MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan
di_duni@maya
Fazlul Rahman
Perpustakaan Nasional Katalog dalam terbitan (KDT)
RAHMAN, Fazlul
Matinya Sang Dai: Otonomisasi Pesan-Pesan Kagamaan di
Dunia Maya oleh Fazlul Rahman.
Tangerang Selatan: LSIP, 2011
Vii, 182hlm., 26 cm
ISBN 978-602-99877-0-6
1.
Dakwah
2. Komunikasi 3. Internet dan Dunia Maya
Hak Cipta 2011, pada penulis
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara
apapun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin
sah dari penerbit
Penerbit:
LSIP
Jl. Alam Indah Vila Inti Persada Blok C6/No.36 Pamulang, Tangerang
Selatan
Telp/Fax: 021-7497810
Pengantar Penerbit
Agama yang merupakan suatu bentuk kepercayaan kepada Tuhan yang
dianut oleh sebagian besar umat manusia. Di zaman modern dengan
perkembangan teknologi yang begitu pesan, agama dihadapkan pada
tantangan serius untuk menghadirkan pesan-pesan keagamaan kepada
umat manusia yang telah menggunakan teknologi canggih. Misalnya
saja di dunia maya, penyampaian dakwah dihadapkan pada penggunaan
fasilitas tekonologi canggih yang menjangkau seuruh penjuru dunia. Tak
heran jika, penyampaian pesan-pesan dakwah dilakukan melalui tulisan
dalam bentuk artikel di ruang-ruang website, blog atau mailist. Kini
sudah banyak yang menyampaikan dakwah melalui internet, baik daalm
bentuk tulisan maupun gambar. Oleh karenanya, seorang dai harus
mampu menghadirkan pesan-pesan keagamaan yang sesuai dengan
perkembangan ilmu dan tekonologi, seperti di dunia maya.
Ternyata, sebagian besar orang, dengan beragam alasan, ternyata tidak
terlalu mempermasalahkan identitas para penyampai pesan-pesan
keagamaan di internet. Dari titik inilah berawal kebangkitan
mad u
. Di
dunia lintas identitas, dengan leluasa
mad u
mengeksplorasi beragam
hal untuk asupan keagamaannya. Tanpa perlu mengenal siapa
sebenarnya di balik pesan. Para pembaca ternyata menggunakan
otoritasnya dalam menyeleksi dan memaknai pesan. Mereka secara aktif
mengendalikan pesan-pesan yang masuk dalam dunia maya.
Buku ini secara meyakinkan mampu mengeksplorasi pesan-pesan
dakwah di dunia maya yang seakan menyingkirkan otoritas para da i.
Sehingga dakwah tidak lagi dalam bentuknya yang konvensional,
tabligh dan ceramah secara langsung melalui para da i, tetapi sudah
disampaikan dalam banyak model di dunia maya, yang memiliki
otoritasnya sendiri tanpa perlu mendapatkan justifikais dari para da i.
Inikah zaman matinya Sang Da i ?.
P n
ntar P n
ulis
Alhamdulillah,
t
t
u
t
w
t
t
u
t
t
t
t
u
UIN
Jakarta ini. Diantaranya:
1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA, selaku rektor
Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
dan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, selaku direktur
Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk
menempuh pendidikan pada lembaga yang dipimpinnya.
2. Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, selaku pembimbing dalam
penulisan tesis ini, atas bimbingan dan dukungannya.
Semoga Allah senantiasa membalas jasa baik beliau dengan
kebaikan yang lebih.
3. Prof. Suwito, yang terus menekankan ketelitian dalam
penulisan. Dr. Yusuf Rahman, yang selalu mengingatkan
untuk berfikir sistematis. Dr. Fuad Jabali, yang terus
mendorong untuk berfikir inovatif.
Untuk teman-teman seperjuangan, bani F (Faiqotul
Mala, Fahmi Irfani, Fuad Hasan, Falah, Fauzi), Indra, mbak Is,
Arief, Agus, Nadzifah dan lain-lain, yang telah membakar
semangat untuk terus berkompetisi dalam kebaikan.
Dafta
I
!PENDAHULUAN
"# $%& '& ()*
sut
+', -'./ 0+* & 0 '1 'y
' 2 $ #3%& %4050'&6%7/ '. *4*8'& (9%4%:'& ;2 <# $ 0& ( ,'0/ '&1 %5= / =4=( 03% & %4050 '& ;>
+# ?= ( 0,'3%& *40@'& A2
PROBLEMATIKA RESPONS PESAN
"# 9%@ B= &@3%@'&/ '4'C)=C* & 0, '@0 A D $ # +'0E
Mad u
/ '&3%@'&+', - ' . F 2MENYIBAK TABIR MENGGALI KUBUR
"# G&5%7& %5 2;
;# 3 7= H 04I '70& ( '&
Superhighway
2; ;#;# +'0/ '&6'&5'& ('&I '70& ('&Superhighway
D ; A# J*K* /G&5%7& %5/ 01'@ 8'7', '5/ '&9* '& (L%7',+'0 D2A#;# )=CB*5%7/ '&1'@8'7', '5 D D
A#A# G&5%7& %5 / 0
6%& ( '.1'@ 8'7','5 D>
A#F # 3%& ( ( * & ''&G&5%7& %5/ 0M7=B' DN A#2 # 3%& ( ( * & ''&G&5%7& %5/ 0"H70, ' DO A#D# 3%& ( ( * & ''&G&5%7& %5/ 0"@0'/ '&G& /= & %@0 ' >P A#># 9%4= , '@09*'& (L%7',+'0 >2
$ # 3%7& 0,+* & 0 '1 '8' > >
;# +*&0'1'8'/ '&1'@ 8'7','5&8' > >
;#;# 1'@8'7','51'8' > Q
;#A# 3=4')=C*&0,'@01 '@8'7','51'8' Q; ;#A#;# <1<R ST5T
(Face-to-Face Communication)
QFA# 9% '405'@R 07 5* '4 Q Q
A#;# 3%@= &'T 04=@= H 0@9%'405'@R 07 5* '4 N;
MEMBANGKITKAN KONSUMEN DAKWAH MENGUNGGAH TUHAN
UV WX
s
Yu
ZU[ \ [X] X ^_s
`a [X _b_y
_ c d eVCybercleric
fX_[ ^_Y_
g_h_ [iU[ \ [X ] X ^_j ek l m V n_^ _^ _ [
o^[ \iY_pXj
q Wr] _^ X _ [
Dai
113
B.
Mengunggah Tuhan ke Dunia Maya
140
1. Ilusi Ketuhanan Google
140
2. Menemukan Tuhan di Dunia Maya
150
PENUTUP
A.
Kesimpulan
155
B.
Rekomendasi
158
GLOSARIUM
159
DAFTAR PUSTAKA
162
PENDAHULUAN
Lihatlah Apa yang Dikatakan,
Jangan Lihat Siapa yang Mengatakan
(Ali bin Abi Thalib r.a)
Globalisasi yang ditandai dengan kemajuan pesat di bidang teknologi
informasi dan komunikasi yang kita rasakan saat ini telah banyak memberikan
kemudahan terhadap kehidupan manusia. Beragam informasi di belahan dunia
manapun bisa kita nikmati di manapun kita berada melalui layar-layar televisi,
komputer, bahkan telepon seluler secara langsung (
live
) dari kejadian. Dunia
sebagaimana dikhayalkan oleh Marshall McLuhan tak ubahnya seperti desa
global
1
yang tak lagi mengenal ruang dan waktu.
2
Media massa adalah salah satu aspek kehidupan yang mengalami
kemajuan yang sangat pesat. Diawali dengan ditemukannya telegraf oleh
Samuel. F. B. Morse pada pertengahan tahun 1800-an yang dilanjutkan dengan
Gutenberg dengan mesin cetak pertamanya di masa yang sama, media massa
mulai mengambil bagian dominan dalam kehidupan manusia sampai
ditemukkannya teknologi radio pada tahun 1920-an yang dapat merekam,
menghasilkan dan memancarkan suara. Berlanjut pada tahun 1940-an,
ditemukannya teknologi yang mampu menghasilkan suara dan gambar gerak
(motion picture),
televisi, film dan bioskop, sampai dengan ditemukannya
teknologi Internet pada akhir tahun 1960-an
3
yang dapat menggabungkan
1
Istilah desa global atau lebih dikenal dengan global village, dipopulerkan
oleh Marshall McLuhan karena pandangan optimisnya terhadap perkembangan teknologi
yang terjadi. Pandangan optimis McLuhan tersebut bertolak belakang dengan William
Gibson, Mark Slouka dkk yang memiliki pandangan skeptic terhadap perkembangan
teknologi yang terjadi. Mengenai perdebatan ini, lebih lanjut baca: Stanley J. Baran,
Introduction to Mass Communication: Media Literacy and Culture
(New York:
McGraw-Hill, 2004), 298-299 dan bandingkan dengan Mark Slouka,
Ruang Yang Hilang:
Pandangan Humanis Tentang Budaya Cyberspace Yang Merisaukan
(Bandung: Mizan,
1995) dan Astar Hadi,
Matinya Dunia Cyberspace: Kritik Humanis Mark Slouka
Terhadap Jagat Maya
(Yogyakarta: LKiS, 2005).
2
Anthony Giddens mengatakan bahwa modernitas menuntut pembaharuan
konsep ruang
(space),
karena konsep ruang pada masa-masa awal peradaban manusia
sudah tidak berlaku lagi. Lebih lanjut baca: Anthony Giddens,
The Consequences of
Modernity
(California: Standford University Press, 1990), 14.
Pendahuluan
tulisan, suara, dan gambar gerak.
4
Semua kemajuan ini pada akhirnya membuat
masyarakat semakin tidak bisa lepas dari media massa.
5
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap
informasi, tawaran produk media massa pun bermunculan. Setiap produk media
massa berusaha untuk memanjakan konsumennya dengan berita-berita yang
up to date
, kemudahan akses, serta biaya yang ekonomis.
Internet, yang merupakan fokus kajian ini, saat ini merupakan media
massa yang paling digandrungi oleh masyarakat dunia. Hal ini terlihat jelas dari
tingginya angka penetrasi dan jumlah pengguna Internet di dunia. Berdasarkan
data terakhir (sampai tanggal 31 Maret 2011) pengguna Internet di kawasan
Asia saja menunjukkan peningkatan 706.9% terhitung dari tahun 2000-2011
dengan jumlah user 922.329.554! Sedangkan total penguna Internet di dunia
mencapai 2.095.006.005 dari total populasi 6.930.055.154, ini berarti pengguna
Internet di dunia dari tahun 2000-2011 mengalami peningkatan 480.4%!
6
Kedatangan Internet yang disambut begitu meriah oleh masyarakat
dunia tentunya dikarenakan kemudahan akses serta variasi informasi yang
tersedia di dalamnya.
7
Selain itu, Internet juga memiliki sifat-sifat menarik
yang tidak dimiliki oleh media massa lain. Grossman dkk (1999) sebagaimana
dikutip Hopkins menulis tentang Internet dan merumuskan struktur bangunan
Internet
8
sebagaimana berikut:
s
.
Struktur bangunan Internet adalah
decentralized
(tidak memiliki
central outhority
); Ia adalah jaringan dari beberapa jaringan yang ada
yang didesain tanpa
gatekeeper
.
t
.
Internet bersifat global; menyediakan akses langsung informasi dari
seluruh dunia.
4
Nuruddin,
Pengantar Komunikasi Massa
(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,
2007), 59-60 bandingkan dengan Asa Briggs dan Peter Burke,
A Social History of the
Media
(New York: Polity Press, 2000).
5
Melfin L. DeFleur dan Everette E. Dennis,
Understanding Mass
Communication
(Boston, Houghton Mifflin Company), 3.
6
Untuk mengetahui detail data statistik mengenai penggunaan Internet di
dunia, kunjungi: www.Internetworldstats.com
7
Pada dasarnya, alasan orang memilih media dipengaruhi oleh hasil yang ingin
didapat dan usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil tersebut. Sebagai contoh,
televisi lebih mudah digunakan, tidak perlu banyak usaha dibutuhkan tetapi isi di
dalamnya bisa jadi terbatas. Internet membutuhkan lebih banyak pemikiran dan
tindakan, tetapi isi di dalamnya bisa sangat bervariasi. Lebih lanjut baca: Wilbur
Schramm,
The Process and Effects of Mass Communicatin
(Urbana: University of
Illinois Press, 1954), 19.
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
3
u.
Internet bersifat
abundant
; Ia mampu mengakomodir komunikator
virtual dengan jumlah yang tak terbatas.
v
.
Internet sangatlah ekonomis; karena individu dapat mengirim pesan ke
ratusan bahkan ribuan orang melalui e-mail dengan biaya murah, dapat
berkomunikasi melalui halaman-halaman Web secara gratis.
5.
Internet bersifat
user-controlled
; dikontrol sesuai dengan keinginan
pengguna. Menurut penulis, sifat ini tidak hanya berlaku secara teknis
tetapi juga dalam konteks pemaknaan pesan yang diterima. Hal ini
berarti pengguna mempunyai otoritas penuh bagaimana memaknai
pesan-pesan yang ada di Internet.
Selain kemudahan akses, variasi informasi, serta biaya yang ekonomis,
Internet memiliki kekuatan interaktivitas. Dengan interaktivitas ini, menurut
Patricia Wallace,
9
Internet mampu menghadirkan nuansa psikologis melalui
simbol-simbol yang hanya berlaku di dunia maya. Maka adalah hal yang lumrah
terjadi saat ini seseorang memperlakukan media Internet sebagaimana
kehidupan nyata
10
Beragam fasilitas yang dijanjikan Internet sangatlah menarik perhatian
berbagai golongan masyarakat untuk beramai-ramai hijrah ke dunia maya.
Tidak memandang usia, pekerjaan, jenis kelamin, jarak atau batas apapun,
orang-orang turut meramaikan dunia maya yang akhirnya secara natural
terbentuklah apa yang disebut
cybercommunity
atau komunitas cyber.
11
Tidak ketinggalan para pencari Tuhan pun turut meramaikan dunia cyber.
Karena memang menurut Lorne L. Dawson banyak hal yang dapat dilakukan
oleh Internet untuk kepentingan agama,
12
di antaranya:
9
Internet ternyata tidak hampa dengan nuansa psikologis. Para penguna
Internet dapat marah, berkasih sayang, berkelahi dll, semua itu biasanya diwakili dengan
emoticons . Lebih lanjut baca: Patricia Wallace,
The Pscychology of the Internet
(UK:
Cambridge University Press, 1999),18-19.
10
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Byron Reeves dan Clifford Nass bahwa
kita memberlakukan media tidak hanya sebagai alat tapi sebagai bagian dari kehidupan
riil kita. Lebih lanjut baca: Em Griffin,
A First Look at Communication Theory
(New
York: McGraw Hill, 2003), 403.
11
Layaknya dunia nyata,
cybercommunity
juga memiliki tataran pranata sosial
yang mengatur kehidupan mereka. Lebih lanjut tentang
cybercommunity
baca: Burhan
Bungin,
Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi
di Masyarakat
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), 159.
12
Lorne L. Dawson, Doing Religion in Cyberspace: The Promise and the
Pendahuluan
a. Menyebarkan pesan ke seluruh dunia
Dengan fasilitas
homepage
yang disediakan Internet, kita dapat
berbagi informasi mengenai keyakinan kita dan dalam sekejap
informasi tersebat akan tersebar ke saentero dunia. Setiap orang di
belahan dunia manapun akan dengan mudah dapat mengaksesnya.
b. Membangun komunitas baru
Internet memberikan kita fasilitas untuk dapat selalu berhubungan
walau terpisah jarak dan waktu. Hal ini sangatlah menguntungkan bagi
para pemerhati agama untuk bergabung bersama dan membentuk
sebuah komunitas baru dunia maya yang bahkan tidak mungkin
diadakan di dunia nyata.
c. Menghancurkan batasan ruang dan waktu
Kehebatan Internet yang mampu menghancurkan batasan ruang dan
waktu sungguh sangat menguntungkan para praktisi agama dalam hal
membuka wacana keagamaan seluas-luasnya melalui dialog antar
keimanan
(inter-faith dialogue).
Siapapun dari penjuru dunia, tanpa
terganggu batasan ruang dan waktu, dapat berpartisipasi dalam dialog
yang digelar di dunia maya ini.
d. Melaksanakan ritual di dunia virtual
Internet ternyata tidak hanya sebatas wahana yang bertaburan angka,
huruf dan gambar yang dapat dibaca dan dilihat. Dengan kemajuan
teknologi seperti animasi 3-D, Internet dapat menjadi wadah
pengadaan ritual keagamaan di dunia maya.
e. Mengembangkan pemahaman yang lebih terbuka dalam beragama.
Dengan berlimpahnya informasi keagamaan yang berasal dari berbagai
pemahaman, para pencari hakikat keagamaan tentunya dapat
membandingkan beragam informasi itu sehingga memberikan dan
mengembangkan kesadaran beragama yang lebih terbuka.
A.
Benang Kusut Dakwah di Dunia Maya
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
5
Ternyata manusia tidak lagi mencari Tuhan di altar-altar suci
pemujaan, tidak juga di masjid dan wihara. Manusia di abad digital ini mencari
hakikat Tuhan dan cinta di dalam bilyunan kode biner yang berjalin bersama
menjadi sebuah sistem Internet yang menggurita. Manusia modern menemukan
Tuhan dan cinta mereka di dalam format pdf, exe, mp3, atau wma.
13
Fakta lain yang cukup mengejutkan dirilis oleh Pew Internet and
American Life Project
14
bahwa sekitar 28 juta orang Amerika menggunakan
Internet untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan keagaamaan dan
spiritualitas serta membangun hubungan dengan orang lain sesama
surfer
dalam
perjalanan keimananan mereka. Mereka inilah yang kemudian dijuluki Religion
Surfers.
15
Berikut ini adalah tabel detil kegiatan-kegiatan keagamaan para
Religion Surfer lengkap dengan persentase jumlah mereka dalam setiap
kegiatan:
Persentase para Religion Surfers yang pernah
Mencari informasi tentang agama mereka sendiri
67%
Mencari informasi tentang keimanan agama lain
50%
Mengirim permohonan doa via e-mail
38%
Mendownload musik religi
38%
Memberikan bimbingan spiritual via e-mail
37%
Membeli atribut keagamaan
online
34%
Merencanakan kegiatan-kegiatan keagamaan via e-mail
29%
13
Disarikan
dari
Fatah,
Mecari
Tuhan
di
,
http://fatah75.wordpress.com/2008/06/06/mencari-tuhan-di-google/ (diakses tanggal 20
Desember, 2009), bandingkan dengan Garin Nugroho & Nurjanah Intan,
Who is God?
Mencari Tuhan Lewat Google
(Yogyakarta: Penerbit Buku Grhatama, 2009).
14
Lihat http://www.pewInternet.org/reports/reports.asp, lebih lanjut baca Elena
Larsen, Cyberfaith: How Americans Pursue Religion
Online
dalam
Religion Online:
Finding Faith on the Internet
, ed. Lorne L. Dawson dan Douglas E. Cowan (New York:
Routledge, 2004), 17-20.
15
25% dari pengguna Internet tercatat mendapatkan informasi yang berkaitan
dengan keagamaan dan spiritualitas secara
online
. Ini menunjukkan kemajuan dari survei
yang diadakan sebelumnya yaitu pada akhir tahun 2000 yang menunjukkan bahwa 21%
dari pengguna Internet atau sekitar 19 sampai 20 juta orang
online
untuk mencari
materi-materi keagaaman dan spiritualitas.
Lebih dari 3 juta orang dalam satu hari mengakses materi-materi keagamaan
dan spiritualitas, hal ini menunjukkan kenaikan dari tahun sebelumnya yang mencatat
hanya 2 juta orang dalam sehari mengakses materi-materi keagamaan dan spiritualitas.
Pendahuluan
Mendapatkan ide untuk membuat upacara keagamaan
online
Mendaftar ke
religious Listserv
Mendownload khotbah
Mendapatkan ide cara-cara merayakan
religious holidays
Mencari bimbingan spiritual via
Online
untuk mencari gereja baru
Berpartisipasi dalam
religious chat rooms
Bermain game komputer spiritual
Berpartisipasi dalam
online worship
Mengambil kursus keagamaan
online
Menggunakan
a faith-oriented matchmaking service
28%
27%
25%
22%
21%
14%
10%
5%
4%
3%
3%
Sumber: Pew Internet and American Life Project Religion Surfers.
Survei
, 24
Juli- 15 Agustus 2001. N=500; margin of error +/-4%.
16
Survei yang dilakukan oleh Pew Internet and American Life Project ini
juga mencatat fakta lain yang tak kalah penting, bahwa para Religion Surfers
beranggapan bahwa sumber-sumber kunci masalah spiritualitas lebih mudah
didapat secara
online
.
17
Fakta-fakta yang diungkap Google Zeitgeist dan survei Pew Internet
and American Life Project di atas memberikan kita satu pandangan baru
mengenai Internet dan agama, bahwa Internet telah menjelma menjadi ladang
subur bahkan sebuah kebutuhan bagi perkembangan agama,
18
walaupun
menurut Mara Einstein Internet juga merupakan tempat subur bagi para
pebisnis agama.
19
Menurut Nurcholish Madjid,
20
Internet merupakan media
16
Elena Larsen,
Cyberfaith: How Americans Pursue Religion Online
dalam
Religion Online: Finding Faith on the Internet,
19 bandingkan dengan Ja>bir bin
Muh}ammad Na>s}ir Buhjam,
Madkhal ila> Manhajiyyat al-Da wah abra al-Internet
(AlJazair: Ma had al-Mana>hij, 2007)
17
64% dari para Religion Surfers percaya bahwa akses ke pembelajaran
keagamaan dan materi-materi pendidikan keagamaan lebih mudah didapat secara
online
daripada mencarinya offline .
Hampir setengah (44%) dari mereka percaya bahwa akses untuk doa dan
beragam kegiatan kebaktian lainnya lebih mudah mereka dapatkan di Internet daripada
mencarinya offline .
Bagi mereka yang bukan anggota dari organisasi keagamaan, bergantung pada
Internet untuk mencari sumber-sumber informasi keagamaan. Sedangkan bagi mereka
yang memang anggota dari organisasi tertentu, mencari komunitas mereka di Internet.
18
Brenda E. Brasher,
Give me That ONLINE RELIGION
(San Fransisco:
Jossey-Bass, 2001), 11.
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
7
efektif untuk menggelar dialog antar-iman (
inter-faith dialogue
), ini terlihat
jelas dari banyaknya situs-situs yang bermunculan yang mempromosikan hal
tersebut.
Kesuburan tersebut tentunya didukung oleh sifat Internet yang
memang terbuka bagi siapapun. Seseorang hanya memerlukan seperangkat
komputer dan modem yang tersambung dengan jaringan telpon untuk dapat
bergabung mewarnai Internet. Khusus bagi aktifitas dakwah, keterbukaan
Internet sangatlah berimplikasi positif bagi ajaran Islam yang menganjurkan
umat Islam untuk menyampaikan pesan-pesan Allah walau hanya satu hal.
21
Banyaknya halaman Internet yang memuat artikel-artikel tentang Islam adalah
bukti nyata bahwa Internet adalah medium yang pro dakwah. Hal ini tentunya
kabar gembira bagi para praktisi agama (dai).
Namun celakanya, keterbukaan Internet secara tidak disadari
mengakibatkan krisis bagi otoritas dan otentisitas kebenaran agama itu
sendiri.
22
Dahulu, kebenaran makna ajaran-ajaran agama hanya milik mereka
yang dikenal memiliki pengetahuan keagamaan yang luas dan kesalehan sosial
yang baik, sebagaimana yang didukung oleh teori dakwah yang memang
mensyaratkan kriteria dai sukses dengan akhlak mulia dan penguasaan berbagai
disiplin ilmu agama.
23
Hal ini juga diamini oleh teori komunikasi yang
menyatakan bahwa komunikasi akan mencapai tujuan maksimalnya jika pesan
disampaikan oleh seorang komunikator yang kredibel dan berkepribadian
menarik.
24
Tapi di dunia maya, siapapun berhak untuk menyampaikan
pesan-20
Sukidi Imawan,
Teologi Inklusif Cak Nur
(Jakarta: Penerbit Buku Kompas,
2000).
21
Sebagaimana hadis Rasulullah yang menyatakan
"
"
(H.R.
Bukhari). Hadis no. 3274 Kitab al-Ja>mi al-S}ah}i>h al-Mukhtas}ar karya Muh}ammad Ibnu
Isma> i>l Abu> Abdullah al-Bukha>ri> (Beirut: Da>r Ibnu Kathir, 1987).
22
Dua hal inilah yang diperingati oleh Dawson dan Cowan dalam tulisan
pembuka buku yang mereka edit mengenai Religion
Online
dalam
Religion Online:
Finding Faith on the Internet,
Lorne L. Dawson dan Douglas E. Cowan (New York:
Routledge, 2004).
23
Muh}ammad Rajab al-Shatiwi,
al-Da wah al-Isla>miyyah fi> D{aw i al-Kita>b wa
al-Sunnah,
(Kairo: Da>r al-T{iba> ah al-Muhammadiyyah, 1990), Muh}ammad Amh}azu>n,
Manhaj al-Nabi> fi> Da wah min Khila>l al-Si>rah al-S{ah}i>h}ah
(Kairo: Da>r al-Ssala>m, 2003),
Abdulla>h Na>s}ih} Ulwa>n,
Silsilah Madrasah al-Du a>t
(Kairo: Da>r al-Ssala>m, 2004), Abd
al-Kari>m Zayda>n,
Us}u>l al-Da wah
(Beirut: Mu assah al-Risa>lah, 2001).
24
Stanley J. Baran,
Self, Symbols & Society
(Addison-Wesley Publishing
Pendahuluan
pesan agama. Tidak ada aturan yang mengikat seseorang untuk mencantumkan
identitas aslinya ketika menulis pesan-pesan agama di dunia maya, juga tidak
ada aturan yang membatasi apa yang boleh dan tidak boleh ditulis oleh
seseorang di dunia maya, sehingga kita tidak dapat membedakan mana dai yang
benar dan mana dai yang tidak benar.
25
Komplesitas permasalahan semakin
rumit dengan kenyataan bahwa anonimitas di dunia maya tidak dapat
dielakkan.
26
Pertanyaan besar selanjutnya adalah siapakah yang memegang
otoritas pemaknaan pesan-pesan agama yang begitu melimpah di dunia maya
jika dihadapkan dengan anonimitas penulis pesan tersebut? Apakah dengan
ketidak jelasan identitas penulis, makna pesan-pesan agama tersebut turut
menjadi bias?
Mengenai makna sebuah teks, Roland Barthes berargumen bahwa teks,
ketika sudah menjadi sebuah tulisan, memiliki makna otonom dari penulisnya.
Baginya, si penulis
(author)
hanya akan menjadi tirani yang mengungkung
makna teks dengan kondisi psikologis dan sosiologisnya.
27
Argumen Roland Barthes yang menyatakan kematian seorang
pengarang sejatinya sejalan dengan madzhab hermeneutika transendental yang
berpandangan bahwa untuk menemukan makna teks tidak harus mengaitkan
dengan pengarangnya karena sebuah makna dapat berdiri otonom ketika tampil
dalam teks. Dalam konteks permasalahan apakah memahami makna sebuah
teks harus mengetahui kaitan psikologis-historis dari pengarangnya? Ataukah
cukup dengan memusatkan pada teks sebagai karya yang berdiri sendiri? Selain
hermeneutika transcendental, ada satu madzhab lain, yaitu hermeneutika
historis psikologis yang berpadangan bahwa teks adalah eksposisi eksternal dan
The Influence of Source Credibility on Communication Effectiveness,
Public Opinion
Quarterly
(1951).
25
Menurut Jum ah Ami>n Abd al- Azi>z kata da> iyah dalam terminologi
bahasa Arab menunjukkan dua kategori dai, dai yang mengajak kepada kebenaran dan
dai yang mengajak kepada kesesatan (Jum ah Ami>n Abd al- Azi>z,
al-Da wah: Qawa> id
wa Us}ul
(Alexandria: Da>r al-Da wah, 1999), 18.
26
J. L Mnookin, Virtual(ly) Law: The Emergence of Law in LambdaMOO,
Journal of Computer-Mediated Communication
2 (l), Part 1 (1996).
27
Roland Barthes,
Image, Music, Text
(New York: Hill and Wang, 1977).
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
9
temporer saja dari pikiran pengarangnya, sementara kebenaran yang hendak
disampaikan tidak mungkin terwadahi secara representative dalam teks.
28
Jika kita kembali kepada pertanyaan siapakah yang memegang otoritas
pemaknaan pesan-pesan agama yang begitu melimpah di dunia maya jika
dihadapkan dengan anonimitas penulis pesan? Penulis berhipotesa bahwa
otoritas pemaknaan berada pada para pembaca pesan-pesan agama tersebut.
Atau jika penulis bahasakan dengan bahasa dakwah, pemaknaan pesan-pesan
dakwah tidak bergantung pada identitas dai melainkan berada dalam otoritas
mad u, dengan kata lain mengadopsi redaksi Roland Barthes dai telah
mati.
Hipotesis tersebut didukung oleh perkataan Imam Ali r.a yang
menyatakan lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang
mengatakan .
29
Pernyataan Imam Ali r.a di atas dengan jelas mendorong kita
untuk menjadi penerima pesan yang objektif memaknai tanpa harus terpengaruh
oleh penyampainya. Dalam pandangan ilmu komunikasi, hipotesis penulis ini
didukung oleh para ilmuwan komunikasi seperti Lee Thayer, Rene-Jean
Ravault, Stuart Hall, dan Bakti dengan teori resepsi aktif
(active-recipient
theory)
30
mereka yang mengatakan bahwa media massa tidaklah sehebat yang
dibayangkan, para penerima pesan media
(receiver)
tidaklah pasif tapi aktif,
bahkan dapat memberikan reaksi berbalik sebagaimana dijelaskan oleh teori
boomerang
(boomerang effects theory).
31
Hampir senada dengan teori
boomerang, teori perkiraan kedua
(second-guessing theory)
menyatakan
ketika
receiver
mendapatkan ketidak akuratan pesan (baik dari isi, atau
penyampai pesan), maka
receiver
akan memberikan reaksi berbalik.
32
Ketiga
28
Gerald L. Bruns,
Hermeneutics Ancient & Modern
(Yale University Press,
1992), 2-3 sebagaimana dikutip oleh Komaruddin Hidayat dalam
Memahami Bahasa
Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik
(Jakarta: Penerbit Paramadina, 1996) lebih lanjut
tentang hermeneutika, baca: Richard E. Palmer,
Hermenutics
(Evanston: Northwestern
University Press, 1969), John B. Thompson (Ed.),
Paul Ricouer Hermeneutics and the
human sciences
(New York: Cambridge University Press, 2005), John D. Caputo,
More
Radical Hermeneutics: On Not Knowing Who We Are
(Bloomington: Indiana
University Press, 2000) .
29
Abd al-Wa>h}id bin Muh}ammad bin Abd al-Wa>h}id al- Aqdami> al-Tami>mi>,
Ghurar al-H}ikam wa Durar al-Kalim
(Mathba ah al- Irfa>n, 1931) Fashl 85 hadits ke 40
dengan redaksi
La> tanz}ur ila> man qa>la wa unz}ur ila> ma> qi>la
.
30
Sebagaimana dikutip oleh Andi Faisal Bakti,
Communication and Family
Planning in Islam in Indonesia: South Sulawesi Muslim Perceptions of a Global
Development Program
(Leiden: INIS, 2004), 27.
31
Andi Faisal Bakti,
Communication and Family Planning
, 108, 113-117.
32
Stephen W. Littlejohn,
Theories of Human Communication,
4
th
edition
Pendahuluan
teori ini secara implisit menunjukkan bahwa penerima pesan memiliki otoritas
penuh dalam memaknai pesan yang mereka terima.
Hipotesis penulis di atas masih memerlukan kajian lebih lanjut yang
lebih mendalam. Hal ini menjadi penting karena kita harus menyikapi
pesan-pesan anonim yang berbicara tentang agama di dunia maya dengan bijak. Kita
tidak bisa menolak pesan-pesan tersebut jikalau memang ternyata terbukti
pesan-pesan tersebut lebih nyaring suaranya dan lebih bersih dalam
menyuarakan
pesan-pesan
agama.
Atau
memang
kita
harus
menyingkirkannya
33
sebagaimana yang disangkakan Kuntowijoyo lantaran
pengetahuan agama yang diperoleh dari sumber-sumber anonim seperti Internet,
bukan lembaga-lembaga Islam konvensional seperti masjid, hanya akan
membuat generasi baru Muslim saat ini tidak merasa sebagai bagian dari umat.
Sandy Stone menceritakan dalam tulisannya yang berjudul
"Will the
Real Body Please Stand Up? Boundry Stories about Virtual Cultures"
sebuah
kasus tentang anonimitas di dunia maya yang menggemparkan komunitas dunia
cyber
. Kasus ini tentang seseorang bernama Julie. Julie terdaftar dalam sebuah
komunitas elektronik sejak pertengahan tahun 1980-an. Julie, seorang wanita
tua cacat dengan kepribadian menarik dan banyak memberikan tulisan-tulisan
inspiratif di komunitasnya sehingga banyak perempuan di komunitas tersebut
yang menjadi teman Julie dan meminta nasehat tentang beragam masalah
termasuk masalah-masalah kehidupan pribadi mereka. Beberapa tahun berlalu,
salah satu teman Julie memintanya untuk bertemu secara personal di dunia
nyata. Dari pertemuan itulah terungkap ternyata Julie bukanlah seorang wanita
tua cacat sebagaimana yang diakuinya selama ini. Julie ternyata adalah seorang
laki-laki setengah baya yang berprofesi sebagai psikiater. Pasca terungkapnya
rahasia Julie, para wanita yang sempat berkonsultasi menceritakan
permasalahan pribadi mereka merasa terbohongi dan privasi mereka terbongkar.
Tetapi, di antara mereka ada yang tidak keberatan dan
tidak
mempermasalahkan identitas Julie, selama nasehat-nasehat yang diberikan
selama ini baik dan berguna, siapapun sebenarnya Julie bukanlah masalah.
34
Fenonema Julie yang diceritakan di atas mempunyai kesamaan dengan
fenomena Abdullah Gymnastiar. Seorang dai kondang yang lebih dikenal
dengan Aa Gym ini konon ditinggalkan oleh sebagian jama ahnya khususnya
dari kaum ibu setelah melakukan poligami karena dinilai tidak konsisten
dengan dakwahnya selama ini. Walaupun tidak semua jama ahnya
berpandangan sama.
33
Kuntowijoyo,
Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik
dalam Bingkai Strukturalisme Transendental
(Bandung: Penerbit Mizan, 2001), 130.
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
11
Kedua fenomena ini bermuara pada masalah yang sama, identitas
penyampai pesan. Intinya adalah betapa sesungguhnya pesan-pesan keagamaan
yang disampaikan baik oleh Julie atau Aa Gym secara intrinsik benar namun
dimaknai berbalik oleh sebagian orang karena pengaruh identitas penyampai
pesan yang dinilai bertolak belakang dengan apa yang disampaikan.
Hal lain yang mendukung perlunya penelitian lebih lanjut adalah fakta
bahwa Indonesia, berdasarkan data yang dirilis oleh Internet World Statistic
(lihat gambar 1), ternyata menempati posisi ke 13 dari 20 negara di dunia
dengan jumlah pengguna Internet terbanyak. Dengan fakta ini, perlu diadakan
penelitian lebih lanjut terkait jumlah pengguna Internet di Indonesia yang
membaca teks-teks anonim yang berbicara tentang agama, sejauh mana mereka
menerima kebenaran yang dihadirkan oleh teks-teks anonym tersebut jika
dibandingkan dengan kebenaran yang disampaikan melalui model-model
ceramah konvensional.
[image:19.595.97.502.154.571.2]Gambar 1.
Daftar 20 Negara dengan jumlah pengguna Internet tertinggi di dunia.
35
35
Diunduh dari http://www.Internetworldstats.com/top20.thm pada tanggal 22
Pendahuluan
Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat mengidentifikasi beberapa
permasalahan yang relevan sebagaimana berikut:
a. Setelah mengamati data tingginya penetrasi Internet di dunia, maka
timbullah keinginan penulis untuk mengetahui lebih detail bagaimana
sebenaranya lalu lintas Internet yang begitu padat, siapa saja aktor di
balik
raksasa teknologi
36
ini dan bagaimana dunia menyikapi
anonimitas yang ada didalamnya.
b. Beragam fasilitas yang disediakan Internet memaksa para praktisi
dakwah untuk turut mencebur ke kolam dunia maya. Mereka kemudian
berbondong-bondong menghijrahkan agama ke dunia maya.
Mungkinkah agama yang begitu melangit , sarat dengan nilai-nilai
ketuhanan direduksi ke dalam sebuah sistem Internet yang anonym dan
tak memiliki nilai?
c. Angka pengguna Internet di Indonesia menunjukkan angka yang cukup
fantastis akan tetapi penelitian mengenai penggunaan Internet untuk
urusan keagamaan khususnya
agama Islam di Indonesia masih
minim.
d. Otoritas pemaknaan ajaran keagamaan selama ini terkungkung oleh
identitas penyampai baik perorangan ataupun lembaga ajaran
agama tersebut. Otonomisasi kebenaran makna ajaran dari identitas
penyampai merupakan solusi yang dapat diambil dalam rangka
purifikasi kebenaran ajaran agama itu sendiri.
Pada sebuah penelitian, keluasan masalah dan lingkup yang terkait
dengan objek yang diteliti adalah keniscyaan. Sehingga sebuah penelitian
mutlak memerlukan batasan masalah yang akan diteliti. Selain bertujuan untuk
menjadikan kajian lebih fokus dan terarah juga sebagai acuan pencarian data
sehingga terarah dan tepat sasaran.
Penelitian ini sejatinya akan membahas masalah anonimitas
pesan-pesan keagamaan di dunia maya. Dalam hal ini ada tiga masalah pokok yang
harus di batasi, yaitu anonimitas , pesan-pesan keagamaan dan dunia
maya .
Pertama
, terma anonim yang berarti keadaan di mana penulis
(author)
asli pesan tersebut tidak diketahui. Anonimitas pesan yang penulis
maksud disini adalah anonimitas dalam semua tingkatannya; pesan anonim yang
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
13
sama sekali tidak dapat diketahui siapa penulis aslinya dan pesan yang yang
sulit diketahui siapa penulisnya tapi masih memungkinkan untuk diketahui.
37
Kedua,
terma pesan-pesan keagamaan . Mengingat ada beragam
pesan yang berkeliaran di dunia maya, maka dalam konteks kajian ini, penulis
membatasi penelitian pada pesan-pesan keagamaan, dalam bentuk apapun dan
dari agama apapun. Dengan pembatasan ini berarti pesan-pesan yang membahas
selain urusan keagamaan tidak termasuk dalam kajian.
Ketiga,
terma dunia maya . Dunia maya adalah dunia yang sangat
luas untuk dikaji. Dalam konteks kajian ini, penulis membatasi penelitian pada
beberapa ruang dari dunia maya, yaitu :
newsgroup
/ discussion group, email,
dan webpage.
38
Pembatasan ini bermaksud untuk tidak memasukkan
pesan-pesan keagamaan yang ada di ruang conferencing/ chat seperti AOL Instant
Messenger, Yahoo Messenger atau IRC dan tentunya segala hal yang berkaitan
dengan dunia offline ke dalam kajian.
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi serta pembatasan
masalah yang telah diuraikan sebelumnya maka pertanyaan pokok yang yang
akan dijawab dalam penelitian ini adalah:
a. Apa dan bagaimana hakikat dunia maya?
b. Bagaimana membingkai agama yang luhur ke dalam Internet yang
tanpa nilai?
c. Bagaimana menyikapi anonimitas pesan-pesan keagamaan di dunia
maya?
Beberapa pertanyaan pokok di atas mendasari perumusan masalah yang
akan diteliti. Maka perumusan masalah pada penilitian ini adalah:
Apakah otoritas pemaknaan pesan-pesan keagamaan di dunia maya
bergantung pada identitas dai ?
37
Jacob
Palme,
Anonimity
on
the
Internet,
http://people.dsv.su.se/~jpalme/society/anonymity.html (diakses pada tanggal 22-Februari,
2010).
38
Penelitian yang dilakukan oleh Özgürol Öztürk dan Kerem Rizvanoglu
Pendahuluan
B.
Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian mengenai agama dan Internet sebenarnya bukanlah hal yang
baru. Pada tahun 2000, Gary R. Bunt dalam bukunya
Virtually Islamic
telah
mengkaji bagaimana Islam degan segala perangkatnya mencoba membaur dalam
sebuah sistem komunikasi bermedia komputer
(computer mediated
communication).
Dengan bukunya tersebut, Bunt ingin mengatakan bahwa
Islam tetap mampu berbaur dalam sebuah sistem CMC tanpa harus kehilangan
jati dirinya.
39
Dua tahun setelah itu, Bunt kembali memublikasikan karyanya
yang berjudul
Islam in the Digital Age.
Dalam bukunya ini, Bunt lebih berfokus
pada gerakan jihad yang dimediasikan oleh Internet, khususnya pasca peristiwa
11 September.
40
Pada tahun 2001, Brenda E. Brasher menulis buku dengan judul
Give
me That Online Religion.
Dalam bukunya tersebut, Brasher mengungkapkan
optimismenya mengenai perkembangan spiritualitas di dunia maya. Baginya,
spiritualitas tanpa memandang dari agama apapun itu tetap dapat hidup
subur di dunia maya.
41
Pada tahun 2002, sebuah buku dengan judul
Practicing Religion in the
Age of Media
hadir dengan kajian komprehensif mengenai bagaimana media,
agama dan budaya, dalam rentang peradaban manusia, saling mewarnai satu
sama lain. Buku yang diedit oleh Stewart M. Hoover dan Lynn Schofield Clark
ini menyoroti secara tajam perubahan pola keberagamaan masyarakat di era
media.
42
Pada tahun 2004, Singapore Internet Research Center mengadakan
penelitian bagaimana masyarakat Singapura memakai Internet untuk
tujuan-tujuan keagamaan.
43
Hal menarik dari penelitian ini adalah fakta yang
mengatakan bahwa bahwa masyarakat Muslim dan Kristen Singapura adalah
para pemeluk agama yang paling aktif melakukan kegiatan keagamaan yang
menyangkut agama orang lain, seperti mencari informasi tentang agama selain
39
Lebih lanjut baca: Gary R. Bunt,
Virtually Islamic: Computer-mediated
Communication and Cyber Islamic Environments
(Cardiff: University of Wales Press,
2000).
40
Lebih lanjut baca: Gary R. Bunt,
Islam in The Digital Age: E-Jihad, Online
Fatwas, and Cyber Islamic Environments
(London: Puto Press, 2003).
41
Lebih lanjut baca: Brenda E. Brasher,
Give me That ONLINE RELIGION
(San Fransisco: Jossey-Bass, 2001).
42
Lebih lanjut baca: Stewart M. Hoover and Lynn Schofield Clark (Ed.),
Practicing Religion in the Age of The Media
(New York: Columbia University Press,
2002).
43
Randolph Kluver, Benjamin H. Detenber, Lee Waipeng, Shahiraa Sahul
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
15
agama mereka, mengadakan komunikasi dengan pemeluk agama lain, atau ikut
membeli/ menggunakan servis yang disediakan agama lain.
Pada tahun 2005, Jumroni dari fakultas dakwah dan komunikasi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta meneliti bagaimana website dakwah berfungsi
sebagai media dakwah kontemporer pada era informasi dan teknologi
komunikasi.
44
Salah satu dari kesimpulan penelitian ini mengatakan bahwa situs
dakwah yang ditemukan di media Internet di Indonesia ternyata tidak banyak,
tidak sebanding dengan banyaknya aktivitas dakwah itu sendiri, hanya sembilan
domain
saja
yaitu:
www.aldakwah.org,
www.alhikmah.com,
www.cybermq.com,
www.ldii.or.id,
www.alsofwah.or.id,
www.muhammadiyah-tabligh.or.id, www.al-muhajir.or.id, www.salafy.or.id dan
www.al-islam.or.id .
Pada tahun 2006, Ibrahim bin Abdurrahim Abid membahas tuntas
bagaimana memanfaatkan Internet untuk kepentingan dakwah, dengan
membagai pembahasan dalam tiga bagian pokok yaitu pembahasan mendalam
tentang dakwah, Internet dan teknis pemanfaatan Internet untuk dakwah.
Penelitian dengan judul:
)
(
merupakan disertasi yang ia tulis untuk mendapatkan gelar doktor di
Universitas Imam Ibnu Saud al-Islamiyyah.
Pada tahun 2008,
Heidelberg Journal of Religion on the Internet
memublikasikan penelitian Simon Jenkis yang berjudul
Rituals and Pixels:
Experiments in Online Church.
Dalam artikelnya, Simon Jenkins meneliti
bagaimana sebuah ritual keagamaan diadakan di dunia
cyber
. Penelitiannya
berfokus pada pengadaan ritual di geraja
online
yang disebut Church of Fools.
Hal menarik dari penelitian ini adalah bahwa Gereja
online
yang dibangun oleh
Simon dkk ternyata disambut baik oleh para pengguna Internet, hal ini terlihat
dari banyaknya partisipan yang mengikuti kegiatan ritual keagamaan di gereja
online
tersebut. Dan ritual yang diadakan dalam dunia cyber tersebut ternyata
dilaksanakan dengan khidmat sebagaiamana diadakan di gereja dunia nyata.
45
Pada tahun 2009, Gary R. Bunt kembali berkarya, ia menulis buku
berjudul iMuslims. Bukunya ini dianggap sebagai pelengkap dari dua buku
sebelumnya yang ia tulis (
Virtually Islamic
dan
Islam in The Digital Age
).
Salah satu hal yang ingin ia katakan melalui buku ini adalah bahwa komunikasi
44
Jumroni, Laporan Penelitian Individual Website Dakwah Sebagai Media
Dakwah Kontemporer Pada Era Informasi dan Teknologi Komunikasi, Analisis Situs
Dakwah di Media Internet ,
Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
(2005).
45
Lebih lanjut baca Simon Jenkins, Ritual and Pixels; Experimetns in
Online
Pendahuluan
bermedia computer (CMC) mempunyai dampak transformative pada Islam dan
orang Muslim dalam memahami konteks ajaran agama Islam.
46
Berbeda dengan penelitian 10 tahun terakhir, buku
Matinya Sang Dai;
Otonomisasi Pesan-pesan Keagamaan di Dunia Maya
ini berfokus pada
pengkajian otoritas pemaknaan pesan-pesan keagamaan di dunia maya.
Penelitian ini merupakan kajian terhadap makna otonom pesan-pesan
keagamaan di dunia maya. Melalaui kajian ini diharapkan dapat menambah
khazanah kajian ilmiah tentang agama di dunia maya.
Lebih lanjut, penelitian ini bermanfaat bagi para praktisi, akademisi,
dan peneliti lain khususnya yang bergerak di bidang dakwah dan komunikasi
karena telah
memberikan satu pandangan baru tentang otoritas pemaknaan
pesan-pesan keagamaan.
C.
Bingkai dan Metodologi Penelitian
a. Jenis Penelitian
Penelitian dalam buku ini merupakan jenis penelitian kualitatif.
47
Walaupun menurut Wardi Bachtiar istilah jenis penelitian kualitatif dan
kuantitatif tidak dikenal di dalam literatur-literatur riset. Keduannya lebih
dikenal sebagai jenis data, yaitu data kualitatif dan kuantitatif.
48
b. Sumber Data Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber peneltian ini terdiri dari sumber primer dan sumber sekunder.
Menurut Lofland
49
sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah
kata-kata
dan
tindakan,
selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan
lain-lain. Berdasarkan hal itu dan dikarenakan penelitian ini adalah penelitian
kualitatif maka sumber utama penelitian ini adalah catatan wawancara di
lapangan, yang dalam hal ini lapangan maya.
46
Lebih lanjut baca: Gary R. Bunt,
iMuslims: Rewiring the House of Islam
(Kuala Lumpur: The Other Press, 2009).
47
Penelitian kualitatif sendiri adalah penelitian yang dimaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku,
persepsi, motivasi, tindakan dll., secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam bentuk
kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan
memanfaatkan berbagai metode alamiah. Lihat: Lexy J. Maleong,
Metodologi Penelitian
Kualitatif
(Bandung: Rosdakarya, 2008), 6.
48
Wardi Bachtiar,
Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah
(cet.1, Jakarta: Logos,
1997), 21.
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
17
John D. Brawer mengatakan untuk mengakses makna-makna sosial,
mengamati perilaku dan bekerja secara profesional dengan informan, ada
beberapa metode pengumpulan data yang relevan seperti observasi terlibat
(participation observation)
, wawancara mendalam
(in-depth interview)
,
penggunaan dokumen-dokumen personal dan analisis diskursif
(discourse
analysis)
bahasa alami.
50
Maka dalam penelitian ini, penulis mengunakan
metode wawancara mendalam (
in-depth interviews
) dan pengamatan
berperanserta
(participant observation)
dengan para informan di dunia maya
atau biasa dikenal dengan metode
cyber etnography.
51
Penggunaan metode
participant observation
(pengamatan berperan serta) dalam sebuah setingan
virtual mensyaratkan beberapa kriteria, seperti memiliki pengetahuan mengenai
aturan berinteraksi antar para
insider,
bagaimana mengatur tempat dengan
cara yang dapat diterima dan bahkan telah bersosialisasi di dalam suatu
budaya.
52
Oleh karenanya, penulis dalam hal ini melakukan semacam
penjajakan diri di lapangan sebelum memulai penelitian.
Memindahkan etnografi ke dalam sebuah setingan
online
mengharuskan pengujian ulang dasar-dasar praktek epistemis yang mencirikan
sebuah pekerjaan etnografis. Hal yang paling
pertama
adalah perubahan dalam
fokus kajian dari interaksi tatap muka (face-to-face) menjadi bentuk-bentuk
interaksi virtual.
53
Misalnya etnografi virtual mungkin saja
berbasis online
50
John. D. Brewer,
Ethnography
(Philadelphia: Open University Press).
51
Penggunaan metode etnografi untuk sebuah penelitian di dunia maya
sebagaimana dikatakan oleh Wittel adalah sesuai dengan konsep lapangan dalam
studi etnografi yang lentur dan dapat diaplikasikan di lapangan dunia maya
(cyberspace),
lihat: A. Wittel, Ethnography On the Move: From Field to Net to
Internet,
Forum: Qualitative Social Research
1(1) (2000, January),
http://qualitative-research.net/index.php/fqs/article/viewArticle/1131/2517 (diakses tanggal 12 Februari,
2010) bandingkan dengan Annette Markham, Reconsidering self and other: the
methods, politics, and ethics of representation in
online
ethnography, dalam
Handbook
of qualitative research,
ed. N.K. Denzin dan Y.S. Lincoln (Thousand Oaks: Sage, 2004),
Christine Hine,
Virtual ethnography
(London, Thousand Oaks & New Delhi: Sage,
2000), Kate Eichhorn, Sites Unseen: Ethnographic Research in a Textual Community,
Qualitative Studies in Education
14, 4 (2001): 565-78, Adi Kuntsman,
Cyberethnogrpahy as Home Work,
Anthropology Matters Journal
6, 2 (2004),
http://www.anthropologymatters.com (diakses tanggal 12 Februari, 2010). Karena
memang
cyber ethnography
sendiri mengasumsikan bahwa apa yang berlaku di dunia
maya tidaklah berbeda dengan apa yang berlaku di dunia nyata, lihat: Allison Cavanagh,
Behavior in Public?: Ethics in Online Ethnography,
Cybersociology 6, 2
(1999),
http://www.cybersociology.com/files/6_2_ethicsin
online
ethnog.html (diakses tanggal 12
Februari 2010).
52
Annette N. Markham,
Life Online: researching real experience in virtual
space
(altaMira Press, 1998)
53
Robert. V. Kozinets,
Netnography: Doing Ethnographic Research Online
Pendahuluan
interviewing
, yang merupakan sebuah bentuk khusus dari situasi interaktif
yang memerlukan kemampuan interpretatif tertentu dari seorang peneliti.
54
Walaupun isyarat-isyarat non verbal seperti kontak mata dan bahasa tubuh
merupakan cara krusial untuk membangun suatu hubungan dalam interview
tatap muka,
online interview
harus bersandar pada bentuk-bentuk isyarat
paralinguistis yang lain. Yang biasa digunakan seperti
emoticon
. Lebih dari itu,
penggunaan huruf kapital tanda seru dapat menunjukkan emosi dalam
berkomunikasi dan penekanan-penekanan hal penting. Dalam etnografi virtual,
bentuk-bentuk isyarat tekstual tersebut harus diteliti sebagai bagian dari
interview yang harus ditafsirkan.
Kedua
, sifat alami dari lapangan dan bagaimana kita
mendefinisikannya adalah hal yang harus diformulasikan ulang dalam etnografi.
Seorang etnografer virtual tidak dapat bergantung pada batasan-batasan fisik
dalam mendefinisikan lokasi; sebagai gantinya, mereka biasanya bergantung
pada hubungan dan praktek-praktek berbagi
(connection and shared practice)
.
55
Kebanyakan kajian Internet yang ditulis dan diterbitkan pada dekade
yang lalu telah memberikan semangat kemajuan baik sisi pemahaman
konseptual dan metodologis sebuah penelitian lapangan di dunia maya
(Fernback,
56
Kendall,
57
dan Stone
58
). Banyak dari para ilmuwan yang
memberikan definisi baru bagi terma lapangan (field) dalam dunia maya.
Annette Markham
59
misalnya, ia mengemukakan konsep diskursif ketimbang
geografis batasan-batasan lapangan; Christine Hine mendeskripsikan ide
virtual etnography yang berfokus pada kejadian
(event)
daripada budaya atau
lokasi; dan Kate Eichhorn
60
menyarankan untuk menggunakan terma
textual
54
Pauline Maclaran, Miriam Catterall, (2002),
Analysing qualitative data:
computer software and the market research practitioner
, Qualitative Market Research:
An International Journal, Vol. 5 Iss: 1, pp.28 - 39
55
Christine Hine,
Virtual Ethnography
(London: Thousand Oaks & New Delhi:
Sage, 2000).
56
J. Fernback,
There is a there there: notes toward a definition of
cybercommunity
. Dalam
Doing internet research: critical issues and methods for
examining the net
(ed) S. Jones. London, New Delhi: Sage, 1999)
57
L. Kendall,
Recontextualizing 'cyberspace': methodological considerations
for on-line research.
Dalam
Doing internet research: critical issues and methods for
examining the net
(ed) S. Jones (Thousand Oaks, London and New Delhi: Sage, 1999).
58
A.R.S. Stone,
Will the real body please stand up?: boundary stories about
virtual cultures
. Dalam
Reading digital culture
(ed) D. Trend. (Oxford and Massachusets:
Blackwell, 2001).
59
Anette. N. Markham,.
Reconsidering self and other: the methods, politics,
and ethics of representation in online ethnography
. Dalam Handbook of qualitative
research (eds) (N.K. Denzin & Y.S. Lincoln. Thousand Oaks: Sage, 2004.
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
19
community
(komunitas tekstual) dalam kaitannya dengan etnografi tempat
yang tak terlihat untuk membantah warisan antropologis dari terma lapangan.
Kajian-kajian ini dan kajian-kajian lain mengusulkan, dengan cara yang berbeda,
bahwa dunia maya (cyberspace) memungkinkan (bahkan menuntut) kita untuk
menguji dan membingkai ulang konsep usang tentang penelitian lapangan.
Ketiga,
ketika biasanya para etnografer konvensional terjun ke
lapangan , berada di lapangan dan kembali dari lapangan
yang mendasari
bagian esensial dari profesionalitas seorang etnografer para etnografer virtual
jarang sekali beranjak dari tempat kerja mereka, meskipun demikian, mereka
tetap harus bernegosiasi untuk mendapatkan akses ke lokasi penelitian. Mereka
harus memperoleh tiket masuk ke sebuah
newsgroup
misalnya. Mereka juga
harus membuat keputusan seberapa lama mereka harus tinggal di lapangan,
apakah pertanyaan penelitian mengharuskan dia untuk berkutat lebih lama di
lapangan
online
. Lebih dari itu, mereka harus memutuskan apakah penilitian
yang dilaksanakan memerlukan interaksi langsung atau tidak, hal ini terkait
dengan penentuan metode penelitian, apakah menggunakan metode partisipan
atau non-partisipan.
61
Internet telah membuka sebuah dunia baru bagi kajian ilmu-ilmu
sosial, tentunya dengan meningkatnya aksesibilitas database dan pusat-pusat
informasi, dan dengan perkembangan komunitas-komunias
online
yang telah
memudahkan akses ke lokasi-lokasi penelitian lapangan. Hasilnya, banyak
individu yang mulai melakukan penelitian
cyber ethnography
atau kajian
tentang manusia di beberapa komunitas virtual dan lingkungan jaringan.
Cyber
ethnography
berfokus pada gagasan bahwa suatu komunitas tidak lagi
didefinisikan dengan batasan geografis atau batasan-batasan semiotic (etnis/
religius/ linguistik). Tetapi komunitas bisa saja dibangun di dunia maya atas
dasar kepentingan umum afiliatif melampaui batasan-batasan kelas, bangsa, ras,
gender
dan bahasa. Memandang komunitas
online
sebagai tempat aktual di
mana para ilmuwan sosial dapat mengamati, mengunjugi, menetap dan pergi ,
telah memaksakan para peneliti di lapangan untuk mempertanyakan seberapa
jauh metode etnografi tradisional dapat diaplikasikan dalam kajian komunitas
online
.
Metode-metode etnografi tradisional bersandar pada gagasan tentang
suatu komunitas tertentu yang harus dipelajari, dengan mengambil
individu-individu tertentu dan menggunakan aturan-aturan tertentu. Dalam
cyber
ethnography
, komunitas tidak memerlukan batasan-batasan geografis, selama
Pendahuluan
individu-individu di dalamnya berbagi kepentingan bersama, hal ini dapat
membangun sebuah komunitas, selain tentunya lokasi fisik.
62
Mendiskusikan riset Internet dalam kajian kultural, Jonathan Sterne
63
menyarankan mengganti beberapa hal pokok terkait interpretasi teks, yaitu
memfokuskan investigasi pada konteks dari suatu teks, kejadian, atau beberapa
kegiatan yang ada. Dalam hal ini, penelitian tidak berfokus kepada makna yang
diperoleh partisipan dari kejadian yang ada tetapi bagaimana makna itu bisa
didapat dan kondisi seperti apa yang menghasilkan pengalaman tertentu.
64
Walaupun penelitian lapangan dan partisipasi observasi lebih tepat
digambarkan sebagai pekerjaan antroplogis, seorang etnografer juga dapat
memanfaatkan alat-alat lain termasuk interview, survei serta ukuran-ukuran
sederhana.
65
Oleh karena itu, selain melakukan wawancara mendalam dengan
para informan di dunia maya, penulis juga membuat
web based survey
dengan
memanfaatkan fasilitas yang terdapat dalam Google Document yang beralamat
di
https://spreadsheets.google.com/viewform?formkey=dGJTWFRUNThJUXdkR2
dvYXpOYmFsNFE6MQ dan disebarkan ke 39 mailist
66
dan 415 orang yang
termasuk dalam friend list di akun facebook penulis.
Secara teknis, dalam melakukan
in-depth interview
, penulis
menggunakan metode penarikan sampel non-probabilitas, yang berarti
mengambil sampel tertentu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
67
Pertimbangan yang dimaksud adalah beberapa kriteria penetapan informan
yang baik dalam wawancara etnografi, yaitu sebagaimana dirinci oleh
Spradley: enkulturasi penuh, keterlibatan langsung, suasana budaya yang tidak
dikenal, cukup waktu dan non analitik.
68
62
Bronwen Morgan,
The Intersection of rights and regulation: new directions
in sociolegal scholarship (Markets and the law)
(USA: Ashgate Publishing Company,
2007)
63
Jonathan Sterne, Thinking the Internet: Cultural studies versus the
millennium dalam Steve Jones (Ed.),
Internet research: Critical issues and methods for
examining the Net
(Thousand Oaks, CA: Sage, 1999), 257-288.
64
Steve Jones, Studying the Net: Intricacies and issues dalam Steve Jones
(Ed.),
Doing Internet Research
(Thousand Oaks, Ca: Sage, 1999).
65
Fetterman, David M. "Ethnography."
Encyclopedia of Social Science
Research Methods
. 2003. SAGE Publications. 4 Apr. 2010.
<http://www.sage-ereference.com/socialscience/Article_n295.html>.
66
Data lengkap mengenai mailist yang dituju ini silahkan lihat di lampiran.
67
Jalaluddin Rakhmat,
Metode Penelitian Komunikasi
(Bandung: Remadja
Karya, 1989), 107.
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
21
Dalam mengkaji sebuah komunitas virtual, penting untuk
mengesampingkan keraguan tentang siapa sebenarnya para partisipan. Satu hal
yang dikhawatirkan oleh banyak orang tentang Internet adalah bahwa kita tidak
pernah tau siapa sebenarnya yang turut memberikan kontribusi, identitas asli
mereka, begitu juga dengan validitas dari apa yang mereka katakan. Beberapa
orang mencoba untuk menguji kebenaran kegiatan
online
.
69
Kajian etnografi
harus dilaksanakan, sebagaimana yang dikatakan Christine Hine, sebagaimana
kajian-kajian budaya lainnya, dengan mengesampingkan pandangan-pandangan
etnosentris. Pencarian terhadap otentisitas seharusnya dikesampingkan kecuali
jika hal itu menjadi masalah bagi para penduduk di dunia maya.
70
Penggunaan metode penarikan sampel non-probabilitas untuk
penelitian bermedia Internet
(Internet-mediated research)
memiliki kelemahan
dalam hal kemampuan generalisasasi data
(generalisability).
71
Untuk mengatasi
hal ini, penulis akan menarik sampel sebanyak mungkin untuk mendapatkan
data yang lebih komprehensif dan tidak bias.
72
Sedangkan sumber sekunder penelitian ini adalah buku-buku,
jurnal-jurnal ilmiah, koran dan majalah yang mengangkat tema Internet dan agama.
Untuk pengumpulan sumber sekunder ini, penulis menggunakan metode
dokumentasi
73
yang berproses dari menghimpun dokumen,
74
memilih-milih
dokumen sesuai dengan tujuan penelitian, menerangkan dan mencatat serta
menafsrikannya serta menghubung-hubungkannya dengan fenomena lain.
69
Shani Orgad,
Storytelling Online: talking breast cancer on the Internet,
(New York: Peter Lang Publishing, Inc., 2005).
70
Christine Daymon & Immy Holloway,
Qualitative Research Methods in
Public Relations and Marketing Communications,
diterjemahkan oleh Cahya Wiratama
menjadi
Metode-Metode Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing
Communications
(Yogyakarta: Penerbit Bentang, 2008), 211-212.
71
Hewson, Yule, Laurent, Vogel,
Internet Research Methods: A Practical
Guide for The Social and Behavioural Sciences
(London: Sage Publication, 2003), 37.
72
Selain mengumpulkan sebanyak mungkin sampel, Hewson dkk juga
memberikan solusi lain yaitu dengan mengambil sampel pebanding dari non-internet.
Hewson dkk,
Internet Research Method,
38-39.
73
Lihat: Wardi Bachtiar dalam
Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah,
77.
74
Dokumen merupakan bahan tertulis atau benda yang berkaitan dengan suatu
Pendahuluan
c. Lokasi penelitian
Penelitian ini akan memfokuskan pada para informan yang berada di
rooms
yang terdapat dalam Islam Chat (Yahoo Messenger/ Yahoo Chat/
Categories: Religion & Belief/ Islam Chat).
Pemilihan lokasi penelitian ini berdasarkan pertimbangan bahwa di
antara
rooms
yang tersedia di Yahoo Messenger, Islam Chat adalah
room
yang
memang dikhususkan untuk para
user
yang ingin berdiskusi (atau sekedar
berbincang) seputar masalah keislaman. Menurut hasil observasi sementara
penulis,
room
tersebut juga berisi para
user
yang memang peduli dengan Islam.
Berdasarkan dua hal ini, penulis menetapkan Islam Chat adalah tempat yang
paling tepat untuk mengumpulkan data-data yang akan dijadikan sumber utama
penelitian ini.
Selain melakukan wawancara mendalam dengan para informan yang
berada di Islam Chat, penulis juga membuat
web based survey
dan
menyebarkannya ke 39 mailist. Penentuan 39 mailist ini dipilih secara acak
dengan menggunakan search engine Yahoo Groups dengan mengetikkan terma
dakwah , Islam dan beberapa mailist universitas besar di Indonesia seperti
Universitas Indonesia, UGM, BINUS dan UIN. Penulis juga menyebar qustioner
ke 415 orang yang termasuk dalam friend list dalam akun facebook penulis.
d. Pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan
komunikasi dan etnografi, atau sebagaimana yang disebut oleh Bakti
pendekatan ethnometodology.
75
Pendekatan komunikasi berguna untuk membedah Internet dan segala
problematika di dalamnya dari sisi komunikasi. Pendekatan ini sangat penting
mengingat fokus penelitian dalam buku ini adalah mengenai pesan, Internet, dan
dakwah yang semuanya merupakan bagian dari kajian ilmu komunikasi.
Sedangkan pendekatan etnografi dalam penelitian ini sebagaimana
fungsi pendekatan etnografi berguna untuk membangun suatu pengertian yang
sistemik mengenai suatu kebudayaan manusia dari perspektif orang yang telah
mempelajari kebudayan itu.
76
Dalam konteks penelitian ini, pendekatan
etnografi berguna untuk mempelajari segala hal tentang kebudayaan para
user
di
dunia maya
MATINYA SANG DAI:
Otonomisasi Pesan-Pesan Keagamaan di Dunia Maya
23
e. Langkah-langkah Penelitian
Penelitian ini akan mengadopsi langkah-langkah penelitian yang
digariskan Robert V. Kozinets dalam
Netnography-
nya.
77
Langkah-langkah ini
dijelaskan sebagaimana berikut:
[image:31.595.99.503.137.503.2]Gambar 2.
Alur kajian netnografi Kozinets
78
Perlu penulis informasikan sejak awal, bahwa dalam penerapan
langkah-langkah di atas, penulis akan mengkontekstualisasikannya dengan
kasus dai, dakwah dan dunia maya yang merupakan tema kajian penelitian ini.
77
Robert V. Kozinets,
Netnography: Doing Ethnographic Research Online
(London: Sage Publications Inc., 2010).
78
Robert V. Kozinets,
Netnography,
61.
Step 1.
Definition of Research Questions, Social
Sites or Topics to Investigate
Step 2.
Community Identification and selection
Step 3.
Community Participant-Observation
(engagement, immersion) and Data
Collection (Ensure Ethical Procedures)
Step 4.
Data Analysis and Iterative of Findings
Step 5.
Write, Present and Report Research Findings
and/or Theoretical and/or Policy
Pendahuluan
D.
Logika Penulisan
Komunikasi adalah hal yang tidak mungkin terpisahkan dari kehidupan
manusia. Walau demikian, tidak banyak orang yang mengerti apa yang
dimaksud dengan komunikasi. Bagi penulis, mendefinisikan terma
komunikasi sendiri bukanlah hal yang penting bagi kehidupan, tetapi
membentuk model komunikasi efektif yang dapat mengantarkan pada tujuan
proses komunikasi itulah yang seharusnya terus diusahakan demi meningkatkan
kualitas komunikasi itu sendiri.
Dakwah
yang merupakan salah satu bentuk komunikasi,
79
sesungguhnya harus turut mengadakan evaluasi baik dari sisi substansi maupun
kemasannya. Karena seiring zaman yang terus berubah dan menuntut
perubahan, pesan-pesan keagamaan bukan tidak mungkin diacuhkan.