ANALISIS FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
NON PERFORMING FINANCING PADA BPRS DI INDONESIA
PERIODE TAHUN 2010-2015
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.E.Sy)
ANI NURMULIYANI NIM : 1112046100134
KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH
PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
ABSTRAK
Ani nurmuliyani, NIM: 1112046100134, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Non Performing Financing Pada BPRS di Indonesia Periode Tahun 2010-2015. Program Studi Muamalat, Konsentrasi Perbankan Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1437H/2015 M.
Penelitian ini bertujuan untuk meganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi non performing financing (NPF) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia. Metode yang diguakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda dengan data time series dan menggunakan aplikasi SPSS. Data penelitian terdiri dari non performing financing (NPF), finance to deposite ratio (FDR), kualitas aktiva produktif (KAP), inflasi, dan BI rate.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KAP dan BI rate berpengaruh positif dan signifikan terhadap non performing financing (NPF), sedangkan variabel inflasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap NPF, dan variabel FDR tidak berpengaruh terhadap tingkat non performing financing pada BPRS.
Kata Kunci : BPRS, NPF, FDR, KAP, Inflasi, BI Rate, dan Regresi Linear Berganda Pembimbing: Supriyono, SE, MM
vi Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah dan kasih sayang-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini. Shalawat dan salam senantiasa tercurah pada pembimbing umat manusia yakni
baginda Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.
Penulis menyadari sepenuhnya penyusunan skripsi ini tak lepas dari dukungan
dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan ketulusan dan kerendahan
hati, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada yang telah memberikan
masukan yang berarti dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini. Untuk itu
ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada :
1. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum bapak Asep Saepudin Jahar, M.A.
2. Wakil Dekan Bidang Akademik Program Studi Muamalat Fakultas Syariah
dan Hukum ibu Dr. Euis Amalia, MA.
3. Ketua Program Studi Muamalat bapak A.M Hasan Ali, MA
4. Pembimbing skripsi bapak Supriyono S.E., M.M., selaku dosen pembimbing
yang telah meluangkan waktunya memberikan bimbingan dan arahan dengan
vii
5. Bapak Moch. Bukhari Muslim, Lc. MA selaku dosen pembimbing akademik
6. Kedua orang tua tercinta, bapak Abdillah dan ibu Aisah yang selalu
memberikan semangat motivasi dan selalu memberikan dukungan baik moril
maupun materil serta doa yang tidak putus-putus kepada penulis dalam
penulisan dan penyusunan skripsi ini.
7. Adik tercinta Adella Nurfadila yang senantiasa memberikan dukungan dan
semangat kepada penulis.
8. Bapak/Ibu dosen Fakultas Syariah dan Hukum yang telah memberikan ilmu
dan pengetahuan yang bermanfaat selama masa perkuliahan.
9. Teman-Teman dan sahabat, Rabiahtul Addawiyah, Ayu Dwi Adani, Elly
Nurdiana, dan Ratu Shifni Mafazatal Hayat, yang telah memberikan dukungan
kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, dan bersedia menjadi teman
terbaik selama masa-masa kuliah.
10. Teman-teman Perbankan Syariah 2012 khususnya kelas C.
11. Teman-teman KKN Gemmar 120, teman serumah selama satu bulan.
12. Dan berbagai pihak yang telah mebantu penulis selama masa kuliah dan
viii
dan pengalaman yang ada pada penulis, sehingga tidak menutup kemungkinan
bila terdapat banyak kekurangan dalam skripsi ini,
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini berguna dan bermanfaat baik
itu bagi ilmu pengetahuan, maupun bagi diri penulis sendiri. Aamiin Yaa
Rabbal’alammin.
Jakarta, 07 September 2016
ix DAFTAR ISI
HALAMANJUDUL ... i
PERSETUJUANPEMBIMBING ... ii
LEMBARPENGESAHAN ... iii
LEMBARPERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v
KATAPENGANTAR ... vi
DAFTARISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 9
C. Batasan Masalah... 10
D. Rumusan Masalah ... 10
E. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 11
F. Teknik Penulisan ... 13
x
B. Pembiayaan Dan Risiko Pembiayaan Pada Bank Syariah ... 17
1. Pembiayaan ... 17
2. Risiko Pembiayaan ... 21
C. Non Performing Financing ... 23
1. Pengertian Non Performing Financing ... 23
2. Signal Pembiayaan Bermasalah ... 25
3. Dampak Non Performing Financing ... 26
4. Upaya Penanganan Non Performing Financing... 28
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi NPF Dari Sisi Makro Ekonomi ... 29
1. Inflasi... 29
2. Suku Bunga (BI Rate) ... 32
E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi NPF Dari Sisi Internal Bank ... 34
1. Finance To Deposite Ratio (FDR) ... 34
2. Kualitas Aktiva Produktif (KAP) ... 35
F. Review Studi Terdahulu ... 37
G. Kerangka Pemikiran ... 43
H. Hipotesis ... 44
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Dan Pendekatan Penelitian ... 46
B. Populasi ... 46
C. Jenis Dan Sumber Data ... 47
D. Teknik Pengumpulan Data ... 47
E. Variabel Penelitian ... 48
F. Teknik Analisis Data ... 49
xi BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA
A. Analisis Statistik Deskriptif ... 58
B. Uji Asumsi Klasik ... 59
1. Uji Normalitas ... 59
2. Uji Multikolinearitas ... 61
3. Uji Autokorelasi ... 62
4. Uji Heteroskedastisitas ... 63
C. Uji Signifikansi ... 64
1. Uji F ... 64
2. Uji T ... 65
3. Uji Koefisien Determinasi ... 67
D. Analisis Model Regresi Berganda ... 68
E. Pembahasan ... 69
BAB V PENUTUP 1. Kesimpulan ... 73
2. Saran ... 74
DAFTARPUSTAKA ... 76
xii
Tabel 1.1 Perbandingan Non Performing Financing (NPF) BPRS Dan BUS UUS
Tahun 2010-2015 ... 6
Tabel 1.2 Perkembangan FDR, KAP, Inflasi, Dan BI Rate ... 7
Tabel 1.3 Penelitian Terdahulu ... 37
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif BPRS ... 58
Tabel 4.2 Uji Normalitas ... 61
Tabel 4.3 Uji Autokorelasi ... 62
Tabel 4.4 Uji F ... 64
Tabel 4.5 Uji T ... 65
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ... 43
Gambar 3.1 Kerangka Penelitian ... 57
Gambar 4.1 Uji Normalitas Histogram BPRS ... 59
Gambar 4.2 Uji Normalitas P-Plot BPRS ... 60
xiv
Lampiran 1 : Data-Data Variabel Penelitian 2010-2015 ... 81
Lampiran 2 : Hasil Analisis Statistik Deskriptif ... 84
Lampiran 3 : Uji Normalitas ... 84
Lampiran 4 : Uji Multikolinearitas ... 85
Lampiran 5 : Uji Autokorelasi ... 86
Lampiran 6 : Uji Heteroskedasitisitas ... 86
Lampiran 7 : Uji F ... 87
Lampiran 8 : Uji T... 87
Lampiran 9 : Uji Koefisien Determinasi ... 88
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan tanggapan yang positif dari masyarakat, lembaga-lembaga
keuangan syariah di Indonesia berkembang cukup signifikan. Sasaran lembaga
keuangan syariah yang tidak hanya berfokus pada pelaku usaha-usaha besar,
manjadikan eksistensi lembaga keuangan syariah semakin dikenal di masyarakat.
Hal ini tidak terlepas dari peranan penting yang dipegang oleh Lembaga
Keuangan Mikro Syariah (LKMS).
LKMS mempunyai peranan yang strategis dalam menjangkau transaksi
syariah mikro kecil dan menengah, adapun yang termasuk dalam LKMS adalah
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), Baitul Mal wat Tamwil (BMT), dan
Koperasi Syariah. Walaupun sama-sama termasuk dalam LKMS namun BPRS
berbeda dengan BMT dan Koperasi Syariah. Dalam kegiatannya, BPRS diatur
oleh Bank Indonesia sedangkan BMT dan Koperasi Syariah diatur oleh
Kementrian Koperasi dan UKM.1
1
Berdasarkan undang-undang No 21 tahun 2008, Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah (BPRS) adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. BPRS hanya menerima simpanan
dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan atau bentuk lain yang
dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana dalam bentuk pembiayaan atau
dalam bentuk lain dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat yang
melaksanakan kegiatan usahanya melalui prinsip syariah.
Perkembangan BPRS selama enam tahun terakhir ini terhitung dari tahun
2010-2015 mengalami peningkatan yang cukup baik. Adapun pertumbuhannya
dapat terlihat dari grafik berikut ini :
GRAFIK 1.1
Jumlah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Di Indonesia Periode 2010-2015
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Perkembangan BPRS di Indonesia Periode 2010-2015
3
Dari grafik 1.1, terlihat bahwa pada akhir tahun 2010 jumlah BPRS di seluruh
Indonesia ada sebanyak 150 BPRS, pada tahun 2011 jumlah BPRS tersebut
bertambah menjadi sebanyak 155 BPRS, begitu pula pada tahun 2012 bertambah lagi
menjadi 158 dan pada tahun 2013-2015 jumlah BPRS di Indonesia tidak mengalami
peningkatan, di mana dalam kurun waktu tersebut jumlah BPRS di Indonesia adalah
sebanyak 163 BPRS.
Sebagai lembaga perbankan di Indonesia, BPRS juga menjalankan fungsi
sebagai lembaga intermediasi yakni sebagai penghubung antara pihak yang kelebihan
dana (surflus) dan pihak yang kekurangan dana (deficit). Bedanya dengan bank
umum syariah sasaran utama pemberian kredit BPRS adalah UMKM. Pemberian
kredit merupakan salah satu sumber pemasukan terbesar dalam usaha perbankan,
maka BPRS juga melakukan pemberian kredit tersebut, namun dalam bank syariah
istilah kredit diganti dengan istilah pembiayaan.
Menurut UU No. 10 Tahun 1998 pembiayaan adalah penyediaan uang atau
tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai
untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu
dengan imbalan atau bagi hasil. Antara kredit dan pembiayaan mempunyai prinsip
yang berbeda. Tidak seperti kredit, pembiayaan lebih mengutamakan unsur
Pemberian pembiayaan ini bukanlah tanpa risiko, bank sebagai kreditur atau
pihak yang memberikan pinjaman (pembiayaan) kepada debitur tentu harus dapat
mengkalkulasi risiko yang dapat timbul terkait aktivitas pemberian pembiayaan
tersebut. kalkulasi itu setidaknya dapat meminimalkan potensi risiko yang dapat
terjadi.2 Selain itu BPRS harus mempertajam bisnis yang dimiliki, memahami
nasabah dan objek pembiayaan serta BPRS harus meningkatkan kapasitas SDM dan
menyempurnakan system, baik sistem analisa pencairan pembiayaan maupun sistem
pembiayaan bermasalah.3
Menurut Padmantyo dan Muqorobin (2011) Meski sektor UKM memiliki
peluang pengembangan usaha yang prospektif, mereka memerlukan pembinaan dan
pendampingan yang intens. Kelebihannya, sektor UKM biasanya akan lebih taat
bayar dan tahan terhadap guncangan krisis. Namun bila bank hanya sekedar
menyalurkan pinjaman (take and give) kredit sektor UKM justru bisa menjadi
bumerang. Kondisi ini ditemukan oleh Ding Lu, et al (2001) yang menemukan
bahwa pemberian kredit yang berlebih (eksesif) kepada perusahaan daerah membuka
peluang kenaikan NPL.
Non Performing Loan atau disebut Non Performing Financing dalam bank
syariah adalah rasio antara pembiayaan yang bermasalah dengan total pembiayaan
2
Ikatan Bankir Indonesia (IBI), “Mengelola Bisnis Pembiayaan Bank Syariah”, (Jakarta :
PT.Gramedia Pustaka Utama), 2015, h.73.
3 Qommarria Rostanti, “Pembiayaan Bermasalah BPRS masih tinggi”,
5
yang disalurkan oleh bank syariah4. Kredit bermasalah merupakan kredit yang telah
disalurkan oleh bank, dan nasabah tidak dapat melakukan pembayaran dan
melakukan angsuran sesuai dengan perjanjian yang telah ditandatangani oleh bank
dan nasabah.5
Batas aman dari rasio Non Performing Financing adalah sebesar 5% dari
total kreditnya. Jika pembiayaan bermasalah melampaui batas, maka akan menjadi
masalah serius yang akan mengganggu profitabilitas bank syariah yang berujung
pada berhentinya operasional terutama pada bank syariah yang memiliki aset kecil
seperti pada BPRS.6 Terjadinya pembiayaan bermasalah akan mengikis PPAP
(bahkan Modal Bank), mengurangi pendapatan bank, dan menjadikan bank tidak
solvent.7
Untuk menghindari agar hal ini tidak terjadi pada BPRS diperlukan adanya
pengelolaan risiko pembiayaan yang efektif. Bank perlu mengelola risiko
pembiayaan yang melekat pada seluruh portofolio dan mempertimbangkan
hubungan antara risiko pembiayaan dan risiko lainnya.
Tingkat NPF pada BPRS termasuk pada kategori yang mengkhawatirkan.
Tingkat NPF pada BPRS periode 2010 sampai pertengahan 2015 berada pada posisi
4 Ahmad Tabrizi, “
Analisis Pengaruh Variabel Makro Terhadap Non Performing Financing Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode Tahun 2003-2005”, (skripsi S1 Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UIN syarif hidayatullah Jakarta, 2014),h.22.
5
Ismail, Manajemen Perbankan Dari Teori Menuju Aplikasi, (Jakarta : Kencana, 2011), h.124.
6 Irman Firmansyah, “
Determinant Of Non Performing Loan: The Case Of Islamic Bank In Indonesia”, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Volume 17, Nomor 2 (Oktober 2014): h. 242.
7 Robert Tampubolon, “Risk Management Penekatan Kualitatif Untuk Bank Komersial”,
di atas 5% dan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan NPF pada BUS dan
UUS. Dapat dilihat pada table 1.1 berikut :
Tabel 1.1
Perbandingan Non Performing Financing (NPF) BPRS dan BUS UUS Tahun 2010-2015
Sumber: Statistik bank syariah Bank Indonesia (2010-2015), diolah
Berdasarkan table diatas terlihat bahwa NPF pada BPRS terus menerus
meningkat. Meskipun rasio NPF sempat turun pada tahun 2011 dengan nilai
NPF sebesar 6.11%, namun tahun-tahun berikutnya rasio NPF pada BPRS terus
menerus meningkat dan semakin besar nilainya. Bahkan pada tahun 2015 NPF
BPRS sebesar 8.20%. Keadaan ini sangat jauh jika dibandingkan dengan NPF
pada BUS dan UUS di mana NPF mereka berada di bawah 5% dengan nilai NPF
tertinggi sebesar 4.76%.
Periode Pembiayaan* (Jutaan Rp)
NPF BPRS (%)
NPF BUS & UUS (%)
2010 2.060.437 6.50% 3.02%
2011 2.675.930 6.11% 2.52%
2012 3.553.520 6.15% 2.22%
2013 4.433.492 6.50% 2.62%
2014 5.004.909 7.89% 4.33%
7
Tingginya rasio NPF BPRS ini dirasa cukup mengkhawatirkan. Menurut
Robert Tampubolon (2004: 111) Penyebab utama pembiayaan bermasalah
berkaitan langsung dengan standar pemberian kredit yang lunak atau longgar,
manajemen risiko portofolio kredit yang lemah, dan karena kurangnya perhatian
terhadap perubahan ekonomi atau kondisi lingkungan lainnya, yang pada gilirian
berikutnya dapat membuat sebuah kredit pada counterparty menjadi bermasalah.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa tingginya nilai NPF pada bank
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari internal bank seperti likuiditas
bank (FDR) dan aktiva produktif yang dimiliki, serta dipengaruhi juga oleh
pertumbuhan ekonomi Negara yang dapat dilihat dari indikator makroekonomi
seperti inflasi dan BI Rate. Adapun kondisi internal bank dan kondisi makro
ekonomi dapat dilihat pada tabel berikut :
Table 1.2
Perkembangan FDR, KAP, Inflasi dan BI Rate Tahun 2010-2015
Sumber: www.bi.go.id diolah
Dari tabel 1.2 diketahui bahwa baik dari sisi internal bank maupun dari
indikator makro ekonomi sedang dalam keadaan yang kurang bagus. Terlihat
bahwa likuiditas BPRS (FDR) telah melebihi batas yang ditentukan oleh BI
yakni lebih besar dari 110%, selain itu aktiva produktif yang dimiliki BPRS juga
tidak cukup baik, di mana mengharuskan BPRS untuk menyediakan PPAP yang
lebih besar. Kondisi makro ekonomi Indonesia pun demikian, terlihat bahwa
nilai inflasi dan BI Rate terus mengalami fluktuasi, hal ini dipastikan akan
mengganggu kestabilan perekonomian Indonesia yang pada akhirnya akan
berpengaruh pada kondisi bank.
Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi NPF baik dari
faktor eksternal maupun internal telah dilakukan oleh beberapa penelitian
sebelumnya, diantaranya : Rahmawulan (2008) menunjukkan bahwa Inflasi
memiliki pengaruh yang positif terhadap kredit bermasalah, namun pendapat
lain dikemukakan oleh Chasanah (2012), Tabrizi (2014) dan Firmansyah (2014)
menyatakan bahwa inflasi berpengaruh negatif terhadap pembiayaan
bermasalah. Faktor eksternal lainnya yaitu itu BI Rate, berdasarkan penelitian
Annisa Kurniasih (2015) mempunyai pengaruh yang signifikan dan hubungan
yang positif dengan pembiayaan bermasalah pada bank syariah.
Dari faktor internal bank, Dwi Poetry (2011) menyatakan bahwa FDR
berpengaruh negatif terhadap NPF pada bank syariah, namun Firmansyah (2014)
menyatakan bahwa FDR memiliki pengaruh positif terhadap pembiayaan
9
(2005) menyatakan bahwa Kualitas Aktiva Produktif memiliki pengaruh yang
positif terhadap pembiayaan bermasalah.
Berdasarkan pemaparan di atas, perlu kiranya untuk diadakan penelitian
lanjutan mengenai Non Performing Financing pada Bank Syariah, terutama pada
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Oleh karena itu penulis bermaksud untuk
melakukan penelitian tersebut melalui karya ilmiah skripsi dengan judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Non Performing Financing
Pada BPRS Di Indonesia Periode Tahun 2010-2015”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan kajian latar belakang di atas, ada beberapa permasalahan
yang dapat di identifikasi oleh penulis, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Mengapa NPF pada BPRS jauh lebih besar jika dibandingkan NPF pada
BUS dan UUS?
2. Faktor internal apa saja yang berpengaruh terhadap tingginya NPF
BPRS?
3. Faktor makroe konomi apa saja yang berpengarh terhadap tingginya NPF
BPRS?
4. Bagaimana dampak tingginya NPF terhadap profitabilitas BPRS?
C. Batasan Masalah
Pembatasan masalah dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman
yang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, agar masalah yang diteliti tidak
terlalu meluas. Sehingga penulis membatasi batasan masalah yang akan
dibahas yaitu :
1. Non Performing Financing yang dibahas adalah persentase dari
pembiayaan non lancar Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, yang terdiri dari
pembiayaan kurang lancar, diragukan dan macet.
2. Faktor makro ekonomi yang dijadikan variabel dalam penelitian ini adalah
inflasi dan BI Rate. Sedangkan faktor internal yang digunakan adalah rasio
keuangan BPRS yaitu, FDR dan Kualitas Aktiva Produktif.
3. Objek penelitian ini adalah Bank Pembiayan Rakyat Syariah periode 2010
- 2015.
D. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini pembahasana terfokus kepada masalah faktor-faktor
yang mempengaruhi non performing financing pada BPRS, faktor-faktor
tersebut diantaranya Inflasi, BI Rate, KAP dan FDR. Berdasarkan pemaparan
di atas, maka dapat ditarik beberapa pokok masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana inflasi, BI Rate, KAP dan FDR berpengaruh secara
simultan terhadap tingkat Non Performing Financing pada Bank
11
2. Bagaimana inflasi, BI Rate, KAP dan FDR berpengaruh secara parsial
terhadap tingkat Non Performing Financing pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia pada tahun 2010-2015 ?
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
a. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permaslahan penelitian maka tujuan penelitian ini
dapat dirinci sebagai berikut :
1. Menganalisis pengaruh inflasi terhadap NPF pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah pada tahun 2010-2015.
2. Menganalisis pengaruh BI Rate terhadap NPF pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah pada tahun 2010-2015.
3. Menganalisis pengaruh FDR terhadap NPF pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah pada tahun 2010-2015.
4. Menganalisis pengaruh Kualitas Aktiva Produktif terhadap NPF
b. Manfaat Penelitian
Adapun Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi
khazanah keilmuan dan pengembangan kajian teoritis khususnya
yang berkaitan dengan Non Performing Financing, serta di
harapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi bagi
penelitian berikutnya.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran yang bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam pembuatan keputusan terkait kebijakan
pemberian pembiayaan oleh Bank pembiayaan Rakyat Syariah
(BPRS). Dan bagi penulis penelitian ini di harapkan dapat
menambah wawasan dan pemahaman penulis mengenai
perbankan syariah khususnya masalah Non Performing Financing
13
F. Teknik Penulisan
Teknik penulisan ini merujuk pada buku “ Pedoman Penulisan Skripsi
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Syariah
dan Hukum Tahun 2012”.
G. Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini merupakan gambaran awal dari apa yang akan dilakukan oleh
peneliti. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang, batasan dan
rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini akan disajikan kajian pustaka terkait pembiayaan, risiko
pembiayaan, Non Performing Financing , Inflasi, BI Rate, KAP dan FDR.
Selain itu pada bab ini juga akan terdapat review studi terdahulu, kerangka
teori dan konsep serta hubungan antar variabel-variabel penelitian.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai ruang lingkup penelitian, pendekatan
pengumpulan data, subjek-objek penelitian, teknik pengolahan data dan
metode analisis data.
BAB IV : ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN
Pada bab ini berisi hasil analisis dari pengolahan data, yaitu hasil analisis
regresi linier berganda dengan terlebih dahulu melakukan uji asumsi klasik
serta analisis hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan. Selanjutnya
dilakukan pembahsan mengenai pengaruh Inflasi, BI Rate, FDR, dan KAP
terhadap rasio Non Performing Financing pada BPRS.
BAB V : PENUTUP
Bab ini memuat kesimpulan yang merupakan jawaban dari rumusan
15 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
Berdasarkan Undang-Undang No.21 tahun 2008 tentang perbankan
syariah, yang dimaksud dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah adalah
Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran. Secara teknis BPR Syariah bisa diartikan sebagai
lembaga keuangan sebagaimana BPR konvensional, yang operasinya
menggunakan prinsip-prinsip syariah.1
Adapun kegiatan usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah meliputi :
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk:
1. Simpanan berupa tabungan atau yang dipersamakan dengan itu
berdasarkan Akad wadi’ah atau Akad lain yang tidak bertentangan
dengan Prinsip Syariah.
2. Investasi berupa deposito atau tabungan atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain
yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah;
b. Menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk
1
1. Pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah atau
musyarakah;
2. Pembiayaan berdasarkan akad murabahah, salam, atau istishna’ 3. Pembiayaan berdasarkan akad qardh;
4. Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada
nasabah berdasarkan akad ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah
muntahiya bittamlik
5. Pengambil alihan utang berdasarkan akad hawalah;
c. Menempatkan dana pada Bank Syariah lain dalam bentuk titipan
berdasarkan akad wadi’ah atau investasi berdasarkan akad mudharabah dan/atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
d. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk
kepentingan nasabah melalui rekening Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
yang ada di Bank Umum Syariah, Bank Umum Konvensional, dan UUS
e. Menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha Bank Syariah lainnya
yang sesuai dengan Prinsip Syariah berdasarkan persetujuan Bank
Indonesia.
Selain itu Bank pembiayaan Rakyat Syariah dilarang untuk:
1. Melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan Prinsip
17
2. Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas
pembayaran;
3. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing, kecuali penukaran
uang asing dengan izin Bank Indonesia;
4. Melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai agen
pemasaran produk asuransi syariah;
5. Melakukan penyertaan modal, kecuali pada lembaga yang dibentuk
untuk menanggulangi kesulitan likuiditas Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah; dan
6. Melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21.
B. PEMBIAYAAN DAN RISIKO PEMBIAYAAN PADA BANK SYARIAH
1. Pembiayaan
Sebagai salah satu lembaga intermediasi, bank memiliki tugas pokok
untuk menghimpun dana dari masyarakat (surflus dana), yang kemudian
selanjutnya untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan dana
dalam bentuk pembiayaan, di mana dengan pembiayaan ini bank akan
memperoleh penghasilan baik berupa margin keuntungn, bagi hasil atau Fee
Pembiayaan atau financing, yaitu pendanaan yang diberikan oleh satu
pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah
direncanakan, baik yang dilakukan sendiri maupun lembaga.2
Sesuai dengan yang dijelaskan dalam Undang-undang No. 21 Tahun
2008, Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan
dengan itu berupa:
a. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah;
b. Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam
bentuk ijarah muntahiya bittamlik;
c. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan
istishna’;
d. Ttransaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh; dan
e. Transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi
multijasa.
Berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau
UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi
fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu
tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil.
Berdasarkan tujuan penggunaannya, pembiayaan dibedakan dalam 3
jenis yaitu :3
2
19
1. Pembiayaan modal kerja, yakni pembiayaan yang ditunjukan untuk
memberikan modal modal usaha.
2. Pembiayaan investasi, yakni pembiayaan yang ditunjukkan untuk
modal usaha pembelian sarana alat produksi dan atau pembelian
barang modal berupa aktiva tetap/ inventaris
3. Pembiayaan konsumtif, yakni pembiayaan yang ditunjukkan untuk
pembelian suatu barang yang digunakan untuk kepentingan
perseorangan (pribadi).
Berdasarkan kualitasnya, pembiayaan digolongkan kedalam 5 kategori
yaitu :
1. Pembiayaan Lancar (Pass)
Pembiayaan yang digolongkan lancar apabila memenuhi kriteria
berikut :
a. Pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat pada
waktunya.
b. Memiliki mutasi rekening yang aktif.
c. Bagian dari pembiayaan yang dijamin dengan agunan tunai
(cash collateral)
2. Perhatian Khusus (Special Mention)
3
Pembiayaan digolongkan menjadi pembiayaan dalam perhatian
khusus jika :
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang
belum melampaui 90 hari.
b. Kadang-kadang terjadi cerukan.
c. Mutasi rekening relative aktif.
d. Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang dperjanjikan.
e. Didukung oleh pinjaman baru.
3. Kurang Lancar (Substandard)
Pembiayaan digolongkan menjadi pembiayaan kurang lancar apabila :
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang
telah melampaui 90 hari.
b. Sering terjadi cerukan.
c. Frekuensi mutasi reening relative rendah.
d. Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih
dari 90 hari
e. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur
f. Dokumentasi pinjaman yang lemah.
4. Diragukan (Doubtful)
Pembiayaan digolongan menjadi pembiayaan diragukan apabila :
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang
21
b. Terjadi cerukan yang bersifat permanen
c. Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari.
d. Terjadi kapitalisasi bunga.
e. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjajian
pembiayaan maupun pengikatan jaminan.
5. Macet (Loss)
Pembiayaan digolongkan menjadi pembiayaan macet apabila :
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang
telah melampaui 270 hari.
b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru.
c. Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat
dicairkan pada saat wajar.
2. Risiko Pembiayaan
Dalam kaitannya dengan penyaluran dana yang dilakukan oleh bank
dalam bentuk pembiayaan, maka bank harus siap menanggung risiko kredit
atau pembiayaan. Hal tersebut dijelaskan dalam Pasal 37 ayat (1) UU
Perbankan Syariah yang menyatakan bahwa penyaluran dana berdasarkan
atau kemacetan dalam pelunasannya sehingga dapat berpengaruh terhadap
kesehatan bank syariah dan UUS.4
Risiko pembiayaan terjadi ketika bank tidak bisa memperoleh kembali
cicilan pokok, dan/atau bagi hasil/margin/pendapatan sewa dari pembiayaan
yang diberikan atau investasi yang dilakukannya.5 Secara garis besar, risiko
kredit dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Risiko default
b. Risiko exposure
c. Risiko recovery
Risiko pembiayaan bagi bank syariah timbul apabila kualitas
pembiayaan dari lancar menjadi kurang lancar, diragukan dan macet, atau
dalam praktik perbankan syariah dikenal dengan non performing financing.
Risiko pembiayaan merupakan risiko yang paling signifikan dari semua risiko
yang menyebabkan kerugian potensial.
Besarnya pendapatan yang diperoleh oleh bank sejalan dengan
besarnya risiko yang akan dihadapi oleh bank sesuai dengan prinsip high risk
high return. Yakni semakin tinggi risiko yang di tanggung maka akan
semakin besar pendapatan yang akan di dapatkannya. Namun bank dapat
mengompensasikan dirinya dengan mengatur, di mana ketika suatu
pembiayaan dinilai memiliki risiko yang tinggi maka harus diimbangi dengan
4
A.Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2012), h. 89.
5
23
pendapatan yang tinggi dan nisbah bagi hasil yang juga disesuaikan dan harus
adanya agunan yang sesuai.
Untuk meminimalisir terjadinya risko pembiayaan, bank perlu
melakukan manajemen terhadap risiko kredit yang melekat pada seluruh
portofolio, yaitu dengan mengidentifikasi , mengukur, memonitor,
mengontrol risiko kredit, serta memastikan modal yang tersedia cukup, dan
dapat diperoleh kompensasi yang sesuai atas risiko yang timbul.6
C. NON PERFORMING FINANCING (NPF)
1. Pengertian Non Performing Financing
NPF adalah rasio antara pembiayaan yang bermasalah dengan total
pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah. Pembiayan bermasalah
terjadi apabila adanya ketidaktepatan waktu dalam pengembalian
pembiayaan oleh nasabah. Yang termasuk dalam pembiayaan bermasalah
adalah pembiayaan yang kolektabilitasnya masuk dalam kriteria pembiayaan
kurang lancar, pembiayaan diragukan, dan pembiayaan macet.
NPF dirumuskan sebagai berikut :
NPF= pembiayaan non lancar x 100
Total pembiayaan
6Veitzhal Rivai, Rifki Ismail, “
Batas aman dari besarnya NPF adalah sebesar 5%, jika bank memiliki
rasio NPF lebih dari 5% maka akan mempengaruhi penilaian tingkat
kesehatan bank yang bersangkutan. Dengan adanya pembiayaan bermasalah,
maka bank harus menyediakan biaya pencadangan, yaitu Penyisihan
Penghapusan Aktiva (PPA). Pembentukan cadangan umum PPA untuk
Aktiva Produktif ditetapkan paling rendah sebesar 1% dari seluruh Aktiva
Produktif yang digologkan lancar.
Pembentukan cadangan khusus PPA ditetapkan paling rendah sebesar :7
a. 5% (lima persen) dari Aktiva Produktif yang digolongkan dalam
Perhatian Khusus setelah dikurangi nilai agunan;
b. 15% (lima belas persen) dari Aktiva Produktif dan Aktiva Non
Produktif yang digolongkan Kurang Lancar setelah dikurangi nilai
agunan;
c. 50% (lima puluh persen) dari Aktiva Produktif dan Aktiva Non
Produktif yang digolongkan Diragukan setelah dikurangi agunan; atau
d. 100% (seratus persen) dari Aktiva Produktif dan Aktiva Non
Produktif yang digolongkan Macet setelah dikurangi agunan.
7
25
2. Signal Pembiayaan Bermasalah8
Pembiayaan bermaslah tidak datang tiba-tiba. Datangnya
perlahan-lahan. Oleh karena itu, monitoring menjadi semakin penting. Beberapa
indikator/sinyal/warning sign terjadinya pembiayaan bermasalah
diantaranya :
a. Finansial Statement
1) ROA/ROE cenderung menurun;
2) ITO (Inventory Turn Over) makin kecil;
3) DTO (Direct Turn Over) makin lama;
4) ITO makin besar;
b. Sikap Bisnis Nasabah
1) Hubungan dengan mitra renggang;
2) Melakukan usaha secara spekulatif;
3) Kunci distribusi lepas;
4) Customer biasa lepas;
5) Jalur distribusi yang menguntungkan lepas.
c. Sikap Debitur
1) Masalah keluarga (dirinya, keluarganya, direksi);
2) Sulit dihubungi petugas/pejabat bank (menjauh);
3) Ekspansi keluar dari core bisnisnya;
8
d. Ekonomi Makro
1) Fluktuasi nilai tukar valas;
2) Inflasi cenderung membesar
3) Depresiasi/Devaluasi/Apresiasi nilai Rupiah.
3. Dampak Non Performing Financing
Sebagai salah satu lembaga keuangan, bank mengandalkan
pembiayaan atau kredit sebagai sumber pemasukan utama dalam
membiayai operasionalnya. Dana yang digunakan untuk pembiayaan
merupakan dana yang berasal dari nasabah (surflus dana), sehingga ada
tanggung jawab bagi bank untuk mengembalikan dana tersebut kembali.
Namun jika tingkat Non Performing financing pada bank tinggi maka akan
berdampak pada menurunnya bagi hasil yang dibagikan pada pemilik dana
dan akan menimbulkan kegelisahan pada nasabah yang pada akhirnya
menyebabkan hilangnya kepercayaan nasabah pada bank.
Adapun dampak lain bagi bank sebagai akibat dari timbulnya
pembiayaan bermasalah adalah :9
a. Hilangnya kesempatan untuk memperoleh income dari pembiayaan
sehingga mengurangi perolehan laba dan berpengaruh buruk bagi
profitabilitas bank.
9 Siti Maryam, “pengaruh to deposite ratio (FDR) dan tingkat inflasi terhadap
Non Performing Financing (NPF) Bank Syariah di Indonesia”, (skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum UIN syarif
27
b. Rasio kualitas produktif atau yang lebih dikenal dengan BDR (Bad
Debt Ratio) menjadi semakin besar yang menggambarkan terjadinya
situasi yang memburuk.
c. Bank harus memperbesar penyisihan untuk cadangan aktiva produktif.
Hal ini pada akhirnya akan mengurangi besarnya modal bank dan
akan berpengaruh terhadap CAR.
d. Return on asset (ROA) mengalami penurunan
Kredit macet yang cukup besar dalam industri perbankan membawa
dampak yang cukup luas yaitu secara :10
a. Makro, kemampuan bank dalam memebrikan kredit baru menjadi
berkurang sehingga menutup kemungkinan calon debitur baru
untuk memperoleh fasilitas kredit dari bank. Dampak lainnya bank
cenderung lebih selektif dan berhati-hati sehingga ekspansi
pembrian kredit menjadi menurun.
b. Mikro, merugikan perkembangan usaha dan kesehatan bank,
keadaan ini mempengaruhi likuiditas bank sehingga kemungkinan
terjadinya bank tidak dapat memenuhi kewajiban segeran, serta
akan berpengaruh juga pada keadaan permodalan.
10
4. Upaya Penanganan Non Performing Financing
Dalam rangka untuk mengurangi terjadinya Non performing
financing bank bisa melakukan penyelamatan pembiayaan bermasalah
melalui restrukturisasi pembiayaan. Restrukturisasi pembiayaan adalah
upaya yang dilakukan bank dalam rangka membantu nasabah agar dapt
menyelesaikan kewajibannya antara lain melalui penjadwalan kembali
(rescheduling), persyaratan kembali (reconditioning), dan penataan
kembali (restructuring).11
Penjadwalan kembali (rescheduling) yaitu perubahan jadwal
pembayaran kewajiban nasabah atau memperpanjang jangka waktu jatuh
tempo pembiayaan. Persyaratan kembali (reconditioning) merupakan
perubahan sebagian atau seluruh persyaratan pembiayaan tanpa menambah
sisa pokok kewajiban nasabah kepada bank. Dan penataan kembali
(restructuring) adalah perubahan persyaratan pembiayaan dengan
melakukan konversi pembiayaan. Selain rescheduling, reconditioning dan
restructuring, menurut Kasmir (104 : 2006) pembiayaan bermasalah juga
dapat diselamatkan dengan metode kombinasi dan penyitaan jaminan.
Metode kombinasi yaitu kombinasi dari rescheduling, reconditioning dan
restructuring. Dan penyitaan jaminan dilakukan apabila nasabah sudah
11
29
tidak memiliki itiqad baik atau memang benar-benar sudah tidak sanggup
untuk membayar.
D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NPF DARI SISI MAKRO EKONOMI
1. Inflasi
Inflasi telah menjadi fenomena yang tidak bisa dihindari dalam
perekonomian suatu Negara. Tidak ada suatu Negara pun saaat ini yang tidak
mengalami fenomena inflasi. Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang
yang bersifat umum dan terus-menerus.12 Berdasarkan teori jumlah uang
(quantity theory of money), jumlah uang yang tersedia dalam perekonomian
menentukan nilai uang dan pertumbuhan jumlah uang adalah penyebab
utama inflasi.
Inflasi akan mempengaruhi kegiatan ekonomi baik secara makro
maupun mikro termasuk kegiatan investasi. Inflasi juga menyebabkan
penurunan daya beli masyarakat yang berakibat pada penurunan penjualan.
Penurunan penjualan yang terjadi dapat menurunkan return perusahaan.
Penurunan return yang terjadi akan mempengaruhi kemampuan perusahaan
dalam membayar angsuran kredit. Pembayaran angsuran yang semakin tidak
tepat menimbulkan kualitas kredit semakin buruk bahkan terjadi kredit macet
12 Pratama Rahardja, Mandala Manurung, “
Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikro & Makro)”,
(Taswan, 2006) sehingga akan meningkatkan nilai Non Performing
Finance.13
a. Faktor Penyebab Inflasi
Adapun faktor penyebab terjadinya inflasi dapat dilihat dari dua
analisis, yaitu :
1) Analisis Permintaan Agregat
Perubahan permintaan agregat disebabkan oleh adanya
perubahan penawaran uang. Ketika pemerintah mengambil
kebijakan moneter ekspansif, akan menyebabkan bertambahnya
jumlah uang yang beredar di masyarkat. Dengan banyaknya uang
yang beredar di masyarakat, maka kemampuan daya beli
masyarakat pun akan meningkat sehingga berdampak pada
meningkatnya permintaan barang dan jasa. Namun, apabila
kemampuan perekonomian untuk menyediakan barang dan jasa
tidak berubah kenaikan harga barang dan jasa pun tidak bisa
dihindarkan, sehingga terjadilah inflasi.
2) Analisis Penawaran Agregat
Inflasi yang terjadi sebagai akibat adanya perubahan
penawaran agregat bersumber dari kenaikan biaya produksi yang
menyeluruh diberbagai jenis industry dalam perekonomian, atau
13Irman Firmansyah, “
31
disebut juga dengan inflasi desakan-biaya (cost-push inflation).
Kenaikan biaya produksi dipengaruhi oleh faktor internal dan
faktor eksternal. Adapaun faktor internal yaitu : kenaikan upah
tenaga kerja, kecenderungan meningkatkan keuntungan dan harga
bahan mentah yang semakin meningkat. Sedangkan faktor
ekstenalnya yaitu : kenaikan harga barang dari luar negeri atau
masalah ketidak seimbangan dalam neraca pembayaran.
b. Dampak Inflasi
Inflasi memiliki dampak yang kurang menguntungkan bagi
masyarakat. Kenaikan harga yang terjadi secara terus menerus akan
berdampak pada menurunnya kemampuan daya beli masyarakat. Adapun
batasan aman untuk inflasi adalah 5% pertahun dan paling maksimal 10%
pertahun. Inflasi yang lebih dari 10% (hyper-inflation) akan menimbulkan
beberapa masalah social seperti : menurunnya tingkat kesejahteraan
rakyat, memburuknya distribusi pendapatan dan terganggunya stabilitas
ekonomi.
Kesejahteraan masyarakat menurun karena, dengan terjadinya inflasi
maka pendapatan riil orang-orang yang berpenghasilan tetap akan
menurun hal ini dikarenakan kenaikan upah tidak secepat kenaikan
harga-harga. Selain itu, inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk
uang, di mana pada saat terjadinya inflasi maka nilai riil uang akan
Kondisi ekonomi pun tidak akan berkembang ketika inflasi terjadi,
biaya yang terus naik berakibat pada kegiatan produktif sangat tidak
menguntungkan. Dengan kondisi seperti ini maka lebih banyak pemilik
modal yang menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi, seperti
membeli asset tetap. Dengan demikian investasi produktif akan menurun
dan tingkat kegiatan ekonomi menurun.
2. Suku Bunga (BI Rate)
BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau
stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan
diumumkan kepada publik. BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur
Bank Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan dan
diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia
melalui pengelolaan likuiditas di pasar uang untuk mencapai sasaran
operasional kebijakan moneter.
Hal mendasar yang menjadi pembeda antara Bank Syariah dan Bank
Konvensiaonal adalah tidak digunakannya system bunga pada Bank
syariah. Bank syariah tidak menggunakan system bunga, tapi
menggunakan prinsip bagi hasil, sehingga bank syariah tidak menghadapi
risiko bunga.
Bank Islam tidak berhadapan dengan risiko suku bunga, tetapi
33
Market Rate (DCMR) dan juga Indirect Competitor Market Rate
(ICMR).14
Direct Competitor Market Rate (DCMR) adalah tingkat margin
keuntungan rata bank syariah, atau tingkat margin keuntungan
rata-rata beberapa bank syariah yang ditetapkan dalam rapat ALCO sebagai
kelompok competitor langsung, atau tingkat margin keuntungn bank
syariah tertentu yang ditetapkan dalam rapat ALCO sebagai competitor
terdekat. Sedangkan yang dimaksud Indirect Competitor Market Rate
(ICMR) adalah tingkat suku bunga rata-rata perbankan konvensional, atau
tingkat rata-rata suku bunga beberapa bank konvensional yang ditetapkan
dalam rapat ALCO sebagai kelompok competitor tidak langsung, atau
tingkat rata-rata suku bunga bank konvensional tertentu yang dalam rapat
ALCO ditetapkan sebagai competitor tidak langsung yang terdekat.
Namun, dalam kenyataannya bank Islam juga secara tidak langsung
menghadapi risiko tingkat suku bunga melalui mark-up price dari
murabahah dan ijarah. Bank Islam menggunakan suku bunga pasar seperti
LIBOR, SIBOR ata Jibor maupun nilai tukar sebagai benchmark dalam
operasional pembiayaannya.15
14
Veitzhal Rivai, Rifki Ismail, “ Islamic Risk Management For Islamic Bank”, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2013), h. 248.
15
E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NPF DARI SISI INTERNAL BANK
1. Finance to Deposite Ratio (FDR)
Financing to Deposite Ratio adalah perbandingan antara pembiayaan
yang diberikan oleh bank dengan dana pihak ketiga yang berhasil dikerahkan
oleh bank.16 FDR dirumuskan sebagai berikut :
Finance to Deposite Ratio = Pembiayaan/pinjaman yang diberikan X 100%
Dana Pihak Ketiga
Rasio FDR merupakan indikator dari likuiditas bank, semakin tinggi
nilai FDR berarti likuiditas bank tersebut semakin berkurang. Bank Indonesia
menetapkan besarnya Financing to Deposite Ratio tidak boleh melebihi
110%. Yang berarti bank boleh memberikan kredit atau pembiayaan melebihi
jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun asalkan tidak melebihi
110%.
Rasio FDR yang tinggi menunjukkan bahwa BPRS meminjamkan
seluruh dananya (loan-up) atau relatif tidak likuid (illiquid). Artinya, semakin
banyak dana yang dikeluarkan dalam pembiayaan, maka semakin tinggi FDR,
dan kemungkinan terjadi resiko pembiayaan bermasalah/macet semakin
tinggi pula.17
16Veithzal Rivai, Arviyan Arifin, “ Islamic Banking Sebuah Teori, Konsep dan Aplikasi”,
(Jakarta : Bumi Aksara , 2010), h.784. 17Irman Firmansyah, “
35
2. Kualitas Aktiva Produktif (KAP)
Aktiva produktif adalah penanaman dana bank syariah baik dalam
rupiah maupun valuta asing dalam bentuk pembiayaan, piutang, qardh, surat
berharga syari’ah, penempatan, penyertaan modal, penyertaan modal
sementara, komitmen dan kontingensi pada transaksi rekening administratif
serta sertifikat wadiah Bank Indonesia.18
Pembiayaan merupakan salah satu bentuk aktiva produktif yang
memiliki porsi besar dalam bank syariah. Sehingga apabila bank syariah tidak
berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan dapat menyebabkan
menurunnya kualitas aktiva produktif dan dapat menyebabkan semakin
tingginya pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing. Hal ini
juga diungkapkan oleh Soebagio, komposisi pinjaman memainkan peran
penting sebagai indikator gambaran risiko bank. Di mana semakin baik
komposisi atau kualitas dari portofolio kredit maka semakin mengurangi
terjadinya NPL. 19
Menurut Dahlan Siamat dalam Diah Aristya (2010), penilaian kualitas
aktiva produktif bank dilakukan berdasarkan pada :
18
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Yogyakarta: Ekonosia, 2004), h. 107. 19
a. Ketepatan pembayaran kembali pokok bunga serta kemampuan
peminjam yang ditinjau dari keadaan usaha yang bersangkutan untuk
kredit yang diberikan.
b. Tingkat kemungkinan diterimanya kembali dana yang ditanamkan,
untuk surat berharga.
Penilaian kualitas aktiva produktif dimaksudkan untuk menilai
kondisi asset bank, termasuk antisipasi atas risiko gagal bayar dari
pembiayaan (credit risk) yang akan muncul. Dalam hubungannya dengan
NPF yaitu semakin baik komposisi atau kualitas dari portofolio pembiayaan
maka semakin mengurangi terjadinya NPF, dan sebaliknya.
Adapun rasio yang digunakan untuk mengukur kualitas aktiva
Produktif yaitu dengan menggunakan rasio Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif terhadap Aktiva Produktif, yang dirumuskan sebagai berikut :
KAP = PPAP yang diberikan x 100%
Total Aktiva Produktif
Semakin tinggi persentase rasio ini, maka semakin rendah kualitas
aktiva Produktif yang dimiliki oleh bank. Sehingga kemungkinan untuk
37
F. Review Studi Terdahulu
Tabel 2.1 : Penelitian Terdahulu
NO Nama penulis/ bank syariah periode tahun 2001-2007. digunakan adalah impulse Response Funcion dan regresi analisis majemuk.
Hasil penelitian ini :
perubahan SBI secara bank konvensional dan NPF syariah pada maret 2004 (Vector Auto Regression)
Perbedaan antara skripsi penulis dan jurnal ini terletak pada objek yang diteliti. Peneliti
menjadikan BPRS
sebagai objek penelitian sedangkan jurnal ini
menggunakan Bank
Syariah secara
39
Hasil Penelitian :
Penelitian ini menemukan bahwa dalam jangka pendek , tidak ada variabel yang signifikan mempengaruhi NPL dan NPF . Variabel yang signifikan dalam jangka panjang mempengaruhi NPL adalah nilai tukar , IPI , inflasi , SBI , LDR , dan CAR dan variabel yang signifikan mempengaruhi NPF adalah LNER , lnIPI , inflasi , SBIS , umum syariah selama periode 2005-2011.
Financing Bank rasio return profit loss sharing terhadap return total bahwa pertumbuhan GDP riil dan kurs mempunyai pengaruh
5 Ahmad Tabrizi/
Objek penelitian : Bank Umum Syariah (BUS)
penulis yaitu terletak pada objek penelitian, objek penelitian yang
digunakan Ahmad
sedangkan penulis selain menggunakan variabel makro ekonomi juga
mengguakan rasio
43
G. Kerangka Pemikiran
Atas dasar pemikiran teoritis dan berdasarkan beberapa penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya, maka faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya Non Performing Financing pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
(BPRS) dapat digambarkan dengan pengembangan model sebagai berikut :
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
X1 : FDR
X2 :KAP
X3 : Inflasi
X4 : BI Rate
H. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka, review studi terdahulu dan kerangka
pemikiran diatas dapat ditarik hipotesis penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Hipotesis 1 :
H0 : Tidak terdapat pengaruh antara FDR, KAP, Inflasi dan BI Rate
terhadap Non Performing Financing pada BPRS secara
simultan.
H1 : Terdapat Pengaruh antara FDR, KAP, Inflasi, dan BI Rate
terhadap Non Performing Financing pada BPRS secara
simultan.
2. Hipotesis 2 :
H0 : Tidak terdapat pengaruh antara FDR terhadap Non Performing
Financing pada BPRS secara parsial.
H1 : Terdapat Pengaruh antara FDR terhadap Non Performing
Financing pada BPRS secara parsial.
3. Hipotesis 3 :
H0 : Tidak terdapat pengaruh antara KAP terhadap Non Performing
Financing pada BPRS secara parsial.
H1 : Terdapat Pengaruh antara KAP terhadap Non Performing
45
4. Hipotesis 4 :
H0 : Tidak terdapat pengaruh antara Inflasi terhadap Non Performing
Financing pada BPRS secara parsial.
H1 : Terdapat Pengaruh antara Inflasi terhadap Non Performing
Financing pada BPRS secara parsial.
5. Hipotesis 5 :
H0 : Tidak terdapat pengaruh antara BI Rate terhadap Non Performing
Financing pada BPRS secara parsial.
H1 : Terdapat Pengaruh antara BI Rate terhadap Non Performing
46 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat kuntitatif.
Kuantitatif adalah metode penelitian yang menekankan pada pengujian
teori-teori melalui pengukuran variabel-variabel penelitian dengan angka dan
melakukakn analisis data dengan prosedur statistik. Adapun pendekatan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah verikatif kausalitas. Yakni bertujuan
untuk mengetahui pengaruh antar variabel serta untuk mengetahui hubungan
sebab akibat diantara variabel.
B. Populasi
Menurut R. Gunawan Sudarmanto (2013), populasi merupakan suatu
keseluruhan dari objek atau individu yang merupakan sasaran penelitian.
Sedangkan menurut Sugiyono (1999), populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas subjek/objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang telah ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia dengan periode
47
C. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder
yang bersifat time series. Data sekunder merupakan data yang diperoleh tidak
secara langsung melainkan melalui data dokumentasi ataupun arsip-arsip
resmi, adapun bersifat time series maksudnya adalah data dikumpulkan dari
waktu ke waktu untuk melihat perkembangan kejadian/kegiatan selama
periode tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya NPF
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, Inflasi, BI Rate, FDR dan KAP. Data
tersebut diperoleh dari website Bank Indonesia dan website OJK, dari tahun
2010-2015 dengan data bulanan sebanyak 72 data setiap variabel.
D. Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data untuk melakukan
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Penelitian pustaka (library research)
Peneliti memperoleh data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti
melalui buku, jurnal, artikel, laporan penelitian, tesis, internet dan
perangkat lain yang berkaitan dengan penlitian ini.
2) Metode Dokumentasi
Metode documentasi adalah pengumpulan data melalui catatan-catatan
tertulis tentang berbagai kegiatan atau peristiwa yang lalu yang
E. Variabel Penelitian
1. Variabel Dependen (Y)
Variabel dependen (Y) merupakan variabel yang variasinya
dipengaruhi oleh variasi variabel lain (variabel independen). Variabel
dependen (Y) dalam penelitian ini adalah rasio Non Performing Financing
pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Rasio NPF merupakan
perbandingan dari pembiayaan bermasalah dengan total pembiayaan, atau
jika dirumuskan adalah sebagai berikut :
NPF= pembiayaan non lancar x 100
Total pembiayaan
2. Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel yang memengaruhi atau menjadi
penyebab besar kecilnya nilai variabel yang lain.1 Adapun variabel
independen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel yang
berasal dari internal bank dan juga yang berasal dari eksternal bank,
diantaranya :
a. Internal Bank
X1 : Finance to Deposite Ratio
X2 : Kualitas Aktiva Produktif
1
49
b. Eksternal Bank
X3 : Inflasi
X4 : BI Rate
F. Teknik Analisis Data
1. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui apakah suatu model
regresi linear ganda (Multiple Linear Regression) sudah memenuhi kriteria
estimasi tidak bias garis linear terbaik [Best Linear Unbiased Estimation
(BLUE)]. Suatu model regresi linear ganda (Multiple Linear Regression)
akan dikatakan sebagai suatu model regresi yang BLUE apabila (1) data
berasal dari populasi yang terdistribusi normal, (2) harus tidak terjadi
adanya multikolinearitas, (3) tidak terjadi heterokedasitas, (4) tidak terjadi
adanya autokorelasi, dan (5) terdapat adanya model hubungan yang linear
(garis lurus).2 Kriteria BLUE dapat tercapai apabila asumsi-asumsi klasik
telah terpenuhi. Adapun asumsi-asumsi klasik adalah sebagai berikut :
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah nilai
residual yang telah distandarisasi pada model regresi berdistribusi
normal atau tidak. Tidak terpenuhinya normalitas pada umumnya
2
disebabkan karena data yang dianalisis tidak terdistribusi secara
normal, karena terdapat nilai ekstrem pada data yang diambil. Uji
normalitas dapat dilakukan dengan analisis grafik.
Uji normalitas dengan menggunakan grafik bisa dilakukan
dengan menggunakan histogram ataupun dengan pendekatan grafik
yakni menggunakan Normal probability plot. Data yang terdistribusi
normal ditandai dengan bentuk Histogram Standardized Regression
Residual yang membentuk kurva seperti lonceng. Adapun jika
menggunakan Normal probability plot, distribusi normal digambarkan
dengan garis diagonal lurus dari kiri bawah kekanan atas. Di mana
distribusi kumulatif dari data digambarkan dengan ploting. Sehingga
apabila data terdistribusi dengan normal maka garis yang
menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti atau merapat ke
garis diagonalnya.
b. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi yang terbentuk ada korelasi yang tinggi atau sempurna
diantara variabel bebas atau tidak. Jika dalam model regresi yang
terbentuk terdapat korelasi yang tinggi atau sempurna diantara
51
gejala multikolinearitas.3 Jika model regresi mengandung
multikolinearitas maka akan menimbulkan kesulitan dalam
memisahkan pengaruh masing-masing variabel independen terhadap
variabel dependennya.
Untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala multikolinearitas
dapat diketahui atau dideteksi dengan memanfaatkan statistic korelasi
Variance Inflation Factor (VIF). Ukuran harga koefisien VIF
maksimal adalah 10. Sehingga apabila nilai koefisien VIF untuk
masing-masing veriabel independen lebih besar dari 10, maka variabel
tersebut dapat diindikasikan memiliki gejala multikolinearitas.
c. Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk mengetahui ada atau
tidaknya varian variabel pada model regresi yang tidak sama
(konstan). Jika terjadi heterokedastisitas pada model regresi maka
penaksiran terhadap data tidak lagi efisien dan estimasi koefisien
dapat dikatakan menjadi kurang akurat. Untuk mengetahui terjadi atau
tidaknya gejala heterokedastisitas pada suatu model regresi dapat
dilakukan dengan metode analisis grafik yakni dengan mengamati
scatterplot.
3
Jika scatterplot membentuk pola tertentu, maka menandakan
adanya gejala heterokedastisitas dan sebaliknya jika scatterplot
menyebar secara acak maka dapat dikatakan model regresi tidak
mengalami heterokedastisitas dan sebaliknya.
d. Uji Autokorelasi
Autokorelasi merupakan suatu kondisi di mana terdapat
korelasi atau hubungan antar pengamatan atau observasi, baik itu
dalam bentuk observasi deret waktu (time series) atau observasi cross
section.4 Tujuan dari dilakukannya uji autokorelasi dalam penelitian
adalah untuk mengetahui terjadi atau tidaknya korelasi diantara data
pengamatan. Data pengamatan yang mengandung autokorelasi dapat
berdampak pada hasil penelitian di mana, autokorelasi pada data dapat
menyebabkan penaksiran menjadi tidak efisien karena mempunyai
varians yang tidak minimum, uji-t dan uji F tidak dapat digunakan,
karena akan memberikan kesimpulan yang salah, serta penaksiran
akan memberikan gambaran yang menyimpang dari kondisi populasi
yang sebenarnya.
Autokorelasi dapat dideteksi atau diketahui dengan
menggunakan metode Lagrange Multiplier (LM Test). LM test dapat
digunakan untuk menguji adanya masalah autokorelasi tidak hanya
4
53
pada derajat pertama (first order) tetapi juga pada berbagai tingkat
derajat autokorelasi. Suatu model regresi dikatakan tidak mengalami
autokorelasi apabila X2 hitung ≤ X2 tabel dan sebaliknya. Nilai X2 hitung adalah (n-1)* R2 dan X2 tabel adalah X2 tabel = df=(α, n-1).
2. Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi berganda bertujuan untuk melihat pengaruh atau
hubungan dari beberapa variabel bebas terhadap suatu variabel terikat.
Model persamaan analisis regresi berganda dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + ε Keterangan :
Y = Non Performing Financing (NPF) pada BPRS
a = konstanta
b1 = Koefisien FDR X1 = Finance to Deposite Ratio (FDR)
b2 = Koefisien KAP X2 = Kualitas Aktiva Produktif (KAP)
b3 = Koefisien Inflasi X3 = Inflasi
b4 = Koefisien BI Rate X4 = BI Rate
3. Uji Signifikansi
a. Uji Simultan (Uji F)
Uji F digunakan untuk melihat bagaimana pengaruh
variabel-variabel bebas terhadap variabel-variabel terikat secara simultan atau secara
keseluruhan. Jika variabel bebas memiliki pengaruh yang simultan
terhadap variabel terikat, maka model persamaan regresi masuk
kedalam kriteria cocok atau fit.
Untuk menguji ketepatan model (goodness of fit), digunakan nilai F
hitung. Dan untuk menyimpulkan apakah model masuk dalam kategori
cocok (fit) atau tidak, dilakukan pembandingan antara nilai F hitung
dengan F tabel, dengan derajat bebas : df : α, (k-1), (n-k). Di mana jika
nilai Fhitung > Ftabel maka dapat dikatakan bahwa model persamaan
regresi yang terbentuk masuk kriteria fit (cocok). Adapun untuk
menghitung besarnya nilai Fhitung digunakan formula sebaga berikut :
F = R2 / (k-1) 1-R2/ (n-k)
Keterangan :
F = Nilai F Hitung
R2 = Koefisien Determinasi
k =Jumlah Variabel