Lampiran 1 Data Mentah Indeks Harga Obligasi Perusahaan, Tingkat Bunga, Nilai Tukar dan Uang Beredar Periode Januari 2001-Desember 2005
2005:10 1868.529 11.00 10144 286715 2005:11 1819.245 12.25 10091 276729
2005:12 1855.999 12.75 9906 281905
Lampiran 2 Hasil Estimasi Model Regresi Linear Menggunakan OLS
Dependent Variable: INOB Method: Least Squares Date: 07/09/07 Time: 20:33 Sample: 2001:01 2005:12 Included observations: 60
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -519.7711 169.2139 -3.071681 0.0033
SBI -0.548408 0.063741 -8.603654 0.0000
KURS 0.042210 0.020628 2.046224 0.0454
JUB 0.009061 0.000511 17.74274 0.0000
R-squared 0.973885 Mean dependent var 1111.122
Adjusted R-squared 0.972486 S.D. dependent var 539.2797 S.E. of regression 89.45254 Akaike info criterion 11.88963 Sum squared resid 448098.4 Schwarz criterion 12.02926
Log likelihood -352.6890 F-statistic 696.1153
Lampiran 3 Hasil Estimasi Model Regresi Linear Dengan Menggunakan Metode OLS Pada Indeks Harga Oligasi Perusahaan
77
Dependent Variable: SBI Method: Least Squares Date: 07/09/07 Time: 20:44 Sample: 2001:01 2005:12 Included observations: 60
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -1386.415 516.0071 -2.686814 0.0094
KURS 0.270777 0.054618 4.957647 0.0000
R-squared 0.297636 Mean dependent var 1163.483
Adjusted R-squared 0.285526 S.D. dependent var 380.2145 S.E. of regression 321.3822 Akaike info criterion 14.41590 Sum squared resid 5990617. Schwarz criterion 14.48572
Log likelihood -430.4771 F-statistic 24.57827
Lampiran 4 Hasil Estimasi Model Regresi Linear Dengan Menggunakan Metode OLS Pada Indeks Harga Oligasi Perusahaan
78
Dependent Variable: SBI Method: Least Squares Date: 07/09/07 Time: 20:46 Sample: 2001:01 2005:12 Included observations: 60
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 2655.125 167.7347 15.82932 0.0000
JUB -0.007222 0.000797 -9.057762 0.0000
R-squared 0.585842 Mean dependent var 1163.483
Adjusted R-squared 0.578701 S.D. dependent var 380.2145 S.E. of regression 246.7879 Akaike info criterion 13.88770 Sum squared resid 3532448. Schwarz criterion 13.95751
Log likelihood -414.6310 F-statistic 82.04306
Lampiran 5 Hasil Estimasi Model Regresi Linear Dengan Menggunakan Metode OLS Pada Indeks Harga Oligasi Perusahaan
79
Dependent Variable: KURS Method: Least Squares Date: 07/09/07 Time: 20:45 Sample: 2001:01 2005:12 Included observations: 60
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 8138.089 271.1705 30.01097 0.0000
SBI 1.099194 0.221717 4.957647 0.0000
R-squared 0.297636 Mean dependent var 9416.983
Adjusted R-squared 0.285526 S.D. dependent var 766.0557 S.E. of regression 647.5204 Akaike info criterion 15.81694 Sum squared resid 24318398 Schwarz criterion 15.88675
Log likelihood -472.5083 F-statistic 24.57827
Lampiran 6 Hasil Estimasi Model Regresi Linear Dengan Menggunakan Metode OLS Pada Indeks Harga Oligasi Perusahaan
80
Dependent Variable: KURS Method: Least Squares Date: 07/09/07 Time: 20:52 Sample: 2001:01 2005:12 Included observations: 60
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 10048.22 518.3050 19.38669 0.0000
JUB -0.003056 0.002464 -1.240466 0.2198
R-squared 0.025845 Mean dependent var 9416.983
Adjusted R-squared 0.009049 S.D. dependent var 766.0557 S.E. of regression 762.5819 Akaike info criterion 16.14406 Sum squared resid 33728806 Schwarz criterion 16.21387
Log likelihood -482.3219 F-statistic 1.538757
Lampiran 7 Hasil Estimasi Model Regresi Linear Dengan Menggunakan Metode OLS Pada Indeks Harga Oligasi Perusahaan
81
Dependent Variable: JUB Method: Least Squares Date: 07/09/07 Time: 20:53 Sample: 2001:01 2005:12 Included observations: 60
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 300936.3 10953.83 27.47315 0.0000
SBI -8112.288 895.6172 -9.057762 0.0000
R-squared 0.585842 Mean dependent var 206551.1
Adjusted R-squared 0.578701 S.D. dependent var 40297.85 S.E. of regression 26156.35 Akaike info criterion 23.21434 Sum squared resid 3.97E+10 Schwarz criterion 23.28415
Log likelihood -694.4301 F-statistic 82.04306
Lampiran 8 Hasil Estimasi Model Regresi Linear Dengan Menggunakan Metode OLS Pada Indeks Harga Oligasi Perusahaan
82
Dependent Variable: JUB Method: Least Squares Date: 07/09/07 Time: 20:53 Sample: 2001:01 2005:12 Included observations: 60
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 286188.8 64408.31 4.443352 0.0000
KURS -8.456812 6.817445 -1.240466 0.2198
R-squared 0.025845 Mean dependent var 206551.1
Adjusted R-squared 0.009049 S.D. dependent var 40297.85 S.E. of regression 40115.11 Akaike info criterion 24.06966 Sum squared resid 9.33E+10 Schwarz criterion 24.13947
Log likelihood -720.0898 F-statistic 1.538757
105
Lampiran 9 Hasil Uji LM Test Model Regresi Linear Pada Indeks Harga Obligasi Perusahaan
83
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 1.435379 Probability 0.246961
Obs*R-squared 3.028718 Probability 0.219949
Test Equation:
Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 07/09/07 Time: 20:38
Presample missing value lagged residuals set to zero.
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 26.29694 169.9025 0.154777 0.8776
SBI 0.012358 0.064250 0.192344 0.8482
KURS -0.005874 0.021215 -0.276892 0.7829
JUB 7.34E-05 0.000511 0.143633 0.8863
RESID(-1) 0.214579 0.137420 1.561478 0.1243
RESID(-2) 0.051964 0.142117 0.365641 0.7161
R-squared 0.050479 Mean dependent var 3.65E-14
Adjusted R-squared -0.037440 S.D. dependent var 87.14865 S.E. of regression 88.76508 Akaike info criterion 11.90450 Sum squared resid 425479.0 Schwarz criterion 12.11394
Log likelihood -351.1351 F-statistic 0.574152
DAFTAR PUSTAKA
Anoraga, Pandji dan Pakarti, Piji, 2006, Pengantar Pasar Modal. PT. Asdi Mahasatya, Jakarta.
Andry, Wydia, 2005, Analisis Faktor-faktor yang mempengaruh Prediksi Peringkat Obligasi. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan Vol. 8 no. 2 September 2005. Jakarta, Indonesia.
Bank Indonesia, 2005, Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional. Semester II 2005. Jakarta, Indonesia.
Bank Indonesia, 2006, Tinjauan Kebijakan Moneter. Desember 2005. Jakarta, Indonesia
---, 2006, Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional. Triwulan I dan Triwulan II 2006. Jakarta, Indonesia.
Boediono, 2001, Ekonomi Makro, BPFE, Yogyakarta ---, 1998, Ekonomi Moneter BPFE, Yogyakarta
Bursa Efek Surabaya, 2004, Market Data and Price (www.bes.go.id).
---, 2001, Mengenal Obligasi, over The Counter Fix Income Service.
Hadi, Hamdy, 2001, Forex For Managers. PT. Ghalia Indonesia, Jakarta
Husnan, Suad, Dr. MBA dan Pudjiastuty, Enny, Dra. MBA,Ak, 1993, Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Penerbit: AMP YKPN, Yogyakarta. Lena, Jacky Kale dan Atahau, Apriani, 2003, Pengukuran Durasi Obligasi untuk
Mengetahui Sensitivitas Harga Obligasi terhadap Perubahan Tingkat Suku Bunga di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis vol.IX.no.1 Maret 2003. Levi, Maurice D, 2001, Keuangan Internasional, Penerbit : Andi, Yogyakarta
Manurung, Mandala dan Rahardja, Prathama, 2004, Uang Perbankan dan Ekonomi Moneter, Penerbit FEUI, Jakarta
Meitaria, Hendryati, 2004, Memahami Penentuan Harga Bond Pada International Secondary Market. Jurnal Utang Luar Negeri November 2004 Vol.9. Jakarta, Indonesia.
Nasution, Mulyo, 1998, Ekonomi Moneter, Penerbit Djambatan, Jakarta.
74 Nopirin, 1990, Ekonomi Moneter, BPFE Yogyakarta.
Sharpe, William F, Alexander, Gordon dan Boiley, Jeffrey V, 1997, Investasi, PT.Prenhallindo, Jakarta.
Susanto, Budi, 2006, Daya Tarik Obligasi Korporasi Mei 2006 (www.kompas.com) Tandelilin, Eduardus, 2001, Analisis Investasi dan ManajemenPortofolio, Penerbit :
BPFE-Yogyakarta.
Yati, Kurniati dan Hardiyanto A.V,1999, Perilaku Nilai Tukar Rupiah dan Alternatif Perhitungan Nilai Tukar Riil Keseimbangan. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, UREM, Desember 1999.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Obligasi
2.1.1. Pengertian Obligasi
Obligasi merupakan suatu bukti pengakuan utang dari perusahaan yang
sering disebut bonds. Di dalam obligasi mengandung suatu perjanjian atau kontrak yang mengikat kedua belah pihak antara pemberi pinjaman dan
penerima pinjaman dengan berbagai ketentuan yang sudah diatur, baik
mengenai waktu jatuh tempo pelunasan utang, bunga yang dibayarkan,
besarnya pelunasan, dan ketentuan-ketentuan lain. Obligasi yang tercatat di
bursa efek dapat diperdagangkan dengan cara yang sama seperti transaksi
saham. Penentuan harga obligasi sangat tergantung pada kekuatan permintaan
dan penawaran yang terjadi di pasar.
Seperti halnya investasi surat berharga lainnya, ada dua kemungkinan
yang dapat dialami oleh investor yaitu perolehan keuntungan dan resiko.
Keuntungan yang dapat diperoleh dari investasi obligasi berupa bunga dan
capital gain. Bunga yang diterima sesuai dengan waktu jatuh tempo yang diterapkan, misalnya setiap 3 bulan, 6 bulan atau setahun sekali. Sedangkan,
capital gain akan diperoleh jika harga pembelian lebih rendah dari harga penjualan atau pemegang obligasi mendapatkan diskon saat pembelian
pelunasan sebesar harga pari saat jatuh tempo sedangkan resiko yang
mungkin dihadapi adalah turunnya harga obligasi (Anoraga dan Pakarti,
2006).
Pendapat lain mengatakan obligasi adalah surat utang jangka panjang
yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan
untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi
pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi
tersebut (Bursa Efek Surabaya, 2001). Emisi obligasi dapat ditinjau dari dua
sisi, yaitu dari emiten maupun dari sisi investornya. Sisi emitennya, emisi
obligasi merupakan alternatif investasi yang aman. Karena obligasi
memberikan penghasilan tetap berupa kupon bunga yang dibayar secara
reguler dengan tingkat bunga yang kompetitif serta pokok utang yang dibayar
secara tepat waktu pada saat jatuh tempo yang telah ditentukan.
Sedangkan menurut SK Menteri Keuangan RI No.
1548/KMK/013/1996 obligasi adalah bukti utang dari emiten yang
mengandung janji pembayaran bunga atau janji lainnya serta pelunasan pokok
pinjaman yang dilakukan pada saat jatuh tempo sekurang-kurangnya 1 tahun
sejak tanggal emisi (Manurung dan Rahardja, 2004).
Ketika investor telah membeli obligasi dari penerbit, pada umumnya
investor tersebut menjualnya kembali kepada investor lain di pasar sekunder
penerbitan. Dengan kata lain, investor pertama kemungkinan besar akan
menjual obligasi dengan mendapatkan untung atau bahkan rugi. Faktor utama
yang menentukan harga jual obligasi di pasar sekunder antara lain (Meitaria,
2004):
1. Perubahan tingkat bunga.
Setelah obligasi diterbitkan dan kemudian tingkat bunga mengalami
kenaikan, maka nilai dari obligasi akan mengalami penurunan. Begitu
juga sebaliknya, jika tingkat bunga mengalami penurunan maka harga
obligasi akan naik. Fluktuasi tersebut merupakan faktor utama yang
menentukan nilai atau harga pasar dari obligasi. Dengan demikian
harga obligasi di pasar sekunder tidak akan terlepas dari pengaruh
resiko tingkat bunga. Harga obligasi akan bereaksi terhadap
faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat bunga.
2. Peringkat kredit.
Nilai pasar dari obligasi di pasar sekunder akan berubah antara lain
tergantung pada peringkat kredit dari obligasi tersebut. Akan tetapi
semua investor mempunyai nara sumber untuk memperoleh data
dengan akurat mengenai kualitas kredit dari beberapa penerbit. Oleh
karena itu, kehadiran lembaga pemeringkat Internasional seperti
Standard dan Poor (S&P), Moody’s dan Fitch akan sangat membantu. Untuk mengetahui peringkat kredit dari setiap penerbit, peringkat
mengalami penurunan, investor cenderung untuk menjual obligasi yang
mereka pegang. Sementara investor lain tidak bersedia membeli
obligasi tersebut mengingat kualitas kredit dari penerbit mengalami
penurunan.
3. Permintaan dan Penawaran
Dari waktu ke waktu penawaran obligasi relatif akan mengalami
perubahan seiring dengan permintaan akan obligasi tersebut. Pada
masa dimana penawaran obligasi cenderung sedikit, investor yang
bermaksud menjual obligasi akan mendapat harga yang lebih baik
dibandingkan jika pada saat terjadi kelebihan obligasi di pasar.
Seringkali perubahan pajak mengakibatkan penawaran obligasi
membanjiri pasar sehingga berakibat memberikan tekanan pada pasar
obligasi untuk sementara waktu.
Dari ketiga faktor utama tersebut, secara umum pergerakan tingkat
bunga di pasar keuangan sangat mempengaruhi harga obligasi. Bila kita
asumsikan bahwa obligasi dengan kupon 7% diterbitkan 5 tahun yang lalu
ketika tingkat bunga sebesar 8%. Selanjutnya diasumsikan bahwa tingkat
bunga ini mengalami kenaikan menjadi 9%.
Pertanyaannya kemudian adalah mengapa investor mau membeli
obligasi yang sudah 5 tahun diterbitkan dengan kupon 8% sementara mereka
bisa membeli obligasi yang baru diterbitkan dengan kupon 9%. Salah satu
dengan menjual obligasi tersebut dengan diskon, sehingga penghasilan total
dari obligasi tersebut sama dengan kupon dari obligasi yang baru diterbitkan.
Seperti halnya investasi dalam bentuk saham, obligasi juga memiliki
kemungkinan untung dan resiko. Keuntungan dalam investasi obligasi berupa
bunga dan capital gain. Resiko yang dihadapi oleh pemegang obligasi adalah turunnya harga obligasi. Harga obligasi ini sangat tergantung pada
perkembangan suku bunga bank. Setelah obligasi diterbitkan dan tingkat
bunga mengalami kenaikan, maka nilai obligasi akan mengalami penurunan.
Harga obligasi akan bereaksi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi
tingkat bunga (Meitaria, 2004).
Secara umum, ada beberapa karakteristik dari obligasi yang dapat
dilihat dari beberapa hal sebagai berikut (Tandelilin, 2001):
1. Nilai instrinsik dari obligasi, yang dipengaruhi oleh tingkat kupon
yang diberikan, waktu jatuh tempo dan nilai prinsipalnya.
2. Tipe penerbitannya. Obligasi dapat mempunyai tipe jaminan dan
urutan klaim yang berbeda. Emiten bisa menerbitkan obligasi dengan
menggunakan jaminan aset riil tertentu yang dimiliki oleh perusahaan
atau tanpa menggunakan jaminan.
3. Bond indenture yaitu dokumen legal yang memuat hak-hak pemegang obligasi maupun emiten obligasi. Dokumen tersebut akan memuat
bunga, dan pembatasan pemberian deviden bagi para pemegang saham
perusahaan.
4. Call provision yaitu hal emiten obligasi untuk melunasi obligasi sebelum jatuh tempo yang akan dilaksanakan oleh emiten jika tingkat
suku bunga pasar di bawah tingkat kupon obligasi. Hal ini dilakukan
untuk mengurangi biaya modal peusahaan, akibat kewajiban membayar
bunga di atas bunga pasar yang berlaku.
Jumlah obligasi yang diminta mempunyai hubungan positif dengan
tingkat bunga obligasi dan berhubungan negatif dengan tingkat bunga untuk
aktiva lain yang sifatnya competitive. Demikian juga, mempunyai hubungan positif dengan nilai total kekayaan dan hubungan negatif dengan penghasilan,
sebab naiknya penghasilan akan mendorong naiknya keinginan akan uang,
sehingga permintaan terhadap jenis aktiva yang lain akan berkurang. Terakhir
faktor resiko, makin tinggi resiko jumlah obligasi yang diminta akan makin
kecil (Nopirin, 1990).
Terlihat bahwa kenaikan nilai total kekayaan akan menggeser kurva
permintaan obligasi ke kanan atas. Sebaliknya kenaikan penghasilan, tingkat
inflasi yang diperkirakan serta tingkat bunga kekayaan jenis lain yang
competitive akan menggeser kurva permintaan obligasi ke kiri bawah.
Dari segi penawaran, perlu dibedakan antara jumlah obligasi lama
dengan tambahan terhadap jumlah obligasi selama suatu periode tertentu.
Jenis yang pertama adalah jumlah obligasi di tangan masyarakat pada suatu
saat tertentu, yang terdiri dari obligasi yang dikeluarkan pemerintah untuk
menutup/membiayai defisit atau pinjaman pada waktu/tahun lalu. Jenis kedua
adalah tambahan terhadap jumlah/stock yang ada. Oleh karena itu makin pendek jangka waktunya, tambahan ini akan makin kecil.
Untuk mempermudah analisa, diasumsikan jangka waktu yang pendek
sehingga tambahan obligasi sangat kecil, tidak ada pengaruhnya terhadap
jumlah obligasi yang ditawarkan. Oleh karena itu kurva penawaran obligasi
tersebut berbentuk lurus, seperti gambar berikut.
Tingkat Tingkat Bunga Bunga
D
0
D
S0 S1 A Obligasi B 0 Obligasi lama 0 Obligasi baru
(a) (b)
Sumber : Nopirin (1990)
Gambar 2.1 Permintaan dan Penawaran Obligasi Pemerintah
Gambar (a) menunjukkan pasar obligasi pemerintah. Tingkat bunga
ditentukan oleh jumlah obligasi yang ditawarkan dan yang diminta. Pada
gambar tersebut, tingkat bunga dalam keadaan keseimbangan adalah r0,
Tingkat bunga r0 adalah keseimbangan dalam jangka pendek, sebab pada
periode tersebut (pada tingkat bunga r0) terdapat tambahan obligasi baru
sebesar OB (pada gambar (b)). Obligasi baru ini akan mempengaruhi tingkat
bunga pada periode berikutnya, sehingga kurva penawaran bergeser ke kanan
(S1) dan tingkat bunga akan naik. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah
dalam jangka panjang, apabila hal-hal lain tidak berubah, defisit anggaran
belanja terus menerus yang dibiayai dengan pengeluaran obligasi akan
mendorong tingkat bunga makin lama makin tinggi.
Besarnya jumlah obligasi yang ditawarkan tergantung dari pengeluaran
obligasi oleh pemerintah guna menutup defisit, ada sebab/cara lain dimana
jumlah obligasi yang ditawarkan berubah, yakni melalui kebijaksanaan
moneter pasar terbuka. Untuk mempengaruhi jumlah uang beredar, Bank
Sentral dapat menjual/membeli surat berharga (termasuk obligasi). Dengan
kebijaksanaan ini jumlah obligasi yang ditawarkan dapat berubah.
Gambar (b) menunjukkan obligasi baru yang dikeluarkan pada periode
tertentu, yang mempunyai lereng positif. Artinya, obligasi baru mempunyai
hubungan positif dengan tingkat bunga. Alasannya, pertama tingkat bunga
merupakan biaya/pengeluaran bagi pemerintah atas utang (obligasi yang
dikeluarkannya), sehingga kenaikan tingkat bunga akan memperbesar defisit
yang berarti pemerintah harus mengeluarkan obligasi baru. Kedua, kenaikan
tingkat bunga akan menekan investasi sehingga pendapatan akan turun.
penerimaan pemerintah yang berasal dari pajak akan turun. Defisit anggaran
belanja pemerintah meningkat. Apabila jumlah uang beredar tetap, kenaikan
defisit ini akan mendorong pemerintah untuk mengeluarkan obligasi lagi.
Dalam hal ini terlihat bahwa kenaikan tingkat bunga diikuti dengan naiknya
jumlah obligasi baru.
Pasar surat berharga swasta (obligasi dan saham) dapat digambarkan
sebagai berikut (Nopirin, 1990).
Tingkat Tingkat Bunga Bunga
rc e
D rc l
r co
D
S0 S1
10
Jumlah Pasar dan Saham Obligasi dan Saham Baru - investasi (a) (b)
Sumber : Nopirin (1990)
Gambar 2.2. Pasar Surat Berharga Swasta
Kurva permintaan obligasi dan saham (DD) mempunyai lereng positif,
sebab masyarakat akan terdorong memegang/membeli obligasi lebih banyak
apabila tingkat bunga makin tinggi. Kurva penawarannya seperti pada
obligasi pemerintah, berbentuk garis vertikal karena anggapannya adalah
sangat kecil. Keseimbangan terjadi pada titik perpotongan antara kurva
permintaan dan penawaran, yaitu pada tingkat bunga rco. Dalam jangka
panjang keseimbangan ini akan berubah. Pengeluaran obligasi dan saham
baru digunakan untuk membiayai investasi sehingga sumbu horizontal juga
menggambarkan pengeluaran investasi. Oleh karena itu, kurva ini mempunyai
lereng negatif.
Pada tingkat bunga rco pengeluaran investasi sebesar I0. Tambahan
investasi baru sebesar I0 dibiayai dengan pengeluaran obligasi dan saham
baru. Akibatnya, kurva penawaran obligasi dan saham akan bergeser ke S1
dan tingkat bunga naik rc1. Proses pergeseran ini akan berjalan terus sampai
tingkat bunga mencapai rcc dimana investasi memotong sumbu vertikal. Titik
ini merupakan keseimbangan jangka panjang, dimana jumlah obligasi dan
saham yang ditawarkan tidak berubah, dan tidak ada obligasi dan saham baru
yang dikeluarkan.
2.1.2 Jenis – Jenis Obligasi
Ada beberapa jenis obligasi swasta yaitu (Widiatmodjo, 2004) :
1. Obligasi dengan jaminan (secured bond). Obligasi ini dijamin dengan
kekayaan tertentu. Jika terjadi likuidasi, maka pemegang obligasi jenis
ini akan mendapatkan pembayaran dari hasil penjualan kekayaan yang
Ada 3 jenis obligasi dengan jaminan:
1. Obligasi yang dijamin dengan tanah dan bangunan yang disebut
mortgage bond.
2. Obligasi yang dijamin dengan perlengkapan misalnya mesin-mesin,
mobil, pesawat terbang, dan lain-lain disebut equipment bond.
3. Obligasi yang dijamin dengan saham atau obligasi lain yang
dimiliki emiten disebut collateral trust bond.
2. Obligasi tanpa jaminan (unsecured bond/naked bond). Obligasi ini
memang tidak dijamin dengan harta. Obligasi ini laku dijual karena
emitennya memiliki reputasi yang bagus.
3. Obligasi senior dan subordinated bond. Obligasi senior memiliki hak mendapatkan penggantian atas semua harta yang dijaminkan apabila
dilikuidasi. Obligasi subordinated berarti tidak memiliki hak atas semua harta yang dijaminkan, namun tetap memiliki sebagian hak
untuk mendapatkan penggantian.
4. Callability. Obligasi ini mencantumkan persyaratan bahwa emiten mempunyai hak untuk membeli kembali obligasi yang telah
diterbitkan. Obligasi jenis ini biasanya akan ditarik kembali pada saat
suku bunga secara umum sedang menunjukkan kecenderungan
menurun. Jadi pemegang obligasi yang mempunyai persyaratan
mengkompensasi kerugian ini, biasanya emiten memberikan harga
premium.
5. Obligasi tanpa bunga atau berbunga rendah (perpetuity bond). Obligasi
ini mengizinkan perusahaan penerbitnya membayar bunga yang rendah
atau tidak ada sama sekali. Obligasi ini dijual dengan harga diskon
dari nilai nominal. Investor menerima sebagian besar pengembalian
dari nilai apresiasi obligasi.
6. Junk bond yaitu obligasi yang memiliki peringkat yang rendah. Penerbit obligasi ini biasanya perusahaan-perusahaan baru yang
memiliki catatan kinerja yang belum mapan. Walau demikian, obligasi
ini juga dikeluarkan oleh perusahaan yang sudah mapan.
Selain hal tersebut diatas, ada dua hal yang muncul pada pembelanjaan
obligasi yaitu negara penerbitan dan sarana penerbitan. Obligasi yang dijual
dengan denominasi mata uang tempat mata uang negara penjualannya disebut
obligasi asing. Misalnya perusahaan Kanada menjual obligasinya ke New
York dengan denominasi dolar AS. Perusahaan Brazil dapat menjual obligasi
dengan denominasi Deutschmark di Jerman. Obligasi asing ini biasanya dijual oleh pialang di negara obligasi itu diterbitkan. Sedangkan eurobond adalah obligasi yang didenominasi dalam mata uang negara lain, bukan negara yang
mengeluarkan obligasi tersebut. Misalnya obligasi dengan denominasi Dolar
dijual diluar AS (di Eropa atau di negara lain). Misalnya obligasi dengan
atau obligasi eurodollar. Eurobond dijual oleh sindikat pialang internasional karena eurobond biasanya dijual bersamaan di beberapa negara (Levi, 2001).
2.1.3 Teori Penentuan Harga Obligasi
Teori mengenai penentuan harga obligasi sangat berhubungan dengan
bagaimana harga obligasi bereaksi atas perubahan yield to maturity obligasi. Yield to maturity yaitu tingkat hasil yang akan diperoleh pemodal jika membeli obligasi pada harga pasar dan memegangnya sampai masa jatuh
tempo. Jika obligasi memiliki nilai pasar yang sama dengan nilai pokoknya,
maka yield to maturity akan sama dengan tingkat bunga kuponnya. Namun jika nilai pasar kurang dari nilai pokok maka obligasi akan memiliki yield to maturity yang lebih besar dari tingkat kupon. Sebaliknya jika nilai pasar lebih besar dari nilai pokok, maka obligasi akan memiliki yield to maturity yang lebih rendah dari tingkat bunga kupon. Dengan mengingat hal tersebut, maka
terdapat lima teori yang berhubungan dengan penentuan harga obligasi
(Sharpe,et.al, 1997):
1. Jika harga pasar obligasi naik, maka imbal hasilnya akan turun,
sebaliknya jika harga pasar obligasi turun, maka imbal hasilnya akan
naik.
2. Jika imbal hasil obligasi tidak berubah sepanjang masa hidupnya,
maka besarnya diskon/premium akan menurun jika jangka semakin
3. Jika imbal hasil obligasi tidak berubah sepanjang hidupnya, maka
besarnya diskon/premium akan menurun dengan penurunan yang
semakin besar jika jangkanya makin singkat.
4. Penurunan pada imbal hasil obligasi akan menaikkan harga obligasi
sejumlah yang lebih besar ukurannya dibanding penurunan harga
obligasi yang akan terjadi jika besarnya penurunan imbal hasil obligasi
sama.
5. Persentase perubahan pada harga obligasi yang disebabkan oleh
perubahan imbal hasilnya akan semakin kecil jika tingkat bunga
kuponnya lebih tinggi.
Sedangkan untuk melakukan perhitungan indeks harga yaitu dengan
menggunakan rumus sebagai berikut (Bursa Efek Surabaya, 2004):
%
Pv,b = harga pasar obligasi dengan v hari pada waktu dasar
Pv,t = harga pasar obligasi dengan v hari pada waktu dasar t
IFc,t = v hari indeks harga pada waktu t
yield suatu portofolio. Berikut ini rumus untuk menghitung indeks yield obligasi (Bursa Efek Surabaya, 2004):
N
q = jumlah obligasi yang beredar
Yt = yield obligasi i pada hari t
Harga jual suatu sekuritas ini mencerminkan tingkat kepercayaan dan
prospek lembaga yang menerbitkannya. Pihak-pihak yang sangat dipercaya
dan dinilai memiliki prospek yang baik, harga obligasinya relatif baik.
Misalnya obligasi yang diterbitkan pemerintah pusat atau BUMN yang besar
dan sehat cenderung memiliki harga yang relatif tinggi dan stabil
dibandingkan obligasi perusahaan milik pemerintah daerah.
Seorang pemodal yang tertarik untuk membeli obligasi tentunya harus
memperhatikan peringkat obligasi (bond ratings). Rating atau peringkat, merupakan sebuah pernyataan tentang keadaan pengutang dan kemungkinan
apa yang bisa dan akan dilakukan sehubungan dengan utang yang dimiliki,
sehingga dapat dikatakan bahwa peringkat mencoba mengukur resiko default, yaitu peluang emiten atau peminjam akan mengalami kondisi tidak mampu
dapat memberikan petunjuk bagi investor tentang kualitas investasi obligasi
yang mereka minati.
Pemodal bisa menggunakan jasa credit rating agency yang memberikan jasa penilaian terhadap obligasi yang beredar untuk mendapatkan
informasi mengenai peringkat obligasi. Di Indonesia terdapat lembaga
pemeringkat sekuritas utang yaitu PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia).
Hasil dari pemeringkat surat utang didasarkan atas beberapa hal seperti
(Andry, 2005):
1. Kemungkinan pelunasan pembayaran yaitu kemampuan obligor untuk
memenuhi kewajiban finansialnya sesuai dengan perjanjian.
2. Struktur, karakteristik serta berbagai ketentuan yang diatur dalam surat
utang.
3. Perlindungan yang diberikan maupun posisi klaim dari pemegang surat
utang tersebut bila terjadi pembubaran/likuidasi serta hukum lainnya
Defenisi Peringkat PT Pefindo
Simbol Arti
idAAA Perusahaan dengan resiko investasi paling rendah, berkemampuan paling baik untuk membayar bunga dan pokok utang dari seluruh kewajiban finansialnya sesuai dengan yang diperjanjikan.
idAA Perusahaan dengan resiko investasi sangat rendah, berkemampuan paling baik untuk membayar bunga dan pokok utang dari seluruh kewajiban finansialnya sesuai dengan yang diperjanjikan dan tidak mudah dipengaruhi oleh perubahan keadaan.
idA Perusahaan dengan resiko investasi rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan pokok utang dari seluruh kewajiban finansialnya sesuai dengan yang diperjanjikan, dan hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan keadaan yang merugikan.
idBBB Perusahaan dengan resiko investasi cukup rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan pokok utang dari seluruh kewajiban finansialnya sesuai dengan yang diperjanjikan, meskipun kemampuannya tersebut cukup peka terhadap perubahan keadaan yang merugikan.
idBB Perusahaan yang masih berkemampuan untuk membayar bunga dan pokok utang dan seluruh kewajiban finansialnya sesuai dengan yang diperjanjikan, namun resiko investasi cukup tinggi dan sangat peka terhadap perubahan keadaan yang merugikan.
idB Perusahaan dengan resiko investasi sangat tinggi dan berkemampuan sangat terbatas untuk membayar bunga dan pokok utang dari seluruh kewajiban finansialnya sesuai dengan yang diperjanjikan.
idCCC Perusahaan yang berkemampuan lagi untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya.
idD Utang efek yang macet atau perusahaan yang sudah berhenti berusaha. Sumber :Widiatmodjo, 2004
2.2 Tingkat Bunga
2.2.1 Pengertian Tingkat Bunga dalam Penilaian Obligasi
Untuk memahami perhitungan tingkat bunga dalam obligasi, ada tiga
tingkat bunga atas obligasi tersebut, kapan dana akan diserahkan dan kapan
hutang akan dilunasi.
1. Spot Interest Rates merupakan tingkat bunga dari obligasi yang hanya mempunyai satu arus kas bagi pembeli obligasi tersebut. Obligasi yang
hanya mempunyai satu arus kas bagi pemodal disebut pure discount bond atau zero coupon bond.
2. Future rates atau Forward rates merupakan tingkat bunga atas obligasi dimana terjadinya komitmen dan kapan uang akan diserahkan ke pihak
emiten berbeda.
3. Current yield merupakan pembayaran bunga dibagi dengan harga obligasi. Current yield adalah tingkat bunga yang sering dicantumkan pada surat kabar keuangan, meskipun manfaatnya tidak terlalu banyak. Misalnya,
Zero coupon bond mempunyai current yield sebesar nol (per defenisi). Jika pemodal memilih obligasi berdasarkan atas current yield mereka akan selalu menolak membeli zero coupon bond.
4. Yield to maturity merupakan internal rate of return (IRR) yang diperoleh pemodal dengan memiliki obligasi sampai dengan jatuh tempo (Husnan
dan Pudjiastuty, 1993).
Harga obligasi sangat tergantung dari perkembangan suku bunga bank.
Pada saat suku bunga bank mengalami peningkatan, investor akan cenderung
melepas/menjual obligasinya dan menyimpan uangnya di bank dengan bunga
harga obligasi cenderung turun. Resiko Capability juga dapat dialami oleh pemegang obligasi yaitu terjadinya pelunasan atas utang obligasi/penarikan
obligasi sebelum jatuh tempo sedangkan pada saat itu suku bunga di bank
menurun dan bunga yang diperoleh dari obligasi jauh lebih menguntungkan.
Pengaruh perubahan tingkat bunga pasar terhadap harga obligasi akan
terkait dengan maturitas dari obligasi tersebut. Bila terjadi
kenaikan/penurunan tingkat bunga maka harga obligasi yang mempunyai
maturitas lebih lama akan mengalami penurunan/kenaikan harga yang lebih
besar dibandingkan dengan obligasi yang mempunyai maturitas yang lebih
pendek, ceteris paribus. Misalnya pada obligasi yang maturitasnya 10 tahun, apabila terjadi kenaikan tingkat bunga dari 10% menjadi 18% maka harga
obligasi akan mengalami penurunan sebesar 33,8% yaitu dari Rp 1.373,96
menjadi Rp 908,32. Sedangkan pada obligasi yang mempunyai maturitas yang
lebih lama misalnya 25 tahun, jika ada penurunan tingkat bunga yang sama
yaitu dari 10% menjadi 18%, maka harga obligasi akan mengalami penurunan
sebesar 41,99% (Tandelilin, 2001).
Selain dipengaruhi oleh maturitas obligasi, perubahan harga obligasi
karena adanya perubahan tingkat bunga juga tergantung pada tingkat kupon
yang diberikan oleh obligasi tersebut. Tetapi, hubungan tingkat kupon
obligasi dengan sensivitas harga obligasi terhadap perubahan tingkat bunga
merupakan hubungan yang tidak searah. Oleh karena itu, bila terjadi
yang lebih rendah akan relatif lebih berfluktuasi dibandingkan dengan harga
obligasi yang tingkat kuponnya lebih tinggi. Misalnya pada obligasi yang
memberikan kupon 10%, jika terjadi kenaikan tingkat bunga sebesar 6% maka
harga obligasi tersebut akan turun menjadi Rp 642,25 atau sebesar 35,77%.
Sedangkan pada obligasi yang memberikan kupon lebih tinggi misalnya 20%
jika terjadi perubahan tingkat bunga yang besarnya sama maka harga obligasi
hanya turun sebesar 33,34%. Kesimpulan yang dapat ditarik yaitu jika terjadi
perubahan tingkat bunga, maka dua faktor penting yang mempengaruhi
perubahan harga obligasi adalah tingkat kupon dan maturitasnya. Bila terjadi
penurunan/kenaikan tingkat bunga, maka harga obligasi akan naik/turun,
tetapi persentase perubahan harga yang relatif lebih besar akan terjadi pada
obligasi yang mempunyai maturitas lebih panjang dan tingkat kupon yang
lebih rendah (Tandelilin, 2001).
2.2.2 Teori Tingkat Bunga Keynes
Keynes mengatakan bahwa tingkat bunga adalah balas jasa yang
diterima seseorang karena orang tersebut mengorbankan liquidity preferencenya. Makin besar liquidity preferencenya, makin besar keinginan orang tersebut untuk menahan uang tunai, maka makin besar tingkat bunga
yang diterima orang tersebut bila ia meminjamkan uang tersebut kepada
Bila tingkat bunga turun dari tingkat bunga normal, dalam masyarakat
ada suatu keyakinan akan naik suku bunga masa yang akan datang. Bila
masyakat memegang obligasi pada saat suku bunga naik (obligasi mengalami
penurunan) pemegang obligasi tersebut akan menderita kerugian (capital
loss). Guna menghindari kerugian ini tindakan yang dilakukan adalah menjual
obligasi yang dengan sendirinya akan mendapatkan uang kas dan uang kas ini
yang dipegang pada saat suku bunga naik. Hubungan inilah yang disebut
motif spekulasi permintaan uang kas karena masyarakat akan melakukan
spekulasi tentang obligasi di masa yang akan datang (Nasution, 1998).
2.3 Nilai Tukar (Exchange Rate) 2.3.1 Sistem Nilai Tukar
Valuta asing atau foreign exchange, secara tipikal merupakan mata uang asing dan bukan sesuatu yang legal tender pada negara lain. Oleh karena itu, penerimaan devisa dari kegiatan ekonomi internasional perlu di
konversikan dengan mata uang domestik agar dapat diterima sebagai alat
tukar terhadap barang dan jasa di luar negara pencetaknya. Dengan demikian
timbul suatu usaha untuk bisa menukar valas tersebut dengan mata uang lokal
agar dapat ditukarkan dengan barang atau jasa di negara tersebut (Hadi,
2001).
Kontribusi kurs terhadap resiko obligasi jauh lebih besar dari pada
pemerintah untuk meningkatkan tingkat bunga dalam usaha untuk
mendongkrak nilai mata uang. Tingkat bunga yang lebih tinggi akan
menurunkan harga obligasi dalam mata uang lokal, sehingga depresiasi mata
uang diikuti dengan penurunan nilai obligasi dalam mata uang lokal. Nilai
aset mata uang lokal dan pergerakan kurs saling menguatkan, yang
meningkatkan variasi nilai obligasi dalam dolar AS yang memiliki korelasi
positif antara nilai aset mata uang lokal dan kurs menambah volatilitas.
Dalam kasus obligasi mata uang asing yang dinilai dengan Dolar AS, proporsi
yang cukup besar dari volatilitas berasal dari variasi kurs. Hal ini berlawanan
dengan saham, dimana volatilitas terutama disebabkan oleh variasi dalam
nilai mata uang lokal dari pasar saham (Levi, 2001).
Secara umum ada empat macam sistem kurs yang telah banyak di kenal
masing-masing:
a) Free Floating Exchange rate System
Dalam sistem kurs mengambang bebas atau disebut juga Clean Floating Rate System, kurs suatu mata uang ditentukan oleh pengaruh permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar valas sesuai dengan mekanisme pasar
yang berlaku. Secara teoritis, penentuan kurs sepenuhnya diserahkan pada
pengaruh pasar sehingga pemerintah tidak perlu lagi melakukan intervensi
di pasar baik melalui transaksi jual-beli valas maupun intervensi dalam
bentuk ketentuan-ketentuan peraturan. Oleh karena itu, cadangan yang ada
b) Managed Floating Exchange rate System
Dalam sistem kurs mengambang terkendali, pemerintah dapat kapan saja
melakukan intervensi baik melalui pembelian atau penjualan valas,
ataupun melalui berbagai kebijaksanaan Bank sentral akan memelihara
tingkat apresiasi/depresiasi pada suatu persentase tertentu dengan
melakukan penjualan atau pembelian valas pada level-level yang dianggap
mengkhawatirkan. Selain itu bila diperkirakan kurs valas sudah terlalu
menyimpang, maka pemerintah secara bertahap akan memperkecil
perbedaan tersebut melalui devaluasi atau lainnya.
c) Fixed Exchange Rate System
Sistem penetapan kurs tetap, muncul pertama kali pada tahun 1944
bersamaan dengan lahirnya Dana Moneter International (IMF) dan Bank
dunia yang beroperasi berdasarkan standar pertukaran emas. Sistem kurs
yang tetap atau stabil diperlukan saat itu dengan maksud untuk
memperlancar arus perdagangan dan investasi internasional karena dengan
sistem kurs tetap tersebut, dijamin ada suatu kepastian biaya atau
pendapatan daripada kegiatan perdagangan atau investasi dimaksud. Atau
paling tidak resiko karena perbedaan kurs di negara dimaksud bisa
diperkecil. Dengan penetapan kurs tetap ini, bukan berarti kesignifikan
permintaan dan penawaran menjadi hilang, melainkan hanya timbul
Pemerintah dalam hal ini betul-betul mengendalikan pasar valas.
d) Pegged Exchange rate System.
Sering disebut juga sebagai sistem kurs terkait yaitu sistem kurs terkait
yaitu sistem kurs yang dilakukan dengan mengkaitkan nilai mata uang
suatu negara dengan mata uang negara lain yang dinilai stabil. Kurs mata
uang tersebut akan berfluktuasi mengikuti mata uang negara-negara yang
ditambatinya dan karenanya nilai mata uang negara tersebut (yang
ditambatkan) menjadi sangat tergantung pada kondisi negara lain. Pada
umumnya negara-negara yang ditambatinya adalah negara-negara yang
mempunyai hubungan dagang yang erat dan secara ekonomi cukup
potensial. Dalam perkembangannya kita kenal dengan Crawling Peg System atau sistem kurs terkait merambat, yang pada prinsipnya kurs yang ditambatkan diperbolehkan berfluktuasi atau berubah (Crawl or glide)
secara periodik sesuai dengan kondisi yang berkembang.
2.3.2 Perkembangan Sistem Nilai Tukar
Yati dan Hardiyanto (1999), penelitian Hongliang (1998) menyatakan
bahwa nilai tukar negara-negara Eropah sejak rejim nilai tukar tetap Bretton
Woods sampai dengan tahun 1997, mengungkapkan bahwa perilaku nilai
Secara garis besar, Indonesia telah mengimplementasikan sistem nilai
tukar yang berbeda-beda dalam tiga dekade terakhir. Perubahan dari suatu
sistem ke sistem lainnya didasarkan pada kebutuhan agar sistem nilai tukar
sesuai dengan perekonomian yang mengalami perubahan seiring dengan
perkembangan ekonomi.
a. Sistem Nilai Tukar Tetap (1970 – November 1978).
Sesuai dengan Undang-undang No. 32 tahun 1964, Indonesia menganut
sistem nilai tukar tetap dengan kurs resmi Rp 250 per 1 USD (Sebelumnya
Rp 45 per 1 USD), sementara kurs mata uang lainnya dihitung
berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap USD di bursa valuta asing Jakarta.
Dalam rezim ini tidak ada pembatasan dalam hal kepemilikan, penjualan
maupun pembelian valuta asing. Sebagai konsekwensi kewajiban
penjualan devisa tersebut maka Bank Indonesia harus dapat memenuhi
seluruh kebutuhan valuta asing bank komersial untuk memenuhi
permintaan para importir maupun masyarakat yang membutuhkan valuta
asing. Pada masa tersebut penentuan nilai tukar mutlak dilakukan oleh
pemerintah atas dasar nilai tukar riil. Dengan sistem nilai tukar tetap ini,
Bank Indonesia memiliki wewenang penuh dalam mengawasi transaksi
devisa. Sementara untuk menjaga kestabilan nilai tukar pada tingkat yang
telah ditetapkan, Bank Indonesia melakukan intervensi aktif di pasar
valuta asing. Sistem nilai tukar tetap dengan sistem kontrol devisa pada
berkembang, volume transaksi devisa masih relatif kecil dan kegiatan
spekulasi valas belum ada.
b. Sistem nilai tukar mengambang terkendali (November 1978-Agustus
1997).
Pada sistem ini nilai rupiah diambangkan terhadap sekeranjang mata uang
(basket of currencies) negara-negara mitra dagang utama Indonesia.
Kebijakan ini diimplementasikan bersamaan dengan dilakukannya
devaluasi Rupiah pada awal tahun 1978 sebesar 33,6%. Dengan sistem
tersebut pemerintah menetapkan kurs indikasi dan membiarkan kurs
bergerak di pasar dengan spread tertentu. Untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, pemerintah melakukan intervensi bila kurs bergejolak
melebihi batas atas batas bawah dari spread. Perkembangan selanjutnya dengan semakin terbukanya perekonomian nasional terhadap
perekonomian dunia yang ditandai dengan semakin besarnya capital inflow ke Indonesia, serta semakin pesatnya perkembangan sektor keuangan dan dunia usaha maka kebijakan nilai tukar managed floating, lebih ditekankan pada unsur floating sementara unsur pengendaliannya (managed) semakin mengecil.
c. Sistem Nilai Tukar Managed Floating dengan Crawling band system (September 1995-Agustus 1997).
Fleksibilitas nilai tukar rupiah semakin ditingkatkan melalui penerapan
1997. Peningkatan fleksibilitas nilai tukar tersebut telah mendorong
perkembangan pasar valuta asing dalam negeri, yang tercermin dari
semakin berkurangnya ketergantungan bank-bank kepada Bank Indonesia
dalam melakukan transaksi devisa. Di samping itu, jumlah pelaku
transaksi juga semakin meningkat dan produk pasar valuta asing semakin
bervariasi. Hal ini terlihat dari transaksi swap Bank Indonesia yang menurun tajam dari USD 13 milliar pada tahun 1991 menjadi sebesar USD
1 milliar tahun 1994. Sebaliknya transaksi swap antar bank meningkat dari USD 29 milliar pada tahun 1991 menjadi sebesar USD 596 milliar
pada tahun 1997.
d. Sistem nilai tukar mengambang bebas (sejak 14 Agustus 1997).
Sejak pertengahan Juli 1997, nilai tukar Rupiah mengalami
tekanan-tekanan yang menyebabkan semakin melemahnya nilai tukar Rupiah
terhadap USD. Tekanan tersebut berawal dari krisis Thailand yang dengan
segara menyebar ke Indonesia dan negara Asean sehubungan dengan
karakteristik perekonomian yang mempunyai kemiripan. Langkah-langkah
yang dilakukan Bank Indonesia antara lain dengan melakukan intervensi,
untuk sementara memang dapat menstabilkan nilai tukar Rupiah. Namun
tekanan tersebut semakin meningkat khususnya sejak awal Agustus 1997,
dimana rupiah telah menembus Rp 6.250/USD. Sehubungan dengan itu
dan dalam rangka mengamankan cadangan devisa yang terus berkurang
menghapus rentang intervensi dan menganut sistem nilai tukar
mengambang bebas (fleksible exchange rate). Hal ini dimaksudkan untuk
mengurangi dampak negatif dari kegiatan spekulatif terhadap Rupiah dan
memantapkan pelaksanaan kebijakan moneter dalam negeri.
2.4 Uang Beredar
Uang beredar dalam arti sempit adalah seluruh uang kartal dan uang
giral yang tersedia untuk digunakan oleh masyarakat. Uang kartal disini
adalah uang tunai yang dikeluarkan oleh Bank Sentral yang langsung berada
di masyarakat untuk digunakan. Uang kartal terdiri dari uang kertas dan uang
logam. Sedangkan uang giral adalah seluruh nilai saldo rekening koran (giro)
yang dimiliki masyarakat pada bank umum.
Ms = C + DD
Dimana :
C = Uang kartal (currency)
D = Uang giral (demand deposit)
Uang beredar dalam arti luas adalah terdiri dari uang beredar dalam
arti sempit, deposito berjangka dan saldo tabungan. Perkembangan uang
beredar dalam arti luas ini yang mempengaruhi perkembangan harga,
M2 = M1 + TD + SD
Dimana :
TD = time deposit (deposito berjangka) SD = Saving deposit (saldo tabungan)
Uang beredar dalam arti luas (M2) terdiri dari semua time deposit dan saving deposit dalam rupiah pada bank–bank dan tidak mencakup time deposit dan saving deposit dalam mata uang asing (dollar) (Boediono, 1998).
Dalam teori klasik, loanale funds merupakan dana yang tersedia untuk dipinjamkan. Misalnya dalam suatu priode terdapat anggota masyarakat yang
menerima pendapatan melebihi apa yang mereka perlukan untuk kebutuhan
konsumsinya selama periode tersebut. Masyarakat tersebut akan membentuk
suatu supply atau penawaran akan loanable funds. Di lain pihak, dalam periode yang sama terdapat anggota masyarakat yang membutuhkan dana
untuk berkonsumsi lebih daripada pendapatan yang diterima selama periode
tertentu atau karena keperluan dana untuk ekspansi bisnis. Masyarakat ini
akan membentuk suatu demand atau permintaan akan loanable funds. Proses transaksi ini akan terjadi suatu keseimbangan di pasar dana investasi
(Loanable Funds) (Boediono, 1998).
Di dalam pasar loanable funds terdapat kemungkinan untuk memilih pola konsumsi yang tidak harus sama dengan pola pendapatannya. Pada
tingkat bunga tertentu, ia bisa meminjamkan sebagian pendapatannya pada
periode berikutnya sejumlah pokok pinjaman dan bunganya yang siap
dikonsumsikan pada periode tersebut. Misalnya tingkat bunga yang berlaku di
pasar loanable funds adalah 10% untuk satu periode, maka dengan menyerahkan satu Rupiah sekarang, seseorang akan memperoleh kembali 1,1
Rupiah satu periode kemudian.
Sedangkan dari sisi permintaan akan loanable funds adalah karena aliran pendapatan yang kecil pada periode sekarang dan pendapatan yang
besar pada periode selanjutnya. Apabila masyarakat dihadapkan pada pola
pendapatan seperti ini, maka akan menguntungkan baginya untuk meminjam
dana dari pasar sekarang dan membayarnya kembali nanti. Investor bersedia
membayar bunga atas dana yang digunakan karena ia mengharapkan
penerimaan yang lebih besar daripada jumlah yang diinvestasikan.
Keuntungan inilah yang merupakan daya tarik bagi investor untuk melakukan
investasi (Boediono, 1998).
Sedangkan menurut teori Keynes tentang permintaan uang dengan
tujuan spekulasi adalah untuk memperoleh keuntungan apabila si pemegang
uang tersebut dapat meramal apa yang akan terjadi dengan benar. Secara garis
besar teori Keynes membatasi pada keadaan dimana pemilik kekayaan bisa
memilih memegang kekayaannya dalam bentuk uang tunai atau obligasi
(bonds). Uang tunai dianggap tidak memberikan penghasilan. Sedangkan
obligasi dianggap memberikan penghasilan berupa sejumlah uang tertentu
perubahan tingkat bunga di masa mendatang dengan membeli obligasi atau
menjual obligasi yang dipunyainya dengan harapan memperoleh keuntungan.
Bila investor memperkirakan tingkat bunga di masa mendatang naik, maka ia
akan menjual obligasi dan memegang kekayaan dalam bentuk uang tunai
untuk menghindari kerugian yang terjadi akibat turunnya harga obligasi.
Sebaliknya bila investor memperkirakan tingkat bunga akan turun maka ia
akan membeli obligasi karena ia akan memperoleh keuntungan berupa
kenaikan nilai atau bunga obligasi (Boediono, 1998).
Jadi menurut teori Keynes: (a) bila tingkat bunga diperkirakan turun
maka investor lebih baik memegang obligasi daripada uang tunai, karena
obligasi tidak hanya memberikan penghasilan tertentu per periode tetapi juga
capital gain berupa kenaikan harga obligasi dan (b) bila tingkat bunga diperkirakan naik maka investor lebih baik memegang uang tunai daripada
obligasi. Dalam mekanisme permintaan akan uang untuk motif spekulasi
adalah bahwa semuanya berkisar pada harapan mengenai perubahan tingkat
bunga di masa mendatang. Keynes mengatakan pada waktu tertentu seseorang
mempunyai pendapat mengenai tingkat bunga yang dianggap normal. Bila
suatu waktu, tingkat bunga yang berlaku lebih tinggi dari tingkat bunga yang
dianggap normal, maka investor akan mengharapkan tingkat bunga akan turun
di masa mendatang. Sebaliknya bila tingkat bunga yang berlaku lebih rendah
daripada tingkat bunga yang dianggap normal, maka investor akan
tingkat bunga yang berlaku dengan tingkat bunga normal, maka semakin
cepat (atau semakin besar) perubahan yang diharapkan dari tingkat bunga
yang berlaku.
Menurut Keynes, pengaruh penambahan jumlah uang beredar akan
mempengaruhi tingkat bunga yang terjadi.
Tingkat bunga
m m m
i0
i1
Liquidity preference
Md0 Md1 Md2 Jumlah Uang dan
i2
Permintaan Uang Sumber: Nasution,1998
Gambar 2.3 Pengaruh Penambahan Uang Beredar
Pada gambar terlihat bahwa pada saat jumlah uang beredar Mdo tingkat
bunga yang terjadi io. Jika penambahan uang beredar menjadi Md1 dalam
masyarakat ada kelebihan uang yang beredar (Mdo-Md1). Kelebihan uang
yang beredar akan menyebabkan terjadi penurunan tingkat bunga menjadi i1
karena masyarakat membeli obligasi sehingga harga surat berharga bergerak
dari Md1 menjadi Mdo maka masyarakat akan mengalami kekurangan uang
kas yang dipegang. Untuk mengatasi kekurangan ini dilakukan dengan
menjual obligasi (Nasution, 1998).
2.5 Penelitian Sebelumnya
Andry (2005) dalam tulisannya mengenai analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi prediksi peringkat obligasi dengan pengambilan sampel
menggunakan metode Purposive sampling. Pengujian hipotesis menggunakan regresi logistik. Penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan tentang
faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi prediksi peringkat obligasi pada
perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa growth/pertumbuhan perusahaan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi. Pengujian yang masyarakat bahwa size/ukuran perusahaan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi ditolak. Peneliti menduga
penolakan terhadap hipotesis kedua disebabkan oleh size/ukuran perusahaan yang diproksikan dengan total aset tidak dapat ditentukan peringkat obligasi
perusahaan karena pada umumnya untuk melihat peringkat obligasi yang
dilihat dari segi kewajiban/utang perusahaan, selain itu peringkat obligasi
terkait dengan kemampuan perusahaan melunasi kewajiban/utang. Jadi
berapapun besarnya total aset suatu perusahaan tidak akan mempengaruhi
akan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi. Hasil pengujian yang
menyatakan bahwa secure/jaminan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi ditolak. Peneliti menduga penolakan terhadap hipotesis ini diduga bahwa
obligasi yang dijamin/tidak dijamin tidak akan mempengaruhi prediksi
peringkat obligasi, karena dilihat dari catatan laporan keuangan walaupun
perusahaan tidak mempunyai jaminan tetapi peringkat yang dikeluarkan
PEFINDO tetap berada pada investment grade. Sedangkan maturity/umur obligasi mempengaruhi prediksi peringkat obligasi. Dapat disimpulkan bahwa
perusahaan yang memiliki umur obligasi kurang dari 5 tahun akan berada
pada peringkat investment grade dan akan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi.
Lena dan Atahau (2003) dalam tulisannya pengukuran durasi obligasi
untuk mengetahui sensitivitas harga obligasi terhadap perubahan tingkat suku
bunga di Indonesia dengan mengambil sampel obligasi yang diperdagangkan
di pasar modal Indonesia dengan teknik non probability sampling. Hasil uji beda mean sampel dependen menunjukkan t-test>t-tabel maka Ha diterima
karena ada perbedaan yang signifikan antara perkiraan harga dengan harga
yang sebenarnya berarti pengukuran durasi obligasi tidak dapat dipergunakan
untuk memperkirakan perubahan harga obligasi akibat perubahan tingkat suku
bunga di Indonesia. Ditinjau dari segi data, penerimaan Ha disebabkan terlalu
besarnya range dari d. Besarnya range mengakibatkan rata-rata d kurang
diterima adalah tidak dipenuhinya asumsi bahwa investor Indonesia
menggunakan tingkat suku bunga SBI sebagai pembanding dalam investasi
obligasi. Sifat perdagangan bligasi yang banyak dilakukan di luar bursa resmi
untuk menghindari pajak transaksi sehingga kurang mencerminkan keadaan
yang sebenarnya. Faktor terakhir adalah perdagangan obligasi Indonesia yang
cenderung secara diskon. Obligasi perusahaan yang diaudit oleh Big 4 akan
mempengaruhi peringkat bligasi investment grade auditor akan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi.
Levi (2001) dalam tulisannya mengenai obligasi dan diversifikasi
portofolio internasional menyebutkan bahwa kontribusi kurs terhadap resiko
obligasi jauh lebih besar daripada terhadap saham. Harga saham berubah
mengikuti laju inflasi, maka laju inflasi yang lebih tinggi di suatu negara
akan meningkatkan harga saham pada waktu yang sama karena inflasi
menyebabkan depresiasi mata uang negara tersebut. Inflasi meningkatkan
harga, termasuk harga aset tetapi menyebabkan terjadinya depresiasi. Dalam
situasi tersebut, pengruh inflasi dalam harga aset mata uang diimbangi
dengan depresiasi saat harga aset diukur dalam Dolar AS. Sedangkan dalam
kasus obligasi, situasi yang berlawanan dapat terjadi. Depresiasi mata uang
dapat mendorong pemerintah untuk meningkatkan tingkat bunga dalam usaha
penurunan nilai obligasi dalam mata uang lokal. Berbeda dengan kasus
saham, niali aset mata uang lokal dan pergerakan kurs saling menguatkan
yang meningkatkan variasi nilai obligasi dalam Dolar AS. Terjadinya korelasi
positif antara nilai aset mata uang lokal dan kurs menamah volatilitas.
Dimasukkannya obligasi sebagai saham dalam portofolio diversifikasi
internasional memberikan peluang untuk mengurangi resiko pengembalian
yang diberikan sebagai lawan portofolio stock-only. Terdapat manfaat dari kepemilikan obligasi sekalipun resiko nilai tukar pada obligasi relatif tinggi.
2.6 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan dari perumusan masalah dan berbagai penelitian
sebelumnya, maka hipotesis penelitian ini adalah:
Terdapat pengaruh yang negatif antara tingkat bunga dengan indeks harga
obligasi perusahaan dan terdapat pengaruh yang positif antara variabel nilai
2.7 Kerangka Pemikiran
Tingkat Bunga
Nilai Tukar
Jumlah uang
INDEKS OBLIGASI PERUSAHAAN
beredar
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana pengaruh
dari faktor-faktor fundamental ekonomi seperti tingkat bunga, nilai tukar dan
jumlah uang beredar terhadap indeks harga obligasi perusahaan. Adapun
sebagai objek dalam penelitian ini adalah perusahaan yang telah mencatatkan
obligasi perusahaannya di bursa efek.
3.2 Sumber dan Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan
jenis data time series (runtun waktu) selama kurun waktu 2001-2005. Data yang digunakan berasal dari laporan bulanan Bursa Efek Surabaya, dan Bank
Indonesia. Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah indeks
harga obligasi perusahaan (basis poin), tingkat bunga (persen), nilai tukar
(Rupiah) dan uang beredar (milyar Rupiah). Sedangkan sumber data yakni
perusahaan yang telah mencatatkan obligasinya di bursa efek selama kurun
3.3 Model Analisis
Model persamaan yang digunakan untuk menganalisa permasalahan
tersebut adalah persamaan regresi linear dengan menggunakan metode
Ordinary Least Square dengan fungsi sebagai berikut: INOB = f(SBI, Kurs, JUB)
Selanjutnya dispesifikasikan ke dalam bentuk model regresi linear:
INOB = β0+ β1SBI+ β2kurs+ β3JUB+μ Dimana:
INOB = Indeks Harga Obligasi Perusahaan (basis poin)
SBI = Tingkat Bunga SBI (persen)
Kurs = Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar (Rupiah)
JUB = Jumlah Uang Beredar (milyar Rupiah)
β0 = Konstanta
β1,β2,β3 = Koefisien Regresi μ = Faktor Pengganggu
3.4 Defenisi Operasional Variabel
Untuk memudahkan pemahaman terhadap variabel yang digunakan
dalam penelitian ini maka perlu diberikan batasan operasional dari variabel
1. Indeks harga obligasi perusahaan yaitu rata-rata nilai indeks harga
obligasi perusahaan yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Surabaya
periode Januari 2001-Desember 2005 (basis poin).
2. Tingkat bunga yang diukur dengan tingkat bunga SBI jangka waktu 1
bulan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia periode Januari
2001-Desember 2005 (persen).
3. Nilai tukar yaitu rata-rata kurs Rupiah terhadap Dolar periode Januari
2001-Desember 2005 (Rupiah)
4. JUB adalah jumlah uang yang beredar di masyarakat periode Januari
2001-Desember 2005 (milyar Rupiah)
3.5 Metode Analisis
Untuk menguji hipotesis di atas digunakan alat regresi linear yang
diestimasi dengan metode OLS (Ordinary Least Square). Model ini
mempunyai sifat-sifat yang dapat diunggulkan yaitu secara teknis sangat
akurat, mudah menginterpretasikan perhitungannya serta sebagai alat estimasi
3.6 Uji Kesesuaian
Uji kesesuaian (Test Goodness of Fit) dilakukan berdasarkan
perhitungan nilai koefisien determinasi (R2) yang kemudian dilanjutkan
dengan uji F (F-test) dan uji t (T-test).
1. Penilaian terhadap koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk melihat
seberapa besar variasi dan variabel terikat (dependent variabel) dapat
diterangkan oleh variabel bebas (independent variabel).
2. Uji F (overall test) dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi
statistik koefisien regresi secara bersama-sama/serentak dari semua
variabel bebas (independent variable) penelitian.
3. Uji t (partial test) dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik
koefisien regresi secara parsial.
3.7 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik
Ada beberapa permasalahan yang akan terjadi dalam model regresi
linear dimana secara statistik permasalahan tersebut dapat mengganggu model
yang ditentukan, bahkan dapat menyesatkan kesimpulan yang diambil dari
persamaan yang terbentuk. Untuk itu perlu dilakukan uji penyimpangan
asumsi klasik yang terdiri dari:
3.7.1 Uji Multikolinearitas
Interpretasi dari persamaan regresi linear secara implisit bergantung
tidak saling berkorelasi. Jika dalam sebuah persamaan terdapat
multikolinearitas dengan besar-besaran regresi yang didapat sebagai
berikut:
1. variasi besar (dari taksiran OLS)
2. interval kepercayaan lebar (karena variasi besar sehingga standar
error besar yang berdampak pada interval kepercayaan lebar).
3. Uji t(t-rasio) tidak signifikan. Suatu variabel bebas yang signifikan
baik secara substansi maupun secara statistik jika dilakukan regresi
sederhana maka terjadi bias dan tidak signifikan karena variasi
besar akibat adanya kolinearitas. Bila standar error terlalu besar
maka besar pula kemungkinan taksiran koefisien regresi tidak
signifikan.
4. R2 tinggi tetapi tidak hanya variabel yang signifikan dari uji t.
5. terkadang nilai taksiran koefisien yang didapat akan mempunyai
nilai yang tidak sesuai dengan nilai yang sebenarnya, sehingga
dapat menyesatkan interpretasi.
3.7.2 Uji Autokorelasi
Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara
anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu. Dalam
konteks regresi, model regresi linear klasik mengasumsikan bahwa
pengganggu μ. Dengan menggunakan lambang F(μi,μj) = 0; i≠j. Secara sederhana dapat dikatakan model klasik mengasumsikan bahwa unsur
gangguan yang berhubungan dengan observasi tidak dipengaruhi oleh
unsur disturbansi atau gangguan yang berhubungan dengan
pengamatan lain yang manapun. Untuk menguji autokorelasi
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perkembangan Obligasi Perusahaan
Perkembangan pasar obligasi di Indonesia terus mengalami
peningkatan. Hal ini terlihat dari terus meningkatnya emisi obligasi dari
tahun ke tahun. Banyaknya penerbitan obligasi diantaranya dipengaruhi oleh
menurunnya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Suku bunga
deposito berjangka yang turun tajam menyebabkan para investor beralih
untuk menginvestasikan dananya dari deposito ke obligasi. Bagi perusahaan,
penerbitan obligasi merupakan salah satu alternatif pembiayaan perusahaan.
Keuntungan perusahaan yang menggunakan obligasi sebagai instrumen
pembiayaan adalah memperoleh keuntungan pajak atas pembayaran bunga.
Maraknya pasar obligasi dikarenakan obligasi perusahaan merupakan
alternatif berinvestasi yang menarik dengan tingkat kupon bunga yang tetap
maupun mengambang (floating). Biayanya yang harus dikeluarkan
perusahaan dalam penerbitan obligasi adalah pada saat penerbitan dan
biaya-biaya tahunan sampai masa jatuh tempo. Persyaratan yang cukup mudah
dalam penerbitan obligasi merupakan penyebab maraknya peredaran obligasi
perusahaan.
Secara umum perkembangan pasar obligasi perusahaan Indonesia tidak
Perkembangan yang positif dari pasar obligasi ditandai dengan yield yang terus menurun dan harga yang bergerak naik. Tabel berikut menunjukkan
emisi obligasi yang dilakukan oleh emiten periode 2001-2005.
Tabel 4.1 Perkembangan Emisi Obligasi Periode 2001-2005 Emisi Obligasi Realisasi Emisi Outstanding Periode Emi
ten
Volume Nilai Emisi (Milyar)
Volume Nilai Emisi (Milyar)
Volume Nilai (Milyar) 2001 94 1.067.695 31.662,433 1.050.482 29.614,255 219.975 14.307,763 2002 100 1.181.095 37.812,433 1.154.782 35.237,244 318.275 19.630,751 2003 136 7.877.420 63.825,526 7.693.356 60.921,506 6.829.849 44.925,013 2004 152 13.740.146 83.005,349 12.952.310 78.796,692 12.118.803 62.800,199 2005 159 16.171.146 91.255,349 15.413.310 87.046,692 14.351.716 62.955,941
Sumber : Bursa Efek Surabaya
Perkembangan emisi obligasi dari tahun 2001 hingga 2005 mengalami
peningkatan yang signifikan. Jumlah emiten terus meningkat hingga
berjumlah 159 emiten pada tahun 2005 dengan nilai emisi Rp 91.255,349
milyar. Realisasi emisi sebesar Rp 87.046,692 milyar pada tahun 2005
dengan volume obligasi yang beredar adalah 14.351.716 obligasi senilai Rp
62.955,941 milyar.
Sedangkan perkembangan perdagangan obligasi perusahaan periode
Tabel 4.2 Perkembangan Perdagangan Obligasi Perusahaan Melalui Over The
Counter-Fixed Income Service Bursa Efek Surabaya Periode
2001-2005
Periode Obligasi
tercatat Sumber : Bursa Efek Surabaya
Perkembangan perdagangan obligasi perusahaan juga mengalami
peningkatan yang signifikan. Volume obligasi tercatat meningkat cukup besar
pada tahun 2005 yaitu sebesar Rp 27.098,38 milyar dengan frekuensi 5.723
kali. Rata-rata transaksi per hari adalah sebesar Rp 111,52 milyar dengan
frekuensi 24 kali di tahun 2005. Sedangkan perkembangan indeks harga
obligasi perusahaan dapat ditunjukkan pada grafik sebagai berikut.
0
Sumber : Bursa Efek Surabaya
Indeks harga obligasi perusahaan pada tahun 2001 mengalami
peningkatan yang cukup signifikan. Pergerakan indeks relatif stabil hal ini
terlihat dari terus meningkatnya indeks secara bertahap. Indeks sempat
melemah pada Mei 2001 menjadi sebesar 457,83 poin dari 460,817 di bulan
April 2001. Pada bulan berikutnya indeks mengalami peningkatan yang cukup
signifikan. Pada akhir tahun 2001 indeks obligasi kembali melemah menjadi
531,175 poin. Melemahnya indeks pada akhir tahun 2001 diakibatkan
menurunnya perdagangan obligasi di bursa efek. Hal ini disebabkan oleh
naiknya suku bunga SBI sehingga investor menjual obligasinya untuk
menghindari kerugian.
Sumber : Bursa Efek Surabaya
71
Pergerakan indeks obligasi pada tahun 2002 juga terus mengalami
peningkatan. Indeks sempat melemah di awal tahun 2002 namun pada bulan
berikutnya kembali mengalami peningkatan. Peningkatan indeks ini terus
terjadi sepanjang tahun 2002. Hal ini disebabkan oleh menurunnya suku
bunga SBI. Penurunan suku bunga ini masih dirujuk sebagai pendorong
aktifnya transaksi di pasar bursa efek. Namun jika suku bunga terus menurun,
aktifnya perdagangan di pasar sekunder akan terhambat. Hal ini dikarenakan
investor akan enggan melepas obligasi yang dipegangnya kecuali dengan
premi yang cukup tinggi.
0
Sumber: Bursa Efek Surabaya
Indeks harga obligasi perusahaan pada tahun 2003 terus mengalami
peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini terlihat dari banyaknya
perusahaan yang mencatatkan obligasinya di Bursa Efek Surabaya. Transaksi
yang terjadi di bursa terus meningkat dikarenakan perekonomian Indonesia
yang semakin baik dan pulihnya kepercayaan investor domestik maupun asing
untuk berinvestasi di Indonesia. Pada tahun 2003 pertumbuhan ekonomi
mengalami peningkatan yang didorong oleh konsumsi pemerintah dan swasta
juga kegiatan investasi, ekspor dan impor. Tingkat inflasi mengalami
penurunan yang disebabkan oleh membaiknya ekspektasi inflasi dan
penguatan nilai tukar Rupiah. Stabilnya nilai tukar Rupiah dan turunnya laju
inflasi memberikan peluang pada turunnya suku bunga instrumen moneter.
Penurunan suku bunga SBI mendorong perkembangan yang positif pada
obligasi perusahaan dan membantu restrukturisasi utang perusahaan. Indeks
obligasi pada 28 Mei–10 Juni 2003 sebesar 1.052,757 naik 59,832 poin dari
992,925 pada tanggal 14-27 Mei 2003. Indeks obligasi terus mengalami
peningkatan hingga akhir bulan Desember 2003 sebesar 1.325,468 poin.
Faktor-faktor lain yang menyebabkan investor menanamkan modal di
Indonesia adalah dikarenakan pusat kegiatan investasi yang ramai di kunjungi
di Asia Timur seperti Singapura, Thailand, Hongkong, Taiwan dan China
mengalami gangguan akibat wabah SARS. Wabah tersebut mengganggu