oleh Penyidik sebagai bukti telah dihentikannya
penyidikan suatu tindak pidana.
7. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK)
27
Lilik Mulyadi, Op. cit., hal. 79. 28
KPK adalah lembaga negara yang dibentuk berdasarkan
Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang KPK yang dalam
melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan
bebas dari pengaruh kekuasaan manapun sehingga pembentukan
komisi itu bertujaun meningkatkan daya guna dan hasil guna
terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.29
8. Extra Ordinary Crime
Istilah extra ordinary crime berarti kejahatan luar biasa yang
memerlukan penanganan yang laur biasa pula. Istilah ini muncul
untuk menggambarkan kejahatan terhadap hak asasi manusia,
seperti genosida. Karena tindak pidana korupsi di Indonesia sudah
begitu meluas dalam masyarakat, perkembangannya terus
meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi,
kerugian keuangan negara, dan kualitas tindak pidananya, maka
tindak pidana korupsi dapat diigolongkan sebagai extra ordinary
crime.30 Bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi
secara meluas, tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga
telah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi
masyarakat secara luas, sehingga tindak pidana korupsi perlu
29
Indonesia (c), Op. cit., pasal 3. 30
Abdul Rahman Saleh, www.arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&id=129619, diakses Sabtu, 28
digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus
dilakukan secara luar biasa.31
F. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan
( library research) yang bersifat yuridis normatif, artinya mengacu kepada norma
hukum yang yang terdapat dalam pearturan perundang-undangan, yurisprudensi
serta kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di masyarakat.32 Norma hukum yang
menjadi acuan adalah ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang mengatur mengenai
proses pemeriksaan perkara pidana miulai dari penyelidikan hiingga
dikeluarkannya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Selain itu juga
digunakan norma hukum lain yaitu Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Korupsi serta undang-undang dan peraturan
lainyang mengatur mengenai masalah kewenangan penyidik dalam proses
penghentian penyidikan.
Jenis data yang diperoleh adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh
dari bahan pustaka. Data sekunder ini berasal dari bahan hukum primer dan bahan
hukum sekunder dan bahan hukum tertier.33 Bahan hukum primer adalah
bahan-bahan hukum yang mengikat sehubungan dengan masalah. Bahan hukum primer
31
Indonesia (d), Undang-Undang Tentang Perubahan Atasa Undang-Undang No. 31
athun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi , UU No. 20 , LN No. 134 Tahun
2001, TLN No. 4150, konsiderans (a). 32
Soerjono Soekanto dan Sri Mahmudji, Peranan dan Penggunaan Kepustakaan di
Dalam Penelitian Hukum, (Jakarta. 1979), hal 18.
33
dari seluruh peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang mengatur masalah
kewenangan penyidik dalam mengeluarkan SP3 serta kewenangan khusus yang
dimiliki oleh KPK. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberi
penjelasan mengenai bahan hukum primer. Dalam hal ini, bahan hukum sekunder
yang diperoleh berasal dari buku, jurnal, artikel, skripsi, dokumen yang diperoleh
dari internet, serta hasil-hasil penelitian dan tulisan-tulisan dari kalangan ahli
hukum. Selain itu, untuk bahan hukum tertier digunakan ensiklopedia dan kamus
hukum (black laws dictionary).
Metode penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data dan bahan
bagi penelitian ini adalah bersifat empiris yuridis. Oleh karena itu, dengan
perkataan lain penelitian ini bertitik tolak dari peraturan perundang-undangan dan
peraturan lainnya yang ada kaitannya dengan pokok permasalahan penelitian ini.
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam memperoleh data sekunder
adaalh dengan wawancara narasumber, penggunaan studi dokumen atau bahan
pustaka, serta media elektronik (internet).
Adapun metode analisis data yang dilakukan adalah metode kualitatif.
Metode kualitatif lebih menekankan kepada kebenaran berdasarkan
sumber-sumber hukum serta doktrin yang ada bukan dari segi kuantitas kesamaan data
yang diteliti.
Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan dengan melakukan
penelitian yang bersifat deskriptif analitis yaitu dengan memberikan penjelasan
mengenai proses penyidikan, penghentian penyidikan oleh penyidik, serta
berwenang mengeluarkan SP3. Kemudian dianalisis untuk menemukan
permasalahan hukumnya serta jawaban dari permasalahan tesebut.
G. Sistematika Penulisan
Secara garis besar, skripsi ini dibagi menjadi lima Bab dengan beberapa
sub-bab, dengan uraian singkat sistem penulisan sebagai berikut:
BAB 1 : PENDAHULUAN
Dalam bab pertama ini akan diuraikan mengenai latar
belakang permasalahan, pokok permasalahan, tujuan dan
manfaat penelitian, keaslian penelitian, tinjauan
kepustakaan, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB 2 : KEWENANGAN PENYIDIK MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGEHENTIAN PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI Dalam bab ini akan diuraikan secara teoritis mengenai
pengertian tindak pidana korupsi, peraturan
perundang-undangan mengenai korupsi setelah era reformasi yang
berlaku di Indonesia berdasarkan undang-Undang No.30
tahun 2002 tentang KPK, sejarah singkat, tugas dan
kewenangan KPK, khususnya dalam proses penyidikan,
proses pemeriksaan perkara dari mulai penyelidikan,
SP3 tersebut, serta instansi yang berwenang dan tidak
berwenang mengeluarkan SP3.
BAB 3 : LATAR BELAKANG TERHADAP PENETAPAN PASAL 40 UNDANG-UNDANG NO. 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI
Dalam bab ini Penulis akan menguraikan mengenai
Judicial Review terhadap Pasal 40 Undang-Undang Nomor
30 Tahun 2002 tentang KPK serta analisis hukumnya dan
latar belakang penetapan pasal 40 Undang-Undang No. 30
Tahun 2002 tentang KPK
BAB 4 : PENERAPAN PASAL 40 UNDANG-UNDANG NO.30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI
Bab ini membahas penerapannya dalam proses
penyelidikan tindak pidana korupsi, serta kaitannya dengan
asas praduga tak bersalah dalam hukum acara pidana di
Indonesia.
BAB 5 : PENUTUP
Bab ini adalah penutup dari penulisan penelitian yang
menguraikan secara singkat mengenai kesimpulan dari
keseluruhan penulisan serta saran yang Penulis anggap
pembacadalam memahami topik yang telah dibahas yaitu
mengenai Analisis Yuridis Terhadap Kewenangan Penyidik
Mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan
(SP3) pada perkara Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus
Judicial Review Pasal 40 Undang-Undang No. 30 tahun
BAB II
KEWENANGAN PENYIDIK MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGEHENTIAN PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA TINDAK
PIDANA KORUPSI
A. Pengertian Tindak Pidana Korupsi
Kamus besar bahasa Indonesia memuat pengertian korupsi sebagai
berikut: penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan, dan
sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.34 Menurut Andi Hamzah
arti kata harafiah dari kata korupsi adalah kebusukan, keburukan, kebejatan,
ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian,
kata-kata yang menghina atau memfitnah.35 Kata korupai berasal dari bahasa Latin
Corruptio yang kemudian muncul dalam Bahasa Inggris dan Prancis Corruption,
serta dalam bahasa Belanda Korruptie.36
Sedangkan Black’s Law Dictionary mendefinisikan korupsi sebagai
berikut :
”Corruption is an act done with an intent to give advantages inconsistent with official duty and the rights of others. The act of an official or fiduciary person who unlawfully and wrongfully uses his station or character to procure some benefit for himself or for another
person contrary to duty and the rights of others.37
Transparency International menyatakan :
34
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka,1989)
35
Andi Hamzah (a), Korupsi di Indonesia: Masalah dan Pemecahannya, Cet 3, (Jakarta : Gramedia,1991), hal 9.
36
”Corruption involves behavior on part of officials in the public sector wether politicians or civil servants, in which they improperly and unlawfully enrich themselves, or those close to them, by the missue of the public power entrusted them.”(korupsi mencakup perilaku dari
pejabat-pejabat di sektor publik, baik politikus ataupun pegawai negeri , dimana mereka secara tidak benar dan secara melanggar hukum memperkaya diri sendiri atau pihak lain yang dekat dengan mereka, dengan cara menyalahgunakan kewenangan publik yang dipercayakan kepada mereka.)
Pengertian tindak pidana korupsi juga telah dirumuskan oleh pemerintah
di dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, secara keseluruhan dapat dilihat pada Bab II ( Tindak Pidana
Korupsi), salah satu yang Penulis kutip adalah pengertian korupsi pada Pasal 2
ayat (1) undang-undang ini yang menyatakan :
Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
B. Tindak Pidana Korupsi Sebagai Extraordinary Crime
Tindak pidana korupsi termasuk ke dalam tindak pidana khusus karena
bersumber pada peraturan perundang-undangan di luar KUHP.38 Di Indonesia
tindak pidana korupsi dipayungi oleh Undang-Undang no. 31 Tahun 1999 tentang
pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diubah dengan Undang-Undang No.
20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999. selain
tindak pidana khusus, tindak pidana korupsi juga digolongkan sebagai
Extraordinary Crime atau kejahatan luar biasa yang juga membutuhkan
38
penanganan luar biasa pula. Istilah extraordinary crime pada mulanya digunakan
sebagai istilah untuk menyebut kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan, seperti
terorisme, genosida dan pelanggaran berat terhadap Hak Asasi Manusia. 39
Dikatakan extraordinary atau luar biasa disebabkan karena hal-hal sebagai
berikut:
1. Bahwa tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara dan menghambat pembangunan
nasional dan akibat yang ditimbulkan tindak pidana korupsi
tersebut selain merugikan keuangan negara atau perekonomian
negara juga menghambat pertumbuhan dan kelangsungan
pembangunan nasional yang menuntut efisiensi tinggi.40
2. Tindak pidaan korupsi yang meluas dan sistematis juga
merupakan pelanggaran terhadap hak –hak ekonomi masyarakat,
maka tindak pidana korupsi tidak dapat lagi digolongkan sebagai
kejahatan biasa, tetapi dituntut cara-cara yang luar biasa.41
3. Karena korupsi di Indonesia sudah sedemikian parahnya,
akibatnya tidak hanya dari kerugian rakyat banyak, melainkan
merusak moral dan karakter bangsa serta sendi-sendi kehidupan
nasional, akibat lebih luasnya adalah memperlemah karakter
bangsa sehingga tidak bersikap disiplin, malas, tidak
39
www.majalahkonstan.com/index2.php?option=com_content, diakses pada Rabu, 1 September 2010, pukul 18:33:03 WIB.
40
Lihat bagian “menimbang” huruf a dan b, Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
41
bertanggung-jawab, tidak jujur, tidak proaktif , tidak percaya
diri, dan tidak memiliki semangat berjuang untuk mandiri,
sebaliknya mudah menyerah serta mencari jalan pintas.42
4. Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah begitu meluas dalam
masyarakat, perkembangannya terus meningkat dari tahun ke
tahun, baik jumlah kasus yang terjadi, kerugia keuangan negara
maupun kualitas tindak pidananya.43
5. Tindak pidana korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara,
hak sosial, ekonomi, pembangunan, akan tetapi merupakan salah
satu bentuk penghancuran secara sistematis dan
memporak-porandakan harkat dan martabata manusia dan lebih daripada itu
akibat daripaad korupsi yang telah terstruktur dan mumbudaya
maka tidak menutup kemungkinan akan mengancam keutuhan
NKRI (ada perlakuan yang tidak adil dan tidak
berprikemanusiaan, untuk itulah dibutuhkan penanganan yang
luar biasa agar diperoleh hasil yang luar biasa.44
6. Tindak Pidana Korupsi di Indonesia saat ini sudah pada titik
yang tidak dapat ditolerir, begitu mengakar, membudaya dan
sistematis. Kerugian negara atas menjamunya praktek korupsi
42
A.M. Fatwa, http://www.mpr.go.id/pimpinan2/?p=18, diakses pada Kamis, 2 September 2010 pukul 10:29:45 WIB.
43
Abdul Rahman Saleh, www.arsip.pontianakpost.com/berita/default.asp?Berita=Pinyuh&id, diakses Kamis, 2 September
2010, pukul 20:19:08 WIB. 44
Cornelius Tangkere www.legalitas.org/?./problematika-dan-urgensi-pengadilan-tindak-pidana-korupsi, diakses pada Kamis, 2 September 2010, pukul 16:22:15 WIB.
sudah tidak terhitung lagi. Tahun 1993, soemitro
Djojohadikusumo menyebutkan bahwa kebocoran dana
pembangunan antara lain tahun 1989-1993 sekitar 3% dan hasil
penelitian World Bank bahwa kebocoran dana pembangunan
mencapaiu 45% namun saat ini sepertinya jumlah tersebut sudah
meningkat drastis.45
Penggolongan tindak pidana korupsi sebagai extraordinary crime tidak
begitu saja disetujui oleh semua pihak, salah satu pihak yang tidak menyetujui
ialah Prof. Indriyanto Seno Adji. Menurut Beliau tindak pidana korupsi belum
dapat digolongkan seagai tindak pidana extraordinary crime melainkan hanyalah
sebagai extraordinary crime melainkan hanyalah Serious Crime.46 Karena yang
disebut sebagai Extraordinary Crime sifatnya sistemik secara keseluruhan,
merusak sistem ketatanegaraan dan sistem perpolitikan, akibatnya pun meluas,
sementara yang terjadi di Indonesia korupsinya belum melumpuhkan sistem
ketatanegaraan, artinya masih normal, pusat-pusat kekuasaan legislatif , eksekyif
dan yudikatif tidak lumpuh.47 Dalam hal ini Penulis tidak sependapat dengan
Prof. Indriyanto, menurut pendapat Penulis bahwa korupsi memang seharusnya
digolongkan sebagai salah satu extraordinary crime atau kejahatan yang luar biasa
sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa pula untuk memberantasnya
45
Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Naskah Akademis dan
Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi, ( Jakarta,
Juli 2001), hal 1. 46
Indriyanto Seno Haji http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=15775&cl=Berita, diakses pada Jumat, 3 September 2010, pukul 16:54:37 WIB.
karena tindak pidana korupsi telah merampas hak sosial, politik dan kemanusiaan
rakyat yang seharusnya memperoleh kesempatan untuk menikmati
pelayanan-pelayanan publik seandainya bagian-bagian tersebut tidak irampas oleh para
koruptor.
Masalah korupsi dapat dikatakan sebagai masalah utama di Indonesia,
karena hampir tidak ada sektor di masyarakaat yang bebas dari korupsi. Korupsi
tertanam secara mendalam dilapisan masyarakat dan berbagai institusi penegak
hukum seperti kepolisian dan kejaksaan, bahkan pengadilan. Khusus korupsi di
pengadilan, mantan Ketua Muda Mahkamah agung (MA) Asikin Kusumah
Atmadja menyatakan bahwa jumlah hakim korup di Indonesia mencapai sekitar
50%.48 Berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga-lembaga independen anti
korupsi, Indonesia masuk dalam jajaran salah satu negara terkorup di dunia.49
Tentunya masalah korupsi sudah ada sebelum rezim Soeharto berkuasa.
kemudian mengalami peningkatan yang cukup tinggi di masa
pemerintahan Beliau, Dengan runtuhnya kekuasaan Soeharto di tahun
1998. angka kelajuan korupsi sedikit menurun- walaupun ternyata belum
menghasilkan penurunan yang cukup signifikan
Tingginya tingkat korupsi tersebut mendapat sorotan dari
organisasi dan lembaga asing. Berdasarkan penelitian Transparency
International (TI) misalnya, selama 5 tahun berturut-turut (1995-2000),
Indonesia selalu menduduki posisi 10 besar negara paling korupsi di
48
Tim Gabungan Pembrantasan Tindakan Pidana Korupsi, Op. cit., hal 2. 49
Soren Davidsen, et, all, Menghentikan Korupsi di Indonesia 2004-2006, Sebuah Survey
Tentang Berbagai Kebijakan dan Pendekatan Pada tingkat Nasional, (Jakarta : USINDO, 2007),
dunia. Dan berdasarkan penelitian Political and Economic Risk
Consultancy (PERC) tahun 1997- Indonesia menempati posisi negara
terkorup di Asia. Pada tahun 2001 peringkat Indonesia turun menjadi
negara terkorup ke-2 di Asia setelah Vietnam.50
C. Peraturan Perundang-undangan tentang Korupsi Setelah Era Reformasi
Di era reformasi, pemerintahan yang berkuasa untuk melakukan
pemberantasan tindak pidana korupsi dengan berbagai upaya, diantaranya
menerbitkan berbagai peraturan perundang-undangan yang diharapkan
bisa berlaku secara efektif undang-undang tersebut di antaranya:
Nomor Peraturan Perundang- undangan
Penjelasan
1 TAP MPR No.XI/MPR/1998 Tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
2 Undang-Undang No. 28 Tahun 1999
Tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
3 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999
Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
4 Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 1999
Tentang Tata Cara Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggara Negara 5 Keputusan Presiden No. 127
Tahun 1999
Tentang Pembentukan Komisi
Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara dan
Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara
6 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2000
Tentang Pembentukan Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
7 Keputusan Presiden No. 44 Tahun 2000
Tentang Pembentukan Komisi Ombudsman Nasional
8 Undang-Undang No. 20 Tahun 2001
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
9 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002
[image:39.595.113.511.112.368.2]Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK)
Tabel 2.1 Peraturan Perundang-undangan Korupsi Setelah Era Reformasi
D. Kedudukan KPK Berdasarkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2002
1. Sejarah Singkat Berdirinya KPK
Sejak awal pemerintah orde baru, Presiden Soeharto sudah
membentuk beberapa komisi anti korupsi dalam usaha pemberantasan
korupsi, diantaranya pada tahun 1967 di bentuk Tim Pemberantasan
Korupsi yang berada di bawah Kejaksaan Agung dan pada tahun 1970,
pemerintah juga pernah membentuk komisi empat di mana komisi ini
Penebangan Hutan.51 Pada masa pemerintahan Ahdurahman Wahid
sebagai presiden juga pernah di bentuk Tim Gabungan Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK), di mana lembaga ini dibentuk sebagai
lembaga sementara sampai terbentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi.
Namun keberadaan lembaga-lembaga tersebut sepertinya belum juga dapat
memuaskan masyarakat dilihat dari kinerja dan hasil yang diberikan oleh
lembaga-lembaga tersebut.
Sesuai pernyataan pada bagian sebelumnya, dengan adanya
kenyataan sosiologis bahwa korupsi sebagai extraordinary crime sudah
sangat merajalela dan semakin rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap penyelenggaraan kekuasaan kehakiman di Indonesia maka upaya
luar biasa (extraordinary efforts) yang dipilih Indonesia pada era reformasi
untuk berperang melawan fenomena korupsi adalah membentuk Komisi
Pemberantasan Korupsi dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ide awal pembentukan KPK
dimaksudkan untuk menjawab kelemahan-kelemahan pengadilan
konvensional dalam berbagai aspek, misalnya kelemahan kualitas dan
integritas sebagian hakim, ketiadaan akuntabilitas pengadilan yang
menyebabkan maraknya praktek mafia peradilan dengan melibatkan aparat
51
penegak hukum yang bersifat korup dalam setiap proses penanganan
perkara tindak pidana korupsi.52
Menurut kesimpulan hasil survey yang diadakan oleh Transparency
Internasional Indonesia (TIII), inisiatif/pemicu terjadinya penyimpangan
dalam suatu proses peradilan justru berasal dari pihak pengadilan itu
sendiri. Kondisi ini semakin memperburuk tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap kinerja lembaga peradilan sehingga lembaga
peradilan dalam setiap tingkatannya selaku penyelenggara kekuasaan
yudikatif dianggap belum dapat berperan maksimal sebagai wadah
integrasi dan penyeimbangkepentingan negara, hukum, maupun masyarakat.
Pembentukan KPK merupakan pelaksanaan dari Pasa 43 Undang-
Undang No, 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
sebagaimana telah di ubah dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001
tentang Perubahan atas Undang – Undang No. 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi , di mana dinyatakan perlu dibentuk
Komisi Pemberantasan Tindak fidana Korupsi yang independen dengan tugas
dan wewenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi, meskipun
terjadi keterlambatan waktu pemhentukannya.53 Selain itu dibentuknya KPK
juga dilatarbelakangi alasan karena lembaga pemerintah yang menangani
perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara efisien dan efektif dalam
memberantas tindak pidana korupsi.
52
Mengadili eksistensi pengadilan tipikor” www.legalitas.org/?q=node/44, diakses pada Kamis, 9 September 2010, pukul 15:20:34 WIB
53
Jaksa dan kepolisian dianggap tidak efektif dalam menyelesaikan
berbagai perkara tindak pidana korupsi, demikian juga dengan lembaga-lembaga
yang pernah dibentuk sebelumnya. Banyaknya kasus korupsi yang melibatkan
aparat penegak hukum menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat
penegak hukum menjadi rendah. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya
anggapan bagaimana mungkin memberantas korupsi bila aparat penegak hukum
yang seharusnya memberantas korupsi justru terlibat korupsi pula (bagaimana
kita dapat membersihkan lantai yang kotor dengan sapu yang, kotor). Karena
itulah KPK, sebagai lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnva bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun,
memiliki kewenangan yang luar biasa, berdasarkan pada klasifikasi tindak
pidana korupsi sebagai kejahatan luar biasa. Kewenangan-kewenangan yang di
miliki oleh KPK akan di bahas lebih lanjut pada bagian berikutnya dalam skripsi
ini.
2. Tugas Dan Wewenang KPK
Sebagai lembaga yang berfungsi sebagai pemicu dan pemberdayaan
institusi yang telah ada dalam pemberantasan korupsi (trigger mechanism)
KPK memiliki tugas dan wewenang yang cukup berbeda, diantaranya
melakukan kordinasi dan supervisi, termasuk melakukan penyelidikan,
penyidikan dan penuntutan dalam kasus korupsi. Hal ini berbeda dengan
kewenangan yang dimiliki oleh komisi-komisi anti korupsi yang pernah di
bertanggung jawab hanya kepada publik atau kepada masyarakat, KPK
hanya memberi laporan secara berkala saja kepada presiden, Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)54
Kedudukan KPK yang independen dalam hal ini merupakan
jawaban dari persoalan penegakan hukum kasus korupsi di Indonesia.
Pada kebanyakan kasus korupsi melibatkan pejabat tinggi, elit politik, elit
ekonomi atau pengusaha- pengusaha besar. Kondisi ini menyebabkan
kejaksaan atau kepolisian seringkali tidak dapat leluasa untuk menegakkan
hukum karena terbentur dengan campur tangan (intervensi) pihak lain.
Selain itu perkara tindak pidana korupsi yang ditangani KPK akan diadili
oleh pengadilan khusus anti korupsi55, yang berbeda dengan pengadilan
konvensional. Perbedaan ini terlihat dari jumlah hakimnya, pengadilan
korupsi dipimpin oleh lima (S) majelis hakim.
Berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang
KPK, KPK mempunyai tugas melakukan:56
1. Kordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan
pemberantasan tindak pidana korupsi
2. Supervisi terhadap, instansi yang berwenang melakukan
pemberantasan tindak pidana korupsi
3. Melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan terhadap tindak pidana
korupsi 57
54
Indonesia (c) , Op. cit pasal 20 ayat (1) 55
Ibid pasal 53. 56
4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan korupsi
5. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan negara
Dalam melakukan tugas koordinasi KPK berwenang: 58
1. Mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak
pidana korupsi
2. Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak
pidana korupsi
3. Meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana
korupsi kepada instansi yang terkait
4. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang
berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi
5. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana
korupsi
Dalam melaksanakan tugas supervisinya, KPK berwewenang:59
1. Melakukan pengawasan, penelitian atau penelaahan terhadap instansi
yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan
57
Mengenai kewenang penyidikan oleh KPK akan Penulis uraikan lebih lanjut pada bagian selanjutnya.
58
Ibid., pasal 7. 59
pemberantasan tindak pidana korupsi, dan instansi yang dalam
melaksanakan pelayanan publik.
2. Mengambil ahli penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku tindak
pidana korupsi yang sedang dilakukan oleh kepolisian atau ke jaksaan
Dalam melaksanakan tugas pencegahan, KPK berwenanguntuk:60
1. Melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta
kekayaan
2. Menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi
3. Menyelenggarakan program pendidikan anti korupsi pada setiap jenjang
pendidikan
4. Merancang dan mendorong terlaksananya program sosialisasi
pemberantasan tindak pidana korupsi
5. Melakukan kampanye anti korupsi kepada masyarakat umum
6. Melakukan kerja sama bilateral atau multilateral dalam pemberantasan
tindak pidana korupsi.
Sedangkan melaksanakan tugas monitor KPK berwenang untuk :61
1. Melakukan pengkajian terhadap sistem pengolahan administrasi di
semua lembaga negara dan pemerintah
2. Memberi saran kepada pimpinan lembaga negara dan pemerintah untuk
melakukan perubahan jika berdasarkan hasil pengkajian, sistem
pengolahan administrasi tersebut berpotensi korup
60
Ibid, pasal 13. 61
3. Melaporkan kepada presiden RI, DPRdan BPK, jika saran KPK
mengenai usulan perubahan tersebut tidak diindahkan
Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, KPK berlandaskan pada lima (5)
asas sebagai berikut:62
1. Asas kepastian hukum, yaitu asas dalam negara hukum yang
mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan
keadiian dalam setiap kebijakan menjalankan tugas dan wewenang KPK.
2. Asas keterbukaan, yaitu asas yang membuka diri terhadap hak
masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak
diskriminatif tentang kinerja KPK dalam menjalankan tugas dan
fungsinya.
3. Asas akuntabilitas yaitu asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan
dan hasil akhir kegiatan KPK harus dapat dipertangung jawabkan kepada
masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Asas kepentingan umum , yaitu asas yang mendahulukan kesejahteraan
umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif dan selektif .
5. Asas proporsionalitas yaitu asas yang mengutamakan keseimbangan
antara tugas, wewenang, tanggung jawab dan kewajiban KPK
3. Kewenangan KPK Dalam Proses Penyidikan Tindak Pidana Korupsi
Kriteria tindak pidana korupsi di mana KPK berwenang melakukan
penyelidikan, penyidikan dan penuntutan adalah tindak pidana korupsi yang:63
1. Melibatkan aparat penegak hukum penyelenggara negara, dan orang
lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan
oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara
2. Mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat
3. Menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (Satu
milyar rupiah)
Jika ternyata dalam perjalanan terdapat kasus korupsi yang tidak memenuhi
kriteria tersebut, maka penanganan kasus tersebut bukanlah oleh KPK
melainkan oleh institusi penegak hukum lainnya yang berwenang untuk itu,
seperti kepolisian dan kejaksaan.
Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan.
KPK berwenang;64
1. Melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan
2. Memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk bepergian ke luar
negeri
63
Ibid, pasal 11 64
3. Meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya
tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang
diperiksa
4. Memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk
memblokir rekening yang diduga hasil dari korupsi milik tersangka
terdakwa atau pihak lain yanjg terklait
5. Memerintahkan kepada pimpinan atau atasan tersangka untuk
memberhentikan sementara tersangka dari jabatannya
6. Meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa
kepada instansi yang terkait
7. Menghentikan sementara suatu transaksi keuangan ,transaksi
perdagangan dan perjanjian lainya atau pencabutan sementara perizinan,
lisensi serta konsesi yang di lakukan atau dimiliki oleh tersangka atau
terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal yang cukup ada hubungan
dengan tindak pidana korupsi yang sedang di periksa
8. Meminta bantuan lnterpol Indonesia atau instansi penegak hukum
negara lain untuk melakukan pencarian, penangkapan, dan
penyitaan barang bukti di luar negeri
9. Meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk
melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan. dan penyitaan
dalam perkara tindak pidana korupsi yang sedang ditangani.
Dari uraian kewenangan di atas, terlihat bahwa undang-undang,