POLA KONSUMSI PANGAN IBU PASCA MELAHIRKAN
(STUDI KASUS DI RSIA THAHA BAKRIE SAMARINDA)
Afrilia Sandra Ramadhani
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pola Konsumsi Pangan Ibu Pasca Melahirkan di RSIA Thaha Bakrie Samarinda adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Februari 2016
SUMMARY
Afrilia Sandra Ramadhani. Postpartum Food Consumption Pattern at RSIA Thaha Bakrie Samarinda.Supervised by Made Astawan and Winiati P. Rahayu.
Abstract. Food taboos are practiced in some Indonesian culture, for example there is a tendency that postpartum mother is not recommended to consume protein sources in Samarinda, East Kalimantan. The objective of this study was to evaluate food intake of pospartum mothers, including variety of food taboos which it can affect to mothers. The research involved 40 postpartum respondents, age 19-40 years. Respondents were interviewed using a questionnaire and food recall form. The result showed that 65 % of respondents had taboos to certain foods. The most that 80 % avoided food was seafood. Besides food taboos, education also affected nutritional status. Undergraduate education level respondents had fulfilled intake of protein.
Key words: food abstinence, food recall, postpartum mother
RINGKASAN
Afrilia Sandra Ramadhani. Pola Konsumsi Pangan Ibu Pasca Melahirkan di RSIA Thaha Bakrie Samarinda. Dibimbing oleh Made Astawan dan Winiati P. Rahayu
Abstrak. Di Samarinda Kalimantan Timur, ada kecenderungan setelah melahirkan ibu tidak dianjurkan mengonsumsi sumber protein tertentu oleh orang yang dipercaya (orang tua atau keluarga terdekat). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola makan ibu setelah melahirkan berdasarkan jenis pantangan pangan yang dikonsumsi dengan berbagai faktor yang mempengaruhi. Penelitian dilakukan terhadap 40 responden ibu melahirkan dengan usia 19-40 tahun berupa survei dan wawancara menggunakan lembar kuisioner dan food recall. Hasil penelitian menunjukkan 65% responden mempunyai pantangan terhadap makanan tertentu setelah melahirkan dengan jenis pangan yang dihindari adalah ikan dengan persentase 80 %. Jenjang pendidikan S1 merupakan kategori yang terpenuhi asupan protein pada ibu melahirkan.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Teknologi Pangan
pada
Program Studi Magister Teknologi Pangan
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2016
Judul Tesis : Pola Konsumsi Pangan Ibu Pasca Melahirkan (Studi Kasus di RSIA Thaha Bakrie Samarinda)
Nama : Afrilia Sandra Ramadhani
NIM : F252124135
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Made Astawan MS Prof. Dr. Winiati P. Rahayu
Ketua Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana
Magister Teknologi Pangan
Dr. Ir. Nurheni Sri Palupi, MSi Dr. Ir. Dahrul Syah, MScAgr
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul pada penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juli hingga Oktober 2014 ini ialah Pola Konsumsi Pangan Ibu Pasca Melahirkan di RSIA Thaha Bakrie Samarinda
Terima kasih sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS dan Ibu Prof. Dr. Winiati P. Rahayu selaku pembimbing, Ibu Dr. Ir. Nurheni Sri Palupi, MSi selaku dosen penguji yang telah membimbing penulis dengan sabar dan memberi banyak masukan dan motivasi pada penulis dalam menyusun karya ilmiah ini dan pihak RSIA Thaha Bakrie yang sudah banyak membantu selama penelitian. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada papa, mama, suami dan adik serta seluruh keluarga atas dukungan, doa dan kesabaran kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Februari 2016
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI i
DAFTAR GAMBAR ii
DAFTAR TABEL ii
DAFTAR LAMPIRAN ii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
Rumusan Masalah 2
Manfaat Penelitian 3
TINJAUAN PUSTAKA 3
Gizi dan Kebudayaan Setempat 3
Kebutuhan Gizi dan Makanan Pasca Melahirkan 4
Status Gizi Ibu Menyusui 6
Metodefood recall 7
Penilaian Status Gizi 7
METODE PENELITIAN . 9
Tempat dan Waktu . 9
Metode Penelitian . 9
Populasi dan Sampel . 9
Prosedur Penelitian 9
Pengumpulan Data 10
Pengolahan dan Analisis Data 11
HASIL DAN PEMBAHASAN 11
Gambaran Umum Karakteristik Responden Ibu
Melahirkan 11
Konsumsi Asupan Zat Gizi Ibu Melahirkan 21
Hubungan antara Karakteristik Responden dengan Asupan Gizi 23
SIMPULAN DAN SARAN 26
DAFTAR PUSTAKA 27
LAMPIRAN 31
DAFTAR GAMBAR
1 Diagram alir penelitian 10
2 Pengelompokan kategori usia responden 12
3 Distribusi jenjang pendidikan responden 13
4 Pengelompokan pekerjaan responden 14
5 Distribusi variasi suku pada responden 14
6 Frekuensi urutan kelahiran pada responden 15
7 Pengelompokan kadar Hb responden pasca melahirkan 16 8 Distribusi jumlah pendapatan responden per bulan 18 9 Persentase jenis pangan yang dihindari responden setelah melahirkan 20 10 Jenis suku terhadap kecukupan asupan protein perhari 24
DAFTAR TABEL
1. AKG yang dianjurkan untuk orang Indonesia perhari (Permenkes
No.75/2013) 5
2. Nilai Hb pada setiap kelompok umur 8
3. Asupan konsumsi zat gizi responden 21
4. Korelasi antara karakteristik responden dengan asupan zat gizi 23
DAFTAR LAMPIRAN
1. Formulir kuisioner 31
2. Formulirfood recall24 jam 32
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dan sampai saat ini angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi. Berdasarkan data dari Sumber Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2012 di Indonesia AKI sekitar 359 untuk setiap 100.000 kelahiran hidup, dan ini merupakan masalah yang menjadi salah satu prioritas di bidang kesehatan karena AKI di Indonesia masih yang tertinggi di kawasan negara ASEAN dibandingkan dengan Singapura paling rendah angka kematian ibu, hanya 3/100.000, kemudian disusul Malaysia 5/100.000, Thailand 10/100.000, dan Vietnam 50/100.000 kelahiran hidup (SDKI 2013). Selama ini banyak upaya pemerintah yang telah dilakukan untuk menurunkan AKI di Indonesia dengan cara pemberian edukasi dan informasi tentang gizi saat masa kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Selain itu, bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi yang diberikan diantaranya tentang beberapa kesalahan dalam menginterpretasikan dan mempersepsikan latar belakang budaya (Budiyarti 2010). Masyarakat masih percaya adanya hubungan asosiatif antara suatu jenis makanan menurut bentuk, sifat, rasa, dan cara pengolahannya dengan akibat buruk yang ditimbulkan kepada ibu hamil dan melahirkan.
Dilihat dari perspektif budaya, umumnya masyarakat Indonesia memiliki tradisi dan mitos tentang pantangan dan keharusan mengikuti budaya terkait dengan kehamilan, proses persalinan, dan pasca persalinan. Salah satunya adalah pantangan dan keharusan menyangkut perilaku konsumsi makanan ibu hamil dan ibu nifas dalam rumah tangga. Sebagai contoh di daerah Jawa, kelebihan konsumsi gula pasir diyakini menyebabkan aliran darah pasca persalinan sangat lambat, nyeri pasca persalinan, atau menyebabkan darah mengalir terlalu cepat sebelum bayi dilahirkan (Fitriani 2005). Padahal setelah melahirkan, ibu wajib memenuhi asupan gizinya agar proses penyembuhan berjalan cepat.
Di Samarinda Kalimantan Timur, ada kecenderungan setelah melahirkan para ibu selama masa nifas tidak dianjurkan mengonsumsi ikan dan telur oleh orang yang dipercaya (orang tua atau keluarga terdekat) ibu tersebut. Padahal setelah melahirkan, ibu harus mendapatkan gizi yang cukup untuk menghasilkan kualitas ASI yang baik untuk bayi dan mempercepat proses penyembuhan/luka setelah melahirkan. Hal serupa terjadi di Kalimantan Selatan, yang terdapat kebiasaan ibu pasca melahirkan bertentangan dengan aturan gizi yang dianjurkan, diantaranya berpantang makan lauk berupa ikan segar dan ikan berduri. Sayur yang boleh dikonsumsi hanya labu kuning dan daun katuk, pantang makan sebagian besar buah-buahan, pantang olahan makanan yang dimasak dengan santan, berlemak, atau digoreng dan pantang minum es (Inayah 2007).
Sebagian masyarakat Samarinda masih mempunyai persepsi tentang pantangan makan suatu pangan tertentu setelah melahirkan. Hal ini berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kalimantan Timur dan penilaian subjektif yang dilakukan di Rumah Sakit terhadap porsi asupan makanan yang dikonsumsi oleh ibu setelah melahirkan. Beberapa pangan sumber protein tertentu seperti ikan dan telur, mereka cenderung tidak menghabiskan atau tidak mengonsumsinya. Mereka meyakini jika mengonsumsi beberapa pangan tersebut akan berpengaruh pada kualitas ASI atau proses penyembuhan setelah melahirkan, padahal ibu setelah melahirkan perlu mendapatkan asupan makanan yang cukup agar kebutuhan gizinya terpenuhi. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengamatan hubungan antara asupan makanan setelah melahirkan dengan status gizi ibu.
Persepsi pantangan makan pada ibu setelah melahirkan di Samarinda, dapat memberikan dampak terhadap gangguan gizi jika tidak diberikan edukasi dan pemahaman yang baik tentang asupan pangan apa saja yang berpengaruh pasca melahirkan. Perubahan pola makan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan atau informasi yang diterima. Adanya edukasi gizi pada ibu pasca melahirkan diharapkan dapat memberikan informasi yang mudah dipahami atau diterapkan, meningkatkan pengetahuan ibu, dan mengubah paradigma pantangan terhadap beberapa jenis pangan.
Tujuan Penelitian
Mengevaluasi pola makan ibu pasca melahirkan, menganalisis hubungan sosial ekonomi dan asupan pangan pasca melahirkan, dan mengetahui korelasi karakteristik responden ibu melahirkan yang mempunyai pantangan dengan asupan zat gizi.
Rumusan Masalah
pasca melahirkan tidak memberikan dampak kurangnya asupan pada nilai AKG yang ditetapkan.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama tentang makanan dan asupan zat gizi ibu pasca melahirkan, selain itu ibu mengetahui hal-hal yang harus dilakukan dalam memenuhi kebutuhan gizinya dan memahami dampak kurang gizi ibu pasca melahirkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Gizi dan Kebudayaan Setempat
Setiap orang mempunyai konsep berdasarkan pandangan kebudayaan di daerah mereka masing-masing terhadap berbagai penyakit. Hal ini juga terjadi pada kasus makanan dan gizi pada periode kehamilan, persalinan dan nifas. Kebiasaan makan seperti kebiasaan lainnya hanya dapat dipahami dalam konteks budaya yang menyeluruh. Program-program pendidikan gizi yang efektif untuk perbaikan kebiasaan makan harus didasarkan atas pengertian tentang makanan sebagai suatu pranata sosial yang memenuhi banyak fungsi (Aritonang 2006).
Pantangan atau yang biasa dikenal dengan kata tabu ialah suatu larangan untuk mengonsumsi jenis makanan tertentu, karena terdapat ancaman bahaya terhadap yang merasa melanggarnya. Pantangan atau tabu merupakan sesuatu yang diwariskan dari leluhur melalui orangtua, sampai ke generasi-generasi dibawahnya. Umumnya masyarakat tidak mengetahui kapan suatu pantangan atau tabu makanan dimulai, dari manaasal dan apa penyebabnya (Aritonang 2006)
Kebutuhan Gizi dan Makanan Pasca Melahirkan
Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang, diantaranya ekonomi, pendidikan, pengetahuan dalam mengolah makanan, lingkungan, dan budaya yang dipercaya. Kondisi ini mempengaruhi ketersediaan makanan di rumah, perawatan anak, ibu hamil dan nifas, serta pelayanan kesehatan. Dampak selanjutnya menimbulkan perilaku mengurangi asupan makanan, yang menyebabkan penurunan kondisi fisik sehingga memicu munculnya penyakit infeksi. Kedua hal inilah yang menjadi penyebab langsung masalah gizi (Aritonang 2006).
satu hari yang beraneka ragam dan mengandung zat tenaga, zat pembangun, zat pengatur, dan lain-lain yang sesuai dengan kebutuhan tubuh (Mudjajanto et al. 2007)
Makanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi ASI pasca melahirkan, penambahan zat-zat gizi selama menyusui untuk memenuhi kebutuhan dalam produksi ASI. Secara umum, hal yang harus diperhatikan dalam memenuhi kebutuhan gizi ibu menyusui adalah: susunan menu seimbang, dianjurkan minum 8-12 gelas perhari, untuk memperlancar pencernaan hindari konsumsi alkohol, makanan yang banyak bumbu, serta banyak mengonsumsi sayuran berwarna. Selama ibu tidak memiliki penyakit yang mengharuskan ibu melakukan diet tertentu, tidak ada pantangan makanan bagi ibu menyusui. Berikut hal-hal yang mempengaruhi konsumsi ibu menyusui (Zakariaet al. 2007) :
1. Pantangan terhadap makanan
Pola konsumsi pangan mengalami perubahan terus-menerus dengan kondisi lingkungan dan tingkat kemajuan budaya masyarakat, sehingga akan timbul pantangan terhadap makanan yang mempunyai efek negatif dan positif. Ibu melahirkan mudah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berkaitan dengan pantangan makan, diantaranya lingkungan dan pengetahuan gizi ibu tersebut.
2. Anjuran makanan seimbang bagi ibu menyusui
Setiap orang memerlukan enam kelompok zat gizi yang harus dipenuhi setiap harinya dalam jumlah yang cukup yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Bagi ibu menyusui, asupan makanan harus lebih banyak dalam porsi mengacu kepada konsep gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan ibu menyusui. Beberapa syarat makanan untuk ibu menyusui yakni: makanan mudah dicerna, tidak berlemak banyak, tidak terlalu pedas dan asam, pengaturan porsi kecil tapi sering, dan cukup cairan (enam atau delapan gelas air perhari).
Masa-masa pasca melahirkan dan masa nifas adalah masa pemulihan kembali alat-alat reproduksi, mulai dari selesainya persalinan sampai enam minggu setelah persalinan. Pada masa ini pengaturan gizi harus bermutu tinggi dengan cukup energi, protein, cairan, serta vitamin dan mineral, karena wanita dalam masa nifas tersebut juga dalam masa laktasi (menyusui).
Angka kecukupan gizi (AKG) berguna sebagai patokan dalam penilaian dan perencanaan konsumsi pangan, serta basis dalam perumusan acuan label gizi. AKG berubah dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan gizi dan ukuran antropometri penduduk. Tabel 1 menunjukkan AKG tahun 2013 mengalami perubahan dari tahun 2009 dengan sedikit bertambahnya angka energi, protein, lemak, karbohidrat, serat dan air. Kebutuhan gizi wanita Indonesia, khususnya bagi ibu menyusui diharapkan sesuai dengan Permenkes no. 75/2013 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Kelompok BB TB Energi Protein Lemak Karbohidrat Serat Air
Kebutuhan energi ibu terdiri dari 60-70 % karbohidrat, 10-20 % protein, dan 20-30 % lemak. Kebutuhan energi ibu setelah melahirkan biasanya meningkat, bila ibu biasa makan tiga kali sehari bisa menjadi empat kali atau tetap tiga kali dengan porsi yang ditambah.
2. Protein
Setelah melahirkan hingga masa menyusui, ibu membutuhkan tambahan protein. Meningkatnya kebutuhan protein ini, selain untuk membentuk protein susu juga dibutuhkan dalam pembentukan hormon prolaktin (untuk memproduksi ASI) dan hormon oksitosin (untuk mengeluarkan ASI). Pemenuhan kebutuhan protein yang meningkat dapat dipenuhi dengan cara menambah satu potong makanan sumber protein yang biasa dikonsumsi. Sumber protein ini dapat diperoleh dari ikan, daging ayam, daging sapi, telur, susu, kacang-kacangan, tahu, dan tempe. Jika kebutuhan protein tidak terpenuhi dari makanan maka protein diambil dari protein ibu yang berada di otot. Hal ini mengakibatkan ibu menjadi kurus dan setelah menyusui akan lapar.
3. Lemak
Lemak tak jenuh ganda (PUFA) diperlukan dalam pembentukan ASI.Asam lemak tak jenuh ganda diperlukan dalam perkembangan otak dan pembentukan retina.Asam lemak tak jenuh ganda dapat diperoleh dari minyak jagung, minyak biji kapas serta ikan salmon.
4. Vitamin dan Mineral
diantaranya adalah Vitamin A, B, C, dan D. Mineral yang kebutuhannya perlu diperhatikan adalah zat besi dan kalsium.Zat besi pada ASI diserap lebih baik dibandingkan zat besi yang berasal dari susu formula. Ibu menyusui diharapkan mengonsumsi makanan sumber zat besi seperti hati, telur, dan sayuran hijau tua. Kekurangan kalsium pada ibu menyusui dapat mengakibatkan kehilangan kalsium pada tulang ibu, sekresi kalsium pada ASI rendah, dan gangguan pembentukan tulang pada bayi.
Status Gizi Ibu Menyusui
Pasca melahirkan merupakan masa pemulihan dan merupakan faktor penunjang utama produksi ASI. Apabila gizi tidak terpenuhi akan menghambat produksi ASI dan mempengaruhi komposisi/asupan nutrisi untuk bayi. Ibu menyusui memiliki kebutuhan yang banyak akan asupan gizi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsinya. Status gizi ibu memberikan peranan penting terhadap kuantitas dari kualitas produksi ASI. Misalnya, jika ibu kekurangan kalsium akan menyebabkan kebutuhan kalsium bayi diambil dari kalsium pada jaringan atau tulang ibu. Jika hal ini dibiarkan maka ibu akan mengalami osteoporosis dan kerusakan gigi. Kuantitas produksi ASI dipengaruhi oleh keadaan gizi ibu, ibu dengan gizi baik/cukup akan memproduksi sekitar 600-800 mL ASI perhari pada bulan pertama, sedangkan gizi kurang hanya memproduksi ASI sekitar 500-700 mL perhari (Yaniet al. 2009).
Status gizi merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas hidup dan produktivitas kerja. Kekurangan gizi pada ibu melahirkan, bayi, dan balita menurunkan daya kerja fisik serta terganggunya mental dan kecerdasan. Status gizi penduduk biasanya digambarkan oleh masalah gizi yang dialami oleh golongan penduduk yang rawan gizi. Saat ini di Indonesia masih terdapat empat masalah gizi utama, yaitu kekurangan energi protein (KEP), kekurangan vitamin A (KVA), gangguan akibat kekurangan Iodium (GAKI), dan anemi gizi besi (AGB) (Fitriani 2005).
Pemenuhan kebutuhan gizi ibu menyusui pada prinsipnya adalah memenuhi gizi seimbang. Tidak ada pantangan makanan bagi ibu menyusui selama ibu tidak mengalami penyakit lain yang membutuhkan pengaturan makanan khusus. Hal yang harus menjadi perhatian adalah apabila kebutuhan gizi ibu menyusui tidak terpenuhi maka kebutuhan gizi untuk pembentukan ASI akan diambil dari cadangan yang ada pada ibu. Kondisi ini akan menyebabkan ibu mengalami defisiensi zat gizi sehingga meningkatkan risiko timbulnya penyakit. Jika hal ini berlangsung lama, kualitas ASI akan menurun sehingga akan berdampak buruk juga bagi bayinya. Berat badan bayi akan sulit bertambah dan sangat memungkinkan bayi mengalami berbagai penyakit akibat kekurangan gizi, serta mudah terserang berbagai penyakit.
Metodefood recall
hari atau lebih pada hari-hari tertentu. Metode food recall digunakan pada ilmu gizi untuk mengukur kebenaran kuisioner frekuensi makanan yang digunakan sebagai instrumen pengumpulan data konsumsi primer. Kuisioner frekuensi makanan dievaluasi melalui pengumpulan satu atau lebih dari subsampel yang mewakili populasi. Metode ini bertujuan untuk menilai secara kuantitatif asupan gizi yang dikonsumsi oleh individu. Metode ini membutuhkan kemampuan komunikasi dan memori yang baik untuk mengingat makanan apa saja yang dimakan oleh individu tersebut
Metode food recall 24 jam dilakukan sebanyak dua kali dan dipilih hari kerja dan yang mewakili hari libur. Menurut Supariasa et al. (2008), apabila pengukuran hanya dilakukan 1 kali (1x24 Jam) maka data yang diperoleh kurang efektif untuk menggambarkan kebiasaan makan individu. Oleh karena itu, food recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang kali dan harinya tidak berturut-turut. Responden diwawancarai tanpa diberitahu terlebih dahulu, hal ini untuk memastikan bahwa responden tidak membuat perubahan apapun selama penelitian dilaksanakan. Adanya bantuan dokumentasi/foto estimasi ukuran porsi rumah tangga akan memudahkan sistemfood recall(Asmawatiet al. 2013).
Metode recall 2x24 jam digunakan untuk memperoleh data konsumsi pangan ibu setelah melahirkan dengan melakukan wawancara tentang jenis pangan yang dikonsumsi dan banyaknya pangan tersebut dalam ukuran rumah tangga. Pangan yang dikonsumsi kemudian dikonversi beratnya dalam gram, kemudian dihitung kandungan zat gizi yaitu energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin A, vitamin C, kalsium, fosfor, dan zat besi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Pangan.
Penelitian yang dilakukan oleh Asmawati et al. (2013), menggunakan metodesemi-quantitatife Food Frequency yang divalidasikan dengan food recall 24 jam untuk mengetahui rata-rata asupan zat gizi makro pada ibu hamil. Metode SQ-FFQ valid dalam mengukur asupan zat gizi makro (khususnya energi, lemak, karbohidrat) namun kurang valid untuk mengukur protein, dan sebaiknya penggunaan metode SQ-FFQ dilakukan minimal dua kali.
Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi dibagi menjadi dua metode yaitu metode penilaian status gizi secara langsung dan metode penilaian status gizi secara tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik.Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi tiga, yaitu survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi (Supariasaet al. 2008).
lingkar lengan atas. Antropometrik secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi.
Status gizi adalah suatu keadaan kurangnya kecukupan zat gizi akibat ketidakseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi. Misalnya pemeriksaan kadar hemoglobin bertujuan untuk mengetahui kadar hemoglobin dalam darah, sehingga dapat dinilai apakah ibu setelah melahirkan mengalami anemia atau tidak. Nilai normal kadar hemoglobin pada ibu hamil dan melahirkan pada Tabel 2 < 11 g/dL (Depkes 2006).
Tabel 2 Nilai Hb pada setiap kelompok umur (Depkes 2006)
Kelompok Umur Batas Nilai Hb
Ibu menyusui > 3 bulan < 12
Pengukuran yang digunakan dalam penentuan status gizi orang dewasa adalah dengan mengukur berat badan dan tinggi badan, yang dikenal dengan indeks massa tubuh (IMT). Data antropometri ibu dapat dihitung menggunakan perhitungan sederhana dengan rumus sebagai berikut :
IMT =
Berat Badan (kg) Tinggi Badan
(m)
Berdasarkan nilai IMT dibuat klasifikasi status gizi sesuai dengan kriteria Departemen Kesehatan RI sebagai berikut, jika nilai IMT <17 masuk dalam kategori kurus, 18-25 kategori normal, 25.1-27 kategori gemuk, dan obesitas jika nilai >30 (Depkes 2010).
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Thaha Bakrie Samarinda Kalimantan Timur mulai bulan Juli hingga Oktober 2014. Alasan menggunakan rumah sakit tersebut karena salah satu tempat bersalin yang digunakan untuk ibu melahirkan.
Metode Penelitian
hubungan antara dua variabel. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah survei wawancara menggunakan lembar kuisioner (Lampiran 1) dan lembarfood recall(Lampiran 2).
Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang melahirkan secara normal dan caesar di RSIA Thaha Bakrie Samarinda selama bulan Juli-Oktober 2014
2. Sampel adalah ibu melahirkan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi yaitu: (1) Usia 19-40 tahun, (2) Melahirkan di RSIA Thaha Bakrie Samarinda, (3) Bersedia menjadi responden, (4) Tidak memiliki riwayat alergi makanan, (5) Status lengkap (data BB, TB, dan Hb), (6) Memberikan ASI sampai hari ke 14. Adapun yang termasuk kriteria eksklusi adalah mempunyai penyakit kronis atau sedang dalam pengobatan dan membutuhkan transfusi darah saat melahirkan.
Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: (1) Pengumpulan responden, (2) Pengumpulan data responden, (3) food recall pertama di RS, (4)food recallke dua di rumah, (5) Analisis data (Gambar 1).
Penentuan jumlah responden menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:
n= N 1 + N (e)2 Dimana:
n = Jumlah sampel N = Jumlah Populasi
e = Nilai batas ketelitian kesalahan dalam penarikan sampel (Nilai batas=5%)
Responden pada peneitian ini berjumlah 40 orang. Pemilihan responden dilakukan menggunakan metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel secara sengaja sesuai persyaratan (kriteria, karakteristik) tertentu yang memenuhi persyaratan sebagai sampel.
Gambar 1.Diagram alir penelitian
Tahap food recall kedua dilakukan dengan wawancara saat berada di tempat responden (bukan di rumah sakit), yang bertujuan mengetahui jenis makanan yang dimakan oleh ibu. Food recall kedua dilakukan pada hari ke 14 setelah melahirkan.
Pengumpulan data
1. Data ibu melahirkan yaitu, nama, alamat, usia, berat badan, pekerjaan, pendidikan, suku, urutan kelahiran, dan kadar hemoglobin yang diperoleh dari buku rekam medis rumah sakit, kemudian dilanjutkan dengan wawancara menggunakan lembar kuisioner. Data berat badan dan kadar hemoglobin diperoleh dengan cara mengukur langsung pada ibu setelah melahirkan.
2. Data food recall, diperoleh dengan cara mencatat, daftar konsumsi, waktu konsumsi, jenis dan jumlah (gram ukuran rumah tangga, satuan volume) pangan, serta menggunakan food model sebagai alat bantu untuk mempermudah ibu mengingat porsi makanan yang telah dikonsumsi.
Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dimulai dari memberi kode responden, merekap jawaban kuisioner, khusus data food recall diolah menggunakan program untuk analisis kandungan zat gizi bahan makanan (nutrisurvey) dan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM).
Analisis data dibagi menjadi analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat yaitu analisis tiap variabel dari hasil penelitian yang berfungsi untuk meringkas kumpulan data hasil pengukuran sehingga data berubah menjadi
Mengumpulkan responden 40 orang ibu melahirkan
(BB, TB, kadar Hb)
Mencatat data rekam medis responden setelah melahirkan
Melakukan wawancarafood recall pertama kepada responden setelah melahirkan di RS
food recall kedua dengan AKG dan karakteristik responden Melakukan wawancarafood recall kedua di tempat responden
(hari ke 14 setelah melahirkan)
Pengumpulan dan analisis datafood recall dikorelasikan dengan karakteristik responden
informasi yang berguna berupa statistik, tabel dan grafik (Notoatmodjo 2005). Pada penelitian ini karakteristik responden (usia, pendidikan, pekerjaan, suku, pendapatan dsb) merupakan analisis univariat. Sedangkan analisis bivariat dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dengan menggunakan uji statistik chi-square dengan tingkat kepercayaan 90% (α=0.10),
1. Dikatakan tidak ada hubungan (tidak signifikan) jika nilai ρ > 0.10
2. Dikatakan ada hubungan (signifikan) jika nilai ρ < 0.10
Data profil tingkat pendidikan dikategorikan menurut jenjang pendidikan, yaitu SD, SMP, SMA, dan S1. Data pendapatan keluarga merupakan jumlah dari pendapatan seluruh anggota keluarga, baik dari hasil pekerjaan utama maupun pekerjaan tambahan atau sumber lainnya, selama satu bulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Karakterisitik Responden Ibu Melahirkan
Pengelompokan responden dilakukan berdasarkan usia, pendidikan, pekerjaan, suku, urutan kelahiran, pendapatan, dan pengeluaran.
Usia
Usia responden berkisar dari 19 hingga 40 tahun. Sebagian masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi wanita untuk melahirkan adalah pada usia 20-30 tahun. Pengelompokan kategori usia responden ibu melahirkan dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Pengelompokan kategori usia responden
Pada Gambar 2, persentase terbesar usia responden berada di kisaran usia 19-25 tahun sebesar 37.5 %. Menurut data tersebut rata-rata usia responden
19-25 tahun 26 - 30 tahun 31-40 tahun
termasuk ke dalam usia yang baik bagi wanita untuk melahirkan. Saat yang tepat bagi seorang wanita untuk melahirkan adalah pada usia antara 20-30 tahun. Pada periode kehidupan wanita ini risiko menghadapi komplikasi medis paling rendah (Rusliet al. 2011).
Kehamilan dan persalinan pada wanita remaja berusia di bawah 18 tahun juga dapat menimbulkan beberapa risiko, yaitu gangguan anemia, tekanan darah tinggi, kelahiran prematur dan persalinan tidak normal atau operasi. Namun, kehamilan pada usia di atas 35 tahun juga sering disebut sebagai batas akhir dan sesudah usia tersebut kelahiran akan menimbulkan risiko yang besar (Zakaria et al. 2007). Pada usia 35 tahun atau lebih, daya tahan tubuh dan kesehatan ibu sudah mulai menurun.
Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting sebagai salah satu indikator untuk penilaian dalam karakteristik responden dan kualitas sumberdaya manusia. Jenjang pendidikan responden dikategorikan dari SD hingga S2 dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 Distribusi jenjang pendidikan responden
Pada Gambar 3, terlihat tingkat pendidikan ibu yang dominan adalah jenjang Strata 1 (S1) sebesar 47.5 %. Ibu dengan pendidikan yang baik akan mudah menerima pengetahuan gizi. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Yuli (2008) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan sangat mempengaruhi kemampuan penerimaan informasi gizi. Montgomery et al. (2013) mengemukakan, tingkat pendidikan berpengaruh pada ibu dalam memberikan ASI pada bayi serta makanan yang akan dikonsumsi pasca melahirkan
Masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah, besar peluangnya untuk mempertahankan faktor tabu yang berhubungan dengan makanan. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi mudah tidaknya seseorang menerima suatu pengetahuan. Semakin tinggi pendidikan maka seseorang akan lebih mudah
menerima informasi gizi dengan baik. Ernawati et al. (2013) juga menyatakan bahwa pendidikan yang rendah berpengaruh terhadap pendapatan dan daya beli, sehingga mempengaruhi pemilihan bahan makanan berkualitas untuk dikonsumsi. Dengan demikian ibu dengan tingkat pendidikan tinggi berpeluang lebih besar mudah menerima informasi tentang pengetahuan gizi dibandingkan dengan ibu dengan pendidikan rendah.
Pekerjaan
Para responden memiliki pekerjaan yang bervariasi, yaitu 19 orang karyawan swasta (47.5 %) dan 16 orang ibu rumah tangga (40 %) seperti tampak pada Gambar 4.
Gambar 4 Pengelompokan pekerjaan responden
Gambar 4 menunjukkan bahwa mayoritas ibu dapat menyumbangkan pendapatan untuk menambah pendapatan keluarga. Jenis pekerjaan ibu akan berpengaruh pada jumlah pendapatan ibu, yang akan mempengaruhi asupan gizi ibu. Jika pekerjaan ibu termasuk kategori pekerjaan berat, maka asupan gizi yang dikonsumsi sebaiknya juga lebih banyak dan begitu juga sebaliknya. Asupan makanan akan mempengaruhi status gizi ibu.
Suku
Suku responden terbagi menjadi beberapa kelompok (Gambar 5). Pengaruh suku terhadap pola konsumsi suatu pangan sangat kuat karena budaya muncul dari kebiasaan yang berkembang dalam kehidupan suku tersebut.
Gambar 5 Distribusi variasi suku pada responden
Gambar 5 menunjukkan suku yang paling dominan pada responden adalah suku jawa. Jenis suku ini berkaitan dengan pantangan makan yang dianut oleh responden.
Kondisi anak yang dilahirkan
Urutan kelahiran termasuk salah satu faktor risiko saat melahirkan. Semakin sering ibu melahirkan maka risiko terjadinya pendarahan saat melahirkan, akan semakin besar. Tingkat urutan kelahiran anak dapat dilihat pada Gambar 6
Gambar 6 Frekuensi urutan kelahiran pada responden
Urutan kelahiran cukup bervariasi, yaitu berkisar dari urutan ke satu hingga ke tujuh. Namun sebagian besar urutan kelahiran anak adalah (47.5 %) kelahiran pertama dan kelahiran kedua (35 %). Ibu yang sering melahirkan apabila konsumsi makanannya tidak sesuai dengan kecukupan gizi yang dianjurkan dikhawatirkan akan menderita anemia. Pada penelitian Betoko et al. (2013), tidak hanya tingkat pendidikan dan usia ibu, tetapi urutan kelahiran juga faktor yang mempengaruhi pola makan ibu dan pemberian ASI pada bayi. Berat badan bayi responden berkisar 2.300 – 4100 g (Lampiran 3). Berat badan bayi yang lahir < 2700 g hanya 5 orang.
Kadar hemoglobin (Hb)
Wanita mempunyai kebutuhan zat besi yang maksimal selama masa reproduksi. Pemeriksaan kadar Hb ibu melahirkan sangat perlu dilakukan untuk mengetahui apakah responden terkena anemia. Data kadar Hb responden disajikan pada Gambar 7.
Kadar Hb dibagi menjadi tiga kategori, yaitu normal (>11g/dL), anemia ringan (8-11 g/dL), dan anemia berat (< 8 g/dL) (Dhuha et al 2012). Sebagian besar responden mengalami anemia ringan (Gambar 7). Pada responden (62.5 %) yang melahirkan secara normal, volume darah yang keluar berkisar 250-400 mL. Hal ini diduga menjadi salah satu faktor ibu terkena anemia ringan setelah melahirkan
Gambar 7 Pengelompokan kadar Hb responden pasca melahirkan .
Selain itu 50 % responden mempunyai pantangan makanan tertentu, 15 orang diantaranya mengalami anemia ringan. Seseorang dikatakan anemia jika kadar hemoglobinnya < 12 g/100 mL untuk wanita dewasa dan 11 g/100 mL untuk wanita yang sedang hamil (Depkes 2010). Puji (2010) menyatakan anemia dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya jumlah zat besi dalam makanan tidak cukup, penyerapan zat besi rendah, kebutuhan meningkat, kekurangan darah, pola makan yang tidak baik dan terdapat zat penghambat penyerapan zat besi dalam makanan.
Selain suplemen, zat besi juga terdapat pada kedelai mentah dengan jumlah yang cukup, tetapi tubuh tidak dapat menggunakannya karena diikat oleh asam fitat. Salah satu bahan pangan yang mengandung kedelai adalah tempe. Tempe merupakan bahan pangan yang kadar zat besinya cukup tinggi, yaitu 4 mg/100 g tempe basah atau 9 mg/100 g tempe kering (Astawan 2008). Proses fermentasi dapat meningkatkan kelarutan zat besi, yaitu 24.29 % pada kedelai mentah menjadi
40.52 % pada tempe yang telah difermentasikan selama 48 jam. Meningkatnya jumlah zat besi yang terlarut akan meningkatkan daya serapnya di dalam tubuh, sehingga dapat diandalkan untuk membentuk hemoglobin dan mencegah anemia gizi besi.
Status anemia responden biasanya berkaitan dengan masa kehamilan sebelumnya. Pengaruh anemia pada responden dapat menjadi salah satu penyebab berkurangnya ASI. Anemia gizi dapat terjadi karena menu asupan makanan yang dikonsumsi kurang mengandung zat besi, oleh karena itu untuk
0 20 40 60 80
Normal Anemia Ringan Anemia Berat
meningkatkan asupan zat besi perlu dilakukan perubahan pola makan yang baik atau dengan mengonsumsi suplemen.
Produksi ASI
Walaupun keunggulan dan manfaat ASI dalam menunjang kelangsungan hidup bayi sudah terbukti, namun kenyataannya belum diikuti dengan pemberian ASI secara optimal. Banyak ibu yang memiliki masalah dalam produksi ASI. Ketersediaan dan asupan makanan dalam keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI (Yani 2009). Asupan makanan dapat mempengaruhi kualitas atau jumlah ASI yang dihasilkan oleh ibu.
Sebanyak 60 % responden ibu melahirkan tidak memiliki masalah dalam keluarnya ASI. Hal ini dapat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain informasi mengenai manfaat dari menyusui serta ketersediaan makanan. 40 % responden yang memiliki masalah dalam keluarnya ASI disebabkan oleh tidak seimbangnya pangan yang dikonsumsi. Pada penelitian Yani (2009), sebagian ibu tidak memberikan ASI pada bayinya karena tidak tersedia bahan makanan atau pangan yang baik sehingga volume ASI ibu tersebut kurang. Pada masa menyusui terjadi peningkatan kebutuhan zat gizi yang dibutuhkan oleh ibu. Asupan zat gizi yang kurang selama menyusui secara langsung akan mempengaruhi cadangan energi untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dan kualitas ASI.
Konsumsi food supplement pada ibu melahirkan
Konsumsi jenis tablet atau food supplement yang dianjurkan selama masa hamil dan melahirkan ternyata tidak banyak dilakukan. Suplementasi tablet besi menjadi suatu pilihan yang tepat untuk mencukupi kebutuhan besi ibu selama hamil. 65 % responden memilih tidak mengonsumsi food supplement sebagai penambah asupan zat gizi atau vitamin tambahan selama hamil dan setelah melahirkan. Hanya 35 % responden yang mengonsumsi food supplement karena mengikuti anjuran dari dokter selama hamil. Mereka yang mengonsumsi food supplement mengemukakan jenis tablet yang dikonsumsi selama hamil adalah supplement yang mengandung zat besi untuk penambah darah serta vitamin C dan E sebagai penambah asupan zat gizi setelah melahirkan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fatimah (2011), diantara 188 ibu hamil yang mengonsumsi suplemen tablet besi, masih terdapat 40.4 % yang mengalami anemia. Masih tingginya angka anemia pada ibu hamil walaupun telah mengonsumsi tablet besi dikarenakan jumlah tablet Fe yang dikonsumsi oleh ibu kurang dan asupan makanan yang kaya akan zat besi juga sangat rendah. Penyerapan zat besi akan meningkat dengan konsumsi protein hewani dan vitamin C. Kopi, teh, garam kalsium, magnesium dan fitat dapat mengikat Fe sehingga mengurangi jumlah serapan, oleh karena itu sebaiknya tablet Fe dikonsumsi dengan pangan yang dapat memperbanyak jumlah serapan.
Pantangan terhadap makanan
asupan harian seperti energi, protein dan komponen mikronutrien (Barrenes 2009). Terdapat mitos yang berkembang terkait dengan beberapa makanan yang tidak baik dikonsumsi selama menyusui dan masa nifas.
Pola makan pada ibu setelah melahirkan sebagian besar terbentuk oleh budaya yang kurang sejalan dengan pola makan yang dianjurkan oleh pedoman gizi seimbang. Berdasarkan data, pola makan responden setelah melahirkan sebagian besar tidak seimbang, yakni sebanyak 26 orang (65 %) melakukan pantangan makan selama 40 hari atau saat masa nifas dengan tidak mengonsumsi pangan hewani tertentu (ikan atau telur) dengan alasan demi kesehatan setelah melahirkan. Terdapat kepercayaan masyarakat bahwa ibu setelah melahirkan tidak boleh makan makanan tertentu agar proses penyembuhan luka cepat membaik. Padahal bila ibu tidak memperoleh asupan makanan dengan pola gizi yang seimbang, maka ibu bisa mengalami kurangnya zat gizi tertentu.
Dari 26 responden yang mempunyai pantangan terhadap pangan tertentu, tidak ada pengaruh ibu dengan berat badan bayi saat lahir. Hanya dua orang responden yang memiliki pantangan makan selama hamil dengan kelahiran berat badan bayi di bawah 2.700 g. Kristiyanasari (2010) menyatakan, pantangan makan yang terjadi saat hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR).
Pasca melahirkan dan operasi merupakan fase yang cukup kritis karena pasien harus berjuang untuk pemulihan tubuhnya. Solusi untuk mempercepat proses penyembuhan adalah dengan mengonsumsi makanan yang kaya protein, vitamin dan mineral (Astawan 2009). Salah satu bahan pangan yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi pasca melahirkan dan operasi adalah ikan gabus. Manfaat ikan gabus adalah kaya akan albumin dengan jenis protein terbanyak (60 %) di dalam plasma darah manusia. Peran utama albumin di dalam tubuh sangat penting, yaitu membentuk jaringan sel baru. Tanpa albumin sel-sel di dalam tubuh akan sulit melakukan regenerasi, sehingga sel-sel menjadi cepat mati dan tidak berkembang. Albumin inilah yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka.
Makanan yang paling banyak dipantang dan dihindari oleh responden adalah sumber protein hewani. Responden yang memiliki pantangan terhadap suatu jenis pangan, rata-rata memilih ikan sebagai makanan yang dihindari selama masa nifas. Ditinjau dari sisi medis, pola makan yang tidak seimbang dan beragam adalah kurang baik.
Gambar 9. Persentase jenis pangan yang dihindari responden setelah melahirkan dan dalam masa menyusui
Konsumsi lauk-pauk yang mengandung protein hewani cenderung dibatasi dan dihindari oleh responden karena berbagai alasan dan asumsi yang didapat dari keluarga atau lingkungan terdekat. Makan ikan dikhawatirkan menyebabkan proses penyembuhan luka setelah melahirkan menjadi lebih lama dan ASI yang dihasilkan akan berbau amis. Konsumsi gizi yang seimbang sangat penting bagi kesehatan ibu setelah melahirkan. Alasan ini dikemukakan baik saat food recall yang dilakukan di rumah sakit dan di rumah responden.
Sebagai bahan pangan, ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin dan mineral yang sangat baik dan prospektif. Astawan (2004) menyatakan, keunggulan utama protein ikan dibandingkan produk lainnya terletak pada kelengkapan komposisi asam aminonya dan kemudahan untuk dicerna. Ikan juga mengandung asam lemak, terutama asam lemak omega-3 yang sangat penting bagi kesehatan dan perkembangan otak bayi untuk potensi kecerdasannya.
Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan, diketahui bahwa responden memiliki informasi pantangan makanan dari orang tua dan lingkungan terdekat. Walaupun mereka sudah memiliki pengetahuan tentang zat gizi apa saja yang penting setelah melahirkan, namun karena pengaruh budaya yang kuat, responden cenderung mengikuti saran yang diberikan oleh keluarga.
Penelitian Sukandar (2007) di Jeneponto Sulawesi Selatan menunjukkan makanan yang dipantang ibu menyusui sebanyak tujuh jenis, diantaranya, ayam, ikan pari, udang, cabe rawit, daun kelor, buah pisang dan jantung pisang. Jika ibu setelah melahirkan mengonsumsi cabe rawit, mereka percaya akan menyebabkan bayi menjadi diare karena rasa pedas dari cabe terbawa pada ASI. Di daerah Karnataka India selatan, dilakukan penelitian pada 110 ibu setelah melahirkan dengan sebagian responden menghindari konsumsi buah pepaya dan terong selama masa tersebut (Raoet al2014).
Pendapatan keluarga dan biaya untuk pangan
Sosial ekonomi rumah tangga dapat mempengaruhi kesehatan dan gizi ibu. Pendapatan keluarga merupakan faktor yang paling menentukan kuantitas dan kualitas makanan dan gizi ibu. Pendapatan keluarga dihitung dari seluruh jumlah
pendapatan anggota keluarga, baik itu dari pekerjaan utama maupun pekerjaan sampingan. Data pendapatan responden dapat dilihat pada Gambar 8
Gambar 8 menunjukkan sebesar 42.5 % pendapatan responden berkisar Rp 5.000.000 sampai Rp 7.500.000 per bulan. Apabila terjadi peningkatan pendapatan pada masyarakat, maka akan menyebabkan peningkatan pengeluaran yang dialokasikan untuk pangan. Pendapatan keluarga biasanya terkait dengan daya beli keluarga terhadap sumber-sumber zat gizi keluarga. Masyarakat dengan pendapatan rendah cenderung sulit untuk memenuhi kebutuhan gizinya.
Gambar 8 Distribusi Jumlah Pendapatan Responden per bulan
Tingkat pendapatan juga berpengaruh pada status gizi ibu. Jika pendapatan berubah secara langsung akan mempengaruhi konsumsi pangan keluarga. Hal ini dibenarkan oleh Inayah (2007) yang juga menyatakan bahwa meningkatnya pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas pangan yang dibeli.
Pengeluaran keluarga dikelompokkan atas dua bagian, yaitu pengeluaran pangan dan pengeluaran non pangan. Pengeluaran untuk pangan merupakan hal yang dapat menggambarkan kondisi ekonomi suatu keluarga. Biaya untuk pangan mencakup untuk pangan pokok, lauk pauk, sayur, buah, susu, minyak goreng, dan jajanan keluarga. Pengeluaran pangan dalam keluarga biasanya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Besar pengeluaran responden terbagi menjadi dua kategori yaitu < Rp 2.000.000 dan > Rp 2.000.000. Pengeluaran yang paling mendominasi responden adalah ≤ Rp 2.000.000 (62.5 %). Pengeluaran pangan sangat erat kaitannya dengan pendapatan keluarga, sehingga apabila terjadi peningkatan pendapatan maka akan meningkatkan alokasi pengeluaran untuk pangan. Responden hampir mengeluarkan 50% dari pendapatannya untuk kebutuhan pangan setiap bulan. Pengeluaran pangan keluarga di daerah perkotaan menurut kelompok barang dan golongan pada tahun 2013 rata-rata 414.170 Rp./kapita/bulan (BPS 2013).
Makanan bagi ibu pasca melahirkan perlu memperhatikan kualitas dari makanan harus baik dan kuantitas makanan juga harus bergizi. Perbedaan food recall di rumah sakit dan di rumah terhadap asupan konsumsi responden dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Asupan konsumsi zat gizi responden
Variabel Lokasi Standar
AKG Rumah Sakit Rumah
Energi (kkal) 2126a 2436a 2550
Protein (g) 54a 85b 76
Lemak (g) 88a 90b 86
Karbohidrat (g) 252a 334a 354 Kalsium (mg) 904a 1121a 1300 Fosfor (mg) 750a 722a 700
Besi (mg) 23a 38b 32
Vit. A (mcg) 702a 876a 850 Vit. C (mg) 67a 102a 100 Keterangan: Tandaaa= signifikan,ab= tidak signifikan
Agar kebutuhan gizi setelah melahirkan terpenuhi, ibu diharapkan mengonsumsi makanan yang bervariasi dan bergizi lengkap, mulai dari sumber karbohidrat, lemak, protein, sayur dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral. Pada responden rata-rata konsumsi asupan gizi di rumah lebih tinggi daripada di rumah sakit. Kecukupan gizi dihitung berdasarkan AKG yang dianjurkan menurut kelompok umur. Untuk memenuhi kebutuhan gizi setelah melahirkan, ibu diharapkan mengonsumsi makanan yang bervariasi dan bergizi lengkap mulai dari sumber karbohidrat, lemak, protein, serta sayur dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral.
Energi dibutuhkan oleh ibu setelah melahirkan untuk menunjang proses pertumbuhan dan melakukan aktivitas sehari-hari. Asupan energi responden masih kurang mencukupi, nilai AKG energi yang dianjurkan untuk ibu melahirkan adalah 2550 kkal. Namun tingkat asupan konsumsi energi saat di rumah lebih tinggi daripada dirumah sakit. Hal ini dapat disebabkan beberapa faktor diantaranya, responden masih belum mempunyai keinginan makan dengan baik pasca melahirkan, responden kurang menyukai makanan yang disajikan rumah sakit. Penelitian Anwar et al. (2012) juga mengemukakan alasan pasien rumah sakit cenderung tidak menghabiskan makanan karena porsi yang terlalu banyak, tidak sesuai selera, dan makanan yang kurang berbumbu.
tempe, dan sumber kacang-kacang lainnya, sehingga asupan protein ibu per hari tercukupi.
Sumber karbohidrat yang dikonsumsi oleh responden sebagian besar adalah beras dan produk olahannya. Diantara tepung-tepungan, terigu punya kadar protein tertinggi yaitu berkisar 10-14 %, kemudian disusul oleh tepung beras yang mengandung tujuh persen protein. Protein beras bersifat lebih mudah dicerna dibandingkan protein terigu, nilai kecernaan protein tepung beras adalah 100 % (yang artinya semua protein didalam tepung beras dapat dicerna secara sempurna oleh tubuh menjadi bagian-bagian lebih sederhana untuk memudahkan proses penyerapan), sedangkan terigu hanya 90 % (Astawan 2009).
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam tubuh. Lebih dari 99% kalsium terdapat di tulang. Asupan kalsium pada responden masih kurang dari AKG yang dianjurkan sekitar 1200-1300mg/hari. Hal ini diduga ibu tidak mendapatkan cukup kalsium dari sumber makanan dan mendapatkan dari suplemen kalsium yang mudah diserap. Salah satu mineral yang kebutuhannya perlu diperhatikan adalah zat besi. Jika kekurangan zat besi pada tubuh, ibu akan mengalami anemia. ARHP (2013) mengemukakan jenis protein hewani, seperti hati sapi, merupakan sumber zat besi yang baik. Sebaiknya mengonsumsi pangan kaya akan zat besi tidak bersamaan dengan pangan yang menghambat penyerapan zat besi. Zat besi pada ASI lebih baik diserap oleh bayi dibandingkan zat besi yang berasal dari susu formula. Rata-rata asupan zat besi yang dikonsumsi oleh responden saat food recallke 1 adalah 23 mg/hari, danfood recallke 2 sebesar 38.7 mg/hari. Vitamin tidak kalah penting dari zat-zat gizi lainnya, vitamin yang perlu diperhatikan saat hamil dan setelah melahirkan diantaranya vitamin A dan C. Diperlukan vitamin C dari makanan karena tubuh tidak memiliki enzim L-gulono-α-lactone oxidase yang diperlukan untuk sintesis vitamin C (WHO 2011).
Rata-rata konsumsi vitamin A saat food recallke 1 sebesar 1168.4 IU/hari, dan food recall ke 2 sebesar 2600.8 IU/hari. Jika seorang ibu tidak dapat memenuhi kebutuhan vitamin A selama melahirkan dan masa menyusui, maka tubuh ibu akan mengambil cadangan vitamin A dalam hati (WHO 2011). Vitamin A mempunyai fungsi untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik, serta kekebalan tubuh setelah melahirkan. Suplementasi pemberian vitamin A dengan dosis 200.000 IU dalam waktu 20-30 hari setelah melahirkan memiliki dampak positif pada ibu, namun tidak berpengaruh pada bayi (Martinset al. 2010). Jenis pangan yang paling banyak dihindari oleh responden adalah ikan, padahal selain kaya akan protein yang bermutu tinggi, ikan juga mengandung sejumlah vitamin dan mineral yang berimbang. Vitamin yang banyak terdapat pada ikan adalah vitamin larut lemak yaitu vitamin A dan D (Astawan 2004).
Hubungan antara Karakteristik Responden dengan Asupan Zat Gizi
Tabel 4 Korelasi antara karakteristik responden dengan asupan zat
Usia (Tahun) 0.369 0.425 0.906 0.345 0.966
BB (kg) 0.407 0.599 0.625 0.599 0.009*
Pendidikan
0.12 0.001* 0.406 0.889 0.12
(S1 & D3)
Pekerjaan 0.204 0,673 0.542 0.74 0.374
Suku 0.33 0.001* 0.703 0.416 0.263
Urutan
Kelahiran 0.06* 0.753 0.096* 0.753 0.691
Keterangan: Tanda (*) = terdapat korelasi/signifikan. Dikatakan
signifikan jika nilai ρ < 0.01
IMT = Indeks Massa Tubuh
Energi
Proporsi kebutuhan energi pada ibu pasca melahirkan lebih besar dibandingkan saat hamil karena ibu membutuhkan banyak asupan makanan dan zat gizi saat menyusui untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Pada hasil uji analisis hubungan karakteristik responden dengan energi, hanya urutan kelahiran yang memiliki hubungan signifikan.
Asupan energi yang berkorelasi dengan urutan kelahiran (Tabel 4) dapat disebabkan oleh faktor pengetahuan atau informasi ibu yang bertambah tentang konsumsi dan asupan gizi yang dibutuhkan selama hamil dan melahirkan. Irawati (2009) menyatakan bahwa kecukupan konsumsi energi ibu menyusui dibutuhkan untuk menyediakan ASI bagi bayi, terutama pada enam bulan pertama setelah melahirkan agar status gizi ibu menyusui tetap baik.
Protein
Pada Tabel 4 hasil analisis uji hubungan karakterisik responden dengan protein, menunjukkan, pendidikan dan suku memiliki hubungan yang signifikan terhadap protein. Sedangkan untuk karakteristik responden yang lain tidak memiliki hubungan dengan jumlah konsumsi protein.
Pendidikan memiliki pengaruh terhadap makanan yang dikonsumsi ibu, semakin tinggi pendidikan dan pengetahuan, maka lebih mudah untuk menerima informasi tentang asupan dan zat gizi yang diperlukan oleh ibu setelah melahirkan, serta dapat mengambil keputusan dalam memilih pangan yang bergizi
harus sejalan dengan status gizi yang baik ataupun normal karena semakin baik pengetahuan seseorang tentang gizi maka akan semakin baik pula status gizi ibu tersebut.
Suku juga memiliki korelasi positif dengan asupan protein ibu. Biasanya suku tertentu memiliki pantangan konsumsi beberapa jenis pangan selama kehamilan dan setelah melahirkan. Suku dan lingkungan dimana ibu tersebut tinggal memiliki pengaruh yang besar terhadap apa yang akan dikonsumsi oleh ibu.
Korelasi positif menunjukkan responden yang bukan merupakan suku penduduk lokal, memiliki asupan protein yang mencukupi AKG (76 g). Hal ini diduga besarnya pengaruh lingkungan suku lokal terhadap responden, maka pantangan pangan tertentu semakin meningkat dan berakibat asupan protein kurang tercukupi.
Gambar 10 menunjukkan responden yang paling tinggi mencukupi asupan protein perhari adalah suku minang (89 g/hari), diduga karena suku minang cenderung mengonsumsi makanan dalam bentuk produk olahan daging. Responden menyatakan pengolahan makanan yang sering dilakukan suku minang dengan cara menggoreng dan membuat gulai (Fitriani 2012). Sedangkan untuk suku dayak yang merupakan suku lokal di kalimantan masih kurang asupan protein (54 g/hari). Besarnya pengaruh lingkungan suku lokal terhadap responden, menyebabkan pantangan pangan tertentu semakin meningkat, sehingga asupan gizi kurang tercukupi
Gambar 10. Jenis suku terhadap kecukupan asupan protein perhari
.
Menurut Budiyarti (2010), masyarakat suku banjar memiliki keyakinan yaitu tradisi, dan budaya berpantang makanan pada ibu setelah melahirkan, yaitu dengan tidak memakan daging, telur, ikan, dan hati yang dikhawatirkan menghambat penyembuhan luka setelah melahirkan. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang seharusnya dikonsumsi oleh ibu setelah melahirkan, yaitu asupan gizi yang cukup agar tidak berdampak buruk pada status gizi ibu.
Hasil uji hubungan asupan zat gizi dan karakteristik responden menunjukkan bahwa konsumsi lemak mempunyai hubungan yang signifikan dengan urutan kelahiran.
Asupan lemak pada ibu melahirkan rata-rata sudah mencukupi dan sesuai dengan nilai AKG. Salah satu penyebab yang berkaitan dengan hal tersebut adalah pola makan ibu yang mungkin lebih baik dari kelahiran sebelumnya, dimana banyaknya informasi maupun edukasi tentang asupan zat gizi apa saja yang perlu dipenuhi dalam masa kehamilan dan melahirkan. Namun, jika asupan lemak berlebih dapat berdampak tidak baik terhadap kesehatan ibu.
Korelasi yang positif menunjukkan semakin tinggi urutan kelahiran ibu diduga karena aktivitas fisik makin berkurang namun asupan energi yang berlebih sehingga diubah menjadi lemak, dan proses metabolisme di dalam tubuh berjalan lambat seiring bertambahnya usia.
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberikan gambaran tentang massa tubuh (otot dan lemak) yang sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak. Pada uji korelasi hubungan karakteristik responden dengan IMT, hanya berat badan (BB) yang terdapat hubungan signifikan dengan IMT.
Pada tabel hubungan karakteristik responden dengan IMT, hanya BB yang terdapat hubungan signifikan dengan IMT. Sedangkan untuk karakteristik responden yang lain tidak berhubungan dengan IMT. Berat badan responden setelah melahirkan berkisar dari 51 kg hingga 91 kg. Perubahan berat badan biasanya terjadi selama masa kehamilan dan setelah melahirkan, namun penelitian oleh Nevilleet al. (2013) dengan memberikan ASI setelah melahirkan dapat terjadi penurunan BB. Berat Badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberikan gambaran tentang massa tubuh (otot dan lemak) yang sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak.
Penilaian status gizi responden dilakukan berdasarkan IMT. Nilai IMT dibagi menjadi tiga kategori, yaitu IMT <17 masuk dalam kategori kurus, 18-25 kategori normal, 25.1-27 kategori gemuk, dan obesitas jika nilai >30 (Depkes 2010). Status gizi ibu menyusui dipengaruhi oleh pola konsumsi serta kenaikan BB selama kehamilan dan melahirkan. Baker et al. (2008) memberikan rekomendasi, ibu yang memberikan ASI pada bayi dapat mengurangi BB enam bulan setelah melahirkan.
Setelah melahirkan ibu yang memiliki kelebihan BB perlu mengurangi konsumsi pangan berkadar gula dan kalori tinggi. Jaakkola (2013) juga berpendapat adanya edukasi tentang pola makan yang baik, dapat membantu menurunkan risiko pola makan yang tidak sehat dan memilih jenis pangan yang dikonsumsi agar tidak terjadi obesitas.
Sinaga et al. (2013) juga menyatakan beberapa masyarakat yang berpendapatan dan berpendidikan tinggi cenderung tidak mengubah menu makan keluarga menjadi lebih bergizi, tetapi lebih mengalokasikan ke hal yang bersifat non pangan.
Hasil analisis uji antara asupan energi dan IMT menunjukkan tidak terdapat hubungan antara konsumsi energi dengan IMT. Efek korelasi positif antara asupan energi dan frekuensi makan terhadap IMT, dapat mengurangi BB selama 12 minggu (Huseinovicet al.2014).
Bertambahnya BB setelah melahirkan merupakan salah satu penyebab timbulnya obesitas pada wanita. Perempuan bertambah beratnya sekitar 5 kg lebih berat pada periode enam sampai 18 bulan setelah melahirkan (Lovelady et al.2006). Faktor yang mempengaruhi pertambahan BB ibu adalah keseimbangan energi yang dipengaruhi oleh asupan energi dan energi yang dikeluarkan. Untuk mencapai BB yang optimal, diperlukan konsumsi gizi yang sesuai dengan AKG yang dianjurkan dan direkomendasikan untuk memberikan ASI selama satu tahun pertama.
SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
Sebanyak 65 % responden masih mempunyai pantangan terhadap makanan pasca melahirkan dengan alasan proses penyembuhan luka setelah melahirkan akan berjalan lambat. Jenis pangan yang paling dihindari ibu pasca melahirkan adalah ikan dengan persentase 80%.
Rata-rata asupan protein pada responden sudah terpenuhi dan sesuai dengan AKG yang dianjurkan, walaupun mereka memiliki pantangan terhadap pangan hewani khususnya ikan, mereka dapat mengganti dengan sumber protein lainnya seperti susu, tempe, dan sumber kacang-kacangan lainnya.
Terdapat perbedaan yang signifikan antarafood recalldi rumah sakit dan di rumah pada asupan energi, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A dan C. Protein, lemak dan besi yang tidak memiliki perbedaan yang signifikan.
SARAN
Diharapkan adanya pemberian edukasi gizi seimbang pasca melahirkan pada ibu hamil trimester 3 agar mengetahui jenis zat gizi yang harus dipenuhi. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah meneliti kondisi sosial ekonomi masyarakat dan pengaruhnya terhadap pengetahuan ibu pada tabu jenis pangan tertentu.
Anwar I, Herianandita E, Ruslita I. 2012. Evaluasi sistem penyelenggaraan makanan lunak dan analisis sisa makanan lunak di beberapa rumah sakit di DKI Jakarta. Gizi Indon 35(2):100-101
[ARHP] Association of Reproductive Health Professionals. 2013. A Quick Reference Guide for Clinicians, Postpartum Counseling. Washington DC (Updated July 2013) no:6-7
Aritonang I. 2006. Krisis Ekonomi: Akar Masalah Gizi. Penerbit Media Pressindo.Yogyakarta
Asmawati, Rahayu I, Ulfah N. 2013. Studi Validasi Semi-Quantitatif Food frequencyQuestionnaire (FFQ) dan Recall 24 jam terhadap asupan zat gizi Makro Ibu Hamil di Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar. Fakultas Kesehatan Masyarakat Makassar. Universitas Hasanuddin
Astawan M. 2004.Ikan yang Sedap dan Bergizi. Penerbit Tiga Serangkai. Solo Astawan M. 2008. Sehat dengan Tempe, Panduan Lengkap Menjaga Kesehatan
dengan Tempe. Penerbit Dian Rakyat. Jakarta
Astawan M. 2009. Ikan gabus dibutuhkan pasca operasi. http://cyberman.cbn.net.id[2 Febuari 2016]
Astawan, M. 2009. Panduan Karbohidrat Terlengkap. Penerbit Dian Rakyat. Jakarta
Ausa ES, Jafar N, Indriasari R. 2013. Hubungan pola makan dan status sosial ekonomi dengan kejadian KEK pada ibu hamil di kabupaten Gowa tahun 2013. [tesis]. Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin. Makassar
Baker JL, Gamborg M, Heitmann BL, Lissner L, Sorensen TIA, Rasmussen KM. 2008. Breastfeeding reduces postpartum weight retention. Am J Clin Nutr 88 (6): 1543-1551 DOI 10.3945/ajcn.2008.26379
Barennes H, Simmala C, Odermatt P, Thaybouavone T, Valle J, Martinez BU, Newton P, Strobel M. 2009. Postpartum traditions and nutrition practices among urban Lao women and their infants in Vientiane, Lao PDR. Eur J Clin Nutr 63(3): 322-331 DOI 10.1038/sj.ejcn.1602928
Betoko A, Charles MA, Hankard R, Forhan A, Bonet M, Cubizolles MJS. 2013. Infant feeding patterns over the fisrt year of life: Influence of family characteristics. Eur J Clin Nutr. 67(6): 631-7. DOI 10.1038/ejcn.2012.200
[BPS]. Badan Pusat Statistik Nasional. 2013. Rata-rata pengeluaran perkapita sebulan di daerah perkotaan menurut kelompok barang dan golongan pengeluaran per kapita sebulan tahun 2013. Jakarta.
Chien YC, Huang YJ, Hsu CS, Chao JCJ, Liu JF. 2009. Maternal characteristics after consumption of an alcoholic soup during the postpartum ‘doing the month’ ritual. Public Health Nutr 12(3):382-8 DOI 10.1017/S1368980008002152
[DEPKES] Departemen Kesehatan. 2006. Glosarium Data dan Informasi Kesehatan. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Depkes RI
[DEPKES] Departemen Kesehatan. 2010. Karakteristik Berat Badan dengan IMT Indonesia. Jakarta:Depkes RI
Dhuha IA, Aminuddin S, Sitti N. 2012. Edukasi gizi terhadap pola konsumsi ibu hamil anemia dalam upaya perbaikan kadar hemoglobin di puskesmas Sudiang Raya Makassar. Media Gizi Masyarakat Indonesia. 2(1): 17-21
Durham HA, Lovelady CA, Rebecca J, Katrina M. 2011.Comparison of dietary intake of overweight postpartum mothers practicing breastfeeding or formula feeding. J Am Diet Assoc. 111(1):67-74. DOI 10.1016/j.jada.2010.10.001
Dopi ERB. 2011. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia ibu hamil trimester III di puskesmas Puweri Kabupaten Sumba Barat. [tesis].Universitas Muhammadiyah Semarang. Semarang
Elneim EAA. 2014. Dietary habits during the postpartum period among a sample lactating women in Sudan. IOSR Journal of Nursing and Health Science. 3(1):1-6
Erna SA, Nurhaedar J, Rahayu I. 2013. Hubungan pola makan dan status sosial ekonomi dengan kejadian KEK pada ibu hamil di kabupaten Gowa tahun 2013. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin. Makassar
Falciglia G, Piazza J, Ritcher E, Reinerman C, Lee SY. Nutrition education for postpartum women. Prim Care Community Health. 5(4): 275-278 DOI: 10.1177/2150131914528515
Fatimah S, Hadju V, Bahar B, Abdullah Z. 2011. Konsumsi dan kadar hemoglobinpada ibu hamil di kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Makara Kesehatan 15(1): 31-36.
Fitriani S. 2005. Gambaran perilaku ibu hamil berpantang makanan berdasarkan karakteristik ibu di Puskesmas Gondong Rejo Blitar. [tesis]. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok
Ernawati F, Rosmalina Y, Permanasari Y. 2013. Pengaruh asupan protein ibu hamil dan panjang badan bayi lahir terhadap kejadian stunting pada anak usia 12 bulan di kabupaten Bogor. Gizi dan Makanan 36(1):1-11.
Inayah HK. 2007. Pengetahuan lokal ibu hamil dan nifas tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan, dan masa nifas di Kota Banjarmasin. http://118.98.213.22/aridataweb/how/k/kesehatan/12status gizi ibu nifas.pdf[21 April 2014]
Irawati A. 2009. Faktor determinan risiko kurang energi kronis (KEK) pada ibu menyusui di Indonesia. Gizi dan Makanan PGM. 32(2): 82-93.
Jaakkola J, Hakala P, Isolauri E, Poussa T, Laitinen K. 2013. Eating behavior influences diet, weight, and central obesity women after pregnancy. Nutrition 29(10):1209-13 DOI:10.1016/j.nut.2013.03.008
Karima K, Achadi EL. 2012. Status gizi ibu dan berat badan lahir bayi. Kesehatan Masyarakat Nasional. 7(3): 111-118
Kristiyanasari W. 2010.Gizi Ibu Hamil. Yogyakarta : Nuha Medika
Lovelady CA, Kimberly G, Stephenson KG, Kuppler KM, Williams JP. 2006. The effects of dieting on food and nutrient intake of lactating women. J Am Diet Assoc. 106(6):908-912 DOI:10.1016/j.jada 2006.03.007
Martins TM, Ferraz IS, Daneluzzi JC, Martinelli CE, Ciampo LAD, Ricco RG. 2010. Impact of maternal vitamin A supplementation on the mother infant pair in Brazil. Eur J Clin Nutr. 64(11):1302-1307. DOI: 10.1038/ejcn.2010.165
Montgomery KS, Best M, Aniello TB, Phillips JD, Flanigan EH. 2013. Postpartum weight loss weight struggles, eating, exercise, and breastfeeding. J Holist Nurs. 31(2): 129-138 DOI: 10.1177/0898010112464120
Mudjajanto ES, Sukandar D. 2007. Food consumption and nutritional status of breastfeeding mothers and infants. Gizi dan Pangan 2(2):13-25
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metode Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta
Neville CE, Mckinley MC, Holmes VA, Spence D, Woodside JV. 2013. The relationship between breastfeeding and postpartum weight change a systematic review and critical evaluation. Int J Obes. 38(4):577-590. DOI:10.1038
Puji AE, Satriani S, Nadimin, Fadliyah F. 2010. Hubungan pengetahuan ibu dan pola konsumsi dengan kejadian anemia gizi pada ibu hamil di Puskesmas Kassi-Kassi. Gizi Pangan 10(2): 50-51.
Rao CR, Dhanaya SM, Ashok K, Niroop SB. 2014. Assesment of cultural beliefs and practices during the postnatal period in a coastal town of South India–
Rusli AR, Meiyuntariningsih T, Warni WE.2011. Perbedaan depresi pasca melahirkan pada ibu primapara ditinjau dari usia ibu hamil. INSAN 13(1): 21-31
[SDKI] Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. 2013. Angka Kematian Ibu di Indonesia. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Jakarta
Sinaga RJR, Lubis SN, Darus MB. 2013. Kajian faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat terhadap ketahanan pangan rumah tangga di Medan. Social Economic of Agriculture and Agribusiness 2(5): 6-7
Sukandar D. 2007. Makanan tabu di Barito Kuala Kalimantan Selatan. Gizi Pangan 2(2): 44-48
Supariasa NDI, Bakri B, Fajar I. 2008.Penilaian Status Gizi. Jakarta:EGC
Widen EM, Gallagher D. 2014. Body composition changes in pregnancy: measurement, predictors and outcomes. Eur J Clin Nutr 68(6):643-652 DOI 10.1038
[WHO] World Health Organization. 2011. Guideline: Vitamin A supplementation in postpartum women. Oktober 2011
Yani IR, Dwiyanti D, Novelasari. 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu laktasi dalam memberikan ASI di 6 kabupaten/kota di provinsi Sumatera Barat. Gizi dan Makanan PGM 32(2): 101-111
Yuli K. 2008. Pendidikan dan pengetahuan gizi ibu hamil. Informasi Kesehatan 8(1): 1-9
Lampiran 1.
Formulir Kuisioner
Nama responden :Alamat :
Tanggal wawancara :
Kode responden :
1. Profil Keluarga No
.
Anggota Umur Pendidikan Pekerjaan Pendapatan
- Pendapatan keluarga (Gaji,dll) : Rp - Pengeluaran untuk pangan 1 bulan : Rp
2. Faktor tabu dalam konsumsi pangan
- Apakah ibu mempunyai pantangan terhadap pangan tertentu ?
a. Ya b. Tidak
- Jika ya, apa saja pantangan pangan yang dimakan beserta alasannya ?
No Pangan / Makanan Alasan
- Apakah ibu mempunyai masalah dalam keluarnya ASI ?
a. Ya b. Tidak
- Apakah ibu mengonsumsi food supplement ?
Lampiran 2
FORMULIR
food recall
24 JAM
No. Responden :Nama :
Umur :
Tinggi Badan : Berat Badan :
Hari ke: Waktu
makan
Nama makanan
Bahan ZatGizi
Bahan Penyusun
Banyaknya Energi (Kal)
Protein (g)
Lemak (g)
Vitamin (mg/100g)
URT Gram
Pagi
Antara Pagi dan Siang
Siang
Antara Siang dan Sore
Malam
Jumlah
Keterangan:
Lampiran 3.
Data berat badan bayi
BB Bayi Frekuensi (orang)
Persentase (%)
2300-2750 6 15
2800-3050 15 37.5