Analisis Perbandingan Pengasutan Pada Arus Start Dengan Menggunakan Softstarter dan Inverter Pada Motor Induksi 3 Fasa

54  229  21 

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

[1] Zuhal, Dasar Teknik Tenaga Listrik Dan Elektronika Daya, Edisi ke-4, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1988.

[2] Arindya, Radita, S.T.,M.T, Penggunaan dan Pengaturan Motor Listrik,

Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2013.

[3] Wijaya, Mochtar, Dasar-Dasar Mesin Listrik, Penerbit Djambatan, Jakarta, 2001.

[4] Lister, Eugene, Rangkaian dan Mesin Listrik, PenerbitErlangga, Jakarta, 1993.

[5] Ramdhani, Mohamad, S.T., M.T, Rangkaian Listrik, Penerbit Erlangga, Bandung, 2008.

[6] Riyadi, Dwi, Soft Starting Pada Motor Induksi 3 Fasa, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, 2001.

[7] Priahutama, Aditya Bakti, Perancangan Modul Soft Starting Motor Induksi 3 Fasa dengan Atmega 8535, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas

Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, 2010.

[8] Primatama, Ardhito, Perancangan Soft Starter Motor Induksi Satu Fasa dengan Metode Closed Loop Menggunakan Mikrokontroler Arduino,

Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Jurnal Universitas Brawijaya,

(2)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang diterapkan adalah penelitian dasar (basic research)

dan akan membandingkan antara kedua metode yang diteliti.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk Jalan P.

Sumbawa Kawasan Industri Medan, Medan Deli, Sumatera Utara.

Penelitian akan dimulai 2 minggu setelah seminar proposal disetujui

(minggu ketiga Bulan Agustus) dan akan dilaksanakan selama 2 minggu.

3.3 Bahan dan Peralatan Penelitian

Adapun bahan dan peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Data spesifikasi motor induksi tiga fasa

2. Data spesifikasi Softstarter Schneider Altistart48

3. Data spesifikasi Inverter Danfoss VLT.

Sedangkan peralatan yang digunakan dalam penelitian berupa Softstarter

(3)

3.4 Variabel yang diamati

Variabel-variabel yang diamati pada penelitian ini adalah:

• Arus (I)

• Frekuensi (f)

• Daya (P)

• Torsi (T)

3.5 Prosedur Penelitian

- Berikut prosedur untuk pengambilan data pada penelitian sebagai berikut :

1. Rangkaian motor induksi 3 fasa terhadap softstarter sebelumnya sudah

tersedia pada tempat pengambilan data penelitian sehingga dijelaskan

kembali oleh pembimbing lapangan untuk memahami alur dari rangkaian

penelitian dari sumber sampai motor induksi 3 fasa tersebut.

2. Menjalankan motor induksi 3 fasa sesuai dengan pengasutan yang

dikehendaki.

3. Mencatat hasil pengukuran arus start yang dilakukan dengan softstarter

Schneider Altistart 48.

4. Mensetting atau menampilkan besar putaran (rpm) pada softstarter.

5. Selanjutnya lakukan pengukuran arus start dengan metode yang berbeda

yaitu dengan metode inverter.

(4)

7. Setelah mendapatkan kedua hasil pengukuran dengan metode pengasutan

berbeda. Bandingkan hasil dari kedua metode pengasutan tersebut.

- Adapun diagram alir dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1

(5)

Berdasarkan flowchart penelitian pada gambar 3.1, langkah-langkah

penelitian adalah sebagai berikut:

1. Membuat skema diagram / rangkaian kontrol motor induksi 3 fasa.

2. Mengumpulkan data

Data-data yang dibutuhkan untuk mendapatkan kurva karakteristik dan

membandingkan antara kedua arus start dengan metode berbeda. Data yang

diperlukan antara lain :

a) Data spesifikasi motor induksi 3 fasa

b) Arus start dengan metode softstarting dan inverter

3. Menganalisa data

Setelah mendapatkan data-data yang diperlukan untuk dianalisis, maka

memasukkan data kedalam perhitungan untuk menampilkan torsi, arus, dan daya.

4. Menampilkan hasil.

Dalam penelitian ini penulis ingin melihat adanya perbandingan antara kedua

metode pengasutan pada motor induksi 3 fasa dengan melakukan perhitungan

(6)

3.6 Rangkaian Penelitian

Berikut gambar rangkaian Penelitian pada metode softstarting dan inverter :

Gambar 3.2 Rangkaian Penelitian dengan Softstarter

Gambar 3.3 Rangkaian Penelitian dengan pengasutan frequency drives

(7)

BAB IV

HASIL DAN ANALISIS

4.1 Umum

Untuk mendapatkan perbandingan arus start yang dihasilkan oleh motor

induksi tiga fasa maka perlu ditentukan dahulu tegangan . Dengan

demikian, bentuk gelombang arus masing-masing fasa, kecepatan dan

torsi dapat diperoleh dengan menghitung nilai setiap parameter dan

tegangan yang didapat.

4.2 Hasil Penelitian

Hasil penelitian pengasutan dengan softstarter Altistart48 :

Spesifikasi motor induksi yang digunakan :

V : 380 volt Hub. Delta

f (frekuensi) : 50 Hz

Daya : 75 kW

Putaran : 1475 r/min

I : 138 A

(8)

- Tabel 4.1 Hasil data penelitian arus start pada softstarter :

t (sekon) Is(Ampere)

Kecepatan Putaran

(rpm)

1 410 551

3 467 770

5 503 855

7 559 993

9 693 1040

11 789 1469

13 601 1470

15 400 1465

17 140 1468

- Hasil perhitungan untuk mendapatkan besar torsi :

P = (n x T) / 9,55 kW

T=(9,55 x P) / n

Dimana : T = Besar torsi motor (Nm)

(9)

n = kecepatan putar motor (rpm)

sehingga diperoleh :

T1 = (9,55 x 75) / 551 = 1,30 Nm

T2 = (9,55 x 75) / 770 = 0,93 Nm

T3 = (9,55 x 75) / 855 = 0,84 Nm

T4 = (9,55 x 75) / 993 = 0,72 Nm

T5 = (9,55 x 75) / 1040 = 0,69 Nm

T6 = (9,55 x 75) / 1469 = 0,48 Nm

T7 = (9,55 x 75) / 1470 = 0,47 Nm

T8 = (9,55 x 75) / 1465 = 0,48 Nm

T9 = (9,55 x 75) / 1468 = 0,48 Nm

- Hasil perhitungan untuk mendapatkan besar efisiensi dengan metode softstarting :

η = (Pout / P) x 100%

Dimana : η = Effisiensi motor (%)

Pout = Daya keluar motor (kW)

(10)

Pout = 75 kW

P = √3 x V x I x cos ɸ

Dimana : V = Tegangan (V)

I = Arus (A)

sehingga diperoleh :

P1 = 1,73 x 380 x 410 x 0,88 = 237,18 kW

P2 = 1,73 x 380 x 467 x 0,88 = 270,16 kW

P3 = 1,73 x 380 x 503 x 0,88 = 290,99 kW

P4 = 1,73 x 380 x 559 x 0,88 = 323,38 kW

P5 = 1,73 x 380 x 693 x 0,88 = 400,90 kW

P6 = 1,73 x 380 x 789 x 0,88 = 456,44 kW

P7 = 1,73 x 380 x 601 x 0,88 = 347,68 kW

P8 = 1,73 x 380 x 400 x 0,88 = 231,40 kW

P9 = 1,73 x 380 x 140 x 0,88 = 80,99 kW

η = (P out / P rata-rata) x 100%

(11)

= 25,50%

- Tabel 4.2 Hasil data penelitian arus start dengan Inverter Danfoss VLT :

t(sekon) Is(Ampere)

Kecepatan

Putaran (rpm)

1 205 465

3 169 536

5 104 624

7 293 715

9 350 743

11 357 819

13 449 904

15 570 942

17 592 1002

19 776 1471

21 334 1466

(12)

- Hasil perhitungan untuk mendapatkan besar torsi :

P = (n x T) / 9,55 kW

T = (9,55 x P) / n

Dimana : T = Besar torsi motor (Nm)

P = Daya motor (kW)

n = kecepatan putar motor (rpm)

sehingga diperoleh :

T1 = (9,55 x 75) / 465 = 1,54 Nm

T2 = (9,55 x 75) / 536 = 1,33 Nm

T3 = (9,55 x 75) / 624 = 1,15 Nm

T4 = (9,55 x 75) / 715 = 1,00 Nm

T5 = (9,55 x 75) / 743 = 0,96 Nm

T6 = (9,55 x 75) / 819 = 0,87 Nm

T7 = (9,55 x 75) / 904 = 0,79 Nm

T8 = (9,55 x 75) / 942 = 0,76 Nm

(13)

T10 = (9,55 x 75) / 1471 = 0,48 Nm

T11 = (9,55 x 75) / 1466 = 0,49 Nm

T12 = (9,55 x 75) / 1474 = 0,48 Nm

- Hasil perhitungan untuk mendapatkan besar efisiensi dengan metode inverter :

η = (Pout / P) x 100%

Dimana : η = Effisiensi motor (%)

Pout = Daya keluar motor (kW)

P = Daya masuk motor (kW)

Pout = 75 kW

P = √3 x V x I x cos ɸ

Dimana : V = Tegangan (V)

I = Arus (A)

sehingga diperoleh :

P1 = 1,73 x 380 x 205 x 0,88 = 118,59 kW

P2 = 1,73 x 380 x 169 x 0,88 = 97,76 kW

(14)

P4 = 1,73 x 380 x 293 x 0,88 = 111,10 kW

P5 = 1,73 x 380 x 350 x 0,88 = 202,47 kW

P6 = 1,73 x 380 x 357 x 0,88 = 206,52 kW

P7 = 1,73 x 380 x 449 x 0,88 = 259,75 kW

P8 = 1,73 x 380 x 570 x 0,88 = 329,75 kW

P9 = 1,73 x 380 x 592 x 0,88 = 342,47 kW

P10 = 1,73 x 380 x 776 x 0,88 = 448,92 kW

P11 = 1,73 x 380 x 334 x 0,88 = 193,22 kW

P12 = 1,73 x 380 x 140 x 0,88 = 80,99 kW

η = (P out / P rata-rata) x 100%

(15)

4.3 Hasil Analisis

4.3.1 Karakteristik Softstarter

Gambar 4.1 Karakteristik Arus start pada Softstarter 0

(16)

4.3.2 Karakteristik Inverter

Gambar 4.2 Karakteristik Arus start pada Inverter Danfoss VLT 0

(17)

4.4 Perbandingan Pengasutan Softstarter dan Inverter

Dalam membandingkan pengasutan Softstarter dan Inverter. Penulis

membandingkan antara torsi maksimum dan arus start terhadap waktu yang

dihasilkan masing-masing metode pengasutan :

Gambar 4.3 Perbandingan Arus Start antara kedua pengasutan 0

Perbandingan Arus Start antara Softstarter

dengan Inverter

Softstarter

(18)

(b)

Gambar 4.4 Perbandingan torsi antara kedua pengasutan 0

Perbandingan torsi antara Softstarter dan

Inverter

Softstarter

(19)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil analisis data yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan

sebagai berikut :

4. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa besar arus start terhadap

waktu yang dibutuhkan untuk mencapai arus nominal yaitu 789 A

dimana dengan waktu 11s pada metode softstarting sedangkan metode

Inverter sebesar 776 A dengan waktu 19s.

5. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa besar torsi maksimal

terhadap waktu yang dibutuhkan yaitu sebesar 1,30 Nm dengan metode

softstarting sedangkan pada metode inverter untuk mencapai torsi

maksimal yaitu sebesar 1,54 Nm.

6. Karakteristik metode softstarting dimana arus start yang dihasilkan

stabil. Hal ini membuktikan bahwa metode softstarter ini sangat

mempermudah suatu motor induksi untuk mencapai arus nominalnya

diperlukan waktu hanya 11s. Sedangkan pada torsi maksimal

membuktikan bahwa semakin besar suatu arus start pada motor

induksi, maka torsi pada motor tersebut juga akan semakin kecil.

(20)

dihasilkan kurang stabil.. selain itu efisiensi pada metode inverter lebih

besar dibandingkan metode softstarting. Hal ini membuktikan kedua

metode memiliki keuntungan dan kerugian yang berbeda.

5.2 Saran

1. Bagi para pembaca yang ingin melanjutkan penelitian ini disarankan

untuk melakukan perhitungan beban motor induksi tiga fasa dengan

pengasutan softstarter dan inverter.

2. Bagi para pembaca dapat melanjutkannya penelitian dengan memakai

motor multifasa dengan pengasutan yang sama pula.

3. Bagi para pembaca dapat melanjutkan penelitian ini dengan membuat

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Motor Induksi Tiga Fasa

Motor induksi 3 fasa merupakan salah satu cabang dari jenis motor

listrik yang merubah energi listrik menjadi energi gerak berupa putaran

yang mempunyai slip antara medan stator dan rotor dengan sumber

tegangan 3 fasa. Motor induksi ini merupakan motor arus bolak balik (ac)

yang paling luas digunakan. Penamaanya berasal dari kenyataan bahwa

arus rotor motor ini bukan diperoleh dari sumber tertentu, tetapi

merupakan arus yang terinduksi sebagai adanya perbedaan relatif antara

putaran rotor dengan medan putar (rotating magnetic field) yang

dihasilkan oleh arus stator.

Belitan stator yang dihubungkan dengan suatu sumber tegangan tiga fasa

akan menghasilkan medan magnet yang berputar dengan kecepatan

sinkron (ns = 120f/2p). Medan putar pada stator tersebut akan memotong

konduktor-konduktor pada rotor, sehingga terinduksi arus, dan sesuai

dengan Hukum Lentz, rotor pun akan turut berputar mengikuti medan

putar stator. Perbedaan putaran relatif antara stator dan rotor disebut slip.

Bertambahnya beban, akan memperbesar pula arus induksi pada rotor yang

oleh karenanya akan memperbesar pula arus induksi pada rotor, sehingga

(22)

Jadi, bila beban motor bertambah, putaran rotor cenderung menurun.

Dikenal dua tipe motor induksi (Gambar 2.1)

(a)

(b)

Gambar 2.1 (a) Rotor belitan ; (b) Rotor sangkar

Motor induksi 3 fasa berputar pada kecepatan yang pada dasarnya

adalah konstan. Kecepatan putaran motor ini dipengaruhi oleh frekuensi,

dengan demikian pengaturan kecepatan tidak dapat dengan mudah

dilakukan terhadap motor ini, namun motor induksi 3 fasa merupakan jenis

motor listrik yang paling banyak digunakan pada dunia industri karena

sesuai kebutuhan dan memiliki banyak keuntungan.[1]

Berdasarkan kumparannya, rotor dibagi menjadi rotor sangkar

(23)

2.2 Konstruksi Motor Induksi 3 Fasa

Motor induksi tiga fasa memiliki dua komponen dasar yaitu stator

dan rotor, bagian rotor dipisahkan dengan bagian stator oleh celah udara

yang sempit (air gap) dengan jarak antara 0,4 mm sampai 4 mm. Tipe dari

motor induksi tiga fasa berdasarkan lilitan pada rotor dibagi menjadi dua

macam yaitu rotor belitan (wound rotor) adalah tipe motor induksi yang

memiliki rotor terbuat dari lilitan yang sama dengan lilitan statornya dan

rotor sangkar tupai (Squirrel-cage rotor) yaitu tipe motor induksi dimana

konstruksi rotor tersusun oleh beberapa batangan logam yang dimasukkan

melewati slot-slot yang ada pada rotor motor induksi, kemudian setiap

bagian disatukan oleh cincin sehingga membuat batangan logam terhubung

singkat dengan batangan logam yang lain.

Gambar 2.2. Konstruksi Motor Listrik 3 Fasa

Secara umum mesin listrik induksi memiliki konstruksi yang

terbagi atas dua bagian yaitu bagian yang bergerak yaitu rotor dan bagian

(24)

- Penyangga mekanis dari kutub dan melindungi bagian dalam mesin.

- Membawa fluks magnetik yang dihasilkan kutub.

2. End Bracket (Bearing Housing)

Sebagai tempat untuk meletakkan bearing dan sebagai rumah untuk

bearing.

3. Bearing

Untuk mengurangi terjadinya gesekan antara housing dengan as dari

motor tersebut.

4. Cooling fan

Sebagai pendingin pada motor induksi sehingga motor tidak

mengalami over heating (panas lebih).

5. Stator

Bagian yang diam (kumparan/lilitan jangkar)

6. Rotor

Bagian yang bergerak (kumparan/lilitan medan)

2.3. Prinsip kerja Motor Induksi Tiga Fasa

Ada beberapa prinsip kerja motor induksi :

(1) Apabila sumber tegangan 3 fase dipasang pada kumparan stator, akan

timbul medan putar dengan kecepatan

Ns = 120 f/p

dimana:

Ns = Kecepatan Putar

(25)

p = Jumlah kutub motor

(2) Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor pada rotor.

(3) Akibatnya pada kumparan rotor timbul GGL induksi.

(4) Karena batang konduktor merupakan rangkaian yang tertutup maka GGL

akan menghasilkan arus (I).

(5) Adanya arus (I) di d alam medan magnet akan menimbulkan gaya (F) pada

rotor.

(6) Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya (F) pada rotor cukup besar

untuk memikul kopel beban, rotor akan berputar searah dengan medan

putar stator.

(7) GGL induksi timbul karena terpotongnya batang konduktor (rotor) oleh

medan putar stator. Artinya agar GGL induksi tersebut timbul, diperlukan

adanya perbedaan relatif antara kecepatan medan putar stator (ns) dengan

kecepatan berputar rotor (nr).

(8) Perbedaan kecepatan antara nr dan ns disebut slip (s), dinyatakan dengan :

S= (ns- nr)/ ns x 100%

(9) Bila nr = ns, GGL induksi tidak akan timbul dan arus tidak mengalir pada

batang konduktor (rotor), dengan demikian tidak dihasilkan kopel.

(10) Dilihat dari cara kerjanya, motor induksi disebut juga sebagai motor tak

serempak atau asinkron.

Prinsip kerja motor induksi tiga fasa didasarkan pada hukum Faraday

(26)

suatu lilitan) dan hukum Lorentz (perubahan magnetik akan menimbulkan

gaya). Prinsip dasar dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Tegangan induksi akan timbul pada setiap konduktor diakibatkan oleh

medan magnet yang memotong konduktor (hukum Faraday).

2. Karena konduktor dihubungkan menjadi satu, membuat tegangan induksi

menghasilkan arus yang mengalir dari konduktor ke konduktor lain.

3. Karena terjadi arus diantara medan magnet maka akan timbulah gaya

(hukum Lorentz).

4. Gaya akan selalu menarik konduktor untuk bergerak sepanjang medan

magnetik.

Gambar 2.3. Prinsip Kerja Motor Induksi

2.4. Kelebihan dan Kelemahan Motor Induksi 3 Fasa

- Keuntungan Motor induksi:

(27)

2. Menghasilkan putaran yang konstan

3. Untuk pengasutan tidak memerlukan motor lain sebagai penggerak mula.

4. Harganya relatif murah dan kehandalannya tinggi.

5. Efisiensi relatif tinggi pada keadaan normal, tidak ada sikat sehingga rugi

gesekan kecil.

6. Biaya pemeliharaan rendah karena pemeliharaan motor hampir tidak

diperlukan.

- Kelemahan Penggunaan Motor Induksi:

1. Kecepatan tidak mudah dikontrol.

2. Arus start biasanya 5 sampai 7 kali dari arus nominal.

2.5. Hubungan antara beban, kecepatan dan torsi (torque)

Gambar di bawah ini menunjukkan grafik hubungan antara torsi - kecepatan

dengan arus pada motor induksi 3 fasa:

• Motor mulai menyala ternyata terdapat arus start yang tinggi akan tetapi torsinya

rendah.

• Saat motor mencapai 80% dari kecepatan penuh, torsinya mencapai titik

tertinggi dan arusnya mulai menurun.

• Pada saat motor sudah mencapai kecepatan penuh, atau kecepatan sinkron, arus

(28)

Gambar 2.4. Grafik Torque-Kecepatan Motor Induksi 3 fasa

2.6. Pengasutan Motor Induksi (Starting Motor)

Kontaktor dan overload relays merupakan komponen kontrol yang

terpisah. Ketika sebuah kontaktor dihubungkan dengan overload relays, maka

dapat disebut sebagai sebuah pengasut motor (motor starter) yang sederhana.

Gabungan kedua komponen tersebut dapat digabungkan menajadi sebuah

komponen dan seperti telah diterangkan pada pengenalan komponen sebelumnya,

dinamakan kontaktor-circuit breaker. Komponen tersebut juga merupakan sebuah

motor starter yang sederhana. Jenis ini menyediakan perlindungan beban lebih,

tapi tidak dapat digunakan jika perlindungan tegangan rendah diperlukan atau

untuk operasi otomatis jarak jauh.

Ketika relai beban lebih putus, mekanisme pengasut tidak menutup / tidak

mengancing, yang membuka kontak untuk menghentikan motor. Kontak tidak

(29)

motor. Secara sederhana, sebuah pengasut motor akan terdiri dari sebuha

kontaktor beserta alat proteksi terhadap kelebihan arus (overload). Kontaktor

tersebut akan menjadikan tegangan rendah bisa mengontrol tegangan tinggi dan

arus tinggi. Kegunaan pengasut motor adalah sebagai berikut :

1. Untuk melakukan start dan stop terhadap motor

2. Untuk melindungi motor dari overload (kelebihan arus) dan

overheating (kelebihan panas).

3. Untuk memisahkan motor pada saat rusak dan pada saat dilakukan

kegiatan perawatan.

4. Untuk mengunci (interlooking) operasi motor sehingga bisa selaras

dengan operasi lain dari motor tersebut dan dengan operasi dari

motor-motor lainnya.

5. Untuk membalikan arah gerak motor.

6. Untuk mengkontrol kecepatan secara manual dan otomatis.

7. Untuk mengkontrol torsi asut dan torsi akselerasi.

8. Sebagai alat pengereman motor.

9. Untuk membatasi arus asut sehingga bisa memperkecil

gangguan-gangguan terhadap pemakai arus lain dari tegangan tersebut.

Terdapat berbagai solusi untuk perubahan kecepatan motor yaitu

diantaranya dengan cara start tradisional (elektromekanikal). Untuk

menjalankan motor telah dikenal berbagai cara :

1. Pengasut langsung / Direct on line (DOL)

(30)

3. Auto-transformator

4. Resistansi Primer (Primary Resistance)

5. Resistansi Skunder (Scunder Resistance)

6. Variable Speed Drive (VSD) dan Softstarter (SS)

2.7. Pengasutan Softstarter (SS)

Pada motor induksi yang diam apabila tegangan normal diberikan

ke stator makan akan ditarik arus yang besar oleh belitan primernya. Motor

induksi saat dihidupkan secara langsung akan menarik arus 5 sampai 7 kali

dari arus beban penuh dan hanya menghasilkan torsi 1,5 sampai 2,5 kali

torsi beban penuh. Arus mula yang besar ini dapat mengakibatkan drop

tegangan pada saluran sehingga akan menggangu peralatan lain yang

dihubungkan pada saluran yang sama. Untuk motor yang berdaya diatas 30

hp tidak dianjurkan menghidupkan motor secara langsung.

Cara lain untuk mengasut motor adalah dengan menggunakan Soft

(31)

Gambar 2.5. Bentuk Soft Starter untuk Motor Induksi 3 Fasa

Soft starting adalah suatu cara penurunan tegangan starting dari

motor induksi AC. Dengan demik metode pengasutan yang bekerja dengan

cara mengurangi tegangan pengasutan motor induksi dan kemudian

menaikkan tegangan secara bertahap sampai tegangan penuh. Metode soft

starting ini menjadi solusi atas tingginya nilai arus saat pengasutan motor

induksi dan merupakan metode yang nilai arus pengasutannya rendah. Soft

Starter bertujuan untuk mendapatkan start dan stop yang terkendali dan

terproteksi secara sehalus mungkin dan lalu mencapai kecepatan nominal

(32)

2.7.1. Rangkaian Soft Starter (SS)

Rangkaian dasar soft starting terdiri dari komponen thyristor untuk

mengontrol aliran arus yang masuk ke motor sehingga tegangan akan

masuk secara bertahap dan akhirnya penuh. Komponen utama softstarter

adalah thyristor dan rangkaian yang mengatur trigger thyristor. Seperti

diketahui, output thyristor dapat di atur via pin gate nya. Rangkaian

tersebut akan mengontrol level tegangan yang akan dikeluarkan oleh

thyristor.Thyristor yang terpasang bisa pada 2 fasa atau 3 fasa.

Gambar 2.6. Rangkaian Dasar Soft Starting

2.7.2. Prinsip Kerja Softstarter

Prinsip dasar pengasut soft starting adalah merubah bentuk

gelombang input dan kemudian merubah ukuran rms untuk motor.

Hal ini dilakukan dengan cara merubah suplai arus bolak balik

menjadi arus searah. Arus searah tersebut selanjutnya dirubah

(33)

arah) pada kecepatan yang tinggi. Soft Starter mengatur tegangan

yang masuk ke motor. Cara kerja dari Soft Starter yaitu

pertama-tama motor hanya diberikan tegangan yang rendah sehingga arus

dan torsi pun juga rendah. Pada level ini motor hanya sekedar

bergerak perlahan dan tidak menimbulkan kejutan. Selanjutnya

tegangan akan dinaikan secara bertahap sampai ke nominal

tegangannya dan motor akan berputar dengan dengan kondisi RPM

yang nominal.

Gambar 2.7. Kurva Arus Start dengan SoftStarter pada Motor Induksi 3 fasa

Selain untuk starting motor, Softstarter juga dilengkapi fitur

soft stop. Sehingga pada saat motor induksi dihentikan maka

tegangan juga dikurangi secara perlahan atau tidak dilepaskan

begitu saja seperti pada starter yang menggunakan fakturator.

(34)

Gambar 2.8. Rangkaian utama motor induksi 3 fasa dengan pengasutan

softstarter

2.7.3. Pengunaan Softstarter

Pengasut Soft Starting digunakan bila adanya keharusan

akan akselerasi dan dekselerasi yang mulus pada motor yang

berdaya diatas 30 HP. Karaktersitik Softstarter memiliki

kemampuan mengubah besaran tegangan dan frekuensi sesuai

kebutuhan . Karaktersitik arus fungsi putaran motor, akan menarik

600% arus nominal tanpa adanya pengasutan, dengan pengasutan

softstarter mampu ditekan sampai hanya 200% arus nominalnya.

(35)

mengubah frekuensi jala-jala 50 Hz menjadi frekuensi lebih kecil

dari 25%, 50%, 75% dari frekuensi nominalnya.

2.8 Pengasutan Frequency drive (Inverter)

Frequency Drive sering disebut juga dengan VSD (Variable Speed Drive),

VFD (Variable frequency Drive) atau Inverter. VSD terdiri dari 2 bagian utama

yaitu penyearah tegangan AC (50 atau 60 HZ) ke DC dan bagian kedua adalah

membalikan dari DC ke tegangan AC dengan frekuensi yang diinginkan. Fungsi

Inverter adalah untuk merubah kecepatan motor AC dengan cara merubah

Frekuensi outputnya.

Jika sebelumnya banyak menggunakan sistem mekanik, kemudian beralih

ke motor slip maka saat ini banyak menggunakan semikonduktor.

Tidak seperti softstarter yang mengolah level tegangan, inverter menggunakan

frekuensi tegangan keluaran untuk mengatur kecepatan motor pada kondisi ideal

(tanpa slip).

Dengan demikian jika frekuensi motor ditingkatkan maka akan

meningkatkan kecepatan motor, sebaliknya dengan memperkecil frekuensi akan

memperlambat kecepatan motor.

2.8.1. Rangkaian Frequency drive (Inverter)

Secara sederhana prinsip dasar inverter untuk dapat

mengubah frekuensi menjadi lebih kecil atau lebih besar yaitu

(36)

dijadikan tegangan AC lagi dengan frekuensi yang berbeda atau

dapat diatur.

Gambar 2.9. Rangkaian Utama motor induksi dengan pengasutan

frequency drives (Inverter)

Untuk mengubah tegangan AC menjadi DC dibutuhkan

penyearah (converter AC-DC) dan biasanya menggunakan

penyearah tidak terkendali (rectifier dioda) namun juga ada yang

menggunakan penyearah terkendali (thyristor rectifier). Setelah

tegangan sudah diubah menjadi DC maka diperlukan perbaikan

kualitas tegangan DC dengan menggunakan tandon kapasitor

sebagai perata tegangan. Kemudian tegangan DC diubah menjadi

tegangan AC kembali oleh inverter dengan teknik PWM (Pulse

Width Modulation). Dengan teknik PWM ini bisa didapatkan

(37)

2.8.2. Prinsip kerja Frequency drive

Prinsip kerja inverter yang sederhana adalah :

- Tegangan yang masuk dari jala jala 50 Hz dialirkan ke board

Rectifier/ penyearah DC, dan ditampung ke bank kapasitor. Jadi

dari AC di jadikan DC.

- Tegangan DC kemudian diumpankan ke board inverter untuk

dijadikan AC kembali dengan frekuensi sesuai kebutuhan. Jadi dari

DC ke AC yang komponen utamanya adalah Semiconduktor aktif

seperti IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor). Dengan

menggunakan frekuensi carrier (bisa sampai 20 kHz), tegangan DC

dicacah dan dimodulasi sehingga keluar tegangan dan frekuensi

yang diinginkan.

Pengontrolan start dan stop bisa dilakukan dengan dua cara

yaitu via local dan remote. Local maksudnya adalah dengan

menekan tombol pada keypad di inverternya. Sedangkan remote

dengan menghubungkan terminal di board kontrol dengan tombol

external seperti push button atau nutton witch. Masing masing opsi

tersebut mempunyai kelemahan dan keunggulan sendiri sendiri.

Frekuensi dikontrol dengan berbagai macam cara yaitu : melalui

keypad (local), dengan external potensiometer, Input 0 ~ 10 VDC ,

4 ~ 20 mA atau dengan preset memori. Semua itu bisa dilakukan

(38)

2.8.3. Penggunaan pada Frequency drive

Banyak cara untuk mengatur/mengurangi kecepatan motor

seperti dengan gear box / reducer. Namun mengatur kecepatan

motor dengan inverter akan memperoleh banyak keuntungan yang

lebih bila dibandingkan dengan cara-cara yang lain. Seperti :

jangkauan yang luas untuk pengaturan kecepatan dan torsi motor,

mempunyai akselerasi dan deselerasi yang dapat diatur,

mempermudah proses monitoring atau pengecekan, sistem proteksi

motor yang baik, mengurangi arus starting motor dan menghemat

pemakaian energi listrik, memperhalus start awal motor dsb.

Gambar 2.10. Jenis – jenis Inverter pada Penggunaan Untuk Motor Induksi

Pemilihan inverter yang benar tentunya dengan memperhatikan

spesifikasi dari motor serta keperluan dalam pemakaian inverter itu sendiri

seperti dengan memperhatikan daya motor, tegangan motor, frekuensi

(39)

menggunakan inverter dengan spesifikasi daya diatas 3 kW seperti 3,2 kW

atau 3,3 kW dan tentunya tegangan keluaran dari inverter harus sama

dengan tegangan motor. Sebenarnya kita juga bisa menggunakan inverter

dengan daya 3 kW untuk motor 3 kW tapi dengan syarat kita juga harus

menggunakan motor tersebut dengan beban yang kecil atau dengan kata

lain motor tidak digunakan dengan daya maksimal. Jadi penting untuk

mengetahui arus pada motor saat dijalankan dengan beban, untuk settingan

ampere pada inverter sebagai proteksi motor, serta untuk menghitung daya

(40)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Motor induksi (asinkron) adalah motor yang bekerja dengan

memanfaatkan perbedaan fasa pada sumber untuk menimbulkan gaya putar

pada bagian rotornya. Salah satu jenis motor yang paling sering di gunakan

pada berbagai tempat mulai dari lingkungan rumah tangga sampai pada

perindustrian yaitu motor induksi. Motor jenis induksi ini sangat luas

penggunaannya dan mudah ditemui dimanapun. Hal ini dikarenanakan

konstruksinya yang sederhana, ketahanannya, performanya, dan harganya

yang relatif murah. Motor induksi secara umum dapat distartingdengan

menghubungkan motor secara langsung ke jala-jala ataupun dengan

mengatur tegangan input pada motor tersebut ataupun dengan menggunakan

berbagai metode untuk pengasutannya. Hal ini dikarenakan arus start

dimana arus start yaitu arus yang diperlukan oleh suatu motor induksi untuk

dapat mencapai arus beban penuhnya biasanya 4 sampai 7 dari arus beban

penuhnya sehingga menyebabkan adanya berbagai macam metode-metode

pengasutan. Macam-macampengasutanpada motor induksi diantaranya yaitu

Metode Direct On line (DOL), Metode Star-Delta, Metode Autotransformer,

(41)

Metode soft starting (pengasutan lembut) yaitu pengaturan untuk

motor induksi agar sewaktu motor dijalankan tidak mengakibatkan arus

start yang besar dan memperhalus start dari motor tersebut. Sedangkan

inverter yaitu pengaturan pada frekuensi untuk mencegah arus start yang

besar. Maka jika frekuensi motor ditingkatkan maka akan meningkatkan

kecepatan motor, sebaliknya dengan memperkecil frekuensi akan

memperlambat kecepatan motor.

Beberapa keuntungan pada metode softstarting yaitu efisiensi arus

sewaktu starting dan cost yang lebih murah. Kerugian metode softstarting

yaitu frekuensi yang tidak dapat diubah-ubah. Pada metode inverter ini

memiliki berbagai keuntungan yaitu adanya pengaturan frekuensi pada

inverter sedangkan kerugiannya yaitu harga inverter yang tinggi.

Pada tugas akhir ini,penulis akan menganalisis perbandingan arus

start motor induksi 3 fasa dengan menggunakan softstarter dan inverter.

Penulis mengambil judul ini dikarenakan untuk mengetahui diantara kedua

metode tersebut mana yang paling bagus digunakan.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dari tugas akhir ini adalah :

1. Berapa arus start dan torsi yang dihasilkan motor induksi 3 fasa dengan

menggunakan softstarter?

2. Berapa arus start dan torsi yang dihasilkan motor induksi 3 fasa dengan

(42)

3. Bagaimana karakteristik masing-masing metode pengasutan antara

softstarter dengan inverter ?

1.3 TUJUAN

Adapun tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah :

1. Untuk mengetahui besar arus start terhadap waktu untuk mencapai arus

nominal yang dihasilkan motor induksi 3 fasa dengan menggunakan

metode softstarting dan inverter.

2. Untuk mengetahui besar torsi maksimal terhadap waktu untuk mencapai

arus nominal yang dihasilkan motor induksi 3 fasa dengan

menggunakan metode softstarting dan inverter.

3. Untuk menganalisa karakteristik masing- masing metode pengasutan

antara softstarting dengan inverter dari hasil penelitian.

1.4 BATASAN MASALAH

Adapun batasan masalah dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah:

1. Membahas tentang karakteristik arus start pada pengasutan motor

induksi menggunakan metode softstarting dan inverter.

2. Tidak membahas tentang soft stop dari motor induksi tersebut dan

(43)

1.5 MANFAAT

Manfaat yang diharapkan dari tugas akhir ini adalah:

1. Dapat mengetahui kegunaan dan fungsi metode softstarting dan metode

inverter pada pengasutan motor induksi 3 fasa.

2. Memberikan perbandingan arus start dalam penggunaanya dengan

(44)

Abstrak

Motor induksi yang langsung dihidupkan tanpa menggunakan

metode-metode pengasutan akan menarik arus 5 sampai 7 kali dari arus beban penuh dan

hanya akan menghasilkan torsi 1,5 sampai 2,5 kali torsi beban penuh. Arus yang

besar akan mengakibatkan drop tegangan pada saluran sehingga dapat

mengganggu peralatan lain yang dihubungkan pada saluran tersebut. Untuk motor

yang berdaya besar khususnya motor induksi 3 fasa akan membutuhkan arus

starting yang besar seiring dengan motor yang berdaya besar, sehingga dengan

daya motor diatas 30 HP keatas tidak dianjurkan untuk menghidupkan motor

secara langsung tanpa menggunakan metode-metode pengasutan. Beberapa

metode pengasutan yang paling umum digunakan yaitu Direct on line (DOL),

Star-Delta, Auto-transformer, Resistansi Primer, Resistansi Sekunder, Inverter,

dan SoftStarter. Dimana yang paling banyak digunakan pada lapangan yaitu

metode DOL tetapi metode ini masih juga menghasilkan arus start yang besar.

Jika terus dilakukan, maka akan menyebabkan memperpendek umur dari motor itu

sendiri. Tulisan ini membahas tentang perbandingan antara pengasutan pada

softstarter dan inverter pada arus start. Hasil analisis arus start pada pengasutan

softstarter yaitu sebesar 789A yang dicapai dalam waktu 11s dan torsi maksimum

yang dihasilkan oleh motor induksi 3 fasa yaitu sebesar 1,30 Nm. Sedangkan arus

start pada pengasutan inverter yaitu sebesar 776A yang dicapai dalam waktu 19s.

(45)

ANALISIS PERBANDINGAN PENGASUTAN PADA ARUS

START DENGAN MENGGUNAKAN

SOFTSTARTER

DAN

INVERTER

PADA MOTOR INDUKSI 3 FASA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

dalam Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S-1) pada

Departemen Teknik Elektro Sub Konsentrasi Teknik Energi Listrik

Oleh:

NIM: 120402040 WIRATMAN

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(46)
(47)

Abstrak

Motor induksi yang langsung dihidupkan tanpa menggunakan

metode-metode pengasutan akan menarik arus 5 sampai 7 kali dari arus beban penuh dan

hanya akan menghasilkan torsi 1,5 sampai 2,5 kali torsi beban penuh. Arus yang

besar akan mengakibatkan drop tegangan pada saluran sehingga dapat

mengganggu peralatan lain yang dihubungkan pada saluran tersebut. Untuk motor

yang berdaya besar khususnya motor induksi 3 fasa akan membutuhkan arus

starting yang besar seiring dengan motor yang berdaya besar, sehingga dengan

daya motor diatas 30 HP keatas tidak dianjurkan untuk menghidupkan motor

secara langsung tanpa menggunakan metode-metode pengasutan. Beberapa

metode pengasutan yang paling umum digunakan yaitu Direct on line (DOL),

Star-Delta, Auto-transformer, Resistansi Primer, Resistansi Sekunder, Inverter,

dan SoftStarter. Dimana yang paling banyak digunakan pada lapangan yaitu

metode DOL tetapi metode ini masih juga menghasilkan arus start yang besar.

Jika terus dilakukan, maka akan menyebabkan memperpendek umur dari motor itu

sendiri. Tulisan ini membahas tentang perbandingan antara pengasutan pada

softstarter dan inverter pada arus start. Hasil analisis arus start pada pengasutan

softstarter yaitu sebesar 789A yang dicapai dalam waktu 11s dan torsi maksimum

yang dihasilkan oleh motor induksi 3 fasa yaitu sebesar 1,30 Nm. Sedangkan arus

start pada pengasutan inverter yaitu sebesar 776A yang dicapai dalam waktu 19s.

(48)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa

yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan Tugas Akhir ini.

Tugas Akhir ini merupakan bagian dari kurikulum yang harus diselesaikan

untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan pendidikan Sarjana Strata Satu di

Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

Adapun judul Tugas Akhir ini adalah:

ANALISIS PERBANDINGAN PENGASUTAN PADA ARUS

START DENGAN MENGGUNAKAN

SOFTSTARTER

DAN

INVERTER

PADA MOTOR INDUKSI 3 FASA

Tugas Akhir ini penulis persembahkan kepada Papa tercinta Ir. Winarno dan

Mama tersayang Susani Teguh yang telah membesarkan penulis dengan kasih

sayang yang tak ternilai harganya dan juga kepada kakak dan abang penulis yang

selalu memberikan semangat dan mendoakan penulis dalam menyelesaikan tugas

akhir ini.

Selama penulis menjalani pendidikan di kampus hingga diselesaikannya

Tugas Akhir ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, dan dukungan

dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Bapak Ir. Surya Tarmizi Kasim, M.Si., selaku Ketua Departemen Teknik

Elektro FT USU dan sekaligus merupakan Ketua Penguji Tugas Akhir

(49)

telah banyak memberikan motivasi serta senantiasa memberikan

bimbingan selama perkuliahan.

2. Bapak Ir. Syamsul Amien, MS., selaku Pembimbing Tugas Akhir yang

telah banyak meluangkan waktu dan pikirannya untuk selalu memberikan

bantuan, bimbingan dan pengarahan kepada penulis selama perkuliahan

hingga penyusunan Tugas Akhir ini.

3. Bapak Ir. Raja Harahap, MT , selaku Anggota Penguji Tugas Akhir yang

telah banyak memberikan masukan demi perbaikan Tugas Akhir ini serta

senantiasa memberikan bimbingan selama masa perkuliahan.

4. Bapak Fahmi, S.T., M.Sc., selaku dosen wali penulis yang banyak

memberikan masukan dan pengarahan selama perkuliahan.

5. Seluruh Bapak dan Ibu dosen yang telah mendidik serta memberikan

pengalaman hidup yang berharga selama masa perkuliahan kepada penulis.

6. Seluruh staf pegawai Departemen Teknik Elektro FT USU yang telah

membantu penulis dalam pengurusan administrasi.

7. Sahabat-sahabat terbaik pemberi saran, motivasi, dukungan dan cerita

yang sangat sering membantu penulis selama masa pengerjaan Tugas

Akhir: Yose, Gomgom, Michael, Begin, Bobby, Valentino, Johannes,

Marco, Ira, Desy, Bembeng, Ricart, Yudha, Oyen, Juned, Muadzzah,

Sudarmin, Fajar, Ray Calvin, Nova, Rey Depantun, Arivin, Windi, Dody,

Gading, Stepanus, Yudi, Mahatir, Guntur, Fauzan dan seluruh

(50)

8. Abangda Andreas VH Simanjuntak, ST., senior-senior dan abangda teknik

elektro angkatan 2011 yang selalu memberikan motivasi, dukungan dan

waktu kepada penulis dalam mengerjakan Tugas akhir ini.

9. Kepada Bapak Udin CPI Medan beserta seluruh jajaran Departemen Dryer

yang juga telah membantu dalam pengambilan data penelitian dan selalu

memberikan dukungan kepada penulis.

10. Seluruh abang dan kakak senior serta adik-adik junior yang telah

memberikan bantuan dan dukungan.

11. Semua pihak yang tidak dapat penulis tuliskan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini jauh dari sempurna, oleh karena

itu penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bertujuan untuk

menyempurnakan dan memperkaya kajian Tugas Akhir ini. Akhir kata penulis

berharap Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, November 2016

Penulis,

Wiratman

(51)

DAFTAR ISI

Abstrak ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi... v

Daftar Gambar ... vii

Daftar Tabel ... viii

BAB I Pendahuluan ... 1

BAB II Tinjauan Pustaka ... 4

2.1 Motor Induksi 3 Fasa ... 4

2.2 Konstruksi Motor Induksi 3 Fasa ... 6

2.3 Prinsip kerja Motor Induksi 3 Fasa ... 8

2.4 Kelebihan dan Kelemahan Motor Induksi 3 Fasa ... 10

2.5 Hubungan antara beban, kecepatan dan torsi (torque) ... 11

2.6 Pengasutan Motor Induksi (Starting Motor) ... 12

2.7 Pengasutan Softstarter (SS) ... 14

2.7.1 Rangkaian Softstarter (SS) ... 15

2.7.2 Prinsip Kerja Softstarter (SS) ... 16

2.7.3 Penggunaan Softstarter (SS) ... 18

2.8 Pengasutan Frequency Drive (Inverter) ... 19

(52)

2.8.3 Penggunaan Frequency Drive (Inverter) ... 22

BAB III Metode Penelitian ... 23

3.1 Jenis Penelitian ... 23

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 23

3.3 Bahan dan Peralatan Penelitian ... 23

3.4 Variabel yang Diamati ... 24

3.5 Prosedur Penelitian... 24

3.6 Rangkaian Penelitian ... 27

BAB IV Hasil dan Analisis ... 28

4.1 Umum ... 28

4.2 Hasil Penelitian ... 28

4.3 Hasil Analisis ... 34

4.3.1 Karakteristik Softstarter ... 34

4.3.2 Karakteristik Inverter ... 35

4.4 Perbandingan Pengasutan Softstarter dan Inverter ... 36

BAB V Penutup ... 38

5.1 Kesimpulan ... 38

5.2 Saran ... 39

(53)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 (a) Rotor belitan (b) Rotor sangkar ... 5

Gambar 2.2 Konstruksi Motor Listrik 3 Fasa ... 6

Gambar 2.3 Prinsip kerja Motor Induksi... 10

Gambar 2.4 Grafik Torque-Kecepatan Motor Induksi 3 Fasa ... 11

Gambar 2.5 Bentuk Softstarter untuk Motor Induksi 3 Fasa ... 14

Gambar 2.6 Rangkaian Dasar Soft Starting ... 15

Gambar 2.7 Kurva arus start dengan Softstarter ... 17

Gambar 2.8 Rangkaian utama motor induksi dengan Softstarter ... 18

Gambar 2.9 Rangkaian utama motor induksi dengan Inverter ... 20

Gambar 2.10 Jenis – jenis Inverter ... 23

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian ... 25

Gambar 3.2 Rangkaian Penelitian dengan Softstarter ... 27

Gambar 3.3 Rangkaian Penelitian dengan Inverter ... 27

Gambar 4.1 Karakteristik Arus start pada Softstarter ... 34

Gambar 4.2 Karakteristik Arus start pada Inverter ... 35

Gambar 4.3 Perbandingan Arus start antara kedua pengasutan ... 36

(54)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Hasil data penelitian arus start pada Softstarter ... 21

Figur

Gambar 3.2 Rangkaian Penelitian dengan Softstarter
Gambar 3 2 Rangkaian Penelitian dengan Softstarter . View in document p.6
Gambar 3.3 Rangkaian Penelitian dengan pengasutan frequency drives
Gambar 3 3 Rangkaian Penelitian dengan pengasutan frequency drives . View in document p.6
Tabel 4.1 Hasil data penelitian arus start pada softstarter :
Tabel 4 1 Hasil data penelitian arus start pada softstarter . View in document p.8
Gambar 4.1 Karakteristik Arus start pada Softstarter
Gambar 4 1 Karakteristik Arus start pada Softstarter . View in document p.15
Gambar 4.2 Karakteristik Arus start pada Inverter Danfoss VLT
Gambar 4 2 Karakteristik Arus start pada Inverter Danfoss VLT . View in document p.16
Gambar 4.3  Perbandingan Arus Start antara kedua pengasutan
Gambar 4 3 Perbandingan Arus Start antara kedua pengasutan . View in document p.17
Gambar 4.4  Perbandingan torsi antara kedua pengasutan
Gambar 4 4 Perbandingan torsi antara kedua pengasutan . View in document p.18
Gambar 2.1 (a) Rotor belitan ; (b) Rotor sangkar
Gambar 2 1 a Rotor belitan b Rotor sangkar . View in document p.22
Gambar 2.2. Konstruksi Motor Listrik 3 Fasa
Gambar 2 2 Konstruksi Motor Listrik 3 Fasa . View in document p.23
Gambar 2.3. Prinsip Kerja Motor Induksi
Gambar 2 3 Prinsip Kerja Motor Induksi . View in document p.26
Gambar 2.4. Grafik Torque-Kecepatan Motor Induksi 3 fasa
Gambar 2 4 Grafik Torque Kecepatan Motor Induksi 3 fasa . View in document p.28
Gambar 2.5. Bentuk Soft Starter untuk Motor Induksi 3 Fasa
Gambar 2 5 Bentuk Soft Starter untuk Motor Induksi 3 Fasa . View in document p.31
Gambar 2.6. Rangkaian Dasar Soft Starting
Gambar 2 6 Rangkaian Dasar Soft Starting . View in document p.32
Gambar 2.7. Kurva Arus Start dengan SoftStarter pada Motor Induksi 3 fasa
Gambar 2 7 Kurva Arus Start dengan SoftStarter pada Motor Induksi 3 fasa . View in document p.33
Gambar 2.8. Rangkaian utama motor induksi 3 fasa dengan pengasutan
Gambar 2 8 Rangkaian utama motor induksi 3 fasa dengan pengasutan . View in document p.34
Gambar 2.9. Rangkaian Utama motor induksi dengan pengasutan
Gambar 2 9 Rangkaian Utama motor induksi dengan pengasutan . View in document p.36
Gambar 2.10. Jenis – jenis Inverter pada Penggunaan Untuk Motor Induksi
Gambar 2 10 Jenis jenis Inverter pada Penggunaan Untuk Motor Induksi . View in document p.38

Referensi

Memperbarui...

Outline : Saran