• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Integrasi Pasar Spasial Komoditi Pangan Antar Provinsi di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Integrasi Pasar Spasial Komoditi Pangan Antar Provinsi di Indonesia"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS INTEGRASI PASAR SPASIAL

KOMODITI PANGAN ANTAR PROVINSI DI INDONESIA

ARNANTO

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Integrasi Pasar Spasial Komoditi Pangan Antar Provinsi di Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

RINGKASAN

Arnanto. Analisis Integrasi Pasar Spasial Komoditi Pangan Antar Provinsi di Indonesia. Dibimbing oleh SRI HARTOYO dan WIWIEK RINDAYATI.

Masalah utama yang dihadapi oleh pemerintah saat ini adalah pemenuhan kebutuhan pangan bagi masyarakat baik dari segi availability maupun accessability to food. Produksi pangan dalam negeri yang masih jauh dari kebutuhan konsumsi membuat Indonesia menjadi importir beberapa komoditas pangan misal beras, gula, kedelai dan daging sapi. Bahkan kedelai pada tahun 2013 nilai kebutuhan impor mencapai lebih dari 69.59 persen kebutuhan nasional, proses perdagangan yang tidak efektif akan menyebabkan proses transmisi harga menjadi tidak efektif pula.

Intervensi pasar yang dilakukan oleh pemerintah dilakukan dalam rangka perlindungan baik petani sebagai produsen maupun masyarakat sebagai konsumen bahan pangan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Permasalahan efektifitas alur perdagangan dan akses informasi antar daerah merupakan hal yang sangat penting, pengurangan rintangan perdagangan maupun perbaikan akses informasi akan membuat proses efektif dan efisien. Alur perdagangan yang baik tanpa adanya hambatan perdagangan serta peningkatan akses informasi akan membuat integrasi pasar menjadi lebih efektif.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi pasar yang terjadi antar wilayah di Indonesia dan menganalisis besaran elastisitas transmisi perubahan harga didaerah akibat perubahan harga di pasar acuan. Analisis menggunakan metode integrasi Ravallion untuk melihat tingkat integrasi antar daerah dan juga transmisi harga. Data yang digunakan adalah harga eceran di 33 provinsi di Indonesia dengan rentang waktu 5 tahun sejak tahun 2009 sampai dengan 2013.

Hasil analisis menggunakan nilai IMC (Index of Market Connection) sebagai indikator integrasi jangka pendek dan b2 sebagai indikator integrasi

jangka panjang menunjukan bahwa pasar komoditi pangan memiliki beberapa daerah yang dijadikan acuan. Pada komoditi beras dapat disimpulkan bahwa Jakarta dan Sulawesi Selatan merupakan daerah yang menjadi daerah acuan utama, daerah tersebut terintegrasi dengan sebagian besar wilayah di Indonesia. Komoditi gula daerah yang menjadi provinsi acuan utama adalah Jakarta. Pada daging sapi provinsi Jawa Tengah menjadi daerah acuan utama. Pada daging ayam provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat menjadi provinsi acuan utama. Sedangkan untuk komoditi kedelai dan jagung daerah tidak terdapat daerah yang dijadikan daerah acuan utama. Oleh karena itu dalam rangka stabilisasi harga di Indonesia, provinsi tersebut harus dijaga dengan baik sehingga lebih efektif dan efisien dalam menahan gejolak harga sehingga tidak meluas ke daerah lainnya.

Tingkat integrasi spasial dari komoditi beras, gula, daging ayam dan daging sapi di Indonesia mendekati pasar persaingan sempurna (competitive market) dibandingkan tingkat integrasi kedelai dan jagung. Besaran nilai b2

(5)

lainnya di Indonesia namun perubahan harga di provinsi acuan tidak ditransmisikan dengan baik kedaerah Indonesia Bagian Timur.

Analisis integrasi model Ravallion tidak dapat menjelaskan penyebab terjadinya integrasi, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut terhadap Indonesia Bagian Timur baik dari segi kebijakan seiiring otonomi daerah ataupun adanya market failure yang terjadi sehingga dapat menemukan solusi kebijakan agar integrasi dapat terjadi dengan lebih baik. Perlunya intervensi pemerintah dalam mengawasi tataniaga kedelai dan jagung sebagai komoditi yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Pemerintah diharapkan dapat membangun akses informasi maupun perbaikan infrastruktur dalam rangka menurunkan jarak ekonomi di Indonesia Bagian Timur, sehingga nilai derajat integrasi akan dapat lebih baik.

(6)

SUMMARY

Arnanto. Spasial Market Integration Analysis of Food Between Province in Indonesia. Supervised by SRI HARTOYO and WIWIEK RINDAYATI.

Government major problem now is food prices stabilization, through food production and trade for fulfillment consumption in terms of both availability and accessability food. Food production that’s less than consumption, making Indonesia has to import some of food commodities such as rice, sugar, soy and beef. In 2013 soybean import reached more than 69.59% of national requirements, if the trading effective will cause the price transmission also becomes effective.

Domestic prices stabilitation in order to protect both the farmers as producers and society as consumers is important for government. Trade flows between regions, distance between consumer with producers and information access is a problem for price stabilization. Government’s ability to determine an appropriate pricing policy depends on how far the government understands of market structure, behavior and effectiveness. Trade barriers and market failure reduction, improved access information would make market integration effective. This study aims to analyze the market integration and the price transmission elasticity that occurs between regions in Indonesia. To capture level integration and price transmission between regions using Ravallion integration model analysis. The used data are 33 provinces retail prices in Indonesia with a span of 5 years from 2009 to 2013.

The results used IMC (Index of Market Connection) as a short run indicator and b2 as long run indicator showed that Jakarta and South Sulawesi

region is becoming the leading market, both is integrated with most areas in Indonesia. Sugar shows that Jakarta as the leading market, Meat shows that Central Java, Chicken meat shows that Central Java, East Java and West Java as the leading market. Therefore in order to stabilize food price, thus province should be maintained properly more effective and efficient in curbing price volatility.

The rice, sugar, meat and chicken spatial integration level has better degree of integration than soya and maize commodity. The results shows that rice, sugar, meat and chicken market close to competitive market, b2 as degree of elasticity the price transmision and long run integration shows that Eastern Indonesia has weak of degree.

Ravallion integration analysis can not explain the cause of two areas integrated or not, so it is necessary to study towards further for Eastern Indonesia in terms of either regional autonomy policy or any market failure that occurs. Government intervention for soybeans and maize is important to find a solutin for better integrated degree. Improve infrastructure and build information access in order to reduce the economic gap in Eastern Indonesia, made better value of the integration degree.

(7)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(8)
(9)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Ilmu Ekonomi

ANALISIS INTEGRASI PASAR SPASIAL

KOMODITI PANGAN ANTAR PROVINSI DI INDONESIA

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(10)
(11)

Judul Tesis : Analisis Integrasi Pasar Spasial Komoditi Pangan Antar Provinsi di Indonesia

Nama : Arnanto

NIM : H151120191

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Prof Dr Ir Sri Hartoyo, MS Ketua

Dr Ir Wiwiek Rindayati, MSi Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi

Dr Ir R. Nunung Nuryartono, MSi

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr Ir Dahrul Syah, MscAgr

(12)
(13)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini ialah integrasi pasar komoditi pangan, dengan judul Analisis Integrasi Pasar Spasial Komoditi Pangan Antar Provinsi di Indonesia .

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof Dr Ir Sri Hartoyo, MS selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Dr Ir Wiwiek Rindayati, MS selaku anggota komisi pembimbing, yang meluangkan waktu dan kesabaran untuk memberikan bimbingan, arahan, dan masukan yang bermanfaat dalam penyusunan tesis ini. Terima kasih juga disampaikan kepada Prof Dr M Firdaus, SP MSi dan Dr Alla Asmara, SP MSi atas saran dan masukannya demi perbaikan tesis ini. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga disampaikan kepada Dr Ir R Nunung Nuryartono, MSi beserta jajarannya selaku pengelola Program Studi Ilmu Ekonomi SPs IPB dan semua dosen yang telah mengajar penulis.

Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan Program Magister pada Program Studi Ilmu Ekonomi di Sekolah Pascasarjana (SPs) IPB. Tak lupa ucapan terima kasih kepada teman-teman IPB Kemendag atas segala bantuannya selama penulis menyelesaikan pendidikan di IPB. Ungkapan terima kasih terdalam untuk istriku Siti Fathonah, SH dan anakku tercinta Kenzie dan Arkenzo atas segala doa, kasih sayang, dukungan, dan kesabaran yang diberikan. Serta Bapak (Alm), Ibu dan adik-kakakku yang senantiasa mendoakan sehingga penulis mampu menyelesaikan pendidikan ini.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih terdapat kekurangan dikarenakan keterbatasan ilmu dan pengetahuan. Kesalahan yang terjadi merupakan tanggung jawab penulis. Besar harapan penulis bahwa tesis ini dapat memberikan kontribusi dalam proses pembangunan dan bermanfaat untuk pengembangan penelitian di masa mendatang.

(14)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR viii

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 4

Tujuan Penelitian 5

Manfaat Penelitian 5

Ruang Lingkup Penelitian 5

2 TINJAUAN PUSTAKA 9

Tinjauan Teori 9

Tinjauan Empiris 9

Kerangka Pemikiran 10

Hipotesis Penelitian 11

3 METODE 12

Jenis dan Sumber Data 12

Metode Analisis Data 12

Analisis Deskriptif 12

Analisis Regresi Model Ravallion 12

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 14

Produksi dan Kebijakan Harga Pangan di Indonesia 14

Dinamika Harga Komoditi Pangan di Indonesia 17

Integrasi Jangka Pendek Pasar Beras di Indonesia 24

Integrasi Jangka Panjang Pasar Beras di Indonesia 25

Integrasi Jangka Pendek Pasar Gula di Indonesia 29

Integrasi Jangka Panjang Pasar Gula di Indonesia 33

Integrasi Jangka Pendek Pasar Daging Ayam di Indonesia 35

Integrasi Jangka Panjang Pasar Daging Ayam di Indonesia 38

Integrasi Jangka Pendek Pasar Daging Sapi di Indonesia 40

Integrasi Jangka Panjang Pasar Daging Sapi di Indonesia 40

Integrasi Jangka Pendek Pasar Kedelai di Indonesia 44

Integrasi Jangka Panjang Pasar Kedelai di Indonesia 45

Integrasi Jangka Pendek Pasar Jagung di Indonesia 48

Integrasi Jangka Panjang Pasar Jagung di Indonesia 49

5 SIMPULAN DAN SARAN 53

Simpulan 53

Saran 54

DAFTAR PUSTAKA 55

(15)

DAFTAR TABEL

1. Hasil Pendugaan Regresi Model Ravallion Komoditi Beras

di Indonesia 26

2. Hasil Pendugaan Regresi Model Ravallion Komoditi Gula di

Indonesia 30

3. Hasil Pendugaan Regresi Model Ravallion Komoditi Daging

Ayam di Indonesia 36

4. Hasil Pendugaan Regresi Model Ravallion Komoditi Daging

Sapi di Indonesia 40

5. Hasil Pendugaan Regresi Model Ravallion Komoditi Kedelai

di Indonesia 44

6. Hasil Pendugaan Regresi Model Ravallion Komoditi Jagung

(16)

DAFTAR GAMBAR

1. Pergerakan Harga Beras, Gula, Jagung, Kedelai, Daging Sapi,

Daging Ayam Nasional Periode 2001 – 2013 1

2. Rata-Rata Harga Beras di 33 Provinsi di Indonesia Tahun 2013 2 3. Koefisien Variasi Harga Gula di 33 Provinsi di Indonesia Tahun

2013 3

4. Kurva Supply dan Demand Daerah Potensial Surplus dan

Daerah Potensial Defisit 7

5. Kerangka pemikiran 10

6. Peta Produksi Pangan Seluruh Provinsi di Indonesia Tahun

2013 14

7. Komposisi Produksi dan Impor Pangan Indonesia Tahun

2009 s/d 2013 16

8. Dinamika Harga Komoditi Beras di 33 Provinsi di Indonesia

Tahun 2009 s/d 2013 18

9. Dinamika Harga Komoditi Gula di 33 Provinsi di Indonesia

Tahun 2009 s/d 2013 19

10. Dinamika Harga Komoditi Daging Ayam di 33 Provinsi di

Indonesia Tahun 2009 s/d 2013 20

11. Dinamika Harga Komoditi Daging Sapi di 33 Provinsi di

Indonesia Tahun 2009 s/d 2013 21

12. Dinamika Harga Komoditi Jagung di 33 Provinsi di

Indonesia Tahun 2009 s/d 2013 22

13. Dinamika Harga Komoditi Kedelai di 33 Provinsi di

Indonesia Tahun 2009 s/d 2013 23

14. Alur Transmisi Harga Beras di 33 Provinsi di Indonesia 28

15. Alur Transmisi Harga Gula di 33 Provinsi di Indonesia 34 16. Alur Transmisi Harga Daging Ayam di 33 Provinsi di

Indonesia 39

17. Alur Transmisi Harga Daging Sapi di 33 Provinsi di

Indonesia 44

18. Alur Transmisi Harga Kedelai di 33 Provinsi di Indonesia 48 19. Alur Transmisi Harga Jagung di 33 Provinsi di Indonesia 52

(17)

1 1. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Jaminan ketersediaan pangan dengan harga yang terjangkau sangat penting sebagai penguatan stabilitas ekonomi dan politik di Indonesia. Permintaan pangan yang meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan tidak diimbangi oleh jumlah penawaran mendorong terjadinya lonjakan harga pada berbagai produk pangan. Pemenuhan kekurangan kebutuhan melalui impor menyebabkan harga dunia juga mempengaruhi lonjakan harga dalam negeri. Data harga komoditi pangan dunia menunjukan bahwa terjadi lonjakan harga yang sangat tinggi pada periode tahun 2007 sampai 2008, bahkan pada beras lonjakan harga mencapai 110.65 persen (IMF, 2014). Trend harga dunia dari tahun 2007 sampai 2013 menunjukan bahwa harga komoditi gula, kedelai, beras dan jagung masih positif.

Trend harga pangan dunia akan menyebabkan pengaruh yang sangat tinggi terhadap pembentukan harga dalam negeri. Angka impor produk pangan Indonesia yang masih tinggi menyebabkan harga dunia sangat berpengaruh terhadap stabilitas harga di dalam negeri. Selain angka impor, penurunan produksi dan tidak berimbangnya jumah permintaan dan penawaran bahan pangan dari dalam negeri juga menyebabkan harga pangan menjadi fluktuatif. Konversi lahan untuk kepentingan sektor non-pertanian, kecilnya margin usaha tani serta berbagai kendala dalam produksi pangan yang berakibat pada rendahnya produksi dan juga pola konsumsi pangan yang inelastis menyebabkan stabilitas harga pangan merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan.

Data Kementerian Perdagangan menunjukan bahwa harga beberapa komoditi pangan di pasar domestik meningkat secara dramastis selama periode setelah Januari 2007. Bahkan pada komoditi kedelai kenaikan harga pada periode bulan Januari 2008 mencapai 45.45 persen dibandingkan Januari 2007. Kurang meratanya penyediaan pangan, timpangnya jalur distribusi dari produsen ke konsumen, ketergantungan produksi komoditi pangan terhadap iklim menjadi pemicu kenaikan harga pangan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sistem produksi dan sistem distribusi beberapa pangan terganggu karena kualitas sarana dan prasarana transportasi banyak rusak.

Bila melihat data pergerakan harga komoditi daging sapi, daging ayam, beras, gula jagung dan kedelai kecenderungan harga untuk keenam komoditi tersebut mengalami kenaikan dari tahun 2001 hingga 2013. Perkembangan harga domestik pada era liberalisasi perdagangan, marjin harga yang terjadi menunjukkan tren yang meningkat. Secara umum pergerakan harga komoditas pangan nasional dapat dilihat pada Gambar 1. Perubahan harga enam komoditas pangan di Indonesia pada Desember 2008 mengalami perubahan rata-rata mengalami kenaikan sebesar 193.42 persen dibandingkan Januari 2004, angka ini lebih besar dari perbandingan kenaikan harga Desember 2013 yang naik sebesar 146.87 persen dibanding Januari 2009. Bila melihat perbandingan kedua angka terlihat bahwa stabilisasi harga pada periode 2009 sampai dengan 2013 lebih baik daripada periode sebelumnya.

(18)

2

Struktur pasar, pola perdagangan, pola geografis dan pemicu transmisi guncangan harga tersebut menjadi faktor yang penting dalam penentuan kebijakan dalam proses stabilitas harga pangan. Menurut kajian worldbank tentang integrasi antara pasar dunia dengan provinsi di Indonesia memperlihatkan bahwa daerah di pulau jawa memiliki kecepatan penyesuaian terhadap shock harga dunia paling cepat. Salah satu tanda yang jelas bahwa dua pasar terintegrasi adalah ketika guncangan yang terjadi di satu pasar ditransmisikan kepada pasar lainnya (Fackler dan Goodwin, 2001).

Sumber : Direktorat Bapokstra, Kementerian Perdagangan, 2014

Gambar 1. Pergerakan Harga Beras, Gula, Jagung, Kedelai, Daging Sapi, Daging Ayam Nasional Periode 2001 – 2013.

Pemerintah dalam rangka mengatasi permasalahan stabilisasi harga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian No. KEP-28/M.EKON/05/2010 tentang Tim Koordinasi Stabilisasi Pangan Pokok yang bertugas merencanakan dan merumuskan kebijakan stabilisasi pemenuhan kebutuhan dan harga pangan pokok, mengoordinasikan pelaksanaan stabilisasi kebutuhan dan melakukan pemantauan dan evaluasi stabilitas harga pangan pokok beras, gula, minyak goreng, terigu, kedelai,daging sapi, daging ayam, dan telur ayam. Stabilitas gejolak harga dapat dicapai dengan intervensi pemerintah baik melalui kebijakan cadangan bahan pangan di gudang BULOG maupun dengan kebijakan impor dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan.

(19)

3 Perbedaan harga yang tinggi diantara Gorontalo yang mencapai Rp.4 775 atau mencapai 72.55 persen dari harga Papua memperlihatkan kurang maksimalnya hubungan perdagangan antar provinsi di Indonesia.

Sumber : Direktorat Bapokstra, Kementerian Perdagangan, 2014

Gambar 2. Rata-Rata Harga Beras di 33 Provinsi di Indonesia Tahun 2013 Perbedaan harga komoditi pangan antar provinsi pada tahun 2013 menunjukan bahwa komoditi jagung dengan nilai koefisien variasi 0.2224 dan kedelai 0.1875 menunjukan tingkat kesenjangan antar provinsi. Perbedaan harga antar provinsi ditunjukan dengan nilai koefisien variasi harga pada tahun 2013 pada komoditi gula menunjukan angka 0.0907, daging sapi 0.1215 dan daging ayam 0.1678 (Kementerian Perdagangan 2014, diolah). Besarnya penyimpangan harga terhadap harga rata-rata nasional memperlihatkan bahwa perbedaan harga antar provinsi pada komoditi pangan masih menunjukan angka yang besar.

Perumusan Masalah

Harga dari komoditas pangan yang diperdagangkan secara internasional telah meningkat tajam sejak tahun 2002, dan kenaikan yang paling dramatis terjadi selama periode dari Januari 2006 sampai Juni 2008. Kenaikan harga komoditas mempunyai dampak positif atau negatif bergantung pada sejauh mana suatu negara tertentu menjadi importir netto atau eksportir netto komoditas bersangkutan. Indonesia adalah importir neto dari sejumlah komoditas makanan pokok, sehingga diperkirakan kenaikan harga komoditas tersebut mempunyai dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia.

(20)

4

bahan pangan. Akses fisik berarti kemudahan dalam memperoleh bahan pangan sedangkan akses ekonomi berkaitan dengan daya beli masyarakat.

Disamping produksi pangan yang tidak mencukupi kurang meratanya penyediaan pangan bagi masyarakat juga menjadi pemicu kenaikan harga pangan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sistem produksi dan sistem distribusi beberapa pangan terganggu karena kualitas sarana dan prasarana transportasi banyak rusak. Kebijakan otonomi daerah dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) membuat daerah semakin memacu pendapatan dengan retribusi yang tumpang tindih antar wilayah terutama pada segi pengangkutan komoditas pertanian, sehingga mempengaruhi efisiensi perdagangan hasil pertanian. Belum adanya peraturan khusus yang mengatur perdagangan hasil pertanian antar daerah memerlukan perhatian sehingga dapat tercipta perdagangan antar wilayah yang efektif dan efisien.

Koordinasi antar wilayah dalam rangka peningkatan perdagangan dan pemenuhan kebutuhan produk pertanian antar daerah produsen harus menjadi perhatian baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Hubungan perdagangan antar wilayah sangat penting dalam proses perbaikan dalam segi dan accessability dalam memperoleh komoditi pangan. Daerah produsen bahan pangan yang berpusat di pulau Jawa dan Sumatera dengan daerah konsumen yang tersebar di seluruh Indonesia menyebabkan jarak ekonomis menjadi berbeda bagi setiap daerah. Perbedaan jarak inilah yang menyebabkan kemampuan daerah dalam memenuhi kebutuhan pangan akan berbeda, kondisi ini harus diperbaiki sehingga proses perdagangan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien.

Sumber : Direktorat Bapokstra, Kementerian Perdagangan, 2014

Gambar 3. Koefisien Variasi Harga Gula di 33 Provinsi di Indonesia Tahun 2013

(21)

5 0.3307. Apabila dibandingkan dengan Jawa Timur sebagai produsen gula terbesar di Indonesia dengan koefisen 0.1130, kemampuan Sulawesi Barat sebagai daerah konsumen dalam meredam fluktuasi sangat rendah. Nilai koefisien variasi memperlihatkan perbedaan kemampuan provinsi dalam meredam fluktuasi harga serta perbedaan kemampuan daerah dalam mencari supply komoditi pangan ketika permintaan tinggi.

Indonesia sebagai negara yang mencakup daerah lautan yang luas menyebabkan proses distribusi yang menjadi sulit. Letak pasar konsumen bahan pangan yang yang terpisah sangat jauh dengan daerah produksi dan tidak berimbangnya jumlah produksi dan konsumsi membuat tingginya biaya perdagangan menyebabkan lemahnya integrasi pasar komoditi pangan. Pada pasar yang terintegrasi dengan hubungan perdagangan yang baik, penerapan intervensi pemerintah dalam meredam fluktuasi harga dapat disalurkan kepada pasar-pasar lainnya. Pelaksanaan kebijakan harga dapat dilakukan dengan biaya yang lebih murah, sehingga apabila terjadi gejolak harga di suatu daerah dapat dilakukan aksi efektif agar gejolak harga tersebut tidak meluas dan menjadi gejolak nasional.

Dari kajian Worldbank tentang pengembangan sektor perdagangan tahun 2011 meneliti mengenai integrasi spasial komoditi kedelai, jagung, beras, gula dan minyak goreng. Menyimpulkan bahwa untuk komoditas yang menerima banyak intervensi dari pemerintah seperti beras tingkat integrasinya akan sedikit lebih tinggi. Tingkat integrasi spasial antar provinsi cukup signifikan sebagaimana ditunjukan pergerakan harga bersama yang kuat, pada komoditi gula mempunyai angka 83 % pasangan pasar provinsi terintegrasi, beras 76 % pasangan terintegrasi, minyak goreng 30 % pasangan terintegrasi, jagung 28 % pasangan terintegrasi dan komoditi kedelai 26 % pasangan pasar provinsi terintegrasi.

Beberapa aspek integrasi pasar yang perlu dipertimbangkan oleh pembuat kebijakan mencakup luas, kecepatan, faktor penentu dan dampak geografis dari transmisi harga. Derajat integrasi juga dapat memperlihatkan apakah struktur arus perdagangan di Indonesia telah berjalan dengan baik atau tidak. Dengan memahami semua aspek integrasi pasar tersebut, para pembuat kebijakan akan lebih mampu merumuskan kebijakan yang mendatangkan manfaat bagi produsen, sekaligus melindungi konsumen.

Untuk menjawab permasalahan penelitian tersebut adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah dinamika harga pangan di Indonesia?

2. Berapa besaran tingkat integrasi pasar pangan antar wilayah terjadi di Indonesia?

3. Berapa besaran elastisitas transmisi perubahan harga didaerah akibat perubahan harga di pasar acuan?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisa dinamika harga komoditi pangan di Indonesia. 2. Menganalisa integrasi pasar pangan antar wilayah di Indonesia.

(22)

6

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tingkat integrasi pasar komoditi pangan antar provinsi di Indonesia. Bagi pemerintah dapat menjadi masukan dalam menentukan kebijakan yang akan diambil khususnya dalam kebijakan perdagangan dalam upaya tercapainya stabilitas harga pangan antar wilayah yang efektif dan efisien. Bagi penulis penelitian ini diharapkan dapat memperdalam ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan dalam bidang perekonomian. Bagi pembaca, penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya

Ruang Lingkup Penelitian

Cakupan komoditi yang diteliti adalah beras, gula, jagung, daging ayam, kacang kedelai dan daging sapi sedangkan yang dianalisis adalah 33 provinsi di Indonesia, sementara periode analisis dalam penelitian ini adalah tahun 2009 sampai dengan tahun 2013. Provinsi yang dijadikan acuan menggunakan data daerah yang memiliki tingkat produksi, konsumsi dan nilai perdagangan yang menjadi perhatian dari pemerintah. Provinsi yang dijadikan acuan yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara dan DKI Jakarta. Data bersumber dari data Kementerian Perdagangan, Badan Pusat Statistik dan sumber-sumber lainnya.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Teori Integrasi

Goletti et al. (1996) mendefinisikan integrasi pasar sebagai kondisi yang dihasilkan akibat tindakan pelaku pemasaran serta lingkungan pemasaran yang mendukung terjadinya perdagangan, yang meliputi infrasruktur pemasaran dan kebijakan pemerintah, yang menyebabkan harga di suatu pasar ditransformasikan ke pasar lainnya. Integrasi pasar merupakan sebuah konsep dimana harga-harga pada pasar yang terpisah secara spasial atau pasar yang merupakan level yang berbeda dalam suatu supply chain digerakkan oleh mekanisme penawaran dan permintaan. Menurut Fackler dan Goodwin (2001) penggunaan analisis korelasi dalam menguji integrasi pasar di negara berkembang tidak memadai dimana sering terjadi fragmentasi pasar karena transportasi dan infrastruktur komunikasi serta pergerakan politik yang tidak stabil sehingga digantikan dengan analisis regresi dinamis.

(23)

7 industri dapat menghasilkan komoditi yang menjadi subtitusi bagi komoditi lain sehingga harga komoditi tersebut tidak independen lagi.

Berdasarkan hubungan pasar integrasi pasar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: a) integrasi pasar spasial, merupakan tingkat keterkaitan hubungan antara pasar regional dan pasar regional lainnya, dan b) integrasi pasar vertikal, merupakan tingkat keterkaitan hubungan suatu lembaga pemasaran dengan lembaga pemasaran lainnya dalam suatu rantai pemasaran.

Integrasi Spasial

Menurut Tomek dan Robinson (1990), hubungan suatu harga dari pasar yang terpisah secara geografis dapat dianalisa dengan konsep integrasi pasar spasial. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan model keseimbangan spasial. Model ini dikembangkan dengan menggunakan kurva excess demand dan excess supply pada dua wilayah yang melakukan perdagangan, sehingga memungkinkan untuk dilakukan pendugaan harga yang terbentuk pada masing-masing pasar dan jumlah komoditi yang akan diperdagangkan.

Integrasi pasar spasial menunjukkan hubungan harga antar pasar yang terpisah secara geografis yang dapat dianalisis dengan menggunakan model keseimbangan harga spasial (Tomek dan Robinson, 1990). Model ini dapat dijelaskan dengan mengembangkan kurva excess supply dan excess demand pada dua daerah yang melakukan perdagangan. Model ini juga memungkinkan untuk mengestimasi net price yang terbentuk di masing-masing daerah dan jumlah komoditi yang diperdagangkan oleh dua pasar/daerah.

Sumber : Tomek dan Robinson, 1990

Gambar 4 : Kurva Supply dan Demand Daerah Potensial Surplus dan Daerah Potensial Defisit.

(24)

8

ditransfer atau diekspor ke daerah yang mengalami kelebihan permintaan (excess demand) yaitu daerah B untuk memenuhi kekurangan supply di daerah tersebut.

Integrasi harga spasial dapat diartikan sebagai transmisi harga antar pasar yang direfleksikan dalam perubahan harga di pasar yang berbeda geografis untuk komoditi yang sama. Menurut Ravallion (1986), jika terjadi perdagangan antara dua wilayah, kemudian harga di wilayah yang mengimpor komoditi sama dengan harga di wilayah yang mengekspor komoditi, ditambah dengan biaya transportasi yang timbul karena perpindahan diantara keduanya maka dapat dikatakan keduanya terjadi integrasi spasial.

Beberapa studi integrasi pasar komoditas pertanian sebelumnya banyak mengacu pada model Ravallion. Dengan perkembangan model ekonometrika, banyak studi yang menggunakan pendekatan time-series untuk melihat apakah dua pasar atau lebih terintegrasi. Model Ravallion digunakan untuk melihat transmisi harga dari pasar acuan ke pasar lokal. Model ini digunakan secara luas, dikembangkan, dan didiskusikan dalam analisis integrasi pasar. Integrasi pasar dengan menggunakan model ini dapat menentukan leading market diantara pasar-pasar lokal. Berangkat dari persamaan sebagai berikut :

P1 = f1 (P2, P3, ..., Pn, Xi) ……….…(1)

Pi = fi (P1, Xi), (i = 2,...,n) ………..(2)

Dimana P adalah harga komoditi dan Xi adalah vektor yang menunjukkan

faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi harga di pasar lokal. Fungsi fi (i=

1,…..n) merupakan solusi dalam menentukan equilibrium pasar dan penambahan biaya dari pedagang dalam menentukan lokasi penjualan. Persamaan (1) dan (2) hanya mengukur harga pada waktu sekarang, maka memasukkan pengaruh time lag pada harga akan memberikan struktur yang lebih dinamis.

P

it =

a

P

t j

a. Market segmentation, leading market tidak mempengaruhi harga di ith pasar local, jika

bij = 0 (j =0,…, n)………..(5)

.

b. Short-run market integration, kenaikan harga di leading market akan dengan cepat direspon oleh ith pasar local apabila,

bio = 1, dan juga aij = bij = 0 (j= 1,…,n)……...……... (6)

Jika persyaratan (6) diterima sebagai parameter maka dapat disimpulkan bahwa pasar lokal i terintegrasi dengan leading market pada periode satu lag.

(25)

9

Bila parameter (9) terpenuhi maka perubahan harga dalam jangka pendek yang diperlihatkan model akan konsisten dengan keseimbangan antara pasar di leading market dengan pasar lokal. Jika integrasi jangka panjang diterima, maka akan lebih efisien dalam mengestimasi parameter lainnya dan estimasi statistic dapat dilakukan dengan model long-run integration. Persamaan (4) dalam integrasi jangka panjang akan dapat ditulis ulang sebagai berikut:

∆Pit = (ait -1) (Pit-1– P1t-1) +

Model error correlation ini dapat diartikan bahwa perubahan di pasar lokal merupakan pengaruh dari perubahan harga yang terjadi di pasar acuan (leading market).

Tinjauan Empiris

Penelitian mengenai integrasi baik spasial maupun vertical pada komoditas pertanian banyak sekali dilakukan untuk mengetahui seberapa besar manfaat dari kenaikan harga international bagi produsen dalam negeri. Tahir dan Riaz (1997) meneliti tentang integrasi komoditi pertanian di Punjab, Pakistan menggunakan model Ravallion menyimpulkan bahwa untuk produk pertanian integrasi terjadi pada jangka panjang sedangkan untuk integrasi jangka pendek hanya terjadi untuk produk tertentu. Tingkat integrasi pasar ini tidak terlepas dari ukuran pasar dari komoditi, kecepatan transmisi guncangan harga dari pasar mengacu pada pasar lokal. Integrasi pasar memiliki dampak terhadap kebijakan hal ini berlaku untuk komoditi beras, beberapa pasar beras yang ditemukan tidak terintegrasi bahkan dalam jangka panjang dan hal ini menunjukkan bahwa ada potensi untuk kondisi permintaan lokal.

(26)

10

terintegrasi dengan pasar konsumsi utama. Null hipotesis bahwa pasar ini berbagi tren stokastik umum dengan lokasi lain ditolak pada tingkat kurang dari 5% dari signifikansi. Ketiga, hasil uji kausalitas menunjukkan bahwa hubungan kausal bi-directional selama periode 1999-2001 integrasi pasar setelah adanya liberalisasi pasar membaik dalam beberapa tahun terakhir.

Penelitian Ghafoor dan Aslam (2012) tentang integrasi dan transmisi harga beras di Pakistan, analisis data menunjukkan bahwa lima pasar beras utama Pakistan yang terintegrasi satu sama lain secara keseluruhan. Integrasi pair-wise pasar ini menunjukkan adanya kointegrasi vektor. Dengan demikian mungkin akan mengungkapkan bahwa pasar beras di negara tersebut terintegrasi satu sama lain dan sinyal harga dan arbitrase terkait dipraktekkan dengan baik. Vektor penyesuaian diukur melalui Error Correction Mechanism menunjukkan bahwa dibutuhkan hampir 4-5 bulan untuk menyesuaikan setiap guncangan jangka pendek di pasar beras dari Pakistan. Pasar ini menyesuaikan 8-19 persen dari disequilibrium per unit waktu yaitu satu bulan. Dalam kasus transmisi harga dari pasar internasional ke pasar beras dalam negeri Pakistan, ditemukan bahwa tidak terjadi kointegrasi. Ini mungkin karena alasan bahwa Pakistan sendiri adalah eksportir besar beras dan kurang tergantung pada pasar internasional untuk pembentukan harga di pasar beras domestik.

Penelitian Nga dan Lantican (2008) mengenai integrasi spasial pada pasar beras di Vietnam yang menganalisis pola dan besaran integrasi pasar menggunakan analisis LOP (Law of One Price) dan speed of adjustment long run equilibrium dengan kointegrasi. Hasil penelitian menunjukan hanya 9 dari 34 pasar beras yang terhubung pada satu kesatuan pasar, namun harga dapat ditransmisikan dengan baik diantara pasar yang terintegrasi. Harga ekspor beras dari Vietnam dan Thailand terkointegrasi dan terbukti menuju ke LOP, dan penghilangan kuota ekspor tidak berpengaruh signifikan dalm penentuan harga di kedua negara tersebut. Studi ini juga menyarankan bahwa untuk meningkatkan harga ekspor beras maka Vietnam harus menerapkan teknologi pasca panen dan mengembangkan varietas beras, dan juga mengembangkan pemasaran yang terintegrasi dari petani dan eksportir.

Penelitian Bustaman (2003) mengenai integrasi pasar beras di Indonesia menyimpulkan bahwa provinsi yang memiliki hubungan self-sufficietnt-defisit dan surplus defisit memiliki derajat integrasi yang tinggi, sedangkan provinsi yang memiliki hubungan self-sufficient-self-sufficient memiliki derajat integrasi rendah. Hubungan integrasi pasar antara dua pasar dapat terjadi meskipun tidak terhubung perdagangan dan arus barang, faktor yang menyebabkan hal ini adalah adanya arus informasi yang baik sehingga kedua pasar dapat terhubung dalam satu sistem perdagangan yang sama. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa pada komoditi beras di Indonesia terdapat tiga pasar yang berperan sebagai pasar acuan yaitu Jakarta, Jawa Barat dan Sumatera Utara.

Kerangka Pemikiran.

(27)

11 menelaah struktur pasar untuk berbagai komoditi tersebut sangatlah penting dalam menjaga stabilitas harga komoditi agar proses pengambilan keputusan dapat efektif. Apabila struktur pasar atau para pedagang terhubung kepada sistem perdagangan, maka harga-harga yang berlaku pada semua pasar akan bergerak bersama-sama membentuk pasar yang terpadu. Pentingnya pengetahuan mengenai keterpaduan pasar dalam pengambilan kebijakan intervensi pasar sehingga pemerintah dapat menghindari intervensi ganda dan dapat mengurangi beban anggaran.

Efektifitas pasar antar provinsi di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kebijakan perdagangan yang berbeda tiap provinsi, kondisi geografis dan jarak ekonomi antar provinsi menyebabkan tingkatan integrasi yang berbeda antar wilayah. Hubungan integrasi antar wilayah yang terpisah secara geografis menyebabkan perubahan harga pada suatu pasar yang dijadikan acuan akan ditransformasikan ke pasar-pasar lainnya. Jika hubungan kedua pasar terintegrasi maka peningkatan harga di pasar acuan akan merambat ke pasar lainnya. Apabila tingkat volatilitas harga di pasar acuan tidak dijaga dengan baik maka harga di pasar yang terintegrasi akan bergejolak dan dapat berkembang ke seluruh pasar dalam negeri di Indonesia.

Gambar 5. Kerangka Pemikiran

(28)

12

3. METODE PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder time series bulanan dari tahun 2009 s/d tahun 2013, yang terdiri dari harga eceran bulanan di 33 propinsi di Indonesia (menggunakan data dari Kementerian Perdagangan periode Januari 2009 s/d Desember 2013). Data yang digunakan berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan IMF.

Metode Analisis Data

Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan suatu teknik analisis yang sederhana yang dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi suatu observasi dengan menyajikan dalam bentuk ulasan, table maupun grafik dengan tujuan memudahkan dalam menafsirkan hasil observasi. Analisis deskriptif pada penelitian ini untuk melihat dinamika baik harga, produksi dan nilai impor komoditi pangan di Indonesia.

Analisis Regresi Model Ravallion

Model Ravallion (1986) telah digunakan secara luas, dikembangkan, dan didiskusikan dalam analisis integrasi pasar. Secara umum model persaman matematik yang dikembangkan oleh Heytens (1986), adalah sebagai berikut:

Pt= b1Pt-1+ b2(Rt-Rt-1)+ b3Rt-1+ b3 Xt………..(11)

Jika diasumsikan bahwa deret waktu di pasar lokal (P) dan di pasar acuan (R) mempunyai pola musiman yang sama, sehingga tidak perlu memasukkan peubah

dummy untuk musiman (Xt). Maka persamaan (11) akan menjadi:

Pt= b1Pt-1+ b2(Rt-Rt-1)+ b3Rt-1+ εt………(12)

Untuk menunjukkan pengaruh harga masa lalu pasar provinsi dan harga masa lalu pasar acuan terhadap pembentukkan harga produsen di pasar regional pada waktu tertentu digunakan Index of Market Connection (IMC). IMC dikembangkan oleh Timmer (1986) yang didefinisikan sebagai rasio koefisien pasar provinsi dengan koefisien pasar acuan, yaitu:

IMC =

3 1

b b

………(13)

Menurut Timmer (1986), IMC dengan nilai kurang dari satu mengindikasikan terjadinya integrasi jangka pendek. Secara umum, jika nilai IMC semakin mendekati nol maka semakin tinggi derajat integrasi. Dalam hal ini b2

merupakan ukuran derajat perubahan harga di pasar acuan yang ditransmisi ke pasar regional. Dalam pendekatan ini, hipotesis integrasi jangka pendek dirumuskan sebagai berikut:

H0 : b1/b3 = 0

(29)

13

Bila hipotesis nol ditolak artinya pasar tidak terintegrasi dalam jangka pendek. Untuk integrasi jangka panjang dirumuskan hipotesis:

H0 : b2 = 1

keterkaitan antara pasar pengikut dengan pasar acuan, pasar lokal dikatakan terintegrasi dalam jangka pendek jika nilai IMC nya < 1, jika nilai IMC lebih besar dari 1 maka pasar dapat dikategorikan terintegrasi secara lemah dalam jangka pendek. Sedangkan apabila nilai IMC < 0 maka pasar dapat dikatakan terisolasi dari pasar acuan, artinya harga di pasar acuan tidak memiliki pengaruh dalam pembentukan harga di pasar local. Untuk melihat besaran pengaruh harga pasar acuan pada waktu sebelumnya (Rt-1) terhadap pasar local (Pt) dilihat melalui

nilai koefisien b3. Nilai koefisien b3 menunjukan besarnya presentase perubahan

harga di pasar local akibat perubahan harga di pasar acuan pada waktu sebelumnya. Artinya jika harga bulan lalu di pasar acuan berubah sebesar 1 persen maka harga di pasar local pada saat sekarang berubah sebesar b3 persen.

Integrasi pasar jangka panjang menunjukkan bagaimana perubahan harga berdasarkan waktu di pasar acuan secara langsung diteruskan ke pasar local, integrasi jangka panjang diwakili oleh koefisien b2 (marjin harga bulan ini dengan

bulan lalu). Nilai koefisien b2 dari persamaan menunjukan besaran presentase

perubahan harga di pasar local akibat perubahan harga di pasar acuan. Jika harga di pasar acuan berubah sebesar 1 persen maka harga di pasar local akan berubah sebesar b2 persen, suatu pasar terintegrasi dalam jangka panjang apabila nilai

koefisien b2 nya mendekati nilai 1. Sedangkan jika nilai b2 < 0, maka dapat

dikatakan pasar tersebut terisolasi atau pasar tersebut bergerak secara mandiri. Koefisien b2 juga memperlihatkan elastisitas transimisi harga yaitu

(30)

14

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Produksi dan Kebijakan Harga Pangan di Indonesia

Pada Gambar 6 menunjukan peta produksi di Indonesia terlihat bahwa Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Lampung merupakan daerah produsen utama komoditi beras, gula, daging sapi, jagung, kedelai dan daging ayam. Komoditi tersebut merupakan komoditi yang sangat penting bagi pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia. Jawa Barat merupakan produsen terbesar untuk daging ayam dan beras dengan angka 37.34 persen dari produksi daging ayam dan 16.99 produksi beras nasional. Jawa Timur merupakan produsen terbesar gula, daging sapi, kedelai dan jagung dengan angka 48.44 persen dari produksi gula nasional, daging sapi sebesar 21.69 persen produksi nasional, 31.13 persen produksi jagung nasional dan 42.49 persen produksi kedelai nasional Indonesia.

Bila melihat data konsumsi per kapita beras lima tahun belakangan dapat disimpulkan bahwa pergeseran konsumsi dimana mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Data BPS 2014 menunjukan konsumsi tahun 2009 yakni sebesar 91.302 kg/kapita/tahun sedangkan pada 2013 konsumsi sudah berubah menjadi 85.514 kg/kapita/tahun atau rata-rata pertumbuhan konsumsi sebesar -1.62 persen. Bagi beberapa kalangan beras digantikan oleh makanan pokok lain selain beras misal singkong, kentang, ubi dan beberapa makanan berkarbohidrat lainnya, serta adanya gerakan mengurangi konsumsi beras mengakibatkan penurunan tingkat konsumsi beras. Pada tahun 2013 konsumsi turun sebesar 6,34 persen dibandingkan tahun 2009, hal ini berdampak positif dalam rangka perolehan swasembada beras bagi Indonesia.

Sumber. BPS, 2014

(31)

15 pulau jawa. Sedangkan untuk provinsi diluar pulau jawa, provinsi Sumatera Utara memiliki produksi mencapai 6 persen dari total produksi Indonesia dengan angka 32 171 ton. Sumatera Barat dengan 4 persen atau 23 543 ton. Pada tahun 2014 pemerintah membuat kebijakan untuk membatasi kuota impor baik bakalan maupun daging sapi untuk meningkatkan sumber daya sapi lokal yang selama ini tidak mampu bersaing, yaitu dengan menetapkan volume impor sebesar 500.000 ekor /tahun sejak 2011 hingga semakin menipis menjadi 80.000 ekor untuk periode tahun 2013 (Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Yang Dipimpin Menteri Koordinator Ekonomi, 28 November 2012 yang dikutip dari Dokumen Berita Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan).

Kedelai merupakan produk yang sangat penting untuk mencukupi kebutuhan protein nabati bagi penduduk di Indonesia. Menurut BPS pada tahun 2013 produksi kedelai di Indonsia mencapai angka 779 992 ton. Dimana provinsi Jawa Timur menghasilkan 329 461 ton atau 42.24 persen produksi nasional. Provinsi Jawa Tengah menghasilkan 99 318 ton atau 12.73 persen dari produksi nasional, sedangkan provinsi Nusa Tenggara Barat dengan 91 065 ton atau 11.68 persen. Provinsi Jawa Barat dengan 6.56 persen atau 51 172 ton kedelai pada tahun 2013. Untuk daerah sulawesi penghasil terbesar terdapat di provinsi Sulawesi Selatan dengan angka mencapai 5.86 persen dari produksi nasional atau 45 693 ton. Sedangkan untuk pulau sumatera terdapat pada provinsi Aceh dengan prosuksi mencapai 45 027 ton atau 5.77 persen dari produksi nasional.

Jagung bagi sebagian penduduk di Indonesia merupakan makanan pokok seperti halnya beras, hal ini menyebabkan jagung merupakan komoditi yang penting bagi sebagian penduduk di Indonesia. Menurut BPS pada tahun 2013 produksi jagung di Indonsia mencapai angka 18 511 853 ton. Dimana provinsi Jawa Timur menghasilkan 5 760 959 ton atau 31.12 persen produksi nasional. Provinsi Jawa Tengah menghasilkan 2 930 911 ton atau 15.83 persen dari produksi nasional. Untuk pulau sumatera provinsi Lampung dan Sumatera Utara merupakan penghasil utama produk jagung dengan 1 760 278 ton dan 1 183 011 ton atau 9.51 persen dan 6.39 persen. Sedangkan Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo merupakan produsen terbesar untuk wilayah timur dengan produksi mencapai 1 250 202 ton, 707 642 ton dan 669 094 ton atau 6,75 persen, 3,82 persen dan 3.61 persen dari produksi nasional.

Dalam kebijakan umum ketahanan pangan dalam rangka peningkatan ketahanan pangan dan revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan terdapat 4 target/sasaran utama kebijakan Kementerian Pertanian, yaitu:(a) pemantapan swasembada beras, jagung, daging ayam, telur, dan gula konsumsi melalui peningkatan produksi berkelanjutan, dan pencapaian swasembada kedelai, daging sapi dan gula industri secara berkelanjutan; (b) pengembangan penganeka-ragaman pangan dan pembangunan lumbung pangan masyarakat untuk mengatasi rawan pangan dan stabilisasi harga di sentra produksi; (c) peningkatan nilai tambah dan daya saing ekspor; dan (d) peningkatan kesejahteraan petani (DKP, 2012).

(32)

16

jagung angka impor mencapai 3.19 juta ton sedangkan produksi dalam negeri mencapai 18.51 juta ton pada tahun 2013, prosentase impor hanya 14.70 persen dari kebutuhan nasional. Komoditi daging sapi merupakan komoditi pangan yang sempat mengalami angka impor tinggi, tahun 2009 angka impor mencapai 234.21 ribu ton atau 32.57 persen namun kecenderungan menurun pada tahun 2013 angka impor menjadi 42.36 ribu ton atau 7.20 persen. Untuk komoditi gula,daging ayam dan beras angka impor menunjukan angka kurang dari 5 persen dan tren impor cenderung turun dari tahun 2009 sampai dengan 2013.

Produksi padi di Indonesia dari tahun 2009 s/d 2013 menunjukan tren yang positif, sedangkan bila melihat data konsumsi per kapita dari BPS menunjukan tren yang negatif. Indonesia. Sebagai negara berpenduduk 240 juta jiwa dan beras merupakan makanan pokok bagi penduduk di Indonesia, pemenuhan kebutuhan bagi warga negara adalah suatu keharusan dalam memperoleh stabilitas baik ekonomi maupun politik. Swasembada beras merupakan tujuan utama dalam rangka pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, namun seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan konsumsi, pemenuhan kebutuhan tersebut seringkali harus melalui mekanisme impor. Fluktuasi harga bahan pokok di dunia sangat mempengaruhi dalam upaya pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Sumber ; BPS dan UN Comtrade; 2014 (diolah).

Gambar 7. Komposisi Produksi dan Impor Pangan Indonesia Tahun 2009 s/d 2013

(33)

17 minyak, dan pangan yang terjadi secara global. Respon pemerintah tersebut diantaranya: (a) Kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk pembelian gabah dan beras; (b) Kebijakan pengadaan cadangan pangan pemerintah yang dilaksanakan oleh Perum Bulog;dan (c) Kebijakan pembelian gabah/beras saat panen raya.

Selain diperoleh dari produksi dalam negeri, pasokan gula nasional juga diperoleh dari impor gula yang dilakukan. Diberlakukannya kebijakan impor ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi kelangkaan gula saat tidak terjadi panen dan giling. Berdasarkan Permendag No 19/2008 tentang Perubahan Kelima atas Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 527/2004 tentang Ketentuan Impor Gula, disebutkan bahwa; 1) Gula kristal putih hanya dapat diimpor satu bulan sebelum dan dua bulan sesudah musim giling 2) Impor juga diperbolehkan jika harga GKP di atas harga dasar gula (HDG) 3) Impor juga diizinkan apabila produksi dan/atau persediaan GKP di dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan. Peraturan ini merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam melindungi petani dan industri gula dalam negeri sesuai dengan tujuan utama swasembada gula nasional 2014.

Penetapan kebijakan pembatasan kuota impor sapi memang menjadi angin segar bagi kelangsungan peternak sapi lokal. Keberlangsungan usaha sapi lokal yang tadinya tidak mampu bersaing dengan sapi Impor diharapkan bisa membaik dengan adanya kebijakan ini. Namun, terdapat efek domino yang ditimbulkan oleh penetapan kebijakan pembatasan kuota impor sapi tersebut yang dikarenakan semakin minimnya stok sapi impor yang ada di Indonesia lantas membuat kinerja perusahaan yang berorientasi pada impor sapi mengalami penurunan. Harga daging sapi yang beredar di masyarakat tentu akan mengalami kenaikan yang cukup tinggi karena stok daging sapi impor yang sebelumnya membanjiri pasar menjadi sulit untuk di dapat.

Dinamika Harga Komoditi Pangan Indonesia

a. Beras

Penelitian ini menggunakan data harga beras kualitas medium di 33 provinsi di Indonesia, menggunakan data bulanan dari periode bulan Januari 2009 sampai Desember 2013, yang diambil dari data Kementerian Perdagangan. Gambar 8 menunjukan bahwa fluktuasi harga beras pada periode akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011 menunjukan fluktuasi yang tinggi di beberapa daerah. Lonjakan pada periode tersebut dialami oleh provinsi Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Papua Barat dan Kepualauan Riau.

(34)

18

Sumber : Direktorat Bapokstra, Kementerian Perdagangan; 2014 (diolah).

(35)

19 Produksi beras di Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini memang terus mengalami flkutuasi peningkatan yang cukup tajam. Menurut BPS pada tahun 2013 Indonesia memproduksi 71 279 709 ton padi, pulau Jawa masih menjadi penghasil lumbung padi nasional. Provinsi Jawa Barat memproduksi 17 persen dari total produksi beras nasional dengan nilai mencapai 12 083 162 ton. Jawa Timur juga memproduksi 17 persen beras dengan 12 049 342 ton, sedangkan Jawa Tengah sebesar 15 persen dengan 10 344 816 Ton beras yang dihasilkan. Untuk daerah diluar pulau jawa, provinsi Sulawesi Selatan menempati posisi ke 4 dengan 7 persen produksi sebesar 5 035 830 ton, Sumatera Utara memproduksi 3 727 249 ton dan Sumatera Selatan memproduksi 3 676 723 ton.

b. Gula

Gula merupakan salah satu komoditas strategis sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah, dimana dinamika harga gula akan mempunyai pengaruh langsung terhadap laju inflasi. Program swasembada gula nasional menargetkan produksi gula 5.7 juta ton pada tahun 2014 nanti. Produksi gula dalam negeri pada masa 2009 s/d 2013 secara umum mengalami kenaikan, sedangkan bila melihat kosumsi per kapita mengalami penurunan. Pada periode ini pertumbuhan produksi gula rata-rata sebesar 2.41 persen sedangkan konsumsi penurunan rata-rata sebesar 4.08 persen (BPS, 2014). Impor gula pada tahun 2010 merupakan jumlah terbesar selama lima tahun belakangan mencapai angka 569 687.5 ton, hal ini terjadi karena kebijakan impor dalam rangka pemenuhan kebutuhan dalam negari dimana produksi mengalami penurunan dibandingkan tahun 2009.

Kenaikan tren produksi dan penurunan konsumsi gula akan berpengaruh terhadap dinamika harga gula nasional. Fluktuasi harga gula pada Gambar 9 menunjukan bahwa pergerakan harga di 33 provinsi di Indonesia berjalan dengan arah yang sama, hanya Kepulauan Riau dan Papua Barat yang berbeda arah dengan provinsi lainnya. Bila melihat rata-rata harga gula, Kepulauan Riau merupakan provinsi pada periode 2009-2013 dengan nilai terendah yakni sebesar Rp.9 241 per kilogram. Harga tertinggi gula dengan nilai Rp. 13 305 per kilogram di provinsi Papua Barat, perbedaan harga tertinggi yang mencapai 43.97 persen dengan harga terendah dapat disimpulkan perbedaan harga yang tinggi antar wilayah di Indonesia.

(36)

20

Sumber ; Direktorat Bapokstra, Kementerian Perdagangan; 2014 (diolah).

(37)

21 Sumber ; Direktorat Bapokstra, Kementerian Perdagangan; 2014 (diolah).

(38)

22

c. Daging Sapi

Menurut BPS pada tahun 2013 produksi daging sapi di Indonsia mencapai 545 621 ton. Pulau Jawa masih menjadi penghasil daging sapi di Indonesia dengan total 317 506 ton atau 58,19 persen untuk keenam provinsi yang ada di pulau jawa. Sedangkan untuk provinsi diluar pulau jawa, provinsi Sumatera Utara memiliki produksi mencapai 6 persen dari total produksi Indonesia dengan angka 32 171 ton. Sumatera Barat dengan 4 persen atau 23 543 ton. Konsumsi rata-rata dari tahun 2009 sampai 2013 mencapai angka 0.344 kilogram/kapita/tahun, dengan pertumbuhan rata-rata minus 2.53 persen.

Komitmen pemerintah untuk melakukan swasembada daging sapi melalui peningkatan populasi sapi lokal dan menurunkan kuota impor daging sapi seringkali membuat harga daging sapi bergejolak. Bila melihat Gambar 10 dinamika harga dari 33 provinsi di Indonesia pada periode 5 tahun belakangan terlihat bergerak beiringan. Harga rata-rata daging sapi terendah terletak di provinsi Bali dengan nilai Rp.53 237 per kilogram, dan tertinggi Papua dengan Rp.93 945 per kilogram. Tingkat volatilitas harga daging sapi dari angka koefisien variasi memperlihatkan bahwa Sulawesi Tenggara merupakan daerah dengan tingkat fluktuasi harga yang rendah yaitu 0.0625, sedangkan Jawa Barat sebagai provinsi produsen terbesar kedua memiliki nilai koefisien variasi 0.1899 tertinggi di Indonesia. Jawa Timur sebagai provinsi produsen terbesar di Indonesia tahun 2013 dengan nilai produksi 118 363 ton atau 58.19 persen dari produksi nasional memperlihatkan harga rata-rata periode 2009 sampai 2013 sebesar Rp. 65 227 per kilogram dan koefisien variasi 0.1571.

d. Daging Ayam

Daerah sentra produksi daging ayam ras lebih banyak berada di Pulau Jawa dibandingkan di luar Pulau Jawa selama periode 2008-2013. Propinsi Jawa Barat merupakan sentra produksi daging ayam ras terbesar di Indonesia pada tahun 2013 dengan pangsa sebesar 37.74 persen kemudian diikuti oleh Jawa Timur (11.37 persen), DKI Jakarta (7.96 persen), Jawa Tengah (7.98 persen) dan Banten (7.46 persen). Sementara di luar Pulau Jawa, propinsi sentra produksi daging ayam ras terbesar adalah Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan dengan pangsa sebesar 3.46 persen dan 2.98 persen. Dilihat dari sisi konsumsi, tingkat konsumsi daging ayam ras lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi daging lainnya (sapi, kambing, ayam buras). Hal ini disebabkan harga daging ayam ras lebih terjangkau dibandingkan harga daging yang lain dan juga memiliki kandungan gizi yang tinggi.

(39)

23 Sumber ; Direktorat Bapokstra, Kementerian Perdagangan; 2014 (diolah).

(40)

24

Sumber ; Direktorat Bapokstra, Kementerian Perdagangan; 2014 (diolah).

(41)

25 e. Jagung

Jagung bagi sebagian penduduk di Indonesia merupakan makanan pokok seperti halnya beras, hal ini menyebabkan jagung merupakan komoditi yang penting bagi sebagian penduduk di Indoneia. Menurut BPS pada tahun 2013 produksi jagung di Indonsia mencapai angka 18 511 853 ton. Dimana provinsi Jawa Timur menghasilkan 5 760 959 ton atau 31,12 persen produksi nasional. Provinsi Jawa Tengah menghasilkan 2 930 911 ton atau 15.83 persen dari produksi nasional. Untuk pulau sumatera provinsi Lampung dan Sumatera Utara merupakan penghasil utama produk jagung dengan 1 760 278 ton dan 1 183 011 ton atau 9.51 persen dan 6.39 persen. Sedangkan Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo merupakan produsen terbesar untuk wilayah timur dengan produksi mencapai 1 250 202 ton, 707 642 ton dan 669 094 ton atau 6.75 persen, 3.82 persen dan 3.61 persen dari produksi nasional.

Perkembangan harga jagung dari tahun 2009 sampai 2013 menunjukan trend yang positif ditunjukan pada Gambar 12. Rata-rata harga jagung terendah terdapat di provinsi Sulawesi Selatan dengan nilai Rp. 3 388 per kilogram, sedangkan tertinggi di Kepulauan Riau dengan harga mencapai Rp. 7 587 perkilogram. Perbedaan yang cukup tinggi dari harga terendah dan tertinggi di Indonesia yang mencapai 123.9 persen memperlihatkan bahwa kesenjangan antar provinsi terhadap harga komoditi jagung masih sangat tinggi. Fluktuasi harga di setiap provinsi juga memperlihatkan angka yang berbeda, fluktuasi terendah terdapat di provinsi Kepulauan Riau dengan nilai koefisien variasi 0.0534 dan tertinggi terdapat di provinsi Riau dengan nilai 0.4015. Perbedaan nilai koefisien variasi pada keduanya memperlihatkan bahwa dinamika harga komoditi jagung di Indonesia masih belum berjalan dengan baik.

f. Kedelai

Kedelai merupakan produk yang sangat penting untuk mencukupi kebutuhan protein nabati bagi penduduk di Indonesia. Menurut BPS pada tahun 2013 produksi kedelai di Indonsia mencapai angka 779 992 ton. Dimana provinsi Jawa Timur menghasilkan 329 461 ton atau 42.24 persen produksi nasional. Provinsi Jawa Tengah menghasilkan 99 318 ton atau 12.73 persen dari produksi nasional, sedangkan provinsi Nusa Tenggara Barat dengan 91 065 ton atau 11,68 persen. Provinsi Jawa Barat dengan 6.56 persen atau 51 172 ton kedelai pada tahun 2013. Untuk daerah Sulawesi penghasil terbesar terdapat di provinsi Sulawesi Selatan dengan angka mencapai 5.86 persen dari produksi nasional atau 45 693 ton. Sedangkan untuk pulau Sumatera terdapat pada provinsi Aceh dengan prosuksi mencapai 45 027 ton atau 5.77 persen dari produksi nasional.

(42)

26

Sumber : Direktorat Bapokstra, Kementerian Perdagangan; 2014 (diolah).

(43)

27 nasional yang mencapai Rp.9 058 perkilogram. Nilai koefisien variasi 0.0530 memperlihatkan bahwa harga di Jawa Timur tidak berfluktuasi pada tahun 2013. Nilai koefisien variasi harga antar provinsi sebesar 0.1875 memperlihatkan bahwa dinamika harga komoditi kedelai di Indonesia masih belum berjalan dengan baik

Integrasi Jangka Pendek Pasar Beras di Indonesia

Analisis integrasi pasar pada komoditi beras menggunakan 8 provinsi sebagai pasar acuan yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumateras Selatan, Lampung dan DKI Jakarta. Sedangkan provinsi lainnya sebagai pasar local yang diasumsikan mengacu harga terhadap pasar acuan. Nilai koefisien IMC menunjukan bahwa integrasi jangka pendek tidak terjadi diantara produsen beras di Indonesia. Nilai IMC yang lebih dari 1 menunjukan integrasi yang sangat lemah diantara daerah produsen hal ini disebabkan karena tidak adanya atau sangat kecilnya arus perdagangan diantara para produsen beras di Indonesia. Produsen yang surplus akan mencari daerah yang deficit untuk menjadi partner dalam berdagang karena permintaan dating dari daerah tersebut. Hal ini dapat terlihat dari hubungan antara provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta, dimana nilai IMC yaitu sebesar 3.06 dan 3.29 diantara keduanya memperlihatkan nilai IMC yang kecil. Jarak diantara keduanya dan dimana Jawa Barat merupakan salah satu pemasok beras ke Jakarta menjadi salah satu penyebab terjadinya nilai IMC yang rendah.

Nilai IMC dimana Sumatera Utara menjadi pasar pengikut pada Tabel 1 menunjukan bahwa nilai IMC yang signifikan dan memiliki nilai yang mendekati 1 menunjukan bahwa Sumatera Utara memiliki tingkat keterpaduan pasar dengan provinsi produsen lainnya yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Makasar, Sumatera Selatan, Lampung dan Jakarta. Namun sebagai pasar acuan Sumatera Utara tidak terintegrasi dengan baik dengan pasar produsen lainnya, hal ini dapat disimpulkan bahwa Sumatera Utara dalam jangka pendek tidak berperan terhadap pembentukan harga di daerah produsen namun pembentukan harga di Sumatera Utara dipengaruhi oleh daerah acuan. Provinsi yang terintegrasi signifikan walupun lemah terhadap pasar acuan yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung dan Jakarta. Sebagai lumbung padi nasional Jawa Barat sebagai daerah acuan tidak terintegrasi dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur namun terintegrasi sebagai daerah pengikut. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembentukan harga di Jawa Barat sebagai daerah produsen dipengaruhi oleh harga di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

(44)

28

Tabel 1. Hasil Pendugaan Regresi Model Ravalion Komoditi Beras di Indonesia

Provinsi Acuan Jawa Barat Jawa Timur Jawa Tengah Sulawesi Selatan

Provinsi Pengikut b1 b2 b3 IMC b2-1 b1 b2 b3 IMC b2-1 b1 b2 b3 IMC b2-1 b1 b2 b3 IMC b2-1

Kalimantan Selatan 0.936a 0.092 0.058 16.05 -0.908d

0.962a -0.373 0.037 26.23 1.373 d

(45)

29 ……….Lanjutan Tabel 1

Provinsi Acuan Sumatera Utara Sumatera Selatan Lampung Jakarta

Provinsi Pengikut b1 b2 b3 IMC b2-1 b1 b2 b3 IMC b2-1 b1 b2 b3 IMC b2-1 b1 b2 b3 IMC b2-1

(46)

30

infrastruktur dan tingkat komunikasi perdagangan yang masih rendah menyebabkan efisiensi perdagangan dan informasi belum berjalan dengan baik.

Dengan adanya berbagai kebijakan dalam rangka stabilisasi harga, beras di suatu daerah lebih tergantung oleh harga di daerah tersebut pada periode sebelumnya. Kenaikan harga pada provinsi produsen maupun konsumen yang dijadikan acuan dalam jangka pendek tidak akan mempengaruhi harga di provinsi lainnya. Dalam jangka pendek harga disetiap provinsi tidak dipengaruhi oleh provinsi acuan namun dipengaruhi oleh harga di daerah tersebut pada periode sebelumnya.

Integrasi Jangka Panjang Pasar Beras di Indonesia

Nilai koefisen b2 pada Table 1 sebagai hasil regresi menunjukan bahwa

dalam jangka panjang Sulawesi Selatan dan DKI Jakarta memilki nilai b2 yang

tinggi dan signifikan pada taraf 5 persen terintegrasi terhadap provinsi produsen. Sulawesi Selatan terintegrasi terhadap Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan DKI Jakarta. Dengan nilai b2 tertinggi yaitu Jawa Barat

0.924 dan terendah Jawa Tengah 0.736. Ini dapat diartikan bahwa apabila harga beras di Sulawesi Selatan naik sebesar 1 persen maka harga di Jawa Barat akan naik sebesar 0.924 persen dan Jawa tengah akan naik sebesar 0.736 persen.

DKI Jakarta sebagai provinsi acuan dan sebagai daerah yang deficit terhadap beras memiliki nilai b2 yang terbukti signifikan terhadap daerah

produsen. Jakarta terintegrasi dengan Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Nilai tertinggi yaitu dengan Jawa Barat 0.921 dan terendah dengan Sumatera Selatan 0.625. Hubungan perdagangan dengan Jawa Barat sebagai provinsi yang paling dekat dengan Jakarta menyebabkan integrasi terjadi diantara kedua daerah tersebut. Nilai 0.921 memperlihatkan bahwa harga beras di Jawa Barat sebagai lumbung padi nasional lebih dipengaruhi oleh harga di konsumen di Jakarta, bila harga di Jakarta nilai 1 persen maka harga di Jawa Barat akan naik sebesar 0.921 persen. Jakarta sebagai provinsi acuan dalam jangka panjang terintegrasi dengan 25 daerah lainnya namun dalam jangka pendek nilai IMC menunjukan angka yang tinggi, hal ini disebabkan bahwa harga memerlukan lebih dari 1 bulan periode untuk menyesuaikan. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Tahir dan Riaz (1997) yang menyatakan bahwa penyesuain harga pada komoditas pertanian umumnya memerlukan waktu, hal tersebut disebabkan oleh perbedaan intervensi pemerintah dalam pengelolaan pasca panen dan ancaman terhadap kekurangan pasokan bahan pangan.

Nilai koefisen b2 pada Tabel 1 sebagai hasil regresi menunjukan bahwa

dalam jangka panjang hampir semua provinsi acuan terintegrasi dengan provinsi lainya. Dari tabel terlihat bahwa provinsi Jakarta dan Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang terbukti signifikan terhadap daerah lainnya. Nilai b2 pada Jakarta

sebagai acuan terlihat mendekati nilai 1 bahkan pada Riau memiliki nilai yang lebih dari 1 (1.080) hal ini berarti apabila harga di Jakarta naik 1% maka harga di Riau akan naik lebih dari 1.080 persen pada jangka panjang. Jarak yang dekat dengan daerah acuan akan memperlihatkan nilai yang baik hal ini terlihat dari Banten dimana nilai b2 sebesar 0.828 dengan Jawa Barat sebagai acuan, 0.840

(47)

31 perdagangan diantara daerah tersebut menyebabkan adanya integrasi jangka panjang.

Sebagai daerah produsen yang surplus tidak semua daerah acuan memiliki arus perdagangan dengan daerah lainnya yang defisit, jarak ekonomis dapat dijadikan alasan kenapa daerah surplus tidak mau berdagang dengan daerah defisit. Hal ini dapat terlihat pada provinsi yang tidak terintegrasi dengan kedelapan provinsi acuan yaitu adalah NTT, Gorontalo, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku dan Maluku Utara. Jarak ekonomis yang jauh terhadap pasar acuan menyebabkan pasangan provinsi tersebut tidak terintegrasi dengan daerah yang dijadikan acuan dalam penelitian.

Gambar 14. Alur Transmisi Harga Beras di 33 Provinsi di Indonesia

Yang menarik adalah provinsi Jawa Timur, sebagai daerah penghasil beras terbesar ke dua di Indonesia dengan total produksi mencapai 12,049 juta ton pada tahun 2013 tidak memperlihatkan nilai IMC maupun b2 yang baik. Kedua nilai

tersebut membuktikan bahwa Jawa Timur tidak tergintegrasi baik sebagai daerah acuan maupun daerah pengikut. Sebagai daerah acuan provinsi ini tidak terintegrasi dengan 32 provinsi lainnya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sedangkan sebagai pengikut Jawa Timur juga tidak terintegrasi dengan ke 7 provinsi acuan lainnya. Harga di Jawa Timur sebagai daerah yang tercukupi kebutuhan berasnya tidak terpengaruh oleh daerah acuan, Jawa Timur hanya dipengaruhi oleh harga pada periode sebelumnya. Sebagai daerah surplus, seharusnya Jawa Timur dapat menjadi daerah yang terintegrasi dengan berbagai daerah yang terkoneksi baik secara perdagangan maupun akses informasi. Sebagai daerah acuan pada periode penelitian Jawa Timur memiliki kegagalan pasar yakni dapat berupa kebijakan perdagangan ataupun rendahnya akses informasi yang tidak mendukung terjadinya pasar persaingan sempurna dengan daerah lainnya. Kelebihan supply yang terjadi di Jawa Timur tidak dengan baik disalurkan ke daerah kekurangan pasokan atau kelebihan demand.

Gambar

Gambar 1.    Pergerakan Harga Beras, Gula, Jagung, Kedelai, Daging Sapi,
Gambar 2.   Rata-Rata Harga Beras di 33 Provinsi di Indonesia Tahun 2013
Gambar 5. Kerangka Pemikiran
Gambar 6. Peta Produksi Pangan Seluruh Provinsi di Indonesia Tahun 2013
+7

Referensi

Dokumen terkait

Analisis yang telah dilakukan pada model integrasi pasar secara vertikal antara pasar produsen gabah dengan pasar ritel beras di Indonesia menunjukkan bahwa dalam jangka panjang

Ada tiga faktor fundamental yang mempengaruhi integrasi pasar modal yaitu, portofolio asing yang diproksikan dengan nilai pembelian bersih saham investor asing

Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis pengaruh perubahan harga kentang dan wortel pada Pasar Grosir dan Pasar Eceran di Kota Medan terhadap perubahanharga kentang dan

Konsentrasi tinggi seharusnya mengarah pada bentuk pasar monopoli, namun pada kenyataannya adalah negara-negara dengan pangsa pasar terbesar tidak menguasai pasar

Hasil penelitian menunjukkan: (1) terdapat hubungan integrasi spasial dan kointegrasi antara pasar karet alam di pasar fisik Indonesia (Belawan) dengan pasar berjangka

Integrasi jangka pendek dan jangka panjang yang tidak terjadi antara pasar kedelai dunia dengan pasar kedelai lokal dan impor di Jakarta serta lemahnya transmisi harga

Analisis yang telah dilakukan pada model integrasi pasar secara vertikal antara pasar produsen gabah dengan pasar ritel beras di Indonesia menunjukkan bahwa dalam jangka panjang

ANALISIS INTEGRASI PASAR JAGUNG DI PROVINSI JAWA TIMUR TESIS Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Memperoleh Gelar Magister Agribisnis Program Studi Magister Agribisnis