PENGEMBANGAN MEDIA ANIMASI BERBASIS REPRESENTASI KIMIA PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA
Oleh SRI GUSTIANI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGEMBANGAN MEDIA ANIMASI BERBASIS REPRESENTASI KIMIA PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA
Oleh SRI GUSTIANI
tingkat kemenarikan sebesar 80,00% dengan kriteria sangat tinggi menurut siswa. Hal ini menunjukkan bahwa media animasi berbasis representasi kimia yang dikembangkan telah menarik, sesuai dengan materi, dan terbaca dengan jelas. Dalam mengembangkan media animasi ini terdapat kendala-kendala yang dihadapi, diantaranya kesalahan system aplikasi media animasi dan sulitnya men-cari waktu yang tepat untuk validasi produk yang dikembangkan.
vi DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
1.5 Ruang Lingkup ... 7
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Media Pembelajaran... 9
2.2 Aspek dan Kriteria Penilaian Multimedia ... 12
2.3 Media Pembelajaran Animasi ... 14
2.4 Representasi Ilmu Kimia... 16
2.5 Analisis Konsep ... 19
III. METODOLOGI PENELITIAN ... 22
3.1 Metode Penelitian ... 22
3.2 Subyek Penelitian... 23
vii
3.6 Teknik Pengumpulan Data ... 32
3.7 Teknik Analisis Data ... 34
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38
4.1 Hasil Penelitian ... 38
4.2 Pembahasan... 76
V. SIMPULAN DAN SARAN ... 79
5.1 Simpulan ... 79
5.2 Saran ... 81
DAFTAR PUSTAKA ... 83
LAMPIRAN 1. Pemetaan SK-KD ... 86
2. Silabus ... 90
3. RPP ... 96
4. Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan pada Guru ... 120
5. Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan pada Siswa ... 125
6. Hasil Observasi pada Media Animasi Materi Larutan Penyangga yang Sudah Ada ... 129
7. Flowchart Media Animasi Berbasis Representasi Kimia pada Materi Larutan Penyangga ... 130
8. Storyboard Media Animasi Berbasis Representasi Kimia pada Materi Larutan Penyangga ... 131
viii 12.Kisi-kisi Instrumen Validasi Keterbacaan dan Kemenarikan Desain
Media Animasi ... 172
13.Hasil Validasi Keterbacaan dan Kemenarikan Desain Media Animasi . 173 14.Persentase dan Kriteria Hasil Keterbacaan dan Kemenarikan Desain Media Animasi ... 177
15.Kisi-kisi Angket Uji Coba Terbatas Kesesuaian Isi ... 179
16.Hasil Uji Coba Terbatas Kesesuaian Isi pada Guru ... 180
17.Hasil Uji Coba Terbatas Kesesuaian Isi pada Siswa ... 183
18.Tabulasi Jawaban Angket Kesesuain Isi ... 186
19.Kisi-kisi Angket Uji Coba Terbatas Keterbacaan dan Kemenarikan Desain Media Animasi ... 190
20.Hasil Uji Coba Terbatas Keterbacaan dan Kemenarikan Desain Media Animasi pada Guru ... 191
21.Persentase dan Kriteria Hasil Uji Coba Terbatas Kemenarikan Desain Media Animasi pada Siswa ... 194
22.Tabulasi Jawaban Angket Kemenarikan Desain Media Animasi ... 196
23.Persentase dan Kriteria Hasil Uji Coba Terbatas Keterbacaan Hasil Uji Coba Terbatas Keterbacaan pada Siswa ... 200
24.Tabulasi Jawaban Angket Keterbacaan Media Animasi ... 203
25.Hasil Wawancara pada Uji Coba Terbatas untuk Guru ... 208
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan pada pasal 19 ayat 1 yang menyatakan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisi-pasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan ke-mandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”. Oleh karena itu, guru harus mampu merancang dan membuat pro-ses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan agar siswa tidak merasa bosan dan termotivasi untuk belajar.
peserta didik, penyajian data atau informasi lebih menarik dan terpercaya, memu-dahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Rodiah (2013) yang menyatakan bahwa siswa lebih tertarik untuk memperhatikan pembelajaran dan lebih mudah memahami materi yang disampai-kan dengan menggunadisampai-kan media animasi kimia.
Guru dapat memanfaatkan salah satu program komputer, yaitu program Macro-media Flash 2008 sebagai media pembelajaran. Program ini dapat digunakan pada mata pelajaran yang tergolong sulit dipahami, salah satunya adalah mata pelajaran kimia.
Kimia adalah ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan ba-gaimana gejala-gejala alam yang berkaitan dengan komposisi, struktur, dan sifat perubahan, dinamika, dan energetika zat. Ilmu kimia awalnya diperoleh dan di-kembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan selan-jutnya kimia juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori (deduktif). Ada dua hal yang berkaitan dengan kimia yang tidak terpisahkan, yaitu kimia sebagai produk (pengetahuan kimia yang berupa fakta, konsep, prinsif, hukum, dan teori) temuan ilmuan dan kimia sebagai proses (kerja ilmiah). Oleh sebab itu, pembela-jaran kimia dan penilaian hasil belajar kimia harus memperhatikan karakteristik ilmu kimia sebagai proses dan produk (BSNP, 2006).
se-bagai salah satu aspek penting kecakapan hidup. Namun, fakta menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran ini belum terukur dan tercapai.
Sebagian besar konsep-konsep yang terdapat pada materi kimia bersifat abstrak. Dengan adanya Macromedia Flash 2008 ini, sesuatu yang abstrak dapat dibuat konkret dengan visualisasi statis maupun animasi sehingga siswa dapat melihat bagaimana struktur dan ikatan kimia serta reaksi-reaksi kimia yang tidak kasat mata.
Konsep kimia yang bersifat abstrak dapat disampaikan dengan pendekatan yang dapat menghubungkan hal yang abstrak dengan hal yang konkret sehingga konsep abstrak menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menerangkan konsep abstrak adalah representasi kimia.
mener-jemahkan masalah dan fenomena kimia ke dalam bentuk representasi makros-kopik, submikrosmakros-kopik, dan simbolik secara simultan.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di enam SMA di Kabupaten Lam-pung Utara melalui wawancara dengan guru kimia dan angket siswa kelas XI IPA diperoleh informasi bahwa guru kimia dari sekolah-sekolah tersebut belum meng-gunakan media animasi kimia dalam pembelajaran khususnya pada penyampaian materi larutan penyangga. Namun, ada guru yang menggunakan media power point dalam menyampaikan materi pembelajaran yaitu sebanyak 16,67%. Media power point ini diperoleh dengan cara mengunduh di internet. Dilihat dari isi me-dianya, sebagian besar berisi materi (representasi makroskopis), sedangkan gam-bar, simbol-simbol atom atau molekul belum disajikan secara jelas dan lengkap. Desain power point ini pun masih kurang menarik seperti perpaduan warna back-ground dengan tulisan belum serasi sehingga siswa tidak termotivasi untuk bela-jar. Materi yang disajikan singkat tetapi belum mengena pada inti materi tersebut sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan.
melalui media animasi dengan bantuan komputer, sehingga dapat merangsang cara berpikir siswa dan mempertajam daya ingat siswa tentang materi tersebut.
Untuk dapat memahami materi pelajaran kimia dibutuhkan suatu media yang mencakup ketiga level representasi. Media yang digunakan harus sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan. Penelitian pengembangan media animasi ber-basis representasi kimia telah dikembangkan oleh Rodiah (2013) pada materi asam-basa Arrhenius. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Susanto (2013) pada materi faktor-faktor penentu laju reaksi, guru dan siswa memberikan respon posi-tif terhadap media animasi yang digunakan. Penelitian lainnya dilakukan oleh Ernawati (2011) pada subkonsep teori atom Bohr, guru dan siswa memberikan respon positif terhadap media animasi yang digunakan. Dengan adanya media animasi tersebut guru menjadi lebih mudah menjelaskan materi pelajaran dan siswa mudah untuk memahami materi yang diajarkan guru.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah karakteristik media animasi berbasis representasi kimia pada materi larutan penyangga yang dikembangkan?
2. Bagaimanakah tanggapan guru terhadap media animasi berbasis representasi kimia pada materi larutan penyangga yang dikembangkan?
3. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap media animasi berbasis representasi kimia pada materi larutan penyangga yang dikembangkan?
4. Apa sajakah kendala-kendala yang dihadapi dalam mengembangkan media ani-masi berbasis representasi kimia pada materi larutan penyangga?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan se-bagai berikut:
1. Mengembangkan media animasi berbasis representasi kimia pada materi larutan penyangga.
2. Mengidentifikasi karakteristik media animasi berbasis representasi kimia yang dikembangkan pada materi larutan penyangga.
3. Mengidentifikasi tanggapan guru terhadap media animasi berbasis representasi kimia pada materi larutan penyangga.
5. Mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dalam mengembangkan ani-masi berbasis representasi kimia pada materi larutan penyangga.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini menghasilkan media animasi kimia yang berbasis representasi kimia yang memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Menjadi alternatif media animasi kimia berbasis representasi kimia yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan materi larutan penyangga dengan cara yang lebih menarik dan menyenangkan.
2. Menambah referensi media pembelajaran yang berbasis representasi kimia pada materi larutan penyangga.
3. Sebagai referensi pengembangan media animasi berbasis representasi kimia dan bahan penelitian lebih lanjut.
4. Menambah referensi untuk mengembangkan media pembelajaran kimia untuk materi kimia yang lain.
1. 5 Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup dari penelitian ini adalah :
1. Lokasi penelitian adalah di Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara.
2. Kompetensi dasar pada materi yang dibahas dalam penelitian ini adalah men-deskripsikan sifat larutan penyangga dan peranan larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup.
4. Representasi kimia yang disajikan dalam media animasi yang dikembangkan adalah representasi kimia menurut Johnstone (1982) dalam Chittleborough (2004) yaitu level makroskopik, level submikroskopik, dan level simbolik. 5. Representasi makroskopis pada penelitian ini berupa tampilan hasil pengamatan
pengukuran pH beberapa larutan yang diuji menggunakan indikator universal pada materi larutan penyangga.
6. Representasi submikroskopispada penelitian ini berupa disosiasi molekul-molekul pada materi larutan penyangga.
7. Representasi simbolis pada penelitian ini berupa simbol-simbol, persamaan re-aksi, dan rumus kimia pada materi larutan penyangga.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata me-dium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Secara bahasa media berarti pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Dalam proses bela-jar mengabela-jar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat membuat pelajaran menjadi lebih mudah dicerna oleh anak didik (Djamarah dan Zain, 2006).
Sanjaya (2009) diungkapkan bahwa Media is a channel of communication. Derived from the Latin word for “between”, the term refers “to anything that
carries information between a source and a receiver.
Menurut Arsyad (2005) dalam Sukiman (2012) media pendidikan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan pancaindera.
2. Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada peserta didik.
3. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
4. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
5. Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran.
6. Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya: radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya: film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalnya: modul, komputer, radio tape/kaset, video recorder).
Menurut Sadiman, dkk. (2005) mengemukakan kegunaan media pendidikan da-lam proses belajar mengajar, sebagai berikut:
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam ben-tuk kata-kata tertulis atau lisan belaka);
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti
a. Objek yang terlalu besar – bisa digantikan dengan realita, gambar, film bing-kai,
b. Objek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film, atau gambar;
c. Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed photography;
d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal;
3. Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini pendidikan berguna untuk:
a. Menimbulkan kegairahan belajar;
b. Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan ling-kungan dan kenyataan;
c. Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
Jenis media yang dimanfaatkan dalam proses pembelajaran cukup beragam, mulai dari media yang sederhana sampai pada media yang cukup rumit dan cang-gih. Untuk mempermudah mempelajari jenis media, karakter, dan kemampuan-nya dilakukan pengklasifikasian atau penggolongan. Salah satu klasifikasi yang mudah dipelajari adalah klasifikasi yang disusun oleh Heinich, dkk. (1996) se-bagai berikut:
Tabel 1. Klasifikasi Media Pembelajaran
Klasifikasi Jenis Media
Media yang tidak diproyeksikan Realia, model, bahan grafis, papan display
Media yang diproyeksikan OHT, slide, opaque
Media audio Audio kaset, audio vission, active audio
vission
Media Video Video
Media berbasis komputer Computer Assisted Instruction (CIA)
2.2 Aspek dan Kriteria Penilaian Multimedia
Menurut Wahono (2006) terdapat beberapa aspek dan kriteria penilaian multi-media interaktif, yaitu:
1. Aspek rekayasa perangkat lunak
a. Efektif dan efisien dalam pengembangan maupun penggunaan media pem- belajaran
b. Reliable (handal)
c. Maintainable (dapat dipelihara/dikelola dengan mudah)
d. Usabilitas (mudah digunakan dan sederhana dalam pengoperasiannya) e. Ketepatan pemilihan jenis aplikasi/software/tool untuk pengembangan f. Kompatibilitas (media pembelajaran dapat diinstalasi/dijalankan di berbagai hardware dan software yang ada)
g. Pemaketan program media pembelajaran terpadu dan mudah dalam eksekusi h. Dokumentasi program media pembelajaran yang lengkap meliputi: petunjuk instalasi (jelas, singkat, lengkap), trouble shooting (jelas, terstruktur, dan antisipatif), desain program (jelas, menggambarkan alur kerja program)
i. Reusable (sebagian atau seluruh program media pembelajaran dapat dimanfaatkan kembali untuk mengembangkan media pembelajaran lain) 2. Aspek desain pembelajaran
a. Kejelasan tujuan pembelajaran (rumusan, realistis)
b. Relevansi tujuan pembelajaran dengan SK/KD/Kurikulum c. Cakupan dan kedalaman tujuan pembelajaran
d. Ketepatan penggunaan strategi pembelajaran e. Interaktif dan pemberian motivasi belajar f. Kontekstualitas dan aktualitas
g. Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar h. Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran i. Kedalaman materi
j. Kemudahan untuk dipahami k. Sistematis, runut, alur logika jelas
l. Kejelasan uraian, pembahasan, contoh, simulasi, latihan m. Konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran n. Ketepatan dan ketetapan alat evaluasi
o. Pemberian umpan balik terhadap hasil evaluasi 3. Aspek komunikasi visual
a. Komunikatif; sesuai dengan pesan dan dapat diterima/sejalan dengan keinginan sasaran
b. Kreatif dalam ide berikut penuangan gagasan c. Sederhana dan memikat
d. Audio (narasi, sound effect, backsound,musik) e. Visual (layout design, typography, warna) f. Media bergerak (animasi, movie)
Kualitas media pembelajaran berbantuan komputer dapat mengacu pada kriteria kualitas menurut Nieven (1999). Menurut Nieven (1999) suatu media dikatakan baik jika memenuhi aspek-aspek kualitas, antara lain:
a. Validitas (Validity)
Para ahli adalah validator yang berkompeten untuk menilai media animasi dan memberi masukan atau saran untuk menyempurnakan media animasi yang telah disusun. Penilaian para ahli meliputi dua aspek yaitu:
1. Aspek isi
a. Penyusunan materi pada program komputer
b. Kesesuaian antara materi dengan program komputer
c. Keserasian warna, tulisan dan gambar pada program komputer d. Kesuaian warna, tampilan gambar dan tulisan pada materi e. Kesesuaian tampilan gambar dan tulisan pada latihan soal
f. Peranan media pembelajaran berbantuan komputer untuk memudahkan siswa mengerjakan
2. Aspek bahasa
a. Kebakuan bahasa yang digunakan
b. Kemudahan siswa dalam memahami bahasa yang digunakan
b. Kepraktisan(Practicaly)
Media pembelajaran dikatakan praktis jika memenuhi indikator sebagai berikut: a. Validator menyatakan bahwa media pembelajaran berbantuan komputer ter- sebut dapat digunakan dengan sedikit atau tanpa revisi.
b. Hasil analisis file rekaman jawaban siswa menunjukkan bahwa media pembela- jaran berbantuan komputer tersebut dapat digunakan dengan sedikit atau tanpa revisi.
c. Keefektifan (Effectiveness).
tif jika lebih besar atau sama dengan 80% dari seluruh subyek uji coba tuntas. b. Adanya respon positif siswa yang ditunjukkan melalui angket yang diberikan.
2.3 Media pembelajaran animasi
Animasi adalah suatu proses dalam menciptakan efek gerakan atau perubahan da-lam jangka waktu tertentu, dapat juga berupa perubahan warna dari suatu objek dalam jangka waktu tertentu dan bisa juga dikatakan berupa perubahan bentuk suatu objek ke objek lainnya dalam jangka waktu tertentu (Bustaman, 2001). Me-nurut Zeembry (2001) animasi adalah pembuatan gambar atau isi yang berbeda-beda pada setiap frame, kemudian dijalankan rangkaian frame tersebut menjadi sebuah motion atau gerakan sehingga terlihat seperti sebuah film.
Dalam pembelajaran, animasi dapat digunakan sebagai media penunjang kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini, animasi digunakan untuk menyampaikan materi ajar sehingga lebih dimengerti dan menarik bagi siswa. Dengan penggunaan ani-masi kimia, materi yang abstrak dapat dikongkretkan dan materi yang kompleks dapat disederhanakan.
Macromedia Flash adalah sebuah program yang ditujukan kepada para desainer maupun programer yang bermaksud merancang animasi untuk pembuatan web, presentasi untuk tujuan bisnis maupun proses pembelajaran hingga pembuatan game interaktif serta tujuan-tujuan yang lebih spesifik (Yudhiantoro, 2006). Untuk itu, flash dilengkapi dengan alat-alat untuk membuat gambar yang kemu-dian akan dibuat animasinya. Selajutnya animasi disusun dengan menggabung-kan adegan-adegan animasi hingga menjadi movie. Langkah terakhir adalah me-nerbitkan karya tersebut ke media yang dikehendaki. Kelebihan media animasi adalah penggabungan unsur media lain seperti audio, teks, video, gambar, grafik, dan suara menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga mengakomodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa. Selain itu, dapat mengakomodasi siswa yang memiliki tipe visual, auditif, mupun kinestetik (Sudrajat, 2010). Sebelum mem-buat animasi maka harus mengetahui area kerja yang terdapat di dalam program Macromedia Flash, seperti pada gambar di bawah ini:
Gambar 1. Area kerja Macromedia Flash 2008
1. Menu Bar, berisi menu-menu utama Macromedia Flash 2008. Misalnya menu untuk mengolah file [File], menu untuk pengeditan [Edit], menu untuk menga-tur tampilan [View] dan lain-lain dalam menu-menu tersebut juga terdapat be-berapa submenu lain.
2. Stage, sebuah area untuk membuat animasi. Stage dapat diibaratkan seperti se-buah „kanvas’ untuk mengomposisi frame-frame sehingga membentuk sebuah movie.
3. Timeline Panel, sebuah panel yang digunakan untuk mengatur isi sebuah movie. Pada panel ini digunakan untuk mengatur kapan sebuah objek muncul dan kapan sebuah objek hilang.
4. Color Mixer Panel, sebuah panel untuk membuat atau mengubah warna serta gradasi warna. Panel ini juga dapat digunakan untuk menambahkan warna baru pada Color Swatch Panel.
5. Property Inspector, panel yang digunakan untuk mengubah atribut-atribut objek. Tampilan property inspector selau berubah bergantung objek yang di-pilih.
6. Action Panel, panel yang digunakan untuk membuat dan mengubah aksi pada movie menggunakan bahasa pemrograman Action Script.
7. Toolbox, tempat tool-tool yang sering digunakan untuk membuat dan memodi-fikasi objek, membuat teks, mengolah warna, dan mengatur stage.
2.4 Representasi Ilmu Kimia
untuk suatu keadaan hal, suatu diagram untuk suatu susunan hal-hal, suatu gambar untuk suatu pemandangan.” Sehingga representasi dapat didefinisikan sebagai se -suatu yang digunakan untuk mewakili hal-hal, benda, keadaan, dan fenomena (peristiwa). Menurut Heuvelen & Zou (2001) representasi dikategorikan ke da-lam dua kelompok, yaitu representasi internal dan eksternal. Representasi internal diartikan sebagai konfigurasi kognitif individu yang diduga berasal dari perilaku yang menggambarkan beberapa aspek dari proses fisik dan pemecahan masalah, sedangkan representasi eksternal dapat digambarkan sebagai situasi fisik yang ter-struktur yang dapat dilihat sebagai mewujudkan ide-ide fisik. Menurut pandangan konstruktifisdalamMeltzer (2005), representasi internal ada di dalam kepala sis-wa dan representasi eksternal disituasikan oleh lingkungan sissis-wa.
Johnstone dalam Chittleborough (2004) mendeskripsikan bahwa fenomena kimia dapat dijelaskan dengan tiga level representasi yang berbeda yaitu makroskopik, submikroskopik dan simbolik. Masing-masing level representasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Level makroskopik: rill dan dapat dilihat, seperti fenomena kimia yang ter-jadi dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam laboratorium yang dapat di-amati langsung.
3. Level simbolik: representasi dari suatu kenyataan seperti representasi simbol dari atom, molekul dan senyawa, baik dalam bentuk gambar, aljabar maupun bentuk-bentuk hasil pengolahan komputer.
Menurut Johnstone (1982) ketiga level representasi tersebut saling berhubungan dan digambarkan dalam tiga tingkatan (dimensi) seperti yang terlihat pada gambar berikut:
Ketiga dimensi tersebut saling berhubungan dan berkontribusi pada siswa untuk dapat paham dan mengerti materi kimia yang abstrak. Hal ini didukung oleh per-nyataan Tasker dan Dalton (2006), bahwa kimia melibatkan proses-proses peru-bahan yang dapat diamati dalam hal (misalnya peruperu-bahan warna, bau, gelembung) pada dimensi makroskopik atau laboratorium, namun dalam hal perubahan yang tidak dapat diamati dengan indera mata, seperti perubahan struktur atau proses di tingkat submikro atau molekul imajiner hanya bisa dilakukan melalui pemodelan. Perubahan-perubahan ditingkat molekuler ini kemudian digambarkan pada tingkat simbolik yang abstrak dalam dua cara, yaitu secara kualitatif menggunakan notasi khusus, bahasa, diagram, dan simbolis, dan secara kuantitatif dengan mengguna-kan matematika (persamaan dan grafik). Pembelajaran kimia yang utuh dengan menggabungkan ketiga dimensi tersebut dapat membantu siswa dalam memahami
Submikroskopis
Makroskopis
Simbolik
konsep-konsep kimia yang abstrak dan menghadirkan miskonsepsi yang muncul dari pemikiran siswa itu sendiri (Fauzi, 2012).
2.5 Analisis Konsep
Herron dkk. dalam Fadiawati (2011) berpendapat bahwa belum ada definisi ten-tang konsep yang diterima atau disepakati oleh para ahli, biasanya konsep disama-kan dengan ide. Markle dan Tieman dalam Fadiawati (2011) mendefinisidisama-kan kon-sep sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh ada. Mungkin tidak ada satupun defi-nisi yang dapat mengungkapkan arti dari konsep. Untuk itu diperlukan suatu ana-lisis konsep yang memungkinkan kita dapat mendefinisikan konsep, sekaligus menghubungkan dengan konsep-konsep lain yang berhubungan.
Analisis Konsep Larutan Penyangga
Label
Konsep Definisi Konsep
Jenis Konse
p
Atribut Posisi Konsep
Contoh Non Contoh Kritis Variabel Superordinat Koordinat Subordinat
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Larutan penyang ga
Larutan yang dapat mempertahanka
Prinsip Mempertahan kan PH
Peran larutan penyangga dalam tubuh
Jenis PH Penentuan penyangga lemah, dan basa konjugasinya
basa mengandung suatu basa lemah, dan asam konjugasiny
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan media animasi kimia yang ber-basis multipel representasi yang meliputi representasi makroskopis, submikros-kopis dan simbolis. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development / R&D).
Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini adalah media animasi kimia yang berbasis representasi kimia, yaitu representasi makroskopis, submikroskopis, dan simbolis. Media animasi kimia tersebut dibuat dengan menggunakan perangkat lunak Macromedia Flash 2008.
3.2Subyek Penelitian
Subyek penelitian merupakan suatu yang dikenai perlakuan. Pada penelitian ini terdapat dua subyek yaitu, subyek penelitian dan subyek uji coba. Subyek peneli-tian dalam pengembangan ini adalah media animasi kimia berbasis representasi kimia. Sedangkan subyek uji coba merupakan subyek yang diuji coba dengan menggunakan media animasi yang dikembangkan, dan subyek itu pula yang me-nilai media animasi tersebut. Subyek uji coba pada pengembangan media animasi ini adalah materi larutan penyangga, guru mata pelajaran kimia dan siswa-siswi kelas XI IPA di salah satu SMA di Kabupaten Lampung Utara yang telah mem-pelajari materi larutan penyangga.
3.3Sumber Data
XI IPA, serta angket uji keterbacaan dan kemenarikan yang dilakukan oleh siswa di salah satu sekolah di Kabupaten Lampung Utara.
3.4Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi media ani-masi larutan penyangga, angket uji kesesuian isi, angket uji keterbacaan, dan ang-ket uji kemenarikan. Adapun uraiannya adalah sebagai berikut:
1. Lembar observasi media animasi larutan penyangga
Instumen observasi media animasi larutan penyangga terdiri dari pedoman wa-wancara terhadap guru dan angket respon siswa. Pedoman wawa-wancara guru di-gunakan untuk mengetahui media pembelajaran yang didi-gunakan dan mengetahui sumber media yang digunakan dalam pembelajaran. Angket respon siswa diguna-kan untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai media pembelajaran yang digu-nakan guru dan mengetahui pendapat siswa mengenai media yang diinginkan da-lam pembelajaran. Informasi yang diperoleh tersebut digunakan sebagai masukan dan referensi untuk mengembangkan media animasi kimia.
4. Instrumen uji kesesuaian isi
materi serta mengidentifikasi adanya represetasi kimia dari media animasi kimia yang dikembangkan.
5. Instrumen uji keterbacaan
Instrumen ini digunakan untuk menguji keterbacaan media animasi yang dikem-bangkan yang berkaitan dengan ukuran huruf, variasi bentuk huruf, kejelasan tu-lisan, dan perpaduan warna tulisan dengan background.
6. Angket uji kemenarikan untuk siswa
Instumen ini digunakan untuk menguji kemenarikan media animasi kimia berbasis represetasi kimia yang meliputi desain tampilan media animasi, seperti ukuran huruf, variasi bentuk huruf, tata letak gambar dengan tulisan, perpaduan warna, tampilan gambar, gerakan animasi dan lain-lain.
3.5Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian pengembangan media animasi ini adalah sebagai berikut:
Studi
Gambar 3. Prosedur penelitian Analisis kebutuhan
(identifikasi masalah)
Studi Pustaka Studi Lapangan
Pembuatan media animasi berbasis representasi kimia
Revisi pertama media animasi kimia
Uji Coba Terbatas Validasi desain (Uji kesesuaian isi)
Uji validitas
(uji keterbacaan dan kemenarikan desain)
Uji kesesuaian isi dan uji keterbacaan dan kemenarikan
desain oleh guru
Uji kesesuaian isi dan uji keterbacaan dan kemenarikan
desain oleh siswa
Analisis data
Revisi kedua media animasi kimia
Prosedur dalam pengembangan ini terbagi menjadi tiga tahap, sebagai berikut:
1. Studi pendahuluan
Studi pendahuluan adalah tahap persiapan dalam mengembangkan media animasi kimia ini. Ada beberapa langkah yang dilakukan pada tahap studi pendahuluan yaitu, studi pustaka dan studi lapangan. Adapun langkah-langkah pengembangan pada studi pendahuluan adalah sebagai berikut:
a. Studi pustaka
Langkah ini dilakukan untuk menemukan landasan teoritis yang memperkuat pro-duk yang akan dikembangkan. Pada langkah ini dilakukan penyusunan perangkat pembelajaran, yang terdiri atas analisis standar kompetensi dan kompetensi dasar, analisis konsep, pengembangan pemetaan dan silabus, dan rancangan pelaksanaan pembelajaran. Selain itu, dilakukan juga pengkajian terhadap animasi-animasi kimia yang ada. Kajian yang dilakukan meliputi isi materi, identifikasi dimensi representasi yang ditampilkan, desain animasi, dan kelemahan dari animasi ter-sebut. Hasil studi pustaka tersebut menjadi salah satu acuan dalam mengembang-kan media animasi ini.
b. Studi lapangan
memiliki perbedaan dalam proses belajar mengajar. Studi lapangan dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara kepada guru kimia di sekolah tersebut khususnya guru kimia kelas XI IPA. Hal-hal yang ditanyakan berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran dan media pembela-jaran yang digunakan dalam menyampaikan materi larutan penyangga. Selain itu, dilakukan juga penjaringan respon siswa dengan menyebarkan angket kepada siswa. Dalam hal ini, siswa diminta keterangan mengenai media pembelajaran yang digunakan guru, cara guru dalam menyampaikan materi larutan penyangga, dan menanyakan perasaan siswa mengenai pembelajaran yang menggunakan me-dia animasi kimia.
2. Pengembangan produk
Setelah dilakukan studi pendahuluan, dilanjutkan dengan pengembangan produk. Dalam pengembangan produk ini ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu:
a. Pembuatan animasi kimia
b. Validasi desain
Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan pro-duk secara rasional akan lebih efektif dari yang lama atau tidak. Dikatakan demi-kian karena validasi masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta lapangan (Sugiyono, 2008). Produk awal dikonsultasikan kepada dosen pembimbing yang bertujuan untuk mengevaluasi produk awal yang ber-kaitan dengan kelengkapan materi, kebenaran konsep, sistematika materi, dan se-gala hal yang berkaitan dengan materi, serta mengevaluasi kemenarikan produk dan kesesuaian visualisasi dengan materi untuk selanjutnya divalidasi oleh vali-dator. Dalam hal ini, penilaian terhadap produk awal yang dilakukan oleh ahli (expert judgement ).
c. Revisi pertama animasi kimia
Setelah dilakukan validasi oleh ahli, produk tersebut direvisi sesuai dengan masu-kan dari ahli untuk menghasilmasu-kan produk yang lebih baik.
3. Evaluasi produk
Setelah dilakukan revisi pertama pada tahap pengembangan produk, selanjutnya dilakukan evaluasi produk yang meliputi uji coba produk secara terbatas dan re-visi setelah uji coba produk secara terbatas. Pada tahap uji coba ini dilakukan be-berapa langkah sebagai berikut:
a. Uji coba terbatas
Produk yang sudah direvisi kemudian diujicobakan secara terbatas. Uji coba ter-batas dilakukan untuk menilai lebih lanjut media animasi yang dibuat. Uji coba terbatas ini dilakukan oleh guru kimia dan siswa. Produk diujicobakan pada ke-lompok kecil yang terdiri dari 20 siswa, yang kemudian siswa-siswi tersebut di-minta untuk mengisi angket untuk menjaring informasi tentang apa-apa yang perlu dibenahi dan diperbaiki dari produk tersebut. Instrumen yang digunakan adalah angket uji keterbacaan dan uji kemenarikan. Selain itu, produk tersebut juga dinilai oleh guru kimia kelas XI IPA menggunakan instrumen uji kesesuaian isi dan uji keterbacaan.
b. Analisis data
mem-peroleh informasi mengenai jawaban dari uji kesesuaian, uji keterbacaan, dan uji kemenarikan yang telah dilakukan. Data hasil analisis menjadi referensi dalam merevisi media animasi lebih lanjut untuk menghasilkan media animasi yang lebih baik.
c. Revisi kedua animasi kimia
Setelah dilakukan analisis data, maka akan diketahui hal-hal yang perlu diperbaiki pada produk, baik dari segi materi maupun dari segi kemenarikan desain produk. Kemudian dari data tersebut, produk direvisi kembali untuk menghasilkan produk yang lebih baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Produk hasil revisi di-konsultasikan pada dosen pembimbing. Apabila dosen pembimbing menilai bah-wa produk hasil revisi sudah bagus, maka produk tersebut adalah produk akhir pada pengembangan media animasi kimia ini.
3.6Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam peneli-tian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data. Bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview (wawancara), kuesioner (angket), dokumentasi dan gabungan keempatnya (Sugiyono, 2008). Pada peneli-tian ini dilakukan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Observasi (pengamatan)
Observasi (pengamatan) merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Pada pene-litian ini, dilakukan pengamatan dengan datang ke sekolah untuk melihat kegiatan belajar mengajar di sekolah tempat lokasi penelitian. Pengamatan ini dilakukan pada tahap analisis kebutuhan untuk mendapatkan informasi mengenai media yang digunakan guru, mengamati aktivitas pembelajaran di dalam kelas, dan me-lihat respon siswa terhadap media yang digunakan oleh guru. Peneliti mengguna-kan buku-buku atau hasil penelitian yang terkait dengan penelitian ini untuk men-dapatkan data-data lain yang dianggap perlu dalam penelitian ini. Buku-buku yang digunakan berfungsi untuk mendapatkan data tentang media animasi kimia dan pengembangannya.
2. Wawancara (interview)
ini, pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara terstruktur. Wawan-cara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu, dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan. Dalam hal ini wawancara ditujukan kepada guru kimia. Wawancara dengan guru kimia untuk mendapatkan informasi mengenai media apa yang digunakan untuk me-nyampaikan materi larutan penyangga, apakah guru telah menggunakan animasi kimia berbasis represetasi kimia, serta mengetahui bagaimanakah respon siswa terhadap media yang digunakan. Informasi yang diperoleh digunakan sebagai masukan untuk mengembangkan animasi kimia berbasis representasi kimia. Se-lain itu wawancara dengan guru juga dilakukan untuk menguji kesesuaian animasi kimia dengan materi ajar seperti, kesesuaian isi materi, sistematika materi dan ke-benaran konsep setelah produk animasi kimia diujicobakan.
3. Kuesioner (angket)
3.7 Teknik Analisis Data
Pada tahap ini data yang dianalisis adalah data dari hasil wawancara dan angket. Adapun uraiannya adalah sebagai berikut:
1. Teknik analisis data hasil wawancara
Tahap pengumpulan data dari hasil wawancara adalah:
1. Mengkode atau mengklasifikasi data, kegiatan ini bertujuan untuk mengelom-pokkan jawaban berdasarkan pertanyaan pada angket. Dalam pengkodean ini, dibuat tabel yang berisi pertanyaan-pertanyaan sebagai alat untuk mengukur substansi-substansi yang akan diukur dan kode jawaban dari setiap pertanyaan tersebut.
2. Tabulasi data berdasarkan klasifikasi yang dibuat, bertujuan untuk memberikan gambaran frekuensi dan kecenderungan dari setiap jawaban berdasarkan per-tanyaan angket dan banyaknya sampel.
3. Menghitung frekuensi jawaban, berfungsi untuk memberikan informasi tentang kecenderungan jawaban yang banyak dipilih siswa dalam setiap pertanyaan angket. Untuk setiap siswa yang memilih satu jawaban maka diberi point satu. 4. Menghitung persentase jawaban siswa, bertujuan untuk melihat besarnya
per-sentase setiap jawaban dari pertanyaan sehingga data yang diperoleh dapat di-analisis sebagai temuan. Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase jawaban siswa per item adalah sebagai berikut:
% 100
%
N J
Jin i (Sudjana, 2005)
Ji= Jumlah siswa yang memilih pilihan jawaban-iN = Jumlah seluruh siswa (responden)
2. Teknik analisis data angket
Tahap pengumpulan data dari hasil angket adalah:
1. Mengkode atau mengklasifikasi data, kegiatan ini bertujuan untuk mengelom-pokkan jawaban berdasarkan pernyataan pada angket. Dalam pengkodean ini, dibuat tabel yang berisi pernyataan - pernyataan sebagai alat untuk mengukur substansi-substansi yang akan diukur dan kode jawaban dari setiap pertanyaan tersebut.
2. Tabulasi data berdasarkan klasifikasi yang dibuat, bertujuan untuk memberikan gambaran frekuensi dan kecenderungan dari setiap jawaban berdasarkan per-nyataan angket dan banyaknya sampel.
3. Menghitung skor jawaban siswa.
Penskoran setiap jawaban siswa dalam uji kesesuaian isi, uji keterbacaan dan uji kemenarikan berdasarkan skala Likert.
Tabel 2. Penskoran pada angket uji kesesuaian isi, uji keterbacaan dan uji kemenarikan untuk setiap pernyataan
NO Pilihan
Jawaban Skor
1 Sangat Setuju (SS) 5
2 Setuju (S) 4
3 Kurang Setuju (KS) 3
4 Tidak Setuju (TS) 2
5 Sangat Tidak Setuju (STS) 1
4. Mengolah jumlah skor jawaban responden
1. Skor untuk pernyataan Sangat Setuju (SS) Skor = 5 x jumlah responden yang menjawab 2. Skor untuk pernyataan Setuju (S)
Skor = 4 x jumlah responden yang menjawab 3. Skor untuk pernyataan Kurang Setuju (KS)
Skor = 3 x jumlah responden yang menjawab 4. Skor untuk pernyataan Tidak Setuju (TS)
Skor = 2 x jumlah responden yang menjawab 5. Skor untuk pernyataan Sangat Tidak Setuju (STS)
Skor = 1 x jumlah responden yang menjawab
5. Menghitung persentase jawaban angket pada tiap item dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
% 100
%
maks in
S S
X Sudjana, 2005)
Keterangan : %Xin = Persentase angket-i pada tiap item
S= Jumlah skor jawabanmaks
S = Skor maksimum yang diharapkan
6. Menghitung rata-rata persentase angket siswa untuk mengetahui tingkat kemenarikan animasi kimia berbasis represetasi kimia, dengan persamaan sebagai berikut:
n X Xi
% in% (Sudjana, 2005)
n = Jumlah pernyataan pada angket 7. Memvisualisasikan data untuk memberikan informasi berupa data temuan
dengan menggunakan analisis data non statistik yaitu analisis yang dilakukan dengan cara membaca tabel-tabel, grafik-grafik atau angka-angka yang tersedia (Marzuki, 1997).
8. Menafsirkan persentase angket untuk mengetahui kemampuan siswa secara ke-seluruhan dengan menggunakan tafsiran Arikunto (1997), sebagai berikut:
Tabel 3. Tafsiran persentase angket Persentase Kriteria
80,1%-100% 60,1%-80% 40,1%-60% 20,1%-40% 0,0%-20%
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa:
2. Menurut tangapan guru, media animasi berbasis representasi kimia pada materi larutan penyangga sangat menarik, membuat siswa lebih memahami pada ma-teri larutan penyangga, dan memiliki keunggulan karena dapat membuat siswa lebih memahami materi larutan penyangga. Namun media animasi tersebut memiliki kelemahan yaitu masih kurangnya latihan soal yang diberikan se-hingga siswa akan mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal.
3. Menurut tanggapan siswa, media animasi berbasis representasi kimia pada ma-teri larutan penyangga cukup menarik bagi semua siswa, menyenangkan dan menjadikan proses pembelajaran jadi lebih mudah, membuat semua siswa lebih memahami materi larutan penyangga, dan memiliki keunggulan yaitu terdapat animasi yang bergerak sehingga siswa tidak merasa bosan dan dalam media animasi juga ditampilkan beberapa contoh larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari.
Pada Macromedia flash 2008, ketika mengimpor gambar sering mengubah gambar yang sudah ada, akibatnya gambar yang tampil di frame satu dengan frame yang lainnya semuanya sama. Selain itu, ketersediaan tool dalam pro-gram tersebut juga tidak lengkap, sehingga jika ingin menggunakan tool yang tidak tersedia di program tersebut harus mengcopy dari program lain. Solusi-nya yaitu jika ingin mengimpor gambar agar tidak sama maka jangan meng-convert to symbol gambarnya, sehingga tidak akan mengubah gambar yang lainnya. Kendala lainnya adalah sulitnya mencari waktu yang tepat untuk validasi produk yang dikembangkan.
5. Faktor-faktor yang menjadi pendukung dalam pengembangan media animasi berbasis representasi kimia pada materi larutan penyangga ini adalah antusias dari dosen pembimbing, antusias validator, antusias guru pada saat wawancara untuk menanggapi media animasi yang dikembangkan, dan sikap kooperatif pihak sekolah pada saat wawancara meminta tanggapan guru dan siswa ter-hadap produk yang dikembangkan.
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, disarankan bahwa:
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 1997. Penilaian Program PendidikanEdisi III. Bina Aksara. Jakarta. Arsyad, A. 2005. Media Pembelajaran. RajaGrafindo Persada. Jakarta.
BSNP. 2006. Standar Isi Mata Pelajaran Kimia SMA/MA. Depdiknas. Jakarta. Borg, W & V.Gall, M.D . 1983 . Educational Research An Introduction (4nd ed).
New York : Longman
Bustaman, B. 2001. Web Design dengan Macromedia Flash MX 2004. Andi Offset. Yogyakarta.
Chittleborough, G. D. 2004. The Role of Teaching Models and Chemical Representations in Developing students’ Metal Models of Chemical Phenomena. Curtin University of Technology.
Djamarah,S.B., Zain, A. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Rineka cipta. Jakarta.
Ernawati. 2011. Pengembangan Representasi Kimia Sekolah
Berbasis Intertekstual Pada Sub-Konsep Konfigurasi Elektron Atom Bohr dalam Bentuk Multimedia. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Fadiawati, N. 2011. Perkembangan Konsepsi Pembelajaran tentang Struktur Atom dari SMA hingga Perguruang Tinggi. Disertasi. SPs-UPI. Bandung. Fauzi, M. M. 2012. Pembelajaran materi kesetimbangan kimia melalui
Representasi Makroskopis dan Mikroskopis pada Siswa SMA Kelas XI IPA. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Hamalik, O. 1986. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Heinich, R., dkk.1996. Instructional Media and Tecnologies for Learning. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.
Johnstone, A. H. 1982. Macro- and Micro-Chemistry, School Science Review., 227, No. 64. p. 377-379.
Meltzer, E.D. 2005. Relation Between Students’ Problem-Solving Performance and Representational Format. American Journal of Physics. 73. No.5. p.463. Nakhleh, M.B., and Brian, P. 2008. Learning Chemistry Using Multiple External
Representations. Visualization: Theory and Practice in Science Education. Gilbert et al., (eds.), p. 209 – 231.
Nieveen, N. (1999). Prototyping to Reach Product Quality. p.125-135. from Design Approches and Tools in Education and Training. Van den Akker, jan. et.al. Dordrecht, the Neterlands: Kluwer Academic Publisher
Pramono, A. 2004. Panduan Aplikasi Menguasai Macromedia Flash MX. Yogyakarta.
Putra, Nusa . 2012 . Research & Development . Jakarta : Raja Grafindo Persada Ramadhan, A. 2004. Seri Pelajaran Komputer Macromedia Flash MX.
Gramedia. Jakarta.
Rodiah, S. 2013. Pengembangan Media Animasi Kimia Berbasis Multipel Representasi pada Materi Asam-Basa Arrhenius. Jurnal. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Sadiman, A.S,dkk. 2005. Media Pendidikan. Rajagrafido Persada. Jakarta. Sanjaya, W. 2009. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Kencana.
Jakarta.
Sudjana, N. 2005. Metode Statistika Edisi keenam. PT. Tarsito. Bandung. Sudrajat. 2010. Presentasi Multimedia dengan Macromedia Flash. Andi:
Yogyakarta.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan “Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D”. Bandung: Alfabeta.
Sukiman. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran. Pustaka Indah Madani. Yogyakarta.
Susanto. 2013. Pengembangan Media Animasi Kimia Berbasis Multipel Representasi pada Materi Faktor-Faktor Penentu Laju Reaksi. Jurnal. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Wahono, RS. 2006. Teknologi Informasi untuk Perpustakaan: Perpustakaan Digital dan Sistem Otomasi Perpustakaan.
http://www.scribd.com/doc/3020850/perpustakaan-digital-dan-sistem-otomasi-perpustakaan: diakses pada 24-07-2013.
Yudhiantoro, Dhani. 2006. Macromedia Flash Professional 8 . Yogyakarta : Penerbit Andi
86 Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : XI/Genap
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Tingkat
Lingkup Alokasi Waktu
1. Menjelaskan pengertian larutan penyangga.
2. Menjelaskan komponen penyusun larutan penyangga
asam.
3. Menjelaskan komponen penyusun larutan penyangga
basa.
4. Menjelaskan prinsip kerja larutan penyangga.
5. Menghitung pH larutan penyangga. 6. Menghitung pH larutan penyangga setelah
ditambahkan sedikit asam, sedikit basa dan sedikit air 7. Menjelaskan fungsi larutan penyangga di dalam tubuh
dan di kehidupan sehari-hari. Proses:
1. Melakukan percobaan mengenai larutan penyangga. 2. Mengamati perubahan warna yang terjadi pada
indikator universal dan mencocokkannya dengan peta indikator untuk menentukan pH larutan yang diamati. 3. Mencatat data hasil pengamatan dan menuliskannya
87 asam, sedikit basa dan sedikit air.
5. Mengidentifikasi larutan yang di uji kedalam larutan penyangga dan bukan penyangga berdasarkan harga pH.
6. Menggolongkan larutan yang d uji berdasarkan perubahan harga pH ke dalam larutan penyangga dan larutan bukan penyangga.
7. Menyimpulkan pengertian larutan penyangga dan bukan larutan penyangga.
8. Membedakan larutan penyangga asam dan larutan penyangga basa berdasarkan komponen penyusunnya. 9. Menyimpulkan komponen penyusun larutan
penyangga asam.
10. Menyimpulkan komponen penyusun larutan penyangga basa.
11. Mencari informasi mengenai prinsip kerja larutan penyangga.
12. Mendiskusikan prinsip kerja larutan penyangga. 13. Mengkomunikasikan prinsip kerja larutan
penyangga.
14. Menuliskan reaksi kesetimbangan komponen larutan penyangga asam dan komponen larutan penyangga basa.
15. Merumuskan hubungan reaksi kesetimbangan harga Ka dengan konsentrasi ion H+.
88 18. Merumuskan hubungan reaksi kesetimbangan harga
Kb dengan konsentrasi ion OH-.
19. Merumuskan konsentrasi ion OH- berdasarkan jumlah mol larutan yang diamati karena volume yang
digunakan sama.
20. Menentukan harga pH larutan penyangga basa berdasarkan konsentrasi ion OH-.
21. Menentukan harga pH larutan penyangga setelah ditambahkan sedikit asam, sedikit basa dan sedikit air.
22. Mencari informasi mengenai fungsi larutan
penyangga di dalam tubuh dan di kehidupan sehari-hari.
23. Mendiskusikan fungsi larutan penyangga di dalam tubuh dan di kehidupan sehari-hari.
24. Mengkomunikasikan fungsi larutan penyangga di dalam tubuh dan di kehidupan sehari-hari.
B. Afektif Karakter
89 1. Bertanya
2. Mengemukakan pendapat 3. Pendengar yang baik 4. Berkomunikasi 5. Kerjasama
C. Psikomotor
1. Kerapihan mengatur alat dan bahan. 2. Keterampilan menggunakan pipet tetes. 3. Keterampilan mengamati perubahan warna
dengan indikator uniersal
4. Keterampilan mencocokan perubahan warna kertas lakmus dengan indikator universal 5. Keterampilan mengolah data.
90
SILABUS
Kelas/Semester : XI IPA/Genap Mata Pelajaran : Kimia
Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa, metode pengukuran dan terapannya.
Kompetensi
Penilaian Alokasi
Waktu Sumber
Kognitif Afektif Psikomotor
1 2 3 4 5 6 7 8 9
25. Melakukan percobaan mengenai larutan penyangga.
26. Mengamati perubahan warna yang terjadi pada indikator universal dan mencocokkannya dengan peta indikator untuk menentukan pH larutan
Afektif Karakter
91 bentuk tabel hasil pengamatan.
28. Membandingkan pH mula-mula larutan yang diuji dengan pH larutan setelah ditambahkan dengan sedikit asam, sedikit basa dan sedikit air.
29. Mengidentifikasi larutan yang di uji kedalam larutan penyangga dan bukan penyangga berdasarkan harga pH. 30. Menggolongkan
larutan-larutan yang diuji berdasarkan perubahan harga pH ke dalam larutan penyangga dan larutan bukan
penyangga. 31. Menyimpulkan
pengertian larutan penyangga dan bukan
92
1. Menjelaskan komponen
penyusun larutan penyangga asam.
2. Menjelaskan komponen
penyusun larutan penyangga basa. Proses
1. Membedakan larutan penyangga asam dan larutan penyangga basa berdasarkan komponen penyusunnya.
2. Menyimpulkan komponen penyusun larutan penyangga asam. 3. Menyimpulkan
komponen penyusun larutan penyangga basa.
Karakter
3. Pendengar yang baik 5. Keterampilan
93
1. Menjelaskan prinsip kerja larutan penyangga. 2. Menghitung pH larutan
penyangga
3. Menghitung pH larutan penyangga setelah ditambahkan sedikit asam, sedikit basa dan sedikit air
4. Menjelaskan fungsi larutan penyangga di dalam tubuh dan di kehidupan sehari-hari.
Proses
1. Mencari informasi mengenai prinsip kerja larutan penyangga. 2. Mendiskusikan prinsip
kerja larutan
3. Pendengar yang baik 4. Keterampilan
94 kesetimbangan
komponen larutan penyangga asam dan komponen larutan penyangga basa.
5. Merumuskan hubungan reaksi kesetimbangan harga Ka dengan konsentrasi ion H+. 6. Merumuskan konsentrasi
ion H+ berdasarkan jumlah mol larutan yang diuji karena volume yang digunakan sama.
7. Menentukan harga pH larutan penyangga asam berdasarkan konsentrasi ion H+.
8. Merumuskan hubungan reaksi kesetimbangan harga Kb dengan konsentrasi ion OH-. 9. Merumuskan konsentrasi
95 larutan penyangga basa
berdasarkan konsentrasi ion OH-.
11. Menentukan harga pH larutan penyangga setelah ditambahkan sedikit asam, basa, dan air.
12. Mencari informasi mengenai fungsi larutan penyangga di dalam tubuh dan di kehidupan sehari-hari.
13. Mendiskusikan fungsi larutan penyangga di dalam tubuh dan di kehidupan sehari-hari. 14. Mengkomunikasikan
96 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Semester : XI IPA / Genap Alokasi waktu : 2 x 45 menit
I. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan terapannya.
II. Kompetensi Dasar
4.4 Mendeskripsikan sifat larutan penyangga dan peranan larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup.
III. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Kognitif
- Produk
Menjelaskan pengertian larutan penyangga.
- Proses
- Melakukan percobaan mengenai larutan penyangga.
- Mengamati perubahan warna yang terjadi pada indikator universal dan mencocokkannya dengan peta indikator untuk menentukan pH larutan yang diamati.
- Mencatat data hasil pengamatan dan menuliskannya dalam bentuk tabel hasil pengamatan.
- Membandingkan pH mula-mula larutan yang diuji dengan pH larutan setelah ditambahakn sedikit asam, sedikit basa dan sedikit air.
97 - Menyimpulkan pengertian larutan penyangga dan bukan larutan penyangga.
2. Afektif
Karakter 3. Keterampilan sosial
1. Rasa ingin tahu 2. Komunikatif 3. Tanggung jawab 4. Kejujuran 5. Teliti
Keterampilan sosial 11. Bertanya
12. Mengemukakan pendapat 13. Pendengar yang baik 14. Berkomunikasi 15. Kerjasama
B. Psikomotor
1. Kerapihan mengatur alat dan bahan 2. Keterampilan menggunakan pipet tetes
3. Keterampilan mengamati perubahan warna dengan indikator uniersal
4. Keterampilan mencocokan perubahan warna kertas lakmus dengan indikator univrsal
5. Keterampilan mengolah data.
6. Keterampilan membereskan dan membersihkan alat dan bahan.
IV. Tujuan Pembelajaran 1. Kognitif
- Produk
98 warna yang terjadi pada indikator universal dan mencocokkannya dengan peta indikator untuk menentukan pH larutan penyangga.
o Siswa dapat mencatat data hasil pengamatan dan menuliskannya dalam
bentuk tabel hasil pengamatan.
o Berdasarkan instruksi guru, siswa dapat membandingkan pH mula-mula
larutan yang diuji dengan pH larutan setelah ditambahkan sedikit asam, sedikit basa dan sedikit air.
o Siswa dapat mengidentifikasi larutan yang di uji kedalam larutan
penyangga dan bukan penyangga berdasarkan harga pH.
o Siswa dapat menggolongkan larutan ke dalam larutan penyangga dan
bukan penyangga.
o Siswa dapat menyimpulkan pengertian larutan penyangga berdasarkan
percobaan yang dilakukan dan mengkomunikasikannya kepada teman-temannya.
2. Afektif a. Karakter:
Siswa terlibat dalam proses belajar mengajar, minimal siswa dinilai cukup dalam menunjukkan karakter rasa ingin tahu, komunikatif, tanggung jawab, kejujuran, dan teliti.
b. Keterampilan sosial:
Siswa terlibat dalam proses belajar mengajar, minimal siswa dinilai cukup dalam menunjukkan prilaku keterampilan sosial bertanya, mengemukakan pendapat, pendengar yang baik, berkomunikasi, dan kerjasama.
3. Psikomotor:
99 Berdasarkan prosedur percobaan, siswa memasukkan larutan asam atau
basa ke dalam larutan yang akan diuji, kemudian mengukur harga pH. Membersihkan dan merapikan alat dan bahan percobaan dengan maksud
agar alat percobaan menjadi terawat dan laboratorium tetap tertata rapi dan bersih.
V. Materi Pembelajaran
Larutan penyangga merupakan larutan yang mampu mempertahankan harga pH atau mampu mempertahankan perubahan harga pH ketika ditambahkan dengan sedikit asam, sedikit basa, dan sedikit air. Larutan penyangga disebut juga dengan larutan buffer. Larutan penyangga sangat penting dalam sistem kimia dan biologi. pH dalam tubuh manusia sangat beragam dari satu cairan ke cairan lainnya, misalnya pH darah adalah sekitar 7,4, sementara pH cairan lambung sekitar 1,5. Harga-harga pH ini sangat penting bagi tubuh. Agar enzim dapat bekerja dengan benar dan agar tekanan osmotik tetap seimbang, maka dalam banyak kasus dipertahankan oleh larutan penyangga (buffer).
VI. Strategi Pembelajaran
6.1 Model Pembelajaran : Problem Solving 6.2 Pendekatan : Konstruktivisme
100 Aktivitas Siswa/Guru
Penilaian oleh Pengamat
1 2 3 4
Fase 1: Mengorientasikan siswa pada masalah.
Guru :
Orientasi masalah kecil :
a. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kognitif, afektif, psikomotor, karakter dan kerampilan sosial.
b. Guru mengajukan fenomena untuk memunculkan masalah dan mengembangkan rasa ingin tahu siswa dalam rangka memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah tesebut
Dalam kehidupan kita tidak terlepas dari hal-hal yang berhubungan dengan kimia. Salah satunya adalah harga pH.
pH suatu larutan akan berubah jika ditambahkan dengan larutan lain. Lalu bagaimana jika kita membutuhkan suatu larutan di mana pH relatif tetap? Adakah larutan yang dapat
memeprtahankan harga pH?
a. Guru melakukan demonstrasi untuk menentukan pH air laut awal, pH air laut setelah ditambah sedikit asam, pH air laut setelah ditambah sedikit basa dan pH air laut setelah ditambah sedikit air.
I II III IV I : air laut mula-mula
II : air laut ditambahkan sedikit asam III : air laut ditambahkan sedikit basa
IV : air laut ditambahkan sedikit air
b. Guru meminta salah satu siswa untuk mengukur pH keempat sampel diatas.
c. Guru meminta siswa untuk mengobservasi permalasahan diatas.
d. Guru membagikan LKS.
e. Guru meminta siswa untuk merumuskan masalah dari fenomena yang terdapat dalam LKS.
101
1 2 3 4
a. Mendengarkan dengan baik dan memberikan komentar terhadap masalah yang diajukan.
b. Menyumbang ide atau berpendapat serta berkomunikasi dalam memberikan penjelasan sederhana dan menyebutkan contoh.
Fakta:
Jika kita menambahkan 0,1 M larutan HCl 1 M ke dalam satu liter air suling, maka pH-nya akan berubah dari 7 menjadi sekitar 4. Bila kita menambahkan larutan HCl yang sama banyaknya ke dalam satu liter air laut, perubahan pH-nya jauh lebih kecil, yaitu dari 8,2 menjadi 7,6.
Masalah :
Mengapa bisa terjadi demikian? Apakah suatu larutan dapat mempertahankan harga pH-nya?
Fase 2 : Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Guru :
1. Menjelaskan hubungan permasalahan yang diajukan dengan materi pembelajaran
2. Membagi siswa menjadi beberapa kelompok heterogen yang terdiri 4-5 orang setiap kelompok dan membagi LKS. 3. Guru mendorong siswa untuk mendapatkan informasi
sebanyak – banyaknya untuk mendapatkan penjelasan dari permasalahan yang diajukan
Siswa :
102
1 2 3 4
masalah yang diajukan
2. Siswa mendengarkan dengan baik arahan yang diberikan oleh guru.
Fase 3 : Menetapkan jawaban sementara dari masalah Guru :
Meminta siswa untuk memberikan hipotesis terhadap jawaban sementara atas permasalahan yang dikemukakan
Siswa:
1. Berdiskusi dan bekerja sama dalam kelompok untuk menetapkan jawaban sementara tentang larutan penyangga. 2. Siswa memberikan ide atau berpendapat sebagai hipotesis
terhadap jawaban atas permasalahan yang dikemukakan
Fase 4 : Menguji kebenaran jawaban sementara Guru
1. Memantau kegiatan siswa dalam kelompoknya. 2. Mendorong siswa bekerja sama dalam melakukan
percobaan untuk mendapatkan data untuk menguji kebenaran jawaban sementara.
3. Memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan LKS.
4. Meminta siswa untuk mengamati perubahan warna yang terjadi pada indikator universal dan mencocokkannya dengan peta indikator untuk mengukur pH larutan yang diamati. 5. Meminta siswa pada setiap kelompok untuk menyusun hasil
diskusi dan pengamatannya secara sistematis.
6. Meminta perwakilan siswa dari masing – masing kelompok untuk menyajikan hasil karyanya di depan kelas (presentasi kelompok)
7. Memotivasi siswa untuk bekerja sama dalam diskusi kelompoknya mengerjakan LKS tentang larutan yang dapat mempertahankan harga pH (larutan penyangga).
103
1 2 3 4
Siswa :
1. Siswa mendengarkan dengan baik arahan yang diberikan oleh guru sebelum melakukan percobaan.
2. Siswa mengembangkan rasa ingin tahunya dengan melakukan percobaan tentang larutan penyangga dan berkerja sama pada saat melakukan percobaan. 3. Siswa mengamati perubahan warna yang terjadi pada
indikator universal dan mencocokkannya dengan peta indikator untuk menentukan pH larutan yang diamati. 4. Siswa mengerjakan LKS dan berdiskusi dengan teman
kelompoknya, di antaranya adalah mengidentifikasi larutan yang di uji kedalam larutan penyangga dan bukan penyangga berdasarkan harga pH dan menggolongkan larutan yang diuji ke dalam larutan penyangga dan bukan penyangga
berdasarkan harga pH yang didapat.
5. Perwakilan siswa mempresentasikan dengan
mengkomunikasikan hasil karyanya di depan kelas 6. Menanggapi hasil percobaan yang dipresentasikan oleh
kelompok lain.
7. Memberikan alasan terhadap jawaban dari permasalahan yang diajukan.
Fase 5 : Menarik Kesimpulan
Guru dan siswa membuat simpulan tentang hasil dari pemecahan masalah yang diajukan
1. Melakukan tanya jawab untuk mengetahui tercapainya indikator dan tujuan pembelajaran
2. Guru memberi tugas mandiri dan tugas studi kepustakaan untuk pertemuan berikutnya
VII. Media Pembelajaran
Referensi : Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XI. Jakarta : Erlangga.
104 VIII. Penilaian
1. Penilaian kognitif (LP dan kunci terlampir) a) Penilaian KPS : pretest dan posttest b) Jenis tagihan : LKS dan tugas individu 2. Penilaian afektif (LP dan kunci terlampir)
3. Penilaian psikomotor (LP dan Kunci terlampir)
Daftar Pustaka
Tim Penyusun. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan
105 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Semester : XI IPA / Genap Alokasi waktu : 2 x 45 menit
IX. Standar Kompetensi
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan terapannya.
X. Kompetensi Dasar
4.4 Mendeskripsikan sifat larutan penyangga dan peranan larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup.
XI. Indikator Pencapaian Kompetensi - Kognitif
- Produk
a. Menjelaskan komponen penyusun larutan penyangga asam.
b. Menjelaskan komponen penyusun larutan penyangga basa.
Proses
- Membedakan larutan penyangga asam dan larutan penyangga basa berdasarkan komponen penyusunnya.
- Menyimpulkan komponen penyusun larutan penyangga asam. - Menyimpulkan komponen penyusun larutan penyangga basa.
- Afektif 1. Karakter
106 Keterampilan sosial
16. Bertanya
17. Mengemukakan pendapat 18. Pendengar yang baik 19. Berkomunikasi 20. Kerjasama
- Psikomotor
1. Kerapihan mengatur alat dan bahan 2. Keterampilan menggunakan pipet tetes
3. Keterampilan mengamati perubahan warna dengan indikator universal 4. Keterampilan mencocokan perubahan warna kertas lakmus dengan
indikator universal
5. Keterampilan mengolah data.
6. Keterampilan membereskan dan membersihkan alat dan bahan.
XII. Tujuan Pembelajaran 4. Kognitif
- Produk
o Siswa dapat menjelaskan komponen penyusun larutan penyangga asam o Siswa dapat menjelaskan komponen penyusun larutan penyangga basa
Proses
- Siswa dapat membedakan larutan penyangga asam dan larutan penyangga basa berdasarkan komponen penyusunnya.
- Siswa dapat menyimpulkan komponen penyusun larutan penyangga asam. - Siswa dapat menyimpulkan komponen penyusun larutan penyangga basa.
107 d. Keterampilan sosial:
Siswa terlibat dalam proses belajar mengajar, minimal siswa dinilai cukup dalam menunjukkan prilaku keterampilan sosial bertanya, mengemukakan pendapat, pendengar yang baik, berkomunikasi, dan kerjasama.
6. Psikomotor:
Dengan memperhatikan instruksi guru, siswa terampil mengatur alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum serta dapat terampil menggunakan pipet tetes.
Berdasarkan prosedur percobaan, siswa memasukkan larutan yang akan diuji kedalam tabung reaksi.
Berdasarkan prosedur percobaan, siswa memasukkan larutan asam atau basa ke dalam larutan yang akan diuji, kemudian mengukur harga pH. Membersihkan dan merapikan alat dan bahan percobaan dengan maksud
agar alat percobaan menjadi terawat dan laboratorium tetap tertata rapi dan bersih.
XIII. Materi Pembelajaran
Larutan penyangga terdiri atas penyangga asam dan penyangga basa. Komponen larutan penyangga asam adalah asam lemah dan basa konjugasinya. Sedangkan
komponen penyusun larutan penyangga basa adalah basa lemah dan asam konjugasinya. Dalam larutan penyangga mengandung komponen asam dan komponen basa, sehingga dapat mengikat baik ion H+ maupun OH-. Oleh karena itu, penambahan sedikit asam kuat dan sedikit basa kuat tidak mengubah pH-nya
secara signifikan.
Larutan penyangga asam mempertahankan harga pH,7 dengan rumus: pH= pKa – log