commit to user
ANALISIS PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP KINERJA KEUANGAN DENGAN MANAJEMEN LABA
SEBAGAI VARIABEL MODERASI
SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat
untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh:
PUTRI SEPTIA DIANITA NIM. F0306064
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
commit to user
iii
commit to user
iv
MOTTO
“But while I loved all of these course, there was an irresistible attraction of
economics “
Tapi saat saya menyukai semua kursus/kuliah ini, ada ketertarikan tidak
tertahankan pada ekonomi
(Joseph E. Stiglitz, pemenang nobel ekonomi)
“Science is the great antidote to the poison of enthusiasm and superstition”
Ilmu pengetahuan adalah penangkal hebat dari racun antusiasme dan tahayul
commit to user
v
PERSEMBAHAN
Kan ku persembahan karya kecilku ini untuk:
Allah SWT atas karunia dan kemurahan hatiNya
yang telah melimpahkan ilmu pengetahuan yang tiada terkira
nilainya
Bapak & Ibuku yang paling aku cintai
terima kasih doa, bimbingan, dan kasih sayangnya kepada ananda
My beloved sisters yang tidak bosan-bosannya
memberikan dukungan & semangat
Almamaterku
Terima kasih semuanya
commit to user
vi
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil ’alamin. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, karunia, segala nikmat, dan kekuatan, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”ANALISIS PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP KINERJA KEUANGAN
DENGAN MANAJEMEN LABASEBAGAI VARIABEL MODERASI”, sebagai
tugas akhir guna memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi
Jurusan Akuntansi Universitas Sebelas Maret.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini tidak terlepas
dari dorongan dan bantuan banyak pihak. Oleh karenanya, penulis dengan ini
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Bambang Sutopo, M.Com., Ak., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Bapak Drs. Jaka Winarna M.Si., Ak., selaku Ketua Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Ibu Prof. Dr. Rahmawati, M.Si,Ak, selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan, perhatian, dan pengarahan yang sangat berharga
bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak dan ibu dosen, serta karyawan FE UNS, terimakasih-ku ucapkan
atas semua ilmu dan kenangan yang telah dibagi.
5. Keluargaku tercinta (khususnya Ayah Ibuku) yang selalu memberikan
dukungan, kepercayaan, dan doa-doa yang selalu terpanjatkan di setiap
commit to user
vii
6. My beloved sisters ( twin sisters ” mbak Fita & Fitri”, mbak Yani, dan mbak Sari) dan mas-mas iparku ( mas Bowo & mas Awan), terimakasih
atas dukungan, perhatian, dan kesabaran untuk adekmu yang manja ini.
7. Sahabat-sahabatku, hily, sesa, mila, mira, ghea, mawar, dan ira,
terimakasih sudah setiakawan saat kita menimba ilmu di bangku
perkuliahan ini. Senang berdiskusi bersama kalian.
8. Buat Denny Duwur, Rofi Farih, Satria, Loggar, Titut, Tata, Dyah, Moer,
Resya, Rowjack, Adiet, Darmo, Hanung, Kris, dll kocak sekali masa-masa
kuliah bersama kalian. Sukses buat kita semua.
9. Buat bapemania, terimakasih atas kepercayaannya untuk memberikan
kesempatan bagi saya sebagai Pimpinan Redaksi KOME, sungguh
pengalaman organisasi yang luar biasa. Salam Persma!!!
10.Accounting Society’06, terimakasih sudah berjuang bersama, saling mengisi ketika kuliah. Keep contact ya, teman-teman.
11.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu
kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak, penulis harapkan
demi perbaikan yang berkelanjutan.
Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak
yang membutuhkan di kemudian hari. Terima kasih.
Surakarta, September 2010
commit to user
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL DEPAN ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
ABSTRAK ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Sistematika Penulisan………8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Manajemen Laba ... 10
1. Definisi Manajemen Laba ... 10
2. Motivasi Manajemen Laba ... 13
commit to user
ix
4. Pembentukan Manajemen Laba ... 20
B. Corporate Sosial Responsibility (CSR) ... 22
C. Pengembangan Hipotesis ... 24
D. Kerangka Teoritis ... 32
BAB III METODA PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 35
B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel ... 35
C. Variabel Penelitian ... 36
1. Variabel Dependen ... 37
2. Variabel Independen ... 38
3. Variabel Moderasi ... 39
4. Variabel Kontrol ... 40
D. Metoda Analisis Data ... 42
1. Pengujian Statistik Deskriptif ... 42
2. Pengujian Asumsi Klasik ... 43
3. Pengujian Hipotesis……….. 45
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Akrual Kelolaan ... 48
B. Analisis Statistik Deskriptif ... 51
C. Pengujian Asumsi Klasik ... 52
commit to user
x BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 59
B. Keterbatasan ... 60
C. Implikasi ... 60
D. Saran ... 62
DAFTAR PUSTAKA……….. 63
commit to user
xi
DAFTAR TABEL
Tabel III. 1 Kriteria Pengambilan Sampel ... 36
Tabel IV. 1 Hasil Regresi Manajemen Laba (DAC) ... 49
Tabel IV. 2 Statistik Deskriptif ... 51
Tabel IV. 3 Hasil Uji Multikolinieritas ... 53
Tabel IV. 4 Hasil Pengujian Regresi Model 1 ... 55
commit to user
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar II. 1 Kerangka Teoritis Model 1 ... 33
commit to user
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Perusahaan Sampel ... 67
Lampiran 2 Item-Item Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan ... 68
Lampiran 3 Statistik Deskriptif ... 71
Lampiran 4 Hasil Regresi Manajemen Laba (DAC) ... 71
Lampiran 5 Hasil Uji Normalitas Model 1 ... 72
Lampiran 6 Hasil Uji Normalitas Model 2 ... 71
Lampiran 7 Hasil Uji Multikolinearitas Model 1... 73
Lampiran 8 Hasil Uji Multikolinearitas Model 2... 73
Lampiran 7 Hasil Uji Hipotesis Model 1 ... 74
commit to user
ABSTRAK
Putri Septia Dianita NIM. F0306064
ANALISIS PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP KINERJA KEUANGAN DENGAN MANAJEMEN LABA SEBAGAI VARIABEL MODERASI
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai pengaruh praktik manajemen laba terhadap aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR), dan selanjutnya meneliti dampak hubungan tersebut (manajemen laba dan CSR) berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan di masa depan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 27 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2006 – 2008. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode puposive sampling dan metode statistik yang digunakan adalah ordinary least square regression.
Hasil penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa perusahaan yang melakukan praktik manajemen laba tidak mempunyai pengaruh terhadap aktivitas CSR. Selain itu, berdasar hipotesis kedua dijelaskan bahwa aktivitas CSR yang berkaitan dengan praktik manajemen laba berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan perusahaan di masa depan.
commit to user
ii
ABSTRACT
Putri Septia Dianita NIM. F0306064
ANALISIS PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP KINERJA KEUANGAN DENGAN MANAJEMEN LABA SEBAGAI VARIABEL MODERASI
This study aims to obtain empirical evidence about the effect on the activity of earnings management practices of Corporate Social Responsibility (CSR), and further examine the impact of these relationships (earnings management and CSR) effect on the financial performance of companies in the future. Samples used in this study were 27 companies listed in Indonesia Stock Exchange during the years 2006-2008. Data collected by puposive sampling method and statistical method used is ordinary least square regression.
The study provides empirical evidence that companies that engage in the practice of earnings management has no influence on CSR activities. In addition, the second hypothesis, based CSR explained that the activities associated with earnings management practices negatively affect the company's financial performance in the future.
commit to user
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Laporan keuangan merupakan alat utama bagi manajemen untuk
menyampaikan informasi keuangan perusahaan. Penyampaian informasi
keuangan melalui laporan keuangan perlu dilakukan untuk memenuhi tanggung
jawab manajemen kepada pemilik perusahaan, sekaligus memenuhi kebutuhan
pihak eksternal maupun internal perusahaan (stakeholders) yang kurang memiliki
wewenang untuk memperoleh informasi yang mereka butuhkan dari sumber
langsung perusahaan (Boediono, 2005). Komponen penting dalam laporan
keuangan yang seringkali dijadikan sebagai alat untuk menginformasikan kinerja
manajemen adalah laba (earnings). Laba memiliki nilai relevansi tinggi karena
secara statistik berhubungan dengan peningkatan dan penurunan harga saham,
serta dapat digunakan untuk memprediksikan kinerja perusahaan di masa depan
(Francis dan Schipper, 1999).
Oleh karena laba merupakan indikator kinerja perusahaan dan mempunyai
relevansi tinggi terhadap kinerja perusahaan di masa depan, maka pihak
stakeholders sering menggunakan angka laba sebagai dasar pengambilan
keputusan ekonomik. Shareholder mempertimbangkan angka laba untuk membuat
keputusan investasi, kreditur menggunakan angka laba sebagai dasar membuat
keputusan pemberian atau penolakan pinjaman, pemerintah menggunakan angka
laba sebagai dasar perhitungan pajak penghasilan perusahaan, karyawan
commit to user
dimana ia bekerja, dan masih banyak kelompok stakeholder lainnya yang
menggunakan angka laba untuk memastikan kelangsungan kepentingan utama
mereka pada perusahaan.
Namun masalah akan terjadi ketika relevansi laba sebagai alat pengukur
kinerja perusahaan dihadapkan dengan praktik manipulasi (manajemen laba)
yang dilakukan oleh manajer. Watt dan Zimmerman (1978) menetapkan
manajemen laba sebagai tindakan manajer dalam menggunakan kebijakan
akuntansi terhadap pelaporan angka-angka akuntansi yang tidak sesuai dengan
kondisi ekonomi perusahaan yang sebenarnya, dan menyebabkan angka laba
tersebut menyesatkan stakeholders dalam pengambilan keputusan ekonomik.
Bagaimanapun manajer dapat melaporkan laba yang lebih tinggi atau lebih rendah
dari angka laba yang sesungguhnya, tanpa melanggar Prinsip Akuntansi Berlaku
Umum (PABU), karena PABU memberikan kebebasan bagi manajer untuk
menentukan kebijakan akuntansi dalam rangka menentukan angka laba yang
dilaporkan. Untuk itu Healy dan Wahlen (1999) mendefinisikan manajemen laba
sebagai tindakan manajer yang menggunakan judgment dalam pelaporan
keuangan dan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan yang
menyesatkan terhadap pemegang saham atas dasar kinerja ekonomi perusahaan
untuk mempengaruhi hasil sesuai dengan kontrak yang tergantung pada
angka-angka akuntansi yang dilaporkan. Pendapat tersebut secara implisit dapat diartikan
bahwa manajemen laba erat kaitannya dengan motivasi-motivasi yang mendasari
manajer melakukan manajemen laba.
Motivasi manajemen laba mengindikasikan secara eksplisit praktik
commit to user
konsekuensi negatif terhadap shareholders, karyawan, komunitas dimana
perusahaan beroperasi, masyarakat, karier dan reputasi manajer yang
bersangkutan (Zahra, Priem dan Rasheed, 2005). Salah satu konsekuensi paling
fatal akibat tindakan manajemen yang memanipulasi laba adalah perusahaan akan
kehilangan dukungan dari para stakeholders-nya. Stakeholder akan memberikan
respon negatif berupa tekanan dari investor, sanksi dari regulator, ditinggalkan
rekan kerja, boikot dari para aktivis, dan pemberitaan negatif media massa (Prior,
et al., 2008). Tindakan tersebut wujud ketidakpuasan stakeholders terhadap
kinerja perusahaan yang dimanipulasi, dan pada akhirnya berimbas merusak
reputasi perusahaan di pasar modal (Fombrun, Gardberg dan Barnett, 2000).
Oleh karena itu, manajer menggunakan suatu strategi pertahanan diri
(entrenchment strategy) untuk mengantisipasi ketidakpuasan stakeholder-nya
ketika ia melaporkan kinerja perusahaan yang kurang memuaskan. Strategi
pertahanan diri manajer tersebut sebagai upaya untuk tetap mempertahankan
reputasi perusahaan dan melindungi karier manajer secara pribadi. Salah satu cara
yang digunakan manajer sebagai strategi pertahan diri adalah mengeluarkan
kebijakan perusahan tentang penerapan Corporate Social Responsibility (CSR).
CSR berkaitan dengan persoalan etika dan moral mengenai pembuat keputusan
kebijakan dan perilaku, seperti menempatkan persoalan komplek terhadap
penjagaan pelestarian lingkungan, manajemen sumber daya manusia, kesehatan
dan keamanan kerja, hubungan dengan komunitas lokal, dan menjalin hubungan
harmonis dengan pemasok dan pelanggan (Castelo dan Lima, 2006).
Pengungkapan informasi mengenai perilaku dan hasil berkenaan dengan tanggung
commit to user
para stakeholders (Orlitzky, Schmidt dan Rynes, 2003). Citra positif ini dapat
membantu perusahaan untuk mendirikan ikatan komunitas dan membangun
reputasi perusahaan di pasar modal karena dapat meningkatkan kemampuan
mereka dalam menegosiasikan kontrak yang menarik dengan suplier dan
pemerintah, menetapkan premium prices terhadap barang dan jasa, dan
mengurangi biaya modal (Fombrun et al., 2000). Castelo dan Lima (2006)
menjelaskan bahwa melalui praktik CSR, perusahaan dapat menghasilkan lebih
banyak perlakuan yang lebih menguntungkan berkenaan dengan regulasi, serta
mendapatkan dukungan dari kelompok aktivis sosial, legitimasi dari komunitas
industri, dan pemberitaan positif dari media, yang pada akhirnya reputasi
perusahaan tetap terjaga dengan baik.
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang telah dilakukan
oleh Prior, Surroca, dan Tribo (2008). Berikut ini perbedaan antara penelitian ini
dengan penelitian Prior, Surroca, dan Tribo (2008):
1. Periode pengamatan.
Periode penelitian ini selama 3 tahun dalam periode 2006-2008
agar informasi yang diperoleh lebih relevan dengan masa kini. Sedangkan
penelitian Prior, Surroca, dan Tribo (2008) mengambil rentang waktu
selama tiga tahun dalam periode 2002-2004.
2. Jumlah dan jenis sampel penelitian
Sampel penelitian ini merupakan perusahaan-perusahaan
manufaktur yang mengungkap program CSR di Bursa Efek Indonesia
(BEI) untuk tahun 2006-2008 berfokus hanya di negara Indonesia sebab
commit to user
Sosial Responsibility dengan kinerja keuangan perusahaan sebagai
variabel moderating belum pernah diterapkan di Indonesia sebelumnya.
Sementara, Prior, Surroca, dan Tribo (2008) menggunakan sampel terdiri
atas 593 perusahaan industri meliputi database SiRi Pro™ pada tahun
2002-2004 mengkhususkan pada analisis sosially responsible invesment,
dan berada di Eropa, Amerika Utara, dan Australia.
3. Teknik pengukuran pengungkapan CSR
Instrumen pengukuran CSRI yang akan digunakan dalam
penelitian ini mengacu pada instrumen yang digunakan oleh Sembiring
(2005), yang mengelompokkan informasi CSR ke dalam kategori:
Lingkungan, Energi, Tenaga Kerja, Produk, Keterlibatan Masyarakat, dan
Umum. Sedangkan penelitian Prior, Surroca, dan Tribo (2008) mengacu
pada deskripsi item yang terdapat pada data SiRi Pro™.
Konteks permasalahan penelitian ini adalah adanya dugaan bahwa manajer
menggunakan mekanisme CSR sebagai alat yang ampuh untuk pertahanan diri
ketika mereka melakukan tindakan yang merusak kepentingan shareholders atau
stakeholder lainnya. Cespa dan Cestone (2007) menjelaskan bahwa manajemen
yang memanipulasi laba mempunyai insentif untuk memproyeksikan
socially-friendly image melalui aktivitas CSR untuk memperoleh dukungan dari
stakeholders. Dengan taktik ini, manager akan mengurangi kemungkinan
mendapat tekanan akibat ketidakpuasan shareholders atau stakeholders lainnya
yang kepentingannya dirusak dengan adanya praktik manajemen laba. Selanjutnya
commit to user
manajemen laba dan CSR, yang pada akhirnya akan berdampak pada kinerja
keuangan perusahaan. Bagaimanapun, perusahaan yang melaksanakan program
CSR harus menyediakan sumber keuangan memadai yang akan mempengaruhi
kinerja keuangan perusahaan dalam jangka panjang. Fenomena tersebut
mendorong pihak akademis untuk melakukan penelitian yang menjelaskan
pengaruh manajemen laba terhadap CSR, dan selanjutnya meneliti dampak
hubungan tersebut (manajemen laba dan CSR) terhadap kinerja keuangan
perusahaan.
B. Perumusan Masalah
Atas dasar latar belakang tersebut dan beberapa hasil penelitian
sebelumnya, maka masalah yang hendak dijawab melalui penelitian ini adalah:
1. Apakah praktik manajemen laba mempengaruhi aktivitas Corporate
Social Responsibility?
2. Apakah aktivitas Corporate Social Responsibility yang berkaitan dengan
praktik manajemen laba mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan di
masa depan?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah, maka tujuan yang hendak dicapai dari
penelitian ini adalah menganalisis dan mendapatkan bukti empiris tentang:
1. Pengaruh praktik manajemen laba terhadap aktivitas Corporate Social
commit to user
2. Pengaruh aktivitas Corporate Social Responsibility yang berkaitan dengan
praktik manajemen laba terhadap kinerja keuangan perusahaan di masa
depan.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak
sebagai berikut :
1. Manajemen
Memberikan peringatan kepada pihak manajemen yang
melaksanakan program CSR dalam rangka memperbaiki citra perusahaan
namun sekaligus sebagai strategi pertahanan diri mereka untuk menutupi
praktik manajemen laba merupakan tindakan yang tidak etis, dan pada
akhirnya dapat merugikan kinerja perusahaan di masa depan.
2. Investor dan Kreditur
Memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi
(pemberian pinjaman) pada perusahaan-perusahaan yang melaksanakan
program CSR, bahwa kemungkinan manajemennya melakukan praktik
manajemen laba (earnings management) untuk memanipulasi laba yang
dilaporkan.
3. Regulator (IAI, BAPEPAM-LK dan BEI)
Memberikan masukan IAI untuk membuat standar akuntansi yang
dapat mempersempit usaha manajemen agar tidak melakukan manajemen
laba yang menyesatkan stakeholder-nya. Sebagai bahan masukan bagi
commit to user
dampak program CSR terhadap kinerja keuangan perusahaan jangka
panjang.
4. Akademisi
Memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori keagenan
bahwa manajemen sebagai agen stakeholder, yaitu terdapat hubungan
multilateral antara manajemen dan para stakeholder dalam suatu
perusahaan. Hasil penelitian ini juga memberi kontribusi pengembangan
literatur manajemen laba, bahwa CSR dapat digunakan sebagai sarana
pertahanan diri manajemen ketika mereka melakukan praktik manajemen
laba.
E. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II TELAAH PUSTAKA
Bab ini menjelaskan mengenai konsep manajemen laba, corporate
social responsibility, pengembangan hipotesis dan kerangka
teoritis.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisi desain penelitian, populasi, sampel, dan teknik
pengambilan sampel, definisi operasional dan pengukuran variabel,
commit to user
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan mengenai analisis statistik deskriptif,
pengujian kualitas data, dan pengujian hipótesis.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan, keterbatasan penelitian, saran, dan
commit to user
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Manajemen Laba
Bagian ini menjelaskan lebih rinci mengenai hal-hal yang berhubungan
dengan manajemen laba mulai dari pengertian dari beberapa peneliti sebelumnya,
bentuk manajemen laba, dan motivasi yang mendasari terbentuknya manajemen
laba.
1. Definisi Manajemen Laba
Istilah manajemen laba muncul sebagai konsekuensi langsung dari
upaya-upaya manajer atau pembuat laporan keuangan untuk melakukan
manajemen informasi akuntansi, khususnya laba (earnings), demi kepentingan
pribadi dan/atau perusahaan (Gumanti, 2000).
Setiawati dan Na’im (2000) mendefinisikan manajemen laba sebagai
campur tangan manajemen dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan
tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri. Manajemen laba merupakan
salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan.
Manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan yang mempercayai
angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka tanpa rekayasa.
Widyaningdyah (2001) dalam penelitiannya menyatakan earnings
management merupakan tindakan manajemen yang berupa campur tangan
dalam proses penyusunan laporan keuangan dengan maksud untuk
meningkatkan kesejahteraannya secara personal maupun untuk meningkatkan
commit to user
Menurut Suyatmin dan Suwarno (2002) earnings management
mempunyai definisi sebagai sebagai berikut:
―earnings management terjadi ketika para manajer menggunakan pertimbangan (judgementnya) dalam pelaporan keuangan dan di dalam perancangan transaksi yang terstruktur untuk mengubah laporan keuangan yang dapat menyesatkan stakeholders tentang dasar kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil sesuai kontrak yang tergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan‖.
Dalam Suyatmin dan Suwarno (2002) disebutkan bahwa earnings
management merupakan proses dengan sengaja, dalam batasan Generally
Accepted Accounting Principles (GAAP), untuk melaporkan tingkat laba
periodik (earnings) sesuai yang diinginkan. Hal ini dipengaruhi oleh dua faktor
sebagai berikut ini.
a. Perilaku opportunistic manajer, yakni memaksimumkan kepuasan
dalam hubungannya dengan kompensasi, kontrak utang dan political
cost.
b. Keyakinan manajer bahwa earnings management dapat mempengaruhi
harga pasar saham.
Pengertian earnings management dilihat dari sudut etika dapat diartikan
sebagai suatu tindakan manjemen yang berkiblat pada dilaporkannya
pendapatan dan penyediaan keuntungan ekonomi yang tidak benar untuk
organisasi dan mungkin dalam faktanya dalam jangka panjang serta terjadinya
kerusakan (Suyatmin dan Suwarno, 2002).
Definisi manajemen laba yang hampir sama juga diungkapkan oleh
Schipper (1989) dalam Sutrisno (2002) yang menyatakan bahwa manajemen
commit to user
keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan privat (sebagai
lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut).
Abarbanel dan Lehavy ( 2003) mendefinisikan earnings management
sebagai suatu tindakan oportunistik yang dilakukan oleh manajemen atau
tindakan yang diambil untuk menarik shareholders dalam pasar modal.
Scott (2003) mendefinisikan manajemen laba dalam penelitiannya
sebagai berikut ini.
―Given that managers can choose accounting policies from a set (for example, GAAP), it is natural to expect that they will choose policies so as to maximize their own utility and/or the market value of the firm‖.
Definisi manajemen laba tersebut dapat diartikan sebagai pemilihan
kebijakan akuntansi oleh manajer dari standar akuntansi yang ada dan secara
alamiah dapat memaksimumkan utilitas mereka dan atau nilai pasar
perusahaan. Scott (2003) membagi cara pemahaman atas manajemen laba
menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk
memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak
utang, dan political cost (Opportunistic Earnings Management). Ke dua,
dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting
(Efficient Earnings Management), di mana manajemen laba memberi manajer
suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam
mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan
pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat
mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui manajemen laba,
misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan
commit to user
Menurut Saputro dan Setiawati (2004) manajemen laba adalah campur
tangan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan eksternal guna
mencapai tingkat laba tertentu dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya
sendiri (atau perusahaannya sendiri).
Penelitian yang dilakukan oleh Ewert dan Wagenhofer (2005)
disebutkan bahwa akuntansi dalam earnings management meliputi interpretasi
dari standar akuntansi dan penerapan transaksi atau kejadian yang telah
dilakukan. Pada dasarnya manajer akan membagi beberapa angka dari laba
akuntansi dari satu periode ke periode yang lain.
Kusuma (2006) secara implisit dapat diartikan bahwa manajemen laba
erat kaitannya dengan motivasi-motivasi yang mendasari manajer melakukan
manajemen laba, sasaran-sasaran yang ingin dicapai manajer, dan penggunaan
judgment-judgment dalam pelaporan keuangan.
Sanjaya (2008) menyatakan bahwa manajemen laba cenderung
menyebabkan kualitas laporan keuangan menjadi lebih rendah karena tujuan
manajemen laba adalah untuk menyesatkan para pengguna laporan keuangan.
2. Motivasi Manajemen Laba
Berdasarkan literatur dan didukung oleh riset empiris, Healy dan
Wahlen (1999) mengelompokkan motivasi manajemen untuk melakukan
manajemen laba menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Motivasi Pasar Modal
Meluasnya penggunaan informasi akuntansi oleh investor dan analis
commit to user
memanipulasi laba dalam rangka mempengaruhi kinerja harga sekuritas
jangka pendek. Beberapa riset empiris menunjukkan manajemen perusahaan
melakukan manajemen laba sebelum dilakukannya management buyout
(MBO). DeAngelo (1986) menyatakan informasi laba penting untuk
penilaian MBO dan ia menghipotesiskan manajer perusahaan buyout
mempunyai insentif untuk ―understate‖ laba. Dengan menggunakan metoda
akuntansi akrual, ia menguji 64 perusahaan yang terdaftar di New York
Stock Exchange (NYSE) dan American Stock Exchange selama perioda
1973—1982. Namun, hasil yang diperoleh tidak mendukung hipotesis
manajemen laba. Salah satu kelemahan dalam desain riset DeAngelo adalah
adanya asumsi bahwa komponen akrual nonkelolaan adalah nol. Ini tentu
kurang logis karena tingkat aktivitas ekonomi perusahaan yang
mempengaruhi besarnya akrual nonkelolaan selalu berubah dengan tingkat
perubahan yang berbeda-beda. Suatu model yang baik seharusnya
mengontrol perubahan akrual nonkelolaan yang disebabkan oleh perubahan
kondisi.
Perry dan Williams (1994) mencoba untuk memperbaiki desain riset
DeAngelo (1986) dengan menggunakan model Jones (1991) guna
mendeteksi manajemen laba. Guna memperkuat analisisnya, maka Perry
dan Williams juga membuat sampel kontrol, yaitu perusahaan yang
memiliki komparabilitas dengan perusahaan sampel yang tidak melakukan
MBO. Hasil yang diperoleh menunjukkan manajer perusahaan telah
melakukan manajemen laba sebelum MBO, yaitu dengan decreasing income
commit to user
diharapkan memberi keuntungan kepada manajemen, pemegang saham
yang mungkin menerima harga pembelian kembali yang lebih rendah.
Beberapa penelitian yang lain juga menguji apakah laba yang
dilaporkan oleh manajer adalah ―overstate‖ dalam perioda di sekitar
penawaran ekuitas (equity offering). Teoh dkk. (1998) menguji 1265
perusahaan yang melakukan equity offerings dengan perioda pengujian
mulai tahun 1976 sampai 1989. Ia menunjukkan bahwa manajer perusahaan
berupaya untuk menaikkan laba sebelum seasoned equity offers agar saham
yang ditawarkan laku karena pembeli akan mendapatkan dividen yang
tinggi.
b. Contracting Motivations
Data akuntansi digunakan untuk membantu memonitor dan
meregulasi hubungan kontraktual di antara beberapa stakeholders
perusahaan. Kontrak kompensasi eksplisit dan implisit digunakan untuk
membatasi insentif manajemen dan external stakeholders. Kontrak
perjanjian pinjaman dilakukan secara tertulis guna mencegah agar
manajemen tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan posisi
kreditur. Kontrak-kontrak tersebut seringkali menggunakan angka
akuntansi sebagai pengukur kinerja perusahaan seperti yang tercantum
dalam kontrak perjanjian. Watts dan Zimmerman (1978) menyatakan
kontrak-kontrak tersebut menimbulkan insentif bagi manajer untuk
melakukan manajemen laba, mengingat pihak stakeholders cenderung
tidak berupaya untuk mendeteksi dan menyelidiki ada-tidaknya manajemen
commit to user
Manajemen laba untuk alasan contracting ini cenderung menarik
perhatian badan penetap standar karena manajemen laba yang dilakukan
secara potensial akan menghasilkan laporan keuangan yang menyesatkan.
Selain itu, pelaporan keuangan digunakan untuk menyampaikan informasi
tidak hanya kepada investor, tetapi juga kepada kreditur dan wakil-wakil
investor yang duduk sebagai anggota dewan direktur.
Riset empiris yang mendukung hal ini dilakukan oleh De Angelo
dkk. (1994) yang telah menguji, apakah 76 perusahaan yang selama tahun
1980 sampai 1985 kinerjanya mendekati batas-batas dividend covenant
akan mengubah metoda akuntansi yang digunakan. Hasil riset mereka
menemukan 87% perusahaan melaporkan overstated reporting earnings
dan 8% melaporkan understated reporting earnings dan sisanya 5%
melakukan perataan laba. Ini merupakan bukti adanya manajemen laba
diantara perusahaan yang mendekati dividend covenant-nya.
Motivasi contracting ini selain mencakup kontrak pinjaman juga
mencakup kontrak kompensasi. Jadi, dua hipotesis yang dikemukakan
dalam TAP termasuk dalam kelompok motivasi contracting. Guidry dkk.
(1998) menemukan manajer divisi suatu perusahaan multivasional
cenderung menangguhkan income ketika target laba dalam rencana
bonusnya tidak akan terpenuhi dan ketika mereka berhak mendapatkan
bonus maksimum yang diijinkan berdasarkan program bonus. Beberapa
riset juga dilakukan untuk menguji insentif manajemen laba dengan adanya
commit to user c. Regulatory Motivations
Terdapat tiga bentuk motivasi regulasi yang mendasari praktik
manajemen laba yaitu untuk menghindari regulasi industri, untuk
mengurangi risiko investigasi, dan intervensi oleh pemerintah berkaitan
dengan undang-undang anti-trust, serta untuk tujuan perencanaan pajak
(Jones 1991; Cahan 1992; Na'im dan Hartono 1996).
Setiawati (2002) memfokuskan pada perilaku manajemen laba dalam
kaitannya dengan insentif untuk meminimalkan pajak. Hasilnya tidak dapat
membuktikan bahwa perusahaan berusaha menurunkan laba pada tahun
1994 dengan tujuan untuk mendapatkan penghematan pajak. Saran untuk
penelitian selanjutnya adalah menggunakan momen perubahan tarif pajak
penghasilan untuk mengevaluasi dampak penurunan tarif pajak terhadap
perilaku oportunis manajemen.
Penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi perilaku manajemen
laba dalam industri perbankan telah dilakukan oleh Setiawati dan Nai'm
(2001) yang mengindikasikan bahwa bank yang mengalami penurunan skor
kesehatan memilih kebijakan akrual yang dapat meningkatkan laba. Artinya,
manajemen melakukan manipulasi menaikkan laba karena adanya motivasi
regulasi dari BI, yaitu tentang tingkat kesehatan.
Beaver (2002) menggolongkan motivasi manajemen laba menjadi dua
yaitu oportunistik dan signalling. Motivasi mengelola akrual berhubungan
dengan perilaku kontrak kompensasi, kovenan hutang, penentuan harga di
pasar modal, pajak, litigasi dan regulasi. Teori signalling menjelaskan bahwa
commit to user
2005). Apabila manajemen mengetahui lebih banyak mengenai kondisi
keuangan dan prospek perusahaan daripada pemegang saham, mereka dapat
memberikan sinyal dengan mencatat akrual kelolaan.
3. Teknik Manajemen Laba
Setiawati dan Na’im (2000) menyebutkan bahwa teknik untuk
merekayasa laba dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi
Cara manajemen untuk mempengaruhi laba melalui judgement
terhadap estimasi akuntansi antara lain, estimasi tingkat piutang tidak
tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi
aktiva tidak berwujud, estimasi biaya garansi, dan lain-lain.
b. Mengubah metoda akuntansi
Perubahan metoda akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu
transaksi, contoh: mengubah metoda depresiasi aktiva tetap, dari
metoda depresiasi angka tahun ke metoda depresiasi garis lurus.
c. Menggeser perioda biaya atau pendapatan
Contoh rekayasa perioda biaya atau pendapatan antara lain:
mempercepat/menunda pengeluaran untuk penelitian sampai perioda
akuntansi berikutnya, mempercepat/menunda pengeluaran promosi
sampai perioda akuntansi berikutnya, kerja sama dengan vendor untuk
mempercepat/menunda pengiriman tagihan sampai perioda akuntansi
berikutnya, mempercepat/menunda pengiriman produk ke pelanggan,
menjual investasi sekuritas untuk memanipulasi tingkat laba, mengatur
commit to user
Perusahaan yang mencatat persediaan dengan menggunakan asumsi
LIFO, juga dapat merekayasa peningkatan laba melalui pengaturan
saldo persediaan.
Ronen dan Sadan (1975) dalam Suyatmin dan Agus (2002)
menunjukkan perekayasaan earnings dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
Cara pertama dapat dilakukan manajemen dengan menentukan waktu
terjadinya kejadian tertentu melalui kebijaksanaan yang dimiliki untuk
mengurangi variasi laba yang dilaporkan. Cara kedua dapat dilakukan
manajemen dengan mengalokasikan pendapatan dan biaya tertentu untuk
beberapa perioda akuntansi. Cara ketiga dilakukan dengan menetapkan
kebijaksanaan sendiri di dalam mengklasifikasikan pos-pos laba rugi tertentu
kedalam kategori yang berbeda. Dari berbagai penelitian yang ada instrumen
yang sering digunakan untuk melakukan earnings management antara lain
adalah biaya pensiun, pos-pos luar biasa, kredit pajak investasi, depresiasi dan
biaya tetap, perbedaaan mata uang, klasifikasi akuntansi dan pencadangan.
Achmad dkk. (2007) dalam penelitiannya menyebutkan strategi
manajemen laba secara spesifik meliputi (1) perusahaan menggunakan strategi
flesibilitas dalam pengestimasian penyisihan piutang dan persediaan, (2)
perusahaan lebih menyukai strategi pelanggaran prinsip akuntansi dan
manajemen laba transaksional daripada pemanfaatan fleksibilitas akuntansi
akrual, serta (3) pergeseran pendapatan dan beban antar perusahaan untuk
commit to user 4. Pembentukan Manajemen Laba
Manajer dapat memilih beberapa bentuk manajemen laba tergantung
dari kebutuhan masing-masing perusahaan. Bentuk dari manajemen laba
antara lain Taking a Bath, Income Minimazation, Income Maximation, dan
Income Smoothing (Scoot, 2003). Berikut ini akan dijelaskan masing-masing
bentuk manajemen laba, sebagai berikut:
a. Taking a Bath
Terjadinya taking a bath pada perioda stres atau reorganisasi termasuk
pengangkatan CEO baru. Bila perusahaan harus melaporkan laba yang
tinggi, manajer merasa dipaksa untuk melaporkan laba yang tinggi,
dengan begitu konsekuensinya manajer akan menghapus aktiva dengan
harapan laba yang akan datang meningkat. Dalam bentuk ini mengakui
adanya biaya pada perioda mendatang dan kerugian pada perioda
berjalan, ketika kondisi buruk yang tidak menguntung, tidak dapat
dihindari pada perioda tersebut. Untuk itu manajemen harus
menghapus beberapa aktiva dan membebankan perkiraan biaya
mendatang serta melakukan clear the desk, sehingga laba yang
dilaporkan di perioda yang akan datang meningkat.
b. Income Minimization
Income minimization dilakukan sebagai alasan politis pada perioda
laba yang tinggi sehingga jika laba pada perioda mendatang
diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba
perioda sebelumnya atau dengan mempercepat penghapusan aktiva
commit to user
biaya. Pada saat probabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud
agar tidak mendapat perhatian secara politis, kebijakan yang diambil
dapat berupa penghapusan atas barang modal dan aktiva tidak
berwujud, biaya iklan dan pengeluaran untuk Research and
Development, hasil akuntansi untuk biaya eksplorasi minyak, gas dan
sebagainya.
c. Income Maximization
Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan net
income yang tinggi untuk tujuan bonus yang besar. Perusahaan yang
melakukan pelanggaran perjanjian utang mungkin akan
memaksimalkan pendapatan. Jadi income maximization dilakukan
pada saat laba menurun.
d. Income Smoothing
Perataan laba merupakan normalisasi laba yang dilakukan secara
sengaja untuk mencapai tren atau level tertentu (Belkaoui dalam
Suyatmin dan Agus (2000)). Menurut Beidelman (1973) dalam
Suyatmin dan Agus (2002) income smoothing merupakan usaha yang
disengaja untuk meratakan atau memfluktuasikan tingkat laba
sehingga pada saat sekarang dipandang normal bagi suatu perusahaan.
Dalam hal ini perataan laba menunjukkan suatu usaha manajemen
perusahaan untuk mengurangi batas-batas yang diijinkan dalam praktik
akuntansi dan prinsip manajemen yang wajar.
commit to user
Studi DeFond dan Jiambalvo (1994); Sweeny (1994); Peltier-Rivest
(1999); Jaggi dan Lee (2001); dan Rosner (2003) dalam Herawati dan
Baridwan (2007) memberikan bukti empiris mengenai pola manajemen laba
dalam bentuk meningkatkan laba yang dilaporkan. Sedangkan beberapa studi
lain menyatakan bahwa manajer sedikit mungkin melakukan manajemen laba
yang meningkatkan laba, justru manajer lebih mungkin melakukan
manajemen laba yang menurunkan laba untuk menyoroti kesulitan keuangan
perusahaan yaitu DeAngelo et al. (1994); dan Saleh dan Ahmed (2005) dalam
Herawati dan Baridwan (2007). Jadi pola manajemen laba yang dapat
dilakukan oleh manajer ada dua, yaitu meningkatkan laba dan menurunkan
laba yang dilaporkan.
B. Corporate Sosial Responsibility (CSR)
The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD)
mendefinisikan corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial
perusahaan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi
pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerjasama dengan para karyawan
serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun
masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang
bermanfaat, baik dari segi bisnis maupun untuk pembangunan. Konsep CSR
melibatkan tanggung jawab kemitraan antara pemerintah, lembaga masyarakat,
serta komunitas lokal yang bersifat statis. Kemitraan ini sebagai bentuk tanggung
commit to user
Sementara Belkaoui (2006) menjelaskan bahwa disiplin akuntansi
merespon perkembangan pertanggungjawaban sosial perusahaan dengan
melahirkan wacana baru tentang social responsibility accounting (SRA), total
impact accounting (TIA), dan sosio economic accounting (SEA).
Gray et al., (1995) dalam Yuliana dan Purnomosidhi (2008)
mengemukakan beberapa teori yang melatarbelakangi perusahaan untuk
melakukan pengungkapan sosial yaitu:
1. Decision Usefulness Studies
Teori ini memasukkan para pengguna laporan akuntansi yang lain selain
para investor ke dalam kriteria dasar pengguna laporan akuntansi sehingga
suatu pelaporan akuntansi dapat berguna untuk pengambilan keputusan
ekonomi oleh semua unsur pengguna laporan tersebut.
2. Economic Theory Studies
Studi ini berdasarkan pada economic agency theory. Teori tersebut
membedakan antara pemilik perusahaan dengan pengelola perusahaan dan
menyiratkan bahwa pengelola perusahaan harus memberikan laporan
pertanggungjawaban atas segala sumber daya yang dimiliki dan
dikelolanya kepada pemilik perusahaan
3. Sosial and Political Studies
Sektor ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan politik, sosial, dan
kerangka institusional tempat ekonomi berada. Studi sosial dan politik
mencakup dua teori utama, yaitu stakeholder theory dan legitimacy
commit to user
Teori-teori lain yang mendukung praktik CSR yaitu teori kontrak sosial.
Teori tersebut menjelaskan bahwa perusahaan sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari suatu komunitas.
C. Pengembangan Hipotesis
1. Pengaruh Manajemen laba terhadap Praktik CSR
Davidson III, Jiraporn, Kim dan Nemec (2004) telah menguji
hubungan antara manajemen laba dan teori agensi. Mereka berpendapat bahwa
pemisahan antara pemilik (prinsipal) dan pengendali (agen) pada perusahaan
memunculkan asimetri informasi, yang memungkinkan agen melakukan
tindakan oportunis karena mereka mempunyai kepentingan yang berbeda
dengan prinsipal. Dalam konteks ini, manajemen laba dipandang sebagai
sebuah biaya keagenan untuk mengawasi manajer yang berpeluang menjaga
kepentingan pribadinya dengan cara mengeluarkan laporan keuangan yang
tidak menyajikan gambaran ekonomi perusahaan yang sesungguhnya. Sebagai
konsekuensinya, shareholders dapat membuat keputusan investasi yang tidak
optimal.
Meskipun demikian, dampak manajemen laba tidak hanya
mempengaruhi pemilik perusahaan, tetapi juga mempunyai pengaruh yang
kuat pada stakeholder lainnya. Stakeholder merupakan sekelompok orang
yang mempunyai risiko sebagai akibat bentuk investasi mereka berupa modal,
sumber daya manusia, atau sesuatu yang bernilai pada suatu perusahaan
(Clarkson, 1994). Berdasarkan definisi tersebut, berarti bahwa tindakan
commit to user
terhadap penilaian aset, transaksi, dan posisi keuangan, yang mempunyai
konsekuensi yang serius terhadap pemegang saham, kreditor, karyawan, dan
masyarakat secara keseluruhan (Zahra et al., 2005)
Ketika pemegang saham menduga bahwa manajer melaporkan laba
manipulasian, maka perusahaan tempat manajer bekerja tersebut akan
langsung kehilangan nilai di pasar modal (Dechow dan Sweeney, 1996).
Selanjutnya, dapat diprediksikan bahwa peringkat kredit obligasi perusahaan
tersebut juga akan jatuh sehingga berdampak negatif terhadap kesejahteraan
bondholder. Sementara itu, D’Souza et al. (2000) juga menjelaskan dampak
praktik manajemen laba terhadap para karyawan. Mereka meneliti hubungan
manajemen laba dan kos tenaga kerja, dan menemukan bahwa manajer
mengurangi angka laba yang dilaporkan ketika melakukan negosiasi kontrak
kerja dengan serikat pekerja. Hal tersebut dilakukan manajer dalam rangka
untuk menekan kos tenaga kerja. Dampak tindakan manajer tersebut dapat
mengurangi kepercayaan terhadap integritas manajemen dan juga mengikis
kepercayaan pasar terhadap perusahaan, yang selanjutnya dapat membawa
konsekuensi yang serius bagi masyarakat secara keseluruhan (Zahra et al.,
2005).
Oleh karena keputusan manajemen berdampak secara langsung
terhadap semua kelompok stakeholders, maka manajer dapat dipandang
sebagai agen stakeholders, dan tidak hanya sebagai agen shareholders.
Berdasarkan perspektif manajemen sebagai agen stakeholder, suatu
perusahaan dipandang tidak hanya sebagai suatu hubungan bilateral antara
commit to user
multilateral antara manajemen dan stakeholder. Masing-masing stakeholder
mempunyai kepentingan pribadi, yang pada umumnya menimbulkan konflik
kepentingan dengan stakeholder lainnya. Salah satu konflik kepentingan yang
muncul adalah konflik kepentingan antara manajer dan stakeholder lainnya,
sebagai peredam masalah keagenan (Hill dan Jones, 1992), yang dapat
mencegah kelompok stakeholder lainnya yang ingin memaksimalkan
kepentingannya. Pada akhirnya, karena manajer yang mengendalikan proses
pembuatan keputusan dalam perusahaan, mereka dapat menggunakan power
mereka untuk keuntungan pribadinya, namun menyebabkan stakeholders
lainnya mengalami kerugian yang signifikan.
Rowley dan Berman (2000) menjelaskan bahwa salah satu bentuk
respon stakeholders terhadap manajer yang menggunakan power untuk
keuntungan pribadinya, adalah dengan cara menghukum mereka agar
mengubah perilaku oportunis tersebut. Hukuman tersebut dalam bentuk boikot
dan melobi pihak-pihak terkait yang mempunyai bargaining power dengan
perusahaan (Baron, 2001; Feddersen dan Gilligan, 2001; John dan Klein,
2003). Tindakan boikot dan kampanye media menimbulkan ancaman yang
membahayakan bagi manajemen, namun stakeholder secara substansial
menikmati aksi tersebut karena secara tidak langsung mereka dapat
mengendalikan perusahaan. Selain itu, aksi boikot juga menimbulkan
ancaman serikat pekerja, mengurangi kepercayaan pelanggan dan partner
bisnis, dan sanksi dari regulator (Castelo dan Lima, 2006). Dalam konteks ini,
commit to user
aksi tersebut, dan memberi kontribusi terhadap pengurangan penyalahgunaan
manajemen.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa media mempunyai pengaruh
penting terhadap aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR). Bansal
(2005) melaporkan bahwa meningkatnya laporan media menimbulkan
kepedulian perusahaan karena mendapat perhatian dari publik dan atau
kecaman publik yang lebih pedas. Ancaman negatif publikasi media
mempunyai dua konsekuensi dari semua praktik manajemen. Pertama,
beberapa publikasi menyebabkan tekanan yang memaksa perusahaan untuk
komitmen pada pengembangan berkelanjutan, dan ancaman yang dapat
mengikis citra baik perusahaan yang mengimplemantasikan praktik yang tidak
dapat diterima oleh publik. Kedua, CSR merangsang stakeholder melobi
organisasi tertentu dan pemerintah dalam rangka untuk menerapkan
perubahan praktik bisnis. Dalam kasus yang berkaitan dengan manajemen
laba, beberapa stakeholder berhubungan dengan tanggapan spesifik. Sebagai
contoh adalah pemegang saham dan stakeholder lainnya secara proaktif
meminta perbaikan kembali untuk kerugian yang mereka tanggung akibat
praktik manajemen laba (Zahra, 2005). Selain itu, beberapa perusahaan mulai
mengembangkan program in-house whistle-blowing dimana pekerjanya dapat
mengungkapkan perhatiannya tentang isu akuntansi dan operasi secara
bijaksana dan tidak bernama.
Dalam konteks yang sama, manajer pada perusahaan yang terdaftar di
pasar modal, manajer yang terikat kontrak tertentu, atau manajer pada
commit to user
melakukan praktik manajemen laba, mungkin mereka bekerja untuk
memperkuat keamanan pekerjaannya dengan membuat perlindungan dan tetap
berdiri dalam pekerjaannya jika mereka tidak mempunyai kompetensi yang
lama dan kualifikasi untuk menjalankan perusahaan. Cara yang
memungkinkan untuk melindungi pekerjaan mereka (dan memelihara
keuntungan pribadi) dengan mengikatkan dalam suatu rangkaian aktivitas
dewan komisaris (broad) yang bertujuan membangun hubungan dan
mendapatkan dukungan stakeholder perusahaan dan aktivitas lingkungan,
yang disebut dengan CSR. CSR meliputi kegiatan yang menggabungkan aspek
sosial ke dalam proses produk dan manufaktur, mengadopsi praktik progresif
sumber daya manusia, memperbaiki tingkat ramah lingkungan melalui
pengolahan kembali dan mengurangi polusi, melanjutkan tujuan komunitas
organisasi (McWilliams, Siegel dan Wright, 2006)
Melalui aktivitas CSR, manajer mempunyai tujuan yang berbeda
untuk mendapatkan laporan yang menyenangkan dari media, legitimasi dari
komunitas lokal, regulasi yang memudahkan, dan berkurangnya kritikan dari
investor dan pekerja. Pada waktu yang sama, beberapa aktivitas dapat
mengurangi kemungkinan produk perusahaan diboikot, menghindari lobi yang
melawan perusahaan. Esensinya adalah seorang manajer percaya bahwa
dengan memuaskan kepentingan stakeholder dan merencanakan membuat
citra positif terhadap perhatian dan kesadaran sosial dan lingkungan, maka
dapat mengurangi kemungkinan diselidiki secara lebih teliti oleh stakeholder
commit to user
Beberapa penyalahgunaan manfaat aktivitas CSR membawa keraguan
terhadap efisiensi penerapan kebijakan sosial yang ramah sebagai suatu
mekanisme corporate governance. Pandangan ini berbeda dari yang
disediakan oleh teori stakeholder tradisional dengan menyarankan bahwa
partisipasi stakeholder merupakan salah satu cara penting bagi manajemen
untuk melakukan tindakan sebagai berikut: (1) memperkuat persepsi
perusahaan terhadap legitimasi sosial, (2) meningkatkan keterkaitan dewan
direksi dan (3) mengikat manajemen dengan suatu standar kinerja yang lebih
tinggi. Semua faktor tersebut dapat membantu meningkatkan kinerja
keuangan (Luoma dan Goodstein, 1999).
Argumen kedua yang membenarkan penggunaan CSR secara tidak
tulus oleh manajer yang memanipulasi laba berkaitan dengan penerapan
inisiatif pertahanan diri manajer. Dalam pandangan ini, ijin aktivis sosial dan
tekanan kelompok merupakan strategi pertahanan diri yang sederhana untuk
CEO yang mendapat tekanan dari pemegang saham yang kepentingannya
akan rusak. Pagano dan Volpin (2005) berpendapat bahwa manajer akan
memberi penghargaan kepada stakeholder seperti pekerja dengan aktivitas
sosial yang dermawan sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri untuk
menghindari tekanan dari pasar keuangan melalui hostile takeover. Untuk itu,
diduga bahwa ketika manajer bertindak untuk mengejar kepentingan pribadi
dengan menyesatkan pihak stakeholder tentang nilai riil kekayaan perusahaan
atau posisi keuangan, mereka mendapatkan ijin secara diam-diam dari
commit to user
membujuk dengan menawarkan kepuasan kepentingan mereka yang spesifik
dan kebijakan yang bertujuan untuk memperbaiki CSR perusahaan.
Oleh karena itu, diduga bahwa eksekutif dengan insentif untuk
mengelola laba akan sangat proaktif dalam mereklamekan penyingkapan
publik mereka melalui aktivitas CSR, terutama bagi perusahaan dengan
pengawasan yang ketat. Sebaliknya, perusahaan dengan tingkat manajemen
laba yang rendah mempunyai sedikit dorongan untuk mendapatkan tanggapan
publik dengan mempromosikan aktivitas pertanggungjawaban sosial.
Hipotesis penelitian ini adalah:
H1: Praktik manajemen laba berpengaruh positif terhadap aktivitas
CSR.
2. Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Kinerja
Keuangan dengan Manajemen Laba sebagai Variabel Moderasi
Aspek kedua yang dituju dalam penelitian ini adalah dampak CSR
terhadap kinerja keuangan, yang dipicu oleh praktik manajemen laba. Teori
instrumental stakeholder (Donaldson dan Preston, 1995) berpendapat bahwa
manajemen yang baik berdampak hubungan positif dengan stakeholder kunci
(shareholders), yang selanjutnya dapat meningkatkan kinerja keuangan.
Asumsi dasar yang mendasari teori ini adalah bahwa CSR dapat digunakan
sebagai alat organisasi untuk menggunakan sumber daya yang lebih efektif
(Orlitzky et al., 2003), yang kemudian mempunyai dampak positif terhadap
kinerja keuangan perusahaan. Oleh karena itu, manajemen strategi atas
commit to user
dipandang sebagai suatu alat yang dapat memperbaiki kinerja keuangan
dengan menggunakan sumber daya berdasarkan teori perusahaan (Hillman dan
Keim, 2001). Berman, Wicks, Kotha dan Jones (1999) juga menemukan bukti
yang mendukung posisi bahwa hubungan stakeholder yang baik mempunyai
pengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Pernyataan tersebut disebut
sebagai Good Management hypothesis (Waddock dan Graves, 1997).
Dampak positif CSR terhadap kinerja keuangan perusahaan,
bagaimanapun, menjadi pertanyaan dengan berbagai macam argumen.
Pertama, argumen yang menyatakan bahwa manajer yang menginginkan
kedudukan yang lebih tinggi, cenderung untuk mengejar kebijakan jangka
pendek semata-mata berfokus pada hasil keuangan pada beban isu sosial
jangka panjang (Preston dan O’Bannon, 1997). Kedua, hubungan manajemen
di antara sekumpulan stakeholder yang luas dengan tujuan perselisihan dapat
menimbulkan kekerasan yang terlalu tinggi dan sumber konsumsi organisasi
yang dapat membahayakan kinerja keuangan perusahaan (Aupperle, Carroll
dan Hatfield, 1985). Akhirnya, manajer dapat berkelakuan secara opportunis,
terhadap kerugian hasil keuangan, dengan mengikuti praktik pertahanan
(Jones, 1995) dengan tujuan agar kepentingan stakeholder terpuaskan, seperti
yang dijelaskan sebelumnya.
Ketika perusahaan memperbaiki CSR mereka sebagai suatu
konsekuensi manajemen laba. Dampak positif CSR terhadap kinerja keuangan
perusahaan seharusnya berkurang secara signifikan. Pernyataan ini didasarkan
pada fakta bahwa manajer yang berlindung pada penyesuaian akuntansi
commit to user
sebagai salah satu strategi pertahanan diri. Munculnya ijin sosial dari strategi
ini merupakan hal yang tidak produktif dan boros, diharapkan mempunyai
dampak marginal negatif terhadap kinerja keuangan. Contohnya, manajer
dapat over-invest dalam proyek kompleks yang sedang berjalan dengan
mempekerjakan stakeholder yang berbeda untuk memuaskan kepentingan
mereka dan, dalam waktu yang sama, mengelola laba dalam rangka untuk
memberi ijin lebih besar terhadap stakeholder. Rowley (1997) menekankan
bahwa tingkat CSR yang tinggi meliputi hubungan yang luas dengan
sekelompok stakeholder dengan konflik yang bertujuan untuk menunda proses
pengambilan keputusan dalam organisasi.
Hipotesis selanjutnya adalah bahwa manajer yang melakukan
manajemen laba berusaha untuk melibatkan stakeholder sebagai suatu cara
untuk memvalidasi tindakannya supaya menjadi tidak mendapatkan tekanan
stakeholder lainnya. Inilah yang disebut sebagai entrenchment strategy.
Tindakan tersebut dapat mengurangi fleksibilitas organisasi dan berpengaruh
terhadap hasil keuangan yang merugikan. Dengan demikian tingkat
manajemen laba memperlemah hubungan antara CSR dan profitabilitas, maka
hipotesis alternatif kedua adalah:
H2: Semakin tinggi tingkat manajemen laba, maka berpengaruh negatif
terhadap hubungan antara CSR dan kinerja keuangan.
D. Kerangka Teoritis
Terdapat dua model yang akan diuji dalam penelitian ini. Model pertama
commit to user
variable dependen dan Manajemen Laba (DAC) sebagai proksi akrual kelolaan
sebagai variable independen. Selain itu penelitian ini juga menggunakan variable
control, antara lain Ukuran Perusahaan (SIZE), Ukuran Dewan Komisaris (KOM),
Konsentrasi Kepemilikan (KP), Kepemilikan Institusi (KI), dan Leverage (LEV).
Model kedua penelitian ini menggunakan Kinerja Keuangan Perusahaan
(CFP) sebagai variable dependen, Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai
variable independen, dan Manajemen Laba (DAC) sebagai variable pemoderasi.
Selain itu penelitian ini juga menggunakan variable control, antara lain Ukuran
Perusahaan (SIZE), Ukuran Dewan Komisaris (KOM), Konsentrasi Kepemilikan
(KP), Kepemilikan Institusi (KI), dan Leverage (LEV).
Model penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
[image:48.595.108.511.249.558.2]Model 1 :
Gambar II.1 Gambar kerangka teoritis hubungan antara Manajemen Laba dengan
Corporate Social Responsibility dengan menggunakan variabel variabel kontrol
Ukuran Perusahaan (SIZE), Ukuran Dewan Komisaris (KOM), Konsentrasi
Kepemilikan (KP), Kepemilikan Institusi (KI), dan Leverage (LEV).
Variabel Dependen :
Corporate Social Responsibility (CSR)
Variabel Kontrol :
- Ukuran perusahaan (SIZE) - Ukuran dewan komisaris (KOM) - Konsentrasi kepemilikan (KP) - Kepemilikan institusi (KI) - Leverage (LEV)
H1
Variabel Independen :
commit to user Model 2 :
Gambar II.2 Gambar kerangka teoritis hubungan antara Corporate Social
Responsibility dengan Kinerja Keuangan Perusahaan (CFP) dengan menggunakan
variabel pemoderasi Manajemen Laba dan variabel kontrol Ukuran Perusahaan
(SIZE), Ukuran Dewan Komisaris (KOM), Konsentrasi Kepemilikan (KP),
Kepemilikan Institusi (KI), dan Leverage (LEV).
Variabel Dependen :
Kinerja Keuangan Perusahaan (CFP) H2
Variabel Independen :
Corporate Social Responsibility (CSR)
Variabel Kontrol :
- Ukuran perusahaan (SIZE) - Ukuran dewan komisaris (KOM) - Konsentrasi kepemilikan (KP) - Kepemilikan institusi (KI) - Leverage (LEV)
Variabel Moderating :
[image:49.595.111.514.95.500.2]commit to user
35
BAB III
METODA PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan suatu studi literature di mana seluruh data untuk
mengembangkan model-model penelitian merupakan data sekunder yang diambil
dari laporan keuangan tahunan (annual report) perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk tahun buku 2006-2008. Sumber
data penelitian ini diperoleh dari publikasi laporan keuangan yang diperoleh dari
Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id), Pojok BEI Fakultas Ekonomi UNS,
Database Program Magister Sains Universitas Gadjah Mada, PDBE (Pusat Data
Bisnis dan Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis) UGM, dan Indonesian
Capital Market Directory (ICMD).
B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi (population) menurut Sekaran (2006) mengacu pada keseluruhan
kelompok orang, kejadian, atau hal minat yang ingin peneliti investigasi.
Kelompok populasi (population frame) menurut Sekaran (2006) merupakan
kumpulan semua elemen dalam populasi di mana sampel diambil. Dalam
penelitian ini, populasi yang digunakan adalah sejumlah perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang telah go public.
Sampel (sample) dalam Sekaran (2006) adalah sebagian dari populasi.
commit to user
penelitian dilakukan dengan menggunakan metoda purposive sampling dengan
kriteria sebagai berikut :
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dan mempublikasikan
laporan keuangan auditan secara konsisten dan lengkap dari tahun 2006 -
2008.
2. Perioda laporan keuangan berakhir setiap 31 Desember.
3. Perusahaan menyajikan pengungkapan CSR dalam laporan tahunannya.
4. Perusahaan tidak melakukan merger, akuisisi, dan perubahan usaha
lainnya (divestitures).
5. Laporan keuangan menggunakan mata uang Indonesia.
Dari kriteria tersebut, maka total sampel yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah sejumlah 27 perusahaan manufaktur dengan rincian sebagai
[image:51.595.115.520.238.568.2]berikut ini.
TABEL III. 1
Kriteria Pengambilan Sampel
6.
7.
8.
9.
C. Variabel Penelitian
Sekaran (2006) menjelaskan bahwa variabel penelitian merupakan apapun
yang dapat membedakan atau membawa variasi pada nilai. Nilai dapat berbeda
pada berbagai waktu untuk objek atau orang yang sama, atau pada waktu yang
sama untuk objek atau orang yang berbeda. Model penelitian ini terdiri dari empat
variabel, yaitu variabel dependen, variable independen, variable moderasi, dan Jumlah perusahaan yang terdaftar di BEI selama periode 2006-2008 393
Jumlah perusahaan non manufaktur (242)
Jumlah perusahaan manufaktur 151
Jumlah perusahaan dengan data yang tidak lengkap (124)
Jumlah perusahaan yang menjadi sampel 27
commit to user
variable kontrol. Berikut adalah penjelasan mengenai definisi operasional dan
pengukuran masing-masing variabel.
1. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau dihasilkan
oleh variabel independen. Variabel dependen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Corporate Social Responsibility (CSR)
Variabel dependen untuk menguji hipotesis pertama penelitian ini
adalah CSR. CSR diukur dengan menggunakan index pengungkapan
sosial yang merupakan variabel dummy. Checklist dilakukan dengan
melihat pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dalam tujuh
kategori yaitu: lingkungan, energi, kesehatan dan keselamatan tenaga
kerja, lain-lain tentang tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat, dan
umum (Sembiring, 2005). Kategori ini diadopsi dari penelitian yang
dilakukan oleh Hackston dan Milne (1996). Setelah disesuaikan dengan
kondisi di Indonesia maka diperoleh sebanyak 78 item pengungkapan
untuk sektor manufaktur. Secara lengkap item pengungkapan
masing-masing sektor dapat dilihat pada lampiran 2.
Pendekatan untuk menghitung Corporate Social Responsibility
Index (CSRI) pada dasarnya menggunakan pendekatan dikotomi yaitu
setiap item CSR dalam instrumen penelitian diberi nilai 1 jika
diungkapkan, dan nilai 0 jika tidak diungkapkan (Haniffa et al, 2005).
commit to user
keseluruhan skor untuk setiap perusahaan. Rumus perhitungan CSRI
adalah sebagai berikut: (Haniffa et al, 2005)
∑
Keterangan:
CSRI
j : Corporate Social Responsibility Disclosure Index perusahaan j n
j : jumlah item untuk perusahaan j, nj ≤ 78 X
ij : dummy variable: 1 = jika item i diungkapkan; 0 = jika item i tidak diungkapkan
Dengan demikian, 0 ≤ CSRI j ≤ 1
b. Corporate Financial Performance (CFP)
Variabel dependen untuk menguji hipotesis kedua penelitian ini
adalah corporate financial performace atau kinerja keuangan perusahaan.
Kinerja keuangan diukur menggunakan Return on Assets (ROA). ROA
merupakan rasio laba sebelum pajak terhadap total nilai aset.
2. Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel bebas yang tidak dipengaruhi
oleh variabel lain, bahkan merupakan faktor penyebab yang dapat
mempengaruhi variabel lain. Variabel independen untuk menguji hipo