KEBIJAKAN PRIVATISASI BUMN DI INDONESIA
Dra. Berlianti, M.Sp
NIP. 19670604 200910 2 001
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA PENGANTAR
Pengelolaan perusahaan (coorporate governance) pada Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) harus menjadi persoalan utama untuk dikaji. Sebab pengelolaan
perusahaan harus baik agar BUMN dapat menjadi lebih efisien.
Salah satu cara untuk membuat BUMN menjadi efisien adalah melakukan
privatisasi secara sempurna. Dengan privatisasi tersebut diharapkan dapat menciptakan
kesejahteraan dalam negeri (domestic welfare).
Dengan demikian perlu pula dikaji kebijakan privatisasi BUMN yang merupakan
dasar dilakukannya privatisasi agar dapat menjamin dalam merumuskan proses
privatisasi, dalam penjualan perusahaan BUMN kepada para karyawan dan potongan
harga.
Tulisan ilmiah tentang kebijakan privatisasi BUMN ini diharapkan dapat
memberikan pemahaman bagaimana proses melakukan privatisasi BUMN di Indonesia.
Medan, 08 Nopember 2011
Penulis,
Dra. Berlianti, M.Sp
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ……… i
DAFTAR ISI ……… ii
I. Pendahuluan ………..………... 1
II. Sistem Pengelolaan Perusahaan Menurut UU BUMN ………. 4
III. Kebijakan Privatisasi BUMN ………. 6
IV. Penutup ………. 19
TINJAUAN KEBIJAKAN PRIVATISASI BUMN
I. Pendahuluan
Istilah kebijakan dalam kehidupan sehari-hari sering digunakan untuk suatu
kegiatan yang mempunyai maksud yang berbeda. Penjelasan maksud kebijakan publik
mempunyai penekanan yang berbeda-beda , suatu definisi yang menekankan tidak
hanya apa yang diusulkan pemerintah, tetapi juga mencakup pula arah tindakan atau
apa yang dilakukan oleh pemerintah1 Dalam formulasi kebijakan , para pejabat
merumuskan alternatif kebijakan untuk mengatasi masalah. Alternatif kebijakan melihat
perlunya membuat perintah salah satunya adalah perintah eksekutif. 2Kebijakan publik
yang merupakan arah tidakan yang dilakukan oleh pemerintah dan mempunyai
pengaruh terhadap kepentingan masyarakat secara luas, seperti halnya dengan
kebijakan privatisasi BUMN.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu pelaku kegiatan
ekonomi dalam perekonomian nasional. Setidaknya terdapat lima tujuan pendirian
BUMN tersebut. Pertama, memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian
nasional dan penerimaan negara. Kedua, mengejar keuntungan. Ketiga,
menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang
bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Keempat,
menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor
swasta dan koperasi. Kelima, turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada
pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat.3 Oleh karena itu
1
Budi Winarno, “Teori dan Proses Kebijakan Publik,” Media Presindo, Jakarta, 2002. hal.30. 2
William N. Dunn, Pengatar Analisis Kebijakan Publik, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2003, hal. 24.
3
keberadaan BUMN sebagai salah satu kekuatan ekonomi nasional tersebut perlu
ditingkatkan produktivitas dan efisiennya.
Untuk dapat mengoptimalkan peranannya dan mampu mempertahankan
keberadaannya, termasuk dalam perkembangan ekonomi dunia yang semakin terbuka
dan kompetitif sekarang ini, maka BUMN itu perlu menumbuhkan budaya korporasi
dan profesionalisme, seperti harus melakukan pembenahan pengurusannya dan
pengawasannya.
Dalam konteks itu pula pengurusan dan pengawasan BUMN harus dilakukan
berdasarkan prinsip-prinsip tata-kelola perusahaan yang baik (good corporate
governance), dimana peningkatan efisiensi dan produktivitas BUMN mutlak dilakukan
melalui langkah-langkah restrukturisasi dan privatisasi. Restukturisasi sektoral
dilakukan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga tercapai efisiensi dan
pelayanan yang optimal. Sedangkan restrukturisasi perusahaan meliputi penataan
kembali bentuk badan usaha, kegiatan usaha, organisasi, manajemen dan keuangan.
Namun di sini perlu penekanan bahwa privatisasi bukan semata-mata bermakna
sebagai penjualan perusahaan, melainkan menjadi alat dan cara pembenahan BUMN
untuk mencapai beberapa sasaran sekaligus, termasuk di dalamnya peningkatan kinerja
dan nilai tambah perusahaan, perbaikan struktur keuangan dan manajemen, penciptaan
struktur industri yang sehat dan kompetitif, pemberdayaan BUMN yang mampu
bersaing dan berorientasi global, penyebaran kepemilikan oleh publik serta
pengembangan pasar modal domestik.
Perlu juga diingat bahwa dengan dilakukannya Privatisasi BUMN bukan berarti
kendali atau kedaulatan negara atas BUMN yang bersangkutan menjadi berkurang atau
hilang, karena negara tetap menjalankan fungsi penguasaan melalui regulasi sektoral
tempat BUMN yang diprivatisasi melaksanakan kegiatan usahanya.
Jika diperhatikan awal pemikiran pentingnya penataan yang berkelanjutan atas
pelaksanaan peran BUMN dalam sistem perekonomian nasional, terutama upaya
peningkatan kinerja dan nilai (value) perusahaan telah sejak dahulu diamanatkan oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) melalui ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999
tentang Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999-2004. Ketetapan MPR tersebut
menetapkan bahwa BUMN, terutama yang usahanya berkaitan dengan kepentingan
umum, perlu terus ditata dan disehatkan melalui restrukturisasi, dan bagi BUMN yang
usahanya tidak berkaitan dengan kepentingan umum dan berada dalam sektor yang telah
kompetitif didorong untuk privatisasi.
Kebijakan untuk melaksanakan privatisasi itu telah ditentukan dalam
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan
Pemerintahan Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan
Perseroan (Persero). Kebijakan tersebut ditetapkan untuk dapat lebih memberikan
pedoman bagi pelaksanaan program Privatisasi perusahaan perseroan (Persero).
Dengan demikian jika pembicaraan kegiatan privatisasi itu dikaitkan dengan
kebiijakan publik, maka kebijakan publik sebagai suatu manajemen pencapaian tujuan
nasional harus dikaji secara kritis, mengingat privatisasi itu mengalihkan kepemilikan
negara dalam BUMN.
II. Sistem Pengelolaan Perusahaan Menurut UU BUMN
Untuk mengatasi lemahnya pengelolaan BUMN, pemerintah telah mengeluarkan
dengan UU BUMN) yang mencoba untuk mengadopsi beberapa prinsip good corporate
governance. Hal ini dinyatakan jelas pada Pasal 36 ayat (1) UU BUMN yang
menyatakan bahwa perum dalam menyelenggarakan usahanya harus berdasarkan pada
prinsip pengelolaan prusahaan yang sehat. Ketentuan ini juga diatur dalam Pasal 5 ayat
(3) jo. Pasal 6 ayat (3) UU BUMN yang mewajibkan direksi, komisaris dan dewan
pengawas dalam melaksanakan tugasnya harus melaksanakan prinsip-prinsip
profesionalisme, efisiensi, transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggung
jawaban serta kewajaran.
Salah satu prinsip profesionalisme dan transparansi tersebut kemudian tertuang
dalam Pasal 16 ayat (3) jo. Pasal 19 ayat (4) UU BUMN yang menyatakan bahwa setiap
anggota direksi yang telah lulus uji kelayakan wajib menandatangani kontrak
manajemen sebelum ditetapkan menjadi anggota direksi. Sedangkan independensi dan
kemandirian dari direksi, komisaris dan dewan pengawas diatur dalam Pasal 25, Pasal
33 dan Pasal 53 UU BUMN yang melarang mereka untuk memegang jabatan rangkap.
Pasal 21 – 23 jo. Pasal 49-51, Pasal 32, Pasal 54, Pasal 61 lebih lanjut mengatur
mengenai pertanggung jawaban Direksi, Komisaris dan Dewan Pengawas. Sementara
itu untuk menjamin akuntabilitas, UU BUMN mewajibkan pembentukan Komite Audit
dan Komite Lainnya (Pasal 70) serta mewajibkan adanya auditor eksternal untuk
memeriksa Laporan Keuangan (Pasal 71). Disamping itu UU BUMN juga telah
menjamin dan mengatur adanya social responsibility dari BUMN. Hal ini tertuang
dalam Pasal 87 ayat (2) yang mengijinkan pembentukan serikat kerja sebagai wadah
penyaluran aspirasi dari karyawan agar hak-haknya dapat terpenuhi. Pasal 88 ayat (1)
untuk keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar
BUMN. Sedangkan Pasal 90 mengatur mengenai donasi untuk amal dan tujuan sosial.
Terlihat bahwa secara umum UU BUMN memang telah mengadopsi beberapa
ketentuan dan prinsip pengelolaan perusahaan yang baik. Namun, perlu kita cermati
bahwa ketentuan diatas hanyalah bersifat umum dan perlu penafsiran serta
pengimplementasian lebih lanjut agar dapat berfungsi dengan baik di tingkat lapangan.
Hal ini juga penting untuk menjaga penyalahgunaan BUMN dan untuk mengukur
kinerja direksi BUMN itu sendiri.Setidak-tidaknya ada beberapa ketentuan dan prinsip
yang harus kita telaah lebih lanjut, seperti prinsip fiduaciary duty direktur dan
komisaris, kontrak manajemen, direktur independen, komisaris independen, hubungan
industrial antara BUMN dan karyawan, dan berbagai hal yang harus diperhatikan dalam
privatisasi.4
Komite Audit
UU BUMN mengatur ketentuan mengenai komite audit, hal ini dapat dilihat
dalam Pasal 70 ayat (1) dan ayat (2). Komite audit dibentuk dengan maksud untuk
mewujudkan pengawasan yang efektif dalam pelaksanaan tugasnya, Komisaris dan
Dewan Pengawas perlu dibantu oleh komite audit yang bertugas menilai pelaksanaan
kegiatan hasil audit yang dilakukan oleh satuan pengawasan intern maupun auditor
eksternal, memberikan rekomendasi mengenai penyempurnaan sistem pengendalian
manajemen serta pelaksananya, memastikan telah terdapat prosedur review yang
memuaskan terhadapsegala informasi yang dikeluarkan BUMN,mengidentifikasi hal-hal
yang memerlukan perhatian Komisaris dan Dewan Pengawas serta tugas-tugas
pengawas lainnya. Komite audit tersebut beranggotakan Komisaris Independen, yang
diangkat oleh Komisaris.
4
III. Kebijakan Privatisasi BUMN
Sebelum keluarnya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan
Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara
Privatisasi Perusahaan Perseroan (persero), pemerintah telah melakukan privatisasi
berbagai BUMN. Akibatnya pelaksanaan privatisasi saat itu tidak didasarkan oleh
kebijakan publik (public policy) sebagaimana telah diatur oleh Undang-Undang dan
Peraturan Pemerintah privatisasi tersebut. Sedangkan dalam rangka privatisasi itu
kebijakan publik sangat dibutuhkan, mengingat sebagaimana diuraikan Harold Laswel
mendefinisikan kebijakan publik sebagai “suatu program yang diproyeksikan dengan
tujuan-tujuan tertentu nilai-nilai tertentu, dan praktek-praktek tertentu.”5 Dengan ini
privatisasi BUMN itu harus memperhatikan tiga hal. Pertama, perumusan kebijakan.
Kedua, implementasi kebijakan. Ketiga, evaluasi kebijakan.6
Sejalan dengan itu ketentuan yang mengatur tata cara privatisasi terdapat pada
Pasal 5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 Tahun 2005 Tentang Tata cara Privatisasi
Perusahaan Perseroan (PERSERO), telah menentukan bahwa Privatisasi harus
dilakukan dengan cara :
1. Penjualan saham berdasarkan ketentuan pasar modal.
2. Penjualan saham secara langsung kepada investor.
3. Penjualan saham kepada manjemen dan/atau karyawan persero yang
bersangkutan.
Adapun Persero yang dapat diprivatisasi sekurang-kurangnya memenuhi kriteria,
yaitu industri/sektor usahanya kompetitif atau industri/sektor unsur teknologinya cepat
berubah. Sedangkan Persero yang tidak dapat diprivatisasi adalah persero yang bidang
5
Harold Laswel dalam Riant Nugroho D, Kebijakan Publik Formulasi, Implementasi, dan
Evaluasi, (Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komptindo Kelompok Gramedia, 2003), hal. 4.
usahanya berdasarkan peraturan perundang-undangan hanya boleh dikelola oleh
BUMN, perseroan yang bergerak di sektor usaha yang berkaitan dengan pertahanan dan
keamanan negara, persero yang bergerak disektor tertentu yang oleh pemerintah
diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat, dan persero yang bergerak di bidang usaha sumber daya alam
yang secara tegas berdasarkan peraturan perundang-undangan dilarang untuk
diprivatisasi.
Peraturan pemerintah ini hanya mengatur tentang privatisasi persero, sepanjang
dimungkinkan berdasarkan peraturan perundang-undangan di sektor tempat persero
yang bersangkutan melakukan kegiatan usahanya. Sedangkan Perusahaan Umum
(PERUM), menurut Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha
Milik Negara tidak dimungkinkan untuk di privatisasi. Persero dapat di privatisasi
karena selain di mungkinkan oleh ketentuan di bidang Pasar Modal juga karena pada
umumnya hanya persero yang telah bergerak dalam sektor-sektor yang kompetitif.
Pelaksanaan Privatisasi senantiasa memperhatikan manfaat bagi rakyat.
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara,
Peraturan Pemerintah ini juga menetapkan kreteria persero apa saja yang dapat di
privatisasi dan persero apa saja yang tidak dapat diprivatisasi. Selain itu, diatur pula
mengenai cara Privatisasi dan prosedur privatisasi. Dalam rangkain kegiatan
pelaksanaan privatisasi, Menteri menetap program tahunan Privatisasi yang memuat
hasil seleksi dan penetapan Persero yang akan diprivatisasi, metode Privatisasi yang
akan digunakan dan jenis serta rentangan jumlah saham yang akan dijual. Menteri juga
menetapkan lembaga dan/atau profesi penunjang lainnya untuk membantu pelaksanaan
dimaksud dituntut pula keterlibatan aktif manajemen Persero yang terwakili dalam
keanggotaan tim Privatisasi.
Dengan demikian Peraturan Pemerintah tentang privatisasi BUMN itu
menentukan kreteria persero yang dapat diprivatisasi, seperti ketentuan. Pasal 7
Peraturan Pemerintah Privatisasi yang menentukan bahwa persero yang dapat di
privatisasi harus sekurang-kurangnya memenuhi kreteria:
1. Industri/sektor usahanya kompetitif; atau
2. Industri /sektor usahanya terkait dengan teknologi yang cepat berubah.
Sebaliknya dalam ketentuan dalam Pasal 9 Peraturan Pemerintah tersebut
ditentukan bahwa Persero yang tidak dapat di privatisasi, antara lain :
1. Persero yang bidang usahanya berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan hanya boleh dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara;
2. Persero yang bergerak di sektor usaha yang berkaitan dengan pertahanan dan
keamanan negara;
3. Persero yang bergerak di sektor tertentu yang oleh Pemerintah diberikan tugas
khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat.
4. Persero yang bergerak di bidang usaha sumber daya alam yang secara tegas
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dilarang untuk
diprivatisasi.
Adapun prosedur privatisasi Persero dalam Peraturan Pemerintah ini diatur Pada
BAB IV. Yang menjadi bagian dari prosedur privatisasi Persero tersebut adalah
dibentuknya komite privatisasi. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 10 ayat (1)
Privatisasi sehubungan dengan kebijakan lintas sektoral, pemerintah membentuk sebuak
Komite Privatisasi sebagai wadah koordinasi. Kemudian ayat (2) menyebutkan bahwa
Komite Privatisasi di pimpin oleh Menteri Koordinator yang membidangi perekonomian
dengan anggota-anggotanya yaitu Menteri, Menteri Keuangan, dan Menteri Teknis
tempat Persero melakukann kegiatan usaha. Ketentuan dalam ayat (3) menyebutkan
bahwa Keanggotaan Komite Privatisasi tersebut ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
Setelah terbentuknya Komite Privatisasi dimana keanggotaannya telah di
tetapkan dengan Keputusan Presiden maka komite tersebut bertugas sesuai apa yang
diamanatkan dalam Pasal 11, bahwa Komite Privatisasi bertugas untuk :
1. Merumuskan dan menetapkan kebijakan umumdan persyaratan umum dan
persyaratan pelaksanaan privatisai;
2. Menetapkan langkah-lang yang diperlukan untuk memperlancar proses
privatisasi persero;
3. Membahas dan memberikan jalan keluar atas permasalahan strategis yang
timbul dalam proses privatisasi persero termasuk yang berhubungan dengan
kebijakan sektoral pemerintah.
Pelaksanaan Privatisasi melibatkan lembaga dan/atau profesi penunjang serta
profesi lainnya sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan yang berlaku, hal ini sesuai
dengan ketentuan dalam Pasal 13.
Adapun pembiayaan pelaksanaan privatisasi diatur dalam Pasal 18, dalam ayat
(1) Peraturan Pemerintah itu disebutkan bahwa Biaya pelaksanaan Privatisasi
dibebankan pada hasil Privatisasi. Ayat (2) menyebutkan bahwa biaya pelaksana
Privatisasi di pergunakan untuk :
2. Biaya operasional privatisasi.
Apabila privatisasi tidak dapat dilaksanakan atau ditunda pelaksanaannya, maka
pembebanan atas biaya yang telah dikeluarkan ditetapkan oleh RUPS. Ketentuan
tersebut diatur dalam ayat (3) Pasal 18.
Ketentuan dalam Pasal 20 Peraturan Pemerintah tersebut menyebutkan bahwa :
1. Hasil Privatisasi saham milik negara pada persero disetorkan langsung ke Kas
Negara
2. Hasil Privatisasi saham dalam simpanan disetorkan langsung ke Kas Persero
yang bersangkutan.
3. Privatisasi anak perusahaan Persero sebagaiman di maksud Pasal 8 dapat
ditetapkan sebagai deviden interim Persero yang bersangkutan.
Ketentuan atas Pengadministrasian dan pelaksanaan penyetoran hasil privatisasi
diatur dalam Pasal 22 Peraturan Pemerintah ini, dimana ditentukan bahwa :
1. Penjamin pelaksanaan emisi atau penasehat keuangan membuka rekening
penampungan (escrow account) untuk menampung hasil privatisasi.
2. setelah dikurangi biaya-biaya pelaksanaan privatisasi , penjamin pelaksanaan
emisi atau penasehat keuangan wajib segera menyetorkan hasil bersih
privatisasi ke Kas Negara dan/atau Kas Persero yang bersangkutan
3. Penjamin pelaksana emisi atau penasehat keuangan wajib segera melaporkan
penyetorab privatisasi sebagaimana dimaksud dalam point 2 kepada menteri,
Menteri Keuangan dan Direksi Persro yang bersangkutan.
Bahwa pengasilan lain yang diperoleh dari rekening penampungan hasil
privatisasi diperhitungkan sebagai hasil privatisasi, dan verifikasi atas biaya dan hasil
Pentingnya Kebijakan Privatisasi BUMN
Dengan disahkannya PP No. 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi
Perusahaan Perseroan (PP Privatisasi) maka pengaturan privatisasi di Indonesia kini
sudah mempunyai dasar hukum yang jelas. Namun demikian perlu kiranya kita telah
lebih lanjut agar pelaksanaan privatisasi dapat berjalan lancar di tingkat pelaksanaannya.
Secara teoritis terdapat dua pertanyaan mendasar berkenaan dengan masalah
kepemilikan perusahaan. Pertama, bentuk kepemilikan yang bagaimana yang secara
efektif dapat meningkatkan kesejahteraan sosial (social welfare) dan efisiensi. Kedua,
mengapa pemerintah berkenan melepaskan kepemilikannya, padahal dengan
mempertahankan kepemilikannya pada perusahaan mereka akan mendapatkan
dukungan politik.7
Berdasarkan riset secara empiris8 dapat digambarkan bahwa perusahaan swasta
seringkali beroperasi lebih efisien dibandingkan dengan perusahaan negara. Pengalaman
dibanyak negara terbukti bahwa kepemilikan swasta merupakan pilihan terbaik. Di
sektor perbankan kepemilikan pemerintah menunjukkan kaitan yang erat dengan
lambannya perkembangan sektor keuangan serta pertumbuhan produktivitas yang
rendah.9
7
George R.G. Clarke dan Robert Cull, Political and Economics Determinants of The Likelihood of Privatizing Argentina Public Bank, Jurnal of Law and economics, (Vol. XLV, April 2002), The University of Chicago, hal. 166
8
Data empiris tersebut diuraikan oleh Clarke dan Cull yang mengaitkannya dengan data “Lending to the Public Sector and Change in Employment (Third Quarter, 1998)”, “Independent
Variables Included in the Estimation”, “Correlations Between Independent Variables”, “Result from Discrete Hazard Model Estimation of Time to Pass Law Authorizing Privatization, Probit Model”, “Result from Discrete Hazard Model Estimation of Time to Pass Law Authorizing Privatization with Endogenous Fiscal Variables, All Banks”, “Elasticities of Probability of Privatization with Respect to Continuous Variables”, “ Results from Cross-Sectional Tobit Estimation of Time to Pass Law Authorizing Privatization, Tobit Model”, dan “Results from Two-Period Probit and Ordinary Least Squares (OLS) Analysis.” George R.G. Clarke dan Robert Cull, Op.Cit., hal. 173-193
9
Studi yang dilakukan George Clarke dan Robert Cull memberikan pemahaman
bahwa setelah privatisasi itu tergambar pula terjadinya peningkatan dalam portfolio
pinjaman dan peningkatan efisiensi. Kenyataan yang sama juga terjadi pada privatisasi
di negara berkembang, meski tidak di seluruh negara berkembang.
Pertanyaan kedua yang paling sulit dijawab, oleh karena sangat sedikit data
empiris yang dapat digunakan untuk menjawabnya.10 Jawaban praktis yang dapat
diajukan adalah pemerintah akan menjual kepemilikannya pada suatu perusahaan
apabila biaya politik dengan tetap memelihara kepemilikan tersebut lebih besar
dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemilikan swasta lebih
mendorong terjadinya efisiensi. Untuk itu perlu diambil langkah-langkah kebijakan agar
terjadi proses privatisasi. Secara konsep privatisasi dapat terjadi atas kemauan politik
(paksaan) maupun secara sukarela. Untuk mendorong terjadinya privatisasi secara
sukarela dibutuhkan adanya serangkaian regulasi yang dapat meningkatkan biaya politik
memiliki perusahaan.
Privatisasi di Indonesia haruslah diartikan sebagai upaya untuk menghilangkan
konsentrasi kepemilikan. Baik konsentrasi kepemilikan oleh pemerintah maupun
konsentrasi kepemilikan oleh swasta.11
Di sektor perbankan alasannya adalah untuk memperkuat sistem perbankan
dengan cara membuat ketentuan pembatasan kepemilikan bank. Hal ini perlu mengingat
perbankan di Indonesia pernah mengalami kehancuran disebabkan ketidakpercayaan
masyarakat, dimana ketidakpercayaan itu telah pula membuat kegagalan pasar. Oleh
karena industri perbankan pernah dijadikan sebagai bahan eksploitasi pemiliknya.
10
Ibid, hal. 167 11
Pada masa lalu perubahan regulasi atas sistem dan struktur perbankan atas
dorongan liberalisasi perbankan telah memfasilitasi pertumbuhan perbankan yang cepat,
sehingga memberi peluang untuk masuknya individu yang tidak bermutu ke dalam
bisnis perbankan.
Sistem dan struktur perbankan yang demikian itu mengakibatkan dimungkinkan
terjadinya kepemilikan silang (interlocking ownership) dan lending pattern serta
dimilikinya satu bank secara mayoritas.12 Pemilikan demikian sangat rawan terhadap
kegagalan pasar disebabkan moral hazard, adverse selection dan harga oligopolistic.
Sebab kondisi pemilikan mayoritas itu memudahkan pengambilan risiko berlebihan
pada perbankan.
Konsentrasi kepemilikan dimungkinkan pula timbulnya campur tangan pemilik
secara berlebihan dalam kepengurusan bank. Hal ini antara lain menyebabkan fungsi
pengawasan internal sebagai first line of defense menjadi kurang berfungsi. Sebab pada
umumnya pemilik itu sekaligus menjadi komisaris. Akibatnya komisaris sebagai
pengawas bisa tidak efektif. Padahal komisaris memiliki peran strategis dalam
pengawasan jalannya bank tersebut.
Kondisi konsentrasi kepemilikan itu dapat pula menimbulkan terjadinya
cross-ownership atau cross-management yang bisa menimbulkan benturan kepentingan,
dimana benturan kepentingan terjadi sebagai akibat adanya ownership atau
cross-management antara bank dengan usaha lain baik di sektor finansial maupun sektor riil.
Selanjutnya, keadaan tersebut membuka kemungkinan terjadinya penyalahgunaan bank
untuk mendukung kepentingan usaha pribadi pemilik.
12
Setidak-tidaknya terdapat tiga kelompok permasalahan yang berkenaan dengan
privatisasi.
Pertama, masalah politik, dimana suksesnya pelaksanaan privatisasi sangat
bergantung kepada kualitas politik pengambilan keputusan. Pembentukan opini publik
vis a vis terhadap privatisasi merupakan masalah besar. Sangat sulit untuk menjelaskan
pada masyarakat awam tentang keuntungan yang diperoleh dari kepemilikan swasta.
Hal yang penting dilakukan adalah bagaimana meyakinkan mereka bahwa tindakan itu
adalah tepat untuk dilakukan. Perencanaan, persyaratan dan keterbukaan diperlukan
untuk membentuk kembali sikap masyarakat berkenaan dengan masalah kepemilikan
sehingga tetap aman. Sikap negatif sering terjadi berkenaan dengan pemasukan modal
asing dan pendirian joint venture.
Kedua, masalah hukum dan ekonomi yang berada dibawah kekuasaan negara.
Kredit dan sistem perbankan menimbulkan permasalahan terhadap proses privatisasi.
Mekanisme ekonomi pasar, merupakan hal yang menentukan suksesnya kebijakan
privatisasi. Hukum harus merupakan dasar dilakukannya privatisasi agar dapat
menjamin dalam merumuskan proses privatisasi, dan penjualan saham perusahaan
kepada para karyawannya dengan potongan harga (discount). Pemilihan perusahaan
untuk diprivatisasi merupakan masalah lain yang lebih sulit. Secara umum privatisasi
sebaiknya dilakukan pada perusahaan yang secara operasional masih visible.
Ketiga, masalah teknis. Masalah utama yang menjadi perhatian adalah
penilaian/penaksiran aset yang ditawarkan untuk dijual. Untuk itu harus ada suatu badan
sebagai komisi independen yang antara lain bertugas mengatur saham, menaksir nilai
aset yang akan diprivatisasi. Hal ini diperhatikan, mengingat informasi yang sederhana
prospek perusahaan sebaiknya dilakukan studi yang mendalam. Penetapan harga
penjualan perusahaan negara kepada investor asing harus realistis sehingga perusahaan
asing dimaksud menyetujui penawaran tersebut tanpa menimbulkan polemik. 13
Dalam kerangka produktivitas ekonomi dan kesejahteraan konsumen terdapat
dua kondisi sebagai faktor penting yang mempengaruhi suksesnya privatisasi. Pertama
adalah pasar yang berjalan secara alami, termasuk didalamnya perusahaan yang akan di
divestasi pada sektor kompetitif ataupun non kompetitif. Sektor kompetitif adalah sektor
yang dapat diperdagangkan, misalnya industri, penerbangan (airlines), budidaya
pertanian (agriculture), dan kegiatan pendistribusian.14 Sektor ini sangat
memungkinkan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi secara cepat dan berarti,
sepanjang tidak terdapat distorsi ekonomi secara luas. Adanya distorsi mengakibatkan
privatisasi kehilangan keuntungan terhadap beban subsidi pajak BUMN dan besarnya
biaya yang diakibatkan oleh distorsi itu sendiri. Kedua, kondisi negara yang
bersangkutan, meliputi kerangka kebijakan seluruh sektor makro ekonomi dan
kewenangan untuk membuat regulasi.15
Privatisasi yang dilakukan pada kedua sektor baik perusahaan kompetitif
maupun perusahaan non kompetitif akan lebih mempercepat dan memperbesar
keuntungan. Dengan kebijakan yang peka terhadap terciptanya kondisi lingkungan dan
pasar yang lebih mendukung. Hal ini merupakan argumentasi yang digunakan Bank
Dunia dalam memberikan dukungan terhadap privatisasi sebagai salah satu bagian dari
program kebijakan pemerintah.
13
V.V Ramanadham, Privatization : A Global Perspective, (London and New York : Routledge, 1993), hal. 78-80.
14
Pasal 7 PP No.33 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Privatisasi Persero (PP Privtisasi). 15
Apabila privatisasi yang dilakukan meliputi perusahaan pada pasar non
kompetitif (biasanya kegiatan BUMN memonopoli pada beberapa bidang seperti
kekuasaan (power), penyediaan sumberdaya air (water supply), dan telekomunikasi,
maka sistem peraturan perundang-undangan harus dibuat untuk melindungi para
konsumen. Kebijakan dan kapasitas peraturan yang baik berhubungan erat dengan
pendapatan. Oleh karena itu, pada negara yang pendapatannya pada level menengah
(middle-income) cenderung lebih baik posisinya dalam memprivatisasi perusahaan pada
sektor non kompetitif ini.16
Tabel berikut memberikan suatu kerangka kebijakan terhadap pembuat
keputusan sebelum melakukan privatisasi dengan memperhatikan keadaan negara :17
Keadaan Perusahaan Keadaan Negara
Sektor Kompetitif Sektor Non Kompetitif
Kapasitas yang tinggi
untuk membuat regulasi;
Pasar yang mendukung
Keputusan :
Kapasitas yang rendah Keputusan : Keputusan :
16
Ibid, hal. 5. 17
untuk membuat regulasi;
Pasar tidak mendukung
Dijual, dengan
memperhatikan
keadaan kompetisi.
Mempertimbangkan
managemen
privatisasi.
Mengusahakan pasar
yang mendukung
kerangka kebijakan.
Membuat pengaturan
lingkungan secara
tepat.
Kemudian
mempertimbangkan
penjualan.
Agar jalannya privatisasi BUMN lebih fair, perlu dipikirkan apakah kita
memerlukan satu Komisi Privatisasi yang bersifat independen yang anggota terdiri dari
orang-orang di luar pemerintah, yang bertugas menjual BUMN, sebagaimana pernah
diterapkan Perancis dalam pelaksanaan privatisasi. Memang, Komite Privatisasi telah
diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, tetapi terlihat
Komite itu belum bersifat independen, karena anggotanya terdiri dari Menteri-Menteri.
Apabila Komisi yang bersifat independen itu kita butuhkan, seyogianya diatur dalam
perubahan peraturan Privatisasi yang akan datang. Kita bisa mencontoh Peraturan
mengenai Komisi Privatisasi yang mensyaratkan bahwa anggota komisi privatisasi
Pakistan Privatisasion Commission, 8 diantaranya adalah profesional dari kalangan
privat. 18
Penekanan pengaturan lainnya yang perlu diperhatikan dalam ketentuan
Peraturan Menteri tentang cara privatisasi yang di amanatkan Pasal 5 ayat (2) PP
Privatisai. Pelaksanaan privatisasi itu lebih baik menitikberatkan penjualannya melalui
pasar modal, dibandingkan dengan menjualnya kepada mitra strategis (strategic sale).19
Melalui pasar modal akan membuat penjualan saham BUMN terdistribusi dalam
masyarakat. Dengan ini akan memperluas kepemilikan masyarakat atas BUMN.
IV. PENUTUP
Perlu diperhatikan tujuan dari UU BUMN dan berbagai peraturan
perundang-undangan tidak akan tercapai apabila dalam pelaksanaanya terdapat berbagai
permasalahan dan hambatan, yang pada gilirannya pula membuat Undang-Undang
tersebut tidak dapat dijalankan dilapangan. Oleh karena itu menjadi perhatian kita untuk
mengkaji berbagai hal yang perlu dibuat mengatasi berbagai permasalahan yang
mungkin timbul dalam pelaksanaan UU BUMN ini kedepan dan pada gilirannya dapat
menjadi dasar sistem pembinaan dan pengelolaan BUMN efektif dan efisien.
18
Lihat Pasal 7 Pakistan Privatisasion Commision Ordinance tahun 2000. 19
DAFTAR PUSTAKA
Clarke, R.G., George dan Robert Cull, Political and Economics Determinants of The
Likelihood of Privatizing Argentina Public Bank, Jurnal of Law and economics,
(Vol. XLV, April 2002), The University of Chicago.
Dunn, William N., Pengatar Analisis Kebijakan Publik, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, 2003.
Laswel, Harold dalam Riant Nugroho D, Kebijakan Publik Formulasi, Implementasi,
dan Evaluasi, (Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komptindo Kelompok
Gramedia, 2003.
Nasution Bismar, “Menuju Sistem Pengelolaan BUMN Yang Efektif dan Efisien,”
makalah disampaikan pada Sosialisasi Undang-Undang BUMN dan Peraturan
Pelaksanaannya serta Eksistensinya Dalam Sistem Pembinaan dan Pengelolaan
BUMN, diselenggarakan Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara,
Medan, 14 Desember 2005
Pontjowinoto, P, Iwan., “Kepentingan BUMN Dalam Kebijakan Perpajakan Nasional,”
makalah disampaikan pada Seminar Nasional Reposisi Keuangan Negara dan
Kebijakan Perpajakan di Indonesia: Telaah Kritis RUU Perpajakan, Fakultas
Hukum UI, Depok, tanggal 24 Nopember 2005.
Ramanadham, V.V, Privatization : A Global Perspective, (London and New York :
Routledge, 1993).
Sitompul, Zulkarnain, “Pembatasan Kepemilikan Bank : Gagasan Untuk Memperkuat
Sistem Perbankan,” Jurnal Hukum Bisnis, (Volume 22, No. 6, Tahun 2003),
Winarno, Budi, “Teori dan Proses Kebijakan Publik,” Media Presindo, Jakarta, 2002.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara
Pakistan Privatisasion Commision Ordinance tahun 2000.