• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Yuridis Terhadap Kewenangan Penyidik Mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) Pada Perkara Tindak Pidana Korupsi ( Studi Kasus Judicial Review Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Yuridis Terhadap Kewenangan Penyidik Mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) Pada Perkara Tindak Pidana Korupsi ( Studi Kasus Judicial Review Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidan"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS YURIDIS TERHADAP KEWENANGAN PENYIDIK

MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGHENTIAN

PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA

TINDAK PIDANA KORUPSI

(Studi Kasus Judicial Review Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi)

S K R I P S I

Disusun Dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada

Universitas Sumatera Utara

O l e h

MELISA IFITYANTI G

070200165

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

(2)

ANALISIS YURIDIS TERHADAP KEWENANGAN PENYIDIK

MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGHENTIAN

PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA

TINDAK PIDANA KORUPSI

(Studi Kasus Judicial Review Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi)

Disetujui oleh,

Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Abul Khair,S.H.,M.Hum. NIP.196107021989031001

Dosen Pembimbing I

Abul Khair,S.H.,M.Hum.

Dosen Pembimbing II

Nurmalawaty, SH, M.Hum

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur , Hormat dan kemuliaan Penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala Berkat dan Penyertaan-Nya yang mampukan Penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Penulisan skripsi ini adalah merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam rangka ujian untuk mencapai gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan.

Adapun judul skripsi ini adalah ”Analisis Yuridis Terhadap Kewenangan Penyidik

Mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) Pada Perkara Tindak Pidana

Korupsi ( Studi Kasus Judicial Review Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002

tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi).

Penulis sadar sejak awal hingga akhir penulisan skripsi ini, Penulis banyak menerima bimbingan, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, Penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Syafruddin Hasibuan, SH, MH, DFM, selaku Pembantu Dekan II Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak M. Husni, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara.

5. Bapak Abul Khair, SH, M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas

(4)

6. Ibu Nurmalawaty, SH, M.Hum, selaku sekretaris Departemen Hukum Pidana Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagai Dosen Pembimbing II Penulis yang telah banyak meluangkan waktu untuk membimbing, memberi masukan, dan pengarahan kepada Penulis dalam penyusunan skripsi ini.

7. Ibu Dr. Marlina , SH, M.Hum., sebagai Dosen Wali Penulis yang telah membimbing dan

memberikan pengarahan kepada Penulis selama masa perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga telah membantu memberikan masukan dalam penulisan skripsi ini.

8. Guru-guru Besar, seluruh dosen dan staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara.

9. Ayahanda Sehati Ginting dan Ibunda Dra. Nurlina Barus, terimakasih buat doa, kasih

sayang, perhatian dan nasehat serta dorongan baik material maupun moril yang tidak terhingga kepada Penulis.

10. Buat Keluarga : Tante Rehulina Stromberg & Keluarga di Stockholm, terimakasih buat

doa, kasih sayang dan dukungan moril kepada Penulis dari awal hingga akhir selama penulisan skripsi ini.

11. Kepada Dewa Pranata Bangun, Penulis ucapkan terimakasih atas semangat dan dorongan

yang selalu diberikan kepada Penulis disaat Penulis mengalami kejenuhan dalam mengerjakan skripsi ini.

12. Teman-Teman stambuk 2007 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara : Juita Osti Bulan Tobing, Rialita Siregar, Novia Gracia Tobing, Nelam Napitupulu, Yulia

Andriany, Erika Romauli Pardede, Muchsin Fahreza and the gank.

Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi setiap orang yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam tulisan ini, semoga skripsi ini memberikan pemahaman baru bagi kita dan menambah referensi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Akhir kata, Penulis ucapkan terimakasih. Tuhan Memberkati.

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG ……… 1 B. PERUMUSAN MASALAH ... 11 C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ………... 12 D. KEASLIAN PENELITIAN ………... 14 E. TINJAUAN KEPUSTAKAAN ………... 14

1. Pengertian Penyelidikan

2. Pengertian Penyidikan

3. Pengertian Penyidik

4. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

5. Pengertian Penghentian Penyidikan

6. Pengertian Surat Perintah Penghentian Penyidikan

(SP3)

7. Pengertian Komisi Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi (KPK)

8. Pengertian Extra Ordinary Crime

(6)

BAB II KEWENANGAN PENYIDIK MENGELUARKAN SURAT PERINTAH

PENGEHENTIAN PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA TINDAK

PIDANA KORUPSI

A. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

... 23

B. Tindak Pidana Korupsi sebagai

Extraordinary

Crime... 24

C. Peraturan Perundang-Undangan tentang Korupsi yang

berlaku di Indonesia setelah Era Reformasi berdasarkan

Undang-Undang No 30 Tahun 2002... 29

D. Kedudukan KPK Berdasarkan Undang-Undang

No. 30 Tahun 2002

1. Sejarah singkat berdirinya KPK... 30

2. Tugas dan Wewenang KPK ... 33

3. Kewenangan KPK dalam Proses Penyidikan Tindak

Pidana Korupsi ... 38

E. Kewenangan Melakukan Penyidikan Pada Perkara

Tindak Pidana Korupsi ... 42

F. Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) ... 56

G. Kewenangan Penyidik mengeluarkan SP3 pada perkara

(7)

BAB III LATAR BELAKANG PENETAPAN PASAL 40 UNDANG-UNDANG

NO. 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK

PIDANA KORUPSI

A. Gambaran Umum Mengenai Permohonan Judicial

Review atas keberlakuan Pasal 40 Undang-Undang No 30

Tahun 2002 tentang KPK ... 73

B. Latar Belakang Penetapan Pasal 40 Undang-Undang

No.30 Tahun 2002 tentang KPK ... 79

BAB IV PENERAPAN PASAL 40 UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2002

TENTANG KPK TERHADAP PENANGANAN TINDAK PIDANA

KORUPSI OLEH KPK

A. Akibat keberlakuan Pasal 40 Undang-Undang No. 30

Tahun 2002 tentang KPK terhadap Proses Pemeriksaan

Tindak Pidana Korupsi oleh KPK. ... 83

B. Penerapan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002

tentang KPK dikaitkan dengan Asas Praduga Taak Bersalah

(Presumption of Innocence ) ... 87

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN ……….. 91 B. SARAN ……….. 93

(8)

ABSTRAK

* Mahasiswa ** Dosen pembimbing I **Dosen pembimbing II

Keberhasilan penyidikan suatu tindak pidana akan sangat mempengaruhi berhasil tidaknya penuntutan Jaksa Penuntut Umum pada tahap pemeriksaan sidang pengadilan nantinya. Tetapi apabila berhenti ditengah jalan maka harus dikeluarkan SP3. Dikeluarkannya SP3 selalu menjadi bahan tudingan dari masyarakat bahwa penegak hukum tidak serius dalam menyelesaikan berbagai kasus tindak pidana korupsi yang terjadi di negara ini. Jadi pada intinya sebelum dilakukan proses penyidikan, penyelidik harus lebih dahulu berusaha mengumpulkan fakta dan bukti yang ada sebagai landasan tindak lanjut penyidikan. Sedangkan penyidikan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik dalam mencari dan mengumpulkan bukti, dan dengan bukti itu membuat atau menjadi terang tindak pidana yang terjadi serta sekaligus menemukan tersangkanya atau pelaku tindak pidananya. Dari kedua rangkaian proses ini terdapat semacam graduasi antara tahap penyelidikan menuju ke tahap penyidikan , karena itu dibutuhkan kehati-hatian yang amat besar serta alasan yang jelas, meyakinkan dan relevan ketika aparat penegak hukum meningkatkan tahap penyelidikan ke tahap penyidikan.

Dalam mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) pada penanganan tindak pidana korupsi perlu melihat kewenangan Penyidik, karena dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002, Penyidik KPK tidak berhak mengeluarkan SP3, kemudian melihat latar belakang penetapan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002, serta penerapan Pasal 40 ini dalam penanganan tindak pidana korupsi.

Metode penulisan dalam pembuatan skripsi ini dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif yang berasal dari sumber buku-buku kepustakaan yang relevan dengan permasalahan yang dibahas didalam skripsi ini dan melakukan wawancara dengan penyidik KPK melalui email.

Dalam melakukan proses penyelidikan dan penyidikan aparat penegak hukum yang melakukan pemeriksaan tersebut diharapkan dapat bekerja secara profesional, efisien dan efektif. Setiap produk peraturan perundang-undangan yang dihasilkan di suatu negara tentunya diharapkan menjadi peraturan perundang-undangan yang berkualitas serta berguna bagi masyarakat. KPK sebagai lembaga yang diberikan amanat oleh undang-undang sebagai salah satu alat dalam upaya pemberantasan korupsi harus melaksanakan tugasnya secara transparan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menjadi pengawas segala tindakan yang dilakukan oleh KPK sehingga tercipta check and balance dalam proses penegakan hukum.

(9)

ABSTRAK

* Mahasiswa ** Dosen pembimbing I **Dosen pembimbing II

Keberhasilan penyidikan suatu tindak pidana akan sangat mempengaruhi berhasil tidaknya penuntutan Jaksa Penuntut Umum pada tahap pemeriksaan sidang pengadilan nantinya. Tetapi apabila berhenti ditengah jalan maka harus dikeluarkan SP3. Dikeluarkannya SP3 selalu menjadi bahan tudingan dari masyarakat bahwa penegak hukum tidak serius dalam menyelesaikan berbagai kasus tindak pidana korupsi yang terjadi di negara ini. Jadi pada intinya sebelum dilakukan proses penyidikan, penyelidik harus lebih dahulu berusaha mengumpulkan fakta dan bukti yang ada sebagai landasan tindak lanjut penyidikan. Sedangkan penyidikan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik dalam mencari dan mengumpulkan bukti, dan dengan bukti itu membuat atau menjadi terang tindak pidana yang terjadi serta sekaligus menemukan tersangkanya atau pelaku tindak pidananya. Dari kedua rangkaian proses ini terdapat semacam graduasi antara tahap penyelidikan menuju ke tahap penyidikan , karena itu dibutuhkan kehati-hatian yang amat besar serta alasan yang jelas, meyakinkan dan relevan ketika aparat penegak hukum meningkatkan tahap penyelidikan ke tahap penyidikan.

Dalam mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) pada penanganan tindak pidana korupsi perlu melihat kewenangan Penyidik, karena dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002, Penyidik KPK tidak berhak mengeluarkan SP3, kemudian melihat latar belakang penetapan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002, serta penerapan Pasal 40 ini dalam penanganan tindak pidana korupsi.

Metode penulisan dalam pembuatan skripsi ini dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif yang berasal dari sumber buku-buku kepustakaan yang relevan dengan permasalahan yang dibahas didalam skripsi ini dan melakukan wawancara dengan penyidik KPK melalui email.

Dalam melakukan proses penyelidikan dan penyidikan aparat penegak hukum yang melakukan pemeriksaan tersebut diharapkan dapat bekerja secara profesional, efisien dan efektif. Setiap produk peraturan perundang-undangan yang dihasilkan di suatu negara tentunya diharapkan menjadi peraturan perundang-undangan yang berkualitas serta berguna bagi masyarakat. KPK sebagai lembaga yang diberikan amanat oleh undang-undang sebagai salah satu alat dalam upaya pemberantasan korupsi harus melaksanakan tugasnya secara transparan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menjadi pengawas segala tindakan yang dilakukan oleh KPK sehingga tercipta check and balance dalam proses penegakan hukum.

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Penyidikan tindak pidana merupakan serangkaian tindakan penyidik dalam

hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana

yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.1 Penyidikan merupakan suatu

tahap terpenting dalam kerangka hukum acara pidana di Indonesia karena dalam

tahap ini pihak penyidik berupaya mengungkapkan fakta-fakta dan bukti-bukti

atas terjadinya suatu tindak pidana serta menemukan tersangka pelaku tindak

pidana tersebut.

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) merumuskan yang

dimaksud dengan penyidik adalah orang yang melakukan penyidikan yang terdiri

dari pejabat yaitu Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia (POLRI) yang terbagi

menjadi Pejabat penyidik penuh dan pejabat penyidik pembantu, serta Pejabat

Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh

undang-undang.2 Namun, dalam hal tertentu jaksa juga memiliki kewenangan sebagai

penyidik terhadap perkara / tindak pidana khusus, seperti perkara Hak Asasi

Manusia dan Tindak Pidana Korupsi.3 Selain itu berdasarkan Undang-Undang No.

1

Indonesia (a) ,Undang-Undang Tentang Hukum Acara Pidana, UU No.8 Tahun 1981, LN. No.76 Tahun !981, TLN No. 3209, pasal 1 angka 2.

2

Ibid., pasal 1 angka 1 jo. Pasal 6 jo. pasal 10 3

(11)

30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK)

disebutkan bahwa penyidik tindak pidana korupsi adalah penyidik pada Komisi

Pemberantasan Korupsi yang diangkat dan diberhentikan oleh Komisi

Pemberantasan Korupsi.4

Sebelum dimulainya suatu proses penyidikan, terlebih dahulu telah

dilakukan proses penyelidikan pada suatu perkara tindak pidana yang terjadi.

Dalam Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum

Acara Pidana (KUHAP) disebutkan pengertian penyelidikan adalah sebagai

berikut :

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.5

Dari pengertian tersebut terlihat bahwa penyelidikan merupakan tindakan

tahap pertama permulaan penyidikan, namun pada tahap penyelidikan penekanan

diletakkan pada tindakan “ mencari dan menemukan” suatu “peristiwa” yang

ayat (1), huruf d. Dalam penjelasan UU. No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia dijelaskan bahwa undang-undang tersebut mengatur dan menyempurnakan kewenangan kejaksaan untuk melakukan penyidikan tindak pidana tertentu, hal ini dimaksudkan untuk menampung beberapa ketentuan undang-undang yang memberikan kewenangan kepada Kejaksaan untuk melakukan penyidikan, misalnya Undang-Undang No. 26 tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang No. 20 Tahun 2001, dan Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

4

Indonesia ( c ) , Undang-Undang Nomor 30 Tentang Komisi Pemerantasan Tindak

Pidana Korupsi, UU No. 30 Tahun 2002 LN. No. 137 Tahun 2002, TLN No. 4250 pasal 45. (

Selanjutnya Penulis akan menyebut dengan UU No. 30 Tahun 2002 tentang KPK) 5

(12)

dianggap atau diduga sebagai suatu tindak pidana.6 Sedangkan pada penyidikan,

titik berat tekanannya diletakkan pada tindakan “mencari serta mengumpulkan

bukti” supaya tindak pidana yang ditemukan dapat menjadi terang serta agar dapat

menemukan dan menentukan pelakunya. Hampir tidak ada perbedaan makna

antara keduanya (penyelidikan dan penyidikan), hanya bersifat gradual saja.

Antara penyelidikan dan penyidikan saling berkaitan dan isi mengisi guna dapat

diselesaikan pemeriksaan suatu peristiwa pidana.7

Keberhasilan penyidikan suatu tindak pidana akan sangat mempengaruhi

berhasil tidaknya penuntutan Jaksa Penuntut Umum pada tahap pemeriksaan

sidang pengadilan nantinya. Namun bagaimana halnya bila penyidikan berhenti

ditengah jalan? Undang-Undang memberikan wewenang penghentian penyidikan

kepada penyidik, yakni penyidik berwenang bertindak menghentikan penyidikan

yang telah dimulainya. Hal ini ditegaskan Pasal 109 ayat (2) KUHAP yang

memberi wewenang kepada penyidik untuk menghentikan penyidikan yang

sedang berjalan. Pasal 19 ayat (2) KUHAP menyatakan:8

Dalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan dihentikan demi hukum, maka penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya.

Dengan demikian dapat disimpulkan alasan-alasan penyidik menghentikan

penyidikan sesuai dengan Pasal 19 ayat (2) KUHAP adalah sebagai berikut:

6

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP; Penyidikan

dan Penuntutan ( Edisi Kedua), ( Jakarta : Sinar Grafika, 2003), hal 101.

7

(13)

1. Karena tidak terdapat cukup bukti;

2. Karena peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana;

3. Penyidikan dihentikan demi hukum.

Ketika penyidik memulai tindakan penyidikan, kepadanya dibebani

kewajiban untuk memberitahukan hal dimulainya penyidikan tersebut kepada

penuntut umum. Akan tetapi masalah kewajiban pemberitahuan itu bukan hanya

pada permulaan tindakan penyidikan, melainkan juga pada tindakan penghentian

penyidikan. Untuk itu, setiap penghentian penyidikan yang dilakukan pihak

penyidik secara resmi harus menerbitkan suatu Surat perintah Penghentian

Penyidikan (SP3).9 Pemberian SP3 yang akan dibahas dalam penelitian ini

bukanlah pemberian SP3 terhadap tindak pidana biasa/umum, seperti

pembunuhan, penganiayaan, dan sebagainya, melainkan hanyalah dikhususkan

pada pemberian SP3 terhadap tindak pidana khusus yaitu tindak pidana korupsi

yang dalam beberapa waktu belakangan ini mengundang kontroversi dan

perdebatan serta menciptakan persepsi yang cenderung negatif terhadap kinerja

dan citra aparat penegak hukum, khususnya penyidik tindak pidana korupsi yang

seringkali mengeluarkan SP3.10

Dikeluarkannya SP3 selalu menjadi bahan tudingan dari masyarakat

bahwa penegak hukum tidak serius dalam menyelesaikan berbagai kasus tindak

9

Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana Normatif, Teoritis, Praktis dan

Permasalahannya,(Bandung: P.T. Alumni, 2007), hal 54. (Selanjutnya Penulis akan menyebut

Surat Perintah Penghentian Penyidikan dengan SP3). 10

(14)

pidana korupsi yang terjadi di negara ini. Di mata masyarakat yang mengehendaki

agar pelaku tindak pidana korupsi diproses secara hukum dan dikenai hukuman

yang seadil-adilnya, pemberian SP3 dianggap sebagai tindakan yang merusak

harapan masyarakat dalam upaya pemberantasan korupsi.11 Dari ketiga alasan

penghentian penyidikan berdasarkan Pasal 109 ayat (2) KUHAP yang telah

disebutkan diatas, alasan pertama yaitu karena tidak terdapat cukup bukti

merupakan alasan yang paling sering digunakan oleh penyidik tindak pidana

korupsi.12 Hal ini Penulis amati dari berbagai contoh perkara korupsi yang terjadi,

di mana dilakukan penghentian penyidikan oleh penyidik dalam beberapa perkara

tindak pidana korupsi yang dapat dikatakan besar.13 Berdasarkan data yang

dihimpun Indonesian Corruption Watch (ICW), hingga saat ini, tercatat ada 25

tersangka kasus korupsi besar yang dihentikan penyidikannya, baik oleh

Kejaksaan Agung maupun Kejaksaan Tinggi di daerah. Data tersebut diperoleh

berdasarkan laporan media massa yang berhasil dihimpun selama 5 (lima) tahun

terakhir ( 1999-2005). Pihak Kejaksaan selaku institusi yang melakukan

penghentian penyidikan tidak mempunyai data-data yang akurat mengenai nama

dan jumlah pelaku korupsi yang menerima SP3.14

11

Emerson Yuntho, “ Mencermati Pemberian SP3 Kasus Korupsi ”, http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=11608&cl=Kolom, diakses pada Jumat, 20 Agustus 2010, pukul 15:10:21 WIB

12 Ibid. 13

Ibid. (Yang dimaksud penulis dengan perkara korupsi besar adalah perkara korupsi yang cukup besar menarik perhatian masyarakat, baik dari segi jumlah maupun tersangkanya antara lain Perkara Dugaan Korupsi Technical Assistance Contract (TAC), Dugaan Korupsi Dana BLBI, dan Dugaan Korupsi Jamsostek).

(15)

Terdapat suatu kejanggalan apabila kita menilik kembali ke tahapan awal

dari proses pemeriksaan suatu perkara pidana kemudian menghubungkannya

dengan alasan dikeluarkannya SP3. Pnyelidikan merupakan suatu tindakan

penyelidik yang bertujuan mengumpulkan bukti permulaan atau bukti yang cukup

agar dapat dilakukan tindakan lanjutan penyidikan. Sehingga dengan adanya

tahapan penyelidikan diharapkan tumbuh sikap hati-hati rasa tanggung jawab

hukum yang bersifat manusiawi dalam melaksanakan tugas penegakan hukum

sebelum dilanjutkan dengan tindakan penyidikan agar tidak terjadi tindakan yang

melanggar hak asasi yang merendahkan harkat dan martabat manusia.15

Jadi pada intinya sebelum dilakukan proses penyidikan, penyelidik harus

lebih dahulu berusaha mengumpulkan fakta dan bukti yang ada sebagai landasan

tindak lanjut penyidikan.16 Sedangkan penyidikan merupakan serangkaian

tindakan yang dilakukan oleh penyidik dalam mencari dan mengumpulkan bukti,

dan dengan bukti itu membuat atau menjadi terang tindak pidana yang terjadi

serta sekaligus menemukan tersangkanya atau pelaku tindak pidananya. Dari

kedua rangkaian proses ini terdapat semacam graduasi antara tahap penyelidikan

menuju ke tahap penyidikan , karena itu dibutuhkan kehati-hatian yang amat besar

serta alasan yang jelas, meyakinkan dan relevan ketika aparat penegak hukum

meningkatkan tahap penyelidikan ke tahap penyidikan. Hal ini tentu saja

bertujuan untuk menjaga kredibilitas dan kewibawaan dari aparat penegak hukum

itu sendiri agar tidak dinilai tergesa-gesa dalam melakukan rangkaian

pemeriksaan terhadap suatu tindak pidana.

15

M. Yahya Harahap, op. cit., hal. 102 16

(16)

Dari berbagai contoh kasus yang ada, seperti yang telah disebutkan

sebelumnya, terdapat beberapa kasus tindak pidana korupsi yang dalam

pemeriksaan di tahap penyidikan kemudian diterbitkan SP3 oleh penyidik yang

adalah pihak kejaksaan dengan alasan yang dinilai kurang transparan dan tidak

jelas. Dengan demikian yang menjadi persoalan adalah pemberian SP3 oleh

kejaksaan terhadap perkara tindak pidana korupsi dimana dasar pemberian SP3 itu

dinilai kurang transparan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan terhadap

ketentuan-ketentuan hukum acara yang berlaku.17

Berbeda dengan Kejaksaan dan POLRI sebagai penyidik suatu tindak

pidana, lembaga Komisi pemberantasan Korupsi (KPK) yang merupakan sebuah

institusi atau lembaga negara yang dibentuk dari Undang-Undang No.30 Tahun

2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak berwenang

mengeluarkan SP3 dalam setiap penyidikan yang dilakukannya. Hal ini

ditegaskan dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang

Komisi Pemberantasan Korupsi yang berbunyi, ” Komisi pemberantasan korupsi

tidak berwenang mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan dan

penuntutan dalam perkara tindak pidana korupsi.”18

Pernyataan dalam pasal tersebut dapat dilihat dari dua sudut pandang yang

berbeda, yang pertama ditinjau dari sudut pandang hak-hak yang dimiliki oleh

seorang tersangka pada tindak pidana korupsi. Sekilas, ketentuan dalam pasal

tersebut tentu saja dinilai mengebiri hak asasi tersangka yang juga merupakan

17

Emerson Yuntho, Op. cit. 18

(17)

warga negara, sebab tanpa adanya SP3 , maka seseorang yang sudah dinyatakan

sebagai tersangka oleh KPK seolah-olah tidak lagi memiliki kemungkinan untuk

dipulihkan kehormatan dan martabatnya, padahal filosofi adanya SP3 adalah

sebagai sebuah mekanisme koreksi dan instrumen untuk memulihkan martabat

tersangka bila penyidik ternyata tidak memiliki cukup bukti untuk meneruskan

kasus ke tingkat penuntutan. Maka tanpa adanya mekanisme SP3, KPK akan

memaksakan setiap kasus yang ditanganinya untuk diteruskan ke level yang lebih

tinggi yaitu penuntutan dan pengadilan.19 Adanya Pasal 40 Undang-Undang No.

30 tahun 2002 tentang KPK ini juga berarti seorang yang disangka melakukan

tindak pidana korupsi, maka bagaimanapun juga kasusnya harus sampai ke

pengadilan. Orang-orang KPK membenarkan hal ini dengan alasan untuk

mencegah KPK menangkap orang secara sembarangan. Kalau benar seperti

itu,maka maksud tersebut sungguh mulia sekali. Akan tetapi selain itu masih ada

pembenaran lain yang tidak kalah mulianya, yaitu asas praduga tidak bersalah.

Makna asas ini yang boleh menyatakan seseorang itu bersalah atau tidak adalah

pengadilan. Sebelum pengadilan memutuskan seseorang itu bersalah atau tidak,

bukanlah satu atau dua orang penyidik KPK yang penguasaan hukumnya sekuat

majelis hakim. Dengan tidak dimilikinya wewenang pemberian SP3 itu oleh KPK,

maka timbulah diskriminasi hukum terhadap warga negara. Disamping itu,

terjadilah pula dualisme dalam sistem peradilan. Dalam hal ini, apabila ada dua

orang yang disangka melakukan korupsi, maka mereka diadili dengan

19

Suripto. “Wewenang Mahkamah Konstitusi Menguji Undang-Undang (Judicial

(18)

undang yang sama, yaitu Undang-Undang No. 20 Tahun 2001. Tetapi lembaga

yang mengadilinya berbeda. Yang satu diadili oleh Peradilan Umum, sedangkan

yang lain diadili oleh Pengadilan Tipikor. Tersangka yang diadili oleh Peradilan

Umum dapat menikmati SP3, wujudnya adalah si tersangka bisa tidak ditahan.

Kalau sudah ditahan pun masih mungkin dikenakan tahanan luar. Akan tetapi

tersangka yang diadaili oleh pengadilan Tipikor, tidak akan diberikan SP3,

sekaipun dia belum terbukti bersalah. Apakah UUD 1945 membolehkan negara

melakukan diskriminasi terhadap warga negara? Jawabannya terang benderang

’tidak boleh’. Hal ini tercantum dalam Pasal 27 ayat 1 UUD 1945 dimana

dinyatakan bahwa ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam

hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu

dengan tidak ada kecualinya”. Begitu juga dengan Pasal 28 I ayat 2 yang

menyatakan bahwa ”Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat

diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap

perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”.20

Akan tetapi berbeda halnya jika kita melihat dari sudut pandang lain, yaitu

dari susut pandang latar belakang dibentuknya KPK yang berperan sebagai salah

satu tonggak penegakan hukum dinegara Indonesia dalam usaha pemberantasan

korupsi. Undang-Undang telah menggariskan KPK untuk selalu berada di luar

cara-cara konvensional penegakan hukum karena tindak pidana korupsi

merupakan salah satu tindak pidana khusus yang sering disebut dengan extra

ordinary crime, dan oleh karena itulah dibutuhkan cara-cara khusus pula untuk

(19)

mengananinya.21 Hal ini tercermin dalam wewenang yang dimiliki KPK yang

berada diluar sistem hukum material dan formal undang-undang hukum pidana

yang konvensional. Contoh tindakan yang tergolong non-konvensional adalah

penyadapan atau merekam pembicaraan dalam rangka penyelidikan, penyidikan,

dan penuntutan tindak pidana korupsi.

Berbagai usaha telah dilakukan oleh banyak pihak yang merasa dirugikan

oleh penerapan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK ini,

diantaranya mengajukan judicial review atau pengujian materil mengenai klausula

apakah undang-undang tersebut bertentang dengan Undang-Undang Dasar 1945

atau tidak. Adapun pihak-pihak tersebut antara lain terpidana kasus korupsi Prof.

Nazaruddin Syamsudin untuk perkara No. 016/PUU-IV/2006, serta Mulyana W.

Kusumah dan Captain Tarcisius Walla untuk perkara No.012 dan

019/PUU-IV/2006. Para pihak yang mengajukan judicial review tersebut berpendapat bahwa

dengan adanya beberapa pengaturan kewenangan yang dimiliki KPK, seperti

Pasal 40 dan Pasal 12 Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang KPK, telah

terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia. Sebelumnya, terhadap masalah ini juga

pernah diajukan judicial review oleh Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara

Negara (KPKPN), namun MK menolak permohonan tersebut karena berpendirian

bahwa pasal itu tidak bertentangan dengan konstitusi. Justru keberadaan pasal itu

21

(20)

untuk menegakkan pesan konstitusi yaitu memberantas korupsi.22 Oleh karena

itu, semuanya dikembalikan pada landasan sosiologis, yuridis dan filosofis

undang-undang korupsi dan KPK itu sendiri yang berusaha mewujudkan clean

government dan tegaknya keadilan bagi mereka yang melakukan perbuatan

menyimpang.23 Dengan adanya Pasal 40 Undang-Undang No.30 Tahun 2002

tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diharapkan dapat

memberikan kepastian hukum bagi penegakan hukum di Indonesia sehingga dapat

mendukung pemberantasan korupsi di Indonesia.

Maka berdasarkan latar belakang permasalahan yang diuraikan di atas,

Penulis bermaksud menulis skripsi dengan judul ”ANALISIS YURIDIS

TERHADAP KEWENANGAN PENYIDIK MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGHENTIAN PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI KASUS JUDICIAL REVIEW PASAL 40 UNDANG-UNDANG NO.30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI)”

B. Pokok Permasalahan

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas,

maka disusun pokok-pokok permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini,

yaitu:

22

Hukum Online, “UU KPK Terus Dipermasalahkan ke Mahkamah Konstitusi” http://www.hukumonline.com/detail/asp?id=15267&cl=Berita, diakses pada Jumat,27 Agustus 2010, pukul 21:45:09 WIB.

(21)

1. Bagaimana kewenangan Penyidik mengeluarkan SP3 pada perkara tindak

pidana korupsi ?

2. Apakah latar belakang penetapan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun

2002 tentang KPK ?

3. Bagaimana penerapan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002

tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) terhadap

penanganan perkara tindak pidana korupsi ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian C.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan, maka tujuan

yang hendak dicapai di dalam penulisan skripsi ini adalah :

1. Untuk mengetahui kewenangan penyidik dalam mengeluarkan Surat

Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) pada perkara tindak pidana

korupsi.

2. Untuk mengetahui apa yang menjadi latar belakang dalam penetapan

Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.

3. Untuk mengetahui penerapan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 30

Tahun 2002 tentang KPK terhadap penanganan perkara tindak pidana

(22)

C.2 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini terbagi atas dua yaitu secara teoritis dan secara praktis, yaitu :

1. Secara Teoritis

Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi, kontribusi

pemikiran dan menambah pengetahuan pembaca dalam bidang

pengetahuan ilmu hukum pidana pada umumnya dan tentang kewenangan

penyidik dalam mengeluarkan SP3 pada tindak pidana korupsi khususnya.

Sehingga skripsi ini dapat memperkaya perbendaharaan dan menjadi

kajian ilmiah bagi para para mahasiswa hukum maupun praktisi hukum

dalam perkembangan hukum di Indonesia.

2. Secara Praktis

a. Sebagai pedoman dan masukan bagi Penyidik dalam

kewenangannya mengeluarkan Surat Perintah Penghentian

Penyidikan (SP3) terhadap penanganan perkara tindak pidana

korupsi dan dengan adanya Pasal 40 Undang-Undang No.30 Tahun

2002 tentang KPK diharapkan dapat memberikan kepastian hukum

bagi penegakan hukum di Indonesia sehingga dapat mendukung

pemberantasan korupsi di Indonesia.

b. Sebagai informasi bagi masyarakat terhadap akibat dan

keberlakuan Pasal 40 Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang

(23)

D. Keaslian Penelitian

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari penulusuran studi literature dan bahan-bahan kepustakaan lainnya, belum terdapat judul yang sama dengan skripsi

yang diangkat pada judul skripsi ini.

Judul – judul yang ada tentang korupsi tidak ada yang menyentuh materi

pokok dalam bahasan skripsi yaitu tentang “Analisis Yuridis Terhadap

Kewenangan Penyidik Mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan (Tinjauan

Pasal 40 Undang-Undang No 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi)” oleh sebab itu judul pada skripsi ini dapat

dipertanggungjawabkan sesuai dengan aturan-aturan ilmiah. Bila ternyata terdapat

judul dan penambahan yang sama dengan skripsi ini sebelum skripsi ini dibuat,

maka Penulis bertanggung jawab sepenuhnya.

E. Tinjauan Kepustakaan

Pada penelitian ini dalam membahas permasalahannya akan diberikan

batasan-batasan pengertian atau istilah. Pembatasan tersebut dilakukan untuk

menghindari terjadinya multi tafsir maupun kerancuan definisi dan diharapkan

akan dapat membantu dalam menjawab pokok permasalahan usulan penelitian ini.

Beberapa pembatasan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Penyelidikan

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk

(24)

tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan

penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang.24

2. Penyidikan

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan

menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari

serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang

tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan

tersangkanya.25

3. Penyidik

Penyidik adalah pejabat polisi negara republik Indonesia atau

pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi kewenangan

khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.26

Menurut penjelasan Undang-Undang No. 16 tahun 2004 tentang

Kejaksaan Republik Indonesia, Kejaksaan berwenang melakukan penyidikan pada

tindak pidana tertentu, seperti tindak pidana terhadap Hak Asasi Manusia dan

Tindak Pidana Korupsi. Selain itu berdasarkan pasal 6 Undang-Undang No. 30

tahun 2002 tentang KPK dinyatakan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi

merupakan penyidik dalam perkara tindak pidana korupsi. Jadi dalam penelitian

ini, penyidik adalah POLRI, Kejaksaan, dan KPK.

24

Indonesia, (a), Op. cit., pasal 1 angka 5 25

(25)

4. Tindak Pidana Korupsi.

Tindak pidana korupsi adalah tindak pidana korupsi yang

sebagaimana dimaksudkan Undang-Undang No.31 Tahun 1999

tentang Pemberantasan tindak Pidana Korupsi, Bab II tentang

Tindak Pidana Korupsi, pasal 2-pasal 20 jo. Undang-Undang No.

20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31

Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.27

5. Penghentian Penyidikan

Meskipun KUHAP tidak merumuskan apa yang dimaksud dengan

penghentian penyidikan, namun dapat dirumuskan bahwa

penghentian penyidikan merupkan tindakan penyidik

menghentikan penyidikan dengan berdasar pada alasan-alasan

sebagai berikut :28

1) Tidak terdapat cukup bukti

2) Peristiwa yang disangkakan bukan merupakan tindak pidana

3) Penyidikan dihentikan demi hukum

6. Surat Perintah Penghentian Penyidikan ( SP3 )

Surat Perintah Penghentian penyidikan adalah surat perintah yang

dikeluarkan oleh Penyidik sebagai bukti telah dihentikannya

penyidikan suatu tindak pidana.

7. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK)

27

Lilik Mulyadi, Op. cit., hal. 79. 28

(26)

KPK adalah lembaga negara yang dibentuk berdasarkan

Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang KPK yang dalam

melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan

bebas dari pengaruh kekuasaan manapun sehingga pembentukan

komisi itu bertujaun meningkatkan daya guna dan hasil guna

terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.29

8. Extra Ordinary Crime

Istilah extra ordinary crime berarti kejahatan luar biasa yang

memerlukan penanganan yang laur biasa pula. Istilah ini muncul

untuk menggambarkan kejahatan terhadap hak asasi manusia,

seperti genosida. Karena tindak pidana korupsi di Indonesia sudah

begitu meluas dalam masyarakat, perkembangannya terus

meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi,

kerugian keuangan negara, dan kualitas tindak pidananya, maka

tindak pidana korupsi dapat diigolongkan sebagai extra ordinary

crime.30 Bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi

secara meluas, tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga

telah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi

masyarakat secara luas, sehingga tindak pidana korupsi perlu

29

Indonesia (c), Op. cit., pasal 3. 30

Abdul Rahman Saleh, www.arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&id=129619, diakses Sabtu, 28

(27)

digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus

dilakukan secara luar biasa.31

F. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan

( library research) yang bersifat yuridis normatif, artinya mengacu kepada norma

hukum yang yang terdapat dalam pearturan perundang-undangan, yurisprudensi

serta kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di masyarakat.32 Norma hukum yang

menjadi acuan adalah ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 8

Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang mengatur mengenai

proses pemeriksaan perkara pidana miulai dari penyelidikan hiingga

dikeluarkannya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Selain itu juga

digunakan norma hukum lain yaitu Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002

tentang Komisi Pemberantasan Korupsi serta undang-undang dan peraturan

lainyang mengatur mengenai masalah kewenangan penyidik dalam proses

penghentian penyidikan.

Jenis data yang diperoleh adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh

dari bahan pustaka. Data sekunder ini berasal dari bahan hukum primer dan bahan

hukum sekunder dan bahan hukum tertier.33 Bahan hukum primer adalah

bahan-bahan hukum yang mengikat sehubungan dengan masalah. Bahan hukum primer

31

Indonesia (d), Undang-Undang Tentang Perubahan Atasa Undang-Undang No. 31

athun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi , UU No. 20 , LN No. 134 Tahun

2001, TLN No. 4150, konsiderans (a). 32

Soerjono Soekanto dan Sri Mahmudji, Peranan dan Penggunaan Kepustakaan di

Dalam Penelitian Hukum, (Jakarta. 1979), hal 18.

33

(28)

dari seluruh peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang mengatur masalah

kewenangan penyidik dalam mengeluarkan SP3 serta kewenangan khusus yang

dimiliki oleh KPK. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberi

penjelasan mengenai bahan hukum primer. Dalam hal ini, bahan hukum sekunder

yang diperoleh berasal dari buku, jurnal, artikel, skripsi, dokumen yang diperoleh

dari internet, serta hasil-hasil penelitian dan tulisan-tulisan dari kalangan ahli

hukum. Selain itu, untuk bahan hukum tertier digunakan ensiklopedia dan kamus

hukum (black laws dictionary).

Metode penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data dan bahan

bagi penelitian ini adalah bersifat empiris yuridis. Oleh karena itu, dengan

perkataan lain penelitian ini bertitik tolak dari peraturan perundang-undangan dan

peraturan lainnya yang ada kaitannya dengan pokok permasalahan penelitian ini.

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam memperoleh data sekunder

adaalh dengan wawancara narasumber, penggunaan studi dokumen atau bahan

pustaka, serta media elektronik (internet).

Adapun metode analisis data yang dilakukan adalah metode kualitatif.

Metode kualitatif lebih menekankan kepada kebenaran berdasarkan

sumber-sumber hukum serta doktrin yang ada bukan dari segi kuantitas kesamaan data

yang diteliti.

Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan dengan melakukan

penelitian yang bersifat deskriptif analitis yaitu dengan memberikan penjelasan

mengenai proses penyidikan, penghentian penyidikan oleh penyidik, serta

(29)

berwenang mengeluarkan SP3. Kemudian dianalisis untuk menemukan

permasalahan hukumnya serta jawaban dari permasalahan tesebut.

G. Sistematika Penulisan

Secara garis besar, skripsi ini dibagi menjadi lima Bab dengan beberapa

sub-bab, dengan uraian singkat sistem penulisan sebagai berikut:

BAB 1 : PENDAHULUAN

Dalam bab pertama ini akan diuraikan mengenai latar

belakang permasalahan, pokok permasalahan, tujuan dan

manfaat penelitian, keaslian penelitian, tinjauan

kepustakaan, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB 2 : KEWENANGAN PENYIDIK MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGEHENTIAN PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI Dalam bab ini akan diuraikan secara teoritis mengenai

pengertian tindak pidana korupsi, peraturan

perundang-undangan mengenai korupsi setelah era reformasi yang

berlaku di Indonesia berdasarkan undang-Undang No.30

tahun 2002 tentang KPK, sejarah singkat, tugas dan

kewenangan KPK, khususnya dalam proses penyidikan,

proses pemeriksaan perkara dari mulai penyelidikan,

(30)

SP3 tersebut, serta instansi yang berwenang dan tidak

berwenang mengeluarkan SP3.

BAB 3 : LATAR BELAKANG TERHADAP PENETAPAN PASAL 40 UNDANG-UNDANG NO. 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI

Dalam bab ini Penulis akan menguraikan mengenai

Judicial Review terhadap Pasal 40 Undang-Undang Nomor

30 Tahun 2002 tentang KPK serta analisis hukumnya dan

latar belakang penetapan pasal 40 Undang-Undang No. 30

Tahun 2002 tentang KPK

BAB 4 : PENERAPAN PASAL 40 UNDANG-UNDANG NO.30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI

Bab ini membahas penerapannya dalam proses

penyelidikan tindak pidana korupsi, serta kaitannya dengan

asas praduga tak bersalah dalam hukum acara pidana di

Indonesia.

BAB 5 : PENUTUP

Bab ini adalah penutup dari penulisan penelitian yang

menguraikan secara singkat mengenai kesimpulan dari

keseluruhan penulisan serta saran yang Penulis anggap

(31)

pembacadalam memahami topik yang telah dibahas yaitu

mengenai Analisis Yuridis Terhadap Kewenangan Penyidik

Mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan

(SP3) pada perkara Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus

Judicial Review Pasal 40 Undang-Undang No. 30 tahun

(32)

BAB II

KEWENANGAN PENYIDIK MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGEHENTIAN PENYIDIKAN (SP3) PADA PERKARA TINDAK

PIDANA KORUPSI

A. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

Kamus besar bahasa Indonesia memuat pengertian korupsi sebagai

berikut: penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan, dan

sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.34 Menurut Andi Hamzah

arti kata harafiah dari kata korupsi adalah kebusukan, keburukan, kebejatan,

ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian,

kata-kata yang menghina atau memfitnah.35 Kata korupai berasal dari bahasa Latin

Corruptio yang kemudian muncul dalam Bahasa Inggris dan Prancis Corruption,

serta dalam bahasa Belanda Korruptie.36

Sedangkan Black’s Law Dictionary mendefinisikan korupsi sebagai

berikut :

”Corruption is an act done with an intent to give advantages inconsistent with official duty and the rights of others. The act of an official or fiduciary person who unlawfully and wrongfully uses his station or character to procure some benefit for himself or for another

person contrary to duty and the rights of others.37

Transparency International menyatakan :

34

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka,1989)

35

Andi Hamzah (a), Korupsi di Indonesia: Masalah dan Pemecahannya, Cet 3, (Jakarta : Gramedia,1991), hal 9.

36

(33)

”Corruption involves behavior on part of officials in the public sector wether politicians or civil servants, in which they improperly and unlawfully enrich themselves, or those close to them, by the missue of the public power entrusted them.”(korupsi mencakup perilaku dari

pejabat-pejabat di sektor publik, baik politikus ataupun pegawai negeri , dimana mereka secara tidak benar dan secara melanggar hukum memperkaya diri sendiri atau pihak lain yang dekat dengan mereka, dengan cara menyalahgunakan kewenangan publik yang dipercayakan kepada mereka.)

Pengertian tindak pidana korupsi juga telah dirumuskan oleh pemerintah

di dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi, secara keseluruhan dapat dilihat pada Bab II ( Tindak Pidana

Korupsi), salah satu yang Penulis kutip adalah pengertian korupsi pada Pasal 2

ayat (1) undang-undang ini yang menyatakan :

Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

B. Tindak Pidana Korupsi Sebagai Extraordinary Crime

Tindak pidana korupsi termasuk ke dalam tindak pidana khusus karena

bersumber pada peraturan perundang-undangan di luar KUHP.38 Di Indonesia

tindak pidana korupsi dipayungi oleh Undang-Undang no. 31 Tahun 1999 tentang

pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diubah dengan Undang-Undang No.

20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999. selain

tindak pidana khusus, tindak pidana korupsi juga digolongkan sebagai

Extraordinary Crime atau kejahatan luar biasa yang juga membutuhkan

38

(34)

penanganan luar biasa pula. Istilah extraordinary crime pada mulanya digunakan

sebagai istilah untuk menyebut kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan, seperti

terorisme, genosida dan pelanggaran berat terhadap Hak Asasi Manusia. 39

Dikatakan extraordinary atau luar biasa disebabkan karena hal-hal sebagai

berikut:

1. Bahwa tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan negara

atau perekonomian negara dan menghambat pembangunan

nasional dan akibat yang ditimbulkan tindak pidana korupsi

tersebut selain merugikan keuangan negara atau perekonomian

negara juga menghambat pertumbuhan dan kelangsungan

pembangunan nasional yang menuntut efisiensi tinggi.40

2. Tindak pidaan korupsi yang meluas dan sistematis juga

merupakan pelanggaran terhadap hak –hak ekonomi masyarakat,

maka tindak pidana korupsi tidak dapat lagi digolongkan sebagai

kejahatan biasa, tetapi dituntut cara-cara yang luar biasa.41

3. Karena korupsi di Indonesia sudah sedemikian parahnya,

akibatnya tidak hanya dari kerugian rakyat banyak, melainkan

merusak moral dan karakter bangsa serta sendi-sendi kehidupan

nasional, akibat lebih luasnya adalah memperlemah karakter

bangsa sehingga tidak bersikap disiplin, malas, tidak

39

www.majalahkonstan.com/index2.php?option=com_content, diakses pada Rabu, 1 September 2010, pukul 18:33:03 WIB.

40

Lihat bagian “menimbang” huruf a dan b, Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

41

(35)

bertanggung-jawab, tidak jujur, tidak proaktif , tidak percaya

diri, dan tidak memiliki semangat berjuang untuk mandiri,

sebaliknya mudah menyerah serta mencari jalan pintas.42

4. Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah begitu meluas dalam

masyarakat, perkembangannya terus meningkat dari tahun ke

tahun, baik jumlah kasus yang terjadi, kerugia keuangan negara

maupun kualitas tindak pidananya.43

5. Tindak pidana korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara,

hak sosial, ekonomi, pembangunan, akan tetapi merupakan salah

satu bentuk penghancuran secara sistematis dan

memporak-porandakan harkat dan martabata manusia dan lebih daripada itu

akibat daripaad korupsi yang telah terstruktur dan mumbudaya

maka tidak menutup kemungkinan akan mengancam keutuhan

NKRI (ada perlakuan yang tidak adil dan tidak

berprikemanusiaan, untuk itulah dibutuhkan penanganan yang

luar biasa agar diperoleh hasil yang luar biasa.44

6. Tindak Pidana Korupsi di Indonesia saat ini sudah pada titik

yang tidak dapat ditolerir, begitu mengakar, membudaya dan

sistematis. Kerugian negara atas menjamunya praktek korupsi

42

A.M. Fatwa, http://www.mpr.go.id/pimpinan2/?p=18, diakses pada Kamis, 2 September 2010 pukul 10:29:45 WIB.

43

Abdul Rahman Saleh, www.arsip.pontianakpost.com/berita/default.asp?Berita=Pinyuh&id, diakses Kamis, 2 September

2010, pukul 20:19:08 WIB. 44

Cornelius Tangkere www.legalitas.org/?./problematika-dan-urgensi-pengadilan-tindak-pidana-korupsi, diakses pada Kamis, 2 September 2010, pukul 16:22:15 WIB.

(36)

sudah tidak terhitung lagi. Tahun 1993, soemitro

Djojohadikusumo menyebutkan bahwa kebocoran dana

pembangunan antara lain tahun 1989-1993 sekitar 3% dan hasil

penelitian World Bank bahwa kebocoran dana pembangunan

mencapaiu 45% namun saat ini sepertinya jumlah tersebut sudah

meningkat drastis.45

Penggolongan tindak pidana korupsi sebagai extraordinary crime tidak

begitu saja disetujui oleh semua pihak, salah satu pihak yang tidak menyetujui

ialah Prof. Indriyanto Seno Adji. Menurut Beliau tindak pidana korupsi belum

dapat digolongkan seagai tindak pidana extraordinary crime melainkan hanyalah

sebagai extraordinary crime melainkan hanyalah Serious Crime.46 Karena yang

disebut sebagai Extraordinary Crime sifatnya sistemik secara keseluruhan,

merusak sistem ketatanegaraan dan sistem perpolitikan, akibatnya pun meluas,

sementara yang terjadi di Indonesia korupsinya belum melumpuhkan sistem

ketatanegaraan, artinya masih normal, pusat-pusat kekuasaan legislatif , eksekyif

dan yudikatif tidak lumpuh.47 Dalam hal ini Penulis tidak sependapat dengan

Prof. Indriyanto, menurut pendapat Penulis bahwa korupsi memang seharusnya

digolongkan sebagai salah satu extraordinary crime atau kejahatan yang luar biasa

sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa pula untuk memberantasnya

45

Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Naskah Akademis dan

Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi, ( Jakarta,

Juli 2001), hal 1. 46

Indriyanto Seno Haji http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=15775&cl=Berita, diakses pada Jumat, 3 September 2010, pukul 16:54:37 WIB.

(37)

karena tindak pidana korupsi telah merampas hak sosial, politik dan kemanusiaan

rakyat yang seharusnya memperoleh kesempatan untuk menikmati

pelayanan-pelayanan publik seandainya bagian-bagian tersebut tidak irampas oleh para

koruptor.

Masalah korupsi dapat dikatakan sebagai masalah utama di Indonesia,

karena hampir tidak ada sektor di masyarakaat yang bebas dari korupsi. Korupsi

tertanam secara mendalam dilapisan masyarakat dan berbagai institusi penegak

hukum seperti kepolisian dan kejaksaan, bahkan pengadilan. Khusus korupsi di

pengadilan, mantan Ketua Muda Mahkamah agung (MA) Asikin Kusumah

Atmadja menyatakan bahwa jumlah hakim korup di Indonesia mencapai sekitar

50%.48 Berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga-lembaga independen anti

korupsi, Indonesia masuk dalam jajaran salah satu negara terkorup di dunia.49

Tentunya masalah korupsi sudah ada sebelum rezim Soeharto berkuasa.

kemudian mengalami peningkatan yang cukup tinggi di masa

pemerintahan Beliau, Dengan runtuhnya kekuasaan Soeharto di tahun

1998. angka kelajuan korupsi sedikit menurun- walaupun ternyata belum

menghasilkan penurunan yang cukup signifikan

Tingginya tingkat korupsi tersebut mendapat sorotan dari

organisasi dan lembaga asing. Berdasarkan penelitian Transparency

International (TI) misalnya, selama 5 tahun berturut-turut (1995-2000),

Indonesia selalu menduduki posisi 10 besar negara paling korupsi di

48

Tim Gabungan Pembrantasan Tindakan Pidana Korupsi, Op. cit., hal 2. 49

Soren Davidsen, et, all, Menghentikan Korupsi di Indonesia 2004-2006, Sebuah Survey

Tentang Berbagai Kebijakan dan Pendekatan Pada tingkat Nasional, (Jakarta : USINDO, 2007),

(38)

dunia. Dan berdasarkan penelitian Political and Economic Risk

Consultancy (PERC) tahun 1997- Indonesia menempati posisi negara

terkorup di Asia. Pada tahun 2001 peringkat Indonesia turun menjadi

negara terkorup ke-2 di Asia setelah Vietnam.50

C. Peraturan Perundang-undangan tentang Korupsi Setelah Era Reformasi

Di era reformasi, pemerintahan yang berkuasa untuk melakukan

pemberantasan tindak pidana korupsi dengan berbagai upaya, diantaranya

menerbitkan berbagai peraturan perundang-undangan yang diharapkan

bisa berlaku secara efektif undang-undang tersebut di antaranya:

Nomor Peraturan Perundang- undangan

Penjelasan

1 TAP MPR No.XI/MPR/1998 Tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

2 Undang-Undang No. 28 Tahun 1999

Tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

3 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999

Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

4 Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 1999

Tentang Tata Cara Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggara Negara 5 Keputusan Presiden No. 127

Tahun 1999

Tentang Pembentukan Komisi

Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara dan

(39)

Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara

6 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2000

Tentang Pembentukan Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

7 Keputusan Presiden No. 44 Tahun 2000

Tentang Pembentukan Komisi Ombudsman Nasional

8 Undang-Undang No. 20 Tahun 2001

Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

9 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002

[image:39.595.113.511.112.368.2]

Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK)

Tabel 2.1 Peraturan Perundang-undangan Korupsi Setelah Era Reformasi

D. Kedudukan KPK Berdasarkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2002

1. Sejarah Singkat Berdirinya KPK

Sejak awal pemerintah orde baru, Presiden Soeharto sudah

membentuk beberapa komisi anti korupsi dalam usaha pemberantasan

korupsi, diantaranya pada tahun 1967 di bentuk Tim Pemberantasan

Korupsi yang berada di bawah Kejaksaan Agung dan pada tahun 1970,

pemerintah juga pernah membentuk komisi empat di mana komisi ini

(40)

Penebangan Hutan.51 Pada masa pemerintahan Ahdurahman Wahid

sebagai presiden juga pernah di bentuk Tim Gabungan Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK), di mana lembaga ini dibentuk sebagai

lembaga sementara sampai terbentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi.

Namun keberadaan lembaga-lembaga tersebut sepertinya belum juga dapat

memuaskan masyarakat dilihat dari kinerja dan hasil yang diberikan oleh

lembaga-lembaga tersebut.

Sesuai pernyataan pada bagian sebelumnya, dengan adanya

kenyataan sosiologis bahwa korupsi sebagai extraordinary crime sudah

sangat merajalela dan semakin rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat

terhadap penyelenggaraan kekuasaan kehakiman di Indonesia maka upaya

luar biasa (extraordinary efforts) yang dipilih Indonesia pada era reformasi

untuk berperang melawan fenomena korupsi adalah membentuk Komisi

Pemberantasan Korupsi dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi

berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ide awal pembentukan KPK

dimaksudkan untuk menjawab kelemahan-kelemahan pengadilan

konvensional dalam berbagai aspek, misalnya kelemahan kualitas dan

integritas sebagian hakim, ketiadaan akuntabilitas pengadilan yang

menyebabkan maraknya praktek mafia peradilan dengan melibatkan aparat

51

(41)

penegak hukum yang bersifat korup dalam setiap proses penanganan

perkara tindak pidana korupsi.52

Menurut kesimpulan hasil survey yang diadakan oleh Transparency

Internasional Indonesia (TIII), inisiatif/pemicu terjadinya penyimpangan

dalam suatu proses peradilan justru berasal dari pihak pengadilan itu

sendiri. Kondisi ini semakin memperburuk tingkat kepercayaan

masyarakat terhadap kinerja lembaga peradilan sehingga lembaga

peradilan dalam setiap tingkatannya selaku penyelenggara kekuasaan

yudikatif dianggap belum dapat berperan maksimal sebagai wadah

integrasi dan penyeimbangkepentingan negara, hukum, maupun masyarakat.

Pembentukan KPK merupakan pelaksanaan dari Pasa 43 Undang-

Undang No, 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

sebagaimana telah di ubah dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001

tentang Perubahan atas Undang – Undang No. 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi , di mana dinyatakan perlu dibentuk

Komisi Pemberantasan Tindak fidana Korupsi yang independen dengan tugas

dan wewenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi, meskipun

terjadi keterlambatan waktu pemhentukannya.53 Selain itu dibentuknya KPK

juga dilatarbelakangi alasan karena lembaga pemerintah yang menangani

perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara efisien dan efektif dalam

memberantas tindak pidana korupsi.

52

Mengadili eksistensi pengadilan tipikor” www.legalitas.org/?q=node/44, diakses pada Kamis, 9 September 2010, pukul 15:20:34 WIB

53

(42)

Jaksa dan kepolisian dianggap tidak efektif dalam menyelesaikan

berbagai perkara tindak pidana korupsi, demikian juga dengan lembaga-lembaga

yang pernah dibentuk sebelumnya. Banyaknya kasus korupsi yang melibatkan

aparat penegak hukum menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat

penegak hukum menjadi rendah. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya

anggapan bagaimana mungkin memberantas korupsi bila aparat penegak hukum

yang seharusnya memberantas korupsi justru terlibat korupsi pula (bagaimana

kita dapat membersihkan lantai yang kotor dengan sapu yang, kotor). Karena

itulah KPK, sebagai lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan

wewenangnva bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun,

memiliki kewenangan yang luar biasa, berdasarkan pada klasifikasi tindak

pidana korupsi sebagai kejahatan luar biasa. Kewenangan-kewenangan yang di

miliki oleh KPK akan di bahas lebih lanjut pada bagian berikutnya dalam skripsi

ini.

2. Tugas Dan Wewenang KPK

Sebagai lembaga yang berfungsi sebagai pemicu dan pemberdayaan

institusi yang telah ada dalam pemberantasan korupsi (trigger mechanism)

KPK memiliki tugas dan wewenang yang cukup berbeda, diantaranya

melakukan kordinasi dan supervisi, termasuk melakukan penyelidikan,

penyidikan dan penuntutan dalam kasus korupsi. Hal ini berbeda dengan

kewenangan yang dimiliki oleh komisi-komisi anti korupsi yang pernah di

(43)

bertanggung jawab hanya kepada publik atau kepada masyarakat, KPK

hanya memberi laporan secara berkala saja kepada presiden, Dewan

Perwakilan Rakyat (DPR) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)54

Kedudukan KPK yang independen dalam hal ini merupakan

jawaban dari persoalan penegakan hukum kasus korupsi di Indonesia.

Pada kebanyakan kasus korupsi melibatkan pejabat tinggi, elit politik, elit

ekonomi atau pengusaha- pengusaha besar. Kondisi ini menyebabkan

kejaksaan atau kepolisian seringkali tidak dapat leluasa untuk menegakkan

hukum karena terbentur dengan campur tangan (intervensi) pihak lain.

Selain itu perkara tindak pidana korupsi yang ditangani KPK akan diadili

oleh pengadilan khusus anti korupsi55, yang berbeda dengan pengadilan

konvensional. Perbedaan ini terlihat dari jumlah hakimnya, pengadilan

korupsi dipimpin oleh lima (S) majelis hakim.

Berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang

KPK, KPK mempunyai tugas melakukan:56

1. Kordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan

pemberantasan tindak pidana korupsi

2. Supervisi terhadap, instansi yang berwenang melakukan

pemberantasan tindak pidana korupsi

3. Melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan terhadap tindak pidana

korupsi 57

54

Indonesia (c) , Op. cit pasal 20 ayat (1) 55

Ibid pasal 53. 56

(44)

4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan korupsi

5. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan negara

Dalam melakukan tugas koordinasi KPK berwenang: 58

1. Mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak

pidana korupsi

2. Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak

pidana korupsi

3. Meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana

korupsi kepada instansi yang terkait

4. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang

berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi

5. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana

korupsi

Dalam melaksanakan tugas supervisinya, KPK berwewenang:59

1. Melakukan pengawasan, penelitian atau penelaahan terhadap instansi

yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan

57

Mengenai kewenang penyidikan oleh KPK akan Penulis uraikan lebih lanjut pada bagian selanjutnya.

58

Ibid., pasal 7. 59

(45)

pemberantasan tindak pidana korupsi, dan instansi yang dalam

melaksanakan pelayanan publik.

2. Mengambil ahli penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku tindak

pidana korupsi yang sedang dilakukan oleh kepolisian atau ke jaksaan

Dalam melaksanakan tugas pencegahan, KPK berwenanguntuk:60

1. Melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta

kekayaan

2. Menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi

3. Menyelenggarakan program pendidikan anti korupsi pada setiap jenjang

pendidikan

4. Merancang dan mendorong terlaksananya program sosialisasi

pemberantasan tindak pidana korupsi

5. Melakukan kampanye anti korupsi kepada masyarakat umum

6. Melakukan kerja sama bilateral atau multilateral dalam pemberantasan

tindak pidana korupsi.

Sedangkan melaksanakan tugas monitor KPK berwenang untuk :61

1. Melakukan pengkajian terhadap sistem pengolahan administrasi di

semua lembaga negara dan pemerintah

2. Memberi saran kepada pimpinan lembaga negara dan pemerintah untuk

melakukan perubahan jika berdasarkan hasil pengkajian, sistem

pengolahan administrasi tersebut berpotensi korup

60

Ibid, pasal 13. 61

(46)

3. Melaporkan kepada presiden RI, DPRdan BPK, jika saran KPK

mengenai usulan perubahan tersebut tidak diindahkan

Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, KPK berlandaskan pada lima (5)

asas sebagai berikut:62

1. Asas kepastian hukum, yaitu asas dalam negara hukum yang

mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan

keadiian dalam setiap kebijakan menjalankan tugas dan wewenang KPK.

2. Asas keterbukaan, yaitu asas yang membuka diri terhadap hak

masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak

diskriminatif tentang kinerja KPK dalam menjalankan tugas dan

fungsinya.

3. Asas akuntabilitas yaitu asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan

dan hasil akhir kegiatan KPK harus dapat dipertangung jawabkan kepada

masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara

sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Asas kepentingan umum , yaitu asas yang mendahulukan kesejahteraan

umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif dan selektif .

5. Asas proporsionalitas yaitu asas yang mengutamakan keseimbangan

antara tugas, wewenang, tanggung jawab dan kewajiban KPK

(47)

3. Kewenangan KPK Dalam Proses Penyidikan Tindak Pidana Korupsi

Kriteria tindak pidana korupsi di mana KPK berwenang melakukan

penyelidikan, penyidikan dan penuntutan adalah tindak pidana korupsi yang:63

1. Melibatkan aparat penegak hukum penyelenggara negara, dan orang

lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan

oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara

2. Mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat

3. Menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (Satu

milyar rupiah)

Jika ternyata dalam perjalanan terdapat kasus korupsi yang tidak memenuhi

kriteria tersebut, maka penanganan kasus tersebut bukanlah oleh KPK

melainkan oleh institusi penegak hukum lainnya yang berwenang untuk itu,

seperti kepolisian dan kejaksaan.

Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan.

KPK berwenang;64

1. Melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan

2. Memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk bepergian ke luar

negeri

63

Ibid, pasal 11 64

(48)

3. Meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya

tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang

diperiksa

4. Memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk

memblokir rekening yang diduga hasil dari korupsi milik tersangka

terdakwa atau pihak lain yanjg terklait

5. Memerintahkan kepada pimpinan atau atasan tersangka untuk

memberhentikan sementara tersangka dari jabatannya

6. Meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa

kepada instansi yang terkait

7. Menghentikan sementara suatu transaksi keuangan ,transaksi

perdagangan dan perjanjian lainya atau pencabutan sementara perizinan,

lisensi serta konsesi yang di lakukan atau dimiliki oleh tersangka atau

terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal yang cukup ada hubungan

dengan tindak pidana korupsi yang sedang di periksa

8. Meminta bantuan lnterpol Indonesia atau instansi penegak hukum

negara lain untuk melakukan pencarian, penangkapan, dan

penyitaan barang bukti di luar negeri

9. Meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk

melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan. dan penyitaan

dalam perkara tindak pidana korupsi yang sedang ditangani.

Dari uraian kewenangan di atas, terlihat bahwa undang-undang,

Gambar

Tabel 2.1 Peraturan Perundang-undangan Korupsi Setelah Era Reformasi
Tabel3.1 Perkara Dugaan Korupsi Yang Diberikan Sp3 Oleh Kejaksaan115

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu terdapat dua masalah yaitu: (1) Bagaimana kewenangan penyidikan perkara tindak pidana korupsi yang dilakukan Polri dikaitkan dengan Undang-Undang

Tindakan penyidik menghentikan penyidikan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana karena untuk membuat suatu terang peristiwa yang diduga dan menentukan

Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh penulis terhadap penerbitan SP3 perkara korupsi Syamsul Nursalim dan mantan Presiden Suharto pada tahun 1999 ditinjau dari

Dalam Pasal 74 yang berbunyi, “Yang dimaksud dengan penyidik tindak pidana asal adalah pejabat instansi yang oleh Undang-Undang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan

Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan ‘ kekuasaan manapun ” adalah kekuatan yang dapat mempengaruhi tugas dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi atau anggota

Perlu adanya penyederhanaan undang-undang yang berhubungan dengan kewenangan penyidik KPK dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi sehingga terjadi keterpaduan dalam penegakan hukum,

Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan ‘kekuasaan manapun” adalah kekuatan yang dapat mempengaruhi tugas dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi atau anggota Komisi secara

Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Dalam Melakukan Penyidikan Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Bersumber Dari Tindak Pidana