• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP VIRUS TUNGRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "UJI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP VIRUS TUNGRO"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

1

ABSTRAK

UJI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP VIRUS TUNGRO

Oleh

Devita Sari

Penelitian untuk mengetahui ketahanan tujuh varietas padi terhadap virus tungro telah

dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas

Lampung. Evaluasi ketahanan dilakukan dengan penularan buatan terhadap stadia

bibit. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan

(varietas) dan empat ulangan. Ketujuh varietas (Cigelis, Cilamaya Muncul, Inpari 13,

Inpago 3, IR 64, Juita, Situbagendit) ditanam dalam gelas plastik berdiameter 8 cm

dan tinggi 12 cm masing-masing dua benih per gelas. Setiap gelas dimasukkan ke

dalam kurungan yang berbeda. Sebagai varietas pembanding tahan adalah varietas

Cigelis dan pembanding peka varietas Inpago 3. Sumber inokulum berupa tanaman

padi bergejala tungro diambil dari lapangan. Infeksi buatan dilakukan dengan cara

melepaskan wereng hijau pada tanaman padi selama 24 jam kemudian diambil dan

diinfestasikan pada padi dalam kurungan, masing-masing dua ekor tiap kurungan

(2)

2

umur padi 2, 4, 6, dan 8 MST. Pengamatan keparahan penyakit dilakukan terhadap

tipe gejala yang muncul dan tinggi tanaman. Tingkat keparahan gejala tungro

dievaluasi sesuai dengan Standard Evaluation System for Rice, IRRI. Data hasil

pengamatan indeks penyakit dan tinggi tanaman dianalisis menggunakan sidik ragam

pada taraf nyata 5% dan selanjutnya nilai tengah diuji dengan uji Duncan pada taraf

yang sama. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lima varietas (Cigelis, Cilamaya

Muncul, Inpari 13, Juita, Situbagendit) dapat digolongkan tahan, satu varietas

(Inpago 3) agak tahan, dan satu varietas (IR 64) tergolong rentan.

(3)
(4)

UJI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP VIRUS TUNGRO

(Skripsi)

Oleh DEVITA SARI

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

UJI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP VIRUS TUNGRO

Oleh Devita Sari

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN

Pada

Jurusan Agroteknologi

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(6)

Judul : UJI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP VIRUS TUNGRO

Nama Mahasiswa : Devita Sari

NPM : 0814013114

Jurusan : Agroteknologi Fakultas : Pertanian

MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing,

Ir. Muhammad Nurdin, M.Si. Ir. Tititk Nur Aeny, M.Sc. NIP 196107201986031001 NIP 196201071986032001

2. Ketua Jurusan

(7)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Ir. Muhammad Nurdin, M. Si. ………

Sekretaris : Ir. Titik Nur Aeny, M. Sc. ………

Penguji

Bukan Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Cipta Ginting, M. Sc. ………

2. Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S. NIP 196108261987021001

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Desa Sidomukti Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung

Timur, pada tanggal 08 Desember 1989, sebagai anak pertama dari dua bersaudara,

pasangan dari Bapak Suliyo dan Ibu Sumiyati.

Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) di TK Balekencono, Batanghari, Lampung

Timur diselesaikan tahun 1995, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD N 1

Sidomukti pada tahun 2001, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di SLTP N 1

Batanghari pada tahun 2004, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA

KOSGORO Sekampung pada tahun 2007.

Tahun 2008, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Agroteknologi

Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui jalur SNMPTN. Pada tahun 2011

penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Pulung Kencana

Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat. Tahun 2012

penulis melaksanakan Praktik Umum (PU) di PT Shang Hyang Seri Pekalongan

(9)
(10)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh ketulusan dan rasa hormat Kupersembahkan karya kecil ini kepada kedua orang tuaku yang dengan

Sabar, usaha, dan doa selalu mengiringi langkah ku Untuk Mencapai keberhasilan dan orang-orang

Yang Selalu setia menemani & menasehatiku

(11)

SANWACANA

Claude Levi-Strauss sekali waktu menyarankan bahwa manusia adalah produk dari

jejaring sosialnya. Oleh karena itulah manusia terbatas oleh keberadaannya sendiri,

dan tidak mungkin menjadi pengamat objektif bagi alam. Sebuah model, adalah

penyederhanaan atas kerumitan alam, penyederhanaan yang lahir dari pengamatan

manusia atas alam. Maka demi keterbatasan manusia, segala model, segala pola yang

dipetakan dari data-data, selalu mengandung kesalahan intrinsik. Tidak seratus persen

menggambarkan realitas. Itulah mengapa statistika memiliki selang kepercayaan :

keinsyafan bahwa manusia terbatas.

Keterbatasan adalah juga milik penulis. Jika bukan karena dorongan tak henti dari

pribadi-pribadi di sekitar kehidupan, keterbatasanlah yang akan menang atas skripsi

ini. Untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih pada:

1. Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT, Sang maha hati, Sang

maha segalanya, maha pengasih dan penyayang yang telah memberikan cinta tak

terhingga, nikmat yang tak pernah berujung; terima kasih atas berjuta kesempatan

untuk selalu menengok ke atas, melihat ke langit demi mensyukuri segala nikmat

(12)

2. Bapak Ir. Muhammad Nurdin, M.Si., selaku pembimbing I, atas kesediaan

memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses pelaksanaan penelitian dan

penyelesaian skripsi ini.

3. Ibu Ir. Titik Nur Aeny, M.Sc., selaku pembimbing II, atas bimbingan dan

arahannya.

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Cipta Ginting, M.Sc., selaku penguji, atas saran dan

masukannya yang sangat membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

5. Bapak Dr.Ir. Kuswanta F. Hidayat, M.P., selaku Ketua Jurusan Agroteknologi

Fakultas Pertanian.

6. Bapak Dr.Ir. Afandi, M.P., selaku Pembimbing Akademik.

7. Kepada keluarga ku tercinta, Bapak dan Ibu (telapak kaki surgaku) terima kasih

atas segala kasih sayang, dan perhatian serta segala pengertian yang tak putus.

8. Terima kasih buat teman-teman agroteknologi yang terus memberi semangat Intan

Rahayu Ningtyas, Nyang Vania, Yuktika, Resmia, Diana Saragih, dan Yesi Safitri.

9. Teman-teman di Asrama Istiqomah, Chris, Rita, Eni, Tanti, Intan, Tari, Wiwik,

terima kasih untuk canda tawa dan kebaikan kalian semua.

Tak ada model yang benar, tapi beberapa diantara model-model tersebut benar-benar

berguna. Semoga yang satu ini bisa berguna.

Bandar Lampung, 28 Maret 2013

(13)
(14)

DAFTAR ISI

Halaman

SANWACANA ……… i

DAFTAR TABEL ……… ii

DAFTAR GAMBAR ………......……. iii

I. PENDAHULUAN ………. 1

1.1Latar Belakang dan Masalah ………. 1

1.2Tujuan Penelitian ………... 3

1.3Kerangka Pemikiran ………... 3

1.4Hipotesis ……….. 6

II. TINJAUAN PUSTAKA ………... 7

2.1 Tanaman Padi ………..……….. 7

2.1.1 Botani Tanaman Padi ………...…………. 7

2.1.2 Syarat Tumbuh Tanaman Padi ……….. 8

2.1.3 Ketahanan Tanaman Padi ……… 9

2.2 Penyakit Tungro ……… 10

2.2.1 Vektor Penyakit Tungro ……….... 12

2.2.2 Epidemologi Penyakit Tungro ……….. 13

2.2.2.1 Hubungan Antara Penyakit Tungro dengan Vektor Nephotettix virescen ………... 13

(15)

2.2.2.3 Hubungan Antara Penyakit Tungro dan

Faktor-Faktor IklimSerta Cuaca ………... 15

III. BAHAN DAN METODE ………... 16

3.1Tempat dan Waktu Penelitian ……….…... 16

3.2Bahan dan Alat ……….……… 16

3.3Metode Penelitian ……… 16

3.4Pelaksanaan Penelitian ………... 17

3.4.1Persiapan Media Tanam dan Penyiapan Tanaman Padi ……… 17

3.4.2Persiapan Isolat Virus Tungro ………... 17

3.4.3Perbanyakan Vektor Wereng Hijau ………... 17

3.4.4Pengujian Ketahanan Varietas ………... 18

3.4.5Pengamatan Perkembangan Penyakit ………... 18

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……….. 20

4.1Gejala ……….………. 20

4.2Indeks penyakit tungro ……… 21

4.3Tinggi tanaman ………... 22

4.4Kriteria ketahanan ………... 24

V. KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 27

5.1Kesimpulan ………. 27

5.2Saran ………... 27

DAFTAR PUSTAKA ………... 28

(16)
(17)
[image:17.612.123.500.224.696.2]

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kriteria Ketahanan Terhadap Tungro. ……….………. 19

2. Rataan Indeks Penyakit Tungro 2,4,6,8 MST. ……….. 21

3. Rataan Tinggi Tanaman 2,4,6,8 MST. ……….. 23

4. Kriteria Ketahanan Varietas Padi. ………... 24

5. Kompilasi Skor Keparahan Gejala Penyakit Tungro. ………. 31

6. Skor Keparahan Gejala Penyakit Tungro Minggu ke 2. ……….. 32

7. Analisis Sidik Ragam. ………. 32

8. Skor keparahan gejala penyakit tungro minggu ke 4. ………... 32

9. Analisis Sidik Ragam. ………... 32

10. Skor keparahan gejala penyakit tungro minggu ke 6. ..………. 33

11. Analisis Sidik Ragam. ……… 33

12. Skor keparahan gejala penyakit tungro minggu ke 8. ……….. 33

13. Analisis Sidik Ragam. ……… 33

14. Rata-Rata Tinggi Tanaman Minggu Ke 2. ……… 34

15. Analisis Sidik Ragam. ………. 34

16. Rata-Rata Tinggi Tanaman Minggu Ke 4. ……… 34

17. Analisis Sidik Ragam. ………... 34

(18)

19. Analisis Sidik Ragam. ……….. 35

20. Rata-Rata Tinggi Tanaman Minggu Ke 8. ……….. 35

21. Analisis Sidik Ragam. ……….. 35

22. Deskripsi Varietas IR 64. ………. 36

23. Deskripsi Varietas Inpari 13. ……… 37

24. Deskripsi Varietas Cigelis. ……… 38

25. Deskripsi Varietas Situbagendit. ……… 39

26. Deskripsi Varietas Cilamaya Muncul. ………... 40

(19)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Gejala penyakit tungro. ……….... 20

2.Varietas Cilamaya Muncul. .……….……….. 42

3. Varietas Cigelis. ………….……… 43

4. Varietas Inpago 3. ……… 43

5. Varietas Inpari 13. ……… 44

6. Varietas IR 64. ……….. 44

7. Varietas Juita. ……… 45

(20)
(21)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Tungro merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman padi yang menjadi

kendala dalam peningkatan stabilitas produksi padi nasional dan ancaman bagi

ketahanan pangan yang berkelanjutan (Widiarta et al., 2003 dalam Ladja et al.,2005).

Beberapa provinsi telah menjadi daerah endemik tungro diantaranya Sulawesi

Selatan, Bali, NTB, Jawa Timur, dan Jawa Tengah (Hasanuddin, 2004 dalam Ladja et

al.,2005).

Tungro adalah salah satu penyakit padi yang paling merusak di kawasan Asia Selatan

dan Tenggara. Di Indonesia penyakit ini sudah ada sejak tahun 1859 dengan beragam

nama daerah (Semangun, 1996). Pada tahun 1975-1985 telah terjadi serangan virus

tungro yang menyebabkan puso hingga mencapai 180.000 ha dan pada tahun

1998-1999 terjadi serangan berat di Lombok Tengah dan Lombok Timur seluas 10.000 -

15.000 ha (Hasanuddin, 1999 dalam Bastian, 2005). Sampai saat ini serangan virus

tungro masih sering terjadi di Sulawesi Selatan, Bali, Jawa Barat, dan Jawa Tengah,

Jayapura yang merupakan sentra produksi padi Nasional (Hasanuddin et al.,1995

(22)

2

Lampung termasuk satu diantara propinsi di Indonesia yang mengalami kerugian

akibat serangan virus tungro. Dari survei yang telah dilakukan Tim Klinik Pertanian

Unila pada bulan Mei 2012, diketahui bahwa beberapa hektar tanaman padi di

Lampung Utara terserang virus tungro yang cukup parah (Komunikasi Pribadi dengan

Nurdin, 2012).

Kehilangan hasil padi akibat serangan tungro sangat bervariasi, tergantung pada umur

tanaman dan intensitas serangan. Semakin muda stadia tanaman terinfeksi, semakin

besar kehilangan hasilnya. Kisaran kehilangan hasil pada stadia yang terinfeksi 2-12

minggu setelah tanam (mst) antara 20-90%. Pada intensitas serangan ringan

kehilangan hasil diperkirakan mencapai 15%, intensitas serangan sedang

mengakibatkan kehilangan hasil lebih kurang 35%, intensitas serangan berat

mengakibatkan kehilangan hasil lebih kurang 59%. Apabila kehilangan hasil

mencapai 79% atau lebih maka daerah serangan dinyatakan sebagai puso. Pada saat

terjadi ledakan serangan (eksplosif), luas serangan di suatu daerah endemik dapat

mencapai puluhan ribu hektar (Anonim, 2011).

Banyak percobaan-percobaan yang telah dilakukan untuk pengendalian tungro,

misalnya dengan menekan populasi vektor menggunakan bahan kimia dan

memberikan hasil yang memuaskan, namun demikian aplikasi di lapang masih

banyak dipertanyakan efektivitasnya. Selain itu aplikasi bahan kimia di lapang tidak

memberi hasil yang memuaskan pada saat kejadian tungro tinggi. Penggunaan

varietas tahan sebagai tindakan dalam pengendalian virus tungro dan wereng hijau

(23)

3

strategi pengelolaan penyakit tungro (Sama, 1985 dalam Praptana dan Muliadi,

2005). Daradjat et al. (1999) dalam Praptana dan Muliadi (2005) menambahkan

bahwa penggunaan varietas tahan merupakan komponen yang paling efektif dalam

pengendalian tungro di Indonesia.

Beberapa varietas tahan virus tungro dan wereng hijau yang dilepas untuk

mengendalikan penyakit tungro ialah Tukad Unda, Tukad Petanu, Tukad Balian,

Kalimas, dan Bondoyudo. Namun, varietas-varietas ini hanya dianjurkan untuk

daerah endemik tungro seperti NTB, Sulawesi Selatan, dan Bali (Daradjat et al., 2004

dalam Praptana dan Muliadi, 2005).

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan beberapa varietas padi yang

ditanam di Lampung terhadap virus tungro.

1.3 Kerangka Pemikiran

Penggunaan padi yang tahan terhadap virus tungro dan wereng hijau merupakan

komponen yang paling efektif dalam pengendalian tungro. Ketahanan padi terhadap

virus tungro akan menekan intensitas penyakit dan ketahanan padi terhadap wereng

hijau akan menekan penularan virus tungro. Namun demikian, varietas tahan tidak

boleh ditanam terus-menerus karena dapat meningkatkan tekanan seleksi vektor dan

memungkinkan berkembangnya wereng hijau biotipe baru. Durabilitas ketahanan

(24)

4

wereng hijau dan virulensi virus tungro. Keragaman ketahanan genetik varietas akan

meningkatkan durabilitas ketahanan varietas, menurunkan tekanan seleksi wereng

hijau dan virus tungro, serta mencegah terjadinya epidemi penyakit tungro. Oleh

karena itu, perakitan varietas berdasarkan sumber gen tahan dan strain virus tungro

harus terus-menerus dilakukan. Pengembangan varietas saat ini lebih ditekankan pada

perakitan varietas tahan virus terutama RTSV karena dapat menghambat penyebaran

RTBV oleh wereng hijau, sehingga tidak terjadi infeksi ganda ( Taulu et al., 1987

dalam Praptana dan Muliadi, 2005). Di Indonesia, telah dilepas beberapa varietas

tahan tungro seperti Tukad Unda, Tukad Petanu, Tukad Balian, Kalimas, dan

Bondoyudo dan telah diperoleh pula 29 galur tahan tungro. Varietas dan galur

tersebut merupakan hasil seleksi berdasarkan pengamatan fenotipik dengan berbagai

tingkat ketahanan (Suprihatno, 1985 dalam Praptana dan Muliadi, 2005).

Kenyataan yang terjadi bahwa tingkat kesukaan petani terhadap suatu varietas

berbeda-beda pada masing-masing daerah. Dasar pertimbangannya adalah kualitas

rasa dan potensi hasil tinggi walaupun varietas tersebut peka terhadap tungro.

Kebiasaan ini tidak diimbangi dengan aplikasi teknik pengendalian yang telah

direkomendasikan di daerah setempat. Oleh karena itu perakitan varietas tahan dari

sumber tetua tahan virus dengan varietas yang disukai di suatu daerah perlu dilakukan

untuk memperoleh varietas tahan spesifik lokasi yang dapat mengurangi serangan

tungro, mendukung dilakukannya pergiliran varietas. Pemanfaatan teknik molekuler

(25)

5

mendukung percepatan perakitan varietas tahan penyakit tungro (Praptana et al.,

2005).

Resistensi merupakan salah satu karakter pada tanaman yang dapat diwariskan.

Karakter ini berperan penting dalam menekan gangguan yang dapat disebabkan oleh

jasad pengganggu. Serangan oleh jasad pengganggu dipengaruhi oleh faktor

morfologis tanaman misalnya trikom (bulu daun), rambut pada daun dan batang,

lapisan berlignin pada organ tanaman, tipe dan ukuran kaliks, warna dan bentuk daun,

dan lapisan lilin pada permukaan daun. Bentuk tipe pelepah daun dapat juga sebagai

salah satu sifat ketahanan tanaman karena dengan tipe pelepah yang saling menutupi

maka larva tidak mudah masuk kedalam jaringan tanaman. Beberapa faktor morfologi

tanaman yang peka antara lain tinggi tanaman, diameter batang yang besar dan lebar

serta daun bendera sehingga dengan mudah serangga dapat meletakan telur (Oka,

1993).

Varietas padi tahan tungro memiliki mekanisme ketahanan toleran dan avoidan.

Mekanisme toleran dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu symptomless, disease

tolerant, dan true tolerant. Varietas toleran virus tungro merupakan salah satu

komponen pengendalian tungro secara terpadu. Ketahanan genetik tanaman terhadap

hama dapat diwariskan sebagai sifat monogenik sederhana dengan gen-gen

penentunya yang mungkin dominan sebagian atau sempurna ataupun resesif (Baehaki

(26)

6

1.4 Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah varietas yang diuji memiliki

(27)

7

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Padi

Padi termasuk dalam genus Oryza, yang terbagi menjadi 25 spesies dan semuanya

tersebar di daerah-daerah yang beriklim tropis dan sub-tropis di benua Asia, Afrika,

Amerika, Eropa, dan Australia. Dari 25 spesies ini hanya terdapat 2 jenis padi yang

diusahakan orang, yaitu Oryza sativa L, yang dapat dijumpai di Asia, Eropa, dan

Amerika Oryza glaberrima Steud, yaitu yang terdapat secara khusus di Afrika Barat

bagian tropis. Spesies-spesies yang lain adalah termasuk padi liar (Prihatman, 2000).

2.1.1 Botani Tanaman Padi

Menurut Prihatman (2000), klasifikasi ilmiah tanaman padi adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae Divisio : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Poales

Familia : Poaceae Genus : Oryza

Species : Oryza sativa L.

Akar tanaman padi berfungsi untuk menyerap zat makanan dan air, proses respirasi

(28)

8

macam, yakni akar primer dan seminal. Akar primer yaitu akar yang tumbuh dari

kecambah biji, sedangkan akar seminal berupa akar yang tumbuh di dekat buku-buku.

Kedua akar ini tidak banyak mengalami perubahan setelah tumbuh karena akar padi

tidak mengalami pertumbuhan sekunder (Sudirman dan Iwan, 1999).

Batang padi bentuknya bulat, berongga, beruas-ruas. Antar ruas dipisahkan oleh

buku. Pada awal pertumbuhan, ruas-ruas sangat pendek dan bertumpuk rapat. Setelah

memasuki stadium reproduktif, ruas-ruas memanjang dan berongga. Oleh karena itu,

stadium reproduktif disebut juga stadium perpanjangan ruas. Ruas antar batang

semakin ke bawah semakin pendek. Pada buku paling bawah tumbuh tunas yang akan

menjadi batang sekunder, selanjutnya batang sekunder akan menghasilkan batang

tersier dan seterusnya peristiwa ini disebut pertunasan (Suparyono dan Setyono,

1996).

Daun padi memiliki telinga dan lidah daun, tetapi rumput-rumput lainnya tidak.

Seperti rumput-rumput lainnya daun padi memiliki tulang daun yang sejajar. Yang

keluar dari biji pertama kali koleoptil, lalu daun pertama, kemudian daun kedua yang

pertama-tama memiliki helaian daun yang lebar dan disusul dengan daun berikutnya

(Vergan, 1995).

2.1.2 Syarat Tumbuh Tanaman Padi

Tanaman padi dapat hidup baik didaerah yang berhawa panas dan banyak

mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih,

(29)

9

1500-2000 mm. suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi yaitu 23ºC. Tinggi

tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0 – 1500 m dpl. Tanah yang

baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi

pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam

jumlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan

lapisan atasnya antara 18-22 cm dengan pH antara 4-7 (Prihatman, 2000).

2.1.3 Ketahanan Tanaman Padi

Komponen yang paling penting dan mudah di lakukan dalam strategi pengendalian

tungro adalah penggunaan varietas tahan (Sama, 1985 dalam Praptana et al., 2005 ),

bahkan paling efektif dalam usaha pengendalian tungro pada berbagai ekosistem di

Indonesia (Daradjat et al., 1999 dalam Praptana et al., 2005). Varietas tahan sangat

efektif dan efisien mengendalikan tungro karena dapat mengurangi peran RTSV

sehingga wereng hijau tidak dapat menularkan virus batang (Anonim, 2003 dalam

Praptana et al., 2005). Ketahanan varietas terhadap virus tungro akan menekan

intensitas serangan dan ketahanan terhadap vektor akan menekan penularan tungro.

Peningkatan proporsi varietas tahan di suatu hamparan berpengaruh nyata dalam

mengurangi keberadaan tungro (Holt, 1996 dalam Praptana et al., 2005). Pengalaman

di lapangan menunjukkan bahwa penanaman varietas tahan wereng hijau terbukti

efektif menurunkan keberadaan tungro (Sama et al.,1991 dalam Praptana et al.,2005).

Beberapa varietas tahan virus tungro dan wereng hijau telah dilepas untuk

(30)

10

dan Bondoyudo (Daradjat et al., 2004 dalam Praptana et al., 2005). Namun ketahanan

varietas bersifat spesifik lokasi yang berarti bahwa suatu varietas menunjukkan tahan

terhadap strain virus di daerah tertentu tetapi tidak tahan terhadap strain virus di

daerah lain (Baehaki dan Suharto,1985 dalam Praptana et al., 2005). Beberapa

varietas seperti Tukad Petanu dianjurkan di seluruh daerah endemis tungro, Tukad

Unda terbatas untuk Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan dan Tukad Balian

hanya dapat dikembangkan di Bali dan Sulawesi Selatan (Widiarta et al., 2003 dalam

Praptana et al., 2005).

2.2 Penyakit Tungro

Tungro telah dikenal sejak lama di Indonesia. Dilaporkan pertama kali dua abad yang

lalu, dengan nama Mentek. Pada awalnya, penyakit ini diduga disebabkan oleh

kekurangan hara tanaman. Dugaan-dugaan yang sama juga terjadi ketika gejala-gejala

kekerdilan serupa ditemukan di Malaysia tahun 1938, Filipina tahun 1941 dan

Thailand tahun 1964. Di masing-masing Negara, tungro dikenal dengan berbagai

nama lokal, seperti cadang-cadang, penyakit habang, dan accep na pula. Baru pada

tahun 1965, setelah melalui serangkaian pemeriksaan di berbagai lokasi, ditemukan

bahwa tungro diesebabkan oleh virus dengan perantaraan wereng hijau Nephotettix

virescens sebagai vektor utama (Semangun, 1996).

Tungro sendiri dalam bahasa Thai berarti ‘pertumbuhan terhambat’. Sesuai dengan

namanya, tanaman yang terinfeksi tungro mengalami penghentian pertumbuhan, dan

(31)

11

padi yang terinfeksi dan umur tanaman ketika infeksi terjadi. Akar yang terbentuk

sangat sedikit sehingga tidak menjangkau cukup dalam. Bulir berukuran kecil-kecil

dan steril, pembentukan bunga sering kali terhambat. Daun berubah warna menjadi

kekuningan, berawal dari ujung daun terbawah (Murayama,1998 dalam Hadi, 2002).

Seiring dengan perkembangan tanaman terinfeksi, warna daun seringkali pulih

menjadi hijau kembali, namun pembentukan daun tidak terjadi sebagaimana

wajarnya, dimana daun-daun baru muncul berhadap-hadapan. Daun baru pada

tanaman terinfeksi tungro muncul dari satu titik yang sama, sehingga daun-daun yang

tumbuh belakangan berbentuk seperti kipas.

Tungro disebabkan oleh dua jenis virus yaitu virus batang (rice tungro bacilliform

virus=RTBV) dan virus bulat (rice tungro spherical virus=RTSV). Kedua jenis virus

tersebut hanya dapat ditularkan oleh wereng hijau secara semipersisten. Terdapat lima

spesies wereng hijau yang dapat menularkan virus tungro dengan efisiensi yang

berbeda dan N. virescens merupakan penular (vektor) yang paling penting di antara

keempat spesies yang lain karena memiliki efisiensi paling tinggi di dalam

menularkan virus tungro yaitu sebesar 80% (Siwi et al., 1999 dalam Praptana et al.,

2005).

Di Indonesia, terdapat perbedaan komposisi spesies wereng hijau antar daerah, dan

pergeseran dominansi spesies dari waktu ke waktu. Pada dekade 1970’an, N.

nigropictus adalah spesies wereng hijau dominan di Indonesia, khususnya di Pulau

Jawa, Bali, dan Lampung. Sedangkan N. virescens hanya ditemukan di daerah-daerah

(32)

12

menjadi spesies dominan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumatra Barat,

Irian Jaya. Sementara di Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan

Bulukumba (Sulawesi Selatan) terdapat perimbangan komposisi antara N. virescens

dan N. nigropictus. Introduksi varietas padi unggul yang peka terhadap wereng hijau

dan virus tungro merupakan salah satu penyebab pergeseran dominansi spesies dan

epidemik tungro di Indonesia (Siwi, 1995 dalam Hadi, 2002).

2.2.1 Vektor Penyakit Tungro

Dari lima spesies wereng hijau yang bertindak sebagai vektor penyakit tungro, empat

diantaranya berasal dari genus Nephotettix dan satu dari genus Recilia. Wereng dari

genus Nephotettix memiliki efektifitas yang lebih tinggi dalam menularkan tungro

daripada wereng dari genus Recilia. Di Asia Tenggara termasuk Indonesia, keempat

spesies penular tungro dari genus Nephotettix itu seluruhnya ditemukan, yaitu N.

virescens, N. nigropictus, N. malayanus, dan N. parvus. Dari keempat spesies

tersebut, N. virescens adalah yang paling efektif dalam menularkan tungro (Siwi,

1995 dalam Hadi, 2002).

N. virescens meletakkan telur dalam jaringan pelepah daun padi pada bagian pinggir.

Posisi ujung telur tegak lurus dengan pinggiran pelepah daun padi. Telur-telur ini

diletakkan berkelompok dengan bentuk seperti peluru, seringkali berjumlah lebih dari

30 dalam satu kelompoknya, dimana ujung antara satu telur dengan telur yang lain

(33)

13

bervariasi antara 6-12 hari, sedang serangga betina dapat menghasilkan rata-rata 350

telur sepanjang hidupnya.

Nimfa instar pertama lebih banyak ditemukan di permukaan bawah daun tua, namun

setelah berkembang menjadi nimfa instar kedua dan selanjutnya, N. virescens dapat

ditemukan tersebar merata diseluruh daun tanaman. Nimfa dan serangga dewasa

menghisap cairan tanaman melalui jaringan lembaran dan tulang daun. Nimfa

berkembang lebih cepat pada suhu tinggi. Pada suhu 35 periode nimfa rata-rata

adalah 14,1 hari, sedang pada temperatur 20 periode nimfa rata-rata 37,3 hari.

Periode nimfa pada nimfa jantan umumnya lebih singkat dari betina. Serangga betina

dewasa hidup selama 40 hari sedangkan jantan selama 32 hari (Semangun, 1996).

2.2.2 Epidemologi Penyakit Tungro

2.2.2.1 Hubungan antara penyakit tungro dan vektor Nephotettix virescens

Waktu akuisisi dan inokulasi minimum virus tungro oleh N. virescens adalah 15 dan

30 menit. Tidak ditemukan adanya waktu inkubasi virus pada serangga, sedang masa

retensi terjadi selama 5-6 hari. Setelah itu vektor kehilangan kemampuannya untuk

menularkan virus, kemampuan untuk menularkan virus ini terjadi jika vektor kembali

mengakuisisi virus dari tanaman sakit (semi persisten). Penyebaran penyakit tungro

di lapang sangat dipengaruhi oleh aktivitas terbang vektornya. Secara umum N.

virescens bergerak dalam skala yang sempit, namun ada beberapa hal yang

merangsang perpindahan wereng hijau. Serangga ini mempertahankan kerapatan

(34)

14

migrasi ke lahan-lahan lain yang berdekatan dengan lahan asalnya (Chiykowski, 1981

dalam Hadi, 2002).

2.2.2.2 Hubungan antara penyakit tungro dan tanaman padi sebagai inang

Salah satu cara yang tersedia dalam mengendalikan penyakit tungro adalah melalui

pemuliaan varietas padi. Penyebaran penyakit tungro sangat bergantung pada peranan

wereng hijau sebagai vektor, oleh sebab itu strategi pemuliaan mula-mula diarahkan

pada pemuliaan varietas yang memiliki gen-gen ketahanan terhadap wereng hijau.

faktor lain yang diduga berpengaruh terhadap kejadian penyakit tungro adalah

ketersediaan tanaman muda di lapang. Tanaman padi pada fase perbanyakan anakan

(tillering) dan inisiasi bulir (panicle initiation), yaitu tanaman padi berumur antara

0-7 minggu setelah tanam, berada pada fase paling rentan terhadap N. virescens

(Dale, 1994 dalam Hadi, 2002).

Kehilangan hasil karena terinfeksi tungro sangat dipengaruhi oleh stadia rumpun saat

infeksi terjadi. Rumpun yang terinfeksi pada stadium yang sangat awal (dua minggu

setelah tanam) mengalami kehilangan hasil hingga 80%. Semakin lanjut stadium

rumpun saat infeksi terjadi, semakin rendah kehilangan hasil yang dialaminya

(Anonim, 1992).

Keberadaan tanaman muda di lapang juga dapat dilihat sebagai potensi sumber

inokulum. Ketersediaan tanaman muda di lapang sendiri ditentukan oleh derajat

keserempakan penanaman antar petak dalam satu hamparan, dan panjangnya masa

(35)

15

mempengaruhi epidemi penyakit tungro. Pada derajat keserempakan tertentu, masa

bera yang semakin singkat (yang berarti semakin tinggi peluang ketersediaan

tanaman muda) berakibat pada kejadian penyakit tungro yang semakin tinggi.

Sebaliknya, pada panjang masa bera tertentu semakin rendah tingkat keserempakan

(semakin tidak serempak waktu penanaman antar petak dalam satu hamparan, yang

berarti semakin tinggi peluang ketersediaan tanaman muda di lapang) semakin tinggi

pula tingkat kejadian penyakit tungro (Anonim, 1992).

2.2.2.3 Hubungan antara penyakit tungro dan faktor-faktor iklim serta cuaca

Perkembangan penyakit tungro di lapang sendiri sangat bergantung pada populasi

wereng hijau infektif. Perkembangan kejadian penyakit berkorelasi dengan

perkembangan populasi wereng hijau, sedangkan dinamika populasi wereng hijau

berkorelasi dengan curah hujan bulanan. Pada umumnya, kejadian tungro didapati

lebih tinggi pada musim hujan daripada musim kemarau. Pada curah hujan 200-400

mm, populasi wereng hijau meningkat seiring peningkatan curah hujan, namun pada

curah hujan di atas 600 mm populasi wereng hijau cenderung menurun. Peningkatan

unsur N pada tanaman inang (sebagai respon tanaman terhadap cuaca) yang

kemudian memicu tingkat keberhasilan hidup larva atau nimfa serangga dan

pemusatan populasi serangga tertentu karena pola gerakan angin di suatu lokasi yang

sempit adalah beberapa kemungkinan mekanisme ledakan populasi serangga di

(36)

16

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari Agustus sampai dengan November 2012 di

Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah benih padi Varietas Cigelis digunakan sebagai

pembanding tahan dan Inpago 3 sebagai pembanding rentan. Varietas Cilamaya

Muncul, Inpari 13, IR 64, Juita, dan Situ Bagendit. Tanah yang bercampur pupuk

kandang, vektor wereng hijau (Nephotettix virescens.), gelas plastik, kain kasa, lem,

plastik bening, dan label. Alat yang digunakan adalah cangkul, gunting, jala ayun,

meteran, kamera, dan alat tulis.

3.3 Metode Penelitian

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak

Lengkap (RAL) yang terdiri dari tujuh perlakuan dan empat ulangan, sehingga

jumlah satuan percobaan adalah 28, yang masing-masing satuan percobaan berisi dua

tanaman. Data hasil perlakuan dianalisis dengan sidik ragam pada taraf nyata 5% dan

(37)

17

3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Persiapan Media Tanam dan Penyiapan Tanaman Padi

Media tanam yang digunakan adalah tanah dicampur pupuk kandang dengan

perbandingan 2:1. Tanah tersebut kemudian diisikan ke dalam gelas plastik sampai

penuh. Sebelum disemai benih padi direndam dalam air selama 24 jam, selanjutnya

setiap varietas padi ditanam dalam gelas plastik dua benih per gelas.

3.4.2 Persiapan Isolat Virus Tungro

Tanaman padi terinfeksi virus tungro diperoleh dari pertanaman padi di Desa Sri Jaya

Kecamatan Sungkai Jaya Lampung Utara. Semua tanaman padi yang bergejala tungro

ini digunakan sebagai sumber inokulum untuk perbanyakan virus tungro yang

selanjutnya digunakan untuk pengujian.

3.4.3 Perbanyakan Vektor Wereng Hijau (N. virescens)

Untuk perbanyakan serangga N. virescens tanaman yang terserang tungro diambil

dari desa Sri Jaya Kecamatan Sungkai Jaya Lampung Utara, lalu dipelihara dalam

ember yang berisi tanah sawah dan ditutup dengan sungkup yang terbuat dari kain

kasa yang berukuran 66 x 60 x 99 cm. Wereng hijau yang digunakan diambil dengan

jaring dari pertanaman padi yang terserang tungro sejumlah 15 ekor lalu dimasukkan

dalam sungkup supaya berkembang biak dan mencapai jumlah imago yang cukup

(38)

18

mengganti tanaman padi secara periodik, selama satu minggu sekali tanaman padi

yang lama diganti dengan tanaman padi yang baru sampai imagonya cukup untuk

digunakan sebagai vektor pada tanaman uji.

3.4.4 Pengujian Ketahanan Beberapa Varietas Padi terhadap Virus Tungro

Evaluasi ketahanan dilakukan dengan penularan secara buatan terhadap stadia bibit.

Tujuh varietas padi disemai dalam gelas plastik dengan diameter 8 cm dan tinggi 12

cm masing-masing dua tanaman. Ketujuh varietas padi tersebut ditanam dalam gelas

plastik dibuat 4 ulangan sehingga terdapat 28 satuan percobaan. Setiap gelas yang

masing-masing berisi dua tanaman dimasukkan dalam kurungan yang berbeda.

Infeksi buatan dilakukan dengan melepaskan wereng hijau pada sumber inokulum

selama 24 jam, kemudian wereng hijau tersebut diambil dan diinfestasikan pada

tanaman uji masing-masing 2 ekor selama selama 3 hari.

3.4.5 Pengamatan Perkembangan Penyakit Tungro

Pengamatan perkembangan penyakit dilakukan terhadap tipe gejala yang muncul dan,

tinggi tanaman. Pengamatan ketahanan varietas terhadap tungro dilakukan pada umur

padi 2, 4, 6, dan 8 minggu setelah tanam. Tingkat keparahan gejala tungrodievaluasi

sesuai dengan Standard Evaluation System for Rice (IRRI, 1996 dalam Ladja dan

Praptana, 2005) sebagai berikut :

Skor 1 = 0% tidak ada gejala serangan

3 = 1-10% terserang, kerdil, dan belum menguning

(39)

19

7 = 31-50% terserang, kerdil, dan kuning

9 = >50% terserang, kerdil, dan orange.

Berdasarkan tingkat keparahan penyakit tersebut kemudian dihitung indeks penyakit

dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

n(1)+n(3)+n(5)+n(7)+n(9) IP =

tn Keterangan:

IP : Indeks penyakit tungro

n : Jumlah tanaman yang terinfeksi virus tungro dengan skala 1,3,5,7,9

tn : Jumlah rumpun tanaman

Kriteria ketahanan terhadap tungro digolongkan berdasarkan indeks penyakit tungro (IP)

sesuai dengan Standard Evaluation System for Rice (IRRI, 1996 Ladja dan Praptana,

[image:39.612.111.392.519.627.2]

2005) dengan kategori sebagai berikut :

Tabel 1. Kriteria ketahanan terhadap tungro.

Indeks Penyakit Kategori

0-3 Tahan

4-6 Agak Tahan

(40)
(41)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari tujuh varietas yang diuji terdapat lima varietas yang menunjukkan indikasi

tahan terhadap penyakit tungro, yaitu varietas Juita, Cigelis, Cilamaya Muncul,

Inpari 13, dan Situ Bagendit.

2. Varietas Inpago 3 termasuk varietas yang agak tahan terhadap penyakit tungro.

3. Varietas IR 64 adalah varietas yang rentan terhadap penyakit tungro.

5.2 Saran

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis menyarankan untuk

dilakukan penelitian lebih lanjut dengan lokasi penelitian di lapangan agar hasilnya

Gambar

Tabel
Tabel 1. Kriteria ketahanan terhadap tungro.

Referensi

Dokumen terkait

Wereng zigzag atau wereng loreng dijadikan sebagai suatu variabel pada model nomor 6, wereng zigzag merupakan vektor virus penyakit tungro selain wereng hijau,

Beberapa varietas yang diinokulasi dengan isolat virus tungro tertentu menggunakan koloni vektor yang berbeda dapat menghasilkan respons yang sama atau berbeda jika

Suatu varietas tahan yang dapat digunakan mengendalikan virus tungro di suatu daerah endemis harus memiliki beberapa sifat, yaitu tahan terhadap vektor serangga, tahan terhadap

Berkaitan dengan fakta tersebut, maka perbaikan ketahanan varietas difokuskan pada ketahanan terhadap RTSV, karena sejak awal wereng hijau telah terinfeksi oleh RTSV yang

komprehensif berdasarkan pemahaman biologi dan epidemiologi tungro. Varietas tahan yang ideal dan kaitannya dengan percepatan adopsi dan pengelolaan durabilitas ketahanan harus

Berkaitan dengan fakta tersebut, maka perbaikan ketahanan varietas difokuskan pada ketahanan terhadap RTSV, karena sejak awal wereng hijau telah terinfeksi oleh RTSV yang

Hasil perhitungan katagori ketahanan menunjukkan bahwa dari lima galur dan tujuh varietas padi terdapat satu varietas yang mempunyai kriteria ketahanan katagori Tahan (R)

2: 116 – 122, September 2010 KARAKTERISASI INDIVIDU WERENG HIJAU NEPHOTETTIX VIRESCENS DISTANT PENULAR AKTIF VIRUS TUNGRO PADI Supriyadi1 & Retno Wijayanti1 ABSTRACT