ANALISIS PENERAPAN
GREEN BUILDING
PADA
INSTALASI PERAKITAN MOBIL PT. MERCEDES-BENZ
INDONESIA
FARID FACHRUDIN
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan tesis yang berjudul Analisis Penerapan Green Building pada Instalasi Perakitan Mobil PT. Mercedes-Benz Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2013
Farid Fachrudin
RINGKASAN
FARID FACHRUDIN. Analisis Penerapan Green Building pada Instalasi Perakitan Mobil PT. Mercedes-Benz Indonesia. Dibimbing oleh ARIEF SABDO YUWONO dan ASEP SAPEI.
Green building merupakan cara efektif untuk mengurangi penggunaan energi, emisi gas rumah kaca, sick building syndrome, dan keseluruhan dampak lingkungan akibat pembangunan. Di Indonesia konsep green building mulai berkembang sejak tahun 2009 ditandai dengan terbentuknya GBCI (Green Building Council Indonesia) yang menghasilkan rating tools analysis yang disebut sebagai GREENSHIP. GREENSHIP merupakan perangkat untuk bangunan sejauh mana menerapkan konsep green building. Penerapan green building didasarkan pada enam kriteria yaitu appropriate site development, energy efficiency and conservation, water conservation, material resources and cycle, indoor health and comfort, dan building environment management.
PT. Mercedes-Benz Indonesia (MB-Ina) merupakan salah satu produsen mobil terbesar di Indonesia dimana dalam proses produksinya secara bertanggung jawab senantiasa memperhatikan aspek lingkungan. Sehingga dibutuhkan analisis yang utuh dalam melaksanakan proses produksi yang sesuai dengan aspek lingkungan melalui konsep green building.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan green building pada MB-Ina berdasarkan kriteria GREENSHIP serta memberikan rekomendasi perbaikan kepada pihak MB-Ina. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu unsur penting bagi pihak pengelola MB-Ina untuk meningkatan kualitas operasional perusahaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Metode penelitian yang dilakukan meliputi metode analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan wawancara kepada pihak terkait. Sedangkan analisis kuantitatif didasarkan pada survei secara langsung ke lapang.
Hasil analisis penerapan green building di MB-Ina menunjukkan bahwa Ina telah menerapkan 59% atau 69 dari 117 poin yang telah ditetapkan. MB-Ina mendapatkan peringkat emas dalam melakukan penerapan konsep green building.
SUMMARY
FARID FACHRUDIN. Implementation Analysis of Green Building on Assembling Installation of PT. Mercedes-Benz Indonesia. Supervised by ARIEF SABDO YUWONO and ASEP SAPEI.
Green building is effective way to reduce energy use, greenhouse gas emissions, sick building syndrome, and the overall environmental impacts of development patterns. In Indonesia, this concept began to develop since 2009 by the formation of GBCI (Green Building Council Indonesia) that produced tools analysis ratings known as GREENSHIP. GREENSHIP is a device to assess the extent a building has applied the green building concept. The application of green building is based on six criteria i.e. appropriate site development, energy efficiency and conservation, water conservation, material resources and cycle, indoor health and comfort, and building environment management.
PT. Mercedes-Benz Indonesia (MB-Ina) is one of the largest car manufacturers in Indonesia, where the production process in a responsible manner always consider the environmental aspects.
The objective of the research was to evaluate the application of green building at Mercedes-Benz Indonesia (MB-Ina) according to GREENSHIP criteria and provide recommendations for improvements to the MB-Ina.. The result was expected to be one of important elements for the managers to improve the company operational quality and environmental awareness.
Research methodology includes qualitative and quantitative analysis methods. Qualitative analysis of interviews conducted with the manager level. While quantitative analysis is based on a survey directly to the field.
Analysis results in the application of green building show that the MB- Ina has implemented 59% or 69 of the 117 points that have been set. MB-Ina achieved gold level in the application of the concept of green building.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB.
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Teknik Sipil dan Lingkungan
ANALISIS PENERAPAN
GREEN BUILDING
PADA
INSTALASI PERAKITAN MOBIL PT. MERCEDES-BENZ
INDONESIA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2013
Judul Tesis : Analisis Penerapan Green Building pada Instalasi Perakitan Mobil PT. Mercedes-Benz Indonesia
Nama : Farid Fachrudin NIM : F451110051
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr Ir Arief Sabdo Yuwono, MSc Ketua
Prof Dr Ir Asep Sapei, MS Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi
Teknik Sipil dan Lingkungan
Dr Satyanto K Saptomo, STP, MSi
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2013 ini ialah Green Building, dengan judul Analisis Penerapan Green Building pada Instalasi Perakitan Mobil PT. Mercedes-Benz Indonesia.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, M.Sc. dan Bapak Prof. Dr. Ir. Asep Sapei, MS selaku pembimbing. Selain itu penulis ucapkan terimakasih kepada Kementrian Pendidikan Nasional melalui beasiswa unggulan BPKLN (Biro Perencanaan Kerjasama Luar Negeri) yaitu beasiswa P3SWOT yang telah diberikan. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Ibu Rusiana Jahja, Bapak Ari Setiawan dan Bapak Arief D Raharjo dari PT Mercedes-Benz Indonesia selaku pembimbing lapang yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Oktober 2013
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 1
Tujuan Penelitian 1
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
2 TINJAUAN PUSTAKA 2
3 METODE 6
Waktu dan Lokasi 6
Alat 7
Prosedur Analisis Data 7
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 10
5 SIMPULAN DAN SARAN 27
Simpulan 27
Saran 27
DAFTAR PUSTAKA 28
LAMPIRAN 28
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Green Building Council di berbagai negara 4 Tabel 2. Peringkat Green Building untuk ExistingBuilding 6
Tabel 3. IKE gedung perkantoran di MB-Ina. 14
Tabel 4. Hasil pengukuran parameter fisika di MB-Ina. 22 Tabel 5. Curah hujan bulanan di Kecamatan Gunung Putri 25
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Alur Penelitian Penerapan Konsep Green Building. 10
Gambar 2. Bis Jemputan dan Car Pooling. 11
Gambar 3. Sepeda dan Kamar Ganti Pakaian di MB-Ina. 12
Gambar 4. Stiker Hemat Energi di MB-Ina. 14
Gambar 5. Konsumsi Energi Listrik di MB-Ina. 15
Gambar 6. Konsumsi Air Bersih di MB-Ina. 18
Gambar 7. Penanganan Sampah di MB-Ina. 20
Gambar 8. Smoking Area. 21
Gambar 9. Penerapan Green Building di Mercedes Benz Indonesia. 24
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Denah Lokasi Penelitian. 30
Lampiran 2. Appropriate Site and Development/ASD 31
Lampiran 3. Program Eco-Industry. 34
Lampiran 4. Energy Efficiency and Conservation/EEC 35
Lampiran 5. Kualitas Air Tanah di MB-Ina. 39
Lampiran 6. Water Conservation/WAC 40
Lampiran 7. Material Resources and Cycle/MRC 42
Lampiran 8. Indoor Health and Comfort/IHC 46
DAFTAR SINGKATAN
AC : Air Conditioner
ASD : Approproiate Site and Development
BEM : Building Environment Management
CD : Coorporate Development
CFC : Chlorofluorocarbon
CV : Commercial Vehicle
DOM : Disposal of Material
EEC : Energy Efficiency and Conservation
EMI : Engineering, Maintenance, and Infrastructure
GBCI : Green Building Council Indonesia IHC : Indoor Health and Comfort
IMS : Integrated Management System
MB-Ina : PT. Mercedes-Benz Indonesia MRC : Material Resources and Cycle
MVAC : Mechanical Ventilation and Air Conditioning
PC : Passenger Car
RTH : Ruang Terbuka Hijau SNI : Standar Nasional Indonesia TD : Technical Department
USGBC : United States Green Building Council
WAC : Water Conservation
WGBC : World Green Building Council
1
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemanasan global (global warming) dan peningkatan jumlah penduduk diiringi dengan pembangunan yang pesat menjadi salah satu isu penting di dunia modern saat ini. Pembangunan yang selama ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia justru menjadi penyumbang terbesar kerusakan alam. Seiring dengan kesadaran akan pentingnya konservasi alam, maka manusia mulai merancang bangunan yang ramah lingkungan. Negara-negara maju seperti Jepang, Perancis dan Amerika Serikat telah banyak melakukan kajian terhadap bangunan ramah lingkungan.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran global mengenai lingkungan hidup dan perubahan iklim dibentuklah konsep green building. Green building
bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan meminimalisasi kerusakan lingkungan sekitar tanpa mengurangi kualitas bangunan tersebut. Pada tahun 2009 dibentuklah Green Building Council Indonesia (GBCI). GBCI mengeluarkan sertifikasi tentang bangunan hijau (green building) berdasarkan sistem poin yang sesuai dengan kondisi di Indonesia yang disebut GREENSHIP.
Evaluasi suatu bangunan khususnya industri menjadi penting karena industri merupakan salah satu penyumbang emisi karbon dioksida terbesar yang merupakan penyebab terbesar pemanasan global. Oleh karena itu dibutuhkan evaluasi pada industri guna menuju eco-industry, yaitu konsep industri modern yang tetap memperdulikan kelestarian lingkungan dalam menjalankan proses produksinya.
PT. Mercedes-Benz Indonesia (MB-Ina) merupakan salah satu produsen mobil terbesar di Indonesia dimana dalam proses produksinya secara bertanggung jawab senantiasa memperhatikan aspek lingkungan. Sehingga dibutuhkan analisis yang utuh dalam melaksanakan proses produksi yang sesuai dengan aspek lingkungan melalui konsep green building.
Perumusan Masalah
1. Sejauhmana MB-Ina telah menerapkan konsep green building dalam bisnisnya sesuai dengan GREENSHIP?
2. Upaya perbaikan dalam bidang apa sajakah yang dilakukan PT. Mercedes-Benz Indonesia (MB-Ina) dalam menerapkan konsep green building?
Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan antara lain:
1. Menganalisis penerapan green building pada instalasi perakitan mobil PT. Mercedes-Benz Indonesia (MB-Ina) di Wanaherang, Kec. Gunung Putri, Kab. Bogor.
2
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu unsur penting bagi pihak pengelola PT. Mercedes-Benz Indonesia (MB-Ina) melakukan peningkatan kualitas operasional perusahaan dan kepedulian terhadap lingkungan berdasarkan konsep green building.
Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian dibatasi sebagai berikut:
a. Objek penelitian adalah instalasi perakitan PT Mercedes Benz Indonesia (MB-Ina), khususnya pada Ruang Terbuka Hijau (RTH), bangunan produksi (building 6 dan 8) serta kantor (building 2, 3, dan 4).
b. Aplikasi penerapan green building yang diteliti disesuaikan terhadap persyaratan umum yang tertuang dalam rating tools GREENSHIP yang dikeluarkan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI).
c. Analisis penerapan green building di MB-Ina mengacu pada data tahun 2012.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Periode konstruksi yang cukup lama dan dapat dengan mudah memberikan segala macam bentuk polusi yang dapat mempengaruhi baik lingkungan lokal ataupun nasional, tergantung pada karakteristik proyek yang dilangsungkan (Wu and Low 2010). Pada perkembangannya dibentuklah konsep green building. Konsep green building atau bangunan hijau adalah bangunan dimana di dalam perencanaan, pembangunan, pengoperasian serta dalam konsep pemeliharaannya memperhatikan aspek-aspek dalam melindungi, menghemat, mengurangi penggunaan sumber daya alam, menjaga mutu baik bangunan maupun mutu dari kualitas udara di dalam ruangan, dan memperhatikan kesehatan penghuniya (GBCI 2010).
Green building merupakan cara efektif untuk mengurangi penggunaan energi, emisi gas rumah kaca, sick building syndrome, dan keseluruhan dampak lingkungan akibat pembangunan (Wagner and Omran 2011). Green building
merupakan teknologi konstruksi yang selaras dengan alam, berkelanjutan, ramah lingkungan, dan efisien dalam penggunaan sumberdaya alam (Anbarci et al. 2012).
Green building juga mempunyai pengertian sebagai upaya untuk menghasilkan bangunan dengan menggunakan proses-proses yang ramah lingkungan, penggunaan sumberdaya secara efisien selama daur hidup bangunan sejak perencanaan, pembangunan, operasional, pemeliharaan, renovasi bahkan hingga pembongkaran (USGBC 2009).
3 1. Efisiensi dalam penggunaan energi, air dan sumberdaya lain.
2. Perlindungan kesehatan penghuni dan meningkatkan produktifitas pekerja. 3. Mereduksi polusi atau pencermaran dari limbah/buangan padat, cair dan
gas.
Menurut GBCI (2010) manfaat yang diperoleh dari penerapan konsep green building adalah:
1. Manfaat lingkungan
a. Meningkatkan dan melindungi keragaman ekosistem b. Memperbaiki kualitas udara dan air
c. Mereduksi limbah
d. Konservasi sumberdaya alam 2. Manfaat ekonomi
a. Mereduksi biaya operasional
b. Menciptakan dan memperluas pasar bagi produk dan jasa “green”
c. Meningkatkan produktivitas penghuni
d. Mengoptimalkan kinerja daur hidup ekonomi 3. Manfaat sosial
a. Meningkatkan kesehatan dan kenyamanan penghuni b. Meningkatkan kualitas estetika
c. Meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan
Akan tetapi kesadaran untuk mengimplementasikan green building
tergolong rendah khususnya pada industri, sehingga dibutuhkan strategi dan pengawasan yang ketat dari pemerintah untuk mewujudkan green building
tersebut (Taha et al. 2010). Zou and Couani (2012) menyebutkan pengembangan untuk meningkatkan kinerja suatu bangunan menuju green building dapat dilakukan melalui penelitian dan pengembangan, pendidikan, koordinasi rantai pasokan (supply chain), serta pertukaran pengetahuan, informasi, pengalaman dan aplikasi teknologi yang telah diterapkan.
Green buildingCouncil merupakan organisasi non-profit yang berkomitmen penuh dalam menerapkan prinsip-prinsip sustainability untuk mewujudkan bangunan yang ramah lingkungan dan berkomitmen penuh terhadap pendidikan masyarakat dalam mengaplikasikan praktik-praktik terbaik lingkungan dan memfasilitasi transformasi industri bangunan global yang berkelanjutan. Green Building Council Indonesia (GBCI) merupakan anggota tetap dari World Green Building Council (WGBC) yang berpusat di Toronto, Kanada. WGBC saat ini beranggotakan 89 negara dan hanya memiliki satu GBC di setiap negara.
GBCI didirikan pada tahun 2009 dan diselenggarakan oleh sinergi di antara para pemangku kepentingannya yang meliputi:
a. Profesional bidang jasa konstruksi
b. Kalangan industri sektor bangunan dan properti c. Pemerintah
d. Institusi pendidikan dan penelitian
e. Asosiasi profesi dan masyarakat peduli lingkungan
Salah satu program GBCI adalah menyelenggarakan kegiatan sertifikasi bangunan hijau di Indonesia berdasarkan perangkat pepoinan khas Indonesia yang disebut GREENSHIP. Setiap negara yang mendirikan Green Building Council
4
pada bangunan yang mencapai kriteria tertentu. Berikut adalah negara-negara yang sudah mendirikan Green Building Council dan sistem peringkatnya (rating) yang ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Green Building Council di berbagai negara
No. Negara Badan/ Organisasi Sistem Rating
1. Australia Green Building Council Australia Green Star 2. Brazil Green Building Council do Brazil LEED Brazil 3. Canada Canada Green Building Council GB Tools 4. German German Sustainable Building Council Sedang disusun 5. India Indian Green Building Council LEED India 6. Indonesia Green Building Council Indonesia GREENSHIP 7. Jepang Japan Sustainable Building Consortium CASBEE 8. Malaysia Standards and Industrial Research
Institute of Malaysia
Green Index
9. Mexico Mexico Green Building Council SICES
10. New Zealand New Zealand Green Building Council Green Star NZ 11. Phillipine Phillipine Green Building Council LEED Phillipine 12. Singapore Building and Construction Authority BCA Green Mark 13. Taiwan Taiwan Green Building Council EEWH
14. Thailand Thailand Green Building Council Sedang disusun 15. Arab Emirates Green Building Council Sedang disusun 16. United Kingdom United Kingdom Green Building Council BREEAM 17. US US Green Building Council LEED
18. Vietnam Vietnam Green Building Council Sedang disusun Sumber: www.worldgbc.org
Menurut GBCI (2010) suatu bangunan yang menerapkan konsep green building apabila berhasil melalui suatu proses evaluasi untuk mendapatkan sertifikasi green building. Di dalam evaluasi tersebut sistem yang dipakai adalah sistem rating (rating system). Sistem rating green building digunakan untuk memperkenalkan bangunan yang berkelanjutan dan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada para pelaku bisnis konstruksi sehingga dapat memberikan solusi terhadap permasalahan konstruksi yang ada (Kevern 2011).
Sistem rating merupakan suatu alat yang berisi butir-butir dari aspek-aspek yang memiliki poin. Apabila suatu bangunan berhasil melaksanakan butir rating
tersebut, maka mendapatkan poin dari butir tersebut. Jika jumlah semua poin yang berhasil dikumpulkan bangunan dalam melaksanakan sistem rating mencapai suatu jumlah yang ditentukan, maka bangunan tersebut dapat disertifikasi pada tingkat tertentu (GBCI 2010).
Sistem rating dipersiapkan dan disusun oleh Green Building Council yang ada di negara-negara yang tergabung dalam WGBC. Di Indonesia sistem rating
menggunakan sistem poin yang disebut GREENSHIP. Sistem rating ini disusun bersama-sama dengan keterlibatan stakeholder dari professional, industri, pemerintah, akademisi dan organisasi lain di Indonesia. Dalam penyusunannya GBCI juga bekerjasama dengan Green Building Index (GBI) dalam bentuk penyusunan sistem pelatihan professional di bidang Green Building
5 a. Sederhana (simplicity)
b. Dapat dan mudah untuk dimplementasikan (applicable) c. Teknologi tersedia (available technology)
d. Menggunakan kriteria dengan sistem poin yang sesuai dengan standar lokal
Keempat dasar tersebut bertujuan untuk mengajak para pelaku industri bangunan untuk berkeinginan mengimplementasikan konsep bangunan hijau berdasarkan pelaksanaan kriteria sistem rating tersebut. Dengan dimulainya gerakan ini, diharapkan semakin banyak lagi pihak yang menerapkan konsep ini sehingga diharapkan pelaksanaan konsep bangunan hijau menjadi suatu hal yang akan menjadi sasaran umum dari setiap pengembang bangunan (GBCI 2010).
Kategori pada GREENSHIP dibagi menjadi dua bagian, yaitu kriteria sistem
rating untuk bangunan baru (new building) dan bangunan yang telah terbangun (existing building) dimana terdapat enam kategori, antara lain:
a. Appropriate Site Development (ASD) b. Energi Efficiency and Conservation (EEC) c. Water Conservation (WAC)
d. Material Resources and Cycle (MRC) e. Indoor Health and Comfort (IHC)
f. Building Environment Management (BEM).
Menurut GBCI (2010) bangunan baru mendasarkan pada desain yang ramah lingkungan, sedangkan pada bangunan yang telah terbangun mendasarkan pada prinsip pengoperasian (operation) dan perawatan (maintenance) bangunan tersebut. Sesuai GREENSHIP untuk existing building, perhitungan rating green building didasarkan pada unsur-unsur, antara lain:
a. Rating prasyarat
Rating prasyarat merupakan butir rating yang mutlak harus dipenuhi dan diimplementasi dalam suatu kategori. Apabila butir ini tidak dipenuhi, butir-butir
rating lainnya dalam kategori ini tidak akan mendapatkan poin sehingga proses sertifikasi tidak dapat dilanjutkan. Butir rating prasyarat tidak memiliki poin.
b. Rating biasa
Rating biasa adalah turunan dalam kategori selain butir prasyarat. Butir ini memiliki poin dan diberi poin jika semua butir prasyarat dalam kategori tersebut telah dipenuhi atau telah dilaksanakan. Butir rating ini memiliki poin tertentu, sesuai dengan ketentuan pencapaian tolok ukur yang sudah ditetapkan. Rating
biasa memiliki total poin sebanyak 117 poin. c. Rating bonus
Rating bonus adalah butir rating yang dapat dipoin seperti butir rating biasa tetapi keberadaannya tidak diperhitungkan dalam jumlah total butir rating yang digunakan sebagai poin pembagi dalam perhitungan presentase pepoinan. Suatu
rating dipertimbangkan sebagai rating bonus apabila dipoin untuk mencapai
rating tersebut diperlukan usaha atau biaya yang besar, dan apabila dilakukan menimbulkan dampak yang besar terhadap lingkungan, tetapi teknologi yang ada belum cukup memadai untuk mendukung usaha tersebut sehingga terdapat kendala seperti biaya yang relatif tinggi. Rating bonus memiliki butir poin sebanyak 10 poin.
6
bangunan dalam pengoperasian dan perawatannya akan memenuhi suatu green building. Pemilik atau pihak manajemen sudah harus menetapkan peringkat mana yang ingin dicapai. Penetapan tujuan ini diperlukan karena untuk mencapai tingkatan tertentu tentu diperlukan pencapaian poin minimum. Semakin tinggi peringkat yang diinginkan, semakin banyak poin yang harus dicapai. Pencapaian poin minimum ini mencerminkan usaha dan produk akhir tertentu yang diharapkan berlanjut hingga ke pengoperasian (GBCI 2010). Dari awal tentu pemilik sudah dapat memproyeksikan apakah usaha yang dilakukan setara dengan pengembalian investasi yang akan diperoleh atau tidak. Ada empat tingkat peringkat GREENSHIP,yaitu:
Tabel 2. Peringkat Green Building untuk ExistingBuilding
Predikat Poin Terkecil
Poin Persentase (%)
Platinum 86 73
Emas 67 57
Perak 54 46
Perunggu 41 35
Sumber: GBCI (2012)
Dalam pembuatan GREENSHIP membutuhkan acuan dan dukungan dari pemerintah. Pembuatan GREENSHIP mengacu kepada standar lokal baku seperti Undang-Undang (UU), Keputusan Presiden (Keppres), Instruksi Presiden (Inpres), Keputusan Menteri (Kepmen), dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Beberapa aturan yang menjadi acuan dalam pembuatan GREENSHIP antara lain:
a. UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
b. UU RI No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. c. UU RI No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
d. Peraturan Menteri PU 30/PRT/M/2006 mengenai Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksessibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. e. Peraturan Menteri PU No.5/PRT/M/2008 mengenai Ruang Terbuka Hijau
(RTH).
f. Permen PU No.29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.
g. Keputusan Menteri No. 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Kotor Domestik.
h. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002.
3
METODE
Waktu dan Lokasi
7
Keadaan Umum Lokasi Penelitian
Kantor pusat produksi MB-Ina terletak di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Bogor 16965. Instalasi perakitan MB-Ina mempunyai luas 42 hektar yang terdiri atas bangunan kantor, masjid, gedung perakitan kendaraan, lapangan sepak bola, gudang penyimpanan material, workshop, WWTP dan RTH. Kegiatan yang dilakukan dalam produksi antara lain perakitan mobil sedan seri C, E, S, dan M, serta perakitan chasis bus.
Sejak diberlakukannya peraturan pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), MB-Ina telah mengikuti ketentuan yang berlaku dengan menyusun dokumen pengelolaan lingkungan pada waktu itu yaitu Penyajian Evaluasi Lingkungan (PEL) yang disahkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 599/SJ/IX/1992 tertanggal 21 September 1992.
Pada perkembangannya MB-Ina telah menerapkan kebijakan eco-industry
atau indutsri yang ramah lingkungan. Disamping itu, MB-Ina telah menerapkan prinsip efisiensi dan penghematan sumberdaya serta menerapkan minimisasi limbah. MB-Ina telah mendapatkan sertifikat eco-industry dari TUV Rheinland dan ISO 14001:2004 serta penghargaan dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor pada 19 Mei 2009.
Visi PT. Mercedes-Benz Indonesia adalah menjadi nomor satu dalam kualitas, citra, dan kemanfaatan sektor otomotif di Indonesia. Sedangkan misinya adalah:
1. Memuaskan konsumen dalam pelayanan.
2. Terus menerus meningkatkan efektifitas sistem manajemen mutu dan proses-proses usaha.
3. Terus menerus meningkatkan kualitas produk dan layanan jasa.
4. Membudayakan orientasi tim kerja dan berpikiran terbuka yang melibatkan seluruh karyawan melalui kepemimpinan dan pendelegasian tanggung jawab yang dapat diterima.
5. Kepedulian pada lingkungan.
6. Menjalin hubungan profesional dengan partner usaha. Alat
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain perangkat analisis green building (GREENSHIP), perangkat pengukuran diantaranya termometer digital (Tenmars TM-102), anemometer (Tenmars TM-403), lux meter (Tenmars TM-202), serta sound level meter (Krisbow KW K06281) serta perangkat komputer dan software (Microsoft office).
Prosedur Analisis Data
8
dan data sekunder didapatkan sesuai dengan 6 parameter utama yang telah ditetapkan oleh GBCI, yaitu:
a. Appropriate Site and Development/ASD
Untuk mengetahui poin pada parameter ASD dilakukan wawancara dengan pihak manajemen puncak. Wawancara dilakukan untuk mengetahui antara lain:
- Pemeliharaan eksterior bangunan, manajemen hama terpadu, dan gulma serta manajemen habitat sekitar tapak dengan menggunakan bahan-bahan tidak beracun.
- Penerapan SOP pengendalian hama penyakit dan gulma tanaman dengan menggunakan bahan tidak beracun.
- Melakukan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar gedung. Selain wawancara dilakukan survei, antara lain:
- Pengurangan kendaraan pribadi (yang ditandai dengan adanya car pooling, feeder bus, voucher kendaraan umum, dan diskriminasi tarif parkir).
- Fasilitas umum dan fasilitas pejalan kaki yang aman, nyaman dan bebas dari perpotongan akses kendaraan bermotor; adanya halte atau stasiun transportasi umum.
- Adanya parkir sepeda yang aman.
- Adanya vegetasi yang bebas dari bangunan taman yang terletak di atas permukaan tanah seluas minimal 30% luas total lahan.
- Penggunaan bahan-bahan yang mempunyai poin albedo rata-rata minimal 0.3.
- Pengurangan beban volume limpasan air hujan. b. Indoor Health and Comfort/IHC
Untuk mengetahui poin pada parameter IHC dilakukan pengukuran, antara lain kualitas udara ruangan (pertukaran udara, konsentrasi CO2 dan CO, gas
pencemar dalam ruangan), tindakan pengurangan pemajanan polutan biologis udara dalam ruang, tingkat pencahayaan ruangan, dan tingkat kebisingan ruangan. Selain itu dilakukan survei, antara lain kawasan bebas rokok dan kenyamanan pengguna gedung.
c. Material Resource and Cycle/MRC
Untuk mengetahui poin pada parameter MRC dilakukan survei, antara lain terhadap penggunaan pendingin jenis CFC (Chloroflourocarbon), penggunaan material ramah lingkungan, pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, pembelanjaan material ramah lingkungan, pengendalian limbah B3 elektronik, penyaluran barang bekas yang masih dapat dimanfaatkan kembali.
d. Energi Efficiency and Conservation/EEC
Untuk mengetahui poin pada parameter EEC dilakukan wawancara dengan manajemen puncak yang mencakup audit energi, target penghematan dan rencana kerja berjangka waktu, serta penggunaan energi listrik.
9 prosedur pemantauan, pencatatan dan pengendalian konsumsi energi; penggunaan sumber energi alternatif; serta pengurangan emisi CO2.
Penggunaan energi listrik dianalisis dengan melakukan audit energi. Audit energi dimaksudkan untuk mencari potensi kerugian akibat penggunaan listrik. Potensi kerugian akibat penggunaan listrik diantaranya adanya penggunaan lampu yang melebihi batas (tidak dimatikan setelah jam kerja), jalur instalasi yang kurang baik (potensi untuk konsleting). Sedangkan potensi mengurangi konsumsi listrik efisiensi penggunaan alat-alat elektronik dan penggunaan lampu. Selain itu peningkatan yang dapat dilakukan antara lain dengan mengganti peralatan sesuai dengan kemajuan teknologi yang hemat energi, misalkan dengan perubahan penggunaan lampu halogen menuju lampu ballast dan berganti pada lampu LED.
Audit energi dilakukan dengan melakukan pendataan peralatan pada setiap gedung dan melakukan pencocokan terhadap pengunaan energi listrik yang dipakai. Oleh karena itu diharapkan setelah melakukan audit didapatkan regulasi baru yang mampu menekan penggunaan energi listrik.
e. Water Conservation/WAC
Untuk mengetahui poin yang didapatkan pada parameter WAC dilakukan wawancara kepada manajemen puncak yang mencakup adanya audit air, target penghematan dan rencana kerja berjangka waktu tertentu.
Selain itu dilakukan pengukuran dan survei terhadap konsumsi air pada sub-sistem gedung pada area publik, area komersil, dan utilitas bangunan; pelaksanaan pemeliharaan dan pemeriksaan sistem plambing secara berkala; perhitungan konsumsi air bersih; perhitungan kualitas air pada bangunan; penggunaan air daur ulang; penggunaan sistem filtrasi sebagai penghasil air minum; konsumsi air secara keseluruhan; penggunaan keran air pada area publik menggunakan fitur auto stop. Analisis penghematan penggunaan air dilakukan dengan mengamati sistem plambing yang ada.
f. Building and Environment Management/BEM
Untuk mengetahui poin yang didapatkan pada parameter BEM dilakukan wawancara kepada manajemen puncak yang mencakup adanya rencana pengoperasian dan perawatan yang baik dan berkesinambungan terhadap sistem mekanikal dan elektrikal, sistem plambing dan kualitas air, pemeliharaan eksterior dan interior, purchasing dan pengelolaan sampah; perbaikan struktur organisasi dan operasional gedung guna meningkatkan
ratinggreen building;
Selain itu dilakukan pengukuran dan survei terhadap usaha-usaha pada peningkatan kualitas bangunan secara kuantitatif (penggunaan Ruang Terbuka Hijau (RTH), penghematan energi listrik, penyediaan air daur ulang, pencemaran udara);
Data sekunder yang digunakan berupa gambar/ denah bangunan dan konsep gedung MB-Ina. Dari data tersebut akan dilakukan perhitungan poin total untuk menentukan tingkat implementasi konsep green building yang telah diterapkan.
10
melalui wawancara dan survei dengan kuesioner berdasarkan parameter utama yang dihitung pada penerapan green building.
Sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk memberikan poin kepada MB-Ina berdasarkan parameter-parameter yang diukur dalam menerapkan green building. Metode kuantitatif dilakukan dengan melakukan pengukuran terhadap parameter utama (ASD, EEC, WAC, MRC, IHC, dan BEM). Analisis masalah untuk mengetahui tingkat penerapan green building pada MB-Ina berdasarkan GREENSHIP untuk existing building version 1.0. Poin-poin yang sesuai dengan
rating dihitung dan jumlah total poin yang didapatkan menunjukkan ranking predikat yang didapatkan. Untuk yang belum memenuhi persyaratan green building dilakukan rekomendasi perbaikan guna mampu meningkatkan rating
pada pengukuran selanjutnya. Alur penelitian ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Alur Penelitian Penerapan Konsep Green Building.
4
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Appropriate Site and Development/ASD
Pembangunan suatu kawasan dapat menunjang keberlanjutan kawasan dan kualitas ruang secara makro tanpa mengurangi kualitas lingkungan dan dapat
Green Building
Selesai
Analisis hasil data dengan
greenship rating tools dan rekomendasi perbaikan
Mulai
Perumusan masalah
Pengumpulan data primer dan sekunder: 1. ASD (Appropriate Site Development) 2. EEC (Energy Efficiency and Conservation) 3. WAC (Water Conservation)
4. MRC (Material Resource and Cycle) 5. IHC (Indoor Health and Comfort)
11 meningkatkan kualitas hidup manusia seperti produktivitas, kesempatan kerja, dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. ASD membahas tentang kebijakan perusahaan terhadap pengelolaan tata guna lahan. Tata guna lahan yang dimaksud adalah semua lahan baik yang terbangun ataupun tak terbangun yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan perusahaan. Hal ini meliputi pembangunan infrastruktur, tersedianya ruang terbuka hijau (RTH), dan fasilitas pelengkap lainnya, seperti jaringan dan moda transportasi, komunikasi, utilitas, serta berbagai fasilitas umum lainnya. Keterhubungan dengan semua fasilitas dan infrastruktur ini memberikan kemudahan sehingga efisiensi energi dan biaya tercapai. Aspek tata guna lahan dilakukan untuk mengurangi pengaruh negatif keberadaan bangunan terhadap lingkungan hidup dan lingkungan sekitarnya.
ASD terbagi menjadi 2 rating prasyarat dan 8 rating biasa dengan total poin maksimal adalah 16 poin. Hasil assessment terhadap rating yang ada pada GREENSHIP untuk kategori ASD, antara lain:
a) Terdapat kebijakan yang menyatakan tentang pemeliharaan eksterior bangunan yang termuat dalam Coorporate Development (CD) No.09 tentang
Maintenance yang meliputi perawatan peralatan Mechanical Ventilation and Air Conditioner (MVAC), infrastruktur bangunan, dan peralatan yang menunjang produksi lainnya serta pengelolaan lingkungan pada instalasi perakitan MB-Ina. Kebijakan ini ditujukan untuk mendorong MB-Ina dalam melakukan pemeliharaan lingkungan secara terpadu sehingga dampak negatif dapat diatasi atau diminimalisasikan.
b) Adanya kebijakan tentang pengelolaan untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi melalui penggunaan bis jemputan untuk karyawan (20 bis dan16 mini bis) serta terdapat car pooling yang ditunjukkan pada Gambar 2. Bis jemputan tersebut digunakan pada hari kerja saat berangkat dan pulang. Kebijakan ini tergolong efektif untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi. Selain itu, pihak perusahaan terus berusaha untuk melakukan kampanye dalam rangka mendorong pengurangan jumlah kendaraan pribadi melalui regulasi atau peraturan yaitu Perjanjian Kerja Bersama (PKB), serta pemasangan poster.
12
c) Tersedia akses untuk fasilitas umum yang jaraknya 1.5 km dari instalasi perakitan MB-Ina, antara lain masjid/tempat ibadah, pasar, kantor kecamatan Gunung Putri, kantor kepolisian sektor Gunung Putri, dan poliklinik. Selain itu, MB-Ina menyediakan fasilitas untuk pejalan kaki yang aman, nyaman dan bebas dari perpotongan akses kendaraan bermotor dengan lebar 1.7 meter. d) Terdapat kebijakan untuk menggunakan sepeda ketika sudah memasuki
instalasi perakitan MB-Ina. Sepeda dapat digunakan untuk seluruh karyawan, khususnya oleh bagian EMI (Engineering, Maintenance and Infrastructure), Satpam, dan OB (Office Boy). Jumlah sepeda yang terdapat di MB-Ina 25 buah. Sepeda digunakan untuk mobilisasi antar gedung oleh karyawan dan pengawasan keamanan oleh satpam. Tempat parkir sepeda disediakan pada setiap gedung di MB-Ina. Selain itu terdapat kamar ganti pakaian yang digunakan untuk setiap pekerja yang ada di MB-Ina. Kamar ganti dilengkapi dengan shower room, ruang ganti, dan kamar mandi. Sepeda dan kamar ganti ditunjukkan pada Gambar 3.
Gambar 3. Sepeda dan Kamar Ganti Pakaian di MB-Ina.
e) Rating mengenai site lanscaping yaitu mengenai pengelolaan RTH (Ruang Terbuka Hijau). PU (2008) menyebutkan bahwa RTH minimum pada suatu wilayah adalah 30%. Sedangkan menurut anonim (2010) mengenai RKL-RPL (Rencana Pengelolaan Lingkungan – Rencana Pemantauan Lingkungan) MB-Ina terdapat luasan 20 hektar RTH atau dengan proporsi 47.71% dan tidak ada perubahan hingga tahun 2013. Luas RTH tersebut memiliki poin yang penting di tengah kawasan industri yang terus berkembang dan mengkonversi lahan-lahan bervegetasi. Keberadaan ruang terbuka hijau tersebut juga memberikan peranan atau fungsi antara lain untuk meningkatkan estetika dan suasana asri, menciptakan iklim mikro yang baik bagi lingkungan di sekitarnya, meningkatkan kualitas udara melalui mekanisme penyerapan dan penyerapan polutan di sekitarnya, menjadi daerah tangkapan dan resapan air, menjadi habitat fauna darat, dan menjadi taman koleksi berbagai jenis flora (arboretum).
Tanaman-tanaman yang digunakan dalam instalasi perakitan MB-Ina terdiri atas 42 jenis tanaman, antara lain pohon mahoni, tanjung, cemara, beringin, pelandingan, dll. Pohon ini menjadi sumber paru-paru dalam instalasi perakitan MB-Ina tersebut. Selain itu RTH difungsikan pula sebagai tempat yang biasa disinggahi satwa-satwa, antara lain jenis burung dan ular. Dampak meningkatnya keanekaragaman hayati flora fauna merupakan konsekuensi dari adanya RTH yang dialokasikan dan dipelihara oleh MB-Ina.
13 menunjukkan bahwa bahan/material dengan daya serap sempurna, sedangkan angka 1 menunjukkan bahan dengan daya pantul sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecil nilai albedo maka radiasi matahari akan banyak terserap pada permukaan bumi sehingga akan menimbulkan suatu fenomena heat island effect, yaitu meningkatnya suhu permukaan area. GBCI (2010) menyatakan bahwa poin minimal albedo yang diijinkan untuk material atap dan non atap perkerasan adalah minimal 0.3. MB-Ina menggunakan material atap seng aluminium (Zincalum) dengan poin albedo antara 0.3-0.5 (Turner et al. 2008). Sehingga dikatakan sudah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh GBCI. Sedangkan terhadap material non atap perkerasan, digunakan jenis aspal beton yang memiliki poin albedo sebesar 0.05-0.3 (Han et al. 2011). Hal ini menunjukkan bahwa material non atap perkerasan belum memenuhi syarat terhadap nilai albedo yang digunakan.
g) Dalam pendekatan terhadap lingkungan sekitar instalasi perakitan MB-Ina, pihak MB-Ina bekerjasama dengan Paguyuban Perusahaan Gunung Putri melakukan aksi untuk membantu peningkatan kualitas masyarakat melalui pembangunan tempat ibadah dan perbaikan sanitasi WC, membuka akses untuk pejalan kaki, dan melakukan perbaikan terhadap bangunan sekolah (SDN Gunung Putri dan SDN Wanaherang).
Hasil assessment terhadap kategori ASD menunjukkan bahwa MB-Ina telah memenuhi 75% dari rating yang ditetapkan GREENSHIP atau mendapatkan 12 dari 16 poin. Hasil analisis kategori ASD berdasarkan format pada GREENSHIP ditunjukkan pada lampiran 2.
2. Energy Efficiency and Conservation/EEC
Energi menjadi salah satu aspek penting dalam proses produksi. Pada praktiknya konsumsi energi paling besar dialokasikan pada operasional pengondisian suhu ruang dalam gedung berupa pendingin ruangan (air conditioner/AC) dan penerangan. Pengoperasian sistem yang menggunakan teknologi dan cara yang tidak efisien akan berdampak terhadap perubahan iklim serta pemanasan global karena efek rumah kaca. Untuk memerangi perubahan iklim, perlu adanya praktik-praktik baru, sejak tahap desain hingga pengoperasian gedung, sehingga efisiensi konsumsi energi dapat meningkat serta jejak karbon, potensi pemanasan global, dan potensi penipisan lapisan ozon berkurang.
Kategori EEC terdiri atas 2 rating prasyarat, 5 rating biasa dan 2 rating
bonus dengan total poin maksimal adalah 36 poin dan 8 poin bonus. Hasil
assessment terhadap rating yang ada pada GREENSHIP untuk kategori EEC, antara lain:
14
Gambar 4. Stiker Hemat Energi di MB-Ina.
b) Usaha efisiensi penggunaan energi dilihat dari nilai IKE (Intensitas Konsumsi Energi) yang digunakan. IKE menunjukkan jumlah konsumsi energi listrik dalam setiap luasan pada satu tahun. Menurut GBCI (2010) standar acuan yang telah ditetapkan untuk IKE perkantoran adalah 250 kWh/m2.tahun, akan tetapi belum ada standar acuan IKE untuk bangunan produksi. Oleh karena itu analisis awal dilakukan dengan mengevaluasi poin rata-rata IKE perkantoran yang diambil dari penggunaan energi listrik pada tahun 2012 untuk building 2, 3, dan 4 yang ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. IKE gedung perkantoran di MB-Ina. Building Konsumsi energi
tahunan (kWh)
Luas
(m2)
IKE
(kWh/m2.tahun)
2 284464.00 1300 218.81
3 361351.30 1500 240.90
4 122898.94 1580 77.78
Rata-rata 179.17
Kantor mengkonsumsi energi listrik yang digunakan pada alat-alat elektronik (Personal Computer, printer, dispenser air minum, dan AC) serta penggunaan lampu sebagai sumber pencahayaan. MB-Ina menggunakan empat MDP (Main Distribution Panel). Dari keempat MDP tersebut akan didistribusikan ke setiap gedung yang telah terpasang meteran. Pengukuran dan evaluasi penggunaan listrik dilakukan setiap bulannya. Tabel 1 menunjukkan IKE (Intensitas Konsumsi Energi) rata-rata pada gedung perkantoran yaitu 179.17 kWh/m2 tahun atau terdapat penghematan sebesar 28.33% dari standar acuan yang ditetapkan.
15 produksi (water test, roller test, engine test bench, tire changer, dan wheel balancer), dan alat elektronik lainnya (kipas angin, AC, LCD monitor, data server dan lampu). Konsumsi rata-rata yang didapatkan pada bangunan kantor, produksi passenger car, dan produksi commercial vehicle sebesar 38.58% yang ditunjukkan pada Gambar 5.
Gambar 5. Konsumsi Energi Listrik di MB-Ina.
Walaupun MB-Ina telah melakukan penghematan pada proses produksinya, perlu dilakukan analisis lebih mendalam untuk masalah energi tersebut. Hal ini mengingat potensi penghematan energi listrik di MB-Ina masih besar. Untuk meningkatkan penghematan listrik, tahap awal yang dilakukan adalah melakukan pengecekan terhadap penggunaan peralatan listrik. Pengecekan dimaksudkan untuk mengevaluasi efisiensi konsumsi listrik dari peralatan tersebut. Mekanisme pengecekan peralatan listrik diatur oleh CD:09 yang ditangani oleh pihak EMI (Engineering, Maintenance and Infrastructure). Oleh karena itu dibutuhkan analisis mengenai efisiensi penggunaan energi listrik ini melalui audit energi rinci pada setiap gedung. Hal ini dibutuhkan mengingat MB-Ina belum pernah melakukan audit tersebut. Menurut SNI (2000) bahwa audit rinci difungsikan untuk mengetahui profil penggunaan energi pada setiap gedung, sehingga dapat diketahui jenis peralatan pengguna energi yang pemakaian energinya cukup besar serta diketahui peluang penghematan energi yang dapat dilakukan.
c) Terdapat mekanisme untuk melakukan perawatan dan komisioning ulang terhadap peralatan MVAC (Mechanical Ventilation and Air Conditioning) yang tertuang pada Peraturan Perusahaan/PP 158-09.1 mengenai maintenance equipment, jig and fixture, infrastructure. Komisioning ulang dilakukan setiap tahun untuk mengetahui tingkat kinerja dari setiap alat produksi dan AC (Air Conditioner). Sedangkan peralatan yang dilakukan perawatan rutin antara lain AC (Air Conditioner) dan peralatan produksi (shower test bench, roller test, forklift, hoist, wheel alignment, dll) setiap 3-6 bulan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh MB-Ina. Evaluasi hasil kegiatan perawatan dilakukan setiap enam bulan sekali dan dilakukan pendataan atas dasar kerusakan dan penggunaan energi pada tiap gedung.
Selain itu dilakukan pengecekan rutin oleh user/pengguna alat terhadap peralatan yang digunakan dimulai dengan memilah peralatan berdasarkan
16
kriteria prioritas. Kriteria prioritas didasarkan pada efek kerusakan pada alat terhadap kinerja produksi. Terdapat tiga kriteria prioritas antara lain high priority, medium priority dan low priority. High priority menunjukkan bahwa kerusakan peralatan akan menghambat produksi sehingga perlu dilakukan
total productive maintenance dengan daily maintenance oleh user dan
periodic maintenance oleh EMI. Sedangkan medium priority menunjukkan bahwa kerusakan tidak akan terlalu menghambat produksi, karena masih terdapat cadangan alat yang masih bisa digunakan. Sedangkan low priority
menunjukkan bahwa kerusakan tidak akan bermasalah terhadap produksi. d) System energy performance dilakukan untuk mengetahui kinerja dari setiap
alat khususnya terhadap sistem pencahayaan (lighting) dan MVAC. Sesuai dengan program perusahaan (eco-industry), MB-Ina melakukan konversi pencahayaan dari tahun 2011 yaitu sejumlah 2495 unit dari 5687 unit yang telah direncanakan hingga tahun 2013. Konversi lampu ini dimulai dilakukan pada gedung-gedung utama di MB-Ina, yaitu pada gedung kantor dan produksi. Sehingga kondisi saat ini pada gedung kantor dan produksi sudah menggunakan lampu electronic ballast. Menurut BPPT (2012) konversi lampu conventional ballast menjadi electronic ballast dapat menghemat penggunaan energi listrik sebesar 47%.
Sedangkan untuk MVAC, MB-Ina melakukan konversi penggunaan AC dari
non inverter menjadi AC inverter baik untuk jenis split atau VRV system. Hal ini mampu menghemat energi sebesar 40% (BPPT 2012). Dalam program
eco-industry, MB-Ina telah melakukan konversi sebanyak 84 unit dari 245 unit yang telah direncanakan sejak tahun 2011. Program eco industry
ditunjukkan pada Lampiran 3.
e) Energy monitoring dan control dilakukan untuk mendukung prosedur pemantauan, pencatatan dan pengendalian konsumsi energi. Prosedur tersebut dilakukan setiap bulannya dengan menyediakan kWh meter untuk setiap gedung. MB-Ina mempunyai 4 MDP (Main Distribution Panel) yang akan terhubung di setiap gedung. Hasil dari prosedur ini akan dikirimkan kepada penanggung jawab gedung sehingga didapatkan evaluasi terhadap energi yang telah digunakan. Selain itu dilakukan mekanisme feed back, yaitu penanggung jawab gedung wajib mengirimkan hasil evaluasi tersebut kepada pihak EMI (Engineering, Maintenance, and Infrastructure) yang bertanggung jawab terhadap penggunaan energi di MB-Ina.
17 Hal ini dilakukan dengan membuat revisi ulang skala prioritas alat. Salah satu parameter skala prioritas ditinjau dari sumber peralatan pengguna energi terbesar sehingga dapat dikelompokkan menjadi skala high, medium, dan low. Dengan prioritas tersebut diharapkan user akan semakin meningkatkan kepeduliannya terhadap peralatan tersebut, seperti akan mematikan ketika sudah tidak digunakan dan perawatan lebih intensif. Hasil analisis kategori EEC berdasarkan form GREENSHIP ditunjukkan pada lampiran 4.
3. Water Conservation/WAC
Siklus iklim dan curah hujan di Indonesia menjadi terganggu dengan adanya perubahan iklim, pemanasan global, pembalakan hutan, konversi lahan hijau, dan perusakan lahan. Selain itu, hal tersebut juga mengakibatkan keseimbangan neraca air serta ketersediaan air tanah dan air permukaan ikut terganggu. Di saat musim kemarau terjadi kekurangan air dan di saat musim hujan terjadi banjir (GBCI 2010).
Water Conservation merupakan salah satu aspek penting yang mempengaruhi kualitas lingkungan. Menurut Tsai et al. (2011) menyatakan bahwa konservasi air merupakan tindakan yang dilakukan untuk mengurangi penggunaan air bersih. Terdapat strategi yang dapat dilakukan antara lain menggunakan air daur ulang dari hasil pencucian mobil serta penggunaan air hujan dengan instalasi rainwater harvesting atau melakukan audit penggunaan air secara berkala.
Kategori WAC terdiri atas 1 rating prasyarat, 7 rating biasa dan 1 rating
bonus dengan total poin maksimal adalah 20 poin dan 2 poin bonus. Hasil
assessment terhadap rating yang ada pada GREENSHIP untuk kategori WAC, antara lain:
a. Adanya kebijakan perusahaan mengenai penghematan energi/energy saving
(listrik, air, bahan bakar, dan udara bertekanan) melalui Work Instruction/ WI 158-EHSMS-013 yang berlaku untuk seluruh departemen di MB-Ina. Untuk melakukan penghematan penggunaan air dilakukan kampanye sosialisasi dengan menempelkan stiker hemat energi yang ditempel di setiap toilet. b. Terdapat sub meter yang menyatakan jumlah konsumsi air pada setiap
gedung. Pelaporan konsumsi air dilakukan setiap bulannya. Akan tetapi belum ada SOP (Standard Operational Procedure) khusus mengenai pemeliharaan dan pemeriksaan sistem plambing dalam instalasi perakitan. Pemeliharaan dilakukan dengan menunjuk penanggung jawab gedung yang tertuang dalam factory work melalui mekanisme MCR (Maintenance Costumer Request). Jika terdapat kerusakan pihak penanggung jawab gedung memberikan informasi kerusakan kepada pihak EMI untuk ditindaklanjuti. c. SNI (2005) menyatakan bahwa untuk industri dan perkantoran base line yang
ditetapkan adalah 50 liter/hari/pekerja, apabila dikonversikan dengan waktu kerja bulanan rata-rata 22 hari, maka didapatkan base line 13.2 m3/tahun/pekerja. Sedangkan hasil analisis penggunaan air total di MB-Ina tahun 2012 yaitu 6.39 m3/tahun/pekerja. Sehingga didapatkan efisiensi konsumsi air bersih untuk pekerja di MB-Ina yaitu 51.6% dari base line yang ditetapkan SNI.
18
perakitan mobil (passenger car) adalah 6 m3/mobil, sedangkan MB-Ina mengkonsumsi air sebesar 14.72 m3/mobil. Konsumsi air di MB-Ina ditunjukkan pada Gambar 6.
Gambar 6. Konsumsi Air Bersih di MB-Ina.
d. Penggunaan air tidak lepas dari kualitas air yang digunakan. MB-Ina menggunakan air tanah sebagai air baku yang digunakan untuk produksi dan kebutuhan kamar mandi. Untuk mengetahui kualitas air tanah dilakukan uji laboratorium setiap 6 bulan pada bulan Februari dan Agustus setiap tahunnya. Hal ini dilakukan untuk terus mempertahankan kualitas air yang digunakan. Hasil yang didapatkan bahwa semua parameter fisika dan kimia sudah memenuhi dari baku mutu yang ditetapkan. Adapun hasil pengukuran yang dilakukan pada bulan Agustus 2012 ditunjukkan pada Lampiran 5. Dalam melakukan pengambilan air tanah, MB-Ina sudah mendapatkan izin dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor dan dilakukan pelaporan penggunaan air tanah setiap bulannya.
Untuk kebutuhan air minum, MB-Ina mengkonsumsi AMDK (air minum dalam kemasan). Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengurangan penggunaan air tanah serta meyakinkan pengguna bahwa air minum yang digunakan sesuai dengan persyaratan air minum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Akan tetapi bentuk pengurangan yang dilakukan belum maksimal karena hanya melakukan pengurangan sebanyak 1% dari penggunaan air tanah di MB-Ina.
Hasil assessment terhadap kategori WAC menunjukkan bahwa MB-Ina telah memenuhi 35% dari rating yang ditetapkan GREENSHIP atau mendapatkan 7 dari 20 poin. Hasil analisis kategori WAC berdasarkan form GREENSHIP ditunjukkan pada lampiran 6.
4. Material Resources and Cycle/MRC
Pembalakan hutan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak dikelola dengan baik dapat menghancurkan kekayaan sumber daya alam yang ada. Arti penting hutan tidak hanya sebagai sumber material melainkan juga untuk
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Jumlah air/pegawai Jumlah air/PC
m
3 2012
19 melindungi bumi dari pemanasan global, menjaga sistem tata air, dan mempertahankan daya dukung ekosistem. Untuk menjaga keberlangsungan sumber daya ini, diperlukan suatu tatanan dan pengelolaan yang baik.
Untuk itu, diperlukan kebijakan untuk minimalisasi jejak karbon. Hal yang dapat dilakukan antara lain melakukan pemilihan material dimana diperhatikan dampaknya pada manusia dan lingkungan hidup yaitu dengan tidak menggunakan bahan beracun dan berbahaya (B3). Selain itu untuk memperpanjang daur produk material, diperlukan upaya mengurangi material yang digunakan (reduce), penggunaan kembali (reuse) atau proses daur ulang (recycle). Dengan menjaga keberlanjutan alam melalui pengelolaan daur hidup material yang lebih baik, diharapkan pembangunan green building dapat menjadi salah satu media pembangunan berkelanjutan yang akan membawa Indonesia menuju kondisi seimbang dalam pembangunan dan pelestarian alam (GBCI 2010).
Kategori MRC terdiri atas 3 rating prasyarat dan 5 rating biasa dengan total poin maksimal adalah 12 poin. Hasil assessment terhadap rating yang ada pada GREENSHIP untuk kategori MRC, antara lain:
a. MB-Ina dalam merancang MVAC menggunakan jenis pendingin R-22 dan R410A. Pendingin jenis R-22 memiliki nilai ODP 0.034 dan GWP 1700 sedangkan jenis R410A memiliki poin ODP 0.00 dan GWP 2000 (Calm and Hourahan 2011). Dalam pemanfaatannya MB-Ina melakukan mekanisme perawatan terhadap peralatan yang menggunakan pendingin, perawatan dilakukan tiap bulan oleh pihak luar/vendor. Perawatan ini dilakukan untuk menjaga kualitas pendingin yang digunakan dan untuk menghindari terjadinya kebocoran sistem pendingin ruangan.
b. Terdapat surat pernyataan yang memuat kebijakan manajemen puncak yang memprioritaskan pembelanjaan semua material yang ramah lingkungan dalam bentuk purchasing order untuk 40 departemen dengan melakukan perencanaan product safety melalui guidance procurement. Akan tetapi dalam pembelanjaan material non produksi, masih terkendala dalam memilah produk ramah lingkungan. Hal ini dikarenakan pihak luar/ vendor tidak menyertakan spesifikasi material produk yang menyatakan ramah lingkungan.
20
Selain itu dilakukan mekanisme pengelolaan sampah hingga pelaporan serta dilakukan sosialisasi dalam rangka pemilahan sampah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kepedulian pekerja terhadap lingkungan di MB-Ina. Hasil kegiatan dilaporkan kepada pihak Departemen IMS (Integrated Management System) untuk dilakukan evaluasi terhadap kualitas kebersihan di MB-Ina.
d. Pada pengelolaan limbah B3, MB-Ina menerapkan kebijakan yang sesuai dengan WI-158-EHSMS-04 dimana sudah mendapatkan izin dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor melalui surat KEPMENLH No. B-3692/Dep.IV-4/LH/05/2008 tentang izin penyimpanan limbah B3 (Handling Hazardous Waste) untuk pengolahan limbah B3 (cair, padat, dan klinik). Adanya sosialisasi dan pelatihan/training bagi pekerja untuk menangani sampah tersebut. Akan tetapi belum terdapat SOP yang secara khusus menangani limbah B3 tinta, lampu, baterai, dan kemasan bekas pembersih.
e. Pengelolaan barang bekas seperti furniture, elektronik dan suku cadang dilakukan sesuai dengan WI-158EHSMS-02 mengenai sampah khusus dengan mekanisme DOM (Disposal of Material) melalui bentuk donasi kepada instansi-instansi yang membutuhkan (sekolah dan taman belajar), sedangkan suku cadang dilakukan secara disposal berupa penghancuran barang.
Hasil assessment terhadap kategori MRC menunjukkan bahwa MB-Ina telah memenuhi 58% dari rating yang ditetapkan GREENSHIP atau mendapatkan 7 dari 12 poin. Hasil analisis kategori MRC berdasarkan form GREENSHIP ditunjukkan pada lampiran 7.
5. Indoor Health and Comfort/IHC
Sebagian besar waktu manusia dihabiskan di dalam ruang (indoor), seperti kantor, sekolah, dan rumah, sehingga kualitas udara dalam ruangan menjadi penting untuk kesehatan manusia dan kesejahteraan (Giulio et al. 2009). Kualitas udara dalam ruang akan mempengaruhi kesehatan bagi pengguna ruangan tersebut. Kualitas udara dalam ruang yang buruk akan menimbulkan gejala yang disebut
21 iritasi mata, pegal-pegal, mata kering, gejala flu, dan depresi. Keadaan seperti ini berpotensi menurunkan produktivitas kerja (Arya dan Rajput 2011).
Sumber pencemaran di dalam ruangan antara lain adalah pencemaran dari alat-alat di dalam gedung, pencemaran di luar gedung, pencemaran akibat bahan bangunan, gangguan ventilasi udara berupa kurangnya udara segar yang masuk, buruknya distribusi udara, dan kurangnya perawatan sistem ventilasi. Selain oleh sumber pencemaran, kualitas udara dalam ruang juga dipengaruhi oleh pengondisian udara. Pada umumnya suhu udara di Indonesia tinggi yaitu berkisar 25°-35°C, dengan kelembaban relatif yang juga tinggi, yaitu 44-98% (GBCI 2010). Pengendalian kualitas udara dalam ruang memerlukan strategi yang baik sehingga produktivitas manusia serta tingkat kepadatan gedung dapat berlangsung secara optimal.
Kategori IHC terdiri atas 1 rating prasyarat dan 8 rating biasa dengan total poin maksimal adalah 20 poin. Hasil assessment terhadap rating yang ada pada GREENSHIP untuk kategori IHC, antara lain:
a. MB-Ina mempunyai kebijakan melalui memo smoking area yang menyatakan bahwa adanya penentuan area yang boleh digunakan untuk merokok seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8. Terdapat 17 smoking area di MB-Ina dan dilakukan kegiatan untuk mendorong minimalisasi aktifitas merokok melalui stiker ataupun papan pengumuman yang menyatakan larangan merokok.
Gambar 8. Smoking Area.
b. Kualitas udara ruangan yang menunjukan adanya introduksi udara luar minimal sesuai dengan SNI 03‐6572‐2001 tentang Tata Cara Ventilasi dan Sistem Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung. Menurut SNI (2001) industri dengan aktivitas tinggi membutuhkan pertukaran udara segar 0.6 m3/menit. Di MB-Ina terdapat introduksi udara luar rata-rata pada building non office (gedung produksi) yaitu 0.8 m3/s dengan luasan area terbuka dari 14 rolling door dengan luasan 3m x 5m atau dengan debit aliran udara sekitar 1.4 m3/menit, sehingga kebutuhan udara luar pada gedung produksi cukup terpenuhi.
c. IHC meliputi parameter kimia, fisika, dan biologi. Dilakukan pengukuran terhadap parameter tersebut dengan gedung produksi dan perkantoran sebagai titik samplingnya yaitu pada building 2, 3, 4, 6, 7 dan 8. Building
22
pengukuran untuk parameter suhu, kelembaban, kebisingan, dan intensitas cahaya yang ditunjukkan pada Tabel 4 dengan standar baku mutu yang telah ditentukan dari KEPMENKES 1405 tahun 2002.
Tabel 4. Hasil pengukuran parameter fisika di MB-Ina.
Parameter Bld 2 Bld 3 Bld 4 Bld 6 Bld 8 Baku Mutu* Suhu (C) 27.0 24.7 28.3 26.8 30.5 18-28 Kelembaban (%) 46.3 40.6 47.3 43.9 61.5 40-60 Kebisingan (dBA) 48.3 53.7 50.1 48.3 69.8 <85 Intensitas Cahaya (Lux) 375.7 326.9 330.0 318.0 654.1 >300
*Menurut Kepmenkes 1405 tahun 2002 tentang persyaratan kesehatan lingkungan kerja perkantoran dan industri.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar bangunan telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Akan tetapi, masih dilakukan analisis lanjutan untuk meningkatkan kualitas udara dalam bangunan tersebut. Hal yang mungkin dilakukan adalah dengan melakukan audit bulanan untuk mengevaluasi kondisi kualitas udara dalam bangunan tersebut. Sedangkan pada parameter kimia dan biologi, MB-Ina belum pernah melakukan pengukuran terhadap parameter tersebut.
d. Untuk mengetahui kenyamanan dilakukan survei kenyamanan pengguna gedung antara lain meliputi suhu udara, tingkat pencahayaan ruang, kenyamanan suara, kebersihan gedung dan keberadaan hama pengganggu. Survei ini dibutuhkan sebagai acuan dalam mengevaluasi kualitas udara dalam ruang tersebut dan sebagai dasar kesehatan pekerja (Indoor Air Quality Survey).
Hasil assessment terhadap kategori IHC menunjukkan bahwa MB-Ina telah memenuhi 35% dari rating yang ditetapkan GREENSHIP atau mendapatkan 7 dari 20 poin. Hasil ini menunjukkan bahwa MB-Ina belum banyak menerapkan aspek green building pada kategori IHC. Kategori IHC sangat penting diaplikasikan karena sangat erat hubungannya dengan kesehatan pekerja MB-Ina. Sehingga diperlukan strategi untuk mengimplementasikan kategori IHC tersebut. Menurut Chen dan Huang (2012) terdapat strategi yang mampu digunakan untuk mewujudkan lingkungan dalam ruang yang nyaman dan sehat sesuai dengan konsep green building, diantaranya menentukan indikator-indikator yang mempengaruhi kinerja untuk mewujudkan lingkungan yang sehat, menentukan kendala-kendala yang mampu mempengaruhi kondisi lingkungan dan memperketat mekanisme dan metode pengendalian lingkungan dalam ruang tersebut. Hasil analisis kategori IHC berdasarkan form GREENSHIP ditunjukkan pada lampiran 8.
6. BuildingEnvironment Management/BEM
23 Kategori BEM terdiri atas 1 rating prasyarat dan 5 rating biasa dengan total poin maksimal adalah 13 poin. Hasil assessment terhadap rating yang ada pada GREENSHIP untuk kategori BEM, antara lain:
a. MB-Ina mempunyai rencana pengoperasian dan perawatan sesuai dengan program eco-industry yang telah ditetapkan. Pemeliharan ini dilakukan oleh pihak TD (Technical Department) yang bekerjasama dengan departemen lainnya. Perencanaan dilakukan secara tahunan untuk dapat melakukan estimasi dana yang digunakan dalam pengoperasian dan perawatan. Perencanaan yang dilakukan meliputi sistem mechanical dan
electrical, kualitas air, pemeliharaan eksterior dan interior, purchasing, dan pengelolaan sampah yang mencakup struktur organisasi, standar prosedur operasi dan pelatihan, program kerja, serta anggaran
b. MB-Ina telah melakukan inovasi untuk meningkatkan mutu dari kualitas lingkungan dan produksi yang ada di MB-Ina. Inovasi yang telah dilakukan MB-Ina diantaranya menggunakan rotary roof ventilator untuk meningkatkan pertukaran udara dalam bangunan produksi sehingga suhu udara bisa semakin menurun, transparant roof untuk meningkatkan intensitas cahaya yang masuk pada gedung, serta instalasi kwh meter pada peralatan listrik bagian produksi yang mengkonsumsi energi besar (roller test dan water test).
Selain itu dalam bidang kebijakan perusahaan, manajerial MB-Ina melakukan pendekatan-pendekatan kepada pekerja antara lain memperketat penggunaan kendaraan pribadi melalui penggunaan bis jemputan sebanyak 20 bis dan16 mini bis dan mampu mengangkut lebih dari 800 pegawai, audit untuk mengawasi buangan limbah B3, melakukan kerjasama terhadap lingkungan sekitar melalui Paguyuban Industri Gunung Putri guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar Gunung Putri.
c. Terdapat as built drawing tentang spesifikasi teknis dan manual terhadap operasional dan pemeliharaan peralatan dan gedung. As built drawing
tersedia sejak mulai terbangunnya MB-Ina Hal ini dilakukan untuk mempermudah pemeliharaan peralatan dan bangunan di MB-Ina.
d. Adanya struktur organisasi dalam operasi dan pemeliharaan gedung dimana dalam pengawasannya dilakukan oleh IMS (Integrated Management System) Department. IMS bertugas untuk mengawasi dan memantau perkembangan lingkungan perusahaan khususnya untuk menciptakan kualitas lingkungan yang sesuai dengan aspek green building di MB-Ina. Akan tetapi MB-Ina belum mempunyai pekerja yang terlibat dalam GREENSHIP Profesional.
e. MB-Ina mengadakan pelatihan-pelatihan yang secara khusus ditujukan dalam pengelolaan lingkungan dan berhubungan dengan kriteria green
building yang diamati yang dilakukan secara berkala. Pelatihan yang dilakukan antara lain: Eco-Industry Training, Basic ISO 14001, Internal
ISO 14001 auditor, Hazardous material handling, Waste handling,
24
f. Selain itu dalam pengoperasian dan pemeliharaan untuk tapak, energi, air, material dan HSES (Health Safety Environmental and Security). MB-Ina mengadakan pelatihan-pelatihan mengenai pemeliharaan tapak, energi, air, material dan HSES, antara lain: eco-industry training, basic ISO 14001,
internal ISO 14001 auditor, hazardous material handling, waste handling, identification environment aspect-impact, basic OHSAS & SMK3,
internal OHSAS & SMK3 auditor, HIRADC, Fire extinguisher operator and water hydrant, first aider, emergency simulation. Adanya bukti pelaksanaan pelatihan tentang pengoperasian dan pemeliharaan untuk tapak, energi, air, material dan program HSES melalui attendance list atau daftar hadir serta evaluasi hasil pelatihan yang telah dilakukan.
Hasil assessment terhadap kategori BEM menunjukkan bahwa MB-Ina telah memenuhi 84% dari rating yang ditetapkan GREENSHIP atau mendapatkan 11 dari 13 poin. Hasil analisis kategori BEM berdasarkan form GREENSHIP ditunjukkan pada lampiran 9.
Gambar 10 menunjukkan penerapan green building pada MB-Ina melalui jumlah poin yang didapatkan. Poin terdiri atas poin yang telah diterapkan (achieving point), poin yang masih berpeluang untuk diterapkan (potential point), dan poin yang tidak dapat untuk diterapkan (non-potential point). Dari keenam kategori MB-Ina telah menerapkan 59% atau 69 dari 117 poin yang telah diterapkan atau mendapatkan peringkat emas pada kriteria GREENSHIP. MB-Ina telah mampu menerapkan kriteria pada GREENSHIP. Meskipun demikian MB-Ina terus melakukan perbaikan guna mewujudkan lingkungan yang lebih sehat, nyaman, dan produktif.
Gambar 9. Penerapan Green Building di PT. Mercedes Benz Indonesia. MB-Ina masih berpeluang untuk mampu menerapkan lebih banyak kriteria
greenbuilding dengan 28 potential point. Potential point merupakan kriteria yang belum diterapkan dan berpeluang untuk diterapkan. Potential point digunakan sebagai bahan rekomendasi guna meningkatkan kualitas lingkungan di MB-Ina