SIKAP PUSTAKAWAN TERHADAP PEMUSTAKA DOWN SYNDROME DI PERPUSTAKAAN SLBN 02 JAKARTA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi (S.IP)
Oleh
Dewi Riani
NIM : 1111025100014
oleh
Yusra
NIM : 1111025100013
PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
SIKAP PUSTAKAWAN TERHADAP PEMUSTAKA DOWN SYNDROME DI PERPUSTAKAAN SLBN 02 JAKARTA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi (S.IP)
oleh
Yusra
NIM : 1111025100013
di bawah Bimbingan
Dr. Ida Farida, MLIS NIP. 19700407200032003 z
PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI
Saya yang bertandatangan di bawah ini:
Nama : Yusra
NIM : 1111025100013
Jurusan : Ilmu Perpustakaan
Skripsi tersebut telah diperbaiki sesuai saran dan komentar Tim Penguji sebagai
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata (S1) pada Program Studi Ilmu
Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 13 April 2016
Tanda tangan Tanggal
1. Ketua Sidang Pungki Purnomo, MLIS
NIP.19641215 199903 1 005 ……… ……
2. Sekretaris Sidang Mukmin Suprayogi, M.Si
NIP.19620301 199903 1 001 ……… ……
3. Pembimbing Dr. Ida Farida, MLIS
NIP.19700407 20003 2 003 ……… ……
4. Penguji I Parhan Hidayat, M.HUM
NIP. 19748062 120110 1 004 ……… ……
5. Penguji II Siti Maryam, M.HUM
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini:
Nama : Yusra
NIM : 1111025100013
Jurusan : Ilmu Perpustakaan
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Sikap Pustakawan” Terhadap Pemustaka Down Syndrome di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta” adalah benar merupakan karya saya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat
dalam penyusunan skripsi ini telah saya cantumkan sumber pengutipannya dalam
daftar pustaka.
Saya bersedia untuk melakukan proses yang semestinya sesuai dengan
undang-undang jika ternyata skripsi ini secara prinsip merupakan plagiat atau jiplakan dari
karya orang lain.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan segala akibat yang timbul di kemudian
hari menjadi tanggung jawab saya.
Jakarta, 13 April 2016
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul “Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta” telah diujikan dalam sidang skripsi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada
Tanggal 13 April 2016 Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan (S.IP).
Jakarta,………
Sidang Munaqasyah
Ketua Sidang Sekretaris
Pungki Purnomo, MLIS ` Mukmin Suprayogi, M.SI NIP. 19641215 199903 1 005 NIP.19620301 1999031001
Pembimbing
Dr. Ida Farida, MLIS NIP. 19700407200032003
ABSTRAK
Yusra (1111025100013). Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta. Di bawah bimbingan Dr. Ida Farida, M.LIS. Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2016.
Tujuan dari penelitian ini adalah: untuk mengetahui bagaimana sikap pustakawan terhadap pemustaka down syndrome di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta berdasarkan komponen sikap kognitif, afektif, dan kecendrungan berprilaku. Lokasi penelitian dilakukan di SLBN 02 Jakarta Lenteng Agung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan campuran antara kuantitatif dan kualitatif.
Temuan dari hasil penelitian ini adalah sikap pustakawan terhadap pemustaka down syndrome di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta berdasarkan komponen kognitif, pustakawan mengetahui ilmu tentang perpustakaan, down syndrome, dan psikologi down syndrome. Sikap pustakawan di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta berdasarkan komponen afektif adalah pustakawan senang menambah pegetahuan dalam bidang perpustakaan, down syndrome, dan psikologi down syndrome dengan cara membaca buku, jurnal dan ikut pelatihan., dan sikap pustakawan di perpustakaan SLBN 02 Jakarta berdasarkan komponen kecendrungan berprilaku dengan aktifnya pustakawan mengikuti pelatihan dan selalu melakukan pendampingan kepada pemustaka down syndrome. Untuk menguatkan hasil penelitian peneliti mencatumkan hasil skor dari kuesioner yang disebarkan kepada pustakawan. Adapun skor rata-rata yang didapat adalah 4,42. Skor ini berada pada skala interval titik 4,24-5,04. Hasil ini berdasarkan sikap pustakawan terhadap pemustaka down syndrome berdasarkan komponen sikap, yaitu komponen kognitif adalah 4,2 (baik), komponen afektif adalah 4,54 (sangat baik), dan komponen kecendrungan berprilaku adalah 4,52 (sangat baik).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sikap pustakawan terhadap pemustaka down syndrome di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta adalah sangat baik sekali.
ABSTRACT
Yusra (1111025100013). Attitudes of Librarians Towards Down Syndrome User Library in the Library SLBN 02 Jakarta. Under the guidance of Dr. Ida Farida, M.LIS. Library Science Program, Faculty of Adab and Humanities Syarif Hidayutallah State Islamic University in Jakarta. 2016.
This study aimed to understand the attitude of librarians towards down syndrome user library in the library of SLBN 02 Jakarta based on component of cognitive, affective and behaviour. The study was conducted at the library of SLBN 02 Jakarta Lenteng Agung. This is a descriptive reasearch using combines quantitative and qualitative approaches.
The result of analysis is the attitudes of librarians towards down syndrome user library at SLBN 02 Jakarta library based on cognitive component, the librarians were keen to add their knowledge on achieving study and library related matters, down syndrome and psychology of persons with down syndrome. Then, based on affective component is the librarians were keen to add their knowledge on achieving study and library related matters, down syndrome and psychology of persons with down syndrome through reading books, journals, and attended training. Moreover attitudes of librarians towards down syndrome user library at SLBN 02 Jakarta based on behaviour component, the librarians tended to be actively in training and coaching the library visitors with down syndrome. The results of the qualitative study were supported by the result of the quantitative study with mean was 4.42 (mean falls in the interval between 4.24 –5.04). This result of the survey questionnaire showed that librarians attitude towards library visitors from the cognitive component was ‘good’ (4.2), from the affective component was ‘very good’ (4.54) and from the behaviour component was ‘very
good’ (4.52).Furthermore, it can be concluded that the attitudes of librarians towards down syndrome user library at SLBN 02 Jakarta is very good.
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahirabbil ‘Alamiin, puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat
Allah SWT karena berkat rahmat dan nikmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini. Shalawat dan salam tidak lupa penulis curahkan kepada junjungan
Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat dan pengikut-pengikutnya sampai
akhir zaman.
Selanjutnya, penulis pun menyadari bahwa selesainya skripsi ini banyak
dibantu dan didukung oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini,
penulis juga ingin mengucapkan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Sukron Kamil, selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora.
2. Bapak Pungki Purnomo, MLIS, selaku Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan.
3. Bapak Mukmin Suprayogi, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Perpustakaan
dan Informasi.
4. Ibu Dr. Ida Farida, MLIS, sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan
waktu, tenaga, dan pikirannya untuk memberikan pengarahan, ilmu, dan
bimbingannya kepada penulis, dalam membantu menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Parhan Hidayat, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang
memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
7. Ibu Yeni, Spd, selaku wakil kepala sekolah SLBN 02 yang telah memberikan
izin untuk tempat penelitan ini, meluangkan waktunya dan memberikan
arahan, informasi, dan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.
8. Ibu Sri Yati selaku kepala perpustakaan SLBN 02 yang telah memberikan izin
untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat penelitan ini, meluangkan
waktunya dan memberikan arahan, informasi, dan dukungan dalam
penyusunan skripsi ini.
9. Bapak dan ibu-ibu pustakawan perpustakaan SLBN 02 Jakarta yang telah
bersedia menjadi responden dan memberikan informasi kepada penulis.
10.Bapak Saidun Derani, selaku dosen ilmu perpustakaan yang telah bersedia
untuk meluangkan waktu, pikiran, dan tenaganya dalam membantu penulisan
skripsi ini.
11.Seluruh Dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang telah
memberikan banyak ilmu pengetahuan yang sangat berharga. Semoga ilmu
yang telah diberikan dapat bermanfaat.
12.Ayah, ibu dan nenekku tercinta, yang tidak henti-hentinya selalu memberikan
dukungan, baik berupa moril maupun materil dan selalu memberikan kasih
sayangnya serta selalu mendoakan penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
13.Adikku tersayang, Mursida, Rahma Wati, Nur Aini, dan Nur yang telah
memberikan dukungan dan doanya.
14.Kak Mahdiah Hanim yang telah memberikan dukungan dan doanya.
15.Ibu Happy selaku ibu kosanku, yang selalu memberikan dukungan kepada
16.Sahabatku, Reni Puspita, Dini Amelia Witriani, Wilda Eka Saputri, Risqa
Auliyani, Dewi Hana Pertiwi, Bagja Azfiz Nugraha, Septian Eko Suciyanto,
Rizulmi, Haikal Elhusaini, Arik Suprapti dan teman kosanku, Terima kasih
telah memberikan dukungan dan semangatnya kepada penulis.
17.Kak Agista dan kak Ilut, selaku alumni UIN Syarif Hidayatulah Jakarta yang
telah memberikan dukungan dan bersedia meminjamkan buku-buku yang
dimilikinya tentang sikap pustakawan kepada penulis.
18.Teman-teman seperjuangan Ilmu Perpustakaan dan Informasi angkatan tahun
2011, khususnya IPI A 2011. Semoga kita semua dapat menjadi orang-orang
yang berguna bagi nusa, bangsa, maupun agama. Aamiin
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata
sempurna dan masih terdapat beberapa kekurangan, baik dari segi isi maupun
penulisannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala saran dan kritik yang
membangun demi penyempurnaan penulisan skripsi ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga Allah SWT senantiasa membalas dan
melipatgandakan segala kebaikan dari semua pihak tersebut dengan memberikan
rahmat dan ridhanya serta semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca, khususnya kepada Jurusan Ilmu Perpustakaan. Aamiin
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, 12 Februari 2016
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN SURAT PERNYATAAN
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
D. Definisi Istilah ... 10
E. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II TINJAUAN LITERATUR A. Sikap Pustakawan 1. Pengertian Sikap Pustakawan ... 14
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Sikap Pustakawan ... 16
3. Komponen Sikap ... 17
4. Ciri-Ciri Sikap ... 18
5. Macam-Macam Sikap ... 18
6. Pembentukan dan Perubahan Sikap ... 19
7. Pengukuran Sikap ... 22
B. Pemustaka Down Syndrome 1. Pengertian Pemustaka ... 24
2. Pengertian Down Syndrome ... 25
3. Karakteristik Individu Penyandang Down Syndrome... 27
C. Layanan Perpustakaan untuk Anak Down Syndrome ... 33
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian kualitatif ... 37
B. Sumber Data ... 39
C. Informan ... 40
D. Teknik Pengolahan Data ... 41
E. Teknik Analisis Data ... 43
F. Jenis dan Pendekatan Penelitian Kuantitatif ... 45
G. Sumber Data ... 47
H. Populasi dan Sampel ... 48
I. Subjek dan Objek Penelitian ... 48
J. Teknik Pengumpulan Data ... 49
K. Teknik Pengolahan Data ... 50
L. Jadwal Penelitian ... 53
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil Perpustakaan SLBN 02 Jakarta 1. Sejarah Berdirinya Perpustakaan SLBN 02 Jakarta ... 54
2. Visi dan Misi ... 55
3. Personalia ... 56
4. Struktur Organisasi ... 57
5. Koleksi ... 57
6. Sarana dan Prasarana... 58
7. Program Kerja Perpustakaan SLBN 02 Jakarta ... 59
8. Keanggotaan ... 61
9. Kewajiban Anggota ... 61
10.Sanksi-Sanksi ... 61
11.Jumlah dan Lama Peminjaman ... 62
12.Layanan ... 63
13.Jam Layanan... 63
B. Hasil Penelitian Kualitatif 1. Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome Berdasarkan Komponen Sikap Kognitif ... 63
2. Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome Berdasarkan Komponen Sikap Afektif ... 78
3. Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome Berdasarkan Komponen Kecendrungan Berprilaku ... 86
1. Penyebaran Kuesioner ... 96
2. Keadaan Umum Responden ... 97
3. Jenis Kelamin Responden ... 98
E. Analisis Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka ... 98
Down Syndromre 1. Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome Berdasarkan Komponen Sikap Kognitif ... 98
2. Sikap pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome Berdasarkan Komponen Sikap Afektif ... 111
3. Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome Berdasarkan Komponen Kecendrungan Berprilaku ... 125
F. Rekapitulasi Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta ... 138
Bab V Penutup A. Kesimpulan ... 140
B. Saran ... 146
DAFTAR PUSTAKA ... 148 LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Penyebaran Kuesioner... 98
Tabel 2 Jenis kelamin Responden ... 99
Tabel 3 Pustakawan Mengetahui Ilmu Psikologi Anak Down Syndrome ... 100
Tabel.4 Pustakawan Mengetahui Undang-Undang yang Mengatur Pendidikan
Anak Down Syndrome ... 101
Tabel 5 Pustakawan Memiliki Pengetahuan tentang Perpustakaan ... 102
Tabel 6 Pustakawan Mengetahui Cara Melayani Pemustaka Down
Syndrome ... 103
Tabel 7 Pustakawan Mengetahui Koleksi yang Dibutuhkan Pemustaka
Down Syndrome ... 104
Tabel 8 Pustakawan Mengetahui Kebutuhan Informasi Pemustaka
Down Syndrome ... 105
Tabel 9 Pustakawan Mengetahui Buku yang Paling Diminati Pemustaka
Down Syndrome ... 106
Tabel 10 Pustakawan Mengetahui Buku Pelajaran Bergambar Sangat Diminati
Pemustaka Down Syndrome ... 107
Tabel 11 Pustakawan Mengetahui Kegiatan Sambil Bermain adalah
Hal yang Paling Disukai Anak Down Syndrome ... 108
Tabel 13 Penafsiran Sikap Pustakawan dari Segi Komponen Kognitif ... 111
Tabel 14 Pustakawan Suka Menambah Wawasan Mengenai Psikologi Anak
Down Syndrome ... 113
Tabel 15 Pustakawan Suka Menambah Wawasan dalam Perundang-Undangan
yang Mengatur Pendidikan Anak Down Syndrome ... 114
Tabel 16 Pustakawan Suka Meningkatkan Pengetahuan dalam Bidang
Perpustakaan ... 115
Tabel 17 Pustakawan Senang Bisa Memberikan Pelayanan Informasi
kepada Anak Down Syndrome ... 116
Tabel 18 Pustakawan Suka Membantu Mengambilkan Buku yang Dibutuhkan
Pemustaka Down Syndrome Dirak ... 117
Tabel 19 Pustakawan Suka Membantu Memberikan Informasi yang
Dibutuhkan Pemustaka Down Syndrome ... 119
Tabel 20 Pustakawan Suka Menjadi Fasilitator dalam Kegiatan Belajar Anak
Down Syndrome ... 120
Tabel 21 Pustakawan Sering Memberikan Kegiatan Belajar Sambil Bermain
untuk Pemustaka Down Syndrome ... 121
Tabel 22 Pustakawan Senang Memberikan Pelayanan Sesuai dengan
Tingkat Kemampuan Pemustaka Down Syndrome ... 122
Tabel 23 Pustakawan Selalu Berempati kepada Pemustaka Down Syndrome .... 123
Tabel 24 Penafisran Sikap Pustakawan Berdasarkan Komponen Afektif ... 125
Tabel 25 Pustakawan Sering Membaca Buku Psikologis tentang Anak
Tabel 26 Pustakawan Menjadikan Undang-Undang sebagai Pedoman dalam
Berinteraksi dengan Pemustaka Down Syndrome di Perpustakaan ... 128
Tabel 27 Pustakawan Sering Ikut Pelatihan dalam Bidang Perpustakaan ... 129
Tabel 28 Pustakawan Selalu Memberikan Informasi yang Dibutuhkan
Pemustaka Down Syndrome ... 130
Tabel 29 Pustakawan Selalu Memberikan Pengarahan tentang Perpustakaan
kepada Anak Down Syndrome ... 131
Tabel 30 Pustakawan Selalu Memberikan Dampingan kepada Pemustaka
untuk Menemukan Buku yang Dibutuhkan ... 132
Tabel 31 Pustakawan Sering Membantu Pemustaka dalam Memahami
Buku Pelajaran Bergambar ... 133
Tabel 32 Pustakawan Suka Memberikan Penjelasan untuk Meningkatkan
Pemahaman Mengenai Isi Buku untuk Anak Down Syndrome ... 134
Tabel 33 Pustakawan Selalu Memberikan Semangat Belajar kepada Pemustaka
Down Syndrome ... 135
Tabel 34 Pustakawan Selalu Mengawasi Kegiatan yang Dilakukan Pemustaka
Down Syndrome di Perpustakaan ... 136
Tabel 35 Penafsiran Sikap Pustakawan Berdasarkan Komponen Kecendrungan
Berprilaku ... 138
Tabel 36 Rekapitulasi Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lembar Angket
Lampiran 2 Kisi-Kisi Instrumen dan Kode Kategori Penelitian
BIODATA PENULIS
Nama lengkap penulis adalah Yusra. Penulis dilahirkan di Padang Panjang pada tanggal 17 Januari 1993. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Nama orang tua penulis yaitu Sabri dan Marina.Saat ini, penulis tinggal di kos-kosan Jakarta sedangkan orang tua di Padang Panjang. Alamat tempat tinggal penulis Andalah Kecamatan Batipuh Kabupaten Tanah datar, Sumatera Barat. Penulis memiliki hobi membaca dan menulis. Cita-cita penulis ialah ingin menjadi seorang Dosen.
Pada tahun 1999, penulis mulai menempuh pendidikannya di SDN 10 Andaleh Sumatera Barat dan lulus pada tahun 2005. Kemudian, penulis melanjutkan kembali pendidikannya di SMP Negeri 03 Padang Panjang dan lulus pada tahun 2008. Setelah menamatkan pendidikan di tingkat SMP, penulis melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi yaitu di MA Negeri 01 Padang Panjang. Kemudian, padatahun 2011, penulis melanjutkan pendidikan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengambil program studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH). Selama menempuh pendidikan, baik di SD, SMP, maupun MAN penulis mendapatkan beberapa prestasi di bidangaka demik, diantaranya:
1. Peringkat 1 dari kelas satu sampai enam SD
2. Juara 11 cerdas cermat setingkat kota Padang Panjang
3. Juara 1 pidato bahasa minang se SMP dan sederajat di kota Padang Panjang 4. Juara 111 lomba pidato berbahasa inggris setingkat SMP dan sederajat 5. Peringkat 111 dari kelas satu sampai kelas tiga SMP
6. Juara11LombaAkuntansi se kota Padang Panjang (Tahun 2007) 7. Juara1 Lomba Akuntasi se tingkat MAN di kota Padang Panjang 8. PesertaOlimpiadeGeografi se tingkat SMA dan sederajat
9. Peringkat 1 Kelas X.2 Semester GanjilTahunAjaran 2009-2010. 10.Peringkat 1 Kelas XI IPS 2Semester GenapTahunAjaran 2009-2010. 11.Peringkat 1 Kelas XII IPS 1Semester GenapTahunAjaran 2010-2011.
12.Menjadi utusan mahasiswa aktif organisasi dan berprestasi ke MAN 1 Medan pada tahun 2009
13.Peserta debat cerdas cermat MPR-RI “4 pilar” di Jakarta tahun 2010 14.Delegasi african UnionNTUMUN di Singapore pada tahun 2015
Selain mendapatkan beberapa prestasi di bidang akademik, penulis juga aktif pada kegiatan ekstrakulikuler dan organisasi. Adapun kegiatan ekstrakulikuler dan organisasi yang pernah diikuti, diantaranya:
1. OSISdi SMP danMAN
2. ROHIS (Rohani Islam), di SMP danMAN 3. PKS (patroli keamanan sekolah) di MAN
4. UKS (Unit kesehatan sekolah) di SMP dan MAN
6. Karang Taruna Remaja Masjid Andaleh kecamatan Batipuh kabupaten tanah datar sumatera barat
7. IRMA (Ikatan Remaja Masjid Almubarak), Andaleh, sumatera barat 8. Assalam (assosiasi pelajar islam sumbar)
9. FORMAT (forum muslimat) di SUMBAR
10.Anggota Himpunan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan UIN Jakarta 11.LDK (Lembaga dakwah kampus) UIN Jakarta
12.KAMMI (Kesatuan Aksi mahasiswa muslim indonesia) UIN Jakarta 13.Pengusaha kampus wilayah ciputat
14.FIQ (forum insan Quran) UIN Jakarta
15.PSU (pos solidaritas umat) masih bagian dari LDK UIN Jakarta 16.Relawan ACT (Aksi cepat tanggap) wilayah ciputat
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perpustakaan SLBN merupakan perpustakaan sekolah yang berada
di sekolah luar biasa. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu sarana
dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga, semestinya
setiap sekolah harus memiliki perpustakaan yang memadai agar tugas
pokok perpustakaan dalam menunjang proses pendidikan tersebut dapat
berlangsung dengan baik. Untuk itu, setiap perpustakaan sekolah harus
menyediakan berbagai macam jenis koleksi dan bahan bacaan yang sesuai
dengan kurikulum sekolah dan perkembangan ilmu pengetahuan.1
Menurut Undang-Undang RI Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 23
tentang Perpustakaan Sekolah/Madrasah dinyatakan bahwa
sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi
standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional
Pendidikan. Perpustakaan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) wajib
memiliki koleksi buku teks pelajaran yang ditetapkan sebagai buku teks
wajib pada satuan pendidikan yang bersangkutan dalam jumlah yang
mencukupi untuk melayani semua peserta didik dan tenaga pendidik.2
1
NS, Sutarno. Manajemen Perpustakaan: Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta : Samitra Media Utama, 2004), h.37.
2
2
Menurut Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan Nasional pasal 32 ayat 1 bahwa Pendidikan khusus adalah
pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam
mengikuti proses pembelajaran karena fisik, mental, sosial dan atau
memiliki potensial kecerdasan serta bakat istimewa.3 Oleh karena itu
diadakanlah ruang khusus untuk perpustakaan. Ruang perpustakaan ini
dilengkapi dengan buku-buku yang relevan dengan kebutuhan sekolah
secara umum. Dengan diadakannya perpustakaan ini dapat
meminimalisasikan hambatan belajar dan memenuhi kebutuhan belajar
dengan beberapa pendekatan, metode dan teknik yang bersifat khusus
sesuai dengan jenis dan derajat kelainan yang dialami oleh masing-masing
pemustaka
Hal diatas menunjukkan bahwa dengan adanya keberadaan
perpustakaan di sekolah luar biasa, perpustakaan diharapkan mampu
menjadi elemen penting dalam keberhasilan proses pendidikan dan sebagai
pusat kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti
apa yang telah tercantum dalam kurikulum sekolah.
Namun, pada kenyataannya keberadaan perpustakaan sekolah luar
biasa belum dapat dioptimalkan secara maksimal. Kondisi perpustakaan
sekolah luar biasa yang ada pada saat ini masih sangat memperihatinkan,
baik dilihat dari kondisi ruangan, sarana dan prasarana serta koleksi
bahan-bahan pustaka yang tersedia. Kelengkapan koleksi bahan pustaka
3
yang tersedia di perpustakaan sekolah sebagian besar sudah tidak sesuai
lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kurikulum yang
berlaku.4 Selain itu, juga masih banyak sekolah luar biasa yang tidak
memiliki perpustakaan terutama untuk sekolah yang berada di daerah
pelosok.
Menurut data Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, di
Indonesia ada sekitar 1600 an sekolah luar biasa dari berbagai tingkatan
dan kategori yang tersebar di Indonesia , namun ironisnya hampir 70%
dari jumlah sekolah luar biasa tersebut dikelola secara mandiri oleh
masyarakat sementara 30% lagi adalah sekolah luar biasa negeri. Sekolah
luar biasa yang memiliki perpustakaan yang memadai hanya 10%.5 Jumlah
ini masih sangat jauh ratio perbandingannya agar dapat menampung anak
berkebutuhan khusus di dunia pendidikan formal. Masih dibutuhkan
ratusan sekolah luar biasa dengan dilengkapi fasilitas ruang perpustakaan
yang memadai.
Hal tersebut sangat menyedihkan karena perpustakaan yang
seharusnya menjadi jantungnya sekolah belum tersedia dengan baik.
Setelah melalui survei peneliti tertarik untuk meneliti perpustakaan
sekolah luar biasa karena perpustakaan ini adalah perpustakaan yang luar
biasa melebihi dengan perpustakaan sekolah formal. Perpustakaan ini
4
Rusliyadi, Tri. “Peranan Perpustakaan dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa”. Jurnal nasional of University Negeri Islam Sunan Kalijaga. Jogyakarta, Vol. 1, No. 2,
Desember 2005 Diakses 15 Januari 2015 dari
http://digilib.uinsuka.ac.id/8403/1/BAB%20I,%20IV,%20DAFTAR%20PUSTAKA. pdf 5KEMENDIKBUD, “Kondisi Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Saat ini” diakses
pada tanggal 17 April 2016 pukul 09.00 dari
4
sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan berfikir, berimajinasi dan
meningkatkan saraf motorik anak berkebutuhan khusus. Perpustakaan
sekolah luar biasa ini dibutuhkan pustakawan yang mampu untuk
meyediakan dan memberikan pelayanan terbaik nya kepada pemustaka
yang berkebutuhan khusus yang sering disebut down syndrome.
Pustakawan harus melayani setiap pemustaka yang datang ke
perpustakaan. Pemustaka adalah orang yang wajib dilayani di
perpustakaan. Siapa saja yang datang ke perpustakaan baik dia dalam
keadaan apapun harus dilayani. Karena memang tugas pustakawan
memberikan pelayanan terbaik kepada semua orang. Pelayanan yang
diberikan harus secara menyeluruh tidak memandang siapa pemustakanya.
Sikap pustakawan menjadi penunjang penting seseorang untuk berkunjung
ke perpustakaan. Hal yang pertama kali diperhatikan oleh orang ketika
berkunjung ke perpustakaan adalah sikap dan prilaku pustakawan. Ketika
pustakawannya bersikap tidak baik dan ramah orang tidak akan mau
berkunjung lagi ke perpustakaan itu. Walaupun banyak informasi yang
terdapat di perpustakaan tersebut. Sikap pustakawan sungguh memberikan
pengaruh yang sangat besar karena memang fungsi perpustakaan itu
sendiri untuk memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat. Pustakawan
sungguh sangat berperan penting bukan hanya di perpustakaan umum,
sekolah dan khusus saja. Tetapi pustakawan juga dibutuhkan di
perpustakaan sekolah luar biasa. Dimana pustakawan tidak hanya dituntut
5
juga kemampuannya untuk menguasai dan memuaskan pemustaka down
syndrome tersebut.
Peneliti sangat tertarik untuk mengkaji perpustakaan sekolah luar
biasa ini. Karena dengan adanya penelitian ini merubah paradigma kita
semua. Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa perpustakaan luar
biasa tidak perlu adanya. Tetapi kenyataan yang saya temukan dilapangan
setelah empat kali survei yaitu pada tanggal 10 November 2014, 5
Desember 2014, 5 Januari 2015 dan 15 Januari 2015 perpustakaan luar
biasa sangat diperlukan dan mempunyai peran yang besar terhadap
pemustaka down syndrome.
Hal lainnya yang membuat peneliti sangat tertarik adalah dari sikap
pustakawan terhadap pemustaka down syndrome. Pustakawan di SLBN 02
Jakarta melayani pemustaka down syndrome dengan senang hati, tulus dan
ikhlas. Ketika ada pemustaka down syndrome yang rusuh datang ke
perpustakan sehingga memporak-porandakan perpustakaan, pustakawan
nya dengan baik dan senyuman yang ramah menegur dan menenangkan
pemustaka. Mereka pun sabar untuk merapikan koleksi perpustakaannya
kembali. Hal diatas terjadi karena pustakawan di perpustakaan SLBN 02
Jakarta ini sudah menerapkan pemberian pelayanan perpustakaan dengan
melibatkan hati. Maksud dari melibatkan hati menurut ibu Rahma Yenti
kepala Perpustakaan SLBN 02 Jakarta adalah layanan yang tidak hanya
memberikan apa yang diinginkan pemustaka, tetapi juga memberikan
6
merasa diperhatikan, disayangi, dan dihargai. Hal terpenting Sekolah luar
biasa di Jakarta yang mempunyai perpustakaan yang unggul hanya di
perpustakaan SLBN 02 Jakarta ini. Dimana perpustakaan ini sangat luar
biasa mampu melayani pemustaka down syndrome tersebut dengan baik.
Perpustakaan SLBN 02 Jakarta ini merupakan sekolah setingkat
sekolah dasar dari kelas satu sampai enam berdiri tanggal 1 April 1979.
Pada awal mulanya sekolah ini belum mempunyai gedung sehingga
menumpang di SLBN 01 Jakarta di Lebak bulus. Namun sekitar 1 tahun
kemudian mendirikan gedung sendiri yang beralamat di jalan Lenteng
Agung no. 1, Jagakarsa Jakarta. Dahulu sekolah ini memiliki 9 kelas dan
hanya berlantai 1. Namun secara bertahap melakukan pembangunan
sehingga sekolah ini berkembang menjadi lantai 2 dan memiliki 12 kelas
dengan sarana laboratorium, perpustakaan, aula mushola, dan lain-lain.
Tahun 2008 SLBN 02 telah berkembang sebagai sekolah bertaraf nasional,
dan mempunyai dua lokasi gedung yaitu yang terletak di wilayah jalan
Medis srengseng sawah Jakarta dan Lenteng agung. SLBN 02 Jakarta ini
memiliki 40 orang guru, 5 orang guru pustakawan karena mereka
merangkap menjadi guru di SLBN 02 Jakarta. Jabatan fungsional
pustakawan sudah diatur berdasarkan keputusan MENPAN Nomor
132/KEP/M.PAN/12/2002, Pasal 21 dan Pasal 22, Bab VIII.6
6
KEPMENPAN 2002 No. 132-Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia nomor 36 tahun 2001 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya diakses dari
7
Sekolah ini memiliki 200 orang siswa down syndrome. Pengertian
down syndrome (dalam istilah medis disebut trismoni 21), adalah suatu
kondisi dimana bahan genetik tambahan menyebabkan keterlambatan
dalam cara seorang anak berkembang, baik secara mental dan fisik. Fitur
fisik dan masalah medis yang terkait dengan down syndrome dapat
bervariasi dari satu anak dengan anak lainnya. Beberapa anak down
syndrome membutuhkan banyak perhatian medis, ada juga yang menjalani
kehidupan yang sehat. Penyakit down syndrome ini tidak dapat dicegah,
namun down syndrome dapat dideteksi sebelum anak lahir atau pada masa
prenatal (masih dalam kandungan). Down syndrome pertama kali dikenal
pada tahun 1866 oleh Dr. John Longdon Down. Karena ciri-cirinya yang
unik, contohnya tinggi badan yang relatif pendek, kepala mengecil, hidung
yang datar menyerupai orang Mongolia, Amerika dan Eropa. Down syndrome juga biasa disebut mongolisme.7
Perpustakaan sekolah luar biasa ini bukan hanya sebatas
perpustakaan yang menyediakan koleksi secara khusus saja. Seperti
buku-buku bergambar, puzzle, alat mewarnai dan menggambar, buku-buku pelajaran,
globe, buku-buku puisi, buku berhuruf braile dan mainan asah otak. Tetapi
juga sebagai rumah eksperimen bagi anak berkebutuhan khusus tersebut.
Tujuan diadakannya perpustakaan ini adalah untuk mewadahi anak down
7 Wiranto. “Perancangan Animasi untuk Meningkatkan Skills pada Anak Down Syndrome”. artikel
8
syndrome dalam bermain dan belajar. Sehingga mereka gemar membaca
dan tidak mau kalah dengan anak nomal lainnya. Berdasarkan hal di atas,
peneliti memutuskan untuk meneliti dan mengkaji lebih dalam lagi,
kemudian hasil penelitian tersebut akan dituangkan ke dalam skripsi yang
berjudul “Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome di
Perpustakaan SLBN 02 Jakarta”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terfokus pada masalah, maka
pembahasan penelitian ini dibatasi pada sikap pustakawan terhadap
pemustaka down syndrome di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta
berdasarkan komponen sikap kognitif, afektif, dan kecendrungan
berprilaku.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang serta pembatasan masalah diatas,
peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut bagaimana sikap
pustakawan terhadap pemustaka down syndrome di Perpustakaan
SLBN 02 Jakarta berdasarkan komponen sikap kognitif, afektif, dan
9 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Agar sasaran dalam penelitian ini jelas dan sesuai dengan
permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui sikap pustakawan terhadap pemustaka down syndrome di
Perpustakaan SLBN 02 Jakarta berdasarkan komponen sikap kognitif,
afektif, dan kecendrungan berprilaku.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bagi perpustakaan
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan motivasi
kepada peneliti untuk memberikan saran dan masukan yang
bermanfaat kepada pihak-pihak yang terkait dengan
Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Negeri 02 Jakarta. Dengan
adanya saran dan masukan dari peneliti, diharapkan pihak
perpustakaan dapat menjadikan saran dan masukan tersebut
untuk dijadikan bahan pertimbangan dan evaluasi terhadap
layanan perpustakaan kepada pemustaka down syndrome ini.
b. Bagi peneliti
Penelitian ini bermanfaat bagi peneliti untuk
meningkatkan pemahaman dan menambah khazanah ilmu
pengetahuan. Sasaran dalam penelitian ini jelas dan sesuai
10
untuk mengetahui sikap pustakawan terhadap pemustaka down
syndrome di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta berdasarkan
komponen sikap kognitif, afektif, dan kecendrungan
berprilaku.
D. Definisi Istilah
Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Sikap
Secara umum sikap bisa di definisikan sebagai perasaan,
pikiran,dan kecenderungan seseorang yang bersifat permanen
mengenai lingkungan sekitarnya. Sikap juga bisa dimaknai sebagai
suatu keadaan dalam diri manusia yang menggerakkannya untuk
berbuat dalam aktivitas sosial dengan perasaan tertentu, juga dalam
menanggapi objek situasi atau kondisi disekitarnya.
Sikap menurut para ahli, menurut Sarnoff sikap adalah
kesediaan untuk bereaksi secara positif atau negatif terhadap objek
tertentu. Menurut Notoatmojo sikap adalah reaksi atau respon yang
masih tertutup dari seseorang terhadap suatu objek. Menurut Louis
Thurstone, Rensis Likert, dan Charles Osgood sikap adalah bentuk
evaluasi atau reaksi perasaan yang mendukung dan memihak.8
8
11 2. Pustakawan
Pustakawan dalam konteks penelitian ini adalah guru yang
bekerja di perpustakaan. Dalam istilah perpustakaan disebut dengan
guru pustakawan. Pengertian guru pustakawan adalah seorang yang
memiliki kemampuan dalam bidang ilmu pendidikan dan
perpustakaan sekolah yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran.9
3. Sikap Pustakawan
Sikap pustakawan adalah perasaan, pikiran dan tingkah laku
pustakawan dalam menghadapi pemustaka di perpustakaan.
4. Pemustaka down syndrome
Pengguna perpustakaan, pengunjung perpustakaan dan anggota
perpustakaan yang mempunyai kelainan genetik yang berdampak
pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental .
5. Perpustakaan SLBN 02 Jakarta
Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Negeri 02 Jakarta adalah
sebuah perpustakaan yang berada di sekolah, dikelola oleh sekolah,
dan berfungsi untuk kegiatan belajar mengajar, penelitian yang
sederhana, menyediakan bahan bacaan guna menambah ilmu
pengetahuan, sekaligus tempat berekreasi yang sehat, di sela-sela
kegiatan rutin dalam belajar.10
9
Sri Rohyati Zulaikha. “Mengusung Kembali Peran Teacher-Librarin dan Pemberdayaan Perpustakaan Madrasah”. Artikel diakses senin 19 April 2016 pukul 08.00 dari http://digilib.uin-suka.ac.id/.../SRI%20R0HYANTI%20ZULAIKHA%20MEN
10Hana, Maryamtussalamah. “Sikap Pustakawan Terhadap Pemustaka Down Syndrome
di Perpustakaan SLB C Yayasan Karya Bakti Garut.” Skripsi S1 Program Studi Pendidikan Anak
12 E. Sistematika Penulisan
Secara garis besar skripsi ini terdiri dari 5 (lima) bab disertai
dengan sub bab masing-masing. Adapun sistematika penulisannya sebagai
berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang pokok-pokok pikiran yang
terdiri dari latar belakang, pembatasan dan perumusan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian, definisi istilah, dan
sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN LITERATUR
Bab ini peneliti akan membahas kerangka teoritis tentang
pengertian sikap pustakawan, faktor-faktor yang
mempengaruhi terbentuknya sikap, komponen sikap,
ciri-ciri sikap, macam-macam sikap,pembentukan dan
perubahan sikap, pengukuran sikap, pengertian pemustaka
down syndrome, karakter individu penyandang down
syndrome, pendidikan bagi anak down syndrome, layanan
perpustakaan untuk pemustaka down syndrome, dan
penelitian terdahulu.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini peneliti akan membahas tentang pendekatan
penelitian, lokasi dan subjek penelitian, metode penelitian,
13
pengumpulan data, teknik pengolahan data dan teknik
analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas tentang profil objek penelitian, hasil
penelitian dan pembahasan, yang berisi tentang penjelasan
profil objek penelitian, diantaranya: sejarah berdirinya
Perpustakaan SLBN 02 Jakarta, visi dan misi, personalia,
struktur organisasi, koleksi, sarana dan prasarana, program
kerja perpustakaan, keanggotaan, kewajiban anggota,
sanksi-sanksi, jumlah dan lama peminjaman, layanan, jam
layanan dan hasil penelitian serta pembahasan yang berisi
sikap pustakawan terhadap pemustaka down syndrome di
Perpustakaan SLBN 02 Jakarta berdasarkan dari hasil
penelitian kualitatif dan kuantitatif.
BAB V PENUTUP
Bab ini merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan
dari keseluruhan pokok bahasan dan saran-saran yang
14 BAB II
TINJAUAN LITERATUR
A. Sikap Pustakawan
1. Pengertian Sikap Pustakawan
Sarnoff ahli psikologi mengartikan sikap sebagai kesediaan
untuk bereaksi secara positif atau secara negatif terhadap obyek-obyek
tertentu.11 Menurut Walgito sikap memiliki tiga komponen dasar yaitu
komponen kognitif (beliefs), komponen afektif (feelings), dan
komponen konatif (behavior tendencies)12. Sikap menurut Mar’at
merupakan proses sosialisasi dimana seseorang bereaksi sesuai dengan
rangsangan yang diterimanya13. Menurut Nuryanti sikap adalah cara
seseorang menerima atau menolak sesuatu yang didasarkan pada cara
dia memberikan penilaian terhadap objek tertentu yang berguna
ataupun tidak bagi dirinya14.
Kartono berpendapat sikap adalah suatu kecenderungan
memberi respon baik positif maupun negatif terhadap orang-orang,
benda, ataupun situasi tertentu15. Sikap seseorang dapat timbul sebagai
hasil dari respon terhadap suatu objek sikap. Apabila objek sikap
11 Sarlito wirawan sarwono. Teori-Teori Psikologi Sosial. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2000), h.159.
12 Uno B. Hamzah. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008)h. 20
13Mar’at. Sikap Manusia: Perubahan serta Pengukurannya.( Jakarta: Ghalia Indonesia,1984), h.48
14 Saifuddin Azwar. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. (Yogyakarta: Liberty,1988), h.52
15
tersebut tidak disukai, maka akan direspon secara negatif dan individu
akan menjauhi objek sikap. Sedangkan objek sikap tersebut apabila
disenangi maka akan direspon positif, dan individu akan mendekati
objek sikap.
Menurut Azwar karakteristik individu meliputi berbagai variabel
seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian dan sikap yang paling
berinteraksi satu sama lain, kemudian berinteraksi pula dengan
faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku.16 Faktor lingkungan
memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku. Sikap
mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan
yang teliti dan beralasan.
Secara umum sikap bisa di definisikan sebagai perasaan,
pikiran,dan kecenderungan seseorang yang bersifat permanen
mengenai lingkungan sekitarnya. Sikap juga bisa dimaknai sebagai
suatu keadaan dalam diri manusia yang menggerakkannya untuk
berbuat dalam aktivitas sosial dengan perasaan tertentu, juga dalam
menanggapi objek situasi atau kondisi disekitarnya.
Sikap pustakawan adalah perasaan, pikiran dan tingkah laku
pustakawan dalam mengahadapi pemustaka di perpustakaan. Sikap
berfungsi untuk mengurangi ketegangan yang dihasilkan oleh
motif-motif tertentu. Fungsi ini dapat dilakukan dalam kesadaran yang penuh
dan bisa pula berupa bagian dari suatu proses yang tidak disadari.
16
Dengan demikian tidak semua sikap merupakan tolak ukur untuk
melihat motif-motif tidak disadari yang mendasarinya.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Sikap Pustakawan
Sikap pustakawan dipengaruhi oleh 2 faktor diantaranya adalah:
a. Faktor internal yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri
orang yang bersangkutan sendiri.
b. Faktor eksternal yaitu faktor pembentukan sikap yang
ditentukan oleh faktor-faktor dari luar diri seseorang tersebut.
Faktor-faktor dari luar seperti:
1. Sifat objek yang dijadikan sasaran sikap.
2. Kewibawaan orang yang mengemukakan suatu sikap.
3. Sifat orang-orang atau kelompok yang mendukung
suatu sikap tersebut.
4. Media komunikasi yang digunakan dalam
menyampaikan sikap.
5. Situasi pada saat sikap itu dibentuk.
respon-respon nyata lainnya, sikap berfungsi untuk
mengurangi ketegangan yang dihasilkan oleh
motif-motif tertentu.17
17 3. Komponen Sikap
Menurut Walgito (2002: 111) komponen sikap meliputi :
a. Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen
yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan,
yaitu hal - hal yang berhubungan dengan bagaimana orang
mempersepsi terhadap objek sikap.
b. Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen
yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang
terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif,
sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.
Komponen ini menunjukkan arah sikap, yaitu positif dan
negatif.
c. Komponen konatif (komponen perilaku, atau action
component), yaitu komponen yang berhubungan dengan
kecenderungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini
menunjukkan intensitas sikap yaitu menunjukkan besar
kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang
terhadap objek sikap. Dilihat dari uraian di atas, sikap
mengandung tiga komponen yaitu komponen kognitif yang
berkaitan dengan pengetahuan, pandangan atau keyakinan,
komponen afektif yang berhubungan dengan rasa senang atau
18
yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap
objek sikap.18
4. Ciri-ciri Sikap
a. Sikap tidak dibawa orang sejak ia dilahirkan, tetapi
dibentuk atau dipelajarinya sepanjang perkembangan orang
itu dalam hubungan dengan objeknya. Seperti lapar, haus
kebutuhan akan istirahat, dan lain-lain penggerak kegiatan
manusia menjadi pembawaan baginya dan yang terdapat
padanya sejak ia dilahirkan.
b. Sikap itu selalu berhubungan dengan objek sikap.
c. Sikap dapat tertuju pada satu objek saja, tetapi juga tertuju
pada objek-objek.
d. Sikap itu berlangsung lama atau sebentar.
e. Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi19.
5. Macam-macam Sikap
Sikap terbagi menjadi dua macam yaitu:
a. Sikap sosial
Sikap sosial adalah sikap yang dimiliki oleh
sekelompok orang atau masyarakat. Sikap ini dinyatakan
dengan melakukan kegiatan yang sama dan berulang-ulang
18 Wirawan Sarwono Sarlito. Teori-Teori Psikologi Sosial. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000),h.5
19
terhadap objek sosial20. Atttitude sosial menyebabkan
terjadinya cara-cara tingkah laku yang dinyatakan
berulang-ulang terhadap suatu objek sosial, dan biasanya attitude sosial
dinyatakan tidak hanya oleh seseorang, tetapi juga oleh orang
lain yang sekelompok atau semasyarakat.
b. Attitude individual
Attitude individual dimiliki oleh seorang demi seorang
saja, misalnya kesukaan terhadap binatang-binatang tertentu.
Attitude individual berkenaan dengan objek-objek yang bukan
merupakan objek perhatian sosial. Attitude individual terdiri
atas kesukaan dan ketidaksukaaan pribadi atas objek, orang,
binatang, dan hal-hal tertentu. Attitude mempunyai peranan
yang penting dalam kehidupan manusia untuk berinteraksi
dengan orang lain. 21
6. Pembentukan dan perubahan sikap
a. Pembentukan Sikap
Menurut Sarwono sikap dapat dipelajari melalui orang
lain dalam kontak sosial, misalnya melihat sikap guru, orang
tua, kawan sebaya, dan lain-lain. Menurut Wilowo
Pembentukan sikap sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
20 Wibowo Istiqomah. Psikologi Sosial. (Jakarta: Universitas Terbuka Depdikbud, 1991),h.20
20
mempengaruhi pembentukan sikap itu sendiri. Faktor ini dapat
meliputi : “Pengalaman pribadi, pendidikan kebudayaan,
pergaulan, media massa, institusi atau lembaga pendidikan atau
agama, emosi dari dalam diri individu, jenis kelamin, umur.
pendapatan dan lingkungan dimana individu itu berada22.
Sedangkan menurut Kartono sikap seseorang secara
umum dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intern
dan faktor ekstern yang termasuk faktor intern adalah faktor
yang berasal dari dalam individu itu sendiri, yang meliputi
pengamatan, daya tangkap, motivasi, nilai yang dimiliki,
pengetahuan dan perasaan. Adapun yang dimaksud faktor
ekstern menurut Wibowo merupakan faktor yang berasal dari
luar individu yang meliputi sifat, isi, pemakaian, penganut,
pengelola dan cara yang ditampilkan oleh suatu objek, juga
meliputi aspek orang yang melakukan komunikasi atau yang
menyampaikan pesan, atau aspek pesan itu sendiri, aspek
saluran pesan, dan penerima pesan23.
b. Perubahan sikap
Menurut Wibowo perubahan sikap sama dengan
pengukuran terhadap gejala psikologi lainnya, serta merupakan
pengukuran tidak langsung dan sulit dilakukan, karena sikap
22 Saifuddin Azwar. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. (Yogyakarta: Liberty,1988), h.67
21
merupakan konsep abstrak. Menurut Walgito cara mengukur
sikap yaitu :
a) Secara langsung, yaitu subyek secara langsung dimintai
pendapat bagaimana sikapnya terhadap masalah atau
hal yang dihadapkan kepadanya. Dalam hal ini dapat
dibedakan langsung yang tidak berstruktur dan
langsung yang bestruktur. Secara langsung yang tidak
berstruktur misalnya mengukur sikap dengan
wawancara bebas, dengan pengamatan langsung.
Sedangkan cara langsung yang berstruktur, yaitu
pengukuran sikap dengan menggunakan
pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa dalam
suatu alat yang telah ditentukan dan langsung diberikan
kepada subjek yang teliti.
Cara pengukuran secara langsung tidak berstruktur,
yaitu dengan pengukuran sikap model likert.
b) Secara tidak langsung, pengukuran sikap menggunakan
alat-alat tes, baik yang proyektif maupun yang
non-proyektif.
Menurut Mar’at mengukur sikap seseorang
terhadap suatu obyek terdapat beberapa cara antara lain
wawancara, observasi, dan pernyataan sikap. Dalam
22
adalah dengan menggunakan cara langsung yang
berstruktur karena pengukuran sikap kepada
pustakawan dengan menggunakan
pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa dalam
suatu alat yang telah ditentukan dan langsung diberikan
kepada subjek yang teliti atau pemustaka24.
7. Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap sering dibedakan antara dimensi pengetahuan
atau kognitif, perasaan atau afektif, dan kecenderungan perilaku atau
konatif. Peneliti harus menentukan bahwa orang yang diteliti
mempunyai sikap positif atau negatif terhadap obyek. Pengukuran
sikap dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Tidak langsung
bertumpu pada kesadaran subjek akan sikap dan kesiapannya untuk
dikomunikasikan secara lisan (verbal). Untuk mengukur sikap secara
langsung menggunakan skala:
a. Skala Thurstone
Percaya bahwa sikap dapat diukur dengan skala pendapat.
Mula-mula usaha mengukur sikap ini terdiri atas sejumlah
daftar pertanyaan yang diduga berhubungan dengan sikap.
23
b. Skala Likert
Menggunakan sejumlah pertanyaan untuk mengukur sikap
yang berdasarkan pada rata-rata jawaban. Dalam
pertanyaannya, likert menggambarkan pandangan yang ekstrem
pada masalahnya. Kemudian dibagikan kepada responden.
c. Skala Borgadus
Secara kuantitatif mengukur tingkatan jarak seseorang yang
diharapkan untuk memelihara hubungan orang dengan
kelompok-kelompok lain. Responden diminta untuk mengisi
atau menjawab pertanyaan satu atau semua dari 7 pertanyaan
untuk melihat jarak sosial terhadap kelompok etnik group
lainnya.
d. Skala Perbedaan Semantik
Meminta responden untuk menentukan sikapnya terhadap
objek sikap, pada ukuran yang sangat berbeda dengan ukuran
terdahulu.
Oleh sebab itu dalam membuat pernyataan sikap harus
secara jelas membedakan bulir positif dan negatif dan tidak
memasukkan bulir netral dalam susunan pernyataan. Skala
Likert merupakan salah satu skala favorit atau sering digunakan
dalam pengukuran sikap. Skala Likert menggunakan kategori
jawaban berkisar sangat setuju hingga sangat tidak setuju.
24
(sangat setuju, setuju, raguragu, tidak setuju, dan sangat tidak
setuju).
Selain itu peneliti dapat menggunakan 7 kategori namun
ada pula peneliti yang memakai empat atau enam kategori
jawaban dengan alasan menghindari kategori tengah. Karena
pada variabel sikap harus ditentukan apakah responden
bersikap positif atau negatif oleh sebab itu biasanya digunakan
skala dengan kategori jawaban genap. Berapa pun kategori
jawaban yang dipilih oleh peneliti tidak menjadi masalah.
Namun hal yang harus diingat bahwa semakin sedikit kategori
jawaban yang diberikan maka akan mengurangi penyebaran
skor (varian berkurang) sehingga akan mengurangi pula
reliabilitas jawaban.
B. Pemustaka Down Syndrome 1. Pengertian Pemustaka
Pengertian pemustaka menurut Sutarno Undang-Undang Nomor
43 Tahun 2007 pasal 1 ayat 9 adalah pengguna perpustakaan, yaitu
perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang
memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan.25 User berbagai macam
jenisnya, ada mahasiswa, guru, dosen, dan masyarakat pada umumnya
bergantung jenis perpustakaan yang ada. Menurut Sutarno NS pemakai
25
25
perpustakaan adalah kelompok orang dalam masyarakat yang secara
intensif mengunjungi dan memakai layanan dan fasilitas perpustakaan.
2. Pengertian Down Syndrome
Down Syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan
perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya
abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk
akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri
saat terjadi pembelahan. John longdon down adalah seorang dokter
dari Inggris yang pertama kalinya menemukan kumpulan gejala down
syndrome pada tahun 1866.26 Sumbangan down yang terbesar adalah
kemampuannya untuk mengenali karakter fisik yang spesifik dan
deskripsinya yang jelas tentang keadaan ini, yang secara keseluruhan
berbeda dengan keadaan anak normal. Karena matanya yang khas
seperti bangsa Mongol maka dulu disebut sebagai Mongoloid.
Kemudian pada tahun 1970an para ahli dari Amerika dan Eropa
merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan
istilah down syndrome dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan
istilah yang sama27. Gejala-gejala atau tanda-tanda yang muncul akibat
down syndrome dapat bervariasi dari yang tidak tampak sama sekali,
26Ignasius Tri Sunarna. “Persepsi Masyarakat Terhadap Perpustakaan Sekolah Luar Biasa 01 di Yogyakarta”. Skripsi S1 Jurusan Anak Luar Biasa, Universitas Diponegoro, 2014
26
tampak minimal sampai muncul tanda yang khas. Tanda yang paling
khas pada anak yang menderita down syndrome adalah adanya
keterbelakangan fisik dan mental pada anak. Down syndrome
termasuk syndroma konginetal karena sindroma ini sudah sejak lahir.
Hal ini disebabkan adanya kelebihan jumlah kromosom pada sel tubuh
anak penyandang down syndrome28.
Menurut penelitian, down syndrome menimpa satu diantara 700
kelahiran hidup. Di Indonesia, terdapat 300 ribu kasus down
syndrome. Dari data statistik yang diperoleh, dulu kemungkinan anak
terkena down syndrome 1700 dan saat ini 1:1100 dari kelahiran
hidup29. Hal itu terjadi karena adanya tingkat dan pengetahuan yang
lebih tinggi sehingga kasus down syndrome kian jarang. Anak-anak
yang terkena down syndrome sejak lahir sudah dapat diketahui dari
wajahnya. Anak dengan down syndrome itu sendiri adalah individu
yang dapat dikenali dari fenotipnya dan memiliki kecerdasan yang
terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang
berlebih. Tubuh manusia yang terdiri dari banyak sel dan setiap sel
mengandung 46 kromosom.
Kromosom akan menentukan penampilan fisik, ciri-ciri,
karakter, sifat dan bakat manusia karena dalam kromosom terdapat
28 NATIONAL DOWN SYNDROME SOCIETY. “NDSS About Down Syndrome”. Diaksese dari www. n d s s . o r g
27
unsur-unsur keturunan. Dalam setiap sel terdapat 23 kromosom dari
ibu dan 23 kromosom dari ayah. Seorang dengan down syndrome
memiliki kelebihan jumlah kromosom nomer 21 sehingga ada 47
kromosom dalam setiap sel tubuhnya.
Diperkirakan bahwa materi genetik yang berlebih tersebut
terletak pada bagian lengan bawah dan kromosom 21 dan interaksinya
dengan fungsi gen lainnya menghasilkan suatu perubahan homostasis
yang memungkinkan terjadinya penyimpangan perkembangan fisik
dan susunan saraf pusat30. Down syndrome dapat terjadi pada semua
ras, dikatakan demikian karena angka kejadiannya pada bangsa kulit
putih lebih tinggi daripada kulit hitam, tetapi perbedaan ini tidak
begitu berarti. Sedangkan angka kejadian pada berbagai golongan
sosial ekonomi adalah sama.
3. Krakteristik individu anak penyandang down syndrome a. Karakteristik fisik
Individu penyandang down syndrome memiliki sejumlah
karakteristik fisik yang serupa satu dengan lainnya dan mudah
dikenali. Karakteristik-karakteristik fisik khusus dari penyandang
down syndrome, antara lain:
1. Wajah yang terlihat bulat dari depan tetapi jika dilihat dari
samping wajah cenderung memiliki profil datar.
30 Roger H reeves, Dkk, “A Mouse Model For Down Syndrome Exhibits Learning and
28
2. Kepala bagian belakang sedikit rata, hal ini dikenali sebagai
brachycephaly.
3. Mata dari hampir semua penyandang down syndrome miring
sedikit keatas. Sering kali ada lipatan kecil pada kulit secara
vertikal antara sudut dalam mata dan jembatan hidung disebut
lipatan epicanthic atau epicanthus. Hal ini sering terlihat pada
bayi yang normal, tetapi lipatan ini nantinya akan menjadi
kurang menonjol dan mungkin menghilang. Mata mungkin
memiliki bintik putih atau kuning terang disekitar pinggir
selaput pelangi bagian bewarna atau field ini mungkin juga ada
pada anak normal, seringkali menghilang dikemudian hari jika
selaput pelangi menjadi coklat atau berwarna gelap.
4. Hidung yang kecil dan memiliki jembatan tulang nasal yang
rendah.
5. Telinga yang kecil, khususnya bagian kuping telinga pada
lingkaran atas dari kuping telinga terlipat terlalu rendah.
6. Rongga mulut yang lebih kecil dari rata-rata dan lidah yang
sedikit besar. Hal ini membuat sebagian anak mempunyai
kebiasaan untuk menjulurkan lidahnya.
7. Gigi yang kecil dan memiliki bentuk dan posisi yang
abnormal. Biasanya pergantian giginya terlambat jika
dibandingkan dengan anak normal.
29
9. Leher yang pendek dan lebar. Bayi penyandang down
syndrome yang baru lahir mungkin memilki kulit berlebihan
(banyak lipatannya) pada bagian belakang leher, tetapi hal ini
biasanya berkurang sewaktu mereka lakukan pertumbuhan.
10.Tangan cenderung kecil dan lebar dengan jari-jari yang
pendek. Jari kelingking biasanya pendek dan hanya memiliki
satu sendi, bukan dua seperti biasanya.
11.Telapak tangan hanya memiliki satu garis lengkung horisontal
atau bila ada dua garis, keduanya mungkin memanjang
melintasi tangan.
12.Kaki cenderung pendek dan gemuk dengan jarak yang lebar
antara ibu jari dan telunjuk.
13.Kulit tubuh biasanya mengering.
14.Tonus yang rendah (hipotonia).
15.Ukuran tubuh anak penyandang down syndrome biasanya
mempunyai berat badan yang sulit naik pada masa
bayi/prasekolah. Hal ini disebabkan karena gangguan makan
yang terjadi pada anak yang disertai dengan kelainan
kongenital yang lain tetapi, setelah masa sekolah atau pada
masa remaja, malah sering terjadi obesitas (kegemukkan).
16.Kecepatan pertumbuhan fisik anak down syndrome lebih
rendah bila dibaandingkan dengan anak normal. Perlu
30
pada anak ini, karena sering disertai juga adanya hiporoid.
Sehingga kalau pertumbuhannya kurang dari yang diharapkan,
sebaiknya diperiksa kadar hormon tiroidnya.
17.Kualitas suara yang rendah, keterlambatan dalam bicara dan
sulit untuk mengucapkan artikulasi.
18.Pertahanan tubuh relatif lemah, 30 sampai 40 persen anak
penyandang down syndrome memiliki kelainan jantung,
biasanya menderita lubang pada dinding yang memisahkan
ruang utama jantung sebelah kiri dan kanan. Akibat pertahanan
tubuh yang relatif lemah itu, banyak diantara penyandang
down syndrome yang meninggal pada usia muda. Tetapi jika
mereka telah mencapai usia lima tahun, biasanya mereka dapat
terus hidup smapai 40 tahun seperti anak-anak lainnya. Anak
penyandang down syndrome memiliki enam dan tujuh ciri ini
dan ketidakcakapan intelektual dalam derajat tertentu
merupakan ciri yang hampir selalu ada.31
b. Karakteristik Kognitif
Dua karakter yang menonjol dari penyandang down
syndrome adalah penampilan fisik dan mudah dikenali dan
kemampuan kognitif yang terbatas sama hanya dengan
perkembangan sensori motor. Perkembangan kognitif atau
31Roger H reeves, Dkk, “A Mouse Model For Down Syndrome Exhibits Learning and
31
mental anak mulai menunjukkan penurunan yang relatif pada
usia satu atau dua dan diikuti oleh penurunan yang lebih lambat
pada usia tiga atau empat tahun dan setelah itu relatif mendatar,
penurunan intelektual dari keterlambatan dalam bahasa dan
menalar.
Kemampuan dan perkembangan mental pada
penyandang down syndrome bervariasi. Sebagian besar
penyandang down syndrome termasuk dalam kategori
keterbelakangan mental. Keterbelakangan mental yang dimiliki
oleh penyandang down syndrome bukan hanya mempengaruhi
aspek intelektualnya saja, tetapi juga mempengaruhi aspek
tingkah laku dan juga periode perkembangan dari individu
tersebut. Anak penyandang down syndrome mengalami
kesulitan untuk menguasai 4 bidang yang berhubungan dengan
kognisi, yaitu:
1. Perhatian
Perhatian merupakan faktor penting di dalam proses
belajar. Seorang anak harus mampu memusatkan perhatian
pada sebuah tugas sebelum ia dapat memepelajari tugas
tersebut.
2. Ingatan
Individu memproses stimulus yang datang pada
32
individu dengan keterbelakangan mental yaitu saat harus
mengerjakan tugas yang melibatkan proses ingatan yang
lebih mendalam atau rumit. Pada tingkat yang diangkat,
individu yang memproses stimulus dalam bentuk
perseptual, sedangkan pada tingkat yang lebih dalam,
individu memproses stimulus dalam bentuk semantik.
3. Bahasa
Individu dengan keterbelakangan mental sering
memiliki kesulitan bahasa dan biasanya kemampuan bahasa
mereka lebih rendah daripada bahasa yang seharusnya
mereka miliki pada usia mental tertentu. Kesulitan yang
umumnya terjadi adalah kesulitan dalam artikulasi, suara
dan gagap. Selain itu, individu kurang mampu
menggunakan bahasa yang abstrak dan kompleks.
4. Prestasi akademis
Terdapat hubungan kuat antara intelegensi dan
prestasi sehingga anak dengan keterbelakangan mental akan
tertinggal dari teman-temannya yang lain pada semua area.
Mereka juga cenderung menjadi underachievers, yaitu
meraih prestasi yang lebih rendah dari yang seharusnya
33
c. Karakteristik Sosial dan Ekonomi
Pada umumnya anak penyandang down syndrome lebih
sering tertawa, ramah dan mudah diatur daripada anak-anak
dengan keterbelakangan mental lainnya. Mereka cepat melekat
dengan orang lain dan jika diperlakukan dengan baik, mereka
adalah orang yang penuh kasih sayang dan kelembutan, tetapi
terkadang mereka juga memiliki sifat keras kepala.
Anak penyandang down syndrome yang memiliki
keterbatasan intelektual belum tentu memiliki adaptasi sosial
yang buruk. Perkembangan sosial mereka tidak tergantung
pada kemampuan abstraksi dan integrasi, tetapi tergantung
pada keahlian hidup sehari-hari sehinggga adaptasi sosial
mereka lebih baik daripada perkembangan kognitifnya.
C. Layanan Perpustakaan untuk Anak Down Syndrome
Anak-anak yang menderita cacat mental mengalami kesulitan
ingatan dalam jangka pendek atau jangka panjangnya. Sehingga
pustakawan harus melayani pemustaka dengan baik dan sesuai dengan
yang dibutuhkan pemustaka. Ketika pemustaka diberikan materi maka
mereka akan susah menangkap hal itu sehingga diadakanlah kegiatan
sambil bermian. Bermain adalah aktivitas terbesar anak-anak khususnya
down syndrome, dalam bermain anak mempelajari berbagai hal yang dapat
34
yang menyenangkan. Bermain dapat dipergunakan untuk melatih
kemampuan kerjasama anak-anak down syndrome. Dengan bermain anak
dapat belajar banyak hal.
Oleh karena itu SLBN 02 Jakarta mengadakan kegiatan sambil
bermain di perpustakaan. Bermain dapat menumbuhkan kemampuan
kerjasama yaitu meliputi kemampuan berbagi, bergiliran, mengikuti aturan
dan aktifitas kelompok. Pustakawan SLBN 02 Jakarta sering melakukan
permainan warna karena warna ini memberikan pengaruh besar terhadap
kondisi fisik, emosi, dan mental anak down syndrome. Koleksi di
Perpustakaan SLBN 02 Jakarta ini disediakan dengan banyak warna yang
cerah. Sehingga menjadi daya tarik pemustaka datang ke perpustakaan. Di
perpustakaan juga sering diadakan permainan menggambar dan mewarnai.
Dengan permainan ini dapat meluapkan emosi dan keinginan yang
terpendam dalam anak down syndrome.
Di Perpustakaan SLBN 02 Jakarta memiliki beragam anak dengan
kekurangan yang berbeda-beda. Sehingga cara pelayanan nya pun berbeda.
Anak dengan down syndrome harus diberikan perhatian khusus. Karena
mereka cendrung aktif. Sedangkan yang lain tidak.
D. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang sebelumnya pernah dilakukan dan yang
relevan dengan judul penelitian ini diantaranya diambil dari tiga buah
skripsi. Skripsi yang pertama berjudul “Pemanfaatan Perpustakaan
35
Deskriptif di SLBN A Bandung)” yang disusun oleh Eri Merdaina,
Program Studi Pendidikan Anak Luar Biasa, Universitas Pendidikan
I