• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian struktur anatomi dan kualitas serat kayu normal, kayu tarik, dan kayu opposite dari jenis kawista asal Bima Nusa Tenggara Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kajian struktur anatomi dan kualitas serat kayu normal, kayu tarik, dan kayu opposite dari jenis kawista asal Bima Nusa Tenggara Barat"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

KAYU NORMAL, KAYU TARIK, DAN KAYU

OPPOSITE

DARI JENIS KAWISTA (

Limonia acidissima

L.)

ASAL BIMA NUSA TENGGARA BARAT

DIDINT DWI PREHANTORO S.

DEPARTEMEN HASIL HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Didint Dwi Prehantoro S. E24063227. Kajian Struktur Anatomi dan Kualitas Serat Kayu Normal, Kayu Tarik, dan Kayu Opposite dari Jenis Kawista (Limonia acidissima L.) Asal Bima Nusa Tenggara Barat. Dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Imam Wahyudi, MS.

Kekayaan jenis tumbuhan penghasil kayu di daerah kering termasuk Bima Nusa Tenggara Barat sangat beragam. Seiring dengan kelangkaan kayu sebagai bahan baku, penelitian intensif akan sifat-sifat kayu dari beberapa jenis potensial perlu dilakukan. Dengan diketahuinya sifat-sifat kayu tersebut, maka peluang pemanfaatan jenis-jenis tersebut semakin terbuka, dan sebagai akibatnya masalah kelangkaan bahan baku untuk berbagai industri perkayuan dapat teratasi. Hal ini sekaligus diharapkan dapat menggerakkan roda perekonomian di daerah tersebut.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik struktur anatomi bagian kayu normal, kayu tarik, dan kayu opposite dari jenis kawista (Limonia acidissima L.) anggota famili Rutaceae asal Bima Nusa Tenggara Barat sebagai landasan pemanfaatan yang optimal serta untuk mengetahui kecocokan kayu tersebut sebagai bahan baku pulp dan kertas.

Bahan utama yang digunakan adalah bagian kayu normal, kayu tarik, dan kayu opposite dari sebatang pohon kawista. Pohon contoh tidak diketahui umurnya, namun diameter batangnya sekitar 18 cm. Dari masing-masing bagian kayu, sampel dari setiap riap tumbuh yang ada, dari empulur ke arah kulit, digunakan sebagai unit pengujian. Pengamatan karakteristik anatomi dilakukan melalui sayatan mikrotom, sedangkan pengukuran morfologi serat dan nilai turunannya dilakukan terhadap sediaan maserasi. Pembuatan sayatan miktorom menggunakan prosedur International Association of Wood Anatomist Committee, sedangkan sediaan maserasi mengikuti prosedur standar Forest Products Laboratory. Data yang bersifat kuantitatif dihitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya serta diuji-beda berdasarkan t-student, sementara data kualitatif dinarasikan. Kualitas serat dievaluasi mengikuti standar sebagaimana Rahman dan Siagian (1976) dan dibandingkan dengan kualitas serat kayu mangium.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum ketiga bagian kayu kawista yang diteliti (normal, tarik, dan opposite) memiliki ciri makroskopis yang sama yaitu warna kayu bagian teras kuning jerami sampai coklat, tidak tegas batas antara bagian teras dan bagian gubalnya, tekstur kayu agak kasar, arah serat berpadu, permukaan tidak mengkilap tetapi cukup licin, kayu tergolong keras, dan tidak memiliki bau yang khas. Ciri mikroskopis pada ketiga bagian kayu tersebut juga sama kecuali dalam hal komposisi jari-jari dan saluran minyak. Jari-jari jayu pada umumnya homoseluler dimana sel tegak hanya terdapat pada jari-jari kayu dari bagian kayu opposite. Saluran minyak hanya pada bagian kayu normal.

(3)

mm, panjang 160-168 µm, dan ukuran ceruk di dinding bersama ≤ 4 µm. Tinggi jari-jari rata-rata 440-568 µm, dengan frekuensi 6-8 sel per mm2. Rata-rata panjang sel serat 1007 µm, dengan diameter serat 18,9 µm, diameter lumen 12,5 µ m, dan tebal dinding 3,2 µm.

Nilai turunan dimensi serat kayu kawista adalah sebagai berikut: rata-rata nilai Runkel ratio 0,55; felting power 52-56; Muhlsteph ratio 55-66%; flexibility ratio 1,54-1,78; dan coeffisien of rigidity 0,17-0,21. Berdasarkan kriteria penilaian serat kayu untuk bahan baku pulp dan kertas, maka serat kayu kawista secara keseluruhan masuk dalam kualitas II. Total nilai kayu ini lebih tinggi dibandingkan dengan total nilai kayu mangium yang dikenal sebagai penghasil pulp kayu daun lebar terbaik.

.

(4)

KAYU NORMAL, KAYU TARIK, DAN KAYU

OPPOSITE

DARI JENIS KAWISTA (

Limonia acidissima

L.)

ASAL BIMA NUSA TENGGARA BARAT

DIDINT DWI PREHANTORO S.

E24063227

Skripsi

Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN HASIL HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Kajian Struktur Anatomi dan Kualitas Serat Kayu Normal, Kayu Tarik, dan Kayu Opposite dari Jenis Kawista (Limonia acidissima L.) Asal Bima Nusa Tenggara Barat” adalah benar -benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2011

(6)

Judul Penelitian : Kajian Struktur Anatomi dan Kualitas Serat Kayu Normal, Kayu Tarik, dan Kayu Opposite dari Jenis Kawista (Limonia acidissima L.) Asal Bima Nusa Tenggara Barat

Nama Mahasiswa : Didint Dwi Prehantoro S.

NRP : E24063227

Departemen : Hasil Hutan

Menyetujui, Dosen Pembimbing,

Prof. Dr. Ir. Imam Wahyudi, MS

NIP: 19630106 198703 1 004

Mengetahui,

Ketua Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. I Wayan Darmawan, MScF.

NIP: 19660212 199103 1 002

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul

”Kajian Struktur Anatomi dan Kualitas Serat Kayu Normal, Kayu Tarik, dan Kayu Opposite dari Jenis Kawista (Limonia acidissima L.) Asal Bima Nusa Tenggara Barat”. Karya tulis yang merupakan hasil penelitian ini dilakukan di dua laboratorium, yaitu Laboratorium Sifat Dasar Kayu, Bagian Teknologi Peningkatan Mutu Kayu Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB dan Laboratorium Anatomi Kayu PusLitBang Hasil Hutan Gunung Batu dari bulan Desember 2010 sampai Maret 2011.

Dengan diketahuinya karakteristik struktur anatomi dan kualitas serat dari bagian kayu normal, tarik, dan opposite dari jenis kawista (L. acidissima L.) asal Bima Nusa Tenggara Barat diharapkan dapat membantu dalam mengarahkan penggunaan kayu kawista secara bijaksana.

Akhirnya penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna. Semoga hasil-hasil yang dituangkan dalam skripsi ini bermanfaat bagi mereka yang memerlukannya.

Bogor , Agustus 2011

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bima pada tanggal 7 Juni 1989 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sarsono, SSos. dan Agustina, SE. Pada tahun 2006 setelah lulus dari SMAN 1 Kota Bima, penulis diterima di IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan memilih Program Studi / Mayor Teknologi Hasil Hutan, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan.

Selama menuntut ilmu di IPB, penulis aktif diberbagai kegiatan

kemahasiswaan antara lain di Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara Mahasiswa

IPB “Agriaswara” dan Himpunan Profesi Mahasiswa Departemen Hasil Hutan

(HIMASILTAN). Sebagai anggota Agriaswara IPB, penulis telah berpartisipasi dalam “The 11th International Choir Competition and Festival” di Budapest, Hungaria tahun 2007, dan “The 1st ITB International Choir Competition” di Bandung tahun 2010. Di HIMASILTAN, penulis adalah anggota devisi Kewirausahaan pada periode 2007/2008 dan anggota devisi Eksternal periode 2008/2009. Pada tahun akademik 2010/2011, penulis juga merupakan asisten praktikum di dua mata ajaran, yaitu Anatomi dan Identifikasi Kayu di Fakultas Kehutanan IPB serta Dasar-dasar Komunikasi di Fakultas Ekologi Manusia IPB.

Kegiatan praktek yang telah dilakukan adalah Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) jalur Baturaden-Cilacap tahun 2008, Praktek Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Sukabumi tahun 2009, serta Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Cahaya Sakti Furintraco, Bogor, Jawa Barat tahun 2010.

Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan skripsi dengan judul ”Kajian Struktur Anatomi dan Kualitas Serat Kayu

Normal, Kayu Tarik, dan Kayu Opposite dari Jenis Kawista (Limonia

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang judul ”Kajian Struktur Anatomi dan Kualitas Serat Kayu Normal, Kayu Tarik, dan Kayu Opposite dari Jenis Kawista (Limonia acidissima L.) Asal Bima Nusa Tenggara Barat”.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, terutama kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Imam Wahyudi, MS selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan dan pengarahan yang diberikan.

2. Ayah, ibu serta mas dan adikku tercinta atas semua dukungan dan kasih sayang selama ini.

3. Ir. Oemijati Rachmatsjah, MS selaku dosen penguji pada ujian akhir program sarjana dan Dr. Ir. Trisna Priadi, MEngSc. selaku pemimpin sidang.

4. Seluruh laboran dan staf DHH yang banyak memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis, khususnya kepada mbak Esti Prihatini, SSi. dan pak Kadiman dari Laboratorium TPMK.

5. Teman-teman THH 43, 44, dan 46 khususnya Arief, Iedo, Mamo, Syifa, Zule, Ema, Dian M, Wulan, Dwi Permada L., atas dukungan semangat dan kerjasamanya.

6. Teman-teman di Agriaswara, Seluruh penghuni Asrama Mahasiswa NTB, dan Alief Collection atas kebersamaannya.

7. Semua pihak yang telah membantu penulis selama penelitian dan penyusunan skripsi, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.

Bogor, Agustus 2011

(10)

DAFTAR ISI

BAB III BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat ...………... 21

B. Bahan dan Alat ……… 21

C. Metode Penelitian ……… 21

1. Pembuatan Sediaan Maserasi dan Pengukuran………… 21

2. Pengamatan Struktur Anatomi Kayu ...……… 21

3. Pengolahan Data ……….. 23

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengamatan Karakteristik Makro dan Mikroskopis ….….. 25

(11)

6. Coefficient of Rigidity(CR)………. 37

C. Perbandingan Kualitas Serat Kayu Kawista L. acidissima L. dengan Kualitas Serat Kayu Mangium ……… 38

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan……….. 40

B. Saran ……….……….. 41

DAFTAR PUSTAKA………... 42

(12)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Kriteria kualitas serat kayu Indonesia untuk bahan baku pulp dan

kertas ... 19

2. Perbandingan beberapa karakteristik anatomi kayu kawista ... 31

3. Rata-rata dimensi serat kayu kawista ... 32

4. Rata-rata dan kisaran nilai panjang serat kawista ... 32

5. Hasil uji beda nyata panjang serat berdasarkan sebaran t-student pada selang kepercayaan 95% ... 33

6. Scoring kualitas serat kayu kawista ... 38

7. Perbandingan kualitas serat kayu normal kawista dengan kayu mangium ... 38

(13)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Pohon kawista L. acidissima L. ... 3

2. Bagian-bagian serat kayu yang diukur ... 22

3. Penyusunan sayatan pada gelas obyek ... 23

4. Bagian kayu normal kawista ... 26

5. Bagian kayu tarik kawista ... 27

6. Bagian kayu oppositekawista ... 29

7. Corak penampang papan tangensial kawista ... 30

8. Ceruk antar pembuluh sangat kecil < 4 µm ... 30

9. Variasi radial panjang serat kayu permasing-masing riap tumbuh ... 33

10. Serat kayu kawista ... 34

11. Nilai runkle ratio kayu kawista ... 35

12. Nilai felting power kayu kawista ... 35

13. Nilai muhlsteph ratio kayu kawista ... 36

14. Nilai flexibility ratio kayu kawista ... 37

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Prosedur pembuatan sediaan mikrotom ... 45

2. Prosedur pembuatan sediaan maserasi ... 46

3. Kriteria pengukuran pori dan jari-jari ... 47

4. Pengukuran hasil preparat mikrotom ... 48

5. Hasil pengukuran dimensi serat kayu ... 51

(15)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah. Salah satunya adalah sumberdaya hutan yang sangat luas. Berdasarkan luasnya, hutan hujan tropis Indonesia menempati urutan ketiga setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo (FWI/GFW, 2001).

Kekayaan jenis tumbuhan di Indonesia, termasuk di daerah kering khususnya di Bima Nusa Tenggara Barat juga sangat beragam. Sayangnya, pemanfaatan kayu dari jenis tumbuhan yang ada di daerah tersebut baru sebatas sebagai kayu bakar. Bila dilakukan penelitian yang mendalam, bukan

tidak mungkin beberapa diantaranya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lain yang mampu memberikan nilai tambah. Hal ini sekaligus membuka peluang pemanfaatan jenis-jenis potensial sebagai bahan baku alternatif untuk berbagai industri perkayuan.

Kayu merupakan produk dari proses metabolisme organisme hidup yaitu pohon. Selama masa pertumbuhannya, pohon dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, sehingga sifat-sifat kayu menjadi sangat bervariasi. Variasi sifat kayu tidak hanya terjadi antar jenis, tetapi dapat terjadi dalam jenis yang sama, bahkan di dalam satu batang pohon.

Pada pohon terdapat berbagai macam cacat yang terjadi secara alamiah. Salah satunya adalah kayu tarik (tension wood), yaitu massa kayu yang terbentuk pada sisi atas atau sisi tarikan batang atau cabang yang miring sebgai reaksi untuk mengembalikan posisi batang atau cabang ke posisi semula (Haygreen dan Bowyer, 1989).

Kayu tarik sangat berbeda dengan kayu normal, dalam hal sifat fisik maupun struktur anatominya dimana kayu tarik cenderung menghasilkan permukaan kayu yang tidak rata saat digergaji atau diketam. Selama

(16)

Salah satu jenis pohon yang potensial untuk dikembangkan adalah kawista (Limonia acidissima L.). Kayu dari pohon yang banyak ditemukan di daerah Bima Nusa Tenggara ini selama ini hanya digunakan sebagai kayu

bakar. Mengingat potensinya dan belum ada penelitian tentang sifat-sifat kayu ini maka dilakukanlah penelitian ini.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara khusus ditujukan untuk mempelajari karakteristik struktur anatomi dan kualitas serat kayu kawista. Meskipun merupakan penelitian pionir, bagian kayu tarik, kayu normal dan kayu opposite dari sebatang pohon kawista asal Bima Nusa Tenggara Barat digunakan sebagai sampel penelitian.

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

A. Botani Jenis Kawista (Limonia acidissima L.)

Pohon kawista Limonia acidissima L. dari suku Rutaceae (jeruk-jerukan), tumbuh di daerah tropis dengan kondisi tanah yang kering. Tumbuhan penghasil buah ini merupakan tanaman dataran rendah yang mampu tumbuh hingga pada ketinggian 400 mdpl serta memiliki kebiasaan meluruhkan daun (Gambar 1).

Gambar 1 Pohon Kawista L. acidissimaL. Sumber: Wikipedia (2010)

(18)

gangguan hati, mual-mual, bahkan untuk mengobati luka akibat gigitan serangga (Anonim 2010).

Di Indonesia pohon kawista belum banyak dibudidayakan. Di beberapa

negara seperti Sri Lanka, kawista telah dibudidayakan bahkan krim dari buahnya merupakan salah satu komoditas eksport yang handal.

B. Kayu Tarik

Kayu tarik adalah kayu reaksi pada kayu daun lebar (hardwood). Kayu ini terbentuk pada sisi atas atau sisi tarikan batang atau cabang yang miring. Kayu reaksi berfungsi untuk mengembalikan posisi batang atau cabang ke posisi semula. Sifat kayu tarik sangat berbeda dibandigkan sifat kayu normal (Haygreen dan Bowyer, 1989).

Menurut Haygreen dan Bowyer (1989), penyusutan arah sejajar serat (longitudinal) kayu tarik bisa mencapai lebih dari 5%. Nilai ini lebih besar dari nilai penyusutan longitudinal kayu normal yang biasanya 1% atau kurang. Adanya kayu tarik di sepanjang salah satu sisi atau pinggir sebuah sortimen, akan mengakibatkan terjadinya pelengkungan sepihak atau pemuntiran. Saat dikeringkan, sortimen kayu yang mengandung kayu tarik cenderung untuk collaps sehingga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk pada sortimen.

Kekuatan tekan kayu tarik umumnya tidak sebanding dengan kayu

normal dewasa. Kebanyakan hasil pengukuran membuktikan bahwa kekuatan tekan kayu tarik lebih kecil dari pada kekuatan tekan kayu normal pada kerapatan yang sama, begitu pula dengan kekuatan tekan sejajar seratnya. Pada keadaan kering udara, kayu tarik sedikit lebih tinggi dalam kekuatan pukulnya (Panshin

and de Zeeuw, 1964).

Dinding serabut kayu tarik sering sangat tebal dengan rongga sel yang sangat sempit. Ikatan antara dinding sekunder dan dinding primer pada umumnya lemah. Ikatan yang lemah tersebut akan mengurangi kekuatan kayu. Ikatan yang lemah tersebut juga mengakibatkan tidak rata (keriting) nya permukaan sortimen gergajian saat digergaji atau diserut. Permukaan sortimen yang mengandung kayu tarik biasanya berbulu (fussy grain).

(19)

memipih dan karenanya ikatan antar serat menjadi terhalang. Dinding sekunder kayu tarik yang tebal dan terikat secara lemah hampir seluruhnya merupakan selulosa murni dengan porsi kritalin yang tinggi. Karena lapisan ini mengandung

sedikit lignin, maka lapisan ini relatif lunak seperti gelatin (G). Disamping hampir seluruhnya selulosa murni, lapisan G tersusun atas mikrofibril-mikrofibril yang tersusun hampir sejajar sumbu sel. Variasinya hanya sekitar 5o (Haygreen dan Bowyer, 1989). Inilah yang mengakibatkan susut longitudinalnya tidak normal.

C. Ciri Anatomi Kayu

Struktur antomi kayu dapat diamati melalui pengamatan makroskopis (sifat kasar kayu) dan pengamatan mikroskopis.

1. Ciri Makroskopis

Menurut Tsoumis (1991), sifat makroskopis kayu adalah sifat yang terlihat pada kayu tanpa harus menggunakan mikroskop. Bila perlu hanya dibantu dengan lup dengan perbesaran 10-15 kali. Mandang dan Pandit (2002) menyebutkan bahwa ciri umum kayu yang dapat diamati secara makroskopis diantaranya adalah warna dan corak, tekstur, arah serat, kilap, kesan raba, bau dan rasa, serta kekerasan.

a.Warna Kayu

Warna asli kayu sangat bervariasi dari hampir putih sampai hitam.

Warna kayu disebabkan karena adanya zat ekstraktif. Perbedaan warna tidak hanya terjadi antar jenis, tetapi juga dalam jenis yang sama, bahkan dalam sebatang pohon. Warna dari suatu jenis kayu dipengaruhi oleh lokasi kayu di dalam batang, umur pohon waktu ditebang, dan kelembaban udara. Kayu

yang berasal dari pohon yang lebih tua umumnya lebih gelap dibandingkan dengan kayu yang berasal dari pohon yang lebih muda dari jenis yang sama (Pandit & Ramdan 2002).

b.Tekstur

(20)

c.Arah Serat

Arah serat kayu adalah orientasi longitudinal dari sel-sel dominan penyusun kayu terhadap sumbu batang pohon atau terhadap orientasi sel-sel

dominan yang ada di lapisan sebelah atas atau sebelah bawahnya. Dikatakan berserat lurus jika orientasi sel-sel dominan tadi searah dengan sumbu batang. Kayu berserat miring apabila orientasi sel-sel dominan tadi membentuk sudut terhadap sumbu batang pohon (Mandang & Pandit 2002).

d.Kilap

Suatu jenis kayu dikatakan mengkilap jika permukaannya memantulkan cahaya. Ada jenis-jenis kayu yang kusam, agak mengkilap, dan sangat mengkilap (Mandang & Pandit 2002).

e.Kesan Raba

Kesan raba dinilai dari licin atau kesat permukaan kayu. Penetapannya dilakukan dengan menggosok-menggosokan jari ke permukaan kayu. Beberapa jenis kayu terasa licin jika diraba. Biasanya kayu yang mempunyai tekstur halus dan berat jenis tinggi menimbulkan kesan raba yang licin. Kesan yang licin dapat pula bertambah jika kayu mengadung minyak (Mandang & pandit 2002).

f. Bau dan Rasa

Pada umumnya kayu mempunyai bau dan rasa tertentu apalagi waktu masih segar, tetapi kebanyakan bau dan rasa tersebut sulit untuk diterangkan. Hanya beberapa diantaranya yang mempunyai bau dan/atau rasa yang mudah dikenal (Mandang & Pandit 2002).

g.Kekerasan

Kekerasan dinilai sangat lunak, lunak, agak lunak, agak keras, dan sangat keras. Penetapannya dilakukan dengan menyayat kayu pada arah tegak lurus serat. Kayu yang semakin keras akan semakin sukar disayat dan bekas sayatannya pun mengkilap (Mandang & Pandit 2002).

2. Ciri Mikroskopis

(21)

menggunakan mikroskop terutama ditujukan pada sel-sel penyusun kayu meliputi macam dan kondisi yang ada.

a.Lingkar Tumbuh

Lingkar tumbuh adalah batas antara sel-sel yang dibentuk akibat perubahan musim namun tidak mesti dalam satu tahun. Lingkar tumbuh berbeda dengan lingkaran tahun dalam hal waktu pembentukannya. Lingkaran tahun adalah lingkaran tumbuh yang terbentuk setiap satu tahun.

Pengelompokan suatu jenis kayu berdasarkan lingkaran tumbuh atau lingkaran tahunnya dibagi menjadi 2 golongan yaitu:

 Kayu yang mempunyai batas lingkar tumbuh yang jelas, yaitu kayu yang

mempunyai perubahan struktur yang mendadak pada batas antara kayu awal dan kayu akhir. Biasanya termasuk perubahan pada ketebalan dinding sel dan atau perubahan pada diameter radial seratnya.

 Kayu yang mempunyai batas lingkar tumbuh yang tidak jelas atau tidak

ada, yaitu lingkar tumbuh yang samar yang ditandai oleh perubahan struktur yang terjadi secara berangsur-angsur pada zona tertentu, atau sama sekali tidak dapat dilihat dengan jelas.

Lingkar tumbuh dapat ditandai oleh satu atau beberapa perubahan sebagai berikut:

 Serat atau trakeida kayu akhir berdinding tebal dan menggepeng radial

dibandingkan serat atau trakeida kayu awal yang berdinding tipis.

 Perbedaan mencolok diameter pembuluh kayu awal dan diameter

pembuluh kayu akhir.

 Parenkim marjinal (terminal atau insial) tidak teratur dan tanpa adanya

perubahan diameter serat atau ketebalan dinding serat.

 Trakeida vaskular dan sel pembuluh yang sangat kecil dan sangat

banyak membentuk jaringan dasar kayu akhir, yang tidak ditemukan pada kayu awal.

 Penurunan frekuensi parenkim pita pada zona kayu akhir yang

menyebabkan keberadaan wilayah serat makin jelas.

(22)

b.Sel pembuluh (pori)

Menurut Tsoumis (1991), sel pembuluh atau pori hanya terdapat pada kayu daun lebar. Dalam batang, sejumlah sel pori tersusun secara bertingkat

membentuk suatu kesatuan ke arah longitudinal menyerupai pipa (saluran) yang panjangnya bervariasi. Struktur yang demikian lebih dikenal sebagai jaringan pembuluh.

Panjang satu sel pembuluh pada umumnya berkisar antara 200 sampai

100 m dengan diameter berkisar antara 40 sampai 400 m tergantung pada

jenis kayunya. Jarang yang kurang atau lebih dari itu. Pada pohon, sel-sel inilah yang berfungsi sebagai penyalur air dan zat hara dari akar ke daun dan sebaliknya. Ciri pembuluh dapat berbeda dari satu jenis kayu ke jenis yang lain. Ciri tersebut meliputi sebaran, susunan, diameter, frekuensi, bentuk bidang perforasi, dan isi (Mandang & Pandit 2002).

Wheeler et al. (1989) menyebutkan ciri-ciri pembuluh yang digunakan sebagai dasar identifikasi, antara lain :

1. Sebaran Pori (Porositas)

Berdasarkan sebaran porinya, kayu dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu:

 Kayu berpori tata lingkar (ring porous)

Kayu berpori tata lingkar adalah kayu dimana letak pori besar terpisah dari pori kecilnya dalam satu riap sehingga membentuk zona pemisah yang jelas. Pada kayu yang demikian terdapat perubahan yang mendadak dari kayu awal ke kayu akhir.

 Kayu pori semi tata lingkar

Berpori semi tata lingkar atau disebut juga berpori setengah tata lingkar zonasi pemisahan antara pori besar dan pori kecil tidak begitu jelas. Kayu semi tata lingkar dapat terbentuk dari kepadatan porinya, misalnya pada kayu awal keberadaan pori lebih banyak

(23)

susunan pori pertengahan antara kayu berpori tata lingkar dengan kayu berpori tersebar (diffuse).

 Kayu berpori tata baur (diffuse)

Kayu berpori tata baur apabila pori besar dan pori kecil tersebar merata pada permukaan kayu atau tidak ada perbedaan lokasi pori besar dan pori kecil dalam satu riap tumbuh atau tidak ada perbedaan ukuran pori dalam satu lingkaran tahun. Kelompok ini hampir mencakup seluruh jenis kayu dari tropis dan juga kebanyakan kayu dari daerah sub tropis.

2. Susunan Pori

 Pori tersusun sebagai pita tangensial, yaitu pori yang tersusun tegak

lurus jari-jari dan membentuk pita tangensial pendek maupun panjang. Pita-pita ini dapat berbentuk lurus maupun bergelombang.

 Pori tersusun secara diagonal dan atau pola radial, yaitu pori yang

tersusun mengarah radial atau semi tangensial dan radial.

 Pori tersusun dendritik, yaitu pori yang tersusun dengan pola

bercabang, atau tersusun seperti lidah api. 3. Pengelompokan Pori

 Pori hampir seluruhnya soliter, yaitu 90% atau lebih dari pori tersebut

secara keseluruhan terpisah dengan yang lainnya karena dikelilingi oleh jaringan lain, misalnya 90% atau lebih tidak berhubungan antar pori.

 Kebanyakan berkelompok secara radial dari 4 atau lebih, yaitu pori

yang saling berdekatan bergabung 4 atau lebih.

 Kebanyakan membentuk cluster, yaitu pori sering terlihat membentuk grup-grup dari tiga atau lebih dan terjadi kontak baik pada bidang radial maupun tangensial

4. Bidang Perforasi

 Bentuk sederhana yaitu bidang perforasi yang berbentuk lubang

tunggal daru bulat sampai oval.

 Bentuk tangga yaitu bidang perforasi dengan lubang yang

(24)

tangga. Bidang perforasi yang demikian dapat dibedakan menurut

jumlah palang (anak tangga), yaitu ≤ 10 palang, 20-40 palang, dan

yang ≥ 40 palang.

 Bentuk retikulat yakni bidang perforasi yang terdiri dari

lubang-lubang kecil kadang tidak teratur yang menyerupai jala.

 Bentuk foraminat yakni bidang perforasi dengan bukan berbentuk

bulat atau elips dan terdapat lubang-lubang seperti bentuk ayakan. Biasanya dinding pori lebih tebal dari pada dinding pada retikular itu sendiri.

 Tipe lain dengan bentuk yang kompleks atau seperti pada bentuk

radiat.

5. Ceruk (d/h. noktah)

 Ceruk antar pembuluh (di antara elemen pembuluh)

- Bentuk tangga, yaitu ceruk memanjang atau linier tersusun mirip deretan anak tangga.

- Berhadapan, yaitu ceruk antar pembuluh yang tersusun dalam barisan pendek sampai panjang yaitu baris arah melintang panjang pembuluh.

- Selang-seling, yaitu ceruk antar pembuluh yang tersusun berupa deretan diagonal

- Selang-seling bentuk poligonal, yaitu garis luar ceruk bersegi dan lebih dari 4 sisi bila dilihat pada permukaan (bidang) longitudinal.

 Ceruk persilangan antara pembuluh dengan jari-jari :

- Dengan halaman yang jelas; sama dalam ukuran dan bentuk dengan curuk antar pembuluh pada seluruh sel jari-jari

- Dengan halaman yang sangat dipersempit sampai terlihat sederhana : ceruk budar atau bersudut

- Dengan halaman yang sangat dipersempit sampai tampaknya sederhana: ceruk horizontal, bentuk tangga atau jala sampai vertikal

(25)

- Bergabung searah, kasar (< 10 µm) - Terbatas pada baris marjinal. 6. Diameter Lumen Pembuluh

Diameter pori diukur pada bidang lintang. Pembuluh yang diukur harus mewakili ukuran sel pembuluh yang ada. Diameter tangensial lumen pembuluh (tidak termasuk dinding selnya) diukur pada bagian terlebar terowongan pembuluh. Pengukuran minimum harus sebanyak 25

kali ulangan.

7. Jumlah atau Frekuensi Pembuluh per mm2

Jumlah pembuluh persatuan luas permukaan lintang dapat mempunyai nilai yang cukup besar di dalam identifikasi kayu. Setiap individu dihitung sebagai satuan individu.

8. Rata-rata Panjang Sel Pembuluh

Diukur melalui hasil proses maserasi sebanyak 25 elemen pembuluh.

9. Tilosis dan Bahan Endapan di dalam Pori

Tilosis dikatakan ada jika terdapat suatu bahan (gelembung, tonjolan) yang keluar dari dinding pori yang berasal dari sel parenkim jari-jari maupun parenkim aksial melalui ceruk, sehingga sebagian maupun keseluruhannya menyumbat lumen pori tersebut. Sering terdapat pada bagian kayu teras (jarang terdapat di bagian luar pada kayu gubal).

c.Serat

Sel-sel yang berbentuk panjang langsing dikenal dengan nama serat.

Dinding umumnya lebih tebal daripada dinding parenkima maupun dinding pembuluh. Panjangnya antara 300-3600 µm tergantung pada jenis pohon dan posisinya dalm batang. Diameternya antara 15 sampai 50 µ m. Ketebalan dindingnya relatif dibanding diameter, dapat tipis, tebal atau sangat tebal. Serat dikatakan berdinding sangat tebal jika lumen atau rongga selnya terisi dengan lapisan-lapisan dinding. Dari ciri inilah dapat dipahami bahwa serat berfungsi sebagai penguat batang pohon (Mondang & Pandit 2002).

(26)

pada kayu daun lebar dibagi atas dua macam, yaitu serat libriform (libriform fiber) dan serat trakeida (tracheid fiber). Serat libriform memiliki ceruk sederhana yang lebih kecil dan bersifat memberikan kekuatan karena

diantaranya lebih kecil dan lumen selnya lebih sempit. Serat libriform terlihat lebih ramping bila dibandingkan dengan serat trakeida sehingga terlihat lebih panjang. Umunya ceruk-ceruk pada serat libriform ini lebih banyak terdapat pada dinding radial dibandingkan dinding tangensialnya.

Pada dinding vertikal dari sel serat sering terdapat modifikasi-modifikasi seperti yang terdapat pada serat trakeid. Serat libriform dan serat trakeida mungkin terdapat secara bersama-sama dalam satu jenis kayu. Perbedaan antara kedua macam sel ini sangat sedikit, sehingga dalam preparat anatomi kedua sel ini sulit dibedakan karena sifat-sifat ceruk yang menjadi ciri kadang-kadang sulit terlihat. Oleh karena itu kedua macam sel ini disebut sel serat. Sering kali 50% atau lebih volume dari kayu daun lebar ini disusun oleh sel serat (Pandit & Ramdan 2002).

Wheeler et al. (1989) menyebutkan ciri-ciri serat yang digunakan sebagai dasar identifikasi, sebagai berikut:

1. Jaringan Dasar Serat

Pengamatan terhadap bentuk dan distribusi dari ceruk serat hanya pada radial dan tangensial karena pengamatan pada bidang lintang tidak seteliti pada bidang radial atau tangensial. Namun pada bidang radial dan tangensial maupun bidang lintang dapat ditunjukan jenis ceruk yaitu berhalaman atau (semuanya) sederhana.

2. Serat Bersekat

Serat bersekaat adalah serat dengan dinding tipis dan tidak berceruk. Sekat terjadi setelah dinding sekunder telah terbentuk. Oleh karenanya sekat tidak berhubungan dengan lamela tengah. Antar serat biasanya tidak terlignifikasi.

3. Tebal Dinding Serat

Menurut ketebalannya dinding serat dapat dibagi tiga, yakni:

 Sangat tipis: jika diameter lumen (l) tiga kali lipat atau lebih dari

(27)

 Tipis sampai tebal: diameter lumen kurang dari 3 kali tebal dua

dinding serat (2w) dan masih terlihat terbuka.

 Sangat tebal: jika lumen hampir tertutup.

d.Parenkim

Parenkim merupakan jaringan yang berfungsi untuk menyimpan serat mengatur bahan makanan cadangan. Menurut penyusunnya, parenkim dibedakan menjadi 2 macam yaitu parenkim aksial yang tersusun vertikal dan parenkim jari-jari yang tersusun secara horizontal (Pandit & Ramdan 2002).

Wheeler et al. (1989) menyebutkan jenis parenkim yang digunakan sebagai dasar identifikasi, yaitu:

1. Parenkim aksial apotrakeal, yaitu parenkim yang tidak berhubungan dengan pembuluh, terdiri dari parenkim aksial baur (diffuse) dan parenkim aksial kelompok baur (diffuse in aggregate).

2. Parenkim aksial paratrakeal, yaitu parenkim aksial yang berhubungan dengan pembuluh atau trakeida vaskular. Parenkim aksial paratrakeal terdiri dari parenkim aksial paratrakeal jarang, parenkim aksial vasisentrik, parenkim aksial paratrakeal sepihak.

3. Parenkim aksial bentuk pita, terdiri dari parenkim bentuk pita dengan lebar lebih dari tiga sel, parenkim bentuk pita tipis 1-3 sel, parenkim aksial bentuk jala (bentuk retikulat), bentuk tangga (scalariform) dan parenkim marginal atau menyerupai pita-pita marginal.

4. Untaian parenkim, yaitu jajaran sel-sel parenkim aksial yang terbetuk melalui pembagian secara transversal terhadap satu sel kambium fusiform awal.

e.Jari-jari

Jari-jari berfungsi sebagai jalan angkutan bagi cairan pohon dalam

arah horizontal dari dan ke lapisan floem. Sel jari-jari diproduksi dari pembelahan sel inisial jari-jari dalam kambium. Inisial jari-jari sendiri berasal dari pembelahan inisial jari-jari sendiri atau yang lain atau dari pembelahan yang tidak sama dari inisial bentuk kumparan (Haygreen &

(28)

Wheeler et al. (1989) menyebutkan ciri-ciri dari jari-jari yang digunakan sebagai dasar identifikasi, yaitu:

1.Lebar Jari-Jari

 Jari-jari seluruhnya uniseri

- Lebar jari-jari 1-3 sel - Lebar jari-jari 4-10 seri

- Lebar jari-jari lebih dari 10 seri

 Jari-jari dengan bagian multiseri (berseri banyak) mempunyai lebar

yang sama dengan bagian uniseri (berseri satu). 2.Tinggi Jari-Jari

Jari-jari > 1 mm adalah termasuk jari-jari yang berkategori tinggi. 3.Jari-Jari yang terdiri dari dua ukuran

Jari-jari yang membentuk dua populasi yang tegas dam lebar maupun tinggi jika dilihat pada penampang tangensial.

4.Komposisi Sel Jari-Jari

 Seluruh sel jari-jari baring

 Semua sel jari-jari tegak dan atau bentuk persegi

 Badan jari-jari berupa sel-sel baring dengan satu baris sel marginal

yang berupa sel tegak dan atau persegi.

 Badan jari-jari berupa sel-sel baring dengan 2-4 baris sel marginal

yang berupa sel tegak dan atau persegi.

 Badan jari-jari berupa sel-sel baring dengan umumnya punya lebih dari 4 baris sel marginal yang berupa sel tegak dan atau persergi.

 Jari-jari terdiri dari sel campuran antara sel baring, persegi dan sel

tegak. 5.Sel seludang

Sel seludang adalah sel yang terletak di sepanjang kedua sisi jari-jari yang besar (lebih dari 3 seri) sebagaimana dapat dilihat pada bidang tangensial. Umumnya lebih besar (lebih tinggi dan lebih lebar) daripada sel-sel jari bagian tengahnya.

(29)

6.Jumlah jari per mm

Jumlah jari-jari per mm paling baik dihitung pada bidang tangensial sepanjang garis tegak lurus pada sumbu aksis jari-jari.

f. Inklusi Mineral

 Kristal prismatik, yaitu kristal-kristal berbentuk rhomboidal atau

oktahedral yang terdiri dari kalsium oksalat, yang jika dilihat dengan sinar polarisasi memantulkan warna berkilau.

 Butir silika, yaitu butir yang tersusun dari silikon dioksida yang

bentuknya bundar atau tidak teratur.

D. Kualitas Serat

1. Dimensi Serat

Dimensi serat yang diukur terdiri dari panjang, diameter, dan tebal dinding serat.

a. Panjang Serat

Handayani (1991) dalam Sofyan et al., (1993) menyatakan bahwa panjang serat dianggap sebagai salah satu dimensi yang memegang peranan utama dalam kekuatan sobek. Hasil penelitian Pasaribu dan Silitonga (1974) dan Sofyan et al., (1993) menunjukkan bahwa semakin tinggi perbandingan panjang serat dengan diameter serat akan semakin tinggi pula kekuatan sobek dan semakin baik daya tenunnya.

(30)

b. Diameter Serat

Diameter serat berpengaruh terhadap sifat kekuatan pulp, pembentukan lembaran, ikatan antar serat, dan kekuatan serat dalam

lembaran. Serat dengan diameter besar dan berdinding tipis mampu memberikan ikatan antar serat yang kuat dengan kekuatan lembaran tinggi. Ada dua pengertian diameter yaitu diameter serat dan diameter lumen. Casey (1980b) menggolongkan diameter serat menjadi tiga kelas, yaitu:

serat berdiameter besar (0,025-0,04 mm), serat berdiameter sedang (0,01-0,025 mm), serat berdiameter keci (0,02-0,01 mm).

Diameter serat menunjukkan kelangsingan serat. Serat yang langsing mudah membentuk jalinan sehingga terbentuk lembaran dengan sifat-sifat yang baik. Serat yang berdinding tipis menyebabkan kekuatan sobek kecil. Dalam menjalin ikatan antar serat yang lebih baik diinginkan ukuran serat yang relatif panjang karena berperan meningkatkan kekuatan sobek kertas. Hal ini disebabkan karena gaya sobek akan terbagi dalam luas yang panjang (Casey 1980b).

c. Tebal Dinding Serat

Tebal dinding serat menentukan sifat-sifat kertas. Dinding yang tebal menyebabkan terbentuknya lembaran yang kasar dan tebal, kekuatan sobek yang tinggi tetapi kekuatan jebol, tarik dan lipat relatif rendah.

Serat berdinding tipis mudah melembek dan menjadi pipih, sehingga

memberikan permukaan yang luas bagi terjadinya ikatan antar serat, sedangkan serat dengan dinding tebal sukar melembek dan bentuknya tetap membulat pada saat pembentukan lembaran. Struktur tersebut menyulitkan dalam penggilingan dan akan memberikan kekuatan sobek yang tinggi,

berbeda dengan serat berdinding tipis yang memberikan sifat kekuatan sobek rendah, tetapi kekuatan tarik, jebol dan kekuatan lipatnya tinggi (Casey 1980b).

2. Turunan Dimensi Serat

(31)

nilai dimensi serat nilai-nilai turunan dimensinya serat yang mempunyai hubungan erat dengan sifat-sifat pulp dapat dihitung dari data panjang serat, tebal dinding, diameter serat, dan diameter lumen. Turunan dimensi serat itu

adalah:

a. Runkle Ratio (RR), adalah perbandingan antara dua kali lipat tebal dinding serat dengan diameter lumen yang dinyatakan dalam persamaan:

RR = 2w / l, dimana: w = tebal dinding serat, l = diameter lumen.

Jenis-jenis kayu tropis digolongkan ke dalam:

Golongan I : dinding serat sangat tipis, lumen lebar, RR = 0,25 Golongan II : dinding tipis, lumen lebar, RR = 0,25-0,50

Golongan III : dinding dan lumen sedang, RR = 0,50-1,00 Golongan IV : dinding tebal, lumen sempit, RR = 1-2

Golongan V : dinding sangat tebal, lumen sangat sempit, RR = 2

Serat dengan RR yang rendah menunjukkan bahwa serat tersebut memiliki dinding yang tipis tetapi diameter lumen lebar. Pulp yang dihasilkan dari jenis serat yang demikian lebih mudah digiling (beaten) dan memiliki daerah ikatan antar serat yang lebih luas sehingga diduga akan menghasilkan lembaran pulp dengan kekuatan jebol, tarik dan lipat yang tinggi.

b. Felting Power (FP) atau Daya Tenun, adalah perbandingan antara panjang serat dengan diameter serat dengan persamaan:

FP = L / d , dimana: L = panjang serat, d = diameter serat.

Semakin tinggi nilai daya tenun maka sifat serat cenderung lebih

(32)

c. Muhstep Ratio (MR), adalah perbandingan antara luas penampang dinding serat dengan luas penampang lintang serat yang berpengaruh terhadap keraptan lembaran pulp, dengan persamaan:

MR = {(d2-l2) / d2 x 100%}, dimana: d = diameter serat, l = diameter lumen MR berpengaruh terhadap kerapatan lembaran pulp. Serat kayu dengan MR yang tinggi memiliki luas permukaan yang lebih kecil sehingga luas daerah ikatan dan kontak antar seratnya menurun. Hal ini

menyebabkan lembaran kertas yang dihasilkan cenderung memiliki ketahanan tarik dan ketahanan retak yang rendah.

d. Flexibility Ratio (FR), adalah perbandingan antara diameter lumen dengan diameter serat, dengan persamaan:

FR = l / d , dimana: d = diameter serat, l = diameter lumen

FR mempunyai peran dalam perkembangan kontak antar serat (fiber to fiber contact) serat dengan FR tinggi, tebal dindingnya relatif tipis dan mudah berubah bentuk. Kemampuan berubah bentuk ini menyebabkan persinggungan antar permukaan serat lebih leluasa dan lebih mudah ditarik kedalam kontak yang dekat satu sama lain oleh gaya tegangan permukaan ketika air dihilangkan pada tahap pembuatan lembaran dan pengeringan kertas. Hal ini mendukung terjadinya ikatan antar serat.

e. Coefficient of Rigidity (CR), adalah perbandingan antara tebal dinding serat dengan diameter serat. Koefisien ini mempunyai hubungan negatif dengan kekuatan tarik kertas dengan persamaan:

CR = w / d , dimana: w = tebal dinding serat, d = diameter serat

(33)

Tabel 1. Kriteria kualitas serat kayu Indonesia untuk bahan baku pulp dan kertas

Coefficient of Rigidity (CR)

>2.000 Sumber: Rachman dan Siagian (1976)

E. Pulp dan Kertas

Kayu lebih disukai sebagai sumber serat untuk industri kertas walaupun menurut sejarahnya kertas dapat dibuat dari tumbuhan non kehutanan atau bahan berlignoselulosa lainnya. Alasan untuk mengguanakan kayu adalah kadar kualitas pulp tinggi (Casey 1980a).

Kualitas bahan baku berpengaruh terhadap kualitas pulp dan kertas yang dihasilkan. Meskipun pada awalnya softwood lebih banyak digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas dibandingkan hardwood karena struktur sel penyusunnya lebih homogen (hampir 90% adalah trakeid) dan memiliki serat yang lebih panjang (rata-rata 3-5 mm) sehingga menghasilkan kertas yang lebih kuat, bukan berarti hardwood tidak cocok. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa pulp hardwood mampu memiliki nilai kekuatan tertentu yang sama dengan atau bahkan lebih besar daripada pulp softwood. Hal ini disebabkan adanya variasi pada kayu dan morfologi serat secara statistika dapat mempengaruhi sifat dan kualitas kertas (Casey 1980a).

(34)

Menurut Pasaribu dan Silitonga (1974) dalam Sofyan et al., (1993), panjang pendeknya serat dapat mempengaruhi kekuatan pulp kertas. Namun, hubungan panjang serat, tebal dinding serat, dan diameter terhadap kualitas pulp

(35)

BAHAN DAN METODE

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Sifat Dasar Kayu, Bagian Teknologi Peningkatan Mutu Kayu DHH Fakultas Kehutanan IPB dan Laboratorium Anatomi Kayu PusLitBang Hasil Hutan Gunung Batu mulai bulan Desember 2010 sampai Maret 2011.

B. Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan adalah:

1. Bagian kayu normal, kayu tarik, dan kayu opposite dari sebatang pohon kawista (Limonia acidissima L.) asal Bima Nusa Tenggara Barat. Massa kayu dari masing-masing riap tumbuh dari empulur ke arah kulit, digunakan sebagai sampel penelitian. Umur pohon tidak diketahui dengan pasti, namun diameter

batang nya 18 cm.

2. Air keran, akuades, asam asetat glasial, hidrogen peroksida, alkohol teknis, alkohol absolut, gliserin, safranin, toluen, karbolxylene, dan ethilen.

Adapun peralatan penelitian terdiri dari gelas obyek, gelas penutup, botol timbang, watch glass, waterbath, mikroskop, dan pipet. Untuk pembuatan preparat sayat digunakan mikrotom gelincir merek Reichert, sedangkan untuk dokumentasi digunakan kamera digital Sony.

C. Metode Penelitian

1. Pembuatan Sediaan Maserasi dan Pengukuran

Pembuatan sediaan maserasi dilakukan dengan metode FPL (Forest Products Laboratory) dengan ukuran contoh uji sebesar batang korek api dari seluruh riap tumbuh yang ada. Maserasi diawali dengan merebus kayu dalam

larutan 60% asam asetat glasial dan 30% hidrogen peroksida pada suhu ± 60oC selama 24 jam atau sampai contoh uji berubah warna menjadi putih dan lunak. Perbandingan volume asam asetat glasial dan hidrogen peroksida yang digunakan adalah 1:20. Setelah itu sampel dicuci dengan air hingga bebas

(36)

alkohol berturut-turut 10%, 30%, 50%, 70%, 90% dan absolut masing-masing selama 2 menit. Setelah didehidrasi, serabut pilihan dipindahkan ke kaca preparat (Gambar 2) kemudian dilanjutkan dengan pengamatan dengan

mikroskop.

Gambar 2 Bagian-bagian serat yang diukur

Keterangan: Panjang serat (a), Diameter serat (b), Diameter lumen (c), dan Tebal dinding sel (d)

2. Pengamatan Struktur Anatomi Kayu

Pengamatan struktur anatomi kayu dilakukan pada masing-masing contoh uji kayu. Kegiatannya meliputi tiga tahapan, yaitu:

a. Pembuatan Preparat

Contoh uji berukuran (1,5 x 1,5 x 1,5) cm dilunakkan dengan cara

direndam dengan aquades selama 2 malam kemudian dilanjutkan dengan perendaman dalam larutan alkohol dan gliserin dengan perbandingan 1:1 selama 2-3 hari. Setelah lunak, contoh uji disayat dengan rotary mikrotom untuk menghasilkan sayatan setebal 15-25 µ m. Sayatan yang dibuat meliputi penampang lintang (X), radial (R), dan tangensial (T). Lima sayatan terbaik dipilih untuk diamati strukturnya menggunakan mikroskop. Hasil sayatan kemudian dicuci dengan akuades untuk menghilangkan gliserin dan direndam dalam safranin selama 1 jam untuk pewarnaan. Setelah itu sayatan dicuci kembali dengan akuades sampai bersih, lalu didehidrasi bertingkat menggunakan alkohol 30%, 50%, 70%, 90%, dan alkohol absolut masing-masingnya selama 5-10 menit. Selanjutnya sayatan dibeningkan dengan cara merendamnya beberapa saat, berturut-turut dalam karboxylol dan tuluen. Sesudah itu sayatan direkat dengan entelan di atas

d b c

(37)

gelas obyek, ditutup dengan gelas penutup, diberi label dan siap untuk diamati.

b. Pengamatan

Ciri anatomi yang diamati meliputi ciri-ciri yang dianjurkan oleh International Association Of Wood Anatomist (Wheeler et al, 1989).

Gambar 3 Penyusunan sayatan pada gelas obyek

Keterangan: X = Penampang lintang, R = penampang radial T = penampang tangensial, dan pelabelan dengan label

3. Pengolahan Data

Data yang bersifat kualitatif disajikan secara deskripsi naratif, sedangkan data yang bersifat kuantitatif dihitung nilai rata-rata dan standar deviasinya menggunakan sebaran t-student pada selang kepercayaan 95% sebagai berikut:

Untuk mengetahui perbedaan panjang serat antar bagian kayu yang diteliti dilakukan uji beda nyata dengan menggunakan sebaran t-student pada selang kepercayaan 95%. Rata-rata pengulangan contoh (x) digunakan untuk menduga nilai tengah populasi (µ). Sedangkan ragam pengulangan contoh per jenis (s2) digunakan untuk menduga ragam populasi per jenis (σ 2).

(38)
(39)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengamatan Karakter Makro dan Mikroskopis

Ciri makroskopis dan mikroskopis yang terdapat pada masing-masing bagian kayu kawista yang diteliti adalah sebagai berikut:

1. Bagian Kayu Normal

Ciri Makroskopis

Warna: kayu teras berwarna kuning jerami sampai coklat, serta tidak tegas batas antara kayu teras dan kayu gubalnya. Tekstur: agak kasar. Arah serat: berpadu. Kilap: permukaan tidak mengkilap. Kekerasan: keras. Bau: tidak berbau.

Ciri Mikroskopis

(40)

Gambar 4 Bagian Kayu Normal Kawista L. acdissima L.

a. Penampang lintang (10x), b. saluran sel minyak (anak panah), dan parenkim aksial paratrakeal jarang serta parenkim marjinal, jari-jari 1-6 seri (penampang lintang, 10x), c. jari-jari multiseriate 1-6 seri (anak panah) (penampang tangensial, 10x) d. sel baring (anak panah) (penampang radial, 10x)

2. Bagian Kayu Tarik Ciri Makroskopis

Warna: kayu teras berwarna kuning jerami sampai coklat, tidak tegas batas antara kayu teras dan gubalnya. Tekstur: agak kasar. Arah serat: berpadu. Kilap: permukaan tidak mengkilap, namun cukup licin. Kekerasan: keras. Bau: tidak berbau.

Ciri Mikroskopis

Lingkar tumbuh: jelas. Pembuluh: porositas tata baur, tersusun secara diagonal hingga radial dengan rata-rata diameter lumen 71±13,5 µm, penyebaran pori sebagian besar bergabung radial 2-3 pori dan beberapa soliter, frekuensi 17±3,0 per mm2, panjang rata-rata 160±33,6 µm, bidang perforasi bentuk tangga, tidak memiliki tilosis tetapi memiliki endapan berwarna kuning pekat,

a b

(41)

ceruk antar pembuluh bentuk tangga sampai berhadapan, berukuran sangat kecil 3±1,6 µ m, tidak berumbai, percerukan pembuluh dengan jari-jari berhalaman jelas, serupa dalam ukuran dan bentuk dengan ceruk antar

pembuluh. Parenkim: aksial paratrakeal jarang dan parenkim marjinal. Jari-jari: lebar l-6 seri, 2 ukuran meski kurang jelas, didominasi oleh sel baring, tidak dijumpai adanya sel tegak, tinggi sampai 914 µm dengan rata-rata 435±167,6 µ m, frekuensi 6±1,6 sel per mm2. Serat: bersekat dengan ceruk berhalaman, ketebalan dinding sel sedang, panjang sel sampai 1400 µ m dengan rata-rata 986±182,1 µm, diameter sampai 32,3 µm dengan rata-rata 18±3,7 µ m, diameter lumen 10,5±3,2 µ m, dan tebal dinding 3,7±0,9 µ m. Saluran interseluler: tidak ditemukan. Inklusi mineral: tidak ditemukan. Struktur mikroskopis bagian kayu tarik yang diteliti disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5 Bagian Kayu Tarik Kawista L. acdissima L.

a. Pembuluh dominan ganda, frekuensi rapat (penampang lintang, 10x), b. Endapan pada pembuluh (anak panah), parenkim aksial paratrakeal jarang, dan lapisan gelatin yang tebal (penampang lintang, 40x), c. Jari-jari 1-6 seri (penampang tangensial, 10x), d. Jari-jari sel baring (penampang radial, 10x)

c d

(42)

3. Bagian Kayu Opposite Ciri Makroskopis

Warna: kayu teras berwarna kuning jerami sampai coklat, serta tidak tegas batas antara kayu teras dan gubalnya. Tekstur: agak kasar. Arah serat: berpadu. Kilap: permukaan tidak mengkilap tetapi cukup licin. Kekerasan: keras. Bau: tidak berbau.

Ciri Mikroskopis

(43)

Gambar 6 Bagian Kayu Opposite Kawista L. acdissima L.

a. Pembuluh dominan ganda, serta frekuansi rapat (penampang lintang, 10x), b. Endapan dalam pembuluh (anak panah) dan parenkim aksial paratrakeal jarang (penampang lintang, 10x), c. Percerukan pembuluh dengan jari-jari berhalaman jelas (anak panah), dan jari-jari 1-6 seri (penampang tangensial, 10x), d. Jari-jari dengan 1 seri sel bujur sangkar (anak panah) (penampang radial, 10x)

Gambar 7 memperlihatkan corak kayu kawista yang diteliti sedangkan Gambar 8 memperlihatkan bentuk dan ukuran ceruk yang terdapat pada dinding bersama antar dua sel pembuluh yang berdempetan. Dari Gambar 7

tampak bahwa kayu kawista memiliki corak mirip dengan corak kayu jati, sedangkan ukuran ceruk pada dinding bersamanya sangat kecil.

Tabel 2 memperlihatkan rekapitulasi struktur anatomi ketiga bagian kayu kawista yang diteliti.

a b

(44)

Gambar 7 Corak penampang papan tangensial Kawista L. acidissima L.

(45)

Tabel 2 Perbandingan Beberapa Karakteristik Anatomi Kayu Kawista

No Karakteristik

Anatomi

Bagian Kayu

Normal Tarik Opposite

1 Lingkar Tumbuh Jelas Jelas Jelas 2 Sel Pembuluh:

a Porositas Baur Baur Baur

b Sebaran / Susunan Diagonal/radial Diagonal/radial Diagonal/radial

c Pengelompokan Berganda/

berkelompok

soliter Bundar Bundar Bundar

e Bidang perforasi Sederhana dan

bentuk tangga

i Ceruk pada persilangan pembuluh dengan jari-jari

k Diameter tangensial

lumen pembuluh (µm) 79±9,7 71±13,5 77±18,2

l Pembuluh per mm2 16±2,5 17±3,0 16±4,4

m Rata-rata panjang sel

(µm) 168±28,1 160±33,6 167±27,3 o Elemen trakeida tak

berlubang - - -

e Komposisi Seluruhnya sel

baring

b Paratrakeal Jarang Jarang Jarang

c Marjinal Pita tangensial

panjang

Pita tangensial panjang

(46)

Tabel 2 Lanjutan

No Karakteristik

Anatomi

Bagian Kayu

Normal Tarik Opposite

5 Serat:

a Jaringan dasar serat Bersekat dengan

ceruk berhalaman

d Serat bersekat Tidak bersekat Tidak bersekat Tidak bersekat

e Tebal dinding serat Tipis sampai

f Rata-rata panjang 1007±209,7 986±182,1 1023±239,4

6 Inkulsi mineral:

a Kristal prismatic Tidak ada Tidak ada Tidak ada

B. Dimensi dan Kualitas Serat Kayu Kawista

Hasil pengukuran dan perhitungan dimensi serat disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3 Rata-rata dimensi serat Kayu Kawista L. acidissima L.

Bagian Kayu

Opposite 1023±239,4 20,9±5,5 14,3±5,4 3,3±0,8

1. Panjang Serat

Rata-rata dan kisaran nilai panjang serat per masing-masing bagian kayu kawista yang diteliti dapat dilihat pada Tabel 4, sedangkan Tabel 5 memuat hasil uji beda nyata panjang serat berdasarkan seberan t student pada selang kepercayaan 95%.

Tabel 4 Rata-rata dan kisaran nilai panjang Serat Kawista L. acidissima L.

Bagian Kayu Panjang Serat (µ)

Rata-Rata Selang Rataan**

Normal 1007,5 714,29 ≤ µ ≤ 1428,57

Tarik 985,56 714,29 ≤ µ ≤1400

Opposite 1023,33 642,29 ≤ µ ≤1714,29

(47)

Tabel 5 Hasil uji beda nyata panjang serat berdasarkan seberan t student pada selang kepercayaan 95%

Jenis Kayu Tarik Opposite Normal

Normal -

Tarik -

Opposite -

Keterangan: - = tidak nyata

Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa rata-rata panjang serat kayu kawista

bervariasi dari 985,56 hingga 1023,33 μm. Bagian kayu tarik cenderung memiliki

panjang serat yang lebih pendek dibandingkan kedua bagian kayu lainnya. Namun demikian, secara keseluruhan panjang serat tidak dipengaruhi oleh bagian kayu dimana serat tersebut berada (Tabel 5).

Variasi radial panjang serat kayu per masing-masing riap tumbuh disajikan

pada Gambar 9.

Gambar 9 Variasi radial panjang serat kayu per masing-masing riap tumbuh

(48)

Berdasarkan kriteria penilaian serat kayu untuk bahan baku pulp dan kertas yang disusun oleh Rachman dan Siagian (1976), nilai panjang serat dari seluruh bagian kayu kawista yang diteliti masuk ke dalam kelas II.

Gambar 10 memuat contoh serat kayu kawista pada masing-masing bagian kayu yang diteliti.

Gambar 10 Serat kayu Kawista: a. kayu normal, b. kayu tarik, c. kayu opposite

2. Runkle Ratio (RR)

Nilai RR ketiga bagian kayu kawista yang diteliti disajikan pada Gambar 11. Rata-rata nilai RR berkisar antara 0,54 hingga 0,78. Meski nilai RR tidak dipengaruhi oleh bagian kayu, bagian kayu tarik cenderung memiliki nilai RR yang lebih besar, sedangkan nilai RR pada bagian kayu normal dan opposite-nya hampir sama. Berdasarkan kriteria penilaian mutu serat kayu untuk bahan baku

pulp dan kertas, nilai RR ketiga bagian kayu tersebut masuk ke dalam kelas mutu II.

a b

(49)

Gambar 11 Nilai Runkle Ratio Kayu Kawista L. acidissima L. 3. Felting Power (FP)

Nilai FP ketiga bagian kayu kawista yang diteliti ternyata juga tidak berbeda, dengan rata-rata berkisar antara 52,21 hingga 56,67 (Gambar 12). Berdasarkan kriteria penilaian mutu serat kayu untuk bahan baku pulp dan kertas, maka nilai FP ketiga bagian kayu kawistayang diteliti masuk kedalam kelas mutu II dengan nilai terbesar dimiliki oleh bagian kayu tarik.

(50)

4. Muhlsteph Ratio (MR)

Sebagaimana nilai panjang serat, RR dan FP, hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa rata-rata nilai MR pada ketiga bagian kayu kawista yang

diteliti juga tidak berbeda, dengan rata-rata berkisar antara 54,51 hingga 66,24 (Gambar 13).

Gambar 13 Nilai Muhlsteph Ratio Kayu Kawista L. acidissima L.

Berdasarkan kriteria penilaian kualitas serat kayu untuk bahan baku pulp dan kertas, maka nilai MRketiga bagian kayu tersebut juga masuk ke dalam kelas mutu II dengan nilai terkecil dimiliki oleh bagian kayu opposite.

5. Flexibility Ratio (FR)

Rata-rata nilai FR kayu kawista yang diteliti disajikan pada Gambar 14.

(51)

Gambar 14 Nilai Flexibility Ratio Kayu Kawista L. acidissima L. 6. Coefficient of Rigidity (CR)

Rata-rata nilai CR kayu kawista yang diteliti disajikan pada Gambar 15.

Gambar 15 Nilai Coefficient of Rigidity Kayu Kawista L. acidissima L.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rata-rata nilai CR pada ketiga bagian kayu kawista yang diteliti juga tidak berbeda, dengan rata-rata berkisar

antara 0,17 hingga 0,21. Berdasarkan kriteria penilaian kualitas serat kayu untuk bahan baku pulp dan kertas, maka nilai CR ketiga bagian kayu kawista yang diteliti masuk ke dalam kelas III.

(52)

Tabel 6. Scoring kualitas serat kayu kawista L. acidissima L.

Kriteria

Bagian Kayu

Normal Tarik Opposite

Nilai

Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa seluruh bagian kayu kawista yang diteliti menghasilkan nilai total yang masuk dalam kelas mutu II. Serat dengan kelas mutu II akan menghasilkan pulp dan kertas yang mempunyai keteguhan sobek, ketahanan pecah, dan keteguhan tarik tergolong sedang, serat mudah mengepeng dengan ikatan antar serat dan daya tenun yang baik. Dengan demikian seluruh bagian kayu kawista tersebut cocok dan sesuai untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp dan kertas.

C. Perbandingan Kualitas Serat Kayu Kawista Limonia acidissima L. dengan Kualitas Serat Kayu Mangium

Tabel 7 menyajikan karakteristik serat kayu kawista dari bagian normal dan serat kayu mangium. Karakteristik kayu mangium yang digunakan adalah karakteristik hasil penelitian Sahri et al., (1993).

Tabel 7 Perbandingan kualitas serat kayu normal kawista dan kayu mangium

Kriteria

Jenis Kayu

Kawista Limonia acidissima L A. mangium Willd.

Nilai Hitung Scoring Nilai Hitung Scoring

(53)

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa serat kayu kawista dan kayu mangium sama-sama masuk ke dalam kelas kualitas II, namun kayu kawista memiliki total nilai yang lebih tinggi (300 berbanding 225). Dengan demikian

maka kualitas pulp dan kertas yang dibuat dari kayu kawista akan lebih tinggi dibandingkan dengan kualitas pulp dan kertas yang dibuat dari kayu mangium. Oleh karena itu, jenis kawista perlu dikembangkan karena berpotensi untuk dijadikan bahan baku pembuatan pulp dan kertas.

(54)

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Tiga bagian kayu kawista L. acidissima L yang diteliti memiliki ciri umum yang sama, yaitu: kayu teras berwarna kuning jerami sampai coklat serta tidak tegas batasan antara kayu teras dan kayu gubalnya, tekstur kayu agak kasar, arah serat berpadu, permukaan tidak mengkilap cukup licin, kayu cukup keras dan tidak berbau.

2. Ciri struktur anatomi kayu kawista secara umum adalah sebagai berikut: lingkar tumbuh jelas; pori tata baur, bergabung dalam arah diagonal hingga radial dengan 2-3 sel, memiliki bidang perforasi sederhana dan bentuk tangga, tidak memiliki tilosis tetapi memiliki endapan berwarna kuning tua, ukuran ceruk pada dinding bersama sangat kecil; jari-jari dua ukuran tidak jelas, lebar 1-6 seri, didominasi oleh sel baring; ditemukan adanya sel-sel parenkima jarang dan parenkima marjinal; tidak ditemukan adanya saluran interselular

dan inklusi.

3. Rata-rata diameter pembuluh sekitar 71-79 µ m, dengan frekuensi 16 per mm2, panjang 160-168 µm, dan ukuran ceruk di dinding bersama ≤ 4 µm. Tinggi jari-jari rata-rata 440-568 µm, dengan frekuensi 6-8 sel per mm2. Rata-rata panjang sel serat 1007 µ m, dengan diameter serat 18,9 µm, diameter lumen 12,5 µm, dan tebal dinding 3,2 µm.

4. Nilai turunan dimensi serat kayu kawista adalah sebagai berikut: rata-rata nilai Runkel ratio 0,55; felting power 52-56; Muhlsteph ratio 55-66%; flexibility ratio 1,54-1,78; dan coeffisien of rigidity 0,17-0,21.

(55)

B. Saran

1. Perlu dilakukan penelitian sejenis dengan memperbanyak jumlah pohon sampel sehingga diperoleh data yang lebih mewakili gambaran struktur

anatomi dan kualitas serat kayu kawista.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang kualitas pulp dan kertas dari serat kayu kawista melalui pembuatan pulp dan kertas secara langsung.

3. Mengingat kayu kawista memiliki kesan dekoratif yang tinggi dan berwarna

cerah, penggunaan kayu kawista sebagai bahan baku mebel dan furniture perlu pula dipertimbangkan.

(56)

Anonim. 2010. Manfaat kayu kawista dalam segala bidang dan kegunaan. http://www.indonesiaindonesia.com/f/37946-kawista/.[11 Juli 2011]

Casey J. 1980a. Pulp and Paper Chemistry and Chemical Technology. Third Edition Vol. IA. New York: Willey and Sons Inc.

---. 1980b. Pulp and Paper Chemistry and Chemical Technology. Third Edition Vol. IA. New York: Willey and Sons Inc.

Departemen Perindustrian. 1982. Perkembangan Industri Kertas dan Pulp di Indonesia Bagian A. Jakarta: Departemen Perindustrian.

Fengel D, G Wegener. 1995. Kayu: Kimia, Ultrastruktur, Reaksi-reaksi. Hardjono Sastrohamidjojo, Penerjemah; Soenardi Prawirohatmodjo, Editor. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

FWI/GFW. 2002. The State of the Forest: Indonesia. Bogor, Indonesia: Forest Watch Indonesia, and Washington DC: Global Forest Watch.

Haygreen JG, JL Bowyer. 1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu: Suatu Pengantar. Sutjipta A. Hadikusumo, penerjamah; Soenardi Prawirohatmodjo, editor. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Heyne K. 1989. Tumbuhan Berguna Jilid II. Badan Litbang Kehutanan, Penerjemah. Jakarta: Yayasan Wana Jaya.

Lestari SB, Yoswita. 2003. Sifat Pengolahan dan Sifat Fisik Pulp Sembilan Jenis Kayu dari Indonesia Bagian Timur. Buletin Penelitian Hasil Hutan, Vol. 21 No. 2.Halaman: 91-98.

Lewin M, IS Goldstein. 1991. Wood Structure and Composition. New York: Marcel Dekker. Inc.

Mandang YI, IKN Pandit. 2002. Pedoman Identifikasi Kayu di Lapangan. Bogor: Yayasan PROSEA Indonesia.

Mandang YI. 1996. Anatomi Delapan Jenis Kayu Kurang Dikenal dari Suku-Suku Flacourtiaceae sampai Jugladanceae. Bulletin Penelitian Hasil Hutan Vol. 14 No. 1: Halaman 31-45.

Oey DS. 1990. Berat Jenis dari Jenis-Jenis Kayu Indonesia dan Pengertian Beratnya Kayu Untuk Keperluan Praktek. Soewarsono PH, penerjemah. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

(57)

Pandit IKN, H Ramdan. 2002. Anatomi Kayu: Pengantar Sifat Kayu sebagai Bahan Baku. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Panshin AJ dan C de Zeeuw. 1980. Textbook of Wood Technology: Structure, Identification, Uses, and Properties of the Commercial Woods of the United States and Canada. New York: Mc Graw-Hill Book Company. Rachman AN, RM Siagian. 1976. Dimensi Serat Jenis Kayu Indonesia Bagian III.

Bogor: Laporan LPHH No. 75.

Sahri MH, Faridah HI, Nor Aini AS. 1993. Anatomy of acacia mangium grown in Malaysia. IAWA Bulletin. Vol. 10(4), 1989: 364-373.

Sofyan K, Deded SN, Trisna P. 1993. Sifat Pulp Jenis-Jenis Kayu Cepat Tumbuh. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood. New York: Van Nostrand Reinhold.

(58)
(59)

Lamp i ran 1. Pro sedu r p embu atan sedia an mi kroto m

Pe mbuat a n se d iaa n mikro t o m me nurut met o de ya ng u mu m d ila kuka n d i La bo rat o riu m de nga n urut an ker ja se baga i ber ikut : a. Co nt o h ka yu berukur a n 2 c m x 2c m x 5 c m d ibe nt uk la lu d i

rebu s sa mpa i lu nak ke mud ia n d isa yat .

b. Pe mbuat a n sa yat a n d ila kuk a n pada t ig a bida ng o rie nt a si ( lint a ng, rad ia l, t a nge nsia l) de nga n me nggu na ka n p isau mikro to m spe ncer de nga n t eba l sa yat a n a nt ar a 12-20 µ m. Sela njut nya sa yat a n d ire nda m da la m a lko ho l d e nga n ko nse nt rasi 50%.

c. Se la njut nya p ere nd a ma n d ilak uka n bert urut -t urut denga n a lco ho l 30%, 20%, 10%, la lu de nga n aqu ade s.

d. Ke mud ia n sa yat a n de ber i sa fra nin 2% da n d is impa n se la ma 6 - 8 ja m.

e. Sa fra n in d ibu a ng da n d ig a nt i bert urut – bert urut denga n a lko ho l 30%, 50%, 70%, 90%, 100% dan t erakhir de nga n xylo l.

f. Sa yat an se cep at mu ngk in d ip ind a hka n ke o bje ct g la ss la lu d ibu bu hi ca na da ba lsa m da n d it ut up de nga n co ver g la ss.

(60)

Lamp i ran 2. Pro sedu r p embu atan sedia an mas e ra si

Pe mbuat a n sed ia a n ma ser asi d ilaku ka n de ng a n met o de Schu lt ze, de nga n urut a n se baga i ber ik ut :

a. D ibuat co nt o h ka yu beruk ura n 3 c m x 1 mm x 1 mm at au se be sa r bat ang ko rek ap i se ba nya k e mpat bu a h dar i set iap co nt o h u ji. b. Poto ng-po to nga n sa mpe l d ima suk ka n ked a la m t a bu ng rea ksi. c. Keda la m t a bu ng reak si d ima sukka n kr ist a l KC LO3 da n d it a mba h

sed ik it lar ut an HN O3 pekat sa mpa i po t o nga n ka yu t erenda m. d. Tabu ng reak si d ip a na ska n sa mp a i larut a n ber bu ih da n ser a but

ke lihat a n t er le pas. Ke mud ia n t abu ng reak si segera d i sing k irka n dar i n ya la ap i d a n re aksi d ihe nt ika n d e nga n me n ye mpro t ka n aquad es ke d a la m t abu ng reak si.

e. Sera but ya ng t er lep as d ic uc i be ber apa ka li de ng a n aqua de s sa mp a i net ra l. Se la njut nya d iber i zat warna sa fra nin 2% da n d isimpa n se la ma 6 -8 ja m.

f. Zat warna d ibua ng da n d ila kuka n p e ng hila nga n a ir (de h idra si) de nga n cara me mber ik a n a lko ho l bert urut -t urut denga n

ko nse nt ras i 30%, 50%, 70%, 90%, dan terak hir 100%, masi ng-ma sing se la ng-ma 2 me nit .

g. Sesud a h d id e hidra si, sera but ya ng t er lep a s d ip ind a hk a n ke o bje ct g lass da n d iber i xylo l da n prep arat d iber i ca nada ba lsa m la lu d it ut up.

(61)
(62)

Lamp i ran 4. Pengu ku ran hasi l Prepa rat M ikrotom (B agian K ayu Opposite)

Frekuensi Ukuran ceruk antar

Gambar

Tabel 1. Kriteria kualitas serat kayu Indonesia untuk bahan baku pulp dan kertas
Gambar 3  Penyusunan sayatan pada gelas obyek
Gambar 4   Bagian Kayu Normal Kawista L. acdissima L.
Gambar 5   Bagian Kayu Tarik Kawista L. acdissima L.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai temuan penelitian yang dilakukan di poli mata SEC bahwa pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan disana cenderung merasa puas karena merasa lebih baik dari

Dengan menganalisa respon preventif dan korektif resiko yang mungkin terjadi pada tugas dan tanggung jawab ahli konsultan arsitek, diharapkan dapat menggambarkan

Pengujian chopper kelas C dilakukan dengan memvariasikan jenis transistor yang digunakan sebagai pensaklaran pada chopper yaitu, BJT, MOSFET dan IGBT.. 3.2

(5) Dalam hal pembukaan rahasia kedokteran untuk kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b dan huruf e, identitas pasien dapat dibuka kepada

Mata kuliah ini membahas seluk beluk Hukum Benda dan Hukum Perikatan Islam yang meliputi Pengertian, Unsur-unsur Pembagian dan Pandangan Islam tentang Harta; Pengertian Hak

Simpulan dalam penelitian ini adalah guru kelas V sudah menerapkan keterampilan dasar mengajar pada proses pembelajaran IPA dengan baik. walaupun tidak semua komponen

WORKSHOP PENGEMBANGAN ICT UNTUK PEMBELAJARAN MATEMATIKA BAGI GURU SMP DI KABUPATEN SLEMAN