• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Jejaring Pocket Park Sebagai Ruang Resapan Air Hujan di Kota Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Desain Jejaring Pocket Park Sebagai Ruang Resapan Air Hujan di Kota Bogor"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

DESAIN JEJARING

POCKET PARK

SEBAGAI RUANG

RESAPAN AIR HUJAN DI KOTA BOGOR

ZUHAD SYAFRIL HUDA

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Desain Jejaring Pocket Park Sebagai Ruang Resapan Air Hujan di Kota Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2014

Zuhad Syafril Huda

(4)

ABSTRAK

ZUHAD SYAFRIL HUDA. Desain Jejaring Pocket Park sebagai Ruang Resapan Air Hujan di Kota Bogor. Dibimbing oleh INDUNG SITTI FATIMAH.

Kota Bogor sebagai kota satelit yang memiliki potensi curah hujan mencapai 3 000 – 4 000 mm/tahun dapat mengembangkan jejaring pocket park

melalui metode transek untuk meningkatkan ketersediaan ruang interaksi masyarakat dan resapan air hujan. Terdapat 331 titik potensial hasil pengembangan jejaring tipe radial dan mampu menambah kebutuhan luas RTH di Kota Bogor sebesar 1.41 – 5.65% (merujuk pada standar luas pocket park menurut Visalia City Council sebesar 1 012 – 4 046 m2). Hasil jejaring diklasifikasikan berdasarkan fungsi kawasan sekitarnya untuk menciptakan taman yang adaptif. Proses desain berfokus pada penyediaan ruang interaksi sosial pasif dengan aplikasi prinsip rain garden sebagai penyedia ruang tangkapan air hujan. Hasil desain pada 4 sampel berbeda tipe (komersial, industri, permukiman, dan bangunan pemerintahan) mampu menyediakan tampungan air hujan dengan kapasitas 342.2 – 706.6 m3. Aplikasinya pada 331 titik mampu menyediakan tampungan air hujan dan limpasan di Kota Bogor sebesar 113 268.2 – 233 818.4 m3.

Kata kunci: jejaring hijau, pocket park, tangkapan air

ABSTRACT

ZUHAD SYAFRIL HUDA. Design of Pocket Park Network as Rain Infiltration Area in Bogor. Supervised by INDUNG SITTI FATIMAH.

Bogor as satelite city which has potential rain fall rates up to 3 000 – 4 000 mm/year may develop pocket park network through transect method to increase availability of society interaction space and rain infiltration area. Contained 331 potential spots as result of radial type network and able to increase green open space needed in Bogor up to 1.41 – 5.65% (based on Visalia City Council pocket park development standard size 1 012 – 4 046 m2). Pocket park network result shall be classtificated by nearest regional function to afford adaptable park. Designing proceed focused to provide pasif interactional space with aplicate of rain garden principle as rain infiltration area. Result of 4 different sample types (commercial, industrial, residential, and gevermential building) able to provide rain water reservoir with capability rates up to 342.2 – 706.4 m3. The practice toward 331 spots may provide rain water and run off reservoir in Bogor up to 113 268.2 – 233 818.4 m3.

(5)

DESAIN JEJARING

POCKET PARK

SEBAGAI RUANG

RESAPAN AIR HUJAN DI KOTA BOGOR

ZUHAD SYAFRIL HUDA

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada

Departemen Arsitektur Lanskap

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)

NIM : A44090030

Disetujui oleh

Dr. Ir. Indung Sitti Fatimah, M.Si Pembimbing

Diketahui oleh

Dr. Ir. Bambang Sulistyantara, M.Agr Ketua Departemen Arsitektur Lanskap

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala rahmat dan pertolongan-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Penelitian yang berjudul “Desain Jejaring Pocket Park Sebagai Ruang Resapan

Air Hujan di Kota Bogor” merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

di Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Ucapan terima kasih penulis persembahkan kepada:

1. Ayah, Ibu dan keluarga yang penulis banggakan atas dukungan moril, nasihat, doa, kasih sayang dan pengorbanannya yang tidak terhingga;

2. Dr. Ir. Indung Sitti Fatimah, M.Si selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis selama penyusunan skripsi ini, Dr. Ir. Nizar Nasrullah, M.Agr selaku pembimbing akademik yang telah memberikan arahan selama masa perkuliahan;

3. teman-teman ARL 46, Nindy Aslinda, Yovita Sari atas pengalaman berharga selama mengikuti perkuliahan serta Nuriska Noviawanti dan Hendriyadi yang telah membantu penulis dalam melaksanakan tahap survei;

4. semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas doa dan dukungan kepada penulis baik selama studi dan pengerjaan penelitian.

Dalam menjalani kehidupan dibutuhkan tekad, semangat dan pengorbanan untuk mencapai impian. Berbagai kesulitan yang silih berganti akan dapat diatasi selama tidak putus asa dan berserah diri kepada-Nya. Pada masanya, semua jerih payah akan berbuah pengalaman manis dan kebijaksanaan. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat.

Bogor, Juni 2014

(9)

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN xi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

Kerangka Pikir 2

TINJAUAN PUSTAKA 3

Lanskap Kota 3

Ruang Terbuka Hijau Perkotaan 4

Pocket Park 5

Desain Tangkapan Air 6

Perancangan Lanskap 9

METODOLOGI 10

Lokasi dan Waktu Penelitian 10

Alat dan Bahan 11

Metode 11

Batasan Penelitian 16

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 16

Letak Geografis dan Administratif 16

Topografi dan Kemiringan Lereng 16

Klimatologi 16

Geologi dan Hidrologi 17

Kawasan Resapan Air di Kota Bogor 18

Pola Penggunaan Lahan di Kota Bogor 19

Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bogor 20

Rencana Pengembangan Kota Bogor 21

HASIL DAN PEMBAHASAN 23

(10)

Arahan Titik Potensial Jejaring Pocket Park 25

Analisis Ruang Potensial Untuk Pocket Park 28

Analisis Tapak Pocket Park 37

Analisis Sirkulasi 37

Analisis Ruang 38

Analisis Vegetasi 39

Analisis Aliran Permukaan 40

Konsep Pocket Park 46

Konsep Dasar 46

Konsep Desain 47

Konsep Pengembangan 48

Konsep Ruang 48

Konsep Sirkulasi 49

Konsep Hidrologi 50

Desain Pocket Park 53

Desain Sampel A 53

Desain Sampel B 54

Desain Sampel C 55

Desain Sampel D 57

Proyeksi Nilai Ruang Resapan pada Jejaring 67

SIMPULAN DAN SARAN 67

Simpulan 67

Saran 68

DAFTAR PUSTAKA 68

LAMPIRAN 69

RIWAYAT HIDUP 74

DAFTAR TABEL

(11)

8 Klasifikasi titik pocket park 26 9 Lokasi titik sampel pocket park 29 10 Perbandingan kebutuhan RTH dan eksistingnya 31 11 Daftar vegetasi eksisting 40 12 Klasifikasi koefisien run-off berdasarkan land use 41 13 Perhitungan kapasitas tampung air sampel A 54 14 Perhitungan kapasitas tampung air sampel B 55 15 Perhitungan kapasitas tampung air sampel C 57 16 Perhitungan kapasitas tampung air sampel D 58

DAFTAR GAMBAR

12 Metode pada tahap identifikasi ruang potensial 12 13 Metode pada tahap klasifikasi ruang potensial 13 14 Aplikasi metode grid pada titik sampel 14 15 Metode pada tahap perancangan 14 16 Peta administasi Kota Bogor 17 17 Persentasi luas kemiringan lereng di Kota Bogor 18 18 Luas kawasan resapan air di Kota Bogor 19 19 Perbandingan pola penggunaan lahan di Kota Bogor pada tahun

2007 dan 2012 20

20 Pengaruh fungsi penutupan lahan terhadap siklus hidrologi 24 21 Peta rencana jejaring pocket park 27 22 Peta hasil klasifikasi jejaring pocket park 28 23 Perbandingan grid RTRW terhadap grid eksisting pada petak sampel

(12)

30 Dinding sebagai background untuk fokus visual 38

31 Intersection sight triangle 39

32 Peta analisis tapak sampel A 42 33 Peta analisis tapak sampel B 43 34 Peta analisis tapak sampel C 44 35 Peta analisis tapak sampel D 45

36 Oasis 46

37 Badan air sebagai daya tarik visual 47 38 Variasi material grate (a) logam, (b) fiberglass, dan (c) concrete 48

39 Konsep desain 48

40 Hubungan antar ruang 49

41 Konsep sirkulasi 50

42 Konsep hidrologi 51

43 Fasilitas hidrologi (a) landscape swales, (b) saluran drainase

(c) grated retention well 51

44 Peta rencana blok 52

45 Amphitheatre dan water feature pada desain sampel A 53 46 Area duduk pada desain sampel A 54

47 Shelter pada desain sampel B 55

48 Area duduk dengan watercascade pada desain sampel B 55

49 Playground pada desain sampel C 56

50 Shelter pada desin sampel C 56

51 Landscape swales pada desain sampel D 57

(13)
(14)
(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kota Bogor merupakan salah satu kota strategis yang berada ± 56 km dari Kota Jakarta. Statusnya sebagai kota satelit membuat Kota Bogor mengalami perkembangan yang pesat, terlebih pada aspek demografi. Pada periode 2000 – 2010, tercatat bahwa jumlah penduduk di Kota Bogor mencapai 949 066 jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 2.39% (Badan Pusat Statistik 2010). Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi penduduk tersebut, tuntutan terhadap kebutuhan area terbangun semakin mengalami peningkatan. Dampaknya adalah terjadinya pergeseran fungsi tata guna lahan yang umumnya cenderung mengorbankan keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bogor. Pada periode 1972 – 2011, Kota Bogor telah mengalami peningkatan luas area terbangun hingga 30% dan mengakibatkan penurunan luas RTH pohon berdiameter > 4m sebesar 17% dari 31% (1997) menjadi 14% (2011) (Fatimah 2011). Padahal, berdasarkan UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang Pada Wilayah Perkotaan, standar minimum proporsi RTH pada suatu kota adalah 30% yang diaplikasikan dalam wujud 20% RTH publik dan 10% RTH privat. Penurunan jumlah RTH hingga di bawah standar 30% tersebut tentunya memberikan dampak yang buruk, terlebih pada keseimbangan ekologi kota.

RTH merupakan bagian kawasan/ruang perkotaan yang ditumbuhi tanaman, baik yang tumbuh secara alami maupun yang dibudidayakan, guna peningkatan kualitas dan kapasitas lingkungan perkotaan. Sebagai kota dengan intensitas curah hujan mencapai 3 000 – 4 000 mm/tahun yang direncanakan menjadi kota dalam taman dengan isu pembangunan kota berkonsep greencity, Kota Bogor memerlukan ketersediaan RTH dalam berbagai variasi bentuk dan fungsi dalam jumlah yang cukup serta tersebar merata diseluruh Kota Bogor. Berdasarkan Inmendagri No. 14 tahun 1988, RTH yang dibangun di perkotaan memiliki berbagai fungsi dasar, yaitu: 1) fungsi bio-ekologis (fisik), 2) fungsi sosial, ekonomi, dan budaya, 3) ekosistem perkotaan, dan 4) fungsi estetis. Hal tersebut membuat keberadaan RTH memiliki peran tidak hanya menyediakan ruang resapan air guna mengoptimalkan potensi curah hujan di Kota Bogor dan menjaga keseimbangan sistem hidroorologisnya, tetapi juga sebagai fasilitas ruang interaksi publik dan bagian dari estetika kota.

Aplikasi RTH dalam wujud taman pada perkotaan sangat beragam, salah satunya adalah pocket park. Pocket park merupakan suatu bentuk ruang terbuka berskala kecil di kawasan perkotaan (Blake 2009) yang menjadi tempat bagi masyarakat untuk bersantai, bermain (Fujimoto 1991), berkumpul, bertukar informasi dan menyelenggarakan pertunjukan (Iwashita 1991). Pocket park

umumnya didesain dengan memanfaatkan ruang terbatas di tengah-tengah kawasan terbangun untuk menciptakan kenyamanan di sekitarnya. Kemampuan

(16)

Tujuan Penelitian

Kegiatan penelitian ini memiliki beberapa tujuan, yaitu:

1. Identifikasi ruang potensial pada area publik untuk pengembangan jejaring

pocket park di Kota Bogor;

2. Mendesain beberapa sampel tapak pocket park di Kota Bogor sebagai ruang resapan air hujan; dan

3. Menghitung nilai manfaat dari produk desain yang terbentuk terhadap ekologi lingkungan.

Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari kegiatan penelitian ini adalah:

1. Sebagai bahan rujukan bagi Pemerintah Kota Bogor beserta pihak-pihak yang terkait dalam mengembangkan jejaring RTH taman di Kota Bogor;

2. Menjadi bahan rekomendasi desain pocket park yang sesuai dengan local micro-climate di Kota Bogor.

Kerangka Pikir

Kota Bogor sebagai kota hujan membutuhkan ketersediaan RTH yang cukup untuk meminimalisasi dampak pembangunan akibat pertambahan penduduk. Pengembangan RTH dalam bentuk pocket park pada kawasan terbangun tidak hanya dapat meningkatkan daya dukung lingkungan sekitar kawasan tersebut, tetapi juga mampu menyediakan ruang rekreasi bagi masyarakat dan menambah ketersediaan area tangkapan dan resapan air hujan.

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

Lanskap Kota

Bumi pada dasarnya merupakan suatu kesatuan unit yang tersusun dari berbagai macam tipe dan karakter lanskap. Pengertian lanskap sendiri menurut Simond dan Starke (2006) adalah wajah, karakter lahan atau karakter tapak yang merupakan bagian dari muka bumi dengan segala jenis sifatnya beserta kehidupan di dalamnya, baik yang bersifat alami maupun buatan, manusia beserta makhluk hidup lainnya, sejauh mata memandang, sejauh indra dapat menangkap, dan sejauh imajinasi dapat membayangkan. Lanskap juga dapat diartikan sebagai suatu keseluruhan elemen fisik secara kompleks di suatu area atau daerah (Eckbo 1964) dan merupakan hasil interaksi manusia dengan alam, baik secara makhluk individu maupun sosial, sebagai satu kesatuan proses (Sari 2010).

Kota merupakan salah satu wujud dari suatu lanskap. Kota menurut Foresman et al (1997) dalam Fatimah (2011) merupakan suatu ekosistem yang terbentuk oleh beragam jenis penutupan lahan, vegetasi, dan berbagai tipe penggunaan lahan dari suatu bentangan lanskap yang sangat kompleks. Kota juga merupakan tempat terkonsetrasinya penduduk dan aktivitas ekonomi yang pada dasarnya berupa suatu sistem dinamis dan sewaktu-waktu tidak dapat diatur serta susah dikontrol (Irwan 1994).

Dalam PP No. 34 tahun 2009 dijelaskan bahwa suatu kota berfungsi untuk menyediakan tempat bagi permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Berdasarkan hal tersebutlah, lanskap perkotaan umumnya dicirikan dengan tingginya kepadatan ruang terbangun, dengan tingkat kerapatan yang semakin padat ke arah pusat kota (Eckbo 1964).

Tingginya tingkat kepadatan ruang terbangun terjadi karena tuntutan manusia terhadap sarana dan prasarana penunjang aktivitas mereka yang umumnya bergerak dibidang bukan pertanian. Menurut Putri (2006), proses tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana bagi manusia dan dapat dipandang sebagai konsekuensi logis dari adanya pertumbuhan dan transformasi struktur sosial ekonomi masyarakat yang sedang berkembang. Dengan kata lain, perkembangan pembangunan suatu kota merupakan dampak dari proses urbanisasi masyarakat di dalam kota itu sendiri.

(18)

Ruang Terbuka Hijau Perkotaan

Menurut Budiharjo (1999) dalam Soetrisno (2010), ruang terbuka (open space) adalah bagian dari ruang yang memiliki definisi sebagai wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari masyarakat di suatu lingkungan yang tidak tertutup dalam bentuk fisik, dan berlokasi strategis pada kawasan berintensitas tinggi (Nazarudin 1994 dalam Haryanti 2008). Keberadaan ruang terbuka di perkotaan umumnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu: Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Ruang Terbuka Hijau (RTH) digambarkan sebagai ruang yang identik dengan pengisian berbagai macam jenis dan strata vegetasi dengan fokus utama untuk mempertahankan kestabilan kondisi ekologis perkotaan. Menurut Nurisjah (1996) dalam Fatimah (2011), RTH suatu kota adalah bagian kawasan/ruang perkotaan yang ditumbuhi tanaman, baik yang tumbuh alami maupun yang dibudidayakan, guna meningkatkan kualitas dan kapasitas lingkungan perkotaan. Wujud aplikasi RTH secara umum dapat berupa lahan pertanian, pertamanan, perkebunan dan sebagainya.

Adapun alasan dibangunnya RTH di suatu kota adalah untuk memenuhi berbagai fungsi dasar yang menurut Dirjen Penataan Ruang (2006) dibedakan menjadi:

1. Fungsi bio-ekologis (fisik), yang merupakan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota), pengatur iklim mikro, agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung dengan lancar, sebagai peneduh, produsen oksigen, penyerap (pengolah) polutan media udara, air dan tanah, serta penahan angin;

2. Fungsi sosial-ekonomi (produktif), dan budaya yang mampu menggambarkan ekspresi budaya lokal, menjadi media komunikasi warga kota, tempat rekreasi, pendidikan, dan penelitian;

3. Fungsi estetis, meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro (halaman rumah, lingkungan permukiman) hingga skala makro (lanskap kota secara keseluruhan). Mampu menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota. juga bisa berekreasi secara aktif maupun pasif seperti:bermain, berolahraga, atau kegiatan sosialisasi lain, yang sekaligus menghasilkan keseimbangan kehidupan fisik dan psikis. Selain itu, dapat tercipta suasana serasi, dan seimbang antara berbagai bangunan gedung, infrastruktur jalan dengan pepohonan hutan kota, taman kota, taman kota pertanian dan perhutanan, taman gedung, jalur hijau jalan, bantaran rel kereta api, serta jalur biru bantaran kali;

4. Ekosistem perkotaan : produsen oksigen, tanaman berbunga, berbuah dan berdaun indah, serta bisa menjadi bagian dari usaha pertanian, kehutanan, dan lain-lain.

Dalam mengaplikasikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada suatu kota, terdapat beberapa perhitungan sesuai pernyataan Dirjen Penataan Ruang tahun 2006, yaitu:

1. Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Berdasarkan Luas Wilayah

(19)

keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.

2. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk

Penentuan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk dilakukan dengan cara mengalikan jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku. Departemen Pekerjaan Umum, menetapkan standar 3 – 6 m2/kapita atau 100 orang/hektar, sedangkan kebutuhan RTH untuk kota sebesar 2 – 3 m2/kapita.

3. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu

Pada kategori ini, RTH berfungsi sebagai perlindungan atau pengamanan sarana dan prasarana, seperti perlindungan kelestarian sumber daya alam, pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak terganggu. RTH dalam kategori ini umumnya berupa: jalur hijau sempadan rel kereta api, jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi, RTH perlindungan sempadan sungai, pantai, dan RTH pengaman sumber daya air baku.

Selain itu, perhitungan luas RTH suatu kota juga dapat dilakukan dengan pendekatan lain berdasarkan koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisein dasar hijau (KDH). Nilai KDB = 60 dan KDH = 40 berarti maksimal luas lahan yang dibangun sebesar 60%, sedangkan sisanya (40%) berupa tutupan vegetasi. Besarnya nilai proporsi KDB dan KDH tersebut diserahkan kepada kebijakan pemerintah setempat.

Pocket Park

Pocket park merupakan suatu bentuk ruang terbuka berskala kecil di kawasan perkotaan (Blake 2009) yang menjadi tempat bagi masyarakat untuk bersantai, bermain (Fujimoto 1991), berkumpul, bertukar informasi dan menyelenggarakan pertunjukan (Iwashita 1991). Pocket park sebagai ruang publik dapat memberikan beberapa manfaat, seperti 1) kesejahteraan masyarakat, 2) peningkatan visual, 3) peningkatan kualitas lingkungan, 4) pengembangan ekonomi, dan 5) peningkatan kesan (Carr et al 1992 dalam Haryanti 2008). Secara spesifik kriteria pocket park berdasarkan Visalia City Council (2005) adalah:

 Memiliki luas 1 012 – 4 046 m2;

 Menghadap lebih dari 1 badan jalan yang secara visual mudah ditemukan;  Berada di depan atau samping dari pusat kawasan permukiman/campuran;  Aksesibilitas 5 – 10 menit oleh pejalan kaki;

 Menempati area strategis yang unik seperti area yang menyertakan jalur jalan atau kereta api yang tidak berfungsi atau pemotongan jalur jalan; dan

 Radius pelayanan ¼ mil

(20)

kualitas visual dan ekologi kota (Gambar 2). Iwashita (1991) mengkategorikan pola jejaring pocket park yang umum ditemukan diperkotaan (Gambar 3), yaitu:

1. Tipe grid (mesh type), sering ditemukan pada kota-kota tua seperti Kyoto, pusat Kota New York, dan kota-kota lain yang dirancang demikian. Pocket park tipe ini umumnya berada pada kaki gedung-gedung pencakar langit dengan pond, fountain, sclupture, dan vegetasi yang ditata pada ruang yang terbatas;

2. Tipe linear (necklance type), merupakan sekumpulan pocket park yang dihubungkan pada satu garis. Tipe ini merupakan yang paling umum temukan dan memungkinkan masyarakat membaur dengan lingkungan alami, seperti pengembangan pocket park sepanjang bantaran sungai. Selain itu, tipe ini juga mempermudah pergerakan antar pocket park; dan

3. Tipe radial, merupakan tipe yang sering dijumpai pada kota-kota di Italia. Ruang pocket park yang terbentuk menyebar sepanjang jalan berpola radial memanjang dari plaza besar yang berada di pusat kota. Ruang yang terbentuk pada tipe ini kadang berukuran kecil dan besar sehingga membentuk irama kuat-lemah.

Gambar 2 Pocket park sebagai jejaring (sumber: Iwashita 1991)

Gambar 3 Tipe jejaring pocket park

(21)

Desain Tangkapan Air

Dampak urbanisasi yang didominansi oleh penutupan tanah oleh lapisan kedap air membuat keberadaan ruang resapan air semakin berkurang. Salah satu upaya mengurangi dampak tersebut, Dunnett dan Clayden (2007) mengungkapkan perlunya pendekatan pembangunan yang mampu mengembalikan siklus alami air dan melestarikan keberadaan air pada lanskap dan hal tersebut merupakan bentuk kerjasama dengan alam dari pada melawannya. Bentuk pendekatan tersebut dikenal dengan istilah rain garden. Terdapat 2 prinsip utama dalam pendekatan

rain garden, yaitu capturing water run off (penangkapan air limpasan) dan

disconecting downpipes (pemutusan aliran air ke saluran pembuangan). Konsep utama pendekatan rain garden adalah meningkatkan peluang tangkapan air hujan untuk diresapkan ke dalam tanah atau di simpan untuk dipergunakan kembali, sehingga meminimalisasi debit aliran permukaan yang terbuang pada saluran drainase.

Aplikasi prinsip capturing water run off pada taman adalah dengan penggunaan bioretention dan porous paved. Coffman dan Winogradoff (2002) dalam Dunnett dan Clayden (2009) menjelaskan bahwa aplikasi bioretention

mampu menyediakan kesempatan sebagai resapan run off, filtrasi, penyimpanan dan serapan bagi tanaman (Gambar 4). Sedangkan, porous paved berperan dalam meningkatkan permeabilitas air untuk meresap ke dalam tanah (Gambar 5).

Gambar 4 Bioretention

(sumber: Dunnett dan Clayden 2007)

(22)

Gambar 5 Porous paved

(sumber: Dunnet dan Clayden 2007)

(a) (b)

Gambar 6 Aplikasi (a) rain butt dan rain barrel, (b) saluran drainase dan

bioretention

(sumber: Dunnet dan Clayden 2007)

(23)

Gambar 7 Aplikasi rain garden pada lanskap rumah (sumber: Dunnet dan Clayden 2007)

Gambar 8 Aplikasi rain garden pada lanskap kota (sumber: Dunnet dan Clayden 2007)

Perancangan Lanskap

Perancangan lanskap adalah proses penciptaan produk dalam bidang Arsitektur Lanskap dan merupakan pengembangan lebih lanjut dari perencanaan lanskap. Produk tersebut umumnya berupa gambar-gambar kerja yang menginformasikan wujud suatu rencana lanskap. Simond dan Starke (2006) menjelaskan bahwa perancangan lanskap merupakan sebuah proses kreatif yang mengintegrasikan aspek teknologi, sosial, ekonomi, dan biologi serta efek psikologis dan fisik yang ditimbulkan dari bentuk, bahan, warna, dan ruang hasil dari pemikiran yang saling berhubungan.

Kegiatan perencanaan dan perancangan meliputi serangkaian proses yang bertahap. Simond dan Starke (2006) mengemukakan beberapa tahapan dalam perencanaan dan perancangan, yaitu 1) Commisioning, 2) Inventory, 3) Analysis-Synthesis, 4) Concept-Planning, 5) Design, dan 6) Construction. Commisioning

merupakan tahap ketika klien menyatakan keinginan/kebutuhannya serta membuat definisi pelayanan dalam suatu perjanjian kerja. Inventory merupakan tahap pengumpulan data-data fisik maupun sosial yang terkait pada tapak.

Analysis-Synthesis merupakan tahap perumusan masalah pada tapak dan pengembangan alternatif-alternatif solusi untuk penanganinya. Concept-Planning

merupakan tahap menghubungkan semua alternatif-alternatif yang dihasilkan dan merangkumnya dalam suatu kesatuan fungsi yang akan diaplikasikan pada tapak.

(24)

elemen-elemen lanskap yang akan dihadirkan pada tapak. Construction adalah tahap pengerjaan dan pelaksanaan pembangunan suatu lanskap. Kegunaan dari proses perancangan menurut Booth (1983), yaitu:

 Menyajikan suatu cara kerja yang teratur dalam menciptakan suatu rancangan sebagai penyelesaian masalah;

 Membantu memastikan bahwa cara penyelesaian/pemecahan masalah yang terus berubah terhadap waktu dapat disesuaikan dengan keadaan rancangan (tapak, kebutuhan pengguna, biaya, dan sebagaianya);

 Membantu menentukan penggunaan lahan terbaik yang dapat dilihat dari alternatif-alternatif solusi pada tahap sebelumnya;

 Menjadi dasar bagi perancang dalam menjelaskan dan mempertahankan pendapatnya kepada pengguna tentang penyelesaian akhir terbaik.

Perancangan umumnya memiliki beberapa elemen yang terdiri atas titik, garis, bentuk, warna, tekstur, aroma, motif, gaya, ragam, suara, ruang, dan waktu (Sulistyantara 2006). Pengaplikasian dan pengorganisasian elemen-elemen tersebut pada lanskap akan memberikan ekspresi yang berbeda-beda dan dapat mempengaruhi psikologis manusia. Simond dan Starke (2006) juga menjelaskan bahwa dalam penerapan semua elemen tersebut harus menjadi kesatuan yang harmonis untuk menciptakan karakter lanskap yang menarik. Reid (1993) menjelaskan bahwa umumnya terdapat 2 bentuk dasar yang dikenal dalam pengembangan suatu rancangan, yaitu bentuk geometrik dan bentuk-bentuk naturalistik. Menurut Booth (1983), bentuk-bentuk geometrik akan memberikan kesan kaku dan formal (Gambar 9a), sedangkan bentuk naturalistik/organik akan menciptakan kesan lembut dan informal (Gambar 9b). Rancangan yang baik adalah hasil akhir yang mampu memenuhi kebutuhan penggunanya, meningkatkan kualitas visual dan ekologi lingkungan, dan mampu bertahan/terawat untuk waktu yang tidak diperhitungkan.

(a) (b)

(25)

METODOLOGI

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Bogor dengan luas 11 850 ha. Kota Bogor terbagi menjadi 6 kecamatan yang terdiri dari Kecamatan Bogor Tengah, Kecamatan Bogor Utara, Kecamatan Bogor Timur, Kecamatan Bogor Barat, Kecamatan Bogor Selatan, dan Kecamatan Tanah Sareal (Gambar 10). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2013 hingga Desember 2013 dan penyusunan skripsi hingga bulan Februari 2014.

Gambar 10 Orientasi Kota Bogor

Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini terbagi menjadi peralatan lapang dan studio, serta beberapa software, peta dan dokumen (Tabel 1).

Tabel 1 Peralatan dan bahan penelitian

Jenis peralatan Alat Kegunaan

Peralatan lapang

Kamera dokumentasi lokasi Alat tulis & gambar ilustrasi & pencatatan Meteran pengukuran tapak

Peralatan studio Perangkat PC & laptop pengolahan data & pengerjaan desain

Software

Google Earth Pro analisis ruang potensial AutoCAD 2007 pengerjaan desain

Adobe Photoshop Cs 4 ilustrasi & pengerjaan desain

Google Sketchup 8 pengerjaan desain Microsoft Office pengerjaan laporan

Metode

Prosedur pelaksanaan penelitian ini terdiri dari empat tahap yang meliputi: 1) tahap persiapan, 2) tahap identifikasi ruang, 3) tahap klasifikasi ruang, dan 4) tahap perancangan (Gambar 11).

(26)

Gambar 11 Tahapan penelitian

Tahap Persiapan

Tahap persiapan merupakan tahap pra penelitian. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan informasi awal secara deskriptif terkait ketersediaan RTH di Kota Bogor. Pengkajian berbagai literatur terkait pocket park dan aplikasinya pada kawasan terbangun perkotaan juga dilakukan untuk memperkuat perumusan masalah pada usulan penelitian. Selain itu, pada tahapan ini juga dilakukan kunjungan ke berbagai stake holder terkait untuk menyampaikan maksud penelitian dan perijinan.

Tahap Identifikasi Ruang Potensial

Pada tahap ini terlebih dahulu dilakukan digitasi peta RTRW Kota Bogor tahun 2011 – 2031 untuk mengetahui pola ruang kota pada tahun 2031 dan menganalisisnya secara deskriptif terkait keseimbangan ekologi kota (khususnya hidroorologi). Identifikasi ruang potensial untuk pengembangan jejaring pocket park dilakukan melalui metode intersek terhadap peta RTRW. Melalui metode tersebut, pengembangan jejaring pocket park difokuskan pada penyebaran sepanjang jaringan jalan di Kota Bogor dengan jarak sebar antar taman ± 500 m. Lebih spesifik prosedur pada tahap ini dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12 Metode pada tahap idetifikasi ruang potensial

Fokusnya penyebaran jejaring pocket park pada jaringan jalan dan jarak sebarnya ± 500 m mengacu pada kriteria standar dalam pengembangan pocket park yang dikemukakan oleh Visalia City Council (2005), diantaranya:

 Memiliki luas 1 012 – 4 046 m2;

 Menghadap lebih dari 1 badan jalan yang secara visual mudah ditemukan;  Berada di depan atau samping dari pusat kawasan permukiman/campuran;  Aksesibilitas 5 – 10 menit oleh pejalan kaki;

 Menempati area strategis yang unik seperti area yang menyertakan jalur jalan atau kereta api yang tidak berfungsi atau pemotongan jalur jalan; dan

(27)

Tahap Klasifikasi Ruang

Setelah didapatkan peta jejaring pocket park yang berisikan ruang-ruang potensial pengembangan pocket park, kemudian dilakukan proses klasifikasi/pengelompokkan ruang-ruang potensial tersebut menjadi beberapa tipe berdasarkan jenis kawasan terbangun disekitarnya. Pembagian jenis kawasan terbangun tersebut mengacu pada pengelompokkan kawasan terbangun menurut Perda No.8 tahun 2011 (Tabel 2).

Tabel 2 Kategori kawasan terbangun

Fungsi kawasan terbangun Bentuk kawasan Permukiman Perumahan, Real Estate, dll

Pemerintahan Balai Kota, Kantor Dinas Pemerintahan Perdagangan Ruko, Mall, Pasar, dll

Industri Pabrik

Proses pengelompokkan ruang potensial dilakukan dengan cara melihat dominansi fungsi kawasan terbangun pada grid 500 × 500 m pada peta RTRW. Hasil pengelompokkan kemudian dianalisis secara visual melalui citra Google Earth 2012 untuk melihat lokasi dengan tingkat kekritisan ketersediaan ruang hijau tertinggi yang kemudian dijadikan sampel dalam proses perhitungan kebutuhan ruang hijaunya. Proses perhitungan kebutuhan ruang hijau dilakukan melalui perhitungan kebutuhan koefisien dasar hijau (KDH) terhadap koefisien dasar bangunan (KDB) pada peta RTRW sesuai Perda No. 8 tahun 2011. Hasil perhitungan kebutuhan tersebut kemudian dibandingkan dengan ketersediaan hijau eksisiting yang didapatkan melalui perhitungan pada peta citra google earth tahun 2012 dengan menggunakan grid yang sama. Adapun tujuan dari rangkaian proses pada tahap ini adalah untuk menentukan lokasi sampel dari masing-masing tipe dan luas tapak untuk pengembangan pocket park. Secara spesifik rangkaian proses pada tahap ini dijabarkan pada Gambar 13 dan aplikasi grid pada sampel dapat dilihat pada Gambar 14.

(28)

Tahap Perancangan

Pada tahap perancangan, proses desain yang dilakukan mengacu pada proses perancangan yang dikemukakan oleh Simond dan Starke (2006). Namun pada penelitian ini dilakukan modifikasi terhadap acuan tersebut, sehingga penelitian hanya akan dilakukan dari proses inventory sampai proses design. Beberapa hal terkait modifikasi pada proses desain yang dikemukakan Simond dan Starke (2006) adalah meninjau bahwa proses commissioning yang merupakan proses perijinan telah dilakukan pada tahap persiapan. Sedangkan proses

construction merupakan proses implementasi desain pada tapak secara nyata dan berada di luar batasan penelitian. Hasil pada proses tersebut adalah rekomendasi rancangan pocket park pada 4 sampel masing-masing tipe. Hasil tersebut kemudian dihitung nilai manfaatnya terhadap ekologi, khususnya terkait penyediaan ruang resapan air hujan. Proses pada tahap ini secara spesifik dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 14 Aplikasi grid pada titik sampel

(29)

. Simond dan Starke (2006) menjabarkan secara sistematis rangkaian kegiatan dalam proses desain adalah sebagai berikut:

Inventory

Inventory merupakan proses pengumpulan data mengenai kondisi umum dan sosial terkait potensi dan kendala yang ada pada tapak. Kegiatan pengumpulan data ini dilakukan melalui tinjauan langsung ke tapak maupun dengan melakukan studi pustaka terhadap beberapa literatur. Proses ini dilakukan untuk mendapatkan data-data spesifik tapak yang dibutuhkan dalam proses perancangan selanjutnya (Tabel 3).

Tabel 3 Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian

No Jenis data Cara pengambilan Bentuk data 1 Data umum

letak geografis &

administratif studi pustaka

deskriptif dan spasial

topografi & kemiringan studi pustaka spasial geologi & tanah studi pustaka deskriptif hidrologi studi pustaka deskriptif iklim studi pustaka deskriptif vegetasi pengamatan deskriptif batas tapak pengamatan spasial 2 Data sosial

aktifitas user pengamatan deskriptif sirkulasi user pengamatan spasial status kepemilikan tapak wawancara deskriptif 3 Data visual

good view pengamatan deskriptif

bad view pengamatan deskriptif

Analysis-Synthesis

Proses analisis merupakan proses identifikasi potensi dan kendala pada tapak berdasarkan data-data yang telah terhimpun sebelumnya dengan mengkajinya terhadap berbagai literatur ketersesuaian. Hasil analisis tersebut kemudian disintesis dengan ide-ide solutif untuk memaksimalkan potensi dan meminimalisasi kendala pada tapak.

Concept-Planning

Konsep merupakan proses yang menghubungkan data-data dan hasil analisis serta sintesis yang didapat dan menjadikannya sebagai sebuah kesatuan fungsi dan tujuan perancangan. Pada proses ini, konsep yang dihasilkan akan terbagi menjadi tiga, yaitu: konsep dasar, konsep desain dan beberapa konsep pengembangan yang meliputi konsep ruang, konsep sirkulasi, dan konsep hidrologi. Pada proses konsep juga dilakukan pengembangan ide-ide solutif hasil sintesis untuk menghasilkan suatu sistem yang bekerja pada tapak.

Design

(30)

menghasilkan gambar-gambar kerja arsitektural. Beberapa gambar kerja yang akan dihasilkan pada proses ini adalah: gambar rencana tapak (site plan) masing-masing sampel, detil konstruksi beberapa fasilitas, potongan, dan ilustrasi perpektif taman.

Berdasarkan hasil proses desain ini, kemudian dilakukan perhitungan nilai manfaat desain terhadap ekologi lingkungan sekitarnya. Proses perhitungan ini merupakan proses tambahan yang berfungsi untuk mendukung dan memperkuat tujuan dalam penelitian ini.

Batasan Penelitian

Penelitian ini berfokus pada studi mengenai desain lanskap untuk meningkatkan ketersediaan ruang resapan air hujan sebagai pendukung lanskap Kota Hujan Bogor. Pada penelitian ini area studi berada di Kota Bogor dan merupakan area publik atau berpotensi menjadi area publik dengan status kepemilikan pemerintah maupun privat.

Selain itu, produk yang dihasilkan dari penelitiaan ini terbatas pada produk desain lanskap berupa beberapa rancangan model pocket park pada beberapa lokasi sampel di Kota Bogor.

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Letak Geografis dan Administratif

Kota Bogor secara geografis terletak pada 106º 45’ Bujur Timur (BT) dan 6º

40’ Lintang Selatan (LS) (Gambar 15). Secara administrasi Kota Bogor tergabung

dalam bagian pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Kota Bogor dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Bogor dengan batas-batas sebagai berikut:

 Utara :Kec. Kemang, Bojong Gede, dan Sukaraja Kab. Bogor;  Selatan : Kec. Cijeruk dan Caringin Kab. Bogor;

 Barat : Kec. Darmaga dan Ciomas Kab. Bogor; dan  Timur : Kec. Sukaraja dan Ciawi Kab. Bogor.

Topografi dan Kemiringan Lereng

Topografi Kota Bogor berupa bentangan perbukitan bergelombang dengan ketinggian bervariasi antara 190 – 350 mdpl. Titik tertinggi Kota Bogor berada di Selatan (350 mdpl) dan titik terendahnya berada di Utara (190 mdpl). Kemiringan lereng di Kota Bogor secara garis besar merupakan dominansi dari kemiringan kelas landai sebesar 8 091.27 ha (68%) (Gambar 16).

Klimatologi

(31)

hujan maksimum terjadi di bulan Oktober sekitar 346 mm. Sebagian besar hujan yang terbentuk di Kota Bogor merupakan hujan orografi karena adanya deretan pegunungan di sekelilingnya. Temperatur rata-rata wilayah Kota Bogor berada pada suhu 26oC – 34.4oC dengan kelembaban udara rata-rata lebih dari 70%.

Gambar 15 Peta Kota Bogor (sumber : googleearth.com)

Geologi dan Hidrologi

(32)

alluvial yang tersusun oleh tanah, pasir, dan kerikil hasil pelapukan endapan dan

Gambar 16 Persentase luas kemiringan lereng di Kota Bogor (sumber: Bappeda 2012)

Jenis tanah yang ada di seluruh wilayah Kota Bogor umumnya adalah latosol coklat kemerahan dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm. Tanah tersebut memiliki kandungan liat (clay) dengan tekstur halus hingga agak kasar sehingga umumnya memiliki sifat cukup peka terhadap erosi, kecuali di Kec. Bogor Barat, Tanah Sareal, dan Bogor Tengah yang masih memiliki sebagian tanah bertekstur keras.

Kondisi hidrologi di Kota Bogor dipengaruhi oleh keberadaan 2 sungai besar (Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane). Selain kedua sungai besar tersebut, terdapat juga anak-anak sungai (Sungai Cipakancilan, Cidepit, Ciparigi, dan Cibalok) yang membentuk pola aliran pararel-subpararel sehingga mempercepat waktu mencapai debit puncak (time to peak) pada 2 sungai besar. Sungai-sungai tersebut memiliki permukaan air yang jauh di bawah permukaan tanah, sehingga Kota Bogor terbilang relatif aman dari ancaman bahaya banjir.

Potensi sumber daya air lainnya adalah potensi air tanah yang cukup melimpah mengingat Kota Bogor yang dikenal sebagai Kota Hujan. Potensi sumber daya air tanah terletak pada kedalaman sekitar 3 ─ 12 m dengan kalitas air tanah tersebut tergolong dalam kategori cukup baik. Kedalaman muka air tanah dalam keadaan normal (musim hujan) berkisar 3 ─ 6 m, sedangkan musim kemarau kedalaman muka air tanah mencapai 10 ─ 12 m.

Kawasan Resapan Air Hujan di Kota Bogor

(33)

melalui 2 proses berurutan, yaitu infiltrasi (pergerakan air dari atas ke dalam permukaan tanah) dan perkolasi (gerakan air ke bawah tanah dari zona tidak jenuh ke dalam zona jenuh air) (Wibowo 2006). Selain itu, menurut Soemarto (1987) dalam Wibowo (2006), terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi daya infiltrasi air, diantaranya:

 Dalamnya genangan di permukaan tanah, semakin tinggi genangan maka tekanan air untuk meresap semakin besar;

 Kadar air dalam tanah, semakin kering tanah infiltrasi semakin besar;

 Pemampatan tanah, akan memperkecil porositas, pemampatan terjadi karena pukulan butir-butir hujan, penyumbatan pori oleh butir halus, karena injakan manusia, binatang, dan lain sebagainya;

 Tumbuh-tumbuhan, jika tertutup oleh tumbuhan akan semakin besar;  Struktur tanah, yaitu adanya rekahan daya infiltrasi akan memperbesar;  Kemiringan lahan dan temperatur air (mempengaruhi kekentalan).

Kota Bogor memiliki luas kawasan sangat tinggi resapan mencapai 3 999.78 m2 (33.75%) dan tersebar di setiap kecamatannya dengan sebaran tertinggi di wilayah Kecamatan Bogor Selatan (Gambar 17). Perlindungan terhadap kawasan tersebut perlu dilakukan untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan di bawahnya maupun kawasan yang bersangkutan. Bappeda (2012) menggolongkan kriteria kawasan resapan air di Kota Bogor sebagai berikut:

 Kawasan dengan curah hujan rata-rata lebih dari 1 000 mm/tahun;  Lapisan tanah berupa pasir halus berukuran minimal 1/16 mm;

 Mempunyai kemampuan meluluskan air dengan kecepatan lebih dari 1 m/hari;  Kedalaman muka air tanah lebih dari 10 meter terhadap muka tanah setempat;  Kelerengan kurang dari 15%; dan

 Kedudukan muka air tanah dangkal lebih tinggi dari kedudukan muka air tanah dalam.

(34)

Pola Penggunaan Lahan di Kota Bogor

Kota menurut Foresman et al (1997) dalam Fatimah (2011) merupakan suatu ekosistem yang terbentuk oleh beragam jenis penutupan lahan, vegetasi, dan berbagai tipe penggunaan lahan dari suatu bentangan lanskap yang sangat kompleks. Sebagai suatu kota, Kota Bogor juga tersusun atas beberapa jenis penggunaan lahan dengan pola yang terus berkembang seiring waktu. Terdapat 2 jenis kawasan yang secara garis besar menjadi penyusun pola penggunaan lahan di Kota Bogor, yaitu: Kawasan Terbangun dan Kawasan Belum Terbangun.

Kawasan Terbangun umumnya merupakan kawasan yang terdiri dari penggunaan sebagai lahan perdagangan, permukiman, perumahan terencana, komplek militer, istana, industri, terminal, dan gardu (Bappeda 2012). Kawasan ini tergolong kawasan yang terus mengalami peningkatan luas seiring perkembangan pembangunan di Kota Bogor. Selama periode 2007 – 2012, luas kawasan terbangun di Kota Bogor mengalami peningkatan dari seluas 4 406.45 ha atau 37.19% menjadi 5 567.31 ha atau 46.98%. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh kawasan permukiman dan perumahan yang semakin meluas hingga mencapai 4 178.42 ha (Bappeda 2012).

Hal sebaliknya terjadi pada Kawasan Belum Terbangun yang berupa Situ, Sungai, Kolam, RTH, Tanah Kosong Non RTH, dll. Kawasan ini cenderung mengalami penurunan luas selama periode yang sama. Tahun 2007 kawasan ini memiliki luas 7 299.20 ha atau sekitar 61.60% dan mengalami penurunan menjadi 6 282.69 ha atau 53.01% pada tahun 2012. Pada Kawasan Belum Terbangun di Kota Bogor pada tahun 2012 ini didominasi oleh RTH seluas 5 559.63 ha atau 46.92% (Bappeda 2012). Perbandingan pola penggunaan lahan tersebut dapat dilihat pada Gambar 18.

Gambar 18 Perbandingan pola penggunaan lahan di Kota Bogor pada tahun 2007 dan 2012

(sumber: Bappeda 2012)

(35)

yang cenderung mengikuti pola jaringan jalan. Adanya pemusatan sarana dan prasarana perkotaan juga membuat tingkat kerapatan bangunan baik permukiman maupun komersial semakin padat menuju ke pusat kota.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bogor

Ruang Terbuka Hijau kota sering kali digambarkan sebagai ruang yang identik dengan pengisian berbagai macam jenis dan strata vegetasi dengan fokus utama untuk mempertahankan kestabilan kondisi ekologis perkotaan. Menurut Nurisjah (1996) dalam Fatimah (2011), Ruang Terbuka Hijau suatu kota adalah bagian kawasan/ruang perkotaan yang ditumbuhi tanaman, baik yang tumbuh alami maupun yang dibudidayakan, guna meningkatkan kualitas dan kapasitas lingkungan perkotaan. Wujud RTH di Kota Bogor umumnya diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. RTH Pertamanan, terdiri dari RTH Jalur Hijau (jalur hijau jalan, sungai, pantai, rel kereta api, listrik tegangan tinggi) dan RTH Taman (taman kota, taman lingkungan, taman interaksi, taman rekreasi, taman atap;

2. RTH Pertanian, terdiri dari sawah, kebun, ladang/tegalan;

3. RTH Kehutanan, terdiri dari hutan kota, hutan rekreasi, hutan raya;

4. RTH Olahraga, terdiri dari lapangan bola, lapangan tenis, kolam renang, pacuan kuda dan tempat olahraga lainnya;

5. RTH Pemakaman, terdiri dari taman pemakaman umum/TPU, taman makam pahlawan/TMP, taman makam keluarga;

6. RTH Lainnya, seperti kebun raya, arboretum, kebun binatang, tempat latihan militer.

Menurut Fatimah (2011) eksisting RTH di Kota Bogor hampir sebagian besarnya (91.70%) merupakan RTH privat (RTH dalam pengelolaan pribadi, swasta atau balai penelitian/lembaga non pemda), sedangkan prosentase RTH publik yang dikelola oleh pemda hanya mencapai 8.30% dan memiliki kecenderungan menyebar di semua kecamatan. Salah satu bentuk RTH dalam pengelolaan pemda adalah taman-taman dengan luas yang bervariasi dan tersebar di setiap kecamatan di Kota Bogor.

Rencana Pengembangan Kota Bogor

Kota Bogor memiliki rencana pengembangan kotanya yang tercantum dalam Perda No. 8 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Bogor 2011 – 2031. Pada RTRW tersebut terdapat peta rencana pola ruang yang merupakan hasil penyusunan dari Rencana Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk menjadi arahan pembangunan Kota Bogor dan sekaligus menjadi pedoman rencana-rencana induk sektoral dan rencana-rencana rinci tata ruang (RDTR, RTRK, RTBL) di Kota Bogor (Lampiran 1).

Pada perda tersebut, Kota Bogor memiliki tujuan dalam penataan ruangnya,

yaitu “Mewujudkan Tata Ruang Berwawasan Ligkungan Mendukung Kota Jasa

(36)

 Pembangunan kota sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan;  Pengamanan dan pelestarian kawasan lindung;

 Upaya pencapaian RTH 30%;  Revitalisasi kawasan heritage;  Struktur ruang yang polisentris;  Sistem transportasi ramah lingkungan;  Pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Untuk mencapai target tersebut, Bappeda (2012) telah menetapkan nilai Koefisien Dasar Hijau (KDH) dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) pada setiap kecamatan sebagai acuan pembangunan kota (Tabel 4).

Tabel 4 Nilai KDB dan KDH di Kota Bogor

No Kecamatan Nilai KDB

1.3.Kawasan perdagangan, jasa dan

komersial

2.3.Kawasan perdagangan, jasa dan

komersial

3.3.Kawasan perdagangan, jasa dan

komersial

4.3.Kawasan perdagangan, jasa dan

komersial

5.3.Kawasan perdagangan, jasa dan

komersial

6.3.Kawasan perdagangan, jasa dan

(37)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Pola Ruang Kota Bogor Terhadap Ekologi Kota

Kota Bogor dengan luas 11 850 ha dan terbagi menjadi 6 kecamatan telah mengalami serangkaian proses perubahan pola penutupan tanah selama masa perkembangannya. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi akibat adanya desakan kebutuhan sarana dan prasarana penunjang aktivitas masyarakat kota yang umumnya bergerak dibidang bukan pertanian. Hal tersebut yang kemudian membuat gencar proses alih fungsi lahan alami menjadi lahan terbangun setiap tahunnya. Fatimah (2011) mengungkapkan bahwa Kota Bogor telah mengalami penambahan luas lahan perkotaan/kawasan terbangun sebesar 30%, dari 14% (1972) menjadi 44% (2011) dan menurunkan luasan RTH pohon dengan tajuk >4m menjadi sebesar 17%. Bappeda (2012) menambahkan bahwa peningkatan lahan terbangun di Kota Bogor didominansi oleh pembangunan kawasan perumahan dan permukiman hingga mencapai 4 178.42 ha pada tahun 2012 atau setara dengan 35.26% luas kota. Hasil digitasi terhadap peta RTRW Kota Bogor 2011 – 2031 dalam Perda No. 8 tahun 2011 menunjukkan bahwa Kota Bogor mentargetkan memiliki luas kawasan terbangun seluas 9 468.68 ha yang terdiri dari kawasan perdagangan dan jasa, perumahan kepadatan tinggi, perumahan kepadatan sedang, perumahan kepadatan rendah, dan industri (Tabel 5). Sedangkan luas area untuk kawasan non terbangun sebesar 1 075.41 ha yang meliputi lahan pertanian, pemakaman, taman dan hutan kota, dan jalur hijau jalan, SUTT, sungai dan kereta (Tabel 6). Berdasarkan data dari Bappeda Kota Bogor (2012), Kota Bogor aktualnya memiliki luas RTH mencapai 5 559.63 ha (46.92% luas kota). Namun, angka tersebut masih merupakan nilai RTH potensial, karena menurut Fatimah (2011) hampir sebagian besar 5 098.18 ha (91.70%) kepemilikannya di bawah kendali privat dan memunginkan untuk beralih fungsi. Hal ini menunjukkan bahwa luas RTH publik yang di bawah kepemilikan pemda hanya seluas 461.45 ha (4.01% luas kota) dan masih berada jauh dari standar minimum RTH publik untuk kawasan perkotaan menurut UU No. 26 tahun 2007 sebesar 20%.

Tabel 5 Proporsi luas kawasan terbangun di Kota Bogor

Kawasan

Tabel 6 Proporsi luas kawasan non terbangun di Kota Bogor

(38)

Ketidakseimbangan perbandingan antara proporsi penutupan tanah oleh ruang terbangun (82.34%) terhadap ruang non terbangun (10.44%) tersebut sangat berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi keseimbangan sistem ekologis di Kota Bogor. Marsalek et al. (2006) dalam Mays (2009) mengungkapkan bahwa perubahan pola pemanfaatan ruang sangat berpegaruh terhadap keseimbangan siklus hidrologi kota, termasuk di dalamnya perubahan radiasi, jumlah presipitasi, jumlah evaporasi, jumlah infiltrasi, dan peningkatan limpasan permukaan (run off) (Gambar 19). Dominansi penutupan tanah dengan permukaan kedap air berpotensi meningkatan debit aliran permukaan serta minimnya RTH sebagai penyedia ruang untuk proses infiltrasi air semakin mempertinggi resiko banjir pada musim penghujan. Fatimah (2011) menjelaskan melalui model regresi linier dari hasil analisis CITYGreen terhadap citra multitahun (1972 – 2011), bahwa hubungan antara penurunan RTH kota terhadap volume reduksi limpasan sebesar 63.6% dengan nilai R2 (koefisien determinansi) sebesar 0.404, yang artinya 40.4% variasi yang terjadi terhadap banyak sedikitnya perubahan volume reduksi limpasan disebabkan oleh perubahan luasan RTH. Fenomena demikian harus segera direspon oleh semua pihak, karena Kota Bogor merupakan satu kesatuan ekosistem DAS Ciliwung dan bila kondisi tersebut dibiarkan tidak terkendali akan mengakibatkan meningkatnya debit sungai Ciliwung dan mengakibatkan banjir tidak hanya di kota itu sendiri, tetapi juga berkontribusi terhadap banjir di Jakarta (Fatimah 2011). Di Kota Bogor sedikitnya terdapat 36 kelurahan di Kota Bogor yang diidentifikasikan sebagai kawasan rawan banjir (Bappeda 2012).

Gambar 19 Pengaruh fungsi penutupan lahan terhadap siklus hidrologi (sumber : Dunnet dan Clayden 2007)

(39)

Mengetahui pentingnya peran RTH, Bappeda (2012) melalui perhitungan penerapan nilai minimum KDH terhadap KDB sesuai Perda No. 8 tahun 2011 pada setiap jenis kawasan terbangun, maka luas RTH yang seharusnya tersedia hingga tahun 2031 adalah 2 887.79 ha dan tersebar pada kawasan perdagangan dan jasa, perumahan kepadatan tinggi, perumahan kepadatan sedang, perumahan kepadatan rendah, dan industri (Tabel 7). Sehingga bila diasumsikan bahwa pelaksanaan kebijakan tersebut terlaksana, maka jumlah keseluruhan RTH di Kota Bogor dapat mencapai 3 963.2 ha atau setara dengan 34.46% luas kota dan memenuhi standar minimum RTH di Perkotaan sesuai UU No. 26 tahun 2007, yaitu sebesar 30%. Dengan terpenuhinya standar RTH 30% tersebut dinilai telah memenuhi standar minimal untuk menjaga keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih.

Tabel 7 Luas kebutuhan RTH berdasarkan nilai KDH pada kawasan terbangun

Kawasan

Arahan Titik Sebaran Jejaring Pocket Park

Penerapan kebijakan standar minimum KDH terhadap KDB dinilai sangat efektif karena dapat membentuk ruang-ruang kecil RTH untuk meningkatan daya dukung ekosistem sekitarnya dan tersebar pada setiap jenis fungsi kawasan di seluruh kecamatan di Kota Bogor. Peluang tersebut akan memberikan pengaruh yang signifikan terutama bila ruang-ruang kecil yang terbentuk dapat dihubungkan melalui sebuah pola tertentu. Aplikasi pola/jejaring tersebut dapat memaksimalkan peran setiap ruang-ruang kecil RTH untuk menjadi bagian dari sistem RTH dan mental map Kota Bogor.

Jejaring pocket park di Kota Bogor dapat dikembangkan dengan menerapkan tipe jejaring radial yang mengacu pada tipe jejaring yang dikemukakan Iwashita (1991) dengan memanfaatkan keberadaan Kebun Raya Bogor (KRB) yang berada di jantung kota sebagai pusatnya. Selanjutnya, pocket park yang dibentuk dapat menyebar mengikuti pola jaringan jalan di Kota Bogor yang berpola radial konsentris. Pocket park pada ruas jalan memungkinkan berperan sebagai nodes yang dapat dimanfaatkan untuk beristirahat sejenak yang dapat diakses oleh semua masyarakat kota. Selain itu, pocket park juga dapat menjadi bagian dari jalur hijau dan fasilitas/utilitas jalan tersebut, misalnya pocket park pada sekitar halte dapat meningkatkan kenyamanan pengguna dan menjadi ekspansi dari halte itu sendiri. Terlebih bila melihat penggunaan jalan dan akumulasi kendaraan di Kota Bogor yang tinggi karena pola sirkulasi radial konsentris tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung antar kawasan, keberadaan pocket park dapat menjadi insentif untuk meningkatkan jumlah pejalan kaki dan mengurangi beban ekologi dari jalan.

(40)

pocket park sesuai kapasitas tempuh pejalan kaki sebesar 500 m atau aksesibilitas Council (2005), yaitu 1 012 m2, maka luasan RTH yang dapat ditambahan adalah sebesar 334 972 m2 atau 33.50 ha (1.41% dari kebutuhan RTH publik seluas 2 370 ha). Sedangkan bila luas pocket park yang diaplikasikan adalah luas maksimum, yaitu 4 046 m2, maka penambahan RTH yang dihasilkan sebesar 1 339 226 m2 atau 133.93 ha (5.65% dari kebutuhan RTH publik seluas 2 370 ha). Kedua angka tersebut masih jauh untuk memenuhi kebutuhan RTH di Kota Bogor. Hal ini disebabkan titik sebaran masih baru menjangkau sepanjang jalan arteri, kolektor, hingga lokal primer beserta rencana jalan primer dan kolektornya, namun belum tersebar sepanjang jalan lokal di Kota Bogor.

Setiap titik rencana pocket park hasil metode transek juga dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi kawasan terbangun di sekitarnya, diantaranya kawasan komersial, industri, permukiman, dan bangunan pemerintahan. Klasifikasi tersebut didasarkan pada fungsi kawasan dominan atau memiliki pengaruh besar yang dilihat melalui grid 500 × 500 m pada masing-masing titik sebaran. Selain itu, klasifikasi juga mengacu pada kawasan tertentu yang telah ditegaskan oleh pemda sebagai kawasan komersial, diantaranya sepanjang Jl. Pajajaran, Jl. K.H. Soleh Iskandar, Jl. Surya Kencana-Siliwangi, dan Jl. Raya Tajur. Adapun upaya klasifikasi ini bertujuan untuk menyesuaikan fungsi pocket park terhadap kebutuhan lingkungan sekitarnya yang dominan. Hal tersebut mengingat hampir sebagian besar titik pocket park berada pada kawasan campuran.

Berdasarkan hasil klasifikasi tersebut menunjukkan dominansi titik pocket park pada kawasan permukiman sebesar 216 titik (Tabel 8). Dilihat dari aspek sebarannya, pocket park kawasan permukiman cenderung mengelompok mengingat 35.26% luas Kota Bogor merupakan kawasan permukiman. Berbeda dengan pocket park pada kawasan komersial yang memiliki sebaran cenderung liniar mengikuti pola jalan arteri kota. Sedangkan pocket park kawasan industri dan pemerintahan memiliki lokasi sebaran cenderung acak. Hal ini disebabkan tidak adanya spesifikasi khusus kawasan pemerintahan di Kota Bogor dan terdapat beberapa industri yang terpisah dari kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan industri di Kecamatan Bogor Utara. Lebih spesifik mengenai pola sebaran masing-masing klasifikasi pocket park dapat di lihat pada Gambar 22.

Tabel 8 Klasifikasi titik pocket park

Fungsi kawasan Jumlah titik pocket park

Komersial 98

Industri 12

Permukiman 216

Bangunan Pemerintahan 5

(41)
(42)
(43)

Analisis Ruang Potensial Untuk Pocket Park

Setelah terbentuk peta jejaring pocket park, kemudian dilakukan analisis visual terhadap 331 titik potensial pocket park menggunakan peta citra google earth tahun 2012 dengan petak grid 500 × 500 m. Proses ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kekeritisan ruang hijau pada setiap titik potensial tersebut. Tingkat kekritisan ruang hijau ditandai oleh ketersediaan lahan berpenutupan vegetasi. Berdasarkan tipe klasifikasi (komersial, industri, permukiman, dan pemerintahan) kemudian dipilih satu lokasi titik dengan tingkat kekritisan tertinggi dari masing-masing tipe untuk dijadikan sampel dalam perhitungan kebutuhan ruang hijau dan pembuatan desain pocket park. Adapun informasi spesifik lokasi sampel yang diambil dari masing-masing tipe klasifikasi dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Lokasi titik sampel pocket park

Jenis titik sampel Lokasi sampel

Tipe A (komersial) Jl. Kecamatan Bogor Tengah Siliwangi, Kelurahan Sukasari,

Tipe B (industri) Jl. Raya Bogor, Kelurahan Kedung Halang, Kecamatan Bogor Utara

Tipe C (permukiman) Jl. Pandawa Raya, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara

Tipe D (pemerintahan) Jl. Ir. H. Juanda, Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah

Keempat sampel tersebut kemudian dihitung nilai kebutuhan ruang hijaunya menggunakan grid berukuran 500 × 500 m. Petak grid yang diaplikasikan pada peta RTRW tahun 2011 – 2031 akan menghasilkan nilai ruang hijau yang dibutuhkan pada grid tersebut. Proses perhitungan nilai kebutuhan ruang hijau tersebut mengacu pada nilai minimum koefisien dasar hijau (KDH) terhadap koefisien dasar bangunan (KDB) sesuai Perda No. 8 tahun 2011. Aplikasi grid

juga dilakukan pada peta citra google earth tahun 2012 untuk menghasilkan luas ketersediaan ruang hijau eksisting pada lokasi sampel. Perbandingan kedua grid

tersebut akan diketahui nilai selisih yang akan menentukan luas pocket park yang akan dibangun (Gambar 23). Nilai selisih positif (+) menandakan ruang hijau pada lokasi sampel telah mencukupi kebutuhannya. Sedangkan nilai selisih negatif (-) menandakan perlunya penambahan ruang hijau pada lokasi sampel. Data perhitungan lebih spesifik dapat dilihat pada Tabel 10.

(44)

jalan. Berbeda dengan sampel tipe C dan D yang memiliki kelebihan luas ruang hijau secara berurut adalah 27 661.4 m2 dan 87 235 m2. Tingginya ruang hijau pada titik sampel C dikarenakan sebagian besar merupakan area vegetasi pohon baik yang ditanam pada pekarangan rumah maupun kebun budidaya milik masyarakat dan belum ditetapkan sebagai RTH publik sehingga berpotensi beralih fungsi. Tidak berbeda pada titik sampel D yang berlokasi tidak jauh dari kebun raya bogor (KRB). Status kepemilikan privat dari KRB membuat perlunya penyediaan RTH pendukung yang dapat diakses oleh publik dan menyediakan ruang rekreasi bagi masyarakat kota.

(45)

Tabel 10 Perbandingan Kebutuhan RTH terhadap eksistingnya

Setelah membandingkan nilai kebutuhan RTH terhadap ruang hijau eksistingnya, pada keempat titik sampel kemudian ditentukan lokasi spesifik untuk dijadikan tapak pocket park. Pemilihan ruang sebagai pocket park

difokuskan pada tersedianya ruang kosong yang memenuhi standar pocket park

menurut Visalia City Council (2005). Hasil pemilihan tapak pada keempat titik sampel dapat dirincikan sebagai berikut:

Titik Sampel Tipe A

Pada titik sampel tipe A dengan nilai selisih negatif (-), tidak memungkinkan penambahan RTH selain melalui upaya pembebasan lahan dan alihfungsi. Proses alihfungsi ini dinilai sebagai bentuk penerapan kebijakan standar minimum ruang hijau pada kawasan terbangun untuk meningkatkan kualitas daya dukung lingkungan sekitarnya. Sehingga pertimbangan alihfungsi menjadi pocket park dinilai lebih baik untuk meningkatkan kualitas ekologi kawasan. Tapak pocket park yang dipilih berada di pertigaan antara Jl. Siliwangi, Jl. Gang Aut dan Jl. Ular Ban. Tapak memiliki luas 3 168 m2 dengan kondisi eksisting tapak berupa bangunan pertokoan, rumah dan sungai (Gambar 22).

Pemilihan tapak ini mempertimbangkan beberapa hal, seperti lokasi strategis dan unik di pertigaan yang mudah diakses dan menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas visual, mengingat area tersebut kurang tertata dengan baik. Selain tiu, pilihan lokasi tersebut juga bertujuan untuk akomodasi ruang berinteraksi mengingat terdapat banyak pejalan kaki dan aktivitas sosial disekitarnya. Adapun rincian batas-batas tapak, yaitu:

 Utara : Jl. Siliwangi dan Jl. Gang Aut;  Timur : Jl. Siliwangi;

 Barat : Jl. Ular Ban;

 Selatan : Bangunan pertokoan.

Titik Sampel Tipe B

(46)

air hujan dari kawasan industri. Walapun demikian, luas lahan yang tersedia untuk dikembangkan hanya seluas 1 365 m2, padahal kebutuhan RTH pada titik sampel ini terbilang cukup rendah, yaitu 2 470.6 m2 (Gambar 23). Batas-batas penggunaan lahan pada tapak ini diantaranya:

 Utara : Bangunan toko dan rumah  Timur : Permukiman

 Barat : Jl. Raya Bogor  Selatan : PT. SKC

Titik Sampel Tipe C

Pada titik sampel tipe C, selisih kebutuhan RTH dan eksistingnya bernilai positif. Hal ini membuat pertimbangan dalam proses pemilihan tapak berfokus pada tingkat sebaran aktivitas masyarakatnya. Tapak yang dipilih pada titik sampel ini berada pada lingkungan perumahan Vila Citra Drupada IV RT 07 RW 05. Lokasinya yang strategis, yaitu berada tepat di pintu masuk menuju perumahan serta eksisting tapak yang berupa lahan kosong bervegetasi dan beberapa bangunan memiliki peluang untuk digunakan sebagai taman dan mudah diakses baik oleh warga perumahan, maupun warga umum dari kawasan komersial. Tapak ini memiliki luas 1 453.6 m2 dan masih memerlukan upaya pembebasan lahan dari bangunan untuk optimalisasi fungsi taman (Gambar 24). Batas-batas pada tapak ini dikelilingi oleh:

 Utara : Jalan masuk ke Perum. Villa Citra Drupada IV  Timur : Jl. Mandala Raya

 Barat : Jalan perumahan dan kawasan perumahan  Selatan : Bangunan pertokoan dan rumah

Titik Sampel Tipe D

Titik sampel tipe D juga memiliki nilai selisih positif karena masih berada pada lingkungan Kebun Raya Bogor. Sama halnya dengan titik sampel tipe C, pada titik ini pemilihan lokasi berfokus pada sebaran aktivitas masyarakat. Tapak yang dipilih menempati taman di halaman gedung Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah I (BKPPW I) dan Kejaksaan Negeri Bogor dengan luas 2 720 m2 yang terbagi menjadi 1 605 m2 di halaman gedung Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah I dan 1 115 m2 di halaman Kejaksaan Negeri Bogor. Pertimbangan pemilihan luas fungsional dari total luas taman sebesar 7 087 m2 ini dilakukan selain terkait cukup tingginya intensitas masyarakat yang melintasi tapak pada titik tersebut, juga untuk menjaga keamanan area gedung pemerintahan. Eksisting tapak ini berupa jalur pejalan kaki, lawn/area rumput dengan beberapa penanaman vegetasi dan fasilitas signage

(Gambar 25). Rincian batas tapak adalah:

 Utara : Gedung BKPPW I dan Kejaksaan Negeri Bogor  Timur : Area gedung BKPPW I

(47)

Ga

mbar

24

Kondisi

umu

m sampe

(48)

Ga

mbar

25

Kondisi

umu

m sampe

(49)

Ga

mbar

2

6 Kondisi

umu

m sampe

(50)

Ga

mbar

27

Kondisi

umu

m sampe

(51)

Analisis Tapak Pocket Park

Setelah didapatkan keempat lokasi sampel yang mewakili masing-masing tipe hasil klasifikasi fungsi kawasan, dilakukan proses analisis skala tapak untuk mengetahui secara spesifik potensi dan kendala pada tapak, sehingga dapat diupayakan alternatif solusinya untuk menghasilkan pocket park yang berfungsi optimal baik sebagai ruang interaksi publik, maupun sebagai ruang resapan air hujan. Melihat beberapa tapak memiliki persamaan kondisi fisik, maka analisis tapak sampel secara umum dijabarkan sebagai berikut:

Analisis Sirkulasi

Jalur pejalan kaki merupakan sebuah fasilitas yang berfungsi khusus untuk mengamankan dan memisahkan mobilitas pejalan kaki dari bahaya konflik dengan mobilitas kendaraan. Kota Bogor secara umum telah memfasilitasi jalur pejalan kaki hampir pada setiap jalur jalan raya, namun beberapa kendala yang sering ditemui adalah ketidaksesuaian aplikasi standar ukuran lebar jalur pejalan kaki. Dampaknya adalah ketidakmampuan jalur untuk mengakomodasi intensitas pejalan kaki. Standar lebar jalur pejalan kaki pada setiap kawasan cenderung berbeda-beda dan dipengaruhi oleh intensitas pejalan kaki pada kawasan itu sendiri. Intensitas pejalan kaki juga dipengaruhi oleh fungsi kawasan sekitarnya. sebagai contoh, lebar jalur dan intensitas pejalan kaki pada kawasan komersil akan lebih besar dibandingkan dengan pada kawasan perumahan. Berdasarkan Harris dan Dines (1998) ukuran minimum lebar dua orang pejalan kaki jalan bersamaan adalah 1.4 m (Gambar 28). Selain itu, minimnya fasilitas penunjang jalur pejalan kaki berupa penerangan juga menjadi permasalahan

Gambar

Gambar 15 Peta Kota Bogor
Gambar 16 Persentase luas kemiringan lereng di Kota Bogor
Gambar 17 Luas kawasan resapan air di Kota Bogor
Tabel 4 Nilai KDB dan KDH di Kota Bogor
+7

Referensi

Dokumen terkait