Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

Lampiran 2. Data Pengobatan Pasien

NO AMLODIPIN NIFEDIPIN CANDESARTAN BISOPROLOL

(5)
(6)

79 

80 

81 

82 

83 

84 

85 

86 

87 

88 

89 

90 

91 

92 

93 

94 

95 

96 

97 

98 

99 

100 

(7)
(8)
(9)

Lampiran 5. Perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus Pasien.

a. Pria.

Contoh : (ABW, 61 thn, 75 kg, Cr 10,7) LFG =

=

= 7,69 ml/menit/1,73m².

b. Wanita.

Contoh : (AGD, 36 thn, 55 kg, Cr 10,8) LFG = x 0,85

= x 0,85

(10)

Lampiran 6. Perhitungan penyesuaian dosis

a. Amlodipin.

Frekuensi pemberian = 1 x 1 Dosis pemberian = 10 mg.

Regimen dosis amlodipin pada pasien gagal ginjal kronik menurut literatur*. Dosis normal = 5 – 10 mg/hari.

Regimen dosis bisoprolol pada pasien gagal ginjal kronik menurut literatur*. Dosis normal = 5 – 20 mg/hari.

Regimen dosis candesartan pada pasien gagal ginjal kronik menurut literatur*. Dosis normal = 2 - 32 mg/hari.

Dosis untuk GGK = Dosis awal 2 mg.

(11)

= 1 x 16 mg. = 16 mg/hari Artinya, pemberian dosis candesartan rasional. d. Nifedipin.

Frekuensi pemberian = 1 x 1 Dosis pemberian = 30 mg.

Regimen dosis nifedipin pada pasien gagal ginjal kronik menurut literatur*. Dosis normal = 20 – 40 mg/hari.

Dosis untuk GGK = 20 – 40 mg/hari.

Dimulai dari dosis kecil. Kerasionalan dosis = 1 x 1

= 1 x 30 mg. = 30 mg/hari Artinya, pemberian dosis nifedipin rasional.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Ashley, C., dan Currie, A. (2009). The Renal Drug Handbook. Edisi ketiga. New York: Radcliffe Publishing. Halaman: 44, 94, 116, 338, 633, 683, 762. Benowitz, N.L. (2001).Obat Antihipertensi. dalam buku Farmakologi Dasar dan

Klinik. diterjemahkan oleh Staf dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.Edisi VI. Jakarta: EGC. Halaman: 269-270.

Dipiro, J. T., Talbert, L. R., Yee, G. C., Matzke, G. R., Wells, B. G., and Posey, L. M. (2008). Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. Seventh Edition. United States of America: The McGraw-Hill Companies, Inc. Gennari, F. J. (2001). Medical Management of Kidney and Electrolyte Disordes.

New York: Marcel Dekker, Inc. Halaman: 295.

Hakim, L. (2013). Farmakokinetik Klinis. Yogyakarta: Bursa Ilmu – Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Halaman: 112, 116 – 122, 305.

Harjaningsih, W., & Diantari, P. W. (2005). Evaluasi Penggunaan ACE Inhibitor Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik dalam Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 3 No. 4 Juli 2007.

Horl, M. T., Horl, W .H. 2002, Hemodialysis-Associated Hypertension: Pathophysiology and Therapy, Am J Kidney Dis, 2002; 39(2): 227-44. ISFI. (2009). ISO Indonesia. Volume 44. Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi. Halaman

281.

Karyadi, E. (2002). Hidup Bersama Penyakit Hipertensi Asam Urat Jantung

Koroner. Jakarta: Intisari Mediatama. Halaman: 235-237.

Katzung, Bertram G. (2004). Farmakologi Dasar dan Klinik. diterjemahkan oleh Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Edisi I. Jakarta: Salemba Empat. Halaman: 495.

Munar, M., dan Sing, H. (2007). Drug dosing adjustments in patients with

chronickidney disease. American Family Physician. 75(10). Pages: 1487 –

1496

Nasution,YM,. Zulkhair, A,. dan Wiguno, P. (2003). Pemakaian Obat pada Gagal Ginjal. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: jilid II. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Halaman: 409 - 411

(13)
(14)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif menggunakan desain pendekatan prospektif. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medik dan laporan pemakaian obat pasien dengan diagnosis gagal ginjal kronik yang mendapat terapi antihipertensi dan yang memenuhi kriteria inklusi di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret-Mei 2016.

3.2 Definisi Operasional

Adapun definisi operasional sebagai berikut:

a. pola peresepan adalah gambaran penggunaan obat secara umum atas permintaan tertulis dari dokter kepada apoteker untuk menyiapkan obat pasien.

b. subjek penelitian adalah pasien gagal ginjal kronik yang diterapi dengan obat antihipertensi di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret-Mei 2016.

(15)

d. rekam medik adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada saranapelayanan kesehatan.

e. kesesuaian dosis adalah suatu takaran obat yang memenuhi batasan dosis terapiberdasarkan kondisi pasien dalam hal ini dosis obat antihipertensi disesuaikan berdasarkan laju filtrasi glomerulus yang dihitung dengan menggunakan persamaan Cockcroft-Gault.

f. dosis kurang adalah dosis terapi yang lebih rendah dari dosis yang ditetapkan oleh buku standar.

g. dosis lebih adalah dosis terapi yang lebih tinggi dari dosis yang ditetapkan oleh buku standar.

3.3 Cara Kerja

Adapun cara kerja dalam penelitian ini sebagai berikut: a. survei awal

survei ini dilakukan untuk mengetahui proporsi pasien hipertensi dengan gagal ginjal. Proses survei ini dimulai dari observasi laporan di Sub Bagian Rekam Medik untuk kasus kasusdengan diagnosis hipertensi dengan gagal ginjal yang diterapi dengan obat antihipertensi periode Maret-Mei 2016.

b. pembuatan master data rekam medik

pembuatan master data rekam medik yang dijadikan sebagai sampel memuat data sebagai berikut: nama/inisial, berat badan, umur, jenis kelamin, data laboratorium (kreatinin serum) dan menggunakan obat antihipertensi.

(16)

3.4 Subyek Penelitian

Subyek pada penelitian ini adalah semua pasien hipertensi dengan gagal ginjal yang dirawat di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada bulan Maret-Mei 2016 yang diambil dengan metode purposive sampling yaitu menentukan sampel berdasarkan kriteria inklusi sebagai berikut:

a. pasien menjalani pengobatan hipertensi dan gagal ginjal kronik di Klinik Spesial Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.

b. usia remaja sampai geriatrik. Kriteria eksklusi:

a. pasien dengan data rekam medis tidak lengkap. 3.5 Waktu dan Lokasi Penelitian

3.5.1 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Maret - Mei 2016. 3.5.2 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan secara prospektif yang diambil dari data catatan medis pasien di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret – Mei 2016. Data diperoleh berdasarkan catatan medik pasien meliputi :

a. data karakteristik pasien meliputi nama,jenis kelamin, umur, dan berat badan pasien.

(17)

c. data obat antihipertensi yang digunakan pasien . 3.7 Analisa Data

Hal yang dilakukan dalam proses analisis data sebagai berikut:

a. data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan Microsoft Excel 2007.

b. dianalisis ketepatan pemberian dosis pengobatan hipertensi pada pasien gagal ginjal sesuai dengan The Renal Drug Handbook.

c. hasil pengolahan data kemudian dibahas secara farmakologi.

d. pengambilan kesimpulan dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data.

3.8 Langkah Penelitian

Langkah penelitian yang dilaksanakan sebagai berikut:

a. meminta izin Dekan Fakultas Farmasi USU untuk mendapatkan izin penelitian di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.

b. menghubungi Direktur Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan untuk mendapatkan izin melakukan penelitian dan pengambilan data dengan membawa surat rekomendasi dari Fakultas.

c. melakukan penelitian di bagian Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan dengan mengambil data periode Maret-Mei 2016.

(18)

3.9 Bagan Alur Penelitian

Dalam penelitian ini, terdapat beberapa proses sebelum pada akhirnya data disajikan. Proses penyajian data tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 3.1 Bagan alur penelitian. Survei awal

Melakukan analisis data

Melakukan penyajian hasil

Melakukan pengelompokan data Melaksanakan pengambilan data rekam

medik dan laporan pemakaian obat pasien hipertensi dengan gagal ginjal

(19)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Penelitian ini telah dilaksanakan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret-Mei 2016. Data diambil dari rekam medik pasien hipertensi dengan gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di klinik spesialis ginjal dan hipertensi rasyida medan periode Maret-Mei 2016.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh pasien hipertensi dengan gagal ginjal yang diberikan terapi obatantihipertensi adalah sebanyak 100 orangjumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi sebagai subjek penelitian.

4.2 Karakteristik Berdasarkan Usia

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi usia pasien hipertensi dan gagal ginjal kronik

Keterangan : n = jumlah subjek, (n=100)

Jumlah pasien hipertensi yang menjalani hemodialisa dengan usia 47 – 75 tahun lebih banyak, hal ini menunjukkan bahwa usia salah satu risiko gagal ginjal kronik. Secara klinik usia pasien 46 – 75 tahun mempunyai peluang atau risiko mengalami gagal ginjal kronik lebih besar dibanding usia pasien 15 – 45 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa semakin bertambah usia, semakin berkurang fungsi ginjal karena disebabkan terjadinya penurunan kecepatan eksresi glomerulus dan penurunan fungsi tubulus pada ginjal. Pada usia lanjut, fungsi ginjal dan aliran

Kelompok Usia Jumlah Persentase (n)

18 - 60 tahun 38 38 %

66 – 99 tahun 62 62 %

(20)

darah ke ginjal berkurang sehingga terjadi penurunan kecepatan filtrasi glomerulus sekitar 30% dibandingkan pada orang yang lebih muda (Bustami et al, 2001).

4.3 Karakteristik Jenis Kelamin

Gambaran karakteristik jenis kelamin subjek penelitian ditunjukkan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi jenis kelamin pasien hipertensi dan gagal ginjal kronik.

Keterangan : n = jumlah subjek, (n=100)

Berdasarkan hasil yang di peroleh pasien hipertensi dengan gagal ginjal paling banyak terdapat pada kelompok laki laki sebanyak (59 %) dan diikuti pada perempuan sebanyak (41 %). Prevalensi penderita hipertensi dengan gagal ginjal lebih tinggi pada laki laki. Hal ini dapat terjadi karena laki laki cenderung memiliki pola hidup kurang sehat seperti merokok, mengkonsumsi alkohol dan kopi yang dapat memicu stres oksidatif jauh lebih besar jikadibandingkan dengan pasien perempuan. Pasien laki laki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal, resiko terhadap morbiditas dan mortalitas serta kardiovaskuler (Gennari, 2001).

Pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis yang mempunyai riwayat merokok mempunyai risiko dengan kejadian gagal ginjal kronik lebih besar 2 kali dibandingkan dengan pasien tanpa riwayat merokok. Efek merokok yaitu meningkatkan pacuan simpatis yang akan berakibat pada peningkatan tekanan

Jenis kelamin Jumlah Persentase (n)

Laki laki 59 orang 59 %

Perempuan 41 orang 41 %

(21)

darah, takikardi, dan penumpukan katekolamin dalam sirkulasi, beberapa pembuluh darah juga sering mengalami vasokonstriksi misalnya pada pembuluh darah koroner, sehingga pada perokok sering diikuti dengan peningkatan tahanan pembuluh darah ginjal sehingga terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus dan fraksi filter (Grassi et al., 2000).

Alkohol jika dikonsumsi mempunyai efek toksik terhadap tubuh baik secara langsung maupun tidak langsung (Panjaitan, 2003). Salah satu akibat konsumsi alkohol (etanol) berlebihan adalah meningkatnya resiko gagal ginjal dan gagal fungsi hati. Mengkonsumsi etanol sangat berbahaya karena reaksi kimia senyawa ini membentuk nefrotoksin kuat hingga menyebabkan gangguan fungsi dan kematian sel (nekrosis) pada sel tubulus proksimal (Gunawan, 2010). Seperti sebagian besar organ dalam tubuh ada sejumlah regulasi yang memungkinkan ginjal untuk berfungsi secara normal dan optimal, etil alkohol dapat mengganggu kontrol ini. Alkohol telah terlihat dapat mengubah struktur dan fungsi ginjal serta merusak kemampuannya untuk mengatur volume, komposisi cairan dan elektrolit dalam tubuh. Efek ini akan mengubah kemampuan ginjal untuk berfungsi secara normal (Boggan, 2003).

4.4 Penggunaan Obat Antihipertensi

(22)

Tabel 4.3 Distribusi penggunaan golongan obat antihipertensi pada pasien hipertensi dan gagal ginjal kronik.

No. Obat Antihipertensi Jumlah Pasien Persentase

1 Amlodipin 10 mg 38 38 %

2 Candesartan 16 mg 36 36 %

3 Bisoprolol 5 mg 21 21 %

4 Nifedipin 30 mg 15 15 %

Total 100 100 %

Pasien yang mendapat terapi hemodilisis umumnya mendapatkan terapi antihipertensi karena pasien tersebut mengalami episode hipertensi meskipun tidak memiliki etiologi hipertensi sebagai penyakit utama (Horl, dkk, 2002).

Amlodipin yang termasuk dalam golongan antagonis kalsium generasi terbaru, mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Kelebihan tersebut di antaranya adalah mempunyai rasio selektivitas vaskuler yang sangat tinggi dan dosis hanya sekali sehari, serta tidak menimbulkan efek inotropik negatif, aritmia dan tahikardia. Selain itu, efek samping seperti sakit kepala, pusing dan edema lebih ringan, dan lebih jarang terjadi. Amlodipin dengan dosis 5-10 mg sekali sehari sudah dibuktikan dapat menaikkan laju filtrasi glomerulus 13%. Seperti diketahui laju filtrasi glomerulus efektif menggambarkan fungsi ginjal.Antagonis kalsium bekerja dengan menghambat masuknya kalsium ke dalam otot polos pembuluh darah sehingga mengurangi tahanan perifer. Merupakan antihipertensi yang dapat bekerja pula sebagai obat angina dan antiaritmia, sehingga merupakan obat utama bagi penderita hipertensi yang juga penderita angina.

(23)

Candesartan adalah salah satu obat yang direkomendasikan untuk diterapi hipertensi pada pasien gagal ginjal kronik karena mekanisme kerja candesartan yang memblok reseptor angiotensin. Golongan ini memiliki efek menyerupai golongan penghambat enzim pengubah angiotensisn. Beberapa penelitian menunjukkan adanya keuntungan penggunaan golongan ini pada populasi pasien ginjal kronis. Golongan ini memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan golongan penghambat enzim pengubah angitensin yaitu tidak menyebabkan reaksi anafilaksis dan efek samping seperti pada golongan penghambat enzim pengubah angiotensin. Golongan ini sedikit atau tidak terdialisis sehingga kemungkinan memberikan kontrol tekanan darah yang lebih baik pada pasien yang menjalani hemodialisis (Horl, dkk, 2002).

Nifedipin pada pasien hemodialisi dosis sesuai dengan dosis lazimnya, karena nifedipin tidak terdialisis, sehingga pada pasien hemodialisis kadar obat dalam darah tetap dan memberikan efek optimal sesuai dengan pemberian. Namun, demikian penggunaan nifedipin harus dimonitoring karena efek hipotensinya cukup tinggi. Nifedipin mudah diabsorbsi pada pemberian peroral dan sublingual, sebesar 92-98% terikat pada protein plasma dan sebesar 1% dieksresi dalam bentuk metabolit tidak aktif melalui urin (Ashley dan Currie, 2009).

Adalat oros 30 mg (nifedipin) lebih sedikit diberikan dibandingkan dengan amlodipin karena adalat oros 30 mg (nifedipin) jauh lebih mahal (Rp 55.900) dibandingkan amlodipin (Rp 8.000) per 10 tablet (ISO, 2009).

(24)

gagal ginjal. Namun terdapat obat yang perlu penyesuain dosis seperti bisoprolol, maka penyesuaian dosis dilakukan berdasarkan nilai laju filtrasi glomerulus (LFG) pada pasien (Sukandar, 2006).

Penggunaan beta bloker sebenarnya memerlukan perhatian yang khusus terutama pada pasien gagal ginjal. Hal ini karena terapi hipertensi dengan beta bloker pada penderita gagal ginjal kronik telah dilaporkan menyebabkan fungsi ginjal menurun, efek ini mungkin disebabkan karena terjadi pengurangan aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerolus akibat pengurangan curah jantung dan penurunan tekanan darah oleh obat (Ganiswarna, 1995).

Namun pertimbangan penggunaan beta bloker kardioselektif seperti Bisoprolol pada pasien gagal ginjal disamping untuk mengontrol tekanan darah adalah untuk mengurangi terjadinya resiko infark, jantung koroner, mengurangi kebutuhan oksigen dari jantung, serta untuk menstabilkan kontraktilitas miokard (Munar dan Singh, 2007).

Strategi untuk menyesuaikan dosis pada pasien gangguan ginjal dapat membantu dalam terapi obat individu dan membantu meningkatkan keamanan obat. Metode yang direkomendasikan dalam mengatur penyesuaian dosis adalah dengan mengurangi dosis, memperpanjang interval dosis atau kombinasi keduanya (Munar dan Singh, 2007).

4.5 Karakteristik Kesesuaian Dosis Antihipertensi pada Pasien GGK

(25)

Pemeriksaan fisik, status nutrisi dan adanya edema atau dehidrasi perlu diidentifikasi untuk pengaturan dosis obat (Nasution., dkk, 2003).

(26)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan:

a. obat antihipertensi yang diberikan pada pasien hipertensi dengan gagal ginjal dari persentase terbesar sampai terkecil yaitu amlodipin (38 %), candesartan (36 %), bisoprolol (21 %), nifedipin (15 %).

b. tingkat kesesuaian dosis penggunaan obat antihipertensi pada pasien gangguan ginjal kronik adalah tinggi.

5.2 Saran

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan di atas, maka disarankan:

a. kepada pihak Klinik Spesialis Ginjal Dan Hipertensi Rasyida Medan diharapkan dapatmempertahankan mutu pelayanan yang telah baik untuk menjaga dan lebih meningkatkan kualitas hidup pasien di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyakit Gangguan Ginjal Kronik 2.1.1 Definisi

Penyakit ginjal kronik merupakan kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari sama dengan tiga bulan, berdasarkan kelainan struktur atau fungsi ginjal dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) dengan presentasi berupa kelainan struktur hispatologi ginjal, dan pertanda kerusakan ginjal meliputi kelainan komposisi darah dan urin, atau uji pencitraan ginjal, serta LFG < 60 mL/menit/1,73m2 (Sukandar, 2006).

2.1.2 Epidemiologi

Saat ini jumlah penyakit ginjal kronik sudah bertambah banyak dari tahun ke tahun. Jumlah kejadian penyakit ginjal kronik di dunia tahun 2009 menurut United State Renal Data System (USRDS) terutama di Amerika rata rata prevalensinya 10-13% atau sekitar 25 juta orang yang terkena penyakit ginjal kronik, dan terjadi peningkatan pada tahun 2013 di Amerika Serikat menjadi 20 – 25% setiap tahun.

(28)

Kalimantan Timur, NTB, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Riau (Kemenkes RI, 2013).

Beberapa penelitian telah dilakukan di kota Medan untuk mengetahui prevalensi penyakit GGK diantaranya penelitian yang telah dilakukan oleh Romauli (2009), menunjukkan bahwa penderita GGK yang dirawat inap di RSUD. Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi pada tahun 2007 terdapat 80 orang (54,1%) dan tahun 2008 terdapat 68 orang (45,9%) (Romauli, 2009).

Penelitian serupa juga telah dilakukan pada pasien GGK rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan, menunjukkan bahwa pada tahun 2004 – 2007 terus terjadi peningkatan jumlah pasien GGK, dimana pada tahun 2004 terdapat 116 orang (12,5%), tahun 2005 terdapat 189 orang (20,2%), tahun 2006 terdapat 275 orang (29,4%) dan tahun 2007 terdapat 354 orang (37,9%) (Ginting, 2008).

Penelitian yang telah dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil tahun 2011 menunjukkan terdapat 7,84% penggunaan obat kategori dosis berlebih yang diterima pasien gagal ginjal kronik (Trisnawati, 2011). Namun di kota medan sendiri belum didapatkan secara pasti data – data terbaru yang menunjukkan seberapa besar persentase pengggunaan obat pada pasien gangguan ginjal kronik yang memerlukan penyesuaian dosis.

2.1.3 Etiologi

(29)

yang tetap pada ginjal sekaligus mempertahankan laju filtrasi glomerolus (LFG) pada tekanan rerata arteri sebesar 80 – 160 mmHg. Mekanisme ini berjalan melalui mekanisme reflek miogenik dan tubuloglomerular. Pada kondisi yang tidak normal kemampuan vasodilatasi sebagai akibat autoregulasi ginjal hanya dapat dilakukan sampai tekanan arteri rerata sebesar 80 mmHg (Williams, 2005). 2.1.4 Klasifikasi

Klasifikasi derajat penurunan LFG sangat penting untuk panduan terapi konservatif. Derajat penyakit ginjal kronik berdasarkan LFG sesuai dengan rekomendasi National Kidney Foundation Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (NKF-K/DOQI) (2004) dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Klasifikasi GGK berdasarkan derajat penyakit ginjal kronik.

Derajat Penjelasan LFG (ml/menit/1,73m²

1 Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau meningkat

Berikut adalah hubungan antara penurunan LFG dan gambaran klinik pada pasien gangguan ginjal yaitu:

a. penurunan cadangan faal ginjal (LFG = 40 – 75%)

(30)

b. insufisiensi renal (LFG = 20 – 50%)

Pasien GGK pada tahap ini masih dapat melakukan aktivitas normal walaupun sudah memperlihatkan keluhan keluhan yang berhubungan dengan retensi azotemia. Pada pemeriksaan hanya ditemukan hipertensi, anemia dan hiperurisemia.

c. gagal ginjal (LFG = 5 – 25%)

Gambaran klinik dan laboratorium makin nyata: anemia, hipertensi, dehidrasi, kelainan laboratorium seperti hiperurisemia, kenaikan ureum dan kreatinin serum, kalium serum biasanya masih normal.

d. sindrom azotemia (LFG = kurang dari 5%)

Sindrom azotemia (istilah lama uremia) dengan gambaran klinik sangat komplek dan melibatkan banyak organ (multi organ) (Sukandar, 2006).

2.2 Farmakokinetik pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik

Ginjal termasuk organ eliminasi utama disamping hati. Oleh sebab itu normalitas fungsi ginjal merupakan faktor penentu ekskresi senyawa endogen dan eksogen (termasuk obat), dan akumulasinya di dalam tubuh. Dalam proses ekskresi, ginjal melakukan filtrasi, sekresi dan reabsorbsi, yang mana proses ini dipengaruhi oleh kecepatan dan aliran darah ginjal. Karena berkaitan dengan sirkulasi sistemik, maka jumlah dan kecepatan ekskresi obat melalui ginjal juga ditentukan oleh curah jantung, khususnya aliran darah yang menuju dan di ginjal (Hakim, 2013).

(31)

tak terikat protein, maka kadar protein darah menentukan jumlah obat yang terekskresi (Hakim, 2013).

Seperti diketahui, karena biosintesis protein terjadi di hati, maka normalitas fungsi hati secara tidak langsung turut menentukan kapasitas ekskresi ginjal. Jadi jumlah dan kecepatan ekskresi renal tidak hanya ditentukan oleh fungsi ginjal, tetapi juga fungsi kardiovaskular dan hati, selain faktor fisiko-kimiawi obat itu sendiri. Obat obat yang memiliki rasio ekskresi renal tinggi (misalnya golongan penisilin dan glukuronat), ekskresinya lebih tergantung dari perubahan kecepatan aliran darah di ginjal dibandingkan obat yang memiliki rasio ekskresi renal rendah (misalnya digoksin, furosemid, dan tetrasiklin). Perubahan aliran darah ginjal sering dapat disamakan dengan perubahan LFG ketika menyesuaikan regimen dosis pada gagal ginjal (Hakim, 2013).

Faktor penting dalam pemberian obat adalah menentukan dosis obat terapeutik dicapai dan menghindari terjadinya efek toksik. Penentuan dosis obat ini sangat tergantung pada farmakokinetik dan farmakodinamik obat. Pada gagal ginjal, farmakokinetik dan farmakodinamik obat akan terganggu sehingga diperlukan penyesuaian dosis obat yang efektif dan aman bagi tubuh. Bagi pasien gagal ginjal yang menjalani dialisis, beberapa obat dapat dengan mudah terdialisis, sehingga dibutuhkan dosis obat yang lebih tinggi untuk mencapai dosis terapeutik (Nasution., dkk, 2003).

Bertitik tolak dari perubahan yang terjadi pada gagal ginjal, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:

(32)

b. pemakaian obat yang bersifat nefrotoksik harus dihindari untuk mencegah gangguan fungsi ginjal yang lebih berat

c. pada pasien yang menjalani dialisis, penyesuaian dosis obat yang mudah terdialisis harus dilakukan untuk mencapai efek terapeutik

d. beberapa obat yang diubah menjadi metabolit aktif dan eliminasinya melaui ginjal, harus disesuaikan dosisnya (Nasution., dkk, 2003).

2.2.1 Absorbsi dan Bioavailabilitas

Bagian obat yang terpakai dan kecepatan obat memasuki sirkulasi merupakan hal penting pada pemakaian obat. Pemberian obat secara parenteral akan segera memasuki pembuluh darah dan masa kerjanya menjadi lebih cepat. Gagal ginjal akan menurunkan absorbsi dan mengganggu bioavailabilitas obat yang diberikan secara oral, hal ini terjadi karena waktu pengosongan lambung yang memanjang, perubahan pH lambung, berkurangnya absorbsi usus dan gangguan metabolisme di hati. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan berbagai upaya antara lain mengganti cara pemberian, memberikan obat yang merangsang motilitas lambung dan menghindari pemberian bersama dengan obat yang mengganggu absorbsi dan motilitas (Nasution., dkk, 2003).

2.2.2 Volume Distribusi

(33)

gangguan pengikatan albumin, menyebabkan peningkatan jumlah obat bebas sehingga terjadi perubahan volume distribusi (Nasution., dkk, 2003).

2.2.3 Metabolisme

Ginjal merupakan tempat untuk metabolisme dalam tubuh, tetapi efek gangguan ginjal hanya bermakna secara klinis pada dua kasus saja, yaitu ginjal bertanggung jawab terhadap tahap akhir aktivitas vitamin D dan kebutuhan insulin pada pasien diabetes yang mengalami gagal ginjal akut sering menjadi berkurang. Pada gagal ginjal kronik terjadi juga perubahan kapasitas metabolisme di hati, dan organ eliminasi selain ginjal. Jadi pada keadaan ini bukan hanya obat obat yang sebagian besar tereliminasi oleh ginjal saja yang terpengaruh, namun obat obat yang sebagian besar termetabolisme juga mengalami perubahan klirens (Hakim, 2013).

2.2.4 Ekskresi Ginjal

Fungsi ekskresi ginjal rata rata berkurang 6 – 10% tiap sepuluh tahun, ketika seseorang mulai menginjak usia 40 tahun. Akibatnya, karena terjadi perlambatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerular, maka obat dan metabolitnya cenderung terakumulasi didalam darah, sehingga dapat memperlama waktu paruh eliminasi dan durasi efek obat. Dilaporkan bahwa kecepatan aliran darah ginjal berkurang dari 618 – 689 mL/menit pada usia dewasa menjadi 349 – 485 mL/menit pada usia lanjut (Hakim, 2013).

(34)

sebagai perkiraan jumlah nefron yang berfungsi. Apabila filtrasi glomerular terganggu oleh penyakit ginjal, maka klirens obat tereliminasi terutama melalui mekanisme ini menjadi lebih panjang. Gagal ginjal juga akan mengubah reabsorpsi pasif secara tidak langsung, dengan cara mengubah laju aliran urin dan pH (Hakim, 2013).

2.3 Penilaian Terhadap Fungsi Ginjal

Kreatinin merupakan metabolit endogen yang sangat berguna untuk menilai fungsi glomerulus. Zat ini umumnya berasal dari metabolisme otot dalam jumlah bilangan yang masih kasar. Dari kesemuanya diekskresikan melalui ginjal dengan proses filtrasi glomerulus bebas dengan sekresi tubulus yang minimal. Dalam keadaan normal (fungsi ginjal, pengaturan diet, massa otot dan metabolisme normal) kreatinin diproduksi dalam jumlah yang sama dan dieksresikan melalui urin setiap hari. Sedangkan sekresi melalui tubulus dan saluran pencernaan hanya dalam jumlah yang sedikit (Hakim, 2013).

Dengan demikian penilaian LFG dengan mengukur konsentrasi kreatinin plasma atau bersihan kreatinin dapat menjadi over non-glomerulus meningkat akibat terganggunya fungsi ginjal. Over estimasi ini menjadi lebih progresif dan berat sehingga akibatnya LFG menurun. Beberapa jenis obat obatan dapat mempengaruhi sekresi kreatinin melalui tubulus yang dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi kreatinin dan penurunan bersihan kreatinin tanpa perubahan LFG (Hakim, 2013).

2.3.1 Pemeriksaan kreatinin serum

(35)

fungsi ginjal sangat penting. Pemeriksaan yang biasa digunakan sebagai acuan adalah pemeriksaan LFG atau klirens kreatinin (Ashley dan Currie, 2009).

Pemeriksaan konsentrasi kreatinin serum sangat mudah dan secara klinis sangat berguna untuk menilai LFG. Kreatinin klirens menggambarkan kesetimbangan antara produksi kreatinin (hasil metabolisme otot) dengan pengeluarannya oleh ginjal. Peningkatan kreatinin serum dari 1,0 menjadi 2,0 mg/dl menunjukkan penurunan fungsi ginjal, dengan perhitungan secara kasar ± 50% (Hakim, 2013).

2.3.2 Pemeriksaan perhitungan LFG

LFG dapat dihitung dengan beberapa metode diantaranya yaitu persamaan Cockcroft-Gault.

Untuk laki-laki: GFR (LFG) =

Untuk perempuan: GFR (LFG) = x 0,85

(usia dalam tahun, berat badan dalam kg, Scr = kreatinin serum dalam mg/dL, jika pasien kelebihan berat badan atau kegemukan, digunakan berat badan ideal).

(36)

2.4 Penyesuaian Dosis pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik

Pada gagal ginjal riwayat penyakit ginjal dan penyakit lainnya (seperti kelaninan hati) yang mempengaruhi metabolisme obat perlu diketahui dengan jelas. Juga perlu ditelusuri riwayat pemakaian obat dan kemungkinan alergi obat. Catatan medis harus diteliti dengan cermat terutama bila ada penambahan obat baru. Pemeriksaan fisis seperti tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh, status nutrisi dan adanya edema atau dehidrasi perlu diidentifikasi untuk pengaturan dosis obat (Nasution., dkk, 2003).

2.4.1 Dosis Loading

Dosis loading dibutuhkan bila secara klinis diinginkan pencapaian dosis terapeutik yang lebih cepat. Dalam keadaan normal pencapaian dosis terapeutik memakan waktu 4-5 x waktu paruh obat. Pada gagal ginjal waktu paruh beberapa jenis obat akan memanjang sehingga dibutuhkan pemberian dosis loading. Umumnya dosis loading semua pasien hampir sama tanpa memperhatikan fungsi ginjal. Akan tetapi penyesuaian dosis tetap diperlukan sesuai dengan perhitungan berdasarkan berat badan, status hidrasi dan adanya sepsis (Nasution., dkk, 2003). 2.4.2 Dosis Pemeliharaan

Bila kadar terapeutik obat sudah diperoleh, konsentrasi ini harus tetap dipertahankan untuk menghindarkan toksisitas. Obat dengan waktu paruh panjang dan cakupan terapi luas, interval pemberiannya dapat diperpanjang, atau juga dapat dilakukan dengan interval tetap, namun dosisnya disesuaikan (Hakim, 2013).

(37)

mencapai efek terapeutik. Pemeriksaan kadar obat sangat dianjurkan setidaknya setelah pemberian dosis ketiga sampai kelima. Secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa dosis loading dengan manfaat cepat, sedangkan dosis pemeliharaan berkaitan degan toksisitas obat (Hakim, 2013).

2.5 Penyakit Hipertensi pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik

Tujuan dari pengobatan hipertensi pada penyakit GGK adalah untuk menurunkan tekanan darah, untuk menurunkan resiko terjadinya kardiovaskular Disease pada pasien hipertensi dan memperlambat progresi penyakit ginjal pada pasien dengan atau tanpa hipertensi (NKF, 2004).

Berkembangnya penyakit GGK dapat diatasi dengan pengobatan

hipertensi. Diuretik, β-blocker, ACE-I, dan antagonis kalsium semuanya efektif

pada pasien dengan gagal ginjal. ACE-I dan Calsium Channel blocker (CCB) tidak mengubah metabolisme glukosa atau lipid, memiliki efek yang diinginkan pada hipertrofi ventrikel kiri dan memiliki efek nefroprotektif potensial dengan mengurangi peningkatan resistensi vaskular ginjal. ACE-I memiliki manfaat tambahan berupa berkurangnya proteinuria pada pasien baik dengan penyakit diabetik maupun nondiabetik. Obat ini harus diberikan dengan hati hati karena bisa menurunkan aliran darah ginjal dan memicu gagal ginjal akut (Suwitra, 2006).

2.5.1 Obat Obat yang Perlu Penyesuaian Dosis pada Pasien GGK

(38)

keduanya (Munar dan Singh, 2007). Pengetahuan penyesuaian dosis obat untuk pasien dengan insufisiensi ginjal sangat penting untuk mencegah dan mengurangi akumulasi obat tersebut dalam tubuh (Sukandar, 2006).

Bila kreatinin klirens dibawah 60 mL/menit maka perlu penyesuaian dosis obat yang dikonsumsi. Penyesuaian dapat dengan cara mengurangi dosis obat atau memperpanjang interval minum obat. Penyesuaian ini bertujuan untuk mendapat efek terapeutik maksimal tanpa efek samping.

2.5.2 Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik Terdapat banyak kelas atau golongan obat antihipertensi yang dapat digunakan, tetapi beberapa obat yang sering digunakan dan direkomendasikan

sebagai terapi pilihan pertama, yaitu ARB, β-blocker, CCB dan diuretik.

Penggunaan obat-obat ini harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Pemilihan obat awal pada pasien harus mempertimbangkan banyak faktor antara lain: umur, riwayat perjalanan penyakit, faktor risiko, kerusakan target organ, diabetes, indikasi dan kontraindikasi. Indikasi spesifik dan target dalam strategi pemilihan obat antihipertensi tergantung dari profil faktor risiko, penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit ginjal, dan pembesaran atau disfungsi ventrikel kiri (Sutter, 2007).

a. Golongan β – blocker

Golongan β – blocker merupakan salah satu obat yang sering digunakan

(39)

Beberapa β – blocker tidak dianjurkan untuk pasien gagal ginjal dengan atau tanpa dialisis. Namun terdapat obat yang memerlukan penyesuaian dosis seperti bisoprolol, maka penyesuaian dosis dilakukan berdasarkan nilai LFG pada pasien dengan gangguan ginjal kronik (Sukandar, 2006).

b. Golongan Calcium Channel Blockers (CCB)

Golongan Calcium Channel Blockers yang sering digunakan diantaranya adalah nifedipin dan amlodipin. Nifedipin mudah diabsorbsi pada pemberian per oral dan sublingual, sebesar 92-98% terikat oleh protein plasma dan sebesar 1% dieksresikan dalam bentuk metabolit tidak aktif melalui urin serta mempunyai volume distribusi sebesar 1,4 L/kg. Nifedipin dalam dosis tunggal dieksresikan sebesar 80% dalam waktu 24 jam. Insufisiensi ginjal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap farmakokinetik nifedipin (Ashley dan Currie, 2009).

Setelah pemberian dosis terapeutik secara oral, amlodipin diabsorbsi dengan baik dan kadar puncak dalam plasma tercapai setelah 6 – 12 jam. Volume distribusi amlodipin kira-kira 20 L/kg. Waktu paruh eliminasi plasma terminal adalah 35 – 50 jam dan konsisten pada pemberian dosis sekali sehari. Sebanyak 97,5% amlodipin dalam sirkulasi terikat dengan protein plasma. Amlodipin sebagian besar dimetabolisme dihati menjadi metabolit inaktif, diekskresikan melalui urin sebesar 10% dalam bentuk tidak berubah dan 60% sebagai metabolit (Ashley dan Currie, 2009).

c. Golongan Angiotensin Receptor Blocker (ARB)

(40)

sekitar 94-97% terikat oleh protein dan mempunyai volume distribusi sebesar 17 L/kg serta sebesar 13% dieksresikan dalam bentuk tidak berubah (Ashley dan Currie, 2009).

(41)

BAB I

LATAR BELAKANG

1.1 Latar Belakang

Hipertensi merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan organ vital terutama jantung, otak dan ginjal. Terjadinya hipertensi mempercepat kerusakan ginjal dan konsekuensinya adalah terjadinya gagal ginjal akibat peningkatan tekanan darah. Kira-kira 90% pasien gagal ginjal kronik dengan hipertensi meninggal dalam 12 bulan dari tanda-tanda awal. Terapi hipertensi dapat digunakan pada pasien gagal ginjal kronik untuk menurunkan tekanan darah dan bisa untuk memperlambat progresifitas penyakit pada pasien dengan atau tanpa penyakit hipertensi (Benowitz, 2001).

Penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan terjadinya hipertensi begitupun sebaliknya pada hipertensi kronik dapat menyebabkan terjadinya penyakit ginjal. Kira kira 10% hipertensi yang terdapat pada gagal ginjal kronik berhubungan dengan aktivitas sistem renin –angiotensin –aldosteron (Sukandar, 2006).

Fungsi ginjal adalah mengeksresi zat zat yang masuk kedalam tubuh, jika pada ginjal terjadi kerusakan, maka fungsi ginjal juga terganggu sehingga kadar zat zat yang masuk kedalam tubuh terakumulasi karena tidak dapat dieksresikan oleh ginjal, alasan inilah yang menyebabkan perlunya penyesuaian dosis pada gagal ginjal agar tidak terjadi toksik (Sukandar, 2006).

(42)

Akumulasi dan toksisitas dapat meningkat dengan cepat apabila dosis tidak disesuaikan pada pasien yang mengalami penurunan fungsi ginjal. Sebagian besar obat juga memiliki efek samping nefrotoksik, sehingga dosis juga harus disesuaikan pada pasien yang mengalami penurunan fungsi ginjal (Sukandar, 2006).

Strategi untuk menyesuaikan dosis pada pasien gagal ginjal dapat membantu dalam terapi obat individu dan membantu meningkatkan keamanan obat. Metode yang direkomendasikan dalam mengatur penyesuaian dosis adalah dengan mengurangi dosis, memperpanjang interval dosis atau kombinasi keduanya (Munar dan Singh, 2007).

Faktor penting dalam pemberian obat adalah menentukan dosis obat terapeutik dicapai dan menghindari terjadinya efek toksik. Penentuan dosis obat ini sangat tergantung pada farmakokinetik dan farmakodinamik obat. Pada gagal ginjal, farmakokinetik dan farmakodinamik obat akan terganggu sehingga diperlukan penyesuaian dosis obat yang efektif dan aman bagi tubuh (Nasution,2003).

(43)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkanlatar belakang yang telah dituliskan tersebut dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu:

a. apa saja obat antihipertensi yang diberikan pada pasien hipertensi yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret – Mei 2016 menurut The Renal Drug Handbook. b. bagaimana kesesuaian dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi yang

menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret – Mei 2016 menurut The Renal Drug Handbook. 1.3 Hipotesis

Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah:

a. golongan obat antihipertensi pada pasien hipertensi yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret – Mei 2016 adalah tepat menurut The Renal Drug Handbook. b. kesesuaian dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi yang menjalani

hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret – Mei 2016 adalah rasional menurut The Renal Drug

Handbook.

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

a. mengevaluasi penggunaan golongan obat antihipertensi pada pasien hipertensi yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret – Mei 2016 menurut the Renal

(44)

b. mengetahui kesesuaian dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret – Mei 2016 menurut The Renal Drug Handbook.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah dapat memberi gambaran mengenai kesesuain dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret – Mei 2016 untuk mejamin penggunaan obat antihipertensi yang rasional dan sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan pasien.

1.6 Kerangka Pikir Penelitian

Penelitian ini mengkaji tentang evaluasi pemberian dosis pengobatan hipertensi terhadap pasien gagal ginjal di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan. Kerangka pikir penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.1.

(45)

EVALUASI REGIMEN DOSIS PENGOBATAN HIPERTENSI TERHADAP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI

HEMODIALISIS DI KLINIK SPESIALISGINJAL DAN HIPERTENSI RASYIDA MEDAN PERIODE MARET – MEI 2016

ABSTRAK

Pengobatan yang benar benar bermanfaat diperlukan oleh pasien dengan gangguan ginjal. Penyesuaian dosis yang sering dilakukan berupa penurunan dosis, perpanjangan interval pemberian obat atau gabungan keduanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi golongan obat antihipertensi dan kesesuaian dosis obat antihipertensi menurut The Renal Drug Handbook pada pasien hipertensi yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret-Mei 2016.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif menggunakan desain pendekatan prospektif yang didasarkan pada catatan medik. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 100 pasien. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret-Mei 2016.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 100 pasien hipertensi dengan gagal ginjal yang menjalani hemodialisis periode Maret-Mei 2016, obat antihipertensi yang paling banyak diberikan adalah amlodipin, dan yang paling sedikit diberikan adalah nifedipin. Persentase pengobatan antihipertensi yang diberikan yaitu amlodipin (38%), candesartan (36%), bisoprolol (21%), nifedipin (15%). kesesuaian dosis penggunaan obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis adalah tepat dosis.

Berdasarkan penelitian diperoleh penggunaan obat dan tingkat kesesuaian dosis penggunaan obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis adalah rasional dan sesuai menurut The Renal Drug Handbook.

(46)

EVALUATION OF HYPERTENSION REGIMENS DOSE OF KIDNEY FAILURE PATIENTS THOSE UNDERGOING HEMODIALYSIS IN CLINICAL SPECIALIST KIDNEY AND HYPERTENSION RASYIDA

MEDAN PERIOD MARCH - MAY 2016 ABSTRACT

Treatments were really helpfulrequired in patients with renal impairment. Dose adjustments often done in the form of a dose reduction, drug delivery interval given drug, or combination of both. The purpose of the research was to evaluate the antihypertensive drug classes of antihypertensive medication and dose conformity according to The Renal Drug Handbooktohypertensive patients that hemodialysis at Clinical Specialist Kidney and Hypertension Rasyida Medan 2016 March-May period.

The research that has been done was a descriptive study using a prospective design approach based on medical records. The number of samples studied was 100 patients. The study was conducted in March-May, 2016.

Based on the research that has been carried out on 100 hypertensive patients with renal failure undergoing hemodialysis period from March to May 2016, most antihypertensive drugs are widely prescribed amlodipine, and the least given is nifedipine. Percentage of antihypertensive medications that give the amlodipine (38%), candesartan (36%), bisoprolol (21%), nifedipine (15%). Dose conformity of use of antihypertensive drugs in patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis is the right dose.

(47)

EVALUASI REGIMEN DOSIS PENGOBATAN HIPERTENSI

TERHADAP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG

MENJALANI HEMODIALISIS DI KLINIK SPESIALIS

GINJAL DAN HIPERTENSI RASYIDA MEDAN

PERIODE MARET-MEI 2016

SKRIPSI

OLEH:

NUR RAHMI ADHA NIM 121501152

PROGRAM SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(48)

EVALUASI REGIMEN DOSIS PENGOBATAN HIPERTENSI

TERHADAP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG

MENJALANI HEMODIALISIS DI KLINIK SPESIALIS

GINJAL DAN HIPERTENSI RASYIDA MEDAN

PERIODE MARET-MEI 2016

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara

OLEH:

NUR RAHMI ADHA NIM 121501152

PROGRAM SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(49)

PENGESAHAN SKRIPSI

EVALUASI REGIMEN DOSIS PENGOBATAN HIPERTENSI TERHADAP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI

(50)
(51)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

berjudul “Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal

Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Spesialis Ginjal Dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar sebesarnya kepada Ibu Dr. Masfria, M.S., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi yang telah menyediakan fasilitas kepada penulis selama perkuliahan di Fakultas Farmasi. Penulis juga mengucapkan kepada Bapak Dr. Edy Suwarso, SU., Apt., dan Ibu Marianne, S.Si, M.Si., Apt., yang telah meluangkan waktu dan tenaga dalam membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab, memberikan petunjuk dan saran selama penelitian hingga selesainya skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Urip Harahap., Apt., selaku ketua penguji, Ibu Dr. Poppy Anjelisa Z. Hsb, M.Si., Apt., dan Ibu Yuandani, M.Si., Ph.D., Apt., selaku anggota penguji yang telah memberikan saran untuk menyempurnakan skripsi ini, dan Bapak Drs. Suryadi Achmad, M.Sc., Apt., selaku dosen pembimbing akademik serta Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah banyak membimbing penulis selama masa perkuliahan hingga selesai.

(52)

tersayang Raudha Hanny dan Arfan Kusuma. Kepada seseorang yang spesial di hidupku Ridwan Nadri Azharis Lubis, S.I.P, serta sahabat senget sengetku tercinta Indah Suci Kesuma Lubis, S.Farm, Elvi Suhaini Siregar, S.Farm, Ninda Nisia Fatwa, S.Farm, Rizki Triandini, S.Farm, Dina Pratiwi Siregar, S.Farm, dan teman terbaikku Chindy Umaya, S.Farm, serta kepada rekan asisten Laboratorium Farmasi Komunitas Nadiya Anandita, S.Farm, Shafika Khairina, S.Farm, Taufiq Qurrohman, S.Farm, dan Zaufi, S.Farm atas limpahan kasih sayang, semangat dan doa yang tak ternilai dengan apapun.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi.

Medan, September 2016 Penulis,

(53)

EVALUASI REGIMEN DOSIS PENGOBATAN HIPERTENSI TERHADAP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI

HEMODIALISIS DI KLINIK SPESIALISGINJAL DAN HIPERTENSI RASYIDA MEDAN PERIODE MARET – MEI 2016

ABSTRAK

Pengobatan yang benar benar bermanfaat diperlukan oleh pasien dengan gangguan ginjal. Penyesuaian dosis yang sering dilakukan berupa penurunan dosis, perpanjangan interval pemberian obat atau gabungan keduanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi golongan obat antihipertensi dan kesesuaian dosis obat antihipertensi menurut The Renal Drug Handbook pada pasien hipertensi yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret-Mei 2016.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif menggunakan desain pendekatan prospektif yang didasarkan pada catatan medik. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 100 pasien. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret-Mei 2016.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 100 pasien hipertensi dengan gagal ginjal yang menjalani hemodialisis periode Maret-Mei 2016, obat antihipertensi yang paling banyak diberikan adalah amlodipin, dan yang paling sedikit diberikan adalah nifedipin. Persentase pengobatan antihipertensi yang diberikan yaitu amlodipin (38%), candesartan (36%), bisoprolol (21%), nifedipin (15%). kesesuaian dosis penggunaan obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis adalah tepat dosis.

Berdasarkan penelitian diperoleh penggunaan obat dan tingkat kesesuaian dosis penggunaan obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis adalah rasional dan sesuai menurut The Renal Drug Handbook.

(54)

EVALUATION OF HYPERTENSION REGIMENS DOSE OF KIDNEY FAILURE PATIENTS THOSE UNDERGOING HEMODIALYSIS IN CLINICAL SPECIALIST KIDNEY AND HYPERTENSION RASYIDA

MEDAN PERIOD MARCH - MAY 2016 ABSTRACT

Treatments were really helpfulrequired in patients with renal impairment. Dose adjustments often done in the form of a dose reduction, drug delivery interval given drug, or combination of both. The purpose of the research was to evaluate the antihypertensive drug classes of antihypertensive medication and dose conformity according to The Renal Drug Handbooktohypertensive patients that hemodialysis at Clinical Specialist Kidney and Hypertension Rasyida Medan 2016 March-May period.

The research that has been done was a descriptive study using a prospective design approach based on medical records. The number of samples studied was 100 patients. The study was conducted in March-May, 2016.

Based on the research that has been carried out on 100 hypertensive patients with renal failure undergoing hemodialysis period from March to May 2016, most antihypertensive drugs are widely prescribed amlodipine, and the least given is nifedipine. Percentage of antihypertensive medications that give the amlodipine (38%), candesartan (36%), bisoprolol (21%), nifedipine (15%). Dose conformity of use of antihypertensive drugs in patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis is the right dose.

(55)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Hipotesis ... 3

1.4 Tujuan Penelitian ... 3

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

1.6 Kerangka Pikir Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Penyakit GGK ... 5

2.1.1 Defenisi... 5

(56)

2.1.3 Etiologi ... 6

2.1.4 Klasifikasi ... 7

2.2 Farmakokinetik Pada Pasien GGK ... 8

2.2.1 Absorbsi Dan Bioavaibilitas ... 10

2.2.2 Volume Distribusi ... 10

2.5.2 Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien GGK.... 16

(57)

3.7 Analisis Data ... 22

3.8 Langkah Penelitian ... 22

3.9 Bagan Alir Penelitian ... 23

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24

4.1 Hasil Penelitian ... 24

4.2 Karakteristik Berdasarkan Usia. ... 24

4.3 Karakteristik Jenis Kelamin ... 25

4.4 Penggunaan Obat Antihipertensi ... 26

4.5 Karakterisktik Kesesuaian Dosis Antihipertensi... 29

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 31

5.1 Kesimpulan ... 31

5.2. Saran ... 31

DAFTAR PUSTAKA ... 32

(58)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Klasifikasi GGK Berdasarkan Derajat Penyakit Ginjal Kronik ... 7

4.1 Karakteristik Berdasarkan Usia ... 24

4.2 Karakterisktik Jenis Kelamin ... 24

(59)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(60)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Data Pasien ... 34

2 Data Pengobatan Pasien ... 37

3 Surat Izin Penelitian/Pengambilan Data Dari Fakultas ... 40

4 Syrau Izin Telah Selesai Melaksanakan Penelitian ... 41

5 Perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus Pasien... 42

Figur

Gambar 3.1 Bagan  alur  penelitian.

Gambar 3.1

Bagan alur penelitian. p.18
Tabel 4.1 Distribusi  frekuensi  usia  pasien hipertensi dan gagal ginjal kronik

Tabel 4.1

Distribusi frekuensi usia pasien hipertensi dan gagal ginjal kronik p.19
Tabel 4.2 Distribusi  frekuensi  jenis kelamin pasien hipertensi dan gagal ginjal   kronik

Tabel 4.2

Distribusi frekuensi jenis kelamin pasien hipertensi dan gagal ginjal kronik p.20
Tabel 4.3   Distribusi  penggunaan  golongan  obat  antihipertensi  pada  pasien hipertensi dan gagal ginjal kronik

Tabel 4.3

Distribusi penggunaan golongan obat antihipertensi pada pasien hipertensi dan gagal ginjal kronik p.22
Tabel 2.1 Klasifikasi GGK berdasarkan derajat penyakit ginjal kronik.

Tabel 2.1

Klasifikasi GGK berdasarkan derajat penyakit ginjal kronik. p.29
Gambar 1.1 Kerangka pikir penelitian

Gambar 1.1

Kerangka pikir penelitian p.44

Referensi

Memperbarui...

Outline : KATA PENGANTAR