Prediksi Tingkat Bahaya Erosi dengan Metode USLE di Perkebunan Kelapa Sawit di Desa Balian Kecamatan Mesuji Raya Kabupaten Ogan Komering Ilir

71 

Teks penuh

(1)
(2)

Lampiran 2.Data Curah Hujan PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD, Sumatera Selatan 10 Tahun Terakhir (2006-2015)

BULAN

Tahun

Rata – Rata

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Hari MM Hari MM Hari MM Hari MM Hari MM Hari MM Hari MM Hari MM Hari MM Hari MM Hari MM

JAN 16 274 17 552 15 300 14 196 10 190 12 147 13 378 22 402 12 344 17 224 14.8 300.7

PEB 16 478 8 202 4 43 15 469 18 399 7 115 14 268 14 283 3 106 7 126 10.6 248.9

MAR 12 306 13 277 17 395 13 396 14 531 20 485 13 343 12 336 11 240 18 327 14.3 363.6

APR 12 315 14 156 9 256 12 348 9 259 14 345 13 134 11 271 15 258 15 267 12.4 260.9

MEI 8 218 7 222 8 93 9 226 8 88 7 191 4 57 9 171 11 244 2 41 7.3 155.1

JUN 7 68 7 62 7 89 6 69 6 85 5 44 6 108 9 180 2 134 9 157 6.4 99.6

JUL 5 142 5 93 3 23 3 49 13 151 3 30 6 87 10 138 5 140 0 0 5.3 85.3

AGT 0 0 2 24 15 222 5 25 13 224 0 0 2 42 7 81 3 100 0 0 4.7 71.8

SEP 2 20 2 42 9 143 0 0 11 155 1 6 2 13 7 116 0 0 0 0 3.4 49.5

OKT 0 0 9 142 8 163 14 207 16 235 12 130 12 91 7 158 2 6 1 2 8.1 113.4

NOP 7 48 6 122 16 259 11 178 14 299 17 168 15 214 10 325 19 227 8 107 12.3 194.7

DES 9 242 13 205 18 333 16 390 15 226 20 370 13 115 16 265 21 472 16 175 15.7 279.3

Total 94 2111 103 2099 129 2319 118 2553 147 2842 118 2031 113 1850 134 2726 104 2271 93 1426 115.3 2222.8

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

Lampiran 8.Tabel Defisit Air PT. MBJ – IPBD 2011 – 2015.

Sumber : Analisis Data Sekunder

Lampiran 9.Tabel Nilai Erosivitas Hujan Tahunan (R).

Sumber: Analisis Data Sekunder

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

JAN 27.4 55.2 30 19.6 19 14.7 37.8 40.2 34.4 22.4 300.7 30.07 226.28 FEB 47.8 20.2 4.3 46.9 39.9 11.5 26.8 28.3 10.6 12.6 248.9 24.89 174.98 MAR 30.6 27.7 39.5 39.6 53.1 48.5 34.3 33.6 24 32.7 363.6 36.36 292.98 APR 31.5 15.6 25.6 34.8 25.9 34.5 13.4 27.1 25.8 26.7 260.9 26.09 186.55 MEI 21.8 22.2 9.3 22.6 8.8 19.1 5.7 17.1 24.4 4.1 155.1 15.51 91.96 NOV 4.8 12.2 25.9 17.8 29.9 16.8 21.4 32.5 22.7 10.7 194.7 19.47 125.29

DES 24.2 20.5 33.3 39 22.6 37 11.5 26.5 47.2 17.5 279.3 27.93 204.67 R = 1505.63 cm/thn

(9)

SPL B.Organik (%) Struktur Harkat Kelas Permeabilitas Harkat Pasir (%) P. S. Halus (%) Debu (%) Liat (%) Nilai M Nilai K

1 3.75 Gumpa l 4 Agak lambat 4 55.25 16.58 6.96 37.79 1464.11 0.160

2 3.42 Gumpa l 4 Agak lambat 4 58.46 17.54 7.91 33.63 1688.98 0.176

3 3.47 Gumpa l 4 Sedang 3 67.14 20.14 8.96 23.90 2214.66 0.182

4 3.03 Gumpa l 4 Lambat 5 62.87 18.86 9.03 28.10 2005.36 0.225

5 4.90 Gumpa l 4 Sangat lambat 6 51.50 15.45 9.90 38.60 1556.49 0.205

6 4.68 Gumpa l 4 Sangat lambat 6 50.83 15.25 9.83 39.34 1521.29 0.205

7 3.46 Gumpa l 4 Sangat lambat 6 33.08 9.92 9.56 57.36 830.80 0.178

8 2.51 Gumpa l 4 Sedang 3 72.82 21.85 6.04 21.14 2199.09 0.194

9 4.80 Gumpa l 4 Sedang 3 69.03 20.71 6.99 23.98 2105.68 0.158

10 3.97 Gumpa l 4 Sedang 3 71.77 21.53 4.03 24.20 1937.52 0.159

11 3.61 Gumpa l 4 Sedang 3 66.98 20.09 11.01 22.01 2425.80 0.192

12 3.58 Gumpa l 4 Sedang 3 60.33 18.10 9.92 29.75 1968.33 0.166

15 3.70 Gumpa l 4 Sedang 3 68.45 20.54 6.11 25.44 1986.65 0.165

16 5.28 Gumpa l 4 Lambat 5 74.66 22.40 6.08 19.26 2299.31 0.211

17 4.04 Gumpa l 4 Sangat lambat 6 46.15 13.85 6.85 47.00 1096.84 0.189

18 3.10 Gumpa l 4 Sedang 3 81.74 24.52 5.07 13.19 2568.88 0.209

19 3.89 Gumpa l 4 Sedang 3 67.80 20.34 9.06 23.14 2259.68 0.179

20 3.77 Gumpa l 4 Agak cepat 2 79.81 23.94 6.06 14.13 2576.36 0.174

21 7.22 Gumpa l 4 Lambat 5 74.98 22.49 10.01 15.01 2762.51 0.199

22 5.40 Gumpa l 4 Lambat 5 71.82 21.55 8.05 20.13 2363.83 0.212

23 1.55 Gumpa l 4 Lambat 5 40.39 12.12 10.75 48.86 1169.42 0.184

24 3.63 Gumpa l 4 Lambat 5 60.33 18.10 9.92 29.75 1968.33 0.215

25 4.42 Gumpa l 4 Lambat 5 47.50 14.25 5.83 46.67 1070.87 0.160

26 2.44 Gumpa l 4 Sedang 3 62.89 18.87 9.03 28.08 2006.35 0.182

27 3.29 Gumpa l 4 Sedang 3 70.02 21.01 6.00 23.98 2053.00 0.174

28 7.62 Gumpa l 4 Sedang 3 70.66 21.20 9.11 20.23 2417.67 0.131

29 4.97 Gumpa l 4 Lambat 5 68.67 20.60 11.12 20.21 2531.02 0.227

(10)
(11)

Lampiran 12.Tabel Nilai Faktor Tanaman Dan Tindakan Konservasi (CP) SPL Konservasi dan Pengelolaan Tanaman Nilai C dan P

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Agus, F., Ngaloken, A. G. dan Meine, V. N. 2002.Pilihan Teknologi Agroforestri Konservasi Tanah untuk Areal Pertanian Berbasis Kopi di Sumberjaya, Lampung Barat.International Centre for Research in Agroforestry.

Agus, F., dan Widianto. 2004. Petunjuk Teknis Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering. World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia. Bogor Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air.Institut PertanianBogor. Bogor. Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah AliranSungai.UGM Press.

Yogyakarta.

Dewi, I. G. A. S. U., Ni, M.T., Tatiek, K. 2012. Prediksi Erosidan Perencanaan KonservasiTanah Dan Air Pada DaerahAliran Sungai Saba.E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika.Vol.1 No. 1.

Dariah,. Ai,. Yusrial,.Mazwar.2005. Penetapan Konduktivitas Hidrolik Tanah Dalam Keadaan Jenuh: Metode Laboratorium : Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya. Pusat Penelitian danPenelitian Tanah dan Agroklimat(Puslitbangtanak). Bogor

Darmosakoro, W. dan S. Rahutomo. 2000. Tandan Kosong Kelapa Sawit sebagai Bahan Pembenah Tanah. Dalam Prosiding : Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit (ed, Witjaksana, D., Edy. S. S., dan Winarna) Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Desember 2003. pp 167-168.

Darmosarkoro, W., dan Winarna. 2001. Penggunaan TKS dan Kompos TKS Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman.Dalam Prosiding : Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit (ed, Witjaksana, D., Edy. S. S., dan Winarna) Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Desember 2003. pp 187-200.

Darmosarkoro, W., I.Y. Harahap, dan E. Syamsuddin. 2001. Kultur Teknis pada Tanaman Kelapa Sawit pada Kondisi Kekeringan dan Upaya Penanggulangannya.Dalam Prosiding : Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit (ed, Witjaksana, D., Edy. S. S., dan Winarna) Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Desember 2003.pp 229.

Embrandiri, A., Sing, R. P., Ibrhim, H. M., danRamli, A. A. 2012. Land

Application of Biomass Residue Generated From Palm Oil Processing; Its Potential Benefits and Threats.The Environmentalis. Vol 32 No. 1 Pp 111-117.

(13)

Febriani, Y. 2013. Prediksi Erosi Menggunakan Metoda USLE Pada Daerah Rawan Gerakan Tanah Di Daerah Jalur Lintas Bengkulu – Kepahiang. Jurnal Ilmiah Edu Research Vol.2 No.1 Juni 2013

Febrianti, V. 2000. Prediksi Erosi Tanah Dengan Penggunaan Bahan Organik Untuk Konservasi Tanah Di DAS Cisadane Hulu.IPB Press. Bogor.

Hammer, W.I., 1981.Soil Conservation Consultant Report Center for Soil Research, Bogor, Indonesia.

Harahap, E. M. 2007. Peranan Tanaman Kelapa Sawit Pada Konservasi Tanah Dan Air. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap.FP USU. Medan. Hardjowigeno, S. 1993. KlasifikasiTanah dan Pedogenesis.Akademika Presindo.

Jakarta.

Kartasapoetra, G., Kartasapoetra, A. G., dan Sutedjo, M. M. 1995. Teknologi Konservasi Tanah Dan Air. Bina Aksara. Jakarta.

Lihawa, F., dan Yuniarti, U. 2013.Prediksi DampakErosi Permukaan Pada

Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Di Kabupaten Pohuwato. Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas MIPA UNG.

Marni. 2009. Penerapan Teknik Konservasi Tanah Dan Air Dalam Meningkatkan Produksi Kelapa Sawit. IPB Press. Bogor.

Murtilaksono, K., E. S. Sutarta., Darlan, N. H., Sudarmo. 2007. Penerapan Teknik Konservasi Tanah Dan Air Dalam Upaya Peningkatan Produksi Kelapa Sawit FP IPB. Bogor.

Murtilaksono, K., E. S. Sutarta., Hasril H. S., W. Darmosarkoro., dan Y. Hidayat. 2008. Penerapan Teknik Konservasi Tanah dan Air dalam Upaya Penekanan Aliran Permukaan dan Erosi di Kebun Kelapa Sawit In: K. Murtilalaono, F. AguJ, S.D. Tarigan, A. Dariah, N.L. Nurida, H. Santoso, N. Sinukadanan. A. N. Gintings (Edi). Prosiding Seminar dan Kongres Nasional MKTI VI, Bogor. 17.18 Desember. pp. 165-172.

Murtilaksono, K., E. S. Sutarta., Hasril H. S., W. Darmosarkoro., dan Y. Hidayat. 2009. Upaya Peningkatan Produksi Kelapa Sawit Melalui Penerapan Teknik Konservasi Tanah Dan Air.J. Tanah Trop., Vol 14, No. 2, 2009: 135-142

Simangunsong, Z. 2011. Konservasi Tanah Dan Air Pada Perkebunan Kelapa Sawit(Elaeis guineensis Jacq.) PT. Sari Lembah Subur,Pelalawan, Riau. Skripsi. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

(14)

Sumarno., Joko, W., dan Irawan, P. 2011. Kajian Pengelolaan Lahan Berdasarkan Tingkat Bahaya Erosi Dan PolaKonservasi Tanah Dan Air Di Desa Ngadipiro Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. Fak.Pertanian, Universitas Sebelas Maret, SurakartaSains Tanah – Jurnal Ilmu Tanah dan Agroklimatologi.

Suripin.2001. Pelestarian Sumber DayaTanah dan Air.Andi.Yogyakarta. Surono, Jailani, H., Yani, E.B. K., Jeane, L. 2013. AplikasiSistem Informasi

Geografis Dalam Memprediksi ErosiDengan Metode Usle Di Sub Das Dumoga. Fakultas Pertanian UNSRAT.

Tunas, I. G. 2005.Prediksi Erosi Lahan DasBengkulu Dengan Sistem Informasi Geografis (Sig) Jurnal SMARTek, Vol. 3, No. 3, pp 137 – 145

Winarna., Sutarta, E. S., dan P. Purba. 2000. Pengelolaan Tanah Berliat Aktivitas Rendah (LAR) Di Perkebunan Kelapa Sawit. Dalam Prosiding : Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit (ed, Witjaksana, D., Edy. S. S., dan Winarna) Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Desember 2003. pp 25-34.

(15)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Perkebunan kelapa sawit PT Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD Desa Balian, Kecamatan Mesuji Raya, Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan tanaman kelapa sawit tahun tanam 2003 hingga 2008 dan kemudian dilanjutkan dengan analisa sifat-sifat tanah di Laboratorium Riset PT. Sampoerna Agro yang terletak di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan yang dilaksanakan pada bulan Mei 2016 sampai dengan bulan Agustus 2016. Bahan dan Alat

Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:bahan contoh tanah, kantong plastik untuk tempat tanah, kain kasa untuk menutup permukaan ring sampel, karet gelang untuk mengikat kain kasa, label sabagai penanda identitas contoh tanah, dan bahan kimia yang mendukung analisis tanah. Alat

(16)

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif melalui survey lapangan.Teknik sampling berdasarkan Satuan Peta Lahan.Kemudian dilanjutkan menggunakan metode USLEuntuk memprediksi erosi yang didasarkan pada hasil pengamatan di lapangan dan analisis tanah di laboratorium.

Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap yaitu persiapan, penetapan lokasi contoh tanah,survei lapangan dan pengambilan contoh tanah, analisis tanah di laboratorium, analisis dan interpertasi data dan arahan rekomendasitindakan konservasi tanah dan air.

Persiapan

Tahap ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu:

1. Pengumpulan data sekunder berupa data curah hujan.

2. Penentuan batas – batas daerah penelitian (hanya kebun IPBD seluas 1.212,90 Ha).

3. Survey lapangan untukmemverifikasi kemiringan lereng dengan menggunakan alat waterpass beserta mistar. Dalam hal ini untuk menentukan lokasi sampel dalam verifikasi didasarkan pada peta kontur dan ketinggian tempat yang sudah di overlay (lampiran 1).

4. Digitasi peta (peta administrasi, peta penggunaan lahan, peta jenis tanah, peta lereng dan peta tahun tanam) dengan Software Arc View GIS 3.3

Penetapan Lokasi Pengambilan Contoh Tanah

(17)

Bunda Jaya – Kebun IPBD.Lokasi contoh tanah yang akan diambil berdasarkan jenis tanah, tahun tanam dan kelerengan. Perkebunan IPBD seluas 1.212,90 Ha memiliki 4 jenis ordo tanah (Typic Dystrudepts, Typic Hapludox, Plinthic Kanhapudults dan Typic Haplofibrists), dan 5 jenis tahun tanam (2003, 2005, 2006, 2007 dan 2008), serta 2 kelas lereng (0 – 3% dan 3 – 8%). Setelah itu peta tersebut di overlay atau ditumpang-tindihkan sehingga didapat satuan peta lahan sebagai lokasi contoh tanah yang akan diambil. Maka terdapat 29 lokasi contoh tanah yang akan diambil, tetapi ada 2 lokasi yang merupakan tanah gambut, sehingga hanya 27 lokasi contoh tanah saja yang diambil.

Survey Lapangan Dan Pengambilan Contoh Tanah

Pada kegiatan ini dilakukan survey lapangan untuk mengetahui kondisi fisik areal PT. MBJ – IPBD seperti kemiringan lereng dan kemudian dilanjutkan dengan pengambilan contoh tanah di lapangan berdasarkan lokasi contoh tanah yang sudah ditetapkan sebelumnya. Pengambilan contoh tanahterganggu dilakukan dengan cara mengkompositkan tanah dari beberapa titik sampel dalam satu SPL dengan menggunakan bor tanah pada kedalaman 0 – 20 cm.Pengambilan contoh tanah tidak terganggu dilakukan dengan menggunakan ring sampel pada kedalaman 0 – 20 cm. Pada setiap pengambilan contoh tanah di lapangan dilakukan pengamatan struktur dan tekstur tanah (metode by feeling), kedalaman efektif, panjang lereng dan teknik konservasi yang sudah diterapkan. Analisis Tanah Di Laboratorium

(18)

Analisis dan Interpertasi Data

Data pengamatan di lapangan dan hasil analisis tanah di Laboratorium diinterpertasikan untuk menentukan besarnya erosi serta tingkat bahaya erosi (TBE).Prediksi jumlah tanah yang tererosi dan tingkat bahaya erosi dihitung dengan menggunakan formula yang telah dikembangkan olehWischmeier dan Smith (1978dalam Arsyad, 2010), yang dikenal dengan metode USLE (universal soil loss equation) dengan menggunakan rumus:

A = RKLSCP

Dimana:

A = Banyaknya tanah tererosi (ton/ha/thn) R = Erosivitas hujan

K = Faktor erodibilitas tanah L = Faktor pajang lereng S = Faktor kecuraman lereng

C = Faktor vegetasi penutup tanah/pengolahantanaman P = Faktor tindakan konservasi tanah

Faktor Erosivitas Hujan (R)

Data curah hujan yang dibutuhkan minimal selama 10 tahun terakhir dan data tersebut diperoleh dari laporan data curah hujan bulanan PT. Mutiara Bunda Jata – Kebun IPBD Desa Balian Kecamatan Mesuji Raya Kabupaten OKI (lampiran 2).

Menurut Arsyad (2010) nilai R adalah daya erosi hujan pada suatu tempat atau erosivitas hujan tahunan yang dapat dihitung melalui persamaan Bols (1978

(19)

R = 6,119[(RAIN) 1,21 x (DAYS)-0,47 x (MAXP)0,53]

R = indeks erosivitas hujan bulanan

RAIN = curah hujan bulanan rata-rata (cm) DAYS = jumlah hari hujan perbulan (hari)

MAXP = curah hujan maksimum selama 24 jam dalam bulan bersangkutan (cm). Erosivitas hujan tahunan diperoleh dari penjumlahan erosivitas bulanan yaitu dari erosivitas hujan bulan Januari hingga Desember.

Bilamana data hujan harian maksimum pada bulan yangakan dihitung erosivitasnya tidak ada, dan hanya ada tersedia data hujan bulanan, maka dapat digunakan rumus Lenvain (Asdak, 1995) sebagai berikut:

Rm= 2,21Pm1,36

Rm = Erosivitas hujan bulanan Pm = Curah hujan bulanan (cm) Faktor Erodibilitas Tanah (K)

Data nilai erodibilitas tanah (K) diperoleh dengan cara menganalisis bahan contoh tanah yang telah diambil sesuai lokasi contoh tanah untuk diketahui tekstur, struktur, permeabilitas,dan bahan organik tanah.

Penentuan besarnya nilai K dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Wischmeier dan Mannering (1969dalam Arsyad, 2010) yaitu sebagai berikut: 100 K= 2,1 M 1,14 (10-4)(12-a) + 3,25 (b-2)+ 2,5 (c-3)

M = % debu + pasir sangat halus x (100- % liat) a = % bahan organik (% C x 1,724)

(20)

Tabel 1. Harkat Struktur Tanah

No Kelas Struktur Tanah (Ukuran Diameter) Harkat 1 Granular sangat halus (< 1 mm) 1

2 Granular halus (1 - 2 mm) 2

3 Granular sedang sampai kasar (2 - 10 mm) 3 4 Gumpal, lempeng, pejal (> 10 mm) 4 Sumber: Arsyad(2010).

Tabel 2. Harkat Permeabilitas Tanah

No Kelas Kecepatan Permeabilitas Tanah Harkat

1 Sangat lambat (< 0,5 cm/jam) 6

Faktor Kemiringan dan Panjang Lereng (LS)

Data kemiringan dan panjang lereng diperoleh dengan melakukan survey langsung di lapangan. Untuk memperoleh data kemiringan lereng digunakan alat yang bernama waterpass beserta mistar dan untuk panjang lereng dengan meteran.

(21)

Faktor Tanaman dan Tindakan Konservasi Tanah (C dan P)

Dalam memperoleh data nilai C dan P dilakukan survey langsung di lapangan. Faktor tanaman (C) dievaluasi dari jenispenggunaannya, penetapan nilai C ini berdasarkan hasil penelitian sebelumnya.Faktor tindakan konservasi di evaluasi dengan mengamati upaya konservasi yang dilakukan di lapangan.

Tabel 3. Nilai Faktor Vegetasi (C)

No Tutupan Lahan Nilai C No Tutupan Lahan Nilai C

Tabel 4. Nilai Faktor Konservasi Tanah (P) No Teknik Konservasi

15 Mulsa jerami sebanyak

6 ton/ha/thn 0,15

6 Hillside ditch atau

field pits 0,30

16 Mulsa jerami sebanyak

3 ton/ha/thn 0,25

7 Kontur cropping

kemiringan 1-3% 0,40

17 Mulsa jerami sebanyak

1 ton/ha/thn 0,60

8 Kontur cropping

kemiringan 3-8% 0,50

18 Mulsa jagung

sebanyak 3 ton/ha/thn 0,35 9 Kontur cropping

kemiringan 8-15% 0,60

19 Mulsa crotolaria

sebanyak 3 ton/ha/thn 0,50 10 Kontur cropping

kemiringan 15-25% 0,80

20 Tanpa Tindakan

Konservasi 1,00

(22)

Tabel 5. Nilai Faktor CP Pada Berbagai Jenis Penggunaan Lahan

No Konservasi dan Pengelolaan Tanaman Nilai CP

1 Hutan:

b. Penutupan tanah sebagian, ditumbuhi alang – alang 0.02 c. Alang - alang: pembakaran sekali setahun 0.06

(23)

yang terjadi dengan kelas tingkat bahaya erosi sesuai dengan kedalaman tanah (cm) pada setiap SPL.

Tabel 6. Kelas Bahaya Erosi

Kelas Bahaya erosi (ton/ha/tahun) Keterangan

I < 15 Sangat Ringan

Untuk mendapatkan tingkat bahaya erosi adalah dengan menggunakan tabel dibawah ini:

Tabel 7. Tingkat Bahaya Erosi

Kedalaman tanah (cm) Tingkat Bahaya Erosi

I II III IV V

Rekomendasi Tindakan Konservasi Tanah dan Air

Rekomendasi tindakan konservasi tanah dan air ditetapkan berdasarkan padabesarnya erosi yang terjadi serta kondisi fisik yang sebenarnya diPT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun Inti Permata Bunda Dua.

(24)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD

PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD secara administratif tepatnya berada di Desa Balian, Kecamatan Mesuji Raya, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD pada bagian Utara berbatasan dengan Kebun KKPA Balian, Selatan berbatasan dengan PT. Gunung Tua Abadi, Timur berbatasan dengan Kebun KKPA Balian, dan Barat berbatasan dengan Kebun KKPA Dabuk Makmur.

PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD memiliki luas 1.212,90 Ha yang ditanami dengan tanaman kelapa sawit tahun tanam 2003, 2005, 2006, 2007 dan 2008. Curah hujan tahunan rata-rata selama sepuluh tahun terakhir (2006-2015) adalah 2.222,80 mm/thn dengan penyebaran curah hujan yang tidak merata sepanjang tahun sehingga mengalami bulan kering yang panjang (Juli hingga Oktober).Topografi datar (0-3%) hingga landai (3-8%), dengan jenis tanah Typic Dystrudepts, Typic Hapludox, Plinthic Kanhapudults dan Typic Haplofibrists. Pada beberapa lokasi terdapat rawa yang senantiasa tergenang dengan kondisi drainase lambat sampai sangat lambat, serta pada areal yang dilewati aliran air atau parit alami memiliki topografi yang agak curam.

Tindakan Konservasi Tanah Di PT. MBJ – Kebun IPBD

(25)

PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD memiliki beberapa areal dengan produktifitas buah yang rendah (22,8 ton/ha/thn) tetapi potensi buahnya tinggi (SJ

≥ 25 ton/ha/thn). Hal ini mungkin diakibatkan oleh erosi yang terjadi secara

perlahan yang mengakibatkan hilangnya lapisan atas tanah yang mengandung bahan organik yang mengakibatkan terganggunya pertumbuhan dan menurunnya produktifitas tanaman.

Oleh karena itu dalam mengatasi masalah tersebut, maka PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD melakukan tindakan konservasi dengan

memberikan tandan kosong kelapa sawit di lapangan yangdapat memberikan manfaat baik dari aspek kimia maupun aspek fisik tanah selain itu juga dapat menekan pemakaian pupuk kimia. Adapun dosis yang diaplikasikan di PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD sebesar 40 ton/ha atau 296 kg/pohon yang artinya aplikasi TKKS dapat menekan pemakaian pupuk kimia sebesar 0.9 kg urea, 0.2 kg RP, 3.6 kg MOP, dan 0.6 kg kieserit/pohon. Hal ini sesuai dengan Darmosarkoro dan Rahutomo (2000) yang menyatakan bahwa satu ton tandan kosong sawit setara dengan 3 kg urea, 0.6 kg RP, 12 kg MOP, dan 2 kg kieserit, sehingga berdasarkan potensi kandungan nutrisi yang ada maka aplikasi tandan kosong kelapa sawit dapat dilakukan untuk menekan pemakaian pupuk kimia.

(26)

Standard Operation Procedure (SOP) PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD, tankos diturunkan dari truk di collection road tepat di depan gawangan mati, kemudian tumpukan tankos ini disebar pada hari itu juga hingga tersebar merata. Namun karena kurangnya pengawasan dari pihak pabrik kelapa sawit PT. Gunung Tua Abadi,makaterjadi sedikit masalahyaitu truk yang mengangkut tankos dari pabrik seringkali melebihi kapasitas truk. Hal ini menyebabkan tankos-tankos akan berjatuhan dan tercecer di sepanjang jalur truk.

PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBDjuga melakukan pembuatan tapak timbun di beberapa wilayah karena PT. MBJ - IPBD memiliki areal rendahan (low land) yang senantiasa tergenang air, kendala yang dihadapi dalam beberapa tahun terakhir adalah tanaman yang terdapat di areal rendahan sering mengalami kematian karena tergenang dalam waktu yang lama. Sehingga pada setiap tahunnya apabila tanaman mengalami kematian, tindakan yang dilakukan adalah penyisipan tanaman dan tindakan seperti itulah yang terjadi setiap tahunnya dan perkebunan mengalami kerugian yang cukup besar untuk menyediakan bibit kelapa sawit setiap tahunnya.

Perbandingan biaya antara sekali penyisipan tanaman dengan pembuatan tapak timbun untuk luasan 5 ha (675 pohon) adalah sebagai berikut :

Tabel 8. Perhitungan biaya penyisipan tanaman dengan pembuatan tapak timbun

Sumber : Analisis Data Sekunder

No Nama Item jumlah satuan Rp @ Rp No Nama Item jumlah satuan Rp @ Rp 1 Bibit 675 pohon 35,000 23625000 1 Tapak timbun 675 unit 34,000 22950000 2 Upah sisip 675 pohon 4,500 3037500

3 Pupuk RP 337.5 kg 1,500 506250

Total 27168750 Total 22950000

(27)

Dari tabel diatas diketahui bahwa biaya penyisipan untuk sekali penyisipan dibanding pembuatan tapak timbun adalah sebesar Rp. 4.218.750,00. Biaya tersebut selisih untuk sekali penyisipan, sedangkan penyisipan sudah dilakukan sebanyak 5 kali dalam 5 tahun terakhir ini.Hal ini menunjukkan bahwa pembuatan tapak timbun sangat menguntungkan sekali.

Berdasarkan masalah yang terjadi dan kerugian yang dialami maka PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD lebih memilih melakukan tindakan konservasi berupa pembuatan tapak timbun yang terletak di blok 54 petak A dibandingkan melakukan penyisipan tanaman setiap tahunnya. Tapak timbun bertujuan untuk menaikkan permukaan tanah tanaman agar tidak tergenang pada saat musim hujan sehingga dapat mencegah kematian pada tanaman.Hal ini sesuai literatur Simangunsong (2011) yang menyatakan bahwa pembuatan tapak timbun bertujuan untuk menaikan permukaan tanah pada piringan kelapa sawit.Selain pada penurunan tanah, tapak timbun juga diaplikasikan pada kondisi piringan yang tergenang air. Kondisi piringan yang tergenang akan mempersulit proses panen serta pemupukan. Selain itu, genangan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan akar tanaman kelapa sawit busuk sehingga menghambat pertumbuhan serta mengurangi produksi kelapa sawit.

(28)

dari beberapa pihak serta faktor dari excavator long armyang pelaksanaannya kurang teliti dibandingkan dengan tenaga manusia.

(a) (b)

Gambar 1. (a) Aplikasi TKKS di blok 48 A, (b) Tapak timbun di blok 54 A Tindakan Konservasi Air Di PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD

PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD sudah melakukan tindakan konservasi air untuk menghadapi masalah banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau yaitu berupa bangunan water gate dan pembuatan embung.

(29)

areal rendahan.Sungai ini berada pada permukaan yang lebih rendah dibandingkan areal pertanaman sehingga air yang terdapat disungai tidak dapat didistribusikan ke areal –areal pertanaman.Sehingga fungsi bangunan pintu air ini hanya berfungsi untuk melakukan pembuangan air yang berlebih di areal.

Selain memiliki bangunan pintu air, PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD juga memiliki embung yang digunakan untuk menampung kelebihan air saat musim hujan. Hal ini berguna karena PT. MBJ – IPBD merupakan ekosistem tadah hujan atau lahan kering dengan intensitas dan distribusi hujannya yang tidak merata, dengan bulan basah (curah hujan >200mm) 5 sampai 6 bulan sepanjang tahun dan selalu mengalami bulan kering setiap tahunnya.Pada wilayah ini tanaman selalu mengalami cekaman air yang dapat mengganggu produktifitas tanaman. Sehingga untuk mengatasi masalah tersebut PT. MBJ - IPBD sudah melakukan tindakan konservasi air berupa pembuatan embung yang digunakan untuk menampung kelebihan air saat musim hujan dan sebagai sumber air pada musim kemarau.

(30)

aliran permukaan pada wilayah sekitarnya sehingga dapat mencegah kebanjiran saat musim hujan tetapi juga sebagai sumber air bagi tanaman sekitar lokasi embung di musim kemarau.

(a)(b) (c)

Gambar 2. (a) Bangunan pintu air, (b) Embung pada blok 54 A dan (c) 52 D Namun dari pemaparan diatas fungsi embung yang dibuat PT. Mutiara Bunda Jaya–Kebun Inti Permata Bunda Duahanya sebagai penampung air hujan saja pada saat musim hujan tanpa adanya distribusi air ke setiap blok pertanaman kelapa sawit saat musim kemarau sehingga tanaman yang jauh dari lokasi embung tidak dapat memanfaatkan air yang ada karena tidak terjangkau oleh perakaran tanaman.

Satuan Peta Lahan PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD

(31)
(32)

Gambar 3. Satuan Peta Lahan PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD

Erosi Tanah Aktual Dan Tingkat Bahaya Erosi Di PT. MBJ – Kebun IPBD Berdasarkan hasil survei lapangan dan analisis tanah di laboratorium, maka diperoleh nilai erosi yang terjadi serta tingkat bahaya erosi di PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBDdengan menggunakan Metode USLE dapatdilihat pada tabel berikut:

Tabel 10. Erosi Tanah Aktual & Tingkat Bahaya Erosi Di PT. MBJ –IPBD SPL R K L&S C&P

A

(ton/ha /thn)

Kelas Bahaya

Erosi

Kedalaman Tanah (cm)

(33)

6 1505.6 0.205 0.69 0.07 14.93 I >90 SR Keterangan : SR (Sangat Ringan), R (Ringan).

Sumber: Analisis Data Primer

(34)

permeabilitas tanah serta bahan organik tanah.Nilai kemiringan dan panjang lereng (LS) yang didapat dari persamaan Wischmeier dan Smith (1978dalam

Arsyad, 2010) serta faktor tanaman dan tindakan konservasi (CP) yang diketahui dengan melakukan survei langsung dilapangan.

Dari keseluruhan data setiap SPL di PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun Inti Permata Bunda Dua yang diperoleh (lihat tabel 10), maka diketahui nilai erosi yang tertinggi yaitu pada SPL 16 yaitu sebesar 18,00 ton/ha/tahun, dan nilai erosi yang terkecil yaitu 2,49 ton/ha/tahun terjadi pada SPL 28. Dari tabel diatas diketahui bahwa selain penggunaan lahan (perkebunan kelapa sawit) yang sama pada masing-masing SPL, nilai erosivitas hujan pun juga dianggap sama yaitu 1505.63 cm/thn.Sehingga perbedaan nilai erosi (A) yang diperoleh dari tabel diatas hanya dipengaruhi oleh faktor erodibilitas tanah (K) dan faktor topografi (LS).Berikut uraian dari beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan nilai erosi (A) ton/ha/thn.

(35)

dikarenakan bahan organik yang belum hancur dapat mengurangi laju run off dan bahan organik yang sudah hancur akan memperbaiki struktur tanah. Surono dkk., (2013) juga menyatakan bahwa meningkatnya kecepatan permeabilitas tanah menjadikan berkurangnya nilai erodibilitas tanah. Permeabilitas tanah dalam hubungannya dengan erosi adalah berkenaan dengan laju infiltrasi, karena kapasitas laju infiltrasi tanah menentukan banyaknya air yang akan mengalir di permukaan sebagai aliran permukaan dan menyebabkan tanah lapisan atas mudah terbawa atau peka terhadap gerakan aliran permukaan, karena semakin besar kapasitas laju infiltrasi, maka semakin kecil laju aliran permukaan dan sebaliknya (Suripin, 2001).

Nilai erodibilitas tanah juga dipengaruhi oleh faktor topografi.Hal ini dapat dilihat pada Tabel 10 dimana nilai erodibilitas tanah pada kemiringan lereng 0-3% lebih rendah dibandingkan nilai erodibilitas tanah pada kemiringan lereng 3-8%.Hal ini dikarenakansemakin curam lereng makakehilangan bahan organik yang dapat mengurangi nilai erodibilitas tanah lebih mudah terbawa oleh erosi.Hal ini sesuai dengan literaturSurono dkk., (2013) yang menyatakan bahwa kelas lereng yang berbeda akan berbeda pula tingkat erodibilitas lahannya, yang juga akan mempengaruhi besarnya erosi. Hal ini dikarenakan semakin curam suatu lereng, maka kehilangan bahan organik yang terdapat di lapisan atas tanah akan lebih cepat hilang terbawa oleh erosi.

(36)

terhadap terjadinya erosi.Hal tersebut dikarenakanlaju erosi akan semakin cepat apabilasemakin besarkemiringan dan panjang lereng suatu lahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Dewi dkk., (2012) yang menyatakan bahwa cepat atau lambatnya air mengalir tergantung pada derajat kemiringan tanah, semakin tinggi derajat kemiringan suatu lahan maka air akan semakin cepat mengalir ke bawah (laju erosi akan semakin cepat).Dan semakin besar nilai faktor topografi (LS) maka semakin besar nilai erosi yang dihasilkan pada lahan tersebut.

Dari tabel diatas diketahui bahwa SPL 5 dan SPL 6 dengan karakteristik lahan yang sama kecuali faktor topografi(kemiringan dan panjang lereng) memiliki perbedaan nilai erosi yang sangat besar yaitu pada SPL 5 dengan kemiringan lereng 0-3% sebesar 3,89 ton/ha/thn sedangkan SPL 6 dengan kemiringan lereng 3-8% memiliki nilai erosi sebesar 14,93 ton/ha/thn. Hal ini menunjukkan bahwa faktor topografi atau kelerengan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi nilai erosi dibandingkan dengan faktor lainnya. Hal ini sesuai dengan literatur Febriani (2013) yang menyatakan bahwa dari beberapa faktor yang mempengaruhi erosi, kelerengan merupakan faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi erosi dan walaupun faktor lainnya secara bersama-sama mempengaruhi terjadinya erosi, namun tidak begitu kuat secara sendiri-sendiri. Arsyad (2010) juga menambahkan bahwa erosi akan semakin besar dengan semakin curam lereng.

(37)

memiliki produktivitas yang tinggi.Adapun untuk tingkat bahaya erosi, semua SPL daerah penelitian masuk dalam kategori sangat ringan hingga ringan.Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, seperti kemiringan lereng yang hanya 0 - 8%, erodibilitas yang termasuk kategori rendah dan kedalaman tanah sangat dalam (>90cm) serta penggunaan lahan berupa tanaman kelapa sawit yang berperan sebagai tanaman konservasi atau pencegah erosi. Hal ini sesuai dengan literatur Harahap(2007) yang menyatakan bahwa seiring bertambahnya umur tanaman kelapa sawit maka persebaran akar tanaman juga bertambah luas sehingga menyebabkan terjadi perubahan presentase ruang pori tanah yang semakin meningkat. Perubahan presentase ruang pori yang meningkat menunjukkan bahwa kemampuan tanah menyerap air semakin meningkat juga. Hal tersebut akan berdampak pada kemampuan tanah dalam menahan air (water holding capacity). Kemampuan inilah yang dapat mengurangi laju permukaan air sehingga erosi dapat diperkecil.

Nilai erosi yang terjadi di PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD adalah 2,49 ton/ha/thn hingga 18,00 ton/ha/thn yang termasuk kelas bahaya erosi I (<15 ton/ha/thn) dan II (15 – 60 ton/ha/thn) dengan tingkat bahaya erosi termasuk dalam kategori sangat ringan hingga ringan. Data yang diperoleh menunjukkan erosi yang terjadi tidak akan terlalu mempengaruhi pertumbuhan tanaman kelapa sawit serta produksi buahnya sehingga tidak memerlukan tindakan konservasi tanah.Namun sebaiknya serasah atau sisa tanaman dari tanaman kelapa sawit dimanfaatkan sebagai penutup tanah agar dapat mengurangi erosivitas air hujan. Rekomendasi Tindakan Konservasi Air Di PT. MBJ – Kebun IPBD

(38)

sebesar 115 hari dengan penyebaran curah hujan tidak merata sepanjang tahun. Kecukupan kebutuhan air bagi tanaman bergantung pada kondisi tanaman, tanah, dan iklim.Perhitungan kecukupan air tanaman kelapa sawit untuk tujuan praktis di lapangan dapat dilakukan dengan asumsi umum yaitu bahwa keseimbangan air merupakan jumlah air dari curah hujan ditambah dengan cadangan awal air dalam tanah kemudian dikurangi dengan evapotranspirasi. Evapotranspirasi diasumsikan bernilai 150 mm/bulan jika hari hujan ≤ 10 hari/bulan dan bernilai 120 mm/bulan jika hari hujan > 10 hari/bulan. Asumsi lain yang digunakan adalah cadangan air dalam tanah maksimum 200 mm (Darmosakoro et al.,2001).

Tabel 11.Perhitungan Keseimbangan Air PT. MBJ – IPBD Tahun 2015.

Sumber : Analisis Data Sekunder

Nilai keseimbangan air menunjukkan tingkat kesediaan air per bulan.Dari tabel diatas diketahui bahwa keseimbangan air dengan nilai < 0 mm menunjukkan adanya defisit air, sedangkan keseimbangan air dengan nilai > 0 mm

CH Cad. Awal Evapotranspirasi Keseimbangan Cad. Akhir Drainase Defisit Air

(39)

menunjukkan tidak adanya defisit air.Jika keseimbangan air dalam perhitungan tersebut > 200 mm, maka kelebihan air disimpan sebagai cadangan awal dalam tanah bulan berikutnya.

Jumlah curah hujan di PT. MBJ – IPBD sebesar 2222,8 mm telah memenuhi syarat untuk kebutuhan air tanaman kelapa sawit. Hal ini sesuai dengan pernyataanDarmosakoro et al. (2001) bahwa tanaman kelapa sawit ditinjau dari kebutuhan airnya dapat tumbuh baik pada lahan dengan curah hujan yang cukup (1750 - 3000 mm/tahun) dengan penyebaran hujan yang merata sepanjang tahun dan tidak mengalami bulan kering (curah hujan < 60 mm). Pada pengamatan secara umum di perkebunan kelapa sawit, pertumbuhan dan produksi tanaman akan mulai terpengaruh jika mengalami defisit air di atas 200 mm/thn. Namun, dalam 5 tahun terakhir yaitu pada tahun 2011 – 2015 dengan pola penyebaran hujan yang sama setiap tahunnya yaitu bulan Juli hingga Oktober mengalami bulan kering (curah hujan < 60 mm) ini menyebabkan PT. MBJ – IPBD mengalami defisit air rata – rata sebesar 261 mm/thn (Lampiran 8). Hal ini dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman, khususnya pada tahun 2015 pada PT. MBJ – IPBD mengalami defisit air sebesar 543 mm.

PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD sudah melakukan tindakan konservasi air berupa bangunan water gate dan pembuatan embung, namun tindakan tersebut kurang efesien karena bangunan water gate dan embung yang sudah ada hanya bertujuan untuk menampung air hujan tanpa mendistribusikannya ke setiap blok pertanaman kelapa sawit sehingga tanaman yang jauh dari lokasi bangunan tidak dapat memanfaatkan air yang ada.

(40)

menurunnya produktifitas buah kelapa sawit serta tidak adanya pendistribusian air ke blok pertanaman maka dilakukan tindakan konservasi air yang belum diusahakan di PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD , seperti pembuatan rorak tadah hujan.

Rorak tadah hujan (RTH) yang berada di setiap blok bermanfaat untuk menampung air hujan serta air aliran permukaan (run-off) agar air tidak mengalir keluar blok dan terbuang begitu saja. RTH memiliki ukuran 3x1x1 meter yang dibuat pada gawangan mati kelapa sawit dan untuk satu unit rorak mewakili empat pokok kelapa sawit sehingga untuk satu RTH dapat menampung air sebanyak 3000 L.

Gambar 4. Posisi rorak pada areal datar (a) dan miring (b)

(41)
(42)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. PT. MBJ – IPBD memiliki nilai erosi terkecil sebesar 2,49 ton/ha/thn dan tertinggi sebesar 18,00 ton/ha/thn.

2. PT. MBJ – IPBDmemiliki areal sebesar 91,21% atau 1.077,96 Ha dengan tingkat bahaya erosi sangat ringan dan8,79% atau 103,88 Ha dengan tingkat bahaya erosi ringan.

3.

Tindakan konservasi yang direkomendasikan di PT. MBJ – IPBD yaitu pembuatan rorak tadah hujan.

Saran

(43)

TINJAUAN PUSTAKA

Erosi

Erosi atau pengikisan merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakan – desakan atau kekuatan air dan angin, baik yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat tindakan/perbuatan manusia. Air hujan yang mengenai permukaan tanah menyebabkan hancurnya agregat dan terlepasnya partikel tanah. Kondisi penghancuran agregat dan pelepasan partikel tanah dipercepat oleh daya penghancur dari air kemudian partikel tanah yang terlepas akan menyumbat pori tanah sehingga menurunkan kapasitas dan laju infiltrasi air ke dalam tanah. Ada tiga proses yang bekerja secara beruntun dalam mekanisme erosi yaitu (a) penghancuran agregat dan pelepasanpartikel tanah dari massa tanah, (b) pengangkutan dan (c) pengendapan (Kartasapoetra dkk., 1995).

Sehubungan dengan itu dikenal dua macam erosi utama yaitu erosi normal dan erosi dipercepat. Erosi normal termasuk ke dalam tingkat bahaya erosi yang rendah dengan nilai <1 ton/hektar/tahun, sedangkan erosi dipercepat termasuk ke dalam tingkat bahya erosi sedang hingga sangat tinggi dengan nilai 1 - >10 ton/hektar/tahun. Erosi normal atau geological erosion merupakan proses pengangkutan tanah yang terjadi dengan laju yang lambat yang memungkinkan terbentuknya tanah yang tebal dan mampu mendukung pertumbuhan vegetasi secara normal. Proses erosi geologi menyebabkan terjadinya sebagian bentuk permukaan bumi yang terdapat di alam. Erosi dipercepat atau accelerated erosion

(44)

akibat perbuatan manusia yang menghilangkan tumbuhan penutup tanah(Arsyad, 2010).

Menurut bentuknya, erosi dibedakan dalam (a) erosi lembar (sheet erosion) adalah pengangkutan lapisan tanah yang merata tebalnya dari suatu permukaan tanah, (b) erosi alur (rill erosion) adalah pengangkutan tanah dari alur – alur tertentu pada permukaan tanah yang merupakan parit – parit kecil dan dangkal, (c) erosi parit (gully erosion) adalah proses terjadinya sama dengan erosi alur, tetapi alur yang terbentuk sudah demikian besarnya sehingga tidak dapat lagi dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa, (d) erosi tebing sungai (river bank erosion) terjadi sebagai akibat pengkisan tebing sungai oleh air yang mengalir dari bagian atas tebing atau oleh terjangan aliran sungai yang kuat pada belokan sungai, (e) longsor (landslide) adalah suatu bentuk erosi yang pengangkutan atau gerakan tanah terjadi pada saat bersamaan dalam volume besar dan (f) erosi internal adalah terangkutnya butir – butir tanah kebawah ke dalam celah – celah atau pori – pori tanah sehingga tanah menjadi kedap air dan udara (Arsyad, 2010). Adapun faktor – faktor yang menyebabkan dan yang mempengaruhi besar kecilnya erosi di suatu tempat, yaitu : (a) faktor iklim, (b) faktor tanah, (c) faktor bentuk kewilayahan (topografi), (d) faktor tanaman penutup tanah (vegetasi), dan (e) faktor kegiatan/perlakuan manusia (Kartasapoetra dkk., 1995).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi Iklim

(45)

Erosivitas hujan merupakan salah satu faktor yang mempunyai kemampuan dalam mengerosi tanah. Pada data curah hujan di daerah Kepahiang dalam kurun waktu sepuluh tahun (1999-2008) memiliki nilai erosivitas terendah pada bulan Juni dan memiliki nilai erosivitas tertinggi pada bulan Desember.Nilai erosivitas yang tinggi pada bulan Desember menunjukkan bahwa curah hujan memiliki peran yang sangat besar dalam erosi. Semakin tinggi nilai erosivitas hujan suatu daerah, semakin besar pula kemungkinan erosi yang terjadi pada daerah tersebut. Pada lokasi 1 (yaitu tanah terdiri dari 3 lapisan, lapisan tanah/batuan di permukaan lereng merupakan tanah lapuk dan gembur, tanah pelapukan merupakan jenis tanah lempung pasiran yang cukup lemah dan memiliki porositas cukup tinggi, faktor panjang lereng yang sangat besar, kemiringan lereng yang sangat curam, faktor tindakan manusia (P) yang digunakan kontur cropping kemiringan >25%. Di daerah rawan gerakan tanah jalur lintas Bengkulu – Kepahiang.) diperoleh prediksi erosi tertinggi yaitu sebesar 120,39 ton/hektar/tahun (Febriani, 2013). Laju erosilahan tertinggi di DAS Bengkuluterjadi pada bulan Februari (0.421 mm/bulan) dan terkecil pada bulan September (0.023 mm/bulan)(Tunas, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa pada bulan Februari terjadi erosi lahan dengan ketebalan maksimum dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya. Fenomena ini disebabkan oleh curah hujan maksimum dan bulanan pada bulan Februari relatif besar dibandingkan dengan curah hujan maksimum dan bulanan pada bulanlain, sehingga menyebabkan tingkat erosivitas relatif besar.

(46)

pengamatan secara umum di perkebunan kelapa sawit, pertumbuhan dan produksi tanaman akan mulai terpengaruh jika mengalami defisit air di atas 200 mm/thn. Tanah

Berbagai tipe tanah mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda. Kepekaan erosi tanah atau mudah tidaknya tanah tererosi adalah fungsi berbagai interaksi sifat – sifat fisik dan kimia tanah. Sifat – sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah (1) sifat – sifat tanah yang mempengaruhi infiltrasi, permeabilitas dan kapasitas menahan air dan (2) sifat – sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan penghancuran agregat tanah oleh tumbukan butir – butir hujan dan aliran permukaan.Adapun sifat – sifat fisik dan kimia tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, bahan organik, kedalaman, sifat lapisan tanah dan tingkat kesuburan tanah (Arsyad, 2010).

Berdasarkan hasil uji laboratorium pada penelitian Surono dkk.,(2013),jenis tanah Inceptisol memiliki nilai erodibilitas yang paling tinggi karena faktor permeabilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan jenis tanah Ultisol dan Entisol. Permeabilitas tanah dalam hubungannya dengan erosi adalah berkenaan dengan laju infiltrasi, karena kapasitas laju infiltrasi tanah menentukan banyaknya air yang akan mengalir di permukaan sebagai aliran permukaan dan menyebabkan tanah lapisan atas mudah terbawa atau peka terhadap gerakan aliran permukaan, karena semakin besar kapasitas laju infiltrasi, maka semakin kecil laju aliran permukaan dan sebaliknya (Suripin, 2001).

(47)

Tanah sangat peka terhadap erosi jika kandungan debu berkisar pada 40-60% (Dariah dkk., 2005). Kombinasi jumlah debu yang tinggi dan permeabilitas buruk menyebabkan nilai erodibilitas tanah Inceptisol jauh lebih tinggi dibandingkan contoh dari tanah Entisol dan Ultisol.

Hasil uji laboratoriumpada penelitian Surono dkk., (2013), menunjukkanbahwa nilai permeabilitas tanah jenis Entisol adalah tertinggi dibandingkan tanah Ultisol dan Inceptisol, hal ini terjadi karena komposisi pasir tanah Entisol tinggi, yaitu 50,05%, sehingga tanah mudah melewatkan air dan mengurangi terjadinya aliran permukaan. Sifat tanah Ultisol umumnyaadalah lapisan permukaan yang tercuciberwarna kelabu cerah sampai kekuningan di atas horison akumulasi yang bertekstur relatif berat, agregat kurang stabil dan permeabilitas rendah dengan kandungan bahan organik rendah (Hardjowigeno, 1993).

Topografi

Kemiringan dan panjang lereng adalah dua sifat topografi yang mempunyai pengaruh sangat besar padaaliran permukaan dan besarnya erosi yang terjadi pada setiap jenis penggunaan lahan yang ada. Nilai erosi minimum biasanya terjadi pada kawasan yang berlereng datar hingga landai. Sebaliknya, erosi maksimum umum dijumpai pada lereng curam hingga sangat curam. Hasil penelitan Surono dkk., (2013) menunjukan laju erosi Sub DAS Dumoga berkisar 0,39 - 16.800 ton/ha/tahun, laju erosi terendah terjadi pada lahan hutan dan sawah dengan kelerengan datar. Laju erosi tertinggi terjadi pada lahan ladang dengan kelerengan sangat curam.

(48)

aliran permukaan serta kecepatan aliran permukaan, dengan demikian memperbesar energi angkut aliran permukaan sehingga erosi yang terjadi akan menjadi lebih besar (Dewi dkk., 2012).

Hasil analisis tingkat bahaya erosi (TBE) menunjukan wilayah Sub DAS Dumoga yang mengalami erosi sangat berat mencapai 21.916,414 Ha dengan persentase 29,45%. Tingkat bahaya erosi sangat ringan mendominasi luas wilayah hingga 49,22% Sub DAS Dumoga. Faktor utama penyebab tingginya tingkat bahaya erosi yang sangat berat, adalah penggunaan lahan yang kurang sesuai dengan kondisi topografi lahan tersebut. Penggunaan lahan dengan tingkat bahaya erosi sangat berat terjadi pada penggunaan ladang pada kelerengan > 40%, serta tidak diberlakukannya kaidahkonservasi pada lahan tersebut (Surono dkk., 2013). Vegetasi

Vegetasi merupakan lapisan pelindung atau penyangga antara atmosfer dan tanah. Suatu vegetasi penutup tanah yang baik seperti rumput yang tebal atau rimba yang lebat akan menghilangkan pengaruh hujan dan topografi terhadap erosi. Oleh karena kebutuhan manusia akan pangan, sandang, dan pemukiman, maka semua tanah tidak dapat dibiarkan tertutup hutan dan padang rumput. Namun demikian, dalam usaha pertanian, jenis tanaman yang diusahakan mempunyai peranan penting dalam pencegahan erosi (Arsyad, 2010).

(49)

Arachis pintoi adalah sejenis tanaman kacang-kacangan yang bentuknya hampir menyerupai tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea).Apabila penanamannya dilakukan pada awal atau pertengahan musim hujan maka tanaman ini dapat mudah merambat sehingga dalam waktu tiga bulan sesudah ditanam akan dapat menutupi permukaan tanah. Pertumbuhannya merambat dan tingginya tidak lebih dari 25 cm dan dapat menutupi tanah dengan anyaman batang (shoot mat) yang rapat. Dengan demikian tanaman ini ideal untuk dijadikan sebagai tanaman penutup tanah. Apalagi karena kemampuannya menambat N2dari udara maka penggunaan Arachis sebagai penutup tanah dapat mengurangi bahkan meniadakan penambahan pupuk N untuk tanaman utama (Agus dkk., 2002).

Tanaman kelapa sawit dapat berperan sebagai tanaman konservasi atau pencegah erosi. Hal ini dikarenakan semakin bertambah umur kelapa sawit maka terjadi perubahan presentase ruang pori tanah yang semakin meningkat. Perubahan presentase ruang pori yang meningkat menunjukkan bahwa kemampuan tanah menyerap air semakin meningkat. Hal tersebut akan berdampak pada kemampuan tanah dalam menahan air (water holding capacity). Kemampuan inilah yang dapat mengurangi laju permukaan air sehingga erosi dapat diperkecil serta mengurangi kemungkinan terjadinya banjir(Harahap, 2007).

Manusia

(50)

baik atau dapat terjadi sebaliknya, antara lain luas tanah pertanian yang diusahakan, jenis dan orientasi usahataninya, status penguasaan lahan, tingkat pengetahuan dan penguasaan teknologi petani yang mengusahakannya, pertimbangan harga kebutuhan petani, sistem perpajakan, sumber modal yang diperlukan petani, infrastruktur dan fasilitas kesejahteraan petani (Arsyad, 2010) Hidup kita sebagai manusia tentu akan terlibat dalam berbagai kebutuhan dan sebagian besar dari kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan bahan yang berasal atau dihasilkan dari tanah. Kebutuhan akan bahan pangan, papan, sandang dapat dikatakan kesemuanya dapat dipenuhi dengan segala jenis bahan yang berasal dan dihasilkan dari tanah. Akan tetapi manusia seringkali menganggap remeh terhadap tanah yang menjamin kelangsungan hidupnya, mengabaikan dan menelantarkan tanah itu setelah di luar batas kelayakan menguras apa yang diperoleh dari tanah. Faktor sosial ekonomi yang mendorong manusia untuk berbuat di luar batas kelayakan itu (Kartasapoetra dkk., 1995).

Metode Pendugaan Erosi

Wischmeier dun Smith (1978) mengembangkan suatu metodependugaan besarnya erosi tanah yang dikenal dengan nama USLE (Universal Soil Loss Equation). Menurut metode ini erosi tanah yang terjadi merupakan hasil kali faktor – faktor indeks erosi hujan (R), erodibilitas tanah (K).panjang dan kemiringan lereng (LS),tanaman dan pengelolaannya (C), dan tindakan pengawetan tanah (P). Erosiyang terjadi dirumuskan dalam persamaan :

A = R xK xL xS xC xP dimana :

(51)

K : adalah faktor kepekaan tanah. L : adalah faktor pajang lereng S : adalah faktor kecuraman lereng

C : adalah faktor vegetasi penutup tanah/pengolahantanaman P : adalah faktor tindakan konservasi tanah

Persamaan USLE merupakan cara yang praktis dan sederhanauntuk menghitung atau memprediksi erosi yang terjadi. Namun Wischmeier dan Smith (1978) menyatakan bahwa pendugaan besarnya erosi dengan metode ini tidak sepenuhnya benar karena metode ini tergantung pada ketelitian dalam menyatakan kondisi fisik dan pengelolaan lahan setempat ke dalam parameter-parameter persamaan metode ini.

Tindakan Konservasi Tanah Dan Air

Konservasi tanah merupakan penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Upaya konservasi tanah ditujukan untuk (1) mencegah erosi, (2) memperbaiki tanah yang rusak, dan (3) memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar tanah dapat digunakan secara berkelanjutan. Konservasi air adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah dan mengatur waktu aliran air agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau (Arsyad, 2010).

(52)

faktor – faktor diatas, maka upaya pencegahan erosi atau usaha pengawetan tanah dapat dilaksanakan dengan teknologi atau cara – cara sebagai berikut :

a. Cara vegetatif (aplikasi tandan kosong, penanaman LCC, dan lainnya), b. Cara mekanik (pembuatan rorak, pembuatan tapak timbun dan lainnya), c. Cara kimia (soil conditioner dan lainnya).

(Kartasapoetra dkk., 1995).

Usaha pengendalian erosi dan atau pengawetan tanah (dan air) yang dilakukan dengan memanfaatkan cara vegetatif adalah didasarkan pada peranan tanaman, dimana tanaman – tanaman itu sebagai telah diterangkan mempunyai peranan untuk mengurangi erosi. Cara vegetatif atau cara memanfaatkan peranan tanaman dalam usaha pengendalian erosi dan atau pengawetan tanah dalam

pelaksanaannya dapat meliputi kegiatan – kegiatan sebagai berikut : (a) penghutanan kembali, (b) penanaman tanaman penutup tanah, (c) penanaman

tanaman secara garis kontur, (d) penanaman tanaman dalam strip, (e) penanaman tanaman secara bergilir, dan (f) pemulsaan atau pemanfaatan serasah tanaman (Kartasapoetra dkk., 1995).

(53)

Teknik konservasi tanah secara kimiawi adalah setiappenggunaan bahan-bahan kimia yang bertujuan untuk memperbaiki sifat tanah dan menekan laju erosi. Teknik ini jarang digunakan petani terutama karena keterbatasan modal, sulit pengadaannya serta hasilnya tidak jauh beda dengan penggunaan bahan-bahan alami. Bahan kimiawi yang termasuk dalam kategori ini adalah pembenah tanah (soil conditioner) seperti polyvinil alcohol (PVA), urethanised (PVAu),

sodium polyacrylate (SPA), polyacrilamide (PAM), vinylacetate maleic acid

(VAMA) copolymer, polyurethane, polybutadiene (BUT), polysiloxane, natural rubber latex, dan asphalt (bitumen). Bahan-bahan ini diaplikasikan ke tanah dengan tujuan untuk memperbaiki struktur tanah melalui peningkatan stabilitas agregat tanah, sehingga tahan terhadap erosi (Subagyono dkk, 2003).

Salah satu usaha pertama dalam penggunaan senyawa organik sintetik sebagai soil conditionner dilakukan oleh van Bavel (1950dalam Arsyad, 2010), yang menyimpulkan bahwa senyawa organik sintetik tertentu dapat memperbaiki stabilitas agregat tanah terhadap air secara efektif, akan tetapi bahan yang digunakannya masih terlalu banyak sehingga terlalu mahal untuk diaplikasikan secara luas. Di antara beberapa macam bahan yang digunakannya adalah campuran dimethyl dichlorosilane dan methyl-trichlorosilane yang dinamainya MCS.Bahan kimia ini berupa cairan yang mudah menguap, dan gas yang terbentuk bercampur dengan air tanah.Senyawa yang terbentuk menyebabkan agregat tanah menjadi stabil (Arsyad, 2010).

(54)

sekitar aplikasi tandan kosong akan memicu pertumbuhan sistem perakaran terutama akar sekunder dan tersier. Dari kondisi ini akan diperoleh manfaat, yaitu perbaikan kondisi tanah melalui konservasi air dan tanah serta perbaikan terhadap sistem perakaran tanaman yang akan menunjang produktivitas tanaman (Simangunsong, 2011). Sifat tandan kosong sebagai soil conditioner tampak dengan adanya peningkatan kelembaban tanah yang diamati secara visual disekitar perakaran kelapa sawit (Darmosarkoro dan Winarna, 2001).

Penggunaan tanaman penutup tanah (Legume cover crops) yang rapat mampu menekan bahaya erosi sampai batas yang tidak membahayakan. Pada penelitian Lihawa dan Yuniarti (2013)prediksi tingkat erosi permukaan yang mungkin akan terjadi tanpa tindakan konservasi adalah 923,74 ton/ha/th, sedangkan pada lahan dengan tindakan konservasipenggunaan legum penutup tanah (LCC) adalah 53,58 ton/ha/th (sangat ringan). Hal ini dikarenakan untuk memprediksi erosi permukaan, nilai yang berubah hanya nilai pengelolaan tanaman

dan tindakan konservasi pada perkebunan kelapa sawit. Nilai C untuk perkebunan

kelapa sawit adalah 0,5 dan untuk nilai tindakan konservasi yang akan dilakukan

adalah 0,1 sehingga erosi dapat berkurang sampai batas yang tidak membahayakan.

(55)

meningkatkan kandungan bahan organik tanah sebesar 6,64% (Endriani, 2010). Aplikasi rorak yang dilengkapi dengan mulsa vertikal memberikan pengaruh yang positif terhadap produksi TBS per blok atau per hektar (18,37ton/ha) dan berpengaruh paling besar dalam menekan hasil sedimen (55,5 kg)(Murtilaksono dkk., 2008).

Aplikasi teras gulud dan rorak yang dikombinasikan dengan lubang resapan meningkatkan jumlah pelepah daun, jumlah tandan. rataan berat tandan, dan produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tanaman contoh di setiap blok. Aplikasi teras gulud berpengaruh paling tinggi terhadap produksi TBS per blok atau per hektar (25,2ton/ha) dibandingkan produksi TBS pada perlakuan rorak (23,6 ton/ha) dan blok tanpa aplikasi konservasi tanah dan air atau kontrol (20,8 ton/ha) (Murtilaksono dkk., 2009).

(56)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan di Indonesia yang memiliki potensi masa depan yang cerah. Keberhasilan budidaya kelapa sawit ditentukan oleh banyak faktor utama, terutamafaktor kesesuaian lahan yang mencakup kondisi tanah serta ketersediaan air.Kondisi tanah dipengaruhi oleh sifat fisik, kimia, maupun biologi tanah.

Perkebunan kelapa sawit PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD yang terletak di Desa Balian Kecamatan Mesuji Raya, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan memiliki lahan yang kurang sesuai untuk pertanaman kelapa sawitkarena penyebaran curah hujan yang tidak merata sepanjang tahun, sehingga sering mengalami bulan kering yang panjang (Juli hingga Oktober) yang akan menyebabkan kekeringan (Marni, 2009), namun diluar bulan Juli hingga Oktober sering mengalami hujan sehingga dapat menyebabkan erosi. Adapun kendala umum pada lahan kering yaitu tanah peka terhadap erosi.

Erosi merupakan gejala alam yang wajar selama laju erosinya diimbangi dengan laju pembentukan tanah.Akan tetapi apabila terjadi erosi dipercepat, dimana laju erosi lebih cepat dari pada laju pembentukan tanah.Sehingga menyebabkan lahan dapat terdegradasiseperti hilangnya lapisan atas tanah yang subur untuk pertumbuhan tanaman yang menyebabkan memburuknya pertumbuhan tanaman dan rendahnya produktifitas.Dampak erosi juga akan menyebabkan pendangkalan sungai, waduk, dan saluran irigasi.

(57)

metode ini sudah sering digunakan oleh penelitiseperti Surono dkk., (2013) dan Febriani (2013) untuk memprediksi erosi di Indonesia. Nilai erosi yang diperoleh menggunakan metode USLE selanjutnya dipergunakan untuk menentukan klasifikasi tingkat bahaya erosi, sehingga kerusakan lahan akibat erosi dapat dihindari sedini mungkin dengan tindakan konservasitanah dan air yang tepat.

PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD sudah melakukan beberapa upaya konservasi lahan seperti aplikasi TKKS, pembuatan tapak timbun, bangunan pintu air serta embung, namun dalam melakukan tindakan konservasi tersebut tidak didasari oleh data tentang erosi karena selama ini belum ada dilakukan penelitian tentang erosi di daerah tersebut. Oleh karena itu, berdasarkan beberapa uraian diatas maka peneliti berkeinginan melakukan observasi tentang erosi di PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui tingkat bahaya erosi melalui prediksi erosi menggunakan metode USLE dan arahan rekomendasi tindakan konservasi di Perkebunan Kelapa SawitPT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun Inti Permata Bunda Dua, Desa Balian Kecamatan Mesuji Raya Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Kegunaan Penulisan

(58)

ABSTRACT

Erosion is a natural phenomenon that is reasonable for the rate of erosion was offset by the rate of soil formation, however if the erosion rate faster than the rate of soil formation that erosion can cause land degradation. This study aimed to determine erosion hazard level through erosion prediction using USLE methods and recommendation of conservation measures in oil palm plantations PT. Mutiara Bunda Jaya – Inti Permata Bunda Dua estate. This research used descriptive method through filed surveys with sampling techniques based on soil map units. Then proceed with USLE method for predicting erosion. It was found that soil erosion ranged in oil palm plantations PT. MBJ – IPBD from 2,49 to 18,00 tonnes/ha/year. The lowest erosion rate occurred on SPL 28 with soil type is Plinthic Kanhapudults, hacing flatslope with years of planting crops in 2008. The highest erosion rate occurred on SPL 16 with soil type Typic Destrudepts, rampslope with years of planting crops in 2006. PT. MBJ – IPBD have an area of 91,21% or 1.077,96 ha with a level of erosion hazard is very low and 8,79% or 103,88 ha with a level of erosion hazard is low. Conservation actions recommended is making rainfed rorak.

(59)

ABSTRAK

Erosi merupakan gejala alam yang wajar selama laju erosinya diimbangi dengan laju pembentukan tanah, namun apabila laju erosi lebih cepat dari laju pembentukan tanah maka erosi dapat menyebabkan degradasi lahan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya erosi melalui prediksi erosi menggunakan metode USLE dan rekomendasi tindakan konservasi di Perkebunan Kelapa SawitPT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun Inti Permata Bunda Dua.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif melalui survey lapangan dengan teknik sampling berdasarkan Satuan Peta Lahan.Kemudian dilanjutkan menggunakan metode USLEuntuk memprediksi erosi.Hasil penelitian menunjukkan laju erosi di Perkebunan kelapa sawit PT. MBJ - IPBDberkisar 2,49 - 18,00 ton/ha/tahun. Laju erosi terendah terjadi pada SPL 28 dengan jenis tanah Plinthic Kanhapudults, kelerengan datar dengan tanaman tahun tanam 2008.Laju erosi tertinggi terjadi pada SPL 16 dengan jenis tanah Typic Dystrudepts, kelerengan landai dengan tanaman tahun tanam 2006.PT. MBJ - IPBDmemiliki areal sebesar 91,21% atau 1.077,96 ha dengan tingkat bahaya erosi sangat ringan dan 8,79% atau 103,88 ha dengan tingkat bahaya erosi ringan. Tindakan konservasi yang direkomendasikan yaitu pembuatan rorak tadah hujan.

(60)

PREDIKSI TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN METODE USLE DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI DESA BALIAN KECAMATAN MESUJI RAYA

KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR

SKRIPSI

OLEH :

MUHAMMAD MAULANA SIREGAR 120301112

ILMU TANAH

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

(61)

PREDIKSI TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN METODE USLE DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI DESA BALIAN KECAMATAN MESUJI RAYA

KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR

SKRIPSI

OLEH :

MUHAMMAD MAULANA SIREGAR 120301112

ILMU TANAH

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana Di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

(62)

Judul : Prediksi Tingkat Bahaya Erosi DenganMetode USLE Di Perkebunan Kelapa Sawit Di Desa Balian Kecamatan Mesuji Raya Kabupaten Ogan Komering Iir.

Nama : Muhammad Maulana Siregar NIM : 120301112

Program Studi : Agroekoteknologi Minat : Ilmu Tanah

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. T. Sabrina, M.Sc.) (Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP Ketua Anggota

)

DiketahuiOleh :

Kepala Program Studi Agroekoteknologi

(Prof. Dr. Ir. T. Sabrina, M.Sc. NIP. 19640620 199803 2 001

(63)

ABSTRACT

Erosion is a natural phenomenon that is reasonable for the rate of erosion was offset by the rate of soil formation, however if the erosion rate faster than the rate of soil formation that erosion can cause land degradation. This study aimed to determine erosion hazard level through erosion prediction using USLE methods and recommendation of conservation measures in oil palm plantations PT. Mutiara Bunda Jaya – Inti Permata Bunda Dua estate. This research used descriptive method through filed surveys with sampling techniques based on soil map units. Then proceed with USLE method for predicting erosion. It was found that soil erosion ranged in oil palm plantations PT. MBJ – IPBD from 2,49 to 18,00 tonnes/ha/year. The lowest erosion rate occurred on SPL 28 with soil type is Plinthic Kanhapudults, hacing flatslope with years of planting crops in 2008. The highest erosion rate occurred on SPL 16 with soil type Typic Destrudepts, rampslope with years of planting crops in 2006. PT. MBJ – IPBD have an area of 91,21% or 1.077,96 ha with a level of erosion hazard is very low and 8,79% or 103,88 ha with a level of erosion hazard is low. Conservation actions recommended is making rainfed rorak.

(64)

ABSTRAK

Erosi merupakan gejala alam yang wajar selama laju erosinya diimbangi dengan laju pembentukan tanah, namun apabila laju erosi lebih cepat dari laju pembentukan tanah maka erosi dapat menyebabkan degradasi lahan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya erosi melalui prediksi erosi menggunakan metode USLE dan rekomendasi tindakan konservasi di Perkebunan Kelapa SawitPT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun Inti Permata Bunda Dua.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif melalui survey lapangan dengan teknik sampling berdasarkan Satuan Peta Lahan.Kemudian dilanjutkan menggunakan metode USLEuntuk memprediksi erosi.Hasil penelitian menunjukkan laju erosi di Perkebunan kelapa sawit PT. MBJ - IPBDberkisar 2,49 - 18,00 ton/ha/tahun. Laju erosi terendah terjadi pada SPL 28 dengan jenis tanah Plinthic Kanhapudults, kelerengan datar dengan tanaman tahun tanam 2008.Laju erosi tertinggi terjadi pada SPL 16 dengan jenis tanah Typic Dystrudepts, kelerengan landai dengan tanaman tahun tanam 2006.PT. MBJ - IPBDmemiliki areal sebesar 91,21% atau 1.077,96 ha dengan tingkat bahaya erosi sangat ringan dan 8,79% atau 103,88 ha dengan tingkat bahaya erosi ringan. Tindakan konservasi yang direkomendasikan yaitu pembuatan rorak tadah hujan.

(65)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada 26Juni 1994dari Ayah Syafruddin Siregar dan Ibu Sumiriah. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara.

Tahun 2012 penulis lulus dari MAS Muhammadiyah Langkat - Binjai, Sumatera Utara dan pada tahun yang sama masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui jalur SNMPTN tertulis. Penulis memilih program studi Agroekoteknologi dan mengambil minat Ilmu Tanah.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota Bidang Kerohanian Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi (HIMAGROTEK) (2015-2016), anggota Ikatan Mahasiswa Ilmu Tanah (IMILTA). Selain itu penulis juga aktif berperan menjadi Asisten Praktikum Dasar Ilmu Tanah (2014-2016), Pengelolaan Tanah dan Air (2014-2015) dan Kesuburan Tanah dan Pemupukan (2015).

(66)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT. Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Prediksi Tingkat Bahaya Erosi Dengan Metode USLE Di Perkebunan Kelapa Sawit Di Desa Balian Kecamatan Mesuji Raya Kabupaten Ogan Komering Ilir”.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis yang telah membesarkan dan mendidik penulis selama ini, serta kepada Ibu Prof. Dr. Ir. T. Sabrina, M.Sc., sebagai Ketua komisi pembimbing dan Ibu Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP.,sebagai Anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberi berbagai masukan berharga kepada penulis mulai dari penetapan judul penelitian sampai skripsi ini selesai.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada PT. Sampoerna Agro Tbk, yang telah memberikan bantuan berupa tempat tinggal, makan, tenaga kerja, bantuan biaya hidup sebesar Rp. 500.000,- per bulan dan transportasi dari kota Medan menuju kota Palembang sampai dengan lokasi unit penelitian.

Di samping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepadasemua staf pengajar dan pegawai di Program Studi Agroekoteknologi dansemuastaf dan karyawan di PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD, serta semua rekan mahasiswa yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca serta sebagai bahan informasi.

Medan, Desember 2016

(67)

DAFTAR ISI

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi ... 4

Iklim ... 4

Tanah ... 6

Topografi ... 7

Vegetasi ... 8

Manusia ... 9

Metode Pendugaan Erosi ... 10

Tindakan Konservasi Tanah dan Air ... 11

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 16

Bahan dan Alat ... 16

Metode Penelitian ... 17

Pelaksanaan Penelitian ... 17

Persiapan ... 17

Penetapan Lokasi Penetapan Contoh Tanah ... 17

Survey Lapangan dan Pengambilan Contoh Tanah ... 18

Analisis Tanah Di Laboratorium ... 18

Analisis dan Interpertasi Data ... 19

(68)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD ... 25

Tindakan Konservasi Tanah Di PT. MBJ – IPBD ... 25

Tindakan Konservasi Air Di PT. MBJ – IPBD ... 29

Satuan Peta Lahan PT. MBJ – IPBD ... 31

Erosi Tanah Aktual dan Tingkat Bahaya Erosi Di PT. MBJ – IPBD ... 34

Rekomendasi Tindakan Konservasi Air Di PT. MBJ – IPBD ... 39

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 43

Saran ... 43

(69)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

1 Harkat Struktur Tanah……….. 21

2 Harkat Permeabilitas Tanah………... 21

3 Nilai Faktor Vegetasi ………... 22

4 Nilai Faktor Tindakan Konservasi Tanah……….... 22

5 Nilai Faktor CP Pada Berbagai Jenis Penggunaan Lahan …….. 23

6 Kelas Bahaya Erosi……….. 24

7 Tingkat Bahaya Erosi………... 24

8 Perhitungan Biaya Penyisipan Tanaman Dengan Pembuatan Tapak Timbun……….. 27

9 Karakteristik Satuan Peta Lahan Di PT. MBJ – Kebun IPBD... 32

10 Erosi Tanah & Tingkat Bahaya Erosi Di PT. MBJ – IPBD…... 34

(70)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

(71)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1 Peta Ketinggian Tempat PT. MBJ – Kebun IPBD……….. 47 2 Data curah hujan PT. MBJ – IPBD (2006-2015) ………... 48 3 Peta Penggunaan Lahan PT. MBJ – Kebun IPBD………... 49 4 Peta Kemiringan Lereng PT. MBJ – Kebun IPBD……….. 50 5 Peta Tahun Tanam PT. MBJ – Kebun IPBD………... 51 6 Peta Jenis Tanah PT. MBJ – Kebun IPBD………. 52 7 Peta Tingkat Bahaya Erosi PT. MBJ – Kebun IPBD ……. 53 8 Tabel Defisit Air PT. MBJ – IPBD (2011- 2015) ……….. 54 9 Tabel Nilai Erosivitas Hujan Tahunan (R) ………. 54 10 Tabel Nilai Erodibilitas Tanah (K) ……… 55 11 Tabel Nilai Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS).. 56 12 Tabel Nilai Faktor Tanaman dan Tindakan Konservasi

Figur

Tabel 1. Harkat Struktur Tanah
Tabel 1 Harkat Struktur Tanah . View in document p.20
Tabel 2. Harkat Permeabilitas Tanah
Tabel 2 Harkat Permeabilitas Tanah . View in document p.20
Tabel 3. Nilai Faktor Vegetasi (C)
Tabel 3 Nilai Faktor Vegetasi C . View in document p.21
Tabel 4. Nilai Faktor Konservasi Tanah (P)
Tabel 4 Nilai Faktor Konservasi Tanah P . View in document p.21
Tabel 5. Nilai Faktor CP Pada Berbagai Jenis Penggunaan Lahan
Tabel 5 Nilai Faktor CP Pada Berbagai Jenis Penggunaan Lahan . View in document p.22
Tabel 6. Kelas Bahaya Erosi
Tabel 6 Kelas Bahaya Erosi . View in document p.23
Tabel 7. Tingkat Bahaya Erosi
Tabel 7 Tingkat Bahaya Erosi . View in document p.23
Tabel 8. Perhitungan biaya penyisipan tanaman dengan pembuatan tapak timbun
Tabel 8 Perhitungan biaya penyisipan tanaman dengan pembuatan tapak timbun . View in document p.26
Gambar 1. (a) Aplikasi TKKS di blok 48 A, (b) Tapak timbun di blok 54 A
Gambar 1 a Aplikasi TKKS di blok 48 A b Tapak timbun di blok 54 A . View in document p.28
Gambar 2. (a) Bangunan pintu air, (b) Embung pada blok 54 A dan (c) 52 D
Gambar 2 a Bangunan pintu air b Embung pada blok 54 A dan c 52 D . View in document p.30
Tabel 9.Karakteristik  Satuan Peta Lahan Di PT. MBJ – Kebun IPBD
Tabel 9 Karakteristik Satuan Peta Lahan Di PT MBJ Kebun IPBD . View in document p.31
Gambar 3. Satuan Peta Lahan PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD
Gambar 3 Satuan Peta Lahan PT Mutiara Bunda Jaya Kebun IPBD . View in document p.32
Tabel 10. Erosi Tanah Aktual & Tingkat Bahaya Erosi Di PT. MBJ –IPBD
Tabel 10 Erosi Tanah Aktual Tingkat Bahaya Erosi Di PT MBJ IPBD . View in document p.32
Tabel 11.Perhitungan Keseimbangan Air PT. MBJ – IPBD Tahun 2015.
Tabel 11 Perhitungan Keseimbangan Air PT MBJ IPBD Tahun 2015 . View in document p.38
Gambar 4. Posisi rorak pada areal datar (a) dan miring (b)
Gambar 4 Posisi rorak pada areal datar a dan miring b . View in document p.40
Tabel Defisit Air PT. MBJ – IPBD (2011- 2015) ………..
Tabel Defisit Air PT MBJ IPBD 2011 2015 . View in document p.71

Referensi

Memperbarui...